II KAJIAN KEPUSTAKAAN. Ayam broiler yang saat ini dikembangkan peternak di seluruh dunia berasal

Save this PDF as:
Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "II KAJIAN KEPUSTAKAAN. Ayam broiler yang saat ini dikembangkan peternak di seluruh dunia berasal"

Transkripsi

1 9 II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Usaha Ayam Broiler Ayam broiler yang saat ini dikembangkan peternak di seluruh dunia berasal dari ayam hutan liar yang didomestikasi sekitar 8000 tahun yang lalu. Domestikasi lazim dilakukan dengan budidaya yang bertujuan mendapatkan daging, telur, dan bibit yang lebih baik. Budidaya ayam broiler secara komersial dimulai abad ke-19 yang secara bertahap menuju sistem moderen. Ayam broiler dapat menghasilkan daging relatif lebih banyak dalam waktu yang singkat. Ciri-ciri ayam broiler adalah: 1. Ukuran badan ayam broiler relatif besar, padat, dan berdaging penuh; 2. Bergerak lambat dan tenang; 3. Biasanya lebih lambat mengalami dewasa kelamin (Sudaryani dan Santosa, 1994). Jenis-jenis ayam ayam broiler yang telah dikenal dan banyak beredar di Indonesia adalah jenis ayam ras unggul yang merupakan keturunan terakhir dari persilangan dari pejantan ras White Cornish yang berasal dari Inggris dengan induk betina ras Plymouth rock yang berasal dari Amerika. Hasil persilangan yang dikembangkan dari kedua ras tersebut menghasilkan Day Old Chick (DOC) yang mempunyai daya tumbuh baik dan produksi yang tinggi, terutama dalam hal kemampuan mengubah ransum menjadi daging dengan cepat dan juga efesien. Ayam broiler usia satu sampai lima minggu memiliki tingkat pertumbuhan yang paling baik. Bobot jual pada usia lima atau enam minggu ayam broiler telah mencapai 1,4kg - 1,6kg/ekor. Ayam broiler hanya memerlukan siklus waktu maksimum enam minggu dalam setiap satu periode pemeliharaannya

2 10 (Rasyaf,_2004). Selain itu, Fadilah (2004) menyatakan bahwa keunggulan ayam broiler dilihat dari pertumbuhan berat badan yang terbentuk sangat didukung oleh: a. Temperatur udara lokasi peternakan stabil dan ideal untuk ayam ( C). b. Teknik pemeliharaan yang baik (dihasilkan produk yang memberikan keuntungan maksimal). c. Kawasan peternakan terbebas dari hama penyakit. Usaha ayam broiler merupakan salah satu jenis usaha yang sangat potensial dikembangkan karena masa produksi yang relatif pendek kurang lebih hari, produktivitasnya tinggi, harga yang relatif murah, dan permintaan yang semakin meningkat. Faktor-faktor yang mendukung usaha budidaya ayam broiler sebenarnya masih dapat terus dikembangkan, antara lain karena permintaan domestik terhadap ayam broiler masih sangat besar (Anggorodi, 1995). Usaha peternakan ayam broiler menurut Surat Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No 472/KPTS/TN.330/6/1996, peternakan ayam broiler dengan jumlah ternak yang dipelihara tidak melebihi ekor per periode adalah usaha budidaya ayam ras yang dilakukan oleh perorangan secara individual atau kelompok usaha bersama (koperasi), sedangkan jumlah minimum yang harus dimiliki perusahaan peternakan adalah ekor per periode produksi (Suharno, 2002). Usaha peternakan ayam broiler pada awalnya merupakan usaha sampingan dari usaha peternakan ayam petelur dan masih jauh dari jangkauan usaha ekonomi yang berorientasi produksi dan pasar. Hal ini terjadi pada Tahun 1960 sampai Tahun 1969 dimana struktur usaha belum terpisah berdasarkan spesialisasi karena semua kegiatan agribisnis ayam broiler bersatu dalam peternakan itu sendiri, mulai dari pembuatan pakan dan pengadaan bibit.

3 11 Pada umumnya peternakan ayam broiler di Indonesia adalah peternakan yang berskala kecil dengan populasi rata-rata mencapai ekor (Rasyaf, 2008). Usaha peternakan ayam broiler dengan skala tersebut sangatlah rentan terhadap perubahan harga ayam broiler dipasaran sehingga peternak tersebut banyak yang mengalami kebangkrutan karena tidak bisa mengembalikan modal usahanya yang telah digunakan sebelumnya (Rasyaf, 1992). Periode usaha peternakan ayam broiler ini dikatakan beroperasi mulai usia satu hari sejak ditetaskan dan mulai dipelihara maka itulah yang disebut awal masa produksi atau hari pertama produksi. Kemudian perjalanan produksi tujuh hari ke depan maka itulah yang disebut satu minggu produksi. Apabila minggu produksi itu dijalankan dalam kurun waktu 5 kali minggu produksi atau kurang lebih 35 hari maka itulah yang dinamakan masa produksi. Pada masa ini ayam sudah siap dijual karena ayam sudah mencapai bobot tubuh yang ideal untuk dipanen. Bila kegiatan ini diulang ulang maka tiap kali masa produksi dinamakan satu masa produksi. Antara satu masa produksi dengan satu masa produksi berikut ada masa kosong selama dua minggu, artinya selama dua minggu kandang yang bersangkutan dikosongkan. Adapun tujuan dari pengosongan ini adalah untuk memutuskan siklus penyakit pada masa produksi sebelumnya ke masa produksi berikutnya (Rasyaf, 2004). Pada saat ini industri perunggasan di Indonesia berkembang sesuai dengan kemajuan perunggasan global yang mengarah kepada sasaran mencapai tingkat efisiensi usaha yang optimal, sehingga mampu bersaing dengan produk-produk unggas dari luar negeri. Pembangunan industri perunggasan menghadapi tantangan global yang mencakup kesiapan daya saing produk perunggasan, utamanya bila dikaitkan dengan lemahnya kinerja penyediaan bahan baku pakan, yang merupakan

4 % dari biaya produksi (Rasyaf, 2004). Dalam upaya meningkatkan daya saing produk perunggasan pastinya ada tantangan dibalik semua itu adalah dari segi sumber daya manusia (SDM) peternak ayam broiler, kualitas dari DOC, dan kualitas pakan. Hal ini dilakukan dengan tetap memperhatikan faktor internal seperti menerapkan efisiensi usaha, meningkatkan kualitas produk, menjamin kontinuitas produk dan sesuai dengan permintaan pasar (Rasyaf, 2002). 2.2 Pola Kemitraan Usaha Ayam Broiler Menurut kamus besar Bahasa Indonesia kemitraan berasal dari kata mitra yang berarti teman, kawan, pasangan kerja dan rekan. Kemitraan merupakan perihal hubungan atau jalinan kerjasama sebagai mitra. Definisi lain diungkapkan oleh Hafsah (1999) yang menyatakan bahwa kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama, dengan prinsip saling mambutuhkan dan saling membesarkan. Karena merupakan strategi bisnis maka keberhasilan kemitraan sangat ditentukan oleh adanya kepatuhan diantara yang bermitra dalam menjalankan etika bisnis. Permasalahan mendasar yang ada pada usaha kecil adalah kurangnya kemampuan manajemen dan profesionalisme serta terbatasnya akses terhadap permodalan, teknologi, dan jaringan pemasaran. Salah satu upaya untuk memecahkan masalah kesenjangan ini adalah melalui kemitraan usaha antara yang besar dan yang kecil, antara yang kuat dan yang lemah. Melalui kemitraan diharapkan akan dapat mengatasi kekurangan yang dimiliki masing-masing pihak yang bermitra, dan sekaligus dapat mempercepat kemampuan yang berekonomi lemah dan meningkatkan pendapatan masyarakat (Suparta, 2001).

5 13 Pembangunan ekonomi dengan pola kemitraan dapat dianggap sebagai usaha yang paling menguntungkan, terutama ditinjau dari pencapaian tujuan pembangunan jangka panjang. Hal ini didasari oleh perwujudan cita-cita pola kemitraan untuk melaksanakan sistem perekonomian gotong royong antara mitra yang kuat dari segi permodalan, pasar, dan kemampuan teknologi bersama peternak dengan modal usaha yang kecil dan tidak berpengalaman. Pada usaha ayam broiler, beberapa contoh perusahaan yang menerapkan sistem kemitraan adalah CV Danis Food, Unggas Jaya Abadi, Mitra Sinar Jaya, Primatama Karya Persada (PKP), Ciomas, dan Patriot. Adapun syarat-syarat kemitraan: perusahaan yang sebagai inti memiliki kewajiban menyediakan sarana produksi berupa DOC, pakan dan obat-obatan, memberikan bimbingan teknis manajemen, mengolah dan/atau memasarkan hasil produksi peternakan, mengusahakan permodalan, sedangkan peternak sebagai plasma berkewajiban menyediakan tenaga kerja, kandang berserta peralatan didalamnya untuk melaksanakan budidaya ayam broiler. Syarat-syarat keberhasilan hubungan kemitraan usaha peternakan ditentukan oleh beberapa hal, yaitu: 1. Jujur (Kedua belah pihak harus bersikap jujur satu sama lain dalam mengemukakan dan menilai sesuatu, terutama proses hubungan kemitraan); 2. Disiplin (Kedua belah pihak harus disiplin dan menjalankan hak dan kewajiban); 3. Terbuka (Kedua belah pihak harus selalu terbuka dalam menyampaikan dan menerima informasi); 4. Kerja keras (Kedua belah pihak harus sama-sama bekerja keras dalam melakukan tugas dan kewajiban); 5. Konskuen (Kedua belah pihak harus sama-sama konskuen dalam menjalankan apa yang menjadi kesepakatan bersama); 6. Konsisten (Kedua belah pihak harus tetap teguh dengan prinsip dan pendirian, tidak mudah terpengaruh isu yang belum

6 14 tentu benar dan menguntungkan); 7. Komunikatif (Kedua belah pihak harus selalu menjaga hubungan dan komunikasi yang harmonis dan lancar); dan 8. Perjanjian kesepakatan (Perjanjian kerjasama dibuat atas dasar kesepakatan yang terlebih dahulu diawali dengan pembahasan dari segala aspek oleh kedua belah pihak, untuk bersama-sama memperoleh keuntungan yang sewajarnya (Suparta, 2001). Kemitraan ayam Broiler di Indonesia terbagi menjadi 3 sistem yaitu bagi hasil, harga kontrak, dan manajemen fee atau makloon (makloon ). Meskipun dasar perhitungan laba rugi dalam sistem kemitraan tersebut adalah indeks produksi (IP). Persyaratannya pun beragam disesuaikan lingkungan dan budaya. Perbedaan 3 pola kemitraan ayam Broiler yaitu: a. Kemitraan harga kontrak: - Tidak terpaut dengan harga ayam di pasaran (harga mengikat), harga sesuai perjanjian. - Kerugian ditanggung peternak (kekeluargaan). - Jika terjadi musibah alam atau wabah penyakit, kerugian ditanggung inti. - Jika kerugian akibat keteledoran peternak, kerugian ditanggung plasma. b. Kemitraan bagi hasil: - Harga pokok/sapronak terbuka, ditentukan di muka. - Kerugian ditanggung bersama. - Harga panen tergantung pasar. - Inti menjamin plasma tetap mendapat keuntungan c. Kemitraan makloon : - Biaya operasional dihitung inti. - Kerugian ditanggung inti. - Harga panen mengikuti pasar.

7 Produktivitas Tenaga Kerja Tenaga kerja adalah sumber daya manusia yang diperlukan untuk mengelola proses produksi. Kualitas sumber daya manusia yang digunakan mempengaruhi kualitas ternak yang dihasilkan (Rasyaf, 2008). Tenaga kerja sangat diperlukan untuk kegiatan operasional kandang, seperti pemberian pakan, pemberian minum, pelaksanaan vaksinasi, pengaturan pemanas, pembersihan kandang dan sebagainya. Tenaga kerja yang digunakan dalam usaha ternak ayam broiler adalah tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan pengalaman di dunia peternakan. Produktivitas kerja sebenarnya mencakup tentang suatu sikap mental yang selalu mempunyai pandangan kehidupan mengenai pelaksanaan produksi di dalam suatu perusahaan di mana dalam memproduksi untuk hari ini diharapkan lebih baik dari hari kemarin begitu juga sistem kerjanya. Seseorang selalu mencari perbaikanperbaikan dengan berfikir dinamis, kreatif dan terbuka. Pengertian dari produktivitas, berikut ini pembahasan yang dikemukakan oleh Sukamto (1995), dalam bukunya yang berjudul manajemen produksi replasi menyatakan bahwa produktivitas adalah nilai output dalam hubungan dengan suatu kesatuan input tertentu. Peningkatan produktivitas yang berarti jumlah sumber daya yang digunakan dengan jumlah barang dan jasa yang diproduksi semakin meningkat dan membaik; sedangkan menurut Moekijat (1999), produktivitas adalah Perbandingan jumlah keluaran (output) tertentu dengan jumlah masukan (input) tertentu untuk jangka waktu tertentu.

8 16 Dewan Produktivitas Nasional Indonesia telah merumuskan definisi produktivitas secara lengkap yaitu sebagai berikut (Umar, 1998): a. Produktivitas pada dasarnya merupakan suatu sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini lebih baik dari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. b. Secara umum produktivitas mengandung pengertian perbandingan antara hasil yang dicapai (output) dengan keseluruhan sumber daya yang digunakan (input). c. Produktivitas mempunyai dua dimensi, yaitu efektivitas yang mengarah pada pencapaian unjuk kerja yang maksimal yaitu pencapaian target yang berkaitan dengan kualitas, kuantitas dan waktu. Yang kedua efisiensi yang berkaitan dengan upaya membandingkan input dengan realisasi penggunaannya atau bagaimana pekerjaan tersebut dilaksanakan. Menurut Djamali (2000) produktivitas tenaga kerja adalah kemampuan produksi yang dihasilkan setiap satu satuan tenaga kerja yang digunakan. Nilai produktivitas tenaga kerja merupakan hasil perbandingan antara total nilai produk dengan jumlah hari kerja produktif (HKP). Perhitungan produktivitas tenaga kerja dalam bidang peternakan dapat dihitung dengan membandingkan nilai indeks produksi (IP) dengan jumlah hari kerja produktif (HKP). Indeks produksi (IP) adalah angka yang menunjukkan suatu keberhasilan proses produksi ayam broiler dalam satu periode. IP terpengaruh oleh daya hidup ternak, kematian, FCR, bobot badan dan usia panen. Menurut Santoso dan Sudaryani (2009), nilai indeks peroduksi pada pemeliharaan ayam broiler digolongkan menjadi lima kelompok. Indeks produksi yang lebih rendah dari 280 tergolong dalam kategori kurang, nilai produksi tergolong dalam kategori

9 17 cukup, kisaran nilai indeks produksi tergolong dalam kategori baik, kisaran nilai indeks produksi tergolong dalam kategori sangat baik dan nilai indeks produksi pada pemeliharaan ayam broiler >400 tergolong dalam kategori istimewa. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja adalah: a. Keahlian, merupakan faktor penting dan harus dimiliki oleh pengawas pelaksana maupun pemimpin. b. Pengalaman, faktor pengalaman sangat erat hubungannya dengan intelegensi, yaitu kesanggupan karyawan dalam menyelesaikan tugas-tugas tertentu dengan hasil yang tidak saja ditentukan oleh pengalaman tertentu tapi juga harus didukung oleh intelegensi. c. Usia, umumnya tenaga kerja yang sudah berusia lanjut mempunyai tenaga fisik relatif terbatas daripada tenaga kerja yang masih muda, untuk itu peternakan lebih banyak mengunakan tenaga kerja yang lebih muda karena fisiknya lebih kuat. d. Keadaan fisik, keadaan fisik erat hubungannya dengan tugas yang dihadapi. Misalnya pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik e. Pendidikan, pendidikan sering dihubungkan dengan latihan-latihan yang umunya menunjukkan kesanggupan kerja. f. Bakat dan temperamen, mempunyai peranan penting dalam menunjang kesuksesan kerja. Bakat dan temperamen berhubungan dengan sifat-sifat khusus dari kepribadian seseorang dan dianggap bukan dipengaruhi oleh alam sekitar.

10 18 g. Curahan tenaga kerja, Menurut Soekartawi (1990), Anggapan yang biasa dipakai tanpa memperhatikan kebiasaan bekerja adalah delapan (8) jam kerja sama dengan satu hari kerja, oleh karena itu dalam prakteknya digunakan ukuran setara jam kerja pria dewasa atau hari kerja produktif (HKP). Secara garis besar faktor-faktor yang berpengaruh tergadap produktivitas kerja adalah Maurits (2010) : a. Faktor dari dalam diri pekerja, misalnya keadaan psikis, fisik (kelelahan pekerja), usia, bakat, karakter, pengalaman, keahlian, pendidikan, kepuasan kerja, motivasi kerja, semangat kerja, dan persepsi pekerja terhadap gaji. b. Faktor dari luar diri pekerja, misalnya penerangan, kebisingan, musik ditempat kerja, waktu istirahat, jam kerja, sistem penggajian, dan tanggung jawab keluarga. 2.4 Efisiensi Penggunaan Tenaga Kerja Pada usaha ternak ayam broiler, jumlah tenaga kerja disesuaikan dengan jumlah populasi ayam broiler yang dipelihra. Umumnya jumlah populasi ayam broiler sebanyak ekor mampu dipelihara oleh satu orang tenaga kerja, jika pengelolaan usaha secara manual atau tanpa alat-alat otomatis. Apabila usaha ayam broiler pengelolaannya moderen (close house) maka satu orang tenaga kerja mampu memelihara sebanyak ekor ayam broiler (Rasyaf, 2002). Muchdoro (1997) menyatakan efisiensi adalah tingkat kehematan dalam menggunakan sumber daya yang ada dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa efisiensi penggunaan tenaga kerja dalam usaha ayam broiler adalah memilimalisir jumlah tenaga kerja

11 19 yang digunakan dalam usaha, namun tetap menghasilkan produksi yang baik dan tinggi, dan meminimalisir pemborosan dalam segi waktu dan biaya. Huri dan Susilowati (2004) menjelaskan bahwa efisiensi dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara keluaran (output) dengan masukan (input), atau jumlah keluaran yang dihasilkan dari satu input yang digunakan. Perhitungan efisiensi dalam penggunaan tenaga kerja dapat dihitung dengan membandingkan faktor input yaitu jumlah tenaga kerja dengan hasil produksi suatu usaha (output). Ada tiga faktor yang mempengaruhi efisiensi, sebagai berikut: a. Input yang sama menghasilkan output yang lebih besar. b. Input yang lebih kecil menghasilkan output yang sama. c. Input yang besar menghasilkan output yang lebih besar. 2.5 Perhitungan Efisiensi Metode DEA (Data envelopment analysis) DEA, data envelopment analysis adalah suatu teknik pemrograman matematis yang digunakan untuk mengevaluasi efisiensi relatif dari sebuah kumpulan unit-unit pembuat keputusan (decision making unit) dalam mengolah sumber daya (input) sehingga menjadi hasil (output) dimana hubungan bentuk fungsi dari input ke output tidak diketahui. Thanassoulis (2001) mendefinisikan DEA sebagai suatu metode yang dapat digunakan untuk mengukur efisiensi komparatif dari unit operasi homogen. DEA menggunakan teknis program matematis yang dapat menangani variabel dan batasan yang banyak, dan tidak membatasi input dan output yang akan dipilih karena teknis yang dipakai dapat mengatasinya. Decision making unit (yang selanjutnya disingkat DMU) adalah organisasi-organisasi atau entitas yang diukur efisiensinya secara relatif terhadap sekelompok entitas lainnya yang homogen. Homogen berarti input dan output dari DMU yang dievaluasi harus sama/sejenis.

12 20 Metode DEA adalah metode non parametrik. DEA mengasumsikan bahwa tidak semua entitas adalah efisien. DEA mampu menganalisis lebih dari satu input dan output dengan menggunakan model program linier yang menghasilkan nilai efisiensi tunggal untuk setiap penelitian. Sebuah usaha berdasarkan indeks efisiensinya digolongkan menjadi 4 tingkatan yaitu: tingkat efisiensi rendah (θ 0,64), tingkat efisiensi sedang (0,65 θ 0,85), tingkat efisiensi tinggi (0,86 θ 0,99), dan tingkat efisiensi maksimal (θ=1,00) (Radja, 2004 dalam Firmansyah, 2007). DEA dikembangkan oleh Charnes, Cooper, dan Rhodes Tahun 1978 yang dikenal dengan model CCR. Dalam model ini, suatu tingkat efisiensi dihitung melalui rasio output terhadap input dengan pembobotannya masing-masing. Untuk menentukan bobot tersebut dilakukan dengan program linier. Program linier merupakan sebuah model matematis yang mempunyai 2 komponen tujuan dan kendala. Fungsi tujuan terdiri dari variabel-variabel keputusan. Contoh dari fungsi tujuan misalnya maksimasi laba atau minimasi biaya. Kendala merupakan pembatas dari pencapaian yang didasarnya membentuk sebuah garis batas dengan menggunakan unit-unit yang efisien. Mengoperasikan DEA perlu diperhatikan konsep-konsep dasar yang harus dipenuhi. Konsep dasar DEA adalah: a. Positivity, artinya DEA mensyaratkan semua variabel input dan output bernilai positif (>0), b. Isotonicity, artinya antara variabel input dan outputnya harus menjalin hubungan yang isotonis, yaitu untuk setiap kenalika/pertambahan jumlah input harus menghasilkan kenaikan setidaknya satu variabel output, dan tidak ada variabel output yang mengalami penurunan.

13 21 c. Jumlah DMU adalah Tiga kali jumlah variabel input dan outputnya, untuk memastikan adanya degress of freedom. d. Homogenity, artinya DEA menuntut seluruh DMU memiliki variabel input dan output yang sama jenisnya. Konsep dasar penggunaan DEA menurut Cooper, Seiford, Tone (2002) adalah : a. Harus tersedia data numerial bagi setiap input dan output. Data diasumsikan bernilai positif untuk semua DMU b. Pemilihan input, output, dan DMU yang akan dimasukkan dalam perhitungan efisiensi DMU harus merefleksikan minat dari analis atau manajer. c. Pada prinsipnya semakin banyak jumlah input dan semakin banyak jumlah output akan lebih baik dalam perhitungan skor efisiensi. Pengukuran efisiensi dengan menggunakan DEA terdapat dua model yang digunakan, yaitu: a. Constant return to scale Model DEA yang berorientasi pada input berdasarkan asumsi constant return to scale dikenal dengan model CCR. Dalam model constant return to scale setiap DMU dibandingkan dengan seluruh DMU yang ada di sampel dengan asumsi bahawa kondisi internal dan eskternal DMU adalah sama (Charnes dkk, 1978). Kritik terhadap asumsi ini adalah bahwa constant return to scale hanya sesuai dengan sumber daya (input) yang sama dan menghasilkan output yang sama pula tetapi kondisi internal dan eksternalnya mungkin berbeda sehingga dapat mengakibatkan sebuah DMU tidak beroperasi pada skala optimal.

14 22 Model CRS yang memiliki asumsi hanya sesuai digunakan ketika semua DMU beroprasi pada skala optimal, walaupun faktor-faktor seperti kompetisi yang tidak sempurna dan hambatan-hambatan dalam keuangan menyebabkan sebuah DMU tidak dapat beroprasi pada skala optimal, akibatnya penggunaan model CRS ketika beberapa DMU tidak beroperasi pada skala optimal akan mengakibatkan technical efficiency yang tidak sesuai karena scale efficiency yang tidak sesuai pula. Konsep pendekatan model ini adalah constant return to scale yang artinya penambahan satu input harus menambah satu output, jika input ditambah sebesar x kali, maka output akan meningkat sebesar x kali juga. Menurut Charnes, Cooper dan Rhodes model ini dapat menunjukkan technical efficiency secara keseluruhan atau nilai dari profit efficiency untuk setiap DMU. b. Variabel Return to Scale Kelemahan asumsi constant return to scale memunculkan asumsi lain yaitu variable return to scale. Model ini pertama kali diperkenalkan oleh Banker, Charner dan Cooper. Sehingga model ini dikenal dengan BBC. Model ini merupakan pengembangan dari model constant return to scale. Model asumsi ini adalah variable return to scale yang artinya bahwa penambahan input sebesar x kali tidak akan menyebabkan output meningkat sebesar x kali, bisa lebih kecil atau lebih besar. Pendekatan ini relatif tepat digunakan dalam menganalisis efisiensi kinerja pada suatu perusahaan jasa. Avkiran (1999) menyebutkan bahwa variable return to scale merupakan asumsi yang lebih tepat digunakan untuk sampel besar. Variabel Return to Scale menggambarkan technical efficiency dan scale efficiency. Pure technical efficiency menggambarkan suatu DMU atau perusahaan dapat beroperasi pada skala produksi yang tepat.

15 23 Pemilihan metode DEA mempunyai keunggulan dan kelemahan dibandingkan metode yang lain. Keunggulan DEA adalah: a. Bisa mengolah banyak input dan output. b. Tidak butuh asumsi adanya hubungan fungsional antara variabel input dengan output. c. DMU dibandingkan secara langsung dengan sesamanya (homogen). Sedangkan kelemahan DEA dibandingkan dengan metode yang lain adalah : a. Bersifat sampel selection. b. Kesalahan pengukuran bisa berakibat fatal. c. Hanya mengukur efisiensi relatif dari DMU, dan bukan efisiensi absolut. Pengukuran data dengan menggunakan DEA dapat menggunakan dua orientasi pengukuran yaitu: a. Pengukuran Berorientasi Input (Input Oriented Measures) Pengukuran berorientasi input menunjukkan sejumlah input yang dapat dikurangi secara proporsional tanpa mengubah jumlah output yang dihasilkan. Dengan menggunakan model berorientasi input, maka model tersebut akan menghitung pengurangan input yang diperlukan untuk menghasilkan kinerja yang efisien dengan output yang tetap. b. Pengukuran Berorientasi Output (Output Oriented Measures) Pengukuran berorientasi output mengukur apabila sejumlah output dapat ditingkatkan secara proprosional tanpa mengubah jumlah input yang digunakan. Dengan menggunakan model yang berorientasi output, maka model tersebut akan menghitung peningkatan output yang diperlukan untuk menghasilkan kinerja yang efisien dengan input yang tetap.

II TINJAUAN PUSTAKA. Domestikasi lazim dilakukan dengan budidaya yang bertujuan mendapatkan

II TINJAUAN PUSTAKA. Domestikasi lazim dilakukan dengan budidaya yang bertujuan mendapatkan 7 II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Pedaging Ayam pedaging yang saat ini dikembangkan peternak diseluruh dunia berasal dari ayam hutan liar yang didomestikasi sekitar 8000 tahun yang lalu. Domestikasi lazim

Lebih terperinci

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. CV Danis Food merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha

IV HASIL DAN PEMBAHASAN. CV Danis Food merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha 31 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Keadaan Umum CV Danis Food merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha ayam broiler komersil. Perusahan ini menjalankan sistem kemitraan pola makloon, dan memiliki

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. semakin banyak dilakukan baik oleh peternak dengan skala usaha besar maupun

I PENDAHULUAN. semakin banyak dilakukan baik oleh peternak dengan skala usaha besar maupun 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ayam broiler merupakan salah satu penyumbang terbesar protein hewani asal ternak dan merupakan komoditas unggulan. Pemeliharaan broiler saat ini semakin banyak dilakukan

Lebih terperinci

III METODE PENELITIAN. perhatian dalam kegiatan penelitian, dengan kata lain objek penelitian juga dapat

III METODE PENELITIAN. perhatian dalam kegiatan penelitian, dengan kata lain objek penelitian juga dapat 24 III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian memiliki pengertian yaitu segala sesuatu yang menjadi perhatian dalam kegiatan penelitian, dengan kata lain objek penelitian juga dapat diartikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Ayam Broiler Beternak ayam pedaging (broiler) sangatlah baik dalam penghasil daging. Maka usaha ini baik untuk dikembangkan dibandingkan ayam kampung ataupun ayam

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. tentang Pedoman Kemitraan Usaha Pertanian, yang menyatakan bahwa kemitraan

II. TINJAUAN PUSTAKA. tentang Pedoman Kemitraan Usaha Pertanian, yang menyatakan bahwa kemitraan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Kemitraan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 940/Kpts/OT.210/10/97 tentang Pedoman Kemitraan Usaha Pertanian, yang menyatakan bahwa kemitraan usaha pertanian adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peranan penting dalam menopang perekononiam masyarakat. Pembangunan sektor

BAB I PENDAHULUAN. peranan penting dalam menopang perekononiam masyarakat. Pembangunan sektor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Subsektor peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian yang memiliki peranan penting dalam menopang perekononiam masyarakat. Pembangunan sektor ini dapat diwujudkan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. kini mampu menghasilkan swasembada daging unggas maupun telur. Tidak kalah

PENDAHULUAN. kini mampu menghasilkan swasembada daging unggas maupun telur. Tidak kalah 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri perunggasan memegang peranan sangat penting dalam mendorong perekonomian di Indonesia. Hal ini dimungkinkan karena industri perunggasan kini mampu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. timbunan daging baik, dada lebih besar dan kulit licin (Siregar et al, 1981).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. timbunan daging baik, dada lebih besar dan kulit licin (Siregar et al, 1981). BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Broiler Ayam broiler adalah ayam hasil dari rekayasa teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis dengan ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Protein hewani memegang peran penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Untuk

I. PENDAHULUAN. Protein hewani memegang peran penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Untuk I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Protein hewani memegang peran penting bagi pemenuhan gizi masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan gizi tersebut, masyarakat akan cenderung mengonsumsi daging unggas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tinjauan umum Ayam Broiler. sebagai penghasil daging, konversi pakan irit, siap dipotong pada umur relatif

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tinjauan umum Ayam Broiler. sebagai penghasil daging, konversi pakan irit, siap dipotong pada umur relatif 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan umum Ayam Broiler Ayam broiler adalah istilah untuk menyebut strain ayam hasil budidaya teknologi yang memiliki sifat ekonomis, dengan ciri khas pertumbuhan cepat sebagai

Lebih terperinci

[Pengelolaan dan Evaluasi Kegiatan Agribisnis Ternak Unggas]

[Pengelolaan dan Evaluasi Kegiatan Agribisnis Ternak Unggas] SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017 MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN [AGRIBISNIS TERNAK UNGGAS] [Pengelolaan dan Evaluasi Kegiatan Agribisnis Ternak Unggas] [Endang Sujana, S.Pt., MP.] KEMENTERIAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. pertanian. Pembangunan industri peternakan dalam 3 tahun telah berhasil

PENDAHULUAN. pertanian. Pembangunan industri peternakan dalam 3 tahun telah berhasil PENDAHULUAN Latar Belakang Industri peternakan kini memasuki era baru sebagai sumber pertumbuhan pertanian. Pembangunan industri peternakan dalam 3 tahun telah berhasil memberikan kontribusi PBD yang harus

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN Agribisnis peternakan memberikan banyak kontribusi bagi bangsa Indonesia yaitu sebagai penyedia lapangan pekerjaaan dan berperan dalam pembangunan. Berdasarkan data statistik

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Teknologi mempunyai peran penting dalam upaya meningkatkan

I. PENDAHULUAN. Teknologi mempunyai peran penting dalam upaya meningkatkan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Teknologi mempunyai peran penting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidup manusia. Menurut Xiaoyan dan Junwen (2007), serta Smith (2010), teknologi terkait erat dengan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2011)

I PENDAHULUAN. Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (2011) 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN Subsektor peternakan merupakan salah satu bagian dari sektor pertanian yang berpotensi dikembangkan di Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik menyebutkan bahwa pada

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Produktivitas ayam petelur selain dipengaruhi oleh faktor genetik juga

1. PENDAHULUAN. Produktivitas ayam petelur selain dipengaruhi oleh faktor genetik juga 1 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Produktivitas ayam petelur selain dipengaruhi oleh faktor genetik juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Salah satu faktor lingkungan yang penting diperhatikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pangan dan gizi serta menambah pendapatan (kesejahteraan) masyarakat. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. pangan dan gizi serta menambah pendapatan (kesejahteraan) masyarakat. Hal ini 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian integral dari pembangunan sektor pertanian dalam arti luas yang bertujuan untuk pemenuhan pangan dan gizi serta

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi nasional merupakan suatu proses yang dilakukan secara terus

I. PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi nasional merupakan suatu proses yang dilakukan secara terus I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan ekonomi nasional merupakan suatu proses yang dilakukan secara terus menerus ke arah yang lebih baik dari keadaan semula. Pembangunan ekonomi memerlukan kerja

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Pola kemitraan ayam broiler adalah sebagai suatu kerjasama yang

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Pola kemitraan ayam broiler adalah sebagai suatu kerjasama yang PENDAHULUAN Latar Belakang Pola kemitraan ayam broiler adalah sebagai suatu kerjasama yang sering diterapkan di pedesaan terutama di daerah yang memiliki potensi memelihara ayam broiler. Pola kemitraan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Subsektor peternakan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

BAB I PENDAHULUAN. Subsektor peternakan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Subsektor peternakan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan sektor pertanian yang diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi. Kesadaran akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Tahun 2016, nilai PDB sub sektor

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Tahun 2016, nilai PDB sub sektor BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peternakan merupakan sub sektor pertanian yang memiliki peran penting bagi perekonomian Indonesia dan sebagai pendorong utama penyedia protein hewani nasional, penyedia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha Tahun Lapangan Usaha

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha Tahun Lapangan Usaha I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian terdiri dari beberapa sub sektor, yaitu perkekebunan, perikanan, tanaman pangan dan holtikultura. Sektor tersebut memiliki peranan yang sangat penting

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Definisi Kemitraan Definisi kemitraan diungkapkan oleh Hafsah (1999) yang menyatakan bahwa kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan banyaknya perusahaan baru

I. PENDAHULUAN. semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan banyaknya perusahaan baru 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Perkembangan dunia peternakan saat ini khususnya perunggasan di Indonesia semakin meningkat. Hal ini ditandai dengan banyaknya perusahaan baru peternakan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perusahaan penetasan final stock ayam petelur selalu mendapatkan hasil samping

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perusahaan penetasan final stock ayam petelur selalu mendapatkan hasil samping II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ayam Jantan Tipe Medium Perusahaan penetasan final stock ayam petelur selalu mendapatkan hasil samping (by product) berupa anak ayam jantan petelur. Biasanya, satu hari setelah

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Definisi Kemitraan Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kemitraan berasal dari kata mitra yang berarti teman, kawan, pasangan kerja, dan rekan. Kemitraan diartikan sebagai suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. makanan dan minuman pun terus meningkat pula. Kecenderungan masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. makanan dan minuman pun terus meningkat pula. Kecenderungan masyarakat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perusahaan makanan dan minuman merupakan salah satu sektor usaha yang terus mengalami pertumbuhan. Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia,

Lebih terperinci

VII. ANALISIS PENDAPATAN

VII. ANALISIS PENDAPATAN VII. ANALISIS PENDAPATAN 7.1. Biaya Produksi Usahatani dianalisis dengan cara mengidentifikasikan penggunaan sarana produksi (input). Sarana produksi yang digunakan antara peternak mitra dan peternak non

Lebih terperinci

BAB I RINGKASAN EKSEKUTIF. yang memiliki komponen lengkap dari sektor hulu sampai ke hilir, dimana

BAB I RINGKASAN EKSEKUTIF. yang memiliki komponen lengkap dari sektor hulu sampai ke hilir, dimana BAB I RINGKASAN EKSEKUTIF 1.1 Konsep Bisnis Usaha perunggasan (ayam ras) di Indonesia telah menjadi sebuah industri yang memiliki komponen lengkap dari sektor hulu sampai ke hilir, dimana perkembangan

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Peternakan Ayam Broiler di Indonesia

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Peternakan Ayam Broiler di Indonesia II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Peternakan Ayam Broiler di Indonesia Perkembangan ayam broiler di Indonesia dimulai pada pertengahan dasawarsa 1970-an dan mulai terkenal pada awal tahun 1980-an. Laju perkembangan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Ayam ras petelur ialah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler merupakan ayam penghasil daging dalam jumlah yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler merupakan ayam penghasil daging dalam jumlah yang 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Broiler Pembibit Ayam broiler merupakan ayam penghasil daging dalam jumlah yang banyak dengan waktu yang cepat. Tipe ayam pembibit atau parent stock yang ada sekarang

Lebih terperinci

I Peternakan Ayam Broiler

I Peternakan Ayam Broiler I Peternakan Ayam Broiler A. Pemeliharaan Ayam Broiler Ayam broiler merupakan ras ayam pedaging yang memiliki produktivitas tinggi. Ayam broiler mampu menghasilkan daging dalam waktu 5 7 minggu (Suci dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pembangunan kesehatan dan kecerdasan bangsa. Permintaan masyarakat akan

I. PENDAHULUAN. pembangunan kesehatan dan kecerdasan bangsa. Permintaan masyarakat akan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Perunggasan merupakan komoditi yang secara nyata mampu berperan dalam pembangunan nasional, sebagai penyedia protein hewani yang diperlukan dalam pembangunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebijakan pembangunan pertanian pada masa sekarang adalah dengan meletakkan masyarakat sebagai pelaku utama (subyek pembangunan), bukan lagi sebagai obyek pembangunan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Karakteristik Ayam Pedaging BAB II TINJAUAN PUSTAKA Ayam pedaging adalah ayam jantan dan betina muda yang berumur dibawah 8 minggu ketika dijual dengan bobot tubuh tertentu, mempunyai pertumbuhan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. populasi, produktifitas, kualitas, pemasaran dan efisiensi usaha ternak, baik

BAB I PENDAHULUAN. populasi, produktifitas, kualitas, pemasaran dan efisiensi usaha ternak, baik BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian integral dari pembangunan sektor pertanian dalam arti luas yang bertujuan untuk pemenuhan pangan dan gizi serta menambah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. bergerak di bidang pembibitan ayam lokal. Tahun 1969 perusahaan tersebut mulai

TINJAUAN PUSTAKA. bergerak di bidang pembibitan ayam lokal. Tahun 1969 perusahaan tersebut mulai II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sejarah dan Keadaan Umum Jimmy s Farm merupakan suatu perusahaan peternakan ayam buras yang bergerak di bidang pembibitan ayam lokal. Tahun 1969 perusahaan tersebut mulai berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Agroindustri adalah usaha untuk mengolah bahan baku hasil pertanian menjadi berbagai produk yang dibutuhkan konsumen (Austin 1981). Bidang agroindustri pertanian dalam

Lebih terperinci

PENGANTAR. Latar Belakang. Peternakan merupakan salah satu subsektor yang berperan penting dalam

PENGANTAR. Latar Belakang. Peternakan merupakan salah satu subsektor yang berperan penting dalam PENGANTAR Latar Belakang Peternakan merupakan salah satu subsektor yang berperan penting dalam perekonomian nasional. Pada tahun 2014 subsektor peternakan berkontribusi tehadap Produk Domestik Bruto (PDB)

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kontribusi sektor peternakan terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional antara tahun 2004-2008 rata-rata mencapai 2 persen. Data tersebut menunjukkan peternakan memiliki

Lebih terperinci

KAJIAN KEPUSTAKAAN. secara ekonomis jika dibesarkan (Amrullah, 2004). Menurut Mulyantini (2011),

KAJIAN KEPUSTAKAAN. secara ekonomis jika dibesarkan (Amrullah, 2004). Menurut Mulyantini (2011), 7 II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Strain Ayam Broiler Ayam broiler merupakan ayam tipe berat pedaging yang lebih muda dan berukuran lebih kecil, dapat tumbuh sangat cepat sehingga dapat dipanen pada umur 4 minggu

Lebih terperinci

Prosiding Seminar Nasional

Prosiding Seminar Nasional POLA KEMITRAAN USAHA PETERNAKAN AYAM PEDAGING (Broiler) DENGAN PT. Duta Mulia Cakrawala (DMC) (Di Desa Buhu Kecamatan Talaga Jaya) Nunung Ontalu 1, Indriana 2 & Maharani 2 Program Studi Agribisnis, Fakultas

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Distribusi Persentase Produk Domestik Bruto Tahun

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Distribusi Persentase Produk Domestik Bruto Tahun I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor industri pengolahan merupakan penyumbang terbesar dalam pertumbuhan perekonomian nasional. Perkembangan sektor industri pengolahan tersebut tentu tidak terlepas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. tahun seiring meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. tahun seiring meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan protein hewani mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seiring meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi bagi kesehatan. Salah satu

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Lampiran 1. Data Tenaga Kerja (Responden) Pengalaman Status. No Nama Peternakan Jk Usia Pendidikan

LAMPIRAN. Lampiran 1. Data Tenaga Kerja (Responden) Pengalaman Status. No Nama Peternakan Jk Usia Pendidikan 55 LAMPIRAN Lampiran 1. Data Tenaga Kerja (Responden) No Nama Peternakan Jk Usia Pendidikan Pengalaman Status (Tahun) Pernikahan 1 Cecep Cicalengka L 30 SMP 3 Menikah 2 Suryamin Cicalengka L 47 SD 11 Menikah

Lebih terperinci

KAJIAN KEPUSTAKAAN. 2017). Susu adalah suatu bahan makanan yang diperoleh dari hasil sekresi

KAJIAN KEPUSTAKAAN. 2017). Susu adalah suatu bahan makanan yang diperoleh dari hasil sekresi 8 II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Sapi Perah Ternak perah merupakan ternak yang mempunyai fungsi prinsip sebagai penghasil susu. Sapi perah merupakan tipe sapi yang diseleksi dari generasi ke generasi selama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan usaha peternakan unggas di Sumatera Barat saat ini semakin

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan usaha peternakan unggas di Sumatera Barat saat ini semakin BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan usaha peternakan unggas di Sumatera Barat saat ini semakin pesat dan memberikan kontribusi besar dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani. Unggas khususnya

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalam pembangunan sektor pertanian. Pada tahun 1997, sumbangan Produk

I. PENDAHULUAN. dalam pembangunan sektor pertanian. Pada tahun 1997, sumbangan Produk I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Subsektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru dalam pembangunan sektor pertanian. Pada tahun 1997, sumbangan Produk Domestik Bruto (PDB) subsektor

Lebih terperinci

3) BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3) BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3) BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Data Envelopment Analysis (DEA) 3.1.1. Konsep Data Envelopment Analysis (DEA) DEA dikembangkan pertama kali oleh Farrell (1957) yang mengukur efisiensi teknik satu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. daging. Menurut Suprijatna et al. (2005), ayam pedaging dipelihara dengan tujuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. daging. Menurut Suprijatna et al. (2005), ayam pedaging dipelihara dengan tujuan 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Pedaging Menurut Fadilah (2005), ayam pedaging adalah jenis ayam yang efisien dalam menghasilkan daging atau dapat dikatakan sebagai ayam yang berpotensi besar untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengandung protein dan zat-zat lainnya seperti lemak, mineral, vitamin yang

BAB I PENDAHULUAN. mengandung protein dan zat-zat lainnya seperti lemak, mineral, vitamin yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daging ayam merupakan salah satu daging yang memegang peranan cukup penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, karena banyak mengandung protein dan zat-zat

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. ayam yang umumnya dikenal dikalangan peternak, yaitu ayam tipe ringan

II. TINJAUAN PUSTAKA. ayam yang umumnya dikenal dikalangan peternak, yaitu ayam tipe ringan 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ayam Jantan Tipe Medium Berdasarkan bobot maksimum yang dapat dicapai oleh ayam terdapat tiga tipe ayam yang umumnya dikenal dikalangan peternak, yaitu ayam tipe ringan (Babcock,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat dan meningkatkan. kesejahteraan peternak. Masalah yang sering dihadapi dewasa ini adalah

I. PENDAHULUAN. pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat dan meningkatkan. kesejahteraan peternak. Masalah yang sering dihadapi dewasa ini adalah I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pembangunan peternakan merupakan salah satu aspek penting dalam rangka pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan peternak.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sangat potensial dikembangkan. Hal ini tidak lepas dari berbagai keunggulan

BAB I PENDAHULUAN. sangat potensial dikembangkan. Hal ini tidak lepas dari berbagai keunggulan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Usaha peternakan ayam potong merupakan salah satu jenis usaha yang sangat potensial dikembangkan. Hal ini tidak lepas dari berbagai keunggulan yang dimiliki

Lebih terperinci

VI. PELAKSANAAN KEMITRAAN

VI. PELAKSANAAN KEMITRAAN VI. PELAKSANAAN KEMITRAAN 6.1. Pola Kemitraan CV TMF Kemitraan antara peternak ayam di daerah Cibinong pada dasarnya adalah sama dengan semua kemitraan yang dijalankan di semua daerah kemitraan CV TMF.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia maka

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia maka I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia maka pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya protein hewani dalam memenuhi kebutuhan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Jumlah Tenaga Kerja Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Lapangan Pekerjaan Tahun 2011

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Jumlah Tenaga Kerja Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Lapangan Pekerjaan Tahun 2011 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN Peternakan adalah kegiatan membudidayakan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen pada faktor-faktor produksi. Peternakan merupakan

Lebih terperinci

Pengukuran Efisiensi Produksi Dengan Metode DEA (Data Envelopement Analysis) Di Divisi Wire Rod Mill PT.XYZ

Pengukuran Efisiensi Produksi Dengan Metode DEA (Data Envelopement Analysis) Di Divisi Wire Rod Mill PT.XYZ Pengukuran Efisiensi Produksi Dengan Metode DEA (Data Envelopement Analysis) Di Divisi Wire Rod Mill PT.XYZ Akbar Utama H.M 1, Achmad Bahauddin 2, Putro Ferro Ferdinant 3 1, 2, 3 Jurusan Teknik Industri

Lebih terperinci

Kata Kunci : Data Envelopment Analysis, Technical Efficiency, Scale Effficiency

Kata Kunci : Data Envelopment Analysis, Technical Efficiency, Scale Effficiency PENGUKURAN EFISIENSI JASA PELAYANAN STASIUN PENGISIAN BAHAN BAKAR UMUM (SPBU) DENGAN METODE DATA ENVELOPMENT ANALYSIS (DEA) (Studi Kasus : SPBU G, SPBU K, SPBU S, SPBU J) Moses L. Singgih dan Viki Chandra

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. masyarakat menyebabkan konsumsi protein hewani pun meningkat setiap

I. PENDAHULUAN. masyarakat menyebabkan konsumsi protein hewani pun meningkat setiap I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Peningkatan jumlah penduduk serta semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat menyebabkan konsumsi protein hewani pun meningkat setiap tahunnya. Konsumsi protein

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Pada bab ini, akan dibahas mengenai tinjauan pustaka dari metode yang akan digunakan dalam penelitian dan dasar teori. 2.1. Tinjauan Pustaka 2.1.1 Penelitian Terdahulu

Lebih terperinci

KEMITRAAN USAHA AYAM RAS PEDAGING: KAJIAN POSISI TAWAR DAN PENDAPATAN TESIS. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Gelar Magister

KEMITRAAN USAHA AYAM RAS PEDAGING: KAJIAN POSISI TAWAR DAN PENDAPATAN TESIS. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Gelar Magister KEMITRAAN USAHA AYAM RAS PEDAGING: KAJIAN POSISI TAWAR DAN PENDAPATAN TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Gelar Magister PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN AGRIBISNIS Diajukan oleh :

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usaha Peternakan Sapi Perah

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usaha Peternakan Sapi Perah II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usaha Peternakan Sapi Perah Menurut Yusdja (2005), usaha sapi perah sudah berkembang sejak tahun 1960 ditandai dengan pembangunan usaha-usaha swasta dalam peternakan sapi perah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Budidaya ayam ras khususnya ayam broiler sebagai ayam pedaging,

BAB I PENDAHULUAN. Budidaya ayam ras khususnya ayam broiler sebagai ayam pedaging, 1 BAB I PENDAHULUAN Budidaya ayam ras khususnya ayam broiler sebagai ayam pedaging, mengalami pasang surut, terutama pada usaha kemitraan. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya fluktuasi harga

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. umur 4 5 minggu. Sifat pertumbuhan yang sangat cepat ini dicerminkan dari. modern mencapai di bawah dua (Amrullah, 2004).

I. PENDAHULUAN. umur 4 5 minggu. Sifat pertumbuhan yang sangat cepat ini dicerminkan dari. modern mencapai di bawah dua (Amrullah, 2004). I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ayam broiler modern tumbuh sangat cepat sehingga dapat di panen pada umur 4 5 minggu. Sifat pertumbuhan yang sangat cepat ini dicerminkan dari tingkah laku makannya yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan peternakan dari tahun ke tahun semakin pesat dengan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan peternakan dari tahun ke tahun semakin pesat dengan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan peternakan dari tahun ke tahun semakin pesat dengan meningkatnya kebutuhan protein hewani bagi masyarakat. Salah satu produk hasil peternakan yang paling disukai

Lebih terperinci

KELAYAKAN USAHA PETERNAKANN AYAM RAS PEDAGING POLA KEMITRAAN INTI-PLASMA

KELAYAKAN USAHA PETERNAKANN AYAM RAS PEDAGING POLA KEMITRAAN INTI-PLASMA KELAYAKAN USAHA PETERNAKANN AYAM RAS PEDAGING POLA KEMITRAAN INTI-PLASMA Muhammad Sujudi 1) Dhyvhy29@gmail.com Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi Enok Sumarsih 2) sumarsihenok@gmail.com

Lebih terperinci

s r=1 u ry ro m i=1 v ix io max h 0 = s r=1 m i=1 v 1, j = 1,..., n

s r=1 u ry ro m i=1 v ix io max h 0 = s r=1 m i=1 v 1, j = 1,..., n BAB 1 PENDAHULUAN Perkembangan sektor industri sejalan dengan perkembangan metode dalam pengambilan keputusan. Tidak jarang hal tersebut juga mengubah sudut pandang para pelaku industri. Dewasa ini, para

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di usaha peternakan Agus Suhendar, Desa Patambran RT 02/04 Semplak Barat, Kemang Utara, Kecamatan Bogor, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. commit to user

I. PENDAHULUAN. commit to user digilib.uns.ac.id 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sub sektor peternakan berperan besar dalam menunjang perekonomian nasional. Selain sebagai penopang dalam mensejahterakan masyarakat, keuntungan nyata

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Saat ini dikenal ada tiga tipe ayam, yaitu ayam tipe ringan (diantaranya Babcock,

II. TINJAUAN PUSTAKA. Saat ini dikenal ada tiga tipe ayam, yaitu ayam tipe ringan (diantaranya Babcock, 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Ayam Jantan Tipe Medium Saat ini dikenal ada tiga tipe ayam, yaitu ayam tipe ringan (diantaranya Babcock, Hyline, dan Kimber); tipe medium (diantaranya Dekalb, Kimbrown, dan Hyline

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam pembangunan pertanian, terutama pada saat terjadinya krisis ekonomi dan

BAB I PENDAHULUAN. dalam pembangunan pertanian, terutama pada saat terjadinya krisis ekonomi dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan pada bidang peternakan merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan pertanian, terutama pada saat terjadinya krisis ekonomi dan moneter.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peternakan merupakan salah satu sub sektor pertanian yang memiliki peranan cukup penting dalam memberikan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peternakan merupakan salah satu sub sektor pertanian yang memiliki peranan cukup penting dalam memberikan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peternakan merupakan salah satu sub sektor pertanian yang memiliki peranan cukup penting dalam memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian negara

Lebih terperinci

Gambar 1 Konsep Efisiensi dan Produktivitas

Gambar 1 Konsep Efisiensi dan Produktivitas BAB 2 PENGUKURAN EFISIENSI RELATIF: TINJAUAN DAN LITERATUR 2.1. Arti Efisiensi Efisiensi seringkali dikaitkan dengan kinerja suatu organisasi karena efisiensi mencerminkan perbandingan antara keluaran

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Peran Kemitraan Dalam Pengelolaan Risiko

II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Peran Kemitraan Dalam Pengelolaan Risiko II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Peran Kemitraan Dalam Pengelolaan Risiko Sutawi (2008) mengemukakan bahwa kemitraan merupakan salah satu upaya untuk menekan risiko yang dihadapi petani. Dengan cara mengalihkan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usaha Peternakan Ayam Broiler

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usaha Peternakan Ayam Broiler II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usaha Peternakan Ayam Broiler Ayam ras pedaging disebut juga broiler, yang merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai bobot badan antara 1,5-2.8 kg/ekor dan bisa segera

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai bobot badan antara 1,5-2.8 kg/ekor dan bisa segera BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Ayam broiler merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging. Ayam

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN V. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 5.1 Gambaran Umum Perusahaan Perusahaan ini berdiri pada tahun 2001 dengan pengusahaan pada berbagai komoditi pertanian seperti budidaya ikan, budidaya manggis, budidaya pepaya,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. umumnya dipanen pada umur 5 6 minggu dengan tujuan sebagai penghasil

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. umumnya dipanen pada umur 5 6 minggu dengan tujuan sebagai penghasil BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Ras Pedaging (Broiler) Ayam Ras pedaging (Broiler) adalah ayam jantan dan betina muda yang umumnya dipanen pada umur 5 6 minggu dengan tujuan sebagai penghasil daging

Lebih terperinci

KONTRIBUSI USAHA PETERNAKAN DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH

KONTRIBUSI USAHA PETERNAKAN DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH KONTRIBUSI USAHA PETERNAKAN DALAM PENGEMBANGAN WILAYAH Hanny Siagian STIE Mikroskil Jl. Thamrin No. 112, 124, 140 Medan 20212 hanny@mikroskil.ac.id Abstrak Usaha peternakan memberi kontribusi terhadap

Lebih terperinci

TERNAK AYAM KAMPUNG PELUANG USAHA MENGUNTUNGKAN

TERNAK AYAM KAMPUNG PELUANG USAHA MENGUNTUNGKAN TERNAK AYAM KAMPUNG PELUANG USAHA MENGUNTUNGKAN Peluang di bisnis peternakan memang masih sangat terbuka lebar. Kebutuhan akan hewani dan produk turunannya masih sangat tinggi, diperkirakan akan terus

Lebih terperinci

VII. ANALISIS FINANSIAL

VII. ANALISIS FINANSIAL VII. ANALISIS FINANSIAL Usaha peternakan Agus Suhendar adalah usaha dalam bidang agribisnis ayam broiler yang menggunakan modal sendiri dalam menjalankan usahanya. Skala usaha peternakan Agus Suhendar

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1. Budidaya Ayam Ras Pedaging Ayam ras pedaging atau ayam broiler merupakan bangsa unggas yang arah kemampuan utamanya

Lebih terperinci

Pengembangan Kawasan Andalan Probolinggo- Pasuruan-Lumajang Melalui Pendekatan Peningkatan Efisiensi

Pengembangan Kawasan Andalan Probolinggo- Pasuruan-Lumajang Melalui Pendekatan Peningkatan Efisiensi JURNAL TEKNIK POMITS Vol., No., (0) ISSN: 7-59 (0-97 Print) C-8 Pengembangan Kawasan Andalan Probolinggo- Pasuruan-Lumajang Melalui Pendekatan Reza P. Adhi dan Eko Budi Santoso Program Studi Perencanaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Break Even Point adalah titik pulang pokok dimana total revenue = total

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Break Even Point adalah titik pulang pokok dimana total revenue = total 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Break Even Point (BEP) Break Even Point adalah titik pulang pokok dimana total revenue = total cost. Terjadinya titik pulang pokok tergantung pada lama arus penerimaan sebuah

Lebih terperinci

Pengembangan Kawasan Andalan Probolinggo- Pasuruan-Lumajang Melalui Pendekatan Peningkatan Efisiensi

Pengembangan Kawasan Andalan Probolinggo- Pasuruan-Lumajang Melalui Pendekatan Peningkatan Efisiensi JURNAL TEKNIK POMITS Vol., No., (0) ISSN: 0-97 Pengembangan Kawasan Andalan Probolinggo- Pasuruan-Lumajang Melalui Pendekatan Reza P. Adhi, Eko Budi Santoso Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. luar negeri yang teleh menyediakan bibit parent stock, dari bibit parent stock ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. luar negeri yang teleh menyediakan bibit parent stock, dari bibit parent stock ini 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Pembibit Perusahaan pembibit di Indonesia dalam memproduksi bibit ayam broiler final stock melakukan kerjasama dengan perusahaan peternakan bibit induk dari luar negeri

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Peneilitian Penelitian ini dilakukan di Kelompok Ternak Cibinong yang bermitra dengan CV Tunas Mekar Farm (TMF) di Kecamatan Ciluar, Kabupaten Bogor, Provinsi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang tinggi dalam menghasilkan telur (Rasyaf, 2002). Jenis ayam petelur menurut

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang tinggi dalam menghasilkan telur (Rasyaf, 2002). Jenis ayam petelur menurut 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Ras Petelur Ayam ras petelur merupakan jenis ayam yang mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menghasilkan telur (Rasyaf, 2002). Jenis ayam petelur menurut Sudaryani

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis data sekunder

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis data sekunder 29 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis data sekunder yang diambil dari beberapa sumber, yaitu data Statistik Perbankan Syariah (SPS)

Lebih terperinci

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1 Konsep Program Linear Program linear merupakan model matematik untuk mendapatkan alternatif penggunaan terbaik atas sumber-sumber organisasi. Kata sifat linear digunakan untuk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kontribusi positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia.

I. PENDAHULUAN. kontribusi positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peternakan sebagai salah satu sub dari sektor pertanian masih memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia. Kontribusi peningkatan

Lebih terperinci

Gambar 5. Sebaran Peternak Berdasarkan Skala Usaha

Gambar 5. Sebaran Peternak Berdasarkan Skala Usaha V KARAKTERISTIK USAHA TERNAK DAN PETERNAK 5.1 Karakteristik Usaha Peternak Responden 5.1.1 Skala Usaha Ternak Jumlah ternak yang diusahakan oleh peternak plasma sangat tergantung pada kemampuan peternak

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. serta dalam menunjang pembangunan nasional. Salah satu tujuan pembangunan

I. PENDAHULUAN. serta dalam menunjang pembangunan nasional. Salah satu tujuan pembangunan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sub sektor petenakan merupakan salah satu sub sektor yang berperan serta dalam menunjang pembangunan nasional. Salah satu tujuan pembangunan subsektor peternakan seperti

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Secara umum, ternak dikenal sebagai penghasil bahan pangan sumber protein

I. PENDAHULUAN. Secara umum, ternak dikenal sebagai penghasil bahan pangan sumber protein 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Secara umum, ternak dikenal sebagai penghasil bahan pangan sumber protein hewani yang dibutuhkan bagi hidup, tumbuh dan kembang manusia. Daging, telur, dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Jagung Jagung memegang peranan penting sebagai bahan pangan di Indonesia. Dikatakan penting

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Aman, dan Halal. [20 Pebruari 2009]

I PENDAHULUAN. Aman, dan Halal.  [20 Pebruari 2009] I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris dengan kondisi daratan yang subur dan iklim yang menguntungkan. Pertanian menjadi sumber mata pencaharian sebagian penduduk dan berkontribusi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. telur sehingga produktivitas telurnya melebihi dari produktivitas ayam lainnya.

TINJAUAN PUSTAKA. telur sehingga produktivitas telurnya melebihi dari produktivitas ayam lainnya. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Deskripsi Ayam Ras petelur Ayam ras petelur merupakan tipe ayam yang secara khusus menghasilkan telur sehingga produktivitas telurnya melebihi dari produktivitas ayam lainnya.

Lebih terperinci