BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Basis Data Terdistribusi Sistem Basis Data Terdistribusi Dalam pengelolaan basis data terdapat dua sistem basis data, yaitu Basis Data Terpusat ( Centralized ) dan Basis Data Terdistribusi ( Distributed ). Perbedaan utama antara sistem basis data terpusat dan terdistribusi adalah jika pada sistem basis data terpusat, data ditempatkan di satu lokasi saja dan semua lokasi lain dapat mengakses data di lokasi tersebut, sedangkan pada system basis data terdistribusi, data di tempatkan di banyak ( lebih dari satu ) lokasi, tetapi menerapkan suatu mekanisme tertentu untuk membuatnya menjadi satu kesatuan basis data, dan hal ini berbeda dengan system basis data terpisah (Isolated) yang mana dalam sistem basis data terpisah, basis data ditempatkan di banyak lokasi, tetapi tidak saling berhubungan sama sekali. Menurut Özsu MT, Valduriez P. (1999) Basis Data Terdistribusi didefinisikan sebagai berikut : Suatu Basis Data Terdistribusi ( DDBS ) adalah suatu koleksi beberapa basis data yang secara logika saling berhubungan dan terdistribusi dalam suatu jaringan komputer, sedangkan Sistem Basis Data Manajemen Terdistribusi ( D-DBMS ) adalah Perangkat Lunak yang mengatur Basis Data Terdistribusi (DDB) dan menyediakan suatu mekanisme akses yang membuat distribusi ini dapat diketahui oleh pemakai. Jadi Sistem Basis Data Terdistribusi ( DDBS )= DDB+ D-DBMS Lokasi-lokasi penempatan basis data dapat terlihat dalam Gambar 1.

2 5 Site 2 Site 1 Site 3 Site 4 Communication Network Site 4 Gambar 1. Lingkungan Basis Data Terdistribusi ( Valduriez P. 1999) Arsitektur Sistem Basis Data Terdistribusi Dalam arsitektur basis data terdistribusi konsep basis data relasional lebih banyak digunakan, karena dalam operasionalnya dapat disesuaikan dengan sistem basis data terpusat, secara formal relasional basis data terdistribusi mencakup : Global Level, Fragmentation Level dan Allocation Level ( Kuijk 2000 ) dan hal ini dapat terlihat dalam Gambar 2 berikut.

3 6 Distributed Database Systems Global Schema Site Independent Fragmentation Schema Allocation Schema Site dependent Site 1 Site 2 Site n Gambar 2 : Arsitektur Sistem Basis Data Terdistribusi (Kuijk 2000) - Global Level : suatu skema basis data secara global yang menggambarkan basis data terdistribusi yang seolah-olah tidak seluruhnya terdistribusi. - Fragmentation level : suatu skema fragmentasi yang menggambarkan suatu pemetaan antara relasi individu dengan fragmentasinya - Allocation Level : suatu skema alokasi yang menggambarkan pemetaan antara fragmen individu dimana basis data disimpan Dalam melakukan fragmentasi terdapat kriteria-kriteria yang harus dipenuhi, yaitu : Reconstruction Condition, Completeness Condition dan Disjointness Condition (Kuijk 2000)

4 7 Jika R adalah tabel relasi, A i adalah atribut dari R, r adalah record dari R dan F i kondisi dari operasi seleksi, maka hasil fragmentasi dapat direkonstruksi terlihat dalam Tabel 1. Tabel 1: Fragmentasi Horizontal, Vertical dan Mixed Fragmentasi (Kuijk 2000). Type Partitioning Reconstruction r R = i σ F ( r R ) ( ) ( ) i r R U n i = r R i=1 i Horizontal ( ) ( ) Vertical Mixed r r ( R ) = ( r( R) ) i π A i ( R ) = π ( σ ( r( R)) ) i A i Fi r n r ( R i ) = π Ai (r (R )) i = 1 n U 1 n r R i = 1 i1 U k i =1 1 k ( Ri ) = ( ) r( R ) ik 2.2 Konsep Aljabar Relasional. Relasi aljabar adalah bahasa prosedural, dan salah satu cara untuk membangun relasi satu atau lebih relasi berdasarkan konsep aljabar. Dalam basis data relasional relasi aljabar mempelajari bagaimana struktur properti dan kendala-kendala akan menjadi dasar dalam operasi basis data, formulasi query dipetakan pada relasi aljabar dan sejauh mana pendekatan teori set digunakan. Bahasa query memiliki sejumlah operasi yang memanfaatkan satu atau beberapa tabel/relasi basis data sebagai masukkan dan menghasilkan sebuah tabel/relasi basis data yang baru sebagai keluarannya. Operasi dasar dalam Aljabar Relasional antara lain mencakup : Select, Project, Cartesian-Product, Union, Set-Difference (Kuijk 2000). Konsep optimisasi query dalam Aljabar Relasional yang banyak digunakan adalah operasi-operasi yang berhubungan dengan operasi join. Dalam tesis ini ditampilkan sejumlah contoh dengan menggunakan skema tabel relasi berikut : peserta (notsp : integer, tgl_lhr : date, tmt_pst : date, gapok : integer) pensiun(nopen : integer, nama : string, tgl_kej : date) pmk_k1(notsp : integer, nopen : integer, tgl_kej : date)

5 8 Skema dari tabel-tabel relasi di atas ditunjukkan pada segmen Tabel 2, Tabel 3, Tabel 4 dan Tabel 5. Tabel 2. : Segmen Tabel peserta S 1 notsp tgl_lhr tmt_pst gapok /31/1955 1/1/ /18/1952 3/1/ Tabel 3 : Segmen Tabel peserta S 2 notsp tgl_lhr tmt_pst gapok /18/1952 3/1/ /30/1966 3/1/ /29/ /1/ Tabel 4 : Segmen Tabel pmk_ke1 R 1 notsp Nopen tgl_kej /31/ /23/ /21/1990 Tabel 5 : Segmen Tabel pensiun B 1 nopen Nama tgl_kej Nangkuh 12/31/ Abdul Hadi 12/23/ Siddik 13/21/ Selection Operasi Selection digunakan untuk memilih subset record-record dari tabel sebuah relasi yang memenuhi pilihan. Kondisi harus berupa formula yang proporsional. Tata cara penulisan yang digunakan pada operasi ini adalah : σ p (R) atau σ <selection condition> (R)

6 9 p adalah <selection condition> berupa predikat pada atribut-atribut di R, dan R adalah tabel/relasi yang akan diakses oleh operasi selection. Jika merujuk Tabel 2 pada tabel peserta, perintah mengambil baris data (record) peserta yang tanggal lahirnya 9/9/1969, maka operasi ini dapat dituliskan σ tgl_lhr = 9/9/1969 (peserta) Projection Operasi Projection dilakukan untuk memilih atribut-atribut dari tabel/relasi. dan dapat mengambil atribut satu atau lebih. Tata cara penulisan pada operasi ini adalah : Π <attribute list> (R) Atribut list adalah daftar atribut yang akan ditampilkan yang ada di R. Misalkan pada Tabel 2 yaitu dalam tabel peserta akan ditampilkan notsp dan tgl_lhr, untuk semua baris data yang ada pada tabel tersebut, maka perintahnya adalah : Π notsp,tgl_lhr (peserta) Dapat pula menampilkan berupa hasil operasi/query. Misalkan akan ditampilkan notsp dan tgl_lhr dngan tmt_pst pada tanggal 1/1/1975 saja, maka operasi seleksi dan projeksi harus digunakan secara bersamaan, seperti berikut : Π notsp,tgl_lhr (σ tmt_pst= 1/1/1975 (peserta)) Join. Operasi Join adalah untuk menggabungkan lebih dari satu tabel/relasi. Operasi Join dilambangkan dengan dan digunakan untuk mengkombinasikan hubungan record-record dari dua relasi kedalam record tunggal. Pada umumnya operasi PROJECT pada dua relasi R(A 1,A 2, A n ) dan S(B 1,B 2, B m ) ditunjukkan oleh : R <kondisi join> (S)

7 10 Hasil dari Join adalah sebuah relasi Q dengan n + m atribut Q(A 1,A 2, A n, B 1,B 2, B m ). Q mempunyai satu record untuk masing-masing kombinasi dari record, satu dari R dan satu dari S. Dalam join, hanya kombinasi-kombinasi dari record-record yang memenuhi kondisi join yang akan tampak pada hasil. Kondisi Join ditentukan oleh atribut-atribut dari relasi R dan S dan evaluasi untuk tiap kombinasi dari record-record Bentuk dari kondisi Join secara umum adalah : <condition> AND <condition> AND AND <condition> dimana tiap kondisi adalah bentuk dari A i θ B j. A i adalah sebuah atribut dari R dan B j adalah sebuah atribut dari S. A i dan B j mempunyai domain yang sama, dan θ (theta) adalah salah satu dari operator-operator pembanding {<,,,, >,}. Operasi Join dengan sebuah kondisi join yang umum disebut dengan theta join. Contoh : (R c S) = σ c (R x S) Jadi, ditentukan untuk menjadi sebuah cross product diikuti dengan satu selection, Jika diperhatikan c condition dapat merujuk ke atribut baik R maupun S. Referensi ke sebuah atribut dari sebuah relasi, misalnya R, dapat berdasarkan posisi (dari bentuk R i ) atau berdasarkan nama dan bentuk R name, merujuk pada Tabel 2 dan Tabel 4, maka hasil dari S 1 S1. notsp<r1.notsp R 1 ditunjukkan pada Tabel 6, notsp muncul baik dalam S 1 maupun R 1, maka atribut hasil dari cross product S 1 x R 1 tidak diberi nama. Tabel 6 : Hasil Join S 1 dan R 1 notsp tgl_lhr tmt_pst gapok notsp nopen tgl_kej /31/1955 1/1/ /23/ /18/1952 3/1/ /23/1989

8 Cross Join Operasi Cross Join yang juga biasa disebut dengan Cross Product atau Cartesian Product dilambangkan dengan X yang juga merupakan sebuah kumpulan operasi biner. Contoh (R 1 X S 1 ) operasinya memungkinkan untuk menggabungkan data dari dua buah tabel atau hasil query yang berakibat semua record di R 1 dipasangkan dengan semua record di S 1 dan hasil operasi akan memuat semua atribut yang ada di R 1 dan di S 1 dan operasi ini bersifat komutatif. Operasi Cross Join umumnya tidak berdiri sendiri, tetapi digunakan bersama operasi lainnya, seperti operasi seleksi dan proyeksi dengan berbagai bentuk sesuai kebutuhan, sebagaimana dapat dilihat dalam contoh berikut : Akan diambil data dari penggabungan tabel S 1 dan R 1 untuk tmt_pst= 1/11975 dan tgl_kej = 12/23/1989 operasinya dapat dituliskan sebagai berikut : σ tmt_pst= 1/1/1975 tg_kej = 2/23/1989 S1.notsp =R1.notsp ( S 1 X R 1 ) Natural Join Sebuah query yang melibatkan operasi Cartesian Product umumnya menggunakan operasi seleksi untuk memberikan hasil query yang diinginkan. Contoh : cari dari semua peserta yang telah pensiun dan tampilkan nama dan tanggal kejadian, notsp diambil dari gabungan Tabel 4 (pmk_ke1) dan Tabel 5 (pensiun). Mula-mula akan menggunakan operasi Cartesian Product tabel pensiun yang menyimpan data nama dan nopen kemudian dari tabel pmk_ke1 yang menyimpan data notsp, kemudian menyeleksi yang sesuai dengan kriteria yang diminta yaitu no_tsp dari Tabel 4 yaitu tabel pmk_ke1 dan Tabel 5 yaitu tabel pensiun Π nama,notsp,tgl_kej (σ PMK.nopen=Pensiun.nopen (pmk_ke1 X pensiun)) Bentuk di atas dapat disederhanakan dengan operasi natural join yang menggabungkan operasi cartesian product dan operasi seleksi dengan menggunakan simbol, operasi natural join membentuk sebuah cartesian product dari kedua argumennya, lalu menetapkan sebuah seleksi untuk baris-baris data yang memiliki kesamaan nilai untuk atribut-atribut yang muncul di kedua

9 12 argumennya dan akhirnya mengabaikan data-data duplikat dan perintahnya sebagai beikut : Π nama,notsp,tgl_kej (pmk_ke1 pensiun)) Secara formal, jika S 1 memiliki himpunan atribut s dan R 1 memiliki himpunan atribut r, maka dapat didefinisikan : S 1 R 1 =Π s r (σ s1.a1=r1.a2 s1.a1=r1.a2... s1.an=r1.an (S 1 X R 1 ) Dimana s = domain atribut dari S 1 r = domain atribut dari R 1 s r = { a1, a2, a3,, an } Jika tidak ada atribut yang sama di kedua ekspresi S 1 dan R 1 atau s r =0, maka : S 1 R 1 = S 1 X R Operasi Himpunan Operasi Himpunan yang digunakan adalah Union, Intersection dan Difference Union (R S) Operasi ini untuk menggabungkan data dari dua kelompok baris data (row) yang sejenis (memiliki hasil proyeksi yang sama) Simbol dari operasi ini adalah : R S Atribut notsp terdapat pada Tabel 5 (pensiun) dan Tabel 4 (pmk_ke1), sehingga notsp pada kedua tabel tersebut dapat diproyeksikan dengan operasi Union : Π tglkej (pensiun) Π tglkej (pmk_ke1) Pada operasi Union R S terdapat dua syarat yang dipenuhi yaitu : 1) S dan R harus memiliki jumlah atribut yang sama. 2) Domain dari atribut ke i dari S dan atribut ke i dari R haruslah sama, dan harus berlaku untuk semua atribut di S dan R

10 Intersection (R S) Operasi Intersection digunakan untuk menyatakan atau mendapatkan irisan (kesamaan anggota) dari dua buah kelompok data dari suatu tabel atau hasil query. Tata penulisannya adalah (R S) yang ekivalen dengan penggunaan operasi dasar Set-Difference S ( S R ). Contoh untuk mendapatkan notsp mana saja yang sama-sama dipunyai, baik dari Tabel 2 (peserta) maupun Tabel 4 (pmk_ke1), query tersebut dapat dipenuhi dengan operasi Π notsp (Peserta) Π notsp (pmk_ke1) Difference (R - S) Operasi difference merupakan pengurangan data di tabel/hasil proyeksi pertama R oleh data/hasil proyeksi yang kedua S Simbolnya adalah : R S Ketentuannya sama dengan operasi Union yaitu harus mempunyai jumlah atribut yang sama baik di S maupun di R, contoh : Π tglkej (pensiun) Π tglkej (pmk_ke1) 2.3. Proses Query Dalam Database Manajemen System (DBMS) akses data dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Ada banyak plan (rencana) yang dapat diikuti oleh DBMS dalam memproses dan menghasilkan jawaban sebuah query. Semua rencana pada akhirnya akan menghasilkan jawaban (output) yang sama tetapi pasti mempunyai biaya yang berbeda-beda. Kebanyakan aplikasi secara nyata adalah permintaan-permintaan secara langsung dari user yang memerlukan informasi tentang bentuk maupun isi dari basis data. Apabila permintaan user terbatas pada sekumpulan query-query standar, maka query-query tersebut dapat dioptimisasi secara manual oleh pemrograman. Tetapi bagaimanapun juga, sebuah sistem optimisasi query otomatis menjadi penting apabila query-query khusus dinyatakan dengan

11 14 menggunakan bahasa query yang digunakan secara umum seperti Structure Query Language (SQL). Optimisasi query memberikan suatu pemecahan untuk menangani masalah dengan cara menggabungkan sejumlah besar teknik-teknik dan strategi, yang meliputi transformasi-transformasi logika dari query-query pada sistem file penyimpanan data. Setelah ditransformasikan, sebuah query dipetakan ke dalam sebuah langkah-langkah operasi untuk menghasilkan data-data yang diminta. Query Language (SQL) SCANNER ( Mengecek sintaks SQL keyword ) PARSER ( Mengecek sintaks SQL keyword ) Menghasilkan parse tree QUERY OPTIMIZER ( Mengecek sintaks SQL keyword ) Menghasilkan Query plan CODE GENERATOR / INTERPRETER QUERY PROCESSOR (Eksekusi Query) Menghasilkan kode Query Hasil Query Gambar 3. Tahapan proses sebuah Query (Swamy 2001)

12 15 Sebuah query yang diekspresikan dalam sebuah bahasa query tingkat tinggi seperti SQL mula-mula harus dibaca, diuraikan dan disahkan (scanning, parsing, validating). Query tersebut kemudian dibentuk menjadi sebuah struktur data yang biasa disebut dengan query tree. Kemudian DBMS merencanakan sebuah strategi eksekusi untuk mendapatkan kembali hasil dari query dari file-file basis data. Tahapan-tahapan proses dari sebuah query didalam sebuah sistem basis data ditunjukkan pada Gambar 3 dan berikut penjelasan dari masing-masing tahapan : Scanner melakukan identifikasi (pengenalan) perintah-perintah seperti SQL keywords, atribut, dan relation name. Proses ini disebut dengan scanning. Query Parser mengecek validitas query dan kemudian menterjemahkannya dalam bentuk internal yaitu ekspresi relasi aljabar atau parse tree proses ini disebut dengan parsing. Query Optimizer memeriksa semua ekspresi-ekspresi aljabar yang sama untuk query yang diberikan dan memilih salah satu dari ekspresi tersebut yang terbaik yang memiliki perkiraan paling murah. Dengan kata lain, tugas dari query optimizer adalah menghasilkan sebuah rencana eksekusi dan proses ini disebut optimisasi query. Code Generator atau Interpreter mentransformasikan rencana akses yang dihasilkan oleh optimizer ke dalam kode-kode. Setelah itu, kode-kode tersebut dikirimkan ke dalam query processor untuk dijalankan. Query Processor melakukan eksekusi query untuk mendapatkan hasil query yang diinginkan. Bagian yang diarsir pada Gambar 3 adalah optimizer yang sudah disediakan oleh DBMS. Tahapan proses query pada Gambar 3 tersebut adalah untuk memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana pada umumnya sebuah query diproses di dalam sebuah Data Base Manajemen Sistem.

13 Optimisasi Query Optimisasi Query adalah suatu proses untuk menganalisis query untuk menentukan sumber-sumber apa saja yang digunakan oleh query tersebut dan apakah penggunaan dari sumber tersebut dapat dikurangi tanpa merubah keluaran. Atau dengan kata lain bahwa optimisasi query adalah sebuah prosedur untuk meningkatkan strategi evaluasi dari suatu query untuk membuat evaluasi tersebut menjadi lebih efektif (Richard 2000) Prinsip Optimisasi Query Prinsip Optimisasi Query terdapat dalam pemilihan strategi query, dan terletak pada penentuan strategi operasi Join. Bahasa query salah satu yang biasa digunakan, misalnya SQL, tetapi untuk beberapa kasus khusus, suatu query dapat mempunyai hubungan dengan pemetaan aljabar. Bentuk yang lebih sederhana sangat diperlukan dari pada bentuk-bentuk aljabar tersebut, dan diasumsikan bahwa operasi gabungan adalah salah satu operasi relasi aljabar ( Ken 2000). Menurut Richard Vlach (2000), optimisasi query dalam basis data terdistribusi, ada dua aspek yang sangat penting, yaitu : 1. Tranmisi data dan kontrol data ke tempat tujuan sangat dipengaruhi oleh bentuk komunikasi, dan dapat memperlambat keseluruhan proses. 2. Pengolahan data secara paralel transmisi data dapat mempercepat respone Optimisasi Query adalah proses untuk menunjukkan bahwa baik total biaya maupun total waktu suatu query diminimalkan. Total biaya diukur oleh penggunaan sumber daya sistem seperti CPU atau bentuk komunikasi data. Respone time optimizers yaitu untuk meminimalkan respone time dalam sebuah query bersama-sama secara paralel.

14 17 Menurut Özsu MT, Valduriez P. (1999 ) formulasi untuk meminimalkan biaya (cost function) adalah : Total Cost = I/O cost + CPU cost + communication cost... (2.1) Dimana I/O cost = unit disk I/O cost + no. of disk I/Os CPU cost = unit instruction cost + no. of instruction Communicatin cost = message initiation + transmition Formula (2.1) masing-masing bagiannya dapat mempunyai bobot yang berbeda tergantung dari terdistribusinya data, antara lain : - Apabila proses query menggunakan Wide Area Networks (WAN), maka biaya komunikasi sangat dipengaruhi low bandwidth, low speed dan high protocol overhead. Sedangkan algoritma-algoritma yang ada pada umumnya mengabaikan komponen biaya. - Apabila menggunakan Local Area Networks (LAN), biaya komunikasi dan pengiriman data tidak mempengaruhi, tetapi total biaya dari fungsi-fungsi yang digunakan harus dipertimbangkan Metoda Optimisasi Query Biaya query sangat dipengaruhi oleh dua hal, yaitu proses secara lokal dan transmisi data antar lokasi, karena berkaitan dengan fungsi biaya. Proses perhitungan diperlukan untuk menghasilkan biaya query yang akurat secara parsial. Karakteristik relasi secara lokal harus diketahui dalam optimisasi waktu. Beberapa diantaranya adalah kardinalitas dari relasi secara lokal, banyaknya byte dalam nilai atribut, dan nilai selectivity factor yang terdapat dalam relasi diperlukan. Optimisasi proses pengolahan data secara global dengan cara menggunakan metoda secara lokal, dalam pelaksanaannya adalah mengoperasikan atas kedua proses, yaitu memproses data lokal dan memproses data secara lokal yang datang dari lokasi lain. Besar biaya untuk optimisasi lokal pada umumnya didasarkan pada banyaknya akses dari memori sekunder, ukuran buffers dan ukuran operand. Data yang akan dioperasikan secara lokal dan tambahan struktur data lokal seperti indek, hash tabel akan dapat mempercepat proses secara lokal.

15 18 Operasi join adalah operasi yang sangat mahal. Dan diketahui bahwa metoda operasi join secara lokal adalah : nested-loops, sort-merge dan hash join. Walaupun ada metoda optimisasi query global yang mempertimbangkan proses lokal, ongkos proses secara lokal pada umumnya dapat diabaikan jika dibandingkan dengan ongkos transmisi data. Selama transmisi data dioptimisasi, jelas asumsinya bahwa nilai waktu selama transmisi bergantung pada jumlah data yang dialirkan. Perhitungkan respone time yang minimal, optimisasi global memanfaatkannya secara paralel dan mencoba untuk memperkecil transmisi pada alur yang paling buruk. Operasi secara lokal yang membatasi relasi lokal harus dieksekusi secepat mungkin. Kemudian, utamakan pada optimisasi pada berbagai operasi join. Metoda optimisasi secara dinamis dapat memilah perencanaan ekseskusi query pada tahapan eksekusi. Pada awalnya rencana eksekusi didasarkan pada penilaian hasil secara parsial. Perubahan selama tahap eksekusi didasarkan pada ukuran secara parsial dan perubahan mengarahkan pada sisa query yang akan diproses. (Richard 2000) Optimisasi Query Basis Formula Optimisasi basis formula (Rule Based) biasa juga disebut heuristic optimization adalah optimisasi query dengan menggunakan aturan-aturan heuristic dan dijalankan pada rencana query secara logika yang terdiri dari urutan operasioperasi relasional yang biasanya digambarkan sebagai query tree Optimisasi Query Basis Biaya Dalam optimisasi basis biaya dapat digunakan solution space dan cost function yaitu dengan total time atau total cost. Hal ini dapat mereduksi setiap biaya ( dalam setiap termin waktu ) semua komponen satu persatu kemudian melakukan proses optimisasi untuk setiap utilitas dari setiap sumber-sumber daya sehingga meningkatkan kinerja sistem. Faktor-faktor yang terdapat dalam total cost yang ditunjukkan oleh persamaan (2.1) menghasilkan total cost factor dan tergantung dari arsitektur jaringan yang digunakan. Untuk penggunaan Wide Area Network dipengaruhi

16 19 oleh inisiasi pesan dan transmisi cost sangat tinggi, dan biaya pemrosesan secara lokal lambat (kecuali untuk mainframe dan mini komputer). Demikian juga rasio dari komunikasi ke I/O costs adalah = 20 : 1, tetapi untuk penggunaan Local Area Network komunikasi dan proses secara lokal biayanya lebih sedikit dengan rasio dari komunikasi ke I/O costs = 1 : 1,6 ( Valduriez P. 1999). Dalam menghitung Respone time dapat mengerjakan hal-hal yang mungkin secara paralel sehingga dapat meningkatkan total time karena meningkatnya total aktifitas, dan berdasarkan rumus (2.1) Respone time = CPU time + I/O time + communication time... (2.2) Dimana CPU time = unit instruction time * no. of sequential instruction I/O time = Unit I/O time * no.of sequential I/Os Communication time = unit msg initiation time + no.of sequential msg + unit transmition time * no.of sequential bytes Fungsi Biaya dari Statistik Basis data Untuk melihat cost factor yang utama dalam statistik basis data menurut (Valduriez P. 1999), ukuran relasi dari basis data memiliki nilai selectivity factor untuk setiap relasi dalam setiap operasi, yaitu : 1. Operasi joins card(r S) SF (R,S) = (2.3) card(r)*card(s) 2. Operasi Selection size(r) = card(r)*length... (2.4) card(σ F (R)) = SF σ (F) *card(r)... (2.5) dimana 1 S F σ (A = value) = (2.6) card( A (R))

17 20 max(a) value S F σ (A > value) = (2.7) max(a) min(a) value max(a) S F σ (A < value) = (2.8) max(a) min(a) SF σ (p(a i ) p(a j )) = SF σ (p(a i )) *SF σ (p(a j )... (2.9) SF σ (p(a i ) (p(a j )) = SF σ (p(a i )) + SF σ (p(a j )) (SF σ (p(a i )) *SF σ (p(a j )))... (2.10) SF σ (A value) = SF σ (A= value) * card(value)... (2.11) 3. Projection card(π A (R))=card(R)... (2.12) 4. Cartesian Product card(r S) = card(r).card(s)... (2.13) 5. Union Batas atas: card(r S) = card(r) + card(s)... (2.14) Batas Bawah: card(r S) = max{card(r), card(s)}... (2.15) 6. Set Difference Batas atas: card(r S) = card(r)... (2.16) Batas bawah: 0... (2.17) 7. Join Dalam kasus khusus: A adalah primary key dari R dan B adalah foreign key dari S; card(r A=B S) = card(s)... (2.18) Lebih umum: card(r S) = SF.card(R) *card(s)... (2.19)

18 Optimizer DBMS MySQL MySQL melakukan optimisasi melalui fasilitas query optimizer. Query optimizer secara rutin memeriksa dan melakukan transformasi semua ekspresiekspresi aljabar yang sama dan memilih salah satu dari ekspresi yang terbaik dan memiliki perkiraan paling murah dengan menggunakan fungsi optimize() dari optimizer MySQL dan secara rutin diaplikasikan pada semua tipe query MySQL AB ). MySQL Optimizer melakukan proses optimisasi menggunakan 5 langkah, yaitu : 1. Menentukan tipe join. Sistem menetapkan tabel yang akan dibaca dalam join, kemudian menetapkan primary index secara berurutan dalam equality relation dengan nilai indek tidak null, menetapkan jangkauan dari indek dan membaca seluruh tabel menurut indek secara berurutan. 2. Menentukan metode akses dan join Metode akses dan join dilakukan dengan Query Execution Plan (QEP) dan mencari rencana yang terbaik dengan menggunakan prosedur find_best() dari MySQL Optimizer. 3. Menentukan rentang indek dari tipe join Tipe join dalam tabel diberi rentang indek agar optimizer dengan mudah mengambil data dari tabel yang berada dalan rentang indek. 4. Menentukan indek dari tipe join Tipe join dalam tabel diberi indek, agar optimizer dengan mudah mengambil data berdasarkan indek. 5. Menentukan indek dari tipe merge join Indek merge join digunakan bilamana kondisi atribut join dalam tabel dapat dibentuk kedalam beberapa kondisi indek yang terdiri dari cond_1 OR cond_2... OR cond_n. Jika cond_1 OR cond_j, dan dapat digabung menjadi satu rentang yang sama, maka diberikan satu rentang indek, hal ini dilakukan untuk menghindari dan mengeliminasi duplikasi data.

ANALISIS OPTIMISASI FORMULA DISTRIBUTED QUERY DALAM BASIS DATA RELASIONAL R. SUDRAJAT

ANALISIS OPTIMISASI FORMULA DISTRIBUTED QUERY DALAM BASIS DATA RELASIONAL R. SUDRAJAT ANALISIS OPTIMISASI FORMULA DISTRIBUTED QUERY DALAM BASIS DATA RELASIONAL R. SUDRAJAT SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007 RINGKASAN ii Proses join query dalam sistem basis data terdistribusi

Lebih terperinci

PEMROSESAN QUERY. Gentisya Tri Mardiani, S.Kom

PEMROSESAN QUERY. Gentisya Tri Mardiani, S.Kom PEMROSESAN QUERY Gentisya Tri Mardiani, S.Kom Pendahuluan Pemrosesan terhadap query di dalam suatu basis data dilakukan dengan menggunakan bahasa query (query language) Bahasa query formal basis data relasional

Lebih terperinci

ESTIMASI QUERY. Sistem Basis Data. Gentisya Tri Mardiani, M.Kom

ESTIMASI QUERY. Sistem Basis Data. Gentisya Tri Mardiani, M.Kom ESTIMASI QUERY Sistem Basis Data Gentisya Tri Mardiani, M.Kom Estimasi Biaya Query Optimizer query akan membuat informasi statistik yang tersimpan dalam katalog DBMS untuk memperkirakan besarnya biaya

Lebih terperinci

PEMROSESAN QUERY. Alif Finandhita, S.Kom, M.T

PEMROSESAN QUERY. Alif Finandhita, S.Kom, M.T PEMROSESAN QUERY Alif Finandhita, S.Kom, M.T Pemrosesan terhadap query di dalam suatu sistem basis data dilakukan dengan menggunakan bahasa query (query language). Bahasa query formal basis data relasional

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Formulasi Masalah dan Penentuan Tujuan. Dalam bagian ini dibahas tentang formulasi masalah dan penentuan tujuan yang akan dicapai, diperlukan tahapan-tahapan analisis yang

Lebih terperinci

Optimasi Query. by: Ahmad Syauqi Ahsan

Optimasi Query. by: Ahmad Syauqi Ahsan 05 Optimasi Query by: Ahmad Syauqi Ahsan Optimasi Query 2 Misalkan anda diberi kesempatan untuk mengunjungi 15 kota yang berbeda di Eropa. Satu-satunya batasan yang ada adalah "Waktu". Apakah anda mempunya

Lebih terperinci

Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya,

Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya, BASIS DATA Aljabar Relasional Teknik Informatika, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya, Email : [email protected] Pendahuluan Pemrosesan terhadap query di dalam suatu system basis data dilakukan dengan menggunakan

Lebih terperinci

PEMROSESAN QUERY. Alif Finandhita, S.Kom

PEMROSESAN QUERY. Alif Finandhita, S.Kom PEMROSESAN QUERY Pemrosesan terhadap query di dalam suatu sistem basis data dilakukan dengan menggunakan bahasa query (query language). Bahasa query formal basis data relasional adalah bahasa untuk meminta

Lebih terperinci

OPTIMASI QUERY. Sistem Basis Data. Gentisya Tri Mardiani, S.Kom., M.Kom

OPTIMASI QUERY. Sistem Basis Data. Gentisya Tri Mardiani, S.Kom., M.Kom OPTIMASI QUERY Sistem Basis Data Gentisya Tri Mardiani, S.Kom., M.Kom Struktur Sistem Basis Data Tujuan utama dari sistem basis data adalah untuk memudahkan dan memfasilitasi akses ke data. Faktor utama

Lebih terperinci

OPTIMASI QUERY. Sistem Basis Data. Gentisya Tri Mardiani, S.Kom., M.Kom

OPTIMASI QUERY. Sistem Basis Data. Gentisya Tri Mardiani, S.Kom., M.Kom OPTIMASI QUERY Sistem Basis Data Gentisya Tri Mardiani, S.Kom., M.Kom Struktur Sistem Basis Data Tujuan utama dari sistem basis data adalah untuk memudahkan dan memfasilitasi akses ke data. Faktor utama

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI DAN RANCANGAN PENELITIAN

BAB III METODOLOGI DAN RANCANGAN PENELITIAN BAB III METODOLOGI DAN RANCANGAN PENELITIAN 3.1. Metodologi Penelitian Sejak tahun 1960 an penelitian-penelitian tentang basis data sudah dimulai dan dikembangkan sesuai kebutuhan, terutama dengan menggunakan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI Pengertian DBMS (Database Management System)

BAB 2 LANDASAN TEORI Pengertian DBMS (Database Management System) 21 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian DBMS (Database Management System) Database Management System atau DBMS adalah perangkat lunak yang didesain untuk membantu dalam memelihara dan menggunakan koleksi

Lebih terperinci

PENGENALAN PROSES DAN OPTIMISASI QUERY

PENGENALAN PROSES DAN OPTIMISASI QUERY PENGENALAN PROSES DAN OPTIMISASI QUERY Database Manajemen Sistem (DBMS) adalah kumpulan dari programprogram yang membolehkan user untuk menciptakan dan memelihara sebuah database. DBMS sudah menjadi peralatan

Lebih terperinci

Model dan Aljabar Relasional. Rima Dias Ramadhani, S.Kom., M.Kom Wa:

Model dan Aljabar Relasional. Rima Dias Ramadhani, S.Kom., M.Kom   Wa: Model dan Aljabar Relasional Rima Dias Ramadhani, S.Kom., M.Kom Email: rima@[email protected] Wa: 087731680017 RECORD BASED DATA MODEL Model Hierarkikal Model Jaringan Model Relasional Struktur Hirarki

Lebih terperinci

Model Relasional. Basis Data. Pengertian

Model Relasional. Basis Data. Pengertian Model Relasional Basis Data Materi Yang Akan Disampaikan Pengertian 3 MODEL DATABASE Istilah dalam Basis Data Relasional Relational Key Di Model Relational Bahasa pada Model Data Relasional Bahasa Query

Lebih terperinci

BASIS DATA TERDISTRIBUSI

BASIS DATA TERDISTRIBUSI FRAGMENTASI DATA dalam BASIS DATA TERDISTRIBUSI Disusun Oleh: Alit Mahendra Bramantya FRAGMENTASI DATA dalam BASIS DATA TERDISTRIBUSI Apakah yang dimaksud dengan basis data terdistribusi? Basis data terdistribusi

Lebih terperinci

adalah : Q.1) Suatu susunan/kumpulan data operasional lengkap dari suatu organisasi/perusahaan

adalah : Q.1) Suatu susunan/kumpulan data operasional lengkap dari suatu organisasi/perusahaan Q.1) Suatu susunan/kumpulan data operasional lengkap dari suatu organisasi/perusahaan yang diorganisir/dikelola dan disimpan secara terintegrasi dengan menggunakan metode tertentu dengan menggunakan komputer

Lebih terperinci

DATABASE TERDISTRIBUSI

DATABASE TERDISTRIBUSI DATABASE TERDISTRIBUSI Yaitu kumpulan data yang digunakan bersama yang saling terhubung secara logic tetapi tersebar secara fisik pada suatu jaringan computer. Karakteristik database terdistribusi yaitu

Lebih terperinci

http://www.brigidaarie.com Di lingkungan file-server, pemrosesan didistribusikan ke jaringan yang Local Area Network (LAN). File-Server menunjang kebutuhan file dengan aplikasi-aplikasi dan DBMS. Aplikasi

Lebih terperinci

6/26/2011. Database Terdistribusi. Database Terdesentralisasi

6/26/2011. Database Terdistribusi. Database Terdesentralisasi Sekumpulan database independen pada komputer komputer yang tidak saling berhubungan melalui jaringan Suatu database logis secara fisik tersebar pada beberapa komputer (di beberapa lokasi) dihubungkan melalui

Lebih terperinci

Pertemuan 6 BAHASA QUERY FORMAL

Pertemuan 6 BAHASA QUERY FORMAL Pertemuan 6 BAHASA QUERY FORMAL BAHASA QUERY FORMAL ALJABAR RELATIONAL Adalah kumpulan operasi terhadap relasi, dimana setiap operasi menggunakan satu atau lebih relasi untuk menghasilkan satu relasi yang

Lebih terperinci

BASIS DATA ALJABAR RELASIONAL (RELATIONAL ALGEBRA)

BASIS DATA ALJABAR RELASIONAL (RELATIONAL ALGEBRA) BASIS DATA ALJABAR RELASIONAL (RELATIONAL ALGEBRA) Aljabar Relasional Yaitu sekumpulan operasi yang digunakan untuk melakukan proses manipulasi data dalam rangka untuk mendapatkan informasi yang diperlukan

Lebih terperinci

Aljabar Relasional. Lecturer: Mahendra Data, S.Kom

Aljabar Relasional. Lecturer: Mahendra Data, S.Kom Aljabar Relasional Lecturer: Mahendra Data, S.Kom Aljabar Relasional Utama Turunan R Relation (E 1 ) (E 2 ) Natural Join ς c (E) Selection (E 1 ) ϴ (E 2 ) Theta Join π A1,,An (E) Projection (E 1 ) (E 2

Lebih terperinci

ALJABAR RELASIONAL BA S I S DATA. Rajif Agung Yunmar, S.Kom., M.Cs.

ALJABAR RELASIONAL BA S I S DATA. Rajif Agung Yunmar, S.Kom., M.Cs. ALJABAR RELASIONAL BA S I S DATA Rajif Agung Yunmar, S.Kom., M.Cs. PRE TEST Sebutkan macam-macam operasi JOIN. Jelaskan perbedaan masing-masing! Apakah yang disebut dengan fungsi agregasi? Jelaskan! Jelaskan

Lebih terperinci

ANALISIS OPTIMASI QUERY PADA DATA MINING

ANALISIS OPTIMASI QUERY PADA DATA MINING ANALISIS OPTIMASI QUERY PADA DATA MINING Ermatita Jurusan Sistem Informasi Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Sriwijaya E-mail: [email protected] Abstrak Data mining is currently being used by

Lebih terperinci

BAB 4 ALJABAR RELASIONAL

BAB 4 ALJABAR RELASIONAL BAB 4 ALJABAR RELASIONAL Bahasa Query Relasional (Relational Query Language) Bahasa Query : memungkinkan manipulasi dan pemanggilan data dari suatu basis data. Model Relasional mendukung kesederhanaan,

Lebih terperinci

BAHASA QUERY FORMAL BAHASA QUERY FORMAL ALJABAR RELATIONAL

BAHASA QUERY FORMAL BAHASA QUERY FORMAL ALJABAR RELATIONAL Pertemuan 9 BAHASA QUERY FORMAL BAHASA QUERY FORMAL ALJABAR RELATIONAL Adalah kumpulan operasi terhadap relasi, dimana setiap operasi menggunakan satu atau lebih relasi untuk menghasilkan satu relasi yang

Lebih terperinci

SISTEM BASIS DATA 1. WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI.

SISTEM BASIS DATA 1. WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI. SISTEM BASIS DATA 1 WAHYU PRATAMA, S.Kom., MMSI. PERTEMUAN 4 SBD 1 Model Data Relasional (Bagian 2) Relasional Keys. Relasional Integrity Rules. Bahasa pada Model Relasional. Relasional Keys Super Key

Lebih terperinci

BASIS DATA TERDISTRIBUSI

BASIS DATA TERDISTRIBUSI SIS DT TERDISTRIUSI Dalam sebuah database terdistribusi, database disimpan pada beberapa komputer. Komputer-komputer dalam sebuah sistem terdistribusi berhubungan satu sama lain melalui bermacam-macam

Lebih terperinci

RENCANA PEMBELAJARAN

RENCANA PEMBELAJARAN ISO 91 : 28 Written by Checked by Approved by valid date Megawaty. M.Kom A. Haidar Mirza, S.T., M.Kom M. Izman Herdiansyah, S.T., M.M., Ph.D. Subject : Basis Data Semester : 3 Code : Credit : 2 credit

Lebih terperinci

ALJABAR RELASIONAL. Memperoleh tupel tupel dari suatu relasi yang memenuhi predikat tertentu. Tupel tupel hasil SELECT

ALJABAR RELASIONAL. Memperoleh tupel tupel dari suatu relasi yang memenuhi predikat tertentu. Tupel tupel hasil SELECT Operasi Operasi Dasar Select Project Cartesian Product Union Set Defference Operasi Operasi Tambahan Natural Join Theta Join Intersection Division ALJABAR RELASIONAL SELECT Memperoleh tupel tupel dari

Lebih terperinci

ARSITEKTUR SISTEM. Alif Finandhita, S.Kom, M.T. Alif Finandhita, S.Kom, M.T 1

ARSITEKTUR SISTEM. Alif Finandhita, S.Kom, M.T. Alif Finandhita, S.Kom, M.T 1 ARSITEKTUR SISTEM Alif Finandhita, S.Kom, M.T Alif Finandhita, S.Kom, M.T 1 Sistem Terpusat (Centralized Systems) Sistem Client Server (Client-Server Systems) Sistem Server (Server Systems) Sistem Paralel

Lebih terperinci

3. File Laporan (report File) File ini bisa disebut output file, yaitu file yang berisi informasi yang akan ditampilkan

3. File Laporan (report File) File ini bisa disebut output file, yaitu file yang berisi informasi yang akan ditampilkan Tipe File : 1. File Induk (Master File) File induk acuan (reference master file) : file induk yang recordnya relatif statis, jarang berubah nilainya. Misalnya file daftar dosen, file mata pelajaran. File

Lebih terperinci

Modul Praktikum Basis Data 4 Relasi Table

Modul Praktikum Basis Data 4 Relasi Table Modul Praktikum Basis Data 4 Relasi Table Pokok Bahasan Membuat hubungan beberapa table. Edit Relational Menghapus relational Melakukan pengolahan data dari table yang terintegrasi dalam ERD. Studi Kasus

Lebih terperinci

Model Relational. Dian Dharmayanti

Model Relational. Dian Dharmayanti Model Relational Dian Dharmayanti Pendahuluan Relation Properti Relasi Basis Data Relasional Key Konversi Model E-R ke Relasional Transformasi kedalam skema relasi Pendahuluan Model relasional terkait

Lebih terperinci

Kontrak Kuliah. Aljabar Relasi. Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom

Kontrak Kuliah. Aljabar Relasi. Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom Kontrak Kuliah Aljabar Relasi Edi Sugiarto, S.Kom, M.Kom Pendahuluan Bahasa query formal merupakan bahasa yang dipergunakan dalam basis data misal yaitu SQL yang dikonversi menjadi bahasa relasional formal

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI INVERTED INDEX DENGAN SISTEM MANAJEMEN BASISDATA UNTUK MENDUKUNG MODEL PEMEROLEHAN BOOLEAN

IMPLEMENTASI INVERTED INDEX DENGAN SISTEM MANAJEMEN BASISDATA UNTUK MENDUKUNG MODEL PEMEROLEHAN BOOLEAN IMPLEMENTASI INVERTED INDEX DENGAN SISTEM MANAJEMEN BASISDATA UNTUK MENDUKUNG MODEL PEMEROLEHAN BOOLEAN JB Budi Darmawan Jurusan Teknik Informatika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Sanata Dharma

Lebih terperinci

Bab 6. Basis Data Client / Server POKOK BAHASAN: TUJUAN BELAJAR: 6.1 PENDAHULUAN

Bab 6. Basis Data Client / Server POKOK BAHASAN: TUJUAN BELAJAR: 6.1 PENDAHULUAN Bab 6 Basis Data Client / Server POKOK BAHASAN: Pendahuluan Arsitektur Client-Server Pengaksesan Query pada Basis Data Client-Server TUJUAN BELAJAR: Setelah mempelajari materi dalam bab ini, mahasiswa

Lebih terperinci

DATABASE TERDISTRIBUSI (DISTRIBUTED DATABASE= DDB)

DATABASE TERDISTRIBUSI (DISTRIBUTED DATABASE= DDB) DATABASE TERDISTRIBUSI (DISTRIBUTED DATABASE= DDB) PENDAHULUAN CERI : A distributed DB is a collection of data which belong logically to the same system but are spread over the sites of a computer network

Lebih terperinci

BASIS DATA TERDISTRIBUSI

BASIS DATA TERDISTRIBUSI BASIS DATA TERDISTRIBUSI Kelompok : 1. Herdi Muzadi R (H1D015018) 2. Theza Gema Sandi (H1D015022) 3. M Fauzan Ramadhan (H1D015039) 4. Butar Butar Ines (H1D015047) 5. Mutiara Dwi A (H1D015058) 6. M Endhyka

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. Tinjauan Pustaka Pada Penelitian sejenis ini pernah dilakukan oleh Wasino dkk (2013); Maulani dkk (2015); Nilaliliana Prihatin (2017) ; Eka Rahmadyani(2016);dan

Lebih terperinci

SISTEM BASIS DATA II S A N T I W I D I A N T I

SISTEM BASIS DATA II S A N T I W I D I A N T I SISTEM BASIS DATA II S A N T I W I D I A N T I SISTEM Definisi sebuah tatanan yang terdiri atas sejumlah komponen fungsional (dengan tugas/fungsi khusus) yang saling berhubungan dan secara bersama-sama

Lebih terperinci

Model Relational. S# Nama Status Kota S1 Hanato 20 Bandung S2 Andi 10 Jakarta S3 Shy 25 Surabaya S4 Tina 20 Medan

Model Relational. S# Nama Status Kota S1 Hanato 20 Bandung S2 Andi 10 Jakarta S3 Shy 25 Surabaya S4 Tina 20 Medan Model elational Pendahuluan E. F. Codd A elational Model of Data for large shared data bank 1970 Model relasional terkait dengan 3 aspek : struktur data, integritas data dan manipulasi data. DBMS (Sistem

Lebih terperinci

Basis Data. Bahasa Kueri. Basis Data.

Basis Data. Bahasa Kueri. Basis Data. Basis Data Bahasa Kueri Basis Data [email protected] Tujuan Intruksional Khusus : Setelah mempelajari bagian ini, Mahasiswa mampu memahami dan melakukan operasioperasi manipulasi terhadap model

Lebih terperinci

dalam aljabar relasi kita menggunakan operasi-operasi dasar yang digunakan dalam memanipulasi database, berikut beberapa operasi dasarnya

dalam aljabar relasi kita menggunakan operasi-operasi dasar yang digunakan dalam memanipulasi database, berikut beberapa operasi dasarnya Alajabar Relasi Materi 4 Aljabar relasi merupakan operasi-operasi yang memanipulasi suatu data untuk mendapatkan informasi yang diinginkan. dalam aljabar relasi kita menggunakan operasi-operasi dasar yang

Lebih terperinci

SQL (Structure Query Language) Gentisya Tri Mardiani, S.Kom

SQL (Structure Query Language) Gentisya Tri Mardiani, S.Kom SQL (Structure Query Language) Gentisya Tri Mardiani, S.Kom SQL Structure Query Language (SQL) adalah bahasa query standar yang digunakan untuk mengakses basis data relasional. Kemampuan SQL: Query (memperoleh

Lebih terperinci

Pengertian Query. Query adalah perintah-perintah untuk mengakses data pada sistem basis data

Pengertian Query. Query adalah perintah-perintah untuk mengakses data pada sistem basis data Kompetensi Dasar Setelah mengikuti kegiatan proses belajar mengenai Pengenalan SQL, mahasiswa dapat mendefinisikan dan memanipulasi sistem basis data menggunakan bahasa SQL dengan tepat Tujuan Pembelajaran

Lebih terperinci

P7 Perancangan Database

P7 Perancangan Database P7 Perancangan Database SQ http://sidiq.mercubuana-yogya.ac.id Program Studi Teknik Informatika Fakultas Teknologi Informasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta Tujuan Mahasiswa mengetahui & memahami konsep

Lebih terperinci

Pemrosesan data sebelum adanya basis data Perancangan sistemnya masih didasarkan pada kebutuhan individu pemakai, bukan kebutuhan sejumlah pemakai

Pemrosesan data sebelum adanya basis data Perancangan sistemnya masih didasarkan pada kebutuhan individu pemakai, bukan kebutuhan sejumlah pemakai Basis Data Pemrosesan data sebelum adanya basis data Perancangan sistemnya masih didasarkan pada kebutuhan individu pemakai, bukan kebutuhan sejumlah pemakai Duplikasi data Data yg sama terletak pada

Lebih terperinci

LATAR BELAKANG IBM San Jose Research Laboratory.

LATAR BELAKANG IBM San Jose Research Laboratory. SQL LATAR BELAKANG SQL merupakan bahasa basis data relasional standard. Terdapat macam-macam versi SQL. Versi aslinya pertama kali dikembangkan oleh IBM San Jose Research Laboratory. 2 LATAR BELAKANG Bahasa

Lebih terperinci

SISTEM TERDISTRIBUSI

SISTEM TERDISTRIBUSI SISTEM TERDISTRIBUSI DATABASE MANAGEMENT SYSTEM PADA SISTEM TERDISTRIBUSI Untuk memenuhi tugas mata kuliah Manajemen Sistem Terditribusi Oleh Diana Laily fithri, M.kom Disusun Oleh: Frista Yogie T (201253065)

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI digilib.uns.ac.id BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi 2.1.1 Pengertian dan Karakteristik Sistem Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama

Lebih terperinci

KONSEP DAN RANCANGAN BASIS DATA TERDISTRIBUSI SISTEM BASIS DATA TERDISTRIBUSI

KONSEP DAN RANCANGAN BASIS DATA TERDISTRIBUSI SISTEM BASIS DATA TERDISTRIBUSI KONSEP DAN RANCANGAN BASIS DATA TERDISTRIBUSI SISTEM BASIS DATA TERDISTRIBUSI DEFINISI Basis Data Terdistribusi adalah kumpulan data logic yang saling berhubungan secara fisik terdistribusi dalam jaringan

Lebih terperinci

1. Address Binding. Sebuah program ditempatkan dalam disk dalam bentuk berkas biner Sebelum dieksekusi, sebuah program harus ditempatkan di memori.

1. Address Binding. Sebuah program ditempatkan dalam disk dalam bentuk berkas biner Sebelum dieksekusi, sebuah program harus ditempatkan di memori. Manajemen Memori Latar Belakang Memori merupakan pusat kegiatan pada sebuah komputer. Setiap proses yang akan dijalankan harus melalui memori. CPU mengambil instruksi dari memori sesuai yang ada pada program

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA

SATUAN ACARA PERKULIAHAN UNIVERSITAS GUNADARMA Mata Kuliah Kode / SKS Program Studi Fakultas : Sistem Basis Data : IT012248 / 2 SKS : Sistem Komputer : Ilmu Komputer & Teknologi Informasi 1. Pengantar Basis Data Mahasiswa dapat me-ngerti dan memahami

Lebih terperinci

select, project dan rename unary, karena operasi-operasi Aljabar Relasional union, set difference dan

select, project dan rename unary, karena operasi-operasi Aljabar Relasional union, set difference dan Aljabar Relasional Uro Abdulroim, S.kom, MT. v Operasi-operasi select, project dan rename disebut operasi unary, karena operasi-operasi tersebut anya memerlukan satu relasi. v Operasi-operasi union, set

Lebih terperinci

MODEL RELASIONAL. Alif Finandhita, S.Kom

MODEL RELASIONAL. Alif Finandhita, S.Kom MODEL RELASIONAL Alif Finandhita, S.Kom E. F. Codd A Relational Model of Data for large shared data bank 1970 Model relasional merupakan teori formal yang mendasari sistem relasional, adalah suatu cara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. C. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah:

BAB I PENDAHULUAN. C. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di matematika dikenal istilah aljabar kalkulus, kalkulus integral, serta kalkulus differensial. Banyak buku dalam membahas model relasional membedakan aljabar relasional

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. adalah sebagai berikut: Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur

BAB III LANDASAN TEORI. adalah sebagai berikut: Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Konsep Dasar Sistem Informasi Terdapat dua kelompok pendekatan di dalam mendefinisikan sistem, yaitu yang menekankan pada prosedurnya dan yang menekankan pada komponen atau elemennya.

Lebih terperinci

BASIS DATA I/2009-GENAP ALJABAR RELASIONAL. Oleh Team Teaching Database. 12 Oktober 2011 BASIS DATA I/2009-GENAP 1

BASIS DATA I/2009-GENAP ALJABAR RELASIONAL. Oleh Team Teaching Database. 12 Oktober 2011 BASIS DATA I/2009-GENAP 1 BASIS DATA I/2009-GENAP ALJABAR RELASIONAL Oleh Team Teaching Database 1 Aljabar Relational Yaitu sekumpulan operasi yang digunakan untuk melakukan proses manipulasi data dalam rangka untuk mendapatkan

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH SISTEM BASIS DATA 1 (MI) KODE / SKS KK / 2 SKS

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH SISTEM BASIS DATA 1 (MI) KODE / SKS KK / 2 SKS Minggu Pokok Bahasan ke dan TIU 1. 1. PENGENALAN BASIS DATA Basis Data Sub Pokok Bahasan dan Sasaran Belajar 1.1 Perbedaan sistem file tradisional dengan sistem file basis data dan keterbatasannya 1.2

Lebih terperinci

DRAFT JUDUL : OPTIMALISASI COST DAN TIME DENGAN SQL TUNING PADA APLIKASI PROFIN

DRAFT JUDUL : OPTIMALISASI COST DAN TIME DENGAN SQL TUNING PADA APLIKASI PROFIN DRAFT JUDUL : OPTIMALISASI COST DAN TIME DENGAN SQL TUNING PADA APLIKASI PROFIN Alvian Osalindo Fransiskus Martin Suparto Darudiato Universitas Bina Nusantara ABSTRAK Salah satu tujuan dalam melakukan

Lebih terperinci

Aljabar Relasional -2

Aljabar Relasional -2 C H A P T E R 9 Aljabar Relasional -2 ALGEBRA Objectives Tujuan: Memahami operator tambahan aljabar relasional ALJABAR RELASIONAL: INTERSECTION Terdapat beberapa operator tambahan Aljabar Relasional, yaitu

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH SISTEM BASIS DATA KODE : TI11. C228 / 4 SKS

SATUAN ACARA PERKULIAHAN MATA KULIAH SISTEM BASIS DATA KODE : TI11. C228 / 4 SKS Pertemuan ke Pokok Bahasan dan TIU 1. 1. PENGANTAR BASIS DATA konsep yang terdapat di dalam basis data Sub Pokok Bahasan dan TIK 1.1. Ruang lingkup mengenai mata kuliah yang diajarkan 1.2. Perbedaan sistem

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. satu hal yang sangat dominan dan terjadi dengan sangat pesat. Informasi

BAB 1 PENDAHULUAN. satu hal yang sangat dominan dan terjadi dengan sangat pesat. Informasi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi ini, perkembangan teknologi informasi sudah merupakan satu hal yang sangat dominan dan terjadi dengan sangat pesat. Informasi merupakan suatu kebutuhan

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN Kondisi pengolahan data yang telah dijabarkan sebelumnya pada bab 1 (satu) memiliki keterkaitan terhadap permasalahan yang teridentifikasi. Yaitu permasalahan terkait desain

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. penting dan digunakan di hampir setiap area dari keseluruhan cabang ilmu

BAB 1 PENDAHULUAN. penting dan digunakan di hampir setiap area dari keseluruhan cabang ilmu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era sekarang ini, teknologi penerapan sistem basis data sudah berkembang dengan sangat pesat. Sistem basis data merupakan salah satu komponen yang penting dan

Lebih terperinci

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA & KOMPUTER JAKARTA STI&K SATUAN ACARA PERKULIAHAN

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA & KOMPUTER JAKARTA STI&K SATUAN ACARA PERKULIAHAN SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMAA KOMPUTER JAKARTA S SATUAN ACARA PERKULIAHAN Mata : Sistem Basis Data Kode Mata : MI - 16303 Jurusan / Jenjang : S1 SISTEM INFORMASI Tujuan Instruksional Umum : Mahasiswa

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Konsep Dasar Sistem Aplikasi Pengertian Sistem. Pengertian sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Konsep Dasar Sistem Aplikasi Pengertian Sistem. Pengertian sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi BAB II DASAR TEORI 2.1 Konsep Dasar Sistem Aplikasi 2.1.1 Pengertian Sistem Pengertian sistem adalah kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Suatu sistem mempunyai

Lebih terperinci

Modul 3 : Query Penggabungan Tabel

Modul 3 : Query Penggabungan Tabel Modul 3 : Query Penggabungan Tabel Tujuan Praktikum - Mahasiswa dapat membedakan perbedaan macam-macam join tabel. - Mahasiswa mampu melakukan query untuk join tabel. - Mahasiswa dapat membedakan union,

Lebih terperinci

Hendra Setiawan ( )

Hendra Setiawan ( ) Hendra Setiawan (15.52.0657) Query Database Query ini sendiri atau sering disebut SQL (Structured Query Language) adalah suatu bahasa (language) yang digunakan untuk mengakses database. (Solichin, 2010).

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 Latar Belakang PENDHULUN Jumlah pengguna data dan informasi dengan menggunakan sarana IT (Information Technology) semakin meningkat dari hari ke hari. Oleh karena itu perlu suatu penanganan yang sangat

Lebih terperinci

Parallel Database. by: Ahmad Syauqi Ahsan

Parallel Database. by: Ahmad Syauqi Ahsan 13 Parallel Database by: Ahmad Syauqi Ahsan Latar Belakang 2 Parallel Database Management System adalah DBMS yang diimplementasikan pada parallel computer yang mana terdiri dari sejumlah node (prosesor

Lebih terperinci

MODUL 3 JOIN TABLE. Gambar Model Relasi Basis Data db_mutiara SMK NEGERI 1 CIMAHI REKAYASA PERANGKAT LUNAK

MODUL 3 JOIN TABLE. Gambar Model Relasi Basis Data db_mutiara SMK NEGERI 1 CIMAHI REKAYASA PERANGKAT LUNAK MODUL 3 JOIN TABLE Tujuan Kompetensi Dasar yang ingin dicapai : 3.3 Menganalisis teknik penggabungan data dari beberapa tabel memahami inner join dalam penggabungan data dari beberapa tabel mengaplikasikan

Lebih terperinci

PENGERTIAN DATABASE MySQL

PENGERTIAN DATABASE MySQL PENGERTIAN DATABASE MySQL RAHMAT AMIN [email protected] Abstrak Istilah basis data mengacu pada koleksi dari data-data yang saling berhubungan, dan perangkat lunaknya seharusnya mengacu sebagai

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN(SAP)

SATUAN ACARA PERKULIAHAN(SAP) Nama Mata Kuliah Kode Mata Kuliah Bobot Kredit Semester Penempatan : Kedudukan Mata Kuliah : SATUAN ACARA PERKULIAHAN(SAP) : SISTEM BASIS DATA : TI029 : 3 SKS Mata Kuliah Prasyarat : - Penanggung Jawab

Lebih terperinci

perkembangan yang diraih, namun ada juga kegagalan dan ketidakstabilan pada masingmasing Database Engine. Database yang bekerja 24 jam dan yang memili

perkembangan yang diraih, namun ada juga kegagalan dan ketidakstabilan pada masingmasing Database Engine. Database yang bekerja 24 jam dan yang memili Analisis Kecepatan Proses Insert Query Pada Tabel Terpartisi Di Database Engine Oracle Dan SQL Server Widhya Wijaksono Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Informatika Universitas Gunadarma [email protected]

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. dan didistribusikan kepada para pemakai.

BAB II LANDASAN TEORI. dan didistribusikan kepada para pemakai. BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Sistem Informasi Didalam bukunya, Abdul Kadir (2014) mendefinisikan arti sistem informasi menurut pendapat ahli. Menurut Haal didalam buku karangan Abdul Kadir (2014), definisi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. seorang pimpinan atau manajer didalam organisasi untuk mencapai tujuan

BAB II LANDASAN TEORI. seorang pimpinan atau manajer didalam organisasi untuk mencapai tujuan BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Payment Management Control. Manajemen merupakan proses atau kegiatan yang dilakukan oleh seorang pimpinan atau manajer didalam organisasi untuk mencapai tujuan bersama. Kegiatan

Lebih terperinci

BAB 9 ALJABAR RELASIONAL DAN KALKULUS RELASIONAL

BAB 9 ALJABAR RELASIONAL DAN KALKULUS RELASIONAL 1 BAB 9 ALJABAR RELASIONAL DAN KALKULUS RELASIONAL Bahasa query formal basis data relasional adalah bahasa untuk meminta informasi dari basis data. Sebelum basis data relasional, query terhadap basis data

Lebih terperinci

PERBANDINGAN CROSS-PRODUCT DAN SUBSET QUERY PADA MULTIPLE RELASI DENGAN METODE COST-BASED

PERBANDINGAN CROSS-PRODUCT DAN SUBSET QUERY PADA MULTIPLE RELASI DENGAN METODE COST-BASED PERBANDINGAN CROSS-PRODUCT DAN SUBSET QUERY PADA MULTIPLE RELASI DENGAN METODE COST-BASED Metta Santiputri 1) Mira Chandra Kirana 1) Anni 2) 1) Program Studi Teknik Informatika, Politeknik Batam E-mail:

Lebih terperinci

DESAIN DATABASE. Pertemuan 06 3 SKS

DESAIN DATABASE. Pertemuan 06 3 SKS Materi 1. Era Informasi 2. Strategi dan Peluang Yang Kompetitif 3. Database dan Database Warehouse 4. Desain Database 5. Sistem Pendukung Keputusan dan Sistem Cerdas 6. E-Commerce DESAIN DATABASE Pertemuan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. suatu maksud tertentu adalah bagian dari suatu sistem, yang mana sistem

BAB II LANDASAN TEORI. suatu maksud tertentu adalah bagian dari suatu sistem, yang mana sistem BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Bagian-bagian yang memiliki keterkaitan pengoperasian dalam mencapai suatu maksud tertentu adalah bagian dari suatu sistem, yang mana sistem informasi dapat dibuat

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. 3.1 Pengertian Pengabdian kepada Masyarakat. kepada masyarakat adalah kegiatan yang mencakup upaya-upaya peningkatan

BAB III LANDASAN TEORI. 3.1 Pengertian Pengabdian kepada Masyarakat. kepada masyarakat adalah kegiatan yang mencakup upaya-upaya peningkatan BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Pengertian Pengabdian kepada Masyarakat Menurut Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia (2011:4), pengabdian kepada masyarakat atau kegaitan pengabdian

Lebih terperinci

B a s i s D a t a - 1 C H A P T E R. SQL - Basic. Copyright 2005 PENS-ITS

B a s i s D a t a - 1 C H A P T E R. SQL - Basic. Copyright 2005 PENS-ITS C H A P T E R 11 SQL - Basic Objectives Tujuan: Mengenal dan memahami struktur dasar perintah SQL Database S Q L - Pendahuluan Bahasa user yang meminta pada database untuk menyediakan suatu data yang diperlukan

Lebih terperinci

KONSEP DAN RANCANGAN BASIS DATA TERDISTRIBUSI

KONSEP DAN RANCANGAN BASIS DATA TERDISTRIBUSI KONSEP DAN RANCANGAN BASIS DATA TERDISTRIBUSI SISTEM BASIS DATA TERDISTRIBUSI DEFINISI Basis Data Terdistribusi adalah kumpulan data logic yang saling berhubungan secara fisik terdistribusi dalam jaringan

Lebih terperinci

Bab VI Value, Domain dan Type

Bab VI Value, Domain dan Type Bab VI Value, Domain dan Type Value Suatu nilai (value) adalah hal apapun yang mungkin dapat dievaluasi, disimpan dalam suatu struktur data, dikirimkan sebagai suatu argumentasi atau dikembalikan lagi

Lebih terperinci

Pertemuan Transformasi ER-MODEL INDIKATOR. 1. Memahami ER model 2. Menerapkan transformasi ER- Model ke Model Relasional.

Pertemuan Transformasi ER-MODEL INDIKATOR. 1. Memahami ER model 2. Menerapkan transformasi ER- Model ke Model Relasional. Pertemuan 4-5-6 Transformasi ER-MODEL INDIKATOR 1. Memahami ER model 2. Menerapkan transformasi ER- Model ke Model Relasional. URAIAN MATERI PERANCANGAN DATABASE Perancangan Database adalah proses untuk

Lebih terperinci

Sistem Basis Data Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng

Sistem Basis Data Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng Sistem Basis Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng SQL Introduction Setelah Membuat ERD dan Model Relasional, what s next? Bagaimana cara membangun entitas dan relationship tersebut agar dapat digunakan? Bagaimana

Lebih terperinci

Sistem Basis Data Terdistribusi Arif Basofi

Sistem Basis Data Terdistribusi Arif Basofi Sistem Basis Data Terdistribusi Arif Basofi Sumber: Fundamentals of Database Systems, Third Edition ch.24, Elmasri Sumber Material: tanzir.staff.gunadarma.ac.id, T. Darmanto & Y. H. Chrisnanto, AmikBandung

Lebih terperinci

MANAJEMEN MEMORI SISTEM OPERASI

MANAJEMEN MEMORI SISTEM OPERASI MANAJEMEN MEMORI SISTEM OPERASI Manajemen Memori Memori adalah pusat dari operasi pada sistem komputer modern, berfungsi sebagai tempat penyimpanan informasi yang harus diatur dan dijaga sebaik baiknya.

Lebih terperinci

INTERNET PROGRAMMING DATABASE

INTERNET PROGRAMMING DATABASE INTERNET PROGRAMMING DATABASE Muhmmad Zen Samsono Hadi, ST. MSc. [email protected] POLITEKNIK ELEKTRONIKA NEGERI SURABAYA Bahasan Sistem Database ER Diagram Database MySQL Internet Application Pendahuluan

Lebih terperinci

PERTEMUAN 2 DBMS & PERANCANGAN BASIS DATA

PERTEMUAN 2 DBMS & PERANCANGAN BASIS DATA PERTEMUAN 2 DBMS & PERANCANGAN BASIS DATA Jum at, 30 Sept. 2016 DATABASE MANAGEMENT SYSTEM (DBMS) DBMS adalah perangkat lunak yang memungkinkan pemakai untuk mendefinisikan, mengelola, dan mengontrol akses

Lebih terperinci

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM

BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM BAB III ANALISA DAN DESAIN SISTEM Pada bab ini akan dibahas mengenai sistem informasi akuntansi Bantuan Operasional Sekolah (BOS) pada SMPN 13 yang meliputi analisa sistem yang sedang berjalan dan desain

Lebih terperinci

Aplikasi Teori Graf dalam Manajemen Sistem Basis Data Tersebar

Aplikasi Teori Graf dalam Manajemen Sistem Basis Data Tersebar Aplikasi Teori Graf dalam Manajemen Sistem Basis Data Tersebar Arifin Luthfi Putranto (13508050) Program Studi Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung Jalan Ganesha 10, Bandung E-Mail: [email protected]

Lebih terperinci

SIMULASI OPTIMASI QUERY PADA FEDERATED DATABASE

SIMULASI OPTIMASI QUERY PADA FEDERATED DATABASE SIMULASI OPTIMASI QUERY PADA FEDERATED DATABASE Andika Pratama Putra¹, Dhinta Darmantoro², Kusuma Ayu Laksitowening³ ¹Teknik Informatika,, Universitas Telkom Abstrak Salah satu kekurangan transaksi query

Lebih terperinci

STRUCTURE QUERY LANGUAGE DDL & DML

STRUCTURE QUERY LANGUAGE DDL & DML STRUCTURE QUERY LANGUAGE DDL & DML OUTLINE Data Definiton Language (DDL) Data Manipulation Language (DML) Data Control Language (DCL) Proses Pembangunan Database Perintah SQL DATA DEFINITION LANGUAGE (DDL)

Lebih terperinci

PERANCANGAN BASIS DATA

PERANCANGAN BASIS DATA BAB IV PERANCANGAN BASIS DATA Database atau basis data adalah kumpulan data yang disimpan secara sistematis di dalam komputer dan dapat dimanipulasi (diolah) menggunakan perangkat lunak (program aplikasi)

Lebih terperinci