BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN. Penelitian yang berkaitan dengan Sedulur Sikep sudah banyak

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN. Penelitian yang berkaitan dengan Sedulur Sikep sudah banyak"

Transkripsi

1 BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka Penelitian yang berkaitan dengan Sedulur Sikep sudah banyak dilakukan di Indonesia. Hal ini terjadi karena Sedulur Sikep sebagai komunitas sosial termasuk golongan orang kecil, tertindas, miskin, termarginalkan, serta memiliki keunikan, baik segi historis, sosial, politik, maupun budayanya. Komunitas Sedulur Sikep merupakan bentuk masyarakat yang didasarkan pada ajaran dan tradisi hidup yang khas di dalam berinteraksi dengan komunitas lain. Namun, hal ini tidak berarti telah menutup kemungkinan untuk mengkajinya lebih lanjut. Sepanjang pengetahuan penulis, belum ada kajian yang secara mendalam membahas perjuangan komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati dalam perspektif kajian budaya. Tulisan-tulisan tersebut, antara lain seperti di bawah ini. Karya Moh. Rosyid (2009), Nihilisasi Peran Negara: Potret Perkawinan Samin. Kajian ini memotret eksisnya model perkawinan di lingkungan komunitas Samin di Kabupaten Kudus Provinsi Jawa Tengah yang tidak selalu taat produk hukum positif secara utuh berupa tidak dicatatkan di kantor pencatatan nikah. Meskipun memenuhi norma hukum nikah selain catat mencatat, hanya mengandalkan patuh pada ajaran leluhurnya, selain dukungan dari komunitas non-samin imbas bekal perilaku sosial Samin yang humanis dan responsif terhadap lingkungannya yang Samin dan non-samin, beserta taat 19

2 20 kebijakan pemerintah, seperti membayar pajak, menjadi Ketua Rukun Tetangga (RT) dan Ketua Rukun Warga (RW) yang menaungi warga Samin dan non- Samin. Pemerintah pun (Kantor Urusan Agama) tidak dapat berbuat banyak karena di luar agama yang dinaunginya dan keterbatasan perangkat dukung sumber daya manusia. Di sisi lain, budaya birokrat yang lentur karena komunitas Samin tidak memicu konflik vertikal dan horizontal. KUA hanya melayani pemeluk agama Islam, sedangkan masyarakat Samin mengaku beragama Adam. Apabila diamati, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perkawinan Samin juga memenuhi kaidah perundangan berupa adanya wali (orang tua), saksi (tamu undangan dan keluarga), adanya kedua mempelai, adanya ijab kabul, mahar (yang tidak dinyatakan secara terbuka di hadapan forum), dan sekufu (seagama). Tidak disertakannya peran negara (KUA atau Kantor Catatan Sipil) karena dalih bahwa Nabi Adam ketika menikah dengan Hajar pun tidak menyertakan surat nikah. Selama ini, argumen pentingnya surat nikah (produk KUA atau Kantor Catatan Sipil) sebagai bentuk antisipasi negara dalam memfasilitasi warganya jika terjadi persengketaan agar mendapatkan kepastian hukum. Bagi masyarakat Samin, kepastian hukum diwujudkan dengan realisasi prinsip kesaminan dalam berperilaku, termasuk di dalam perkawinan. Jika terjadi persengketaan keluarga, menyangkut perceraian dan pembagian harta warisan, cukup diselesaikan secara kekeluargaan dengan prinsip saling memahami dan menyadari. Penelitian ini juga menunjukkan data bahwa tidak ditemukannya konflik dalam perceraian dan pembagian harta warisan di dalam komunitas Samin Kudus. Referensi ini sangat berharga untuk mengantarkan pada

3 21 pemahaman awal tentang perkawinan di lingkungan komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah sama-sama meneliti komunitas Samin ( Sedulur Sikep). Adapun perbedaannya adalah tema yang dipilih dan lokasi penelitiannya, di mana penelitian yang dilakukan penulis lebih terfokus pada studi perjuangan identitas di dalam perspektif kajian budaya dengan lokasi di Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah. Karya lain Moh. Rosyid (2008) berjudul Samin Kudus: Bersahaja di Tengah Asketisme Lokal mendeskripsikan potret budaya dan keagamaan pada masyarakat Samin Kudus di Desa Kutuk, Dukuh Kaliyoso, Desa Karangrowo, dan Desa Larekrejo, Kecamatan Undaan Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan penilaian mendasar tentang kebahagiaan versi masyarakat modern yang selalu diukur dengan kemapanan ekonomi dengan kebahagiaan menurut ukuran Samin Kudus berdasarkan terciptanya interaksi komunitas Samin dengan lingkungannya yang penuh kerukunan, kenyamanan, dan meninggalkan konflik. Kata kunci tersebut, terekam di dalam prinsip ajaran hidup dan prinsip pantangan hidup masyarakat Samin, seperti hidup secukupnya, jangan pamer, jangan suka terkenal. Di dalam penelitian ini, Moh. Rosyid menggunakan pendekatan etnografi untuk menggambarkan kondisi budaya dan agama yang ada di dalam masyarakat Samin. Tulisan Rosyid tersebut dapat memberikan wawasan bagi penelitian yang komprehensif tentang Sedulur Sikep saat ini. Persamaan penelitian yang dilakukan Rosyid dengan penulis adalah sama-sama tentang komunitas Sedulur Sikep.

4 22 Adapun perbedaannya adalah wilayah spasial penelitiannya dan data yang digunakan. Selain data etnografi, penulis juga menggunakan data historis untuk melihat dari waktu ke waktu munculnya gejala-gejala sosial. Suripan Sadi Hutomo (1996) menulis buku yang berjudul Tradisi dari Blora. Buku ini berisi berbagai topik yang disajikan secara beragam dari persoalan filsafat, sejarah lokal, legenda, dan kesenian dengan lokasi di daerah Blora. Hal yang menarik dari buku ini adalah pada topik sejarah lokal, di mana diuraikan lahirnya Samin Surosentika dan ajaran-ajarannya. Buku ini terdiri atas dua bagian, bagian pertama lebih menonjolkan sejarah lokal Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah. Selanjutnya, bagian kedua buku ini berisi berbagai macam kesenian yang terdapat di daerah Blora. Bahasa yang digunakan pada topik di kedua bagian buku ini adalah bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Tulisan ini penting karena memberikan informasi awal lahirnya Sedulur Sikep pada masa kolonial. Namun, tidak didapatkan gambaran sedikit pun tentang persebaran Sedulur Sikep pada masa kini, khususnya di Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah. Fatekhul Mujib (2004) melakukan penelitian terhadap masyarakat Samin dengan judul Islam di Masyarakat Samin: Kajian Atas Pemahaman Masyarakat Samin terhadap Ajaran Agama Islam di Dusun Jepang Kabupaten Bojonegoro. Penelitian itu memfokuskan pada kajian atas pemahaman masyarakat Samin di Dusun Jepang Kabupaten Bojonegoro terhadap ajaran Islam, seperti sejauh mana masyarakat Samin memahami konsep ajaran Islam dan pengamalannya di dalam kehidupan sehari-hari. Fokus utama penelitian tersebut

5 23 diarahkan pada tiga ajaran pokok Islam, yaitu masalah teologi (tauhid), hubungan sosial kemasyarakatan ( muamalah), dan ritus (ibadah), s eperti ibadah sholat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain. Beberapa penelitian yang mirip, yaitu terfokus pada kajian tentang agama adalah tulisan Sahpeni (2008) yang berjudul Peranan Golongan Muda dalam Perkembangan Agama Islam pada Masyarakat Samin Dusun Jepang Desa Margomulyo Kecamatan Margomulyo Kabupaten Bojonegoro Tahun menjelaskan perubahan masyarakat Samin di Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Kabupaten Bojonegoro, baik sosial maupun budayanya. Perubahan tersebut terjadi karena berbagai faktor yang melingkupinya, baik faktor dari dalam maupun dari luar. Peran penting golongan muda Samin terhadap perubahan masyarakat Samin, khususnya pada pengembangan agama Islam. Perubahan sistem religi masyarakat Samin pada masa Orde Baru tidak terlepas dari kebijakan pemerintah tentang kehidupan beragama. Setelah peristiwa 30 September 1965 berakhir, masyarakat Samin di Desa Margomulyo yang menganut religi agama Adam dianggap sebagai penganut aliran komunis. Oleh karena itu, pemerintah melalui Departemen Agama Republik Indonesia melakukan pembinaan dan mengajak masyarakat Samin di Dusun Margomulyo Kabupaten Bojonegoro masuk dan menjalankan syariat Islam. Akibatnya, banyak di antara masyarakat Dusun Margomulyo memeluk agama Islam meskipun hanya sebatas Islam KTP atau abangan. Perubahan ini diawali dengan adanya pernikahan massal pada tahun 1967.

6 24 Upaya golongan muda untuk menciptakan masyarakat Samin Dusun Margomulyo agar melaksanakan agama Islam sesuai dengan syariatnya dengan melakukan pembangunan, baik fisik maupun nonfisik. Pembangunan fisik meliputi pembangunan berbagai sarana ibadah dan fasilitas lainnya, sedangkan pembangunan nonfisik melalui pengajaran amaliah dalam kehidupan sehari-hari. Melalui upaya para pemuda tersebut, masyarakat Samin Dusun Margomulyo telah banyak mengalami perubahan dalam tradisi, identitas, pemahaman terhadap keyakinan kepada Tuhan. Di dalam penulisan ini, fokus kajiannya lebih mengutamakan pada pendekatan historis. Hal yang membedakan dengan penulis adalah lokasi penelitian dan fokus kajian yang dibahas. Penelitian lain tentang agama pada masyarakat Samin adalah tulisan Retnaningtyas (2002) yang berjudul Perubahan dari Agama Adam ke Agama Islam pada Masyarakat Samin Penelitian ini memfokuskan kajiannya terhadap perubahan keyakinan masyarakat Samin. Masuknya agama Islam ke dalam kehidupan masyarakat Samin telah mengubah keyakinan masyarakatnya, terutama pada golongan mudanya. Pengaruh Islam terhadap golongan muda Samin berlangsung harmonis dan penuh toleransi. Bagi golongan tua yang masih tetap menganut agama lama, yaitu agama Adam memberikan kebebasan kepada golongan muda Samin untuk memeluk agama baru, yaitu agama Islam dengan tetap menghargai keyakinan golongan tua. Penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai keterpinggiran komunitas Samin ( Sedulur Sikep) di dalam bidang agama akibat masuknya agama Islam. Wilayah objek kajian penelitian

7 25 tersebut, sama-sama tentang Sedulur Sikep, tetapi penelitian yang dilakukan di atas terfokus pada masalah agama. Karya lain yang memperbincangkan komunitas Sedulur Sikep berjudul Agama Tradisional: Potret Kearifan Hidup Masyarakat Samin dan Tengger. Buku ini dieditori oleh Nurudin (2003) dan kawan-kawan, yang merupakan bunga rampai hasil penelitian lapangan dan pengabdian masyarakat tentang pola hidup masyarakat Samin di Kabupaten Blora Provinsi Jawa Tengah dan masyarakat Tengger di Kabupaten Probolinggo Provinsi Jawa Timur. Artikel yang meneliti komunitas Samin ada pada bagian kesatu di dalam buku ini, antara lain berjudul Pergeseran Fungsi Tayub, Hubungan Pemerintahan dengan Komunitas Samin, Bahasa Samin: Suatu Bentuk Perlawanan Sosial, Samin: Ajaran yang Nyleneh, Otonomi dan Peran Pemerintahan Desa, serta Konsep Kesejahteraan Desa Klopodhuwur. Walaupun setiap tulisan yang ditampilkan pada buku tersebut berbeda titik tekannya, tetapi sering dijumpai munculnya data yang sudah ditampilkan penulis sebelumnya karena adanya kesamaan objek. Buku tersebut memberikan gambaran umum kepada penulis tentang pola hidup komunitas Sedulur Sikep. Kajian lainnya tentang komunitas Sedulur Sikep, tetapi terfokus pada kajian teks adalah tulisan Heru (2008) di dalam artikelnya yang berjudul Sedulur Sikep (Wong Sami n): Dari Perlawanan Pasif dengan Sangkalan ke Budaya Tanding dengan Teks. Di dalam artikel itu diuraikan gerakan sosial berupa perlawanan pasif Sedulur Sikep terhadap kekuatan hegemoni yang merupakan bentuk resistensi terhadap penguasa, baik pada masa kolonial maupun pada masa

8 26 sekarang. Gerakan yang memanfaatkan strategi komunikasi melalui bahasa Jawa ngoko dengan konvensi khusus berupa basa Sangkak dianggap mampu mengacaukan pemahaman orang non-sedulur Sikep terhadap perilaku sosial Sedulur Sikep. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk perlawanan pasif komunitas Sedulur Sikep dewasa ini diformulasikan dalam berbagai format tekstual, baik dalam format naskah/tulisan maupun audiovisual. Produk teks masyarakat Samin menjadi materi untuk membangun budaya tanding terhadap kekuatan hegemoni. Karya Heru (2008) lainnya yang hampir sama dengan tulisan sebelumnya berjudul Resistensi Kultural Sedulur Sikep merupakan hasil penelitian lapangan dengan objek terfokus pada aspek penggunaan bahasa Sangkak (menyangkal) dan religius oleh Sedulur Sikep sebagai perlawanan terhadap kekuatan hegemoni. Memahami bahasa Sangkak, maka kesalahpahaman di dalam berkomunikasi dengan Sedulur Sikep dapat dihindari. Sementara itu, hasil penelitiannya juga menunjukkan bahwa di dalam aspek religi, Sedulur Sikep lebih menekankan pada substansi asal mula ( kawitan) dengan Adam sebagai referensinya sehingga Sedulur Sikep menganut sistem religi berupa agama Adam. Konsep agama tersebut tidak menekankan pada aspek normatif legalistik sebagaimana agama negara atau agama formal. Hal ini dilandasi oleh sikap bahwa norma-norma legalistik yang datang dari luar Sedulur Sikep dianggap tidak sejalan dengan prinsip-prinsip ajaran saminisme. Lebih lanjut, penolakan Sedulur Sikep terhadap agama negara tidak saja dilandasi oleh ketidaksesuaian esensi hidup, tetapi tidak nyamannya kehidupan Sedulur Sikep diatur oleh orang luar yang dipersepsikan secara historis sebagai kepanjangan tangan kolonial.

9 27 Karya lain Heru (2008) dengan berjudul Pandangan Dunia Orang Samin: Menghayati Masyarakat Samin dengan Perspektif Etnografi Emik. Penelitian ini dilakukan di empat lokasi, yaitu Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Blora, Kabupaten Pati, dan Kabupaten Kudus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi muda komunitas Samin di Kabupaten Bojonegoro dan Blora tidak mampu mempertahankan tradisi Saminismenya, sedangkan generasi muda di Kabupaten Kudus dan Pati masih cukup banyak yang mempertahankan prinsip Saminismenya. Dinamika yang kondusif pada komunitas Samin Kudus dan Pati di dalam memaknai perubahan sosial dan semangat zaman serta produk modernitas dianggap sebagai posisi tawar budaya tanding terhadap kekuasaan dominan. Ketiga penelitian yang dilakukan Heru tersebut berbeda dengan yang dilakukan oleh penulis. Walaupun terdapat persamaan di dalam objek penelitian, yaitu komunitas Sedulur Sikep, perbedaan mendasar penelitian yang telah dilakukan oleh Heru terfokus pada bidang kajian teks, sedangkan penulis lebih terfokus pada ranah kajian budaya. Penelitian lainnya yang terfokus pada ranah kajian budaya dan mengangkat tema-tema perjuangan identitas dan keterpinggiran adalah tulisan Indriani (2010) berjudul Perjuangan Identitas Orang Kajang di Bulu Kumba Sulawesi Selatan. Di dalam tulisan tersebut, ada dua bagian utama dari perbincangkan, yaitu (1) bagian identitas orang Kajang yang berbeda dan (2) bagian proses munculnya perjuangan identitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang Kajang telah membuktikan kesatuan pada tradisi nenek moyang Bugis Makasar sehingga mereka harus diposisikan sejajar dengan kelompok Bugis

10 28 Makasar. Selama ini hak dasar orang Kajang masih belum terjamin secara keseluruhan oleh negara, sebagai contoh kepercayaan Patuntung sebagai tradisi kepercayaan asli yang diyakini oleh orang Kajang tidak dapat dikategorikan sebagai agama dan tidak boleh dianut oleh orang Kajang. Penelitian Indriani dapat dijadikan model penelitian yang mengangkat tema perjuangan identitas. Persamaan penelitian yang dilakukannya dengan penelitian penulis adalah samasama terfokus pada ranah kajian budaya dengan tema perjuangan identitas. Namun, objek kajian yang dilakukan oleh Farida adalah orang Kajang di Kabupaten Bulu Kumba Provinsi Sulawesi Selatan, sedangkan yang dilakukan penulis adalah komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah sehingga hasil rekonstruksi yang dilakukan tentunya berbeda. Tulisan lainnya berjudul Keterpinggiran Komunitas Hindu dalam Pluralitas Agama di Kabupaten Karo Sumatera Utara karya Minawati (2010). Di dalam penelitian ini dijelaskan bahwa keterpinggiran komunitas Hindu di Kabupaten Karo disebabkan oleh adanya dominasi agama yang lebih besar. Fenomena keterpinggiran komunitas Hindu tersebut tidak datang secara spontan, tetapi memiliki masa transisi, yaitu diawali dari masuknya agama Islam, agama Kristen, Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi. Pada masa Orde Baru dan Orde Reformasi, perpolitikan dengan isu mayoritas dan minoritas menjadi akar munculnya diskriminasi. Kondisi ini menghambat perkembangan agama Hindu di Kabupaten Karo. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa keterpinggiran komunitas Hindu Karo berujung pada konversi agama, mengecilnya jumlah komunitas Hindu, bahkan cenderung punah dan terkikisnya budaya Karo.

11 29 Keterpinggiran komunitas Hindu Karo juga terkait dengan makna lemahnya kebertahanan umat Hindu Karo, hilangnya kedalaman pemahaman agama umat Hindu, makna menipisnya semangat multikulturalisme, dan makna politik identitas. Penelitian yang dilakukan oleh Minawati memberikan informasi tentang keterpinggiran suatu komunitas akibat dominasi agama tertentu. Kondisi ini juga dialami oleh komunitas Sedulur Sikep. Secara umum, keterpinggiran komunitas Sedulur Sikep juga berujung pada penetrasi pemerintah terhadap agama yang dianut oleh komunitas Sedulur Sikep, yaitu agama Adam agar ditinggalkan dan selanjutnya memeluk salah satu agama resmi negara. Hal yang membedakan penelitian yang dilakukan Minawati dengan penulis adalah lokasi penelitian dan masalah yang diteliti tidak terfokus pada keagamaan semata, tetapi lebih pada perjuangan identitas secara luas. Dari paparan kajian pustaka di atas, penelitian yang dilakukan penulis memiliki persamaan pada wilayah objek kajian penelitian, yaitu tentang komunitas Sedulur Sikep. Namun demikian, yang berbeda dari penelitian yang telah dilakukan sebelumnya adalah pemilihan lokasi penelitian, skup temporal, fokus kajian, masalah penelitian, landasan teori, metode penelitian, dan pendekatan yang digunakan. Di dalam kaitan ini, kajian pustaka di atas menjadi cerminan bahwa masih ada ruang untuk melakukan penelitian terhadap komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah.

12 Konsep Konsep-konsep yang dikemukakan di dalam penelitian ini berkaitan dengan perjuangan identitas komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah. Adapun paparan konsep tersebut, sebagai berikut Perjuangan Identitas Perjuangan identitas merupakan suatu upaya untuk memperbaiki keadaan hidup dengan mendapat pengakuan dan sejajar dengan etnis lainnya. Istilah identitas merujuk pada pemahaman tentang citra diri dan kepemilikan kelompok yang dianut oleh anggota budaya dan yang ditingkatkan oleh konsumsi produk-produk budaya dan representasi melalui media (Burton, 2 008: 34). Menurut Tajfel (http://idhamputra.wordpress.com, 12 April 2012), identitas adalah pengetahuan individu, dalam hal ini individu merasa bagian dari anggota kelompok yang memiliki kesamaan emosi dan nilai. Identitas tersebut dapat berupa kebangsaan, ras, etnik, kelas, pekerjaan, agama, umur, gender, suku, dan keturunan. Identitas sosial masyarakat tidak bisa lepas dari kategori sosial yang ada dalam masyarakat yang dibentuk secara sejajar, tetapi juga menimbulkan status sosial dan kekuasaan. Adapun identitas menurut Chris Barker (2005: 219) adalah esensi dengan tanda-tanda tertentu, di mana dapat berupa ciri yang ditampilkan oleh seorang individu agar dirinya terlihat berbeda dari orang lain. Chris Barker membedakan identitas menjadi dua, yaitu (1) identitas diri ; dan (2) identitas kelompok sosial. Identitas diri merupakan segala sesuatu yang menyangkut diri kita di dalam sudut pandang kita sendiri, sedangkan identitas kelompok sosial

13 31 dibentuk oleh pendapat orang lain. Di dalam kaitan ini terdapat dua pandangan tentang identitas menurut pencarian Barat, yaitu pandangan pertama menganggap identitas merupakan inti diri yang bersifat universal dan kekal, di mana setiap orang memiliki esensi diri (penganut paham esensialisme). Pandangan kedua adalah pandangan yang mengatakan bahwa identitas sepenuhnya bersifat kultural, khas pada setiap zaman dan tempat. Hal ini berarti bahwa identitas bisa dipertukarkan dan dikaitkan dengan keadaan sosial serta kultural tertentu (penganut paham anti esensialisme). Identitas menurut pandangan anti esensialisme, lebih tepat digunakan. Oleh karena itu, di dalam tulisan ini, kata identitas merujuk pada dua pengertian mendasar. Pertama, merujuk pada bentuk dan posisi identitas Sedulur Sikep sesuai dengan pandangan anti esensialisme. Kedua, merujuk pada proses perjuangan identitas yang dilakukan komunitas Sedulur Sikep. Secara kronologis diuraikan bagaimana perjuangan identitas komunitas Sedulur Sikep berdasarkan perkembangan politik yang terjadi di Indonesia, yaitu pada masa Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi Komunitas Sedulur Sikep Komunitas Sedulur Sikep adalah istilah untuk menunjuk suatu entitas organik yang terdiri atas sekumpulan individu dengan kesamaan identitas tertentu (unifying traits), seperti kesamaan geografis tempat tinggal, ideologi atau agama, kepentingan/kebutuhan/aspirasi, minat dan bakat, serta profesi yang ada di sekitar Pegunungan Kendeng di wilayah utara yang memanjang mulai dari Provinsi Jawa Tengah hingga Provinsi Jawa Timur. Di dalam penelitian ini adalah komunitas Sedulur Sikep yang ada di Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah.

14 32 Secara etimologi, kata komunitas ( community) berakar dari bahasa Latin, yaitu cum (be rsama-sama, di antara satu dengan lainnya) dan munus (pemberian, memberi, berbagi). Komunitas mengandung unsur berbagi ( sharing) dan kesamaan identitas (http://id.wikipedia.org/wiki/komunitas). Menurut Koentjaraningrat (1990: 148), komunitas sebagai satu kesatuan hidup manusia, yang menempati suatu wilayah yang nyata, berinteraksi menurut adat istiadat, dan terikat oleh suatu identitas komunitas. Pendapat lain menyebutkan bahwa komunitas adalah sekelompok manusia yang mendiami wilayah tertentu yang seluruh anggotanya berinteraksi antara satu dan yang lain, di samping pembagian peran dan status yang jelas (Novia, 2008: 406; Primarianti, 1998: 8; Budimanta, 2008: 11). Di dalam pendekatan argumentasi ontologis, terdapat dua perspektif yang berbeda mengenai komunitas. Argumen pertama mengatakan bahwa komunitas pada dasarnya merupakan asosiasi kooperatif dari individu-individu yang terikat melalui kontrak sosial. Di dalam perspektif ini, individu diposisikan lebih superior daripada komunitas, manusia adalah makhluk individualistik. Manusia modern tidak membutuhkan komunitas sebagaimana yang ada pada masyarakat tradisional, ia bisa menjadi anggota komunitas sesuai dengan kebutuhan masing-masing dan sewaktu-waktu bisa keluar masuk antara komunitas satu dan lainnya. Hal ini disebabkan oleh sense of belonging manusia modern terhadap komunitasnya sangatlah rendah, penguatan rasa komunitas tidak dilihat sebagai suatu tujuan. Ia akan menjalankan kewajiban sosialnya yang selalu dipandang dari sisi untung rugi kepentingan individu. Oleh karena itu, ada

15 33 kecenderungan manusia modern merasa kesepian dalam keramaian, merasa terasing dengan kerabatnya sendiri, terpenjara oleh dunia serba bebas yang sesungguhnya memberikan kenikmatan semu, terbelenggu dan menjadi budak oleh ciptaannya sendiri, yaitu raksasa teknologi modern melalui mekanisasi, otonomisasi, dan standardisasi. Manusia digambarkan di dalam kesepian yang sangat menderita. Pandangan lain melihat komunitas adalah suatu entitas organik di mana individu-individu berperan sebagai kandungannya ( ingredients). Individu tidak dapat menjadi manusia seutuhnya tanpa menjadi bagian/anggota suatu komunitas. Argumentasi ontologis ini selaras dengan pandangan Aristoteles. Menurut Aristoteles, manusia adalah zoon politicon, yaitu makhluk sosial yang hanya menyukai hidup bergolongan atau sedikitnya mencari teman untuk hidup bersama lebih suka daripada hidup sendiri. Anggota komunitas akan lebih mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan individu. Individu tidak hanya memiliki hak, tetapi juga kewajiban sebagai anggota komunitas atau dengan kata lain dalam setiap hak terkandung kewajiban ( rights come with responsibilities). Sedemikian tingginya rasa kepemilikan komunitas sehingga sesama anggota komunitas terdapat satu perasaan yang disebut community sentiment. Community sentiment memiliki tiga ciri penting, yaitu (1) seperasaan sehingga orang yang tergabung di`dalamnya menyebut dirinya kelompok kami ; (2) sepenanggungan, di mana setiap individu sadar akan peranannya dalam kelompok dan keadaan masyarakat sendiri memungkinkan peranannya dalam

16 34 kelompok dijalankan; (3) saling memerlukan, individu yang tergabung dalam suatu komunitas merasa dirinya tergantung pada komunitasnya. Istilah Sedulur Sikep diambil dari kata tiyang sami-sami (sedulur) dan kata sikep (semacam target ideal perilaku sosial yang harus dilaksanakan. Target tersebut berorientasi pada perilaku yang lugu dan jujur, serta tidak merugikan orang lain). Sedulur dalam bahasa Jawa berarti saudara, di mana mereka memandang semua orang itu pada hakikatnya sama dan bersaudara sehingga komunitas Sedulur Sikep bersikap egaliter dalam interaksi sosialnya. Terkait dengan penelitian ini, penggunaan konsep di atas dapat menggambarkan perjalanan sejarah perjuangan identitas yang dilakukan komunitas Sedulur Sikep Kabupaten Pati. Hubungan timbal balik yang tidak harmonis antara pemerintah dengan komunitas Sedulur Sikep sehingga memunculkan pelabelan yang stereotipe memaksa komunitas Sedulur Sikep menyusun strategi perlawanan melalui perjuangan identitasnya agar memperoleh kedudukan yang sejajar dengan komunitas lainnya. 2.3 Landasan Teori Penelitian ini menggunakan perspektif kajian budaya, di mana teoriteorinya termasuk ke dalam kelompok postrukturalisme. Teori-teori tersebut, antara lain teori identitas sosial, teori subaltern, teori hegemoni, dan teori dekonstruksi. Teori-teori tersebut digunakan secara eklektik, seperti yang biasa dilakukan dalam ranah kajian budaya. Dengan demikian, fenomena yang kompleks dianalisis dengan menggunakan teori secara eklektik sehingga mendapatkan hasil yang lebih valid (Sanderson, 2003: 619).

17 35 Teori identitas sosial digunakan untuk menjelaskan proses pembentukan dan perjuangan identitas komunitas Sedulur Sikep, sedangkan teori subaltern digunakan untuk mengamati dan menganalisis keterpinggiran yang dialami komunitas Sedulur Sikep yang terisolasi dan terbungkam di dalam struktur yang dominan. Teori selanjutnya, yaitu teori hegemoni digunakan untuk menganalisis proses terjadinya hegemoni serta reaksi komunitas Sedulur Sikep atas berlangsungnya penerapan pola hegemoni, baik oleh pemerintah maupun kelompok masyarakat non-sedulur Sikep. Teori terakhir adalah teori dekonstruksi digunakan untuk menganalisis makna yang dilekatkan sehubungan dengan keberadaan komunitas Sedulur Sikep sehingga ada upaya mendekonstruksi makna lama dengan makna baru Teori Identitas Sosial Teori identitas sosial dikembangkan dan dipopulerkan oleh ahli psikologi Henri Tajfel pada tahun Tajfel bersama dengan peneliti lain, seperti Michael Billing, Dick Eisier, Jonathan Turner, dan Glyns Breakwell membuat penelitian mengenai identitas sosial, kategorisasi sosial, dan perbandingan sosial di dalam hubungan antarkelompok. Tajfel melihat kategorisasi yang dilakukan individu di dalam melekatkan nilai-nilai di dalam kelompoknya dan di dalam kelompok lain, sebagaimana penuturannya berikut ini.

18 36 Kategorisasi sosial terjadi ketika kita berpikir tentang seseorang, baik diri kita maupun orang lain sebagai anggota kelompok sosial yang berarti atau bermakna. Di dalam hal ini, kita melihat saya sebagai kelompok A dan dia sebagai kelompok B. Saya berada di dalam kelompok ini karena memang sudah terlahir menjadi bagian kelompok karena kelompok tersebut, memang mendekati kriteria kepribadian saya. Kategorisasi diri terjadi ketika seseorang berpikir terhadap dirinya (daripada berpikir tentang orang lain) sebagai anggota kelompok sosial. Kategorisasi diri melibatkan di dalamnya perbandingan antarkelompok yang mereka miliki ( in-group) dan kelompok yang tidak mereka rasa memilikinya ( out-group). Dengan demikian, mengategorisasi, tentu saja manusia akan lebih dimudahkan untuk mengenal (http:idhamputra.wordpress.com, 2 Maret 2012). Jeefrey Weeks (Kinarsih, 2007: 4) berpendapat tentang pentingnya identitas bagi individu ataupun kelompok adalah tentang belonging, persamaan dengan sejumlah orang, dan yang membedakan diri sendiri dengan orang lain. Identitas adalah kemampuan membangun cerita tentang dirinya. Hal ini merupakan sebuah proyek, yaitu individu berusaha mengonstruksi suatu narasi identitas koheren diri yang membentuk suatu lintasan perkembangan dari masa lalu sampai masa depan yang dapat diperkirakan (dengan pertanyaan, seperti siapakah aku, apa yang harus aku lakukan, bagaimana harus bertindak, dan lainlain). Jadi, identitas diri bukanlah kumpulan sifat yang dimiliki oleh individu, melainkan apa yang dipahami secara reflektif oleh orang dalam konteks biografinya. Identitas bukanlah ciri yang kita miliki, bukanlah sesuatu yang kita miliki untuk dipertunjukkan, tetapi merupakan cara berpikir tentang diri kita. Apa yang kita pikirkan tentang diri kita sering berubah-ubah dari lingkungan yang satu ke lingkungan yang lain serta dalam ruang dan waktu (sebuah proyek). Sebaliknya, kebenaran umum mencatat bahwa kita lahir dalam dunia yang telah ada sebelum kita. Hal ini mewajibkan kita belajar menggunakan bahasa yang telah

19 37 ada dan tata hubungan sosial yang telah ada. Secara singkat, hal ini menjelaskan mengapa kita mau dan tidak mau melalui tahapan sosialisasi atau akulturasi. Dalam tahapan ini, sumber yang digunakan sebagai proyek identitas tergantung pada kekuasaan situasional yang menjadi asal tempat budaya di mana kita berada. Di sini, identitas menjadi penting karena tidak hanya untuk penggambaran diri, tetapi juga ciri sosial. Identitas sosial diasosiasikan dengan hak-hak normatif, kewajiban, dan sanksi, yakni pada kolektivitas tertentu membentuk peran. Pemakaian tanda-tanda yang terstandardisasi, khususnya yang terkait dengan atribut badaniah, umur, dan gender merupakan hal yang fundamental pada masyarakat meskipun ada budaya yang tercatat. Secara spesifik, identitas menekankan suatu cerita yang dibangun setelah memikirkan diri kita. Pada saat kita membicarakan identitas kita, sebenarnya kita sedang bercerita pada orang lain bagaimana diri kita dalam persepsi kita sendiri setelah melihat, termasuk memikirkan keberadaan kita. Tampaknya, hal tersebut juga dilakukan oleh komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati karena hal-hal berikut. Pertama, komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati menyadari bahwa keberadaan mereka akan ditanggapi oleh orang di luar komunitas Sedulur Sikep. Di dalam hal ini, bisa saja tanggapan orang luar tersebut berbeda dengan apa yang dialami oleh komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati karena keberadaannya dianggap sebagai sesuatu yang aneh, bahkan ditanggapi secara negatif oleh kelompok masyarakat lainnya. Kedua, karena keberadaan komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati ditanggapi secara negatif, maka komunitas Sedulur Sikep menyadari bahwa mereka perlu

20 38 mengungkapkan bagaimana identitasnya dan cara komunitas Sedulur Sikep sendiri, walaupun mereka sadar bahwa identitas tersebut akan terpengaruh pada identitas komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati apabila melihat dirinya sendiri. Pada kenyataan ini, peran teori identitas sosial adalah untuk melihat sejauh mana identitas komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati dibentuk, yaitu apakah pembentukan identitas ini mengikuti persepsi komunitas Sedulur Sikep sendiri atau justru dipaksakan oleh kekuatan dari komunitas non-sedulur Sikep di Kabupaten Pati. Untuk memudahkan penelitian, maka lebih tepat apabila digunakan analisis identitas komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati dengan melihat komunitas Sedulur Sikep memikirkan dirinya. Walaupun demikian, unsur subjektivitas komunitas Sedulur Sikep cukup tinggi karena mereka akan melihat dirinya sendiri, tetapi ini jauh lebih tepat daripada mengikuti pandangan orang dari luar komunitas Sedulur Sikep. Dari bentuk identitas komunitas Sedulur Sikep tersebut, tercermin bagaimana posisi komunitas Sedulur Sikep di dalam masyarakat di Kabupaten Pati. Jika memang benar komunitas Sedulur Sikep dikategorikan sebagai warga kelas dua, yakni dalam pengertian lebih rendah daripada komunitas lain, maka apa yang dilakukan komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati agar posisinya disejajarkan dengan kelompok masyarakat lainnya. Pada saat inilah perlu fase perjalanan waktu yang dilalui oleh komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati. Karena lewat paparan perjalanan waktu, maka terlihat hal-hal penting yang

21 39 dilakukan oleh komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati untuk menyejajarkan dirinya dengan kelompok masyarakat lain Teori Subaltern Teori subaltern digunakan untuk menganalisis keterpinggiran komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah yang terisolasi dan terbungkam di dalam struktur yang dominan. Secara umum, keterpinggiran adalah suatu posisi sisa atau posisi korban dalam hubungan oposisi biner ( binary opposition) dalam paham modernisme. Pada kenyataannya, posisi komunitas Sedulur Sikep yang terpinggirkan, berada pada posisi yang dianggap kalah. Pada posisi tersebut, komunitas Sedulur Sikep juga dianggap the other (yang lain) atau subaltern. Studi subaltern pada dasarnya berada di wilayah postkolonial. Di dalam postkolialisme sering dipertentangkan antara yang dominan dan yang dikuasai. Kata postkolonial sering dihubungkan dengan kata kolonial ( colonial) dari bahasa Romawi yang berarti pertanian atau permukiman. Pengertian ini sama sekali tidak berhubungan dengan konotasi negatif kata kolonial dalam pengertian penjajahan atau penguasaan tanah dan harta penduduk asli oleh penduduk pendatang. Penggunaan istilah postkolonial sebagai salah satu teori kritis untuk pertama kali tidak diketahui secara pasti. Di dalam hal ini, para ilmuwan, seperti Frantz Fanon, Edward W. Said, Bill Ashroft, Gayatri Spivak, P. Williams, dan L. Chrisman juga menggunakan kata postkolonial dalam karya-karya mereka. Pengertian postkolonial dalam sudut pandang budaya, kerap dihubungkan dengan posisi konstruksi budaya menuju budaya putih global. Kebudayaan putih yang dimiliki kaum kolonial dianggap sebagai acuan

22 40 perkembangan bagi semua budaya. Hal ini terjadi karena anggapan bahwa budaya putih mempunyai keagungan tertinggi. Ketika kaum kolonial kemudian tidak lagi berkuasa karena sebab-sebab tertentu, maka penguasaan wilayah jajahan diserahkan kepada orang pribumi. Namun, ternyata pemerintahan masyarakat pribumi masih saja memakai pandangan kolonial sehingga masih dikategorikan sebagai kolonialisme (Sutrisno M, 2004: 10). Di dalam hal ini dapat dipahami bahwa postkolonial dapat berarti suatu keadaan setelah masa penjajahan berakhir. Penekanan penjajahan dalam dua pengertian, baik tipe penjajahan dari kelompok asing (Barat) maupun penjajahan dari masyarakat pribumi itu sendiri. Secara umum, postkolonial mengibarkan panji-panji kebebasan, pluralisme, dan dekonstruksi atau membongkar tradisi. Bidang yang luas pun menjadi sasaran ekspansi postkolonialisme walaupun terminologinya postkolonialisme berarti kondisi sesudah kolonial atau penjajahan dalam hal ini pengertiannya tidak hanya tentang hubungan yang terjajah dengan penjajah semata, tetapi juga mewadahi kajian tentang strategi politis ataupun intelektual yang digunakan oleh kaum yang terpinggirkan untuk menuntut kedaulatannya. Di dalam postkolonialisme, identitas merupakan sebuah ikon yang menjadi tema sentral; apakah identitas itu; bagaimana wujudnya; apa kegunaannya; menjadi rentetan permasalahan yang paling hangat diperdebatkan dewasa ini. Identitas kemudian dapat digolongkan sebagai produk strategis dari kelompok masyarakat yang terpinggirkan (marginalisasi) untuk kembali merebut posisi mereka.

23 41 Di dalam poskolonial, istilah subaltern yang berkaitan dengan imperialisme, penjajahan budaya atau dominasi budaya tertentu terhadap budaya lain banyak digunakan. Istilah subaltern pertama kali digunakan oleh Antonio Gramsci untuk menunjukkan suatu kelompok sosial yang berada di subordinat, yaitu kelompok-kelompok di dalam masyarakat yang menjadi subjek hegemoni kelas-kelas yang berkuasa. Teori subaltern berkembang dari konsep Marxis mengenai struktur kelas kelompok borjuis (kaum bangsawan) dan kelompok buruh (proletariat) yang kemudian dikembangkan oleh Gramsci di dalam teori hegemoninya ( 23 Juni 2012). Perhatian utama teori subaltern adalah penekanan pada difference, termarginal, terpinggir, posisi tepi, subordinat, menomorduakan, dekonstruksi, representasi, dan identitas. Salah satu peletak dasar teori subaltern adalah Gayatri Spivak (Amin, 1996:12; gayatri.htm, 23 Juni 2012). Di dalam hal ini, Spivak tidak telepas dari pemikiran kelompok Marxis terutama Gramsci. Struktur teoretik kajian subaltern diadopsi dari Barat yang dipelopori oleh Gramsci yang menyebut subaltern sebagai kelas inferior, sedangkan Spivak menyebutnya sebagai subjek yang tertindas (kelas -kelas subaltern) dan secara krusial sublaternitas merupakan posisi tanpa identitas (Morton, 2008: 159). Wacana kekalahan komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah, sebagai kelompok masyarakat yang minoritas dari segi jumlah adalah keterpinggiran dan pandangan yang stereotipe negatif terhadap komunitas tersebut. Politik identitas komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati menunjukkan representasi kekalahan, keterpinggiran, ingin diterima, dan berdaya

24 42 tanpa meniadakan kelas sosial lingkungannya. Di dalam konteks ini, menurut Spivak, memahami perbedaan manusia sangat penting daripada sebuah persamaan. Oleh karena itu, dekonstruksi menjadi sebuah metode yang tepat untuk memahami perbedaan dan keragamaan di dalam komunitas Sedulur Sikep. Spivak (Ritzer, 2003: 204) mendefiniskan sebagai berikut. Untuk melokasikan teks marginal yang diharapkan, untuk menyingkap momen yang tidak dapat dipastikan, untuk membongkar kelonggarannya dengan pengungkit penanda positif untuk membalikkan hierarki yang tetap, hanya dengan menggantikannya, membongkarnya agar dibangun kembali. Perhatian pemikiran subaltern terfokus pada kelompok yang terpinggirkan dan terbungkam, yang tidak memiliki daya dan kemampuan di dalam menunjukkan eksistensinya. Kekerasan epistemik ( epistemic violence) menjadi perrmasalahan mendasar yang selalu dihadapi oleh kelompok subaltern. Menurut Lubis (2006: 234), kekerasan epistemik adalah (1) mengakarnya asumsi logosentrisme tentang solidaritas cultural di antara masyarakat yang heterogen; (2) ketergantungan terhadap intelektual dan cara berpikir Barat sehingga ketika mereka berbicara lebih cenderung menunjukkan kepentingan Barat daripada kepentingan mereka sendiri. Komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah, saat ini masih berada pada posisi subordinat, terpinggirkan, tepi, bungkam/diam, dan kalah di dalam persaingan dengan komunitas lain, terutama Suku Jawa. Kenyataannya bahwa komunitas Sedulur Sikep adalah bagian dari masyarakat Indonesia yang telah merdeka dari penjajahan bangsa lain sejak 17 Agustus Namun, di dalam perjalanan komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati tetap

25 43 tercatat adanya upaya-upaya kelompok di luar komunitas Sedulur Sikep untuk menjajah. Pola kolonialisme ternyata masih dirasakan oleh komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati karena posisinya dianggap lebih rendah, terpinggirkan, maka patut diajarkan berbagai hal agar mereka dapat sederajat dengan kelompok masyarakat lain. Hal ini sejalan dengan pendapat Sutrisno (2004: 10) bahwa poskolonial tidak lantas mengisyaratkan berakhirnya era kolonialisme karena ada kemungkinan justru kaum pribumi yang berkuasa, yakni mengadopsi pikiran kolonialisme asing dan mempraktikkannya pada komunitas lainnya yang dianggap lebih rendah daripada yang berkuasa. Akhirnya, komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati tetap berjuang untuk membuktikan esksistensinya dan menolak terjajah lagi. Secara historis, walaupun komunitas Sedulur Sikep telah ada secara turuntemurun di Kabupaten Pati dan diakui sebagai salah satu kelompok masyarakat, keberadaan komunitas Sedulur Sikep dari waktu ke waktu dipandang negatif dan menjadi bahan ejekan dan perdebatan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan yang ditampilkan komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati dalam kehidupan sehari-hari jika dibandingkan dengan kehidupan keseharian etnis lain (suku Jawa). Hal ini membuktikan bahwa komunitas Sedulur Sikep masih dianggap lebih rendah daripada kelompok masyarakat lainnya. Sebagaimana lazimnya kelompok yang direndahkan, maka dapat dikatakan ada upaya dari kelompok lain untuk menjajah komunitas Sedulur Sikep. Keputusan komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati untuk keluar dari keterpinggiran agar sederajad dengan komunitas lain adalah saat yang tepat untuk dianalisis melalui teori

26 44 subaltern. Di dalam hal ini, dengan menerapkan teori tersebut dapat dilihat apa yang sebenarnya mendorong komunitas Sedulur Sikep keluar dari subaltern Teori Hegemoni Negara dan masyarakat selalu berinteraksi. Negara mengeluarkan kebijakan dan peraturan untuk dilaksanakan oleh masyarakat. Agar peraturan tersebut dipatuhi dan dilaksanakan oleh masyarakat, maka salah satu cara yang digunakan oleh negara adalah melalui kepemimpinan moral dan intelektual. Kepemimpinan moral dan intelektual ini disebut teori hegemoni (Wibowo, 2000). Teori hegemoni dipopulerkan oleh Antonio Gramsci ( ), salah seorang teoretis Marxis terpenting pada abad ke-21. Pada awalnya, teori hegemoni merupakan bagian dari teori struktural konflik, tetapi versi Gramsci dikategorikan menjadi teori struktural konflik baru karena menawarkan sudut pandang baru tentang hegemoni. Di dalam teori struktural konflik, asumsi yang dibangun adalah bahwa masyarakat penuh dengan ketegangan dan selalu berpotensi melakukan konflik serta senantiasa terjadi perubahan (Maliki, 2003: 132). Pada awalnya, teori struktural konflik dicetuskan oleh Karl Marx dan diikuti oleh Max Weber. Keduanya mengembangkan berbagai ide dasar, yaitu pada satu sisi adalah kesamaan, tetapi pada sisi lainnya mengembangkan tipe konflik berbeda. Setelah berkembang, maka tipe konflik Karl Marx ternyata lebih populer daripada tipe konflik yang dikembangkan Max Weber. Walaupun lebih populer, bukan berarti pemikiran Karl Marx terlepas dari kritikan. Salah seorang pengkritik utama pemikiran Karl Marx adalah Antonio Gramsci.

27 45 Antonio Gramsci adalah salah seorang tokoh yang mengkritik prediksi Karl Marx tentang revolusi sosialisme yang dilandasi kekuatan ekonomi. Menurut Antonio Gramsci, terjadinya revolusi mungkin disebabkan oleh ekonomi. Namun, hal itu bukan faktor yang utama karena ideologilah yang mendorong bangkitnya massa menuntut revolusi. Di dalam hal ini, Gramsci mengemukakan bahwa terdapat dua macam hegemoni, yaitu (1) hegemoni dengan pemaksaan atau kekerasan; dan (2) hegemoni tanpa paksaan atau hegemoni dengan persetujuan (Maliki, 2003: 133). Menurut Simon (2004: 37-47), hegemoni dengan persetujuan oleh Gramsci dinyatakan bahwa ada suatu blok historis dari fraksi kelas penguasa yang menerapkan otoritas sosial dan kepemimpinan terhadap kelas subordinat dengan cara merebut persetujuan. Di dalam kaitan ini yang paling sentral menurut Gramsci adalah hegemoni selalu melibatkan pendidikan dan keberhasilan merebut persetujuan, yakni tidak hanya menggunakan kekuatan kasar dan pemaksaan semata. Salah satu contoh adalah ideologi yang menghegemoni karena ideologi dipahami sebagai peta-peta makna yang menyokong kekuasaan kekuatan kelompok sosial tertentu, memiliki akar dalam kondisi sehari-hari kehidupan populer. Di dalam kehidupan populer, orang mengatur kehidupan dan pengalaman mereka menjadi situsi krusial pertarungan ideologi. Inilah tempat ideologi dipahami sebagai serangkaian aliansi yang cair dan sementara terus-menerus direbut kembali dan dinegosiasi ulang. Selain hal di atas, Simon juga menjelaskan bahwa Gramsci memaparkan perjuangan ideologi pada politik Barat sebagai bagian terpenting. Hal ini sangat relevan dengan mereka yang peduli pada perubahan sosial.

28 46 Perubahan sosial itu merupakan hubungan yang erat dengan keberadaan mereka yang disebutnya sebagai intelektual tradisional dan intelektual organik. Intelektual tradisional adalah mereka yang menempati posisi ilmiah, filosofis, atau religius di mata masyarakat. Intelektual tradisional dapat berasal dari berbagai kalangan dan sering memandang dirinya sebagai kelompok independen yang terlepas dari pengaruh ideologi mana pun. Meskipun demikian, intelektual tradisional juga memproduksi dan mempertahankan serta menyebarkan ideologi-ideologi yang membentuk hegemoni. Ideologi ini kemudian menjadi tertanam dan ternaturalisasi dalam akal sehat. Intelektual organik adalah bagian konstitutif dari perjuangan kelas pekerja. Mereka terlibat dalam pemikiran dan pengorganisasian berbagai elemen kelas kontra hegemoni dan sekutu-sekutunya. Peran ini dimainkan oleh mereka yang ada di dunia pendidikan, anggota serikat pekerja, para penulis, para pembuat kampanye, dan lain-lain. Walaupun pada mulanya konsep hegemoni berbicara tentang kelas sosial, pengaruh Gramsci melebar sehingga relasi konsep hegemoni yang ada sekarang sering melibatkan gender, kelamin, usia, etnisitas, dan identitas nasional. Di sisi lain, ia menguraikan bahwa hegemoni dapat dipandang sebagai upaya suatu kelas dan anggotanya menjalankan kekuasaannya terhadap kelaskelas di bawahnya dengan cara kekuasaan dan persuasi. Selain itu, penekanan pada upaya merebut sama besarnya dengan upaya mempertahankan kekuasaan. Hal itu terjadi karena jika hanya merebut lalu kemudian jatuh lagi, bukan sesuatu yang dipandang sebagai hegemoni. Hegemoni berhubungan dengan kekuasaan

29 47 dan kekuasaan dipandang sebagai suatu hubungan. Hal ini merupakan sebuah hubungan yang rumit karena melibatkan berbagai kelas, kelompok, dan kekuatan sosial lain. Sebagai contoh, pada saat menganalisis bagian munculnya kelas kapitalis serta tiga fase perkembangan kesadaran politik kolektif dan organisasi. Di dalam kaitan ini ada tiga fase yang harus dilalui, yaitu (1) berdiri sendiri dan belum tumbuh rasa solidaritas sesama pengusaha; (2) perasaan solidaritas mulai tumbuh di antara para pedagang; (3) para pedagang sadar bahwa untuk kepentingan perusahaannya pada masa sekarang dan masa yang akan datang, maka ia harus dapat melampaui batas korporasi kelas serta kepentingannya menjadi kepentingan kelompok yang lebih rendah. Di dalam hal ini, fase satu dan fase dua disebut korporasi, sementara fase tiga disebut hegemoni. Di dalam hal ini sebuah kelas dapat melakukan hegemoni jika mampu melampaui fase korporasinya dan berhasil menyatukan kepentingan kelas dan kekuatan sosial yang lain dengan kepentingannya sendiri sehingga berhasil menjadi representasi penuh dari kekuatan sosial utama membangun bangsa. Dengan demikian, kelas yang lebih rendah harus mulai melampaui aktivitas korporasi dalam lingkup setempat (aktivitas ketika mereka hanya peduli dengan kepentingan mereka sendiri yang bersifat sesaat) dan harus bergerak menuju fase hegemoni dengan memerhatikan kepentingan kelas dan kelompok lain. Selanjutnya, menurut Bocock (2006: 26) Gramsci juga menyatakan bahwa masyarakat kapitalis itu terdiri atas tiga hubungan sosial, yaitu (1) hubungan produksi sebagai hubungan dasar antara pekerja dan pemodal; (2) hubungan koersif yang menjadi watak negara; dan (3) hubungan sosial lain yang

30 48 membentuk masyarakat sipil. Di dalam hal ini hubungan pertama didasari oleh saling membutuhkan aset ekonomi, yakni tenaga dan modal. Hubungan kedua memaparkan suatu hubungan yang dimiliki oleh aparat negara yang bersifat monopolit dan koersif. Sementara itu, hubungan ketiga merupakan hubungan yang lebih luas karena tidak hanya melibatkan kelas pekerja dan pemodal, tetapi juga meliputi organisasi atau kelompok lain yang terbentuk dari praktik-praktik hubungan yang lebih kompleks, seperti gereja atau sekolah. Di dalam hal ini ada unsur kesengajaan untuk memisahkan masyarakat politik dengan masyarakat sipil. Masyarakat politik digunakan untuk mewakili hubungan koersif yang terwujud di dalam berbagai lembaga negara, seperti kepolisian, departemen, dan lembaga hukum. Masyarakat sipil merupakan wilayah di tempat pemilik modal, pekerja, dan kelompok lain terlibat dalam politik, partai politik, serikat dagang, dan lembaga keagamaan yang muncul. Namun, di sini bukan hanya sebagai wilayah perjuangan kelas, melainkan juga perjuangan demokrasi kerakyatan. Dengan demikian, secara teoretis kelas hegemoni akan menjalankan kekuasaannya terhadap kelas-kelas di bawahnya di samping kekuasaan negara yang menjalankan dominasinya dalam negara. Kekuasaan itu tersebar dalam masyarakat sipil dan menjelma dalam aparat koersif negara. Teori hegemoni Gramsci digunakan untuk menganalisis pernyataan lanjutan. Di dalam hal ini, faktor apa saja yang mendorong perjuangan komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati. Secara umum, hegemoni Gramsci menawarkan bentuk baru, yakni adanya pola hegemoni dengan persetujuan di samping adanya

31 49 strategi khusus yang dilakukan kelas penguasa agar dominasinya diterima secara berkelanjutan. Di dalam kaitan ini, walaupun inti penekanan hegemoni tetap pada pola-pola mengenai kelas, Gramsci lebih luas memaparkan kesempatan yang dapat dijadikan pendekatan lebih baik untuk menguasai kelompok lain. Pada langkah pertama, dianalisis ideologi apa yang melekat kuat di dalam benak komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati. Selanjutnya, bagaimana ideologi tersebut memengaruhi komunitas Sedulur Sikep dalam menghadapi dinamika konflik sejak era Orde Lama sampai dengan Orde Reformasi. Asumsinya, pada saat konflik terjadi, kebanyakan komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati membacanya sebagai tanda yang menyatakan adanya pihak luar ingin menguasai komunitas Sedulur Sikep. Konotasi penguasaan adalah konotasi negatif karena akan membahayakan kehidupan komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati sehingga mereka bereaksi untuk menolak penguasaan tersebut. Walaupun demikian, pada saat tertentu, komunitas Sedulur Sikep bersedia berdialog dengan kelompok masyarakat lain yang berusaha menguasai komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati. Teori hegemoni Gramsci lebih difokuskan untuk menganalisis ideologi yang amat menekan atau mendorong adanya perjuangan identitas yang dilakukan komunitas Sedulur Sikep di Kabupaten Pati. Perjuangan identitas ini merupakan cara untuk menolak penguasaan yang hendak dilakukan oleh kelompok di luar komunitas Sedulur Sikep.

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra merupakan wujud dari proses imajinatif dan kreatif pengarang.

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra merupakan wujud dari proses imajinatif dan kreatif pengarang. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra merupakan wujud dari proses imajinatif dan kreatif pengarang. Adapun proses kreatif itu berasal dari pengalaman pengarang sebagai manusia yang hidup di

Lebih terperinci

Imaji Vol. 4 - No. 2/ Februari 2009 RESENSI BUKU

Imaji Vol. 4 - No. 2/ Februari 2009 RESENSI BUKU RESENSI BUKU JUDUL BUKU : Cultural Studies; Teori dan Praktik PENULIS : Chris Barker PENERBIT : Kreasi Wacana, Yogyakarta CETAKAN : Ke-IV, Mei 2008 TEBAL BUKU : xxvi + 470 halaman PENINJAU : Petrus B J

Lebih terperinci

KAJIAN POSTKOLONIALISME DAN KONSTRUKSI MASYARAKAT TERHADAP LGBT (LESBIAN, GAY, BISEKSUAL, TRANSGENDER)

KAJIAN POSTKOLONIALISME DAN KONSTRUKSI MASYARAKAT TERHADAP LGBT (LESBIAN, GAY, BISEKSUAL, TRANSGENDER) KAJIAN POSTKOLONIALISME DAN KONSTRUKSI MASYARAKAT TERHADAP LGBT (LESBIAN, GAY, BISEKSUAL, TRANSGENDER) Definisi Postkolonialisme Mendefinisikan istilah postkolonialisme sama susahnya dengan mendefinisikan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Politik Identitas. Sebagai suatu konsep yang sangat mendasar, apa yang dinamakan identitas

TINJAUAN PUSTAKA. A. Politik Identitas. Sebagai suatu konsep yang sangat mendasar, apa yang dinamakan identitas 14 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Politik Identitas Sebagai suatu konsep yang sangat mendasar, apa yang dinamakan identitas tentunya menjadi sesuatu yang sering kita dengar. Terlebih lagi, ini merupakan konsep

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perhatian yang khusus. Perjuangan dalam pergerakan kebangsaan Indonesia

I. PENDAHULUAN. perhatian yang khusus. Perjuangan dalam pergerakan kebangsaan Indonesia 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Abad ke 20 bukan hanya menjadi saksi perjuangan bangsa Indonesia, akan tetapi dalam hal gerakan-gerakan anti penjajahan yang bermunculan di masa ini menarik perhatian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. sebagaimana dilakukan dalam ilmu-ilmu humaniora pada umumnya. Secara

BAB III METODE PENELITIAN. sebagaimana dilakukan dalam ilmu-ilmu humaniora pada umumnya. Secara BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian di dalam kajian budaya selalu mengikuti polapola sebagaimana dilakukan dalam ilmu-ilmu humaniora pada umumnya. Secara garis besar,

Lebih terperinci

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA. Secara Etimologis, istilah Kebijakan (policy) berasal bahasa Yunani,

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA. Secara Etimologis, istilah Kebijakan (policy) berasal bahasa Yunani, BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1. Kebijakan Secara Etimologis, istilah Kebijakan (policy) berasal bahasa Yunani, Sangsekerta, dan Latin. Dimana istilah kebijakan ini memiliki arti menangani masalah-masalah publik

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG MASALAH

UKDW BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG MASALAH BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG MASALAH Perempuan di berbagai belahan bumi umumnya dipandang sebagai manusia yang paling lemah, baik itu oleh laki-laki maupun dirinya sendiri. Pada dasarnya hal-hal

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIKULTURAL DALAM MEWUJUDKAN PENDIDIKAN YANG BERKARAKTER. Muh.Anwar Widyaiswara LPMP SulSel

PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIKULTURAL DALAM MEWUJUDKAN PENDIDIKAN YANG BERKARAKTER. Muh.Anwar Widyaiswara LPMP SulSel 1 PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIKULTURAL DALAM MEWUJUDKAN PENDIDIKAN YANG BERKARAKTER Muh.Anwar Widyaiswara LPMP SulSel Abstrak Setiap etnik atau ras cenderung memunyai semangat dan ideologi yang etnosentris,

Lebih terperinci

BAB IV. 1. Makna dan Nilai wariwaa dalam adat. Pada umumnya kehidupan manusia tidak terlepas dari adat istiadat,

BAB IV. 1. Makna dan Nilai wariwaa dalam adat. Pada umumnya kehidupan manusia tidak terlepas dari adat istiadat, BAB IV ANALISIS 1. Makna dan Nilai wariwaa dalam adat Pada umumnya kehidupan manusia tidak terlepas dari adat istiadat, yang secara sadar maupun tidak telah membentuk dan melegalkan aturan-aturan yang

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN Identitas Nasional dalam Imajinasi Kurikulum kurikulum Konstruksi tersebut melakukan the making process dalam

BAB V KESIMPULAN Identitas Nasional dalam Imajinasi Kurikulum kurikulum Konstruksi tersebut melakukan the making process dalam BAB V KESIMPULAN 5.1. Identitas Nasional dalam Imajinasi Kurikulum 2013 Konstruksi Identitas Nasional Indonesia tidaklah berlangsung secara alamiah. Ia berlangsung dengan konstruksi besar, dalam hal ini

Lebih terperinci

BAB IV KESIMPULAN. dipenuhi dengan budaya-budaya yang beragam di mana mengakui keberagaman,

BAB IV KESIMPULAN. dipenuhi dengan budaya-budaya yang beragam di mana mengakui keberagaman, BAB IV KESIMPULAN Masyarakat yang plural atau majemuk merupakan masyarakat yang dipenuhi dengan budaya-budaya yang beragam di mana mengakui keberagaman, perbedaan, dan kemajemukan budaya, baik ras, suku,

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. 5.1 Kesimpulan

BAB V PENUTUP. 5.1 Kesimpulan 116 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari hasil analisis semiotika dengan unsur tanda, objek, dan interpretasi terhadap video iklan pariwisata Wonderful Indonesia episode East Java, serta analisis pada tiga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perasaan, yaitu perasaan estetis. Aspek estetis inilah yang mendorong budi

BAB I PENDAHULUAN. perasaan, yaitu perasaan estetis. Aspek estetis inilah yang mendorong budi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesenian adalah unsur kebudayaan yang bersumber pada aspek perasaan, yaitu perasaan estetis. Aspek estetis inilah yang mendorong budi daya manusia untuk menciptakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN. Hasil penelitian itu dituangkan dalam buku yang berjudul Nusa Dua Model

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN. Hasil penelitian itu dituangkan dalam buku yang berjudul Nusa Dua Model BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN MODEL PENELITIAN 2.1 Tinjauan Pustaka Penelitian mengenai Nusa Dua pernah dilakukan oleh I Nyoman Madiun. Hasil penelitian itu dituangkan dalam buku

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 105 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Dalam bab ini akan dibahas mengenai kesimpulan dan saran dari skripsi dengan judul GEJOLAK PATANI DALAM PEMERINTAHAN THAILAND (Kajian Historis Proses Integrasi Rakyat Patani

Lebih terperinci

2015 KAJIAN PEMIKIRAN IR. SUKARNO TENTANG SOSIO-NASIONALISME & SOSIO-DEMOKRASI INDONESIA

2015 KAJIAN PEMIKIRAN IR. SUKARNO TENTANG SOSIO-NASIONALISME & SOSIO-DEMOKRASI INDONESIA BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Nasionalisme atau rasa kebangsaan tidak dapat dipisahkan dari sistem pemerintahan yang berlaku di sebuah negara. Nasionalisme akan tumbuh dari kesamaan cita-cita

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebiasaan, bahasa maupun sikap dan perasaan (Kamanto Sunarto, 2000:149).

BAB I PENDAHULUAN. kebiasaan, bahasa maupun sikap dan perasaan (Kamanto Sunarto, 2000:149). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia dikatakan sebagai makhluk sosial karena di dalam kehidupannya tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh manusia lain. Pada diri manusia juga terdapat

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Modal sosial atau social capital merupakan satu terminologi baru yang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Modal sosial atau social capital merupakan satu terminologi baru yang BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Modal sosial Modal sosial atau social capital merupakan satu terminologi baru yang dikembangkan oleh ahli-ahli sosial untuk memperkaya pemahaman kita tentang masyarakat dan komunitas.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. homoseksual atau dikenal sebagai gay dan lesbian masih kontroversial.

BAB I PENDAHULUAN. homoseksual atau dikenal sebagai gay dan lesbian masih kontroversial. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penerimaan masyarakat terhadap kelompok berorientasi homoseksual atau dikenal sebagai gay dan lesbian masih kontroversial. Mayoritas masyarakat menganggap homoseksual

Lebih terperinci

Sumardjo & Saini (1994: 3) mengungkapkan bahwa sastra adalah ungkapan pribadi

Sumardjo & Saini (1994: 3) mengungkapkan bahwa sastra adalah ungkapan pribadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1. Relasi antara Sastra, Kebudayaan, dan Peradaban Sumardjo & Saini (1994: 3) mengungkapkan bahwa sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki struktur masyarakat majemuk dan multikultural terbesar di dunia. Keberagaman budaya tersebut memperlihatkan

Lebih terperinci

Pemberdayaan KEKUASAAN (POWER)

Pemberdayaan KEKUASAAN (POWER) 1 Pemberdayaan KEKUASAAN (POWER) Pemberdayaan (empowerment) adalah sebuah konsep yang berhubungan dengan kekuasaan (power) Dalam tulisan Robert Chambers 1, kekuasaan (power) diartikan sebagai kontrol terhadap

Lebih terperinci

2013 POLA PEWARISAN NILAI-NILAI SOSIAL D AN BUD AYA D ALAM UPACARA AD AT SEREN TAUN

2013 POLA PEWARISAN NILAI-NILAI SOSIAL D AN BUD AYA D ALAM UPACARA AD AT SEREN TAUN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Manusia merupakan makhluk yang memiliki keinginan untuk menyatu dengan sesamanya serta alam lingkungan di sekitarnya. Dengan menggunakan pikiran, naluri,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan Indonesia kearah modernisasi maka semakin banyak peluang bagi perempuan untuk berperan dalam pembangunan. Tetapi berhubung masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Agama merupakan sebuah ajaran atau sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap individu memiliki kepribadian atau sifat polos dan ada yang berbelit-belit, ada

BAB I PENDAHULUAN. Setiap individu memiliki kepribadian atau sifat polos dan ada yang berbelit-belit, ada BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Setiap individu memiliki kepribadian atau sifat polos dan ada yang berbelit-belit, ada yang halus dan juga ada yang kasar, ada yang berterus terang dan ada juga yang

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan Kesimpulan ini merupakan inti pembahasan yang disesuaikan dengan permasalahan penelitian yang dikaji. Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keyakinan dan kepercayaannya. Hal tersebut ditegaskan dalam UUD 1945

BAB I PENDAHULUAN. keyakinan dan kepercayaannya. Hal tersebut ditegaskan dalam UUD 1945 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk Republik dan memiliki wilayah kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Oleh karena itu, Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bali dikenal sebagai daerah dengan ragam budaya masyarakatnya yang

BAB I PENDAHULUAN. Bali dikenal sebagai daerah dengan ragam budaya masyarakatnya yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bali dikenal sebagai daerah dengan ragam budaya masyarakatnya yang unik. Bali dipandang sebagai daerah yang multikultur dan multibudaya. Kota dari provinsi Bali adalah

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tinjauan pustaka dilakukan untuk menyeleksi masalah-masalah yang akan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tinjauan pustaka dilakukan untuk menyeleksi masalah-masalah yang akan 10 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Konsep Tinjauan Pustaka Tinjauan pustaka dilakukan untuk menyeleksi masalah-masalah yang akan dijadikan topik penelitian. Dimana dalam tinjauan pustaka akan dicari teori atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Pandangan sosiolinguistik menyebutkan bahwa bahasa lahir di dalam masyarakat. Melalui media bahasa, sebuah kebiasaan lisan terbentuk secara turun temurun di dalam masyarakat,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Dalam perspektif ilmu-ilmu sosial terutama filsafat dan sosiologi, oposisi diantara subjektivisme dan objektivisme merupakan bagian yang selama ini tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebudayaan. Keanekaragaman ini merupakan warisan kekayaan bangsa yang tidak

BAB I PENDAHULUAN. kebudayaan. Keanekaragaman ini merupakan warisan kekayaan bangsa yang tidak BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara yang terdiri dari beranekaragam etnis, agama, dan kebudayaan. Keanekaragaman ini merupakan warisan kekayaan bangsa yang tidak ternilai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sesamanya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menjalankan kehidupannya

BAB I PENDAHULUAN. sesamanya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menjalankan kehidupannya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial yaitu makhluk yang selalu membutuhkan sesamanya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menjalankan kehidupannya manusia selalu berkomunikasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. agama-agama asli (agama suku) dengan pemisahan negeri, pulau, adat yang

I. PENDAHULUAN. agama-agama asli (agama suku) dengan pemisahan negeri, pulau, adat yang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keberagamaan orang Maluku, dapat dipahami melalui penelusuran sejarah yang memberi arti penting bagi kehidupan bersama di Maluku. Interaksiinteraksi keagamaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika secara de facto mencerminkan multi budaya

BAB I PENDAHULUAN. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika secara de facto mencerminkan multi budaya 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Semboyan Bhinneka Tunggal Ika secara de facto mencerminkan multi budaya bangsa dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah negara yang terbentang luas

Lebih terperinci

BAB VI KOMUNITAS DIBO-DIBO SEBAGAI JARINGAN YANG HIDUP

BAB VI KOMUNITAS DIBO-DIBO SEBAGAI JARINGAN YANG HIDUP BAB VI KOMUNITAS DIBO-DIBO SEBAGAI JARINGAN YANG HIDUP Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dijabarkan pada dua bab sebelumnya, dapat diidentifikasi bahwa komunitas karakter sosial dan juga karakter

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Abad 21 yang sedang berlangsung menjadikan kehidupan berubah dengan

BAB I PENDAHULUAN. Abad 21 yang sedang berlangsung menjadikan kehidupan berubah dengan BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Abad 21 yang sedang berlangsung menjadikan kehidupan berubah dengan sangat cepat. Perubahan yang terjadi dalam bidang teknologi, informasi dan juga ledakan populasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu persamaan-persamaan dan berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Menurut Hayes

BAB I PENDAHULUAN. suatu persamaan-persamaan dan berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Menurut Hayes 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Nasionalisme adalah suatu konsep dimana suatu bangsa merasa memiliki suatu persamaan-persamaan dan berbeda dari bangsa-bangsa lainnya. Menurut Hayes (Chavan,

Lebih terperinci

Gagasan tentang Tuhan yang dibentuk oleh sekelompok manusia pada satu generasi bisa saja menjadi tidak bermakna bagi generasi lain.

Gagasan tentang Tuhan yang dibentuk oleh sekelompok manusia pada satu generasi bisa saja menjadi tidak bermakna bagi generasi lain. TUHAN? Gagasan manusia tentang Tuhan memiliki sejarah, karena gagasan itu selalu mempunyai arti yang sedikit berbeda bagi setiap kelompok manusia yang menggunakannya di berbagai periode waktu. Gagasan

Lebih terperinci

IDENTITAS NASIONAL Pengertian Identitas Jenis Identitas Atribut Identitas

IDENTITAS NASIONAL Pengertian Identitas Jenis Identitas Atribut Identitas IDENTITAS NASIONAL 1. Hakikat Identitas Nasional Pengertian Identitas o Identitas (Identity) o Ciri-ciri, tanda-tanda, jati diri yang menandai suatu benda atau orang. o Ciri: ciri fisik dan ciri non-fisik

Lebih terperinci

SOSIOLOGI PENDIDIKAN

SOSIOLOGI PENDIDIKAN SOSIOLOGI PENDIDIKAN PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF STRUKTURAL KONFLIK TOKOH PEMIKIR ANTARA LAIN: 1. KARL MARX (1818-1883) 5. JURGEN HABERMAS 2. HEGEL 6. ANTONIO GRAMSCI 3. MAX HORKHEIMER (1895-1973) 7. HERBERT

Lebih terperinci

28 Oktober 1928, yaitu sumpah pemuda. Waktu itu, sejarah mencatat betapa masingmasing

28 Oktober 1928, yaitu sumpah pemuda. Waktu itu, sejarah mencatat betapa masingmasing ==============dikirim untuk Harian Kedaulatan Rakyat============== Semangat Sumpah Pemuda, Masihkah Diperlukan? Oleh Dr. Drs. Muhammad Idrus, S.Psi., M.Pd HARI ini bangsa dan rakyat Indonesia memperingati

Lebih terperinci

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya,

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya, 599 BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dibahas dalam bab-bab sebelumnya, maka kesimpulan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Makna kearifan

Lebih terperinci

STRUKTUR KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA DAN SMK/MAK

STRUKTUR KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA DAN SMK/MAK A. SD/MI KELAS: I STRUKTUR KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN SD/MI, SMP/MTS, SMA/MA DAN SMK/MAK Kompetensi Dasar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 1. Menerima

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan kemerdekaan sampai hingga era pengisian kemerdekaan

BAB I PENDAHULUAN. mempertahankan kemerdekaan sampai hingga era pengisian kemerdekaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia yang dimulai sejak era sebelum dan selama penjajahan, kemudian dilanjutkan dengan era perebutan dan mempertahankan

Lebih terperinci

Resume Buku SEMIOTIK DAN DINAMIKA SOSIAL BUDAYA Bab 8 Mendekonstruksi Mitos-mitos Masa Kini Karya: Prof. Dr. Benny H. Hoed

Resume Buku SEMIOTIK DAN DINAMIKA SOSIAL BUDAYA Bab 8 Mendekonstruksi Mitos-mitos Masa Kini Karya: Prof. Dr. Benny H. Hoed Resume Buku SEMIOTIK DAN DINAMIKA SOSIAL BUDAYA Bab 8 Mendekonstruksi Mitos-mitos Masa Kini Karya: Prof. Dr. Benny H. Hoed Oleh: Tedi Permadi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. realitas kehidupan sosial. Karya sastra pada umumnya bersifat dinamis, sesuai

BAB I PENDAHULUAN. realitas kehidupan sosial. Karya sastra pada umumnya bersifat dinamis, sesuai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan salah satu cipta karya masyarakat, sedangkan masyarakat adalah salah satu elemen penting dalam karya sastra. Keduanya merupakan totalitas

Lebih terperinci

BAB V P E N U T U P. bahwa dalam komunitas Kao, konsep kepercayaan lokal dibangun dalam

BAB V P E N U T U P. bahwa dalam komunitas Kao, konsep kepercayaan lokal dibangun dalam BAB V P E N U T U P A. Kesimpulan Berdasarkan uraian bab demi bab dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dalam komunitas Kao, konsep kepercayaan lokal dibangun dalam kepercayaan kepada Gikiri Moi

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. mempertahankan identitas dan tatanan masyarakat yang telah mapan sejak lama.

BAB V PENUTUP. mempertahankan identitas dan tatanan masyarakat yang telah mapan sejak lama. BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan kasus konversi agama di Bukitsari maka dapat disimpulkan bahwa beberapa kepala keluarga (KK) di daerah tersebut dinyatakan benar melakukan pindah agama

Lebih terperinci

BAB II TEORI KONFLIK DAN KONSENSUS

BAB II TEORI KONFLIK DAN KONSENSUS 17 BAB II TEORI KONFLIK DAN KONSENSUS Landasan teori pada penelitian ini menggunakan teori Ralf Dahendrof. Karena, teori Dahendrof berhubungan dengan fenomena sosial masyarakat salah satunya adalah teori

Lebih terperinci

sepenuhnya mempengaruhi dinamika dalam sistem. Dengan demikian, pastinya terdapat perilaku politik yang lebih beragam pula.

sepenuhnya mempengaruhi dinamika dalam sistem. Dengan demikian, pastinya terdapat perilaku politik yang lebih beragam pula. Industri Politik Sejak awal dibentuknya, politik digunakan sebagai aturan bermain dalam kenegaraan. Pada dasarnya politik lahir secara alamiah melalui proses yang panjang, dengan evolusi yang cukup rumit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. khusus, karena terjadinya hubungan erat di antara keduanya.

BAB I PENDAHULUAN. khusus, karena terjadinya hubungan erat di antara keduanya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan salah satu hasil karya seni yang sekaligus menjadi bagian dari kebudayaan. Sebagai salah satu hasil kesenian, karya sastra mengandung

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI 318 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Simpulan Berdasarkan capaian hasil penelitian dan pembahasan seperti yang tertuang pada bab IV, bahwa penelitian ini telah menghasilkan dua analisis, pertama

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. ini. Varian fundamentalisme sudah banyak dikategorisasikan oleh para

BAB V PENUTUP. ini. Varian fundamentalisme sudah banyak dikategorisasikan oleh para BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Sejarah fundamentalisme Islam di Indonesia mengalami perkembangan yang dinamis dari era orde lama sampai orde reformasi saat ini. Varian fundamentalisme sudah banyak dikategorisasikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Yunita, 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Yunita, 2014 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kesenian merupakan hasil dari kebudayaan manusia yang dapat didokumentasikan atau dilestarikan, dipublikasikan dan dikembangkan sebagai salah salah satu upaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi landasan utama pemikiran marxisme. Pemikiran marxisme awal yang

BAB I PENDAHULUAN. menjadi landasan utama pemikiran marxisme. Pemikiran marxisme awal yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan Ideologi marxisme pada saat ini telah meninggalkan pemahaman-pemahaman pertentangan antar kelas yang dikemukakan oleh Marx, dan menjadi landasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertimbangan-pertimbangan subjektif masing-masing masyarakat berupa filosofi, nilai-nilai,

BAB I PENDAHULUAN. pertimbangan-pertimbangan subjektif masing-masing masyarakat berupa filosofi, nilai-nilai, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Praktik penyelenggaraan pendidikan dalam masyarakat dilatarbelakangi oleh adanya pertimbangan-pertimbangan subjektif masing-masing masyarakat berupa filosofi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia di era globalisasi sekarang ini sudah mengarah pada krisis multidimensi. Permasalahan yang terjadi tidak saja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Museum Budaya Dayak Di Kota Palangka Raya Page 1

BAB I PENDAHULUAN. Museum Budaya Dayak Di Kota Palangka Raya Page 1 BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG EKSISTENSI PROYEK Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PANCASILA BUKAN AGAMA

TUGAS AKHIR PANCASILA BUKAN AGAMA TUGAS AKHIR PANCASILA BUKAN AGAMA DISUSUN OLEH : Nama : HERWIN PIONER NIM : 11.11.4954 Kelompok : D Program Studi : STRATA 1 Jurusan : Teknik Informatika DOSEN PEMBIMBING : TAHAJUDIN SUDIBYO Drs. UNTUK

Lebih terperinci

Hubungan Buruh, Modal, dan Negara By: Dini Aprilia, Eko Galih, Istiarni

Hubungan Buruh, Modal, dan Negara By: Dini Aprilia, Eko Galih, Istiarni Hubungan Buruh, Modal, dan Negara By: Dini Aprilia, Eko Galih, Istiarni INDUSTRIALISASI DAN PERUBAHAN SOSIAL Industrialisasi menjadi salah satu strategi pembangunan ekonomi nasional yang dipilih sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku X di Kabupaten Papua yang menganut tradisi potong jari ketika salah seorang anggota

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. akan adanya perspektif penyeimbang di tengah dominasi teori-teori liberal. Kedua

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. akan adanya perspektif penyeimbang di tengah dominasi teori-teori liberal. Kedua BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Penelitian ini berangkat dari sikap afirmasi penulis terhadap kebutuhan akan adanya perspektif penyeimbang di tengah dominasi teori-teori liberal. Kedua model pemikiran

Lebih terperinci

Definisi tersebut dapat di perluas di tingkat nasional dan atau regional.

Definisi tersebut dapat di perluas di tingkat nasional dan atau regional. Definisi Global Profesi Pekerjaan Sosial Pekerjaan sosial adalah sebuah profesi yang berdasar pada praktik dan disiplin akademik yang memfasilitasi perubahan dan pembangunan sosial, kohesi sosial dan pemberdayaan

Lebih terperinci

INTERAKSI SOSIAL PADA AKTIVIS IMM DAN KAMMI. Skripsi

INTERAKSI SOSIAL PADA AKTIVIS IMM DAN KAMMI. Skripsi INTERAKSI SOSIAL PADA AKTIVIS IMM DAN KAMMI Skripsi Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat Sarjana S-1 Psikologi Oleh : NANANG FEBRIANTO F. 100 020 160 FAKULTAS PSIKOLOGI

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. 12 Universitas Indonesia

BAB 2 LANDASAN TEORI. 12 Universitas Indonesia BAB 2 LANDASAN TEORI Kehidupan sosial dapat mendorong lahirnya karya sastra. Pengarang dalam proses kreatif menulis dapat menyampaikan ide yang terinspirasi dari lingkungan sekitarnya. Kedua elemen tersebut

Lebih terperinci

8 KESIMPULAN DAN REFLEKSI

8 KESIMPULAN DAN REFLEKSI 8 KESIMPULAN DAN REFLEKSI 8.1 Kesimpulan 8.1.1 Transformasi dan Pola Interaksi Elite Transformasi kekuasaan pada etnis Bugis Bone dan Makassar Gowa berlangsung dalam empat fase utama; tradisional, feudalism,

Lebih terperinci

Para filsuf Eropa menyebut istilah akhir sejarah bagi modernisasi yang kemudian diikuti dengan perubahan besar.

Para filsuf Eropa menyebut istilah akhir sejarah bagi modernisasi yang kemudian diikuti dengan perubahan besar. Tiga Gelombang Demokrasi Demokrasi modern ditandai dengan adanya perubahan pada bidang politik (perubahan dalam hubungan kekuasaan) dan bidang ekonomi (perubahan hubungan dalam perdagangan). Ciriciri utama

Lebih terperinci

BAB VIII SIMPULAN DAN SARAN. a. Upaya pemertahanan bahasa Bali dalam keluarga. Hal ini tampak dalam situasi

BAB VIII SIMPULAN DAN SARAN. a. Upaya pemertahanan bahasa Bali dalam keluarga. Hal ini tampak dalam situasi 126 BAB VIII SIMPULAN DAN SARAN 8.1 Simpulan Tulisan ini dapat disimpulkan sebagai berikut. 1). Upaya-upaya pemertahanan bahasa Bali dalam masyarakat multikultural di Kota Denpasar adalah sebagai berikut.

Lebih terperinci

Bab 4 PENUTUP. Semenjak berakhirnya kekuasaan Orde Baru (negara) akibat desakan arus

Bab 4 PENUTUP. Semenjak berakhirnya kekuasaan Orde Baru (negara) akibat desakan arus Bab 4 PENUTUP Semenjak berakhirnya kekuasaan Orde Baru (negara) akibat desakan arus liberalisasi, ruang-ruang publik di tanah air mulai menampakkan dirinya. Namun kuatnya arus liberalisasi tersebut, justeru

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berperan penting atau tokoh pembawa jalannya cerita dalam karya sastra.

BAB I PENDAHULUAN. berperan penting atau tokoh pembawa jalannya cerita dalam karya sastra. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Karya sastra memuat perilaku manusia melalui karakter tokoh-tokoh cerita. Hadirnya tokoh dalam suatu karya dapat menghidupkan cerita dalam karya sastra. Keberadaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rasisme dan diskriminasi rasial merupakan salah satu masalah besar yang sedang dihadapi oleh masyarakat dunia pada saat ini dalam skala yang begitu besar. Isu yang

Lebih terperinci

BAB 4 KESIMPULAN. 69 Universitas Indonesia. Memori kolektif..., Evelyn Widjaja, FIB UI, 2010

BAB 4 KESIMPULAN. 69 Universitas Indonesia. Memori kolektif..., Evelyn Widjaja, FIB UI, 2010 BAB 4 KESIMPULAN Berbagai bentukan memori seperti memisahkan, mengatasi, dan memasarkan memori telah membangun konstruksi memori kolektif kota Jakarta. Kota Jakarta sejak masa pemerintahan kolonial tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang Permasalahan 1 BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Permasalahan Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin modern dan maju secara tidak langsung menuntut setiap orang untuk mampu bersaing dalam mewujudkan tujuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sampai merauke, menyebabkan Indonesia memiliki banyak pulau. dijadikan modal bagi pengembang budaya secara keseluruhan.

BAB I PENDAHULUAN. sampai merauke, menyebabkan Indonesia memiliki banyak pulau. dijadikan modal bagi pengembang budaya secara keseluruhan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara geografis, letak Indonesia yang terbentang dari sabang sampai merauke, menyebabkan Indonesia memiliki banyak pulau. Indonesia yang terkenal dengan banyak pulau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan termasuk salah satu dasar pengembangan karakter seseorang. Karakter merupakan sifat alami jiwa manusia yang telah melekat sejak lahir (Wibowo, 2013:

Lebih terperinci

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN BAB VI SIMPULAN DAN SARAN 6.1. Simpulan Sentralisme pemerintahan yang telah lama berlangsung di negeri ini, cenderung dianggap sebagai penghambat pembangunan daerah. Dari sekian banyak tuntutan yang diperhadapkan

Lebih terperinci

BAB V. Penutup. Dari kajian wacana mengenai Partai Komunis Indonesia dalam Surat Kabar

BAB V. Penutup. Dari kajian wacana mengenai Partai Komunis Indonesia dalam Surat Kabar BAB V Penutup A. Kesimpulan Dari kajian wacana mengenai Partai Komunis Indonesia dalam Surat Kabar Kompas dan Republika dapat ditarik beberapa kesimpulan. Pertama, produksi wacana mengenai PKI dalam berita

Lebih terperinci

BAB I PENGERTIAN FILSAFAT INDONESIA PRA MODERN

BAB I PENGERTIAN FILSAFAT INDONESIA PRA MODERN BAB I PENGERTIAN FILSAFAT INDONESIA PRA MODERN A. Objek Bahasan 1. Objek materi Filsafat Indonesia ialah kebudayaan bangsa. Menurut penjelasan UUD 1945 pasal 32, kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang

Lebih terperinci

Memahami Akar dan Ragam Teori Konflik

Memahami Akar dan Ragam Teori Konflik Memahami Akar dan Ragam Teori Konflik Sofyan Sjaf Turner dalam bukunya yang berjudul The Structure of Sociological Theory pada bab 11 13 dengan apik menjelaskan akar dan ragam teori konflik yang hingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Kemajemukan itu dapat dikenali dari keanekaragaman budaya, adat, suku, ras, bahasa, maupun agama. Kemajemukan budaya menjadi

Lebih terperinci

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA Modul ke: PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA BAHAN TAYANG MODUL 7 SEMESTER GASAL 2016 Fakultas FAKULTAS TEKNIK RANI PURWANTI KEMALASARI SH.MH. Program Studi Teknik SIPIL www.mercubuana.ac.id Dalam bahasa

Lebih terperinci

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejarah dikenal sebagai salah satu cabang ilmu yang mempelajari peristiwa pada masa lampau untuk kemudian diaplikasikan pada masa kini bahkan diproyeksikan untuk

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dewasa ini persoalan buruh anak makin banyak diperhatikan berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena buruh

Lebih terperinci

PENGUATAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA MELALUI INSTITUSIONALISASI PARTAI POLITIK Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya)

PENGUATAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA MELALUI INSTITUSIONALISASI PARTAI POLITIK Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya) PENGUATAN SISTEM DEMOKRASI PANCASILA MELALUI INSTITUSIONALISASI PARTAI POLITIK Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya) Apakah Sistem Demokrasi Pancasila Itu? Tatkala konsep

Lebih terperinci

MENGIKAT TALI KOMUNITAS MEMUTUS RANTAI KEKERASANTERHADAPPEREMPUAN

MENGIKAT TALI KOMUNITAS MEMUTUS RANTAI KEKERASANTERHADAPPEREMPUAN MENGIKAT TALI KOMUNITAS MEMUTUS RANTAI KEKERASANTERHADAPPEREMPUAN Danang Arif Darmawan Yogyakarta: Media Wacana 2008, xvi + 1 06 halaman Direview oleh: Sari Seftiani Pada awalnya, buku ini merupakan sebuah

Lebih terperinci

PELEMBAGAAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA. Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. sendiri. Jadi, hukum Islam mulai ada sejak Islam ada. Keberadaan hukum Islam di

PELEMBAGAAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA. Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. sendiri. Jadi, hukum Islam mulai ada sejak Islam ada. Keberadaan hukum Islam di PELEMBAGAAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. I Hukum Islam telah ada dan berkembang seiring dengan keberadaan Islam itu sendiri. Jadi, hukum Islam mulai ada sejak Islam ada. Keberadaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana dua

BAB I PENDAHULUAN. saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana dua BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pacaran merupakan sebuah konsep "membina" hubungan dengan orang lain dengan saling mengasihi, saling mengenal, dan juga merupakan sebuah aktifitas sosial dimana

Lebih terperinci

13Ilmu. Komunikasi Antar Budaya. Hegemoni Budaya dan Media. Mira Oktaviana Whisnu Wardhani, M.Si. Komunikasi. Modul ke: Fakultas

13Ilmu. Komunikasi Antar Budaya. Hegemoni Budaya dan Media. Mira Oktaviana Whisnu Wardhani, M.Si. Komunikasi. Modul ke: Fakultas Modul ke: Komunikasi Antar Budaya Hegemoni Budaya dan Media Fakultas 13Ilmu Komunikasi Mira Oktaviana Whisnu Wardhani, M.Si Program Studi Periklanan Pembuka DUNIA saat ini seolah sudah tidak berbatas.

Lebih terperinci

PENDIDIKAN PANCASILA

PENDIDIKAN PANCASILA Modul ke: Fakultas MKCU PENDIDIKAN PANCASILA Perbandingan Ideologi Pancasila dengan Ideologi lain (Perbandingan Ideologi Pancasila dengan Ideologi liberalism) Dr. H. SyahrialSyarbaini, MA. Program Studi

Lebih terperinci

Lemahnya Kesadaran Masyarakat Indonesia Terhadap Nilai-nilai Pancasila

Lemahnya Kesadaran Masyarakat Indonesia Terhadap Nilai-nilai Pancasila Lemahnya Kesadaran Masyarakat Indonesia Terhadap Nilai-nilai Pancasila Disusun oleh : Nama : Sunu Arif Budi Wibowo NIM : 11.11.4817 Kelompok : C Jurusan : S1-Teknik Informatika Nama Dosen : Drs.Tahajudin

Lebih terperinci

BAB IV KESIMPULAN. Perempuan sebagai subjek yang aktif dalam urusan-urusan publik

BAB IV KESIMPULAN. Perempuan sebagai subjek yang aktif dalam urusan-urusan publik 68 BAB IV KESIMPULAN Perempuan sebagai subjek yang aktif dalam urusan-urusan publik (ekonomi) merupakan konsep kesetaraan gender. Perempuan tidak selalu berada dalam urusan-urusan domestik yang menyudutkannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Identitas pertama kali diperkenalkan oleh Aristoteles dan dipakai oleh para

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Identitas pertama kali diperkenalkan oleh Aristoteles dan dipakai oleh para BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Identitas pertama kali diperkenalkan oleh Aristoteles dan dipakai oleh para Teolog abad pertengahan, para filsuf seperti Locke dan Hume, matematikawan, dan dikembangkan

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Indonesia merupakan negara di wilayah Asia secara geografis yang diwarnai oleh dua kenyataan, yaitu kemajemukan agama dan kebudayaan, serta situasi kemiskinan

Lebih terperinci

TEORI PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD

TEORI PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD TEORI PSIKOANALISIS Teori psikoanalisis yang dipakai mengacu pada konsep Sigmund Freud tentang kepribadian. Dalam Koswara (1991:109), Abraham Maslow berpendapat bahwa dalam psikologi terdapat tiga revolusi

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA - 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA DAN SASTRA, SERTA PENINGKATAN FUNGSI BAHASA INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 menjelaskan dengan tegas bahwa Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (rechstaat) dan bukan berdasarkan atas kekuasaan (machstaat).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kurikulum merupakan salah satu instrumen dalam upaya mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia diwarnai

Lebih terperinci