Realisasi 2007 Proyeksi 2008 Februari 2008
|
|
|
- Widyawati Salim
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 LAPORAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA Realisasi 27 Proyeksi 28 Februari 28
2 LAPORAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA REALISASI 27 PROYEKSI 28
3 HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN 2 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
4 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL dan GRAFIK RINGKASAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN NPI 27 1 TRANSAKSI BERJALAN 3 1. Neraca Perdagangan Nonmigas Ekspor Nonmigas Impor Nonmigas Neraca Perdagangan Migas Minyak Gas 3 3. Neraca Jasa Neraca Pendapatan Transfer Berjalan 36 TRANSAKSI MODAL dan FINANSIAL Transaksi Modal Transaksi Finansial Sektor Publik Sektor Swasta 52 CADANGAN DEVISA 61 INDIKATOR SUSTAINABILITAS EKSTERNAL 63 PROYEKSI NPI 28 DAN ASUMSI YANG MELATARBELAKANGINYA 65 BOKS : Dampak Krisis Subprime Mortgage terhadap Investasi Portofolio 46 LAMPIRAN Realisasi 27 dan Proyeksi 28 3
5 TABEL halaman Tabel 1. Indikator Utama NPI 26 dan Tabel 2. Negara Utama Tujuan Ekspor Menurut Jenis Komoditas Tahun 27,... 5 Berdasarkan SITC 2 Digit Tabel 3. Ekspor Karet Berdasarkan Negara Tujuan... 6 Tabel 4. Produksi dan Konsumsi Karet Dunia... 7 Tabel 5. Nilai Ekspor Udang Berdasarkan Negara Tujuan... 8 Tabel 6. Nilai Ekspor Batubara Berdasarkan Negara Tujuan Tabel 7. Nilai Ekspor Tembaga Berdasarkan Negara Tujuan Tabel 8. Nilai Ekspor Nikel Berdasarkan Negara Tujuan Tabel 9. Nilai Ekspor CPO Berdasarkan Negara Tujuan Tabel 1. Produksi CPO Indonesia Tabel 11. Nilai Ekspor TPT Berdasarkan Negara Tujuan Tabel 12. Nilai Ekspor Alat Listrik dan Elektronik Berdasarkan Negara Tujuan Tabel 13. Nilai Ekspor Mesin dan Mekanik Berdasarkan Negara Tujuan Tabel 14. Nilai Ekspor Produk Kimia Berdasarkan Negara Tujuan Tabel 15. Negara Utama Asal Barang Impor Menurut Jenis Komoditas, SITC 2 Digit Tabel 16. Nilai Impor Barang Konsumsi Berdasarkan Negara Asal Tabel 17. Nilai Impor Bahan Baku Berdasarkan Negara Asal Tabel 18. Nilai Impor Barang Modal Berdasarkan Negara Asal Tabel 19. Perkembangan Ekspor dan Impor Minyak Tabel 2. Demand dan Supply Dunia Tabel 21. Produsen Utama Minyak Nasional Tahun Tabel 22. Ekspor LNG, LPG dan Natural Gas... 3 Tabel 23. Produsen Utama Gas Nasional Tahun Tabel 24. Perkembangan Hibah Non Investasi Tabel 25. Perkembangan Hibah Investasi Tabel 26. Perkembangan Aliran Masuk di Transaksi Finansial Tabel 27. Sovereign Rating Indonesia Tabel 28. Perkembangan Realisasi PMA Sektoral Tabel 29. Perkembangan PER Tabel 3. Indikator Sustainabilitas Eksternal Tabel 31. Asumsi NPI GRAFIK halaman Grafik 1. Transaksi Berjalan... 3 Grafik 2. Neraca Perdagangan Nonmigas... 4 Grafik 3. Nilai Ekspor Nonmigas... 4 Grafik 4. Pangsa Ekspor Nonmigas Berdasarkan Negara Tujuan... 5 Grafik 5. Nilai Ekspor Pertanian... 6 Grafik 6. Volume Ekspor Karet Berdasarkan Negara Tujuan... 6 Grafik 7. Harga Karet Dunia... 7 Grafik 8. Volume Ekspor Udang Berdasarkan Negara Tujuan... 9 Grafik 9. Harga Udang Dunia... 9 Grafik 1. Nilai Ekspor Pertambangan... 1 Grafik 11. Harga Batubara Dunia Grafik 12. Produksi Batubara Indonesia Grafik 13. Volume Ekspor Batubara Berdasarkan Negara Tujuan Grafik 14. Harga Tembaga Dunia Grafik 15. Produksi Tembaga Indonesia Grafik 16. Volume Ekspor Tembaga Berdasarkan Negara Tujuan Realisasi 27 dan Proyeksi 28
6 Grafik 17. Harga Nikel Dunia Grafik 18. Volume Ekspor Nikel Berdasarkan Negara Tujuan Grafik 19. Nilai Ekspor Industri Grafik 2. Nilai Ekspor CPO Grafik 21. Harga CPO Dunia Grafik 22. Volume Ekspor CPO Berdasarkan Negara Tujuan Grafik 23. Nilai Ekspor TPT Grafik 24. Volume Ekspor TPT Berdasarkan Negara Tujuan Grafik 25. Nilai Ekspor Alat Listrik dan Elektronik... 2 Grafik 26. Volume Ekspor Alat Listrik dan Elektronik Berdasarkan Negara Tujuan Grafik 27. Nilai Ekspor Mesin dan Peralatan Mekanik Grafik 28. Volume Ekspor Mesin dan Peralatan Mekanik ke Negara Tujuan Utama Grafik 29. Nilai Ekspor Produk Kimia Grafik 3. Volume Ekspor Produk Kimia ke Negara Tujuan Utama Grafik 31. Nilai Impor Barang Konsumsi, Bahan Baku dan Barang Modal Grafik 32. Pangsa Impor Nonmigas dari Negara Asal Grafik 33. Perkembangan Harga Minyak Dunia Grafik 34. Produksi Minyak Mentah, Konsumsi dan Impor BBM Grafik 35. Neraca Jasa, Pendapatan dan Current Transfer Grafik 36. Jasa Transportasi dan Pariwisata Grafik 37. Perkembangan Jasa Travel Grafik 38. Perkembangan Workers Remittances - TKI Grafik 39. Perkembangan Transaksi Modal dan Finansial Per Jenis Investasi Grafik 4. Perkembangan Transaksi Modal dan Finansial Per Sektor Grafik 41. Perbandingan Transaksi Finansial Sektor Publik Grafik 42. Perbandingan Yield Global Bond Indonesia dengan US T-Note Grafik 43. Yield Spread Global Bond Indonesia dengan US T-Note dan Nilai Tukar Grafik 44. Yield Spread Investasi Finansial Beberapa Negara di Kawasan Regional Grafik 45. Perkembangan Portofolio Investment Grafik 46. SBI Rate dan Fed Rate Grafik 47. Perkembangan Penarikan Pinjaman Pemerintah Grafik 48. Perkembangan Penarikan dan Pembayaran Pinjaman Pemerintah Grafik 49. Perkembangan Penarikan Pinjaman Program Grafik 5. Perkembangan Posisi Pinjaman Program... 5 Grafik 51. Perkembangan Penarikan Pinjaman Proyek... 5 Grafik 52. Perkembangan Posisi Pinjaman Proyek Grafik 53. Perkembangan Pinjaman per Negara Grafik 54. Perkembangan Posisi Pinjaman Menurut Jenis Valuta Grafik 55. Perkembangan Posisi Utang Luar Negeri Pemerintah Grafik 56. Perkembangan Transaksi Finansial Sektor Swasta Grafik 57. Perkembangan Direct Investment di Indonesia Grafik 58. Arus Masuk FDI Migas Grafik 59. Arus Masuk FDI Nonmigas Grafik 6. Penyertaan Modal Grafik 61. Perkembangan Realisasi PMA di BKPM Grafik 62. Perkembangan Transaksi Asing di BEJ dan IHSG Grafik 63. Perkembangan PER Saham Grafik 64. Perkembangan Surat Berharga Hutang Swasta (Neto) Grafik 65. Perkembangan Penarikan Pinjaman Swasta Grafik 66. Perkembangan Nostro Bank Berdasarkan Jenis Transaksi Grafik 67. Perkembangan Sumber dan Penggunaan Vostro (Gross)... 6 Grafik 68. Cadangan Devisa dan Bulan Impor Realisasi 27 dan Proyeksi 28 5
7 HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN 6 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
8 Ringkasan Pada 27 NPI mengalami surplus yang cukup besar (USD12,5 miliar), namun lebih rendah dari 26 (USD14,5 miliar). Penurunan surplus NPI tersebut terkait dengan surplus transaksi modal dan keuangan yang sedikit lebih rendah (USD2,8 miliar) dari 26 (USD2,9 miliar). Dari sisi liabilities, kinerja transaksi modal dan keuangan sebenarnya lebih baik dari tahun sebelumnya seperti tercermin pada kenaikan arus masuk modal asing dalam jumlah yang signifikan, baik berupa PMA, modal portofolio, maupun penarikan ULN swasta. Peningkatan arus masuk modal asing tersebut sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi domestik, membaiknya iklim investasi, yield yang menarik, dan kestabilan makroekonomi yang terjaga. Namun, dari sisi lain terjadi kenaikan penempatan aset di luar negeri oleh swasta domestik dalam jumlah yang juga signifikan, baik berupa investasi langsung maupun pembelian surat berharga. Hal ini adalah implikasi dari meningkatnya minat investor domestik untuk melakukan ekspansi usaha di luar negeri dan meningkatnya surplus transaksi berjalan, yaitu dari USD1,8 miliar pada 26 menjadi USD11, miliar pada 27. Kenaikan surplus transaksi berjalan didukung oleh kenaikan ekspor nonmigas yang--kendati tumbuh melambat seiring menurunnya pertumbuhan ekonomi dunia--masih dapat mengimbangi kenaikan impor nonmigas yang mengalami akselerasi seiring meningkatnya pertumbuhan ekonomi di dalam negeri. Sementara itu, kenaikan harga minyak belum mampu meningkatkan sumbangan sektor migas terhadap surplus transaksi berjalan karena selama 27 terjadi penurunan produksi minyak dan gas disertai kenaikan volume impor minyak untuk konsumsi BBM domestik. Pada 28 NPI diperkirakan mampu mencapai surplus yang cukup tinggi (USD11,3 miliar), meski menurun dibandingkan 27 (USD12,5 miliar) dan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya (USD15,6 miliar). Transaksi berjalan diperkirakan surplus sekitar USD1,1 miliar, sedikit lebih rendah dari tahun sebelumnya akibat pertumbuhan ekspor nonmigas yang kembali menurun mengikuti prospek ekonomi global yang melambat. Penurunan surplus yang lebih tajam diperkirakan dapat dihindari karena ditopang oleh kenaikan harga minyak dan penurunan laju pertumbuhan impor nonmigas. Akselerasi pertumbuhan impor nonmigas diproyeksikan agak tertahan pada 28 seiring tertahannya akselerasi pertumbuhan ekonomi domestik. Transaksi modal dan keuangan diperkirakan surplus sekitar USD1,2 miliar, juga lebih rendah dari tahun sebelumnya. Penurunan surplus tersebut disebabkan oleh menurunnya arus masuk modal portofolio serta meningkatnya minat dan kemampuan investor domestik untuk menempatkan asetnya di luar negeri, khususnya dalam bentuk surat berharga dan simpanan bank, seiring surplus transaksi berjalan yang masih tinggi. Modal portofolio diperkirakan mulai masuk kembali setelah sempat keluar pada triwulan IV 27 tetapi jumlahnya tidak sebesar 27 karena kondisi pasar keuangan global yang belum sepenuhnya pulih dari dampak krisis subprime mortgage. Sementara itu, iklim investasi diharapkan terus membaik sehingga dapat memperbaiki komposisi arus masuk modal ke arah yang lebih berjangka panjang sebagaimana tercermin pada perkiraan meningkatnya PMA dan penarikan ULN swasta. Sebagai cerminan dari surplus NPI, cadangan devisa dapat meningkat menjadi sekitar USD68,2 miliar pada akhir 28 (setara 6,2 bulan impor dan pembayaran ULN pemerintah). Realisasi 27 dan Proyeksi 28 7
9
10 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN NPI 27 Pertumbuhan ekonomi dunia masih cukup tinggi meskipun mengalami perlambatan Harga komoditas ekspor nonmigas masih cenderung meningkat Rata-rata harga minyak mentah Indonesia lebih tinggi dari tahun sebelumnya Pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi dri perkiraan Laju inflasi relatif konstan Produksi minyak sedikit lebih tinggi dari tahun sebelumnya Pertumbuhan ekonomi dunia pada 27 relatif masih cukup tinggi mencapai 5,2%. Pelemahan ekonomi terjadi khususnya di negara maju akibat dampak krisis subprime mortgage pada paruh kedua sehingga pertumbuhan ekonomi dunia relatif lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya (5,4%). Meskipun mengalami pelambatan, pertumbuhan ekonomi di beberapa negara emerging market, khususnya China pada 27 masih cukup kuat sehingga dapat menahan pelemahan ekonomi di negara maju. Harga-harga komoditas ekspor nonmigas (seperti CPO, karet, batubara, dan tembaga) di pasar dunia masih cenderung meningkat, didorong oleh masih kuatnya permintaan terkait dengan pertumbuhan ekonomi China dan India serta terbatasnya kenaikan pasokan. Harga CPO maupun batubara cenderung mengikuti tren harga minyak dunia yang terus meningkat mengingat pesatnya penggunaan kedua komoditas tersebut sebagai sumber energi alternatif. Harga rata-rata ekspor minyak mentah Indonesia mulai meningkat sejak awal tahun 27 dan mencapai rata-rata sebesar USD7,1 per barel selama tahun 27, lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar USD62,5 per barel. Beberapa faktor pendorong tingginya harga minyak pada 27, antara lain: ketatnya suplai minyak dunia, menurunnya cadangan minyak AS, masih berlanjutnya ketegangan di beberapa negara produsen minyak seperti Iran dan Nigeria, dan meningkatnya cadangan minyak untuk tujuan non komersial. Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat pada 27 hingga mencapai 6,3%, lebih tinggi dari tahun sebelumnya (5,5%). Ekspansi pertumbuhan ekonomi yang tinggi ini didukung oleh pertumbuhan konsumsi sektor rumah tangga 5,% (pangsa 63,5%), investasi 9,2% (pangsa 24,9%), dan tingginya kinerja ekspor 8,% (pangsa 29,4%). Laju inflasi pada 27 relatif konstan pada 6,59% dibanding tahun sebelumnya (6,6%), meskipun terdapat kenaikan tekanan inflasi terkait naiknya harga minyak yang berdampak pada kenaikan barang impor (imported inflation). Selama 27 nilai tukar bergerak relatif stabil pada kisaran Rp9.14 per USD. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga BI Rate menjadi 8,% pada akhir tahun 27. Produksi minyak pada 27 mencapai,952 juta barel per hari (bph), lebih rendah daripada tahun sebelumnya (1,5 juta bph). Rendahnya produksi minyak tersebut selain disebabkan oleh masalah natural declining juga dipengaruhi oleh eksplorasi lapangan baru yang masih belum berproduksi pada 27. Realisasi 27 dan Proyeksi 28 1
11 Volume konsumsi BBM cenderung meningkat Konsumsi BBM pada 27 tumbuh 1,6% mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yang justru mengalami penurunan (-6,8%). Peningkatan konsumsi BBM sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi, khususnya untuk sektor transportasi dan listrik serta lambatnya proses konversi energi minyak tanah dengan LPG. Tabel 1 Indikator Utama NPI 26 dan INDIKATOR EKONOMI DUNIA Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Pertumbuhan Ekonomi (%) World Output Amerika Serikat Jepang Uni Eropa Singapore China Harga Komoditi Dunia - Minyak Mentah OPEC (USD/barel) Batu bara (USD/metric ton) Tembaga (USD/metric ton) 7,67 5,933 7,641 7,712 7,188 7,119 - CPO (USD/ton) Karet (cent USD/kg) , Suku Bunga Internasional (%) - Amerika Serikat Jepang Uni Eropa Singapore China Inflasi (%) - Amerika Serikat Jepang Uni Eropa Singapore China INDIKATOR EKONOMI DOMESTIK PDB (y.o.y, %) Inflasi IHK (%) Nilai tukar (Rp/USD) 9,25 9,13 8,968 9,25 9,137 9,14 Harga rata-rata ekspor minyak mentah (US$/bbl) Produksi Minyak (juta barel per hari) Konsumsi BBM (juta barel per kuartal) BI Rate (%) Sumber : BI, WEO dan The Economist 2 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
12 TRANSAKSI BERJALAN Transaksi berjalan 27 mencatat surplus yang lebih tinggi daripada tahun sebelumnya Transaksi berjalan pada 27 mencatat surplus sebesar USD11, miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD1,8 miliar. Perkembangan tersebut terutama didorong oleh ekspor barang khususnya nonmigas yang tumbuh lebih tinggi dibanding impor nonmigas meskipun relatif lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan pertumbuhan impor mengalami peningkatan cukup signifikan sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dalam negeri. juta USD 9, Grafik 1 Transaksi Berjalan 7, 5, 3, 1, -1, -3, -5, -7, Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * Services Income Trade Balance Current Trans. Current Account Defisit neraca jasa dan neraca pendapatan mengalami kenaikan, sedangkan surplus transfer berjalan relatif sama dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, neraca jasa dan neraca pendapatan pada 27 mengalami kenaikan defisit masing-masing menjadi sebesar USD11,1 miliar dan USD15,9 miliar dari tahun sebelumnya (USD9,9 miliar dan USD13,8 miliar). Defisit pada neraca jasa terutama disumbangkan dari jasa tranportasi dan jasa lainnya. Sedangkan defisit neraca pendapatan meningkat terutama akibat bertambahnya repatriasi keuntungan perusahaan yang melakukan penanaman modal asing di Indonesia. Adapun transfer berjalan pada 27 masih mengalami surplus sebesar USD4,9 miliar, relatif sama dibandingkan tahun sebelumnya terutama disumbangkan dari pengiriman gaji TKI kepada keluarganya di tanah air (WR-TKI). 1. Neraca Perdagangan Nonmigas Surplus Neraca Perdagangan Nonmigas 27 meningkat dibanding tahun sebelumnya Neraca perdagangan nonmigas tahun 27 mengalami surplus sebesar USD27, miliar, lebih tinggi dari USD22,9 miliar pada tahun sebelumnya. Peningkatan surplus tersebut disebabkan oleh peningkatan nilai ekspor nonmigas (15,6%) yang tumbuh lebih tinggi dari nilai impor nonmigas (14,5%). Surplus neraca perdagangan non migas terutama terjadi pada Tw. IV-27 sejalan dgn meningkatnya ekspor pada triwulan tsb. Realisasi 27 dan Proyeksi 28 3
13 Grafik 2 Neraca Perdagangan Nonmigas juta USD 28, 25,5 23, 2,5 18, 15,5 13, 1,5 8, 5,5 3, 5 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * Ekspor Impor Neraca Perdagangan Nonmigas 1.1. Ekspor Nonmigas Ekspor nonmigas 27 tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya Total nilai ekspor nonmigas 27 sebesar USD93,1 milyar, tumbuh 15,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penyumbang utama pertumbuhan tersebut adalah meningkatnya ekspor pada sektor pertambangan yang tumbuh 17,2% (pangsa 23,2% terhadap total ekspor nonmigas), diikuti oleh sektor industri dan pertanian masing-masing tumbuh 15,2% (pangsa 63,2%) dan 14,7% (pangsa 12,6%). Pertumbuhan ekspor nonmigas Indonesia tahun 27 tersebut relatif melambat dibandingkan tahun sebelumnya (2,7%). Perlambatan pertumbuhan ekspor tersebut sejalan dengan melambatnya volume perdagangan dunia serta kenaikan harga komoditas yang tidak setinggi tahun sebelumnya. Grafik 3 Nilai Ekspor Nonmigas Juta USD 16, 14, 12, Pertanian Pertambangan Industri 1, 8, 6, 4, 2, Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * Separuh dari total ekspor nonmigas ditujukan ke lima negara Selama tahun 27, ekspor nonmigas Indonesia ditujukan pada lima negara utama, yaitu Jepang dengan pangsa 14,35%, lalu Amerika Serikat (pangsa 12%), negara-negara Uni Eropa (1,9%), Singapura (9,6%) dan China (7,3%). Kenaikan terbesar terjadi pada ekspor ke negara China dan Singapura yang mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 21,1% dan 12,7% dibanding tahun sebelumnya. 4 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
14 Grafik 4 Pangsa Ekspor Nonmigas Berdasarkan Negara Tujuan (%) 2 18 Sg Jpn RRC USA India - Malaysia Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q Variasi komoditas ekspor ke lima negara tujuan utama cukup beragam Komoditas utama yang diekspor ke Jepang selama tahun 27 antara lain biji logam & sisa logam serta batubara, sedangkan ekspor ke Amerika Serikat terutama berupa pakaian dan karet mentah. Ekspor ke negara-negara Uni Eropa didominasi oleh komoditas minyak sayur & lemak serta pakaian. Adapun komoditas utama ekspor ke negara Singapura adalah peralatan listrik dan mesin kantor & pengolah data. Sementara ekspor ke China terdiri dari komoditas minyak sayur & lemak serta biji logam & sisa logam. Tabel 2 Negara Utama Tujuan Ekspor Menurut Jenis Komoditas Tahun 27 Berdasarkan SITC 2 Digit (% pangsa thd total ekspor non migas) Jepang Amerika Serikat Uni Eropa Singapura China Komoditi Share Komoditi Share Komoditi Share Komoditi Share Komoditi Share Biji logam & sisa logam 4.22 Pakaian 3.84 Minyak sayur & lemak 1.57 Mesin listrik & peralatan 1.35 Minyak sayur & lemak 1.33 Batubara, krokas & briket 1.4 Karet mentah 1.29 Pakaian 1.35 Mesin kantor & pengolah 1.5 Biji logam & sisa logam.82 data Logam tidak mengandung 1.23 Ikan & udang.81 Alas kaki.74 Logam tidak mengandung.98 Karet mentah.78 besi besi Mesin listrik & peralatan.93 Barang-barang.62 Furniture.65 Alat telekomunikasi.64 Kimia organik.59 manufaktur Nilai Ekspor Pertanian meningkat terutama karena kenaikan harga Nilai ekspor karet meningkat karena naiknya harga dan volume Nilai ekspor produk pertanian selama tahun 27 mencapai USD11,7 miliar atau tumbuh sebesar 14,7% dari tahun sebelumnya. Naiknya ekspor pertanian pada periode tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan ekspor karet. Kenaikan nilai ekspor produk pertanian tersebut lebih banyak didorong oleh tingginya harga komoditas primer di pasar dunia. Secara volume, ekspor produk pertanian pada 27 hanya tumbuh sekitar,2%. Ekspor karet pada tahun 27 mencapai USD4,9 miliar (pangsa 5,2% dari total ekspor non migas) atau tumbuh positif sebesar 14,1% dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekspor karet tersebut terutama terjadi pada Tw. IV-27 yang mencapai USD1,3 miliar atau tumbuh 43,2%. Pertumbuhan ekspor karet juga terjadi pada sisi volume meskipun tidak sebesar pertumbuhan nilainya. Selama tahun 27, volume ekspor karet mencapai 2,4 juta ton atau tumbuh 5%. Kenaikan volume ekspor Realisasi 27 dan Proyeksi 28 5
15 terutama terjadi pada Tw. IV-27 yang mencapai 586 ribu ton atau tumbuh 2,8%. Peningkatan nilai ekspor karet tersebut disebabkan oleh tingginya harga karet dunia seiring dengan kenaikan harga minyak pada Tw. IV-27. Tingginya harga karet tersebut mampu direspon oleh peningkatan produksi karet pada tahun 27 yang meningkat sebesar 5%. Grafik 5 Nilai Ekspor Pertanian Juta USD 1,6 1,4 1,2 1, Karet Udang Kopi Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1* Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q Amerika, Jepang dan China merupakan negara tujuan utama ekspor karet Volume ekspor karet yang mengalami peningkatan pada tahun 27 terutama berasal dari ekspor ke negara Singapura yang tumbuh sekitar 18,3% (y.o.y), kemudian diikuti ekspor ke negara Jepang naik sebesar 16,6%, sedangkan ekspor karet ke China hanya meningkat sebesar 2,5%. Negara tujuan utama ekspor karet pada tahun 27 adalah Amerika Serikat (pangsa 24,6%), Jepang (16,5%) dan China (14,9%). Grafik 6 Volume Ekspor Karet berdasarkan Negara Tujuan ribu ton 2 18 USA JAPAN CHINA Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q Tabel 3 Ekspor Karet berdasarkan Negara Tujuan (juta USD) Negara Tujuan Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%) Amerika Serikat Jepang China Uni Eropa Singapura Lainnya Total Realisasi 27 dan Proyeksi 28
16 Harga karet dunia terus meningkat Harga karet alam pada tahun 27 mencapai rata-rata USD248 cent/kg, dengan tingkat harga paling tinggi terjadi pada Tw. IV-27 yang mencapai rata-rata USD265 cent/kg. Kenaikan harga minyak dunia mengakibatkan pengolahan karet sintetik berbahan baku minyak bumi menjadi tidak kompetitif sehingga banyak pabrik pengolahan karet berganti pada karet alam akibatnya konsumsi karet alam meningkat dan harganya ikut naik. Selain itu, naiknya harga karet juga didorong oleh kondisi cuaca yang tidak menentu yang menyebabkan produksi karet alam Indonesia terganggu sehingga pasokan ke pasar internasional menjadi terbatas. Grafik 7 Harga Karet Dunia US Cent/kg Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Sumber: World Bank Produksi karet Indonesia menghadapi kendala Sepanjang tahun 27, International Rubber Study Group (IRSG), lembaga studi karet internasional, mencatat produksi karet dunia mencapai 9,7 juta ton naik sedikit dari tahun 26 sebesar 9,68 juta ton. Indonesia adalah salah satu produsen karet alam dunia tetapi lahan perkebunannya saat ini mengalami penurunan. Selama kurun waktu , areal perkebunan karet di Indonesia meningkat sekitar 1,2% per tahun. Namun selanjutnya areal perkebunan tersebut mengalami penurunan dari sekitar 4,3 juta hektar pada tahun 25 menjadi 3,3 juta hektar pada tahun 27. Tabel 4 Produksi dan Konsumsi Karet Dunia (ribu ton) Produksi Konsumsi Tahun Karet Karet Karet Karet Total Alam Synthetic Alam Synthetic Total ,44 9,76 16,2 6,11 9,59 15, ,47 1,8 16,55 6,47 1,1 16, ,85 9,88 16,73 6,57 9,87 16, ,872 1,335 17,27 6,645 1,195 16,84 2 6,739 1,819 17,558 7,315 1,764 18, ,261 1,485 17,746 7,223 1,253 17, ,345 1,882 18,227 7,545 1,723 18, ,992 11,448 19,44 7,967 11,381 19, ,645 11,978 2,623 8,319 11,86 2, ,682 11,965 2,647 8,742 11,917 2, ,192 12,527 21,719 9,74 12,245 21, ,762 13,14 22,866 9,419 13,244 22,663 Sumber: International Rubber Study Group Realisasi 27 dan Proyeksi 28 7
17 Program revitalisasi perkebunan untuk karet Ekspor udang mengalami pertumbuhan negatif Dalam rangka mengatasi rendahnya produktivitas perkebunan karet, pemerintah menetapkan program revitalisasi perkebunan, termasuk di dalamnya untuk tanaman karet. Program peremajaan ini akan dilaksanakan hingga tahun 21, meliputi perluasan lahan karet sebesar 5. hektar dan peremajaan tanaman karet sebesar 25. hektar. Komoditas utama sektor pertanian lainnya, yaitu udang mengalami penurunan nilai ekspor pada tahun 27. Nilai ekspor udang hanya sebesar USD79 juta (pangsa,8%), tumbuh negatif sekitar 14,6%. Pertumbuhan negatif terutama terjadi pada Tw. I-27 sekitar 2,7% atau mencapai USD178 juta. Penurunan nilai ekspor udang disebabkan oleh menurunnya ekspor ke negara-negara tujuan utama, seperti Jepang (tumbuh negatif 24,63%), USA (-5,89%), negara-negara Uni Eropa (-12,81%) dan China (-48,84%) akibat adanya penolakan udang Indonesia oleh Uni Eropa dan Jepang karena mengandung unsur antibiotik. Tabel 5 Nilai Ekspor Udang Berdasarkan Negara Tujuan (juta USD) Negara Tujuan Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%) Jepang Amerika Serikat Uni Eropa Hongkong China Lainnya Total Volume ekspor udang mengalami penurunan Penurunan nilai ekspor udang tersebut berasal dari volume ekspor udang yang hanya mencapai 111 ribu ton atau turun 15,1% pada tahun 27. Volume ekspor udang yang mengalami penurunan terutama berasal dari ekspor ke negara China dan Jepang yang turun masing-masing sebesar 43,9% (y.o.y) dan 26,9%, sedangkan ekspor ke negara Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa dan Hongkong turun sebesar 7,6%, 12,4% dan 1,1%. Penurunan volume tersebut terkait dengan kinerja produksi sektor budidaya udang yang masih rendah. Hingga awal Tw. IV-27, produksi udang berkisar 22 ribu ton, jauh di bawah target produksi tahun 27 sebesar 41 ribu ton. 8 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
18 Grafik 8 Volume Ekspor Udang berdasarkan Negara Tujuan 14 ribu ton USA JAPAN Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q Harga udang di pasar dunia terus meningkat selama 27 Pada tahun 27, rata-rata harga udang di pasar internasional mencapai USD1.1 cent/kg. Harga udang terus meningkat dengan tingkat harga tertinggi pada Tw. IV-27 yang mencapai USD1.45 cent/kg. Harga ini relatif stabil karena harga udang tidak dipengaruhi oleh harga minyak dunia di mana pengeluaran industri udang untuk BBM hanya sekitar 15-2%. Grafik 9 Harga Udang Dunia US Cent/kg 1,1 1,6 1, Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Sumber: World Bank Nilai ekspor pertambangan didorong oleh faktor harga Ekspor sektor pertambangan pada tahun 27 sebesar USD21,6 miliar atau tumbuh 17,2% dengan pangsa 23,2%. Pertumbuhan nilai ekspor pertambangan ini didukung oleh ekspor nikel (tumbuh 76,8%), batubara (12,8%) dan tembaga (11,4%). Tingginya harga komoditas tambang dunia telah menjadi faktor pendorong meningkatnya ekspor sektor pertambangan. Kenaikan nilai ekspor sektor pertambangan terutama terjadi pada Tw.I-27 yang mencapai USD5,4 miliar atau meningkat 5,6%. Peningkatan tersebut terutama berasal dari ekspor nikel (tumbuh 259,9%), tembaga (51,3%) dan batubara (tumbuh 39,4%). Kenaikan ekspor pada periode tersebut didorong oleh meningkatnya volume ekspor dan kenaikan harga. Namun demikian, ekspor pada Tw. IV-27 menurun sebesar 15,4% atau sebesar USD4,8 miliar. Penurunan pada Tw. IV-27 tersebut terutama berasal dari ekspor timah (tumbuh negatif 63,1%), tembaga (-31%), dan nikel (-21,2%), sedangkan ekspor batubara meningkat 8,1%. Realisasi 27 dan Proyeksi 28 9
19 Volume ekspor pertambangan mengalami kenaikan Dari sisi volume, ekspor pertambangan pada tahun 27 juga mengalami kenaikan sebesar 7,8% atau mencapai 245 juta ton. Kenaikan volume ekspor pertambangan tersebut terjadi pada komoditas nikel (tumbuh 13,7%), aluminium (65,5%) dan batubara (7,9%). Volume ekspor pertambangan meningkat terutama pada Tw. I-27 sebesar 64,6 juta ton (tumbuh 37,%). Kenaikan volume ekspor tersebut terutama berasal dari komoditi nikel (tumbuh 247,1%), tembaga (31,%) dan batubara (41,9%). Sedangkan volume ekspor pertambangan pada Tw. IV-27 tumbuh negatif 1,3% atau mencapai 6,8 juta ton. Pada Tw. IV-27 hanya komoditas nikel dan aluminium yang tumbuh positif sedangkan komoditas lainnya seperti timah, tembaga dan batubara tumbuh negatif. Grafik 1 Nilai Ekspor Pertambangan Juta USD 2,4 2, Tembaga Batu bara Nickel 1,6 1,2 8 4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1* Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q Pertumbuhan ekspor batubara didorong oleh kenaikan harga Harga batubara naik dibandingkan tahun sebelumnya Nilai ekspor batubara pada tahun 27 mencapai USD7, miliar (pangsa 7,5%) atau tumbuh 12,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan yang cukup tinggi ini didorong oleh harga batubara dunia yang terus meningkat dan permintaan yang cukup tinggi dari negara-negara utama importir batubara. Kenaikan nilai ekspor batubara terutama terjadi pada Tw. I-27 yang meningkat sekitar tumbuh 39,4% atau atau mencapai USD1,8 miliar. Selain karena tingginya harga, meningkatnya nilai ekspor batubara juga disebabkan oleh meningkatnya volume pada Tw. I-27 mencapai 56 juta ton atau naik 41,9%. Sedangkan pada Tw. IV-27 terjadi penurunan volume ekspor sekitar,7% atau mencapai 51,2 juta ton disebabkan oleh masuknya musim penghujan yang menghambat kegiatan penambangan sehingga produksi merosot. Secara keseluruhan 27, volume ekspor batubara mencapai 26 juta ton atau tumbuh 7,9%. Pada tahun 27 rata-rata harga batubara mencapai USD65,73 per MTon jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD49,9 per MTon. Peningkatan harga batubara sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia yang mencapai harga tertinggi pada Tw. IV-27 sebesar USD83,47 per MTon. Tingginya permintaan batubara dari Asia Pasifik, terutama China menyebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan konsumsi yang turut mendorong naik harga batubara dunia. Selain China, negara pengguna batubara terbesar di dunia adalah India, Jepang, Korea Selatan, Australia dan Taiwan. 1 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
20 Grafik 11 Harga Batubara Dunia USD/MT Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q Sumber: World Bank Produksi batubara Indonesia masih diperkirakan meningkat Pada tahun 27, produksi batubara menurut Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) diperkirakan mencapai lebih dari 2 juta ton (data sementara DESDM sampai dengan November 27 mencapai 123 juta ton), lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 196 juta ton dan dari tahun sebelumnya yang mencapai 181 juta ton. Kenaikan produksi batubara terutama terjadi pada semester II 27 sejalan dengan meningkatnya harga batubara di pasar dunia. Grafik 12 Produksi Batubara Indonesia 6 juta ton Q3 Q4 Q Q1 Q2 26 Q2 Q3 Q4 27 Sumber : DESDM & APBI (diolah) Ekspor batubara terutama ke Jepang, Taiwan dan Korea Selatan Negara tujuan utama ekspor batubara Indonesia pada tahun 27 adalah Jepang, Taiwan, Korea Selatan, India dan China. Nilai ekspor ke negara China pada tahun 27 mengalami pertumbuhan yang sangat tinggi sebesar 139,3%, sebaliknya ekspor ke negara Jepang mengalami penurunan sebesar 2,%. Realisasi 27 dan Proyeksi 28 11
21 Tabel 6 Nilai Ekspor Batubara Berdasarkan Negara Tujuan (juta USD) Negara Tujuan Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%) Jepang Taiwan Korea Selatan India RRC Lainnya Total Volume ekspor batubara juga mengakami peningkatan Volume ekspor batubara pada tahun 27 mencapai 26 juta ton, meningkat dari 191 juta ton pada tahun sebelumnya. Peningkatan volume ekspor yang signifikan terjadi pada negara China yang mencapai 15,5 juta ton (meningkat 115,5%) dan Korea Selatan mencapai 27,4 juta ton (meningkat 31,2 %). Kenaikan volume ekspor ke negara tersebut terkait dengan tingginya permintaan batubara seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri di kedua negara tersebut. Sementara itu, ekspor ke negara Jepang dan Taiwan mengalami penurunan masing-masing sebesar 2,4% dan 3,7%. Grafik 13 Volume Ekspor Batubara berdasarkan Negara Tujuan ribu ton 12 1 JAPAN KOREA TAIWAN CHINA Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q Nilai ekspor tembaga tumbuh positif, namun secara volume menurun Nilai ekspor tembaga pada tahun 27 mencapai USD7,3 miliar (pangsa 7,9%) atau tumbuh sekitar 11,4%. Kenaikan ekspor tembaga terjadi terutama pada Tw. II- 27 yang tumbuh sekitar 61,3% atau sebesar USD2,3 miliar. Namun pada Tw. IV- 27 nilai ekspor tembaga tumbuh negatif 31,% atau mencapai USD1,5 miliar. Dari sisi volume secara keseluruhan tahun 27, ekspor tembaga mencapai 2,1 juta ton atau menurun 15,9%. Penurunan volume ekspor tersebut terutama terjadi pada Tw. IV (turun 51,8%), meskipun pada Tw.I dan Tw.II masih mengalami peningkatan masing-masing sebesar 31% dan 7,2%. Turunnya volume ekspor tembaga terkait dengan produksi tembaga yang semakin terbatas. Meskipun volume ekspor tembaga mengalami penurunan namun harga tembaga dunia mengalami peningkatan yang cukup signifikan. 12 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
22 Grafik 14 Harga Tembaga Dunia USD/MT Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Sumber: World Bank Naiknya harga tembaga karena terbatasnya pasokan Pada tahun 27, rata-rata harga tembaga di pasar dunia sudah mencapai USD7.118/Mton, lebih tinggi jika dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar USD6.722/Mton. Harga tembaga mencapai puncaknya pada Tw. III-27 sebesar USD7.712/Mton. Terbatasnya pasokan tembaga dari negara-negara produsen seperti Chili, Brasil dan Indonesia, sementara permintaan dunia meningkat mendorong harga tembaga terus naik. Negara tujuan ekspor tembaga Indonesia antara lain Jepang (pangsa 3,1%), Korea Selatan (1,9%), Malaysia, (8,5%), Philipina (7,6%) dan India (7,3%). Tabel 7 Nilai Ekspor Tembaga Berdasarkan Negara Tujuan (juta USD) Negara Tujuan Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%) Jepang Korea Selatan Malaysia Philipina India Lainnya Total Penurunan produksi tembaga terutama berasal dari turunnya produksi PT. Freeport Tingginya harga tembaga di pasar dunia tidak sejalan dengan produksi tembaga Indonesia. Pada tahun 27, produksi tembaga turun dari ton (26) menjadi ton. Penurunan produksi tembaga Indonesia dipengaruhi oleh turunnya produksi PT. Freeport yang merupakan produsen tembaga terbesar di Indonesia terkait dengan kasus demonstrasi karyawan Freeport dan anjuran pemerintah untuk mengurangi produksi yang bertujuan perbaikan lingkungan di lokasi Tambang Grassberg, Papua. Realisasi 27 dan Proyeksi 28 13
23 Grafik 15 Produksi Tembaga Indonesia 35 3 ribu ton Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Sumber: DESDM Penurunan volume ekspor tembaga terutama berasal dari negara India, Jepangdan Korsel Volume ekspor tembaga ke negara-negara tujuan utama pada tahun 27 secara keseluruhan mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Penurunan terbesar terutama berasal dari ekspor ke negara India, Jepang dan Korea yang turun masing-masing sebesar 39,5% (y.o.y), 31,9% dan 24,9%. Namun ekspor tembaga ke negara Philipina dan Malaysia secara volume mengalami kenaikan masingmasing sebesar 56,5% dan 49,9%. Grafik 16 Volume Ekspor Tembaga berdasarkan Negara Tujuan ribu ton 12 1 JAPAN KOREA TAIWAN CHINA Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q Naiknya nilai Ekspor Nikel, selain didorong oleh harga juga karena peningkatan volume Nilai ekspor nikel pada tahun 27 mencapai USD3,2 miliar (pangsa 3,5%) atau tumbuh sebesar 76,8%. Peningkatan nilai ekspor tersebut terutama didorong oleh peningkatan volume ekspor sebesar 13,7% dari tahun sebelumnya. Meskipun secara keseluruhan nilai ekspor nikel mengalami pertumbuhan pada tahun 27, namun pada Tw. IV-27 nilai ekspor nikel hanya mencapai USD663 juta, menurun sebesar 21,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ekspor nikel pada Tw. IV-27 lebih disebabkan oleh menurunnya harga, sementara volume ekspor nikel mencapai 2,4 juta ton atau meningkat 33,3%. 14 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
24 Grafik 17 Harga Nikel Dunia USD/Ton Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q Sumber: World Bank Tabel 8 Nilai Ekspor Nikel Berdasar Negara Tujuan (juta USD) Negara Tujuan Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%) Jepang China Lainnya Total Jepang dan China merupakan tujuan utama ekspor nikel Negara tujuan utama ekspor nikel adalah China dan Jepang. Ekspor nikel ke China selama tahun 27 mencapai 5,6 juta ton meningkat dari tahun sebelumnya sebesar 624 ribu ton, sedangkan ekspor nikel ke Jepang mencapai 2, juta ton, lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai 2,2 juta ton atau turun sebesar 8,9%. Melonjaknya volume ekspor nikel ke China terkait dengan perkembangan industri manufaktur berbahan dasar nikel yang terus berkembang di negara tersebut. Grafik 18 Volume ekspor Nikel Berdasarkan Negara Tujuan ribu ton 1,8 1,6 JAPAN CHINA 1,4 1,2 1, Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q Ekspor industri pada 27 meningkat terutama berasal dari CPO dan mesin mekanik Nilai ekspor industri manufaktur tahun 27 mencapai USD58,8 miliar (pangsa 63,2%) atau tumbuh sebesar 15,1%. Kenaikan tersebut terutama disumbangkan oleh pertumbuhan yang relatif tinggi dari beberapa komoditas manufaktur, seperti CPO (48,9%), mesin mekanik (33,4%), dan produk kimia (22,3%) serta TPT (4,3%). Sementara itu, ekspor alat-alat listrik & elektronik menurun sebesar 5,2%. Realisasi 27 dan Proyeksi 28 15
25 Grafik 19 Nilai Ekspor Industri 3, Juta USD 2,5 2, 1,5 1, 5 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1* Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q Tekstil Alat-Alat Listrik CPO Mesin & Mekanik Kimia Nilai ekspor CPO pada 27 meningkat didorong oleh kenaikan harga dunia Nilai ekspor CPO sepanjang tahun 27 mencapai USD7,6 miliar (pangsa 8,2%) atau tumbuh sebesar 48,9%. Peningkatan ekspor CPO tersebut terutama disebabkan oleh tingginya harga seiring dengan kuatnya permintaan akan komoditi tersebut. Tingginya permintaan CPO didorong oleh semakin berkembangnya industri bahan bakar alternatif biofuel terutama di India dan China sementara pasokan CPO dari negaranegara produsen seperti Indonesia dan Malaysia cenderung tetap. Negara tujuan utama ekspor CPO Indonesia adalah India, China, dan MEE, yang mencapai 53,1% dari total ekspor CPO. Peningkatan nilai ekspor CPO pada tahun 27 terutama terjadi pada Tw. IV-27 yang mengalami pertumbuhan hingga mencapai 92,5% atau sebesar USD3, miliar. Grafik 2 Nilai Ekspor CPO Million USD 3,5 3, 2,5 2, 1,5 1, 5 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q Realisasi 27 dan Proyeksi 28
26 Tabel 9 Nilai Ekspor CPO Berdasar Negara Tujuan (juta USD) Negara Tujuan Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%) India China Uni Eropa Lainnya Total Harga CPO terus mengalami kenaikan akibat lonjakan permintaan China dan India Pada tahun 27, rata-rata harga CPO dunia sudah mencapai USD78/ton lebih tinggi dari tahun sebelumnya (USD478/ton). Selama tahun 27, harga CPO tertinggi terjadi pada Tw. IV-27 yang mencapai USD928/ton. Tingginya harga pada periode tersebut akibat lonjakan permintaan dari China dan India setelah pemerintah negara tersebut memberikan subsidi penggunaan minyak nabati untuk bahan bakar. Tingginya harga CPO dunia turut memengaruhi harga minyak sawit mentah dan minyak goreng domestik. Untuk mengontrol harga di pasar domestik, pemerintah menetapkan tiga instrumen stabilisasi, yaitu Pajak Ekspor (PE) sebesar 1%, Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 1% yang ditanggung pemerintah dan penjualan minyak goreng bersubsidi sebanyak 1 juta liter dengan potongan harga sampai Rp 2.5 per kepala keluarga untuk masyarakat berpendapatan rendah. Tujuan ditetapkannya ketiga instrumen tersebut antara lain untuk mempertahankan keuntungan harga tandan buah segar (TBS) di kalangan petani dan mengendalikan fluktuasi harga minyak goreng di pasar agar tidak melonjak terlalu tinggi. Grafik 21 Harga CPO Dunia USD/ton Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Sumber: World Bank Volume ekspor CPO mengalami penurunan Meskipun nilai ekspor CPO tumbuh pada positif pada tahun 27, namun dari sisi volume mengalami penurunan. Volume ekspor CPO pada tahun 27 sebesar 11,6 juta ton atau tumbuh negatif 9,1% dari tahun sebelumnya. Turunnya volume ekspor CPO terutama terjadi pada produk turunannya yaitu RBD Palm Oil atau minyak goreng akibat penetapan PE yang besarnya sama antara CPO dan produk turunannya sehingga Realisasi 27 dan Proyeksi 28 17
27 eksportir cenderung untuk mengurangi ekspor produk turunan CPO. Penurunan volume ekspor terjadi ke semua negara tujuan ekspor, kecuali ke India yang mengalami peningkatan volume ekspor sebesar 28,3%. Grafik 22 Volume ekspor CPO Berdasarkan Negara Tujuan ribu ton 1,2 1, India China Uni Eropa Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q Produksi CPO memiliki potensi untuk ditingkatkan Meskipun volume ekspor CPO mengalami penurunan, namun produksi CPO mengalami peningkatan. Peningkatan produksi CPO Indonesia diikuti pula oleh peningkatan prouksi CPO Malaysia masing-masing mencapai 17,2 juta ton dan 15,8 juta ton. Peningkatan kedua produsen CPO tersebut menyebabkan produksi CPO dunia pada tahun 27 meningkat sebesar 2,7% dari tahun sebelumnya. Naiknya produksi CPO di Indonesia dipengaruhi oleh datangnya musim hujan pada Tw. IV-27 dimana tanaman sawit lebih produktif dalam menghasilkan buah hingga mencapai 3 ton per hektar. Lahan kelapa sawit di Indonesia mencapai 6,2 juta hektar, namun sekitar 5% atau 3. hektar masih kurang produktif dan hanya menghasilkan ton per hektar. Tabel 1 Produksi CPO Indonesia Tahun Sumber: Deptan Perkebunan Rakyat Produksi minyak sawit (ribu ton) Perkebunan Milik Negara Perkebunan Besar Swasta Jumlah ,133 1,77 2,58 4, ,283 1,587 2,579 5, ,345 1,51 3,84 5, ,544 1,468 3,439 6, ,96 1,461 3,644 7, ,798 1,519 4,79 8, ,426 1,68 4,588 9, ,517 1,754 5,173 1, ,745 1,981 6,79 11, ,873 2,49 6,528 12,45 Nilai ekspor TPT masih positif meskipun melambat dibandingkan tahun sebelumnya Nilai ekspor TPT selama tahun 27 mencapai USD1, miliar (pangsa 1,8%) atau tumbuh sebesar 4,3%. Pertumbuhan tersebut melambat dibanding tahun sebelumnya sebesar 12,1%. Melambatnya pertumbuhan nilai ekspor TPT sejalan dengan menurunnya permintaan pasar ekspor terhadap produk tekstil Indonesia akibat perlambatan ekonomi global yang mengakibatkan permintaan TPT dunia menurun. Penurunan permintaan terjadi terutama pada komoditas benang dan kain lembaran 18 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
28 Million USD Grafik 23 Nilai Ekspor TPT 3, 2,5 2, 1,5 1, 5 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * 27 ribu ton Grafik 24 Volume ekspor TPT Berdasarkan Negara Tujuan Amerika Uni Eropa Jepang Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q Negara tujuan utama ekspor TPT adalah AS dan Uni Eropa Negara tujuan utama ekspor TPT Indonesia adalah Amerika Serikat dan negaranegara Uni Eropa. Amerika Serikat menyerap 38,4% dari total ekspor TPT, sedangkan Uni Eropa menyerap 17,1%. Negara-negara lain seperti Jepang, Amerika Selatan dan Afrika menyerap masing-masing sebesar 5,%, 4,4% dan 2,6%. Tabel 11 Nilai Ekspor TPT Berdasarkan Negara Tujuan (juta USD) Negara Tujuan Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%) USA 3, , Uni Eropa 1, , Jepang Lainnya 3, , , Total 9,597 2,454 2,494 2,662 2,393 1,4 1 Kendala dalam pelaksanaan program revitalisasi TPT Lambatnya pertumbuhan ekspor TPT selain disebabkan oleh melemahnya permintaan dunia, juga karena produksi TPT mengalami banyak kendala, baik dari sisi kapasitas mesin dan bahan baku maupun tingginya biaya energi. Indonesia juga terancam kesulitan bahan baku, seperti kapas, serat poliester dan BBM yang harganya semakin tinggi akibat penarikan subsidi oleh negara maju, khususnya Amerika Serikat Realisasi 27 dan Proyeksi 28 19
29 Ekspor barang-barang listrik dan elektronik mengalami pertumbuhan negatif Pangsa ekspor listrik dan elektronik ke Jepang dan Singapura meningkat dan kenaikan harga minyak mentah dunia. Dari segi infrastruktur, penyerapan dana restrukturisasi permesinan untuk industri TPT belum optimal, yaitu sebesar 6,2% atau sebesar Rp 153,8 miliar dari Rp 255 miliar dana yang disediakan pemerintah. Program restrukturisasi ini ditetapkan pada bulan April 27 yang terbagi dalam dua skim. Skim pertama mengalokasikan anggaran sebesar Rp 175 miliar dan hanya terealisasi sebesar Rp 129 miliar atau sekitar 72% yang diajukan oleh 78 perusahaan TPT skala besar. Skim kedua menyediakan anggaran sebesar Rp 8 milar dan hanya terserap sebesar 31,8% atau Rp 24,8 miliar yang diajukan oleh 14 perusahaan skala kecil menengah. Rendahnya realisasi penyerapan dana pada skim II disebabkan oleh ketidaksiapan para pelaku usaha TPT skala kecil menengah dengan persyaratan formal yang harus dipenuhi. Selain itu lembaga pembiayaan non bank yang ditunjuk Departemen Perindustrian tidak dapat menjangkau industri TPT skala kecil menengah yang ada di daerah. Nilai ekspor alat listrik dan elektronik pada tahun 27 mencapai USD8,7 miliar (pangsa 9,4%) atau tumbuh negatif 5,2%. Pertumbuhan negatif tersebut terutama terjadi pada Tw. III-27 sebesar 16,5% sejalan dengan penurunan volume ekspor pada Tw. III-27 sekitar 15,2%. Secara keseluruhan tahun 27 volume ekspor alat listrik dan elektronik tahun 27 mengalami penurunan sebesar 1,8%. Penurunan ekspor alat listrik dan elektronik terjadi ke beberapa negara tujuan utama, seperti Amerika Serikat (-24,9%, pangsa 8,9%), Uni Eropa (-12%, pangsa 1,5%), dan Jepang (-2%, pangsa 14%), sedangkan ekspor ke Singapura mengalami kenaikan sebesar 9% dengan pangsa 32,3%. Perlambatan ekonomi dunia diduga sebagai penyebab turunnya ekspor alat listrik dan elektronik terutama ke negara Amerika Serikat dan Uni Eropa. Grafik 25 Nilai Ekspor Alat-alat Listrik dan Elektronik Million USD 3, 2,5 2, 1,5 1, 5 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q Realisasi 27 dan Proyeksi 28
30 Tabel 12 Nilai Ekspor Alat Listrik & Elektronik Berdasarkan Negara Tujuan (juta USD) Negara Tujuan Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%) Singapura 2, , Jepang 1, , Uni Eropa 1, Amerika Serikat 1, Lainnya 3, , Total 9,187 2,285 2,33 2,149 2,237 8,74 1. Grafik 26 Volume Ekspor Elektonik Berdasarkan Negara Tujuan 35 ribu ton Singapore Japan Uni Eropa Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q Ekspor mesin dan mekanik mengalami pertumbuhan positif Ekspor mesin dan mekanik selama tahun 27 mencapai USD6,9 miliar (pangsa 7,4%), atau tumbuh sebesar 33,4%, terutama didorong oleh kenaikan volume ekspor sebesar 62,3%. Kendaraan bermotor jalan raya, mesin-mesin khusus untuk industri serta mesin dan peralatan umum untuk industri merupakan komoditas unggulan dari ekspor mesin dan mekanik selama tahun 27, dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 29,4%, 174,6% dan 16,3%. Pertumbuhan positif tersebut terutama terjadi pada Tw I-27 yang mencapai USD1,7 miliar atau tumbuh 59,2%. Sedangkan nilai ekspor Tw. IV-27 mencapai USD1,8 miliar atau tumbuh 25,2%, didorong oleh volume ekspor yang meningkat tajam sebesar 188,7%. Grafik 27 Nilai Ekspor Mesin dan Peralatan Mekanik Million USD 2, 1,8 1,6 1,4 1,2 1, Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q Realisasi 27 dan Proyeksi 28 21
31 Negara tujuan utama ekspor mesin dan mekanik adalah Singapura dan Jepang Negara tujuan utama ekspor mesin dan mekanik adalah Singapura (pangsa 17,5%), Jepang (11,2%), Thailand (9,%) dan Uni Eropa (9,%). Peningkatan volume ekspor mesin dan mekanik didorong oleh ekspor ke negara Singapore yang tumbuh 37,8%, Thailand sebesar 17,9%, dan Uni Eropa sebesar 17,2%, sedangkan ekspor ke negara Jepang turun 2,2%. Besarnya peranan ekspor mesin dan mekanik terhadap total impor nonmigas yang banyak ditujukan ke pasar regional menjadi perhatian pemerintah untuk meningkatkan daya saing ekspor dalam menghadapi perlambatan pertumbuhan dunia dan persaingan di pasar global yang semakin tajam. Tabel 13 Nilai Ekspor Mesin & Mekanik Berdasarkan Negara Tujuan (juta USD) Negara Tujuan Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%) Singapura 1, , Jepang Thailand Uni Eropa Lainnya 2,525 1, , Total 5,128 1,725 1,658 1,675 1,781 6,84 1. Grafik 28 Volume Ekspor Mesin dan Mekanik Berdasarkan Negara Tujuan ribu ton Singapore Japan Thailand Uni Eropa Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q Ekspor produk kimia mengalami pertumbuhan positif didorong kenaikan volume Ekspor produk kimia selama tahun 27 mencapai nilai USD6,5 miliar (pangsa 7,%) atau tumbuh sebesar 22,3%, terutama didorong oleh kenaikan volume ekspor yang tumbuh sebesar 41,6%. Kenaikan nilai ekspor produk kimia ini berasal dari ekspor ke Thailand yang tumbuh 87% dengan pangsa 8,7%, disusul oleh Malaysia (tumbuh 58,3%, pangsa 1,5%), kemudian Singapura (tumbuh 23,8%, pangsa 7,4%). Peningkatan nilai ekspor tersebut didorong oleh kenaikan volume ekspor ke Thailand dan Malaysia, masing-masing sebesar 84,7% dan 44,9%. Sementara itu, pangsa nilai ekspor terbesar adalah China sebesar 13,5%, dengan pertumbuhan volume mencapai 85,4%, meskipun secara nilai hanya tumbuh 6,6%. 22 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
32 Million USD Grafik 29 Nilai Ekspor Produk Kimia 2, 1,8 1,6 1,4 1,2 1, Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q Tabel 14 Nilai Ekspor Produk Kimia Berdasarkan Negara Tujuan (juta USD) Negara Tujuan Tw-I Tw-II Tw-III Tw-IV Total Share (%) China Malaysia Jepang Thailand Singapore Lainnya 2, , Total 5,317 1,445 1,634 1,697 1,722 6, Grafik 3 Volume Ekspor Produk Kimia Berdasarkan Negara Tujuan ribu ton 2, 1,8 China Japan Malaysia 1,6 1,4 1,2 1, Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q Impor Nonmigas Nilai Impor Nonmigas pada 27 meningkat dibanding tahun sebelumnya Impor nonmigas pada tahun 27 mencapai USD71,9 milar atau tumbuh 14,5% (c&f), lebih tinggi dari pertumbuhan tahun sebelumnya sebesar 8,%. Pertumbuhan impor nonmigas meningkat sejalan dengan tingginya laju pertumbuhan ekonomi domestik. Berdasarkan kelompok barang, impor barang konsumsi tumbuh sebesar 46,8% (pangsa 1,1%). Sedangkan impor bahan baku dan barang modal juga mengalami pertumbuhan masing-masing sebesar 12% (pangsa 7,2%) dan 11,1% Realisasi 27 dan Proyeksi 28 23
33 (18,8%). Dari sisi volume, impor nonmigas mencapai 59,4 juta ton dengan pertumbuhan sebesar 6,4%, terutama berasal dari barang konsumsi dan bahan baku yang masing-masing tumbuh sebesar 5,3% dan 3,8%, sedangkan barang modal mengalami pertumbuhan negatif 4,5%. Impor Nonmigas turut didorong oleh kegiatan investasi Kegiatan investasi yang naik pada tahun 27 turut mendorong impor nonmigas, khususnya barang modal. Komponen utama yang mendukung pertumbuhan investasi terebut antara lain mesin dan perlengkapan luar negeri (tumbuh 39,2%), mesin dan perlengkapan dalam negeri (36,3%) dan alat angkutan dalam negeri (29,3%). Grafik 31 Nilai Impor Barang Konsumsi, Bahan Baku dan Barang Modal Juta USD 2, 16, 12, 8, 4, Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q Barang Konsumsi Bahan Baku Barang Modal Pangsa lima negara utama asal impor relatif tetap Lima negara utama asal impor barang ke Indonesia masih relatif tetap, yaitu Singapura, Jepang, China, Amerika Serikat dan Thailand yang pangsa pasarnya selama tahun 27 secara bersama-sama mencapai 54,5% dari total impor nonmigas. (%) 25. Grafik 32 Pangsa Impor Nonmigas dari Negara Asal Q1-25 Q2-25 Q3-25 Q4-25 Q1-26 Q2-26 Q3-26 Q4-26 Q1-27 Q2-27 Q3-27 Q4-27 Sg Jpn RRC USA Tha Kor Komoditas impor dari lima negara asal utama sangat bervariasi Barang komoditas yang diimpor dari negara asal utama selama tahun 27 antara lain, dari Singapura berupa mesin listrik & peralatannya serta produk telekomunikasi, dari Jepang berupa kendaraan bermotor dan besi & baja, dari China berupa besi & baja dan produk telekomunikasi, dari Amerika Serikat berupa peralatan transportasi lainnya dan mesin industri pada umumnya. 24 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
34 Tabel 15 Negara Utama Asal Barang Impor Menurut Jenis Komoditas Tahun 27 Berdasarkan SITC 2 Digit (% pangsa thd total impor non migas) Singapura Jepang China Amerika Serikat Thailand Komoditi Share Komoditi Share Komoditi Share Komoditi Share Komoditi Share Mesin listrik & peralatannya 2.24 Kendaraan bermotor 1.92 Besi & baja 1.65 Peralatan transportasi.89 Kendaraan bermotor 1.53 Produk telekomunikasi 1.44 Besi & baja 1.56 Produk telekomunikasi 1.23 Mesin industri.54 Gula & madu.49 Kimia organik 1.43 Mesin khusus untuk 1.25 Mesin listrik &.96 Serat tekstil.53 Mesin industri.43 industri tertentu peralatannya Mesin kantor & pengolah 1.1 Mesin industri 1.23 Benang, kain & produk.93 Minyak biji-bijian.52 Mesin listrik & peralatan.38 data tekstil Nilai Impor Barang Konsumsi pada 27 meningkat dibanding tahun sebelumnya Impor barang konsumsi tahun 27 mencatat nilai USD7,2 miliar atau tumbuh 46,8% dari tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan impor terbesar terjadi pada Tw III- 27 yang mencapai 67,2%. Pertumbuhan nilai impor barang konsumsi terutama disumbang oleh pertumbuhan pada barang konsumsi semi tahan lama sekitar 98,4% (pangsa 2,1%) dan barang konsumsi tahan lama sekitar 82,7% (pangsa 1,5%). Dari sisi volume, impor barang konsumsi naik sebesar 5,3%. Negara utama asal impor barang konsumsi antara lain China yang tumbuh 74,7% dengan pangsa 2,8%, disusul Thailand (tumbuh 11,7%, pangsa17,5%), kemudian Singapura (tumbuh - 11,8%, pangsa 7,9%). Tabel 16 Nilai Impor Barang Konsumsi Berdasarkan Negara Asal (juta USD) Periode Negara Asal Nilai 26 Share (%) Nilai 27 Share (%) China , Thailand 1, , Singapura Lainnya 2, , Total 5, , Impor Bahan Baku pada 27 meningkat baik nilai maupun volumenya Impor bahan baku mencatat nilai USD5,5 miliar, naik 12,% dari tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan terbesar terjadi pada Tw. II-27 yang mencapai 19,9%. Kelompok barang utama penyumbang pertumbuhan nilai impor bahan baku selama tahun 27 adalah impor bahan baku yang sudah diproses (raw materialsprocessed) yang tumbuh sekitar 12% dengan pangsa 39,8%. Di samping itu volume impor yang naik sebesar 3,8% turut mendorong pertumbuhan nilai impor bahan baku. Negara utama asal impor bahan baku adalah Singapura yang tumbuh negatif 4,1% dengan pangsa 15,5%, kemudian Jepang (tumbuh -1,8%, pangsa 13,7%) dan China (tumbuh 35,9%, pangsa 11,7%). Realisasi 27 dan Proyeksi 28 25
35 Tabel 17 Nilai Impor Bahan Baku Berdasarkan Negara Asal (juta USD) Periode Negara Asal Nilai 26 Share (%) Nilai 27 Share (%) Singapura 8, , Jepang 7, , China 4, , Lainnya 25, , Total 45, , Impor Barang Modal pada 27 tumbuh positif, meskipun secara volume menurun Impor barang modal mencatat nilai USD13,5 miliar, tumbuh positif sebesar 11,1%, meskipun dari sisi volume mengalami pertumbuhan negatif sebesar 4,5%. Pertumbuhan nilai impor tersebut terutama berasal dari pertumbuhan barang modal (kecuali peralatan transportasi) dan peralatan transportasi untuk kegiatan industri yang masing-masing tumbuh sebesar 14,9% dan 2,9%. Negara utama asal impor barang modal antara lain Jepang (14,8%), Singapura (14,5%) dan China (12,9%). Impor barang modal dari Singapura turun 1% dari tahun sebelumnya, sedangkan impor dari Jepang dan China naik masing-masing sebesar 8,2% dan 28,1%. Tabel 18 Nilai Impor Barang Modal Berdasarkan Negara Asal (juta USD) Periode Negara Asal Nilai 26 Share (%) Nilai 27 Share (%) Jepang 1, , Singapura 2, , China 1, , Lainnya 7, , Total 12, , Neraca Perdagangan Migas Neraca Perdagangan migas mencatat surplus Neraca perdagangan migas mencatat surplus sebesar USD6, miliar selama 27, sedikit lebih rendah dibandingkan surplus pada tahun 26 USD6,8 miliar. Surplus neraca migas tersebut bersumber dari surplus neraca perdagangan gas sebesar USD12,3 miliar yang lebih besar daripada defisit neraca perdagangan minyak sebesar USD6,3 miliar. Masih relatif tingginya surplus neraca perdagangan migas di 27, terutama didukung oleh tingginya harga minyak di Tw.IV 27 yang secara bersamaan diikuti oleh peningkatan produksi minyak. Disisi lain, pada Tw. IV-27 impor minyak baik crude maupun BBM mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. 26 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
36 2.1 Minyak Neraca perdagangan minyak 27 mengalami peningkatan defisit Neraca perdagangan minyak pada 27 mengalami defisit nilai sebesar USD7,8 miliar dan defisit volume sebesar 75,8 juta barel. Dibanding tahun 26, defisit neraca perdagangan minyak tersebut lebih tinggi baik dari sisi nilai maupun volume. Peningkatan defisit tersebut disebabkan oleh peningkatan volume impor minyak terutama impor produk BBM yang diikuti oleh tingginya harga minyak pada periode tersebut. Tabel 19 Perkembangan Ekspor dan Impor Minyak TW.IV Total 26 TW.IV Total 27 Volume Value Price Volume Value Price Volume Value Price Volume Value Price (mbbl) (jt USD) (USD/bbl) (mbbl) (jt USD) (USD/bbl) (mbbl) (jt USD) (USD/bbl) (mbbl) (jt USD) (USD/bbl) Export (fob) 49 2, , , ,497 Crude 36 1, , , ,38 7 Product , , Import (c&f) 64 4, , , ,322 Crude 3 1, , , , Product 34 2, , , , Net -1,56-6,837-2,79-7,825 Crude Product -21-1, , , ,426 Sumber: Pertamina dan BP Migas, data diolah. Harga minyak pada 27 mencapai USD73/barel Selama 27, rata-rata harga ekspor minyak mentah Indonesia sebesar USD7 per barel meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD62,5 per barel. Tingginya harga ekspor minyak mentah domestik tersebut sejalan dengan peningkatan harga minyak mentah basket OPEC dan WTI yang mencapai USD69,2 dan USD72.22 per barel. Peningkatan harga minyak tertinggi terutama terjadi pada Tw.IV 27 dimana rata-rata harga ekspor minyak mentah Indonesia mencapai USD85,6 per barel. Grafik 33 Perkembangan Harga Minyak Dunia USD/bbl OPEC SLC WTI SLC USD53.8/bbl SLC USD62.55/bbl SLC USD94.53/bbl Sumber : OPEC Kenaikan harga minyak didorong oleh faktor demand, supply dan sentimen pasar Secara umum peningkatan harga minyak dunia di tahun 27 disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: Realisasi 27 dan Proyeksi 28 27
37 Kenaikan harga minyak akan terus berlanjut Pasokan minyak dunia defisit 5 juta barel per hari Meningkatnya permintaan minyak dunia terutama dari negara konsumen utama seperti AS, Cina dan India. Khususnya Cina, seiring dengan tingginya pertumbuhan ekonomi di negara tersebut, mendorong peningkatan demand minyak Cina menjadi sebesar 7,5 juta bph di tahun 27. Ketatnya suplai minyak dunia yang disebabkan oleh kebijakan OPEC untuk mengurangi produksi dan terjadinya penurunan produksi dari beberapa negara produsen seperti Nigeria. Di tahun 27, dunia mengalami defisit minyak sekitar 5 juta bph. Dari sekitar 85 juta bph kebutuhan minyak dunia, hanya sekitar 8 juta bph yang dapat disuplai, OPEC sendiri hanya mampu memproduksi sebanyak 31 juta bph. Belum selesainya permasalahan geopolitik dibeberapa negara produsen minyak, seperti aksi kekerasan dan serangan kelompok militan terhadap fasilitas produksi serta terjadinya pemogokan serikat pekerja yang menyebabkan produksi minyak Nigeria mengalami penurunan sebanyak 55 ribu bph. Isu geopolitik lainnya adalah permasalahan nuklir Iran, krisis Irak dan terjadinya ketegangan antara Turki dan Kurdi di Irak utara. Bencana alam seperti serangan badai dan meledaknya pipa distribusi sehingga menyebabkan kerusakan dibeberapa fasilitas produksi di Mexico dan AS. Pelemahan nilai mata uang dolar dan aksi spekulasi dari investor keuangan yang menjadikan minyak sebagai komoditi untuk profit taking. Perdagangan di bursa minyak dunia meningkat sangat tajam melebihi peningkatan produksi minyak itu sendiri. Tabel 2 Demand dan Supply Minyak Dunia Permintaan dan Suplai Minyak Dunia (juta barel per hari) Periode QI QII Q III Q IV Total North America China Western Europe Others Total Permintaan Dunia Balance.3.7 Non OPEC OPEC Total Suplai Dunia Source: OPEC Monthly Oil Market report Jan Produksi minyak mentah pada 27 turun menjadi,952 mbpd Produksi minyak mentah Indonesia selama tahun 27 mencapai,952 mbpd, lebih rendah dibanding rata-rata tahun 26 sebesar 1,5 mbpd. Penurunan produksi minyak terus berlangsung mencapai rata-rata 4,3% dalam 3 tahun terakhir. Penurunan produksi tersebut, selain didorong oleh permasalahan natural declining juga disebabkan oleh rendahnya investasi baru di sektor migas dan beberapa permasalahan teknis yang terjadi di lapangan produksi. Di samping itu, tingginya bea masuk dan pajak yang 28 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
38 dikenakan terhadap peralatan untuk kegiatan eksplorasi dan eksploitasi menjadi disinsentif bagi KPS untuk mengembangkan lapangan produksi baru. Untuk mengurangi laju penurunan produksi, pemerintah berusaha mengoptimalkan dan merevitalisasi lapangan-lapangan yang masuk kategori brown field dan marginal. Tabel 21 Produsen Utama Minyak Nasional tahun 27 (barel per day) Peringkat Perusahaan % Produksi 1 Chevron Pacific Indonesia ,282 2 PT. Pertamina ,924 3 Total E & P Indonesia ,82 4 CNOOC SES ,268 5 Connoco Philips ,962 6 Medco E & P Indonesia ,29 7 Petrochina ,972 8 BOB PT BSP - Pertamina Hulu ,68 9 BP Indonesia ,589 1 Vico ,917 Total ,92 Total Produksi Nasional 954,44 Beberapa masalah dalam peningkatan produksi minyak dari sejumlah lapangan selama 27 Sumber : BP Migas Sejumlah permasalahan teknis dan gangguan yang terjadi di lapangan produksi antara lain adalah: Pada Tw.I-27 terjadi kerusakan pada tangki penampung terapung milik BP West Java dan EMP Kangean, sehingga menyebabkan gangguan produksi masing-masing sebanyak 3 ribu bph dan 3 ribu bph. Pada Tw.III-27 terjadi penurunan produksi sebanyak bpd yang disebabkan oleh penyesuaian peralatan untuk mengembalikan produksi pada kapasitas normal akibat tingginya kandungan merkuri di lapangan Belanak milik Conoco Philips. Kebocoran pipa penyaluran di lapangan Mambrungan milik Medco dan PT. Pertamina/Kodeco di lapangan Poleng pada Tw.III-27 sehingga menyebabkan penurunan produksi masing-masing sebanyak 4.55 bpd dan 8. bpd. Perawatan kompresor di Platform Lima yang dikelola oleh BP West Java, perawatan rutin lapangan Camar dan gangguan listrik di North Area milik CNOOC SES & lapangan Talang Milik PT. Pertamina di Tw.III-27. Grafik 34 Produksi Minyak Mentah, Konsumsi dan Impor BBM mbpd mbpd Konsumsi BBM Impor BBM Produksi Minyak Mentah Sumber : Ditjen Migas dan Pertamina Realisasi 27 dan Proyeksi 28 29
39 Konsumsi BBM lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya Impor BBM tahun 27 mengalami peningkatan Konsumsi BBM selama tahun 27 mencapai 378 juta barel, lebih tinggi dibandingkan tahun 26 sebesar 373 juta barel. Peningkatan konsumsi BBM domestik terutama terjadi untuk sektor transportasi yang didorong oleh pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor dan sektor listrik karena meningkatnya penggunan energi untuk mendukung pertumbuhan kegiatan ekonomi. Sementara itu, konsumsi BBM untuk sektor industri dan rumah tangga mengalami penurunan. Penurunan konsumsi BBM untuk industri terutama terjadi pada jenis solar, minyak bakar dan minyak diesel. Penyebab penurunan ini antara lain efesiensi dari sektor industri karena harga BBM industri yang terus mengalami peningkatan. Sedangkan penurunan konsumsi BBM rumah tangga terkait dengan program konversi minyak tanah ke LPG yang selama tahun 27 berhasil menekan konsumsi minyak tanah sebanyak, 2 juta kilo liter. Selama tahun 27, PT. Pertamina mengimpor BBM sebanyak 137 juta barel, lebih tinggi dibandingkan tahun 26 sebesar 13 juta barel. Peningkatan impor BBM tersebut dalam rangka untuk memenuhi konsumsi BBM dalam negeri karena keterbatasan kilang yang belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Saat ini, 1 kilang pengolahan hanya mampu berproduksi sebesar1,2 juta bph Gas Nilai ekspor gas meningkat Nilai ekspor gas selama tahun 27 sebesar USD12,4 miliar, lebih tinggi dibandingkan tahun 26 sebesar USD12, miliar. Peningkatan ekspor gas tersebut terutama terjadi di Tw. IV-27 didorong oleh tingginya harga gas seiring dengan kenaikan harga minyak. Masih relatif tingginya ekspor gas di 27, terutama didukung oleh peningkatan ekspor natural gas, sedangkan ekspor LNG yang selama ini menjadi andalan mengalami penurunan baik dari sisi nilai maupun volume. Tabel 22 Ekspor LNG, LPG dan Natural Gas Ekspor Gas Tw. IV Total Tw. IV Total LNG Volume (million british thermal unit) 34 1, ,8 Value ( millions USD) 2,412 9,953 2,97 9,723 Price (US/mmbtu) LPG Volume ( metric ton) Value ( millions USD) Price (US/MTon) Natural Gas Volume (million british thermal unit) Value ( millions USD) 374 1, ,443 Price (US/mmbtu) Sumber: BP Migas 3 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
40 Realisasi produksi gas tidak mencapai target Penurunan volume ekspor gas terkait dengan rendahnya realisasi produksi gas di 27 sebesar 7,6 miliar kaki kubik per hari yang berada di bawah target yang ditetapkan sebanyak 8,4 miliar kaki kubik per hari. Penyebab turunnya produksi gas selama tahun 27 antara lain: Kondisi lapangan gas utama sudah masuk kategori tua, seperti lapangan gas Arun di Aceh dan Bontang di Kaltim. Kerusakan di beberapa fasilitas produksi di lapangan milik KPS Total, Exxon dan Conoco Philips. Rendahnya penemuan/penambahan cadangan baru. Tabel 23 Produsen Utama Gas Nasional tahun 27 (juta kaki kubik per hari) Peringkat Perusahaan % Produksi 1 Total ,553 2 Connoco Philips PT. Pertamina Exxon Mobil Vico Petrochina Chevron Medco Premier Kodeco Total 9.2 6,53 Total Produksi Nasional 7,28 Sumber : BP Migas Sementara itu, beberapa kebijakan pemerintah turut memengaruhi penurunan volume ekspor gas, seperti peningkatan pengalokasian pemanfaatan gas untuk industri dan program konversi minyak tanah dengan LPG. 3. Neraca Jasa Defist neraca jasa meningkat pada 27 Defisit neraca jasa pada 27 mencapai USD11,1 miliar sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar defisit USD9,9 miliar. Peningkatan defisit tersebut terutama didorong oleh meningkatnya pengeluaran devisa dari jasa angkutan barang (freight) terkait dengan peningkatan impor selama tahun 27. Namun demikian, kenaikan defisit tersebut relatif terbatas karena kenaikan transaksi jasa outflows masih dapat diimbangi dengan kenaikan inflows yang utamanya berasal dari jumlah wisman yang meningkat dari tahun sebelumnya khususnya pada semester II 27 terkait dengan banyaknya event internasional di Bali. Realisasi 27 dan Proyeksi 28 31
41 Juta USD 2, 1, -1, -2, -3, -4, -5, -6, Grafik 35 Neraca Jasa, Pendapatan dan Transfer Berjalan -7, Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * Services, Net Income, Net Current Transfer, Net Total Services, Net Defisit jasa transportasi meningkat Jasa transportasi pada 27 mengalami peningkatan defisit sekitar 19,6% dari USD6,1 miliar menjadi USD7,3 miliar. Peningkatan defisit tersebut terutama karena naiknya defisit jasa angkutan barang, khususnya nonmigas, dari USD5,1 miliar menjadi USD5,8 miliar, sejalan dengan meningkatnya biaya angkut yang didorong oleh kenaikan harga minyak dan volume impor. Sementara itu, defisit jasa angkutan barang migas sedikit meningkat dari USD1,4 miliar menjadi USD1,6 miliar, sejalan dengan kenaikan volume impor minyak. Tingginya defisit jasa transportasi tersebut terkait dengan penggunaan armada asing untuk mengangkut impor barang. Sementara itu, implementasi kebijakan pemerintah untuk mendorong armada domestik masih terbatas. Hal ini terlihat dari belum efektifnya kebijakan pemerintah dalam Inpres No.5/25 (azas cabotage) yang mewajibkan semua pengiriman komoditas nasional harus diangkut menggunakan kapal nasional. Namun kenyataannya perusahaan pelayaran asing masih mendominasi sekitar 95% jasa pengiriman internasional, dan juga 65% untuk pelayaran antar pulau. Perusahaan pelayaran nasional lebih banyak melayani jasa angkutan pengumpan (feeder) terutama dari dan ke Singapura. Defisit jasa transportasi juga disebabkan pengenaan biaya tambahan bahan bakar Peningkatan defisit jasa transportasi juga disebabkan oleh adanya pengenaan biaya tambahan bahan bakar (fuel surchage) rata-rata sekitar 15% yang dibebankan kepada konsumen saat kontrak pengangkutan pelayaran domestik dan internasional sejak November 27. Biaya tambahan tersebut dihitung berdasarkan bunker adjustment factor (BAF) yang akan berpengaruh pada biaya variabel lain, seperti terminal handling charges (THC) dan clearance freight. Sementara itu, biaya BBM kapal yang masih merupakan komponen biaya terbesar (3-4% dari total biaya operasional) mengalami kenaikan. Sejak 1 November 27, Pertamina telah menaikkan harga bahan bakar kapal sekitar 5% per liter, sehingga biaya angkut importasi bahan baku yang tercermin pada tarif angkut kontainer pengiriman komoditas bahan baku meningkat sekitar USD4-1/ton. Sementara itu, maskapai penerbangan juga telah menaikkan biaya penerbangan domestik sebesar 2% merespon kenaikan harga minyak internasional. 32 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
42 Grafik 36 Jasa Transportasi dan Pariwisata Juta USD 1, , -1,5-2, -2,5-3, -3,5-4, Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * Transportasi Travel Jasa Lainnya Jasa, net Jumlah kunjungan turis selama 27 meningkat Di sektor pariwisata, selama tahun 27 terjadi surplus sebesar USD9 juta, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar surplus USD4 juta. Kenaikan surplus tersebut disebabkan oleh meningkatnya jumlah wisman yang berkunjung ke Indonesia (inbond) dari 4,9 juta orang pada tahun sebelumnya menjadi 5,5 juta orang (meningkat 13%) sehingga penerimaan devisa naik dari USD4,4 miliar menjadi USD5,3 miliar. Kenaikan penerimaan devisa tersebut juga disebabkan oleh meningkatnya jumlah pengeluaran wisman hasil PES (Passanger Exit Survey) 27 menjadi USD971 per kunjungan per orang dari USD913 pada tahun 26. Sedangkan, jumlah WNI yang berpergian ke luar negeri (outbond) selama tahun 27 mencapai 5,2 juta orang (termasuk jamaah Haji 29 ribu orang), meningkat 3,8% dari 5, juta orang (termasuk jamaah Haji 27 ribu orang) pada 26. Peningkatan jumlah kunjungan WNI ke luar negeri tersebut telah mendorong peningkatan pengeluaran devisa menjadi sebesar USD4,4 miliar dari tahun sebelumnya sebesar USD4, miliar. Grafik 37 Perkembangan Jasa Travel 7 6 Ribu Orang Bom Bali II Okt 25 Gempa Jogja Gn. M erapi M ay 26 Tsunami Pangandaran Juli Jumlah Inbound (ribu orang) Jumlah Outbound (ribu orang) excl. Hajj Inbound-Outbound (ribu orang) Pencapaian kinerja pariwisata 27 tertinggi selama 4 tahun ke belakang Secara umum perkembangan kedatangan wisman selama 27 mencatat kemajuan meskipun masih diberlakukannya travel warning dari beberapa negara, khususnya Amerika Serikat dan Australia. Pencapaian kunjungan wisman pada 27 adalah pencapaian tertinggi dalam kurun waktu empat tahun ke belakang. Kemajuan tersebut didukung oleh sektor pariwisata nasional yang tumbuh 13% lebih tinggi Realisasi 27 dan Proyeksi 28 33
43 Puncak kunjungan wisman pada Tw. IV-27 karena faktor musiman dan adanya event internasional Bali masih menjadi tujuan utama wisman Defisit jasa lainnya lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya daripada pariwisata dunia dan kawasan Asia Pasific yang masing-masing hanya tumbuh sekitar 6% dan 1%. Beberapa upaya telah dilakukan Pemerintah untuk meningkatkan inbond wisman, antara lain dengan membuka perwakilan pemasaran di negara utama asal turis (Singapura, Frankfurt, Jepang, dan lain-lain) dan kerjasama pemasaran internasional di tingkat regional, serta pengembangan jaringan aksesibilitas udara ke pasar potensial di Asia Pasifik dan Eropa. Upaya peningkatan jumlah kedatangan wisman juga didukung dengan penambahan 11 negara yang mendapatkan VKSK (Visa Kunjungan Saat Kedatangan)/VoA pada bulan Mei 27, sehingga jumlahnya menjadi 63 negara. Puncak kunjungan turis mancanegara (peak season) terjadi pada triwulan IV karena faktor musiman sehubungan dengan masa liburan panjang, ditambah dengan adanya beberapa event internasional, seperti Asean Tourism Investment Forum (ATIF) dan Pacific Asia Travel Association (PATA) Travel Mart pada akhir September 27. Namun demikian, Desember 27 menjadi bulan terbanyak kunjungan wisata turis mancanegara terkait dengan musim liburan akhir tahun dan penyelenggaraan KTT tentang Perubahan Iklim (Global Change Climate Conference) oleh United Nations Framework Convention on Climate Change/ UNFCC di Bali. Negara asal wisman yang datang ke Indonesia masih didominasi oleh Singapura (pangsa 2,3%), Malaysia (12,8%), Jepang (1,4%), Korea Selatan (6,%) dan Australia (5,8%). Sedangkan negara yang menjadi tujuan utama kunjungan wisata adalah Singapura (pangsa 43,9%), Malaysia (25,4%), Australia (5,5%), Amerika (4,3%) dan Thailand (3,9%). Sementara itu, Bali masih tetap menjadi tujuan wisata utama wisman selama tahun 27 (pangsa 31,6%), diikuti Jakarta (2,9%) dan Batam (19,6%). Dengan adanya beberapa kegiatan meeting, incentive, conference, and exhibition (MICE) berskala internasional, pariwisata Bali sepanjang tahun 27 tumbuh sekitar 31,1%. Negara asal wisman terbanyak yang berkunjung ke Bali adalah Jepang (pangsa 2,2%), Australia (11,7%) dan Taiwan (8%). Meskipun jumlahnya relatif masih sedikit, China dan India adalah dua negara asal wisman ke Bali yang cukup tinggi pertumbuhannya masingmasing sekitar 15,2% dan 86,5%. Sedangkan wisman ke Bali yang berasal dari negara Eropa (Inggris, Jerman dan Belanda) rata-rata pertumbuhannya lebih dari 1%, menandakan larangan terbang Komisi Uni Eropa terhadap maskapai penerbangan nasional tidak berdampak pada minat wisman Eropa untuk datang ke Indonesia, khususnya wisata ke pulau dewata. Jasa lainnya pada 27 mencatat defisit USD3,2 miliar, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya sebesar defisit USD2,5 miliar. Jasa lainnya terdiri dari jasa perdagangan (merchanting), jasa sewa (oeprational leasing) dan berbagai jasa keahlian (profesional) seperti jasa konsultan hukum, jasa akuntansi, jasa arsitektur, rekayasa dan teknik, jasa riset dan pengembangan, dan lainnya. Negara berkembang, termasuk 34 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
44 Indonesia pada umumnya lebih banyak menggunakan jasa lainnya dari bukan penduduk (non resident) sehingga nilainya selalu defisit. Berlawanan dengan sebagian besar komponen jasa lainnya yang defisit, terdapat dua jenis jasa lainnya yang mencatat surplus, yaitu jasa komunikasi dan jasa pemerintah. Sampai saat ini transaksi incoming jasa komunikasi yang mencakup jasa telekomunikasi dan pos & kurir masih lebih besar daripada transaksi outgoing. Selama tahun 27, jasa komunikasi mencatat surplus neto sebesar USD73 juta, meningkat dari USD531 juta pada 26. Demikian juga penerimaan devisa dari pembelanjaan kedutaan/perwakilan negara asing berupa belanja pegawai, barang, pemeliharaan, dan belanja perjalanan, masih lebih besar dibandingkan pembiayaan kedutaan/perwakilan Indonesia di luar negeri, sehingga pada 27 nilai jasa pemerintah mencapai neto surplus USD16 juta, nilainya relatif lebih kecil dari USD28 juta pada tahun sebelumnya. 4. Neraca Pendapatan Defisit neraca pendapatan relatif meningkat dari tahun sebelumnya Defisit pendapatan investasi portofolio meningkat Defisit pendapatan investasi lainnya relatif konstan Defisit neraca pendapatan (income) selama tahun 27 sebesar USD15,9 miliar, relatif meningkat dibandingkan USD13,8 miliar pada tahun sebelumnya. Defisit tersebut terutama bersumber dari kenaikan defisit pendapatan investasi langsung antara lain berupa kenaikan defisit pendapatan investasi atas modal saham yang mencapai USD1,6 miliar, meningkat dari tahun sebelumnya sebesar USD9,4 miliar. Defisit pendapatan investasi langsung terutama didorong oleh kenaikan repatriasi hasil keuntungan perusahaan PMA dari USD4,6 miliar menjadi USD5,7 miliar, terkait dengan bertambahnya investasi asing serta meningkatnya profitabilitas perusahaan PMA di Indonesia. Sementara itu, defisit pendapatan dari pembagian hasil keuntungan perusahaan migas mencapai USD4,8 miliar, lebih tinggi dari USD4,7 miliar pada tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terkait dengan kenaikan harga minyak dunia. Di sisi lain defisit pendapatan investasi neto dari investasi portofolio meningkat menjadi USD2,2 miliar dari USD1,5 miliar. Defisit tersebut terkait dengan naiknya neto defisit pendapatan investasi dari surat berharga saham milik asing menjadi USD1,5 miliar dari sebelumnya USD1,1 miliar, akibat meningkatnya pembayaran dividend kepada investor asing menjadi USD1,8 miliar dari sebelumnya sebesar USD1,2 miliar. Sementara itu, neto defisit pendapatan investasi dari surat berharga utang milik asing naik menjadi USD748 juta dari sebelumnya sebesar USD432 juta. Hal ini disebabkan oleh pembayaran bunga (interest) surat berharga utang meningkat menjadi USD2,3 miliar dari sebelumnya sebesar USD1,7 miliar terkait dengan meningkatnya kepemilikan asing atas surat berharga domestik terutama dalam bentuk surat utang. Sementara itu, pendapatan investasi lainnya mencatat defisit USD2,6 miliar, relatif konstan dari tahun sebelumnya. Hal ini antara lain disebabkan oleh kenaikan pembayaran bunga utang luar negeri khususnya sektor swasta akibat meningkatnya Realisasi 27 dan Proyeksi 28 35
45 pinjaman komersial luar negeri swasta dapat diimbangi oleh penurunan pembayaran bunga utang pemerintah dan otoritas moneter. 5. Transfer Berjalan Surplus transfer berjalan relatif stabil Penempatan TKI selama 27 meningkat 5% dari tahun sebelumnya Transfer berjalan pada 27 mencatat surplus sebesar USD4,9 miliar, relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Penerimaan terbesar masih tetap disumbang oleh workers remittances (WR)-TKI sebesar USD6, miliar atau meningkat 7,4% dibanding USD5,6 miliar pada 26. Kenaikan tersebut selain dari peningkatan penempatan TKI juga karena adanya kenaikan gaji TKI di beberapa negara, a.l.: kawasan Asia (Singapura, Hongkong, Macau) dan kawasan Timur Tengah (Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Oman, Yordan, Syria). Remitansi gaji TKI ke tanah air banyak dilakukan pada triwulan IV-27 terkait dengan kebutuhan keluarga TKI untuk persiapan hari raya Lebaran dan keperluan akhir tahun. Sementara itu, outflows WR-TKA (Tenaga Kerja Asing) pada 27 sebesar USD1,5 miliar atau meningkat sekitar 41,3% dari USD1,1 miliar pada tahun sebelumnya. Peningkatan penerimaan WR-TKI ditopang oleh bertambahnya penempatan TKI di beberapa negara tujuan. Penempatan TKI selama tahun 27 mencapai 681 ribu orang, meningkat sekitar 5% dibandingkan 646 ribu orang pada tahun 26. Namun komposisi TKI relatif tidak berubah yaitu TKI-formal (skilled worker) sekitar 25% dari total penempatan dan sebagian besar lainnya (75%) masih TKI-informal. Dari jumlah penempatan TKI tersebut setengahnya (336 ribu orang) ditempatkan di kawasan Asia dan sebagian besar lain (49%) berada di kawasan Timur Tengah & Afrika, sedangkan selebihnya (1%) tersebar di kawasan Amerika, Eropa dan Australia. Secara gender, TKI perempuan masih tercatat sebagai mayoritas (79%) pekerja Indonesia yang bekerja di LN. Akan tetapi, angka penempatan TKI 27 masih di bawah target penempatan Pemerintah sebanyak 75 ribu orang setahun, meskipun berhasil memenuhi komposisi yang ditargetkan antara 2-3% TKI-formal. Negara tujuan utama penempatan TKI sebagai penyumbang terbesar WR adalah Malaysia USD 2,6 miliar (44%), Arab Saudi USD1,7 miliar (29%), Hongkong USD417 juta (7%) dan Taiwan USD358 juta (6%). Dari jumlah TKI yang bekerja di LN (stok TKI) untuk posisi sampai dengan akhir tahun 27 tercatat sekitar 4,3 juta orang, dan sekitar 82% TKI bekerja di Malaysia dan Arab Saudi. Namun demikian, komposisi TKI di kedua negara tersebut berbeda, sekitar 91% TKI di Arab Saudi bekerja di sektor informal terutama sebagai pembantu rumah tangga, sedangkan TKI di Malaysia hampir separuhnya (44%) bekerja di sektor formal sebagai pekerja di perkebunan dan bangunan. Jumlah TKI yang bekerja di LN pada 27 tersebut relatif menurun dibandingkan tahun sebelumnya (4,7 juta orang) akibat pemulangan TKI dalam jumlah banyak khususnya dari Malaysia terkait berakhirnya masa tanam di perkebunan. 36 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
46 Indonesia penerima remitansi terbesar ke-3 se Asia Pasifik Bursa kerja LN dan negosiasi gaji TKI untuk menaikan remitansi Kerjasama dengan perbankan sebagai upaya peningkatan remitansi Remitansi yang dikirim pekerja luar negeri (migran workers) kepada keluarga di tanah airnya (negara berkembang) menurut data Bank Dunia pada tahun 27 mencapai USD 24 miliar, atau hampir mencapai 2/3 aliran Foreign Direct Investment (FDI) ke negara berkembang. Negara penerima remitansi terbesar sedunia pada tahun 27 adalah India (USD27 miliar), China (USD 25,7 miliar) dan Meksiko (USD25 miliar). Sedangkan penerimaan remitansi (WR inflows) Indonesia pada 27 berada pada urutan ketiga penerima remitansi terbesar di kawasan Asia Pasifik setelah China dan Filipina (USD17, miliar). Jumlah pekerja luar negeri di kawasan Asia Pasifik tercatat sekitar 19,3 juta orang atau hanya sekitar 1% populasi dikawasan itu. Adapun negara asal pekerja luar negeri di kawasan Asia Pasifik a.l.: India, China, Indonesia, Vietnam, Thailand, Malaysia, Korea Selatan, Kamboja, Myanmar, Papua Nugini, dan Laos. Salah satu upaya Pemerintah dalam menaikkan WR-TKI melalui peningkatan penempatan TKI-LN adalah implementasi bursa kerja luar negeri sampai di tingkat kecamatan, yang sudah berjalan pada tahun 27, yaitu Kabupaten Langkat dan Gresik. Sementara itu, pemerintah juga telah berhasil menegosiasikan kenaikan gaji TKI yang bekerja di Singapura sejak Tw. III-27 menjadi SGD 35 dari SGD 28, dan sudah diterapkan sebanyak 5%, sedangkan Arab Saudi sejak triwulan IV-27 telah berjalan dengan gaji 8 real (USD 214), dan sudah diterapkan sebanyak 8-9% serta menjadi pertimbangan dalam penerbitan SIP (Surat Ijin Pengerahan) bagi TKI yang akan berangkat ke LN. Walaupun terjadi kenaikan gaji di beberapa negara khususnya Asia dan Timur Tengah, kenaikan nilai remitansi pada tahun 27 tidak terlalu besar karena adanya pemulangan TKI yang besar dari Malaysia pada pertengahan 27. Dalam rangka meningkatkan penerimaan devisa dari TKI, khususnya melalui perbankan, Pemerintah (BNP2TKI) telah melakukan upaya berupa kerjasama dengan perbankan seperti BNI, Bank Mandiri dan BRI serta beberapa BPR (Bank Perkreditan Rakyat) terkait dengan transfer WR dan pemberian kredit untuk penempatan TKI, seperti keharusan TKI untuk membuka tabungan sebagai sarana pengiriman dan cara menabung hasil kerja di luar negeri, khususnya bagi TKI sektor informal. Dengan upaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan remitansi WR-TKI melalui jalur perbankan yang saat ini baru mencapai 17% dari total remitansi, sedangkan sebagian besar lainnya melalui lembaga non perbankan seperti kantor pos, agen pengiriman uang, maupun jalur informal seperti dititipkan melalui teman atau saudara. Salah satu permasalahan minimnya remitansi melalui jalur perbankan berdasarkan hasil penelitian kerjasama BI dan ITB (27) adalah kecepatan penerimaan uang oleh keluarga di tanah air, biaya pengiriman yang dirasakan relatif mahal. Realisasi 27 dan Proyeksi 28 37
47 Grafik 38 Perkembangan Workers Remittances - TKI juta USD 2, 1,5 1, , Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * TKI Inflow TKA Outflow w orker remittance, net Realisasi penerimaan hibah noninvestasi 27 mengalami peningkatan Bantuan hibah 27 dari UNDP Penerimaan hibah non investasi pada 27 mencapai USD331 juta, lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar USD195 juta. Hibah non investasi adalah bantuan berupa barang habis pakai seperti makanan, pakaian, dan obat-obatan. Penyaluran hibah masih didominasi oleh (NGO) sekitar 9%, lebih tinggi dibandingkan yang diterima dan disalurkan melalui pemerintah. Hibah yang disalurkan melalui NGO mencapai USD298 juta meningkat dibandingkan USD173 juta pada 26. Sedangkan hibah yang disalurkan melalui Pemerintah mencapai USD33 juta lebih besar dari USD22 juta pada tahun sebelumnya. Penerimaan hibah tersebut terkait dengan bantuan untuk mengatasi keadaan darurat di beberapa daerah bencana gempa seperti Bengkulu dan Padang, serta beberapa proyek untuk pembangunan pedesaan, pengentasan kemiskinan, penguatan pendidikan, perbaikan sarana kesehatan, dan lain-lain. Beberapa negara yang menjadi donor antara lain Jerman, Swiss, UEA, Arab Saudi, Australia, Austria, Malaysia dan lembaga internasional seperti UNICEF, JICA dan WHO. Pada bulan September 27, 42 unit usaha khususnya bengkel reparasi AC mobil di Jawa Tengah mendapatkan bantuan hibah berupa peralatan usaha dari United Nations Development Programme (UNDP) untuk mengimplementasikan Protokol Montreal. Konsekuensinya, 42 perusahaan itu tidak boleh menggunakan bahan-bahan perusak ozon atau BPO, terutama chloro fluoro carbon atau CFC. CFC merupakan bahan kimia yang di antaranya vital digunakan sebagai pendingin pada penyejuk ruangan dan lemari es, juga bahan pembuatan busa, namun berkontribusi besar merusak lapisan ozon di stratosfer. Protokol Montreal merupakan traktat internasional yang mengatur tentang penggunaan zat-zat perusak lapisan ozon. Bantuan hibah tersebut berupa sebuah mesin pembuat busa senilai 26. dollar AS dan pelatihan tentang Perlindungan Lapisan Ozon, serta pembuat cool storage (gudang pendingin) di Lemah Gempal, Semarang. 38 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
48 Tabel 24 Perkembangan Hibah Non Investasi (juta USD) HIBAH NON INVEST. (Current Transfer) Q.1. Q Q.3 Q.4 Total Q.1 Q.2 27* Q.3 Q.4 Total Total Public (Govt.) Private (NGO) sumber: BRR & UN Realisasi 27 dan Proyeksi 28 39
49 HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN 4 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
50 TRANSAKSI MODAL DAN FINANSIAL Transaksi modal dan finansial pada 27 mencatat penurunan surplus dibandingkan tahun sebelumnya Transaksi modal dan finansial pada 27 mencatat surplus sekitar USD2,8 miliar, sedikit lebih rendah dari surplus pada tahun sebelumnya sebesar USD2,9 miliar. Penurunan berasal dari transaksi finansial sebagai dampak krisis subprime mortgage di AS khususnya investasi portofolio pada semester II-27. Grafik 39 Perkembangan Transaksi Modal dan Finansial per Jenis Investasi Juta USD 5 Juta USD Direct Investment Portfolio Investment Other Investment Capital Account (RHS) Financial Account Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * Transaksi Modal Transaksi modal mengalami peningkatan surplus daripada tahun sebelumnya Transaksi modal pada 27 mencatat surplus sebesar USD53 juta, lebih tinggi dibandingkan USD35 juta pada 26. Surplus tersebut terutama berasal dari bantuan hibah untuk investasi, seperti pembangunan rumah tinggal, jembatan, jalan, sekolah, dan lain-lain. Keseluruhan hibah tersebut diberikan masih dalam rangka bantuan korban bencana alam di beberapa tempat di tanah air serta beberapa proyek infrastruktur pedesaan dan masyarakat miskin di perkotaan. Dari total hibah tersebut, sebagian besar (88%) merupakan hibah investasi melalui sektor swasta (NGO) yakni sekitar USD465 juta dan sisanya USD65 juta melalui sektor publik (pemerintah). Hibah investasi mengalami peningkatan Salah satu bentuk hibah investasi adalah bantuan hibah dari pemerintah Jepang pada akhir tahun 27 kepada Polisi Perairan Mabes Polri berupa tiga kapal patroli (KP). Pemberian kapal patroli tersebut untuk memperkuat polisi perairan Mabes Polri dalam penanganan aksi-aksi kejahatan di perairan nasional, seperti perompakan dan terorisme di laut, dan penyebaran senjata di perairan Indonesia, khususnya Selat Malaka, dimana sebagian besar kapal-kapal Jepang menggunakan jalur tersebut. Pelaksanaan hibah tersebut dijembatani oleh Japan International Cooperation Agency (JICA). Realisasi 27 dan Proyeksi 28 41
51 Tabel 25 Perkembangan Hibah Investasi (juta USD) HIBAH INVESTASI (Capital Transfer) Q.1. Q Q.3 Q.4 Total Q.1 Q.2 27* Q.3 Q.4 Q.4 Total Public (Govt.) Private (NGO) sumber: BRR & UN 2. Transaksi Finansial Surplus transaksi finansial sedikit menurun sebagai dampak krisis subprime mortage Transaksi finansial pada 27 mencatat surplus USD2,2 miliar, menurun dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD2,6 miliar. Krisis subprime mortgage di AS pada bulan Juli 27 berdampak pada arus keluar modal investasi portofolio. Namun pada September 27 arus modal kembali mengalami rebound sehingga defisit transaksi modal dan finansial relatif tidak bertambah. Grafik 4 Perkembangan Transaksi Modal dan Finansial Per Sektor Juta USD 5, 4, 3, 2, 1, -1, -2, -3, -4, -5, Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * Sektor Publik Sektor Sw asta Transaksi Modal Neto DI mencatat surplus yang lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya Transaksi modal PMA (DI in Indonesia) mencapai surplus USD5,6 miliar, lebih tinggi dari USD4,9 miliar pada 26. Kenaikan surplus PMA ini terutama didorong oleh bertambahnya modal dari perusahaan afiliasi dan meningkatnya keuntungan perusahaan PMA yang ditanamkan kembali (reinvested earnings), sejalan dengan mulai membaiknya iklim investasi. Kenaikan surplus tersebut berasal dari kenaikan aliran modal masuk PMA yang lebih tinggi dari kenaikan aliran modal keluar. Aliran modal masuk PMA meningkat menjadi USD17,9 miliar dari sebelumnya USD14,1 miliar, sedangkan aliran modal keluar meningkat dari USD9,2 miliar menjadi USD12,3 miliar. Dengan memperhitungkan investasi yang dilakukan oleh penduduk Indonesia di luar negeri (sisi aset) sebesar USD4,4 miliar, total neto DI masih mengalami surplus sebesar USD1,2 miliar, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD2,2 miliar. 42 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
52 Investasi Portofolio mencatat surplus pada 27dan lebih tinggi daripada tahun sebeumnya Investasi Lain mengalami penurunan defisit yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya Transaksi modal portofolio asing (investasi portofolio - liabilities), terutama dalam bentuk pembelian SUN, SBI dan saham mencapai surplus USD1, miliar, lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang mencatat surplus USD6,1 miliar. Dengan memperhitungkan pembelian surat berharga asing oleh penduduk (sisi aset), total investasi portofolio mengalami neto surplus USD7, miliar, lebih tinggi daripada surplus USD4,2 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi liabilities, transaksi modal lainnya (other investment) mencatat defisit sebesar USD,3 miliar, jauh lebih rendah dari defisit pada tahun sebelumnya sebesar USD2,2 miliar. Penurunan defisit ini terutama disebabkan oleh penarikan pinjaman sektor swasta (perusahaan) yang relatif lebih besar dari tahun sebelumnya. Dengan memperhitungkan sisi aset, investasi lainnya selama 27 mengalami neto defisit USD5,9 miliar, lebih tinggi dari defisit USD3,8 miliar pada tahun sebelumnya. Peningkatan neto defisit tersebut sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya trade credit dan aset perusahaan domestik dalam bentuk rekening giro dan deposito di luar negeri. Tabel 26 Perkembangan Aliran Masuk di Transaksi Finansial ITEMS 26 27** Q1 Q2 Q3 Q4 TOTAL Inflows, Liabilities, o/w 14,52 4,878 7,194 3,813 4,136 2,21 Investasi Portfolio, o/w 6,218 2,957 5,475 1, ,96 Sektor Publik 4,514 2,552 4, ,494 5,27 Bonds (Valas) 1, , ,612 SUN 2,29 1,425 1,425 SBI , ,339 1,233 Sektor Swasta 1, ,322 1, ,826 Saham 1, ,282 1, ,559 Surat Utang Korporasi (issued domestic) FDI 4,915 1,61 1,58 1,532 1,92 5,571 Nonmigas 4, ,539 1,55 4,632 Migas Investasi Lainnya, o/w 3, ,938 5,354 Sektor Publik 3, ,34 4,4 Bantuan Program 1, ,76 2,16 Bantuan Proyek 2, ,898 Sektor Swasta ,35 Trade Credit Banking Corporate , Sektor Publik Surplus transaksi finansial di sektor publik mengalami peningkatan Keseluruhan tahun 27 surplus transaksi finansial sektor publik mengalami peningkatan dari USD2, miliar pada tahun 26 menjadi USD2,9 miliar yang didominasi oleh arus masuk modal dalam bentuk investasi portofolio. Peningkatan arus masuk modal tersebut ditopang oleh selisih suku bunga yang masih menarik dan kestabilan makroekonomi yang terjaga, sejalan dengan faktor risiko yang menurun. Realisasi 27 dan Proyeksi 28 43
53 Juta USD 5 Grafik 41 Perkembangan Transaksi Finansial Sektor Publik Portfolio Investment Other Investment Financial Account Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * Debt rating Indonesia meningkat selama 27 Penurunan faktor risiko investasi tersebut salah satunya tercermin dari meningkatnya peringkat surat berharga utang (sovereign rating). Selama 27, beberapa lembaga pemeringkat telah menaikkan peringkat untuk Indonesia, antara lain Moody s memperbaiki ratingnya dari peringkat B1 pada tahun 26 menjadi Ba3, Rating and Investment dari peringkat BB menjadi BB+ dan Japan Credit Rating Agency dari BBmenjadi BB. Namun demikian, beberapa lembaga pemeringkat belum mengubah peringkat surat berharga utang Indonesia. Standar & Poor s masih memberikan rating BB- sama dengan peringkat yang diberikan pada tahun sebelumnya, sedangkan Fitch juga memberikan rating BB- yang tidak berubah sejak tahun 25. Tabel 27 Sovereign rating Indonesia Rating and Investment Japan Credit Rating Moody's Standard & Poor's Fitch Information (R&I) Agency Outlook Stable Outlook Stable Outlook Positive Outlook Stable Outlook Positive 1 Foreign Currency Long Term Debts Ba3 1 Foreign Currency Long Term Debts BB- 1 Foreign Currency Long Term Debts BB- 1 Foreign Currency Long Term Debts BB+ 1 Foreign Currency Long Term Debts BB 2 CC Long Term Foreign Currency Debts 3LC Currency Issuer Rating Ba2 Ba3 2 Local BB+ Currency Long Term Debts 3 Foreign B Currency Short Term Debt 2 Local BB+ Currency Long Term Debts 3 Foreign B Currency Short Term Debt 2 Local Currency Long Term Debts a-3 2 Local Currency Long Term Debts BB+ 4FC Currency Issuer Rating Ba3 4 Local B Currency Short Term Debt 4 Local B Currency Short Term Debt 5 CC Long Term Foreign Bank Depts B1 Peningkatan surplus transaksi finansial terjadi pada semester I 27 Sumber : IRU, BI Peningkatan surplus transaksi finansial terutama terjadi pada semester I 27, namun peningkatan tersebut tertahan oleh gejolak pasar finansial dunia yang dipicu oleh krisis subprime mortgage di AS pada semester II 27. Transaksi finansial mengalami defisit pada Tw.III-27 sebesar USD387 juta dan kemudian meningkat menjadi defisit USD1,4 miliar pada triwulan IV. Defisit pada triwulan III lebih banyak disebabkan oleh tingginya pembayaran pinjaman daripada pengaruh krisis subprime. Sebaliknya defisit pada triwulan IV terjadi terutama karena adanya arus modal keluar dalam investasi portofolio berupa penjualan SBI dan SUN oleh investor asing sebagai akibat dari krisis. 44 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
54 Investasi portofolio sektor publik mengalami peningkatan surplus Investasi portofolio sektor publik untuk keseluruhan tahun 27 mencatat surplus USD5,3 miliar, lebih tinggi dari surplus pada tahun 26 sebesar USD4,5 miliar. Dari sisi eksternal, meningkatnya aliran masuk portofolio ini ditunjang oleh masih besarnya likuiditas pasar keuangan global. Sementara dari sisi domestik, terutama dipengaruhi oleh membaiknya kepercayaan terhadap kondisi makroekonomi dan prospek ekonomi. Perbandingan imbal hasil investasi dalam bentuk rupiah juga masih lebih menarik dibandingkan dengan hasil penempatan di negara kawasan regional. Surplus investasi portofolio terbesar terjadi pada Tw. II- 27 Surplus investasi portofolio terbesar terjadi pada Tw. II-27 akibat meningkatnya pembelian SUN oleh asing. Krisis subprime mortgage yang terjadi pada awal Tw. III-27 memberikan dampak yang signifikan terhadap para investor asing berupa pelepasan kepemilikan SUN dan SBI. Namun demikian, arus modal keluar tersebut tidak berlangsung lama, bahkan aliran modal asing kembali masuk ke Indonesia (lihat boks Dampak krisis subprime mortgage terhadap investasi portofolio ). Penurunan Fed Fund rate, yield spread Global Bond Indonesia dengan US T-Note yang semakin melebar dan masih relatif tingginya imbal hasil investasi rupiah di kawasan regional mampu mengembalikan ketertarikan investor asing serta memulihkan keyakinan investor terhadap kestabilan ekonomi makro pasca krisis sehingga secara keseluruhan triwulan III masih mencatat surplus. Dampak krisis subprime mortgage masih berlanjut hingga triwulan IV. Banyaknya investor global yang mengalami kerugian akibat krisis telah mendorong beberapa investor asing mengurangi portofolionya di Indonesia. Krisis subprime juga memberi dampak pada risk repricing terhadap seluruh penempatan investasi. Dampak lanjutan krisis tersebut mengakibatkan arus keluar berupa penjualan SUN dan SBI milik asing cukup besar, meskipun Fed Fund rate telah diturunkan dari 4,75% menjadi 4,5% pada bulan November dan kemudian menjadi 4,25% pada bulan Desember. Secara keseluruhan triwulan IV mengalami defisit sebesar USD1,5 miliar. Namun demikian, defisit triwulan IV tersebut masih dapat ditutupi oleh besarnya surplus di triwulan II yang mencapai USD4,2 miliar. Grafik 42 Perkembangan yield Global Bond Indonesia dengan US T-Note % Yield Global Bond Indonesia Yield US T Note Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb* * Data Sementara Realisasi 27 dan Proyeksi 28 45
55 Grafik 43 Yield spread Global Bond Indonesia dengan US T-Note dan nilai tukar Rp/USD 9,7 3. IDR/USD Yield Spread 9, ,3 2. 9, ,9 8,7 1. 8,5.5 Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb* * Data Sementara BOKS Dampak Krisis Subprime Mortgage terhadap Investasi Portofolio Krisis kredit perumahan (subprime mortgages) di AS yang terjadi pada 27 Juli 27 telah membawa dampak kerugian tidak hanya pada negara maju tetapi juga meluas pada emerging market dengan skala yang lebih rendah. Meskipun korelasi krisis pasar kredit di AS dan perkembangan pasar finansial Indonesia tidak terdapat economic underlying yang mendasari karena kalangan investor Indonesia diperkirakan tidak memiliki exposure terhadap subprime mortgage back securities, namun krisis tersebut telah berdampak ke Indonesia berupa re-assement terhadap risk apetite emerging market sehingga investor perlu melakukan rebalancing portfolio. 6. Rp triliun 2, Market Crash IHSG (RHS) 2,4 Rp triliun Market Crash SUN & SBI 3. 2, Net foreign buying/selling (LHS) 2, 6 4. 'Jan7 'Jun7 27 Juli'7 28 Des'7 1,8 2-1Juli7 27 Juli 7 28 Des ,6 Sterilnya perbankan dan korporasi dari kepemilikan subprime mortgage menyebabkan dampak krisis pada pasar keuangan domestik berupa pelepasan surat berharga domestik terutama SUN dan SBI oleh investor asing. Pada bulan Juli dan Agustus 27 terjadi penurunan kepemilikan asing pada SUN dan SBI yang cukup signifikan. Investor asing diperkirakan equity friendly dan cenderung mengalihkan penanaman dari SUN pada equity atau risk free treasury bill. Hal ini terkait dengan tingginya supply risk SUN atas potensi penurunan SUN valas akibat kenaikan premi resiko dan peningkatan SUN rupiah. Namun pada akhir September 27, kepemilikan asing pada SUN dan SBI relatif telah kembali pada posisi sebelum krisis, seiring dengan pelebaran interest rate differential pasca kebijakan the Fed untuk menahan laju perlambatan ekonomi AS dengan menurunkan suku bunga acuannya (Fed Fund Rate) sebesar 5 basis poin pada tanggal 18 September 27, dari 5,25% menjadi 4,75%. Sementara itu dampak pada pasar modal domestik relatif masih terjaga, terindikasi dari masih terjadinya neto beli saham oleh asing sekitar Rp8,6 triliun pada bulan Juli dan Agustus 27. Akan tetapi jatuhnya bursa saham global sebagai dampak krisis berpengaruh pada pasar keuangan regional sehingga mendorong penurunan IHSG hingga dibawah indeks 2 pada pertengahan Agustus 27. Akan tetapi indeks kemudian rebound sehingga kembali ke posisi 2194 pada akhir Agustus 27 sejalan dengan kondisi pasar keuangan yang masih likuid. 46 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
56 Grafik 44 Yield Spread investasi finansial beberapa negara di kawasan regional 1 % 8 Indonesia Malaysia Filipina Thailand Singapore Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec Jan Kepemilikan SUN dan SBI oleh asing mengalami peningkatan pada 27 Transaksi SUN tahun 27 mencatat net inflows sebesar USD2,6 miliar lebih tinggi daripada tahun sebelumnya sebesar USD2,2 miliar. Peningkatan ini terkait dengan naiknya penerbitan SUN yang total nominalnya mencapai Rp1 triliun dari Rp62 triliun pada tahun sebelumnya. Sementara itu, krisis subprime mortgage telah mengakibatkan terjadinya pelepasan kepemilikan SUN oleh investor asing sehingga menyebabkan net outflows sebesar USD384 juta pada semester II-27. Sedangkan transaksi SBI pada tahun 27 mencatat net inflows USD1,2 miliar, lebih besar dari tahun sebelumnya sebesar USD375 juta. Besarnya arus masuk berupa pembelian SBI tersebut didorong oleh perbedaan imbal hasil yang masih menarik meskipun suku bunga BI rate selama tahun 27 telah diturunkan dari 9,5% pada awal tahun menjadi 8% di akhir tahun. Krisis subprime mortgage mengakibatkan terjadinya pelepasan kepemilikan SBI oleh investor asing sehingga menyebabkan net outflows sebesar USD1,1 miliar pada semester II-27. Grafik 45 Perkembangan Portfolio Investment (liabilities) miliar USD Public Private Portfolio Investment (liabilities) Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * Realisasi 27 dan Proyeksi 28 47
57 % Grafik 46 SBI rate dan Fed rate SBI rate Fed rate Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des Transaksi finansial innestasi lainnya pada 27 mengalami penurunan defisit Transaksi finansial sektor publik dalam bentuk investasi lainnya pada tahun 27 mengalami penurunan defisit dari USD2,5 miliar pada tahun sebelumnya menjadi USD2,4 miliar. Pengelolaan utang pemerintah 27 tidak dilakukan melalui forum CGI sejalan dengan pembubaran forum tersebut pada awal tahun 27. Dengan demikian, fleksibilitas pengelolaan utang luar negeri dapat lebih baik melalui negosiasi langsung dengan kreditor. Grafik 47 Perkembangan Penarikan Pinjaman Pemerintah Million USD 3,5 3, 2,5 2, 1,5 1, 5 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * Pasca CGI, pencairan pinjaman pemerintah pada 27 mengalami peningkatan Pembubaran CGI tidak serta merta menyebabkan penurunan penarikan utang pemerintah secara drastis, bahkan secara keseluruhan tahun 27, pencairan pinjaman meningkat dari USD3,6 pada tahun sebelumnya menjadi USD4, miliar. Kenaikan penarikan pinjaman tersebut erat kaitannya dengan kebutuhan pendanaan defisit APBN 27 yang lebih tinggi dari 26. Peningkatan penarikan tersebut dibarengi dengan peningkatan pembayaran dari USD6,1 miliar pada tahun sebelumnya menjadi USD6,4 miliar. 48 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
58 Grafik 48 Perkembangan Penarikan dan Pembayaran Pinjaman Pemerintah Juta USD 7 Drawing 6 Repayment Pinjaman program pemerintah pada 27 meningkat Peningkatan penarikan pinjaman terutama bersumber dari pinjaman program yang mengalami kenaikan dari USD1,5 miliar pada tahun sebelumnya menjadi USD2,1 miliar. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, penarikan terbesar terjadi pada triwulan IV yang mencapai USD1,7 miliar. Penarikan pinjaman program untuk keseluruhan tahun 27 paling banyak dilakukan untuk pinjaman yang diperoleh dari ADB sebesar USD9 juta lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar USD6 juta. Demikian juga, penarikan yang diperoleh dari IBRD dan Jepang (JBIC) mengalami peningkatan dari USD53 juta dan USD99 juta pada tahun sebelumnya menjadi USD6 juta dan USD46 juta. Dengan memperhitungkan pembayaran utang terhadap para kreditur tersebut, posisi pinjaman dari ADB meningkat dari USD9,4 miliar pada tahun sebelumnya menjadi USD1,2 miliar, begitu juga dengan posisi pinjaman dari Jepang meningkat dari USD24,5 miliar pada tahun sebelumnya menjadi USD24,6 miliar, sedangkan posisi pinjaman dari IBRD mengalami penurunan dari USD7,4 miliar menjadi USD6,8 miliar. Grafik 49 Perkembangan Penarikan Pinjaman Program Juta USD 1 9 ADB IBRD Jepang (JBIC) Realisasi 27 dan Proyeksi 28 49
59 Grafik 5 Perkembangan Posisi Pinjaman Program Juta USD 35 3 ADB IBRD Jepang Pinjaman proyek pada 27 mengalami penurunan Berkebalikan dengan pinjaman program, penarikan pinjaman proyek justru mengalami penurunan dari USD2,1 miliar pada tahun sebelumnya menjadi USD1,9 miliar. Realisasi penarikan pinjaman sebagian besar dilakukan pada triwulan IV yang mencapai USD634 juta. Rendahnya realisasi pinjaman tersebut antara lain terkait dengan ketersediaan dana pendamping, masalah pembebasan lahan, dan pelaksanaan pembangunan di tingkat daerah (otonomi daerah). Penarikan pinjaman proyek yang diperoleh dari kreditur tunggal (bilateral) mencapai USD664 juta lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar USD797 juta, sedangkan penarikan yang diperoleh dari kreditur multilateral mengalami sedikit peningkatan menjadi USD663 juta dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD64 juta. Sementara itu, pinjaman proyek untuk fasilitas kredit ekspor mengalami penurunan dari USD667 juta menjadi USD571 juta. Dengan memperhitungkan pembayaran utang, posisi pinjaman bilateral dan multilateral meningkat dari USD28,1 miliar dan USD18,8 miliar pada tahun sebelumnya menjadi USD28,6 miliar dan USD19, miliar. Sedangkan posisi pinjaman kredit ekspor pada akhir 27 mencapai USD14,5 miliar lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar USD14,9 miliar. Grafik 51 Perkembangan Penarikan Pinjaman Proyek 1 9 Juta USD Bilateral Multilateral Fasilitas Kredit Ekspor Realisasi 27 dan Proyeksi 28
60 Grafik 52 Perkembangan Posisi Pinjaman Proyek Juta USD 35 3 Bilateral Multilateral Fasilitas Kredit Ekspor Jepang merupakan negara pemberi pinjaman terbesar Dari sisi negara donor, Jepang masih menjadi negara pemberi pinjaman terbesar untuk Indonesia dibandingkan negara lainnya. Porsi utang dari Jepang mencapai 35,5%, diikuti oleh Amerika sebesar 13,2% dan Jerman sebesar 5,5%. Posisi pinjaman luar negeri pemerintah yang diberikan oleh Jepang meningkat dari USD24,5 miliar pada tahun sebelumnya menjadi USD24,6 miliar. Demikian juga posisi pinjaman dari Amerika meningkat dari USD8, miliar pada tahun sebelumnya menjadi USD9,1 miliar, sedangkan posisi pinjaman dari Jerman relatif tetap sebesar USD3,8 miliar. Grafik 53 Perkembangan Posisi Pinjaman per Negara Juta USD 35 3 Jepang Amerika Jerman USD masih mendominasi valuta pinjaman luar negeri Meskipun porsi utang terbesar berasal dari Jepang, namun menurut jenis valutanya, pinjaman dalam bentuk USD masih mendominasi. Posisi pinjaman dalam bentuk USD telah meningkat dari USD29,6 miliar pada tahun sebelumnya menjadi USD3,2 miliar. Begitu juga dengan pinjaman dalam bentuk JPY mengalami sedikit peningkatan dari USD23,9 miliar pada tahun sebelumnya menjadi USD24,2 miliar. Sedangkan posisi pinjaman dalam bentuk Euro sedikit meningkat dari USD1,2 miliar pada tahun sebelumnya menjadi USD1,5 miliar. Realisasi 27 dan Proyeksi 28 51
61 Grafik 54 Perkembangan Posisi Pinjaman Menurut Jenis Valuta 35 Juta USD USD JPY EUR Posisi ULN pada 27 meningkat Dengan perkembangan tersebut, secara keseluruhan posisi utang luar negeri pemerintah (di luar SUN dan SBI yang dimiliki asing) masih mengalami kenaikan dari USD67,7 miliar pada tahun 26 menjadi USD69,3 miliar. Namun demikian, ratio utang pemerintah terhadap PDB mengalami penurunan dari 18,3% (26) menjadi 15,9%. Grafik 55 Perkembangan Posisi Utang Luar Negeri Pemerintah Juta USD Posisi ULN Pemerintah Ratio ULN Pemerintah terhadap PDB % Sektor Swasta Transaksi finansial swasta pada 27 mencatat defisit berkebalikan dengan l tahun sebelumnya Transaksi finansial sektor swasta selama 27 mengalami neto defisit USD,7 miliar, turun dibandingkan surplus sebesar USD,6 miliar pada 26. Penurunan tersebut terutama berasal dari peningkatan outflows di sisi assets yang lebih besar daripada peningkatan inflows di sisi liabilities. 52 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
62 Grafik 56 Perkembangan Transaksi Finansial Sektor Swasta Juta USD 4, 3, 2, 1, -1, -2, Direct Investment -3, Portfolio Investment -4, Other Investment -5, Financial Account -6, Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * Surplus FDI pada 27 lebih tinggi dari tahun sebelumnya Aliran masuk investasi jangka panjang (FDI/direct investment in Indonesia) selama 27 mengalami peningkatan cukup signifikan sebesar 19.1% dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan terutama terjadi pada inflows sektor nonmigas yang naik tajam sekitar 37,4%, sedangkan sektor migas meningkat 8,5%. Setelah memperhitungkan arus keluar FDI terutama berupa cost recovery perusahaan migas dan pembayaran ULN perusahaan FDI nonmigas kepada perusahaan induknya di luar negeri, aliran modal FDI neto mencapai USD5,6 miliar, lebih tinggi daripada USD4,9 miliar pada 26. Dengan memperhitungkan investasi penduduk di luar negeri (direct investment abroad), transaksi neto DI (direct investment) mencapai surplus USD1,2 miliar, lebih rendah dibandingkan USD2,2 miliar pada tahun sebelumnya. Grafik 57 Perkembangan Direct Investment di Indonesia Juta USD 4,5 4, 3,5 3, 2,5 2, 1,5 1, 5 Inflows Oil & Gas Inflows Non Oil & Gas FDI, net Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * Arus masuk modal FDI sektor migas meningkat Arus masuk modal FDI di sektor migas meningkat dari USD6,6 miliar menjadi USD7,2 miliar pada 27. Peningkatan tersebut sejalan dengan bertambahnya kegiatan operasional perusahaan migas di Indonesia baik dalam rangka menambah produksi maupun mempertahankan kegiatan operasinya terkait dengan kenaikan harga minyak. Pada periode yang sama, arus keluar modal FDI di sektor migas mencapai USD6,3 miliar. Relatif tingginya arus modal keluar tersebut terkait dengan meningkatnya biaya operasional kegiatan eksplorasi dan eksploitasi akibat: (1) meningkatnya biaya teknologi untuk mengoptimalkan produksi lapangan brown field; (2) meningkatnya biaya sewa Realisasi 27 dan Proyeksi 28 53
63 peralatan akibat tingginya permintaan dan kenaikan harga minyak, seperti sewa rig untuk proses pengeboran minyak. Grafik 58 Arus Masuk FDI Migas Million USD 2,4 2,2 2, 1,8 1,6 1,4 1,2 1, Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * Arus masuk PMA sektor nonmigas juga meningkat Di sisi lain, dalam periode laporan, terjadi peningkatan arus masuk FDI sektor nonmigas sebesar USD5,3 miliar dari USD3,8 miliar pada tahun sebelumnya. Peningkatan arus masuk tersebut sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi, khususnya investasi di dalam negeri. Arus masuk modal tersebut berupa tambahan modal ekuitas sebesar USD6,2 miliar dan utang sebesar USD5,5 miliar dari perusahaan induk di luar negeri, masing-masing meningkat dari tahun sebelumnya sebesar USD4,6 miliar dan USD3,6 miliar. Salah satu penyumbang peningkatan modal ekuitas tersebut adalah akuisisi beberapa anak perusahaan PT Bumi Resources Tbk oleh Tata Power Company Ltd. (India) dengan nilai transaksi USD1,1 miliar pada Tw. II-27. Sementara itu, tidak tercatat aliran masuk FDI melalui privatisasi yang dilakukan melalui strategic sale dan restrukturisasi perbankan. Tingginya arus masuk FDI tersebut juga tercermin pada meningkatnya penyertaan modal secara cash melalui bank yang dipantau melalui Sistem Monitoring LLD. Grafik 59 Arus Masuk FDI Nonmigas Milion USD 4,5 4, 3,5 3, 2,5 2, 1,5 1, 5 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * 54 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
64 Grafik 6 Penyertaan Modal Juta USD Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 26* 27** Sumber : Sistem Monitoring Lalu Lintas Devisa Juta USD Grafik 61 Perkembangan Realisasi PMA di BKPM Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 26* 27** Sumber : BKPM Data realisasi PMA 27 di BKPM relatif meningkat dibandingkan tahun sebelumnya Peningkatan arus masuk PMA sejalan dengan kenaikan realisasi investasi berdasarkan Izin Usaha Tetap (IUT) PMA yang dilaporkan oada BKPM selama periode laporan dengan nilai sebesar USD1,3 miliar, relatif meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD6, miliar. Demikian juga jumlah proyek yang direalisasikan mengalami peningkatan menjadi 983 proyek dari 867 proyek. Secara sektoral, trasportasi, gudang & komunikasi merupakan sektor yang paling diminati investor senilai USD3,3 miliar (43 proyek), industri kimia & farmasi USD1,6 miliar (32 proyek); disusul oleh industri logam, mesin & elektronik USD,7 miliar (99 proyek); industri makanan USD,7 miliar (53 proyek), serta industri kertas & percetakan USD,7 miliar (11 proyek). 1 1 Definisi PMA menurut NPI berbeda dengan definisi PMA menurut BKPM. Perbedaan definisi tersebut dapat dilihat pada box Laporan NPI edisi Mei 27 Realisasi 27 dan Proyeksi 28 55
65 Tabel 28 Perkembangan Realisasi PMA Sektoral Sektor 27 P I % Transportasi, Gudang & Komunikasi 43 3, Jasa Lainnya Industri Makanan Tanaman Pangan, Perkebunan & Perikanan Ind. Logam, Mesin & Elektronik Perdagangan & Reparasi Hotel & Restoran Ind. Kend. Bermotor & Alat Transportasi Lainnya Industri Kayu Industri Tekstil Industri Karet & Plastik Ind. Kimia & Farmasi 32 1, Pertambangan Industri Kertas & Percetakan Lainnya Jumlah 983 1,35 1 sumber: BKPM Keterangan: P : Jumlah Izin Usaha Tetap yang dikeluarkan I : Nilai Realisasi Investasi PMA dalam US$ Juta Investasi portfolio sektor swasta mencatat peningkatan surplus Dari sisi liabilities, investasi portofolio neto sektor swasta mengalami peningkatan dari USD1,6 miliar pada 26 menjadi USD4,7 miliar pada 27. Peningkatan tersebut berasal dari derasnya arus masuk modal ke pasar saham. Dengan memperhitungkan kenaikan investasi portofolio penduduk di luar negeri dalam bentuk surat berharga, secara neto investasi portofolio sektor swasta masih mencatat surplus sebesar USD1,7 miliar jauh lebih tinggi dari defisit USD,3 miliar pada tahun sebelumnya. Transaksi saham pada 27 mengalami net inflows Transaksi saham sepanjang 27 mengalami neto inflows sebesar USD3,6 miliar, lebih tinggi dari USD1,9 miliar pada tahun sebelumnya. Meningkatnya neto inflows transaksi saham tersebut sejalan dengan meningkatnya IHSG pada akhir tahun 27 yang ditutup pada posisi 2.739,74, bahkan sempat menyentuh level tertinggi sepanjang sejarah, yaitu sebesar 2.81,962 (11 Desember 27). Beberapa faktor penyebab meningkatnya aliran masuk investasi saham antara lain: (1) kinerja perusahaan emiten yang menunjukkan peningkatan yang signifikan, terutama didorong oleh kinerja beberapa perusahaan sektor pertambangan dan pertanian; (2) adanya privatisasi beberapa BUMN pada Semester II-27 seperti PT. BNI Tbk, PT. Wika Tbk dan PT. Jasa Marga Tbk; (3) serta persepsi asing yang melihat perekonomian semakin membaik, sebagaimana ditunjukkan oleh indikator makroekonomi yang positif. Sementara itu, dampak krisis subprime mortage terhadap pasar modal domestik relatif masih terbatas. Saham sektor perbankan, pertambangan, perkebunan dan pertambangan diminati investor asing Beberapa saham unggulan yang menarik minat investor asing diantaranya saham sektor perbankan (BCA, Mandiri, BRI), sektor pertambangan (Int. Nickel Indonesia, PGN, Bumi Resource), sektor telekomunikasi (Indosat, Telkom), dan sektor perkebunan (Astra Agro Lestari). Di samping itu, pada 27 terdapat penawaran saham baru (IPO) oleh 22 emiten dari target BEI sekitar 25 emiten baru yang diproyeksikan listing di bursa pada 56 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
66 27 serta 23 emiten yang mengeluarkan right issues. Namun demikian, selama tahun 27 terdapat 7 (tujuh ) emiten yang keluar bursa (delisting) dari BEI, yaitu PT Korpora Persada Investama Tbk (KOPI), PT Makindo Tbk (MKDO), PT Great River International Tbk (GRIV), PT Sari Husada Tbk (SHDA), PT Summitplast Tbk (SMPL), PT Bank Arta Niaga Kencana (ANKB) dan PT Mulialand Tbk (MLND). Beberapa faktor penyebab perusahaan keluar bursa, selain dari sisi intern perusahaan seperti kinerja dan transparansi informasi, juga karena perusahaan tidak dapat memenuhi business plan yang disyaratkan oleh BEI. Grafik 62 Perkembangan Transaksi Asing di BEJ dan IHSG 5,5 Miliar USD Foreign Net Buying IHSG IHSG 3,2 2,8 3,5 2,4 2, 1,5 1,6 1,2-5 Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec 27 8 Sumber : JSX Proffitabilitas perusahaan dan harga saham mengalami peningkatan Meningkatnya kinerja di lantai bursa yang cukup signifikan tersebut juga didorong oleh peningkatan profitabilitas perusahaan khususnya Return On Equity (ROE) yang terus meningkat pada periode laporan. Selain itu meningkatnya kinerja pasar saham regional ikut berperan dalam perbaikan kinerja bursa saham domestik. Secara sektoral, perusahaan yang bergerak dibidang properti dan konstruksi serta pertambangan mencatat kenaikan tingkat pengembalian yang lebih tinggi dibandingkan sektor ekonomi lainnya. Kondisi pasar yang bullish tersebut sejalan dengan peningkatan harga saham yang tercermin dari indikator Price Earning Ratio (PER) yang terus meningkat secara bertahap pada 27. Grafik 63 Perkembangan PER Saham % PER weighted average PER average Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 27 Sumber : JSX Realisasi 27 dan Proyeksi 28 57
67 Secara sektoral, kenaikan PER didominasi oleh sektor pertambangan, properti dan industri Membaiknya profitabilitas beberapa perusahaan di sektor pertambangan, sektor properti & konstruksi, dan sektor industri barang konsumsi ikut mendorong kenaikan harga saham sektor tersebut yang ditunjukkan oleh meningkatnya rata-rata PER. Tabel 29 Perkembangan PER Sektor Ekonomi Rata-rata PER Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des pertanian pertambangan industri dasar&kimia aneka industri industri barang konsumsi properti,re&konstruksi Rata-rata sumber : JSX Investasi surat utang korporasi dalam negeri mencatat neto inflows Sementara itu, transaksi investasi portofolio dalam bentuk surat utang yang diterbitkan korporasi domestik baik di pasar dalam negeri dan luar negeri mencatat neto inflows sebesar USD1,2 miliar, meningkat dibandingkan defisit USD35 juta pada 26. Penerbitan obligasi domestik yang dilakukan pada 27 antara lain PT Jasa Marga, PT Astra Sedaya Finance, dan PT Jakarta Propertindo, PT BNI Tbk dan PT Wika Tbk. Kenaikan penerbitan surat utang korporasi didorong oleh meningkatnya kebutuhan dana untuk keperluan refinancing terkait dengan membaiknya situasi ekonomi dan kinerja korporasi yang membutuhkan tambahan investasi untuk keperluan ekspansi. Grafik 64 Perkembangan Surat Berharga Hutang Swasta (Neto) Juta USD Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * Diterbitkan di DN Diterbitkan di LN Investasi lainnya sektor swasta mencatat peningkatan cukup signifikan Di sisi liabilities, investasi lainnya sektor swasta mencatat peningkatan surplus dari USD292 juta pada 26 menjadi USD2,1 miliar. Peningkatan surplus tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan pembayaran utang luar negeri sektor perbankan dan korporasi. Pembayaran ULN sektor perbankan menurun dari USD1,1 miliar menjadi USD99 juta. Sedangkan pembayaran ULN sektor korporasi, terutama lembaga keuangan nonbank, naik dari USD1,3 miliar menjadi USD1,5 miliar. Sementara itu, penarikan pinjaman luar negeri sektor swasta (perbankan dan korporasi) naik dari USD7,5 miliar menjadi USD9,2 miliar pada 27. Perkembangan ini diperkirakan terjadi akibat pertumbuhan investasi riil selama 27 yang tumbuh lebih tinggi dari ekspektasi semula sementara kapasitas membayar menurun seiring dengan memburuknya kinerja 58 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
68 keuangan dunia usaha sebagai dampak krisis subprime mortgage. Dengan perkembangan tersebut, posisi utang luar negeri sektor swasta pada akhir 27 menjadi USD53,9 miliar. Masing-masing utang lembaga keuangan (bank dan non bank) sebesar USD7,5 miliar dan utang bukan lembaga keuangan sebesar USD46,4 miliar. Grafik 65 Perkembangan Penarikan Pinjaman Swasta 4, 3,5 3, 2,5 2, 1,5 1, 5 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q * Terjadi peningkatan penempatan investasi lainnya oleh penduduk ke luar negeri Di sisi aset, penempatan investasi lainnya oleh penduduk ke luar negeri bertambah sebesar USD5,6 miliar, lebih kecil dari tahun sebelumnya yang meningkat sebanyak USD1,6 miliar. Namun demikian, simpanan milik bank di luar negeri mengalami penurunan sebesar USD2,3 miliar. Penurunan currency & deposits milik bank tersebut terkait dengan tingginya arus keluar modal investasi portofolio di Tw. IV-27. Pada periode tersebut simpanan milik bank di luar negeri mengalami penurunan sebesar USD4,2 miliar. Tingginya pelepasan surat-surat berharga domestik oleh asing tersebut menyebabkan meningkatnya kebutuhan valas oleh asing yang tercermin oleh aliran keluar valas pada transaksi perdagangan valas di nostro bank. Dengan perkembangan tersebut, secara neto investasi lainnya sektor swasta mengalami kenaikan defisit dari USD1,3 miliar menjadi USD3,6 miliar. Perkembangan ini tercermin juga dalam pergerakan rekening milik bukan penduduk di perbankan domestik (vostro). Grafik 66 Perkembangan Nostro Bank berdasarkan Jenis Transaksi 6, Juta USD 4, 2, -2, -4, -6, Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 26* 27** Ekspor/Impor Penyertaan Modal Pinjaman Lainnya Perdagangan Valas Sumber : Sistem Monitoring Lalu Lintas Devisa Realisasi 27 dan Proyeksi 28 59
69 Grafik 67 Perkembangan Sumber & Penggunaan Vostro (Gross) (Juta USD) 3, 27,5 25, 22,5 2, 17,5 15, 12,5 1, 7,5 5, 2,5 Penjualan Surat Berharga Pembelian Surat Berharga Sumber Vostro Penggunaan Vostro Penjualan Valas/Rp Pembelian Valas/Rp Implementasi PBI No.7/14/PBI/25 Volume telah jauh melampaui sebelum implementasi PBI No.7/14/PBI/25 Ja n F e b M a r A p r M a y Ju n Ju l A u g S e p O c t N o v D e c Ja n F e b M a r A p r M a y Ju n Ju l A u g S e p O c t N o v D e c Ja n F e b M a r A p r M a y Ju n Ju l A u g S e p O c t N o v * ) D e c * * ) Sumber : Sistem Monitoring Lalu Lintas Devisa 6 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
70 CADANGAN DEVISA Posisi cadangan devisa Pada akhir 27 meningkat mencapai USD56,9 miliar Komposisi cadev berupa securities dan currency & deposits mengalami peningkatan Sejalan dengan kenaikan surplus neraca pembayaran Indonesia, cadangan devisa pada akhir tahun 27 mencapai USD56,9 miliar, meningkat cukup signifikan sekitar USD14,3 miliar (34%) dibandingkan posisi pada akhir tahun sebelumnya sebesar USD42,6 miliar. Kenaikan cadangan devisa terbesar terjadi pada triwulan IV sekitar USD4, miliar sejalan dengan meningkatnya penerimaan devisa hasil ekspor migas akibat kenaikan harga minyak dunia dan tingginya realisasi pinjaman luar negeri pemerintah. Jumlah cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah selama 5,7 bulan. Komposisi cadangan devisa terbesar berupa surat-surat berharga (securities) yang tercatat sebesar USD32,69 miliar (57,4% dari total cadangan devisa), meningkat dari tahun sebelumnya sebesar USD25,58 miliar. Komponen terbesar lainnya adalah currency & deposits sebesar USD21,87 miliar (38,4%), juga meningkat dari USD15,12 miliar pada tahun sebelumnya. Grafik 68 Cadangan Devisa dan Bulan Impor juta USD 55, 5, 45, 4, 35, 3, 25, 2, 15, 1, 5, Cadev Bulan Impor Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q bln impor dan pembayran ULN Pemerintah Realisasi 27 dan Proyeksi 28 61
71 HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN 62 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
72 INDIKATOR SUSTAINABILITAS EKSTERNAL Ketergantungan ekonomi pada permintaan eksternal sedikit menurun DSR cenderung menurun terkait tingginya kinerja ekspor nonmigas Potensi pembayaran ULN cenderung menurun Pada 27 peran sektor eksternal terhadap pembentukan PDB relatif menurun dibandingkan tahun sebelumnya, sebagaimana tercermin pada penurunan rasio surplus transaksi berjalan terhadap PDB yang mencapai 2,5% dari 2,9% pada tahun sebelumnya. Penurunan tersebut terutama terjadi pada triwulan III (rasio 2,3%) akibat berkurangnya surplus transaksi berjalan terkait dengan meningkatnya impor khususnya sektor nonmigas. Adapun rasio ekspor plus impor terhadap PDB yang mencerminkan derajat keterbukaan ekonomi Indonesia mengalami kenaikan sebagai akibat dari lebih kuatnya kinerja ekspor dan permintaan impor relatif terhadap pertumbuhan PDB. Sementara itu, beban pembayaran ULN yang tercermin pada DSR cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya, sehubungan dengan tingginya kinerja ekspor nonmigas dan berkurangnya beban pembayaran ULN (DSP) pada periode laporan. Penurunan DSP tersebut lebih disebabkan tidak ada lagi pembayaran cicilan IMF pasca percepatan pelunasan utang pada tahun 26. Peningkatan outstanding utang luar negeri yang disertai dengan kenaikan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi telah menurunkan beban pembayaran ULN ke depan sebagaimana tercermin pada rasio eksternal debt terhadap PDB yang menurun. Demikian juga, kemampuan untuk membayar ULN cenderung meningkat, sebagaimana tercermin pada rasio posisi ULN terhadap posisi cadangan devisa yang menurun. Tabel 3 Indikator Sustainabilitas Eksternal 26 27* Indikator Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Total Transaksi Berjalan/PDB (%) Ekspor - Impor Barang dan Jasa / PDB (%) Ekspor + Impor Barang dan Jasa / PDB (%) DSR (%) DSR (diluar kewajiban IMF) (%) Posisi ULN Total (juta USD) 128, , , , ,64 136,64 Posisi ULN Jangka Pendek (juta USD) 8,315 8,474 1,896 11,355 14,125 14,125 Cadangan Devisa (juta USD) 42,586 47,221 5,924 52,875 56,92 56,92 PDB (annualized) (juta USD) 369,29 386,54 44, , , ,942 Posisi ULN Total/PDB (%) Posisi ULN Jangka Pendek/PDB (%) Posisi ULN Total/Cadangan Devisa (%) Posisi ULN Jangka Pendek/Cadangan Devisa (%) ket. Transaksi Berjalan, Ekspor,Impor (annualized) Indikasi kerentanan sektor eksternal menunjukkan perbaikan namun masih rentan thd resiko gejolak eksternal Meskipun beberapa indikator eksternal menunjukkan perbaikan, ekonomi Indonesia masih rentan terhadap resiko gejolak eksternal, yang ditunjukkan oleh meningkatnya rasio ULN jangka pendek terhadap cadangan devisa. ULN jangka pendek tersebut banyak dimiliki oleh perusahaan bukan lembaga keuangan dengan pangsa kepemilikan sekitar 56% dan bank sekitar 2%. Sementara itu, meningkatnya kerentanan tersebut juga terkait dgn masih derasnya aliran masuk investasi portofolio. Realisasi 27 dan Proyeksi 28 63
73 HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN 64 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
74 PROYEKSI NPI 28 DAN ASUMSI YANG MELATARBELAKANGINYA Ekonomi dunia terutama negara maju tahun 28 diperkirakan melambat Meskipun melambat, perekonomian negara berkembang diperkirakan relatif tumbuh cukup kuat Ekonomi dunia 28 diperkirakan tumbuh 4,1%, melambat dibandingkan 27 meski dalam level yang cukup tinggi. Angka tersebut merupakan revisi IMF atas perkiraan sebelumnya sebesar 4,4% sejalan dengan gejala perlambatan ekonomi yang semakin jelas, terutama di negara maju. Koreksi untuk perkiraan PDB negara maju lebih besar dibandingkan dengan revisi untuk negara berkembang. Hal ini terkait dengan krisis subprime mortgage di AS telah berdampak luas ke sektor industri, tenaga kerja, dan konsumsi. Pertumbuhan ekonomi negara maju diperkirakan turun dari 2,5% di 27 menjadi 1,8% pada 28. Kawasan negara berkembang, dengan didukung Cina dan India, sejauh ini relatif dapat bertahan dan masih tumbuh cukup kuat. Negara berkembang diperkirakan tumbuh 6,9% di 28, turun dari 8,1% pada 27, didukung oleh permintaan domestik yang kuat serta harga komoditas yang masih tinggi. Selain itu, perkembangan intratrade regional yang semakin meningkat akibat diversifikasi tujuan ekspor, mengakibatkan berkurangnya ketergantungan perdagangan negara regional Asia terhadap negara maju khususnya AS. Dengan demikian, dampak perlambatan ekonomi global diperkirakan sebagian dapat dikompensasi oleh tingginya pertumbuhan ekonomi negara berkembang. Tabel 31 Asumsi NPI ITEMS 27* 28** Asumsi Ekonomi Dunia Pertumbuhan Ekonomi Dunia (%) Volume Perdagangan Dunia (%) Harga Komoditi NonMigas Dunia (%) Asumsi Ekonomi Domestik PDB (yoy, %) Inflasi IHK (%) Harga Minyak (USD/bbl) Produksi Minyak (mbpd) Konsumsi BBM (juta barel/tahun) Sumber: BI, WEO dan APBN Pengaruh global pada kinerja sektor eksternal diperkirakan relatif terbatas Dengan perkembangan tersebut, pengaruh global pada kinerja sektor eksternal diperkirakan relatif terbatas, tercermin dari perkiraan volume perdagangan dunia 28 sebesar 6,7% atau sedikit melambat dari 27 sebesar 7,1%. Namun rata-rata harga Realisasi 27 dan Proyeksi 28 65
75 komoditas nonmigas di pasar internasional diperkirakan akan sedikit menurun sekitar 2,8%. Penurunan tersebut terkait dengan membaiknya pasokan terutama produk logam, serta sisi permintaan yang tidak sekuat tahun 27 sejalan dengan melambatnya ekonomi dunia khususnya negara maju. Harga komoditas pertanian diperkirakan tetap tinggi atau bahkan meningkat terutama komoditas yang terkait dengan pangan akibat peningkatan kesejahteraan di negara berkembang, pengembangan produksi biofuel, dan komoditas yang merupakan produk substitusi seperti CPO dan jagung. Namun level harga yang masih cukup tinggi diperkirakan masih menarik bagi produsen domestik untuk menambah kapasitas ekspor sehingga memperlonggar sisi pasokan. Perkembangan harga komoditas tersebut masih berdampak positif terhadap kinerja ekspor Indonesia. Harga minyak dunia diperkirakan akan terus meningkat Pertumbuhan ekonomi domestik diperkirakan mencapai 6,2% Harga minyak dunia diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan faktor fundamental yang masih ketat, ditandai dengan masih terbatasnya spare capacity OPEC sementara konsumsi minyak dunia tetap tinggi akibat kuatnya ekspansi ekonomi negara berkembang dengan efisiensi energi yang relatif rendah. Volume permintaan minyak dunia diperkirakan masih tinggi terutama berasal dari China, India, dan Timur Tengah, serta AS untuk menambah cadangan minyaknya. Kapasitas cadangan minyak OPEC yang relatif terbatas, penurunan produksi non-opec, gangguan produksi akibat badai, dan meningkatnya biaya investasi minyak diperkirakan akan menjadi faktor penyebab berkurangnya pasokan sehingga tidak dapat mengimbangi permintaan dunia. Disamping faktor fundamental, permasalahan geopolitik di Timur Tengah dan Afrika Barat dan pelemahan kurs dolar AS diperkirakan akan mendorong kenaikan harga minyak dunia. Perkiraan peningkatan harga minyak mentah dunia tercermin pada harga berjangka untuk satu tahun ke depan di pasar minyak Newyork Merchantile Exchange yang berada di atas level USD8 per barel. Sejalan dengan perkiraan peningkatan minyak dunia tersebut, harga minyak domestik diperkirakan meningkat dari USD7,1/bbl menjadi USD8,/bbl, angka ini lebih rendah USD3, dibandingkan asumsi harga yang diusulkan di APBN-P 28. Perkembangan sisi fundamental yang dikombinasikan dengan perkiraan tetap tingginya harga ke depan, menjadikan pasar minyak cukup rentan terhadap sentimen yang bersifat spekulatif (transaksi noncommercial minyak), terutama ditengah ketidakpastian pasar finansial global. Kondisi perekonomian dunia yang kurang menggembirakan tersebut akan berdampak terhadap perekonomian domestik. Ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh pada batas terendah dari kisaran 6,2-6,5%, lebih rendah dari perkiraan semula sebesar 6,5%. Dari sisi eksternal, penurunan tersebut terkait dengan kinerja ekspor barang dan jasa yang sedikit melemah akibat volume perdagangan dunia yang tumbuh lebih rendah. Sementara dari sisi domestik, revisi ke bawah pertumbuhan ekonomi 66 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
76 disebabkan oleh turunnya stimulus fiskal, baik dalam bentuk konsumsi maupun investasi pemerintah, akibat penambahan subsidi BBM dan pangan. Produksi minyak dan volume ekspor LNG diperkirakan menurun Produksi gas diperkirakan menurun akibat natural declining, Upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi migas Konsumsi dan investasi diperkirakan semakin menguat Produksi minyak diproyeksikan hanya sebesar,95 mbpd, sedikit lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar,952 mbpd. Namun, angka ini lebih tinggi dibandingkan asumsi produksi yang diusulkan di APBN-P 28 sebesar,91 mbpd. Rendahnya proyeksi produksi tersebut terkait dengan perkiraan belum akan terealisasinya target penambahan produksi dari Lapangan Pondok Tengah, Bekasi (Pertamina E&P) yang mencapai puncak produksinya pada 28 dan dari beberapa lapangan minyak baru, seperti Lapangan Banyu Urip di Blok Cepu (ExxonMobil dan Pertamina), Lapangan Faris dan Lapangan Singa (Medco), Lapangan Terang (Energi Mega Persada), dan Lapangan Krendan (Elnusa). Selain itu, masih rendahnya produksi minyak tahun 28 juga karena permasalahan natural declining akibat mayoritas sumur sudah masuk kategori brown field. Seperti permasalahan pada minyak, kondisi penurunan produksi juga dialami sektor gas, dimana tercermin dari lebih rendahnya perkiraan ekspor gas untuk LNG dan LPG dibandingkan tahun sebelumnya. Beberapa lapangan gas seperti lapangan gas Arun dan Bontang juga menghadapi permasalahan natural declining, sedangkan lapangan baru seperti tangguh belum beroperasi secara ekonomis. Dampak dari penurunan produksi tersebut menyebabkan volume ekspor mengalami penurunan, terutama untuk gas, penurunan ekspor juga disebabkan oleh kebijakan pemerintah untuk memprioritaskan pemanfaatan gas untuk kebutuhan domestik serta berakhirnya satu kontrak penjualan LNG ke Korea Selatan ditahun 27. Saat ini porsi bagian dari produksi gas nasional 55% untuk ekspor dan sisanya 45% untuk kebutuhan domestik. Dalam rangka untuk meningkatkan kembali produksi migas, pemerintah telah dan akan melakukan sejumlah usaha dan kebijakan. Permasalahan natural declining diupayakan dengan melakukan optimalisasi dan revitalisasi lapangan marginal dan masuk kategori brown filed serta mempercepat produksi lapangan baru. Untuk meningkatkan produksi pemerintah mengambil langkah pengembangan lapangan baru seperti lapangan Cepu, Suban III, Gajah baru, Krueng Maneh, Muria Kepodang, JOB Medco Senoro dan Blok A, selain itu pemerintah juga menawarkan sejumlah wilayah kerja baru kepada investor, di tahun 28 terdapat 4 wilayah kerja yang ditawarkan. Wilayah kerja yang ditawarkan terutama berada di Kawasan Timur Indonesia dan berada di laut dalam. Kegiatan konsumsi dan investasi diperkirakan semakin menguat seiring dengan prospek ekonomi yang membaik serta terjaganya stabilitas ekonomi makro. Inflasi diperkirakan berada pada kisaran 6,-6,5% (yoy), didasarkan pada meningkatnya imported inflation seiring dengan kenaikan harga-harga komoditas internasional seperti Realisasi 27 dan Proyeksi 28 67
77 NSW Logistik direncanakan untuk memperlancar jasa transportasi Kinerja sektor pariwisata diperkirakan akan lebih baik Tahun Kunjungan Wisata 28 ditetapkan untuk meningkatkan kinerja pariwisata bahan pangan dan minyak bumi. Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, kenaikan konsumsi BBM diperkirakan sekitar 3,%, lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya sebesar 1,6%. Di sektor jasa khususnya transportasi, Pemerintah berencana menambah sistem layanan baru khususnya bagi dunia usaha berupa National Single Windows (NSW) Logistik untuk memperlancar proses kelancaran arus barang, dokumen dan jalur logistik terkait dengam peningkatan investasi dan basis produksi dalam rangka membentuk pasar yang kompetitif. Rencana tersebut akan diimplementasikan pada sebagai tindak lanjut harmonisasi seluruh proses ekspor, impor dan aktivitas kepelabuhan yang lebih transparan, murah dan cepat. Kegiatan sektor pariwisata diperkirakan mulai menunjukkan perkembangan yang lebih baik didukung oleh beberapa kebijakan pemerintah di bidang pariwisata, antara lain: (1) pencanangan Visit Indonesian Year (VIY) 28; (2) rencana pembukaan 12 kantor promosi pariwisata di luar negeri; (3) penambahan jalur penerbangan langsung ke daerah tujuan wisata; dan (4) perluasan pasar wisman ke Timur Tengah, China, dan India. Visit Indonesia Year yang akan diluncurkan pada tahun 28 dan pencanangan slogan Kenali Negerimu Cintai Negerimu (KNCN) diharapkan dapat membangkitkan pariwisata Indonesia dan menciptakan daya saing pariwisata nasional dalam peta persaingan di tingkat regional maupun internasional. Namun demikian, faktor keamanan dan bencana alam diperkirakan tetap masih akan menjadi kendala pengembangan pariwisata di Indonesia. Dalam rangka meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia khususnya di tingkat internasional, Pemerintah telah menetapkan tahun 28 sebagai Tahun Kunjungan Indonesia 28 (Visit Indonesia Year/VIY 28). Dengan strategi menjadikan event sebagai tujuan wisata, Pemerintah telah merencanakan penyelenggaraan lebih dari 1 event (146 event) berskala internasional di 33 provinsi. Dengan anggaran promosi pariwista yang telah ditingkatkan 5% dari tahun lalu menjadi sekitar Rp 15 miliar, pemerintah akan melakukan sejumlah kegiatan konferensi internasional, diantaranya World Cultural Forum pada 28, dan rencana pameran promosi Indonesian Trade Promotion Centre di sembilan kota dagang di dunia, salah satunya Berlin, Jerman terkait dengan kegiatan VIY 28. Program lintas sektor kerjasama pusat-daerah-swasta, dan program co-marketing yang terfokus pada 12 pasar utama juga turut dicanangkan untuk mendukung kegiatan VIY 28. Pelatihan pelayanan wisata dan kampanye sadar wisata dengan slogan Kenali Negerimu Cintai Negerimu (KNCN) diharapkan dapat membangkitkan pariwisata Indonesia. Upaya peningkatan sarana dan prasarana wisata di tahun-tahun sebelumnya diharapkan tetap berlanjut, seperti pembukaan pintu masuk yang lebih banyak, yakni 27 bandar udara internasional. Selain itu, faktor keamanan dan penanggulangan bencana alam diharapkan akan semakin membaik dan tidak lagi 68 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
78 Kompetisi negara tetangga dan beberapa kejadian diperkirakan dapat menghambat kinerja pariwisata Prospek penempatan TKI-LN diperkirakan cukup baik Beberapa kebijakan pemerintah terkait TKI menjadi kendala pengembangan pariwisata di Indonesia. Dengan adanya VIY 28, diharapkan target kunjungan wisman pemerintah sebanyak 7 juta orang akan dapat tercapai. Namun demikian, kompetisi dari negara tetangga seperti Program Kunjungan Malaysia yang berslogan Truly Asia (diperpanjang hingga Agustus 28) dan penyelenggaraan Olimpiade 28 di Beijing diperkirakan akan dapat menjadi penghalang pencapaian target tersebut. Hasil survei Pacific Asia Travel Association (PATA) menunjukkan bahwa Indonesia tidak termasuk dalam 1 besar most likely destination yang diminati turis mancanegara untuk dikunjungi dalam dua tahun ke depan. Disamping itu, masih munculnya beberapa peristiwa musibah di tanah air, seperti gempa bumi, banjir, longsor, kebakaran hutan, gunung meletus dan wabah flu burung, serta ancaman teroris dapat turut memengaruhi perkembangan pariwisata Indonesia. Sementara itu prospek penempatan TKI di LN pada 28 masih terbuka luas, khususnya peluang pasar formal yang masih belum dapat dipenuhi, seperti Arab Saudi yang memerlukan tenaga perawat baru dipenuhi sekitar 3% dari kebutuhan. Sime Darby Bhd, perusahaan hasil merger tiga BUMN Malaysia yang bergerak di bidang industri kelapa sawit (Guthrie Bhd, Golden Hope dan Sime Darby Bhd), masih memerlukan tambahan pekerja dari Indonesia sekitar 8 hingga 1. orang per bulan dari jumlah TKI sekitar 26. orang yang telah bekerja di perkebunan Semenanjung Malaysia dan Malaysia Timur Sabah dan Sarawak. Perusahaan tersebut merencanakan akan merekrut TKI dari Jawa Timur dan NTB untuk kawasan Semenanjung, serta dari Kupang NTT dan Sulawesi untuk kawasan Sabah dan Sarawak. Selain itu, kebutuhan TKI di Korea juga masih sangat besar khususnya di sektor formal yang pada tahun 28 diperlukan sekitar 6. orang. Dalam rangka itu akan dibangun pusat pembekalan yang merupakan kerjasama antara Korea dan Indonesia sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan kesiapan TKI. Di pusat pembekalan tersebut, TKI akan diberikan pembekalan tentang kebudayaan, hukum, kondisi kerja dan pelatihan bahasa Korea selama 2 minggu. Beberapa kebijakan telah dan akan dilanjutkan pemerintah pada 28 terkait TKI, antara lain: (1) pembentukan Bursa Kerja Luar Negeri (BKLN) sampai dengan tingkat kecamatan di daerah-daerah kantong calon TKI agar informasi program penempatan TKI di luar negeri dapat lebih cepat sampai pada masyarakat, (2) pembuatan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri (KTKLN) dengan sistem on-line di seluruh daerah debarkasi (kepulangan) dan embarkasi (pemberangkatan) agar mobilitas TKI dapat tercatat dan terpantau secara berkesinambungan, (3) pelayanan terpadu satu atap agar pengurusan perizinan menjadi lebih mudah, murah dan cepat, (4) pembentukan lembaga monitoring di luar negeri untuk memantau keberadaan TKI dan sebagai lembaga konseling bagi TKI, dan (5) penegakan hukum terhadap pelaku penempatan TKI yang menyalahi ketentuan. Realisasi 27 dan Proyeksi 28 69
79 Investasi jangka panjang diperkirakan meningkat Beberapa proyek infrastruktur diperkirakan akan mulai berjalan pada 28 Arus masuk modal jangka pendek diperkirakan meningkat pada 27 Di sektor finansial, terus membaiknya iklim investasi serta stabilitas ekonomi makro diperkirakan dapat menarik lebih banyak investor untuk menanamkan modalnya dalam bentuk investasi jangka panjang di Indonesia. Bank Dunia memperkirakan bahwa peringkat kemudahan berusaha di Indonesia berpeluang naik dari urutan ke-123 menjadi urutan ke-82 di 28, dengan syarat pemerintah memperbaiki mekanisme memulai usaha, pendaftaran kepemilikan, dan mendapatkan kredit. Dalam hal ini, Indonesia harus mengeliminasi syarat modal minimum mendirikan usaha, membuat keterlibatan notaris menjadi klausul opsional, dan mengkonsolidasi persetujuan pemerintah dalam satu pintu. Sejalan dengan itu, sejumlah proyek yang ditawarkan pemerintah pada tahun-tahun sebelumnya di bidang infrastruktur jalan, jembatan, irigasi, dan sektor transportasi, ketahanan pangan, energi serta komunikasi & informatika diperkirakan akan direalisasikan pada 28. Meskipun dalam lingkup terbatas, perbaikan iklim investasi diperkirakan akan didukung oleh implementasi beberapa proyek infrastruktur yang telah dimulai di tahuntahun sebelumnya. Beberapa proyek yang akan dimulai pada tahun 28 antara lain pembangkit listrik Paiton 3-4 dan beberapa PLTU seperti PLTU Serang dan Tanjung Jati A; transmisi gas melalui pipa jalur Kaltim-Jawa dan Duri-Dumai-Medan fase Iⅈ pembangunan bandara baru Kualanamu di Medan dan Selaparang di Lombok serta pengembangan kawasan berikat industri serta pemrosesan kargo di Bandara Sukarno Hatta; serta beberapa ruas jalan tol seperti jalan tol Cikampek-Palimanan dan Cikarang- Tanjung Priok. Perbaikan iklim investasi diperkirakan juga akan mendorong peningkatan rencana investasi yang telah mendapat persetujuan PMA oleh BKPM. Persetujuan Penanaman Modal Asing (PMA) yang tercatat di BKPM selama 27 sebesar USD4,1 miliar, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai USD15,7 miliar pada 26. Namun demikian, dilihat jumlah proyek yang disetujui mengalami penurunan menjadi proyek dari tahun sebelumnya sejumlah proyek. Dengan memperhitungkan kenaikan penanaman modal langsung oleh penduduk di luar negeri, antara lain dengan investasi terkait penemuan cadangan minyak di Libia oleh anak perusahaan PT Medco Energi dan investasi PT Bumi Resources pada tambang batubara di Australia, secara neto investasi langsung akan mencapai surplus USD3,1 miliar, lebih tinggi dari tahun sebelumnya (USD1,2 miliar), namun lebih rendah dari perkiraan semula (USD5,7 miliar). Di sisi domestik, imbal hasil dan faktor risiko masih terjaga, tercermin dari indikator imbal hasil baik uncovered interest rate parity (UIP) dan covered interest rate parity (CIP) yang cenderung bergerak meningkat. Dibandingkan dengan imbal hasil negara lain di kawasan, imbal hasil Indonesia masih relatif lebih menarik karena mencatat spread tertinggi yaitu 6,4%. Di sisi global, stance moneter yang bias longgar guna meredam gejolak krisis subprime mortgage memperlebar perbedaan suku bunga dan diperkirakan 7 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
80 Surplus NPI 28 diperkirakan lebih rendah, sedangkan cadangan devisa diperkirakan meningkat Surplus transaksi berjalan diperkirakan menurun Defisit neraca jasa diperkirakan meningkat Laju pertumbuhan ekspor diperkirakan menurun mendukung masuknya arus modal berjangka pendek. Komposisi arus dana portofolio asing diperkirakan akan lebih terkonsentrasi ke instrumen pasar uang jangka pendek. Arus dana asing ke SBI diperkirakan masih akan terjadi karena didukung spread suku bunga dalam dan luar negeri yang semakin melebar. Sedangkan arus dana asing yang ditempatkan ke SUN akan cenderung terbatas mengingat mulai meningkatnya tekanan inflasi. Sementara itu, arus dana asing ke pasar saham masih tinggi namun tidak sebesar tahun 27 mengingat valuasi saham Indonesia yang tinggi relatif terhadap saham regional. Secara total, arus masuk portofolio asing pada 28 diperkirakan lebih rendah dari tahun 27. Berdasarkan berbagai asumsi yang telah diuraikan sebelumnya, surplus NPI pada 28 diperkirakan akan mencapai USD11,3 miliar, lebih rendah dari tahun sebelumnya (USD12,5 miliar) dan perkiraan semula (USD15,6 miliar). Penurunan surplus tersebut bersumber dari penurunan surplus transaksi berjalan maupun transaksi modal & finansial. Sejalan dengan surplus NPI, cadangan devisa diperkirakan meningkat dari USD56,9 miliar pada akhir 27 menjadi USD68,2 miliar pada akhir 28 (6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah). Transaksi berjalan pada 28 diperkirakan mencatat surplus USD1,1 miliar (2,% dari PDB), lebih rendah dari tahun sebelumnya (USD11, miliar), namun lebih tinggi dari perkiraan semula (USD9,3 miliar). Penurunan surplus tersebut terutama disebabkan oleh perkiraan impor pada neraca perdagangan barang khususnya nonmigas yang diproyeksikan tumbuh lebih tinggi dibandingkan perkiraan ekspor. Selain itu, penurunan surplus transaksi berjalan juga disebabkan oleh peningkatan defisit neraca pendapatan dan jasa. Neraca jasa pada 28 diproyeksikan masih mengalami defisit sebesar USD11,6 miliar, lebih tinggi daripada 27 sebesar USD11,1 miliar maupun dari perkiraan semula sebesar USD1,8 miliar, sedangkan neraca pendapatan diproyeksikan mengalami defisit sebesar USD16,7 miliar, lebih tinggi daripada 27 sebesar USD15,9 miliar namun lebih kecil dari perkiraan semula sebesar USD17,5 miliar. Kontributor defisit pada neraca jasa masih berasal dari jasa tranportasi dan jasa lainnya, sedangkan pada neraca pendapatan juga masih disumbang oleh repatriasi keuntungan perusahaan asing yang menanamkan modal di Indonesia. Sementara itu, transfer berjalan pada 28 diproyeksikan tetap mengalami surplus sebesar USD4,9 miliar, relatif sama dibandingkan tahun sebelumnya dan masih disumbangkan terutama oleh pengiriman gaji TKI-LN ke tanah air (WR-TKI). Berikut proyeksi beberapa komponen utama transaksi berjalan 28: Pertumbuhan ekspor diproyeksikan sebesar 9,2%, lebih rendah dari 14,% pada 27 dan dari perkiraan semula 1,2%. Total nilai ekspor 28 meningkat menjadi USD128,9 miliar dari USD118, miliar pada tahun sebelumnya, terutama ditopang oleh ekspor nonmigas. Pertumbuhan tersebut didukung oleh ekspor nonmigas yang Realisasi 27 dan Proyeksi 28 71
81 pada tahun 28 diperkirakan tumbuh sebesar 1%. Ekspor sektor pertanian tahun 28 diperkirakan mencapai USD12,3 miliar dengan nilai ekspor tertinggi diperkirakan terjadi pada Tw. III-28 yang mencapai USD3,5 milliar. Sedangkan ekspor sektor pertambangan tahun 28 diperkirakan mencapai USD23,8 miliar dengan nilai ekspor tertinggi pada Tw. II-28 sebesar USD6,7 miliar. Naiknya nilai ekspor pertambangan didukung oleh ekspor komoditi utama pertambangan yaitu batubara dimana permintaan dan harga dunia masih tetap tinggi, sedangkan ekspor untuk komoditas tambang lain seperti nikel diperkirakan akan mengalami penurunan. Adapun, ekspor sektor manufaktur tahun 28 diperkirakan mencapai USD66,4 miliar dan nilai ekspor tertinggi dicapai pada Tw. IV-28 sebesar USD18,7 miliar. Ekspor sektor manufaktur ini didukung oleh ekspor CPO, TPT, dan alat listrik & elektronik. Ekspor nonmigas diperkirakan menurun seiring penurunan harga komoditas dunia Ekspor Karet diperkirakan meningkat seiring kenaikan harga Ekspor Udang diperkirakan meningkat sejalan dengan peningkatan produksi Setelah meningkat tajam khususnya di dua tahun terakhir, harga komoditas primer nonmigas di pasar internasional diperkirakan mulai menurun pada 28, terutama akibat menurunnya tekanan permintaan dunia. Faktor tersebut, ditambah dengan perlambatan ekonomi dan volume perdagangan dunia, diperkirakan menjadi penyebab penurunan laju pertumbuhan ekspor nonmigas dari 15,6% pada 27 menjadi sekitar 1,% di 28. Pertumbuhan ini juga lebih rendah dari perkiraan semula sebesar 11,%. Beberapa komoditas unggulan seperti CPO, batubara, tembaga, serta mesin dan mekanik diperkirakan masih menjadi komoditas unggulan pendorong ekspor, namun harga komoditas yang diperkirakan tidak setinggi tahun sebelumnya ikut berperan pada melemahnya pertumbuhan ekspor nonmigas. Pelemahan ekonomi di AS yang diikuti oleh beberapa partner dagang utama, diperkirakan juga sedikit berpengaruh terhadap pencapaian kinerja ekspor nonmigas. Ekspor nonmigas diperkirakan akan terus tumbuh sepanjang tahun 28 dan mencapai level tertinggi di Tw. IV. Beberapa proyeksi komoditas nonmigas pada 28, antara lain: Karet Komoditas karet tetap menjadi produk unggulan dari sektor perkebunan, terkait dengan harga karet yang terus meningkat. Pada awal Tw I-28 harga karet sudah mencapai USD2,8/kg. Naiknya harga karet tidak terlepas dari tingginya permintaan karet di pasar internasional dan bertahannya harga minyak di level atas. Tingginya harga karet diperkirakan akan mendorong produksi dan ekspor karet Indonesia. Udang Ekspor udang yang tahun lalu mengalami penurunan akibat penolakan impor udang oleh Jepang dan Uni Eropa karena mengandung antibiotik, pada tahun 28 diperkirakan akan meningkat seiring dengan naiknya produksi udang Indonesia. Tahun 27 produksi udang Indonesia tidak mencapai target sebesar 41 juta ton. 72 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
82 Ekspor Batubara diperkirakan meningkat tekait meningkatnya permintaan dari China Ekspor Nikel diperkirakan menurun akibat kebijakan prioritas untuk keperluan domestik Ekspor CPO diperkirakan meningkat didorong oleh kenaikan harga Ekspor TPT diperkirakan tumbuh karena pengalihan negara tujuan ekspor Namun dengan ditandatanganinya Perjanjian Kerjasama Kemitraan (PKS) usaha perikanan pola TIR (Tambak Inti Rakyat) antara PT. Central Proteinaprima, TBK (CPP) dan perusahaan inti PT. Wahyuni Mandira (WM) pada akhir November 27 diharapkan dapat meningkatkan angka produksi udang sebesar dua kali lipat. PT. CPP akan merevitalisasi 2 ribu hektar lahan konsesi PT. WM yang terdiri dari tambak-plasma dan tambak-perusahaan. Batubara Ekspor batubara diperkirakan akan meningkat seiring dengan meningkatnya permintaan dari China yang akan menambah impor batubara dari Indonesia sebanyak tiga kali lipat atau sekitar 14,5 juta ton pada tahun 28. Di samping itu, harga batubara yang tinggi di pasar internasional dan naiknya produksi batubara ikut mendorong ekspor. Produksi batubara tahun 28 diperkirakan naik menjadi 235 juta ton dari tahun sebelumnya sebesar 23 juta ton. Tingginya harga batubara di tahun 28 dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain kurangnya pasokan terkait dengan hambatan produksi yang dihadapi produsen batubara lain, seperti Australia dan Afrika; pergerakan harga minyak; dan permintaan global yang kuat. Nikel Nilai ekspor nikel pada tahun 28 diperkirakan akan menurun. Turunnya ekspor ini disebabkan adanya kebijakan pemerintah yang akan menghentikan ekspor nikel mentah dan mengolah biji nikel menjadi bahan baku baja untuk keperluan domestik yang selama ini diimpor dari Jepang dan Korea. Selain itu turunnya permintaan dari China pada tahun 28 diperkirakan memengaruhi kinerja nilai ekspor nikel. CPO Ekspor CPO pada tahun 28 diperkirakan akan meningkat didorong oleh tingginya harga di pasar dunia. Namun dari sisi volume, ekspor CPO diperkirakan menurun terkait dengan pemenuhan kebutuhan CPO domestik. Dari total produksi CPO yang menurut Depdag diprediksi mencapai 19,8 juta ton pada tahun 28, dialokasikan untuk ekspor sebesar 9,4 juta ton, turun dari tahun sebelumnya (11,6 juta ton), sisanya 5,9 juta ton untuk industri biofuel domestik dan 4,4 juta ton untuk konsumsi CPO domestik termasuk industri yang berbahan baku minyak goreng. Pemerintah menjamin pemenuhan kebutuhan domestik ini dengan menerapkan Pajak Ekspor (PE) CPO maksimal sebesar 25% sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No. 9/PMK. 11/28 yang diterbitkan pada 1 Februari 28. TPT Kinerja ekspor TPT pada tahun 28 diperkirakan masih akan positif meskipun terjadi penurunan volume ekspor ke negara AS. Tumbuhnya ekspor TPT merupakan dampak dari pengalihan pasar ekspor TPT Indonesia dari AS ke Eropa dan Jepang. Selain itu, adanya tambahan investasi sebesar USD5 juta yang akan digunakan Realisasi 27 dan Proyeksi 28 73
83 Ekspor alat-alat listrik & elektronik diperkirakan relatif stabil Volume ekspor migas diperkirakan menurun Laju pertumbuhan impor diperkirakan menurun Defisit neraca jasa diperkirakan meningkat untuk memodernisasi mesin-mesin TPT diperkirakan akan meningkatkan kapasitas produksi lebih dari 5% turut mendorong ekspor TPT. Alat-alat Listrik & Elektronik Nilai ekspor alat-alat listrik & elektronik diperkirakan masih akan stabil pada tahun 28, relatif sama dengan tahun sebelumnya meskipun terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi di AS dan Uni Eropa yang merupakan negara tujuan utama ekspor elektronik Indonesia. Namun ekspansi ke pasar ekspor di luar negara tujuan utama, seperti negara-negara di kawasan Timur Tengah, Afrika, Eropa Timur dan Asia dapat mengimbangi penurunan ekspor ke negara AS dan Uni Eropa. Dari sisi kebijakan, Pemerintah dalam hal ini Departemen Perindustrian telah memfokuskan pengembangan enam produk elektronik yang prospek ekspornya cukup besar, yaitu televisi, lemari es, pengatur suhu dalam ruangan (AC), mesin cuci, kipas angin dan pompa air guna mendorong volume ekspor elektronik. Selain itu pemberian insentif berupa penghapusan PPnBM elektronik juga dilakukan untuk memacu pertumbuhan investasi dan produksi elektronik di Indonesia serta menekan tingkat penyelundupan. Seiring dengan perkiraan menurunnya produksi minyak mentah menjadi,95 mbpd, secara langsung berdampak pada penurunan volume ekspor minyak sebesar 6,1%. Namun disisi lain, nilai ekspor minyak mengalami peningkatan sebesar 5,9%. Peningkatan nilai ekspor minyak ini disebabkan oleh tingginya prakiraan harga minyak di tahun 28 yang mencapai USD8 per barel. Sejalan dengan perkiraan meningkatnya harga minyak, hal ini berdampak juga pada peningkatan harga gas. Walaupun secara volume ekspor gas LNG dan LPG mengalami penurunan, namun karena terdorongnya harga gas akibat meningkatnya harga minyak, diperkirakan nilai ekspor gas akan naik sebesar 6,8%. Sementara itu, pertumbuhan impor diperkirakan mencapai 12,3% menurun dari 15,5% pada tahun sebelumnya dan proyeksi sebelumnya (14,2%). Melemahnya perkiraan prospek pertumbuhan ekonomi domestik sebagai dampak pelemahan ekonomi global membawa konsekuensi pada pertumbuhan permintaan impor nonmigas yang diperkirakan sedikit menurun meskipun masih cukup kuat dari 14,5% ( USD66, miliar) pada 27 menjadi sekitar 14,% (USD75,3 miliar), jauh lebih rendah dari perkiraan sebelumnya (18,%). Sejalan dengan pertumbuhan kegiatan investasi dan kenaikan produksi, impor nonmigas dalam bentuk bahan baku dan barang modal diperkirakan akan mengalami pertumbuhan yang lebih cepat. Sementara itu, walaupun harga minyak diperkirakan naik cukup signifikan, impor migas diproyeksikan sekitar 6,3%, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya, terkait akselerasi program konversi minyak tanah. Defisit neraca jasa diperkirakan akan mengalami peningkatan dari USD1,3 miliar menjadi USD1,4 miliar pada 28, terutama disumbang oleh peningkatan defisit 74 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
84 Jasa pariwisata diperkirakan akan terus membaik Prospek pariwisata dunia masih cukup baik Defisit neraca pendapatan diperkirakan meningkat jasa transportasi terkait kenaikan harga minyak. Namun perkiraan tersebut lebih rendah dari proyeksi semula sebesar USD1,8 miliar. Defisit jasa tranportasi diperkirakan meningkat menjadi USD8, miliar dari USD7,3 miliar pada tahun sebelumnya. Jasa angkutan barang (freight) diperkirakan juga mengalami kenaikan defisit menjadi USD6,9 miliar dari USD6,1 miliar pada 27. Kenaikan tersebut terutama disumbangkan dari pengangkutan komoditas impor nonmigas yang meningkat pada 28. Meskipun azas cabotage tetap diberlakukan tetapi pelayaran nasional masih tetap dikuasai oleh kapal-kapal berbendera asing sehingga pengeluaran devisa untuk transportasi khususnya barang masih tetap tinggi. Sementara itu, jasa pariwisata akan terus membaik terkait dengan implementasi beberapa kebijakan pemerintah di bidang pariwisata. Arus masuk wisatawan asing diperkirakan semakin meningkat dari 5,5 juta orang di 27 menjadi 6,5 juta orang di 28, sehingga menambah devisa masuk dari USD5,3 miliar menjadi USD6,3 miliar. Peningkatan jumlah kedatangan wisman diperkirakan masih akan terjadi dan puncaknya pada triwulan IV terkait dengan faktor musiman. Di sisi lain, adanya peningkatan pendapatan perkapita penduduk dan peningkatan transaksi ekonomi internasional diperkirakan akan mendorong arus wisatawan domestik ke LN sehingga pengeluaran devisa jasa pariwisata akan meningkat dari USD4,4 miliar menjadi USD5,2 miliar. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 28 diperkirakan mengalami perlambatan sehingga jasa pariwisata pun tidak akan terlepas dari pengaruh tersebut. Namun prospek pariwisata dunia secara umum diperkirakan positif dan keyakinan tersebut masih cukup kuat meskipun kondisi pasar diperkirakan menurun. Melalui indek kepercayaan tahunan (annual confidence index) sebagai hasil survei terhadap 28 pakar pariwisata, Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) memprediksikan pariwisata dunia 28 masih positif (indek 132), mengimplikasikan kelanjutan pertumbuhan meskipun akan turun secara gradual dibandingkan tahun sebelumnya (indek 143). Beberapa faktor potensial yang berpengaruh negatif terhadap permintaan jasa pariwisata, antara lain: volatilitas harga bahan bakar pesawat, fluktuasi nilai tukar sebagai dampak pelemahan USD, dan perlambatan ekonomi dunia, khususnya di negara maju. Masalah iklim global juga diperkirakan mempunyai dampak terhadap prospek pariwisata. Perubahan iklim global dapat mengubah kondisi destinasi dan pola perjalanan para wisatawan mancanegara. Defisit neraca pendapatan akan meningkat dari USD15,9 miliar menjadi USD16,7 miliar di 28, namun lebih rendah dari perkiraan semula sebesar USD17,5 miliar. Peningkatan tersebut terutama karena meningkatnya pembayaran bunga surat utang kepada nonresiden dan pendapatan ekuitas perusahaan PMA nonmigas. Komponen utama neraca pendapatan berasal dari transfer pendapatan (repatriasi) perusahaan Realisasi 27 dan Proyeksi 28 75
85 Defisit neraca pendapatan investasi langsung diperkirakan meningkat Defisit neraca pendapatan investasi portofolio diperkirakan meningkat Transfer berjalan diperkirakan relatif konstan Hibah non investasi diperkirakan menurun PMA, pendapatan & pembayaran bunga dan deviden investasi portofolio dan pendapatan & pembayaran bunga utang Luar Negeri. Defisit pendapatan dari investasi langsung (DI) diperkirakan meningkat menjadi USD1,9 miliar dari sebelumnya USD1,7. Peningkatan defisit tersebut terutama berasal dari repatriasi perusahaan PMA yang diperkirakan sebesar USD6,2 miliar, lebih tinggi dari USD5,7 pada tahun sebelumnya. Peningkatan repatriasi tersebut terkait dengan perkiraan semakin baiknya kondisi keuangan perusahaan PMA. Sementara itu, transfer pendapatan perusahaan migas diperkirakan mengalami sedikit penurunan dari USD4,8 miliar pada tahun sebelumnya menjadi USD4,5 miliar. Neraca pendapatan investasi portofolio neto diperkirakan meningkat menjadi USD2,3 miliar dari tahun sebelumnya sebesar USD2,2 miliar. Peningkatan tersebut terutama disumbangkan dari kenaikan pembayaran deviden surat berharga saham yang diperkirakan mencapai neto USD1,6 dari USD1,5 pada tahun sebelumnya. Perkiraan kenaikan pembayaran tersebut semakin bertambahnya kepemilikan asing dalam surat berharga saham domestik dan laba perusahaan yang diperkirakan meningkat. Sementara itu, semakin meningkatnya posisi utang luar negeri membawa konsekuensi pembayaran bunga ULN yang semakin meningkat diperkirakan menjadi USD4, miliar dari USD3,8 miliar pada tahun sebelumnya. Transfer berjalan neto yang diterima dari bukan penduduk diperkirakan relatif sama sebesar USD4,9 miliar, terutama karena naiknya penerimaan neto dari remitansi gaji TKI-LN (workers remittances) yang lebih tinggi daripada tahun sebelumnya. Aliran masuk remitansi diperkirakan meningkat menjadi USD6,3 miliar dari USD6, miliar pada tahun sebelumnya terkait dengan meningkatnya jumlah dan kualitas (formal) penempatan TKI. Sedangkan aliran keluar remitansi yang berasal dari TKA juga diperkirakan menjadi USD1,6 miliar dari USD1,5 miliar pada 27. Pemerintah menetapkan target penempatan TKI pada 28 mencapai 1 juta orang TKI dengan rasio TKI formal terhadap informal sebesar 4% berbanding 6%, lebih tinggi dari target tahun 27 sebanyak 75 ribu orang dengan komposisi 2-3% TKI-formal. Penerimaan hibah non investasi pada 28 diperkirakan mencapai USD128 juta, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD331 juta. Penyaluran hibah masih didominasi oleh Non Government Organization (NGO) sekitar 89% yakni sebesar USD114 juta, lebih tinggi dibandingkan hibah yang diterima dan disalurkan melalui pemerintah senilai USD14 juta. Pasca konferensi Global Conference on Climate Change di Bali akhir tahun 27, Pemerintah mulai mengintensifkan lobi bilateral melalui pembicaraan berkesinambungan dengan negara-negara donor seperti Belanda, Jerman, Australia, dan Denmark guna memperoleh bantuan hibah pembiayaan perbaikan lingkungan hidup di Indonesia agar dapat ditarik pada tahun ini. Hasilnya telah ada komitmen dari beberapa negara, a.l.: Australia akan 76 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
86 Australia memberikan hibah dana untuk keselamatan transportasi Surplus transaksi modal dan finansial diperkirakan lebih rendah dari tahun sebelumnya Penerimaan hibah investasi diperkirakan menurunt Neto investasi langsung (PMA) diperkirakan meningkat memberikan USD4 juta, DFID sebesar GBP5 juta sampai dengan tahun 21, Jerman 2 juta Euro selama 7 tahun, Jepang 25 juta Yen sampai dengan tahun 29, dan Korea USD5 juta sampai tahun 212. Sementara itu, di awal Februari 28 Australia telah menghibahkan dana 24 juta dolar Australia untuk meningkatkan keselamatan transportasi Indonesia. Pemberian hibah dilakukan dengan penandatanganan nota kesepahaman antara departemen perhubungan kedua negara. Dana hibah tersebut dimanfaatkan untuk pelatihan dan bantuan teknik untuk waktu tiga tahun, a.l.: pelatihan 4 inspektur kelaikan udara setiap tahun, pelatihan manajemen jasa lalu lintas udara, pelatihan tenaga ahli investigasi keselamatan transportasi, peningkatan kapasitas penyelenggara Search and Rescue, penyelenggara feri, dan staf pengawasan pelayaran. Melalui pelatihan tersebut, pengguna transportasi diharapkan memprioritaskan keselamatan dan mengambil pelajaran dari kecelakaan yang terjadi, sehingga peningkatan keselamatan dapat ditingkatkan agar penambahan volume barang dan orang dari Australia ke Indonesia atau sebaliknya terjamin keselamatannya Surplus transaksi modal dan finansial pada 28 diperkirakan mencapai USD1,2 miliar, jauh lebih rendah dari tahun sebelumnya (USD2,8 miliar). Dampak kasus subprime mortgage diperkirakan masih berlanjut sampai dengan semester I 28. Dengan memperhitungkan penempatan aset penduduk di luar negeri, transaksi modal dan keuangan pada semester I diperkirakan masih mengalami neto defisit dan baru berubah menjadi surplus pada semester II 28. Arus masuk modal portofolio diperkirakan menurun dan lebih banyak disumbangkan oleh penerbitan obligasi valas pemerintah dan arus masuk modal melalui pasar saham. Iklim investasi diperkirakan terus membaik sehingga dapat memperbaiki komposisi arus masuk modal ke arah yang lebih berjangka panjang, khususnya PMA. Berikut perkiraan beberapa komponen utama transaksi modal dan finansial 28: Penerimaan hibah investasi pada 28 diperkirakan mencapai USD192 juta, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD53 juta. Penyaluran hibah masih didominasi oleh sektor swasta (NGO) sekitar 89% yaitu sebesar USD171 juta, lebih tinggi dibandingkan hibah yang diterima dan disalurkan melalui pemerintah senilai USD65 juta. Sehubungan dengan hibah sektor publik, pada awal tahun 28 Dephankam telah menerima delapan radar baru hibah Amerika senilai 18,4 juta dolar AS yang akan beroperasi di Selat Malaka pada tahun 28. Radar yang memiliki radius deteksi hingga 4 mil laut tersebut akan dimanfaatkan oleh TNI angkatan Laut untuk pengamanan selat Malaka yang tercatat sebagai kawasan rawan aksi perompakan. Dampak dari upaya perbaikan iklim investasi terhadap minat investor asing diperkirakan akan lebih signifikan pada 28. Secara neto, yaitu dengan Realisasi 27 dan Proyeksi 28 77
87 Dampak krisis subprime diperkirakan menyebabkan dana beralih ke negara maju Resiko investasi yang membaik diperkirakan akan menjadi faktor pendorong minat asing terhadap surat berharga domestik Arus masuk modal saham diperkirakan lebih rendah memperhitungkan pembayaran utang luar negeri perusahaan-perusahaan PMA sektor nonmigas dan cost recovery perusahaan-perusahaan PMA sektor migas, arus modal PMA diperkirakan mencapai USD6,4 miliar, lebih tinggi dari tahun sebelumnya (USD5,6 miliar) namun lebih rendah dari perkiraan sebelumnya (USD9,1 miliar). Secara gross, arus masuk PMA diperkirakan mencapai USD19,4 miliar, lebih besar dari tahun sebelumnya (USD17,9 miliar), namun lebih kecil dari perkiraan semula (USD21,4 miliar). Investasi di sektor migas pada tahun 28 diperkirakan akan mengalami kenaikan menjadi USD7,7 miliar yang berasal dari komitment investasi untuk 4 wilayah kerja yang ditawarkan pemerintah. Nilai investasi tersebut naik dibandingkan tahun 27 sebesar USD7,2 miliar dengan 26 wilayah kerja. Dampak krisis subprime mortgage diperkirakan masih terus berlangsung di 28, meski beberapa bank sentral negara maju telah bekerja sama untuk menstabilkan kembali pasar keuangan global dan mencegah ekonomi menuju resesi, baik dengan pelonggaran moneter maupun injeksi likuiditas. Akibatnya sebagian penempatan dana dialihkan dari negara berkembang atau emerging market (EM) ke negara maju sejalan dengan fenomena flight to quality. Sejalan dengan kondisi moneter internasional yang diperkirakan bias longgar sementara suku bunga domestik tetap, neto arus modal portofolio liabilities diperkirakan surplus sebesar USD9,2 miliar, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya (USD1, miliar) dan perkiraan semula (USD11,1 miliar). Dengan memperhitungkan kenaikan pembelian surat berharga asing oleh penduduk, neto investasi portofolio akan mencapai surplus USD6,1 miliar, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya (USD7, miliar) dan dari perkiraan semula (USD9, miliar). Surat berharga SUN dan SBI diperkirakan masih tetap diminati asing karena risikonya yang relatif lebih aman daripada obligasi korporasi dan surat berharga lainnya. Hal ini terkait dengan masih tingginya perkiraan harga minyak dan semakin mendekatnya jadwal pemilu di tahun 29 sehingga menyebabkan bertambahnya tekanan pada transaksi saham dan obligasi perusahaan. Selain itu, risiko investasi yang tercermin dari peringkat Indonesia (sovereign rating) yang diperkirakan akan terus membaik, terutama setelah dinaikannya rating indonesia oleh lembaga pemeringkat Fitch pada bulan Februari dari BB- menjadi B, ditambah dengan spread antara suku bunga Fed Fund dengan SBI yang diperkirakan makin melebar. Fed fund rate diproyeksikan akan berada di bawah 3,% sedangkan BI rate diperkirakan masih berada pada 8,%. Aliran modal masuk dalam bentuk saham diperkirakan mengalami penurunan meskipun masih cukup kuat menjadi USD12,7 miliar dari tahun sebelumnya sebesar USD15,4 miliar dan perkiraan sebelumnya sebesar USD13,4 miliar. Penurunan arus masuk tersebut terkait dengan dampak lanjutan krisis subprime mortgage dan pelemahan ekonomi global. Arus masuk tersebut seiring dengan penetapan target 78 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
88 Investasi lainnya diperkirakan suprlus Keterbukaan ekstenal diperkirakan relatif menurun DSR diperkirakan menurun sedangkan cadangan devisa meningkat Bursa Efek Indonesia atas sekitar 3 emiten baru yang akan masuk bursa sepanjang 28. Dalam daftar tersebut termasuk beberapa BUMN seperti PT Garuda Maintenance Facility, PT PNM Madani, Perum Pegadaian, PT Bank BTN, dan PT Asuransi Jasindo. Pada 28 juga direncanakan akan dilakukan divestasi saham anak-anak perusahaan Pertamina di sektor hilir, antara lain PT Elnusa yang akan mencatatkan sahamnya di bursa. Investasi lainnya, di luar investasi langsung dan investasi portofolio, sisi liabilities pada 28 tercatat surplus sebesar USD125 juta, lebih baik dari defisit tahun sebelumnya (USD,3 miliar). Surplus tersebut diperkirakan akan disumbang oleh naiknya penarikan utang luar negeri seiring dengan meningkatnya kebutuhan pembiayaan ekonomi domestik. Secara keseluruhan, penarikan ULN akan meningkat dari USD13,2 miliar menjadi USD14,1 miliar yang terdiri dari penarikan ULN swasta sebesar USD9,3 miliar, lebih besar dari tahun sebelumnya (USD9,2 miliar) dan penarikan ULN pemerintah sebesar USD4,8 miliar, lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar USD4, miliar. Sementara itu, pembayaran cicilan utang luar negeri sektor swasta meningkat dari USD8, miliar menjadi USD1,1 miliar sedangkan pembayaran ULN pemerintah sedikit menurun dari USD6,4 miliar menjadi USD6,3 miliar. Setelah memperhitungkan perkiraan naiknya aset milik penduduk di luar negeri, secara neto defisit investasi lain diperkirakan akan meningkat dari USD5,6 miliar menjadi USD8,2 miliar, lebih rendah dari perkiraan semula (USD8,6 miliar). Pada 28 peran sektor eksternal terhadap pembentukan PDB diperkirakan relatif menurun daripada tahun sebelumnya, sebagaimana tercermin pada penurunan rasio surplus transaksi berjalan terhadap PDB. Penurunan tersebut terutama terjadi pada triwulan IV akibat penurunan nilai transaksi berjalan terkait dengan meningkatnya defisit transaksi jasa-jasa. Dalam periode yang sama, rasio ekspor plus impor terhadap PDB yang mencerminkan derajat keterbukaan ekonomi Indonesia mengalami penurunan sebagai akibat dari lebih lemahnya ekspor dan permintaan impor relatif terhadap pertumbuhan PDB. Sementara itu, beban pembayaran ULN yang tercermin pada DSR cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya, sehubungan dengan tingginya kinerja ekspor nonmigas pada periode laporan. Cadangan devisa yang diperkirakan terus menguat sampai akhir 28 memperkuat ketahanan ekonomi domestik terhadap gejolak eksternal. Realisasi 27 dan Proyeksi 28 79
89 BOKS dan LAMPIRAN Boks PROFIL IMPOR NONMIGAS INDONESIA... i Lampiran Indonesia s Balance of Payments Table 1.1 Indonesia s Balance Of Payments Summary (millions of USD)... iii Table 1.2 Indonesia s Balance Of Payments Current Account (millions of USD)... iv Table 1.3 Indonesia s Balance Of Payments Capital and Financial Account (millions of USD)... v Table 1.4 Indonesia s Balance Of Payments Government and Monetary Authorities Sector... Financial Account (millions of USD) vi Table 1.5 Indonesia s Balance Of Payments Private Sector Financial Account (millions of USD)... vii Non Oil and Gas Exports and Imports Table 2.1 Non Oil and Gas Exports Value by Commodities (millions of USD)... viii Table 2.2 Non Oil and Gas Exports Volume by Commodities (thousands Tons)... Ix Table 2.3 Non Oil and Gas Imports Value by Broad Economic Categories (BEC) (millions of USD)... x Table 2.4 Non Oil and Gas Imports Volume by Broad Economic Categories (BEC) (thousands Tons)... xi Table 2.5 Non Oil and Gas Exports Value by Country of Destination (millions of USD)... xii Table 2.6 Non Oil and Gas Imports Value by Country of Destination (millions of USD)... xiii Travel Table 3.1 Travel Inflows... xiv Table 3.2 Travel Outflows... xv Securities Table 4.1 Stock of Debt Securities Owned by Non Residents (millions of USD)... xvi 8 Realisasi 27 dan Proyeksi 28
90 HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN Realisasi 27 dan Proyeksi 28 81
91
92 BOKS PROFIL IMPOR NONMIGAS INDONESIA 1. Peranan Impor terhadap Produksi Domestik Salah satu karakteristik industri dalam negeri adalah tingginya penggunaan barang impor sebagai faktor input dalam proses produksi domestik. Tingkat ketergantungan produksi domestik terhadap impor (nonmigas) tersebut dapat diukur dengan rasio ketergantungan impor industri (Import Dependency Ratio=IDR) yang dihitung dari perbandingan antara impor industri tertentu terhadap output bruto industri yang bersangkutan. Formulanya adalah IDR i = M i / X i (%), dimana, M i : impor industri, X i : output bruto industri i, dan X i = intermediate goods + final demand (domestik) + ekspor impor. IDR bersumber dari tabel Input Output (I/O) Indonesia yang mempunyai klasifikasi 175 subsektor ekonomi dan masing2 memiliki kode I/O, KBLI (komoditas) serta judul (nama subsektor/komoditas). Kemudian 175 subsektor tersebut dikelompokkan menjadi 9 sektor ekonomi dalam PDB berdasarkan tabel konversi untuk pengelompokan kode subsektor/komoditas. Dengan formula tersebut dihitung IDR setiap subsektor/komoditas dan dipilih komoditas yang mengalami perubahan cukup signifikan dalam kurun waktu lima tahun (1995 2). IDR < 2% % 4 1 > 4% 3 7 Hasil perhitungan IDR memperlihatkan ketergantungan impor pada tahun 1995 (pra krisis) masih didominasi oleh komoditas dengan rasio dibawah 2% (37 komoditas). Namun lima tahun kemudian, pada tahun 2 (pasca krisis) terjadi perubahan dengan semakin meningkatnya ketergantungan impor yg tercermin dari semakin banyaknya komoditas ber-idr di atas 2% (dari 7 menjadi 17 komoditas). 1 % IDR th IDR th. 2 % 6 Tepung terigu 8 M esin penggerak mula Jasa angkutan udara Bubur kertas Ban Mesin pembangkit & motor listrik M esin listrik Bangunan instalasi industri IDR th IDR th. 2 Pertanian Pertambangan Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air M inum Bangunan Perdagangan Transportasi & Komunikasi Keuangan Sektor Lainnya TOTAL Hasil perhitungan IDR juga menunjukkan bahwa tepung terigu menjadi komoditas impor tertinggi. Akan tetapi peningkatan IDR tertinggi dicapai oleh mesin penggerak mula, disusul jasa angkutan udara. Komoditas lain yang cukup tinggi ketergantungan impornya antara lain: bubur kertas, mesin pembangkit & motor listrik, mesin listrik, bangunan instalasi industri, dan lain-lain. Secara sektoral, sektor bangunan mengalami peningkatan ketergantungan impor tertinggi selama periode 5 tahun pra dan pasca krisis. Dari 9 sektor ekonomi, hanya sektor listrik, air & gas (non tradable) yang mengalami penurunan IDR. Secara umum dapat disimpulkan bahwa tingkat ketergantungan produksi domestik terhadap impor (nonmigas) cenderung meningkat pada periode setelah krisis relatif dibandingkan periode sebelumnya. Realisasi 27 dan Proyeksi 28 i
93 2. Peranan Impor terhadap Pemenuhan Teknologi Dalam Negeri Karakteristik lain dari industri dalam negeri adalah ketergantungan terhadap impor produk teknologi dalam proses produksi. Peranan impor terhadap pemenuhan kebutuhan teknologi dalam negeri dapat dikaji dengan pengkategorian barang impor berdasarkan intensitas faktor produksi dan teknologi. A. Klasifikasi Barang Impor berdasarkan Intensitas Faktor Produksi Berdasarkan intensitas penggunaan faktor produksi, Krause (1987) membagi barang impor menjadi 4 kategori, yakni: (1) Produk Padat Sumber Daya Alam (Natural Resources Intensive/NRI), a.l.: produk dari kulit, kayu dan barang-barang dari logam, (2) Produk Padat Karya (Unskilled Labour Intensive/ULI), a.l.: TPT, meubel, alas kaki dan perlengkapan transportasi, (3) Produk Padat Teknologi (Technology Intensive/TI), a.l: produk kimia, pupuk, mesin textil, mesin elektrik dan non elektrik, pesawat terbang, alat sains dan profesional, barang optik serta foto, dan (4) Produk Padat Tenaga Ahli (Human Capital Intensive/HCI), a.l.: radio, televisi dan peralatan telekomunikasi lainnya, kendaraan bermotor, perhiasan dan peralatan musik. Pada tahun 2, impor Indonesia didominasi oleh produk padat teknologi yang sampai sekarang cenderung masih terus mengalami peningkatan. Produk padat teknologi mengalami peningkatan yang cukup tajam di tahun 25. Sementara itu, impor produk padat karya merupakan kategori produk yang paling sedikit diimpor. Pertumbuhan impor berdasarkan intensitas faktor produksi mengalami peningkatan yang cukup tajam di tahun 25, terutama untuk kategori padat teknologi, padat SDA dan padat tenaga ahli. Di tahun 27 produk padat teknologi kembali mengalami peningkatan cukup signifikan diikuti produk pada SDA dan padat tenaga ahli. Sementara itu, produk padat karya relatif tidak mengalami perubahan. Secara umum tingkat pemenuhan kebutuhan teknologi dalam negeri terhadap impor khususnya produk padat teknologi mengalami tren kenaikan terutama dalam kurun waktu 3 tahun terakhir Klasifikasi Barang Impor Berdasarkan Intensitas Faktor Produksi NRI ULI TI HCI % 6 5 Klasifikasi Barang Impor Berdasarkan Intensitas Teknologi High Tech Medium High Tech Medium Low Tech Low Tech 3 4 Juta USD Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q B. Klasifikasi Barang Impor berdasarkan Intensitas Teknologi OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) mengklasifikasikan barang impor untuk industri berdasarkan dua indikator intensitas teknologi, yakni: (1) pengeluaran Research and Development (R&D) berdasarkan produksinya dan (2) pengeluaran R&D berdasarkan nilai tambahnya. Berdasarkan kedua indikator tadi dihasilkan empat kategori barang impor yaitu: (1) High tech manufacture, seperti industri komputer dan mesin kantor, industri radio, televisi dan peralatan komunikasi lainnya, (2) Medium high tech manufacture, seperti industri pupuk, industri kendaraan bermotor dan industri peralatan transportasi, (3) Medium low tech manufacture, seperti industri produk karet dan plastik dan industri pembuatan & perbaikan papal, dan (4) Low tech manufacture, seperti industri makanan dan minuman, industri produk tembakau, industri tekstil, industri kertas dan produk kertas. Komposisi barang impor berdasarkan intensitas teknologi didominasi oleh kelompok barang medium high tech, meskipun cenderung menurun pada tiga tahun ke belakang. Pada tahun 2, impor barang high tech masih rendah, tetapi sejak tahun 25 impor barang kategori high tech, medium low tech dan low tech mulai merata. Secara umum tingkat pemenuhan kebutuhan teknologi dalam negeri terhadap impor cukup tinggi, khususnya yang bersifat medium high tech. Sementara impor high tech meskipun relatif rendah tetapi cenderung meningkat. ii Realisasi 27 dan Proyeksi 28
94 Table 1.1 Indonesia s Balance Of Payments Summary (millions of USD) I T E M S February 29, * 28** Total Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Total Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Total I. Current Account 1,836 2,892 2,533 2,194 3,389 11,9 2,634 2,95 2,291 2,273 1,12 A. Goods, net (Trade Balance) 29,66 7,83 8,199 7,578 9,53 33,83 7,223 9,94 7,996 9,236 33,55 1. Exports, fob 1) 13,528 26,626 29,22 3,9 32, ,14 3,49 32,143 33,69 33, , Import, fob 2) -73,868-18,823-21,4-22,43-22,673-84,93-23,267-23,49-25,73-23,979-95,368 B. Services, net -9,888-2,994-2,775-2,553-2,781-11,13-2,672-2,88-2,472-3,561-11,585 C. Income, net -13,8-3,232-4,118-4,12-4,513-15,875-3,168-4,475-4,478-4,616-16,737 D. Current Transfers, net 4,863 1,315 1,228 1,18 1,18 4,93 1,251 1,166 1,245 1,214 4,875 II. Capital & Financial Account 2,944 1,823 2,9-1, ,753-1, ,738 1,225 A. Capital Account B. Financial Account 2,594 1,781 1,882-1, ,223-1, ,79 1,33 1. Direct investment 2, , , , ,55 a. Abroad, net -2,73-1, ,413-2,123-4, ,62-3,39 b. In Indonesia (FDI), net 4,914 1,61 1,58 1,532 1,92 5,571 1,329 1,433 2,8 1,676 6, Portfolio investment, net 4,174 2,64 4,649 1,129-1,41 6,981 2, ,26 1,824 6,5 a. Assets, net -1, , , ,12 b. Liabilities, net 6,17 2,988 5,77 1, ,981 3,448 1,312 1,838 2,572 9,17 3. Other investment -3, ,216-3,17 2,23-5,922-4,713-1,938-1, ,72 a. Assets, net -1, ,165-3, ,633-4,338-1,2-2, ,197 b. Liabilities, net 3) -2, ,5-58 1, III. Total (I + II) 13,78 4,716 4, ,914 13,762 1,41 2,89 3,187 5,11 11,328 IV. Errors & Omissions ,219 V. Overall Balance (III + IV) 14,51 4,379 3,637 1,136 3,391 12,543 1,41 2,89 3,187 5,11 11,328 VI. Reserves and Related Items 4) -14,51-4,379-3,637-1,136-3,391-12,543-1,41-2,89-3,187-5,11-11,328 a. Reserve Asset Changes -6,92-4,379-3,637-1,136-3,391-12,543-1,41-2,89-3,187-5,11-11,328 b. Use of Fund Credit and Loans -7,68 Purchases Repurchases -7,68 Memorandum: Reserve Assets Position 5) 42,586 47,221 5,924 52,875 56,92 56,92 57,961 6,5 63,238 68,249 68,249 (In Months of Imports & Official Debt Repayment) Current Account (% GDP) Debt Service Ratio (%) 6) o/w. Government & Monetary Authority ) Since May 24 part of the reporting method of non oil & gas export han been changed into on-line-system 2) Since April 24 part of the reporting method of non oil & gas import han been changed into on-line-system 3) Excluding the use of Fund credit and loans 4) Negative represents surplus and positive represents deficit. Since the first quarter of 24, changes in reserve assets only cover data on changes due to transaction. 5) Based on Gross Foreign Asset concept replacing Official Reserve concept since 1998 and based on International Reserve and Foreign Currency Liquidity (IRFCL) concept since 2 6) Ratio of external debt service payments to export of goods and services. * Provisional figures ** Projection - Not available Data are not available yet Realisasi 27 dan Proyeksi 28 iii
95 Table 1.2 Indonesia s Balance Of Payments Current Account (millions of USD) I T E M S February 29, * 28** Total Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Total Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Total Current Account 1,836 2,892 2,533 2,194 3,389 11,9 2,634 2,95 2,291 2,273 1,12 A. Goods, net (Trade Balance) 29,66 7,83 8,199 7,578 9,53 33,83 7,223 9,94 7,996 9,236 33,55 - Non Oil and Gas 22,875 6,56 6,994 6,217 7,277 27,48 6,152 7,34 5,54 8,383 27,19 - Oil and Gas 6,785 1,244 1,25 1,361 2,226 6,36 1,72 2,6 2, ,441 Exports, fob 13,528 26,626 29,22 3,9 32, ,14 3,49 32,143 33,69 33, ,918 - Non Oil and Gas 1) 8,578 21,682 23,456 23,529 24,475 93,142 23,85 25,82 25,882 26,922 12,456 - Oil and Gas 22,95 4,944 5,746 6,48 7,72 24,872 6,64 6,341 7,188 6,293 26,462 Imports, fob -73,868-18,823-21,4-22,43-22,673-84,93-23,267-23,49-25,73-23,979-95,368 - Non Oil and Gas 2) -57,73-15,122-16,463-17,311-17,197-66,94-17,699-18,768-2,342-18,539-75,347 - Oil and Gas -16,165-3,71-4,541-5,119-5,476-18,836-5,568-4,281-4,731-5,44-2,21 B. Services, net -9,888-2,994-2,775-2,553-2,781-11,13-2,672-2,88-2,472-3,561-11, Transportation, net -6,77-1,632-1,784-1,876-1,979-7,27-2,6-1,94-2,15-2,2-7,945 a. Freight, net -5,147-1,351-1,512-1,611-1,613-6,87-1,717-1,683-1,829-1,719-6,949 b. Passenger and Other, net , Travel, net ,9 a. Inflow 4,448 1,18 1,344 1,432 1,39 5,346 1,439 1,585 1,727 1,561 6,312 b. Outflow -4,3-1, ,12-1,358-4,446-1,383-1,157-1,214-1,467-5, Other services, net -4,228-1,457-1,345-1, , , ,635-4,73 C. Income, net -13,8-3,232-4,118-4,12-4,513-15,875-3,168-4,475-4,478-4,616-16, Compensation of employees Investment income -13,663-3,157-4,46-3,926-4,411-15,54-3,82-4,386-4,364-4,446-16,277 a. Direct investment -9,521-2,98-2,859-2,973-2,815-1,746-2,198-2,923-2,989-2,811-1,921 b. Portfolio investment -1, , ,297 c. Other investment -2, , ,59 o/w Government & Monetary Authority interest payments -2, , ,39 D. Current Transfers, net 4,863 1,315 1,228 1,18 1,18 4,93 1,251 1,166 1,245 1,214 4, Government, net Other sectors, net 4,841 1,31 1,22 1,173 1,177 4,871 1,245 1,161 1,241 1,197 4,845 a. Workers' Remittances, net 4,5 1,186 1,158 1,64 1,67 4,475 1,225 1,134 1,26 1,159 4,723 b. Other transfers, net Memorandum: Non Oil and Gas Export Growth, fob (%) Non Oil and Gas Import Growth, c&f (%) Oil Unit Prices (USD/barrel) Oil Production (millions barrel per day) Tourist Inflows (thousand people) 4,871 1,215 1,384 1,475 1,432 5,56 1,483 1,632 1,78 1,65 6,5 1) Since May 24 part of the method of reporting non oil & gas export han been changed into on-line-system 2) Since April 24 part of the method of reporting non oil & gas import han been changed into on-line-system * Provisional figures ** Projection - Not available Data are not available yet iv Realisasi 27 dan Proyeksi 28
96 Table 1.3 Indonesia s Balance Of Payments Capital and Financial Account (millions of USD) I T E M S February 29, * 28** Total Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Total Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Total A. Capital Account B. Financial Account 2,594 1,781 1,882-1, ,223-1, ,79 1,33 1. Direct investment 2, , , , ,55 a. Abroad -2,73-1, ,413-2,123-4, ,62-3,39 - Equity capital & Reinvested earnings ,4 - Other capital -1, ,136-1,739-3, ,35 b. In Indonesia (FDI) 4,914 1,61 1,58 1,532 1,92 5,571 1,329 1,433 2,8 1,676 6,445 - Equity capital & Reinvested earnings 4,616 1,374 1,569 1,275 1,974 6,192 1,529 1,639 2,221 1,89 7,278 - Other capital o/w. Loans: - Drawings 3,649 1,276 1,69 1,553 1,562 5,46 1,367 1,416 1,477 1,489 5,749 - Repayments -3,351-1,589-1,581-1,296-1,616-6,81-1,568-1,622-1,689-1,73-6, Portfolio investment 4,174 2,64 4,649 1,129-1,41 6,981 2, ,26 1,824 6,5 a. Assets -1, , , ,12 - Equity securities Debt securities -1, , , ,133 Bonds and Notes -1, , , ,133 Other b. Liabilities 6,17 2,988 5,77 1, ,981 3,448 1,312 1,838 2,572 9,17 - Equity securities 1, ,282 1, , ,72 3,22 - Debt securities 4,21 2,626 4, ,89 6,422 2, ,6 1,5 6,148 Bonds and Notes 3,834 2,456 2, ,189 2, , 5,97 Other , ,339 1, ,51 3. Other Investment -3, ,216-3,17 2,23-5,922-4,713-1,938-1, ,72 a. Assets -1, ,165-3, ,633-4,338-1,2-2, ,197 - Loans Other 1) -1, ,379-3, ,879-4,397-1,89-2, ,452 b. Liabilities -2, ,5-58 1, Loans 2) -2, , , , Drawings 11,19 2,778 2,598 2,523 5,313 13,212 2,389 2,751 2,95 6,5 14,94 Repayments -13,991-3,5-4,79-2,694-4,55-14,372-2,997-3,936-2,411-5,636-14,979 - Other 1) ,9 C. Total (A + B) 2,944 1,823 2,9-1, ,753-1, ,738 1,225 1) Including currency and deposits 2) Excluding the use of Fund Credit and Loans * Provisional figures ** Projection - Not available Data are not available yet Realisasi 27 dan Proyeksi 28 v
97 Table 1.4 Indonesia s Balance Of Payments Government and Monetary Authorities Sector Financial Account (millions of USD) I T E M S February 29, * 28** Total Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Total Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Total I. Government 2,172 1, ,719 2,188-1, ,727 2,647 A. Portfolio investment 4,139 2,382 2, ,37 2, ,34 1. Assets b. Equity securities a. Debt securities 2. Liabilities 4,139 2,382 2, ,37 2, ,34 b. Equity securities a. Debt securities 4,139 2,382 2, ,37 2, ,34 B. Other investment -1, , , , , Assets 2. Liabilites -1, , , , ,386 a. Loans -1, , , , ,386 i. Drawings 3, ,34 4, ,192 4,831 - Program Aid 1, ,76 2,16 2,6 2,6 ADB , 1, IBRD , 1, JBIC Others Project Aid 2, , ,231 CGI 1, , , ODA 1, , , Bilateral Multilateral ,1 Non ODA Non CGI Reschedulling Principal Interest ii. Repayments -5,555-1,67-2, ,213-6, ,984-1,3-2,25-6, Other II. Monetary Authorities , ,341 1, A. Portfolio investment , ,339 1, ,51 1. Assets 2. Liabilities , ,339 1, ,51 B. Other investment Assets 2. Liabilites a. Loans 1) i Drawings ii. Repayments b. Other III. Total (I + II) 2,19 2,45 2, ,369 2,97 2, ,221 3,629 Memorandum: The use of Fund Credit and Loans: -7,68 Purchases Repurchases -7,68 1) Excluding the use of Fund Credit and Loans * Provisional figures ** Very provisional figures - Not available Data are not available yet vi Realisasi 27 dan Proyeksi 28
98 Table 1.5 Indonesia s Balance Of Payments Private Sector Financial Account (millions of USD) I T E M S February 29, * 28** Total Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Total Q.1 Q.2 Q.3 Q.4 Total A. Direct investment 2, , , , ,55 1. Abroad -2,73-1, ,413-2,123-4, ,62-3,39 - Equity capital & Reinvested earnings ,4 - Other capital -1, ,136-1,739-3, ,35 2. In Indonesia (FDI) 4,914 1,61 1,58 1,532 1,92 5,571 1,329 1,433 2,8 1,676 6,445 - Equity capital & Reinvested earnings 4,616 1,374 1,569 1,275 1,974 6,192 1,529 1,639 2,221 1,89 7,278 - Other capital o/w. Loans : - Drawings 3,649 1,276 1,69 1,553 1,562 5,46 1,367 1,416 1,477 1,489 5,749 - Repayments -3,351-1,589-1,581-1,296-1,616-6,81-1,568-1,622-1,689-1,73-6,582 B. Portfolio investment , , Assets -1, , , ,12 - Equity securities Debt securities -1, , , ,133 Bonds and Notes -1, , , ,133 Other 2. Liabilities 1, ,554 1,664 1,57 4, ,62 1,332 4,85 - Equity securities 1, ,282 1, , ,72 3,22 - Debt securities , ,64 Bonds and Notes , ,64 Other C. Others investment -1, ,681-2,661 1,899-3,558-4, , , Assets -1, ,165-3, ,633-4,338-1,2-2, ,197 - Loans Other 1) -1, ,379-3, ,879-4,397-1,89-2, , Liabilities ,43 2, , ,58 - Loans , , Drawings 7,521 2,25 2,74 1,956 2,973 9,28 1,7 2,24 2,546 2,813 9,263 - Repayments -7,97-1,969-2,2-1,682-2,334-8,5-1,971-1,95-1,346-3,426-8,692 - Other 1) ,9 D. Total (A+B+C) ,471 1, , ,596 1) Including currency and deposits * Provisional figures ** Very provisional figures - Not available Data are not available yet Realisasi 27 dan Proyeksi 28 vii
99 Table 2.1 Non Oil and Gas Exports Value by Commodities (millions of USD) Commodities Value Q1 Share (%) Growth (%) Value 26 Q2 Q3 Q4 Share Growth Share Growth Share Value Value (%) (%) (%) (%) (%) Growth (%) Value 27 Q1 Q2 Q3 Q4 Share Growth Share Growth Share Growth Share Value Value Value (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) Growth (%) Total 17, , , , , , , , I. Agriculture 2, , , , , , , , Timber Rubber , , , , , , Coffee Tea Pepper Tobacco Manioc Animal & Husb Products Shrimps and prawns Hides Others II. Mineral 3, , , , , , , , Tin Copper 1, , , , , , , , Nickel , Aluminium Coal 1, , , , , , , , Others III. Manufactured 11, , , , , , , , Textile & Textile Products 2, , , , , , , , Garments 1, , , , , , , , Handicraft Wood Products Plywood Rattan Products Palm Oils 1, , , , , , , , Copra Cake Chemical Products 1, , , , , , , , Metal Products Electrical Appliances 2, , , , , , , , Cement Papers , , , , , Rubber Products Glass & Glassware Footwear Plastic Products Machinery & Mechanic 1, , , , , , , , Others 1, , , , , , , , IV. Others (Non-monetary Gold) V. REPAIR ON GOODS & GOODS PROCURED IN PORT BY CARRIERS viii Realisasi 27 dan Proyeksi 28
100 Table 2.2 Non Oil and Gas Exports Volume by Commodities (thousands of Tons) Commodities Vol 26 Q1 Q2 Q3 Q4 Share Growth Share Growth Share Growth Share Vol Vol Vol (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) Growth (%) Vol 27 Q1 Q2 Q3 Q4 Share Growth Share Growth Share Growth Share Vol Vol (%) (%) (%) (%) (%) (%) Vol (%) Growth (%) Total 61, , , , , , , , I. Agriculture 2, , , , , , , , Timber Rubber Coffee Tea Pepper Tobacco Manioc Animal & Husb Products Shrimps and prawns Hides Others II. Mineral 47, , , , , , , , Tin Copper Nickel , , , , , , Aluminium 1, , , , , , , , Coal 39, , , , , , , , Others 5, , , , , , , , III. Manufactured 11, , , , , , , , Textile & Textile Products Garments Handicraft Wood Products Plywood Rattan Products Palm Oils 2, , , , , , , , Copra Cake Chemical Products 1, , , , , , , , Metal Products Electrical Appliances Cement 1, , , , , , , , Papers 1, , , , , , , , Rubber Products Glass & Glassware Footwear Plastic Products Machinery & Mechanic Others 1, , , , , , , , IV. Others (Non-monetary Gold) V. REPAIR ON GOODS & GOODS PROCURED IN PORT BY CARRIERS na na na na na na na na na na na na na na na na na na na na na na na na Realisasi 27 dan Proyeksi 28 ix
101 Table 2.3 Non Oil and Gas Imports Value by Broad Economic Categories (BEC) (millions of USD) Commodities Value Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Share Growth Value Share Growth Value Share Growth Value Share Growth Value Share Growth Value Share Growth Share Growth Value Value Share (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) Growth (%) Import Total 14, , , , , , , , I. Consumption Goods 1, , , , , , , , Food & Beverages (Primary), Mainly for Household Food & Beverages (Processed), Mainly for Household Passenger Motor Cars Transport Equipment, non-industrial Durable Consumption Goods Semi-durable Consumption Goods Non-durable Consumption Goods Goods Not Elsewhere Specified II. Raw Materials & Auxiliary Goods 1, , , , , , , , Food & Beverages (Primary), Mainly for Industry Food & Beverages (Processed), Mainly for Industry Raw Materials (Primary), for Industry Raw Materials (Processed), for Industry 5, , , , , , , , Fuels & Lubricants (Primary) Fuels & Lubricants (Processed) Parts & Accessories for Capital Goods 2, , , , , , , , Parts & Accessories for Transport Equipment , , , , , III. Capital Goods 2, , , , , , , , Capital Goods (except Transport Equipment) 2, , , , , , , , Passenger Motor Cars Transport Equipment for Industry IV. Others x Realisasi 27 dan Proyeksi 28
102 Table 2.4 Non Oil and Gas Imports Volume by Broad Economic Categories (BEC) (thousands of Tons) Commodities Vol 26 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Share Growth Share Growth Share Growth Share Growth Share Growth Share Vol Vol Vol Vol Vol (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) (%) Growth (%) 27 Vol Q3 Share (%) Growth (%) Value Q4 Share (%) Growth( %) Import Total 13, , , , , , , , I. Consumption Goods , , , , Food & Beverages (Primary), Mainly for Household Food & Beverages (Processed), Mainly for Household Passenger Motor Cars Transport Equipment, non-industrial Durable Consumption Goods Semi-durable Consumption Goods Non-durable Consumption Goods Goods Not Elsewhere Specified II. Raw Materials & Auxiliary Goods 12, , , , , , , , Food & Beverages (Primary), Mainly for Industry 1, , , , , , , , Food & Beverages (Processed), Mainly for Industry Raw Materials (Primary), for Industry 3, , , , , , , , Raw Materials (Processed), for Industry 7, , , , , , , , Fuels & Lubricants (Primary) Fuels & Lubricants (Processed) Parts & Accessories for Capital Goods Parts & Accessories for Transport Equipment III. Capital Goods Capital Goods (except Transport Equipment) Passenger Motor Cars Transport Equipment for Industry IV. Others Realisasi 27 dan Proyeksi 28 xi
103 Table 2.5 Non Oil and Gas Exports Value by Country of Destination (millions of USD) COUNTRY Value Q1 Share (%) Growth (%) Value Q2 Share (%) Growth (%) 26 Value Q3 Share (%) Growth (%) Value Q4 Share (%) Growth (%) Value Q1 Share (%) Growth (%) Value Q2 Share (%) Growth (%) 27 Value Q3 Share (%) Growth (%) Value Q4 Share (%) Growth (%) TOTAL 17, , , , , , , , AFRICA AMERICA 3, , , , , , , , U S A 2, , , , , , , , Western Hemesphere Canada Others ASIA 1, , , , , , , , ASEAN 3, , , , , , , , Brunei Darussalam Malaysia , , , , , Philipina Singapore 1, , , , , , , , Thailand Vietnam Myanmar Cambodia Lao PDR ASIA EXCL.ASEAN 6, , , , , , , , Hongkong India , , , , Iraq Japan 2, , , , , , , , South Korea , , Pakistan China 1, , , , , , , , Saudi Arabia Taiwan Others , , , , AUSTRALIA & OCEANIA EUROPE 3, , , , , , , , EUROPEAN COMMUNITY 2, , , , , , , , Belgium France Germany Italy Netherlands United Kingdom Others Russia Others xii Realisasi 27 dan Proyeksi 28
104 Table 2.6 Non Oil and Gas Imports Value by Country of Origin (millions of USD) COUNTRY Value 26 Q1 Q2 Q3 Q4 Share (%) Growth (%) Value Share (%) Growth (%) Value Share (%) Growth (%) Value Share (%) Growth (%) Value Q1 Share (%) Growth (%) Value Q2 Share (%) Growth (%) 27 Value Q3 Share (%) Growth (%) Value Q4 Share (%) Growth (%) TOTAL 14, , , , , , , , AFRICA AMERICA 1, , , , , , , , U S A 1, , , , , , , , Western Hemesphere Canada Others ASIA 1, , , , , , , , ASEAN 4, , , , , , , , Brunei Darussalam Malaysia Philipina Singapore 3, , , , , , , , Thailand , , , , , Vietnam Myanmar Cambodia ASIA EXCL.ASEAN 5, , , , , , , , Hongkong India Iraq ,143. 1,734 - Japan 2, , , , , , , , South Korea , , , Pakistan China 1, , , , , , , , Saudi Arabia Taiwan Others AUSTRALIA & OCEANIA EUROPE 2, , , , , , , , EUROPEAN COMMUNITY 1, , , , , , , , Belgium France Germany Italy Netherlands United Kingdom Others Russia Others Realisasi 27 dan Proyeksi 28 xiii
105 Table 3.1 Travel Inflows BOP BOP % % Period Main Gates Other Gates (2+3) Value y.o.y (y.t.d) (number of people) (number of people) (number of people) (In millions of USD) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) 24 4,541, ,941 5,321,16 4, Q1 1,34, ,99 1,212,226 1, Q2 1,99,96 188,656 1,287,752 1, Q3 1,278,22 219,368 1,497,39 1, Q4 1,129, ,928 1,323,739 1, ,74, ,747 5,2,11 4, Q1 1,3, ,625 1,219,241 1, Q2 1,45, ,421 1,274,292 1, Q3 1,183, ,116 1,422,873 1, Q4 841,11 244,585 1,85, ,977, ,869 4,871,351 4, Q1 871,817 24,589 1,76, Q2 1,23,99 227,472 1,25,571 1, Q3 1,38, ,972 1,272,829 1, Q4 1,43,79 227,836 1,271,545 1, ,541, ,31 5,55,759 5, Q1 1,1, ,289 1,214,986 1, Q2 1,142,77 242,394 1,384,471 1, Q3 1,215, ,83 1,474,526 1, Q4 1,181, ,815 1,431,776 1, Source: BPS, Budpar xiv Realisasi 27 dan Proyeksi 28
106 Table 3.2 Travel Outflows Hajj BOP Hajj BOP % % Period Main Gates Other Gates Pilgrimage (2+3-4) Pilgrimage Value y.o.y (y.t.d) (number of people) (number of people) (number of people) (number of people) (In millions of USD) (In millions of USD) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 24 3,941,381 11,61 24,945 3,837, , Q1 942,948 24,178 24, , , Q2 847,679 21, , Q3 1,22,31 26,213-1,48, Q4 1,128,444 28,934-1,157, ,16,225 15, ,51 3,944, , Q1 948,59 24,321 25, , Q2 991,334 25,419-1,16, Q3 1,24,447 26,268-1,5, Q4 1,141,935 29,28 62,119 1,19, ,322,464 75,45 27,64 4,882, , Q1 941, , , , , Q2 1,81,62 192,71-1,274, Q3 1,82, ,72-1,245, Q4 1,216, ,576 62,119 1,368, , ,593, ,859 29,32 4,947, , Q1 1,55, ,52 14,66 1,12, , Q2 1,13, ,136-1,246, Q3 1,146, ,774-1,273,951-1, Q4 1,287, ,429 14,66 1,36, , Source: BPS, Budpar, Depag Realisasi 27 dan Proyeksi 28 xv
107 Table 4.1 Stock of Debt Securities Owned by Non Residents (millions of USD) No Securities Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV A. Private Sector * (Eq. millions of Rupiahs) 1 Bonds Medium Term Notes Floating Rate Notes Commercial Papers Promissory Notes 1, ,42.7 1, , , , , Total 1, ,93.2 1, , , ,19.8 2, B. Public Sector 1 Govt. Bond (Rp. Denomination)/SUN 5,6.7 5,21.3 5, ,88.3 6, ,32.7 8, Govt. Bond (USD Denomination) 4,945. 4,945. 4,945. 4,945. 6,37. 6,37. 6, SBI 2, ,3.4 2, ,2.8 4, Total 12, , , , , , , *Source : Custodian Bank xvi Realisasi 27 dan Proyeksi 28
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 263 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 Tim Penulis
Analisis Perkembangan Industri
JUNI 2017 Analisis Perkembangan Industri Pusat Data dan Informasi Juni 2017 Pendahuluan Membaiknya perekonomian dunia secara keseluruhan merupakan penyebab utama membaiknya kinerja ekspor Indonesia pada
I. PENDAHULUAN. secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003)
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara dapat diukur dan digambarkan secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003) menyatakan bahwa pertumbuhan
T0 LAPORAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA. Realisasi Triwulan I 2017
Agustus Mei 2013 2017 T0 LAPORAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA Realisasi Triwulan I 2017 1 Alamat Redaksi: Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik Departemen Statistik Bank Indonesia Menara Sjafruddin
LAPORAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA
Edisi Publikasi Februari 2011 kang LAPORAN NERACAA PEMBAYARAN INDONESIA Realisasi Tw. IV-2010 1 Alamat Redaksi : Biro Neraca Pembayaran Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Menara Sjafruddin
Alamat Redaksi: Biro Neraca Pembayaran Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Menara Sjafruddin Prawiranegara, Lantai 16 Jl. M.H.
Alamat Redaksi: Biro Neraca Pembayaran Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Menara Sjafruddin Prawiranegara, Lantai 16 Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 135 Telepon : (21) 3818328 Faksimili
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN I. Ekonomi Dunia Pertumbuhan ekonomi nasional tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dunia. Sejak tahun 2004, ekonomi dunia tumbuh tinggi
LAPORAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA
Mei 211 kang LAPORAN NERACAA PEMBAYARAN INDONESIA Realisasi Tw. I-211 1 Alamat Redaksi: Biro Neraca Pembayaran Direktorat Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Menara Sjafruddin Prawiranegara, Lantai
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Sejak pertengahan tahun 2006, kondisi ekonomi membaik dari ketidakstabilan ekonomi tahun 2005 dan penyesuaian kebijakan fiskal dan moneter yang
Realisasi Triwulan I-2015
Agustus 2013 T0 LAPORAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA Realisasi Triwulan I-2015 1 Alamat Redaksi: Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik Departemen Statistik Bank Indonesia Menara Sjafruddin Prawiranegara,
BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Fenomensa globalisasi dalam bidang ekonomi mendorong perkembangan ekonomi yang semakin dinamis antar negara. Dengan adanya globalisasi, terjadi perubahan sistem ekonomi
T0 LAPORAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA. Realisasi Triwulan II 2017
Agustus Agustus 20132017 T0 LAPORAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA Realisasi Triwulan II 2017 1 Alamat Redaksi: Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik Departemen Statistik Bank Indonesia Menara
Ekspor Bulan Juni 2014 Menguat. Kementerian Perdagangan
Ekspor Bulan Juni 2014 Menguat Kementerian Perdagangan 5 Agustus 2014 1 Neraca perdagangan non migas bulan Juni 2014 masih surplus Neraca perdagangan Juni 2014 mengalami defisit USD 305,1 juta, dipicu
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2010 245 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2010 Tim Penulis
Asesmen Pertumbuhan Ekonomi
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Penurunan momentum pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau di periode ini telah diperkirakan sebelumnya setelah mengalami tingkat pertumbuhan
Ekspor Indonesia Masih Sesuai Target 2008: Pemerintah Ambil Berbagai Langkah Guna Antisipasi Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Dunia
SIARAN PERS DEPARTEMEN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA Pusat HUMAS Departemen Perdagangan Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 10110 Tel: 021 3858216, 23528400. Fax: 021-23528456 www.depdag.go.id Ekspor Indonesia
IV. GAMBARAN UMUM HARGA MINYAK DUNIA DAN KONDISI PEREKONOMIAN NEGARA-NEGARA ASEAN+3
IV. GAMBARAN UMUM HARGA MINYAK DUNIA DAN KONDISI PEREKONOMIAN NEGARA-NEGARA ASEAN+3 4.1 Perkembangan Harga Minyak Dunia Pada awal tahun 1998 dan pertengahan tahun 1999 produksi OPEC turun sekitar tiga
V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT
V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT 5.1 Produk Kelapa Sawit 5.1.1 Minyak Kelapa Sawit Minyak kelapa sawit sekarang ini sudah menjadi komoditas pertanian unggulan
I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia
KEMENTERIAN PERDAGANGAN. Jakarta, Mei 2010
KEMENTERIAN PERDAGANGAN KINERJA Periode: MARET 21 Jakarta, Mei 21 1 Neraca Perdagangan Indonesia Kondisi perdagangan Indonesia semakin menguat setelah mengalami kontraksi di tahun 29. Selama Triwulan I
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Asesmen Ekonomi Pemulihan ekonomi Kepulauan Riau di kuartal akhir 2009 bergerak semakin intens dan diperkirakan tumbuh 2,47% (yoy). Angka pertumbuhan berakselerasi
BPS PROVINSI JAWA BARAT
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT NOVEMBER 2016 No. 04/01/32/Th.XIX, 03 Januari 2017 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR NOVEMBER 2016 MENCAPAI USD
INDONESIA PADA GUBERNUR BANK PANITIA ANGGARAN SEMESTER
PANDANGAN GUBERNUR BANK INDONESIA PADA RAPAT KERJA PANITIA ANGGARAN DPR RI MENGENAI LAPORAN SEMESTER I DAN PROGNOSIS SEMESTER II APBN TA 2006 2006 Anggota Dewan yang terhormat, 1. Pertama-tama perkenankanlah
IV. GAMBARAN UMUM. Sumber : WTRG Economics
IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Perkembangan Harga Minyak Bumi Minyak bumi merupakan salah satu sumber energi dunia. Oleh karenanya harga minyak bumi merupakan salah satu faktor penentu kinerja ekonomi global.
Analisis Perkembangan Industri
FEBRUARI 2017 Analisis Perkembangan Industri Pusat Data dan Informasi Februari 2017 Pendahuluan Pada tahun 2016 pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,02%, lebih tinggi dari pertumbuhan tahun
BPS PROVINSI JAWA BARAT
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT JUNI 2016 No. 42/08/32/Th.XVIII, 01 Agustus 2016 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR JUNI 2016 MENCAPAI USD 2,48
PROVINSI JAWA BARAT MARET 2016
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR No.25/05/32/Th.XVIII, 02 Mei PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT MARET A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR MARET MENCAPAI US$ 2,12 MILYAR Nilai ekspor
Analisis Perkembangan Industri
APRIL 2017 Analisis Perkembangan Industri Pusat Data dan Informasi April 2017 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I 2017 Pada triwulan 1 2017 perekonomian Indonesia, tumbuh sebesar 5,01% (yoy). Pertumbuhan
PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA BULAN FEBRUARI 2002
PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA BULAN FEBRUARI No. 15/V/1 APRIL EKSPOR Nilai ekspor Indonesia bulan Februari mencapai US$ 4,18 milyar atau naik 4,36 persen dibanding ekspor bulan Januari sebesar
BPS PROVINSI JAWA BARAT
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT FEBRUARI No.20/32/Th.XVIII, 01 April A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR FEBRUARI MENCAPAI US$ 1,97 MILYAR Nilai
BPS PROVINSI JAWA BARAT
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT JULI 2016 No. 51/09/32/Th.XVIII, 01 September 2016 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR JULI 2016 MENCAPAI USD 1,56
BAB I PENDAHULUAN. motor penggerak perekonomian nasional. Perdagangan internasional dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perdagangan internasional mempunyai peranan sangat penting sebagai motor penggerak perekonomian nasional. Perdagangan internasional dapat didefinisikan sebagai
BPS PROVINSI JAWA BARAT
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT DESEMBER 2016 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR DESEMBER 2016 MENCAPAI USD 2,29 MILYAR No. 08/02/32/Th.XIX, 01
BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014
BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014 1.1 LATAR BELAKANG Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2014 sebesar 5,12 persen melambat dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun
BAB I PENDAHULUAN. Cadangan devisa merupakan salah satu indikator yang sangat penting untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Cadangan devisa merupakan salah satu indikator yang sangat penting untuk menunjukan kuat atau lemahnya fundamental perekonomian suatu negara. Selain itu,
MEDIA BRIEFING Pusat HUMAS Departemen Perdagangan Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta Tel: /Fax:
KEMENTERIAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA MEDIA BRIEFING Pusat HUMAS Departemen Perdagangan Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 10110 Tel: 021-23528446/Fax: 021-23528456 www.depdag.go.id Prospek Ekspor
I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi dunia akan semakin besar seiring dengan pesatnya perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap terpenuhi agar roda
4. Outlook Perekonomian
4. Outlook Perekonomian Pada tahun 2007-2008, ekspansi perekonomian Indonesia diprakirakan terus berlanjut dengan dilandasi oleh stabilitas makroekonomi yang terjaga. Pertumbuhan ekonomi pada 2007 diprakirakan
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Setiap negara di dunia ini pasti akan melakukan interaksi dengan negaranegara
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap negara di dunia ini pasti akan melakukan interaksi dengan negaranegara lain di sekitarnya. Biasanya bentuk kerjasama atau interaksi itu berbentuk perdagangan antar
P D R B 7.24% 8.50% 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% -0.89% Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara **) angka sangat sementara
Ringkasan Eksekutif Asesmen Ekonomi Di awal tahun 2009, imbas krisis finansial global terhadap perekonomian Kepulauan Riau dirasakan semakin intens. Laju pertumbuhan ekonomi memasuki zona negatif dengan
BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, perekonomian Indonesia diliput banyak masalah. Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Saat ini, perekonomian Indonesia diliput banyak masalah. Permasalahan tersebut muncul dari faktor internal maupun faktor eksternal. Namun saat ini, permasalahan
Kondisi Perekonomian Indonesia
KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI INDONESIA Kondisi Perekonomian Indonesia Tim Ekonomi Kadin Indonesia 1. Kondisi perekonomian dunia dikhawatirkan akan benar-benar menuju jurang resesi jika tidak segera dilakukan
LAPORAN PEMERINTAH TENTANG PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA SEMESTER PERTAMA TAHUN ANGGARAN 2012 R E P U B L I K I N D O N E S I A
LAPORAN PEMERINTAH TENTANG PELAKSANAANN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJAA NEGARA SEMESTER PERTAMA TAHUN ANGGAR RAN 2012 R E P U B L I K I N D O N E S I A Daftar Isi DAFTAR ISI Daftar Isi... Daftar Tabel...
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Perkembangan ekonomi makro bulan Oktober 2004 hingga bulan Juli 2008 dapat diringkas sebagai berikut. Pertama, stabilitas ekonomi tetap terjaga
Neraca Perdagangan Januari-Oktober 2015 Surplus USD 8,2 M, Lebih Baik dari Tahun Lalu yang Defisit USD 1,7 M. Kementerian Perdagangan
Neraca Perdagangan Januari-Oktober 2015 Surplus USD 8,2 M, Lebih Baik dari Tahun Lalu yang Defisit USD 1,7 M Kementerian Perdagangan 17 Oktober 2015 1 Neraca perdagangan Oktober 2015 kembali surplus Neraca
PROVINSI JAWA BARAT JUNI 2017
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR No. 43/08/32/Th.XIX, 01 Agustus 2017 PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT JUNI 2017 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR JUNI 2017 MENCAPAI USD 1,95 MILYAR
Nilai ekspor Jawa Barat Desember 2015 mencapai US$2,15 milyar naik 5,54 persen dibanding November 2015.
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR No.09/02/32/Th.XVIII, 01 Februari 2016 PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT DESEMBER A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR DESEMBER MENCAPAI US$2,15 MILYAR
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 127 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 Tim Penulis
PROVINSI JAWA BARAT MARET 2017
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR No. 25/05/32/Th.XIX, 02 Mei 2017 PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT MARET 2017 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR MARET 2017 MENCAPAI USD 2,49 MILYAR
BPS PROVINSI JAWA BARAT
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT MEI 2017 No. 38/07/32/Th.XIX, 3 Juli 2017 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR MEI 2017 MENCAPAI USD 2,45 MILYAR
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Minyak nabati merupakan salah satu komoditas penting dalam perdagangan minyak pangan dunia. Tahun 2008 minyak nabati menguasai pangsa 84.8% dari konsumsi minyak pangan
BPS PROVINSI JAWA BARAT
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT NOVEMBER No.72/12/32/Th.XVII, 15 Desember A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR NOVEMBER MENCAPAI US$2,03 MILYAR Nilai
PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT MEI 2016
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT MEI 2016 No.37/07/32/Th.XVIII, 01 Juli 2016 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR MEI 2016 MENCAPAI US$ 2,08 MILYAR
BERITA RESMI STATISTIK
Perkembangan Ekspor Impor Provinsi Jawa Barat No. 56/10/32/Th. XIX, 2 Oktober 2017 BERITA RESMI STATISTIK PROVINSI JAWA BARAT Perkembangan Ekspor Impor Provinsi Jawa Barat Agustus 2017 Ekspor Agustus 2017
Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia
Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia Perlambatan pertumbuhan Indonesia terus berlanjut, sementara ketidakpastian lingkungan eksternal semakin membatasi ruang bagi stimulus fiskal dan moneter
PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015
PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA- SAUDI ARABIA BULAN : JUNI 2015 A. Perkembangan Perekonomian Saudi Arabia. 1. Dana Moneter Internasional (IMF) menyatakan pertumbuhan ekonomi di Saudi Arabia diatur melambat
PROVINSI JAWA BARAT JULI 2017
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR No. 050/09/32/Th.XIX, 4 September 2017 PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT JULI 2017 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR JULI 2017 MENCAPAI USD 2,59
PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI JULI 2014
PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI JULI 2014 A. Perkembangan perekonomian dan perdagangan Thailand 1. Selama periode Januari-Juli 2014, neraca perdagangan Thailand dengan Dunia
BPS PROVINSI JAWA BARAT
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT FEBRUARI 2017 No. 20/04/32/Th XIX, 3 April 2017 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR FEBRUARI 2017 MENCAPAI USD 2,21
BPS PROVINSI JAWA BARAT
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT APRIL 2017 No. 34/06/32/Th.XIX, 2 Juni 2017 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR APRIL 2017 MENCAPAI USD 2,24 MILYAR
S e p t e m b e r
September 2014 1 Alamat Redaksi: Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik Departemen Statistik Bank Indonesia Menara Sjafruddin Prawiranegara, Lantai 15 Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 10350 Telepon
PEREKONOMIAN INDONESIA TAHUN 2007: PROSPEK DAN KEBIJAKAN
PEREKONOMIAN INDONESIA TAHUN 2007: PROSPEK DAN KEBIJAKAN KANTOR MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL (BAPPENAS) DIREKTORAT PERENCANAAN MAKRO FEBRUARI
LAPORAN LIAISON. Triwulan I Konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2015 diperkirakan masih tumbuh
Triwulan I - 2015 LAPORAN LIAISON Konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2015 diperkirakan masih tumbuh terbatas, tercermin dari penjualan domestik pada triwulan I-2015 yang menurun dibandingkan periode
PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT OKTOBER 2015
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT OKTOBER No.68/11/32/Th.XVII, 16 November A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR OKTOBER MENCAPAI US$2,23 MILYAR Nilai
I. PENDAHULUAN. Industri TPT merupakan penyumbang terbesar dalam perolehan devisa
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri TPT merupakan penyumbang terbesar dalam perolehan devisa Indonesia. Pada kurun tahun 1993-2006, industri TPT menyumbangkan 19.59 persen dari perolehan devisa
BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi,
BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA 4.1 Perkembangan Laju Inflasi di Indonesia Tingkat inflasi merupakan salah satu indikator fundamental ekonomi suatu negara selain faktor-faktor lainnya seperti
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan dana yang tidak
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan dana yang tidak sedikit jumlahnya di dalam pembangunan nasional. Dalam konteks pembangunan nasional maupun
IV. GAMBARAN UMUM INDIKATOR FUNDAMENTAL MAKRO EKONOMI NEGARA ASEAN+3
IV. GAMBARAN UMUM INDIKATOR FUNDAMENTAL MAKRO EKONOMI NEGARA ASEAN+3 4.1 Pertumbuhan Ekonomi Negara ASEAN+3 Potret ekonomi dikawasan ASEAN+3 hingga tahun 199-an secara umum dinilai sangat fenomenal. Hal
Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor Industri Pengolahan Tahun 2016
Ringkasan Eksekutif Perkembangan Ekspor dan Impor Industri Pengolahan Bulan Desember 2016 A. Pertumbuhan Ekspor Impor Industri Pengolahan 12.000 10.000 8.000 6.000 4.000 2.000 0 Perkembangan Nilai Ekspor
PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI AGUSTUS 2014
PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI AGUSTUS 2014 A. Perkembangan perekonomian dan perdagangan Thailand 1. Selama periode Januari-Agustus 2014, neraca perdagangan Thailand dengan
BPS PROVINSI JAWA BARAT A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR MARET 2015 MENCAPAI US$ 2,23 MILYAR
BPS PROVINSI JAWA BARAT PERKEMBANGAN EKSPOR IMPR No. 24/04/32/Th.XVII, 15 April PERKEMBANGAN EKSPOR IMPOR PROVINSI JAWA BARAT MARET A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR MARET MENCAPAI US$ 2,23 MILYAR Nilai ekspor
BAB IV GAMBARAN UMUM PERDAGANGAN INDONESIA KE ASEAN PLUS THREE
BAB IV GAMBARAN UMUM PERDAGANGAN INDONESIA KE ASEAN PLUS THREE 4.1. Kerjasama Ekonomi ASEAN Plus Three Kerjasama ASEAN dengan negara-negara besar di Asia Timur atau lebih dikenal dengan istilah Plus Three
PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA BULAN SEPTEMBER 2004
No. 56 / VII / 1 NOVEMBER PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA BULAN SEPTEMBER EKSPOR Nilai ekspor Indonesia bulan menembus angka US$ 7 milyar, yakni mencapai US$ 7,15 milyar, atau 13,33 persen lebih
PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG
67 VI. PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG Harga komoditas pertanian pada umumnya sangat mudah berubah karena perubahan penawaran dan permintaan dari waktu ke waktu. Demikian pula yang terjadi pada
Surplus Neraca Perdagangan September 2010 Melonjak 68 Persen Mencapai US$ 2,5 Miliar
SIARAN PERS Pusat HUMAS Kementerian Perdagangan Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 10110 Telp: 021-3860371/Fax: 021-3508711 www.kemendag.go.id Surplus Neraca Perdagangan September 2010 Melonjak
BAB I PENDAHULUAN. seberapa besar kontribusi perdagangan internasional yang telah dilakukan bangsa
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perekonomian global yang terjadi saat ini sebenarnya merupakan perkembangan dari proses perdagangan internasional. Indonesia yang ikut serta dalam Perdagangan internasional
1. Tinjauan Umum
1. Tinjauan Umum Perekonomian Indonesia dalam triwulan III-2005 menunjukkan kinerja yang tidak sebaik perkiraan semula, dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan lebih rendah sementara tekanan terhadap
Alamat Redaksi: Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik Departemen Statistik Bank Indonesia Menara Sjafruddin Prawiranegara, Lantai 15 Jl.
September 2014-1 Alamat Redaksi: Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik Departemen Statistik Bank Indonesia Menara Sjafruddin Prawiranegara, Lantai 15 Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 10350 Telepon
Mengobati Penyakit Ekonomi Oleh: Mudrajad Kuncoro
Mengobati Penyakit Ekonomi Oleh: Mudrajad Kuncoro Melemahnya nilai tukar rupiah dan merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan membuat panik pelaku bisnis. Pengusaha tahu-tempe, barang elektronik, dan sejumlah
PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA MARET 2008
BADAN PUSAT STATISTIK No. 22/05/Th. XI, 2 Mei PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR INDONESIA MARET A. Perkembangan Ekspor Nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 11,90 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 12,96
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012 Januari 2013 Kinerja Ekonomi Daerah Cukup Kuat, Inflasi Daerah Terkendali Ditengah perlambatan perekonomian global, pertumbuhan ekonomi berbagai daerah di Indonesia
