Perekonomian Daerah. 1. KEGIATAN PRODUKSI 1.1. Pertanian

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Perekonomian Daerah. 1. KEGIATAN PRODUKSI 1.1. Pertanian"

Transkripsi

1 1. KEGIATAN PRODUKSI 1.1. Pertanian Perekonomian Daerah Kegiatan pertanian sampai saat ini masih memberikan peran yang besar terhadap perekonomian Kabupaten Murung Raya. Kegiatan pertanian masih didominasi oleh sektor tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, perikanan dan peternakan. Berikut disajikan data hasih produksi dari kegiatan pertanian Murung Raya selama tahun Tabel 7.1. Luas Panen Tanaman Padi per Kecamatan di Kabupaten Murung Raya Tahun 2014 Kecamatan Padi Sawah (Ha) Padi Ladang (Ha) Permata Intan Sungai Babuat Murung Laung Tuhup B.Tuhup Raya Tanah Siang Q 953 T. Siang Selatan Sumber Barito Seribu Riam Uut Murung Jumlah Sumber : Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Kab. Murung Raya 56

2 Tabel 7.2. Luas Panen Jagung, Ubi Kayu dan Ubi Jalar Menurut Kecamatan Tahun 2014 Kecamatan Permata Intan Sungai Babuat Murung Laung Tuhup B.Tuhup Raya Tanah Siang T. Siang Selatan Sumber Barito Seribu Riam Uut Murung Jagung Ubi Kayu Ubi Jalar (Ha) (Ha) (Ha) Jumlah Sumber : Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Murung Raya 57

3 Tabel 7.3 Luas Panen dan Produksi Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kacang Hijau menurut KecamatanTahun 2014 Kecamatan Kacang Tanah Kacang Kedelai Kacang Hijau (Ha) (Ha) (Ha) Permata Intan Sungai Babuat Murung Laung Tuhup B.Tuhup Raya Tanah Siang T.Siang Selatan Sumber Barito Seribu Riam Uut Murung Jumlah Sumber : Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Murung Raya 58

4 Gambar 7. Peta Potensi Tanaman Pertanian dan Hortikultura di Kabupaten Murung Raya Daerah Potensi 59

5 Potensi pengembangan tanaman pangan di Kabupaten Murung Raya sangat sedikit dibandingkan dengan luas wilayahnya. Lahan yang sesuai untuk tanaman pangan terletak di sebagian kecil Kecamatan Permata Intan, Kecamatan Murung, dan Kecamatan Laung Tuhup. Komoditi potensial di Laung Tuhup antara lain padi ladang, kacang tanah, tanaman kopi, lada dan kelapa. Sedang di Kecamatan Murung memiliki komoditi potensial antara lain padi ladang, jagung, ubi jalar, kacang tanah, kacang kedelai, tanaman karet, tanaman kopi, jambu mete. Areal kawasan hutan relatif makin terbatas sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk di Kabupaten Murung Raya. Oleh karena itu pelepasan kawasan hutan yang bersifat mengubah fungsi hutan perlu dibatasi. Pengembangan perkebunan dengan menggunakan tanaman tahunan yang berupa pohon, merupakan teknologi yang kompatibel dengan persyaratan ekologis, dapat memberikan fungsi hutan yang berbeda dengan hutan produksi. Redesign perkebunan pada dasarnya berupa membangun suasana harmonis antara unsur-unsur ekologi, ekonomi dan sosial budaya, sehingga nantinya bisa menjadi kawasan industri masyarakat perkebunan (Kimbun). Sebagian penduduk di Kabupaten Murung Raya hidup dari hasil perkebunan. Dengan mengandalkan teknologi tradisional ternyata penduduk tidak bisa meningkatkan taraf hidupnya. Sehubungan hal tersebut diatas, dalam rangka mendorong pengembangan perkebunan, pemerintah dalam hal ini instansi teknis (perkebunan) akan memberikan kemudahan kepada investor untuk menanamkan modalnya. 60

6 Pemerintah akan memberikan Hak Penguasaan Hutan Tanaman Perkebunan (HTHTP) yang setara dengan HGU, dimana tahapan untuk mendapatkan HGU melalui tahapan-tahapan yang panjang sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama. Pertumbuhan agronomis tanaman perkebunan di relatif baik. Kendala yang dihadapi oleh petani adalah terutama berkaitan dengan sumberdaya petani yang relatif rendah, masalah sosial ekonomi. Program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) belum menyentuh pada hal-hal yang mendasar berupa teknologi tepat guna, permodalan dan pemasaran. Hal ini menyebabkan petani mengalami hambatan dalam hal meningkatkan mutu produksi perkebunan dan pemasaran. Pemanfaatan potensi hutan yang melimpah di Kabupaten Murung Raya cukup menjanjikan bagi perekonomian di daerah ini. Tanaman perkebunan dengan nilai ekonomi tinggi seperti karet, kelapa, kopi, lada dan jambu mete telah dikembangkan di daerah ini yang tersebar diseluruh kecamatan dan diharapkan dapat mendorong meningkatnya ekonomi masyarakat. Sampai saat ini tanaman karet masih menjadi produk unggulan di sektor perkebunan dan masih menjadi tanaman idola bagi masyarakat khususnya di pedesaan. 61

7 Tabel 7.4. Luas Areal (Ha) Tanaman Perkebunan (ton) Menurut Kecamatan di Kabupaten Murung Raya Tahun 2014 Kecamatan Karet Kopi Cengkeh Lada Kelapa (1) (2) (3) (4) (5) (6) Permata Intan 7 471,72 88,87-8,90 176,24 Sungai Babuat 2 394,28 28,21-1,55 45,93 Murung 7 274,65 103,30 0,17 8,74 223,50 Laung Tuhup ,82 115,92 0,53 9,83 234,79 Barito Tuhup Raya 3 041,87 35,55-2,32 57,49 Tanah Siang 9 104,24 94,22 1,64 11,28 146,61 T. Siang Selatan 2 957,81 32,82-1,52 54,55 Sumber Barito 4 882,84 48,75-7,44 96,34 Seribu Riam 1 132, 27 33,47-1,65 45,93 Uut Murung 865, 88 24,45-0,85 31,80 Jumlah ,38 605,56 2,34 54, ,18 Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Murung Raya Hampir semua kecamatan di Kabupaten Murung Raya memiliki potensi untuk pengembangan karet dan kelapa, akan tetapi bagian tengah sampai ke Utara Kabupaten Murung Raya lebih berpotensi karena didukung oleh kondisi wilayah yang relatif lebih tinggi. Komoditi perkebunan seperti kopi, lada, dan sawit relatif masih dalam skala kecil diusahakan oleh masyarakat. Komoditi ini terbatas pada lahan sekitar pemukiman atau lahan pekarangan dan lahan usaha untuk daerah transmigrasi. 62

8 Sejalan dengan pengakuan petani setempat hanya dengan membudidayakan karet dan kelapa dalam di lahan usaha mereka, pendapatan dalam jangka panjang akan stabil, sedangkan jika pun ada tanaman pangan yang diusahakan oleh petani hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan sehari - hari. Kelebihan dari budidaya komoditi karet dan kelapa dalam adalah karena masyarakat sudah terbiasa membudidayakan komoditi tersebut dan lebih toleran terhadap kondisi lingkungan sehingga resiko kegagalan budidaya oleh petani relatif kecil. Sedangkan budidaya tanaman pangan umumnya hanya berupa komoditas lokal yang produksinya masih relatif rendah. Usaha yang perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi tanaman adalah dengan membudidayakan varietas yang unggul yaitu dari segi produksinya dan tahan terhadap kondisi lingkungan di Kabupaten Murung Raya. 63

9 Gambar 9. Peta Kawasan Hutan Lindung dan Budidaya di Wilayah Kabupaten Murung Raya 64

10 Gambar 9. Peta Penggunaan Lahan/Hutan di Wilayah Kabupaten Murung Raya 65

11 Pemenuhan kebutuhan ikan di daerah Kabupaten Murung Raya selama ini, masih bertumpu pada hasil perikanan dari daerah lain. Namun demikian, pemerintah tidak tinggal diam, penggalakan program budidaya ikan sepertinya sudah mulai membuahkan hasil. Dengan pemberian bantuan benih ikan, diharapkan produksi budidaya ikan kian meningkat dari tahun ke tahun. Untuk lebih jelas perkembangan produksi perikanan Kabupaten Murung Raya menurut kecamatan dapat dilihat pada Tabel 7.5. Tabel 7.5. Produksi Perikanan Penangkapan di Sungai dan Budi Daya Tahun 2014 (Dalam Ton) Kecamatan Penangkapan Jenis Perairan Budi Daya Jumlah (1) (2) (3) (5) Permata Intan 26,04 188,25 214,29 Sungai Babuat 22,32-22,32 Murung 123,63 332,28 455,91 Laung Tuhup 51,15 55,8 106,95 Barito Tuhup Raya 79,49 120,81 200,3 Tanah Siang 12,03 188,58 200,61 Tanah Siang Selatan 14,1 102,38 116,48 Sumber Barito 31,24 129,27 160,51 Seribu Riam 65,05 49,96 115,01 Uut Murung 54,6 37,72 92,32 Jumlah 479, , ,7 Sumber : Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Murung Raya Kecamatan yang mempunyai jumlah produksi terbesar adalah Kecamatan Murung dan Tanah Siang. 66

12 Kegiatan peternakan di Kabupaten Murung Raya setiap tahun menunjukkan peningkatan perkembangan populasinya untuk semua jenis ternak. Hampir di semua kecamatan terutama kecamatan Murung dan Tanah Siang kegiatan peternakan dikembangkan. Hal ini tentu sangat berkaitan dengan usaha kegiatan pertanian tanaman pangan khususnya sawah, yang memberikan keuntungan subsitusi dari dua kegiatan tersebut. Untuk lebih jelasnya mengenai perkembangan sektor perternakan yang ada di Kabupaten Murung Raya dapat dilihat pada tabel di berikut ini Tabel 7.6. Tabel 7.6. Banyaknya Populasi Ternak dan Unggas menurut Jenisnya Tahun 2014 (ekor) No Jenis Ternak 2014 (1) (2) (3) Ternak 1 Sapi Perah - 2 Sapi Potong Kerbau 9 4 Kambing Babi Kuda - Unggas 1 Ayam Buras/ Ayam Kampung Ayam Ras/ Petelur Ayam Ras Broiler Itik Kelinci - Sumber : Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Murung Raya 67

13 1.2. Pertambangan dan Penggalian Potensi bahan galian di Kabupaten Murung Raya digolongkan menjadi 3 (tiga) golongan bagian yaitu : Golongan A yaitu bahan galian golongan strategis antara lain minyak, gas bumi, dan batu bara. Golongan B, yaitu bahan galian vital antara lain emas, intan dan antiminit. Golongan C, yaitu bahan galian golongan yang tidak termasuk strategis dan vital antara lain batu kapur, bentonit, basal, phosphat, mika, andesit, granit, gabro dan lain - lain. Dari beberapa potensi yang terdapat di Kabupaten Murung Raya yang sudah dimanfaatkan adalah batubara, emas, intan dan sebagian kecil bahan galian C, baik yang sudah mempunyai izin maupun belum, serta yang dilaksanakan secara tradisional. Berdasarkan sumber daya alam yang dimilikinya, Kabupaten Murung Raya merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Kalimantan Tengah yang memiliki potensi bahan galian strategis (golongan A) seperti emas di Kecamatan Sumber Barito, Permata Intan, Murung dan Tanah Siang. Selain itu Kabupaten ini memiliki bahan galian Intan di Kecamatan Murung dan Permata Intan. Sedang bahan Galian golongan B, batu bara, terdapat di kecamatan Permata Intan, Laung Tuhup, Sumber Barito dan 68

14 Tanah Siang.Untuk bahan galian golongan C terdapat di Kecamatan Permata Intan, Murung dan Sumber Barito. Tabel 7.7. Banyaknya Perusahaan (Ijin Usaha Pertambangan) Yang Beroperasi Menurut Tingkat Kegiatandi Kabupaten Murung Raya, Tingkat Kegiatan Tahun Jumlah Penyelidikan Umum Eksploitasi Eksplorasi (1) (2) (3) (4) (5) NA NA NA NA Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Murung Raya *) 69

15 Gambar 10. Peta Perusahaan Pertambangan di Wilayah Kabupaten Murung Raya 70

16 Potensi alam yang dimiliki Kabupaten Murung Raya selain potensi di bidang perkebunan dan kehutanan, hasil produksi sektor pertambangan dan penggalian cukup menjanjikan. Beberapa perusahaan sudah melakukan kegiatan pertambangan seperti aktivitas eksplorasi/studi kelayakan bahkan sudah ada yang melakukan eksploitasi/produksi. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan mampu menyerap tenaga kerja di sektor pertambangan sehingga dapat memberikan kontribusi khususnya peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya. Tabel 7.8. Produksi Pertambangan dan Penggalian Menurut Jenisnya di JenisBahan Pertambangan Kabupaten Murung Raya, 2013 dan 2014 Satuan (1) (2) (3) JumlahProduksi Batubara MT , ,44 Emas Kg 591,4 - Perak Kg ,30 - Batu Belah M ,73 - Sirtu M 3 974, Pasir M , Awkes M Tanah Urug M Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Murung Raya *) 71

17 1.4 Perikanan dan Peternakan Di sektor perikanan dapat dilihat bagaimana statistik produksi daging dan telur di Kabupaten Murung Raya di tabel 7.9. Terlihat bahwa dari berbagai jenis daging yang berproduksi paling banyak adalah ayam broiler, yaitu sebanyak kg. Sedangkan telur, ayam buras memberikan produksi terbesar dengan jumlah butir telur. Tabel 7.9. Produksi daging dan Telur menurut Jenis Ternak (Kg) di Kabupaten Murung Raya, 2014 Produksi Daging/Telur Berat Karkas yang Jenis Ternak Digunakan (Kg/Butir) (Kg) (1) (2) (3) Daging: Telur: 1. Sapi ,34 155,9 2. Kerbau 1 329, Kambing D o m b a B a b i ,66 22,5 6. K u d a Unggas Ayam Petelur 712 0,85 Ayam Broiler ,5 0,85 Ayam Buras ,66 0,85 I t i k ,97 0,85 Ayam Ras 5 191,04 - Ayam Buras I t i k / Bebek

18 Kabupaten Murung Raya pun memberikan hasil alam di sektor perikanan dengan berbagai macam jenis ikan, seperti pada tabel Jumlah total produksi ikan baik dari penangkapan maupun budidaya adalah sebanyak 1.170,49 ton pada tahun 2013 Tabel Produksi Perikanan Penangkapan di Sungai dan Budidaya di Kabupaten Murung Raya, 2014 No Rincian Produksi (Ton) (1) (2) (3) Penangkapan (Sungai): 1 Baung 136,61 2 Tapah 22,11 3 Lais 109,19 4 Patin 82,04 5 Belida 18,03 6 Salab 15,36 7 Pipih 15,93 8 Jelawat 17,31 9 Udang 21,26 10 Ikan Lainnya 54,47 Budidaya: 11 Mas 549,67 12 Nila 560,36 13 Patin 51,52 14 Bawal 14,94 15 Gurame 26,82 16 Ikan Lainnya 0 Jumlah Penangkapan ,62 Budidaya Sumber : Dinas Pertanian Peternakan dan Perikanan Murung Raya 73

19 2. Struktur Perekonomian Ciri perekonomian suatu daerah ditunjukan oleh sumbangan masing-masing sektor ekonomi / lapangan usaha yang menggambarkan struktur ekonomi daerah. Secara kuantitatif dapat diukur dengan indikator PDRB menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku. Struktur perekonomian nasional telah mengalami pergeseran yang semula dimotori oleh sektor pertanian, maka mulai tahun 1992 yang menjadi motor penggerak utama perekonomian nasional adalah sektor industri pengolahan. Namun tidak demikian halnya untuk umumnya daerah Kalimantan Tengah dan Khususnya Kabupaten Murung Raya. Sampai tahun 2007 sektor pertanianlah yang menjadi motor utama. Tercatat 33,34 persen kontribusinya terhadap PDRB tahun 2007 dan merupakan kontribusi terbesar jika dibandingkan dengan sektor lainnya. Akan tetapi mulai tahun 2008 sampai dengan tahun 2013 konribusi sektor pertanian terus menurun dan perekonomian utama kini dimotori oleh sektor pertambangan dan penggalian sebagai leading sector. Perekonomian Murung Raya tahun 2011 selain dimotori oleh sektor pertambangan dan penggalian di urutan pertama, dan sektor pertanian di posisi kedua, di posisi ketiga adalah sektor jasa, yang terdiri dari sub sektor pemerintahan umum dan swasta. Kontribusi sektor pertambangan dan penggalian pada tahun 2013 mencapai 36,26 persen, sedangkan kontribusi sektor pertanian sebesar 23,75 persen. Sektor jasa dimana termasuk jasa pemerintah selaku pemegang kendali memiliki peran sebesar 11,36 persen terhadap perekonomian Murung Raya. 74

20 Di posisi keempat diduduki sektor perdagangan, hotel dan restoran, yaitu dengan kontribusi sebesar 10,92 persen pada tahun Di peringkat selanjutnya ada sektor bangunan di posisi kelima dengan kontribusi terhadap total perekonomian sebesar 6,42 persen. Peringkat enam diduduki oleh kontribusi sektor pengangkutan dan komunikasi yang pada tahun 2013 kontribusinya sebesar 5,18 persen. Berturut-turut di posisi tujuh dan delapan adalah sektor industri pengolahan dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Pada tahun 2013 kontribusinya berturut-turut adalah sebesar 3,05 persen dan 2,54 persen. Posisi juru kunci kontributor perekonomian Murung Raya tahun 2012 adalah sektor listrik dan air bersih. Pada tahun 2012 kontribusi sektor ini sebesar 0,52 persen saja. Tabel 7.11 Distribusi Persentase PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku (%) Kabupaten Murung Raya Tahun Lapangan Usaha ** 2013*** (1) (2) (3) (4) Pertanian (Tanaman Pangan, Perkebunan, Perikanan, Peternakan dan Kehutanan) 25,72 24,49 23,75 Pertambangan dan Penggalian 37,14 36,84 36,26 Industri Pengolahan 2,97 3,00 3,05 Listrik, Gas dan Air Bersih 0,43 0,45 0,52 Bangunan dan Konstruksi 5,57 6,06 6,42 Perdagangan, Hotel dan Restauran 9,86 10,42 10,92 Angkutan dan Komunikasi 5,49 5,42 5,18 Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 2,28 2,41 2,54 Jasa-Jasa 10,54 10,91 11,36 Sumber : BPS Kabupaten Murung Raya 75

21 Dengan demikian jelas bahwa sektor-sektor yang menempati urutan atas merupakan sektor-sektor yang sangat mempengaruhi naik-turunnya laju PDRB Kabupaten Murung Raya. Sedangkan kedua sektor urutan terakhir kurang berpengaruh terhadap perkembangan PDRB Murung Raya secara keseluruhan, karena peranannya yang relatif kecil. Namun demikian secara total, Pendapatan Domestik Regional Bruto Kabupaten Murung Raya mengalami kenaikan pada tahun 2013 ini dibandingkan tahun sebelumnya. 3. PERTUMBUHAN EKONOMI Perekonomian Kabupten Murung Raya sejak Tahun 2009 hingga tahun 2011 selalu bergerak naik semenjak lepas dari dampak krisis global di penghujung tahun Pada tahun 2014, laju pertumbuhan ekonominya sebesar 6,00 persen dengan PDRB atas dasar harga konstan lebih dari satu trilyun rupiah. Tabel Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Murung Raya Tahun (%) Rincian (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) Laju Pertumbuhan 5,21 5,18-7,70 6,82 6,43 6,00 Sumber : BPS Kabupaten Murung Raya 76

22 4. PDRB PERKAPITA Sejak Tahun 2015 terdapat perubahan dalam metode penyusunan PDRB, yaitu berubahnya penggunaan dasar harga konstan dari sebelumnya menggunakan tahun 2000 sebagai dasar penghitungan menjadi tahun PDRB perkapita Kabupaten Murung Raya tahun 2010 sampai dengan tahun 2014 cenderung selalu mengalami peningkatan, baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan tahun Untuk tahun 2010, PDRB perkapita atas dasar harga konstan mencapai 34 juta rupiah sedangkan tahun 2011 meningkat menjadi 36 juta rupiah. Begitu juga untuk tahun 2012 sampai 2014 berturut-turut kembali mengalami peningkatan menjadi 38, 39, dan 40 juta rupiah. Sedangkan berdasar harga berlaku, PDRB perkapita masyarakat Murung Raya tahun 2010 mencapai 34 juta rupiah. Empat tahun berikutnya sampai dengan 2014, berturut-turut meningkat menjadi 41, 44, 46,dan 48 juta rupiah. Tabel PDRB Perkapita Kabupaten Murung Raya Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2010 Tahun (Rp) Tahun Atas Dasar Harga Berlaku (JutaRp) Atas Dasar Harga Konstan 2010 (JutaRp) Pertumbuhan (%) (1) (2) (4) (5) , , * 2014** , , , ,91 Sumber : BPS Kabupaten Murung Raya , , , ,43 5,93 5,39 1,52 3,86 77

23 5. SEKTOR EKONOMI UNGGULAN Perekonomian Murung Raya sampai dengan saat ini masih sangat tergantung pada sektor primer, yaitu sektor pertanian dan sektor pertambangan dan penggalian. Dengan kontribusi yang tinggi dari dua sektor ini bukan berarti tidak dibutuhkan perhatian khusus. Sektor pertambangan dan penggalian sebagian besar dikuasai oleh penduduk non residen Murung Raya, sehingga sebenarnya terjadi capital flight terhadap sebaagian besar hasil nilai tambah dari sektor ini. Di sini diperlukan peran pemerintah untuk memberkikan kontrol dan evaluasi seberapa besar nilai tambah sektor ini dapat meningkatkan kesejahteraan terhadap masyarakat Murung Raya itu sendiri, baik secara langsung maupun tidak. Sektor pertanian merupakan mata pencaharian utama sebagian besar penduduk Murung Raya, khususnya perkebunan karet. Karena karet merupakan komoditi ekspor, maka harga karet turut berfluktuasi sesuai mekanisme pasar global. Suatu saat harga karet dapat meroket tinggi, namun tak jarang juga harganya terjungkal. Pemerintah perlu memikirkan strategi khusus untuk melindungi petani agar tidak merasakan dampak yang teramat dalam akibat fluktuasi tersebut, mengingat Indonesia merupakan salah satu produsen karet terbesar di dunia disamping Malaysia dan Thailand. Sektor jasa terutama jasa pemerintahan umum memegang peran cukup signifikan terhadap perekonomian Murung Raya, sehingga ke depan perlu terus ditingkatkan melalui berbagai ragam kebijakan yang lebih pro rakyat. Agar besarnya peran tersebut, secara ekonomis benar-benar dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. 78

24 Sektor industri pengolahan tampaknya sangat perlu pembinaan dan bantuan. Selama ini kebutuhan masyarakat akan barang sekunder sebagian besar didatangkan dari luar wilayah, sehingga harganya cukup tinggi. Hal ini terjadi salah satunya karena sulitnya memperoleh bahan baku penolong dan inginya biaya antara yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan sendiri suatu barang, sehingga masyarakat lebih memilih untuk membelinya secara langsung, meski harus didatangkan dari luar daerah dengan harga yang relaif tinggi. Ke depan, sektor ini perlu terus dibina dan dimodali agar lebih bergairah. 79

4.1. Letak dan Luas Wilayah

4.1. Letak dan Luas Wilayah 4.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Lamandau merupakan salah satu Kabupaten hasil pemekaran Kabupaten Kotawaringin Barat. Secara geografis Kabupaten Lamandau terletak pada 1 9-3 36 Lintang Selatan dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU 4.1 Kondisi Geografis Secara geografis Provinsi Riau membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut China Selatan, berada antara 1 0 15 LS dan 4 0 45 LU atau antara

Lebih terperinci

Magrobis Journal 41 EVALUASI PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA TAHUN 2013 ABSTRAK BAB I. PENDAHULUAN

Magrobis Journal 41 EVALUASI PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA TAHUN 2013 ABSTRAK BAB I. PENDAHULUAN Magrobis Journal 41 EVALUASI PEMBANGUNAN BIDANG PERTANIAN DI KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA TAHUN 2013 Oleh : Thamrin 1), Sabran 2) dan Ince Raden 3) ABSTRAK Kegiatan pembangunan bidang pertanian di Kabupaten

Lebih terperinci

Bupati Murung Raya. Kata Pengantar

Bupati Murung Raya. Kata Pengantar Bupati Murung Raya Kata Pengantar Perkembangan daerah yang begitu cepat yang disebabkan oleh semakin meningkatnya kegiatan pambangunan daerah dan perkembangan wilayah serta dinamisasi masyarakat, senantiasa

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Jumlah petani di Indonesia menurut data BPS mencapai 45% dari total angkatan kerja di Indonesia, atau sekitar 42,47 juta jiwa. Sebagai negara dengan sebagian besar penduduk

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan yang dititikberatkan pada pertumbuhan ekonomi berimplikasi pada pemusatan perhatian pembangunan pada sektor-sektor pembangunan yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK

GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK 34 IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK 4.1 Gambaran Umum Provinsi Lampung Lintang Selatan. Disebelah utara berbatasan dengann Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu, sebelah Selatan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Geografi Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi Lampung. Kabupaten Lampung Selatan terletak di ujung selatan Pulau Sumatera

Lebih terperinci

PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN WILAYAH KABUPATEN BIREUEN PROVINSI ACEH. Mimi Hayatiˡ, Elfiana 2, Martina 3 ABSTRAK

PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN WILAYAH KABUPATEN BIREUEN PROVINSI ACEH. Mimi Hayatiˡ, Elfiana 2, Martina 3 ABSTRAK Jurnal S. Pertanian 1 (3) : 213 222 (2017) PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN WILAYAH KABUPATEN BIREUEN PROVINSI ACEH Mimi Hayatiˡ, Elfiana 2, Martina 3 1 Mahasiswa Agribisnis Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional.

BAB I PENDAHULUAN. langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan regional memiliki peran utama dalam menangani secara langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional. Peranan perencanaan

Lebih terperinci

Perkembangan Ekonomi Makro

Perkembangan Ekonomi Makro Boks 1.2. Pemetaan Sektor Pertanian di Jawa Barat* Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB (harga berlaku) tahun 2006 sebesar sekitar 11,5%, sementara pada tahun 2000 sebesar 14,7% atau dalam kurun waktu

Lebih terperinci

5 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 27 Secara rinci indikator-indikator penilaian pada penetapan sentra pengembangan komoditas unggulan dapat dijelaskan sebagai berikut: Lokasi/jarak ekonomi: Jarak yang dimaksud disini adalah jarak produksi

Lebih terperinci

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 Nomor Katalog : 9302001.9416 Ukuran Buku : 14,80 cm x 21,00 cm Jumlah Halaman

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN II-2011

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN II-2011 No. 06/08/62/Th. V, 5 Agustus 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN II-2011 Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah triwulan I-II 2011 (cum to cum) sebesar 6,22%. Pertumbuhan tertinggi pada

Lebih terperinci

diperoleh melalui sistem pendataan pengunjung. dilihat pada tabel

diperoleh melalui sistem pendataan pengunjung. dilihat pada tabel mengisi daftar kehadiran atau berdasar data yang diperoleh melalui sistem pendataan pengunjung. Adapun jumlah Pengunjung Perpustakaan dapat dilihat pada tabel 2.184. Tabel 2.184. Jumlah Pengunjung Perpustakaan

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. DIY. Secara geografis, Kabupaten Bantul terletak antara 07 44' 04" ' 27"

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. DIY. Secara geografis, Kabupaten Bantul terletak antara 07 44' 04 ' 27 IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Kondisi Geografis Kabupaten Bantul merupakan salah satu dari lima kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kabupaten Bantul terletak di sebelah selatan

Lebih terperinci

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan indikator ekonomi makro yang dapat digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi suatu daerah. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Majalengka

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BUNGO

BAB IV TINJAUAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BUNGO BAB IV TINJAUAN PEREKONOMIAN KABUPATEN BUNGO 1. PERKEMBANGAN KABUPATEN BUNGO merupakan penghitungan atas nilai tambah yang timbul akibat adanya berbagai aktifitas ekonomi dalam suatu daerah/wilayah. Data

Lebih terperinci

Ditulis oleh Administrator Senin, 11 November :47 - Terakhir Diperbaharui Jumat, 29 November :16

Ditulis oleh Administrator Senin, 11 November :47 - Terakhir Diperbaharui Jumat, 29 November :16 KOMODITAS DAN SEKTOR UNGGULAN KABUPATEN MALUKU TENGAH Pembangunan ketahanan pangan dan pertanian di Indonesia merupakan focus dari arus utama pembangunan nasional. Secara perlahan diarahkan secara umum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kota Tasikmalaya dibentuk berdasarkan pada Peraturan Daerah Kota Tasikmalaya nomor 8 tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pembentukan Gross National Product (GNP) maupun Produk Domestik Regional

I. PENDAHULUAN. pembentukan Gross National Product (GNP) maupun Produk Domestik Regional I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peranan sektor pertanian dalam pembangunan Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. Peran penting sektor pertanian tersebut sudah tergambar dalam fakta empiris yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Jumlah Tenaga Kerja Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Lapangan Pekerjaan Tahun 2011

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Jumlah Tenaga Kerja Usia 15 Tahun ke Atas Menurut Lapangan Pekerjaan Tahun 2011 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN Peternakan adalah kegiatan membudidayakan hewan ternak untuk mendapatkan manfaat dengan menerapkan prinsip-prinsip manajemen pada faktor-faktor produksi. Peternakan merupakan

Lebih terperinci

KINERJA DAN PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN BLORA

KINERJA DAN PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN BLORA SEPA : Vol. 9 No. 2 Februari 2013 : 201-208 ISSN : 1829-9946 KINERJA DAN PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN BLORA WIWIT RAHAYU Staf Pengajar Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian/Agrobisnis

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sumber daya melimpah

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sumber daya melimpah 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sumber daya melimpah yang dimanfaatkan sebagian besar penduduk dengan mata pencaharian di bidang pertanian. Sektor pertanian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan yang dilaksanakan dalam suatu wilayah agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan memerlukan perencanaan yang akurat dari pemerintah. Upaya dalam meningkatkan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. 2,89 2,60 2,98 3,35 5,91 6,20 Makanan Tanaman Perkebunan 0,40 2,48 3,79 4,40 3,84 4,03. Peternakan 3,35 3,13 3,35 3,36 3,89 4,08

I PENDAHULUAN. 2,89 2,60 2,98 3,35 5,91 6,20 Makanan Tanaman Perkebunan 0,40 2,48 3,79 4,40 3,84 4,03. Peternakan 3,35 3,13 3,35 3,36 3,89 4,08 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sub sektor peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian yang sangat potensial untuk dikembangkan. Pengembangan sub sektor peternakan perlu untuk dilakukan karena sub

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dalam pembangunan sektor pertanian. Pada tahun 1997, sumbangan Produk

I. PENDAHULUAN. dalam pembangunan sektor pertanian. Pada tahun 1997, sumbangan Produk I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Subsektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru dalam pembangunan sektor pertanian. Pada tahun 1997, sumbangan Produk Domestik Bruto (PDB) subsektor

Lebih terperinci

Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 /

Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / BAB IV TINJAUAN EKONOMI 2.1 STRUKTUR EKONOMI Produk domestik regional bruto atas dasar berlaku mencerminkan kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan oleh suatu daerah. Pada tahun 2013, kabupaten Lamandau

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah 35 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah Provinsi Lampung adalah 3,46 juta km 2 (1,81 persen dari

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN I-2011

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN I-2011 No. 06/05/62/Th.V, 5 Mei 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN I-2011 PDRB Kalimantan Tengah Triwulan I-2011 dibanding Triwulan yang sama tahun 2010 (year on year) mengalami pertumbuhan sebesar

Lebih terperinci

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012 BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB. SUBANG TAHUN 2012 4.1.Gambaran Umum Geliat pembangunan di Kabupaten Subang terus berkembang di semua sektor. Kemudahan investor dalam menanamkan modalnya di Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tahun (juta orang)

BAB I PENDAHULUAN. Tahun (juta orang) 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Meningkatnya jumlah penduduk dan adanya perubahan pola konsumsi serta selera masyarakat telah menyebabkan konsumsi daging ayam ras (broiler) secara nasional cenderung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola

BAB I PENDAHULUAN. suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan kekayaan hayati yang melimpah, hal ini memberikan keuntungan bagi Indonesia terhadap pembangunan perekonomian melalui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Isu strategis yang kini sedang dihadapi dunia adalah perubahan iklim global, krisis pangan dan energi dunia, harga pangan dan energi meningkat, sehingga negara-negara

Lebih terperinci

Selayang Pandang Kabupaten Musi Rawas Utara 1

Selayang Pandang Kabupaten Musi Rawas Utara 1 MAKMUR AMAN CERDAS DAN BERMARTABAT 1 Sambutan BUPATI Musi Rawas Utara Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas Berkat Rahmat dan Karunia-Nya jualah, buku dapat diselesaikan. Buku ini

Lebih terperinci

Analisis keterkaitan sektor tanaman bahan makanan terhadap sektor perekonomian lain di kabupaten Sragen dengan pendekatan analisis input output Oleh :

Analisis keterkaitan sektor tanaman bahan makanan terhadap sektor perekonomian lain di kabupaten Sragen dengan pendekatan analisis input output Oleh : 1 Analisis keterkaitan sektor tanaman bahan makanan terhadap sektor perekonomian lain di kabupaten Sragen dengan pendekatan analisis input output Oleh : Sri Windarti H.0305039 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Lebih terperinci

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang masih memegang peranan dalam peningkatan perekonomian nasional. Selain itu, sebagian besar penduduk Indonesia masih menggantungkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kontribusi positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia.

I. PENDAHULUAN. kontribusi positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peternakan sebagai salah satu sub dari sektor pertanian masih memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto Indonesia. Kontribusi peningkatan

Lebih terperinci

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI LAHAN PERKEBUNAN SUMATERA SELATAN

POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI LAHAN PERKEBUNAN SUMATERA SELATAN Lokakarya Pengembangan Sistem Integrasi Kelapa SawitSapi POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN TERNAK SAPI DI LAHAN PERKEBUNAN SUMATERA SELATAN ABDULLAH BAMUALIM dan SUBOWO G. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian

Lebih terperinci

Tabel PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 di Kecamatan Ngadirejo Tahun (Juta Rupiah)

Tabel PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Atas Dasar Harga Konstan 2000 di Kecamatan Ngadirejo Tahun (Juta Rupiah) 3.14. KECAMATAN NGADIREJO 3.14.1. PDRB Kecamatan Ngadirejo Besarnya Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kecamatan Ngadirejo selama lima tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3.14.1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kontribusi bagi pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB)

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kontribusi bagi pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris dimana sebagian besar penduduknya hidup dari hasil bercocok tanam atau bertani, sehingga pertanian merupakan sektor yang memegang peranan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan sub sektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan pertanian secara keseluruhan, dimana sub sektor ini memiliki nilai strategis dalam pemenuhan kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan. masyarakat meningkat dalam periode waktu yang panjang.

BAB I PENDAHULUAN. yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan. masyarakat meningkat dalam periode waktu yang panjang. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara umum pembangunan ekonomi di definisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan masyarakat meningkat dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebijakan pembangunan daerah di Indonesia pada dasarnya didasari oleh kebijaksanaan pembangunan nasional dengan mempertimbangkan karakteristik dan kebutuhan daerah. Kebijaksanaan

Lebih terperinci

Kinerja ekspor mengalami pertumbuhan negatif dibanding triwulan sebelumnya terutama pada komoditas batubara

Kinerja ekspor mengalami pertumbuhan negatif dibanding triwulan sebelumnya terutama pada komoditas batubara No. 063/11/63/Th.XVII, 6 November 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN III-2013 Secara umum pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan triwulan III-2013 terjadi perlambatan. Kontribusi terbesar

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Geografis dan Demografis Provinsi Kalimantan Timur Provinsi Kalimantan Timur terletak pada 113 0 44-119 0 00 BT dan 4 0 24 LU-2 0 25 LS. Kalimantan Timur merupakan

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2007

BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2007 BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2007 4.1. Gambaran Umum awa Barat adalah provinsi dengan wilayah yang sangat luas dengan jumlah penduduk sangat besar yakni sekitar 40 Juta orang. Dengan posisi

Lebih terperinci

Puruk Cahu, 17 Agustus 2013 Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Murung Raya. Drs. Agust Bernaldus

Puruk Cahu, 17 Agustus 2013 Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Murung Raya. Drs. Agust Bernaldus Seuntai Kata Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan salah satu sensus yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik selain dari Sensus Penduduk dan Sensus Ekonomi. Sensus Pertanian 2013 (ST2013) dilaksanakan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II-2011

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II-2011 No. 43/08/63/Th XV, 05 Agustus 20 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II-20 Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II-20 tumbuh sebesar 5,74 persen jika dibandingkan triwulan I-20 (q to q)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia

Lebih terperinci

PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar

PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Sains dan Teknologi ABSTRAK Penelitian

Lebih terperinci

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013

BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013 BAB. IV KONDISI PEREKONOMIAN KAB.SUBANG TAHUN 2013 4.1.Gambaran Umum Geliat pembangunan di Kabupaten Subang terus berkembang di semua sektor. Kemudahan investor dalam menanamkan modalnya di Kabupaten Subang

Lebih terperinci

HASIL PENCACAHAN LENGKAP SENSUS PERTANIAN 2013

HASIL PENCACAHAN LENGKAP SENSUS PERTANIAN 2013 No. 33/07/36/Th. VIII, 1 Juli 2014 HASIL PENCACAHAN LENGKAP SENSUS PERTANIAN 2013 DAN SURVEI PENDAPATAN RUMAH TANGGA USAHA PERTANIAN 2013 RATA-RATA PENDAPATAN RUMAH TANGGA PERTANIAN DI BANTEN TAHUN 2013

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2012 BPS KABUPATEN SIMALUNGUN No. 01/08/1209/Th. XII, 1 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN SIMALUNGUN TAHUN 2012 Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Simalungun tahun 2012 sebesar 6,06 persen mengalami percepatan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Geografi Kabupaten Bone Bolango secara geografis memiliki batas batas wilayah sebagai berikut : - Sebelah Utara : Kabupaten Bolaang Mongondow

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN IV/2012 DAN TAHUN 2012

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN IV/2012 DAN TAHUN 2012 No. 06/02/62/Th. VII, 5 Februari 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN IV/2012 DAN TAHUN 2012 Perekonomian Kalimantan Tengah triwulan IV-2012 terhadap triwulan III-2012 (Q to Q) secara siklikal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat secara ekonomi dengan ditunjang oleh faktor-faktor non ekonomi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya terencana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara ekonomi dengan

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN Latar Belakang

I PENDAHULUAN Latar Belakang 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara agraris memiliki hasil pertanian yang sangat berlimpah. Pertanian merupakan sektor ekonomi yang memiliki posisi penting di Indonesia. Data Product

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi Kalimantan Timur dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sarawak, Malaysia. Kabupaten Malinau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan mempunyai tujuan yaitu berusaha mewujudkan kehidupan masyarakat adil dan makmur. Pembangunan adalah suatu proses dinamis untuk mencapai kesejahteraan masyarakat

Lebih terperinci

V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010

V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010 65 V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010 5.1. Gambaran Umum dan Hasil dari Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Kabupaten Musi Rawas Tahun 2010 Pada bab ini dijelaskan

Lebih terperinci

BAB VI INDIKATOR DINAS PERTANIAN YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD RENSTRA D I N A S P E R T A N I A N RENSTRA VI - 130

BAB VI INDIKATOR DINAS PERTANIAN YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD RENSTRA D I N A S P E R T A N I A N RENSTRA VI - 130 RENSTRA 2016-2021 BAB VI INDIKATOR DINAS PERTANIAN YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN D I N A S P E R T A N I A N RENSTRA 2016-2021 VI - 130 BAB VI INDIKATOR KINERJA YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN

Lebih terperinci

Potensi Kota Cirebon Tahun 2010 Bidang Pertanian SKPD : DINAS KELAUTAN PERIKANAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN KOTA CIREBON

Potensi Kota Cirebon Tahun 2010 Bidang Pertanian SKPD : DINAS KELAUTAN PERIKANAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN KOTA CIREBON Potensi Kota Cirebon Tahun 2010 Bidang Pertanian SKPD : DINAS KELAUTAN PERIKANAN PETERNAKAN DAN PERTANIAN KOTA CIREBON No. Potensi Data Tahun 2009 Data Tahun 2010*) 1. Luas lahan pertanian (Ha) 327 327

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang.

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya peningkatan produksi tanaman pangan khususnya pada lahan sawah melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. Pertambahan jumlah penduduk

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Letak Geografis dan Administratif Kabupaten Indramayu, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat, yang membentang sepanjang pesisir pantai utara P.Jawa,

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. bujur timur. Wilayahnya sangat strategis karena dilewati Jalur Pantai Utara yang

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. bujur timur. Wilayahnya sangat strategis karena dilewati Jalur Pantai Utara yang IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Kondisi Geografis Kabupaten Batang adalah salah satu kabupaten yang tercatat pada wilayah administrasi Provinsi Jawa Tengah. Letak wilayah berada diantara koordinat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat penting dalam

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat penting dalam 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat penting dalam menunjang perekonomian Indonesia. Mengacu pada keadaan itu, maka mutlak diperlukannya

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Blitar yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografis, kondisi topografi, dan iklim.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dititikberatkan pada pertumbuhan sektor-sektor yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tujuan pembangunan pada dasarnya mencakup beberapa

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Selain berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, sektor

Lebih terperinci

S. Andy Cahyono dan Purwanto

S. Andy Cahyono dan Purwanto S. Andy Cahyono dan Purwanto Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Jl. Jend A. Yani-Pabelan, Kartasura. PO BOX 295 Surakarta 57102 Telp/Fax: (0271) 716709; 716959 Email:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto

Lebih terperinci

PRODUKSI PANGAN INDONESIA

PRODUKSI PANGAN INDONESIA 65 PRODUKSI PANGAN INDONESIA Perkembangan Produksi Pangan Saat ini di dunia timbul kekawatiran mengenai keberlanjutan produksi pangan sejalan dengan semakin beralihnya lahan pertanian ke non pertanian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. daerah bersangkutan (Soeparmoko, 2002: 45). Keberhasilan pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. daerah bersangkutan (Soeparmoko, 2002: 45). Keberhasilan pembangunan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada, dengan menjalin pola-pola kemitraan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN I-2012

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN I-2012 No. 06/05/62/Th.VI, 7 Mei 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN I-2012 PDRB Kalimantan Tengah Triwulan I-2012 dibanding Triwulan yang sama tahun 2011 (year on year) mengalami sebesar 6,26

Lebih terperinci

1. PERTANIAN, KEHUTANAN, KELAUTAN, PERIKANAN, PETERNAKAN & PERKEBUNAN. Tabel 1.1.1C

1. PERTANIAN, KEHUTANAN, KELAUTAN, PERIKANAN, PETERNAKAN & PERKEBUNAN. Tabel 1.1.1C SUMBER DAYA ALAM PERTANIAN, KEHUTANAN, KELAUTAN, PERIKANAN, PETERNAKAN & PERKEBUNAN. SUB SEKTOR TANAMAN PANGAN Apa yang sudah dicapai selama ini lebih ditingkatkan, Pemerintah Kota Jayapura akan lebih

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU No. 24/05/14/Th.XV, 5 Mei 2014 PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU Ekonomi Riau termasuk migas pada triwulan I tahun 2014, yang diukur dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000, mengalami

Lebih terperinci

KEUNGGULAN KOMPETITIF SISTEM USAHATANI TANAMAN PANGAN DI KABUPATEN SUMBA TIMUR, NTT

KEUNGGULAN KOMPETITIF SISTEM USAHATANI TANAMAN PANGAN DI KABUPATEN SUMBA TIMUR, NTT KEUNGGULAN KOMPETITIF SISTEM USAHATANI TANAMAN PANGAN DI KABUPATEN SUMBA TIMUR, NTT Rachmat Hendayana Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, Jl Tentara Pelajar, 10 Bogor ABSTRAK Makalah

Lebih terperinci

BAB III PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KABUPATEN MURUNG RAYA MENURUT LAPANGAN USAHA

BAB III PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KABUPATEN MURUNG RAYA MENURUT LAPANGAN USAHA BAB III PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KABUPATEN MURUNG RAYA MENURUT LAPANGAN USAHA Perkembangan perekonomian suatu wilayah, umumnya digambarkan melalui indikator Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Pendekatan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU No. 38/08/14/Th.XIV, 2 Agustus 2013 PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU Ekonomi Riau Tanpa Migas Triwulan II Tahun 2013 mencapai 2,68 persen Ekonomi Riau termasuk migas pada triwulan II tahun 2013, yang diukur dari

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris di mana pembangunan di bidang pertanian

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara agraris di mana pembangunan di bidang pertanian 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan masalah Indonesia merupakan negara agraris di mana pembangunan di bidang pertanian menjadi prioritas utama karena Indonesia merupakan salah satu negara yang sebagian

Lebih terperinci

ANALISIS PERKEMBANGAN BISNIS SEKTOR PERTANIAN. Biro Riset LMFEUI

ANALISIS PERKEMBANGAN BISNIS SEKTOR PERTANIAN. Biro Riset LMFEUI ANALISIS PERKEMBANGAN BISNIS SEKTOR PERTANIAN Biro Riset LMFEUI Data tahun 2007 memperlihatkan, dengan PDB sekitar Rp 3.957 trilyun, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar, yaitu Rp

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan nasional, terlebih dahulu kita harus menganalisa potensi pada

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan nasional, terlebih dahulu kita harus menganalisa potensi pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pembangunan daerah merupakan implementasi serta bagian integral dari pembangunan nasional. Dengan kata lain, pembangunan nasional tidak akan lepas dari peran

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Tabel 1. Batas Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Masyarakat Miskin ( ) Presentase Penduduk Miskin. Kota& Desa Kota Desa

1. PENDAHULUAN. Tabel 1. Batas Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Masyarakat Miskin ( ) Presentase Penduduk Miskin. Kota& Desa Kota Desa 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peranan pertanian dalam pembangunan ekonomi hanya dipandang pasif dan bahkan hanya dianggap sebagai unsur penunjang semata. Peranan utama pertanian dianggap hanya sebagai

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU

PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU No. 19/05/14/Th.XI, 10 Mei PERKEMBANGAN EKONOMI RIAU Ekonomi Riau Tanpa Migas y-on-y Triwulan I Tahun sebesar 5,93 persen Ekonomi Riau dengan migas pada triwulan I tahun mengalami kontraksi sebesar 1,19

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pembangunan Pertanian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan nasional. Pertanian memegang peranan penting dalam perekonomian bangsa, hal ini ditunjukkan

Lebih terperinci

BAB VI INDIKATOR DINAS PERTANIAN YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD RENSTRA D I N A S P E R T A N I A N RENSTRA VI - 130

BAB VI INDIKATOR DINAS PERTANIAN YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD RENSTRA D I N A S P E R T A N I A N RENSTRA VI - 130 RENSTRA 2016-2021 BAB VI INDIKATOR DINAS PERTANIAN YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN D I N A S P E R T A N I A N RENSTRA 2016-2021 VI - 130 BAB VI INDIKATOR KINERJA YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH

PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH No. 06/05/72/Thn XIV, 25 Mei 2011 PEREKONOMIAN SULAWESI TENGAH TRIWULAN I TAHUN 2011 MENGALAMI KONTRAKSI/TUMBUH MINUS 3,71 PERSEN Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah

Lebih terperinci

ANALISIS SEKTOR BASIS DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA

ANALISIS SEKTOR BASIS DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA ANALISIS SEKTOR BASIS DI KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW UTARA 1 Sari Sasmita Sambuari, 2 Vekie Rumate, 3 Hanly Siwu 1,2,3 Jurusan Ilmu Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi,

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR TRIWULAN I-2014 No. 32/05/35/Th. XIV, 5 Mei 2014 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Triwulan I Tahun 2014 (y-on-y) mencapai 6,40

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu kebijakan pembangunan yang dipandang tepat dan strategis dalam rangka pembangunan wilayah di Indonesia sekaligus mengantisipasi dimulainya era perdagangan

Lebih terperinci

DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN, PERJANJIAN KINERJA, PENGUKURAN KINERJA, INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) TAHUN 2016

DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN, PERJANJIAN KINERJA, PENGUKURAN KINERJA, INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) TAHUN 2016 DOKUMEN RENCANA KINERJA TAHUNAN, PERJANJIAN KINERJA, PENGUKURAN KINERJA, INDIKATOR KINERJA UTAMA (IKU) TAHUN 2016 PEMERINTAH KOTA BIMA DINAS PERTANIAN TANAMAN PANGAN DAN PETERNAKAN KOTA BIMA TAHUN 2016

Lebih terperinci

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 TABEL-TABEL POKOK Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 Tabel 1. Tabel-Tabel Pokok Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Lamandau Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan

Lebih terperinci

MURUNG RAYA DAN BERBAGAI POTENSI YANG DIMILIKINYA

MURUNG RAYA DAN BERBAGAI POTENSI YANG DIMILIKINYA TIGA MURUNG RAYA DAN BERBAGAI POTENSI YANG DIMILIKINYA Batas Wilayah Administrasi Kabupaten Murung Raya sebagai Kabupaten yang secara definitif otonom dan mandiri lepas dari Kabupaten Induknya Barito Utara

Lebih terperinci

NILAI TUKAR PETANI (NTP) DI PROVINSI RIAU JUNI 2015 SEBESAR 96,24 ATAU NAIK 1,05 PERSEN

NILAI TUKAR PETANI (NTP) DI PROVINSI RIAU JUNI 2015 SEBESAR 96,24 ATAU NAIK 1,05 PERSEN No. 34/07/14/Th.XVI, 1 Juli 2015 NILAI TUKAR PETANI (NTP) DI PROVINSI RIAU JUNI 2015 SEBESAR 96,24 ATAU NAIK 1,05 PERSEN Pada bulan Juni 2015, Nilai Tukar Petani (NTP) di Provinsi Riau sebesar 96,24 atau

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO TAHUN ,71 PERSEN

PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO TAHUN ,71 PERSEN No.10/02/75/Th.VII, 5 Februari 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI GORONTALO TAHUN 7,71 PERSEN Pertumbuhan Ekonomi Gorontalo tahun yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2006

BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2006 BAB IV KONDISI PEREKONOMIAN JAWA BARAT TAHUN 2006 4.1. Gambaran Umum inerja perekonomian Jawa Barat pada tahun ini nampaknya relatif semakin membaik, hal ini terlihat dari laju pertumbuhan ekonomi Jawa

Lebih terperinci

PROFIL KECAMATAN TOMONI 1. KEADAAN GEOGRAFIS

PROFIL KECAMATAN TOMONI 1. KEADAAN GEOGRAFIS PROFIL KECAMATAN TOMONI 1. KEADAAN GEOGRAFIS Kecamatan Tomoni memiliki luas wilayah 230,09 km2 atau sekitar 3,31 persen dari total luas wilayah Kabupaten Luwu Timur. Kecamatan yang terletak di sebelah

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Perolehan pangan yang cukup baik dalam jumlah maupun mutu merupakan sesuatu yang penting bagi setiap manusia agar dapat hidup secara berkualitas. Oleh karena itu hak atas kecukupan

Lebih terperinci