BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
|
|
|
- Johan Yandi Darmadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah memiliki peranan penting dalam menunjang pembangunan nasional. Pada masa Orde baru pembangunan nasional dikendalikan oleh pemerintah pusat, sedangkan daerah hanya menjadi pelaksana perintah dari pusat. Sistem yang tersentralisasi tersebut mengakibatkan terjadinya kesenjangan capaian pembangunan antar daerah satu dengan daerah lainnya akibat tidak meratanya pembangunan. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang diperbarui dengan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2014, memberikan kewenangan yang besar bagi daerah untuk dapat mengelola potensi daerahnya. Potensi yang ada di suatu daerah dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung perkembangan suatu wilayah. Pengembangan wilayah merupakan upaya membangun dan mengembangkan suatu wilayah berdasarkan pendekatan spasial dengan mempertimbangkan aspek sosial budaya, ekonomi, lingkungan fisik, dan kelembagaan. Pendekatan pembangunan yang memadukan antara pembangunan berbasis wilayah dan pembangunan berbasis sektoral dirasa penting dalam perencanaan pembangunan wilayah. Pembangunan berbasis wilayah merupakan pembangunan fisik wilayah sedangkan pembangunan berbasis sektoral lebih mengarah pada sektor potensial yang menunjang pengembangan wilayah seperti sektor pertanian dan industri. Pengembangan wilayah dilakukan untuk mengurangi kesenjangan wilayah. Kesenjangan wilayah menunjukkan ketidakmerataan kemajuan pembangunan antar wilayah yang terjadi akibat perbedaan kecepatan pertumbuhan. Pertumbuhan yang merata baik dari aspek fisik maupun sosial akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Perencanaan pengembangan wilayah berorientasi pada daerah yang belum berkembang. Potensi dan ketersediaan sumberdaya wilayah harus diketahui dan dimanfaatkan untuk kemakmuran masyarakat. Penentuan potensi wilayah dapat dilakukan dengan evaluasi lahan. Evaluasi lahan harus memperhatikan faktor 1
2 lingkungan sehingga tidak mengganggu keseimbangan ekosistem. Penilaian potensi lahan dapat dilakukan dengan menggunakan Indeks Potensi Lahan (IPL). IPL menyatakan nilai tingkat potensi lahan yang ada di suatu wilayah. Indeks potensi lahan dikaji dengan menggunakan pendekatan bentuklahan sehingga batasnya berupa batas fisik, sedangkan indeks potensi sosial dikaji berdasarkan batas administrasi. Kondisi wilayah memberikan gambaran tentang potensi yang ada di wilayah tersebut serta faktor tertentu yang dapat menghambat proses pengembangan wilayah. Penentuan prioritas daerah pengembangan mutlak diperlukan agar perencanaan wilayah dapat terlaksana dengan baik dan sesuai sasaran. Keputusan untuk menentukan lokasi pengembangan tidak boleh dilakukan tanpa mengidentifikasi lebih dahulu keterbatasan kondisi fisik wilayah dan keadaan sosial ekonomi penduduk yang telah menempati lokasi tersebut. Penentuan prioritas harus menunjukkan wilayah tersebut dapat dikembangkan tanpa merusak lingkungan. Perkembangan teknologi yang semakin pesat mendorong perkembangan di bidang penginderaan jauh. Penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk monitoring dan memperoleh atau mengekstraksi data potensi lahan yang ada di suatu wilayah. Penginderaan jauh dirasa lebih efektif dalam menghasilkan informasi kondisi fisik lahan. Citra Landsat 8 merupakan salah satu satelit sumberdaya yang mempunyai resolusi spasial menengah sehingga sesuai untuk mengkaji daerah yang luas. Saluran tertentu pada citra Landsat 8 sangat peka terhadap kondisi permukaan bumi seperti tanah dan batuan serta vegetasi penutup lahan. Hal ini akan mempermudah dalam menginterpretasi parameter fisik penentu potensi wilayah yang terdiri dari bentuk lahan, kemiringan lereng, litologi, tanah, hidrologi, dan kerawanan bencana. Pemanfaatan Citra Landsat 8 untuk keperluan perencanaan pengembangan wilayah sejauh ini belum banyak dilakukan. Sebagian besar perencanaan pengembangan yang ada masih menggunakan metode survei terestrial untuk memperoleh data potensi lahan sebagai dasar penyusunan prioritas pengembangan wilayah. Teknik penginderaan jauh mempunyai peranan penting dalam penentuan prioritas pengembangan wilayah. Citra penginderaan jauh mempunyai beberapa 2
3 keunggulan seperti lebih cepat dalam ekstraksi data dan mempunyai tingkat keakuratan yang memadai sehingga lebih murah apabila dibandingkan cek lapangan secara langsung. Sistem informasi geografi dapat mempermudah analisis data guna menentukan prioritas pengembangan wilayah demi terwujudnya perkembangan wilayah yang merata. SIG dapat digunakan untuk mengolah data dan memetakkan potensi lahan dan potensi sosial ekonomi di suatu wilayah. Kabupaten Boyolali yang berada di dataran kaki gunung api menyebabkan daerah ini menjadi subur karena material dari Gunung Merapi. Seiring dengan perkembangan zaman dan meningkatnya taraf hidup masyarakat maka pemerintah daerah giat melakukan pembangunan. Pembanguan suatu wilayah diharapkan mampu memicu perkembangan wilayah sekitarnya atau memberikan pelayanan ekonomi bagi wilayah sekitar. Pengembangan suatu wilayah harus didasarkan pada karakteristik dan potensi sumberdaya yang dimiliki wilayah tersebut serta daya saingnya dalam berinteraksi dengan wilayah di sekitarnya. Kabupaten Boyolali merupakan salah satu kabupaten di Karesidenan Surakarta yang memiliki pembangunan lambat dibanding kabupaten lainnya. Hal ini ditunjukkan oleh pendapatan daerah regional bruto atas dasar harga berlaku (PDRB ADHB) Kabupaten Boyolali tahun 2005 hingga 2009 terhadap kabupaten lain di Karesidenan Surakarta. Tabel 1.1 menunjukkan PDRB Kabupaten Boyolali selama 5 tahun terakhir dan pertumbuhannya paling rendah jika dibanding dengan kabupaten lainnya di Karesidenan Surakarta. Tabel 1.1 PDRB ADHB Eks Karesidenan Surakarta Tahun Kabupaten / PDRB ADHB (Rp Milyar) Rata-rata Kota Pertumbuhan Boyolali 4,64 5,14 5,71 6,44 7,14 10,84 Klaten 6,52 7,50 8,34 9,49-14,78 Sukoharjo 5,54 6,27 7,05 8,04-13,74 Wonogori 3,45 4,01 4,55 5,26-13,94 Karanganyar 5,61 6,18 6,90 7,68-11,11 Sragen 3,49 4,04 4,51 5,17-14,03 Surakarta 5,58 6,19 6,90 7,90-13,56 Sumber : BPS Kabupaten Boyolali 3
4 Kurun waktu 5 tahun dari tahun 2005 hingga 2009, sektor pertanian merupakan sektor yang menjadi andalan di Kabupaten Boyolali karena menyumbang 36% dari total PDRB Kabupaten Boyolali. Sektor industri menyumbang 15,12%, sektor perdagangan 24,81%, sektor jasa 10,52%, sedangkan sektor lainnya masih dibawah 10% berdasarkan PDRB ADHB Kabupaten Boyolali tahun Tabel 1.2 Distribusi Sumbangan PDRB ADHB Kabupaten Boyolali No. Sektor Tahun Pertanian 36,76 35,84 34,48 34,07 33,51 2. Pertambangan dan penggalian 0,75 0,85 0,92 0,91 0,96 3. Industri pengolahan 16,32 16,18 16,26 16,37 16,35 4. Listrik dan air bersih 0,98 1,19 1,24 1,30 1,30 5. Bangunan dan konstruksi 2,46 2,57 2,80 2,76 2,81 6. Perdagangan 25,97 25,49 25,09 24,92 24,60 7. Pengangkutan dan komunikasi 2,65 2,76 2,69 2,71 2,76 8. Keuangan, persewaan, dan Jasa 6,45 6,40 6,35 6,43 6,45 Perusahaan 9. Jasa-jasa 7,68 8,72 9,81 10,51 11,36 JUMLAH Sumber : BPS Kabupaten Boyolali Keterlambatan pembangunan di Kabupaten Boyolali dapat dipengaruhi oleh keterbatasan faktor fisik wilayah sehingga pembangunan sulit dilaksanakan di wilayah tertentu. Pembangunan yang tidak merata di Kabupaten Boyolali dapat dilihat dari perkembangan permukiman yang pesat di wilayah kota dan perkembangan industri yang dominan di wilayah yang berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo. Perencanaan pembangunan harus dilaksanakan agar tercipta pembangunan yang merata di seluruh wilayah Kabupaten Boyolali. Analisis ambang batas (threshold analysis) merupakan metode perencanaan yang komprehensif untuk evaluasi kemungkinan pembangunan wilayah dengan melihat keterbatasan faktor fisik dan sosial ekonomi. Keterbatasan atau lebih dikenal dengan istilah ambang batas tergantung pada lokasi pembangunan (Kozlowski,1997). Berdasarkan batasan tersebut, maka perencanaan fisik wilayah dapat mempengaruhi dan mengarah pada proses pembangunan. Analisis ambang batas dapat dikombinasikan dengan teknik perencanaan lainnya seperti perencanaan wilayah berbasis penilaian potensi wilayah menggunakan teknik 4
5 penginderaan jauh. Keputusan untuk menentukan lokasi perkembangan harus mengidentifikasi terlebih dahulu keterbatasan kondisi fisik wilayah sehingga tidak melampaui daya dukung lingkungan. (Sumarwoto, 1987). Kemampuan citra penginderaan jauh dan Sistem Informasi Geografis dapat membantu untuk mengahasilkan informasi tentang parameter fisik penentu potensi wilayah. Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini bermaksud mengkaji perencanaan pengembangan wilayah berdasarkan potensi fisik dan potensi sosial ekonomi, dengan judul Analisis Ambang Batas Untuk Penentuan Prioritas Pengembangan Wilayah Berdasarkan Citra Landsat 8 Di Kabupaten Boyolali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi lahan yang ada di suatu wilayah berdasarkan informasi parameter fisik dan data sosial ekonomi serta menentukan prioritas daerah pengembangan berdasarkan penilaian tingkat potensi fisik, sosial ekonomi dengan analisis ambang batas serta rekomendasi pengembangan wilayah dengan pertimbangan penggunaan lahan Perumusan Masalah Kabupaten Boyolali memiliki luas 1094,09 km 2 dan merupakan salah satu kabupaten yang cukup luas di Jawa Tengah. Perencanaan pengembangan wilayah di Kabupaten Boyolali harus diawali dengan inventarisasi potensi sumberdaya yang ada dan mengetahui kondisi wilayah secara umum, baik kondisi fisik maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat. Topografi yang beragam menyebabkan perkembangan wilayah di Kabupaten Boyolali tidak merata. Kondisi fisiografi yang berbeda menunjukkan potensi yang berbeda pula pada tiap wilayah. Kondisi fisiografi ini harus mendapat perhatian lebih dari pemerintah daerah sehingga pelaksanaan pembangunan dapat merata dan sesuai dengan kondisi fisik wilayah. Kondisi fisiografi yang beragam menyebabkan potensi wilayah Kabupaten Boyolali belum terpetakan dengan baik. Oleh karena itu diperlukan informasi mengenai potensi wilayah yang disajikan dalam bentuk peta potensi fisik wilayah dan peta potensi sosial ekonomi. Penelitian ini memperhitungkan faktor yang mendorong perkembangan wilayah dan faktor yang menjadi penghambat dalam perencanaan pengembangan 5
6 wilayah. Perencanaan pengembangan wilayah dan rekomendasi kebijakan pengembangan wilayah membutuhkan data potensi wilayah meliputi potensi fisik maupun potensi sosial ekonomi. Data potensi fisik lahan sangat sulit didapatkan karena memerlukan pengukuran langsung dan kegiatan lapangan untuk menilai potensi lahan yang ada di suatu wilayah. Penginderaan jauh dapat digunakan untuk menyadap informasi terkait parameter fisik lahan dengan cepat dan biaya yang lebih murah dibanding cek lapangan secara langsung. Penginderaan jauh dirasa lebih efektif dalam menghasilkan informasi kondisi fisik lahan. Citra Landsat 8 merupakan salah satu satelit sumberdaya yang mempunyai resolusi spasial menengah sehingga sesuai untuk mengkaji daerah yang luas karena cakupannya cukup luas. Citra satelit Landsat 8 diharapkan mampu memberikan informasi terkait parameter penentu potensi fisik lahan seperti bentuklahan, kemiringan lereng, litologi, tanah, hidrologi, dan kerawanan bencana. Perkembangan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografi dapat mempermudah analisis data guna menentukan prioritas pengembangan wilayah demi terwujudnya perkembangan wilayah yang merata. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan di bidang penginderaan jauh dan SIG, memungkinkan untuk dilakukannya monitoring dan inventasisasi data fisik sebagai dasar pembuatan peta potensi wilayah. Peta potensi wilayah diharapkan mampu memberi gambaran secara rinci potensi wilayah yang ada di Kabupaten Boyolali dan selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk dasar perencanaan pengembangan wilayah. Penentuan prioritas daerah pengembangan mutlak diperlukan agar perencanaan wilayah lebih optimal. Penentuan prioritas daerah pengembangan ini dapat memanfaatkan data potensi fisik serta potensi sosial ekonomi yang tersaji dalam peta. Keputusan untuk menentukan lokasi pengembangan tidak boleh dilakukan tanpa mengidentifikasi lebih dahulu keterbatasan kondisi fisik wilayah dan keadaan sosial ekonomi penduduk yang telah menempati lokasi tersebut. Penentuan prioritas harus menunjukkan wilayah tersebut dapat dikembangkan tanpa merusak lingkungan. Oleh karena itu digunakan analisis ambang batas untuk 6
7 mengetahui batas maksimal penggunaan lahan baik dari faktor fisik maupun sosial ekonomi. Analisis ambang batas dapat dijadikan dasar penentuan prioritas daerah pengembangan wilayah. Berdasarkan deskripsi tersebut, dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut: 1. Kondisi fisiografi yang beragam menyebabkan potensi wilayah Kabupaten Boyolali belum terpetakan dengan baik. 2. Citra Penginderaan Jauh belum banyak digunakan untuk mengetahui kondisi wilayah secara cepat dan inventarisasi potensi sumberdaya yang ada di wilayah tersebut. 3. Apakah pengembangan wilayah di Kabupaten Boyolali dapat optimal dengan penentuan prioritas daerah pengembangan berdasarkan penilaian tingkat potensi fisik, sosial ekonomi dan analisis ambang batas? 1.3. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk: 1. Mengkaji akurasi Citra Penginderaan Jauh untuk memperoleh informasi parameter fisik sebagai dasar penentuan potensi lahan. 2. Menilai potensi wilayah yang ada di Kabupaten Boyolali berdasarkan parameter potensi fisik lahan dan parameter sosial ekonomi. 3. Menentukan prioritas daerah pengembangan berdasarkan penilaian tingkat potensi fisik, sosial ekonomi dengan analisis ambang batas serta rekomendasi pengembangan wilayah dengan pertimbangan penggunaan lahan. 7
8 1.4. Kegunaan Penelitian 1. Hasil penelitian ini secara teoritis diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam bidang aplikasi ilmu Geografi untuk pengembangan wilayah, serta masukan untuk penelitian-penelitian selanjutnya terkait perencanaan wilayah. 2. Hasil penelitian ini secara praktis dapat digunakan sebagai pertimbangan perencanaan wilayah khususnya untuk menentukan prioritas pengembangan wilayah. 3. Bagi Pemerintah Kabupaten Boyolali, dapat menjadi rekomendasi kebijakan pengembangan wilayah. 8
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan lahan merupakan hasil kegiatan manusia baik yang berlangsung secara siklus atau permanen pada sumberdaya lahan alami maupun buatan guna terpenuhinya kebutuhan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Realitas dinamika kehidupan pada masa lalu, telah meninggalkan jejak dalam bentuk nama tempat yang menggambarkan tentang kondisi tempat berdasarkan sudut filosofi,
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jumlah penduduk di Indonesia terus bertambah setiap tahun. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia tidak menunjukkan peningkatan, justru sebaliknya laju pertumbuhan penduduk
EVALUASI RENCANA TATA RUANG WILAYAH BERDASARKAN INDEKS POTENSI LAHAN MELALUI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SRAGEN
EVALUASI RENCANA TATA RUANG WILAYAH BERDASARKAN INDEKS POTENSI LAHAN MELALUI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN SRAGEN Usulan Penelitian Untuk Skripsi S-1 Program Studi Geografi Diajukan Oleh : YOGA
BAB I PENDAHULUAN. sumberdaya lahan (Sitorus, 2011). Pertumbuhan dan perkembangan kota
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penggunaan lahan berhubungan erat dengan dengan aktivitas manusia dan sumberdaya lahan (Sitorus, 2011). Pertumbuhan dan perkembangan kota dipengaruhi oleh adanya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan menegaskan bahwa air beserta sumber-sumbernya, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 8. SUPLEMEN PENGINDRAAN JAUH, PEMETAAN, DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)LATIHAN SOAL 8.3.
SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 8. SUPLEMEN PENGINDRAAN JAUH, PEMETAAN, DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI (SIG)LATIHAN SOAL 8.3 1. Data spasial merupakan data grafis yang mengidentifikasi kenampakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bahan organik merupakan komponen tanah yang terbentuk dari jasad hidup (flora dan fauna) di tanah, perakaran tanaman hidup maupun mati yang sebagian terdekomposisi
BAB I PENDAHULUAN. menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses saat pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumber daya yang ada dan selanjutnya membentuk suatu pola kemitraan antara
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lahan merupakan bagian bentang alam (landscape) yang mencakup komponen fisik yang terdiri dari iklim, topografi (relief), hidrologi dan keadaan vegetasi alami (natural
BAB I PENDAHULUAN. ditunjukkan oleh besarnya tingkat pemanfaatan lahan untuk kawasan permukiman,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkembangan kota yang ditunjukkan oleh pertumbuhan penduduk dan aktivitas kota menuntut pula kebutuhan lahan yang semakin besar. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya tingkat
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Longsorlahan merupakan perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah atau mineral campuran tersebut, bergerak ke bawah atau keluar lereng
PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI UTARA DARI SISI PDRB SEKTORAL TAHUN 2013
BPS KABUPATEN TAPANULI UTARA No. 08/07/1205/Th. VI, 06 Oktober 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN TAPANULI UTARA DARI SISI PDRB SEKTORAL TAHUN 2013 Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Tapanuli Utara yang diukur
BAB I PENDAHULUAN. kondisi penggunaan lahan dinamis, sehingga perlu terus dipantau. dilestarikan agar tidak terjadi kerusakan dan salah pemanfaatan.
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan sangat diperlukan untuk kelanjutan hidup manusia. Kemajuan pembangunan di suatu wilayah sejalan dengan peningkatan jumlah pertumbuhan penduduk yang diiringi
DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. HALAMAN PENGESAHAN... i. HALAMAN PERNYATAAN... iii. INTISARI... iii. ABSTRACT... iv. KATA PENGANTAR...
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... i HALAMAN PERNYATAAN... iii INTISARI... iii ABSTRACT... iv KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR LAMPIRAN...
BAB I PENDAHULUAN. dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada dan. swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang
Analisis struktur perekonomian kota Depok sebelum dan sesudah otonomi daerah UNIVERSITAS SEBELAS MARET Oleh: HARRY KISWANTO NIM F0104064 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan daerah merupakan
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dan pengembangan wilayah merupakan dinamika daerah menuju kemajuan yang diinginkan masyarakat. Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dalam memajukan kondisi sosial,
I. PENDAHULUAN. Kota Depok telah resmi menjadi suatu daerah otonom yang. memiliki pemerintahan sendiri dengan kewenangan otonomi daerah
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Depok telah resmi menjadi suatu daerah otonom yang memiliki pemerintahan sendiri dengan kewenangan otonomi daerah beserta dengan perangkat kelengkapannya sejak penerbitan
IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -
IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI 4.1 Kondisi Geografis Kota Dumai merupakan salah satu dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37-101 o 8'13
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daerah perkotaan mempunyai sifat yang sangat dinamis, berkembang sangat cepat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Perkembangan daerah perkotaan dapat secara
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di bumi terdapat kira-kira 1,3 1,4 milyar km³ air : 97,5% adalah air laut, 1,75% berbentuk es dan 0,73% berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah,
ANALISIS POTENSI LAHAN PERTANIAN SAWAH BERDASARKAN INDEKS POTENSI LAHAN (IPL) DI KABUPATEN WONOSOBO
ANALISIS POTENSI LAHAN PERTANIAN SAWAH BERDASARKAN INDEKS POTENSI LAHAN (IPL) DI KABUPATEN WONOSOBO HAL AMAN JUDUL Usulan Penelitian Untuk Skripsi S-1 Program Studi Geografi Diajukan Oleh : Gandes Hamranani
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi satelit penginderaan jauh merupakan salah satu metode pendekatan penggambaran model permukaan bumi secara terintegrasi yang dapat digunakan sebagai data dasar
I. PENDAHULUAN. dengan jalan mengolah sumberdaya ekonomi potensial menjadi ekonomi riil
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi adalah usaha meningkatkan pendapatan perkapita dengan jalan mengolah sumberdaya ekonomi potensial menjadi ekonomi riil melalui penanaman modal,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada akhir tahun 2013 hingga awal tahun 2014 Indonesia dilanda berbagai bencana alam meliputi banjir, tanah longsor, amblesan tanah, erupsi gunung api, dan gempa bumi
Tabel 1.1 Tabel Jumlah Penduduk Kecamatan Banguntapan Tahun 2010 dan Tahun 2016
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Tempat tinggal merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan karena merupakan salah satu kebutuhan primer manusia. Tempat tinggal menjadi sarana untuk berkumpul,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan sumberdaya ekonomi melimpah. Kekayaan sumberdaya ekonomi ini telah dimanfaatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan pada suatu wilayah akan berpengaruh terhadap perubahan suatu kawasan. Perubahan lahan terbuka hijau menjadi lahan terbangun
berbagai macam sumberdaya yang ada di wilayah pesisir tersebut. Dengan melakukan pengelompokan (zonasi) tipologi pesisir dari aspek fisik lahan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Indonesia adalah negara bahari dan negara kepulauan terbesar di dunia dengan keanekaragaman hayati laut terbesar (mega marine biodiversity) (Polunin, 1983).
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dititikberatkan pada pertumbuhan sektor-sektor yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tujuan pembangunan pada dasarnya mencakup beberapa
BAB I PENDAHULUAN. Pertambahan penduduk daerah perkotaan di negara-negara berkembang,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertambahan penduduk daerah perkotaan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, masih cukup tinggi. Salah satu penyebab adanya laju pertambahan penduduk
BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Perkembangan jumlah penduduk dan industri pada CAT Karanganyar-Boyolali
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang CAT Karanganyar-Boyolali merupakan cekungan airtanah terbesar di Jawa Tengah, dengan luasan cekungan sebesar 3.899 km 2, dengan potensi airtanah yang sangat melimpah.
BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan pendapatan perkapita sebuah
BAB I. PENDAHULUAN. luas, yang mengkaji sifat-sifat dan organisasi di permukaan bumi dan di dalam
1 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Geografi sebagai salah satu disiplin ilmu mempunyai cakupan sangat luas, yang mengkaji sifat-sifat dan organisasi di permukaan bumi dan di dalam ruang, dengan pertanyaan-pertanyaan
I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan perkapita penduduk yang diikuti oleh perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara. Pembangunan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian. Kabupaten Ponorogo merupakan daerah di Provinsi Jawa Timur
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Ponorogo merupakan daerah di Provinsi Jawa Timur yang memiliki luas 1.371,78 Km2, penggunaan wilayah Ponorogo sebagaian besar untuk area ke hutanan yaitu
IV. KEADAAN UMUM 4.1. Regulasi Penataan Ruang
IV. KEADAAN UMUM 4.1. Regulasi Penataan Ruang Hasil inventarisasi peraturan perundangan yang paling berkaitan dengan tata ruang ditemukan tiga undang-undang, lima peraturan pemerintah, dan empat keputusan
Pendapatan Regional / Product Domestic Regional Bruto
Kabupaten Penajam Paser Utara Dalam Angka 2011 258 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dalam bab ini disajikan data dalam bentuk tabel dan grafik dengan tujuan untuk mempermudah evaluasi terhadap data
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan perkotaan adalah wilayah yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang yang mempunyai permasalahan dalam mengelola tata ruang. Permasalahan-permasalahan tata ruang tersebut juga timbul karena penduduk
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lahan merupakan bentang permukaan bumi yang dapat bermanfaat bagi manusia baik yang sudah dikelola maupun belum. Untuk itu peran lahan cukup penting dalam kehidupan
I. PENDAHULUAN. cepat, sementara beberapa daerah lain mengalami pertumbuhan yang lambat.
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tolok ukur keberhasilan pembangunan dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan semakin kecilnya ketimpangan pendapatan antar penduduk, antar daerah dan antar sektor. Akan
BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi menjadi prioritas utama bagi negara-negara
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan ekonomi menjadi prioritas utama bagi negara-negara berkembang hal ini disebabkan karena terjadinya keterbelakangan ekonomi yang mengakibatkan lambatnya
BAB I PENDAHULUAN. Perencanaan pengembangan wilayah merupakan salah satu bentuk usaha
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perencanaan pengembangan wilayah merupakan salah satu bentuk usaha yang memanfaatkan potensi sumberdaya lahan secara maksimal untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia dikenal sebagai sebuah negara kepulauan. Secara geografis letak Indonesia terletak pada 06 04' 30"LU - 11 00' 36"LS, yang dikelilingi oleh lautan, sehingga
I. PENDAHULUAN. dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dengan kata lain, perkembangannya
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan ekonomi daerah merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan pemerintah daerah bersama dengan masyarakat dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laju pertumbuhan penduduk yang semakin cepat dan aktifitas penduduk di suatu daerah membawa perubahan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laju pertumbuhan penduduk yang semakin cepat dan aktifitas penduduk di suatu daerah membawa perubahan yang besar terhadap aspek kehidupan manusia dan lingkungan. Pertumbuhan
I. PENDAHULUAN. yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara umum pembangunan ekonomi di definisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan masyarakat meningkat dalam periode
BAB I PENDAHULUAN. institusi nasional tanpa mengesampingkan tujuan awal yaitu pertumbuhan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan adalah upaya multidimensional yang meliputi perubahan pada berbagai aspek termasuk di dalamnya struktur sosial, sikap masyarakat, serta institusi
INDIKATOR MAKRO EKONOMI KABUPATEN TEGAL
III. EKONOMI MAKRO KABUPATEN TEGAL TAHUN 2013 Pembangunan ekonomi merupakan suatu hal mendasar suatu daerah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi itu sendiri pada dasarnya
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan merupakan seluruh satuan lahan yang menunjang kelompok vegetasi yang didominasi oleh pohon segala ukuran, dieksploitasi maupun tidak, dapat menghasilkan kayu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Berdasarkan UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, pasal 6 ayat (1), disebutkan bahwa Penataan Ruang di selenggarakan dengan memperhatikan kondisi fisik wilayah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penginderaan jauh merupakan teknologi penyadap dan produksi data citra digital permukaan bumi telah mengalami perkembangan sejak 1960-an. Hal ini dibuktikan dengan
1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemanfaatan penggunaan lahan akhir-akhir ini semakin mengalami peningkatan. Kecenderungan peningkatan penggunaan lahan dalam sektor permukiman dan industri mengakibatkan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor Industri merupakan salah satu sektor yang berperan penting dalam pembangunan nasional. Kontribusi sektor Industri terhadap pembangunan nasional setiap tahunnya
penduduk yang paling rendah adalah Kabupaten Gunung Kidul, yaitu sebanyak 454 jiwa per kilo meter persegi.
penduduk yang paling rendah adalah Kabupaten Gunung Kidul, yaitu sebanyak 454 jiwa per kilo meter persegi. III.1.3. Kondisi Ekonomi Berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik, perhitungan PDRB atas harga
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang sangat rawan bencana. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya berbagai bencana yang melanda berbagai wilayah secara terus menerus, yang
TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN
TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,
BAB I PENDAHULUAN. rakyat. Pembangunan merupakan pelaksanaan dari cita-cita luhur bangsa. desentralisasi dalam pembangunan daerah dengan memberikan
digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan merupakan usaha untuk menciptakan kesejahteraan rakyat. Sebagai wujud peningkatan kesejahteraan lahir dan batin secara adil dan
BAB I PENDAHULUAN. upaya mencapai tingkat pertumbuhan pendapatan perkapita (income per capital) dibandingkan laju pertumbuhan penduduk (Todaro, 2000).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan merupakan suatu proses perubahan yang mengarah kearah yang lebih baik dalam berbagai hal baik struktur ekonomi, sikap, mental, politik dan lain-lain. Dari
BAB I PENDAHULUAN. dan melakukan segala aktivitasnnya. Permukiman berada dimanapun di
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permukiman tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia karena permukiman salah satu kebutuhan pokok, tempat manusia tinggal, berinteraksi dan melakukan segala
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. memuat arah kebijakan pembangunan daerah (regional development policies)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebijakan pembangunan nasional merupakan gambaran umum yang memuat arah kebijakan pembangunan daerah (regional development policies) dalam rangka menyeimbangkan pembangunan
Gambar 1.1 Siklus Hidrologi (Kurkura, 2011)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air merupakan kebutuhan yang mutlak bagi setiap makhluk hidup di permukaan bumi. Seiring dengan pertambahan penduduk kebutuhan air pun meningkat. Namun, sekarang
I.PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan sebagai perangkat yang saling berkaitan dalam
I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan sebagai perangkat yang saling berkaitan dalam struktur perekonomian yang diperlukan bagi terciptanya pertumbuhan yang terus menerus. Pembangunan
BAB I PENDAHULUAN. diperbarui adalah sumber daya lahan. Sumber daya lahan sangat penting bagi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan penduduk di Indonesia sekarang masih tergolong tinggi berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yaitu 1,49 % per tahun, akibatnya diperlukan usaha
Katalog BPS :
Katalog BPS : 9902008.3373 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KOTA SALATIGA TAHUN 2011 KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas terbitnya publikasi Produk Domestik Regional Bruto Kota Salatiga
I. PENDAHULUAN. Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional dalam rangka
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan yang disesuaikan dengan potensi dan permasalahan pembangunan
IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN TULUNGAGUNG
IV. GAMBARAN UMUM KABUPATEN TULUNGAGUNG 4.1. Indikator Kependudukan Kependudukan merupakan suatu permasalahan yang harus diperhatikan dalam proses pembangunan yang mencakup antara lain mengenai distribusi,
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Sektor industri mempunyai peranan penting dalam pembangunan ekonomi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor industri mempunyai peranan penting dalam pembangunan ekonomi suatu negara. Industrialisasi pada negara sedang berkembang sangat diperlukan agar dapat tumbuh
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perubahan penggunaan lahan merupakan obyek kajian yang dinilai penting untuk diteliti karena dapat berkaitan dengan masalah global maupun lokal. Masalah dari perubahan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Kepariwisataan merupakan salah satu dari sekian banyak gejala atau
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kepariwisataan merupakan salah satu dari sekian banyak gejala atau peristiwa yang terjadi di muka bumi yang timbul dari aktifitas manusia untuk memenuhi kebutuhannya,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan yang dilaksanakan dalam suatu wilayah agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan memerlukan perencanaan yang akurat dari pemerintah. Upaya dalam meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN. sehingga masyarakat yang terkena harus menanggapinya dengan tindakan. aktivitas bila meningkat menjadi bencana.
BAB I BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara yang sangat rawan bencana. Hal ini dibuktikan dengan terjadinya berbagai bencana yang melanda berbagai wilayah secara
BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ekonomi bertujuan untuk mewujudkan ekonomi yang handal. Pembangunan ekonomi diharapkan dapat meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi dalam suatu negara sangat penting, karena pembangunan ekonomi bertujuan untuk mewujudkan ekonomi yang handal dan mandiri. Pembangunan ekonomi
I. PENDAHULUAN. perkembangan suatu perekonomian dari suatu periode ke periode. berikutnya. Dari satu periode ke periode lainnya kemampuan suatu negara
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan masalah perekonomian suatu negara dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian dari
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Indonesia merupakan negara yang memiliki kawasan pesisir sangat luas, karena Indonesia merupakan Negara kepulauan dengangaris pantai mencapai sepanjang 81.000 km. Selain
BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1. Jumlah Penduduk Kabupaten Bantul
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebutuhan lahan saat ini semakin meningkat akibat bertambahnya jumlah penduduk. Bertambahnya jumlah penduduk tidak hanya dari dalam daerah, namun juga luar daerah
BAB I PENDAHULUAN. peningkatan kebutuhan manusia akibat dari pertambahan jumlah penduduk maka
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumberdaya lahan merupakan komponen sumberdaya alam yang ketersediaannya sangat terbatas dan secara relatif memiliki luas yang tetap serta sangat bermanfaat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Ekosistem hutan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar terdapat di hutan. Menurut Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1999
BAB 11: GEOGRAFI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI
1. Sistem Informasi Geografi merupakan Sistem informasi yang memberikan gambaran tentang berbagai gejala di atas muka bumi dari segi (1) Persebaran (2) Luas (3) Arah (4) Bentuk 2. Sarana yang paling baik
I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan
KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA
31 KEADAAN UMUM WILAYAH KABUPATEN KATINGAN DAN KOTA PALANGKA RAYA Administrasi Secara administratif pemerintahan Kabupaten Katingan dibagi ke dalam 11 kecamatan dengan ibukota kabupaten terletak di Kecamatan
