Website: ejournal.stkip-pgri-sumbar.ac.id/index.php/pelangi
|
|
|
- Veronika Dharmawijaya
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Vol. 6 No.2 Juni 214 (142-1) Website: ejournal.stkip-pgri-sumbar.ac.id/index.php/pelangi INDUKSI KEJUTAN SUHU 36 C TERHADAP PERKEMBANGAN EMBRIO DAN KEBERHASILAN POLIPLOIDISASI KATAK (Rana cancrivora) Ria Kasmeri 1), Elza Safitri 2) 1,2) Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected] INFO ARTIKEL Diterima : 13/3/214 Disetujui : 3/5/214 Kata Kunci: Kejutan suhu, Poliploidisasi, Rana cancrivora Abstrak Poliploidi pada katak Rana cancrivora dapat dilakukan dengan memberikan kejutan suhu. Hal yang perlu diperhatikan dalam perlakuan kejutan suhu pada telur adalah waktu awal kejutan, suhu kejutan dan lama kejutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menguji pengaruh kejutan suhu 36 C terhadap perkembangan embrio, dan keberhasilan poliploidisasi katak R. cancrivora. Penelitian dlakukan di Laboratorium Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kejutan suhu 36 C pada telur yang fertilisasi memberikan pengaruh terhadap perkembangan embrio katak R. cancrivora yaitu pada perlakuan D (45 menit setelah fertilisasi). Namun pemberian kejutan suhu 36 C tidak menunjukkan adanya pengaruh terhadap keberhasilan poliploidisasi katak R. cancrivora. Abstract Keywords: Temperature Shock, poliploidisation, Rana cancrivora Polyploidy in the frog Rana cancrivora can be done by providing a temperature shock. The thing need to consider in treatment temperature shock at the egg is the beginning of a shock, temperature of shock and duration of shock. The research aims to identify and test the effect of temperature shock 36⁰C to the development of the embryo, and the success of poliploidisation of frog R. Cancrivora. The research was conducted in Biology Laboratory STKIP PGRI West Sumatra. The results shows that administration of 36⁰C temperature shock on egg fertilization influences on the development of frog embryos R. Cancrivora i.e. on the treatment D (45 minutes after fertilization). Yet, the temperature shock is 36⁰C does not show any influence on the success of poliploidisation of frog R. Cancrivora. ISSN: E-ISSN:
2 Jurnal Pelangi 143 PENDAHULUAN Amphibi memiliki berbagai peranan penting bagi kehidupan manusia, yakni peranan ekologis maupun ekonomis. Amphibi memakan serangga sehingga dapat membantu keseimbangan ekosistem terutama dalam pengendalian populasi serangga. Selain itu, amphibi juga dapat berfungsi sebagai bioindikator bagi kondisi lingkungan karena amphibi memiliki respon terhadap perubahan lingkungan. Peranan amphibi dari segi ekonomis dapat ditinjau dari pemanfaatan amfibi untuk kepentingan konsumsi. Katak juga memiliki kandungan protein yang tinggi sebesar 16,4 gram per 1 gram daging katak. Selain itu katak juga mengandung serat, mineral dan vitamin yang tinggi (Susilo dan Rahmat, 21). Karena adanya kelebihan dari katak tersebut, tidak mengherankan bila permintaan katak dari negara-negara tersebut tiap tahunnya terus meningkat. Ini merupakan peluang yang sangat besar bagi negara kita untuk meningkatkan ekspor, sebagai sumber devisa Negara yang berasal dari komoditas nonmigas (Arie, 1999). R. cancrivora merupakan satu dari lima jenis katak yang dikonsumsi di Indonesia. Katak ini juga banyak dijumpai di Sumatera Barat. Kelebihan katak ini diantaranya daging katak mengandung protein hewani yang cukup tinggi,limbah katak yang tidak dipakai sebagai bahan makanan manusia dapat dipakai untuk ransum binatang ternak, seperti itik dan ayam. Karena banyaknya kelebihan katak tersebut, sekarang ini populasi katak di alam sudah menurun. Untuk mengatasi hal tersebut sudah dilakukan budidaya katak, namun ada beberapa kendala yang ditemukan diantaranya pertumbuhannya lambat, ukurannya kecil, waktu panen lama, sangat tergantung kepada alam dan memerlukan makanan alami yang bergerak sehingga sulit dibudidayakan (Arie, 1999). Kekurangan itu dapat diatasi dengan cara bagaimana menghasilkan individu yang ukurannya besar dan cepat pertumbuhannya. Salah satu cara manipulasi kromosom adalah dengan poliploidi. Poliploidi dapat dilakukan dengan memberi perlakuan suhu. Kejutan suhu selain murah dan mudah, juga efisien dapat dilakukan dalam jumlah banyak (Rustidja, 1991). Komen (199) menyatakan, suhu panas lebih efektif untuk mencegah terlepasnya polar body II. Pendekatan praktis untuk induksi poliploidi melalui kejutan panas merupakan perlakuan aplikatif sesaat setelah fertilisasi (untuk induksi triploidi) atau sesaat setelah pembelahan pertama (untuk induksi tetraploidi) pada suhu sublethal (Mukti, 21). Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam perlakuan kejutan suhu pada telur, yaitu waktu awal kejutan, suhu kejutan, dan lama kejutan (Don dan Avtalion, 1986). Nilai parameter tersebut berbeda untuk setiap spesies (Pandian dan Varadaraj, 1988). Poliploidisasi adalah suatu metoda manipulasi kromosom dari diploid (2n) menjadi jumlah kromosom yang lebih tinggi triploid, tetraploid, pentaploid dan seterusnya (Sistina, 2). BAHAN DAN METODE Alat yang digunakan adalah petridish, spatula, pipet tetes, aquarium 3x3x3cm 3, lempeng kaca xcm 2 jarum suntik, sarung tangan, pipet tetes, objek gelas, objek gelas cekung, cover gelas, hot plate, termometer suhu, mikroskop stereo, mikroskop binokuler, alat bedah, senter, saringan, gelas ukur kimia 25ml, bulu ayam, box staining, camera digital. Bahan yang digunakan adalah induk katak R. cancrivora jantan dan betina matang kelamin, NaCL
3 144 Ria Kasmeri, Elza Safitri fisiologis,9%, Aceto Orcein, Kolkisin, Metylen Blue, Asam Asetat Glasial, Etanol, AgNO3, Gelatin, Gliserin, Asam Formiat, Alkohol 96%, Aquades, minyak Imersi dan bayam (untuk pakan berudu). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sebagai perlakuan adalah kejutan suhu panas 36ᴼC selama 1 menit yang diperlakukan pada telur setelah difertilisasi dan dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu : a. Perlakuan A: Tanpa perlakuan kejutan suhu (kontrol) b. Perlakuan B : Telur menit setelah fertilisasi c. Perlakuan C : Telur 3 menit setelah fertilisasi d. Perlakuan D : Telur 45 menit setelah fertilisasi e. Perlakuan E : Telur 6 menit setelah fertilisasi Masing-masing perlakuan dilakukan 3 kali ulangan dengan jumlah telur untuk tiap-tiap perlakuan adalah sebanyak 5 butir (Modifikasi dari penelitian Fischberg, 1958). Prosedur Penelitian Katak Rana cancrivora jantan dewasa dicirikan dengan adanya kantung suara berwarna coklat kemerah-merahan pada bagian leher dan katak betina dewasa dilihat dari keberadaan telur pada bagian abdomen katak (hitam pada bagian abdomen). Hipofisasi Buatan Katak R. cancrivora jantan yang telah dewasa sebanyak 2 ekor diambil kelenjar hipofisanya, kemudian hipofisa yang telah diambil ditaruh di dalam petridish yang telah diberi beberapa tetes larutan garam fisiologis (NaCL) yang telah diencerkan 1 kali. Setelah itu dilakukan pencacahan hipofisa dan setelah merata diambil beberapa ml dan diinjeksikan ke rongga peritoneal 4 ekor katak betina dewasa yang sedang bertelur (pada bagian perut tampak adanya telur) dan katak tersebut dimasukkan ke dalam bak penetasan. Setelah 8 jam dilakukan lagi penyuntikan hipofisa ke rongga peritoneal katak dan ditaruh kembali ke dalam bak penetasan. 4 ekor katak jantan dewasa juga diberi suntikan kelenjer hipofisa untuk merangsang pematangan sel sperma. Setelah 3-4 jam dilakukan proses pengurutan atau stripping induk katak betina pada bagian abodomennya. Fertilisasi Buatan Setelah penyuntikan terhadap 4 ekor katak betina, katak betina akan mengeluarkan telurnya. Telur yang dikeluarkan ditampung dalam petridish dan diurutkan bagian perut katak betina sehingga seluruh telur bisa dikeluarkan. Disamping itu disiapkan larutan sperma dengan mencacah testis dari 4 ekor induk katak jantan dan setelah dicacah dalam petridish maka ditambahkan larutan NaCL,9 %. Setelah itu larutan sperma dipipet teteskan langsung diatas telur yang sudah ditampung dalam petridish (usia jam fertlisasi) dan dilakukan perlakuan kejutan suhu 36⁰C selama 1 menit untuk masing-masing perlakuan. Kejutan suhu Setelah difertilisasi, petridish yang berisi telur diberi kejutan suhu dengan cara menaruhnya diatas hotplat yang berisi air dengan suhu 36ᴼC selama 1 menit dengan masing-masing perlakuan (kontrol/ tanpa perlakuan, menit setelah fertilisasi, 3 menit setelah fertilisasi, 45 menit setelah fertilisasi, 6 menit setelah fertilisasi (masing-masing perlakuan dengan jumlah telur 5 butir dan dengan 3 kali ulangan). Setelah itu telur disebarkan kedalam aquarium 3x3x3cm 3 untuk pemeliharaan larva
4 Jurnal Pelangi 145 dan diberi beberapa ml Metylen Blue untuk pencegah jamur. Selama pemeliharaan (3 hari), larva diberi pakan daun bayam yang telah direbus dan digerus. Pada akhir pemeliharaan (3 hari) dilakukan pengamatan poliploidisasi katak dengan melihat jumlah kromosom katak R. cancrivora. Pengamatan Poliploidisasi Ekor berudu dipotong kira-kira 1,5 cm dan dibiarkan selama 24 jam. Setelah 24 jam barulah dipotong lagi ekor berudu dan dimasukkan potongan ekor kedalam larutan kolkisin dan hipotonik (larutan garam,8% dan ditambah kolkisin,1%) selama 1 jam. Setelah itu larutan dihisap dan ditetesi dengan Aceto Orcein selama 25 menit dan barulah potongan ekor tadi diletakkan diatas objek glas dan di squash dan dilakukan penghitungan kromosom dibawah mikroskop dan difoto. Untuk proses perifikasi poliploidi maka dilakukan juga penghitungan jumlah nukleolus katak R. cancrivora. Pembuatan preparat nukleolus dimulai dengan pengambilan sampel yang akan dianalisa, yaitu ekor berudu. Jaringan ekor berudu direndam dalam larutan hipotonik dengan KCl.75% agar selselnya membesar selama 6 menit dengan penggantian setiap 3 menit, lalu dilanjutkan dengan perendaman dalam larutan Carnoy selama 6 menit dengan penggantian Carnoy. Kemudian jaringan diambil dan disentuhkan pada kertas tissue hingga kering lalu ditempatkan dalam gelas objek cekung dan ditambahkan 3-4 tetes asam asetat 5% lalu digoyangkan sampai terbentuk suspensi sel. Suspensi tersebut diambil dengan menggunakan pipet tetes dan diteteskan pada gelas objek yang sebelumnya direndam dalam alkohol 7% selama minimal 2 jam yang setiap 3 menit. kemudian dipanaskan pada lempeng pemanas dengan suhu 45-5⁰C. Setelah itu suspensi diisap kembali dengan cepat sehingga pada gelas objek terbentuk lingkaran dengan diameter 1-1,5 cm. Dan siap untuk proses pewarnaan. Pewarnaan dilakukan dengan memberikan dua tetes larutan A yang dibuat dengan cara melarutkan 1 gram AgN3 dalam 2 ml akuades, dan satu tetes larutan B yang dibuat dengan melarutkan 2 gram gelatin dalam 5 ml air hangat dan ditambahkan 5 ml gliserin dm 2 tetes asam formiat, lalu disebarkan ke seluruh permukaan preparat. Preparat kemudian ditempatkan dalam box staining yang suhunya dipertahankan 4-45⁰C, selama dua puluh menit atau sampai warnanya berubah menjadi kuning kecoklatan. Setelah itu preparat diangkat dan dibilas dengan aquades lalu dan dikering anginkan. Bila sudah kering preparat siap diamati dibawah mikroskop dengan menggunakan perbesaran 4 kali. Parameter Uji dan Analisis Data Parameter uji adalah melihat proses dan tahap perkembangan embrio dan mencatat waktu tahap perkembangan, yang nantinya akan dibandingkan pada masing-masing perlakuan. Parameter uji yang lainnya adalah analisis ploidisasi dengan melihat jumlah kromosom katak R. cancrivora dan untuk perifikasi dilakukan dengan menghitung jumlah nukleolus. Analisis data dilakukan secara statistik dengan ANOVA. Bila didapatkan perbedaan yang nyata dilakukan uji lanjut DNMRT pada taraf 5%. (Induksi Poliploid) IP = x 1% (Mukhti et all, 21).
5 146 Ria Kasmeri, Elza Safitri HASIL DAN PEMBAHASAN Perkembangan Embrio Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan mulai dari bulan Agustus 213 sampai awal Oktober 213 telah didapatkan tahapan-tahapan perkembangan embrio katak Rana cancrivora pada berbagai macam perlakuan kejutan suhu 36ºC pada telur yang difertilisasi. Pengaruh kejutan suhu 36 C terhadap perkembangan embrio katak R. cancrivora dapat dilihat pada Tabel 1. Pada tabel 1. dapat dilihat bahwa waktu yang dibutuhkan untuk perkembangan embrio katak R. cancrivora berbeda-beda pada masingmasing perlakuan kejutan suhu 36 C. Pelakuan yang menunjukkan waktu yang paling cepat untuk proses perkembangan embrio katak R. cancrivora adalah pada perlakuan D (45 menit setelah fertilisasi) sedangkan pada perlakuan B, perlakuan C perlakuan E dan perlakuan A (kontrol) proses perkembangan embrio berjalan lambat. Hal ini menunjukkan bahwa adanya pengaruh dari kejutan suhu pada masing-masing waktu setelah fertilisasi terhadap perkembangan embrio katak F. cancrivora, banyaknya kuning telur dan tipe telur katak. Perkembangan embrio dipengaruhi oleh banyaknya kuning telur. Lama pengeraman telur katak tergantung pada spesies dan beberapa faktor luar. Bila suhu rendah maka akan membuat enzim chorion tidak bekerja dan membuat embrio lama melarutkan kulit telur sehingga proses penetasan lama terjadi. Hal ini didukung oleh Effendie (22) menyatakan faktor luar yang mempengaruhi pengeraman telur adalah suhu air. Suhu merupakan faktor penting dalam mempengaruhi proses perkembangan embrio, daya tetas telur dan kecepatan penyerapan kuning telur. (Satyani, 27). Terbentuknya daerah Gray crescent merupakan awal untuk proses pembelahan (Gambar 1A). Proses pembelahan pada telur katak R. cancrivora terjadi setelah 1 jam fertilisasi. Pada perlakuan D waktu yang dibutuhkan untuk pembelahan 2 adalah 1 jam namun pada perlakuan lainnya membutuhkan waktu lebih dari 1 jam. Pada proses pembelahan 1 dihasilkan 2 sel atau 2 blastomer yang sama besar pada kutub animal sedangkan pada kutub vegetal belum berlangsung proses pembelahan Gambar 1B), hal ini disebabkan oleh banyaknya yolk yang terdapat pada kutub vegetal dari telur katak. Pada proses pembelahan ke 2 merupakan proses pembelahan menghasilkan 4 sel/blastomer (Gambar 1 C). Pada perlakuan D waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pembelahan 4 sel adalah 1 jam, sedangkan pada perlakuan lain lebih lambat dari perlakuan D. Setelah tahapan blastula maka embrio memasuki tahapan selanjutnya yaitu tahapan Gastrula. Pada perlakuan D embrio katak R. cancrivora membutuhkan waktu 9 jam untuk mencapai tahap gastrula. Gastrula pada embrio katak dimulai dari sisi dorsal embrio dan pada daerah ini terbentuk celah blastoporus (Gambar 2 A). Akhir dari tahap gastrulasi terbentuklah sumbat yolk (yolk plug) (Gambar 2 B). Proses perkembangan selanjutnya adalah Neurulasi yang merupakan tahapan pembentukan bumbung saraf (neural tube). Pada perlakuan D membutuhkan waktu 1.3 jam setelah fertilisasi untuk tahap neurulasi awal dan 12 jam setelah fertilisasi untuk tahap neurula akhir. Pada perlakuan A (kontrol) membutuhkan waktu 14 jam untuk proses neurula awal dan 16,5 jam untuk proses neurula akhir. Tahap neurula dicirikan dengan adanya penebalan pada lapisan ektoderm membentuk neural plate (Gambar 3A), kemudian membentuk neural groove dan
6 Jurnal Pelangi 147 neural fold (Gambar 3 B) dan diakhiri dengan terbentuknya neural tube (bumbung neural) (Gambar 3 C). Menurut Lufri dan Helendra (22) bahwa pada saat embrio memasuki tahap neurulasi terjadi penebalan ektoderm saraf pada sisi dorsal embrio. Penebalan itu berbentuk keping sehingga disebut keping saraf (neural plate). dan endoderm. Perkembangan lapisan ektoderm akan membentuk sistem saraf, otak dan mata. dengan proses pembentukan jantung dan sistem sirkulasi (Gambar 4C). Setelah proses Neurulasi selesei maka embrio katak akan memasuki tahap selanjutnya yaitu tahap Organogenesis. Pada tahap organogenesis (pembentukan otak) ini perlakuan yang menunjukkan proses perkembangan paling cepat masih pada perlakuan D yaitu dengan waktu 19 jam. Pada tahap organogenesis terjadi proses perkembangan dari lapisan lembaga ektoderm, mesoderm dan endoderm. Perkembangan lapisan ektoderm akan membentuk sistem saraf, otak dan mata. dengan proses pembentukan jantung dan sistem sirkulasi (Gambar 4C). Induksi Ploidisasi. Poliploidi pada katak R. cancrivora dapat dilihat pada Tabel 2 Tabel 1. Waktu perkembangan embrio setelah diberi kejutan suhu 36 C selama 1 menit Tahapan Waktu perkembangan (jam) A B C D E 2 sel 1,3 1,1 1,18 1, 1,27 4 sel 2, 1, 1,2 1, 1,24 Morula 3, 2, 2,3 2, 2,4 Blastula 8, 6, 6,35 6, 7,5 Gastrula 11, 9,17 9,45 9, 1, Neurula awal 14, 1,45 11, 1,3 11,26 Neurula akhir 16,5 12,2 13, 12, 13,25 Kuncup ekor 24, 2, 2,4 19, 21,33 Haching 81, 73, 75,2 67,3 78,3
7 148 Ria Kasmeri, Elza Safitri Gbr 1.Tahapan Perkembangan Embrio. A.Telur yang sudah difertilisasi. B. Tahap pembelahan 2 sel. C. Tahap pembelahan 4 sel. D. Tahap pembelahan 32 sel. E. Tahap pembelahan 64 sel (Morula). F. Tahap pembelahan 128 sel (Blastula). Ket : a (kutub animal), b (kutub vegetal), c (Gray Crescent). Perbesaran 4x1. Gbr 2. Tahapan Gastrulasi. A. Gastrulasi awal (pembentukan bibir dorsal). B dan C Pembentukan Yolk Plug (sumbat yolk). Ket: a (bibir dorsal), b (sumbat yolk). Perbesaran 4x1. Gbr 3.Tahapan Neurulasi. A. Pembentukan Neural Plate (keping saraf). B. Pembentukan Neural Groove (lipatan saraf ). C. Pembentukan Neural Tube (bumbung neural). Ket: a (penebalan e ktoderm membentuk neural plate), b (neural groove), c (neural fold) dan d (neural tube). Perbesaran 4x1
8 Jurnal Pelangi 149 Gbr 4. Tahap Organogenesis. A. Pembentukan otak dan Tail Bud awal. B dan C. Pembentukan Tail Bud akhir (Gill Sirculation da n Elongasi). Ket: a (otak primitif), b (tail bud), c (gill sirculation), d (ekor). Perbesaran 4x1 Gbr 4. Tahap Organogenesis. A. Pembentukan otak dan Tail Bud awal. B dan C. Pembentukan Tail Bud akhir (Gill Sirculation da n Elongasi). Ket: a (otak primitif), b (tail bud), c (gill sirculation), d (ekor). Perbesaran 4x1 Tabel 2. Jumlah poliploidi pada katak R. cancrivora Perlakuan Ulangan A B C D E Jumlah Individu 2n Jumlah Individu Poliploid Dari tabel 2 diketahui bahwa induksi kejutan suhu 36 C terhadap katak R. cancrivora pada waktu yang berbeda setelah fertilisasi selama 1 menit tidak satupun dari perlakuan didapatkan individu yang poliploidi. Semua individu katak R. cancrivora baik perlakuan B, C, D dan E tidak ada yang menunjukkan jumlah kromosom yang lebih dari 2n (diploid). Tidak ditemukannya individu katak R. cancrivora poliploid (triploid dan tetraploid) dikarenakan oleh waktu pemberian kejutan dan lama kejutan yang kurang tepat. Untuk individu triploid kejutan suhu diberikan agar mampu mencegah terjadinya pelepasan polar body II, namun dari penelitian tidak didapatkan individu yang triploid. Hal ini diduga karena waktu pemberian kejutan dan lama kejutan yang kurang tepat. Kadi (27) menyatakan bahwa proses triploid pada ovum dimaksudkan untuk mencegah atau menahan peloncatan polar body II dari ovum. Sedangkan untuk individu tetraploid kejutan suhu diberikan untuk mampu mencegah terjadinya proses pembelahan I, namun hal ini juga tidak ditemukan karena waktu pemberian kejutan dan lama kejutan yang kurang tepat
9 Ria Kasmeri, Elza Safitri Gambar 5. Penyebaran kromosom pada perlakuan C dan D yang memperlihatkan jumlah kromosom diploid (2n). Dari gambar di atas terlihat bahwa jumlah kromosom pada katak R. cancrivora masih diploid (2n) dan tidak menunjukkan adanya jumlah kromosom yang poliploid. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai Induksi Kejutan Suhu 36⁰C terhadap Perkembangan Embrio dan Keberhasilan Poliploidisasi Katak R. cancrivora maka didapatkan kesimpulan bahwa : Pemberian Induksi Kejutan Suhu 36 C selama 1 menit dengan waktu yang berbeda-beda setelah fertilisasi berpengaruh terhadap perkembangan embrio katak R. cancrivora. Semua perlakuan lebih cepat waktunya daripada perlakuan tanpa kejutan suhu (kontrol) dan yang paling cepat waktunya adalah pada perlakuan D (45 menit setelah fertilisasi). Pemberian Induksi Kejutan Suhu 36⁰C tidak berpengaruh terhadap poliploidisasi katak R. cancrivora, karena tidak ditemukan individu yang poliploid untuk masing-masing perlakuan. Berdasarkan penelitian disarankan agar dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan melakukan pengamatan dari rentang waktu awal fertilisasi sampai terjadinya pembelahan pertama yaitu 1,3 jam setelah fertilisasi. UCAPAN TERIMAKASIH Penelitian ini terselenggara atas bantuan dari DP2M Dikti yang telah memberikan tempat pelaksanaan penelitian. DAFTARPUSTAKA Arie, Usni. (1999). Pembibitan dan Pembesaran Bullfrog. Penebar Swadaya. Don, J., Avtalion RR. (1986). The Induction of Triploidy in Oreochromis aureus by Heat Shock. Theor.Appl. Genet, 72 : Fischberg, M. (1958). Experimental Tetraploidy in Newts. Journal Embriol. Exp. Morph. Vol. 6, Part 3,pp Komen J, (199). Clones of Common Carp, Cyprinus carpio. New Perspectives in Fish Research. Thesis. Agricultural University. Wageningen Mukti, A. Taufiq., Rustidja., S.B Sumitro dan M.S. Djati. (21). Poliploidisasi Ikan Mas (Cyprinus carpio L.). Polyploidyzation of Common Carp (Cyprinus carpio L.). BIOSAIN, Vol 1 No 1.
10 Jurnal Pelangi 1 Pandian TJ, dan Varadaraj K, (199). Techniques for Producing All Male and All Triploid Oreochromis mossambicus. Dalam: Pullin RSV, Bhukaswan T, Tongthai K, dan Maclean J, (Eds.) The Second International Symposium on Tilapia in Aquaculture. ICLARM. Conference Proceedings. Departement of Fisheries Bangkok Thailand and International Center for Living Aquatic Resources Management Manila Philippines Rustidja, (1991). Aplikasi Manipulasi Kromosom pada Program Pembenihan Ikan. Makalah dalam Konggres Ilmu Pengetahuan Nasional V. Jakarta. 23. Rustidja. (24). Pemijahan Buatan Ikan-Ikan Daerah Tropis. Bahtera Press. Malang. Hal. 91. Sistina, Y. (2). Biologi Reproduksi, Fak. Biologi Unsoed, Pasca sarjana, Purwokerto : hal 66 Susilo, A.B., Purwadaksi Rahmat. (21). Dahsyatnya Bisnis Tokek. Penerbit : Agromedia Pustaka.
POLIPLOIDISATION ANALYSIS OF FROG RANA CANCRIVORA POLIPLOIDISASI KATAK RANA CANCRIVORA. Ria Kasmeri
POLIPLOIDISATION ANALYSIS OF FROG RANA CANCRIVORA POLIPLOIDISASI KATAK RANA CANCRIVORA Ria Kasmeri Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat. Jl. Gunung Pangilun Padang, Kota Padang, Sumatera
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai dengan November 2017, selama 80 hari, 40 hari proses triploidisasi di ruang karantinainstalasi Budidaya
JUMLAH KROMOSOM DAN ANAK INTI IKAN TAWES DIPLOID (Puntius gonionotus Blkr.)
Jumlah Kromosom dan Anak Inti Ikan Tawes Diploid (Puntius gonionotus Blkr.) (Sukaya Sastrawibawa) JUMLAH KROMOSOM DAN ANAK INTI IKAN TAWES DIPLOID (Puntius gonionotus Blkr.) Sukaya Sastrawibawa Fakultas
BAB III BAHAN DAN METODE
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hewan Air Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, pada bulan Maret 2013 sampai dengan April 2013.
bio.unsoed.ac.id III. METODE PENELITIAN A. Materi 1. Materi Penelitian
III. METODE PENELITIAN A. Materi 1. Materi Penelitian Materi penelitian berupa benih ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) berumur 1, 2, 3, dan 4 bulan hasil kejut panas pada menit ke 25, 27 atau 29 setelah
III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Induk 3.3 Metode Penelitian
III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2009 sampai dengan Februari 2010 di Stasiun Lapangan Laboratorium Reproduksi dan Genetika Organisme Akuatik, Departemen
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Pengambilan data penelitian telah dilaksanakan pada bulan Desember 2012 sampai bulan Januari 2013 bertempat di Hatcery Kolam Percobaan Ciparanje
Sub Bab Gastrulasi mengatur kembali blastula untuk membentuk sebuah embrio berlapis tiga dengan perut primitif
UNIT TUJUH BENTUK DAN FUNGSI HEWAN BAB 47 Perkembangan Hewan Sub Bab mengatur kembali blastula untuk sebuah embrio berlapis tiga perut primitif Teks Asli Penghapusan Penyisipan Teks Dasar Proses morfogenetik
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari-April Penelitian ini
28 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari-April 2013. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Botani Jurusan Biologi Fakultas MIPA. B.
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN A. Alat dan Bahan Materi penelitian berupa larva dari nilem umur 1 hari setelah menetas, yang diperoleh dari pemijahan induksi di Laboratorium Struktur Perkembangan Hewan Fakultas
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2012. Pengamatan berat telur, indeks bentuk telur, kedalaman kantung udara, ketebalan kerabang, berat kerabang
SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 1. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGANLatihan Soal 1.3. igotik. Embrionik. Pasca lahir
1. Metamorfosis merupakan tahap pada fase... SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 1. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGANLatihan Soal 1.3 igotik Embrionik Pasca embrionik Pasca lahir Fase Pasca Embrionik Yaitu pertumbuhan
PENGARUH PEMBERIAN LAMA WAKTU KEJUTAN SUHU TERHADAP TINGKAT KEBERHASILAN GINOGENESIS IKAN KOI (Cyprinus carpio)
PENGARUH PEMBERIAN LAMA WAKTU KEJUTAN SUHU TERHADAP TINGKAT KEBERHASILAN GINOGENESIS IKAN KOI (Cyprinus carpio) R. Selfi Nendris Sulistiawan, S.Pi * Rukoyah, S.Pi ** RINGKASAN Ginogenesis adalah suatu
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Jenis Kelamin Belut Belut sawah merupakan hermaprodit protogini, berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa pada ukuran panjang kurang dari 40 cm belut berada pada
PENGARUH KEJUTAN SUHU PANAS DAN LAMA WAKTU SETELAH PEMBUAHAN TERHADAP DAYA TETAS DAN ABNORMALITAS LARVA IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
PENGARUH KEJUTAN SUHU PANAS DAN LAMA WAKTU SETELAH PEMBUAHAN TERHADAP DAYA TETAS DAN ABNORMALITAS LARVA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) ARTIKEL ILMIAH SKRIPSI Oleh: HERLIANA ARSIANINGTYAS SIDOARJO JAWA
4/18/2015 MORFOGENESIS BY : I GEDE SUDIRGAYASA GAMBARAN UMUM MEKANISME MORFOGENE SIS TOPIK GASTRULASI ORGANOGEN ESIS
MORFOGENESIS BY : I GEDE SUDIRGAYASA GAMBARAN UMUM MEKANISME MORFOGENE SIS TOPIK GASTRULASI ORGANOGEN ESIS 1 2 MORFOGENESIS PADA HEWAN MELIBATKAN PERUBAHAN TERTENTU DALAM BENTUK SEL, POSISI, DAN KELANGSUNGAN
BAHAN DAN METODE. Tabel 1. Subset penelitian faktorial induksi rematurasi ikan patin
II. BAHAN DAN METODE 2.1 Pelaksanaan Penelitian Penelitian ini merupakan bagian dari subset penelitian faktorial untuk mendapatkan dosis PMSG dengan penambahan vitamin mix 200 mg/kg pakan yang dapat menginduksi
PENGARUH KEJUTAN SUHU PANAS DAN LAMA WAKTU SETELAH PEMBUAHAN TERHADAP DAYA TETAS DAN ABNORMALITAS LARVA IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 1, No. 2, November 2009 PENGARUH KEJUTAN SUHU PANAS DAN LAMA WAKTU SETELAH PEMBUAHAN TERHADAP DAYA TETAS DAN ABNORMALITAS LARVA IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Ginogenesis Ginogenesis pada penelitian dilakukan sebanyak delapan kali (Lampiran 3). Pengaplikasian proses ginogenesis ikan nilem pada penelitian belum berhasil dilakukan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pemeliharaan Induk Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk terlebih dahulu di kolam pemeliharaan induk yang ada di BBII. Induk dipelihara
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian pengaruh ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) terhadap
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian pengaruh ekstrak daun sirsak (Annona muricata L.) terhadap kadar glukosa darah dan histologi pankreas tikus (Rattus norvegicus) yang diinduksi
Kejutan suhu pada penetasan telur dan sintasan hidup larva ikan lele. Clarias gariepinus)
Kejutan suhu pada penetasan telur dan sintasan hidup larva ikan lele (Clarias gariepinus) (Temperature shock on egg hatching and survival rate of catfish larvae, Clarias gariepinus) Christo V. S. Aer 1,
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen, karena
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen, karena dalam penelitian ini dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian
TEKNIK PRODUKSI INDUK BETINA IKAN NILA. T. Yuniarti, Sofi Hanif, Teguh Prayoga, Suroso
TEKNIK PRODUKSI INDUK BETINA IKAN NILA T. Yuniarti, Sofi Hanif, Teguh Prayoga, Suroso Abstrak Dalam rangka memenuhi kebutuhan induk betina sebagai pasangan dari induk jantan YY, maka diperlukan suatu teknologi
Yunus Ayer*, Joppy Mudeng**, Hengky Sinjal**
Daya Tetas Telur dan Sintasan Larva Dari Hasil Penambahan Madu pada Bahan Pengencer Sperma Ikan Nila (Oreochromis niloticus) (Egg Hatching Rate and Survival of Larvae produced from Supplementation of Honey
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan Rancangan
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan di kelompokkan menjadi 4 kelompok dengan ulangan
III. BAHAN DAN METODE
8 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2008 sampai dengan bulan Juli 2009 di Kolam Percobaan Babakan, Laboratorium Pengembangbiakkan dan Genetika Ikan
Pematangan Gonad di kolam tanah
Budidaya ikan patin (Pangasius hypopthalmus) mulai berkemang pada tahun 1985. Tidak seperti ikan mas dan ikan nila, pembenihan Patin Siam agak sulit. Karena ikan ini tidak bisa memijah secara alami. Pemijahan
II. METODOLOGI 2.1 Prosedur Pelaksanaan Penentuan Betina dan Jantan Identifikasi Kematangan Gonad
II. METODOLOGI 2.1 Prosedur Pelaksanaan Ikan uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah belut sawah (Monopterus albus) yang diperoleh dari pengumpul ikan di wilayah Dramaga. Kegiatan penelitian terdiri
MATERI DAN METODE. Materi
MATERI DAN METODE Waktu dan Lokasi Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Mei 2012. Persiapan telur tetas dan penetasan dilaksanakan di Laboratorium Penetasan Telur, Departemen Ilmu
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen karena
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen karena dalam penelitian ini dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
15 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ini dilakukan pada 8 induk ikan Sumatra yang mendapat perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukan Spawnprime A dapat mempengaruhi proses pematangan akhir
Embriogenesis. Titta Novianti
Embriogenesis Titta Novianti EMBRIOGENESIS Proses embriogenesis adalah rangkaian proses yang terjadi sesaat setelah terjadi pembuahan sel telur oleh sperma Proses embriogenesis meliputi; fase cleavage
PENGARUH LAMA WAKTU PEMBERIAN KEJUTAN DINGIN PADA PEMBENTUKAN INDIVIDU TRIPLOID IKAN PATIN (Pangasius sp)
AQUASAINS (Jurnal Ilmu Perikanan dan Sumberdaya Perairan) PENGARUH LAMA WAKTU PEMBERIAN KEJUTAN DINGIN PADA PEMBENTUKAN INDIVIDU TRIPLOID IKAN PATIN (Pangasius sp) Dwi Puji Hartono 1 Dian Febriani 1 Ringkasan
BAB III BAHAN DAN METODE
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini terdiri dari dua tahap, tahap pertama dilaksanakan di laboratorium bioteknologi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad, tahap
bio.unsoed.ac.id III. METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian 1. Materi Penelitian
III. METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian 1. Materi Penelitian Materi yang diteliti adalah ikan nilem ( Osteochilus hasselti C. V.), pada tahap perkembangan juvenil berumur 13 minggu
PANDUAN PRAKTIKUM MATA KULIAH TEKNIK PEMBENIHAN IKAN (LUHT 4434)
PANDUAN PRAKTIKUM MATA KULIAH TEKNIK PEMBENIHAN IKAN (LUHT 4434) Praktikum Teknik Pembenihan Ikan dimaksudkan untuk memberikan pengalaman lapangan kepada Saudara tentang berbagai hal yang berkaitan dengan
ANALISA JUMLAH KROMOSOM IKAN MAS KOKI (Carrasius auratus) TETRAPLOID YANG DIHASILKAN DENGAN METODE KEJUTAN PANAS
Jurnal Perikanan UGM (GMU J. Fish. Sci.) VI (1) : 1-8 ISSN : 0853-6384 ANALISA JUMLAH KROMOSOM IKAN MAS KOKI (Carrasius auratus) TETRAPLOID YANG DIHASILKAN DENGAN METODE KEJUTAN PANAS ANALYSES OF CHROMOSOM
MODUL PERKEMBANGAN HEWAN : FERTILISASI. Oleh Siti Pramitha Retno Wardhani, S.Si
MODUL PERKEMBANGAN HEWAN : FERTILISASI Oleh Siti Pramitha Retno Wardhani, S.Si Tahapan-tahapan utama perkembangan hewan: 1. Fertitisasi 2. Cleavage 3. Gastrulasi 4. Organogenesis Fertilisasi Fertilisasi
EMBRIOLOGI MAS BAYU SYAMSUNARNO MK. FISIOLOGI HEWAN AIR
EMBRIOLOGI MAS BAYU SYAMSUNARNO MK. FISIOLOGI HEWAN AIR AWAL KEHIDUPAN SEL TELUR SPERMATOZOA ZIGOT EMBRIO Fertilisasi/Pembuahan Diawali dengan masuknya sperma ke dalam sel telur melalui mikropil pada khorion
BAB III METODE PENELITIAN. (BALITTAS) Karangploso Malang pada bulan Maret sampai Mei 2014.
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat (BALITTAS) Karangploso Malang pada bulan Maret sampai Mei 2014. 3.2 Alat dan Bahan
Lampiran 1. Road-map Penelitian
LAMPIRAN Lampiran 1. Road-map Penelitian Persiapan Penelitian Persiapan wadah dan ikan uji (15-30 Agustus 2013) Bak ukuran 45x30x35cm sebanyak 4 buah dicuci, didesinfeksi, dan dikeringkan Diletakkan secara
BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah eksperimen. Penelitian eksperimen merupakan
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah eksperimen. Penelitian eksperimen merupakan manipulasi terhadap objek penelitian serta terdapat kontrol (Nazir,2003: 63). B. Desain
Penelitian ini dilakukan di laboratorium Balai Benih Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu
nr. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan di laboratorium Balai Benih Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau pada tanggal 10 sampai dengan 28 Desember 2003.
III. MATERI DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Oktober 2011, di
III. MATERI DAN METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Oktober 2011, di Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. B.
METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi Fakultas
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Zoologi Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung pada bulan Januari
BAB III METODE PENELITIAN. Faktor I adalah variasi konsentrasi kitosan yang terdiri dari 4 taraf meliputi:
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian akan dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor pertama adalah kadar kitosan yang terdiri dari : 2%, 2,5%, dan 3%.
BAB III METODE PENELITIAN. kentang varietas Granola Kembang yang diambil dari Desa Sumberbrantas,
33 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Percobaan Penelitian ini merupakan penelitian eksplorasi dan eksperimen yaitu dengan cara mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri endofit dari akar tanaman kentang
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga Mei 2015.
19 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April hingga Mei 2015. Penginduksian zat karsinogen dan pemberian taurin kepada hewan uji dilaksanakan di
BAB III METODE PENELITIAN. rancangan penelitian yang digunakan adalah acak lengkap dengan lima kelompok,
BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan dan Desain Penelitian Penelitian yang dilaksanakan merupakan penelitian eksperimen, rancangan penelitian yang digunakan adalah acak lengkap dengan lima kelompok,
III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2011, di
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2011, di Laboratorium Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. B. Alat
PERBEDAAN KEBERHASILAN TINGKAT POLIPLOIDISASI IKAN MAS (Cyprinus carpio Linn.) MELALUI KEJUTAN PANAS
Berk. Penel. Hayati: 10 (133 138), 2005 PERBEDAAN KEBERHASILAN TINGKAT POLIPLOIDISASI IKAN MAS (Cyprinus carpio Linn.) MELALUI KEJUTAN PANAS Akhmad Taufiq Mukti Bagian Anatomi Veteriner (Embriologi) &
Gambar tahap perkembangan embrio ikan lele
Perkembangan embrio diawali saat proses impregnasi, dimana sel telur (ovum) dimasuki sel jantan (spermatozoa). Proses pembuahan pada ikan bersifat monospermik, yakni hanya satu spermatozoa yang akan melewati
UNIVERSITAS GADJAH MADA LABORATORIUM GENETIKA DAN PEMULIAAN
Halaman : 1 dari 5 METODE PREPARASI KROMOSOM HEWAN DENGAN METODE SQUASH 1. RUANG LINGKUP Metode ini digunakan untuk penentuan jam pembelahan sel dan jumlah kromosom. 2. ACUAN NORMATIF Amemiya, C.T., J.W.
MATERI DAN METODE di Laboratorium Teknologi Pasca Panen, Ilmu Nutrisi dan Kimia Fakultas
III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini sudah dilaksanakan pada bulan Oktober sampai November 2014 di Laboratorium Teknologi Pasca Panen, Ilmu Nutrisi dan Kimia Fakultas Pertanian dan
Lampiran 1. Road-map Penelitian
LAMPIRAN Lampiran 1. Road-map Penelitian Persiapan Penelitian Persiapan wadah dan ikan uji Bak ukuran 40x30x30cm sebanyak 4 buah dicuci, didesinfeksi, dan dikeringkan Diletakkan secara acak dan diberi
BAB III METODE PENELITIAN. Nazir (1999: 74), penelitian eksperimental adalah penelitian yang dilakukan
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang telah dilakukan ini bersifat eksperimen. Menurut Nazir (1999: 74), penelitian eksperimental adalah penelitian yang dilakukan dengan memanipulasi
BAB III BAHAN DAN METODE
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 23 Februari sampai 11 Maret 2013, di Laboratorium Akuakultur dan untuk pengamatan selama endogenous
BAB III BAHAN DAN METODE. 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di PT. Peta Akuarium, Bandung pada bulan April hingga Mei 2013.
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di PT. Peta Akuarium, Bandung pada bulan April hingga Mei 2013. 3.2 Alat dan Bahan Penelitian 3.2.1 Alat-alat Penelitian
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu Dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga bulan September 2013 bertempat di Laboratorium Fisisologi Hewan Air dan hatchery Ciparanje
PETUNJUK PRAKTIKUM TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN TEKNOLOGI PEMIJAHAN IKAN DENGAN CARA BUATAN (INDUCE BREEDING)
PETUNJUK PRAKTIKUM TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN TEKNOLOGI PEMIJAHAN IKAN DENGAN CARA BUATAN (INDUCE BREEDING) DISUSUN OLEH : TANBIYASKUR, S.Pi., M.Si MUSLIM, S.Pi., M.Si PROGRAM STUDI AKUAKULTUR FAKULTAS
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian. Bahan dan Alat Metode Penelitian Pembuatan Larutan Ekstrak Rumput Kebar
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2008 sampai dengan Mei 2009. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi, Departemen Anatomi, Fisiologi
3.KUALITAS TELUR IKAN
3.KUALITAS TELUR IKAN Kualitas telur dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi: umur induk, ukuran induk dan genetik. Faktor eksternal meliputi: pakan,
Gambar^. Induk selais betina yang digabung dengan induk jantan. 3.4.3 Pemijahan Semi Alami Tahapan pekerjaan pada pemijahan semi alami/ semi buatan adalah : a. Seleksi induk jantan dan betina matang gonad
PEMBENIHAN KAKAP PUTIH (Lates Calcarifer)
PEMBENIHAN KAKAP PUTIH (Lates Calcarifer) 1. PENDAHULUAN Kakap Putih (Lates calcarifer) merupakan salah satu jenis ikan yang banyak disukai masyarakat dan mempunyai niali ekonomis yang tinggi. Peningkatan
TINGKAT KEMATANGAN GONAD KEPITING BAKAU (Scylla serrata Forskal) DI HUTAN MANGROVE TELUK BUO KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG
TINGKAT KEMATANGAN GONAD KEPITING BAKAU (Scylla serrata Forskal) DI HUTAN MANGROVE TELUK BUO KECAMATAN BUNGUS TELUK KABUNG KOTA PADANG SS Oleh: Ennike Gusti Rahmi 1), Ramadhan Sumarmin 2), Armein Lusi
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan. menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan 5
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan 5 ulangan, perlakuan yang digunakan
UNIVERSITAS GADJAH MADA LABORATORIUM GENETIKA DAN PEMULIAAN
Halaman : 1 dari 5 METODE PREPARASI KROMOSOM DENGAN METODE SQUASH 1. RUANG LINGKUP Metode ini digunakan untuk penentuan jam pembelahan sel dan jumlah kromosom. 2. ACUAN NORMATIF Aristya, G.R., Daryono,
METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - Oktober 2013 di Balai Besar
III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus - Oktober 2013 di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung tepatnya di Laboratorium Pembenihan Kuda
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh pemberian ekstrak etanol daun sirsak (Annona
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian tentang pengaruh pemberian ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.) terhadap morfologi dan histologi hepar mencit betina (Mus musculus)
KHAIRUL MUKMIN LUBIS IK 13
PEMBENIHAN : SEGALA KEGIATAN YANG DILAKUKAN DALAM PEMATANGAN GONAD, PEMIJAHAN BUATAN DAN PEMBESARAN LARVA HASIL PENETASAN SEHINGGA MENGHASILAKAN BENIH YANG SIAP DITEBAR DI KOLAM, KERAMBA ATAU DI RESTOCKING
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PADA HEWAN
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PADA HEWAN Standar Kompetensi: Memahami konsep tumbuh kembang tumbuhan, hewan, dan manusia Kompetensi Dasar: Memahami konsep tumbuh kembang hewan Click to edit Master subtitle
BAB III METODE PENELITIAN. digunakan dalam penelitian ini yaitu tikus putih (Rattus norvegicus) Penelitian ini
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan empat ulangan. Hewan coba yang digunakan
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
BAHAN DAN METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan mulai bulan Juni 2010 sampai dengan bulan Desember 2010 di kandang percobaan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian
II. METODOLOGI. a) b) Gambar 1 a) Ikan nilem hijau ; b) ikan nilem were.
II. METODOLOGI 2.1 Materi Uji Sumber genetik yang digunakan adalah ikan nilem hijau dan ikan nilem were. Induk ikan nilem hijau diperoleh dari wilayah Bogor (Jawa Barat) berjumlah 11 ekor dengan bobot
BAB III METODE PENELITIAN. ayam broiler terhadap kadar protein, lemak dan bobot telur ayam arab ini bersifat
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Percobaan Penelitian tentang peran pemberian metionin dan linoleat pada tepung kaki ayam broiler terhadap kadar protein, lemak dan bobot telur ayam arab
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Ternak Peralatan Prosedur
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Peternakan Domba Indocement Citeureup, Bogor selama 10 minggu. Penelitian dilakukan pada awal bulan Agustus sampai pertengahan bulan Oktober
BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang populasi bakteri dan keberadaan bakteri gram pada
10 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian tentang populasi bakteri dan keberadaan bakteri gram pada pellet calf starter dengan penambahan bakteri asam laktat dari limbah kubis terfermentasi telah dilaksanakan
METODE PENELITIAN. : Nilai pengamatan perlakuan ke-i, ulangan ke-j : Rata-rata umum : Pengaruh perlakuan ke-i. τ i
13 METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lab. KESDA provinsi DKI Jakarta (analisis kandungan senyawa aktif, Pimpinella alpina), Lab. Percobaan Babakan FPIK (pemeliharaan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas
6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Morfologi Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas Branchiopoda, Divisi Oligobranchiopoda, Ordo Cladocera, Famili Daphnidae,
BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian dan Analisis Data Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian deskriptif. Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif meliputi
I. METODE PENELITIAN. Penelitian dan pembuatan preparat ulas darah serta perhitungan hematokrit sel
I. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dan pembuatan preparat ulas darah serta perhitungan hematokrit sel darah merah dilakukan pada bulan Juli 2012 di Laboratorium Perikanan Jurusan
III. METODE PENELITIAN
19 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian telah dilakukan pada bulan November Desember 2013, bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. 3.2 Alat
1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan Pengertian pertumbuhan adalah Proses pertambahan volume dan jumlah sel sehingga ukuran tubuh makhluk hidup tersebut bertambah besar. Pertumbuhan bersifat irreversible
BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan empat ulangan.hewan
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan empat ulangan.hewan coba yang
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus var) menurut Kordi, (2010) adalah. Subordo : Siluroidae
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus var) Klasifikasi ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus var) menurut Kordi, (2010) adalah sebagai berikut : Phylum
MATERI DAN METODE. Materi
MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Pemeliharaan ayam dan penampungan semen dilakukan di Kandang B, Laboratorium Lapang, Bagian Ilmu Produksi Ternak Unggas, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
BAHAN DAN METODE. 3.1 Waktu dan tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Agustus 2009 di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi.
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Agustus 2009 di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Jambi. 3.2 Alat dan bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam
Pengaruh Jarak Waktu Pemberian Kejutan Dingin pada Pembentukan Individu Triploid Ikan Patin (Pangasius Sp)
Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol. 12 (3): 156-162 ISSN 1410-5020 Pengaruh Jarak Waktu Pemberian Kejutan Dingin pada Pembentukan Individu Triploid Ikan Patin (Pangasius Sp) Effect of Temperature
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengaruh pemberian tepung keong mas (Pomacea
50 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian tentang pengaruh pemberian tepung keong mas (Pomacea canaliculata) dan tepung paku air (Azolla pinnata) terfermentasi terhadap produktivitas,
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2014 di Laboratorium
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April-Mei 2014 di Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Maulana
PEMIJAHAN LELE SEMI INTENSIF
PEMIJAHAN LELE SEMI INTENSIF PEMIJAHAN LELE SEMI INTENSIF Pemijahan ikan lele semi intensif yaitu pemijahan ikan yang terjadi dengan memberikan rangsangan hormon untuk mempercepat kematangan gonad, tetapi
3. METODE PENELITIAN. Gambar 3. Peta daerah penangkapan ikan kuniran di perairan Selat Sunda Sumber: Peta Hidro Oseanografi (2004)
12 3. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-September 2011 dengan waktu pengambilan contoh setiap satu bulan sekali. Lokasi pengambilan ikan contoh
TUGAS AKHIR - SB Oleh: ARSETYO RAHARDHIANTO NRP DOSEN PEMBIMBING : Dra. Nurlita Abdulgani, M.Si Ir. Ninis Trisyani, MP.
TUGAS AKHIR - SB 091358 Oleh: ARSETYO RAHARDHIANTO NRP. 1507 100 016 DOSEN PEMBIMBING : Dra. Nurlita Abdulgani, M.Si Ir. Ninis Trisyani, MP. Kebutuhan pangan (ikan air tawar) semakin meningkat Kualitas
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan
37 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan 5 ulangan, perlakuan yang digunakan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial. Sampel yang digunakan berjumlah 24, dengan
ANALISIS JUMLAH KROMOSOM PADA TRIPLOIDISASI IKAN MAS (Cyprinus carpio Linn) RAS PUNTEN DENGAN LAMA PERENDAMAN KEJUT SUHU PANAS YANG BERBEDA
ANALISIS JUMLAH KROMOSOM PADA TRIPLOIDISASI IKAN MAS (Cyprinus carpio Linn) RAS PUNTEN DENGAN LAMA PERENDAMAN KEJUT SUHU PANAS YANG BERBEDA Rahmad Hendro Susilo 1, Farikhah 2, dan Andi Rahmad Rahim 2 1)
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Fekunditas Pemijahan
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Berdasarkan tingkat keberhasilan ikan lele Sangkuriang memijah, maka dalam penelitian ini dibagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok perlakuan yang tidak menyebabkan
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2006, Agustus 2006 Januari 2007 dan Juli 2007 di Daerah Aliran Sungai (DAS) Musi dengan sumber air berasal dari
