BAB II TINJAUAN TEORITIS
|
|
|
- Budi Tanuwidjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka Aplikasi modulator video telah direalisasikan sebelumnya oleh tim TV Kampus Politeknik Negeri Bandung yang diaplikasikan sebagai sarana penyampaian informasi dan entertainment. Pada proyek akhir ini, penulis mencoba merealisasikan bentuk alternatif lain dari aplikasi modulator video yaitu aplikasi modulator video untuk sistem display informasi berupa pengumuman dengan entri data isi pengumuman diinputkan menggunakan PC/Notebook. Beberapa realisasi mengenai pemancar TV, baik bagian modulator, penguat, exiter dan bagian-bagian lain yang berhubungan dengan sistem pemancar TV yang berhasil penulis temukan dalam literatur (Tugas/Proyek Akhir) dilingkungan Politeknik Negeri Bandung dan ITB angkatan tahun sebelumnya antara lain adalah: 1) Realisasi Modulator TV pada frekuensi IF (Intermediet Frequency) 38,9 MHz. Modulator TV yang direalisasikan memiliki: frekuensi kerja 37,65 MHz 44,65 MHz frekuensi pembawa video 38,9 MHz frekuensi pembawa audio 44,4 MHz 2) Realisasi amplifier untuk aplikasi modulator TV pada band frekuensi MHz. Penguat yang dirancang memiliki daya output 100 mwatt dan gain 10 db dengan tipe penguat kelas A. 3) Realisasi TV exiter 1 watt pada kanal 9 VHF. TV exiter yang direalisasikan memiliki daya output 1 watt pada kanal 9 VHF. 4) Realisasi Modulator Televisi pada Kanal 10 ( ) MHz. Modulator TV yang direalisasikan memiliki spesifikasi: frekuensi kerja MHz yaitu pada kanal 10 frekuensi pembawa sebesar 210,25 MHz daya keluaran 100mWatt Laporan Proyek Akhir Tahun
2 Dari literatur yang telah ditinjau oleh penulis, semua literatur memiliki frekuensi kerja yang berbeda-beda, begitu juga dengan proyek akhir yang akan direalisasikan oleh penulis yaitu bekerja pada kanal 7 ( MHz). Begitu pula dengan aplikasi dari masing-masing literatur. Dalam proyek akhir ini, penulis akan merealisasikan modulator video yang diaplikasikan ke dalam sitem display informasi secara broadcast. Penulis juga akan melakukan pengukuran terhadap alat yang telah dibuat untuk mengetahui spesifikasi alat yang telah dibuat Frekuensi Radio Televisi digunakan untuk menyampaikan informasi berbentuk gambar bergerak. Gambar tersebut adalah citra-citra dimensi yang berubah-ubah dari waktu ke waktu [1]. Untuk mengirimkan gambar tersebut maka dilakukan dengan mengirimkan gambar diam (still picture) secara berurutan dalam pergantian waktu yang cukup singkat dan setiap gambar 2 dimensi di-scan secara berurutan dalam baris-baris dalam dua field sebagai sinyal video. Sinyal video inilah yang akan ditransmisikan melalui gelombang elektromagnet (RF/Radio Frequency) dengan pemancar, satelit atau kabel ke pesawat penerima televisi. Gelombang radio adalah satu bentuk dari radiasi elektromagnetik, dan terbentukketika objek bermuatan listrik dimodulasi (dinaikkan frekuensinya) pada frekuensi yangterdapat dalam frekuensi gelombang radio (RF) dalam suatu spektrum elektromagnetik. Frekuensi radio/gelombang radio (RF = Radio Frequency) berupa gelombang elektromagnetik, yaitu perpaduan antara gelombang medan magnet dan gelombang medan listrik, yang merambat (menjalar) dari pemancar ke penerima [2] Sinyal Video Komposit Sinyal yang diterima oleh pesawat televisi terdiri dari sinyal-sinyal gambar dan sinyal suara yang disebut sebagai sinyal video komposit.di dalam gelombang pembawa sinyal gambar terdapat informasi gambar, sinyal sinkronisasi dan sinyal pengosongan.jadi sinyal video komposit merupakan sinyal termodulasi AM untuk sinyal pembawa gambar dan sinyal termodulasi FM untuk sinyal pembawa suara.spektrum sinyal video komposit ditunjukan pada Gambar 1. Laporan Proyek Akhir Tahun
3 Gambar 1 Spektrum sinyal video komposit.sinyal-sinyal gambar yang dimaksud pada sinyal video komposit merupakan kombinasi dari sinyal gambar dan pulsa-pulsa sinkronisasi yang disebut sebagai sinyal video. Termasuk di dalamnya periode blanking atau waktu penahan gambar, yaitu waktu yang diperlukan untuk flyback darititik cahaya dari satu garis ke garis berikutnya dan akhir suatu rangka ke permulaan rangka berikutnya. Hal ini diperlihatkan secara sederhana dalam Gambar 2, dimana terlihat bahwa informasi gambar dan pulsa sinkronisasi dipisahkan oleh waktu dan amplitudo [3]. Gambar 2 Sinyal Video Sinyal video komposit dikirim secara berurutan sesuai dengan urutan scanning, yaitu baris ganjil terlebih dahulu dan kemudian baris genap.baris ganjil untuk gambar vertikal, dan baris genap untuk gambar horisontal. Setiap baris Laporan Proyek Akhir Tahun
4 disisipi sinyal Sync yang merupakan tanda bagi CRT (Cathode Ray Tube = Tabung Gambar) untuk kembali ke awal baris (retrace). Ilustrasi scanning TV ditunjukkan pada Gambar 3. Baris ganjil Baris genap Garis scanning Retrace Gambar 3Scanning TV Sinyal video komposit diperoleh dari proses encoding dari sinyal komponen. Sinyal video komposit terdiri dari sinyal luminan (sinyal hitam dan putih yang menyatakan gelap-terang), sinyal sub pembawa warna (sinyal informasi), burst sinkronisasi, blanking (sinyal pengosongan) dan sinyal sinkronisasi yang dibutuhkan untuk mereproduksi proses sinkronisasi Standar Sistem Encoding Sistem encoding sinyal video memiliki standar yang berbeda di tiap-tiap negara.standar-standar yang digunakan diantaranya NTSC, PAL dan SECAM.Indonesia sendiri menggunakan PAL sebagai standar sistem encoding NTSC NTSC (National Television System Committee) adalah sistem televisi analog yang digunakan di Amerika Serikat dan banyak televisi lainnya.standar ini menetapkan jumlah lintasan sebanyak 525 garis per bidang gambar dengan kecepatan pengulasan 30 bidang gambar per detik Tabel 1 menunjukkan standar frame dan bandwidth sistem NTSC. Laporan Proyek Akhir Tahun
5 Tabel 1 Pembagian frame dan bandwidth sinyal sistem NTSC NTSC Garis / Field 525/60 Frekuensi horisontal Frekuensi verikal Sub pembawa warna Lebar bandvideo Carrieraudio Lebar Kanal 15,734 Hz 59,94 Hz 3, MHz 4,2 MHz 4,5 MHz 6 MHz PAL PAL (Phase Alternating Line) adalah encoding berwarna yang digunakan di seluruh dunia kecuali di kebanyakan Amerika. Di Indonesia sendiri, sistem yang digunakan untuk band frekuensi VHF adalah sistem PAL B. Tabel 2 menunjukkan standar frame dan bandwidth sistem PAL. Tabel 2 Pembagian frame dan bandwidth sinyal sistem PAL PAL B Garis / Field 625/50 Frekuensi horisontal 15,625 Hz Frekuensi verikal 50 Hz Sub pembawa warna 4, MHz Lebar bandvideo 5,0 Mhz Carrieraudio 5,5 MHz Lebar Kanal 7 MHz SECAM SECAM (Sequential Color with Memory) adalah sistem televisi analog yang digunakan di Perancis dan beberapa negara lainnya.sama halnya seperti PAL, SECAM menggunakan 625 garis/50 Hz. Perbedaannya terletak pada Laporan Proyek Akhir Tahun
6 modulasi sinyal krominannya. PAL menggunakan modulasi amplitudo, sedangkan SECAM menggunakan modulasi frekuensi. Tabel 3 menunjukkan standar frame dan bandwidth sistem PAL. Tabel 3 Pembagian frame dan bandwidth sinyal sistem SECAM SECAM Garis / Field 625/50 Frekuensi horisontal Frekuensi verikal Sub pembawa warna Lebar bandvideo Carrieraudio Lebar Kanal 15,625 Hz 50 Hz 4, MHz 6,0 Mhz 5,5 MHz 8 MHz 2.5. Saluran Televisi Sinyal informasi, baik video maupun audio, masing-masing membutuhkan sinyal pembawa agar sinyal informasi dapat dikirimkan ke penerima.sinyal pembawa tersebut memiliki bandwidth.bandwidth yang digunakan untuk pengiriman sinyal audio dan video disebut saluran televisi [3]. Frekuensi-frekuensi gelombang pembawa suara dan video dialokasikan pada saluran-saluran yang berbeda dalam band televisi sedemikian rupa sehingga interferensi atau gangguan antara saluran-saluran televisi yang berdekatan dapat dihindari.tabel 4 menunjukkan alokasi kanal dan frekuensi TV VHF (Very High Frequency) yang digunakan di Indonesia.Band I adalah kanal VHF bidang rendah, band III adalah kanal VHF bidang tinggi. Tabel 4 Alokasi Kanal dan Frekuensi TV VHF di Indonesia BAND VHF I KANAL FREQ. RANGE(Mhz) FREQ. VISION(Mhz) FREQ. SOUND(Mhz) ,25 53, ,25 60, ,25 67,75 Laporan Proyek Akhir Tahun
7 Tabel 4 Alokasi Kanal dan Frekuensi TV VHF di Indonesia (lanjutan) BAND VHF III KANAL FREQ. RANGE(Mhz) FREQ. VISION(Mhz) FREQ. SOUND(Mhz) ,25 180, ,25 187, ,25 194, ,25 201, ,25 208, ,25 215, ,25 222, ,25 229, Modulator Untuk memperoleh sinyal video komposit diperlukan proses modulasi yaitu proses menumpangkan sinyal informasi yang berfrekuensi rendah ke sinyal pembawa yang berfrekuensi tinggi agar dapat dipancarkan/dikirimkan melalui media udara (radio) [2].Alat yang digunakan untuk proses tersebut adalah modulator yang berfungsi untuk menggabupngkan sinyal informasi dan komponen-komponen frekuensi pembawa untuk menghasilkan salah satu jenis gelombang termodulasi. Untuk memperoleh gelombang modulasi, penjumlahan 2 gelombang sinus dilakukan di dalam perangkat (sistem) non linier yaitu modulator. Penggabungan 2 gelombang sinus dalam komponen non linier menghasilkan komponenkomponen sebagai berikut : Sumber tegangan searah (DC) Frekuensi-frekuensi asal dari gelombang tersebut Penjumlahan dari kedua frekuensi-frekuensi asal Pengurangan dari kedua frekuensi-frekuensi asal Harmonisa-harmonisa dari frekuensi asal Laporan Proyek Akhir Tahun
8 Karena sinyal videokomposit merupakansinyal termodulasi AM untuk sinyal pembawa gambar dan sinyal termodulasi FM untuk sinyal pembawa suara, maka diperlukan dua buah modulator untuk memodulasi masing-masing sinyal tersebut yaitu modulator video dan modulator audio Modulator Video Modulator video berfungsi untuk menggabungkan sinyal informasi gambar dan frekuensi pembawa gambar untuk menghasilkan sinyal termodulasi AM. Modulator video bekerja dengan menerapkan modulasi amplitudo (AM) Modulasi Amplitudo Modulasi amplitudo (AM) adalah suatu sistem modulasi dimana amplitudo gelombang pembawa (gelombang carrier) dibuat sebanding dengan amplitudo sesaat gelombang pemodulasinya (gelombang informasi/sinyal informasi) [2]. Gelombang AM ditunjukkan pada Gambar 4. Gambar 4 Gelombang AM penurunannya. Persamaan (1), (2),(3), dan(4) menunjukkan persamaan modulasi AM dan Laporan Proyek Akhir Tahun
9 A = Vc + Vm... (1) Dimana : A = Amplitudo gelombang termodulasi Vc = Amplitudo puncak gelombang AM saat tak ada sinyal informasi dimana, Vc = konstan Vm = Amplitudo puncak gelombang AM saat ada informasi dimana, Vm = berubah-ubah menumpang pada Vc. Amax = Vc +Vm = Vc + Vm sin ω m t..... (2) Jika m (indeks modulasi) =, maka Amax = Vc +. Vc sin ω m t = Vc + m Vc sin ω m t = Vc (1 + m sin ω m t).. (3) Gelombang AM : V AM (t) = Amax sin ω c t = Vc (1 + msin ω m t) sin ω c t = Vc sin ω c t + m Vc sin ω m t.sinω c t = Vc sin ω c t + [cos (ω c ω m ) t cos (ω c + ω m ) t] V AM (t) = Vc sin ω c t cos (ω c + ω m ) t + cos (ω c ω m ) t Carrier upper side band. lower side band. (pembawa) USB : Band. sisi atas LSB : Band. sisi bawah V AM (t) = Vc sin ω c t + {cos (ω c ω m ) t cos (ω c + ω m ) t}... (4) Terdiri dari : 1. Frekuensi pembawa 2. Frekuensi sisi atas (ω c + ω m ) atau (f c + f m ) 3. Frekuensi sisi bawah (ω c ω m ) atau (f c f m ) Laporan Proyek Akhir Tahun
10 Spektrum Sinyal AM Gambar 5 menunjukkan spektrum dari persamaan (4). Vc carrier LSB mvc USB mvc 2 2 (fc fm) fc (fc + fm) Gambar 5 Spektrum AM Akan tetapi, sinyal informasi tidak hanya memiliki frekuensi tunggal saja, tetapi bervariasi dari frekuensi terendah hingga tertinggi dalam band tersebut. Contoh : frekuensi suara = Hz (manusia) frekuensi musik = Hz Secara umum, fm min s/d fm max ωm min s/d ωm max, maka gambar spektrumnya ditunjukkan pada Gambar 6. Gambar 6 Spektrum umum AM Contoh-contoh sistem komunikasi dengan menggunakan modulasi amplitudo. Siaran AM komersial (MW) : 535 KHz 1605 KHz Siaran TV komersial : kanal 2 kanal 6 = 54 MHz 88 MHz kanal 7 kanal 13 = 174 MHz 216 MHz kanal 14 kanal 83 = 470 MHz 890 MHz kanal 2 kanal 13 merupakan kanal VHF, sedangkan kanal 14 kanal 83 merupakan kanal UHF. Siaran TV untuk gambar (video) menggunakan modulasi AM, sedangkan untuk suara (audio) menggunakan modulasi FM. Laporan Proyek Akhir Tahun
11 Radio CB : 26,965 MHz 27,405 MHz Modulator Audio Modulator audio berfungsi untuk menggabungkan sinyal informasi suara dan frekuensi pembawa suara untuk menghasilkan sinyal termodulasi FM. Modulator audio bekerja dengan menerapkan modulasi frekuensi (FM) Modulasi Frekuensi Modulasi frekuensi adalah modulasi sudut yang mana frekuensi sesaat gelombang sinus pembawa berubah sebanding dengan harga sesaat (amplitudo) gelombang pemodulasi (sinyal informasi) pada modulasi frekuensi, frekuensi gelombang pembawa berubah sesuai dengan amplitudo gelombang informasi [2].Gelombang FM ditunjukkan pada Gambar 7. Gambar 7 Gelombang FM Amplitudo puncak gelombang FM tetap (konstan) Jika Vm (tegangan sinyal informasi) = 0, maka frekuensi FM sama dengan frekuensi carrier f FM = fc Jika Vm = +V ; f FM naik, menjadi fc + f 1 Jika Vm = - V ; f FM turun, menjadi fc f 1 Laporan Proyek Akhir Tahun
12 Jika Vm merambat naik, maka f FM juga ikut merambat naik, f FM mencapai harga maksimum pada saat Vm mencapai harga maksimum yaitu sebesar f FMmax = fc + f Jika Vm merambat turun, maka f FM juga ikut merambat turun, f FM mencapai harga minimum pada saat Vm mencapai harga minimum yaitu sebesar f FM MIN = fc f Spektrum Sinyal FM Bentuk gelombang termodulasi FM mempunyai spektrum frekuensi yang cukup banyak atau mempunyai sideband hanya satu atau lebih dari satu. Banyaknya frekuensi dari hasil proses modulasi FM ini menentukan besarnya bandwidth dari suatu pemancar FM. Semakin banyak sinyal sideband yang dihasilkan oleh pemancar FM maka semakin besar juga range frekuensi yang digunakan oleh pemancar FM tersebut. Gambar 8 menunjukkan spektogram sinyal FM. (a) (b) Gambar 8 Spektogram sinyal FM (a) f m konstan, δ bertambah (b) δ konstan, f m bertambah
13 Untuk mengetahui seberapa lebar spektrum frekuensi sinyal termodulasi FM, dimulai dari persamaan (5), yaitu persamaan gelombang FM yang berbentuk fungsi sinus dari fungsi sinus. Penyelesaiannya memasukkan fungsi Bessel seperti ditunjukkan pada persamaan (6), yaitusinus dari fungsi sinus. Persamaan gelombang FM dinyatakan sbb: e FM = V c J 0 m f sin ω c t (5) + Vc {J1 (mf) [sin (ωc + ωm )t - sin (ωc - ωm )t]} + Vc {J2 (mf) [sin (ωc + 2ωm )t - sin (ωc - 2ωm )t]} + Vc {J3 (mf) [sin (ωc + 3ωm )t - sin (ωc - 3ωm )t]} + Vc {J4 (mf) [sin (ωc + 4ωm )t - sin (ωc - 4ωm )t]} + dengan : e FM V c J n mf dan : amplitudo sesaat gelombang termodulasi FM : amplitudo puncak pembawa : penyelesaian fungsi Bessel orde ke-n untuk indeks modulasi : indeks modulasi FM V c J 0 (m f ) sin ωc t = komponen frekuensi pembawa. (6) V c {J 1 (m f ) [sin (ωc+ωm)t - sin (ωc-ωm)t]} = komp. bid. sisi pertama V c {J 2 (m f ) [sin (ωc+2ωm )t - sin (ωc-2ωm )t]} = komp. bid. sisi ke-dua V c {J 3 (m f ) [sin (ωc+3ωm)t -sin (ωc-3ωm )t]} = komp. bid. sisi ke-tiga V c {J 4 (m f ) [sin (ωc + 4ωm )t-sin (ωc-4ωm )t]} = komp. bid. sisi keempat V c {J 5 (m f ) [sin (ωc + 5ωm )t - sin (ωc - 5ωm )t]} = komp. bid. sisi kelima dst Osilator (RF) Sinyal pembawa (carrier) pada modulator dihasilkan oleh osilator RF. Oleh karena itu osilator RF (pembangkit listrik frekuensi radio) merupakan bagian utama dari sebuah pemancar.osilator berfungsi untuk menentukan/menghasilkan frekuensi pembawa (carrier) atau kelipatannya [2]. Semakin tinggi frekuensi yang dihasilkan, maka akan semakin jauh jarak pancarnya. Laporan Proyek Akhir Tahun
14 Berdasarkan metode pengoperasiannya, osilator dibagi menjadi dua kelompok, yaitu osilator umpan balik (feedback oscillator) dan osilator relaksasi.pada osilator umpan balik, sebagian daya keluaran dikembalikan ke masukan.osilator biasanya dioperasikan pada frekuensi tertentu. Osilator gelombang sinus termasuk kelompok osilator ini dengan frekuensi operasi dari beberapa Hz sampai jutaan Hz. Osilator inilah yang banyak digunakan untuk penerima radio, TV, dan pada transmitter/pemancar. Frekuensi osilator umpan balik biasanya ditentukan dengan menggunakan rangkaian LC (induktor-kapasitor). Frekuensi tegangan AC yang dibangkitkan oleh rangkaian tersebut akan tergantung dari harga L dan harga C yang digunakan. Ini yang disebut sebagai frekuensi resonansi dengan harga yang ditunjukkan pada persamaan (7). f r 1... (7) 2 LC Dimana : fr = frekuensi resonansi dalam Hz L = induktansi dalam Henry C = kapasitansi dalam Farad Resonansi terjadi saat reaktansi kapasitif (X C ) besarnya sama dengan reaktansi induktif (X L ). Frekuensi osilasi rangkaian LC memiliki resistansi yang akan mengganggu aliran arus pada rangkaian. Akibatnya, tegangan AC akan cenderung menurun setelah melakukan beberapa putaran osilasi. Osilasi rangkaian dapat dibuat secara kontinu jika menambahkan energi secara periodik dalam rangkaian.energi ini akan digunakan untuk mengganti energi panas yang hilang. Tambahan energi pada rangkaian LC dilakukan dengan menghubungkan kapasitor dengan sumber DC, yang tidak mungkin dilakukan secara manual. Proses pemutusan dan penyambungan dengan kapasitor dilakukan dengan menggunakan transistor Penguat Daya RF Penguat secara harfiah diartikan dengan memperbesar dan menguatkan sinyal input. Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah sinyal input direplika (copied) Laporan Proyek Akhir Tahun
15 dan kemudian di reka kembali (re-produce) menjadi sinyal yang lebih besar dan lebih kuat. Penguat RF merupakan perangkat yang berfungsi memperkuat sinyal frekuensi tinggi yang dihasilkan osilator RF dan diterima oleh antena untuk dipancarkan [4]. Penguat RF yang ideal harus menunjukkan tingkat perolehan daya yang tinggi, gambaran noise yang rendah, stabilitas dinamis yang baik, admitansi pindah baliknya rendah sehingga antena akan terisolasikan dari osilator, dan selektivitas yang cukup untuk mencegah masuknya frekuensi IF, frekuensi bayangan, dan frekuensi-frekuensi lainnya.pada penguat RF, rangkaian yang umum digunakan adalah penguatkelas A dan Kelas C. Secara umum, penguat RF lengkap terdiri dari tiga buah tingkatan, yaitu buffer, driver, dan final. Buffer Buffer merupakan blok rangkaian yang berfungsi sebagai penyangga atau penyaring sinyal masukan (input) agar sesuai dengan karakteristik kerja penguat. Buffer merupakan penguat tingkat satu dengan daya output yang kecil. Buffer merupakan suatu rangkaian penguat yang mempunyai impedansi input tinggi danimpedansi output rendah. Impedansi input tinggi berarti pembebanan yang rendahdari tingkat sebelumnya. Jika buffer tidak digunakan, maka transfer daya daritingkat sebelumnya ke tingkat selanjutnya tidak akanmaksimum. Penguat buffer umumnya mempunyai daya output maksimum 0,5 watt. Driver Driver merupakan penguat tingkat dua yang juga merupakan rangkaiankendali dari penguat RF. Rangkaian penguat pada driverakan menentukan daya pada rangkaian final. Ragkaian penguar driver ini mempunyai daya output yang lebih besar dari rangkaian buffer. Final Final merupakan penguat tingkat akhir. Rangkaian penguat final menentukan daya output secara keseluruhan dari penguat RF. Rangkaian penguat RF ini merupakan penguat tingkat akhir yang dihubungkan ke antena Laporan Proyek Akhir Tahun
16 pemancar. Komponen penguat dari rangkaian final ini mempunyai daya yang tinggi Penguat Kelas A Contoh dari penguat kelas A adalah rangkaian dasar penguat transistor common emitor (CE). Tipe penguat dibuat dengan mengatur arus bias basis yang sesuai pada titik tertentu untuk mendapatkan titik kerja pada garis beban rangkaian tersebut [6]. Untuk penguat tipe kelas A arus bias basis dibuat sedemikian rupa, sehingga titik kerja transistor (Q) berada tepat ditengah kurva garis beban Vce Ic dari rangkaian penguat tersebut. Contoh rangkaian dasar penguat transistor tipe kelas A dapat dilihat pada Gambar 9. Gambar 9 Rangkaian penguat kelas A Resistor Ra dan Rb pada rangkaian diatas berfungsi untuk menentukan arus bias basis. Garis beban rangkaian dasar penguat tipe kelas A diatas ditentukan oleh konfigurasi resistor Rc dan Re yang dirumuskan seperti pada persamaan (8). Vcc = Vce + IcRc + IeRe..... (8) Apabila Ic = Ie, maka rumus diatas dapat di sederhanakan seperti pada persamaan (9). Vcc = Vce + Ic (Rc + Re)..... (9) Untuk menentukan arus basis sebaiknya melihat dahulu data sheet transistor yang digunakan kemudian menentukan nilai resistor Ra dan Rb untuk Laporan Proyek Akhir Tahun
17 menentukan besarnya arus basis (Ib) yang memotong titik Q. Berikut adalah garis beban dan titik Q penguat kelas A. Untuk menentukan arus basis sebaiknya melihat dahulu data sheet transistor yang digunakan kemudian menentukan nilai resistor Ra dan Rb untuk menentukan besarnya arus basis (Ib) yang memotong titik Q. Gambar 10 menunjukkan garis beban dan titik Q penguat kelas A. Gambar 10 Titik kerja penguat kelas A Penguat Kelas AB PowerAmplifier kelas AB ini dibuat bertujuan untuk membentuk penguat sinyal yang tidak cacat (distorsi) dari penguat kelas A dan untuk mendapatkan efisiensi daya yang lebih baik seperti pada amplifier kelas B [7]. Titik kerja amplifier kelas AB dapat dilihat pada Gambar 11. Gambar 11 Titik kerja penguat kelas AB Karena amplifier kelas A memiliki efisiensi daya yang rendah (±25%) yang disebaban titik kerja berada di 1/2 VCC tetapi memiliki kualitas sinyal yang terbaik. Sedangkan amplifier kelas B memiliki efisiensi daya yang baik (±85%) karena titik kerja mendekati VCC tetapi kualitas suara yang kurang baik.sehingga Laporan Proyek Akhir Tahun
18 dibuat amplifier kelas AB yang memiliki efisiensi daya penguatan sinyal (±60%) dengan kualitas sinyal audio yang baik. Dengan menempatkan titik kerja rangkaian poweramplifier kelas AB berada diantara titik kerja kelas A dan kelas B seperti terlihat pada Gambar 11 diatas, penguat kelas AB dimaksudkan mendapatkan karakteristik dasar gabungan dari amplifier kelas A dan amplifier kelas B Rangkaian Bias Transistor Agar sebuah rangkaian transistor dapat bekerja dengan baik, maka perlu dirancang sebuah rangkaian bias yang sesuai dengan karakteristik transistor tersebut. Rangkaian bias dibuat agar sebuah transistor dapat bekerja dengan baik dan tidak bekerja pada daerah cut off atau saturasi. Beberapa jenis rangkaian bias transistor adalah sebagai berikut RangkaianBias Pembagi Tegangan (Self Bias) Self bias transistor adalah teknik pemberian tegangan basis transistor dan kaki transistor yang berdiri sendiri. Rangkaian self bias transistor ini menggunakan rangkaian pembagi tegangan (voltage divider) dari 2 buah resistor, dimana titik pembagian tegangan dihubungkan ke kaki basis transistor. Rangkaian bias pembagi tegangan (self bias) dapat dilihat pada Gambar 12. Gambar 12 Rangkaian bias pembagi tegangan Rangkaian bias pembagi tegangan (self bias) terdiri dari empat buah resistor, yaitu : R1, R2, RC, dan RE. Resistor R1 (yang berada di atas) akan menjamin bahwa hubungan antara kolektor-basis mendapatkan bias mundur, sedangkan resistor R2 (yang berada di bawah) akan menjamin bahwa hubungan Laporan Proyek Akhir Tahun
19 basis-emitor mendapatkan bias maju. Oleh karena itu dengan adanya pembagi tegangan R1 dan R2 akan menjamin bahwa transistor dapat bekerja pada daerah aktif. RC sebagai resistansi beban kolektor, dan RE sebagai stabilisasi dc. Pada umumnya penguat transistor 1 tingkat menggunakan bias tegangan jenis pembagi tegangan (self bias) karena memiliki kestabilan yang sangat baik RangkaianBias Umpan-Balik (Feedback) Transistor Bias umpan-balik (feedbackbias) transistor merupakan teknik pemberian bias basis suatu rangkaian penguat transistor yang menggunakan resistor sebagai komponen pemberi bias basis sekaligus sebagai jaringan umpan-balik (feedback) rangkaian penguat transistor 1 tingkat. Tujuan penggunaan feedbackbias pada rangkaian penguat transistor 1 tingkat adalah untuk memperbaiki stabilitas titik kerja transistor pada perubahan faktor penguatan transistor (β). Rangkaian bias umpan-balik ditunjukan pada Gambar 13. Gambar 13 Rangkaian bias umpan-balik Rangkaian Bias Tetap (Fix Bias) Rangkaian dasar untuk memberikan fix bias pada transistor ditunjukan pada Gambar 14. Gambar 14 Rangkaian dasar fix bias Laporan Proyek Akhir Tahun
20 Rangkaian bias tetap (fix bias) untuk transistor ini cukup sederhana karena hanya terdiri atas dua resistor RB dan RC.Kapasitor C1 dan C2 merupakan kapasitor kopling yang berfungsi untuk mengisolasi tegangan dc dari transistor ke tingkat sebelum dan sesudahnya, namun tetap menyalurkan sinyal ac-nya Antena Dipol Untuk menyampaikan informasi dari satu tempat (titik) ke tempat (titik) yang lain tentunya dibutuhkan sebuah media saluran transmisi. Media saluran transmisi yang dimaksud di sini adalah antena. Dalam hal ini, gelombang elektromagnetik disebarkan dan diarahkan oleh sebuah antena dari pemancar ke ruang bebas menuju tujuan untuk diterima oleh antena penerima [5]. Antena dipol bisa dikatakan cikal bakal dari jenis-jenis antena kawat linier seperti dipol pendek, dipol setengah panjang gelombang, dipol lima-per-empat panjang gelombang, dipol tiga-per-empat panjang gelombang, dsb. Selain itu antena dipol juga mendasari antena-antena seperti antena Yagi Uda, antena log periodik, dan antena monopol. Antena dipol juga biasa digunakan sebagai elemen dasar dari antena susun (array antenna) [5]. Antena dipol sebenarnya merupakan sebuahantena yang dibuat dari kawat tembaga dandipotong sesuai ukuran agar beresonansi pada frekuensi kerja yang diinginkan. Kawat yangdipakai sebaiknya minimal ukuran AWG (American Wire Gauge) # 12 atau diameter 2mm. Lebih besar akan lebih baik secaramechanical strength. Agar dapat beresonansi, maka panjang totalsebuah dipol( L) adalah 0, 5λ K,dimana λ adalah panjang gelombang diudara dan Kadalah velocityfactor pada kawat tembaga [8].Untuk ukuran kawat tembaga yang relatif kecil ( hanya ber-diameter beberapa mm)jika dibandingkan setengah panjanggelombang, maka nilai K diambil sebesar0,95 dancukup memadai sebagai awal. Sehingga rumus untuk menghitung totalpanjang sebuah antena dipolditunjukkan pada persamaan 10. λ = c f = 3 10 f Laporan Proyek Akhir Tahun
21 L = 0,5 K λ. (10) Dimana: λ = panjang gelombang c = kecepatan cahaya f = frekuensi kerja L = panjang total antena dipol K = velocityfactor yang diambil sebesar 0,95 Laporan Proyek Akhir Tahun
1. PENGERTIAN PEMANCAR RADIO
1. PENGERTIAN PEMANCAR RADIO 2. SISTEM MODULASI DALAM PEMANCAR GELOMBANG RADIO Modulasi merupakan metode untuk menumpangkan sinyal suara pada sinyal radio. Maksudnya, informasi yang akan disampaikan kepada
1. Pengertian Penguat RF
1. Pengertian Penguat RF Secara umum penguat adalah peralatan yang menggunakan tenaga yang kecil untuk mengendalikan tenaga yang lebih besar. Dalam peralatan elektronik dibutuhkan suatu penguat yang dapat
BAB II TINJAUAN TEORITIS
BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka Realisasi modul praktikum FM menggunakan PLL (Phase Locked Loop) sebelumnya telah pernah dibuat oleh Rizal Septiandi mahasiswa Program Studi Teknik Telekomunikasi
Dasar- dasar Penyiaran
Modul ke: Fakultas FIKOM Dasar- dasar Penyiaran AMPLITUDO MODULATON FREQUENCY MODULATON SHORT WAVE (SW) CARA KERJA PEMANCAR RADIO Drs.H.Syafei Sikumbang,M.IKom Program Studi BROAD CASTING Judul Sub Bahasan
BAB II TINJAUAN TEORITIS
BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka 1) Proyek Akhir Ridwan Rachman dari angkatan 2004 Politeknik Negeri Bandung dengan judul Realisasi TV Exciter 1 Watt pada Kanal 9 VHF [4]. Hasil kajian proyek
Sinyal pembawa berupa gelombang sinus dengan persamaan matematisnya:
Modulasi Amplitudo (Amplitude Modulation, AM) adalah proses menumpangkan sinyal informasi ke sinyal pembawa (carrier) dengan sedemikian rupa sehingga amplitudo gelombang pembawa berubah sesuai dengan perubahan
Dalam sistem komunikasi saat ini bila ditinjau dari jenis sinyal pemodulasinya. Modulasi terdiri dari 2 jenis, yaitu:
BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka Realisasi PLL (Phase Locked Loop) sebagai modul praktikum demodulator FM sebelumnya telah pernah dibuat oleh Rizal Septianda mahasiswa Program Studi Teknik
Nama Kelompok : Agung Bagus K. (01) Lili Erlistantini (13) Rahma Laila Q. (14) PENGUAT RF. Pengertian Penguat RF
Nama Kelompok : Agung Bagus K. (01) Lili Erlistantini (13) Rahma Laila Q. (14) PENGUAT RF Pengertian Penguat RF Penguat RF merupakan perangkat yang berfungsi memperkuat sinyal frekuensi tinggi yang dihasilkan
BAB II DASAR TEORI. dengan cara modulasi dan gelombang elektromagnetik. Gelombang ini melintas dan
BAB II DASAR TEORI Pemancar radio adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara modulasi dan gelombang elektromagnetik. Gelombang ini melintas dan merambat lewat udara dan bisa juga
ANALISIS BANDWIDTH KANAL CATV MENGGUNAKAN MODULATOR TELEVES 5857 DAN ZINWEL C1000
SINGUDA ENSIKOM VOL. 7 NO. 3/ Juni ANALISIS BANDWIDTH KANAL CATV MENGGUNAKAN MODULATOR TELEVES 5857 DAN ZINWEL C1000 Mulia Raja Harahap, Maksum Pinem Konsentrasi Teknik Telekomunikasi, Departemen Teknik
BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Modulasi Modulasi adalah proses pencampuran dua sinyal menjadi satu sinyal. Biasanya sinyal yang dicampur adalah
BAB II PEMBAHASAN.1. Pengertian Modulasi Modulasi adalah proses pencampuran dua sinyal menjadi satu sinyal. Biasanya sinyal yang dicampur adalah sinyal berfrekuensi tinggi dan sinyal berfrekuensi rendah.
Teknik Sistem Komunikasi 1 BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Model Sistem Komunikasi Sinyal listrik digunakan dalam sistem komunikasi karena relatif gampang dikontrol. Sistem komunikasi listrik ini mempekerjakan sinyal listrik untuk membawa
Stasiun Relay, Interferensi Siaran&Stándar Penyiaran
Stasiun Relay, Interferensi Siaran&Stándar Penyiaran Stasiun Relay Fungsi stasiun relay : menerima gelombang elektromagnetik dari stasiun pemancar, kemudian memancar luaskan gelombang itu didaerahnya.
menggunakan sistem PAL (Phase Alternating Line), pemancar televisi digunakan untuk mengirimkan sinyal-sinyal suara dan sinyal-sinyal gambar
X. BAB III PERANCANGAN ALAT 3.1 Gambaran Umum Sistem Alat yang dibuat merupakan pemancar televisi berwama dengan menggunakan sistem PAL (Phase Alternating Line), pemancar televisi digunakan untuk mengirimkan
Kata Pengantar. Bandung, Februari 2015 Penyusun. (Agung Rismawan)
Kata Pengantar Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya
Menyebutkan prinsip umum sinyal bicara dan musik Mengetahui Distorsi Mengetahui tentang tranmisi informasi Mengetahui tentang kapasitas kanal
Menyebutkan prinsip umum sinyal bicara dan musik Mengetahui Distorsi Mengetahui tentang tranmisi informasi Mengetahui tentang kapasitas kanal dua macam sumber informasi, yaitu ide-ide yang bersumber dari
TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR. Kuliah 4 Modulasi Frekuensi
TKE 2102 TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR Kuliah 4 Modulasi Frekuensi Indah Susilawati, S.T., M.Eng. Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Mercu Buana Yogyakarta 2009 B
BAB 8 HIGH FREQUENCY ANTENNA. Mahasiswa mampu menjelaskan secara lisan/tertulis mengenai jenis-jenis frekuensi untuk
BAB 8 HIGH FREQUENCY ANTENNA Kompetensi: Mahasiswa mampu menjelaskan secara lisan/tertulis mengenai jenis-jenis frekuensi untuk komunikasi, salah satunya pada rentang band High Frequency (HF). Mahasiswa
DASAR TELEKOMUNIKASI ARJUNI BP JPTE-FPTK UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA. Arjuni Budi P. Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FPTK-UPI
DASAR TELEKOMUNIKASI ARJUNI BP JPTE-FPTK UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Pendahuluan Telekomunikasi = Tele -- komunikasi Tele = jauh Komunikasi = proses pertukaran informasi Telekomunikasi = Proses pertukaran
Cara Kerja Exciter Pemancar Televisi Analog Channel 39 di LPP (Lembaga Penyiaran Publik) Stasiun Transmisi Joglo Jakarta Barat
Cara Kerja Exciter Pemancar Televisi Analog Channel 39 di LPP (Lembaga Penyiaran Publik) Stasiun Transmisi Joglo Jakarta Barat Yogo Tri Saputro 17411549 Teknik Elektro Latar Belakang Pada dasarnya pemancar
BAB II TINJAUAN TEORITIS
BAB II TINJAUAN TEORITIS BAB II TINJAUAN TEORITIS 1.1 Tinjauan Teoritis Nama lain dari Rangkaian Resonansi adalah Rangkaian Penala. Dalam bahasa Inggris-nya adalah Tuning Circuit, yaitu satu rangkaian
I. ANALISA DATA II. A III. A IV. A V. A
I. ANALISA DATA II. A III. A IV. A V. A VI. ANALISA DATA Percobaan SSB dan DSB yang pertama sinyal audio dengan gelombang sinus 1kHz dan amplitudo 2Vpp dimodulasi dengan carrier. Sinyal audio digabung
BOBI KURNIAWAN, JANA UTAMA Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia
bidang TEKNIK PERANCANGAN RADIO PORTABEL UNTUK MASYARAKAT PEDESAAN DI INDONESIA BERBASIS FREKUENSI MODULASI (FM) DENGAN MENGGUNAKAN MP3, MEMORY CARD, KOMPUTER DAN LINE IN MICROPONE SEBAGAI MEDIA INPUT
BAB III PERANCANGAN SISTEM
25 BAB III PERANCANGAN SISTEM Sistem monitoring ini terdiri dari perangkat keras (hadware) dan perangkat lunak (software). Perangkat keras terdiri dari bagian blok pengirim (transmitter) dan blok penerima
V. M O D U L A S I. Gbr.V-1: Tiga sinyal sinusoidal yang berbeda. Sinyal 1 Sinyal 3. sinyal 2 t
V. M O D U L A S I Antena yang akan digunakan untuk memancarkan suatu sinyal haruslah memenuhi persyaratan, dimana ukurannya harus mendekati orde λ dari sinyal yang dimaksud. Jika yg akan dikirim adalah
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pendahuluan Perkembangan antenna saat ini semakin berkembang terutama untuk system komunikasi. Antenna adalah salah satu dari beberapa komponen yang paling kritis. Perancangan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. PENELITIAN TERDAHULU Sebelumnya penelitian ini di kembangkan oleh mustofa, dkk. (2010). Penelitian terdahulu dilakukan untuk mencoba membuat alat komunikasi bawah air dengan
MODULASI AM, DSB, SSB dan DEMODULASI AMPLITUDO
MODULASI AM, DSB, SSB dan DEMODULASI AMPLITUDO 1. Tujuan 1.1 Mahasiswa dapat mempelajari tentang modulasi amplitudo (AM, DSB dan SSB) 1.2 Mahasiswa dapat mempraktekkan modulasi amplitudo (AM, DSB dan SSB)
Pemancar dan Penerima FM
Pemancar dan Penerima FM Budihardja Murtianta Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga [email protected] Ringkasan
BAB II DASAR TEORI. Dasar teori yang mendukung untuk tugas akhir ini adalah teori tentang device atau
7 BAB II DASAR TEORI Dasar teori yang mendukung untuk tugas akhir ini adalah teori tentang device atau komponen yang digunakan, antara lain teori tentang: 1. Sistem Monitoring Ruangan 2. Modulasi Digital
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas mengenai teori teori yang mendasari perancangan dan perealisasian inductive wireless charger untuk telepon seluler. Teori-teori yang digunakan dalam skripsi
CIRCUIT DASAR DAN PERHITUNGAN
CIRCUIT DASAR DAN PERHITUNGAN Oleh : Sunarto YB0USJ ELEKTROMAGNET Listrik dan magnet adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, setiap ada listrik tentu ada magnet dan sebaliknya. Misalnya ada gulungan
BAB V PENGUJIAN DAN ANALISIS
BAB V PENGUJIAN DAN ANALISIS Untuk mengetahui apakah hasil rancangan yang dibuat sudah bekerja sesuai dengan fungsinya atau tidak, perlu dilakukan pengujian dan beberapa pengukuran pada beberapa test point
PEMANCAR&PENERIMA RADIO
PEMANCAR&PENERIMA RADIO Gelombang elektromagnetik gelombang yang dapat membawa pesan berupa sinyal gambar dan suara yang memiliki sifat, dapat mengarungi udara dengan kecepatan sangat tinggi sehingga gelombang
PENDAHULUAN. Kardiawarman, Ph.D. Modul 7 Fisika Terapan 1
PENDAHULUAN Di dalam modul ini Anda akan mempelajari Aplikasi Rangkaian Elektronika Dalam eknologi Audio Visual yang mencakup: teknik pemancar dan penerima audio, serta pemancar dan penerima audio-video.
BAB II TINJAUAN TEORITIS
BAB II TINJAUAN TEORITIS Pada bab ini akan dibahas teori yang menunjang perancangan sistem. Pada bab ini juga akan dibahas secara singkat komponen - komponen yang digunakan serta penjelasan mengenai metoda
PRINSIP UMUM. Bagian dari komunikasi. Bentuk gelombang sinyal analog sebagai fungsi waktu
TEKNIK MODULASI PRINSIP UMUM PRINSIP UMUM Bagian dari komunikasi Bentuk gelombang sinyal analog sebagai fungsi waktu PRINSIP UMUM Modulasi merupakan suatu proses dimana informasi, baik berupa sinyal audio,
Dasar- dasar Penyiaran
Modul ke: Dasar- dasar Penyiaran AMPLITUDO MODULATON FREQUENCY MODULATON CARA KERJA PENERIMA RADIO Fakultas FIKOM Drs.H.Syafei Sikumbang,M.IKom Program Studi BROAD CASTING Judul Sub Bahasan Template Modul
PEMANCAR DAN PENERIMA RADIO MOD. f c AUDIO AMPL. f LO MOD FREK LOCAL OSCIL
VII. PEMANCAR DAN PENERIMA RADIO VII.1. BLOK DIAGRAM PEMANCAR AM / FM a. MOD Sinyal AM / FM / SSB Antena b. MOD AMP POWER Mikr s.akustik s. Listrik f LO LOCAL OSCIL Antena c. MOD FREK FREQ. MULTI PLIER
SINYAL & MODULASI. Ir. Roedi Goernida, MT. Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung
SINYAL & MODULASI Ir. Roedi Goernida, MT Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung 2012 1 Pengertian Sinyal Merupakan suatu perubahan amplitudo dari tegangan,
TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR. Kuliah 3 Modulasi Amplitudo
TKE 10 TEKNIK TELEKOMUNIKASI DASAR Kuliah 3 Modulasi Amplitudo Indah Susilawati, S.T., M.Eng. Program Studi Teknik Elektro Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Meru Buana Yogyakarta 009 B A B
BAB III PENGGUNAAN SAW FILTER SEBAGAI FILTER SINYAL IF
BAB III PENGGUNAAN SAW FILTER SEBAGAI FILTER SINYAL IF 3.1. Pendahuluan Fungsi SAW Filter sendiri dalam unit IF pada televisi adalah untuk memberikan bentuk respon sinyal IF yang dihasilkan dari tuner
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM SISTEM TELEKOMUNIKASI SEMESTER III TH 2014/2015 JUDUL SSB-DSB GRUP 2 3D PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI JAKARTA 2014 1 PEMBUAT
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM SISTEM TELEKOMUNIKASI SEMESTER III TH 206/207 JUDUL SINGLE SIDEBANDD-DOUBLE SIDEBAND (SSB-DSB) GRUP 2 3C PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK
LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM VIDEO KAMERA VIDEO KELOMPOK : 6 ISA MAHFUDI NIM KELAS / Abs : JTD-2A / 13
LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM VIDEO KAMERA VIDEO KELOMPOK Oleh : 3 ISA MAHFUDI NAMA ISA MAHFUDI : ISA MAHFUDI NIM. 1141160018 NIM (NIM. 1141160018) : 1141160018 KELAS / Abs : JTD-2A / 13 KELOMPOK : 6 Kelompok
LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM TELEKOMUNIKASI ANALOG PERCOBAAN OSILATOR. Disusun Oleh : Kelompok 2 DWI EDDY SANTOSA NIM
LAPORAN PRAKTIKUM SISTEM TELEKOMUNIKASI ANALOG PERCOBAAN OSILATOR Disusun Oleh : Kelompok 2 DWI EDDY SANTOSA NIM. 1141160049 JARINGAN TELEKOMUNIKASI DIGITAL 2011/2012 POLITEKNIK NEGERI MALANG jl.soekarno
Elektronika Dasar Ponsel
Elektronika Dasar Ponsel Bagaimanapun sebuah ponsel adalah sebuah rangkaian elektronika. Akan tetapi ponsel tidak dapat berfungsi bila tidak diberikan daya atau tegangan (listrik). Sumber listrik Dengan
PRAKTIKUM RANGKAIAN RLC DAN FENOMENA RESONANSI
PRAKIKUM RANGKAIAN RC DAN FENOMENA RESONANSI (Oleh : Sumarna, ab-elins, Jurdik Fisika FMIPA UNY) E-mail : [email protected] 1. UJUAN Praktikum ini bertujuan untuk menyelidiki terjadinya fenomena resonansi
BAB II TEORI DASAR TELEVISI
BAB II TEORI DASAR TELEVISI 2.1 Sistem Televisi Pada dasarnya sebuah gambar pada layar pesawat televisi adalah suatu susunan dari banyaknya daerah-daerah kecil. Setiap daerah kecil dari gambar tersebut
Modul 10 Modulator Pendahuluan
Modul 10 Modulator 10.1 Pendahuluan Sistem komunikasi memerlukan rangkaian untuk mengkonversi frekuensi, modulasi dan pendeteksian informasi. Sinyal informasi yang akan diangkut dari pemancar ke penerima
BAB II DASAR TEORI. Gelombang didefinisikan sebagai getaran atau gangguan yang merambat.
BAB II DASAR TEORI 2.1 Gelombang Elektromagnetik Gelombang didefinisikan sebagai getaran atau gangguan yang merambat. Elektromagnetik adalah gejala listrik yang diakibatkan oleh gerak mekanik magnet. Magnet
DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA EKSTENSI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2013
TUGAS AKHIR ANALISIS BANDWIDTH KANAL CATV MENGGUNAKAN MODULATOR TELEVES 5857 DAN ZINWEL C1000 Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan sarjana (S-1) pada Departemen
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM
52 BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM Bab ini membahas pengujian alat yang dibuat, kemudian hasil pengujian tersebut dianalisa. 4.1 Pengujian Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui keberhasilan dan
Modulasi Sudut / Modulasi Eksponensial
Modulasi Sudut / Modulasi Eksponensial Modulasi sudut / Modulasi eksponensial Sudut gelombang pembawa berubah sesuai/ berpadanan dengan gelombang informasi kata lain informasi ditransmisikan dengan perubahan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Komunikasi Radio Sistem komunikasi radio memancarkan informasi dalam bentuk sinyal listrik yang menyajikan pembicaraan dan musik. Bentuk gelombang dari sinyal ini sangat
KOMUNIKASI DATA SAHARI. 5. Teknik Modulasi
KOMUNIKASI DATA SAHARI 5. Teknik Modulasi Dua jenis teknik modulasi 1. Teknik modulasi yang digunakan untuk merepresentasikan data digital pada saat transmisi melalui media analog. Misal : Pengiriman data
PRINSIP KERJA TRANSCEIVER Oleh : Sunarto YBØUSJ
PRINSIP KERJA TRANSCEIVER Oleh : Sunarto YBØUSJ UMUM Radio communication transceiver adalah pesawat pemancar radio sekaligus berfungsi ganda sebagai pesawat penerima radio yang digunakan untuk keperluan
PENGUKURAN MEDAN ELEKTROMAGNETIK BEBAS PADA AREA URBAN DAN RURAL
PENGUKURAN MEDAN ELEKTROMAGNETIK BEBAS PADA AREA URBAN DAN RURAL MANA HILUL IRFAN 2207100051 Dosen Pembimbing : Eko Setijadi, ST., MT., Ph.D Dr. Ir. Wirawan, DEA Latar Belakang 2 Green Telecommunication
Modul Elektronika 2017
.. HSIL PEMELJRN MODUL I KONSEP DSR TRNSISTOR Mahasiswa dapat memahami dan menjelaskan karakteristik serta fungsi dari rangkaian dasar transistor..2. TUJUN agian ini memberikan informasi mengenai penerapan
BAB II SALURAN TRANSMISI
BAB II SALURAN TRANSMISI 2.1 Umum Penyampaian informasi dari suatu sumber informasi kepada penerima informasi dapat terlaksana bila ada suatu sistem atau media penyampaian di antara keduanya. Jika jarak
DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DIREKTORAT STANDARDISASI POS DAN TELEKOMUNIKASI
DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI DIREKTORAT STANDARDISASI POS DAN TELEKOMUNIKASI SPESIFIKASI TEKNIS PERANGKAT TELEKOMUNIKASI PERSYARATAN TEKNIS PERANGKAT RADIO SIARAN KELOMPOK
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN TRANSMISI DATA KOMPUTER PADA MONITOR DENGAN SISTEM WIRELES
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN TRANSMISI DATA KOMPUTER PADA MONITOR DENGAN SISTEM WIRELES Wincoko, ST Latar Belakang Kemajuan teknologi memungkinkan manusia bertambah maju, khususnya dibidang komputer. Penggunaan
DASAR TELEKOMUNIKASI. Kholistianingsih, S.T., M.Eng
DASAR TELEKOMUNIKASI Kholistianingsih, S.T., M.Eng KONTRAK PEMBELAJARAN UAS : 35% UTS : 35% TUGAS : 20% KEHADIRAN : 10% KEHADIRAN 0 SEMUA KOMPONEN HARUS ADA jika ada satu komponen yang kosong NILAI = E
BAB II LANDASAN TEORI
7 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 SENSOR MEKANIK KETINGGIAN LEVEL AIR Transduser adalah alat yang mengubah suatu energi dari satu bentuk ke bentuk lain. Sebuah tranduser digunakan untuk mengkonversi suatu besaran
Sistem Pemancar Televisi
Akhmad Rudyanto Putu Rio Aditya Linda Wulandari Yuli Fitriani 2207.100.624 2207.100.638 2207.100.645 2207.100.649 1 Sistem Pemancar Televisi Memancarkan sinyal RF (audio & video) melalui gelombang elektromagnetik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Penguat RF Penguat RF (Radio Frekuensi) adalah perangkat yang berfungsi memperkuat sinyal frekuensi tinggi (RF) dan diterima oleh antena untuk dipancarkan. Penguat
Telekomunikasi Radio. Syah Alam, M.T Teknik Elektro STTI Jakarta
Telekomunikasi Radio Syah Alam, M.T Teknik Elektro STTI Jakarta Telekomunikasi Radio Merupakan suatu bentuk komunikasi modern yang memanfaatkan gelombang radio sebagai sarana untuk membawa suatu pesan
- S. Indriani Lestariningati, M.T- Week 3 TERMINAL-TERMINAL TELEKOMUNIKASI
- S. Indriani Lestariningati, M.T- Week 3 TERMINAL-TERMINAL TELEKOMUNIKASI Dengan kemajuan teknologi, telekomunikasi menjadi lebih cepat, lebih andal dan lebih murah dibandingkan dengan metode komunikasi
BAB II TINJAUAN TEORITIS
BAB II TINJAUAN TEORITIS 2.1 Tinjauan Pustaka Perangkat elektronik atau perangkat komunikasi dapat saling berhubungan diperlukan antena yang menggunakan frekuensi baik sebagai pemancar ataupun penerima.
BAB VF, Penguat Daya BAB VF PENGUAT DAYA
Hal:33 BAB F PENGUAT DAYA Dalam elektronika banyak sekali dijumpai jenis penguat, pengelompokkan dapat berdasarkan: 1. rentang frekuensi operasi, a. gelombang lebar (seperti: penguat audio, video, rf dll)
ISSN : e-proceeding of Engineering : Vol.1, No.1 Desember 2014 Page 239
ISSN : 2355-9365 e-proceeding of Engineering : Vol.1, No.1 Desember 2014 Page 239 PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI HIGH POWER AMPLIFIER STANDAR DVB-T2 PADA PEMANCAR TV KOMUNITAS DALAM FREKUENSI UHF Rahmat
BAB II DASAR TEORI. Modulasi adalah pengaturan parameter dari sinyal pembawa (carrier) yang
BAB II DASAR TEORI 2.1 Modulasi Modulasi adalah pengaturan parameter dari sinyal pembawa (carrier) yang berfrekuensi tinggi sesuai sinyal informasi (pemodulasi) yang frekuensinya lebih rendah, sehingga
FREQUENCY HOPPING SPREAD SPECTRUM TRANSMITTER DENGAN PSEUDO NOISE CODE
FREQUENCY HOPPING SPREAD SPECTRUM TRANSMITTER DENGAN PSEUDO Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer UKSW Jalan Diponegoro 52-60, Salatiga 50711 Email: [email protected]
PENGUAT EMITOR BERSAMA (COMMON EMITTER AMPLIFIER) ( Oleh : Sumarna, Lab-Elins Jurdik Fisika FMIPA UNY )
PERCOBAAN PENGUAT EMITOR BERSAMA (COMMON EMITTER AMPLIFIER) ( Oleh : Sumarna, Lab-Elins Jurdik Fisika FMIPA UNY ) E-mail : [email protected] PENGANTAR Konfigurasi penguat tegangan yang paling banyak digunakan
BAB II TEORI DASAR. Propagasi gelombang adalah suatu proses perambatan gelombang. elektromagnetik dengan media ruang hampa. Antenna pemancar memang
BAB II TEORI DASAR 2.1. PROPAGASI GELOMBANG Propagasi gelombang adalah suatu proses perambatan gelombang elektromagnetik dengan media ruang hampa. Antenna pemancar memang didesain untuk memancarkan sinyal
BAB III PERANCANGAN ALAT
BAB III PERANCANGAN ALAT 3.1. Blok diagram Dibawah ini adalah gambar blok diagram dari sistem audio wireless transmitter menggunakan laser yang akan di buat : Audio player Transmitter Speaker Receiver
BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN RANGKAIAN
BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN RANGKAIAN 3.1. Blok Diagram Sistem Untuk mempermudah penjelasan dan cara kerja alat ini, maka dibuat blok diagram. Masing-masing blok diagram akan dijelaskan lebih rinci
LAPORAN PRAKTIKUM PRAKTEK TV DAN DISPLAY BLOK TUNER DONAL INDRA 05 / / 3E2
LAPORAN PRAKTIKUM PRAKTEK TV DAN DISPLAY BLOK TUNER DONAL INDRA 0 / 64 / E JURUSAN ELEKTRONIKA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI PADANG 008 FT UNP Padang Lembaran : Job Sheet Jurusan : Pend. TeElektronika
LEMBAR PENGESAHAN : TEKNOLOGI INDUSTRI / TEKNIK ELEKTRO. Jakarta, Februari Menyetujui dan Mengesahkan, Pembimbing. ( DR. Ing.
LEMBAR PENGESAHAN Judul Tugas Akhir : Rangkaian Audio TV Konverter NIM : 01498 023 Fakultas/Jurusan Peminatan : TEKNOLOGI INDUSTRI / TEKNIK ELEKTRO : Telekomunikasi Jakarta, Februari 2006 Menyetujui dan
BAB III PERANCANGAN SISTEM
BAB III PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini akan dijelaskan tentang perancangan perangkat keras dari tugas akhir yang berjudul Penelitian Sistem Audio Stereo dengan Media Transmisi Jala-jala Listrik. 3.1.
REALISASI TV MODULATOR UNTUK PEMANCAR TV VHF PADA PITA FREKUENSI 174 MHz 202 MHz
REALISASI TV MODULATOR UNTUK PEMANCAR TV VHF PADA PITA FREKUENSI 174 MHz 202 MHz Realization Of TV Modulator For VHF TV Transmitter At Band Frequency 174 MHz 202 MHz PROYEK AKHIR untuk memenuhi sebagian
Latihan Soal dan Pembahasan SOAL A
Latihan Soal dan Pembahasan SOAL A 1. Jelaskan jenis-jenis modulasi digital? 2. Apa keuntungan modulasi FM jika dibandingkan dengan modulasi AM? 3. Sebutkan interface mux SDH dan dapan menampung sinyal
Pengaruh Dimensi Kumparan Terhadap Efisiensi Energi Pada Sistem Pengiriman Daya Listrik Tampa Kabel
10 Pengaruh Dimensi Kumparan Terhadap Efisiensi Energi Pada Sistem Pengiriman Daya Listrik Tampa Kabel Syaifurrahman Staf Pengajar, Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura Pontianak
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rangkaian RLC merupakan suatu rangkaian elektronika yang terdiri dari Resistor, Kapasitor dan Induktor yang dapat disusun seri ataupun paralel. Rangkaian RLC ini merupakan
BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN ANALISIS
BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN ANALISIS 4.1. Topik 1. Rangkaian Pemicu SCR dengan Menggunakan Rangkaian RC (Penyearah Setengah Gelombang dan Penyearah Gelombang Penuh). A. Penyearah Setengah Gelombang Gambar
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gelombang Elektromagnetik Teori gelombang elektromagnetik pertama kali dikemukakan oleh James Clerk Maxwell (1831 1879). Hipotesis yang dikemukakan oleh Maxwell, mengacu pada
BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN ANALISA
BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN ANALISA 4.1 Amplitude Modulation and Demodulation 4.1.1 Hasil Percobaan Tabel 4.1. Hasil percobaan dengan f m = 1 KHz, f c = 4 KHz, A c = 15 Vpp No V m (Volt) E max (mvolt) E
TUGAS MATA KULIAH KAPITA SELEKTA Desain Sistem PLC 1 Arah Dosen: Bp. Binsar Wibawa
TUGAS MATA KULIAH KAPITA SELEKTA Desain Sistem PLC 1 Arah Dosen: Bp. Binsar Wibawa Disusun oleh: (Telkom Group) 1. Alwin Bahari 2. Aulya Rahman F 3. Firman Anggoro 4. Gunawan 5. Hafiz Maulana 6. Irfan
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 169 /DIRJEN/2002 T E N T A N G
KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI NOMOR : 169 /DIRJEN/2002 T E N T A N G PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEVISI SIARAN SISTEM ANALOG DIREKTUR JENDERAL POS DAN TELEKOMUNIKASI Menimbang
BAB II Transistor Bipolar
BAB II Transistor Bipolar 2.1. Pendahuluan Pada tahun 1951, William Schockley menemukan transistor sambungan pertama, komponen semikonduktor yang dapat menguatkan sinyal elektronik seperti sinyal radio
RANCANG BANGUN PENGUAT DAYA RF
Berkala Fisika ISSN : 141-966 Vol. 6, No. 3, Juli 3, hal. 55-6 RANCANG BANGUN PENGUAT DAYA RF Sapto Nugroho 1, Dwi P. Sasongko, Isnaen Gunadi 1 1. Lab. Elektronika dan Instrumentasi, Jurusan Fisika, UNDIP
APLIKASI MODULATOR VIDEO UNTUK SISTEM DISPLAY INFORMASI
APLIKASI MODULATOR VIDEO UNTUK SISTEM DISPLAY INFORMASI Application of Video Modulator for Information Display System PROYEK AKHIR Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan pendidikan
ELECTROMAGNETIC WAVE AND ITS CHARACTERISTICS
WIRELESS COMMUNICATION Oleh: Eko Marpanaji INTRODUCTION Seperti dijelaskan pada Chapter 1, bahwa komunikasi tanpa kabel menjadi pilihan utama dalam membangun sistem komunikasi dimasa datang. Ada beberapa
DTG2F3. Sistem Komunikasi MODULASI ANALOG. By : Dwi Andi Nurmantris
DTGF3 Sistem Komunikasi MODULASI ANALOG By : Dwi Andi Nurmantris Where We Are? OUTLINE MODULASI ANALOG 1. Penerapan Tranformasi Fourier dalam Sistem Komunikasi. Modulasi, Demodulasi, dan Kinerja Sistem
BAB II SISTEM KOMUNIKASI
BAB II SISTEM KOMUNIKASI 2.1 Sistem Komunikasi Digital Dalam mentransmisikan data dari sumber ke tujuan, satu hal yang harus dihubungkan dengan sifat data, arti fisik yang hakiki di pergunakan untuk menyebarkan
PENGERTIAN GELOMBANG RADIO
PENGERTIAN GELOMBANG RADIO PENGERTIAN GELOMBANG RADIO Sebelumnya kita bahas tentang Pengertian Radio Terlebih Dahulu. Radio adalah teknologi yang digunakan untuk pengiriman sinyal dengan cara Radiasi dan
MODULASI. Adri Priadana. ilkomadri.com
MODULASI Adri Priadana ilkomadri.com Pengertian Modulasi Merupakan suatu proses penumpangan atau penggabungan sinyal informasi (pemodulasi) kepada gelombang pembawa (carrier), sehingga memungkinkan sinyal
1. Perpotongan antara garis beban dan karakteristik dioda menggambarkan: A. Titik operasi dari sistem B. Karakteristik dioda dibias forward
1. Perpotongan antara garis beban dan karakteristik dioda menggambarkan: A. Titik operasi dari sistem B. Karakteristik dioda dibias forward C. Karakteristik dioda dibias reverse D. Karakteristik dioda
Pengkondisian Sinyal. Rudi Susanto
Pengkondisian Sinyal Rudi Susanto Tujuan Perkuliahan Mahasiswa dapat menjelasakan rangkaian pengkondisi sinyal sensor Mahasiswa dapat menerapkan penggunaan rangkaian pengkondisi sinyal sensor Pendahuluan
Rijal Fadilah. Transmisi & Modulasi
Rijal Fadilah Transmisi & Modulasi Pendahuluan Sebuah sistem komunikasi merupakan suatu sistem dimana informasi disampaikan dari satu tempat ke tempat lain. Misalnya tempat A yang terletak ditempat yang
