Jurnal Ilmu Kesehatan Anak
|
|
|
- Adi Irawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Jurnal Ilmu Kesehatan Anak VOLUME 2 Desember 2013 NOMOR 1 Naskah Asli Karakteristik Acute Flaccid Paralysis Pada Anak Di Bali Kadek Hartini, I Gusti Ngurah Made Suwarba Abstrak Latar belakang. Acute flaccid paralysis (AFP) adalah keadaan lumpuh bersifat layuh (flaccid) terjadi akut pada ekstremitas bawah yang sebelumnya normal pada anak berusia kurang dari 15 tahun dan merupakan lesi lower motor neuron ((LMN). Program surveilans AFP di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1997, namun hingga saat ini belum pernah ada laporan tentang hasil surveilans di Bali. Tujuan. Menggambarkan karakteristik kasus dengan AFP dan insidens poliomyelitis berdasarkan hasil surveilans AFP di Bali. Metode. Penelitian ini merupakan studi deskriptif potong lintang yang dikumpulkan dari kuesioner yang telah diisi oleh dokter sebagai bagian dari surveilans aktif AFP Dinas Kesehatan Propinsi Bali dari tahun Data terkumpul dari kuesioner anak-anak yang terdiagnosis gejala AFP. Hasil. Jumlah kasus AFP di Bali sejak tahun sebanyak 202 kasus. Sebaran umur menunjukkan 53,0% subjek berusia kurang dari 5 tahun dan 64,4% adalah anak laki-laki. Sebagian besar kasus AFP disertai dengan demam (62,9%). Status imunisasi dasar polio 93,6% lengkap sesuai umur. Tiga dari keseluruhan pemeriksaan spesimen tinja terisolasi OVP-like virus tetapi tidak satupun ditemukan virus polio liar. Simpulan. Selama periode 8 tahun pelaksanaan surveilans, didapatkan insidens AFP sebesar 0,02% dan tidak satupun terdiagnosis sebagai poliomyelitis. JIKA.2013:2(1);1-10 Kata kunci: AFP, karakteristik, poliomyelitis, Anak Abstract Background. Acute flaccid paralysis (AFP) is a state of flaccid paralysis that occurs acutely at lower limb previously normal, aged less than 15 years and is a lower motor neuron lesion ((LMN). AFP surveillance program in Indonesia has been started since 1997, but until now has not been any report on the results of surveillance in Bali. Objective. To describe characteristics of patients with acute flaccid paralysis and incidence of poliomyelitis with AFP approach diagnosis in Bali. Methods. A cross sectional descriptive study conducted at Bali Health Office by collecting data from the questionnaire filled by doctors who was actively involved in surveillance held by ministery of health at Bali Province, from 2000 to Data was acquired from questionnaire was used to record data from children who met acute flaccid paralysis definition. Results. A total of 202 AFP cases occuring since 2000 to 2010 were identified. The distribution of age were 53.0% less than 5 years and 64.4% were boys. Most of AFP cases are accompanied by fever 62.9%. As much as 93.6% completely basic polio immunization. Three of the overall stool specimens isolated were oral polio vaccine (OVP)- like virus but none of wild polio virus was found. Conclusion. During 8 years surveilens, we found incidence of AFP in Bali 0,02%. None of them was recognized as poliomylelitis. JIKA.2013:2(1);1-10 Keywords: AFP, characteristics, poliomyelitis, children * Dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, RSUP Sanglah, Denpasar, Indonesia. Permintaan Cetak ulang ditujukan kepada : Kadek Hartini. Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana / RSUP Sanglah, Jl. P. Nias, Denpasar, Bali, Indonesia. Telepon / Fax / JIKA, Vol. 2, No. 1, Desember
2 K asus AFP adalah keadaan lumpuh yang bersifat layuh (flaccid), terjadi secara akut mengenai ekstremitas bawah yang sebelumnya normal, pada anak yang berumur kurang dari 15 tahun dan merupakan lesi lower motor neuron (LMN). 1 Keadaan ini merupakan keadaan berat karena dapat mengakibatkan kematian atau keadaan cacat yang irreversibel bila tidak ditatalaksana dengan baik. 1,2 Banyak penyakit yang dihubungkan dengan keadaan AFP dan bisa ditangani, namun diperlukan pengenalan dini untuk mencegah luaran yang tidak diinginkan. Polio merupakan salah satu dari kasus AFP yang dapat dibasmi. Strategi untuk membasmi polio didasarkan atas pemikiran bahwa virus polio akan mati bila ia disingkirkan dari tubuh manusia dengan cara pemberian imunisasi. 1,2 Sejak tahun 1997 telah dilaksanakan surveilans AFP secara intensif melalui peningkatan komitmen Kepala Dinas Kesehatan, yang bertujuan untuk melihat efikasi program eradikasi poliomyelitis dan untuk meningkatkan sensitifitas penemuan kasus polio. 1 Sampai tahun 2010 belum pernah ada laporan khusus tentang hasil surveilans AFP di Bali. Pada penelitian ini kami ingin melihat gambaran karakteristik pasien dengan AFP dan penyakit-penyakit yang memiliki manifestasi AFP, serta insidens poliomyelitis berdasarkan hasil surveilans AFP yang telah dilaksanakan di Bali. Metode Penelitian ini merupakan studi deskriptif potong lintang sebagai bagian dari surveilens program eradikasi polio yang dilakukan oleh Bagian Surveilens Dinas Kesehatan Propinsi Bali. Surveilens terdiri dari identifikasi virus polio pada sampel feses anak yang mengalami AFP dan penentuan strain virus polio pada sampel yang positif untuk menentukan apakah strain tersebut berasal dari strainvirus pada vaksin atau virus liar. Data diambil dari kuesioner yang diisi oleh dokter yang menemukan dan melaporkan kasus AFP ke Bagian Surveilens Dinas Kesehatan Propinsi Bali dari Januari 2000-Desember Pada proses surveilens ini, setelah dokter melaporkan kasus AFP ke Dinas Kesehatan, bagian Surveilens mengambil sampel feses untuk melihat adanya virus poliomyelitis dan strain JIKA. Vol.2. No.1.Desember
3 poliomylitis. Pemeriksaan sampel feses dilakukan di laboratorium Biofarma/Litbangkes/Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya. Diagnosis poliomyelitis ditentukan dari hasil pemeriksaan sampel feses dan ditetapkan oleh kelompok kerja ahli surveilans AFP nasional. Diagnosis selain Poliomyelitis ditentukan oleh dokter penemu kasus AFP. Populasi penelitian Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah anak usia kurang dari 15 tahun yang mengalami lumpuh layuh akut, yang masuk dalam penjaringan surveilans AFP di Bali selama periode Januari 2000-Desember Pengumpulan data dilakukan melalui total sampling. Tempat dan waktu penelitian Pelaksanaan penelitian dilakukan di bagian surveilans AFP Dinas Kesehatan Propinsi Bali. Waktu penelitian 14 Februari 2011 sampai dengan 30 Maret Kriteria subyek penelitian Kriteria inklusi Anak usia < 15 tahun yang menderita lumpuh layuh akut dan terjaring dalam surveilans AFP di Bali selama periode Januari 2000-Desember Terdiagnosis sebagai kasus AFP yang dilaporkan dalam sistem surveilans yaitu: 1. Anemia aplastik dengan AFP 2. Arthritis 3. Tumor otak 4. Bronkopneumoni dengan AFP 5. Cerebral palsy 6. Diare dengan AFP 7. Duchene muscular dystrophy 8. Ensefalitis dengan AFP 9. Febris dengan AFP 10. Hemiparesis 11. Hipokalemia 12. Leukemia 13. Malaria dengan AFP 14. Malnutrisi 15. Meningitis dengan AFP 16. Meningoensefalitis dengan AFP 17. Mononeuritis 18. Monoparesis 19. Myalgia 20. Myelitis 21. Myelopathy 22. Myositis 23. Neuralgia 24. Neuritis 25. Neuroblastoma 26. Neuropati 27. Paralisis 28. Paraparesis 29. Paresis N VII 30. Poliomyelitis 31. Polineuropati 32. Radiculitis 33. Demam reumatik 34. SLE 35. Spinal muscular atrophy 36. Spondilitis TB 37. Tetraparesis 38. Infeksi virus dengan AFP 39. Sindrom Guillain Barre 2. Kriteria eksklusi 1. Kuesioner tidak lengkap 2. Kuesioner tidak terbaca 3. Kuesioner rusak Definisi Operasional Variabel: 1. Kasus AFP : semua anak berusia kurang dari 15 tahun dengan kelumpuhan yang sifatnya flaccid (layuh), terjadi secara JIKA. Vol.2. No.1.Desember
4 akut (mendadak), bukan disebabkan oleh ruda paksa. a. Akut: perkembangan kelumpuhan yang berlangsung cepat (rapid progressive) antara 1-14 hari sejak terjadinya gejala awal (rasa nyeri, kesemutan, rasa tebal/kebas) sampai kelumpuhan maksimal. b. Flaccid: kelumpuhan bersifat lunglai, lemas atau layuh bukan kaku, atau terjadi penurunan tonus otot. c. Umur : usia anak penderita AFP yang masuk dalam surveilans AFP di Bali. Cara Umur dinyatakan dalam tahun yang merupakan variabel kategorik yaitu usia <5 tahun dan > 5 tahun sampai dengan < 15 tahun. Umur dihitung dalam tahun dengan pembulatan ke bawah atau sama dengan umur pada waktu ulang tahun yang terakhir. d. Diagnosis AFP: diagnosis kasus AFP yang dilaporkan dalam sistem surveilans meliputi anemia aplastik dengan AFP, arthritis, tumor otak, bronkopneumoni dengan AFP, cerebral palsy, diare dengan AFP, Duchene Muscular Dystrophy, ensefalitis dengan AFP, febris dengan AFP, hemiparesis, hipokalemi, leukemia, malaria dengan AFP, malnutrisi, meningitis dengan AFP, meningoensefalitis dengan AFP, mononeuritis, monoparesis, myalgia, myelitis, myelopati, myositis, neuralgia, neuritis, neuroblastoma, neuropati, paralisis, paraparesis, paresis N VII, poliomyelitis, polineuropati, radiculitis, demam reumatik, SLE, spinal muscular atrophy, spondilitis TB, tetraparesis, infeksi virus dengan AFP, Guillain Barre sindrom dan tidak spesifik (apabila tidak termasuk dalam 39 diagnosis AFP ataupun sindrom Guillain Barre tetapi memiliki gejala AFP). 2. Jenis kelamin : jenis kelamin berdasarkan penampakan fenotif, dibedakan menjadi lakilaki dan perempuan. 3. Klinis dengan demam: dilihat dari kuesioner dibagi menjadi demam dan tidak demam. 4. Asal daerah: terbagi menjadi kabupaten kota yang ada di bali JIKA. Vol.2. No.1.Desember
5 terdiri dari Badung, Buleleng, Bangli, Denpasar, Gianyar, Jembrana, Karangasem, Kelungkung dan Tabanan 5. Status imunisasi polio: lengkap sesuai umur, tidak lengkap, dan tidak pernah mendapat imunisasi 6. Hasil pemeriksaan spesimen tinja: hasil isolasi spesimen dikategorikan menjadi negatif, OPV-like virus, NPEV (non polio enterovirus), VDPV (vaccine derived polio virus), virus polio liar. Kelaikan etik (ethical clearance) Penilaian dan keterangan kelaikan etik penelitian ini diberikan oleh Komisi Etika Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/ Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar dan disetujui oleh Dinas Kesehatan Provinsi Bali. Analisis statistik Data deskriptif ditampilkan dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil Selama kurun waktu Januari 2000 hingga Desember 2010, terdapat 237 kasus AFP dilaporkan dan dilakukan pengisian kuesioner. Dari kuesioner yang terisi, sebanyak 25 di eksklusi karena tidak lengkap, 6 tidak terbaca dan 4 rusak Total sampel 237 kuesioner 202 kasus ditampilkan dalam bentuk tabulasi dan narasi Esklusi: - tidak lengkap 25 - tidak terbaca 6 - rusak 4 Gambar 1. Jalannya penelitian. Jumlah total sampel, didapatkan dari kuesioner yang dikumpulkan pada Januari , karena kuesioner pada kurun waktu umumnya dieksklusi dengan berbagai pertimbangan seperti pada gambar 1. Sebanyak 202 anak usia <15 tahun yang masuk dalam data surveilans AFP propinsi Bali, terdiri dari: 130 anak lakilaki (64,4%). Insidens AFP ditemukan 0,02% dengan diagnosis klinis AFP yang paling sering pada saat masuk surveilans adalah sindrom Guillain JIKA. Vol.2. No.1.Desember
6 Barre 34 kasus (16,8%). Karakteristik kasus ditampilkan pada tabel 1 Tabel 1. Karakteristik kasus AFP Karakteristik N=202 Umur <5 (tahun), n (%) 107 (53,0) 5-15 (tahun), n (%) 95 (47,0) Jenis kelamin (laki), n (%) 130 (64,4) Diagnosis klinis AFP Anemia aplastik dengan AFP, n (%) 1 (0,5) Arthritis, n (%) 1 (0,5) Myalgia, n (%) 9 (4,5) Myelitis, n (%) 4 (2,0) Myositis, n (%) 4 (2,0) Neuritis, n (%) 3 (1,5) Neuropati, n (%) 5 (2,5) Paralisis, n (%) 6 (3,0) Paraparesis, n (%) 21(10,4) Polineuropati, n (%) 3 (1,5) Demam reumatik, n (%) 2 (1,0) Tetraparesis, n (%) 8 (4,0) Tidak spesifik, n (%) 33 (16,3) Sindrom Guillain Barre, n (%) 34 (16,8) Sebaran daerah kasus Buleleng, n (%) Bangli, n (%) Badung, n (%) Denpasar, n (%) Gianyar, n (%) Karangasem, n (%) Klungkung, n (%) Jembrana, n (%) Tabanan, n (%) 33 (16,3) 9 (4,5) 31 (15,3) 38 (18,8) 40 (19,8) 18 (8,9) 12 (5,9) 8 (4,0) 13 (6,4) Status imunisasi dasar polio pada kasus ditemukan lengkap sesuai umur sebanyak 93,6% dan dari keseluruhan pemeriksaan spesimen tinja tidak satupun terisolasi virus liar (Tabel 2) Tabel 2. Gambaran klinis demam, status imunisasi, isolasi spesimen tinja Variabel N=202 Klinis dengan demam 127 (62,9) Status imunisasi Lengkap sesuai umur, n (%) Tidak lengkap, n (%) Tidak pernah, n (%) Isolasi spesimen tinja untuk polio Negatif, n (%) OPV(oral polio vaccine) like virus, n (%) NPEV (non polio enterovirus), n (%) VDPV (vaccine derived polio virus), n (%) Virus polio liar, n (%) 189 (93,6) 8 (3,9) 5 (2,5) 186 (92) 3 (1,5) 13 (6,4) 0 (0) 0 (0) JIKA. Vol.2. No.1.Desember
7 Penjaringan kasus AFP tertinggi ditemukan diantara tahun yaitu: pada tahun 2005 sebesar 31 kasus (15,3%), tahun 2006 sebesar 25 kasus (15,3%) dan pada tahun 2008 sebesar 35 kasus (17,3%). Sebaran kasus AFP dari tahun ke tahun ditampilkan pada (Gambar 2). kasus (12,4%), tahun 2007 sebesar jml kasus persentase terhadap total Gambar 2. Sebaran kasus AFP dari tahun ke tahun. Diskusi Surveilans AFP merupakan prioritas bagi pemerintah sebab terkait dengan program eradikasi polio dan untuk membuktikan Indonesia bebas polio. Penelitian ini, bagian dari surveilans AFP untuk melihat efikasi program eradikasi polio di Indonesia. 1 Didapatkan insidens AFP selama 8 tahun di Propinsi Bali adalah 0,02%. Tersebar di semua kabupaten, dengan angka kejadian tertinggi di daerah kabupaten Buleleng, Badung, Denpasar dan Gianyar. Tingginya angka kejadian di masing-masing kabupaten kota kemungkinan tergantung pada sistem pelaporan dari penemu kasus dan surveilans aktif dari dinas kesehatan kabupaten terkait. Di Indonesia, Jumlah kasus AFP non polio setiap tahun adalah konstan sebesar 0,002%, 1 1:10 dari insidens AFP di Bali. Pada kasus klinik mirip polio (polio compatibel) yaitu kasus yang setelah 60 hari masih mempunyai JIKA. Vol.2. No.1.Desember
8 paralisis residual tanpa informasi medik yang jelas atau penderita meninggal. Sensitifitas menjadi 64% dan spesifisitas 82% apabila kita menggunakan variabel gabungan dengan menambahkan variabel umur dibawah 6 tahun, adanya panas pada permulaan sakit dan perubahan paralisis yang cepat menjadi maksimal (dalam 4 hari). 2 Pada penelitian ini, dengan mempertimbangkan faktor umur mempengaruhi gejala klinis dan dapat meningkatkan sensitifitas serta spesifisitas dari polio compatibel, maka variabel umur dikategorikan menjadi < 5 tahun dan 5-15 tahun. Pada penelitian ini didapatkan kasus AFP berusia < 5 tahun lebih banyak sebesar 107 kasus (53%). Demam merupakan salah satu manifestasi klinis dari polio dan dapat meningkatkan sensitifitas dan spesifisitas dari polio compatibel. 1 Terdapat beberapa bentuk klinis polio, diantaranya yang disertai demam adalah: infeksi klinis ringan, abortive poliomyelitis, aseptic meningitis (non paralytic poliomyelitis) dan paralytic poliomyelitis. 2,3 Pada penelitian ini didapatkan kasus AFP dengan demam, lebih banyak sebesar 127 kasus (62,9%). Hal ini kemungkinan disebabkan oleh diagnosis kasus yang terjaring dalam AFP seperti mielitis transversa, neuritis dan meningitis biasanya disertai dengan demam. 1,3,4 WHO memperkirakan terdapat lebih dari 200 diagnosa yang dapat digolongkan kepada kasus AFP, sebagian besar (30%-60%) kasus AFP yang dilaporkan adalah GBS. 1 Pada penelitian ini diagnosis klinis yang paling sering ditemukan sama dengan yang ditemukan oleh WHO yaitu sindrom Guillain Barre sebesar 34 kasus (16,8%). Pada bulan April 2005 virus polio liar tipe 1 dari Saudi Arabia dan Sudan yang mempunyai cakupan imunisasi rendah, menyebabkan outbreak di Indonesia yang setelah 10 tahun tidak terjangkit polio liar. Virus polio menyebar dari orang ke orang lain melalui jalur oro-fecal dan oral-oral. Virus polio sangat menular pada kontak antar rumah tangga derajat serokonversi lebih dari 90% ( pada yang belum diimunisasi). 1,5 Penggunaan OPV JIKA. Vol.2. No.1.Desember
9 untuk eradikasi polio sangatlah tepat, terbukti 3 benua mendapat sertifikasi bebas polio dari WHO yaitu Amerika, Pasifik Barat dan Eropa. 1,5 Pada penelitian ini status imunisasi polio dasar terbanyak yaitu yang mendapat imunisasi 4 kali sebesar 154 anak (76,2%). Jika disesuaikan dengan umur, sebanyak 93,6% anak mendapat imunisasi dasar polio yang lengkap sesuai umur. Hal ini menunjukkan program imunisasi polio di Bali tergolong berhasil. Vaksin polio oral (OPV) terdiri dari 3 strain virus hidup yang dilemahkan, Sabin 1, 2 dan 3. Dalam jangka waktu 1-3 minggu setelah vaksinasi, sebagian virus akan diekskresi melalui nasofaring dan tinja. 6,8 Pada populasi yang tidak terlindungi virus vaksin ini dengan mudah menyebar dan akan melindungi mereka yang belum diimunisasi atau menimbulkan efek booster pada yang sudah diimunisasi. Disamping keuntungan OPV dapat juga terjadi adverse event VAPP dan VDPV. 5,6,7,8 Pada penelitian ini, dari hasil pemeriksaan spesimen tinja, ditemukan 3 spesimen tinja (1,5%) terisolasi OPVlike virus, tetapi tidak satupun ditemukan virus polio liar. Setelah dilakukan kunjungan ulang pada hari ke-60, pasien telah sembuh. Kemungkinan lain, isolat OVP-like virus yang ditemukan karena kasus pasca imunisasi dalam 1-3 minggu terakhir. Virus polio termasuk dalam genus enterovirus, sedangkan genus yang lain disebut sebagai NPEV yaitu group A dan B Coxsackie serta echoviruses. 5 Pada penelitian ini ditemukan 13 spesimen tinja (6,4%) yang terisolasi NPEV dan dikatakan negatif virus polio liar. 9,10 Pada penelitian ini didapatkan, hasil penjaringan kasus AFP di Bali tertinggi ditemukan pada tahun dikarenakan pada tahun 2005 terjadi outbreak di Indonesia. Pada saat ini tidak terjadi outbreak polio akan tetapi surveilans AFP dan program imunisasi polio perlu terus diaktifkan agar tujuan akhir menetapkan Indonesia bebas polio bisa tercapai. Simpulan Selama periode 8 tahun pelaksanaan surveilans, didapatkan insidens AFP sebesar 0,02% dan tidak satupun terdiagnosis sebagai poliomyelitis. JIKA. Vol.2. No.1.Desember
10 Daftar pustaka 1. Imari S, Kosim R, Rusipah. Pedoman Surveilans Accute Flaccid Paralysis (Surveilans AFP) Departemen Kesehatan republik Indonesia. Jakarta, h Sumarmo S, Garna H, Hadinegoro SR, Satari HI. Poliomyelitis. Dalam: Buku Ajar Infeksi & Pediatri tropis. Edisi ke 2. Jakarta: BP IDAI, h Marx A, Glass JD, Sutter RW. Differential Diagnosis of Acute Flaccid Paralysis and its Role in Poliomyelitis. Epidemilogic Review. 2000;22: Fenichel GM. Flaccid Limb Weakness in Childhood. Dalam: Clinical Pediatric Neurology A Signs and Symptoms Approach. Edisi ke 5. Philadelphia Pensylvania: Elsevier Saunders, h Sumarmo, Utoro S. Eradikasi Polio. Dalam: 2 nd National symposium on Immunization. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang DKI Jakarta, h Sjawitri PS. Kapan Vaksinasi IPV Menggantikan OPV?. Dalam: 2 nd National symposium on Immunization. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang DKI Jakarta, h Suyitno H. Poliomielitis. Dalam: Pedoman Imunisasi di Indonesia. Edisi ke 3. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia, h WHO. Cessation of Routine Oral Polio Vaccine (OPV) Use After Global Polio Eradication. World Health Organization, Chen CY, Chang YC, Huang CC. Acute Flacccid Paralysis in Infants and Young Children with Enterovirus 71 Infection: MR Imaging Findings and Clinical Correlates. AJNR Am J Neuroradiol. 2001;22: Madhukar M, Menon A. Accute Flaccid Paralysis: Guillain Barre Syndrome with Enterovirus Infection. Indian Pediatric. 2005;42 JIKA. Vol.2. No.1.Desember
BAB 1 PENDAHULUAN. Pencegahan dan pemberantasan penyakit merupakan prioritas pembangunan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pencegahan dan pemberantasan penyakit merupakan prioritas pembangunan kesehatan masyarakat di Indonesia. Tantangan baru muncul dengan adanya potensi terjangkitnya kembali
Kerangka Acuan. Acute Flacid Paralysis ( AFP )
Kerangka Acuan Acute Flacid Paralysis ( AFP ) A. Pendahuluan Dalam Sidang Majelis Kesehatan Sedunia atau World Health Assembly tahun 1998, Negara-negara anggota WHO, termasuk Indonesia, telah menyepakati
A. Formulir Pelacakan Kasus AFP
Format 7.1 FP1 A. Formulir Pelacakan Kasus AFP Kabupaten/kota: Propinsi: Nomor EPID: Laporan dari : 1. RS:... Tanggal laporan diterima: I. Identitas Penderita 3. Dokter praktek : 2. Puskesmas:... 4. Lainnya
Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio
Pengertian Polio Polio atau poliomyelitis adalah penyakit virus yang sangat mudah menular dan menyerang sistem saraf. Pada kondisi penyakit yang bertambah parah, bisa menyebabkan kesulitan 1 / 5 bernapas,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Polio merupakan (keluarga Picornaviridae), sering disingkat sebagai "Polio" adalah virus yang paling ditakuti abad ke-20 di dunia yang menghasilkan permulaan program
BAB I PENDAHULUAN. semua kelompok umur, namun yang peling rentan adalah kelompok umur kurang dari 3
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Polio adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus polio yang dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan yang permanen. Penyakit ini dapat menyerang pada semua kelompok
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit polio adalah penyakit infeksi paralisis yang disebabkan oleh virus. Agen
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Polio Penyakit polio adalah penyakit infeksi paralisis yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Flaviviridae dan ditularkan melalui vektor nyamuk. Penyakit ini termasuk nomor dua
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi dengue disebabkan oleh virus dengue yang tergolong dalam famili Flaviviridae dan ditularkan melalui vektor nyamuk. Penyakit ini termasuk nomor dua paling sering
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia ikut andil pembangunan kesehatan dalam rangka merealisasikan tercapainya Millenium Development Goals (MDGs). Salah satunya adalah Agenda ke 4 MDGs (Menurunkan
ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PENYAKIT KUSTA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP SANGLAH DENPASAR PERIODE
ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PENYAKIT KUSTA DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUP SANGLAH DENPASAR PERIODE 2011 2013 Kasus kusta di Indonesia tergolong tinggi dibandingkan Negara lain. Angka kejadian
PREVALENSI TERJADINYA TUBERKULOSIS PADA PASIEN DIABETES MELLITUS (DI RSUP DR.KARIADI SEMARANG) LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH
PREVALENSI TERJADINYA TUBERKULOSIS PADA PASIEN DIABETES MELLITUS (DI RSUP DR.KARIADI SEMARANG) LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai persyaratan guna mencapai gelar sarjana strata-1 kedokteran
UPAYA ERADIKASI POLIO DI INDONESIA
TTIINJJAUAN PPUSSTTAKA UPAYA ERADIKASI POLIO DI INDONESIA Oke Rina R. 1 dan Kiking Ritarwan 2 1 Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/RSUP H. Adam Malik 2 Departemen Ilmu Penyakit Saraf FK-USU/RSUP H.
ABSTRAK PREVALENSI APENDISITIS AKUT PADA ANAK DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI-DESEMBER 2011
ABSTRAK PREVALENSI APENDISITIS AKUT PADA ANAK DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI-DESEMBER 2011 Adelia, 2012, Pembimbing 1: Laella K.Liana, dr., Sp.PA., M.Kes Pembimbing 2: Hartini Tiono, dr.,
ABSTRAK PREVALENSI INFEKSI MALARIA DI LABORATORIUM RUMAH SAKIT UMUM PANGLIMA SEBAYA TANAH GROGOT KALIMANTAN TIMUR PERIODE
ABSTRAK PREVALENSI INFEKSI MALARIA DI LABORATORIUM RUMAH SAKIT UMUM PANGLIMA SEBAYA TANAH GROGOT KALIMANTAN TIMUR PERIODE 2006-2010 Sahala Triyanto S,2012. Pembimbing I : Budi Widyarto Lana,dr., M.H. Pembimbing
BAB 4 METODE PENELITIAN. Semarang, dimulai pada bulan Mei 2014 sampai dengan Juni 2014.
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Ilmu Penyakit Dalam divisi Pulmonologi. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Tempat penelitian ini adalah Rumah Sakit
HUBUNGAN CRP (C-REACTIVE PROTEIN) DENGAN KULTUR URIN PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH PADA ANAK DI RSUP. HAJI ADAM MALIK TAHUN 2014.
HUBUNGAN CRP (C-REACTIVE PROTEIN) DENGAN KULTUR URIN PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH PADA ANAK DI RSUP. HAJI ADAM MALIK TAHUN 2014 Oleh : PUTRI YUNITA SIREGAR 120100359 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bells Palsy adalah kelumpuhan atau kerusakan pada nervus facialis
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bells Palsy adalah kelumpuhan atau kerusakan pada nervus facialis VII. Gejala tampak pada wajah, jika berbicara atau berekspresi maka salah satu sudut wajah tidak ada
1. Poliomyelitis Poliomyelitis adalah suatu penyakit virus yang dalam stadium beratnya menyebabkan
1. Poliomyelitis Poliomyelitis adalah suatu penyakit virus yang dalam stadium beratnya menyebabkan kelumpuhan yang lemas karena kekurangan sel-sel syaraf baik dalam sum sum tulang punggung maupun otak.
DESKRIPSI SURVEILANS ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP) BERDASARKAN INDIKATOR KINERJA SURVEILANS DI KABUPATEN JEMBER PADA TAHUN
DESKRIPSI SURVEILANS ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP) BERDASARKAN INDIKATOR KINERJA SURVEILANS DI KABUPATEN JEMBER PADA TAHUN 2005-2009 SKRIPSI Oleh SOEDIBYO NIM. 082110101110 BAGIAN EPIDEMIOLOGI DAN BIOSTATISTIKA
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, yang biasanya memburuk setelah dua hari
ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK BALITA PENDERITA PNEUMONIA DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG TAHUN 2013
ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK BALITA PENDERITA PNEUMONIA DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG TAHUN 2013 Melianti Mairi, 2014. Pembimbing 1 : dr. Dani, M.Kes Pembimbing 2 : dr. Budi Widyarto, M.H Pneumonia
BAB IV METODE PENELITIAN. Bidang keilmuan penelitian ini adalah ilmu anestesiologi dan terapi intensif.
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Bidang keilmuan penelitian ini adalah ilmu anestesiologi dan terapi intensif. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi
ABSTRAK. Kata Kunci: Karakteristik Umum Responden, Perilaku Mencuci Tangan, Diare, Balita
ABSTRAK GAMBARAN PERILAKU MENCUCI TANGAN PADAPENDERITA DIARE DI DESA KINTAMANI KABUPATEN BANGLI BALI TAHUN 2015 Steven Awyono Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Diare masih merupakan penyebab kematian
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup keilmuan meliputi Anestesiologi dan terapi intensive. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1 Tempat penelitian Tempat penelitian adalah
PREVALENSI DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) PADA PASIEN ANAK DI RSUP H ADAM MALIK MEDAN DARI JANUARI HINGGA DESEMBER 2009 KARYA TULIS ILMIAH.
PREVALENSI DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) PADA PASIEN ANAK DI RSUP H ADAM MALIK MEDAN DARI JANUARI HINGGA DESEMBER 2009 KARYA TULIS ILMIAH Oleh : FATHIRAH AINA BT. ZUBIR NIM : 070100405 FAKULTAS KEDOKTERAN
ABSTRAK ANGKA KEJADIAN INFEKSI CACING DI PUSKESMAS KOTA KALER KECAMATAN SUMEDANG UTARA KABUPATEN SUMEDANG TAHUN
ABSTRAK ANGKA KEJADIAN INFEKSI CACING DI PUSKESMAS KOTA KALER KECAMATAN SUMEDANG UTARA KABUPATEN SUMEDANG TAHUN 2007-2011 Eggi Erlangga, 2013. Pembimbing I : July Ivone, dr., M.KK., MPd.Ked. Pembimbing
KARYA TULIS ILMIAH PROFIL PASIEN HIV DENGAN TUBERKULOSIS YANG BEROBAT KE BALAI PENGOBATAN PARU PROVINSI (BP4), MEDAN DARI JULI 2011 HINGGA JUNI 2013
i KARYA TULIS ILMIAH PROFIL PASIEN HIV DENGAN TUBERKULOSIS YANG BEROBAT KE BALAI PENGOBATAN PARU PROVINSI (BP4), MEDAN DARI JULI 2011 HINGGA JUNI 2013 Oleh : YAATHAVI A/P PANDIARAJ 100100394 FAKULTAS KEDOKTERAN
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN... 35
DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL... i LEMBAR PNGESAHAN... ii PENETAPAN PANITIA PENGUJI USULAN PENELITIAN... iii KATA PENGANTAR... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS... v ABSTRAK... vi ABTRACT... vii RINGKASAN...
GAMBARAN SEROLOGIS IgG-IgM PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DI RSUP SANGLAH PERIODE JULI-AGUSTUS 2014 ABSTRAK
GAMBARAN SEROLOGIS IgG-IgM PADA PASIEN DEMAM BERDARAH DI RSUP SANGLAH PERIODE JULI-AGUSTUS 204 Putu Gde Hari Wangsa, A.A. Wiradewi Lestari 2 Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya tulis yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi,
ABSTRAK. GAMBARAN IgM, IgG, DAN NS-1 SEBAGAI PENANDA SEROLOGIS DIAGNOSIS INFEKSI VIRUS DENGUE DI RS IMMANUEL BANDUNG
ABSTRAK GAMBARAN IgM, IgG, DAN NS-1 SEBAGAI PENANDA SEROLOGIS DIAGNOSIS INFEKSI VIRUS DENGUE DI RS IMMANUEL BANDUNG Listiyani Halim, 2010, Pembimbing I : Lisawati Sadeli, dr., M.Kes Pembimbing II : Indahwaty,
ARTIKEL ILMIAH. Analisis Deskriptif Angka Kematian Balita di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Tahun 2012
ARTIKEL ILMIAH Analisis Deskriptif Angka Kematian Balita di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang Tahun 2012 KARYA TULIS ILMIAH Disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar Dimploma III
ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER
ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER GRADE I DAN II PADA ANAK 0 14 TAHUN DI RSUD PROF. W. Z. JOHANNES KUPANG PERIODE JANUARI DESEMBER 2007 Yasinta Adolfina Making. 2009. Pembimbing I :
Kata Kunci: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF), Dengue Shock Syndrome (DSS), morbiditas, mortalitas. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK PREVALENSI DAN MORTALITAS PADA ANAK-ANAK AKIBAT DENGUE HEMORRHAGIC FEVER DI RUMAH SAKIT IMMANUEL PERIODE JANUARI 2006 SAMPAI DENGAN DESEMBER 2006 Dharma Indraprasta, 2007; Pembimbing: H. Tisna
SKRIPSI GAMBARAN DERMATITIS ATOPIK PADA ANAK USIA 0-12 TAHUN YANG TERPAPAR ASAP ROKOK DI RUMAH SAKITGOTONG ROYONG SURABAYA
SKRIPSI GAMBARAN DERMATITIS ATOPIK PADA ANAK USIA 0-12 TAHUN YANG TERPAPAR ASAP ROKOK DI RUMAH SAKITGOTONG ROYONG SURABAYA Oleh : Venerabilis Estin Namin 1523013024 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER UNIVERSITAS
BAB IV METODE PENELITIAN. Bidang Ilmu Kedokteran khususnya adalah Ilmu Penyakit Dalam, Sub-bagian
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Bidang Ilmu Kedokteran khususnya adalah Ilmu Penyakit Dalam, Sub-bagian Gastroentero-Hepatologi. 4.2 Tempat dan waktu penelitian 2014. Penelitian ini
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 483/MENKES/SK/IV/2007 TENTANG PEDOMAN SURVEILANS ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP)
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 483/MENKES/SK/IV/2007 TENTANG PEDOMAN SURVEILANS ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP) MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. menitikberatkan pada prevalensi terjadinya DM pada pasien TB di RSUP
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Penyakit Dalam menitikberatkan pada prevalensi terjadinya DM pada pasien TB di RSUP Dr. Kariadi Semarang. 4.2
ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PASIEN RAWAT INAP DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI DESEMBER 2012
ABSTRAK GAMBARAN KARAKTERISTIK PASIEN RAWAT INAP DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE 1 JANUARI 2012-31 DESEMBER 2012 Erfina Saumiandiani, 2013 : Pembimbing I : dr. Dani,M.Kes.
ARTIKEL ERADIKASI POLIO DAN IPV (INACTIVATED POLIO VACCINE) Gendrowahyuhono,* Herna Harianja,* Nancy Dian Anggraini,** NovUia Syafri Bachtiar*
ARTIKEL ERADIKASI POLIO DAN IPV (INACTIVATED POLIO VACCINE) Gendrowahyuhono,* Herna Harianja,* Nancy Dian Anggraini,** NovUia Syafri Bachtiar* POLIO ERADICA TION AND IPV(INACTIVED POLIO VACCINE) Abstract
PROFIL PENDERITA INFEKSI SISTEM SARAF PUSAT PADA ANAK DI RSUP. H. ADAM MALIK TAHUN 2012
PROFIL PENDERITA INFEKSI SISTEM SARAF PUSAT PADA ANAK DI RSUP. H. ADAM MALIK TAHUN 2012 KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran Oleh: ANUOSHA
DAFTAR ISI Halaman COVER... i SAMPUL DALAM... ii LEMBAR PENGESAHAN... iii PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iv PERNYATAAN KEASLIAN... v ABSTRAK...
DAFTAR ISI Halaman COVER... i SAMPUL DALAM... ii LEMBAR PENGESAHAN.... iii PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iv PERNYATAAN KEASLIAN... v ABSTRAK... vi ABSTRACT... vii RINGKASAN... viii SUMMARY... ix KATA PENGANTAR...
ABSTRAK GAMBARAN INFEKSI MALARIA DI RSUD TOBELO KABUPATEN HALMAHERA UTARA PROVINSI MALUKU UTARA PERIODE JANUARI DESEMBER 2012
ABSTRAK GAMBARAN INFEKSI MALARIA DI RSUD TOBELO KABUPATEN HALMAHERA UTARA PROVINSI MALUKU UTARA PERIODE JANUARI DESEMBER 2012 Nugraheni M. Letelay, 2013. Pembimbing I : dr. Ellya Rosa Delima, M.Kes Latar
ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PAMARICAN KABUPATEN CIAMIS PERIODE JANUARI 2013 DESEMBER : Triswaty Winata, dr., M.Kes.
ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PAMARICAN KABUPATEN CIAMIS PERIODE JANUARI 2013 DESEMBER 2015 Annisa Nurhidayati, 2016, Pembimbing 1 Pembimbing 2 : July Ivone, dr.,mkk.,m.pd.ked. : Triswaty
1 BAB I PENDAHULUAN. terhadap suatu penyakit sehingga seseorang tidak akan sakit bila nantinya terpapar
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Imunisasi merupakan cara meningkatkan kekebalan tubuh secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga seseorang tidak akan sakit bila nantinya terpapar penyakit tersebut
ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA DENGUE HAEMORRAGIC FEVER DI RUMAH SAKIT IMMANUEL TAHUN 2011
ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA DENGUE HAEMORRAGIC FEVER DI RUMAH SAKIT IMMANUEL TAHUN 2011 Rinaldy Alexander, 2014. Pembimbing : July Ivone, dr, MKK, MPd.Ked Prof. Dr dr. Susy Tjahjani, M.Kes Latar belakang
BAB IV METODE PENELITIAN. Dalam, Sub Bagian Gastroenterohepatologi.
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini mencakup bidang Ilmu Kedokteran khususnya Ilmu Penyakit Dalam, Sub Bagian Gastroenterohepatologi. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1
ABSTRAK Gambaran Karakteristik Penderita Akne Vulgaris di Klinik Spesialis Kulit dan Kelamin Sakura Derma Bandung
ABSTRAK Gambaran Karakteristik Penderita Akne Vulgaris di Klinik Spesialis Kulit dan Kelamin Sakura Derma Bandung Regina Emmanuela Gusti Pratiwi, 2016 Pembimbing I : dr. Dani M.kes Pembimbing II : dr.
5.2 Distribusi Pasien Tumor Tulang Berdasarkan Kelompok Usia dan Jenis Kelamin Distribusi Pasien Tumor Tulang Berdasarkan Lokasi
DAFTAR ISI Halaman COVER... i LEMBAR PENGESAHAN... ii DAFTAR ISI... iii ABSTRAK... v ABSTRACT... vi BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Rumusan Masalah... 2 1.3 Tujuan Penelitian... 4 1.3.1
BAB 1 PENDAHULUAN. fungsi otak, medulla spinalis, saraf perifer dan otot.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Defisit neurologis adalah kelainan fungsional area tubuh karena penurunan fungsi otak, medulla spinalis, saraf perifer dan otot. Tanda tanda defisit neurologis merupakan
BAB IV METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu anestesi dan terapi intensif.
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah ilmu anestesi dan terapi intensif. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1 Tempat Penelitian Tempat penelitian adalah
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang berjudul Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik untuk
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian yang berjudul Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik untuk pengobatan ISPA pada balita rawat inap di RSUD Kab Bangka Tengah periode 2015 ini
BAB 4 METODE PENELITIAN. Pulmonologi serta Ilmu Mikrobiologi Klinik.
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini meliputi bidang Ilmu Penyakit Dalam divisi Pulmonologi serta Ilmu Mikrobiologi Klinik. 4.2. Tempat dan waktu penelitian
Gambaran Infeksi Malaria di RSUD Tobelo Kabupaten Halmahera Utara Periode Januari Desember 2012
Gambaran Infeksi di RSUD Tobelo Kabupaten Halmahera Utara Periode Januari Desember 2012 Nugraheni Maraelenisa Letelay 1, Ellya Rosa Delima 2 1. Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Bandung
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. : Ilmu penyakit kulit dan kelamin. : Bagian rekam medik Poliklinik kulit dan kelamin RSUP Dr.
33 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Ruang lingkup penelitian Lingkup ilmu : Ilmu penyakit kulit dan kelamin Lingkup lokasi : Bagian rekam medik Poliklinik kulit dan kelamin RSUP Dr. Kariadi Semarang Lingkup
ABSTRAK ASPEK KLINIK PEMERIKSAAN ANTIGEN NS-1 DENGUE DIBANDINGKAN DENGAN HITUNG TROMBOSIT SEBAGAI DETEKSI DINI INFEKSI DENGUE
ABSTRAK ASPEK KLINIK PEMERIKSAAN ANTIGEN NS-1 DENGUE DIBANDINGKAN DENGAN HITUNG TROMBOSIT SEBAGAI DETEKSI DINI INFEKSI DENGUE Andy Sudjadi, 2006; Pembimbing I : dr. Lisawati Sadeli, M.Kes Pembimbing II
HUBUNGAN USIA ANAK DAN DIAGNOSIS DENGAN RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK Di Puskesmas Rowosari Semarang
HUBUNGAN USIA ANAK DAN DIAGNOSIS DENGAN RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN ANAK Di Puskesmas Rowosari Semarang LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan
KATA PENGANTAR. Puji syukur kepada Allah SWT, karena atas rahmat-nya penulis dapat
i ii KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Allah SWT, karena atas rahmat-nya penulis dapat menyelesaikan laporan akhir karya tulis ilmiah yang berjudul Hubungan Faktor Risiko Stroke Non Hemoragik Dengan Fungsi
BULETIN SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPONS
BULETIN SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPONS Minggu Epidemiologi Ke-52 Tahun 2016 (Data Sampai Dengan 6 Januari 2017) Website: skdr.surveilans.org Dikeluarkan oleh: Subdit Surveilans, Direktorat SKK, Ditjen
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Disiplin ilmu yang terkait pada penelitian ini adalah ilmu kedokteran
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Disiplin ilmu yang terkait pada penelitian ini adalah ilmu kedokteran penyakit dalam, jantung, dan kesehatan masyarakat. 3.2 Tempat dan Waktu
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PROLAPSUS UTERI DI RSUP Dr. KARIADI SEMARANG LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PROLAPSUS UTERI DI RSUP Dr. KARIADI SEMARANG LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar sarjana strata-1
ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA MALARIA DI KABUPATEN SUKABUMI PERIODE JANUARI-DESEMBER 2011
ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA MALARIA DI KABUPATEN SUKABUMI PERIODE JANUARI-DESEMBER 2011 Dimas Aditia Gunawan, 2012 Pembimbing I : July Ivone, dr., MKK., MPd. Ked. Pembimbing II : Prof. Dr. Susy Tjahjani,
ABSTRAK FAKTOR SOSIODEMOGRAFI PADA KEJADIAN LUAR BIASA CHIKUNGUNYA DI KECAMATAN SUNGAI GELAM, KABUPATEN MUARO JAMBI, PROVINSI JAMBI TAHUN 2009
ABSTRAK FAKTOR SOSIODEMOGRAFI PADA KEJADIAN LUAR BIASA CHIKUNGUNYA DI KECAMATAN SUNGAI GELAM, KABUPATEN MUARO JAMBI, PROVINSI JAMBI TAHUN 2009 Natalina Manalu, 2010; Pembimbing: Evi Yuniawati., dr., MKM.
LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU DENGAN PENGELOLAAN AWAL INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA ANAK LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk memenuhi sebagian persyaratan guna
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menduduki urutan ke 10 dari urutan prevalensi penyakit. Inflamasi yang terjadi pada sistem saraf pusat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di Indonesia, infeksi susunan saraf pusat menduduki urutan ke 10 dari urutan prevalensi penyakit (Saharso dan Hidayati, 2000). Inflamasi yang terjadi pada sistem
BAB I PENDAHULUAN. oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Penyakit Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis sebagian besar bakteri ini menyerang bagian paru, namun tak
KARAKTERISTIK PENDERITA PENYAKIT JANTUNG REMATIK PADA ANAK DI RSUP HAJI ADAM MALIK, MEDAN TAHUN
KARAKTERISTIK PENDERITA PENYAKIT JANTUNG REMATIK PADA ANAK DI RSUP HAJI ADAM MALIK, MEDAN TAHUN 2007-2009 Oleh : AZIZI BIN AZIZAN 070100390 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2010 KARAKTERISTIK
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Penyakit demam berdarah adalah penyakit menular yang di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Penyakit demam berdarah adalah penyakit menular yang di sebabkan oleh virus dengue dan di tularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegeypti. Penyakit ini dapat menyerang
ABSTRAK GAMBARAN GANGGUAN JIWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE PENYARINGAN MEODE 2 MENIT
ABSTRAK GAMBARAN GANGGUAN JIWA DENGAN MENGGUNAKAN METODE PENYARINGAN MEODE 2 MENIT (M2M) DI KLINIK X Bony Yudistira, 2015 Pembimbing I : Ade Kurnia Surawijaya, dr., SpKJ. Pembimbing II: Cindra Paskaria
ABSTRAK. Kata kunci: HIV-TB, CD4, Sputum BTA
ABSTRAK Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi oportunistik yang paling sering dijumpai pada pasien HIV. Adanya hubungan yang kompleks antara HIV dan TB dapat meningkatkan mortalitas maupun morbiditas.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. diprioritaskan dalam perencanaan dan pembangunan bangsa (Hidayat, 2008).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama dalam bidang kesehatan. Derajat kesehatan anak mencerminkan derajat kesehatan suatu bangsa, sebab anak sebagai
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi
Artikel Asli Sari Pediatri, Sari Pediatri, Vol. 2, No. Vol. 1, 2, Juni No. 2000: 1, Juni 22000-10 Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Sri Rezeki S. Hadinegoro Dalam era globalisasi, imunisasi merupakan upaya
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU DENGAN PENGELOLAAN AWAL INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA ANAK
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU DENGAN PENGELOLAAN AWAL INFEKSI SALURAN PERNAPASAN AKUT PADA ANAK Yumeina Gagarani 1,M S Anam 2,Nahwa Arkhaesi 2 1 Mahasiswa Program Pendidikan S-1 Kedokteran Umum,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Penyakit infeksi dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue I, II, III, dan IV yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegepty dan Aedes albopticus.
BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN 3.1 Kerangka Berpikir Kerangka Konsep Hipotesis Penelitian...
DAFTAR ISI SAMPUL DALAM... i LEMBAR PENGESAHAN... ii PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iii PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI... iv ABSTRAK... v ABSTRACT... vi RINGKASAN... vii SUMMARY... ix KATA PENGANTAR...
GAMBARAN PERUBAHAN BERAT BADAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS SELAMA PENGOBATAN DOTS DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU MEDAN TAHUN 2009
GAMBARAN PERUBAHAN BERAT BADAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS SELAMA PENGOBATAN DOTS DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU MEDAN TAHUN 2009 Oleh: MIRNA RAMZIE 070100217 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA
KARAKTERISTIK PENYAKIT HERNIA INGUINALIS PADA ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN PERIODE
KARAKTERISTIK PENYAKIT HERNIA INGUINALIS PADA ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN PERIODE 2005 2015 OLEH : GOKULLSHAUTRI A/L SINALTHAN 130100417 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian : 1. Pusat Kesehatan Masyarakat Gayamsari 2. Pusat Kesehatan Masyarakat Kedungmundu 3. Pusat Kesehatan Masyarakat Tlogosari
PENGARUH GROWTH FALTERING TERHADAP KEJADIAN DEMAM DAN KEJANG DEMAM PADA ANAK PASCA IMUNISASI CAMPAK LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH
PENGARUH GROWTH FALTERING TERHADAP KEJADIAN DEMAM DAN KEJANG DEMAM PADA ANAK PASCA IMUNISASI CAMPAK LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai
Kata kunci: Status Tempat Tinggal, Tempat Perindukkan Nyamuk, DBD, Kota Manado
HUBUNGAN ANTARA STATUS TEMPAT TINGGAL DAN TEMPAT PERINDUKAN NYAMUK (BREEDING PLACE) DENGAN KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAHU KOTA MANADO TAHUN 2015 Gisella M. W. Weey*,
1. BAB I PENDAHULUAN
1. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai negara dengan curah hujan tinggi memiliki risiko untuk penyakit-penyakit tertentu, salah satunya adalah penyakit demam berdarah dengue. Penyakit
ABSTRAK. Aisyah,2012; Pembimbing I : Dr. Savitri Restu Wardhani,dr.SpKK Pembimbing II: dr. Hartini Tiono, M.Kes
ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT DERMATITIS KONTAK BERDASARKAN USIA, JENIS KELAMIN, GEJALA KLINIK, SERTA PREDILEKSI DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI 2011- DESEMBER 2011 Aisyah,2012; Pembimbing
Prevalensi Spondilitis Tuberkulosis di RSUP H. Adam Malik Medan pada Tahun Oleh : Fie Fie Novita
Prevalensi Spondilitis Tuberkulosis di RSUP H. Adam Malik Medan pada Tahun 2014 Oleh : Fie Fie Novita 120100326 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2015 Prevalensi Spondilitis Tuberkulosis
BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr.Kariadi Semarang setelah ethical
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah bidang Ilmu Kesehatan Anak dan Ilmu Penyakit Dalam. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilakukan di
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah bidang Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala dan Leher. 4.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian
ABSTRAK PROFIL PENDERITA HEMOPTISIS PADA PASIEN RAWAT INAP RSUP SANGLAH PERIODE JUNI 2013 JULI 2014
ABSTRAK PROFIL PENDERITA HEMOPTISIS PADA PASIEN RAWAT INAP RSUP SANGLAH PERIODE JUNI 2013 JULI 2014 Hemoptisis atau batuk darah merupakan darah atau dahak yang bercampur darah dan di batukkan dari saluran
Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract. Vivit Erdina Yunita, 1 Afdal, 2 Iskandar Syarif 3
705 Artikel Penelitian Gambaran Faktor yang Berhubungan dengan Timbulnya Kejang Demam Berulang pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Anak RS. DR. M. Djamil Padang Periode Januari 2010 Desember 2012 Vivit
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA
SKRIPSI ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT TUBERKULOSIS PADA ANAK DI BALAI BESAR KESEHATAN PARU MASYARAKAT SURAKARTA Skripsi Ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
1 GAMBARAN HASIL AKHIR PENGOBATAN PASIEN TB PARU BTA POSITIF YANG MENGGUNAKAN STRATEGI DOTS TIDAK MENGALAMI KONVERSI SPUTUM SETELAH 2 BULAN PENGOBATAN DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN PADA TAHUN 2004-2012 Oleh
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Ruang lingkup keilmuan dari penelitian adalah mencakup bidang Ilmu
20 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup keilmuan dari penelitian adalah mencakup bidang Ilmu Kesehatan Anak. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1 Tempat Penelitian Penelitian
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Karakteristik Penderita Otitis Media Akut pada Anak yang Berobat ke Instalasi Rawat Jalan SMF THT Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik Medan pada Tahun 2009 Oleh: TAN HONG SIEW 070100322 FAKULTAS
BAB 1 PENDAHULUAN. oleh virus dengue dengan gambaran klinis demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan gambaran klinis demam, nyeri otot dan nyeri sendi yang disertai leukopenia,
BAB I PENDAHULUAN. Stroke Menurut World Health Organization (WHO) (2001) seperti yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stroke Menurut World Health Organization (WHO) (2001) seperti yang dikutip Junaidi (2011) adalah suatu sindrom klinis dengan gejala berupa gangguan, fungsi otak secara
BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah neurologi dan psikiatri.
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah neurologi dan psikiatri. 3.2 Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian observasional
BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya Perinatologi dan Neurologi. 4.. Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini
