II KAJIAN KEPUSTAKAAN. Ayam broiler yang saat ini dikembangkan peternak di seluruh dunia berasal

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "II KAJIAN KEPUSTAKAAN. Ayam broiler yang saat ini dikembangkan peternak di seluruh dunia berasal"

Transkripsi

1 9 II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Usaha Ayam Broiler Ayam broiler yang saat ini dikembangkan peternak di seluruh dunia berasal dari ayam hutan liar yang didomestikasi sekitar 8000 tahun yang lalu. Domestikasi lazim dilakukan dengan budidaya yang bertujuan mendapatkan daging, telur, dan bibit yang lebih baik. Budidaya ayam broiler secara komersial dimulai abad ke-19 yang secara bertahap menuju sistem moderen. Ayam broiler dapat menghasilkan daging relatif lebih banyak dalam waktu yang singkat. Ciri-ciri ayam broiler adalah: 1. Ukuran badan ayam broiler relatif besar, padat, dan berdaging penuh; 2. Bergerak lambat dan tenang; 3. Biasanya lebih lambat mengalami dewasa kelamin (Sudaryani dan Santosa, 1994). Jenis-jenis ayam ayam broiler yang telah dikenal dan banyak beredar di Indonesia adalah jenis ayam ras unggul yang merupakan keturunan terakhir dari persilangan dari pejantan ras White Cornish yang berasal dari Inggris dengan induk betina ras Plymouth rock yang berasal dari Amerika. Hasil persilangan yang dikembangkan dari kedua ras tersebut menghasilkan Day Old Chick (DOC) yang mempunyai daya tumbuh baik dan produksi yang tinggi, terutama dalam hal kemampuan mengubah ransum menjadi daging dengan cepat dan juga efesien. Ayam broiler usia satu sampai lima minggu memiliki tingkat pertumbuhan yang paling baik. Bobot jual pada usia lima atau enam minggu ayam broiler telah mencapai 1,4kg - 1,6kg/ekor. Ayam broiler hanya memerlukan siklus waktu maksimum enam minggu dalam setiap satu periode pemeliharaannya

2 10 (Rasyaf,_2004). Selain itu, Fadilah (2004) menyatakan bahwa keunggulan ayam broiler dilihat dari pertumbuhan berat badan yang terbentuk sangat didukung oleh: a. Temperatur udara lokasi peternakan stabil dan ideal untuk ayam ( C). b. Teknik pemeliharaan yang baik (dihasilkan produk yang memberikan keuntungan maksimal). c. Kawasan peternakan terbebas dari hama penyakit. Usaha ayam broiler merupakan salah satu jenis usaha yang sangat potensial dikembangkan karena masa produksi yang relatif pendek kurang lebih hari, produktivitasnya tinggi, harga yang relatif murah, dan permintaan yang semakin meningkat. Faktor-faktor yang mendukung usaha budidaya ayam broiler sebenarnya masih dapat terus dikembangkan, antara lain karena permintaan domestik terhadap ayam broiler masih sangat besar (Anggorodi, 1995). Usaha peternakan ayam broiler menurut Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No 472/KPTS/TN.330/6/1996, peternakan ayam broiler dengan jumlah ternak yang dipelihara tidak melebihi ekor per periode adalah usaha budidaya ayam ras yang dilakukan oleh perorangan secara individual atau kelompok usaha bersama (koperasi), sedangkan jumlah minimum yang harus dimiliki perusahaan peternakan adalah ekor per periode produksi (Suharno, 2002). Usaha peternakan ayam broiler pada awalnya merupakan usaha sampingan dari usaha peternakan ayam petelur dan masih jauh dari jangkauan usaha ekonomi yang berorientasi produksi dan pasar. Hal ini terjadi pada Tahun 1960 sampai Tahun 1969 dimana struktur usaha belum terpisah berdasarkan spesialisasi karena semua kegiatan agribisnis ayam broiler bersatu dalam peternakan itu sendiri, mulai dari pembuatan pakan dan pengadaan bibit.

3 11 Pada umumnya peternakan ayam broiler di Indonesia adalah peternakan yang berskala kecil dengan populasi rata-rata mencapai ekor (Rasyaf, 2008). Usaha peternakan ayam broiler dengan skala tersebut sangatlah rentan terhadap perubahan harga ayam broiler dipasaran sehingga peternak tersebut banyak yang mengalami kebangkrutan karena tidak bisa mengembalikan modal usahanya yang telah digunakan sebelumnya (Rasyaf, 1992). Periode usaha peternakan ayam broiler ini dikatakan beroperasi mulai usia satu hari sejak ditetaskan dan mulai dipelihara maka itulah yang disebut awal masa produksi atau hari pertama produksi. Kemudian perjalanan produksi tujuh hari ke depan maka itulah yang disebut satu minggu produksi. Apabila minggu produksi itu dijalankan dalam kurun waktu 5 kali minggu produksi atau kurang lebih 35 hari maka itulah yang dinamakan masa produksi. Pada masa ini ayam sudah siap dijual karena ayam sudah mencapai bobot tubuh yang ideal untuk dipanen. Bila kegiatan ini diulang ulang maka tiap kali masa produksi dinamakan satu masa produksi. Antara satu masa produksi dengan satu masa produksi berikut ada masa kosong selama dua minggu, artinya selama dua minggu kandang yang bersangkutan dikosongkan. Adapun tujuan dari pengosongan ini adalah untuk memutuskan siklus penyakit pada masa produksi sebelumnya ke masa produksi berikutnya (Rasyaf, 2004). Pada saat ini industri perunggasan di Indonesia berkembang sesuai dengan kemajuan perunggasan global yang mengarah kepada sasaran mencapai tingkat efisiensi usaha yang optimal, sehingga mampu bersaing dengan produk-produk unggas dari luar negeri. Pembangunan industri perunggasan menghadapi tantangan global yang mencakup kesiapan daya saing produk perunggasan, utamanya bila dikaitkan dengan lemahnya kinerja penyediaan bahan baku pakan, yang merupakan

4 % dari biaya produksi (Rasyaf, 2004). Dalam upaya meningkatkan daya saing produk perunggasan pastinya ada tantangan dibalik semua itu adalah dari segi sumber daya manusia (SDM) peternak ayam broiler, kualitas dari DOC, dan kualitas pakan. Hal ini dilakukan dengan tetap memperhatikan faktor internal seperti menerapkan efisiensi usaha, meningkatkan kualitas produk, menjamin kontinuitas produk dan sesuai dengan permintaan pasar (Rasyaf, 2002). 2.2 Pola Kemitraan Usaha Ayam Broiler Menurut kamus besar Bahasa Indonesia kemitraan berasal dari kata mitra yang berarti teman, kawan, pasangan kerja dan rekan. Kemitraan merupakan perihal hubungan atau jalinan kerjasama sebagai mitra. Definisi lain diungkapkan oleh Hafsah (1999) yang menyatakan bahwa kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama, dengan prinsip saling mambutuhkan dan saling membesarkan. Karena merupakan strategi bisnis maka keberhasilan kemitraan sangat ditentukan oleh adanya kepatuhan diantara yang bermitra dalam menjalankan etika bisnis. Permasalahan mendasar yang ada pada usaha kecil adalah kurangnya kemampuan manajemen dan profesionalisme serta terbatasnya akses terhadap permodalan, teknologi, dan jaringan pemasaran. Salah satu upaya untuk memecahkan masalah kesenjangan ini adalah melalui kemitraan usaha antara yang besar dan yang kecil, antara yang kuat dan yang lemah. Melalui kemitraan diharapkan akan dapat mengatasi kekurangan yang dimiliki masing-masing pihak yang bermitra, dan sekaligus dapat mempercepat kemampuan yang berekonomi lemah dan meningkatkan pendapatan masyarakat (Suparta, 2001).

5 13 Pembangunan ekonomi dengan pola kemitraan dapat dianggap sebagai usaha yang paling menguntungkan, terutama ditinjau dari pencapaian tujuan pembangunan jangka panjang. Hal ini didasari oleh perwujudan cita-cita pola kemitraan untuk melaksanakan sistem perekonomian gotong royong antara mitra yang kuat dari segi permodalan, pasar, dan kemampuan teknologi bersama peternak dengan modal usaha yang kecil dan tidak berpengalaman. Pada usaha ayam broiler, beberapa contoh perusahaan yang menerapkan sistem kemitraan adalah CV Danis Food, Unggas Jaya Abadi, Mitra Sinar Jaya, Primatama Karya Persada (PKP), Ciomas, dan Patriot. Adapun syarat-syarat kemitraan: perusahaan yang sebagai inti memiliki kewajiban menyediakan sarana produksi berupa DOC, pakan dan obat-obatan, memberikan bimbingan teknis manajemen, mengolah dan/atau memasarkan hasil produksi peternakan, mengusahakan permodalan, sedangkan peternak sebagai plasma berkewajiban menyediakan tenaga kerja, kandang berserta peralatan didalamnya untuk melaksanakan budidaya ayam broiler. Syarat-syarat keberhasilan hubungan kemitraan usaha peternakan ditentukan oleh beberapa hal, yaitu: 1. Jujur (Kedua belah pihak harus bersikap jujur satu sama lain dalam mengemukakan dan menilai sesuatu, terutama proses hubungan kemitraan); 2. Disiplin (Kedua belah pihak harus disiplin dan menjalankan hak dan kewajiban); 3. Terbuka (Kedua belah pihak harus selalu terbuka dalam menyampaikan dan menerima informasi); 4. Kerja keras (Kedua belah pihak harus sama-sama bekerja keras dalam melakukan tugas dan kewajiban); 5. Konskuen (Kedua belah pihak harus sama-sama konskuen dalam menjalankan apa yang menjadi kesepakatan bersama); 6. Konsisten (Kedua belah pihak harus tetap teguh dengan prinsip dan pendirian, tidak mudah terpengaruh isu yang belum

6 14 tentu benar dan menguntungkan); 7. Komunikatif (Kedua belah pihak harus selalu menjaga hubungan dan komunikasi yang harmonis dan lancar); dan 8. Perjanjian kesepakatan (Perjanjian kerjasama dibuat atas dasar kesepakatan yang terlebih dahulu diawali dengan pembahasan dari segala aspek oleh kedua belah pihak, untuk bersama-sama memperoleh keuntungan yang sewajarnya (Suparta, 2001). Kemitraan ayam Broiler di Indonesia terbagi menjadi 3 sistem yaitu bagi hasil, harga kontrak, dan manajemen fee atau makloon (makloon ). Meskipun dasar perhitungan laba rugi dalam sistem kemitraan tersebut adalah indeks produksi (IP). Persyaratannya pun beragam disesuaikan lingkungan dan budaya. Perbedaan 3 pola kemitraan ayam Broiler yaitu: a. Kemitraan harga kontrak: - Tidak terpaut dengan harga ayam di pasaran (harga mengikat), harga sesuai perjanjian. - Kerugian ditanggung peternak (kekeluargaan). - Jika terjadi musibah alam atau wabah penyakit, kerugian ditanggung inti. - Jika kerugian akibat keteledoran peternak, kerugian ditanggung plasma. b. Kemitraan bagi hasil: - Harga pokok/sapronak terbuka, ditentukan di muka. - Kerugian ditanggung bersama. - Harga panen tergantung pasar. - Inti menjamin plasma tetap mendapat keuntungan c. Kemitraan makloon : - Biaya operasional dihitung inti. - Kerugian ditanggung inti. - Harga panen mengikuti pasar.

7 Produktivitas Tenaga Kerja Tenaga kerja adalah sumber daya manusia yang diperlukan untuk mengelola proses produksi. Kualitas sumber daya manusia yang digunakan mempengaruhi kualitas ternak yang dihasilkan (Rasyaf, 2008). Tenaga kerja sangat diperlukan untuk kegiatan operasional kandang, seperti pemberian pakan, pemberian minum, pelaksanaan vaksinasi, pengaturan pemanas, pembersihan kandang dan sebagainya. Tenaga kerja yang digunakan dalam usaha ternak ayam broiler adalah tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan pengalaman di dunia peternakan. Produktivitas kerja sebenarnya mencakup tentang suatu sikap mental yang selalu mempunyai pandangan kehidupan mengenai pelaksanaan produksi di dalam suatu perusahaan di mana dalam memproduksi untuk hari ini diharapkan lebih baik dari hari kemarin begitu juga sistem kerjanya. Seseorang selalu mencari perbaikanperbaikan dengan berfikir dinamis, kreatif dan terbuka. Pengertian dari produktivitas, berikut ini pembahasan yang dikemukakan oleh Sukamto (1995), dalam bukunya yang berjudul manajemen produksi replasi menyatakan bahwa produktivitas adalah nilai output dalam hubungan dengan suatu kesatuan input tertentu. Peningkatan produktivitas yang berarti jumlah sumber daya yang digunakan dengan jumlah barang dan jasa yang diproduksi semakin meningkat dan membaik; sedangkan menurut Moekijat (1999), produktivitas adalah Perbandingan jumlah keluaran (output) tertentu dengan jumlah masukan (input) tertentu untuk jangka waktu tertentu.

8 16 Dewan Produktivitas Nasional Indonesia telah merumuskan definisi produktivitas secara lengkap yaitu sebagai berikut (Umar, 1998): a. Produktivitas pada dasarnya merupakan suatu sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. b. Secara umum produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input). c. Produktivitas mempunyai dua dimensi, yaitu efektivitas yang mengarah pada pencapaian unjuk kerja yang maksimal yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Yang kedua efisiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan input dengan realisasi penggunaannya atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan. Menurut Djamali (2000) produktivitas tenaga kerja adalah kemampuan produksi yang dihasilkan setiap satu satuan tenaga kerja yang digunakan. Nilai produktivitas tenaga kerja merupakan hasil perbandingan antara total nilai produk dengan jumlah hari kerja produktif (HKP). Perhitungan produktivitas tenaga kerja dalam bidang peternakan dapat dihitung dengan membandingkan nilai indeks produksi (IP) dengan jumlah hari kerja produktif (HKP). Indeks produksi (IP) adalah angka yang menunjukkan suatu keberhasilan proses produksi ayam broiler dalam satu periode. IP terpengaruh oleh daya hidup ternak, kematian, FCR, bobot badan dan usia panen. Menurut Santoso dan Sudaryani (2009), nilai indeks peroduksi pada pemeliharaan ayam broiler digolongkan menjadi lima kelompok. Indeks produksi yang lebih rendah dari 280 tergolong dalam kategori kurang, nilai produksi tergolong dalam kategori

9 17 cukup, kisaran nilai indeks produksi tergolong dalam kategori baik, kisaran nilai indeks produksi tergolong dalam kategori sangat baik dan nilai indeks produksi pada pemeliharaan ayam broiler >400 tergolong dalam kategori istimewa. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja adalah: a. Keahlian, merupakan faktor penting dan harus dimiliki oleh pengawas pelaksana maupun pemimpin. b. Pengalaman, faktor pengalaman sangat erat hubungannya dengan intelegensi, yaitu kesanggupan karyawan dalam menyelesaikan tugas-tugas tertentu dengan hasil yang tidak saja ditentukan oleh pengalaman tertentu tapi juga harus didukung oleh intelegensi. c. Usia, umumnya tenaga kerja yang sudah berusia lanjut mempunyai tenaga fisik relatif terbatas daripada tenaga kerja yang masih muda, untuk itu peternakan lebih banyak mengunakan tenaga kerja yang lebih muda karena fisiknya lebih kuat. d. Keadaan fisik, keadaan fisik erat hubungannya dengan tugas yang dihadapi. Misalnya pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik e. Pendidikan, pendidikan sering dihubungkan dengan latihan-latihan yang umunya menunjukkan kesanggupan kerja. f. Bakat dan temperamen, mempunyai peranan penting dalam menunjang kesuksesan kerja. Bakat dan temperamen berhubungan dengan sifat-sifat khusus dari kepribadian seseorang dan dianggap bukan dipengaruhi oleh alam sekitar.

10 18 g. Curahan tenaga kerja, Menurut Soekartawi (1990), Anggapan yang biasa dipakai tanpa memperhatikan kebiasaan bekerja adalah delapan (8) jam kerja sama dengan satu hari kerja, oleh karena itu dalam prakteknya digunakan ukuran setara jam kerja pria dewasa atau hari kerja produktif (HKP). Secara garis besar faktor-faktor yang berpengaruh tergadap produktivitas kerja adalah Maurits (2010) : a. Faktor dari dalam diri pekerja, misalnya keadaan psikis, fisik (kelelahan pekerja), usia, bakat, karakter, pengalaman, keahlian, pendidikan, kepuasan kerja, motivasi kerja, semangat kerja, dan persepsi pekerja terhadap gaji. b. Faktor dari luar diri pekerja, misalnya penerangan, kebisingan, musik ditempat kerja, waktu istirahat, jam kerja, sistem penggajian, dan tanggung jawab keluarga. 2.4 Efisiensi Penggunaan Tenaga Kerja Pada usaha ternak ayam broiler, jumlah tenaga kerja disesuaikan dengan jumlah populasi ayam broiler yang dipelihra. Umumnya jumlah populasi ayam broiler sebanyak ekor mampu dipelihara oleh satu orang tenaga kerja, jika pengelolaan usaha secara manual atau tanpa alat-alat otomatis. Apabila usaha ayam broiler pengelolaannya moderen (close house) maka satu orang tenaga kerja mampu memelihara sebanyak ekor ayam broiler (Rasyaf, 2002). Muchdoro (1997) menyatakan efisiensi adalah tingkat kehematan dalam menggunakan sumber daya yang ada dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa efisiensi penggunaan tenaga kerja dalam usaha ayam broiler adalah memilimalisir jumlah tenaga kerja

11 19 yang digunakan dalam usaha, namun tetap menghasilkan produksi yang baik dan tinggi, dan meminimalisir pemborosan dalam segi waktu dan biaya. Huri dan Susilowati (2004) menjelaskan bahwa efisiensi dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara keluaran (output) dengan masukan (input), atau jumlah keluaran yang dihasilkan dari satu input yang digunakan. Perhitungan efisiensi dalam penggunaan tenaga kerja dapat dihitung dengan membandingkan faktor input yaitu jumlah tenaga kerja dengan hasil produksi suatu usaha (output). Ada tiga faktor yang mempengaruhi efisiensi, sebagai berikut: a. Input yang sama menghasilkan output yang lebih besar. b. Input yang lebih kecil menghasilkan output yang sama. c. Input yang besar menghasilkan output yang lebih besar. 2.5 Perhitungan Efisiensi Metode DEA (Data envelopment analysis) DEA, data envelopment analysis adalah suatu teknik pemrograman matematis yang digunakan untuk mengevaluasi efisiensi relatif dari sebuah kumpulan unit-unit pembuat keputusan (decision making unit) dalam mengolah sumber daya (input) sehingga menjadi hasil (output) dimana hubungan bentuk fungsi dari input ke output tidak diketahui. Thanassoulis (2001) mendefinisikan DEA sebagai suatu metode yang dapat digunakan untuk mengukur efisiensi komparatif dari unit operasi homogen. DEA menggunakan teknis program matematis yang dapat menangani variabel dan batasan yang banyak, dan tidak membatasi input dan output yang akan dipilih karena teknis yang dipakai dapat mengatasinya. Decision making unit (yang selanjutnya disingkat DMU) adalah organisasi-organisasi atau entitas yang diukur efisiensinya secara relatif terhadap sekelompok entitas lainnya yang homogen. Homogen berarti input dan output dari DMU yang dievaluasi harus sama/sejenis.

12 20 Metode DEA adalah metode non parametrik. DEA mengasumsikan bahwa tidak semua entitas adalah efisien. DEA mampu menganalisis lebih dari satu input dan output dengan menggunakan model program linier yang menghasilkan nilai efisiensi tunggal untuk setiap penelitian. Sebuah usaha berdasarkan indeks efisiensinya digolongkan menjadi 4 tingkatan yaitu: tingkat efisiensi rendah (θ 0,64), tingkat efisiensi sedang (0,65 θ 0,85), tingkat efisiensi tinggi (0,86 θ 0,99), dan tingkat efisiensi maksimal (θ=1,00) (Radja, 2004 dalam Firmansyah, 2007). DEA dikembangkan oleh Charnes, Cooper, dan Rhodes Tahun 1978 yang dikenal dengan model CCR. Dalam model ini, suatu tingkat efisiensi dihitung melalui rasio output terhadap input dengan pembobotannya masing-masing. Untuk menentukan bobot tersebut dilakukan dengan program linier. Program linier merupakan sebuah model matematis yang mempunyai 2 komponen tujuan dan kendala. Fungsi tujuan terdiri dari variabel-variabel keputusan. Contoh dari fungsi tujuan misalnya maksimasi laba atau minimasi biaya. Kendala merupakan pembatas dari pencapaian yang didasarnya membentuk sebuah garis batas dengan menggunakan unit-unit yang efisien. Mengoperasikan DEA perlu diperhatikan konsep-konsep dasar yang harus dipenuhi. Konsep dasar DEA adalah: a. Positivity, artinya DEA mensyaratkan semua variabel input dan output bernilai positif (>0), b. Isotonicity, artinya antara variabel input dan outputnya harus menjalin hubungan yang isotonis, yaitu untuk setiap kenalika/pertambahan jumlah input harus menghasilkan kenaikan setidaknya satu variabel output, dan tidak ada variabel output yang mengalami penurunan.

13 21 c. Jumlah DMU adalah Tiga kali jumlah variabel input dan outputnya, untuk memastikan adanya degress of freedom. d. Homogenity, artinya DEA menuntut seluruh DMU memiliki variabel input dan output yang sama jenisnya. Konsep dasar penggunaan DEA menurut Cooper, Seiford, Tone (2002) adalah : a. Harus tersedia data numerial bagi setiap input dan output. Data diasumsikan bernilai positif untuk semua DMU b. Pemilihan input, output, dan DMU yang akan dimasukkan dalam perhitungan efisiensi DMU harus merefleksikan minat dari analis atau manajer. c. Pada prinsipnya semakin banyak jumlah input dan semakin banyak jumlah output akan lebih baik dalam perhitungan skor efisiensi. Pengukuran efisiensi dengan menggunakan DEA terdapat dua model yang digunakan, yaitu: a. Constant return to scale Model DEA yang berorientasi pada input berdasarkan asumsi constant return to scale dikenal dengan model CCR. Dalam model constant return to scale setiap DMU dibandingkan dengan seluruh DMU yang ada di sampel dengan asumsi bahawa kondisi internal dan eskternal DMU adalah sama (Charnes dkk, 1978). Kritik terhadap asumsi ini adalah bahwa constant return to scale hanya sesuai dengan sumber daya (input) yang sama dan menghasilkan output yang sama pula tetapi kondisi internal dan eksternalnya mungkin berbeda sehingga dapat mengakibatkan sebuah DMU tidak beroperasi pada skala optimal.

14 22 Model CRS yang memiliki asumsi hanya sesuai digunakan ketika semua DMU beroprasi pada skala optimal, walaupun faktor-faktor seperti kompetisi yang tidak sempurna dan hambatan-hambatan dalam keuangan menyebabkan sebuah DMU tidak dapat beroprasi pada skala optimal, akibatnya penggunaan model CRS ketika beberapa DMU tidak beroperasi pada skala optimal akan mengakibatkan technical efficiency yang tidak sesuai karena scale efficiency yang tidak sesuai pula. Konsep pendekatan model ini adalah constant return to scale yang artinya penambahan satu input harus menambah satu output, jika input ditambah sebesar x kali, maka output akan meningkat sebesar x kali juga. Menurut Charnes, Cooper dan Rhodes model ini dapat menunjukkan technical efficiency secara keseluruhan atau nilai dari profit efficiency untuk setiap DMU. b. Variabel Return to Scale Kelemahan asumsi constant return to scale memunculkan asumsi lain yaitu variable return to scale. Model ini pertama kali diperkenalkan oleh Banker, Charner dan Cooper. Sehingga model ini dikenal dengan BBC. Model ini merupakan pengembangan dari model constant return to scale. Model asumsi ini adalah variable return to scale yang artinya bahwa penambahan input sebesar x kali tidak akan menyebabkan output meningkat sebesar x kali, bisa lebih kecil atau lebih besar. Pendekatan ini relatif tepat digunakan dalam menganalisis efisiensi kinerja pada suatu perusahaan jasa. Avkiran (1999) menyebutkan bahwa variable return to scale merupakan asumsi yang lebih tepat digunakan untuk sampel besar. Variabel Return to Scale menggambarkan technical efficiency dan scale efficiency. Pure technical efficiency menggambarkan suatu DMU atau perusahaan dapat beroperasi pada skala produksi yang tepat.

15 23 Pemilihan metode DEA mempunyai keunggulan dan kelemahan dibandingkan metode yang lain. Keunggulan DEA adalah: a. Bisa mengolah banyak input dan output. b. Tidak butuh asumsi adanya hubungan fungsional antara variabel input dengan output. c. DMU dibandingkan secara langsung dengan sesamanya (homogen). Sedangkan kelemahan DEA dibandingkan dengan metode yang lain adalah : a. Bersifat sampel selection. b. Kesalahan pengukuran bisa berakibat fatal. c. Hanya mengukur efisiensi relatif dari DMU, dan bukan efisiensi absolut. Pengukuran data dengan menggunakan DEA dapat menggunakan dua orientasi pengukuran yaitu: a. Pengukuran Berorientasi Input (Input Oriented Measures) Pengukuran berorientasi input menunjukkan sejumlah input yang dapat dikurangi secara proporsional tanpa mengubah jumlah output yang dihasilkan. Dengan menggunakan model berorientasi input, maka model tersebut akan menghitung pengurangan input yang diperlukan untuk menghasilkan kinerja yang efisien dengan output yang tetap. b. Pengukuran Berorientasi Output (Output Oriented Measures) Pengukuran berorientasi output mengukur apabila sejumlah output dapat ditingkatkan secara proprosional tanpa mengubah jumlah input yang digunakan. Dengan menggunakan model yang berorientasi output, maka model tersebut akan menghitung peningkatan output yang diperlukan untuk menghasilkan kinerja yang efisien dengan input yang tetap.