DATA BADAN PUSAT STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK MENCERDASKAN BANGSA
|
|
|
- Surya Kusumo
- 10 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 DATA MENCERDASKAN BANGSA BADAN PUSAT STATISTIK Jl. Dr. Sutomo No. 6-8 Jakarta 171, Kotak Pos 13 Jakarta 11 Telepon : (21) , , , Fax. : (21) BADAN PUSAT STATISTIK
2 TEKNIK PENYUSUNAN TABEL INPUT-OUTPUT Nomor Katalog : ISBN : Nomor Publikasi: Naskah : DIREKTORAT NERACA PRODUKSI DIREKTORAT NERACA PENGELUARAN Gambar Kulit : SUBDIREKTORAT KONSOLIDASI NERACA PRODUKSI NASIONAL Diterbitkan oleh : BADAN PUSAT STATISTIK Dicetak oleh : CV. Putra Sejati Raya.
3 Kata Pengantar Konsep pembangunan ekonomi secara terpadu ternyata telah berkembang menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditawar lagi. Seiring dengan hal tersebut maka kebutuhan terhadap informasi dan atau alat analisis yang dapat digunakan untuk melihat keterkaitan antar sektor ekonomi pun menjadi semakin penting. Salah satu jenis data yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan ini adalah data yang dimuat dalam kerangka tabel input-output. Tabel input-output sebagai sistem penyajian data sebenarnya telah mulai dikembangkan pada dekade 193-an oleh Profesor Wasilly Leontief. Akan tetapi minat terhadap penggunaan tabel ini berikut kerangka analisisnya baru benar-benar meningkat pada dekade 197-an. Tabel input-output sebenarnya hanyalah merupakan sistem pencatatan setiap transaksi barang dan jasa yang terjadi antar sektor ekonomi dan selanjutnya dapat dijadikan sebagai dasar dalam melakukan analisis keterkaitan antar sektor dalam melakukan kegiatan produksi. Kemampuan terakhir inilah yang merupakan salah satu keunggulan tabel input-output. Sampai saat ini memang masih relatif sulit untuk menemukan referensi tentang tabel dan model input-output. Oleh karena itu salah satu tujuan dari penulisan buku ini adalah untuk memperkaya referensi tentang tabel inputoutput, khususnya dalam hal teknik penyusunannya. Buku ini pada dasarnya dapat dianggap sebagai pelengkap dari Kerangka Teori dan Analisis Tabel Input-Output yang sebelumnya telah diterbitkan oleh BPS. Bab-bab yang dimuat sebenarnya merupakan kumpulan bahan yang telah disajikan dalam berbagai pelatihan tentang tabel input-output, baik yang diselenggarakan di BPS maupun di instansi lain. Oleh karena itu kepada para pengajar dari Direktorat Neraca Produksi dan Direktorat Neraca Pengeluaran Badan Pusat Statistik yang telah menuangkan berbagai bahan pengajaran mereka ke dalam bentuk tulisan diucapkan banyak terima kasih. Akhirnya kepada para pihak yang telah membantu dan berperan dalam mewujudkan buku ini diucapkan terima kasih. Disadari masih banyak kekurangan yang terdapat di dalam buku ini. Oleh karenanya kami sangat mengharapkan segala bentuk kritik dan saran untuk perbaikan. Begitu pun diharapkan buku ini dapat bermanfaat. Jakarta, November 28 Tim Penyusun
4 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... Halaman i BAB 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Sistematika Penyajian... 5 BAB 2. KERANGKA TABEL INPUT-OUTPUT... 7 BAB Kerangka Dasar Tabel Input-Output Jenis-jenis Tabel Transaksi Tabel Transaksi Atas Dasar Harga Pembeli Tabel Transaksi Atas Dasar Harga Konstan Tabel Transaksi Domestik Atas Dasar Harga Pembeli Tabel Transaksi Domestik Atas Dasar Harga Produsen Konsep dan Definisi PROSEDUR UMUM DAN PENDEKATAN PENYUSUNAN TABEL INPUT-OUTPUT Prosedur Umum Persiapan Penaksiran Isian Sel Tabel Input-Output Rekonsiliasi Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output Pendekatan Langsung (Metode Survei) Pendekatan Tak Langsung iii BAB 4. PENYUSUNAN TABEL INPUT-OUTPUT: TEKNIK ESTIMASI PERMINTAAN ANTARA Survei yang Diperlukan Survei Khusus Input-Output (SKIO) Non-SKIO Estimasi Output dan Struktur Input Sektoral Sektor Pertanian Sektor Pertambangan dan Penggalian Sektor Industri Pengolahan Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih Sektor Konstruksi Sektor Perdagangan, restoran dan hotel Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Sektor Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan Sektor Jasa-jasa BAB 5. PENYUSUNAN TABEL INPUT-OUTPUT: TEKNIK ESTIMASI PERMINTAAN AKHIR DAN IMPOR Estimasi Permintaan Akhir dan Impor Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Bruto Perubahan Inventori Ekspor Impor iii iv
5 BAB 6. PENYUSUNAN TABEL INPUT-OUTPUT: PROSES REKONSILIASI DAN PENYUSUNAN TABEL TRANSAKSI HARGA PRODUSEN Proses Rekonsiliasi (Penyeimbang Sisi kolom dan Sisi Baris) Ilustrasi Proses Rekonsiliasi Tahap dan Jenis Pelaksanaan Proses Rekonsiliasi Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen BAB 9. TABEL INPUT-OUTPUT REGIONAL Tabel Input-Output Satu Region Teknik Penyusunan Permasalahan Tabel Input-Output Antar Region Kerangka Dasar Tabel Input-Output Antar Region DAFTAR PUSTAKA BAB 7. TEKNIK PENYUSUNAN TABEL INPUT-OUTPUT: METODE TIDAK LANGSUNG Metode Non-Survei Teknik Penyusunan Tabel Input-Output dengan Metode Non-Survei Contoh Penerapan Metode Semi-Survei Teknik Penyusunan Tabel Input-Output dengan Metode Semi-Survei Contoh Penerapan BAB 8. PERLAKUAN KHUSUS Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Pemerintah Perlakuan Subsidi Produk Ikutan dan Sampingan Perlakuan Barang Bekas dan Apkiran Perbedaan Statistik (Statistical Discrepancy) v vi
6 Bab 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Pendahuluan Buku ini dimaksudkan untuk membahas tentang pendekatan dan teknik dalam menyusun suatu tabel input-output dan merupakan pelengkap dari buku yang telah diterbitkan BPS sebelumnya mengenai kerangka teori dan analisis tabel input-output. Berdasarkan hal ini maka pembahasan yang dilakukan akan lebih banyak tentang prosedur dan cara melakukan penaksiran atau estimasi dari isian sel-sel yang ada dalam suatu tabel inputoutput. Walaupun demikian kerangka teori dan pengertian dasar tabel inputoutput tetap akan dibahas secara ringkas, terutama pada beberapa bab awal. Tabel input-output pada dasarnya hanyalah merupakan suatu sistem pencatatan ganda (double entry system) dari neraca transaksi yang terjadi antar produsen dalam suatu perekonomian. Jadi, tabel input-output sama sekali bukan merupakan model atau perangkat yang mampu memberikan informasi secara rinci tentang berbagai inventori dan arus (flow) barang dan jasa yang terjadi pada suatu entitas ekonomi. Akan tetapi dengan menggunakan asumsi sederhana memang dapat disusun dan dikembangkan suatu model ekonomi yang cukup andal. Kenyataan terakhir inilah yang menjadikan tabel input-output diperhitungkan sebagai salah satu bagian dari sistem neraca nasional yang dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan suatu analisis ekonomi secara komprehensif. Tabel input-output sebagai suatu sistem penyajian data dikembangkan pertama kali oleh Profesor Wassily Leontief pada akhir dekade 193-an. Pengembangan sistem tersebut berikut kerangka analisisnya bahkan telah menghantarkan Profesor Leontief sebagai penerima Hadiah Nobel untuk bidang ekonomi pada tahun Berdasarkan kerangka yang dikembangkan oleh Leontief, informasi yang dimuat dalam suatu tabel inputoutput pada hakekatnya merupakan transaksi barang dan jasa yang terjadi antar industri atau sektor ekonomi di suatu perekonomian. Inilah yang menyebabkan tabel input-output populer juga disebut sebagai tabel transaksi antar industri. Pemberian nama terakhir ini sejalan dengan tujuan dasar dari penyusunan suatu tabel input-output, yaitu untuk melakukan analisis saling ketergantungan atau keterkaitan antar industri dalam suatu perekonomian. Tabel input-output pada dasarnya disusun berdasarkan data ekonomi dari suatu wilayah geografis tertentu (negara, provinsi, kabupaten/kodya dan sejenisnya) untuk suatu periode waktu tertentu (tahun, semester, triwulan, bulan dan sejenisnya). Informasi yang ada selanjutnya disajikan dalam bentuk matriks dan dapat digunakan untuk mengamati suatu kegiatan atau sekelompok kegiatan yang sekaligus bertindak sebagai produsen barang dan jasa (output) dan sebagai konsumen dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh industri lain (input). Dalam praktek, banyaknya sektor atau industri yang digunakan dalam penyusunan suatu tabel input-output dapat bervariasi, tergantung pada ketersediaan data, dana dan waktu. Jika data yang tersedia cukup rinci, maka dapat disusun tabel input-output dengan jumlah sektor relatif banyak. Begitupun jika dana yang tersedia terbatas, maka jumlah sektor tersebut harus dikurangi sesuai dengan kemampuan untuk membiayai pengolahan datanya. Begitu pula waktu yang tersedia juga dapat mempengaruhi penentuan jumlah sektor, karena umumnya semakin banyak sektor yang digunakan akan semakin lama pula waktu yang diperlukan untuk melakukan pengolahan. Informasi dasar yang sangat penting dalam analisis input-output adalah tentang arus produk dari setiap sektor yang diperlakukan sebagai produsen ke masing-masing sektor yang bertindak sebagai konsumen. Dalam tabel input-output, informasi ini berada pada kuadran 1 atau tabel transaksi antara. Informasi sepanjang baris pada tabel ini menjelaskan distribusi produk atau output suatu sektor ke seluruh sektor ekonomi yang ada, sementara 1 2
7 Bab 1. Pendahuluan kolomnya menunjukkan komposisi input yang diperlukan untuk melakukan kegiatan produksi di suatu sektor tertentu. Berdasarkan informasi dasar inilah kemudian dapat dikembangkan suatu model yang dapat digunakan untuk melakukan analisis saling ketergantungan antar industri. Sehingga dengan mudah, misalnya, dapat diketahui dampak dari perubahan output (kapasitas produksi) terhadap output sektor lain. Barangkali kenyataan inilah yang membuat tabel input-output semakin banyak diminati oleh para analis dan perencana ekonomi akhir-akhir ini. Tabel input-output untuk Indonesia sebenarnya sudah dikembangkan sejak tahun 1969, yaitu ketika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mulai melakukan exercise untuk menyusun Tabel Input-Output Indonesia 1969 melalui metode tidak langsung atau non-survey method. Selanjutnya BPS bekerjasama dengan Bank Indonesia dan Institute of Developing Economics (IDE)-Jepang menyusun Tabel Input-Output Indonesia 1971 dengan metode langsung, yaitu pengumpulan datanya dilakukan secara langsung melalui berbagai survei. Sejak saat itulah Tabel Input-Output secara berkesinambungan disusun BPS untuk setiap periode lima tahunan. Jadi sampai saat ini BPS telah menyusun Tabel Input-Output Indonesia untuk tahun 1975, 198, 1985, 199, 1995, 2 dan 25. Disamping itu BPS telah beberapa kali melakukan updating (penyusunan tabel input-output melalui cara tidak langsung) yaitu tahun 1988, 1993, 1998 dan terakhir 23. Pada awalnya penggunaan model input-output untuk perencanaan dan analisis ekonomi kurang diminati oleh para analis dan praktisi perencana pembangunan di Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh relatif kecilnya animo terhadap tabel-tabel input-output yang dihasilkan oleh BPS. Kebanyakan pengguna dari tabel-tabel tersebut justru lembaga-lembaga internasional dan konsultan asing. BPS telah melakukan berbagai upaya untuk memperkenalkan penggunaan model input-output, antara lain dengan menyelenggarakan berbagai pelatihan, khususnya bagi tenaga-tenaga teknis dari departemen maupun dari BPS sendiri. Seiring dengan upaya tersebut dan munculnya kebutuhan terhadap instrumen perencanaan yang bersifat lintas sektoral, maka sejak awal 198-an minat terhadap model input-output mulai meningkat. Model-model input-output yang diimplementasikan dalam analisis ekonomi antara lain adalah analisis dampak kegiatan pariwisata, APBN dan ekspor terhadap perekonomian. Implementasi lain adalah untuk melakukan analisis dampak pertumbuhan ekonomi terhadap penggunaan sumber daya alam, teknologi dan lingkungan. Di tingkat internasional, BPS bekerjasama dengan IDE telah menyusun tabel input-output bilateral Indonesia-Jepang, untuk tahun 1975, 1985 dan 199. Dengan menggunakan tabel-tabel ini maka dapat dikembangkan model input-output bilateral yang dapat digunakan untuk mengukur dampak kebijaksanaan ekonomi di suatu negara terhadap perekonomian negara lain. Bahkan sejak tahun 1999, atas kerja sama BPS dengan IDE-Jepang, telah dikembangkan tabel input-output multilateral untuk tahun 1995, 2 dan 25 yang meliputi 1 negara dan rest of the world (ROW). Pada tingkat regional, kebutuhan model input-output sebagai alat perencanaan pembangunan dan analisis ekonomi juga mulai muncul. Kondisi ini didukung oleh meningkatnya kebutuhan terhadap data dan alat analisis yang memadai untuk menyusun perencanaan pembangunan regional. Apalagi dengan semakin kuatnya arus disentralisasi melalui kebijakan otonomi daerah, tuntutan kebutuhan terhadap alat analisis yang handal akan semakin meningkat. Dengan demikian suka atau tidak, perencanaan pembangunan regional harus mampu merefleksikan proses desentralisasi perencanaan di satu pihak dan bottom-up planning di lain pihak. Tentu saja dengan tetap memperhatikan tujuan dan sasaran pembangunan nasional. Salah satu model yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut adalah model input-output regional. Melalui model ini antara lain dapat dilakukan analisis terhadap struktur dan keterkaitan ekonomi antar sektor di dalam suatu region tertentu atau keterkaitan dengan sektor di region lain bahkan dengan luar negeri. Untuk maksud tersebut, sejumlah provinsi telah mencoba melakukan penyusunan tabel input-output regional. Sebagian kecil dari tabel input-output provinsi tersebut disusun dengan metode langsung 3 4
8 Bab 1. Pendahuluan (survey technique), dan sebagian besar justru masih menggunakan metode tidak langsung. Saat ini hampir semua provinsi telah berhasil menyusun tabel input-outputnya masing-masing, walaupun diakui masih banyak hambatan dan keterbatasan. Sampai saat ini penggunaan model input-output baik di tingkat nasional maupun regional tampak masih menghadapi berbagai kendala. Pertama, kurangnya pemahaman terhadap manfaat dan jenis-jenis model input-output yang dapat dikembangkan telah mengakibatkan kurangnya apresiasi terhadap model input-output. Disamping itu, sebagai produsen tabel inputoutput, BPS baik di tingkat pusat maupun daerah juga menghadapi kendala sumber daya manusia dalam menyusun tabel input-output. Kendala lain adalah masih adanya perbedaan dalam hal rincian dan kelengkapan data antara nasional dan daerah. Masih dijumpai adanya ketidakseragaman dalam penggunaan metode dan pendekatan antara satu daerah dengan daerah lainnya dan antara daerah dengan nasional, termasuk perbedaan dalam penggunaan data. Salah satu tujuan dari penyusunan buku ini adalah untuk mengurangi berbagai kendala yang telah disebutkan. Diharapkan buku ini dapat menjadi salah satu referensi utama, terutama bagi para penyusun tabel input-output atau para peminat lain. Tujuan ini penting mengingat sampai saat ini belum banyak referensi tentang input-output, khususnya tentang cara penyusunan tabel input-output. 1.2 Sistematika Penyajian Selain Bab 1, buku ini memuat 8 bab lainnya. Pada Bab 2 akan diuraikan tentang kerangka dan pendekatan dalam menyusun tabel input-output. Pembahasan antara lain mencakup konsep dan definisi penting yang digunakan dalam tabel input-output, jenis-jenis tabel transaksi yang biasa disajikan dan asumsi serta keterbatasan dari model yang dikembangkan berdasarkan suatu tabel input-output. Sementara itu Bab 3 menjelaskan tentang prosedur umum dan pendekatan penyusunan tabel input-output. Pembahasan dimulai dengan teknik penyusunan klasifikasi sektor dan dilanjutkan dengan cara melakukan estimasi terhadap isian sel-sel tabel input-output. Dalam bab ini didiskusikan pula secara ringkas beberapa metode yang biasa digunakan dalam penyusunan tabel input-output, yaitu metode langsung dan metode tak langsung. Diskusi lebih jauh tentang teknik penyusunan tabel input-output dengan metode langsung berturut-turut dilakukan pada Bab 4, 5 dan 6. Bahasan pada Bab 4 adalah cara melakukan estimasi permintaan antara. Sementara estimasi permintaan akhir dan impor dibahas pada Bab 5. Setelah estimasi tersebut, maka perlu dilakukan rekonsiliasi agar diperoleh tabel input-output yang konsisten. Pembahasan tentang teknik rekonsiliasi ini disajikan pada Bab 6 Sementara pada Bab 7 diuraikan tentang teknik penyusunan tabel inputoutput dengan metode tak langsung. Pembahasannya antara lain mencakup model-model yang dapat digunakan, data atau informasi yang diperlukan serta mekanisme penyusunan tabel, baik untuk teknik non-survei maupun semi-survei. Bab 8 secara khusus membahas tentang beberapa perlakuan khusus yang diperlukan sehubungan dengan alternatif yang akan ditempuh baik dalam penyusunan maupun penyajian tabel. Perlakuan khusus dimaksud mencakup pengeluaran konsumsi rumah tangga, sektor pemerintah, barang bekas dan apkiran, subsidi dan produk sampingan. Sebagai bab terakhir, diskusi pada Bab 9 adalah tentang tabel inputoutput Regional, baik untuk tabel input-output suatu region (intra regional) maupun tabel input-output antar region (inter regional). Walaupun secara umum teknik penyusunan tabel input-output regional sama dengan tabel input-output nasional, namun ada beberapa hal yang berbeda. Penekanan bahasan pada bab ini adalah pada teknik penyusunan dan berbagai masalah berikut upaya penyelesaiannya. 5 6
9 Bab 2. Kerangka Tabel Input-Output Tabel input-output pada dasarnya merupakan sistem penyajian data statistik tentang transaksi barang dan jasa antar sektor ekonomi yang terjadi di suatu wilayah. Namun demikian, tabel input-output tidak mampu memberikan informasi tentang persediaan dan arus barang dan jasa secara rinci menurut komoditi. Semua informasi yang dimuat oleh suatu tabel inputoutput terbatas pada informasi untuk sektor ekonomi, yang merupakan gabungan dari berbagai kegiatan ekonomi atau komoditi. Akan tetapi dengan segala keterbatasannya, tabel input-output tetap merupakan sumber informasi yang komprehensif dalam melakukan berbagai analisis ekonomi. Berdasarkan tabel input-output antara lain dapat dikembangkan suatu model yang selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam melakukan evaluasi, analisis dan perencanaan pembangunan di bidang ekonomi. Kerangka Tabel Input-Output Untuk memberikan gambaran tentang cara penyajian dan menginterpretasikan informasi yang disajikan dalam suatu tabel input-output, pada bab ini akan diuraikan tentang kerangka dasar tabel input-output, jenisjenis tabel transaksi serta beberapa konsep dan definisi pokok yang pada umumnya digunakan dalam penyusunan tabel input-output. 2.1 Kerangka Dasar Tabel Input-Output Tabel input-output disajikan dalam bentuk matriks, yaitu sistem penyajian data yang menggunakan dua dimensi: baris dan kolom. Isian sepanjang baris tabel input-output menunjukkan pengalokasian/pendistribusian dari output yang dihasilkan oleh suatu sektor dalam memenuhi permintaan antara oleh sektor lainnya dan permintaan akhir. Sedangkan isian sepanjang kolom menunjukkan struktur input yang digunakan oleh masing-masing sektor dalam kegiatan produksinya. Sesuai dengan sifat dan jenis transaksinya, secara umum matriks yang disajikan dalam tabel input-output dapat dikelompokkan menjadi 4 sub matriks (kuadran) dengan kerangka penyajian seperti pada tabel 2.1 berikut : Tabel 2.1 Kerangka Penyajian Tabel Input-Output Kuadran I Kuadran II (n x n) (n x m) Kuadran III Kuadran IV (p x n) (p x m) Keterangan : Simbol-simbol di dalam tanda kurung menunjukkan ukuran (ordo) matriks pada kuadran yang bersangkutan. Simbol pertama adalah banyaknya baris dan simbol kedua adalah banyaknya kolom. Isian dari kuadran I adalah informasi tentang transaksi barang dan jasa yang digunakan dalam kegiatan produksi. Kuadran I sering disebut juga sebagai input/permintaan antara untuk menegaskan bahwa semua transaksi pada kuadran ini hanya merupakan "antara" untuk diproses lebih lanjut, dan bukan untuk keperluan konsumsi akhir. Dengan demikian jelas, bahwa kuadran ini menunjukkan saling keterkaitan antar sektor ekonomi dalam melakukan kegiatan produksi. Isian sepanjang baris pada kuadran I 7 8
10 Bab 2. Kerangka Tabel Input-Output menunjukkan alokasi output yang dihasilkan oleh suatu sektor dan digunakan sebagai input oleh sektor-sektor produksi. Sedangkan isian sepanjang kolomnya menunjukkan struktur penggunaan/input oleh suatu sektor yang diperoleh dari output sektor lainnya. Sedangkan dalam kuadran II sekaligus dicakup dua jenis transaksi, yaitu transaksi permintaan akhir dan komponen penyediaan (supply). Permintaan akhir yang dimaksudkan dalam hal ini adalah permintaan atas barang dan jasa selain yang digunakan dalam kegiatan/proses produksi. Permintaan akhir pada umumnya dirinci lebih lanjut ke dalam komponen-komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap, perubahan inventori dan ekspor. Sedangkan yang dimaksud dengan penyediaan adalah semua barang dan jasa yang digunakan untuk memenuhi permintaan (baik permintaan antara maupun akhir). Komponen penyediaan terdiri dari impor, margin perdagangan dan biaya pengangkutan serta output dari sektor-sektor domestik. Jadi, isian sepanjang baris pada kuadran II menunjukkan komposisi permintaan akhir dan penyediaan di suatu sektor menurut jenis komponen. Sedangkan isian sepanjang kolom menunjukkan struktur masing-masing komponen permintaan akhir dan penyediaan menurut sektor. Sementara itu, informasi pada kuadaran III adalah tentang input primer atau nilai tambah bruto (NTB), sehingga kuadran ini sering disebut sebagai kuadran Nilai Tambah Bruto (NTB) atau input primer. Input primer adalah input atau biaya yang timbul karena pemakaian faktor produksi dan terdiri dari upah gaji, surplus usaha, penyusutan dan pajak tak langsung neto. Isian sepanjang baris kuadran III menunjukkan distribusi penciptaan komponen NTB menurut sektor. Sedangkan isian sepanjang kolom menunjukkan komposisi penciptaan NTB menurut komponennya di suatu sektor. Kuadran IV memuat informasi tentang input primer yang langsung didistribusikan ke sektor-sektor permintaan akhir. Informasi sepanjang baris kuadran IV menunjukkan alokasi komponen NTB menurut komponen permintaan akhir. Sedangkan informasi sepanjang kolom menunjukkan struktur NTB untuk setiap komponen permintaan akhir. Namun demikian, kuadran ini bukan merupakan tabel pokok dan untuk beberapa alasan dalam penyusunan tabel input-output Indonesia, kuadran ini diabaikan. Oleh karena tabel input-output pada hakekatnya merupakan suatu sistem pencatatan transaksi, maka dalam proses penyusunannya digunakan beberapa asumsi. Asumsi-asumsi dasar yang digunakan dalam penyusunan tabel input-output adalah: a. Homogenitas (homogeneity), yaitu asumsi bahwa satu sektor hanya akan menghasilkan satu jenis output dengan struktur input yang tunggal dan tidak ada substitusi otomatis antar output dari sektor yang berbeda. b. Proporsionalitas (proportionality), yaitu asumsi bahwa kenaikan penggunaan input oleh suatu sektor akan sebanding dengan kenaikan output yang dihasilkan oleh sektor tersebut. c. Aditivitas (additivity), yaitu asumsi bahwa jumlah pengaruh dari kegiatan produksi di berbagai sektor merupakan hasil penjumlahan dari setiap pengaruh pada masing-masing sektor tersebut. Asumsi ini sekaligus menegaskan bahwa pengaruh yang timbul dari luar sistem input-output diabaikan. Berdasarkan asumsi tersebut, maka model yang dikembangkan berdasarkan tabel input-output memiliki berbagai keterbatasan. Keterbatasan tersebut antara lain adalah pada rasio input yang diasumsikan konstan selama periode analisis. Akibatnya perubahan susunan input atau perubahan teknologi dalam kegiatan produksi tidak dapat dideteksi menggunakan model input-output. Di samping itu, asumsi-asumsi tersebut juga menegaskan bahwa pelipatgandaan input di suatu sektor akan menghasilkan pelipatgandaan 9 1
11 Bab 2. Kerangka Tabel Input-Output output yang sebanding. Artinya, peningkatan output di suatu sektor hanya disebabkan oleh peningkatan inputnya dan bukan dipengaruhi oleh faktorfaktor produksi yang digunakan seperti perubahan teknologi, peningkatan produktivitas faktor-faktor produksi dan lain sebagainya. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa perubahan harga dan kuantitas input dalam model input-output akan selalu sebanding dengan perubahan harga dan kuantitas outputnya. Walaupun model input-output mengandung berbagai kelemahan seperti yang telah diuraikan, namun model input-output masih tetap merupakan alat analisis yang handal dan bermanfaat. Terutama karena kemampuannya untuk digunakan dalam analisis ekonomi yang lengkap dan komprehensif. Untuk memperjelas gambaran tentang penyajian tabel input-output, berikut ini diberikan ilustrasi tabel input-output (Tabel 2.2) pada sistem perekonomian yang terdiri dari 3 sektor produksi, yaitu sektor 1, 2 dan 3. Alokasi Output Struktur Input Input Antara Tabel 2.2 Ilustrasi Tabel Input-Output Untuk 3 Sektor Produksi Permintaan Antara x 11 x 21 x 31 x 12 x 22 x 32 x 13 x 23 x 33 Input Primer V 1 V 2 V 3 Permintaan Akhir F 1 F 2 F 3 Impor M 1 M 2 M 3 Penyediaan Jumlah Output X 1 X 2 X 3 Isian sepanjang baris pada tabel tersebut memperlihatkan komposisi penyediaan dan permintaan pada suatu sektor. Penyediaan dapat berasal dari output domestik ( X i ) dan impor untuk produk sejenis ( M i ). Sedangkan permintaannya terdiri dari permintaan antara ( x ij ) dan permintaan akhir ( F i ). Isian sepanjang kolom tabel tersebut menunjukkan susunan input yang digunakan dalam proses produksi oleh suatu sektor. Input tersebut terdiri dari input antara ( x ij ) dan input primer (V i ). Sesuai dengan cara pengisian angka-angka dalam sistem matriks, maka angka-angka setiap sel pada tabel tersebut bermakna ganda. Angka pada sel di kuadran I (transaksi antara), misalnya x 12, dari sisi baris angka ini menunjukkan besarnya penyediaan di sektor 1 yang digunakan untuk memenuhi permintaan antara oleh sektor 2. Sedangkan dari sisi kolom, angka tersebut menunjukkan besarnya input sektor 2 yang diperoleh dari penyediaan sektor 1. Berdasarkan cara membaca angka di setiap sel tersebut, terlihat bahwa penyajian informasi dalam tabel input-output menunjukkan suatu jalinan yang saling berhubungan dari kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh setiap sektor. Sebagai contoh untuk sektor 1, jumlah penyediaannya adalah sebesar X 1 + M 1 dan dialokasikan untuk memenuhi permintaan antara oleh sektor 1, 2 dan 3 masing-masing sebesar x 11, x 12 dan x 13 ; sedangkan sisanya sebesar F1 digunakan untuk memenuhi permintaan akhir. Cara pengamatan yang sama berlaku juga untuk sektor 2 dan 3. Selanjutnya, dari uraian tersebut maka untuk setiap baris pada tabel 2.2 dapat disusun persamaan: Jumlah Input X 1 X 2 X 3 Keterangan: 1, 2 dan 3: kode sektor produksi
12 Bab 2. Kerangka Tabel Input-Output x x x x + x + x x + x 13 + x F 1 + F + F 2 3 = X 1 = X = X M 1 + M + M (2.1) x x x x + x + x x + x + x V 1 + V + V 2 3 = X 1 = X = X (2.4) Persamaan (2.1) selanjutnya dapat dituliskan dalam bentuk persamaan umum: atau di mana: x ij X i F i M i 3 j= 1 X x + F = X + M, untuk I = 1,2,3.. (2.2) i ij 3 = j= 1 i x ij i + F M i i i = Penyediaan sektor i yang digunakan oleh sektor j = Jumlah output (domestik) sektor i = Permintaan akhir terhadap sektor i = Impor pada sektor i... (2.3) Dengan melakukan pengamatan dari sisi kolom terhadap tabel 2.2 dapat diperoleh gambaran susunan input di masing-masing sektor produksi. Sebagai contoh, untuk sektor 1 jumlah input yang digunakan adalah sebesar X 1. Jumlah input tersebut terdiri dari input antara dan input primer. Besarnya input antara yang diperoleh dari sektor 1, 2 dan 3 masing-masing adalah sebesar x 11, x 21 dan x 31. Sedangkan input primernya adalah sebesar V 1. Dengan menggunakan cara yang sama dapat dilakukan pengamatan terhadap sektor 2 dan 3. Selanjutnya, berdasarkan pengamatan terhadap kolom-kolom di tabel 2.2 dapat diturunkan persamaan aljabar: atau dalam bentuk persamaan umum: di mana V j 3 j= 1 x + V = X ij j j, untuk j = 1,2,3.. (2.5) = Input primer (NTB) sektor j Sesuai dengan asumsi yang digunakan, pada tabel input-output berlaku bahwa jumlah input yang digunakan oleh suatu sektor harus sama dengan jumlah outputnya. Hal ini berarti n i= 1 n X i = X j= 1 j X = X i j, untuk i = j atau.. (2.6) Persamaan (2.6) tersebut merupakan persamaan dasar yang menjelaskan hubungan antara angka-angka yang disajikan dalam tabel input-output dengan angka Produk Domestik Bruto (PDB). Dari persamaan (2.3) dan (2.5) diperoleh: n n n n n = + - i=1 j=1 i=1 i=1 X i xij F i M i... (2.7a) i=1 n n n n = + j=1 i=1 j=1 X j xij V j... (2.7b) j=
13 Bab 2. Kerangka Tabel Input-Output Berdasarkan persamaan (2.6), maka i xi pada (2.7a) dapat di substitusikan ke dalam (2.7b), sehingga: n i=1 karena, n n j=1 n x ij n n n n n + F i - M i = xij + V i=1 xij = i n j n j n i x ij i=1 n n - = i=1 i=1 j=1 i=1 maka diperoleh: F i M i V j... (2.8) i=1 Sisi kanan pada persamaan (2.8) adalah jumlah NTB dari semua sektor perekonomian yang sebenarnya sama dengan angka Produk Domestik Bruto. Persamaan (2.8) hanya berlaku untuk sistem perekonomian secara keseluruhan dan tidak berlaku untuk masing-masing sektor. 2.2 Jenis-jenis Tabel Transaksi j=1 j Sedangkan pada transaksi domestik hanya mencakup transaksi barang dan jasa yang dihasilkan di wilayah dalam negeri (domestik). Di samping itu, penilaian atas transaksi yang disajikan dalam tabel inputoutput dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu penilaian atas dasar harga produsen dan atas dasar harga pembeli (konsumen). Jika penilaiannya dilakukan atas dasar harga produsen, maka nilai transaksinya hanya mencakup harga barang/jasa yang dibayarkan kepada produsen barang/jasa tersebut. Sedangkan nilai transaksi atas dasar harga pembeli disamping mencakup harga yang dibayarkan kepada produsen juga mencakup margin perdagangan dan biaya pengangkutan yang timbul dari kegiatan penyaluran barang/jasa dari produsen ke konsumennya. Berdasarkan uraian di atas, maka jenis-jenis tabel transaksi yang dapat disajikan dalam penyusunan tabel input-output akan terdiri dari (a) tabel transaksi total atas dasar harga pembeli, (b) tabel transaksi total atas dasar harga produsen, (c) tabel transaksi domestik atas dasar harga pembeli dan (d) tabel transaksi domestik atas dasar harga produsen. Penjelasan dari masing-masing jenis tabel transaksi tersebut secara ringkas adalah sebagai berikut Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, informasi yang disajikan pada kuadran I, II dan III tabel input-output adalah transaksi barang dan jasa antara sektor ekonomi. Berdasarkan hal ini maka tabel-tabel dalam ketiga kuadran, disebut juga sebagai tabel transaksi. Sesuai dengan lingkup pencatatannya, transaksi yang disajikan pada tabel input-output dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu transaksi total dan transaksi domestik. Transaksi total mencakup semua transaksi barang dan jasa, baik yang berasal dari impor maupun dari produk sektor domestik
14 Bab 2. Kerangka Tabel Input-Output Tabel Transaksi Total Atas Dasar Harga Pembeli Nilai transaksi yang disajikan pada tabel ini mencakup nilai transaksi dari seluruh barang/jasa (impor dan domestik) dan menggunakan dasar penilaian harga pembeli. Oleh karena itu pada tabel jenis ini, impor, margin perdagangan dan biaya pengangkutan diperlakukan sebagai kolom penyediaan. Oleh karena margin perdagangan dan biaya pengangkutan sudah dicakup pada setiap transaksi, maka tidak ada input antara yang berasal dari sektor perdagangan. Begitu juga input antara dari sektor pengangkutan, biaya pengangkutan selain biaya pengangkutan yang dicakup adalah seluruh biaya angkutan barang dagangan, seperti angkutan umum dan barang pindahan. Contoh penyajian tabel transaksi total atas dasar harga pembeli dapat dilihat pada tabel 2.3 berikut
15 Bab 2. Kerangka Tabel Input-Output Tabel Transaksi Total Atas Dasar Harga Produsen Nilai transaksi pada tabel ini juga mencakup nilai dari semua transaksi barang/jasa baik impor maupun domestik, akan tetapi harga yang digunakan untuk menilai transaksinya adalah harga produsen. Oleh karena setiap transaksi hanya mencakup harga produsen, maka margin perdagangan dan biaya pengangkutan diperlakukan sebagai input antara yang berasal dari sektor perdagangan dan biaya pengangkutan. Dengan demikian margin perdagangan dan biaya pengangkutan di kolom penyediaan nilainya akan sama dengan nol. Tabel transaksi total atas dasar harga produsen dapat diperoleh dari tabel transaksi total atas dasar harga pembeli setelah margin perdagangan dan biaya pengangkutan dikeluarkan dari setiap sel transaksinya. Contoh penyajian tabel transaksi total atas dasar harga produsen disajikan pada tabel
16 Bab 2. Kerangka Tabel Input-Output Tabel Transaksi Domestik Atas Dasar Harga Pembeli Setiap sel pada tabel jenis ini hanyalah transaksi atas barang dan jasa yang dihasilkan di wilayah dalam negeri (domestik) dan menggunakan dasar penilaian harga pembeli. Oleh karena setiap transaksinya hanya mencakup barang dan jasa domestik, maka kolom penyediaan yang berasal dari impor nilainya akan sama dengan nol. Untuk tetap menjaga keseimbangan jumlah input dan jumlah output, maka seluruh input yang berasal dari impor disajikan pada baris tersendiri. Contoh penyajiannya adalah seperti pada tabel
17 Bab 2. Kerangka Tabel Input-Output Tabel Transaksi Domestik Atas Dasar Harga Produsen Setiap nilai transaksi pada jenis tabel ini hanya mencakup barang/jasa domestik dan dinilai atas dasar harga produsen. Oleh karenanya kolom penyediaan dari impor dan margin perdagangan & biaya pengangkutan nilainya akan sama dengan nol. Tabel transaksi domestik atas dasar harga produsen dapat juga diperoleh dari tabel transaksi domestik atas dasar harga pembeli dengan mengeluarkan margin perdagangan dan biaya pengangkutan dari setiap transaksinya. Tabel transaksi domestik atas dasar harga produsen memiliki peran penting dalam analisis dengan model yang diturunkan dari tabel input-output, terutama karena transaksi pada jenis tabel ini benar-benar mencerminkan kegiatan ekonomi di suatu wilayah domestik yang dinilai dengan harga produsen. Contoh penyajian tabel transaksi domestik atas dasar harga produsen dapat dilihat pada tabel
18 Bab 2. Kerangka Tabel Input-Output 2.3 Konsep dan Definisi Beberapa konsep dan definisi dasar yang diperlukan dalam membaca informasi yang disajikan dalam suatu tabel input-output akan diuraikan secara ringkas berikut ini. Output Output adalah nilai dari seluruh produk (barang/jasa) yang dihasilkan oleh sektor produksi di suatu wilayah domestik. Oleh karena itu output sering juga disebut sebagai output domestik. Penghitungan output dilakukan dengan menjumlah nilai dari barang/jasa yang telah dihasilkan oleh suatu sektor tanpa membedakan pelaku produksinya. Jadi pelaku produksinya dapat berupa penduduk di wilayah domestik tersebut atau perusahaan dan penduduk asing. Seluruh produk barang dan jasa yang telah dihasilkan sebagai bagian dari output, tanpa memperhatikan apakah produk tersebut terjual atau tidak. Dalam proses penyusunan tabel input-output penghitungan output memiliki peran yang sangat penting yaitu sebagai Control Total ( CT ) yang nilainya harus dipertahankan dalam proses rekonsiliasi antar sektor. Oleh karena itu penghitungan output harus dilakukan dengan cermat dan teliti. Input Input adalah seluruh barang dan jasa yang diperlukan oleh suatu sektor dalam kegiatan produksinya. Input dibedakan menjadi dua, yaitu input antara dan input primer. Input antara adalah seluruh barang dan jasa yang digunakan habis dalam proses produksi. Barang dan jasa yang digunakan dalam proses produksi tersebut dapat berupa barang/jasa hasil produksi dalam negeri atau impor. Sedangkan input primer adalah balas jasa terhadap faktor-faktor produksi yang digunakan dalam kegiatan produksi. Input primer dalam prakteknya berupa upah/gaji, surplus usaha, penyusutan barang modal dan pajak tak langsung neto. Permintaan Akhir dan Impor Permintaan akhir adalah permintaan barang dan jasa yang digunakan untuk keperluan konsumsi akhir. Permintaan akhir terdiri dari pengeluaran konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap, perubahan inventori dan ekspor. Barang dan jasa yang digunakan untuk memenuhi permintaan akhir dapat berupa barang dan jasa hasil produksi domestik dan impor. Khusus untuk permintaan ekspor hanya boleh dipenuhi dari hasil produksi domestik. Sejalan dengan penjelasan tersebut jelas bahwa impor bukan merupakan komponen permintaan akhir, melainkan sebagai komponen penyediaan. Ekspor dan impor dalam konteks tabel input-output adalah transaksi yang terjadi antara penduduk di suatu wilayah tertentu dengan penduduk di luar wilayah tersebut. Namun demikian khusus untuk pembelian langsung yang dilakukan oleh penduduk ada perlakuan khusus. Pembelian langsung di pasar domestik oleh penduduk asing diperlakukan sebagai transaksi ekspor, sebaliknya pembelian langsung oleh penduduk suatu wilayah yang dilakukan di luar wilayah tersebut diperlakukan sebagai transaksi impor. Margin Perdagangan dan Biaya Pengangkutan Dalam praktek, produk yang dihasilkan oleh produsen pada umumnya melalui proses penyaluran terlebih dahulu agar dapat sampai ke produsen. Akibat dari proses penyaluran tersebut maka timbul selisih dari harga produk yang diterima oleh produsen dengan harga yang harus dibayar oleh pembeli (konsumen). Harga yang diterima oleh produsen disebut sebagai harga produsen dan harga yang dibayar oleh pembeli disebut harga pembeli. Margin perdagangan dan biaya pengangkutan adalah selisih harga pembeli dan harga produsen. Selisih tersebut mencakup keuntungan perdagangan dan biaya pengangkutan atas barang yang diperdagangkan dari produsen barang ke pembeli
19 Bab 3. Prosedur Umum dan Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output Prosedur Umum dan Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output Diagram 3.1 Prosedur Umum Penyusunan Tabel Input-Output 3. Persiapan: a. Penyusunan Tim Kerja b. Penyusunan Klasifikasi Sektor Diskusi dan pembahasan pada bab ini hanya dimaksudkan untuk memberikan gambaran secara umum tentang proses dan teknik yang dapat digunakan dalam menyusun suatu tabel input-output. Sedangkan pembahasan secara rinci akan dilakukan pada bab-bab berikutnya. Sejalan dengan tujuan ini maka pembahasan pada bab ini hanya mencakup prosedur umum dan metode atau pendekatan yang dapat digunakan dalam menyusun tabel input-output. 1. Estimasi: a. Output b. Input Antara c. Input Primer d. Permintaan Akhir dan Impor e. Ekspor 3.1 Prosedur Umum Secara umum tahapan penyusunan suatu tabel input-output adalah seperti yang disajikan pada diagram 3.1. Pertama, pada tahap persiapan disusun tim kerja dan klasifikasi sektor. Langkah berikutnya adalah melakukan penaksiran isian setiap sel dalam tabel input-output. Estimasi akan tabel input-output pada umumnya secara kolom terlebih dahulu, sehingga konsistensi isian secara baris belum tentu dapat terpenuhi. Untuk itulah perlu dilakukan proses rekonsiliasi yang tujuan utamanya untuk menyeimbangkan berbagai persamaan yang berlalu dalam suatu tabel inputoutput. 2. Proses Rekonsiliasi Penyeimbangan baris dan kolom Persiapan Seperti halnya kegiatan lain, penyusunan tabel input-output pun memerlukan persiapan agar seluruh proses dapat berjalan lancar. Persiapanpersiapan yang diperlukan dalam penyusunan tabel input-output antara lain 27 28
20 Bab 3. Prosedur Umum dan Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output mencakup penyusunan tim kerja, pembuatan klasifikasi sektor, penetapan jadwal kegiatan dan penyusunan anggaran. Dua hal terakhir, jadwal dan anggaran, sangat tergantung pada dua hal pertama, yaitu tim kerja dan klasifikasi sektor yang digunakan. Semakin banyak anggota tim yang dilibatkan akan semakin besar dana yang dibutuhkan, sekurang-kurangnya untuk balas jasa anggota tim. Begitu juga semakin banyak sektor yang akan digunakan akan semakin lama pula waktu yang diperlukan, di samping semakin banyak pula tim yang diperlukan. Berdasarkan kenyataan tersebut maka uraian lebih lanjut tentang tahap persiapan hanya akan dibatasi pada dua hal pertama, yaitu penyusunan tim kerja dan klasifikasi sektor. Bagi para pihak yang berminat untuk mengetahui lebih jauh tentang penyusunan jadwal dan anggaran dapat menggunakan bacaan lain sebagai acuan, misalnya berbagai buku yang membahas tentang manajemen proyek dan sejenisnya. a. Penyusunan Tim Kerja Pada bab-bab terdahulu telah dijelaskan bahwa tabel input-output pada hakekatnya hanyalah sebuah tabel yang memuat informasi tentang transaksi ekonomi antar pelaku ekonomi di suatu wilayah yang disajikan dalam bentuk matriks. Kenyataan tersebut menyiratkan dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam menyusun tim kerja dalam rangka menyusun suatu tabel input-output, yaitu transaksi ekonomi dan bentuk matriks. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa dalam penyusunan tabel input-output sekurangkurangnya diperlukan dua kelompok tenaga ahli, yaitu kelompok ahli ekonomi dan kelompok ahli pengolahan data. Masing-masing tim ahli ekonomi dalam penyusunan tabel input-output pada umumnya mempunyai tanggung jawab terhadap suatu sektor ekonomi tertentu, oleh karena itu mereka biasa juga disebut sebagai penanggung jawab sektor. Kualifikasi dasar yang diperlukan bagi seorang penanggung jawab sektor adalah pengetahuan tentang karakteristik dari sektor yang bersangkutan. Dalam bab-bab yang lalu telah pula dijelaskan bahwa setiap sel pada suatu tabel memiliki makna ganda, yaitu sebagai bagian output dari suatu sektor (informasi sepanjang baris) dan sebagai bagian dari input sektor yang bersangkutan (informasi menurut kolom). Sesuai dengan hal ini maka seorang penanggung jawab sektor sekurang-kurangnya dituntut untuk mengetahui secara logis susunan input dari sektor yang menjadi tanggung jawabnya. Sehingga penanggung jawab sektor yang bersangkutan dapat memutuskan apakah susunan input dari sektor yang diolahnya sudah layak atau belum. Begitu juga seorang penanggung jawab sektor harus mengetahui sektor-sektor apa saja yang menjadi konsumen dari output sektor yang menjadi tanggung jawabnya dan diharapkan mampu menilai kelayakan dari alokasi output sektor bersangkutan ke sektor-sektor ekonomi lain. Dengan kata lain, seorang tim ahli ekonomi yang terlibat dalam proses penyusunan tabel input-output dituntut untuk mengetahui karakteristik input dan output dari sektor-sektor yang menjadi tanggung jawabnya. Sesuai dengan uraian tersebut jelas bahwa banyaknya anggota dari tim ahli ekonomi yang diperlukan akan sangat tergantung dari banyaknya sektor ekonomi yang digunakan dalam tabel dan tingkat kapabilitas masing-masing anggota untuk menjadi penanggung jawab sektor. Seperti yang telah disebutkan, disamping ahli ekonomi dalam penyusunan tabel input-output diperlukan juga tim ahli pengolahan data. Banyaknya tim ahli pengolahan data untuk penyusunan tabel input-output pada umumnya sekitar dua atau tiga orang. Sedangkan kualifikasi dasar yang dibutuhkan adalah kemampuannya untuk mengolah data dalam bentuk matriks, yaitu sistem pengolahan data yang menggunakan dua dimensi, baris dan kolom. Dengan berkembangnya perangkat lunak komputer, terutama untuk melakukan pengolahan data dalam bentuk lembar-lembar kerja (spreadsheets), tuntutan kualifikasi ini relatif tidak sulit untuk dipenuhi. Sebab 29 3
21 Bab 3. Prosedur Umum dan Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output pada fasilitas yang disediakan oleh berbagai perangkat lunak sejenis ini, misalnya Excel atau Mini Tab, memungkinkan untuk melakukan pengolahan data dalam bentuk matriks menjadi mudah. b. Penyusunan Klasifikasi Sektor Penyusunan klasifikasi sektor merupakan tahap penting yang harus diselesaikan dengan baik dalam tahap persiapan. Hasil dari tahap ini akan menentukan dan mempengaruhi tahap pekerjaan berikutnya, termasuk akan mempengaruhi besar kecilnya tim yang diperlukan, jadwal penyelesaian dan anggaran yang diperlukan. Oleh karena itu penyusunan klasifikasi sektor dalam proses penyusunan tabel input-output pada umumnya justru dilakukan sebelum tim kerja terbentuk. Walaupun ada juga yang melakukannya secara simultan bersamaan dengan pembentukan tim kerja. Untuk memperoleh tabel input-output yang baik dan dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak, maka dalam proses penyusunan klasifikasi sektor perlu dipertimbangkan untuk melibatkan berbagai pihak, baik pihak penyedia data maupun pihak calon pengguna tabel. Tanpa melibatkan kedua pihak ini kemungkinan klasifikasi sektor yang dihasilkan justru tidak operasional atau kurang bermanfaat. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun klasifikasi sektor antara lain adalah peranan suatu komoditi dalam perekonomian, ketersediaan data dan berbagai kebijakan tentang komoditi strategis di wilayah perekonomian yang akan disusun tabel input-outputnya. Pertimbangan-pertimbangan tersebut selanjutnya dapat dijadikan sebagai dasar dalam menentukan apakah suatu komoditi dapat dijadikan suatu sektor ekonomi tersendiri atau harus digabungkan terlebih dahulu dengan komoditi lain. Dalam praktek penyusunan tabel input-output Indonesia yang dilakukan oleh BPS, pertimbangan utama yang digunakan adalah peranan suatu komoditi dalam perekonomian. Dalam hal ini peranan antara lain ditentukan dengan menggunakan parameter output, nilai tambah dan atau tingkat pentingnya suatu komoditi dalam perekonomian. Namun demikian pada umumnya pertimbangan terhadap peranan tersebut digabungkan dengn pertimbangan tentang ketersediaan data, sebab walaupun suatu komoditi memiliki peranan yang sangat penting tetapi jika datanya tidak memadai akan menimbulkan persoalan dalam proses penaksiran isian sel-sel untuk komoditi yang bersangkutan. Selain berbagai pertimbangan seperti yang telah diuraikan, untuk menetapkan eksistensi suatu kegiatan dalam tabel input-output juga mengikuti prinsip teknologi tunggal dalam proses produksi.teknologi tunggal yang dimaksudkan dalam hal ini adalah bahwa hanya ada satu teknologi atau cara yang digunakan untuk menghasilkan seluruh output oleh suatu sektor ekonomi. Atau dengan kata lain dalam satu sektor berlaku prinsip homogenitas output. Disamping itu hubungan antara output dengan input bersifat linier, artinya peningkatan output suatu sektor akan diikuti dengan peningkatan input yang sebanding. Penerapan prinsip dasar tersebut dalam penyusunan klasifikasi sektor untuk tabel input-output Indonesia diwujudkan dalam bentuk keseragaman komoditi dan atau aktivitas ekonomi dalam satu sektor ekonomi. Sayangnya, prinsip teknologi tunggal ternyata tidak selalu mudah diterapkan. Penciptaan suatu produk pada kenyataannya selalu memerlukan teknologi tersendiri. Akibatnya jika prinsip teknologi tunggal diterapkan, maka jumlah sektor dalam tabel input-output akan sama banyaknya dengan jenis produk yang dihasilkan oleh berbagai kegiatan produksi yang beroperasi di suatu wilayah. Hal ini berarti bahwa jumlah sektor dalam tabel input-output Indonesia harus mencapai puluhan ribu untuk mengakomodir seluruh produk yang dihasilkan oleh seluruh perekonomian Indonesia. Sudah barang tentu kondisi ini akan sangat menyulitkan pengolahan datanya, disamping kenyataan bahwa jumlah sektor yang digunakan dalam tabel input-output 31 32
22 Bab 3. Prosedur Umum dan Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output juga sangat mempengaruhi besarnya biaya, waktu dan data atau informasi harus disediakan. Itulah sebabnya penerapan prinsip teknologi tunggal untuk pembentukan sektor dalam tabel input-output harus dikompromikan dengan berbagai kondisi seperti ketersediaan data, dana dan waktu. Sebagai konsekwensi dari hal tersebut maka beberapa komoditi yang mempunyai sifat fisik serupa atau diproses dengan teknologi serupa dapat digabungkan menjadi satu sektor yang sama. Bahkan untuk beberapa sektor terpaksa tidak lagi menganut prinsip dasar, karena eksistensinya merupakan tempat penampungan dari komoditi atau teknologi yang heterogen sebagai sisa pilihan dari sektorsektor yang terbentuk sebelumnya. Sektor yang terakhir ini biasanya diberi nama Sektor Lainnya. Jadi, dengan menggunakan berbagai pertimbangan, prinsip dan berbagai kondisi lain akhirnya diharapkan dapat disusun suatu klasifikasi sektor dalam tabel input-output yang dapat memenuhi kebutuhan berbagai pihak. Baik pihak yang menggunakan tabel input-output sebagai basis data maupun sebagai bahan dasar untuk melakukan analisis perekonomian. Sejauh mungkin juga harus diupayakan agar klasifikasi sektor yang dihasilkan sudah merupakan hasil optimal setelah mempertimbangkan data yang tersedia serta tingkat ketelitian yang ingin dicapai. pengangkutan, perdagangan dan pemerintahan yang digunakan sebagai nama sektor adalah nama kegiatannya. Namun demikian dalam tabel inputoutput Indonesia yang dihasilkan oleh BPS, pemberian nama sektor sejauh mungkin diupayakan menggunakan nama komoditi, misalnya sektor industri semen menjadi sektor semen saja, tidak lagi mengandung kata industri. b.2 Prinsip Dasar Penyusunan Klasifikasi Disamping penggunaan prinsip teknologi tunggal, penyusunan klasifikasi atau pengelompokkan komoditi/kegiatan, harus memenuhi syarat beberapa syarat, yaitu a. Semua komoditi atau kegiatan perekonomian di suatu wilayah harus terbagi habis ke dalam sektor. Dengan kata lain tidak boleh ada satupun komoditi/kegiatan yang tidak masuk ke dalam salah satu sektor tertentu. b. Tidak ada penafsiran ganda terhadap penempatan suatu komoditi atau kegiatan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan pencatatan ganda terhadap transaksi ekonomi yang terjadi. c. Tidak ada keragu-raguan terhadap cakupan komoditi pada setiap sektor yang dibentuk. b.1 Sistem Pemberian Nama (Judul) Sektor Ada dua sistem yang dapat digunakan untuk memberikan nama atau judul sektor dalam tabel input-output, yaitu berdasarkan nama komoditi, berdasarkan jenis kegiatan atau aktivitas dan gabungan antara keduanya. Pemberian nama sektor pada kegiatan yang termasuk dalam lapangan usaha pertanian dan pertambangan pada umumnya didasarkan pada nama komoditi yang dihasilkan. Begitu juga pada sebagian lapangan usaha bangunan dan jasa-jasa. Sedangkan pada kegiatan ekonomi industri, Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, klasifikasi sektor tabel inputoutput dapat didasarkan pada: (a) komoditi, (b) aktivitas dan (c) gabungan antara komoditi dan aktivitas. Cara yang paling ideal sebenarnya adalah menempatkan satu jenis komoditi pada satu sektor. Namun hal itu tidak mungkin dilakukan karena jumlah sektor yang akan terbentuk akan menjadi terlalu banyak. Untuk memilih dan mengelompokkan komoditi atau aktivitas menjadi suatu sektor dengan cermat maka harus dilakukan dengan membuat daftar atau listing dari semua jenis komoditi yang ada lengkap dengan segala sifat
23 Bab 3. Prosedur Umum dan Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output sifat fisik dan teknologi pembuatannya. Akan tetapi untuk melakukan hal ini ternyata tidak mudah. Oleh sebab itu akan lebih mudah bila sistem klasifikasi tabel input-output diawali dan didasarkan pada klasifikasi yang sudah ada seperti Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI), Klasifikasi Komoditi Indonesia (KKI), International Standard of Industrial Clasification (ISIC) dan Harmonized System (HS). Cara kedua inilah yang pada umumnya digunakan untuk menyusun klasifikasi sektor dalam penyusunan tabel-tabel input-output di Indonesia. Struktur klasifikasi pada KBLI terdiri dari lima tingkat, tiap tingkat menunjukkan digit dan diberi kode nomor. Digit pertama menunjukkan sektor, digit kedua, ketiga, keempat dan kelima berturut-turut menunjukkan subsektor, golongan pokok, golongan dan subgolongan. Subgolongan merupakan kelompok terkecil yang masih mencapai tingkat homogenitas. Oleh karena klasifikasi tabel input-output didasarkan pada homogenitas komoditi atau aktivitas, maka pengambilan kelompok KBLI tidak hanya bertumpu pada salah satu tingkat, melainkan beranjak dari subsektor sampai ke subgolongan. Untuk penyusunan sektor-sektor pertanian pada umumnya digunakan sampai tingkat golongan. Sedangkan untuk sektor-sektor industri pengolahan digunakan sampai pada tingkat subgolongan. Sebagai contoh, golongan 1111 KBLI adalah pertanian padi dan dalam tabel input-output menjadi sektor padi (dalam tabel input-output Indonesia 25 kodenya adalah 1). Sementara subgolongan (KBLI, industri tepung terigu) menjadi sektor industri tepung terigu (kode 58 dalam tabel input-output Indonesia 25). c. Klasifikasi Sektor Berdasarkan Komoditi Penggunaan teknologi tunggal pada proses produksi biasanya menghasilkan satu jenis komoditi. Kalaupun hasilnya lebih dari satu jenis umumnya tidak mempunyai bobot yang sama dalam arti jika salah satu hasil merupakan produk utama, maka yang lainnya merupakan produk ikutan, sampingan atau tambahan. Kegiatan bercocok tanam ketela pohon misalnya, hanya menghasilkan satu produk utama yaitu umbi, tetapi di samping itu ada hasil ikutan berupa daun dan batang ketela. Walaupun teknologi yang digunakan pada usaha penanaman ketela pohon merupakan teknologi tunggal, ternyata hasilnya tidak tunggal, yaitu terdiri tiga jenis komoditi. Ketiga jenis komoditi tersebut dalam tabel input-output dihimpun dalam satu sektor. Pembentukan sektor kadang-kadang hanya ditentukan oleh keseragaman dalam cara penggunaan satu komoditi tanpa memperhatikan teknologi pembuatannya. Komoditi yang tergabung dalam sektor ini kadangkadang mempunyai fisik yang sangat berbeda, begitu pula cara melakukan kegiatannya. Contohnya sektor buah-buahan terdiri dari berbagai jenis komoditi utama antara lain durian, semangka dan pepaya. Cara menanam durian dan semangka sudah barang tentu sangat berbeda, begitu pula sifat fisiknya. Namun semua jenis komoditi buah-buahan dihimpun ke dalam sektor yang sama. Hal ini terpaksa dilakukan untuk menghindari terlampau banyaknya jumlah sektor input-output. Beragamnya teknologi yang digunakan dalam suatu sektor akan menyebabkan koefisien teknis menjadi kurang akurat, sehingga matriks pengganda yang dihasilkan juga menjadi kurang berdaya guna. Hal tersebut kerapkali tidak dapat dihindari, berhubung sangat banyaknya jenis komoditi dalam suatu sektor, khususnya produk-produk industri manufaktur. Dalam sektor kosmetik, misalnya, terdapat ratusan jenis komoditi, begitu pula pada sektor kimia dasar, obat-obatan, tekstil, insektisida dan sebagainya. Di samping sektor-sektor seperti tersebut di atas yang mempunyai bermacam-macam teknologi, terdapat pula beberapa sektor yang amat heterogen komoditinya baik sifat fisik maupun teknologi pembuatannya, yaitu sektor-sektor dengan sebutan perkebunan lainnya. Contohnya adalah sektor hasil perkebunan lainnya terdiri dari berjenis komoditi seperti kakao, panili 35 36
24 Bab 3. Prosedur Umum dan Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output sirih, nilam dan lain-lain. Sifat fisik dan teknologi penanaman kakao jelas berbeda dengan panili, tetapi tetap dihimpun dalam satu sektor. kecap, tahu atau tempe yang berdiri sendiri maka sektor industri pengolahan kedele tetap menjadi satu sektor. d. Klasifikasi Sektor Berdasarkan Aktivitas e. Klasifikasi Sektor Berdasarkan Aktivitas dan Komoditi Hasil dari suatu kegiatan pada umumnya terdiri dari beberapa jenis komoditi, dan dalam proses produksinya sering kali menggunakan beberapa teknologi. Kegiatan penyulingan minyak bisa dilakukan terhadap minyak bumi, minyak kayu putih, bahkan terhadap air. Teknologi yang digunakan untuk penyulingan minyak bumi, jauh berbeda dengan teknologi penyulingan minyak kayu putih, begitu pula hasilnya amat berbeda baik sifat fisik maupun cara penggunaannya. Bandingkan misalnya kerosin sebagai hasil dari pengilangan minyak bumi dengan minyak kayu putih. Makna aktivitas ditinjau dari urutan proses lebih dekat dengan jenis kegiatan perusahaan/usaha (enterprise, establishment), sehingga pembahasan tentang aktivitas selalu terkait dengan perusahaan. Produkproduk suatu perusahaan memang sangat beragam, namun tetap dapat ditentukan jenis komoditi tertentu sebagai produk utamanya. Komoditi di luar produk utama harus dapat dipindahkan (transfer out) ke sektor lain sesuai dengan jenis komoditinya. Sebagai contoh, yang dihasilkan pada perusahaan pupuk adalah pupuk, amoniak dan listrik. Dalam hal ini maka amoniak ditransfer ke sektor amoniak dan listrik ditransfer ke sektor listrik, sehingga perusahaan pupuk menjadi sektor tunggal yang hanya menghasilkan komoditi pupuk. Bagi suatu kegiatan/perusahaan yang menghasilkan sejumlah komoditi dengan sifat fisik tidak serupa dengan produk utama sektor lain, maka tidak perlu dilakukan transfer out. Komoditi-komoditi itu tetap tergabung dalam sektor yang sama. Contohnya industri pengolahan kedele menghasilkan tauco, kecap, tahu, tempe dan oncom. Sepanjang tidak ada sektor tauco, Cara menentukan sesuatu sektor berdasarkan aktivitas dan komoditi dilakukan apabila peran dari keduanya adalah sama. Misalnya industri semen akan menghasilkan semen, sehingga semen dimunculkan menjadi sektor karena pertimbangan kegiatan dan sekaligus komoditi. f. Klasifikasi Impor Barang-barang impor dikelompokkan ke dalam suatu sektor berdasarkan komoditi, selaras dengan komoditi-komoditi domestik. Sebagian komoditi impor, ditinjau dari segala aspek serupa dengan komoditi domestik, sebagian lainnya terdapat perbedaan-perbedaan. Pensil impor, misalnya, serupa dengan pensil dalam negeri, tetapi buah apel impor berbeda dengan buah apel dalam negeri. Barang-barang impor dapat dikenali dengan mempelajari keteranganketerangan pada klasifikasi HS, sedang barang-barang dalam negeri dikenali melalui KBLI/KKI. Berdasarkan matching klasifikasi-klasifikasi tersebut maka barang-barang impor dapat ditentukan dalam sektor input-output tertentu Penaksiran Isian Sel Tabel Input-Output Setelah klasifikasi sektor tabel input-output disusun, maka tahap kegiatan berikutnya adalah mengisi sel-sel sesuai dengan kerangka tabel input-output. Untuk keperluan tersebut maka ada beberapa informasi yang diperlukan. Untuk mengisi kuadran I dan III, misalnya, diperlukan data tentang output, input antara dan biaya primer (nilai tambah). Sedangkan untuk mengisi 37 38
25 Bab 3. Prosedur Umum dan Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output kuadran III harus tersedia data tentang konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal termasuk perubahan inventori dan eksporimpor. Dalam praktek, seluruh data yang diperlukan tersebut tidak selalu tersedia secara lengkap. Oleh karena itu diperlukan penaksiran atau estimasi agar semua sel tabel input-output dapat terisi. Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas tentang prosedur estimasi sel-sel tabel input-output beserta pengertiannya. a. Output Output adalah nilai dari seluruh produksi yang dihasilkan oleh sektorsektor produksi di suatu wilayah pada periode waktu tertentu. Produk dalam hal ini mencakup seluruh produksi yang dihasilkan tanpa memperhatikan apakah produk tersebut terjual atau tidak dalam periode perhitungan. Output disebut sebagai output domestik karena hanya mencakup produksi dalam suatu wilayah, tanpa melihat pelaku ekonominya. Produksi pada dasarnya dapat dibedakan antara produksi barang dan produksi jasa. Sektor-sektor yang wujud produksinya berupa barang adalah sektor primer (pertanian, pertambangan dan penggalian) dan sektor sekunder (industri, listrik, gas dan air minum). Sedangkan untuk sektor-sektor yang produksinya berwujud jasa sebagai sektor tersier yang antara lain mencakup kegiatan usaha perdagangan, pengangkutan, bank dan lembaga keuangan lainnya, pemerintahan dan jasa-jasa lainnya. Oleh karena itu penghitungan kedua wujud produksi tersebut memiliki ciri tersendiri. Untuk sektor-sektor produksi yang menghasilkan barang, penghitungan outputnya dapat dirumuskan: X i = Pi Qi di mana: X i = output sektor i P i = harga per unit produksi sektor i Q i = kuantitas (jumlah) sektor i Namun demikian dalam praktek sering dijumpai masalah, yaitu jumlah (kuantitas) produksi tidak diketahui. Untuk mengatasinya diperlukan suatu pendekatan dengan indikator produksi. Sebagai contoh, subsektor perikanan darat, terdapat indikator rata-rata produksi per bulan. Output perikanan darat dapat diperoleh dengan mengalikan produksi setahun (rata-rata produksi perbulan x bulan produksi) dengan harga tertimbang dari jenis ikan yang dibudidayakan. Secara lengkap metode estimasi penghitungan output setiap sektor akan dibahas pada Bab 4. Produk yang dihasilkan oleh suatu sektor dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan teknologi yang digunakan, yaitu produk utama, produk ikutan dan produk sampingan. Produk utama adalah hasil produksi yang memiliki nilai atau kuantitas yang dominan di antara produk yang dihasilkan lainnya. Produk ikutan adalah hasil produksi yang terbentuk secara otomatis pada saat menghasilkan produk utamanya dengan menggunakan metode tunggal. Sedangkan produk sampingan adalah produk yang dihasilkan sejalan dengan produk utama tetapi menggunakan teknologi yang terpisah. Misalnya, industri semen, untuk memenuhi kebutuhan listrik dan penciptaan outputnya, industri tersebut memproduksi listrik sendiri. Ada sebagian produk listrik yang dijual ke pihak lain, dan ini merupakan produk ikutan yang dalam penyusunan input-output akan tercakup ke dalam sektor listrik. Sementara penghitungan sektor-sektor yang produknya berupa jasa harus digunakan pendekatan lain, sebab tidak dengan mudah dapat dihitung banyaknya jasa yang dihasilkan berikut harganya. Pendekatan yang lazim digunakan untuk menghitung output dari sektor penghasil jasa adalah nilai jual dari jasa yang dihasilkan oleh masing-masing sektor. Jika pendekatan ini 39 4
26 Bab 3. Prosedur Umum dan Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output dirasa masih sulit maka digunakan pendekatan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan jasa yang bersangkutan. b. Input Antara Input antara adalah seluruh biaya yang dikeluarkan habis dalam proses produksi berupa bahan tidak tahan lama dan jasa. Barang dan jasa tersebut dapat diperoleh dari produksi dalam negeri maupun impor. Barang tidak tahan lama berupa barang yang habis dalam sekali pakai atau barang yang umur pemakaiannya kurang dari satu tahun. Sebagai contoh adalah bahan baku, bahan penolong, jasa asuransi, jasa perusahaan dan sebagainya. Penilaian atas pembelian barang dan jasa yang digunakan sebagai input antara dilakukan atas dasar harga pembeli, yaitu harga yang dibayarkan pada saat pembelian barang dan jasa tersebut. Dalam praktek penghitungan kita harus berhati-hati memisahkan biaya yang dikeluarkan oleh produsen, apakah termasuk dalam input antara, input primer atau pembentukan modal. Misalnya produsen memberi cuma-cuma atau harga lebih rendah dari pasar kepada pegawainya, sepanjang pengeluaran tersebut untuk kesejahteraan pegawai dimasukkan sebagai balas jasa pegawai (upah dan gaji). Perbaikan ringan atas barang-barang modal dicatat sebagai input antara, sedangkan pengeluaran untuk perbaikan berat atau rehabilitasi besar-besaran yang dapat memperpanjang usia pemakaian barang modal dikategorikan sebagai pembentukan modal bagi produsen. Secara rinci estimasi pengisian sel-sel pada struktur input antara sektoral akan dibahas bab 4. Struktur input antara di dalam kuadran I, tabel input-output dibentuk dari data/informasi yang diperoleh dari survei-survei yang dilakukan BPS maupun data penunjang lainnya. Di samping dari pendekatan survei, pembentukan komposisi input suatu sektor diperoleh dengan metode tak langsung yang dibahas pada Bab V. c. Input Primer Input primer adalah balas jasa atas pemakaian input yang berupa faktor produksi, terdiri dari tenaga kerja, tanah, modal dan kewiraswastaan. Input primer disebut juga nilai tambah bruto yang merupakan selisih antara output dan input antara. Komponen input primer dalam penyajian tabel input-output adalah upah/gaji, surplus usaha, penyusutan barang modal dan pajak tak langsung neto. Pada dasarnya nilai tambah bruto yang diciptakan oleh setiap sektor ekonomi dalam tabel input-output adalah Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) bila cakupan wilayahnya regional. PDB/PDRB diperoleh dengan menjumlahkan nilai tambah sektoral dengan pajak penjualan impor dan bea masuk yang sebenarnya merupakan bagian dari nilai tambah sektoral identik dengan PDB/PDRB maka penghitungannya ada beberapa pendekatan: 1. Menurut pendekatan produksi, yaitu jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit/produksi di suatu wilayah dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Pendekatan unit-unit produksinya adalah setiap sektor yang tercakup dalam klasifikasi sektor tabel input-output. 2. Menurut pendekatan pendapatan, merupakan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang ikut serta dalam proses produksi di suatu wilayah dalam periode waktu tertentu. Komponen nilai tambah dari pendekatan ini adalah upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan atas barang modal dan pajak tak langsung neto. 3. Menurut pendekatan pengeluaran, yaitu semua komponen permintaan akhir, seperti: a) pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta yang tidak mencari untung, b) komsumsi pemerintah, c) 41 42
27 Bab 3. Prosedur Umum dan Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output pembentukan modal tetap bruto, d) perubahan inventori dan e) ekspor neto, yaitu selisih ekspor dengan impor. Pembahasan secara rinci masing-masing sektor akan dijelaskan pada bab 4. d. Permintaan Akhir dan Impor Dalam tabel input-output, permintaan dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu permintaan antara dan permintaan akhir. Permintaan antara adalah permintaan barang dan jasa yang dibutuhkan untuk menghasilkan barang dan jasa lainnya. Jadi pengertian permintaan antara sebenarnya sama dengan input antara, hanya berbeda dalam cara membacanya dalam tabel input-output. Permintaan antara adalah input yang dibaca menurut baris dalam tabel input-output, atau menyatakan alokasi output yang digunakan oleh sektor lain dalam proses produksi. Permintaan akhir adalah permintaan segala jenis barang dan jasa yang digunakan sebagai konsumsi akhir, atau dengan kata lain permintaan atas barang dan jasa bukan untuk proses produksi. Permintaan akhir terdiri dari pengeluaran konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto, perubahan inventori dan ekspor. Barang dan jasa yang tersedia untuk konsumsi permintaan akhir berasal dari dalam negeri (domestik) dan impor. Dalam tabel input-output Indonesia impor merupakan bagian dari penyediaan (supply), bukan bagian dari permintaan akhir. Beberapa pengertian komponen-komponen permintaan akhir akan dijelaskan di bawah ini sebagai dasar pengisian sel-sel tabel input-output di kuadran II. d.1 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Pengeluaran konsumsi rumah tangga adalah pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga untuk semua pembelian barang dan jasa dikurangi dengan penjualan neto barang bekas. Barang dan jasa dalam hal ini mencakup barang tahan lama dan barang tidak tahan lama kecuali pembelian rumah tempat tinggal. Pengeluaran konsumsi rumah tangga mencakup konsumsi yang dilakukan di dalam dan di luar negeri. Untuk menjaga konsistensi data, maka konsumsi penduduk suatu negara yang dilakukan di luar negeri diperlakukan sebagai impor, sebaliknya konsumsi oleh penduduk asing di wilayah negara tersebut diperlakukan sebagai ekspor. Pengeluaran konsumsi rumah tangga mencakup juga pengeluaran yang dilakukan oleh lembaga swasta yang tidak mencari untung, seperti lembaga yang memberikan pelayanan sosial kepada masyarakat dan sejenisnya. d.2 Pengeluaran Konsumsi Pemerintah Pengeluaran konsumsi pemerintah mencakup semua pengeluaran barang dan jasa untuk pelaksanaan kegiatan-kegiatan administrasi pemerintah dan pertahanan, baik yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pengeluaran konsumsi pemerintah terdiri dari belanja pegawai, belanja barang bukan barang modal dan penyusutan. Pengeluaran pemerintah untuk keperluan militer baik berupa pengeluaran rutin maupun pengeluaran untuk barang-barang seperti pesawat terbang, peralatan perang dan bangunan juga merupakan bagian dari pengeluaran konsumsi pemerintah
28 Bab 3. Prosedur Umum dan Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output d.3 Pembentukan Modal Tetap d.4 Perubahan Inventori Pembentukan modal tetap meliputi pengadaan, pembuatan atau pembelian barang-barang modal baru baik dari dalam negeri maupun impor, termasuk barang modal bekas dari luar negeri. Pembentukan modal tetap yang dicakup hanyalah yang dilakukan oleh sektor-sektor ekonomi di dalam negeri (domestik). Cakupan dari barang-barang modal tetap adalah sebagai berikut: 1. Barang modal baru dalam bentuk konstruksi, mesin-mesin, alat angkutan dan perlengkapan, yang mempunyai umur pemakaian satu tahun atau lebih. 2. Biaya untuk perubahan dan perbaikan berat barang-barang modal yang akan meningkatkan produktivitas atau memperpanjang umur pemakaian. 3. Pengeluaran untuk pengembangan dan pembukaan tanah, perluasan areal hutan dan daerah pertambangan serta penanaman dan peremajaan tanaman keras. 4. Pembelian ternak produktif untuk keperluan pembiakan, pemerahan susu, pengangkutan dan sebagainya, tidak termasuk ternak untuk dipotong. 5. Margin perdagangan dan ongkos-ongkos lain yang berkenaan dengan transaksi jual beli tanah, sumber mineral, hak penguasaan hutan, hak paten, hak cipta dan barang-barang modal bekas. Dalam tabel input-output, isian pada kolom pembentukan modal tetap hanya menggambarkan komposisi barang-barang modal yang dihasilkan oleh sektor-sektor produksi dan tidak menunjukkan pembentukan modal yang dilakukan oleh sektor-sektor produksi. Perubahan inventori merupakan selisih antara nilai inventori barang pada akhir tahun dengan nilai inventori pada awal tahun. Perubahan inventori dapat digolongkan menjadi: 1. Perubahan inventori barang jadi dan barang setengah jadi yang disimpan oleh produsen, termasuk perubahan jumlah ternak dan unggas dan barang-barang strategis yang merupakan cadangan nasional. 2. Perubahan inventori bahan mentah dan bahan baku yang belum digunakan oleh produsen. 3. Perubahan inventori di sektor perdagangan, yang terdiri dari barangbarang dagangan yang belum terjual. d.5 Eskpor dan Impor Ekspor dan impor meliputi transaksi barang dan jasa antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain. Transaksi tersebut terdiri dari ekspor dan impor untuk barang dagangan, jasa pengangkutan, komunikasi, asuransi dan berbagai jasa lainnya. Transaksi ekspor mencakup juga pembelian langsung di dalam negeri oleh penduduk negara lain. Sebaliknya pembelian langsung di luar negeri oleh penduduk suatu negara dikategorikan sebagai transaksi impor. Transaksi ekspor barang dinyatakan dalam nilai free on board (f.o.b) yaitu suatu nilai yang mencakup juga semua biaya angkutan di negara pengekspor, bea ekspor dan biaya pemuatan barang sampai ke kapal yang akan mengangkutnya. Sedangkan transaksi impor dinyatakan atas dasar biaya pendaratan (landed cost) yang terdiri dari nilai cost insurance dan freight (c.i.f) ditambah dengan bea masuk dan pajak penjualan impor
29 Bab 3. Prosedur Umum dan Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output d.6 Margin Perdagangan dan Biaya Pengangkutan Arus barang dan jasa di antara sektor-sektor ekonomi dapat terjadi karena adanya transaksi antara produsen dan konsumen. Transaksi barang yang berlangsung tidak selalu langsung terjadi antara produsen dengan konsumen, tetapi lebih banyak melalui perantara. Perantara transaksi dalam kegiatan ekonomi dikenal dengan kegiatan perdagangan baik pedagang besar maupun eceran dan sektor pengangkutan. Pencatatan transaksi barang dan jasa dimaksudkan untuk menggambarkan arus barang dan jasa sektoral sehingga dapat diketahui peranan dan kaitannya satu dengan yang lain. Dalam rangka penyusunan tabel input-output pencatatan transaksi tidak dilakukan melalui sektor perdagangan karena akan sulit mendapatkan gambaran antar sektor dengan jelas. Pencatatan dilakukan langsung terhadap sektor-sektor perekonomian, misalnya berapa besarnya produksi (output) yang dihasilkan dan berapa input antara yang berasal dari sektor lain atau sektor sendiri. Demikian pula berapa input primer yang diperlukan untuk menghasilkan output tersebut. Oleh karena tidak semua sektor melakukan transaksi langsung, tetapi melalui pedagang dan pengangkutan, maka transaksi barang dan jasa pada umumnya terjadi pada tingkat harga pasar (harga pembeli). Kegiatan sektor perdagangan dan pengangkutan dalam transaksi menciptakan adanya margin perdagangan dan biaya pengangkutan. Margin perdagangan dan biaya pengangkutan dalam tabel input-output sangat penting dalam hal mendapatkan tabel input-output atas harga pembeli maupun produsen. Angka-angka atau nilai-nilai margin perdagangan dan biaya pengangkutan menunjukkan distribusi margin perdagangan dan biaya pengangkutan di setiap sektor ekonomi. Biaya pengangkutan yang dimaksud di sini hanyalah biaya untuk distribusi perdagangan barang dari satu sektor ke sektor lainnya. Sedangkan biaya pengangkutan yang dikeluarkan dalam rangka memproduksi barang itu tidak dimasukkan. Penjelasan lebih rinci akan dibahas dalam bab IV Rekonsiliasi a. Dengan melakukan estimasi untuk setiap komponen, maka seluruh sel tabel input-output dapat terisi. Masalah yang tersisa adalah memeriksa konsistensi antar isi sel. Tabel input-output menuntut terpenuhinya hubungan: b. Jumlah penyediaan (output domestik ditambah impor) harus sama dengan jumlah permintaan (permintaan antara ditambah permintaan akhir) c. Jumlah output domestik (diperoleh dari informasi sepanjang baris) harus sama dengan jumlah input (input antara ditambah dengan input primer, informasi sepanjang kolom). Jika kedua hubungan tersebut belum terpenuhi, maka harus dilakukan penyesuaian terhadap isian masing-masing sel sampai hubungan tersebut dapat dipenuhi. Proses penyesuaian data inilah yang disebut sebagai rekonsiliasi dalam proses penyusunan tabel input-output. Uraian rinci tentang proses rekonsiliasi ini selanjutnya dapat diikuti dalam diskusi pada Bab IV. 3.2 Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output Sesuai dengan jenis data yang tersedia, maka penyusunan tabel inputoutput dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan langsung dan pendekatan tidak langsung. Pendekatan langsung atau metode survei digunakan apabila seluruh data yang diperlukan dikumpulkan secara langsung melalui survei atau penelitian lapangan, sedangkan pendekatan tidak langsung atau metode non survei dan semi survei digunakan apabila 47 48
30 Bab 3. Prosedur Umum dan Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output seluruh atau sebagian data yang diperlukan diperoleh dari suatu tabel inputoutput lain yang sudah ada. Diskusi ringkas dari masing-masing pendekatan tersebut adalah sebagai berikut Pendekatan Langsung (Metode Survei) Penyusunan tabel input-output memerlukan informasi yang akurat terutama dalam perolehan data pendukung pembentukan matriks kuadran I, II dan III tabel input-output. Salah satu metode guna mendapatkan data dalam penyusunan tabel input-output adalah metode survei. Metode survei adalah suatu cara perolehan/pengumpulan data/informasi dari populasi yang ada kemudian diambil beberapa sampel untuk diamati. Sampel yang diambil tersebut kemudian diukur sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian. Dari sampel yang diperoleh kita berkeinginan untuk menduga parameter yang menjadi tujuan pengukuran, misalkan pendugaan terhadap populasi, rata-rata populasi atau proporsi suatu populasi. Mengapa digunakan metode survei daripada sensus mengingat bahwa dengan langkah ini akan didapatkan informasi yang akurat dan terinci sesuai penelitian, biaya lebih murah, waktu pengukuran lebih cepat, tenaga pencacah sedikit dan terutama konsentrasi variabel-variabel yang diukur dapat diperoleh secara rinci dengan menggunakan sampel. Metode survei dapat digolongkan ke dalam dua metode, yaitu "probability sampling" dan "non-probability sampling". Metode probability sampling mendasarkan pada penentuan peluang (probabilitas) dalam pemilihan sampel, seperti "simple random sampling (SRS)", "stratified random sampling", "cluster sampling" dan lain sebagainya. Metode non-probability sampling adalah suatu cara pengambilan sampel yang tidak mendasarkan peluang dalam penentuan unit-unit sampel. Biasanya sebagai dasar pemilihan sampel digunakan indikator tertentu, misalnya output, capital, asset dan sebagainya. Di dalam metode ini kita tidak dapat menduga besarnya populasi atau rata-ratanya, namun informasi mengenai struktur/komposisi dari suatu variabel dapat diperoleh. Dalam kaitannya dengan penyusunan tabel input-output dalam pembentukan unit-unit statistik biasanya digunakan metode non probability sampling atau dikenal sebagai "purposive sampling". Digunakan metode ini karena informasi yang ingin diperoleh adalah struktur input baik input antara maupun input primer dan indikator produksi guna estimasi output, tidak perlu pendugaan besarnya populasi. Sebagai contoh pemilihan sampel katakanlah sektor pertanian subsektor perikanan. Dalam pemilihan sampel dapat ditentukan menjadi beberapa kelompok yaitu untuk jenis perikanan kolam, tambak dan laut. Kemudian dari kelompok tersebut dipilih masing-masing unit sampel yaitu para nelayan/pengelola perikanan tersebut. Unit sampel bisa sebagai perorangan maupun yang berbadan hukum. Masalah dalam survei ini adalah bila tidak ada kerangka sampel (sample frame) atau direktori dari banyaknya unit sampel di suatu wilayah pencacahan. Sehingga dalam penggantian sampel hanya digunakan alokasi secara subjektif, misalnya dengan unit sampel yang berdekatan dengan lokasi sampel terpilih. Tetapi dalam purposive sampling hal tersebut sah saja, karena tujuan utama adalah melihat struktur input dan indikator produksi dalam kaitannya dengan penyusunan tabel input-output. Guna menyusun struktur di dalam tabel inputoutput, BPS melakukan Survei Khusus Input Output (SKIO) dan non-skio sebagai data penunjang. Terutama dalam penyusunan tabel input-output tahun kelipatan lima seperti input-output 1975, 198, 1985, 199, 1995, 2, dan 25 menggunakan SKIO sebagai dasar pembentukan matriks kuadran I dan III tabel input-output. Aplikasi teknik penyusunan dengan metode ini akan dibahas lebih lanjut pada bab IV. 49 5
31 Bab 3. Prosedur Umum dan Pendekatan Penyusunan Tabel Input-Output Pendekatan Tak Langsung Model input-output dapat diaplikasikan untuk menerangkan keadaan perekonomian suatu wilayah pada periode yang telah dan sedang, serta yang akan dijalani, jika data yang diperlukan tersedia. Masalahnya, biaya, waktu dan personil yang diperlukan untuk penyusunan tabel input-output sangat mahal dan memerlukan waktu lama, sehingga penyajian tabel input-output menjadi terlambat. Mengingat kendala yang ada tersebut maka ada metode tak langsung dalam pembentukan tabel input-output di samping metode langsung. Sehingga dengan metode tak langsung ini diharapkan dapat digunakan sebagai alternatif dalam rangka penyusunan tabel input-output dengan mengurangi kendala yang ada. Manfaat metode ini juga dapat menerangkan kegiatan ekonomi pada waktu yang sedang dan telah berlangsung, atau dapat digunakan untuk memprediksi keadaan ekonomi di masa mendatang. a. Metode Non-Survei Metode ini digunakan biasanya dalam penyusunan tabel input-output updating (pemutakhiran), di mana dalam pengisian sel-sel tabel input-output tidak menggunakan metode survei. Terutama dalam menduga matriks kuadran I atau matriks transaksi antar industri yang rumit dalam penyusunan komponen-komponennya, karena data tidak selalu tersedia. Oleh karena itu tujuan utama metode non-survei adalah menaksir dan memperbaiki koefisien input antara atau koefisien teknis (A) pada tahun tabel input-output disusun. Sedangkan pembentukan matriks di kuadran II (permintaan akhir) perolehan datanya relatif lebih mudah, misalnya data pendapatan nasional, data ekspor dan impor yang setiap tahunnya tersedia. Sebagai metode yang efektif dan tepat waktu dalam penyusunan tabel input-output, ada beberapa metode yang dikenal seperti RAS, RAS- Lagrangian, RECRAS dan RECRAS-Lagrangian. Metode yang sering digunakan dalam penyusunan input-output up-dating adalah RAS karena lebih sederhana dari bentuk-bentuk yang lain. Penjelasan lebih jauh beserta aplikasinya akan diuraikan pada subbab 5.1. b. Metode Semi Survei Di samping metode non-survei sebagai cara pendekatan penyusunan tabel input-output secara tak langsung, ada metode yang lebih unggul daya akurasinya yaitu metode semi survei. Metode ini adalah gabungan antara metode non-survei dengan survei, di mana data/informasi yang diperoleh akan mengisi sel-sel tertentu dalam kuadran I tabel input-output. Pada metode non-survei kadang-kadang terdapat komposisi/struktur input antara yang janggal akibat dari iterasi yang dilakukan. Dengan memasukkan data/informasi baru ke dalam sel-sel kuadran I akan mengurangi atau menghilangkan keanehan struktur input antara yang diperoleh. Bila metode non-survei digunakan metode RAS, kemudian dilakukan penambahan data baru ke dalam input antara maka disebut sebagai metode RAS Modifikasi. Selanjutnya pendekatan penyusunan tabel input-output dengan menggunakan metode ini akan dijelaskan secara rinci pada Bab
32 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara Bab ini dimaksudkan untuk menjelaskan teknik estimasi terhadap transaksi barang dan jasa yang terjadi antar sektor produksi. Pembahasan didasarkan pada pendekatan penyusunan dengan metode langsung, yaitu estimasi berdasarkan data yang dikumpulkan melalui survei. Seiring dengan hal ini maka pembahasan akan mencakup survei yang diperlukan dan teknik estimasi terhadap output dan struktur input masing-masing sektor produksi. Dengan mengikuti uraian pada bab ini diharapkan proses estimasi kuadran I dan II tabel input-output dapat dilakukan dengan mudah Uraian pada bab ini bersama-sama dengan Bab 5 dan Bab 6 pada dasarnya merupakan rangkaian proses penyusunan tabel input-output dengan pendekatan survei. 4.1 Survei yang Diperlukan Penyusunan tabel input-output dengan pendekatan metode langsung ditempuh dengan mempersiapkan data penunjang yang dikumpulkan melalui SKIO dan non-skio. Kedua jenis kegiatan survei tersebut masih harus diikuti lagi dengan kegiatan pengumpulan data sekunder lainnya yang biasanya digunakan untuk memperoleh estimasi output. Penjelasan berikut akan memberikan gambaran mengenai peranan mendapatkan beberapa data pokok, seperti: susunan input, struktur pengeluaran konsumsi rumahtangga dan pembentukan modal sektoral. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara Survei Khusus Input-Output (SKIO) Survei ini dirancang secara spesifik untuk mengumpulkan informasi yang berupa output, susunan input dan beberapa jenis indikator. Daftar pertanyaan yang dicakup di dalam SKIO lebih diarahkan kepada unit-unit kegiatan usaha yang di dalam tabel input-output dikelompokkan menjadi sektor-sektor ekonomi sesuai dengan karakteristik produk utamanya. Hasil SKIO sampai saat ini lebih banyak digunakan untuk mengisi sel-sel matriks kuadran I (susunan input antara atau permintaan antara) dan matriks kuadran III (input primer). Masing-masing jenis daftar isian SKIO, secara umum, akan terdiri dari 3 blok utama, yaitu: Blok Indikator memuat pertanyaan mengenai jumlah pekerja, jumlah bulan bekerja dan berbagai jenis indikator produksi sesuai dengan kegiatan lapangan usahanya; Blok Output memuat pertanyaan mengenai jenis dan nilai produksi yang dihasilkan oleh suatu unit kegiatan usaha selama setahun. Output disini mencakup produksi utama, produksi ikutan serta produksi sampingan yang dihasilkan oleh unit kegiatan yang bersangkutan; Blok Pengeluaran memuat pertanyaan mengenai biaya produksi yang telah dikeluarkan selama setahun untuk menghasilkan output. Secara garis besar komponen biaya antara dibedakan menjadi: biaya antara khusus yang merupakan pengeluaran untuk pengadaan bahan baku utama sesuai dengan karakteristik kegiatan usahanya, dan biaya antara lainnya yang merupakan pengeluaran untuk pengadaan berbagai jenis bahan penolong, seperti: biaya rekening listrik, bahan bakar, administrasi dan lainlainnya. Termasuk di dalam blok pengeluaran ini adalah komponen input primer yang terdiri dari pengeluaran untuk: upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan dan pajak tak langsung serta subsidi. Informasi yang dikumpulkan melalui SKIO memiliki beberapa tujuan ganda, yaitu: (i) untuk sektor-sektor ekonomi yang data pendukung estimasi outputnya sudah tersedia, baik dari sumber-sumber di dalam maupun di luar 53 54
33 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara BPS, SKIO lebih ditekankan sasarannya kepada upaya untuk mendapatkan estimasi susunan input (koefisien input), (ii) untuk sektor-sektor ekonomi yang data dasarnya lenperti indikator tentang jumlah dokter, jumlah notaris dan jumlah bioskop, SKIO lebih ditekankan kepada upaya untuk mendapatkan data mengenai output per jenis indikator, misalnya output per dokter dan output per gedung bioskop; (iii) untuk tahun dimana tabel input-output disusun, SKIO bisa dimanfaatkan sebagai pengganti survei khusus pendapatan nasional/regional yang setiap tahun dilaksanakan di daerah dalam rangka memperoleh struktur input untuk penghitungan produk domestik regional bruto (PDRB). Pada tingkat nasional alokasi sampel SKIO ditentukan dengan mempertimbangkan beberapa aspek teknis berikut: penyebaran unit-unit kegiatan usaha di masing-masing region (provinsi) untuk sektor-sektor ekonomi yang akan disurvei, jenis indikator harga maupun produksi sektoral yang sudah tersedia dari berbagai sumber di luar dan di lingkungan BPS, jika mungkin kegiatan SKIO (nasional) dapat diatur waktu pelaksanaannya sejalan dengan kebutuhan data pendukung untuk keperluan penyusunan tabel input-output regional Non-SKIO Yang dimaksud dengan non-skio adalah cara pengumpulan berbagai jenis data pendukung yang tidak melalui SKIO. Di dalam penyusunan tabel input-output, data yang diperoleh melalui jalur non-skio lebih banyak dimanfaatkan untuk estimasi komponen permintaan akhir dan impor yang mengisi matriks kuadran II di dalam format tabel input-output. Beberapa jenis sumber data yang dikumpulkan melalui non-skio untuk masing-masing komponen permintaan akhir adalah sebagai berikut: estimasi struktur pengeluaran konsumsi rumahtangga menggunakanerikut data hasil SUSENAS; Estimasi struktur pengeluaran konsumsi pemerintah menggunakan data realisasi APBN dan APBD tingkat I serta Statistik Keuangan Daerah yang diolah dari daftar K 1, K 2 dan K 3 ; Estimasi ekspor sektoral menggunakan data Statistik Eskpor yang diolah dari dokumen pemberitahuan ekspor barang (PEB); Kemudian estimasi impor sektoral menggunakan data Statistik Impor yang diolah dari dokumen PIUD; Selanjutnya estimasi kolom pembentukan modal menggunakan data hasil survei khusus pembentukan modal (SKPM); Dan akhirnya estimasi perubahan inventori menggunakan data dasar yang berasal dari berbagai sumber seperti: survei tahunan industri pengolahan besar/sedang dan survei pertambangan. 4.2 Estimasi Output dan Struktur Input Sektoral Sektor Pertanian Sektor ini mencakup segala pengusahaan yang didapatkan dari alam dan merupakan benda atau barang biologis (hidup). Termasuk dalam kegiatan ini adalah pengolahan lahan untuk bercocok tanam; memelihara ternak dan unggas; penebangan kayu; perburuan dan pengambilan hasil hutan lainnya; serta usaha memelihara atau menangkap berbagai jenis ikan. Untuk kegiatan pengolahan sederhana seperti penumbukan beras; pembuatan gaplek; kopi olahan; kopra; gula merah; dan sebagainya tidak digolongkan dalam sektor ini tetapi dimasukkan ke dalam sektor Industri Pengolahan. Adapun komoditi yang dihasilkan oleh sektor pertanian adalah: a. Komoditi hasil bercocok tanam, baik yang diusahakan oleh rakyat maupun perkebunan besar seperti padi, jagung, umbi-umbian, kacangkacangan, sayur-sayuran, buah-buahan, karet, kelapa, coklat, kelapa sawit, kopi, teh, tembakau, tebu, rempah-rempah, tanaman serat dan sebagainya
34 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara b. Hasil dari peternakan antara lain anak ternak dan pertambahan berat ternak yaitu sapi, kerbau, kambing, babi, ayam, itik serta ternak lainnya, termasuk juga di sini telur dan susu segar. c. Hasil dari kehutanan berupa segala jenis kayu tebangan, rotan, arang, bambu, getah-getahan, binatang liar hasil perburuan seperti buaya, rusa, babi hutan, dan sebagainya. d. Hasil perikanan yaitu berupa segala macam ikan baik yang berasal dari hasil budi daya maupun hasil tangkapan dari laut atau perairan umum, termasuk juga disini adalah penggaraman dan pengeringan ikan. Dalam penyusunan tabel input-output 25 semua kegiatan di atas terbagi dalam 34 sektor dengan pengelompokan sebagai berikut: Tanaman Bahan Makanan mencakup 11 (sebelas) sektor; Perkebunan mencakup 13 (tigabelas) sektor; Peternakan mencakup 4 (empat) sektor; Kehutanan mencakup 2 (dua) sektor; Perikanan mencakup 3 (tiga) sektor dan jasa pertanian 1 (satu sektor). a. Tanaman Bahan Makanan Dalam penyusunan tabel input-output, kelompok ini dipecah ke dalam 11 (sebelas) sektor meliputi Sektor Padi; Jagung; Ketela Pohon; Ubi Jalar, Umbi- Umbian lainnya, Kacang Tanah; Kedele; Kacang-kacangan Lainnya; Sayursayuran; Buah-buahan; dan Padi-padian dan Bahan Makanan Lainnya. Tidak termasuk di dalamnya penumbukan beras dan pembuatan gaplek karena sudah dimasukkan ke dalam Sektor Industri Pengolahan. Output diperoleh dengan menilai seluruh produksi yang dihasilkan atas dasar harga produsen dengan cara mengalikan produksi baik produksi utama, produksi ikutan maupun produksi sampingan dengan harga produsen. Data produksi dapat diperoleh dari publikasi tahunan Produksi Padi dan Palawija Indonesia (Survei Pertanian) dari Badan Pusat Statistik berupa angka produksi padi, palawija, sayur-sayuran dan buah-buahan. Sedang data harga dapat diperoleh dari berbagai sumber publikasi harga di BPS. Karena tidak semua komoditi tersedia harga produsennya, maka dapat juga digunakan data Harga Perdagangan Besar, Harga Ekspor, Harga Eceran atau Harga Konsumen. Jika data harga yang tersedia bukan harga produsen maka caranya mengestimasi output masing-masing sektor dengan cara mengalikan produksi dengan harga kemudian dikurangi margin perdagangan dan biaya pengangkutan (TTM). Besarnya margin perdagangan dan biaya pengangkutan diperoleh dengan menggunakan persentase margin perdagangan dan biaya pengangkutan terhadap output masing-masing sektor. Persentase ini diperoleh dari suatu survei khusus. Karena data produk ikutan/produk sampingan tidak tersedia maka untuk menghitungnya digunakan persentase dari tabel input-output, atau melalui hasil Survei Khusus Input-Output (SKIO). Susunan input sektor pertanian dirinci atas input antara dan input primer. Input antara adalah seluruh biaya selain biaya faktor produksi yang dikeluarkan mulai dari mengolah tanah, menanam, memelihara, memanen dan mengangkut hasil produksi ke gudang petani/tempat penjualan. Biaya antara disini misalnya bibit, pupuk, perbaikan saluran irigasi, obat-obatan, bahan-bahan atau alat-alatnya yang digunakan (bukan barang modal), sewa alat pertanian, bahan pengikat, pembungkus, biaya administrasi, biaya pengangkutan dan lain sebagainya. Input primer adalah balas jasa faktor produksi berupa upah tenaga kerja, surplus usaha, penyusutan serta pajak tak langsung neto. Data susunan input bersumber pada publikasi Struktur Ongkos Usaha Tani "Padi dan Palawija" (Survei Pertanian) BPS, serta survei khusus (SKIO) untuk komoditi selain padi dan palawija
35 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara b. Perkebunan Dalam kelompok ini mencakup semua jenis kegiatan tanaman perkebunan yang diusahakan baik oleh rakyat maupun oleh perusahaan perkebunan. Tidak termasuk di dalamnya hasil-hasil olahan seperti kopi olahan, kopra, gula merah, teh olahan, karet asapan, karet remah, dsb, karena kegiatan ini sudah digolongkan dalam Industri Pengolahan. Dalam penyusunan tabel input-output, kelompok perkebunan ini dipecah ke dalam 13 (tigabelas) sektor yaitu: Sektor Karet; Tebu; Kelapa; Kelapa Sawit; Hasil Tanaman Serat; Tembakau; Kopi; Teh; Cengkeh; Kakao; Jambu Mete; Hasil Perkebunan Lainnya; dan Hasil Pertanian Lainnya. Output diperoleh dengan cara mengalikan produksi dengan harga kemudian dikurangi margin perdagangan dan biaya pengangkutan (TTM) jika harga produsennya tidak tersedia. Tetapi jika harga produsen tersedia cukup dengan mengalikan produksi dengan harga. Besarnya margin perdagangan dan biaya pengangkutan (TTM) diperoleh dari survei khusus. Susunan inputnya dapat berupa biaya bibit, pupuk, obat-obatan, alat pertanian, bahan pengikat dan sebagainya. Data produksi dapat diperoleh dari Dirjen Perkebunan Departemen Pertanian dan dari Bagian Statistik Perkebunan BPS. Jika terdapat data yang tidak tersedia seperti produk ikutan maka cara mengestimasi output dengan menggunakan suatu persentase yang diperoleh dari SKIO. Data susunan input juga bersumber pada SKIO. c. Peternakan Kelompok ini mencakup semua kegiatan pembibitan dan budidaya segala jenis ternak dan unggas dengan tujuan untuk dikembangbiakkan, dibesarkan, dipotong, dan diambil hasil-hasilnya baik yang dilakukan oleh rakyat maupun oleh perusahaan peternakan. Hasil-hasil peternakan meliputi anak-anak ternak, pertambahan berat, susu dan telur. Dalam penyusunan tabel input- output, kelompok ini dipecah menjadi 4 (empat) sektor meliputi Sektor Ternak dan Hasil-hasilnya kecuali Susu Segar; Susu Segar; Unggas dan Hasilhasilnya; dan Hasil Pemeliharaan Hewan Lainnya. Penghitungan produksi menggunakan tiga peubah yaitu pemotongan, kenaikan inventori dan ekspor neto dengan rumus banyaknya ternak/unggas yang dipotong ditambah selisih populasi dan selisih antara ekspor dan impor. Produksi ikutannya adalah pupuk kandang dan bulu. Sumber data diperoleh dari Dirjen Peternakan Departemen Pertanian, berupa populasi ternak, pemotongan ternak, produksi telur dan susu segar. Angka ekspor dan impor diperoleh dari publikasi statistik ekspor dan impor BPS dan data harga diperoleh dari Harga Perdagangan Besar BPS. Estimasi output diperoleh dengan cara produksi dikalikan dengan harga dikurangi TTM. TTM berasal dari survei khusus. Jika data tidak tersedia maka data dapat dilengkapi dengan melakukan survei khusus. d. Kehutanan Dalam penyusunan tabel input-output, kelompok ini dipecah menjadi 2 (dua) sektor yaitu meliputi: Sektor Kayu dan Hasil Hutan Lainnya. Dalam sektor ini meliputi kegiatan penebangan kayu serta pengambilan getahgetahan dan akar-akaran. Hasil penebangan yang paling utama adalah kayu gelondongan sedangkan hasil penebangan lainnya adalah kayu bakar, rotan, bambu dan sebagainya. Aktivitas bercocok tanam yang dilakukan di atas areal hutan yang merupakan tanaman tumpang sari tidak dimasukkan ke dalam kehutanan akan tetapi masuk dalam tanaman perkebunan. Kegiatan perburuan dimasukkan ke dalam hasil hutan lainnya yang meliputi kegiatan penangkapan/ perburuan binatang liar seperti buaya, babi hutan, biawak, menjangan dan harimau baik untuk dikonsumsi dagingnya maupun diambil kulit, bulu dan tulangnya. Penangkapan untuk pelestarian, manfaat pengambilan sarang burung dihitung dalam hasil buruan lainnya. 59 6
36 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara Estimasi output menggunakan pendekatan produksi yaitu mengalikan produksi dengan harga dikurangi TTM nya apabila harga produsennya tidak tersedia. Susunan input antara untuk pengusahaan kayu tebang meliputi benih dan bibit pohon, bahan bakar dan pelumas, makanan dan pemeliharaan lain untuk binatang/hewan penarik, bahan-bahan untuk pemeliharaan dan perawatan jalan, peralatan tangan serta komponen-komponennya, pembayaran untuk kontrak kerja serta jasa lainnya. Bila mesin-mesin dan hewan penarik yang digunakan tergabung dalam pertanian/cocok tanam dan kehutanan atau bila terjadi ada satu perusahaan memiliki dua atau lebih aktivitas pertanian dan kehutanan maka susunan inputnya harus diproporsikan. Untuk perburuan, penangkapan dan penangkaran binatang liar, input antara berupa amunisi perburuan, perbaikan peralatan berburu, perbaikan kendaraan berburu. Susunan input diperoleh berdasarkan Survei Khusus Input Output. e. Perikanan Kelompok ini mencakup semua kegiatan penangkapan dan pembenihan, budi daya segala jenis ikan dan binatang air (seperti ikan tuna, ikan hiu, udang, kerang mutiara, ikan hias, dan lain-lain) baik di air tawar maupun di air asin. Termasuk juga disini kegiatan pengambilan hasil-hasil binatang air, tidak termasuk disini kegiatan pemindangan ikan. Dalam penyusunan tabel input-output, kelompok ini dipecah ke dalam 3 (tiga) sektor meliputi sektor Ikan Laut dan Hasil Laut Lainnya; Ikan Darat dan Hasil Perairan Darat; dan Udang. Hasil-hasil ikan yang dimaksudkan di sini seperti telur ikan, sirip ikan dan bibit ikan. Sumber data diperoleh dari publikasi Statistik Perikanan oleh Dirjen Perikanan Departemen Pertanian. Estimasi output diperoleh dari perkalian produksi dan harga dikurangi biaya pengangkutan dan margin perdagangan, karena harga yang tersedia adalah harga perdagangan besar. Sedangkan susunan input antaranya adalah bibit dan pakan ikan, alat penangkapan ikan (misal: kail), pemeliharaan kolam, pemeliharaan kapal penangkap ikan, umpan, bahan pembungkus dan pengikat, bahan bakar dan pelumas, bahan penolong (es batu), pupuk dan obat-obatan Sektor Pertambangan dan Penggalian Ruang lingkup kegiatan pertambangan dan penggalian meliputi kegiatan penggalian, pemboran, penyaringan, pencucian, pemilihan, dan pengambilan segala macam barang tambang, mineral, dan barang galian yang tersedia di alam, baik berupa benda padat, cair, dan gas. Penambangan dan penggalian ini dapat dilakukan di bawah tanah maupun di atas permukaan bumi. Sifat dan tujuan kegiatan ini adalah untuk menciptakan nilai guna barang tambang dan galian tersebut sehingga memungkinkan untuk dimanfaatkan, dijual, atau diproses lebih lanjut. Termasuk dalam sektor ini adalah kegiatan pembuatan garam kasar dengan cara menguapkan air laut. Dalam penyusunan tabel input-output nasional, Sektor Pertambangan dan Penggalian dibagi atas 14 sektor yakni Batu Bara, Minyak Bumi, Gas dan Panas Bumi, Bijih Timah, Bijih Nikel, Bijih Bauksit, Bijih Tembaga, Bijih Emas, Bijih Perak, Bijih dan Pasir Besi, Barang Tambang Logam lainnya, Barang Tambang Mineral Bukan Logam, Garam Kasar dan Barang Galian Segala Jenis. Dalam penyusunan tabel input-output daerah (Provinsi/Kabupaten), pemecahan sektor Pertambangan dan Penggalian tergantung potensi barang tambang dan penggalian yang tersedia di daerah tersebut. Karena biasanya suatu daerah belum tentu memiliki seluruh barang tambang atau galian yang seperti disebutkan di atas
37 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara Estimasi output menggunakan pendekatan produksi dengan mengalikan produksi dengan harga. Data produksi dapat diperoleh dari Buku Laporan Tahunan Pertambangan Indonesia yang diterbitkan oleh Departemen Pertambangan dan Energi, Survai Tahunan Perusahaan Pertambangan BPS dan sumber lain yang mungkin tersedia di daerah misalnya Daerah Dalam Angka atau data dari Kanwil Pertambangan dan Energi Daerah. Sedangkan data harga dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti Survei Tahunan Perusahaan Pertambangan BPS, publikasi Statistik Ekspor BPS, dan hasil Survei Khusus. Susunan input dapat diturunkan dari Survei Khusus Input-Output (SKIO). Namun demikian, untuk beberapa komoditi, estimasi susunan inputnya dapat juga menggunakan hasil survei tahunan BPS, asalkan komponen biaya yang masih tergabung dapat dirinci Sektor Industri Pengolahan Sektor industri pengolahan meliputi semua kegiatan produksi yang bertujuan untuk meningkatkan mutu barang dan jasa. Proses produksinya dapat dilakukan secara mekanis, kimiawi atau proses lainnya baik menggunakan alat-alat sederhana maupun mesin-mesin. Proses tersebut dapat dilakukan oleh perusahaan industri, perusahaan pertanian, pertambangan maupun perusahaan lainnya. Jasa-jasa yang sifatnya menunjang kegiatan sektor industri seperti jasa maklon, perbaikan kapal, kereta api dan pesawat terbang termasuk juga dalam sektor ini. Jasa perbaikan yang dicakup dalam sektor ini adalah perbaikan terhadap barang modal, baik yang dilakukan oleh perusahaan itu sendiri maupun oleh pihak lain. Perbaikan mesin-mesin milik rumah tangga dan kendaraan bermotor tidak dicakup disini, tetapi dimasukkan ke dalam sektor jasa-jasa. Termasuk juga di sini kegiatan pengolahan sederhana seperti pembuatan minyak nabati, gula merah, pengupasan & pembersihan biji-bijian, pengirisan tembakau, pembuatan kopra, gaplek & sagu serta penggaraman dan pengeringan ikan. Penyusunan tabel input-output sektor ini dipisahkan ke dalam kelompok-kelompok komoditi (sebagai contoh dalam input-output tahun 25 menjadi 92 sektor), dimana kilang minyak dan gas alam cair termasuk di dalamnya. Penghitungan estimasi output dan nilai tambah untuk industri pengolahan dibagi menjadi 2 (dua), yaitu estimasi output dan nilai tambah industri pengolahan non migas dan industri migas. a. Industri Pengolahan Non-Migas Pada tahap awal penyusunannya, industri pengolahan nonmigas dibedakan ke dalam 3 (tiga) bagian yaitu industri besar/sedang, kecil dan kerajinan rumah tangga. Dari masing-masing bagian tersebut dihitung baik output maupun struktur inputnya untuk tiap-tiap sektor dalam klasifikasi sektor input-output yang dikehendaki (dalam hal ini bisa 19, 66, atau 175 sektor, disesuaikan dengan kebutuhan). Sumber data utama penyusunan sektor ini adalah dari hasil survei tahunan industri yang dilakukan oleh BPS baik untuk besar/sedang, kecil maupun kerajinan rumahtangga yang terdiri dari kelompok 5 digit KBLI sehingga perlu dilakukan pengelompokkan ke dalam klasifikasi sektor inputoutput yang sama. Hal ini perlu dilakukan karena di dalam satu sektor inputoutput biasanya terdiri dari beberapa kelompok 5 digit KBLI. Dari hasil pengolahan tersebut diperoleh output maupun inputnya, karena hasil survei tersebut sudah dalam bentuk nilai rupiah. Masalahnya dari hasil survei tersebut beberapa struktur inputnya masih dalam bentuk gabungan, tidak sesuai dengan klasifikasi sektor input-output, sebagai contoh alat-alat tulis kantor (ATK). Angka gabungan tersebut harus dipisahkan menurut banyaknya sektor input-output yang mencakup ATK. Untuk memisahkan angka tersebut, biasanya digunakan indikator pemisah (berupa rasio-rasio) 63 64
38 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara yang diperoleh dari hasil SKIO sebelum proses penyusunan tabel inputoutput atau jika tidak ada bisa juga digunakan rasio-rasio dari tabel inputoutput yang sudah ada sebelumnya. Hal ini berlaku pula untuk pemecahan struktur input lainnya yang sifatnya masih gabungan. b. Industri Migas Industri migas dalam tabel input-output hanya terdiri dari industri barangbarang hasil kilang minyak bumi dan gas alam cair. Bila dilihat dari komoditinya maka di Indonesia komoditi tersebut hanya dihasilkan oleh Industri besar/sedang saja. Sumber data yang digunakan diperoleh dari Departemen Pertambangan & Energi, Pertamina dan Survei tahunan yang dilakukan oleh BPS. Output diperoleh dari perkalian antara kuantum dengan harga untuk masing-masing komoditi seperti: avtur, avigas, premium, minyak tanah, minyak diesel, minyak bakar, LPG, dan sebagainya untuk pengilangan minyak bumi serta gas alam cair (LNG) untuk pengilangan gas alam. Struktur input diperoleh dari pengolahan hasil survei tahunan yang dilakukan oleh BPS. Seperti halnya pada industri nonmigas, jika ditemukan struktur input yang sifatnya masih gabungan maka cara pemecahannya sama seperti pada penjelasan sebelumnya. c. Proses Transfer-out Transfer-in (TOTI) Penyusunan output dan struktur input industri besar/sedang, dan industri kecil dan kerajinan rumah tangga (IKKR) untuk kelompok non migas berdasarkan hasil survei tahunan industri. Survei tahunan industri tersebut dilakukan dengan pendekatan establishment, dan tabulasi akhirnya disajikan secara rinci menurut kelompok komoditi berdasarkan 5 digit KBLI. Penentuan suatu establishment masuk ke dalam 5 digit KBLI tertentu didasarkan kepada produk utamanya (main characteristic product). Produk utama adalah produk yang nilai outputnya paling besar dibandingkan dengan nilai produk-produk lainnya yang dihasilkan oleh suatu establishment. Pada kenyataannya terlihat bahwa dalam satu establishment ternyata dapat menghasilkan beberapa jenis produk disamping produk utama tersebut. Dengan digunakannya pendekatan establishment tersebut mengakibatkan bahwa seluruh jenis komoditi yang dihasilkan oleh suatu establishment akan masuk ke dalam 5 digit KBLI tertentu mengikuti produk utamanya. Oleh karena itu tidak tertutup kemungkinan bahwa produk lainnya di luar produk utama tersebut mempunyai ciri produk yang tidak sesuai lagi dengan ciri produk utamanya. Ada kemungkinan bahwa produk lainnya tersebut memiliki kode 5 digit KBLI yang berbeda dengan produk utama. Berdasarkan uraian di atas maka dapat diperoleh suatu gambaran bahwa penyajian hasil survei tahunan industri besar/sedang dan IKKR yang dirinci menurut 5 digit KBLI belum secara murni memperlihatkan identitas dari 5 digit KBLI tertentu, karena didalamnya masih terdapat produk-produk di luar produk utama. Agar data hasil survei tahunan industri besar/sedang dan IKKR dapat digunakan untuk kebutuhan penyusunan tabel input-output perlu dilakukan proses pengolahan lebih lanjut. Proses tersebut dilakukan dalam upaya untuk memilah-milah agar setiap komoditi baik produk utama maupun produk lainnya dapat dikelompokkan ke dalam 5 digit KBLI yang sesuai. Langkah pertama yang dilakukan adalah pemberian kode 5 digit industri pada semua produk yang dihasilkan (pengidentifikasian). Setelah proses identifikasi selesai, maka langkah selanjutnya adalah menggabungkan produk-produk tersebut ke dalam kode KBLI yang sama, sehingga dalam proses ini akan terjadi pemindahan antar kode KBLI tersebut. Perpindahan tersebut bisa berupa proses keluar maupun masuk di dalam masing-masing kode KBLI utamanya. Didalam penyusunan tabel input-output proses tersebut secara keseluruhan disebut transfer-out transfer-in (TOTI). Proses TOTI tersebut tidak hanya mencakup komponen outputnya saja, akan tetapi mencakup juga susunan 65 66
39 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara input untuk masing-masing komoditi baik input antara maupun input primer. Contoh berikut menjelaskan bagaimana proses TOTI dilakukan untuk masing-masing kelompok komoditi menurut 5 digit KBLI suatu jenis industri, misalnya pengalengan sayuran dan buah-buahan (15131). Prosedur kerja yang akan dipakai didalam TOTI pada contoh ini adalah sebagai berikut: 1. Sumber data asli diperoleh dari survei tahunan industri besar/ sedang dan IKKR yang sudah disusun di dalam suatu neraca produksi yang disederhanakan sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 1. Tabel 1 tersebut merupakan neraca produksi dari kegiatan industri pengalengan sayuran dan buah-buahan (kode 15131) yang menghasilkan 4 (empat) jenis komoditi, dimana dari 4 (empat) jenis tersebut sebenarnya hanya terdiri dari 2 (dua) jenis komoditi utama atau produk utama (sayuran dalam kaleng dan buah-buahan dalam kaleng yang betul-betul berkode KBLI 15131) dan 2 (dua) jenis produk lain yang ternyata kode KBLInya berbeda. Sumber data dari input antara dalam proses produksi dan balas jasa faktor-faktor produksi (NTB) juga diperoleh berdasarkan survei yang sama. Tabel 4.1 Industri Pengalengan Sayuran dan Buah-buahan (kode KBLI 15131) Input Output Kode Nama Komoditi KBLI (1) (2) (3) Biaya Antara NTB 1. Sayuran dalam kaleng 2. Buah-buahan dalam kaleng 3. Coklat bubuk Sirop Total Input Total Output XXXXX 2. Dari produk-produk yang dihasilkan seperti pada butir 1 tersebut selanjutnya dilakukan identifikasi terhadap masing-masing komoditi menurut 5 digit KBLI. Berdasarkan pengidentifikasian tersebut dapat dilihat bahwa di dalam kode selain komoditi sayuran dalam kaleng dan buah-buahan dalam kaleng sebagai produk utama masih terdapat komoditi lain yang dihasilkan yaitu komoditi coklat bubuk masuk kode KBLI dan sirop dengan kode KBLI Hasil selengkapnya dari proses identifikasi dapat dilihat pada Tabel Setelah dilakukan pengidentifikasian dari kegiatan industri berkode KBLI 15131, ternyata kode KBLI tersebut produknya terdiri dari 3 (tiga) jenis kode KBLI yang berbeda. Oleh karena produknya terdiri dari 3 (tiga) jenis KBLI, maka tidak hanya pada outputnya saja yang dipisahkan tetapi termasuk juga input antara dan nilai tambah brutonya (lihat Tabel 4.2)
40 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara Kode KBLI Tabel 4.2 Estimasi Output dan Susunan Input Menurut 5 Digit KBLI Uraian Output IA NTB Input (1) (2) (3) (4) (5) (6) Industri Pengalengan Sayuran dan Buahbuahan Industri Bubuk Coklat Industri Sirop O 1 O 2 O 3 IA 1 IA 2 IA 3 NTB 1 NTB 2 NTB 3 I 1 I 2 I 3 O i XXX XXX I i Output sayuran dalam kaleng dan output buah-buahan dalam kaleng (lihat Tabel 4.2 kolom 2 dan kolom 3) termasuk dalam satu kode KBLI yaitu kode karena masih dalam komoditi yang sesuai dengan output sebesar O 1. Sedangkan output coklat bubuk sebesar O 2 dan output sirop sebesar O 3 tidak masuk pada kode KBLI lagi akan tetapi masuk pada kode KBLI yang lain. Kemudian input antara dan nilai tambah bruto (NTB) diperoleh dengan cara (salah satunya) proporsional terhadap besarnya output untuk masing-masing komoditi 5 digit KBLI tersebut. Dari output sebesar O 1 diperoleh input antara sebesar IA 1 dan nilai tambah bruto sebesar NTB 1. Selengkapnya besarnya biaya antara dan nilai tambah bruto dapat dilihat pada Tabel 4.2 kolom 4 dan kolom 5. Agar diperoleh gambaran yang lebih jelas bagaimana proses TOTI dilakukan terhadap sumber data dari hasil survei tahunan industri besar/sedang dan IKKR, berikut ini diberikan contoh dengan menggunakan data. Misalkan data dari tiga kelompok industri yang berkode 5 digit KBLI sebagai berikut 15131, 15432, Masing-masing kelompok industri tersebut disamping mempunyai produk utama juga mempunyai produk sampingan. Proses awal yang akan dilakukan disini adalah memindahkan data asli tersebut ke dalam Lembar Kerja (LK 1) untuk masing-masing jenis kelompok 5 digit KBLI. Melalui LK 1 tersebut akan dilakukan proses mengidentifikasi setiap jenis produksi yang dihasilkan oleh kelompok industri yang bersangkutan. Proses identifikasi tersebut dilakukan dengan memberi kode 5 digit KBLI untuk masing-masing jenis output yang dihasilkan dan hasilnya dapat dilihat pada kolom 3 untuk setiap daftar LK 1. LK 1 : Industri Pengalengan Sayuran & Buah-buahan (15131) Input Antara: 1.Buah-buahan 2.Sayuran 3 Gula Pasir 4. Ayam, daging, udang 5.Minyak goreng 6.Coklat biji 7.Bumbu 8.Lainnya (Selain bahan baku) Komponen Biaya Primer (NTB) Input ( Rp) Output Komoditi ( Rp) Kode KBLI (1) (2) (3) Sayur kalengan 2. Buah-buahan Kalengan 3. Coklat bubuk 4. Sirop Jumlah Jumlah XXXXX 69 7
41 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara LK 1 : Industri makanan dari coklat dan kembang gula (31192) Input Antara: 1. Coklat Biji 2. Gula Pasir 3. Coklat bubuk 4. Bahan Kimia 5. Lainnya (Selain bahan baku) Komponen Biaya Primer (NTB) Input ( Rp) Output Komoditi ( Rp) Kode KBLI (1) (2) (3) Coklat segala jenis 2. Kembang gula kalengan Jumlah Jumlah XXXXX Input Antara: 1. Gula 2. Buah-buahan 3. A i r 4. Bahan Kimia 5. Lainnya (Selain bahan baku) Komponen Biaya Primer (NTB) Input ( Rp) LK 1 : Industri minuman ringan (15541) Output Komoditi ( Rp) Kode KBLI (1) (2) (3) Minuman ringan 2. Sirup 3. Selai (Jam) Jumlah Jumlah XXXXX Keterangan daftar LK 1 : 1. LK 1 ini merupakan neraca produksi yang telah disederhanakan dan datanya merupakan data asli hasil survei. 2. Susunan input yang digunakan dalam proses produksi industri berkode 15131, terlihat pada kolom Seluruh produk yang dihasilkan oleh kegiatan industri berkode yaitu sayur dalam kaleng, buah-buahan dalam kaleng sebagai produk utama dan coklat bubuk, sirup sebagai produk sampingan terlihat pada kolom Hasil identifikasi kedalam 5 digit KBLI dari output yang dihasilkan oleh kegiatan industri berkode 15131, dapat dilihat pada kolom 3. Penjelasan daftar LK 1 untuk jenis industri yang lain sama seperti keterangan pada daftar LK 1 untuk industri berkode 5 digit KBLI Proses selanjutnya setelah dilakukan identifikasi kode 5 digit KBLI untuk masing-masing jenis output adalah memisahkan ke dalam kelompok 5 digit KBLI dari masing-masing jenis output untuk setiap LK 1, yang kemudian digabungkan menurut 5 digit KBLI yang sesuai. Sehingga melalui proses ini akan dapat diperoleh output dan susunan input masing-masing jenis komoditi dengan kode 5 digit KBLI yang tunggal. Proses pemisahan dan penggabungan ini biasa disebut transfer-out transfer-in (TOTI). Agar lebih jelas bagaimana dilakukan proses transfer-out atau transfer-in, maka akan ditunjukkan proses tersebut dengan menggunakan daftar lembar kerja (LK). Melalui daftar LK 2 akan dilakukan proses transfer-out dari jenis industri yang menghasilkan produk sampingan yang sifatnya berbeda dengan produk utama. Proses transfer-out dilakukan dengan memindahkan produk sampingan dari jenis industri tersebut ke dalam kode 5 digit KBLI yang sesuai. Pemindahan ke dalam kode 5 digit yang sesuai tersebut tidak hanya pada outputnya, akan tetapi juga terhadap susunan inputnya. Susunan input dipindahkan dengan cara proporsional terhadap besarnya output masingmasing komoditi. Input yang diproporsionalkan adalah input yang masih gabungan dari seluruh input yang digunakan. Penjelasan mengenai bekerjanya daftar LK 2 ini akan diperlihatkan dengan menggunakan contoh 71 72
42 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara industri yang berkode (LK 2). Dari seluruh output coklat bubuk yang merupakan produk sampingan akan dipindahkan ke kode 15431, demikian juga sebagian input primernya dipindahkan ke kode Cara mendapatkan sebagian input primer adalah : Output coklat bubuk/output keseluruhan x input primer keseluruhan apabila dengan angka adalah : Rp 256 /Rp x Rp = Rp Begitu juga untuk mendapatkan susunan input yang lain dilakukan dengan cara yang sama. LK 2 : Industri pengalengan sayuran & buah-buahan (15131) Uraian Data Asli keluar ke: setelah transfer-output (1) (2) (3) (4) (5) LK 2 : Industri makanan dari coklat & kembang gula (15432) Uraian Output 1. Coklat segala jenis 2. Kembang gula Jumlah Input 1. Coklat biji 2. Gula pasir 3. Coklat bubuk 4. Bahan kimia 5. Lainnya (selain bh baku) 6. Komponen biaya primer Jumlah Data asli (1) (2) 18,253, 56, 18,39, 9,877, 52, 269, 1,154, 1,284, 5,25, 18,39, LK 2 : Industri minuman ringan ( ) Keterangan : Untuk kelompok industri setelah proses identitas di LK ternyata tidak terjadi proses transfer-out. Oleh karena itu untuk kelompok tersebut data pindahan dari LK 1 ke LK 2 tidak mengalami perubahan sama sekali. Output 1. Sayur kalengan 2. Buah kalengan 3. Coklat bubuk 4. Sirop Jumlah Output Uraian pindah ke : data asli setelah transfer out (1) (2) (3) (4) (5) Input 1. Buah-buahan 2. Sayuran 3. Gula pasir 4. Ayam, daging, dsj 5. Minyak goreng 6. Coklat biji 7. Bumbu 8. Lainnya (selain bh baku) 9. Komponen biaya primer Jumlah Input Output 1. Minuman ringan 2. Sirup 3. Selai (jam) Jumlah Input 1. Gula 2. Buah-buahan 3. Air 4. Bahan kimia 5. Lainnya (selain bh baku) 6. Komponen biaya primer Jumlah 15,41, 7,225, 15, 22,785, 5,339, 1,75, 25, 4,318, 3,55, 7,848, 22,785, ,225, 7,225, 1,692, ,916 7,927 1,369,214 1,111,417 2,488,558 7,225, 15,41, 15,41, 3,61,884 1,183,564 17,73 2,92,359 2,37,345 5,37,776 15,41, 73 74
43 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara Setelah dilakukan proses transfer-out dengan menggunakan daftar LK 2, pekerjaan selanjutnya adalah melakukan proses transfer-in. Dengan menggunakan daftar LK 3 akan dilakukan proses transfer-in dari jenis industri yang mempunyai produk sampingan yang berbeda kode 5 digit KBLI dengan produk utama. Transfer-in akan terjadi apabila produk sampingan yang dihasilkan dari jenis industri tersebut akan masuk ke dalam suatu kelompok industri yang mempunyai kode 5 digit KBLI sama. Pemindahan dari jenis industri lain ke dalam 5 digit KBLI yang sesuai tidak hanya pada outputnya saja, akan tetapi juga pada susunan inputnya. Cara memindahkan sebagian susunan inputnya disini sama dengan pemindahan susunan input yang dilakukan pada proses transfer-out. Hasil dari proses transfer-in dapat dilihat pada masing-masing LK 3 berikut ini. LK 3 : Industri Sirup (15424) diterima dari Uraian Setelah data asli Transfer-in (1) (2) (3) (4) (5) LK 3 : Industri Pelumatan Sayuran & Buah-buahan (15133) Output 1. Selai (Jam) Jumlah Uraian Input 1. Gula 2. Buah-buahan 3. Air 4. Bahan kimia 5. lainnya 6. Komponen biaya primer Jumlah data asli terima dari Setelah Transfer-in (1) (2) (3) (4) LK 3 : Industri Bubuk Coklat (15431) Output 1. Sirup Jumlah Uraian data asli terima dari Setelah Transfer-in (1) (2) (3) (4) Input 1. Gula 2. Buah-buahan 3. Air Output 1. Coklat bubuk Jumlah Bahan kimia 5. Lainnya 6. Biaya primer Jumlah Input 1. Coklat biji 2. Lainnya (selain bahan baku) 3. Komponen biaya primer Jumlah
44 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara 1. LK 3 kode 5 digit KBLI yang muncul tersebut karena proses transfer-in. 2. Kelompok 5 digit KBLI ini mendapat pindahan produk sirup dari kelompok 5 digit KBLI (lihat kolom 3), juga menerima produk sirup dari kelompok (dapat dilihat pada kolom 4). Demikian juga LK 4: Sektor 52 (Buah-buahan & Sayuran Olahan dan Awetan) Uraian Jumlah (1) (2) (3) (4) susunan inputnya sebagian dipindahkan ke sini. Input Antara Pada contoh ini kelompok tidak mengeluarkan produknya ke kode 5 digit KBLI yang lain. Input Primer Output Hasil setelah terjadi transfer-in dari kelompok 5 digit KBLI dapat dilihat pada kolom 5. Pada kolom tersebut sudah dapat diperoleh estimasi output dan susunan input untuk masing-masing kelompok 5 digit LK 4: Sektor 64 (Industri Coklat & Kembang Gula) KBLI dari seluruh jenis komoditi. Berdasarkan contoh diatas maka dapat diperlihatkan melalui daftar LK 4 penggolongan output dan susunan input untuk masing-masing kelompok 5 digit KBLI ke dalam kode sektor INPUT-OUTPUT yang sesuai. Pada daftar Uraian Jumlah (1) (2) (3) (4) Input Antara Input Primer Output LK 4 tersebut disajikan susunan hanya dalam bentuk agregatif (input antara dan input primer) sekedar untuk memperlihatkan bahwa output dan susunan input sektoral untuk tabel input-output sudah bisa disediakan melalui proses Lk 4: Sektor 71 (Minuman Tidak Beralkohol) TOTI. Uraian Jumlah (1) (2) (3) (4) Input Antara Input Primer Output
45 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih Dalam penyusunan tabel input-output nasional biasanya sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih dikelompokkan menjadi dua sektor yaitu sektor Listrik dan Gas dan sektor Air Bersih. Penggolongan sektor dalam rangka penyusunan tabel input-output daerah dapat dilakukan sesuai kondisi/potensi ekonomi di masing-masing daerah. Uraian berikut ini menjelaskan bagaimana penyusunan estimasi output dan struktur input untuk masing-masing komoditi. a. Listrik Sektor listrik meliputi kegiatan pembangkitan dan penyaluran tenaga listrik dengan tujuan untuk dijual. Di Indonesia kegiatan ini disamping dilakukan oleh Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) dapat juga dilakukan oleh perusahaan Non-PLN seperti perusahaan pemerintah (BUMN dan BUMD), perusahaan swasta, koperasi, dan perorangan. Listrik Non-PLN meliputi produksi listrik perusahaan Non-PLN yang dijual ke PLN dan yang dijual langsung ke konsumen oleh perusahaan tersebut. Estimasi Output listrik meliputi listrik yang dijual, dipakai sendiri, hilang dalam transmisi dan yang dicuri. Output listrik tersebut dihitung berdasarkan perkalian antara produksi dan harga per satuan produksi untuk masingmasing listrik PLN dan Non-PLN. Untuk listrik PLN, ke dalam nilai outputnya masih harus ditambahkan lagi dengan pendapatan lainnya yang berupa margin yang diperoleh karena mendistribusikan listrik Non-PLN. Data produksi listrik PLN dan Non-PLN yang pemasarannya lewat PLN dapat diperoleh dari Survei Tahunan BPS. Sedangkan data produksi listrik Non-PLN yang pemasarannya tidak melalui PLN, seperti rumah tangga yang membangkitkan listrik dan menjualnya langsung ke konsumen, dapat diperoleh melalui Survei Khusus Input-Output. Data harga listrik PLN dan Non-PLN dapat diperoleh dari salah satu sumber yaitu survei Tahunan BPS atau publikasi tahunan Statistik PLN yang diterbitkan oleh PLN. Estimasi susunan input listrik PLN dan Non PLN dapat diperoleh langsung melalui SKIO. Namun demikian untuk memperoleh estimasi susunan input listrik PLN dan Non PLN yang memasarkan listriknya langsung ke konsumen dapat juga digunakan hasil survei tahunan BPS, asalkan komponen biaya yang masih tergabung dapat dirinci. Pemecahannya dapat digunakan SKIO tahun sebelumnya (tahun sebelum periode penyusunan tabel input-output). Melalui contoh berikut diperlihatkan bagaimana SKIO tahun sebelumnya digunakan untuk mengalokir susunan input listrik PLN dan Non PLN yang memasarkan listriknya langsung ke konsumen hasil survei tahunan BPS, sesuai dengan klasifikasi tabel input-output. Dari Survei Tahunan BPS, dapat diperoleh output dan susunan input listrik PLN dan Non-PLN yang memasarkan listriknya melalui PLN seperti dapat dilihat pada Tabel 4.3. Dari Tabel 4.3 tersebut diketahui bahwa biaya antara untuk jasa-jasa adalah sebesar Rp 52, miliar. Biaya antara jasa-jasa sebesar ini masih sangat agregatif untuk digunakan dalam penyusunan tabel input-output. Untuk memecah biaya antara jasa-jasa tersebut dapat digunakan hasil SKIO tahun
46 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara Tabel 4.3 Susunan Output dan Input Listrik PLN Hasil Survei Tahunan BPS (Dalam Miliar Rupiah) Tabel 4.4 Lembar Kerja Pemecahan Input Antara Jasa-jasa untuk Menggunakan Hasil SKIO (Juta Rp) Perincian Nilai (%) Komponen SKIO Nilai (%) Nilai Utk Tabel I-O (1) (2) (3) Output 3528,3 1, Biaya Antara 242,8 68,61 - Bahan bakar dan pelumas 533,9 43,48 - Alat tulis dan keperluan kantor 12,5,36 - Suku cadang untuk perbaikan kecil 195,6 5,54 - Pemeliharaan dan perbaikan kecil barang 14,2 2,95 modal 1,2,3 - Real estat, mesin, dan alat-alat 52, 1,47 - Jasa-jasa 521,4 14,78 - Listrik hilang 117,5 31,39 Biaya Primer (NTB) 257,3 7,29 - Upah dan Gajih 1,8,5 - Pajak Tak Langsung Neto 53,8 15,5 - Penyusutan Barang Modal 317,6 9, Surplus Usaha Berdasarkan SKIO tahun 25 dapat diperoleh rincian biaya jasa-jasa yang mengikuti klasifikasi tabel input-output dengan perincian seperti pada Tabel 4.4 berikut. (1) (2) (3) (4) 1. Jasa Restoran 75 1, Jasa Perhotelan 3 6, Jasa Angkutan Kereta Api, 4. Jasa Angkutan Jalan Raya 36 8, Jasa Angkutan Laut, 6. Jasa Angkutan Sungai dan Danau 125 2, Jasa Angkutan Udara 151 3, Jasa Penunjang Angkutan 2, Jasa Komunikasi 276 6, Jasa Bank dan Lembaga Keuangan , Lainnya 87 2, Jasa Asuransi , Jasa Perusahaan, 13. Jasa Pendidikan, 14. Jasa Kesehatan, 15. Jasa Kemasyarakatan Lainnya Jumlah Jasa-jasa , 52 Tabel 4.4 kolom (2) dan (3) diturunkan dari hasil pengolahan SKIO dengan mengambil rincian-rincian yang berkaitan dengan biaya antara jasajasa. Kemudian dengan mengalikan nilai biaya antara jasa-jasa sebesar Rp 81 82
47 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara 52, miliar (lihat tabel 4.3) dengan koefisien input antara jasa-jasa (Tabel 4.4 kolom 3) diperoleh rincian susunan input biaya antara jasa-jasa sektor listrik. Estimasi output dan struktur input listrik Non-PLN yang memasarkan listriknya langsung ke konsumen dapat diperoleh dari hasil survei tahunan industri besar/sedang khusus listrik Non-PLN yang dibangkitkan oleh perusahaan industri. Sedangkan estimasi output dan struktur input listrik Non PLN yang dibangkitkan oleh perusahaan yang bukan industri, rumah tangga, dan koperasi yang memasarkan listriknya langsung ke konsumen, dapat diperoleh melalui SKIO. Output dan struktur input listrik Non PLN yang memasarkan listriknya langsung ke konsumen diperoleh dengan menjumlahkan output dan struktur input perusahaan industri, perusahaan bukan industri, rumah tangga, dan koperasi. Demikian pula untuk mendapatkan output dan struktur input sektor listrik diperoleh dengan menjumlahkan output dan struktur input listrik PLN dan Non PLN. b. Gas Sektor gas mencakup kegiatan penyediaan serta penyaluran gas untuk keperluan bahan bakar rumah tangga, industri, rumah sakit, hotel, dan sebagainya. Di Indonesia kegiatan usaha ini hanya dilakukan oleh Perum Gas Negara. Gas yang dihasilkan oleh sektor ini meliputi gas batu bara, gas minyak, dan gas campur yang diperoleh dari proses pembakaran batu bara, minyak bumi, dan cracking. Bersama dengan proses tersebut dihasilkan produk ikutan berupa ter, kokas, dan minyak ter, Mulai tahun 1991 bahan baku gas yang digunakan adalah gas alam tanpa produk ikutan. Output sektor Gas dihitung berdasarkan perkalian antara produksi dengan harga, Data produksi dan harga diperoleh dari survei Tahunan BPS. c. Air Bersih Sektor Air Bersih meliputi kegiatan penjernihan, penampungan dan pendistribusian air bersih secara langsung melalui pipa atau mobil tangki dengan tujuan untuk dijual. Kegiatan ini dapat dilakukan oleh Perusahaan Air Bersih (PAM) maupun bukan PAM. Output sektor Air Bersih merupakan perkalian antara produksi dengan harga. Data produksi dan harga sektor Air Bersih dapat diperoleh dari survei tahunan BPS. Estimasi susunan input Air Bersih dapat diperoleh dari SKIO atau hasil Survei Tahunan BPS, asalkan komponen biaya yang masih tergabung dapat dirinci. Pemecahannya dapat menggunakan SKIO tahun sebelumnya seperti yang dicontohkan pada komoditi listrik Kontruksi Sektor konstruksi adalah suatu kegiatan yang hasil akhirnya berupa bangunan/konstruksi yang menyatu dengan lahan tempat kedudukannya, baik digunakan sebagai tempat tinggal atau sarana lainnya. Kegiatan di sektor ini dapat dilakukan oleh kontraktor umum (General Contractor) dan kontraktor khusus (Special Contractor) termasuk pula kegiatan konstruksi yang dilakukan oleh perseorangan/individu. Pengertian kontraktor umum adalah perusahaan-perusahaan yang melaksanakan pekerjaan kontruksi baik untuk pihak lain atau untuk keperluan sendiri. Sedangkan kontraktor khusus adalah perusahaan/unit usaha yang biasanya hanya mengerjakan sebagian dari satu pekerjaan proyek atas dasar suatu kontrak dengan pihak lain, Contoh: Pekerjaan pembuatan fondasi yang dilakukan oleh PT Franky Fondation dan pekerjaan pemasangan alat pendingin ruangan (AC)
48 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara Output sektor konstruksi adalah nilai pekerjaan yang telah dilakukan selama satu tahun kalender (Januari-Desember) tanpa melihat apakah konstruksi tersebut sudah seluruhnya jadi atau belum pada tahun tersebut. Pada penyusunan tabel input-output Indonesia, sektor konstruksi dibedakan menjadi 5 sektor utama yaitu Bangunan tempat tinggal dan bukan tempat tinggal; Prasarana pertanian; Jalan/jembatan dan pelabuhan; Bangunan instalasi listrik, gas, air bersih, dan komunikasi; serta Konstruksi lainnya. Estimasi output total masih dapat diperoleh melalui cara lazim yang telah ada, yaitu pendekatan produksi. Pendekatan produksi ini lebih dikenal dengan metode pendekatan arus barang (Commodity Flow Approach) yaitu suatu metode pendugaan output sektor konstruksi berdasarkan input yang diperoleh dari sektor lain. Untuk mendapatkan pemecahan output total sesuai dengan klasifikasi tabel input-output di atas, digunakan indikator yang tersedia, misalnya hasil Survei Tahunan Perusahaan Konstruksi AKI (Asosiasi Konstruksi Indonesia) dan Non AKI yang dilakukan BPS. Tabel di bawah ini memperlihatkan contoh bagaimana indikator survei AKI dan Non AKI dapat memecah output total menjadi output sektor-sektor menurut klasifikasi tabel input-output. Tabel 4.5 Alokasi Output Konstruksi Menggunakan Indikator Survei AKI dan Non AKI Perincian Survei AKI dan Non AKI Nilai % Output (1) (2) (3) (4) 1. Bangunan Tempat tinggal dan Bukan Tempat tinggal 2. Prasarana Pertanian 3. Jalan, jembatan, dan pelabuhan 4. Bangunan instalasi listrik, gas, air Bersih, dan komunikasi 5. Bangunan lainnya Total , Perdagangan, Restoran dan Hotel a. Sektor Perdagangan Sektor perdagangan mencakup kegiatan pengumpulan dan pendistribusian barang baru maupun bekas, oleh para pedagang. Pendistribusian tersebut dimulai dari tangan produsen (untuk produk dalam negeri) dan importir (untuk produk impor) sampai ke tangan konsumen tanpa merubah sifat dari barang tersebut. Produsen atau importir yang dimaksud disini adalah penyedia/pemasok (supplier) pertama pada suatu periode. Sedangkan konsumen adalah pemakai/pengguna barang tersebut yang 85 86
49 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara terdiri dari sektor-sektor produksi, rumah tangga, lembaga nirlaba, pemerintah, pembentukan modal, inventori dan ekspor. Termasuk di sini kegiatan pedagang perantara, agen dan bagian pemasaran dari yang menghasilkan produk (barang) yang diperdagangkan tersebut. Menurut fungsi dan tujuannya perdagangan dibedakan ke dalam 2 jenis kegiatan, yaitu perdagangan besar dan perdagangan eceran. Perdagangan besar umumnya melayani penjualan dalam jumlah besar (grosir) sedangkan perdagangan eceran dalam jumlah kecil. Pembeli pada pedagang eceran umumnya adalah rumah tangga sedangkan pembeli pada pedagang besar umumnya pedagang eceran, pedagang besar lainnya, perusahaan, instansi pemerintah dan lembaga nirlaba. Barang yang siap untuk diperdagangkan meliputi barang baru maupun barang bekas yang berasal dari produksi dalam negeri (domestik) maupun luar negeri (impor). Output perdagangan merupakan jumlah margin dari nilai barang yang diperdagangkan. Perhitungan output ini dilakukan dengan melakukan pendekatan arus barang, yaitu total nilai barang yang diperdagangkan dikalikan dengan rasio margin perdagangan. Data mengenai total nilai barang diperdagangkan yang berasal dari produk domestik diperoleh dari hasil estimasi output masing-masing komoditi, sedangkan yang berasal dari produk impor diperoleh dari statistik impor (BPS). Sedangkan data mengenai rasio margin perdagangan baik untuk produk domestik maupun impor diperoleh dari survei khusus. Struktur input kegiatan perdagangan antara lain meliputi pengeluaran untuk bahan pembungkus dan pengepakan, biaya promosi dan periklanan, sewa tempat, perlengkapan tulis menulis, listrik dan telepon, biaya pos dan pengiriman, iuran dan retribusi, biaya pegawai, pajak dan pengeluaran lainnya. Sumber data yang digunakan berasal dari SKIO, dimana dari hasil pengolahan survei tersebut akan diperoleh data rasio masing-masing komponen input terhadap total pendapatan/pengeluarannya. Dalam tabel input-output sektor perdagangan mendapatkan perlakuan khusus, yaitu sektor perdagangan dianggap tidak membeli atau menjual barang, tetapi dianggap sebagai penyedia pelayanan penyaluran. Akibatnya dalam tabel input-output diperlihatkan bahwa arus produksi seolah-olah bergerak dari sektor produsen langsung ke sektor pemakai dan konsumen akhir. b. Sektor Restoran dan Hotel Kegiatan restoran mencakup kegiatan penyediaan makanan dan bersihan jadi untuk dikonsumsi dengan jalan menghidangkan di tempat penjualan (dikonsumsi langsung) atau tidak di tempat (dibawa pergi). Cara penjualannya bisa dilakukan pada suatu tempat tertentu secara menetap maupun dijajakan secara berkeliling. Contoh kegiatan ini antara lain restoran, warung, kafe, rumah makan, kantin, katering (jasa boga) dan sejenisnya. Termasuk disini kegiatan penyediaan makanan dan bersihan yang merupakan satu-satuan kegiatan usaha atau usaha sampingan pada perusahaan. Kegiatan penyediaan makanan dan bersihan yang bersifat menunjang usaha utama dan pada umumnya biayanya sudah termasuk dalam tarif per satuan hasil utamanya, tidak termasuk dalam kegiatan restoran tetapi dimasukkan ke dalam kegiatan utamanya, seperti perhotelan, angkutan bus malam, penerbangan, pengangkutan laut dan sejenisnya. Output restoran diperoleh dengan cara mengalikan tenaga kerja dengan rata-rata output per tenaga kerja. Data jumlah tenaga kerja diperoleh dari Sensus Penduduk atau Survei Angkatan Kerja Nasional, sedangkan rata-rata output per tenaga kerjanya dari Survei Khusus Input Output (SKIO). Struktur input kegiatan restoran antara lain produk pertanian seperti jagung, kacangkacangan, buah-buahan, sayur-sayuran, rempah-rempah, produk peternakan, kayu bakar, arang, ikan segar, hasil laut lainnya, bahan bakar, daging dan ikan olahan, produk dari susu, buah-buahan dan sayur-sayuran dalam kaleng, minyak goreng, beras, tepung terigu dan sejenisnya, produk mie dan sejenisnya, gula, teh, kopi, produk bersihan lainnya, kecap dan produk kedelai lainnya, alat dan obat-obatan pembersih, bahan-bahan yang 87 88
50 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara terbuat dari tekstil, bahan pembungkus dan pengikat, peralatan makanan yang terbuat dari plastik dan kertas, biaya perjalanan, biaya pengangkutan, pengeluaran perbaikan barang modal yang bersifat reguler, biaya pengiriman, rekening telekomunikasi, biaya bank, real estat, jasa profesi, penyewaan alatalat, biaya promosi dan periklanan, pengeluaran pendidikan, honorarium artis/penghibur, dan sebagainya, Sumber data struktur input berasal dari SKIO. Melalui hasil pengolahan SKIO diperoleh data rasio dari masingmasing komponen input terhadap total pendapatan/pengeluaran. Kegiatan hotel mencakup kegiatan penyediaan akomodasi yang menggunakan satu atau sebagian dari bangunan sebagai tempat penginapan, atas dasar suatu pembayaran, Kegiatan perhotelan yang tujuannya hanya untuk melayani anggota dari suatu organisasi tertentu, dan usahanya tidak bersifat komersial tidak dicakup disini, disamping data mengenai kegiatan tersebut sulit diperoleh. Termasuk di sini kegiatan penyediaan makanan dan bersihan serta fasilitas lain yang disediakan bagi tamu yang menginap. Fasilitas-fasilitas yang disediakan seperti kolam renang, fasilitas olah raga, penjemputan, discotique/bar dan sebagainya merupakan satu-satuan usaha yang sulit untuk dipisahkan dari kegiatan perhotelan. Tidak termasuk di sini kegiatan yang merupakan usaha sampingan penginapan yang berdiri sendiri dan datanya dapat dipisahkan, seperti usaha perparkiran, penyewaan ruang perkantoran, penyelenggaraan rapat/pesta dan sebagainya. Output perhotelan diperoleh dengan mengalikan jumlah kamar yang tersedia dikalikan dengan tingkat pengisian (load factor) dikali dengan ratarata output per kamar. Data mengenai jumlah kamar yang tersedia diperoleh dari Publikasi Statistik Pariwisata (BPS) dan Dirjen Pariwisata. Data mengenai rata-rata output per kamar diperoleh dari SKIO. Struktur input kegiatan hotel antara lain meliputi biaya pemeliharaan dan perbaikan, rekening listrik dan air bersih, seragam, bunga dan tanaman hias, promosi dan periklanan, biaya telekomunikasi, jasa informasi, bahan dan alat pembersih, barang dari tekstil, dan sebagainya. Sumber data struktur input diperoleh dari hasil pengolahan SKIO Pengangkutan dan Komunikasi a. Sektor Angkutan Kereta Api Kegiatan ini meliputi pengangkutan barang dan penumpang dengan menggunakan jasa kereta api, yang sepenuhnya dikelola oleh PT. Kereta Api Indonesia secara monopoli. Dalam prakteknya, PT. Kereta Api Indonesia hanya beroperasi di pulau Jawa dan Sumatera saja, sehingga untuk di daerah atau pulau lainnya tidak ada jasa angkutan kereta api. Output kegiatan ini diperoleh dari penjumlahan hasil penjualan karcis dan kegiatan lain yang berkaitan langsung dengan kegiatan pengangkutan kereta api yang bersumber dari laporan keuangan PT. Kereta Api Indonesia. Sedangkan struktur inputnya antara lain meliputi biaya bahan bakar, bensin, pelumas dan sejenisnya, biaya pemeliharaan dan perbaikan rutin kereta api, biaya alat tulis kantor, biaya listrik dan telepon, biaya pegawai dan biaya sewa. Struktur input ini diperoleh berdasarkan pengolahan laporan keuangan PT. Kereta Api Indonesia. b. Sektor Angkutan Jalan Raya Sektor ini meliputi kegiatan pengangkutan barang dan penumpang dengan menggunakan kendaraan umum angkutan jalan raya baik bermotor maupun tidak bermotor. Termasuk disini kegiatan lainnya seperti charter/sewa kendaraan baik dengan atau tanpa pengemudi. Tidak termasuk kegiatan lainnya yang diusahakan sebagai satu satuan usaha dengan kegiatan ini seperti jasa bongkar muat, keagenan barang dan penumpang, perbaikan dan pemeliharaan. 89 9
51 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara Output sektor jalan raya diperoleh berdasarkan perkalian antara jumlah armada dengan rata-rata output per armada untuk masing-masing jenis angkutan. Struktur inputnya antara lain mencakup pembelian bahan bakar minyak dan pelumas, biaya pemeliharaan dan perawatan kendaraan yang sifatnya rutin, pembelian ban dan spare parts, biaya pegawai, pembayaran retribusi dan pajak kendaraan. Struktur input ini diperoleh berdasarkan perkalian antara rasio struktur input dengan output. Data mengenai jumlah armada angkutan jalan raya diperoleh dari DLLAJR (Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya), sedangkan data mengenai rata-rata output per kendaraan dan rasio struktur input diperoleh dari hasil survei khusus. c. Sektor Angkutan Laut Kegiatan yang dicakup disini meliputi kegiatan pengangkutan barang dan penumpang dengan menggunakan kapal-kapal pelayaran nusantara/pelayaran antar pulau dan pelayaran samudera. Tidak termasuk kegiatan pelayaran laut yang diusahakan oleh perusahaan lain yang berada dalam satu satuan usaha, dimana kegiatan pelayaran ini sifatnya hanya menunjang dari kegiatan induknya. Data tersebut sulit untuk dipisahkan, misalnya tangker-tangker yang diusahakan oleh Pertamina untuk angkutan di dalam negeri, kapal milik perusahaan penangkapan ikan dan angkutan khusus lainnya. Output sektor ini diperoleh dengan mengalikan jumlah barang dan penumpang yang diangkut dengan rata-rata output per barang dan penumpang. Struktur inputnya antara lain meliputi pembelian bahan bakar, pembelian pelumas, biaya perawatan dan pemeliharaan rutin, biaya pelabuhan, biaya pegawai, perlengkapan ABK, suplai kapal, biaya alat tulis kantor dan pembayaran pajak. Struktur input ini diperoleh berdasarkan perkalian antara rasio struktur input dengan output. Data mengenai jumlah barang dan penumpang yang diangkut diperoleh dari Departemen Perhubungan. Sedangkan data mengenai rata-rata output barang dan penumpang serta rasio struktur input diperoleh dari hasil survei khusus. d. Sektor Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan Sektor ini meliputi kegiatan pengangkutan barang dan penumpang dengan menggunakan kendaraan/kapal sungai dan danau baik bermotor maupun tidak bermotor. Termasuk juga disini kegiatan penyewaan/ charter kapal baik dengan maupun tanpa pengemudi. Tidak termasuk kegiatan lain yang sifatnya menunjang kegiatan pengangkutan seperti pelabuhan sungai, perbaikan dan pemeliharaan kapal, baik yang dilakukan di bawah satu satuan usaha dengan angkutan sungai maupun secara terpisah. Output diperoleh dengan cara mengalikan indikator produksi (jumlah armada) dengan indikator harga (rata-rata output per armada) yang terdiri dari angkutan sungai dan danau serta penyeberangan. Struktur inputnya antara lain mencakup pembelian bahan bakar, pembelian pelumas, biaya perawatan dan pemeliharaan rutin, biaya pelabuhan, biaya pegawai, biaya alat tulis kantor dan pembayaran pajak. Struktur input ini diperoleh berdasarkan perkalian antara rasio struktur input dengan output. Data mengenai jumlah armada kapal baik yang bermotor maupun tidak bermotor dapat diperoleh dari PT ASDP. Sedangkan data mengenai rata-rata output per kapal serta struktur inputnya diperoleh dari hasil survei khusus. e. Sektor Angkutan Udara Sektor ini meliputi kegiatan pengangkutan penumpang dan barang dengan menggunakan pesawat udara yang diusahakan oleh perusahaan penerbangan nasional. Tidak termasuk disini kegiatan penerbangan yang dilakukan oleh instansi/perkumpulan yang sifatnya tidak terbuka untuk umum
52 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara Output angkutan udara merupakan jumlah penerimaan perusahaan angkutan udara di daerah tersebut baik yang mempunyai klasifikasi operasi berjadwal maupun tidak berjadwal (charter). Struktur inputnya antara lain meliputi biaya tenaga kerja, pembelian bahan bakar dan pelumas, biaya pemeliharaan dan perbaikan rutin, biaya hanggar, biaya asuransi pesawat, biaya stasiun dan fasilitas penerbangan, biaya pelayanan, promosi dan penjualan, serta biaya umum dan administrasi. Struktur input ini diperoleh berdasarkan perkalian antara rasio struktur input dengan output. Data output serta rasio struktur input diperoleh dari hasil pengolahan Survei Angkutan Udara, BPS. f. Sektor Jasa Penunjang Angkutan Kegiatan yang dicakup di sini adalah kegiatan yang bersifat menunjang dan memperlancar kegiatan pengangkutan, yaitu jasa terminal dan parkir, pelabuhan laut, sungai dan udara, bongkar muat, pergudangan, keagenan barang dan penumpang, ekspedisi muatan kapal laut dan udara, serta jalan tol. Pada umumnya output dari kegiatan-kegiatan ini diperkirakan berdasarkan pendekatan produksi yaitu perkalian antara indikator produksi dengan indikator harga. Untuk kegiatan-kegiatan yang tidak dapat dilakukan pendekatan produksi, maka dilakukan pendekatan institusi yaitu berdasarkan pengolahan laporan keuangan dari perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam kegiatan tersebut, seperti pelabuhan laut dan keagenan. Struktur inputnya antara lain mencakup pembelian bahan bakar, pembelian pelumas, biaya perawatan dan pemeliharaan rutin, biaya pegawai, biaya alat tulis kantor, biaya listrik dan telepon, biaya retribusi dan pembayaran pajak. Struktur input ini diperoleh berdasarkan perkalian antara output dengan rasio struktur input yang diperoleh dari hasil survei khusus. Pada dasarnya sektor pengangkutan ditujukan untuk penumpang, angkutan barang dagangan dan angkutan barang bukan dagangan (barang milik sendiri). Dalam tabel input-output, angkutan untuk barang dagangan diperlakukan khusus seperti sektor perdagangan. g. Sektor Komunikasi Sektor ini terdiri atas dua kegiatan utama yaitu Pos dan Giro serta Telekomunikasi. Pos dan Giro meliputi kegiatan pemberian jasa kepada pihak lain dalam hal pengiriman surat, wesel dan paket pos. Termasuk disini pemberian jasa kepada pihak ketiga seperti jasa giro, jasa tabungan, pemungutan iuran radio dan televisi dan lain-lainnya yang diusahakan oleh PT Pos Indonesia. Sedangkan telekomunikasi meliputi kegiatan pemberian jasa kepada pihak lain dalam hal pengiriman berita melalui telegram, telepon dan telex yang diusahakan oleh PT Telekomunikasi, PT Indosat dan operator swasta lainnya. Output sektor ini merupakan penjumlahan dari penerimaan atas kegiatan pos dan giro serta telekomunikasi yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan komunikasi. Struktur inputnya antara lain meliputi pembelian bahan bakar, pembelian pelumas, biaya perawatan dan pemeliharaan rutin, biaya pegawai, biaya alat tulis kantor, biaya pos dan giro, biaya sewa, biaya listrik dan telepon dan pembayaran pajak. Struktur input ini diperoleh dari hasil pengolahan laporan keuangan ketiga perusahaan tersebut Sektor Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Kegiatan sektor bank dan lembaga keuangan lainnya mencakup usaha perbankan dan moneter, lembaga keuangan bukan bank, jasa penunjang lembaga keuangan, dan usaha persewaan bangunan dan tanah. Cakupan dari masing-masing sektor tersebut adalah sebagai berikut: 93 94
53 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara a. Usaha Perbankan dan Moneter Usaha Jasa Perbankan dan Moneter adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan kredit dan memberikan jasa-jasa dalam lalu lintas pembayaran dan peredaran uang. Kegiatan yang dicakup dalam subsektor ini meliputi; menerima simpanan terutama dalam bentuk giro dan deposito, memberikan kredit/pinjaman baik kredit jangka pendek/menengah dan panjang, mengirim uang, membeli dan menjual surat-surat berharga, mendiskonto surat wesel/kertas dagang/surat hutang dan sejenisnya, menyewakan tempat menyimpan barang berharga, dan sebagainya. Dilihat dari segi fungsinya perusahaan Bank dapat merupakan Bank Sentral, Bank Umum, Bank Devisa, Bank Pembangunan, Bank Tabungan dan Bank Desa. Sedangkan jika ditinjau dari segi kepemilikannya dapat merupakan Bank Pemerintah, Bank Swasta Nasional dan Bank Asing, serta kalau ditinjau dari segi penciptaan uang giral dikenal dua jenis bank yaitu: a. Bank Primer adalah bank yang dapat menciptakan uang giral, dan yang tergolong dalam bank primer yaitu Bank Sentral (yang dapat menciptakan kredit dalam bentuk uang kertas dan uang giral) dan Bank Umum (yang dapat menciptakan uang giral). b. Bank Sekunder adalah Bank yang bertugas sebagai perantara dalam menyalurkan kredit. Yang tergolong dalam bank sekunder adalah Bank Tabungan dan Bank-bank lainnya (Bank Pembangunan dan Bank Hipotik) yang tidak menciptakan uang giral. Output dari usaha jasa perbankan meliputi penerimaan provisi dan komisi, penerimaan neto dari transaksi devisa, pendapatan operasional lainnya serta imputasi jasa pelayanan bank. Data perbankan, baik output maupun struktur inputnya diperoleh langsung dari Bank Indonesia. Masalahnya, beberapa struktur input data yang diperoleh dari Bank Indonesia ada masih gabungan, belum sesuai dengan klasifikasi sektor INPUT- OUTPUT. Angka gabungan tersebut harus dipisahkan menurut banyaknya sektor INPUT-OUTPUT yang mencakup dalam struktur input. Untuk memisahkan angka gabungan tersebut biasanya digunakan indikator pemisah (dapat berupa rasio-rasio) yang diperoleh dari hasil SKIO. Output sektor Bank pada dasarnya bersumber pada Bank Indonesia, namun dalam penghitungan output tersebut tidak menutup kemungkinan adanya transfer in dan transfer out dari dan ke sektor lain. Pada umumnya transfer in dan transfer out dilakukan baik untuk output maupun inputnya. Hal yang sering terjadi pada sektor Bank dan lembaga keuangan lainnya adalah transfer out ke sektor Real estat dan tanah, sedangkan transfer in yang biasa terjadi masih pada sub sektor Bank dan lembaga keuangan lainnya. Contohnya : Kegiatan Dana Pensiun 1. Pendapatan operasional : - Bunga deposito a - Bunga obligasi b - Bunga surat berharga lainnya c - Bunga pinjaman dari anggota d - Dividen e - Jasa giro f - Lainnya g 2. Pendapatan non operasional: - Pendapatan dari usaha persewaan: - Bangunan / Gedung h - Kendaraan I - Mesin dan peralatannya (komputer, scanner, dan sebagainya) j - Selisih kurs k Dari kegiatan tersebut diatas bahwa yang termasuk dalam output Dana Pensiun adalah pendapatan operasional (rincian a s/d g), sedangkan 95 96
54 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara pendapatan non operasionalnya harus diperlakukan sebagai transfer out ke sektor lainnya, yaitu: - Pendapatan dari usaha persewaan bangunan/gedung (rincian h) harus ditransfer out ke sektor Real estat dan tanah. - Pendapatan dari usaha persewaan kendaraan (rincian i) harus ditransfer out ke sektor jasa perusahaan. - Pendapatan dari usaha persewaan mesin dan peralatannya (rincian j) harus ditransfer ke sektor jasa perusahaan. - Pendapatan dari selisih kurs (rincian k) harus ditransfer ke sektor jasa penunjang keuangan (pedagang valuta asing). b. Lembaga Keuangan Bukan Bank Mencakup kegiatan Asuransi, Dana Pensiun, Pegadaian, Koperasi Simpan Pinjam, dan Lembaga Pembiayaan (Sewa Guna Usaha, Modal Ventura, Anjak Piutang Pembiayaan Konsumen dan Kartu Kredit). Usaha Jasa Asuransi, mencakup asuransi jiwa dan asuransi bukan jiwa, termasuk asuransi kerugian dan asuransi sosial yang dikelola oleh PT Taspen, Perum Asabri, PT Astek, dan sejenisnya (broker asuransi, adjuster asuransi). Asuransi adalah salah satu jenis lembaga keuangan yang usaha pokoknya menanggung resiko-resiko atas terjadinya kerugian finansial terhadap sesuatu barang atau jiwa manusia yang disebabkan oleh terjadinya musibah/kecelakaan atas barang atau orang tersebut (termasuk tunjangan hari tua), sehingga mengakibatkan hancur/rusaknya barang atau mengakibatkan terjadinya kematian. Asuransi Jiwa adalah usaha perasuransian yang khusus menanggung resiko kematian, kecelakaan atau sakit, termasuk juga jaminan hari tua/masa depan pihak tertanggung dengan suatu nilai pertanggungan yang besarnya sudah ditentukan dan disetujui oleh kedua belah pihak yang dicantumkan dalam surat perjanjian. Asuransi Kerugian adalah usaha perasuransian yang khusus menanggung resiko atas kerugian, kehilangan atau kerusakan harta milik/benda termasuk juga tanggung jawab hukum pada pihak ketiga yang mungkin terjadi terhadap benda/ harta milik tertanggung karena sebab-sebab tertentu dengan suatu nilai pertanggungan yang besarnya telah ditentukan dan disetujui oleh kedua belah pihak yang dicantumkan dalam surat perjanjian. Asuransi Sosial adalah usaha perasuransian yang mencakup usaha asuransi jiwa dan bukan jiwa (kerugian) yang dibentuk pemerintah berdasarkan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara pihak asuransi dengan seluruh/ segolongan masyarakat untuk tujuan sosial. Pihak asuransi akan menerima/menampung sejumlah iuran/sumbangan wajib dari masyarakat yang menggunakan jasa pelayanan umum, seperti; jasa angkutan, jasa kesehatan, jasa/pelayanan terhadap pemilik kendaraan bermotor dan pelayanan hari tua. Output dari kegiatan asuransi merupakan rekapitulasi dari output asuransi jiwa, asuransi bukan jiwa (asuransi sosial, asuransi dan reasuransi kerugian, serta broker asuransi). Data output kegiatan usaha jasa asuransi diperoleh dari Departemen Keuangan yang berupa data Laporan Tahunan Kegiatan Perasuransian di Indonesia, Namun secara teoritis perhitungan output asuransi adalah sebagai berikut: Asuransi Jiwa outputnya adalah premi dikurangi klaim dikurangi selisih cadangan aktuaria. Untuk praktisnya cadangan aktuaria ini dianggap sama dengan cadangan premi, oleh karena perusahaan asuransi seringkali mengasuransikan kembali premi yang diterima ke perusahaan reasuransi maka pengertian premi dan klaim di atas dalam bentuk nilai neto, sehingga: Output = Premi neto - (klaim neto + cadangan aktuaria) Berdasarkan data yang tersedia, konsep output ini ekivalen dengan Surplus Underwriting untuk asuransi jiwa dan Reasuransi Umum. Sedangkan 97 98
55 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara untuk asuransi sosial (Taspen, Asabri, Astek, Askes dan sejenisnya), data surplus underwriting tidak tersedia dan apabila rumus output diatas yang digunakan akan diperoleh nilai negatif. Untuk itu output asuransi sosial dianggap sama dengan premi neto dikurangi klaim neto. Perkiraan penghitungan output asuransi bukan jiwa yang meliputi asuransi kredit (Askrindo), asuransi dan reasuransi kerugian, broker asuransi adalah: Output asuransi kredit = jumlah premi neto - klaim neto Output broker asuransi = jumlah komisi yang diterima Premi yang diterima oleh broker asuransi tidak dimasukkan sebagai bagian output, karena premi tersebut sudah tercermin dalam premi yang diterima asuransi lain yang mengadakan kontrak dengan broker asuransi. Sedangkan ouput asuransi dan reasuransi kerugian adalah surplus underwriting + hasil lainnya. Struktur input dari usaha jasa asuransi diperoleh dari pengolahan terhadap data yang bersumber pada Departemen Keuangan berupa Laporan Tahunan Kegiatan Perasuransian di Indonesia, dan jika masih ditemukan struktur input yang sifatnya masih gabungan maka cara pemecahannya sama seperti pada penjelasan sebelumnya (lihat penjelasan pada usaha perbankan). Dana Pensiun adalah badan hukum yang mengelola dan menjalankan program yang menjanjikan manfaat pensiun, yang dikelompokkan ke dalam dua bentuk program pensiun yaitu: a. Program pensiun manfaat pasti, yaitu program pensiun yang manfaatnya ditetapkan dalam peraturan dana pensiun atau program pensiun lainnya yang bukan merupakan program pensiun iuran pasti. b. Program pensiun iuran pasti, yaitu program pensiun yang iurannya ditetapkan dalam peraturan dana pensiun, dan seluruh iuran serta hasil pengembangannya dibukukan pada rekening masing-masing peserta sebagai manfaat pensiun. Manfaat Pensiun adalah pembayaran berkala yang dibayarkan kepada peserta pada saat peserta pensiun dan dengan cara yang ditetapkan dalam peraturan dana pensiun. Manfaat pensiun terdiri dari manfaat pensiun normal, manfaat pensiun dipercepat, manfaat pensiun cacat dan manfaat pensiun ditunda. Jenis dana pensiun dibedakan menjadi dua yaitu: a. Dana Pensiun Pemberi Kerja dan b. Dana Pensiun Lembaga Keuangan Output dan struktur input dari kegiatan Dana Pensiun diperoleh dari hasil pengolahan laporan keuangan (Neraca Rugi/Laba) kegiatan tersebut. Pegadaian, mencakup usaha lembaga perkreditan pemerintah yang bersifat monopoli dan dibentuk berdasarkan ketentuan undang-undang, yang tugasnya antara lain membina perekonomian rakyat kecil dengan menyalurkan kredit atas dasar hukum gadai dengan cara yang mudah, cepat, aman dan hemat kepada para petani, nelayan, pedagang kecil, industri kecil yang bersifat produktif, kaum buruh/pegawai negeri ekonomi lemah. Tujuannya tidak lain untuk pencegahan praktek ijon, pegadaian gelap, riba dan pinjaman tidak wajar lainnya. Kegiatan utamanya adalah memberikan pinjaman uang kepada segolongan masyarakat dengan menerima jaminan barang bergerak. Besarnya pinjaman sesuai dengan nilai barang jaminan yang diserahkan pihak peminjam tanpa syarat apapun mengenai penggunaan dananya Output dan struktur input dari kegiatan Pegadaian diperoleh dari hasil pengolahan laporan keuangan (Neraca Rugi/Laba) Perum Pegadaian. 99 1
56 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara Koperasi adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial, beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi yang merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan, dan berdasarkan pada Undang-undang Nomor 12 tahun Koperasi dibagi menjadi dua yaitu: koperasi perkotaan (Non KUD) dan koperasi pedesaan (KUD). Pembagian ini umumnya didasarkan pada wilayah kerjanya. Dalam penghitungan output koperasi simpan pinjam diperoleh dengan mengalikan indikator produksi (banyaknya koperasi simpan pinjam) dan indikator harga (rata-rata output per koperasi) dimana datanya diperoleh dari Direktorat Jenderal Koperasi dan hasil SKIO. Sedangkan struktur input diperoleh dari hasil pengolahan survei khusus input output. Lembaga Pembiayaan adalah badan usaha yang bergerak di sektor keuangan dengan melakukan kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan dana atau barang modal dengan tidak menarik dana secara langsung dari masyarakat. Pengelolaan sumber pembiayaan pembangunan diarahkan untuk dapat lebih menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. Lembaga pembiayaan ini mencakup kegiatan Sewa Guna Usaha, Modal Ventura, Anjak Piutang, Kartu Kredit dan Pembiayaan Konsumen. Output dan struktur input lembaga pembiayaan ini diperoleh dari Direktorat Perbankan dan Usaha Jasa Pembiayaan (Dirjen Lembaga Keuangan, Departemen Keuangan). Jasa Penunjang Lembaga Keuangan Mencakup kegiatan pedagang valuta asing, pasar modal dan jasa penunjangnya (Perantara Perdagangan Efek/Pialang/Broker, Adjuster (Penilai), Underwriter (Penjamin Emisi), LKPP (Lembaga Kliring Penyelesaian dan Penyimpanan), Manajer Investasi, Penasehat Investasi, Reksa Dana (Investment Fund), Biro Administrasi Efek, Tempat Penitipan Harta atau Custodian, dan sejenisnya. Pedagang Valuta Asing adalah suatu badan usaha/perusahaan yang memperoleh izin dari Bank Indonesia untuk melakukan transaksi (jual-beli) valuta asing dan membeli travel-check. Perusahaan tersebut tidak boleh melakukan pengiriman uang dan menagih sendiri keluar negeri. Pasar Modal adalah tempat atau sistem yang mempertemukan penjual dan pembeli modal/dana jangka panjang. Modal yang diperjual belikan itu secara konkrit diwakili oleh bentuk-bentuk efek (surat berharga). Perantara Perdagangan Efek/Pialang/Broker adalah perusahaan perantara perdagangan efek yang berperan mempertemukan antara penjual dan pembeli efek, menyediakan informasi bagi kepentingan para pemodal, memberikan saran kepada para pemodal dan lain-lain. Perusahaan yang bertindak sebagai perantara perdagangan efek dapat dilakukan oleh perorangan atau institusi badan hukum. Underwriter (Penjamin Emisi) adalah perusahaan yang menjamin penjualan seluruh efek yang diemisikan, baik saham maupun obligasi. Adjuster (Perusahaan Penilai) adalah suatu lembaga yang berfungsi menilai kewajaran harta kekayaan emiten. Penilaian khususnya meliputi tanah, bangunan, mesin-mesin, dan sarana pelengkap lainnya. Disamping itu juga meneliti apakah harta kekayaan tersebut digunakan sesuai dengan tujuan semula serta mempunyai manfaat secara teknis dan ekonomis. Lembaga Kliring Penyelesaian dan Penyimpanan adalah suatu lembaga yang menyelenggarakan kliring dan penyelesaian transaksi yang terjadi di bursa efek, serta penyimpanan efek dalam penitipan untuk kepentingan pihak lain. Manajer Investasi adalah pihak yang kegiatan usahanya mengelola portofolio efek untuk jasa nasabah, termasuk perusahaan asuransi, dana pensiun atau bank dalam usaha perbankan yang diizinkan. Penasehat Investasi adalah pihak yang kegiatan usahanya memberi nasehat, membuat analisa, dan membuat laporan mengenai efek tak terkecuali kepada sekurang-kurangnya 15 (lima belas) pihak lain tetapi tidak termasuk: a) Penjamin emisi efek, perantara pedagang efek, wakil penjamin 11 12
57 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara emisi efek atau wakil perantara pedagang efek, b) Pihak penyelenggara perusahaan yang kegiataannya bukan dalam bidang efek, c) Setiap profesi yang tidak memerlukan izin usaha sebagai penasehat investasi. Biro Administrasi Efek (BAE) adalah pihak yang berdasarkan kontrak dengan emiten secara teratur menyediakan jasa-jasa melaksanakan pembukuan, transfer dan pencatatan, pembayaran dividen, pembagian hak opsi, emisi sertifikat atau laporan tahunan untuk emiten. Reksa Dana (Investment Fund) adalah emiten yang kegiatan utamanya melakukan investasi, investasi kembali atau perdagangan efek. Tempat Penitipan Harta atau Custodian adalah perusahaan yang menyelenggarakan penyimpanan harta dalam penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu kontrak. Output dari pedagang valuta asing merupakan selisih penjualan valuta asing dengan pembelian valuta asing. Adapun output dari kegiatan-kegiatan lainnya pada umumnya merupakan nilai dari jasa yang diberikan kepada pihak lain. Sumber data jasa penunjang lembaga keuangan lainnya seperti pedagang valuta asing bersumber pada Bank Indonesia, Pasar modal bersumber dari BEI (Bursa Efek Indonesia), BPI (Bursa Paralel Indonesia) dan Bapepam. Sedangkan untuk penyusunan struktur input diperoleh dari sumber data masing-masing kegiatan. c. Usaha Real Estat dan Tanah Usaha real estat dan tanah, baik yang menyangkut bangunan tempat tinggal maupun bukan tempat tinggal seperti perkantoran, pertokoan serta usaha persewaan tanah persil. Output untuk real estat tempat tinggal diperoleh dari perkalian antara pengeluaran konsumsi rumah tangga perkapita untuk sewa rumah, kontrak rumah, sewa beli rumah dinas, perkiraan sewa rumah, pajak dan pemeliharaan rumah dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Data usaha real estat tempat tinggal diperoleh berdasarkan hasil Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) dan hasil Sensus Penduduk (SP). Sedangkan output usaha real estat bukan tempat tinggal diperoleh dari perkalian antara jumlah tenaga kerja dengan rata-rata ouput per tenaga kerja, yang datanya diperoleh dari hasil SKIO dan Sensus Penduduk (SP). Output real estat bukan tempat tinggal juga dapat diperoleh dari hasil perkalian antara banyaknya perusahaan dengan rata-rata output per perusahaan, yang datanya dapat diperoleh dari asosiasi atau instansi terkait (perusahaan REI) dan dari hasil SKIO. Untuk struktur input pada usaha real estat tempat tinggal dan bangunan bukan tempat tinggal diperoleh dari hasil SKIO. Dalam klasifikasi sektor tabel input output yang termasuk dalam klasifikasi sektor jasa bank dan lembaga keuangan lainnya adalah kegiatan bank, lembaga keuangan bukan bank tidak termasuk asuransi seperti dana pensiun, pegadaian, koperasi simpan pinjam dan lembaga pembiayaan (sewa guna usaha, modal ventura, anjak piutang, pembiayaan konsumen dan kartu kredit), serta kegiatan jasa penunjang lembaga keuangan seperti pedagang valuta asing, pasar modal dan jasa penunjangnya. Sedangkan kegiatan asuransi yang meliputi asuransi jiwa, asuransi kerugian dan asuransi sosial digolongkan dalam klasifikasi sektor jasa asuransi. Begitu juga dengan kegiatan usaha persewaan bangunan dan tanah baik yang menyangkut bangunan tempat tinggal maupun bukan tempat tinggal seperti perkantoran, pertokoan serta usaha persewaan tanah persil digolongkan dalam klasifikasi sektor real estat dan tanah Sektor Jasa-jasa Sektor Jasa-jasa mencakup kegiatan usaha jasa perusahaan, jasa sosial dan kemasyarakatan, jasa hiburan dan kebudayaan, dan jasa perorangan 13 14
58 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara dan rumah tangga. Adapun cakupan dari masing-masing kegiatan tersebut adalah sebagai berikut: tambang/pencarian bijih logam untuk pertambangan dan jasa penyelidikan dan sejenisnya. a. Usaha Jasa Perusahaan Mencakup kegiatan pemberian jasa hukum (advokat dan notaris), jasa akuntansi dan pembukuan, jasa pengolahan dan penyajian data, jasa bangunan/arsitek dan teknik, jasa periklanan dan riset pemasaran, jasa persewaan mesin dan peralatan, Semua jasa ini biasanya diberikan berdasarkan sejumlah bayaran atau kontrak. Jasa Hukum (Advokat/pengacara, Notaris), yang dimaksud dengan Advokat/pengacara adalah ahli hukum yang berwenang bertindak sebagai penasehat atau pembela perkara dalam pengadilan, baik perkara pidana maupun perdata. Sedangkan Notaris adalah orang yang ditunjuk dan diberi kuasa (oleh Departemen Kehakiman) untuk mensyahkan dan menyaksikan berbagai surat perjanjian, akte dan sebagainya. Jasa Akuntansi dan Pembukuan adalah usaha jasa pengurusan tata buku dan pemeriksaan pembukuan termasuk juga jasa pengolahan data dan tabulasi yang merupakan bagian dari jasa akuntansi dan pembukuan. Jasa Pengolahan dan Penyajian Data adalah usaha jasa pengolahan dan penyajian data yang bersifat umum baik secara elektronik komputer maupun manual atas dasar balas jasa atau kontrak, termasuk didalamnya adalah jasa komputer programing dan sebagainya yang ada hubungannya dengan kegiatan komputer. Jasa Bangunan, Arsitek dan Teknik adalah usaha jasa konsultasi bangunan arsitek/perancang bangunan, jasa survei geologi, penyelidikan Jasa Periklanan dan Riset Pemasaran adalah suatu kegiatan usaha yang memberikan pelayanan kepada pihak lain (perusahaan/perseorangan) dalam bentuk pembuatan dan pemasangan iklan, yang bertujuan untuk menyampaikan informasi, membujuk dan mengingatkan kepada konsumen tentang produk dari suatu perusahaan/usaha serta dalam penyampaiannya dapat melalui berbagai media massa seperti: audio visual (TV, bioskop), radio, halaman surat kabar/majalah, poster dan sebagainya. Jasa Persewaan Mesin dan Peralatan adalah usaha persewaan mesin dan peralatannya untuk keperluan pertanian, pertambangan dan ladang minyak, industri pengolahan, konstruksi, penjualan dan mesin-mesin keperluan kantor. Output jasa perusahaan diperoleh dari perkalian antara indikator produksi (jumlah perusahaan atau tenaga kerja) dengan indikator harga (rata-rata output per perusahaan atau rata-rata ouput per tenaga kerja). Struktur input diperoleh dari hasil survei (SKIO). Data jumlah perusahaan diperoleh dari hasil Sensus Ekonomi. Perusahaan (asosiasi) seperti Ikatan Akuntan Indonesia, Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (Inkindo), Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI) dan sejenisnya, serta jumlah tenaga kerja diperoleh dari hasil Sensus Penduduk (SP). b. Jasa Sosial dan Kemasyarakatan Meliputi jasa pendidikan, kesehatan, riset/penelitian, palang merah, panti asuhan, panti wreda, yayasan pemeliharaan anak cacat/ypac, rumah ibadat dan sejenisnya, baik yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Output jasa sosial dan kemasyarakatan diperoleh dari hasil perkalian antara masing-masing indikator produksi seperti jumlah murid menurut 15 16
59 Bab 4. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Antara jenjang pendidikan, jumlah tempat tidur rumah sakit, jumlah dokter, jumlah anak yang diasuh, jumlah orang lanjut usia yang dirawat, jumlah anak cacad yang dirawat dengan rata-rata output per masing-masing indikator. Struktur input sektor jasa sosial dan kemasyarakatan diperoleh dari hasil survei (SKIO), sedangkan data produksi diperoleh dari Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Kesehatan, Departemen Sosial, Laporan Kegiatan Palang Merah Indonesia, Nota Keuangan dan RAPBN, BPS (Susenas, Sensus Penduduk) serta beberapa sumber lainnya. c. Jasa Hiburan dan Kebudayaan Meliputi kegiatan produksi dan distribusi film komersial dan dokumenter untuk kepentingan pemerintah serta reproduksi film video, jasa bioskop dan panggung hiburan, studio radio, perpustakaan, museum, kebun binatang, gedung olah raga, kolam renang, klab malam, taman hiburan, studio televisi dan stasiun pemancar radio yang dikelola oleh swasta maupun pemerintah. Output kegiatan produksi film diperoleh dari perkalian antara jumlah film yang diproduksi dengan rata-rata output per film, Output kegiatan distribusi film diperoleh dari perkalian antara rasio biaya sewa film dengan output bioskop, sedangkan output bioskop diperoleh dari perkalian antara jumlah penonton dengan rata-rata output per penonton. Output panggung hiburan/kesenian dihitung berdasarkan pembagian antara pajak tontonan yang diterima pemerintah dengan rasio pajak tontonan, kemudian dikurangi dengan output bioskop. Output untuk jasa hiburan dan rekreasi lainnya pada umumnya didasarkan pada hasil perkalian antara jumlah perusahaan dan jumlah tenaga kerja masing-masing dengan rata-rata outputnya. Struktur input pada kegiatan ini didasarkan pada hasil survei (SKIO), sedangkan indikator produksi untuk jasa hiburan dan kebudayaan diperoleh dari Direktorat Jenderal Radio, Televisi dan Film, Statistik Keuangan Daerah, Statistik Bioskop, Statistik Lingkungan Hidup, Direktorat Jenderal Pariwisata dan berbagai sumber lainnya. d. Jasa Perorangan dan Rumah Tangga Meliputi segala jenis kegiatan jasa yang pada umumnya melayani perorangan dan rumah tangga, yang terdiri dari: a. Jasa perbengkelan/reparasi kendaraan bermotor, mencakup perbaikan kecil-kecilan dari kendaraan roda empat, roda tiga dan dua, seperti mobil pribadi, mobil umum, bemo, sepeda motor dan sebagainya. b. Jasa perbengkelan/reparasi lainnya seperti perbaikan/reparasi jam, televisi, radio, lemari es, mesin jahit, sepeda dan barang-barang rumah tangga lainnya. c. Jasa pembantu rumah tangga, mencakup koki, tukang kebun, penjaga malam, pengasuh bayi dan anak, dan sejenisnya. d. Jasa perorangan lainnya, mencakup tukang binatu, tukang cukur, tukang jahit, tukang semir sepatu, dan sejenisnya. Output untuk jasa perbengkelan serta jasa perorangan dan rumah tangga diperoleh dari perkalian antara masing-masing jumlah tenaga kerja dengan rata-rata output per tenaga kerja. Sedangkan output jasa pembantu rumah tangga, pengasuh bayi dan sejenisnya diperoleh dari perkalian antara pengeluaran perkapita untuk pembantu rumah tangga dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Struktur input untuk kegiatan jasa perorangan dan rumah tangga diperoleh dari hasil survei (SKIO) yang dilengkapi dengan data pendukung dari sumber lainnya. Indikator produksi jasa perbengkelan, jasa perorangan dan rumah tangga adalah jumlah tenaga kerja di sektor tersebut. Angka tenaga kerja tersebut dihitung berdasarkan pertumbuhan tenaga kerja dari Sensus Penduduk
60 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor Sama halnya dengan Bab 4, teknik estimasi yang dibahas pada bab ini adalah berdasarkan pendekatan survei sebenarnya transaksi permintaan akhir memiliki kharakteristik yang relatif berbeda dengan transaksi impor. Transaksi permintaan akhir merupakan komponen permintaan terhadap output suatu sektor ekonomi, sedangkan transaksi impor merupakan komponen penyediaan dari suatu sektor ekonomi. Akan tetapi karena permintaan akhir dan impor dalam tabel input-output berada pada kuadran yang sama (kuadran III) maka pembahasannya dilakukan pada satu bab yang sama. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor Seperti yang telah diuraikan pada bab terdahulu, transaksi permintaan akhir akan mencakup semua transaksi barang dan jasa yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumen akhir. Dalam bab ini permintaan akhir dirinci menjadi pengeluaran konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap bruto, perubahan inventori dan ekspor. Sementara transaksi impor barang dan jasa yang diperoleh dari luar wilayah pengamatan dalam rangka memenuhi permintaan terhadap output suatu sektor ekonomi. 5.1 Estimasi Permintaan Akhir dan Impor Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Pengeluaran konsumsi rumah tangga terdiri atas pengeluaran untuk pembelian barang dan jasa yang tujuannya untuk dikonsumsi selama periode satu tahun, dikurangi dengan hasil penjualan netto dari barang bekas atau apkiran. Selain pengeluaran untuk makanan, minuman, pakaian, bahan bakar, jasa-jasa termasuk juga barang yang tidak ada duanya (tidak diproduksi kembali) seperti hasil karya seni, barang antik dan lain-lain. Barang tahan lama yang dikonsumsi rumah tangga seperti mobil, motor, furniture, radio, kulkas, televisi, dan lain-lain. Seandainya barang tersebut disamping digunakan untuk rumah tangga dipakai untuk usaha rumah tangga, maka nilai pembelian, biaya pemeliharaan, dan lain-lain harus dipisahkan berapa yang masuk konsumsi atau usaha rumah tangga secara proporsional. Pengeluaran untuk pemeliharaan kesehatan, pendidikan, rekreasi, pengangkutan dan jasa-jasa lainnya, keperluan sewa rumah, perbaikan rumah, rekening bank, air, telepon dan sebagainya merupakan pengeluaran konsumsi rumah tangga sedangkan pembelian rumah tidak termasuk pengeluaran konsumsi. Pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga untuk pembelian alatalat kerja, seperti buruh tambang membeli sekop, linggis, lampu senter yang ditanggung oleh perusahaan. Tidak termasuk konsumsi rumah tangga dari buruh tambang, tetapi merupakan biaya antara perusahaan tambang tempat buruh bekerja. Dalam memperkirakan konsumsi rumah tangga ada hal-hal yang menimbulkan keragu-raguan, misalnya penduduk yang sedang melakukan perjalanan ke daerah lain (dalam atau luar negeri) baik dalam rangka bertugas, urusan bisnis atau untuk keperluan lainnya. Biasanya penduduk 19 11
61 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor tersebut mengeluarkan uang untuk memenuhi konsumsinya baik berupa barang (makanan, bukan makanan) ataupun jasa-jasa lainnya. Pengeluaran yang dilakukan selama berada di daerah lain tersebut menurut konsep harus diperhitungkan sebagai impor (barang masuk). Tetapi karena belum tersedianya data yang mencatat berapa jumlah penduduk yang berpergian serta jumlah biaya yang dikeluarkan selama di daerah lain, maka pengeluaran yang semacam ini sudah terhitung di rumah tangganya yaitu melalui konsumsi perkapita. Begitu pula sebaliknya penduduk dari daerah lain yang berada di daerah tersebut, seharusnya diperlakukan sebagai ekspor, namun karena tidak tersedianya data maka diasumsikan merupakan konsumsi rumah tangga di daerah asalnya. Contoh lain, seorang pegawai negeri mendapat makan dari kantor sehabis rapat. Seharusnya pengeluaran tersebut diperlakukan sebagai konsumsi makanan jadi yang berasal dari restoran. Tetapi karena tidak tersedia data berapa banyak pegawai negeri yang mendapat makanan, maka pengeluaran tersebut dimasukkan sebagai pengeluaran pemerintah. Pengeluaran konsumsi rumah tangga untuk barang dan jasa dapat dirinci menurut jenisnya sebagai berikut: a. Kelompok makanan, minuman dan tembakau b. Kelompok pakaian, alas kaki dan tutup kepala c. Kelompok perumahan, bahan bakar, penerangan dan air d. Kelompok barang-barang tahan lama dan perlengkapan rumah tangga e. Kelompok perawatan dokter dan pengeluaran untuk obat-obatan f. Kelompok transportasi dan komunikasi g. Kelompok pengeluaran atau peralatan untuk keperluan rekreasi, hiburan, dan jasa sosial lainnya h. Kelompok macam-macam barang dan jasa Metode penghitungan yang biasa dipakai untuk memperkirakan pengeluaran konsumsi rumah tangga adalah metode langsung yaitu berdasarkan pada hasil survei pengeluaran konsumsi rumah tangga seperti Susenas atau Survei Biaya Hidup dan metode penilaian harga eceran. Metode langsung ini pada pokoknya adalah untuk memperoleh perkiraan pengeluaran konsumsi rumah tangga secara keseluruhan dengan cara mempergunakan rasio yang diperoleh dari Survei Pengeluaran Rumah tangga. Data yang dikumpulkan dengan metode ini mengukur arus barang dan jasa yang dibeli oleh rumah tangga atas dasar harga pembelian. Pada dasarnya metode ini menyeluruh dalam ruang lingkup barang dan jasa yang diselidiki dan dapat dipakai untuk menganalisa pengeluaran konsumsi rumah tangga, menurut jenis barang dan tujuan pengeluaran. Metode ini memungkinkan klasifikasi data pengeluaran menurut karakteristik rumah tangga seperti tingkat pendapatan atau status ekonominya. Apabila metode ini dipakai, hasil yang akan diperoleh hanyalah pengeluaran konsumsi yang termasuk pengeluaran langsung di dalam wilayah oleh rumah tangga penduduk, sedangkan pengeluaran oleh turis, anggota diplomatik dan lainlain tidak termasuk dalam survei yang diadakan. Hal ini disebabkan karena: a. Survei-survei tersebut pada umumnya hanya mencakup sebagian kecil rumah tangga atau hanya ditujukan pada kelompok tertentu dari penduduk saja. b. Rumah tangga khusus biasanya belum mencakup. c. Penyimpangan-penyimpangan data yang dikumpulkan dapat terjadi dalam data yang diberikan oleh rumah tangga dan kesulitan-kesulitan yang dapat dipercaya mengenai jenis-jenis pengeluaran terhadap barang yang jarang dibeli atau barang-barang yang terlarang diperjualbelikan
62 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor Data yang dipakai untuk penghitungan konsumsi rumah tangga dengan metode ini adalah Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang dilakukan di daerah perkotaan dan pedesaan. Selain penyimpangan diatas termasuk juga kelemahan ini adalah konsep yang dipakai agak berbeda dengan pengeluaran konsumsi rumah tangga yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pengeluaran konsumsi pada Susenas adalah semua pembelian oleh rumah tangga untuk dikonsumsi, kalau barang yang telah dibeli dijual sebagian atau barang bekas yang dibeli setelah dipakai beberapa lama dijual kembali, tidak tercakup dalam Susenas. Seharusnya yang termasuk konsumsi adalah seluruh barang yang dibeli untuk dikonsumsi langsung, sedangkan barang bekas yang dikonsumsi hanyalah yang benar-benar dipakai atau sebesar selisih harga pembelian dengan harga penjualan. Tetapi oleh karena data lain tidak tersedia maka data Susenas dapat juga dipakai dalam penghitungan konsumsi rumah tangga, dan harus dilengkapi dengan data lainnya. Metode penilaian harga eceran dipakai apabila data konsumsi rumah tangga tersedia dalam bentuk kuantum. Nilai konsumsi rumah tangga dapat diperoleh dengan jalan mengalikan kuantum barang tersebut dengan harga eceran yang dibayar oleh konsumen. Dalam metode ini pembelian barang-barang dinilai langsung atas dasar harga beli. Data kuantum yang tersedia mungkin lebih dapat dipercaya daripada data nilai yang dikumpulkan. Sebaliknya menghitung harga eceran rata-rata yang akan dipakai untuk menilai kuantum barang yang dibeli oleh rumah tangga adalah sulit. Hal ini disebabkan tidak tersedianya penimbang yang tepat untuk menimbang harga yang berbeda-beda menurut tempat, kualitas dan sebagainya. Perkiraan mengenai jumlah barang dan jasa yang dibeli oleh rumah tangga dapat bersumber dari data resmi penyediaan dan perubahan inventori barang dan jasa, dari serikat-serikat dagang atau hasil-hasil survei pengeluaran konsumsi rumah tangga antara lain konsumsi perkapita Susenas. Data mengenai jumlah penjualan barang yang terkena cukai misalnya minuman keras, rokok, dapat diperoleh dari dinas pajak. Dalam penghitungan konsumsi dengan metode ini yang digunakan adalah data Susenas yaitu rata-rata konsumsi perkapita seminggu dalam kuantum. Untuk mendapatkan nilai konsumsi dipakai rata-rata harga konsumen atau harga eceran yang sudah ditimbang. Selain data hasil SUSENAS, untuk perkiraan konsumsi rumah tangga digunakan pula data lainnya seperti pendapatan perkapita atas dasar harga konstan yang bersumber dari PDRB sektoral (lapangan usaha). Rata-rata harga eceran dan Indeks Harga Konsumen bersumber dari Statistik Harga Konsumen di kota dan pedesaan. Jumlah penduduk pertengahan tahun bersumber dari publikasi Sensus Penduduk, Survei penduduk Antar Sensus (SUPAS) dan dari data perkiraan penduduk. Estimasi konsumsi rumah tangga dengan metode seperti disebut diatas dilakukan menurut kelompok pengeluaran sebagai berikut: a. Konsumsi Rumah Tangga Kelompok Makanan. Perkiraan konsumsi untuk kelompok makanan ini adalah konsumsi (kuantum) yang diperoleh dari Survei Rumah Tangga (Susenas) dinilai dengan harga eceran yaitu harga yang dibayar konsumen rumah tangga. Data konsumsi perkapita (kuantum) yang dipakai adalah bersumber dari SUSENAS yaitu dalam bentuk rata-rata konsumsi perkapita dalam seminggu. Konsumsi perkapita sebulan didapatkan dengan cara mengalikan konsumsi perkapita seminggu dengan 3/7 (1 minggu = 7 hari ). Namun karena modul konsumsi dalam Susenas tidak dicacah setiap tahun, maka untuk memperkirakan konsumsi rumah tangga untuk penyusunan I-O yang tahunnya tidak bertepatan dengan Susenas digunakan analisa regresi silang. Dalam regresi ini dikaitkan antara variabel pendapatan dengan variabel konsumsi. Dari regresi ini dapat diketahui koefisien
63 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor elastisitas permintaan yaitu besaran yang menggambarkan perubahan permintaan suatu barang akibat berubahnya pendapatan. Model yang digunakan untuk kelompok makanan adalah Fungsi Eksponensial. Model ini dipilih berdasarkan asumsi bahwa setiap penambahan pendapatan akan menyebabkan pertambahan konsumsi, tetapi pada suatu saat (titik jenuh) konsumsi tersebut mulai menurun, maka bentuk kurvanya seperti parabola. Bentuk fungsi eksponensial tersebut adalah: dimana: Q = a b i Y i Q i = Rata-rata konsumsi/kapita/sebulan (kuantum) Y i = Pendapatan/kapita/sebulan a = konstanta b = koefisien elastisitas Sebelum digunakan untuk mengestimasi, terhadap nilai koefisien (b ) ini dilakukan pengujian untuk meyakinkan koefisien ini dapat dipakai atau tidak. Syarat yang harus dipenuhi adalah nilai koefsien b harus significant/highly significant dan mempunyai nilai koefisien regresi ( r ) yang tinggi atau mendekati 1 (satu). Q Untuk menyederhanakan penghitungan persamaan eksponensial = a dibentuk dalam persamaan linier dengan melogaritmakannya. b i Y i Q = a b i Y i lnq = ln( b i Y i ln Q = ln a + bln ) i Y i b = lny ln Q i ln Qi b a = n S 2 b r = = t = obs i lny 2 i ( lnyi ln Qi ) 2 ( lnyi ) n lny i n 2 2 ( ln Q ( lnqi ) n) b( lnyi lnqi ( lnyi ln Q ) n) i i 2 2 ( n 2) ( lnyi ( lnyi ) n) ln Yi ln Qi ( ln Yi ln Qi ) n ln Y ( ln Y ) n ln Q ( ln Q ) n i i i b S b tabel α = 1% ; 5% a = anti log a Ketentuan nilai b harus significant/super significant maksudnya adalah sebagai berikut: ( t obs α = 1% ; α = 5% > t tabel) untuk nilai t observasi positif ( t obs α = 1% ; α = 5% < t tabel) untuk nilai t observasi negatif Catatan Bentuk hipotesa adalah sebagai berikut : H : β = H 1 : β β = artinya antara pengeluaran dan konsumsi tidak ada hubungan. i
64 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor β artinya terdapat hubungan antara besarnya pengeluaran dan banyaknya konsumsi Dengan bentuk hipotesa diatas, maka dalam penyajiannya digunakan uji dua arah sebagai berikut: Daerah Tolak Jika nilai t obs berada di daerah tolak berarti diterima hipotesa alternatif β ( H : ) artinya terdapat hubungan yang erat antara perubahan 1 konsumsi akibat perubahan pendapatan. Demikian pula sebaliknya jika nilai. berada di daerah terima ( H : β ) artinya tidak terdapat hubungan antara = perubahan konsumsi dengan perubahan pendapatan. Koefisien elastisitas ( b ) yang didapatkan dengan regresi silang tersebut digunakan untuk memperkirakan konsumsi perkapita tahun lainnya atau pada tahun yang tidak ada data Susenasnya. Dengan menggunakan variabel lain yaitu perubahan pendapatan perkapita (atas dasar harga konstan), konsumsi perkapita (data Susenas), maka konsumsi perkapita tahun lainnya dapat diperkirakan. Formulasinya adalah : dimana : - t tabel + t tabel ( n +1 ) = C {( b)( dpt)( )} C + n C n Daerah Tolak C ( n +1) = Rata-rata konsumsi (kuantum) perkapita sebulan pada tahun ( n +1) atau tahun disusunnya I-O C n = Rata-rata konsumsi (kuantum) perkapita sebulan pada tahun dasar ( n )/data Susenas dpt = Perubahan pendapatan perkapita harga konstan tahun ke-n dengan tahun ke n + 1 b = Koefisien elastisitas Konsumsi makanan rumah tangga diperkirakan melalui: ( n +1 ) = C {( b)( dpt)( )} C + n C n Dari formulasi di atas didapatkan konsumsi dalam satuan kuantum, perkapita sebulan. Total konsumsi penduduk akan diperoleh bila dikalikan dengan 12 dan jumlah penduduk pertengahan tahun. Untuk memperoleh nilai konsumsi atas dasar harga berlaku dikalikan dengan harga konsumen atau harga eceran. Harga konsumen atau harga eceran merupakan harga yang dibayar oleh rumah tangga konsumen yang tujuannya untuk dikonsumsi. Harga tersebut merupakan rata-rata harga eceran di kota dengan harga eceran di pedesaan. b. Konsumsi Kelompok Rumah Tangga Bukan Makanan Perkiraan konsumsi kelompok bukan makanan sama dengan metode kelompok makanan yaitu dengan menghitung koefisien elastisitas (b ) dari masing-masing jenis pengeluaran rumah tangga, yaitu regresi linier. Regresi linier tersebut adalah: Q = a + i by i
65 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor dimana: Q i = Rata-rata pengeluaran perkapita sebulan a = Konstanta b = Koefisien elastisitas Y i = Pendapatan perkapita sebulan Sehingga bentuk formulasinya sebagai berikut: Qi b a = n YiQi b = R S 2 = ( Yi ) ( Yi ) ( Qi ) ( Q ) 2 i Yi ( Y ) i 2 ( Qi ) 2 n n 2 ( Y )( Q ) i ( Y ) n i i 2 ( Y )( Q ) n ( Q ) i i 2 i 2 ( Q ) ( ) ( ) ( ) ( )( ) Qi Yi 2 Q Qi Yi i n 2 n 2 ( ) ( ) Yi Yi n 2 ( ) ( ) ( ) Yi n 2 Yi 2 b = 2 2 R diperoleh dari koefisien korelasi r yang dikuadratkan. t tabel α = 1% ; 5% n n i 2 Ketentuan dan bentuk hipotesanya adalah sama seperti pada Elastisitas Konsumsi Makanan. Kemudian dengan menggunakan formulasi: ( n +1 ) = C {( b)( dpt)( )} C + n C n diperoleh konsumsi pada tahun ke (n+1). Dengan menggunakan penduduk pertengahan tahun maka total nilai konsumsi rumah tangga atas dasar harga konstan dapat diestimasi, yaitu dengan mengalikan konsumsi perkapita sebulan atas dasar harga konstan dengan 12 dan jumlah penduduk masing-masing tahunnya. Nilai konsumsi rumah tangga atas dasar harga berlaku didapatkan dengan cara menginflate/mengalikan total nilai konsumsi atas dasar harga konstan dengan Indeks Harga Konsumen (IHK). Indeks tersebut adalah sama dengan yang digunakan untuk menginflate konsumsi perkapita sebulan (Susenas) Konsumsi Pemerintah a. Ruang Lingkup Dan Definisi Yang dimaksud dengan pengeluaran konsumsi akhir pemerintah adalah nilai output pemerintahan umum baik pusat maupun daerah termasuk angkatan bersenjata dikurangi dengan hasil penjualan barang dan jasa (output pasar) pemerintah yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pemerintah (yang bukan dikonsumsi oleh pemerintah). Output pemerintah tersebut diperoleh dengan menggunakan input yang terdiri dari biaya antara (pembelian barang, jasa dan bantuan sosial), pembayaran balas jasa pegawai (belanja pegawai) serta perkiraan penyusutan barang modal. Konsumsi pemerintah disebut juga dengan output non-pasar lainnya pemerintah
66 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor Sejak tahun 1995 sub sektor pemerintahan umum selain berada di kuadran II sebagai konsumsi akhir pemerintah (terisi hanya di diagonal sektor/perpotongan antar pemerintah sendiri), juga ada di kuadran I sebagai input antara (biaya antara) dan di kuadran III sebagai input primer (balas jasa pegawai dan penyusutan). Jasa Pemerintahan Umum terdiri dari: 1. Jasa Pemerintahan Umum/ Jasa Administrasi Pemerintahan dan Pertahanan (164) Jasa Pemerintahan Umum/Jasa administrasi pemerintahan dan pertahanan mencakup semua jasa administrasi pemerintahan dan pertahanan yang diberikan oleh departemen dan non departemen, badan/lembaga tinggi Negara, kantor-kantor dan badan-badan yang berhubungan dengan administrasi pemerintahan dan pertahanan pada tingkat pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota dan desa termasuk Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan POLRI. Jasa administrasi pemerintahan dan pertahanan merupakan hasil aktivitas pemerintahan sehari-hari dalam melayani masyarakat umum/publik dalam bidang administrasi dan pertahanan. Jasa administrasi pemerintahan dan pertahanan ini disebut juga dengan jasa pemerintah yang diberikan secara kolektif kepada masyarakat. dengan jasa-jasa yang telah disebutkan baik pada tingkat pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota dan desa. Jasa pemerintahan lainnya ini disebut juga sebagai jasa pemerintah yang diberikan secara individu kepada masyarakat. Guru/staf pengajar di sekolah pemerintah digolongkan ke dalam jasa pendidikan pemerintah, dokter/paramedis di rumah sakit/poliklinik/klinik/rumah bersalin pemerintah dikategorikan ke dalam jasa kesehatan pemerintah, sedangkan aparat pemerintah yang melayani penyuluhan keluarga berencana (KB) dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat terasing dan lain-lain dimasukkan sebagai jasa sosial kemasyarakatan lainnya. Sedangkan pegawai pemerintah yang menjual karcis masuk taman hiburan pemerintah, museum pemerintah atau yang melayani masyarakat di perpustakaan pemerintah termasuk kedalam jasa hiburan, rekreasi dan kebudayaan pemerintah. Jasa sosial kemasyarakatan lainnya dan jasa hiburan, rekreasi dan kebudayaan dikelompokkan kedalam jasa pemerintahan Jasa pemerintahan lainnya dalam tabel IO 25 diklasifikasikan menjadi: jasa pendidikan pemerintah (166), jasa kesehatan pemerintah (167), dan jasa pemerintahan lainnya (jasa sosial kemasyarakatan lainnya dan jasa hiburan, rekreasi dan kebudayaan pemerintah) (168). b. Sumber Data 2. Jasa Pemerintahan lainnya, terdiri dari: Jasa pemerintahan lainnya meliputi kegiatan pemerintah di bidang jasa sosial kemasyarakatan (seperti jasa pendidikan, jasa kesehatan dan jasa sosial kemasyarakatan lainnya) serta jasa hiburan, rekreasi dan kebudayaan yang diberikan oleh unit-unit pemerintah yang berhubungan Data realisasi APBN diperoleh dari Direktorat Pengelolaan Kas Negara (DPKN) Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DPbn) Departemen Keuangan. Disamping itu untuk melengkapi data ini, beberapa informasi diperoleh juga dari sumber-sumber lain yang berhubungan seperti Direktorat Jenderal Anggaran (DJA). Sedangkan data realisasi APBD diperoleh dari Direktorat
67 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor Keuangan, TI dan Pariwisata, BPS dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Departemen Keuangan. Input Bagan Neraca Produksi Pemerintah Output c. Metode Estimasi c.1. Estimasi Konsumsi Pemerintah (32) Hubungan antara Konsumsi Pemerintah dan Sub Sektor Pemerintah. Antara Konsumsi pemerintah dan Sub Sektor Pemerintah saling terkait satu sama lain. Sub Sektor Pemerintah merupakan bagian dari Konsumsi Pemerintah. Untuk lebih jelasnya terlebih dahulu harus disusun neraca produksi pemerintah. Neraca produksi pemerintah, meliputi biaya antara/belanja barang yaitu pengeluaran pemerintah untuk pembelian barang-barang yang tidak tahan lama dan habis dipakai dalam proses produksi, jasa dan bantuan sosial, selain biaya antara termasuk dalam neraca produksi yaitu balas jasa pegawai/belanja pegawai dan penyusutan (balas jasa pegawai + penyusutan = NTB Sub Sektor Pemerintah) disisi kiri, serta konsumsi pemerintah (output non pasar lainnya) dan penjualan dari barang dan jasa (output pasar) disisi kanan. Konsumsi pemerintah merupakan faktor penyeimbang antara total input disisi kiri dikurangi dengan output pasar disisi kanan. Bagan Neraca Produksi Pemerintah dapat dilihat pada diagram berikut ini : 1. Biaya antara (belanja barang dan bantuan sosial) (A) (kuadran I): a. Biaya antara Jasa Administrasi Pemerintahan dan Pertahanan/jasa pemerintahan umum (164) b. Biaya antara Jasa Pemerintahan lainnya ( ) 2. Nilai tambah bruto (B) = (B1)+(B2) (kuadran III) 2.1 Belanja Pegawai (B1) a. Belanja pegawai Jasa Administrasi Pemerintahan dan Pertahanan/jasa pemerintahan umum (164) b Belanja pegawai Jasa Pemerintahan lainnya ( ) 2.2 Penyusutan (B2) a. Penyusutan Jasa Administrasi Pemerintahan dan Pertahanan/jasa pemerintahan umum (164) b. Penyusutan Jasa Pemerintahan lainnya ( ) 3. Output (C) 3.1 Pengeluaran konsumsi pemerintah (Output non pasar lainnya) (D)= (C) - (E) (kuadran II) a. Pengeluaran konsumsi pemerintah Jasa Administrasi Pemerintahan dan Pertahanan/jasa pemerintahan umum (164) b. Pengeluaran konsumsi pemerintah Jasa Pemerintahan lainnya ( ) 3.2 Penjualan barang dan jasa (Output pasar) (E) a. Output pasar Jasa Administrasi Pemerintahan dan Pertahanan/jasa pemerintahan umum (164) b. Output pasar Jasa Pemerintahan lainnya ( ) TOTAL INPUT (C) = (A) + (B) TOTAL OUTPUT (C)
68 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor Neraca Produksi Pemerintah Tahun 25 (Juta Rp) Input Output 1. Total input antara: Total Output non pasar lainnya a. Jasa Pemerintahan umum (Total konsumsi pemerintah) b. Jasa pendidikan pemerintah a. Jasa Pemerintahan umum c. Jasa kesehatan pemerintah b. Jasa pendidikan pemerintah d. Jasa pemerintahan lainnya c. Jasa kesehatan pemerintah Total belanja pegawai d. Jasa pemerintahan lainnya a. Jasa Pemerintahan umum Total Output pasar b. Jasa pendidikan pemerintah a. Jasa Pemerintahan umum c. Jasa kesehatan pemerintah b. Jasa pendidikan pemerintah d. Jasa pemerintahan lainnya c. Jasa kesehatan pemerintah Total penyusutan a. Jasa Pemerintahan umum b. Jasa pendidikan pemerintah c. Jasa kesehatan pemerintah d. Jasa pemerintahan lainnya d. Jasa pemerintahan lainnya TOTAL INPUT TOTAL OUTPUT a. Estimasi Output dan Struktur Input Sektor Pemerintahan Umum dan Jasa Pemerintahan Lainnya. Struktur Input jasa administrasi pemerintahan dan pertahanan/jasa pemerintahan umum (164): diperoleh dari rincian APBN dan APBD per mata anggaran keluaran, dirinci menurut departemen dan kanwil tidak termasuk APBN dan APBD per mata anggaran keluaran dari departemen dan kanwil pendidikan, kesehatan, agama, sosial, kebudayaan dan pariwisata, serta BKKBN. Output jasa administrasi pemerintahan dan pertahanan terdiri dari output pasar dan output non pasar lainnya (produksi yang dikonsumsi sendiri/merupakan konsumsi akhir jasa administrasi pemerintahan dan pertahanan). Data realisasi anggaran Pendapatan dan belanja Negara (APBN) dan (APBD) secara langsung tidak dapat diidentifikasikan kedalam kode I-O. Kenyataan ini disebabkan karena realisasi APBN maupun APBD tidak terinci sampai ke rincian komoditi yang dapat diidentifikasikan dengan kode I-O. Untuk memperoleh rincian pengeluaran pemerintah menurut kode I-O digunakan indikator-indikator yang dapat dipertanggungjawabkan. Belanja Negara dan belanja daerah dirinci menurut kelompok pengeluaran per mata anggaran keluaran. Prosedur pengolahan untuk mencapai hasil pengeluaran pemerintah menurut kode I-O dilakukan secara manual. Metode tersebut dimaksudkan untuk mencapai hasil yang maksimal, karena dalam proses pengolahan demikian dilakukan adjustifikasi. Ada enam tahap pengolahan untuk mendapatkan rincian pengeluaran pemerintah menurut kode I-O: 1. Mendapatkan rincian pengeluaran pemerintah pusat menurut mata anggaran keluaran. Rincian ini didapat melalui indikator belanja Negara menurut mata anggaran keluaran. (lampiran 1) 2. Memisahkan pengeluaran pemerintah yang merupakan pengeluaran pemerintah murni (administrasi pemerintah) dan yang menjadi bagian dari jasa pemerintah lainnya. 3. Menguraikan masing-masing pengeluaran pemerintah menurut susunan kode mata anggaran keluaran (MAK) kedalam kode I-O dengan indikator rasio susunan input table I-O kuadran I. 4. Mengelompokkan pengeluaran pemerintah menurut kode I-O hasil hitungan nomor 3. Hal ini dilakukan karena satu kode tabel I-O bisa berasal dari lebih dari satu mata anggaran keluaran atau satu mata
69 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor anggaran keluaran bisa untuk beberapa kode tabel I-O. 5. Menyusun pengeluaran pemerintah menurut kode I-O. Dari pengolahan ini sudah diperoleh rincian pengeluaran pemerintah menurut kode I-O. - Mata anggaran keluaran 51. belanja pegawai administrasi pemerintahan dan pertahanan/jasa pemerintahan umum bisa langsung diidentifikasikan ke kode I-O, 21 upah dan gaji. - Mata anggaran keluaran 53. belanja modal administrasi pemerintahan dan pertahanan/jasa pemerintahan umum, diidentifikasikan ke kode I- O, 23 penyusutan, di mana nilai penyusutan diperkirakan sebesar 2 % dari belanja modal. - Mata anggaran keluaran (belanja keperluan kantor) dapat diidentifikasikan ke kode 3-38 Industri kertas, barang dari kertas dan karton dan kode 3-5 industri barang lain yang belum digolongkan dimanapun. - Mata anggaran keluaran (belanja pengadaan bahan makanan) dapat diidentifikasikan ke kode 3-27 sampai dengan kode 3-33 (industri pengolahan dan pengawetan makanan, industri minyak dan lemak, industri penggilingan padi, industri tepung segala jenis, industri gula, industri makanan lainnya, dan industri minuman) - Mata anggaran keluaran (belanja untuk menambah daya tahan tubuh) dapat diidentifikasikan ke kode 3-27 sampai dengan kode 3-33 (industri pengolahan dan pengawetan makanan, industri minyak dan lemak, industri penggilingan padi, industri tepung segala jenis, industri gula, industri makanan lainnya, dan industri minuman) - Mata anggaran keluaran (belanja pengiriman surat dinas pos pusat) dapat diidentifikasikan ke kode 7-6 komunikasi - Mata anggaran keluaran (belanja langganan daya dan jasa) dapat diidentifikasikan ke kode 4-51 listrik, gas dan air bersih - Mata anggaran keluaran (belanja jasa konsultan) dapat diidentifikasikan ke kode jasa perusahaan - Mata anggaran keluaran (belanja sewa) dapat diidentifikasikan ke kode real estat dan sewa tanah - Mata anggaran keluaran (belanja jasa profesi) dapat diidentifikasikan ke kode 9-64 jasa sosial kemasyarakatan - Mata anggaran keluaran (belanja biaya pemeliharaan gedung dan bangunan) dapat diidentifikasikan ke kode 5-52 bangunan - Mata anggaran keluaran (belanja biaya pemeliharaan peralatan dan mesin) dapat diidentifikasikan ke kode 9-65 jasa lainnya - Mata anggaran keluaran 541 (belanja pembayaran bunga utang) dapat diidentifikasikan ke kode 8-61 (lembaga keuangan) - Mata anggaran keluaran 55 (belanja subsidi) /bantuan ke lembaga pendidikan dan ilmu pengetahuan, sekolah dan badan keagamaan, usaha social, ekonomi dan lain-lain. Oleh karena klasifikasi bantuan tersebut, maka mata anggaran tersebut dapat diidentifikasikan ke kode 9-64 (jasa sosial kemasyarakatan). Setelah semua pengeluaran pemerintah menurut mata anggaran diidentifikasikan kedalam kode I-O, tahap akhir dari prosedur pengolahan pengeluaran pemerintah adalah dengan mengumpulkan kode I-O yang sama. Lampiran 4 menunjukkan hubungan antara mata anggaran dengan kode I-O. Lampiran 1: No. Mata anggaran Uraian mata anggaran 51 Belanja pegawai Belanja gaji dan tunjangan Belanja honorarium/lembur/vakasi 52 Belanja barang Belanja barang Belanja jasa Belanja pemeliharaan Belanja perjalanan
70 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor 53 Belanja modal Belanja modal tanah Belanja modal peralatan & mesin Belanja modal gedung & bangunan Belanja modal jalan, irigasi & jaringan Belanja pemeliharaan yang dikapitalisasi Belanja modal fisik lainnya 54 Belanja pembayaran kewajiban utang Belanja pembayaran bunga utang 55 Belanja subsidi Belanja subsidi perusahaan Negara Belanja subsidi perusahaan swasta Belanja hibah Belanja hibah kepada pemerintah LN Belanja hibah kepada organisasi Int Belanja hibah kpd pemerintah daerah 57 Belanja bantuan sosial Belanja bantuan kompensasi sosial Belanja bansos. lemb. Pendidikan Belanja lembaga sosial lainnya 58 Belanja lain-lain Belanja lain-lain Lampiran 2: No. Uraian Belanja Belanja Output Konsumsi Penyusutan Jumlah Pegawai Barang Pasar Jasa-jasa 1 Jasa pemer. umum Pusat Daerah 2 Jasa pendidikan Pusat Daerah 3 Jasa kesehatan Pusat Daerah 4 Jasa pemerintahan lainnya Pusat Daerah Lampiran 3 Mata anggaran 21 ( biaya kantor ) 3-37 industri kayu, bambu dan rotan 3-38 industri kertas, barang dari kertas dan karton 3-4 industri kimia 3-42 industri barang karet dan plastik 3-43 industri barang-barang dari mineral bukan logam 3-47 industri barang dari logam 3-48 industri mesin, alat-alat dan perlengkapan listrik 6-54 restoran dan hotel
71 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor 7-55 angkutan kereta api 7-56 angkutan darat 7-57 angkutan air 7-58 angkutan udara 7-59 jasa penunjang angkutan 7-6 komunikasi 8-62 usaha bangunan dan jasa perusahaan Mata anggaran 22 ( inventaris kantor ) 3-37 industri kayu, bambu dan rotan 3-42 industri barang karet dan plastik 3-43 industri barang-barang dari mineral bukan logam 3-47 industri barang dari logam 3-48 industri mesin, alat-alat dan perlengkapan listrik 3-38 industri kertas, barang dari kertas dan karton 3-4 industri kimia 3-42 industri barang karet dan plastik 3-43 industri barang-barang dari mineral bukan logam 3-5 industri barang lain yang tidak digolongkan di mana-mana Mata anggaran 26 ( lain-lain ) 3-36 industri tekstil, pakaian dan kulit 3-41 pengilangan minyak bumi 3-48 industri mesin, alat-alat dan perlengkapan listrik Mata anggaran 285 ( angsuran hutang dalam negeri ) 4-51 listrik, gas dan air minum 7-6 komunikasi Mata anggaran 231 ( listrik ) 4-51 listrik, gas dan air minum Mata anggaran 286 ( bunga hutang dalam negeri ) 8-61 lembaga keuangan Mata anggaran 232 ( telepon ) 7-6 komunikasi Mata anggaran 233 ( gas dan air ) 4-51 listrik, gas dan air minum Mata anggaran 24 ( lauk pauk ) 1-17 tanaman lainnya 1-18 peternakan 6-54 restoran dan hotel Mata anggaran 25 ( bahan-bahan, alat-alat dan barang-barang lain) 3-36 industri tekstil, pakaian dan kulit 3-37 industri kayu, bambu dan rotan Mata anggaran 31 ( pemeliharaan gedung kantor ) 5-52 bangunan 9-65 jasa lainnya Mata anggaran 32 ( pemeliharaan rumah dinas ) 5-52 bangunan 9-65 jasa lainnya Mata anggaran 33 ( pemeliharaan kendaraan bermotor ) 3-49 industri alat pengangkutan dan perbaikannya 9-65 jasa lainnya Mata anggaran 34 ( pemeliharaan inventaris kantor ) 3-48 industri mesin, alat-alat dan perlengkapan listrik
72 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor 9-65 jasa lainnya Lampiran 4 Mata anggaran 35 ( pemeliharaan peralatan ) 3-48 industri mesin, alat-alat dan perlengkapan listrik 9-65 jasa lainnya Mata anggaran 36 ( pemeliharaan lain-lain ) 3-48 industri mesin, alat-alat dan perlengkapan listrik 5-52 bangunan 9-65 jasa lainnya Mata anggaran 41 ( perjalanan dinas biasa )= Mata anggaran 42 ( perjalanan dinas tetap )= Mata anggaran 44 ( biaya perjalanan dinas lain-lain ) 3-41 pengilangan minyak bumi 6-54 restoran dan hotel 7-55 angkutan kereta api 7-56 angkutan darat 7-57 angkutan air 7-58 angkutan udara 7-59 jasa penunjang angkutan 8-61 lembaga keuangan Mata anggaran 43 (biaya penampungan/uang pesangon pegawai yang dipindahkan) 6-54 restoran dan hotel 7-55 angkutan kereta api 7-56 angkutan darat 7-57 angkutan air 7-58 angkutan udara 7-59 jasa penunjang angkutan 8-61 lembaga keuangan Kode I-O 66 x Uraian tanaman lainnya peternakan industri tekstil, pakaian dan kulit industri kayu, bambu dan rotan industri kertas, barang dari kertas dan karton industri kimia pengilangan minyak bumi industri barang karet dan plastik industri barang-barang dari mineral bukan logam industri barang dari logam industri mesin, alat-alat dan perlengkapan listrik industri alat pengangkutan dan perbaikannya industri barang lain yang tidak digolongkan di mana-mana listrik, gas dan air minum bangunan restoran dan hotel angkutan kereta api angkutan darat angkutan air angkutan udara jasa penunjang angkutan komunikasi lembaga keuangan usaha bangunan dan jasa perusahaan jasa lainnya Mata Anggaran , 26 21, 22, 25 21, 25 21, 25 26, 41, 42, 44 21, 22, 25 21, 22, 25 21, 22 21, 22, 26, 34, 35, , 233, , 32, 36 21, 24, 41, 42, 43, 44 21, 41, 42, 43, 44 21, 41, 42, 43, 44 21, 41, 42, 43, 44 21, 41, 42, 43, 44 21, 41, 42, 43, 44 21, 232, , 41, 42, 43, , 32, 33, 34, 35,
73 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor Pembentukan Modal Tetap Bruto Salah satu komponen dari permintaan akhir (final demand) yang terletak pada kuadran II dalam penyusunan I-O adalah pembentukan modal tetap bruto yang dalam klasifikasi I-O diberi kode 33. Komponen ini bisa berasal dari produksi dalam negeri atau dari luar negeri (impor). Isian di kolom pembentukan modal tetap dalam I-O hanya menggambarkan barang-barang modal yang dihasilkan oleh sektor-sektor produksi dan bukan menunjukkan pembentukan modal yang dilakukan oleh sektor-sektor produksi. Dengan kata lain, pembentukan modal tetap yang terdapat dalam I-O merupakan pembentukan modal tetap yang dirinci menurut jenis komoditi. a. Ruang lingkup dan Definisi Pembentukan modal tetap bruto meliputi pengadaan, pembuatan atau pembelian barang-barang modal baru baik yang berasal dari produksi dalam negeri maupun impor (termasuk barang modal bekas dari luar negeri), dikurangi penjualan neto barang bekas yang dilakukan oleh sektor-sektor produksi dalam perekonomian domestik. Yang dimaksud barang modal adalah barang-barang yang digunakan dalam proses produksi yang mempunyai umur pemakaian satu tahun atau lebih, serta mempunyai nilai per unit relatif besar dibanding dengan output sektor yang memakainya. Pembentukan modal tetap bruto mencakup: (i)- Pembentukan modal tetap berupa bangunan/konstruksi, yang terdiri dari: - Bangunan tempat tinggal; - Bangunan bukan tempat tinggal; - Bangunan atau konstruksi lainnya seperti: jalan, jembatan, irigasi, pembangkit tenaga listrik dan jaringannya, instalasi telekomunikasi, pemancar TV, pelabuhan terminal, jaringan pipa untuk minyak, gas dan air, pertanian, monumen dan lain-lain. - Perbaikan besar-besaran dari bangunan di atas. Pembentukan modal berupa bangunan/konstruksi dinilai sesuai dengan output bangunan yaitu nilai pekerjaan seluruh bangunan pada satu tahun tertentu tanpa memperhatikan bangunan tersebut sudah selesai atau belum. (ii)- Pembentukan modal tetap berupa mesin-mesin dan alat-alat perlengkapan yang terdiri dari: - Alat-alat transpor seperti kapal laut, kapal terbang, kereta api, bus, truk, motor dan lain-lain. - Mesin-mesin dan alat-alat perlengkapan untuk pertanian. - Mesin-mesin dan alat-alat perlengkapan untuk industri, listrik dan pertambangan. - Mesin-mesin dan alat-alat perlengkapan untuk pembuatan jalan, jembatan dan lain lain. - Mesin-mesin dan perabot untuk perlengkapan kantor, toko, hotel restoran, rumah dan lain-lain. Mesin-mesin dan alat-alat perlengkapan yang sedang dalam proses pembuatan tidak dimasukkan dalam pembentukan modal tetap bruto, melainkan dimasukkan sebagai inventori dari produsennya. (iii)- Perluasan perkebunan dan penanaman baru untuk tanaman keras. Yang dimaksud dengan tanaman keras disini adalah macam-macam tanaman yang hasilnya baru akan diperoleh setelah berumur satu tahun atau lebih. Termasuk juga disini adalah pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan oleh perkebunan besar selama perkebunan itu belum mendatangkan
74 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor hasil (berproduksi) dan kegiatan penanaman kembali (reboisasi) yang dilakukan oleh perusahaan pemerintah dan pemerintah sendiri. (iv)- Penambahan ternak yang khusus dipelihara untuk diambil susunya atau bulunya atau untuk dipakai tenaganya dan sebagainya, kecuali ternak yang dipelihara untuk dipotong. (v)- Margin pedagang atau makelar, service charge dan ongkos-ongkos pemindahan hak milik dalam traksaksi jual beli tanah, sumber mineral, hak pengusaha hutan, hak paten, hak cipta dan barang-barang modal bekas tercakup dalam pembentukan modal tetap. b. Metode Estimasi dan Sumber Data Ada dua pendekatan dalam penyusunan tabel input-output yaitu dengan metode langsung (menggunakan berbagai survei) dan metode tak langsung. Estimasi data pembentukan modal dalam hal ini menggunakan kedua pendekatan tersebut. Untuk pendekatan dengan metode langsung, penghitungan nilai pembentukan modal dilakukan melalui pendekatan secara langsung ke sektor-sektor yang memiliki barang modal. Sedangkan dengan pendekatan metode tak langsung, penghitungan nilai pembentukan modal menggunakan pendekatan arus barang (commodity flow approach), yaitu pendekatan melalui penyediaan barang-barang modal baik yang berasal dari produksi dalam negeri, impor maupun yang berupa bangunan/konstruksi. Nilai barang modal produksi dalam negeri diperoleh dari berbagai publikasi yang disajikan oleh BPS, seperti Statistik Industri Besar/Sedang, Statistik Pertambangan dan Statistik Listrik/Gas/Air. Data barang modal yang diperoleh tidak terinci kedalam semua jenis komoditi. Sehingga untuk merinci kedalam semua komoditi dilakukan suatu survei ke berbagai sektor untuk mendapatkan rasio tertentu dari output/produksi suatu komoditi yang menjadi barang modal. Nilai barang modal yang berasal dari impor diperoleh dari Statistik impor, dimana penilaiannya merupakan penjumlahan dari nilai cost insurance freight (cif), bea masuk, pajak penjualan dan pajak-pajak lainnya. Dimana nilai ini masih harus dikalikan dengan persentase alokasi komoditi impor ke pembentukan modal, untuk memisahkan komoditi impor yang benar-benar menjadi pembentukan modal. Persentase alokasi dari TTM ini diperoleh dari survei khusus, sedangkan data cif, bea masuk, PPn dan pajak lainnya tersedia dalam statistik perdagangan luar negeri. Data jenis komoditi yang berasal dari impor tersebut dirinci menurut kode Harmonized System (HS). Sehingga untuk penyusunan I-O perlu dilakukan destinasi kode HS ke dalam klasifikasi kode I-O. Hasil ini diperoleh dari destinasi komoditi impor secara keseluruhan yang dilakukan pada subbab Bila ditambah dengan margin perdagangan dan pengangkutan (TTM) serta biaya lainnya, maka akan menghasilkan nilai di lokasi pembeli. Nilai pembentukan modal berupa bangunan diperoleh dari output sektor bangunan, yaitu nilai output sektor bangunan yang ke pembentukan modal tetap bruto. Proporsi yang digunakan adalah sekitar 92 persen dari output bangunan yang menjadi nilai pembentukan modal tetap, sedangkan sisanya merupakan perbaikan kecil dari sektor bangunan. Proporsi ini diperoleh dari hasil suatu studi. Pembentukan modal dalam bentuk pengembangan dan pembukaan tanah, pengembangan dan perluasan areal hutan, pertambangan dan peremajaan tanaman hias, margin perdagangan dan biaya lain yang berkaitan dengan pemindahan hak milik seperti jual beli tanah, sumber mineral, hak pengusahaan hutan, hak paten, hak cipta dan barang-barang bekas diperkirakan berdasarkan persentase tertentu dari hasil suatu survei. Contoh Penghitungan :
75 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor Tabel 5.1 Estimasi Barang Modal Impor Tabel 5.2 Estimasi Barang Modal Produksi Dalam Negeri dan Bangunan CIF Komoditi Bea Masuk No (Juta (Kode HS) (Juta Rp.) Rp.) Pajak Persen Penjuala Landed Alokasi n Cost Barang (Juta (Juta Rp.) Modal Rp.) Nilai Barang Modal Harga Produsen TTM Nilai Barang Modal Harga Pembeli (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (1) TOTAL Keterangan : Kolom (6) = kol (3) + kol (4) + kol (5) Kolom (8) = kol (7) x kol (6) Kolom (1) = kol (9) + kol (8) No Komoditi Output (Juta Rp.) Persen Alokasi Barang Modal TTM (Juta Rp.) Nilai Barang Modal Harga Pembeli (Juta Rp.) (1) (2) (3) (4) (5) (6) Peternakan Inds. tekstil, pakaian dan kulit Inds. bammbu, kayu dan rotan Inds. kertas, brg dr kertas dan karton Inds. brg dr mineral bkn logam Inds. brg dr logam Inds. mesin, alat dan perl. listrik Inds. alat pengangkutan & perbaikannya Inds. brg lain yang belum digolongkan dimanapun Bangunan Jasa lainnya Dari hasil estimasi komoditi impor yang telah dilakukan, nilai landed cost dikalikan dengan persentase tertentu, akan mendapat nilai komoditi tersebut yang menjadi barang modal. Nilai barang modal yang telah diperoleh masih berdasarkan harga produsen sehingga untuk memperoleh nilai barang modal atas dasar harga pembeli perlu ditambahkan dengan TTM. Proses untuk mendapatkan nilai tersebut dapat dilihat pada Tabel 5.1 di atas. Sedangkan pada Tabel 5.2 ditunjukkan estimasi barang modal yang berasal dari produksi dalam negeri dan yang berupa bangunan
76 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor Perubahan Inventori a. Ruang Lingkup Yang dimaksud dengan inventori adalah persediaan barang-barang baik berasal dari pembelian, yang akan dipakai sebagai input pada suatu kegiatan ekonomi atau untuk dijual lagi, maupun barang yang dihasilkan oleh unit-unit produksi yang belum terjual, baik dalam bentuk barang jadi maupun barang setengah jadi. Para pemegang inventori tersebut adalah produsen, pedagang dan pemerintah. Yang disebut inventori pada pemerintah adalah barang-barang yang dibeli untuk keperluan strategi, seperti bahan pangan dan bahan bakar yang disediakan guna keperluan pada waktu krisis. Alat-alat berat seperti kapal, pesawat terbang dan lain-lain yang sedang dalam proses pengerjaan merupakan inventori pada produsen. Bangunan yang sedang dikerjakan tidak termasuk inventori merupakan bagian dari pembentukan modal tetap bruto. Dalam hal peternakan, pemeliharaan ternak untuk dipotong diklasifikasikan sebagai inventori. Dalam praktek sangat sulit memisahkan ternak untuk dipotong dengan ternak untuk tujuan lainnya, karena pada akhirnya semua ternak itu akan dipotong. Apabila semua inventori akhir tahun yang ada pada produsen, pedagang dan pemerintah tersebut dikurangi dengan inventori pada awal tahun maka akan diperoleh perubahan inventori pada tahun bersangkutan. b. Penilaian Terhadap Penambahan dan Pengurangan inventori Penambahan inventori dinilai berdasarkan harga pembelian apabila barang tersebut dibeli dari unit ekonomi lainnya dan berdasarkan harga produsen jika barang tersebut merupakan hasil produksi dari si pemegang inventori. Penilaian harus berdasarkan harga yang berlaku pada waktu penambahan inventori tersebut dilakukan. Pengurangan terhadap inventori untuk proses produksi atau untuk dijual dinilai atas dasar harga produsen apabila dihasilkan sendiri dan atas harga pembeli apabila diperoleh dari unit ekonomi lainnya. Barang-barang yang sedang dalam proses pengerjaan dinilai dengan harga produsen apabila ada harganya di pasaran, akan tetapi bila tidak ada harga di pasar, maka barang tersebut dinilai berdasarkan biaya yang dikeluarkan. Prinsip penilaian perubahan inventori adalah konsisten dengan prinsip penilaian output kotor (gross output) dan biaya antara. c. Klasifikasi Inventori Menurut Jenis Barang 1. Sektor penghasil barang yaitu pertanian, kehutanan, perikanan, pertambangan, industri, gas dan air minum dan bangunan/konstruksi, dengan jenis inventori seperti: a. Bahan baku dan bahan penolong Semua bahan baku dan bahan penolong yang disediakan untuk proses lebih lanjut, dirakit atau dicetak dan untuk perbaikan. Termasuk barang lainnya yang digunakan untuk sektor bangunan dan minyak, bahan bakar lainnya yang dibeli untuk keperluan konsumsi. Tercakup pula inventori dari pupuk, pembasmi hama, bibit dan barang-barang pertanian lainnya. b. Barang-barang yang sedang dalam proses pengerjaan dan belum terjual. c. Binatang ternak yang dipelihara untuk dipotong dan binatang ternak lainnya kecuali yang termasuk dalam pembentukan modal tetap. d. Barang-barang hasil produksi yang siap untuk dijual
77 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor 2. Pedagang besar dan eceran Barang-barang yang ada pada pedagang besar dan pedagang eceran baik yang akan dijual maupun yang akan dipakai sebagai bahan baku dan penolong untuk pembungkus, pengepak dan lain-lainnya. 3. Sektor penghasil barang lainnya Diantaranya mencakup inventori minyak dan bahan bakar lainnya dan barang-barang untuk perbaikan dan pemeliharaan dan lain-lainnya. 4. Barang-barang strategi pemerintah Inventori barang-barang strategi pemerintah seperti bahan pangan dan bahan bakar yang disediakan untuk keperluan pada waktu kritis. d. Metode Estimasi dan Sumber data Dalam penyusunan tabel input-output, data perubahan inventori diperoleh dari berbagai survei maupun dari beberapa publikasi terbitan BPS. Data perubahan inventori yang tersedia hanya beberapa sektor, serta tidak terinci secara detail menurut komoditi yang ada pada klasifikasi input-output. Sehingga untuk memperoleh data perubahan inventori menurut klasifikasi input-output dilakukan melalui proses rekonsiliasi dengan memperhatikan antara alokasi penggunaan output dengan jumlah penyediaan Ekspor Pengertian ekspor dalam tabel input-output adalah transaksi-transaksi ekonomi yang dilakukan oleh penduduk suatu negara/region dengan pihak luar negeri/region lain. Transaksi ekonomi meliputi transaksi barang, jasa pengangkutan, jasa pariwisata, jasa komunikasi dan transaksi komoditi lainnya. Penilaian ekspor barang atas dasar harga produsen dinyatakan dalam f.o.b (free on board). Transaksi barang dan jasa pada prinsipnya dicatat pada saat kepemilikan barang tersebut berpindah atau pada saat jasa tersebut diberikan ke bukan penduduk. Untuk itu akan dijelaskan lebih lanjut mengenai transaksi barang dan jasa, penduduk dan f.o.b yang sesuai dengan konsep SNA dan Neraca Pembayaran. Transaksi ekonomi adalah suatu pertukaran nilai ekonomi oleh satu unit ekonomi dengan unit ekonomi lainnya. Yang dimaksud dengan nilai ekonomi adalah barang, jasa dan instrumen finansial. Transaksi ekonomi pada garis besarnya dapat digolongkan atas: penjualan barang-barang untuk ditukarkan dengan instrumen finansial, barter atau pertukaran barang dan jasa dengan barang dan jasa lainnya dan dapat juga merupakan pemberian barang dan jasa tanpa ada imbalan seperti hadiah, bantuan dan lain-lain. Penduduk, yang dimaksud dengan penduduk dalam hal ini adalah lembaga pemerintah, perorangan, perusahaan, baik perusahaan swasta maupun perusahaan negara, serta lembaga swasta nirlaba yang berada di wilayah domestik (wilayah yang berada dalam batas geografis). - Penduduk Lembaga pemerintah terdiri atas pemerintah pusat dan daerah termasuk kedutaan dan konsulat di luar negeri. Badan dunia seperti IMF, Bank Dunia dan sejenisnya serta kedutaan dan konsulat asing yang berlokasi di wilayah domestik dianggap sebagai bukan penduduk. - Penduduk perorangan adalah semua orang yang tinggal di wilayah domestik, kecuali: a. wisatawan asing yang tinggal di wilayah domestik kurang dari satu tahun dengan tujuan untuk bertamasya, berobat, beribadah, kunjungan keluarga, pertandingan olah raga, konperensi dan sebagainya. b. awak kapal/pesawat asing yang sedang singgah atau perbaikan di wilayah domestik. c. pengusaha atau pegawai perusahaan yang berlokasi di luar negeri sedang berada di wilayah domestik kurang dari satu tahun
78 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor d. pekerja musiman yang berada di wilayah domestik kurang dari satu tahun. e. staf kedutaan/konsulat asing yang tinggal di wilayah domestik f. pegawai badan internasional bukan warga negara yang bertugas di wilayah domestik kurang dari satu tahun. - Penduduk perusahaan adalah unit usaha yang melakukan kegiatan produksi dan transaksi di wilayah domestik, termasuk cabang perusahaan asing. - Penduduk lembaga nirlaba terdiri atas semua lembaga nirlaba yang berlokasi di wilayah domestik. Harga Free on Board (f.o.b) adalah harga barang sampai di atas kapal negara pengekspor, yang meliputi: harga barang, pajak ekspor dan sejenisnya, biaya pengangkutan sampai ke batas negara, biaya asuransi pengangkutan sampai ke atas kapal, komisi, biaya pembuatan dokumen, biaya kontainer, biaya pengepakan, biaya pemuatan barang ke kapal/pesawat udara/alat transport lainnya. a. Klasifikasi Ekspor Barang dan Jasa b. Ekspor Barang Dagangan Ekspor barang dagangan mencakup perpindahan barang dagangan dari wilayah domestik ke luar negeri, meliputi: - penjualan kapal laut dan pesawat udara, baru maupun bekas, terlepas dari apakah barang tersebut melalui bea cukai atau tidak - penjualan listrik, gas dan air - penjualan emas untuk keperluan industri oleh penduduk ke bukan penduduk - penjualan bahan baku dan perbekalan lainnya untuk kapal laut, pesawat udara dan sejenisnya oleh penduduk ke bukan penduduk - minyak dan gas bumi yang diambil oleh penduduk dari perairan nasional atau internasional kemudian didaratkan langsung di luar negeri - ikan yang dijual langsung oleh kapal nelayan nasional di luar negeri - penjualan persenjataan dan peralatan militer - penjualan karya seni dan koleksi barang antik - barang selundupan, ditemukan atau tidak oleh bea cukai - paket pos, selain langganan langsung surat kabar dan majalah - dan sebagainya Jenis komoditi yang dicakup dalam transaksi ekspor barang dan jasa dirangkum dalam suatu klasifikasi yang meliputi: - transaksi ekspor barang dagangan - transaksi ekspor jasa pengangkutan dan komunikasi - transaksi ekspor jasa asuransi - pembelian langsung di wilayah domestik oleh kedutaan/konsulat asing serta badan internasional yang berada di wilayah dometik - pembelian langsung di wilayah domestik oleh rumahtangga bukan penduduk - ekspor barang dan jasa lainnya Yang tidak termasuk ekspor barang dagangan seperti: - barang transit langsung - barang keperluan sehari-hari wisatawan manca negara - barang untuk pameran, contoh atau barang yang tidak diperdagangkan, kontainer, serta binatang-binatang untuk pengembangbiakkan dan perlombaan - pemindahan barang ke luar negeri semata-mata untuk perbaikan - transfer mesin, peralatan dan barang lainnya (termasuk film untuk gedung bioskop dan teknisinya) ke bukan penduduk dengan sistem sewa
79 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor c. Ekspor Jasa Pengangkutan dan Komunikasi Ekspor jasa pengangkutan dan komunikasi mencakup jasa angkutan barang (freight), jasa angkutan penumpang, serta jasa pengangkutan lainnya dan komunikasi. Jasa angkutan barang meliputi pengangkutan barang oleh perusahaan penduduk melalui pengoperasian alat angkutannya seperti kapal laut, pesawat udara dan sejenisnya. Ekspor jasa angkutan barang meliputi jasa angkutan barang yang dilakukan perusahaan penduduk, sehubungan dengan: - pengangkutan barang dagangan - pengangkutan barang transit milik bukan penduduk yang melalui wilayah domestik - pengangkutan barang milik bukan penduduk dalam dan antar negara di luar negeri - pengangkutan barang impor menuju batas bea cukai negara pengekspor barang impor tersebut Ekspor jasa angkutan penumpang meliputi semua jasa yang diberikan perusahaan penduduk untuk pengangkutan penumpang bukan penduduk ke luar negeri, antar dan dalam negeri di luar negara. Tidak termasuk disini pengangkutan penumpang bukan penduduk di wilayah domestik oleh perusahaan penduduk (dimasukkan sebagai pembelian langsung barang dan jasa diwilayah domestik oleh rumah tangga bukan penduduk). Ekspor jasa angkutan lainnya dan komunikasi meliputi biaya carter/sewa alat angkutan, biaya buruh dan bongkar muat lainnya dan biaya pelabuhan (laut/udara), biaya untuk jasa kapal tunda dan sejenisnya, biaya untuk operasi penyelamatan, jasa pos, telegram, telepon, radio dan televisi yang dikeluarkan oleh bukan penduduk sehubungan penggunaan jasa dari perusahaan penduduk. d. Ekspor Jasa Asuransi Ekspor jasa asuransi dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu jasa asuransi pengangkutan barang dan jasa asuransi lainnya. Ekspor jasa asuransi pengangkutan barang meliputi jasa asuransi yang dihasilkan perusahaan penduduk sehubungan dengan jaminan terhadap: - ekspor barang dagangan - pengangkutan barang yang tidak tergolong barang dagangan dari/ke wilayah domestik atas biaya bukan penduduk - pengangkutan barang impor ke batas bea cukai negara pengimpor - pengangkutan barang impor ke batas bea cukai negara pengekspor barang impor tersebut. Ekspor jasa asuransi lainnya meliputi biaya sehubungan dengan asuransi kebakaran, kehilangan dan kerusakan barang yang tidak berkaitan dengan pengangkutan barang, reasuransi pengangkutan barang, asuransi kecelakaan, kerugian, kesehatan dan sejenisnya, asuransi jiwa dan sebagainya yang dikeluarkan oleh bukan penduduk sehubungan dengan jasa asuransi yang dihasilkan. Pembelian langsung di wilayah domestik oleh kedutaan/konsulat asing, badan internasional serta oleh rumah tangga bukan penduduk dicakup sebagai ekspor komoditi dan pembelian langsung oleh konsulat negara dan rumah tangga penduduk di luar negeri digolongkan sebagai impor komoditi
80 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor e. Ekspor Barang dan Jasa Angkutan Lainnya Bagian ini meliputi ekspor barang dan jasa selain dari ekspor barang dagangan, jasa pengangkutan dan komunikasi, jasa asuransi, pembelian langsung di wilayah domestik oleh kedutaan/konsulat asing serta badan internasional yang berada di wilayah domestik, pembelian langsung di wilayah domestik oleh rumah tangga bukan penduduk. Bagian ini terdiri atas barang dan jasa yang sangat beraneka ragam seperti: (i) biaya reparasi barang yang diterima dari luar negeri, (ii) margin perdagangan atas barangbarang yang dibeli dari negara lain ke negara ketiga, (iii) biaya administrasi, pengolahan dan konsultasi serta biaya kantor perusahaan cabang dan anak perusahaan yang dibayarkan perusahaan induk serta transaksi sejenis antara nonresiden dan residen, (iv) komisi untuk penanggung dan biaya lainnya atas penerbitan surat-surat berharga swasta yang dijual di luar negeri, (v) biaya agen perantara yang beroperasi untuk pihak asing dan biaya yang berkaitan dengan emas bukan industri, (vi) penyewaan mesin, peralatan, film, dan sejenisnya, (vii) biaya advertensi, (viii) penyewaan ruang kantor dan pengeluaran lain yang dibayar kembali oleh perusahaan, (ix) pembayaran langganan langsung surat kabar dan majalah, (x) keuntungan atau kerugian akibat pengambilan keputusan dalam hal pembagian deviden dengan orang asing, (xi) hadiah barang yang dikirim ke luar negeri oleh rumah tangga penduduk, (xii) barang dan harta benda milik rumah tangga migran, dan (xiii) transaksi barang dan jasa yang tidak tergolong dimana-mana. f. Metode Estimasi dan Sumber Data Untuk menghitung nilai ekspor barang dan jasa dalam penyusunan tabel input-output pada tingkat nasional permasalahan yang dihadapi tidak begitu sulit. Pada tingkat regional atau pada tingkat provinsi penghitungan ekspor menghadapi berbagai permasalahan, antara lain pada tingkat nasional antara warga negara Indonesia dengan warga negara asing dapat dibedakan dengan jelas, namun tidak demikian halnya dengan penduduk provinsi, sangat sulit membedakan apakah orang tersebut penduduk provinsi tersebut atau bukan. Sehingga jasa yang diberikan ke penduduk provinsi lain sulit diperkirakan, misalnya jasa angkutan, jasa komunikasi dan sebagainya. Sumber data yang digunakan dalam memperkirakan nilai ekspor barang dan jasa diperoleh dari buku Statistik Perdagangan Luar Negeri terbitan BPS, Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia publikasi BI, buku Tahunan Statistik Pertambangan Indonesia publikasi Departemen Pertambangan dan Energi dan dari sumber data lainnya. Dalam tabel Input-output transaksi ekspor barang dan ekspor jasa, masing-masing diberi kode: 35 dan 36. g. Ekspor Barang Perkiraan nilai ekspor barang dagangan (merchandise) dilakukan dengan menggunakan data statistik Perdagangan Luar Negeri BPS. Nilai ekspor barang yang tersedia adalah nilai ekspor barang yang diolah dengan metode "carry over". Untuk kebutuhan penyusunan tabel input-output, nilai ekspor barang yang diolah dengan metode carry over tersebut perlu disesuaikan untuk memperoleh nilai ekspor barang aktual, yaitu nilai ekspor barang yang tersedia pada tahun yang bersangkutan. Nilai ekspor barang yang tersedia tersebut dirinci menurut kode Harmonized System (HS), sehingga harus dilakukan konversi ke dalam klasifikasi kode input-output. Kode HS dalam hal ini adalah merupakan suatu kode klasifikasi baik untuk barang dagangan sebagai ekspor maupun sebagai impor yang digunakan sebagai pedoman dalam transaksi perdagangan internasional. Barang dagangan yang diekspor dari suatu negara atau region adalah merupakan bagian dari output/hasil produksi dari suatu sektor tertentu, karena itu kode HS yang digunakan harus disesuaikan dengan sektor yang identik. Dalam penyusunan input-output,
81 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor klasifikasi yang dibentuk sesuai dengan sifat atau karakteristik dari suatu komoditi. Sehingga semua ekspor barang yang mempunyai kode HS tertentu dapat dibagi habis ke dalam klasifikasi input-output. Tidak ada satupun kode HS yang tidak dapat disesuaikan atau dikonversi ke dalam kode input-output. Untuk satu kode input-output bisa terdapat satu atau lebih kode HS. Nilai ekspor barang yang dirinci menurut kode HS masih dalam satuan dolar US, sehingga untuk mendapatkan nilai barang dalam satuan rupiah perlu dikalikan dengan kurs ekspor (kurs dolar US terhadap rupiah untuk barang ekspor). Kurs tersebut diperoleh dari rata-rata kurs beli dolar US yang diperoleh dari BI, ditimbang dengan nilai nominal ekspor barang bulanan dolar US. Sebagai ilustrasi dapat dilihat prosedur konversi kode HS ke dalam kode input-output pada contoh penghitungan di bawah ini. kode HS ke dalam klasifikasi input-output, misalnya untuk kode HS 1619 yang merupakan komoditi padi-padian. Dengan melihat dari jenis komoditi dengan kode HS tersebut, ini bisa merupakan hasil produksi/output dari sektor padi. Pada klasifikasi input-output berkode 1. Dan selanjutnya mengidentifikasi kode HS secara keseluruhan ke dalam klasifikasi inputoutput. Hasil dari konversi ini dapat ditunjukkan pada Tabel 5.4 Setelah diperoleh konversi kode HS ke dalam klasifikasi input-output, sub jumlah nilai FOB dari setiap kode input-output adalah merupakan ekspor barang yang terletak pada kolom 35 pada kuadran II. Tabel 5.4 Ekspor Barang Menurut Klasifikasi input-output Tabel 5.3 Ekspor Barang (aktual) Indonesia Kode IO (baris) Kode HS FOB (Rp. Ribu) Ekspor Barang (Kode 35/kolom) , No Kode HS Uraian Berat Bersih FOB (Rp. Ribu) Harga per Unit (Rp) sub total 1.513, 1.513, , Bulbs, tubus, tubuous, roots, couns & rhizuous, , , , ,34 sub total , , : dst dormant Peas fresh/chilled , ,22.. dst.... T o t a l , ,32 Jumlah , ,82 Nilai ekspor yang telah ditransformasikan ke dalam nilai rupiah dapat dilihat pada Tabel 5.3 kemudian dari tabel tersebut dilakukan konversi dari
82 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor h. Ekspor Jasa Nilai ekspor jasa diperkirakan dari publikasi Neraca Pembayaran BI. Nilai yang tersedia masih dalam dolar US, sehingga perlu dikalikan dengan kurs ekspor untuk mendapatkan nilai jasa dalam rupiah. Dalam publikasi tersebut, nilai ekspor jasa tidak tersedia secara terpisah, tetapi masih tergabung dengan nilai impor jasa. Perkiraan nilai ekspor jasa, dihitung berdasarkan komponen-komponen ekspor jasa yang terdiri dari penggunaan fasilitas jasa yang disediakan oleh penduduk Indonesia yaitu jasa perjalanan dan parawisata, jasa asuransi, jasa komunikasi, jasa perusahaan, serta jasa-jasa lainnya. - impor barang dagangan - impor jasa pengangkutan dan komunikasi - Impor jasa asuransi - Pembelian langsung oleh kedutaan/konsulat negara di luar negeri - Pembelian langsung oleh rumah tangga penduduk di luar negeri - Impor barang dan jasa lainnya 1. Impor Barang Dagangan Impor barang dagangan mencakup pemasukan barang dagangan ke wilayah domestik dari luar negeri, seperti: Impor Dalam tabel input-output transaksi impor barang dan jasa merupakan bagian dari penyediaan bukan merupakan komponen permintaan akhir. Beberapa pengertian yang berkaitan dengan transaksi ekonomi dan penduduk dalam cakupan impor sama halnya dengan pengertian dalam komponen ekspor. Penilaian impor barang atas harga produsen dinilai dalam at landed cost yaitu penjumlahan dari nilai barang cif (cost insurance freight), pajak penjualan dan bea masuk. Yang dimaksud dengan harga cif adalah harga barang sampai di pelabuhan negara pengimpor, meliputi: harga fob, biaya pengangkutan dari batas negara pengekspor ke batas negara pengimpor, biaya bongkar barang dan biaya asuransi pengiriman barang. a. Klasifikasi Impor Barang dan Jasa Secara garis besar transaksi impor barang dan jasa dapat diklasifikasikan sebagai berikut: - pembelian kapal laut dan pesawat terbang baru maupun bekas, terlepas apakah barang tersebut melalui bea cukai atau tidak - pembelian listrik, gas dan air - pembelian emas untuk keperluan industri dari bukan penduduk - pembelian bahan bakar dan perbekalan lain untuk kapal laut, pesawat udara dan sejenisnya - ikan yang dibeli langsung dari kapal nelayan asing - minyak dan gas bumi milik bukan penduduk yang didaratkan langsung di wilayah domestik - pembelian persenjataan dan peralatan militer lainnya oleh pemerintah bukan dari penduduk - pembelian karya seni dan koleksi barang antik dari luar negeri - pengiriman barang titipan dari luar negeri untuk dijual atau diproses lebih lanjut - barang selundupan, apakah ditemukan atau tidak oleh bea cukai - paket pos dari luar negeri, selain langganan langsung surat kabar dan majalah
83 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor Tidak termasuk impor barang dagangan seperti pemasukan barangbarang yang bukan termasuk ekspor barang dagangan di atas. 2. Impor Jasa Pengangkutan dan Komunikasi Impor jasa pengangkutan dan komunikasi dapat dirinci menjadi jasa angkutan barang (freight), jasa angkutan penumpang, serta jasa pengangkutan lainnya dan komunikasi. Jasa angkutan barang meliputi pengangkutan barang oleh perusahaan melalui pengoporasian alat angkutannya seperti kapal laut, pesawat udara, dan sejenisnya. Impor jasa angkutan barang meliputi jasa angkutan barang yang dilakukan oleh: 1. Perusahaan bukan penduduk sehubungan dengan pengangkutan impor barang dagangan dari pelabuhan negara pengekspor. 2. Perusahaan bukan penduduk sehubungan dengan pengangkutan barang milik penduduk dalam dan antar negara di luar negeri. 3. Perusahaan bukan penduduk sehubungan dengan pengangkutan barang milik penduduk yang tidak tergolong barang dagangan ke/dari wilayah domestik. 4. Perusahaan bukan penduduk sehubungan dengan pengangkutan barang ekspor ke batas bea cukai negara pengekspor. Jasa angkutan penumpang meliputi tiket penumpang, pengeluaran penumpang di atas kapal serta biaya lainnya (biaya bagasi atau biaya barang yang dibawa penumpang serta mobil dan sebagainya) sehubungan dengan pengangkutan penumpang. Impor jasa angkutan penumpang meliputi semua jasa yang diberikan perusahaan bukan penduduk untuk pengangkutan penumpang penduduk antar negara di luar negeri, dari luar negeri ke wilayah domestik dan wilayah domestik. Tidak termasuk disini pengangkutan penumpang penduduk oleh perusahaan bukan penduduk dalam suatu negara di luar negeri (akan dimasukkan sebagai pembelian langsung barang dan jasa di luar negara oleh rumah tangga penduduk). Jasa angkutan lainnya dan komunikasi meliputi: biaya carter/sewa alat angkutan, biaya buruh dan bongkar muat lainnya dan biaya pelabuhan (laut/udara), biaya untuk jasa kapal tunda dan sejenisnya, biaya untuk operasi penyelamatan, jasa pos, telegram, telepon, radio dan televisi. Tidak termasuk disini barang untuk keperluan alat pengangkutan seperti bahan bakar dan perbekalan lain kapal laut dan pesawat udara (akan dimasukkan sebagai barang dagangan). Termasuk jasa perbaikan dan pemeliharaan alat angkutan yang diberikan oleh perusahaan pengangkutan, tetapi bila jasa tersebut diberikan oleh perusahaan bukan pengangkutan tidak dimasukkan disini (dimasukkan sebagai barang dan jasa lainnya). Impor jasa pengangkutan lainnya dan komunikasi adalah besarnya pengeluaran penduduk atas penggunaan jasa pengangkutan lainnya dan komunikasi dari perusahaan bukan penduduk seperti tercakup dalam ruang lingkup di atas. Alat angkutan yang dicarterkan/disewakan pemiliknya, sebenarnya tidak terjadi perubahan kepemilikan. Bila pemilik alat angkutan tersebut adalah perusahaan di luar negeri sedang penggunaan atau pengoperasian alat angkutan tersebut atas dasar carter/sewa oleh perusahaan penduduk, maka biaya carter/sewa ini dianggap sebagai pembayaran jasa sewa oleh
84 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor penduduk dan alat angkutan tersebut diperlakukan sebagai barang modal negara pemilik alat angkutan tersebut. Perlu dicatat bahwa apabila sewa/carter hanya untuk periode terbatas seperti pelayaran/perjalanan satu arah dimana pemilik alat angkutan juga sebagai operator, hal ini bukan jasa carter yang dimaksud di atas. 3. Impor jasa Asuransi Impor jasa asuransi dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu jasa asuransi pengangkutan barang dan jasa asuransi lainnya. Impor jasa asuransi pengangkutan barang mencakup: 1. Jasa asuransi baik yang dihasilkan oleh perusahaan bukan penduduk maupun perusahaan penduduk sehubungan dengan resiko pengangkutan impor barang dagangan. 2. Jasa asuransi yang dihasilkan perusahaan bukan penduduk sehubungan dengan resiko pengangkutan barang dalam dan antar negara di luar negeri atas biaya penduduk. 3. Jasa asuransi yang dihasilkan perusahaan bukan penduduk sehubungan dengan jaminan pengangkutan bukan barang dagangan dari/ke wilayah domestik atas biaya penduduk. 4. Jasa asuransi yang dihasilkan perusahaan bukan penduduk sehubungan dengan resiko pengangkutan barang ekspor ke batas bea cukai negara pengekspor. Impor jasa asuransi lainnya meliputi biaya sehubungan dengan asuransi kebakaran, kehilangan dan kerusakan barang yang tidak berkaitan dengan pengangkutan barang, reasuransi pengangkutan barang, asuransi kecelakaan, asuransi kerugian, kesehatan dan sejenisnya, asuransi jiwa, dan sebagainya. Impor jasa asuransi lainnya adalah jasa asuransi lainnya yang dihasilkan oleh perusahaan bukan penduduk atas biaya penduduk. 4. Pembelian Langsung oleh Kedutaan/Konsulat di Luar Negeri Yang dimaksud pembelian langsung kedutaan/konsulat negara di luar negeri adalah pembelian dikurangi penjualan barang, peralatan serta barang dan jasa lainnya oleh kedutaan/konsulat negara di luar negeri. Termasuk pengeluaran pembangunan gedung dan pekerjaan lainnya, sewa gedung dan bangunan lainnya, komisi untuk penanggung surat berharga pemerintah yang dijual di luar negeri. Pembelian langsung oleh kedutaan konsulat di luar negeri digolongkan sebagai impor komoditi. 5. Pembelian Langsung oleh Rumah Tangga Penduduk di Luar negeri Bagian ini mencakup pengeluaran penduduk perorangan di luar negeri seperti wisatawan, pegawai pemerintah, awak kapal, pekerja perbatasan maupun pekerja musiman, anggota korps diplomatik dan anggota militer yang ditempatkan di luar negeri. Pengeluaran yang dicakup termasuk pengeluaran konsumsi rumah tangga, apakah dikonsumsi di tempat, di tempat lain, atau dibawa ke negara tempat tinggal, termasuk juga jasa pengangkutan lokal. Pengeluaran wisatawan bisnis, pegawai pemerintah, awak kapal dan sebagainya, yang diganti kembali oleh perusahaan mereka, tidak dimasukkan. 6. Impor Barang dan Jasa Lainnya Bagian ini meliputi impor barang dan jasa selain dari impor barang dagangan, jasa pengangkutan dan komunikasi, jasa asuransi, pembelian
85 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor langsung oleh kedutaan/konsulat di luar negeri, dan pembelian langsung di luar negeri oleh rumah tangga penduduk. Bagian ini terdiri atas barang dan jasa yang sangat beraneka ragam seperti: (i) biaya reparasi barang yang dikirim ke luar negeri, (ii) margin perdagangan atas barang-barang yang dikirim atau dijual ke negara ketiga, (iii) biaya administrasi, pengolahan dan konsultasi serta biaya kantor perusahaan cabang dan anak perusahaan yang dibayarkan perusahaan induk serta transaksi yang sejenis antara nonresiden dan residen, (iv) komisi untuk penanggung dan biaya lainnya atas penerbitan surat-surat berharga swasta yang dijual di luar negeri, (v) biaya agen perantara yang beroperasi untuk pihak asing dan biaya lain yang berkaitan dengan emas bukan industri, (vi) penyewaan mesin, peralatan, film, dan sejenisnya, (vii) biaya advertensi, (viii) penyewaan ruang kantor dan pengeluaran lainnya yang dibayar kembali oleh perusahaan, (ix) pembayaran langganan surat kabar dan majalah, (x) keuntungan atau kerugian akibat pengambilan keputusan dalam hal pembagian deviden dengan orang asing, (xi) hadiah barang yang dikirim atau diterima dari luar negeri oleh rumah tangga penduduk, (xii) barang dan harta benda milik rumah tangga migran, dan (xiii) transaksi barang dan jasa yang tidak tergolong dimana-mana. b. Metode Estimasi dan Sumber Data 1. Impor Barang Dagangan tersedia juga dirinci menurut kode HS serta masih dalam satuan dolar US. Untuk memperoleh nilai impor barang dalam rupiah maka harus dikalikan dengan kurs impor (kurs dolar US terhadap rupiah untuk barang impor). Kurs diperoleh dari rata-rata kurs jual dolar US bulanan dari BI ditimbang dengan nilai nominal impor barang bulanan BPS. Kemudian dilakukan konversi dari kode HS kedalam klasifikasi input-output sama halnya dengan ekspor barang. Contoh penghitungan impor barang Indonesia. Tabel 5.5 Impor Barang (aktual) Indonesia (Setelah dikalikan dengan kurs impor) No. Kode HS CIF PPN Bea Masuk Landed Cost (Rp Ribu) (Rp Ribu) (Rp Ribu) (Rp Ribu) Jumlah Perkiraan nilai impor barang dagangan (merchandise) dilakukan dengan menggunakan data statistik Perdagangan Luar Negeri yang diterbitkan oleh BPS. Nilai impor barang yang tersedia adalah nilai impor barang yang diolah dengan metode carry over seperti halnya ekspor barang. Untuk kebutuhan penyusunan tabel input-output, nilai impor barang hasil pengolahan dengan carry over tersebut perlu disesuaikan untuk memperoleh nilai impor barang aktual (perlakukannya sama dengan ekspor barang). Nilai impor barang yang Dari Tabel 5.5 impor barang menurut kode HS, kemudian diidentifikasi dengan memperhatikan karakteristik atau sifat dari kode HS tersebut ke dalam klasifikasi input-output yang sesuai. Sebagai contoh untuk kode HS 151 yang merupakan komoditi biji jagung (corn seeds) dan kode HS 159 biji jagung lainnya (corn other seeds) ini merupakan komoditi yang sesuai pada sektor 2 yaitu pertanian biji-bijian jagung
86 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor Kode HS 611 yaitu umbi-umbian dan kode HS 6129 yaitu umbiumbian lainnya. Keduanya tersebut pada klasifikasi INPUT-OUTPUT sesuai pada sektor 4 yaitu umbi-umbian lainnya. Kode HS 2612 alat pemanggang dari besi, dan kode HS 7223 logam besi campuran. Dilihat dari jenis komoditinya ini sesuai pada klasifikasi input-output sektor 15 yaitu industri besi dan baja dasar. Ini semua dilakukan untuk semua kode HS yang ada pada suatu tahun tertentu. Untuk lebih jelasnya contoh konversi kode HS ke dalam klasifikasi input-output dapat dilihat pada Tabel 5.6. Kode I-O Grand Total Tabel 5.6 Konversi Komoditi Impor Menurut Kode HS Kode HS ke Dalam Klasifikasi Input-Output CIF (Rp Ribu) PPN (Rp Ribu) 5 4 Bea Masuk (Rp Ribu) 25 6 Landed Cost (Rp Ribu) 5 3 Sub Total Sub Total Di dalam penyusunan input-output terutama yang terletak pada kuadran I yaitu permintaan antara serta pada kuadran II yaitu mengenai permintaan akhir, kedua-duanya mengandung unsur dari komoditi impor. Atau dengan kata lain adanya alokasi komoditi impor baik yang ke permintaan antara maupun yang ke permintaan akhir. Sehingga setelah diperoleh nilai impor barang yang telah dikonversi dari kode HS ke dalam klasifikasi input-output perlu dilakukan satu tahapan yang memerlukan tingkat konsentrasi yang relatif tinggi yaitu "Destinasi Komoditi Impor". Destinasi komoditi impor merupakan identifikasi komoditi impor yang dirinci menurut kode HS yang telah diklasifikasikan ke dalam kode input-output untuk dialokasikan yang sesuai dengan karakteristik klasifikasi input-output apakah sebagai input antara pada sektoral atau sebagai permintaan akhir. Pada tahap pertama dilakukan destinasi yang hanya mengidentifikasi kode HS yang telah dikonversi untuk dialokasikan apakah sebagai input antara ke masing-masing sektor atau digunakan sebagai permintaan akhir. Misalnya sebagai contoh, dari Tabel 2 dengan kode HS 151 yang ada di sektor input-output berkode (2) setelah diidentifikasi ternyata sesuai dengan karakteristik dari komoditi impor tersebut, digunakan sebagai permintaan antara pada sektor 52 yaitu sektor tepung lainnya selain terigu, padi-padian giling dan umbi-umbi kupasan, dan pada sektor 6 yaitu sektor makanan lainnya. Selain itu juga sebagai konsumsi rumah tangga (31) dan sebagai inventori (34) pada permintaan akhir. Kode HS 611 yang ada di sektor 4 digunakan sebagai permintaan antara pada sektor 14 (sektor restoran) dan sektor 155 (sektor jasa kesehatan). Begitupun digunakan sebagai konsumsi rumah tangga (kode 31) pada permintaan akhir. Kode HS 2612 yang ada pada sektor 15 bila dilihat dari karakteristik komoditinya, ini sesuai digunakan sebagai permintaan antara pada sektor 16 (sektor barang-barang dari besi dan baja dasar), pada sektor 114 (mesin dan perlengkapannya), sektor 119 (perlengkapan listrik lainnya) serta sektor-sektor lainnya. Sedangkan pada permintaan akhir hanya mungkin sebagai inventori (kode 34). Karena sesuai dengan sifat dari komoditi tersebut tidak mungkin digunakan sebagai konsumsi maupun sebagai pembentukan modal. Sebagai ilustrasi dapat dilihat pada Tabel
87 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor Kode I-O(Baris) Tabel 5.7 Destinasi Komoditi Impor menurut Kode HS dan Kode Input-Output Kode HS Kode I-O (Kolom) Tahap selanjutnya untuk mengalokasikan nilai komoditi impor yang digunakan ke masing-masing sektor sebagai input antara maupun ke permintaan akhir, menggunakan proporsi alokasi output. Dengan kata lain setelah tahap pertama diperoleh destinasi kode HS seperti pada Tabel 5.7, maka nilai yang dialokasikan adalah merupakan nilai landed cost dengan menggunakan alokasi output ke masing-masing sektor baik sebagai permintaan antara maupun sebagai permintaan akhir. Formulasi yang digunakan adalah sebagai berikut: X ij M hij = M X ij hi X ij = output sektor (baris) i yang digunakan pada sektor (kolom) j M hi = nilai impor komoditi HS h pada sektor (baris) i M hij = impor komoditi Hs h dari sektor (kolom) j. X ij = jumlah output sektor (baris) i yang digunakan pada sektor (kolom) j. Hasil destinasi nilai komoditi impor sebagai ilustrasi dapat dilihat pada Tabel 5.8. Untuk sektor industri penggunaan input antara yang bersumber dari komoditi impor disesuaikan dengan struktur input dari statistik industri yang berasal dari komoditi impor. Jumlah nilai impor yang telah didistribusikan ke masing-masing sektor (kolom) baik sebagai permintaan antara maupun sebagai permintaan akhir, jumlah nilai tersebut merupakan jumlah permintaan/demand berkode 31. Nilai tersebut harus sesuai dengan nilai impor dari sisi penyediaan/supply yang merupakan nilai landed cost
88 Bab 5. Penyusunan Tabel Input-Output: Teknik Estimasi Permintaan Akhir dan Impor Tabel 5.8 Contoh Penghitungan Alokasi Nilai Impor per Kode HS Ke dalam Sektor Input-Output yang Menggunakan (Kode Input-Output Secara Kolom) Kode I-O Baris Kode HS Kode I-O Kolom Alokasi Output (Rp. Ribu) Nilai Impor (Rp. Ribu) (1) (2) (3) (4) (5) Jumlah Jumlah (Nilai landed cost) (Nilai landed cost) Jumlah Jumlah Jumlah Impor Jasa Nilai impor jasa diperkirakan dengan menggunakan data dari buku yang sama dengan ekspor jasa yaitu statistik ekonomi dan keuangan Indonesia yang diturunkan dari neraca pembayaran yang disajikan oleh BI. Ikhtisar, pendekatan dan metode penghitungan yang digunakan pada impor jasa sama seperti yang dipakai pada ekspor jasa
89 Bab 6. Penyusunan Tabel Input-Output: Proses Rekonsiliasi & Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen Dengan menggunakan teknik yang telah dibahas pada Bab 5 dan 6 maka sudah dapat disusun kuadran I, II dan III tabel input-output. Akan tetapi basis estimasi yang digunakan adalah untuk memperoleh estimasi kolom per kolom, sehingga kaidah hubungan antar variabel sepanjang baris tabel inputoutput belum tentu dapat terpenuhi. Untuk itu masih diperlukan satu tahap lagi dalam menyusun tabel input-output, yaitu tahapan proses rekonsiliasi. Kegiatan utama ini adalah melakukan penyeimbangan antara transaksi sepanjang baris dengan transaksi sepanjang kolom. Pengertian dan teknik untuk melakukan proses rekonsiliasi inilah yang akan dibahas lebih jauh pada bab ini. Selain tentang rekonsiliasi, bab ini akan membahas pula tentang penyusunan tabel transaksi harga produsen. Pokok bahasan terakhir ini penting mengingat model input-output pada umumnya dikembangkan dengan menggunakan penilaian harga produsen, sementra estimasi tabel inputoutput tahap awal adalah untuk harga pembeli sesuai dengan data yang tersedia. Penyusunan Tabel Input-Output: Proses Rekonsiliasi dan Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen 6.1 Proses Rekonsiliasi (Penyeimbangan Sisi Kolom dan Sisi Baris) Proses rekonsiliasi adalah suatu proses di mana isian data dalam sel-sel pada matriks tabel input-output harus dibuat seimbang (balance). Tujuan dilakukannya proses keseimbangan ini adalah untuk melihat sampai seberapa jauh tingkat konsistensi data yang digunakan. Dengan demikian proses rekonsiliasi ini akan membawa data ke dalam suatu sistem yang harmonis dan sempurna. Seperti diketahui bahwa dalam menyusun tabel Input-Output akan menggunakan bermacam-macam data yang diperoleh dari berbagai sumber. Meskipun data yang dikumpulkan oleh masing-masing sumber tersebut mempunyai maksud dan tujuan yang sama, tetapi kadang kala menghasilkan data yang berbeda. Perbedaan tersebut menyebabkan data yang dikumpulkan menjadi tidak konsisten antara satu sumber dengan sumber lain. Perbedaan yang mendasar antara lain disebabkan karena: a. Ruang lingkup/cakupan data b. Teknik pengumpulan dan pengolahannya c. Kepentingan penyajian dan informasi yang akan disampaikan, dan sebagainya. Apabila data yang tersedia dan akan digunakan dalam penyusunan tabel input-output tidak konsisten, maka akan berpengaruh terhadap penyusunan tabel input-output itu sendiri. Penggunaan data yang tidak konsisten akan menyebabkan ketidak seimbangan (unbalance), baik pada sisi kolom (struktur input) maupun sisi baris (alokasi output). Agar keseimbangan dapat dicapai, maka perlu dilakukan proses rekonsiliasi dengan cara membuat seimbang antara isian sisi baris dan sisi kolom. Oleh karena itu penyusunan tabel input-output disamping sangat berguna untuk menilai dan mengevaluasi sampai seberapa jauh tingkat konsistensi data yang dikumpulkan oleh berbagai sumber, juga dapat digunakan untuk kepentingan-kepentingan lainnya
90 Bab 6. Penyusunan Tabel Input-Output: Proses Rekonsiliasi & Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen Ilustrasi Proses Rekonsiliasi b. Perapihan Baris Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa dalam penyusunan tabel input-output ini dapat dipelajari dan disajikan keseimbangan antara penyediaan (supply) dan permintaan (demand). Dengan kata lain proses rekonsiliasi adalah menyamakan isian data pada sisi penyediaan dan sisi permintaan, atau isian sisi baris sama dengan sisi kolom. Sebelum proses rekonsiliasi, perlu dilakukan proses perapihan data baik dari sisi kolom maupun sisi baris dengan uraian sebagai berikut: a. Perapihan Kolom Yang pertama kali dilakukan adalah menyusun dan mengurutkan struktur input dari masing-masing kelompok komoditi (kolom), mulai dari kolom yang berkode 1 sampai dengan terakhir. Susunan input yang terdiri dari input antara dan input primer ini akan membentuk "matriks", yang di dalam tabel input-output merupakan isian pada kuadran I dan III. Kuadran I menggambarkan struktur input/permintaan antara dari masingmasing sektor, sedangkan kuadran III menggambarkan struktur input primer/nilai tambah brutonya. Langkah berikutnya adalah menyusun komponen konsumsi/ penggunaan dari masing-masing kelompok permintaan/ konsumen akhir menurut kolom. Isian dari sel-sel tersebut menjadi bagian pada kuadran II. Apabila isian kolom demi kolom tersebut sudah disusun, bukan berarti penyusunan tabel input-output selesai, karena masih ada komponen impor yang masih harus ditambahkan 1) sebagai bagian dari sisi persediaan. Selain itu masih perlu ditambahkan pula dengan komponen TTM (Trade and Transport Margin). Proses perapihan baris dilakukan setelah perapihan kolom. Proses ini bertujuan untuk meneliti isian sel-sel data yang terbentuk dari perapihan kolom. Ditinjau dari sisi baris, isian pada setiap sel menunjukkan besaran output dari masing-masing sektor penghasil yang menjadi input di sektor pengguna baik sebagai permintaan antara maupun permintaan akhir. Dengan membaca baris secara berurutan dari sektor kolom berkode 1 sampai dengan yang terakhir, menunjukkan alokasi/distribusi output yang bervariasi antar sektor pengguna. Memang secara otomatis sel-sel yang terisi berasal dari pengisian pada sisi kolom. Bila sel terisi pada sektor kolom dan baris yang berkode sama, maka sel tersebut biasa disebut sebagai sel diagonal. Pengisian sel tersebut bisa dilakukan dari 2 sisi baik dari struktur input ataupun dari alokasi output pada sektor yang sama. Isian pada sel yang sama tetapi sumbernya berbeda, menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan data antara permintaan dan penyediaan. Apabila perapihan kolom dan baris sudah selesai, maka bisa dilanjutkan dengan proses rekonsiliasi. Proses ini bertujuan untuk memb. uat seimbang antara isian sisi kolom dan sisi baris yang biasanya dilakukan secara berulang kali. Dari hasil perapihan kolom dan baris akan terbentuk kerangka tabel inputoutput dengan posisi sebagai berikut: 1 Total input/penggunaan di masing-masing kolom bisa berasal dari produksi domestik (dalam negeri) dan impor (luar negeri)
91 Bab 6. Penyusunan Tabel Input-Output: Proses Rekonsiliasi & Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen Kolom Baris Tabel Transaksi Total Atas Dasar Harga Produsen b. Sisi baris : kolom kode 1 s.d 5 = sektor ekonomi sebagai pengguna/ pemakai dari sektor baris sebagai permintaan antara kolom 18 = jumlah permintaan antara (1 s.d. 5) kolom 39 = jumlah permintaan akhir (31 s.d. 36) kolom 31 = jumlah permintaan (antara dan akhir) kolom 49 = jumlah impor (41 s.d. 44) kolom 59 = jumlah marjin perdagangan dan biaya pengangkutan (51 s.d 53) kolom 6 = jumlah/total output domestik kolom 7 = jumlah penyediaan (supply) kolom 8 = sel-sel ketidak seimbangan (unbalance) Dengan kerangka tersebut di atas, proses rekonsiliasi dapat menggunakan formula matematis yang dijabarkan dalam bentuk persamaan, yaitu merupakan penjumlahan/ pengurangan pada masing-masing isian sel kolom/baris di setiap sektor. Formula/persamaan tersebut adalah sebagai berikut: a. Sisi kolom: baris kode 1 s.d 5 baris 19 baris 2 baris 29 baris 21 baris 22 baris 23 = sektor ekonomi sebagai penghasil/ penyedia produk yang digunakan oleh sektor lain (sektor kolom) sebagai input antara = jumlah input antara = jumlah input antara barang impor = jumlah biaya primer (nilai tambah bruto) = jumlah/total input = isian dari proses penjumlahan secara mekanis = sel-sel ketidak seimbangan (unbalance) a. Secara kolom (19) = (1) + (2) + (3) + (4) + (5) (29) = (21) + (22) + (23) + (24) - (25) (21) = (6) = (19) + (29) ---> pada tahap awal (22) = (19) + (29) (Secara mekanis) (23) = (21) - (22) b. Secara baris: (18) = (1) + (2) + (3) + (4) + (5) (39) = (31) + (32) + (33) + (34) + (35) + (36) (31) = (18) + (39) (49) = (41) + (42) + (43) + (44) (59) = (51) + (52) + (53) (6) = output (control total) diperoleh dari perhitungan (7) = (49) + (59) + (6) (Secara mekanis) (8) = (31) - (7)
92 Bab 6. Penyusunan Tabel Input-Output: Proses Rekonsiliasi & Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen Tahap dan Jenis Pelaksanaan Proses Rekonsiliasi Meskipun dalam pengertian sederhana tujuan dari proses rekonsiliasi ini adalah menyeimbangkan isian sel-sel antara kolom dan baris, tetapi secara bertahap proses tersebut dapat dimulai dengan cara sebagai berikut: a. Rekonsiliasi Antara Jumlah Input dan Output (21 vs 6) Proses ini bertujuan untuk menyeimbangkan sisi input dan sisi output dari masing-masing sektor pada kode yang sama. Ini mengacu kepada sistim penyusunan neraca produksi dimana pada keseimbangan sektoral, total input harus sama dengan total output di masing-masing sektor (domestik). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada ilustrasi berikut: Ilustrasi 1 Dari ilustrasi tabel di atas, terlihat bahwa sisi kolom pada sektor (3), total input yang digunakan sebesar 9, terdiri dari 5 sebagai biaya antara dan 4 sebagai biaya primer. Pada setiap perapihan kolom, komposisi isian selsel biasanya selalu dibuat dalam keadaan seimbang (23 = ), tetapi jika dilihat dari sisi baris pada sektor yang sama (3), jumlah output dari sektor tersebut hanya sebesar 65. Ini tidak sama dengan jumlah susunan inputnya (21). Padahal jumlah output harus sama dengan jumlah input pada sektor yang sama (21 = 6). Dengan asumsi bahwa total input sebesar 9 jauh lebih benar daripada total output sebesar 65, maka ketidak seimbangan tersebut dapat dihilangkan dengan merubah total output menjadi 9, disamping juga dapat menambah/ menaikkan isian pada sel-sel permintaan baik permintaan antara maupun permintaan akhir, sehingga kondisi tabel tersebut berubah seperti pada ilustrasi berikut: Ilustrasi 2 Kolom Baris Kolom Baris (5) (5) (3)
93 Bab 6. Penyusunan Tabel Input-Output: Proses Rekonsiliasi & Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen Dari tabel di atas menunjukkan bahwa ketidak seimbangan antara jumlah input dengan output sebesar 25 (selisih antara 9 dan 65) serta komoditi unbalance sebesar -5 dibalancing pada sektor (3), (4), (5) dan (39); nilai sebesar 3 (tambahnya nilai persediaan) didistribusikan dengan menaikkan isian pada sektor-sektor tersebut. Akibat rekonsiliasi tersebut, total input pada kolom 3 menjadi tidak seimbang (21 22). Ketidak seimbangan pada sisi kolom tersebut sebesar -3, harus dibuat menjadi (nol); dimana salah satu caranya bisa dengan jalan mengurangkan komponen nilai tambah (29) dari 4 menjadi 37. Cara lain dapat juga dilakukan dengan mengurangkan struktur input yang lain pada kuadran I. Dengan demikian isian sel dalam tabel menjadi sebagai berikut: a.1 Rekonsiliasi pada kuadran III. Penyeimbangan ini dilakukan dengan cara menurunkan komponen nilai tambah bruto (29). Biasanya dilakukan pada kelompok surplus usaha (22). Ilustrasi 3 Kolom Baris (5) 23 a.2 Rekonsiliasi pada kuadran I. Penyeimbangan ini dilakukan dengan cara menurunkan salah satu komponen input pada kuadran I, baris (1) dari 175 menjadi
94 Bab 6. Penyusunan Tabel Input-Output: Proses Rekonsiliasi & Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen Ilustrasi 4 Kolom Baris Dengan adanya perubahan output akan mengakibatkan susunan input secara keseluruhan juga berubah, akibat dari perubahan susunan input tersebut (utamanya input antara) maka akan berdampak pada sektor baris yang menjadi tidak seimbang (unbalance) b. Rekonsiliasi Antara Penyediaan dan Permintaan (7 vs 31) Pada ilustrasi 3 dan 4 terlihat bahwa posisi sektor (3) sudah seimbang antara susunan input dan alokasi outputnya (23 =, 8 = serta 21 = 6). Tetapi misalnya total penyediaan (7) belum seimbang dengan total permintaan (31), maka kolom (8) masih belum = (nol) seperti pada ilustrasi berikut: Ilustrasi 5 Kolom Baris Tabel di atas menunjukkan bahwa secara kolom posisi sektor (3) sudah balance (23 = ) begitu pula sisi baris (8 = ). Untuk itu proses rekonsiliasi sementara dianggap selesai. Perlu diketahui bahwa selama proses rekonsiliasi sebaiknya perubahan output (utamanya untuk kode 21) kalau bisa dihindari, karena biasanya akan menimbulkan banyak kesulitan dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu pada waktu penyusunan output (biasa disebut dengan Control Total/CT) untuk pertama kali sebelum masuk ke dalam proses rekonsiliasi harus dilakukan dengan secermat-cermatnya
95 Bab 6. Penyusunan Tabel Input-Output: Proses Rekonsiliasi & Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen Menurut persamaan matematisnya, kolom (7) harus sama dengan kolom (31). Untuk membuat komposisi tersebut seimbang, atau dengan kata lain menghilangkan nilai -5 dari kolom (8) maka dapat dilakukan dengan cara menaikkan permintaan (demand) secara keseluruhan sebesar 5 atau menurunkan penyediaan (supply) sebesar 5. Selain itu bisa juga dilakukan dengan proses kombinasi diantara keduanya, yaitu secara bersama-sama menaikkan sebagian permintaan dan menurunkan sebagian penyediaan. Dengan demikian maka permintaan dan penyediaan pada baris (3) dapat dibuat seimbang dengan proses sebagai berikut: Proses rekonsiliasi tersebut di atas akan menyebabkan ketidak seimbangan pada kuadran II, dan biasanya bisa langsung dibalancing pada kolom (34). Ini menggambarkan adanya penambahan level pada permintaan akhir. b.2 Menaikkan permintaan pada komponen permintaan antara Ilustrasi 7 b.1 Menaikkan permintaan pada komponen permintaan akhir (kolom 39) Ilustrasi 6 Kolom Baris Baris Kolom (5) (5) (5) (15) (1) (15) (5) Proses rekonsiliasi di atas akan menyebabkan ketidak seimbangan pada sektor dalam kuadran I, dimana semua sektor menjadi tidak seimbang (unbalance). Untuk menyeimbangkan isian baris pada masing-masing kolom
96 Bab 6. Penyusunan Tabel Input-Output: Proses Rekonsiliasi & Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen tersebut dapat dilakukan proses seperti pada ilustrasi yang sebelumnya (ilustrasi 3). Hal yang perlu diperhatikan bahwa baris (23) harus menjadi (nol). c. Menaikkan permintaan akhir dan menurunkan penyediaan Ilustrasi 8 Kolom Baris (5) Proses rekonsiliasi di atas dilakukan dengan jalan misalnya menurunkan komponen penyediaan (59) dari nilai 5 menjadi sebesar 25 sehingga total penyediaan berubah dari 11 menjadi 175. Di sisi lain menaikkan total permintaan (pada permintaan akhir) dari 7 menjadi 725. Sehingga terjadilah keseimbangan antara sisi kolom dan sisi baris (31 = 7). c. Rekonsiliasi sektor khusus Proses rekonsiliasi ini dilakukan pada sektor yang pada umumnya mempunyai perlakuan khusus seperti pada sektor perdagangan, pengangkutan dan impor. Biasanya proses dimulai dari sisi kolom yang kemudian dibalancing pada sisi baris. Untuk mendukung proses tersebut diperlukan lembar kerja tambahan yang berisi data rinci dari kegiatan tersebut (lembar kerja ini tidak dipublikasikan). Bahkan tabel transaksi atas dasar harga pembeli harus dilampirkan secara bersama-sama dengan harga produsen. Pada waktu melakukan rekonsiliasi ini dibutuhkan tingkat ketelitian yang lebih tinggi, karena prosesnya terjadi secara beruntun dan berkesinambungan. c.1 Margin Perdagangan Rekonsiliasi pada sektor kolom 51 dan 52 ini harus diimbangi dengan penyesuaian pada sektor perdagangan (besar maupun eceran) di sisi baris. Secara kolom jumlah kedua sektor tersebut pada transaksi harga pembeli maupun harga produsen harus sama dengan ; tetapi sel pada masingmasing sektor hanya akan terisi pada transaksi harga pembeli dan kosong () pada transaksi harga produsen. Supaya jumlah/total kedua sektor tersebut menjadi, maka nilai penjumlahan dari masing-masing baris pada kolom tersebut harus dibuat sama dengan nilai total margin perdagangan yang ada pada baris sektor perdagangan; dimana isian pada baris sektor perdagangan harus diberi tanda berlawanan (negatif). Pada transaksi atas dasar harga produsen, kolom (51) dan kolom (52) seluruh sel baris harus berisi angka nol (), tetapi di sisi lain baris sektor perdagangan akan mengisi hampir diseluruh sektor kolom. c.2 Margin Pengangkutan Proses rekonsiliasi pada sektor 53 ini pada prinsipnya hampir sama dengan sektor perdagangan. Perbedaan yang terjadi hanya pada
97 Bab 6. Penyusunan Tabel Input-Output: Proses Rekonsiliasi & Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen penyesuaian kolom (53) dengan total margin pengangkutan yang timbul di sektor pengangkutan. Perlu diperhatikan bahwa total output perdagangan semua menjadi margin, tetapi tidak demikian halnya dengan margin pengangkutan. Hanya sebagian dari output sektor pengangkutan yang merupakan margin, sedangkan sisanya adalah biaya pengangkutan. Pada transaksi atas dasar harga pembeli, proses rekonsiliasi hanya dilakukan pada kolom 53 dan baris sektor pengangkutan. Pada kolom tersebut jumlah isian dari masing-masing sel baris harus sama dengan jumlah isian pada baris sektor pengangkutan: dimana baris sektor pengangkutan diberi tanda berlawanan (negatif), sehingga jumlah kolom 53 menjadi (nol). Pada transaksi atas dasar harga produsen, kolom (53) seluruh sel baris berisi angka nol (), tetapi di sisi lain baris sektor pengangkutan akan mengisi hampir di seluruh sektor kolom. Meskipun dasar penyelesaiannya di sini hampir sama dengan sektor perdagangan di atas, tetapi ada perbedaan biaya angkut yang bukan merupakan komponen margin. c.3 Matriks Impor Tujuan dari rekonsiliasi ini adalah menyeimbangkan total nilai impor terhadap sisi permintaan domestik. Dalam penyusunan tabel input-output selama ini, data impor selalu dianggap mapan karena sistem pendataannya yang cukup baik. Sistem pencatatan yang hanya menggambarkan total kuantiti dan nilai impor tidak dapat menjelaskan alur pendistribusian barangbarang tersebut. Oleh sebab itu perlu disusun sebuah tabel penunjang yang dikenal dengan matriks destinasi impor. Fungsi daripada matriks ini adalah menyusun alur komponen impor dalam penggunaannya pada sektor domestik baik sebagai permintaan antara maupun permintaan akhir. Pada kondisi ini proses rekonsiliasi perlu dilakukan apabila pada masingmasing sel nilai pemakaian baik sebagai permintaan antara maupun permintaan akhir secara total jauh lebih kecil daripada nilai impor yang dialokasikan. Padahal seharusnya sel-sel tersebut berisi nilai yang lebih besar atau sama dengan nilai impor. Proses rekonsiliasi impor ini dapat dilakukan pada sisi kolom dan sisi baris. Sisi kolom dengan kode (49) merupakan penjumlahan dari nilai impor barang (41), pajak penjualan barang impor (42), bea masuk (43) dan impor jasa (44). Sisi baris dengan kode (2) merupakan jumlah nilai impor yang menjadi input pada masingmasing sektor kolom. Perlakuan impor ini terjadi karena adanya transaksi total dan transaksi domestik baik atas dasar harga pembeli maupun atas dasar harga produsen. Pada transaksi total baik atas dasar harga pembeli maupun harga produsen kolom (49) berisi angka, sedangkan pada baris (2) berisi angka (nol). Sebaliknya pada transaksi domestik, maka kolom (49) berisi angka (nol) dan baris (2) berisi angka. Suatu hal yang perlu diperhatikan bahwa pada setiap tahap rekonsiliasi, ketidakseimbangan baik didalam sisi kolom maupun sisi baris semakin lama harus semakin kecil; oleh sebab itu proses rekonsiliasi dianggap selesai kalau setiap isian sel pada kolom (8) atau baris (23) berisi angka (nol). Pada prakteknya proses rekonsiliasi ini harus dilakukan berulang kali, karena setiap melakukan penyeimbangan pada sisi baris kemungkinan akan mengakibatkan ketidakseimbangan pada sisi lain (sisi kolom), begitu juga sebaliknya. Setelah proses ini selesai, maka pada tahap selanjutnya tabeltabel pokok, tabel penunjang maupun tabel-tabel analisis lainnya dapat disajikan dengan menghilangkan terlebih dahulu kolom 8 dan baris 23 yang hanya disiapkan sebagai sel pembantu dalam proses rekonsiliasi. 6.2 Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen Seperti telah disebutkan pada bagian terdahulu bahwa tabel-tabel dasar yang disajikan terdiri tabel input-output transaksi harga pembeli, transaksi harga produsen, dan transaksi domestik. Pekerjaan yang dilakukan dalam subbab 4.1 sampai 4.4 akan menghasilkan tabel input-output transaksi harga pembeli. Dalam tabel tersebut semua transaksi dinilai atas harga pembeli, yang berarti dalam nilai transaksi tersebut sudah termasuk margin perdagangan dan biaya pengangkutan. Pada dasarnya margin perdagangan dan biaya pengangkutan merupakan selisih antara harga pembeli atau harga konsumen dengan harga produsen, yang mencakup keuntungan pedagang besar dan eceran serta biaya
98 Bab 6. Penyusunan Tabel Input-Output: Proses Rekonsiliasi & Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen pengangkutan yang timbul dalam menyalurkan barang dari tangan produsen sampai ke konsumen. Jika tabel input-output transaksi harga pembeli dikurangi margin perdagangan dan biaya pengangkutan yang timbul dalam transaksi pembeli tersebut, maka akan diperoleh tabel input-output transaksi harga produsen. Tabel ini memperlihatkan hubungan langsung antar sektor tanpa dipengaruhi margin perdagangan dan biaya pengangkutan. Perkiraan margin perdagangan dan biaya pengangkutan dilakukan dengan menggunakan metode pendekatan arus barang (commodity flow approach), yaitu untuk setiap komoditi yang diperdagangkan diteliti besarnya margin perdagangan dan rasio biaya pengangkutan terhadap harga produsen. Rasio-rasio ini dapat diperoleh dari hasil survei khusus terhadap barang-barang yang menimbulkan marjin. Untuk lebih jelasnya cara penyusunan tabel input-output transaksi harga produsen, perhatikan contoh berikut. Tabel 6.1 Tabel Input-Output Transaksi Total Atas Dasar Harga Pembeli (Milyar Rupiah) SEKTOR ,994 58,686 56, , , ,558 1,78,93 419,849 1,584,336 2,284, , ,49 383, ,93 965, ,346 1,766,25 86,11 2,811,383 3,717,23 SEKTOR ,16,541 14,21 13,274 2, , ,868, ,388 44,545 92,13 2,795, ,553, ,533 (57,819) (113,29) 2,14, ,528,46 84,132 5,688, Keterangan : 1 = sektor primer 2 = sektor sekunder 3 = sektor Tersier 18 = total permintaan antara 39 = total permintaan akhir 31 = total permintaan 49 = impor = margin perdagangan 53 = biaya pengangkutan 6 = output 7 = total penawaran ,785 1,29,454 1,154,653 2,876, ,131 2,795,479 2,14,664 5,688,
99 Bab 6. Penyusunan Tabel Input-Output: Proses Rekonsiliasi & Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen Tabel 6.2 Matriks Margin Perdagangan dan Biaya Pengangkutan (Milyar Rupiah) SEKTOR ,137 4,651 12,731 57,519 66, , ,399 55,269 29,67 287,582 3 (16,535) (182,5) (68,1) (266,586) (354,262) Tabel 6.3 Tabel Input-Output Transaksi Harga Produsen (Milyar Rupiah) SEKTOR , ,36 43, ,625 4, , ,53 364,579 1,375,269 1,996, ,33 36, , ,489 1,319, ,346 1,766,25 86,11 2,811,383 3,717, ,785 1,29,454 1,154,653 2,876, ,131 2,795,479 2,14,664 5,688,274 SEKTOR ,2 13,274 2, , ,648 44,545 92,13 496,648 3 (62,848) (57,819) (113,29) (62,848) SEKTOR ,341 14,21 878, , ,371, ,388 2,795,479 3,371, ,174, ,533 2,14,664 2,174, ,528,46 84,132 5,688,274 6,528, Tabel 6.1 adalah Tabel input-output transaksi harga pembeli tahun 25 yaitu semua transaksi baik permintaan antara maupun permintaan akhir dinilai atas dasar harga pembeli. Ini berarti dalam nilai tersebut sudah termasuk margin perdagangan dan biaya pengangkutan. Oleh sebab itu
100 Bab 6. Penyusunan Tabel Input-Output: Proses Rekonsiliasi & Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen dalam struktur input setiap sektor, tidak ada input yang berasal dari sektor perdagangan serta input sektor pengangkutan hanya mencakup biaya pengangkutan penumpang dan barang sendiri (bukan barang dagangan). Dengan kata lain alokasi output sektor perdagangan bernilai nol dan alokasi output sektor pengangkutan hanya untuk pengangkutan penumpang dan barang sendiri (bukan pengangkutan barang dagangan). Selanjutnya karena nilai transaksi dalam Tabel 6.1 sudah termasuk margin perdagangan dan biaya pengangkutan, maka total margin perdagangan dan biaya pengangkutan diletakkan pada kolom khusus (kolom 51 dan 52 serta 53), dan diperhitungkan sebagai bagian dari supply bersama dengan output agar terjadi keseimbangan pada masing-masing baris. Tabel 6.2 memperlihatkan margin perdagangan dan biaya pengangkutan yang terjadi dalam menyalurkan barang dari tangan produsen ke konsumen. Dari Tabel 6.1 nilai input sektor sekunder (sektor 2) yang berasal dari sektor primer (sektor 1) sebesar milyar rupiah (baris dan kolom 2). Dalam menyalurkan barang-barang sektor primer ke sektor sekunder tersebut terjadi margin perdagangan (keuntungan pedagang) dan biaya untuk mengangkut barang sebesar milyar rupiah (Tabel 6.2, baris 1, kolom 2). Maka untuk mendapatkan transaksi atas harga produsen, transaksi harga pembeli harus dikurangi margin perdagangan dan biaya pengangkutan dan diperoleh sebesar milyar rupiah (Tabel 6.3, baris 1, kolom 2). Tabel 6.3 memperlihatkan sebuah tabel input-output transaksi harga produsen, yaitu semua transaksi baik permintaan antara maupun permintaan akhir dinilai atas dasar harga produsen (dalam nilai transaksi tersebut tidak termasuk margin perdagangan dan biaya pengangkutan). Tetapi karena total input antara masing-masing kolom Tabel 6.2 harus tetap sama dengan total input antara pada Tabel 1, maka nilai margin perdagangan diperlakukan sebagai input yang berasal dari sektor perdagangan dan nilai biaya pengangkutan diperlakukan sebagai input yang berasal dari sektor pengangkutan. Akibatnya, karena nilai transaksi tidak termasuk margin perdagangan dan biaya pengangkutan maka total margin perdagangan dan biaya pengangkutan dalam kolom 51 dan 52 serta 53 sebagai pengimbangnya harus bernilai nol. Secara praktis, nilai transaksi pada Tabel 6.3 diperoleh dengan mengurangkan nilai transaksi atas harga pembeli pada Tabel 6.1 dengan margin perdagangan dan biaya pengangkutan pada Tabel 6.2. a. Penyusunan Tabel Transaksi Domestik Harga Produsen Tabel input-output transaksi domestik harga produsen merupakan turunan dari tabel input-output transaksi harga produsen, yaitu dengan mengeluarkan seluruh komponen impor dari setiap transaksi. Dengan kata lain, transaksi domestik harga produsen menunjukkan hubungan langsung antara sektor penghasil produksi dalam negeri dengan sektor pemakai tanpa dipengaruhi oleh komponen impor, margin perdagangan dan biaya pengangkutan. Dalam tabel transaksi domestik harga produsen, semua nilai transaksi hanya mencakup produksi barang dan jasa produksi dalam negeri dan dinilai atas dasar harga produsen. Untuk menjaga keseimbangan input setiap sektor, maka input antara yang berasal dari impor dicatat pada baris khusus (baris 2). Secara praktis, penyusunan tabel transaksi domestik harga produsen diperoleh berdasarkan selisih antara tabel transaksi harga produsen dengan matriks impor. Matriks impor tersebut diperoleh dengan menguraikan total impor (kolom 49) pada masing-masing sektor ke dalam sektor-sektor yang menggunakan komponen impor tersebut. Penguraian total impor masingmasing sektor tersebut dapat didasarkan pada sensus, survei, lembagalembaga terkait atau sumber-sumber lainnya. Sebagai contoh untuk sektorsektor industri, komponen impor setiap sektor diperoleh berdasarkan Survei Industri Besar dan Sedang. Penjelasan yang lebih rinci mengenai penguraian/destinasi impor dapat dilihat pada subbab 4.3. Untuk lebih jelasnya penyusunan tabel transaksi domestik atas harga produsen perhatikan contoh berikut. Tabel 6.3 diberikan lagi disini untuk memperjelas penyusunan tabel input-output transaksi domestik harga produsen
101 Bab 6. Penyusunan Tabel Input-Output: Proses Rekonsiliasi & Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen Tabel 6.3 Tabel Input-Output Transaksi Harga Produsen (Milyar Rupiah) Tabel 6.4 Matriks Destinasi Impor (Milyar Rupiah) SEKTOR , ,36 43, ,625 4, , ,53 364,579 1,375,269 1,996, ,33 36, , ,489 1,319, ,346 1,766,25 86,11 2,811,383 3,717, ,785 1,29,454 1,154,653 2,876, ,131 2,795,479 2,14,664 5,688,274 SEKTOR ,918 86, ,312 7, ,66 292,816 64, ,454 28, ,798 36,872 62,568 13,237 56, , , , ,3 273,129 2 (23,376) (415,887) (127,739) (567,3) (273,129) SEKTOR ,341 14,21 878, , ,371, ,388 2,795,479 3,371, ,174, ,533 2,14,664 2,174, ,528,46 84,132 5,688,274 6,528, SEKTOR ,21 14,21 14, , , , , , , ,132 84,132 84,132 2 (84,132) (84,132) (84,132)
102 Bab 6. Penyusunan Tabel Input-Output: Proses Rekonsiliasi & Penyusunan Tabel Transaksi Harga Produsen Tabel 6.5 Tabel Input-Output Transaksi Domestik Harga Produsen (Milyar Rupiah) SEKTOR , ,836 43, , , , , ,61 1,7,815 1,787, , , , ,252 1,263, ,97 1,35, ,271 2,244,38 3,443, , , , ,3 273, ,785 1,29,454 1,154,653 2,876, ,131 2,795,479 2,14,664 5,688,274 SEKTOR , , , ,795,479 2,795,479 2,795, ,14,664 2,14,664 2,14,664 Tabel 6.3 memperlihatkan sebuah tabel input-output transaksi harga produsen yaitu semua transaksi baik permintaan antara maupun permintaan akhir masih mengandung komponen impor. Untuk mendapatkan tabel inputoutput transaksi domestik harga produsen maka setiap transaksi yang mengandung komponen barang impor harus dikeluarkan. Tabel 6.4 memperlihatkan matriks destinasi impor dari setiap sektor. Dari tabel ini dapat dilihat bahwa total impor sektor 1 (sektor primer) sebesar milyar rupiah (baris 1, kolom 49) digunakan oleh sektor 1, 2, dan 3 sebagai permintaan antara sebesar 9.918, 86.2, dan 194 milyar rupiah, serta komponen impor yang digunakan sebagai permintaan akhir sebesar milyar rupiah. Tabel 6.5 memperlihatkan sebuah tabel input-output transaksi domestik harga produsen, yaitu semua transaksi baik permintaan antara maupun permintaan akhir merupakan produksi domestik (tidak termasuk komponen impor). Tetapi karena total input antara masing-masing kolom Tabel 6.5 harus tetap sama dengan total input antara pada Tabel 6.3, maka nilai impor harus diletakkan pada baris khusus yaitu baris 2. Secara praktis, nilai transaksi pada Tabel 6.5 diperoleh dengan mengurangkan nilai transaksi atas harga produsen dengan nilai impornya. 19 5,688,274 5,688,274 5,688, ,132 84,132 84,
103 Bab 7. Teknik Penyusunan Tabel Input-Output: Metode Tidak Langsung Pada bab ini akan dijelaskan secara rinci teknik penyusunan tabel input output dengan metode tak langsung, yang terdiri dari metode non-survei dan semi survei. Metode pertama benar-benar mengandalkan pendekatan matematis untuk menghitung matriks koefisien teknis, sedangkan metode kedua menggabungkan pendekatan secara langsung dengan metode tak langsung, yaitu sebagian sel-sel matriks koefisien teknis diperkirakan dari hasil survei dan sebagian lagi melalui pendekatan matematis. Disamping itu dalam bab ini akan diuraikan pula contoh penghitungan kedua metode tersebut dengan menggunakan data hipotesis. 7.1 Metode Non Survei Teknik Penyusunan Tabel Input Output : Metode Tidak Langsung Banyak cara yang bisa digunakan untuk memperkirakan perkembangan ekonomi suatu wilayah. Ada yang sederhana, ada pula yang kompleks. Karena sifat variabel-variabel makro ekonomi saling berkaitan satu dengan yang lainnya, maka dalam pemilihan metode peramalan tersebut perlu dipikirkan unsur keterkaitannya. Tabel Input-Output secara tidak langsung telah memberikan suatu kerangka analisis yang komprehensif dan konsisten, sehingga dengan memanfaatkan kerangka tersebut akan menjamin hasil peramalan yang konsisten. Artinya semua persyaratan identitas ekonomi makro sudah terpenuhi. Misalnya jumlah penawaran sama dengan jumlah permintaan. Dalam tabel input-output diperoleh suatu hubungan fungsional antara output ( X ) dengan permintaan akhir ( F ) 1 ; Berdasarkan hubungan ini misalnya, melalui tabel input-output 25 dapat diperkirakan besarnya output tahun Dengan melakukan proyeksi tersebut berarti kita menganggap bahwa koefisien teknis tidak banyak berubah selama kurun waktu proyeksi. Padahal kita tahu bahwa koefisien teknis atau matriks A ini tentunya tidak akan stabil dalam waktu yang cukup panjang. Paling tidak ada tiga faktor yang mempengaruhinya, yaitu perubahan teknologi, harga, dan klasifikasi yang digunakan. Disamping faktor tersebut, umumnya untuk negara yang sedang berkembang mutu statistiknya kurang begitu baik, sehingga masalah ini perlu dipertimbangkan sebagai salah satu faktor lagi yang mempengaruhi perubahan koefisien teknis. Walaupun demikian, menurut para ahli, untuk periode yang pendek matriks A masih dapat dipakai untuk proyeksi. Masalahnya pengertian pendek ini sangat relatif apakah l, 2, 3, 4, atau 5 tahun. Untuk dapat menjawab pertanyaan ini secara seksama, perlu dilakukan suatu penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan koefisien teknis tersebut, terutama tingkat perkembangan teknologi yang digunakan dalam perekonomian. Paling tidak ada tiga pendekatan yang dapat ditempuh dengan cara (1) survei langsung untuk seluruh sektor perekonomian, disebut juga metode survei, (2) setengah 1 Dalam analisis I-O kedua variabel tersebut dihubungkan dengan suatu matriks multiplier Leontief "(I-A) -1 " yang merupakan alat ampuh dalam analisis dampak. Hubungan tersebut secara matematis ditulis sebagai X=(I-A) -1 F
104 Bab 7. Teknik Penyusunan Tabel Input-Output: Metode Tidak Langsung survei, yaitu sebagian koefisien teknis diestimasi dengan metode tertentu dan sebagian lagi disurvei, (3) cara tidak langsung atau disebut juga metode nonsurvei. Pendekatan pertama merupakan pendekatan terbaik, tetapi memerlukan sumber daya yang cukup besar. Pendekatan kedua dan ketiga biasanya merupakan jalan kompromi yang lazim ditempuh untuk melakukan perbaikan (up-dating) terhadap matriks A Teknik Penyusunan Tabel Input-Output dengan Metode Non- Survei Tabel input-output umumnya terdiri dari kuadran I, II dan III. Kuadran I merupakan matriks input antara atau disebut juga koefisien teknis (matriks A ). Dua kuadran berikutnya berkaitan dengan matriks permintaan akhir dan nilai tambah yang secara praktis lebih mudah disusun dibanding matriks A, karena data/informasi yang tersedia seperti data pendapatan nasional, matriks ekspor impor dan lain-lain sudah sangat membantu. Jika pendekatan tidak langsung yang digunakan untuk memperbaiki matriks A, maka kita mau tidak mau harus berhadapan dengan pendekatan matematis. Ada beberapa metode yang dapat dipakai untuk memperbaharui matriks A, misalnya metode RAS, RECRAS, Lagrangian, Residual Minimum, Two Stage RAS/Lagrangian 2 Dalam makalah ini hanya metode RAS yang akan 2 Pembahasan secara matematis keseluruhan metode ini dapat dipelajari, misalnya dalam Yukio Kaneko, On the Method of Updating and Forecasting Input Coefficients Matrix, A Quantitative Study on Medium/Long-Term Prospect of Indonesian Economy, Bappenas, Occasional Paper l7, March l982, dan dalam An Emperical Study on Projecting and Forecasting the Input Coefficient Matrix in Leontief Model, Discussion Paper No. 2, December l983. Dalam paper yang disebut terakhir ini berbagai metode dibandingkan dengan menggunakan data empiris Tabel input-output Jepang l975. dibahas. Hal ini dilakukan karena metode ini dari segi metodologi cukup sederhana, banyak dipakai dan hasilnya cukup memuaskan. Secara sederhana metode RAS merupakan suatu metode untuk memperkirakan matriks koefisien input yang baru pada tahun t " A ( t) " dengan menggunakan informasi koefisien input tahun dasar " A ( ) ", total permintaan antara tahun t, dan total input antara tahun t. Secara matematis metode RAS dapat diuraikan sebagai berikut. 3 { a ( ) t Andaikan matriks koefisien input pada tahun dasar adalah A ( ) = }, i,,j =1,2,...,n. Matriks koefisien input untuk tahun proyeksi t diperkirakan dengan rumus A( t) R A( ) S = di mana R = matriks diagonal yang elemen-elemennya menunjukkan pengaruh substitusi, dan S = matriks diagonal yang elemen-elemennya menggambarkan pengaruh fabrikasi. Pengaruh substitusi menunjukkan seberapa jauh suatu komoditi (baca menurut baris dalam tabel input-output) dapat digantikan oleh komoditi lain dalam proses produksi. Pengaruh fabrikasi menunjukkan seberapa jauh suatu sektor (baca menurut kolom dalam tabel input-output) dapat menyerap input antara dari total input yang tersedia. Andaikan r i dan dan S. Misalkan pula ( ) S j berturut-turut merupakan elemen matriks diagonal R x adalah input antara sektor j yang berasal dari t output sektor i pada tahun dasar. Untuk menjaga konsistensi hasil estimasi r i 3 Penurunan metode ini mengikuti logika tulisan Kaneko, ibid halaman 1-2, dengan beberapa perubahan notasi dan penjelasan
105 Bab 7. Teknik Penyusunan Tabel Input-Output: Metode Tidak Langsung dan S j, perlu ditambahkan dua persamaan pembatas seperti tertera di Contoh Penerapan bawah ini. dan n r i x ij ( ) s j = b i, i = 1,2,..., n i = 1 n r i x ij ( ) s j = k i, i = 1,2,..., n i = 1 dengan b i = jumlah permintaan antara sektor i pada tahun t dengan k i = jumlah input antara sektor j pada tahun t. Dengan dua persamaan pembatas tersebut diperoleh 2 n bilangan yang tidak diketahui ( n buah r i dan n buah 2 n persamaan S j ). Akan tetapi jika kita perhatikan lebih jauh, sebenarnya hanya ada 2 t 1 persamaan yang bebas, sedangkan persamaan yang satunya bergantung dengan persamaan lainnya. Coba tunjukkan hal ini untuk kasus n = 2. Ingat bahwa jumlah seluruh permintaan antara sama dengan jumlah seluruh input antara. Oleh karena itu kita tidak dapat secara langsung menyelesaikan sistem persamaan ini. Suatu penyelesaian yang sifatnya aproksimatif dapat digunakan. Lazimnya pemecahan ini menggunakan prosedur iteratif yang konvergen, artinya kecermatan hasil perhitungan sangat tergantung pada jumlah iterasi yang dilakukan. Karena sifatnya konvergen, berarti makin banyak jumlah iterasi yang dilakukan, makin dekat hasilnya pada suatu angka tertentu. Untuk lebih meresapi dan menghayati prosedur estimasi menggunakan Metode RAS Sederhana berikut ini diberikan contoh yang diambil dari hasil Studi Penyusunan Tabel Input-Output Sektor Transportasi 26 dengan beberapa penyederhanaan. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian terdahulu bahwa Metode RAS merupakan suatu metode/cara untuk mencari satu set bilangan pengganda baris dan pengganda kolom untuk mendapatkan matriks kuadran I yang baru. Apabila A adalah matriks koefisien input yang berasal dari kuadran I, dan adalah elemennya, maka yaitu: a t tersebut terbentuk dari dua macam pengaruh, 1. Pengaruh substitusi, yang menunjukkan seberapa jauh komoditi i dapat digantikan oleh komoditi lain dalam proses produksi. 2. Pengaruh fabrikasi, yang menunjukkan seberapa jauh komoditi j dapat menyerap input antara dari total input yang tersedia. Besarnya pengaruh pengganda substitusi yang bekerja di sepanjang baris i sangat dipengaruhi oleh besarnya total permintaan antara sektor i. Demikian pula besarnya pengaruh pengganda fabrikasi yang bekerja di sepanjang kolom j, sangat dipengaruhi oleh total input antara yang digunakan oleh sektor j. Apabila pengganda substitusi diberi notasi r i dan pengganda fabrikasi diberi notasi S, sedangkan ( ) j a t A adalah matriks koefisien input dasar (dalam kasus ini adalah tahun 25) maka matriks koefisien input yang 199 2
106 Bab 7. Teknik Penyusunan Tabel Input-Output: Metode Tidak Langsung baru (26) adalah A( t) RA( )S =. Dalam hal ini R dan S adalah matriks diagonal yang masing-masing terbentuk dari vektor r dan s. Untuk dapat menghitung besarnya vektor r dan s, terlebih dahulu harus X. j = jumlah permintaan antara sektor i, kode l9 f i. = jumlah permintaan akhir sektor i, kode 39; dihitung secara manual jumlah permintaan antara masing-masing sektor ( x ) dan jumlah input antara masing-masing sektor ( x ). Untuk lebih jelas tentang proses penggunaan metode RAS, berikut ini diberikan contoh hipotetik dengan menggunakan kerangka input-output ukuran m = n = 3. j i ( X ) = (1) Tabel Input-Output Dasar (Tahun 25) (2) Tabel Input-Output Hipotetik Tahun 26 j Sektor Produksi i X i. f i. X i j Sektor Produksi i X i. i. f X i X. j V. j X. j X. j V. j X. j X. j = jumlah input antara sektor j, kode l8 V. j = jumlah input primer (nilai tambah bruto) sektor j, kode 29 X. j = i. X = jumlah output sektor j, kode 21 = 6, untuk i = j a. Sel-sel yang terisi angkanya, disiapkan secara manual dan merupakan angka-angka tahun 26 yang sebenarnya; b. Sel-sel yang kosong merupakan kuadran I, yang harus diisi dengan menggunakan matriks A ( ) berikut: 21 22
107 Bab 7. Teknik Penyusunan Tabel Input-Output: Metode Tidak Langsung a ij Hitung a Hitung a X ij =, i = j = 1,2,3 X j X 5 = = = X 1 X 3 = = = X 3,25,15 Merupakan matriks diagonal output atau input tahun 26 i j (3) MATRIKS A ( ) ,25,333 2,15,167,1 3,1,167,15 (4) MATRIKS A ( )X X. j = output tahun 26 sektor j X i = jumlah input antara tahun 26 sektor j x i. = jumlah permintaan antara tahun 26 sektor i Hitung r 1 i r r r X i =, i = 1,2,3 1 X i 16 = =, ,3 15 = = 1, ,7 12 = =, ,7 Diperoleh matriks diagonal pengaruh substitusi: 1 R,873 = 1,184,911 i j Jumlah X. j ,3 183, , , , ,7 12 Jumlah 1 266,7 75 X i
108 Bab 7. Teknik Penyusunan Tabel Input-Output: Metode Tidak Langsung (5) MATRIKS R A( )X R A X S (6) MATRIKS ( ) 1 i j Jumlah i j Jumlah 1 43,6 116,4, 16, 2 35,5 79, 35,5 15, 3 18,2 6,8 41, 12, Jumlah 97,3 256,2 76,5 p = 1, j = 1,2,3 p = putaran ke p Hitung S 1 i S S S = = = = X X j p j 1 97, ,2 8 76,5, j = 1,2,3 = 1,28 =,976 = 1,45 Diperoleh matriks diagonal pengaruh fabrikasi: 1 R 1,27 =,976 1, ,8 113,6, 158,4 2 36,5 77,1 37,1 15,7 3 18,7 59,3 42,9 12,9 Jumlah 1, 25, 8, 2 R 1,1 =,995,993 Proses penyusunan matriks dengan menggunakan matriks pengaruh substitusi, R dan matriks pengaruh pabrikasi S akan terus berlanjut seperti contoh di atas sampai diperoleh R p p = S = I, p = putaran ke p. Dari hasil perhitungan selanjutnya, akhirnya diperoleh matriks akhir yang R R R A X S S S merupakan matriks ( ) 25 26
109 Bab 7. Teknik Penyusunan Tabel Input-Output: Metode Tidak Langsung R R R A X S (7) MATRIKS ( ) S S (8) MATRIKS At = RA( )S i j Jumlah 1 45,3 114,7, 16, R = R 1 R 2 R 3,883 = 1,178, ,2 76,6 37,2 15, atau 3 R = πr 3 18,5 58,7 42,8 12, i = 1 Jumlah 1, 25, 8, R 4 = S 4 = I 1 = 1 1 Dari matriks akhir di atas, dapat diturunkan matriks koefisien input A ( t) yaitu dengan membagi nilai pada masing-masing kolom terhadap nilai output X j.. Untuk menghitung matriks A ( t) tersebut dapat pula diturunkan melalui penggunaan vektor pengganda baris r dan pengganda kolom s, sebagai berikut: atau A S = S 1 3 S = πs i = 1 ( t) = ( ) S 2 S,883 RA S = 3,226 =,181,93 = 1,178 1,25,287,191,147,975,25,15,93,1,,124,143 1,53,333,167,167, 1,25,1,15,975 1,53 Setelah matriks akhir selesai dikerjakan, maka Tabel input-output updated tahun 26 dapat disusun dengan memasukkan matriks tersebut ke dalam kerangka tabel input-output, seperti tercantum dalam tabel di bawah ini
110 Bab 7. Teknik Penyusunan Tabel Input-Output: Metode Tidak Langsung i j (9) Tabel Input-Output Tahun 26 Updated Sektor Produksi x i f i X i 1 45,3 114,7, 16, 4, 2, 2 36,2 76,6 37,2 15, 25, 4, 3 18,5 58,7 42,8 12, 18, 3, x. j v. j X. j 1, 25, 8, 43, 47, 9, 1, 15, 22, 47, 2, 4, 3, 9, Metode RAS merupakan salah satu metode untuk memperkirakan matriks koefisien input atau koefisien teknis yang sangat berguna bagi penyusunan tabel input-output dan analisis I-O lanjutan. Dengan memahami metode ini secara baik, merupakan suatu landasan yang kuat untuk mempelajari metode-metode yang lebih rumit seperti RECRAS, Lagrangian, dan sebagainya. Bahan yang diberikan di sini masih bersifat pengantar dan belum lengkap. Untuk mendalami masalah ini secara baik dapat dipelajari dari berbagai literatur atau paling tidak melalui referensi yang diberikan pada catatan kaki. 7.2 Metode Semi-Survei Sebenarnya cara yang terbaik untuk memperkirakan matriks A adalah melalui survei langsung. Tetapi mengingat biaya, waktu dan tenaga, maka metode RAS akan sangat membantu. Untuk memaksimalkan hasil estimasi, dapat saja dimasukkan beberapa informasi penting ke dalam beberapa elemen matriks A yang akan diperbaharui. Misalnya untuk sektor-sektor kunci yang datanya tersedia, seperti sektor industri pengolahan, sektor tanaman bahan makanan dan sebagainya. Dengan memasukkan informasi baru tersebut berarti kita tidak perlu lagi melakukan estimasi untuk elemen bersangkutan. Konsekuensinya nilai jumlah permintaan antara ( b i ) dan input antara ( k ) yang terkena pengaruh tersebut harus dikurangkan sebesar j angka yang sudah dimasukkan dalam matriks A. Metode RAS tanpa memberikan informasi baru ke dalam matriks A disebut Metode RAS Sederhana, sedangkan metode RAS yang sudah memberikan tambahan informasi baru ke dalam matriks A disebut Metode RAS Modifikasi Teknik Penyusunan Tabel Input-Output dengan Metode Semi- Survei Jika diperhatikan secara seksama angka-angka di dalam kuadran I yang dihasilkan oleh metode RAS, sepenuhnya diperoleh dari matriks A ( ) dan pengaruh angka-angka pengganda baris dan kolom seperti telah diuraikan sebelumnya. Sekarang yang menjadi persoalan apakah angka-angka yang dihasilkan tersebut sudah cukup akurat, teliti dan mampu menggambarkan keadaan sebenarnya untuk tahun
111 Bab 7. Teknik Penyusunan Tabel Input-Output: Metode Tidak Langsung Suatu perkiraan sudah barang tentu akan mengalami ketidaktepatan, apabila diingat bahwa hubungan antar industri yang digambarkan oleh matriks di kuadran I, bukan saja dipengaruhi oleh faktor teknis berupa angka substitusi dan fabrikasi, tetapi juga oleh kejadian-kejadian sosial dan ekonomi yang bersifat non-teknis. Kedua angka pengganda bekerja secara proporsional terhadap semua angka di sepanjang baris dan kolom tanpa pertimbangan lain, walaupun dilakukan melalui proses komputer yang tentunya memberikan hasil yang lebih tepat dan cepat. Dari pengamatan terhadap angka-angka di kuadran I yang dihasilkan oleh metode RAS sederhana ternyata muncul beberapa kejanggalan, seperti contoh berikut ini. Output dari industri perbengkelan kereta api seluruhnya merupakan input antara dari sektor angkutan kereta api, sehingga seharusnya tanpa pengaruh substitusi atau fabrikasi angkanya langsung dipakai. Tetapi akibat pengaruh tersebut, angka akhir selalu berbeda antara jumlah penyediaan dan permintaan. Contoh lain, minyak mentah yang dialokasikan untuk input antara industri pengilangan minyak, angkanya terlalu besar dibandingkan seluruh input antara industri pengilangan tersebut. Masih banyak lagi kejanggalan-kejanggalan yang ditemui seperti pada industri kendaraan bermotor, bangunan tempat tinggal, angkutan udara dan sebagainya. Untuk mengurangi kejanggalan-kejanggalan seperti yang disebutkan di atas, maka harus dilakukan pengisian angka pada sel-sel tertentu di kuadran I. Angka pada sel-sel terpilih tersebut diperkirakan secara tersendiri dan didasarkan pada data dan informasi yang tersedia pada tahun 26. Angkaangka pilihan ini tidak diikutsertakan dalam proses RAS, dan besarnya tetap sama hingga proses RAS selesai dikerjakan. Metoda RAS dengan mempengaruhi terlebih dahulu beberapa sel pada kuadran I, selanjutnya disebut Metode RAS Modifikasi. Pada Tabel input-output Indonesia Sektor Transportasi tahun 26, angka-angka yang dimasukkan pada kuadran I adalah angka untuk beberapa sektor kunci khususnya yang menggunakan bahan baku tertentu seperti: padi untuk industri penggilingan beras, gandum untuk industri tepung terigu, kapas untuk industri pemintalan benang, minyak mentah untuk industri pengilangan, besi dan baja bahan untuk industri besi dan baja, CKD dan komponen mesin untuk industri mesin dan sebagainya. Dalam proses penghitungan dengan menggunakan metode RAS modifikasi, semua sel terpilih tidak diproses dan diberikan nilai nol, sehingga jumlah input antara dan jumlah permintaan antara pada masing-masing kolom dan baris akan berkurang sebesar nilai sel terpilih tadi. Proses penyusunan kuadran I untuk selanjutnya sama dengan proses menggunakan metode RAS sederhana. Setelah proses RAS selesai dilakukan, maka sel-sel pilihan yang bernilai tadi diganti dengan nilai perkiraan yang sebenarnya. Berikut ini adalah contoh penggunaan metode RAS modifikasi dengan menggunakan ilustrasi angka. Untuk mudahnya ikuti lebih dahulu contoh penggunaan metode RAS sebelumnya Contoh Penerapan Dengan memanfaatkan semua data dan informasi yang ada pada Tabel (2) subbab (c), serta menambahkan informasi pada kuadran I, baris ke-2 kolom ke-1 sebesar 4, maka diperoleh tabel (1) berikut
112 Bab 7. Teknik Penyusunan Tabel Input-Output: Metode Tidak Langsung j (1) Tabel Input-Output yang Dihitung Tahun 26 Sektor Produksi i x i f i X i x. j v. j X. j Angka 4 di atas merupakan angka yang ditaksir tersendiri dan tidak diikutsertakan dalam proses RAS. Perlu diingat bahwa dengan dimasukkannya angka 4 ini, sehingga jumlah input antara di kolom 1 tidak lagi 1 tetapi 6 (1-4). Begitu pula jumlah permintaan antara baris ke-2 sebesar 11 (15-4). Selanjutnya, prosedur yang sama dengan RAS sederhana dilakukan. Pada Tabel (2) berikut tampak bahwa pada (2,1) sama dengan nol (tidak ikut dalam proses RAS) dan jumlah input antara untuk masing-masing sektor berturut-turut sebesar 6, 25 dan 8. i j (2) MATRIKS ( ) A X Jumlah x i ,3 183, ,7 3 96, , ,7 12 Jumlah 7 266,7 75 x.j Seperti biasa, pertama-tama dicari matriks: 1 R,873 = 1,138,911 Setelah proses iterasi berjalan hingga dicapai: n R i = S i= 1 i= 1 i = I maka akan diperoleh matriks akhir berikut dengan memasukkan kembali angka 4 di sel (2,1)
113 Bab 7. Teknik Penyusunan Tabel Input-Output: Metode Tidak Langsung (3) MATRIKS AKHIR (5) MATRIKS A t i j Jumlah i j ,8 117,2, 16, 1,214,293, 2 4, 73,7 36,3 15, 2,2,184, ,2 59,1 43,7 12, 3,87,148,146 Jumlah 1, 25, 8, Akhirnya dengan menambahkan data nilai tambah, permintaan akhir dan output setiap sektor ke dalam Tabel (3), diperoleh Tabel (4) berikut: j (4) Tabel Input-Output Tahun 26 Updated Sektor Produksi i x i f i X i 1 42,8 117,2, 16, 4, 2, 2 4, 73,7 36,3 15, 25, 4, 3 17,2 59,1 43,7 12, 18, 3, x. j v. j X. j 1, 25, 8, 43, 47, 9, 1, 15, 22, 47, 2, 4, 3, 9, Matriks A setelah dilakukan perbaikan dengan pendekatan semi survei adalah: Proses penyusunan kuadran I dengan menggunakan metoda semi survei sebenarnya sama dengan penggunaan RAS sederhana, artinya pengganda baris dan kolom tetap bekerja dan berlanjut terus sampai dipenuhi suatu kondisi dimana jumlah input antara dan jumlah permintaan antara masingmasing sektor sama dengan angka "plafond" yang diberikan. Pengaruh pengganda baris (substitusi) dan pengganda kolom (fabrikasi) pada metode RAS modifikasi tidak bekerja secara utuh seperti pada metode RAS sederhana. Karena dalam metode RAS modifikasi sebagian sel pada kwadran I diperkirakan tersendiri, maka sel-sel tersebut tidak terkena pengaruh pengganda baris maupun kolom. Di lain pihak bila kedua pengaruh tadi bekerja secara utuh, (metode RAS sederhana) maka kelemahan pun akan timbul karena setiap sel di sepanjang baris dan kolom akan mendapat perlakuan yang homogen dan perubahannya pun akan selalu proporsional; padahal dalam kenyataannya pengaruh tadi bisa berbeda antara satu sektor dengan sektor lainnya. Dengan berbagai pertimbangan di atas, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa tabel input-output pembaharuan yang disusun berdasarkan metoda RAS modifikasi akan lebih baik dibandingkan dengan tabel berdasarkan metode RAS sederhana
114 Bab 8. Perlakuan Khusus Perlakuan khusus dalam tabel input-output meliputi perlakuan terhadap pengeluaran konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, subsidi, produk ikutan dan sampingan, barang bekas dan apkiran dan perbedaan statistik. Perlakuan khusus ini disajikan dalam kaitannya dengan model konvensional yang umum dipakai di Indonesia. Oleh karena data Input-Output dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan analisis, maka dengan perlakuanperlakuan khusus ini akan mampu mengarahkan hasil analisis yang menggunakan model Input-Output lebih sesuai dengan tujuan-tujuannya. Model Input-Output konvensional yang dimaksudkan adalah seperti yang ditunjukkan pada bab II, dimana konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah ditempatkan pada kuadran II, subsidi pada kuadran I atau sektor yang menerima subsidi, barang bekas pada sektor dummy, dan produk ikutan dan sampingan pada sektor yang sesuai dengan ciri-ciri (characteristics) output sektor tersebut. Penempatan semua hal tersebut dapat diubah sesuai dengan tujuan dan analisis tabel input-output. 8.1 Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi rumah tangga dalam tabel input-output konvensional biasanya ditempatkan pada bagian permintaan akhir. Model ini secara implisit menunjukkan rumah tangga sebagai pelaku eksogen atau sebagai pihak penentu awal dalam menentukan tingkat dan struktur output seluruh sektor ekonomi. Perlakuan Khusus Dalam analisis input-output, rumah tangga dapat diperlakukan dengan 2 cara. Pertama sebagai konsumen akhir seperti pada model Input-Output terbuka; Kedua sebagai produsen penghasil jasa dari faktor produksi tenaga kerja seperti pada model input-output tertutup. Contoh model inpui-output terbuka ditunjukkan oleh tabel-tabel input-output pada bab-bab sebelumnya, sedangkan contoh model input-output tertutup seperti ditunjukkan berikut ini dengan menggunakan Tabel input-output Indonesia 25. Tabel 8.1.a Transaksi Domestik Atas Dasar Harga Produsen Input-Output 25 Klasifikasi 3 Sektor Industri dan Rumah tangga (Model Input-Output Tertutup) (Milyar Rupiah) SEKTOR ,939 63,499 38, , , ,588 43, ,61 389, , ,376 83, ,313 1,7, , ,959 44,86 882, ,97 1,35, ,271 1,62,95 2,244, , , , , ,3 NTB Lain 564, , ,794 1,994, ,131 2,795,479 2,14,664 5,688,
115 Bab 8. Perlakuan Khusus SEKTOR PA Lain ,7 1,169, , ,131 2,795,479 2,14, ,131 2,795,479 2,14, ,131 2,795,479 2,14, ,84,945 5,688,274 5,688,274 5,688, ,488 84,132 84,132 84,132 NTB Lain 21 terutama disebabkan karena nilai input dan output kedua model tersebut adalah tidak berbeda. Akan tetapi besaran pengganda yang ditunjukkan oleh tabel ini adalah lebih besar dibanding dengan besaran pengganda model input-output terbuka. Hal ini disebabkan karena peran rumah tangga dalam proses produksi menjadi aktif sebagai pelaku ekonomi yang menghasilkan jasa penunjang untuk menciptakan barang dan jasa. Tabel 8.1.b Koefisien Input Output 25 (Model Input-Output Tertutup) Pada tabel di atas konsumsi rumah tangga dimasukan dalam kolom 4 dan menggambarkan struktur pengeluaran rumah tangga untuk mengkonsumsi barang dan jasa yang dihasilkan dari sektor-sektor produksi. Di lain pihak baris rumah tangga (baris 4) menunjukkan sumber-sumber dana atau pendapatan rumah tangga yang digunakan untuk membiayai konsumsinya. Pendapatan-pendapatan ini berasal dari upah, gaji, surplus usaha dan pendapatan lainnya. Jumlah baris rumah tangga disamakan dengan jumlah kolom rumah tangga, agar memenuhi konsep input sama dengan output. Seperti pada model input-output terbuka atau model konvensional, kelanjutan analisis dengan menggunakan model input-output tertutup adalah menghitung koefisien input, matriks pengganda dan dampak-dampak ekonomi lainnya. Pada tabel berikut ditunjukkan data koefisien input dan pengganda perekonomian Indonesia tahun 25 menurut 3 sektor ekonomi bila rumah tangga sebagai faktor endogen. Besaran koefisien input pada sektor 1, 2 dan 3 pada Tabel 8.1.b jika dibandingkan dengan besaran koefisien model input-output terbuka adalah sama semuanya. Kondisi ini, SEKTOR , Pada Tabel 8.1.c ditunjukkan pula besaran masing-masing angka pengganda pada setiap sel matriks. Jumlah sel dari matriks tersebut, yaitu jumlah baris dan jumlah kolom, menunjukkan angka yang lebih besar dari jumlah baris dan kolom pada matriks pengganda model input-output terbuka, selisih masing-masing angka tersebut sebagai akibat aktifnya rumah tangga dalam kegiatan ekonomi
116 Bab 8. Perlakuan Khusus Tabel 8.1.c Matriks Pengganda Input-Output 25 (Model Input-Output tertutup) SEKTOR Konsumsi Pemerintah Pemerintah dalam tabel input-output juga mempunyai peran ganda. Pertama sebagai penghasil jasa dan kedua sebagai pemakai barang dan jasa atau sebagai bagian dari permintaan akhir. Jasa yang dihasilkan sektor pemerintahan meliputi jasa pelayanan administrasi, keamanan dan lain-lain kepada masyarakat, jasa-jasa yang sudah dicakup oleh sektor-sektor produksi lainnya, misalnya jasa kesehatan, pendidikan dan sosial kesejahteraan lainnya, tidak termasuk dalam jasa yang dihasilkan sektor pemerintah dan semua jasa ini ditampung dalam sektor jasa sosial dan kemasyarakatan. Jasa sektor pemerintahan adalah jasa umum yang dihasilkan oleh instansi pemerintahan dan kantor perwakilan atau cabangcabangnya di daerah-daerah. Secara institusi pemerintah melakukan kegiatannya yang direalisir melalui pengeluaran rutin dan pembangunan yang ditempatkan sebagai kelompok permintaan akhir dalam model input-output konvensional. Pengeluaran rutin ini dapat diperlakukan dengan cara lain yaitu dengan menempatkannya dalam kuadran I seperti sektor produsen barang dan jasa. Pada tabel input-output Indonesia 25, konsumsi pemerintah ditempatkan dalam kuadran II, dan output sektor pemerintahan dimasukan dalam pertemuan sel konsumsi pemerintah dan baris sektor pemerintahan. Akibatnya isian semua kolom kecuali kolom pemerintahan pada permintaan akhir adalah bernilai nol, dan kolom pemerintah pada kuadran I kecuali baris nilai tambah juga bernilai nol. G Perlakuan Sektor Pemerintahan dalam Tabel Input-Output Indonesia 25 G F g M x O F gl F gl G O O O F g X g NTB V g x X g = Sektor pemerintahan F gl = Pengeluaran konsumsi pemerintah untuk komoditi i NTB = Nilai Tambah Bruto
117 Bab 8. Perlakuan Khusus M x = Impor = Output Pada versi lain, pengeluaran konsumsi pemerintah pada tabel hipotesis di atas dapat pula diperlakukan, F g dengan memindahkan isian tersebut dari permintaan akhir ke kolom permintaan antara G. Semua sel kolom dari sektor G menjadi terisi dari baris 1 sampai dengan baris n sesuai dengan penggunaan barang dan jasa untuk konsumsi pemerintah. Untuk memenuhi konsep dasar input-output dimana jumlah input harus sama dengan output maka jumlah baris sektor pemerintahan harus juga bertambah sebesar pertambahan jumlah kolom di sektor pemerintah. Pertambahan pada baris tersebut didistribusikan pada kolom-kolom yang terdapat pada baris sektor pemerintah sesuai dengan jasa pelayanan pemerintah terhadap sektor produksi dan masyarakat. Oleh karena jasa keamanan pada masyarakat memegang peranan penting dalam fungsi pemerintahan sehingga baris sektor pemerintahan dan kolom konsumsi pemerintahan akan terdapat isian. Kemudian sebagai faktor penyeimbang, sisa jumlah kolom dengan jasa yang didistribusikan dimasukkan pada kolom pemerintah di permintaan akhir. 8.3 Perlakuan Subsidi Seperti yang dijelaskan pada uraian sektoral bahwa subsidi yang dicakup dalam tabel input-output adalah subsidi komoditi, agar harga jual dari komoditi yang dihasilkan oleh industri tersebut sesuai dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah. Besaran subsidi tersebut sama dengan bantuan rutin pemerintah pada suatu industri dan diperlakukan sebagai faktor pengurang di pajak tidak langsung (pajak tak langsung neto). Pada input- output Indonesia, subsidi dimasukkan di kuadran III (kode baris 25), dan besarannya sesuai dengan besarnya bantuan pemerintah terhadap masingmasing sektor. Pada beberapa tahun yang lalu, subsidi-subsidi yang diberikan pemerintah adalah untuk industri pupuk, gandum, beras dan minyak. Pada tahun akhir-akhir ini subsidi pemerintah hanya terbatas untuk pupuk. Namun demikian, subsidi ini bisa saja berkembang ke berbagai jenis komoditi dan sangat tergantung kepada situasi dan kondisi ekonomi pada saat ini. Sebagai contoh subsidi pupuk, walaupun yang menerima subsidi adalah industri pupuk, akan tetapi yang merasakan manfaat subsidi secara langsung adalah para petani. Para petani sebagai pengguna pupuk tersebut berada pada sektor-sektor yang menghasilkan komoditi pertanian. Untuk menunjukkan besaran subsidi yang diterima oleh petani atau suatu industri maka subsidi tersebut ditempatkan pada komponen nilai tambah di sektor industri pupuk. Akibatnya nilai tambah di sektor industri pupuk mencerminkan nilai subsidi sebagai pengurang pajak tak langsung dan harga pupuk yang diterima petani adalah harga pupuk yang telah disubsidi. 8.4 Produk Ikutan dan Sampingan Produk Ikutan (by product) dan produk sampingan (subsidiary product) suatu kegiatan adalah hasil lain atau tambahan yang diperoleh dari kegiatan tersebut. Hasil ini menurut sifat atau karakteristiknya berbeda dengan produk utama dari kegiatan itu. Jika produk tersebut merupakan produk utama sektor lain, maka produk ikutan harus dipindahkan (transfer) ke sektor lain. Akan tetapi jika tidak merupakan produk utama sektor lain yang menunjang, maka produk ikutan tersebut tidak dipindahkan
118 Bab 8. Perlakuan Khusus 8.5 Perlakuan Barang Bekas dan Apkiran Yang dimaksudkan barang bekas dan apkiran adalah barang yang dihasilkan dan dianggap tidak bernilai bagi produsen barang tersebut dan atau yang dihasilkan pada tahun-tahun sebelumnya tetapi masih bermanfaat dan berperan dalam proses produksi. Barang bekas dan apkiran diperlakukan khusus dalam Tabel input-output oleh karena secara fisik barang tersebut masih dapat digunakan dan diperjualbelikan tetapi secara konsep konsumsi sudah habis dipakai. Barang bekas tersebut dalam kenyataannya mempunyai nilai transaksi. Disamping itu barang bekas banyak diperjualbelikan dan menjadi bahan utama dalam industri daur ulang (recycling). Dengan sifat-sifat tersebut, maka penilaian dan perlakuan barang bekas dalam tabel input-output dapat dilakukan dalam 3 cara: a. Metode Biaya Negatif Cara ini adalah menempatkan pembelian barang bekas dengan nilai negatif pada input sektor yang menggunakan barang bekas tersebut dan baris output yang menampungnya atau pada baris dummy (biasanya dimasukkan sebagai unclasified sector). c. Metode Transfer Input dan Output Metode ini menempatkan output dan input barang bekas pada sektor yang menghasilkan barang sejenisnya. Pada contoh di Tabel nilai barang bekas dimasukkan pada kolom sektor 2 dan baris sektor lainnya. Ketiga metode di atas mempunyai dampak terhadap besaran output seluruh sektor dari struktur input beberapa sektor, dan pada akhirnya mempengaruhi besaran-besaran tabel analisis input-output. Dalam penggunanya, metode yang akan dipilih tergantung pada: peranan dari barang bekas tersebut dalam perekonomian, kesepakatan atas nilai barang bekas (utility of the waste product), dan kegunaan barang-barang tersebut dalam ekonomi dan masyarakat, serta tujuan analisis ekonomi yang dilakukan. Contoh: Perlakuan untuk Barang bekas, Sisa dan Produk Ikutan Dari Ke Tabel Metode Input Negatif 1 2 Lainnya Output b. Metode Transfer Output Metode ini menempatkan output/nilai barang bekas pada output sektor yang menghasilkan barang sejenisnya. Pada contoh di Tabel nilai barang bekas dimasukkan pada kolom sektor 2 dan baris sektor 1. 2 Lainnya Input
119 Bab 8. Perlakuan Khusus Dari 1 2 Ke Lainnya 1 Tabel Metode Transfer Output 1 2 Lainnya Output 1 9 Input tersebut dipilih setelah memperhitungkan data yang tersedia dan yang sesuai dengan konsep-konsep tabel input-output. Secara teoritis, tabel input-output menunjukkan jumlah permintaan harus sama dengan penyediaan. Jika permintaan dan penyediaan ini diperkirakan secara terpisah, maka seringkali besarannya menunjukkan angka yang berbeda. Perbedaan ini dimasukan dalam kelompok perbedaan statistik dan ditempatkan pada bagian akhir dari kolom permintaan. Dalam tabel inputoutput Indonesia sebelumnya, besaran perbedaan statistik ini masih tergabung dalam kolom selisih inventori dari kelompok permintaan akhir. Tabel Metode Transfer Output dan Input Dari Ke 1 2 Lainnya Output Lainnya Input Perbedaan Statistik (Statistical Discrepancy) Perbedaan statistik dalam tabel input-output timbul sebagai akibat atas pendekatan-pendekatan (approaches) yang digunakan dalam memperkirakan output dan input setiap sektor. Pendekatan-pendekatan
120 Bab 9. Tabel Input-Output Regional Dewasa ini tabel input-output telah digunakan sebagai kerangka analisis pada tingkat regional. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya pihak yang berminat mendalami masalah tersebut. Berbagai studi atau usaha penyusunan tabel input-output regional juga telah dilakukan, walaupun kebanyakan masih terbatas untuk keperluan yang sifatnya khusus. 1 Tabel input-output regional yang telah dikenal selama ini ada dua jenis. Jenis yang pertama adalah tabel input-output satu region (Intra regional), dan jenis yang kedua adalah tabel input-output antar region (Intra regional). Tabel Input-Output satu region adalah suatu tabel yang menggambarkan arus transaksi barang dan jasa antar sektor ekonomi dalam satu daerah pada periode tertentu. Sedangkan tabel input-output regional jenis yang kedua menggambarkan arus transaksi antar sektor antar daerah. Salah satu keunggulan tabel input-output jenis yang kedua yaitu mampu menunjukkan ketergantungan antar daerah. Pada Bab ini akan dibahas kedua jenis tabel input-output regional secara ringkas. Mengingat perbedaan antara tabel input-output nasional dan regional hanya pada cakupan wilayah, maka pembahasan umumnya tidak dilakukan secara rinci. Tabel Input-Output Regional Tabel Input-Output Satu Region Tabel input-output regional jenis yang pertama pada prinsipnya sama dengan tabel input-output nasional. Oleh karena hal-hal yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, seperti kerangka dasar tabel input-output, konsep dan definisi masing-masing variabel, prosedur maupun berbagai metode pendekatan penyusunan tabel input-output nasional juga berlaku untuk inputoutput regional. Perbedaan antara tabel input-output nasional dengan tabel input-output regional adalah pada konsep wilayah. Pada tabel input-output nasional wilayah cakupannya meliputi negara (nasional) sedangkan pada tabel input-output regional yang dimaksudkan dengan wilayah adalah provinsi (daerah) Teknik Penyusunan Sebagaimana disebutkan di atas, bahwa pada dasarnya tabel inputoutput nasional sama dengan tabel input-output regional. Sehubungan dengan itu, maka seluruh metode yang digunakan untuk penyusunan tabel input-output nasional juga berlaku (dapat digunakan) untuk penyusunan input-output regional. Teknis penyusunan tabel input-output sebagaimana yang telah diterangkan pada bab-bab terdahulu bisa dilakukan melalui berbagai metode. Metode tersebut bisa merupakan metode langsung (survei) maupun metode tidak langsung (non survei dan semi survei). Berikut ini akan dibahas secara singkat mengenai masing-masing metode tersebut. a. Metode Langsung 1 Misalnya usaha penyusunan tabel I-O regional yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan Teknologi Mineral (PPTM), misalnya: Penyusunan Tabel Input-Output Regional Provinsi Bali 1983, PPTM, Bandung Metode langsung atau sering juga disebut metode survei adalah suatu metode penyusunan tabel input-output, di mana data yang digunakan untuk mengisi sel-sel yang membentuk tabel input-output diperoleh dari penelitian
121 Bab 9. Tabel Input-Output Regional langsung di lapangan. Sehubungan dengan adanya penelitian/survei secara langsung tersebut, maka penyusunan tabel input-output dengan metode ini memerlukan banyak biaya, tenaga, maupun waktu yang tidak sedikit. Misalnya untuk menyusun koefisien input (koefisien teknis) setiap sektor, diperlukan data yang diperoleh dari hasil pencatatan mengenai masingmasing nilai pengeluaran untuk setiap kegiatan/usaha di setiap sektor. Untuk memperoleh data pengeluaran setiap kegiatan/usaha tersebut, maka perlu dilakukan penelitian langsung di lapangan, baik melalui suatu survei khusus maupun sumber-sumber lain yang mendukung. 2 Uraian lengkap mengenai teknis penyusunan tabel input-output melalui metode langsung ini dapat dibaca kembali pada Bab 4, 5 dan 6. b. Metode Tidak Langsung Penyusunan tabel input-output regional secara langsung akan menghasilkan data yang akurat, yang mampu mencerminkan kondisi daerah yang sebenarnya. Namun demikian, penyusunan tabel input-output dengan metode langsung bukan merupakan pekerjaan yang ringan. Hal ini dikarenakan berbagai kendala, baik dari sisi tenaga, waktu maupun biaya. Berpangkal tolak dari kendala tersebut, maka para ahli telah mengembangkan teknik penyusunan tabel input-output melalui pendekatan tidak langsung, baik melalui metode survei maupun metode non survei, sebagaimana yang telah diterangkan pada Bab V buku ini. Berbeda dengan metode penyusunan tabel input-output nasional, pada penyusunan tabel input-output regional selain metode-metode yang telah diterangkan di atas, juga masih terdapat metode-metode alternatif untuk penyusunan tabel input-output regional. Metode dimaksud misalnya metode persentase penawaran regional maupun metode koefisien lokasi. Pembahasan kedua metode tersebut secara lengkap dapat dilihat pada Bab 2 Survei yang bertujuan untuk mengatahui struktur pengeluaran setiap kegiatan usaha yang dilakukan oleh BPS, biasanya disebut Survei Khusus Input-Output (SKIO) VI buku Kerangka Teori dan Analisis Tabel Input-Output, BPS Desember 28. Karena secara teori sudah ada pembahasan mengenai metode yang digunakan dalam penyusunan input-output regional, maka pada bagian ini hal tersebut tidak akan dibahas lagi. Pembahasan selanjutnya pada bab ini lebih difokuskan kepada berbagai permasalahan yang dihadapi dalam praktek penyusunannya Permasalahan Penyusunan tabel input-output regional mengalami berbagai masalah. Bahkan masalah yang ada lebih banyak dan lebih rumit dibandingkan penyusunan tabel input-output nasional. Oleh karena itu, agar tabel inputoutput regional tetap bisa disusun, maka untuk mengatasi masalah-masalah tersebut terpaksa dikenakan suatu perlakuan-perlakuan khusus, antara lain: a. Masalah Ekspor dan Impor Untuk memperkirakan nilai ekspor dan impor provinsi atau lalulintas perdagangan antar daerah jauh lebih sulit dibandingkan dengan perkiraan perdagangan secara nasional (negara). Hal ini dikarenakan beberapa hal yaitu: 1. Konsep ekspor & impor daerah mencakup tiga pengertian, yaitu: ekspor luar negeri, antar pulau dan ekspor darat (antar provinsi). Sebaliknya pada input-output nasional, konsep ekspor & impor hanya mencakup satu pengertian saja, yaitu luar negeri. 2. Semakin kecil lingkup suatu daerah, sudah barang tentu sistem perekonomiannya juga semakin terbuka. Dengan demikian dalam menghitung lalu lintas perdagangannya, akan semakin banyak masalah yang dihadapi
122 Bab 9. Tabel Input-Output Regional 3. Dalam penghitungan input-output nasional, masih dapat dibedakan antara warga negara Indonesia (WNI) dengan warga negara asing (WNA). Demikian pula masih ada pencatatan berapa jumlah WNA yang masuk ke Indonesia maupun WNI yang bepergian keluar negeri. Ini berarti bahwa ekspor dan impor jasa meskipun masih mengalami banyak kendala, namun masih bisa diperkirakan. Kondisi ini sangat berbeda dengan keadaan di daerah. Pada tingkat provinsi, penduduk yang keluar masuk sama sekali tidak ada pencatatannya. Berapa jumlah penduduk luar daerah yang masuk dan berapa penduduk daerah yang bersangkutan yang ke luar daerah. Apalagi sudah menyangkut rupiah yang dibelanjakan di luar daerah, untuk berbagai pelayanan jasa yang diterima. Kondisi ini lebih parah lagi terutama pada daerah-daerah perbatasan. Sehubungan dengan adanya beberapa masalah sebagaimana disebutkan di atas, maka untuk keperluan penghitungan/estimasi ekspor/impor provinsi dilakukan beberapa pendekatan/perlakuan. Sesuai dengan konsep ekspor barang provinsi yang mencakup ekspor luar negeri, antar pulau dan antar provinsi (darat), maka untuk mengestimasi ekspor barang dilakukan melalui tiga pendekatan, yaitu: a Ekspor/Impor barang luar negeri diestimasi melalui statistik perdagangan luar negeri. b. Ekspor/impor antar pulau diestimasi melalui statistik bongkar muat barang di pelabuhan.c. c. Ekspor/impor darat (antar provinsi) diestimasi melalui hasil pencatatan barang dari DLLAJR atau jembatan timbang. Namun demikian, penggunaan masing-masing sumber data sebagai dasar untuk mengestimasi ekspor/impor provinsi juga masih sangat lemah. Hal ini dikarenakan dalam kenyataannya, statistik perdagangan luar negeri yang digunakan sebagai sumber dalam mengestimasi ekspor/impor luar negeri, datanya hanya didasarkan dari hasil pencatatan pada pelabuhan muat (ekspor) dan pelabuhan bongkar (impor). Demikian pula statistik bongkar muat barang di Indonesia, pencatatannya juga hanya didasarkan pada pelabuhan di mana barang/komoditi tersebut dibongkar dan pelabuhan di mana barang/komoditi tersebut dimuat. Akibat adanya sistem pencatatan seperti itu, maka sangat mungkin bagi provinsi-provinsi yang tidak mempunyai pelabuhan, maka ekspornya tidak tercatat. Sebaliknya provinsi yang mempunyai pelabuhan, maka nilai ekspornya relatif besar. Bahkan sangat mungkin akan banyak barang asing (barang yang tidak diproduksi di daerah yang bersangkutan), akan tetapi muncul pada statistik ekspornya. Oleh karena itu, untuk mengatasi berbagai kemungkinan itu, perlu adanya suatu kontrol, baik melalui jumlah produksi domestik, maupun dari data impornya. Selanjutnya untuk mengestimasi ekspor dan impor jasa selama ini tidak ada sumber data yang bisa digunakan. Satu-satunya sumber yang mungkin yaitu jumlah wisatawan. Ini hanya untuk mengestimasi ekspor jasa ke luar negeri. Perkiraan ekspor jasa luar negeri dilakukan dengan mengalikan berapa jumlah wisatawan asing yang datang dengan rata-rata jumlah konsumsi (pengeluaran) setiap kunjungan. Statistik ini juga hanya didasarkan pada pelabuhan kedatangan dan keberangkatan. Jadi sumber ini juga belum memberikan jawaban/penyelesaian yang memuaskan. Karena kembali pada konsep ekspor daerah, mestinya juga mencakup ekspor ke daerah/provinsi lain. Akan tetapi karena tidak ada sumber lain, maka hal ini setidak-tidaknya dapat memberikan gambaran, khususnya tentang ekspor jasa luar negeri (wisman). Sedangkan untuk mengestimasi ekspor jasa ke provinsi lain, hal yang mungkin dilakukan adalah dengan mengidentifikasi jumlah tamu hotel yang berasal dari luar daerah. Karena jika jumlah tamu hotel yang berasal dari luar daerah dapat diketahui, maka nilai ekspor jasanya dapat diestimasi dengan mengalikan jumlah tamu tersebut dengan rata-rata pengeluaran per tamu
123 Bab 9. Tabel Input-Output Regional b. Masalah Perusahaan Multi-Regional Untuk memperkirakan output maupun struktur input suatu kegiatan/usaha di daerah juga tidak lepas dari berbagai masalah. Hal ini kembali pada kondisi yang ada di lapangan. Kenyataan yang ada, sering dijumpai perusahaan-perusahaan yang bergerak di daerah merupakan perusahaan multi-regional. Perusahaan-perusahan semacam itu biasanya pembukuannya dilakukan secara terpusat. Hal tersebut akan menjadi suatu masalah apabila akan dihitung secara regional. Hal ini sering dijumpai misalnya pada perusahaan penerbangan, perusahaan angkutan darat, angkutan laut, maupun perusahaan listrik dan sebagainya. Oleh karena itu, untuk memperkirakan besarnya output yang ditimbulkan di suatu daerah, serta besarnya masing-masing input yang digunakan bisa dilakukan melalui alokasi secara proporsional sesuai dengan nilai produksi yang ada di masingmasing daerah. Namun demikian, penggunaan metode alokasi ini juga harus memperhatikan jenis output kegiatan yang dialokasikannya. Jangan sampai kalau outputnya sudah dialokasikan, maka struktur inputnya secara proporsional langsung ikut dialokasikan. Karena bisa terjadi struktur input suatu sektor di daerah yang satu berbeda dengan daerah yang lain. Misalnya dalam penghitungan output sektor listrik, dan sektor air minum. Konsep output pada sektor listrik adalah jumlah Kwh yang disalurkan, tanpa memandang apakah daerah yang bersangkutan mempunyai pembangkit sendiri atau tidak. Oleh karena itu bila penyusunan struktur inputnya dilakukan juga secara proporsional berdasarkan jumlah Kwh yang disalurkan itu, maka akan timbul kejanggalan (kurang sesuai). Karena struktur input sektor listrik di daerah yang mempunyai pembangkit sendiri (baik dengan tenaga air, generator ataupun lainnya) tentunya berbeda dengan struktur input sektor listrik di daerah yang tidak mempunyai pembangkit. Karena pada daerah yang tidak mempunyai pembangkit struktur inputnya hanya mencakup biaya operasional pendistribusian saja. Oleh karena itu, walaupun dalam penghitungan output boleh saja dilakukan secara proporsional, akan tetapi dalam menyusun struktur input sektor, perlu diperhatikan jenis kegiatannya. c. Penyusunan Matriks Impor Untuk menyusun tabel input-output transaksi domestik, maka perlu adanya matriks Impor. Padahal sebagaimana disebutkan di atas, untuk mengestimasi jumlah impor masing-masing jenis barang saja sangat sulit, apalagi untuk mencari sektor-sektor yang menggunakannya. Oleh karena itu, untuk menghitung tabel input-output transaksi domestik tingkat provinsi selama ini hanya dilakukan dengan suatu model. Model yang biasa digunakan adalah model persentase suplai regional. Model ini pada dasarnya membagi barang impor secara proporsional sesuai dengan masing-masing jenis penggunaan input di setiap sektor pengguna. Model ini hanya mengasumsikan bahwa setiap barang impor digunakan oleh setiap sektor pengguna. Adanya asumsi ini mengandung beberapa kelemahan, karena dalam kenyataannya banyak sektor-sektor yang semestinya tidak menggunakan barang impor, tapi karena sifat dari sektor tersebut mengandung jenis barang yang kebetulan sebagian barang tersebut merupakan barang impor, maka terpaksa diperlakukan sama dengan barang yang benar-benar menggunakan bahan impor. d. Penyusunan Matriks TTM Tabel transaksi harga produsen dapat dihitung jika ada matriks perdagangan dan biaya pengangkutan (TTM). Sementara itu, penghitungan matriks TTM untuk tingkat provinsi sampai sekarang juga belum pernah dilakukan secara langsung. Karena itu, agar tabel harga produsen dapat dihitung, maka perlu diturunkan suatu matriks TTM provinsi yang bersumber dari TTM nasional. Penghitungan matriks TTM provinsi dilakukan dengan mengalikan rasio TTM nasional dengan jumlah penawaran barang di provinsi
124 Bab 9. Tabel Input-Output Regional Selanjutnya dari matriks TTM tersebut, dilakukan penyesuaian dengan menggunakan kontrol output sektor pengangkutan maupun sektor perdagangan itu sendiri. Dengan adanya kontrol dari kedua sektor tersebut, maka matriks TTM dapat direkonsiliasi, sehingga diperoleh keseimbangan baik menurut baris maupun menurut kolom. Di samping itu juga perlu diperhatikan kelayakannya. Jika matriks TTM tersebut sudah diperoleh, maka dengan mengurangkan tabel transaksi domestik dengan matriks TTM tersebut dapat diperoleh tabel transaksi harga produsen. 9.2 Tabel Input-Output Antar Region Semua pembahasan pada sub-bab terdahulu adalah tentang penyusunan tabel input-output untuk suatu wilayah atau regional tertentu. Berdasarkan tabel input-output tersebut dapat diketahui tentang keterkaitan antar sektor ekonomi di regional yang bersangkutan. Akan tetapi akan sulit untuk melihat keterkaitan antar sektor ekonomi dengan wilayah lain hanya berdasarkan tabel input-output tersebut. Seluruh sektor ekonomi di regional tertentu seolah-olah diputuskan hubungannya dengan wilayah lain. Untuk negara seperti Indonesia yang terdiri dari beberapa provinsi, mengamati keterkaitan sektor-sektor industri hanya untuk lingkup regional (provinsi) mungkin kurang memberikan hasil analisis yang tajam. Dalam prakteknya, kebijakan ekonomi terhadap sektor ekonomi tertentu di suatu provinsi seringkali memiliki dampak ke provinsi lainnya. Begitu juga dengan pergeseran pola konsumsi. Peningkatan konsumsi rumah tangga untuk produk elektronika provinsi A yang produk elektronikanya tidak terlalu kuat, misalnya, akan mengakibatkan peningkatan permintaan terhadap produk elektronika diprovinsi B yang produk elektronikanya maju. Peningkatan permintaan ini sudah barang tentu akan mempengaruhi sektor industri produk elektronika di B dan pada gilirannya berpengaruh terhadap semua sektor ekonomi di B. Dalam rangka menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk melihat keterkaitan antar sektor ekonomi di wilayah yang berlainan tersebut itulah, maka perlu disusun tabel input-output antar regional. Jenis tabel inputoutput ini sebenarnya telah dikembangkan oleh Isard pada tahun Pembahasan pada bab ini hanya sebatas kerangka dan ide dasar dalam penyusunan tabel input-output antar region. Bagi peminat yang ingin mengetahui aspek pemodelan input-output antar region lebih jauh dapat membaca buku yang ditulis oleh Miller dan Blair 3 (1985) Kerangka Dasar Tabel Input-Output Antar Region Sebagai ilustrasi pada Tabel disajikan tabel input-output dua region, yaitu region A dan B. untuk penyederhanaan diandaikan bahwa di region A hanya ada 3 sektor ekonomi dan diregion B ada 2 sektor ekonomi. Notasi yang digunakan adalah seperti notasi pada bab-bab sebelumnya yaitu x untuk transaksi antara, X untuk ouput, F untuk pemintaan akhir, E untuk ekspor, M untuk impor dan V untuk nilai tambah. Superskrip menunjukkan kode region dan subskrip menunjukkan sektor ekonomi. Dengan notasi tersebut maka AB x 12 dapat dibaca sebagai transaksi antara oleh sektor 1 di region A dengan sektor 2 di region B. 3 Input-Output Analysis: Foundations and Extensions, Bab
125 Bab 9. Tabel Input-Output Regional Tabel Tabel Input-Output Antar Regional A dan B Tabel Kerangka Tabel Input-Output Antar Region A dan B Dalam Bentuk Matriks Input Input Antara Region A Region B Output Import NTB Output Permintaan Antara Region A Region B AA x 11 AA x 21 AA x 31 BA x 11 BA x 21 MA x 1 A V 1 A X 1 AA x 12 AA x 22 AA x 32 BA x 12 BA x 22 MA x 2 A V 2 A X 2 AA x 13 AA x 23 AA x 33 BA x 13 BA x 23 MA x 3 A V 3 A X 3 AB x 11 AB x 21 AB x 31 BB x 11 BB x 21 MB x 1 B V 1 B X 1 AB x 12 AB x 22 AB x 32 BB x 12 BB x 22 MB x 2 B V 2 B X 2 B Region A AA F 1 AA F 2 AA F 3 BA F 1 BA F 2 MA F Permintaan Akhir Region B AB F 1 AB F 2 AB F 3 BB F 1 BB F 2 MB F Ekspor A E 1 A E 2 A E 3 B E 1 B E 2 Transaksi yang disajikan dalam tabel menggunakan sistem penilaian impor tidak bersaing, yaitu semua transaksi impor dikumpulkan ke dalam satu baris tersendiri. Tabel tersebut dapat pula disajikan dalam bentuk matriks dan menjadi lebih sederhana seperti Tabel Output A X 1 A X 2 A X 3 B X 1 B X 2 Input Output Impor A Antara B Impor M NTB V Input X Permintaan Antara Permintaan Akhir Region A Region B A B E AA x BA x M V X A A A BA x BB x M V X B B B Perhatikan bahwa ordo matriks-matriks diagonal pada transaksitransaksi, AA x dan pada masing-masing region. Untuk F F F AA BA MA F F F AB BB MB A E B E BB x adalah kuadrat sesuai dengan banyaknya sektor AA x, misalnya, ordonya adalah 3 x 3 karena 3 sektor ekonomi di region A. Sementara matriks di luar diagonal AB ( x dan x BA ) bukan merupakan matriks kuadrat. Ordo X X X A B AB x adalah 3 x 2 karena ada 3 sektor ekonomi di A dan 2 sektor ekonomi di B. Matriks-matriks non diagonal pada Tabel sebenarnya merupakan matriks ekspor-impor antar region A dan B. Sebagai contoh AB x adalah ekspor dari region A yang digunakan sebagai input oleh sektor-sektor produksi di region B. Matriks ini secara simultan juga menunjukkan impor region B dari region A yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sektor produksi di region B. Dalam konteks tabel input-output, transaksi antara untuk matriks-matriks non diagonal sering juga disebut sebagai perdagangan antar region. Berdasarkan uraian tersebut jelas bahwa transaksi impor pada baris impor ( M ), hanyalah impor yang dilakukan oleh region yang bersangkutan selain dari region yang dicakup dalam tabel. Jadi A M adalah seluruh impor
126 Bab 9. Tabel Input-Output Regional region A selain yang berasal dari region B. Begitu juga B M adalah seluruh impor ke B selain yang berasal dari B. hal yang sama berlaku juga bagi impor yang digunakan untuk memenuhi permintaan akhir. Misalnya MA F adalah impor yang digunakan untuk memenuhi permintaan akhir sektor A selain yang berasal dari B. Seiring dengan pengertian impor tersebut, maka ekspor pada Tabel adalah ekspor selain ke region-region yang dicakup dalam tabel. Jadi adalah seluruh ekspor dari A selain ekspor ke region B. Hal ini berlaku juga B untuk E. Dalam penyusunan tabel input-output satu region tertentu antara lain dapat disusun sepenuhnya dengan metode tidak langsung, terutama untuk menyusun atau mengisi sel-sel transaksi antara. Cara tak langsung ini relatif sulit diterapkan pada penyusunan tabel input-output antar region. Sebab untuk menyusun arus barang antar region paling tidak diperlukan survei mendalam. Ada dua pendekatan yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penyusunan tabel input-output antar region. Pertama, lakukan survei ke perusahaan-perusahaan di kedua wilayah untuk mengetahui berapa banyak input yang digunakan berasal dari produk lokal (region domisili perusahaan) dan berapa banyak yang berasal dari region lain. Dengan cara ini maka akan diperoleh informasi sepanjang kolom-kolom transaksi antara. Sementara untuk kolom permintaan akhir datanya dapat dikumpulkan melalui penelitian terhadap pola konsumsi terhadap produk lokal dan impor. Pedekatan kedua adalah dengan menanyakan pola penjualan produk yang dihasilkan oleh sektor-sektor produksi, berapa banyak yang dijual ke sektor produksi di region yang sama dan region lain, berapa yang dijual ke konsumen di region yang sama dan region lain dan berapa pula di ekspor. Dengan cara kedua ini maka diperoleh estimasi tabel input-output antar regional menurut baris. Secara ideal kedua cara tersebut akan memberikan hasil yang sama, walaupun dalam praktek bisa saja terjadi bias. Kendala utama dalam penyusunan tabel input-output antar regional di Indonesia selama ini adalah terbatasnya jenis data yang tersedia. Sampai A E saat ini penelitian terhadap arus barang dan jasa antar wilayah sampai ke tingkat sektor pengguna memang relatif jarang, bahkan dapat dikatakan tidak ada. Itulah sebabnya jenis tabel input-output belum dapat disusun berdasarkan data yang sebenanya. Begitupun mengingat pentingnya jenis tabel ini, maka BPS bekerjasama dengan Keiai University-Jepang pada tahun 1995 telah berusaha mengembangkan tabel input-output antar pulau. Dalam hal ini region yang digunakan adalah pulau. Langkah-langkah yang ditempuh dalam menyusun tabel input-output antar pulau tersebut adalah sebagai berikut 4 : 1. Lakukan estimasi terhadap output ( V R X R ), permintaan akhir R FD, dan nilai tambah ( ) menurut sektor dan regional. 2. Lakukan survei untuk menyusun matriks arus perdagangan barang dan jasa. 3. Estimasi ekspor ( ELR ) dan Impor ( MLR ) dan dari luar negeri. 4. Jika tabel input-output suatu region tidak tersedia, transaksi antara dapat ditaksir dengan menggunakan koefisien input nasional, yaitu koefisien input nasional kali output untuk regional yang bersangkutan, diperoleh R X ij. 5. Berdasarkan arus perdagangan barang dan jasa, maka secara kasar dapat ditaksir ekspor domestik ( EDR ) dan impor domestik ( MDR ). Domestik yang dimaksudkan dalam hal ini adalah dalam satu wilayah negara. Jadi EDR dan MDR merupakan ekspor dan impor ke pulau lain. 6. Dari langkah-langkah tersebut dapat diperoleh hubungan: X = R R R R R R R ij + FD + EL ML + ED MD X. 7. Jika hubungan tersebut belum dipenuhi, maka perlu dilakukan rekonsiliasi terhadap R X ij, R ED, dan R MD. 4 Diadaptasi dari Estimation Method of The Inter Regional Input-Output Table of 5 Regions of Indonesia oleh Prof. Koichi Nidaira
127 Daftar Pustaka DAFTAR PUSTAKA Abraham, William I., National Income and Economic Accounting, Prentice- Hall, Inc., Englewood Cliffs, New Jersey, Allen, R. I. G. Some experiments with the RAS method of input-output coefficients, Bulletin of the Oxford University Institute of Economics and Statistics, 36, pp , Allen, R. I. G. and Lecomber, J. R. C., Some tests on a generalized version of RAS, in Allen, R. I. G. and Gossling, W. F. (eds.), Estimating and Projecting Input-Output Coefficients. London: Input-Output Publishing Co., Almon, C., Investment in input-output models and treatment of secondary products, In Carter, A. and Brody, A. (eds.), Contributions to Input- Output Analysis, Vol. II. Amsterdam: North-Holland, 197. Ara, K., The aggregation problem in input-output analysis, Econometrica, 27, pp , Armstrong, A. G., Technology assumptions in the construction of U.K. inputoutput tables, in Allen, R. I. G. and Gossling, W.F. (eds.), Estimating and Projecting Input-Output Coefficients. London: Input-Output Publishing Co., Bacharach, M., Biproportional Matrices and Input-Output Change. Cambridge: CUP, 197. Balderston, J.B. and Whitin, T.M., Aggregation in the input-output model, in Morgensten, o. (ed.), Economic Activity Analysis. New York: Wiley, Barker, T., Some experiments in projecting intermediate demand, in Allen, R. I. G. and Gossling, W. F. (eds.), Estimating and Projecting Input-Output Coefficients. London: Input-Output Publishing Co, Badan Pusat Statistik, Statistik Indonesia 24-27, Jakarta. Badan Pusat Statistik, Tabel Input-Output Indonesia 25, Jakarta. Blin, J.M. and Cohen, C., Technological similarity ang aggregation in inputoutput system: a cluster-analytic approach, Review of economic and Statistics, 6, pp , de Boer, P. M. C., On the relationship between production functions and input-output analysis with fixed value shares, Weltwitschaftliches Archiv, Band 112, pp , de Boer, P. M. C., "Effects of relative price changes on input-output ratios-an empirical study for the Netherlands", Paper presented to the Seventh International Conference on Input-Output Techniques, Innbruck, April, Brown, D.M. and Giarratini, F., "Input-Output as a simple econometric model: a comment", Review of Economics and statistics, 61, pp , Bruno, M., Dougherty, C. and Fraenkel, M, "Dynamic input-output, trade and development", in Carter, A. P. and brody, a. (eds.), Applications of Input- Output Analysis, Vol. II. Amsterdam: North-Holland, Bulmer-Thomas, V., "The valuation of transactions in input-output tables", Journal of Economic Studies, 5, pp. 1-19, Carter, A., "Incremental flow coefficients for a dynamic input-output model with changing technology", in Barna, T. (eds.), Structural interdependence and Economic Development. London: Macmillan, Chenery, H.B. and Clark, P., Interindustry Economics, J. Wiley & Sons, Inc., New York, Drabek, Z., "Input-output price models and their use in inter-country comparisons", Discussion Paper No. 8-26, dept. of economics, University of British Colombia, 198. Evans, W.D. and Hoffenberg, M., "The interindustry relations study for 1947", Review of Economics and Statistics, 34, pp , Fisher, W., "Criteria for aggregation in input-output analysis", Review of Economics and Statistics, 4, pp ,
128 Daftar Pustaka Geary, R. C., "A method of estimating the elements of an interindustry matrix, knowing the row and colomn totals". Economic and Social Review, 4, pp , Gerking, S.D., Input-output as a simple econometric model: a reply, Review of economics and statistics and statistics, 61, pp , Ghosh, A., Input-output models for planning in a mixed economy-a new approach, Paper presented to the Seventh International Conference on Input-Output Techniques, Innsbruck, April, Government of Japan, 197 Input-Output Tables, Explanatory Report, Tokyo, Hadley, G., Linear Algebra. Reading, Mass : Addison-Wesley, Henry, E. W., Relative efficiency of RAS versus least squares methods of updating input-output structures, as adjudged by application to Irish data, Economic and Social Review, 5, pp. 7-29, Hoover, E., An Introduction to Regional Economics. New York : Alfred A. Knopf, Institute of Developing Economics, Detailed Programme of 197 Input-Output Table of Japan, Tokyo, Institute of Developing Economics, International Input-Output Table Japan- Korea 197, Tokyo, Isard, W., International and regional input-output analysis : a model of a space economy, Review of Economics and Statistics and Statistics, 33, pp , Isard, W. and langford, T., Regional Input-Output Study : Recollections, Reflections and Diverse Notes on the Pliladelphia Experience. Cambridge, Mass : MIT Press, Johansen, L., On the theory of dynamic input-output models with defferent time profiles of capital construction and finite life-time of capital equipment, Journal of Economic Theory, 19, pp , Jones, L. P. The Measurement of Hirschmanian linkages, Quartely Journal of Economics, 9, pp , Kaneko, Yukio, Input-Output Table and Input-Output Analysis, ESD, Bank Indonesia, Jakarta, Kaneko, Yukio, On the Treatment of Imports in the Entry of the Input-Output Table, ESD, Bank Indoseia, jakarta, Kendrick, John, Economic accounts and Their uses, Mc. Graw Hill, New York, Kossov, V., The theory aggregation in input-output models, in Carter, A.P. and Brody, A. (eds.), Contributions to Input-Output Analysis, Vol. I. Amsterdam: North-Holland, 197. Kuyvenhoven, A., Planning with the semi input-output method. Leiden : Martinus Nijhoff, Lecomber, J.R.C., A generalisation of RAS, Cambridgr, Departmen of Applied Economics, growth Project Paper No.196, Lecomber, J.R.C., A critique of methods of adjusting, updating and projecting matrices, in Allen R.I.G. and Gossling, W.F. (eds.), Estimating and Projecting Input-Output Coefficientson: Input-Output Publishing Co, LEKNAS-KYODAI, Input-Output Table of Indonesia, 1969 Inter-Industrial Transactions Studies, Kyoto, Leontif, W., The Structure of american Economy Cambridge, Mass. : Harvard University Press, Leontif, W., Interregional Theory, in Leontif, W. (ed.), Studies in the Structure of the United State Economy. New York, OUP, Leontif, W., Domestic Produstion and Foreign Trade : the American capital position re-examined, in Input-Output Economics, Oxford: Oxford University Press,
129 Daftar Pustaka Leontif, W., The dynamic inverse, in Carter, A. and brody, A. (eds.), Contributions to Input-Output Analysis, Vol. I. Amsterdam: North- Holland, 197. Lynch, R. G., An assessment of the RAS method for updating input-output tables, Paper presented to the Seventh International Conference on Input-Output Techniques, Innsbruck, April, Malinvaud, E., Aggregation problems in input-output models, in Barna, T. (ed.), The Structural Interdependence of the Economy. New York: Wiley, Meirnyk, William H., The Elements of Input-Output Analysis, Random House, Inc., New York, Morimoto, Y., On aggregation problems in input-output analysis. Review of Economic Studies, 37, pp , 197. Morimoto, Y., A note on weighted aggregation in input-output analysis, International Economic Review, 12, pp , O-Connor, R. and Henry, E. W., Input-Output Analysis and its Applications, London: Charles Griffin, Rassmussen, P., Studies in Intersectoral Relations. Amsterdam: North- Holland, Richarson, H., Input-Output and Regional Economics, London: Weidenfeld and Nicolson, Riefler, R. and Tiebout, C. M., International input-output: an empirical California-Washington model. Journal of Regional Science, 1, pp , 197. Schaffer, W. A. and Chu, K., Non-survey techniques for constructing Regional interindustry models, Paper and Proceedings of the Regional Science Association, 23, pp , Stone, R., Input-Output and National Accounts, OEEC, Paris, June, Stone, R. et al., Input-Output Relationships Vol. 3 of a Programme for Growth, Cambridge, Department of Applied Economics, London : Chapman and Hall, Taylor, L., Macro Models for Developing Countries. New York: McGraw-Hill, United Nations, A System of National Accounts, Studies in Methods, Series F, No.2, Rev.3, New York, United Nations, Problems of Input-Output Tables and analysis, Studies in Methods, Series F, No.14, Rev.1, New York, United Nations, Input-Output Tables and Analysis, Studies in Methods, Series F, No.14, Rev.1, New York, United Nations, International standard Classification, International Standard Classification of All Goods and Services (ICGS), Draft, E/CN. 3/493, New Delhi, Waugh, F., Inversion of the Leontief matrix by a power series, Econometrica, 18, pp , 195. Yamashita, Shoishi, Elementary Mathematics for Input-Output Analysis, ESD, Bank Indonesia, Jakarta,
130 Tim Penyusun Buku Tim Revisi Buku Pengarah : 1. Sugito Suwito, MA 2. Kusmadi Saleh, MA Penanggung jawab : 1. Supriyanto M.A. Penanggung jawab : 1. DR. Komet Mangiri Penyunting : 1. Arie Sukarya, M.Com 2. Drs. Waris Marsisno, M.Stat 3. Budi Cahyono, SSi 4. Wikaningsih, SE Penulis : Tjahyani Sudirman, BSt; Dr. Komet Mangiri; Dr. Slamet Sutomo; Rusman Heriawan, SE; Supriyanto, MA; Arie Sukarya, M.Com; Drs. Waris Marsisno, M.Stat; Budi Cahyono, SSi; Wiwiek Arumwati, M.Si; Nursinah Amal Urai, MA; Abdul Rahman, SE; Dyan Pramono Effendi, SE; Ir. Emil Azman, MBA; Dianawati, BSt; Sudartono Penyunting : 1. Ihsanurijal, M.Si. 2. Suryadiningrat, MM 3. Eko Oesman M.Si 4. Rerta Mastiani S.Si 5. Suryadi, MM 6. Busminoloan, SE 7. Arif Maelan Khasani, S.ST 8. Ratna Sulistyowati, S.ST 9. Budi Triyanto Pengetikan : Tim Subdit Konsolidasi Neraca Produksi Nasional Pengetikan : Busmin Oloan M
Model Input Output dan Aplikasinya pada Enam Sektor
Model Input Output dan Aplikasinya pada Enam Sektor Zuhri Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Sukma [email protected] Abstrak. Tabel I-O pada dasarnya merupakan uraian statistik dalam bentuk matriks yang
III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS
27 III. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS 3.1. Kerangka Pemikiran Kebutuhan untuk menggunakan I-O Regional dalam Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi NTT semakin terasa penting jika dikaitkan dengan pelaksanaan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi yang terpadu merupakan segala bentuk upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi yang ditunjang oleh kegiatan non ekonomi.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA Distribusi Input dan Output Produksi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Dasar 2.1.1 Distribusi Input dan Output Produksi Proses produksi adalah suatu proses yang dilakukan oleh dunia usaha untuk mengubah input menjadi output. Dunia usaha
SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI INDONESIA TAHUN 2008 ISSN : 0216.6070 Nomor Publikasi : 07240.0904 Katalog BPS : 9503003 Ukuran Buku : 28 x 21 cm Jumlah Halaman : 94 halaman Naskah : Subdirektorat Konsolidasi
ANALISIS MODEL INPUT-OUTPUT
PELATIHAN UNTUK STAF PENELITI Puslitbang Penyelenggaraan Pos dan Telekomunikasi ANALISIS MODEL INPUT-OUTPUT Oleh Dr. Uka Wikarya Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universtas
Sebagai suatu model kuantitatif, Tabel IO akan memberikan gambaran menyeluruh mengenai: mencakup struktur output dan nilai tambah masingmasing
Model Tabel Input-Output (I-O) Regional Tabel Input-Output (Tabel IO) merupakan uraian statistik dalam bentuk matriks yang menyajikan informasi tentang transaksi barang dan jasa serta saling keterkaitan
III. METODE PENELITIAN
38 III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan memilih lokasi Kota Cirebon. Hal tersebut karena Kota Cirebon merupakan salah satu kota tujuan wisata di Jawa
M E T A D A T A INFORMASI DASAR. 1 Nama Data : Produk Domestik Bruto (PDB) 2 Penyelenggara. Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, : Statistik
M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Bruto (PDB) 2 Penyelenggara Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, : Statistik Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta
MENGARTIKULASIKAN TABEL INPUT-OUTPUT DAN KERANGKA ANALISISNYA
MENGARTIULASIAN TABEL INPUT-OUTPUT DAN ERANGA ANALISISNYA Budi Cahyono 1 ; Bagus Sumargo2 ABSTRACT Input -Output (I-O) table can be used to analyse economic projection and present some service and good
III. KERANGKA PEMIKIRAN
19 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Konseptual Kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal membuka ruang bagi penyelenggara pemerintah Kota Bandung untuk berkreasi dalam meningkatan pembangunan
M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik
M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. 2.1 Definisi dan Ruang Lingkup Sektor Pertanian
12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Definisi dan Ruang Lingkup Sektor Pertanian Dalam penelitian ini, sektor-sektor perekonomian diklasifikasikan ke dalam 9 sektor perekonomian. Sembilan
III. KERANGKA PEMIKIRAN. sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi.
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoritis Input-Output Integrasi ekonomi yang menyeluruh dan berkesinambungan di antar semua sektor produksi merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan ekonomi.
III. METODE PENELITIAN. deskriptif analitik. Penelitian ini tidak menguji hipotesis atau tidak menggunakan
III. METODE PENELITIAN Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik. Penelitian ini tidak menguji hipotesis atau tidak menggunakan hipotesis, melainkan hanya mendeskripsikan
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 Nomor Katalog : 9302001.9416 Ukuran Buku : 14,80 cm x 21,00 cm Jumlah Halaman
KAJIAN STRUKTUR EKONOMI KABUPATEN BEKASI
KAJIAN STRUKTUR EKONOMI KABUPATEN BEKASI 1 YUHKA SUNDAYA, 2 INA HELENA AGUSTINA 1 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Islam Bandung Jl. Tamansari No. 1 Bandung, 40116
V. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Hotel dan Restoran Terhadap Perekonomian Kota Cirebon Berdasarkan Struktur Permintaan
60 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Peranan Sektor Hotel dan Restoran Terhadap Perekonomian Kota Cirebon Berdasarkan Struktur Permintaan Alat analisis Input-Output (I-O) merupakan salah satu instrumen yang
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor
VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Peranan Sektor Agroindustri Terhadap Perekonomian Kota Bogor Alat analisis Input-Output (I-O) merupakan salah satu instrumen yang secara komprehensif dapat digunakan untuk
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN. 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional Dalam penerbitan buku Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Tegal Tahun 2012 ruang lingkup penghitungan meliputi
V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010
65 V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010 5.1. Gambaran Umum dan Hasil dari Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Kabupaten Musi Rawas Tahun 2010 Pada bab ini dijelaskan
GAMBARAN UMUM SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI (SNSE) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR
GAMBARAN UMUM SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI (SNSE) KABUPATEN INDRAGIRI HILIR Pada bab ini dijelaskan mengenai gambaran umum SNSE Kabupaten Indragiri Hilir yang meliputi klasifikasi SNSE Kabupaten Indragiri
Boks 1. TABEL INPUT OUTPUT PROVINSI JAMBI TAHUN 2007
Boks 1. TABEL INPUT OUTPUT PROVINSI JAMBI TAHUN 2007 TABEL INPUT OUTPUT Tabel Input-Output (Tabel I-O) merupakan uraian statistik dalam bentuk matriks yang menyajikan informasi tentang transaksi barang
VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI MALUKU Sektor-Sektor Ekonomi Unggulan Provinsi Maluku
VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN WILAYAH KEPULAUAN PROVINSI MALUKU 6.1. Sektor-Sektor Ekonomi Unggulan Provinsi Maluku Aktivitas atau kegiatan ekonomi suatu wilayah dikatakan mengalami kemajuan,
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian Penelitian ini mencakup perekonomian nasional dengan obyek yang diteliti adalah peranan sektor kehutanan dalam perekonomian nasional dan perubahan struktur
IV. METODE PENELITIAN
IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur pada bulan Mei sampai dengan Juli 2004. 4.2. Jenis dan Sumber Data Data yang
INDIKATOR MAKROEKONOMI KABUPATEN PAKPAK BHARAT
L A P O R A N K A J I A N INDIKATOR MAKROEKONOMI KABUPATEN PAKPAK BHARAT K E R J A S A M A P R O D I P E R E N C A N A A N W I L A Y A H S E K O L A H P A S C A S A R A J A N A U N I V E R S I T A S S
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN. 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional
II. RUANG LINGKUP DAN METODE PENGHITUNGAN 2.1 Ruang Lingkup Penghitungan Pendapatan Regional Dalam penerbitan buku tahun 2013 ruang lingkup penghitungan meliputi 9 sektor ekonomi, meliputi: 1. Sektor Pertanian
Analisis Input-Output (I-O)
Analisis Input-Output (I-O) Di Susun Oleh: 1. Wa Ode Mellyawanty (20100430042) 2. Opissen Yudisyus (20100430019) 3. Murdiono (20100430033) 4. Muhammad Samsul (20100430008) 5. Kurniawan Yuda (20100430004)
TABEL INPUT OUTPUT UPDATING EKONOMI KREATIF 2014
BADAN PUSAT STATISTIK Jl. dr. Sutomo No. 6-8 Jakarta 10710 (021) 3841195, 3842508, 3810291-4, Fax (021) 3857046 [email protected] www.bps.go.id BADAN EKONOMI KREATIF Gedung Kementerian BUMN Lt. 15.17.18
III. METODE PENELITIAN. Data yang digunakan adalah data sekunder yang sebagian besar berasal
39 III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan adalah data sekunder yang sebagian besar berasal dari Tabel Input-Output Kota Bontang Tahun 2010 klasifikasi 46 sektor yang diagregasikan
III. METODE PENELITIAN
29 III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian adalah data sekunder berupa Tabel Input-Output Indonesia tahun 2008 yang diklasifikasikan menjadi 10 sektor dan
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ACEH TAMIANG
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO ACEH TAMIANG 2008 2011 NOMOR KATALOG : 9302008.1114 UKURAN BUKU JUMLAH HALAMAN : 21,00 X 28,50 CM : 78 HALAMAN + XIII NASKAH : - SUB BAGIAN TATA USAHA - SEKSI STATISTIK SOSIAL
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. pendapatan rata-rata masyarakat pada wilayah tersebut. Dalam menghitung
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep dan Definsi Pendapatan regional adalah tingkat (besarnya) pendapatan masyarakat pada wilayah analisis. Tingkat pendapatan dapat diukur dari total pendapatan wilayah maupun
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Pendapatan regional adalah tingkat (besarnya) pendapatan masyarakat pada
9 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep dan Definsi Pendapatan regional adalah tingkat (besarnya) pendapatan masyarakat pada wilayah analisis. Tingkat pendapatan dapat diukur dari total pendapatan wilayah
D a f t a r I s i. iii DAFTAR ISI. 2.8 Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 2.9 Sektor Jasa-Jasa 85
D a f t a r I s i Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Grafik Daftar Tabel DAFTAR ISI Daftar Tabel Pokok Produk Domestik Regional Bruto Kota Samarinda Tahun 2009-2011 BAB I PENDAHULUAN 1 1.1. Umum 1 1.2. Konsep
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Kabupaten Banjarnegara Pada sub bab ini akan dijelaskan mengenai peranan ekonomi sektoral ditinjau dari struktur permintaan, penerimaan
METODOLOGI. dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi di dalam suatu
II. METODOLOGI 2.1. Pengertian Produk Domestik Regional Bruto Produk Domestik Regional Bruto merupakan jumlah nilai produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi di dalam suatu
II. TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut, yaitu kenaikan
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Teoretis 2.1.1 Teori Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Pertumbuhan ekonomi wilayah merupakan pertambahan pendapatan masyarakat secara keseluruhan yang terjadi di wilayah tersebut,
III. KERANGKA PEMIKIRAN
21 III KERANGKA PEMIKIRAN 31 Kerangka Operasional Berdasarkan perumusan masalah, pembangunan daerah Provinsi Riau masih menghadapi beberapa masalah Permasalahan itu berupa masih tingginya angka kemiskinan,
Metodologi Pengertian Produk Domestik Regional Bruto Beberapa Pendekatan Penyusunan PDRB
BAB II METODOLOGI 2.1. Pengertian Produk Domestik Regional Bruto roduk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan jumlah nilai produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi di dalam
I. PENDAHULUAN. Distribusi Persentase PDRB Kota Bogor Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 Tahun
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Bogor merupakan sebuah kota yang berada di Provinsi Jawa Barat. Kedudukan Kota Bogor yang terletak di antara wilayah Kabupaten Bogor dan dekat dengan Ibukota Negara
IV METODOLOGI PENELITIAN
IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Provinsi Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat memiliki 25 kabupaten/kota. Peta lokasi penelitian disajikan pada Gambar 10.
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH
No. 06/08/72/Th. XIV, 5 Agustus 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan
I. PENDAHULUAN. dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan merupakan proses transformasi yang dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Pembangunan ekonomi dilakukan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. Katalog BPS :
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Katalog BPS : 9302008.53 KINERJA PEREKONOMIAN NUSA TENGGARA TIMUR 2013 KINERJA PEREKONOMIAN NUSA TENGGARA TIMUR 2013 Anggota Tim Penyusun : Pengarah :
Sumber : Tabel I-O Kota Tarakan Updating 2007, Data diolah
48 V. DUKUNGAN ANGGARAN DALAM OPTIMALISASI KINERJA PEMBANGUNAN BERBASIS SEKTOR UNGGULAN 5.1. Unggulan Kota Tarakan 5.1.1. Struktur Total Output Output merupakan nilai produksi barang maupun jasa yang dihasilkan
I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan pada pengembangan dan peningkatan laju pertumbuhan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang diarahkan pada pengembangan dan peningkatan laju pertumbuhan antar daerah. Pelaksanaan pembangunan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Suryana (2000 : 3), mengungkapkan pembangunan ekonomi adalah suatu proses yang menyebabkan pendapatan per kapita penduduk suatu masyarakat
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II 2013
No. 45/08/72/Th. XVI, 02 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II 2013 Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada
VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN MALUKU UTARA
VI. SEKTOR UNGGULAN DALAM STRUKTUR PEREKONOMIAN MALUKU UTARA 6.1. Perkembangan Peranan dan Pertumbuhan Ekonomi Sektoral Maluku Utara Kemajuan perekonomian daerah antara lain diukur dengan: pertumbuhan
BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA
BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 11/02/34/Th.XVI, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN SEBESAR 5,40 PERSEN Kinerja perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama tahun
DAFTAR ISI. : 1. Metha Herwulan Ningrum 2. Ir. Wieta B. Komalasari, Msi 3. Ir. Rumonang Gultom 4. Rinawati, SE 5. Yani Supriyati, SE. 2.
DAFTAR ISI Penjelasan Umum...1 Perkembangan PDB Indonesia dan PDB Sektor Pertanian, Tahun 2013-2014 Triwulan I...5 Kontribusi Setiap Lapangan Usaha Terhadap PDB Indonesia, Tahun 2013-2014 Triwulan I...8
PENDAHULUAN A. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang masih memegang peranan dalam peningkatan perekonomian nasional. Selain itu, sebagian besar penduduk Indonesia masih menggantungkan
PEDOMAN SURVEI KHUSUS STUDI PENYUSUNAN PERUBAHAN INVENTORI (SKSPPI-2014) BPS - PELOPOR STATISTIK TERPERCAYA UNTUK SEMUA BADAN PUSAT STATISTIK
PEDOMAN SURVEI KHUSUS STUDI PENYUSUNAN PERUBAHAN INVENTORI (SKSPPI-2014) BPS - PELOPOR STATISTIK TERPERCAYA UNTUK SEMUA BADAN PUSAT STATISTIK Jl. Dr. Sutomo No. 6-8, Kotak Pos 1003, Jakarta 10010 Telepon:
PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor industri mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Secara umum sektor ini memberikan kontribusi yang besar dalam pembentukan Produk Domestik Bruto
BAB II METODOLOGI 2.1. PENGERTIAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO. dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi di dalam suatu
BAB II METODOLOGI 2.1. PENGERTIAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO Produk Domestik Regional Bruto merupakan jumlah nilai produk barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit produksi di dalam suatu
PEDOMAN SURVEI KHUSUS STUDI PENYUSUNAN PERUBAHAN INVENTORI (SKSPPI-2015) BPS - PELOPOR STATISTIK TERPERCAYA UNTUK SEMUA BADAN PUSAT STATISTIK
PEDOMAN SURVEI KHUSUS STUDI PENYUSUNAN PERUBAHAN INVENTORI (SKSPPI-2015) BPS - PELOPOR STATISTIK TERPERCAYA UNTUK SEMUA BADAN PUSAT STATISTIK Jl. Dr. Sutomo No. 6-8, Kotak Pos 1003, Jakarta 10010 Telepon:
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. sektor, total permintaan Provinsi Jambi pada tahun 2007 adalah sebesar Rp 61,85
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Struktur Perekonomian Provinsi Jambi 5.1.1 Struktur Permintaan Berdasarkan tabel Input-Output Provinsi Jambi tahun 2007 klasifikasi 70 sektor, total permintaan Provinsi Jambi
ANALISA KETERKAITAN SEKTOR EKONOMI DENGAN MENGGUNAKAN TABEL INPUT - OUTPUT
ANALISA KETERKAITAN SEKTOR EKONOMI DENGAN MENGGUNAKAN TABEL INPUT - OUTPUT Pertumbuhan ekonomi NTT yang tercermin dari angka PDRB cenderung menunjukkan tren melambat. Memasuki awal tahun 2008 ekspansi
DAFTAR ISI. : 1. Metha Herwulan Ningrum 2. Ir. Wieta B. Komalasari, Msi 3. Ir. Rumonang Gultom 4. Rinawati, SE 5. Yani Supriyati, SE. 2.
DAFTAR ISI Halaman Penjelasan Umum...1 Perkembangan PDB Indonesia dan PDB Sektor Pertanian Triwulan IV Tahun 2012-2013...5 Kontribusi Setiap Lapangan Usaha Terhadap PDB Indonesia Tahun 2012-2013...8 Kontribusi
DAFTAR ISI. : 1. Metha Herwulan Ningrum 2. Ir. Wieta B. Komalasari, Msi 3. Ir. Rumonang Gultom 4. Rinawati, SE 5. Yani Supriyati, SE. 2.
DAFTAR ISI Halaman Penjelasan Umum...1 Perkembangan PDB Indonesia dan PDB Sektor Pertanian Triwulan II Tahun 2014...5 Kontribusi Setiap Lapangan Usaha Terhadap PDB Indonesia Triwulan II Tahun 2014...6
w tp :// w ht.b p w s. go.id PERKEMBANGAN INDEKS PRODUKSI INDUSTRI MANUFAKTUR BESAR DAN SEDANG 2011 2013 ISSN : 1978-9602 No. Publikasi : 05310.1306 Katalog BPS : 6102002 Ukuran Buku : 16 x 21 cm Jumlah
3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengumpulan Data
3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian lapangan dilaksanakan pada bulan Februari 2010 sampai April 2010 di PPS Nizam Zachman Jakarta. 3.2 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam penelitian
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH No. 06/05/72/Thn XIV, 25 Mei 2011 PEREKONOMIAN SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2011 MENGALAMI KONTRAKSI/TUMBUH MINUS 3,71 PERSEN Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah
METODE PENELITIAN. menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data sekunder adalah data yang
III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Menurut Sugiyono (2005:129) pengumpulan data dilakukan dengan berbagai setting, berbagai sumber, dan berbagai cara. Berdasarkan sumbernya, data dibedakan
I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan pendapatan perkapita penduduk yang diikuti oleh perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara. Pembangunan
DAFTAR ISI. : 1. Metha Herwulan Ningrum 2. Ir. Wieta B. Komalasari, Msi 3. Sri Wahyuningsih, S.Si 4. Rinawati, SE 5. Yani Supriyati, SE. 2.
DAFTAR ISI Halaman Penjelasan Umum...1 Perkembangan PDB Indonesia dan PDB Sektor Pertanian, Triwulan IV Tahun 2013 2014...5 Kontribusi Setiap Lapangan Usaha Terhadap PDB Indonesia, Triwulan IV Tahun 2013
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2014
No. 28/05/72/Thn XVII, 05 Mei 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2014 Perekonomian Sulawesi Tengah triwulan I-2014 mengalami kontraksi 4,57 persen jika dibandingkan dengan triwulan
BAB II KONSEP, DEFINISI DAN METODOLOGI
BAB II KONSEP, DEFINISI DAN METODOLOGI 1. KONSEP DAN DEFINISI Konsep-konsep yang digunakan dalam penghitungan Produk Regional Bruto (PDRB) adalah sebagai berikut : Domestik A. PRODUK DOMESTIK REGIONAL
PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO
PERKEMBANGAN PRODUK DOMESTIK BRUTO Triwulan II-29 Perekonomian Indonesia secara tahunan (yoy) pada triwulan II- 29 tumbuh 4,%, lebih rendah dari pertumbuhan triwulan sebelumnya (4,4%). Sementara itu, perekonomian
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. KATALOG BPS :
BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR. KATALOG BPS : Katalog BPS : 9302008.53 BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR KINERJA PEREKONOMIAN NUSA TENGGARA TIMUR 2013 KINERJA PEREKONOMIAN
BAB 4 METODE PENELITIAN
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Rancangan Penelitian yang digunakan Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitatif, yaitu penelitian yang sifatnya memberikan gambaran secara umum bahasan yang diteliti
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan atas sumber daya
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan atas sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan atas sumber daya air, sumber daya lahan, sumber daya hutan, sumber
PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2014 SEBESAR -2,98 PERSEN
2 BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 48/08/34/Th.XVI, 5 Agustus 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2014 SEBESAR -2,98 PERSEN Kinerja pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa
Katalog BPS :
Katalog BPS : 9902008.3373 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KOTA SALATIGA TAHUN 2011 KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas terbitnya publikasi Produk Domestik Regional Bruto Kota Salatiga
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2010
BADAN PUSAT STATISTIK No. 31/05/Th. XIII, 10 Mei 2010 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2010 EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2010 TUMBUH MENINGKAT 5,7 PERSEN Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014
No.51/08/33/Th.VIII, 5 Agustus 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014 Perekonomian Jawa Tengah yang diukur berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan II tahun
I. PENDAHULUAN. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Tahun
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Tahun 2004-2009 di Sektor Industri Manufaktur, Pemerintah Pusat memprioritaskan pengembangan agroindustri. Prioritas
PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2011 SEBESAR 7,96 PERSEN
BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 47/11/34/Th. XIII, 7 November 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2011 SEBESAR 7,96 PERSEN ekonomi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2013
No. 37/08/31/Th. XV, 2 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2013 Secara total, perekonomian DKI Jakarta pada triwulan II/2013 yang diukur berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan
BPS PROVINSI JAWA TENGAH
BPS PROVINSI JAWA TENGAH No.24/05/33/Th.IV, 10 Mei 2010 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2010 PDRB Jawa Tengah pada triwulan I tahun 2010 meningkat sebesar 6,5 persen dibandingkan triwulan
APLIKASI INPUT OUTPUT
APLIKASI INPUT OUTPUT Selama ini sebagian besar perencanaan pembangunan ekonomi daerah masih bersifat parsial dan belum dapat mendeteksi bagaimana dampak investasi pada suatu sektor terhadap struktur perekonomian
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor Industri merupakan salah satu sektor yang berperan penting dalam pembangunan nasional. Kontribusi sektor Industri terhadap pembangunan nasional setiap tahunnya
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2011
No.43/08/33/Th.V, 5 Agustus 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2011 PDRB Jawa Tengah pada triwulan II tahun 2011 meningkat sebesar 1,8 persen dibandingkan triwulan I tahun 2011 (q-to-q).
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH No.12/02/33/Th.VII, 5 Februari 2013 PERTUMBUHAN PDRB JAWA TENGAH TAHUN 2012 MENCAPAI 6,3 PERSEN Besaran PDRB Jawa Tengah pada tahun 2012 atas dasar harga berlaku mencapai
