BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Customer Relationship Management (CRM) Pelanggan adalah aset yang paling penting dari sebuah organisasi. Tidak mungkin terdapat prospek bisnis tanpa memuaskan pelanggan yang loyal dan menggembangkan hubungan yang baik terhadap perusahaan. Itulah sebabnya perusahaan harus merencanakan dan menggunakan strategi yang tepat dalam pelayanan pelanggan. CRM (Customer Relationship Management) adalah strategi untuk membangun, mengelola, dan memperkuat hubungan perusahaan dengan pelanggan yang loyal agar dapat tecipta hubungan yang tahan lama. CRM harus merupakan pendekatan customer-centric berdasarkan pandangan pelanggan. Ruang lingkup penanganan pelanggan dalam CRM harus bersifat personal karena setiap pelanggan merupakan entitas yang unik, upaya tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi dan memahami perbedaan kebutuhan, prefensi dan perilaku dari tiap pelanggan yang berbeda-beda (Tsiptsis & Chorianopoulos, 2009). Pembangunan bisnis dengan memusatkan pada hubungan terhadap pelanggan merupakan perubahan yang revolusioner untuk kebanyakan perusahaan. Perusahaan kini telah merubah tujuan dalam pemahaman pelanggan secara individual menjadi melihat nilai yang dimiliki tiap pelanggan sehingga pihak perusahaan mengetahui pelanggan mana yang memiliki nilai yang tinggi dan layak dijadikan investasi dan dipertahankan dan pelanggan mana yang memiliki nilai yang rendah. (Berry & Linoff, 2004). Diperkirakan dalam riset American Management Association bahwa untuk menarik pelanggan baru membutuhan biaya lima kali lebih banyak dibandingkan mempertahankan pelanggan yang telah ada. (Kotler, 1994; Peppers & Rogers, 1996). Karena lebih tidak memakan biaya untuk menjual produk tambahan kepada pelanggan yang telah ada sehingga dapat dikatakan pelanggan yang telah ada memberikan keuntungan lebih besar dibandingkan pelanggan baru dalam penjualan produk tambahan. Perusahaan dapat mempersingkat daur penjualan dan meningkatkan loyalitas pelanggan untuk membangun hubungan

2 7 yang dekat dengan pelanggan sehingga kemudian dapat mendatangkan keuntungan. Penerapan CRM yang baik membantu perusahaan tetap menjaga pelanggan yang telah ada dan menarik pelanggan baru (Peppard, 2000). Perusahaan harus berkonsentrasi untuk menganalisa nilai yang dimiliki pelanggan dan memahami apa yang pelanggan inginkan dan mempertahankan pelanggan untuk memaksimalkan keuntungan. CRM tidak hanya dilihat sebagai sebuah produk atau layanan tetapi sebagai sebuah filosofi bisnis untuk mengelola nilai pelanggan dalam jangka waktu yang lama (customer lifetime value). 2.2 Data Mining Secara sederhana, data mining merujuk pada ekstraksi atau "pertambangan" pengetahuan dari sejumlah besar data. Data mining juga dikatakan sebagai kegiatan menemukan pola yang menarik dari data dalam jumlah besar, data dapat disimpan dalam database, data warehouse, atau penyimpanan informasi lainnya. Data mining berkaitan dengan bidang ilmu-ilmu lain, seperti database system, data warehousing, statistik, machine learning, information retrieval, dan komputasi tingkat tinggi. Selain itu, data mining didukung oleh ilmu lain seperti neural network, pengenalan pola, spatial data analysis, image database, signal processing (Han, 2006). Data mining adalah langkah dalam KDD (Knowledge Discovery in Database) yang terdiri dari penerapan analisis data dan penemuan algoritma untuk menghasilkan daftar pola atau model tertentu terhadap data yang dianalisa (Fayyad, 1996). Pada gambar 2.1 menunjukkan data mining merupakan bagian dari KDD.

3 8 Gambar 2.1 Overview proses data mining dalam hubungan dengan KDD (Fayyad, 2000) Data mining banyak diterapkan untuk memecahkan masalah kepentingan intelektual, ekonomi, dan bisnis. Data mining dapat dibagi kedalam enam tugas, yaitu sebagai berikut (Berry & Linoff, 2004). : 1.Klasifikasi Klasifikasi terdiri dari tindakan pengujian pada fitur baru dan mengelompokkannya ke dalam salah satu dari sekumpulan kelas yang telah diidentifikasi. 2.Estimasi Estimasi berhubungan dengan nilai kontinyu, jika terdapat beberapa input data, estimasi akan bekerja dengan nilai dari beberapa variabel kontinyu yang tidak diketahui seperti misalkan pendapatan, tinggi, atau credit card balance. 3.Prediksi Prediksi adalah tugas yang sama seperti pada klasifikasi dan estimasi perbedaannya prediksi mengelompokkan berdasarkan beberapa prediksi yang berkaitan dengan waktu mendatang atau perkiraan waktu mendatang. 4.Afinitas Tugas dari afinitas didefinisikan sebagai tindakan untuk mengelompokkan hal mana yang akan dikelompokkan ke dalam kelompok yang sama.

4 9 5.Clustering Tugas dalam clustering yaitu mensegmentasi populasi heterogen ke dalam sub grup homogen atau clusters. Perbedaan dengan klasifikasi adalah pada clustering tidak ditentukan target pengelompokkan. 6.Deskripsi dan penentuan profil Sebuah deskripsi yang baik seringkali memberikan penjelasan yang baik juga sehingga proses deskripsi dan penentuan profil ini sangat berguna untuk mengetahui pengetahuan yang terdapat pada basis data yang rumit. Tiga tugas pertama merupakan contoh data mining yang terarah, di mana tujuannya adalah untuk menemukan nilai dari variabel target tertentu. Afinitas dan clustering adalah tugas tidak diarahkan, tujuannya adalah untuk mengungkap pengetahuan yang ada. Profiling adalah tugas deskriptif yang mungkin akan baik diarahkan atau tidak diarahkan. 2.3 Data Mining Dalam Kerangka Kerja CRM Data mining dapat menyediakan pandangan dari segi pelanggan dimana merupakan elemen penting untuk mebangun CRM yang efektif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi dengan pelanggan sehingga memaksimalkan tingkat kepuasan pelanggan serta dapat memberikan keuntungan melalui analisis pada data. Hal ini dapat mendukung manajemen pelanggan secara individual dan mengoptimalkan seluruh semua fase siklus hidup pelanggan mulai dari akuisisi dan membentuk hubungan yang kuat untuk mencegah pengurangan pelanggan. Bagian pemasaran berusaha untuk mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar dan mendapatkan pangsa pelanggan yang lebih besar, dengan kata lain bagian pemasaran memiliki tanggung jawab untuk mendapatkan, mengembangkan dan menjaga pelanggan. Secara lebih spesifik aktivitas pemasaran yang dapat didukung dengan data mining meliputi topik berikut (Tsiptsis & Chorianopoulos, 2009): 1. Segmentasi Pelanggan Segmentasi adalah proses untuk membagi pelanggan ke dalam grup homogen yang unik dalam rangka pengembangan strategi pasar yang berbeda

5 10 berdasarkan karakteristiknya. Terdapat banyak perbedaan tipe dalam segmentasi pelanggan berdasarkan kriteria dan atribut yang spesifik untuk segmentasi. 2. Kampanye Pemasaran Langsung Bagian pemasaran menggunakan kampanye pemasaran langsung untuk mengkomunikasikan pesan kepada pelanggan mereka menggunakan surat, internet, dan telepon (tele marketing) untuk mengarahkan pelanggan untuk membeli produk yang ditawarkan. Secara lebih spesifik metode ini untuk mendapatkan pelanggan potensial. 3. Keranjang pemasaran dan analisa urutan Data mining dan asosiasi model dapat digunakan untuk mengidentifikasikan hubungan antara produk yang biasanya dibeli secara bersamaan hal ini digunakan untuk mengetahui produk mana yang dapat dijual secara bersamaan. Hubungan data mining dan CRM dalam perusahaan retail yaitu dapat membantu untuk mengidentifikasi sifat pembelian pelanggan, mempertahankan pelanggan dan memberi kepuasan terhadap pelanggan, meningkatkan rasio konsumsi barang, merancang tranportasi barang yang baik dan aturan pendistribusian serta mengurangi biaya bisnis (Han, 2006). 2.4 Model RFM Model RFM membagi data kedalam tiga aspek dimensi variabel yaitu : Recency (R), Frequency (F), Monetary (M). Deskripsi lengkap dari RFM adalah sebagai berikut (Hughes, 1994) : 1. Recency Definisi Recency adalah interval waktu antara transaksi terakhir yang dilakukan pelanggan dengan waktu sekarang atau selama periode tertentu. Semakin dekat interval waktu antara waktu terakhir melakukan transaksi dengan waktu sekarang atau akhir periode yang ditetapkan maka semakin besar nilai dari Recency. 2. Frequency Frequency didefinisikan sebagai jumlah kali transaksi yang dilakukan pelanggan sampai waktu sekarang atau periode yang ditentukan.

6 11 Semakin besar jumlah kali transaksi pelanggan (rutin melakukan pembelian) semakin tinggi nilai Frequency-nya. 3. Monetary Monetary memiliki definisi sebagai jumlah biaya yang dikeluarkan pelanggan dalam setiap transaksi sampai waktu sekarang atau dalam periode tertentu. Semakin besar jumlah biaya yang dikeluarkan semakin besar nilai Monetary-nya. Menurut Tsiptsis & Chorianopoulos, 2009 terdapat enam pembagian pelanggan para perusahaan retail berdasarkan nilai RFM yang dimiliki pelanggan, yang didefinisian secara lebih spesifik pada Tabel 2.1. Tabel 2.1 Pembagian customer pada perusahaan retail dengan model RFM Kelas Pelanggan Deskripsi kelas Pelanggan Superstar - Customer dengan tingkat loyalitas paling tinggi - Memiliki nilai (value) yang paling tinggi - Memiliki frekuensi yang paling tinggi - Melakukan transaksi terbesar Golden Customer - Memiliki nilai (value) terbesar kedua - Memiliki frekuensi tinggi - Melakukan transaksi standar rata-rata Typical Customer - Memiliki nilai (value) dan frekuensi standar rata-rata - Melakukan transaksi standar rata-rata Occational Customer - Kedua memiliki frekuensi terendah setelah Dormant Customer - Memiliki Recency rendah (memiliki waktu yang lama dengan rentang waktu terakhir kunjungan) - Melakukan pembelanjaan dalam jumlah besar (large basket) Everyday Shopper - Memiliki peningkatan dalam transaksi

7 12 Dormant Customer - Melakukan pembelanjaan dalam jumlah kecil (small basket) - Memiliki nilai dengan skala menengah (medium) hingga rendah (low) - Memiliki frekuensi dan nilai (value) terendah - Memiliki waktu yang lama ketika masa terakhir kunjungan (memiliki Recency terendah) 2.5 Jaringan Syaraf Tiruan Pengertian Jaringan Syaraf Tiruan Jaringan syaraf tiruan adalah sistem pemrosesan informasi yang memiliki karakteristik performa tertentu yang serupa dengan jaringan syaraf secara biologi. Jaringan syaraf tiruan telah dikembangkan sebagai generalisasi dari model matematika dari jaringan syaraf biologi, berdasarkan asumsi ini diperoleh : 1. Pemrosesan informasi terjadi dalam berbagai elemen kecil yang disebut neuron. 2. Sinyal dilewatkan antara neuron melalui link koneksi. 3. Setiap link koneksi memiliki bobot seperti pada sebagian besar jaringan syaraf tiruan. 4. Setiap neuron menerapkan satu fungsi aktivasi (kebanyakan non linier) kedalam jaringan input (total bobot sinyal input) untuk menentukan sinyal keluaran (ouput). Karakteristik jaringan syaraf tiruan adalah sebagai berikut : 1. Hubungan pola antar neuron (dikatakan sebagai arsitektur jaringan syaraf tiruan). 2. Metode untuk menentukan bobot (dikatakan sebagai pelatihan, pembelajaran, algoritma). 3. Fungsi aktivasi.

8 13 Jaringan syaraf tiruan terdiri dari neuron, unit, sel dan titik. Tiap neuron terhubungan dengan neuron yang lain yang berasosiasi dengan sebuah bobot, bobot digunakan dalam jaringan syaraf tiruan untuk dapat memecahkan masalah. Jaringan syaraf tiruan dapat digunakan untuk memecahkan berbagai masalah seperti penyimpanan dan pemanggilan kembali data atau pola, klasisifikasi pola, melakukan pemetaan secara umum dari pola input ke dalam pola output, mengelompokkan pola yang serupa atau menemukan solusi untuk mengoptimalisasi pemecahan suatu masalah (Fausset, 1993) Metode Pelatihan Jaringan Syaraf Tiruan Metode Pelatihan Terbimbing Metode pelatihan terbimbing adalah metode pelatihan yang memasukkan target keluaran dalam data untuk proses pelatihannya. Ada beberapa metode pelatihan terbimbing yaitu Perceptron, Multi Perceptron dan Back Propagation (BP) Metode Pelatihan Tak Terbimbing Metode Pelatihan tak terbimbing adalah metode pelatihan tanpa memelukan target pada keluarannya. Proses pelatihan berdasarkan proses tranformasi dari bentuk variabel diskrit yang dikenal dengan kuantitas vektor. Jaringan yang digunakan untuk proses pelatihan tak terbimbing adalah jaringan umpan balik (feedback network) yang salah satunya adalah algoritma Adaptive Resonance Theory (ART) 1 dan Algoritma Adaptive Resonance Theory 2 (ART 2) Adaptive Resonance Theory (ART) adalah metode pembelajaran tak terbimibing (unsupervised learning) yang dapat mengkoordinasi diri sendiri secara stabil terhadap pola input yang acak (Carpenter & Grossberg, 1988) gambar dari arsitektur algoritma ART 2 dapat dilihat pada Gambar 2.2. ART 2 merupakan salah satu bagian dari algoritma ART yang digunakan untuk mengolah data input yang berifat continuous (Fausset, 1993) dan dapat melakukan penekanan terhadap input acak dan memperlakukannya sebagai noise (Carpenter & Grossberg, 1988).

9 Arsitektur Algoritma ART 2 Arsitektur dasar dari algoritma ART 2 membentuk tiga grup neuron, layer input (layer F1), layer cluster (layer F2), dan layer yang mengontrol derajat kesaman dari pola yang ditempatkan pada cluster yang sama (layer reset). Orienting Sub-System Attentional Sub-System ρ Y1 Yj Yn F2 Layer bij tij R pi qi Cpi Normalization bf(qi) ui aui Normalization vi f(xi) F1 Layer wi si Normalization xi Gambar 2.2 Typical arsitektur dari algoritma ART 2 (Carpenter & Grossberg, 1987) Untuk mengontrol kesamaan pola yang ditempatkan pada satu cluster terdapat dua penghubung yang digunakan, yaitu untuk menghubungkan layer F1 dengan layer F2 adalah bobot bottom-up (b ij ). dan untuk menghubungkan layer F2 dengan layer F1 adalah bobot top-down (t ji ). Layer F1 pada ART2 terdiri dari enam tipe unit yaitu w, x, u, v, p dan q. terdapat n unit dari tiap tipe (dimana n adalah dimensi dari vektor input). Unit tambahan diantara w dan x menerima semua sinyal dari unit w melakukan normalisasi unit w, dan mengirim tiap sinyal ke unit x, proses serupa juga terjadi pada unit tambahan diantara unit p dan q dan unit tambahan diantara unit v dan q. Simbol penghubung yang terdapat antara berbagai unit dalam layer F1 mengindikasikan bahwa tranformasi terjadi pada sinyal yang melalui satu tipe ke tipe berikutnya. Simbol penghubung antara unit tipe p (pada layer F1) dan y (pada layer F2) menunjukkan bahwa bobot dikali dengan sinyal yang ditranmisikan pada penghubung tersebut. Aktivasi dari pemenang pada layer F2 adalah d,

10 15 dimana 0 < d < 1. Simbol penghubung dengan garis terputus-putus menggambarkan proses normalisasi. Detail hubungan yang melibatkan unit tambahan N yang terdapat diantara unit w dan x, unit u dan v dan unit p dan q digambarkan pada Gambar 2.3 : w n x n w i N x i w 1 x 1 Gambar 2.3. Detail unit tambahan diantara unit tipe w dan x (Fausset, 1993) Tiap proses yang terjadi berserta komputasinya dideskripsikan sebagai berikut (Fausset, 1993), Sinyal input s = {s 1,., s i,.., s n } secara bertahap dikirim untuk dikomputasikan dalam algoritma ART2, pada mulanya semua aktivasi di set nol. Komputasi dimulai dari unit u kemudian sinyal dari tiap unit u dikirim ke asosiasi unit w dan p. Aktivasi dari unit w dan p kemudian dikomputasi. Unit w menjumlahkan sinyal yang diterima dari unit u dan sinyal input s, dan unit p menjumlahkan sinyal yang diterima dari unit u dan sinyal bobot top-down (t ij ) yang diterima jika terdapat unit F2 yang aktif. Aktivasi unit x dan q merupakan normalisasi dari unit w dan p kemudian diaplikasi sebuah fungsi aktivasi sebelum sinyal dikirim ke unit v dan unit v akan menjumlahkan sinyal yang diterima dari unit x dan q. Satu putaran untuk unit F1 telah selesai. Layer F1 akan mencapai equilibrium setelah mengalami dua kali proses update. Fungsi pada layer F1 hanya akan melakukan tindakan pada sinyal yang melebihi dari nilai penekanan derau (noise supperession) θ, setelah unit F1 mencapai equilibrium unit p mengirim sinyalnya ke layer F2 dimana pemenang akan berkesempatan mempelajari pola input. Unit p dan unit u juga mengirimkan sinyal ke layer reset. Reset dapat dicek tiap waktu ketika menerima sinyal dari unit p. reset hanya akan dicek ketika terdapat unit pada layer F2 yang aktif setelah proses pengecekan reset dilakukan

11 16 akan didapatkan keputusan apakah suatu cluster mendapat hak untuk mempelajari pola input, jika tidak maka akan dipilih kandidat cluster unit lainnya Parameter ART 2 Pemilihan parameter pada algoritma ART 2 merupakan suatu hal yang penting dan harus dilakukan dengan baik karena merupakan komponen penting dalam menggunakan algoritma ART 2 baik tipe pembelajaran cepat atau tipe pembelajaran lambat. Parameter dalam algoritma ART 2 terdiri dari (Fausset, 1993) : n a,b c d θ α : Jumlah komponen input. : Nilai tetap yang dapat diinisialisasi sebagai 10 untuk masing-masingnya. Penginisialisasian nilai a,b dengan sama dengan 0 akan mengakibatkan ketidakstabilan namun pemilihan nilai selain 0 tidak berpengaruh signifikan. : Diinisialisasi sebagai 0.1, pemilihan nilai yang lebih kecil memberikan keefektifan terhadap nilai parameter vigilance. : Aktivasi dari unit pemenang dalam layer F2, nilainya harus dipilih hampir mendekati 1 misalkan 0.9 karena akan memberikan keefektifan terhadap nilai parameter vigilance. : Noise suppression, nilai ini didapat menggunakan rumus θ = 1/ n dan fungsi ini berhubungan dengan fungsi aktivasi berikut : f x = x, x 0 0, x < 0 : Learning rate, pemilihan nilai learning rate yang kecil dapat mengakibatkan pembelajaran berlangsung lebih lambat baik dalam pembelajaran cepat maupun lambat, namun dengan learning rate yang kecil dapat memastikan bobot mencapai nilai equilibrium terutama pada pembelajaran lambat. ρ : parameter vigilance, nilai parameter ini dapat diset dari 0 sampai 1 namun mengeset nilai parameter ini kurang dari 0.7 adalah kurang efektif karena sama saja artinya dengan mengeset nilainya menjadi 0

12 17 b j : Nilai bobot bottom-up dapat ditentukan dengan menggunakan rumus berikut, b j 1 (1 d) n ; semakin besar nilai b j dapat mengakibatkan semakin banyaknya jumlah cluster yang terbentuk. t j : Inisialisasi nilai bobot top-down menggunakan nilai yang kecil sehingga dapat mencegah reset terjadi pada input pertama yang masuk dalam suatu cluster Komputasi Unit ART 2 Perhitungan untuk tiap unit w, x, u, v, p dan q akan dilakukan berulangulang dalam beberapa langkah dalam algoritma ART 2. Rumus untuk tiap unit w, x, u, v, p dan q dijelaskan sebagai berikut (Fausset, 1993): u i = v i e+ v. (2.1) w i = s i + au i (2.2) p i = u i (2.3) x i = s i e+ s. (2.4) q i = p i e+ p (2.5) v i = f(x i ) + bf(q i ) (2.6) Dengan fungsi aktivasi : f x = x if x θ 0 if x < θ (2.7) 2.7 Uji Validitas Cluster Uji validitas cluster digunakan untuk mengevaluasi hasil dari analisis cluster secara kuantitatif sehingga dihasilkan kelompok optimal. Kelompok optimal adalah kelompok yang mempunyai jarak yang padat antar individu dalam kelompok dan terisolasi dari kelompok lain dengan baik (Dubes and Jain, 1988). Indeks yang dijadikan tolak ukur dalam pengujian validitas cluster adalah indeks Silhouette. Indeks Silhouette menunjukkan objek mana yang baik dalam sebuah cluster dan objek mana yang berada ditengah dua cluster atau objek yang salah

13 18 terkelompok. Untuk tiap i-objek kalkulasikan rata-rata ketidaksamaan dari objek-i dengan semua objek lain pada cluster yang sama a(i), semakin cocok objek-i dalam suatu kelompok atau cluster nilai dari a(i) akan semakin kecil, kemudian untuk tiap cluster ulangi perhitungan rata-rata ketidaksamaan objek-i dengan semua objek lain yang berada pada cluster yang berbeda. Komputasinya ditunjukkan pada persamaan 2.8 berikut : S i = (b i a(i)) max {a i,b(i)} (2.8) Semakin dekat nilai s(i) terhadap 1 mengindikasikan a(i) bernilai rendah, hal tersebut berarti objek-i telah terkelompok secara baik, jika nilai dari s(i) adalah 0 hal tersebut berarti objek-i berada sama jauh diantara dua cluster dan jika nilai s(i) mendekati -1 hal tersebut berarti objek-i berada pada kondisi terburuk karena lebih dekat dengan cluster yanp bukan merupakan kelompok dimana objek-i berada. Cluster yang memiliki perhitungan rata rata keseluruhan s(i) yang terbesar merupakan cluster terbaik (GS u ) seperti yang diformulasikan pada persamaan 2.9 berikut : GS u = 1 n n i=1 s(i). (2.9)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Hal-hal yang dipaparkan pada Bab Tinjauan Pustaka adalah penelaahan kepustakaan yang mendasari proses perancangan dan pembuatan aplikasi meliputi data mining, Customer Relationship

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 State of the Art Penelitian mengenai segmentasi pasar pada sebuah perusahaan telah banyak digunakan dengan tujuan untuk mengetahui strategi pasar yang baik dan dapat menguntungkan

Lebih terperinci

Perbandingan Metode SOM/Kohonen dengan ART 2 pada Data Mining Perusahaan Retail

Perbandingan Metode SOM/Kohonen dengan ART 2 pada Data Mining Perusahaan Retail Teknologi Elektro, Vol. 16, No. 02, Mei - Agustus 2017 55 Perbandingan Metode SOM/Kohonen dengan ART 2 pada Data Mining Perusahaan Retail Anak Agung Gede Bagus Ariana 1, I Ketut Gede Darma Putra 2, Linawati

Lebih terperinci

SEGMENTASI PELANGGAN PADA PERUSAHAAN RETAIL DENGAN METODE ART 2 DAN MODEL RFM JUDUL TUGAS AKHIR

SEGMENTASI PELANGGAN PADA PERUSAHAAN RETAIL DENGAN METODE ART 2 DAN MODEL RFM JUDUL TUGAS AKHIR SEGMENTASI PELANGGAN PADA PERUSAHAAN RETAIL DENGAN METODE ART 2 DAN MODEL RFM JUDUL TUGAS AKHIR Diajukan Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Rangka Menyelesaikan Pendidikan Sarjana Strata Satu (S1)

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Meter Air. Gambar 2.1 Meter Air. Meter air merupakan alat untuk mengukur banyaknya aliran air secara terus

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Meter Air. Gambar 2.1 Meter Air. Meter air merupakan alat untuk mengukur banyaknya aliran air secara terus BAB II DASAR TEORI 2.1 Meter Air Gambar 2.1 Meter Air Meter air merupakan alat untuk mengukur banyaknya aliran air secara terus menerus melalui sistem kerja peralatan yang dilengkapi dengan unit sensor,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA Sumber-sumber yang digunakan dalam pembuatan tugas akhir, baik yang diambil dari buku, internet, maupun jurnal diuraikan secara terperinci pada Bab Tinjuan Pustaka. Konsep dan definisi

Lebih terperinci

BABI PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BABI PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap perusahaan dituntut untuk siap menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan perusahaan lain. Makin intensifnya persaingan yang dihadapi, telah menyebabkan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dielaskan mengenai teori-teori yang berhubungan dengan penelitian ini, sehingga dapat diadikan sebagai landasan berpikir dan akan mempermudah dalam hal pembahasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Bab Pendahuluan terdiri dari uraian latar belakang yang mendasari pembuatan tugas akhir, pengenalan masalah yang dibahas didalam tugas akhir, manfaat maupun tujuan penelitian yang ingin

Lebih terperinci

terinspirasi dari sistem biologi saraf makhluk hidup seperti pemrosesan informasi

terinspirasi dari sistem biologi saraf makhluk hidup seperti pemrosesan informasi 25 BAB III JARINGAN SARAF TIRUAN (JST) 3.1 Pengertian JST JST merupakan sebuah model atau pola dalam pemrosesan informasi. Model ini terinspirasi dari sistem biologi saraf makhluk hidup seperti pemrosesan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketika suatu organisasi tumbuh semakin besar dan pola tingkatan operasionalnya semakin tidak sederhana dan kompleks, maka secara alamiah tuntutan pihak manajemen akan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. fuzzy logic dengan aplikasi neuro computing. Masing-masing memiliki cara dan proses

BAB 2 LANDASAN TEORI. fuzzy logic dengan aplikasi neuro computing. Masing-masing memiliki cara dan proses 8 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori Neuro Fuzzy Neuro-fuzzy sebenarnya merupakan penggabungan dari dua studi utama yaitu fuzzy logic dengan aplikasi neuro computing. Masing-masing memiliki cara dan proses

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.6. Jaringan Syaraf Tiruan Jaringan syaraf tiruan atau neural network merupakan suatu sistem informasi yang mempunyai cara kerja dan karakteristik menyerupai jaringan syaraf pada

Lebih terperinci

BAB IV JARINGAN SYARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURAL NETWORK)

BAB IV JARINGAN SYARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURAL NETWORK) BAB IV JARINGAN SYARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURAL NETWORK) Kompetensi : 1. Mahasiswa memahami konsep Jaringan Syaraf Tiruan Sub Kompetensi : 1. Dapat mengetahui sejarah JST 2. Dapat mengetahui macam-macam

Lebih terperinci

Architecture Net, Simple Neural Net

Architecture Net, Simple Neural Net Architecture Net, Simple Neural Net 1 Materi 1. Model Neuron JST 2. Arsitektur JST 3. Jenis Arsitektur JST 4. MsCulloh Pitts 5. Jaringan Hebb 2 Model Neuron JST X1 W1 z n wi xi; i1 y H ( z) Y1 X2 Y2 W2

Lebih terperinci

BAB VIII JARINGAN SYARAF TIRUAN

BAB VIII JARINGAN SYARAF TIRUAN BAB VIII JARINGAN SYARAF TIRUAN A. OTAK MANUSIA Otak manusia berisi berjuta-juta sel syaraf yang bertugas untuk memproses informasi. Tiaptiap sel bekerja seperti suatu prosesor sederhana. Masing-masing

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Konsep Pemasaran Dalam merancang dan mengembangkan produk, baik yang berupa jasa maupun barang, tidak terlepas dari konsep pemasaran yang bertujuan memenuhi

Lebih terperinci

APLIKASI JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK MEMPREDIKSI PENJUALAN OBAT Pada PT. METRO ARTHA PRAKARSA MENERAPKAN METODE BACKPROPAGATION

APLIKASI JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK MEMPREDIKSI PENJUALAN OBAT Pada PT. METRO ARTHA PRAKARSA MENERAPKAN METODE BACKPROPAGATION APLIKASI JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK MEMPREDIKSI PENJUALAN OBAT Pada PT. METRO ARTHA PRAKARSA MENERAPKAN METODE BACKPROPAGATION Zulkarnain Mahasiswa Teknik Informatika STMIK Budi Darma Jl. Sisingamangaraja

Lebih terperinci

2.1 Definisi Operasional Indikator Pemerataan Pendidikan

2.1 Definisi Operasional Indikator Pemerataan Pendidikan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Operasional Indikator Pemerataan Pendidikan Pendidikan di Indonesia diselenggarakan sesuai dengan sistem pendidikan nasional yang ditetapkan dalam UU No. 20 tahun 2003

Lebih terperinci

Penerapan Metode Fuzzy C-Means dengan Model Fuzzy RFM (Studi Kasus : Clustering Pelanggan Potensial Online Shop)

Penerapan Metode Fuzzy C-Means dengan Model Fuzzy RFM (Studi Kasus : Clustering Pelanggan Potensial Online Shop) 157 Penerapan Metode Fuzzy C-Means dengan Model Fuzzy RFM (Studi Kasus : Clustering Pelanggan Potensial Online Shop) Elly Muningsih AMIK BSI Yogyakarta E-Mail : [email protected] Abstrak Berkembangnya

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. menggunakan teknik statistik, matematika, kecerdasan buatan, tiruan dan machinelearning

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. menggunakan teknik statistik, matematika, kecerdasan buatan, tiruan dan machinelearning BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Data Mining Data mining adalah kombinasi secara logis antara pengetahuan data, dan analisa statistik yang dikembangkan dalam pengetahuan bisnis atau suatu proses yang menggunakan

Lebih terperinci

Customer Segmentation Dengan Metode Self Organizing Map (Studi Kasus: UD. Fenny)

Customer Segmentation Dengan Metode Self Organizing Map (Studi Kasus: UD. Fenny) Customer Segmentation Dengan Metode Self Organizing Map (Studi Kasus: UD. Fenny) A. A. Gde Bagus Ariana STIKI Denpasar email: [email protected] Abstrak Saat ini persaingan bisnis pada perusahaan retail

Lebih terperinci

KLASIFIKASI DATA MENGGUNAKAN JST BACKPROPAGATION MOMENTUM DENGAN ADAPTIVE LEARNING RATE

KLASIFIKASI DATA MENGGUNAKAN JST BACKPROPAGATION MOMENTUM DENGAN ADAPTIVE LEARNING RATE KLASIFIKASI DATA MENGGUNAKAN JST BACKPROPAGATION MOMENTUM DENGAN ADAPTIVE LEARNING RATE KLASIFIKASI DATA MENGGUNAKAN JST BACKPROPAGATION MOMENTUM DENGAN ADAPTIVE LEARNING RATE Warih Maharani Fakultas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 1.1 Customer Relationship Management (CRM) CRM adalah perpaduan antara teori, metode, teknik, kompetensi dan software enterprise untuk mengembangkan jangka panjang perusahaan dengan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengenalan suara (voice recognition) dibagi menjadi dua jenis, yaitu

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengenalan suara (voice recognition) dibagi menjadi dua jenis, yaitu BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengenalan Suara. Pengenalan suara (voice recognition) dibagi menjadi dua jenis, yaitu speech recognition dan speaker recognition. Speech recognition adalah proses yang dilakukan

Lebih terperinci

Pengembangan Aplikasi Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dengan Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation

Pengembangan Aplikasi Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dengan Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation Erlangga, Sukmawati Nur Endah dan Eko Adi Sarwoko Pengembangan Aplikasi Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dengan Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation Erlangga, Sukmawati Nur Endah dan Eko Adi Sarwoko

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Data Mining Faktor penentu bagi usaha atau bisnis apapun pada masa sekarang ini adalah kemampuan untuk menggunakan informasi seefektif mungkin. Penggunaan data secara tepat karena

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1 Definisi Masalah Dalam beberapa tahun terakhir perkembangan Computer Vision terutama dalam bidang pengenalan wajah berkembang pesat, hal ini tidak terlepas dari pesatnya

Lebih terperinci

PENERAPAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DALAM MEMPREDIKSI TINGKAT PENGANGGURAN DI SUMATERA BARAT

PENERAPAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DALAM MEMPREDIKSI TINGKAT PENGANGGURAN DI SUMATERA BARAT PENERAPAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DALAM MEMPREDIKSI TINGKAT PENGANGGURAN DI SUMATERA BARAT Havid Syafwan Program Studi Manajemen Informatika, Amik Royal, Kisaran E-mail: [email protected] ABSTRAK:

Lebih terperinci

De Perceptron Aplikasi Market Basket Analysis berbasis web menggunakan Perceptron

De Perceptron Aplikasi Market Basket Analysis berbasis web menggunakan Perceptron De Perceptron Aplikasi Market Basket Analysis berbasis web menggunakan Perceptron oleh: Yulian Purnama Wim Permana 03/171209/PA/09787 03/165273/PA/09313 Ditujukan Kepada: Prof. Drs. H. Subanar Ph.D. selaku

Lebih terperinci

Konsep Data Mining. Pendahuluan. Bertalya. Universitas Gunadarma 2009

Konsep Data Mining. Pendahuluan. Bertalya. Universitas Gunadarma 2009 Konsep Data Mining Pendahuluan Bertalya Universitas Gunadarma 2009 Latar Belakang Data yg dikumpulkan semakin bertambah banyak Data web, e-commerce Data pembelian di toko2 / supermarket Transaksi Bank/Kartu

Lebih terperinci

Jaringan Syaraf Tiruan

Jaringan Syaraf Tiruan 07/06/06 Rumusan: Jaringan Syaraf Tiruan Shinta P. Sari Manusia = tangan + kaki + mulut + mata + hidung + Kepala + telinga Otak Manusia Bertugas untuk memproses informasi Seperti prosesor sederhana Masing-masing

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. luar dan daging iga sangat umum digunakan di Eropa dan di Amerika Serikat

BAB II DASAR TEORI. luar dan daging iga sangat umum digunakan di Eropa dan di Amerika Serikat 6 BAB II DASAR TEORI 2.1. Daging Sapi dan Daging Babi 2.1.1.Daging Sapi Daging sapi adalah daging yang diperoleh dari sapi yang biasa dan umum digunakan untuk keperluan konsumsi makanan. Di setiap daerah,

Lebih terperinci

http://www.brigidaarie.com proses menganalisa data untuk mencari polapola tersembunyi dengan menggunakan metodologi otomatis Istilah lain : Machine Learning Knowledge Discovery in Database (KDD) Predictive

Lebih terperinci

SISTEM PENGENALAN KARAKTER DENGAN JARINGAN SYARAF TIRUAN ALGORITMA PERCEPTRON

SISTEM PENGENALAN KARAKTER DENGAN JARINGAN SYARAF TIRUAN ALGORITMA PERCEPTRON Jurnal Informatika Mulawarman Vol. 7 No. 3 Edisi September 2012 105 SISTEM PENGENALAN KARAKTER DENGAN JARINGAN SYARAF TIRUAN ALGORITMA PERCEPTRON Anindita Septiarini Program Studi Ilmu Komputer FMIPA,

Lebih terperinci

Jaringan Syaraf Tiruan. Disusun oleh: Liana Kusuma Ningrum

Jaringan Syaraf Tiruan. Disusun oleh: Liana Kusuma Ningrum Jaringan Syaraf Tiruan Disusun oleh: Liana Kusuma Ningrum Susilo Nugroho Drajad Maknawi M0105047 M0105068 M01040 Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sebelas Maret

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN PROGRAM APLIKASI

BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN PROGRAM APLIKASI BAB 3 ANALISIS DAN PERANCANGAN PROGRAM APLIKASI Bab ini berisi analisis pengembangan program aplikasi pengenalan karakter mandarin, meliputi analisis kebutuhan sistem, gambaran umum program aplikasi yang

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI Jaringan Syaraf Tiruan. Universitas Sumatera Utara

BAB II DASAR TEORI Jaringan Syaraf Tiruan. Universitas Sumatera Utara BAB II DASAR TEORI Landasan teori adalah teori-teori yang relevan dan dapat digunakan untuk menjelaskan variabel-variabel penelitian. Landasan teori ini juga berfungsi sebagai dasar untuk memberi jawaban

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Barcode Salah satu obyek pengenalan pola yang bisa dipelajari dan akhirnya dapat dikenali yaitu PIN barcode. PIN barcode yang merupakan kode batang yang berfungsi sebagai personal

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengetahuan di dalam database. Data mining adalah proses yang menggunakan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pengetahuan di dalam database. Data mining adalah proses yang menggunakan 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Data Mining Data mining adalah suatu istilah yang digunakan untuk menguraikan penemuan pengetahuan di dalam database. Data mining adalah proses yang menggunakan

Lebih terperinci

PENGENALAN POLA KEPUASAN MAHASISWA TERHADAP KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (STUDI KASUS DI STMIK AKAKOM YOGYAKARTA) Abstrak

PENGENALAN POLA KEPUASAN MAHASISWA TERHADAP KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (STUDI KASUS DI STMIK AKAKOM YOGYAKARTA) Abstrak PENGENALAN POLA KEPUASAN MAHASISWA TERHADAP KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR (STUDI KASUS DI STMIK AKAKOM YOGYAKARTA) Dini Fakta Sari Teknik Informatika STMIK AKAKOM Yogyakarta [email protected] Abstrak Tenaga

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pada tinjauan pustaka ini membahas tentang landasan teori yang medukung pembahasan yang berhubungan dengan sistem yang akan dibuat. 2.1 Data Mining Data mining adalah kegiatan menemukan

Lebih terperinci

Jaringan Syaraf Tiruan

Jaringan Syaraf Tiruan Jaringan Syaraf Tiruan (Artificial Neural Network) Intelligent Systems Pembahasan Jaringan McCulloch-Pitts Jaringan Hebb Perceptron Jaringan McCulloch-Pitts Model JST Pertama Diperkenalkan oleh McCulloch

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PERANCANGAN

BAB IV ANALISA DAN PERANCANGAN BAB IV ANALISA DAN PERANCANGAN 4.1 Analisa Analisa adalah suatupemahaman terhadap permasalahan sebelum mengambil suatu tindakan atau keputusan yang akan dilakukan. Disini akan dianalisa tentang sistem

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. Kerangka Pemikiran Perusahaan dalam era globalisasi pada saat ini, banyak tumbuh dan berkembang, baik dalam bidang perdagangan, jasa maupun industri manufaktur. Perusahaan

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Dalam pengerjaan perancangan dan pembuatan aplikasi pengenalan karakter alfanumerik JST algoritma Hopfield ini menggunakan software Borland Delphi 7.0. 3.1 Alur Proses Sistem

Lebih terperinci

KLASIFIKASI ARITMIA EKG MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DENGAN FUNGSI AKTIVASI ADAPTIF

KLASIFIKASI ARITMIA EKG MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DENGAN FUNGSI AKTIVASI ADAPTIF KLASIFIKASI ARITMIA EKG MENGGUNAKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DENGAN FUNGSI AKTIVASI ADAPTIF Asti Rahma Julian 1, Nanik Suciati 2, Darlis Herumurti 3 Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Informasi, ITS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Turban mendefinisikan Decision Support System sebagai sekumpulan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Turban mendefinisikan Decision Support System sebagai sekumpulan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Decision Support System Turban mendefinisikan Decision Support System sebagai sekumpulan prosedur berbasis model untuk data pemrosesan dan penilaian guna membantu para pengambilan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 21 Anatomi Ayam Pengetahuan tentang anatomi ayam sangat diperlukan dan penting dalam pencegahan dan penanganan penyakit Hal ini karena pengetahuan tersebut dipakai sebagai dasar

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Data Data adalah kumpulan kejadian yang diangkat dari suatu kenyataan (fakta),at berupa angka-angka, huruf, simbol-simbol, atau gabungan dari ketiganya. Dalam perkembangan selanjutnya,

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Tahapan pengembangan sistem PSP (Penetapan Strategi Penjualan) 1.0 seperti pada Gambar 2 di bawah ini. Mulai

METODE PENELITIAN. Tahapan pengembangan sistem PSP (Penetapan Strategi Penjualan) 1.0 seperti pada Gambar 2 di bawah ini. Mulai III. METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Kerja Penelitian Tahapan pengembangan sistem PSP (Penetapan Strategi Penjualan) 1.0 seperti pada Gambar 2 di bawah ini. Mulai Analisis Sistem, keluaran: - Deskripsi

Lebih terperinci

BAB 2 KONSEP DASAR PENGENAL OBJEK

BAB 2 KONSEP DASAR PENGENAL OBJEK BAB 2 KONSEP DASAR PENGENAL OBJEK 2.1 KONSEP DASAR Pada penelitian ini, penulis menggunakan beberapa teori yang dijadikan acuan untuk menyelesaikan penelitian. Berikut ini teori yang akan digunakan penulis

Lebih terperinci

BAB II NEURAL NETWORK (NN)

BAB II NEURAL NETWORK (NN) BAB II NEURAL NETWORK (NN) 2.1 Neural Network (NN) Secara umum Neural Network (NN) adalah jaringan dari sekelompok unit pemroses kecil yang dimodelkan berdasarkan jaringan syaraf manusia. NN ini merupakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Meyer & Kolbe (2005) dalam papernya yang berjudul Integration of

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Meyer & Kolbe (2005) dalam papernya yang berjudul Integration of BAB II TINJAUAN PUSTAKA Meyer & Kolbe (2005) dalam papernya yang berjudul Integration of customer relationship management: status quo and implications for research and practice mencoba meneliti berbagai

Lebih terperinci

MODEL PEMBELAJARAN JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK OTOMATISASI PENGEMUDIAN KENDARAAN BERODA TIGA

MODEL PEMBELAJARAN JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK OTOMATISASI PENGEMUDIAN KENDARAAN BERODA TIGA MODEL PEMBELAJARAN JARINGAN SYARAF TIRUAN UNTUK OTOMATISASI PENGEMUDIAN KENDARAAN BERODA TIGA Ramli e-mail:[email protected] Dosen Tetap Amik Harapan Medan ABSTRAK Jaringan Syaraf Tiruan adalah pemrosesan

Lebih terperinci

PERBANDINGAN ALGORITMA PARTICLE SWARM OPTIMIZATION DAN REGRESI PADA PERAMALAN WAKTU BEBAN PUNCAK

PERBANDINGAN ALGORITMA PARTICLE SWARM OPTIMIZATION DAN REGRESI PADA PERAMALAN WAKTU BEBAN PUNCAK Jurnal POROS TEKNIK, Volume 6, No. 2, Desember 2014 : 55-10 PERBANDINGAN ALGORITMA PARTICLE SWARM OPTIMIZATION DAN REGRESI PADA PERAMALAN WAKTU BEBAN PUNCAK Nurmahaludin (1) (1) Staff Pengajar Jurusan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengenalan Pola Pengenalan pola adalah suatu ilmu untuk mengklasifikasikan atau menggambarkan sesuatu berdasarkan pengukuran kuantitatif fitur (ciri) atau sifat utama dari suatu

Lebih terperinci

UCAPAN TERIMA KASIH. Perbandingan Metode SOM/Kohonen Dengan Adaptive Resonance Theory 2

UCAPAN TERIMA KASIH. Perbandingan Metode SOM/Kohonen Dengan Adaptive Resonance Theory 2 UCAPAN TERIMA KASIH Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan hidayah-nya penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul Perbandingan Metode SOM/Kohonen Dengan Adaptive

Lebih terperinci

Presentasi Tugas Akhir

Presentasi Tugas Akhir Presentasi Tugas Akhir Bagian terpenting dari CRM adalah memahami kebutuhan dari pelanggan terhadap suatu produk yang ditawarkan para pelaku bisnis. CRM membutuhkan sistem yang dapat memberikan suatu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menjawab segala permasalahan yang ada dalam penelitian ini.

BAB III METODE PENELITIAN. menjawab segala permasalahan yang ada dalam penelitian ini. BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini akan dijelaskan bahan yang digunakan dalam membantu menyelesaikan permasalahan, dan juga langkah-langkah yang dilakukan dalam menjawab segala permasalahan yang ada

Lebih terperinci

JARINGAN SYARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURAL NETWORKS)

JARINGAN SYARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURAL NETWORKS) JARINGAN SYARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURAL NETWORKS) (Artificial Neural Networks) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Sejarah JST JST : merupakan cabang dari Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence ) JST : meniru

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pada bab ini akan membahas landasan teori-teori yang bersifat ilmiah untuk mendukung penulisan skripsi ini. Teknik-teknik yang dibahas mengenai pengenalan pola, prapengolahan citra,

Lebih terperinci

lalu menghitung sinyal keluarannya menggunakan fungsi aktivasi,

lalu menghitung sinyal keluarannya menggunakan fungsi aktivasi, LAMPIRAN 15 Lampiran 1 Algoritme Jaringan Syaraf Tiruan Propagasi Balik Standar Langkah 0: Inisialisasi bobot (bobot awal dengan nilai random yang paling kecil). Langkah 1: Menentukan maksimum epoch, target

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang

Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Perkembangan industri, teknologi informasi dan komunikasi berdampak pada pasar dan persaingan lintas industri yang menjadi semakin dinamis. Pertumbuhan bisnis tergantung

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Jaringan Syaraf Tiruan Artificial Neural Network atau Jaringan Syaraf Tiruan (JST) adalah salah satu cabang dari Artificial Intelligence. JST merupakan suatu sistem pemrosesan

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Curah hujan merupakan faktor yang berpengaruh langsung terhadap perubahan cuaca yang semakin memburuk. Curah hujan merupakan total air hujan yang terjatuh pada permukaan

Lebih terperinci

JARINGAN SARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURAL NETWORK) ERWIEN TJIPTA WIJAYA, ST, M.KOM

JARINGAN SARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURAL NETWORK) ERWIEN TJIPTA WIJAYA, ST, M.KOM JARINGAN SARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURAL NETWORK) ERWIEN TJIPTA WIJAYA, ST, M.KOM INTRODUCTION Jaringan Saraf Tiruan atau JST adalah merupakan salah satu representasi tiruan dari otak manusia yang selalu

Lebih terperinci

TOLERANSI UNJUK PENGENALAN JARINGAN SYARAF TIRUAN PADA PENAMBAHAN DERAU DAN SUDUT PUTARAN TERHADAP POLA KARAKTER TULISAN TANGAN JENIS ANGKA

TOLERANSI UNJUK PENGENALAN JARINGAN SYARAF TIRUAN PADA PENAMBAHAN DERAU DAN SUDUT PUTARAN TERHADAP POLA KARAKTER TULISAN TANGAN JENIS ANGKA Iwan Suhardi, Toleransi Jaringan Syaraf Tiruan TOLERANSI UNJUK PENGENALAN JARINGAN SYARAF TIRUAN PADA PENAMBAHAN DERAU DAN SUDUT PUTARAN TERHADAP POLA KARAKTER TULISAN TANGAN JENIS ANGKA Iwan Suhardi Jurusan

Lebih terperinci

Penyelesaian Masalah Symmetric Traveling Salesman Problem Dengan Jaringan Saraf Continuous Hopfield Net

Penyelesaian Masalah Symmetric Traveling Salesman Problem Dengan Jaringan Saraf Continuous Hopfield Net Penyelesaian Masalah Symmetric Traveling Salesman Problem Dengan Jaringan Saraf Continuous Hopfield Net Apul Prima S, Sri Suwarno, R. Gunawan Santosa Fakultas Teknologi Informasi, Program Studi Teknik

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Jaringan Saraf Tiruan Jaringan saraf tiruan adalah paradigma pengolahan informasi yang terinspirasi oleh sistem saraf secara biologis, seperti proses informasi pada otak manusia.

Lebih terperinci

Implementasi Metode Clustering DBSCAN pada Proses Pengambilan Keputusan

Implementasi Metode Clustering DBSCAN pada Proses Pengambilan Keputusan Implementasi Metode Clustering DBSCAN pada Proses Pengambilan Keputusan Ni Made Anindya Santika Devi, I Ketut Gede Darma Putra, I Made Sukarsa Jurusan Teknologi Informasi, Universitas Udayana Bukit Jimbaran,

Lebih terperinci

Neural Network (NN) Keuntungan penggunaan Neural Network : , terdapat tiga jenis neural network Proses Pembelajaran pada Neural Network

Neural Network (NN) Keuntungan penggunaan Neural Network : , terdapat tiga jenis neural network Proses Pembelajaran pada Neural Network Neural Network (NN) adalah suatu prosesor yang melakukan pendistribusian secara besar-besaran, yang memiliki kecenderungan alami untuk menyimpan suatu pengenalan yang pernah dialaminya, dengan kata lain

Lebih terperinci

Segmentasi Nasabah Tabungan Menggunakan Model RFM (Recency, Frequency,Monetary) dan K-Means Pada Lembaga Keuangan Mikro

Segmentasi Nasabah Tabungan Menggunakan Model RFM (Recency, Frequency,Monetary) dan K-Means Pada Lembaga Keuangan Mikro Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi Terapan (SEMANTIK) 2015 463 Segmentasi Nasabah Tabungan Menggunakan Model RFM (Recency, Frequency,Monetary) dan K-Means Pada Lembaga Keuangan Mikro Tikaridha

Lebih terperinci

Bab 2 Tinjauan Pustaka

Bab 2 Tinjauan Pustaka Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Penelitian Terdahulu Adapun penelitian terdahulu yang berkaitan dalam penelitian ini berjudul Penentuan Wilayah Usaha Pertambangan Menggunakan Metode Fuzzy K-Mean Clustering

Lebih terperinci

Kata kunci: Cluster, Knowledge Discovery in Database, Algoritma K-Means,

Kata kunci: Cluster, Knowledge Discovery in Database, Algoritma K-Means, K- Pembentukan cluster dalam Knowledge Discovery in Database dengan Algoritma K-Means Oleh: Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY,email: [email protected] Abstrak Pembentukan cluster merupakan

Lebih terperinci

ARTIFICIAL NEURAL NETWORK TEKNIK PERAMALAN - A

ARTIFICIAL NEURAL NETWORK TEKNIK PERAMALAN - A ARTIFICIAL NEURAL NETWORK CAHYA YUNITA 5213100001 ALVISHA FARRASITA 5213100057 NOVIANTIANDINI 5213100075 TEKNIK PERAMALAN - A MATERI Neural Network Neural Network atau dalam bahasa Indonesia disebut Jaringan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak liberalisasi perbankan tahun 1988, persyaratan pembukaan bank dipermudah, bahkan setoran modal untuk mendirikan bank relatif dalam jumlah yang kecil. Kebijakan

Lebih terperinci

PEMILIHAN WARNA LIPSTIK BERDASARKAN INFORMASI USIA DAN WARNA KULIT DENGAN MENGGUNAKAN METODA ARTIFICIAL NEURAL NETWORK

PEMILIHAN WARNA LIPSTIK BERDASARKAN INFORMASI USIA DAN WARNA KULIT DENGAN MENGGUNAKAN METODA ARTIFICIAL NEURAL NETWORK PEMILIHAN WARNA LIPSTIK BERDASARKAN INFORMASI USIA DAN WARNA KULIT DENGAN MENGGUNAKAN METODA ARTIFICIAL NEURAL NETWORK Bilqis Amaliah 1, Amethis Oktaorora 2 1,2 Teknik Informatika, FTIf - ITS,Surabaya

Lebih terperinci

Abidah Elcholiqi, Beta Noranita, Indra Waspada

Abidah Elcholiqi, Beta Noranita, Indra Waspada Abidah Elcholiqi, Beta Noranita, Indra Waspada PENENTUAN BESAR PINJAMAN DI KOPERASI SIMPAN PINJAM DENGAN ALGORITMA K-NEAREST NEIGHBOR (Studi Kasus di Koperasi Simpan Pinjam BMT Bina Insani Pringapus) Abidah

Lebih terperinci

2.1. Dasar Teori Bandwidth Regression

2.1. Dasar Teori Bandwidth Regression 2.1. Dasar Teori 2.1.1. Bandwidth Bandwidth adalah ukuran kapasitas dari sistem transmisi (Comer, 2004) Bandwidth adalah konsep pengukuran yang sangat penting dalam jaringan, tetapi konsep ini memiliki

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Penambangan Data (Data Mining) Pengertian data mining, berdasarkan beberapa orang: 1. Data mining (penambangan data) adalah suatu proses untuk menemukan suatu pengetahuan atau

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Forecasting Forecasting (peramalan) adalah seni dan ilmu untuk memperkirakan kejadian di masa yang akan datang. Hal ini dapat dilakukan dengan melibatkan data historis dan memproyeksikannya

Lebih terperinci

Farah Zakiyah Rahmanti

Farah Zakiyah Rahmanti Farah Zakiyah Rahmanti Latar Belakang Struktur Dasar Jaringan Syaraf Manusia Konsep Dasar Permodelan JST Fungsi Aktivasi JST Contoh dan Program Jaringan Sederhana Metode Pelatihan Supervised Learning Unsupervised

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Artificial Neural Network Artificial neural network (ANN) / jaringan saraf tiruan adalah konsep yang merefleksikan cara kerja dari jaringan saraf biologi kedalam bentuk artificial

Lebih terperinci

SATIN Sains dan Teknologi Informasi

SATIN Sains dan Teknologi Informasi SATIN - Sains dan Teknologi Informasi, Vol. 2, No. 1, Juni 2015 SATIN Sains dan Teknologi Informasi journal homepage : http://jurnal.stmik-amik-riau.ac.id Jaringan Syaraf Tiruan untuk Memprediksi Prestasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat berdampak pada terjadinya penurunan substansial dalam biaya penyimpanan data, peningkatan pesat

Lebih terperinci

BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK AS A METHOD OF FORECASTING ON CALCULATION INFLATION RATE IN JAKARTA AND SURABAYA

BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK AS A METHOD OF FORECASTING ON CALCULATION INFLATION RATE IN JAKARTA AND SURABAYA BACKPROPAGATION NEURAL NETWORK AS A METHOD OF FORECASTING ON CALCULATION INFLATION RATE IN JAKARTA AND SURABAYA Anggi Purnama Undergraduate Program, Computer Science, 2007 Gunadarma Universiy http://www.gunadarma.ac.id

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Jaringan Syaraf Biologi Jaringan Syaraf Tiruan merupakan suatu representasi buatan dari otak manusia yang dibuat agar dapat mensimulasikan apa yang dipejalari melalui proses pembelajaran

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN ALAT BANTU PENENTU POLA DISTRIBUSI INPUT DENGAN MEMANFAATKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DENGAN MENGGUNAKAN PERSENTIL SEBAGAI PENCIRI

RANCANG BANGUN ALAT BANTU PENENTU POLA DISTRIBUSI INPUT DENGAN MEMANFAATKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DENGAN MENGGUNAKAN PERSENTIL SEBAGAI PENCIRI RANCANG BANGUN ALAT BANTU PENENTU POLA DISTRIBUSI INPUT DENGAN MEMANFAATKAN JARINGAN SYARAF TIRUAN DENGAN MENGGUNAKAN PERSENTIL SEBAGAI PENCIRI Aris Tjahyanto Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Teknologi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Pada tinjauan pustaka ini akan dibahas tentang konsep dasar dan teori-teori yang mendukung pembahasan yang berhubungan dengan sistem yang akan dibuat. 2.1 Basis Data (Database) Database

Lebih terperinci

2.2 Data Mining. Universitas Sumatera Utara

2.2 Data Mining. Universitas Sumatera Utara Basis data adalah kumpulan terintegrasi dari occurences file/table yang merupakan representasi data dari suatu model enterprise. Sistem basisdata sebenarnya tidak lain adalah sistem penyimpanan-record

Lebih terperinci

BACK PROPAGATION NETWORK (BPN)

BACK PROPAGATION NETWORK (BPN) BACK PROPAGATION NETWORK (BPN) Arsitektur Jaringan Digunakan untuk meminimalkan error pada output yang dihasilkan oleh jaringan. Menggunakan jaringan multilayer. Arsitektur Jaringan Proses belajar & Pengujian

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jaringan Syaraf Biologi Otak manusia memiliki struktur yang sangat kompleks dan memiliki kemampuan yang luar biasa. Otak terdiri dari neuron-neuron dan penghubung yang disebut

Lebih terperinci

Algoritma MAC Berbasis Jaringan Syaraf Tiruan

Algoritma MAC Berbasis Jaringan Syaraf Tiruan Algoritma MAC Berbasis Jaringan Syaraf Tiruan Paramita 1) 1) Program Studi Teknik Informatika STEI ITB, Bandung, email: if14040@studentsifitbacid Abstract MAC adalah fungsi hash satu arah yang menggunakan

Lebih terperinci

Penerapan Jaringan Saraf Tiruan Metode Backpropagation Menggunakan VB 6

Penerapan Jaringan Saraf Tiruan Metode Backpropagation Menggunakan VB 6 Penerapan Jaringan Saraf Tiruan Metode Backpropagation Menggunakan VB 6 Sari Indah Anatta Setiawan SofTech, Tangerang, Indonesia [email protected] Diterima 30 November 2011 Disetujui 14 Desember 2011

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Analisis Analisis adalah kemampuan pemecahan masalah subjek kedalam elemen-elemen konstituen, mencari hubungan-hubungan internal dan diantara elemen-elemen, serta mengatur

Lebih terperinci

ANALISA JARINGAN SARAF TIRUAN DENGAN METODE BACKPROPAGATION UNTUK MENGETAHUI LOYALITAS KARYAWAN

ANALISA JARINGAN SARAF TIRUAN DENGAN METODE BACKPROPAGATION UNTUK MENGETAHUI LOYALITAS KARYAWAN ANALISA JARINGAN SARAF TIRUAN DENGAN METODE BACKPROPAGATION UNTUK MENGETAHUI LOYALITAS KARYAWAN Jasmir, S.Kom, M.Kom Dosen tetap STIKOM Dinamika Bangsa Jambi Abstrak Karyawan atau tenaga kerja adalah bagian

Lebih terperinci

Materi 1 DATA MINING 3 SKS Semester 6 S1 Sistem Informasi UNIKOM 2015 Nizar Rabbi Radliya

Materi 1 DATA MINING 3 SKS Semester 6 S1 Sistem Informasi UNIKOM 2015 Nizar Rabbi Radliya Materi 1 DATA MINING 3 SKS Semester 6 S1 Sistem Informasi UNIKOM 2015 Nizar Rabbi Radliya [email protected] Nama Mahasiswa NIM Kelas 1. Memahami cakupan materi dan sistem perkuliahan Data Mining.

Lebih terperinci

PENCARIAN ATURAN ASOSIASI MENGGUNAKAN ALGORITMA APRIORI SEBAGAI BAHAN REKOMENDASI STRATEGI PEMASARAN PADA TOKO ACIICA

PENCARIAN ATURAN ASOSIASI MENGGUNAKAN ALGORITMA APRIORI SEBAGAI BAHAN REKOMENDASI STRATEGI PEMASARAN PADA TOKO ACIICA PENCARIAN ATURAN ASOSIASI MENGGUNAKAN ALGORITMA APRIORI SEBAGAI BAHAN REKOMENDASI STRATEGI PEMASARAN PADA TOKO ACIICA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Komputer

Lebih terperinci