PT PRASIDHA ANEKA NIAGA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
|
|
|
- Harjanti Kurniawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Laporan Keuangan Konsolidasi Dengan Laporan Auditor Independen (Mata Uang Indonesia) PT PRASIDHA ANEKA NIAGA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
2 LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI DENGAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN 31 DESEMBER 2002 DENGAN ANGKA PERBANDINGAN UNTUK TAHUN 2001 Daftar Isi Halaman Laporan Auditor Independen Neraca Konsolidasi Laporan Laba Rugi Konsolidasi Laporan Perubahan Defisiensi Modal Konsolidasi Laporan Arus Kas Konsolidasi Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasi ***************************
3 Laporan Auditor Independen Laporan No. RPC-0167/02 Direksi dan Pemegang Saham PT Prasidha Aneka Niaga Tbk Kami telah mengaudit neraca konsolidasi PT Prasidha Aneka Niaga Tbk dan Anak Perusahaan tanggal, serta laporan laba rugi konsolidasi, laporan perubahan defisiensi modal konsolidasi dan laporan arus kas konsolidasi untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen Perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan audit kami. Kami tidak mengaudit laporan keuangan PT Aneka Widya Graha (AWG) dan Shanghai Aneka Food Development Co., Ltd., Cina (SAFD), Anak Perusahaan tertentu, untuk tahun yang berakhir pada tanggal, yang laporan keuangannya mencerminkan jumlah aktiva masing-masing sebesar 22% dan 3% dari jumlah konsolidasi tahun Laporan keuangan SAFD diaudit oleh auditor independen lain dengan pendapat wajar tanpa pengecualian yang laporannya telah diserahkan kepada kami, dan pendapat kami, sepanjang yang berkaitan dengan jumlah-jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan Anak Perusahaan tersebut, semata-mata hanya didasarkan atas laporan auditor independen lain tersebut. Laporan keuangan konsolidasi PT Prasidha Aneka Niaga Tbk dan Anak Perusahaan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2001 diaudit oleh auditor independen lain yang laporannya tertanggal 26 Maret 2002 tidak menyatakan pendapat atas laporan keuangan konsolidasi tersebut karena adanya keraguan yang besar tentang kemampuan Perusahaan dan Anak Perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Kecuali seperti yang diuraikan dalam paragraf berikut ini, kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami dan laporan auditor independen lain tersebut memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Kami tidak dapat memperoleh bukti yang memadai untuk menyatakan pendapat atas jumlah-jumlah dalam laporan keuangan konsolidasi tahun 2002 yang berasal dari AWG. Jumlah-jumlah tersebut terutama terdiri dari penyertaan saham, serta tanah dalam pengembangan dan tanah untuk dijual, masing-masing dengan nilai tercatat sekitar Rp 20 milyar dan Rp 57 milyar pada tanggal. Tidak terdapat dasar yang tersedia dan dapat diterima untuk melakukan verifikasi atas nilai aktiva-aktiva tersebut. Menurut pendapat kami, kecuali untuk dampak penyesuaian tersebut, jika ada, yang seharusnya dilakukan jika kami dapat memperoleh bukti yang memadai atas jumlah-jumlah yang berasal dari AWG seperti dijelaskan dalam paragraf sebelumnya, berdasarkan audit kami dan laporan auditor independen lain, laporan keuangan konsolidasi tahun 2002 yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan PT Prasidha Aneka Niaga Tbk dan Anak Perusahaan tanggal, dan hasil usaha serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
4 Laporan keuangan konsolidasi terlampir disusun dengan anggapan bahwa Perusahaan dan Anak Perusahaan akan melanjutkan operasinya sebagai entitas yang berkemampuan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Catatan 26 atas laporan keuangan konsolidasi berisi pengungkapan dampak kondisi ekonomi Indonesia terhadap Perusahaan dan Anak Perusahaan dan tindakan yang ditempuh serta rencana yang dibuat oleh manajemen Perusahaan dan Anak Perusahaan untuk menghadapi kondisi ekonomi saat ini. Kondisi perekonomian tersebut, yang terutama diakibatkan oleh labilnya kurs tukar mata uang asing dan ketatnya likuiditas, telah mempengaruhi kegiatan operasi Perusahaan dan Anak Perusahaan. Perusahaan dan Anak Perusahaan masih mengalami rugi bersih konsolidasi, terutama karena beban bunga yang signifikan pada tahun 2002 (beban bunga dan rugi selisih kurs pada tahun 2001), yang menyebabkan defisiensi modal sebesar Rp milyar pada tanggal (Rp milyar pada tanggal 31 Desember 2001). Kewajiban lancar konsolidasi melebihi aktiva lancar konsolidasi sebesar Rp milyar pada tanggal (Rp milyar pada tanggal 31 Desember 2001). Pada tanggal, pokok pinjaman sebesar Rp 482 milyar (Rp 521 milyar pada tanggal 31 Desember 2001) dan hutang bunga (termasuk denda) sebesar Rp milyar (Rp 777 milyar pada tanggal 31 Desember 2001) belum dapat dilunasi sampai dengan tanggal laporan ini. Perusahaan dan Anak Perusahaan tertentu masih dalam proses negosiasi restrukturisasi dengan kreditur utama mereka. Sebagaimana dijelaskan pada Catatan 10, di tahun 2002, dana escrow pelunasan pinjaman sebesar Rp 51 milyar digunakan untuk melunasi pinjaman PT Aneka Bumi Lestari Pelleting Factory, pihak yang mempunyai hubungan istimewa, dan sebagian pinjaman Perusahaan dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Sebagai bagian dari negosiasi restrukturisasi dengan BPPN, pada tahun 2002, PT Aneka Bumi Kencana (ABK), Anak Perusahaan, menjual seluruh penyertaan sahamnya di PT Aneka Tuna Indonesia kepada Itochu Corporation, Jepang (ITC), pemegang saham minoritas (lihat Catatan 6 dan 8) dan hasil penjualan bersih, setelah dikurangi kewajiban Perusahaan dan Anak Perusahaan tertentu kepada ITC, digunakan sebagai modal kerja. Berdasarkan surat BPPN tanggal 5 Maret 2003, kewajiban Perusahaan dan Anak Perusahaan telah dijual dan dialihkan kepada PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Bank Danamon). Bank Danamon, dalam suratnya kepada Perusahaan dan Anak Perusahaan, menyatakan, antara lain, bahwa efektif tanggal 5 Februari 2003, Bank Danamon mengambil hak BPPN atas kewajiban Perusahaan dan Anak Perusahaan; dan, surat perjanjian kredit sehubungan dengan restrukturisasi pinjaman Perusahaan dan Anak Perusahaan pada saat ini sedang dalam proses dan akan diselesaikan paling lambat pada bulan April Pada aspek operasional, karena keterbatasan modal kerja akibat dari restrukturisasi pinjaman yang belum ada penyelesaiannya dan kondisi pasar saat ini, produksi kopi dan karet Perusahaan tetap dalam tingkat yang tidak optimal. Namun, jumlah penjualan bersih konsolidasi mengalami peningkatan dari Rp 327 milyar pada tahun 2001 menjadi Rp 385 milyar pada tahun 2002 sehubungan dengan adanya peningkatan harga karet remah. Selain itu, ketatnya pendanaan yang masih dialami Perusahaan dan Anak Perusahaan, telah mempengaruhi dan akan terus mempengaruhi kemampuan mereka untuk melakukan pembelian bahan baku pada harga yang terbaik, yang akibatnya mempengaruhi beban pokok penjualan mereka. Sebagai akibat dari hal-hal tersebut di atas, bersamaan dengan hal-hal yang dijelaskan dalam Catatan 26, terdapat keraguan yang besar tentang kemampuan Perusahaan dan Anak Perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, dan oleh karena itu, terdapat ketidakpastian yang signifikan tentang apakah Perusahaan dan Anak Perusahaan akan dapat merealisasikan aktiva dan menyelesaikan kewajiban dalam bisnis normal Perusahaan dan Anak Perusahaan dan pada nilai yang dinyatakan dalam laporan keuangan konsolidasi. Laporan keuangan konsolidasi terlampir tidak mencakup penyesuaian yang mungkin timbul dari ketidakpastian tersebut. PRASETIO, SARWOKO & SANDJAJA Indrajuwana Komala Widjaja NIAP Maret 2003
5 NERACA KONSOLIDASI Catatan AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2c, 2e, 2n, 4, 6, 25 Pihak ketiga Pihak yang mempunyai hubungan istimewa Piutang usaha 2d, 2e, 2n, 5, 6, 14, 25 Pihak ketiga (setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu sebesar Rp ) Pihak yang mempunyai hubungan istimewa Piutang lain-lain 3, Piutang forward bersih 2q, Persediaan 2f, 2m, 7, 11, Uang muka kepada pemasok dan lain-lain - bersih Pajak dan biaya dibayar di muka 2g Jumlah Aktiva Lancar AKTIVA TIDAK LANCAR Aktiva pajak tangguhan - bersih 2o, Piutang hubungan istimewa 2e, Penyertaan saham 2h, Aktiva tetap 2i, 2j, 9, 11, 14 (Setelah dikurangi akumulasi penyusutan dan amortisasi sebesar Rp pada tahun 2002 dan Rp pada tahun 2001) Taksiran tagihan pajak 2o, Uang jaminan 2n, Pinjaman karyawan 2e, 2n, 6, Uang muka pembelian aktiva tetap Dana escrow pelunasan pinjaman 3, 6, 10, Jumlah Aktiva Tidak Lancar JUMLAH AKTIVA Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan. 1
6 NERACA KONSOLIDASI (lanjutan) KEWAJIBAN DAN DEFISIENSI MODAL Catatan KEWAJIBAN LANCAR Hutang jangka pendek 2n, 2p, 11, Hutang usaha 2n, Hutang lain-lain 2n, Biaya masih harus dibayar 2n, 12, 25, Hutang pajak 2o, Uang muka pelanggan 2e, 2n, 6, Pendapatan diterima di muka Hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun Pinjaman 2n, 2p, 14, Hutang sewa guna usaha 2j Pembiayaan konsumen Jumlah Kewajiban Lancar KEWAJIBAN TIDAK LANCAR Kewajiban pajak tangguhan - bersih 2o, Pinjaman jangka panjang - setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun Pinjaman 2n, 2p, 14, Pihak yang mempunyai hubungan istimewa 2e, 2n, 6, Hutang sewa guna usaha 2j Jumlah Kewajiban Tidak Lancar Jumlah Kewajiban KELEBIHAN NILAI BUKU ATAS BIAYA PEROLEHAN ANAK PERUSAHAAN YANG DIKONSOLIDASI - Bersih 2b, Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan. 2
7 NERACA KONSOLIDASI (lanjutan) Catatan HAK MINORITAS ATAS AKTIVA BERSIH ANAK PERUSAHAAN YANG DIKONSOLIDASI 2b DEFISIENSI MODAL Modal saham - nilai nominal Rp 500 per saham Modal dasar saham Modal ditempatkan dan disetor penuh saham 16, Modal disetor lainnya Selisih nilai transaksi restrukturisasi entitas sepengendali 2k Selisih penilaian kembali aktiva tetap 2i Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan 2b, 2n Defisit ( ) ( ) Defisiensi Modal ( ) ( ) JUMLAH KEWAJIBAN SETELAH DIKURANGI DEFISIENSI MODAL Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan. 3
8 LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASI Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal Catatan PENJUALAN BERSIH 2e, 2l, 6, BEBAN POKOK PENJUALAN 2l, LABA KOTOR BEBAN USAHA 2l, 7, 20, 27 Umum dan administrasi Penjualan Jumlah Beban Usaha LABA (RUGI) USAHA ( ) PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN Laba (rugi) selisih kurs - bersih 2n, 2q, 11, 14, 24, ( ) Laba penjualan penyertaan saham Penghasilan bunga 2e, 4, Penghasilan sewa Laba (rugi) pelepasan aktiva tetap - bersih 2i, ( ) Beban bunga 2e, 6, 11, 14 ( ) ( ) Bagian laba (rugi) bersih perusahaan asosiasi - bersih 2h, 8 ( ) Beban penjaminan 2e, 6 ( ) ( ) Klaim 23 - ( ) Laba penjualan operasi dalam penghentian - bersih 3, Laba dari penggantian biaya atas penjualan operasi dalam penghentian, tanah dan bangunan 3, Lain-lain - bersih Beban Lain-lain - Bersih ( ) ( ) RUGI SEBELUM BEBAN PAJAK ( ) ( ) BEBAN PAJAK 2o, 13 Tahun berjalan ( ) ( ) Tangguhan ( ) ( ) Jumlah Beban Pajak ( ) ( ) Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan. 4
9 LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASI (lanjutan) Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal Catatan RUGI DARI OPERASI YANG DILANJUTKAN SEBELUM HAK MINORITAS ATAS LABA BERSIH ANAK PERUSAHAAN YANG DIKONSOLIDASI ( ) ( ) HAK MINORITAS ATAS LABA BERSIH ANAK PERUSAHAAN YANG DIKONSOLIDASI - BERSIH 2b ( ) ( ) RUGI DARI OPERASI YANG DILANJUTKAN ( ) ( ) LABA DARI OPERASI DALAM PENGHENTIAN - Setelah dikurangi beban pajak - bersih RUGI SEBELUM POS LUAR BIASA ( ) ( ) POS LUAR BIASA 2p, 14, RUGI BERSIH ( ) ( ) RUGI PER SAHAM DASAR 2s Rugi bersih (1.076) (681) Laba dari operasi dalam penghentian - 1 Rugi dari operasi yang dilanjutkan - setelah dikurangi pos luar biasa untuk tahun 2001 (1.076) (682) Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan. 5
10 LAPORAN PERUBAHAN DEFISIENSI MODAL KONSOLIDASI Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal Selisih Nilai Transaksi Selisih Selisih Kurs Modal Modal Restrukturisasi Penilaian Kembali Karena Penjabaran Catatan Saham Disetor Lainnya Entitas Sepengendali Aktiva Tetap Laporan Keuangan Defisit Defisiensi Modal Saldo per 31 Desember ( ) ( ) Rugi bersih ( ) ( ) Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan 2b, 2n Saldo per 31 Desember ( ) ( ) Rugi bersih ( ) ( ) Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan 2b, 2n Saldo per ( ) ( ) Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan. 6
11 LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASI Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal Catatan ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI Penerimaan kas dari pelanggan Penerimaan kas dari: Restitusi pajak Penghasilan bunga Pembayaran kas kepada pemasok ( ) ( ) Pembayaran kas untuk: Gaji dan upah (termasuk penyelesaian atas pengurangan karyawan) ( ) ( ) Beban usaha (di luar biaya gaji dan upah) ( ) ( ) Pajak penghasilan badan dan pajak lainnya ( ) ( ) Beban bunga ( ) ( ) Kas Bersih Diperoleh dari (Digunakan untuk) Aktivitas Operasi ( ) ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI Hasil penjualan penyertaan saham Penerimaan dividen Hasil penjualan aktiva tetap Selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan Pembelian aktiva tetap 9 ( ) ( ) Kenaikan uang muka pembelian aktiva tetap ( ) - Hasil penjualan operasi dalam penghentian Penggantian biaya pengosongan atas penjualan tanah dan bangunan Kas Bersih Diperoleh dari Aktivitas Investasi ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN Penambahan hutang jangka pendek Pembayaran hutang jangka pendek ( ) ( ) Pembayaran pinjaman jangka panjang dari pihak yang mempunyai hubungan istimewa ( ) ( ) Pembayaran pinjaman jangka panjang ( ) ( ) Pembayaran hutang sewa guna usaha ( ) ( ) Pembayaran bersih pinjaman pembiayaan konsumen ( ) ( ) Kenaikan dana escrow pelunasan pinjaman 10 - ( ) Kas Bersih Digunakan untuk Aktivitas Pendanaan ( ) ( ) Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan. 7
12 LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASI (lanjutan) Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal Catatan KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS ( ) KAS DAN SETARA KAS AWAL TAHUN KAS DAN SETARA KAS AKHIR TAHUN Catatan terlampir merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi secara keseluruhan. 8
13 1. UMUM a. Pendirian Perusahaan PT Prasidha Aneka Niaga Tbk (Perusahaan) didirikan dengan nama PT Aneka Bumi Asih berdasarkan akta Notaris Paul Tamara No. 7 tanggal 16 April Akta pendirian Perusahaan telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. Y.A.5/358/23 tanggal 3 Oktober 1974 dan diumumkan dalam Tambahan No dari Berita Negara No. 37 tanggal 10 Mei Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan. Akta Notaris Ny. Liliana Arif Gondoutomo, S.H. No. 38 dan akta Perubahan No. 39 tanggal 29 Desember 1993 mengenai peningkatan modal dasar Perusahaan, perubahan pemegang saham dan penggantian nama Perusahaan menjadi PT Prasidha Aneka Niaga telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C HT TH.94 tanggal 1 Maret 1994 dan diumumkan dalam Tambahan No dari Berita Negara No. 40 tanggal 20 Mei Akta Notaris Ny. Poerbaningsih Adi Warsito, S.H. No. 127 tanggal 10 Mei 1994 mengenai perubahan seluruh Anggaran Dasar Perusahaan dalam rangka penawaran umum saham telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C HT TH.94 tanggal 5 Juli 1994 dan diumumkan dalam Tambahan No dari Berita Negara No. 58 tanggal 21 Juli 1995, dan yang terakhir dengan akta Notaris Ny. Liliana Arif Gondoutomo, S.H. No. 7 tanggal 10 April 1997 mengenai perubahan Anggaran Dasar Perusahaan dalam rangka penyesuaian dengan Undang-undang Perseroan Terbatas No. 1 tahun 1995 dan Undang-undang Pasar Modal No. 8 tahun 1995 berikut peraturan-peraturan pelaksanaannya serta perubahan nilai nominal saham dari Rp per saham menjadi Rp 500 per saham, yang telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C HT TH.97 tanggal 15 Mei 1997 dan diumumkan dalam Tambahan No dari Berita Negara No. 43 tanggal 30 Mei Perusahaan berdomisili di Jalan Ki Kemas Rindho, Kertapati, Palembang dan bergerak di bidang industri, pertanian, perdagangan, pemborong, pengangkutan, percetakan, jasa dan real estat. Perusahaan saat ini bergerak dalam bidang pengolahan dan perdagangan hasil bumi. Perusahaan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun b. Penawaran Umum Efek Perusahaan Atas persetujuan dari Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM), pada tahun 1994, Perusahaan melalui Bursa Efek Jakarta dan Surabaya menjual lembar sahamnya dengan nilai nominal Rp per saham kepada masyarakat dengan harga jual Rp per saham. Perbedaan antara jumlah nilai nominal dengan jumlah harga jual saham (agio saham) tersebut sebesar Rp Pada tahun 1997, Perusahaan membagikan saham bonus (untuk setiap pemegang 2 saham yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham tanggal 8 Juli 1997, berhak atas 1 saham bonus). Pada tanggal 31 Desember 2001, Perusahaan telah mencatatkan seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh di Bursa Efek Jakarta. Pada tahun 2001, Perusahaan tidak lagi mencatatkan seluruh sahamnya di Bursa Efek Surabaya (BES) karena minimnya aktivitas perdagangan saham Perusahaan di BES tersebut (lihat Catatan 16). Pada tanggal 4 Juli 2000, Perusahaan menerima Surat No. S-1966/BEJ-PEM/ dari PT Bursa Efek Jakarta (BEJ). Surat tersebut menyatakan bahwa mulai tanggal 1 Juli 2000, BEJ akan mencatatkan saham Perusahaan pada papan pengembangan. 9
14 1. UMUM (lanjutan) c. Struktur Perusahaan dan Anak Perusahaan Struktur pemilikan atas Anak Perusahaan yang dikonsolidasi adalah sebagai berikut: Domisili dan Tahun Usaha Jumlah Aktiva (dalam jutaan Rupiah) Komersial Persentase Anak Perusahaan Bidang Usaha Dimulai Pemilikan (%) PT Aneka Bumi Kencana Pengolahan dan perdagangan Surabaya, , hasil bumi PT Aneka Widya Graha Real estat Jakarta, , PT Aneka Sumber Kencana Pengolahan dan perdagangan Bandar Lampung, , hasil bumi PT Lampung Sumber Kencana Pengolahan dan perdagangan Bandar Lampung, , Pelleting Factory hasil bumi PT Surabaya Pelleting Pengolahan dan perdagangan Sidoarjo, , Company hasil bumi PT Tirtha Harapan Bali Pengolahan dan perdagangan Singaraja, , hasil bumi PT Aneka Coffee Industry Pabrik kopi bubuk dan instan Sidoarjo, , (termasuk Shanghai Aneka Food Development Co., Ltd., Cina dan PT Prasidha Mitra Sarana) PT Aneka Bumi Pratama Pengolahan dan perdagangan Palembang, , karet remah d. Karyawan, Direksi dan Dewan Komisaris Berdasarkan akta Notaris Ny. Liliana Arif Gondoutomo, S.H. No. 7 tanggal 26 Juni 2002, susunan anggota dewan komisaris dan direksi Perusahaan, dan komite audit adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris Dewan Direksi 1. Djukardi Odang * - Presiden Komisaris 1. Jeffry Sanusi Soedargo - Presiden Direktur 2. Mansjur Tandiono - Wakil Presiden Komisaris 2. Didik Tandiono - Wakil Presiden Direktur 3. Made Sudharta - Komisaris 3. H. Sjamsul Bachri Uding - Direktur 4. Widyono Lianto - Komisaris 4. Budi Pringgosusanto - Direktur 5. Lie Sukiantono Budinarta - Direktur 6. Moenardji Soedargo - Direktur * Pada tanggal 5 Februari 2003, Bapak Djukardi Odang telah meninggal dunia. Komite Audit 1. Fery Yennoto - Ketua 2. Henryanto Handoko Petrus - Anggota 3. Kasmita Wijaya - Anggota Perusahaan dan Anak Perusahaan memiliki 703 dan 956 karyawan tetap (tidak diaudit) masing-masing pada tahun 2002 dan Beban remunerasi yang dibayarkan kepada Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan berjumlah Rp dan Rp masing-masing pada tahun 2002 dan
15 2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI a. Dasar Penyajian Laporan Keuangan Konsolidasi Laporan keuangan konsolidasi terlampir telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, yaitu Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) tentang pedoman penyajian laporan keuangan. Laporan keuangan konsolidasi disusun berdasarkan konsep biaya historis, kecuali untuk persediaan yang dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih, penyertaan saham tertentu yang dicatat dengan metode ekuitas dan aktiva tetap tertentu yang telah dinilai kembali. Laporan keuangan konsolidasi disusun berdasarkan konsep akrual, kecuali untuk laporan arus kas konsolidasi. Laporan arus kas konsolidasi menyajikan penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas yang diklasifikasikan dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. Perusahaan dan Anak Perusahaan menyajikan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan metode langsung. Mata uang pelaporan yang digunakan dalam laporan keuangan konsolidasi adalah Rupiah. b. Prinsip-prinsip Konsolidasi Laporan keuangan konsolidasi meliputi laporan keuangan Perusahaan dan Anak Perusahaan yang dimiliki lebih dari 50%, baik langsung maupun tidak langsung. Laporan keuangan konsolidasi PT Aneka Coffee Industry (ACI), Anak Perusahaan, meliputi laporan keuangan Shanghai Aneka Food Development Co., Ltd., Cina (SAFD), yang seluruh sahamnya dimiliki oleh ACI dan PT Prasidha Mitra Sarana (PMS) yang 99% sahamnya dimiliki oleh ACI sejak tanggal 4 Oktober ACI mulai beroperasi secara komersial pada tanggal 1 Januari 1996, sedangkan SAFD mulai beroperasi secara komersial pada bulan April 1998 dan PMS mulai beroperasi secara komersial pada bulan Januari Akun-akun dari SAFD dijabarkan ke dalam mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs tengah pada tanggal neraca untuk akun-akun neraca, kecuali untuk persediaan dan aktiva tetap, dimana dijabarkan dengan menggunakan kurs pada saat terjadinya (kurs historis), dan kurs rata-rata selama tahun berjalan untuk akun-akun laba rugi. Selisih kurs karena penjabaran neraca dan laporan laba rugi dilaporkan secara terpisah pada komponen Defisiensi Modal dalam akun Selisih Kurs karena Penjabaran Laporan Keuangan pada neraca konsolidasi. Dalam rapat umum tahunan pemegang saham ACI pada tanggal 16 Maret 1999, para pemegang saham dan dewan direksi menyetujui bahwa mulai tanggal 1 Mei 1999, Anak Perusahaan yang berdomisili di Shanghai, Cina, akan menghentikan produksi hingga ada keputusan dewan direksi untuk beroperasi kembali. Saat ini, aktivitas utama dari Anak Perusahaan tersebut adalah menjual produk-produk ACI di Cina. Seluruh saldo akun dan transaksi yang signifikan antar perusahaan yang dikonsolidasi telah dieliminasi. Selisih lebih nilai buku atas biaya perolehan Anak Perusahaan yang dikonsolidasi diamortisasi selama dua puluh (20) tahun dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method). Laporan keuangan PAN Impex International Pte., Ltd., Singapura, Anak Perusahaan yang 99,99% sahamnya dimiliki Perusahaan, tidak dikonsolidasi dalam laporan keuangan Perusahaan karena Anak Perusahaan ini belum memulai operasi komersialnya dan jumlah-jumlah laporan keuangannya tidak material. Penyertaan saham ini dicatat sebesar biaya perolehannya. 11
16 2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) b. Prinsip-prinsip Konsolidasi (lanjutan) Pada tahun 2001, Perusahaan dan PT Tirtha Harapan Bali, Anak Perusahaan, menjual seluruh penyertaan saham mereka di PT Hotel Ramapalace Cottage (lihat Catatan 3). c. Setara Kas Deposito berjangka dengan jangka waktu tiga bulan atau kurang pada saat ditempatkan dan tidak dijaminkan atas hutang diklasifikasikan sebagai setara kas. d. Penyisihan Piutang Ragu-ragu Perusahaan dan Anak Perusahaan menetapkan penyisihan piutang ragu-ragu berdasarkan hasil penelaahan terhadap keadaan akun piutang masing-masing pelanggan pada akhir tahun. e. Transaksi dengan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa Perusahaan dan Anak Perusahaan melakukan transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 7, Pengungkapan Pihak-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa. Seluruh transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa dalam jumlah signifikan, yang dilakukan dengan atau tidak dengan persyaratan dan kondisi yang sama dengan pihak ketiga, telah diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi. f. Persediaan Persediaan dinyatakan sebesar nilai yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai realisasi bersih (the lower of cost or net realizable value). Sebelum tahun 2002, Perusahaan dan Anak Perusahaan menghitung persediaannya dengan menggunakan metode rata-rata tertimbang (weighted-average method). Pada tahun 2002, Perusahaan dan Anak Perusahaan mengubah metode perhitungan persediaannya menjadi metode rata-rata bergerak (moving-average method). Penyisihan persediaan usang dan penurunan harga pasar disajikan untuk membawa nilai persediaan ke nilai realisasi bersihnya. Persediaan tanah dari PT Aneka Widya Graha, Anak Perusahaan, merupakan tanah dalam pengembangan dan tanah untuk dijual yang dinyatakan sebesar biaya perolehan. Biaya-biaya untuk pematangan dan pengembangan tanah, jika ada, dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan tanah. g. Biaya Dibayar di Muka Biaya dibayar di muka dibebankan sesuai masa manfaat masing-masing biaya. h. Penyertaan Saham Penyertaan saham dimana Anak Perusahaan memiliki pemilikan paling sedikit 20% tetapi tidak lebih dari 50% dicatat dengan metode ekuitas (equity method). Dengan metode ini, penyertaan dinyatakan sebesar biaya perolehannya dan ditambah atau dikurangi dengan bagian laba atau rugi bersih dari Anak Perusahaan pada perusahaan asosiasi sejak tanggal perolehan. Dividen yang diterima akan dikurangkan pada nilai tercatat penyertaan tersebut. Bagian laba (rugi) bersih perusahaan asosiasi disesuaikan dengan amortisasi secara garis lurus selama dua puluh (20) tahun atas selisih antara biaya perolehan penyertaan saham dan proporsi pemilikan Anak Perusahaan atas nilai wajar aktiva bersih pada tanggal perolehan (goodwill). 12
17 2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) h. Penyertaan Saham (lanjutan) Penyertaan saham di mana Perusahaan dan Anak Perusahaan memiliki pemilikan kurang dari 20% dicatat berdasarkan biaya perolehan (metode biaya) dan disesuaikan dengan penurunan permanen, jika ada. i. Aktiva Tetap Aktiva tetap, kecuali hak atas tanah tertentu, dinyatakan sebesar biaya perolehan, kecuali aktiva tetap tertentu yang dinilai kembali berdasarkan peraturan pemerintah, dikurangi akumulasi penyusutan dan amortisasi. Penyusutan bangunan dan prasarana dilakukan dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method) sedangkan penyusutan aktiva tetap lainnya, kecuali untuk mesin dan peralatan PT Aneka Coffee Industry (ACI), Anak Perusahaan, dihitung dengan menggunakan metode saldo menurun ganda (double-declining balance method) berdasarkan persentase sebagai berikut: Persentase Bangunan dan prasarana 5-10% Mesin dan peralatan Kendaraan Penyusutan mesin dan peralatan ACI dihitung dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method) sesuai masa manfaat mesin dan peralatan selama lima (5) sampai dua puluh (20) tahun dan kendaraan selama lima (5) tahun. Hak atas tanah dinyatakan sebesar biaya perolehan dan tidak diamortisasi, kecuali hak atas tanah untuk Shanghai Aneka Food Development Co., Ltd., Cina, diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method) selama lima puluh (50) tahun. Biaya-biaya tertentu sehubungan dengan perolehan atau perpanjangan hak pemilikan tanah, ditangguhkan dan diamortisasi sepanjang periode hak atas tanah atau umur ekonomis tanah, mana yang lebih pendek. Aktiva dalam penyelesaian disajikan dalam neraca konsolidasi sebagai bagian dari aktiva tetap dan dinyatakan sebesar biaya perolehan. Akumulasi biaya perolehan ini akan dipindahkan ke masing-masing aktiva tetap yang bersangkutan pada saat aktiva tersebut selesai dikerjakan dan siap digunakan. Biaya perbaikan dan pemeliharaan dibebankan pada usaha pada saat terjadinya; pemugaran dan penambahan dalam jumlah signifikan dikapitalisasi. Aktiva tetap yang sudah tidak digunakan lagi atau yang dijual, biaya perolehan dan akumulasi penyusutan dan amortisasi dikeluarkan dari kelompok aktiva tetap yang bersangkutan dan laba atau rugi yang terjadi dikreditkan atau dibebankan pada usaha tahun berjalan. Nilai aktiva disesuaikan dengan nilai wajarnya pada saat kejadian-kejadian atau perubahan-perubahan keadaan yang mengindikasikan bahwa nilai tercatatnya mungkin tidak dapat dipulihkan kembali. j. Sewa Guna Usaha Transaksi sewa guna usaha digolongkan sebagai sewa guna usaha yang dapat dikapitalisasi (capital lease) apabila memenuhi seluruh kriteria yang ditetapkan dalam PSAK No. 30, Akuntansi Sewa Guna Usaha. Jika salah satu kriteria tidak terpenuhi, maka transaksi sewa guna usaha dikelompokkan sebagai transaksi sewa menyewa biasa (operating lease). 13
18 2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) j. Sewa Guna Usaha (lanjutan) Aktiva sewa guna usaha yang dapat dikapitalisasi disajikan dalam neraca konsolidasi sebagai bagian dari aktiva tetap dan dinyatakan sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha ditambah nilai sisa (harga opsi) yang harus dibayar pada akhir masa sewa guna usaha, dikurangi akumulasi penyusutan. Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode saldo menurun ganda (double-declining balance method), kecuali aktiva sewa guna usaha pada PT Aneka Coffee Industry, Anak Perusahaan, yang dihitung dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method) berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis yang sama dengan yang diterapkan untuk aktiva tetap yang diperoleh dengan pemilikan langsung. Hutang sewa guna usaha dinyatakan berdasarkan nilai tunai dari seluruh pembayaran sewa guna usaha. k. Selisih Nilai Transaksi Restrukturisasi Entitas Sepengendali Selisih antara biaya perolehan dengan nilai buku setiap transaksi antara entitas sepengendali dibukukan dalam akun Selisih Nilai Transaksi Restrukturisasi Entitas Sepengendali dan disajikan sebagai bagian dari Defisiensi Modal di dalam neraca konsolidasi. l. Pengakuan Pendapatan dan Beban Pendapatan dari penjualan ekspor diakui pada saat penyerahan barang di atas kapal di pelabuhan pengiriman (f.o.b. shipping point). Pendapatan penjualan lokal diakui pada saat barang diserahkan kepada pelanggan. Pendapatan dari PT Aneka Widya Graha, Anak Perusahaan, diakui pada saat pembuatan faktur. Beban diakui pada saat terjadinya (metode akrual). m. Kapitalisasi Beban Bunga Beban bunga yang diperoleh dari pinjaman bank untuk membiayai pembelian, pengembangan dan pembangunan tanah dikapitalisasi sebagai bagian dari biaya perolehan persediaan tanah sampai dengan pembangunan tersebut selesai. n. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing Transaksi dalam mata uang asing dicatat dalam mata uang Rupiah berdasarkan kurs yang berlaku pada saat transaksi dilakukan. Pada tanggal neraca, aktiva dan kewajiban dalam mata uang asing dijabarkan ke dalam Rupiah sesuai dengan kurs tengah pada tanggal terakhir transaksi bank untuk tahun tersebut yang dikeluarkan Bank Indonesia. Laba atau rugi kurs yang terjadi dikreditkan atau dibebankan pada usaha tahun berjalan, kecuali untuk laba atau rugi kurs yang terjadi akibat penjabaran akun-akun Anak Perusahaan yang berkedudukan di luar negeri yang dicatat dalam Defisiensi Modal. Kurs tengah yang digunakan adalah Rp 8.940,00 untuk US$ 1, Rp 207,26 untuk THB 1 dan Rp 1.261,56 untuk DKK 1 pada tanggal, dan Rp ,00 untuk US$ 1 dan Rp 5.620,88 untuk Sin$ 1 pada tanggal 31 Desember Kurs tengah yang dikeluarkan oleh Bank of China (yang digunakan untuk menjabarkan akun-akun Anak Perusahaan yang berkedudukan di luar negeri) adalah RMB 8,2770 untuk US$ 1 masing-masing pada tanggal dan
19 2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) o. Beban atau Penghasilan Pajak Beban pajak Perusahaan dan Anak Perusahaan tahun berjalan dihitung berdasarkan taksiran penghasilan kena pajak dalam tahun yang bersangkutan. Penangguhan pajak dilakukan untuk mencerminkan pengaruh pajak atas beda waktu antara pelaporan komersial dan fiskal, dan akumulasi kompensasi rugi fiskal. p. Restrukturisasi Hutang Berdasarkan PSAK No. 54, Akuntansi Restrukturisasi Hutang-Piutang Bermasalah, Perusahaan mengakui laba penyelesaian hutang yang dihitung dari selisih lebih antara nilai tercatat hutang yang dilunasi (jumlah nominal, bunga dan denda yang terhutang) dengan pembayaran kas sebagai penyelesaiannya. Laba restrukturisasi hutang setelah beban pajak terkait, bila ada, diakui dalam laporan laba rugi konsolidasi pada tahun terjadinya restrukturisasi, dan diklasifikasikan sebagai akun Pos Luar Biasa jika material. q. Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung Nilai Semua instrumen derivatif dicatat sebagai aktiva atau kewajiban dalam neraca dan diakui sebesar nilai wajar. Perubahan nilai wajar dari instrumen derivatif diakui secara periodik dalam pendapatan atau ekuitas, sesuai dengan tujuan penggunaan instrumen tersebut. Perubahan penilaian untuk derivatif yang diperlakukan sebagai lindung nilai atas nilai wajar diakui sebagai pendapatan dalam periode perubahan, bersama dengan perubahan nilai dari variabel pokok yang dilindungi. Laba atau rugi dari derivatif yang dirancang sebagai lindung nilai arus kas dilaporkan sebagai bagian dari pendapatan lain-lain dan kemudian direklasifikasi ke pendapatan dalam periode yang dipengaruhi oleh variabel pokok yang dilindungi. Perubahan nilai dari derivatif yang tidak diperlakukan sebagai instrumen lindung nilai dan jumlah dari instrumen lindung nilai yang dianggap tidak efektif dicatat dalam pendapatan pada periode perubahan. r. Pelaporan Segmen Sesuai PSAK No. 5 (Revisi 2000), Pelaporan Segmen, segmen usaha menyajikan informasi produk atau jasa yang memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan risiko dan imbalan segmen usaha lain. Segmen geografis menyajikan informasi produk atau jasa pada wilayah ekonomi tertentu yang memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan risiko dan imbalan pada komponen yang beroperasi pada wilayah ekonomi lain. Perusahaan dan Anak Perusahaan mengelompokkan usaha mereka menjadi lima jenis industri yaitu pengolahan hasil bumi, pabrik kopi bubuk dan instan, pengembangan produk kopi, distribusi produk kopi dan real estat untuk pelaporan segmen utama mereka. Untuk pelaporan segmen sekunder, Perusahaan dan Anak Perusahaan mengelompokkan usaha mereka berdasarkan area geografis, yaitu Sumatera, Jawa dan Bali, dan Shanghai, Cina. s. Rugi atau Laba per Saham Dasar Rugi atau laba per saham dasar dihitung dengan membagi rugi bersih, laba dari operasi dalam penghentian dan rugi dari operasi yang dilanjutkan (setelah dikurangi pos luar biasa untuk tahun 2001) dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang ditempatkan dan disetor penuh selama tahun berjalan, sejumlah lembar saham pada tahun 2002 dan
20 3. OPERASI DALAM PENGHENTIAN Berdasarkan perjanjian pengalihan saham yang diaktakan dengan akta Notaris Dr. Irawan Soerodjo, S.H., MSi., No. 146 dan No. 147 tanggal 26 Juni 2001, PT Hotel Ramapalace Cottage (Operasi dalam Penghentian) (HRPC) mengalihkan seluruh pemilikan sahamnya di PT Aneka Widya Graha sebesar saham dengan nilai nominal Rp kepada Perusahaan sebanyak saham dan PT Tirtha Harapan Bali (THB) sebanyak 500 saham. Nilai pengalihan saham tersebut akan dikompensasi dengan nilai penyertaan saham Perusahaan dan THB di HRPC masing-masing sebesar Rp dan Rp , dan sisanya akan dibayar dengan uang tunai. Berdasarkan Surat Perjanjian tanggal 31 Agustus 2001, Perusahaan dan PT Bali Budi Darma (BBD), pihak ketiga, sepakat bahwa jual beli HRPC tersebut dilakukan berdasarkan saldo pada laporan keuangan HRPC pada tanggal 31 Juli Penjualan HRPC tersebut telah mendapat persetujuan dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) melalui Surat No. S-5211/LWO/BPPN/0701 tanggal 20 Juli 2001 dan Surat No. S-6530/LWO/BPPN/0901 tanggal 25 September Berdasarkan Perjanjian Jual Beli Saham yang diaktakan dengan akta Notaris Imas Fatimah, S.H. No. 33 dan No. 34 tanggal 15 November 2001, Perusahaan dan THB menjual seluruh penyertaan saham mereka di HRPC masing-masing sebanyak saham dan 445 saham kepada BBD sebesar Rp dan Rp (atau seluruhnya berjumlah Rp ). Atas penjualan penyertaan saham tersebut, Perusahaan memperoleh keuntungan sebesar Rp dan dicatat sebagai Laba Penjualan Operasi Dalam Penghentian dalam laporan laba rugi konsolidasi tahun Selain Perjanjian Jual Beli Saham, pada tanggal 15 November 2001, Perusahaan dan BBD juga menandatangani Perjanjian Pelepasan Hak Pemilikan dimana BBD setuju untuk memberikan penggantian kepada Perusahaan sehubungan dengan pelepasan hak pemilikan atas HRPC sebesar Rp Nilai kompensasi tersebut dikurangi dengan: Biaya pesangon atas pemutusan hubungan kerja karyawan HRPC sebesar Rp yang wajib dibayar oleh Perusahaan. Dividen tahun 2000 sebesar Rp yang telah dibagikan kepada Perusahaan dan THB selaku pemegang saham HRPC. Biaya dan pengeluaran lain sebesar Rp yang wajib dibayar kembali oleh Perusahaan. Penempatan dana ke dalam suatu escrow account pada PT Bank Central Asia Tbk sebesar Rp yang akan digunakan untuk tax clearance HRPC sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Ayat 1 dari Surat Perjanjian tanggal 31 Agustus Penempatan dana ke dalam suatu escrow account pada PT Bank Central Asia Tbk sebesar Rp untuk menutupi kemungkinan klaim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Ayat 3 dari Surat Perjanjian tanggal 31 Agustus BBD akan melunasi pembayaran kompensasi bersih yang timbul sehubungan dengan pelepasan hak pemilikan Perusahaan di HRPC sebesar Rp selambat-lambatnya pada tanggal 10 Januari Jumlah kompensasi bersih tersebut disajikan sebagai bagian dari akun Piutang Lain-lain dalam neraca konsolidasi tahun Pada tanggal 11 Januari 2002, Perusahaan menerima pembayaran dari BBD atas kompensasi tersebut sebesar Rp Selanjutnya, pada bulan Mei dan Agustus 2002, Perusahaan menerima sisa pembayaran kompensasi dari BBD sebesar Rp dan kelebihan atas dana yang disediakan untuk tax clearance di dalam escrow account sebesar Rp
21 3. OPERASI DALAM PENGHENTIAN (lanjutan) Pada tahun 2001, BPPN melalui Surat No. S-5211/LWO/BPPN/0701 tanggal 20 Juli 2001, antara lain, menyetujui bahwa hasil dari penjualan HRPC akan digunakan untuk melunasi pinjaman PT Aneka Bumi Kencana (ABK), PT Aneka Widya Graha (AWG), PT Surabaya Pelleting Company (SPC), PT Lampung Sumber Kencana Pelleting Factory (LSK) dan PT Tirtha Harapan Bali (THB), Anak Perusahaan, dari BPPN. Seluruh hutang bunga dan denda Anak Perusahaan tersebut sebesar Rp dan pokok pinjaman sebesar Rp , disetujui untuk dihapuskan dan sisa pokok pinjaman sebesar Rp telah dilunasi oleh Perusahaan pada tanggal 1 dan 22 Oktober 2001 melalui hasil penjualan HRPC (lihat Catatan 14). Keuntungan dari penghapusan hutang bunga, denda dan sebagian pokok pinjaman disajikan sebagai bagian dari akun Pos Luar Biasa dalam laporan laba rugi konsolidasi tahun 2001 (lihat Catatan 22). Sisa hasil dari penjualan HRPC sebesar Rp telah disetorkan ke rekening BPPN/Mandiri dan disajikan sebagai bagian dari akun Dana Escrow Pelunasan Pinjaman dalam neraca konsolidasi tahun 2001 (lihat Catatan 10). Perhitungan laba penjualan operasi dalam penghentian adalah sebagai berikut: Hasil penjualan Nilai tercatat dari investasi per tanggal 31 Juli Laba penjualan operasi dalam penghentian - bersih KAS DAN SETARA KAS Kas dan setara kas terdiri dari: Pihak Ketiga Kas Dalam Rupiah Dalam Dolar Amerika Serikat (US$ 101 pada tahun 2002 dan US$ pada tahun 2001) Dalam RMB (RMB 2.005) Dalam Dolar Singapura (Sin$ 274) Bank Rekening Rupiah PT Bank Central Asia Tbk PT Bank Internasional Indonesia Tbk PT Bank Mandiri (Persero) PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, Jakarta The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited, Surabaya The Bank of Tokyo-Mitsubishi, Ltd., Jakarta Lain-lain (masing-masing di bawah Rp 54 juta) Rekening Dolar Amerika Serikat PT Bank Central Asia Tbk (US$ pada tahun 2002 dan US$ pada tahun 2001)
22 4. KAS DAN SETARA KAS (lanjutan) The Hongkong and Shanghai Banking Corporation Limited, Surabaya (US$ pada tahun 2002 dan US$ pada tahun 2001) PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, Jakarta (US$ pada tahun 2002 dan US$ pada tahun 2001) PT Bank Mizuho Indonesia (US$ pada tahun 2002 dan US$ pada tahun 2001) Lain-lain (masing-masing di bawah Rp 135 juta) Rekening RMB (RMB pada tahun 2002 dan RMB pada tahun 2001) Deposito berjangka Rekening Rupiah PT Bank Mandiri (Persero) Rekening Dolar Amerika Serikat PT Bank Central Asia Tbk (US$ ) PT Bank Pan Indonesia Tbk (US$ ) Jumlah Pihak yang mempunyai hubungan istimewa (lihat Catatan 6) Bank PT Bank Desa Sukasada Jumlah Kas dan Setara Kas Deposito berjangka dalam Rupiah memperoleh bunga dengan suku bunga tahunan berkisar antara 11,25% sampai 13,00% pada tahun Deposito berjangka dalam Dolar Amerika Serikat memperoleh bunga dengan suku bunga tahunan berkisar antara 2,0% sampai 4,5% pada tahun 2002 dan 3% sampai 6% pada tahun PIUTANG USAHA Piutang usaha terdiri dari: Pihak ketiga Perdagangan hasil bumi
23 5. PIUTANG USAHA (lanjutan) Real estat Penyisihan piutang ragu-ragu ( ) ( ) Piutang Usaha dari Pihak Ketiga - Bersih Pihak yang mempunyai hubungan istimewa (lihat Catatan 6) Perdagangan hasil bumi Jumlah Piutang Usaha Saldo piutang usaha dari pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebesar kurang lebih 6% dan 2% dari jumlah aktiva konsolidasi pada tanggal dan Analisa umur dari piutang usaha tersebut adalah sebagai berikut: Jumlah Persentase terhadap Jumlah (%) Belum jatuh tempo ,72 93,75 Jatuh tempo: 1-30 hari ,55 4, hari ,07 0,09 Lebih dari 60 hari ,66 1,91 Jumlah ,00 100,00 Perusahaan dan Anak Perusahaan, kecuali PT Aneka Sumber Kencana, tidak melakukan penyisihan atas piutang usaha karena manajemen berkeyakinan bahwa piutang usaha tersebut dapat ditagih seluruhnya dan berdasarkan pengalaman, Perusahaan dan Anak Perusahaan tidak mempunyai kesulitan dalam menagih piutang usahanya. Piutang usaha dijadikan sebagai jaminan atas hutang jangka pendek dan jangka panjang yang diperoleh dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (dahulu PT Bank Mandiri (Persero)), PT Bank Mizuho Indonesia, PT Bank Daiwa Perdania dan PT Bank UFJ Indonesia (lihat Catatan 11 dan 14). 6. SALDO DAN TRANSAKSI DENGAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA Perusahaan dan Anak Perusahaan mempunyai transaksi usaha dan non-usaha dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Sifat hubungan dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah sebagai berikut: Sifat Hubungan dengan Perusahaan dan Anak Perusahaan (i) Pemegang saham Perusahaan Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa PT Aneka Bumi Prasidha dan Itochu Corporation, Jepang 19
24 6. SALDO DAN TRANSAKSI DENGAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA (lanjutan) Sifat Hubungan dengan Perusahaan dan Anak Perusahaan (ii) Memiliki pemegang saham dan/atau direksi yang sama (iii) Perusahaan asosiasi Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa PT Bank Desa Sukasada, PT Bank Prasidha Utama (Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU)), PSD Associates (S) Pte., Ltd., Singapura, PT Aneka Graha Wisesa, PT Global Metropolitan Development, PT Asenda Bangun Persada, PT Aneka Tuna Indonesia, PT Indo Arabica Mangkuraja dan PT Aneka Bumi Lestari Pelleting Factory RubberNet (Asia) Pte., Ltd., Singapura, dan Itochu Hongkong, Ltd., Hongkong Transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah sebagai berikut: a. Dalam kegiatan sehari-hari, Perusahaan dan Anak Perusahaan menjual dan membeli barang dagangan tertentu pada tingkat harga yang normal kepada dan dari pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Penjualan kepada pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa merupakan penjualan kepada RubberNet (Asia) Pte., Ltd., Singapura (RNA) dan Grup Itochu sebesar Rp atau 72% dari jumlah penjualan bersih pada tahun 2002 dan kepada RNA, Grup Itochu dan PSD Associates (S) Pte., Ltd., Singapura sebesar Rp atau 64% dari jumlah penjualan bersih pada tahun Saldo piutang usaha dari transaksi tersebut pada tanggal dan 2001 disajikan dalam akun Piutang Usaha - Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa (lihat Catatan 5). Pembelian dari pihak yang mempunyai hubungan istimewa merupakan pembelian dari Grup Itochu sebesar Rp atau 0,1440% dari jumlah pembelian pada tahun 2002 dan dari PT Indo Arabica Mangkuraja sebesar Rp atau 0,0004% dari jumlah pembelian pada tahun Tidak terdapat saldo hutang usaha dari transaksi tersebut pada tanggal dan Saldo piutang usaha dari pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah sebagai berikut: RubberNet (Asia) Pte., Ltd., Singapura (US$ pada tahun 2002 dan US$ pada tahun 2001) Itochu Hongkong, Ltd., Hongkong (US$ pada tahun 2002 dan US$ pada tahun 2001) Jumlah b. Perusahaan mempunyai rekening pada bank yang mempunyai hubungan istimewa dengan saldo sebesar 0,005% dari jumlah kas dan setara kas pada tanggal dan Penempatan ini memperoleh suku bunga tahunan berkisar antara 9% - 11% pada tahun 2002 dan sebesar 9% pada tahun 2001 (lihat Catatan 4). 20
25 6. SALDO DAN TRANSAKSI DENGAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA (lanjutan) c. Pada tanggal 20 Oktober 2000, Bank Indonesia mengumumkan pembekuan usaha PT Bank Prasidha Utama (BBKU), bank yang mempunyai hubungan istimewa. Hal ini menyebabkan rekening Perusahaan dan Anak Perusahaan sebesar Rp yang ditempatkan pada bank tersebut tidak dapat dicairkan untuk periode yang belum ditentukan. Perusahaan dan Anak Perusahaan telah mencadangkan kerugian sebesar 100% atas kemungkinan tak tertagihnya rekening tersebut di atas. d. Pada tahun 2002, Perusahaan membayar hutang yang diperoleh dari PSD Associates (S) Pte., Ltd., Singapura, pihak yang mempunyai hubungan istimewa, sebesar US$ e. PT Aneka Bumi Kencana (ABK), Anak Perusahaan, memperoleh pinjaman dari PT Aneka Tuna Indonesia (ATI), perusahaan asosiasi, dengan jumlah maksimum sebesar US$ Pinjaman ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 0,5% di atas SIBOR. Fasilitas pinjaman ini akan jatuh tempo pada tanggal 23 Maret 2006 dan dijamin dengan saham ABK di ATI. Dividen kas yang diterima oleh ABK dari ATI diterapkan sebagai pelunasan atas pinjaman tersebut. Saldo pinjaman tersebut adalah sebesar US$ (setara dengan Rp ) atau 0,9% dari jumlah kewajiban konsolidasi pada tanggal 31 Desember Jumlah beban bunga masing-masing sebesar Rp dan Rp pada tahun 2002 dan Pada tanggal 31 Desember 2001, hutang bunga sehubungan dengan transaksi pinjaman tersebut sebesar US$ (setara dengan Rp ) dan disajikan sebagai bagian dari akun Biaya Masih Harus Dibayar pada neraca konsolidasi tahun Seluruh pinjaman tersebut telah diselesaikan pada tahun 2002 (lihat Catatan 8). f. Pada tahun 2002, PT Aneka Bumi Kencana, Anak Perusahaan, menjual seluruh penyertaan sahamnya di PT Aneka Tuna Indonesia kepada Itochu Corporation, Jepang (lihat Catatan 8). g. Perusahaan dan Anak Perusahaan melakukan transaksi pinjaman antar perusahaan tanpa jaminan dengan dan uang muka dari/ke beberapa pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Piutang dari dan hutang ke pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa tidak memperoleh atau dikenakan bunga. Saldo piutang dari dan hutang ke pihak yang mempunyai hubungan istimewa dari transaksi tersebut dan pinjaman yang diperoleh dari pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa disajikan dalam akun Aktiva Tidak Lancar - Piutang Hubungan Istimewa atau Pinjaman Jangka Panjang - Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa pada kelompok Kewajiban Tidak Lancar, dengan rincian sebagai berikut: Piutang Hubungan Istimewa PT Aneka Bumi Lestari Pelleting Factory (lihat Catatan 10) PT Global Metropolitan Development PT Aneka Graha Wisesa Lain-lain Jumlah
26 6. SALDO DAN TRANSAKSI DENGAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA (lanjutan) 2001 Pinjaman Jangka Panjang - Pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa PT Aneka Tuna Indonesia PT Aneka Bumi Prasidha PSD Associates (S) Pte., Ltd., Singapura (US$ ) Jumlah Saldo piutang hubungan istimewa masing-masing sebesar kurang lebih 1,56% dan 0,08% dari jumlah aktiva konsolidasi pada tanggal dan Saldo hutang hubungan istimewa sebesar kurang lebih 1,16% dari jumlah kewajiban konsolidasi pada tanggal 31 Desember h. Perusahaan dan Anak Perusahaan memberikan pinjaman tanpa bunga kepada karyawan dengan kriteria tertentu sesuai dengan masing-masing jenjang kepegawaian. Pinjaman ini dilunasi melalui pemotongan gaji tiap bulan. i. Berdasarkan perjanjian tertanggal 1 Maret 1999 antara PT Aneka Bumi Pratama (ABP), Anak Perusahaan, dan Itochu Corporation, Jepang (ITC), pemegang saham, ABP setuju untuk membayar sebesar 0,5% dari jumlah maksimum atas fasilitas kredit yang diperoleh dari The Bank of Tokyo-Mitsubishi, Ltd., Jakarta, Mizuho Corporation Bank, Ltd., Singapura dan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, Jakarta (Bank) sebagai pengganti atas dikeluarkannya jaminan Perusahaan (letter of guarantee) oleh ITC kepada bank-bank tersebut. Perjanjian ini akan terus berlaku sepenuhnya, selama dan, sampai dengan, ITC memberitahukan secara tertulis kepada Bank bahwa kewajiban ITC sehubungan dengan jaminan Perusahaan tersebut sepenuhnya tidak berlaku lagi. Perubahan dari perjanjian tersebut, yang ditandatangani pada tanggal 1 Januari 2002, menyatakan bahwa ABP setuju untuk membayar sebesar 1,5% dari jumlah maksimum atas fasilitas kredit yang diperoleh dari Bank. Beban penjaminan yang dibebankan ke usaha sebesar Rp dan Rp masing-masing pada tahun 2002 dan j. Sehubungan dengan transaksi di atas (lihat i), pada tanggal 31 Maret 1999, Perusahaan mengadakan Perjanjian Penggantian dengan ITC dimana Perusahaan menyetujui untuk mengganti 51% dari jumlah yang akan dibayar oleh ITC sehubungan dengan jaminan yang diberikan kepada Bank tersebut. Selanjutnya, pada tanggal yang sama, Perusahaan mengadakan Perjanjian Jaminan Saham dengan ITC dimana Perusahaan setuju untuk menjaminkan seluruh penyertaan sahamnya di ABP kepada ITC sebagai jaminan atas kewajiban Perusahaan kepada ITC berdasarkan Perjanjian Penggantian tersebut. Sehubungan dengan jaminan yang dikeluarkan ITC kepada Bank tersebut, pada tanggal 31 Maret 1999, ITC mengadakan Perjanjian Opsi yang tidak dapat dibatalkan dengan Perusahaan untuk membeli seluruh saham ABP yang dimiliki oleh Perusahaan (termasuk saham-saham ABP lainnya yang akan dimiliki oleh Perusahaan melalui pemesanan saham). k. Berdasarkan Perjanjian Kerjasama tertanggal 30 Mei 1996 antara Perusahaan, ABP dan ITC, ITC memiliki hak eksklusif atas dasar keagenan (agency basis) dan atas nama ABP untuk menjual seluruh produk yang diekspor oleh ABP ke negara-negara tertentu. Untuk kegiatan tersebut, ITC mendapatkan komisi berdasarkan persentase tertentu seperti yang tercantum di dalam Perjanjian Kerjasama tersebut. Tidak terdapat transaksi penjualan ke negara-negara tertentu seperti yang tercantum dalam Perjanjian Kerjasama pada tahun 2002 dan
27 6. SALDO DAN TRANSAKSI DENGAN PIHAK-PIHAK YANG MEMPUNYAI HUBUNGAN ISTIMEWA (lanjutan) Perusahaan, dengan persetujuan tertulis dari ITC, dapat memasarkan produk ABP kepada pelanggan potensial di Cina. Komisi atas penjualan tersebut akan dibayarkan oleh ABP sesuai dengan persentase tertentu seperti yang tercantum di dalam Perjanjian Kerjasama dan dibagi bersama antara Perusahaan dan ITC. Tidak terdapat transaksi penjualan yang dilakukan ke Cina pada tahun 2002 dan l. Pada tanggal 31 Desember 2001, saldo uang muka pelanggan untuk pembelian kopi terutama merupakan uang muka dari Grup Itochu dan PSD Associates (S) Pte., Ltd., Singapura sebesar US$ ,51 (setara dengan Rp ). Pada tahun 2002, Grup Itochu membebankan bunga atas uang muka tersebut sebesar US$ (setara dengan Rp ). Perusahaan telah menyelesaikan seluruh uang muka dan beban bunga tersebut pada tahun 2002 (lihat Catatan 8). m. ABP mempunyai perjanjian kerjasama jasa konsultasi manajemen dengan PT Itochu Management Service Indonesia, pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Sebagai kompensasi, ABP wajib membayar jasa konsultan sebesar US$ 500 setiap bulan. Beban jasa konsultasi manajemen yang dibebankan ke usaha sebesar Rp dan Rp masing-masing pada tahun 2002 dan Perjanjian ini diperpanjang secara otomatis setiap tahun kecuali kedua belah pihak tidak setuju. n. Pada tanggal 6 Agustus 2001, Perusahaan menandatangani perjanjian secara terpisah masing-masing dengan PT Aneka Bumi Kencana (ABK), PT Aneka Widya Graha (AWG), PT Surabaya Pelleting Company (SPC), PT Lampung Sumber Kencana Pelleting Factory (LSK) dan PT Tirtha Harapan Bali (THB), Anak Perusahaan, mengenai pengalihan seluruh pokok pinjaman Anak Perusahaan tersebut beserta bunga dan denda yang terhutang kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) kepada Perusahaan. Saldo hutang kepada BPPN yang dialihkan kepada Perusahaan terdiri dari ABK sebesar Rp , AWG sebesar Rp , SPC sebesar Rp , LSK sebesar Rp dan THB sebesar Rp (lihat Catatan 14). 7. PERSEDIAAN Persediaan terdiri dari: Hasil bumi: Bahan baku Karet Kopi Bahan olahan Karet Barang jadi Karet Kopi Jumlah Bahan pembantu Barang dalam perjalanan Hasil bumi
28 7. PERSEDIAAN (lanjutan) Real estat: Tanah dalam pengembangan dan tanah untuk dijual Jumlah Persediaan Pada tanggal, harga pasar kopi yang dimiliki oleh PT Aneka Bumi Kencana (ABK), Anak Perusahaan, lebih rendah dibandingkan biaya perolehannya. Oleh karena itu, ABK menghapuskan nilai persediaan kopi sebesar Rp Selain itu, PT Surabaya Pelleting Company (SPC), Anak Perusahaan, juga menghapus nilai persediaan bahan pembantu sebesar Rp pada tahun 2002 akibat keusangan. Beban penghapusan persediaan disajikan sebagai bagian dari akun Beban Umum dan Administrasi dalam laporan laba rugi konsolidasi (lihat Catatan 20). Di lain pihak, pada tahun 2002 dan 2001, biaya perolehan bahan baku, bahan olahan dan barang jadi karet lebih rendah dibandingkan harga pasarnya, sehingga tidak diperlukan penghapusan nilai persediaan. Pada tahun 2001, PT Aneka Sumber Kencana (ASK), Anak Perusahaan, menghapus nilai persediaan lada sebesar Rp karena kondisinya sudah rusak dan tidak memungkinkan untuk dijual. Selain itu, ASK, SPC dan PT Lampung Sumber Kencana Pelleting Factory, Anak Perusahaan, juga menghapus nilai persediaan bahan pembantu sebesar Rp pada tahun 2001 akibat keusangan. Beban penghapusan persediaan tersebut disajikan sebagai bagian dari akun Beban Umum dan Administrasi dalam laporan laba rugi konsolidasi (lihat Catatan 20). Berdasarkan pengamatan terhadap kondisi persediaan pada akhir tahun, manajemen berpendapat bahwa penyisihan untuk persediaan yang usang tidak diperlukan. Persediaan, kecuali bahan pembantu, dijadikan sebagai jaminan atas hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang yang diperoleh dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (dahulu PT Bank Umum Servitia Tbk (Bank Beku Kegiatan Usaha) dan PT Bank Mandiri (Persero)), PT Bank Mizuho Indonesia, Jakarta, PT Bank Daiwa Perdania, Jakarta dan PT Bank UFJ Indonesia, Surabaya (lihat Catatan 11 dan 14). Persediaan, kecuali untuk real estat, telah diasuransikan terhadap risiko kerugian atas kebakaran atau pencurian berdasarkan suatu paket polis tertentu dengan nilai pertanggungan sebesar Rp dan US$ , yang berdasarkan pendapat manajemen adalah cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian atas persediaan yang dipertanggungkan. Pada tahun 2002, Perusahaan dan Anak Perusahaan mengubah metode perhitungan persediaannya dari metode rata-rata tertimbang (weighted-average method) menjadi metode rata-rata bergerak (moving-average method). Untuk kepentingan konsolidasi, dampak atas perubahan metode perhitungan tersebut diakui pada tahun berjalan karena jumlahnya tidak material. 24
29 8. PENYERTAAN SAHAM Rincian penyertaan saham adalah sebagai berikut: Persentase Biaya Perolehan/ Persentase Biaya Perolehan/ Nama Perusahaan Kepemilikan Nilai Tercatat Kepemilikan Nilai Tercatat Metode Ekuitas (Equity Method) PT Aneka Tuna Indonesia ,000% 85,065,763,924 Metode Biaya (Cost Method) PT Global Metropolitan Development 20,600% , PAN Impex International Pte., Ltd., Singapura 99, , PT Bursa Berjangka Jakarta 3, , PT Sarana Aceh Ventura 3, , PT Sarana Sumsel Ventura 0, , PT Sarana Bengkulu Ventura 0, , RubberNet (Asia) Pte., Ltd., Singapura - - 9, Jumlah Penyertaan Saham Rincian laba penjualan penyertaan saham pada tahun 2002 dan investasi yang dicatat dengan metode ekuitas pada tanggal 31 Desember 2001 adalah sebagai berikut: Biaya perolehan Akumulasi bagian laba bersih Saldo awal Bagian laba bersih selama tahun berjalan Amortisasi selisih lebih biaya perolehan atas nilai aktiva bersih dari perusahaan asosiasi ( ) ( ) Dividen kas ( ) ( ) Saldo akhir ( ) Jumlah Nilai Tercatat Harga jual Laba penjualan penyertaan saham Pada tahun 2002, PT Aneka Bumi Kencana (ABK), Anak Perusahaan, menjual seluruh penyertaan sahamnya di PT Aneka Tuna Indonesia (ATI) dengan harga penjualan sebesar US$ atau setara dengan Rp kepada Itochu Corporation, Jepang (ITC). Hasil penjualan bersih sebesar US$ , setelah diperhitungkan dengan pinjaman ABK kepada ATI sebesar US$ dan klaim kualitas kepada ITC sebesar US$ Sebagai tambahan, hasil penjualan bersih di atas kemudian dikurangi dengan uang muka dari ITC sebesar US$ dan bunga yang dikenakan atas uang muka tersebut sebesar US$ Sisa hasil penjualan bersih tersebut telah dibayarkan kepada Perusahaan (lihat Catatan 6 dan 23). Berdasarkan risalah Rapat Umum Luar Biasa para Pemegang Saham Perusahaan pada tanggal 26 Juni 2002 yang diaktakan dengan Akta Notaris Ny. Liliana Arif Gondoutomo, S.H. No. 8 tanggal 26 Juni 2002, para pemegang saham Perusahaan menyetujui, antara lain, untuk mengadakan penurunan penyertaan saham di ABK dari Rp menjadi Rp
30 8. PENYERTAAN SAHAM (lanjutan) Berdasarkan akta Notaris Dr. Irawan Soerodjo, S.H., MSi No. 53 tanggal 5 Juli 2002, para pemegang saham ABK menyetujui penurunan modal dasar dan modal ditempatkan dan disetor ABK dari Rp menjadi sebesar Rp Perubahan ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia dengan Nomor Keputusan C HT TH.2002 tanggal 19 November Dividen kas yang diterima oleh ABK dari ATI pada tahun 2002 dan 2001 masing-masing sebesar US$ (setara dengan Rp pada tahun 2002 dan Rp pada tahun 2001) diterapkan sebagai pembayaran atas pinjaman ABK dari ATI (lihat Catatan 6). Berdasarkan risalah Rapat Umum Luar Biasa para Pemegang Saham PT Aneka Bumi Pratama (ABP), Anak Perusahaan, pada tanggal 4 Juni 2002 yang diaktakan dengan akta Notaris Janti Gunardi, S.H. No. 5 tanggal 6 Agustus 2002, para pemegang saham memutuskan, antara lain, menyetujui pembagian dividen kas sebesar Rp yang merupakan 30% dari laba bersih tahun 2001 dan penjualan penyertaan saham ABP di RubberNet (Asia) Pte., Ltd., Singapura. Dividen kas tersebut telah dibayarkan pada tahun Pada bulan Oktober 2002, ABP menjual seluruh penyertaan sahamnya di RubberNet (Asia) Pte., Ltd., Singapura sebesar Rp (US$ ). Penjualan penyertaan saham tersebut menghasilkan keuntungan sebesar Rp dan dicatat sebagai bagian dari Laba Penjualan Penyertaan Saham dalam laporan laba rugi konsolidasi tahun Berdasarkan risalah Rapat Umum Luar Biasa para Pemegang Saham ABP pada tanggal 19 Desember 2002 yang diaktakan dengan akta Notaris Janti Gunardi, S.H. No. 5 tanggal 19 Desember 2002, para pemegang saham menyetujui pembagian interim dividen kas untuk tahun 2002 sebesar Rp Interim dividen kas tersebut telah dibayarkan pada tahun Berdasarkan risalah Rapat Umum Luar Biasa para Pemegang Saham ABP pada tanggal 31 Januari 2001 yang diaktakan dengan akta Notaris Janti Gunardi, S.H. No. 5 tanggal 2 Maret 2001, para pemegang saham menyetujui pembayaran interim dividen kas untuk tahun 2000 sebesar Rp atau Rp per saham. Dividen kas tersebut telah dibayarkan pada tahun AKTIVA TETAP Aktiva tetap terdiri dari: Penambahan/ Pengurangan/ 2002 Saldo Awal Reklasifikasi Reklasifikasi Saldo Akhir Nilai Tercatat Pemilikan langsung Hak atas tanah Bangunan dan prasarana Mesin dan peralatan Kendaraan Jumlah Kendaraan sewa guna usaha Aktiva dalam penyelesaian Jumlah Nilai Tercatat Akumulasi Penyusutan dan Amortisasi Pemilikan langsung Hak atas tanah Bangunan dan prasarana
31 9. AKTIVA TETAP (lanjutan) Penambahan/ Pengurangan/ 2002 Saldo Awal Reklasifikasi Reklasifikasi Saldo Akhir Mesin dan peralatan Kendaraan Jumlah Kendaraan sewa guna usaha Jumlah Akumulasi Penyusutan dan Amortisasi Nilai Buku Penambahan/ Pengurangan/ 2001 Saldo Awal Reklasifikasi Reklasifikasi Saldo Akhir Nilai Tercatat Pemilikan langsung Hak atas tanah Bangunan dan prasarana Mesin dan peralatan Kendaraan Jumlah Kendaraan sewa guna usaha Aktiva dalam penyelesaian Jumlah Nilai Tercatat Akumulasi Penyusutan dan Amortisasi Pemilikan langsung Hak atas tanah Bangunan dan prasarana Mesin dan peralatan Kendaraan Jumlah Kendaraan sewa guna usaha Jumlah Akumulasi Penyusutan dan Amortisasi Nilai Buku Penambahan pada tahun 2001 termasuk reklasifikasi dari bangunan yang telah selesai dikerjakan sebesar Rp dan reklasifikasi dari uang muka pembelian aktiva tetap sebesar Rp Pada tahun 2001, Perusahaan menjual tanah dan bangunan (Graha Prasidha) kepada PT Graha Indah Perkasa, pihak ketiga (lihat Catatan 14). Hasil pelepasan aktiva tetap dengan nilai buku dan harga penjualan masing-masing sebesar Rp dan Rp pada tahun 2002, dan sebesar Rp dan Rp pada tahun 2001, menghasilkan laba bersih sebesar Rp dan rugi bersih sebesar Rp masing-masing pada tahun 2002 dan Penyusutan dan amortisasi yang dibebankan pada beban pokok penjualan sebesar Rp dan Rp masing-masing pada tahun 2002 dan Penyusutan dan amortisasi yang dibebankan pada beban umum dan administrasi sebesar Rp dan Rp masing-masing pada tahun 2002 dan 2001 (lihat Catatan 19 dan 20). 27
32 9. AKTIVA TETAP (lanjutan) Hak atas tanah seluas meter persegi masih dalam proses pengalihan menjadi atas nama Perusahaan dan Anak Perusahaan. Selain itu, Perusahaan dan Anak Perusahaan memiliki Hak Guna Bangunan atas tanah di berbagai lokasi untuk periode yang berkisar dari 20 sampai 30 tahun. Hak-hak tersebut akan berakhir pada berbagai tanggal mulai dari tahun 2004 sampai 2029 namun dapat diperpanjang. Pada tahun 2002, aktiva dalam penyelesaian merupakan proyek pembangunan kantor dan gudang milik PT Aneka Bumi Kencana (ABK), Anak Perusahaan. Pada tahun 2002, ABK membebankan sebagian aktiva dalam penyelesaiannya sebesar Rp ke usaha tahun berjalan. Sampai dengan tanggal 18 Maret 2003, aktiva dalam penyelesaian tersebut masih dalam proses. Pada tahun 2001, aktiva dalam penyelesaian terutama merupakan proyek pembuatan pengolahan limbah milik PT Aneka Coffee Industry (ACI), Anak Perusahaan. Pada tahun 2002, aktiva dalam penyelesaian tersebut sebesar Rp telah selesai dan sudah direklasifikasikan ke mesin. Aktiva tetap dijadikan sebagai jaminan atas hutang jangka pendek dan hutang jangka panjang yang diperoleh dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (dahulu PT Bank Umum Servitia Tbk (Bank Beku Kegiatan Usaha) dan PT Bank Mandiri (Persero)), PT Bank Mizuho Indonesia, Jakarta, PT Bank Daiwa Perdania, Jakarta dan PT Bank UFJ Indonesia, Surabaya (lihat Catatan 11 dan 14). Aktiva tetap, kecuali hak atas tanah, telah diasuransikan terhadap risiko kerugian atas kebakaran dan risiko lainnya berdasarkan suatu paket polis tertentu dengan nilai pertanggungan sebesar Rp dan US$ , yang berdasarkan pendapat manajemen adalah cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian atas aktiva yang dipertanggungkan. Berdasarkan pertimbangan manajemen, tidak terdapat kejadian-kejadian atau perubahan-perubahan keadaan yang mengindikasikan adanya penurunan nilai aktiva tetap pada tanggal dan DANA ESCROW PELUNASAN PINJAMAN Akun ini merupakan dana escrow pelunasan pinjaman kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang berasal dari sisa hasil penjualan PT Hotel Ramapalace Cottage, Anak Perusahaan, sebesar Rp (lihat Catatan 3) dan dari penjualan tanah dan bangunan (Graha Prasidha) yang terletak di Jakarta sebesar Rp pada tahun Berdasarkan Surat BPPN No. S-968/LWO/BPPN/0402 tanggal 9 April 2002, dana escrow pelunasan pinjaman tersebut digunakan untuk melunasi pinjaman PT Aneka Bumi Lestari Pelleting Factory, pihak yang mempunyai hubungan istimewa, sebesar Rp dan sebagian pinjaman Perusahaan dari BPPN sebesar Rp (lihat Catatan 6 dan 14). 11. HUTANG JANGKA PENDEK Hutang jangka pendek terdiri dari pinjaman modal kerja yang diperoleh dari: Dalam Dolar Amerika Serikat The Bank of Tokyo-Mitsubishi, Ltd., Jakarta (US$ pada tahun 2002 dan US$ pada tahun 2001) PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, Jakarta (US$ )
33 11. HUTANG JANGKA PENDEK (lanjutan) Badan Penyehatan Perbankan Nasional (dahulu PT Bank Umum Servitia Tbk (Bank Beku Kegiatan Usaha)) (US$ ) Mizuho Corporate Bank, Ltd., Singapura (US$ ) Dalam Rupiah PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, Jakarta Pinjaman lainnya Jumlah Hutang Jangka Pendek Hutang jangka pendek ini dikenakan bunga tahunan yang berkisar antara: % % Dalam Dolar Amerika Serikat 2,035-30,000 2,565-30,000 Dalam Rupiah 14,400-18,900 15,525-18,900 Jumlah maksimum dan jaminan atas fasilitas pinjaman yang diperoleh Anak Perusahaan adalah sebagai berikut: Jumlah Maksimum Jaminan Dalam Dolar Amerika Serikat The Bank of Tokyo-Mitsubishi, Ltd., Jakarta Jaminan Perusahaan dari pemegang saham minoritas PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia, Jakarta Jaminan Perusahaan dari pemegang saham minoritas Mizuho Corporate Bank Ltd., Singapura Jaminan Perusahaan dari pemegang saham minoritas Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) (dahulu PT Bank Umum Servitia Tbk (Bank Beku Kegiatan Usaha)) Persediaan dan tanah 29
34 11. HUTANG JANGKA PENDEK (lanjutan) Fasilitas kredit yang diperoleh PT Aneka Bumi Pratama (ABP), Anak Perusahaan, dari The Bank of Tokyo-Mitsubishi, Ltd., Jakarta akan berakhir pada tanggal 31 Maret Fasilitas kredit yang diperoleh ABP dari Mizuho Corporation Bank, Ltd., Singapura dan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia akan berakhir masing-masing pada tanggal 30 Maret 2003 dan bulan Desember Pinjaman yang diperoleh PT Aneka Sumber Kencana (ASK), Anak Perusahaan, dari PT Bank Umum Servitia Tbk (Bank Beku Kegiatan Usaha) (BUS) telah jatuh tempo pada tanggal 20 Oktober Berdasarkan Surat No /TPS/BUS/VI/99 tanggal 4 Juni 1999 dari BUS, yang menyatakan bahwa efektif sejak tanggal 19 April 1999, seluruh pembayaran kredit untuk penyetoran maupun pelunasan pinjaman kepada BUS harus ditujukan kepada rekening atas nama BPPN/BUS pada PT Bank Central Asia Tbk. Pada bulan Juni dan Juli 1999, ASK telah menyetor sebesar US$ pada rekening tersebut. ASK tidak dapat melakukan pembayaran pokok pinjaman dan bunga yang ditagih pada saat jatuh tempo. Pokok pinjaman dan bunga yang telah jatuh tempo dan belum dilunasi masing-masing sebesar Rp (US$ ) dan Rp (US$ ) pada tanggal dan Rp (US$ ) dan Rp (US$ ) pada tanggal 31 Desember Pada tanggal 13 Desember 2001, Perusahaan memperoleh pinjaman jangka pendek tanpa jaminan dari H. Soegeng Santoso, pihak ketiga, sebesar Rp , yang akan digunakan untuk kegiatan usaha. Pinjaman tersebut dikenakan bunga sebesar 12% per tahun. Pinjaman tersebut telah dilunasi pada berbagai tanggal dari bulan Januari sampai dengan tanggal 12 Februari BIAYA MASIH HARUS DIBAYAR Akun ini terutama merupakan bunga masih harus dibayar (termasuk denda) atas fasilitas pinjaman yang diperoleh dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional (dahulu PT Bank Mandiri (Persero) dan PT Bank Umum Servitia Tbk (Bank Beku Kegiatan Usaha)), masing-masing sebesar Rp dan Rp pada tanggal dan 2001 (lihat Catatan 11 dan 14). 13. HUTANG PAJAK Hutang pajak terdiri dari: Perusahaan Taksiran hutang pajak penghasilan (dikurangi dengan pembayaran pajak di muka sebesar Rp pada tahun 2002 dan Rp pada tahun 2001) - - Anak Perusahaan Taksiran hutang pajak penghasilan (dikurangi dengan pembayaran pajak di muka sebesar Rp pada tahun 2002 dan Rp pada tahun 2001) Hutang pajak lainnya Pajak penghasilan Pasal Pasal
35 13. HUTANG PAJAK (lanjutan) Pasal Pasal Pajak Pertambahan Nilai Jumlah Hutang Pajak Rekonsiliasi antara rugi komersial sebelum beban pajak, sesuai dengan laporan laba rugi konsolidasi, dan taksiran rugi fiskal adalah sebagai berikut: Rugi sebelum beban pajak setelah dikurangi pos luar biasa untuk tahun 2001 sesuai dengan laporan laba rugi konsolidasi ( ) ( ) Transaksi lain-lain dengan Anak Perusahaan ( ) ( ) Amortisasi kelebihan nilai buku atas biaya perolehan Anak Perusahaan yang dikonsolidasi ( ) ( ) Rugi Anak Perusahaan sebelum beban pajak - bersih Rugi sebelum beban pajak - Perusahaan ( ) ( ) Beda waktu: Penyusutan aktiva tetap Amortisasi biaya dibayar di muka Amortisasi biaya emisi saham ditangguhkan ( ) ( ) Transaksi sewa guna usaha ( ) ( ) Laba penjualan penyertaan saham Laba pelepasan aktiva tetap Penyisihan uang muka kepada pemasok Penyisihan kesejahteraan karyawan - ( ) Penyisihan uang muka kepada pemasok - ( ) Sub-jumlah ( ) Beda tetap: Jamuan, sumbangan dan representasi Gaji, upah dan kesejahteraan karyawan Perbaikan dan pemeliharaan Sewa Penghasilan bunga yang telah dikenakan pajak bersifat final ( ) ( ) Penghasilan sewa yang telah dikenakan pajak bersifat final ( ) ( ) 31
36 13. HUTANG PAJAK (lanjutan) Pajak dan perizinan Lain-lain ( ) ( ) Sub-jumlah ( ) Taksiran rugi fiskal - Perusahaan ( ) ( ) Perhitungan beban pajak tahun berjalan dan taksiran hutang pajak penghasilan (tagihan pajak) adalah sebagai berikut: Taksiran penghasilan kena pajak (dibulatkan) Anak Perusahaan Beban pajak - tahun berjalan Anak Perusahaan Beban pajak dalam laporan laba rugi konsolidasi Pajak penghasilan dibayar di muka Perusahaan Pasal Pajak atas pengalihan tanah dan bangunan Anak Perusahaan Jumlah pajak penghasilan dibayar di muka Taksiran tagihan pajak Perusahaan Anak Perusahaan Taksiran hutang pajak penghasilan Pasal 29 - Anak Perusahaan Rekonsiliasi antara beban pajak yang dihitung dengan menggunakan tarif pajak berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku dengan rugi sebelum beban pajak, dan beban pajak sesuai dengan laporan laba rugi konsolidasi adalah sebagai berikut: Rugi sebelum beban pajak setelah dikurangi pos luar biasa untuk tahun 2001 sesuai dengan laporan laba rugi konsolidasi ( ) ( ) 32
37 13. HUTANG PAJAK (lanjutan) Beban pajak berdasarkan tarif pajak yang berlaku ( ) ( ) Pengaruh pajak atas beda tetap Taksiran rugi fiskal yang tidak terpulihkan Bagian laba (rugi) perusahaan asosiasi - bersih ( ) Penyisihan aktiva pajak tangguhan tidak terpulihkan Laba penjualan penyertaan saham ( ) Penghapusan aktiva pajak tangguhan Lain-lain Beban pajak sesuai laporan laba rugi konsolidasi Rincian beban pajak tangguhan adalah sebagai berikut: Pengaruh beda waktu pada tarif pajak maksimum (30%) Perusahaan Amortisasi biaya emisi saham ditangguhkan Transaksi sewa guna usaha ( ) Penyusutan aktiva tetap ( ) ( ) Amortisasi biaya dibayar di muka ( ) ( ) Penyisihan kesejahteraan karyawan Penghapusan uang muka kepada pemasok Bagian laba (rugi) bersih Anak Perusahaan - ( ) Rugi pelepasan aktiva tetap - ( ) Penyisihan uang muka kepada pemasok - ( ) Anak Perusahaan Penyisihan aktiva pajak tangguhan tidak terpulihkan Rugi fiskal yang dikompensasikan Penyusutan aktiva tetap ( ) ( ) Penghapusan nilai persediaan ( ) Penyisihan kesejahteraan karyawan ( ) ( ) Laba (rugi) pelepasan aktiva tetap ( ) Amortisasi biaya dibayar di muka ( ) ( ) Bagian laba bersih Anak Perusahaan Penyisihan piutang ragu-ragu - ( ) Penyisihan uang muka kepada pemasok - ( ) Jumlah beban pajak tangguhan
38 13. HUTANG PAJAK (lanjutan) Pengaruh pajak yang signifikan atas beda waktu antara pelaporan komersial dan pajak adalah sebagai berikut: Aktiva pajak tangguhan Perusahaan Uang muka kepada pemasok Biaya emisi saham ditangguhkan Dana pada bank beku kegiatan usaha Aktiva tetap Aktiva sewa guna usaha Piutang usaha Anak Perusahaan Akumulasi rugi fiskal Biaya masih harus dibayar Biaya ditangguhkan Persediaan Dana pada bank beku kegiatan usaha Piutang usaha Uang muka kepada pemasok Aktiva tetap Penyisihan aktiva pajak tangguhan tidak terpulihkan ( ) ( ) Jumlah aktiva pajak tangguhan Kewajiban pajak tangguhan Perusahaan Biaya dibayar di muka Aktiva tetap Anak Perusahaan Aktiva tetap Biaya dibayar di muka Jumlah kewajiban pajak tangguhan Aktiva pajak tangguhan konsolidasi - bersih Kewajiban pajak tangguhan konsolidasi - bersih Rugi fiskal PT Aneka Coffee Industry (ACI), Anak Perusahaan, yang pengaruh pajaknya diakui sebagai aktiva pajak tangguhan, merupakan jumlah yang dapat dikompensasi dengan penghasilan kena pajak selama periode lima tahun sejak tanggal terjadinya. Berdasarkan analisa atas kecukupan dari penyisihan penilaian pada akhir tahun, manajemen ACI berpendapat bahwa penyisihan penilaian pada tanggal dan 2001 adalah cukup untuk menutupi penghasilan yang tidak dapat direalisasikan. Manajemen Perusahaan dan Anak Perusahaan berkeyakinan bahwa aktiva dan kewajiban pajak tangguhan dapat dipulihkan kembali. 34
39 13. HUTANG PAJAK (lanjutan) Rincian taksiran tagihan pajak adalah sebagai berikut: Perusahaan Pajak penghasilan Pasal Pasal Pasal Pajak penghasilan atas penjualan tanah dan bangunan Pajak Pertambahan Nilai Sub-jumlah Anak Perusahaan Pajak penghasilan Pasal Pasal Pasal Pajak Pertambahan Nilai Sub-jumlah Jumlah Taksiran Tagihan Pajak Taksiran rugi fiskal tahun 2001 sesuai dengan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) yang dilaporkan oleh Perusahaan kepada Kantor Pajak. Sampai dengan tanggal 18 Maret 2003, Perusahaan belum melaporkan SPT tahun 2002 kepada Kantor Pajak. Namun, SPT tahun 2002 yang akan dilaporkan Perusahaan kepada Kantor Pajak sesuai dengan taksiran rugi fiskal tahun 2002 di atas. 14. PINJAMAN JANGKA PANJANG Pinjaman jangka panjang terdiri dari: Badan Penyehatan Perbankan Nasional (dahulu PT Bank Mandiri (Persero)) PT Bank Mizuho Indonesia, Jakarta (US$ pada tahun 2002 dan US$ pada tahun 2001) PT Bank Daiwa Perdania, Jakarta (US$ pada tahun 2002 dan US$ pada tahun 2001) PT Bank UFJ Indonesia, Surabaya (US$ pada tahun 2002 dan US$ pada tahun 2001) Jumlah
40 14. PINJAMAN JANGKA PANJANG (lanjutan) Dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun (Rp dan US$ pada tahun 2002 dan Rp dan US$ pada tahun 2001) Jumlah pinjaman jangka panjang Pinjaman jangka panjang yang diperoleh dari PT Bank Mandiri (Persero) (Bank Mandiri) terdiri dari fasilitas pinjaman modal kerja ekspor, fasilitas pinjaman modal kerja investasi dan fasilitas letter of credit. Pinjaman modal kerja ekspor sebenarnya merupakan hutang bank jangka pendek yang ditinjau ulang pada tahun Fasilitas modal kerja ekspor dalam Rupiah mempunyai jumlah maksimum sebesar Rp , sedangkan fasilitas letter of credit mempunyai jumlah maksimum sebesar Rp Fasilitas-fasilitas tersebut terutama dijamin dengan piutang usaha, persediaan, aktiva tetap Perusahaan, PT Aneka Sumber Kencana (ASK), PT Lampung Sumber Kencana Pelleting Factory (LSK), PT Aneka Bumi Kencana (ABK), PT Surabaya Pelleting Company (SPC) dan PT Tirtha Harapan Bali (THB), Anak Perusahaan, dan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, serta jaminan pribadi pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Pinjaman modal kerja investasi mempunyai jumlah maksimum sebesar Rp Pinjaman tersebut diperoleh untuk membiayai pembangunan gedung perkantoran yang juga dijadikan sebagai jaminan bersama dengan jaminan lainnya yang telah diberikan oleh Perusahaan. Pinjaman ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 36,5% dan akan dilunasi dalam sembilan puluh enam angsuran dimulai dari tanggal 30 April Pinjaman tersebut secara resmi akan jatuh tempo pada tanggal 31 Maret Tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Bank Mandiri, Perusahaan dan ASK, LSK, ABK, SPC dan THB tidak diperbolehkan untuk, antara lain, membagikan dividen, melakukan penyertaan saham pada perusahaan-perusahaan lain, melakukan penggabungan usaha atau konsolidasi, mengubah Anggaran Dasar, pemegang saham atau manajemen, modal saham, memberikan jaminan untuk pihak-pihak lain dan menjual aktiva tetap, kecuali dalam kegiatan usaha. Perusahaan tidak dapat melakukan pembayaran angsuran pokok pinjaman modal kerja investasi dan bunga pada saat jatuh tempo, dan juga pokok pinjaman modal kerja ekspor dan bunganya dan fasilitas letter of credit dari Bank Mandiri. Berdasarkan persyaratan dalam perjanjian pinjaman, pinjaman tersebut langsung menjadi jatuh tempo dan dapat ditagih. Oleh karena itu, pokok pinjaman dan hutang bunga ditangguhkan dalam Pinjaman Jangka Panjang telah direklasifikasikan sebagai hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun dan biaya masih harus dibayar di dalam neraca konsolidasi. Pada tanggal 28 Maret 2000, Perusahaan dan ASK, LSK, ABK, SPC dan THB bersama dengan PT Aneka Widya Graha (AWG), Anak Perusahaan, menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Bank Mandiri mengenai restrukturisasi pinjaman mereka. Surat Persetujuan sehubungan dengan MoU tersebut, kemudian ditandatangani pada tanggal 27 April Perjanjian tersebut menyatakan bahwa keseluruhan pokok dan bunga yang terhutang akan direstrukturisasi menjadi beberapa fasilitas dengan berbagai tanggal jatuh tempo dan sejumlah Rp 400 milyar akan dikonversi menjadi saham Perusahaan; kelompok aktiva tertentu akan dijual, yang hasil penjualannya akan digunakan untuk melunasi kewajiban Perusahaan dan Anak Perusahaan 36
41 14. PINJAMAN JANGKA PANJANG (lanjutan) tersebut bersama dengan AWG kepada Bank Mandiri; Perusahaan harus mengambil alih seluruh kewajiban atas fasilitas pinjaman yang diperoleh Anak Perusahaan tersebut bersama dengan AWG dari Bank Mandiri, dan penambahan jaminan yang harus disediakan. Restrukturisasi pinjaman dengan Bank Mandiri tersebut telah disetujui oleh para pemegang saham Perusahaan di dalam Rapat Umum Luar Biasa Para Pemegang Saham yang diadakan pada tanggal 14 Juni Berdasarkan Surat Bank Mandiri No. LWO-I/04/2001 tanggal 4 Januari 2001, semua fasilitas kredit yang diperoleh Perusahaan dari Bank Mandiri telah dialihkan kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Pada tanggal yang sama, Bank Mandiri juga mengeluarkan surat kepada Anak Perusahaan tertentu yang menyatakan bahwa pada tanggal 4 Januari 2001, semua fasilitas kredit yang diperoleh Anak Perusahaan tertentu tersebut dari Bank Mandiri telah dialihkan kepada BPPN. Akibatnya, semua fasilitas pinjaman tersebut harus dinegosiasikan lagi dengan BPPN. Pada tanggal 6 Agustus 2001, Perusahaan menandatangani perjanjian dengan ABK, AWG, SPC, LSK dan THB, Anak Perusahaan, yang menyatakan bahwa, seluruh pokok pinjaman Anak Perusahaan tersebut, beserta bunga dan denda, yang terhutang kepada BPPN masing-masing sebesar Rp , Rp dan Rp (atau seluruhnya berjumlah Rp ) dialihkan kepada Perusahaan. Oleh karena itu, Anak Perusahaan tersebut saat ini menjadi berhutang kepada Perusahaan dan seluruh hak yang dimiliki BPPN sehubungan dengan hutang Anak Perusahaan tersebut, seluruhnya beralih kepada Perusahaan. Hutang kepada Anak Perusahaan tersebut tidak dikenakan bunga dan terhutang selama dua (2) tahun sejak Perusahaan melakukan pembayaran hutang tersebut kepada BPPN. Jangka waktu hutang tersebut, dapat diperpanjang sesuai dengan kesepakatan antara Anak Perusahaan tersebut dan Perusahaan (lihat Catatan 6). Pada tahun 2001, BPPN melalui Surat No. S-5211/LWO/BPPN/0701 tanggal 20 Juli 2001, antara lain, menyetujui bahwa hasil dari penjualan PT Hotel Ramapalace Cottage (HRPC) akan digunakan untuk melunasi pinjaman ABK, AWG, SPC, LSK dan THB, Anak Perusahaan, kepada BPPN. Seluruh hutang bunga dan denda Anak Perusahaan tersebut sebesar Rp dan pokok pinjaman sebesar Rp , disetujui untuk dihapuskan dan sisa pokok pinjaman sebesar Rp telah dilunasi oleh Perusahaan pada tanggal 1 dan 22 Oktober 2001 melalui hasil penjualan HRPC. Keuntungan dari penghapusan hutang bunga, denda dan sebagian pokok pinjaman disajikan sebagai bagian dari akun Pos Luar Biasa dalam laporan laba rugi konsolidasi tahun 2001 (lihat Catatan 22). Sisa hasil dari penjualan HRPC sebesar Rp telah disetorkan ke rekening BPPN/Mandiri dan disajikan sebagai bagian dari akun Dana Escrow Pelunasan Pinjaman dalam neraca konsolidasi tahun 2001 (lihat Catatan 10). Pada tahun 2001, BPPN melalui Surat No. S-7635/LWO/BPPN/1101 tanggal 26 Oktober 2001 juga menyetujui penjualan tanah dan bangunan Perusahaan (Graha Prasidha) dengan Hak Guna Bangunan (HGB) No. 619 dengan nilai penjualan minimal sebesar Rp Hasil penjualan tersebut akan digunakan untuk melunasi sebagian hutang Perusahaan dari BPPN. Berdasarkan Akta Jual Beli No. 88/2001, yang diaktakan oleh Merryana Suryana, S.H. tanggal 28 Desember 2001, Perusahaan menjual aktiva yang disebutkan di atas kepada PT Graha Indah Perkasa (GIP), pihak ketiga. Nilai penjualan yang disepakati sebesar Rp Selain itu, Perusahaan dan GIP juga menandatangani perjanjian pengosongan, yang diaktakan dengan akta Notaris Buntario Tigris Darmawa Ng, S.H. No. 27 tanggal 13 Desember 2001, di mana selain harga jual beli tanah dan bangunan tersebut, GIP mempunyai kewajiban untuk membayar kepada Perusahaan biaya pengosongan atas tanah dan bangunan tersebut sebesar Rp Dari jumlah tersebut, digunakan masing-masing untuk pelunasan pajak penghasilan atas penjualan tanah dan bangunan sebesar Rp , pembayaran komisi kepada Century 21 Pertiwi, agen penjual, sebesar Rp dan pelunasan sebagian hutang Perusahaan dari BPPN sebesar Rp , sisanya sebesar Rp digunakan sebagai modal kerja. 37
42 14. PINJAMAN JANGKA PANJANG (lanjutan) Hasil dari penjualan tanah dan bangunan, dan penggantian biaya pengosongan yang digunakan sebagai pelunasan sebagian hutang Perusahaan dari BPPN berjumlah Rp Jumlah tersebut telah disetorkan ke rekening BPPN/Mandiri dan disajikan sebagai bagian dari akun Dana Escrow Pelunasan Pinjaman dalam neraca konsolidasi tahun 2001 (lihat Catatan 10). Pada tahun 2002, seluruh dana escrow pelunasan pinjaman tersebut telah digunakan untuk melunasi pinjaman PT Aneka Bumi Lestari Pelleting Factory, pihak yang mempunyai hubungan istimewa, sebesar Rp dan sebagian pinjaman Perusahaan sebesar Rp (lihat Catatan 6 dan 10). Berdasarkan Surat BPPN No. S-0354/AMC-AD/BPPN/0302 tanggal 26 Maret 2002, kewajiban Perusahaan termasuk dalam portofolio hutang BPPN yang akan dijual kepada pihak ketiga. Pada tanggal yang sama, BPPN juga mengeluarkan Surat No. S-0353/AMC-AD/BPPN/0302 kepada PT Aneka Sumber Kencana (ASK), Anak Perusahaan, yang menyatakan bahwa kewajiban ASK juga termasuk dalam portofolio hutang tersebut. Pada tanggal, pokok pinjaman dan bunga (termasuk denda) yang terhutang dari Bank Mandiri masing-masing sebesar Rp dan Rp , dan pada tanggal 31 Desember 2001 masing-masing sebesar Rp dan Rp Pada tanggal 18 Desember 2000, PT Aneka Coffee Industry (ACI), Anak Perusahaan, mengadakan perubahan perjanjian pinjaman mengenai fasilitas kredit ACI dengan PT Bank Mizuho Indonesia, Jakarta. Berdasarkan perjanjian ini, pinjaman tersebut dibagi atas Tranche A sebesar US$ dan Tranche B sebesar US$ Tranche A akan jatuh tempo pada tanggal 18 Desember 2003 dalam satu pembayaran, sedangkan Tranche B akan jatuh tempo pada tanggal 31 Maret 2004 dalam lima belas angsuran dimulai dari bulan September Pinjaman ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 2% di atas SIBOR dan dijamin dengan Hak Tanggungan pertama atas tanah dan bangunan, pemindahan hak fidusier atas pemilikan ACI pada mesin-mesin dan peralatan pabrik kopi instan, persediaan, piutang, polis asuransi, dan jaminan dari Perusahaan. Pada tanggal 2 Oktober 2000, ACI mengadakan perubahan perjanjian pinjaman mengenai fasilitas kredit ACI dengan PT Bank Daiwa Perdania, Jakarta. Berdasarkan perjanjian ini, pinjaman tersebut dibagi atas Tranche A sebesar US$ dan Tranche B sebesar US$ Tranche A akan jatuh tempo pada tanggal 2 Oktober 2003 dalam satu pembayaran, sedangkan Tranche B akan jatuh tempo pada tanggal 31 Maret 2004 dalam lima belas angsuran dimulai dari bulan Oktober Pinjaman ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 2% di atas SIBOR dan dijamin dengan jaminan dari Perusahaan, Hak Tanggungan pertama atas aktiva tetap dengan dasar pari-pasu prorata, pemindahan hak fidusier atas pemilikan ACI pada persediaan, piutang dan klaim asuransi, dan mesin-mesin pabrik kopi instan. Pada tanggal 21 Juli 2000, ACI mengadakan perubahan perjanjian pinjaman mengenai fasilitas kredit ACI dengan PT Bank UFJ Indonesia, Surabaya. Berdasarkan perjanjian ini, pinjaman tersebut dibagi atas Tranche A sebesar US$ dan Tranche B sebesar US$ Tranche A akan jatuh tempo pada tanggal 21 Juli 2003 dalam satu pembayaran, sedangkan Tranche B akan jatuh tempo pada tanggal 31 Maret 2004 dalam lima belas angsuran dimulai dari bulan September Pinjaman ini dikenakan suku bunga tahunan sebesar 2% di atas SIBOR dan dijamin dengan jaminan dari Perusahaan, Hak Tanggungan pertama atas aktiva tetap dengan dasar pari-pasu prorata, pemindahan hak fidusier atas pemilikan ACI pada persediaan, piutang dan klaim asuransi, dan mesin-mesin pabrik kopi instan. 38
43 14. PINJAMAN JANGKA PANJANG (lanjutan) Pada tanggal, ACI belum membayar pokok pinjaman yang jatuh tempo sebesar US$ Berdasarkan persyaratan dalam perjanjian pinjaman, pinjaman tersebut langsung menjadi jatuh tempo dan dapat ditagih. Oleh karena itu, pokok pinjaman dalam Pinjaman Jangka Panjang telah direklasifikasikan sebagai hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun dalam neraca konsolidasi tahun Saat ini ACI sedang melakukan negosiasi dengan PT Bank Mizuho Indonesia, Jakarta, PT Bank Daiwa Perdania, Jakarta, dan PT Bank UFJ Indonesia, Surabaya, (Bank) untuk restrukturisasi. Fasilitas-fasilitas kredit yang diperoleh ACI dari Bank termasuk batasan-batasan tertentu sehubungan dengan, antara lain, pembagian dividen, penggabungan usaha atau konsolidasi, perubahan dalam pemegang saham atau manajemen, perolehan pinjaman bank dari pihak ketiga dan penjualan aktiva tetap, kecuali dalam kegiatan usaha. 15. KELEBIHAN NILAI BUKU ATAS BIAYA PEROLEHAN ANAK PERUSAHAAN YANG DIKONSOLIDASI - BERSIH Kelebihan nilai buku atas biaya perolehan Anak Perusahaan yang dikonsolidasi terdiri dari: PT Aneka Sumber Kencana PT Aneka Bumi Kencana PT Tirtha Harapan Bali PT Surabaya Pelleting Company PT Lampung Sumber Kencana Pelleting Factory PT Aneka Bumi Pratama Jumlah Dikurangi akumulasi amortisasi Bersih Amortisasi yang dibebankan pada usaha sebesar Rp pada tahun 2002 dan MODAL SAHAM Pada tanggal dan 2001, rincian pemilikan saham Perusahaan dengan nilai nominal Rp 500 per saham adalah sebagai berikut: Jumlah Saham Ditempatkan dan Persentase Pemegang Saham Disetor Penuh Pemilikan Jumlah PT Aneka Bumi Prasidha ,92% PT Aneka Agroprasidha , Itochu Corporation, Jepang , H. Sjamsul Bachri , Moenardji Soedargo , Didik Tandiono , Jeffry Sanusi Soedargo , Djukardi Odang (almarhum) , Widyono Lianto , Masyarakat , Jumlah ,00%
44 16. MODAL SAHAM (lanjutan) Berdasarkan risalah Rapat Umum Luar Biasa para Pemegang Saham pada tanggal 26 Juni 2002, yang diaktakan dengan akta Notaris Ny. Liliana Arif Gondoutomo, S.H. No. 8 tanggal 26 Juni 2002, para pemegang saham menyetujui sebagai berikut: a. Pembatalan keputusan untuk meningkatkan modal dasar Perusahaan yang sebelumnya telah disetujui dalam Rapat Umum Luar Biasa para Pemegang Saham pada tanggal 14 Juni b. Persetujuan untuk menurunkan penyertaan saham Perusahaan dalam PT Aneka Bumi Kencana, Anak Perusahaan, sebesar Rp Berdasarkan risalah Rapat Umum Luar Biasa para Pemegang Saham pada tanggal 27 Juni 2001, yang diaktakan dengan akta Notaris Ny. Liliana Arif Gondoutomo, S.H. No. 6, para pemegang saham menyetujui, antara lain, sebagai berikut: a. Pengunduran diri dari pencatatan saham Perusahaan dengan kode PSDN di PT Bursa Efek Surabaya terhitung mulai periode tahun b. Pemberian wewenang kepada direksi Perusahaan untuk mengadakan perundingan dengan BPPN dalam rangka restrukturisasi pinjaman. c. Pemberian wewenang kepada direksi Perusahaan untuk menjual kelompok aktiva tertentu sehubungan dengan restrukturisasi pinjaman dengan BPPN. 17. MODAL DISETOR LAINNYA Akun ini merupakan selisih lebih antara nilai tercatat penyertaan saham Perusahaan dan bagian Perusahaan atas nilai aktiva bersih PT Aneka Bumi Pratama pada tahun 1997 sebagai akibat dari penurunan dalam bagian pemilikan Perusahaan. 18. PENJUALAN BERSIH Penjualan bersih terdiri dari: Hasil Bumi Ekspor Lokal Jumlah Penjualan Bersih Selain penjualan kepada RubberNet (Asia) Pte., Ltd., Singapura sebesar Rp atau 70% dari jumlah penjualan bersih pada tahun 2002 dan Rp atau 57% dari jumlah penjualan bersih pada tahun 2001, tidak terdapat penjualan kepada pihak lain yang mencapai 10% dari jumlah penjualan bersih pada tahun 2002 dan Penjualan kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebesar Rp atau 72% dari jumlah penjualan bersih pada tahun 2002 dan Rp atau 64% dari jumlah penjualan bersih pada tahun
45 19. BEBAN POKOK PENJUALAN Beban pokok penjualan terdiri dari: Hasil Bumi Perusahaan Persediaan awal Pembelian Beban produksi (lihat Catatan 9) Barang tersedia untuk dijual Persediaan akhir ( ) ( ) Beban Pokok Penjualan - Hasil Bumi Anak Perusahaan Persediaan awal Pembelian Beban produksi (lihat Catatan 9 dan 27) Barang tersedia untuk dijual Persediaan akhir ( ) ( ) Penghapusan persediaan ( ) ( ) Pemakaian untuk produk promosi, penelitian dan pengembangan, laboratorium dan lain-lain ( ) ( ) Beban Pokok Penjualan - Hasil Bumi Beban Pokok Penjualan Konsolidasi - Hasil Bumi Tidak terdapat pembelian dari suatu pihak yang mencapai 10% dari jumlah pembelian pada tahun 2002 dan BEBAN USAHA Beban usaha terdiri dari: Beban Umum dan Administrasi Gaji, upah dan kesejahteraan karyawan Penyusutan dan amortisasi (lihat Catatan 9) Listrik dan air Jamuan, sumbangan dan representasi Perjalanan dan transportasi Perbaikan dan pemeliharaan Jasa tenaga ahli Komunikasi
46 20. BEBAN USAHA (lanjutan) Penghapusan persediaan (lihat Catatan 7) Pajak dan perizinan Asuransi Sewa Penyisihan kesejahteraan karyawan (lihat Catatan 27) Lain-lain Jumlah Beban Penjualan Pengangkutan Pengurusan ekspor Gaji, upah dan kesejahteraan karyawan Perjalanan dan transportasi Komisi penjualan (lihat Catatan 6 dan 23) Iuran keanggotaan Iklan dan promosi Supervisi Lain-lain Jumlah Jumlah Beban Usaha PELAPORAN SEGMEN Pelaporan segmen usaha Perusahaan dan Anak Perusahaan adalah sebagai berikut: a. Bidang Usaha Bidang Usaha Pengolahan dan perdagangan hasil bumi Pabrik kopi bubuk dan instan Pengembangan produk kopi Distribusi produk kopi Real estat Nama Perusahaan PT Prasidha Aneka Niaga Tbk (Perusahaan) PT Aneka Bumi Pratama PT Lampung Sumber Kencana Pelleting Factory PT Aneka Sumber Kencana PT Surabaya Pelleting Company PT Aneka Bumi Kencana PT Tirtha Harapan Bali PT Aneka Coffee Industry Shanghai Aneka Food Development Co., Ltd., Cina PT Prasidha Mitra Sarana PT Aneka Widya Graha 42
47 21. PELAPORAN SEGMEN (lanjutan) b. Pelaporan Segmen Utama - Segmen Usaha (dalam jutaan Rupiah) Pengolahan dan Perdagangan Hasil Bumi Pabrik Kopi Bubuk dan Instan Pengembangan Produk Kopi Distribusi Produk Kopi Real Estat Eliminasi Konsolidasi Keterangan PENDAPATAN Penjualan ke pihak luar Penjualan antar segmen (5.080) - (6.014) Laba (rugi) usaha (8.597) (3.009) (1.346) (2.081) 128 (100) (319) (423) (11.553) Beban bunga ( ) ( ) (4.585) (9.017) ( ) ( ) Penghasilan bunga (22) (53) Bagian laba (rugi) bersih perusahaan asosiasi - bersih ( ) ( ) (1.309) (1.522) (36.280) Lain-lain - bersih (9.318) (7) 458 (9) Beban pajak (4.249) (15.225) (12.564) (3.979) - - (77) (76) (16.831) (19.175) Laba dari operasi dalam penghentian Pos luar biasa
48 21. PELAPORAN SEGMEN (lanjutan) b. Pelaporan Segmen Utama - Segmen Usaha (dalam jutaan Rupiah) (lanjutan) Pengolahan dan Perdagangan Hasil Bumi Pabrik Kopi Bubuk dan Instan Pengembangan Produk Kopi Distribusi Produk Kopi Real Estat Eliminasi Konsolidasi Keterangan Hak minoritas atas laba bersih anak perusahaan yang dikonsolidasi - bersih (3.608) (2.267) (3.608) (2.267) Laba (rugi) bersih ( ) ( ) (4.488) (17.415) (1.352) (1.623) (180) (310) ( ) ( ) INFORMASI TAMBAHAN Aktiva segmen ( ) ( ) Penyertaan saham (82.586) ( ) Jumlah aktiva yang dikonsolidasi ( ) ( ) Kewajiban segmen ( ) ( ) Penyusutan dan amortisasi Pengeluaran modal
49 21. PELAPORAN SEGMEN (lanjutan) c. Pelaporan Segmen Sekunder - Segmen Geografis (dalam jutaan Rupiah) Sumatera Jawa dan Bali Shanghai, Cina Eliminasi Konsolidasi Keterangan PENDAPATAN Penjualan ke pihak luar Penjualan antar segmen (5.080) - (6.014) INFORMASI TAMBAHAN Aktiva segmen ( ) ( ) Penyertaan saham (83.538) ( ) Jumlah aktiva yang dikonsolidasi ( ) ( ) Pengeluaran modal POS LUAR BIASA Akun ini terutama merupakan keuntungan yang timbul atas penghapusan seluruh hutang bunga dan denda sebesar Rp dan penghapusan pokok pinjaman sebesar Rp sehubungan dengan pelunasan pinjaman PT Aneka Bumi Kencana, PT Aneka Widya Graha, PT Surabaya Pelleting Company, PT Lampung Sumber Kencana Pelleting Factory dan PT Tirtha Harapan Bali, Anak Perusahaan, kepada BPPN dari hasil dari penjualan penyertaan saham PT Hotel Ramapalace Cottage pada tahun 2001 (lihat Catatan 14). 23. IKATAN DAN PERJANJIAN Pada tanggal dan 2001, Perusahaan dan Anak Perusahaan mempunyai ikatan dan perjanjian yang signifikan sebagai berikut: a. Berdasarkan perjanjian pembayaran komisi tertanggal 1 April 1999 antara PT Aneka Bumi Pratama (ABP), Anak Perusahaan, dan W&M Miller Co. Inc. (Miller), Amerika Serikat, ABP akan membayar komisi kepada Miller atas setiap penjualan karet SIR 20, yang dijual kepada pihak ketiga melalui Miller. Komisi penjualan tersebut akan dibayarkan oleh ABP sesuai dengan persentase tertentu seperti yang tercantum di dalam perjanjian pembayaran komisi penjualan. Tidak terdapat transaksi penjualan yang dilakukan melalui Miller pada tahun 2002 dan b. PT Aneka Coffee Industry (ACI), Anak Perusahaan, mengadakan penjanjian biaya komisi dengan Itochu Corporation, Jepang (Itochu), dimana ACI akan membayar beban komisi sebesar 1% dari nilai faktur penjualan komersial kepada pelanggan tertentu. Sebaliknya, Itochu sebagai agen komisi, menjamin pembayaran pelanggan. Komisi penjualan yang dibayarkan kepada Itochu sebesar Rp dan Rp masing-masing pada tahun 2002 dan 2001, dan disajikan sebagai bagian dari akun Beban Penjualan - Komisi Penjualan dalam laporan laba rugi konsolidasi (lihat Catatan 20). 45
50 23. IKATAN DAN PERJANJIAN (lanjutan) c. PT Aneka Bumi Kencana (ABK), Anak Perusahaan, menerima klaim sebesar US$ dari Itochu International Inc., Amerika Serikat (Itochu) yang terutama atas kegagalan ABK memenuhi kewajibannya dalam ikatan penjualan dan atas klaim kualitas, setelah dikurangi penyesuaian harga. Jumlah klaim akhir yang akan dibayar ABK setelah melakukan negosiasi dengan Itochu adalah sebesar US$ (setara Rp ) atau merupakan 50% dari jumlah bagian keseluruhan klaim. Pada tanggal 31 Desember 2001, beban klaim tersebut disajikan sebagai dari akun Beban Lain-lain - Klaim dalam laporan laba rugi konsolidasi tahun Klaim kualitas tersebut telah diselesaikan pada tahun 2002 (lihat Catatan 8). 24. INSTRUMEN DERIVATIF - KONTRAK FORWARD PT Aneka Bumi Pratama (ABP), Anak Perusahaan, mengidentifikasi risiko mata uang yang timbul dari kegiatan usaha, baik transaksi spesifik maupun risiko penjabaran. ABP menggunakan kontrak forward untuk melindungi risiko fluktuasi dari piutang usaha dalam mata uang Dolar Amerika Serikat. Kontrak forward tersebut diadakan antara ABP dengan PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia dan The Bank of Tokyo-Mitsubishi, Ltd., Jakarta. Kontrak forward tersebut dipertimbangkan sebagai lindung nilai ekonomis atas piutang tersebut. Namun, kontrak tersebut tidak memerlukan perlakuan akuntansi lindung nilai dan hasil atas perubahan nilai dicatat pada pendapatan saat ini. Kontrak-kontrak forward tersebut berlaku selama tiga (3) bulan dan akan berakhir pada berbagai tanggal di bulan Januari sampai dengan bulan Maret Kontrak-kontrak forward ABP pada tanggal adalah sebagai berikut: Jumlah Nosional (US$) Nilai Wajar Bersih PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia The Bank of Tokyo-Mitsubishi, Ltd., Jakarta Jumlah Pada tanggal, nilai wajar piutang yang timbul dari kontrak-kontrak forward sebesar Rp , dan dicatat sebagai Piutang Forward Bersih pada neraca konsolidasi tahun 2002 dan sebagai bagian dari Laba (Rugi) Selisih Kurs - bersih pada laporan laba rugi konsolidasi tahun AKTIVA DAN KEWAJIBAN DALAM MATA UANG ASING Aktiva dan kewajiban Perusahaan dan Anak Perusahaan dalam mata uang asing pada tanggal dan 2001 disajikan dalam Rupiah dengan menggunakan kurs tukar yang berlaku pada tanggal-tanggal tersebut seperti yang dijelaskan dalam Catatan 2n: Jumlah dalam Setara Jumlah dalam Setara Akun Mata Uang Asing Rupiah Mata Uang Asing Rupiah Aktiva Aktiva Lancar US$ US$ THB THB - - RMB RMB Sin$ - - Sin$ Jumlah Aktiva Lancar Aktiva Tidak Lancar US$ US$ - - Jumlah Aktiva
51 25. AKTIVA DAN KEWAJIBAN DALAM MATA UANG ASING (lanjutan) Jumlah dalam Setara Jumlah dalam Setara Akun Mata Uang Asing Rupiah Mata Uang Asing Rupiah Kewajiban Kewajiban Lancar US$ US$ DKK DKK - - RMB - - RMB Jumlah Kewajiban Lancar Kewajiban Tidak Lancar US$ - - US$ Jumlah Kewajiban Kewajiban Bersih dalam Mata Uang Asing- Setara dalam Rupiah Pada tanggal 18 Maret 2003, kurs tengah uang kertas asing yang dikeluarkan Bank Indonesia adalah Rp 8.990,00 untuk US$ 1, Rp 210,03 untuk THB 1 dan Rp 1.289,43 untuk DKK 1, sedangkan kurs tengah yang dikeluarkan oleh Bank of China adalah RMB 8,2770 untuk US$ 1. Jika aktiva dan kewajiban bersih dalam mata uang asing pada tanggal dijabarkan dengan menggunakan kurs tengah tersebut, jumlah kewajiban bersih akan meningkat sebesar lebih kurang Rp 796 juta. 26. KONDISI EKONOMI Indonesia terus mengalami kesulitan ekonomi terutama karena sangat langkanya likuiditas dan pengetatan penyediaan kredit. Kondisi ekonomi masih akan tetap terpengaruh oleh ketidakpastian dalam sektor sosial dan politik. Tidak diketahui secara pasti bagaimana perkembangan sektor ekonomi dan sektor non-ekonomi di Indonesia pada masa depan akan berdampak terhadap kegiatan usaha Perusahaan dan Anak Perusahaan. Penjualan bersih Perusahaan dan Anak Perusahaan pada tahun 2002 meningkat sebesar Rp 57,7 milyar atau 18% dibandingkan penjualan bersih tahun Peningkatan ini terutama disebabkan kenaikan kuantitas penjualan karet remah dan kenaikan harga karet remah pada tahun Namun, harga pokok penjualan pada tahun 2002 juga meningkat sebesar 31% dibandingkan tahun 2001, yang terutama disebabkan kenaikan atas harga pembelian bahan baku (slabs) karena persaingan yang ketat dalam memperoleh bahan baku tersebut masih berlanjut. Sebagai tambahan, dengan menguatnya Rupiah pada tahun 2002, pendapatan Perusahaan dan Anak Perusahaan telah menurun dalam satuan Rupiah. Sebagai akibat dari faktor-faktor di atas, laba kotor Perusahaan dan Anak Perusahaan mengalami penurunan sebesar 58%. Pada akhir tahun 2001, Indonesia, Thailand dan Malaysia memutuskan untuk mendirikan International Tripartite Rubber Organization (ITRO) dalam upaya untuk meningkatkan harga karet remah di pasaran internasional. Ketiga negara tersebut setuju untuk mengurangi ekspor dan produksi mereka. Dampak dari program-program tersebut terhadap kegiatan usaha Perusahaan dan Anak Perusahaan belum dapat ditentukan pada saat ini. 47
52 26. KONDISI EKONOMI (lanjutan) Disamping itu, sejak tahun 2001, akibat ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran kopi di pasaran internasional berdampak pada semakin merosotnya harga kopi internasional. Selain itu, program retensi yang dijalankan oleh beberapa negara produsen kopi yang diharapkan dapat menaikkan harga kopi internasional tidak menunjukkan hasil yang positif. Keterbatasan modal kerja yang masih dialami Perusahaan dan Anak Perusahaan mempengaruhi kemampuan mereka untuk melakukan pembelian pada harga yang terbaik dan akibatnya mempengaruhi harga pokoknya. Perubahan kurs valuta asing terus mempengaruhi biaya dana Anak Perusahaan untuk melunasi hutang dalam mata uang asing. Rugi bersih konsolidasi terutama disebabkan oleh beban bunga yang signifikan pada tahun 2002 dan 2001 dan rugi selisih kurs pada tahun 2001, yang menyebabkan defisiensi modal sebesar Rp dan Rp masing-masing pada tanggal dan Dalam memberikan respon terhadap kondisi ekonomi tersebut, pada tahun 2002, PT Aneka Bumi Kencana (ABK), Anak Perusahaan, telah menjual seluruh penyertaan sahamnya pada PT Aneka Tuna Indonesia dan hasil penjualannya digunakan untuk menyelesaikan kewajiban Perusahaan, ABK dan PT Aneka Sumber Kencana, Anak Perusahaan, kepada Itochu Corporation, Jepang. Sisa hasil penjualan tersebut digunakan untuk kebutuhan modal kerja (lihat Catatan 6). Perusahaan berencana untuk menjual Anak Perusahaan tertentu dan kelompok aktiva lainnya dan hasil penjualannya akan digunakan untuk kebutuhan modal kerja dan membayar kewajiban Perusahaan dan Anak Perusahaan kepada kreditur. Selain itu, Perusahaan dan Anak Perusahaan juga meneruskan program-program yang telah dilakukan pada tahun Untuk meningkatkan likuiditas, uang muka penjualan diterapkan, dan uang muka kepada pemasok untuk pembelian bahan baku dikurangi seminimal mungkin. Investasi ditangguhkan untuk sementara waktu dan aktiva tetap yang tidak digunakan dalam kegiatan operasi dan kelompok aktiva tertentu, terutama bukan bisnis utama, akan dijual. Perusahaan dan Anak Perusahaan juga menekankan pada produk-produk yang memberikan keuntungan (margin) yang tinggi serta meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan. Selain itu, Perusahaan dan Anak Perusahaan menangguhkan penerimaan karyawan baru dan melaksanakan program pengurangan biaya. Perusahaan dan Anak Perusahaan (kecuali Perusahaan Patungan) telah mengurangi aktivitasnya. Kebijakan tersebut seperti halnya dengan pengawasan yang ketat atas penagihan piutang dan pemilihan pelanggan secara selektif akan terus berlanjut pada tahun Hasil atas tindakan yang diambil oleh manajemen belum dapat diperkirakan pada saat ini. Penyehatan ekonomi tergantung kepada kebijakan fiskal, moneter dan lainnya yang sedang diterapkan dan akan diambil oleh Pemerintah Indonesia, suatu tindakan yang berada di luar kendali Perusahaan dan Anak Perusahaan. Oleh karena itu, tidaklah mungkin untuk menentukan dampak masa depan dari kondisi ekonomi saat ini terhadap likuiditas dan pendapatan Perusahaan dan Anak Perusahaan, termasuk dampak mengalirnya dana pemegang saham, pelanggan dan pemasok. 27. KESEJAHTERAAN KARYAWAN Pada tanggal 20 Juni 2000, Menteri Tenaga Kerja menerbitkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep-150/Men/2000 sebagai pengganti Surat Keputusan sebelumnya No. Per.03/Men/1996, mengenai Penyelesaian Pemutusan Hubungan Kerja dan Penetapan Uang Pesangon, Uang Penghargaan Masa Kerja dan Ganti Kerugian di Perusahaan. Surat Keputusan tersebut mewajibkan perusahaan untuk membayar uang pesangon, uang jasa dan ganti kerugian sehubungan dengan pengurangan karyawan berdasarkan lamanya masa kerja karyawan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan dalam keputusan tersebut. Pada tanggal dan 2001, akrual yang dicatat sebagai bagian dari akun Biaya Masih Harus Dibayar untuk kesejahteraan karyawan tersebut masing-masing sebesar Rp dan Rp Manajemen berkeyakinan bahwa jumlah tersebut cukup untuk memenuhi ketentuan yang dipersyaratkan dalam Surat Keputusan tersebut pada tanggal dan
53 27. KESEJAHTERAAN KARYAWAN (lanjutan) Pada tahun 2001, karena keterbatasan modal kerja sebagai akibat dari restrukturisasi hutang yang belum ada penyelesaiannya, Perusahaan mengurangi secara signifikan produksi karetnya untuk sementara waktu sehingga menyebabkan karyawannya mengalami pengurangan dalam jumlah yang signifikan. Pada tahun yang sama, akibat lesunya penjualan kopi, Anak Perusahaan tertentu mengurangi secara signifikan produksi kopi mereka untuk sementara waktu sehingga menyebabkan jumlah karyawan mereka mengalami pengurangan. Namun, karyawan tersebut telah dipekerjakan kembali atas dasar kontrak. 28. PERISTIWA SETELAH TANGGAL NERACA Peristiwa yang signifikan setelah tanggal adalah sebagai berikut: a. Berdasarkan Surat dari Badan Penyehatan Perbankan Nasional No. Prog-1647/AMK/PAK1/BPPN/0303 tanggal 5 Maret 2003, kewajiban Perusahaan telah dijual dan dialihkan oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) ke PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Bank Danamon). Pada tanggal yang sama, BPPN juga mengeluarkan Surat No. Prog-1649/AMK/PAK1/BPPN/0303 kepada PT Aneka Sumber Kencana (ASK), Anak Perusahaan, yang menyatakan bahwa kewajiban ASK juga dijual dan dialihkan kepada Bank Danamon. b. Pada tanggal 18 Maret 2003, Bank Danamon, dalam Surat No. B. 512-S-CBD dan B. 513-S-CBD masing-masing bertanggal 18 Maret 2003 menyatakan bahwa: - Efektif tanggal 5 Februari 2003, Bank Danamon memiliki hak atas kewajiban Perusahaan sebesar Rp dan ASK sebesar Rp dan US$ , masing-masing kepada BPPN. - Surat Perjanjian Kredit sehubungan dengan restrukturisasi pinjaman Perusahaan pada saat ini sedang dalam proses dan akan ditandatangani paling lambat pada bulan April Bank Danamon tidak mempunyai rencana untuk mempailitkan Perusahaan sehubungan dengan pinjaman Perusahaan dan ASK. c. Berdasarkan Surat Ketetapan Lebih Bayar No /406/01/054/03 tanggal 18 Maret 2003, Kantor Pelayanan Pajak telah menyetujui pembayaran tagihan pajak penghasilan tahun 2001 sebesar Rp
PT PRASIDHA ANEKA NIAGA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
Laporan Keuangan Konsolidasi Dengan Laporan Auditor Independen Tahun yang Berakhir pada Tanggal-tanggal PT PRASIDHA ANEKA NIAGA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI DENGAN LAPORAN AUDITOR
PT. PRASIDHA ANEKA NIAGA Tbk. DAN ANAK PERUSAHAAN
PT. PRASIDHA ANEKA NIAGA Tbk. DAN ANAK PERUSAHAAN Laporan Keuangan Konsolidasi Untuk Tiga Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal-Tanggal 31 Maret 2010 dan 2009 NERACA KONSOLIDASI (Disajikan dalam Rupiah, kecuali
PT. INTANWIJAYA INTERNASIONAL, Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN 31 MARET 2009 DAN 2008
Halaman 8 PT. INTANWIJAYA INTERNASIONAL, Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN 31 MARET 2009 DAN 2008 1. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN a. Pendirian Perusahaan PT. Intanwijaya Internasional Tbk. (Perusahaan) didirikan
PT SIANTAR TOP Tbk LAPORAN KEUANGAN UNTUK ENAM BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2007 DAN 2006 (TIDAK DIAUDIT)
PT SIANTAR TOP Tbk LAPORAN KEUANGAN UNTUK ENAM BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2007 DAN 2006 (TIDAK DIAUDIT) 1 PT SIANTAR TOP Tbk NERACA PER TANGGAL 30 JUNI 2007 DAN 2006 (TIDAK DIAUDIT) Catatan
PT. PRASIDHA ANEKA NIAGA, Tbk. DAN ENTITAS ANAK
PT. PRASIDHA ANEKA NIAGA, Tbk. DAN ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian Untuk Tiga Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal-Tanggal 31 Maret 2016, 31 Desember 2015 dan 31 Maret 2015 LAPORAN POSISI KEUANGAN
PT. PRIMARINDO ASIA INFRASTRUCTURE, Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Per 30 Juni 2010 dan 2009
1. UMUM a. Pendirian dan Informasi Umum PT. Primarindo Asia Infrastructure, Tbk. (Perusahaan) didirikan di Bandung berdasarkan Akta No. 7 tanggal 1 Juli 1988 dan Notaris Nany Sukarja, S. H. Akta Pendirian
PT WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
Laporan Keuangan Konsolidasi Dengan Laporan Auditor Independen Tahun Yang Berakhir pada Tanggal-tanggal PT WICAKSANA OVERSEAS INTERNATIONAL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI DENGAN LAPORAN
Catatan 31 Maret Maret 2010
NERACA KONSOLIDASI ASET Catatan 31 Maret 2011 31 Maret 2010 ASET LANCAR Kas dan setara kas 2f, 3 220.361.019.579 10.981.803.022 Piutang usaha - setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu Pihak yang
PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
PT MUSTIKA RATU Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 SEPTEMBER 2007 (DENGAN ANGKA PERBANDINGAN UNTUK TAHUN 2006) (MATA UANG INDONESIA) 1 MUSTIKA
PT. AKBAR INDO MAKMUR STIMEC Tbk CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2009 dan 2008
CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Untuk tahun yang berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2009 dan 2008 1. UMUM a. Pendirian Perusahaan PT. Akbar Indo Makmur Stimec Tbk ( Perusahaan ) didirikan pada tanggal
PT. AKBAR INDO MAKMUR STIMEC Tbk
Laporan Keuangan Dan Laporan Auditor Independen Untuk Tahun yang Berakhir pada tanggal-tanggal 31 Desember 2008 dan 2007 DAFTAR ISI Halaman Laporan Auditor Independen i Neraca 1 Laporan Laba Rugi 2 Laporan
1,111,984, ,724,096 Persediaan 12 8,546,596, f, ,137, ,402,286 2h, 9 3,134,250,000 24,564,101,900
NERACA KONSOLIDASI` PER 30 SEPTEMBER 2009 DAN 2008 3 CATATAN ASET ASET LANCAR Kas dan setara kas 2c, 2l, 4, 24 Rp 3,111,393,145 Rp 1,677,351,069 Investasi jangka pendek 2d, 5 5,348,940,000 6,606,593,125
P.T. SURYA SEMESTA INTERNUSA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 30 JUNI 2008 DAN 2007
P.T. SURYA SEMESTA INTERNUSA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 30 JUNI 2008 DAN 2007 P.T. SURYA SEMESTA INTERNUSA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN DAFTAR ISI Halaman
AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2c,2e,4, Penyertaan sementara 2c,2f,
NERACA KONSOLIDASIAN (UNAUDITED) AKTIVA Catatan 2008 2007 AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2c,2e,4,43 10.942.829 10.828.433 Penyertaan sementara 2c,2f,43 182.685 188.139 Piutang usaha 2c,2g,5,36,43 Pihak
BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. pada tanggal 16 Januari 1985 berdasarkan akta notaris Ridwan Suselo, S.H., No. 27.
BAB III GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN III.1 Sejarah Perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. ( Perusahaan ) didirikan di Indonesia pada tanggal 16 Januari 1985 berdasarkan akta notaris Ridwan Suselo,
PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk
PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk LAPORAN KEUANGAN SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TANGGAL 30 SEPTEMBER 2009 DAN 2008 ( Tidak Diaudit ) PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk NERACA 30 September 2009
PT SIANTAR TOP Tbk. LAPORAN KEUANGAN INTERIM UNTUK TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2009 DAN 2008 (TIDAK DIAUDIT)
PT SIANTAR TOP Tbk. LAPORAN KEUANGAN INTERIM UNTUK TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2009 DAN 2008 (TIDAK DIAUDIT) - 1 - PT SIANTAR TOP Tbk NERACA PER TANGGAL 30 JUNI 2009 DAN 2008 (TIDAK DIAUDIT)
PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 JUNI 2010 DAN 2009 (MATA UANG INDONESIA)
PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 JUNI 2010 DAN 2009 (MATA UANG INDONESIA) PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN 30 JUNI 2010 DAN 2009 Daftar Isi Halaman Neraca... 2-3 Laporan
PT TEMPO SCAN PACIFIC Tbk. DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI 31 Maret 2010 dan 2009 (Dinyatakan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain)
Ekshibit A NERACA KONSOLIDASI 31 Maret 2010 dan 2009 (Dinyatakan dalam Rupiah, kecuali dinyatakan lain) A S E T ASET LANCAR Kas dan setara kas 2c,2p,3,25 1,349,564,406,813 1,205,030,845,882 Investasi jangka
ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI
P.T. PEMBANGUNAN JAYA ANCOL Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI 31 DESEMBER 2004 DAN 2003 AKTIVA 2004 2003 (Disajikan Rental' - Catatan 38) AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 161.020.965.269 41.211.323.789
MEMBACA LAPORAN KEUANGAN
MEMBACA LAPORAN KEUANGAN Denny S. Halim Jakarta, 31 Juli 2008 1 Outline Pengertian Akuntansi Proses Akuntansi Laporan Keuangan Neraca Laporan Rugi Laba Laporan Arus Kas Pentingnya Laporan Keuangan Keterbatasan
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan Laporan Keuangan Konsolidasi Dan Laporan Auditor Independen (Mata Uang Indonesia) Laporan Auditor Independen Laporan No. 36797S Pemegang Saham, Dewan Komisaris
PT DANASUPRA ERAPACIFIC Tbk. LAPORAN KEUANGAN 31 MARET 2012 DAN 2011
PT DANASUPRA ERAPACIFIC Tbk. LAPORAN KEUANGAN 31 MARET 2012 DAN 2011 PT DANASUPRA ERAPACIFIC Tbk. LAPORAN POSISI KEUANGAN PER 31 MARET 2012 DAN 31 DESEMBER 2011 A S E T Aset Lancar Catatan 31-Mar-12 31-Dec-11
P A P A R A N P U B L I K
P A P A R A N P U B L I K PT PRASIDHA ANEKA NIAGA Tbk Berkedudukan di Jakarta - Indonesia. ( Perseroan ) BIDANG USAHA Bergerak dalam Bidang Usaha Komoditas Hasil Bumi dan Industri Pengolahannya, serta
PT MODERN PHOTO Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
Laporan Keuangan Konsolidasi Dengan Laporan Auditor Independen Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal PT MODERN PHOTO Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI DENGAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan Laporan Keuangan Konsolidasi Dan Laporan Auditor Independen 31 Desember 2006 dan (Setelah Penggabungan Usaha) (Mata Uang Rupiah Indonesia) LAPORAN KEUANGAN
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK LAPORAN KEUANGAN INTERIM KONSOLIDASIAN (Mata Uang Rupiah) 1 PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK LAPORAN KEUANGAN INTERIM KONSOLIDASIAN DAN SEMBILAN BULAN
JUMLAH ASET LANCAR
LAPORAN POSISI KEUANGAN (NERACA) KONSOLIDASI 30 September 2011 dan 31 Desember 2010 30 September 2011 31Desember 2010 ASET ASET LANCAR Kas dan setara kas 50948250925 80968763439 Investasi 1963117500 2016231750
BAB III GAMBARAN UMUM ATAS PT MMS. Sejarah Singkat dan Perkembangan Perusahaan
BAB III GAMBARAN UMUM ATAS PT MMS III.1 Sejarah Singkat dan Perkembangan Perusahaan PT MMS didirikan di Jakarta berdasarkan Akta No.14 tanggal 4 Oktober 1989 dari Notaris Winnie Hadiprojo, SH., notaris
JUMLAH AKTIVA
NERACA 31 DESEMBER 2007 AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan bank 3 866.121.482 3.038.748.917 Piutang usaha - bersih Hubungan istimewa 2b, 2c, 4, 5, 8 2.635.991.416 328.548.410 Pihak ketiga - setelah dikurangi
PT LIPPO SECURITIES Tbk DAN PERUSAHAAN ANAK LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (TIDAK DIAUDIT) UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR PADA 30 JUNI 2007 DAN 2006
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (TIDAK DIAUDIT) UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR PADA 30 JUNI 2007 DAN 2006 NERACA KONSOLIDASIAN Per 30 Juni 2007 dan 2006 Catatan A K T I V A KAS DAN SETARA KAS Pihak Ketiga
PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 31 MARET 2011 DAN 2010 (MATA UANG INDONESIA)
PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 31 MARET 2011 DAN 2010 (MATA UANG INDONESIA) PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN 31 MARET 2011 DAN 2010 Daftar Isi Halaman Neraca... 2-3 Laporan
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan Laporan Keuangan Konsolidasi Dan Laporan Auditor Independen 31 Desember 2007 dan 2006 (Mata Uang Rupiah Indonesia) PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan
PT SURYA TOTO INDONESIA Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN 30 Juni 2010 dan 2009 (Dalam Rupiah)
3 KAS DAN SETARA KAS Kas Kas di Bank 98,459,500 84,011,300 Pihak ketiga: Rekening PT Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, Ltd., Jakarta 3,017,957,290 1,322,843,814 PT Bank Central Asia Tbk. 2,188,565,921 1,103,518,171
PT ANEKA KEMASINDO UTAMA Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 SEPTEMBER 2009 DENGAN ANGKA PERBANDINGAN TAHUN 2008 (MATA UANG INDONESIA)
LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 SEPTEMBER 2009 DENGAN ANGKA PERBANDINGAN TAHUN 2008 (MATA UANG INDONESIA) LAPORAN KEUANGAN 30 SEPTEMBER 2009 DENGAN ANGKA PERBANDINGAN TAHUN 2008 Daftar Isi Halaman
PT RICKY PUTRA GLOBALINDO Tbk dan ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI. Pada tanggal 30 Maret 2012 dan 2011 (Tidak Diaudit)
PT RICKY PUTRA GLOBALINDO Tbk dan ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI Pada tanggal 30 Maret 2012 dan 2011 (Tidak Diaudit) DAFTAR ISI Halaman Surat Pernyataan Direksi Laporan Auditor Independen
PT SURYA TOTO INDONESIA Tbk. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN 30 Juni 2010 dan 2009 ( Dalam Rupiah )
1 UMUM a. Pendirian Perusahaan PT. Surya Toto Indonesia Tbk. ("Perusahaan") didirikan tanggal 11 Juli 1977 dalam rangka Undang-Undang Penanaman Modal Asing No. 1, tahun 1967 berdasarkan akte yang dibuat
PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk
PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk LAPORAN KEUANGAN TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TANGGAL 31 MARET 2009 DAN 2008 ( Tidak Diaudit ) PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk NERACA 31 Maret 2009 dan 2008 ( Disajikan
Lihat Catatan atas Laporan Keuangan Konsolidasi yang merupakan Bagian yang tidak terpisahkan dari Laporan ini
LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASI Per (Tidak Diaudit) ASET 31 Desember 2010 ASET LANCAR Kas dan Setara Kas Piutang Usaha Pihak Ketiga Piutang Lainlain Pihak Ketiga Persediaan Bersih Biaya Dibayar di
PT SARASA NUGRAHA Tbk NERACA Per 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Ribuan Rupiah, Kecuali Data Saham)
NERACA Per 31 Desember 2004 dan 2003 (Dalam Ribuan Rupiah, Kecuali Data Saham) AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan Bank 2.b, 4 7.079.491 4.389.630 Investasi Jangka Pendek 2.d, 5 6.150 6.150 Piutang Usaha 2.b,
PT FAJAR SURYA WISESA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
Laporan Keuangan Konsolidasi Beserta Laporan Review Akuntan Independen Tujuh bulan yang berakhir pada tanggal 31 Juli 2006 Dengan angka perbandingan untuk tahun 2005 PT FAJAR SURYA WISESA Tbk DAN ANAK
PT ASTRA GRAPHIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN. Catatan 2009*) Kas dan setara kas 2d,
NERACA KONSOLIDASIAN AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2d,4 70.490.918.058 100.111.129.147 Deposito berjangka 5 2.062.615.652 2.179.143.834 Piutang usaha 2e (setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu
BAB IV. ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT GUDANG GARAM Tbk. modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya. Hal ini berarti bahwa
BAB IV ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PT GUDANG GARAM Tbk IV.1 Analisis Laporan Arus Kas Kas merupakan aktiva yang paling likuid atau merupakan salah satu unsur modal kerja yang paling tinggi tingkat likuiditasnya.
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan Laporan Keuangan Konsolidasi Dan Laporan Auditor Independen 31 Desember 2009 dan 2008 Dengan Angka Perbandingan Tahun 2007 (Mata Uang Rupiah Indonesia) LAPORAN
PT Wicaksana Overseas International Tbk Dan Anak Perusahaan
PT Wicaksana Overseas International Tbk Dan Anak Perusahaan Laporan Keuangan Konsolidasi Dan Laporan Auditor Independen (Mata Uang Indonesia) Laporan Auditor Independen Laporan No. 35574S Pemegang Saham
PT ASTRA GRAPHIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN. Catatan 2009*) Kas dan setara kas 2d,
NERACA KONSOLIDASIAN AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2d,4 121.433.163.880 119.658.017.889 Deposito berjangka 5 2.135.930.652 2.424.600.790 Piutang usaha 2e (setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI (Mata Uang Rupiah) PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI 30 JUNI 2010 DAN 2009 Daftar isi
PT KARWELL INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
PT KARWELL INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN Laporan Keuangan Konsolidasi Dengan Laporan Auditor Independen (Mata Uang Rupiah) LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI DENGAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN TAHUN YANG
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA Tbk
PT YANAPRIMA HASTAPERSADA Tbk LAPORAN KEUANGAN PADA TANGGAL 30 JUNI 2011 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2010 (DIAUDIT) SERTA UNTUK PERIODE ENAM BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL 30 JUNI 2011 DAN
PT JAYA REAL PROPERTY TBK LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN Per 30 Juni 2011 dan 31 Desember 2010 (Dalam Ribuan Rupiah) 31 Desember 2010
LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN Per 30 Juni 2011 dan 31 Desember 2010 ASET Catatan 30 Juni 2011 31 Desember 2010 Kas dan Setara Kas 2.d, 2.e.,2.n, 3, 29 887.194.955 758.054.399 Investasi Saham 2.c,
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Laporan No. AR/L-099/12 Pemegang Saham, Dewan Komisaris dan Direksi PT Sidomulyo Selaras Tbk Kami telah mengaudit laporan posisi keuangan konsolidasian PT Sidomulyo Selaras Tbk
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan Laporan Keuangan Konsolidasi Dan Laporan Auditor Independen 31 Desember 2008 Dengan Angka Perbandingan Tahun 2007 (Mata Uang Rupiah Indonesia) LAPORAN KEUANGAN
PT Argo Pantes Tbk dan Anak Perusahaan Neraca Konsolidasi Per tanggal 31 Desember 2007, 2006, dan
L1 AKTIVA Aktiva Lancar : Kas dan setara kas Piutang usaha setelah dikurangi penyisihan piutang raguragu sebesar Rp 2.293.762 (2005), Rp 5.920.887 (2006), Rp 3.627.125 (2007) Piutang lainlain Persediaan
PT Bhakti Investama Tbk Dan Anak Perusahaan
PT Bhakti Investama Tbk Dan Anak Perusahaan Laporan Keuangan Konsolidasi Dan Laporan Auditor Independen Untuk Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2000 Dan 1999 (Mata Uang Indonesia) Laporan
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI DENGAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Daftar isi Halaman Laporan Auditor Independen 1 Neraca Konsolidasi 2 Laporan Laba Rugi Konsolidasi
PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk. NERACA 30 JUNI 2002 DAN 2001 ( Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali Nilai Nominal per Saham ) KEWAJIBAN DAN EKUITAS
PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk. NERACA 30 JUNI DAN ( Dalam Jutaan Rupiah, Kecuali Nilai Nominal per Saham ) AKTIVA KEWAJIBAN DAN EKUITAS Catatan Catatan AKTIVA LANCAR KEWAJIBAN LANCAR Kas dan setara kas
Daftar Isi. Neraca Laporan Laba Rugi Laporan Perubahan Ekuitas Laporan Arus Kas Catatan Atas Laporan Keuangan...
LAPORAN KEUANGAN DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Daftar Isi Halaman Laporan Auditor Independen Neraca... 1-2 Laporan Laba Rugi... 3 Laporan Perubahan Ekuitas... 4 Laporan Arus Kas... 5 Catatan Atas Laporan
PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 SEPTEMBER 2011 DAN 30 SEPTEMBER 2010 (MATA UANG INDONESIA)
PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN (TIDAK DIAUDIT) 30 SEPTEMBER 2011 DAN 30 SEPTEMBER 2010 (MATA UANG INDONESIA) PT YULIE SEKURINDO Tbk LAPORAN KEUANGAN 30 SEPTEMBER 2011 DAN 30 SEPTEMBER 2010 Daftar
PT JEMBO CABLE COMPANY Tbk NERACA 31 Desember 2003 dan 2002 (dalam Ribuan Rupiah, kecuali di nyatakan lain)
NERACA 31 Desember 2003 dan 2002 AKTIVA LANCAR K E T E R A N G A N 2003 2002 Kas dan setara kas 5,048,154 5,040,625 Piutang usaha Pihak yang mempunyai hubungan istimewa 19,943,324 21,928,185 Pihak ketiga-setelah
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan Laporan Keuangan Konsolidasi (Mata Uang Indonesia) - 1 - NERACA KONSOLIDASI 30 Juni 2002 2001 AKTIVA AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas (Catatan 2c, 3 dan 26)
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK LAPORAN KEUANGAN INTERIM KONSOLIDASIAN 30 JUNI 2012 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2011 (DIAUDIT) DAN (Mata Uang Rupiah) PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS
PT SUMMARECON AGUNG Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
Laporan Keuangan Konsolidasi Dengan Laporan Auditor Independen Tahun yang Berakhir Pada Tanggal Dengan Angka Perbandingan Untuk Tahun 2002 PT SUMMARECON AGUNG Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
PT ASTRA GRAPHIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
NERACA KONSOLIDASIAN AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 2a,2c,3,27 103.317.329.165 92.942.187.030 Deposito berjangka 2a,4 1.971.891.997 2.643.566.861 Piutang usaha (setelah dikurangi penyisihan piutang ragu-ragu
PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk
PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk Laporan Keuangan Sembilan Bulan yang Berakhir pada Tanggal-tanggal 30 September 2010 dan 2009 (Tidak diaudit) PT RAMAYANA LESTARI SENTOSA Tbk NERACA 30 September 2010 dan
30 Juni 31 Desember
LAPORAN POSISI KEUANGAN KONSOLIDASIAN 30 Juni 2012 dan 31 Desember 2011 30 Juni 31 Desember ASET ASET LANCAR Kas dan setara kas 73102500927 63710521871 Investasi 2072565000 1964636608 Piutang usaha - setelah
PT EVER SHINE TEX Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
Laporan Keuangan Konsolidasi Dengan Laporan Auditor Independen (Mata Uang Indonesia) PT EVER SHINE TEX Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI DENGAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN 31 DESEMBER
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI PT INDO EVERGREEN. UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2011 dan 2010
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI PT INDO EVERGREEN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR 31 DESEMBER dan DAFTAR ISI Halaman LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI Laporan Posisi Keuangan... 1. Laporan Laba Rugi Komprehensif...
PT INDONESIAN PARADISE ISLAND
Laporan Akuntan Independen atas Penerapan Prosedur yang Disepakati untuk Melakukan Penilaian Nilai Wajar Liabilitas dan Aset Selain Aset Tetap dan Aset Tidak Lancar Lainnya 31 Desember 2011 LAPORAN AKUNTAN
Laporan Keuangan - Pada tanggal 31 Desember 2008 dan untuk periode sejak 8 April 2008 (tanggal efektif) sampai dengan 31 Desember 2008
Daftar Isi Halaman Laporan Auditor Independen 1 Laporan Keuangan - Pada tanggal 31 Desember 2008 dan untuk periode sejak 8 April 2008 (tanggal efektif) Laporan Aset dan Kewajiban Laporan Operasi Laporan
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan Laporan Keuangan Konsolidasi Dan Laporan Auditor Independen 31 Desember 2010 dan 2009 (Mata Uang Rupiah Indonesia) LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI DAN LAPORAN
Lampiran 1. Neraca Konsolidasi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk
Lampiran 1. Neraca Konsolidasi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk L1 ASET PT GARUDA INDONESIA (PERSERO) Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI 31 DESEMBER 2008, 2009, DAN 2010 Periode Analisis Horizontal
PT SUPARMA Tbk LAPORAN KEUANGAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL - TANGGAL 31 DESEMBER 2006 DAN 2005 DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
LAPORAN KEUANGAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL - TANGGAL 31 DESEMBER 2006 DAN 2005 DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN - 1 - NERACA AKTIVA 31 Desember Catatan AKTIVA LANCAR Kas dan bank 2i, 4, 22 Rp
PT KARWELL INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
PT KARWELL INDONESIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN Laporan Keuangan Konsolidasi Dengan Laporan Auditor Independen (Mata Uang Rupiah) LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI DENGAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN TAHUN YANG
PT LIPPO SECURITIES Tbk DAN PERUSAHAAN ANAK
PT LIPPO SECURITIES Tbk DAN PERUSAHAAN ANAK LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN (TIDAK DIAUDIT) UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR PADA 30 SEPTEMBER 2006 DAN 2005 Jakarta, 30 Oktober 2006 Peter Lembong Direktur NERACA
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK
PT SEKAWAN INTIPRATAMA Tbk DAN ENTITAS ANAK LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN 31 MARET 2012 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2011 (DIAUDIT) DAN TIGA BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL (Mata Uang Rupiah)
LAMPIRAN. Laporan Keuangan PT Astra Graphia Tbk
L1 LAMPIRAN Laporan Keuangan PT Astra Graphia Tbk Aset Aset lancar PT ASTRA GRAPHIA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI 31 DESEMBER 2007, 2008 DAN 2009 Kas dan setara kas 151.020.114 132.737.259
LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASIAN BESERTA LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN 31 DESEMBER 2011 DENGAN ANGKA PERBANDINGAN 31 DESEMBER 2010 DAN 1 JANUARI 2010 / 31 DESEMBER 2009 SERTA TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL
PT ERATEX DJAJA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN
Paul Hadiwinata, Hidajat, Arsono, Ade Fatma & Rekan Registered Public Accountants Accountants & business advisers PT ERATEX DJAJA Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN Laporan Keuangan Konsolidasian Untuk tahun yang
Laporan Keuangan Periode Enam Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal 30 Juni 2005 dan PT ADIRA DINAMIKA MULTI FINANCE Tbk.
Laporan Keuangan Periode Enam Bulan Yang Berakhir Pada Tanggal 30 Juni 2005 dan 2004 PT ADIRA DINAMIKA MULTI FINANCE Tbk. LAPORAN KEUANGAN PERIODE ENAM BULAN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2005 DAN
PT Yanaprima Hastapersada Tbk. Laporan Keuangan (tidak diaudit) 30 Juni 2010 Dengan Angka Perbandingan Periode 2009 (Mata Uang Rupiah Indonesia)
PT Yanaprima Hastapersada Tbk Laporan Keuangan (tidak diaudit) 30 Juni 2010 Dengan Angka Perbandingan Periode 2009 (Mata Uang Rupiah Indonesia) LAPORAN KEUANGAN (tidak diaudit) Daftar Isi Halaman Neraca...
PT AKBAR INDO MAKMUR STIMEC, Tbk LAPORAN KEUANGAN
LAPORAN KEUANGAN LAPORAN KEUANGAN PER 30 SEPTEMBER 2011 (TIDAK DIAUDIT) DAN 31 DESEMBER 2010 (DIAUDIT) SERTA UNTUK PERIODE SEMBILAN BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2011 DAN 2010 (TIDAK DIAUDIT) LAPORAN
Laporan Posisi Keuangan Konsolidasian 1 3. Laporan Laba Rugi Komprehensif Konsolidasian 4-5. Laporan Perubahan Ekuitas Konsolidasian 6-7
PT ALKINDO NARATAMA Tbk dan ENTITAS ANAK Laporan Keuangan Konsolidasian Pada Tanggal 31 Desember 2011, 2010 Dan 1 Januari 2010/31 Desember 2009 Dan Tahun Yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember
Persediaan Uang muka pembelian mesin dan lainnya
AKTIVA PT PYRIDAM FARMA Tbk NERACA Tahun yang berakhir pada tanggal ( Dinyatakan dalam Rupiah ) Tidak di audit Tidak di audit Catatan 2007 2006 AKTIVA LANCAR Kas dan setara kas 1 469.620.175 496.651.622
P.T. EKADHARMA INTERNATIONAL TBK. DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
8 CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI 1. UMUM P.T. EKADHARMA INTERNATIONAL TBK. (Perusahaan), dahulu P.T. EKADHARMA TAPE INDUSTRIES TBK. didirikan dengan akta No. 71 pada tanggal 20 November 1981
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan
PT Selamat Sempurna Tbk. Dan Anak Perusahaan Laporan Keuangan Konsolidasi (Tidak Diaudit) 31 Maret 2010 Dengan Angka Perbandingan 31 Maret 2009 (Mata Uang Rupiah Indonesia) LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
LAPORAN KEUANGAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL - TANGGAL 31 DESEMBER 2007 DAN 2006 DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
LAPORAN KEUANGAN UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL - TANGGAL 31 DESEMBER 2007 DAN 2006 DAN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Laporan No. AR - 033 Pemegang Saham, Dewan Komisaris
PT BNI SECURITIES LAPORAN KEUANGAN UNTUK 3 BULAN YANG BERAKHIR 31 MARET 2008 DAN 2007 (UNAUDITED)
PT BNI SECURITIES LAPORAN KEUANGAN UNTUK 3 BULAN YANG BERAKHIR 31 MARET 2008 DAN 2007 (UNAUDITED) 0 PT BNI SECURITIES LAPORAN KEUANGAN UNTUK 3 BULAN YANG BERAKHIR 31 MARET 2008 DAN 2007 (UNAUDITED) Daftar
P.T. EKADHARMA INTERNATIONAL TBK. DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASI UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2007 DAN 2006
LAPORAN ARUS KAS KONSOLIDASI UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR PADA TANGGAL 30 JUNI 2007 DAN 2006 30 JUNI 2007 30 JUNI 2006 *) ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI Penerimaan kas dari pelanggan 64,102,901,237 51,313,870,613
PT KABELINDO MURNI Tbk LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
PT KABELINDO MURNI Tbk LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL-TANGGAL (BELUM DIPERIKSA AKUNTAN PUBLIK) PT. KABELINDO MURNI Tbk LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI DAFTAR ISI Halaman
PT Yanaprima Hastapersada Tbk. Laporan Keuangan (tidak diaudit) 30 September 2010 Dengan Angka Perbandingan Periode 2009 (Mata Uang Rupiah Indonesia)
PT Yanaprima Hastapersada Tbk Laporan Keuangan (tidak diaudit) 30 September 2010 Dengan Angka Perbandingan Periode 2009 (Mata Uang Rupiah Indonesia) LAPORAN KEUANGAN (tidak diaudit) Daftar Isi Halaman
