S e p t e m b e r
|
|
|
- Yanti Hadiman
- 7 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 September
2 Alamat Redaksi: Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik Departemen Statistik Bank Indonesia Menara Sjafruddin Prawiranegara, Lantai 15 Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta Telepon : Faksimili : [email protected] Website :
3 Maret 2016 LAPORAN POSISI INVESTASI INTERNASIONAL INDONESIA Triwulan IV
4 DAFTAR ISI 1. RINGKASAN 2. PERKEMBANGAN POSISI INVESTASI INTERNASIONAL (PII) INDONESIA TRIWULAN IV I. Gambaran Umum 3 II. Perkembangan PII Indonesia menurut Komponen 4 II. 1. Investasi Langsung 5 II. 2. Investasi Portofolio II. 3. Derivatif Finansial II. 4. Investasi Lainnya II. 5. Cadangan Devisa III. Perkembangan PII Indonesia menurut Sektor Institusi IV. Komposisi PII Indonesia menurut Instrumen 11 9 V. Komposisi PII Indonesia menurut Jangka Waktu Asal Boks : Perubahan Angka Statistik PII Indonesia LAMPIRAN 15
5 DAFTAR TABEL Hal Hal Tabel 1 Perbandingan Publikasi PII Indonesia 13 DAFTAR GRAFIK Hal Hal Grafik 1 Perkembangan PII Indonesia 3 Grafik 11 Perkembangan Posisi Kewajiban Investasi Portofolio 7 Grafik 2 Perkembangan Posisi AFLN Indonesia 3 Grafik 12 Perkembangan Posisi Investasi Lainnya 8 Grafik 3 Perkembangan Posisi KFLN Indonesia 4 Grafik 13 Perkembangan Posisi Aset Investasi Lainnya 8 Grafik 4 PII Indonesia menurut Komponen 5 Grafik 14 Perkembangan Posisi Kewajiban Investasi Lainnya 9 Grafik 5 Kontributor Perubahan PII Indonesia Tw. IV 2015 menurut Komponen 5 Grafik 15 Perkembangan Cadangan Devisa 9 Grafik 6 Perkembangan Posisi Investasi Langsung 5 Grafik 16 PII Indonesia menurut Sektor Institusi 10 Grafik 7 Perkembangan Posisi Aset Investasi Langsung 5 Grafik 17 Kontributor Perubahan PII Indonesia Tw.IV 2015 menurut Sektor Institusi 10 Grafik 8 Perkembangan Posisi Kewajiban Investasi Langsung 6 Grafik 18 Komposisi AFLN Tw.IV 2015 menurut Instrumen 11 Grafik 9 Perkembangan Posisi Investasi Portofolio 7 Grafik 19 Komposisi KFLN Tw. IV 2015 menurut Instrumen 11 Grafik 10 Perkembangan Posisi Aset Investasi Portofolio 7 Grafik 20 Perkembangan PII Indonesia menurut Jangka Waktu Asal 12 5
6 HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN
7 1 RINGKASAN Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia mencatat net kewajiban sebesar USD380,7 miliar (44,2% PDB) pada akhir triwulan IV 2015, meningkat USD32,7 miliar (9,4%) dibandingkan posisi net kewajiban pada akhir triwulan III 2015 yang sebesar USD348,0 miliar (40,1% PDB). Peningkatan net kewajiban PII Indonesia tersebut dipengaruhi oleh kenaikan Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang lebih besar dibandingkan dengan kenaikan Aset Finansial Luar Negeri (AFLN). Perkembangan tersebut sejalan dengan transaksi modal dan finansial yang mengalami surplus dalam rangka pembiayaan defisit transaksi berjalan di Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan IV 2015, seiring dengan meredanya ketidakpastian global dan meningkatnya optimisme atas prospek perekonomian Indonesia. Posisi AFLN Indonesia pada akhir triwulan IV 2015 naik USD3,2 miliar (1,6% qtq) menjadi USD211,8 miliar. Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh peningkatan posisi cadangan devisa. Kenaikan AFLN lebih lanjut tertahan oleh menurunnya transaksi investasi portofolio dan investasi lainnya di sisi aset serta revaluasi negatif antara lain akibat penguatan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia lainnya dan penurunan harga beberapa obligasi benchmark yang menjadi AFLN milik residen. Posisi KFLN Indonesia pada akhir triwulan IV 2015 meningkat sebesar USD35,9 miliar (6,4% qtq) menjadi USD592,5 miliar. Peningkatan kewajiban tersebut terutama disebabkan oleh meningkatnya transaksi investasi portofolio sisi kewajiban berupa arus masuk modal asing pada obligasi pemerintah, termasuk dari hasil penerbitan global bond pada Desember Selain itu, transaksi kewajiban finansial lainnya berupa investasi langsung dan investasi lainnya turut mengalami peningkatan. Kenaikan posisi KFLN juga dipengaruhi oleh faktor revaluasi positif atas instrumen investasi berdenominasi rupiah sejalan dengan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan penguatan rupiah terhadap dolar AS. Bila dibandingkan dengan posisi akhir tahun sebelumnya, net kewajiban PII Indonesia pada akhir 2015 turun USD13,8 miliar atau -3,5% (yoy) yang disebabkan oleh oleh peningkatan AFLN yang lebih besar dibandingkan dengan penurunan KFLN. Pada 2015, posisi AFLN meningkat USD9,9 miliar (4,9% yoy) terutama didorong oleh naiknya simpanan sektor swasta pada bank di luar negeri dan penanaman modal langsung. Di sisi lain, posisi KFLN turun sebesar USD3,9 miliar (-0,7% yoy), terutama dipengaruhi oleh penurunan kewajiban investasi langsung, sejalan dengan perlambatan perekonomian domestik, dan penurunan kepemilikan asing atas saham domestik seiring meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global. 1
8 2 HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN
9 2 PERKEMBANGAN POSISI INVESTASI INTERNASIONAL INDONESIA TRIWULAN IV 2015 I. Gambaran Umum Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia pada akhir triwulan IV 2015 mencatat net kewajiban sebesar USD380,7 miliar (44,2% PDB), naik 9,4% dari posisi akhir triwulan III 2015 sebesar USD348,0 miliar (40,1% PDB). Peningkatan net kewajiban tersebut dipengaruhi oleh kenaikan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang jauh lebih besar dibandingkan dengan peningkatan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN). Perkembangan net kewajiban PII Indonesia tersebut sejalan dengan transaksi finansial di Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang mengalami surplus dan faktor perubahan lainnya, antara lain karena revaluasi aset, yang tercatat negatif selama triwulan IV 2015 (Grafik 1). Posisi AFLN pada akhir triwulan IV 2015 tercatat sebesar USD211,8 miliar, naik USD3,2 miliar (1,6% qtq) dibandingkan dengan posisi akhir triwulan III 2015 sebesar USD208,6 miliar. Kenaikan tersebut terutama disebabkan oleh transaksi finansial terkait cadangan devisa, namun tertahan oleh faktor revaluasi negatif sejalan dengan penguatan dolar AS terhadap beberapa mata uang dunia dan turunnya harga beberapa obligasi benchmark yang menjadi AFLN milik residen (Grafik 2). Grafik 1 Perkembangan PII Indonesia Grafik 2 Perkembangan Posisi AFLN Indonesia Di sisi lain, posisi KFLN meningkat sebesar USD35,9 miliar (6,4% qtq) menjadi USD592,5 miliar pada akhir triwulan IV 2015 dari posisi akhir triwulan sebelumnya sebesar USD556,6 miliar. Peningkatan tersebut didukung oleh aliran masuk modal asing (net inflow transaksi finansial sisi kewajiban di NPI) yang mencapai USD9,2 miliar pada triwulan IV 2015, terutama dalam bentuk investasi portofolio (USD4,4 miliar) dan investasi langsung (USD3,6 miliar). Peningkatan KFLN pada triwulan laporan juga sangat dipengaruhi oleh faktor revaluasi positif pada instrumen 3
10 investasi finansial domestik, terutama terkait dengan kenaikan IHSG dan pelemahan dolar AS terhadap rupiah (Grafik 3). Grafik 3 Perkembangan Posisi KFLN Indonesia Secara keseluruhan, posisi net kewajiban investasi internasional Indonesia tahun 2015 turun sebesar USD13,8 miliar dari USD394,5 miliar (44,3% PDB) pada akhir Penurunan tersebut dipengaruhi oleh penurunan posisi KFLN (-0,7% yoy) yang melebihi kenaikan posisi AFLN (4,9% yoy). II. Perkembangan PII Indonesia menurut Komponen Seluruh komponen PII Indonesia, kecuali cadangan devisa dan derivatif finansial, pada triwulan IV 2015 mencatat posisi kewajiban yang lebih besar daripada aset. Peningkatan net kewajiban terbesar terjadi pada komponen investasi portofolio sejalan dengan meningkatnya aliran dana asing dalam jumlah yang signifikan, terutama pada surat utang pemerintah berdenominasi rupiah serta dipengaruhi pula oleh faktor revaluasi positif terkait kenaikan IHSG dan pelemahan dolar AS terhadap rupiah. Selain itu, net kewajiban investasi langsung dan investasi lainnya juga tercatat meningkat. Peningkatan net kewajiban investasi langsung didukung oleh aliran masuk modal investasi langsung asing dan dipengaruhi pula oleh peningkatan nilai saham perusahaan FDI di Indonesia sejalan dengan kenaikan harga saham di bursa. Sementara itu, kenaikan posisi investasi lainnya terutama dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri sektor swasta, antara lain terkait dengan meningkatnya implementasi proyek infrastruktur pemerintah (Grafik 4). Berdasarkan kontribusinya terhadap AFLN, cadangan devisa dan aset investasi langsung masing-masing meningkatkan posisi AFLN sebesar USD4,2 miliar dan USD0,5 miliar. Sementara itu, aset investasi lainnya dan investasi portofolio menurunkan posisi AFLN masing-masing sebesar USD1,1 miliar dan USD0,3 miliar. Di sisi lain, peningkatan posisi KFLN terutama disumbang oleh kewajiban investasi 4
11 portofolio (USD25,8 miliar), diikuti oleh kewajiban investasi langsung (USD8,5 miliar) dan investasi lainnya (USD1,8 miliar) (Grafik 5). Grafik 4 PII Indonesia menurut Komponen Grafik 5 Kontributor Perubahan PII Indonesia Tw. IV-2015 menurut Komponen Untuk keseluruhan tahun 2015, penurunan net kewajiban posisi investasi internasional Indonesia terutama didorong oleh penurunan komponen investasi lainnya sebesar USD8,7 miliar (-7,8% yoy), diikuti pula oleh penurunan komponen investasi langsung dan investasi portofolio masing-masing sebesar USD7,7 miliar (-3,8% yoy) dan USD3,3 miliar (-1,7% yoy). II.1. Investasi Langsung Posisi investasi langsung pada triwulan IV 2015 mencatat net kewajiban sebesar USD194,7 miliar, naik USD8,0 miliar (4,3%) dari triwulan sebelumnya sebesar USD186,7 miliar. Peningkatan net kewajiban investasi langsung tersebut dipengaruhi oleh kenaikan posisi kewajiban investasi langsung sebesar USD8,5 miliar (3,7% qtq) yang jauh lebih besar dari peningkatan posisi aset investasi langsung sebesar USD0,5 miliar (1,3% qtq) (Grafik 6). Grafik 6 Perkembangan Posisi Investasi Langsung Grafik 7 Perkembangan Posisi Aset Investasi Langsung Kenaikan posisi aset investasi langsung sehingga menjadi USD41,9 miliar pada akhir triwulan IV 2015 dipengaruhi oleh faktor transaksi yang mencatat neto penempatan kepada perusahaan afiliasi di luar negeri sebesar USD1,2 miliar, sebagian besar dalam bentuk modal ekuitas. Namun demikian, peningkatan posisi 5
12 aset investasi langsung tersebut tertahan oleh turunnya nilai aset investasi langsung sejalan dengan penguatan dolar AS terhadap mata uang utama dunia lainnya yang menjadi AFLN milik residen (Grafik 7). Sementara itu, peningkatan posisi kewajiban investasi langsung sehingga menjadi USD236,5 miliar (27,5% PDB) pada akhir triwulan IV 2015 disebabkan oleh arus masuk investasi langsung asing sebesar USD3,6 miliar, sejalan dengan perbaikan ekonomi domestik. Peningkatan posisi kewajiban investasi langsung tersebut dipengaruhi pula oleh net revaluasi positif yang sejalan dengan kenaikan IHSG dan pelemahan dolar AS terhadap rupiah pada triwulan laporan (Grafik 8). Grafik 8 Perkembangan Posisi Kewajiban Investasi Langsung Untuk keseluruhan tahun 2015, net kewajiban investasi langsung mengalami penurunan 3,8% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencatat net kewajiban sebesar USD202,4 miliar. Penurunan net kewajiban investasi langsung tersebut dipengaruhi oleh kenaikan posisi aset sebesar 11,6% (yoy) yang disertai dengan penurunan posisi kewajiban sebesar 1,4% (yoy). II.2. Investasi Portofolio Posisi investasi portofolio mencatat net kewajiban sebesar USD189,4 miliar pada akhir triwulan IV 2015, naik USD26,1 miliar (16,0% qtq) dari USD163,3 miliar pada akhir triwulan sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh peningkatan kewajiban investasi portofolio sebesar USD25,8 miliar (14,6% qtq) yang melebihi penurunan aset investasi portofolio sebesar USD0,3 miliar (-2,1% qtq) dari posisi akhir triwulan sebelumnya (Grafik 9). 6
13 Grafik 9 Perkembangan Posisi Investasi Portofolio Grafik 10 Perkembangan Posisi Aset Investasi Portofolio Penurunan posisi aset investasi portofolio tersebut terutama dipengaruhi menurunnya kepemilikan penduduk atas surat utang asing (Grafik 10). Di sisi lain, peningkatan kewajiban investasi portofolio sangat dipengaruhi oleh menurunnya ketidakpastian di pasar keuangan global yang mendorong masuknya kembali aliran dana asing melalui aksi beli asing atas surat utang pemerintah berdenominasi rupiah, baik jangka panjang maupun jangka pendek, serta didukung oleh penerbitan obligasi global pemerintah pada Desember 2015 sebesar USD3,1 miliar. Menurunnya ketidakpastian di pasar keuangan global turut meredakan net jual dari investor asing menjadi sebesar USD0,7 miliar, lebih rendah dibandingkan dengan net jual asing di triwulan III 2015 sebesar USD1,2 miliar. Perilaku positif investor asing tersebut pada gilirannya turut mendorong naiknya harga aset portofolio domestikdan penguatan rupiah terhadap dolar AS, sehingga menyebabkan kenaikan posisi kewajiban investasi portofolio (Grafik 11). Grafik 11 Perkembangan Posisi Kewajiban Investasi Portofolio Untuk keseluruhan tahun 2015, net kewajiban investasi portofolio turun 1,7% dari tahun sebelumnya yang mencatat net kewajiban sebesar USD192,7 miliar. Penurunan net kewajiban investasi portofolio tersebut dipengaruhi oleh kenaikan posisi aset sebesar 7,8% (yoy) yang melebihi penurunan posisi kewajiban sebesar 1,1% (yoy). 7
14 II.3. Derivatif Finansial Posisi net derivatif finansial pada akhir triwulan IV 2015 mencatat net aset sebesar USD91 juta, berkebalikan dengan triwulan III 2015 yang mencatat net kewajiban sebesar USD13 juta. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh penurunan kewajiban derivatif finansial yang lebih besar dibandingkan dengan penurunan aset derivatif finansial. Kewajiban derivatif finansial pada triwulan IV 2015 turun 64,5% (qtq) sehingga menjadi sebesar USD91 juta, sedangkan aset derivatif finansial turun 25,1% (qtq) sehingga menjadi USD182 juta. Untuk keseluruhan tahun 2015, net aset derivatif finansial meningkat sebesar USD61 juta dari posisi akhir tahun sebelumnya sebesar USD30 juta. Peningkatan net aset derivatif finansial tersebut dipengaruhi oleh peningkatan posisi aset sebesar 19,7% (yoy), di saat posisi kewajiban mengalami penurunan sebesar 25,7% (yoy). II.4. Investasi Lainnya Posisi investasi lainnya pada akhir triwulan IV 2015 mencatat net kewajiban sebesar USD102,7 miliar, naik USD2,9 miliar (2,9% qtq) dari posisi net kewajiban di triwulan sebelumnya sebesar USD99,7 miliar. Kenaikan net kewajiban tersebut dipicu oleh peningkatan posisi kewajiban investasi lainnya sebesar USD1,8 miliar (1,2% qtq) sehingga menjadi USD153,4 miliar, sementara posisi aset investasi lainnya mengalami penurunan sebesar USD1,1 miliar (-2,2% qtq) sehingga menjadi USD51,8 miliar (Grafik 12). Grafik 12 Perkembangan Posisi Investasi Lainnya Grafik 13 Perkembangan Posisi Aset Investasi Lainnya Penurunan posisi aset investasi lainnya pada akhir triwulan IV 2015 terutama didorong oleh penurunan outstanding simpanan (currency and deposits) sektor swasta domestik di luar negeri sebesar USD0,5 miliar (-1,7% qtq) (Grafik 13). Sementara itu, peningkatan posisi kewajiban investasi lainnya terutama disebabkan oleh transaksi penarikan pinjaman luar negeri sektor swasta terkait meningkatnya implementasi proyek infrastruktur pemerintah (Grafik 14). 8
15 Grafik 14 Perkembangan Posisi Kewajiban Investasi Lainnya Grafik 15 Perkembangan Cadangan Devisa Untuk keseluruhan tahun 2015, net kewajiban investasi lainnya turun 7,8% dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar USD111,3 miliar. Penurunan net kewajiban investasi lainnya tersebut didorong oleh kenaikan posisi aset sebesar 26,1% (yoy) yang lebih besar dibandingkan kenaikan posisi kewajiban sebesar 1,2% (yoy). II.5. Cadangan Devisa Posisi cadangan devisa pada akhir Desember 2015 tercatat sebesar USD105,9 miliar, naik USD4,2 miliar (4,1%) dibandingkan dengan posisi akhir triwulan III 2015 sebesar USD101,7 miliar. Peningkatan posisi cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi oleh transaksi penerimaan devisa, antara lain berasal dari penerimaan migas dan penarikan ULN pemerintah termasuk dari penerbitan obligasi global, serta hasil lelang SSBI valas. Penerimaan devisa tersebutmelebihi kebutuhan devisa, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah serta penggunaan devisa dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya (Grafik 15). Untuk keseluruhan tahun 2015, posisi cadangan devisa turun sebesar USD5,9 miliar atau 5,3% dari posisi akhir tahun sebelumnya sebesar USD111,9 miliar. Penurunan tersebut dipengaruhi besarnya kebutuhan devisa untuk pembayaran ULN pemerintah dan intervensi valuta asing dalam rangka stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya. Turunnya posisi cadangan devisa tersebut juga sejalan dengan meningkatnya tekanan terhadap Neraca Pembayaran Indonesia yang pada tahun 2015 mengalami defisit. III. Perkembangan PII Indonesia menurut Sektor Institusi Seluruh sektor institusi pada akhir triwulan IV 2015 mencatat posisi net kewajiban. Pada sektor publik yang terdiri dari Pemerintah dan Bank Sentral, net kewajiban tercatat sebesar USD33,8 miliar atau naik USD4,4 miliar (15,0% qtq) dari 9
16 posisi sebelumnya sebesar USD29,4 miliar (Grafik 16). Kenaikan net kewajiban tersebut dipengaruhi oleh kenaikan kewajiban sebesar USD8,8 miliar (6,5% qtq) yang melampaui kenaikan aset sektor publik sebesar USD4,3 miliar (4,1% qtq). Peningkatan kewajiban sektor publik terutama karena meningkatnya kepemilikan investor asing atas surat utang pemerintah, baik yang berdenominasi rupiah maupun valuta asing, termasuk dari hasil penerbitan obligasi global pada Desember 2015 sebesar USD3,1 miliar. Di sektor bank, net kewajiban tercatat sebesar USD43,9 miliar, naik 21,4% (qtq) dari akhir triwulan sebelumnya sebesar USD36,1 miliar (Grafik 16). Peningkatan net kewajiban finansial sektor bank terutama dipengaruhi oleh kenaikan kewajiban finansial sebesar USD6,0 miliar (11,4% qtq) di saat aset finansial turun sebesar USD1,7 miliar (-10,3% qtq). Grafik 16 PII Indonesia menurut Sektor Institusi Grafik 17 Kontributor Perubahan PII Indonesia Tw. IV-2015 menurut Sektor Institusi Sementara itu, sektor lainnya juga mencatat net kewajiban yang lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Net kewajiban sektor lainnya di triwulan IV 2015 meningkat 7,3% (qtq) sehingga menjadi sebesar USD303,0 miliar (Grafik 16). Peningkatan net kewajiban sektor lainnya disebabkan oleh kenaikan kewajiban finansial sebesar USD21,1 miliar (5,7% qtq) yang melampaui kenaikan aset finansial sebesar USD0,6 miliar (0,7% qtq). Jika dilihat lebih jauh, peningkatan posisi AFLN pada akhir triwulan IV 2015 didukung oleh kenaikan AFLN sektor publik dan sektor lainnya, masing-masing sebesar USD4,3 miliar (4,1% qtq) dan USD0,6 miliar (0,7% qtq). Sementara itu, AFLN sektor bank mengalami penurunan sebesar 1,7 miliar (-10,3% qtq). Di sisi lain, peningkatan posisi KFLN dipengaruhi oleh kenaikan kewajiban finansial seluruh sektor. Sektor publik, bank, dan sektor lainnya mencatat peningkatan KFLN masingmasing sebesar USD8,8 miliar (6,5% qtq), USD6,0 miliar (11,4% qtq), dan USD21,1 miliar (5,7% qtq) (Grafik 17). Secara keseluruhan tahun 2015, net kewajiban PII sektor publik mengalami peningkatan sebesar USD19,5 miliar (137,2% yoy) dibandingkan dengan posisi 10
17 akhir tahun sebelumnya sebesar USD14,2 miliar. Sementara itu, net kewajiban PII sektor bank dan sektor lainnya mengalami penurunan masing-masing sebesar 13,0% dan 8,1% (yoy). IV. Komposisi PII Indonesia menurut Instrumen Berdasarkan instrumennya, net kewajiban PII Indonesia pada akhir triwulan IV 2015 didominasi oleh instrumen ekuitas dengan pangsa 65,5%, sementara sisanya dalam bentuk instrumen utang. Pada sisi aset, komposisi AFLN Indonesia pada akhir triwulan IV 2015 didominasi oleh instrumen utang (pangsa 84,6%), sisanya dalam bentuk instrumen ekuitas (15,3%) dan derivatif finansial dalam jumlah yang sangat kecil (0,1%). Sebagian besar instrumen utang di sisi AFLN tergabung dalam kelompok cadangan devisa (50,0%) dan simpanan (14,7%) (Grafik 18). Grafik 18 Komposisi AFLN Tw.IV 2015 menurut Instrumen Grafik 19 Komposisi KFLN Tw.IV 2015 menurut Instrumen Di sisi kewajiban, PII Indonesia pada akhir triwulan IV 2015 didominasi oleh KFLN dalam bentuk utang (52,4%), sisanya dalam bentuk instrumen ekuitas (47,5%) dan derivatif finansial dalam jumlah sangat kecil (0,02%). KFLN dalam bentuk instrumen utang sebagian besar berupa pinjaman (loans) yang diterima dari pihak non-afiliasi di luar negeri (Grafik 19). Posisi total utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwulan IV 2015 tercatat sebesar USD310,7 miliar. Secara keseluruhan tahun 2015, aset dalam bentuk instrumen ekuitas, utang, dan derivatif finansial masing-masing meningkat sebesar 15,1% (yoy), 3,2% (yoy), dan 19,7% (yoy). Di sisi lain, kewajiban ekuitas dan derivatif finansial masingmasing mengalami penurunan sebesar 6,8% (yoy) dan 25,7% (yoy), sedangkan kewajiban dalam bentuk instrumen utang mencatat peningkatan sebesar 5,7% dibandingkan tahun sebelumnya. 11
18 V. Komposisi PII Indonesia menurut Jangka Waktu Asal Berdasarkan jangka waktu asal (original maturity), komposisi net PII Indonesia pada akhir triwulan IV 2015 didominasi oleh instrumen berjangka panjang dengan net kewajiban sebesar USD507,9 miliar. Sementara itu, instrumen berjangka pendek mencatat net aset sebesar USD127,2 miliar. Di sisi aset, komposisi AFLN Indonesia berdasarkan jangka waktu asal pada akhir triwulan IV 2015 didominasi oleh instrumen berjangka pendek sebesar USD159,1 miliar (75,1%), terutama dalam bentuk cadangan devisa 1. Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, instrumen jangka pendek tersebut naik sebesar USD2,8 miliar (1,8% qtq) terutama karena meningkatnya posisi cadangan devisa. Di sisi kewajiban, posisi KFLN didominasi oleh instrumen berjangka panjang sebesar USD560,7 miliar (94,6%), terutama dalam bentuk investasi langsung dan pinjaman luar negeri berjangka panjang. Instrumen KFLN berjangka panjang tersebut naik 7,0% (qtq) dibandingkan dengan triwulan sebelumnya karena meningkatnya investasi langsung serta investasi portofolio, baik dalam bentuk saham maupun surat utang (Grafik 20). Grafik 20 Perkembangan PII Indonesia menurut Jangka Waktu Asal Secara keseluruhan tahun 2015, komposisi net PII Indonesia didominasi oleh instrumen berjangka panjang yang mencatat penurunan net kewajiban sebesar USD6,9 miliar (-1,3%) dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun sebelumnya sebesar USD514,8 miliar. Sementara itu, instrumen berjangka pendek mencatat peningkatan net aset sebesar USD6,9 miliar (5,7%) dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun sebelumnya sebesar USD120,4 miliar. 1 Cadev memiliki pula komponen berjangka panjang seperti obligasi, namun secara keseluruhan cadangan devisa digolongkan sebagai instrumen jangka pendek karena sifatnya yang likuid. 12
19 Boks : Perubahan Angka Statistik PII Indonesia Dalam publikasi PII Indonesia triwulan IV 2015 ini terdapat beberapa perubahan terhadap data yang telah dirilis sebelumnya pada publikasi triwulan III Perubahan tersebut disebabkan adanya penyempurnaan metodologi dan pengkinian data, dengan rincian sebagai berikut: Tabel 1 Perbandingan Publikasi PII Indonesia Investasi Langsung penyempurnaan metodologi pencatatan data posisi investasi langsung terutama terkait dengan sumber data. Untuk investasi langsung asing pada perusahaan emiten, data diestimasi menggunakan informasi yang berasal dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sehingga dapat mencerminkan nilai pasar dari investasi. Data investasi langsung pada bank berasal dari Laporan Bulanan Bank Umum (LBU), sementara data investasi langsung pada perusahaan non-bank non-emiten berasal dari Laporan Lalu Lintas Devisa Lembaga Bukan Bank (LLD LBB). Investasi Portofolio data ULN. perubahan data investasi portofolio sejak triwulan I 2014 karena pengkinian Investasi Lainnya - perubahan data investasi lainnya sejak triwulan I 2014 karena pengkinian data ULN. 13
20 14 HALAMAN INI SENGAJA DIKOSONGKAN
21 3 LAMPIRAN POSISI INVESTASI INTERNASIONAL INDONESIA Juta USD Komponen * 2015 Total Tw.I* Tw.II* Tw.III* Tw.IV** Total** A. Aset 149, , , , , , , , , , Investasi langsung 19,293 19,998 27,985 39,738 37,512 39,296 42,132 41,341 41,863 41, Modal ekuitas 10,359 10,183 15,335 26,464 25,003 26,243 27,982 27,728 28,698 28, Instrumen utang 8,934 9,814 12,650 13,274 12,509 13,053 14,150 13,613 13,165 13, Investasi portofolio 6,829 8,018 13,486 14,759 12,172 12,148 12,964 13,412 13,124 13, Modal ekuitas 947 1,259 1,724 2,434 3,187 3,444 3,844 3,802 3,756 3, Surat utang 5,881 6,759 11,762 12,325 8,985 8,703 9,120 9,609 9,368 9, Derivatif finansial Investasi lainnya 27,571 28,603 32,955 36,238 40,209 45,281 49,907 51,853 50,705 50, Piutang dagang & uang muka 6,387 6,144 10,317 10,961 11,876 12,399 13,632 14,068 13,786 13, Pinjaman 893 1,375 1, Uang kertas asing (UKA) dan simpanan 17,760 18,255 18,776 21,555 23,788 28,025 31,098 31,745 31,193 31, Aset lainnya 2,531 2,829 2,829 3,469 4,340 4,485 4,660 5,202 5,169 5, Cadangan devisa 96, , ,781 99, , , , , , , Emas moneter 3,299 3,593 3,935 3,023 3,027 2,975 2,952 2,841 2,661 2, Special Drawing Rights (SDR) 2,714 2,696 2,715 2,712 2,551 2,436 2,471 2,474 2,442 2, Reserves Position in The Fund (RPF) Cadangan devisa lainnya 89, , ,907 93, , , ,403 96, , ,626 B. Kewajiban 441, , , , , , , , , , Investasi langsung 173, , , , , , , , , , Modal ekuitas 151, , , , , , , , , , Instrumen utang 22,339 27,715 30,814 34,990 39,587 40,327 42,028 41,250 39,628 39, Investasi portofolio 146, , , , , , , , , , Modal ekuitas 88,847 89, ,911 77, , ,133 91,840 66,806 84,809 84, Surat utang 57,302 63,529 77,483 84, , , , , , , Derivatif finansial Investasi lainnya 121, , , , , , , , , , Utang dagang & uang muka 691 1,568 2,126 2,037 1,899 1,892 1,948 2,720 2,675 2, Pinjaman 108, , , , , , , , , , Uang kertas asing (UKA) dan simpanan 5,826 7,117 8,240 9,694 12,075 11,984 12,080 12,634 12,821 12, Kewajiban lainnya 6,821 6,381 11,053 10,109 7,468 6,734 6,701 6,963 6,973 6,973 Net Investasi Langsung -154, , , , , , , , , ,672 Net Investasi Portofolio -139, , , , , , , , , ,369 Net Derivatif Finansial Net Investasi Lainnya -93, , , , , ,431-98,613-99, , ,653 Cadangan Devisa 96, , ,781 99, , , , , , ,931 Posisi Investasi Internasional, bersih -291, , , , , , , , , ,672 Memorandum : Investasi langsung berdasarkan arah investasi -154, , , , , , , , , ,672 A. Ke Luar Negeri 6,672 6,204 12,997 20,218 25,396 26,999 28,579 29,375 30,171 30, Modal Ekuitas 9,956 9,796 12,702 19,943 24,721 25,964 27,706 27,392 28,296 28, Instrumen Utang -3,284-3, , ,983 1,875 1,875 B. Di Indonesia (PMA) 160, , , , , , , , , , Modal Ekuitas 150, , , , , , , , , , Instrumen Utang 10,121 14,308 19,080 22,758 27,754 28,309 28,752 29,619 28,338 28,338 *) angka sementara **) angka sangat sementara 15
Alamat Redaksi: Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik Departemen Statistik Bank Indonesia Menara Sjafruddin Prawiranegara, Lantai 15 Jl.
September 2014-1 Alamat Redaksi: Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik Departemen Statistik Bank Indonesia Menara Sjafruddin Prawiranegara, Lantai 15 Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 10350 Telepon
Tabel 1 Neraca Pembayaran Indonesia: Ringkasan
Tabel 1 Neraca Pembayaran Indonesia: Ringkasan I. Transaksi Berjalan I. Transaksi Berjalan A. Barang 1) A. Barang 1) - Ekspor - Ekspor 1. Nonmigas 1. Barang Dagangan Umum a. Ekspor - Ekspor b. Impor 2.
M E T A D A T A INFORMASI DASAR. Departemen Statistik Bank Indonesia. Jakarta DEFINISI DATA
M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Posisi Investasi Internasional Indonesia (PIII) 2 Penyelenggara Statistik Departemen Statistik : Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 4
TABEL 1 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA RINGKASAN (Juta USD) 2014*
TABEL 1 RINGKASAN 2014 2015 Q1 Q2 Q3 Q4 Total Q1 Q2 Q3 I. Transaksi Berjalan -4,926-9,592-7,040-5,958-27,516-4,178-4,250-4,011 A. Barang 1) 3,350-375 1,560 2,448 6,983 3,063 4,130 4,054 - Ekspor 43,937
TABEL 1 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA RINGKASAN (Juta USD)
TABEL 1 RINGKASAN 2013 2014 I. Transaksi Berjalan -6,007-10,126-8,640-4,342-29,115-4,149-8,939-6,963-6,181-26,233 A. Barang 1) 1,602-556 85 4,703 5,833 3,350-375 1,560 2,368 6,902 - Ekspor 44,945 45,244
TABEL 1 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA RINGKASAN (Juta USD) 2014*
TABEL 1 RINGKASAN 2014 2015 I. Transaksi Berjalan -4,927-9,585-7,035-5,953-27,499-4,159-4,296-4,190-5,115-17,761 A. Barang 1) 3,350-375 1,560 2,448 6,983 3,063 4,125 4,141 1,953 13,281 - Ekspor 43,937
BAB I PENDAHULUAN. Cadangan devisa merupakan salah satu indikator yang sangat penting untuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Cadangan devisa merupakan salah satu indikator yang sangat penting untuk menunjukan kuat atau lemahnya fundamental perekonomian suatu negara. Selain itu,
BAB I PENDAHULUAN. sebelum krisis bukan tanpa hambatan. Indonesia mengalami beberapa kelemahan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kinerja ekonomi Indonesia yang mengesankan dalam 30 tahun terakhir sebelum krisis bukan tanpa hambatan. Indonesia mengalami beberapa kelemahan dan kerentanan
BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, perekonomian Indonesia diliput banyak masalah. Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Saat ini, perekonomian Indonesia diliput banyak masalah. Permasalahan tersebut muncul dari faktor internal maupun faktor eksternal. Namun saat ini, permasalahan
T0 LAPORAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA. Realisasi Triwulan I 2017
Agustus Mei 2013 2017 T0 LAPORAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA Realisasi Triwulan I 2017 1 Alamat Redaksi: Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik Departemen Statistik Bank Indonesia Menara Sjafruddin
BAB I PENDAHULUAN. kali lelang SBI tidak lagi diinterpretasikan oleh stakeholders sebagai sinyal
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Respon (stance) kebijakan moneter ditetapkan untuk menjamin agar pergerakan inflasi dan ekonomi ke depan tetap berada pada jalur pencapaian sasaran inflasi
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2010 245 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2010 Tim Penulis
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 127 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 Tim Penulis
Realisasi Triwulan I-2015
Agustus 2013 T0 LAPORAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA Realisasi Triwulan I-2015 1 Alamat Redaksi: Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik Departemen Statistik Bank Indonesia Menara Sjafruddin Prawiranegara,
TABEL 1 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA RINGKASAN
TABEL 1 INGKASAN I. Transaksi Berjalan -3,192-8,149-5,265-7,812-24,418-6,009-10,133-8,634-4,314-29,090-4,191 A. Barang 1 3,810 818 3,190 801 8,618 1,628-517 145 4,760 6,016 3,545 - Ekspor 48,353 47,538
TABEL 1 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA RINGKASAN (Juta USD)
TABEL 1 INGKASAN UAIAN I. Transaksi Berjalan -3,192-8,149-5,265-7,812-24,418-5,905-9,998-8,529-4,018-28,450 A. Barang 1 3,810 818 3,190 801 8,618 1,628-517 145 4,894 6,149 - Ekspor 48,353 47,538 45,549
TABEL 1 NERACA PEMBAYARAN INDONESIA RINGKASAN (Juta USD)
TABEL 1 INGKASAN I. Transaksi Berjalan -3,164-8,176-5,264-7,827-24,431-5,819-9,848 A. Barang 1 3,810 818 3,190 801 8,618 1,602-601 - Ekspor 48,353 47,538 45,549 47,056 188,496 45,231 45,670 - Impor -44,543-46,720-42,360-46,255-179,878-43,629-46,272
BAB I PENDAHULUAN. motor penggerak perekonomian nasional. Perdagangan internasional dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perdagangan internasional mempunyai peranan sangat penting sebagai motor penggerak perekonomian nasional. Perdagangan internasional dapat didefinisikan sebagai
TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21
TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21 21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK 1. Q: Apa latar belakang diterbitkannya PBI
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian A. Pasar Valuta Asing Pasar Valuta Asing menyediakan mekanisme bagi transfer daya beli dari satu mata uang ke mata uang lainnya. Pasar ini bukan entitas
T0 LAPORAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA. Realisasi Triwulan II 2017
Agustus Agustus 20132017 T0 LAPORAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA Realisasi Triwulan II 2017 1 Alamat Redaksi: Grup Neraca Pembayaran dan Pengembangan Statistik Departemen Statistik Bank Indonesia Menara
Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia
Ringkasan eksekutif: Di tengah volatilitas dunia Perlambatan pertumbuhan Indonesia terus berlanjut, sementara ketidakpastian lingkungan eksternal semakin membatasi ruang bagi stimulus fiskal dan moneter
BAB 3 Neraca Pembayaran Indonesia
BAB 3 Neraca Pembayaran Indonesia Neraca Pembayaran Indonesia 217 menunjukkan kinerja positif, didorong pemulihan ekonomi global dan perbaikan keyakinan pelaku ekonomi terhadap prospek ekonomi domestik.
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 263 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 Tim Penulis
1. Tinjauan Umum
1. Tinjauan Umum Perekonomian Indonesia dalam triwulan III-2005 menunjukkan kinerja yang tidak sebaik perkiraan semula, dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan lebih rendah sementara tekanan terhadap
PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 13/ 15 /PBI/2011 TENTANG PEMANTAUAN KEGIATAN LALU LINTAS DEVISA LEMBAGA BUKAN BANK
PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 13/ 15 /PBI/2011 TENTANG PEMANTAUAN KEGIATAN LALU LINTAS DEVISA LEMBAGA BUKAN BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pemantauan
INDONESIA PADA GUBERNUR BANK PANITIA ANGGARAN SEMESTER
PANDANGAN GUBERNUR BANK INDONESIA PADA RAPAT KERJA PANITIA ANGGARAN DPR RI MENGENAI LAPORAN SEMESTER I DAN PROGNOSIS SEMESTER II APBN TA 2006 2006 Anggota Dewan yang terhormat, 1. Pertama-tama perkenankanlah
Skripsi ANALISA PENGARUH CAPITAL INFLOW DAN VOLATILITASNYA TERHADAP NILAI TUKAR DI INDONESIA OLEH : MURTINI
Skripsi ANALISA PENGARUH CAPITAL INFLOW DAN VOLATILITASNYA TERHADAP NILAI TUKAR DI INDONESIA OLEH : MURTINI 0810512077 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ANDALAS Mahasiswa Strata 1 Jurusan Ilmu Ekonomi Diajukan
ANALISIS STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA (NPI) Abstrak
ANALISIS STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN NERACA PEMBAYARAN INDONESIA (NPI) Abstrak Neraca pembayaran yaitu catatan yang sistematis tentang transaksi ekonomi internasional antara penduduk suatu negara dengan
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Sejak pertengahan tahun 2006, kondisi ekonomi membaik dari ketidakstabilan ekonomi tahun 2005 dan penyesuaian kebijakan fiskal dan moneter yang
I. PENDAHULUAN. Globalisasi dan liberalisasi ekonomi telah membawa pembaharuan yang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Globalisasi dan liberalisasi ekonomi telah membawa pembaharuan yang sangat cepat dan berdampak luas bagi perekonomian, baik di dalam negeri maupun di tingkat dunia
BAB I PENDAHULUAN. dalam penggerakan dana guna menunjang pembiayaan pembangunan nasional.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pasar modal memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia karena pasar modal merupakan sarana pembentuk modal dan akumulasi dana jangka panjang yang diarahkan
BAB I PENDAHULUAN. proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Memasuki era globalisasi, perekonomian dunia memberikan peluang yang besar bagi berbagai negara untuk saling melakukan hubunga antarnegara, salah satunya dibidang ekomomi.
Mengobati Penyakit Ekonomi Oleh: Mudrajad Kuncoro
Mengobati Penyakit Ekonomi Oleh: Mudrajad Kuncoro Melemahnya nilai tukar rupiah dan merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan membuat panik pelaku bisnis. Pengusaha tahu-tempe, barang elektronik, dan sejumlah
No.4/5/DSM Jakarta, 28 Maret 2002 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA PERUSAHAAN BUKAN LEMBAGA KEUANGAN DI INDONESIA
No.4/5/DSM Jakarta, 28 Maret 2002 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA PERUSAHAAN BUKAN LEMBAGA KEUANGAN DI INDONESIA Perihal: Pelaporan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Oleh Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan.
Transaksi NPI terdiri dari transaksi berjalan, transaksi modal dan finansial.
BY : DIANA MA RIFAH Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) merupakan statistik yang mencatat transaksi ekonomi antara penduduk Indonesia dengan bukan penduduk pada suatu periode tertentu (biasanya satu tahun).
2 statistik, terutama statistik Neraca Pembayaran, Posisi Investasi Internasional, statistik Utang Luar Negeri Indonesia, dan Indikator Keuangan Perus
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI PERBANKAN. BI. Lalu Lintas. Devisa. Prinsip Kehati-Hatian. Pelaporan. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 397) PENJELASAN ATAS PERATURAN BANK
BAB 1 PENDAHULUAN. pembiayaan alternatif selain pembiayaan melalui perjanjian pinjaman (loan
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Surat Berharga Negara (SBN) dipandang oleh pemerintah sebagai instrumen pembiayaan alternatif selain pembiayaan melalui perjanjian pinjaman (loan agreement). Kondisi APBN
BAB I PENDAHULUAN. Jakarta, 2000) Michael P Todaro, Ekonomi Untuk Negara Berkembang (Bumi Aksara:
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akumulasi utang luar negeri adalah suatu gejala umum negaranegara dunia ketiga pada tingkat perkembangan ekonomi dimana kesediaan tabungan dalam negeri adalah
PRUlink Quarterly Newsletter
PRUlink Quarterly Newsletter Publikasi dari PT Prudential Life Assurance Kuartal Kedua 2012 Sekilas Ekonomi dan Pasar Modal Indonesia Informasi dan analisis yang tertera merupakan hasil pemikiran internal
I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang sehingga perekonomian
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang sehingga perekonomian masih sangat bergantung pada negara lain. Teori David Ricardo menerangkan perdagangan
TINJAUAN KEBIJAKAN MONETER
TINJAUAN KEBIJAKAN MONETER 1 1 2 3 2 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Jan-12 Mar-12 May-12 Jul-12 Sep-12 Nov-12 Jan-13 Mar-13 May-13 Jul-13 Sep-13 Nov-13 Jan-14 Mar-14 May-14 Jul-14 Sep-14 Nov-14 Jan-15 35.0 30.0
BAB I PENDAHULUAN. kemungkinan kelebihan produksi barang dan jasa tersebut demikian juga negara lain. Jika
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap negara berusaha memenuhi kebutuhannya baik barang dan jasa, atinya akan ada kemungkinan kelebihan produksi barang dan jasa tersebut demikian juga negara lain.
BAB I PENDAHULUAN. Sejak diberlakukannya sistem nilai tukar mengambang penuh/ bebas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Sejak diberlakukannya sistem nilai tukar mengambang penuh/ bebas (freely floating system) yang dimulai sejak Agustus 1997, posisi nilai tukar rupiah terhadap mata uang
PERKEMBANGAN TRIWULAN PEREKONOMIAN INDONESIA Keberlanjutan ditengah gejolak. Juni 2010
PERKEMBANGAN TRIWULAN PEREKONOMIAN INDONESIA Keberlanjutan ditengah gejolak Juni 2010 viii Ringkasan Eksekutif: Keberlanjutan di tengah gejolak Indonesia terus memantapkan kinerja ekonominya yang kuat,
LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND
LAPORAN BULANAN - PANIN Rp CASH FUND 10-Mar-2004 Panin Rp Cash Fund bertujuan untuk memberikan hasil yang relatif stabil melalui penempatan terutama pada instrumen pasar uang. Pasar Uang 100% BII (TD)
No. 15/17 /DInt Jakarta, 29 April 2013 S U R A T E D A R A N. Kepada SEMUA PERUSAHAAN BUKAN BANK DI INDONESIA
1 No. 15/17 /DInt Jakarta, 29 April 2013 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA PERUSAHAAN BUKAN BANK DI INDONESIA Perihal : Pelaporan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Berupa Rencana Utang Luar Negeri, Perubahan
I. PENDAHULUAN. perubahan yang menakjubkan ketika pemerintah mendesak maju dengan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Selama tiga dekade terakhir, perekonomian Indonesia sudah mengalami perubahan yang menakjubkan ketika pemerintah mendesak maju dengan melakukan kebijakan deregulasi.
BAB I PENDAHULUAN. diperlukan untuk melakukan hedging kewajiban valuta asing beberapa bank. (lifestyle.okezone.com/suratutangnegara 28 Okt.2011).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada masa Orde Baru, pemerintah menerapkan kebijakan Anggaran Berimbang dalam penyusunan dan pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang artinya
BAB I PENDAHULUAN. iklimnya, letak geografisnya, penduduk, keahliannya, tenaga kerja, tingkat harga,
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Setiap negara selalu berbeda bila ditinjau dari sumber daya alamnya, iklimnya, letak geografisnya, penduduk, keahliannya, tenaga kerja, tingkat harga, keadaan struktur
BAB I PENDAHULUAN. dari keadaan ekonomi negara lain. Suatu negara akan sangat tergantung dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kehidupan ekonomi suatu negara pada dewasa ini tidak dapat dipisahkan dari keadaan ekonomi negara lain. Suatu negara akan sangat tergantung dengan negara lain
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN I. Ekonomi Dunia Pertumbuhan ekonomi nasional tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dunia. Sejak tahun 2004, ekonomi dunia tumbuh tinggi
BANK INDONESIA. Telepon : (sirkulasi) Fax. : Website :
Untuk informasi lebih lanjut hubungi: Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan Biro Kebijakan Moneter Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Telepon : +62 61 3818189 +62 21 3818206 (sirkulasi)
BAB I PENDAHULUAN. karena pendanaan melakukan usaha dalam mendapatkan dana. Dana untuk sebuah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Bagi suatu perusahaan pendanaan merupakan fungsi penting dalam menentukan keberhasilan usaha perusahaan. Fungsi pendanaan menjadi penting karena pendanaan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,
PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/22/PBI/2014 TENTANG PELAPORAN KEGIATAN LALU LINTAS DEVISA DAN PELAPORAN KEGIATAN PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK
menyebabkan meningkatnya risiko gagal bayar (default risk). Hal ini berpotensi mengganggu kestabilan sistem keuangan dan ekonomi makro seperti yang
TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/20/PBI/2014 TANGGAL 28 OKTOBER 2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK 1. Q: Apa latar belakang diterbitkannya
PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN, DAN KEMISKINAN
PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN, DAN KEMISKINAN PERKEMBANGAN EKONOMI, KETENAGAKERJAAN DAN KEMISKINAN Kinerja perekonomian Indonesia masih terus menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa triwulan
DEVISA DAN KESEIMBANGAN DAN KETIDAKSEIMBANGAN NERACA PEMBAYARAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL
DEVISA DAN KESEIMBANGAN DAN KETIDAKSEIMBANGAN NERACA PEMBAYARAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL PENGERTIAN : DEVISA Adalah semua benda yang bisa digunakan untuk transaksi pembayaran dengan luar negeri yang diterima
BAB I PENDAHULUAN. Setiap Negara tentunya membutuhkan negara lain untuk memenuhi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap Negara tentunya membutuhkan negara lain untuk memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat negaranya. Kondisi saling membutuhkan ini dikarenakan negara-negara
TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21/PBI/2014 UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK DAN SURAT EDARAN NO.16/24/DKEM
TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK DAN SURAT EDARAN NO.16/24/DKEM PERIHAL PENERAPAN
PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 14/ 21 /PBI/2012 TENTANG PELAPORAN KEGIATAN LALU LINTAS DEVISA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 14/ 21 /PBI/2012 TENTANG PELAPORAN KEGIATAN LALU LINTAS DEVISA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pelaporan kegiatan lalu lintas
LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND
LAPORAN BULANAN - PANIN Rp CASH FUND 10-Mar-2004 Panin Rp Cash Fund bertujuan untuk memberikan hasil yang relatif stabil melalui penempatan terutama pada instrumen pasar uang. Pasar Uang 100% Deposito
BAB I PENDAHULUAN. terhadap lesunya perekonomian global, khususnya negara-negara dunia yang dilanda
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Memasuki pertengahan tahun 2015, dianggap sebagai periode yang cukup kelam bagi sebagian pelaku pasar yang merasakan dampaknya secara langsung terhadap lesunya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Pembangunan suatu negara memerlukan dana investasi dalam jumlah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pembangunan suatu negara memerlukan dana investasi dalam jumlah yang tidak sedikit. Sumber dari luar tidak mungkin selamanya diandalkan untuk pembangunan.
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan dana yang tidak
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan dana yang tidak sedikit jumlahnya di dalam pembangunan nasional. Dalam konteks pembangunan nasional maupun
ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III
ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran,Triwulan III - 2005 135 ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2005 Tim Penulis
I.PENDAHULUAN. antar negara. Nilai tukar memainkan peran vital dalam tingkat perdagangan
I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nilai tukar atau kurs merupakan indikator ekonomi yang sangat penting karena pergerakan nilai tukar berpengaruh luas terhadap aspek perekonomian suatu negara. Saat
ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran
ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran 1 ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran Tim Penulis Laporan Triwulanan, Bank Indonesia I.1
BAB I PENDAHULUAN. dan mengatur kegiatan perekonomian suatu negara, termasuk pemerintah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan kompleknya keterkaitan dan hubungan antarnegara didalam kancah internasional menyebabkan pemerintah juga ikut serta dalam hal meregulasi dan mengatur
Jenis Arus dana Pembangunan. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM
Jenis Arus dana Pembangunan Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Neraca Arus Dana (NAD) adalah sistem data finansial yang secara lengkap menggambarkan penggunaan tabungan dan sumber dana lainnya untuk membiayai
Juni 2017 RESEARCH TEAM
RESEARCH TEAM RINGKASAN Ekonomi Indonesia kuartal pertama 2017 tumbuh 5,01% yoy. Angka ini lebih tinggi dibandingkan PDB pada kuartal keempat 2016 sebesar 4,94%(yoy) dan kuartal ketiga 2016 sebesar 4,92%
BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan tingginya ketidakpastian perekonomian global, nilai tukar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejalan dengan tingginya ketidakpastian perekonomian global, nilai tukar Rupiah terus mengalami tekanan depresiasi. Ketidakpastian pemulihan ekonomi dunia juga telah
BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah alat bagi seorang investor untuk meningkatkan nilai aset
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi adalah alat bagi seorang investor untuk meningkatkan nilai aset yang dimilikinya. Investor dapat melakukan investasi pada beragam aset finansial, salah satunya
LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND
LAPORAN BULANAN - PANIN Rp CASH FUND 10-Mar-2004 Panin Rp Cash Fund bertujuan untuk memberikan hasil yang relatif stabil melalui penempatan terutama pada instrumen pasar uang. Pasar Uang 100% RD Pasar
PERKEMBANGAN INDIKATOR SEKTOR RIIL TERPILIH
Mei 2015 PERKEMBANGAN INDIKATOR SEKTOR RIIL TERPILIH Survei Konsumen Mei 2015 (hal. 1) Survei Penjualan Eceran April 2015 (hal. 13) PERKEMBANGAN INDIKATOR SEKTOR RIIL TERPILIH Mei 2015 Alamat Redaksi :
BAB I PENDAHULUAN. banyak diminati oleh para investor karena saham tersebut sangat liquid. Sahamsaham
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pasar modal di Indonesia, ada beberapa kelompok saham yang paling banyak diminati oleh para investor karena saham tersebut sangat liquid. Sahamsaham tersebut
No. 15/16/DInt Jakarta, 29 April 2013 SURAT EDARAN. Perihal : Pelaporan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Berupa Realisasi dan Posisi Utang Luar Negeri
No. 15/16/DInt Jakarta, 29 April 2013 SURAT EDARAN Perihal : Pelaporan Kegiatan Lalu Lintas Devisa Berupa Realisasi dan Posisi Utang Luar Negeri Sehubungan dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/21/PBI/2012
