BAB II FORMAT PEMROGRAMAN NC
|
|
|
- Ida Wibowo
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II FORMAT PEMROGRAMAN NC Terdapat 2 format pemrograman NC yaitu G-code (ISO 6983) & STEP- NC (ISO 14649), untuk penjelasan dari kedua format tersebut dapat dilihat pada sub bab berikut ini ISO 6983 (Numerical Control of Machine-Program Data Format And Definition of Address Words). [7] Standar ini merupakan standar untuk proses CAM atau manufaktur, yang berisi informasi tentang instruksi yang harus dilakukan oleh mesin CNC dalam membuat suatu benda atau produk. Standar ini lebih dikenal sebagai G & M Code karena didalam pemrograman kode diawali oleh kedua huruf tersebut. Struktur bahasa pemrogramannya lebih terfokus pada lintasan-lintasan dari titik pusat pahat (tool center path) dari pada proses pemesinannya. Dikarenakan terbatasnya kemampuan standar ini banyak vendor yang membuat mesin CNC menggunakan bahasa tambahan yang tidak tercakup dalam G-code (ISO 6983). Kode perintah untuk menggerakkan fungsi-fungsi dalam permesinan CNC dapat dikelompokkan sebagai berikut Code Fungsi G Preparatory Word X, Y, Z, U, V, W, P, Q, R, A, B, C Dimension word I, J, K Interpolation or thread lead word F, E Feed function word T, D Tool function word M Miscellaneous function word S Spindle speed function word Tabel 2.1 G & M Code CNC FANUC 18i -TB G-Code Function G-Code Function G 00 Rapid traverse G 01 Linear interpolation 5
2 G 02 Circular interpolation CW G 03 Circular interpolation CCW G 04 Dwell G 91 Incremental value programming G 90 Absolute value programming G 96 Constant surface speed control G 20 Inch data input G 21 Metric data input G 94 Feed per minute G 95 Feed per revolution M 00 M 03 M 04 M 05 M 06 M 08 M 09 M 30 M 98 M 99 M-code Function Program stop (the spindle and coolant are also stopped) Normal spindel rotation (CW) Reverse spindle rotation (CCW) Spindle stop (stop the turning spindle or the milling spindle) Tool change command Coolant ON Coolant OFF Program end Call sub-program End sub-program Gambar 2.1 menunjukan bagaimana komunikasi data yang dilakukan sehingga dihasilkan data G-Code yang diperlukan oleh kontroler CNC. Gambar 2.1 Interface antar CAD dan kontroler CNC [9] 6
3 Aliran data dalam sistem CAD/CAM dan kontroler CNC [9] : 1. Informasi produk diimport ke dalam sistem CAM. Biasanya data yang diimport adalah permodelan 3D dari sistem CAD. 2. Sistem CAM digunakan untuk menghitung toolpath yang digunakan dalam pemotongan material. Programmer CNC hanya mengspesifikkan operasi pemesinan dan sistem CAM yang membuat toolpath nya yang biasanya ditulis dalam bentuk CL data (cutter location data) file. 3. Toolpath yang sudah dihitung di import ke dalam postprocessor yang mengkonversi CL data menjadi NC program yaitu kode mesin spesifik yang diperlukan untuk mengoperasikan mesin NC. Hasil yang diperoleh dari postprocessor dapat langsung digunakan oleh kontroler tanpa modifikasi lebih lanjut. 4. NC program yang di tulis dalam bahasa G-Code yang dieksport ke dalam mesin NC dan proses manufaktur dapat dilakukan. Salah satu bagian penting dalam koneksi data ke mesin CNC adalah postprocessor. Penjelasan lebih lanjut mengenai postprocessor akan dibahas pada sub bab berikut NC postprocessor [10] NC postprocessor mengambil data lokasi pahat dalam bentuk sintak APT dari sistem CAM dan mengembalikanya dalam bentuk kode MCD yang digunakan untuk mengontrol kontroler dari mesin CNC tertentu. NC postprocessor melakukan fungsi-fungsi berikut untuk menghasilkan kode NC yang mesin NC tertentu dapat mengartikannya: 1. Membaca data dari CL data yang disiapkan oleh postprocessor. 2. Mengkonversi kedalam sistem koordinat mesin (machine tool coordinate system). 3. Mengkonversi ke bentuk absolut dari bentuk inkremental. 4. Memeriksa keterbatasan-keterbatasan pada mesin. 5. Mengembangkan feedrate dan spindle speed. 6. Mengembangkan perintah pergerakan yang diijinkan untuk mesin yang digunakan atau kontroler yang digunakan. 7
4 7. Memberikan pilihan dari jenis interpolasi linear, circular dan lain sebagainya. 8. Mengeluarkan rekaman kontrol untuk disesuaikan dengan kebutuhan sistem kontrol. 9. Mengeluarkan daftar yang ditampilkan sebagai bantuan untuk programmer. 10. Memeriksa kesalahan perintah. Sebuah APT postprocessor standar memiliki 5 fungsi modul utama yaitu: a) Fungsi kontrol (control function) Modul ini berhubungan dengan eksekusi dan proses manajemen dari modul yang menyusun postprocessor. Fungsi penting dari modul ini memulai postprocessor dan mencabangkan setiap informasi data lokasi pahat ke modul yang sesuai berdasarkan jenisnya. Modul kontrol mengulang prosedur ini satu demi satu hingga informasi terakhir diproses dimana setelahnya proses dihentikan dan NC postprocessor menghentikan operasi. b) Fungsi masukan (input function) c) Fungsi pembantu (auxiliary function) Modul ini berhubungan dengan instruksi tanpa gerakan dimana tidak ada pengaruh langsung terhadap operasi dari mesin NC. Modul ini melakukan prosedur tersebut untuk menghidupkan atau mematikan coolant, mengatur putaran dari spindel, mengatur pertukaran tool, dan memproses kompensasi data ketika terjadi perubahan dari panjang atau radius dari tool sehingga overcut atau undercut ketika pergantian tool dapat dikompensasikan. Bahasa postprocessor yang umum digunakan yang digunakan dalam modul ini adalah COOLNT, SPINDLE, LOADTL. d) Fungsi gerakan (motion function) Modul ini berhubungan langsung dengan operasi dari mesin NC, modul gerakan berhubungan dengan koordinat transformasi dari part dan aspek dinamik dari tool. Program NC yang dihasilkan oleh sistem CAM untuk part processing, memutuskan koordinat dalam benda kerja sebagai koordinat standar, dan menghitung jalur pergerakan dari tool dimulai dari koordinat standar tadi. Transformasi koordinat 3 dimensi diperlukan dalam operasi 8
5 pemesinan dan modul pergerakan melakukan transformasi dimana modul ini mentransformasikan jejak dari kompensasi garis.dan kompensasi radius dari tool terhadap sistem koordinat dari mesin NC. Sebagai langkah selanjutnya, proses dinamik juga diperlukan untuk tingkat keakurasian proses yang tinggi dengan mengontrol besarnya slip dari tool selama proses pemesinan. e) Fungsi keluaran (output function) Modul ini mengumpulkan semua informasi yang sudah diproses dalam modul gerakan dan modul pembantu dan menghasilkan informasi dalam kode yang diperlukan oleh kontroler mesin NC. 2.2 ISO (Industrial Automation Sistem and Integration Physical Device Control Data Model for Computerized Numerical Control) STEP merupakan standar internasional untuk merepresentasikan suatu produk dengan tujuan untuk menyediakan mekanisme untuk memberikan informasi data produk yang lengkap dari awal pembuatannya sampai akhir, yang mencakup informasi tentang nama produk, tanggal pembuatannya, urutan pembuatan dan lain-lain. Format STEP berupa text file dan bersifat parametric (terkait) sehingga bentuk geometri dapat dirubah hanya dengan software pengolah data text sederhana seperti notepad, STEP bersifat netral sehingga dapat dipakai atau diolah pada jenis software yang berbeda. Dengan keunggulan yang dimiliki maka STEP dikembangkan menjadi STEP-NC dengan menambah data atau informasi manufacturing didalamnya, sehingga tidak dibutuhkan lagi post procesor. ISO sebagai badan standar internasional mengeluarkan standar terbaru yaitu ISO yang lebih dikenal dengan STEP-NC, merupakan program yang berbasis kepada obyek (object oriented) serta mengadopsi struktur data pada ISO yang ditambahkan dengan proses manufaktur, informasi benda kerja, feature, proses pemesinan, strategy yang digunakan, teknologi (feeding, speed) toleransi, tool atau alat yang digunakan, informasi tentang material dan propertinya dan banyak lagi parameter-parameter lainnya. Dengan mekanisme seperti ini standar ini memiliki beberapa keunggulan diantaranya: 9
6 a. Tidak terjadi hilangnya suatu data atau informasi karena seluruh data geometri dari STEP digunakan kembali dan hanya ditambahkan data manufakturnya saja. b. Bersifat parametric, sehingga aliran data dapat menjadi 2 arah sehingga pemrosesan data lebih mudah dan cepat karena tidak dibutuhkan lagi postprosesor. c. Data yang dimilikinya merupakan data yang netral, sehingga sistem dari CAM, controller dan mesin masing-masing berdiri terpisah dan independent, sehingga data lebih fleksibel. Standar ini masih dalam skala lab dan belum dipakai di dunia industri secara luas, namun pelan tapi pasti STEP-NC akan menggeser G & M Codes, karena keuntungan utama dari program ini adalah mampu menekan biaya (cost), karena dengan keunggulan yang dimilikinya maka, program ini mampu menekan waktu (reduction time) : [6] % untuk set up pekerjaan machining di mesin % untuk menyiapkan data di workshop % dalam proses pemesinan. Untuk memudahkan dalam memahami program ini, maka akan dijelaskan lebih lanjut mengenai bagia-bagian yang menyusunnya, karena standar ini berorientasi objek maka standar disusun menjadi berbagai kelas yang selanjutnya diterangkan secara detil pada masing-masing part penyusunnya. Struktur data ISO terdiri dari beberapa part antara lain : 1. Part 1 : Overview and fundamental principles 2. Part 2: Language bindings, Fundamentals 3. Part 3: Language binding in Java 4. Part 9: Glossary 5. Part 10: General Process Data 6. Part 11: Process Data for Milling 7. Part 12: Process Data for Turning 8. Part 13: Process Data for EDM 9. Part 50: AIM of General Process Data 10. Part 51: AIM of Process Data for Milling 10
7 11. Part 52: AIM of Process Data for Turning 12. Part 53: AIM of Process Data for EDM 13. Part 111: Tools for Milling Pada saat melakukan konversi tidak semua part digunakan, yang digunakan hanya beberapa part antara lain: Part 1 (Overview and fundamental principles), Part 10 (General Process Data), Part 11 (Process Data for Milling) Part 111 (Tools for Milling) ISO : Part 1 (Overview and fundamental principle). [1] Part 1 ini membahas tentang pengertian dan konsep standar ISO secara umum, serta hubungannya dengan standar ISO dalam proses pertukaran data dan juga susunan atau struktur programnya. Gambar 2.2 Struktur dan aliran data ISO [1] Gambar 2.2 menunjukkan stuktur dan aliran data dari program STEP-NC yang berorientasikan terhadap objek, berdasarkan standar ISO part 21 (Implementation Methode: Clear text encoding of exchange structure) Struktur ISO terdiri dari 2 bagian utama yaitu : 1. Header : berisikan informasi seperti: nama file, pembuat, waktu pembuatan, dan komentar-komentar yang berhubungan dengan part program. 11
8 2. Data : merupakan bagian utama karena memberikan informasi data tentang proses manufaktur dan bentuk geometri. Pada bagian data terdiri dari 4 bagian utama yaitu: Project Entity Berfungsi sebagai awal dari eksekusi program yang ada pada bagian DATA dari sebuah program yang berisi workplan utama yang akan dijalankan. Workplan dan executable Workplan adalah rencana kerja yang dilakukan dalam memproses suatu part (proses manufakturnya), workplan terdiri dari beberapa tipe kombinasi fungsi executables yaitu: - workingstep - NC Function - Program Struktur Technology description Pada bagian ini tersedia seluruh informasi dan definisi dari semua workingstep yang digunakan pada workplan termasuk tool data, machine function, machining strategy dan proses data lainnya. Technology description juga menyediakan informasi tentang: - Cutting width dan depth - Kecepatan spindel - Toleransi minimum dan maksimum - Data tool yang digunakan (tipe dan dimensinya) Geometry description Seluruh bentuk geometri yang dibentuk pada proses manufaktur dengan mengikuti format dari ISO (STEP) ISO : Part 10 (General process data) [2] Part 10 ini menjelaskan mengenai hal tentang pemrosesan data pada sistem secara umum untuk semua jenis teknologi seperti milling, turning, grinding, serta hubungannya antara controller mesin dengan sistem program. 12
9 Selain tentang definisi teknologi yang dipakai terdapat juga informasi mengenai bentuk geometri. Pada penerapannya part 10 tidak berdiri sendiri, informasi detail tentang teknologi perlu disertakan, oleh karena itu digunakan part 11 tentang milling sebagai part pelengkap detail teknologinya. Dibawah ini adalah data-data entitas yang akan digunakan pada saat proses mapping round_hole. Header dan references Informasi selalu diawali dengan kata HEADER dan diakhiri dengan ENDSEC, karakter inilah yang akan dimanfaatkan dalam proses identifikasi program STEP dalam programming. Dibawah ini adalah contoh informasi yang ada pada Header HEADER; FILE_DESCRIPTION (); FILE_NAME(EXAMPLE1); FILE_SCHEMA(); ENDSEC; General type and definition Menjelaskan tentang satuan yang digunakan, dibawah ini adalah satuan unit yang sering digunakan : Length_measure Millimeters [mm] Time_measure Second [s] Plane_angle_measure Degrees [ ] Pressure_measure Pascal [Pa] Speed_measure Meters per second [m/sec] Rot_speed_measure Revolutions per second [1/sec] Sumber : ISO/DIS [2] Project Setiap part program mempunyai satu entitas level atas, yaitu yang disebut project. Project ini merupakan permulaan start dari suatu program. entitas project
10 Keterangan : (1). Identifier : identifier dari project sebagai pengidentifikasi, oleh karena itu harus unik agar setiap identifier tidak sama. (2). Workplan : Workplan dengan level tingkat teratas berada pada entitas ini. (3). Workpiece : penjelasan tentang benda kerja, diantaranya : material, kondisi permukaan, dan data geometrisnya. (4). Owner (Optional): informasi tentang pembuat dari project. (5). Releases (Optional): referensi tanggal dan waktu dari project. (6). Status (Optional): Atribut yang mengindikasikan status dari project. Workpiece Adalah benda kerja yang akan dikerjakan dalam proses manufaktur. Entitas ini berisikan informasi seluruh panjelasan tentang benda kerja. entitas Workpiece Keterangan : (1). Identifier : identifier dari workpiece sebagai pengidentifikasi, oleh karena itu harus unik agar setiap identifier tidak sama. (2). Material (Optional): Atribut ini berisi data tentang material dari benda kerja. Data ini seharusnya digunakan untuk menentukan parameter teknologi dari proses untuk proses pemesinan. (3). Global_tolerance (Optional): merupakan toleransi dari benda kerja, data ini digunakan jika toleransi yang lain tidak spesifik. (4). Rawpiece (Optional): adalah informasi geometri dari benda kerja mentah. (5). Geometry (Optional): adalah informasi tentang geometri dari benda kerja akhir, berdasarkan ISO (6). Bounding_geometry (Optional): dengan ini geometri dari benda kerja dapat berupa kotak, silinder, atau geometri lain berdasarkan definisi dari entitas advanced_brep_shape_representation (ISO ). 14
11 (7). Clamping_position : ini menginformasikan posisi alat pencekam pada permukaan benda kerja. Segala lokasi, arah, dan informasi geometris akan didefinisikan relative terhadap sistem koordinat benda kerja. Manufacturing feature Dasar dari semua fitur manufaktur, baik dalam bentuk 2.5 D- manufakturing atau berbentuk profile(3d). Machining feature Adalah dasar dari semua feature-feature yang ada dalam operasi two5d_manufacturing_feature atau 2.5D-machining, seperti drilling dan pocketing. Round Hole Mendefinisikan fitur yang berbentuk lubang. Untuk fitur round hole terdapat beberapa operasi yang dapat dilakukan seperti drilling, multistep drilling, countersinking, reaming, centerdrilling. entity Round hole Keterangan : (1). Identifier : adalah nama unik dari suatu fitur. (2). Workpiece : adalah benda kerja dimana fitur berada. (3). Operation (Optional): adalah suatu set operasi yang dilakukan untuk melakukan permesinan suatu fitur. (4). Feature placement (Optional): adalah letak atau posisi dari fitur relative terhadap koordinat sistem benda kerja. Posisi dapat berupa translasi dan/atau rotasi dari origin koordinat benda kerja. (5). Depth : adalah tinggi kedalaman suatu fitur yang dipresentasikan dalam bentuk bidang dengan letak titik terendah dari suatu fitur (z<0) diukur dari koordinat sistem. (6). Diameter : diameter lubang (7). Change in diameter (Optional): optional parameter yang digunakan untuk lubang yang spesifik atau taper (8). Bottom condition : adalah bentuk dari dasar sebuah lubang. 15
12 Executable Adalah basis entitas dari seluruh eksekusi objek. Eksekusi suatu objek dapat dibagi menjadi 3 tipe, yaitu: 1. Workingstep : mendefinisikan proses manufaktur yang melibatkan interpolasi axis, pada umumnya tiap workingstep merupakan sebuah proses manufaktur dengan 1 jenis alat dan strategi, detail informasi dari workingstep terdapat pada technology description. 2. NC functions : mendefinisikan tentang pertukaran informasi, atau tidak melibatkan interpolasi axis. 3. Program structure : adalah bangunan program, yang mengatur urutan proses manufaktur, struktur yang paling penting adalah workplan, struktur program yang ada tidak selalu bersifat sequensial, tapi bisa juga random, atau paralel. Pada kasus ini executable yang digunakan adalah workingstep dengan tipe machining workingstep. Machining Workingstep Machining workingstep merepresentasikan tentang proses pemesinan pada suatu area spesifik dari suatu benda kerja. entitas Machining Workingstep Keterangan : (1). Identifier : identifier dari machining workingstep, bersifat unik agar setiap identifier tidak sama. (2). Its_sec_plane (Optional): adalah bidang aman untuk pergerakan tool agar tidak terjadi collision. Bidang ini mengacu pada sistem koordinat benda kerja atau pada sistem koordinat fitur. (3). Its_feature(Optional): adalah fitur yang akan dioperasikan. (4). Its_operation (Optional): adalah tipe operasi yang digunakan. 16
13 Operation Adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pengoperasian pemesinan, diantaranya yaitu : - Tipe operasi : (terdiri dari Machining operation, rapid movement, dan touch probing.) yang digunakan pada kasus ini adalah machining operation. - Technology. - Machine function. Seluruh informasi dalam part 10 ini merupakan supertype sehingga informasi masih bersifat umum maka diperlukan part yang lebih spesifik yang membahas tentang permesinan milling yaitu ISO Part 11 : Process data for milling. Workplan Workplan dapat mengkombinasikan beberapa workingstep secara linear. Setup Memberikan informasi tentang koordinat benda kerja relatif terhadap koordinat mesin ISO : Part 11 (Process data for milling) [3] Pada part 11 ini merepresentasikan segala informasi yang lebih spesifik tentang pengoperasian, dan data teknologinya secara spesifik untuk proses milling. Pada fitur round_hole, bagian-bagian utama dari part ini adalah: Milling technology Mendefinisikan tentang parameter mesin yang digunakan saat proses secara umum berlangsung, merupakan subtype dari technology (pada part 10). entitas Milling_Technology
14 Keterangan : (1). feedrate (Optional) : pemakanan dari tool yang dideskripsikan dengan kecepatan linier. (2). feedrate_reference (tool reference point) : menspesifikasikan kecepatan pemakanan yang dihitung berdasarkan tool center point atau cutter contact point. (3). cut_speed (Optional): kecepatan potong dari tool yang dideskripsikan dengan kecepatan linier. (4). Spindle (Optional) : ini memungkinkan untuk pemilihan kecepatan spindle konstan atau kecepatan konstan di permukaan. (5). Feedrate_pertooth : feed dari tool yang diberikannya adalah jarak (6). Synchronize_spindel_with_feed (Boolean) : apabila bernilai true, kecepatan potong (cuting speed) dan pemakanan (feed) dari tool disesuaikan. (7). Inhibit_feedrate_overide (Boolean) : apabila bernilai true maka pemasukkan nilai kecepatan pemakanan secara manual oleh panel kontrol tidak diperbolehkan. (8). Inhibit_spindle_overide (Boolean) : apabila bernilai true maka pemasukkan nilai kecepatan spindel secara manual oleh panel kontrol tidak diperbolehkan. (9). Its_adaptive_control (Optional) : strategi kontrol khusus oleh vendor lainnya. Milling machine functions Entitas ini merupakan penjelasan spesifik machine function yang digunakan dalam proses pemesinan yang merupakan subtype dari machine_function (pada part 10) entitas Milling machine functions
15 Keterangan : (1). coolant : merupakan pilihan boolean, jika true maka coolant diaktifkan. (2). coolant_pressure (Optional): spesifikasi dari tekanan coolant pada sistem. (3). mist (Optional): jika true maka aktifkan mist coolant. Defaultnya false, valid jika status coolant true. (4). through_spindle_coolant (Boolean): jika status bernilai true maka aktifkan through spindle coolant. Nilai defaultnya adalah false. (5). through_pressure (Optional): adalah nilai tekanan coolant through spindle. Hanya valid jika status through spindle coolant adalah true. (6). axis_clamping : menjelaskan sumbu clamping, catatan bahwa informasi ini tergantung dari mesin dan sebaiknya dihindari pemakaiannya. (7). chip_removal (Boolean): jika bernilai true maka aktifkan chip removal. (8). oriented_spindle_stop (Optional): nilai yang diberikan disini untuk memberhentikan spindel sesuai dengan arah yang diberikan dekat dengan posisi nol mesin. Its_process_model (Optional): informasi opsional mengenai control proses. (9). Other_function : daftar fungsi lain dari tipe secara umum. Drilling_type_operation Mendefinisikan parameter mesin saat proses pemesinan berlangsung, operasi pemesinan seperti drilling, reaming, center_drilling, counter_sinking dan lain-lain. Merupakan subtype dari milling_machining_operation. 19
16 Drilling type strategy Mendefinisikan variable-variable parameter mesin yang digunakan pada proses pemesinan agar didapatkan hasil pemesinan yang baik. entitas Drilling type strategy Keterangan : (1). Reduced_cut_at_start (Optional): mengurangi kecepatan potong (cutting speed) sesuai dengan persentase yang ditentukan pada saat pemakanan dimulai. (2). Reduced_feed_at_start (Optional): pada saat proses pemakanan dimulai kedalaman pemakanan (feed) dikurangi sesuai persentase yang ditentukan. (3). Depth_of_start (Optional): kedalaman yang digunakan saat start. (4). Reduced_cut_at_end (Optional): mengurangi kecepatan potong (cutting speed) berdasarkan persentase yang ditentukan, pada saat pemotongan terakhir. (5). Reduced_feed_at_end (Optional): mengurangi kedalaman pemotongan (feed) berdasarkan persentase yang ditentukan, pada saat pemotongan terakhir. (6). Depth_of_end (Optional): kedalaman yang digunakan saat pemotongan terakhir. Multistep drilling (Proses pengeboran untuk lubang yang dalam). entitas Multistep drilling Keterangan: (1). Its_toolpath (Optional): merupakan daftar seluruh toolpath yang digunakan. 20
17 (2). Its_tool_direction (Optional): adalah spesifikasi dari orientasi tool yang digunakan (3). Its_id: nama identitas yang unik. (4). Retract_plane (Optional): adalah bidang aman pergerakan tool dari titik akhir kembali ke titik awal. (5). Start_point (Optional): adalah titik awal melakukan proses pemakanan, spesifik pada titik pusat tool pada bidang xz. (6). Its_tool : adalah tool yang digunakan pada saat melakukan operasi (7). Its_technology (Optional): adalah parameter technology yang dipakai, seperti : spindle speed dan pemakanan oleh tool. (8). Its_machine_functions: informasi mengenai machine function, seperti : coolant, chip removal, dll. (9). Overcut_length (Optional): adalah langkah lebih pada saat pemakanan di daerah terbuka. (10). Cutting_depth (length measure) : yang melambangkan ketebalan yang harus dihilangkan dalam satu kali pemakanan.: (11). Previous_diameter : memberikan informasi diameter lubang yang sudah ada atau lubang hasil casting, apabila ingin diproses kembali. (12). Dwell_time_bottom : memungkinkan tool berhenti didasar berdasarkan waktu. (13). Feed_on_retract : feed yang digunakan untuk menarik mundur tool ke retract_plane sebagai rasio feed dari drilling. Apabila tidak disebutkan yang digunakan sama dengan feed dari drilling. (14). Its_machining_strategy adalah tipe strategy yang digunakan pada saat melakukan proses. (15). Retract_distance : apabila retract _distance bernilai positive, tool bergerak mundur sesuai dengan nilai tersebut. Apabila nol (0) atau negative tool bergerak antara kedalaman pemakanan bertahap. (16). Firts_depth : kedalaman pemakanan awal. (17). Depth_of_step : kedalaman pemakanan selanjutnya secara bertahap sampai kedalaman lubang tercapai. 21
18 (18). Dwell_time_step : memungkinkan tool berhenti antara pemakanan bertahap ke pemakanan bertahap lainnya. Drilling Proses pembuatan lubang dengan kedalaman tertentu. entitas Drilling Keterangan: (1). Its_toolpath (Optional): merupakan daftar seluruh toolpath yang digunakan. (2). Its_tool_direction (Optional): adalah spesifikasi dari orientasi tool yang digunakan (3). Its_id: nama identitas yang unik. (4). Retract_plane (Optional): adalah bidang aman pergerakan tool dari titik akhir kembali ke titik awal. (5). Start_point (Optional): adalah titik awal melakukan proses pemakanan, spesifik pada titik pusat tool pada bidang xz. (6). Its_tool : adalah tool yang digunakan pada saat melakukan operasi (7). Its_technology (Optional): adalah parameter technology yang dipakai, seperti : spindle speed dan pemakanan oleh tool. (8). Its_machine_functions: informasi mengenai machine function, seperti : coolant, chip removal, dll. (9). Overcut_length (Optional): adalah langkah lebih pada saat pemakanan di daerah terbuka. (10). Cutting_depth (length measure) : yang melambangkan ketebalan yang harus dihilangkan dalam satu kali pemakanan.: (11). Previous_diameter : memberikan informasi diameter lubang yang sudah ada atau lubang hasil casting, apabila ingin diproses kembali. (12). Dwell_time_bottom : memungkinkan tool berhenti didasar berdasarkan waktu. 22
19 (13). Feed_on_retract : feed yang digunakan untuk menarik mundur tool ke retract_plane sebagai rasio feed dari drilling. Apabila tidak disebutkan yang digunakan sama dengan feed dari drilling. (14). Its_machining_strategy adalah tipe strategy yang digunakan pada saat melakukan proses. Reaming entitas Reaming Keterangan: (1). Its_toolpath (Optional): merupakan daftar seluruh toolpath yang digunakan. (2). Its_tool_direction (Optional): adalah spesifikasi dari orientasi tool yang digunakan (3). Its_id: nama identitas yang unik. (4). Retract_plane (Optional): adalah bidang aman pergerakan tool dari titik akhir kembali ke titik awal. (5). Start_point (Optional): adalah titik awal melakukan proses pemakanan, spesifik pada titik pusat tool pada bidang xz. (6). Its_tool : adalah tool yang digunakan pada saat melakukan operasi (7). Its_technology (Optional): adalah parameter technology yang dipakai, seperti : spindle speed. (8). Its_machine_functions: informasi mengenai machine function, seperti : coolant, chip removal, dll. (9). Overcut_length (Optional): adalah langkah lebih pada saat pemakanan di daerah terbuka. (10). Cutting_depth (length measure) : yang melambangkan ketebalan yang harus dihilangkan dalam satu kali pemakanan.: (11). Previous_diameter : memberikan informasi diameter lubang yang sudah ada atau lubang hasil casting, apabila ingin diproses kembali. 23
20 (12). Dwell_time_bottom : memungkinkan tool berhenti didasar berdasarkan waktu. (13). Feed_on_retract : feed yang digunakan untuk menarik mundur tool ke retract_plane sebagai rasio dari drilling feed. Apabila tidak disebutkan yang digunakan sama dengan feed dari drilling. (14). Its_machining_strategy adalah tipe strategy yang digunakan pada saat melakukan proses. (15). Spindel_stop_at_bottom: memungkinkan spindel berhenti didasar lubang. Jika oriented_spindel_stop pada workingsteps teknology diset. (16). Depth_of_testcut: kedalaman testcut. (17). Waitting_position: tool bergerak mundur menjauhi benda kerja pada sumbu z, ketika akan mengukur hasil dari pengeboran ISO : Part 111 (Tools for Milling) [4] Part 111 ini menjelaskan tentang type atau jenis tool yang digunakan secara detail termasuk geometrinya. Milling cutting tool Pada entitas ini dijelaskan mengenai spesifikasi teknologi dari cutting tool yang digunakan untuk proses milling, entitas ini merupakan subtype dari entitas cutting tool pada part 10. entitas Milling Cutting Tool Keterangan : (1). identifier : merupakan nilai identitas yang unik. (2). Tool_body : adalah informasi yang menjelaskan jenis dari cutting tool yang digunakan beserta karakteristiknya. (3). Cutting_edge : informasi yang menjelaskan mengenai sisi potong (cutting edge) dari cutting tool. (4). Overall_assembly_length (Optional): adalah nilai panjang total tool diukur sepanjang sumbu tool agar mencegah collision. 24
21 (5). direction_for_spindle_orientation (Optional): adalah arah orientasi spindle. (6). tool_holder_diameter_for_spindle_orientation (Optional): adalah nilai diameter dari tool holder. Milling tool body Entitas ini merupakan supertipe dari seluruh tipe tool body pada proses milling merupakan subtipe dari entitas tool_body pada part 10. Pada fitur round_hole tipe tool yang digunakan adalah: - Drill (twist_drill, spade_drill) - centerdrill - countersink - reamer Entitas twist drill, centerdrill, dan reamer memiliki yang sama entitas Twist drill Keterangan : (1). Tool_dimension : merupakan nilai dimensi tool. (2). Number_of_teeth (Optional): adalah informasi banyaknya gigi yang dimiliki oleh tool. (3). Hand_of_cut (Optional): adalah arah pemakanan atau putaran cutter didefinisikan dengan type hand. (4). coolant_through_tool (Optional): mendefinisikan apakah tool body mempunyai kemampuan through_the_tool_coolant. Nilai valid adalah yes atau no [ISO/DIS , Table 2]. (5). Pilot_length (Optional): adalah nilai panjang yang diukur dari bagian tip sampai pada daerah mulainya tool turun. 25
22 Tool dimension Entity ini menjelaskan tentang dimensi dari tool body. entity Tool dimension Keterangan : (1). diameter : merupakan nilai diameter tool. (2). top_tool_angle (Optional): merupakan nilai sudut tool pada bagian tip. (3). tool_circumference_angle (Optional): merupakan nilai sudut tool pada bagian circumferencenya. (4). cutting_edge_length (Optional): adalah nilai panjang diukur sepanjang cutting edge utama sampai pada bagian cutting tip. Nilai panjang tersebut menentukan nilai maksimal dari kedalaman pemakanan. (5). edge_radius (Optional): merupakan nilai sudut pada tepi tool. (6). edge_center_vertical (Optional): adalah nilai offset vertical terhadap edge radius. (7). edge_center_horizontal : adalah nilai offset horizontal terhadap edge radius. 26
BAB II FORMAT PEMROGRAMAN NC
BAB II FORMAT PEMROGRAMAN NC Format pemograman NC yang kita kenal saat ini adalah G-Code. Memang format G-Code ini adalah format yang pertama dikenalkan dan dikhususkan untuk pemograman NC. Format yang
BAB III KONVERSI FILE STEP-NC KE G & M CODES
BAB III KONVERSI FILE STEP-NC KE G & M CODES 3.1 PROSES MAPPING DAN KONVERSI. Proses mapping adalah proses memetakan hubungan (korelasi) antara suatu standard dengan standard lain yang berbeda sehingga
BAB III KONVERSI FILE STEP-NC KE G CODE
BAB III KONVERSI FILE STEP-NC KE G CODE 3.1 PEMETAAN (MAPPING) Langkah awal untuk melakukan proses konversi file STEP-NC ke G Code adalah dengan proses mapping. Proses mapping adalah proses memetakan hubungan
Berita Teknologi Bahan & Barang Teknik ISSN : Balai Besar Bahan dan Barang Teknik Departemen Perindustrian RI No. 22/2008 Hal.
METODE PEMBUATAN PROGRAM CNC (CNC Machine) Dalmasius Ganjar Subagio*) INTISARI METODE PEMBUATAN PROGRAM CNC. Telah dilaksanakan kajian penggunaan tentang kinerja mesin CNC yang biasa digunakan untuk proses
Dasar Pemrograman Mesin Bubut CNC Type GSK 928 TE
MATERI KULIAH CNC Dasar Pemrograman Mesin Bubut CNC Type GSK 928 TE Dwi Rahdiyanta Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta A. Struktur Program 1. Karakter Karakter adalah unit dasar untuk menyusun
LEMBAR PENGESAHAN. Disetujui Dan Diterima Oleh. R. Ariosuko Dh., Ir Ir. Ruli Nutranta. M.Eng
LEMBAR PENGESAHAN Analisa perbedaan waktu dalam pembuatan program CAM dan manual dalam proses permesinan milling CNC pada komponen bottom plate dies end plate. Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam
BAB IV HASIL DAN ANALISIS
BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.1 HASIL SOFTWARE Tampilan untuk program konversi khusus untuk kasus general_revolution dapat dilihat pada gambar dibawah ini : Gambar 4.1 Tampilan program konversi Pada jendela
TI-3222: Otomasi Sistem Produksi
TI-3222: Otomasi Sistem Produksi Pemograman Numerical-Control Laboratorium Sistem Produksi www.lspitb.org 2004 Hasil Pembelajaran Umum Mahasiwa mampu untuk melakukan pemograman mesin NC, memahami kode
Pengembangan Sistem Konversi Citra ke G-Code untuk Aplikasi Manufaktur
Pengembangan Sistem Konversi Citra ke G-Code untuk Aplikasi Manufaktur Retno Tri Wahyuni, Djoko Purwanto, Tri Arief Sardjono Program Studi Teknik Elektro, Program Pascasarjana ITS Kampus ITS, Sukolilo,
Bab 1. Pendahuluan. menggunakan bantuan aplikasi CAD (Computer-Aided Design) untuk. menggunakan komputer ini disebut sebagai mesin Computer based
Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan kemajuan teknologi, komputer digunakan untuk berbagai keperluan, baik sebagai sarana untuk membantu pekerjaan maupun sarana hiburan. Penggunaannya
LAPORAN TUGAS COMPUTER NUMERICAL CONTROL
LAPORAN TUGAS COMPUTER NUMERICAL CONTROL Disusun Oleh : Kelompok : (Satu) Nama / NPM :. Arif Wibowo / 349. Musafak / 35464 3. Neneng Suryani / 35483 Kelas : 3ID08 Hari : Senin Mata Kuliah : Computer Numerical
BAB II DASAR TEORI 2.1 TINJAUAN PUSTAKA
BAB II DASAR TEORI 2.1 TINJAUAN PUSTAKA Elvys, (2015) menyatakan untuk memenuhi kebutuhan mesin perkakas CNC bagi workshop industri kecil dan atau sebagai media pembelajaran pada institusi pendidikan,
PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK SISTEM OPERASI MESIN MILLING CNC TRAINER
PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK SISTEM OPERASI MESIN MILLING CNC TRAINER * Mushafa Amala 1, Susilo Adi Widyanto 2 1 Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro 2 Dosen Jurusan
MODUL PRAKTIKUM CNC II MASTERCAM LATHE MILLING
UNIVERSITAS RIAU MODUL PRAKTIKUM CNC II MASTERCAM LATHE MILLING LABORATORIUM CAD/CAM/CNC JURUSAN TEKNIK MESIN Disusun oleh: Tim Praktikum CNC II (Dedy Masnur, M. Eng., Edi Fitra,) JOB LATHE I. Gambar Kerja
MODUL CNC MILLING DENGAN SWANSOFT CNC SIMULATOR
MODUL CNC MILLING DENGAN SWANSOFT CNC SIMULATOR OLEH Sarwanto,S.Pd.T 085643165633 1 P a g e MESIN CNC MILLING Mesin Frais CNC (Computer Numerical Control) adalah sebuah perangkat mesin perkakas jenis frais/milling
TUTORIAL DESAIN DRILL BERTINGKAT MENGGUNAKAN SOFTWARE MASTERCAM X5 & SWANSOFT CNC SIMULATOR
TUTORIAL DESAIN DRILL BERTINGKAT MENGGUNAKAN SOFTWARE MASTERCAM X5 & SWANSOFT CNC SIMULATOR Oleh : Agus Priyanto 15518241016 Pendidikan Teknik Mekatronika JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK
Bab II Teori Dasar Gambar 2.1 Jenis konstruksi dasar mesin freis yang biasa terdapat di industri manufaktur.
Bab II Teori Dasar Proses freis adalah proses penghasilan geram yang menggunakan pahat bermata potong jamak (multipoint cutter) yang berotasi. Pada proses freis terdapat kombinasi gerak potong (cutting
BAB 3 RANCANGAN DAN PELAKSANAAN PERCOBAAN
BAB 3 RANCANGAN DAN PELAKSANAAN PERCOBAAN 3.1 Instalasi Alat Percobaan Alat yang digunakan untuk melakukan percobaan adalah mesin CNC 5 axis buatan Deckel Maho, Jerman dengan seri DMU 50 evolution. Dalam
PEMROGRAMAN CNC. Program adalah sejumlah perintah dalam bentuk kode yang dipakai untuk mengendalikan mesin.
PEMROGRAMAN CNC DEFINISI; Program adalah sejumlah perintah dalam bentuk kode yang dipakai untuk mengendalikan mesin. Permograman adalah pemberian sejumlah perintah dalam bentuk kode yang dimengerti oleh
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Metodologi merupakan tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan oleh penulis untuk penyusunan karya ilmiah. Tahapan tersebut diperlukan agar penulisan dapat secara urut, sistematis
BAB IV SIMULASI PROSES PERMESINAN
BAB IV SIMULASI PROSES PERMESINAN Setelah dilakukan penentuan dimesin cetakan, maka selanjutnya dilakukan proses permesinannya. Untuk mensimulasikan proses permesinan cetakan botol digunakan perangkat
TE Pengantar Pemrograman Mesin NC
TE090565 Sistem Pengaturan Manufaktur Pengantar Pemrograman Mesin NC Ir. Jos Pramudijanto, M.Eng. Jurusan Teknik Elektro FTI ITS Telp. 5947302 Fax.5931237 Email: [email protected] Sistem Pengaturan
Modul Teknik Pemesinan Frais CNC
Materi Modul Teknik Pemesinan Frais CNC untuk Mahasiswa SMK 1. Mengenal Bagian-bagian Utama Mesin Frais CNC, Panel Kontrol Sinumerik 802 S/C base line, dan Tata Nama Sumbu Koordinat 2. Menghidupkan Mesin
BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Proses Pemesinan Milling dengan Menggunakan Mesin Milling 3-axis
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan proses serta teknik pemotongan logam (metal cutting) terus mendorong industri manufaktur semakin maju. Ini terlihat
OPTIMASI JALAN PAHAT DAN ANALISIS BIAYA PRODUKSI PROSES PEMESINAN CNC LATHE PEMBUATAN PISTON MASTER CYLINDER REM SEPEDA MOTOR YAMAHA MENGGUNAKAN CAM
OPTIMASI JALAN PAHAT DAN ANALISIS BIAYA PRODUKSI PROSES PEMESINAN CNC LATHE PEMBUATAN PISTON MASTER CYLINDER REM SEPEDA MOTOR YAMAHA MENGGUNAKAN CAM Nico Atmadio 1, Anita Susilawati 2 Jurusan Teknik Mesin,
Mesin Milling CNC 8.1. Proses Pemotongan pada Mesin Milling
Mesin Milling CNC Pada prinsipnya, cara kerja mesin CNC ini adalah benda kerja dipotong oleh sebuah pahat yang berputar dan kontrol gerakannya diatur oleh komputer melalui program yang disebut G-Code.
KEGIATAN BELAJAR : Membuat Program di Mesin Bubut CNC
MODUL CNC- 4 Oleh: Dwi Rahdiyanta FT-UNY KEGIATAN BELAJAR : Membuat Program di Mesin Bubut CNC A. Tujuan umum pembelajaran Setelah mempelajari materi ini peserta didik diharapkan akan mampu melakukan pemrograman
TI-2121: Proses Manufaktur
TI-2121: Proses Manufaktur Operasi Pemesinan & Mesin Perkakas Laboratorium Sistem Produksi www.lspitb.org 2003 1. Hasil Pembelajaran Umum: Memberikan mahasiswa pengetahuan yang komprehensif tentang dasar-dasar
Gambar 2.1 Sumbu-sumbu pada mesin NC [9]
2 PMSI MULTI IS D SISTM CM 2.1 Pemesinan C Multi xis Proses pemesinan dengan teknologi NC (numerical control) telah dikenal luas pemakaiannya pada saat ini. lectronics Industries ssociation (I) mendefinisikan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Industri manufaktur sudah semakin maju seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan penemuan penemuan proses dan teknik pemotongan logam (metal cutting). Ini terlihat
BAB III ANALISIS. Gambar 3.1 Process Sheet & NCOD.
BAB III ANALISIS 3.1 Tahap Persiapan Pada Tahap Persiapan Ini ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk memulai proses pembuatan part Connecting Lever dengan Part No. 35-94575-0203 untuk bagian ACS.
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Proses Pemesinan Untuk membuat suatu alat atau produk dengan bahan dasar logam haruslah di lakukan dengan memotong bahan dasarnya. Proses pemotongan ini dapat dilakukan dengan
OPTIMASI JALAN PAHAT PROSES PEMESINAN CNC LATHE DAN ANALISA BIAYA PRODUKSI PEMBUATAN DEAD CENTER BERBANTUKAN CAD/CAM
OPTIMASI JALAN PAHAT PROSES PEMESINAN CNC LATHE DAN ANALISA BIAYA PRODUKSI PEMBUATAN DEAD CENTER BERBANTUKAN CAD/CAM Efrizal Saputra 1, Anita Susilawati 2 Laboratorium CAD/CNC/CAM, Jurusan Teknik Mesin,
Materi 3. Seting Alat potong, Benda Kerja, dan Zero Offset pada Mesin Frais CNC
Materi 3 Seting Alat potong, Benda Kerja, dan Zero Offset pada Mesin Frais CNC Tujuan : Setelah mempelajari materi 3 ini mahasiswa memiliki kompetensi: Memasang benda kerja di mesin frais CNC Memilih alat
BAB li TEORI DASAR. 2.1 Konsep Dasar Perancangan
BAB li TEORI DASAR Pada bab ini dijelaskan mengenai konsep dasar perancangan, teori dasar pemesinan, mesin bubut, komponen komponen utama mesin dan eretan (carriage). 2.1 Konsep Dasar Perancangan Perancangan
PEMROGRAMAN CNC DENGAN SOFTWARE MASTER CAM
PEMROGRAMAN CNC DENGAN SOFTWARE MASTER CAM Menu pada software ini dibedakan atas dua bagian yaitu menu CAD dan menu CAM yang masing masing mempunyai fungsi untuk menggambar dan proses permesinan/manufactur,
BAB IV PENGUJIAN DAN EVALUASI SISTEM
BAB IV PENGUJIAN DAN EVALUASI SISTEM 4.1. Gambaran Umum Pengujian software simulasi ini akan dijelaskan meliputi tiga tahap yaitu : input, proses dan output. Pada proses input pertama kali yang dilakukan
Pengaruh Kemiringan Benda Kerja dan Kecepatan Pemakanan terhadapgetaran Mesin Frais Universal Knuth UFM 2
Pengaruh Kemiringan Benda Kerja dan Kecepatan Pemakanan terhadapgetaran Mesin Frais Universal Knuth UFM 2 Romiyadi 1 1 Program Studi Perawatan dan Perbaikan Mesin, Politeknik Kampar Jl. Tengku Muhammad
BAB 3 PERANCANGAN PROSES PENGERJAAN KOMPONEN PROTOTYPE V PISTON MAGNETIK
BAB 3 PERANCANGAN PROSES PENGERJAAN KOMPONEN PROTOTYPE V PISTON MAGNETIK 3.1 Perancangan dan Tahap-tahap Perancangan Perancangan adalah tahap terpenting dari seluruh proses pembuat alat. Tahap pertama
APLIKASI NEW HIGH SPEED MACHINING ROUGHING STRATEGY PADA MESIN CNC YCM EV1020A
APLIKASI NEW HIGH SPEED MACHINING ROUGHING STRATEGY PADA MESIN CNC YCM EV1020A TUGAS AKHIR Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Teknik Industri Edwin Bagus Yuwono 09 06
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Dewasa ini ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang dengan pesat. Kemajuan ini juga merambah dunia industri manufaktur. Sebagai contoh dari kemajuan tersebut,
Materi 1. Mengenal Bagian-bagian Utama Mesin Bubut CNC, Panel Kontrol Sinumerik 802 S/C base line, dan tata nama sumbu koordinat
Materi 1 Mengenal Bagian-bagian Utama Mesin Bubut CNC, Panel Kontrol Sinumerik 802 S/C base line, dan tata nama sumbu koordinat Tujuan Setelah mempelajari Materi 1 ini mahasiswa memiliki kompetensi: Dapat
TUTORIAL CNC BUBUT STEP. Setelah mempelajari tutorial ini mahasiswa memiliki kompetensi:
TUTORIAL CNC BUBUT STEP Tujuan Setelah mempelajari tutorial ini mahasiswa memiliki kompetensi: 1. Memahami perintah-perintah dasar penulisan program step 2. Mampu membuat gambar dengan mastercam lalu mengaplikasikan
BAB I. Pengenalan Perangkat Lunak CAD/CAM dan Mastercam versi 9
BAB I Pengenalan Perangkat Lunak CAD/CAM dan Mastercam versi 9 CAD/CAM adalah singkatan dari Computer- Aided Design and Computer- Aided Manufacturing. Aplikasi CAD/CAM digunakan untuk mendesain suatu bagian
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dewasa ini pemanfaatan teknologi sudah menjadi kebutuhan mutlak bagi industri manufaktur dalam menghadapi tantangan kompleksitas produk yang semakin rumit.
STEP-NC Kontroller untuk CNC Dua Sumbu
STEP-NC Kontroller untuk CNC Dua Sumbu Firman Ridwan 1,*), Darwison 2) 1 Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Andalas, Padang 2 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Andalas,
Prinsip Kerja dan Pengoperasian
MATERI KULIAH CNC Prinsip Kerja dan Pengoperasian Dwi Rahdiyanta Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta A. Prinsip kerja dan tata nama sumbu koordinat Mesin perkakas CNC adalah mesin perkakas yang
Panduan Instalasi Program (Setup) Mesin CNC Virtual/Simulator
Materi Tambahan Panduan Instalasi Program (Setup) Mesin CNC Virtual/Simulator Tujuan : Setelah mempelajari materi tambahan ini mahasiswa memiliki kompetensi : Dapat melakukan instalasi progam mesin frais
PENGARUH KECEPATAN MAKAN PADA GERAKAN INTERPOLASI LINIER DALAM PROSES PEMESINAN MILLING CNC
PENGARUH KECEPATAN MAKAN PADA GERAKAN INTERPOLASI LINIER DALAM PROSES PEMESINAN MILLING CNC Rosehan 1 ), Triyono 2 ), Ruby Sumardi 3 ) Abstrak Teknologi CNC sudah banyak digunakan operasi manufaktur. CNC
1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin meningkatnya produktivitas dan kualitas dari produk yang dihasilkan merupakan tantangan bagi industri permesinan masa kini seiring dengan meningkatnya pengetahuan
DAFTAR ISI. LEMBAR JUDUL HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI.. iii
DAFTAR ISI LEMBAR JUDUL HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR. i DAFTAR ISI.. iii DAFTAR TABEL.. vi DAFTAR GAMBAR.. vii INTISARI x ABSTRACT... xi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1.2
Proses Frais. Metal Cutting Process. Sutopo Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta
Proses Frais Metal Cutting Process Sutopo Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Cutting tools review questions: Penentuan parameter pemotongan manakah yang paling mempengaruhi keausan alat potong?
BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN
1 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 1.1 Proses Machining Dengan Software MasterCAM Kemajuan proses produksi dengan menggunakan mesin CNC sudah sangat pesat. Mesin CNC yang sekarang ada di dunia industri
Oleh: Fikri Yoga Pemana Dosen Pembimbing: Dr. Ir. Moch. Rameli
Implementasi Generalized Predictive Control untuk Mengurangi Contour Error pada Mesin CNC Milling Oleh: Fikri Yoga Pemana Dosen Pembimbing: Dr. Ir. Moch. Rameli Permasalahan Mesin milling menggunakan motor
DRIL I LIN I G N SEMESTER 2
Semester 2 DRILLING SEMESTER 2 PRINSIP DASAR PDefinisi Pengeboran adalah suatu proses pengerjaan pemotongan menggunakan mata bor (twist drill) untuk menghasilkan lubang yang bulat pada material logam maupun
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian di PT. Kreasindo Jayatama Sukses Bekasi maka dapat ditarik beberapa kesimpulan: a. Tabel 6.1 di bawah ini menunjukkan strategi toolpath
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN NASKAH SOAL TUGAS AKHIR HALAMAN PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN NASKAH SOAL TUGAS AKHIR HALAMAN PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR NOTASI DAN SINGKATAN
TORSI ISSN : Jurnal Teknik Mesin Universitas Pendidikan Indonesia Vol. IV No. 1 Januari 2006 Hal
PENGARUH PROSES PEMOTONGAN END MILL TERHADAP HASIL POTONG Dalmasius Ganjar Subagio*) INTISARI PENGARUH PROSES PEMOTONGAN END MILL TERHADAP HASIL POTONG. Telah dilaksanakan penelitian terhadap perbedaan
PROSES PEMBUBUTAN LOGAM. PARYANTO, M.Pd.
PROSES PEMBUBUTAN LOGAM PARYANTO, M.Pd. Jur.. PT. Mesin FT UNY Proses bubut adalah proses pemesinan untuk menghasilkan bagian-bagian mesin (komponen) berbentuk silindris yang dikerjakan dengan menggunakan
TEORI MEMESIN LOGAM (METAL MACHINING)
TEORI MEMESIN LOGAM (METAL MACHINING) Proses permesinan (machining) : Proses pembuatan ( manufacture) dimana perkakas potong ( cutting tool) digunakan untuk membentuk material dari bentuk dasar menjadi
Materi 4. Menulis Program di Mesin Bubut CNC (membuka, menulis, dan mengedit program CNC)
Materi 4 Menulis Program di Mesin Bubut CNC (membuka, menulis, dan mengedit program CNC) Tujuan Setelah mempelajari materi 4 ini mahasiswa memiliki kompetensi : Memahami dasar-dasar program CNC untuk mesin
PENGARUH TEKNIK PENYAYATAN PAHAT MILLING PADA CNC MILLING 3 AXIS TERHADAP TINGKAT KEKASARAN PERMUKAAN BENDA BERKONTUR
81 JTM Vol. 05, No. 2, Juni 2016 PENGARUH TEKNIK PENYAYATAN PAHAT MILLING PADA CNC MILLING 3 AXIS TERHADAP TINGKAT KEKASARAN PERMUKAAN BENDA BERKONTUR Irawan Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian pemesinan dilaksanakan di PT.T2C Asia. Adapun waktu penelitiannya mulai dari Mei 2015. 3.2 Metode Penelitian Metode awal yang digunakan
KONTROL NUMERIK. TIN310 - Otomasi Sistem Produksi. h t t p : / / t a u f i q u r r a c h m a n. w e b l o g. e s a u n g g u l. a c.
KONTROL NUMERIK Sumber: Mikell P Groover, Automation, Production Systems, and Computer-Integrated Manufacturing, Second Edition, New Jersey, Prentice Hall Inc., 2001, Chapter 6 Materi #8 Dasar Teknologi
PERTEMUAN #10 KONTROL NUMERIK 6623 TAUFIQUR RACHMAN TKT312 OTOMASI SISTEM PRODUKSI
KONTROL NUMERIK Sumber: Mikell P Groover, Automation, Production Systems, and Computer- Integrated Manufacturing, Second Edition, New Jersey, Prentice Hall Inc., 2001, Chapter 6 PERTEMUAN #10 TKT312 OTOMASI
Materi 4. Menulis Program CNC di Mesin Frais CNC (membuka, menulis, dan mengedit program CNC)
Materi 4 Menulis Program CNC di Mesin Frais CNC (membuka, menulis, dan mengedit program CNC) Tujuan Setelah mempelajari materi 4 ini mahasiswa memiliki kompetensi : Menjelaskan dasar-dasar program CNC
BAB III. G a m b a r p Gambar.3.1. process sheet dan ncod.
BAB III PEMBAHASAN DAN ANALISA 3.1. Tahap Persiapan Pada tahap persiapan ini ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk memulai proses pembuatan part pesawat Backet dengan part number D57450081200
SISTEM OPERASI DAN PEMROGRAMAN SINUMERIK 802 C BASE LINE CNC MILLING
SISTEM OPERASI DAN PEMROGRAMAN SINUMERIK 802 C BASE LINE CNC MILLING Daftar isi 1. PENGENALAN MESIN 2. MENGHIDUPKAN DAN REFERENSI MESIN 3. SETUP DATA 4. MODE OPERASI MANUAL 5. MODE OTOMATIS 1. PENGENALAN
Perancanaan Proses. Disampaikan oleh: M. Imron Mustajib, S.T., M.T. Teknik Industri UNIJOYO
Perancanaan Proses Disampaikan oleh: M. Imron Mustajib, S.T., M.T. Penelitian Operasional II (TKI 226) 152) 1 1 Referensi 1. Groover, M.P.,(2001), Automation, Production System and Computer Integrated
1. Langkah-langkah untuk menghidupkan mesin CNC, adalah? a. Tekan tombol R b. Tekan tombol U c. Tekan tombol I d. Tekan tombol JOG e.
SOAL PILIHAN GANDA 1. Langkah-langkah untuk menghidupkan mesin CNC, adalah? a. Tekan tombol R b. Tekan tombol U c. Tekan tombol I d. Tekan tombol JOG e. Tekan tombol S 2. Berapakah harga mode parameter
Secara garis besar mesin Milling CNC dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu :
MESIN CNC TU-3A 1. Pengertian Mesin CNC TU 3A Mesin CNC ( Computer Numerically Controlled ) adalah suatu mesin yang merupakan perpaduan dari teknologi komputer dan teknologi mekanik, dimana system pengoperasiannya
Pengembangan Perangkat Lunak Pembangun G-Code dengan Masukan Data 3 Dimensi Benda
Jurnal Teknik Elektro dan Komputer, Vol.2, No.1, April 2014, 75-84 75 Pengembangan Perangkat Lunak Pembangun G-Code dengan Masukan Data 3 Dimensi Benda Retno Tri Wahyuni 1, Yulian Zetta Maulana 2 1 Teknik
BEKERJA DENGAN MESIN BUBUT
BEKERJA DENGAN MESIN BUBUT STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (SKKNI) BIDANG KOMPETENSI 1. KELOMPOK DASAR / FOUNDATION 2. KELOMPOK INTI 3. PERAKITAN (ASSEMBLY) 4. PENGECORAN DAN PEMBUATAN CETAKAN
Mesin Perkakas Konvensional
Proses manufaktur khusus digunakan untuk memotong benda kerja yang keras yang tidak mudah dipotong dengan metode tradisional atau konvensional. Dengan demikian, bahwa dalam melakukan memotong bahan ada
PEMBUATAN MODEL POROS RODA DEPAN VESPA PADA MESIN BUBUT CNC EMCOTURN 242 MENGGUNAKAN SOFTWARE AUTOCAD 2004 DAN PROGRAM SIMULASI MASTERCAM X
PEMBUATAN MODEL POROS RODA DEPAN VESPA PADA MESIN BUBUT CNC EMCOTURN 242 MENGGUNAKAN SOFTWARE AUTOCAD 2004 DAN PROGRAM SIMULASI MASTERCAM X SKRIPSI Skripsi Yang Diajukan Untuk Melengkapi Syarat Memperoleh
OPTIMASI PROSES PEMBUATAN MOBIL KAYU DENGAN MESIN CNC ROUTER PADA INDUSTRI BATIK KAYU
OPTIMASI PROSES PEMBUATAN MOBIL KAYU DENGAN MESIN CNC ROUTER PADA INDUSTRI BATIK KAYU Disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan Program Studi Strata I pada Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Oleh
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Umum Mesin CNC Sejak dibuatnya dari mesin NC (Numerical Control) di laboratorium mekanisme servo MIT (Massachusetts Institute of Technology) pada tahun 1952, perkembangan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan dunia robotika yang semakin meningkat, bentuk desain dan fungsi robot pun semakin bervariasi. Pada umumnya komponen rangka dan
Integrasi Elektronika, Mekanika dan Perangkat Lunak pada CNC Rakitan
Integrasi Elektronika, Mekanika dan Perangkat Lunak pada CNC Rakitan Djoko Untoro Suwarno Program Studi Teknik Elektro Universitas Sanata Dharma Kampus III, Jl. Paingan, Maguwoharjo, Sleman 55002, Indonesia
KATA PENGANTAR. Jakarta, Februari Penanggung Jawab Pratikum
KATA PENGANTAR Buku intruksi praktikum ini disusun untuk menunjang mahasiswa dalam kegiatan praktikum mata kuliah CNC. untuk keselamatan kerja, dan proses yang benar. Mahasiswa harus mengerti tentang cara
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN. Data yang diperlukan dalam penelitian dapat membantu proses
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian adalah suatu tahapan yang dicapai dalam menulis sebuah karya ilimiah. Metodologi penelitian diperlukan agar penelitian yang dilakukakan dapat ditulis secara
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1. Pengumpulan Data 4.1.1. Bahan Uji Bahan uji yang digunakan sebagai objek penelitian adalah weight balancer stang. Weight balancer stang yang digunakan sebagai
Simulasi Komputer untuk Memprediksi Besarnya Daya Pemotongan pada Proses Pembubutan Silindris
Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin, SNTTM-VI, 2007 Jurusan Teknik Mesin, Universitas Syiah Kuala Simulasi Komputer untuk Memprediksi Besarnya Daya Pemotongan pada Proses Pembubutan Silindris Muhammad
PENERAPAN PENILAIAN KEKASARAN PERMUKAAN (SURFACE ROUGHNESS ASSESSMENT) BERBASIS VISI PADA PROSES PEMBUBUTAN BAJA S45C
PENERAPAN PENILAIAN KEKASARAN PERMUKAAN (SURFACE ROUGHNESS ASSESSMENT) BERBASIS VISI PADA PROSES PEMBUBUTAN BAJA S45C Yanuar Burhanuddin, Suryadiwansa Harun, Evans Afriant N., Tomy D.A. Jurusan Teknik
NASKAH PUBLIKASI ANALISA SUMBU Z PADA PROSES KALIBRASI DAN PERGERAKAN MESIN CNC ROUTER
NASKAH PUBLIKASI ANALISA SUMBU Z PADA PROSES KALIBRASI DAN PERGERAKAN MESIN CNC ROUTER Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Program Studi Strata I Pada Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Oleh
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Proses Produksi Proses produksi adalah tahap-tahap yang harus dilewati dalam memproduksi barang atau jasa. Ada proses produksi membutuhkan waktu yang lama, misalnya
Materi 5. Mengoperasikan mesin bubut CNC untuk membuat benda kerja
Materi 5 Mengoperasikan mesin bubut CNC untuk membuat benda kerja Tujuan : Setelah mempelajari materi 5 ini mahasiswa memiliki kompetensi membuat benda kerja (produk) sesuai dengan gambar kerja dengan
Analisa Pengaruh Gerak Makan Dan Putaran Spindel Terhadap Keausan Pahat Pada Proses Bubut Konvensional
R E.M. (Rekayasa Energi Manufaktur) Jurnal "" # $ $ % & %" % ' " () http://dx.doi.org/0.2070/r.e.m.v2i.842 Analisa Pengaruh Gerak Makan Dan Putaran Spindel Terhadap Keausan Pahat Pada Proses Bubut Konvensional
Materi 3 Seting Benda Kerja, Pahat, dan Zero Offset Mesin Bubut CNC Tujuan :
Materi 3 Seting Benda Kerja, Pahat, dan Zero Offset Mesin Bubut CNC Tujuan : Setelah mempelajari materi 3 ini mahasiswa memilki kompetensi melakukan seting benda kerja, pahat dan zerro offset mesin bubut
Pemrograman CNC 5-Axis untuk Pembuatan Runner Turbin Propeler berbasis Feature
Proceeding Seminar Nasional Tahunan Teknik Mesin XIV (SNTTM XIV) Banjarmasin, 7-8 Oktober 2015 Pemrograman CNC 5-Axis untuk Pembuatan Runner Turbin Propeler berbasis Feature Indra Djodikusumo 1,a, Ruswandi
BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN
26 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 4.1. ALUR PROSES PENGERJAAN Pada waktu pelaksanaan Kerja Praktik, penulis ditugaskan untuk membantu proses Membuat komponen Dies Guard RL Hanger K25A, Adapun diagram
BAB 3 STUDI KASUS. Gambar 3.1 Diagram Alir Pembuatan Cetakan untuk wax pattern START. Pemodelan runner turbin Francis dengan Pro/Engineer Wildfire 3.
BAB 3 STUDI KASUS Seperti telah dijelaskan pada tinjauan pustaka, salah satu tahap dalam investment casting adalah pembuatan wax pattern. Wax ini akan diijeksikan ke sebuah cetakan, dimana pembuatan cetakan
Pengaruh Waktu Proses Permesinan dari Penetapan Urutan Pahat Proses terhadap Sumbu z
Performa (2003) Vol. 2, No. 1 15-23 Pengaruh Waktu Proses Permesinan dari Penetapan Urutan Pahat Proses terhadap Sumbu z Lobes Herdiman Jurusan Teknik Industri UNS Laboratorium Perancangan dan Perencanaan
ANALISIS PENGARUH TOOLPATH PADA PEMBUATAN KACAMATA KAYU DENGAN MESIN CNC MILLING ROUTER 3 AXIS
ANALISIS PENGARUH TOOLPATH PADA PEMBUATAN KACAMATA KAYU DENGAN MESIN CNC MILLING ROUTER 3 AXIS Sebagai Salah Satu Syarat Menyelesaikan Program Studi Strata I Pada Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik oleh:
SAT. Pengaruh Kemiringan Spindel Dan Kecepatan Pemakanan Terhadap Getaran Mesin Frais Universal Knuth UFM 2. Romiyadi, Emon Azriadi. 1.
Teknobiologi JI SAT Jurnal Ilmiah Sains Terapan Lembaga Penelitian Universitas Riau Jurnal Teknobiologi, V(1) 2014: 31 36 ISSN : 2087 5428 Pengaruh Kemiringan Spindel Dan Kecepatan Pemakanan Terhadap Getaran
BAHASA, METODE DAN STRUKTUR PROGRAM CNC (Aplikasi untuk Mesin Bubut CNC)
BAHASA, METODE DAN STRUKTUR PROGRAM CNC (Aplikasi untuk Mesin Bubut CNC) Memrogram mesin NC/CNC adalah memasukan data ke komputer mesin NC/CNC dengan bahasa yang dapat dipahami dan dimengerti oleh mesin.
BAB 4 PEMBAHASAN DAN ANALISA DATA HASIL PERCOBAAN
BAB 4 PEMBAHASAN DAN ANALISA DATA HASIL PERCOBAAN 4.1 Data Hasil Percobaan Pada bab ini akan dibahas secara sistematis parameter-parameter yang ditentukan sehingga menghasilkan data dari proses percobaan
Memprogram Mesin CNC (Dasar)
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK MESIN PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK PEMESINAN Memprogram Mesin CNC (Dasar) BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT
Disusun Oleh : BAIYIN SHOLIKHI DIPLOMA III TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA JUNI 2012
Disusun Oleh : BAIYIN SHOLIKHI 2108 030 044 DIPLOMA III TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA JUNI 2012 Latar Belakang Kebutuhan penggunaan suatu mesin perkakas
