BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
|
|
|
- Ida Muljana
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Satelit ALOS salah satu satelit sumber daya yang memiliki resolusi yang memadahi untuk observasi kenampakan objek di permukaan bumi dengan resolusi 10 meter. Satelit ALOS adalah satelit dari Jepang yang diluncurkan oleh JAXA s Tanegashima Space Center Jepang dan diluncurkan pada tahun Satelit ALOS memiliki 3 sensor, yaitu sensor pankromatik, ALOS AVNIR (visible dan near infrared), dan palsar (radar). Kemampuan merekam satelit ALOS ini sampai dengan resolusi spasial 2,5 m (untuk pankromatik) dan 10m (untuk Palsar dan AVNIR). Satelit ALOS merekam kenampakan permukaan bumi yang sama (pada periode ulang atau resolusi temporalnya) pada 46 hari (sumber: Metode pengolahan citra secara digital dapat menampakan informasi sampai dengan mengklasifikasikannya berdasarkan objek di permukaan bumi. Aspek penggunaan lahan dapat diklasifikasi langsung dengan menggunakan metode segmentasi, atau menonjolkan aspek khusus diantaranya kelembaban, dan vegetasi yang dapat diperjelas dengan menggunakan transformasi matematis. Transformasi matematis ini menggunakan nilai pantulan tiap band pada satu objek, sehingga mendapatkan nilai indeks. Selain itu sering digunakan komposit band untuk memperjelas kenampakan objeknya. Kombinasi komposit band citra multispektral akan menonjolkan kenampakan objek tertentu. Komposit 451, pada band 4 pada warna merah, band 5 pada warna hijau, dan band 1 pada warna biru, sehingga kenampakan akan nampak dari kombinasi warna antara band 4 yang dominan pada vegetasi, band 5 dominan pada tanah, dan band 1 dominan pada air. Dari metode pengolahan citra secara digital dapat digunakan untuk mengekstraksi informasi parameter longsorlahan. Longsorlahan merupakan salah satu kejadian alam yang sering terjadi di Indonesia khususnya di Kulon Progo. Fenomena longsorlahan cukup sering terjadi apalagi pada musim hujan. Namun seringnya longsorlahan ini terjadi masih
2 2 dapat diprediksi dan juga mengubah faktor yang mempengaruhinya. Bencana merupakan kejadian yang tidak tahu kapan akan terjadi, namun dapat diperkirakan dimana lokasi terjadinya berdasarkan ciri fisiknya. Banjir dan Longsor Kebakaran Hutan Kecelakaan Industri Banjir Longsorlahan Letusan Gunung Api Kerusuhan Sosial Kecelakaan Trasportasi Gelombang Pasang Puting Beliung Kekeringan KLB Hama Tanaman Gempa Bumi Aksi teror Tsunami Gambar 1. 1 Perbandingan Jumlah Kejadian Bencana Per Jenis Bencana (Sumber: Longsorlahan terjadi pada wilayah yang memiliki karakteristik topografi berbukit atau pegunungan. Topografi yang berbukit yang memiliki kemiringan yang cukup curam berpotensi terhadap rendahnya tingkat stabilitas lereng. Tingkat stabilitas lereng dapat dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain kemiringan lereng, iklim, bentul lahan, campur tangan manusia, dan karakteristik tanah sendiri. Karakter fisik yang ada pada DAS Tinalah yang berada pada jajaran pegunungan Menoreh memiliki karakteristik topografi yang berbukit. DAS Tinalah berada pada jajaran pegunungan menoreh, Menurut van bemmelen (1949) pegunungan Menoreh mengalami proses struktural dan denudasional. Sehingga potensi terjadinya longsorlahan sangat tinggi. Analitical hierarchy process (AHP) merupakan salah satu cara untuk menentukan menentukan dan dalam memilih alternatif yang paling baik atau berpengaruh (Saaty, 1983). Prinsip dari AHP adalah menyederhanakan persoalan
3 3 yang tidak terstruktur, stratejik dan dinamik menjadi bagian-bagian serta menatanya menjadi suatu hierarki. Longsorlahan merupakan fenomena alam yang kompleks karena dapat terjadi dengan bermacam-macam aspek yang mempengaruhinya. Penjelasan secara grafis dari metode AHP ini dapat dipahami secara mudah, sehingga posisi dari masing- masing aspek yang dapat mempengaruhi terjadinya longsorlahan ini dapat digambarkan dengan jelas. Berbagai cara ditempuh untuk meminimalisir kerugian yang ditimbulkan oleh bencana longsorlahan. Salah satu upaya yang ditempuh adalah membuat peta kerawanan. Pembuatan peta kerawanan ini menyajikan lokasi potensi terjadi longsor yang mungkin terjadi, sehingga dapat digunakan untuk acuan saat melaksanakan mitigasi bencana Perumusan Masalah Citra ALOS merupakan salah satu citra yang memiliki resolusi menengah yang dapat digunakan untuk ekstraksi informasi yang baik. Satelit ALOS menghasilkan citra multispektral yang dapat digunakan untuk pengolahan citra secara digital sehingga dapat menghasilkan atau menonjolkan kenampakan karakteristik objek pada citra. Satelit ini mampu merekam kenampakan objek di permukaan bumi dengan resolusi spasial sampai dengan 10 meter untuk multispectral. Resolusi temporal dari citra ini 45 hari yang kenampakan permukaan bumi dapat direkam dalam waktu 45 hari sekali oleh ALOS yang dibuat JAXA (Japan Aerospace Exploration Agency). Citra ALOS yang memiliki resolusi menengah dan memiliki citra radar. Citra radar ALOS memberikan informasi topografi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kerentanan terhadap bencana longsor. Longsorlahan terjadi karena berbagai macam aspek yang mempengaruhinya, namun ada beberapa variabel yang memiliki andil yang berbeda untuk mempengaruhi potensi terjadinya longsorlahan. Perlu adanya pembobotan pada masing variabel dan elemen variabel yang membuat nilai andil dari masing variabel untuk menentukan kerentanan longsor ini mendekati kondisi sebenarnya di lapangan.
4 4 Analytical hierarchy proses (AHP) merupakan metode yang digunakan untuk menyusun hirarki dari suatu permasalahan. Kerentanan longsor diperoleh dari beberapa parameter yang memiliki pengaruh berbeda-beda terhadap terjadinya longsor, maka AHP merupakan salah satu metode untuk mengungkapkan hubungan dari masing-masing parameter dan sub parameter terhadap longsorlahan. Kemampuan dari AHP ini dapat digunakan untuk menghitung tingkat kepentingan parameter yang mempengaruhi kejadian longsorlahan. Tingakat kepentingan dari parameter dari hasil AHP digunakan untuk bobot parameter longsorlahan Pertanyaan Penelitian Berdasarkan berbagai fenomena dan permasalahan yang telah disajikan sebelumnya maka diajukan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut ini: 1. Bagaimana tingkat akurasi citra ALOS dalam menyadap informasi parameter longsorlahan? 2. Bagaimana hasil kerawanan longsorlahan DAS Tinalah? 1.4. Tujuan Penelitian Penelitian berjudul pemanfaatan citra ALOS untuk zonasi kerentanan longsorlahan di DAS Tinalah Kabupaten Kulon Progo ini memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Mengetahui akurasi dari citra ALOS untuk menyadap informasi parameter longsorlahan, 2. Mengetahui faktor yang paling berpengaruh dengan metode AHP, 3. Membuat peta kerawanan longsorlahan DAS Tinalah dan pengujian terhadap akurasi hasil kerawanan Kegunaan Penelitian Hasil yang diharapkan pada penelitian ini diharapkan akan memberikan beberapa kegunaan berupa: 1. Mengetahui parameter yang dapat diambil dari citra ALOS untuk pemetaan kerawanan bencana longsorlahan,
5 5 2. Mengetahui faktor pembobot dengan Analytical Hierarchy Process, 3. Memberikan informasi kerentanan longsor di DAS Tinalah Kabupaten Kulon Progo.
6 Gambar 1.2 DAS Tinalah Kulon Progo 6
7 Tinjauan Pustaka Penginderaan Jauh Penginderaan jauh adalah Ilmu, teknik dan seni untuk mendapatkan informasi tentang objek, wilayah atau gejala dengan cara menganalisis data yang diperoleh dari suatu alat tanpa berhubungan langsung dengan objek, wilayah atau gejala yang sedang dikaji (Lilesand and Keifer, 1990). Penginderaan jauh memiliki serangkaian komponen yang terkait suatu aktivitas yang menjadi suatu sistem (Sutanto, 1986). Berdasarkan beberapa pengertian diatas disimpulkan bahwa, penginderaan jauh adalah suatu sistem yang digunakan untuk mendapatkan informasi objek atau wilayah tanpa harus berhubungan langsung dengan objek. Empat komponen yang ada pada sistem pengideraan jauh yaitu target atau objek, sumber energi, alur transmisi, dan sensor. Keempat komponen tersebut saling berkaitan, berdasarkan sumber energi, misal matahari memancarkan energi keobjek kemudian terdapat alur transmisi yang menyalurkan energi dari objek dan diterima oleh sensor, dan diterima oleh stasiun di bumi. Gambar 1.3 Sistem Penginderaan Jauh Sumber: Lillesand et al. (2008) dalam Danoedoro (2012)
8 8 Penginderaan jauh memiliki beberapa kelebihan dibanding pengambilan data dengan metode yang lain. Menurut Sutanto (1992) keunggulan pengindraan jauh antara lain: 1. Citra merupakan alat yang baik untuk membuat peta atau sebagai kerangka letak, 2. Dari jenis citra tertentu dapat menunjukkan informasi topografi yang dapat menyajikan model medan secara jelas, 3. Karakteristik objek yang tak tampak dapat dikenali dengan menggunakan citra seperti suhu permukaan bumi, dan kelembaban tanah, 4. Informasi dapat diperoleh secara cepat meskipun didaerah yang sulit dijelajahi secara terrestrial, 5. Citra sering dibuat dengan periode ulang yang pendek. Teknologi penginderaan jauh dibuat dengan tujuan tertentu untuk masingmasing satelit atau citra yang dihasilkan. Hal ini tergantung dari keterbatasan sensor yang dimiliki. Batas kemampuan dari sensor satelit disebut ini dengan nama resolusi spasial. Resolusi spasial adalah luasan satu pixel dalam ukuran yang sebenarnya. Menurut Swain dan Davies dalam Danoedoro (2012), resolusi atau resolving power adalah kemampuan suatu sistem optik elektronik untuk membedakan informasi yang secara spasial berdekatan atau secara spektral Satelit ALOS Satelit ALOS (Advanced Land Observing Satellite) ini diluncurkan oleh Japan Aerospace Exploration Agency pada 24 Januari Satelit ini merupakan salah satu satelit sumberdaya dengan resolusi semi detail. Memiliki tiga sensor utama yang disematkan pada satelit ALOS. Pertama, sensor ALOS PRISM, yaitu sebuah pankromatik radiometer. Sensor kedua adalah AVNIR-2, sensor ini merekam gelombang visibel dan near-infrared radiometer. Sensor ketiga yakni PALSAR, adalah tipe sensor radar dengan susunan L-band Synthetic Aperture Radar, yang merupakan sensor microwave aktif untuk observasi di hari cerah, siang hari, dan malam hari.
9 9 Tabel 1. 1Spesifikasi ALOS International Designation Code A Tanggal peluncuran 10:33, Januari 24, 2006 (JST) Kendaraan peluncur H-IIA Launch Vehicle No.8 Lokasi peluncuran Tanegashima Space Center Main body: 6.2m x 3.5m x4.0m Bentuk Solar Array Paddle: 3.1m x 22.2m PALSAR Antenna: 8.9m x 3.1m Weight 4,000kg Orbit Sun-Synchronous Subrecurrent/ Recurrent Ketinggian 700km Inklinasi 98 o Periode ulang 46 hari Sumber: JAXA (Japan Aerospace Exploration Agency),1997 Gambar 1. 4 Satelit ALOS Sumber: JAXA (Japan Aerospace Exploration Agency), Klasifikasi Klasifikasi merupakan kata serapan dari bahasa Belanda, classificatie, yang berarti metode untuk menyusun, mengelompokan secara sistematis menurut beberapa aturan dan kaidah yang telah ditetapkan. Pada penelitian ini klasifikasi yang digunakan adalah klasifikasi yang bertujuan untuk mengelompokan variabel dan sub variabel yang dapat di perbandingkan. Salah satu klasifikasi longsorlahan adalah klasifikasi yang dibuat oleh anbalagan.
10 10 Klasifikasi Anbalagan adalah klasifikasi yang dibuat oleh Anbalagan yang berupa Landslide hazard zonation atau LHZ. Sebagian dari klasifikasi tersebut digunakan dalam penelitian ini. Landslide hazard zonation adalah metode yang penting untuk mengklasifikasikan lahan kedalam derajat bahaya berdasarkan estimasi signifikansi yang menyebabkan perubahan stabilitas tanah (Anbalagan, 1992 dalam R.K.goel, 2012). Landslide hazard zonation sangat berguna untuk tujuan tertentu, seperti mengidentifikasi kerawanan bencana pada suatu daerah. Landslide Hazard Zonasi yang dibuat oleh Anbalagan mempertimbangkan berbagai faktor yang menyebabkan terjadi longsorlahan. Tujuan utama dari Anbalagan adalah mempertimbangkan faktor-faktor penyebab dengan cara yang sederhana. Metode ini cukup terkenal di India, Nepal, Italy dan beberapa negara yang lain. Metode LHZ menggolongkan daerah longsor menjadi lima zona kerawanan berdasarkan enam faktor penyebab utama terjadinya longsorlahan. Keenam faktor penyebab itu adalah Litologi, Struktur, Slope morfometri, Relief relatif, Tutupan lahan, Kondisi air tanah Model Analytical Hierarchy Process Analytic Hierarki Process merupakan salah satu cara untuk memecahkan masalah yang kompleks, dengan menyusun faktor masalah ke dalam susunan hirarki yang terstruktur dan sistematis (marimin, 2003). Menurut istilah analytical adalah suatu hubungan logis, dan hierarchy adalah susunan, AHP merupakan hubungan logis dengan mempertimbangkan hirarki dari faktor masalah, yang kemudian digunakan untuk menyelesaikan masalah. Metode Analytic Hierarki Process merupakan sebuah kerangka yang mengambil keputusan secara efektif dari persoalan kompleks untuk kemudian disederhanakan menjadi lebih sederhana dan mempercepat proses pengambilan keputusan atau memecahkan masalah (Bhushan. N, 2004). Memecah masalah menjadi bagaian-bagian kecil yang kemudian menata bagian-bagian tersebut menjadi susunan hirarki, serta memberi nilai dari suatu hirarki dengan pertimbangan subyektif tingkat kepentingan dari setiap variabel. Metode ini pernah digunakan dalam bidang militer untuk menganalisa pertahanan dan militer,
11 11 namun karena metode Analytic Hierarki Process ini mudah diaplikasikan dan dapat mengambil keputusan secara kompleks dibidang perencanaan, kebencanaan, tehnik, sampai dengan kesehatan. Menurut Bhushan. N (2004), tahap memecahkan masalah dengan metode AHP adalah menyusun hirarki, prinsip penentuan prioritas (comparative judgement), Synthesis of Priority dan prinsip konsitensi logis (logical consistensi). Penjelasan untuk masing-masing tahapan AHP adalah: 1. Penyusunan hirarki Menyusun hirarki adalah pemecahan masalah kedalam bagianbagian, pada kerawanan longsor dibagi berdasarkan pada parameternya yang masukan dalam suatu hirarki. Setiap parameter memiliki kaitan satu sama lain, dan kemudian digunakan untuk mengambil keputusan. hirarki ini dikatakan lengkap jika semua unsur memiliki tingkat hubungan dengan parameter pada tingkat berikutnya. TUJUAN Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3 Kriteria 4 Pilihan 1 Pilihan 2 Pilihan 3 Pilihan 4 Gambar 1. 2 Penyusunan Hirarki (Sumber: Saaty, T.L. and Vargas, L.G. 2000) 2. Penilaian Kriteria dan alternatif Membuat penilaian terhadap kepentingan relatif antara beberapa elemen pada suatu tingkatan tertentu. Penilaian ini biasanya digambarkan menggunakan pairwise comparison yang merupakan matriks perbandingan berpasangan yang memuat tingkat referensi beberapa perbandingan antar variabel. Skala referensi yang digunakan adalah skala 1 yang menunjukkan tingkat paling rendah (equal importance) sampai
12 12 dengan skala 9 yang menunjukkan tingkat paling tinggi (extreme importance). 3. Penentuan Prioritas Setiap kriteria dan alternatif perlu dibandingkan secara berpasangan. Nilai perbadingan tersebut diolah menjadi penentuan tingkat perbandingan relatifnya. Tingkat kepentingan dari matriks normalisasi ini disebut Eigen faktor. Nilai Eigen faktor digunakan sebagai pembobot. Bobot dan prioritas dihitung dengan menggunakan manipulasi matriks atau melalui penyelesaian matematis. 4. Konsistensi logis Konsistensi logis adalah perhitungan regresikan seluruh Eigen factor yang diperoleh dari perbandingan berpasangan. Konsistensi logis ini digunakan untuk melihat apakah hasil dari tingkat kepentingan relative yang dibuat masih dalam batasan konsisten Sistem Informasi Geografi Menurut Kang-Tsung Chang (2002) SIG sebagai sistem komputerisasi untuk capturing, storing, querying, analyzing dan displaying data geografis. Sejak tahun 1980-an perkembangan SIG ini cukup pesat sejalan dengan perkembangan teknologi komputer yang semakin menjamur. Perkembangan SIG menarik berbagai pihak, sehingga SIG digunakan untuk berbagai tujuan. Penggunaan SIG sering digunakan di negara maju untuk segala bidang dari kalangan militer, pemerintahan, akademis, maupun untuk kepentingan bisnis. Seiring dengan kemajuan teknologi SIG ini sampai dengan berbagai bidang ini, karena memiliki keunggulan. 1. Sistem Informasi Geografi digunakan untuk alat bantu interaktif yang dapat memberikan pengetahuan dan wawasan tentang konsep ruang. 2. Sistem Informasi Geografi dapat melakukan analisis secara terintegrasi.
13 13 3. Dapat menghasilkan data yang tersintesis dengan baik. Dalam bidang kebencanaan Sistem Informasi Geografi dapat membantu mengolah data primer dan data sekunder menjadi informasi yang menunjukkan kerawanan atau kerentanan bencana. Informasi kerawanan bencana itu dapat digunakan untuk pertimbangan dalam memilih mitigasi bencana yang sesuai. Sistem Informasi Geografi sangat membantu dalam menganalisis data secara cepat mengenai kondisi informasi bencana Pengolahan Citra Digital Pengolahan citra digital, dibagi menjadi tiga yaitu pengolahan, citra dan digital. Pengolahan merupakan proses membuat atau memanipulasi sesuatu untuk tujuan tertentu, sedangkan citra adalah representasi atau gambaran dari objek di permukaan bumi. Kemudian digital adalah digit binary yang disimpan dalam bentuk digital. Pengolahan citra digital adalah proses membuat atau memanipulasi representasi atau tiruan benda atau objek di permukaan bumi yang disimpan dalam bentuk binar (digital) Longsorlahan Thornbury (1969:76) mendefinisikan longsorlahan sebagai gerakan massa dari rombakan batuan yang tipe gerakannya meluncur/menggeser (sliding/slipping) atau berputar (rotational), yang disebabkan oleh gaya gravitasi. Menurut Cruden dan Varnes dalam Crozier dkk., (2005) klasifikasi karakteristik gerak massa menuruni lereng yang terbagi menjadi lima antara lain jatuhan (fall), robohan (topple), luncuran/longsoran (slide), sebaran (spread), dan aliran (flow). longsorlahan (landslide) merupakan salah satu tipe di gerak massa longsoran/luncuran (slide), namun istilah ini menjadi istilah umum yang digunakan untuk menyebut gerakan massa lainya (Van Westen, 1993). Faktor pasif meliputi faktor topografi, kondisi geologis/litologi, kondisi hidrologis, tanah, keterdapatan longsor sebelumnya dan keadaan vegetasi. Faktor aktif yang mempengaruhi longsor lahan diantaranya aktivitas manusia dalam penggunaan lahan dan faktor iklim. Geomorfologi menjadi petimbangan dalam
14 14 kajian kerawanan longsorlahan. Bentuklahan sebagai kajian utama geomorfologi merupakan hasil bentukan dari longsorlahan (USGS, 2008). Pemanfaatan bentuklahan yang tidak sesuai dengan karakteristik bentuklahan dapat menimbulkan masalah seperti banjir, kekeringan, dan longsorlahan (Sutikno, 1997). Gambar 1.5. Gerak massa batuan Sumber : USGS, 2008 Istilah longsorlahan (landslide) yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gerak massa menuruni lereng baik massa tanah, runtuhan, batuan, dan atau
15 15 material organik karena faktor utama gravitasi bumi. Gambar 2.3. merupakan sketsa longsor mulai dari material batuan (fall toople, dan rockslide), material tanah atau organik (rotational slide, translational slide, creep, dan flow slide), dan material campuran (debris flow dan debris avalenche) Longsorlahan dan Analitical Hierarchy Process Analitical Hierarchy Process dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah dengan terlebih dahulu memisahnya menjadi bagian-bagian yang kemudian di hirarki. Kerawanan longsor merupakan salah satu kajian yang dapat diselesaikan dengan menggunakan metode AHP. Metode AHP ini termasuk dalam metode pembobotan tehadap parameter kerawanan longsorlahan. Namun pembobotan ini tidak dilakukan dengan sembarangan melainkan menggunakan cara matematis berdasarkan pada perhitungan yang sudah ditentukan. Tareq H, Muzeghi (2012) melakukan pemetaan kerawanan longsorlahan menggunakan AHP dengan menggunakan penginderaan jauh. Hasil penelitiannya adalah model untuk memetakan kerawanan longsorlahan menggunakan AHP dan penginderaan jauh, model ini cukup efektif dan mampu menilai kontribusi dari faktor yang mempengaruhi longsor. Nilai bobot pada setiap variabel atau element variabel adalah indeks kerawanan longsorlahan. Indeks kerawan longsorlahan merupakan tahap awal untuk menyajikan hasil pembobotan kedalam bentuk keruangan. Indeks kerawanan longsorlahan secara sistematis dapat dihitung dengan persamaan. n Indeks Kerawanan = i=1 (W n x V n )...(1) Keterangan : W : bobot variabel V : bobot elemen variabel Hasil dari perkalian antara bobot variabel dengan element variabel tersebut akan menghasilkan indeks kerawanan longsorlahan. Indeks kerawanan
16 16 longsorlahan ini diklasifikasi menjadi kerawanan tinggi sampai dengan rendah. Klasifikasi ini menggunakan bantuan SIG untuk menampilkan dan juga mengolah indeks hingga dianalisis. Penelitian tentang kerawanan longsorlahan banyak dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya dengan metode pembobotan. Pada penelitian ini pembobotan yang digunakan berasal dari analisis AHP, yang melakukan pembobotan berdasarkan pada pertimbangan variabel lain. Pada masing-masing elemen variabel dibandingkan, hingga didapat nilai bobot sesuai dengan kontribusi terhadap longsorlahan Keaslian Penelitian Penelitian kerewanan longsorlahan sudah berkembang dibeberapa negara di dunia. Metode dan pendekatan dikembangkan untuk menentukan zonasi daerah rawan longsorlahan, mulai dari metode sederhana sampai dengan metode deterministik, euristik dan probabilistik. Pemanfaatan citra juga di maksimalkan untuk dapat mengidentifikasi kerawanan longsorlahan dengan lebih baik dan cepat. Beberapa contoh penelitian tentang longsorlahan yang pernah dilakukan disajikan di Tabel 1.2 Felix Yanuar, (2011), dalam penelitiannya Pemanfaatan Citra Aster Untuk Pemetaan Longsor dengan Metode Model Konvensional dan Model Stabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan ekstraksi citra ASTER untuk menghasilkan parameter bentuk lahan dan memetakan kerawanan longsorlahan dengan permodelan longsorlahan konvensional dan model stabilitas. Penelitian di lakukan di Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kondisi daerah penelitian berada antara Gunung Merapi dan Merbabu yang memiliki banyak aktivitas longsorlahan. Model yang digunakan berupa parameterik dengan pengharkatan, parameternya meliputi, bentuklahan, jenis tanah, intensitas hujan, kemiringan lereng, dan stabilitas lereng. Hasil dari penelitian ini ada dua model kerawanan longsor dari hasil metode konvensional dan model stabilitas. Dari masing-masing hasil kerawanan longsorlahan dibagi menjadi 3 kelas kerawanan. Hasil peta kerawanan model konvensional menyajikan sebaran titik longsorlahan
17 17 sebesar 31,43% pada klas rendah, 68,57% pada klas sedang dan 0% pada klas tinggi. Sedangkan pada model stabilitas dapat menyajikan sebesar 25,71% pada kelas rendah, 48% pada klas sedang dan 25,71% pada kelas tinggi. Sehingga hasil kerawanan longsor model stabilitas lebih mampu merepresentasikan kondisi di lapangan di bandingkan model konvensional, hasil akurasi model stabilitas dengan analisis SINMAP memiliki akurasi model sebesar 74%. Dhandhun Wacano, (2010), dalam penelitiannya berjudul Kajian Kerawanan Longsor dengan Menggunakan Metode Analytical Hierarchy Process di DAS Tinalah Kulon Progo. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh aspek fisik alami dan manusia terhadap kerawanan longsorlahan dan mengetahui tingkat kerawanan longsorlahan di DAS Tinalah. Metode yang digunakan untuk menyusun peta kerawanan ini menggunakan model AHP untuk melakukan pembobotan terhadap parameter longsorlahan. Sedangkan untuk analisa keruangan menggunakan bantuan Sistem Informasi Geografi berbasis raster dan vektor. Parameter yang digunakan bentuk lahan, sudut lereng, buffer sungai, tanah, penggunaan lahan, dan buffer jalan. Analisi dengan model AHP mendapatkan hasil bahwa aspek fisk dan manusia sangat berpengaruh terhadap kerawanan longsorlahan di DAS Tinalah. Penilaian hirarki menempatkan bentuk lahan paling tinggi di ikuti dengan lereng serta, jaringan jalan, jaringan sungai, tanah dan penggunaan lahan. DAS Tinalah secara umum rawan terhadap longsorlahan. Zulfa Hamida, (2007), dalam penelitian Penggunaan Citra Landsat7 ETM+ Untuk Zonasi Kerentanan dan Prediksi Kejadian Longsorlahan di sisi Barat Gunung Wilis Kabupaten Ponorogo. Tujuan dari penelitian ini adalah memanfaatkan data penginderaan jauh khususnya citra landsat 7 ETM+ untuk membuat zonasi kerentanan longsorlahan, dan mencari hubungan antara kejadian longsor dan curah hujan untuk memprediksi longsorlahan. model yang digunakan dalam penelitiannya adalah model parameterik, dengan tujuh parameter yaitu lereng, penggunaan lahan, tingkat erosi, pelapukan batuan, kedalaman tanah, kembang kerut tanah, curah hujan. Hasilnya adalah peta kerawanan longsorlahan yang memiliki akurasi sebesar 78.95%. kondisi daerah sebagian besar termasuk
18 18 zona kerawanan sedangkan zona kerawanan rendah paling sedikit dan intensitas hujan sangat berpengaruh terhadap terjadinya longsorlahan. Guruh Samodra, (2010), dalam penelitian dengan judul Penilaian Kerentanan Dan Risiko Tanah Longsor: dari pemetaan geomorfologi hingga analisis citra berorientasi objek (OBIA) di DAS Kayangan Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta dengan tujuan penelitian untuk mempelajari kondisi geomorfologi, mengidentifikasi kerawanan tanah longsor, menilai kerentanan tanah longsor dan menilai risiko tanah longsor di DAS Kayangan. Pada peta geomorfologi terdiri dari informasi morofogenesa, morfokronologi dan morfoaransemen. Aplikasi tehnik heuristic statistics pada model weight of evidence diaplikasikan untuk megidentifikasi kerentanan tanah longsor. Validasi peta kerentanan tanah longsor menggunakan tehnik survei terhadap 151 responden rumah tangga untuk mengidentifikasi pola keruangan kerentanan di DAS Kayangan. Analisis citra beorientasi objek atau dikenal dengan OBIA, dan knowledge base GIS ancillary data menggunakan pola keruangan yang digunakan untuk mengekstrapolasikan tingkat kerentanan tanah longsor pada seluruh DAS Kayangan. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa DAS Kayangan berdasarkan kondisi geomorfologis terbagi menjadi 3 zona kerentanan yaitu zona utara, zona tengah, dan zona tenggara. Kondisi morfologi memiliki peran penting terhadap penilaian kerentanan tanah longsor di DAS Kayangan. Penduduk yang tinggal di perbukitan dengan aksesibilitas yang rendah memiliki kecenderungan tingkat ekonomi yang rendah dan tingkat kerentanan yang tinggi. Klasifikasi risiko yang merepresentasikan potensi kerusakan ditimbulkan oleh tanah longsor dan kemampuan manusia untuk mengantisipasi bencana. Fedhi A, Hartoyo, (2014), dalam penelitiannya berjudul Perbandingan Tingkat Akurasi Digital Surface Model Hasil Ekstraksi Citra Stereo CARTOSAT- 1 Dengan Citra Stereo ALOS PRISM dengan tujuan untuk mengetahui tingkat akurasi DSM hasil ekstrasi citra stereo CARTOSAT-1 dan DSM hasil ekstrasi citra stereo ALOS PRISM, dan membandingkan kualitas hasil ekstraksi DEM masing-masing citra stereo berdasarkan ketelitiannya terhadap Peta Rupabumi Indonesia skala 1: citra ALOS PRISM dan CARTOSAT-1 merupakan dua
19 19 contoh dari stereo imagery yang dapat digunakan untuk membuat DSM. Tehnik pencocokan citra atau image matching yang memanfaatkan data Rational Polynomial Conficients (RCP). Pada tingkat kepercayaan 90% akurasi horisontal dari DSM CARTOSAT-1 sebesar 80,2318 meter dan akurasi vertikalnya adalah 1,6052 meter, sedangkan untuk akurasi horizontal ALOS PRISM sebesar 31,78 meter dan akurasi vertikalnya senilai 1,5590 meter. Dengan demikian hasil ekstrasi DSM citra stereo ALOS PRISM memiliki akurasi lebih baik dengan DSM hasil ekstraksi citra stereo CARTOSAT-1.
20 20 Pembanding Felix Yanuar Endro Wicaksono (2011) Dandun Wacano (2010) Zulfa Hamida (2007) Lokasi Penelitian Kecamatan Selo Boyolali DAS Tinalah Kulon Progo Lereng Barat Gunung Wilis Kabupaten Ponorogo Tabel Perbandingan penelitian sebelumnya Tujuan Sumber data Metode Variabel penelitian Hasil Mengeksraksi citra aster sehingga mendapatkan parameter longsor yang dipetakan dengan model konvensional dan model stabilitas Mengkaji kerawanan longsor dengan menggunakan metode AHP. Dengan basis longsor aktual Zonasi kerentanan longsor dengan memanfaatkan citra landsat dan prediksi longsor Citra Aster tahun 2003 dan tahun 2009 Peta RBI, peta Tanah, Data lapangan Citra landsat ETM + tahun 2003 Parameterik dengan pengharkatan Pembobotan menggunakan Analytical Hierarchy Process Parameterik dengan pengharkatan Bentuklahan, jenis tanah, intensitas hujan, kemiringan lereng, dan stabilitas lereng Bentuk lahan, sudut lereng, buffer sungai, tanah, penggunaan lahan, dan buffer jalan Lereng, penggunaan lahan, tingkat erosi, pelapukan batuan, kedalaman tanah, kembang kerut tanah, curah hujan Peta kerawanan longsor model konvensional, dan peta kerawanan longsor model stabilitas lereng Peta kerawanan longsor, dengan tervalidasi data longsor aktual Peta kerentanan longsorlahan, dan hubungan antara curah hujan terhadap longsorlahan Lanjutan ditabel 1.2.2
21 21 Pembanding Guruh Samodra Fedhi A, Hartoyo Lokasi Penelitian DAS Kayangan Jakarta Tabel Perbandingan penelitian sebelumnya lanjutan Tujuan Sumber data Metode Variabel penelitian Hasil Mempelajari kondisi geomorfologi, mengidentifikasi kerawanan tanah longsor, menilai kerentanan tanah longsor dan menilai risiko tanah longsor di DAS Kayangan Mengetahui tingkat akurasi DSM hasil ekstrasi citra stereo CARTOSAT-1 dan DSM hasil ekstrasi citra stereo ALOS PRISM, dan membandingkan kualitas hasil ekstraksi DEM masing masing citra stereo Landsat ALOS PRISM dan CARTOSAT-1 Weight of evidence, OBIA Morofogenesa, morfokronologi dan morfoaransemen Kondisi morfologi memiliki peran penting terhadap penilaian kerentanan tanah longsor di DAS Kayangan. Penduduk yang tinggal di perbukitan dengan aksesibilitas yang rendah memiliki kecenderungan tingkat ekonomi yang rendah dan tingkat kerentanan yang tinggi Image matching Ketinggian Hasil ekstrasi DSM citra stereo ALOS PRISM memiliki akurasi lebih baik dengan DSM hasil ekstraksi citra stereo CARTOSAT-1
22 Kerangka Pemikiran Citra ALOS merupakan citra dengan resolusi menengah yang memiliki beberapa sensor, yaitu PRISM, AVNIR, dan PALSAR. Masing-masing sensor memiliki karakter tersendiri dalam menangkap respon spektral objek-objek di permukaan bumi. Sensor PRISM mempunyai sistem optik independen untuk merekam data medan dengan resolusi spasial 2,5 meter, dimana sensor dibagi menjadi tiga bagian, yaitu forward, nadir, dan backward. Ketiga sensor ini merekam objek yang sama pada waktu yang sama, hanya saja dengan sudut pandang yang berbeda. Perbedaan sudut pandang inilah yang digunakan untuk membangun bentuk tiga dimensi permukaan bumi melalui konsep paralaks. Tentu saja hal ini sangat berguna untuk kegiatan analisis kebencanaan, misalnya kejadian longsor karena salah satu faktor yang berpengaruh besar terhadap kejadian longsor adalah kemiringan lereng. Disamping memiliki sensor PRISM, ALOS juga memiliki sensor AVNIR. Sensor ini merekam empat saluran, yaitu biru, hijau, merah, dan inframerah dekat, masing-masing dengan resolusi spasial 10 meter. Dengan adanya sensor dan resolusi sedang yang dimiliki oleh citra ini, ALOS memiliki keunggulan untuk analisis penutup lahan. Penutup lahan dapat dilihat langsung dengan mata telanjang (kualitatif), namun pada saat ini telah banyak berkembang software yang memberikan analisis kuantitaif spektral pantulan objek-objek di permukaan bumi untuk kemudian diklasifikasikan penutup lahannya. Seperti halnya kemiringan lereng, penutup lahan juga memiliki pengaruh yang besar terhadap kejadian longsor karena penutup lahan ini mempengaruhi masa tanah yang dilongsorkan. Penginderaan jauh diharapkan dapat membantu dalam mendapatkan dan juga menyadap informasi yang digunakan untuk membuat peta kerawanan longsorlahan. Data penginderaan jauh ini digunakan untuk mendapatkan data parameter fisik yang mempengaruhi longsorlahan. Disamping teknik penginderaan jauh, pada saat ini berkembang pula sistem informasi geografi yang mengolah data spasial bersama-sama untuk membangun prediksi kejadian longsor. Masing-masing parameter longsor diolah dengan sistem informasi geografis dan ditampilkan dalam bentuk peta. Peta dapat digunakan, baik sebagai
23 23 output, maupun sebagai input untuk analisis selanjutnya, sehingga peta biasanya digunakan untuk inventarisasi, misalnya inventarisasi kejadian longsorlahan di DAS Tinalah, Kulon Progo. DAS Tinalah merupakan wilayah yang memiliki topografi yang cukup curam. Kondisi tersebut rentan terhadap terjadinya longsorlahan. Kejadian longsorlahan yang ada di DAS Tinalah cukup banyak dan perlu adanya inventarisasi kejadian longsorlahan. Tingkat kerawanan longsorlahan pada penelitian ini didapati dari pembobotan yang menggunakan metode AHP. Metode ini memiliki kelebihan untuk menggambarkan hubungan antar parameter kedalam nilai bobot hirarkinya. Metode AHP ini juga mudah untuk di aplikasikan untuk menentukan bobot tiap parameter dari hubungan antara masing-masing parameter.
24 23 Lereng curam sehingga berpotensi longsorlahan Sensor PRISM yang dapat digunakan untuk ekstraksi kemiringan lereng DAS Tinalah Citra ALOS Kurangnya inventarisasi kejadian longsolahan Pemetaan Longsorlahan Sistem Informasi Geografi Sensor AVNIR yang dapat digunakan untuk ekstraksi penutup lahan Metode Analitic Hierarchy process - Model yang mudah dimengerti - Mudah diaplikasikan untuk berbagai macam bidang - Mempertimbangkan konsistensi logis - Memacahkan masalah kompleks menjadi bagianbagian kecil Gambar 1. 6 Kerangka Pemikiran
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang sangat rawan bencana. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya berbagai bencana yang melanda berbagai wilayah secara terus menerus, yang
BAB II DASAR TEORI. 2.1 DEM (Digital elevation Model) Definisi DEM
BAB II DASAR TEORI 2.1 DEM (Digital elevation Model) 2.1.1 Definisi DEM Digital Elevation Model (DEM) merupakan bentuk penyajian ketinggian permukaan bumi secara digital. Dilihat dari distribusi titik
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hasil sensus jumlah penduduk di Indonesia, dengan luas wilayah kurang lebih 1.904.569 km 2 menunjukkan adanya peningkatan jumlah penduduk, dari tahun 2010 jumlah penduduknya
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permukaan bumi yang tidak rata membuat para pengguna SIG (Sistem Informasi Geografis) ingin memodelkan berbagai macam model permukaan bumi. Pembuat peta memikirkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Sumberdaya alam ialah segala sesuatu yang muncul secara alami yang dapat digunakan untuk pemenuhan kebutuhan manusia pada umumnya. Hutan termasuk kedalam sumber daya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Berdasarkan UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, pasal 6 ayat (1), disebutkan bahwa Penataan Ruang di selenggarakan dengan memperhatikan kondisi fisik wilayah
PENDAHULUAN. menggunakan Analisis Tidak Langsung berdasarkan SNI Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah
PENDAHULUAN 1.1 Judul Penelitian Penelitian ini berjudul Pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah menggunakan Analisis Tidak Langsung berdasarkan SNI 13-7124-2005 Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara,
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. DEM ( Digital Elevation Model
15 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. DEM (Digital Elevation Model) Digital Elevation Model (DEM) merupakan bentuk 3 dimensi dari permukaan bumi yang memberikan data berbagai morfologi permukaan bumi, seperti kemiringan
PERANAN CITRA SATELIT ALOS UNTUK BERBAGAI APLIKASI TEKNIK GEODESI DAN GEOMATIKA DI INDONESIA
PERANAN CITRA SATELIT ALOS UNTUK BERBAGAI APLIKASI TEKNIK GEODESI DAN GEOMATIKA DI INDONESIA Atriyon Julzarika Alumni Teknik Geodesi dan Geomatika, FT-Universitas Gadjah Mada, Angkatan 2003 Lembaga Penerbangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dinamika bentuk dan struktur bumi dijabarkan dalam berbagai teori oleh para ilmuwan, salah satu teori yang berkembang yaitu teori tektonik lempeng. Teori ini
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan tropis terbesar di dunia, dengan kondisi iklim basa yang peluang tutupan awannya sepanjang tahun cukup tinggi.
dalam ilmu Geographic Information (Geomatics) menjadi dua teknologi yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berbagai aktivitas manusia memungkinkan terjadinya perubahan kondisi serta menurunnya kualitas serta daya dukung Daerah Aliran Sungai (DAS) yang merupakan rumah berbagai
Gambar 4.15 Kenampakan Satuan Dataran Aluvial. Foto menghadap selatan.
Gambar 4.15 Kenampakan Satuan Dataran Aluvial. Foto menghadap selatan. Gambar 4.16 Teras sungai pada daerah penelitian. Foto menghadap timur. 4.2 Tata Guna Lahan Tata guna lahan pada daerah penelitian
TINGKAT KERAWANAN LONGSORLAHAN DENGAN METODE WEIGHT OF EVIDENCE DI SUB DAS SECANG KABUPATEN KULONPROGO. Aji Bangkit Subekti
TINGKAT KERAWANAN LONGSORLAHAN DENGAN METODE WEIGHT OF EVIDENCE DI SUB DAS SECANG KABUPATEN KULONPROGO Aji Bangkit Subekti [email protected] Danang Sri Hadmoko [email protected] Abstract This research
BAB I PENDAHULUAN Perumusan Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan jumlah penduduk yang cukup tinggi di dunia khususnya Indonesia memiliki banyak dampak. Dampak yang paling mudah dijumpai adalah kekurangan lahan. Hal
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 8. SUPLEMEN PENGINDRAAN JAUH, PEMETAAN, DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)LATIHAN SOAL 8.3.
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 8. SUPLEMEN PENGINDRAAN JAUH, PEMETAAN, DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)LATIHAN SOAL 8.3 1. Data spasial merupakan data grafis yang mengidentifikasi kenampakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanah longsor merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia. Selama periode telah terjadi 850
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanah longsor merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia. Selama periode 2011-2015 telah terjadi 850 kejadian bencana tanah longsor di Indonesia (BNPB, 2015).
q Tujuan dari kegiatan ini diperolehnya peta penggunaan lahan yang up-to date Alat dan Bahan :
MAKSUD DAN TUJUAN q Maksud dari kegiatan ini adalah memperoleh informasi yang upto date dari citra satelit untuk mendapatkan peta penggunaan lahan sedetail mungkin sebagai salah satu paramater dalam analisis
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanah longsor adalah suatu produk dari proses gangguan keseimbangan yang menyebabkan bergeraknya massa tanah dan batuan dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada akhir tahun 2013 hingga awal tahun 2014 Indonesia dilanda berbagai bencana alam meliputi banjir, tanah longsor, amblesan tanah, erupsi gunung api, dan gempa bumi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah memiliki peranan penting dalam menunjang pembangunan nasional. Pada masa Orde baru pembangunan nasional dikendalikan oleh pemerintah pusat, sedangkan
BAB I PENDAHULUAN. sehingga masyarakat yang terkena harus menanggapinya dengan tindakan. aktivitas bila meningkat menjadi bencana.
BAB I BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang sangat rawan bencana. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya berbagai bencana yang melanda berbagai wilayah secara
1. BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN
1. BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peta menggambarkan data spasial (keruangan) yang merupakan data yang berkenaan dengan lokasi atau atribut dari suatu objek atau fenomena di permukaan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Longsorlahan merupakan perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah atau mineral campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng
Faktor penyebab banjir oleh Sutopo (1999) dalam Ramdan (2004) dibedakan menjadi persoalan banjir yang ditimbulkan oleh kondisi dan peristiwa alam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bencana alam tampak semakin meningkat dari tahun ke tahun yang disebabkan oleh proses alam maupun manusia itu sendiri. Kerugian langsung berupa korban jiwa, harta
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang bentuklahan, meliputi proses-proses yang bekerja terhadap batuan induk dan perubahanperubahan yang terjadi
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan 3 (tiga) lempeng tektonik besar yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia dan Pasifik. Pada daerah pertemuan
Bencana Longsor yang Berulang dan Mitigasi yang Belum Berhasil di Jabodetabek
Bencana Longsor yang Berulang dan Mitigasi yang Belum Berhasil di Jabodetabek Oleh : Baba Barus Ketua PS Mitigasi Bencana Kerusakan Lahan Sekolah Pasca Sarjana, IPB Diskusi Pakar "Bencana Berulang di Jabodetabek:
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Era Teknologi merupakan era dimana informasi serta data dapat didapatkan dan ditransfer secara lebih efektif. Perkembangan ilmu dan teknologi menyebabkan kemajuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peta merupakan representasi dari permukaan bumi baik sebagian atau keseluruhannya yang divisualisasikan pada bidang proyeksi tertentu dengan menggunakan skala tertentu.
DAFTAR ISI. . iii PRAKATA DAFTAR ISI. . vii DAFTAR TABEL. xii DAFTAR GAMBAR. xvii DAFTAR LAMPIRAN. xxii DAFTAR SINGKATAN.
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL. i HALAMAN PENGESAHAN DISERTASI. ii PERNYATAAN. iii PRAKATA. iv DAFTAR ISI. vii DAFTAR TABEL. xii DAFTAR GAMBAR. xvii DAFTAR LAMPIRAN. xxii DAFTAR SINGKATAN. xxiii INTISARI. xxiv
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. jenuh air atau bidang luncur. (Paimin, dkk. 2009) Sutikno, dkk. (2002) dalam Rudiyanto (2010) mengatakan bahwa
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Longsorlahan Longsorlahan adalah salah satu bentuk dari gerak masa tanah, batuan dan runtuhan batu/tanah yang terjadi seketika bergerak menuju lereng bawah yang dikendalikan
BAB I PENDAHULUAN. dikarenakan adanya kondisi geologi Indonesia yang berupa bagian dari rangkaian
1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Tanah longsor adalah salah satu bencana yang berpotensi menimbulkan korban jiwa masal. Ini merupakan bencana yang sering terjadi di Indonesia. Hal ini
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bencana Alam
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bencana Alam Bencana alam pada dasarnya adalah sebuah konsekuensi dari gabungan proses-proses alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunungapi, gempa bumi, tanah longsor,
BAB I PENDAHULUAN. atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2016), bencana tanah longsor
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang rawan terhadap bencana tanah longsor. Berdasarkan Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI) dari BNPB atau Badan Nasional
BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Geogrhafic Information System (GIS) 2. Sejarah GIS
BAB II PEMBAHASAN 1. Pengertian Geogrhafic Information System (GIS) Sistem Informasi Geografis atau disingkat SIG dalam bahasa Inggris Geographic Information System (disingkat GIS) merupakan sistem informasi
SENSOR DAN PLATFORM. Kuliah ketiga ICD
SENSOR DAN PLATFORM Kuliah ketiga ICD SENSOR Sensor adalah : alat perekam obyek bumi. Dipasang pada wahana (platform) Bertugas untuk merekam radiasi elektromagnetik yang merupakan hasil interaksi antara
II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kekeringan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kekeringan Kekeringan (drought) secara umum bisa didefinisikan sebagai kurangnya persediaan air atau kelembaban yang bersifat sementara secara signifikan di bawah normal atau volume
Gambar 11. Citra ALOS AVNIR-2 dengan Citra Komposit RGB 321
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Spektral Citra yang digunakan pada penelitian ini adalah Citra ALOS AVNIR-2 yang diakuisisi pada tanggal 30 Juni 2009 seperti yang tampak pada Gambar 11. Untuk dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kecamatan Kejajar merupakan salah satu kecamatan yang terletak di Pegunungan Dieng Kabupaten Wonosobo dengan kemiringan lereng > 40 %. Suhu udara Pegunungan Dieng
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN A. Konsep Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu untuk mengetahui potensi terjadinya banjir di suatu wilayah dengan memanfaatkan sistem informasi geografi
I. Pendahuluan Tanah longsor merupakan sebuah bencana alam, yaitu bergeraknya sebuah massa tanah dan/atau batuan menuruni lereng akibat adanya gaya
I. Pendahuluan Tanah longsor merupakan sebuah bencana alam, yaitu bergeraknya sebuah massa tanah dan/atau batuan menuruni lereng akibat adanya gaya gravitasi. Tanah longsor sangat rawan terjadi di kawasan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya perkembangan teknologi komputer dari waktu ke waktu membawa dampak semakin banyaknya sarana-sarana yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia. Dampak perkembangannya
BAB 1 PENDAHULUAN I-1
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jawa Barat memiliki potensi tinggi dalam bahaya-bahaya alam atau geologis, terutama tanah longsor, letusan gunung berapi, dan gempa bumi. Direktorat Geologi Tata Lingkungan
BAB I PENDAHULUAN. terjangkau oleh daya beli masyarakat (Pasal 3, Undang-undang No. 14 Tahun 1992
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Transportasi jalan diselenggarakan dengan tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan dengan selamat, aman, cepat, tertib dan teratur, nyaman dan efisien,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Realitas dinamika kehidupan pada masa lalu, telah meninggalkan jejak dalam bentuk nama tempat yang menggambarkan tentang kondisi tempat berdasarkan sudut filosofi,
BAB I PENDAHULUAN. 1. Menerapkan ilmu geologi yang telah diberikan di perkuliahan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Geomorfologi adalah salah satu hal yang menjadi dasar dalam ilmu geologi, karena geomorfologi dapat dijadikan panduan dalam pemetaan geologi, selain itu pengamatan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Berikut adalah metode penelitian yang diusulkan : Pengumpulan Data Peta Curah Hujan tahun Peta Hidrologi Peta Kemiringan Lereng Peta Penggunaan Lahan
ANALISA DAERAH POTENSI BANJIR DI PULAU SUMATERA, JAWA DAN KALIMANTAN MENGGUNAKAN CITRA AVHRR/NOAA-16
ANALISA DAERAH POTENSI BANJIR DI PULAU SUMATERA, JAWA DAN KALIMANTAN MENGGUNAKAN CITRA AVHRR/NOAA-16 Any Zubaidah 1, Suwarsono 1, dan Rina Purwaningsih 1 1 Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Longsor atau landslide merupakan suatu proses pergerakan massa tanah, batuan, atau keduanya menuruni lereng di bawah pengaruh gaya gravitasi dan juga bentuklahan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan lahan merupakan hasil kegiatan manusia baik yang berlangsung secara siklus atau permanen pada sumberdaya lahan alami maupun buatan guna terpenuhinya kebutuhan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Posisi Indonesia berada di daerah tropis mengakibatkan hampir sepanjang tahun selalu diliputi awan. Kondisi ini mempengaruhi kemampuan citra optik untuk menghasilkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penginderaan Jauh Penginderaan jauh merupakan ilmu dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, daerah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh dengan
BAB I PENDAHULUAN. dalam lingkungan geodinamik yang sangat aktif, yaitu pada batas-batas pertemuan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara geologis Indonesia merupakan negara kepulauan yang berada di dalam lingkungan geodinamik yang sangat aktif, yaitu pada batas-batas pertemuan berbagai lempeng
I PENDAHULUAN Latar Belakang
1 I PENDAHULUAN Latar Belakang Kejadian bencana di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Bencana hidro-meteorologi seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, puting beliung dan gelombang pasang
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Banjir 2.2 Tipologi Kawasan Rawan Banjir
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Banjir Banjir merupakan salah satu fenomena alam yang sering terjadi di berbagai wilayah. Richard (1995 dalam Suherlan 2001) mengartikan banjir dalam dua pengertian, yaitu : 1)
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penginderaan Jauh Penginderaan jauh merupakan tehnik dan seni untuk memperoleh informasi tentang suatu objek, wilayah atau fenomena dengan menganalisa data yang diperoleh
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di bumi terdapat kira-kira 1,3 1,4 milyar km³ air : 97,5% adalah air laut, 1,75% berbentuk es dan 0,73% berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kandungan air kanopi (Canopy Water Content) sangat erat kaitannya dalam kajian untuk mengetahui kondisi vegetasi maupun kondisi ekosistem terestrial pada umumnya. Pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang yang mempunyai permasalahan dalam mengelola tata ruang. Permasalahan-permasalahan tata ruang tersebut juga timbul karena penduduk
1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanfaatan penggunaan lahan akhir-akhir ini semakin mengalami peningkatan. Kecenderungan peningkatan penggunaan lahan dalam sektor permukiman dan industri mengakibatkan
Gambar 2. Peta Batas DAS Cimadur
11 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian DAS, Banten merupakan wilayah yang diambil sebagai daerah penelitian (Gambar 2). Analisis data dilakukan di Laboratorium Penginderaan Jauh
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan pada suatu wilayah akan berpengaruh terhadap perubahan suatu kawasan. Perubahan lahan terbuka hijau menjadi lahan terbangun
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lahan merupakan bagian bentang alam (landscape) yang mencakup komponen fisik yang terdiri dari iklim, topografi (relief), hidrologi dan keadaan vegetasi alami (natural
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bahan organik merupakan komponen tanah yang terbentuk dari jasad hidup (flora dan fauna) di tanah, perakaran tanaman hidup maupun mati yang sebagian terdekomposisi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penginderaan jauh yaitu berbagai teknik yang dikembangkan untuk perolehan dan analisis informasi tentang bumi. Informasi tersebut berbentuk radiasi elektromagnetik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. DAS (Daerah Aliran Sungai) Daerah aliran sungai adalah merupakan sebuah kawasan yang dibatasi oleh pemisah topografis, yang menampung, menyimpan dan mengalirkan curah hujan yang
BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan pesatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan di berbagai
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kajian bencana mewarnai penelitian geografi sejak tsunami Aceh 2004. Sejak itu, terjadi booming penelitian geografi, baik terkait bencana gempabumi, banjir,
BAHAN DAN METODE. Gambar 1 Peta Lokasi Penelitian
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat (Gambar 1). Penelitian dimulai dari bulan Juli 2010 sampai Januari
BAB I PENDAHULUAN. Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu wilayah rawan bencana.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu wilayah rawan bencana. Berbagai potensi bencana alam seperti gempa, gelombang tsunami, gerakan tanah, banjir, dan
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Luas kawasan hutan Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan tentang penunjukan kawasan hutan dan perairan provinsi adalah 133.300.543,98 ha (Kementerian
Gambar 1. Peta DAS penelitian
Gambar 1. Peta DAS penelitian 1 1.1. Proses Penentuan Model Kemiringan Lereng Kemiringan lereng ditentukan berdasarkan informasi ketinggian dan jarak pada data DEM yang berbasis raster (piksel). Besarnya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bencana alam sebagai salah satu fenomena alam dapat terjadi setiap saat,
A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Bencana alam sebagai salah satu fenomena alam dapat terjadi setiap saat, dimanapun dan kapanpun, sehingga dapat menimbulkan kerugian material dan imaterial bagi
I. PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Menurut Baldiviezo et al. (2003 dalam Purnomo, 2012) kelerengan dan penutup lahan memiliki peran dalam tanah longsor,
I. PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Menurut Baldiviezo et al. (2003 dalam Purnomo, 2012) kelerengan dan penutup lahan memiliki peran dalam tanah longsor, semakin tajam kemiringan lereng pada penggunaan lahan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktivitas gunung api dapat dipelajari dengan pengamatan deformasi. Pemantauan deformasi gunung api dapat digolongkan menjadi tiga kategori berbeda dari aktifitas gunung
TUGAS UTS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PEMETAAN DAERAH RAWAN BANJIR DI SAMARINDA
TUGAS UTS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS PEMETAAN DAERAH RAWAN BANJIR DI SAMARINDA Oleh 1207055018 Nur Aini 1207055040 Nur Kholifah ILMU KOMPUTER FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS MULAWARMAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanah merupakan materi yang terdiri dari agregat (butiran) padat yang tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain serta dari bahan bahan organik yang telah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penginderaan jauh merupakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni perolehan informasi objek di permukaan Bumi melalui hasil rekamannya (Sutanto,2013). Objek di permukaan
BAB IV HASIL DAN ANALISIS
BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.1. Zonasi Kerawanan Longsoran Proses pengolahan data sampai ke tahap zonasi tingkat kerawanan longsoran dengan menggunakan Metode Anbalagan (1992) sebagai acuan zonasi dan SIG
Citra Satelit IKONOS
Citra Satelit IKONOS Satelit IKONOS adalah satelit inderaja komersiil pertama yang dioperasikan dengan tingkat ketelitian 1 meter untuk model pankromatik dan 4 meter untuk model multispektral yang merupakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia dikenal sebagai sebuah negara kepulauan. Secara geografis letak Indonesia terletak pada 06 04' 30"LU - 11 00' 36"LS, yang dikelilingi oleh lautan, sehingga
BAB I PENDAHULUAN. yaitu Sub DAS Kayangan. Sub DAS (Daerah Aliran Sungai) Kayangan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bencana longsor lahan (landslide) merupakan salah satu bencana yang paling sering terjadi di Indonesia. Longsor lahan mengakibatkan berubahnya bentuk lahan juga
PEMANFAATAN CITRA ASTER DIGITAL UNTUK ESTIMASI DAN PEMETAAN EROSI TANAH DI DAERAH ALIRAN SUNGAI OYO. Risma Fadhilla Arsy
PEMANFAATAN CITRA ASTER DIGITAL UNTUK ESTIMASI DAN PEMETAAN EROSI TANAH DI DAERAH ALIRAN SUNGAI OYO Risma Fadhilla Arsy Abstrak : Penelitian di Daerah Aliran Sungai Oyo ini bertujuan mengesktrak parameter
APLIKASI PJ UNTUK PENGGUNAAN TANAH. Ratna Saraswati Kuliah Aplikasi SIG 2
APLIKASI PJ UNTUK PENGGUNAAN TANAH Ratna Saraswati Kuliah Aplikasi SIG 2 Prosedur analisis citra untuk penggunaan tanah 1. Pra-pengolahan data atau pengolahan awal yang merupakan restorasi citra 2. Pemotongan
III. METODOLOGI. 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian
III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan sejak Juli 2010 sampai dengan Mei 2011. Lokasi penelitian terletak di wilayah Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat. Pengolahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Menurut Asdak (2010), daerah aliran sungai (DAS) adalah suatu wilayah daratan yang secara topografik dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung dan
Metode Analisis Kestabilan Lereng Cara Yang Dipakai Untuk Menambah Kestabilan Lereng Lingkup Daerah Penelitian...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN KATA PENGANTAR... i PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN... ii DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... vi DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR LAMPIRAN... x INTISARI... xi ABSTRACT...
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang Potensi bencana alam yang tinggi pada dasarnya tidak lebih dari sekedar
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Potensi bencana alam yang tinggi pada dasarnya tidak lebih dari sekedar refleksi fenomena alam yang secara geografis sangat khas untuk wilayah tanah air kita. Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. merupakan bencana banjir dan longsor (Fadli, 2009). Indonesia yang berada di
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bencana longsor merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Potensi longsor di Indonesia sejak tahun 1998 hingga pertengahan 2008, tercatat
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah negara yang memiliki iklim tropis, serta tidak lepas dari pengaruh angin muson barat maupun angin muson timur. Dalam kondisi normal, angin muson barat
Legenda: Sungai Jalan Blok sawah PT. Sang Hyang Seri Kabupaten Subang
17 III. METODOLOGI 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dimulai pada bulan Oktober 2010 dan berakhir pada bulan Juni 2011. Wilayah penelitian berlokasi di Kabupaten Subang, Jawa Barat (Gambar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan menegaskan bahwa air beserta sumber-sumbernya, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya
TINJAUAN PUSTAKA. lahan dengan data satelit penginderaan jauh makin tinggi akurasi hasil
4 TINJAUAN PUSTAKA Makin banyak informasi yang dipergunakan dalam klasifikasi penutup lahan dengan data satelit penginderaan jauh makin tinggi akurasi hasil klasifikasinya. Menggunakan informasi multi
Gambar 1.1 Siklus Hidrologi (Kurkura, 2011)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air merupakan kebutuhan yang mutlak bagi setiap makhluk hidup di permukaan bumi. Seiring dengan pertambahan penduduk kebutuhan air pun meningkat. Namun, sekarang
