BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu tujuan pembangunan pada era millenium Millenium Development Goals (MDG s) adalah menuju kemitrasejajaran laki-laki dan perempuan dengan meningkatkan keadilan dan kesetaraan gender pada setiap sektor pembangunan. Akan tetapi masalah ketidakadilan gender ditunjukkan oleh rendahnya kualitas hidup dan peran perempuan, tingginya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak yang diukur dengan angka Indeks Pembangunan Gender (Gender-related Development Index atau GDI) dan angka Indeks Pemberdayaan Gender (Gender Empowerment Index atau GEM). Selain itu masih banyaknya peraturan perundang-undangan, kebijakan, program dan kegiatan pembangunan yang bias gender, diskriminatif terhadap perempuan dan anak, serta lemahnya kelembagaan dan jaringan pengarusutamaan gender serta kelembagaan yang peduli anak termasuk keterbatasan data terpilah menurut jenis kelamin. Angka GEM dan GDI Indonesia termasuk terendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Hal ini berarti ketidakadilan gender di berbagai bidang pembangunan masih merupakan masalah yang akan dihadapi di masa mendatang. Sementara itu, tantangan yang dihadapi sejalan dengan era desentralisasi, yaitu timbulnya masalah kelembagaan dan jaringan di daerah (provinsi dan kabupaten/kota), terutama yang menangani masalah-masalah pemberdayaan perempuan dan anak. Program-program pembangunan pemberdayaan perempuan dan anak merupakan program lintas bidang dan lintas program, sehingga diperlukan koordinasi mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan dan evaluasi. Sistem pemerintahan serta lembaga-lembaga dari tingkat pusat hingga daerah yang belum sepenuhnya responsif gender dapat meminggirkan perempuan secara sistematis melalui kebijakan dan program. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

2 Data statistik yang menjadi basis pengambilan keputusan dalam penyusunan kebijakan dan program tidak mampu mengungkap dinamika kehidupan perempuan dan laki-laki. Data tersebut dikumpulkan secara terpusat tanpa memperhatikan kontekstualitas dan tidak mampu mengungkap perbedaan kondisi perempuan-laki-laki sehingga kebijakan, program, dan lembaga yang dirancang menjadi netral gender dan menimbulkan kesenjangan dan ketidakadilan gender dalam berbagai bidang kehidupan. Di samping itu, terbatasnya data pembangunan yang terpilah menurut jenis kelamin, mengakibatkan kesulitan dalam menemukenali masalah-masalah gender yang ada. Karena kesetaraan dan keadilan gender belum mencapai tahapan yang diharapkan semua pihak, oleh karena itu Pemerintah melalui berbagai kebijakan peraturan perundang - undangan yang secara garis besar terkait dengan urusan wajib Pemerintahan dalam bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Dengan mengacu pada pedoman umum ini maka Pemerintah Daerah berkewajiban melaksanakan kebijakan yang dimaksud dengan menyediakan pembiayaan kegiatan melalui APBD, guna terwujudnya bahan - bahan perumusan kebijakan yang berupa penyelenggaraan data gender dan anak yang bersifat local sehingga kesetaraan dan keadilan gender di berbagai bidang pembangunan bisa terwujud Tujuan a. Meningkatkan komitmen Pemerintah Daerah dalam penggunaan data gender dan anak dalam perencanaan, pelaksanaan pemantauan dan evaluasi atas kebijakan program dan kegiatan Pemerintah Daerah b. Meningkatkan efektivitas penyelenggaraan PUG dan PUHA di daerah secara sistimatis, komprehensif dan berkesinambungan c. Meningkatkan ketersediaan data gender dan anak BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

3 1.3. Sasaran Penggalian data gender yang menyangkut semua issue dibidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan ketenagakerjaan, pertanian, politik, sosial budaya, hukum dan data anak meliputi tumbuh kembang, kelangsungan hidup, perlindungan data kelembagaan yang meliputi kelembagaan PUG, kelembagaan PUHA di wilayah Kabupaten Malang 1.4. Input a. Belum tersajinya data terpilah gender dan anak secara lengkap kalaupun ada masih bersifat parsial b. Ketersediaan data terpilah gender menjadi suatu kebutuhan semua pihak pemangku kepentingan 1.5. Output a. Mengidentifikasi perbedaan kondisi perempuan dan laki - laki termasuk anak dalam dimensi tempat dan waktu b. Mengidentifikasikan masalah, membangun opsi dan memilih opsi yang paling efektif untuk kemaslahatan perempuan dan laki -laki yang responsive terhadap masalah kebutuhan pengalaman perempuan dan laki - laki c. Buku profil gender dan anak tahun Hasil Yang Diinginkan a. Buku profil gender dan anak tahun 2011 b. Data gender dan anak untuk memberikan acuhan bagi pemerintah dalam upaya pelaksanaan pengarusutamaan gender dan pengarusutamaan hak anak c. Adanya kerjasama dengan perguruan tinggi, lembaga sektoral dan berkoordinasi dengan LPS dalam penyelenggaraan data gender dan anak d. Base data gender dan anak, dapat digunakan sebagai dasar untuk menyusun perencanaan, pelaksanaan program dan kegiatan BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

4 BAB II METODE 2.1. Ruang Lingkup dan Pelaksanaan Penyusunan profil dan data terpilah gender Kabupaten Malang jangkauan wilayahnya adalah 33 kecamatan di Kabupaten Malang Dilaksanakan pada bulan September - Nopember Sumber Data Data terpilah yang disusun dari Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kaupaten Malang yang dikumpulkan dari masing-masing kecamatan berupa isian tabel. Untuk mendukung kelengkapan data dipergunakan data sekunder yang diambil dari buku Kabupaten Malang Dalam Angka Analisa Data Data yang terkumpul kemudian ditabulasi dan diinterpretasikan. Data dikelompokkan menjadi beberapa bidang yaitu : 1. Demografi 2. Pendidikan 3. Kesehatan 4. Ekonomi dan Ketenagakerjaan 5. Hukum dan HAM 6. Sosial Data-data tersebut dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel dan grafik, sehingga dapat diidentifikasi kesenjangan gender yang ada. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

5 2.4. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Profil Data Gender dan Anak Kabupaten Malang dilaksanakan selama 3 bulan yaitu pada bulan September sampai November 2011 dengan rincian kegiatan sebagai berikut : Tabel.2.1. Jadwal Kegiatan Penyusunan Profil Kabupaten Malang 2011 No Kegiatan Persiapan : a. Surat Ijin b. Instrumen lapang c. Training Enumerator Pengumpulan Data : a. Sekunder b. Primer 3. Pengolahan dan Analisis Data Data Gender dan Anak Bulan Ke - I II III 4. Pembuatan Draft Laporan 5. Pertemuan Dan Konsultasi 6. Pembuatan Laporan Akhir Dan Penggandaan BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

6 BAB III GAMBARAN UMUM KONDISI WILAYAH KABUPATEN MALANG 3.1. Geografis Secara geografis Kabupaten Malang terletak diantara 112'17'10,90" sampai dengan 122'57'00,00" Bujur Timur dan 7'44 55,11" sampai dengan 8'26 '35,45" Lintang Selatan. Sedangkan batas-batas Kabupaten Malang adalah : Sebelah Barat : Kab. Blitar dan Kab. Kediri Sebelah Utara : Kab. Jombang, Kab. Mojokerto dan Kab. Pasuruan Sebelah Timur : Kab. Probolinggo dan Kab. Lumajang Sebelah Selatan : Kab. Samudera Indonesia Sedangkan di bagian tengah wilayah Kabupaten Malang dibatasi oleh Kota Malang dan Kota Batu Luas wilayah Kabupaten Malang adalah ,32 Ha, dimana kabupaten Malang merupakan kabupaten dengan wilayah terluas di Propinsi Jawa Timur. Sedangkan ketinggian rata-rata Kabupaten Malang adalah 524 m di atas permukaan laut karena sebagian besar wilayahnya berada di dataran tinggi dan dikeliilingi oleh pegunungan maka berhawa sejuk, dengan suhu udara rata-rata 25,4 Celcius, curah hujan antara 30,0 mm 526,0 mm. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan April dan curah hujan terendah terjadi pada bulan Juni. Sedangkan kelembaban udara rata-rata berkisar 85% menurut hasil pantauan Stasiun Klimatologi Karangploso. Topografi Kabupaten Malang meliputi: dataran rendah, dataran tinggi, gunung-gunung baik yang masih aktif maupun tidak aktif serta sungai-sungai yang melintasi Kabupaten Malang. Faktor sumberdaya alam tersebut mencakup aspek kondisi topografi yang besar pengaruhnya terhadap proses pembangunan. Terdapat sembilan gunung dan satu pegunungan yang menyebar merata di BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

7 sebelah utara, timur, selatan dan barat wilayah Kabupaten Malang. Beberapa gunung telah dikenal secara nasional diantaranya adalah Gunung Semeru sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian meter. Selain itu ada Gunung Kawi (2.651 meter), Gunung Arjuno (3.339 meter) dan Gunung Welirang (2.156 meter). Sedangkan sungai-sungai yang melintasi wilayah Kabupaten Malang diantaranya : Sungai Brantas, Sungai Metro, Sungai Lekso dan Sungai Konto. Di samping topografi yang bergunung-gunung, wilayah Kabupaten Malang juga dekat dengan laut dan pantai terutama di wilayah Malang Selatan. Pantai-pantai yang terkenal di Kabupaten Malang dan menjadi obyek wisata antara lain adalah : Pantai Sendangbiru, Balaikambang, Ngliyep dan Kondang Merak Administrasi Pemerintahan Secara administratif, wilayah Kabupaten Malang terbagi menjadi 33 kecamatan, 12 kelurahan, 378 desa, RW dan RT. Dengan ibukota kabupaten terletak di kota Kepanjen. Adapun nama-nama kecamatan di Kabupaten Malang adalah : No Kecamatan No Kecamatan 1 Kecamatan Kasembon 18 Kecamatan Turen 2 Kecamatan Ngantang 19 Kecamatan Ampelgading 3 Kecamatan Pujon 20 Kecamatan Tirtomulyo 4 Kecamatan Dau 21 Kecamatan Sumbermanjing Wetan 5 Kecamatan Karangploso 22 Kecamatan Kepanjen 6 Kecamatan Singosari 23 Kecamatan Sumber Pucung 7 Kecamatan Lawang 24 Kecamatan Pakisaji 8 Kecamatan Pakis 25 Kecamatan Wagir 9 Kecamatan Tumpang 26 Kecamatan Ngajum 10 Kecamatan Jabung 27 Kecamatan Kromengan 11 Kecamatan Poncokusumo 28 Kecamatan wonosari 12 Kecamatan Tajinan 29 Kecamatan Pagak 13 Kecamatan Bululawang 30 Kecamatan Kalipare 14 Kecamatan Wajak 31 Kecamatan Bantur 15 Kecamatan Gondanglegi 32 Kecamatan gedangan 16 Kecamatan Pagelaran 33 Kecamatan Donomulyo 17 Kecamatan Dampit BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

8 3.3. Ekonomi Kabupaten Malang termasuk daerah di Propinsi Jawa Timur dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Pada tahun 2010 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Malang mencapai 6,27%. Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp juta dan pendapatan perkapita mencapai Rp ,-. Untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai Rp ,18. Sedangkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) pada tahun 2011 mencapai Rp , Sejarah Singkat Kabupaten Malang Kabupaten Malang merupakan wilayah yang strategis pada masa pemerintahan kerajaan-kerajaan. Malang merupakan pusat kerajaan Singhasari, yang sebelumnya berpusat di Tumapel. Ketika kerajaan Singhasari di bawah kepemimpinan Akuwu Tunggul Ametung yang beristrikan Ken Dedes, kerajaan itu di bawah kekuasaan Kerajaan Kediri. Pusat pemerintahan Singhasari saat itu berada di Tumapel. Baru setelah muncul Ken Arok yang kemudian membunuh Akuwu Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes, pusat kerajaan berpindah ke Malang, setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Kediri. Kerajaan Kediri setelah jatuh ke tangan Singhasari statusnya turun menjadi kadipaten. Sementara Ken Arok mengangkat dirinya sebagai raja yang bergelar Prabu Kertarajasa Jayawardhana atau Dhandang Gendhis ( ). Kerajaan ini mengalami jatuh bangun. Semasa kejayaan Mataram, kerajaan-kerajaan di Malang jatuh ke tangan Mataram, seperti halnya Kerajaan Majapahit, sementara pemerintahanpun berpindah ke Demak yang pada saat itu bersamaan dengan masuknya agama Islam ke Tanah Jawa yang dibawa oleh Wali Songo. Malang pada saat itu berada di bawah pemerintahan Adipati Ronggo Tohjiwo dan statusnya berubah menjadi kadipaten. Pada masa-masa keruntuhan itu, menurut Folklore, muncul pahlawan legendaris yang bernama Raden Panji Pulungjiwo. Ia ditangkap oleh prajurit Mataram di Desa Panggungrejo yang kini disebut Kepanjen (berasal dari kata Kepanji-an). BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

9 Hancurnya kota Malang saat itu dikenal sebagai Malang Kutho Bedhah. Buktibukti yang hingga sekarang merupakan saksi bisu adalah nama-nama desa seperti Kanjeron, Balandit, Turen, Polowijen, Ketindan, Ngantang dan Mandaraka. Peninggalan sejarah berupa candi-candi merupakan bukti konkrit bahwa di Malang dahulu merupakan pusat kerajaan yang diperhitungkan di Tanah Jawa. Candi-candi tersebut antara lain : Candi Kidal di Desa Kidal Kecamatan Tumpang yang dikenal sebagai tempat penyimpanan abu jenazah Anusapati. Candi Singhasari di Kecamatan Singosari sebagai tempat penyimpanan abu jenazah Kertanegara. Candi Jago / Jajaghu di Kecamatan Tumpang merupakan tempat penyimpanan abu jenazah Wisnuwardhana. Bukti-bukti yang lain, seperti beberapa prasasti yang ditemukan menunjukkan daerah ini telah ada sejak abad VIII dalam bentuk Kerajaan Singhasari dan beberapa kerajaan kecil lainnya seperti Kerajaan Kanjuruhan seperti yang tertulis dalam Prasasti Dinoyo. Prasasti itu menyebutkan peresmian tempat suci pada hari Jum`at Legi tanggal 1 Margasirsa 682 Saka, yang bila diperhitungkan berdasarkan kalender kabisat jatuh pada tanggal 28 Nopember 760. Tanggal inilah yang dijadikan patokan hari jadi Kabupaten Malang. Sejak tahun 1984 di Pendopo Kabupaten Malang ditampilkan upacara Kerajaan Kanjuruhan, lengkap berpakaian adat zaman itu, sedangkan para hadirin dianjurkan berpakaian khas daerah Malang sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Malang. Pada zaman VOC, Malang merupakan tempat strategis atau sebagai basis perlawanan terhadap VOC, seperti halnya perlawanan Trunojoyo ( ) terhadap Mataram yang dibantu VOC. Menurut kisah, Trunojoyo tertangkap di Ngantang. Pada awal abad XIX pemerintahan Hindia Belanda dipimpin oleh Gubernur Jenderal, sementara itu Malang seperti daerah-daerah Nusantara lainnya, dipimpin oleh seorang bupati. Bupati Malang Pertama adalah Raden Tumenggung Notodiningrat I yang diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda berdasarkan Resolusi Gubernur Jenderal 9 Mei 1820 Nomor 8 Staatblad 1819 Nomor 16. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

10 3. 5. Misi Kabupaten Malang Misi yang dilakukan untuk mendukung visi kabupaten malang tahun adalah 1. Mewujudkan pemahaman dan pengalaman nilai-nilai agama,adat istiadat dan budaya 2. Mewujudkan pemerintahan good governance (tata kelola pememrintahan yang baik), clean government (pemerintah yang bersih), berkeadilan dan demokratis 3. Menegakkan supremasi hukum dan Hak Azasi Manusia (HAM) 4. Mewujudkan lingkungan yang aman, tertib dan damai 5. Meningkatkan ketersediaan dan kualitas infrastrutur daerah 6. Mewujudkan sumber daya manusia yang produktif dan berdaya saing 7. Meningkatkan peertumbuhan ekonomi daerah dengan berbasis sektor pertanian dan Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan 8. Meningkatkan kualitas dan fungsi lingkungan hidup serta pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

11 BAB IV DEMOGRAFI Menurut data statistik Kabupaten Malang dalam Angka tahun 2010, penduduk Kabupaten Malang berjumlah jiwa, terdiri dari (50 %) jiwa laki-laki dan perempuan (50%) jiwa. Bila dibandingkan dengan tahun 2008 terdapat kenaikan jumlah penduduk untuk penduduk perempuan sebesar 0,36% dari data sebelumnya dimana penduduk perempuan sebelumnya sebesar 49,64% yang berarti untuk tahun 2010 jumlah penduduk laki-laki dan perempuan seimbang atau sama. Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Malang 0.86 pertahun dengan kepadatan penduduk 822/km 2 Tabel 4.1. Komposisi Penduduk Kabupaten Malang No. Kelp. Umur (Tahun) Laki-Laki (jiwa) % Jenis Kelamin Perempuan (jiwa) % Jumlah (jiwa) % , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,4 Total ,0 Sumber: MDA, 2010 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

12 Gambar 4.1. Komposisi Penduduk laki-laki berdasarkan umur di Kabupaten Malang Gambar 4.2. Komposisi Penduduk Perempuan berdasarkan umur di Kabupaten Malang Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk di Kabupaten Malang merupakan penduduk yang berusia produktif. Adapun komposisi umur penduduk Kabupaten Malang yang paling banyak berada pada kelompok umur tahun baik untuk penduduk laki-laki maupun perempuan yang merupakan kelompok usia produktif, dimana pada kelompok usia tersebut umumnya merupakan usia sekolah. Sedangkan BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

13 komposisi umur penduduk Kabupaten Malang yang paling sedikit berada pada kelompok umur tahun baik untuk penduduk laki-laki maupun perempuan yang merupakan kelompok usia non produktif karena termasuk golongan manula. Dari komposisi umur penduduk kabupaten Malang yang umumnya merupakan usia produktif merupakan potensi sumberdaya manusia yang bisa dikembangkan dalam pelaksanaan pembangunan daerah. Tabel 4.2. Penduduk per Kecamatan menurut Jenis Kelamin dan Sex Ratio, 2010 No Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah Rasio jenis kelamin 1 Donomulyo 36,304 36,404 72, Kalipare 32,975 33,963 66, Pagak 25,229 25,631 50, Bantur 35,456 36,235 71, Gedangan 28,684 27,488 6, Sumbermanjing 48,005 49,211 97, Dampit 57,766 59, , Tirtoyudo 31,510 31,577 63, Ampelgading 28,425 29,071 57, Poncokusumo 46,916 46,459 93, Wajak 41,373 42,643 84, Turen 55,416 57, , Bululawang 30,870 31,361 62, Gondanglegi 38,174 40,875 9, Pagelaran 32,841 33,657 66, Kepanjen 49,784 50, , Sumberpucung 26,731 27,839 54, Kromengan 19,292 19,759 9, Ngajum 25,141 25,335 50, Wonosari 21,722 22,007 43, Wagir 39,200 38,436 77, Pakisaji 37,814 37,607 75, Tajinan 24,929 25,863 50, Tumpang 36,543 38,376 74, Pakis 62,038 62, , Jabung 36,267 35,882 72, Lawang 45,330 45,995 91, Singosari 77,030 77, , Karangploso 27,069 27,949 55, Dau 29,406 28,795 58, Pujon 31,432 30,582 62, Ngantang 29,794 28,985 58, Kasembon 15,819 15,679 31, Jumlah 1,205,285 1,220,171 2,425, Sumber: BPS Kabupaten Malang (dari hasil registrasi penduduk ) BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

14 Berdasarakan data statistik, jumlah penduduk terbanyak ada di Kecamatan Singosari yang mencapai jiwa yang terdiri dari jiwa penduduk laki-laki dan jiwa penduduk perempuan. Hal ini disebabkan karena Kecamatan Singosari merupakan daerah kawasan industri yang berkembang dan relatif dekat dengan wilayah kota Malang. Sedangkan jumlah penduduk paling sedikit ada di Kecamatan Kasembon yaitu : jiwa yang terdiri dari jiwa penduduk laki-laki dan jiwa penduduk perempuan. Hal ini disebabkan karena wilayah Kecamatan Kasembon merupakan salah satu daerah pinggiran yang langsung berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kediri dan topografinya merupakan daerah pegunungan. Tabel 4.3. Penduduk Awal, Lahir, Mati, Datang, Pergi dan Penduduk Akhir per Kecamatan Tahun 2010 No Kecamatan Awal Lahir Mati Datang Pergi Akhir 1 Donomulyo 73, ,773 2 Kalipare 67, ,431 3 Pagak 50, ,149 4 Bantur 71, ,148 5 Gedangan 55, ,351 6 Sumbermanjing 97, ,668 7 Dampit 117, ,531 8 Tirtoyudo 62, ,905 9 Ampelgading 57, , Poncokusumo 93, , Wajak 81, , , Turen 112,210 1,334 1,033 1,289 1, , Bululawang 61, , Gondanglegi 78, , Pagelaran 66, , Kepanjen 93, ,317 1,346 97, Sumberpucung 54, , Kromengan 39, , Ngajum 50, , Wonosari 43, , Wagir 76, , Pakisaji 74, , Tajinan 49, , Tumpang 74, , Pakis 123, , , Jabung 70,522 2,214 1,324 1,013 1,789 76, Lawang 91, ,077 94, Singosari 152, ,460 1, , Karangploso 54, , Dau 56,112 1, , , Pujon 61, , Ngantang 58,015 1, , Kasembon 31, ,330 Total 2,401,572 22,766 15,747 21,078 17,807 2,478,970 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

15 Dari data di atas pertambahan penduduk terbesar dilihat dari angka kelahiran yang tinggi terdapat pada kecamatan Jabung dengan angka kelahiran mencapai 2,214 jiwa, selain kelahiran yang tinggi, kecamatan Jabung juga mengalami tingkat kematian terbesar yaitu 1,324 jiwa Sedangkan kelahiran terendah pada kecamatan Wonosari dengan angka kelahiran 281 jiwa. Hal ini menunjukkan bahwa program keluarga berencana sudah diterapkan oleh masyarakat, adanya peningkatan faktor ekonomi dan sosial dan di ikuti tingkat pendidikan Karen pendiidkan akan mempengaruhi umur kawin pertama penggunaan kontrasepsi sehingga kelahiran dapat ditekan. Angka kematian terendah pada kecamatan Pujon sebesar 187 hal ini menunjukkan bahwa besar kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan, pelayanan kesehatan yang lebih baik, peningkatan gizi keluarga, peningkatan pendidikan (Kesehatan Masyarakat) yang semuanya dapat meminimalkan angka kematian. (Daldjoeni, 1986) Berdasarkan sebaran kecamatan Jabung mempunyai jumlah migrasi paling tinggi jika dibandingkan kecamatan-kecamatan lain sebesar 1,789 jiwa penduduk Jabung bermigrasi keluar daerah hal ini. Sebagian besar mereka menjadi TKI keluar negeri sebagai buruh migran dan sebagian bekerja diluar daerah Malang, tingginya penduduk yang migrasi ke luar daerah dipengaruhi tingkat kelahiran yang tinggi pula. Sedangkan untuk penduduk yang datang atau pulang ke daerah terbanyak pada kecamatan Wajak sebesar 2,794 jiwa, masyarakat pulang kembali ke desa dengan alasan karena semakin sulitnya pekerjaan di kota-kota besar dan pulang ingin membangun desanya. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

16 BAB V PENDIDIKAN Pendidikan adalah kegiatan belajar mengajar pada semua tingkatan dan satuan pendidikan baik formal, informal dan non formal. Terdapat tiga pilar untuk mengkaji pelaksanaan pengarusutamaan gender di bidang pendidikan yaitu akses dan pemerataan, mutu dan relevansi, tata kelola dan pencitraan pendidik. Tolok ukur yang digunakan antara lain angka partisipasi sekolah di berbagai jenjang, angka putus sekolah/ angka buta huruf, guru dan kepala sekolah. Pendidikan merupakan tolok ukur pembangunan sumberdaya manusia, disamping kesehatan dan pendapatan (faktor ekonomi). Terpenuhinya pendidikan yang layak bagi setiap penduduk erat kaitannya dengan kualitas sumberdaya manusia sebagai pelaku pembangunan. Kualitas penduduk harus ditingkatkan agar pembangunan dapat berjalan sesuai dengan harapan. Dalam dimensi Gender, perlu disajikan data terpilah berdasar jenis kelamin sehingga diketahui sejauh mana akses, peluang, kontrol, dampak dan manfaat pendidikan bagi perempuan dan laki-laki serta bias-bias Gender yang ditimbulkan. Dalam UU No. 2/1989 telah dicanangkan bahwa mulai tahun 1994 diberlakukan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. Selain itu, dianjurkan pula bahwa orangtua agar menyekolahkan anaknya baik perempuan maupun lakilaki sekurang-kurangnya sampai menyelesaikan sekolah lanjutan pertama. Program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun hingga saat ini berarti sudah berjalan 12 tahun. Bagaimana hasil dari program tersebut? Bab ini selanjutnya akan menyajikan gambaran tentang keadaan pendidikan di Kabupaten Malang yang dibedakan antara laki-laki dan perempuan (jika data terpilah tersedia), terutama (1) Jumlah penduduk Kabupaten Malang usia sekolah ( 19 tahun), (2) Jumlah Murid SD, SMP, SMA DAN SMK di Kabupaten Malang,(3) Rata-rata lama sekolah, (4) Pendidikan yang ditamatkan, (5) Kemampuan Membaca dan Menulis, (6) Angka partisipasi pendidikan, (7) Angka Putus Sekolah (APtS), (8) Penerima Beasiswa dan (9) Jumlah sumberdaya di bidang pendidikan (jumlah sekolahan, murid dan guru), (10) Pembelajaran berwawasan Gender Sejak Dini BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

17 5.1. Jumlah Penduduk Usia Sekolah ( 19 tahun) Untuk mendukung keberhasilan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun, semua pihak yang terkait di Kabupaten Malang harus mengetahui jumlah penduduk usia sekolah ( 19 tahun), disajikan pada Tabel 5.1 Tabel 5.1 Jumlah Anak Usia Sekolah ( 19 Tahun) Menurut Jenis Kelamin dan Kecamatan Laki-Laki Perempuan No Kecamatan Jumlah Jumlah % Jumlah % 1 Donomulyo , , Kalipare , , Pagak , , Bantur , , Gedangan , , Sumbermanjing , , Dampit , , Tirtoyudo , , Ampelgading , , Poncokusumo , , Wajak , , Turen , , Bululawang , , Gondanglegi , , Pagelaran , , Kepanjen , , Sumberpucung , , Kromengan , , Ngajum , , Wonosari , , Wagir , , Pakisaji , , Tajinan , , Tumpang , , Pakis , , Jabung , , Lawang , , Singosari , , Karangploso , , Dau , , Pujon , , Ngantang , , Kasembon , , Jumlah Sumber : Kabupaten Malang Dalam Angka (KMDA), 2010 (Diolah) BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

18 Data dalam Tabel 5.1, jika digambarkan tampak seperti grafik 5.1, jumlah usia sekolah anak laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Sumber : KMDA, 2010 Gambar 5.1. Jumlah Usia Sekolah Berdasarkan Jenis Kelamin Gambar 5.1, jumlah usia sekolah anak laki-laki dan Perempuan (MDA 2010) Usia sekolah adalah antara 6-19 tahun untuk pendidikan dasar dan menengah sedangkan untuk usia kurang dari 5 tahun adalah masa-masa prasekolah (PAUD dan TK). Usia antara tahun merupakan masa-masa pendidikan di Perguruan Tinggi. Berdasarkan Tabel 5.1 di atas, menunjukkan bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Malang jumlah penduduk perempuan usia kurang dari 19 tahun lebih sedikit daripada laki-laki. Berdasarkan data Malang Dalam Angka (2010), jumlah penduduk golongan usia sekolah, jenjang pendidikan PAUD dan TK sebanyak (24,5 %), Sisanya sebanyak 75,5 % dari total penduduk usia 19 tahun adalah usia SD/MI (69,51%), SMP/MTs (21,02%), SMA/MA (4,83%) dan SMK (4,64). Berikut data jumlah murid SD, SMP, SMA dan SMU di Kabupaten Malang 5.2. Jumlah Murid SD, SMP, SMA DAN SMK di Kabupaten Malang Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Malang (2011), jumlah siswa SD, SMP, SMP dan SMK berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 5.2 berikut : BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

19 Tabel 5.2 Jumlah Siswa SD, SMP, SMA dan SMK di Kabupaten Malang Jenjang Sekolah Laki-Laki Perempuan Jumlah (orang) Persentase Jumlah (orang) Persentase Jumlah (orang) SD/MI 138, , SMP/MTs 40, , SMA/MA 8, , SMK 10, , Jumlah 197, , Sumber : KMDA, 2010 Masih banyak penduduk Kabupaten Malang yang hanya mengenyam pendidikan SD. Terlihat pada Tabel 5.2, bahwa ketika pendidikan tingkat sekolah dasar, jumlah murid SD/MI laki-laki dan perempuan terbanyak dibandingkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tantangan bagi instansi terkait pendidikan dan masyarakat secara umum di Kabupaten Malang, untuk menyediakan fasilitas dan sumberdaya (dana dan SDM) lebih banyak agar dapat menampung siswa pada jenjang pendidikan lebih tinggi. Perbandingan jumlah murid laki-laki dan perempuan di Kabupaten Malang dapat dilihat pada grafik 5.2 Gambar 5.2 Perbandingan Jumlah Murid Laki-laki dan Perempuan Di Kabupaten Malang Berdasarkan Jenjang Pendidikan (KMDA 2010) BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

20 5.3 Rata-Rata Lama Sekolah Rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Malang usia 15 tahun keatas pada tahun 2007 adalah 6,66 tahun, tahun 2008 masih sama yaitu 6,66 tahun, mengalami sedikit peningkatan pada tahun 2009 menjadi 6.69 tahun dan mengalami peningkatan lagi pada tahun 2010 yaitu 6,93 tahun. Walaupun ada peningkatan rata-rata lama sekolah dari tahun , namun program wajib pendidikan dasar 9 tahun belum dapat dikatakan berhasil. Program tersebut dikatakan berhasil jika rata-rata lama sekolah penduduk Kabupaten Malang adalah 9 tahun. Berikut adalah grafik yang menunjukkan rata-rata lama sekolah di Kabupaten Malang sejak tahun Sumber : PPGK dan KPPA (2010); KMDA (2010) Gambar 5.3 Rata-Rata Lama Sekolah Penduduk Di Kabupaten Malang berdasarkan Tahun 5.4. Pendidikan Yang Ditamatkan Secara umum tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk perempuan dan laki-laki di Kabupaten Malang disajikan dalam Tabel 4. Kondisi penduduk di Kabupaten Malang yang tidak sekolah atau buta huruf cukup tinggi yaitu orang (laki-laki) dan orang (perempuan). Penduduk yang BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

21 tidak tamat SD juga cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa penduduk Kabupaten Malang tingkat pendidikan masih relative rendah. Jumlah lulusan jenjang pendidikan SD, terbanyak dibandingkan jumlah pendidikan yang lebih tinggi. Semakin tinggi jenjang pendidikan, jumlah penduduk yang dapat menamatkan sekolah semakin sedikit baik untuk laki-laki maupun perempuan. Apalagi jenjang pendidikan tertinggi yaitu PT, jumlah penduduk yang tamat semakin kecil. Hampir semua jenjang pendidikan jumlah perempuan lebih rendah dari laki-laki. Kondisi pendidikan yang ditamatkan oleh penduduk Kabupaten Malang, secara grafik dapat dilihat pada gambar berikut : Gambar 5.4. pendidikan yang ditamatkan oleh penduduk Kabupaten Malang Terlihat jelas dari grafik 5.4 tersebut, bahwa pada semua level jenjang pendidikan jumlah penduduk laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Secara ringkas jumlah penduduk Kabupaten Malang berdasarkan pendidikan yang ditamatkan dapat dilihat pada Tabel Berikut: BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

22 Tabel 5.3 Jumlah Penduduk Kabupaten Malang Ditamatkan Berdasarkan Pendidikan Yang Ditamatkan JENJANG PENDIDIKAN JUMLAH P PERSEN L PERSEN TOTAL TDK/BLM PERNAH SEKOLAH 53, , ,707 TDK/BLM TAMAT SD 66, , ,355 SD 198, , ,288 SMP 110, , ,321 SMU 82, , ,140 DIPLOMA 5, , ,761 PT 10, , ,368 JUMLAH 526, , ,216,940 Sumber : (PPGK dan KPPA, 2010) Berdasarkan Tabel 5.3 di atas, jumlah penduduk perempuan yang belum atau tidak pernah sekolah lebih besar dari pada penduduk laki-laki, sedangkan penduduk yang tidak dan atau belum tamat SD; laki-laki sedikit lebih banyak dari pada perempuan. Penduduk yang tamat SD laki-laki lebih besar perempuan, tamat SLTP perempuan lebih besar dari laki-laki, SMU perempuan lebih besar dari laki-laki, Diploma/Akademi laki-laki lebih besar dari perempuan, Universitas/Perguruan Tinggi perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Ketertinggalan perempuan atau laki-laki bervariasi antar jenjang pendidikan, kadang-kadang perempuan tertinggal, kadang kadang laki laki yang tertinggal. Gejala ini menunjukkan bahwa peluang yang terbuka bagi perempuan dan laki-laki dalam pendidikan sama, tetapi akses masing-masing berbeda. Dengan demikian perlu senantiasa memperhatikan keduanya secara berimbang (KPPA Kab. Malang dan PPGK, 2010). BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

23 Tabel 5.4 Rekapitulasi SD/MI di Desa Tertinggal Tahun 2011 No Kecamatan Jumlah Desa tertinggal SD MI SD MI 1 Donomulyo Kalipare Pagak Bantur Gedangan Sumbermanjing Wetan Dampit Tirtoyudo Poncokusumo Wajak Turen Bululawang Godanglegi Kepanjen Sumber Pucung Kromengan Ngajum Wonosari Wagir Pakisaji Tajinan Tumpang Pakis Jabung Singosari Karangploso Pujon Ngantang Lawang Kasembon Ampelgading Pagelaran Dau 25 JUMLAH Kemampuan Membaca dan Menulis Kepandaian baca tulis dilihat pada Tabel 5.4 bahwa kelompok usia tahun, karena pada usia ini kemampuan baca tulis sangat penting sebagai dasar peningkatan kualitas hidup atau kualitas sumberdaya manusia. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

24 Tabel 5.5 Jumlah Penduduk Tahun Menurut Kepandaian Membaca, Menulis Dan Jenis Kelamin Kecamatan Dapat baca tulis Tidak dapat baca tulis P L P+L P L P+L Donomulyo Kalipare Pagak Bantur *) Gedangan Sumbermanjing Dampit *) Tirtoyudo Ampelgading Poncokusumo Wajak *) Turen Bululawang *) Gondanglegi Pagelaran Kepanjen *) Sumberpucung Kromengan Ngajum Wonosari *) Wagir Pakisaji Tajinan *) Tumpang Pakis Jabung Lawang *) Singosari Karangploso Dau Pujon Ngantang Kasembon Jumlah Persentase % Sumber: PPKG dan KPPA, 2010 *) Tidak ada data Dalam Tabel 5.5 di atas yang menunjukkan jumlah penduduk perempuan yang mampu membaca dan menulis huruf latin jauh lebih besar dari pada laki-laki, sebaliknya penduduk yang tidak dapat membaca dan menulis huruf latin, perempuan lebih kecil dari pada laki-laki. Apabila dilihat dari BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

25 sebaran kecamatan Donomulyo, Ampel Gading, Turen, Pagelaran, Pakis, Singosari dan Karangploso jumlah perempuan yang mampu baca tulis cukup besar. Sedangkan laki-laki yang banyak berkemampuan baca tulis ada di Kecamatan Gedangan, Sumbermanjing, Turen, Pegelaran, Ngajum, Pakis, Jabung, Karangploso adalah daerah dengan kondisi penduduk laki-laki lebih besar dari pada penduduk perempuan (PPGK dan KPPA, 2010). Perbandingan kemampuan membaca dan menulis penduduk di Kabupaten Malang antara laki-laki dan perempuan dapat dilihat pada grafik 5.5 berikut: Gambar 5.5 Perbandingan Jumlah Penduduk Kabupaten Malang yang dapat dan tidak Dalam Hal Membaca dan Menulis Berdasarkan Jenis Kelamin (PPKG dan KPPA, 2010) 5.6 Angka Partisipasi Dalam Pendidikan Dalam disebutkan, angka partisipasi dalam suatu kegiatan penting diketahui, dengan mengetahui angka partisipasi tersebut dapat dinilai apakah kegiatan tersebut disukai masyarakat atau tidak disukai. Semakin besar angka partisipasi suatu program pendidikan berarti, program, lembaga, daerah tersebut berkualitas, sebaliknya kurang dan peserta banyak berhenti dalam proses pelaksanaan program berarti program, lembaga dan daerah tersebut tidak berkualitas. Berikut disampaikan beberapa konsep tentang berkaitan dengan Partisipasi dalam pendidikan. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

26 Data PPGK dan KPPA Kabupaten Malang (2010), terkait dengan analisis kondisi pendidikan dengan indikator Angka Partisipasi Dalam Pendidikan dapat dilihat pada Tabel 5.6. Tabel 5.6 Angka Partisipasi Dalam Pendidikan Menurut Satuan Pendidikan Selama Tiga Tahun 1 2 No Terakhir APK APS APM Angka Partisipasi/Satuan Pendidikan SD SMP SMA SD SMP SMA SD 3 SMP SMA Sumber: PPGK dan KPPA, 2010 Th ,10 89,68 39,96 98,88 82,03 27,85 99,01 70,27 36,27 Th ,22 91,22 37,24 98,98 83,47 28,58 99,10 70,28 34,61 Th ,94 92,26 39,57 99,65 85,92 30,41 99,13 72,43 34,61 a. Angka Partisipasi Kasar (APK) Angka Partisipasi Kasar (APK) didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah murid pada jenjang pendidikan tertentu (SD, SLTP, SLTA dan sebagainya) dengan penduduk kelompok usia sekolah yang sesuai dan dinyatakan dalam persentase. Hasil perhitungan APK ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan tertentu pada wilayah tertentu. Semakin tinggi APK berarti semakin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu jenjang pendidikan pada suatu wilayah. Nilai APK bisa lebih bes dari 100 % karena terdapat murid yang berusia di luar usia resmi sekolah, terletak di daerah kota, atau terletak pada daerah perbatasan. Rumus : Jumlah murid di tingkat pendidikan tertentu * APK = x 100% Jumlah penduduk usia tertentu BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

27 *) Keterangan : Tingkat Sekolah Dasar (SD) : Kelompok usia 7 12 tahun Tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) : Kelompok usia tahun Tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) : Kelompok usia tahun Berdasarkan data yang ditulis oleh tim PPKG dan KPPA Kabupaten Malang, 2010, angka Partisipasi Kasar (APK) di tingkat SD menunjukkan anak perempuan yang bersekolah SD lebih besar daripada anak laki-laki. Pada tahun 2007, setiap 100 orang anak laki-laki yang bersekolah SD terdapat 115 orang anak perempuan. Angka ini meningkat pada tahun 2008 dan menurun kembali pada tahun Pada satuan pendidikan SMP partisipasi kasar anak laki-laki lebih tinggi daripada anak perempuan. Tahun 2007, dalam setiap 100 anak laki-laki yang bersekolah terdapat 89 anak perempuan. Angka ini mengalami peningkatan pada tahun 2008 dan 2009 menjadi 92 anak perempuan. APK untuk satuan pendidikan SMA, perbedaan anak laki-laki dan perempuan semakin tajam. Dalam setiap 100 anak laki-laki bersekolah SMA, hanya terdapat 37 anak perempuan pada tahun 2007 dan 2008, meningkat menjadi 39 anak perempuan pada tahun Perbedaan ini menunjukkan bahwa anak perempuan tertinggal jauh dari anak laki-laki dalam mengakses pendidikan SMA. APK di Kabupaten Malang dapat dilihat pada gambar 5.6 Gambar 5.6. Angka Partisipasi Kasar Penduduk Kabupaten Malang berdasarkan Tahun (PPGK dan KPPA, 2010) BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

28 b. Angka Partisipasi Murni (APM) Angka Partisipasi Murni (APM) didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah siswa kelompok usia sekolah pada jenjang pendidikan tertentu dengan penduduk usia sekolah yang sesuai dan dinyatakan dalam persentase. Indikator APM ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang bersekolah pada suatu jenjang pendidikan yang sesuai. Semakin tinggi APM berarti banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu daerah pada tingkat pendidikan tertentu. Nilai ideal APM = 100 % karena adanya murid usia sekolah dari luar daerah tertentu, diperbolehkannya mengulang di setiap tingkat, daerah kota,atau daerah perbatasan. Rumus : Jml murid kelp usia sekolah di jenjang pendidikan tententu * APM = x 100% Jumlah penduduk kelompok usia tertentu * *) Keterangan : Tingkat Sekolah Dasar (SD) : Kelompok usia 7 12 tahun Tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) : Kelompok usia tahun Tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) : Kelompok usia tahun Angka Partisipasi Murni (APM) penduduk Kabupaten Malang dapat dilihat pada grafik 5.7 Sumber : PPGK dan KPPA, 2010 Gambar 5.7. APM penduduk Kabupaten Malang berdasarkan tahun dan jenjang sekolah BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

29 Angka partisipasi murni, peningkatan angka partisipasi anak perempuan setiap tahun sangat kecil, kondisi ini perlu mendapat perhatian. c. Angka Partisipasi Sekolah (APrS) Angka Partisipasi Sekolah (APrS) didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah murid kelompok usia sekolah tertentu yang bersekolah pada berbagai jenjang pendidikan dengan penduduk kelompok usia sekolah yang sesuai dan dinyatakan dalam persentase. Indokator ini digunakan untuk mengetahui banyaknya anak usia sekolah yang telah bersekolah di semua jenjang pendidikan. Makin tinggi AprS berarti makin banyak anak usia sekolah yang bersekolah di suatu daerah. Nilai ideal AprS = 100 % dan tidak akan terjadi lebih besar dari 100 %, karena murid usia sekolah dihitung dari murid yang ada di semua jenjang pendidikan pada suatu daerah. Rumus : N1 APrS= x100% N2 dimana: N1 = Jumlah murid berbagai jenjang pendidikan pada kelompok usia sekolah tertentu N2 = Jumlah penduduk pada kelompok usia sekolah tertentu yang sesuai APS penduduk Kabupaten Malang berdasarkan tahun dan jenjang sekolah dapat dilihat pada gambar 5.8 Gambar 5.8. APS penduduk Kabupaten Malang berdasarkan tahun dan jenjang sekolah (PPGK dan KPPA, 2010) BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

30 Selanjutnya PPGK dan KPPA Kab. Malang menyatakan, apabila diukur dengan Angka Partisipasi Sekolah dan Angka Partisipasi Murni, angka-angka menunjukkan kecenderungan yang sama. Partisipasi sekolah anak perempuan di satuan pendidikan SD, SMP, SMA lebih rendah daripada anak laki-laki. Di SD perbedaan partisipasi kecil (hanya 1 anak perempuan per 100 orang anak). Pada tingkat SMP angka ketertinggalan anak perempuan lebih besar (antara anak perempuan per 100 orang anak). Di tingkat SMA ketertinggalan anak perempuan jauh lebih besar (kesenjangan mencapai angka lebih dari 70 anak), anak perempuan jauh tertinggal dari anak laki-laki Angka Putus Sekolah (APtS) Angka Putus Sekolah (APts) didefinisikan sebagai perbandingan antara jumlah murid putus sekolah pada jenjang pendidikan tertentu (SD, SLTP, SLTA dan sebagainya) dengan jumlah murid pada jenjang pendidikan tertentu dan dinyatakan dalam persentase. Hasil perhitungan APtS ini digunakan untuk mengetahui banyaknya siswa putus sekolah di suatu jenjang pendidikan tertentu pada wilayah tertentu. Semakin tinggi AptS berarti semakin banyak siswayang putus sekolah di suatu jenjang pendidikan pada suatu wilayah. Rumus : Jumlah murid putus sekolah di tingkat pendidikan tertentu APtS = x100% Jumlah siswa di tingkat pendidikan tertentu Dengan mengetahui tingkat angkat partisipasi kita dapat menilai apakah sekolah, daerah, direktorat/departemen pendidikan tersebut mempunyai kualitas. Angka partisipasi kasar tingkat SMP pada tahun 2009 diharapkan mencapai 96 %. Berdasarkan data PPGK dan KPPA (2010), mengenai penduduk putus sekolah, dijenjang sekolah dasar, SLTP, SMU, dan Perguruan Tinggi, angka putus sekolah laki-laki lebih besar daripada perempuan. Hanya di jenjang BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

31 Diploma/Akademi, angka putus sekolah perempuan lebih besar daripada lakilaki, terlihat pada Tabel 5.7 Tabel 5.7: Jumlah siswa putus sekolah menurut jenjang dan jenis kelamin 2008/2009 No Jenjang Laki-laki % Perempuan % Jumlah 1 SD Negeri SD Swasta MIN MIS SMP Negeri SMP Swasta MTs Negeri MTs Swasta SMA Negari SMA Swasta SMK Negeri SMK Swasta Madrasah Aliyah Negeri Madrasah Aliyah Swasta Jumlah Sumber: Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur, 2009 dalam PPGK (2010) Menurut sebaran kecamatan, kondisi putus sekolah bervariasi. Di kecamatan Sumbermanjing, Dampit, Turen dan Karangploso, angka putus Sekolah Dasar laki-laki lebih besar daripada perempuan. Di kecamatan Donomulyo, Pakisaji dan Pakis, angka putus sekolah perempuan lebih besar daripada laki-laki. Di 26 kecamatan lainnya, angka putus sekolah memiliki jumlah yang hampir berimbang antara perempuan dan laki-laki. Di SLTP, angka putus sekolah di kecamatan Sumbermanjing, Pakisaji dan Karangploso, lakilaki lebih besar daripada perempuan. Angka putus sekolah di 3 kecamatan tersebut cukup tinggi. Namun sebaliknya di kecamatan Bantur, Sumberpucung, Ngajum, Pakis, angka putus sekolah perempuan lebih besar daripada laki-laki. Di 26 kecamatan lainnya, angka putus sekolah SLTP lebih kecil dan hampir berimbang antara perempuan dan laki-laki. Di jenjang SMU, terdapat 8 kecamatan dengan angka putus sekolah, laki-laki lebih besar dan 2 kecamatan dengan angka putus sekolah perempuan lebih besar. Fenomena BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

32 besarnya angka putus sekolah, laki-laki di kabupaten Malang perlu mendapatkan perhatian dan kajian lebih lanjut mengenai faktor-faktor penyebabnya (PPGK dan KPPA, 2010). Gambar 5.9. Perbandingan Murid Putus Sekolah Berdasarkan Jenis Kelamin Di Kabupaten Malang (PPGK dan KPPA 2010) Jumlah anak putus sekolah tertinggi ada pada jenjang SMP, disusul jenjang SD, SMK dan SMU. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel berikut Tabel 5.8 Jumlah Siswa yang Lulus, Mengulang dan Putus Sekolah Di Kabupaten Malang Jenjang Pendidikan Jumlah Lulus Mengulang Putus Jumlah Persen Jumlah Persen Sekolah Persen SD 203,546 30, , SMP 76,149 22, SMU 16,963 5, SMK 28,373 5, Jumlah 325,031 63,270 10,076 1,553 Sumber : KMDA, 2011 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

33 Secara grafik kondisi murid sekolah yang lulus, mengulang dan putus sekolah di Kabupaten Malang dapat dilihat pada gambar berikut ni : Gambar Perbandingan murid sekolah yang lulus, mengulang dan putus sekolah di Kabupaten Malang Berdasarkan data PPGK dan KPPA Kab. Malang (2010), jumlah penerima beasiswa terbanyak adalah kecamatan Turen, berikutnya kecamatan Pakisaji, kemudian kecamatan Gedangan. Di beberapa kecamatan, jumlah perempuan lebih besar daripada laki-laki. Fenomena ini menunjukkan prestasi yang ditunjukkan oleh anak-anak perempuan dan perlunya perhatian pada peserta didik/anak laki-laki. 5.8 Penerima Beasiswa Berdasarkan data PPGK dan KPPA (2010), jumlah penerima beasiswa sangat bervariasi antar kecamatan, akan tetapi secara umum jumlah perempuan penerima beasiswa, persentasenya lebih besar daripada laki-laki. Kondisi tersebut dialami di semua jenjang pendidikan sejak tingkat SD hingga Universitas/ Perguruan Tinggi. Jumlah penerima beasiswa terbanyak adalah kecamatan Turen, berikutnya kecamatan Pakisaji, kemudian kecamatan Gedangan. Di beberapa kecamatan, jumlah perempuan lebih besar daripada BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

34 laki-laki. Fenomena ini menunjukkan prestasi yang ditunjukkan oleh anak-anak perempuan dan perlunya perhatian pada peserta didik/anak laki-laki. Perbandingan jumlah penerima beasiswa berdasarkan jenis kelamin dapat di lihat pada grafik di bawah ini. Gambar Jumlah penerima beasiswa menurut tingkat pendidikan dan jenis kelamin (PPGK dan KPPA Kab. Malang (2010)) Terlihat dari gambar 5.11 jumlah penerima beasiswa pada semua jenjang pendidikan, laki-laki penerima besiswa lebih banyak dibandingkan perempuan kecuali pada jenjang pendidikan PT seimbang. Berdasarkan data PPGK dan KPPA (2010), jumlah penerima beasiswa sangat bervariasi antar kecamatan, akan tetapi secara umum jumlah perempuan penerima beasiswa, persentasenya lebih besar daripada laki-laki. Di semua jenjang pendidikan sejak tingkat SD hingga Universitas/ Perguruan Tinggi. Jumlah penerima beasiswa terbanyak adalah kecamatan Turen, berikutnya kecamatan Pakisaji, kemudian kecamatan Gedangan. Di beberapa kecamatan, jumlah perempuan lebih besar daripada laki-laki. Fenomena ini menunjukkan prestasi yang ditunjukkan oleh anak-anak perempuan dan perlunya perhatian pada peserta didik/anak laki-laki. Jumlah penerima beasiswa sangat bervariasi antar kecamatan, akan tetapi secara umum jumlah perempuan penerima beasiswa, BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

35 persentasenya lebih besar daripada laki-laki. Di semua jenjang pendidikan sejak tingkat SD hingga Universitas/ Perguruan Tinggi. 5.9 Jumlah Sumberdaya di Bidang Pendidikan (jumlah sekolahan, murid dan guru). a. Rasio Guru-Murid dan Sekolah-Murid Pernyataan dalam indonesia) terkait dengan rasio guru-murid dan rasio sekolah-murid perlu dikemukakan dalam bab ini yaitu : Persoalan pendidikan di Indonesia hingga kini sangatlah komplek. Selain anggaran pendanaan, sarana dan prasarana, kualitas guru hingga kuantitas atau kebutuhan guru masih menjadi masalah serius dan pekerjaan rumah yang menghadang Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) mulai tahun 2011 ini. Salah satu implikasi langsung teknologi abad moderen adalah terjadinya percepatan perubahan di segala bidang. Teknologi selain mendorong cepatnya dinamika dalam kehidupan masyarakat, juga mensyaratkan perubahan yang sangat cepat di berbagai bidang. Sektor pendidikan juga termasuk bidang yang ikut mengalami perubahan yang cepat itu. Sebagai bagian atau stakeholders dari proses pendidikan, kita harus mampu mengikuti tuntutan perubahan itu dengan terus bergerak agar tidak tertinggal dan tidak ditinggalkan oleh era yang berubah cepat itu. Ini harus sudah lebih dari cukup menyadarkan kita bahwa pendidikan itu sangat penting. Tantangan dunia pendidikan ke depan adalah mewujudkan proses demokratisasi belajar. Pembelajaran yang mengakui hak anak untuk melakukan tindakan belajar sesuai karakteristiknya. Hal penting yang perlu ada dalam lingkungan belajar yang demokratis adalah reallness. Sadar bahwa anak memiliki kekuatan disamping kelemahan, memiliki keberanian di samping rasa takut dan kecemasan, bisa marah di samping juga bisa gembira (Budiningsih, 2005 dalam BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

36 guru-di indonesia). Realness bukan hanya harus dimiliki oleh anak, tetapi juga orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Lingkungan belajar yang bebas dan didasari oleh realness dari semua pihak yang telibat dalam proses pembelajaran akan dapat menumbuhkan sikap dan persepsi yang positif terhadap belajar. Pada hakekatnya pendidikan juga terus-menerus mengalami perubahan. Banyak hal yang menjadi faktor terjadinya perubahan tersebut seperti bervariasi dan keunikan peserta didik, lingkungan yang berkembang tiada henti, serta implikasinya bagi tujuan, muatan, guru, dan pengelolaan pembelajaran pada pendidikan menengah umum (PMU). Gregory, G.H. dan Chapman, C dalam bukunya Differentiated Instructional Strategies: One Size Doesn t Fit All (2002) mengemukakan bahwa siswa adalah entitas yang unik. Masing-masing memiliki pengalaman, profil, minat dan kebutuhan yang tidak persis sama. Memberikan layanan pendidikan yang seragam bagi semua siswa berarti memaksakan sebuah ukuran pakaian yang sama bagi semuanya. Hasilnya, pasti akan mengecewakan. Itu sebabnya optimalisasi potensi belajar siswa hanya akan terjadi apabila guru dalam suatu kelas menerapkan penerapan kurikulum berdiferensiasi dalam pembelajaran. Diferensiasi itu dapat dilakukan seperti merujuk pada keragaman isi pelajaran, perangkat asesmen, tugas unjuk kerja, serta strategi instruksional, yang diselaraskan dengan pengalaman dan kebutuhan anak. Hal seperti ini harus dipahami secara cermat oleh para guru yang berinteraksi langsung dengan para muridnya. Untuk itu tentunya para guru memang sudah memiliki standar kompetensi yang mumpuni yang bukan hanya sebatas aspek formalnya saja tetapi sampai pada aplikasinya. Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah penyebaran guru yang berstandar ini ke berbagai wilayah pendidikan. Seperti halnya di banyak bidang lainnya, sektor pendidikan juga dipengaruhi faktor internal yang meliputi jajaran dunia pendidikan itu sendiri. Faktor ini meliputi Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan Daerah, dan yang ketiga adalah pihak sekolah. Sedangkan faktor kedua adalah faktor eksternal, yaitu masyarakat pada umumnya. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

37 Di faktor internal, sesungguhnya telah banyak hal yang dilakukan untuk mendorong maju gerak pendidikan di negeri ini. Kita bisa mengurutnya satu per satu yang kesemuanya merupakan program-program yang tentunya baik. Political will pemerintah untuk mengembangkan pendidikan juga telah ditunjukkan, setidaknya dengan anggaran 20 untuk sektor ini. Meskipun kemudian kita dihadapkan pada persoalan efektifitas program yang dijalankan. Kenyataanya kita masih menghadapi persoalan dalam mengelola tenaga pengajar. Para guru yang menjadi ujung tombak pembangunan sektor pendidikan masih banyak yang enggan memberikan pengabdiannya di daerah terpencil. Fenomena yang terjadi dalam penerima PNS untuk guru-guru di daerah terpencil sering hanya dijadikan syarat semata. Mereka yang mengambil tes PNS di daerah akan segera pindah ke perkotaan ketika celah untuk itu terbuka. Maka tidak mengherankan bahwa cerita-cerita tentang pendidik di daerah terpencil masih menjadi cerita tentang kepahlawanan. Ini bisa kita jadikan perbandingan; Seperti kita ketahui bahwa berdasarkan laporan UNESCO (2007) education development index (EDI) Indonesia) pada posisi ke- 62 dari 129 negara. Sebagai perbandingan negara Argentina menempati posisi EDI di level 35. Padahal dari segi rasio/perbandingan jumlah guru dan murid, Indonesia masih lebih banyak. Kalau rasio guru dan murid di Argentina 17:1, tetapi di Indonesia rasio antara guru dan murid 20:1. Persoalannya terjadi ketidakmerataan penyebaran jumlah guru-guru tersebut. Ketidak merataan penyebaran guru ini diakui oleh Menteri Pendidikan Nasional sebelumnya, Bambang Sudibyo. Jelas sekali, perbandingan peringkat EDI antara Indonesia dengan Argentina ni cukup dipengaruhi oleh meratanya jumlah pengajar ke seluruh penjuru Indonesia. Artinya, perbedaan peringkat EDI di antara kedua negara juga peringkat bebas buta aksara kedua negara (Argentina telah bebas buta aksara) dipengaruhi pola pengaturan penyebaran guru. Karena penyebaran guru yang tidak merata yang dialami negara Indonesia menyebabkan tidak optimalnya proses pendidikan yang telah diselenggarakan. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

38 Faktor kedua yakni faktor eksternal atau masyarakat tidak kalah penting dalam menentukan kualitas pendidikan di Indonesia. Masyarakat di sini meliputi lingkungan dan keluarga. Dari lingkungan, jika lingkungan yang selalu memerhatikan aspek pendidikan tentunya akan tercipta suasana pendidikan yang nyaman serta akan memacu siswa untuk terus meningkatkan prestasi yang berimbas pada meningkatnya kualitas pendidikan di lingkungan tersebut khususnya. Dari keluarga, sebagian besar keluarga di Indonesia tak mementingkan aspek gizi yang terkandung dalam makanan yang mereka dan keluarga mereka makan setiap hari. Terkadang memang dianggap sepele, tetapi dari sinilah akan terbentuk pemuda yang sekaligus siswa yang sehat, cerdas serta penuh dengan ide-ide nya setiap hari. Masih adanya pola keluarga dalam mendidik anak-anaknya dengan tidak mengedepankan perhatian dan motivasi untuk kemajuan anak-anaknya. Pendidikan, oleh sebagian keluarga masih dianggap sebagai kebutuhan sekunder yang baru akan dipenuhi jika kebutuhan primer seperti sandang, pangan dan papan sudah tercukupi. Lag-lagi kemiskinan menjadi persoalan dalam perkembangan pendidikan. Padahal semestinya mata rantai kemiskinan itu telah bisa dipangkas melalui jenjang pendidikan anak-anak dari keluarga miskin. Karena pendidikan menurut Salim (2004) diartikan sebagai upaya manusia secara historis turun-temurun, yang merasa dirinya terpanggil untuk mencari kebenaran atau kesempurnaan hidup. Berdasarkan Undang-Undang Sisdiknas nomor 20 tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara. Dalam tujuan pendidikan ini tidak menyinggung tentang pemerataan pendidikan itu bagi seluruh masyarakat Indonesia dan penyebaran para guru sampai ke pelosok. Tentu saja saya tidak sedang mengatakan bahwa pemerintah sama sekali abai BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

39 dalam pemerataan tenaga pengajar ini, karena banyak ketentuan teknis yang mengatur hal tersebut. Tetapi mengingat strategisnya pola penyebaran pendidikan dan pemerataan tenaga pengajar yang memiliki standar, tentu kita perlu lebih memfokuskan untuk melakukannya. Dari mulai aturan teknis juga paragdimatis sampai implementasinya yang tidak longgar dan sungguhsungguh. Ada perbedaan kondisi rasio guru-murid di Indonesia yang diungkapkan oleh Sekretaris Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Depdiknas Giri Suryatmana dalam lokakarya Pengembangan Pembelajaran Inovatif di Semarang, Sabtu mengatakan, rasio guru murid di Indonesia 1:14, sedangkan Korsel 1:30, Malaysia 1:25, dan Jepang 1:20. "Namun yang menjadi persoalan adalah distribusi yang tidak merata karena guru-guru menumpuk di sekolah perkotaan, sedangkan di perdesaan masih kekurangan guru," katanya. Akibat terlalu banyak guru di perkotaan, katanya, sebagian dari mereka kekurangan jam mengajar yang seharusnya minimal 24 jam per minggu. "Jika distribusinya merata, sekitar 2,7 juta guru bisa memberikan pelayanan peserta didik secara baik," katanya. Ia mengungkapkan, sekitar 76 persen sekolah di perkotaan mengalami kelebihan guru, sementara 83 persen sekolah di pelosok dan perdesaan kekurangan tenaga pengajar. "Depdiknas kini tengah merintis program penempatan guru di daerah pelosok dengan memberi tunjangan khusus," kata Giri. Namun berbeda dengan keterangan Prof DR Baedhowi MSi Dirjen PMPTK Kemdiknas kepada Komunitas saat melaksanakan wawancara khusus dalam rangka menyambut Hari Guru Nasional (HGN) Menurutnya, jika dihitung rasio guru dengan siswa di seluruh Indonesia, kebutuhan agan guru sudah tidak menjadi masalah. Kecuali untuk guru SMK produktif (keahlian tertentu seperti teknik otomotif, dsb) memang masih krisis, ungkap Baedhowi kepada Komunitas di ruang kerjanya, Rabu, 24 Nopember 2010 lalu. Ia mencontohkan, idealnya rasio guru SMK dengan siswa sesuai dengan undang-undang antara 1 guru untuk siswa. Kenyataannya saat ini berbanding 1:23. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

40 Sementara untuk perbandingan guru dengan siswa pada jenjang SD- SMA adalah 1:20, saat ini rasio siswa dengan guru hanya berkisar 1:18. Itu artinya kita tidak kekurangan guru. Karena persoalan utamanya saat ini adalah distribusi guru yang tidak merata. Ada beberapa sekolah kelebihan guru, sementara di tempat lain justru kekurangan guru, kata Baedhowi lagi. Untuk itu ia berharap Pemerintah Daerah sebagai penanggung jawab distribusi guru di daerahnya diberi waktu selama 2 tahun untuk membenahi permasalahan tersebut. Hal ini sesuai dengan Permendiknas 39/2009 tentang Beban Kerja Guru dan Pengawas pada Satuan Pendidikan. Termasuk harus mengacu pada NSPK (Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria) penempatan guru di daerah harus dipatuhi bupati/walikota. Sehingga, tidak terjadi penumpukan guru di sekolah tertentu, sementara di tempat lain justru kekurangan guru. Sedangkan Rasio murid sekolah adalah 48 yang berarti dalam satu sekolah/kelas terdapat 48 siswa sedangkan rasio murid guru adalah 1 : 20 dan SMK (1 : 9). Sedangkan rasio ideal murid-sekolah yaitu 1 : 48. Bagaimanakah rasio guru-murid dan sekolah-murid di Kabupaten Malang? Hasil perhitungan rasio sekolah-murid dan guru-murid berdasarkan jenjang sekolah tersebut disajikan pada Tabel 5.9; 5.10 dan 5.11 di bawah ini Tabel 5.9 Rasio Sekolah, Guru Dan Murid SD SD Sekolah Guru Murid Rasio sekolah Dan murid Rasio guru dan Murid Negeri 1,115 11, , Swasta , Jumlah 1,167 11, , Sumber : KMDA, 2011 Tabel Rasio Sekolah, Guru Dan Murid SMP SMP Sekolah Guru Murid Rasio sekolah Dan murid Rasio guru dan Murid Negeri 103 2,773 40, Swasta 208 3,247 36, Jumlah 311 6,020 76, Sumber : KMDA, 2011 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

41 Tabel 5.11 Rasio Sekolah, Guru Dan Murid SMA SMA Sekolah Guru Murid Rasio sekolah Dan murid Rasio guru dan Murid Negeri , Swasta 50 1,051 8, Jumlah 64 1,792 16, Sumber : KMDA, 2011 Secara grafik, perbandingan rasio sekolah-murid berdasarkan jenjang pendidikan tampak pada gambar 5.12 Gambar 5.13 Perbandingan Rasio Sekolah-Murid Fakta dan Rasio Ideal Berdasarkan Jenjang Pendidikan (KMDA, 2010) Terlihat pada gambar bahwa rasio sekolah-murid masih terjadi kesenjangan. Rasio ideal adalah 48 dimana dalam satu sekolah per jenjang pendidikan adalah 48. Terlihat dalam grafik untuk semua jenjang pendidikan rasio sekolah-murid terlalu banyak, sehingga perlu perhatian dari Pemkab setempat atau instansi terkait atau investor untuk menambah jumlah ruang kelas untuk semua jenjang pendidikan sebanyak masing-masing sekolah menambah 3 ruang kelas (SDN), 4 (SD swasta), 7 (SMPN), 3 (SMP Swasta), 12 (SMAN) dan 3 (SMA Swasta) (data KMDA, 2011) BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

42 Bagaimanakah kondisi rasio guru-murid di Kabupaten Malang? Jika data dalam tabel dituangkan dalam grafik nampak sebagai berikut : Gambar 5.14 Perbandingan Rasio Guru-Murid Fakta dan Rasio Ideal Versi 1 (1:20) dan 2 untuk SMK (1 : 9) Berdasarkan Jenjang Pendidikan (: KMDA, 2010) Terlihat dari gambar 5.14, rasio guru-murid di Kabupaten Malang dilihat dari standar ideal satu yaitu 1 : 20, kondisi rasio guru-murid di Kabupaten Malang tidak ada masalah karena fakta lebih kecil dari ideal Pembelajaran berwawasan Gender Sejak Dini Kesimpulan profil gender bidang pendidikan Kabupaten Kota Malang, bahwa masih terjadi permasalahan yaitu masih rendahnya tingkat pendidikan penduduk Kabupaten Malang. Hal ini terlihat dari jumlah penduduk yang tamat SD masih tinggi bahkan tidak/belum pernah sekolah serta tidak/belum tamat SD juga cukup tinggi. Upaya meningkatkan keberhasilan masing-masing daerah dalam menjalankan program wajib belajar pendidikan 9 tahun mulai dilakukan oleh pihak Dinas Propinsi Jawa Timur. Salah satu program nya adalah mengadakan lomba pembelajaran berwawasan gender melalui lomba sistem pembelajaran mulai dari sekolah PAUD sampai dengan SMU. Daftar BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

43 pemenang peserta lomba pembelajaran berwawasan gender tahun 2011 dapat di lihat pada Tabel 5.12; 5.13; 5.14 sebagai berikut : Tabel 5.12 Daftar Pemenang Lomba Pembelajaran Berwawasan Gender Tahun 2011 No Kab/Kota Nama Nama Lembaga Judul Pembelajaran Juara 1 Kab. Malang Hetty Kurniawati,A.Ma.Pd (0341) TPA/KB AS - Sakinah Pembelajaran PAUD Berwawasan Gender I 2 Kota Surabaya Sri Narni, S.Pd TK. Negeri Pembina Hadiah Untuk Nisa II 3 Kota Surabaya Nanik Irawati SMPN 3 Surabaya Desain Pembelajaran Kooperatif Take and Give Berbasis Kesetaraan Gender Ke Dalam Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan III 4 Kota Kediri Nur Fadilah,S.Pd PKBM Hidayatul Mubtadin Implementasi Strategi BDPS Berwawasan Gender Dalam Pendidikan Keaksaraan IV 5 Kota Pasuruan Zahra KB dan TK Raudhah Proses Pembelajaran PAUD BWG dengan metode Selling (BCCT) V 6 Kab. Bojonegoro Hengki Danang Isnaeni, M.Pd SMAN 3 Bojonegoro Jl. Monginsidi no 9 Student Team Achievement Division (STAD) Dengan Kombinasi Tutor Antar Kelompok Serta Memperhatikan Gender VI BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

44 Tabel 5.13 Daftar Pemenang Lomba Poster Berwawasan Gender Tahun 2011 No Kab/Kota Nama Nama Lembaga Judul Pembelajaran Juara 1 Kab Jember Lendy AuliaLKP LKP Texas Aku dan Kamu Sama I 2 Kota Surabaya Tri Ratna Juwita Lubis A.Ma TK Neg. Pembina Surabaya Mencetak Anak Usia Dini Berkarakter Sebagai Berkarakter Sebagai Penerus Pembangunan Bangsa Indonesia II 3 Kab. Bojonegoro Tulus Puguh Wicaksono, S. Kom SMAN 3 Bojonegoro Mendapatkan Pendidikan Yang Sama Mendapatkan Fasilitas Yang Sama Mendapatkan Perlakuan yang sama Dengan Mendapatkan Ilmu dan Fasilitas Yang Sama Maka Tidak Ada Lagi Perbedaan Antara Laki-laki dan Perempuan III 4 Kota Pasuruan Nikmatu Rosidah PAUD Shandy Putra Laki-laki dan Perempuan Memang Berbeda IV 5 Kota Pasuruan Dra.Sri Widyaningrum, M.Pd Maria Sumardiana Boelak PAUD Az-Zahrah Kisembi (Kita Semua Bisa) V 6 Kab Gresik Ulfah Apriyanti, S.Pd Veni Masruhah Fibiyanti Feni Alfianawati Sebagai WargaNegara Kami Punya Hak Yang Sama VI BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

45 Tabel 5.14 Daftar Pemenang Lomba Lagu Berwawasan Gender Tahun 2011 No Kab/Kota Nama Nama Lembaga Judul Pembelajaran Juara 1 Kab Gresik Ivone V Rumengan Kursus Trizia Vocal Music Gresik Jl. Kalimantan 131 GKB Seberkas Cahaya Korbankan Semangatmu Ayah dan Ibuku I 2 Kota Surabaya Etty Agoestina, S.Pd SMPN 12 Jl. Ngegel Kebonsari Masa Depan Negeriku Bersama Kita Bisa II 3 Kota Kediri Kasan Redjo, S.Pd TK Baptis Setia Bakti Jl. Letjen Suprapto no Polisi Wanita Berbaris Ayah dan Ibuku III 4 Kab Bojonegoro Slamet, S.Pd KB. Fattahl Huda Pumpungan Kalitidu Ayah Dan Ibu IV 5 Kab Kediri Sukarti Hilgun Ni Ogest PAUD Tabitha Kecamatan Kayen Kidul Penerbang Wanita V 6 Kab Gresik Enis Sri Mulyana, S.Pd Tutor KF Ayo Belajar VI Dari tebel di atas jumlah ada beberapa kecamatan yang memiliki SD atau MI yang masih tertinggal meskipun tidak semuanya. Jumlah SD tertinggal terbanyak pada Kecamatan Bantur sebesar 29, sedangkan jumlah SD tertinggal paling sedikit pada Kecamatan kepanjeng. Untuk MI tertinggal paling banyak pada kecamatan Bululawang dengan banyaknya SD tertinggal menunjukkan perlu adanya perhatian khusus oleh pemerintah kepada daerah yang tertinggal dalam pembangunan pendidikannya dan harus dilakukan percepatan sekolah tersebut agar tidak semakin tertinggal. Banyak faktor yang menyebabkan sekolah menjadi tertinggal salah satunya faktor sosial budaya berkaitan dengan kultur masyarakat yang berupa persepsi/pandangan, adat istiadat, dan kebiasaan. Untuk itu peran pemerintah sangatlah besar dalam melakukan pendekatan-pendekatan terhadap masyarakat untuk menyampaikan pentingnya pendidikan bagi anak. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

46 BAB VI KESEHATAN Pembangunan di bidang kesehatan menjadi prioritas utama terutama berkaitan dengan peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan, meningkatnya usia harapan hidup, menurunnya angka kematian bayi dan ibu melahirkan serta prevelensi gizi kurang pada balita. Dalam pemenuhan pelayanan kesehatan, di Kabupaten Malang telah terdapat fasilitas pelayanan kesehatan yaitu berupa : 4 RS Pemerintah, 15 RS Swasta, 13 RS Bersalin, 39 Puskesmas, 99 Puskesmas Pembantu (Pustu) dan 55 Puskesmas Keliling. Selain itu juga terdapat tenaga kesehatan yang terdiri dari : 106 dokter, 985 perawat dan bidan, 36 ahli farmasi, 33 ahli gizi, 30 teknisi medis, 31 sanitarian dan 1 tenaga kesehatan masyarakat Imunisasi Masalah kesehatan anak menjadi prioritas utama terutama yang berkaitan dengan pemberian imunisasi untuk bayi dan balita. Imunisasi berperan penting dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap penyakit-penyakit yang berbahaya yang bisa menyerang bayi dan balita seperti : difteri, campak, hepatitis, tetanus dan TBC. Imunisasi terbukti efektif dalam melindungi anak dari penyakit, mencegah cacat dan mengurangi angka kematian pada anak. Adapun jumlah bayi yang mendapatkan imunisasi di Kabupaten Malang disajikan dalam tabel 6.1 dan 6.2 berikut : Tabel 6.1. Laporan Hasil Imunisasi Bayi Kab. Malang Bulan Januari S/D Desember Tahun 2010 No Sasaran Bayi Jumlah Persen (%) 1 HBO (0-7) Hari HBO (8-28) Hari HBO Total BCG POLIO DPT/HB (1) POLIO DPT/HB (2) POLIO DPT/HB( P0LIO CAMPAK BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

47 Tabel Banyaknya Imunisasi Bayi di Puskesmas, Tahun 2010 Jumlah Imunisasi Kecamatan Bayi BCG % DPT 1 % DPT3 % Donomulyo , , ,89 Kalipare , , ,19 Pagak , , ,13 Bantur , , ,60 Gedangan , , ,26 Sumbermanjing , , ,19 Dampit , , ,94 Tirtoyudo , , ,12 Ampelgading , , ,41 Poncokusumo , , ,19 Wajak , , ,48 Turen , , ,12 Bululawang , , ,27 Gondanglegi , , ,64 Pagelaran , , ,64 Kepanjen , , ,33 Sumberpucung , , ,00 Kromengan , , ,25 Ngajum , , ,65 Wonosari , , ,72 Wagir , , ,73 Pakisaji , , ,99 Tajinan , , ,16 Tumpang , , ,42 Pakis , , ,22 Jabung , , ,87 Lawang , , ,85 Singosari , , ,55 Karangploso , , ,03 Dau , , ,10 Pujon , , ,04 Ngantang , , ,49 Kasembon , , ,59 Jumlah / Total , , ,55 Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Malang BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

48 Lanjutan Tabel 6.2. Imunisasi Kecamatan Folio 4 % Campak % Donomulyo , ,32 Kalipare , ,65 Pagak , ,88 Bantur , ,26 Gedangan , ,13 Sumbermanjing , ,71 Dampit , ,50 Tirtoyudo , ,41 Ampelgading , ,42 Poncokusumo , ,45 Wajak , ,97 Turen , ,75 Bululawang , ,66 Gondanglegi , ,69 Pagelaran , ,48 Kepanjen , ,67 Sumberpucung , ,26 Kromengan , ,59 Ngajum , ,91 Wonosari , ,90 Wagir , ,83 Pakisaji , ,48 Tajinan , ,03 Tumpang , ,42 Pakis , ,78 Jabung , ,95 Lawang , ,00 Singosari , ,38 Karangploso , ,12 Dau , ,16 Pujon , ,68 Ngantang , ,22 Kasembon , ,18 Jumlah / Total , ,43 Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Malang BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

49 Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa untuk jumlah sasaran bayi sebanyak bayi dimana sebagian besar bayi atau lebih dari 90% telah mendapatkan imunisasi. Hal ini karena imunisasi merupakan program wajib pemerintah yang harus diberikan kepada semua bayi dan balita. Untuk imunisasi HBO untuk mencegah penyakit hepatitis diberikan mulai usia bayi 0-7 hari sebanyak bayi atau 92,63 %. Sedangkan untuk imunisasi BCG untuk mencegah penyakit campak sudah mencapai 100 %. Begitu juga untuk imunisasi Polio 1, 2 dan 3 juga imunisasi DPT 1 dan 2 serta imunisasi campak yang sudah mencapai 100%. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan imunisasi kepada anak usia bayi dan balita sangat tinggi. Dengan capaian imunisasi hingga 100% menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam melindungi anak dari penyakit, mencegah kecacatan dan mengurangi angka kematian pada anak di kabupaten Malang Keluarga Berencana (KB) Untuk menekan laju pertumbuhan penduduk yang berlebihan, pemerintah melaksanakan program Keluarga Berencana (KB). Apalagi jumlah penduduk Kabupaten Malang yang mencapai jiwa merupakan tertinggi di Propinsi Jawa Timur. Selain itu juga dilakukan sosialisasi alat kontrasepsi KB untuk mengatur kelahiran seperti : kondom, IUD, MOW, MOP, Pil, Implant, suntik dan KB tradisonal. Alat KB yang paling banyak digunakan adalah suntikan yaitu sebanyak: orang. Alat kontrasepsi wanita lebih banyak digunakan dari pada alat kontrasepsi pria yaitu : 549 buah sedang alat kontrasepsi pria yang digunakan hanya 12 buah. Disajikan dalam tabel 6.3 dan 6.4 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

50 Tabel Pencapaian Aksetor Baru Menurut Alat Kontrasepsi, 2010 Kecamatan Pasangan Usia Subur Alat Kontrasepsi IUD Pil Kondom Susuk Suntikan obat Pria Wanita Donomulyo Kalipare Pagak Bantur Gedangan Sumbermanjing Dampit Tirtoyudo Ampelgading Poncokusumo Wajak Turen Bululawang Gondanglegi Pagelaran Kepanjen Sumberpucung Kromengan Ngajum Wonosari Wagir Pakisaji Tajinan Tumpang Pakis Jabung Lawang Singosari Karangploso Dau Pujon Ngantang Kasembon Jumlah Sumber : Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang (20100 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

51 Tabel 6.4. Tingkat Kemandirian Peserta KB Aktif Dirinci Menurut Kecamatan, 2010 Kecamatan Target Pencapaian Peserta KB Aktif Persentase Donomulyo ,85 Kalipare ,59 Pagak ,07 Bantur ,29 Gedangan ,40 Sumbermanjing ,00 Dampit ,27 Tirtoyudo ,15 Ampelgading ,80 Poncokusumo ,74 Wajak ,27 Turen ,06 Bululawang ,02 Gondanglegi ,42 Pagelaran ,52 Kepanjen ,46 Sumberpucung ,51 Kromengan ,92 Ngajum ,60 Wonosari ,81 Wagir ,06 Pakisaji ,75 Tajinan ,42 Tumpang ,13 Pakis ,74 Jabung ,83 Lawang ,01 Singosari ,08 Karangploso ,04 Dau ,71 Pujon ,54 Ngantang ,44 Kasembon ,60 Jumlah ,98 Sumber : Badan Keluarga Berencana Kabupaten Malang (2010) 6.3. Donor Darah Kebutuhan permintaan darah yang semakin meningkat, mendorong Palang Merah Indonesia (PMI) untuk melakukan program donor darah. Berdasarkan tabel diketahu bahwa pedonor darah pria di Kabupaten Malang lebih banyak daripada wanita. Pedonor darah pria sebanyak orang BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

52 sedangkan pedonor darah wanita sebanyak orang. Hal ini bisa disebabkan kerena wanita lebih rentan mengalami anemia dan kekurangan zat besi dibandingkan pria. Pedonor darah terbanyak ada di Kecamatan Turen yaitu : 675 pedonor darah pria dan 255 pedonor darah wanita. Tabel Banyaknya Donor Darah Dirinci Menurut Bulan Dan Jenis Kelamin, 2010 Kecamatan Sukarela Pengganti Laki-laki Perempuan Laki-laki Perempuan Donomulyo Kalipare Pagak Bantur Gedangan Sumbermanjing Dampit Tirtoyudo Ampelgading Poncokusumo Wajak Turen Bululawang Gondanglegi Pagelaran Kepanjen Sumberpucung Kromengan Ngajum Wonosari Wagir Pakisaji Tajinan Tumpang Pakis Jabung Lawang Singosari Karangploso Dau Pujon Ngantang Kasembon Jumlah / Total Sumber: Dinas Kesehatan Kabupaten Malang BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

53 BAB VII EKONOMI DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Perekonomian Kabupaten Malang bersifat ekonomi rakyat. Berbicara tentang Ekonomi Rakyat, Kantor Menteri Koperasi dan UKM (2006) menginformasikan bahwa dari sekitar unit usaha yang ada di Indonesia, lebih dari 99% terdiri atas unit usaha yang tergolong : usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah yang bergerak di sektor-sektor kegiatan agribisnis, perdagangan (sektor informal), industri kecil dan industri rumah tangga yang dapat menyerap lebih dari 95% tenaga kerja, serta memberikan kontribusi terhadap PDB lebih dari 55%. Ekonomi rakyat adalah kegiatan ekonomi yang melibatkan masyarakat banyak (Prawirokusumo, 2001), yaitu ekonomi masyarakat lapisan bawah, yang bersifat tradisional, skala usaha kecil, dan sekedar survive untuk mempertahankan hidup (Kartasasmita, 1996). Ekonomi rakyat adalah ekonominya wong cilik seperti petani kecil, pedagang kecil, industri kerajinan, dan lain-lain yang mewarisi pekerjaan tradisional. Dalam pengertian sehari-hari ekonomi rakyat sering diidentifikasikan dengan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah atau UMKM (Mardikanto, 2010) Pertanian Sektor Pertanian merupakan tulang punggung perekonomian rakyat di Kabupaten Malang, yang meliputi pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan atau yang sering kita sebut dengan agrokompleks. Tingginya peranan Sektor Pertanian Sektor Pertanian ini dapat dilihat dari outputnya pada PDRB Kabupaten Malang. Tabel 7.1 berikut memperlihatkan perkembangan PDRB Kabupaten Malang dari Tahun 2008 s/d Tahun BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

54 Tabel Perkembangan PDRB Kabupaten Malang dan Sektor-Sektor yang Mendukung No Sektor Tahun 2008 Tahun 2009 Tahun 2010 Jumlah (Rp.) (Rp) (Rp) Total 1. Pertanian , , , ,31 2. Pertambangan , , , ,25 3. Industri Pengolahan , , , ,58 4. Listrik dan Air Bersih , , , ,90 5. Bangunan , , , ,04 6. Perdagangan, Hotel & Restoran , , , ,57 7. Pengangkutan dan Komunikasi , , , ,20 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan , , , ,57 9. Jasa-jasa , , , ,03 Jumlah Total , , , ,45 Nilai nominal PDRB Kabupaten Malang dari Tahun 2008 sampai dengan Tahun 2010 selalu mengalami kenaikan, dengan angka rata-rata kurang lebih Rp 3 milyard. Pada Tahun 2008 PDRB Kabupaten Malang sebesar Rp ,25, Tahun 2009 mencapai Rp ,82 dan pada Tahun 2010 meningkat menjadi Rp ,78. Dari tahun ke tahun Sektor Pertanian selalu leading, walaupun kontribusinya terhadap nilai PDRB dari Tahun 2008 ke Tahun 2009 dan 2010 menurun. Pada Tahun 2008 kontribusi Sektor Pertanian hampir 30% dari nilai PDRB Kabupaten Malang, pada Tahun 2009 dan 2010 mengalami penurunan, masing-masing menjadi kurang lebih 28%. Turunnya kontribusi Sektor Pertanian pada PDRB merupakan konsekuensi logis dari upaya pemerintah yang menitik beratkan pembangunan pada sektor-sektor lain seperti industri pengolahan, perdagangan, perhotelan, pengangkutan dan komunikasi. Sektor-sektor tersebut cenderung menunjukkan pertumbuhan yang relatif pesat dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya. Pentingnya Sektor Pertanian dalam perekonomian rakyat di Kabupaten Malang juga dapat dilihat dari tingginya jumlah tenaga kerja yang diserap oleh sektor ini. Seperti tampak pada tabel 7.2. Sektor Pertanian menyerap jumlah tenaga kerja cukup tinggi jika dibandingkan dengan sektor lain, yaitu 35,79% BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

55 dari seluruh angkatan kerja yang ada di Kabupaten Malang. Jika dipilah berdasarkan gender maka jumlah kaum perempuan yang terlibat dalam sektor ini sebesar 39 %, sedangkan laki-lakinya sebesar 61% dari seluruh tenaga kerja pertanian. Angka ini sedikit berbeda jika dibandingkan dengan hasil penelitian tentang peranan atau keterlibatan kaum perempuan di pertanian, dimana sumbangan tenaga perempuan tani dalam mengelola lahan produksinya lebih dari 50% dari tenaga yang dicurahkan oleh laki-laki, bahkan di lahan kering curahan tenaga perempuan sama dengan curahan tenaga lakilakinya (Supriadi dkk., 1990, Yuliati dkk., 1995, dan Yuliati, 2008). Dari 30 kecamatan yang ada di Kabupaten Malang, Kecamatan Singosari menyerap tenaga kerja paling tinggi, sementara Kecamatan Kasembon adalah terendah. Hal ini wajar karena selain jumlah penduduk di Kecamatan Singosari paling tinggi (MDA, 2010) juga kecamatan ini mempunyai wilayah dengan topografi relatif datar yang memungkinkan penduduknya melakukan kegiatan agrokompleks. Sementara Kecamatan Kasembon selain jumlah penduduknya paling sedikit juga mempunyai wilayah dengan topografi bergelombang (gunung), dimana sebagian besar lahannya berupa hutan produksi atau hutan lindung yang dikuasai oleh pemerintah (Dinas Kehutanan atau Perhutani), dan sebagian kecil saja yang dikelola masyarakat. Untuk lebih jelasnya mengenai jumlah tenaga kerja yang terserap di Sektor Pertanian berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 7. 2 berikut. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

56 Tabel Jumlah Penduduk Yang Bekerja di Bidang Pertanian, Tahun 2010 No Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah 1 Donomulyo Kalipare Pagak Bantur Gedangan Sumbermanjing Dampit Tirtoyudo Ampelgading Poncokusumo Wajak Turen Bululawang Gondanglegi Pagelaran Kepanjen Sumberpucung Kromengan Ngajum Wonosari Wagir Pakisaji Tajinan Tumpang Pakis Jabung Lawang Singosari Karangploso Dau Pujon Ngantang Kasembon Jumlah / Total Sumber: BPS Kabupaten Malang BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

57 7. 2. Koperasi dan UMKM Dinas Koperasi dan UMKM merupakan salah satu lembaga yang mendukung pembangunan perekonomian rakyat di Kabupaten Malang, hal ini dapat dilihat dari Visi dan Misinya. Visi Dinas Koperasi dan UMKM adalah : Terwujudnya Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah menjadi lembaga yang tumbuh dan berkembang secara sehat, tangguh, dan Mandiri dengan tingkat daya saing yang tinggi sehingga dapat berperan sebagai pelaku utama dalam perekonomian Kabupaten Malang yang bertumpu pada mekanisme yang berkeadilan dan menjadi fasilitator yang memiliki kompetensi tinggi Sementara itu Misi dari Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Malang adalah: 1. Menerapkan Undang-Undang dan Peraturan Daerah di bidang Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah 2. Membina dan mengawasi Koperasi dan Usaha Mikro, kecil dan Menengah 3. Meningkatkan Kwalitas Kelembagaan Koperasi, Usaha Mikro, kecil dan menengah 4. Memantapkan keterkaitan Jalinan Usaha/ kemitraan Koperasi usaha Mikro, Kecil dan Menengah 5. Mendorong Kelompok-kelompok Usaha sejenis yang tumbuh dan berkembang di masyrakat untuk bergabung dalam wadah koperasi 6. Meningkarkan jiwa Kewirausahaan yang Sehat, tangguh dan Mandiri serta memiliki daya saing yang tinggi di lingkungan Gerakan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

58 Arah Kebijakan Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Malang antara lain : 1. Mengembangkan Usaha Kecil, Menengah untuk memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktifitas dan daya saing, sedangka pengembangan Skala Mikro diarahkan untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah. 2. Memperluas basis dan kesempatan berusaha serta menumbuhkembangkan Wira usaha baru berkeunggulan prima untuk mendorong pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja. 3. Mengembangkan Koperasi dan UMKM untuk lebih berperan sebagai penyedia barang dan jasa si pasar domestik yang semakin berdaya saing dengan produk import. 4. Membangun tatanan kelembagaan dan Organisasi Koperasi, meningkatkan kepedulian dan dukungan pemangku kepentingan dan meningkatkan kemadirian gerakan Koperasi. Di Kabupaten Malang pada Tahun 2011 terdapat koperasi, jika dibandingkan dengan jumlah koperasi pada Tahun 2010, maka ada peningkatan jumlah koperasi sebanyak 332 koperasi. Dari sejumlah koperasi tersebut terdapat 390 Koperasi Wanita Program Pakde Karwo, yaitu program koperasi Gubernur Jawa Timur, dan 2 koperasi non program. Jika dibandingkan dengan Tahun 2010 yaitu sebanyak 195 koperasi, maka Koperasi Wanita yang dibentuk oleh Gubernur Jawa Timur pada saat ini mengalami peningkatan. Diantara sekian banyak koperasi wanita yang ada di Kabupaten Malang ada 2 (dua) koperasi yang paling menonjol dan mendapat penghargaan dari Pemerintah, yaitu Koperasi Lestari Mandiri di Kecamatan Lawang dan Koperasi Citra Kartini di Kecamatan Sumberpucung. Koperasi Lestari Mandiri mempunyai anggota sebanyak orang dengan 3 orang pengurus, dan 2 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

59 orang pengawas. Kinerja dari koperasi ini sangat baik, hal ini ditunjukkan dengan berkembangnya jumlah modal yang ada. Pada awal pembentukannya koperasi ini hanya mempunyai modal sebesar Rp ,-, dan pada saat ini atau Tahun 2011 modal tersebut telah berkembang mencapai 9,2 Milyar Rupiah. Oleh karena itu wajar apabila Koperasi Lestari Mandiri ini mendapat penghargaan dari pemerintah dengan kriteria sebagai : - Tokoh Penggerak Koperasi Jawa Timur Tahun Koperasi Berprestasi Tingkat Nasional Tahun Koperasi Nasional Tahun KSP berkinerja Terbaik Jawa Timur 2010 Selain Koperasi Lestari Mandiri di Kecamatan Lawang, Koperasi Citra Kartini di Kecamatan Sumberpucung juga merupakan koperasi teladan di Kabupaten Malang. Dengan jumlah anggota orang, jumlah pengurus 5 (lima) orang, dan jumlah pengawas 3 (tiga) orang, koperasi ini telah mendapatkan penghargaan dari Dinas Koperasi Propinsi Jawa Timur dengan kriteria sebagai : - Koperasi Berprestasi Tahun 2008, Tingkat Kabupaten Malang - Peringkat I Koperasi Berprestasi Tingkat Provinsi Tahun 2008, dan - Koperasi Jasa Tahun 2008 Tingkat Nasional. Memasuki Tahun 2010, Kabupaten Malang telah melanjutkan dan melaksanakan Program Ex. Gerdu Taskin yaitu Program Peningkatan Keberdayaan Masyarakat ( PPKM) dengan program awal sebanyak 10 desa, dan penguatan Unit Pengelola Keuangan dan Usaha (UPKU) sebanyak 2 desa. Sementara itu jumlah PPKM dan UPKU di Kabupaten Malang sejak Tahun 2004 sampai dengan Tahun 2011 telah menjangkau sebanyak 125 UPKU di 109 desa dengan rincian seperti yang tertera di dalam tabel 7. 3 berikut. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

60 Tabel Rincian Pelaksanaan Gerdu Taskin Th s/d 2011 Kabupaten Malang NO TAHUN AWAL MODEL PENGUATAN PELESTARIAN JUMLAH JUMLAH Sumber :MDA, 2010 Dalam tabel 7.3 tersebut dapat dilihat bahwa, dari Tahun 2004 sampai Tahun 2011 tidak menunjukkan kecenderungan adanya peningkatan atau penurunan jumlah PPKM. Pada awal Tahun 2004 ada 5 PPKM yang dibentuk, kemudian pada Tahun 2005 meningkat menjadi 28 dan pada tahun-tahun selanjutnya menurun, dan baru pada Tahun 2007 naik sampai Tahun 2009, kemudian turun lagi. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah PPKM yang muncul dari tahun ke tahun betul-betul tumbuh dari bawah dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dari sejumlah PPKM tersebut 30% anggotanya adalah perempuan. Yang menarik, ada dua PPKM yang dijadikan model/percontohan sebagai PPKM terbaik di Kabupaten Malang pada Tahun 2007 dan Tahun 2008, sayangnya dimana lokasi PPKM tersebut tidak disebutkan (tidak ada data). Dana yang digunakan dalam menjalankan aktifitas PPKM tersebut berasal dari dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). Mengenai besarnya anggaran yang berasal dari BLM pada pelaksanaan PPKM Ex. Gerdu Taskin dapat dilihat pada tabel 7.4. berikut. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

61 Tabel Realisasi Anggaran Program PPKM Ex. Gerdu Taskin Tahun SUMBER DANA TAHUN (Rp) ,585 Propinsi 445,2 JT 3,136 M 1,732,5 M 2,010 1,413 M 1,123,5 M 190 Jt M Kabupaten 150 JT 1,189, JT 1,3 M 2,2 M 606 Jt 606 Jt 606 Jt Sharing 33,7% 37,9% 51,9% 64,7% 85,1% 42,9% 54% - Jumlah 595,2 4,325,225 2,632, ,785 2,019 1,729,5 Jumlah Desa (KMDA, 2010) Jt Dari tabel 7.4 di atas dapat dilihat bahwa dana yang disediakan dalam pembinaan kelompok PPKM dari tahun ke tahun besarnya tidak sama, hal ini tergantung dari jumlah desa atau kelompok yang mengusulkan. Semakin banyak jumlah desa dan kelompok, semakin banyak dana yang disediakan. Pada Tahun 2005, Tahun 2007, dan Tahun 2008 pemerintah paling banyak mengeluarkan dana untuk PPKM ex Gerdu Taskin. Sumber dana yang tersedia untuk kegiatan ini berasal dari Propinsi dan Kabupaten Malang. Kontribusi Pemerintah Kabupaten Malang atas pendanaan Gerdu Taskin dari tahun ke tahun tidak ada kecenderungan yang tetap meningkat atau menurun, dan jika dirata-rata angkanya lebih dari 50% dari total dana yang disediakan. Pada Tahun 2010 ada usulan 2 UPK/Kelompok Calon alokasi Program Gema Sejahtera Dinas Koperasi dan UMKM di Kabupaten Malang, yaitu Kelompok Sekar Melati di Desa Purwosekar, Kecamatan Tajinan dan Kelompok Sejahtera di Desa Dampit Kecamatan Dampit. Berikut struktur organisasi dari calon kelompok-kelompok UPK tersebut. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

62 Ketua Eva Nurmala (P) Sekretaris Tini (P) Bendahara Budi (L) Anggota 25 orang (2 orang perempuan, 23 orang laki-laki) Bagan Struktur Organisasi Kelompok Sejahtera, Desa Dampit, Kecamatan Dampit Ketua Siswoyo (L) Sekretaris Suba i (L) Bendahara Kuseman (L) Anggota 20 orang (5 orang perempuan, 15 orang laki-laki) Bagan 7.2. Struktur Organisasi Sekar Melati, Desa Purwosekar, Kecamatan Tajinan BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

63 Dari struktur organisasi kedua kelompok yang diusulkan untuk dibiayai oleh Program Gema Sejahtera TA 2010 tersebut dapat dilihat bahwa kelompokkelompok UPK tersebut keanggotaan maupun pengurusnya didominasi oleh kaum laki-laki. Di Kelompok Sejahtera hanya terdapat 4 (empat) orang perempuan dan 24 orang laki-laki, sementara di Kelompok Sekar Melati hanya terdapat 5 (lima) orang perempuan dan 18 orang laki-laki baik sebagai pengurus maupun anggota. Kedua kelompok tersebut menarik untuk dicermati. Pada kelompok Sejahtera walaupun keterlibatan perempuan sangat sedikit tetapi ketuanya adalah seorang perempuan, yaitu Ibu Eva Nurmala sementara di kelompok Sekar Melati, dimana nama kelompoknya sangat feminin malah didominasi oleh kaum laki-laki. Sayang sekali tidak ada data yang menjelaskan kasus tersebut. UMKM merupakan kegiatan Ekonomi Rakyat yang terbukti tangguh menghadapi goncangan krisis multi dimensi yang melanda Indonesia sejak awal 1998 yang lalu (Mardikanto, 2010). Jika dicermati, UMKM (khususnya usaha mikro dan kecil) sebagian besar merupakan kegiatan agrobisnis (onfarm dan off-farm) dan kegiatan-kegiatan non-farm yang dilakukan oleh keluarga petani/nelayan kecil. Mengenai jumlah UMKM di Kabupaten Malang pada Tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel Jumlah UMKM Berdasarkan Skala Usaha di Kabupaten Malang, Tahun 2011 No UMKM Jumlah Tenaga kerja Omzet (unit) (orang) (Rp 000) 1 Usaha mikro Usaha kecil Usaha menengah Jumlah (KMDA,2010) Keterangan : a. Kriteria usaha mikro adalah Memiliki hasil penjualan per hari paling banyak Rp 83,333 b. Kriteria usaha kecil adalah Memiliki hasil penjualan per hari paling banyak Rp 1,736,111 c. Kriteria usaha menengah adalah Memiliki hasil penjualan per hari paling banyak Rp BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

64 Berdasarkan tabel 7.5 di atas dapat dilihat bahwa UMKM yang terbanyak di Kabupaten Malang adalah UMKM skala mikro, dengan jumlah tenaga kerja 857 orang. Jenis usaha yang ditekuni mulai usaha kuliner, home industri, kerajinan sampai peracangan. Sayang sekali tidak ada data mengenai berapa banyak laki-laki maupun perempuan yang terlibat di di masing-masing UMKM berdasarkan skala usaha ini. Dari omset yang didapat kan per-hari kelompok usaha kecil mempunya omset yang yang relative tinggi jika dibandingkan pada kelompok usaha mikro dan menengah yaitu sebesar Rp /hari. Untuk kepemilikan UMKM dapat digambarkan pada grafik di bawah ini Laki-Laki Perempuan 0 Gambar Jumlah Laki-laki dan Perempuan Berdasarkan Jenis UMKM Gambar di atas memperlihatkan bahwa pelaku UMKM tidak pandang gender, tidak hanya kaum laki-laki, tetapi juga kaum perempuan semua terlibat dalam kegiatan UMKM. Sektor yang paling banyak diminati bagi pelaku UKM adalah perdagangan, kemudian diikuti industri kerajinan dan usaha kuliner. Perdagangan yang dilakukan meliputi : toko kelontong, pracangan, pedagang palen; industri kerajinan yang ada di Kabupaten Malang antara lain : membuat BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

65 tempe, membuat jamu, mebel, usaha jamur, membuat gula merah, batik, garmen, bordir, sepatu, tas, Jenis UKM yang juga banyak peminatnya di Kabupaten Malang adalah kuliner dan penginapan. Usaha yang paling sedikit diminati di Kabupaten Malang adalah spare-part, persewaan dan angkutan, selain karena butuh modal yang besar juga keahlian khusus, sehingga tidak semua orang bisa memasuki sektor ini. Pada umumnya semua jenis UKM yang ada di Kabupaten Malang didominasi oleh kaum laki-laki, termasuk UKM kuliner yang merupakan wilayah perempuan. Tabel Jumlah UMKM Berdasarkan Sektor dan Omzet NO JENIS UKM OMZET ASET L P L P 1 Rumah Makan/warung/ Catering/ Caffe/ Penginapan Sumber : Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Malang, Tahun Home industri Pertokoan/kelontong/ Pracangan/pedagang/ Palen Separe-part Persewaan Jasa Pertambangan Angkutan Komunikasi Pertanian Industri Kerajinan Lain-lain Berdasarkan tabel 7.6 di atas dapat disimpulkan bahwa, terdapat perbedaan yang cukup menyolok antara omzet dan aset yang dimiliki atau dikuasai laki-laki dan perempuan. Rata-rata pada semua kegiatan UMKM lakilaki mempunyai aset dan omzet jauh lebih besar dibandingkan dengan perempuan. Rata-rata laki-laki mempunyai omzet sebesar 76% dan BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

66 perempuan 24 % dari total omzet yang ada. Sementara itu kalau diperhitungkan asetnya maka aset yang dipunyai laki-laki juga lebih besar dari pada perempuan 76,5% laki-laki, sedangkan perempuan hanya 24,5% dari seluruh aset yang ada. Selain UKM teknologi komunikasi sudah ada dan dikembangkan oleh masyarakat untuk pemenuhan disektor ekonomi hal ini terlhat pada tabel di bawah ini : Tabel 7.7 Rekapitulasi Jumlah Warnet dan PS Di Kabupaten Malang Tahun 2011 No. Kecamatan Warnet PS Jumlah 1. Tumpang Sumber Pucung Jabung Dau Wager Pagelaran Tirtoyudo Pujon Pagak Ampelgading Sumbermanjing Wetan Pakis Ngajum Kalipare Gondanglegi Kromengan Kasembon Wajak Ngantang Lawang Pakisaji Donomulyo Wonosari Singosari Poncokusumo Bantur Karangploso Gedangan Dampit Kepanjen Bululawang Tajinan Turen JUMLAH BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

67 Dari tabel di atas diapat diketahui jumlah warnet yang ada di Kaupaten Malang sejumlah 483 unit, dari banyaknya warnet maka masyarakat sudah dapat mengakses informasi dari luar baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Dengan adanya internet. Selain itu dengan banyaknya internet komunikasi akan lebih mudah dan tidak terbatas. Biasanya denga keberadaan internet akan di imbangi dengan keberadaan PS dimana terbukti dengan jumlahnya sebesar 810 unit. PS disini permainan game yang terkoneksi dengan sambungan internet sehingga jika sudah ada internet PS pun akan mudah dicari. Keberadaa warnet dan PS mendatangkan keuntungan secara ekonomi bagi pemiliknya dan pengguna meskipun terkadang ada kelemahannya untuk hal itu tergantung dari kontrol pengguna dalam hal ini adalah masayarakat Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan, yakni bersifat people centered, participatory, empowering, and sustainable (Chambers, 1995). Friedmann (1992) menambahkan bahwa, pemberdayaan masyarakat merupakan alternative development, yang menghendaki inclusive democracy, appropriate economic growth, gender equality and intergenerational equity. Secara konseptual, pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dari penjelasan singkat tentang pemberdayaan tersebut jelas bahwa obyek dari kegiatan pemberdayaan adalah seluruh masyarakat yang membutuhkan (kaum marginal) baik laki-laki maupun perempuan. Demikian pula yang terjadi di Kabupaten Malang yang tercermin dalam visi, misi dan BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

68 tujuan pemberdayaan masyarakatnya melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat. Visi PNPM adalah : Tercapainya kesejahteraan dan kemandirian masyarakat miskin pedesaan. Kesejahteraaan berarti terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat. Kemandirian berarti mampu mengorganisir diri untuk memobilitasi sumber daya yang ada dilingkungannya, mampu mengakses sumber daya di luar lingkungannya, serta mengelola sumber daya tersebut untuk mengatasi masalah kemiskinan Misi PNPM adalah : 1. Meningkatkan kapasitas masyarakat dan kelembagaannya 2. Pelembagaan sistem pembangunan partisipatif 3. Pengefektifan fungsi dan peran pemerintah lokal 4. Meningkatkan kualitas dan kuantitas prasarana sarana sosial dasar dan ekonomi masyarakat 5. Mengembangkan jaringan kemitraan dalam pembangunan Di Kabupaten Malang PNPM ada 2 (dua) macam PNPM, yaitu : - PNPM Mandiri Perdesaan dan - PNPM Generasi Sehat dan Cerdas (Kesehatan dan Pendidikan) Tujuan Umum PNPM Mandiri Perdesaan adalah : Meningkatkan kesejahteraan dan kesempatan kerja masyarakat miskin di perdesaan dengan mendorong kemandirian dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan pembangunan. Adapun Tujuan Khusus dari PNPM Mandiri Perdesaan adalah : 1. Meningkatkan partisipasi seluruh masyarakat khususnya masyarakat miskin dan atau kelompok perempuan, dalam pengambilan keputusan perencanaan, pelaksanaan, pemantauan dan pelestarian pembangunan BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

69 2. Melembagaan pengelolaan pembangunan partisipatif dengan mendayagunakan sumberdaya lokal 3. Mengembangkan kapasitas pemerintahan desa dalam memfasilitasi pengelolaan pembangunan partisipatif 4. Menyediakan prasarana sarana sosial dasar dan ekonomi yang diprioritaskan oleh masyarakat 5. Melembagakan pengelolaan dana bergulir 6. Mendorong terbentuk dan berkembangnya Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) 7. Mengembangkan kerjasama antar pemangku kepentingan dalam upaya penanggulangan kemiskinan desa Sementara itu Prinsip-prinsip PNPM Mandiri Perdesaan meliputi : 1. Bertumpu pada pembangunan manusia 2. Otonomi, masyarakat memiliki hak dan kewenangan mengatur diri secara mandiri dan bertanggung jawab, tanpa intervensi negative dari luar 3. Desentralisasi, memberikan ruang yang lebih luas kepada masyarakat untuk mengelola kegiatan pembangunan sektoral dan kewilayahan yang bersumber dari pemerintahan dan pemerintahan daerah sesuai dengan kapasitas masyarakat 4. Berorientasi pada masyarakat miskin, segala keputusan yang diambil berpihak kepada masyarakat miskin 5. Partisipasi, masyarakat berperan aktif dalam proses atau alur tahapan program dan pengawasannya, mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, pelaksanaan, dan pelestarian kegiatan dengan memberikan sumbangan tenaga pikiran, atau dalam bentuk materiil 6. Kesetaraan dan keadilan gender, masyarakat baik laki0laki mupun perempuan mempunyai kesetaraan dalam perannya disetiap tahapan program dan dalam menikmati manfaat kegiatan pembangunan, BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

70 kesetaraan juga dalam pengertian kesejajaran kedudukan pada saat situasi konflik. 7. Demokrasi,, masyarakat mengambil keputusan pembangunan secara musyawarah dan mufakat 8. Transparansi dan akuntabel, masyarakat memiliki akses terhadap segala informasi dan proses pengambilan keputusan sehingga pengelolaan kegiatan dapat dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggung jawabkan baik secara moral, teknis, legal, maupun administrative 9. Prioritas, masyarakat memilih kegiatan yang diutamakan dengan mempertimbangkan kemendesakan dan kemanfaatan untuk pengentasan kemiskinan 10. Keberlanjutan, dalam setiap pengembilan keputusan atau tindakan pembangunan, mulai dari tahap perencanan, pelaksanaan, pengendalian dan pemeliharaan kegiatan harus telah mempertimbangkan kelestarian. Dari berbagai pengalaman dan hasil penelitian menunjukkan bahwa, usaha mikro memiliki potensi besar bagi penanggulangan kemiskinan, baik ditinjau dari ragam kegiatan, potensi pasar, jumlah modal dan tingkat pengetahuan dan ketrampilan. Hasil penelitian Yuliati dan Hidayati (2009) menyimpulkan bahwa program PNPM di Kabupaten Tuban telah meningkatkan pengetahuan, ketrampilan para perempuan serta pendapatan rumahtangganya. Salah satu aspek penting dalam pemberdayaan masyarakat melalui usaha mikro sering terkendala oleh keterbatasan modal, baik yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga maupun untuk mengembangkan usahanya. Pendanaan PNPM baik PNPM Mandiri Perdesaan maupun PNPM Generasi di Kabupaten Malang berasal dari APBN dan APBD. Alokasi dana PNPM secara keseluruhan, dapat dilihat pada tabel 7.8 berikut BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

71 Tabel Alokasi BLM PNPM Mandiri Perdesaan dan Generasi di Kabupaten Malang NO TAHUN ANGGARAN ALOKASI DANA BLM (Rp) APBN APBD TOTAL /1999 3,750,000, ,750,000, /2000 7,750,000, ,750,000, / ,750,000, ,750,000, ,750,000, ,750,000, ,000,000,000 2,250,000,000 9,250,000, ,200,000,000 3,800,000,000 14,000,000, ,200,000,000 3,800,000,000 10,000,000, ,050,000,000 5,200,000,000 12,250,000, ,850,000,000 6,400,000,000 26,250,000, ,400,000,000 12,600,000,000 77,000,000, ,450,000,000 9,500,000,000 62,950,000, * 32,235,000,000 5,640,000,000 37,875,000,000 TOTAL 233,385,000,000 49,190,000, ,575,000,000 Sumber : Kantor Bappeda Kabupaten Malang, Tahun 2011 Berdasarkan tabel 7.7 tersebut di atas dapat disimpulkn, bahwa sumber dana program PNPM ini sebagian besar berasal dari APBN, hal ini wajar karena PNPM adalah program Nasional. Total anggaran yang dialokasikan sejak PNPM ini digulirkan terus bertambah sampai mencapai Rp ,- pada Tahun 2009, kemudian trendnya menurun hingga Tahun 2011 yaitu Rp ,-. Kenaikan atau penurunan jumlah anggaran tersebut tergantung pada jumlah kelompok PNPM yang ada. Mengenai alokasi dana operasional untuk perencaan, pelatihan, microfinance dan RPJMDes dapat dilihat pada tabel 7. 8 berikut BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

72 NO Tabel Alokasi Dana Operasional Kegiatan (DOK) Perencanaan, Pelatihan Masyarakat, Microfinance & Penyususnan RPJMDes TAHUN ANGGARAN ALOKASI DANA BLM DOK Perencanaan DOK Pelatihan DOK Microfinance DOK RPJM-Des / Keterangan Dana dikelola oleh perusahaan FK / / ,000, ,000, ,000, ,000, ,000, ,015,000 80,000, ,500, ,460, ,409,800, ,370, ,269,330, ,890, * 1,822,300,000 2,024,905, ,890,000 JUMLAH 8,070,930,000 3,674,640,000 80,000, ,890,000 Sumber : Kantor Bappeda Kabupaten Malang, Tahun 2011 Dana dikelola oleh perusahaan FK Dana dikelola oleh perusahaan FK Tabel 7.8 di atas memperlihatkan, bahwa dana operasional kegiatan sampai dengan Tahun 2011 paling banyak terserap untuk kegiatan perencanaan, yaitu sebesar 64,9%. Ada kecenderungan peningkatan anggaran terutama sejak Tahun Sementara itu anggaran yang rendah adalah untuk kegiatan microfinance, yaitu 6,4% dari seluruh anggaran yang ada. Dari Tahun 1998 sampai Tahun 2002 dana dikelola oleh perusahaan FK, setelah itu dana dikelola oleh kelompok sendiri. Pelaku PNPM Mandiri Perdesaaqn di Kabupaten Malang terdiri dari : pelaku di tingkat kecamatan dan pelaku di tingkat desa. Pelaku di tingkat kecamatan terdiri dari : PL, BKAD, BP-UPK, UPK dan TV, sementara itu pelaku di tingkat desa meliputi : KPMD, TPU, TPK, PK, TPMD, Tim Monitoring, dan TP3. Tabel berikut memperlihatkan data pelaku PNPM Mandiri Perdesaan di Kabupaten Malang. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

73 Tabel Data Pelaku PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Malang Pelaku Lingkup Wilayah Tugas Pokok Jumlah Pelaku PL Kec Pendampingan masyarakat BKAD Kec Pelestarian Hasil PNPM-MP BP-UPK Kec Pengawasan terhadap UPK UPK Kec Pengelolaan kegiatan PNPM-MP TV Kec Verifikasi Usulan Kegiatan KPMD Desa Pendampingan masyarakat (Reguler & GSC) TPU Desa Pembuatan usulan Kegiatan TPK Desa Pengelolaan kegiatan PK Desa Pengelola Kegiatan (GSC) TPMD Desa Pengelola Kegiatan merumuskan kegiatan (GSC) 1,683 1,683 Tim Monitoring Desa Memantau Pelaksanaan Kegiatan TP3 Desa Pemeliharaan Hasil kegiatan Sumber : Kantor Bappeda Kabupaten Malang, Tahun 2011 Ada perbedaan pelaku PNPM di Kabupaten Malang di tingkat kecamatan dan tingkat desa. Di tingkat desa, sesuai dengan tupoksinya pelaku PNPM adalah : KPMD, TPU, TPK, PK, TPMD, Tim Monev, dan TP3, sedangkan pelaku PNPM di tingkat kecamatan adalah : PL, BKAD, BP-UPK, UPK, dan TV. Tampak ada perbedaan yang cukup signifikan antara tugas pokok pelaku PNPM di tingkat kecamatan dengan pelaku PNPM di tingkat desa. Pelaku PNPM desa mempunyai tugas pokok sangat bervariasi, mulai membuat usulan kegiatan, merumuskan kegiatan, mengelola kegiatan, memantau dan mengevaluasi kegiatan, sampai dengan memelihara hasil kegiatan. Sementara itu para pelaku PNPM di tingkat kecamatan mempunyai tugas pokok mulai sebagai verifikasi usulan kegiatan, Pengelolaan kegiatan PNPM-MP, Pengawasan terhadap UPK, sampai Pendampingan masyarakat. Sangat disayangkan tidak ada data mengenai pelaku PNPM berdasarkan jenis kelamin. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

74 Keluaran Program Menurut Petunjuk Teknis Operasional (PTO) PNPM Mandiri Perdesaan bahwa keberhasilan keluaran program diukur dari hal-hal sebagai berikut : 1. Terjadinya peningkatan keterlibatan Rumahtangga Miskin (RTM) dan kelompok perempuan mulai perencanaan sampai dengan pelestarian 2. Terlembaganya system pembangunan partisipatif di desa dan antar desa 3. Terjadinya peningkatan kapasitas pemerintahan desa dalam memfasilitasi pembangunan partisipatif 4. Berfungsi dan bermanfaatnya hasil kegiatan PNPM Mandiri Pedesaaan bagi masyarakat 5. Pelembagaannya pengelolaan dana bergulir dalam peningkatan pelayanan social dasar dan ketersediaan akses ekonomi terhadap RTM 6. Terbentuk dan berkembangnya BKAD dalam pengelolaan pembangunan 7. Terjadinya peningkatan peran serta dan kerjasama para pemangku kepentingan dalam upaya penanggulangan kemiskinan perdesan Berikut adalah keluaran program yang berbentuk Kegiatan Sarana dan Prasarana PNPM Mandiri Perdesaan. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

75 No Tabel Rekapitulasi Hasil Kegiatan Sarana dan Prasarana PNPM Mandiri Perdesaan Lokasi/ Kabupa ten Nama Sarana Dimensi meter/ unit BLM Dana Kegiatan HOK & Tenaga Jumlah Pemanfaat swadaya HOK & Tenaga Tenaga L P ARTM 1 Malang Pasar Desa 168 1,474,600, , ,472 15, Malang jalan trabat beton 60,400 10,285,509, , ,942 92, Malang Air bersih 335,694 8,442,682, ,796, Malang Drainase 51,027 6,821,686, , , Malang jalan 112,383 15,632,652, , Malang 7 Malang 8 Malang 9 Malang Jembatan Beton Jembatan Baja Jembetan Pelengkung Gedung PAUD 62 3,317,114, ,368,429, ,6740, ,244,220, Malang Gedung TK 99 6,699,610, Malang jalan telford 536,633 31,088,924, Malang Jalan Aspal 260,290 18,661,754,456 5, Malang Jalan Telaah 1, ,860, Malang 15 Malang Gedung Polindes Air Bersih (pompa listrik) 15 1,009,068, , ,352, Malang saluran irigasi 8,098 1,066,876, Malang MCK ,497, Malang gedung kendedes 1 182,796, Malang SMP 2 84,435, Malang Gedung Pendidikan Non formal 1 123,208, Malang 1, ,480, Malang TK 45 53,252, Malang Posyandu 5 85,738, Malang 25 Malang 26 Malang Tandon Air minum goronggorong Gedung Posyandu 7 108,243, ,545, ,905, Malang Dam 7 90,443, Malang Gedung MTS 1 76,108, Malang 30 Malang 31 Malang Jembatan Banjir Limpas jembatan Gantung Jembatan pipa air 1 394,214, ,775, ,266, Malang Pasar hewan 1 28,654, Malang instalansi pengolahan & TPST 2 230,643, Malang gedung MI 1 35,362, Sumber : Kantor Bappeda Kabupaten Malang, Tahun 2011 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

76 Dari tabel 7.10 di atas dapat dilihat bahwa hasil kegiatan sarana dan prasarana didominasi oleh sektor pendidikan baik formal maupun non-formal, yaitu : pembangunan gedung PAUD, TK, SMP/MTS 115 unit, dan satu unit untuk pembangunan gedung pendidikan non-formal. Selain itu program PNPM juga banyak menghasilkan sarana dan prasarana transportasi yaitu jalan dan jembatan yang ada di Kabupaten Malang masih banyak yang memprihatinkan. Dengan diperbaiki dan dibangunnya jembatan dan jalan raya diharapkan sektor ekonomi akan semakin maju dan lancar. Bidang kesehatan dan Pertanian tidak luput dari program PNPM. Di Bidang Kesehatan ada 5 (lima) Posyandu, 15 Polindes maupun 2 sarana air bersih yang dibangun. Saluran irigasi sebagai sarana penyedia dan distribusi air untuk tanaman padi dan tanaman pangan lainnya mempunyai peranan yang tinggi dalam peningkatan produktifitas pangan di Kabupaten Malang. Oleh karena itu PNPM Mandiri Perdesaan tidak mengabaikan masalah ini, terbukti ada meter saluran yang dibangun/diperbaiki dengan dana yang berasal dari program PNPM. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa PNPM di Kabupaten Malang terdiri dari PNPM Mandiri Perdesaan dan PNPM Generasi Sehat dan Cerdas. Mengenai hasil kegiatan PNPM Generasi Sehat dan Cerdas mulai Tahun 2006 s/d Tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

77 Tabel Hasil Kegiatan Sarana dan Prasarana PNPM Generasi Sehat dan Cerdas mulai Tahun 2006 s/d Tahun 2010 No Dimensi dana kegiatan HOK & Tenaga jumlah Pemanfaat Lokasi / Nama meter/ HOK & L P Kabupaten Sarana BLM swadaya Tenaga ARTM unit Tenaga (Orang) (Orang) 1 Malang Jalan telford 18,695 1,437,817, ,898,678 21, ,122 8,490 8,239 2 Malang Gedung polindes 23 1,173,064, ,365,950 7, ,919 6,030 6,166 3 Malang air bersih (pipanisasi) 8, ,778,150 24,510,000 1, Malang Jembatan beton ,576, ,006,150 3, ,159 2,665 3,440 5 Malang Jembatan gelagar besi 2 157,514,000 20,000,000 1, Malang Jalan trabat beton 167,593 2,862,393, ,165,700 19, ,222 13,876 16,500 7 Malang Gedung posyandu 55 1,507,670, ,831,950 15, ,363 5,828 4,837 8 Malang Gedung poskedes 6 270,049,450 21,312,300 2, ,908 9 Malang MCK ,355, ,466,850 5, ,992 2,538 3, Malang jalan Paving 1, ,773,900 49,079,750 1, , Malang jalan aspal 3, ,801,500 86,067,200 2, ,184 1,847 1, Malang drainase ,153,300 9,173, ,265 1, Malang tandon air 3 39,178,300 7,687, Malang plesterisasi 1 1,500, , Malang TPT ,636,900 24,984,500 1, Malang gorong Plat 8 16,463,900 7,511, Malang sanggar belajar 3 76,250,000 1,650, Malang pembuat biogas8 8 25,531,900 2,580, Malang sumur & pompa 2 13,196,000 2,000, total 9,286,704,226 1,528,791,928 85, ,674 47,757 50,928 Berdasarkan tabel 7.11 di atas tampaknya bahwa hasil kegiatan sarana dan prasarana sejak Tahun 2006 sampai Tahun 2010 ini didominasi oleh BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

78 kegiatan peningkatan generasi sehat, sementara untuk generasi cerdas masih diabaikan. Hal ini dapat dibuktikan dengan sebagian besar anggaran yang terserap digunakan untuk pembangunan gedung posyandu, puskesdes, polindes, sarana air bersih, dan sarana jalan. Sementara itu, untuk sarana generasi cerdas tampak pada pembangunan sanggar belajar. Jika ditinjau dari siapa yang memanfaatkan sarana dan prasarana yang dibangun oleh proyek PNPM ini tampaknya para perempuan lebih banyak memanfaatkannya dibandingkan dengan laki-laki, walaupun bedanya tidak signiifikan. Mengenai rekapitulasi kegiatan sarana dan prasarana pasca krisis Tahun 2010 dapat dilihat pada tabel 7.13 di bawah ini. No Tabel Rekapitulasi Kegiatan sarana Prasarana Pasca Krisis Tahun 2010 Kabupaten Malang Lokasi Malang Malang Malang Nama sarana Jalan telford Rabat beton Drainase jalan Dimensi Dana Kegiatan HOK & Tenaga Jumlah Pemanfaat BLM Swadaya HOK Tenaga L P ARTM 2, ,906,100 26,127,500 1, , ,529, ,656,000 4, ,236 3,251 1, ,294,000 6,473, total 8,622 1,116,729, ,257,000 6, Kegiatan sarana dan prasarana pasca krisis Tahun 2010 digunakan untuk peningkatan sarana jalan dan drainase. Dana yang terserap hampir 90% tepatnya 88% berasal dari pusat atau BLM, sementara yang swadaya hanya 12%. Sama dengan kegiatan sebelumnya, yang paling banyak memanfaatkan proyek ini adalah perempuan. Mengenai perkembangan asset UPK di Kabupaten Malang sampai akhir Bulan April 2011 terdapat peningkatan rata-rata sampai 70%. Peningkatan tertinggi terjadi di Kecamatan Kepanjen, angkanya melebihi 200% yang dimanfaatkan oleh 689 kelompok atau orang. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

79 Tabel Perkembangan Aset UPK Per 30 April Tahun 2011 No Kecamatan Dana Awal (UEP&SPP) Perkembangan Aset UPK Asset Saat Ini 1 Pakis 312,779, ,871,485 2 Jabung 1,425,785,500 2,541,623,557 3 Poncokusumo 1,380,415,250 2,364,053,313 4 Wajak 1,140,016,000 1,861,946,488 5 Wagir 1,229,430,380 2,775,258,109 6 Singosari 588,766,000 1,285,470,564 7 Kepanjen 602,770,000 2,087,631,301 8 Pagak 981,525,000 1,690,888,087 9 Kalipare 1,070,725,000 1,370,249, Donomulyo 1,089,000,000 2,335,609, Gedangan 784,484,800 1,933,052, Bantur 622,250,000 1,004,652, Dampit 1,219,128,050 2,434,490, Tirtoyudho 647,489,500 1,368,331, Sb. Manjing 680,350,000 1,755,705, Pujon 1,321,375,000 2,279,244, Ngantang 831,350,000 1,623,482, Kasembon 902,050,000 1,777,681, Ampelgading 898,650,000 1,124,691, Godanglegi 927,599,250 1,067,560, Kromengan 712,500, ,086, Wonosari 750,250, ,881, Tumpang 1,080,420,000 1,337,289, Karangploso 820,900, ,718, Dau 631,500, ,038, Bululawang 740,001, ,661, Tajinan 652,200, ,484, Pagelaran 829,500,000 1,018,852, Ngajum 712,200, ,153,916 Persentase Perkem Jumlah Kelompok 100, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,19 82 Jumlah Pemanfaat 2,645 10,805 Total Kabupaten 25,585,411,180 43,790,661,163 71, ,285 (KMDA, 2011) 3,485 6,728 4,571 3,130 8,577 5,465 4,682 1,392 4,730 2,198 1,788 2,276 7,211 5,001 3,216 4,408 1, , BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

80 BAB VIII. KETENAGAKERJAAN 8.1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Angkatan Kerja Dalam perencanaan pembangunan, data mengenai ketenagakerjaan memegang peranan penting. Tanpa data tersebut tidaklah mungkin program pembangunan direncanakan dan dilaksanakan. Makin lengkap dan tepat data mengenai ketenagakerjaan yang tersedia makin mudah dan tepat rencana pembangunan disusun. Jadi dapat dikatakan bahwa faktor kekuatan manusia merupakan unsur yang penting dalam pembangunan. Jumlah penduduk berdasarkan hasil Susenas 2010 di Kabupaten Malang sebanyak jiwa. Jumlah tersebut terdiri dari (50,38 persen) jiwa dan perempuan (49,62 persen) jiwa. Sedangkan komposisi penduduk berdasarkan umur seperti pada tabel berikut dapat terlihat bahwa Persentase terbesar penduduk Kabupaten Malang berada pada kelompok umur produktif sekitar 65,90 persen. Tabel 8.1. Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2010 di Kabupaten Malang Kelompok Umur Laki-laki Perempuan Jumlah Jumlah Sumber : Kabupaten Malang Dalam Angka tahun 2011 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

81 Berdasarkan data pada tabel di atas jika dilihat berdasarakan persentase kelompok umur muda, kelompok produktis dan kelompok umur tua, maka hal ini mengindikasikan bahwa sumber daya manusia Kabupaten Malang sangat potensial dalam pendukung pembangunan perekonomian daerah. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut ini : Gambar 8.1 Persentase Komposisi Penduduk berdasarkan Kelompok Umur Kabupaten Malang Tahun 2010 Di Indonesia yang dimaksud dengan angkatan kerja adalah penduduk yang berumur 15 tahun ke atas yang secara aktif melakukan kegiatan ekonomis (BPS 1983). Angkatan kerja terdiri dari penduduk yang bekerja, mempunyai pekerjaan tetap teteapi sementara tidak bekerja, dan tidak mempunyai pekerjaan sama sekali tetapi mencari pekerjaan secara aktif. Mereka yang berumur 15 tahun atau tidak bekerja atau tidak mencari pekerjaan karena sekolah, mengurus rumah tangga, pensiun, atau secara fisik dan mental tidak memungkinkan untuk bekerja tidak dimasukkan dalam angkatan kerja. Bekerja diartikan sebagai melakukan suatu kegiatan untuk menghasilkan atau membantu menghasilkan barang atau jasa dengan maksud untuk memperolah penghasilan berupa uang dan atau barang, dalam kurun waktu tertentu atau BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

82 selama paling sedikit satu jam dalam seminggu. Sedangkan definisi pengangguran adalah penduduk yang tidak bekerja tetapi sedang mencari pekerjaan atau sedang mempersiapkan usaha baru atau penduduk yang tidak mencari pekerjaan karena sudah diterima namun belum mulai bekerja. Jumlah angkatan kerja dipengaruhi oleh jumlah Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dan jumlah penduduk usia kerja atau struktur umur penduduk. Tabel berikut ini merupakan tabel mengenai Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja, Tingkat Kesempatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka Kab. Malang ( ) yang belum terpilah berdasarkan jenis kelamin. Tabel 8.2. Tingkat Partispasi Angkatan Kerja, Tingkat Kesempatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka Kab. Malang Tahun Uraian Penduduk Penduduk Usia 10 th Keatas Bukan Angkatan Kerja Angkatan Kerja Bekerja Seminggu Yang Lalu Rata-rata Jam Kerja (Jam) Seminggu Yang Lalu Pengangguran*) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%) Tingkat Kesempatan Kerja Pkk (%) Tingkat Pengangguran Terbuka (Pok) (%) Sumber : Kabupaten Malang Dalam Angka (2011) , ,86 93,78 6, , ,37 94,97 5, , ,59 95,49 4,51 Catatan : *) Mulai tahun 2003 terjadi perubahan konsep tentang pengangguran yaitu pengangguran meliputi yang sedang mencari kerja atau sedang mempersiapkan usaha, termasuk yang pesimis untuk mendapatkan kerja atau belum mulai kerja. Tabel di atas menunjukkan adanya peningkatan pada jumlah penduduk usia kerja 10 tahun keatas, maupun pada jumlah angkatan kerja dan bukan angkatan kerja selama 3 tahun terakhir ( ). Peningkatan yang terjadi dari data tersebut diatas bukan saja pada jumlah per unit (orang) melainkan juga pada tingkat Persentase pertumbuhannya seperti pada penduduk usia 10 th keatas dari tahun 2008 ke tahun 2009 mengalami BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

83 kenaikan pertumbuhan 3,25% kemudian dari tahun 2009 ke tahun 2010 mengalami lonjakan pertumbuhan penduduk di usia 10 th keatas hingga 6,47%. Kondisi ini juga diikuti oleh meningkatnya Persentase pertumbuhan Angkatan Kerja dari tahun 2008 ke tahun 2009 yang terjadi sebesar 2,53% kemudian dari tahun 2009 ke tahun 2010 juga mengalami lonjakan sebesar 8,31%. Hanya aja keadaan ini sedikit berbeda pada data Bukan Angkatan Kerja yang meskipun mengalami peningkatan pada jumlah satuan unit, namun tingkat Persentase pertumbuhannya menurun dari 5% (untuk tahun 2008 ke tahun 2009) dan hanya 2,1% ( pada tahun 2009 ke tahun 2010). Trend ini dapat dilihat pada Grafik berikut : Gambar 8.2 Tingkat Pertumbuhan Penduduk Usia 10 th keatas, Angkatan Kerja (AK) dan Bukan Angkatan Kerja tahun di Kabupaten Malang Dari grafik di atas dapat terlihat jelas bahwa kenaikan pertumbuhan penduduk usia 10 tahun keatas juga berdampak pada peningkatan pertumbuhan Angkatan Kerja. Seperti yang telah diketahui bahwa penduduk Angkatan Kerja adalah penduduk yang bekerja, mempunyai pekerjaan tetap tetapi sementara tidak bekerja, dan tidak mempunyai pekerjaan sama sekali BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

84 tetapi mencari pekerjaan secara aktif. Dengan demikian bila Kabupaten Malang mempunyai jumlah penduduk berada kategori Angkatan Kerja dan terutama masuk dalam kelompok bekerja bukan pengangguran, maka akan sangat membantu meningkatkan perekonomian daerah. Secara keseluruhan perkembangan jumlah penduduk usia 10 tahun keatas termasuk didalamnya jumlah penduduk Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja disajikan dalam grafik berikut : Gambar 8.3 Perkembangan Jumlah Penduduk usia 10 tahun keatas, Penduduk Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja tahun di Kabupaten Malang Sementara itu dari jumlah penduduk kategori Angkatan Kerja yang bekerja dalam tiga tahun terakhir cenderung mengalami penurunan. Hal ini terlihat pada data tabel sebelumnya dimana jumlah penduduk yang bekerja pada tahun 2008 sebesar 91,76% terhadap Angkatan Kerja kemudian menurun menjadi 90,38% tahun 2009 bahkan terus menurun sebesar 82,46% pada tahun BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

85 ,76% 90,38% 82,46% Prosentase Bekerja Angkatan Kerja Gambar 8.4 Persentase Perkembangan Penduduk yang Bekerja seminggu yang lalu terhadap Angkatan Kerja tahun di Kabupaten Malang Kondisi ini bisa diakibatkan dari adanya putus hubungan kerja (PHK) yang marak terjadi sebagai dampak krisis global. Meskipun demikian jumlah rata-rata waktu yang dihabiskan (jam kerja seminggu yang lalu) oleh penduduk yang bekerja juga mengalami peningkatan yaitu 41,26 jam/minggu pada tahun 2008, dan 42,63 jam/minggu pada tahun 2009 serta 42,86 jam/minggu pada tahun Dilain pihak seperti jumlah Pengangguran yang terjadi di Kabupaten Malang menunjukan data yang cukup baik dimana tingkat pertumbuhan penduduk yang menganggur mengalami penurunan. Keadaan ini terlihat dari Persentase jumlah penduduk yang menganggur terhadap jumlah Angkatan Kerja pada tahun 2008 sebesar 6,22% menjadi 5,03% pada tahun 2009 kemudian turun lagi menjadi 3,89% hingga pada tahun Ini dapat menjadi indikator tersedianya kesempatan kerja yang cukup besar bagi penduduk Angkatan Kerja untuk dapat bekerja. Laju pertumbuhan penduduk yang bekerja dan pengangguran terhadap Angkatan Kerja dapat dilihat pada gambar berikut : BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

86 Gambar 8 5. Laju Pertumbuhan Penduduk Bekerja dan Pengangguran Terhadap Jumlah Penduduk Angkatan Kerja di Kabupaten Malang tahun Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja adalah angka yang menunjukkan persentase Angkatan Kerja terhadap penduduk usia kerja. Dalam data ini, yang termasuk pada kategori penduduk usia kerja adalah penduduk berusia 10 tahun hingga 64 tahun, sedangkan angkatan kerja adalah penduduk yang berusia lebih dari 10 tahun yang sudah melakukan usaha untuk memperoleh penghasilan atau keuntungan ataupun penduduk yang masih menganggur. Pada Tabel 7.2 terlihat bahwa TPAK Kabupaten Malang cenderung meningkat dari tahun 2008 hingga Hal ini dapat terjadi karena jumlah Angkatan Kerja dalam kurun waktu 3 tahun terakhir juga mengalami peningkatan yaitu 70,86 persen pada tahun 2008, dan 70,37 persen pada tahun 2009 sedangkan pada tahun 2010 sebesar 71,59 persen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut : BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

87 71,60% 71,40% 71,20% 71,00% 70,80% 70,60% 70,40% 70,20% TPAK Gambar 8.6 Angka Tingkat Pertisipasi Kerja di Kabupaten Malang tahun Angka TPAK dapat digunakan sebagai dasar untuk mengetahui penduduk yang aktif bekerja ataupun mencari pekerjaan. Bila angka TPAK kecil maka dapat diduga bahwa penduduk usia kerja banyak yang tergolong Bukan Angkatan Kerja baik yang sedang sekolah maupun mengurus rumah tangga dan lainnya. Dengan demikian angka TPAK dipengaruhi oleh faktor jumlah penduduk yang masih bersekolah dan penduduk yang mengurus rumah tangga. Kedua factor tersebut dapat dipengaruhi pula oleh keadaan ekonomi dan social budaya. Oleh karena itu, di negara-negara yang sudah maju TPAK cenderung tinggi pada golongan umur dan tingkat pendidikan tertentu. Biasanya untuk mengamati perkembangan suatu negara atau daerah, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan menurut golongan umur dan pendidikan yang sering diperhatikan. Pola TPAK perempuan ini dapat menjadi petunjuk yang berguna dalam mengamati arah dan perkembangan aktifitas ekonomi disuatu Negara atau daerah. Berlainan dengan laki-laki, umumnya perempuan mempunyai peranan ganda sebagai ibu yang melaksanakan tugas rumah tangga, mengasuh dan membesarkan anak dan bekerja untuk menambah penghasilan keluarga. Sayangnya data yang terpilah gender dalam kategori Angkatan Kerja, Bukan Angkatan dan Pengangguran belum tersedia, sehingga BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

88 agak susah untuk menghitung TPAK perempuan menurut golongan umur maupun pendidikan. 8.3 Angkatan Kerja Berdasarkan lapang Usaha Jumlah Angkatan Kerja yang bekerja biasanya dipandang sebagai jumlah kesempatan kerja yang tersedua di suatu wilayah. Analisis data mengenai kegiatan ekonomi penduduk umumnya menitik beratkan pada alokasi Angkatan Kerja yang bekerja menurut sector, trend perpindahan (terutama dari sector pertanian ke sektor lani) dan penyebab perpindahan tersebut serta implikasinya. Kegiatan ekonomi di Kabupaten Malang meliputi beberapa sector atau lapangan usaha, baik penduduk perempuan dan laki-laki berpartisipasi dalam semua sektor. Kondisi riil jumlah penduduk usia kerja diatas 10 tahun yang bekerja berdasarkan lapangan pekerjaan dan jenis kelamin disajikan pada tabel berikut : Tabel 8.3. Penduduk Usia Kerja yang Bekerja berdasarkan Lapangan Pekerjaan dan Terpilah Gender di Kabupaten Malang tahun 2010 Laki-laki Perempuan Jumlah ( L + P ) Sektor Pertanian Pertambangan & Galian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Konstruksi Perdagangan Angkutan & Komunikasi Jasa Lainnya % terhadap Perempuan 61,28 83,64 48, ,22 47,85 86,33 93, % terhadap Laki-laki 38,72 16,36 51,70-1,78 52,15 13,67 6,78 % ,40 0,34 14,55 0,10 6,11 21,37 4,22 6, , , , Sumber : Kabupaten Malang Dalam Angka 2011 (diolah) BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

89 Berdasarkan data pada tabel diatas maka dari keseluruhan lapangan pekerjaan yang tersedia, sektor pertanian masih merupakan unggulan utama dalam menyerap lebih banyak tenaga kerja dibandingkan sektor yang lain yaitu sebesar 36,40 persen. Sedangkan sektor kedua sebagai penyerap tenaga kerja yaitu pada perdagangan sebesar 21,37 persen, sektor ketiga selanjutnya ada pada industry pengolahan yaitu sebesar 14,55 persen. Sementara itu, jika dilihat dari daya serap tenaga kerja berdasarkan gender/ jenis kelamin maka sektor perdagangan dan industry pengolahan didominasi oleh pekerja perempuan daripada laki-laki. Untuk lebih jelaskan mengenai daya serap tenaga kerja di sembilan sektor / lapangan pekerjaan terhadap jenis kelamin dapat dilihat pada gambar berikut ini : Gambar 8.7. Persentase Daya Serap Tenaga Kerja berdasarkan Jenis Kelamin Terhadap Lapangan Pekerjaan di Kabupaten Malang tahun 2010 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

90 8.4. Penempatan Tenaga Kerja Penempatan tenaga kerja menurut sektor tidak terlepas dari tingkat pendidikan pencari kerja. Rincian mengenai data pencari kerja yang terdaftar pada kantor Tenaga Kerja menurut pendidikan dan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 8.4. Pencari Kerja yang Terdaftar pada kantor Tenaga Kerja menurut Pendidikan dan Jenis Kelamin Tahun 2010 di Kab. Malang Jenis Kelamin PENDIDIKAN Jumlah Laki-laki Perempuan SD SMTP SMTA Sarjana Muda Sarjana Jumlah Sumber : Kabupaten Malang Dalam Angka tahun Berdasarkan tabel di atas dapat diambil kesimpulan bahwa data yang tersedia dalam Kabupaten Malang dalam Angka tahun 2011 terdapat 66 persen pencari kerja yang terdaftar baik itu laki-laki maupun perempuan memiliki tingkat pendidikan SMTA dan 24 persen memiliki tingkat pendidikan sarjana. Namun kondisi ini cukup berbeda jika dibandingkan dengan data terbaru bulan Agustus 2011 pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Malang. Dari data terbaru yang dimiliki Dinas Tenaga Kerja tersebut dapat dilihat bahwa data pencari kerja baik yang mendaftar maupun yang mendapat penempatan pada bulan Agustus 2011 didominasi oleh perempuan dengan jenjang pendidikan SLTP dan pada kelompok umur tahun. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

91 Tabel 8.5. Data Pencari Kerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan dan Kelompok Umur pada Dinas Tenaga Kerja Kab. Malang, Agustus 2011 Sisa Bulan Lalu Pendaftaran Penempatan Data Pencari Kerja L P % L P % L P % Tingkat Pendidikan Tdk Tamat SD SD SLTP SLTA : Umum Kejuruan D1/2/ S Jumlah Kelompok Umur tahun tahun tahun tahun tahun tahun keatas Jumlah Sumber : Dinas Tenaga Kerja Kab. Malang ( Agustus 2011) Terkait dengan daya serap lapangan kerja pada saat ini juga sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka jenis pekerjaan serta upah yang diterima tentunya berbeda dengan seseorang yang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah. Tidaklah mengherankan jika tenaga kerja yang tersedia di dominasi oleh perempuan dengan jenjang pendidikan paling tinggi SLTP dan berada pada umur muda ( tahun ) maka lapangan pekerjaan yang tersedia berkisar hanya pada : tenaga pembantu rumah rangga, tenaga kasar pada industry bahkan pelayan toko. Data mengenai daya serap tenaga kerja pada perusahaan yang terdaftar, secara rinci disajikan pada tabel berikut ini : BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

92 Tabel 8.6. Banyaknya Tenaga Kerja di Perusahaan yang Terdaftar pada Kantor Tenaga Kerja menurut Sektor tahun 2010 di Kab. Malang SEKTOR WNI WNA ANAK L P L P L P JUMLAH Pertanian, Peternakan, Perikanan, Kelautan dan Perburuan Pertambangan & Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdagangan, Hotel & Restauran Angkutan, Penggudangan & Kom Keuangan, Asuransi & Jasa Perushn Jasa Sosial & Perorangan Jumlah Sumber : Kabupaten Malang Dalam Angka tahun 2011 Pada tabel di atas, terlihat bahwa jumlah tenaga kerja WNI pada 6 dari 9 sektor didominasi oleh perempuan kecuali pada 3 sektor lainnya ; Pertanian, Pertambangan dan Industri Pengolahan masih didominasi oleh kaum laki-laki. Meskipun demikian walau hanya mengisi 47 persen dari jumlah keseluruhan tenaga kerja yang terdaftar hal ini dapat memberikan indikasi bahwa peran perempuan dalam membangun perekonomian perlu diakui. Demikian juga halnya dengan penempatan tenaga kerja yang dilakukan dikategorikan ke dalam 3 program, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

93 Tabel 8.7. Banyaknya Penempatan Tenaga Kerja yang Terdaftar pada kantor Tenaga Kerja menurut Program Kerja tahun Program Antar Kerja Lokal (AKL) Antar Kerja Antar Daerah (AKAD) Antar Kerja Antar Negara (AKAN) Jumlah Sumber : Kabupaten Malang Dalam Angka tahun 2011 Dari data yang terekam pada dinas Tenaga Kerja dapat dilihat bahwa kecenderungan peningkatan terjadi pada setiap program baik itu pada Antar Kerja Lokal/ AKL, Antar Kerja Antar Daerah/ AKAD maupun pada Antar Kerja Antar Negara dari tahun 2009 ke tahun Khusus untuk penempatan tenaga kerja melalui program Antar Kerja Antar Negara pada tahun 2010 terjadi lonjakan 126 persen dari tahun Hal menunjukkan banyaknya minat pencari kerja yang menjadi TKI di Negara lain. Berdasarkan data penempatan tenaga kerja menurut jenis antar kerja pada Dinas Tenaga Kerja pada bulan Agustus 2011 jika dilihat berdasarkan tingkat pendidikan dan jenis instansi dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 8.8. Data Penempatan Tenaga Kerja Menurut Jenis Antar Kerja dan Jenis Instansi pada Dinas Tenaga Kerja Kab. Malang, Bulan Agustus 2011 Keterangan AKL AKAN L P L P Tingkat Pendidikan : SLTP Sederajat SLTA Sederajat Jumlah Jenis Instansi : Perusahaan Swasta Sumber : Dinas Tenaga Kerja, Agustus 2011 Dari tabel di atas dapat diambil kesimpulan bahwa 93 orang yang terdata pada bulan Agustus 2011, penempatannya hanya pada Antar Kerja Lokal dan Antar Kerja Negara yang kesemuanya bekerja pada perusahaan swasta. Tenaga kerja yang bekerja melalui program AKL berpendidikan SLTP sederajat sedangkan pada program AKAN tingkat pendidikan terakhir pada BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

94 level SLTA serta di dominasi oleh kaum perempuan. Hal ini juga membuktikan bahwa minat bekerja dikalangan perempuan untuk luar negeri hingga bulan Agustus 2011 di Kabupaten Malang cukup tinggi. Data mengenai Tenaga Kerja Indonesia Kab. Malang dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 8.9. TKI Kabupaten Malang menurut Negara Penempatan Tahun 2010 Jumlah Negara Tujuan Jiwa % Hongkong Singapura Malaysia Taiwan Saudi Arabia ,1 6,5 18,3 38,1 Jumlah Sumber : Kabupaten Malang Dalam Angka tahun 2011 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa tujuan Negara yang mendominasi TKI asal Kabupaten Malang pada tahun 2010 adalah Saudi Arabia sebanyak orang atau sebesar 38,1 persen, kemudian disusul Hongkong dan Taiwan masing-masing sebesar 29 persen dan 18,3 persen. Jika dibandingkan dengan data terbaru dari Dinas Tenaga Kerja mengenai penempatan TKI ke Luar Negeri Kab. Malang pada bulan Agustus 2011 diketahui bahwa Negara tujuan yang paling banyak jumlah TKI adalah Hongkong kemudian Timur Tengah. Dari jumlah keseluruhan TKI yang ditempatkan di luar negeri mayoritas adalah perempuan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel TKI Kabupaten Malang menurut Negara Penempatan pada Bulan Agustus 2011 Negara Tujuan L P Hongkong Singapura Taiwan Brunei Timur Tengah BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG Jumlah Sumber : Dinas Tenaga Kerja Kab. Malang ( Agustus 2011)

95 Adapun kasus TKI asal kabupaten Malang yang berhasil didata hingga pada tahun 2010 (Kab. Malang Dalam Angka) yaitu terdapat 3 orang meninggal dunia (masing-masing 1 orang di Negara Malaysia, Hongkong dan Saudi Arabia) serta 1 orang lainnya di negara Malaysia dengan keterangan sakit, sehingga total keseluruhan kasus TKI yang terdata berjumlah 4 orang Upah Minimum Kabupaten Malang dan Gejolak Kerja Upah minimum di Kabupaten Malang secara nominal menunjukkan adanya peningkatan selama 3 tahun terakhir hanya saja tidak diikuti pula dengan besarnya persentase per tahunnya. Dengan kata lain besarnya persentase kenaikan upah justru menurun dari tahun 2008 ke tahun 2009 persentase peningkatan upah terjadi sebesar 40persen sedangkan pada tahun 2009 ke tahun 2010 persentase peningkatan upah minimal hanya pada kisaran 5 persen. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel Upah Minimum Kabupaten, Jumlah Perusahaan yang Menangguhkan dan Jumlah Perusahaan yang Tercatat tahun Uraian Upah Minimum Kabupaten (UMK) Rupiah Perusahaan Yg Menangguhkan UMK (unit) Jumlah Perusahaan Tercatat (unit) Sumber : Dinas Tenaga Kerja & Transmigrasi Kab. Malang tahun Sedangkan gejolak kerja yang terdata pada Dinas Tenaga Kerja mulai tahun 2008 hingga tahun 2010 meskipun tidak terpilah berdasarkan jenis kelamin namun menunjukan terjadi penurunan setiap tahunnya. Sebagai contoh pemutusan hubungan kerja (PHK) baik per kasus maupun jumlah pekerja yang di PHK dalam tiga tahun terakhir menurun cukup signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam 3 tahun terakhir kinerja tenaga kerja per orangan maupun pada skala perusahaan cukup baik, dibuktikan pula pada data di tabel berikut : BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

96 Tabel Gejolak Tenaga Kerja di Kabupaten Malang Tahun Uraian Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Kasus Pekerja Kecelakaan Dalam Perusahaan / Inside Luar Perusahaan / Outside Jumlah Korban Kecelakaan Meninggal Cacat Sakit Jumlah Penghargaan K3 Tingkat Nasional Perusahaan Melanggar UU Ketenagakerjaan Perusahaan yang diperiksa Yang di Nota Pembinaan Yang di BAP Sumber: Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Malang BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

97 BAB IX HUKUM DAN HAM Hukum adalah sistem yang terpenting dalam pelaksanaan atas rangkaian kekuasaan kelembagaan. Bentuk penyalahgunaan kekuasaan dalam bidang politik, ekonomi dan masyarakat dalam berbagai cara dan bertindak. Hukum sebagai perantara utama dalam hubungan sosial antar masyarakat terhadap kriminalisasi dalam hukum pidana. Hukum pidana yang berupayakan cara negara dapat menuntut pelaku dalam konstitusi hukum menyediakan kerangka kerja bagi penciptaan hukum, perlindungan hak asasi manusia dan memperluas kekuasaan politik serta cara perwakilan di mana mereka yang akan dipilih. Administratif hukum digunakan untuk meninjau kembali keputusan dari pemerintah, sementara hukum internasional mengatur persoalan antara berdaulat negara dalam kegiatan mulai dari perdagangan, lingkungan, peraturan atau tindakan militer. Dalam bab ini akan dibahas terkait dengan aspek hukum dan gender, yaitu (1) banyaknya perkara yang masuk pengadilan Agama, (2) banyaknya cerai talak dan cerai gugat, (3) perkara perceraian menurut factor penyebabnya, (4) banyaknya perkara yang diputus di pengadilan Agama, (5) banyaknya tindak kejahatan, (6) banyaknya tindak kejahatan menurut jenis kejahatan, (7) banyaknya surat ijin mengemudi yang diterbitkan, (8) banyaknya surat ijin mengemudi yang diterbitkan menurut kepemilikan, (9) jenis SIM dan jenis kelamin, (10) banyaknya pelanggaran lalu lintas menurut jenis pelanggaran, (11) banyaknya pelaku pelanggaran lalu lintas menurut jenis pekerjaan, (12) banyaknya pelaku pelanggaran lalu lintas menurut status pendidikan, (13) tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), (14) tindak pelecehan, (15) perkosaan, (16) perdagangan manusia (trafficking), (17) keberadaan sumberdaya meliputi Sumberdaya Manusia (SDM) dan sumberdaya Buatan (SDB) terkait dengan aspek Hukum di Kabupaten Malang Banyaknya Perkara Yang Masuk Pengadilan Agama Perkara yang masuk ke pengadilan agama berhubungan dengan aspek gender. Perkara tersebut antara lain ijin poligami, cerai talak, cerai gugat, itsbath nikah dan lainya. Dilihat dari aspek jenis perkara, bulan apa jenis BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

98 perkara nya tertinggi. Dilihat dari sisi waktu (bulan), bagaimana kondisi jumlah dari setiap perkara per bulannya. Berikut grafik yang menunjukkan jumlah setiap perkara dalam satu tahun, dapat terdeteksi untuk perkara tertentu, bulan apa jumlah nya tertinggi dapat dilihat pada gambar 1. Gambar 9.1. Jumlah Setiap Perkara Dalam Satu Tahun (KMDA, 2010) Sedangkan setiap bulannya tertinggi adalah perkara lainnya. Kondisi tersebut dapat dilihat pada grafik 2 berikut Gambar 9.2. Jumlah Perkara yang Masuk Pengadilan Agama Per bulan (KMDA, 2010) BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

99 Terlihat dari grafik 8.2, setiap bulannya terbanyak adalah perkara selain poligami, cerai talak, cerai gugat dan itsbath nikah. Kasus poligami paling rendah di Kabupaten Malang, disusul peringkat kedua yaitu cerai gugat, cerai talak dan itsbath nikah Banyaknya Cerai Talak dan gugat tahun 2009 dan 2010 Jumlah cerai talak dan cerai gugat tahun 2010 lebih banyak dibandingkan tahun Masing-masing tahun, jumlah cerai talak dan gugat semakin meningkat, seperti tampak pada grafik 3 berikut ini : Gambar 9.3. Banyaknya Cerai Talak dan Cerai Gugat Tahun 2009 dan 2010 (KMDA, 2010) Terlihat pada grafik 8.3, jumlah cerai talak dan gugat tahun 2009 dan 2010 masing-masing mengalami peningkatan. Hal ini jika dilihat dari factor penyebab terjadi perceraian tertinggi adalah karena tidak ada tanggung jawab. Tampaknya factor ekonomi ada hubungannya dengan tidak tanggung jawabnya seorang suami atau istri terhadap pasangannya. Factor penyebab kasus perceraian dapat dilihat pada sub bab berikut ini: BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

100 9.3. Perkara Perceraian Menurut Faktor Penyebabnya Faktor penyebab kasus perceraian antara lain karena poligami tidak sehat, krisis akhlaq, cemburu, kawin paksa, ekonomi, dan tidak tanggung jawab. Pada kasus perceraian yang ada di Kabupaten Malang, penyebab mana yang terbanyak dapat dilihat pada grafik 8.4 berikut : Gambar 9.4. Jumlah Perceraian Berdasarkan Penyebabnya (KMDA, 2010) Terlihat dari gambar 8.4, bahwa penyebab terbanyak kasus perceraian di Kabupaten Malang adalah karena tidak tanggung jawab. Umumnya yang dikatakan tidak bertanggung jawab itu adalah dari pihak laki-laki yaitu tidak memberikan nafkah lahir, batin atau keduanya. Namun tidak menutup kemungkinan yang tidak bertanggung jawab adalah dari pihak perempuan, misalnya dengan meninggalkan suami untuk tinggal bersama orang tuanya. Penyebab perceraian karena tidak tanggung jawab bisa dikaitkan dengan penyebab ekonomi. Tinggi rendahnya pendapatan keluarga ditentukan oleh jumlah yang bekerja dan jenis pekerjaan. Karena laki-laki dan perempuan semua berhak terjun ke dunia public, maka jika perempuan juga bekerja kemungkinan terjadi perceraian akibat tidak bertanggung jawab mengenai nafkah lahir dapat diminimalkan. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

101 9.4. Banyaknya Perkara Yang Diputus Di Pengadilan Agama Tidak semua perkara yang masuk di pengadilan Agama itu diputuskan di pengadilan Agama. Berapa banyak yang diputuskan di pengadilan Agama dan perkara mana yang terbanyak akan digambarkan pada grafik berikut : Gambar 9.5. Banyaknya Perkara Yang Diputus di Pengadilan(KMDA, 2010) Banyaknya masing-masing perkara yang diputuskan di pengadilan agama, untuk perkara ijin poligami karena jumlahnya sangat rendah, setiap bulannya tidak nampak bulan apa terbanyak jumlahnya. Kasus cerai talaq, tertinggi jumlah yang diputuskan ada pada bulan Maret dan Desember. Cerai gugat, terbanyak juga bulan Maret. Itsbath nikah terbanyak ada pada bulan April. Perkara lainnya, terbanyak bulan Januari. Sedangkan banyaknya total perkara dengan perkara yang diputuskan di pengadilan agama terjadi kesenjangan yang cukup tinggi pada masing-masing bulannya. Berdasarkan data dari Departemen Agama, jumlah perkara yang masuk ke pengadilan Agama lebih rendah daripada yang diputuskan. Secara logika harusnya jumlah perkara lebih tinggi. Untuk lebih jelasnya seperti apa tingkat kesenjangannya dapat dilihat pada grafik 8.6 berikut ini : BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

102 Gambar 9.6. Banyaknya Perkara dan yang Diputuskan di Pengadilan Agama (KMDA, 2010) Terlihat dari grafik 8.6 di atas, total perkara yang diputuskan di pengadilan agama lebih besar daripada total perkara yang masuk di pengadilan Agama 9.5. Banyaknya Tindak Kejahatan Jumlah tindak kejahatan di Kabupaten Malang tahun 2009 lebih banyak dari pada tahun Artinya terjadi penurunan tindak kejahatan. Dilihat dari sisi yang dilaporkan dan yang diselesaikan, tampak jumlah kasus kejahatan yang dilaporkan lebih banyak dari yang dapat diselesaikan. Artinya pihak aparat hukum harus lebih keras lagi bekerja untuk menuntaskan kasus-kasus tepat pada waktunya. Grafik kejahatan tahun 2009 dan 2010 serta berapa yang dilaporkan dan diselesaikan dapat dilihat pada Grafik Gambar 9.7 jumlah kejahatan yang dilaporan BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

103 Terlihat dari gambar 8.7, bahwa baik jumlah kejahatan yang dilaporan dan yang diselesaikan mengalami penurunan. Dilihat dari sisi yang dilaporkan menurun berarti ada peningkatan keamanan. Namun dilihat dari aspek yang diselesaikan menurun berarti kinerja aparat hukum juga menurun Banyaknya Tindak Kejahatan Menurut Jenis Kejahatan pada Tabel 1. Jenis kejahatan yang ada di Kabupaten Malang ada 39 seperti tampak Tabel 9.1. Jumlah Kejahatan Di Kabupaten Malang Menurut Jenis Kejahatannya No JENIS KEJAHATAN DILAPORKAN DISELESAIKAN Pengeroyokan Persetubuhan Penghinaan Pembakaran Kebakaran Surat Palsu Perdagangan Bayi dan Wanita Perampasan Pemerkosaan VCD Perjudian Penculikan Pembunuhan Penganiayaan Berat Penganiayaan Ringan Pencurian Dengan Kekerasan Pencurian Dengan Pemberatan Pencurian Ringan Pencurian Kayu Jati Pencurian Kend. Bermotor Penc. Kwt. Tilpun dan Listrik Pencurian Hewan Ternak Pemerasan Penggelapan Penipuan Penadahan Merusak Bunuh Diri Penemuan Mayat Membawa Lari Anak Perbuatan Tak Menyenangkan Perbuatan Cabul Handak / Petasan Sengketa Tanah Perjinahan Kejahatan Senjata Api Kejahatan Senjata Tajam Kejahatan Dlm Rumahtangga Lain-lain (Sukesi dkk, 2009) BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

104 Jumlah kasus kejahatan yang dilaporkan tahun 2009 dan 2010 setiap jenisnya bervariasi, ada yang mengalami peningkatan ada yang mengalami penurunan. Seperti misalnya kasus persetubuhan mengalami peningkatan dengan tajam setiap tahunnya. Sedangkan perkosaan, perjuan dan pencurian kawat listrik dan telepon mengalami penurunan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini : Gambar 9.8. Jumlah Kejahatan Berdasarkan Jenis nya Yang Dilaporkan Tahun 2009 dan 2010 (Polres Malang, 2010) Jumlah tertinggi kasus di kabupaten Malang adalah pencurian dengan pemberatan. Solusi dari penurunan kasus kejahatan yang berkaitan dengan ekonomi, kesejahteraan, kemiskinan, rendahnya upah tenaga kerja, dll dapat melalui pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat yang tidak mampu. Grafik dibawah ini menggambarkan kasus kejahatan dari semua jenis yang dapat diselesaikan pada tahun 2009 dan Kondisi kasus yang dapat diselesaikan setiap jenis kejahatan bervariasi. Lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini : BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

105 Gambar 9.9. Jumlah Kejahatan Per Jenis Yang Diselesaikan di Kabupaten Malang Tahun 2009 dan 2010 (Polres Malang, 2010) Setiap jenis kejahatan, dengan jumlah kasus kejahatan yang dapat diselesaikan menurun berarti kinerja aparat dalam menyelesaikan kasus menurun. Hal ini dapat menjadi bahan evaluasi di tubuh lembaga yang menangani kasus hukum. Gambar Jumlah Kejahatan Per Jenis nya yang Dilaporkan dan Diselesaikan di Kab. Malang Tahun 2009(Polres Malang, 2010) Tahun 2010, banyak kasus kejahatan yang dilaporkan tidak dapat/belum diselesaikan. Sebagai contoh kasus kejahatan pencurian dengan BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

106 pemberatan dan pencurian kayu jati, terjadi kesejangan yang tajam antara jumlah kejahatan yang dilaporkan dengan yang dapat diselesaikan. Pada umumnya, kondisi setiap kasus juga mengalami penurunan antara yang dilaporkan dan yang dapat diselesaikan. Ini artinya kinerja aparat hukum di Kabupaten Malang menurun dibandingkan tahun Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 11 berikut ini : Gambar Jumlah Kejahatan Per JenisnyayangDilaporkandanDiselesaikandiKab.Malang Tahun 2010 (Polres Malang, 2010) 9.7. Banyaknya Surat Ijin Mengemudi Yang Diterbitkan Salah satu syarat untuk seseorang boleh mengendarai kendaraan bermotor di jalan raya yaitu dengan memilik surat ijin mengemudi (SIM). Jika seseorang tidak memiliki SIM pada saat mengendarai kendaraan di jalan Raya dapat dikatakan suatu pelanggaran. Pengadaan terbanyak SIM di Kabupaten Malang tahun 2010 pada bulan Januari. Sedangkan perpanjangan SIM terbanyak pada bulan Juli dan Desember. Pengadaan SIM paling sedikit bulan Desember dan perpanjangan paling sedikit bulan Februari. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

107 Gambar Banyak nya SIM Baru, Perpanjangan dan Rusak Di Kab. Malang (Polres Malang, 2010) Kesadaran untuk memiliki SIM dalam mengendarai kendaraan bermotor merupakan hal yang patut di tingkatkan karena masih banyak juga masyarakat yang melanggar lalu lintas karena tidak mempunyai dokumen yaitu SIM. Pihak kepolisian berupaya memotivasi masyarakat agar kesadarannya meningkat dengan gerakan 500 kesalahan per hari. Upaya ini boleh juga karena setiap hari diadakan rasia. Dengan demikian menuntut masyarakat disiplin memiliki surat, perpanjangan dan mengurus kembali jika rusak. Berapa jauh tingkat kesenjangan laki-laki dan perempuan yang memiliki SIM A, dapat dilihat pada grafik dibawah ini. Gambar Kesenjangan Kepemilikan SIM A berdasarkan Jenis Kelamin (Polres Malang, 2010) BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

108 Kepemilikan SIM A digunakan untuk syarat pengemudi mobil roda empat. Jumlah masyarakat Kabupaten Malang yang memiliki atau mengurus kepemilikan SIM A untuk laki-laki jauh lebih tinggi atau banyak daripada perempuan. Hal ini disebabkan masih banyaknya perempuan yang tidak dapat mengendarai mobil roda empat. Pelabelan atau stereotype bahwa perempuan tidak pantas menyetir mobil roda empat merupakan salah satu penyebab mengapa banyak perempuan yang tidak dapat menyetir mobil. SIM A ini untuk dokumen menyetir mobil pribadi. Kepemilikan SIM A umum anatara laki-laki dan perempuan juga terjadi kesenjangan. SIM A umum ini untuk syarat bagi pengemudi mobil kendaraan umum seperti mikrolet, taksi, mobil box, dan lainlain. Terjadinya kesenjangan ini karena memang budaya di Indonesia, pengemudi mobil umum hamper 100 persen adalah laki-laki. Tingkat kesenjangan tersebut digambarkan pada grafik dibawah ini : Gambar Kesenjangan Jumlah Perempuan dan Laki-laki dalam Kepemilikan SIM A umum (Polres Malang, 2010) Tingkat kesenjangan juga terjadi pada kepemilikan SIM B1 dan B1 umum, untuk laki-laki jauh lebih tinggi daripada perempuan. Hal ini disebabkan karena SIM B1 untuk pengemudi kendaraan berat seperti truk bis. Di Indonesia, pengemudi kendaraan berat seperti Truk dan Bis mayoritas bahkan hamper 100 % laki-laki seperti tampak pada gambar berikut tingkat kesenjangan kepemilikan SIM B1 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

109 Gambar Kesenjangan Jumlah Perempuan dan Laki-laki dalam kepemilikan SIM B1 (Polres Malang, 2010) Gambar Kesenjangan Jumlah Perempuan dan Laki-laki dalam kepemilikan SIM B1 Umum (Polres Malang, 2010) BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

110 Kondisi kesenjangan juga dialami untuk kepemilikan SIM B2 yaitu bagi pengemudi kendaraan lebih berat lagi yaitu truk gandeng, trawler dan lain-lain. Kondisi kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dapat dilihat pada grafik dibawah ini : Gambar Kesenjangan Jumlah Perempuan dan Laki-laki dalam kepemilikan SIM B2 (Polres Malang, 2010) Lain kondisi dengan kepemilikan SIM C yaitu surat ijin mengemudi untuk kendaraan roda dua yaitu sepeda motor. Tampak jumlah perempuan masih banyak yang memiliki, walaupun juga sama dengan jenis SIM yang lain masih terjadi kesenjangan antara laki-laki dan perempuan. Kondisi tersebut dapat dilihat pada grafik 18 Gambar Kesenjangan Jumlah Perempuan dan Laki-laki dalam kepemilikan SIM C (Polres Malang, 2010) BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

111 Jumlah perempuan masyarakat Kabupaten Malang, sekitar sepertiga dari laki-laki yang dapat mengendarai motor. Factor stereotype dan pelabelan bahwa perempuan tidak perlu bisa naik kendaraan karena kemana mana diantar oleh suami atau sopir. Namun bagi yang tidak punya sopir dan suami sibuk umumnya perempuan menggunakan kendaraan umum Banyaknya Pelanggaran Lalu Lintas Menurut Jenis Pelanggaran Banyaknya Pelanggaran menurut jenis pelanggaran tertinggi adalah karena melanggar rambu lalu lintas dan kedua adalah tidak memiliki dokumen (SIM) atau SIM nya mati. Seperti terlihat pada grafik dibawah ini : Gambar Banyaknya Pelanggaran Lalu Lintas menurut Jenis Pelanggaran (Polres Malang, 2010) Pengalaman hidup di Indonesia, kesadaran masyarakat akan sikap yang seharus nya dirasakan kurang. Hal ini didukung oleh pelanggaran lalu lintas tertinggi adalah terkait dengan dokumen yaitu SIM atau STNK juga masalah taat dengan rambu-rambu lalu lintas. Masyarakat Indonesia masih banyak yang mentaati peraturan lalu lintas karena takut sama polisi bukan karena kesadaran. Pelanggaran lalu lintas dikaitkan dengan jenis pekerjaan, siapakah yang paling sering melanggar tampak pada grafik berikut ini : BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

112 Gambar Banyaknya Pelanggaran Lalu Lintas menurut Jenis Pekerjaan (Polres Malang, 2010) Terlihat dari gambar 20 bahwa pelanggaran lalu lintas tertinggi dilakukan oleh pelajar dan peringkat selanjutnya adalah pedagang dan swasta. Inilah Indonesia, pedagang dan wirausaha adalah termasuk seorang wirausaha yang harusnya perilaku wirausaha itu adalah menjadi teladan dan pemimpin terdepan tetapi dalam hal pelanggaran bahkan terdepan pula. Jika pelajar yang paling banyak melanggar, secara psikologis mereka masih labil dan belum dewasa dalam bertindak. Karena pelajar terdepan dalam melanggar lalu lintas, maka berikut ini digambarkan terkait dengan pelanggaran lalu lintas berdasarkan jenis pendidikan. Siapakah yang terdepan dalam pelanggaran? Gambar Banyaknya Pelanggaran Lalu Lintas menurut Jenis Pekerjaan (Polres Malang, 2010) BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

113 Pelanggaran lalu lintas terbanyak dilakukan oleh anak-anak yang putus sekolah (drop out). Dilihat dari predikat yang disandang nya, pantas lah jika mereka terdepan dalam melanggar lalu lintas. Hal ini bukan berarti mereka tidak perlu diperhatikan, bahkan perhatian para aparat dan masyarakat semua harusnya lebih kepada mereka. Peringkat kedua yang melanggar lalu lintas adalah anak SMA. Hal yang logis karena menurut ahli psikologi, usia SMA adalah usia paling rawan dimana anak ada pada periode suka melawan untuk mencari jati dirinya. Saying data yang tersedia tidak terpilah gender, sehingga tidak diketahui berdasarkan jenis kelamin siapa yang melanggar lebih banyak Tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Karena data Kabupaten Malang Dalam Angka tahun 2010 tidak memuat data KDRT, maka dalam menyusun profil gender tahun 2011 ini masih digunakan data profil gender tahun 2010 yang disusun oleh PPGK-UB bekerjasama dengan Kantor Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Malang. Tindak kekerasan merupakan tindakan yang melanggar hukum. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) termasuk tindak kekerasan yang bertentangan dengan undang-undang no. 23 tahun Kekerasan bisa terjadi pada siapapun, baik perempuan maupun laki-laki, anakanak maupun orang dewasa. Adapun bentuk-bentuk kekerasan bisa berupa kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, dan penelantaran ekonomi (PPGK, 2010). Jumlah Kasus, Korban dan Pelaku Tindak Kekerasan (Termasuk Kekerasan dalam Rumah tangga/kdrt) di Kab. Malang tahun 2006, 2007 dan 2008 tampak pada grafik berikut ini : BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

114 Gambar Jumlah Kasus, Korban dan Pelaku Tindak Kekerasan (Termasuk Kekerasan dalam Rumah tangga/kdrt) di Kab. Malang tahun 2006, 2007 dan 2008 (PPGK dan KPPA Kab Malang, 2010) Terlihat pada grafik 21, bahwa dari sisi korban kekerasan terbanyak perempuan, sedangkan dari sisi pelaku terbanyak laki-laki. Ini berlaku tahun 2006, 2007 dan Berdasarkan grafik 21 juga dapat disimpulkan bahwa kasus tindak kekerasan di wilayah Kabupaten Malang cenderung menurun setiap tahunnya. Jumlah korban kekerasan cukup besar di tahun 2006, menurun di tahun 2007, namun naik lagi di tahun Sekitar 40% dari korban tindak kekerasan adalah kaum perempuan, sedangkan 60% laki-laki. Jumlah pelaku tindak kekerasan mayoritas adalah kaum laki-laki, yaitu lebih dari 90%. Pelaku perempuan jumlahnya menurun setiap tahunnya. Grafik 21 menunjukkan perbandingan korban dan pelaku tindak kekerasan berdasarkan jenis kelamin. Sedangkan data terperinci per kecamatan menurut PPGK dan KPPA Kabupaten Malang tahun 2010 adalah sebagai berikut : Data kasus kekerasan termasuk KDRT di tiap kecamatan yang ada di Kabupaten Malang pada tahun Terdapat sebanyak 56 kasus yang tercatat di 14 kecamatan yang berbeda, dengan jumlah kasus kekerasan terbanyak terjadi di Kecamatan Ngajum yaitu 13 kasus (23,21%). Jumlah korban kekerasan mencapai 61 orang, yaitu 26 orang perempuan (42,62%) dan 35 orang laki-laki (57,38%). Perempuan korban tindak kekerasan terbanyak berada di Kecamatan Pakis BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

115 yaitu 7 orang, sedangkan korban laki-laki terbanyak berada di Kecamatan Ngajum yaitu 13 orang. Jumlah pelaku kekerasan adalah 62 orang, 6 orang diantaranya adalah perempuan, yaitu 1 orang dari Kecamatan Pagak, 2 orang dari Kecamatan Pakis, dan 3 orang lainnya masing-masing dari Kecamatan Jabung, Dau dan Pujon. Pelaku tindak kekerasan yang terbanyak adalah lakilaki yaitu sejumlah 52 orang, dengan jumlah terbesar berada di Kecamatan Ngajum yaitu sebanyak 13 orang. Data kasus kekerasan termasuk KDRT di tiap kecamatan yang ada di Kabupaten Malang pada tahun 2007, terdapat sebanyak 54 kasus yang tercatat di 8 kecamatan yang berbeda, dengan jumlah kasus kekerasan terbanyak terjadi di Kecamatan Singosari yaitu 22 kasus (40,74%). Jumlah korban tindak kekerasan 33 orang, yaitu 12 orang perempuan (36,36%) dan 21 orang laki-laki (63,64%). Korban tindak kekerasan terbanyak berada di Kecamatan Pakisaji yaitu 4 orang perempuan dan 10 orang laki-laki. Jumlah pelaku kekerasan adalah 33 orang, 4 orang diantaranya adalah perempuan, yaitu 2 orang dari Kecamatan Pakisaji, dan 2 orang lainnya masing-masing dari Kecamatan Dau dan Pujon. Pelaku tindak kekerasan yang terbanyak adalah laki-laki yaitu sejumlah 29 orang, dengan jumlah terbesar berada di Kecamatan Pakisaji sebanyak 9 orang dan Kecamatan Lawang 8 orang. Data kasus kekerasan termasuk KDRT di tiap kecamatan yang ada di Kabupaten Malang pada tahun 2008, terdapat sebanyak 46 kasus yang tercatat di 12 kecamatan yang berbeda, dengan jumlah kasus kekerasan terbanyak terjadi di Kecamatan Lawang yaitu 12 kasus (26,09%). Jumlah korban tindak kekerasan 38 orang, yaitu 15 orang perempuan (39,47%) dan 23 orang laki-laki (60,53%). Perempuan korban tindak kekerasan terbanyak berada di Kecamatan Lawang dan Dau masing-masing sebanyak 4 orang, sedangkan korban laki-laki terbanyak berada di Kecamatan Lawang yaitu 8 orang. Jumlah pelaku kekerasan adalah 60 orang, 1 orang perempuan dari Kecamatan Turen. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

116 59 orang pelaku tindak kekerasan lainnya adalah laki-laki dengan jumlah terbesar berada di Kecamatan Bululawang yaitu sebanyak 18 orang. Berikut akan ditampilkan bagaimana kasus tindak kekerasan terhadap perempuan dari tahun 2008 ke tahun 2009, apakah ada peningkatan? Gambar Jumlah Tindak Kekerasan terhadap Perempuan di Kabupaten Malang tahun (PPGK dan KPPA, 2010) Berdasarkan gambar 22 tentang kasus tindak kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Malang tahun 2009 mengalami kenaikan yang sangat signifikan, dari 46 kasus di tahun 2008 menjadi 118 kasus di tahun 2009, atau naik sebanyak 61%. Namun demikian data tindak kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Malang yang diperoleh dari KPPA tidak merinci jumlah kasus per kecamatan dan penjelasan kasus kekerasan secara lebih spesifik, apakah termasuk kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan, perkosaan, maupun traficking. Data yang diperoleh adalah akumulasi kasus tindak kekerasan selama satu tahun di Kabupaten Malang. Pada tahun 2009 data jumlah kekerasan terhadap perempuan jumlahnya meningkat tajam dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya. Data yang diolah oleh KPPA merupakan jumlah total kekerasan terhadap perempuan di Kabupaten Malang, bukan per Kecamatan. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

117 9.10. Tindak Pelecehan Tindak pelecehan merupakan tindakan yang melanggar hukum dan patut dikenai sanksi hukum. Di Kabupaten Malang terdapat kasus pelecehan yang perbandingannya ditampilkan melalui gambar 24. Data yang ditampilkan hanya data kecamatan yang terdapat kasus pelecehan di dalamnya, sedangkan kecamatan yang tidak memiliki kasus pelecehan tidak ikut dituliskan. Gambar Jumlah Kasus, Korban dan Pelaku Tindak Pelecehan di Kabupaten Malang (PPGK dan KPPA, 2010) Terlihat pada gambar 24 bahwa lagi-lagi korban pelecehan terbanyak perempuan, dan pelaku pelecehan terbanyak laki-laki. Demi kenyamanan masyarakat Kabupaten Malang dan Indonesia pada umumnya, kasus tindak pelecehan ini baik laki-laki maupun perempuan baik sebagai korban maupun pelaku perlu mendapatkan pembinaan agar kasus pelecehan dapat dihilangkan minimal dikurangi. Berdasarkan data PPGK dan KPPA tahun 2010, bahwa pada tahun 2008 terdapat 14 kasus tindak pelecehan yang terdapat di 5 kecamatan dengan kasus tertinggi berada di Kecamatan Pakis yaitu 7 kasus (50%). Korban pelecehan adalah 12 orang perempuan dan, 2 orang laki-laki, BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

118 sedangkan seluruh pelakunya adalah laki-laki. Tahun 2007 terdapat 7 kasus tindak pelecehan yang terdapat di 3 kecamatan dengan kasus tertinggi berada di Kecamatan Singosari yaitu 5 kasus (71,4%). Seluruh korban pelecehan adalah perempuan, sedangkan seluruh pelakunya adalah laki-laki. Tahun 2008 terdapat 5 kasus tindak pelecehan yang terdapat di 3 kecamatan dengan kasus tertinggi berada di Kecamatan Singosari yaitu 3 kasus (60%%). Korban pelecehan yang dilaporkan adalah 1 orang perempuan dan 1 orang laki-laki, sedangkan seluruh pelakunya adalah laki-laki. Berdasarkan kompilasi data kasus pelecehan selama 3 tahun terakhir, dapat disimpulkan bahwa kasus tindak pelecehan cenderung menurun setiap tahunnya di Kabupaten Malang. Korban pelecehan mayoritas adalah perempuan mencapai 88,23%, sedangkan laki-laki 11,77%. Pelaku pelecehan seluruhnya adalah laki-laki. Jumlah pelaku dan korban tindak pelecehan selama 3 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik Korban Perkosaan Perkosaan merupakan tindak pidana yang seringkali menimpa kaum perempuan. Siapa yang banyak menjadi korban perkosaan dan sapa pelaku terbanyak tampak pada gambar berikut ini Gambar Jumlah Kasus, Korban dan Pelaku Tindak Perkosaan di Kabupaten Malang tahun (PPGK dan KPPA, 2010) Data PPGK dan KPPA Kabupaten Malang (2010), menyebutkan bahwa tahun 2006 terdapat 9 kasus perkosaan yang terdapat di 5 kecamatan dengan BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

119 kasus tertinggi berada di Kecamatan Pagak yaitu 3 kasus. Seluruh korban perkosaan adalah perempuan, sedangkan seluruh pelakunya adalah laki-laki. Tahun 2007 terdapat 4 kasus perkosaan yang terdapat di 2 kecamatan yaitu Tirtoyudo dan Lawang masing-masing 2 kasus. Seluruh korban perkosaan adalah perempuan, sedangkan seluruh pelakunya adalah laki-laki. Tahun 2008 terdapat 16 kasus perkosaan yang terdapat di 7 kecamatan, dengan kasus tertinggi berada di Kecamatan Turen yaitu 6 kasus (37,5%). Seluruh korban perkosaan adalah perempuan, sedangkan seluruh pelakunya adalah laki-laki. Berdasarkan data kasus perkosaan di Kabupaten Malang selama 3 tahun terakhir, dapat dilihat bahwa kasus perkosaan pada tahun 2006 mencapai 9 kasus, lalu turun menjadi 4 kasus pada tahun berikutnya. Jumlah kasus perkosaan kembali naik pada tahun 2008 menjadi 16 kasus. Pelaku perkosaan seluruhnya adalah laki-laki sedangkan korban seluruhnya perempuan. Jumlah pelaku dan korban tindak perkosaan selama 3 tahun terakhir dapat dilihat pada grafik Perdagangan terhadap Perempuan dan Anak (Trafficking) Berdasarkan data PPGK dan KPPA Kabupaten Malang 2010, disebutkan bahwa perdagangan manusia atau dikenal dengan istilah human trafficking adalah tindakan pidana yang melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Seringkali korban diperdagangkan untuk dipekerjakan secara tidak layak dan tidak mendapatkan yang menjadi haknya. Kasus perdagangan khususnya yang menimpa perempuan dan anak di Kabupaten Malang dilaporkan beberapa kasus. Jumlah kasus selama 3 tahun terakhir pada kecamatan tertentu diperlihatkan pada grafik 25. Pada tahun 2006 terdapat 6 kasus trafficking di 3 Kecamatan, yaitu Dampit, Pakisaji dan Pakis dengan kasus terbanyak di Kecamatan Pakis sebanyak 3 kasus. Korbannya adalah 5 orang perempuan dan 2 orang laki-laki. Pelakunya terdiri dari 3 orang perempuan dan 3 orang laki-laki. Pada tahun 2007 terdapat 4 kasus trafficking di 2 Kecamatan, yaitu Ampelgading dan Pakisaji dengan kasus terbanyak di Kecamatan Pakisaji BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

120 sebanyak 3 kasus. Korbannya adalah 4 orang perempuan. Pelakunya terdiri dari 1 orang perempuan dan 4 orang laki-laki. Pada tahun 2008 terdapat 1 kasus trafficking di Pakisaji. Korbannya adalah 1 orang laki-laki. Pelakunya adalah seorang perempuan. Gambar Jumlah Korban dan Pelaku Trafficking di Kabupaten Malang berdasarkan Jenis Kelamin dan Tahun (PPGK dan KPPA, 2010) Grafik 26 menggambarkan jumlah korban dan pelaku trafficking selama 3 tahun terakhir. Jumlah kasus trafficking di Kabupaten Malang selama 3 tahun terakhir dimana kasus trafficking semakin menurun setiap tahunnya. Korban terbanyak adalah perempuan yaitu 9 orang, sedangkan laki-laki 3 orang dalam 3 tahun. Pelakunya adalah 5 orang perempuan dan 6 orang laki-laki Sumberdaya Manusia (SDM) Bidang Hukum Di Kabupaten Malang. Sumberdaya yang dimaksud dalam bab ini adalah aparat penegak Hukum yang terdiri dari hakim, jaksa dan polisi yang ada di Kabupaten Malang. Aparat penegak hukum merupakan pelaksana di lembaga hukum yang bertugas untuk menegakkan hukum di negara Indonesia. Kesempatan bagi kaum perempuan sebagai warga negara untuk berpartisipasi di lembagalembaga tersebut semestinya setara dengan laki-laki. Namun pada BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

121 kenyataannya di Kabupaten Malang partisipasi kaum perempuan di bidang hukum masih timpang dibanding kaum laki-laki Jumlah Hakim, Jaksa dan Pengacara Partisipasi perempuan dalam lembaga-lembaga hukum yaitu hakim dan jaksa di Kabupaten Malang pada tahun tampak pada gambar 25. Gambar Jumlah Hakim dan Jaksa di Kabupaten Malang Berdasarkan Jenis Kelamin (PPGK dan KPPA Kabupaten Malang, 2010) Terlihat dari gambar 27 bahwa pada tahun jumlah hakim dan jaksa perempuan lebih rendah di bandingkan laki-laki. Secara terperinci, data PPGK dan KPPA kabupaten Malang menjelaskan, bahwa data aparat penegak hukum per kecamatan di Kabupaten Malang pada tahun 2006, pada lembaga pengadilan jumlah aparat pengadilan yaitu hakim sebanyak 12 orang dengan komposisi 4 orang perempuan (33,33%) dan 8 orang laki-laki (66,67%). Rasio jumlah hakim perempuan terhadap laki-laki pada tahun 2006 adalah 1 : 2. Aparat hakim seluruhnya berada di kecamatan Kepanjen, yaitu ibukota kecamatan Kabupaten Malang. Demikian pula dengan aparat kejaksaan yaitu jaksa, seluruhnya berjumlah 13 orang berada di kecamatan kepanjen. Komposisi jaksa berdasarkan gender pada tahun 2006 cukup berimbang yaitu 6 orang perempuan (46.15%) dan 7 orang laki-laki (53.85%). Adapun jumlah BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

122 pengacara di Kabupaten Malang pada tahun 2006 adalah sebanyak 23 orang dengan komposisi 7 orang perempuan (30,43%) dan 16 orang laki-laki (69,57%). Data aparat penegak hukum di Kabupaten Malang pada tahun 2007, pada Lembaga pengadilan, jumlah hakim sebanyak 13 orang dengan komposisi 5 orang perempuan (38,46%) dan 8 orang laki-laki (61,54%). Seluruh hakim berasal dari kecamatan Kepanjen. Pada lembaga kejaksaan, jumlah jaksa sebanyak 15 orang. 13 orang jaksa berasal dari Kecamatan Kepanjen (7 orang perempuan dan 8 orang laki-laki) dan 2 orang jaksa dari Kecamatan Pakisaji (1 orang perempuan dan 1 orang laki-laki). Komposisi jaksa berdasarkan gender pada tahun 2007 cukup berimbang yaitu 7 orang perempuan (46.67%) dan 8 orang laki-laki (53.33%). Berikutnya yaitu jumlah pengacara di Kabupaten Malang pada tahun 2007 adalah sebanyak 20 orang dengan komposisi 6 orang perempuan (30%) dan 14 orang laki-laki (70%). Data jumlah aparat penegak hukum di Kabupaten Malang tahun 2008, terdapat sebanyak 19 orang hakim di lingkungan lembaga kehakiman, yaitu 11 orang perempuan (57,89%) dan 8 orang laki-laki (42,11%). 6 orang hakim perempuan berasal dari Kecamatan Turen dan 5 orang lainnya berasal dari Kecamatan Kepanjen. Sedangkan hakim laki-laki seluruhnya berasal dari Kecamatan Kepanjen. Pada lembaga kejaksaan jumlah jaksa pada tahun 2008 adalah 22 orang, yaitu 5 orang perempuan (22,73%) dan 17 orang laki-laki (77,27%). Jumlah pengacara di Kabupaten Malang pada tahun 2008 adalah sebanyak 31 orang dengan komposisi 11 orang perempuan (35.48%) dan 20 orang laki-laki (64.52%) Jumlah Polisi Di Kabupaten Malang Ayuningtyas (2011) dalam Media Indonesia.com menyatakan secara Nasional bahwa jumlah polisi wanita hingga kini dinilai masih kurang. Ini terlihat dari jumlah taruni yang masuk di Akademi Kepolisian dari tahun ke tahun. Pada 2011, taruni yang diterima di Akpol jauh di bawah target. "Ada kuota 400 orang, BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

123 350 taruna dan 50 taruni. Saat ini Polri membutuhkan taruni lebih banyak, sekarang ini baru 0,3 persen. Padahal Polri membutuhkan sebanyak 30 persen," ujar Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Komjen Nanan Soekarna, di Akpol, Semarang, Senin (15/8). Menurut dia, perundangan mengharuskan Polri menyediakan kuota 30 persen untuk taruni. Polri, lanjutnya, secara bertahap akan memenuhinya. "Kita berharap kembali ke sistem, sistem akan mengakomodir pelan-pelan itu, tahun depan kita buka lagi catar dan catir. Kita siap ajukan ke pimpinan, kepada pemerintah, kita tambah kuota," kata dia. Nanan mengaku belum mengetahui kuota yang akan disediakan bagi taruni pada penerimaan Akpol tahun depan. "Saya belum tahu, mungkin 60, mungkin 100. Namun, kembali kalau tidak memenuhi syarat ya tidak bisa," jelasnya. Dengan demikian semua lembaga jika melakukan perekrutan SDM lihatlah potensi atau kemampuannya, jangan melihat jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Apa yang disampaikan Ayuningtyas (2011) tersebut juga masih sama ketika tahun Artinya selama 4 tahun kondisi tersebut tidak ada perubahan. Obrolan seorang sahabat dengan perwira polisi perempuan di tahun 2007 sebagai berikut : jumlah keseluruhan polisi di Indonesia di tahun 2007 sebesar orang, dan jumlah polwan hanya orang atau sekitar 3,25 dari total jumlah polisi di negara ini. Itu berarti seorang polwan di Indonesia melayani perempuan yang jumlahnya sekitar 50 persen dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia. Padahal mereka inilah yang akan menjadi ujung tombak untuk menerima pengaduan para korban KRDT (kekerasan dalam rumah tangga), kejahatan seksual, dan juga kejahatan terhadap anak. Sebagai wanita, mereka jauh lebih mampu berempati terhadap para korban, ketimbang polisi laki-laki. Mereka juga yang yang akan melakukan pemeriksaan terhadap tersangka pelanggar hukum perempuan, sehingga tekanan psikologis yang dihadapi pelaku berkurang jika dibandingkan jika diperiksa polisi laki-laki. Begitu juga menangani demonstran perempuan, tentu BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

124 sangat tidak manusiawi demonstran perempuan dihadang oleh polisi pasukan anti huru-hara yang laki-laki. Dengan kondisi seperti itu, banyak sentra pelayanan kepolisian (SPK) di Indonesia tidak memiliki polwan, sehingga para perempuan korban KDRT, kejahatan seksual, dsb, dilayani oleh polisi laki-laki, yang sering kurang mampu berempati dengan si korban. Akibatnya, sering korban juga mengalami tekanan psikologis saat mengadu ke polisi. Alih-alih mendapatkan perlindungan, bisabisa mendapatkan tekanan psikologis. Saat ini di Indonesia, terdapat sekitar 30 SPN (Sekolah Polisi Negara) yang menerima polisi untuk tingkat bintara (dengan pangkat brigadir) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, tetapi yang diterima di SPN hanyalah calon polisi laki-laki. Sementara itu, sekolah polisi wanita untuk tingkat bintara hanya ada satu di Indonesia, yaitu Sepolwan di Ciputat - Jakarta Selatan. Bayangkan betapa ketimpangan ini akan selalu abadi kalau tidak dilakukan pembenahan yang sifatnya terobosan. Sekolahnya saja sudah 1 : 30! Untuk tingkat perwira, Akademi Kepolisian sudah menerima taruna wanita, sekitar 50 orang setiap angkatan. Satu angkatan terdiri dari hampir 300 calon perwira polisi, baik laki-laki maupun wanita. Penerimaan taruna wanita ini baru dilaksanakan 4 tahun terakhir ini. Untuk tingkat perwira, diperkirakan ke depan jumlah polwan mulai meningkat walaupun masih sangat kurang. Tetapi pada tingkat bintara, sangat sangat jauh dirasa kurang. Padahal bintara adalah polisi yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Well, ini memang pe-er besar untuk kepolisian, yaitu memperbanyak jumlah polwan dengan cepat, sehingga bisa memperkecil rasio polwan terhadap penduduk perempuan di negara ini Suara Karya (2007), menyatakan diskriminasi masih terjadi di jajaran kepolisian, terutama dialami polisi wanita (polwan). Jumlah polwan ini hanya 3,25 persen dari total anggota Polri sebanyak personel. Selain itu, rasio perbandingan antara polwan dengan masyarakat masih 1 banding 11 ribu. Padahal rasio perbandingan antara polisi laki-laki (polki) dengan BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

125 masyarakat saat ini 1 banding Jumlah polwan seperti itu, menurut anggota Komisi III DPR-RI Nursyahbani Kacasungkana, berarti seorang polwan melayani 11 ribu orang perempuan, yang merupakan 55 persen penduduk Indonesia."Idealnya, jumlah polwan adalah orang," kata dia, pada pemaparan hasil kajian LBH APIK dan Lembaga Manajemen FEUI, terkait dengan Polri, di Jakarta. Padahal, meningkatnya jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan tugas-tugas kepolisian lainnya membutuhkan peran yang harus ditangani polwan. "Ini suatu yang agak terlampau menyedihkan. Penugasan polwan bukannya di operasional, tetapi masih di administrasi. Ini semua karena dipengaruhi persepsi budaya di Polri. Ia menambahkan, pada rekruitmen anggota polisi tahun 2005/2006, dari 26 ribu penerimaan anggota polisi baru, polwan hanya mendapatkan kuota seribu anggota. Karena itu, lanjut mantan Direktur Lembaga APIK ini, disahkannya kelembagaan ruang pelayanan khusus (RPK) sangat menggembirakan. DPR bisa memberikan dukungan agar RPK ini berjalan dengan baik. "Kami berharap, diskriminasi terhadap polwan bisa diakhiri dan kami mendukung adanya kelembagaan RPK dengan penambahan jumlah polwan yang lebih banyak," katanya. Direktur LBH APIK, Estu, menambahkan, pihaknya mendukung penambahan jumlah polwan hingga mencapai jumlah ideal yang dibutuhkan dalam pelayanan terhadap masyarakat. Ia menambahkan, kurangnya jumlah polwan juga terlihat dari pengajar polwan di tujuh Sekolah Polisi Negara (SPN) yang dijadikan sampel penelitian LBH APIK. Ketujuh SPN itu adalah SPN Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), DKI Jakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan Papua. "Jumlah pengajar polwan di tiap SPN yang kami teliti tidak lebih dari lima orang," katanya. Karena itu, lanjutnya, pihaknya menyarankan agar Mabes Polri tidak hanya melakukan pendidikan polwan di Sespolwan, namun juga memberdayakan SPN yang ada di daerah-daerah. "Karena kemampuan sekolah khusus polwan itu hanya 500 siswa per tahun, jadi perlu dilakukan BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

126 pendidikan untuk polwan hingga ke SPN," katanya menambahkan. Selain itu, daya tampung ketujuh SPN itu antara orang dan tidak terisi secara penuh. "Jika SPN lebih diberdayakan, kebutuhan polwan akan bisa terpenuhi," katanya. Rasio polisi dengan masyarakat yang ideal adalah 1 : 700 Bagaimana komposisi jumlah polisi di Kabupaten Malang berdasarkan jenis kelamin? Kondisi tersebut dapat dilihat pada gambar 26. Gambar Jumlah Polisi di Kabupaten Malang Berdasarkan Jenis Kelamin (PPGK dan KPPA Kabupaten Malang, 2010) Terlihat pada gambar 26, bahwa jumlah polisi wanita (POLWAN) jauh lebih rendah dibandingkan polisi laki-laki. Berdasarkan data PPGK dan KPPA Kabupaten Malang (2010), data jumlah aparat kepolisian di Kabupaten Malang tahun 2006 adalah sebanyak 819 orang, dengan komposisi sebanyak 127 orang polisi perempuan atau polwan (15,51%) dan 692 orang polisi laki-laki (84.49%). Komposisi jumlah polisi berdasarkan jenis kelamin di tiap kecamatan, walaupun data yang tersedia kurang lengkap karena tidak seluruh kecamatan mengisi data jumlah aparat polisi. Jumlah polisi perempuan terbesar terdapat di Kecamatan Karangploso dan Kepanjen masing-masing sebanyak 40 orang, nilai Persentasenya 31,5% dari seluruh polwan di Kabupaten Malang. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

127 Sedangkan jumlah polisi laki-laki terbesar terdapat di Kecamatan Donomulyo yaitu sebanyak 99 orang, nilai Persentasenya 14,31% dari seluruh polisi lakilaki di Kabupaten Malang. Jumlah aparat kepolisian di Kabupaten Malang pada tahun 2007 sebanyak 590 orang. Banyaknya kecamatan yang tidak mengisikan data jumlah aparat kepolisian di lingkungannya mengakibatkan banyaknya kekosongan data. Dari data tersebut diperoleh komposisi jumlah polwan dan polisi laki-laki. Jumlah polwan adalah 69 orang (11,7%) dan polisi laki-laki adalah 521 orang (88,3%). Dari 69 orang data polwan yang tersedia berasal dari 3 kecamatan yaitu Kecamatan Kepanjen sebanyak 42 orang, nilai persentasenya 60.87% dari seluruh polwan, Kecamatan Pakisaji sebanyak 24 orang, nilai persentasenya 34,78%, dan Kecamatan Donomulyo sebanyak 3 orang, nilai Persentasenya 4,35%. Sedangkan jumlah polisi laki-laki terbanyak berada di Kecamatan Kepanjen yaitu 102 orang (19,58%) dan Kecamatan Donomulyo yaitu 99 orang (19%). Data jumlah aparat kepolisian di Kabupaten Malang tahun 2008 adalah sebanyak 794 orang dengan komposisi 100 orang polwan dan 694 orang polisi laki-laki. Jumlah polisi perempuan dan laki-laki terbesar di Kabupaten Malang pada tahun 2008 berada di Kecamatan Kepanjen, yaitu 46 orang polwan (46% dari seluruh polwan) dan 120 orang polisi laki-laki (17,29% dari seluruh polisi laki-laki). Grafik 26 menunjukkan perbandingan jumlah polisi berdasarkan jenis kelamin selama tiga tahun terakhir Sumberdaya Buatan Terkait dengan Bidang Hukum Di Kabupaten Malang Sumberdaya buatan (SDB) yang dimaksudkan di bab ini adalah jumlah lembaga penegak hukum dan produk-produk nya yaitu yang berupa kebijakankebijakan yang telah dihasilkan seperti undang-undang, keputusan presiden, peraturan menteri, peraturan bersama, NSPK dan keputusan menteri. Bagaimana kondisi jumlah lembaga atau institusi penegak hukum di Kabupaten BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

128 Malang selama tahun ? Berhubungan dengan aspek gender yang dimaksud institusi penegak hukum adalah lembaga/institusi yang menangani secara terpadu korban kekerasan/perkosaan, pelecehan dan traficking terhadap perempuan dan anak Kondisi tersebut digambarkan pada grafik 27. Gambar Jumlah Lembaga Penegak Hukum yang menangani secara terpadu korban kekerasan/perkosaan, pelecehan dan traficking terhadap perempuan dan anak Pemerintah dan Non Pemerintah di Kabupaten Malang tahun (PPGK dan KPPA Kabupaten Malang, 2010) Terlihat pada grafik 27, jumlah lembaga penegak hukum pemerintah menurun dari tahun 2006 ke tahun 2007 dan meningkat lagi di tahun Lembaga non pemerintah tahun 2006 ada satu, namun akhirnya tidak ada lagi tahun 2007 dan Bersumber dari data PPGK dan KPPA (2010), tahun 2006 terdapat 10 lembaga di Kabupaten Malang, yaitu 9 lembaga pemerintah dan 1 lembaga non pemerintah. 10 lembaga tersebut tersebar di 6 kecamatan, yaitu Donomulyo, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing, Kromengan, Wonosari, dan Pakisaji. Di Pakisaji terdapat 3 lembaga pemerintah dan 1 lembaga nonpemerintah. Tahun 2007 terdapat 3 lembaga pemerintah di Kabupaten Malang yang terletak masing-masing di Kecamatan Donomulyo, Bantur, dan Kromengan. Tahun 2008 terdapat 5 lembaga pemerintah di Kabupaten Malang BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

129 yang terletak masing-masing di Kecamatan Donomulyo, Bantur, Kepanjen, Wonosari dan Kromengan. Grafik 27 memperlihatkan jumlah lembaga yang menangani kasus kekerasan di Kabupaten Malang dalam 3 tahun terakhir. Terlihat bahwa terjadi penurunan jumlah yang tajam dari tahun 2006 ke tahun 2007, walaupun kembali naik pada tahun Salah satu jenis lembaga Penegak Hukum yang menangani secara terpadu korban kekerasan/perkosaan, pelecehan dan traficking terhadap perempuan dan anak adalah Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) adalah lembaga yang terdiri dari beberapa lembaga lain yang secara terpadu berfungsi memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan. Data jumlah korban yang mendapatkan pelayanan di PPT rumah sakit daerah di Kepanjen dan unit Ruang Pelayanan Khusus (RPK) Polres Malang menurut jenis kasus dapat dilihat grafik 28 Gambar Jumlah korban yang mendapatkan pelayanan di PPT (Pusat Pelayanan Terpadu) Rumah Sakit daerah di Kepanjen dan Unit RPK Polres Malang menurut jenis kasus (PPGK dan KPPA, 2001) BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

130 Terlihat pada Grafik 28, kasus kekerasan yang tertinggi jumlahnya yang ditangani oleh lembaga pelayanan terpadu. Bersumber dari data PPGK dan KPPA (2010), bahwa jumlah tertinggi yang mendapatkan pelayanan di PPT adalah korban yang mengalami kasus kekerasan (58 kasus), selanjutnya berturut-turut adalah pelecehan seksual (17 kasus), perkosaan (12 kasus), dan trafficking (10 kasus). Terdapat 97 orang korban dari berbagai jenis kasus yang mendapatkan pelayanan di PPT. Jumlah korban tersebut adalah 17 korban kasus pelecehan seksual, 12 korban kasus perkosaan, 58 korban kasus kekerasan, dan 10 korban kasus trafficking. Korban pelecehan seksual dan perkosaan terbanyak berasal dari Kecamatan Pakis yaitu 7 orang korban pelecehan seksual (41,18%) dan 5 orang korban perkosaan (41,67%). Sedangkan korban kekerasan dan trafficking terbanyak berasal dari Kecamatan Pakis berturut-turut 27 orang 46,55%) dan 6 orang (60%). Sumberdaya yang dimiliki di bidang Hukum di Kabupaten Malang ini, tidak hanya SDM dan lembaga terpadu, namun juga produk-produk hukum nya. Secara Nasional banyak produk hukum yang dapat digunakan sebagai pedoman menangani kasus maupun menantisipasi munculnya kasus-kasus di bidang Hukum. Berdasarkan data PPGK dan KPPA Kabupaten Malang (2010), menunjukkan data jumlah peraturan perundang-undangan yang bias gender, sedang atau akan direvisi, dan berperspektif gender di kecamatan yang ada di Kabupaten Malang pada tahun Pada tahun 2006 di Kecamatan Pakisaji terdapat 3 peraturan yang bias gender, sedangkan di Kecamatan Kalipare terdapat 1 peraturan. Pada tahun 2007 dan 2008 di Kecamatan Kalipare 1 peraturan yang bias gender. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

131 Tabel 9.2. Jumlah Kasus, Korban dan Pelaku Trafficking di Kabupaten Malang Tahun 2008 No Kecamatan Jumlah peraturan perundang-undangan Bias gender Sedang/akan direvisi Berperspektif gender Tahun Kalipare Pakisaji Tahun Kalipare Tahun Kalipare Sumber: Isian kecamatan (data diolah), 2009 dalam (PPKG dan KPPA2010) *) Tidak ada data Selama 3 tahun terakhir terdapat 4 peraturan yang sedang atau akan direvisi yaitu di Kecamatan Kalipare dan Pakisaji. Peraturan perundangundangan yang berperspektif gender berjumlah 7 buah selama 3 tahun terahir di dua kecamatan yang sama (lihat grafik 31). Gambar Jumlah Peraturan Perundang-undangan Bias Gender Berdasarkan Tahun Peraturan dan kebijakan tingkat nasional perlu kita tampilkan disini agar siapapun yang membaca buku ini dan belum mengetahui bahwa sudah banyak produk hokum tingkat nasional yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam menangani dan mengelola masalah Hukum terkait denga Gender. Semua BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

132 kebijakan dapat diunduh di web site Kementerian Pemberdayaan Perempuan antara lain sebagai berikut : BUKU PANDUAN 1. Buku Panduan Penilaian Pada Pelaksanaan Revitalisasi GSI 2. Buku Pegangan Pemberantasan Perdagangan Orang 3. Juklak Anggaran Responsif Gender 4. Konsep dan Pengertian PUHA 5. Modul Pelatihan Fasilitator Perencanaan dan Penganggaran Daerah yang Responsif Gender (PPRG) yang dilengkapi dengan softcopy semua (1) Presentasi, (2) Alat Bantu, (3) Bahan Bacaan, (4) Landasan Hukum, mohon menghubungi: Ibu Myrna Butarbutar ([email protected]), di GIZ Strengthening Women s Rights (Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH) 6. Pedoman Pelaksana Kebijakan Kota Layak Anak 7. Pedoman Pelaksanaan Pemenuhan Hak Sipil dan Kebebasan Anak 8. Pedoman Pelaksanaan Rencana Aksi Partisipasi Anak 9. Pembangunan Manusia Berbasis Gender Tahun Pemberdayaan Perempuan Dalam Pencegahan Penularan HIV dan AIDS 11. Buku SIGA ini semoga bermanfaat dan dapat memenuhi kebutuhan data gender dan anak dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

133 UNDANG-UNDANG 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi KEPUTUSAN PRESIDEN 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak 2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 2003 Tentang Komisi Perlindungan Anak Indonesia 3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 88 Tahun 2002 Tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan (Trafiking) Perempuan Dan Anak BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

134 KUMPULAN PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA TAHUN Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2011 tentang Strategi Nasional Sosial Budaya untuk Mewujudkan Kesetaraan Gender 2. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 02 Tahun 2011 tentang Pedoman Penanganan Anak Korban Kekerassan 3. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 03 Tahun 2011 tentang Kebijakan Partisipasi Anak Dalam Pembangunan 4. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 04 Tahun 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kebijakan Partisipasi Anak Dalam Pembangunan 5. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2011 tentang Kebijakan Pemenuhan Hak Pendidikan Anak 6. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 06 Tahun 2011 tentang Panduan Pencegahan Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan Keluarga, Masyarakat, dan Lembaga Pendidikan 7. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 07 Tahun 2011 tentang Kebijakan Peningkatan Ketahanan Keluarga Anak yang Membutuhkan Perlindungan Khusus BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

135 KUMPULAN PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA TAHUN Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Minimal Bidang Layanan Terpadu Bagi Perempuan dan Anak Korban Kekerasan 2. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 02 Tahun 2010 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Terhadap Anak 3. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 03 Tahun 2010 tentang Penerapan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui 4. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 04 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlndungan Anak 5. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 05 Tahun 2010 tentang Panduan Pembentukan dan Pengembangan Pusat Pelayanan Terpadu 6. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 06 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Nomor 07 Tahun 2009 tentang Sekretariat Gugus Tugas Pusat Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang 7. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 08 Tahun 2010 tentang BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

136 Pedoman Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender Bidang Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian 8. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 09 Tahun 2010 ttg Pedoman Perencanaan dan Penganggaran Dalam Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS yang Responsif Gender 9. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2010 tentang Pedoman Perencanaan dan Penganggaran Keluarga Berencana yang Responsif Gender 10. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Madrasah Kementerian Agama Republik Indonesia 11. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2010 tentang Pedoman Perencanaan dan Penganggaran pada Pendidikan Islam yang Responsif Gender 12. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republlik Indonesia Nomor 13 Tahun 2010 tentang Petunjuk Teknis Kabupaten/Kota Layak Anak di Desa/Kelurahan 13. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak Tingkat Provinsi 14. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2010 tentang Pedoman Umum Penanganan Anak yang Berhadapan dengan Hukum 15. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2010 tentang BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

137 Panduan Perencanaan Penganggaran yang Responsif Gender Bidang Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah 16. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2010 tentang Panduan Perencanaan Penganggaran yang Responsif Gender Bidang Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah 17. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2010 tentang Panduan Perencanaan Penganggaran yang Responsif Gender Bidang Perindustrian 18. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2010 tentang Model Pedoman Perencanaan Penganggaran yang Responsif Gender Bagi Satuan Kerja Perangakat Daerah Bidang Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah 19. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2010 tentang Panduan Umum Bina Keluarga Tenaga Kerja Indonesia 20. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2010 tentang Prosedur Standar Operasional Pelayanan Terpadu Bagi Saksi dan/atau Korban Tindak Pidana Perdagangan Orang 21. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Panduan Umum Pembentukan Pusat Informasi dan Konsultasi Bagi Perempuan Penyandang Cacat 22. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2010 tentang Model Perlindungan Perempuan Lanjut Usia yang Responsif Gender BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

138 23. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2010 tentang Pedoman Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 24. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2010 tentang Panduan Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender dalam Pendidikan Politik pada Pemilihan Umum 25. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Tata Naskah Dinas Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 26. Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2010 tentang Pedoman Pengelolaan Penelitian Pengarusutamaan Gender, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak KUMPULAN PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN REPUBLIK INDONESIA TAHUN Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia Nomor 01/PERMEN PP/VI/2007 tentang Forum Koordinasi Penyelenggaraan Kerjasama Pencegahan dan Pemulihan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga KUMPULAN PERATURAN BERSAMA 1. Kesepahaman Bersama Antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Dengan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

139 Tentang Peningkatan Efektifitas Pengarusutamaan Gender Dan Perlindungan Anak Dalam Pembangunan Daerah Tertinggal 2. Kesepahaman Bersama antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Badan Pusat Statistik tentang Penyediaan Data dan Informasi Gender dan Anak 3. Kesepakatan Bersama antara Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia tentang Peningkatan Efektivitas Pengarusutamaan Gender di Bidang Kelautan dan Perikanan 4. Kesepakatan Bersama antara Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia dengan Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia tentang Penyelenggaraan Siaran dan Pemberitaan Pemberdayaan Perempuan melalui Radio Republik Indonesia. 5. Kesepakatan Bersama antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional tentang Peningkatan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dalam Mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera. KEPUTUSAN PRESIDEN 1. Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2010 tentang Logo Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia 2. Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2010 tentang Pembentukan Tim Penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pelindungan Terhadap Anak yang Menjadi Korban atau Pelaku Pornografi BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

140 3. Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 07 Tahun 2011 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 01 Tahun 2011 tentang Penunjukan Pejabat Pengelola Anggaran di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Tahun Anggaran Keputusan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2011 tentang Pembentukan Forum Koordinasi Percepatan Kepemilikan Akta Kelahiran. NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) 1. Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) dalam bentuk pedoman pelaksanaan pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak bagi pemerintahan provinsi, kabupaten dan kota 2. Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) dalam bentuk pedoman pelaksanaan pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak bagi pemerintahan provinsi, kabupaten dan kota dalam hal Penyelenggaraan Data Gender dan Anak 3. Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) dalam bentuk pedoman pelaksanaan pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak bagi pemerintahan provinsi, kabupaten dan kota dalam hal Pemberdayaan Lembaga Masyarakat 4. Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) dalam bentuk pedoman pelaksanaan pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak bagi pemerintahan provinsi, kabupaten dan kota dalam hal Perlindungan Anak 5. Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) dalam bentuk pedoman pelaksanaan pembangunan pemberdayaan perempuan dan BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

141 perlindungan anak bagi pemerintahan provinsi, kabupaten dan kota dalam hal Perlindungan Perempuan 6. Norma, Standar, Prosedur, dan Kriteria (NSPK) dalam bentuk pedoman pelaksanaan pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak bagi pemerintahan provinsi, kabupaten dan kota dalam hal Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

142 BAB X SOSIAL Bidang sosial meliputi permasalahan kesejahteraan sosial, sumbersumber pelayanan sosial, pemberdayaan penyandang masalah kesejahteraan sosial, pengembangan kemandirian sosial, dan perbaikan kualitas hidup. Pada bab ini akan dijabarkan bidang sosial di Kabupaten Malang tahun Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Permasalahan kesejahteraan sosial merupakan permasalahan kesenjangan kesejahteraan yang terjadi masyarakat. Dinas Sosial Kabupaten Malang merupakan instansi yang terlibat langsung untuk menanggulangi permasalahan ini, sesuai visinya yaitu dalam menyiapkan PMKS agar menjadi manusia yang dapat melaksanakan fungsi sosialnya, terampil, dan mandiri. Demikian pula halnya dengan permasalahan sosial yang ditemui di Kabupaten Malang yang jenisnya sangat beragam. Permasalahan sosial menurut jenisnya dikategorikan ke dalam 22 jenis permasalahan (sumber: Dinas Sosial Kabupaten Malang), yaitu: Tabel Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial No. Jenis Permasalahan No. Jenis Permasalahan 1 Anak Balita Terlantar 12 Bekas Binaan Lembaga Kemasyarakatan (BWBLK) 2 Anak Terlantar 13 Korban Penyalahgunaan NAPZA 3 Anak Nakal 14 Keluarga Fakir Miskin 4 Anak Jalanan 15 Keluarga Berumah Tak Layak Huni 5 Wanita Rawan Sosial Ekonomi 16 Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis 6 Korban Tindak Kekerasan 17 Komunitas Adat Terpencil 7 Penyandang Cacat 18 Korban Bencana Alam 8 Lanjut Usia Terlantar 19 Korban Bencana Sosial atau Pengungsi 9 Tuna Susila 20 Pekerja Migran Bermasalah Sosial 10 Pengemis 21 Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) 11 Gelandangan 22 Keluarga Rentan Data penyandang masalah kesejahteraan sosial di Kabupaten Malang yang bersumber dari Dinas Sosial dapat dilihat pada tabel 9.1. Dalam tabel tersebut disajikan jumlah kasus masalah kesejahteraan sosial untuk setiap kategori di Kabupaten Malang tahun BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

143 Tabel Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Menurut Jenisnya, 2010 NO JENIS PMKS JENIS KELAMIN L P JUMLAH 1. Anak Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Korban Tindak Kekerasan/Diperlakukan Salah Anak Nakal Anak Jalanan Anak Cacat Tubuh Netra Rungu Wicara Mental Wanita Rawan Sosial Ekonomi Wanita Yang Menjadi Korban Tindak Kekerasan/ Yang Diperlakukan Salah Lanjut Usia Terlantar Lanjut Usia Yang Menjadi Korban Tindak Kekerasan / Yang Diperlakukan Salah Penyandang Cacat Tubuh Netra Rungu Wicara Mental Penyandang Cacat Bekas Penderita Penyakit Kronis Tuna Susila Pengemis Gelandangan Gelandangan Psikotik Bekas Narapidana Korban Penyalahgunaan NAPZA Keluarga Fakir Miskin Keluarga Berumah Tak Layak Huni Keluarga Bermasalah Sosial Psikologis Komunitas Adat Terpencil Masyarakat Yang Tinggal di Daerah Rawan Bencana Korban Bencana Alam Korban Bencana Sosial / Pengungsi Pekerja Migran Terlantar Pengidap HIV / AIDS Keluarga Rentan Jumlah Keseluruhan Sumber: Dinas Sosial Kabupaten Malang (2010) Berdasarkan tabel 9.1 dapat digambarkan grafik pada gambar 9.1 tentang Persentase jumlah PMKS berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki 59,54% dan perempuan 40,46%. Sedangkan gambar 9.2 menunjukkan tiga BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

144 permasalahan PMKS tertinggi di Kabupaten Malang pada tahun 2010, yaitu keluarga fakir miskin ( kasus atau 51,39% dari seluruh jumlah PMKS), anak terlantar ( kasus atau 21,01% dari seluruh jumlah PMKS), dan keluarga dengan rumah tak layak huni ( kasus atau 6,92% dari seluruh jumlah PMKS). Fenomena kasus sosial tertinggi sangat berkaitan erat dengan kemiskinan. Dampak dari kemiskinan sangatlah banyak, diantaranya termasuk penelantaran anak karena ketidakmampuan ekonomi dalam mencukupi kebutuhan rumah tangga. Gambar Persentase Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial berdasarkan Jenis Kelamin di Kabupaten Malang tahun 2010 Gambar Tiga jenis PMKS tertinggi di Kabupaten Malang tahun 2010 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

145 10.2. Jenis Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Per Kecamatan PMKS berdasarkan jenisnya dapat dilihat secara rinci jumlah kasusnya di tiap-tiap kecamatan tabel (lampiran). Berdasarkan tabel 10.3 dapat digambarkan beberapa grafik mengenai PMKS di Kabupaten Malang sebagai berikut: Gambar Persentase Anak balita terlantar di Kabupaten Malang tahun 2010 Gambar 10.3 menunjukkan Persentase anak balita terlantar di Kabupaten Malang, dimana Persentase balita perempuan lebih tinggi (51,66%), sedangkan balita laki-laki (48,34%). Anak balita terlantar tertinggi dapat ditemui di Kecamatan Sumbermanjing (132 anak), Ngantang (112 anak), dan Wagir (93 anak). Gambar Persentase Anak terlantar di Kabupaten Malang tahun 2010 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

146 Gambar 10.4 menunjukkan Persentase anak terlantar di Kabupaten Malang, dimana Persentase laki-laki 50,24% dan perempuan 49,67%. Anak terlantar terlantar terbanyak dapat ditemui di Kecamatan Sumberpucung (3.134 anak), Tumpang (2.185 anak), dan Gedangan (2.137 anak). Gambar Persentase Anak nakal di Kabupaten Malang tahun 2010 Gambar 10.5 menunjukkan Persentase anak nakal di Kabupaten Malang, dimana Persentase laki-laki lebih besar yaitu 77,77% dan perempuan 22,23%. Kasus anak nakal terbanyak dapat ditemui di Kecamatan Lawang (140 orang), Wagir (1331 orang), dan Tajinan (114 orang). Gambar Persentase Anak Jalanan di Kabupaten Malang tahun 2010 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

147 Gambar 10.6 menunjukkan Persentase anak jalanan di Kabupaten Malang, dimana Persentase laki-laki lebih besar yaitu 65,48% dan perempuan 34,52%. Kasus anak jalanan terbanyak dapat ditemui di Kecamatan Poncokusumo (72 anak), Jabung (57 anak), dan Singosari (40 anak). Gambar 10.7 Persentase Korban tindak kekerasan di Kabupaten Malang tahun 2010 Gambar 10.7 menunjukkan Persentase korban tindak kekerasan di Kabupaten Malang, dimana Persentase laki-laki lebih besar yaitu 58,04% dan perempuan 41,96%. Kasus korban tindak kekerasan terbanyak dapat ditemui di Kecamatan Tajinan (145 orang), Wajak (46 orang), dan Pujon (27 orang). Gambar Persentase Lanjut usia terlantar di Kabupaten Malang tahun 2010 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

148 Gambar 10.8 menunjukkan Persentase lanjut usia terlantar di Kabupaten Malang dimana Persentase perempuan lebih besar yaitu 51,66% dan laki-laki 48,34%. Kasus lanjut usia terlantar terbanyak dapat ditemui di Kecamatan Bantur (277 orang), Poncokusumo (273 orang), dan Lawang (262 orang). Gambar Persentase Pengemis di Kabupaten Malang tahun 2010 Gambar 10.9 menunjukkan persentase pengemis di Kabupaten Malang dimana Persentase perempuan 50,87% dan laki-laki 49,13. Kasus terbesar dapat ditemui di Kecamatan Kepanjen (29 orang), Wonosari (23 orang), dan Poncokusumo (21 orang). Gambar Persentase Gelandangan di Kabupaten Malang tahun 2010 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

149 Gambar menunjukkan Persentase gelandangan di Kabupaten Malang dimana Persentase laki-laki 89,39% dan perempuan 10,61%. Kasus terbesar dapat ditemui di Kecamatan Wajak (92 orang), Sumberpucung (82 orang), dan Pagak (73 orang). Gambar Persentase Bekas binaan Lembaga Permasyarakatan di Kabupaten Malang tahun 2010 Gambar menunjukkan Persentase bekas binaan Lembaga Permasyarakatan (LP) di Kabupaten Malang dimana Persentase laki-laki 91,49% dan perempuan 8,51%. Kasus terbesar dapat ditemui di Kecamatan Poncokusumo (189 orang), Jabung (126 orang), dan Gondanglegi (125 orang). Gambar Persentase Korban penyalahgunaan Napza Di Kabupaten Malang tahun 2010 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

150 Gambar menunjukkan Persentase korban penyalahgunaan NAPZA (Narkotika dan Zat Adiktif) di Kabupaten Malang dimana Persentase laki-laki 92,04% dan perempuan 7,96%. Kasus terbesar dapat ditemui di Kecamatan Pakisaji (55 orang), Karangploso (48 orang), dan Gondanglegi (41 orang). Gambar Persentase fakir miskin di Kabupaten Malang tahun 2010 Gambar 9.13 menunjukkan Persentase fakir miskin di Kabupaten Malang dimana Persentase laki-laki 65,79% dan perempuan 34,21%. Kasus terbesar dapat ditemui di Kecamatan Karangploso (4.628 orang), Bululawang (4.476 orang), dan Turen (4.409 orang). Gambar Persentase Keluarga berumah tak layak huni di Kabupaten Malang tahun 2010 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

151 Gambar menunjukkan Persentase keluarga berumah tak layak huni di Kabupaten Malang dimana Persentase laki-laki 64,99% dan perempuan 35,01%. Kasus terbesar dapat ditemui di Kecamatan Sumberpucung (859 orang), Kepanjen (821 orang), dan Lawang (754 orang). Gambar Persentase Keluarga bermasalah sosial psikologis di Kabupaten Malang tahun 2010 Gambar menunjukkan Persentase keluarga bermasalah sosial psikologis di Kabupaten Malang dimana Persentase laki-laki 56,43% dan perempuan 43,57%. Kasus terbesar dapat ditemui di Kecamatan Lawang (887 orang), Pujon (207 orang), dan Wagir (174 orang). Gambar Persentase Komunitas adat terpencil di Kabupaten Malang tahun 2010 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

152 Gambar menunjukkan Persentase komunitas adat terpencil di Kabupaten Malang dimana Persentase laki-laki 95,89% dan perempuan 4,11%. Komunitas adat terpencil dapat ditemui di Kecamatan Poncokusumo (312 orang), Turen (2 orang), dan Ampelgading (2 orang). Gambar Persentase Korban bencana alam di Kabupaten Malang tahun 2010 Gambar menunjukkan Persentase korban bencana alam di Kabupaten Malang dimana Persentase laki-laki 61,56% dan perempuan 38,44%. Kasus terbesar dapat ditemui di Kecamatan Pagelaran (759 orang), Pakis (152 orang), dan Jabung (135 orang). Gambar Persentase Korban bencana sosial atau pengungsi di Kabupaten Malang tahun 2010 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

153 Gambar menunjukkan Persentase korban bencana sosial atau pengungsi di Kabupaten Malang dimana Persentase laki-laki 47,37% dan perempuan 52,63%. Kasusnya dapat ditemui di Kecamatan Ampelgading (19 orang) dan Kepanjen (3 orang). Gambar Persentase Pekerja migran bermasalah sosial di Kabupaten Malang tahun 2010 Gambar menunjukkan Persentase pekerja migran bermasalah sosial di Kabupaten Malang dimana Persentase laki-laki 51,92% dan perempuan 48,08%. Kasus terbesar dapat ditemui di Kecamatan Donomulyo (22 orang), Dau (9 orang), dan Kromengan (8 orang). Gambar Persentase Orang dengan HIV AIDS (ODHA) di Kabupaten Malang tahun 2010 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

154 Gambar menunjukkan Persentase Orang dengan HIV AIDS (ODHA) di Kabupaten Malang dimana Persentase laki-laki 58,97% dan perempuan 41,03%. Kasus terbesar dapat ditemui di Kecamatan Gondanglegi (11 orang), Donomulyo (7 orang), dan Singosari (7 orang). Gambar Persentase Keluarga rentan di Kabupaten Malang tahun 2010 Gambar menunjukkan Persentase keluarga rentan di Kabupaten Malang dimana Persentase laki-laki 71,82% dan perempuan 28,18%. Kasus terbesar dapat ditemui di Kecamatan Bantur (491 orang), Wagir (458 orang), dan Lawang (387 orang) Penyandang Cacat Jumlah penyandang cacat di Kabupaten Malang pada tahun 2010 berdasarkan data dari Dinas Sosial Kabupaten Malang mencapai orang, orang diantaranya berjenis kelamin laki-laki (56,25%), dan sisanya berjenis kelamin perempuan (43,75%). Penyandang cacat tersebut dikategorikan menjadi 5 jenis yaitu: cacat tubuh, tuna netra, tuna rungu dan wicara, cacat mental, dan cacat lainnya. Data penyandang cacat menurut jenis kecacatan di Kabupaten Malang pada tahun 2010 serta terpilah menurut jenis kelamin dapat dilihat pada( lampiran 3). Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan dalam bentuk grafik penyandang cacat pada gambar BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

155 Gambar Grafik jumlah penyandang cacat di Kabupaten Malang, 2010 Jumlah penyandang cacat terbesar adalah jenis cacat tubuh yaitu mencapai orang dengan penjelasan sebanyak orang laki-laki (57,88%) dan orang perempuan (42,12%). Berikutnya adalah cacat mental sebanyak orang, yaitu 973 orang laki-laki (57,37%) dan 723 orang perempuan (42,63%). Penderita tuna netra sebanyak 960 orang yaitu 490 orang laki-laki (51,04%) dan 470 orang perempuan (49, 96%). Jumlah ini hampir berimbang dengan penderita tuna rungu dan wicara yaitu sebanyak 933 orang, dimana 516 orang laki-laki (55,30%) dan 417 orang perempuan (44,70%) Panti Sosial Panti sosial di Kabupaten Malang terdiri dari panti asuhan, panti werdha, panti rehabilitasi sosial, dan yayasan sosial non panti. Hampir seluruh kecamatan memiliki panti asuhan, kecuali di beberapa kecamatan yaitu: Donomulyo, Kalipare, Pagak, Dampit, Tirtoyudo, Ampelgading, Turen, Sumberpucung, Wonosari dan Ngantang. Terdapat 33 panti asuhan di Kabupaten Malang dengan jumlah panti asuhan terbanyak berada di Kecamatan Lawang yaitu 4 buah. Kondisi yang memprihatinkan yaitu di Kecamatan Pakisaji dimana jumlah penghuni panti asuhan (176 orang) melebihi kapasitas daya tampung (60 orang). Kabupaten Malang hanya memiliki tiga panti werdha, satu terdapat di Kecamatan Turen dan dua lainnya di Kecamatan Lawang. Selain itu juga BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

156 terdapat empat panti rehabilitasi sosial yaitu satu panti di Kecamatan Poncokusumo, dan tiga panti di Kecamatan Lawang. Yayasan sosial non panti sebanyak tiga buah, masing-masing tersebar di Kecamatan Turen, Kepanjen, dan Pakis. Data mengenai banyaknya panti sosial di Kabupaten Malang pada tahun 2010 yang bersumber dari Dinas Sosial dapat dilihat pada tabel 9.4. Tabel Banyaknya Panti Sosial, Kapasitas Tampung, dan Jumlah Penghuni di Kabupaten Malang Tahun 2010 Kecamatan Donomulyo Kalipare Jumlah - - Panti Asuhan Kapasita s Panti Werdha Penghuni Jumlah Kapasitas Penghuni Pagak Bantur Gedangan Sumbermanjing Dampit Tirtoyudo Ampelgading Poncokusumo Wajak Turen Bululawang Gondanglegi Pagelaran Kepanjen Sumberpucung Kromengan Ngajum Wonosari Wagir Pakisaji Tajinan Tumpang Pakis Jabung Lawang Singosari Karangploso Dau Pujon Ngantang Kasembon Jumlah / Total Sumber: Kabupaten Malang dalam Angka 2011 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

157 Lanjutan tabel Panti Rehablitasi Sosial Yayasan Sosial Non Panti Kecamatan Jumlah Kapasitas Penghuni Jumlah Kapasitas Disantuni Donomulyo Kalipare Pagak Bantur Gedangan Sumbermanjing Dampit Tirtoyudo Ampelgading Poncokusumo Wajak Turen Bululawang Gondanglegi Pagelaran Kepanjen Sumberpucung Kromengan Ngajum Wonosari Wagir Pakisaji Tajinan Tumpang Pakis Jabung Lawang Singosari Karangploso Dau Pujon Ngantang Kasembon Jumlah / Total Sumber: Kabupaten Malang dalam Angka 2011 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

158 10.5. Kasus Perceraian Jumlah kasus perceraian di Kabupaten Malang selama kurunp dua tahun terakhir ( ) sumber dari Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Malang dapat dilihat pada tabel 9.5. Tabel Banyaknya Kasus Perceraian di Kabupaten Malang Kecamatan Cerai Talak Cerai gugat Cerai Talak Cerai gugat Donomulyo Kalipare Pagak Bantur Gedangan Sumbermanjing Dampit Tirtoyudo Ampelgading Poncokusumo Wajak Turen Bululawang Gondanglegi Pagelaran Kepanjen Sumberpucung Kromengan Ngajum Wonosari Wagir Pakisaji Tajinan Tumpang Pakis Jabung Lawang Singosari Karangploso Dau Pujon Ngantang Kasembon Jumlah 1,330 3,094 2,590 3,886 Sumber: Kabupaten Malang dalam Angka 2011 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

159 Kasus perceraian, baik cerai talak maupun cerai gugat mengalami peningkatan dalam 2 tahun terakhir. Cerai talak meningkat tajam hampir dua kali lipat di tahun 2010 dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan cerai gugat mengalami kenaikan 25,6%. Grafik perceraian dapat dilihat pada gambar Gambar Grafik Kasus Perceraian di Kabupaten Malang Gambar Kasus Perceraian Penyebab Perceraian Jumlah kasus perceraian berdasarkan penyebab perceraian di Kabupaten Malang berdasarkan sumber dari Kantor Pengadilan Agama Kabupaten Malang pada tahun 2010 dapat dilihat pada tabel Berdasarkan tabel tersebut dapat disimpulkan terdapat beberapa faktor penyebab perceraian, yaitu: krisis akhlaq/moral (sebanyak 2 kasus), cemburu (10 kasus), kawin paksa (1 kasus), tidak bertanggung jawab (1,721 kasus), penganiayaan (1 kasus), hukuman (3 kasus), cacat biologis (1 kasus), gangguan pihak ketiga (34 kasus), dan rumah tangga tidak harmonis (3,679 kasus). Penyebab terbesar adalah ketidakharmonisan dalam rumah tangga, dan salah satu pihak tidak bertanggung jawab. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

160 Tabel Banyaknya Perceraian menurut Faktor Penyebabnya di Kabupaten Malang tahun 2010 Bulan Poligami Krisis Kawin Tdk Tang- Tidak Cemburu Ekonomi Akhlaq Paksa gung Jawab Sehat Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah ,721 Sumber: Kabupaten Malang dalam Angka 2011 Lanjutan tabel Bulan Kawin Bawah Cacat Penganiayaan Dihukum Umur Biologis Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Sumber: Kabupaten Malang dalam Angka 2011 Lanjutan tabel Bulan Berselisih Politis Gangguan Pihak Ketiga Tdk Harmonis Jumlah Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah / Total ,679 5,452 Sumber: Kabupaten Malang dalam Angka 2011 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

161 10.7. Pondok Pesantren Jumlah pondok pesantren di Kabupaten Malang pada tahun dapat dilihat pada tabel 9.7. Sumber data diperoleh dari Kantor kementrian agama kabupaten Malang. Tabel Jumlah Pondok Pesantren di Kabupaten Malang tahun Kecamatan Donomulyo Kalipare Pagak Bantur Gedangan Sumbermanjing Dampit Tirtoyudo Ampelgading Poncokusumo Wajak Turen Bululawang Gondanglegi Pagelaran Kepanjen Sumberpucung Kromengan Ngajum Wonosari Wagir Pakisaji Tajinan Tumpang Pakis Jabung Lawang Singosari Karangploso Dau Pujon Ngantang Kasembon Jumlah / Total Sumber: Kabupaten Malang dalam Angka 2011 Pondok pesantren terbanyak di tahun 2010 terdapat di Kecamatan Gondanglegi (87 pondok pesantren), Bululawang (34 pondok pesantren), dan Poncokusumo (32 pondok pesantren). Jumlah pondok pesantren relatif stabil namun cenderung turun pada tahun 2009, dan kembali naik jumlahnya di tahun BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

162 2010. Gambar 9.24 menunjukkan grafik jumlah pondok pesantren di Kabupaten Malang tiap tahunnya selama periode Gambar Jumlah Pondok Pesantren di Kabupaten Malang Karang Taruna Jumlah Karang Taruna di tiap-tiap kecamatan di Kabupaten Malang tahun 2010 bersumber dari Dinas Sosial dapat dilihat pada tabel Namun data pengurus belum terpilah secara gender. Kelompok Karang Taruna terbanyak ditemui di Kecamatan Kepanjen (18 kelompok), Poncokusumo, Turen, dan Singosari (masing-masing 17 kelompok). Gambar menunjukkan 4 kecamatan dengan jumlah kelompok karang taruna terbesar dan klasifikasinya. Rata-rata kelompok tersebut diklasifikasikan dalam tahap tumbuh. Gambar Kelompok Karang Taruna terbesar dan klasifikasinya BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

163 Tabel Banyaknya Karang Taruna Menurut Klasifikasi di Kabupaten Malang tahun 2010 Kecamatan Karang Taruna Jumlah Pengurus Klasifikasi Karang Taruna Tumbuh Berkembang Maju Contoh Donomulyo Kalipare Pagak Bantur Gedangan Sumbermanjing Dampit Tirtoyudo Ampelgading Poncokusumo Wajak Turen Bululawang Gondanglegi Pagelaran Kepanjen Sumberpucung Kromengan Ngajum Wonosari Wagir Pakisaji Tajinan Tumpang Pakis Jabung Lawang Singosari Karangploso Dau Pujon Ngantang Kasembon Jumlah 375 6, Sumber: Kabupaten Malang dalam Angka 2011 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

164 BAB XI POLITIK Anggota Legislatif (DPRD) Kabupaten Malang Tahun 2009 Anggota legislatif atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di Kabupaten Malang berdasarkan asal partai dan terpilah menurut gender berdasarkan hasil pemilu tahun 2009 (sumber: DPRD Kabupaten Malang) dapat dilihat pada tabel Tabel Anggota legislatif atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Partai Perolehan Suara Perolehan Kursi Gender Anggota Legislatif 2009 Laki-Laki Perempuan Jumlah PDI Perjuangan 240, Partai Demokrat 185, Partai Golkar 144, PKB 139, PKS 56, Partai Hanura 53, Gerindra 45, PPP 43, PKNU 24, Jumlah / Total 818, Sumber : Kabupaten Malang dalam Angka 2011 Gambar 11.1 menunjukkan komposisi jumlah anggota DPRD Kabupaten Malang tahun 2009 berdasarkan jenis kelamin. Keterwakilan perempuan adalah 18%, sedangkan laki-laki 82%. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

165 Gambar Komposisi anggota DPRD Kabupaten Malang berdasarkan jenis kelamin tahun 2009 Gambar 11.1 menunjukkan jumlah anggota DPRD Kabupaten Malang berdasarkan asal partai dan jenis kelamin. Dapat dilihat bahwa partai PDI Perjuangan memiliki tiga orang wakil perempuan, yang merupakan jumlah terbanyak, namun jumlah tersebut adalah 23% dari seluruh wakil DPRD dari PDI Perjuangan. Partai Hanura merupakan partai dengan wakil DPRD perempuan dan laki-laki yang komposisinya sama, yaitu masing-masing dua orang. Terdapat partai yang hanya memiliki satu kursi di DPRD yaitu PKNU dan PPP, wakil DPRD dari partai tersebut adalah laki-laki. Sedangkan partai Golkar tidak memiliki wakil perempuan di DPRD, seluruhnya laki-laki sebanyak 8 orang. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

166 Gambar Jumlah anggota DPRD berdasarkan partai menurut jenis kelamin di Kabupaten Malang tahun Anggota legislatif (DPRD) Kabupaten Malang menurut tingkat pendidikan Anggota legislatif (DPRD) tahun 2009 menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel Tabel Anggota legislatif (DPRD) tahun 2009 menurut tingkat pendidikan Partai/ Jenis Kelamin SMTP SMU Akadmik Univ. Univ. Univ. Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) PDI Perjuangan Partai Demokrat Partai Golkar PKB PKS Partai Hanura Gerindra PPP PKNU Jumlah Sumber : Kabupaten Malang dalam Angka 2011 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

167 Berdasarkan data pada tabel 11.2 dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan mayoritas anggota legislatif di Kabupaten Malang adalah tingkat universitas/s1, dan tingkat pendidikan terkecil jumlahnya adalah Akademi/Diploma. Gambar 11.3 menunjukkan Persentase tingkat pendidikan anggota dewan. Urutan tingkat pendidikan dari yang tertinggi sampai terendah yaitu S1 (46%), SMU (32%), S2 (20%), dan Akademi/Diploma (2%). Sedangkan gambar 10.4 menunjukkan tingkat pendidikan berdasarkan asal partai. Berdasarkan asal partainya anggota DPRD Kabupaten Malang memiliki pendidikan tertinggi S2, mayoritas pendidikannya adalah S1. Gambar Persentase tingkat pendidikan anggota legislatif (DPRD) Kabupaten Malang 2009 Gambar Tingkat Pendidikan anggota DPRD berdasarkan asal partai BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

168 11.3. PNS Menurut Jenis Kelamin Jumlah PNS dari berbagai instansi pemerintahan di Kabupaten Malang menurut jenis kelamin tahun 2010 dapat dilihat pada tabel Tabel Jumlah PNS menurut jenis kelamin di Kabupaten Malang tahun 2010 No Institusi Laki-laki Perempuan Jumlah 1 Badan Keluarga Berencana Badan Kepegawaian Daerah Badan Kesbang dan Politik Bahan Ketahanan Pangan Badan Lingkungan Hidup Badan Pemberdayaan Masyarakat Badan Pendidikan dan Pelatihan Badan Penelitian dan Pengembangan Badan Perencanaan Pembangunan Badan Perpustakaan,Arsip & Dokumentasi Dinas Bina Marga Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Dinas Energi dan SDM Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Kehutanan Dinas Kelautan dan Perikanan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Dinas Kesehatan , Dinas Koperasi, Mikro, Kecil & Menengah Dinas Pemuda dan Olah Raga Dinas Pendapatan,Pengelolaan Keu.& Asset Dinas Pendidikan 5,961 6,370 12, Dinas Pengairan Dinas Perhubungan, Kom. & Informatika Dinas Perindustrian, Perdagangan & Pasar Dinas Pertanian & Perkebunan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Sosial Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Inspektorat Kantor Pemberdayaan Perempuan Kantor Penanaman Modal Kantor Perumahan Kecamatan Kelurahan Perwakilan Sekretariat KPU RSUD "Kanjuruhan" Kepanjen Satuan Polisi Pamong Praja & Linmas Sekretariat Daerah Sekretariat DPRD UPT Perijinan Desa Jumlah / Total 9,472 8,517 17,989 Sumber : Kabupaten Malang dalam Angka 2011 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

169 Berdasarkan tabel 11.3 jumlah PNS terbanyak adalah laki-laki yaitu 52,65%, sedangkan perempuan 47,35% (lihat gambar 10.5). Jumlah PNS tertinggi berada di instansi Dinas Pendidikan yaitu mencapai orang atau mencapai 68,55% dari total seluruh PNS di Kabupaten Malang. PNS Dinas Pendidikan memiliki komposisi perempuan lebih besar yaitu 51,66%, sedangkan laki-laki 48,34%. Jumlah PNS terendah berada di instansi Perwakilan Sekretariat KPU dimana terdapat 4 orang PNS yang keseluruhannya laki-laki. Gambar Perentasi PNS bedasarkan jenis kelamin di Kabupaten Malang tahun PNS menurut golongan Tabel menunjukkan jumlah PNS menurut golongan di berbagai instansi di Kabupaten Malang tahun BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

170 Tabel Jumlah PNS menurut golongan di Kabupaten Malang tahun 2010 Institusi Golongan I II III IV Jumlah (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1 Badan Keluarga Berencana Badan Kepegawaian Daerah Badan Kesbang dan Politik Bahan Ketahanan Pangan Badan Lingkungan Hidup Badan Pemberdayaan Masyarakat Badan Pendidikan dan Pelatihan Badan Penelitian dan Pengembangan Badan Perencanaan Pembangunan Badan Perpustakaan,Arsip & Dokumentasi Dinas Bina Marga Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Dinas Energi dan SDM Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Kehutanan Dinas Kelautan dan Perikanan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Dinas Kesehatan , Dinas Koperasi, Mikro, Kecil & Menengah Dinas Pemuda dan Olah Raga Dinas Pendapatan,Pengelolaan Keu.& Asset Dinas Pendidikan 29 1,690 3,872 6,740 12, Dinas Pengairan Dinas Perhubungan, Kom. & Informatika Dinas Perindustrian, Perdagangan & Pasar Dinas Pertanian & Perkebunan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Sosial Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Inspektorat Kantor Pemberdayaan Perempuan Kantor Penanaman Modal Kantor Perumahan Kecamatan Kelurahan Perwakilan Sekretariat KPU RSUD "Kanjuruhan" Kepanjen Satuan Polisi Pamong Praja & Linmas Sekretariat Daerah Sekretariat DPRD UPT Perijinan Desa Jumlah / Total 520 3,554 6,839 7,076 17,989 Sumber : Kabupaten Malang dalam Angka 2011 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

171 Data yang tersedia tidak terpilah menurut gender. Gambar 11.6 menunjukkan Persentase PNS menurut golongan. Grafik pada gambar tersebut menunjukkan bahwa Persentase terbesar PNS berturut-turut yaitu di golongan IV (39,34%), golongan III (38,02%), golongan II (19,76%), dan golongan I (2,89%). Gambar Persentase PNS berdasarkan golongan di Kabupaten Malang tahun BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

172 11.5. PNS menurut tingkat pendidikan Tabel 11.5 menunjukkan jumlah PNS menurut tingkat pendidikan yang ada di Kabupaten Malang tahun Tabel menunjukkan jumlah PNS menurut tingkat pendidikan di Kabupaten Malang tahun No Institusi SD SMT/P SMU Akademi PT/ PT/ S-1 S-2/3 Jumlah 1 Badan Keluarga Berencana 2 Badan Kepegawaian Daerah 3 Badan Kesbang dan Politik 4 Bahan Ketahanan Pangan Badan Lingkungan Hidup Badan Pemberdayaan Masyarakat Badan Pendidikan dan Pelatihan Badan Penelitian dan Pengembangan Badan Perencanaan Pembangunan Badan Perpustakaan,Arsip & Dokumentasi Dinas Bina Marga Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Dinas Energi dan SDM Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Kehutanan Dinas Kelautan dan Perikanan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Dinas Kesehatan , Dinas Koperasi, Mikro, Kecil & Menengah Dinas Pemuda dan Olah Raga Dinas Pendapatan,Pengelolaan Keu.& Asset Dinas Pendidikan ,701 2,894 7, , Dinas Pengairan Dinas Perhubungan, Kom. & Informatika Dinas Perindustrian, Perdagangan & Pasar Dinas Pertanian & Perkebunan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Sosial Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Inspektorat Kantor Pemberdayaan Perempuan Kantor Penanaman Modal Kantor Perumahan Kecamatan Kelurahan Perwakilan Sekretariat KPU RSUD "Kanjuruhan" Kepanjen Satuan Polisi Pamong Praja & Linmas Sekretariat Daerah Sekretariat DPRD UPT Perijinan Desa Jumlah / Total ,722 3,837 8, ,989 Sumber : Kabupaten Malang dalam Angka 2011 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

173 Berdasarkan tingkat pendidikan PNS di Kabupaten Malang tahun 2010 berpendidikan tertingg berturut-turut adalah: tingkat S1 (48,79%), Akademi/Diploma (21,33%), SMU (20,69%), SMP (3,47%), S2/S3 (3,21%), dan SD (2,51%). Gambar 10.7 menunjukkan Persentase tingkat pendidikan PNS di Kabupaten Malang. Dinas Pendidikan dengan jumlah PNS terbesar memiliki sumber daya berpendidikan S1 terbesar pula, yaitu orang atau mencapai 82,46% dari seluruh PNS berpendidikan S1 di Kabupaten Malang. Namun untuk jenjang pendidikan S2/S3, Dinas Pendidikan hanya memiliki 1,16% PNS berpendidikan S2/S3 dari seluruh PNS di Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Komposisi terbesar dapat ditemui pada Badan Penelitian dan Pengembangan yang mencapai 28%, Dinas Pemuda dan Olah Raga mencapai 25,64%, dan Kantor Penanaman Modal yaitu 25% untuk tingkat pendidikan S2/S3. Data yang tersedia belum terpilah secara gender. Gambar Persenstase PNS berdasarkan tingkat pendidikan di Kabupaten Malang tahun 2010 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

174 11.6. Kepala desa/lurah menurut jenis kelamin Tabel 11.6 menunjukkan jumlah kepala desa/lurah menurut jenis kelamin di Kabupaten Malang tahun Tabel 11.6 menunjukkan jumlah kepala desa/lurah menurut jenis kelamin Kecamatan Laki-laki Perempuan Jumlah Donomulyo Kalipare 9-9 Pagak 8-8 Bantur Gedangan 8-8 Sumbermanjing Dampit Tirtoyudo Ampelgading Poncokusumo Wajak Turen Bululawang Gondanglegi Pagelaran Kepanjen Sumberpucung 7-7 Kromengan 7-7 Ngajum 9-9 Wonosari 8-8 Wagir Pakisaji Tajinan Tumpang Pakis Jabung Lawang Singosari Karangploso 9-9 Dau Pujon Ngantang Kasembon 6-6 Jumlah Sumber : Kabupaten Malang dalam Angka 2011 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

175 Berdasarkan data pada tabel 10.6, dari 390 orang kepala desa/lurah di Kabupaten Malang, 378 orang berjenis kelamin laki-laki, sedangkan 12 orang sisanya perempuan. Gambar 10.8 menunjukkan Persentase kepala desa/lurah berdasarkan jenis kelamin. Dapat dilihat bahwa komposisi laki-laki dominan yaitu 96,92%, dan perempuan 3,08%. Kepala desa/lurah perempuan dapat ditemui di Kecamatan Sumberpucung (4 orang), Singosari (3 orang), Lawang (2 orang), Turen (2 orang), dan Dampit (1 orang). Gambar Persentase Kepala desa/lurah menurut jenis kelamin di Kabupaten Malang tahun Kepala Desa/Lurah menurut tingkat pendidikan Tabel 10.7 menunjukkan data Kepala desa/lurah menurut tingkat pendidikan di Kabupaten Malang tahun BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

176 Tabel Data Kepala desa/lurah menurut tingkat pendidikan Kecamatan Tdk. Tamat SD SD SMTP SMU Aka Univ. Jumlah 010. Donomulyo Kalipare Pagak Bantur Gedangan Sumbermanjing Dampit Tirtoyudo Ampelgading Poncokusumo Wajak Turen Bululawang Gondanglegi Pagelaran Kepanjen Sumberpucung Kromengan Ngajum Wonosari Wagir Pakisaji Tajinan Tumpang Pakis Jabung Lawang Singosari Karangploso Dau Pujon Ngantang Kasembon Jumlah / Total Sumber : Kabupaten Malang dalam Angka 2011 Berdasarkan tabel 11.7, dari 390 orang kepala desa/lurah di Kabupaten Malang tingkat pendidikan berturut-turut dari tinggi ke rendah adalah SMU sebanyak 205 orang (48%), SMP sebanyak 94 orang (36%), tingkat Universitas sebanyak 84 orang (11%), dan akademi/diploma sebanyak 7 orang (3%). BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

177 Gambar 10.9 menunjukkan Persentase kepala desa/lurah menurut tingkat pendidikan di Kabupaten Malang tahun Gambar Persentase Kepala Desa/Lurah menurut Tingkat Pendidikan di Kabupaten Malang Tahun 2010 BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

178 BAB XII KESIMPULAN I. DEMOGRAFI Jumlah penduduk di Kabupaten Malang mengalami kenaikan 0,36% untuk penduduk perempuan. Sebagain besara penduduk berada pada usia produktif untuk bekerja. Selain itu banyak penduduk Kabupaten Malang melakukan migrasi keluar daerah baikl itu bekerja di luar kota atau sebagai TKW Pada umumnya mayarakat kota Malang sudah mneydari pentingnya kesehatan terbukti dengan semakin rendahnya angka kematian, dimana angka kematian yang rendah berarti masyarakat sudah mengalami peningkatan ekonomi dan peningkatan pendidikan II. KESEHATAN Pembangunan di bidang kesehatan menjadi prioritas utama teruma berkaitan dengan peningkatan akses terhadap pelayanan kesehatan, meningkatnya usia harapan hidup, menurunnya angka kematian bayi dan ibu melahirkan serta prevelensi gizi kurang pada balita. Imunisasi terbukti efektif dalam melindungi anak dari penyakit, mencegah cacat dan mengurangi angka kematian pada anak. Imunisasi terbukti efektif dalam melindungi anak dari penyakit, mencegah cacat dan mengurangi angka kematian pada anak.. Imunisasi terbukti efektif dalam melindungi anak dari penyakit, mencegah cacat dan mengurangi angka kematian pada anak. Dengan capaian imunisasi hingga 100% menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam melindungi anak dari penyakit, mencegah kecacatan dan mengurangi angka kematian pada anak di kabupaten Malang. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

179 Untuk menekan laju pertumbuhan penduduk yang berlebihan, pemerintah melaksanakan program Keluarga Berencana (KB). Peserta KB aktif di Kabupaten Malang sebanyak : orang atau mencapai 96,98 %. Dengan peserta KB terbanyak ada di Kecamatan Kasembon yaitu orang atau 105,60% dan yang paling sedikit ada di Kecamatan Sumberpucung yaitu orang atau 88,51 %. Kebutuhan permintaan darah yang semakin meningkat, mendorong Palang Merah Indonesia (PMI) untuk melakukan program donor darah. Berdasarkan tabel diketahu bahwa pedonor darah pria di Kabupaten Malang lebih banyak daripada wanita. Pedonor darah pria sebanyak orang sedangkan pedonor darah wanita sebanyak orang. II. PENDIDIKAN 1. Program pendidikan dasar wajib belajar 9 tahun di Kabupaten Malang belum tercapai karena rata-rata lama sekolah tahun 2011 ini adalah 6,93 tahun 2. Rasio guru dan murid di Kabupaten Malang sudah ideal, yang belum ideal adalah penyebarannya belum didistribusikan secara merata. 3. Rasio sekolah dan murid belum ideal. Rasio ideal 45, sedangkan di Kabupaten Malang angka rasio sekolah-murid SD, SMP dan SMA mencapai ratusan ( ) 4. Kabupaten Malang masih membutuhkan banyak sekolahan atau ruang kelas (lihat hal 23) VI. KETENAGA-KERJAAN Dalam perencanaan pembangunan, data mengenai ketenagakerjaan memegang peranan penting. Tanpa data tersebut tidaklah mungkin program pembangunan direncanakan dan dilaksanakan. Makin lengkap dan tepat data mengenai ketenagakerjaan yang tersedia makin mudah dan tepat rencana pembangunan disusun. Jadi dapat dikatakan bahwa faktor kekuatan manusia BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

180 merupakan unsur yang penting dalam pembangunan. Hanya sayangnya, data yang ditemui meskipun sudah berbasis gender, namun belum semua data yang tersedia khusus pada bagian ketenagakerja terpisah menurut gender. Dengan demikian untuk ke depannya diharapkan semua instansi yang terlibat dalam pengumpulan data dapat memperhatikan aspek gender guna memudahkan dalam perhitungan ataupun analisis yang terkait gender misalnya kebutuhan dalam perhitungan Indeks Pembangunan Gender ( GDI ). V. EKONOMI DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT 1. Perekonomian di Kabupaten Malang bersifat ekonomi rakyat, dimana sebagian besar merupakan kegiatan agrobisnis baik on-farm maupun off-farm dan non-farm. Sektor pertanian mempunyai peranan yang penting dalam perekonomian di Kabupaten Malang. Hal ini dapat dilihat angka nominal PDRB Kabupaten Malang lebih dari 28% berasal dari Sektor Pertanian. Besarnya kontribusi Sektor Pertanian terhadap nilai PDRB Kabupaten Malang tidak lepas dari sumbangan tenaga kerja perempuan di pedesaan. Walaupun menurut BPS keterlibatan perempuan hanya 39%, tetapi kalau dihitung lebih cermat lagi angka tersebut akan lebih besar seperti hasil-hasil penelitian tentang peranan perempuan di Sektor Pertanian. 2. Koperasi yang ada di Kabupaten Malang dari tahun ke tahun jumlahnya selalu meningkat, demikian pula koperasi wanita. Kenaikan jumlah koperasi wanita dipicu oleh adanya program Gubernur Jawa Timur atau yang dikenal dengan Koperasi Wanita Pakde Karwo. Jenis UMKM yang paling diminati oleh pelaku UMKM adalah perdagangan (toko, pracangan, toko palen, dan lain-lain). Di sektor ini pula jumlah perempuan yang terlibat juga cukup banyak yaitu 41%, sedangka laki-lakinya sebanyak 59%. BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

181 3. Program pemberdayaan masyarakat, yang di Kabupaten Malang dikenal dengan PNPM Mandiri Perdesaan dan PNPM Generasi Sehat dan Cerdas cukup berhasil. Indikatornya antara lain adalah sarana dan prasarana fisik yang telah dibangun dan diperbaiki mulai Tahun 2006 sampai dengan Tahun Sarana dan prasarana fisik tersebut paling banyak adalah sarana dan prasarana yang mendukung perekonomian (pengaspalan jalan, perbaikan jembatan, plesterisasi dan lain-lain) serta kesehatan (polindes, posyandu, air bersih, dan lain-lain). Yang menikmati hasil pembangunan sarana dan prasarana fisik tersebut adalah seimbang antara laki-laki dan perempuan, bahkan untuk fasilitas kesehatan kaum perempuan lebih dominan. VII. SOSIAL 1. Sektor sosial di Kabupaten Malang meliputi permasalahan kesejahteraan sosial, sumber-sumber pelayanan sosial, pemberdayaan penyandang masalah kesejahteraan sosial, pengembangan kemandirian sosial, dan perbaikan kualitas hidup. Data yang diperoleh dari sumber Dinas Sosial Kabupaten Malang dan Kabupaten Malang Dalam Angka 2011 telah terpilah berdasarkan gender. 2. Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Kabupaten Malang sangat beragam jenisnya, dan telah dikategorikan ke dalam 22 jenis permasalahan. PMKS tertinggi di Kabupaten Malang tahun 2010 adalah keluarga fakir miskin (51,39% dari seluruh jumlah PMKS), anak terlantar (21,01% dari seluruh jumlah PMKS), dan keluarga dengan rumah tak layak huni (6,92% dari seluruh jumlah PMKS). Fenomena kasus sosial yang tinggi sangat berkaitan erat dengan akar penyebabnya yaitu kemiskinan dan ketidaksejahteraan. 3. Fasilitas pelayanan sosial berupa panti asuhan terdapat di seluruh kecamatan di Kabupaten Malang. Namun masih ada panti asuhan yang BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

182 jumlah penghuninya melebihi kapasitas daya tampung yaitu di Kecamatan Pakisaji. VIII. POLITIK 1. Anggota legislatif (DPRD) Kabupaten Malang hasil pemilihan tahun 2009 terpilah menurut gender terdiri dari 82% anggota laki-laki, dan 18% anggota perempuan. Keterwakilan perempuan masih kurang dari kuota perwakilan perempuan di badan legislatif yaitu 30%. Masih ada pula partai yang tidak memiliki wakil perempuan di DPRD Kabupaten Malang. 2. Berdasarkan tingkat pendidikannya anggota DPRD Kabupaten Malang memiliki tingkat pendidikan tertinggi yaitu jenjang S2, sedangkan mayoritas pendidikan anggota DPRD Kabupaten Malang adalah S1. 3. Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Malang tahun 2010 memiliki komposisi 52,65% perempuan, dan 47,35% laki-laki. Jumlah PNS tertinggi berada di instansi Dinas Pendidikan yaitu mencapai 68,55% dari total seluruh PNS di Kabupaten Malang. PNS Dinas Pendidikan memiliki komposisi perempuan lebih besar yaitu 51,66%, sedangkan laki-laki 48,34%. 4. Berdasarkan tingkat pendidikannya, berturut-turut PNS di Kabupaten Malang memiliki tingkat pendidikan: S1 (48,79%), Akademi/Diploma (21,33%), SMU (20,69%), SMP (3,47%), S2/S3 (3,21%), dan SD (2,51%). BUKU DATA PROFIL GENDER DAN ANAK KABUPATEN MALANG

BUPATI MALANG BUPATI MALANG,

BUPATI MALANG BUPATI MALANG, BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS (UPTD) SEKOLAH MENENGAH PADA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MALANG BUPATI MALANG, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 1 TAHUN 2018 TENTANG KOORDINATOR WILAYAH DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MALANG

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 1 TAHUN 2018 TENTANG KOORDINATOR WILAYAH DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MALANG BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 1 TAHUN 2018 TENTANG KOORDINATOR WILAYAH DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MALANG BUPATI MALANG, Menimbang : bahwa dengan memperhatikan luas wilayah

Lebih terperinci

BUPATI MALANG BUPATI MALANG,

BUPATI MALANG BUPATI MALANG, BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS (UPTD) PENDAPATAN PADA DINAS PENDAPATAN, PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASSET KABUPATEN MALANG BUPATI MALANG, Menimbang

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Wilayah Kabupaten Malang memiliki luas 3.534,86 km 2 atau 353,486 ha , ,00 Bujur Timur,

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Wilayah Kabupaten Malang memiliki luas 3.534,86 km 2 atau 353,486 ha , ,00 Bujur Timur, IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Geografis Kabupaten Malang Wilayah Kabupaten Malang memiliki luas 3.534,86 km 2 atau 353,486 ha dan terletak antara koordinat 112 0 17 10,90-112 0 57 00,00

Lebih terperinci

BUPATI MALANG BUPATI MALANG,

BUPATI MALANG BUPATI MALANG, BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS (UPTD) PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT (PUSKESMAS) PADA DINAS KESEHATAN KABUPATEN MALANG BUPATI MALANG, Menimbang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. memegang peranan penting dalam kesejahteraan kehidupan penduduk indonesia.

BAB 1 PENDAHULUAN. memegang peranan penting dalam kesejahteraan kehidupan penduduk indonesia. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris dimana sebagian besar penduduknya hidup dari hasil bercocok tanam atau bertani, sehingga pertanian merupakan sektor yang memegang peranan

Lebih terperinci

ANALISIS POTENSI EKONOMI SUBSEKTOR PERTANIAN UNGGULAN PADA TINGKAT KECAMATAN DI KABUPATEN MALANG

ANALISIS POTENSI EKONOMI SUBSEKTOR PERTANIAN UNGGULAN PADA TINGKAT KECAMATAN DI KABUPATEN MALANG ANALISIS POTENSI EKONOMI SUBSEKTOR PERTANIAN UNGGULAN PADA TINGKAT KECAMATAN DI KABUPATEN MALANG SKRIPSI Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai Derajad Sarjana Ekonomi Oleh: YENI NUR HIDAYATI 08630074

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG PEMERINTAH KABUPATEN MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 46 TAHUN 2008 TENTANG PENETAPAN UANG PERSEDIAAN TAHUN ANGGARAN 2008 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa untuk

Lebih terperinci

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN PERANGKAT DAERAH

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN PERANGKAT DAERAH 1 BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MALANG, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG 1 PEMERINTAH KABUPATEN MALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG KARTU KEPEMILIKAN TERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka memberikan

Lebih terperinci

BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT

BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT BAB II. GAMBARAN UMUM WILAYAH DAN PEMBANGUNAN PENDIDIKAN DI KABUPATEN SUMBA BARAT 2.1. Gambaran Umum 2.1.1. Letak Geografis Kabupaten Sumba Barat merupakan salah satu Kabupaten di Pulau Sumba, salah satu

Lebih terperinci

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 2 TAHUN 2018 TENTANG PENETAPAN UANG PERSEDIAAN TAHUN ANGGARAN 2018 BUPATI MALANG,

BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 2 TAHUN 2018 TENTANG PENETAPAN UANG PERSEDIAAN TAHUN ANGGARAN 2018 BUPATI MALANG, BUPATI MALANG PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 2 TAHUN 2018 TENTANG PENETAPAN UANG PERSEDIAAN TAHUN ANGGARAN 2018 BUPATI MALANG, Menimbang : bahwa untuk menunjang kelancaran pelaksanaan

Lebih terperinci

PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH 1 1 PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN... 4 A. Latar Belakang... 4 B. Tujuan... 4 C. Ruang Lingkup... 5 BAB II. KEADAAN UMUM...

Lebih terperinci

OPTIMASI BIAYA PROYEK PENGASPALAN JALAN DENGAN PENGATURAN JUMLAH ASPHALT MIXING PLANT

OPTIMASI BIAYA PROYEK PENGASPALAN JALAN DENGAN PENGATURAN JUMLAH ASPHALT MIXING PLANT Spectra Nomor 21 Volume XI Januari 2013: 90-101 OPTIMASI BIAYA PROYEK PENGASPALAN JALAN DENGAN PENGATURAN JUMLAH ASPHALT MIXING PLANT Widyawati Budikusuma Program Pascasarjana Teknik Sipil Institut Teknologi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki iklim tropis. Tanah yang

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki iklim tropis. Tanah yang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki iklim tropis. Tanah yang dimiliki mampu ditanami berbagai macam jenis tanaman holtikultura. Bahan pencukup kebutuhan manusia yang

Lebih terperinci

PROFIL BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH KABUPATEN MALANG

PROFIL BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH KABUPATEN MALANG PROFIL BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAERAH KABUPATEN MALANG I. GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALANG Wilayah Kabupaten Malang memiliki luas 3.534,86 km 2 atau 353.486 ha dan terletak pada koordinat 112 o

Lebih terperinci

Series Data Umum Kota Semarang Data Umum Kota Semarang Tahun

Series Data Umum Kota Semarang Data Umum Kota Semarang Tahun Data Umum Kota Semarang Tahun 2007-2010 I. Data Geografis a. Letak Geografis Kota Semarang Kota Semarang merupakan kota strategis yang beradadi tengah-tengah Pulau Jawa yang terletak antara garis 6 0 50

Lebih terperinci

Laporan Eksekutif Pendidikan Provinsi Jawa Timur 2013 Berdasarkan Data Susenas 2013 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA TIMUR Laporan Eksekutif Pendidikan Provinsi Jawa Timur 2013 Nomor Publikasi : 35522.1402

Lebih terperinci

R. Prayudha Chandra Putra, Nurudin Santoso 1, Ekojono 2. Program Studi Teknik Informatika, Jurusan Teknologi Informasi, Politeknik Negeri Malang.

R. Prayudha Chandra Putra, Nurudin Santoso 1, Ekojono 2. Program Studi Teknik Informatika, Jurusan Teknologi Informasi, Politeknik Negeri Malang. SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PEMETAAN DAERAH RAWAN BANJIR BERBASIS GEOGRAPHIC INFORMATION SYSTEM (GIS) MENGGUNAKAN METODE BAYES Studi Kasus : BPBD Kabupaten Malang R. Prayudha Chandra Putra, Nurudin Santoso

Lebih terperinci

PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 2015/2016

PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 2015/2016 PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH 2016 2016 PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 2015/2016 DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN... 4 A. Latar Belakang... 4 B. Tujuan... 4 C. Ruang Lingkup... 5 BAB

Lebih terperinci

PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 2016/2017

PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 2016/2017 PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH 2017 2017 PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 2016/2017 DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN... 4 A. Latar Belakang... 4 B. Tujuan... 4 C. Ruang Lingkup... 5 BAB

Lebih terperinci

PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 2016/2017

PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 2016/2017 PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH 217 217 PEMERINTAH PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN PELAJARAN 216/217 DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN... 4 A. Latar Belakang... 4 B. Tujuan... 4 C. Ruang Lingkup... 5 BAB II.

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MALANG NOMOR : 420/ / /2017

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MALANG NOMOR : 420/ / /2017 P E M E R I N T A H K A B U P A T E N M A L A N G DINAS PENDIDIKAN Jalan Penarukan No. 1 Telpon (0341) 39393537, Fax (0341) 393935 Email: [email protected] Website http://www.malangkab.go.id KEPANJEN

Lebih terperinci

TAMAN KANAK-KANAK Tabel 5 : Jumlah TK, siswa, lulusan, Kelas (rombongan belajar),ruang kelas, Guru dan Fasilitas 6

TAMAN KANAK-KANAK Tabel 5 : Jumlah TK, siswa, lulusan, Kelas (rombongan belajar),ruang kelas, Guru dan Fasilitas 6 DAFTAR TABEL DATA NONPENDIDIKAN Tabel 1 : Keadaan Umum Nonpendidikan 1 Tabel 2 : Luas wilayah, penduduk seluruhnya, dan penduduk usia sekolah 2 Tabel 3 : Jumlah desa, desa terpencil, tingkat kesulitan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 - IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI 4.1 Kondisi Geografis Kota Dumai merupakan salah satu dari 12 kabupaten/kota di Provinsi Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37-101 o 8'13

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MALANG NOMOR : 420/ / /2018

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MALANG NOMOR : 420/ / /2018 P E M E R I N T A H K A B U P A T E N M A L A N G DINAS PENDIDIKAN Jalan Penarukan No. 1 Telpon (0341) 39393537, Fax (0341) 393935 Email: [email protected] Website http://www.malangkab.go.id KEPANJEN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kependudukan di Kabupaten Lombok Barat. 2. Melakukan analisis dan evaluasi terhadap situs kependudukan pada tingkat

BAB I PENDAHULUAN. kependudukan di Kabupaten Lombok Barat. 2. Melakukan analisis dan evaluasi terhadap situs kependudukan pada tingkat A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN penyajian data dan informasi perkembangan kependudukan terutama untuk perencanaan pembangunan manusia, baik itu pembangunan ekonomi, sosial, politik, lingkungan dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.

Lebih terperinci

PENENTUAN FAKTOR EMISI SPESIFIK UNTUK ESTIMASI TAPAK KARBON DAN PEMETAANNYA DARI SEKTOR PERMUKIMAN DI KABUPATEN MALANG

PENENTUAN FAKTOR EMISI SPESIFIK UNTUK ESTIMASI TAPAK KARBON DAN PEMETAANNYA DARI SEKTOR PERMUKIMAN DI KABUPATEN MALANG PENENTUAN FAKTOR EMISI SPESIFIK UNTUK ESTIMASI TAPAK KARBON DAN PEMETAANNYA DARI SEKTOR PERMUKIMAN DI KABUPATEN MALANG Siti Rahmatia Pratiwi 1), Joni Hermana 1 dan Rachmat Boedisantoso 1 1) Teknik Lingkungan,

Lebih terperinci

PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH TAHUN 2013/2014 KABUPATEN KARANGASEM

PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH TAHUN 2013/2014 KABUPATEN KARANGASEM 1 PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH TAHUN 2013/2014 KABUPATEN KARANGASEM A. PENDAHULUAN Profil Pendidikan Dasar dan Menengah (Profil Dikdasmen) disusun bersumber pada isian instrumen Profil Dikdasmen

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Data yang digunakan dalam tulisan ini adalah data sekunder (Time Series) dari

III. METODE PENELITIAN. Data yang digunakan dalam tulisan ini adalah data sekunder (Time Series) dari III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam tulisan ini adalah data sekunder (Time Series) dari tahun 2006/2007 sampai dengan 2008/2009 yang diperoleh dari berbagai sumber

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN BAB IV GAMBARAN UMUM PENELITIAN A. Gambaran Umum Obyek Kabupaten Kulonprogo dengan ibu kotanya berada di Kota Wates memiliki luas wilayah 598.627.512 ha (586,28 km 2 ), terdiri dari 12 kecamatan 87 desa,

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI ORGANISASI

BAB II DESKRIPSI ORGANISASI BAB II DESKRIPSI ORGANISASI 2.1. Sejarah Organisasi Kota Serang terbentuk dan menjadi salah satu Kota di Propinsi Banten berdasarkan Undang-undang Nomor 32 tahun 2007 yang diundangkan pada tanggal 10 bulan

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 44 Keterbatasan Kajian Penelitian PKL di suatu perkotaan sangat kompleks karena melibatkan banyak stakeholder, membutuhkan banyak biaya, waktu dan tenaga. Dengan demikian, penelitian ini memiliki beberapa

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 31 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Gambaran Geografis Wilayah Secara astronomis, wilayah Provinsi Banten terletak pada 507 50-701 1 Lintang Selatan dan 10501 11-10607 12 Bujur Timur, dengan luas wilayah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keputusan politik pemberlakuan otonomi daerah yang dimulai sejak tanggal 1 Januari 2001, telah membawa implikasi yang luas dan serius. Otonomi daerah merupakan fenomena

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah 5.1. Kondisi Geografis BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT Propinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 o 50 ' - 7 o 50 ' Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan

Lebih terperinci

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar BAB II PROFIL WILAYAH KAJIAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu tantangan Indonesia saat ini adalah menghadapi bonus demografi tahun 2025 yang diikuti dengan bertambahnya jumlah penduduk dari tahun ke tahun. Badan Perencanaan

Lebih terperinci

BAB VIII STANDAR PERJALANAN DINAS

BAB VIII STANDAR PERJALANAN DINAS BAB VIII STANDAR PERJALANAN DINAS A. STANDAR PERJALANAN DINAS TUJUAN 1. Di Dalam Wilayah Kabupaten Malang a. Tingkat A: Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRD dan Wakil Ketua DPRD Uang Harian Biaya Transpostasi

Lebih terperinci

Sulit menciptakan keadilan dan kesetaraan gender jika negara terus menerus memproduksi kebijakan yang bias gender. Genderisasi kebijakan publik telah

Sulit menciptakan keadilan dan kesetaraan gender jika negara terus menerus memproduksi kebijakan yang bias gender. Genderisasi kebijakan publik telah KATA PENGANTAR Pengarusutamaan Gender telah menjadi garis kebijakan pemerintah sejak keluarnya Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2000. Instruksi tersebut menggariskan: seluruh departemen maupun lembaga

Lebih terperinci

NOTULENSI RAPAT PEMANTAUAN PENCAPAIAN KINERJA TRIWULAN I TAHUN 2014 DAN SOSIALISASI PERATURAN PRESIDEN RI NOMOR 29 TAHUN 2014

NOTULENSI RAPAT PEMANTAUAN PENCAPAIAN KINERJA TRIWULAN I TAHUN 2014 DAN SOSIALISASI PERATURAN PRESIDEN RI NOMOR 29 TAHUN 2014 PEMERINTAH KABUPATEN MALANG DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN JL. TRUNOJOYO KAV. IV TELP (0341) 393926 /FAX (0341) 394939 [email protected] Websitewww.peternakan.malangkab.go.id KEPANJEN

Lebih terperinci

PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PROVINSI JAWA TENGAH PEMERINTAH   

PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PROVINSI JAWA TENGAH PEMERINTAH    PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PROVINSI JAWA TENGAH PEMERINTAH    DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... 4 BAB I. PENDAHULUAN... 6 Tabel 1.1. Standar untuk Menentukan Nilai Masing-masing Indikator...

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... Halaman BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MALANG NOMOR: 420/2043/ /2015

KEPUTUSAN KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MALANG NOMOR: 420/2043/ /2015 P E M E R I N T A H K A B U P A T E N M A L A N G DINAS PENDIDIKAN Jalan Penarukan No. 1 Telpon (0341) 393935-37, Fax (0341) 393935 Email: [email protected] Website http://www.malangkab.go.id KEPANJEN

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR 4. 1 Kondisi Geografis Provinsi Jawa Timur membentang antara 111 0 BT - 114 4 BT dan 7 12 LS - 8 48 LS, dengan ibukota yang terletak di Kota Surabaya. Bagian utara

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Kondisi Alam 1. Letak dan Batas Wilayah Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi yang ada di pulau Jawa, letaknya diapit oleh dua provinsi besar

Lebih terperinci

TUJUAN 3. Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan

TUJUAN 3. Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan TUJUAN 3 Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan 43 Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan Target 4: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG A. GEOGRAFI Kota Bandung merupakan Ibu kota Propinsi Jawa Barat yang terletak diantara 107 36 Bujur Timur, 6 55 Lintang Selatan. Ketinggian tanah 791m di atas permukaan

Lebih terperinci

PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH TAHUN 2015/2016 KABUPATEN/KOTA. PROVINSI...

PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH TAHUN 2015/2016 KABUPATEN/KOTA. PROVINSI... LOGO KANTOR PROFIL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH TAHUN 2015/2016 KABUPATEN/KOTA. PROVINSI... Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/kategori:lambang_kabupaten_dan_kota_di_indonesia PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA...

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2

DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2 DAFTAR ISI DAFTAR ISI Hal DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xix BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen RPJMD

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR : 2 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN MALANG TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR : 2 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN MALANG TAHUN PEMERINTAH KABUPATEN MALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR : 2 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2010-2015 TAHUN 2011 PEMERINTAH KABUPATEN

Lebih terperinci

DRAFT RANCANGAN AWAL RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN MALANG TAHUN

DRAFT RANCANGAN AWAL RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN MALANG TAHUN DRAFT RANCANGAN AWAL RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN MALANG TAHUN 2016-2020 PEMERINTAH KABUPATEN MALANG BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH JL. PANJI NO 156 KEPANJEN, KABUPATEN MALANG,

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA

PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA WALIKOTA TASIKMALAYA PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 23 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG PENDIDIKAN DI KOTA TASIKMALAYA WALIKOTA TASIKMALAYA Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM KOTA SUKABUMI. Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada

BAB IV GAMBARAN UMUM KOTA SUKABUMI. Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada 4.1. Profil Wilayah BAB IV GAMBARAN UMUM KOTA SUKABUMI Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 49 29 Lintang Selatan dan 6 0 50 44

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Geografis dan Iklim Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang terletak di Pulau Jawa selain Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta), Banten,

Lebih terperinci

INDIKATOR KINERJA UTAMA

INDIKATOR KINERJA UTAMA INDIKATOR KINERJA UTAMA INSTANSI : DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN JOMBANG VISI : TERWUJUDNYA PENDIDIKAN YANG MERATA, BERMUTU, AGAMIS DAN BERDAYA SAING MISI : 1. Mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan dan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Analisis kesenjangan pembangunan antara Kabupaten Lampung Barat dan

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Analisis kesenjangan pembangunan antara Kabupaten Lampung Barat dan IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Analisis kesenjangan pembangunan antara Kabupaten Lampung Barat dan Kabupaten Pringsewu bisa dimulai dengan mengenal lebih dekat karakteristik kedua kabupaten. Sebelum

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN SEKUPANG

STATISTIK DAERAH KECAMATAN SEKUPANG STATISTIK DAERAH KECAMATAN SEKUPANG 2015 STATISTIK DAERAH KECAMATAN SEKUPANG 2015 No Publikasi : 2171.15.27 Katalog BPS : 1102001.2171.060 Ukuran Buku : 24,5 cm x 17,5 cm Jumlah Halaman : 14 hal. Naskah

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015 Lampiran I Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 15 Tahun 2014 Tanggal : 30 Mei 2014 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dokumen perencanaan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR ISI DAFTAR ISI... i BAB I. PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-2 1.3 Hubungan RPJMD dengan Dokumen Perencanaan Lain... I-4 1.4 Sistematika Penulisan... I-5

Lebih terperinci

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Malang Tahun 2013 sebanyak rumah tangga

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Malang Tahun 2013 sebanyak rumah tangga Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Malang Tahun 2013 sebanyak 328.031 rumah tangga Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum di Kabupaten Malang Tahun 2013 sebanyak 46 Perusahaan Jumlah

Lebih terperinci

BAB III Data Lokasi 3.1. Tinjauan Umum DKI Jakarta Kondisi Geografis

BAB III Data Lokasi 3.1. Tinjauan Umum DKI Jakarta Kondisi Geografis BAB III Data Lokasi 3.1. Tinjauan Umum DKI Jakarta 3.1.1. Kondisi Geografis Mengacu kepada Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah Akhir Masa Jabatan 2007 2012 PemProv DKI Jakarta. Provinsi DKI Jakarta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah

BAB I PENDAHULUAN. perkapita sebuah negara meningkat untuk periode jangka panjang dengan syarat, jumlah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi adalah proses yang dapat menyebabkan pendapatan perkapita sebuah

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM PROVINSI DKI JAKARTA Keadaan Geografis dan Kependudukan

GAMBARAN UMUM PROVINSI DKI JAKARTA Keadaan Geografis dan Kependudukan 41 IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI DKI JAKARTA 4.1. Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Jakarta adalah ibu kota Negara Indonesia dan merupakan salah satu Provinsi di Pulau Jawa. Secara geografis, Provinsi

Lebih terperinci

RINGKASAN EKSEKUTIF BUKU INDIKATOR MAKRO PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN BEKASI 2012

RINGKASAN EKSEKUTIF BUKU INDIKATOR MAKRO PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN BEKASI 2012 RINGKASAN EKSEKUTIF BUKU INDIKATOR MAKRO PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN BEKASI 1 Halaman Daftar Isi Daftar Isi... 2 Kata Pengantar... 3 Indikator Makro Pembangunan Ekonomi... 4 Laju Pertumbuhan Penduduk...

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN SAGULUNG

STATISTIK DAERAH KECAMATAN SAGULUNG STATISTIK DAERAH KECAMATAN SAGULUNG 2015 STATISTIK DAERAH KECAMATAN SAGULUNG 2015 No Publikasi : 2171.15.24 Katalog BPS : 1102001.2171.041 Ukuran Buku : 24,5 cm x 17,5 cm Jumlah Halaman : 9 hal. Naskah

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA BARAT NOMOR 23 TAHUN 2008 TENTANG PROGRAM WAJIB BELAJAR DUA BELAS TAHUN DI KABUPATEN SUMBAWA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN Lampiran I Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 17 Tahun 2015 Tanggal : 29 Mei 2015 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bermaksud menjelaskan hubungan antara lingkungan alam dengan penyebarannya

BAB I PENDAHULUAN. bermaksud menjelaskan hubungan antara lingkungan alam dengan penyebarannya 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Geografi dapat dikatakan sebagai ilmu tentang ekologi manusia yang bermaksud menjelaskan hubungan antara lingkungan alam dengan penyebarannya dan aktivitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan Dan Sasaran C. Lingkup Kajian/Studi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tujuan Dan Sasaran C. Lingkup Kajian/Studi KETERANGAN HAL BAB I PENDAHULUAN... 1-1 A. Latar Belakang... 1-1 B. Tujuan Dan Sasaran... 1-3 C. Lingkup Kajian/Studi... 1-4 D. Lokasi Studi/Kajian... 1-5 E. Keluaran Yang Dihasilkan... 1-5 F. Metodelogi...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sekretariat DPRD Kabupaten Malang berdasarkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2007 tentang Kewenangan Pemerintah Kabupaten Malang Dalam Urusan Wajib Dan Pilihan merupakan

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 41 IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung 1. Keadaan Umum Provinsi Lampung merupakan salah satu provinsi di Republik Indonesia dengan areal daratan seluas 35.288 km2. Provinsi

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH A. Kondisi Geografis Kabupaten Kubu Raya merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata-rata 84 meter diatas permukaan laut. Lokasi Kabupaten Kubu Raya terletak pada posisi

Lebih terperinci

Peningkatan Kualitas dan Peran Perempuan, serta Kesetaraan Gender

Peningkatan Kualitas dan Peran Perempuan, serta Kesetaraan Gender XVII Peningkatan Kualitas dan Peran Perempuan, serta Kesetaraan Gender Salah satu strategi pokok pembangunan Propinsi Jawa Timur 2009-2014 adalah pengarusutamaan gender. Itu artinya, seluruh proses perencanaan,

Lebih terperinci

DEMOGRAFI KOTA TASIKMALAYA

DEMOGRAFI KOTA TASIKMALAYA 1. Gambaran Umum Demografi DEMOGRAFI KOTA TASIKMALAYA Kondisi demografi mempunyai peranan penting terhadap perkembangan dan pertumbuhan suatu wilayah karena faktor demografi ikut mempengaruhi pemerintah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Daerah Penelitian 1. Letak Geografis Daerah Penelitian BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kota Gorontalo terletak antara 00 0 28 17-00 0 35 56 lintang Utara dan antara 122 0 59 44-123 0 051 59

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Negara dapat dikatakan maju apabila memiliki sumberdaya manusia yang berkualitas. Pembangunan sumberdaya manusia sangat penting dan strategis guna menghadapi era persaingan ekonomi

Lebih terperinci

Daftar Tabel. Halaman

Daftar Tabel. Halaman Daftar Tabel Halaman Tabel 3.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan di Kab. Sumedang Tahun 2008... 34 Tabel 3.2 Kelompok Ketinggian Menurut Kecamatan di Kabupaten Sumedang Tahun 2008... 36 Tabel 3.3 Curah Hujan

Lebih terperinci

IV.B.14. Urusan Wajib Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

IV.B.14. Urusan Wajib Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 14. URUSAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK Pembangunan daerah Kabupaten Wonosobo ditujukan untuk seluruh penduduk tanpa membedakan laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun orang dewasa.

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR : 2 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN MALANG TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR : 2 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN MALANG TAHUN PEMERINTAH KABUPATEN MALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR : 2 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2010-2015 TAHUN 2011 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

TUJUAN 2. Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua

TUJUAN 2. Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua TUJUAN 2 Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua 35 Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua Target 3: Memastikan pada 2015 semua anak-anak di mana pun, laki-laki maupun perempuan, dapat menyelesaikan

Lebih terperinci

BUPATI KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER

BUPATI KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER SALINAN BUPATI KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENGARUSUTAMAAN GENDER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEBUMEN, Menimbang Mengingat :

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN BATAM KOTA

STATISTIK DAERAH KECAMATAN BATAM KOTA STATISTIK DAERAH KECAMATAN BATAM KOTA 2015 Statistik Daerah Kecamatan Batam Kota Kota Batam 2014 STATISTIK DAERAH KECAMATAN BATAM KOTA 2015 No Publikasi : 2171.14.26 Katalog BPS : 1102001.2171.051 Ukuran

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. UUD 1945 pasal 31 menyatakan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat

I. PENDAHULUAN. UUD 1945 pasal 31 menyatakan bahwa setiap warga Negara berhak mendapat I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara politis tekad pemerintah untuk membangun pelayanan pendidikan bagi seluruh masyarakat terlihat cukup besar. Hal ini seperti yang dinyatakan dalam UUD 1945

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan, keterampilan, teknologi dan sikap profesionalisme tinggi yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. pengetahuan, keterampilan, teknologi dan sikap profesionalisme tinggi yang dapat 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bangsa Indonesia dalam membangun manusia Indonesia seutuhnya sangat ditentukan oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan memiliki ilmu pengetahuan, keterampilan,

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM

BAB III GAMBARAN UMUM BAB III GAMBARAN UMUM Bab ini menjelaskan mengenai kondisi umum wilayah studi yang terdiri dari kondisi geografis kota Cimahi, kondisi geografis kota Bandung, aspek kependudukan kota Cimahi, aspek kependudukan

Lebih terperinci

MALANG GAMBARAN UMUM. PKPBM :: Pembangunan Kawasan Pedesaan Berbasis Masyarakat. Kondisi Geografi dan Iklim

MALANG GAMBARAN UMUM. PKPBM :: Pembangunan Kawasan Pedesaan Berbasis Masyarakat. Kondisi Geografi dan Iklim PKPBM :: Pembangunan Kawasan Pedesaan Berbasis Masyarakat MALANG GAMBARAN UMUM Kondisi Geografi dan Iklim Kabupaten Malang adalah sebuah kawasan yang terletak pada bagian tengah selatan wilayah Propinsi

Lebih terperinci

BUPATI MALANG SAMBUTAN BUPATI MALANG PADA ACARA PENERIMAAN KUNJUNGAN KERJA DPR RI KOMISI X TANGGAL : 23 SEPTEMBER 2016

BUPATI MALANG SAMBUTAN BUPATI MALANG PADA ACARA PENERIMAAN KUNJUNGAN KERJA DPR RI KOMISI X TANGGAL : 23 SEPTEMBER 2016 BUPATI MALANG SAMBUTAN BUPATI MALANG PADA ACARA PENERIMAAN KUNJUNGAN KERJA DPR RI KOMISI X TANGGAL : 23 SEPTEMBER 2016 Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua. YTH

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJM-D) KOTA PANGKALPINANG TAHUN 2008-2013 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 65 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PROFIL PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 65 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PROFIL PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 65 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PROFIL PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI,

Lebih terperinci

REKAPITULASI JUMLAH PPS, PENDUDUK, PEMILIH DAN TPS PADA PEMILIHAN UMUM LEGISLATIF KABUPATEN MALANG TAHUN 2004 JUMLAH PENDUDUK

REKAPITULASI JUMLAH PPS, PENDUDUK, PEMILIH DAN TPS PADA PEMILIHAN UMUM LEGISLATIF KABUPATEN MALANG TAHUN 2004 JUMLAH PENDUDUK REKAPITULASI PPS, PENDUDUK, PEMILIH DAN TPS PADA PEMILIHAN UMUM LEGISLATIF KABUPATEN MALANG TAHUN 2004 NO NAMA KECAMATAN PPS PENDUDUK PEMILIH 1 2 3 4 5 6 7 TPS 1 KASEMBON 6 29.602 21.193 86 2 PUJON 10

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN BENGKONG

STATISTIK DAERAH KECAMATAN BENGKONG STATISTIK DAERAH KECAMATAN BENGKONG 2015 STATISTIK DAERAH KECAMATAN BENGKONG 2015 No Publikasi : 2171.15.31 Katalog BPS : 1102001.2171.081 Ukuran Buku : 24,5 cm x 17,5 cm Jumlah Halaman : 11 hal. Naskah

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS... II-1

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS... II-1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1 LATAR BELAKANG... I-1 2.1 MAKSUD DAN TUJUAN... I-2 1.2.1 MAKSUD... I-2 1.2.2 TUJUAN... I-2 1.3 LANDASAN PENYUSUNAN...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam Millenium Development Goals (MDGs). MDGs berisi delapan tujuan

BAB I PENDAHULUAN. dalam Millenium Development Goals (MDGs). MDGs berisi delapan tujuan 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN Dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi salah satunya tercantum dalam Millenium Development

Lebih terperinci