PENGOBATAN DINI ANAK ATOPI
|
|
|
- Ida Iskandar
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PENGOBATAN DINI ANAK ATOPI Pendahuluan Laporan tentang peningkatan prevalens penyakit alergi telah bermunculan dan seluruh penjuru dunia dengan berbagai masalah yang menyertainya. Untuk mengatasi masalah ini telah dipikirkan bahwa perbaikan lingkungan akan dapat mengubah kecenderungan peningkatan kejadian penyakit alergi tersebut. Konsep patogenesis alergi yang dianut saat mi adalah bahwa penyakit alergi barn dapat timbul pada individu yang mempunyai predisposisi genetik atopi bila telah terpajan pada alergen. Dengan demikian maka faktor lingkungan menjadi faktor penentu untuk inisiasi sensitisasi alergi, serta berperan menjadi pemacu perkembangan alergi dan dapat menjadi pemicu timbulnya gejala klinis serta derajat berat penyakit alergi. Selain itu perlu pula diidentifikasi berbagai faktor risiko pada bayi dan anak yang dapat merijadi petanda perkembangan penyakit alergi. Dengan mengetahui faktor risiko tersebut maka perkembangan penyakit alergi pada anak diharapkan akan dapat diubah dan dicegah melalui upaya perbaikan lingkungan dan pengobatan pencegahan. Peran faktor atopi Atopi Seperti telah disebutkan semula maka peran faktor bawaan terlihat dan kecenderungan seorang anak untuk mendapat pe-nyakit alergi yang tergantung dan riwayat atopi dalam keluarga dan riwayat atopi penderita sebelumnya. Seorang anak yang mempunyai salah satu orang tua atopi akan mempunyai kemungkinan 25% untuk mendapat penyakit alergi, dan bila kedua orang tua atopi maka kemungkinan tersebut meningkat menjadi 50%. Nilai prediksi dermatitis atopi telah terbukti dengan besarnya nilai dermatitis atopi dalam 3 bulan pertama kehidupan sebagai faktor risiko penyakit alergi saluran napas pada usia 5 tahun. Tercatat sebanyak 50,2% anak dengan kedua orang tua atopi dan dermatitis atopi dini akan memperlihatkan gejala alergi saluran napas pada usia 5 tahun. Bila anak tersebut penderita dermatitis atopi tapi belum menunjukkan gejala mengi maka kemungkinannya untuk mendapat asma adalah sebesar 50% pula. Akan tetapi bila ia menderita dermatitis atopi dan mengi maka kemungkinan tersebut meningkat menjadi 80%. Mekanisme reaksi alergi Seperti telah kita ketahui, pada dasarnya reaksi alergi sebetulnya merupakan respons imun seseorang terhadap antigen tertentu yang disebut alergen. Reaksi alergi dapat timbul bila individu tersebut mempunyai bakat alergi dan faktor bawaan (faktor keturunan, ras, genetik) dan setelah terpajan pada berbagai faktor lingkungan yang Universitas Gadjah Mada 31
2 mempermudah dan memperkuat reaksi tubuh terhadap alergen tersebut. Faktor lingkungan yang berperan misalnya adalah kelelahan, infeksi berulang terutama infeksi virus di saluran napas, kontak dini dengan alergen, dll. Jadi orang yang mempunyai bakat alergi belum tentu akan menunjukkan reaksi alergi bila tidak dirangsang dan dipacu oleh faktor lingkungan, dan sebaliknya mereka yang sering dirangsang dan kontak dengan faktor lingkungan tersebut tidak akan menjadi alergi bila tidak mempunyai faktor bawaan alergi. Walaupun bukan pentahapan dengan batas yang jelas pada umumnya mekanisme terjadinya alergi dapat dilihat dan urutan proses sensitisasi (sensitization), percepatan (enhancement, dan pencetusan (trigger). Proses sensitisasi atau inisiasi adalah awal reaksi alergi yang merupakan pengenalan sistem imun terhadap alergen. Bila orang tersebut mempunyai bakat alergi maka sistem imun akan membentuk antibodi IgE yang merupakan mediator reaksi hipersensitivitas tipe I. Proses sensitisasi umumnya terjadi pada masa bayi, atau bahkan pada masa janin dalam kandungan ibu. Zat atau bahan yang biasanya dapat menimbulkan sensitisasi ini adalah makanan alergenik (makanan yang secara umum dikenal sangat potensial menimbulkan reaksi alergi seperti misalnya ikan laut), rokok, obat tertentu, polusi udara, dan faktor lingkungan lain. Sensitisasi dapat saja teijadi oleh alergen lain yang kelak bukan merupakan alergen pencetus reaksi alergi pada orang tersebut. Pada proses pernacuan maka respons irnun akan lebih diaktifkan lagi oleh faktor pemacu sehingga IgE spesifik makin banyak dan mudah terbentuk. Individu tersebut makin sensitif sehingga sewaktu-waktu dapat terpicu untuk menimbulkan reaksi alergi. Faktor pemacu yang sudah angat dikenal antara lain adalah berbagai alergen yang sering diperoleh pada masa bayi dan balita eperti misalnya susu sapi, telur, kacang-kacangan, makanan laut, asap rokok, obat nyamuk, infeksi virus, dan faktor lingkungan lain. Sebagian besar faktor pemacu ini kelak akan menjadi alergen Dencetus reaksi alergi pada anak tersebut. Proses berikutnya adalah timbulnya reaksi alergi oleh faktor pencetus atau pemicu reaksi alergi. Pada seseorang yang sudah tersensitisasi dan sering dipacu oleh berbagai faktor tadi maka ada suatu saat akan terjadi respons imun yang berlebihan dan kita kenal sebagai reaksi hipersensitivitas. Reaksi ini bersifat berlebihan karena IgE spesifik yang terbentuk dalam tubuh udah sangat tinggi dan sangat mudah diproduksi kembali oleh sistem imun. Demikian pula halnya dengan berhagai organ tubuh sudah sangat peka oleh proses sensitisasi dan pemacuan sehingga sewaktu-waktu dapat terjadi reaksi hiperreaktivitas yang dapat menimbulkan berbagai gejala Denyakit alergi. Faktor pemicu atau pencetus ini biasanya bersifat sangat spesifik berupa alergen pencetus, faktor fisik, atau faktor emosi. Universitas Gadjah Mada 32
3 Perjalanan penyakit alergi Reaksi alergi, apalagi yang teijadi berulang, dapat menimbulkan kerusakan jaringan serta gangguan fungsi organ yang secara kllnis kita kenal sebagai penyakit alergi. Penyakit alergi iasanya terjadi pada beberapa organ sekaligus, walaupun dapat saja terjadi pada organ tertentu saja seperti misalnya erupsi obat fikstum yang merupakan reaksi kulit setempat akibat alergi terhadap obat. Gejala yang timbul tergantung dan organ tubuh yang terlibat, yaitu gejala pada saluran cerna, saluran napas, kulit, darah, sistem saraf, urogenital, sistem kardiovaskular, pendengaran, mata, muskuloskeletal, gejala sistemik, dan lain-lain. Sebetulnya tidak begitu mudah untuk mengetahui apakah reaksi alergi yang pernah terdeteksi pada seorang anak kemudian hari kelak akan berkembang menjadi penyakit alergi. Oleh karena itu perkiraan akan terjadinya penyakit alergi pada anak sangat penting diketahui agar tindakan pencegahan dapat dilakukan lebih terarah. Beherapa indikator terhadap kernungkinan perkembangan penyakit alergi yang telah diidentifikasi oleh berbagai peneliti antara lain adalah riwayat atopi dalam keluarga, kadar IgE total darah tali pusat bayi baru lahir, kadar IgE total bayi yang lebih besar, riwayat dermatitis atopi infantil, kadar protein kationik eosinofil (ECP) dalam darah dan sekret hidung, serta pola respons sitokin pada bayi. Menilik dari perjalanan penyakitnya maka pada anak dapat kita perhatikan bahwa biasanya gejala penyakit alergi pada awalnya akan timbul pada saluran cerna semasa bayi, kemudian pada awalnya pada bayi yang lebih besar atau anak usia satu-dua tahun, dan akhirnya pada saluran napas pada anak yang lebih besar. Berdasarkan hal inilah maka dipikirkan apakah mungkin untuk mencegah suatu penyákit alergi pada tahap awal peralanan penyakit alergi tersebut, misalnya enccgah terjadinva asma bronkial pada saat baru timbul penyakit alergi pada kulit. Pencegahan penyakit alergi Seperti telah kita ketahui maka atopi merupakan faktor terpenting untuk terjadinya alergi. Akan tetapi sampai sejauh ini faktor tersebut masih belum dapat kita manipulasi sehingga upaya pencegahan penyakit alergi dilakukan dengan manipulasi lingkungan serta pengobatan pencegahan. Perbaikan Iingkungan Walaupun patogenesis alergi sebetulnya masih belum jelas benar tetapi para peneliti umumnya sepakat bahwa perkembangan penyakit alergi dapat diubah atau dihambat dengan perbaikan lingkungan. Bebenapa tindakan terpenting yang dapat dilakukan untuk tujuan tersebut, seperti yang dianjurkan oleh National Heart Limg and Blood Institute (Amerika Serikat), antara lain adalah: Universitas Gadjah Mada 33
4 - lingkungan bebas asap rokok - diet hipoalergenik bagi bayi dan ibu menyusui - mengurangi pajanan alergen, terutama terhadap serpihan kulit hewan, tungau debu rumah, kecoa, dan jamur. Pada dasarnya setiap daerah dan wilayah mempuiyai sifat geografis, iklim, dan budaya tersendiri, serta alergen pencetus yang berbeda pula. Oleh karena itu upaya perbaikan lingkungan ini mempunyai nuansa berbeda untuk setiap wilayah yang sebaiknya dipahami dengan baik untuk melakukan manipulasi lingkungan. Pengobatan pencegahan Upaya pengobatan pencegahan telah banyak dilakukan rnelalui serangkaian penelitian yang terkadang tidak menunjukkan hasil yang konsisten. Pada umumnya pengobatan pencegahan ini dilakukan untuk penderita yang telah menunjukkan gejala penyakit alergi menetap, misalnya pengobatan pencegahan untuk asma bronkial. Obat yang dipakai biasanya mempunyai efek stabilisasi sel mast untuk menghambat reaksi hipersensitivitas tipe I, atau dengan imunoterapi desensitisasi. Belakangan ini telãh dilaporkan pula modus pengohatan pencegahan yang dilakukan melalui pengobatan dini anak atopi untuk mencegah tirnbulnya asma bronkial pada penderita dermatitis atopi. Pengobatan Dini Pengohatan dini anak atopi mempunyai konsep dasar bahwa. manifestasi klinis asma kemungkinan dapat dicegah atau dihentikan dengan intervensi medis sebelum penyakit tersebut muncul. Atau paling tidak dapat memperpanjang onset timbulnya asma dan meminimalkan gejala asma yang akan timbul. Dengan pertimbangan ini maka sasaran untuk pengobatan pencegahan tersebut adalah anak dengan gejala dermatitis atopi yang belum menunjukkan gejala mengi. Sehubungan dengan itu maka suatu penelitian multisenter-multinasional ETAC (Early treatment of the atopic child) telah dilakukan untuk melihat apakah pemberian setirizin pada penderita dermatitis atopi dengan riwayat atopi k.eluarga, dapat menurunkan insidens asma secara bermakna. Setirizin berperan sebagai obat untuk menyembuhkan dan menghentikan intlamasi penyakit alergi, yang bila tidak dihambat akan dapat berkembang menjadi asma. Penelitian ini adalah uji klinis buta ganda secara acak dengan kontrol plasebo yang dilakukan di 56 senter penelitian 13 negara Eropa dan Kanada. Subjek penelitian adalah 817 anak usia bulan penderita dermatitis atopi dengan riwayat atopi keluarga, yang mendapat setirizin atau plasebo. Pemeriksaan fisis dan laboratorium dilakukan secara Universitas Gadjah Mada 34
5 berkala, termasuk pemeriksaan 1gB total dan IgE spesifik terhadap serbuk bunga (grass pollen), tungau debu rurnah, hulu kucing, susu sapi, dan telur. Indikator klinis atopi adalah gejala dermatitis atopi menurut SCORAD (scoring atopic dermatitis), Sedangkan secara laboratoriurn kriteria atopi ditetapkan dengan peningkatan 1gB total atau adanya IgE spesifik terhadap salah satu alergen yang diperiksa. Semua anak yang masuk dalam penelitian ini mendérita dermatitis atopi paling sedikit satu hulan sebelum seleksi dengan riwayat penyakit atopi (dermatitis atopi, rinitis alergi, atau asma) pada ibu, ayah, atau saudara kandung, serta tidak pernah menderita mengi atau paling banyak mengalami satu kali episod batuk malam yang berhuhungan dengan asma sejak usia 6 bulan. Analisis data dasar laboratorium menunjukkan bahwa lebih dan 60% peserta penelitian secara imunoreaktivitas adalah atopi. Semua subjek penelitian paling sedikit terpajan pada satu faktor risiko alergi, dan kebanyakan lebih dan satu faktor alergi. Faktor risiko alergi tersering yang tercatat antara lain adalah polusi udara, asap rokok, karpet di kamar tidur, dan kucing. Parameter utama yang dinilai pada penelitian mi adalah onset asma pada kelompok setirizindan kontrol, yang ditandai dengan timbulnya tiga episod terpisah mengi atau batuk malam dengan gangguan tidur selama tiga hari berturut-turut. Selain itu dinilai pula pengaruh setirizin terhadap perjalanan penyakit dermatitis atopi. Setirizin peroral diberikan dengan dosis 0,25- mg/kgbb dua kali sehari selama 18 bulan. Penilaian dilakukan terhadap 795 anak yang layak untuk uji statistic terdiri dari 398 anak yang mendapat setirizin (246 lelaki, 152 perempuan) dan 397 anak yang mendapat plasebo (248 laki, 149 perempuan). Semua pemakaian obat lain yang diberikan pada pasien dicatat, demikian juga reaksi simpang obat yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek penelitian yang mendapat plaseho dan pada awal penelitian menunjukkan pcninggian IgE total dan IgE spesifik terhadap serbuk bunga, tungau debu umah, atau bulu kucing menunjukkan peningkatan risiko relatif bagi timbulnya asma. Ini berarti bahwa kelompok anak tersebut berisiko tinggi untuk timhulnya asma. Pembenian setirizin selama 5 bulan pada kelompok yang pada awal penelitian menunjukkan peningkatan IgE total dan TgE spesifik terhadap serbuk bunga atau tungau debu rumah, akan menurunkan risiko relatif bagi timbulnya asma dibandingkan dengan kelompok serupa yang mendapat plasebo. Selain itu maka probabilitas terhadap timbulnya asma menunjukkan penurunan 50% pada kelompok tersebut. Derajat berat dermatitis atopi pada kedua kelompok setirizin dan plasebo tidak menunjukkan perbedaan perubahan klinis yang berarti, tetapi pemakaian antihistamin lain lebih sening digunakan ada kelompok plasebo, dan lama pemakaian kortikosteroid pada kelompok setirizin menurun ecara bermakna dibandingkan dengan kelompok plasebo. Universitas Gadjah Mada 35
6 Data penelitian ini menunjukkan bahwa peninggian kadar IgE total merupakan prediksi terhadap kejadian asma kelak demikian pula halnya dengan sensitisasi terhadap tungau dehu rumah atau bulu kucing merupakan prediktor asma pula. Sedangkan sensitisasi oleh serbuk bunga merupakan prediktor kuat asma yang akan timbul. Dari laporan awal penelitian ETAC tersebut dapat disimpuikan pula bahwa penggunaan etirizin jangka panjang akan memperkecil kemungkinan berkembangnya asma pada pendenita iermatitis atopi pada kelompok anak yang telah tersensitisasi oleh serbuk bunga dan tungau debu rumah. Selain itu penggunaan setirizin langka panjang dapat membatasi kekerapan dan lama pemberian kortikosteroid untuk dermatitis atopi pada anak. Ringkasan Reaksi alergi dapat tinibul pada individu atopi yang telah terpajan pada alergen. Pajanan alergen merupakan faktor lingku-ngan yang menjadi faktor penentu untuk sensitisasi, pemacu, dan pemicu gejala klini serta derajat berat penyakit alergi. Perjalanan penyakit alergi anak bermula dengan timbulnya gejala klinis pada saluran cerna semasa bayi, kemudian pada kulit untuk bayi yang lebih besar atau anak, dan pada saluran napas untuk anak yang Iebih besar. Beberapa indikator terhadap kemungkinan perkembangan penyakit alergi anak yang tclah diidentifikasi amara lain adalab riwa at atopi dalam keluarga, kadar IgE total darah tali pusat bayi baru lahir, kadar IgE total bayi yang Iebih besar, riwayat dermatitis atopi infantil, kadar protein kationik eosinofil (ECP) dalam darab dan sekret hidung, dan respons sitokin pada bayi. Perkembangan penyakit alergi pada anak diharapkan akan dapat diubah dan dicegah melalui upaya perbaikan lingkungan dan pengobatan pencegahan. Walaupun setiap wilayah mempunyai sifat karakterisiik tersendiri, dapat dilakukan berhagai manipulasi lingkungan untuk tujuan tersehut misalnya dengan menjaga lingkungan hebas asap rokok, mengatur diet hipoalergenik bagi bayi dan ibu menyusui, serta mengurangi pajanan terhadap alergen penting seperti serpihan kulit hewan, tungau dehu rumah, kecoa, dan jamur. Upaya pengobatan pencegahan yang umumnya ditujukan untuk penderita dengan gejala penyakit alergi menetap, misalnya asma bronkial. telah banyak dilakukan dan terkadang tidak menunjukkan basil konsisten. Hasil sementara penelitian ETAC melaiui pengobatan dini anak atopi menunjukkan harapan untuk pencegahan perjalanan penyakit alergi. Pemberian setirizin jangka panjang akan memperkecil kemungkinan berkernbangnya asma pada penderita dermatitis atopi yang telah tersensitisasi oleh serbuk bunga dan tungau debu rumah. Universitas Gadjah Mada 36
7 Kepustakaan Holt PG, Macaubas C. Development of long term tolerance versus sensitisation to environmental allergens during the perinatal period. Curr Opin Immunol : Wahn U. Allergic factors associated with the development of asthma and the influence of cetirizine in a double-blind, randomised, placebo-controlled trial: first results of ETAC. Pediatr Allergy Immunol 1998; 9: Spahn ID, Szefler SJ. Pharmacologic management of pediatric asthma. Immunol Allergy Clin N Am 1998: 18:165-81, Gem JE, Lemanske Jr. RF. Pediatric allergy. Can it be prevented? immunol Allergy Clin N Am 1999; 19:233-52, Heinly TL, Blaiss MS. Genetics of atopic diseases. Immunol Allergy Clin N Am 1999; 19: Universitas Gadjah Mada 37
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. patofisiologi, imunologi, dan genetik asma. Akan tetapi mekanisme yang mendasari
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Asma Dari waktu ke waktu, definisi asma mengalami perubahan beberapa kali karena perkembangan dari ilmu pengetahuan beserta pemahaman mengenai patologi, patofisiologi,
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi Istilah atopi berasal dari bahasa Yunani yaitu atopos yang berarti out of place atau di luar dari tempatnya, dan
BAB I PENDAHULUAN. bahan yang sama untuk kedua kalinya atau lebih. 1. manifestasi klinis tergantung pada organ target. Manifestasi klinis umum dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Istilah alergi digunakan pertama kali digunakan oleh Clemens von Pirquet bahan yang sama untuk kedua kalinya atau lebih. 1 Reaksi alergi dapat mempengaruhi hampir
BAB I PENDAHULUAN. imun. Antibodi yang biasanya berperan dalam reaksi alergi adalah IgE ( IgEmediated
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Alergi adalah reaksi hipersensitivitas yang diinisiasi oleh mekanisme imun. Antibodi yang biasanya berperan dalam reaksi alergi adalah IgE ( IgEmediated allergy). 1,2
- Asma pada Anak. Arwin AP Akib. Patogenesis
Sari Pediatri, Sari Pediatri, Vol. 4, No. Vol. 2, 4, September No. 2, September 2002: 782002 - Asma pada Anak Arwin AP Akib Asma pada anak mempunyai berbagai aspek khusus yang umumnya berkaitan dengan
BAB I PENDAHULUAN. Mekanisme alergi tersebut akibat induksi oleh IgE yang spesifik terhadap alergen
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penyakit alergi merupakan masalah kesehatan serius pada anak. 1 Alergi adalah reaksi hipersentisitivitas yang diperantarai oleh mekanisme imunologi. 2 Mekanisme alergi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. ini. Asma bronkial terjadi pada segala usia tetapi terutama dijumpai pada usia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit asma merupakan kelainan yang sangat sering ditemukan dan diperkirakan 4-5% populasi penduduk di Amerika Serikat terjangkit oleh penyakit ini. Asma bronkial
BAB 1 PENDAHULUAN. dermatitis yang paling umum pada bayi dan anak. 2 Nama lain untuk
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang masalah Dermatitis atopik (DA) merupakan inflamasi kulit yang bersifat kronik berulang, disertai rasa gatal, timbul pada tempat predileksi tertentu dan didasari oleh
BAB VI PEMBAHASAN. Pada penelitian ini didapatkan insiden terjadinya dermatitis atopik dalam 4 bulan pertama
72 BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Insiden Pada penelitian ini didapatkan insiden terjadinya dermatitis atopik dalam 4 bulan pertama kehidupan adalah 10,9%. Moore, dkk. (2004) mendapatkan insiden dermatitis atopik
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis Atopik (DA) adalah penyakit inflamasi pada kulit yang bersifat kronis dan sering terjadi kekambuhan. Penyakit ini terjadi akibat adanya kelainan pada fungsi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. populasi masyarakat yang menderita alergi. Suatu survei yang dilakukan oleh World
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit alergi merupakan penyakit kronis terbanyak di negara-negara berkembang. Beberapa studi prevalensi menunjukkan terjadi peningkatan proporsi populasi masyarakat
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang. Asma adalah penyakit saluran nafas kronis yang penting
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.1. Latar Belakang Asma adalah penyakit saluran nafas kronis yang penting dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara diseluruh dunia. Meskipun penyakit
BAB I PENDAHULUAN. bahwa prevalensi alergi terus meningkat mencapai 30-40% populasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang World Allergy Organization (WAO) tahun 2011 mengemukakan bahwa prevalensi alergi terus meningkat mencapai 30-40% populasi dunia. 1 World Health Organization (WHO) memperkirakan
BAB 1 PENDAHULUAN. negara di seluruh dunia (Mangunugoro, 2004 dalam Ibnu Firdaus, 2011).
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asma merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius di berbagai negara di seluruh dunia (Mangunugoro, 2004 dalam Ibnu Firdaus, 2011). Asma merupakan penyakit inflamasi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Definisi klinis rinitis alergi adalah penyakit. simptomatik pada hidung yang dicetuskan oleh reaksi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Definisi klinis rinitis alergi adalah penyakit simptomatik pada hidung yang dicetuskan oleh reaksi inflamasi yang dimediasi oleh immunoglobulin E (IgE)
BAB II LANDASAN TEORI. ke waktu karena perkembangan dari ilmu pengetahuan beserta. pemahaman mengenai patologi, patofisiologi, imunologi, dan genetik
BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Asma a. Definisi Asma Definisi asma mengalami perubahan beberapa kali dari waktu ke waktu karena perkembangan dari ilmu pengetahuan beserta pemahaman mengenai
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit alergi sebagai reaksi hipersensitivitas tipe I klasik dapat terjadi pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit alergi sebagai reaksi hipersensitivitas tipe I klasik dapat terjadi pada individu dengan kecenderungan alergi setelah adanya paparan ulang antigen atau alergen
BAB I PENDAHULUAN. masih cenderung tinggi, menurut world health organization (WHO) yang bekerja
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Asma merupakan salah satu penyakit kronis yang tidak menular. Penyakit asma telah mempengaruhi lebih dari 5% penduduk dunia, dan beberapa indicator telah menunjukkan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Dermatitis atopik adalah penyakit kulit kronik, kambuhan, dan sangat gatal yang umumnya berkembang saat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dermatitis atopik adalah penyakit kulit kronik, kambuhan, dan sangat gatal yang umumnya berkembang saat masa awal kanak-kanak dimana distribusi lesi ini sesuai dengan
BAB I. PENDAHULUAN A.
1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Asma merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di hampir semua negara di dunia, diderita oleh anak-anak sampai dewasa derajat penyakit
BAB 1 PENDAHULUAN. udara ekspirasi yang bervariasi (GINA, 2016). Proses inflamasi kronis yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Asma merupakan penyakit heterogen dengan karakteristik adanya inflamasi saluran napas kronis. Penyakit ini ditandai dengan riwayat gejala saluran napas berupa wheezing,
BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh reaksi alergi pada penderita yang sebelumnya sudah tersensitisasi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rinitis Alergi (RA) merupakan salah satu penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada penderita yang sebelumnya sudah tersensitisasi alergen yang sama
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Hipotesis higiene merupakan penjelasan terhadap peningkatan kejadian atopi
1 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hipotesis Higiene Hipotesis higiene merupakan penjelasan terhadap peningkatan kejadian atopi yang terjadi pada tiga puluh sampai empat puluh tahun terakhir, terutama di negara-negara
kekambuhan asma di Ruang Poli Paru RSUD Jombang.
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asma adalah penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan mayarakat di hampir semua negara di dunia, diderita oleh anak-anak sampai dewasa dengan derajat penyakit
@UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Alergi merupakan penyakit yang sering terjadi pada balita. Prevalensi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Alergi merupakan penyakit yang sering terjadi pada balita. Prevalensi alergi di beberapa negara pada dua dekade terakhir mengalami peningkatan. Akan tetapi di negara
ABSTRAK PREVALENSI INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT SEBAGAI PENYEBAB ASMA EKSASERBASI AKUT DI POLI PARU RSUP SANGLAH, DENPASAR, BALI TAHUN 2013
ABSTRAK PREVALENSI INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT SEBAGAI PENYEBAB ASMA EKSASERBASI AKUT DI POLI PARU RSUP SANGLAH, DENPASAR, BALI TAHUN 2013 Data WHO 2013 dan Riskesdas 2007 menunjukkan jumlah penderita
BAB 1 PENDAHULUAN. karena berperan terhadap timbulnya reaksi alergi seperti asma, dermatitis kontak,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Debu terdiri atas partikel destrimen yang berasal dari rambut, daki, bulu binatang, sisa makanan, serbuk sari, skuama, bakteri, jamur dan serangga kecil (Sungkar, 2004).
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Asma merupakan penyakit kronis saluran pernapasan yang sering dijumpai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Asma Asma merupakan penyakit kronis saluran pernapasan yang sering dijumpai pada masa kanak-kanak. Merupakan salah satu reaksi hipersentivitas saluran napas, baik saluran
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Alergi merupakan suatu keadaan hipersensitivitas terhadap kontak atau pajanan zat asing (alergen) tertentu dengan akibat timbulnya gejala-gejala klinis, yang mana
BAB 1 PENDAHULUAN. usia anak. Anak menjadi kelompok yang rentan disebabkan masih. berpengaruh pada tumbuh kembang dari segi kejiwaan.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kulit merupakan masalah yang perlu menjadi perhatian khusus karena lebih dari 60% dalam suatu populasi memiliki setidaknya satu jenis penyakit kulit, khususnya
PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP)
Lampiran 1 PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN (PSP) Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama :... Umur :... tahun (L / P) Alamat :... dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya telah memberikan PERSETUJUAN
BAB 1 PENDAHULUAN. oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah. mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan pada mukosa hidung
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Susu formula yang diberikan kepada bayi sebagai pengganti ASI, kerap kali memberikan efek samping yang mengganggu kesehatan bayi seperti alergi. Susu formula secara
BAB 1 PENDAHULUAN. imunologis, yaitu akibat induksi oleh IgE yang spesifik terhadap alergen tertentu,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Alergi adalah suatu reaksi hipersensitivitas yang diawali oleh mekanisme imunologis, yaitu akibat induksi oleh IgE yang spesifik terhadap alergen tertentu, yang berikatan
BAB I PENDAHULUAN. 8,7% di tahun 2001, dan menjadi 9,6% di tahun
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Asma merupakan penyakit kronik yang sering ditemukan dan merupakan salah satu penyebab angka kesakitan pada anak di seluruh dunia. Di negara maju dan negara berkembang
BAB 1. PENDAHULUAN. hidung akibat reaksi hipersensitifitas tipe I yang diperantarai IgE yang ditandai
1 BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Rinitis alergi (RA) adalah manifestasi penyakit alergi pada membran mukosa hidung akibat reaksi hipersensitifitas tipe I yang diperantarai IgE yang ditandai dengan
BAB I PENDAHULUAN. Asma bronkial merupakan penyakit kronik yang sering dijumpai pada anak
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Asma bronkial merupakan penyakit kronik yang sering dijumpai pada anak maupun dewasa di negara berkembang maupun negara maju. Sejak dua dekade terakhir, dilaporkan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Istilah alergi digunakan pertama kali oleh Clemens von Pirquet tahun 1906 yang diartikan sebagai reaksi pejamu yang berubah bila terpajan dengan bahan yang sama untuk
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Rinitis Alergi adalah peradangan mukosa saluran hidung yang disebabkan
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rinitis Alergi Rinitis Alergi adalah peradangan mukosa saluran hidung yang disebabkan alergi terhadap partikel, antara lain: tungau debu rumah, asap, serbuk / tepung sari yang
BAB I PENDAHULUAN. paru-paru. Penyakit ini paling sering diderita oleh anak. Asma memiliki gejala berupa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Asma merupakan suatu penyakit kronik yang mengenai jalan napas pada paru-paru. Penyakit ini paling sering diderita oleh anak. Asma memiliki gejala berupa batuk kronik,
BAB 1 PENDAHULUAN. Asma adalah suatu inflamasi kronik dari saluran nafas yang menyebabkan. aktivitas respirasi terbatas dan serangan tiba- tiba
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Asma adalah suatu inflamasi kronik dari saluran nafas yang menyebabkan aktivitas respirasi terbatas dan serangan tiba- tiba memerlukan tatalaksana segera dan kemungkinan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Alergi merupakan respon imun yang abnormal dari tubuh. Reaksi alergi
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Alergi merupakan respon imun yang abnormal dari tubuh. Reaksi alergi selalu muncul setiap kali terpapar dengan alergen. Reaksi dari alergi juga tidak tergantung pada
BAB 1 PENDAHULUAN. Asma adalah suatu penyakit jalan nafas obstruktif intermitten,
1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar belakang Asma adalah suatu penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversible, bahwa trakea dan bronki berespons dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Asma
M.D. : Faculty of Medicine, University of Indonesia, Pulmonologist: Faculty of Medicine, Univ. of Indonesia, 2007.
Triya Damayanti M.D. : Faculty of Medicine, University of Indonesia, 2000. Pulmonologist: Faculty of Medicine, Univ. of Indonesia, 2007. Ph.D. :Tohoku University, Japan, 2011. Current Position: - Academic
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Secara klinis, rinitis alergi didefinisikan sebagai kelainan simtomatis pada hidung yang
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Rinitis alergi 2.1.1. Definisi Secara klinis, rinitis alergi didefinisikan sebagai kelainan simtomatis pada hidung yang diinduksi oleh inflamasi yang diperantarai IgE (Ig-E
BAB I PENDAHULUAN. Serangan asma merupakan salah satu penyebab rawat inap pada anak dirawat di
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Serangan asma merupakan salah satu penyebab rawat inap pada anak dirawat di rumah sakit. Asma yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan kehidupan sosial dan prestasi
BAB I PENDAHULUAN. Prevalensi asma semakin meningkat dalam 30 tahun terakhir ini terutama di
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Prevalensi asma semakin meningkat dalam 30 tahun terakhir ini terutama di negara maju. Sebagai contoh di Singapura 11,9% (2001), Taiwan 11,9% (2007), Jepang 13% (2005)
Prevalens Nasional : 5,0% 5 Kabupaten/Kota dengan prevalens tertinggi: 1.Aceh Barat 13,6% 2.Buol 13,5% 3.Pahwanto 13,0% 4.Sumba Barat 11,5% 5.
L/O/G/O Buku pedoman ASMA DEFINISI : Prevalens Nasional : 5,0% 5 Kabupaten/Kota dengan prevalens tertinggi: 1.Aceh Barat 13,6% 2.Buol 13,5% 3.Pahwanto 13,0% 4.Sumba Barat 11,5% 5.Boalemo 11,0% Riskesdas
BAB I PENDAHULUAN. terutama pada anak, karena alergi membebani pertumbuhan dan perkembangan anak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penyakit alergi telah berkembang menjadi masalah kesehatan yang serius di negara maju, terlebih negara berkembang. 1 Angka kejadiannya terus meningkat secara drastis
DI RT 06 RW 02 DESA KUDU KELURAHAN BAKI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAKI I SUKOHARJO
ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA KELUARGA Tn. S DENGAN MASALAH ASMAPADA Ny. L DI RT 06 RW 02 DESA KUDU KELURAHAN BAKI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAKI I SUKOHARJO Karya Tulis Ilmiah Diajukan Sebagai Salah
BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang. Dermatitis atopik (DA) merupakan penyakit. peradangan kulit kronik spesifik yang terjadi pada
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Dermatitis atopik (DA) merupakan penyakit peradangan kulit kronik spesifik yang terjadi pada kulit atopik yang ditandai dengan rasa gatal, disebabkan oleh hiperaktivitas
BAB 1 PENDAHULUAN. selama masa bayi dan anak-anak, sering berhubungan dengan. peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dermatitis atopik (D.A.) ialah keadaan peradangan kulit kronis dan residif, disertai gatal, yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak, sering
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis alergika merupakan suatu penyakit yang sering kita jumpai di masyarakat yang dikenal juga sebagai dermatitis atopik (DA), yang mempunyai prevalensi 0,69%,
BAB 1 PENDAHULUAN. fungsi barier epidermal, infiltrasi agen inflamasi, pruritus yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dermatitis atopik merupakan sebuah penyakit inflamasi kronik yang terjadi pada kulit dan ditandai dengan lemahnya fungsi barier epidermal, infiltrasi agen inflamasi,
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Immunitas Niken Andalasari Sistem Imunitas Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Hasanudin, No. 806 Salatiga, Jawa Tengah. Sesuai dengan SK
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Lokasi Penelitian Rumah sakit paru dr. Ario Wirawan beralamat di jalan Hasanudin, No. 806 Salatiga, Jawa Tengah. Sesuai dengan SK mentri kesehatan RI.
BAB 3 METODE PENELITIAN
21 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian intervensi atau uji klinis dengan randomized controlled trial pre- & posttest design. Studi ini mempelajari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis alergika adalah suatu peradangan pada kulit yang didasari oleh reaksi alergi/reaksi hipersensitivitas tipe I. Penyakit yang berkaitan dengan reaksi hipersensitivitas
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dermatitis atopik merupakan masalah kesehatan yang serius terutama pada bayi dan anak karena bersifat kronik residif dan dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita.
ABSTRAK GAMBARAN KEJADIAN DERMATITIS ATOPIK PADA BAYI DI RSU HERMINA KOTA BOGOR
ABSTRAK GAMBARAN KEJADIAN DERMATITIS ATOPIK PADA BAYI DI RSU HERMINA KOTA BOGOR Almiya Khansa Putri, 2017 Pembimbing I : R. Amir Hamzah, dr., M.Kes., SpKK Pembimbing II: Dani, dr., M.Kes Dermatitis Atopik
BAB 1 PENDAHULUAN. Rhinitis alergi merupakan peradangan mukosa hidung yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Rhinitis alergi merupakan peradangan mukosa hidung yang disebabkan mediasi oleh reaksi hipersensitifitas atau alergi tipe 1. Rhinitis alergi dapat terjadi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker atau karsinoma merupakan istilah untuk pertumbuhan sel abnormal dengan kecepatan pertumbuhan melebihi normal dan tidak terkontrol. (World Health Organization,
BAB I PENDAHULUAN. bahan kimia atau iritan, iatrogenik, paparan di tempat kerja atau okupasional
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Konjungtivitis adalah peradangan yang terjadi pada konjungtiva secara umum dapat disebabkan oleh berbagai macam penyebab endogen maupun eksogen seperti bakteri,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Ketika tubuh terpajan oleh suatu antigen atau benda asing,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ketika tubuh terpajan oleh suatu antigen atau benda asing, secara otomatis tubuh akan memberi tanggapan berupa respon imun. Respon imun dibagi menjadi imunitas
Prevalensi penyakit alergi dilaporkan meningkat,
Artikel Asli Hubungan Pajanan Alergen Terhadap Kejadian Alergi pada Anak Wistiani, Harsoyo Notoatmojo Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro/ RSUP Dr. Kariadi, Semarang
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN. gambaran dermatitis atopik pada anak usia 0 7 tahun yang terpapar. diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai gambaran dermatitis atopik pada anak usia 0 7 tahun yang terpapar asap rokok di Rumah Sakit Gotong Royong
PROFIL PENDERITA ALERGI DENGAN HASIL SKIN PRICK TEST TDR POSITIF DI POLIKLINIK ALERGI-IMUNOLOGI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE
PROFIL PENDERITA ALERGI DENGAN HASIL SKIN PRICK TEST TDR POSITIF DI POLIKLINIK ALERGI-IMUNOLOGI RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 007-009 1 Novitasari Angle Sorisi G.J.P Wahongan 1 Kandidat Skripsi
BAB I PENDAHULUAN. Di dalam kehidupan manusia, kesehatan merupakan hal yang sangat
14 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di dalam kehidupan manusia, kesehatan merupakan hal yang sangat penting, kesehatan akan terganggu jika timbul penyakit yang dapat menyerang siapa saja baik laki-laki
Oleh : Roestiniadi Djoko Soemantri,dr, SpTHT- KL DEPT/SMF ILMU KESEHATAN THT - KL FK. UNAIR / RSUD Dr. Soetomo SURABAYA
Oleh : Roestiniadi Djoko Soemantri,dr, SpTHT- KL DEPT/SMF ILMU KESEHATAN THT - KL FK. UNAIR / RSUD Dr. Soetomo SURABAYA PILEK ALERGI,... Si pengganggu yang sering diabaikan? * Seiring dengan perkembangan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia secara geografis merupakan negara tropis yang kaya akan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan. Seiring perkembangan dunia kesehatan, tumbuhan merupakan alternatif
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Rinitis alergi merupakan penyakit imunologi yang sering ditemukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rinitis alergi merupakan penyakit imunologi yang sering ditemukan (Madiadipora, 1996). Berdasarkan studi epidemiologi, prevalensi rinitis alergi diperkirakan berkisar
BAB I PENDAHULUAN. Alergi terjadi akibat adanya paparan alergen, salah satunya ovalbumin.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Alergi adalah suatu keadaan hipersensitivitas yang diinduksi oleh pajanan suatu antigen tertentu yang menimbulkan reaksi imunologi yang berbahaya pada pajanan
BAB I PENDAHULUAN. Rinitis alergi (RA) adalah penyakit yang sering dijumpai. Gejala utamanya
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Rinitis alergi (RA) adalah penyakit yang sering dijumpai. Gejala utamanya adalah bersin, hidung beringus (rhinorrhea), dan hidung tersumbat. 1 Dapat juga disertai
HUBUNGAN KADAR IgE SPESIFIK DENGAN DERAJAT KEPARAHAN DERMATITIS ATOPIK PADA ANAK
Artikel Asli HUBUNGAN KADAR IgE SPESIFIK DENGAN DERAJAT KEPARAHAN DERMATITIS ATOPIK PADA ANAK ABSTRAK kondisi atopi lain, pada DA terdapat peningkatan konsentrasi serum antibodi IgE terhadap alergen hirup
BAB 1 PENDAHULUAN. Rinitis alergi adalah gangguan fungsi hidung akibat inflamasi mukosa hidung yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rinitis alergi adalah gangguan fungsi hidung akibat inflamasi mukosa hidung yang diperantarai IgE yang terjadi setelah mukosa hidung terpapar alergen. 1,2,3 Penyakit
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kata Asthma berasal dari bahasa yunani yang berarti terengah-engah atau
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Asma Bronkial Kata Asthma berasal dari bahasa yunani yang berarti terengah-engah atau sukar bernapas. Menurut United States National Tuberculosis Association 1967,
1. Personil Penelitian 1. Ketua penelitian Nama : dr. Mardiana Hasibuan Jabatan : Peserta PPDS Ilmu Kesehatan Anak FK- USU/RSHAM
Lampiran 1 1. Personil Penelitian 1. Ketua penelitian Nama : dr. Mardiana Hasibuan Jabatan : Peserta PPDS Ilmu Kesehatan Anak FK- 2. Anggota penelitian 1. dr. Lily Irsa, Sp.A(K) 2. dr. Nelly Rosdiana Sp.A(K)
I. PENDAHULUAN. adalah perokok pasif. Bila tidak ditindaklanjuti, angka mortalitas dan morbiditas
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rokok telah membunuh 50 persen pemakainya, hampir membunuh enam juta orang setiap tahunnya yang merupakan bekas perokok dan 600.000 diantaranya adalah perokok
BAB 1 PENDAHULUAN. menurut World Health Organization (WHO), sekitar 65% dari penduduk negara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan obat tradisional telah lama digunakan diseluruh dunia dan menurut World Health Organization (WHO), sekitar 65% dari penduduk negara maju dan 80% dari penduduk
BAB 1 PENDAHULUAN. kemudian akan mengalami asma dan rhinitis alergi (Djuanda, 2007). inflamasi dan edukasi yang kambuh-kambuhan (Djuanda,2007).
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dermatitis atopik atau gatal-gatal masih menjadi masalah kesehatan terutama pada anak-anak karena sifatnya yang kronik residif sehingga mempengaruhi kualitas hidup pasien
Penyebab: si kecil diserang jasad renik, seperti kuman, mikroba atau virus. Namun penyebab terbesar adalah virus.
Apakah anak anda sering terjangkit penyakit batuk dan pilek? Baru saja sembuh, ga lama kemudian sakit lagi? Kalau jawabannya "ya", simaklah artikel berikut yang kami kutip dari kompas.com, semoga dapat
BAB I PENDAHULUAN. Dermatitis atopik atau eksema atopik merupakan penyakit inflamasi kulit
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dermatitis atopik atau eksema atopik merupakan penyakit inflamasi kulit kronis dan residif, gatal dan ditandai dengan kelainan kulit lain seperti xerosis, ekskoriasi,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Asma 2.1.1. Pengertian Asma Asma merupakan sebuah penyakit kronik saluran napas yang terdapat di seluruh dunia dengan kekerapan bervariasi yang berhubungan dengan dengan peningkatan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Istilah atopik pertama kali diperkenalkan oleh Coca (1923), yaitu istilah yang dipakai untuk sekelompok penyakit pada individu yang mempunyai riwayat alergi/hipersensitivitas
BAB I PENDAHULUAN. berasal dari bahasa Yunani (yang berarti terengah-engah) dan pertama kali
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Penyakit asma telah dikenal sejak dimulainya ilmu kesehatan. Kata asma berasal dari bahasa Yunani (yang berarti terengah-engah) dan pertama kali digunakan oleh Bapak
ASMA DAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN (PENJASORKES) DI SEKOLAH. I Made Kusuma Wijaya
ASMA DAN PENDIDIKAN JASMANI OLAHRAGA DAN KESEHATAN (PENJASORKES) DI SEKOLAH I Made Kusuma Wijaya Jurusan Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Olahraga dan Kesehatan, Universitas Pendidikan
