TIMSS dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Matematika
|
|
|
- Handoko Setiawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 TIMSS dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Matematika di Indonesia Drs. Tatang Herman, M.Ed. (Universitas Pendidikan Indonesia) Abstrak. The Third International Mathematics and Science Study, disingkat TIMSS, merupakan studi internasional dalam pendidikan matematika sekolah dan sains yang relatif komprehensif. Dalam artikel ini dibahas mengenai hasil TIMSS berupa evaluasi matematika (dan sains) tertulis terhadap siswa sekolah menengah dari negara-negara yang berpatisipasi serta analisis dari rekaman video kegiatan pembelajaran matematika di tiga negara: Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Selain itu didiskusikan pula prestasi matematika siswa sekolah menengah di Indonesia dilihat dari kacamata internasional beserta implikasinya. Kata kunci: TIMSS, evaluasi matematika internasional, studi komparasi internasional T he Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) merupakan studi komparatif internasional yang komprehensif dalam matematika dan sains yang pernah dilakukan. TIMSS sebenarnnya dilaksanakan tahun dan kembali dilakukan (pengulangan) pada tahun sehingga disebut TIMSS Repeat, disingkat TIMSS-R. Studi ini didesain untuk menyediakan informasi yang diperlukan bagi para policy markers, pengembang kurikulum, dan peneliti agar mereka memahami secara mendalam mengenai prestasi dan sistem pendidikan yang dimilikinya. Studi komparasi mengenai prestasi siswa kelas empat dan lima dalam matematika dan sains ini diikuti oleh sekitar 40 negara di dunia. Data dalam studi dikumpulkan melalui tes, kuisioner, videotapes, analisis kurikulum, dan konteks matematika dan sains. Jenis informasi yang dikumpulkan termasuk sistem pendidikan, kurikulum, karakteristik guru dan sekolah, serta praktek pembelajaran. TIMSS-R yang dilakukan pada tahun merupakan pengembangan dari asesmen yang pernah diselenggarakan sebelumnya. Hal ini dilakukan untuk melihat trend kelas delapan (di Indonesia SLTP kelas dua) dalam konteks internasional dan perkembangan kemampuan matematika dan sains siswa yang pada pelaksanaan TIMSS terdahulu berada di kelas empat. Melalui informasi lengkap mengenai tipe kurikulum, praktek pembelajaran, dan lingkungan sekolah dari negara lain yang lebih baik, studi ini diharapkan dapat dijadikan pertimbangan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika dan sains di negaranegara di dunia, khususnya negara-negara yang berpartisipasi. Penyelenggara TIMSS TIMSS dan TIMSS-R diselenggarakan oleh International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA), yang berkedudukan di Amsterdam, Belanda. Institusi ini merupakan lembaga internasional yang independen yang bekerja sama dengan agen-agen pemerintah di negara-negara partisipan. Kegitan serupa yang pernah dikoordinir IEA adalah First International Mathematics Studi, ; First International Science Studi, ; Second International Mathematics Studi, ; dan Second International Science Studi,
2 Tatang Herman, Tims dan Implikasinya Biaya yang digunakan dalam studi ini sebagian besar diperoleh dari Amerika Serikat (AS), Bank Dunia, dan negara-negara partisipan. Partisipan TIMSS diikuti oleh 26 negara dan TIMSS-R oleh 38 negara. Setiap negara yang turut serta berkoordinasi langsung dengan IEA di Amsterdam. Tabel 1 berikut ini adalah daftar negara peserta TIMSS dan TIMSS-R. Tabel 1. Negara Peserta TIMSS dan TIMSS-R No Partisipan Partisipan TIMSS-R TIMSS dan TIMSS-R Australia Belgia Bulgaria Canada Cyprus Czech Inggris Hong Kong Hungaria Iran Israel Italia Jepang Korea Latvia Lithuania Belanda Selandia Baru Rumania Rusia Singapura Slovakia Slovenia Afrika Selatan Thailand Amerika Serikat Chili Taiwan Finlandia Indonesia Jordania Macedonia Malaysia Moldova Maroko Philipina Tunisia Turki Pelaksanaan dan Laporan TIMSS Kemampuan Siswa dalam Matematika dan Sains Untuk mengukur kemampuan siswa dalam matematika dan sains dilakukan melalui tes. Tes ini dikonstruksi berdasarkan kerangka kurikulum yang dikembangkan oleh tim panitia dan dengan memperhatikan masukan-masukan para ahli matematika dan sains, ahli pengukuran dan evaluasi, dan dari koordinator penyelenggara tiap negara peserta. Berdasarkan kesepakatan diperoleh kerangka kurikulum untuk mengukur kemampuan siswa dalam matematika dan sains seperti pada Tabel 2 berikut ini. Tabel 2. Tiga Dimensi Kerangka Kurikulum TIMSS Mathematics Content Numbers Measurement Geometry Proportionality Functions, relations, and equations Data representation, probability, and statistics Elementary analysis Validation and structure Knowing Using routine procedures Investigating and problem solving Mathematical reasoning Communicating Perspectives Attitudes Careers Participation Increasing interest Habits of mind Performance Expectations Science Earth sciences Life sciences Physical sciences Science, technology, and mathematics History of science and technology Environmental issues Nature of science Science and other disciplines Understanding Theorizing, analyzing, and solving problems Using tools, routine procedures Investigating the natural world Communicating Attitudes Careers Participation Increasing interest Safety Habits of mind Dengan bekerja berdasar pada kerangka kurikulum ini, spesifikasi tes yang dikembangkan menyangkut topik-topik yang cukup luas dalam matematika dan sains yang menuntut ke- 13
3 mampuan dan keterampilan dari siswa. Tes ini menuntut siswa untuk memberikan respon yang tepat, menjawab persoalan dengan cepat, dan menjawab permasalahan yang lebih memerlukan elaborasi dan eksplanasi. Bentuk tes ini adalah pilihan ganda dan isian singkat disajikan dalam buklet tes yang harus diselesaikan siswa dalam waktu 90 menit. Terdapat 8 buklet tes yang ekuivalen yang disebarkan di negara-negara partisipan. Kemampuan siswa Negara-negara Asia seperti Singapura, Korea, Taiwan, dan Hong Kong menunjukkan negaranegara yang memiliki siswa dengan kemampuan dalam matematika dan sains tertinggi dibanding negara-negara lainnya. Singapura dan Korea menunukkan kemampuan tertinggi secara signifikan dibanding yang lainnya. Demikian juga Jepang memiliki kemampuan yang mengesankan, seperti halnya Belgia di Eropa. Apabila dilihat dari perkembangan antara 1995 dan 1999 negara yang menunjukkan perkembangan positif adalah Latvia, Kanada, dan Syprus. Hanya Czechnya yang menunjukkan penurunan. Kemampuan siswa laki-laki dan perempuan pada umumnya hampir tidak ada. Kecuali di Israel, Czechnya, Tunisia, dan Iran, walaupun perbedaanya sangat kecil, siswa laki-laki memiliki kemampuan lebih baik (27% berada pada kuartil atas) daripada perempuan (23%). Yang menarik adalah kemampuan matematika Belanda, Slovakia, Hungaria, Canada, Slovenia, Rusia, Australia, Finlandia, Czechnya, Malaysia, dan Bulgaria menunjukkan prestasi yang serupa. Sedangkan Indonesia menduduki peringkat ke 34 (dari 38 negara) dalam matematika dan peringkat ke 32 (dari 34 negara) dalam sains. Lingkungan keluarga siswa dan sikapnya terhadap matematika Pada umumnya siswa dari lingkungan keluarga dengan sumber-sumber pendidikan yang tergolong tinggi (seperti memiliki lebih 100 buku; memiliki paling tidak tiga jenis alat belajar: komputer, meja belajar, dan kamus; dan salah satu orang tuanya keluaran universitas), memiliki kemampuan matematika yang tinggi daripada siswa yang memiliki sumber/fasilitas kurang. Siswa kelas delapan pada umumnya memiliki harapan besar mengenai pendidikan mereka, lebih setengah dari mereka berkeyakinan dapat tamat universitas. Umumnya mereka bersikap positif terhadap matematika. Di setiap negara siswa yang memiliki konsep diri tinggi dalam matematika berkolerasi dengan rata-rata kemampuan yang tinggi pula, kecuali di negaranegara Asia Pasifik (Singapura, Hong Kong, Korea, Taiwan, dan Jepang) siswa yang memiliki konsep diri yang kuat dengan prestasi yang tinggi menunjukkan persentase yang kecil. Kurikulum Dari 38 negara, 35 diantaranya memiliki kurikulum nasional sebagai acuan pendidikan. Tiga negara yang tidak memiliki kurikulum nasional adalah Australia, Kanada, dan Amerika Serikat. Kecuali Belgia, semua negara menggunakan sistem tes dan asesmen untuk menyokong implementasi kurikulum, pengembangan kurikulum, dan keperluan policy makers. Umumnya jam pelajaran matematika relatif sama untuk kelas 4 sampai kelas 6 dan mengalami penurunan di kelas 8 (berturut-turut 17%, 16%, dan 13%). Jam pelajaran sains meningkat dari kelas 4 sampai dengan kelas 8 (dati 11% ke 16%). Di kelas 8 pada umumnya berkonsentrasi pada penguasaan keterampilan dasar dan pemahaman konsep. Selain itu penekanan diberikan pada aplikasi matematika, komunikasi matematik, dan problem solving. Konteks dan praktek pembelajaran Secara internasional 60% siswa kelas 8 diajar oleh guru matematika perempuan, 84% dari mereka (siswa) diajar oleh guru dengan latar belakang pendidikan yang sesuai, dan 63% 14
4 Tatang Herman, Tims dan Implikasinya siswa diajar oleh guru yang berkeyakinan bahwa persiapan mengajar mereka dilakukan dengan baik. Sekitar setengah dari siswa jam pertemuan matematika di sekolahnya berkisar antara 2 s.d. 3,5 jam per minggu, sepertiganya 3,5 s.d. 5 jam per minggu. Hal ini menunjukkan kenaikan tipis dari segi jumlah jam pelajaran dari tahun Dari seluruh negara partisipan, guru biasanya melakukan dua kegiatan dominan dalam pembelajaran, yaitu ceramah dan membantu siswa dalam menyelesaikan permasalahan. Kedua jenis kegiatan ini umumnya memakan hampir setengah waktu pembelajaran. Siswa di kelas yang biasa berkonsentrasi dalam aspek penalaran dan problem solving memiliki kemampuan lebih baik daripada siswa yang dikelasnya kurang menekankan pada aspek yang sama. Terdapat kecenderungan bahwa kegitan problem solving meningkat dari tahun 1995 ke tahun Demikian pula persentase siswa dalam berlatih keterampilan dalam komputasi meningkat secara signifikan. Guru-uru di Belanda, Singapura, dan Australia melaporkan bahwa lebih dari limaperempat siswa paling tidak sekali dalam seminggu menggunakan kalkulator dalam pembelajaran. Sedangkan dua-pertiga sampai dengan empat-perlima siswa di Inggris, Kanada, Hong Kong, Israel, dan Amerika Serikat melakukan hal serupa. Umumnya kalkulator digunakan siswa untuk mengecek jawaban, mengerjakan perhitungan rutin, dan menyelesaikan permasalahan kompleks. Dari seluruh negara, 80% siswa dilaporkan tidak pernah mengunakan komputer dalam pembelajaran matematika. Walaupun demikian terdapat peningkatan yang signifikan walaupun tipis dalam penggunaan komputer ini dari tahun 1995 ke 1999 dari kategori tidak pernah ke sesekali dan sekitar seperempat siswa memiliki akses internet di sekolahnya. Faktor sekolah Pada umumnya siswa di sekolah dengan fasilitas belajar yang baik memiliki kemampuan rata-rata yang baik pula dibandingkan dengan sekolah dengan fasilitas kurang. Sekolahsekolah di seantero dunia masih mengharapkan peran serta orang tua siswa dalam menyokong pelaksanaan teknis dan kelancaran pendidikan. Lebih setengah dari siswa berasal dari sekolah yang memiliki fasilitas komputer dan softwarenya kurang, sehingga kapasitas pembelajaran dirasa belum optimal. Dilaporkan pula, mayoritas siswa kelas 8 tidak bermasalah dalam kehadiran. Komparasi Proses Pembelajaran Seperti dikemukakan di atas bahwa komponen kegiatan lainnya dalam TIMSS adalah merekam kegiatan pembelajaran melalui video untuk dianalisis. Karena negara yang berpartisifasi dalam TIMSS cukup banyak maka untuk keperluan ini hanya dipilih tiga negara untuk di teliti, yaitu Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Perekaman pembelajaran dengan video terhadap kelas 8 ini dilakukan dalam waktu tujuh bulan dan terkumpul 231 rekaman kelas matematika di Jerman, 50 di Jepang, dan 81 di Amerika Serikat. Secara umum, kegiatan pembelajaran di ketiga negara ini dapat digambarkan pada Tabel 3 berikut ini. 15
5 Tabel 3. Protret Pembelajaran Matematika di Tiga Negara Menit ke Pembelajaran Jerman Pembelajaran Jepang Pembelajaran AS 1 Guru mengecek PR Mereviu pelajaran terdahulu Siswa mengerjakan PR dan menyelesaikan yang sulit di bor, guru maslahan yang belum selesai mengeceknya Siswa mengemukakan solusi yang mereka temukan, guru menyimpulkan 10 Guru mengajukan permasalahan hari ini untuk dikerjakan siswa secara independen Guru memberikan teorema untuk dibuktikan siswa, guru memberikan prosedur untuk pembuktian Kelas mereviu teorema dengan cara membaca nyaring Guru memberikan PR Guru menyuruh siswa untuk melanjutkan bekerja dalam kelompok kecil. Ketua kelompok berdiskusi dengan guru mengenai permasalahan dan menulisnya di bor. Siswa menyalin permasalahan dan mulai bekerja Guru menggarisbawahi cara terbaik dalam menyelesaikan permasalahan Guru menajukan beberapa pertanyaan singkat kepada siswa sebagai kegiatan pemanasan Guru mengecek PR dengan nemugaskan siswa maju Guru membagikan LKS dengan problem yang sama Untuk dikerjakan secara independen Guru memonitor siswa yang sedang bekerja, sesekali mendemonstrasikan cara memecahkan soal sulit Guru mereviu permasalahan lain dan mendemonstrasikan cara penyelesaian untuk soal-soal yang menantang Guru mereviu dengan singkat secara lisan terhadap permasalahan seperti sebelumnya Guru menyuruh siswa menyelesaikan LKS dan memberikan PR 1. Kegiatan pendahuluan Di awal pembelajaran umumnya dimulai dengan reviu. Jerman dan Amerika Serikat memerlukan waktu cukup banyak dalam mengecek PR. Sedangkan, Jepang memulainya dengan mereviu singkat pelajaran kemarin. Jerman: Guru membimbing siswa dalam pengembangan teknik untuk menyelesaikan problem, siswa merespon pertanyaan-pertanyaan guru. 2. Kegiatan inti 16
6 Tatang Herman, Tims dan Implikasinya Jepang: Siswa bekerja menyelesaikan problem yang menantang dan mendiskusikan temuan dengan anggota. AS: Guru mengajukan banyak pertanyaan, siswa meresponnya, guru mendemonstrasikan cara menyelesaikan, menugaskan siswa menyelesaikan problemproblem serupa. 3. Kegiatan Penutup Pembelajaran ditutup dengan melakukan penyimpulan dalam cara berbeda. Jerman dan Amerika Serikat seringkali dengan guru memberikan PR, sedangkan Jepang dengan guru menyimpukan pokok-pokok utama dari kegitan yang telah dilakukan. Hasil studi melalui video Analisis dari video menghasilkan banyak temuan untuk direkomendasikan dalam pembelajaran matematika, terutama untuk Amerika Serikat. Kebanyakan orang Amerika berpendapat bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan harus difokuskan pada kompetensi guru. Ternyata hal ini tidak sepenuhnya benar, tetapi metode mengajar yang merupakan bagian dari kultur juga memiliki peranan yang penting. Guru-guru matematika di Amerika Serikat umumnya secara ekstrim memiliki keterbatasan, mereka terlalu berkonsentrasi pada hal-hal keterampilan prosedural. Walaupun mereka juga bekerja dalam kelompok, dapat mengakses teknologi mutakhir, mereka menghabiskan waktu banyak dalam mencapai penguasaan keterampilan melalui latihan-latihan serupa. Sedangkan Jepang yang tampaknya tidak begitu mementingkan kompetensi guru, namun mereka mampu mengajar melalui pemahaman konsep yang mendalam. Siswa di Jepang menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan problem yang menantang dan mendiskusikan konsep matematika sebagai hal yang biasa. Ini menunjukkan bahwa mengajar merupakan kegiatan kultural yang mampu menjelaskan mengapa mengajar harus siap menerima suatu perubahan. Dengan memahami bahwa mengajar pada hakekatnya adalah kegiatan kultural, hal ini akan memberikan akan kebutuhan bahwa kita harus selalu meningkatkannya. Meskipun banyak guru di Amerika Serikat mengaku mereka telah banyak melakukan upaya peningkatan dalam pengajaran sesuai dengan arus reformasi dan rekomandasi, namun studi dari video menunjukkan bukti yang lemah bahwa mereka sedang melakukan suatu perubahan. Ketika guru melakukan suatu perubahan dalam praktek pembelajaran, seringkali hanyalah sampai di kulit saja, tidak dilakukan secara mendalam (Stigler & Hiebert, 1999). Dibandingan dengan Jepang, jelaslah bahwa Amerika Serikat kurang dalam sistem pengembangan guru profesional untuk memberi kesempatan kepada guru belajar mengenai mengajar. Di Amerika Serikat seringkali guru-guru dibiarkan karena prinsif kebebasan, independen, dan merasa sudah cukup profesional. Hasil TIMSS dan Implikasinya Hasil evaluasi matematika sekolah Indonesia di tingkat dunia ini memperparah kesakitan kita yang selama ini masih diderita yaitu prestasi matematika siswa rendah. Informasi dari berbagai penjuru di tanah air mengumumkan bahwa Nilai Ebtanas Murni (NEM) matematika di setiap tingkatan sekolah umumnya bereda di urutan terbawah. Untuk menyembuhkan penderitaan ini memerlukan kolaborasi yang kompak antar berbagai pihak yang terkait dengan pendidikan, karena bukan hanya tanggung jawab guru saja. Sebenarnya tidak sedikit upaya yang dicobakan untuk meningkatkan kualitas proses dan produk pembelajaran ini. Misalnya penyesuaian kurikulum sekolah yang secara rutin sekitar satu dekadean dilakukan. Walaupun sampai belakangan ini dengan akan 17
7 diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), jumlah mata pelajaran yang terkandung di dalamnya masih merupakan salah satu kurikulum terpadat di dunia (Supriadi, 2000). Belum lagi melihat kandungan setiap mata pelajaran yang seringkali dikeluhkan banyak guru. Upaya lain yang sedang menjadi isu nasional dalam pendidikan matematika kita tidak terlepas dari perkembangan dunia. Pendidikan matematika realistik seperti yang sudah berkembang di Belanda sejak puluhan tahun silam, yang dikenal Realistic Mathematics Education (RME), sejak beberapa tahun diujicobakan di sekolah-sekolah dasar di Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya (Tim PMRI UPI, 1999). Demikian pula pembelajaran berbasis permasalahan yang dikenal Contextual Teaching and Learning (CTL), sedang dikembangkan di Indonesia Timur (Dirjen Dikdasmen, 2002). Ditambah lagi dengan upaya-upaya inovatif lainnya yang dimotori oleh banyak Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan (LPTK) di Indonesia, walaupun hampir tidak kedengaran karena mungkin skalanya yang relatif kecil. Semua upaya di atas tentu saja tidak akan berhasil dengan baik walaupun dilakukan banyak pihak namun masih kompartementalistik. Oleh karena itu usaha recovery ini harus dilakukan secara sinergi oleh semua unsur, dengan menghilangkan faktor-faktor yang memperlemah dan mempertegas faktorfaktor dominan. Masalah sekompleks ini tentu saja tidak bisa dijawab dengan gampang dan cepat, namun perlu waktu, kesabaran, dan kerja keras. Siapa berani? Daftar Pustaka Dirjen Dikdasmen (2002). Pembelajaran dan Pengajaran Matematika Kontekstual. Jakarta: Dirjen Dikdasmen. Mullis, I.V.S., dkk. (2000). TIMSS 1999: International Mathematics Report. Boston: ISC Stigler, J.W. & Hiebert, J.(1999). The Teaching Gap. New York: The Free Press. Supriadi, D. (2000). Anatomi Buku Sekolah di Indonesia. Yogyakarta: Adi Cita. Tim PMRI UPI (1999). Laporan Pelaksanaan Pembelajaran Matematika Realisti di SD/MI. Jakarta: Proyek PGSM (Tidak dipublikasikan). 18
THE THIRD INTERNATIONAL MATHEMATICS AND SCIENCE STUDY (TIMSS) Tatang Herman
THE THIRD INTERNATIONAL MATHEMATICS AND SCIENCE STUDY (TIMSS) Tatang Herman 1. Apakah TIMSS? The Third International Mathematics and Science Study (TIMSS) merupakan studi komparatif internasional yang
12/14/2016. Indonesia berpartisipasi pada studi TIMSS sejak tahun Namun baru tahun 2015 target populasinya kelas 4 SD/MI
12/14/216 Hasil TIMSS 215 Trend in International Mathematics and Science Study Diagnosa Hasil untuk Perbaikan Mutu dan Peningkatan Capaian TIMSS adalah studi internasional yang mengukur kemampuan siswa
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan dapat diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
JUMLAH KUNJUNGAN KE TAMAN NASIONAL KOMODO MENURUT NEGARA ASAL TAHUN 2012
JUMLAH KUNJUNGAN KE TAMAN NASIONAL KOMODO MENURUT NEGARA ASAL TAHUN 2012 Bulan : Januari 2012 Lokasi pengambilan tiket masuk No Negara Asal 1 Afrika Selatan 3 1 4 4 3 7 - - - 11 2 Amerika Serikat 258 315
BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Perolehan Skor Rata-Rata Siswa Indonesia Untuk Sains
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Seiring dengan adanya upaya peningkatan mutu pendidikan maka evaluasi terhadap segala aspek yang berhubungan dengan kualitas pendidikan terus dilakukan. Hal
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-03.GR.01.06 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA NOMOR M.HH-01.GR.01.06 TAHUN 2010
I. PENDAHULUAN. Pada era global yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada era global yang ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini, setiap orang dapat dengan mudah mengakses dan mendapatkan bermacam-macam
BERITA NEGARA. No.1193, 2012 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Visa. Saat Kedatangan. Perubahan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1193, 2012 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Visa. Saat Kedatangan. Perubahan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN
REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN-PMA
REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN-PMA Triwulan I Tahun 2018 Jakarta, 30 April 2018 Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) - RI DAFTAR ISI I. TRIWULAN I 2018: Dibanding Tahun 2017 II. TRIWULAN I 2018: Sektor,
2015 PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR MATEMATIS SISWA SD KELAS III MELALUI PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK BERBASIS PERMAINAN TRAD ISIONAL
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Belajar matematika bukan hanya merupakan akumulasi pengetahuan tetapi bagaimana proses dalam berpikir untuk menerjemahkan fakta-fakta yang berkembang dalam kehidupan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pelaksanaan pendidikan dalam suatu negara harus diawasi dan dievaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan sistem pendidikan yang digunakan. Berhasil tidaknya
BAB I PENDAHULUAN. penyempurnaan yang terjadi pada setiap aspek pendidikan. Penyempurnaan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peningkatan kualitas pendidikan nasional ditandai dengan penyempurnaan yang terjadi pada setiap aspek pendidikan. Penyempurnaan kurikulum dari kurikulum 1994
BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi suatu bangsa. Dengan adanya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berperan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia bagi suatu bangsa. Dengan adanya peningkatan sumber daya
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER
KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM Alamat: Karangmalang, Yogyakarta 55281 RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER Fakultas : MIPA Program
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.825, 2015 KEMENKUMHAM. Visa Kunjungan. Saat Kedatangan. Ketujuh. Perubahan.
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.825, 2015 KEMENKUMHAM. Visa Kunjungan. Saat Kedatangan. Ketujuh. Perubahan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2015 TENTANG
KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIKA SISWA SMP INDONESIA PADA TIMSS 2011
Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 18 Mei 2013 KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIKA SISWA SMP INDONESIA PADA TIMSS 2011 R. Rosnawati
PENINGKATAN MUTU PEMBELAJAAN MATEMATIKA DAN SAINS: PENDEKATAN DAN STRATEGI
PENINGKATAN MUTU PEMBELAJAAN MATEMATIKA DAN SAINS: PENDEKATAN DAN STRATEGI Asep Sapa at Pendekatan Ketrampilan Metakognitif untuk Meningkatkan Kompetensi Matematika Siswa Slamet Upaya Peningkatan Aktivitas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Matematika merupakan salah satu bagian penting dari pendidikan manusia, karena matematika relevan dengan berbagai cabang ilmu yang kita temui dalam kehidupan
I. PENDAHULUAN. Sejarah suatu bangsa dapat dilihat dari perkembangan pendidikan yang diperoleh
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejarah suatu bangsa dapat dilihat dari perkembangan pendidikan yang diperoleh oleh rakyatnya. Maju atau tidaknya suatu bangsa juga dapat dilihat dari maju atau
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia khususnya para siswa di tingkat pendidikan Sekolah Dasar hingga
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah yang wajib dipelajari oleh setiap siswa pada jenjang pendidikan manapun. Di Indonesia khususnya para
I. PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai arti penting dalam kehidupan. Melalui pendidikan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai arti penting dalam kehidupan. Melalui pendidikan diharapkan akan lahir sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu membangun kehidupan masyarakat
TABEL 62. PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA KE LUAR NEGERI MENURUT NEGARA TUJUAN D.I YOGYAKARTA TAHUN
TABEL 62. PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA KE LUAR NEGERI MENURUT NEGARA TUJUAN D.I YOGYAKARTA TAHUN 2010-2015 No 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Destination Country 1 Malaysia 1.807 1.320 1.178 804 1.334
BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini mengalami kemajuan yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan saat ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh kita semua, terutama dalam
REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN PMA TRIWULAN I TAHUN 2014
Invest in remarkable indonesia indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia indonesia remarkable indonesia invest in Invest in indonesia Invest
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Persentase Skor (%) 36 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dikemukakan hasil penelitian dan pembahasannya sesuai dengan tujuan penelitian yang telah dirumuskan. Untuk mengetahui ketercapaian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu studi internasional untuk mengevaluasi pendidikan khusus hasil belajar peserta didik berusia 14 tahun pada jenjang sekolah menengah pertama (SMP) yang diikuti
Kemampuan Matematika Siswa SMP Indonesia Menurut Benchmark Internasional TIMSS 2011 (Trend of International on Mathematics and Science Study 2011)
Kemampuan Matematika Siswa SMP Indonesia Menurut Benchmark Internasional TIMSS 2011 (Trend of International on Mathematics and Science Study 2011) Abstrak Makalah ini merupakan hasil analisis deskriptif
BAB I PENDAHULUAN. Untuk menghadapi tantangan zaman yang dinamis, berkembang dan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Untuk menghadapi tantangan zaman yang dinamis, berkembang dan semakin maju diperlukan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan intelektual tingkat tinggi yang
REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN - PMA TRIWULAN I TAHUN 2017
Invest in remarkable indonesia indonesia indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia indonesia remarkable indonesia invest in Invest in Invest
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemajuan sains dan teknologi yang begitu pesat dewasa ini tidak lepas dari peranan matematika. Matematika merupakan bidang studi yang dipelajari oleh semua
BAB I PENDAHULUAN. diarahkan kepada tabiat manusia dan kepada sesamanya (Fa turrahman dkk,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan kebutuhan semua manusia di dunia ini, baik anakanak dan orang dewasa, bahkan para orang tua juga masih membutuhkannya. Pendidikan dapat membuat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Erie Syaadah, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemampuan berpikir siswa pada usia SMP cenderung masih berada pada tahapan kongkrit. Hal ini diungkapkan berdasarkan hasil pengamatan dalam pembelajaran IPA yang
PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KEHUTANAN Nomor.: P.3/II-KEU/2010 TENTANG
PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KEHUTANAN Nomor.: P.3/II-KEU/2010 TENTANG PERUBAHAN PERTAMA PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KEHUTANAN NOMOR P.2/II-KEU/2010 TENTANG PEDOMAN HARGA SATUAN
BAB I PENDAHULUAN. kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, karena pendidikan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, karena pendidikan adalah faktor penentu kemajuan
2 2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 52, Tambahan Lembaran Negara Republik
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1321, 2015 KEMENKUMHAM. Visa Kunjungan. Saat Kedatangan. Perubahan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2015 PERUBAHAN KEDELAPAN
I PENDAHULUAN. Dalam pembangunan bangsa, pendidikan merupakan salah satu aspek penting
I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dalam pembangunan bangsa, pendidikan merupakan salah satu aspek penting karena pendidikan merupakan pondasi pembangunan suatu bangsa. Jika pendidikan tidak berjalan dengan
UNIVERSITAS MUHAMADIYAH SURAKARTA
PENINGKATAN AKTIVITAS SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN BANGUN RUANG MELALUI PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PTK Pembelajaran Matematika Kelas IV SD Negeri 01 Langensari)
P-34 PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP MELALUI PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK
P-34 PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP MELALUI PENDEKATAN PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK Nila Kesumawati ([email protected]) FKIP Universitas PGRI Palembang ABSTRAK Penelitian
BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan matematika merupakan salah satu unsur utama dalam. mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hakikatnya matematika
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan matematika merupakan salah satu unsur utama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hakikatnya matematika berkedudukan sebagai ilmu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ratunya ilmu (Mathematics is the Queen of the Sciences), maksudnya yaitu matematika itu tidak bergantung pada bidang studi lain. Matematika
I. PENDAHULUAN. depan yang lebih baik. Melalui pendidikan seseorang dapat dipandang terhormat,
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang kehidupan masa depan yang lebih baik. Melalui pendidikan seseorang dapat dipandang terhormat, memiliki
PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL 1
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL PEMBELAJARAN BERBASIS KONTEKSTUAL 1 LATAR BELAKANG MAKRO : Kondisi pendidikan secara makro di indonesia dalam lingkup internasional maupun nasional Kondisi pembelajaran di
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan yang berkualitas sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya manusia yang cerdas serta mampu berpikir kritis di era globalisasi. Salah satunya dengan
BAB I PENDAHULUAN. bertujuan agar siswa memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika merupakan salah satu bidang studi yang diajarkan di sekolah bertujuan agar siswa memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan intelektual dalam bidang
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP MELALUI PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL. M. Gilar Jatisunda 1)
PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP MELALUI PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL M. Gilar Jatisunda 1) 1) Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Majalengka
PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI) DAN RELEVANSINYA DENGAN KTSP 1. Oleh: Rahmah Johar 2
PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI) DAN RELEVANSINYA DENGAN KTSP 1 Oleh: Rahmah Johar 2 PENDAHULUAN Di dalam latar belakang dokumen Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk mata pelajaran
DESAIN PEMBELAJARAN PENJUMLAHAN BILANGAN 1-29 BERBASIS PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI) DI SD NEGERI 117 PALEMBANG
DESAIN PEMBELAJARAN PENJUMLAHAN BILANGAN 1-29 BERBASIS PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK INDONESIA (PMRI) DI SD NEGERI 117 PALEMBANG Oleh : Dewi Hamidah Abstrak : Observasi ini bertujuan untuk menghasilkan
BAB I PENDAHULUAN. sosial, teknologi, maupun ekonomi (United Nations:1997). Marzano, et al (1988)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dan sangat mendasar dalam meningkatkan kualitas kehidupan manusia dan menjamin perkembangan sosial, teknologi,
PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUK MENUMBUHKEMBANGKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA
PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK UNTUK MENUMBUHKEMBANGKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA Al Jupri, S.Pd. Kartika Yulianti, S.Pd. Jurusan Pendidikan Matematika
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang tidak terlepas dari suatu komunikasi. Komunikasi dapat berlangsung antar individu, kelompok, sosial, dan lain sebagainya. Berdasarkan
IV. METODE PENELITIAN
IV. METODE PENELITIAN 4.1. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data sekunder selama enam tahun pengamatan (2001-2006). Pemilihan komoditas yang akan diteliti adalah sebanyak lima komoditas
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan salah satu tempat siswa untuk mendapatkan ilmu mencetak sumber daya manusia yang handal, memiliki kemampuan berpikir kritis, sistematis, logis,
I. PENDAHULUAN. dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Hal ini sesuai
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi pembangunan bangsa dan negara karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Heri Sugianto, 2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu tentang fenomena alam secara sistematis. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA DENGAN PENERAPAN TEORI VYGOTSKY PADA MATERI GEOMETRI DI SMP NEGERI 3 PADANGSIDIMPUAN
UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA SISWA DENGAN PENERAPAN TEORI VYGOTSKY PADA MATERI GEOMETRI DI SMP NEGERI 3 PADANGSIDIMPUAN Feri Tiona Pasaribu*) *) Dosen Pendidikan Matematika
DADANG SUPARDAN JURS. PEND. SEJARAH FPIPS UPI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
DADANG SUPARDAN JURS. PEND. SEJARAH FPIPS UPI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL LATAR BELAKANG MAKRO : Kondisi pendidikan secara makro di indonesia dalam lingkup internasional maupun nasional yang masih rendah.
Studi Investor Global 2017
Studi Investor Global 2017 Perilaku investor: dari prioritas ke ekspektasi Studi Investor Global 2017 1 Daftar Isi 3 11 Ikhtisar Generasi milenial memiliki situasi yang bertentangan 4 12 Tren global menunjukkan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Matematika merupakan suatu landasan dan kerangka perkembangan ilmu
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika merupakan suatu landasan dan kerangka perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam kehidupan sehari-hari, konsep dan prinsip matematika banyak
BAB I PENDAHULUAN. Memasuki abad ke-21, bahan bakar fosil 1 masih menjadi sumber. energi yang dominan dalam permintaan energi dunia.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Memasuki abad ke-21, bahan bakar fosil 1 masih menjadi sumber energi yang dominan dalam permintaan energi dunia. Dibandingkan dengan kondisi permintaan energi beberapa
I. PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memberikan pengetahuan, wawasan,
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memberikan pengetahuan, wawasan, keahlian, dan keterampilan kepada individu untuk menumbuhkembangkan potensi-potensi yang ada dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengambilan keputusan adalah proses kognitif kritis di setiap bidang kehidupan manusia.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengambilan keputusan adalah proses kognitif kritis di setiap bidang kehidupan manusia. Dalam proses ini, masing-masing individu berperan aktif dan memperoleh hasil
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif. Menurut Hasan (2002:22), penelitian deskriptif adalah penelitian yang melukiskan variabel
UPAYA MENINGKATKAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL INQUIRY BERBANTUAN SOFTWARE AUTOGRAPH
(1 UPAYA MENINGKATKAN KOMUNIKASI MATEMATIK SISWA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL INQUIRY BERBANTUAN SOFTWARE AUTOGRAPH Anim* 1, Elfira Rahmadani 2, Yogo Dwi Prasetyo 3 123 Pendidikan Matematika, Universitas Asahan
PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR PROVINSI BENGKULU, JULI 2016
No. 51/09/17/Th. VII, 1 September 2016 PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR PROVINSI BENGKULU, JULI 2016 Total Ekspor Provinsi Bengkulu mencapai nilai sebesar US$ 7,58 juta. Nilai Ekspor ini mengalami penurunan
I. PENDAHULUAN. Kemampuan memecahkan masalah merupakan satu aspek yang sangat. penting dalam pembelajaran. Behrman, Kliegman, dan Arvin (2000: 130)
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemampuan memecahkan masalah merupakan satu aspek yang sangat penting dalam pembelajaran. Behrman, Kliegman, dan Arvin (2000: 130) mengatakan bahwa pentingnya kemampuan
BAB I PENDAHULUAN. yang berdampak pada peningkatan kualitas hidup suatu bangsa. Menurut
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah kunci utama kemajuan bangsa. Pendidikan yang berkualitas akan mendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdampak pada peningkatan
I. PENDAHULUAN. untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya seoptimal mungkin. Pendidikan
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan pendidikan nasional adalah memberikan kesempatan pada anak didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya seoptimal mungkin. Pendidikan pada dasarnya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN Pendahuluan ini berisi gambaran pelaksanaan penelitian dan penulisan skripsi. Bab ini terdiri atas latar belakang masalah, mengapa masalah ini diangkat menjadi bahasan penelitian, rumusan
Kata Kunci: analisis soal; buku siswa kurikulum 2013; BSE; domain kognitif 1. PENDAHULUAN
ANALISIS DESKRIPTIF SOAL-SOAL DALAM BUKU SISWA KURIKULUM 2013 (EDISI REVISI) DAN BSE PELAJARAN MATEMATIKA SMP KELAS VII DITINJAU DARI DOMAIN KOGNITIF TIMSS 2011 Yoga Muhamad Muklis 1, Siwi Rimayani Oktora
BAB I PENDAHULUAN. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting dalam
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang penting dalam pendidikan. Sebagai bukti, pelajaran matematika diajarkan disemua jenjang pendidikan mulai
I. PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan dan mengembangkan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Melalui pendidikan, manusia dapat mengembangkan potensi yang dimiliki
Abstrak. Bagaimana Membangun Pengetahuan Matematika melalui Problem Solving?
PROBLEM SOLVING SEBAGAI BAGIAN TAK TERPISAHKAN DALAM BELAJAR MATEMATIKA MERUPAKAN BENTUK INOVASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA* Oleh: Drs. Turmudi, M.Ed., M.Sc.** Abstrak Effective mathematics teaching requires
Prosiding Seminar Matematika dan Pendidikan Matematika ISBN:
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN THINK-PAIR- SHARE (TPS) DENGAN PENDEKATAN OPEN-ENDED UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA KELAS X MIA 1 SMA MTA SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2014/2015 Sigit
Dr. Fransisca Sudargo, M.Pd
Dr. Fransisca Sudargo, M.Pd LATAR BELAKANG Apa dan mengapa tentang Lesson Study? 1. Mutu SDM Indonesia menempati peringkat 110 di dunia. 2. Di ASEAN Indonesia menempati peringkat ke 7 setelah Vietnam 3.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tiara Nurhada,2013
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan yang paling penting dan meresap di sekolah adalah mengajarkan siswa untuk berpikir. Semua pelajaran sekolah harus terbagi dalam mencapai tujuan ini
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah penalaran Nurbaiti Widyasari, 2013
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengambilan keputusan terhadap masalah yang dihadapi oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari tentu tidak terlepas dari aspek-aspek yang mempengaruhinya. Keputusan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan, manusia akan mampu mengembangkan potensi diri sehingga akan mampu mempertahankan
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
No.217, 2015 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA HUKUM. Imigrasi. Visa. Bebas. Kunjungan. Perubahan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN
Daftar sekolah-sekolah di Australia yang menerima Penilaian AEAS dapat dilihat pada
Pelayanan Penilaian Pendidikan Australia Ujian AEAS (Australian Education Assessment Services atau Pelayanan Penilaian Pendidikan Australia) merupakan ujian lengkap yang khusus dirancang atau dipilih bagi
REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN - PMA TRIWULAN I TAHUN 2016
Invest in remarkable indonesia indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia indonesia remarkable indonesia invest in Invest in indonesia Invest
Kurikulum Australia L E M B A R A N I N F O R M A S I
Bahasa Inggris (halaman 1 dari 2) Apakah yang merupakan fitur kunci dari rancangan Kurikulum Australia K-10 untuk bahasa Inggris? Inggris telah diatur dalam tiga buah unting yang saling berkaitan: Bahasa
