BAB II TINJAUAN DAN LANDASAN TEORI
|
|
|
- Ratna Leony Indradjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Umum Pengertian Wisma Wisma memiliki 2 pengertian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002), diantaranya: Wisma sebagai bangunan untuk tempat tinggal, kantor, dsb Wisma merupakan kumpulan rumah, kompleks perumahan, permukiman. Berdasarkan fungsinya sebagai tempat tinggal, wisma memiliki beberapa fasilitas. Fasilitas yang disediakan oleh Wisma Indonesia, antara lain: (Sumber: Wisma Indonesia, London, UK) Ruang Tidur Ruang ini berisi tempat tidur yang dilengkapi dengan meja tulis. Ruang Makan Ruangan dimana penghuni dapat berjumpa dengan tamu-tamu lain di Wisma Indonesia. Di ruangan ini tersedia pula big screen untuk menikmati acara-acara olahraga dunia. Dapur Peralatan dapur dilengkapi dengan microwave dan kompor yang siap pakai. Penjemputan dan Sewa Mobil Penjemputan dari airport dan stasiun tersedia atas permintaan dengan harga khusus. Serta tersedia juga mobil khusus/shuttle bus untuk mengantar keliling kota. Tempat Parkir Wisma Indonesia memberi kemudahan untuk mendapat tempat parkir secara gratis. Fasilitas Tambahan Fasilitas ini merupakan fasilitas jasa dan peralatan/keperluan umum seperti handuk, sleepers, dan perlengkapan sholat. 14
2 Hotspot (Wi-fi) Fasilitas wi-fi internet broadband gratis bagi penghuni sehingga memudahkan penghuni untuk berkomunikasi di dunia maya Pengertian Atlet Atlet merupakan olahragawan; terutama yang mengikuti perlombaan atau pertandingan (kekuatan, ketangkasan, dan kecepatan). (Sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002). Kepala bidang pembinaan prestasi menyatakan dalam Kompas 2011 bahwa atlet pelatnas yang diikutsertakan dalam ajang kompetisi nasional maupun internasional harus diseleksi terlebih dahulu mengingat kondisi fisik dan kemampuan dasar atlet tersebut. Setiap cabang olahraga dimainkan oleh atletnya masing-masing dengan sangat baik dan bertanggung jawab atas olahraga yang digandrungi oleh atlet tersebut. Berikut ini adalah cabang olahraga yang diselenggarakan oleh KONI Pusat, Jakarta, diantaranya: Cabang olahraga ber-regu: Bola Basket Bola Voli Sepak Bola Baseball Softball Futsal Sepak Takraw Canoe Hoki Bola Tangan Cabang olahraga individu: Atletik Panahan Bulu Tangkis Tinju Sepeda Berkuda Gulat Anggar Senam Judo Berlayar Menembak Tenis Tenis Meja Angkat Besi Binaraga Taekwondo Olahraga Air/Renang 15
3 Peraturan yang berlaku untuk atlet bulu tangkis yang baru akan memasuki pelatnas selalu diberikan tes kesehatan pada sesi seleksi nasional, setelahnya atlet yang lulus seleksi akan diberikan pengarahan karakter dan mental selama sebulan, hal ini dikemukan oleh kepala bidang pembinaan PBSI. (Sumber: TEMPO, 5 Maret 2006) Pengertian Wisma Atlet Pengertian wisma atlet merupakan gabungan pengertian dari atlet dan wisma, jadi wisma atlet merupakan tempat tinggal/kompleks perumahan yang diperuntukkan bagi olahragawan yang akan mengikuti pertandingan. Wisma atlet memiliki beberapa fasilitas, diantaranya: (Sumber: Jurnal Kampung Atlet di Surabaya, 2008) Hunian Atlet Lapangan Pemanasan Hunian Pelatih Ruang Fisik Kantor Pengelola Ruang Rekreasi Ruang Makan Fasilitas Pendukung Hall of Fame Ruang Servis 2.2 Tinjauan Khusus Pengertian Perilaku Atlet Perilaku/behavior merupakan (tingkah laku, kelakuan, perilaku, tindak-tanduk, perangai); sebarang respon (reaksi, tanggapan, jawaban, balasan) yang dilakukan oleh suatu organisme; secara khusus, bagian dari satu kesatuan pola reaksi; suatu perbuatan atau aktivitas; suatu gerak atau kompleks gerak-gerak. (Sumber: Kamus Lengkap Psikologi, 2008). Proses dan pola perilaku manusia dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu proses individual dan proses sosial. Proses individual meliputi: (Sumber: Arsitektur dan Perilaku Manusia, 2005:45-46) Persepsi Lingkungan Proses menusia menerima informasi mengenai lingkungan sekitarnya dan informasi mengenai ruang fisik tersebut kemudian diorganisasikan ke dalam pikiran manusia. 16
4 Kognisi Spasial Keragaman proses berpikir selanjutnya, mengorganisasikan, menyimpan, dan mengingat kembali informasi mengenai lokasi, jarak, dan tatanan dalam lingkungan fisik. Perilaku Spasial Merupakan hasil yang termanifestasikan dalam tindakan dan respons seseorang, termasuk deskripsi dan preferensi personal, respons emosional, ataupun evaluasi kecenderungan perilaku yang muncul dalam interaksi manusia dengan lingkungan fisiknya. Dapat dirumuskan, perilaku atlet yaitu tingkah laku/kelakuan atlet dalam merespon pola interaksi, dengan kata lain yang dipersingkat perilaku atlet merupakan aktivitas atlet. Perilaku atlet ada banyak ragam, pada saat atlet berlatih secara ber-regu, atlet latihan secara individu, atlet beristirahat dengan tidur, bermain, atau berjalan-jalan. Perilaku Istirahat Atlet Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa menyatakan bahwa, dalam persiapan untuk menghadapi pertandingan memerlukan waktu latihan yang efektif. Hal-hal yang mempengaruhi efektifitas latihan diantaranya, keadaan atlet harus relaks tanpa tekanan emosional, untuk mendapatkan perasaan relaks maka atlet harus istirahat cukup. Istirahat yang cukup sama pentingnya dengan usaha untuk berlatih keras. Terdapat 3 jenis istirahat aktif yang dikemukakan oleh Dr. Edlund (2010), diantaranya yaitu: Sosialisasi, merupakan istirahat dengan menghabiskan waktu bersama teman dengan mengobrol bersama rekan-rekan. Dengan istirahat jenis ini maka dapat mengurangi tingkat hormon stress dan memberi manfaat hormonal dan psikologis. Istirahat Mental, istirahat ini untuk mendapatkan kondisi khusyuk. Istirahat jenis ini dapat dilakukan dengan membaca buku. Istirahat Fisik, dilakukan dengan kegiatan tidur untuk pemulihan tubuh dan pikiran. 17
5 Weiberg dan Gould dalam buku Dasar-dasar Psikologi Olahraga (2000) menyatakan bahwa atlet yang bermain dalam olahraga ber-regu cenderung ekstrovert dan lebih dependen atau lebih menggantungkan diri pada orang lain/sesama. Sedangkan atlet cabang olahraga individu menciptakan tekanan lebih besar dibanding atlet cabang olahraga berregu (Humara, 2008) Pengertian Privasi Psikologi atlet ber-regu dan atlet individu dengan sendirinya membentuk kebutuhan akan privasi serta terbentuklah teritori didalamnya. Privasi sendiri merupakan salah satu konsep dari gejala persepsi manusia terhadap lingkungannya, dimana konsep ini amat dekat dengan konsep ruang personal dan teritorialitas. Terdapat beberapa macam mengenai privasi, dimana masingmasingnya disajikan dalam pemahaman yang berbeda. Westin (1970) mengidentifikasi 4 tipe privasi: (Sumber: John Lang, 1987) Solitude, merupakan situasi bebas tanpa gangguan dari orang lain Intimacy, situasi dimana bersama dengan orang lain tapi terbebas dari dunia luar Anonymity, situasi dimana tidak diketahui meskipun berada dalam keramaian Reserve, merupakan situasi dimana seseorang dipekerjakan sebagai pengatur situasi apabila terjadi keadaan yang menggangu. Privasi merupakan inti dari ruang personal. Privasi adalah kehendak untuk mengontrol akses fisik ataupun informasi terhadap diri sendiri dari pihak orang lain, sedangkan ruang personal merupakan perwujudan privasi itu dalam bentuk ruang. Dari uraian tersebut, privasi mempunyai fungsi dan merupakan bagian dari komunikasi. Dengan demikian, privasi memiliki tujuan sebagai berikut: (Sumber: Joyce M. Laurens, 2005) Memberikan perasaan berdiri sendiri, mengembangkan identitas pribadi. 18
6 Memberi kesempatan untuk melepaskan emosi. Membantu mengevaluasi diri sendiri, menilai diri sendiri. Membatasi dan melindungi diri sendiri dari komunikasi dengan orang lain. Privasi dalam arsitektur merupakan suatu kebutuhan manusia untuk menikmati sebagian dari kehidupan sehari-hari tanpa ada ganggunan baik langsung maupun tidak langsung oleh subyek lain. Hal ini dinyatakan dalam suatu ruang yang tertutup dari jangkauan pandangan maupun fisik dari pihak luar. Jadi, konsep privasi ini jelas ada batasan-batasan fisik dalam usaha mencapainya. Menurut Joyce M. Laurens, 2005 menyatakan bahwa pada umumnya, interaksi yang terjadi di ruang publik adalah interaksi yang tidak direncanakan, diantaranya: Penataan ruang publik untuk mendapat privasi merupakan penataan ruang agar pertemuan antara orang-orang asing, yang tidak saling mengenal dapat terjadi dengan tenang dan efisien. Ruang-ruang semipublik bersifat sedikit lebih privat daripada ruang publik, seperti koridor, lobi, sekolah, dll. Penataan ruang semipublik untuk mendapatkan privasi lebih menekankan peluang terjadinya interaksi atau menghindari terjadinya interaksi. Ruang semiprivate, untuk mendapatkan privasi dalam ruang ini yaitu dengan menciptakan batas-batas antar kegiatan yang dapat menimbulkan konflik. Ruang privat, ruang ini biasanya hanya terbuka bagi seseorang atau sekelompok kecil Pengertian Teritori Saat atlet melakukan istirahat sosial hingga istirahat fisik, secara tak disadari akan terbentuk sebuah teritori dimana atlet tidak akan merasa terganggu saat beristirahat. Teritori yang dibentuk dalam ruang arsitektur berdasarkan jenis istirahatnya maka akan membentuk privasi. Sehingga 19
7 dalam beristirahat, atlet memerlukan teritori untuk mencapai privasinya. (Sumber: Agus Dharma, 1998) Julian Edney (1974) mendefinisikan teritorialitas sebagai sesuatu yang berkaitan dengan ruang fisik, tanda, kepemilikan, pertahanan, penggunaan yang eksklusif, personalisasi, dan identitas. Termasuk didalamnya dominasi, control, konflik, keamanan, gugatan akan sesuatu, dan pertahanan. Holahan (dalam Iskandar, 1990) mengungkapkan bahwa teritorialitas adalah suatu tingkah laku yang diasosiasikan pemilikan atau tempat yang ditempatinya atau area yang sering melibatkan cirri pemilikannya dan pertahanan dari serangan orang lain. Dengan demikian menurut Altman (1975) penghuni tempat tersebut dapat mengontrol daerahnya atau unitnya dengan benar, atau merupakan suatu teritorial primer. Menurut John Lang (1987), teritorialitas memiliki 4 karakter utama, diantaranya: Kepemilikan atau hak dari suatu tempat Personalisasi atau penandaan dari suatu area tertentu Hak untuk mempertahankan diri dari gangguan luar Pengatur dari beberapa fungsi, mulai dari bertemunya kebutuhan dasar psikologis sampai kepada kepuasan kognitif dan kebutuhankebutuhan estetika. Pembagian teritori menurut Altman (1980) dibagi menjadi 3 bagian yang didasarkan pada derajat privasi, afiliasi, dan kemungkinan pencapaian, diantaranya: Teritori Primer Teritori ini dipergunakan secara khusus bagi pemiliknya. Pelanggaran terhadap teritori ini akan mengakibatkan timbulnya perlawanan dari pemiliknya dan ketidakmampuan untuk mempertahankan teritori utama ini akan mengakibatkan masalah yang serius terhadap aspek psikologis pemiliknya. Contoh dari teritori ini adalah ruang kerja, ruang tidur, wilayah Negara, dll. 20
8 Teritori Sekunder Jenis ini lebih longgar pemakaiannya dan pengontrolan oleh perorangan. Teritorial ini dimiliki bersama oleh sejumlah orang yang sudah cukup saling mengenal. Contoh dari teritori ini yaitu ruang kelas, kantin, kampus, dan ruang latihan olahraga. Sifat dari teritori ini yaitu semi publik. Teritorial Umum/Publik Teritori yang terbuka untuk umum dan dapat digunakan oleh setiap orang dengan mengikuti aturan-aturan yang lazim di dalam masyarakat dimana teritorial umum itu berada. Contoh dari teritori ini adalah bis kota, gedung bioskop, dan sebagainya. Lyman dan Scott (1967) juga membuat klasifikasi teritorialitas yang sebanding dengan Altman, namun terdapat 2 tipe yang berbeda, yaitu: Teritori Interaksi Teritori yang ditujukan pada suatu daerah yang secara temporer dikendalikan oleh sekelompok orang yang berinteraksi. Contoh dari teritori ini adalah sebuah tempat perkemahan dan lapangan sepak bola. Teritori Badan Teritori ini dibatasi oleh badan manusia, artinya segala sesuatu mengenai kulit manusia tanpa ijin dianggap gangguan. Secara otomatis orang akan mempertahankan diri terhadap gangguan tersebut. Pengontrolan teritori dapat mencapai lingkup privasi dalam suatu lingkungan, karena didalamnya tercakup pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang meliputi: (Sumber: John Lang dan Sharkwy, 1987) Kebutuhan akan identitas, berkaitan dengan kebutuhan akan kepemilikan, kebutuhan terhadap aktualisasi diri, yang pada prinsipnya adalah dapat menggambarkan kedudukan serta peran seseorang dalam masyarakat. 21
9 Kebutuhan terhadap stimulasi yang berkaitan erat dengan aktualisasi dan pemenuhan diri. Kebutuhan akan rasa aman, dalam bentuk bebas dari kecaman, bebas dari serangan oleh pihak luar, dan memiliki keyakinan diri. Kebutuhan yang berkaitan dengan pemeliharaan hubungan dengan pihak-pihak lain dan lingkungan sekitarnya. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keanekaan teritori adalah karakter personal seseorang, perbedaan situasional berupa tatanan fisik dan situasi sosial budaya seseorang. faktor yang mempengaruhi teritori, diantaranya: Faktor Personal, berupa jenis kelamin, usia, dan kepribadian seseorang. Situasi, tatanan fisik dan sosial budaya seseorang. Faktor Budaya, latar belakang budaya dalam sebuah kelompok yang memiliki kebudayaan sama. Joyce M. Laurens (2005) menyatakan bahwa penerapan teritorialitas dalam desain arsitektur mengacu pada pola tingkah laku manusia yang berkaitan dengan teritorialitas sehingga dapat mengurangi agresi, meningkatkan kontrol, dan membangkitkan rasa tertib dan aman. Publik dan Privat Ruang publik adalah area yang terbuka. Ruang ini dapat dicapai oleh siapa saja pada waktu kapan saja dan tanggung jawab pemeliharaannya adalah kolektif. Ruang privat adalah area yang aksesibilitasnya ditentukan oleh seseorang atau oleh sekelompok orang dengan tanggung jawab ada pada mereka. Derajat aksesibilitas itu terkadang merupakan suatu peraturan atau ketentuan, namun dapat juga terjadi suatu kesepakatan saja diantara para pemakainya. Dalam perancangan ruang-ruang arsitektur, perbedaan teritori dapat dilakukan dengan dengan memberikan batas nyata seperti dinding, pintu, atau dapat pula dengan simbolik atau logo tertentu. 22
10 Ruang Peralihan Daerah peralihan dibuat sebagai penghubung berbagai teritori yang berbeda sifatnya. Sebagai daerah peralihan dari teritori primer yang bersifat privat ke teritori publik, perwujudan arsitekturalnya harus ramah karena merupakan daerah selamat datang sekaligus selamat jalan. Area peralihan semacam ini juga dipakai sebagai wadah melakukan kontak sosial sehingga secara administratif bisa termasuk teritori publik ataupun teritori privat. Demikian beberapa penjelasan mengenai teori-teori yang menunjang didalam penelitian ini. Berdasarkan teori dari proses individual perilaku manusia khususnya didalam persepsi manusia terhadap lingkungannya, kebutuhan akan privasi dan teritori diharapkan terpenuhi dengan baik. Dalam penelitian ini, penulis mengangkat beberapa teori penting yang dapat menguatkan hasil penelitian, diantaranya: Privasi didalam ruang arsitektur, khususnya interaksi manusia didalam ruang publik yang tidak direncanakan. Sehingga didapat hasil berupa penataan ruang-ruang publik, semipublik, serta ruang privat. Penerapan kebutuhan privasi kedalam klasifikasi teritori primer, sekunder, dan umum/publik yang dapat menunjang perilaku istirahat atlet. Klasifikasi teritori yang digunakan kemudian dikontrol untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar manusia, seperti rasa aman, nyaman, serta pemeliharaan hubungan relasinya terhadap lingkungan sekitar. Kebutuhan akan teritori pun dipengaruhi oleh faktor karakter personal dan sosial manusia, yang akan membentuk teritorialitas dalam ruang arsitektur. 2.3 Studi Banding Kota Jakarta memiliki beberapa wisma atlet selain wisma fajar di Senayan. Wisma atlet yang masih difungsikan dengan baik, diantaranya yaitu wisma atlet Ragunan, mess Persija di Ragunan, wisma atlet PBSI di Cipayung, wisma pencak silat TMII, dan asrama atlet PB Djarum. Diantara wisma-wisma atlet yang masih baik difungsikan penulis mengambil data literature di beberapa wisma tersebut sebagai bahan pengetahuan tambahan mengenai wisma atlet. 23
11 2.3.1 Studi Lapangan Berikut ini adalah penjelasan mengenai data lapangan yang didapat oleh penulis melalui survey lapangan, dan wawancara dengan atlet pelatihan nasional : WISMA FAJAR, SENAYAN Wisma Fajar pada awalnya difungsikan sebagai mess karyawan Singapura yang bekerja di Jakarta, bangunan tersebut dibangun pada tahun 1974 dan difungsikan pada tahun Pada tahun itu kepemilikan gedung adalah milik orang Singapura, namun untuk keperluan tempat tinggal atlet pelatnas, bangunan tersebut beralih fungsi sebagai wisma atlet sejak tahun 1985 hingga 1995 meskipun susunan ruang dan denahnya tidak seperti wisma atlet pada umumnya. Pengelolaan gedung pun kemudian beralih kepada pihak pemerintah yaitu Gelora Bung Karno pada tahun Foto 2.1 Wisma Fajar Sumber: Survei Lapangan Pada saat wisma fajar ditempati oleh atlet, 1 unitnya diisi sebanyak 15 atlet. Hanya ada 6 unit apartemen yang digunakan oleh atlet, sisanya disewakan untuk umum dan juga digunakan untuk kantor pengelola wisma fajar. Hingga saat ini, 2 tower diantaranya disewakan sebagai hunian pegawai konstruksi sebuah kontraktor, dan sisanya disewakan kepada masyarakat umum. 24
12 Tabel 2.1 Spesifikasi Wisma Fajar Konsep Arsitektur Topik/Tema Fasilitas Konsep wisma fajar, bangunan fungsional apartemen dengan bentuk arsitektur linear dan penataan single loaded. Wisma fajar terdiri dari 3 tower, setiap tower terdiri dari 10 lapis dan tiap lapis berisi 2 unit. Fasilitas wisma fajar yang terkait topik/tema: Living room, balkon, kantin, ruang tidur Berdasarkan tingkat privasi dari yang tertinggi hingga terendah, antara lain: (teritori Primer Sekunder Publik) Ruang tidur Living room Balkon Kantin Living Room Ruang Tidur berjumlah 3 Foto 2.2 Living Room Kamar Mandi/wc berjumlah 3 Foto 2.3 Ruang Tidur Ruang Dapur Gambar 2.1 Layout Unit Apartemen Foto 2.4 Kamar Mandi Ruang Jemur Tempat menjemur pakaian dan terdapat gudang didekatnya Balkon Foto 2.5 Dapur Kantin Berkonsep foodcourt dengan kondisi memprihatinkan Sumber: Survei Lapangan Foto 2.6 Balkon di living room 25
13 WISMA ATLET RAGUNAN, GELORA RAGUNAN Wisma ini dioperasikan sejak tahun 2004, seluruh sarana dan prasarana yang dimiliki oleh wisma ini adalah milik DKI. Wisma atlet hanya dikhususkan bagi pelajar junior sedangkan atlet-atlet seniornya menetap di asrama. Wisma atlet Ragunan terdiri dari 3 lapis, pembagian tiap lantainya yaitu dilantai 1 khusus wanita, lantai 2 khusus pria, dan lantai 3 khusus untuk atlet-atlet pelatnas, untuk saat ini ditempati oleh atlet pelatnas taekwondo. Wisma ini dihuni oleh atlet binaan serta beberapa pelatihnya. Foto 2.7 Wisma Atlet Ragunan Sumber: Survei Lapangan Foto 2.8 Denah Lantai 1 Sumber: Survei Lapangan 26
14 Sistem pembinaan dari wisma atlet Ragunan ini harus mengikuti jadwal yang diberlakukan. Jadwal yang berlaku yaitu: Pukul 5-7 pagi, atlet melakukan pemanasan sesuai cabang olahraga yang digeluti dilanjutkan dengan sarapan pagi diruang makan. Pukul 7-11, atlet sekolah sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Pukul 11-2 siang adalah waktunya makan siang dan istirahat. Pukul 2-6 sore, atlet latihan fisik sesuai dengan cabornya di ruangan yang tersedia, seperti hall basket, hall bulutangkis, kolam renang, dan lain sebagainya. Pukul 6 sore, waktunya atlet makan malam dan istirahat. Pukul 7-9 malam, ada sebagian atlet yang mengikuti sekolah malam. Pukul 10 malam, atlet diwajibkan untuk tidur. Atlet pelatnas ragunan mendapatkan libur latihan pada hari sabtu dan minggu. Tabel 2.2 Spesifikasi Wisma Atlet Ragunan Konsep Arsitektur Topik/Tema Fasilitas Bangunan wisma ragunan berbentuk linear, dengan koridor yang luas. Desain yang menonjol yaitu kolom ekspos. Wisma ini terdiri dari 3 lapis, dengan total 72 ruang tidur, 20 ruang di lantai 1, dan masing-masing 26 ruang di lantai 2 dan 3. Fasilitas ruang yang dapat digunakan oleh atlet untuk beristirahat: Ruang tidur, ruang serbaguna, ruang duduk/lobby, ruang makan Fasilitas berdasarkan tingkat privasi dari yang tertinggi hingga terendah: (teritori Primer Sekunder Publik) Ruang tidur Ruang makan Ruang serbaguna Lobby Ruang Tidur: maksimal 4 orang Kamar Mandi: berada didalam dengan kesamaan cabor. setiap ruang tidur. Foto 2.9 Ruang Tidur Foto 2.10 Kamar Mandi 27
15 Ruang Jemur: ruang ini berada didalam setiap kamar. Ruang Serbaguna: kapasitas orang, sebagai ruang seminar, briefing, dsb. Gambar 2.2 Layout Ruang Tidur Foto 2.11 Ruang Jemur Ruang Duduk/Lobby: tersedia sofa dan televisi. Foto 2.12 Ruang Serbaguna Mushola: terletak dilantai 2 Foto 2.13 Ruang Duduk/Lobby Laundry Tersedia pula jasa laundry bagi penghuni wisma. Ruangan laundry berada dilantai 1. Foto 2.14 Mushola Ruang Makan: berada di gedung yang terpisah dari wisma, berkonsep kafetaria. Tempat Parkir Lapangan parkir yang luas untuk kendaraan pribadi orang tua atlet dan pelatih (jika ada) Sumber: Survei Lapangan Foto 2.15 Ruang Makan Studi Literatur Berikut ini beberapa sumber data literatur yang didapat oleh penulis dari pencarian data melalui internet : 28
16 LONDON ATHLETES VILLAGE Foto 2.16 London Athletes Village Sumber: Google Indonesia/London Athletes Village Selama musim pertandingan, athlete village akan dijadikan sebagai apartemen hunian bagi atlet beserta anggota olahraga lain seperti pelatih dan organisasinya, dilengkapi dengan berbagai fasilitas menunjang mulai dari ruang tidur, pertokoan, hingga ruang terbuka hijau/taman yang luas. Perancang beranggapan bahwa seluruh atlet dan official cabang olahraga membutuhkan relaksasi dan merasakan seperti didalam rumah pribadi. Sehingga area athlete village ini menyediakan apartemen dilengkapi dengan pertokoan, restoran, medical centre, media dan fasilitas umum lain serta area ruang terbuka yang sangat luas. Atlet akan mendapatkan inspirasi dari pemandangan taman disekitarnya. Setiap apartemen akan diberikan akomodasi kenyamanan dan fasilitas komunikasi termasuk akses internet dan jaringan nirkabel. Semua blok apartemen akan dipenuhi akses dan kemudahan dengan transportasi vertikal yang modern. Colin jackson, seorang komentator olahraga mengatakan bahwa Penginapan adalah hati dan jiwa dari segalanya, dimana kita mengistirahatkan diri dimalam hari dan ini adalah bagian terpenting dari semua persiapan yang dilakukan. Kita perlu kembali ke tempat yang membuat kita merasa nyaman, dimana kita dapat merasakan rasa kepemilikan dan Saya pikir London telah menyediakan semua itu dengan sangat baik untuk tahun
17 Tabel 2.3 Spesifikasi London Athletes Village Konsep Arsitektur Topik/Tema Fasilitas Perancangan berdasarkan pada tradisi desain perumahan massal dan pertamanan yang berlaku di London. Athletes Village ini juga dikelilingi area terbuka yang luas dan dilengkapi dengan balkon yang besar sehingga penghuni dapat menikmati pemandangan. Dalam melakukan kegiatan istirahatnya, atlet dapat melakukan diruang-ruang seperti pertokoan, ruang tidur, medical media, restoran, serta taman. Selain itu, atlet dapat pula berjalan-jalan keliling kompleks Stratford city dan pusat kota London dengan fasilitas shuttle bus yang disediakan oleh athlete village, London. Ruang Tidur pada unit Klinik Kesehatan untuk apartemen. memulihkan atlet yang (tergolong dalam teritori primer) mengalami cedera. (teritori sekunder) Ruang Media dimana para Pertokoan yang menyediakan wartawan mendapatkan hak kebutuhan atlet dan suvenir untuk melakukan wawancara. ajang kompetisi. (teritori sekunder) (teritori publik) Village Plaza sebagai tempat Taman merupakan tempat bagi pertemuan antara atlet dengan atlet untuk bersantai dan teman-teman atau keluarga. mendapatkan kembali (teritori publik) tenaganya melalui inspirasi. (teritori publik) Sumber: Google Indonesia/London Athletes Village Selama musim pertandingan, pemukiman akan memberikan jasa untuk atlet seperti catering dan transportasi. Semua ini kebanyakan diakomodasikan dalam bentuk struktur temporary didalam tapak, yang akan dihilangkan oleh pengembang setelah musim pertandingan selesai. Pengembang memiliki prinsip yaitu Tempat tidur untuk atlet, rumah untuk warga London, prinsip tersebut dimaksudkan bahwa pada saat 30
18 musim pertandingan permukiman dikhususnya bagi atlet namun setelah musim pertandingan berakhir, permukiman tersebut dibuka untuk umum YOUTH OLYMPIC VILLAGE, SINGAPORE Youth Olympic Village (YOV) dapat menampung lebih dari atlet dan tim organisasinya yang akan menginap di Singapore pada tahun 2010, dari tanggal 10 sampai 28 agustus 2010 untuk 18 hari. Lokasinya berada di bagian dari kampus Nanyang Technological University (NTU), YOV akan menjamu atlet dan organisasinya dengan kenyamanan tanpa uang akomodasi dan jasa. Lingkungan yang bersih dan tenang akan kondusif dan aman bagi atlet untuk beristirahat dan bersiap untuk kompetisi. Foto 2.17 Young Olympic Village, Singapore Sumber: Google Indonesia/Young Olympic Village YOV dibagi menjadi 2 zona : Residential Zone (RZ) dan Village Square (VS). RZ diorganisasikan kedalam 5 cluster untuk memudahkan orientasi. VS merupakan jantung dari permukiman. Berada dekat dari gedung exhibition World Culture Village. Tabel 2.4 Spesifikasi Young Olympic Village Konsep Arsitektur Dirancang dengan desain yang modern dan berbentuk radial sehingga memungkinkan untuk pandangan yang meluas. Bangunan dengan konsep green architecture ini mengekspos 31
19 Topik/Tema Fasilitas kolom dan balok pada zona Village Square. Lokasi permukiman yang dibagi menjadi 2 zona ini terdapat 5 cluster residential pada Residential Zone. Pada waktu bebas, atlet dapat mengikuti aktivitas budaya dan edukasi. Fasilitas yang menunjang istirahat atlet yang mengutamakan privasi berada di lokasi RZ sedangkan fasilitas pada VS termasuk fasilitas umum dengan tingkat privasi rendah. Residential Zone (RZ) 10 Hall Resident berisi fasilitas penunjang ruang TV, ruang meeting, ruang ibadah, klinik, hot-spot akses, dan laundry. (tergolong teritori publik dan sekunder) Ruang makan, internet centre, ruang rekreasi. (teritori sekunder) Ruang tidur berikut dengan kamar mandi. (teritori primer) Village Square (VS) keseluruhan fasilitas tergolong dalam teritori publik Hall of fame, panggung Pertokoan retail, bank untuk musik/konser, forum olahraga, penukaran mata uang, kantor forum budaya dan edukasi. pos, kantor biro perjalanan, pusat media untuk jurnalis. Sumber: Google Indonesia/Young Olympic Village YOV akan memberikan kehidupan layaknya seperti dirumah agar atlet dapat berkonsentrasi pada prestasi olahraga yang gemilang, belajar untuk hidup saling menghormati satu dengan yang lainnya, dan memberikan ingatan tentang persahabatan yang berharga selama mereka menetap di Singapore BEIJING OLYMPIC VILLAGE Beijing olympic village menyediakan tempat tinggal dari 204 delegasi diatas lahan sebesar 66 hektar. Olympic village menyediakan pula fasilitas den servis yang lengkap seperti makanan, 32
20 entertainment, dan transportasi. Lebih dari 300 medali emas akan diberikan kepada atlet yang menghuni. Foto 2.18 Asrama Atlet di Olympic Village Sumber: Google Indonesia/Beijing Olympic Village Olympic Village dibuka secara resmi pada tanggal 27 Juli 2008 dan ditutup pada tanggal 27 Agustus Permukiman tersebut dibagi menjadi 3 bagian komplek, diantaranya residential district, international district dan operations district. Masing-masing district menyediakan jasa akomodasi, jasa komersial dan logistik, serta jasa angkutan. Tabel 2.5 Spesifikasi Beijing Olympic Village Konsep Arsitektur Topik/Tema Permukiman yang dibagi menjadi 3 kelompok ini memiliki desain modern yang dilengkapi dengan elemen desain China dari pola naga pada handle pintu sampai kesenian/lukisan China. Konsep dari kampung atlet ini yaitu olympic green sehingga ruang terbuka hijau seperti taman sangat menonjol. Bangunan asrama terdiri dari 42 gedung, masing-masing terdapat 6-9 lapis. Secara total tersedia unit dan dapat mengakomodasi sampai orang. Dalam mengisi waktu kosong, atlet disuguhkan berbagai fasilitas entertainment seperti ruang bermain, selain itu atlet juga dapat beristirahat di restoran, taman, internet cafe, ruang rekreasi, dan ruang lainnya. 33
21 Residential District (tergolong dalam teritori primer dan sekunder) Hi-tech dormitory dengan Jasa laundry, internet wireless, ruang tidur untuk 2 orang, video games, internet centre, dilengkapi kamar mandi klinik, restoran Foto 2.19 Ruang Tidur Foto 2.21 Klinik Fasilitas Foto 2.20 Restoran Foto 2.22 Taman International District (merupakan teritori public dan sekunder) Barbershop, supermarket, toko 5 ruang ibadah, internet cafe, suvenir, ruang rekreasi, ruang jasa pengiriman barang UPS. fitness, hall karaoke Foto 2.23 Barbershop Foto 2.25 Ruang Fitness Foto 2.24 Internet Cafe Foto 2.26 Ruang Ibadah 34
22 Operations District (merupakan teritori sekunder) Hall of fame, media room Ruang bermain, perpustakaan Foto 2.27 Hall of Fame Foto 2.28 Ruang Bermain Sumber: Google Indonesia/Beijing Olympic Village Olympic Village yang pertama didirikan pada tahun Tujuan dari permukiman tersebut adalah untuk memberikan akomodasi bagi atlet dan memberikan akses untuk menggunakan fasilitas bagi atlet yang berasal dari Negara manapun. Setelah musim pertandingan berakhir, apartemen dari Olympic village akan dialihkan sebagai permukiman umum Kesimpulan Berdasarkan studi lapangan dan studi literatur maka dapat diperoleh kesimpulan dengan membandingkan data studi banding yang telah dilakukan. Kesimpulan dapat berupa kebutuhan fasilitas penunjang yang dapat digunakan atlet untuk beristirahat didalam wisma atlet. Kebutuhan ruang pokok/fasilitas yang wajib tersedia didalam wisma atlet berdasarkan hasil studi banding, diantaranya: Tabel 2.6 Pembagian Ruang Berdasarkan Teritori Teritori Primer Teritori Sekunder Teritori Publik Ruang Tidur Kamar mandi/wc Restoran/Ruang makan Ruang rekreasi Klinik Ruang media Internet centre Fitness centre Hall of fame Laundry Taman Bank Retail/gift shop 35
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Latar Belakang Proyek Indonesia memiliki beragam cabang olahraga, ada olahraga yang membutuhkan kerjasama tim dan ada pula yang hanya mengandalkan kekuatan individu.
L2
L1 L2 L3 L4 L5 DRAFT PERTANYAAN WAWANCARA KEPADA ATLET Nama / No. Responden : Usia : Cabang Olahraga : Asal : 1. Kegiatan apa saja yang Anda lakukan sehari hari? Bagaimana jadwalnya (waktu berlangsung)?
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Atlet dituntut untuk selalu memiliki kondisi tubuh yang prima, terutama pada musim pertandingan untuk mencapai hasil yang optimal. Seperti yang dikemukakan oleh Sajoto
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan 5.1.1 Program Ruang Topik dari proyek ini adalah perilaku atlet, dengan tema penerapan pola perilaku istirahat atlet
BAB IV ANALISA. Kegiatan yang terjadi di dalam asrama dibagi berdasarkan pengelompokan jenis. kegiatan yang dilakukan oleh pengguna asrama, yaitu :
BAB IV ANALISA IV.1. Aspek Non Fisik IV.1.1 Analisa Kegiatan Kegiatan yang terjadi di dalam asrama dibagi berdasarkan pengelompokan jenis kegiatan yang dilakukan oleh pengguna asrama, yaitu : a) Kelompok
Kegiatan Harian Atlet BAB IV ANALISIS
BAB IV ANALISIS Analisis permasalahan yang ada dilakukan berdasarkan pada metode Broadbent yang berisi pembahasan mengenai aspek manusia, aspek bangunan, dan aspek lingkungan. 4.1 Aspek Manusia Analisis
BAB II TINJAUAN DAN LANDASAN TEORI
BAB II TINJAUAN DAN LANDASAN TEORI II.1 Tinjauan Umum II. 1.1 Definisi Wisma Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) pengertian wisma (wis.ma) adalah bangunan untuk tempat tinggal, kantor, kumpulan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jakarta sebagai ibukota Indonesia telah mengalami perkembangan pesat dalam bidang olahraga. Dewasa ini semakin banyak event olahraga yang di selenggarakan di Jakarta.
Wawancara pengurus wisma ragunan
Wawancara pengurus wisma ragunan 1. Berapa jumlah atlet di masing2 cabang olahraga? 2. Bagaimana cara pembagian kamar yg ada di wisma? Pengelompokan kamar2 berdasarkan apa? 3. Dari fasilitas/ruangan yg
REDESAIN STADION DAN SPORT HALL JATIDIRI SEMARANG
LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR (LP3A) REDESAIN STADION DAN SPORT HALL JATIDIRI SEMARANG DENGAN PENEKANAN DESAIN HI-TECH ARCHITECTURE Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
BAB I PENDAHULUAN. Foto I.1.1. Wisma Atlet Fajar - Senayan. Sumber : Dokumentasi pribadi
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Wisma atlet merupakan salah satu tempat hunian bagi atlet yang berfungsi untuk tempat tinggal sementara. Selain itu keberadaan wisma atlet sangat diperlukan untuk
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Arsitektur yang didasarkan dengan perilaku manusia merupakan salah satu bentuk arsitektur yang menggabungkan ilmu pengetahuan
GEDUNG OLAHRAGA AIR DI DENPASAR BAB 1 PENDAHULUAN
BAB 1 PENDAHULUAN Pada Bab 1 ini akan dijabarkan mengenai latar belakang diperlukannya Gedung Olahraga Air Di Denpasar, rumusan masalah, tujuan, serta metode penelitian yang dilakukan dalam penulisan Landasan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Perubahan pola hidup manusia adalah akibat dari dampak era
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan pola hidup manusia adalah akibat dari dampak era globalisasi yang semakin dapat dirasakan dalam kehidupan seharihari, pola hidup dari dampak tersebut
Renovasi 15 Venue Olahraga di GBK Sudah 87,27%
Rilis PUPR #1 21 November 2017 SP.BIRKOM/XI/2017/572 Renovasi 15 Venue Olahraga di GBK Sudah 87,27% Jakarta Jelang Asian Games XVIII yang akan dimulai 18 Agustus 2018, seluruh konstruksi infrastruktur
Gambar 4. Blok Plan Asrama UI. Sumber : Survei. Untuk kamar AC diletakkan pada lantai 1 agar mudah dalam
Gambar 4. Blok Plan Asrama UI Sumber : Survei Untuk kamar AC diletakkan pada lantai 1 agar mudah dalam perawatan atau maintenance AC tersebut. Kamar untuk yang memakai AC merupakan kamar yang paling besar
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Building form Bentuk dasar yang akan digunakan dalam Kostel ini adalah bentuk persegi yang akan dikembangkan lebih lanjut.
BAB I PENDAHULUAN. moral manusia. Olahraga bukan hanya sekedar hobi, tapi olahraga sudah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Olahraga merupakan kegiatan yang dapat memberikan kesehatan dan kesenangan pada manusia. Olahraga juga merupakan suatu keharusan untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia
BAB V KONSEP. Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki
BAB V KONSEP 5.1 Konsep Perancangan Tapak 5.1.1 Pencapaian Pejalan Kaki Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki Sisi timur dan selatan tapak terdapat jalan utama dan sekunder, untuk memudahkan
BAB II DESKRIPSI PROYEK
BAB II DESKRIPSI PROYEK 2.1 Umum Proyek ini merupakan proyek fiktif yang diirencanakan pada lahan kosong yang berada di Jalan Soekarno-hatta dan diperuntukan untuk pertandingan renang internasional dan
Minggu 2 STUDI BANDING
1 Minggu 2 STUDI BANDING TUJUAN Tujuan dari Studi Banding adalah belajar dari karya-karya arsitektur terdahulu menganalisis dan mengevaluasi kelebihan dan kekurangannya. Dalam mata kuliah Perancangan Arsitektur,
BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.
BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Beberapa hal yang menjadi dasar perencanaan dan perancangan Asrama Mahasiwa Bina Nusantara: a. Mahasiswa yang berasal dari
BAB III : DATA DAN ANALISA
BAB III : DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik Gambar 29. Lokasi Tapak 1. Data Teknis Lokasi : Area Masjid UMB, JL. Meruya Selatan Luas lahan : 5.803 m 2 Koefisien Dasar Bangunan : 60 % x 5.803
BAB IV PENGAMATAN PERILAKU
BAB IV PENGAMATAN PERILAKU 3.1 Studi Banding Pola Perilaku Pengguna Ruang Publik Berupa Ruang Terbuka Pengamatan terhadap pola perilaku di ruang publik berupa ruang terbuka yang dianggap berhasil dan mewakili
BAB V K O N S E P P E R A N C A N G A N
BAB V K O N S E P P E R A N C A N G A N V.1 Perancangan Siteplan Siteplan massa bangunan berorientasi kepada pantai Selat Sunda dan Gunung Krakatau. Pada siteplan ini jalan utama untuk memasuki kawasan
BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK
BAB II TINJAUAN UMUM PROYEK 2.1 Gambaran Umum Proyek Judul Proyek Tema Lokasi Sifat Luas Tapak : Pusat Kebugaran dan Spa : Arsitektur Tropis : Jl. Gandul Raya, Krukut, Depok : Fiktif : ± 15.000 m² (1,5
Renovasi 15 Venue Olahraga GBK Ditargetkan Selesai Desember 2017
Rilis PUPR #2 3 Oktober 2017 SP.BIRKOM/X/2017/486 Renovasi 15 Venue Olahraga GBK Ditargetkan Selesai Desember 2017 Jakarta - Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla (JK), yang juga Ketua Dewan Pengawas
REDESAIN KOMPLEKS GELANGGANG OLAH RAGA SATRIA DI PURWOKERTO Dengan Penekanan Desain Arsitektur High-Tech
LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR REDESAIN KOMPLEKS GELANGGANG OLAH RAGA SATRIA DI PURWOKERTO Dengan Penekanan Desain Arsitektur High-Tech Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan
BAB IV ANALISA PERANCANGAN
BAB IV 4.1 Analisa Non Fisik Adalah kegiatan yang mewadahi pelaku pengguna dengan tujuan dan kegiatannya sehingga menghasilkan besaran ruang yang dibutuhkan untuk mewadahi kegiatannya. 4.1.1 Analisa Pelaku
BAB VI KESIMPULAN 6.1. Kesimpulan Karakteristik penghuni yang mempengaruhi penataan interior rumah susun
BAB VI KESIMPULAN 6.1. Kesimpulan Dari hasil penelitian diketahui telah terjadi suatu pola perubahan pada unit hunian rumah susun sewa Sombo. Perubahan terjadi terutama pada penataan ruang hunian yang
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Gambar I-1 Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Sumber :
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Indonesia memiliki banyak cabang olahraga yang dapat menjadi kebanggaan, seperti sepakbola, bulutangkis, atletik, renang, tinju, dan sebagainya. Namun ironisnya, untuk
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Sumber:
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Olahraga dapat menjadi batu loncatan sebagai pemersatu bangsa, daerah dan negara lainnya, baik di dalam skala nasional maupun internasional. Dalam setiap skala, negara-negara
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kondisi Wisma Atlet di Senayan saat ini dapat dikatakan cukup memrihatinkan. Wisma yang awalnya bernama Wisma Fajar ini didirikan tahun 1974 oleh perusahaan Singapura
Renny Melina. dan bersosialisasi antara keluarga dapat terganggu dengan adanya kehadiran pekerja dan kegiatan bekerja di dalamnya.
Rumah + Laundry : Strategi Privasi pada Ruang Tinggal dan Bekerja Renny Melina sebagai tempat beristirahat dan bersosialisasi di antara anggota keluarga. Ketika rumah tinggal juga dijadikan sekaligus sebagai
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Perencanaan dan Perancangan Topik dan Tema Proyek wisma atlet ini menggunakan pendekatan behavior/perilaku sebagai dasar perencanaan dan perancangan.
BAB II DESKRIPSI PROYEK
BAB II DESKRIPSI PROYEK II.1 Umum Nama Proyek Tema Sifat Proyek Pemilik Proyek Pemilik Dana Lokasi Luas Lahan : BANDUNG BADMINTON CENTER : Form Follow Function : Fiktif : Pemerintah : Pemerintah : Jalan
BAB I PENDAHULUAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kota Medan merupakan pintu gerbang wilayah Indonesia bagian barat dan merupakan salah satu kota besar di Indonesia, penduduknya berjumlah 2.109.339 dengan
BAB II PROFIL INSTANSI
BAB II PROFIL INSTANSI 2.1 Sejarah Instansi Gelanggang Olahraga Bumi Siliwangi Universitas Pendidikan Indonesia, didirikan bersamaan dengan didirikannya Univesitas Pendidikan Indonesia tanggal 20 Oktober
BAB 1 PENDAHULUAN. tinggal, seperti ruang tidur, ruang makan, dan kamar mandi. Karena bersifat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perancangan Hotel merupakan fasilitas akomodasi yang menyediakan sarana penginapan sekaligus pelayanan makanan dan minuman yang bersifat komersil. Secara umum,
DIMENSI 1 KEBIJAKAN AKADEMIK
10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 16,29 DIMENSI 1 KEBIJAKAN AKADEMIK 59,52 9,11 0,79 SP 17,75 9,95 11,53 16,29 P 44,7 50,51 51,08 54,38 61,04 59,52 KP 38,9 41,16 25,97 21,00 24,07 9,11 TP 16,2 8,33 5,19 1,77 3,36 0,79
- BAB 4 - ANALISA SELATAN UTARA. Gambar 4.1 Foto kondisi eksisting Candranaya (Sumber : Dinas tata kota DKI)
- BAB 4 - ANALISA 4.1 Data Proyek Lokasi Candranaya di Jl. Gajah Mada No. 188 Jakarta Barat. Luas Lahan : 14.356,14 m2 Peruntukan Lahan : Bangunan Komersil, Pusat Perkantoran KDB : 45% KLB : 4 GSB : 0
BAB V KESIMPULAN ARSITEKTUR BINUS UNIVERSITY
81 BAB V KESIMPULAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan V.1.1 Keterkaitan Konsep dengan Tema dan Topik Konsep dasar pada perancangan ini yaitu penggunaan isu tentang Sustainable architecture atau Environmental
GENDER DALAM TERITORI
GENDER DALAM TERITORI Oleh Dina Fatimah Abstrak. Teritori merupakan suatu wujud pembagian wilayah kekuasaan. Teritori sangat berkaitan dengan pemahaman akan keruangan. Pada manusia, teritorialitas ini
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1 KONSEP TAPAK DAN RUANG LUAR IV.1.1 Pengolahan Tapak dan Ruang Luar Mempertahankan daerah tapak sebagai daerah resapan air. Mempertahankan pohon-pohon besar yang ada disekitar
Tahap terminasi: penghentian pelayanan dan rehabilitasi setelah residen di pandang mampu mandiri secara sosial ekonomi.
Tahap terminasi: penghentian pelayanan dan rehabilitasi setelah residen di pandang mampu mandiri secara sosial ekonomi. 2.5.2 Kondisi Bangunan keseluruhan PRSPP teratai Pada keseluruhan bangunan PRSPP
BAB II PEMROGRAMAN. Perkotaan di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat,
BAB II PEMROGRAMAN Perkotaan di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat, khususnya kota Medan. Hal ini terkait dengan berbagai bidang yang juga mengalami perkembangan cukup pesat seperti bidang
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan Setelah dilakukan penelitian tentang perilaku warga di rumah tinggal di kawasan pantai Purus kota Padang, maka telah di dapatkan jawaban tentang bagaimana orang
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pemahaman Terhadap Kerangka Acuan Kerja Target perancangan yang telah dipelajari dari KAK adalah bagaimana desain student housingatau asrama ini dapat menjadi bangunan yang
BAB III: DATA DAN ANALISA
BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik 2.1.1. Data Fisik Lokasi Luas Lahan Kategori Proyek Pemilik RTH Sifat Proyek KLB KDB RTH Ketinggian Maks Fasilitas : Jl. Stasiun Lama No. 1 Kelurahan
BAB I PENDAHULUAN. (http://www.jatengprov.go.id/id/berita-utama/gub-tinjau-pplp-jatidiri)
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perkembangan prestasi olahraga di Indonesia belakangan ini kurang memuaskan dalam perolehan medali bahkan cenderung menurun drastis. Tahun 1970-an sampai 1990, olahraga
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Asrama Mahasiswa Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah bangunan tempat tinggal bagi orang orang yang bersifat homogen. Misalnya, asrama mahasiswa, asrama
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Olahraga adalah salah satu bentuk dari upaya peningkatan kualitas manusia yang diarahkan pada pembentukan watak dan kepribadian, disiplin dan sportivitas yang tinggi,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Olahraga merupakan suatu kegiatan jasmani yang bermaksud untuk memelihara kesehatan dan memperkuat otot-otot tubuh, Kegiatan olahraga ini dapat menjadi kegiatan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di dalam perkembangan dunia olahraga akhir-akhir ini terutama di Indonesia sedang mengalami kemunduruan, dapat dilihat dari menurunnya prestasi atlet-atlet Indonesia
BAB IV ANALISA. seperti pencapaian lokasi hingga lingkungan yang memadai.
BAB IV ANALISA IV.1. ANALISA ASPEK LINGKUNGAN IV.1.1. Analisis Pemilihan Tapak Penentuan tapak dilakukan melalui perbandingan 2 tapak yang dipilih sebagai alternatif dalam memperoleh tapak dengan kriteria-kriteria
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Olahraga merupakan suatu kegiatan jasmani yang dilakukan dengan maksud untuk memelihara kesehatan dan memperkuat otot-otot tubuh. Kegiatan ini dalam perkembangannya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pusat Pendidikan Latihan dan Olahraga Pelajar (PPLP) Provinsi Sumatera
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pusat Pendidikan Latihan dan Olahraga Pelajar (PPLP) Provinsi Sumatera Utara adalah wadah untuk menghimpun serta membina atlet dengan minat dan bakat olahraga
BAB 1 PENDAHULUAN. Kemajuan dan kejayaan suatu bangsa tidak terlepas dari peranan generasi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Perkembangan Olahraga Di Magetan Kemajuan dan kejayaan suatu bangsa tidak terlepas dari peranan generasi penerus yang dikemudian hari akan membawa nama harum bangsa pada tingkat
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pasar Oeba selain sebagai layanan jasa komersial juga sebagai kawasan permukiman penduduk. Kondisi pasar masih menghadapi beberapa permasalahan antara lain : sampah
PAPER PSIKOLOGI DAN PERILAKU ARSITEKTUR
PAPER PSIKOLOGI DAN PERILAKU ARSITEKTUR Proses Sosial - Personal Space, Territory, dan Privacy Oleh Wulan Ratnaningsih I0212084 Prodi Arsitektur Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret
MAKALAH TUGAS AKHIR 2014 Wedding Hall BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pernikahan adalah upacara pengikatan janji nikah yang dirayakan atau dilaksanakan oleh orang dengan maksud meresmikan ikatan perkawinan secara norma agama, norma hukum
KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. perumahan di Kota Sleman dan lahan pertanian masih tetap. penggunaan tanah sebagai pertimbangan utama, juga harus
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5. 1 Konsep Dasar Perencanaan 5.1.1 Tata Ruang Makro A. Konsep Pola Ruang Rumah susun diharapkan akan menekan pembangunan perumahan di Kota Sleman dan lahan pertanian
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1. Konsep Perancangan Makro V.1.1. Konsep Manusia Pelaku kegiatan di dalam apartemen adalah: 1. Penyewa meliputi : o Kelompok orang yang menyewa unit hunian pada apartemen yang
BAB VI HASIL PERANCANGAN
BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar perancangan Pusat Studi dan Budidaya Tanaman Hidroponik ini adalah Arsitektur Ekologis. Adapun beberapa nilai-nilai Arsitektur Ekologis
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEWA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGIS
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEWA DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGIS 5.1. Konsep Filosofis Dilatarbelakangi oleh status kawasan industri Cikarang yang merupakan kawasan industri
Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2)
Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2) Gambar simulasi rancangan 5.30 : Area makan lantai satu bangunan komersial di boulevard stasiun kereta api Bandung bagian Selatan 5.6.3 Jalur Pedestrian Jalur
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Kelayakan Proyek Ketersediaan Fasilitas Olahraga Di Atambua
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan 1.1.1 Kelayakan Proyek Atambua merupakan Ibukota Kabupaten Belu yang termasuk dalam wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan rencana induk pengembangan,
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar perancangan meliputi pembahasan mengenai pemanfaatan penghawaan dan pencahayaan alami pada City Hotel yang bertujuan untuk
BAB 1 PENDAHULUAN. Masyarakat dan gaya hidupnya dewasa ini semakin berkembang. Hal
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan 1.1.1. Kelayakan Proyek Masyarakat dan gaya hidupnya dewasa ini semakin berkembang. Hal ini membuat tingkat kebutuhannya juga semakin bertambah, salah
Kemudahan : Keamanan : Terjangkau: Menarik:
Apartemen mahasiswa berperabot lengkap yang terletak di lingkungan bersejarah dengan irama kehidupan yang penuh semangat. Sangat ideal bagi mahasiswa yang belajar di Spokane Falls Community College (SFCC)
Paradise Serpong City Clusters Grand Canyon
Paradise Serpong City Clusters Grand Canyon Developer: PT. Subur Progress Alamat: Jl. Puspitek Raya, Serpong, Tangerang, Banten 15315 Kisaran Harga: Hubungi Developer Perubahan Terakhir: 11 Juni 2015 Informasi
Penerapan Konsep Defensible Space Pada Hunian Vertikal
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 6, No.2, (2017) 2337-3520 (2301-928X Print) G 218 Penerapan Konsep Defensible Space Pada Hunian Vertikal Ariq Amrizal Haqy, dan Endrotomo Departemen Arsitektur, Fakultas
BAB V EVALUASI PASCAHUNI
Eco Spatial Behavior Approach Of Settlement Occupancy 123 BAB V EVALUASI PASCAHUNI Snyder (1995) dan Laurens (2005), membagi evaluasi pascahuni menjadi tiga bagian, yaitu: 1) evaluasi teknis melalui penilaian
by N a d j m a A c h m a d _ Arena Olahraga (Sportainment) Dosen Pembimbing : Ir. HARI PURNOMO, M.BDG.SC
by N a d j m a A c h m a d _ 3 2. 0 6 1 0 0. 0 8 0 Arena Olahraga (Sportainment) Dosen Pembimbing : Ir. HARI PURNOMO, M.BDG.SC Arena Olahraga (Sportainment) Why??? AKTIVITAS YANG PADAT Lupa akan pentingnya
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1 KONSEP DASAR Konsep dasar dalam perancangan hotel ini adalah menghadirkan suasana alam ke dalam bangunan sehingga tercipta suasana alami dan nyaman, selain itu juga menciptakan
PENDAFTARAN DAN PELAKSANAAN
PENDAFTARAN DAN PELAKSANAAN SELEKSI CALON ATLET PUSAT PELATIHAN OLAHRAGA PELAJAR (PPOP) PROVINSI DKI JAKARTA TAHUN 2018 A. PERSYARATAN CALON ATLET 1. Warga Negara Indonesia, diutamakan domisili sekolah
BAB VI KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN. dirancang berangkat dari permasalahan kualitas ruang pendidikan yang semakin
BAB VI KLASIFIKASI KONSEP DAN APLIKASI RANCANGAN Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bagi Anak Putus Sekolah Di Sidoarjo dirancang berangkat dari permasalahan kualitas ruang pendidikan yang semakin menurun.
BAB III ANALISA 3.1 ANALISA TAPAK
BAB III ANALISA 3.1 ANALISA TAPAK Pada tapak terdapat beberapa jenis bangunan berdasarkan fungsi-fungsinya. Daerah ini merupakan daerah yang cukup ramai dengan aktiviitas perniagaan dan jasa. Hal ini mendukung
UNIVERSITAS DIPONEGORO WISMA ATLET JATIDIRI SEMARANG TUGAS AKHIR BESTY LINAWATI MANIK FAKULTAS TEKNIK JURUSAN/PROGRAM STUDI ARSITEKTUR
UNIVERSITAS DIPONEGORO WISMA ATLET JATIDIRI SEMARANG TUGAS AKHIR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana BESTY LINAWATI MANIK 21020112120018 FAKULTAS TEKNIK JURUSAN/PROGRAM STUDI
Hotel Resort Di Gunungkidul
BAB VI KONSEP PERANCANGAN 6.1. Konsep Tapak Privat Semi Privat Publik Semi Publik Privat Semi Privat Privat Gambar 6.1. Konsep Tapak Pembagian tapak terbagi atas kebutuhan privasi tiap ruang berdasar kebutuhan
MAKALAH PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA SEA GAMES KE-27 DI MYANMAR
MAKALAH PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA SEA GAMES KE-27 DI MYANMAR Di susun oleh : Nama NIM : Sekar Tani : K2313065 Pendidikan Fisika 2013/B FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
BAB II TINJAUAN DATA
BAB II TINJAUAN DATA A. Tinjauan Umum 1. Tinjauan terhadap Rumah Tinggal a. Pengertian Rumah tinggal 1. Salah satu sarana tempat tinggal yang sangat erat kaitannya dengan tata cara kehidupan masyarakat.
BAB VI HASIL RANCANGAN. perancangan tapak dan bangunan. Dalam penerapannya, terjadi ketidaksesuaian
BAB VI HASIL RANCANGAN Hasil perancangan yang menggunakan konsep dasar dari prinsip teritorial yaitu privasi, kebutuhan, kepemilikan, pertahanan, dan identitas diaplikasikan dalam perancangan tapak dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bermula dari Asian Games III Tahun 1958 di Tokyo dimana oleh Asian Games Federation, Indonesia ditunjuk untuk menjadi penyelenggara Asian Games ke IV Tahun 1962.
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Utama Perencanaan Panti Sosial Bina Remaja Yogyakarta ini bertujuan merancang sebuah fasilitas pembinaan remaja dengan menghasilkan konsep tata ruang yang mendukung
BAB II TINJAUAN OBYEK RANCANGAN. Sekolah : sebuah tempat dimana terjadinya proses belajar mengajar.
BAB II TINJAUAN OBYEK RANCANGAN A. Pengertian Obyek Pengertian Sekolah bulutangkis PB. Djarum. Sekolah : sebuah tempat dimana terjadinya proses belajar mengajar. Persatuan : Kumpulan orang yang memiliki
BAB V. KONSEP PERANCANGAN
BAB V. KONSEP PERANCANGAN A. KONSEP MAKRO 1. Youth Community Center as a Place for Socialization and Self-Improvement Yogyakarta sebagai kota pelajar dan kota pendidikan tentunya tercermin dari banyaknya
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan Perumahan bagi Penduduk Jakarta
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.1.1. Kebutuhan Perumahan bagi Penduduk Jakarta Sebagai sentral dari berbagai kepentingan, kota Jakarta memiliki banyak permasalahan. Salah satunya adalah lalu lintasnya
Asrama Mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang Unggul, Inklusif, dan Humanis
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek 1.1.1. Kajian Tipologi Saat ini UAJY memiliki 6 fakultas dengan 11 program studi S-1 dan 5 program S-2, termasuk 4 program studi S-1 kelas internasional
BAB I PENDAHULUAN. menjadi Negara terdepan dibidang olahraga tersebut, banyak kegiatan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. 1.1.1 Latar Belakang Objek. Pada saat ini dunia olahraga sangat berperan untuk kemajuan sebuah Negara, dapat menjadi sebuah alat penghubung antar Negara. Seluruh Negara
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Yang menjadi dasar dari perencanaan dan perancangan Mesjid di Kebon Jeruk adalah : Jumlah kapasitas seluruh mesjid pada wilayah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang terbentuknya sport club di Denpasar, rumusan masalah, tujuan, serta metode penelitian yang dilakukan dalam penulisan Landasan Konseptual
STADION RENANG DI KAWASAN GEDEBAGE LAPORAN PERANCANGAN AR-40Z0 TUGAS AKHIR PERANCANGAN SEMESTER II TAHUN 2006/2007
STADION RENANG DI KAWASAN GEDEBAGE LAPORAN PERANCANGAN AR-40Z0 TUGAS AKHIR PERANCANGAN SEMESTER II TAHUN 2006/2007 Sebagai Sebagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Arsitektur Oleh: AMMY
KAJIAN AREA PARKIR SEPEDA MOTOR PLAZA SIMPANGLIMA SEMARANG DITINJUA DARI PERILAKU PENGUNJUNG
KAJIAN AREA PARKIR SEPEDA MOTOR PLAZA SIMPANGLIMA SEMARANG DITINJUA DARI PERILAKU PENGUNJUNG Mohhamad Kusyanto Program Studi Teknik Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sultan Fatah (UNISFAT) Jl. Sultan
Wishfulfilling Homestay & Guardian
Version: Bahasa Indonesia Wishfulfilling Homestay & Guardian Administrator [Type the company name] Singapore - 2015 (v1) 2 Rumah kami Rumah kami adalah teras rumah bergaya resort yang telah dikonstruksi
SEKOLAH TINGGI SENI TEATER JAKARTA
BAB V KONSEP 5.1 KONSEP DASAR PERANCANGAN Dalam konsep perancangan Sekolah Tinggi Seni Teater ini, yang digunakan sebagai konsep dasar adalah INTERAKSI. Interaksi dapat diartikan sebuah bangunan yang dirancang
RUMAH SUSUN SEDERHANA MILIK di CENGKARENG JAKARTA BARAT
LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR RUMAH SUSUN SEDERHANA MILIK di CENGKARENG JAKARTA BARAT Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Teknik diajukan
BAB IV ANALISA PERENCANAAN
BAB IV ANALISA PERENCANAAN 4.1. Analisa Non Fisik Adalah kegiatan yang mewadahi pelaku pengguna dengan tujuan dan kegiatannya sehingga menghasilkan besaran ruang yang dibutuhkan untuk mewadahi kegiatannya.
