URETRITIS GONORE DENGAN TERAPI CEFIXIME

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "URETRITIS GONORE DENGAN TERAPI CEFIXIME"

Transkripsi

1 URETRITIS GONORE DENGAN TERAPI CEFIXIME I Wayan Dede Fridayantara, IGK Darmada, Luh Made Mas Rusyati Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar ABSTRAK Gonore adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae. Individu dengan infeksi ini sebagian besar datang dengan keluhan keluarnya discharge purulent dari alat kelamin disertai dysuria baik pada pria dan wanita. Dilaporkan kasus gonore dengan gejala klinis uretritis pada pasien pria berumur 22 tahun dengan keluhan keluarnya discharge purulent disertai dysuria sejak 5 hari yang lalu. Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik diperoleh discharge purulent pada orifisium uretra eksterna (OUE) pasien dengan eritema dan oedema disekitarnya. Dari pengecatan gram dengan spesimen discharge pasien, diperoleh sebaran leukosit > 50/lpb serta ditemukan bakteri diplokokus gram negatif intrasel dan extrasel. Pengobatan yang diberikan adalah Cefixime 400 mg per-oral dosis tunggal. Pasien diberikan KIE dan dijadwalkan melakukan follow-up tiga hari kemudian. Hasil followup tidak ditemukan discharge, eritema serta oedema dengan sebaran leukosit 5-10/lpb dan tidak dijumpai bakteri diplokokus gram negatif. Prognosis pasien baik. Kata kunci: gonore, uretritis, discharge purulent, cefixime URETHRITIS GONORRHEA WITH CEFIXIME THERAPY ABSTRACT Gonorrhea is a sexually transmitted disease which is caused by Neisseria gonorrhoeae infection. Both men and women with gonorrhea come to the physicians with dysuria and profuse purulent discharge from genital as the main complain. Reported case of 22 years old men with chief complain profuse purulent discharge from his genital system accompanied with dysuria since 5 days ago. From the anamnesis and physical examination, we found purulent discharge from orificium urethra externa (OUE) patient that surrounded by erythema and oedema. Gram staining test was conducted and found PMN s leukocyte count > 50/lpb with the presence of diplococcus gram negative bacteria intracellular and extracellular. Treatment given to this patient is Cefixime 400 mg single dose orally. Moreover education and information about the disease had given to this patient and he had to do a follow-up after 3 days. Follow-up result shown discharge, erythema and oedema weren t found, with leukocyte count 5-10/lpb and no presence of diplococcus gram negative bacteria. The patient s prognosis is good. Keywords: gonorrhea, urethritis, purulent discharge, cefixime PENDAHULUAN Gonore merupakan salah satu penyakit menular seksual dengan angka insiden tinggi yang sering dijumpai diantara penyakit menular seksual lainnya. 1,2 Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri diplokokus gram negatif Neisseria gonorrhoeae. 1,2 Infeksi 1

2 gonore umumnya menular dari satu individu ke individu lainnya melalui kontak seksual, namun infeksi juga dapat terjadi melalui transmisi vertikal selama persalinan. 3 Individu yang aktif secara seksual mempunyai kecenderungan memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terinfeksi gonore. 4 Di Amerika Serikat dilaporkan terdapat sekitar kasus baru gonore pada tahun Angka kejadian tertinggi ditemukan pada wanita dengan rentang usia tahun dan pria dengan rentang usia tahun. 3,5,6 Dikatakan bahwa insiden kasus gonore lebih tinggi pada negara berkembang dibandingkan dengan negara industri. 5 Gejala penyakit gonore dapat bersifat simptomatis maupun asimptomatis. 4 Bakteri Neisseria gonorrhoeae menyerang membran mukosa terutama membran mukosa dengan jenis epitel kolumnar sebagai tempat infeksinya. 1,3 Epitel jenis ini banyak dijumpai pada servik, rektum, faring dan konjungtiva sehingga manifestasi klinis infeksi gonore bersifat variatif. 3 Pada pria dengan gonore, keluhan uretritis akut paling sering dijumpai. 1,3-5 Keluhan ini disertai dengan keluarnya discharge purulent dari alat kelamin dan rasa nyeri saat kencing. 1,3,5 Pada wanita, sekitar 50% kasus bersifat asimptomatis. Dari beberapa kasus, servisitis merupakan keluhan yang paling sering dijumpai pada wanita yang terinfeksi gonore. 1,3,5 Selain manifestasi berupa uretritis, infeksi gonore juga dapat memberikan gambaran klinis proktitis, orofaringitis, konjungtivitis dan gonore diseminata. 1,3,5 Penegakan diagnosis gonore berdasarkan anamnesis pasien, pemerikssaan fisik dan pemeriksaan penunjang. 1 Pemeriksaan penunjang pengecatan gram memiliki sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi dalam membantu mendiagnosis infeksi gonore pada pria. 1,3,5 Pada wanita, kultur hapusan vagina memiliki tingkat keakuratan diagnosis yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pengecatan gram. 3,5 Terapi gonore sangat bergantung pada modalitas antibiotik yang digunakan. 3,5 Saat ini, terapi kombinasi merupakan pilihan terapi lini utama dalam pegobatan gonore guna mencegah berkembangnya resistensi. 3,5 Prognosis penyakit ini akan sangat baik jika memperoleh terapi antibiotik yang tepat dan adekuat. 3 LAPORAN KASUS Seorang pria berusia 22 tahun datang ke poliklinik kulit dan kelamin Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah pada tanggal 7 Januari

3 dengan nomor rekam medis: Pasien datang dengan keluhan utama keluarnya cairan berupa nanah dari alat kelamin sejak lebih kurang 5 hari yang lalu. Keluarnya cairan berupa nanah dari alat kelamin pasien tanpa disertai rasa gatal, namun dijumpai adanya nyeri saat buang air kecil. Dari anamnesis pasien, diketahui bahwa pasien yang bersangkutan pernah melakukan hubungan seksual dalam kurun waktu lebih kurang 14 hari terakhir. Riwayat pengobatan, riwayat penyakit dan riwayat operasi disangkal. Dari riwayat keluarga tidak ada yang pernah mengalami penyakit serupa dan riwayat penyakit lain dalam keluarga juga disangkal. Pasien juga menyangkal riwayat alergi. Pada pemeriksaan fisik, didapatkan status internus pasien dalam batas normal. Dimana tekanan darah pasien 110/70 mmhg dengan laju respirasi 20 kali/menit dan nadi 80 kali/menit serta suhu axilla 36 o C. Pada pemeriksaan status venerologi pasien, pada daerah orifisium uretra eksterna (OUE) ditemukan adanya eritema dengan disertai keluarnya discharge purulent. Oedema juga ditemukan pada OUE pasien. Pasien yang bersangkutan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan penunjang laboratorium yaitu pemeriksaan pengecatan gram. Dari pengecatan gram diperoleh sebaran leukosit > 50/lpb dan dengan ditemukannya bakteri diplokokus gram negatifintrasel dan ekstrasel.pasien tidak melakukan pemeriksaan histopatologi maupun pemeriksaan PA. Dari anamnesis, pemeriksaan fisik (status internus dan status venerologi) dan pemeriksaan penunjang (pengecatan gram) yang telah dilakukan tersebut, pasien didiagnosis dengan uretritis gonore dan direncanakan mendapatkan terapi farmakologis berupa Cefixime dosis tunggal dengan dosis 400mg per-oral. Pasien diberikan KIE dan juga jadwal follow-up kembali 3 hari kemudian.pada hari keempat, pasien datang kembali ke poliklinik untuk melakukan follow-up pengobatan, diperoleh keadaan umum pasien baik, tidak ada keluhan dysuria kembali, discharge purulent disangkal dan tidak ditemukan eritema dan oedema di OUE. Dilakukan pengecatan gram pada swab genital pasien, dengan diperoleh hasil sebaran PMN leukosit 5-10/lpb dan tidak ditemukan adanya bakteri diplokokus gram negatif intrasel dan ekstrasel. DISKUSI Gonore merupakan salah satu penyakit menular seksual yang 3

4 disebabkan oleh infeksi Neisseria gonorrhoeae. 1,3,5 Penularan gonore umunya terjadi melalui kontak seksual dengan individu atau pasangan yang terinfeksi Neisseria gonorrhoeae. 1,3,5 Faktor resiko yang terlibat untuk terjadinya infeksi gonore meliputi hubungan seksual multipartner dan berganti-ganti, usia muda, belum menikah, pengguna obat-obatan terlarang, kelompok dengan sosial ekonomi dan tingkat pendidikan yang rendah, serta riwayat infeksi gonore sebelumnya. 3 Pada kasus, pasien berusia muda dengan tingkat pendidikan terakhir mengecap bangku sekolah menengah atas. Pasien juga memiliki riwayat berhubungan seksual, namun tidak dijelaskan lebih lanjut penggunaan alat kontrasepsi saat berhubungan seksual. Pada tahun 2006, di Amerika Serikat dilaporkan terdapat sekitar kasus baru gonore, dengan angka kejadian yang tinggi pada kelompok usia muda. 5 Angka kejadian infeksi gonore tertinggi tercatat terjadi pada wanita dengan kelompok usia tahun dan pria dengan kelompok usia tahun. 3,5,6 Pasien pada kasus diatas berusia 22 tahun, ini menunjukkan pasien ini memiliki faktor resiko untuk terinfeksi gonore. Patogenesis infeksi gonore melibatkan kemampuan melekatnya bakteri Neisseria gonorrhoeae pada mukosa jaringan yang tersusun atas epitel kolumnar yang banyak dijumpai pada traktus urogenitalis, rektum, faring dan konjungtiva. 3 Pelekatan bakteri Neisseria gonorrhoea difasilitasi oleh struktur fimbrae yang dimilikinya. 3 Proses pelekatan pada sel epitel kolumnar selanjutnya akan diikuti oleh proses invasi yang dimediasi oleh adhesin dan spingomyelinase melalui proses endositosis. 3 Setelah berhasil masuk ke dalam sel, bakteri ini kemudian memulai proses replikasi di dalam sel yang selanjutnya memicu proses inflamasi dan mampu tumbuh dalam lingkungan aerob maupun anaerob. 3 Infeksi gonore dapat menimbulkan beberapa manifestasi klinis berupa uretritis, servisitis, proktitis, orofaringitis, konjungtivitis hingga gonore diseminata. 3,5 Uretritis merupakan gejala yang paling sering dijumpai pada pasien dengan infeksi Neisseria gonorrhoeae. 1,3,5 Infeksi gonore dengan gejala uretritis biasanya ditandai dengan keluarnya discharge purulent dari orifisium uretra eksterna. 3 Proses infeksi yang terjadi akan menyebabkan membran mukosa pada bagian anterior uretra mengalami 4

5 inflamasi, ini menimbulkan karakterisktik nyeri saat urinasi, munculnya eritema lokal disekitar meatus uretra anterior dan oedema. 3 Pada kasus ini, pasien berusia 22 tahun datang dengan keluhan kencing nanah sejak 5 hari sebelumnya. Dari pemeriksaan fisik pada daerah genital yang telah dilakukan, didapatkan discharge purulent pada orifisium uretra eksterna pasien disertai dengan eritema dan oedema yang ditemukan mengelilingi wilayah orifisium uretra eksterna pasien. Pasien juga mengeluhkan rasa nyeri yang dirasakan ketika urinasi dan pasien datang dengan terlihat nyeri (visual analogue scale 1). Dari anamnesis yang dilakukan, pasien memiliki riwayat berhubungan seksual lebih kurang 14 hari yang lalu. Adanya discharge purulent yang keluar dari alat kelamin, eritema, oedema disekitar OUE disertai timbulnya rasa nyeri saat urinasi pasien mengarahkan diagnosis ke arah infeksi gonore yaitu uretritis gonore. Ini diperkuat dengan adanya riwayat berhubungan seksual sebelumnya yang merupakan faktor resiko infeksi gonore. Selain anamnesis dan pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang juga berperan sebagai modalitas dalam mempertajam diagnosis gonore. 1 Kultur bakteri discharge ataupun hapusan membran mukosa yang terinfeksi masih merupakan gold standard uji laboratorium gonore, namun pemeriksaan dengan metode pengecatan gram dari discharge pasien juga dapat memberikan diagnosis yang akurat. 3,5 Pada laki-laki dengan gejala simptomatis uretritis gonore yang jelas, pemeriksaan laboratorium dengan metode pengecatan gram menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. 1-4 Sedangakan pada wanita dengan gejala servisitis gonore, keakuratan diagnosis hanya 50%. 5 Uji laboratorium dengan metode pengecatan gram akan menunjukkan peningkatkan jumlah polimorfonuklear sel leukosit mencapai 30 /lapang pandang yang membuktikan adanya proses inflamasi yang terjadi. 5 Selain jumlah PMN yang abnormal, pada pengecatan gram akan ditemukan adanya bakteri diplokokus gram negatif intrasel dan ekstrasel. 3,5 Pada kasus diatas, pasien dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan pengecatan gram untuk menunjang diagnosis. Dari hasil pengecatan gram dengan menggunakan spesimen dari discharge pasien, diperoleh adanya peningkatan jumlah PMN leukosit mencapai > 50/lpb. Selain itu, pengecatan gram dari discharge pasien pasien juga menunjukkan adanya bakteri 5

6 diplokokus gram negatif dan ekstrasel. Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium PA dan histologi. Hasil pemeriksaan penunjang ini mendukung diagnosis pasien mengarah pada gonore. Diagnosis banding pada kasus gonore dengan manifestasi klinis berupa uretritis yaitu uretritis non-gonokokal yang biasanya disebabkan oleh bakteri C. trachomatis. 7 Pada uretritis nongonokokal masa inkubasi bakteri penyebab uretritis berlangsung lebih lama sekitar 1-5 minggu dengan manifestasi klinis yang mengikuti seperti keluarnya discharge dari uretra, disuria dan terkadang disertai hematuria. 7 Discharge uretra pada uretritis non-gonokokal lebih mukoid dan eksresinya lebih cenderung terjadi di pagi hari. 7 Diagnosis banding uretritis non-gonokokal dapat disingkirkan karena sesuai dengan hasil pemeriksaan fisik discharge yang diperoleh tidak mukoid, namun lebih purulent. Selain itu dari pengecatan gram, ditemukan adanya mikroorganisme diplokokus gram negatif intrasel dan ekstrasel yang merupakan ciri khas dari infeksi gonokokal. Pemilihan antibiotik yang tepat dengan dosis yang sesuai merupakan prinsip dasar dalam pengobatan gonore. 7 Beberapa obat antibiotika secara aktif melawan infeksi Neisseria gonorrhoeae, namun sejak berkembang dan meluasnya resistensi antibiotik, kini hanya sedikit antibiotika yang masih efektif untuk melawan infeksi Neisseria gonorrhoeae. 8 Saat ini World Health Organization (WHO) dan Central for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan penggunaan antibiotik dengan cure rate 95% dalam pengobatan gonore. 2 Sebagai terapi lini pertama dalam pengobatan gonore, WHO dan CDC merekomendasikan penggunaan antibiotika golongan sefalosporin generasi ketiga. 5,8,9 Pemberian antibiotika golongan sefalosporin generasi ketiga dosis tunggal baik secara intramuskular ataupun per-oral merupakan terapi utama dalam pengobatan gonore. 5 Sefalosporin merupakan salah satu antibiotika golongan β-laktam dengan generasi ketiganya yaitu cefixime (oral) ceftriaxone (intramuskular) yang menunjukkan efektifitas menjanjikan pada terapi gonore. 2 Sefalosporin memiliki sifat yang lebih stabil terhadap cincin β-laktamase yang diproduksi bakteri sehingga ia memiliki spektrum kerja yang lebih luas. 2,10 Antibiotik golongan ini berperan sebagai bakterisidal, membunuh bakteri N. gonorrhoeae dan memiliki kemampuan 6

7 melewati sawar darah otak. 10 Meskipun penggunaan injeksi intramuskular ceftriaxone lebih direkomendasikan dan lebih banyak digunakan, namun penggunaan oral cefixime juga memberikan efektifitas terapi yang menjanjikan. 8 Pemberian dosis tunggal cefixime 400 mg oral pada pengobatan gonore, menunjukkan efektifitas yang hampir sebanding dengan pemberian ceftriaxone (97,5 % cure; 95% CI, 95,4-98,8%). 2,8 Selain cefixime dan ceftriaxone, antibiotik lain yang dapat digunakan sebagai alternatif dalam pengobatan gonore meliputi siprofloksasin, ofloksasin, dan lefofloksasin. 3 Terapi dosis tunggal yang dianjurkan untuk gonore tanpa komplikasi yaitu pemberian antibiotika Ceftriaxone 125 mg intramuskular dosis tunggal atau dengan antibiotika Cefixime 400 mg per-oral dosis tunggal. 2,3,5,8 Alternatif antibiotik lain yang dapat diberikan yaitu siprofloksasin 500 mg per-oral dosis tunggal, ofloksasin 400 mg per-oral dosis tunggal, atau lefofloksasin 250 mg per-oral dosis tunggal. 3 Apabila terjadi reaksi alergi terhadap antibiotik golongan sefalosporin ataupun kuinolon, pengobatan gonore dilakukan dengan pemberian antibiotik Spectinomycin 2 gram dosis tunggal intramuskular. 3,5,8 WHO dan CDC juga merekomendasikan untuk melakukan terapi kombinasi dengan azithromycin atau doksisiklin pada terapi gonore untuk mengatasi co-infeksi yang disebabkan oleh C. trachomatis yang tidak bisa disingkirkan melalui diagnosis. 3,5 Dosis yang dianjurkan sebagai terapi kombinasi yaitu azythromycin 1 gram per-oral dosis tunggal atau doksisiklin 100 mg peroral dua kali sehari selama 7 hari. 2,3,5 Pada pasien ini, pengobatan gonore yang diberikan sesuai dengan guideline dan rekomendasi dari WHO dan CDC. Pada kasus, pasien diberikan antibiotik Cefixime 400 mg per-oral dosis tunggal. Pemberian cefixime yang bersifat bakterisida bertujuan untuk membunuh bakteri diplokokus gram negatif N. gonorrhoeae yang menyebabkan gonore. Pemberian antibiotika ini sudah tepat dan sesuai dengan guideline WHO untuk mencapai kesembuhan pasien. Terapi yang diberikan pada pasien ini tidak dikombinasikan dengan pemberian azythromycin karena infeksi oleh C. trachomatis dapat disingkirkan dari uji laboratorium pengecatan gram yang dilakukan. Pasien dijadwalkan untuk melakukan follow-up kembali 3 hari kemudian. Pada hari keempat, pasien datang kembali ke poliklinik untuk melakukan follow-up, diperoleh 7

8 tidak ada keluhan dysuria kembali, discharge purulent disangkal dan tidak ditemukan eritema serta oedema di OUE. Dilakukan pengecatan gram pada swab genital pasien, diperoleh sebaran PMN leukosit 5-10/lpb dan tidak ditemukan adanya bakteri diplokokus gram negatif intrasel dan ekstrasel. Dari hasil follow-up tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi oral cefixime 400 mg dosis tunggal memberikan hasil terapi yang memuaskan pada pasien tersebut. Prognosis pasien gonore akan sangat baik jika pengobatan dilakukan sedini mungkin dengan pemberian antibiotika yang tepat dan dosis yang sesuai. 3 Pada kasus ini pasien menunjukkan prognosis yang baik, ini ditunjukkan dari adanya perbaikan klinis yang terlihat setelah menjalani terapi. Sembuh dari infeksi Neisseria gonorrhoeae yang sebelumnya tidak akan menutup kemungkinan untuk kembali terjadinya infeksi/re-infection. 3 Selain penatalaksanaan secara medikamentosa, pasien juga diberikan informasi dan edukasi melalui komunikasi dua arah dengan dokter. Adapun KIE yang diberikan pada pasien seperti tidak melakukan hubungan seksual jika memungkinkan. Apabila berpotensi melakukan hubungan seksual terlebih dengan pasangan yang beresiko tinggi tertular penyakit menular seksual selalu menggunakan alat kontrasepsi kondom dan dianjurkan untuk melakukan skrining penyakit menular seksual secara berkala. SIMPULAN Dilaporkan kasus, pria berusia 22 tahun mengalami infeksi gonore dengan keluhan keluarnya discharge purulent dari OUE dan dysuria sejak 5 hari sebelumnya. Diperoleh adanya eritema, oedema dan discharge purulent pada OUE pasien. Uji laboratorium dengan pengecatan gram pada discharge menunjukkan sebaran PMN leukosit > 50/lpb dengan adanya bakteri diplokokus gram negatif intrasel dan ekstrasel. Pasien diberikan terapi antibiotika Cefixime 400mg dosis tunggal per-oral. KIE diberikan pada pasien, dan pada follow-up 3 hari kemudian pasien menunjukkan keadaan klinis membaik, tidak ditemukan discharge purulent, eritema dan oedema pada OUE dengan Pengecatan gram menunjukkan sebaran PMN leukosit 5-10/lpb serta tidak ditemukan bakteri diplokokus gram negatif intrasel dan ekstrasel. Prognosis pasien baik. 8

9 DAFTAR PUSTAKA 1. Daili SF. Gonore. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, penyunting. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke-5. Jakarta: Balai Penerbit FK UI, 2009;h: Barry MP dan Klausner JD. The use of cephalosporins for gonorrhea: the impending problem of resistance. Expert Opinion Pharmacother. 2009;10(4): Garcia Al, Madkan VK dan Tyring SK. Gonorrhea and Other Venereal Diseases. Dalam: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffel DJ, penyunting. Fitzpatick s Dermatology In General Medicine. Edisi ke-7. United State: Mc Graw-Hill, 2008;h Mayor TM, Roett MA dan Uduhiri KA. Diagnosis and Management of Gonococcal Infections. American Academy of Family Physicians. 2012;86(10): Ram S dan Rice PA. Gonococcal Infections. Dalam: Kasper DL dan Fauci AS, penyunting. Harrison s Infectious Diseases. United State: Mc Graw-Hill, 2010:h Putten JV dan Tonjum T. Neisseria. Dalam: Cohen J, Powderly WG, Opal SM, Calandra T, Clumeck N, Farrar J dkk, penyunting. Infectious Diseases. Edisi ke-3. United State: Mosby Elsevier, 2010: h Hatta TH, Amiruddin MD dan Adam AM. Case Report: Urethritis Gonnorhea in Homosexual. International Journal of Dermato Venerology. 2012;1(1): Bala M dan Sood S. Cephalosporin Resistance in Neisseria gonorrhoeae. Journal of Global Infectious Diseases. 2010:2(3): Horgan MM. Practice Point 29: Management of gonorrhea. Dalam: Cohen J, Powderly WG, Opal SM, Calandra T, Clumeck N, Farrar J dkk, penyunting. Infectious Diseases. Edisi ke-3. United State: Mosby Elsevier, 2010: h Katzung, B.G. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi 10. Jakarta: EGC, 2007;10(39):p

10 10

KARAKTERISTIK PENDERITA GONORE DI POLIKLINIK PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PERIODE JANUARI 2011-DESEMBER

KARAKTERISTIK PENDERITA GONORE DI POLIKLINIK PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PERIODE JANUARI 2011-DESEMBER ABSTRAK KARAKTERISTIK PENDERITA GONORE DI POLIKLINIK PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR PERIODE JANUARI 2011-DESEMBER 2013 Gonore merupakan salah satu infeksi menular seksual

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di Amerika Serikat yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, yaitu. kepada janin saat proses melahirkan pervaginam.

BAB I PENDAHULUAN. di Amerika Serikat yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, yaitu. kepada janin saat proses melahirkan pervaginam. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Gonore merupakan salah satu infeksi menular seksual terbanyak kedua di Amerika Serikat yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae, yaitu bakteri diplokokus gram negatif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Servisitis adalah sindrom peradangan serviks dan merupakan manifestasi umum dari Infeksi Menular Seksual (IMS) seperti Neisseria gonorrhoeae dan Chlamydia trachomatis

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kanamisin termasuk dalam golongan aminoglikosida. 14

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kanamisin termasuk dalam golongan aminoglikosida. 14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 KANAMISIN Kanamisin termasuk dalam golongan aminoglikosida. 14 Tersusun atas tiga unit senyawa, yaitu 6-D-glukosamina, 1,3-diamino-4,5,6-trihidroksi sikloheksana, dan 3-D-glukosamina.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gonore atau penyakit kencing nanah adalah penyakit infeksi menular seksual (IMS) yang paling sering terjadi. Gonore disebabkan oleh bakteri diplokokus gram negatif,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gonore merupakan penyakit infeksi menular seksual. (IMS) yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae (N.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gonore merupakan penyakit infeksi menular seksual. (IMS) yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae (N. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gonore merupakan penyakit infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae (N. gonorrhoeae). Manifestasi klinis dari penyakit ini adalah servisitis,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kedua di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoeae, yaitu

BAB I PENDAHULUAN. kedua di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoeae, yaitu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Gonore merupakan salah satu penyakt infeksi menular seksual terbanyak kedua di dunia. Penyakit ini disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoeae, yaitu bakteri diplokokus

Lebih terperinci

PORTFOLIO. 2. Riwayat Pengobatan Pasien sudah sempat berobat ke dokter, kemudian diberikan obat (yang pasien tidak tahu namanya).

PORTFOLIO. 2. Riwayat Pengobatan Pasien sudah sempat berobat ke dokter, kemudian diberikan obat (yang pasien tidak tahu namanya). PORTFOLIO Nama Peserta: dr. Evan Regar Nama Wahana: Poliklinik Mandiri Puskesmas Kecamatan Cengkareng Topik: Infeksi Menular Seksual pada Remaja dengan Perilaku Risiko Tinggi Tanggal (Kasus): Senin, 10

Lebih terperinci

Penyakit Radang Panggul. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi

Penyakit Radang Panggul. Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi Penyakit Radang Panggul Matrikulasi Calon Peserta Didik PPDS Obstetri dan Ginekologi Definisi Penyakit radang panggul adalah gangguan inflamasi traktus genitalia atas perempuan, dapat meliputi endometritis,

Lebih terperinci

Angka Kejadian, Karakteristik dan Pengobatan Penderita Gonore di RSUD Al- Ihsan Bandung

Angka Kejadian, Karakteristik dan Pengobatan Penderita Gonore di RSUD Al- Ihsan Bandung Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Angka Kejadian, Karakteristik dan Pengobatan Penderita Gonore di RSUD Al- Ihsan Bandung 1 Agustina Rahmawati, 2 Tony S. Djajakusumah, 3 Deis Hikmawati 1,2,3

Lebih terperinci

(A Retrospective Study: The Profile of New Gonorrhoeae Patients)

(A Retrospective Study: The Profile of New Gonorrhoeae Patients) Studi Retrospektif: Profil Pasien Baru Gonore (A Retrospective Study: The Profile of New Gonorrhoeae Patients) Dewi Puspitorini, Hans Lumintang Departemen/Staf Medik Fungsional Ilmu Kesehatan Kulit dan

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. Infectious Disease. Vol. 7, No. 2, Maret - April Neissera gonorrhoeae Secara In Vitro. Semarang: Fakultas Kedokteran

DAFTAR PUSTAKA. Infectious Disease. Vol. 7, No. 2, Maret - April Neissera gonorrhoeae Secara In Vitro. Semarang: Fakultas Kedokteran 41 DAFTAR PUSTAKA 1. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi Menular Seksual [Internet]. Jakarta: Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan;

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada wanita pekerja seks menunjukan bahwa prevelensi gonore berkisar antara 7,4% -

BAB I PENDAHULUAN. pada wanita pekerja seks menunjukan bahwa prevelensi gonore berkisar antara 7,4% - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Infeksi gonore di Indonesia menempati urutan yang tertinggi dari semua jenis penyakit menular seksual. Beberapa penelitian di Surabaya, Jakarta dan Bandung pada wanita

Lebih terperinci

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Dermoskopi Sebagai Teknik Pemeriksaan Diagnosis dan Evaluasi Lesi

FORM UNTUK JURNAL ONLINE. : Dermoskopi Sebagai Teknik Pemeriksaan Diagnosis dan Evaluasi Lesi : : Dermoskopi Sebagai Teknik Pemeriksaan Diagnosis dan Evaluasi Lesi Pigmentasi : penggunaan dermoskopi telah membuka dimensi baru mengenai lesi pigmentasi. Dermoskopi merupakan metode non-invasif yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gonore adalah salah satu penyakit menular seksual paling umum yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae (Irianto, 2014). Neisseria gonorrhoeae (N. Gonorrhoeae)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi yang ditandai dengan pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri dalam saluran kemih, meliputi infeksi diparenkim

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bentuk nodul-nodul yang abnormal. (Sulaiman, 2007) Penyakit hati kronik dan sirosis menyebabkan kematian 4% sampai 5% dari

BAB I PENDAHULUAN. bentuk nodul-nodul yang abnormal. (Sulaiman, 2007) Penyakit hati kronik dan sirosis menyebabkan kematian 4% sampai 5% dari BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PENELITIAN Sirosis hati adalah merupakan perjalanan akhir berbagai macam penyakit hati yang ditandai dengan fibrosis. Respon fibrosis terhadap kerusakan hati bersifat

Lebih terperinci

Jangan Sembarangan Minum Antibiotik

Jangan Sembarangan Minum Antibiotik Jangan Sembarangan Minum Antibiotik Beragamnya penyakit infeksi membuat kebanyakan orang segera berobat ke dokter meski hanya penyakit ringan. Rasanya tidak puas jika dokter tidak memberi obat apapun dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (40 60%), bakteri (5 40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Setiap. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013).

BAB I PENDAHULUAN. (40 60%), bakteri (5 40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Setiap. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013). 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang disebabkan oleh virus (40 60%), bakteri (5 40%), alergi, trauma, iritan, dan lain-lain. Setiap tahunnya ± 40 juta

Lebih terperinci

UJI BEDA SENSITIVITAS SEFTRIAKSON DENGAN LEVOFLOKSASIN PADA KUMAN NEISSERIA GONORRHOEAE SECARA IN VITRO LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

UJI BEDA SENSITIVITAS SEFTRIAKSON DENGAN LEVOFLOKSASIN PADA KUMAN NEISSERIA GONORRHOEAE SECARA IN VITRO LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH UJI BEDA SENSITIVITAS SEFTRIAKSON DENGAN LEVOFLOKSASIN PADA KUMAN NEISSERIA GONORRHOEAE SECARA IN VITRO LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang paling sering mengenai organ paru-paru. Tuberkulosis paru merupakan

Lebih terperinci

POLA BAKTERI INFEKSI SALURAN KEMIH DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN BLU RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE NOVEMBER 2010 NOVEMBER 2012

POLA BAKTERI INFEKSI SALURAN KEMIH DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN BLU RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE NOVEMBER 2010 NOVEMBER 2012 Jurnal e-biomedik (ebm), Volume 3, Nomor 1, Januari-April 2015 POLA BAKTERI INFEKSI SALURAN KEMIH DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN BLU RSUP PROF. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE NOVEMBER 2010 NOVEMBER 2012

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu respon inflamasi sel urotelium

BAB 1 PENDAHULUAN. Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu respon inflamasi sel urotelium BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu respon inflamasi sel urotelium yang melapisi saluran kemih karena adanya invasi bakteri dan ditandai dengan bakteriuria dan

Lebih terperinci

SKDI 2012 INFEKSI MENULAR SEKSUAL

SKDI 2012 INFEKSI MENULAR SEKSUAL SKDI 2012 INFEKSI MENULAR SEKSUAL Tingkat Kemampuan 2 Mendiagnosis dan merujuk 1. Epididimitis 2. Infeksi virus herpes- 2 Tingkat Kemampuan 3A Mendiagnosis, melakukan penatalaksanaan awal, dan merujuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan merupakan modal awal seseorang untuk dapat beraktifitas dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kesehatan merupakan modal awal seseorang untuk dapat beraktifitas dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan modal awal seseorang untuk dapat beraktifitas dan mengaktualisasikan dirinya. Kesehatan juga berarti keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial

Lebih terperinci

TEAM BASED LEARNING MODUL GONORE. Diberikan pada Mahasiswa Semester Fakultas Kedokteran Unhas DISUSUN OLEH :

TEAM BASED LEARNING MODUL GONORE. Diberikan pada Mahasiswa Semester Fakultas Kedokteran Unhas DISUSUN OLEH : TEAM BASED LEARNING MODUL GONORE Diberikan pada Mahasiswa Semester Fakultas Kedokteran Unhas DISUSUN OLEH : Prof.Dr. Muh. Dali Amiruddin, dr., Sp.KK(K), FINSDV,FAADV dr. Alwi A. Mappiasse, Ph.D, Sp.KK,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Infeksi Menular Seksual (IMS) 1. Definisi Infeksi Menular Seksual adalah infeksi yang sebagian besar menular lewat hubungan seksual dengan pasangan yang sudah tertular. Hubungan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kuman Neiserria gonorrhoeae. Kuman ini hanya mempunyai satu host, yaitu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kuman Neiserria gonorrhoeae. Kuman ini hanya mempunyai satu host, yaitu BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gonore 2.1.1 Definisi Gonore merupakan infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh kuman Neiserria gonorrhoeae. Kuman ini hanya mempunyai satu host, yaitu manusia dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pekerja Seks Komersiil Umumnya telah diketahui bahwa sumber utama penularan penyakit hubungan seks adalah pekerja seks komersial, dengan kata lain penularan lewat prostitusi.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gonorea dalam arti luas mencakup semua penyakit yang disebabkan oleh Neisseria

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gonorea dalam arti luas mencakup semua penyakit yang disebabkan oleh Neisseria 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gonorea 2.1.1 Definisi Gonorea dalam arti luas mencakup semua penyakit yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoeae. Gonore adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Neisseria

Lebih terperinci

INFEKSI MENULAR SEKSUAL: DIAGNOSIS & TATALAKSANA

INFEKSI MENULAR SEKSUAL: DIAGNOSIS & TATALAKSANA Sex, HIV, Drugs_July 10, 2014 WRESTI INDRIATMI 2 SKDI 2012 INFEKSI MENULAR SEKSUAL INFEKSI MENULAR SEKSUAL: DIAGNOSIS & TATALAKSANA Wresti Indriatmi Dep. IK Kulit & Kelamin FKUI-RSCM Kelompok Studi IMS

Lebih terperinci

UJI BEDA SENSITIVITAS KANAMISIN DENGAN SEFTRIAKSON PADA KUMAN NEISSERIA GONORRHOEAE SECARA IN VITRO LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH

UJI BEDA SENSITIVITAS KANAMISIN DENGAN SEFTRIAKSON PADA KUMAN NEISSERIA GONORRHOEAE SECARA IN VITRO LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH UJI BEDA SENSITIVITAS KANAMISIN DENGAN SEFTRIAKSON PADA KUMAN NEISSERIA GONORRHOEAE SECARA IN VITRO LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian hasil Karya Tulis Ilmiah

Lebih terperinci

KAJIAN KARAKTERISTIK DAN POLA PENGOBATAN PASIEN INFEKSI MENULAR SEKSUAL DI RSUD AW SJAHRANIE SAMARINDA

KAJIAN KARAKTERISTIK DAN POLA PENGOBATAN PASIEN INFEKSI MENULAR SEKSUAL DI RSUD AW SJAHRANIE SAMARINDA KAJIAN KARAKTERISTIK DAN POLA PENGOBATAN PASIEN INFEKSI MENULAR SEKSUAL DI RSUD AW SJAHRANIE SAMARINDA Yuniarti Pudji Rahayu*, Adam M. Ramadhan, Laode Rijai Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman, Samarinda,

Lebih terperinci

Universitas Sumatera Utara

Universitas Sumatera Utara 15 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. AIDS, Sifilis, Gonorrhea dan Klamydia adalah merupakan penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) yang sering terjadi di kalangan masyarakat. Antara sadar dan tidak,

Lebih terperinci

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI INSTALASI RAWAT INAP RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JULI JUNI

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI INSTALASI RAWAT INAP RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JULI JUNI EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI INSTALASI RAWAT INAP RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JULI 2013 - JUNI 2014 Fahijratin N.K.Mantu 1), Lily Ranti Goenawi 1),

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (ureteritis), jaringan ginjal (pyelonefritis). 1. memiliki nilai kejadian yang tinggi di masyarakat, menurut laporan di

BAB I PENDAHULUAN. (ureteritis), jaringan ginjal (pyelonefritis). 1. memiliki nilai kejadian yang tinggi di masyarakat, menurut laporan di 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan invasi mikroorganisme pada salah satu atau beberapa bagian saluran kemih. Saluran kemih yang bisa terinfeksi antara lain urethra

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu tempat terjadinya inflamasi primer akut. 3. yang akhirnya dapat menyebabkan apendisitis. 1

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu tempat terjadinya inflamasi primer akut. 3. yang akhirnya dapat menyebabkan apendisitis. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Salah satu penyakit bedah mayor yang sering terjadi adalah. 1 merupakan nyeri abdomen yang sering terjadi saat ini terutama di negara maju. Berdasarkan penelitian epidemiologi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. bedah pada anak yang paling sering ditemukan. Kurang lebih

BAB 1 PENDAHULUAN. bedah pada anak yang paling sering ditemukan. Kurang lebih BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Sekitar 5%-10% dari seluruh kunjungan di Instalasi Rawat Darurat bagian pediatri merupakan kasus nyeri akut abdomen, sepertiga kasus yang dicurigai apendisitis didiagnosis

Lebih terperinci

BAB I Pendahuluan. Penyakit gonore adalah penyakit infeksi menular. yang disebabkan oleh infeksi bakteri

BAB I Pendahuluan. Penyakit gonore adalah penyakit infeksi menular. yang disebabkan oleh infeksi bakteri 1 BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Penyakit gonore adalah penyakit infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae (Kumar et al. 2013). Organisme ini dalam

Lebih terperinci

KLAMIDIASIS. I. Definisi

KLAMIDIASIS. I. Definisi DD KLAMIDIASIS I. Definisi Klamidiasis adalah infeksi PMS (penyakit menular seksual) yang sangat umum menyerang manusia. Penyakit yang juga dikenal dengan nama Uretritis Non-Gonore atau Uretritis Non-Spesifik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi saluran reproduksi, termasuk infeksi menular seksual masih

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi saluran reproduksi, termasuk infeksi menular seksual masih BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Infeksi saluran reproduksi, termasuk infeksi menular seksual masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terjadi di negara-negara berkembang (World Health Organization,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3. 1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan cross sectional. Pengambilan data yang dilakukan secara retrospektif melalui seluruh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Menular Seksual (PMS) dewasa ini kasuanya semakin banyak diantaranya adalah Gonorea, Sifilis, Hepatitis B, Hepatitis C, HIV/AIDS, Kandidiasis dan Trichomonas.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sifilis merupakan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. Sifilis merupakan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan oleh BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sifilis merupakan Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Sifilis bersifat kronik dan sistemik karena memiliki masa laten, dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi neonatus khususnya sepsis neonatorum sampai saat ini masih

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi neonatus khususnya sepsis neonatorum sampai saat ini masih BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi neonatus khususnya sepsis neonatorum sampai saat ini masih menjadi masalah karena merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada bayi baru lahir. Masalah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan

BAB 1 PENDAHULUAN. Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan tindakan pembedahan. Keterlambatan dalam penanganan kasus apendisitis akut sering

Lebih terperinci

PROFIL PSORIASIS DI POLIKLNIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI-DESEMBER 2012

PROFIL PSORIASIS DI POLIKLNIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI-DESEMBER 2012 PROFIL PSORIASIS DI POLIKLNIK KULIT DAN KELAMIN RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JANUARI-DESEMBER 2012 1 Anggelina Moningka 2 Renate T. Kandou 2 Nurdjanah J. Niode 1 Kandidat Skripsi Fakultas

Lebih terperinci

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEWASA DENGAN PENYAKIT GONORE DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA PERIODE JANUARI 2013-JULI 2016 SKRIPSI

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEWASA DENGAN PENYAKIT GONORE DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA PERIODE JANUARI 2013-JULI 2016 SKRIPSI EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN DEWASA DENGAN PENYAKIT GONORE DI RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA PERIODE JANUARI 2013-JULI 2016 SKRIPSI Oleh RAFIKA SURYA DEWI K 100 130 046 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang disebabkan oleh kuman diplokokus gram negatif Neisseria

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang disebabkan oleh kuman diplokokus gram negatif Neisseria BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gonore 2.1.1. Definisi Gonore merupakan infeksi pada permukaan membran mukosa yang disebabkan oleh kuman diplokokus gram negatif Neisseria gonorrhoeae. Meskipun penyakit ini

Lebih terperinci

ABSTRAK KORELASI ANTARA PENGETAHUAN DENGAN SIKAP DAN PERILAKU LAKI-LAKI SEKS DENGAN LAKI-LAKI MENGENAI GONORE DI YAYASAN X BANDUNG

ABSTRAK KORELASI ANTARA PENGETAHUAN DENGAN SIKAP DAN PERILAKU LAKI-LAKI SEKS DENGAN LAKI-LAKI MENGENAI GONORE DI YAYASAN X BANDUNG ABSTRAK KORELASI ANTARA PENGETAHUAN DENGAN SIKAP DAN PERILAKU LAKI-LAKI SEKS DENGAN LAKI-LAKI MENGENAI GONORE DI YAYASAN X BANDUNG Maria Pyrhadistya, 2016; Pembimbing I: Dr. Oeij Anindita Adhika, dr.,

Lebih terperinci

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS SEFTRIAKSON DENGAN SIPROFLOKSASIN PADA KUMAN NEISSERIA GONORRHOEAE SECARA IN VITRO

PERBANDINGAN EFEKTIVITAS SEFTRIAKSON DENGAN SIPROFLOKSASIN PADA KUMAN NEISSERIA GONORRHOEAE SECARA IN VITRO PERBANDINGAN EFEKTIVITAS SEFTRIAKSON DENGAN SIPROFLOKSASIN PADA KUMAN NEISSERIA GONORRHOEAE SECARA IN VITRO Sela Eka Firdiana 1, Muslimin 2, Helmia Farida 3 1 Mahasiswa Program Pendidikan S-1 Kedokteran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. satu penyebab kematian utama di dunia. Berdasarkan. kematian tertinggi di dunia. Menurut WHO 2002,

BAB I PENDAHULUAN. satu penyebab kematian utama di dunia. Berdasarkan. kematian tertinggi di dunia. Menurut WHO 2002, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi adalah invasi dan multiplikasi mikroorganisme atau parasit dalam jaringan tubuh (1). Infeksi tidak hanya menjadi masalah kesehatan bagi Indonesia bahkan di

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human

BAB 1 PENDAHULUAN. HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang HIV merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi HIV dapat menyebabkan penderita

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sinus yang disebabkan berbagai macam alergen. Rinitis alergi juga merupakan

BAB I PENDAHULUAN. sinus yang disebabkan berbagai macam alergen. Rinitis alergi juga merupakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rinitis alergi merupakan inflamasi kronis mukosa saluran hidung dan sinus yang disebabkan berbagai macam alergen. Rinitis alergi juga merupakan masalah kesehatan global

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Selatan dan 900/ /tahun di Asia (Soedarmo, et al., 2008).

BAB I PENDAHULUAN. Amerika Selatan dan 900/ /tahun di Asia (Soedarmo, et al., 2008). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia, terutama di negara yang sedang berkembang. Besarnya angka pasti pada kasus demam tifoid di

Lebih terperinci

Peran ISTC dalam Pencegahan MDR. Erlina Burhan Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI RSUP Persahabatan

Peran ISTC dalam Pencegahan MDR. Erlina Burhan Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI RSUP Persahabatan Peran ISTC dalam Pencegahan MDR Erlina Burhan Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI RSUP Persahabatan TB MDR Man-made phenomenon Akibat pengobatan TB tidak adekuat: Penyedia pelayanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Demam typhoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut pada usus halus yang disebabkan oleh Salmonella enterica serotype typhi (Salmonella typhi) (Kidgell

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. subtropis terutama di negara berkembang dengan kualitas sumber air yang tidak

BAB I PENDAHULUAN. subtropis terutama di negara berkembang dengan kualitas sumber air yang tidak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada saluran pencernaan.demam tifoid dapat dijumpai secara luas di daerah tropis dan subtropis terutama

Lebih terperinci

Nama Jurnal : European Journal of Ophthalmology / Vol. 19 no. 1, 2009 / pp. 1-9

Nama Jurnal : European Journal of Ophthalmology / Vol. 19 no. 1, 2009 / pp. 1-9 Judul Jurnal : Efektifitas Penggunaan Levofloxacin Yang di Berikan Tiga Kali Sehari Untuk Pengobatan Konjungtivitis Bakterial Ditinjau Secara Klinis dan Mikrobiologis Nama Jurnal : European Journal of

Lebih terperinci

Gonore Menyebabkan Vagina Bernanah

Gonore Menyebabkan Vagina Bernanah Gonore Menyebabkan Vagina Bernanah Gonore Menyebabkan Vagina Bernanah - Kelamin sakit dan kencing bercampur nanah bisa terjadi karena infeksi bakteri gonore. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Infeksi bakteri yang berkembang menjadi sepsis yang merupakan suatu respon tubuh dengan adanya invasi mikroorganisme, bakteremia atau pelepasan sitokin akibat pelepasan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Vaginosis bakterial (VB) adalah suatu keadaan abnormal pada ekosistem

BAB 1 PENDAHULUAN. Vaginosis bakterial (VB) adalah suatu keadaan abnormal pada ekosistem BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Vaginosis bakterial (VB) adalah suatu keadaan abnormal pada ekosistem vagina yang ditandai adanya konsentrasi Lactobacillus sebagai flora normal vagina digantikan oleh

Lebih terperinci

TEAM BASED LEARNING MODUL SIFILIS PRIMER. Diberikan pada Mahasiswa Semester IV Fakultas Kedokteran Unhas DISUSUN OLEH :

TEAM BASED LEARNING MODUL SIFILIS PRIMER. Diberikan pada Mahasiswa Semester IV Fakultas Kedokteran Unhas DISUSUN OLEH : TEAM BASED LEARNING MODUL SIFILIS PRIMER Diberikan pada Mahasiswa Semester IV Fakultas Kedokteran Unhas DISUSUN OLEH : dr. Idrianti Idrus, Sp.KK, MKes SISTEM UROGENITAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan

BAB 1 PENDAHULUAN. Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Apendisitis akut merupakan penyebab akut abdomen yang paling sering memerlukan tindakan pembedahan. Keterlambatan dalam penanganan kasus apendisitis akut sering menyebabkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama. morbiditas dan mortalitas di dunia.

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama. morbiditas dan mortalitas di dunia. BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Di samping itu penyakit infeksi juga bertanggung jawab pada penurunan kualitas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. bakteri anaerob dalam konsentrasi tinggi, (seperti : Bacteroides sp., Mobilluncus

BAB 1 PENDAHULUAN. bakteri anaerob dalam konsentrasi tinggi, (seperti : Bacteroides sp., Mobilluncus BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Vaginosis bakterial (VB) adalah sindrom klinik akibat pergantian Lactobacillus sp., penghasil H 2 O 2 yang merupakan flora normal vagina dengan bakteri anaerob dalam

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pneumonia, mendapatkan terapi antibiotik, dan dirawat inap). Data yang. memenuhi kriteria inklusi adalah 32 rekam medik.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. pneumonia, mendapatkan terapi antibiotik, dan dirawat inap). Data yang. memenuhi kriteria inklusi adalah 32 rekam medik. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini mengevaluasi tentang penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia di RSU PKU Muhammadiyah Bantul. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terdapat 79 rekam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. bawah 5 tahun dibanding penyakit lainnya di setiap negara di dunia. Pada tahun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. bawah 5 tahun dibanding penyakit lainnya di setiap negara di dunia. Pada tahun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pneumonia merupakan penyakit yang banyak membunuh anak usia di bawah 5 tahun dibanding penyakit lainnya di setiap negara di dunia. Pada tahun 2004, sekitar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lagi dan diubah menjadi PMS (penyakit menular seksual) karena seiring dengan

BAB I PENDAHULUAN. lagi dan diubah menjadi PMS (penyakit menular seksual) karena seiring dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kelamin (veneral diseases) merupakan suatu fenomena yang telah lama kita kenal seperti sifilis, gonore, ulkus mole, limfogranuloma venerum dan granuloma inguinal.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang

BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Penyakit Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang bagian paru, namun tak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rinitis alergi (RA) merupakan suatu inflamasi pada mukosa rongga hidung

BAB I PENDAHULUAN. Rinitis alergi (RA) merupakan suatu inflamasi pada mukosa rongga hidung BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rinitis alergi (RA) merupakan suatu inflamasi pada mukosa rongga hidung yang disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe I yang dipicu oleh alergen tertentu.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah. kesehatan yang terus berkembang di dunia. Peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah. kesehatan yang terus berkembang di dunia. Peningkatan BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penyakit infeksi merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus berkembang di dunia. Peningkatan penyakit infeksi ini dapat memberikan pengaruh terhadap penggunaan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. jernih yang keluar, bercampur dengan bakteri, sel-sel vagina yang terlepas dan

BAB 1 PENDAHULUAN. jernih yang keluar, bercampur dengan bakteri, sel-sel vagina yang terlepas dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam kondisi normal, kelenjar pada serviks menghasilkan suatu cairan jernih yang keluar, bercampur dengan bakteri, sel-sel vagina yang terlepas dan sekresi dari kelenjar

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PENYAKIT KUSTA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP SANGLAH DENPASAR PERIODE

ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PENYAKIT KUSTA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP SANGLAH DENPASAR PERIODE ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PENYAKIT KUSTA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP SANGLAH DENPASAR PERIODE 2011 2013 Kasus kusta di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan Negara lain. Angka kejadian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kejang demam merupakan salah satu kejadian bangkitan kejang yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kejang demam merupakan salah satu kejadian bangkitan kejang yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kejang demam merupakan salah satu kejadian bangkitan kejang yang sering dijumpai pada anak. Bangkitan kejang ini disebabkan oleh demam dimana terdapat kenaikan suhu

Lebih terperinci

ABSTRAK. Stephanie Amelinda Susanto, 2011, Pembimbing I: Laella K. Liana, dr., Sp.PA, M. Kes., Pembimbing II: Donny Pangemanan, drg, SKM

ABSTRAK. Stephanie Amelinda Susanto, 2011, Pembimbing I: Laella K. Liana, dr., Sp.PA, M. Kes., Pembimbing II: Donny Pangemanan, drg, SKM ABSTRAK GAMBARAN PENGETAHUAN SIKAP DAN PERILAKU TENTANG INFEKSI MENULAR SEKSUAL PADA KELOMPOK WANITA DI KECAMATAN ASTANA ANYAR YANG MENGUNJUNGI KLINIK X UNTUK MELAKUKAN PAP SMEARS TAHUN 2011 Stephanie

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tahun 2013 menjelaskan. HIV atau Human Immunodefisiensi Virus merupakan virus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tahun 2013 menjelaskan. HIV atau Human Immunodefisiensi Virus merupakan virus BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tahun 2013 menjelaskan HIV atau Human Immunodefisiensi Virus merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Menurut Center

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid termasuk dalam 10 besar masalah kesehatan di negara berkembang dengan prevalensi 91% pada pasien anak (Pudjiadi et al., 2009). Demam tifoid merupakan penyakit

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. mikroba yang terbukti atau dicurigai (Putri, 2014). Sepsis neonatorum adalah

BAB 1 PENDAHULUAN. mikroba yang terbukti atau dicurigai (Putri, 2014). Sepsis neonatorum adalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sepsis adalah sindroma respons inflamasi sistemik dengan etiologi mikroba yang terbukti atau dicurigai (Putri, 2014). Sepsis neonatorum adalah Systemc Inflammation

Lebih terperinci

Evidence-based Treatment Of Acute Infective Conjunctivitis Breaking the cycle of antibiotic prescribing

Evidence-based Treatment Of Acute Infective Conjunctivitis Breaking the cycle of antibiotic prescribing Evidence-based Treatment Of Acute Infective Conjunctivitis Breaking the cycle of antibiotic prescribing Oleh : Rizana Tsalats (09171113) Pembimbing : Dr. Hj. Arlina Yunita Marsida, Sp.M Konjungtivitis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA Fakultas Kedokteran UGM 1

BAB I PENDAHULUAN. Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA Fakultas Kedokteran UGM 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Henoch-Schonlein Purpura (HSP) merupakan suatu mikrovaskular vaskulitis sistemik dengan karakteristik adanya deposisi kompleks imun dan keterlibatan immunoglobulin A

Lebih terperinci

PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT Vol. 4 No. 3 Agustus 2015 ISSN

PHARMACONJurnal Ilmiah Farmasi UNSRAT Vol. 4 No. 3 Agustus 2015 ISSN 1) EVALUASI KERASIONALAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PENGOBATAN BRONKITIS KRONIK PASIEN RAWAT JALAN DI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE JUNI 2013-JUNI 2014 2) 1) Abraham Sanni 1), Fatimawali 1),

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan di dunia, baik negara maju maupun negara berkembang. Upaya

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan di dunia, baik negara maju maupun negara berkembang. Upaya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Infeksi Menular Seksual (IMS) sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan di dunia, baik negara maju maupun negara berkembang. Upaya pencegahan IMS yang dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI... ii PENETAPAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI... iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI.... iv ABSTRAK v ABSTRACT. vi RINGKASAN.. vii SUMMARY. ix

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian... 4

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian... 4 DAFTAR ISI Halaman SAMPUL DALAM.. i LEMBAR PERSETUJUAN ii PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iii UCAPAN TERIMAKASIH iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI.. v ABSTRAK.. vi ABSTRACT... vii RINGKASAN.. viii

Lebih terperinci

memfasilitasi sampel dari bagian tengah telinga, sebuah otoscope, jarum tulang belakang, dan jarum suntik yang sama-sama membantu. 4.

memfasilitasi sampel dari bagian tengah telinga, sebuah otoscope, jarum tulang belakang, dan jarum suntik yang sama-sama membantu. 4. KONSEP MEDIK A. Pengertian Mastoiditis Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang diakibatkan oleh suatu infeksi pada telinga tengah, jika tak diobati dapat terjadi osteomielitis. Mastoiditis adalah segala

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sampai bulan sesudah diagnosis (Kurnianda, 2009). kasus baru LMA di seluruh dunia (SEER, 2012).

BAB 1 PENDAHULUAN. sampai bulan sesudah diagnosis (Kurnianda, 2009). kasus baru LMA di seluruh dunia (SEER, 2012). BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Leukemia Mieloid Akut (LMA) adalah salah satu kanker darah yang ditandai dengan transformasi ganas dan gangguan diferensiasi sel-sel progenitor dari seri mieloid. Bila

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbagai sumber infeksi, seperti: gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga

BAB I PENDAHULUAN. berbagai sumber infeksi, seperti: gigi, mulut, tenggorok, sinus paranasal, telinga BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Abses leher dalam adalah terkumpulnya nanah (pus) di dalam ruang potensial yang terletak di antara fasia leher dalam, sebagai akibat penjalaran dari berbagai sumber

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gonore adalah penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Gonore adalah penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gonore 2.1.1 Definisi Gonore adalah penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS) yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. 1 Bakteri tersebut menginfeksi membran mukus dari

Lebih terperinci

PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH

PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH PEDOMAN PENULISAN KARYA ILMIAH ABSTRAK 1. Abstrak dibuat dalam Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, maksimal 250 kata. 2. Pada abstrak tercantum judul, penulis (tanpa gelar akademik), nama penulis utama

Lebih terperinci

ANALISIS KUALITATIF PENGGUNAAN ANTIBIOTIK GOLONGAN SEFALOSPORIN DI RUMAH SAKIT X KUPANG

ANALISIS KUALITATIF PENGGUNAAN ANTIBIOTIK GOLONGAN SEFALOSPORIN DI RUMAH SAKIT X KUPANG ANALISIS KUALITATIF PENGGUNAAN ANTIBIOTIK GOLONGAN SEFALOSPORIN DI RUMAH SAKIT X KUPANG ABSTRAK Maria Roberty Tressy Da Helen Antibiotik ialah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba terutama fungi, yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam tifoid merupakan penyakit infeksi tropik sistemik, yang disebabkan oleh Salmonella typhi (S.typhi), bersifat endemis, dan masih merupakan masalah kesehatan masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Asma masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di. dunia dan merupakan penyakit kronis pada sistem

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Asma masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di. dunia dan merupakan penyakit kronis pada sistem BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asma masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia dan merupakan penyakit kronis pada sistem respirasi tersering pada anak (GINA, 2009). Dalam 20 tahun terakhir,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Tahun 2006, World Health Organization melaporkan lebih dari seperempat

BAB I PENDAHULUAN. dunia. Tahun 2006, World Health Organization melaporkan lebih dari seperempat BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Antibiotika merupakan golongan obat yang paling banyak digunakan di dunia. Tahun 2006, World Health Organization melaporkan lebih dari seperempat anggaran Rumah Sakit

Lebih terperinci