Bab VIII.2 Poliomielitis
|
|
|
- Sonny Sugiarto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Poliomielitis Bab VIII.2 Poliomielitis Ismoedijanto, Hardiono Pusponegoro, Kusnandi Rusmil, Haryono Suyitno Poliomielitis anterior akut adalah suatu penyakit demam akut yang disebabkan virus polio. Kerusakan pada motor neuron medula spinalis dapat mengakibatkan kelumpuhan yang bersifat flaksid, sehingga nama lain dari poliomielitis adalah infantile paralysis, acute anterior poliomyelitis. Respons terhadap infeksi virus polio sangat bervariasi mulai dari tanpa gejala sampai adanya gejala kelumpuhan total dan atropi otot, pada umumnya mengenai tungkai bawah dan bersifat asimetris, dan dapat menetap selamanya bahkan sampai dengan kematian. Gejala penyakit polio dilaporkan pertama kali oleh Michael Anderwood pada tahun 1789 dari Inggris dan sebagai penyakit klinik polio pertama kali ditulis oleh Heine pada tahun 1840 dan diuraikan secara epidemiologis oleh Medine pada tahun 1891, sehingga penyakit ini disebut juga Heine-Medine disease. Kata polio berasal dari bahasa Yunani berarti grey (abu-abu) dan myelitis berasal dari myelon (marrow). Artinya predileksi virus ini pada sel anterior masa kelabu sumsum tulang belakang dan inti motorik batang otak. Penyakit ini hanya menyerang manusia dan dapat menimbulkan KLB epidemi dan endemi. Program pengendalian dan eradikasi polio Outbreak pertama kali terjadi di Eropa pada awal abad ke-19 yang banyak menyerang anak, dan selanjutnya kejadian epidemik meluas pada umur yang lebih tua. Epidemi polio berskala besar terjadi di Eropa dan Amerika sejak pertengahan abad 19 sampai pertengahan pertama abad
2 Ismoedijanto, Hardiono Pusponegoro, Kusnandi Rusmil, Haryono Suyitno Sesudah perang dunia, epidemik poliomielitis menyebar ke seluruh dunia. Epidemi polio di Amerika pada tahun 1952 menyebabkan sekitar kasus paralitik. Upaya eradikasi dilakukan dengan melaksanakan imunisasi massal dengan mempergunakan vaksin polio. Melalui upaya imunisasi, angka kejadian penyakit polio telah menurun secara drastis. Virus polio liar terakhir ditemukan di Amerika pada tahun Expanded Programe Immunization (EPI) atau Program Pengembangan Imunisasi (PPI) di dunia mulai dianjurkan WHO sejak tahun 1974 dan mulai menambahkan vaksin DTP dan polio dari yang sebelumnya hanya BCG dan cacar. Sejak saat itu jumlah penyakit poliomielitis yang dilaporkan dari setiap negara semakin menurun. Pada sidang WHA ke 41 tahun 1988, diputuskan mengubah polio control menjadi eradikasi polio global yang direncanakan selesai tahun 2000 lewat Global Polio Eradication Initiative (di Indonesia dikenal sebagai ERAPO). Dalam program eradikasi polio setiap negara harus melaksanakan 4 (empat) langkah-langkah strategi pembasmian polio. 1. Mencapai dan memelihara target imunisasi rutin polio untuk anak < 1 tahun diberikan dalam 3-4 dosis (target minimal 90% dari sasaran). 2. Melaksanakan imunisasi tambahan termasuk di dalamnya Pekan Imunisasi Nasional (PIN)/Sub-PIN, dianggap cukup berhasil apabila bisa mencapai target cakupan > 90% dari target populasi. 3. Melakukan program surveilans AFP (acute flaccid paralysis)/ deteksi lumpuh layuh akut. Tujuannya mendeteksi anak dengan lumpuh layuh yang mungkin terinfeksi virus polio. Program ini merupakan usaha mencari dan membuktikan bahwa setiap anak yang menderita lumpuh layuh berumur < 15 tahun bukan disebabkan virus polio liar dengan cara memeriksa tinja pasien AFP. 4. Mopping up yaitu melaksanakan imunisasi polio tambahan bagi balita dari rumah ke rumah di daerah yang dicurigai masih ada transmisi virus polio liar atau yang mengalami KLB polio liar. 256
3 Poliomielitis Dengan melaksanakan strategi ERAPO sertifikasi bebas polio telah tercapai di Asia Tenggara pada Maret Sampai saat ini masih dijumpai polio di tiga negara yaitu Pakistan, Afganistan, dan Nigeria. India sudah terbebas sejak 3 tahun sehingga SEARO akan mendapat sertifikat bebas polio pada tahun Konsekuensi dari sertifikasi ini adalah semua negara diharapkan melakukan end game yang disetujui agar tidak terjadi penyebaran antar negara atau antar region. Indonesia telah melaksanakan program imunisasi polio di seluruh Indonesia melalui program pengembangan imunisasi/ppi sejak tahun Tahun 1980 program vaksinasi polio dimulai dan pada tahun 1990 cakupan imunisasi rutin >90%. Jumlah kasus polio di Indonesia telah berhasil diturunkan sebesar 97% yaitu dari 773 kasus pada tahun 1988 menjadi 23 kasus yang dilaporkan pada tahun Tahun 1995 virus polio liar terakhir ditemukan di kabupaten Malang, Probolinggo, Cilacap, Palembang, dan Medan. Sejak tahun 1995 tidak pernah ditemukan lagi kasus polio liar di Indonesia dan untuk memutus mata rantai penularan, setelah PIN dilaksanakan berturut-turut tahun 1995, 1996, 1997, dan tahun 2002 (akibat gejolak sosial politik) dengan cakupan lebih dari 90% sesuai anjuran WHO. Melalui aktivitas surveilans AFP pada tahun 2005 menemukan adanya kasus polio liar akibat importasi pada anak laki-laki berusia 20 bulan di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Analisis genetik virus polio tersebut menunjukkan bahwa virus polio tersebut merupakan virus polio tipe satu yang diimpor dari Nigeria, kejadian luar biasa polio tersebut juga telah terjadi di 15 negara yang bebas polio lainnya termasuk Yaman dan Arab Saudi. Kejadian luar biasa kasus polio di Indonesia sampai dengan tanggal 21 Maret 2006 ditemukan pada 305 anak yang tersebar di 10 provinsi di Indonesia. Kasus polio liar yang terakhir dilaporkan pada seorang anak di Aceh Tenggara pada 16 Februari 2006, selain kasus tersebut, ditemukan juga KLB VDPV di Madura (45 kasus) 257
4 Ismoedijanto, Hardiono Pusponegoro, Kusnandi Rusmil, Haryono Suyitno dan Probolinggo (1 kasus). Aktifitas PIN dan Sub-PIN segera dilaksanakan dan sejak saat itu sampai sekarang tidak terdapat laporan KLB Polio di Indonesia Imunisasi polio Imunisasi polio yaitu proses pembentukan kekebalan terhadap penyakit polio dengan mempergunakan vaksin polio oral (OPV) maupun suntikan (IPV). Pemberian OPV sangat bermanfaat pada saat permulaan eradikasi, karena selain menimbulkan kekebalan humoral dan kekebalan lokal. Pada usus resipien juga mempunyai community effect yaitu virus vaksin yang berbiak di usus akan ikut menyebar ke anak sekitarnya, sehingga jangkauan imunisasi makin meluas. Selain itu virus vaksin yang berbiak akan menutup PVR (polio virus receptor) di usus selama 100 hari, sehingga virus polio liar tidak dapat menempel dan menimbulkan infeksi. Selain itu vaksin OPV mudah diberikan (ditetes) dan harganya relatif murah, sehingga mampu menjangkau daerah yang terpencil. Jadwal imunisasi Imunisasi dasar OPV atau IPV diberikan mulai umur 2-3 bulan tiga dosis berturut-turut dengan interval waktu 6-8 minggu. Imunisasi booster dilakukan pada usia 18 bulan. Imunisasi dapat diberikan bersama-sama waktunya dengan suntikan vaksin DTP dan Hib. Pemberian setelah dua dosis OPV, memberikan serokonversi 90%- 93% untuk tipe 1, 99%-100% tipe 2, dan 76%-98% tipe 3. Setelah pemberian tiga dosis serokonversi mencapai hampir 100% untuk ketiga tipe. Vaksin polio Imunisasi polio dapat dilakukan dengan cara memberikan suntikan IPV (meningkatkan antibodi humoral dengan cepat) atau meneteskan 258
5 Poliomielitis OPV (menimbulkan kekebalan lokal pada usus dan kekebalan humoral). Vaksin polio ditemukan sejak tahun 1950, dalam bentuk vaksin inactivated (Salk) poliovirus vaccine (IPV) mendapat lisensi pada tahun 1955 dan digunakan secara luas. Perbaikan vaksin IPV dilakukan dengan membuat enhanced potency IPV (eipv) yang menggunakan molekul yang lebih besar dan menimbulkan kadar antibodi lebih tinggi mulai digunakan tahun Namun, pada tahun 1963, IPV secara luas mulai digantikan dengan vaksin trivalen virus polio secara oral (OPV), bahkan di seluruh dunia. Perbedaan kedua vaksin tersebut adalah IPV merupakan vaksin yang berisi virus inaktif/mati yang dibuat dengan memanaskan menggunakan formaldehid. Sedangkan OPV adalah virus hidup yang dilemahkan (attenuated) dengan membiakkan di dalam sel non manusia sehingga masih mempunyai kemampuan enterovirulen, tetapi tidak bersifat patogen, karena sifat neurovirulensi sudah hilang. Pada IPV yang berfungsi sebagai vaksin (antigen) adalah protein dari virus tersebut, terutama protein kapsid yang mengandung gugusan epitop antigen. Akhir-akhir ini didapatkan bahwa OPV dapat back mutation dengan cara de-attenuation dalam usus manusia, menjadi neurovirulen dan menimbulkan wabah kelumpuhan lagi. Oral polio vaccine (OPV)/vaksin sabin Vaksin dibuat oleh Hilary Koprowski dengan cara pembiakan virus polio pada tikus dan selanjutnya Albert Bruce Sabin melakukan modifikasi dengan cara membiakkan virus pada biakan jaringan ginjal kera Macaca rhesus. Hasil yang diperoleh virus yang lemah dengan daya imunologik yang tinggi. Vaksin polio oral bekerja dalam dua cara, yaitu dengan memproduksi antibodi dalam darah (imunitas humoral) terhadap ketiga tipe virus polio sehingga pada kejadian infeksi, vaksin ini akan memberikan perlindungan dengan mencegah penyebaran virus polio ke sistem saraf. Pemberian OPV juga menghasilkan respons imun lokal di membran mukosa intestinal tempat terjadinya multiplikasi virus 259
6 Ismoedijanto, Hardiono Pusponegoro, Kusnandi Rusmil, Haryono Suyitno polio. Antibodi yang terbentuk akan membatasi multiplikasi virus polio liar di dalam intestinal, menutup reseptor (PVR) sehingga virus tidak bisa menempel dan berkembang biak. Respons imun intestinal terhadap OPV merupakan alasan utama mengapa penggunaan OPV secara massal dapat menghentikan penyebaran virus polio liar dari seseorang ke orang lain. Akan tetapi, satu dari setiap 6,2 juta dosis OPV dapat menyebabkan paralisis yang berhubungan dengan vaksin polio VAPP (vaccine associated paralysis poliomyelitis). Trivalent oral polio vaccine (topv) Vaksin topv mengandung tiga macam galur virus polio, setiap dosis 0,1 ml/2 tetes terdiri dari tipe 1 >106 CCID50, tipe 2 >105 CCID50, dan tipe 3 >105.8 CCID50. Pada keadaan ditemukan lebih dari satu tipe virus polio liar, topv secara epidemiologis dan operasional adalah vaksin terbaik untuk digunakan karena dapat memberikan perlindungan terhadap ketiga tipe virus polio. Setelah tetesan pertama, kekebalan humoral yang terjadi lebih dulu adalah antibodi terhadap polio-2 (P2) diikuti polio-1 (P1) dan terakhir polio-3 (P3). Kompetisi antara ketiga serotipe tersebut mengakibatkan perlindungan dengan efisiensi yang berbedabeda untuk setiap tipe. Imunogenesitas virus polio 2 paling baik di antara ketiga virus polio tersebut sehingga perlindungan terhadap virus tipe 2 paling mudah terjadi, kemudian diikuti tipe 1 dan 3. Imunogenitas OPV sangat bervariasi, di negara tropik dan miskin dengan sanitasi yang buruk, imunogenitasnya rendah misalnya di India atau Afrika. Para pakar berusaha menghindari interferensi antar galur virus polio tersebut dengan membuat vaksin tanpa komponen P2, baik dalam bentuk mopv (monovalen OPV) maupun bopv (bivalen OPV). Bivalent oral polio vaccine (bopv) Imunisasi bopv direncanakan untuk menggantikan topv pada masa 260
7 Poliomielitis transisi ERAPO, terdiri dari komponen P2 dan P3. Sesuai dengan kenyataan bahwa OPV telah berhasil mengeradikasi polio 2, kasus yang terakhir di India pada tahun Monovalent oral polio vaccine (mopv) Vaksin OPV hanya mengandung satu macam galur virus polio. Pemberian mopv dengan dosis yang sama dengan topv akan memberikan kekebalan spesifik yang lebih tinggi dan lebih cepat terhadap tipe tertentu dibandingkan dengan topv. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80% anak di negara tropis akan mempunyai kekebalan terhadap virus polio tipe 1 setelah pemberian satu dosis mopv1 dibandingkan dengan 40% anak setelah pemberian topv. Begitu juga dengan 72% anak yang mempunyai kekebalan terhadap virus polio tipe 3 setelah dosis pertama mopv3 dibandingkan dengan 31% anak setelah dosis pertama topv. Efek simpang OPV VAPP Vaccine associated paralytic poliomyelitis (VAPP), yaitu kejadian lumpuh setelah imunisasi OPV. Penelitian kolaboratif WHO yang dilakukan di 13 negara selama 15 tahun ( ) memperlihatkan bahwa risiko VAPP (pada resipien vaksin atau pada kontak resipien) adalah kecil, kurang dari 0,3 per juta dosis vaksin (atau kurang dari 1 kasus per 3,3 juta dosis). VDPV Efek simpang lain adalah vaccine derived polio viruses (VDPV). Pada bulan September 2000 terjadi kasus polio yang disebabkan oleh virus polio yang berasal dari OPV vaccine derived poliovirus yang menyebabkan KLB di kepulauan Hispaniola, Filipina, dan Mesir, bahkan Nigeria dan India. Di Indonesia pada tahun 2005 terdapat 46 kasus VDPV terjadi bersamaan dengan KLB polio di Madura dan Probolinggo. Hal ini menunjukkan VDPV merupakan masalah yang serius, karena virus vaksin yang back 261
8 Ismoedijanto, Hardiono Pusponegoro, Kusnandi Rusmil, Haryono Suyitno mutated ini berpotensi menimbulkan wabah baru di daerah yang mempunyai cakupan imunisasi rendah. Jika angka cakupan imunisasi di masyarakat mendekati 100%, vaksin tersebut akan memicu kekebalan sebelum VDPV dapat menyebabkan kelumpuhan. Jika angka cakupan imunisasi dengan OPV rendah, VDPV dapat menyebar melalui beberapa orang yang tidak diimunisasi, mengalami mutasi, sehingga meningkatkan kemungkinan infeksi polio dalam populasi. Dengan demikian, satu saat virus ini akan menyebabkan infeksi kepada sekelompok penduduk yang mempunyai kekebalan yang rendah terhadap polio, sehingga dapat timbul KLB VDPP. Kelompok ini terbentuk dari orang yang tidak mendapat imunisasi polio atapun mereka yang telah lama sekali mendapat OPV sehingga kekebalan usus menurun. Belum pernah dilaporkan adanya kematian setelah menerima tetesan vaksin. Inactivated polio vaccine (IPV)/vaksin Salk Vaksin IPV berisi virus polio virulen yang sudah diinaktivasi/ dimatikan dengan panas dan formaldehid. Diketahui IPV sedikit memberikan kekebalan lokal pada dinding usus sehingga virus polio masih dapat berkembang biak dalam usus orang yang telah mendapat IPV saja. Hal ini memungkinkan terjadinya penyebaran virus ke sekitarnya, yang membahayakan orang-orang di sekitarnya. Sehingga vaksin ini tidak dapat mencegah penyebaran virus polio liar. Jadi, IPV tidak dipergunakan untuk eradikasi polio, namun dapat mencegah kelumpuhan baik akibat virus polio liar atau virus polio vaksin Sabin. Perkembangan eradikasi polio dan imunisasi selama masa transisisi Sirkulasi virus polio liar tipe 2 di masyarakat telah berhenti sejak tahun Pada masa akhir dari eradikasi polio, hanya virus polio 262
9 Poliomielitis liar tipe 1 dan 3 yang masih tetap bersirkulasi sebagai virus polio liar pada daerah endemis, sedangkan dan tipe 3 hanya terbatas di Nigeria Utara dan Selatan, Niger, Afganistan, dan India. Pada saat polio liar 3 dan 1 sangat menurun, muncul cvdpv 2 yang menyebabkan wabah di beberapa negara, bahkan mampu menyebar secara luas seperti virus polio liar. Tujuan Global Polio Eradication Initiative adalah untuk memastikan bahwa penularan virus polio diputuskan secara global melalui suatu usaha yang terkoordinasi secara nasional dan global. Kegiatan yang termasuk dalam program Global Polio Eradication Initiatives ialah, 1. Memutuskan rantai penularan virus polio Dilakukan kegiatan imunisasi massal di daerah endemis, respons mop up yang segera terhadap import virus polio liar, pemberian imunisasi tambahan di daerah bebas polio yang memiliki risiko paling tinggi, meningkatkan cakupan imunisasi polio rutin, surveilans, serta laboratorium yang berkualitas baik. 2. Mendapatkan sertifikasi eradikasi polio secara global Sertifikasi eradikasi polio diberikan secara regional. Masingmasing regional memiliki sebuah komisi sertifikasi yang mempertimbangkan pemberian sertifikasi apabila semua negara di regional tersebut mampu mendokumentasikan dan menunjukkan tidak ada penularan virus polio liar selama setidaknya tiga tahun berturut-turut dengan surveilans yang baik. 3. Mengembangkan produk vaksin IPV untuk fase penghentian penggunaan OPV secara global. Setelah hasil yang sangat memuaskan, eradikasi yang menerapkan surveilans AFP (acute flaccid paralysis) yang ketat ternyata mampu mendeteksi adanya penularan virus polio liar dari daerah endemik ke daerah sekitarnya atau KLB VDPV di daerah yang cakupan imunisasi menurun. Untuk mempercepat penanggulangan KLB, 263
10 Ismoedijanto, Hardiono Pusponegoro, Kusnandi Rusmil, Haryono Suyitno dikembangkan vaksin monovalen (sesuai serotipe yang beredar) yang mampu menimbulkan kekebalan lebih cepat. Penggunaan monovalen P1 (MOVP-1) dengan cepat menekan KLB di negara yang terkena, termasuk Indonesia. Setelah kasus polio liar di Nigeria dan Afghanistan makin menurun, dunia mulai masuk ke tahapan eradikasi global dan penghentian imunisasi polio. Apabila eradikasi polio global telah tercapai, kelompok ahli SAGE dan IMB dari WHO menganjurkan menggunakan IPV untuk menjaga dunia tanpa polio dengan 3 suntikan IPV dan menghentikan penggunaan OPV. Namun dalam masa transisi dari OPV ke IPV dilakukan dengan menggunakan bopv (komponen polio 1 dan 3) disertai minimal satu kali suntikan IPV untuk melandasi respons yang baik terhadap virus P2, bila terjadi KLB. End of the game polio Tahap akhir dari prakarsa pemberantasan polio global (Global Polio Eradication Initiative-GPEI) disebut end-game polio terdiri dari tiga kunci kegiatan utama yaitu, kendali, sertifikasi, dan pemberhentian imunisasi. Kendali (containment) Setelah dinyatakan bebas polio, maka virus polio liar yang pernah beredar harus disimpan di laboratorium untuk diisolasi dengan pengamanan yang ketat. Pengendalian virus polio liar yang ketat telah menyulitkan Indonesia memproduksi IPV (bahan baku adalah polio liar), sehingga IPV buatan Indoneisia akan mengacu pada bahan baku virus polio yang dilemahkan disebut Sabin IPV. Sertifikasi Kegiatan sertifikasi ialah mempertahankan standar sertifikasi surveilans untuk mendeteksi kasus polio secara cepat. Sertifikasi 264
11 Poliomielitis global menentukan minimal tiga tahun berturut-turut melaporkan nol kasus polio liar kepada pengawas sertifikasi, dan verifikasi laporan dari Komite Sertifikasi Nasional. Sertifikasi untuk Asia Tenggara (South East Asia Region=SEARO), telah diberikan pada 27 Maret 2014 di New Delhi. Penghentian imunisasi Tujuan penghentian imunisasi polio adalah mencapai konsensus kapan dan bagaimana menghentikan pemberian vaksin polio oral. Imunisasi pada masa transisi sangat tergantung pada komitmen pemerintah. Dianjurkan melakukan pemberian bopv tiga kali dengan tambahan satu kali IPV, sebelum akhirnya akan menuju penggunaan tiga kali IPV dalam bentuk vaksin kombinasi. Daftar rujukan 1. Simoes EAF. Poliomyelitis. Dalam: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, penyunting. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke-18. Philadelphia: Saunders; h World Health Organization. Modul 6: poliomyelitis. Immunological basis for immunization series. Geneva: WHO; Plotkin SA, Vidor E. Poliovirus vaccine-inactivated. Dalam: Plotkin SA, Orenstein WA, penyunting. Vaccines. Edisi ke-4. Philadelphia: WB Saunders; h Depkes RI. Petunjuk pelaksanaan program imunisasi di Indonesia. Jakarta: Depkes RI; 2000.Depkes RI. Petunjuk pelaksanaan program imunisasi di Indonesia. Jakarta: Depkes RI; Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Laporan SubPIN, Jakarta: Depkes RI; World Health Organization. Global polio eradication progress Geneva: WHO; World Health Organization. Poliomyelitis fact sheet. Geneva: WHO; World Health Organization. Polio eradication: the final chalange. Geneva: WHO; World Health Organization. Global polio eradication initiative: strategic plan Switzerland: WHO; Strategic plan THGAVI board meeting. Geneva: WHO;
12 Edisi Kelima Tahun 2014 Pedoman Imunisasi Di Indonesia Penyunting IG.N. Gde Ranuh Hariyono Suyitno Sri Rezeki S. Hadinegoro Cissy B. Kartasasmita Ismoedijanto Soedjatmiko Satgas Imunisasi - Ikatan Dokter Anak Indonesia i
13 Disclaimer Isi di dalam buku Pedoman Imunisasi di Indonesia ada lah hasil kesepakatan para penulis dan editor Satgas Imunisasi IDAI yang berasal dari berbagai sumber. Buku ini merupakan pedoman umum dalam melakukan imunisasi di Indonesia dan dapat disesuaikan dengan kondisi setempat. Kemungkinan dapat terjadi perbedaan dengan sumber-sumber lain karena perkembangan ilmu dan kebijakan setempat. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang memperbanyak, mencetak dan menerbitkan sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara dan bentuk apapun juga tanpa seizin penulis dan penerbit Diterbitkan pertama kali tahun 2001 Diterbitkan kedua kali tahun 2005 Diterbitkan ketiga kali tahun 2008 Diterbitkan keempat kali tahun 2011 Diterbitkan kelima kali tahun 2014 Koordinator Penerbitan Prof. Dr. dr. Sri Rezeki S. Hadinegoro, Sp.A(K) Art director: J.A. Wempi Type setting: Diyan Dwinandio, Yuni Astria, Unggul Sodjo Sumber foto sampul: Agung Darmanto, JO Octora, Ahmad Fadil, Kusnandi Rusmil Edisi 5, cetakan pertama 2014 Penerbit buku ini dikelola oleh: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia ISBN ii
14 Daftar Isi Sambutan Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI... iii Prakata Tim Penyunting...v Daftar Kontributor...ix Daftar Singkatan... xiii Bab I Bab II Bab III Bab IV Bab V Dasar-Dasar Imunisasi Imunisasi Upaya Pencegahan Primer The Value of Vaccination Basis Imunologi Vaksinasi...24 Jadwal Imunisasi Program Imunisasi Nasional Jadwal Imunisasi Jadwal Imunisasi Tidak Teratur Vaksin Kombinasi Imunisasi Anak Sekolah dan Remaja...91 Imunisasi Kelompok Berisiko Imunisasi pada Bayi dan Anak Berisiko Travel Vaccination Vaksinasi dalam Keadaan Bencana Prosedur Imunisasi Jenis Vaksin Tata Cara Pemberian Imunisasi Penjelasan Kepada Orangtua Mengenai Imunisasi Pencatatan Imunisasi Penyuntikan yang Aman (Safety Injection) dan Penanganan Limbah Imunisasi Penyimpanan dan Transportasi Vaksin Rantai Vaksin vii
15 2 Kualitas Vaksin Bab VI Bab VII Imunisasi Pasif Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)/ Adverse Events Following Immunization (AEFI) Pelaporan KIPI Bab VIII Hepatitis B Poliomielitis Tuberkulosis Difteri, Tetanus, Pertusis Haemophillus Influenza tipe B Pneumokokus Rotavirus Influenza Campak Varisela Campak, Gondongan dan Rubela (Measles, Mumps, Rubella = MMR) Tifoid Hepatitis A Human Papilloma Virus Rabies/Lyssa Meningokokus Japanese Ensefalitis Yellow Fever Kolera Bab IX Bab X Bab XI Miskonsepsi dan Kontroversi Miskonsepsi Imunisasi Kontroversi dalam Imunisasi Tanya Jawab Orang Tua Mengenai Imunisasi Glossary Daftar Vaksin yang Beredar di Indonesia viii
16 Daftar Kontributor Achmad Suryono (alm) Agus Firmansyah Anang Endaryanto Alan Roland Tumbelaka (alm) Arwin A Purbaya Akib Boerhan Hidayat Cissy B Kartasasmita Corry S. Matondang (alm) Dahlan Ali Musa Fatimah Indarso UKK Perinatologi IDAI UKK Gastrohepatologi IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Alergi Imunologi IDAI, Bagian IKA FK Universitas Airlangga/RSUP Dr. Soetomo, Surabaya UKK Infeksi & Pediatri Tropis IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/ RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Alergi Imunologi IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Gizi IDAI, Bagian IKA FK Universitas Airlangga/ RSUP Dr. Soetomo, Surabaya UKK Respirologi IDAI, Bagian IKA, FK Universitas Padjadjaran/RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung UKK Alergi Imunologi IDAI UKK Tumbuh Kembang-Pediatri Sosial IDAI UKK Perinatologi IDAI Gatot Irawan Sarosa UKK Perinatologi IDAI, Bagian IKA, FK Diponegoro/RSUP Dr. Kariadi, Semarang Hanifah Oswari UKK Gastrohepatologi IDAI, Departemen IKA, FK Universitas Indonesia/RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta ix
17 Hardiono D Poesponegoro Hariyono Soeyitno Harsono Salimo Hartono Gunardi Hindra Irawan Satari Iskandar Syarif Ismoedijanto P. Moedjito IGN Gde Ranuh Jose R L Batubara Kusnandi Rusmil Muhammad Slamet Chandra Kusuma UKK Neurologi IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Bagian IKA FK Universitas Sebelas Maret/RSUD Dr. Moewardi, Solo UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Infeksi dan Pediatri Tropis IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/ RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Neurologi IDAI, Bagian IKA FK Universitas Andalas/RSUP Dr. M. Djamil, Padang UKK Infeksi dan Pediatri Tropis IDAI, Bagian IKA, FK Airlangga/RSUP Dr. Soetomo, Surabaya UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Bagian IKA, FK Airlangga/ RSUP Dr. Soetomo, Surabaya UKK Endokrin IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Bagian IKA, FK Universitas Padjadjaran/ RSUP Dr. Hasan Sadikin, Bandung UKK Respirologi IDAI, Bagian IKA FK Universitas Brawijaya/RSUD Saiful Anwar, Malang x
18 Nastiti N.Rahajoe Noenoeng Rahajoe Purnamawati S. Pujiarto Soedjatmiko Soegeng Soegijanto Sofyan Ismael Sri Rezeki S.Hadinegoro Sri Suparyati Soenarto Syahril Pasaribu Syawitri P Siregar TH Rampengan Titut S. Poesponegoro (alm) UKK Respirologi IDAI UKK Respirologi IDAI UKK Gastrohepatologi IDAI UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Infeksi dan Pediatri Tropis IDAI, Bagian IKA, FK Airlangga/RSUP Dr. Soetomo, Surabaya UKK Neurologi IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Infeksi dan Pediatri Tropis IDAI, Departemen IKA FK Universitas Indonesia/ RSUP Dr.Cipto Mangunkusumo, Jakarta UKK Gastro-Hepatologi IDAI, Bagian IKA FK Universitas Gadjah Mada/RSUP. Dr. Sardjito, Yogyakarta UKK Infeksi & Pediatri Tropis IDAI, Bagian IKA, FK Sumatera Utara/ RSUP Dr. H Adam Malik, Medan UKK Alergi Imunologi IDAI UKK Infeksi & Pediatri Tropis IDAI, Bagian IKA, FK Sam Ratulangi/ RSUP Dr. Malalayang, Manado UKK Perinatologi IDAI xi
19 Toto Wisnu Hendarto UKK Perinatologi IDAI, Bagian IKA RS Ibu & Anak Harapan Kita, Jakarta UKK: Unit Kerja Koordinasi xii
Bab VIII.5 Haemophillus Influenzae tipe B
Hardiono D.Pusponegoro Bab VIII.5 Haemophillus Influenzae tipe B Hardiono D.Pusponegoro Haemophyllus influenzae tipe b (Hib) bukan virus influenza, tetapi merupakan suatu bakteri Gram negatif. Haemophyllus
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Polio merupakan (keluarga Picornaviridae), sering disingkat sebagai "Polio" adalah virus yang paling ditakuti abad ke-20 di dunia yang menghasilkan permulaan program
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia ikut andil pembangunan kesehatan dalam rangka merealisasikan tercapainya Millenium Development Goals (MDGs). Salah satunya adalah Agenda ke 4 MDGs (Menurunkan
Bab VIII.17 Japanese Ensefalitis
Hardiono Pusponegoro Bab VIII.17 Japanese Ensefalitis Hardiono Pusponegoro Virus Japanese encephalitis (JE) termasuk famili Flavivirus yang ditularkan melalui nyamuk, dengan pejamu utama burung dan babi.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Imunisasi 2.1.1. Definisi Imunisasi Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak terpajan antigen
BAB 1 PENDAHULUAN. Pencegahan dan pemberantasan penyakit merupakan prioritas pembangunan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pencegahan dan pemberantasan penyakit merupakan prioritas pembangunan kesehatan masyarakat di Indonesia. Tantangan baru muncul dengan adanya potensi terjangkitnya kembali
REKOMENDASI No.: 013/Rek/PP IDAI/IV/2016 Penggantian Vaksin Saat Kelangkaan Vaksin
REKOMENDASI No.: 013/Rek/PP IDAI/IV/2016 Penggantian Vaksin Saat Kelangkaan Vaksin Vaksin DTP acellular dan vaksin influenza dalam beberapa bulan terakhir langka di pasaran karena berbagai alasan, antara
Manfaat imunisasi untuk bayi dan anak
Manfaat imunisasi untuk bayi dan anak Bayi dan anak yang mendapat imunisasi dasar lengkap akan terlindung dari beberapa penyakit berbahaya dan akan mencegah penularan ke adik, kakak dan teman-teman disekitarnya.
dr. Mei Neni Sitaresmi, PhD, SpA(K)
dr. Mei Neni Sitaresmi, PhD, SpA(K) Divisi Tumbuh kembang Anak-Pedsos, FK UGM- RS DR. Sardjito, Yogyakarta Email : [email protected] Organisasi: Ketua KOMDA KIPI DIY Satgas Imunisasi, IDAI UKK TB-Pedsos
IMUNISASI SWIM 2017 FK UII Sabtu, 14 Oktober 2017
IMUNISASI Dr. dr. Fx. Wikan Indrarto, SpA SWIM 2017 FK UII (Simposium & Workshop Imunisasi) Sabtu, 14 Oktober 2017 Di Hotel Eastparc Jl. Laksda Adisucipto Km. 6,5, Yogyakarta IMUNISASI Cara meningkatkan
PENJADWALAN IMUNISASI ANAK USIA 0 18 TAHUN MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING
Vol. 2, 2017 PENJADWALAN IMUNISASI ANAK USIA 0 18 TAHUN MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING Yana Adharani 1*, Popy Meilina 2 Universitas Muhammadiyah Jakarta Jl. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat.
Eradikasi dan Babak Akhir Polio: Peran Tenaga Kesehatan Indonesia*
Vol. 4, No. 3, Desember 2016 Eradikasi dan Babak Akhir Polio EDITORIAL Eradikasi dan Babak Akhir Polio: Peran Tenaga Kesehatan Indonesia* Hartono Gunardi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Indonesia-
BAB II. PEMBAHASAN MASALAH & SOLUSI MASALAH PERANCANGAN KAMPANYE PENGGUNAAN VAKSIN
BAB II. PEMBAHASAN MASALAH & SOLUSI MASALAH PERANCANGAN KAMPANYE PENGGUNAAN VAKSIN II.1 Definisi Vaksinasi Vaksinasi merupakan sebuah aktivitas atau kegiatan pemberian vaksin kepada tubuh manusia atau
Kusnandi Rusmil Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Universitas Padjadjaran/RS Hasan Sadikin, Bandung
Artikel Asli Perbandingan Manfaat Vaksin Oral Polio 1 (Monovalen) dengan Vaksin Oral Polio Trivalen Terhadap Transmisi Virus Polio 1 dalam Upaya Mengatasi Kejadian Luar Biasa Polio 1 di Indonesia Tahun
Kerangka Acuan. Acute Flacid Paralysis ( AFP )
Kerangka Acuan Acute Flacid Paralysis ( AFP ) A. Pendahuluan Dalam Sidang Majelis Kesehatan Sedunia atau World Health Assembly tahun 1998, Negara-negara anggota WHO, termasuk Indonesia, telah menyepakati
1 BAB I PENDAHULUAN. terhadap suatu penyakit sehingga seseorang tidak akan sakit bila nantinya terpapar
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Imunisasi merupakan cara meningkatkan kekebalan tubuh secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga seseorang tidak akan sakit bila nantinya terpapar penyakit tersebut
BAB 1 PENDAHULUAN. sangat berbahaya, demikian juga dengan Tetanus walau bukan penyakit menular
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Difteri, Pertusis dan Hepatitis B merupakan penyakit menular yang sangat berbahaya, demikian juga dengan Tetanus walau bukan penyakit menular namun apabila
Imunisasi PPI: Program imunisasi nasional
Imunisasi PPI: Program imunisasi nasional BCG (bacille calmette-guerin).: Vaksin hidup dari mycobacterium bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun, sehingga didapat basil tak virulen tapi masih mempunyai
DAFTAR PUSTAKA Universitas Indonesia
46 DAFTAR PUSTAKA 1. Achmadi UF. Imunisasi: mengapa perlu? Jakarta: Penerbit buku Kompas. 2006. h.130. 2. WHO. Immunization against diseases of public health importance. Diunduh dari: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs288/en/index.html
Angka kematian bayi dan anak merupakan salah satu indikator penting yang
Angka kematian bayi dan anak merupakan salah satu indikator penting yang digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. Hal ini juga menjadi fokus dalam pencapaian Millenium Development Goals
BAB I PENDAHULUAN. pembangunan Milenium atau lebih dikenal dengan istilah Millenium Development
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cita-cita pembangunan manusia mencakup semua komponen pembangunan yang tujuan akhirnya ialah kesejahteraan masyarakat. Hal ini juga merupakan tujuan pembangunan Milenium
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.966, 2013 KEMENTERIAN KESEHATAN. Imunisasi. Penyelenggaraan. Pedoman. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN
BAB 1 PENDAHULUAN. pembangunan dibidang kesehatan (Depkes, 2007). masyarakat dunia untuk ikut merealisasikan tercapainya Sustainable Development
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan pembangunan dibidang kesehatan adalah mewujudkan manusia yang sehat, cerdas dan produktif. Pembangunan kesehatan menitik beratkan pada program-program yang mempunyai
WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT
Menimbang WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN WALIKOTA PADANG NOMOR 49 TAHUN 2015 TENTANG PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG, : a. bahwa untuk
BAB I PENDAHULUAN. semua kelompok umur, namun yang peling rentan adalah kelompok umur kurang dari 3
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Polio adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus polio yang dapat mengakibatkan terjadinya kelumpuhan yang permanen. Penyakit ini dapat menyerang pada semua kelompok
BAB I PENDAHULUAN. menurunkan angka kesakitan dan kematian karena berbagai penyakit yang dapat. menyerang anak dibawah usia lima tahun (Widodo, 2007).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Imunisasi merupakan hal terpenting dalam usaha melindungi kesehatan anak. Imunisasi merupakan suatu cara efektif untuk memberikan kekebalan khususnya terhadap seseorang
DAFTAR PUSTAKA. Kelengkapan imunisasi..., Mathilda A., FK UI., Universitas Indonesia
DAFTAR PUSTAKA 1. Achmadi UF. Imunisasi: mengapa perlu? Jakarta: Penerbit buku Kompas. 2006. h.130. 2. WHO. Immunization against diseases of public health importance. Diunduh dari: http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs288/en/index.html
Kata Kunci: Pengetahuan, KIPI
PENGETAHUAN IBU TENTANG KEJADIAN IKUTAN PASCA IMUNISASI (KIPI) DI DESA BULUMARGI KECAMATAN BABAT LAMONGAN Dian Nurafifah Dosen D3 Kebidanan STIKes Muhammadiyah Lamongan email: [email protected]
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Imunisasi sebagai salah satu pencegahan upaya preventif yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Imunisasi sebagai salah satu pencegahan upaya preventif yang berdampak positif terhadap kesehatan masyarakat harus dilaksanakan secara terus menerus, menyeluruh, dan
Hak Cipta Dilindungi Undangundang
Edisi Ketiga Tahun 2008 Pedoman Imunisasi Di Indonesia Penyunting I.G.N. Ranuh Hariyono Suyitno Sri Rezeki S Hadinegoro Cissy B Kartasasmita Ismoedijanto Soedjatmi ko Disclaimer Isi di dalam buku Pedoman
BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG PADA ACARA PEKAN IMUNISASI NASIONAL POLIO TINGKAT KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016
1 BUPATI SEMARANG SAMBUTAN BUPATI SEMARANG PADA ACARA PEKAN IMUNISASI NASIONAL POLIO TINGKAT KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2016 TANGGAL 8 MARET 2016 HUMAS DAN PROTOKOL SETDA KABUPATEN SEMARANG 2 Assalamualaikum
BAB V HASIL PENELITIAN
BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Epidemiologi Penyakit Campak di Indonesia Tahun 2004-2008 5.1.1 Gambaran Penyakit Campak Berdasarkan Variabel Umur Gambaran penyakit campak berdasarkan variabel umur
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. 1.1. Imunisasi Imunisasi merupakan aplikasi prinsip imunilogi yang paling terkenal dan paling berhasil terhadap kesehatan manusia. (Achmadi 2006: hal.38). Imunisasi berasal dari
Penyebab, gejala dan cara mencegah polio Friday, 04 March :26. Pengertian Polio
Pengertian Polio Polio atau poliomyelitis adalah penyakit virus yang sangat mudah menular dan menyerang sistem saraf. Pada kondisi penyakit yang bertambah parah, bisa menyebabkan kesulitan 1 / 5 bernapas,
BAB 1 PENDAHULUAN. menyebabkan kematian pada anak dibawah usia 5 tahun walaupun. tidak sebanyak kematian yang disebabkan oleh malnutrisi dan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit infeksi masih menjadi masalah dan dapat menyebabkan kematian pada anak dibawah usia 5 tahun walaupun tidak sebanyak kematian yang disebabkan oleh malnutrisi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengetahuan 2.1.1. Definisi Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap sesuatu objek tertentu. Penginderaan
Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi
Artikel Asli Sari Pediatri, Sari Pediatri, Vol. 2, No. Vol. 1, 2, Juni No. 2000: 1, Juni 22000-10 Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi Sri Rezeki S. Hadinegoro Dalam era globalisasi, imunisasi merupakan upaya
1. Poliomyelitis Poliomyelitis adalah suatu penyakit virus yang dalam stadium beratnya menyebabkan
1. Poliomyelitis Poliomyelitis adalah suatu penyakit virus yang dalam stadium beratnya menyebabkan kelumpuhan yang lemas karena kekurangan sel-sel syaraf baik dalam sum sum tulang punggung maupun otak.
Christopher A.P, S. Ked Yayan A. Israr, S. Ked
Authors : Christopher A.P, S. Ked Yayan A. Israr, S. Ked Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau 2009 Universal Child Immunization Pendahuluan Puskesmas merupakan sarana pelayanan kesehatan
Volume 3 No. 1 Maret 2012 ISSN : SURVEI KELENGKAPAN IMUNISASI PADA BAYI UMUR 1-12 BULAN DI DESA PANCUR MAYONG JEPARA INTISARI
SURVEI KELENGKAPAN IMUNISASI PADA BAYI UMUR 1-12 BULAN DI DESA PANCUR MAYONG JEPARA Devi Rosita 1, dan Yayuk Norazizah 2 INTISARI Pada saat ini imunisasi sendiri sudah berkembang cukup pesat, ini terbukti
BAB I PENDAHULUAN. Penyakit campak merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak di
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit campak merupakan salah satu penyebab kematian pada anak-anak di seluruh dunia yang meningkat sepanjang tahun. Pada tahun 2005 terdapat 345.000 kematian di
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Imunitas merupakan daya tahan tubuh. Sistem imun adalah jaringan dalam
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Imunisasi Imunitas merupakan daya tahan tubuh. Sistem imun adalah jaringan dalam tubuh yang berfungsi melindungi tubuh dari infeksi dan benda asing, juga berfungsi menyembuhkan
BAB I PENDAHULUAN. melawan serangan penyakit berbahaya (Anonim, 2010). Imunisasi adalah alat yang terbukti untuk mengendalikan dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Imunisasi merupakan program pemerintah yang senantiasa digalakkan dalam upaya untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu penyakit dengan melakukan vaksinasi
BAB I PENDAHULUAN. dalam upaya menurunkan angka kematian bayi dan balita. Imunisasi merupakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam ruang lingkup pelayanan kesehatan, bidang preventif merupakan prioritas utama dan dalam melaksanakan Sistem Kesehatan Nasional (SKN), imunisasi merupakan salah
BAB I PENDAHULUAN. penurunan angka kematian bayi dan balita (bayi dibawah lima tahun) adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia masih menghadapi banyak masalah kesehatan yang cukup serius terutama dalam bidang kesehatan ibu dan anak. Salah satu faktor penting dalam penurunan
BAB II Jadwal Imunisasi
BAB II Jadwal Imunisasi Jadwal imunisasi 1. 2. 3. 4. 5. Pedomana imunisasi nasional Jadwal imunisasi Jadwal imunisasi tidak teratur Vaksin kombinasi Imunisasi anak sekolah dan remaja Jadwal Imunisasi Imunisasi
BAB I PENDAHULUAN. Imunisasi adalah prosedur yang dilakukan untuk memberikan kekebalan. tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan vaksin
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Imunisasi adalah prosedur yang dilakukan untuk memberikan kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh sehingga tubuh
BAB I PENDAHULUAN. mencegah tubuh dari penularan penyakit infeksi. Penyakit infeksi. adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Imunisasi merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk mencegah tubuh dari penularan penyakit infeksi. Penyakit infeksi adalah suatu penyakit yang disebabkan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Faktor faktor yang mempengaruhi pengetahuan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan 2.1.1 Definisi pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan pengindraan terhadap obyek tertentu (Notoatmodjo, 2007). 2.1.2 Faktor faktor
BAB I PENDAHULUAN. Program kesehatan di Indonesia periode adalah Program
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Program kesehatan di Indonesia periode 2015-2019 adalah Program Indonesia Sehat dengan sasaran meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya
A. Formulir Pelacakan Kasus AFP
Format 7.1 FP1 A. Formulir Pelacakan Kasus AFP Kabupaten/kota: Propinsi: Nomor EPID: Laporan dari : 1. RS:... Tanggal laporan diterima: I. Identitas Penderita 3. Dokter praktek : 2. Puskesmas:... 4. Lainnya
BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu dari 17 program pokok pembangunan kesehatan adalah program
BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Salah satu dari 17 program pokok pembangunan kesehatan adalah program pencegahan dan pemberantasan penyakit, yang salah satu sasarannya untuk mencapai Universal Child
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai salah
Pemberian Imunisasi Hepatitis B pada Bayi Prematur
Sari Pediatri, Vol. 4, No. 4, Maret 2003: 163-167 Pemberian Imunisasi Hepatitis B pada Bayi Prematur Ismalita Hepatitis B (HB) merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di
cita-cita UUD Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit menular masih merupakan
cita-cita UUD 1945. Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit menular masih merupakan masalah, sementara penyakit degeneratif juga muncul sebagai
BAB 1 PENDAHULUAN. Penyakit campak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit campak merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit campak sangat berbahaya karena dapat menyebabkan cacat dan kematian yang diakibatkan
PREVALENSI ANTIBODI POLIO ANAK BALITA PASCA PEKAN IMUNISASI NASIONAL (PIN) IV DI DENPASAR, BALI.
PREVALENSI ANTIBODI POLIO ANAK BALITA PASCA PEKAN IMUNISASI NASIONAL (PIN) IV DI DENPASAR, BALI. Gendrowahyuhono* Abstrak Telah dilakukan penelitian prevalensi antibodi anak balita pasca PIN IV di Denpasar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Imunisasi 1. Pengertian Imunisasi Imunisasi adalah suatu tindakan memberikan perlindungan atau kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh. Tujuan pemberian imunisasi
Eradikasi Polio dan Permasalahannya Ismoedijanto, Widodo DW, Parwati SB, Soegeng S, Dwi Atmadji S, M Faried Kaspan Divisi penyakit infeksi dan
1 KULIAH Ismoedijanto, Widodo DW, Parwati SB, Soegeng S, Dwi Atmadji S, M Faried Kaspan Divisi penyakit infeksi dan pediatri tropik Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK Unair RSU Dr. Soetomo Surabaya 2 Korespondensi
BAB 1 PENDAHULUAN. serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan merupakan investasi untuk mendukung pembangunan ekonomi serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan. Pembangunan kesehatan harus dipandang
BAB I PENDAHULUAN. meninggal karena penyakit yang sebenarnya masih dapat dicegah. Hal ini
12 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap tahun diseluruh dunia, ratusan ibu, anak anak dan dewasa meninggal karena penyakit yang sebenarnya masih dapat dicegah. Hal ini dikarenakan kurangnya informasi
Optimisme Cakupan Vaksin MR Menuju Generasi Sehat Berkualitas
Optimisme Cakupan Vaksin MR Menuju Generasi Sehat Berkualitas PENYAKIT campak di dunia ini bersifat endemik. Di semua negara di dunia ini, tahun 2013 terjadi 145.700 kematian yang disebabkan oleh campak.
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi, yang biasanya memburuk setelah dua hari
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Data World Health Organization (2012) menunjukkan bahwa dua miliar orang di seluruh dunia telah terinfeksi virus Hepatitis B dan sekitar 600.000 orang meninggal
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Imunisasi Imunisasi adalah proses menginduksi imunitas secara buatan baik dengan vaksinasi (imunisasi aktif) maupun dengan pemberian antibodi (imunisasi pasif). Imunisasi
BAB 1 PENDAHULUAN. berbagai penyakit seperti TBC, difteri, pertusis, hepatitis B, poliomyelitis, dan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Imunisasi merupakan bentuk intervensi kesehatan yang efektif dalam menurunkan angka kematian bayi dan balita. Dengan imunisasi, berbagai penyakit seperti TBC,
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. dari seluruh penduduk dunia adalah pembawa kronis penyakit hepatitis B (Zanetti et
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Infeksi hepatitis B merupakan masalah global, diperkirakan 6% atau 387 juta dari seluruh penduduk dunia adalah pembawa kronis penyakit hepatitis B (Zanetti et al., 2008).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
13 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit campak dikenal juga sebagai morbili atau measles, merupakan penyakit yang sangat menular (infeksius) yang disebabkan oleh virus dan 90% anak yang tidak kebal
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Imunisasi Imunisasi adalah proses menginduksi imunitas secara buatan baik dengan vaksinasi (imunisasi aktif) maupun dengan pemberian antibodi (imunisasi pasif).
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
7 BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari pengindraan atau hasil tahu seseorang dan terjadi terhadap objek melalui indra yang
BAB I PENDAHULUAN. sampai mengancam jiwa (Ranuh, dkk., 2001, p.37). dapat dijumpai pada 5% resipien, timbul pada hari 7-10 sesudah imunisasi dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) adalah semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa 1 bulan setelah imunisasi (Ranuh, dkk., 2001, p.37). Vaksin mutakhir
5 Imunisasi Dasar Lengkap Terbaru Untuk Bayi Beserta Jadwal Pemberiannya
5 Imunisasi Dasar Lengkap Terbaru Untuk Bayi Beserta Jadwal Pemberiannya masbidin.net /imunisasi-dasar-lengkap/ masbidin harnas.co Imunisasi Dasar Lengkap Imunisasi adalah suatu upaya yang dilakukan untuk
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Campak merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (Infeksius) dan dapat mengakibatkan kesakitan yang
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Campak merupakan salah satu penyakit yang sangat menular (Infeksius) dan dapat mengakibatkan kesakitan yang serius, komplikasi jangka panjang bahkan kematian (WHO,
ASPEK MEDIS DAN KEAMANAN VAKSIN KOMBINASI PENTABIO. Dominicus Husada
ASPEK MEDIS DAN KEAMANAN VAKSIN KOMBINASI PENTABIO Dominicus Husada ISI 1. Pendahuluan 2. Aspek Medis Vaksin Kombinasi Pentabio 3. Aspek Keamanan Vaksin Kombinasi Pentabio 4. Penutup 5. Bonus PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN. sekitar 2 juta disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
14 BAB I PENDAHULUAN 1.5. Latar Belakang Lebih dari 12 juta anak berusia kurang dari 5 tahun meninggal setiap tahun, sekitar 2 juta disebabkan oleh penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Serangan
Tabel 15. Penyusunan Plan of Action (POA) Kegiatan bidan desa melakukan kunjungan ke rumah-rumah untuk mendata bayi yang belum atau sudah diimunisasi.
D. Penyusunan Plan of Action Tabel 15. Penyusunan Plan of Action (POA) Kegiatan bidan desa melakukan kunjungan ke rumah-rumah untuk mendata bayi yang belum atau sudah diimunisasi. No. Kegiatan Tujuan Sasaran
BAB I PENDAHULUAN. terpajan pada antigen yang serupa tidak terjadi penyakit. Imunisasi yang
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Imunisasi adalah salah satu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa
Lalu, kekebalan seperti apa yang dimiliki bayi di bulan-bulan pertamanya?
Apa sih manfaat imunisasi? Dan kapan harus diberikan? Agar ibu tidak salah kaprah, silahkan simak tanya jawab seputar imunisasi dibawah ini. Mengapa anak perlu imunisasi? Karena usia anak-anak merupakan
Dosis dan Tempat Pemberian Pada neonates dan bayi diberikan pada vastus lateralis Pada anak dan dewasa di regio deltoid Jangan diberikan di gluteal
Imunisasi Hepatitis B (Rekombinan DNA sel ragi) Dosis dan Tempat Pemberian Pada neonates dan bayi pada vastus lateralis Pada anak dan dewasa di regio deltoid Jangan di gluteal Jadwal IDAI dan Kemenkes
BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia dan masih sering timbul sebagai KLB yang menyebabkan kematian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit menular masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia dan masih sering timbul sebagai KLB yang menyebabkan kematian penderitanya. Departemen
BAB I PENDAHULUAN. ditimbulkannya akan berkurang (Cahyono, 2010). Vaksin yang pertama kali dibuat adalah vaksin cacar (smallpox).
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Imunisasi merupakan salah satu upaya pencegahan kematian pada bayi dengan memberikan vaksin. Dengan imunisasi, seseorang menjadi kebal terhadap penyakit khususnya penyakit
Imunisasi merupakan upaya pencegahan primer
Artikel Asli Kelengkapan Imunisasi Dasar Anak Balita dan Faktor-Faktor yang Berhubungan di Poliklinik Anak Beberapa Rumah Sakit di Jakarta dan Sekitarnya pada Bulan Maret 2008 Mathilda Albertina, Sari
Macam kekebalan : (cara timbul) 1.Aktif -Dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada antigen, mis: imunisasi aktif, terpajan secara alamiah.
Definisi Suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang serupa, tidak terjadi penyakit Tujuan Mencegah terjadinya penyakit tertentu
UPAYA PROMOSI DAN PREVENTIVE KESEHATAN BAYI DAN ANAK
TENTANG UPAYA PROMOSI DAN PREVENTIVE KESEHATAN BAYI DAN ANAK DI SUSUN OLEH : 1. ULVAH HASANAH 2. NUR JANAH 3. NUR ANITA 4. NURBIATI 5. FENI RAHMAWATI 6. FARIDAH SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) YAHYA
FAKTA IMUNISASI MENEPIS RUMOR IMUNISASI
MENEPIS RUMOR KATANYA, Imunisasi Berbahaya? Itu GOSIP. Artikel di tabloid dan milis internet, ternyata mengutip ilmuwan yang bukan ahli vaksin, melainkan ahli statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA dan pada tahun 1990, kita telah mencapai status Universal Child
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Cakupan Program Imunisasi Program Imunisasi berhasil menekan morbiditas dan mortalitas tujuh penyakit di Indonesia, yaitu : Tuberkulosis, Polio, Difteri, Tetanus, Pertusis, Campak,
Resurgensi poliomyelitis : status terkini dari infeksi poliovirus di Indonesia
April-Juni 2005, Vol.24 No.2 Resurgensi poliomyelitis : status terkini dari infeksi poliovirus di Indonesia Julius E. Suryawidjaja Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti ABSTRAK Upaya
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu Balita Dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) di Puskesmas Oebobo Tahun 2016
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu Balita Dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) di Puskesmas Oebobo Tahun 2016 Ririn Widyastuti Poltekkes Kemenkes Kupang Program Studi Kebidanan Email: [email protected]
BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana diketahui bahwa di negara yang sedang berkembang seperti
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebagaimana diketahui bahwa di negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia, angka kejadian anak yang mengalami penyakit tropis cukup tinggi. Hal ini
