UPAYA ERADIKASI POLIO DI INDONESIA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "UPAYA ERADIKASI POLIO DI INDONESIA"

Transkripsi

1 TTIINJJAUAN PPUSSTTAKA UPAYA ERADIKASI POLIO DI INDONESIA Oke Rina R. 1 dan Kiking Ritarwan 2 1 Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK-USU/RSUP H. Adam Malik 2 Departemen Ilmu Penyakit Saraf FK-USU/RSUP H. Adam Malik ABSTRACT Poliomyelitis is an acute infectious disease involve motor neuron of the spinal cord and brain and results in an asymmetric flaccid paralysis of the voluntary muscles. Although poliomyelitis caused by wild virus has been eradicated from the western since 1994, its remains a problem in developing countries.with widespread immunization, poliomyelitis has become preventable, and recurrent major epidemics are no longer encountered. Wisdom background and eradicate poliomyelitis strategy in Indonesia is agreement of World Health Assembly 1988 specifying reaching of global eradicate polio goals in the year Keywords: Poliomyelitis, Asymmetric flaccid paralysis, Eradicate PENDAHULUAN Dalam sidang WHA ke-41 (World Health Assembly- sidang para menteri kesehatan dari negara-negara WHO) tahun 1988 dan Summit for Children tahun 1990 oleh Menteri Kesehatan sedunia telah disepakati melalui komitmen global Eradikasi Polio (ERAPO) pada tahun Indonesia sebagai anggota WHO, ikut menandatangani kesepakatan untuk mencapai eradikasi polio dimaksud di Indonesia. 1-3 Strategi yang ditempuh pemerintah Indonesia dalam rangka Eradikasi Polio (ERAPO) tahun 2000 antara lain: Penambahan dosis ke-4 Imunisasi Polio rutin, Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan Surveilans Polio yang meliputi Surveilans Polio Liar (SPL) dan Surveilans Acute Flaccid Paralysis (SAFP). 4 Berbagai manfaat akan diperoleh apabila eradikasi polio global berhasil dicapai, yang terutama antara lain: 1. Dunia terbebas dari penyakit Polio dan cacat/lumpuh/layu yang terjadi akibat penyakit tersebut. 2. Mengurangi pengeluaran biaya yang diperlukan oleh sistem kesehatan untuk menyelenggarakan imunisasi dan perawatan kasus-kasus Polio yang diperkirakan mencapai US S 1.5 milyar pertahun. 5 Surveilans Polio bertujuan untuk memantau adanya transmisi virus polio liar disuatu wilayah, sehingga upaya pemberantasannya menjadi terfokus dan efisien. Pada akhirnya berdasarkan informasi yang didapat melalui kegiatan surveilans ini, Indonesia diharapkan akan mendapatkan sertifikasi bebas polio. Surveilans polio ini terdiri dari surveilans Polio Liar (SPL) dan Surveilans kasus SAFP/AFT (Acute Flaccide Paralysis). Sasaran surveilans adalah kelompok yang rentan terhadap poliomyelitis yakni anak berusia dibawah 15 tahun. Untuk meningkatkan sensitifitas dan surveilans polio, pengamatan dilakukan pada semua kelompok yang terjadi secara akut dan sifatnya layuh. 5 Di Indonesia, kegiatan imunisasi rutin OPV (Oral Polio Vaksin) 4x telah dilaksanakan sejak tahun Pada tahun 1991, di Indonesia dengan populasi 181 juta diperkirakan 90% anak berusia satu tahun telah memperoleh tiga vaksin polio oral, namum kasus polio tetap dijumpai. Pada tahun 1995, 1996 dan 1997, Indonesia melaksanakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) yang diperkirakan mencakup % anak balita yang ada. 5-7 Untuk mencapai sertifikat bebas polio di Indonesia ternyata tidak mudah, 17 Maret 2005 oleh seorang 198

2 dokter praktek swasta melaporkan satu kasus AFP atau lumpuh layuh ke Puskesmas Cidahu, Sukabumi. Oleh petugas Puskesmas tersebut mengambil specimen tinja penderita dan kemudian dikirim ke Laboratorium Biofarma, ternyata pada 21 April 2005 hasil dari laboratorium tersebut positif virus polio liar. Akhirnya pada 29 April 2005 oleh Tim Kajian Epidemiologi Lapangan Menteri Kesehatan RI, dilaksanakan Mopping up imunisasi polio di 3 provinsi yakni DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Ternyata virus polio liar yang ditemukan di Sukabumi oleh kajian Laboratorium Global Specific Laboratory (GSL) Mumbai berdasarkan tes DNA sequencing, ditemukan strain yang sama dengan virus polio Sudan yang beredar di Arab Saudi pada saat musim haji. 8 POLIOMYELITIS Poliomyelitis anterior akuta adalah penyakit dengan kelumpuhan ditandai dengan kerusakan motor neuron pada cornu anterior dari sumsum tulang belakang akibat infeksi virus polio. Virus polio ini termasuk golongan enterovirus. Enterovirus adalah golongan virus yang suka pada saluran pencernaan manusia dan sistem saraf, yang termasuk kedalam kelompok ini adalah virus polio, virus coxsackie dan virus echo. 5-7 Virus polio ini termasuk golongan RNA, dalam famili Picornaviridae. Dari famili tersebut yang patogenik pada manusia adalah dalam 68 species, termasuk kedalamnya virus polio. Species virus polio ini terdiri dari 3 serotipe yakni serotipe I (Brunhilde), serotipe 2 (Lansing) dan serotipe 3 yakni (Leon). 7 Penyakit ini meskipun dapat menyerang semua usia, namun sebagian besar (50-70%) akan menyerang anak usia di bawah tiga tahun. Adanya perbaikan sanitasi dan lingkungan pada akhir abad ke 19, menyebabkan paparan virus menjadi lebih lambat dan terjadi akumulasi anak rentan terhadap virus polio, sehingga polio penyakit yang semula endemik berubah menjadi epidemik dengan pola penuh letusan wabah. 5 Di negara-negara industri penyakit polio sudah hampir dilupakan. Kasus polio pada saat ini umumnya hanya dijumpai pada negara-negara sedang berkembang, yang miskin dan padat penduduknya dan sistem pelayanan kesehatannya belum memadai. 5 Gejala polio bervariasi mulai dari tidak tampak secara klinis sampai berupa Acute Flaccide Paralysis (AFP) yang nantinya menjadi kelumpuhan yang menetap (permanent). Penyakit ini biasanya menyerang manusia pada tungkai bawah dan bersifat asimetris. Berikut ini pada Tabel 1. dapat dilihat gejala klinis polio: 7 Orang dewasa yang terkena polio paralitik pada masa kanak-kanak dapat menderita sindroma pasca polio setelah tahun. Sindroma ini ditandai dengan nyeri otot, kelemahan/ kelumpuhan yang berulang kembali atau munculnya kelumpuhan yang baru. 7 Faktor predisposisi virus polio tergantung pada status imunitas, neurovirulensi virus dan faktor host, manusia adalah salah satunya tuan rumah virus poliomyelitis. 7,8 Penyebaran infeksi virus polio terjadi secara fecal-oral dan oral-oral (pernafasan). Transmisi perinatal bisa terjadi dari ibu kepada bayinya.7 Masa inkubasi pada polio yang abortif sekitar 3-6 hari. Kelumpuhan pada kasus polio yang paralitik terjadi setelah 7 sampai 21 hari, tetapi terkadang bias singkat hanya dalam waktu 4 hari. 7,9 Masa yang paling menular adalah beberapa saat sebelum sakit dan sesudah munculnya manifestasi klinik. Pada saat virus dijumpai di tenggorokkan dan dieksresikan dalam konsentrasi yang tinggi melalui tinja. Virus bertahan di tenggorokkan selama lebih kurang satu minggu setelah sakit dan dieksresikan melalui tinja selama beberapa minggu bahkan beberapa bulan kemudian. Pasien berpotensi untuk menularkan virus selama ekskresi melalui tinja terus berlangsung. 7,10 Tabel 1. Manifestasi klinis infeksi virus polio. 1. Inapperent asymptomatic infection % tidak menunjukkan gejala klinis. 2. Non spesifik demam,sakit tenggorok,nausea, muntah,mialgia,nyeri abdomen--4-8% 3. Aseptik meningitis dijumpai tanda-tanda rangsangan meningeal % 4. Lumpuh layu (AFP) asimetris satu lengan atau satu kaki % 5. Poliomielitis paralitik (residual) /250 infeksi 199 Oke Rina R.. dan Kiking Ritarwan

3 DIAGNOSA BANDING AFP Berikut ini diagnosa banding dari Acute Flaccid Parálisis. 7,9,10 Tanda/ gejala Poliomyelitis Sindroma Guillain Mielitis Neuritis Barre Transversa Traumatika Demam Demam tinggi Biasanya tdk diser- kadang demam demam Selalu timbul tai demam Pada onset kelumpuhan Kelumpuhan Akut, asimetris Akut, simetris otot Akut, simetris Akut, simetris Terutama otot distal tungkai bawah biasanya meproksimal nyerang satu - anggota gerak Progresivitas 3-4 hari 1-14 hari jam- 4 hari jam 4 hari Kelumpuhan Paralisis residual Berat, simetris, atrofi otot tjd atrofi diplegia atrofi moderat Atrofi otot dan simetris otot distal stlh bbrp thn hanya me - Deformitas nyerang tungkai Rasa Raba (-) Hipoanestesia anesthesia hipotermia Rasa nyeri otot sangat berat bervariasi tidak ada didaerah gluteus Refleks tendon berkurang/ hilang hilang menurun/ hilang hilang di Tungkai/kaki Dpt timbul Hiperreflek Gangguan kandung kemih - transien + - ERAPO Eradikasi polio (ERAPO) global diilhami oleh program kesehatan yang dinilai paling berhasil sepanjang zaman yakni program eradikasi cacar (small pox) global. Pada saat program tersebut dimulai pada tahun 1967, terdapat sebanyak juta kasus cacar pertahun yang menyebabkan 2 juta kematian dan kasus kebutaan. 5 Selama periode 10 tahun semua negara di dunia bersatu memerangi penyakit yang mematikan itu. Akhirnya pada tahun 1977, dijumpai kasus cacar terakhir di Somalia dan sejak saat itu imunisasi terhadap cacar tidak lagi diperlukan. 5,6,9 Pada tahun 1988, dalam sidangnya yang ke 41, WHA telah menetapkan program eradikasi polio global ( global polio eradication initiative) yang ditujukan untuk mengeradikasikan penyakit polio pada tahun 2000 (ERAPO 2000). Target ini kemudian diformulasikan lagi pada pertemuan World Summit for Children yang berlangsung tanggal September 1990 di New York, yakni dalam sasaran kesejahteraan anak. 5,7 Terbukanya peluang untuk melaksanakan eradikasi polio dimungkinkan oleh karena a. Infeksi polio hanya berlangsung pada manusia, tidak ada animal reservoir (binatang pengidap polio) maupun pengidap kronis (chronic carrier). b. Sumber virus polio dari lingkungan yang dapat bertahan lama tidak ada; virus polio didaerah tropis diluar tubuh hanya bertahan sekitar 48 jam. c. Kekebalan berlangsung seumur hidup. d. Vaksin polio yang efektif telah berhasil dikembangkan, yakni vaksin polio inaktif pada tahun 1955 oleh Dr. Jonas Salk dan vaksin polio oral (life attenuated) tahun 1960 oleh Dr. Albert Sabin. 7 Untuk mencapai eradikasi polio tersebut WHO menetapkan 4 strategi global untuk mengeradikasi polio pada tahun 2000, yakni: 1. Imunisasi rutin dengan cakupan > 80% 2. NID (National Immunization Days) identik dengan PIN 3. Surveilans AFP dan surveilans virus polio liar. 4. Mopping-up. 6 Oke Rina R. dan Kiking Ritarwan 200

4 Berdasarkan data Global Annual reported polio cases antara tahun 1988 sampai dengan tahun 1997, diperoleh saat eradikasi polio global dimulai pada tahun 1988; diseluruh dunia dilaporkan terdapat sekitar kasus polio. Pada tahun 1996 hanya dijumpai sebanyak kasus yang artinya menurun 90% dibandingkan pada tahun Dalam tahun 1997 dilaporkan sebnayak kasus, namun pelaporan masih belum lengkap sehingga angka terakhir kemungkinan lebih dari WHO mengestimasi bahwa kasus yang dilaporkan hanyalah 10% dari kasus yang sebenarnya sehingga untuk tahun 1997 insidens diseluruh dunia sebenarnya adalah sekitar ribu kasus. 5 Eradikasi polio di bumi belahan barat telah tercapai pada tahun Analisa laboratorium tanggal 5 September 1991 terhadap Louis Tenorio Cortea, anak lelaki 2 tahun asal Pichanaqui di Peru Selatan, dipastikan kelumpuhannya karena virus tipe 1. Sejak kasus terakhir ini tidak pernah lagi tercatat kasus polio di bumi belahan barat. 7,8 Polio telah menghilang dari Eropa Barat, Tengah, Afrika Utara, Selatan dan Timur, Jazirah Arab dan Asia Pasifik termasuk Australia. 9 Di Cina dari 5000 kasus dalam tahun 1990 turun menjadi 3 kasus import tahun 1996 dan 0 kasus pada tahun Regio Pacific Barat hampir mendekati eradikasi polio dengan dilaporkannya kasus terakhir pada bulan Maret 1997 di Kampuchea. 9 Di regio Eropa, virus polio liar yang berhasil diidentifikasikan hanya di Turki. Tiga kasus yang diidentifikasi secara klinis dilaporkan di Tajikistan. Reservoir utama polio pada saat ini hanya tinggal di wilayah Asia Selatan (Afganistan, Bangladesh, India dan Pakistan), Afrika Barat ( Nigeria) dan tengah (Congo). 9 Sukses yang telah diperoleh sampai saat kini memperkuat keyakinan bahwa secara tekhnis seradikasi polio dimungkinkan. Tanpa mengabaiakan beberapa hambatan, target tahun 2000 sebagai target eradikasi polio global kemungkinan besar akan menjadi kenyataan. Namun ada satu hal yang perlu diwaspadai pada saat titik eradikasi tercapai. Setelah periode bebas kasus kelumpuhan lebih dari 3 tahun diperkirakan baru sekitar 95% (belum 100%) infeksi virus polio liar dapat disingkirkan. Lima tahun tanpa kasus kelumpuhan pun kemungkinan masih ditemukan adanya penyebaran virus polio liar sebesar %. Oleh sebab itu upaya surveilans AFP dan virus polio liar mungkin masih diperlukan beberapa tahun lagi walaupun dunia telah dinyatakan bebas polio. 7,9 ERADIKASI POLIO DI INDONESIA Latar belakang kebijaksanaan dan strategi ERAPO di Indonesia adalah kesepakatan WHA 1988 yang menetapkan dicapainya target eradikasi polio global pada tahun Untuk mencapai target tersebut diindonesia telah ditetapkan langkah-langkah kegiatan berikut: 1. Imunisasi rutin dengan OPV sebanyak 4 kali 2. Pelaksanaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan 3. Surveilans AFP dan virus polio liar. 5-7 Strategi eradikasi polio di Indonesia 5 dapat dilihat pada Gambar 1. Analisa SWOT Dalam upaya untuk mengeradikasi penyakit polio secara global, WHO telah membuat pentahapan dan kegiatan perioritasnya. Pentahapan dan kegiatan perioritas ini berorientasi pada suatu goal tertentu, sehingga suatu negara bisa melakukan upaya eradikasi polio yang direkomendasikan oleh WHO sesuai dengan tahapan dan prioritas dimana negara tersebut berada. Adapun analisa SWOT (Strength, weakness, oppurtinity, threat) dalam eradikasi polio di Indinesia adalah: - Analisa 1 tentang S: yang perlu mengetahui kompetensi yang menonjol dari upaya kesehatan polio. Adanya endemis polio di Indonesia menunjukkan adanya bukti-bukti virologis dan atau epidemiologis tentang transmisi virus polio liar di Indonesia; sehingga di Indonesia dilaksanakan perioritas: A. Melaksanakan Pekan Imunisasi Nasional Polio (National Immunizatin Day) Gunanya: untuk menghentikan transmisi virus polio liar di Indonesia. B. Melaksanakan surveilans AFP yang didukung oleh pemeriksaan laboratorium C. Memperkuat program immunisasi rutin polio. 201 Oke Rina R.. dan Kiking Ritarwan

5 Gambar 1. Strategi Eradikasi Polio di Indonesia - Analisa 2 tentang W: perlunya kejelasan tentang tingkat kelemahan program polio. Dalam hal pelaksanaan PIN, terdapat kelemahan dalam hal pendistribusian vaksin polio di daerah-daerah terpencil, sehingga hasil yang diharapkan tidak mencapai target. Misalnya ada beberapa daerah di Nias, dimana untuk mencapai daerah-daerah yang berbukit di pegunungan membutuhkan waktu selama 2-3 hari sehingga efektivitas vaksin polio tidak maksimal walaupun menggunakan termos es. Selain itu juga pelaporan pelaksanaan PIN tahun 1997 masih belum lengkap, karena pada tahun 1987 dilaporkan sebanyak kasus, namun pelaporan masih belum lengkap sehingga angka terakhir kemungkinan lebih dari Oke Rina R. dan Kiking Ritarwan 202

6 - Analisa 3 tentang O:dengan adanya Surveilans AFP dan Surveilans virus polio liar dapat mencapai program eradikasi polio di Indonesia pada tahun Surveilans polio bertujuan untuk memantau adanya transmisi virus polio liar disuatu wilayah sehingga upaya pemberantasan menjadi terfokus dan efisien. Sasaran surveilans adalah kelompok yang rentan terhadap polio, yaitu anak berusia dibawah 15 tahun. Untuk meningkatkan sensitivitas surveilans polio, pengamatannya dilakukan pada semua kelumpuhan yang terjadi secara akut dan sifatnya layuh. - Analisa 4 tentang T: Dengan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) polio di Sukabumi, menunjukkan masih lemahnya tingkatan sasaran surveilans polio di Indonesia. Untuk mencapai sertifikat bebas polio di Indonesia ternyata tidak mudah, 17 Maret 2005 oleh seorang dokter praktek swasta melaporkan satu kasus AFP atau lumpuh layuh ke Puskesmas Cidahu, Sukabumi. Oleh petugas Puskesmas tersebut mengambil specimen tinja penderita dan kemudian dikirim ke Laboratorium Biofarma, ternyata pada 21 April 2005 hasil dari laboratorium tersebut positif virus polio liar. Akhirnya pada 29 April 2005 oleh Tim Kajian Epidemiologi Lapangan Menteri Kesehatan RI, dilaksanakan Mopping up imunisasi polio di 3 provinsi yakni DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Dilakukannya Mopping up di 3 provinsi tersebut untuk menghentikan transmisi virus polio di Provinsi DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat. KESIMPULAN 1. Dengan adanya Kejadian Luar biasa (KLB = outbreak) Polio di Sukabumi, menimbulkan masalah issue virus polio liar yang dibawa oleh pekerja Indonesia di Luar Negeri terutama dari negaranegara Afrika. 2. Adanya kinerja surveilans AFP rendah dan tidak bekerja merata di seluruh wilayah Indonesia. 3. Perlunya mopping-up untuk memutuskan tali rantai virus liar di Indonesia yang timbul akibat kepadatan penduduk, mobilitas penduduk, sanitasi yang jelek dan kondisi epidemiologi disuatu wilayah. 4. Mopping-up dilaksanakan pada Pasca PIN (daerah kantong yang diidentifikasi surveilans AFP) dan pasca bebas Polio ( daerah Virus Polio Liar impor). 5. Melaksanakan imunisasi dengan OPV di Indonesia sebanyak 4 kali. 6. Penyebaran infeksi virus polio terjadi secara fecal-oral dan oral-oral (pernafasan) DAFTAR PUSTAKA 1. GPV The Polio Eradication Initiative. Great efforts by China to eradicate polio. WHO Epidemiological Records; 50,1996, 71, GPV. The Polio Eradication Initiative. Reported Polio and AFP data for GPV. The Polio Eradication Initiative. The Global Eradication of Poliomyelitis. Update January Brotowasisto. Kebijaksanaan dan strategi Erapo di Indonesia. Seminar sehari peran organisasi profesi dalam surveilans AFP menuju Indonesia bebas polio tahun 2000, Jakarta, Desember Yuwono S. Program Eradikasi Polio Global. Dalam: Buku Rujukan Eradikasi Polio di Indonesia, 2002;hal Imari S. Pelaksanaan Eradikasi Polio Global di Indonesia. Dalam: Buku Rujukan Eradikasi Polio di Indonesia, 2002;hal Poerwadi T, Mudjiani. Pendekatan klinik Acute onset of Flaccid Paralysis. Dalam: Buku Rujukan Eradikasi Polio di Indonesia, 2002;hal Kronologis KLB Polio di Sukabumi. Dalam:Farmacia; vol IV. No 11, 2005,p M. Gourie-Devi. Poliomyelitis and anterior Horn Cell Disorders. In: Tropical Neurology.W.B. Saunders Company. 1996,p Modlin JF, Coffey DJ. Poliomyelitis, Polio Vaccines, and the post poliomyelitis Syndrome. In: Infection of the Central Nervous system.3 rd ed.lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia p Oke Rina R.. dan Kiking Ritarwan

BAB 1 PENDAHULUAN. Pencegahan dan pemberantasan penyakit merupakan prioritas pembangunan

BAB 1 PENDAHULUAN. Pencegahan dan pemberantasan penyakit merupakan prioritas pembangunan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pencegahan dan pemberantasan penyakit merupakan prioritas pembangunan kesehatan masyarakat di Indonesia. Tantangan baru muncul dengan adanya potensi terjangkitnya kembali

Lebih terperinci

Kerangka Acuan. Acute Flacid Paralysis ( AFP )

Kerangka Acuan. Acute Flacid Paralysis ( AFP ) Kerangka Acuan Acute Flacid Paralysis ( AFP ) A. Pendahuluan Dalam Sidang Majelis Kesehatan Sedunia atau World Health Assembly tahun 1998, Negara-negara anggota WHO, termasuk Indonesia, telah menyepakati

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Polio merupakan (keluarga Picornaviridae), sering disingkat sebagai "Polio" adalah virus yang paling ditakuti abad ke-20 di dunia yang menghasilkan permulaan program

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia ikut andil pembangunan kesehatan dalam rangka merealisasikan tercapainya Millenium Development Goals (MDGs). Salah satunya adalah Agenda ke 4 MDGs (Menurunkan

Lebih terperinci

A. Formulir Pelacakan Kasus AFP

A. Formulir Pelacakan Kasus AFP Format 7.1 FP1 A. Formulir Pelacakan Kasus AFP Kabupaten/kota: Propinsi: Nomor EPID: Laporan dari : 1. RS:... Tanggal laporan diterima: I. Identitas Penderita 3. Dokter praktek : 2. Puskesmas:... 4. Lainnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semua kelompok umur, namun yang peling rentan adalah kelompok umur kurang dari 3

BAB I PENDAHULUAN. semua kelompok umur, namun yang peling rentan adalah kelompok umur kurang dari 3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Polio adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus polio yang dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan yang permanen. Penyakit ini dapat menyerang pada semua kelompok

Lebih terperinci

Wabah Polio. Bersama ini kami akan membagi informasi mengenai POLIO yang sangat berbahaya, yang kami harap dapat bermanfaat untuk kita semua.

Wabah Polio. Bersama ini kami akan membagi informasi mengenai POLIO yang sangat berbahaya, yang kami harap dapat bermanfaat untuk kita semua. Environment & Social Responsibility Division ESR Weekly Tips no. 14/V/2005 Sent: 10 Mei 2005 Wabah Polio Seiring dengan gencarnya kasus wabah Polio yang menimpa Indonesia terutama di beberapa daerah, yang

Lebih terperinci

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio

Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio Pengertian Polio Polio atau poliomyelitis adalah penyakit virus yang sangat mudah menular dan menyerang sistem saraf. Pada kondisi penyakit yang bertambah parah, bisa menyebabkan kesulitan 1 / 5 bernapas,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Penyakit ini tetap menjadi salah satu

BAB 1 PENDAHULUAN. dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Penyakit ini tetap menjadi salah satu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit campak adalah salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan pada bayi dan anak di Indonesia dan merupakan penyakit yang dapat dicegah dengan

Lebih terperinci

1 BAB I PENDAHULUAN. terhadap suatu penyakit sehingga seseorang tidak akan sakit bila nantinya terpapar

1 BAB I PENDAHULUAN. terhadap suatu penyakit sehingga seseorang tidak akan sakit bila nantinya terpapar 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Imunisasi merupakan cara meningkatkan kekebalan tubuh secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga seseorang tidak akan sakit bila nantinya terpapar penyakit tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit campak merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak di

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit campak merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak di BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit campak merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak di seluruh dunia yang meningkat sepanjang tahun. Pada tahun 2005 terdapat 345.000 kematian di

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu dari 17 program pokok pembangunan kesehatan adalah program

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu dari 17 program pokok pembangunan kesehatan adalah program BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Salah satu dari 17 program pokok pembangunan kesehatan adalah program pencegahan dan pemberantasan penyakit, yang salah satu sasarannya untuk mencapai Universal Child

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara umum hepatitis ialah peradangan yang terjadi pada liver atau hati. Istilah hepatitis sendiri berasal dari kata hepa (hati/liver) dan itis (peradangan). Hepatitis

Lebih terperinci

Manfaat imunisasi untuk bayi dan anak

Manfaat imunisasi untuk bayi dan anak Manfaat imunisasi untuk bayi dan anak Bayi dan anak yang mendapat imunisasi dasar lengkap akan terlindung dari beberapa penyakit berbahaya dan akan mencegah penularan ke adik, kakak dan teman-teman disekitarnya.

Lebih terperinci

1. Poliomyelitis Poliomyelitis adalah suatu penyakit virus yang dalam stadium beratnya menyebabkan

1. Poliomyelitis Poliomyelitis adalah suatu penyakit virus yang dalam stadium beratnya menyebabkan 1. Poliomyelitis Poliomyelitis adalah suatu penyakit virus yang dalam stadium beratnya menyebabkan kelumpuhan yang lemas karena kekurangan sel-sel syaraf baik dalam sum sum tulang punggung maupun otak.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit polio adalah penyakit infeksi paralisis yang disebabkan oleh virus. Agen

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Penyakit polio adalah penyakit infeksi paralisis yang disebabkan oleh virus. Agen BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Polio Penyakit polio adalah penyakit infeksi paralisis yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui

Lebih terperinci

PREVALENSI ANTIBODI POLIO ANAK BALITA PASCA PEKAN IMUNISASI NASIONAL (PIN) IV DI DENPASAR, BALI.

PREVALENSI ANTIBODI POLIO ANAK BALITA PASCA PEKAN IMUNISASI NASIONAL (PIN) IV DI DENPASAR, BALI. PREVALENSI ANTIBODI POLIO ANAK BALITA PASCA PEKAN IMUNISASI NASIONAL (PIN) IV DI DENPASAR, BALI. Gendrowahyuhono* Abstrak Telah dilakukan penelitian prevalensi antibodi anak balita pasca PIN IV di Denpasar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. PROGRAM REDUKSI CAMPAK

I. PENDAHULUAN A. PROGRAM REDUKSI CAMPAK I. PENDAHULUAN A. PROGRAM REDUKSI CAMPAK Pada sidang CDC/PAHO/WHO, tahun 1996 menyimpulkan bahwa penyakit campak dapat dieradikasi, karena satu-satunya pejamu (host) /reservoir campak hanya pada manusia,

Lebih terperinci

Christopher A.P, S. Ked Yayan A. Israr, S. Ked

Christopher A.P, S. Ked Yayan A. Israr, S. Ked Authors : Christopher A.P, S. Ked Yayan A. Israr, S. Ked Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau 2009 Universal Child Immunization Pendahuluan Puskesmas merupakan sarana pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 483/MENKES/SK/IV/2007 TENTANG PEDOMAN SURVEILANS ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP)

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 483/MENKES/SK/IV/2007 TENTANG PEDOMAN SURVEILANS ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP) KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 483/MENKES/SK/IV/2007 TENTANG PEDOMAN SURVEILANS ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP) MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

Resurgensi poliomyelitis : status terkini dari infeksi poliovirus di Indonesia

Resurgensi poliomyelitis : status terkini dari infeksi poliovirus di Indonesia April-Juni 2005, Vol.24 No.2 Resurgensi poliomyelitis : status terkini dari infeksi poliovirus di Indonesia Julius E. Suryawidjaja Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti ABSTRAK Upaya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat berbahaya, demikian juga dengan Tetanus walau bukan penyakit menular

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat berbahaya, demikian juga dengan Tetanus walau bukan penyakit menular BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Difteri, Pertusis dan Hepatitis B merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya, demikian juga dengan Tetanus walau bukan penyakit menular namun apabila

Lebih terperinci

Aspek Diagnostik Poliomielitis

Aspek Diagnostik Poliomielitis Aspek Diagnostik Poliomielitis Syahril Pasaribu Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara PENDAHULUAN Poliomielitis adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus

Lebih terperinci

Jurnal Ilmu Kesehatan Anak

Jurnal Ilmu Kesehatan Anak Jurnal Ilmu Kesehatan Anak VOLUME 2 Desember 2013 NOMOR 1 Naskah Asli Karakteristik Acute Flaccid Paralysis Pada Anak Di Bali Kadek Hartini, I Gusti Ngurah Made Suwarba Abstrak Latar belakang. Acute flaccid

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit campak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di

BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit campak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit campak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit campak sangat berbahaya karena dapat menyebabkan cacat dan kematian yang diakibatkan

Lebih terperinci

cita-cita UUD Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit menular masih merupakan

cita-cita UUD Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit menular masih merupakan cita-cita UUD 1945. Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit menular masih merupakan masalah, sementara penyakit degeneratif juga muncul sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menurunkan angka kesakitan dan kematian karena berbagai penyakit yang dapat. menyerang anak dibawah usia lima tahun (Widodo, 2007).

BAB I PENDAHULUAN. menurunkan angka kesakitan dan kematian karena berbagai penyakit yang dapat. menyerang anak dibawah usia lima tahun (Widodo, 2007). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Imunisasi merupakan hal terpenting dalam usaha melindungi kesehatan anak. Imunisasi merupakan suatu cara efektif untuk memberikan kekebalan khususnya terhadap seseorang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Imunisasi sebagai salah satu pencegahan upaya preventif yang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Imunisasi sebagai salah satu pencegahan upaya preventif yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Imunisasi sebagai salah satu pencegahan upaya preventif yang berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat harus dilaksanakan secara terus menerus, menyeluruh, dan

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pneumonia adalah penyakit batuk pilek disertai nafas sesak atau nafas cepat,

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pneumonia adalah penyakit batuk pilek disertai nafas sesak atau nafas cepat, BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pneumonia adalah penyakit batuk pilek disertai nafas sesak atau nafas cepat, penyakit ini sering menyerang anak balita, namun juga dapat ditemukan pada orang dewasa,

Lebih terperinci

Oleh : RIGI RAMDANI J

Oleh : RIGI RAMDANI J PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI POST OPERASI RELEASE KNEE BILATERAL A/C POLIOMIELITIS DENGAN PEMASANGAN WIRE PADA 1/3 DISTAL FEMUR BILATERAL DI BBRSBD DR. SOEHARSO SURAKARTA Oleh : RIGI RAMDANI J 100 070 021

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Epidemiologi Penyakit Campak di Indonesia Tahun 2004-2008 5.1.1 Gambaran Penyakit Campak Berdasarkan Variabel Umur Gambaran penyakit campak berdasarkan variabel umur

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Campak merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (Infeksius) dan dapat mengakibatkan kesakitan yang

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Campak merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (Infeksius) dan dapat mengakibatkan kesakitan yang BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Campak merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (Infeksius) dan dapat mengakibatkan kesakitan yang serius, komplikasi jangka panjang bahkan kematian (WHO,

Lebih terperinci

Penyakit Endemis di Kalbar

Penyakit Endemis di Kalbar Penyakit Endemis di Kalbar 1. Malaria Penyakit Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan data profil kesehatan Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2009 (tabel 11) terdapat

Lebih terperinci

TUJUAN 4. Menurunkan Angka Kematian Anak

TUJUAN 4. Menurunkan Angka Kematian Anak TUJUAN 4 Menurunkan Angka Kematian Anak 51 Tujuan 4: Menurunkan Angka Kematian Anak Target 5: Menurunkan angka kematian balita sebesar dua pertiganya, antara 1990 dan 2015. Indikator: Angka kematian balita.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. dari seluruh penduduk dunia adalah pembawa kronis penyakit hepatitis B (Zanetti et

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. dari seluruh penduduk dunia adalah pembawa kronis penyakit hepatitis B (Zanetti et BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Infeksi hepatitis B merupakan masalah global, diperkirakan 6% atau 387 juta dari seluruh penduduk dunia adalah pembawa kronis penyakit hepatitis B (Zanetti et al., 2008).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) paru merupakan satu penyakit menular yang dapat menyebabkan kematian. Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh infeksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang penyebabnya adalah virus. Salah satunya adalah flu, tetapi penyakit ini

BAB I PENDAHULUAN. yang penyebabnya adalah virus. Salah satunya adalah flu, tetapi penyakit ini BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada saat ini semakin banyak ditemukan berbagai penyakit berbahaya yang penyebabnya adalah virus. Salah satunya adalah flu, tetapi penyakit ini tidak mengancam jiwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang meningkat sepanjang tahun. Di dunia diperkirakan setiap tahun terdapat 30 juta

BAB I PENDAHULUAN. yang meningkat sepanjang tahun. Di dunia diperkirakan setiap tahun terdapat 30 juta BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit campak merupakan penyebab kematian pada anak-anak di seluruh dunia yang meningkat sepanjang tahun. Di dunia diperkirakan setiap tahun terdapat 30 juta orang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana

BAB 1 PENDAHULUAN. yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pancasila

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Pemberantasan penyakit. berperanan penting dalam menurunkan angka kesakitan

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Pemberantasan penyakit. berperanan penting dalam menurunkan angka kesakitan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan bagian dari pembangunan nasional yang dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan serta ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, yang biasanya memburuk setelah dua hari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang disebabkan oleh berjangkitnya penyakit-penyakit tropis. Salah satu

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang disebabkan oleh berjangkitnya penyakit-penyakit tropis. Salah satu 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia sebagai negara yang beriklim tropis banyak menghadapi masalah kesehatan yang disebabkan oleh berjangkitnya penyakit-penyakit tropis. Salah satu penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Imunisasi adalah prosedur yang dilakukan untuk memberikan kekebalan. tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan vaksin

BAB I PENDAHULUAN. Imunisasi adalah prosedur yang dilakukan untuk memberikan kekebalan. tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan vaksin 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Imunisasi adalah prosedur yang dilakukan untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh sehingga tubuh

Lebih terperinci

BUKU SAKU PETUNJUK TEKNIS. Tenaga Kesehatan di Lapangan

BUKU SAKU PETUNJUK TEKNIS. Tenaga Kesehatan di Lapangan BUKU SAKU PETUNJUK TEKNIS Tenaga Kesehatan di Lapangan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio 8-15 Maret 2016 Buku petunjuk teknis ini merupakan panduan bagi tenaga kesehatan untuk melaksanakan Pekan Imunisasi

Lebih terperinci

BULETIN SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPONS

BULETIN SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPONS BULETIN SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPONS Minggu Epidemiologi Ke-52 Tahun 2016 (Data Sampai Dengan 6 Januari 2017) Website: skdr.surveilans.org Dikeluarkan oleh: Subdit Surveilans, Direktorat SKK, Ditjen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Data World Health Organization (2012) menunjukkan bahwa dua miliar orang di seluruh dunia telah terinfeksi virus Hepatitis B dan sekitar 600.000 orang meninggal

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan.

BAB 1 PENDAHULUAN. serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan merupakan investasi untuk mendukung pembangunan ekonomi serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Pembangunan kesehatan harus dipandang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. menyebabkan kematian pada anak dibawah usia 5 tahun walaupun. tidak sebanyak kematian yang disebabkan oleh malnutrisi dan

BAB 1 PENDAHULUAN. menyebabkan kematian pada anak dibawah usia 5 tahun walaupun. tidak sebanyak kematian yang disebabkan oleh malnutrisi dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit infeksi masih menjadi masalah dan dapat menyebabkan kematian pada anak dibawah usia 5 tahun walaupun tidak sebanyak kematian yang disebabkan oleh malnutrisi

Lebih terperinci

MODUL 2 DASAR DASAR FLU BURUNG, PANDEMI INFLUENZA DAN FASE FASE PANDEMI INFLUENZA MENURUT WHO

MODUL 2 DASAR DASAR FLU BURUNG, PANDEMI INFLUENZA DAN FASE FASE PANDEMI INFLUENZA MENURUT WHO MODUL 2 DASAR DASAR FLU BURUNG, PANDEMI INFLUENZA DAN FASE FASE PANDEMI INFLUENZA MENURUT WHO DepKes RI 2007 Tujuan Pembelajaran Tujuan Pembelajaran Umum : Dapat menjelaskan dasar dasar Flu Burung, pandemi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. berbagai penyakit seperti TBC, difteri, pertusis, hepatitis B, poliomyelitis, dan

BAB 1 PENDAHULUAN. berbagai penyakit seperti TBC, difteri, pertusis, hepatitis B, poliomyelitis, dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Imunisasi merupakan bentuk intervensi kesehatan yang efektif dalam menurunkan angka kematian bayi dan balita. Dengan imunisasi, berbagai penyakit seperti TBC,

Lebih terperinci

DINAS KESEHATAN KABUPATEN CIANJUR PUSKESMAS CIANJUR KOTA LAMPIRAN NOMOR : TENTANG KERANGKA ACUAN KEGIATAN KAMPANYE VAKSIN MEALSES- RUBELLA (MR)

DINAS KESEHATAN KABUPATEN CIANJUR PUSKESMAS CIANJUR KOTA LAMPIRAN NOMOR : TENTANG KERANGKA ACUAN KEGIATAN KAMPANYE VAKSIN MEALSES- RUBELLA (MR) LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS CIANJUR KOTA NOMOR : TENTANG KEBIJAKAN KEPALA PUSKESMAS TENTANG PELAKSANAAN KEGIATAN KAMPANYE VAKSIN MEASLES-RUBELLA (MR) KERANGKA ACUAN KEGIATAN KAMPANYE VAKSIN

Lebih terperinci

DESKRIPSI SURVEILANS ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP) BERDASARKAN INDIKATOR KINERJA SURVEILANS DI KABUPATEN JEMBER PADA TAHUN

DESKRIPSI SURVEILANS ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP) BERDASARKAN INDIKATOR KINERJA SURVEILANS DI KABUPATEN JEMBER PADA TAHUN DESKRIPSI SURVEILANS ACUTE FLACCID PARALYSIS (AFP) BERDASARKAN INDIKATOR KINERJA SURVEILANS DI KABUPATEN JEMBER PADA TAHUN 2005-2009 SKRIPSI Oleh SOEDIBYO NIM. 082110101110 BAGIAN EPIDEMIOLOGI DAN BIOSTATISTIKA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan berbagai spektrum penyakit dari tanpa gejala atau infeksi ringan

BAB I PENDAHULUAN. menimbulkan berbagai spektrum penyakit dari tanpa gejala atau infeksi ringan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan atas atau bawah, yang disebabkan oleh agen infeksius yang dapat menimbulkan berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno

BAB I PENDAHULUAN. Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infeksi Human Immunodeficiency Virus(HIV) dan penyakitacquired Immuno Deficiency Syndrome(AIDS) saat ini telah menjadi masalah kesehatan global. Selama kurun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana diketahui bahwa di negara yang sedang berkembang seperti

BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana diketahui bahwa di negara yang sedang berkembang seperti 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagaimana diketahui bahwa di negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia, angka kejadian anak yang mengalami penyakit tropis cukup tinggi. Hal ini

Lebih terperinci

IMUNISASI SWIM 2017 FK UII Sabtu, 14 Oktober 2017

IMUNISASI SWIM 2017 FK UII Sabtu, 14 Oktober 2017 IMUNISASI Dr. dr. Fx. Wikan Indrarto, SpA SWIM 2017 FK UII (Simposium & Workshop Imunisasi) Sabtu, 14 Oktober 2017 Di Hotel Eastparc Jl. Laksda Adisucipto Km. 6,5, Yogyakarta IMUNISASI Cara meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Feces (kotoran manusia) yang terinfeksi oleh bakteri Vibrio cholerae

BAB I PENDAHULUAN. Feces (kotoran manusia) yang terinfeksi oleh bakteri Vibrio cholerae BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Feces (kotoran manusia) yang terinfeksi oleh bakteri Vibrio cholerae banyak ditemui di permukaan air. Melalui makanan, seperti sayuran yang telah dipupuk dengan

Lebih terperinci

BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG PADA ACARA PEKAN IMUNISASI NASIONAL POLIO TINGKAT KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016

BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG PADA ACARA PEKAN IMUNISASI NASIONAL POLIO TINGKAT KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016 1 BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG PADA ACARA PEKAN IMUNISASI NASIONAL POLIO TINGKAT KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016 TANGGAL 8 MARET 2016 HUMAS DAN PROTOKOL SETDA KABUPATEN SEMARANG 2 Assalamualaikum

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia dan masih sering timbul sebagai KLB yang menyebabkan kematian

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia dan masih sering timbul sebagai KLB yang menyebabkan kematian BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit menular masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia dan masih sering timbul sebagai KLB yang menyebabkan kematian penderitanya. Departemen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Demam typhoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut pada usus halus yang disebabkan oleh Salmonella enterica serotype typhi (Salmonella typhi) (Kidgell

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang semula hanya berfokus kepada pengelolaan obat (drug oriented)

BAB I PENDAHULUAN. yang semula hanya berfokus kepada pengelolaan obat (drug oriented) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelayanan kefarmasian merupakan salah satu kunci pokok suksesnya sistem kesehatan. Pelayanan kefarmasian telah mengalami perubahan yang semula hanya berfokus kepada

Lebih terperinci

Kata Kunci: anak, ISPA, status gizi, merokok, ASI, kepadatan hunian

Kata Kunci: anak, ISPA, status gizi, merokok, ASI, kepadatan hunian ABSTRAK FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT PADA SISWA TAMAN KANAK-KANAK DI KELURAHAN DANGIN PURI KECAMATAN DENPASAR TIMUR TAHUN 2014 Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Deklarasi Milenium yang merupakan kesepakatan para kepala negara dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Deklarasi Milenium yang merupakan kesepakatan para kepala negara dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Deklarasi Milenium yang merupakan kesepakatan para kepala negara dan perwakilan dari 189 negara dalam sidang Persatuan Bangsa-Bangsa di New York pada bulan September

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit cacar ular telah terjadi dari waktu ke waktu selama ribuan tahun, penyakit cacar muncul disebabkan oleh virus cacar yang muncul dalam populasi manusia

Lebih terperinci

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh. virus Dengue yang ditularkan dari host melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh. virus Dengue yang ditularkan dari host melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan dari host melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit DBD banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Telah kita ketahui bahwa Negara Indonesia memiliki beraneka ragam masalah kesehatan. Salah satu masalah kesehatan yang terjadi adalah adanya kasus campak yang sering

Lebih terperinci

Kuesioner Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Ibu Bayi dan Balita Mengenai Penyakit Polio Pasca PIN V

Kuesioner Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Ibu Bayi dan Balita Mengenai Penyakit Polio Pasca PIN V Kuesioner Gambaran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Ibu Bayi dan Balita Mengenai Penyakit Polio Pasca PIN V Identitas responden Nama : Umur : Pendidikan terakhir : Pekerjaan : Penghasilan perbulan : Jumlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Demam berdarah dengue (DBD) merupakan suatu penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue. Virus ini ditransmisikan melalui cucukan nyamuk dari genus Aedes,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oleh virus. Campak disebut juga rubeola, morbili, atau measles. Penyakit ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. oleh virus. Campak disebut juga rubeola, morbili, atau measles. Penyakit ini BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Campak 2.1.1 Definisi Campak adalah suatu penyakit akut yang sangat menular yang disebabkan oleh virus. Campak disebut juga rubeola, morbili, atau measles. Penyakit ini ditularkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan kelanjutan dari apa yang sudah dibangun pada Millenium Development Goals (MDGs), memiliki 5 pondasi yaitu manusia,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menetap dan berjangka lama terbesar kedua di dunia setelah kecacatan mental (WHO,

BAB I PENDAHULUAN. menetap dan berjangka lama terbesar kedua di dunia setelah kecacatan mental (WHO, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Filariasis merupakan salah satu penyakit tertua dan paling melemahkan yang dikenal dunia. Filariasis limfatik diidentifikasikan sebagai penyebab kecacatan menetap dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencegah tubuh dari penularan penyakit infeksi. Penyakit infeksi. adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme

BAB I PENDAHULUAN. mencegah tubuh dari penularan penyakit infeksi. Penyakit infeksi. adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Imunisasi merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk mencegah tubuh dari penularan penyakit infeksi. Penyakit infeksi adalah suatu penyakit yang disebabkan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Virus ini ditularkan dari orang ke orang oleh nyamuk Aedes aegypti. Penyakit DBD banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari pengindraan atau hasil tahu seseorang dan terjadi terhadap objek melalui indra yang

Lebih terperinci

Organization (WHO) memperkirakan jumlah kasus demam thypoid diseluruh dunia

Organization (WHO) memperkirakan jumlah kasus demam thypoid diseluruh dunia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit demam thypoid adalah salah satu penyakit endemik di Indonesia dan masih merupakan masalah kesehatan yang serius di dunia. Penyakit ini termasuk penyakit

Lebih terperinci

Optimisme Cakupan Vaksin MR Menuju Generasi Sehat Berkualitas

Optimisme Cakupan Vaksin MR Menuju Generasi Sehat Berkualitas Optimisme Cakupan Vaksin MR Menuju Generasi Sehat Berkualitas PENYAKIT campak di dunia ini bersifat endemik. Di semua negara di dunia ini, tahun 2013 terjadi 145.700 kematian yang disebabkan oleh campak.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus atau biasa disingkat MERS-

BAB I PENDAHULUAN. Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus atau biasa disingkat MERS- A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus atau biasa disingkat MERS- CoV adalah penyakit sindrom pernapasan yang disebabkan oleh Virus-Corona yang menyerang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melawan serangan penyakit berbahaya (Anonim, 2010). Imunisasi adalah alat yang terbukti untuk mengendalikan dan

BAB I PENDAHULUAN. melawan serangan penyakit berbahaya (Anonim, 2010). Imunisasi adalah alat yang terbukti untuk mengendalikan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Imunisasi merupakan program pemerintah yang senantiasa digalakkan dalam upaya untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu penyakit dengan melakukan vaksinasi

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BAYI 0-12 BULAN DENGAN PRAKTIK PEMBERIAN IMUNISASI HEPATITIS B-O DI WILAYAH PUSKESMAS KAYU KUNYIT BENGKULU SELATAN

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BAYI 0-12 BULAN DENGAN PRAKTIK PEMBERIAN IMUNISASI HEPATITIS B-O DI WILAYAH PUSKESMAS KAYU KUNYIT BENGKULU SELATAN i HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU BAYI 0-12 BULAN DENGAN PRAKTIK PEMBERIAN IMUNISASI HEPATITIS B-O DI WILAYAH PUSKESMAS KAYU KUNYIT BENGKULU SELATAN NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh : Gita Ria Utami 201410104285

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Tingginya angka kejadian Rabies di Indonesia yang berstatus endemis

BAB 1 PENDAHULUAN. Tingginya angka kejadian Rabies di Indonesia yang berstatus endemis BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tingginya angka kejadian Rabies di Indonesia yang berstatus endemis Rabies, kini menjadi tantangan bagi pencapaian target Indonesia bebas Rabies pada 2015. Guna penanggulangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekitar 90 % dan biasanya menyerang anak di bawah 15 tahun. 2. Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat karena

BAB I PENDAHULUAN. sekitar 90 % dan biasanya menyerang anak di bawah 15 tahun. 2. Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat karena BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang ditransmisikan oleh nyamuk Ae. Aegypti. 1 Menyebabkan banyak kematian pada anakanak sekitar 90 % dan biasanya

Lebih terperinci

ARTIKEL ERADIKASI POLIO DAN IPV (INACTIVATED POLIO VACCINE) Gendrowahyuhono,* Herna Harianja,* Nancy Dian Anggraini,** NovUia Syafri Bachtiar*

ARTIKEL ERADIKASI POLIO DAN IPV (INACTIVATED POLIO VACCINE) Gendrowahyuhono,* Herna Harianja,* Nancy Dian Anggraini,** NovUia Syafri Bachtiar* ARTIKEL ERADIKASI POLIO DAN IPV (INACTIVATED POLIO VACCINE) Gendrowahyuhono,* Herna Harianja,* Nancy Dian Anggraini,** NovUia Syafri Bachtiar* POLIO ERADICA TION AND IPV(INACTIVED POLIO VACCINE) Abstract

Lebih terperinci

Bab VIII.2 Poliomielitis

Bab VIII.2 Poliomielitis Poliomielitis Bab VIII.2 Poliomielitis Ismoedijanto, Hardiono Pusponegoro, Kusnandi Rusmil, Haryono Suyitno Poliomielitis anterior akut adalah suatu penyakit demam akut yang disebabkan virus polio. Kerusakan

Lebih terperinci

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI KLB DIFTERI DI KECAMATAN TANJUNG BUMI KABUPATEN BANGKALAN TAHUN 2013

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI KLB DIFTERI DI KECAMATAN TANJUNG BUMI KABUPATEN BANGKALAN TAHUN 2013 Kabupaten Bangkalan Tahun 03 PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI KLB DIFTERI DI KECAMATAN TANJUNG BUMI KABUPATEN BANGKALAN TAHUN 03 Siska Damayanti Sari Dinas Kesehatan kabupaten bangkalan Difteri merupakan penyakit

Lebih terperinci