BAB lll PROFIL SANITASI KABUPATEN PATI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB lll PROFIL SANITASI KABUPATEN PATI"

Transkripsi

1 BAB lll PROFIL SANITASI KABUPATEN PATI 3.1 Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (Phbs) dan Promosi Higiene Pola hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang, keluarga, atau masyarakat mampu menolong dirinya sendiri (mandiri) di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan. PHBS, khususnya di skala rumah tangga dalam pelaksanaannya memang butuh banyak dukungan, mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar hingga pemerintah. Derajat kesehatan dan pola hidup masyarakat di Kabupaten Pati secara umum dapat terlihat dari angka kejadian penyakit yang disebabkan oleh sanitasi buruk. Salah satu indikator yang sangat berhubungan erat dengan permasalahan sanitasi adalah jumlah kasus kejadian penyakit diare. Dari data yang ada di Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, kejadian kasus diare setiap tahun mengalami peningkatan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 3.1 berikut ini. Grafik. 3.1 Kasus diare di Kabupaten Pati tahun KASUS DIARE KABUPATEN PATI Sumber : Dinas Kesehatan, DIARE Berdasarkan hasil study EHRA yang dilakukan terhadap responden dengan pertanyaan siapa anggota keluarga yang terakhir menderita diare didapatkan hasil anggota keluarga yang menderita diare paling tinggi adalah usia dewasa dengan prosentase 14,9 % atau responden sedangkan urutan terkecil adalah remaja laki-laki dengan prosentase 3,4% atau 604 responden, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 3.2 dibawah ini. Halaman III.1

2 Grafik 3.2 Anggota keluarga yang menderita diare Dewasa (P) Dewasa (L) Remaja (P) Remaja (L) Anak-Anak Balita Sumber : Olah data survey EHRA, 2012 Promosi Kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan Promosi kesehatan di sekolah merupakan suatu upaya untuk menciptakan sekolah menjadi suatu komunitas yang mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sekolah melalui 3 kegiatan utama (a) penciptaan lingkungan sekolah yang sehat,(b) pemeliharaan dan pelayanan di sekolah,dan (c) upaya pendidikan yang berkesinambungan. Ketiga kegiatan tersebut dikenal dengan istilah TRIAS UKS. Dalam Buku Putih Sanitasi (BPS) ini, yang akan dibahas mengenai permasalahan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) hanya pada tataran rumah tangga dan sekolah saja. Hal ini dikarenakan pada kedua lokasi tersebut mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam pencapaian program PHBS Tatanan Rumah Tangga Indikator PHBS Tatanan Rumah tangga adalah suatu alat ukur yang membatasi focus perhatian untuk menilai keadaan atau permasalahan kesehatan di rumah tangga. Indikator PHBS Tatanan Rumah tangga diarahkan pada aspek program prioritas yaitu KIA, Gizi, Kesehatan Lingkungan, Gaya hidup, dan upaya kesehatan masyarakat. Indikator PHBS Tatanan Rumah tangga yang digunakan di Provinsi Jawa Tengah terdapat 16 Indikator, yang terdiri dari 10 indikator Nasional dan 6 Indikator lokal Jawa Tengah. a. Indikator Nasional adalah sebagai berikut: 1. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan 2. Memberikan ASI Eksklusif (ASI saja) kepada bayi sampai usia 6 bulan 3. Makan dengan gizi seimbang 4. Menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. 5. Menggunakan jamban sehat untuk buang air besar (BAB). 6. Kepadatan hunian rumah minimah 9 M2 7. Menggunakan lantai rumah yang kedap air (bukan lantai tanah) 8. Melakukan aktifitas fisik (berolah raga) setiap hari. 9. Bebas asap rokok (anggota keluarga tidak ada yang merokok.) 10. Menjadi anggota JPK / Dana Sehat / Asuransi kesehatan lainnya b. Indikator lokal Jawa Tengah 1. Menimbang balita / batita setiap bulan (minimal 8 kali setahun). 2. Membuang sampah pada tempat yang disediakan 3. Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan sesudah BAB. Halaman III.2

3 4. Menggosok gigi secara teratur minimal 2 kali sehari. 5. Tidak menyalah gunakan miras / napza (narkoba). 6. Anggota rumah tangga melakukan PSN. Penentuan kriteria strata rumah tangga ditentukan dengan menghitung jumlah indikator yang telah dilaksanakan oleh keluarga meliputi: a. Sehat Pratama : indikator yang terpenuhi antara 1 s/d 5 indikator b. Sehat Madya : indikator yang terpenuhi antara 6 s/d 10 indikator c. Sehat Utama : indikator yang terpenuhi antara 11 s/d 15 indikator d. Sehat Paripurna : semua indikator dapat terpenuhi Untuk melihat kondisi higiene tatanan rumah tangga di Kabupaten Pati dalam menciptakan lingkungan yang sehat, digunakan 6 (enam) indikator yaitu : 1. Menggunakan air bersih. 2. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun pada 5 waktu penting 3. Menggunakan jamban sehat 4. Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 5. Tempat sampah 6. Rumah sehat Adapun kondisi kesehatan higiene tatanan rumah tangga di Kabupaten Pati berdasarkan indikator kesehatan lingkungan adalah sebagai berikut : Penggunaan Air Bersih Salah satu faktor penting yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat adalah kondisi lingkungan yang tercermin antara lain dari akses masyarakat terhadap air bersih dan sanitasi dasar. Berdasarkan hasil pemantauan terhadap prosentase keluarga yang memiliki akses air bersih di Kabupaten Pati, telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Pati pada tahun 2011, seperti terlihat dalam tabel 3.1. dibawah ini. Dari keluarga yang ada, 49,6 % menggunakan sumur gali, 0,1 % menggunakan sumur pompa tangan, 9,7 % menggunakan jaringan perpipaan, 0,9 % menggunakan penampungan air hujan, 0,2 % menggunakan sumur artesis dan 25,3 % menggunakan sumber air lainnya. Dari data tersebut, prosentase keluarga yang sudah mendapatkan akses air bersih sebesar 85,8% dari jumlah keluarga yang ada di Kabupaten Pati. Halaman III.3

4 Tabel 3.1. Akses Sarana Air Bersih Per Puskesmas NO Puskemas Jumlah Jumlah KK yang mempunyai akses sarana air bersih Jiwa KK SGL % SPT % PP % PAH % SA % Lain2 % 1 SUKOLILO I 48,433 14, , SUKOLILO II , KAYEN , TAMBAKROMO , WINONG I WINONG II , PUCAKWANGI I , PUCAKWANGI II , JAKEN BATANGAN , JUWANA , JAKENAN PATI I PATI II , GABUS I , GABUS II , MARGOREJO 55,842 17, , GEMBONG , TLOGOWUNGU , WEDARIJAKSA I , WEDARIJAKSA II , TRANGKIL MARGOYOSO I MARGOYOSO II , GN WUNGKAL , CLUWAK , TAYU I , TAYU II , DUKUHSETI , JUMLAH 1,184, , , , , , , Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, 2012 Halaman III.4

5 Sedangkan hasil pemantauan terhadap kepemilikan sarana air bersih per puskesmas, dari keluarga, hanya dilakukan survey terhadap keluarga atau 58,5 % saja dari seluruh keluarga di Kabupaten Pati. Dari hasil survey yang dilakukan, 51,2 % menggunakan sumur gali, 9,3 % menggunakan sumur pompa tangan, 12,0 % menggunakan jaringan perpipaan, 0,3 % menggunakan penampungan air hujan, 0 % menggunakan sumur artesis dan 20,6 % menggunakan sumber air lainnya. Dari data tersebut, sebanyak 93,4 % dari responden telah memiliki sarana air bersih. Untuk lebih jelasnya akan disajikan dalam tabel 3.4. Kabupaten Pati sebagai wilayah yang memiliki masalah dalam ketersediaan air bersih terutama pada saat musim kemarau. Pelayanan air bersih oleh PDAM Tirta Bening di Kabupaten Pati saat ini sudah mencakup 14 kecamatan dari sebanyak 21 kecamatan. Pada tahun 2010 cakupan pelayanan air bersih dari PDAM mencapai jiwa atau 39,78% dari daerah cakupan pelayanan yaitu jiwa jumlah penduduk pada 14 Kecamatan, sedangkan berdasarkan jumlah penduduk pada akhir tahun 2010 dari total penduduk jiwa baru dilayani oleh PDAM sebesar 11,53%. Pada tahun 2009 cakupan pelayanan air bersih dari PDAM mencapai jiwa atau 39,02% dari daerah cakupan pelayanan yaitu jiwa jumlah penduduk pada 14 Kecamatan, sedangkan berdasarkan total penduduk pada tahun 2009 sebanyak jiwa baru dilayani oleh PDAM sebesar 10,70%. Pada tahun 2008 cakupan pelayanan air bersih dari PDAM mencapai jiwa atau 40,20% dari daerah cakupan pelayanan yaitu jiwa jumlah penduduk pada 14 Kecamatan, sedangkan berdasarkan total penduduk pada tahun 2008 sebanyak jiwa baru dilayani oleh PDAM sebesar 10,48%. Berdasarkan data tersebut dapat dilihat perkembangan pelayanan pelanggan dari tahun sebesar jiwa atau 4,87%. No Tahun Tabel 3.2. Data Pelayanan Pelanggan PDAM Tirta Bening Kabupaten Pati Tahun Jumlah Penduduk (Administrasi) Jumlah Cakupan Pelayanan Jumlah Pelanggan Sambungan % Cakupan Pelayanan Penduduk SR HU Total Terlayani Daerah Administrasi Pelayanan (Unit) (Unit) (Unit) (Jiwa) (Jiwa) (Jiwa) ,48 40, ,70 39, ,53 39,78 Sumber: PDAM Tirta Bening Pati Upaya untuk meningkatkan akses terhadap air bersih juga dilakukan oleh program Pamsimas di Kabupaten Pati. Pada tahun 2008 program Pamsimas telah melakukan penyediaan akses di 9 desa yang terdiri dari 26 dusun, dengan daerah cakupan jiwa dan yang terlayani air bersih adalah jiwa atau 36,77%, sedangkan dari total penduduk tahun 2008 sebanyak jiwa yang berlayani oleh Program Pamsimas sebesar 0,52%. Pada tahun 2009 program Pamsimas telah melakukan penyediaan akses di 11 desa yang terdiri dari 40 dusun, dengan daerah cakupan jiwa dan yang terlayani air bersih adalah jiwa atau 19,85%, sedangkan dari total penduduk tahun 2009 sebanyak jiwa yang berlayani oleh Program Pamsimas sebesar 0,42%. Pada tahun 2010 program Pamsimas telah melakukan penyediaan akses di 16 desa reguler dan 2 desa replikasi yang terdiri dari 69 dusun, dengan daerah cakupan jiwa dan yang terlayani air bersih adalah jiwa atau 52,61%, sedangkan dari total penduduk akhir tahun 2010 sebanyak jiwa yang berlayani oleh Program Pamsimas sebesar 2,22%. Halaman III.5

6 Pada tahun 2011 Program Pamsimas telah melakukan penyediaan akses di 14 desa reguler dan 2 desa replikasi yang terdiri dari 87 dusun, dengan daerah cakupan jiwa Hasil yang telah dilakukan Program Pamsimas untuk penyediaan sarana air bersih selama kurun waktu tahun pada 38 desa dengan jumlah penduduk Jiwa telah terlayani air bersih sebanyak jiwa atau 39,80%. Tabel 3.3. Data PAMSIMAS Bidang Sarana Air Minum Kabupaten Pati Tahun NO Tahun Jumlah Penduduk Jumlah Desa Jumlah Dusun Jumlah Penduduk Desa SARANA AIR MINUM Jumlah Dusun Yang Dilayani Jumlah Penduduk Yang Dilayani % Cakupan Pelayanan PELAYANAN Administ rasi Daerah Pelayanan ,52 33, ,42 19, ,22 52, TOTAL , Sumber : DMAC Pamsimas Kabupaten Pati SR HU Dari hasil study EHRA terhadap pertanyaan sumber air yang digunakan untuk minum masih ada keluarga yang mengunkan sumber air untuk minum dari sumur gali tidak terlindungi sebanyak 484 responden, Mata air tak terlindungi 249 responden, air hujan 579 responden, dan dari sungai 119 responden, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini Grafik 3.3 Sumber air yang digunakan untuk minum SGL Tdk Terlindungi 249 MA Tdk Terlindungi 579 Air Hujan 119 Air Sungai Sumber : Olah data survey EHRA, 2012 Halaman III.6

7 Tabel 3.4. Akses Sarana Air Bersih Per Puskesmas Jumlah yang Jumlah Jumlah KK Memiliki Sarana air bersih Puskemas disurvey NO Jiwa KK Jml % SGL % SPT % PP % PAH % SA % Lain2 % 1 SUKOLILO I 48,433 14, , , , SUKOLILO II , , KAYEN , , , TAMBAKROMO , , , WINONG I , WINONG II , PUCAKWANGI I , , , PUCAKWANGI II , , JAKEN , BATANGAN , JUWANA , , JAKENAN , , PATI I , , PATI II , , GABUS I GABUS II , MARGOREJO 55,842 17, , , GEMBONG , , TLOGOWUNGU , , WEDARIJAKSA I , WEDARIJAKSA II , TRANGKIL , , MARGOYOSO I MARGOYOSO II , GN WUNGKAL , CLUWAK , Halaman III.7

8 Jumlah yang Jumlah Jumlah KK Memiliki Sarana air bersih Puskemas disurvey NO Jiwa KK Jml % SGL % SPT % PP % PAH % SA % Lain2 % 27 TAYU I , , TAYU II , DUKUHSETI , , JUMLAH 1,184, , , , , , , Sumber : Dinas Kesehatan Kab. Pati, 2012 Halaman III.8

9 Mencuci Tangan Dengan Air Bersih Dan Sabun Pada 5 Waktu Penting Dari aspek kesehatan masyarakat, khususnya pola penyebaran penyakit menular, cukup banyak penyakit yang dapat dicegah melalui kebiasan atau perilaku higienes dengan cuci tangan pakai sabun (CTPS), seperti penyakit diare, typhus perut, kecacingan, flu burung, dan bahkan flu babi. Seperti halnya perilaku buang air besar sembarangan, perilaku cuci tangan, terlebih cuci tangan pakai sabun merupakan masih merupakan sasaran penting dalam promosi kesehatan, khususnya terkait perilaku hidup bersih dan sehat. Sejak dulu kala, nenek moyang kita sudah mengajarkan kepada anak cucunya supaya menjaga kebersihan diri. Salah satunya adalah dengan melakukan cuci tangan dengan air bersih sebelum makan dan tentunya juga sesudahnya. Metode sederhana ini, ternyata banyak dilupakan orang, sehingga belum menjadi budaya atau belum menjadi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Sabun adalah bahan yang digunakan untuk membersihkan sesuatu yang kotor, seperti pakaian, badan, dan alat-alat rumah tangga. Saat ini sabun merupakan bahan kebutuhan primer bagi setiap orang untuk kebersihan. Tangan adalah bagian dari tubuh manusia yang paling sering berhubungan dengan mulut dan hidung secara langsung, sehingga tangan menjadi salah satu penghantar utama masuknya kuman penyebab penyakit ke dalam tubuh manusia. Apabila tangan manusia menyentuh tinja/feses, akan terkontaminasi dengan lebih dari 10 juta virus dan satu juta bakteri yang dapat menimbulkan penyakit. Virus dan bakteri tidak terlihat, sehingga sering diabaikan dan mudah masuk kedalam tubuh manusia. Cuci tangan pakai sabun, bagi sebagian besar masyarakat sudah menjadi kegiatan rutin seharihari. Tapi, bagi sebagian masyarakat lainnya, cuci tangan pakai sabun belum menjadi kegiatan rutin, terutama bagi anak-anak. Cuci tangan pakai sabun dapat menghilangkan sejumlah besar virus dan bakteri yang menjadi penyebab berbagai penyakit, terutama penyakit yang menyerang saluran cerna, seperti diare dan penyakit infeksi saluran nafas akut. Hampir semua orang mengerti pentingnya cuci tangan pakai sabun, namun tidak membiasakan diri untuk melakukannya dengan benar pada saat yang penting. Tidak terbatas bagi orang awam atau anak-anak, bahkan di kalangan petugas medis pun kebiasaan ini acapakali belum membudaya. Hasil study EHRA di Kabupaten Pati dengan responden orang yang tersebar di 406 desa dengan pertanyaan waktu kritis Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) menunjukan bahwa baru 18,86 % responden sudah CTPS sebelum makan, 60,31 % responden sudah CTPS sebelum menyiapkan makanan, masih ada responden sebanyak 13,92 % belum CTPS setelah BAB, 34,42 % belum CTPS setelah menceboki bayi dan 76,58 % responden sudah CTPS setelah memegang hewan. Tabel 3.5. Hasil Study EHRA tentang waktu kritis CTPS Jawaban Responden No Waktu Kritis CTPS TIDAK YA % TIDAK % MENJAWAB % JUMLAH 1 Setelah BAB 13, , ,240 2 Setelah Menceboki Bayi 10, , ,240 3 Sebelum Makan 3, , ,240 4 Sebelum Menyiapkan makanan 9, , ,240 5 Setelah memegang Hewan 12, , ,240 Sumber: Olah data survey EHRA, 2012 Halaman III.9

10 Menggunakan Jamban Sehat Masalah penyehatan lingkungan pemukiman khususnya pada pembuangan tinja merupakan salah satu dari berbagai masalah kesehatan yang perlu mendapatkan prioritas. Penyediaan sarana pembuangan tinja masyarakat terutama dalam pelaksanaannya tidaklah mudah, karena menyangkut peran serta masyarakat yang biasanya sangat erat kaitannya dengan prilaku, tingkat ekonomi, kebudayaan dan pendidikan. Mengingat tinja merupakan bentuk kotoran yang sangat merugikan dan membahayakan kesehatan masyarakat, maka tinja harus dikelola, dibuang dengan baik dan benar. Untuk itu tinja harus dibuang pada suatu wadah atau sebut saja jamban keluarga. Jamban yang digunakan masyarakat bisa dalam bentuk jamban yang paling sederhana, dan murah, misal jamban cemplung, atau jamban yang lebih baik, dan lebih mahal misal jamban leher angsa dari tanah liat, atau bahkan leher angsa dari bahan keramik. Dari hasil study EHRA terhadap pertanyaan dimana anggota keluarga yang sudah dewasa bila ingin buang air besar didapatkan hasil sebagian besar sudah BAB di jamban pribadi yaitu sebanyak responden dan masih ada yang BABS sebanyak responden, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini Grafik 3.4 Kebiasaan BAB keluarga usia dewasa Sumber : Olah data survey EHRA, 2012 Sementara dari pertanyaan anggota keluarga yang sering buang air besar di tempat terbuka (seperti kebun, halaman, sungai, pantai, laut, selokan/got, saluran irigasi) di dapatkan hasil bahwa kebiasan BABS terbanyak pada laki-laki usia 5 12 tahun sebanyak responden dan kebiasaan BABS terendah pada usia remaja perempuan sebanyak responden, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik dibawah ini Halaman III.10

11 Grafik 3.5 Anggota Keluarga Yang Masih BABS P Tua L Tua P Dewasa L Dewasa Remaja P Remaja L Umur 5-12 P Umur 5-12 L Sumber : Olah data survey EHRA, 2012 Prinsip utama tempat pembuangan tinja adalah suatu wadah atau tempat yang mampu menjaga atau mencegah tinja tersebut tidak mencemari air terutama air untuk sumber air minum dan tidak mencemari tanah. Pembuangan tinja perlu mendapat perhatian khusus karena merupakan satu bahan buangan yang banyak mendatangkan masalah dalam bidang kesehatan dan sebagai media bibit penyakit, seperti diare, typhus, muntaber, disentri, cacingan dan gatal-gatal. Selain itu dapat menimbulkan pencemaran lingkungan pada sumber air dan bau busuk serta estetika. Jamban (baik jamban individual, bersama dan jamban umum) dapat dikatakan sehat apabila jamban tersebut telah memiliki pengolahan/pengumpulan tinja yang dapat Mencegah kontaminasi tinja ke badan air (air sungai, air tanah), Mencegah kontak antara manusia dengan tinja, membuat tinja tidak dapat dihinggapi lalat atau serangga vektor lainnya, serta binatang liar atau binatang peliharaan, mencegah buangan dari menimbulkan bau, serta, konstruksi dudukan dibuat dengan baik dan aman. Dengan demikian, jamban sehat lebih dilihat pada sistem pengolahan dan pengumpulannya daripada konstruksi bangunan atasnya (dinding, atap, tipe kloset). Selama seseorang memiliki jamban dengan kriteria seperti diatas, maka dapat dikatakan bahwa orang tersebut sudah tidak melakukan BABS, walaupun konstruksi dinding terbuat dari bambu atau plastik dan tanpa atap. Berdasarkan survey EHRA yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa lama bangunan septic tank dibangun diperoleh data 445 responden menyatakan baru membangun septic tank antara 0 12 bulan, responden antara 1 5 tahun, responden antara 5 10 tahun, responden menjawab lama bangunan septic tank lebih dari 10 tahun. Sedangkan pertanyaan kapan tangki septik terakhir dikosongkan, 143 responden menjawab antara 0 12 bulan yang lalu, 441 responden antara 1 5 tahun, 183 responden menjawab antara 5 10 tahun, 91 responden menjawab lebih dari 10 tahun dan menjawab tidak pernah dikuras/dikosongkan. Sementara pertanyaan pembuangan lumpur tinja pada saat tangki septik dikosongkan di dapatkan hasil yang dibuang di sungai sebesar 10%, dikubur di halaman sebesar 9%, dikubur di tanah orang lain sebanyak 2% dan 79 % atau responden menjawab tidak tahu. Dengan melihat data tersebut, dalam hal pembuangan lumpur tinja masih menjadi permasalahan serius dan berpotensi mencemari lingkungan. Halaman III.11

12 Grafik 3.6 Umur bangunan tangki septik bln 1-5 th 5-10 th > 10 th Tdk Tahu Series Sumber : Olah data survey EHRA, 2012 Grafik. 3.7 Waktu pengosongan tangki septik bln 1-5 th 5-10 th > 10 th Tdk Pernah Tdk Tahu Sumber : Olah data survey EHRA, 2012 Grafik 3.8 Pembuangan lumpur tinja tidak tahu 79% sungai 10% dikubur di halaman 9% dikubur dihalaman orang lain 2% Sumber : Olah data survey EHRA, 2012 Halaman III.12

13 Kondisi jamban sehat di Kabupaten Pati, dari keluarga yang diperiksa, yang memiliki jamban sebanyak keluarga dan yang termasuk kategori jamban sehat sebesar keluarga. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 3.6. Kepemilikan Jamban NO KECAMATAN PUSKESMAS JUMLAH KELUARGA JUMLAH RUMAH JAMBAN KELUARGA KELUARGA SEHAT DIPERIKSA MEMILIKI JUMLAH % JUMLAH % JUMLAH % 1 SUKOLILO SUKOLILO I 14,301 12,176 4, , SUKOLILO II 12,283 11,873 1, , , KAYEN KAYEN 22,985 19,884 9, , , TAMBAKROMO TAMBAKROMO 17,951 17,822 2, , , WINONG WINONG I 7,936 8,315 3, , , WINONG II 7,395 7,207 2, , PUCAKWANGI PUCAKWANGI I 10,274 8,855 3, , , PUCAKWANGI II 14,428 4,214 9, JAKEN JAKEN 6,264 12,898 5, , , BATANGAN BATANGAN 12,811 11,024 2, , , JUWANA JUWANA 28,422 23,525 3, , , JAKENAN JAKENAN 15,595 10,730 10, , , PATI PATI I 17,136 14, PATI II 13,689 12, GABUS GABUS I 9,814 8,463 5, , , GABUS II 3,778 7,583 3, , , MARGOREJO MARGOREJO 17,662 15,533 17, , , GEMBONG GEMBONG 13,477 13,558 9, , , TLOGOWUNGU TLOGOWUNGU 17,157 14,044 2, , , WEDARIJAKSA WEDARIJAKSA I 8,720 9,234 5, , , WEDARIJAKSA II 7,452 6,745 6, , , TRANGKIL TRANGKIL 18,686 16,318 3, , , MARGOYOSO MARGOYOSO I 10,631 8,056 8, , , MARGOYOSO II 8,484 8, GN WUNGKAL GN WUNGKAL 12,327 10,504 10, , , CLUWAK CLUWAK 15,317 14,332 8, , , TAYU TAYU I 13,384 12,564 7, , , TAYU II 6,828 6,588 6, , , DUKUHSETI DUKUHSETI 15,451 16,243 2, , , JUMLAH 380, , , , , Sumber : Dinkes Kab. Pati, Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Salah satu kriteria rumah dinyatakan sehat adalah bebas jentik nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor. Indikator keberhasilan program pengendalian vektor adalah rumah atau bangunan yang bebas jentik nyamuk Aedes aegypti dengan angka toleransi ABJ ( Angka Bebas Jentik) 95%. Dari rumah / bangunan yang ada di Kabupaten Pati, rumah / bangunan telah dilakukan pemeriksaan jentik nyamuk Aedes aegypti dan dari rumah / bangunan yang telah diperiksa tersebut, rumah / bangunan atau 80,9 % telah dinyatakan bebas jentik nyamuk Aedes aegypti. Halaman III.13

14 Tabel 3.7. Prosentase Rumah / Bangunan Bebas Jentik Nyamuk Aedes Aegypti Menurut Kecamatan dan Puskesmas Tahun 2011 NO KECAMATAN PUSKESMAS JUMLAH RUMAH / BANGUNAN YANG ADA RUMAH / BANGUNAN DIPERIKSA RUMAH / BANGUNAN BEBAS JENTIK JUMLAH % JUMLAH % 1 SUKOLILO SUKOLILO I 12,176 9, , SUKOLILO II 11,873 9, , KAYEN KAYEN 19,884 9, , TAMBAKROMO TAMBAKROMO 17,822 17, , WINONG WINONG I 8,315 8, , WINONG II 7,207 6, , PUCAKWANGI PUCAKWANGI I 8,855 8, , PUCAKWANGI II 4,214 2, , JAKEN JAKEN 12,898 11, , BATANGAN BATANGAN 11,024 2, , JUWANA JUWANA 23,525 7, , JAKENAN JAKENAN 10,730 10, , PATI PATI I 14,586 14, , PATI II 12,976 6, , GABUS GABUS I 8,463 7, , GABUS II 7,583 7, , MARGOREJO MARGOREJO 15,533 15, , GEMBONG GEMBONG 13,558 13, , TLOGOWUNGU TLOGOWUNGU 14,044 5, , WEDARIJAKSA WEDARIJAKSA I 9,234 9, , WEDARIJAKSA II 6,745 6, , TRANGKIL TRANGKIL 16,318 6, , MARGOYOSO MARGOYOSO I 8,056 8, , MARGOYOSO II 8,484 4, , GN WUNGKAL GN WUNGKAL 10,504 7, , CLUWAK CLUWAK 14,332 10, , TAYU TAYU I 12,564 7, , TAYU II 6,588 6, , DUKUHSETI DUKUHSETI 16,243 15, , JUMLAH 344, , , Sumber : Dinkes Kab. Pati, Tempat Sampah Produksi sampah semakin meningkat seiring bertambahnya populasi penduduk Indonesia, yang dihasilkan dari segala aktivitas di rumah, diluar rumah serta lingkungan. Sampah-sampah tersebut tidak semuanya mudah hancur dan larut, dan tumpukannya akan semakin mengganggu lingkungan. Pencemaran terhadap lingkungan akan semakin meningkat sedangkan tempat pembuangan sampah akhir terbatas dan pihak pemerintah belum maksimal menyediakan pengelolaan sampah, agar bisa lebih bermanfaat atau menjadi sesuatu yang bernilai daripada mencemari lingkungan. Dalam penanganan sampah, tidak semuanya dibebankan kepada pemerintah. Masyarakat dapat mengambil peran dalam menyikapi permasalahan sampah, dimulai dari diri sendiri. Karena jika kondisi kebersihan rumah kita baik, maka akan berpengaruh juga terhadap lingkungan sekitarnya menjadi sehat. Mengelola sampah sendiri tidaklan sulit dan memerlukan peralatan canggih atau bermodal besar. Kita bisa mengelola sampah di mulai dari pemilahan tingkat rumah tangga dengan membedakan sampah organik dan anorganik. Halaman III.14

15 . Dari rumah / bangunan yang ada di Kabupaten Pati, 157,186 rumah / bangunan telah dilakukan pemeriksaan kepemilikan sarana sanitasi dasar yang dimiliki oleh keluarga terutama tempat sampah keluarga, dan dari rumah / bangunan yang telah diperiksa tersebut, 108,839 rumah / bangunan atau 69.2 % telah memiliki sarana tempat sampah dan 73,726 rumah/ bangunan atau 67.7 %. mempunyai tempat sampah yang sehat. Tabel 3.8. Prosentase Rumah Memiliki Tempat Sampah Tahun 2011 No Kec. PUSKESMAS Tempat Sampah Jumlah Jumlah Keluarga Keluarga Keluarga Rumah Diperiksa Memiliki Sehat JML % JML % JML % 1 SUKOLILO SUKOLILO I 14,301 12,176 4, , SUKOLILO II 12,283 11,873 1, , , KAYEN KAYEN 22,985 19,884 9, , , TAMBAKROMO TAMBAKROMO 17,951 17,822 2, , WINONG WINONG I 7,936 8,315 3, , , WINONG II 7,395 7,207 2, , , PUCAKWANGI PUCAKWANGI I 10,274 8,855 3, , , PUCAKWANGI II 14,428 4,214 9, , , JAKEN JAKEN 6,264 12,898 5, , , BATANGAN BATANGAN 12,811 11,024 2, , , JUWANA JUWANA 28,422 23,525 3, , , JAKENAN JAKENAN 15,595 10,730 10, , PATI PATI I 17,136 14, PATI II 13,689 12, GABUS GABUS I 9,814 8,463 5, , , GABUS II 3,778 7,583 3, MARGOREJO MARGOREJO 17,662 15,533 17, , , GEMBONG GEMBONG 13,477 13,558 9, , , TLOGOWUNGU TLOGOWUNGU 17,157 14,044 2, , , WEDARIJAKSA WEDARIJAKSA I 8,720 9,234 5, , , WEDARIJAKSA II 7,452 6,745 6, , , TRANGKIL TRANGKIL 18,686 16,318 3, , , MARGOYOSO MARGOYOSO I 10,631 8,056 8, , , MARGOYOSO II 8,484 8, GN WUNGKAL GN WUNGKAL 12,327 10,504 10, , , CLUWAK CLUWAK 15,317 14,332 8, , , TAYU TAYU I 13,384 12,564 7, , , TAYU II 6,828 6,588 6, , , DUKUHSETI DUKUHSETI 15,451 16,243 2, , , JUMLAH 380, , , , , Sumber : Dinkes Kab. Pati, Rumah Sehat Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, disamping kebutuhan sandang, pangan dan kesehatan. Oleh karena itu rumah harus sehat dan nyaman agar penghuninya dapat berkarya untuk meningkatkan produktifitas. Konstruksi rumah dan lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor resiko sumber penularan berbagai jenis penyakit, khususnya penyakit yang berbasis lingkungan Rumah merupakan tempat tinggal bagi suatu keluarga yang berfungsi sebagai tempat perlindungan untuk memberi keamanan, tempat istirahat, tempat menjalin hubungan antar anggota keluarga, tempat Halaman III.15

16 tumbuh kembang anak, penyediaan makanan keluarga termasuk mandi, mencuci dan sebagainya. Oleh karena itu keberadaan rumah yang sehat, aman, serasi dan teratur sangat diperlukan agar fungsi dan kegunaan rumah dapat terpenuhi dengan baik. Pengertian rumah disini mencakup ruangan yang ada didalam rumah, halaman dan area di sekelilingnya Rumah sehat adalah bangunan rumah tinggal yang memenuhi syarat kesehatan yaitu rumah yang memiliki jamban sehat, sarana air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah, ventilasi rumah yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah. Jumlah rumah di Kabupaten Pati pada tahun 2011 yang memenuhi kriteria rumah sehat adalah 142,452 rumah atau 55,1% dari 258,321 rumah yang diperiksa. NO KECAMATAN PUSKESMAS Tabel 3.9. Prosentase Rumah Sehat Tahun 2011 JUMLAH YANG ADA JUMLAH YANG DIPERIKSA RUMAH % DIPERIKSA JUMLAH YANG SEHAT % RUMAH SEHAT 1 SUKOLILO SUKOLILO I 12,176 9, , SUKOLILO II 11,873 9, , KAYEN KAYEN 19,884 9, , TAMBAKROMO TAMBAKROMO 17,822 17, , WINONG WINONG I 8,315 8, , WINONG II 7,207 6, , PUCAKWANGI PUCAKWANGI I 8,855 8, , PUCAKWANGI II 4,214 2, , JAKEN JAKEN 12,898 11, , BATANGAN BATANGAN 11,024 2, , JUWANA JUWANA 23,525 7, , JAKENAN JAKENAN 10,730 10, , PATI PATI I 14,586 14, , PATI II 12,976 6, , GABUS GABUS I 8,463 7, , GABUS II 7,583 7, , MARGOREJO MARGOREJO 15,533 15, , GEMBONG GEMBONG 13,558 13, , TLOGOWUNGU TLOGOWUNGU 14,044 5, , WEDARIJAKSA WEDARIJAKSA I 9,234 9, , WEDARIJAKSA II 6,745 6, , TRANGKIL TRANGKIL 16,318 6, , MARGOYOSO MARGOYOSO I 8,056 8, , MARGOYOSO II 8,484 4, , GN WUNGKAL GN WUNGKAL 10,504 7, , CLUWAK CLUWAK 14,332 10, , TAYU TAYU I 12,564 7, , TAYU II 6,588 6, , DUKUHSETI DUKUHSETI 16,243 15, , JUMLAH 344, , , Sumber : Dinkes Kab. Pati, 2012 Halaman III.16

17 3.1.2 Tatanan Sekolah Sebagai suatu institusi pendidikan, sekolah mempunyai peranan dan kedudukan strategis dalam upaya promosi kesehatan. Hal ini disebabkan karena sebagian besar anak usia 5-19 tahun terpajan dengan lembaga pendidikan dalam jangka waktu cukup lama. Sekolah mendukung pertumbuhan dan perkembangan alamiah seorang anak, sebab di sekolah seorang anak dapat mempelajari berbagai pengetahuan termasuk kesehatan. Promosi kesehatan di sekolah membantu meningkatkan kesehatan siswa, guru, karyawan, keluarga serta masyarakat sekitar, sehingga proses belajar mengajar berlangsung lebih produktif. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tatanan institusi pendidikan adalah suatu upaya yang dilakukan untuk memberdayakan dan meningkatkan kemampuan masyarakat institusi pendidikan (pengajar, anak didik dll) dalam berperilaku hidup bersih dan sehat. Institusi pendidikan dalam hal ini adalah dari tingkat TK/RA/BA,SD/MI,SLTP/MTs sampai dengan SLTA/ MA. Sekolah harus memberikan pengajaran baik kepada guru maupun murid bagaimana cara memelihara jamban sekolah yang akan di bangun dan sarana cuci tangan. Seringkali terjadi jamban di sekolah hanya terdiri atas dua unit, yaitu satu untuk guru dan yang lain untuk murid. Sementara kondisi jamban murid sangat berbeda jauh dengan jamban guru, dimana jamban murid sangat jauh dari kondisi bersih dan terpelihara atau tidak jarang dalam kondisi rusak. Akibatnya banyak murid yang kemudian buang air kecil maupun buang air besar di halaman sekolah. Kebiasaan ini membuat sekolah menjadi bau dan sangat rentan untuk menjadi sarang penyakit. Selain itu, seringkali jamban di sekolah tidak dilengkapi dengan penerangan yang cukup. Murid yang masih duduk di kelas 1 atau 2 akan merasa takut untuk menggunakan jamban yang kondisinya gelap, berbau dan kotor. Kondisi seperti ini harus dihindari dengan cara membuat jamban dengan penerangan yang cukup baik dari lampu ataupun sinar matahari beserta ventilasi yang memadai. PHBS tatanan institusi pendidikan adalah upaya pemberdayaan dan peningkatan kemampuan untuk berperilaku hidup bersih dan sehat di tatanan institusi pendidikan. Ada 12 indikator dari 3 variabel yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah, salah satu variabel yaitu variabel lingkungan sekolah sehat dengan indikator air bersih, jamban, sampah dan warung sekolah. Upaya untuk meningkatkan akses terhadap sanitasi dasar (jamban) juga dilakukan oleh program Pamsimas di Kabupaten Pati. Pada tahun 2008 program Pamsimas telah melakukan penyediaan akses jamban di 9 desa pada 14 SD/MI dengan jumlah siswa SD/MI siswa dan yang terlayani jamban sebanyak 14 SD/MI dengan jumlah siswa SD/MI siswa atau 100% dari jumlah siswa. Sedangkan dari total penduduk tahun 2008 sebanyak jiwa siswa yang terlayani oleh program Pamsimas sebesar 0,14%. Pada tahun 2009 program Pamsimas telah melakukan penyediaan akses jamban di 11 desa pada 20 SD/MI dengan jumlah siswa SD/MI siswa dan yang terlayani jamban sebanyak 17 SD/MI dengan jumlah siswa SD/MI siswa atau 87,10% dari jumlah siswa. Sedangkan dari total penduduk tahun 2009 sebanyak jiwa siswa yang terlayani oleh program Pamsimas sebesar 0,18%. Pada tahun 2010 program Pamsimas telah melakukan penyediaan akses jamban di 16 desa reguler dan 2 desa replikasi pada 37 SD/MI dengan jumlah siswa SD/MI siswa dan yang terlayani jamban sebanyak 37 SD/MI dengan jumlah siswa SD/MI siswa atau 100% dari jumlah siswa. Sedangkan dari total penduduk akhir tahun 2010 sebanyak jiwa siswa yang terlayani oleh program Pamsimas sebesar 0,39%. Pada tahun 2011 program Pamsimas telah melakukan penyediaan akses jamban di 14 desa reguler dan 2 desa replikasi pada 33 SD/MI dengan jumlah siswa SD/MI siswa dan yang terlayani jamban sebanyak 24 unit dan tempat cuci tangan 32 unit dengan jumlah siswa SD/MI 3709 siswa atau 100% dari jumlah siswa. Hasil yang telah dilakukan Program Pamsimas untuk penyediaan sarana sanitasi dasar selama kurun waktu tahun pada 54 desa dengan jumlah siswa SD/MI sebanyak siswa telah terlayani sarana sanitasi dasar sebanyak siswa atau 97,34%. Halaman III.17

18 Tabel 3.10 Rekapitulasi kondisi fasilitas sanitasi di sekolah NO NAMA SEKOLAH JUMLAH SISWA JUMLAH GURU SIAPA YANG MEMBERSIHKAN SUMBER AIR BERSIH JUMLAH TOILET JUMLAH TEMPAT FASILITAS PERSE TOILET KENCING CUCI DIAAN PDAM SPT SGL GURU MURID TANGAN SABUN SISWA GURU PESURUH GURU MURID L P L P S K T S K T S K T L P L P L P L P Y T Y T Y T Y T Y T 1 SD TAYU WETAN v 1 3 v v v 2 SD TAYU WETAN v 1 3 v v v 3 SDTAYU WETAN v v v v 4 MI TAYU WETAN v 1 4 v v v 5 SD TAYU KULON v 1 1 v v v 6 SD TAYU KULON v 1 3 v v v 7 SD SAMBIROTO v 2 2 v v v 8 SD SAMBIROTO v 1 2 v v v 9 SD BOPKRI v 1 1 v v v 10 SD MARAHATHA v 1 v v v 11 SD KEBOROMO v 1 1 v v v 12 MI KEBOROMO v 1 1 v v v 13 SD JEPAT LOR v v v v 14 MI JEPAT LOR v 2 2 v v v 15 SD JEPAT KIDUL v 1 3 v v v 16 SD TUNGGULSARI v 1 2 v v v 17 SD N MARGOMULYO v 1 v v v 18 SD M. MARGOMULYO v 3 7 v v v 19 SD SALAFIYAH M v 1 v v v 20 SD KEDUNGSARI v 1 1 v v v 21 SD KEDUNGSARI v 1 2 v v v 22 SD PAKIS v 4 v v v 23 SD PAKIS v 1 1 v v v 24 MI PAKIS v 1 2 v v v 25 SD PONDOWAN v 1 2 v v v 26 SD PONDOWAN v 1 2 v v v 27 MI PONDOWAN v 1 v v v 28 SD SENDANGREJO v 1 2 v v v 29 MI SENDANGREJO v 1 2 v v v 30 SD TENDAS v 1 v v v Halaman III.18

19 NO NAMA SEKOLAH JUMLAH SISWA JUMLAH GURU SIAPA YANG MEMBERSIHKAN SUMBER AIR BERSIH JUMLAH TOILET JUMLAH TEMPAT FASILITAS PERSE TOILET KENCING CUCI DIAAN PDAM SPT SGL GURU MURID TANGAN SABUN SISWA GURU PESURUH GURU MURID L P L P S K T S K T S K T L P L P L P L P Y T Y T Y T Y T Y T 31 MI TENDAS v 1 1 v v v 32 MTS MMH Tayu Wetan v 1 2 v v v 33 MTS PIA Tayu Wetan v v v v 34 SMP 01 Tayu v v v v 35 SMP Muhammadiyah v 1 1 v v v 36 SMP Bopkri v 1 2 v v v 37 MTS Jepat Lor v 1 2 v v v 38 MTS Nurul Huda, Margomulyo v 1 1 v v v 40 MTS Raudlotut Tholibin, Pakis v v v 42 MTS Mambaul Hidayah, Pondowan v v v 44 MA MMH Tayu Wetan v v v 45 MAN 02 Pati v v v 46 SMA Negeri Tayu v v v 47 SMA PGRI TAYU v v v 48 SMK Muhammadiyah v v v 49 MA Raudlotut Tholibin Pakis v v v 50 SDN Gajahmati V 1 1 V V 51 SDN Semampir V 1 1 V V 52 SDN Mustokoharjo V 1 1 V V 53 SDN Winong V V V 54 SDN Winong V V V 55 SDN Ngarus V V V V 56 SDN Pati Kidul V 1 3 V V 57 SDN Pati Kidul V V V 58 SDN Blaru V V 59 SDN Sidoharjo V V V 60 SDN Kalidoro 2 5 V V 61 SDN Dengkek V V 62 SDN Puri V V V 63 SDN Puri V 1 1 V V 64 SDN Puri V V V 65 SDN Pati Wetan V V 66 SDN Pati Wetan V V V Halaman III.19

20 NO NAMA SEKOLAH JUMLAH SISWA JUMLAH GURU SIAPA YANG MEMBERSIHKAN SUMBER AIR BERSIH JUMLAH TOILET JUMLAH TEMPAT FASILITAS PERSE TOILET KENCING CUCI DIAAN PDAM SPT SGL GURU MURID TANGAN SABUN SISWA GURU PESURUH GURU MURID L P L P S K T S K T S K T L P L P L P L P Y T Y T Y T Y T Y T 67 SDN Pati Wetan V V V 68 SDN Pati Lor V V 69 SDN Pati Lor 02 V V V V 70 SDN Pati Lor V V V 71 SDN Pati Lor 01 V V V 72 SDN Pati Lor V 1 1 V V V 73 SDN Geritan V 1 1 V V V 74 SDN Parenggan V V V V 75 SDI Kauman V 1 1 V V V 76 SD Muhammadiyah V V V V 77 SDN Panjunan V V V V 78 SD SEJOMULYO v v v v 79 SD SEJOMULYO v v v v 80 SD BRINGIN v v v v 81 SD KETIP v v v v 82 SD PEKUWON v v v v 83 SD KARANG v v v v 84 SD KARANGREJO v v v v 85 SD BUMIREJO v v v v 86 SD JEPURO v v v v 87 SD TLUWAH v v v v 88 SD DOROPAYUNG v v v v 89 SD DOROPAYUNG v v v v 90 SD MINTOMULYO v v v v 91 SD GADINGREJO v v v v 92 SD MARGOMULYO v v v v 93 SD MARGOMULYO v v v v 94 SD LANGGENHARJO v v v v 95 SD LANGGENHARJO v v v v 96 SD GENENGMULYO v v v v 97 SD GENENGMULYO v v v v 98 SD AGUNGMULYO v v v v 99 SD BAKARAN KULON v v v v Halaman III.20

21 NO NAMA SEKOLAH JUMLAH SISWA JUMLAH GURU SIAPA YANG MEMBERSIHKAN SUMBER AIR BERSIH JUMLAH TOILET JUMLAH TEMPAT FASILITAS PERSE TOILET KENCING CUCI DIAAN PDAM SPT SGL GURU MURID TANGAN SABUN SISWA GURU PESURUH GURU MURID L P L P S K T S K T S K T L P L P L P L P Y T Y T Y T Y T Y T 100 SD BAKARAN KULON v v v v 101 SD BAKARAN KULON v v v v 102 SD BAKARAN WETAN v v v v 103 SD BAKARAN WETAN v v v v 104 SD DUKUTALIT v v v v 105 SD DUKUTALIT v v v v 106 SD GROWONG KIDUL v v v v 107 SD GROWONG LOR v v v v 108 SD GROWONG LOR v v v v 109 SD KAUMAN v v v v 110 SD KAUMAN v v v v 111 SD KUDUKERAS v v v v v 112 SD KEBONSAWAHAN v v v v 113 SD KEBONSAWAHAN v v v v 114 SD BAJOMULYO v v v v 115 SD BENDAR v v v v 116 SD TRIMULYO v v v v 117 SD TRIMULYO v v v v 118 SD RAJAWALI v v v v 119 SDIT UMAR BIN KHOTOB v v v v 120 MI LANGGENHARJO v v v v 121 MI MARGOMULYO v v v v 122 MI DUKUTALIT v v v v 123 MI BAJOMULYO V V V V Sumber : Dinkes Kab. Pati, 2012 Keterangan: L = laki-laki, P = perempuan, S = selalu tersedia air, K = kadang-kadang, T = tidak ada persediaan air, SPT = Sumur pompa tangan, SGL = Sumur gali, Y = ya, T = tidak Halaman III.21

22 Tabel 3.11 Kondisi sarana sanitasi sekolah (tingkat sekolah: SD/MI/SMP/MTs/SMA/MA/SMK) (Pengelolaan sampah dan pengetahuan hygiene) NO Nama Sekolah Apakah pengetahuan ttg Higiene dan Sanitasi diberikan Ya, saat Ya, saat Tidak pertemuan / Mata pelajaran pernah penyuluhan PenJas di kelas Apakah ada dana utk air bersih / sanitasi / pend. higiene Ya Tidak Cara Pengelolaan Sampah Dikum pulkan Dipisah kan Dibuat kompos Tempat buangan air kotor Dari Dari Kamar Toliet Mandi Kapan Tangki Septik Dikosong kan Kondisi Higiene Sekolah 1 SD TAYU WETAN 01 v v v v v Trivial 2 SD TAYU WETAN 02 v v v v v Trivial 3 SDTAYU WETAN 03 v v v v v Trivial 4 MI TAYU WETAN v v v v v Low 5 SD TAYU KULON 01 v v v v v Trivial 6 SD TAYU KULON 02 v v v v v Trivial 7 SD SAMBIROTO 01 v v v v v Trivial 8 SD SAMBIROTO 02 v v v v v Trivial 9 SD BOPKRI v v v v v Trivial 10 SD MARAHATHA v v v v v Low 11 SD KEBOROMO v v v v v Trivial 12 MI KEBOROMO v v v v v Trivial 13 SD JEPAT LOR v v v v v Trivial 14 MI JEPAT LOR v v v v v Trivial 15 SD JEPAT KIDUL v v v v v Trivial 16 SD TUNGGULSARI v v v v v Trivial 17 SD N MARGOMULYO v v v v v Low 18 SD M. MARGOMULYO v v v v v Trivial 19 SD SALAFIYAH M v v v v v Trivial 20 SD KEDUNGSARI 01 v v v v v Trivial 21 SD KEDUNGSARI 02 v v v v v Low 22 SD PAKIS 01 v v v v v Trivial 23 SD PAKIS 02 v v v v v Low 24 MI PAKIS v v v v v Low 25 SD PONDOWAN 01 v v v v v Trivial 26 SD TAYU WETAN 01 v v v v v Trivial Halaman III.22

23 27 SD TAYU WETAN 02 v v v v v Trivial 28 SDTAYU WETAN 03 v v v v v Trivial 29 MI TAYU WETAN v v v v v Low 30 SD TAYU KULON 01 v v v v v Trivial 31 SD TAYU KULON 02 v v v v v Trivial 32 SD SAMBIROTO 01 v v v v v Trivial 33 SD SAMBIROTO 02 v v v v v Trivial 34 SD PONDOWAN 02 v v v v v Trivial 35 MI PONDOWAN v v v v v Low 36 SD SENDANGREJO v v v v v Trivial 37 MI SENDANGREJO v v v v v Low 38 SD TENDAS v v v v v Low 40 MI TENDAS v v v v v Trivial 42 MTS MMH Tayu Wetan v v v v v Trivial 44 MTS PIA Tayu Wetan v v v v v Trivial 45 SMP 01 Tayu v v v v v Trivial 46 SMP Muhammadiyah v v v v v Low 47 SMP Bopkri v v v v v Low 48 MTS Jepat Lor v v v v v Low 49 MTS Nurul Huda v v v v v Trivial 50 MTS Raudlotut Tholibin, Pakis v v v v v Trivial 51 MTS Mambaul Hidayah, Pondowan v v v v v Trivial 52 MA MMH Tayu Wetan v v v v v Trivial 53 MAN 02 Pati v v v v v Trivial 54 SMA Negeri Tayu v v v v v Trivial 55 SMA PGRI TAYU v v v v v Trivial 56 SMK Muhammadiyah v v v v v Trivial 57 MA Raudlotut Tholibin v v v v v Trivial SDN Gajahmati v v v v v Medium 60 SDN Semampir v v v v v Medium 61 SDN Mustokoharjo v v v v v Medium 62 SDN Winong 01 v v v v v Low 63 SDN Winong 02 v v v v v Medium 64 SDN Ngarus v v v v v Low 65 SDN Pati Kidul 03 v v v v v Medium 66 SDN Pati Kidul 05 v v v v v Medium 67 SDN Blaru v v v v v Medium Halaman III.23

24 68 SDN Sidoharjo v v v v v Medium 69 SDN Kalidoro v v v v v Medium 70 SDN Dengkek v v v - - Medium 71 SDN Puri 01 v v v v v Medium 72 SDN Puri 03 v v v v v Medium 73 SDN Puri 02 v v v v v Medium 74 SDN Pati Wetan 01 v v v v v Low 75 SDN Pati Wetan 02 v v V v v Low 76 SDN Pati Wetan 03 v v V v v Medium 77 SDN Pati Lor 04 v v v v v v Low 78 SDN Pati Lor 02 v v v v v v Low 79 SDN Pati Lor 03 v v v v v v Medium 80 SDN Pati Lor 01 v v v v v v Medium 81 SDN Pati Lor 05 v v v v v v Low 82 SDN Pati Kidul 01 v v v v Low 83 SDN Geritan v v v v v Medium 84 SDN Parenggan v v v v v Medium 85 SDI Kauman v v v v v Medium 86 SD SEJOMULYO 01 V V V V V kurang 87 SD SEJOMULYO 02 V V V V V kurang 88 SD BRINGIN V V V V V cukup 89 SD KETIP V V V V V cukup 90 SD PEKUWON V V V V V cukup 91 SD KARANG V V V V V cukup 92 SD KARANGREJO 01 V V V V V V V baik 93 SD BUMIREJO V V V V V kurang 94 SD JEPURO V V V V V kurang 95 SD TLUWAH V V V V V kurang 96 SD DOROPAYUNG 01 V V V V V baik 97 SD DOROPAYUNG 02 V V V V V baik 98 SD MINTOMULYO V V V V V kurang 99 SD GADINGREJO V V V V V baik 100 SD MARGOMULYO 01 V V V V V baik 101 SD MARGOMULYO 02 V V V V V baik 102 SD LANGGENHARJO 01 V V V V V cukup 103 SD LANGGENHARJO 02 V V V V V cukup 104 SD GENENGMULYO 01 V V V V V kurang 105 SD GENENGMULYO 02 V V V V V kurang 106 SD AGUNGMULYO V V V V V Cukup Halaman III.24

25 107 SD BAKARAN KULON 01 V V V V V baik 108 SD BAKARAN KULON 02 V V V V V baik 109 SD BAKARAN KULON 03 V V V V V cukup 110 SD BAKARAN WETAN 01 V V V V V baik 111 SD BAKARAN WETAN 03 V V V V V cukup 112 SD DUKUTALIT 01 V V V V V cukup 113 SD DUKUTALIT 02 V V V V V kurang 114 SD GROWONG KIDUL 02 V V V V V baik 115 SD GROWONG LOR 01 V V V V V baik 116 SD GROWONG LOR 03 V V V V V cukup 117 SD KAUMAN 01 V V V V V baik 118 SD KAUMAN 02 V V V V V baik 119 SD KUDUKERAS 01 V V V V V baik 120 SD KEBONSAWAHAN 01 V V V V V baik 121 SD KEBONSAWAHAN 02 V V V V V baik 122 SD BAJOMULYO V V V V V baik 123 SD BENDAR V V V V V baik 124 SD TRIMULYO 01 V V V V V kurang 125 SD TRIMULYO 02 V V V V V kurang 126 SD RAJAWALI V V V V V baik 127 SDIT UMAR BIN KHOTOB V V V V V baik 128 MI LANGGENHARJO V V V V V cukup 129 MI MARGOMULYO V V V V V cukup 130 MI DUKUTALIT V V V V V cukup 131 MI BAJOMULYO V V V V V cukup Sumber : Dinkes Kab. Pati, 2012 Keterangan Trivial : Baik Low : Jelek Halaman III.25

26 3.2 PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK Pengelolaan sanitasi khususnya dalam pengelolaan air limbah domestik di Kabupaten Pati pada saat ini belum tersedia sarana instalasi pengolahan air limbah (IPAL) domestik, khususnya untuk air limbah rumah tangga (grey water) dan air limpasan dibuang langsung ke sistem drainase. Sedangkan untuk limbah black water seperti limbah dari kamar mandi (tinja) menggunakan pengolahan setempat (on site system). Kelemahan dari kondisi ini adalah seringkali masyarakat tidak mengetahui standart teknis dan kesehatan yang telah ditentukan. Salah satu syarat yang kurang diperhatikan oleh masyarakat saat membangun tangki septik adalah jarak antar tangki septik dan sumber air/sumur gali kurang dari 10 meter, terutama di kawasan-kawasan permukiman dan perumahan padat penduduk. Berdasarkan studi EHRA, masyarakat yang mempunyai sarana pembuangan air limbah selain tinja sebesar 70,43% sedangkan yang tidak mempunyai sarana tersebut adalah 29,15%. Di Kabupaten Pati, khusus untuk pengelolaan limbah black water sudah dibangun biogas untuk pemanfaatan tinja sebanyak 7 unit di lingkungan pondok pesantren yang tersebar di kecamatan Margoyoso, Trangkil, Tayu dan Wedarijaksa, seperti yang terlihat pada peta 3.1. Estimasi jumlah timbulan air limbah domestik di Kabupaten Pati berdasarkan data dari Daftar Isian Non Fisik Program Adipura Kabupaten Pati adalah sebagai berikut : Tabel 3.12 Estimasi jumlah timbulan air limbah domestik di Kabupaten Pati No Tahun Jumlah Rumah Tangga Estimasi Total Air Limbah (KK) Domestik Dihasilkan lt/hr lt/hr lt/hr Sumber : Daftar Isian Non Fisik rogram Adipura Kabupaten Pati, 2011 Berdasarkan data dari survey EHRA, pembuangan air limbah rumah tangga/domestik di Kabupaten Pati yang dilakukan oleh masyarakat dapat dikelompokkan sebagai berikut : 1. Kelompok masyarakat yang membuang air limbah domestiknya langsung ke badan air tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu sebesar 15,87%. 2. Kelompok masyarakat yang membuang air limbah domestiknya langsung ke alam bebas setelah melalui pengolahan awal yang sangat sederhana berupa tangki septik sebesar 15,49%. 3. Kelompok masyarakat yang membuang air limbah domestiknya langsung ke saluran terbuka, sebesar 37,95%. 4. Kelompok masyarakat yang membuang air limbah domestiknya langsung ke saluran tertutup, sebesar 12,14%. Halaman III.26

27 Peta 3.1 Wilayah pembangunan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) tinja Halaman III.27

28 3.2.1 Kelembagaan Untuk mengetahui kelembagaan dilingkungan pengelolaan air limbah rumah tangga, Pokja Sanitasi telah melakukan study kelembagaan, terkait dengan pengelolaan air limbah baik yang berasal dari rumah tangga/domestik dan industri menjadi tanggung jawab dari pemerintah daerah, khususnya Badan Lingkungan Hidup dan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pati. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor 12 Tahun 2008 tentang organisasi dan tata kerja lembaga teknis daerah dan satuan polisi pamong praja, Badan Lingkungan Hidup merupakan institusi yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan lingkungan di Kabupaten Pati, oleh karena itu BLH merupakan unsur pendukung tugas Bupati di bidang lingkungan hidup. Berdasarkan Perda tersebut di atas, struktur organisasi yang ada di BLH adalah sebagai berikut : a. Kepala Badan; b. Sekretariat, membawahkan : 1. Sub bagian Program; 2. Subbagian Keuangan; dan 3. Subbagian Umum dan Kepegawaian. c. Bidang Tata Lingkungan, membawahkan : 1. Subbidang Kebijakan Lingkungan; dan 2. Subbidang Laboratorium Lingkungan dan Pengkajian Dampak Lingkungan. d. Bidang Pengendalian, Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, membawahkan : 1. Subbidang Pengendalian Pencemaran/Kerusakan Lingkungan dan Bahan Berbahaya dan Beracun; dan 2. Subbidang Pemulihan Lingkungan, Konservasi dan Keanekaragaman Hayati e. Bidang Kepatuhan Lingkungan dan Peningkatan Kapasitas, membawahkan : 1. Subbidang Kepatuhan Lingkungan; dan 2. Subbidang Peningkatan Kapasitas. f. Unit Pelaksana Teknis Badan; dan g. Kelompok Jabatan Fungsional. Dalam pengelolaan air limbah rumah tangga, pembagian peran antar stakeholder, swasta dan masyarakat perlu untuk dilakukan, mengingat tidak semua kewajiban dibebankan kepada pemerintah. Dari pembahasan dalam study kelembagaan, teridentifikasi Peta Pemangku Kepentingan dalam Pembangunan dan Pengelolaan Air Limbah Domestik di Kabupaten Pati seperti tersaji dalam tabel berikut ini. Tabel 3.13 Peta Pemangku Kepentingan dalam Pembangunan dan Pengelolaan Air Limbah Domestik PERENCANAAN FUNGSI PEMANGKU KEPENTINGAN Pemerintah Kabupaten Swasta Menyusun target pengelolaan air limbah domestik skala Kabupaten - - Menyusun rencana program air limbah domestik dalam rangka pencapaian target - - Menyusun rencana anggaran program air limbah domestik dalam rangka pencapaian target PENGADAAN SARANA Masya rakat Halaman III.28

29 FUNGSI PEMANGKU KEPENTINGAN Pemerintah Kabupaten Swasta Menyediakan sarana pembuangan awal air limbah domestik - - Membangun sarana pengumpulan dan pengolahan awal (Tangki Septik) - - Menyediakan sarana pengangkutan dari tangki septik ke IPLT (truk tinja) - - Membangun jaringan atau saluran pengaliran limbah dari sumber ke IPAL (pipa - kolektor) Membangun sarana IPLT dan atau IPAL - PENGELOLAAN Menyediakan layanan penyedotan lumpur tinja - Mengelola IPLT dan atau IPAL - Melakukan penarikan retribusi penyedotan lumpur tinja - Memberikan izin usaha pengelolaan air limbah domestik, dan atau penyedotan - - air limbah domestik Melakukan pengecekan kelengkapan utilitas teknis bangunan (tangki septik, dan saluran drainase lingkungan) dalam pengurusan IMB PENGATURAN DAN PEMBINAAN Mengatur prosedur penyediaan layanan air limbah domestik (pengangkutan, - - personil, peralatan, dll) Melakukan sosialisasi peraturan, dan pembinaan dalam hal pengelolaan air - - limbah domestik Memberikan sanksi terhadap pelanggaran pengelolaan air limbah domestik - - MONITORING DAN EVALUASI Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap capaian target pengelolaan air - - limbah domestic skala Kabupaten Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kapasitas infrastruktur sarana - - pengelolaan air limbah domestik Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap efektivitas layanan air limbah - - domes-tic, dan atau menampung serta mengelola keluhan atas layanan air limbah domestik Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap baku mutu air limbah domestik - Sumber : Study kelembagaan Pokja Sanitasi Kab. Pati, 2012 Masya rakat Dalam pengelolaan air limbah, terdapat payung hukum yang mengatur tentang tatacara dan tatalaksana pengelolaan air limbah di Kabupaten Pati, yaitu Peraturan Daerah Kabupaten Pati No 3 Tahun 2003 tentang pembuangan air limbah dan Peraturan Bupati No. 15 Tahun 2009 tentang ijin pembuangan air limbah ke air atau sumber air serta Peraturan Bupati No. 60/2010 tentang rencana penerapan dan pencapaian standar pelayanan minimal BLH Kabupaten Pati. Berikut disampaikan peta peraturan air limbah domestik Kabupaten Pati pada tabel di bawah ini : Halaman III.29

30 Tabel 3.14 Peta Peraturan Air Limbah Domestik Kabupaten Pati Ketersediaan Pelaksanaan Peraturan Ada (sebutkan) Tidak ada Efektif di laksanakan Belum efektif dilaksanakan Tidak efektif dilaksanakan Ket. AIR LIMBAH DOMESTIK Target capaian pelayanan pengelolaan air limbah domestik di Kabupaten ini Perbup No. 60/2010 tentang rencana penerapan dan pencapaian standar pelayanan minimal BLH Kabupaten Pati Kewajiban dan sanksi bagi Pem erint ah Kabupat en dalam penyediaan layanan pengelolaan air limbah domestik Kewajiban dan sanksi bagi Pemerintah Kabupaten dalam memberdayakan masyarakat dan badan usaha dalam pengelolaan air limbah domestik Kew ajiban dan s anks i bagi masyarakat dan atau pengembang unt uk m eny ediak an s arana pengelolaan air limbah domestik di hunian rumah Kewajiban dan sanksi bagi industry rumah tangga untuk menye-diakan sarana pengelolaan air limbah domestik di tempat usaha Kewajiban dan sanksi bagi kantor untuk menyediakan sarana pengelolaan air limbah domestik di tempat usaha Kewajiban penyedotan air limbah domestic untuk masyarakat, industri rumah tangga, dan kantor pemilik tangki septik Retribusi penyedotan air limbah domestik Tatacara perizinan untuk kegiatan pembuangan air limbah domestic bagi kegiatan permukiman, usaha rumah tangga, dan perkantoran Mengacu Perda No 3 Tahun 2003 tentang pembuangan air limbah dan Peraturan Bupati No. 15 Tahun 2009 tentang ijin pembuangan air limbah ke air atau sumber air Kewajiban dan sanksi bagi swasta dalam pengelolaan air limbah domestik Layanan Pemerintah Kabupaten bagi masyarakat yang tidak mampu dalam pengelolaan air limbah domestik Halaman III.30

31 3.2.2 Sistem dan Cakupan Pelayanan Sistem sanitasi permukiman di Kabupaten Pati, khusus untuk black water pada umumnya menggunakan sistem on site, dimana limbah yang ada ditampung pada suatu wadah yang disebut dengan tangki septic dan terjadi penguraian oleh bakteri anaerobik. Dari penguraian ini menghasilkan limpahan tangki septik yang dimasukkan ke dalam sumur resapan dan langsung meresap ke dalam air tanah, selain itu juga menghasilkan endapan lumpur yang mengendap di dasar tangki. Lumpur ini tidak boleh dibuang ke sungai karena BOD nya masih terlalu tinggi yaitu > 2000 mg/liter, dan perlu diolah melalui instalasi pengolahan limbah, jadi masih memerlukan off site untuk lumpurnya. Peta 3.2. Peta cakupan layanan pengelolaan air limbah domestic Peta 3.1 tidak tersedia karena di Kabupaten Pati belum ada pengolahan air limbah sistem terpusat (offsite). Perencanaan pelayanan pengelolaan air limbah domestik yang mencakup seluruh wilayah Kabupaten Pati, tertuang dalam RTRW Kabupaten Pati seperti tertera dalam peta di bawah ini : Peta 3.3 Peta lokasi infrastruktur utama pengelolaan air limbah domestik Halaman III.31

32 Untuk mengetahui kondisi pengelolaan air limbah rumah tangga di Kabupaten Pati, digunakan metode dengan menggunakan alat bantu Diagram Sistem Sanitasi (DSS). Adapun hasil dari pemetaan kondisi sanitasi terkait dengan pengelolaan air limbah rumah tangga, baik black water maupun grey water di Kabupaten Pati dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 3.15 Diagram sistem sanitasi pengelolaan air limbah domestik Kabupaten Pati Input User Interface Penampungan Awal Pengaliran Pengolahan Akhir Pembuangan / Daur Ulang Kode / Nama Aliran Wilayah Black Water Black Water Black Water Black Water Grey Water Grey Water WC Sentor Tangki Septik Truk Tinja IPLT Reuse WC Sentor Tangki Septik Truk Tinja - Sungai WC Helikopter Sungai WC Sentor Tangki Septik - - Resapan Tempat Cuci, Kamar mandi Tempat Cuci, Kamar mandi Sumber : DSS Kab. Pati, Drainase - Sungai - Drainase Saluran Irigasi Sungai Aliran Limbah AL1 Aliran Limbah AL2 Aliran Limbah AL3 Aliran Limbah AL4 Aliran Limbah AL5 Aliran Limbah AL6 Pati Kota Juwana, Jaken, sebagian Pati Sepanjang Sungai Mayoritas Kabupaten Pati Mayoritas Kabupaten Pati Sebagian Wilayah Sepanjang Sungai Tabel 3.16 Sistem pengelolaan air limbah domestik di Kabupaten Pati Kelompok Fungsi a. Black Water User Interface Pengumpulan dan Penampungan/pengolahan awal Pengangkutan/pengaliran Semi Pengolahan akhir terpusat Daur Ulang dan/atau pembuangan akhir b. Grey Water User Interface Teknologi yang Digunakan WC Sentor Tangki Septik Truk tinja IPLT, Biogas Tinja TPA Tempat cuci, kamar mandi Jenis Data Sekunder Data kepemilikan jamban Data kepemilikan jamban Laporan Persampahan DPA SKPD Laporan Persampahan Nilai Data (Perkiraan) Rumah tangki septik 1 unit truk tinja BLH 1 unit IPLT, 7 Unit Biogas Tinja 1 Lokasi IPLT BLH Data SKPD 347,890 KK BLH Sumber Data Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan DPU, BLH Halaman III.32

33 Kelompok Fungsi Pengangkutan/pengaliran Semi Pengolahan akhir terpusat Daur Ulang dan/atau pembuangan akhir Sumber : DSS Kab. Pati, 2012 Teknologi yang Digunakan Saluran drainase Bidang Resapan Saluran terbuka(sungai, kanal, dll) Jenis Data Sekunder Nilai Data (Perkiraan) Estimasi SKPD 30% DPU Estimasi SKPD 0,02% BLH Data sungai 93 sungai BLH Sumber Data Kesadaran Masyarakat dan PMJK (Pemberdayaan Masyarakat, Jender dan Kemiskinan) Berdasarkan studi EHRA yang dilaksanakan di Kabupaten Pati, sistem sanitasi dalam pengelolaan air limbah masih banyak yang tanpa melalui pengelolaan terlebih dahulu, karena langsung di buang ke badan air/sungai sebanyak 15,87%, dibuang ke alam (kebun, halaman, jalan) sebanyak 5,49% dan di saluran terbuka 37,39%. Gambar 3.1 Kondisi masyarakat dalam pengelolaan air limbah domestik Untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan perlu dikembangkan adanya sikap dan perilaku yang arif terhadap lingkungan, yang intinya adalah kesadaran bahwa alam mempunyai daya dukung yang terbatas. untuk menanamkan sikap pembangunan yang arif terhadap lingkungan, harus dipertimbangkan empat faktor yaitu : 1. Kesadaran terhadap lingkungan hidup harus dikembangkan sampai setiap individu mengetahui peran yang dimilikinya sebagai anggota masyarakat di dunia, 2. Dikembangkannya etika baru dalam penggunaan sumber daya alam, 3. Sikap terhadap alam lingkungan dikembangkan berdasarkan keharmonisan, 4. Manusia mengembangkan pemikiran bahwa untuk generasi yang akan datang perlu diwariskan keuntungan bukan malapetaka. Perilaku berwawasan lingkungan dalam pembangunan berkelanjutan dipengaruhi oleh banyak faktor seperti tingkat pendidikan, status sosial, keinovatifan, pengetahuan tentang lingkungan, sikap terhadap kebersihan lingkungan dan sebagainya. Untuk itu perlu adanya upaya peningkatan kesadaran melalui program pemberdayaan masyarakat. Dalam pelaksanaan pemberdayaan hendaknya masyarakat dilibatkan sejak awal, sehingga mereka merasa menjadi bagian penting dalam sistem lingkungan. Berikut disampaikan hasil pemetaan study PMJK di Kabupaten Pati sbb : Halaman III.33

34 Tabel 3.17 Pengelolaan sarana jamban keluarga dan MCK oleh Masyarakat Tahun MCK Tahun Sanimas Jumlah Jumlah MCK Jumlah Sanimas Kecamatan Pddk Jamban Dikelola Dikelola Dikelola Dikelola Dikelola Dikelola Dikelola Dikelola RW RT dibangun dibangun miskin Keluarga RT RW CBO Lainnya RT RW CBO Lainnya Sukolilo Kayen Tambakromo Winong Pucakwangi Jaken Batangan Juwana Jakenan Pati Gabus Margorejo Gembong Tlogowungu Wedarijaksa Trangkil Margoyoso Gn Wungkal Cluwak Tayu Dukuhseti Sumber : Dinkes Kabupaten Pati 2012 Halaman III.34

35 Kecamatan Lokasi MCK Pemakai MCK PDAM SPI SGL Tabel 3.18 Kondisi sarana MCK Jml toilet/wc Jml kmr mandi Fas. Cuci Tangan Persediaan Sabun Ada biaya pemakaian MCK Tempat buangan air kotor RT RW L P S K T S K T S K T L P L P Y T Y T Y T T. Septik Cubluk Sukolilo Kayen Tambakromo Winong Pucakwangi Jaken Batangan Juwana Jakenan Pati Gabus Margorejo Gembong Tlogowungu Wedarijaksa Trangkil Margoyoso Gunung Wungkal Cluwak Tayu Dukuhseti Sumber : Olah data Pokja Sanitasi, 2012 Keterangan: L = laki-laki S = selalu tersedia air K = Kadang-kadang Y = ya SPT = Sumur pompa tangan P = perempuan T = tidak ada persediaan air T = tidak SGL = Sumur gali Kapan tangki septik dikosongkan Halaman III.35

36 Tabel 3.19 Daftar Program/Proyek Layanan Yang Berbasis Masyarakat Sub Sektor No Nama Program/Proyek/Layanan Pelaksana/PJ I. Air Limbah Domestik (on-site individual) Pembangunan IPAL domestik usaha kecil dan menengah (UKM) Pembuatan Teknologi Biogas untuk Industri Tahu di Desa Dadirejo Kec. Margorejo Pembuatan Teknologi Biogas untuk Industri Tahu di Desa Jepat Lor Kec. Tayu Pembuatan Teknologi Biogas untuk Peternakan Sapi di Desa Banyuurip Kec. Margorejo Pembuatan Teknologi Biogas untuk Peternakan Sapi di Desa Ketanggan Kec. Gembong Pembuatan Teknologi Biogas Pemanfaatan Tinja utk Ponpes di Desa Bermi Kec Gembong Pembuatan Teknologi Biogas Pemanfaatan Tinja utk Ponpes di Desa Sirahan Kec Cluwak Pembuatan Teknologi Biogas Pemanfaatan Tinja utk Ponpes di Desa Waturoyo Kec Margoyoso Pembuatan Teknologi Biogas Pemanfaatan Tinja utk Ponpes di Desa Trangkil Kec Trangkil Pembuatan Teknologi Biogas Pemanfaatan Tinja utk Ponpes di Desa Lengkong Kec Batangan Pembuatan Teknologi Biogas utk Peternakan Sapi di Desa Tunjungrejo Kec Margoyoso Pembuatan Teknologi Biogas utk Industri Tahu di Desa Tayu Wetan Kec. Tayu Tahun mulai BLH 2012 BLH 2007 BLH 2007 BLH 2007 BLH 2007 BLH 2008 BLH 2008 BLH 2008 BLH 2008 BLH 2008 BLH 2008 BLH 2008 Kondisi Sarana Saat Ini Aspek PMJK Tdk Fungsi Rusak PM JDR MBR Fungsi Halaman III.36

37 Sub Sektor No Nama Program/Proyek/Layanan Pelaksana/PJ Pembuatan Teknologi Biogas utk Industri Tahu di Desa Puluhan Tengah Kec. Jakenan Pembuatan Teknologi Biogas utk Industri Tahu di Desa Sumberejo Kec. Jaken Pembuatan Teknologi Biogas Pemanfaatan Tinja utk Ponpes di Desa Kajen Kec Margoyoso Pembuatan Teknologi Biogas utk Industri Tahu di Desa Dadirejo Kec. Margorejo Pembuatan Teknologi Biogas utk Industri Tahu di Desa Baturejo Kec. Sukolilo Pembuatan Teknologi Biogas utk Industri Tahu di Desa Ketanen Kec. Trangkil Pembuatan Teknologi Biogas utk Industri Tahu di Desa Blaru Kec. Pati Pembuatan Teknologi Biogas utk Peternakan Sapi di Desa Sendangrejo Kec Tayu Pembuatan Teknologi Biogas utk Peternakan Sapi di Desa Nguren Kec Wedarijaksa Pembangunan Percontohan Biogas Pemanfaatan Tinja utk Ponpes di Kec Margoyoso Pembangunan Percontohan Biogas utk Industri Tahu di Desa Pundenrejo Kec. Tayu Pembangunan Percontohan Biogas utk Industri Tahu di Desa Dadirejo Kec. Margorejo Pembangunan Percontohan Biogas utk Industri Tahu di Desa Gembong Kec. Gembong Pembangunan Percontohan Biogas untuk Industri Tahu di Desa Pundenrejo Kecamatan Tayu Pembangunan Percontohan Biogas untuk Industri Tahu di Desa Tambahmulyo Kecamatan Jakenan Tahun mulai BLH 2008 BLH 2008 BLH 2009 BLH 2009 BLH 2009 BLH 2009 BLH 2009 BLH 2009 BLH 2009 BLH 2010 BLH 2010 BLH 2010 BLH 2010 BLH 2011 BLH 2011 Kondisi Sarana Saat Ini Aspek PMJK Tdk Fungsi Rusak PM JDR MBR Fungsi Halaman III.37

38 II Sub Sektor No Nama Program/Proyek/Layanan Pelaksana/PJ Pembangunan Percontohan Biogas untuk Peternakan Sapi di Desa Triguno Kecamatan Pucakwangi Pembangunan Percontohan Biogas untuk Peternakan Sapi di Desa Tondomulyo Kecamatan Jakenan Tahun mulai BLH 2011 BLH Pembangunan Percontohan Biogas untuk Peternakan BLH 2011 Sapi di Desa Gembong Kecamatan Gembong Pembangunan Percontohan Biogas Pemanfaatan BLH Tinja untuk Ponpes di Desa Kadilangu Kecamatan Trangkil 32 Pembangunan Percontohan Biogas untuk Industri BLH 2011 Tahu di Desa Dadirejo Kecamatan Margorejo 33 Penataan sanitasi desa Sukoharjo TPA kec. DPU 2009 Margorejo 34 Penataan sanitasi desa Raci kec. Batangan DPU Penataan sanitasi dk. Ngeluk, desa Panjunan kec. DPU 2009 Pati 36 Penataan sanitasi dk. Rambutan, desa Pohgading DPU 2009 kec. Gembong Air Limbah Domestik Pengembangan teknologi pengolahan air limbah BLH 1998 (on-site komunal) 1 tapioka (IPAL Percontohan industri kecil tapioka di Desa Ngemplak Kidul Kecamatan Margoyoso) Pengembangan teknologi pengolahan air limbah BLH industri tahu tempe (IPAL Biogas industri tahu tempe di Desa Angkatan Lor Kecamatan Tambakromo) Sumber : Data BLH Kab. Pati, 2012 Keterangan : PM = Pemberdayaan Masyarakat, MBR= Masyarakat Berpenghasilan Rendah, JDR = Jender Kondisi Sarana Saat Ini Aspek PMJK Tdk Fungsi Rusak PM JDR MBR Fungsi Halaman III.38

39 3.2.4 Pemetaan Media Peran media dalam pengelolaan air limbah adalah sangat penting, karena sebagai salah satu bentuk kampanye kegiatan perilaku hidup bersih dan sehat kepada masyarakat di Kabupaten Pati. Berdasarkan study media dan komunikasi oleh Pokja Sanitasi Kabupaten Pati, beberapa kegiatan komunikasi yang telah dilakukan di Kabupaten Pati adalah sebagai berikut: Tabel 3.20 Kegiatan komunikasi yang ada di Kabupaten Pati No Kegiatan Dinas Khalayak Tahun Tujuan kegiatan pelaksana sasaran Pesan kunci 1. Sosialisasi BLH Meningkatkan Masyara Kesadaran pengelolaan 2012 pengetahuan kat masyarakat sampah masyarakat dalam dalam berbasis pengelolaan mengelola masyarakat sampah sampah 2. Sarasehan Pengelolaan lingkungan 3. Leaflet Tentang Tata laksana permohonan ijin pembuangan air limbah industri ke sungai / badan air 2012 BLH Sebagai wahana untuk penyampaian aspirasi masyarakat sebagai pelaku dalam pengelolaan lingkungan 2009 BLH Sebagai media untuk menyampaikan informasi kepada pelaku industri dalam mengajukan ijin pembuangan air limbah industri Sumber : Study media dan komunikasi, 2012 Masyara kat Pelaku industri Media komunikasi antar instansi pemerintah dan masyarakat dalam mengelola lingkungan Aturan pengajuan ijin pembuangan air limbah industri ke badan air/sungai Pembelajaran Masyarakat memahami arti penting mengelola sampah dan melaksanakan kegiatan tersebut dalam kehidupan sehari-hari Memberikan Pemahaman kepada semua pihak dalam mengelola lingkungan Memberikan pemahaman kepada pelaku industri dalam mengelola air limbahnya Target utama kegiatan komunikasi dengan melibatkan peran media massa ini adalah peningkatan kesadaran masyarakat akan perlunya memprioritaskan sanitasi khususnya dalam pengelolaan air limbah rumah tangga dalam kehidupannya yang memacu perubahan pola hidup kearah perilaku hidup bersih dan sehat. Adapun media komunikasi yang turut berperan dalam kegiatan ini adalah sebagai berikut: Tabel 3.21 Media komunikasi yang ada di Kabupaten Pati No Nama Media Jenis Acara Isu yang Diangkat Pesan Kunci Pendapat Media 1 Warta Jateng Artikel Sanimas Keterlibatan Masyarakat Positif Jawa Pos Pemberitaan Infrastruktur Perbaikan Infrastruktur Sanitasi, Kedalamannya memadai 2 sanitasi, pengelolaan sampah peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah 3 Harbos FM Talk Show Cuci Tangan Pakai Mendorong Pentingnya CTPS Positif Sangat mendalam Sabun dan Partisipatif 4. PAS FM Talk Show Pengelolaan Menumbuhkan perilaku/budaya Positif Sangat mendalam lingkungan hidup bersih pada masyarakat dan Partisipatif Majalah BMT Artikel Pengelolaan Menumbuhkan budaya Positif 5. sampah berbasis masyarakat mengelola sampah pada masyarakat Sumber : Study media dan komunikasi, 2012 Halaman III.39

40 Berdasarkan media komunikasi yang digunakan dalam kampaye hidup bersih dan sehat di Kabupaten Pati mempunyai beberapa kegiatan yang mengarah kepada peningkatan kesadaran masyarakat antara lain dapat dilihat pada tabel di bawah ini Tabel 3.22 Kerjasama terkait Sanitasi No Nama Kegiatan Jenis Kegiatan Sanitasi Mitra Kerja Sama Bentuk Kerjasama 1. Kampanye Cuci Tangan PHBS Unilever Melaksanakan demo tata Pakai Sabun cara cuci tangan 2. Pendidikan penyuluhan Penyuluhan dan praktek cuci Dinkes Kabupaten Pembangunan jamban kesehatan di sekolahsekolah lokasi PAMSIMAS tangan pakai sabun Pati dan sarana cuci tangan 3. Pembangunan MCK ++ Pembangunan Infrastruktur Bapermades Pembangunan MCK 4. Penyediaan sarana dan Pemberian bantuan tempat prasarana persampahan sampah dan alat pengomposan BLH Masyarakat sebagai pelaksana kegiatan Peningkatan operasional Membangun Tempat BLH Masyarakat sebagai 5. pengelolaan persampahan Pemrosesan Sampah dengan pelaksana kegiatan metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle) Sumber : Study media dan komunikasi, 2012 Kegiatan CSR (Coorparate Social Responsibility) merupakan kewajiban dari perusahaan untuk menyisihkan sekitar 1,5% keuntungan perusahaan antara lain untuk kegiatan yang bergerak di bidang lingkungan. Berdasarkan data yang ada, beberapa perusahaan yang menjadi mitra kerja dalam pengelolaan lingkungan antara lain : Tabel 3.23 Daftar Mitra Potensial No Nama Mitra Jenis Kegiatan Sanitasi Bentuk Kerjasama 1. Unilever PHBS In Kind 2. Garuda Food Bantuan operasional TPS 3R, Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum In Kind 3. Dua Kelinci Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum In Kind 4. PT. Sinar Indah Kertas Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum In Kind 5. PG. Trangkil Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum In Kind 6. Bank Jateng Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum In Kind 7. Danamon Bantuan tempat sampah di pasar In Kind 8. BPR BKK Bank Pasar Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum In Kind 9. BPR BKK Pati Kota Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum In Kind 10. BNI Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum In Kind 11. BRI Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum In Kind 12. PNPM Pembangunan sarana sanitasi In kind dan in cash Sumber : Study media dan komunikasi, Partisipasi Dunia Usaha Berdasarkan kajian dalam study Penyedia Layanan Sanitasi (Sanitation Supply Assessment/SSA) sampai dengan saat ini, Kabupaten Pati belum mempunyai penyedia layanan air limbah domestik yang dijalankan oleh swasta. Selama ini, kegiatan layanan air limbah seperti penyedotan tinja dan air limbah baik domestik dan industri dilayani oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pati, sedangkan untuk swasta selama ini didatangkan dari daerah Kudus dan sekitarnya. Hal tersebut disajikan dalam tabel berikut ini : Tabel 3.24 Penyedia layanan air limbah domestik yang ada di Kabupaten Pati No Nama Provider Tahun mulai operasi Jenis kegiatan 1 DPU, Bidang Cipta Karya 1997 Usaha sedot tinja Sumber : DPU Kab. Pati, 2012 Halaman III.40

41 3.2.6 Pendanaan dan Pembiayaan Pendanaan dan pembiayaan dari sub sektor pengelolaan air limbah selama ini sesuai dengan hasil study keuangan, berasal dari pemerintah yaitu APBD sebagaimana yang tertera pada tabel berikut ini: No Tabel 3.25 Ringkasan pendapatan dan belanja dari subsektor pengelolaan air limbah domestik Subsektor / SKPD Rata-rata a b c d e f g h i Pertum buhan (%) A Air limbah ,80 B Retribusi Sumber : Study Keuangan Pokja Sanitasi Kabupaten Pati, Isu strategis dan permasalahan mendesak Pengelolaan air limbah domestik di Kabupaten Pati merupakan tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum dan Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pati. Untuk Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pati Berdasarkan visi, misi dan tupoksinya dapat diidentifikasi potensi dan kendala kemudian dikaji adanya kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang mempengaruhi. Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis SWOT. Dengan evaluasi faktor eksternal dan internal dengan menggunakan pembobotan pada faktor-faktor yang teridentifikasi dalam pengelolaan air limbah domestik didapatkan : a. Kekuatan (strenght) : 1. Sudah ada Perda yang berkaitan dengan masalah lingkungan 2. Lembaga yang menangani lingkungan hidup adalah Eselon 2 3. Sudah ada sumber dana dari APBD Kab, DAK, DBHC 4. Sudah mempunyai sarana dan prasarana penunjang kegiatan yang menyangkut permasalahan lingkungan 5. Sudah mempunyai SDM yang ahli dibidangnya 6. Melibatkan peran serta masyarakat terkait pengelolaan lingkungan 7. Melakukan monitoring dan evaluasi atas kegiatan yang sudah berjalan 8. Sudah mempunyai peralatan radio FM 9. Adanya perda RTRW Kabupaten Pati b. Kelemahan (Weakness) 1. Sumber dana belum sesuai dengan kebutuhan 2. SDM belum mencukupi 3. Peralatan lab belum menunjang 4. Kendaraan operasional belum mencukupi 5. Belum dapat melaksanakan peraturan secara optimal 6. Belum mampu mengoperasionalkan peralatan radio FM c. Peluang ( Opportunity) 1. Masyarakat semakin peduli terhadap lingkungan 2. Adanya anggaran APBD Prov 3. Adanya anggaran APBN 4. SKPD diluar BLH ikut berperan aktif 5. Adanya tokoh masyarakat peduli lingkungan 6. Adanya LSM peduli lingkungan 7. Adanya CSR dari swasta Halaman III.41

42 d. Ancaman (Threatness) 1. Belum ada kesadaran sebagian masyarakat terhadap permasalahan lingkungan 2. Belum semua perusahaan swasta memiliki IPAL 3. Mobil sedot tinja membuang kotorannya ke bantaran sungai 4. Masih banyak pengusaha / industri belum menjalankan dokumen UKL/UPL 5. Masih banyak pengusaha/ industri belum membuat dokumen UKL/UPL 6. Masih banyak masyarakat yang membuang sampah di saluran terbuka 3.3 Pengelolaan Persampahan Kelembagaan Pengelolaan persampahan di Kabupaten Pati dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Bidang Kebersihan dan Pertamanan Seksi Kebersihan. Dalam pelaksanaan tugasnya, seksi kebersihan mempunyai rincian tugas yaitu : a. Merencanakan program kegiatan di bidang kebersihan sebagai pedoman pelaksanaan tugas b. Merumuskan sasaran program kegiatan kebersihan sebagai pedoman pelaksanaan tugas c. Menyediakan bahan perumusan bijakan teknis kebersihan sebagai pedoman pelaksanaan tugas d. Melaksanakan koordinasi dan konsultasi guna kelancaran pelaksanaan tugas e. Memberikan bimbingan dan arahan pelaksanaan tugas kepada bawahan agar tugas berjalan lancar dan tepat waktu f. Menyediakan data dan informasi tentang kebersihan sebagai bahan pelaksanaan tugas g. Melaksanakan pemeriksaan terhadap alat-alat / kendaraan yang dipergunakan untuk melaksanakan operasional pengangkutan sampah h. Melaksanakan bimbingan, pembinaan dan pelayanan di bidang kebersihan jalan, lingkungan, pengangkutan dan pemanfatan sampah pada masyarakat, pekerja / pasukan kuning i. Melaksanakan dan memberikan petunjuk pengelolaan pemungutan retribusi pelayanan persampahan / kebersihan j. Menyusun kebijakan pengembangan sarana dan prasarana persampahan, penetapan lembaga penyelenggara pengelolaan persampahan k. Melaksanakan pembinaan dan fasilitasi kerja sama dunia usaha dan masyarakat dalam penyelenggaraan pengembangan prasarana dan sarana persampahan kabupaten l. Memberikan bantuan teknis kepada kecamatan, pemerintah desa, serta kelompok masyarakat di kabupaten m. Menyelenggarakan pembiayaan pembangunan prasaranadan sarana persampahan di Kabupaten n. Mengevaluasi dan menilai kinerja bawahan dalam rangka pembinaan karir o. Melaksanakan monitoring, evaluasi dan pelaporan bidang kebersihan p. Memberikan sarana dan pertimbangan baik secara lisan maupun tertulis sebagai bahan masukan atasan q. Melaporkan pelaksanaan tugas sebagai pertanggungjawaban kepada atasan, dan r. Melaksanakan tugas lain yang diberikan atasan yang berkaitan dengan tugas seksi Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam mengenai pengelolaan persampahan di Kabupaten Pati, terutama untuk mengidentifikasi stakeholder yang bertanggungjawab terhadap pengelolaan persampahan, maka Pokja Sanitasi Kabupaten Pati melakukan study kelembagaan dan kebijakan dengan tujuan : a. Mendeskripsikan peran dan tanggungjawab pemangku kepentingan dalam pembangunan dan pengelolaan persampahan di Kabupaten Pati b. Mendeskripsikan kelengkapan dan kondisi pelaksanaan kebijakan sanitasi di Kabupaten Pati. Adapun hasil dari study kelembagaan dan kebijakan dapat dilihat pada tabel peta pemangku kepentingan dalam pembangunan dan pengelolaan persampahan serta peta peraturan persampahan Kabupaten Pati. Halaman III.42

43 Tabel 3.26 Peta Pemangku Kepentingan dalam Pembangunan dan Pengelolaan Persampahan FUNGSI PEMANGKU KEPENTINGAN Pemerintah Kabupaten Pati Swasta Masyarakat PERENCANAAN Menyusun target pengelolaan sampah skala kabupaten v Menyusun rencana program persampahan dalam rangka pencapaian target v Menyusun rencana anggaran program persampahan dalam rangka pencapaian target v PENGADAAN SARANA Menyediakan sarana pewadahan sampah di sumber sampah Menyediakan tong sampah Menyediakan tong sampah Menyediakan tong sampah Menyediakan sarana pengumpulan (pengumpulan dari sumber sampah ke TPS) Menyediakan gerobak dan motor - Menyediakan gerobak saampah sampah Membangun sarana Tempat Penampungan Sementara (TPS) Membangun TPS dan - - menyediakan kontainer sampah Membangun sarana pengangkutan sampah dari TPS ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Menyediakan dumptruk dan - - armroll Membangun sarana TPA Membangun kolam lindi dan - - lubang sampah Menyediakan sarana komposting PENGELOLAAN Mengumpulkan sampah dari sumber ke TPS Tukang sapu - PSB Mengelola sampah di TPS Petugas TPS TPST Mengangkut sampah dari TPS ke TPA Armroll - TPST Mengelola TPA Petugas TPA - - Melakukan pemilahan sampah* Menyediakan tong sampah - Pemulung, TPST terpilah Melakukan penarikan retribusi sampah Petugas retribusi - - Memberikan izin usaha pengelolaan sampah PENGATURAN DAN PEMBINAAN Mengatur prosedur penyediaan layanan sampah (jam pengangkutan, personil, peralatan, dll) Membuat jadwal layanan sampah, - - pengangkutan sampah, personil dan peralatan Melakukan sosialisasi peraturan, dan pembinaan dalam hal pengelolaan sampah Membuat papan larangan - - membuang sampah di sungai Memberikan sanksi terhadap pelanggaran pengelolaan sampah Menentapkan Perda Nomor Tahun 2010 tentang MONITORING DAN EVALUASI Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap capaian target pengelolaan sampah skala kabupaten Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kapasitas infrastruktur sarana pengelolaan persampahan - - Mengajukan aduan Halaman III.43

44 FUNGSI Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap efektivitas layanan persampahan, dan atau menampung serta mengelola keluhan atas layanan persampahan Sumber : Study kelembagaan dan kebijakan, 2012 PEMANGKU KEPENTINGAN Pemerintah Kabupaten Pati Swasta Masyarakat - - Mengajukan aduan Tabel 3.27 Peta Peraturan Persampahan Kabupaten Pati Peraturan Ketersediaan Ada (Sebutkan) PERSAMPAHAN Target capaian pelayanan pengelolaan persampahan di Kabupaten ini Permen PU Nomor 14 Tahun 2010 tentang Kewajiban dan sanksi bagi Pemerintah Kabupaten dalam menyediakan layanan pengelolaan sampah Kewajiban dan sanksi bagi Pemerintah Kabupaten Perda Nomor 7 Tahun 2010 tentang dalam memberdayakan masyarakat dan Pengelolaan Sampah badan usaha dalam pengelolaan sampah Kewajiban dan sanksi bagi masyarakat untuk Perda Nomor 7 Tahun 2010 tentang mengurangi sampah, menyediakan tempat Pengelolaan Sampah sampah di hunian rumah, dan membuang ke TPS Kewajiban dan sanksi bagi kantor / unit usaha Perda Nomor 7 Tahun 2010 tentang di kawasan komersial / fasilitas social / fasilitas Pengelolaan Sampah umum untuk mengurangi sampah, menyediakan tempat sampah, dan membuang ke TPS Pembagian kerja pengumpulan sampah dari sumber ke TPS, dari TPS ke TPA, pengelolaan di TPA, dan pengaturan waktu pengangkutan sampah dari TPS ke TPA Kerjasama pemerintah kabupaten dengan swasta atau pihak lain dalam pengelolaan sampah Retribusi sampah atau kebersihan - Perda Nomor 13 Tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum - Perda Nomor 11 Tahun 2012 tentang Pedoman Pelaksanaan Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan Sumber : Study kelembagaan dan kebijakan, 2012 Tidak Ada Efektif Dilaksanakan Pelaksanaan Belum Efektif Dilaksanakan Tidak Efektif Dilaksanakan Keterangan Halaman III.44

45 3.3.2 Sistem dan Cakupan Pelayanan Timbulan sampah yang ada di Kabupaten Pati sebagian besar merupakan sampah dari kegiatan rumah tangga, pertokoan, perkantoran, industri, fasilitas pendidikan, pasar, jalan, taman serta area area publik lainnya. Pengelolaan persampahan di sebagian wilayah Kabupaten Pati belum semua terlayani. Masih ada sebagian wilayah di Kabupaten Pati yang menggunakan sistem pembuangan open dumping dengan ditimbun atau dibakar. Sebagian wilayah yang kurang mempunyai lahan untuk membuang secara terbuka atau untuk membakar sampah, terpaksa dibuang ke sungai atau dipinggir jalan. Sistem pengelolaan persampahan di Kabupaten Pati dimulai dari sumber timbulan sampah sampai dengan pemprosesan akhir di TPA Pewadahan Pewadahan sampah adalah suatu cara penampungan sampah sementara di sumbernya baik individu maupun komunal. Pewadahan merupakan bagian dari system pengelolaan setelah mengadakan kegiatan identifikasi dan inventarisasi sumber sampah. Adapun jenis jenis wadah sampah yang terdapat di Kabupaten Pati terdiri dari : 1. Wadah yang disediakan DPU, terdiri dari : a. Drum / tong sampah, kapasitas 40 liter b. Ban bekas, kapasitas 125 liter c. Pasangan bata, kapasitas 100 liter d. Keranjang sampah dan kotak kayu, kapasitas liter 2. Wadah yang disediakan Paguyuban Sampah Bersama Terdiri dari bin plastik, bin karet, bin tong dan pasangan batu bata yang diletakkan di halaman rumah. 3. Wadah yang disediakan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Terdiri dari keranjang yang terbuat dari plastik dan diletakkan di depan kios kios pasar 4. Wadah yang disediakan Warga Masyarakat Non Paguyuban Sampah Bersama (PSB) Terdiri dari bak sampah plastik, drum, anyaman bambu dan ban bekas yang disediakan oleh masyarakat secara swadaya. 5. Wadah yang disediakan atas partisipasi dari pelaku usaha dan SKPD Sebagai tindak lanjut dari program Adipura, maka pelaku usaha dan SKPD menyediakan tempat sampah pemilahan dan ditempatkan di tempat tempat umum dan SKPD terkait Pengumpulan Pengumpulan dilakukan dengan menggunakan gerobak sampah, becak sampah dan motor roda 3 (tiga). Adapun jumlah sarana pengumpulan sampah di Kabupaten Pati tersaji dalam Tabel di bawah ini. Tabel 3.28 Jumlah Kendaraan Pengumpul Sampah No Jenis Kendaraan Kapasitas Jumlah 1 Gerobak sampah 0,85 m³ 30 2 Becak sampah 0,85 m³ 85 3 Motor / roda tiga 1 m³ 8 4 Sepeda Keranjang 0,5 m³ 11 Sumber : Laporan periodik volume sampah harian TPA, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pati, 2011 Pola pengumpulan sampah dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu : 1. Pola Individual Proses pengumpulan sampah dengan cara mengumpulkan sampah dari sumber timbulan sampah dan diangkut langsung ke TPA tanpa proses pemindahan. Wilayah pelayanan pola individual ini meliputi pertokoan, perkantoran dan hotel. 2. Pola komunal Sampah yang berasal dari permukiman dikumpulkan dengan menggunakan becak sampah / motor sampah yang dikelola oleh Paguyuban Sampah Bersama (PSB) menuju tempat penampungan Halaman III.45

46 sementara (TPS) / kontainer terdekat. Sedangkan masyarakat yang bertempat tinggal di dekat TPS/kontainer dan belum mendapatkan pelayanan secara individu serta tidak melakukan penanganan on site (setempat) membuang sampah langsung ke TPS/kontainer terdekat. Dari TPS/kontainer, petugas kebersihan mengangkut sampah ke TPA. Daerah yang melakukan pola komunal dapat dilihat pada table di bawah ini. Tabel 3.29 Lokasi Pelayanan dengan Pola Komunal No Lokasi Pemindahan Lokasi Pengumpulan 1 TPS Joyokusumo Muktiharjo, Winong, Sidokerto, Pati Lor, Kutoharjo, Parenggan, Perum Rondole Indah dan sampah jalan 2 TPS Puri Winong, Ds. Puri, Plangitan, Ngarus, Kel. Pati Kidul, Pati Lor, Muktiharjo 3 TPS Sleko Kel. Pati Kidul, Pati Lor, Sidoharjo, Semampir, Pati Wetan, Ds. Panjunan, Gajahmati, Sarirejo, Mustokoharjo 4 TPS Pasar Gabus Pasar Gabus dan sekitarnya 5 TPS Pasar Rogowangsan Pasar Rogowangsan 6 TPST Kalidoro Ds. Kalidoro 7 TPS Pasar Trangkil Pasar Trangkil dan sekitarnya 8 TPS Pasar Tayu Pasar Tayu dan sekitarnya 9 TPS Pasar Gembong Pasar Gembong dan sekitarnya 10 RSUD RAA Soewondo RSUD RAA Soewondo 11 TPST 3R Ds. Blaru Ds. Blaru dan Panjunan 12 TPS Ds. Panjunan Ds. Panjunan 13 TPS Polres Kompleks Polres 14 TPS Pasar Juwana Baru Pasar Juwana dan sekitarnya 15 TPS Terminal Juwana Terminal, kota dan jalan kota Juwana 16 TPS Pasar Porda Juwana Pasar Porda Juwana dan sekitarnya 17 TPS terminal Sleko Kompleks terminal Sleko dan sekitarnya 18 TPS Pasar Runting Pasar Runting dan sekitarnya 19 TPS BTN Bembleb BTN Gembleb 20 TPS Pasar Puri Pasar Puri 21 TPS Pemda dan PKK Pemda dan PKK 22 TPS Tayu Tayu dan sekitarnya 23 TPS RS Mitra Bangsa RS Mitra Bangsa 24 TPS Ds. Karaban Ds. Karaban 25 TPS Stadion Joyo Kusumo Muktiharjo, Winong, Sidokerto, Pati Lor, Kutoharjo, Parenggan, Perum Rondole Indah dan sampah jalan 26 TPS Pasar Bulumanis Pasar Bulumanis 27 TPS Bendar Desa Bendar 28 TPS SMA 1 Jakenan SMA 1 Jakenan 29 TPST 3R Winong Pati Desa Winong Pati 30 TPS Garud Food Garuda Food 31 TPS PG Trangkil PG Trangkil 32 TPS PSAA PSAA Sumber : Laporan periodik volume sampah harian TPA, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pati, Pemindahan Pemindahan sampah dari TPS / kontainer dibawa oleh alat pengangkut berupa dump truk atau arm roll ke TPA dengan 2 (dua) cara, yaitu : 1. Dump truk atau arm roll datang dengan muatan kosong lalu menaikkan sampah langsung dari TPS/kontainer. Cara ini dilakukan untuk memindahkan sampah yang ada di TPS / kontainer yang jaraknya relative jauh atau berada di luar kota. 2. Dump truk / arm roll langsung menangkut sampah yang ada di TPS / kontainer untuk dibawa ke TPA. Cara ini dilakukan untuk memindahkan sampah yang ada di TPS / kontainer yang jaraknya relative dekat atau berada di dalam kota. Halaman III.46

47 Alokasi TPS dan kontainer yang terdapat di Kabupaten Pati dapat diihat pada tabel berikut. Tabel 3.30 Alokasi Kontainer Kabupaten Pati Tahun 2011 No Lokasi Jml. Kontainer Volume (m³) 1 Desa Blaru Pasar Gembong RSUD RAA Soewondo (dalam) Desa Panjunan RSUD RAA Soewondo (area parkir) Polres Pasar Trangkil Pasar Juwana Baru Terminal Juwana Pasar Porda Juwana Stadion Jaya Kusuma Terminal Sleko Pati Pasar Runting BTN Gembleb Pasar Gabus Pasar Puri Pasar Rogowongso TPS Puri TPS Joyo Kusumo TPS Sleko Pemda dan PKK RS. Mitra Bangsa SMA 1 Jakenan Pasar Winong RS. Kayen TPS Tayu TPS Desa Bendar Garuda Food PG Trangkil TPS PSAA 1 7 Jumlah Sumber : Laporan periodik volume sampah harian TPA, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pati, 2011 Selain TPS sebagaimana disebutkan diatas, Kabupaten Pati juga memiliki TPS 3R yang berada di Kelurahan Kalidoro, dengan kapasitas 5 m³ per hari dengan luas 12 x 8 m, jumlah tenaga kerja sebanyak 4 (empat) orang, yang melayani Kel. Kalidoro. Di TPST 3R ini dilaksanakan kegiatan pemilahan dan composting, sedangkan sampah yang sudah tidak bisa diolah lagi langsung diangkut ke TPA Sukoharjo Pengangkutan Pengangkutan sampah dilakukan dari kontainer maupun TPS ke TPA. Sarana pengangkutan yang dimiliki Bidang Kebersihan dan Pertamanan di DPU Kabupaten Pati hingga tahun 2011 adalah sebanyak 22 unit, yang terdiri dari : 1. Dump Truck sebanyak 6 (enam) unit Kendaraan pengangkut sampah dengan bak terbuka yang memiliki lengan hidrolis yang tersambung dnegan bak truk, dengan kapasitas 6 m³, untuk mengangkut sampah dari 4 (empat) depo Halaman III.47

48 2. Arm roll Truck sebanyak 7 (tujuh) unit Kendaraan untuk mengangkut kontainer sampah sejumlah 36 unit kontainer yang tersebar di wilayah Kabupaten Pati. 3. Pick-up sebanyak 4 (empat) unit Kendaraan pick-up berkapasitas 2 m³ digunakan untuk melakukan penyisiran sampah, pelayanan / tindak lanjut, pengaduan masyarakat serta memobilisasi personil. 4. Kendaraan roda tiga sebanyak 8 (delapan) unit Kendaraan berkapasitas 1 m³ digunakan untuk melaksanakan operasional pengumpulan sampah dari bak-bak sampah yang ada di jalan protokol, pertokoan, pasar dan berbagai fasilitas umum dan operasional taman. 5. Becak sampah sebanyak 85 (delapan puluh lima) unit Alat pengangkutan berkapasitas 0,85 m³ ini banyak digunakan untuk mengangkut sampah dari permukiman, pasar maupun jalan ke TPS 6. Truck penyedot tinja sebanyak 1 (satu) unit Kendaraan yang dilengkapi tangki dan mesin penyedot ini selain digunakan untuk penyedotan tinja juga digunakan untuk penyedotan kotoran dari saluran air yang tersumbat. Adapun kondisi sarana armada persampahan yang ada dapat dilihat pada table berikut. Tabel 3.31 Kondisi dan Jumlah Sarana Prasarana Pengelolaan Persampahan No Jenis Unit Kondisi Kapasitas Ritasi Rusak Rusak (m³) (kali) Baik Ringan Berat 1 Dump Truck Arm Roll Truck Kontainer Pick up Motor roda Becak sampah 85 0, Sumber : Laporan periodik volume sampah harian TPA, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pati, Pemrosesan Akhir Pemrosesan akhir sampah dilakukan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) untuk memroses dan mengembalikan ke lingkungan secara aman. Kabupaten Pati memiliki 3 TPA yaitu TPA Sukoharjo, TPA Plosojenar dan TPA Sampok. TPA Sukoharjo saat ini sudah menggunakan system controlled landfill sedangkan TPA Plosojenar dan Sampok masih menggunakan sistem open dumping. 1. TPA Sukoharjo TPA ini berlokasi di Kec. Margorejo Kabupaten Pati dan dalam pengelolaan sampah menggunakan 2 sistem, yaitu : a. Controlled landfill Sampah dimasukkan dalam parit / lubang, daerah cekungan atau lereng kemudian ditimbun dengan lapisan tanah dan dipadatkan. b. Daur ulang cell Sampah organik dimasukkan dalam kotak kotak cell dan dibiarkan selama 2 3 tahun dan setelah itu dibongkar dan diayak menjadi kompos. Sisa produksi yang ada selama ini difungsikan sebagai tanah penutup untuk controlled landfill Proses Pengolahan Sampah a. Pemilahan sampah Proses ini adalah memisahkan antara sampah organik dan non organik untuk selanjutnya dilakukan proses daur ulang. Halaman III.48

49 b. Pengolahan sampah Pengolahan sampah yang dilakukan di TPA Sukoharjo adalah pengomposan, dimana hasil dari proses tersebut berupa pupuk kompos masih digunakan dilingkungan TPA sendiri sebagai pupuk tanaman. Fasilitas Pendukung a. Pintu Gerbang, dibuat cukup menarik dan tidak berkesan akan menuju ke areal TPA. b. Kantor TPA c. Fasilitas jalan, yang terdiri dari : Jalan akses utama, yaitu jalan utama menuju TPA Sukoharjo yang sudah berupa jalan aspal Jalan kerja, adalah jalan yang menghubungkan satu fasilitas dengan fasilitas yang lain didalam komplek TPA d. Tempat parkir e. Taman bermain (rest area) f. Bumi Perkemahan g. Pondok taman baca h. Kebun binatang kecil (little zoo) i. Bangunan pengolah lindi (leachate) Lindi adalah cairan yang timbul sebagai limbah akibat masuknya air eksternal kedalam urugan atau timbunan sampah, melarutkan dan membilas materi terlarut, termasuk juga materi organik hasil dekomposisi biologis. Air eksternal di TPA Sukoharjo berasal dari air hujan, saluran drainase, air tanah atau dari sumber lain. j. Pipa gas Digunakan untuk mengalirkan gas dari timbunan sampah agar tidak terjadi ledakan akibat terakumulasinya gas pada tumpukan sampah. k. Areal pengomposan Pengomposan adalah pengolahan sampah organik melalui pembusukan yang terkendali. Produk akhir dari kegiatan ini adalah pupuk kompos. Adapun profil TPA Sukoharjo secara detail seperti terlihat dalam tabel berikut ini. Tabel 3.32 Profil TPA Margorejo No Item Keterangan 1 Jenis penimbunan Controlled landfill 2 Lokasi Ds. Sukoharjo, Kec. Margorejo 3 Waktu rencana umur TPA Luas Keseluruhan 12,495 ha 5 Luas Terpakai 2,5 ha 6 Jarak dari permukiman 1,5 km 7 Jarak dari pusat kota 6 km 8 Jarak dari badan air 0,5 km 9 Kantor TPA : - Luas kantor 6 x 12 m² - Bengkel & garasi 12 x 19 m² 10 Excavator 1 unit 11 Compactor - 12 Mesin crusher - 13 Jumlah petugas 10 orang 14 Instalasi lindi 2 unit 15 Sumur pantau 2 unit 16 Mesin pencacah sampah 2 unit 17 Tempat Pengomposan 6 x 9 m 2 18 Taman Baca 5 x 9 m 2 Sumber : Laporan periodik volume sampah harian TPA, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pati, 2011 Halaman III.49

50 Area TPA terdiri dari 6 zona, dimana zona 1 3 telah penuh (zona non aktif), sehingga pembuangan sampah saat ini dilakukan di zona 4 6 yang masih aktif. Pengurugan sampah dilakukan setiap 1 10 hari tergantung operasional mesin excavator. 2. TPA Sampok Sampai dengan saat ini, TPA masih menggunakan sistem open dumping, dimana sampah dibuang begitu saja tanpa dibuat zona pembuangan. TPA ini digunakan untuk menampung pembuangan sampah dari Kec. Tayu dan Margoyoso dikarenakan jarak ke TPA SUkoharjo terlalu jauh. Adapun profil TPA Sampok terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 3.33 Profil TPA Sampok No Item Keterangan 1 Jenis penimbunan Open dumping 2 Lokasi Kec. Gunungwungkal 3 Waktu rencana umur TPA - 4 Luas m² 5 Jarak dari permukiman 1 km 6 Kantor TPA - 7 Excavator - 8 Compactor - 9 Mesin crusher - 10 Jumlah petugas - 11 Instalasi lindi - Sumber : Laporan periodik volume sampah harian TPA, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pati, TPA Plosojenar TPA Plosojenar masih menggunakan sistem open dumping untuk menampung sampah dari Kec. Juwana. Adapun profil TPA Plosojenar terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 3.34 Profil TPA Plosojenar No Item Keterangan 1 Jenis penimbunan Open dumping 2 Lokasi Ds. Plosojenar, Kec. Jakenan 3 Waktu rencana umur TPA - 4 Luas m² 5 Jarak dari permukiman 0,8 km 6 Kantor / gudang 1 unit 7 Excavator - 8 Compactor - 9 Mesin crusher - 10 Jumlah petugas - 11 Instalasi lindi - Sumber : Laporan periodik volume sampah harian TPA, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pati, 2011 Pengelolaan persampahan di Kabupaten Pati secara resmi merupakan tanggung jawab Bidang Kebersihan dan Pertamanan pada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pati. Saat ini, daerah pelayanan pengelolaan persampahan di Kabupaten Pati meliputi Kecamatan Pati, Juwana, Tayu, Trangkil, Gembong dan Gabus. Berdasarkan data tersebut, cakupan layanan pengelolaan sampah yang dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pati hanya meliputi 6 (enam) kecamatan dan belum semua wilayah yang ada Halaman III.50

51 di 6 (enam) kecamatan tersebut dapat terlayani. Dengan demikian, masih terdapat 15 kecamatan di Kabupaten Pati yang belum terlayani sama sekali. Adapun tingkat pelayanan persampahan diasajikan dalam tabel berikut. Tabel 3.35 Tingkat Pelayanan Kebersihan Kota No Pelayanan Tingkat Pelayanan Luas daerah pelayanan 27,3147 Ha 27,3147 Ha 27,3147 Ha 2 Jumlah penduduk terlayani jiwa jiwa jiwa 3 Jumlah penduduk terlayani terhadap jumlah penduduk perkotaan 88,63 % 88,95 % 89,1 % Sumber : Laporan periodik volume sampah harian TPA, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pati, 2011 Berdasarkan Laporan periodik volume sampah harian TPA, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pati tahun 2011, total timbunan sampah perkotaan sebesar 250 M³/hari atau 7500 M³/bulan, sedangkan kapasitas sampah terangkut ke TPA adalah sebesar 240 M³/hari atau 7200 M³/bulan. Data mengenai penanganan sampah disajikan dalam tabel berikut. Tabel 3.36 Penanganan Sampah No Penanganan Volume (M³/bulan) Prosentase (Dari total timbulan sampah) 1 Diangkut ke TPA % 2 Diolah : 1. Kompos 3 0,04 % 2. Daur ulang 20 0,27 % 3. Pemanfaatan lain Dipilah (bank sampah) 4 Tidak terangkut 277 3,7 % Sumber : Laporan periodik volume sampah harian TPA, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pati, 2011 Secara jelas, cakupan pelayanan pengelolaan sampah dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 3.37 Daerah Cakupan Pelayanan Pengelolaan Persampahan No Kecamatan Daerah Layanan Keterangan 1 Pati Kel. Pati Wetan Kel. Pati Lor Kel. Pati Kidul Kel. Kalidoro Kel. Parenggan Ds. Blaru Ds. Gajahmati Ds. Panjunan Ds. Puri Ds. Winong Ds. Ngarus Ds. Plangitan Ds. Kutoharjo Ds. Sidokerto Diproses lebih lanjut di TPA Sukoharjo Halaman III.51

52 No Kecamatan Daerah Layanan Keterangan Ds. Semampir Ds. Sarirejo Ds. Sidoharjo Ds. Mustokoharjo Kawasan perkotaan 2 Margorejo Ds. Sukoharjo Diproses lebih lanjut di TPA Sukoharjo Ds. Muktiharjo 3 Juwana Pasar Juwana Diangkut ke TPA Plosojenar Pasar Porda Bumirejo Doropayung Bakaran Kulon Bakaran Wetan Dukutalit Growong Kidul Growong Lor Kauman Pajeksan Kebonsawahan Bajomulyo Bendar Trimulyo Kawasan perkotaan 4 Tayu Pasar Tayu Diangkut ke TPA Sampok Keboromo Sambiroto Tayu Wetan Tayu Kulon Kawasan perkotaan 5 Margoyoso Pasar Bulumanis Diangkut ke TPA Sampok Bulumanis kidul 6 Trangkil Pasar Trangkil Diproses lebih lanjut di TPA Sukoharjo 7 Gembong Pasar Gembong Diproses lebih lanjut di TPA Sukoharjo 8 Gabus Pasar Gabus Diproses lebih lanjut di TPA Sukoharjo Pasar Karaban 9 Winong Pasar Winong Diproses lebih lanjut di TPA Sukoharjo Sumber : Laporan periodik volume sampah harian TPA, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pati, 2011 Halaman III.52

53 Peta 3.4 Peta cakupan layanan persampahan Halaman III.53

54 Peta 3.5 Lokasi infrastruktur utama pengelolaan persampahan di Kecamatan Pati dan Margorejo Keterangan : No Lokasi Pemindahan 1 TPS Joyokusumo 2 TPS Puri 3 TPS Sleko TPS Pasar 5 Rogowangsan 6 TPST Kalidoro BRSUD RAA 10 Soewondo 11 TPST 3R Ds. Blaru 12 TPS Ds. Panjunan 13 TPS Polres 17 TPS terminal Sleko 18 TPS Pasar Runting 19 TPS BTN Bembleb 20 TPS Pasar Puri 21 TPS Pemda dan PKK 23 TPS RS Mitra Bangsa 25 TPS Stadion Joyo Kusumo 29 TPST 3R Winong Pati 30 TPS Garud Food 32 TPS PSAA Halaman III.54

55 Peta 3.6 Lokasi infrastruktur utama pengelolaan persampahan di Kecamatan Margoyoso dan Tayu Keterangan : No Lokasi Pemindahan 8 TPS Pasar Tayu 22 TPS Tayu 26 TPS Pasar Bulumanis Halaman III.55

56 Peta 3.7 Peta lokasi infrastruktur utama pengelolaan persampahan di Kecamatan Trangkil Keterangan : No Lokasi Pemindahan 7 TPS Pasar Trangkil 31 TPS PG Trangkil Halaman III.56

57 Peta 3.8 Peta lokasi infrastruktur utama pengelolaan persampahan di Kecamatan Juana dan Jakenan Keterangan : No Lokasi Pemindahan 14 TPS Pasar Juwana Baru 15 TPS Terminal Juwana 16 TPS Pasar Porda Juwana 27 TPS Bendar 28 TPS SMA 1 Jakenan Halaman III.57

58 Peta 3.9 Peta lokasi infrastruktur utama pengelolaan persampahan di Kecamatan Gembong Keterangan : No Lokasi Pemindahan 9 TPS Pasar Gembong Halaman III.58

59 Peta 3.10 Peta lokasi infrastruktur utama pengelolaan persampahan di Kecamatan Gabus Keterangan : No Lokasi Pemindahan 4 TPS Pasar Gabus 24 TPS Ds. Karaban Halaman III.59

60 Untuk mengetahui kondisi riil mengenai sistem pengelolaan persampahan dan teknologi yang digunakannya, maka Pokja Sanitasi melakukan identifikasi dengan menggunakan alat diagram sistem sanitasi. Diharapkan dengan menggunakan metode ini, dapat diketahui berbagai sistem yang saat ini masih digunakan oleh Pemda maupun masyarakat dalam pengelolaan sampah, sehingga nantinya dapat dijadikan rekomendasi perbaikan sistem pengelolaan persampahan dimasa yang akan datang. Adapun hasil kajian menggunakan metode diagram sistem sanitasi adalah sbb : Input User Interface Pengumpulan Setempat Tabel 3.38 Diagram Sistem Sanitasi pengelolaan persampahan Penampungan Sementara (TPS) Pengangkutan 1 Sampah jalan Becak Sampah Container Arm Roll Truck 2 Sampah Gerobak Container Arm Roll Rumah Becak Sampah Truck Semi Pengolahan Akhir (Terpusat) Daur Ulang / Pembuangan Akhir Kode/ Nama Aliran Wilayah - TPA AL 1 Pati, Juwana, Tayu Kota - TPA AL 2 Pati, Juwana, Tayu Kota 3 Sampah Dump - TPA AL 3 Kantor/toko truck 4 Sampah taman Motor Roda Tiga Sampah Container Arm Roll Truck - TPA AL 4 5 Sampah Rumah - Bak TPS Dump Truck - TPA AL 5 Pati bagian timur arah Juwana 6 Sampah Rumah Di bakar / Ditimbun AL 6 Di luar wilayah pelayanan 7 Sampah Rumah Sungai AL 7 Di luar wilayah pelayanan, di lewati sungai 8 Sampah Motor Roda Bak TPS - - Residu TPA Al 8A Kalidoro Rumah Tiga Gerobak (Pilah) Organik - - Al 8B Kalidoro (Kompos) 9 Kompos skala - Bak TPS Motor - TPA Al 9 - rumah tangga sampah TPA Di pilah Al 10 - daur ulang 11 Sampah Fasilitas umum keprasan pohon - - Dump Truk - TPA, sampah organik dibuat Kompos Al 11 - Sumber : DSS Pokja Sanitasi, 2012 Kelompok Fungsi Tabel 3.39 Sistem pengelolaan persampahan yang ada di Kabupaten Pati Teknologi yang digunakan Jenis Data Sekunder (Perkiraan) Nilai Data Sumber Data a b c d e Pembuangan/Daur Ulang TPA Jumlah 3 DPU Penampungan TPS Jumlah Sementara 32 DPU Penampungan awal Kontainer Jumlah 40 DPU Pengangkutan Dump Truck Jumlah 6 DPU Arm Roll Truck Jumlah 7 DPU Kontainer Jumlah 43 DPU Pick up Jumlah 4 DPU Motor roda 3 Jumlah 8 DPU Halaman III.60

61 Kelompok Fungsi Sumber : Persepsi SKPD Teknologi yang digunakan Jenis Data Sekunder (Perkiraan) Nilai Data Sumber Data Becak sampah Jumlah 85 DPU Gerobak sampah Jumlah 30 DPU Sepeda Keranjang Jumlah 11 DPU Kesadaran Masyarakat dan PMJK Dalam penanganan persampahan, kesadaran masyarakat menjadi kunci penting dalam keberhasilan pembangunan di sektor tersebut. Hal ini dikarenakan masyarakat sebagai sumber timbulan sampah perlu untuk mendapatkan pengetahuan dan penyadaran mengenai penanganan sampah yang dimulai dari sumbernya. Pemahaman yang salah mengenai penanganan sampah akan mengakibatkan permasalahan yang sulit untuk diselesaikan dikemudian hari. Untuk mengetahui faktor perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah, Pokja Sanitasi Kabupaten Pati telah melakukan survey EHRA dalam rangka untuk mengetahui tingkat resiko sanitasi dalam suatu wilayah. Kondisi persampahan di masyarakat berdasarkan survey EHRA menunjukkan bahwa masih banyak sampah yang belum tertampung dalam tempat sampah, yang pada akhirnya akan mengotori dan menimbulkan permasalahan lingkungan. Adapun kondisi sampah di masyarakat adalah sbb : Tabel 3.40 Kondisi sampah dilingkungan RT/RW Uraian Jawaban Jumlah Tidak % Ya % responden Banyak sampah berserakan atau 11, , bertumpuk di sekitar lingkungan Banyak lalat di sekitar tumpukan sampah 11, , Banyak tikus berkeliaran 5, , Banyak nyamuk 4, , Banyak kucing dan anjing mendatangi 11, , tumpukan sampah Bau busuk yang menggangu 13, , Menyumbat saluran drainase 14, , Ada anak-anak yang bermain di sekitarnya 11, , Sumber : Olah data Study EHRA, 2012 Dalam pengelolaan sampah di Kabupaten Pati, sebagian besar masih dilakukan dengan dibakar (73,8 %). Hal ini tentunya tidak dapat dibenarkan, mengingat pengelolaan sampah dengan cara dibakar sudah tidak dapat dibenarkan lagi. Masyarakat melakukan pengelolaan sampah dengan cara dibakar mungkin disebabkan masih minimnya cakupan pelayanan yang mampu diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Pati dan juga masih kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai metode metode sederhana dalam pengelolaan sampah yang sesuai dengan standard. Adapun data pengelolaan sampah oleh masyarakat adalah sbb : Halaman III.61

62 Tabel 3.41 Pengelolaan sampah rumah tangga Uraian Menjawab Jumlah % Ya Responden Dikumpulkan oleh kolektor informal yang mendaur ulang Dikumpulkan dan dibuang ke TPS Dibakar Dibuang ke dalam lubang dan ditutup dengan tanah Dibuang ke dalam lubang tetapi tidak ditutup dengan tanah Dibuang ke sungai/kali/laut/danau Dibiarkan saja sampai membusuk Dibuang ke lahan kosong/kebun/hutan dan dibiarkan membusuk Lain-lain Tidak tahu Sumber : Olah data Study EHRA, 2012 Pengelolaan sampah dari sumbernya sangatlah dibutuhkan dalam rangka mengurangi pencemaran dan beban TPA. Dengan hanya melakukan kegiatan pemilahan sampah dari sumbernya saja, sebenarnya sangatlah membantu dalam mencapai tujuan tersebut. Namun kenyataannya, berdasarkan survey EHRA masih belum banyak rumah tangga yang melaksanakan kegiatan pemilahan sampah tersebut. Adapun hasil dari survey EHRA mengenai pemilahan sampah adalah sbb : Tabel 3.42 Jenis sampah yang dipilah sebelum dibuang Uraian Jawaban Jumlah Tidak % Ya % Responden Sampah organik/sampah basah Plastik Gelas atau kaca Kertas Besi/logam Sumber : Olah data Study EHRA, 2012 Pengelolaan sampah yang dilayani oleh Pemerintah Daerah, komunal maupun swasta tentunya sangat dipengaruhi oleh frekwensi pengambilan sampah oleh petugas. Semakin lama sampah dibiarkan dan tidak terangkut, akan semakin banyak menimbulkan permasalahan di permukiman tersebut. Dari olah data survey EHRA diperoleh data bahwa pelayana sampah di Kabupaten Pati masih relatif kecil dibandingkan dengan jumlah rumah tangga yang harus mendapatkan pelayanan tersebut. Apabila hal ini tidak segera ditangani, maka untuk masa yang akan datang akan menimbulkan masalah pencemaran lingkungan yang cukup serius. Halaman III.62

63 Tabel 3.43 Frekwensi petugas mengangkut sampah Uraian Menjawab Ya Jumlah Responden % Tiap hari Beberapa kali dalam seminggu Sekali dalam seminggu Beberapa kali dalam sebulan Sekali dalam sebulan Tidak pernah Tidak tahu Sumber : Olah data Study EHRA, 2012 Kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah di sumbernya perlu terus untuk mendapatkan perhatian dengan memberikan pengetahuan / teknologi tepat guna untuk mengolah sampah. Upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pati adalah dengan memberikan bantuan alat komposter dan pelatihan pembuatan kompos dari sampah rumah tangga. Namun sampai dengan saat ini, kegiatan tersebut belum cukup untuk mendorong masyarakat agar mau melakukan pengolahan sampah di sumbernya. Hal; tersebut terlihat dari hasil survey EHRA, dimana dari responden, yang memiliki tempat untuk membuat kompos hanya 894 responden atau sebesar 5,50 % saja. Sedangkan apabila dilihat apakah sudah ada kompos yang bisa digunakan, jumlah yang menjawab menurun menjadi 743 responden atau 4,6 % saja. Hal ini perlu mendapatkan perhatian, dimana masyarakat yang sudah mempunyai sarana pengolahan sampah belum tentu mempunyai kesadaran untuk mengolah sampah dari sumbernya. Selain melakukan survey EHRA, untuk lebih mendapatkan informasi mengani pengelolaan persampahan di Kabupaten Pati juga dilakukan survei pemberdayaan masyarakat, jender dan kemiskinan (PMJK), PHBS dan promosi higiene. Study PMJK PHBS dan promosi higiene diperlukan untuk menilai partisipasi masyarakat dengan pelibatan peran jender dan kemiskinan dalam pengelolaan sistem sanitasi baik dalam skala kecamatan maupun kabupaten serta prospek pengembangannya di masa depan. Selain itu survei PMJK, PHBS dan promosi higiene mengidentifikasikan Program / Proyek / Layanan Berbasis Masyarakat yang telah dilakukan oleh Kabupaten Pati, LSM, CBO (Community-based Organization) dan masyarakat untuk subsektor persampahan. Adapun hasil dari study PMJK PHBS dan promosi higiene adalah sbb : Tabel 3.44 Pengelolaan persampahan di tingkat kelurahan/kecamatan Jenis kegiatan RT Dikelola oleh Masyarakat Dikelola oleh Sektor Formal di tingkat Kelurahan / Kecamatan Dikelola Pihak Swasta L P L P L P L P Pengumpulan sampah dari rumah - v - v - v v Pemilahan sampah di TPS v - v - v Pengangkutan Sampah ke TPS v - v - v Pengangkutan sampah ke TPA v - v - v - v Pemilahan sampah di TPA v v v v v v - - Para Penyapu Jalan v Sumber : Study PMJK PHBS dan promosi higiene, 2012 RW Keterangan Halaman III.63

64 Jenis Kegiatan Tabel 3.45 Pengelolaan persampahan di tingkat kabupaten Dikelola oleh Kabupaten Dikelola oleh Masyarakat Dikelola oleh Sektor Formal di Tingkat Dikelola Pihak Swasta L P L P L P L P Pengumpulan sampah dari rumah - - v v v Pemilahan sampah di TPS v v Pengangkutan Sampah ke TPS v - v - v Pengangkutan sampah ke TPA v - v - v Pemilahan sampah di TPA v v Para Penyapu Jalan v v Sumber : Study PMJK PHBS dan promosi higiene, 2012 Tabel 3.46 Daftar Program/Proyek Layanan Yang Berbasis Masyarakat No 1 2 Sub Sektor Persampahan Nama Program / Proyek / Layanan TPS 3R Kembang Joyo Kel. Kalidoro Kec. Pati TPS 3R Desa Panjunan Kec. Pati BLH Pelaksana /PJ Awal perencanaan s/d pembangunan tanggung jawab Bappeda Kemudian operasionalnya menjadi tanggung jawab BLH Tahun Mulai Kondisi Sarana Saat ini Fungsi Tidak Fungsi Aspek PMJK Rusak PM JDR MBR 2009 V - - V - V 2008 V V V Pemberian bantuan BLH 3 alat pengomposan metode Takakura Pemberian bantuan BLH 4 komposter Pembangunan TPS BLH 5 3R Desa Winong RW 3 Kec. Pati Sumber : Study PMJK PHBS dan promosi higiene, V V V V 2011 V V V 2011 V V V Pemetaan Media Pemetaan media merupakan upaya pengumpulan dan analisis data primer dan sekunder untuk mendapatkan gambaran tingkat komunikasi di antara stakeholder dan peta media terkait pembangunan sanitasi. Kajian ini diperlukan untuk menyusun strategi kampanye dan komunikasi, di samping juga bermanfaat sebagai sarana advokasi program pembangunan sanitasi ditingkat kabupaten untuk stakeholder kunci, yakni pemerintah dan media massa. Study media dan komunikasi ini juga berfungsi untuk mengidentifikasi tentang pengalaman dan kapasitas Kabupaten Pati dalam menjalankan kampanye / pemasaran sanitasi serta sejauh mana pemahaman mereka mengetahui peran media massa dalam mendukung pembangunan sanitasi. Pada akhirnya kajian ini harus mampu mengidentifikasi media yang efektif dan efisien dalam menjangkau target yang dituju. Hanya dengan cara demikian, kajian ini dapat membantu Kabupaten Pati Halaman III.64

65 dalam menyusun perencanaan media yang baik. Adapun hasil dari kegiatan study media dan komunikasi yang dilaksanakan oleh Pokja Sanitasi Kabupaten Pati adalah sbb : Tabel 3.47 Kegiatan komunikasi yang ada di Kabupaten No Kegiatan Tahun 1. Sosialisasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat Dinas pelaksana BLH Sumber : Study media dan komunikasi, 2012 Tujuan kegiatan Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam pengelolaan sampah Khalayak sasaran Masyarakat Pesan kunci Kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah Pembelajaran Masyarakat memahami arti penting mengelola sampah dan melaksanakan kegiatan tersebut dalam kehidupan sehari-hari Tabel 3.48 Media komunikasi yang ada di Kabupaten Pati No Nama Media Jenis Acara 1. Suara Merdeka Artikel Masalah persampahan, Masalah kebon binatang mini di TPA, Masalah penataan pohon di TPA, Penilaian Adipura 2. Radio Pas FM Wawancara Masalah persampahan, Masalah kebon binatang mini di TPA, Masalah penataan pohon di TPA, Penilaian Adipura Isu yang Diangkat Pesan Kunci Pendapat Media Kesadaran masyarakat TPA sebagai wahana wisata Kabupaten Pati mampu menjaga kebersihan Kesadaran masyarakat TPA sebagai wahana wisata Kabupaten Pati mampu menjaga kebersihan Cukup menarik Cukup menarik 3. TV Simpang 5 Profil TPA TPA Sukoharjo sangat baik untuk dikembangkan menjadi objek wisata 4. Jawa Pos Pemberitaan Infrastruktur sanitasi, pengelo-laan sampah 5. Majalah BMT Artikel Pengelolaan sampah berbasis masyarakat Sumber : Study media dan komunikasi, 2012 Tabel 3.49 Kerjasama terkait Sanitasi Perbaikan Infrastruktur Sanitasi, peningkatan kesadaran masya-rakat dalam mengelola sampah Menumbuhkan budaya mengelola sampah pada masyarakat Kedalamannya memadai Positif No Nama Kegiatan Jenis Kegiatan Sanitasi Mitra Kerja Sama Bentuk Kerjasama 1. Pengadaan tempat sampah Persampahan Bank Jateng In Kind 2. Pengadaan Pakaian kerja Persampahan Bank Jateng In Kind petugas sampah Halaman III.65

66 No Nama Kegiatan Jenis Kegiatan Sanitasi Penyediaan sarana dan Pemberian bantuan 3. prasarana persampahan tempat sampah dan alat pengomposan Peningkatan operasional Membangun pengelolaan persampahan Tempat Pemrosesan 4. Sampah dengan metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle) Sumber : Study media dan komunikasi, 2012 Mitra Kerja Sama BLH BLH Bentuk Kerjasama Masyarakat sebagai pelaksana kegiatan Masyarakat sebagai pelaksana kegiatan Tabel 3.50 Daftar Mitra Potensial No Nama Mitra Jenis Kegiatan Sanitasi Bentuk Kerjasama 1. Limbah Buana Plastik Pengepul sampah Pengurangan timbunan sampah di TPA 2. Safitri Jaya Pengepul sampah Pengurangan timbunan sampah di TPA 3. Garuda Food Bantuan operasional TPS 3R, Bantuan tempat - In Kind sampah pilahan untuk umum 4. Dua Kelinci Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum - In Kind 5. PT. Sinar Indah Kertas Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum - In Kind 6. PG. Trangkil Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum - In Kind 7. Bank Jateng Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum - In Kind 8. Danamon Bantuan tempat sampah di pasar - In Kind 9. BPR BKK Bank Pasar Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum - In Kind 10. BPR BKK Pati Kota Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum - In Kind 11. BNI Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum - In Kind 12. BRI Bantuan tempat sampah pilahan untuk umum - In Kind Sumber : Study media dan komunikasi, Partisipasi Dunia Usaha Untuk memetakan tingkat partisipasi dunia usaha dalam pengelolaan persampahan di Kabupaten Pati, dilakukan Survei Penyedia Layanan Sanitasi (Sanitation Supply Assessment / SSA). Survey ini dibutuhkan untuk mengetahui dengan jelas peta dan potensi penyedia layanan sanitasi di Kabupaten Pati. Penyedia layana sanitasi mencakup beberapa stakeholder, di antaranya : (i) Pemerintah, (ii) Dunia Usaha terkait sanitasi, (iii) LSM/KSM terkait sanitasi, dan (iv) Dunia usaha pada umumnya. Lingkup peran penyedia layanan yang akan dilakukan survey mencakup di antaranya investasi pada pembangunan dan pengoperasian TPA, kontrak pekerjaan penyapuan jalan protokol dan pengangkutan sampah, pengelolaan atau daur ulang sampah 3R, dan lain-lain. Hasil dari survei SSA diharapkan dapat menggambarkan peta penyedia layanan sanitasi serta potensinya dalam pembangunan sanitasi di K abupaten Pati. Hal lain yang lebih penting adalah pada saat pelaksanaan survey akan terjadi proses advokasi kepada para responden. Selanjutnya dari hasil advokasi tersebut diharapkan ada tindak lanjut berupa usaha penggalangan sinergi atau partsipasi antara para penyedia layanan sanitasi tersebut dengan pihak pemerintah. Hingga saat ini, masyarakat dan dunia usaha masih belum banyak yang menggeluti bisnis dibidang persampahan. Padahal apabila dilihat secara lebih detail, sampah dapat menjadi potensi ekonomi yang cukup besar dimasa yang akan datang. Kondisi saat ini, dunia usaha yang menggeluti bidang persampahan adalah usaha pengumpul dan pengepul barang bekas yang berasal dari sampah. Karena belum adanya regulasi yang mengatur mengenai badan hukum usaha ini. Hal inilah yang membuat kekuatan hukum usaha dibidang ini masih lemah dan keberadaannya masih dipandang Halaman III.66

67 sebelah mata. Padahal dengan adanya usaha pengumpul dan pengepul sampah ini akan sangat mengurangi beban TPA sebagai tempat pemprosesan akhir sampah. Untuk dimasa yang akan datang, perlu dibuat regulasi yang mengatur tentang usaha dibidang persampahan, dikarenakan pelaku nantinya akan menangani sampah yang kemungkinan mengandung bahan bahan yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan, sehingga hal tersebut perlu diatur dan diberikan pengetahuan yang cukup bagi pelakunya. Adapun study SSA yang dilakukan pada pengepul sampah di Kabupaten Pati adalah sbb : Tabel 3.51 Penyedia layanan pengelolaan persampahan yang ada di Kabupaten Pati No Nama Provider Tahun mulai operasi Jenis kegiatan a b c d 1 Pengepul Sampah Safitri Jaya 1998 pengepul sampah yaitu usaha pemilahan sampah agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi 2 Pengepul sampah Limbah pengepul sampah yaitu usaha pemilahan sampah agar 2006 Buana Plastik memiliki nilai jual yang lebih tinggi Sumber : Olah data Survei SSA, Pendanaan dan Pembiayaan Untuk mengetahui profil pendanaan dan pembiayaan APBD bidang sanitasi, Pokja Sanitasi Kabupaten Pati telah melakukan study keuangan dan perekonomian. Study ini diperlukan untuk mengetahui profil keuangan dan perekonomian di Kabupaten Pati dalam mendukung pembangunan khususnya di sektor sanitasi serta pola penyerapannya untuk kemudian digunakan mendukung pembiayaan / pendanaan sanitasi di masa depan. Pemetaan keuangan diperlukan untuk mengukur ketepatan alokasi pendanaan / pembiayaan sanitasi dan kesinambungan pelayanan sanitasi di masa depan. Pemetaan keuangan dan perekonomian daerah mencakup di antaranya : APBD dan belanja sanitasi per SKPD, belanja sanitasi per sub sektor, belanja sanitasi perpenduduk, realisasi retribusi sanitasi per subsektor, ruang fiskal dan perekonomian Kabupaten. Khusus untuk penganggaran dibidang persampahan, mengalami fluktuasi yang cukup berarti, namun menunjukkan trend yang naik. Untuk dimasa yang akan datang, belanja sanitasi bidang persampahan harus semakin ditingkatkan, mengingat pelayanan bidang persampahan belum dapat mencakup semua wilayah di Kabupaten Pati. No Subsektor/ SKPD Tabel 3.52 Ringkasan pendapatan dan belanja dari subsektor pengelolaan persampahan Rata-rata Pertumbuh an (%) A Persampahan % Retribusl % B Sampah Sumber : Study keuangan dan perekonomian, Isu strategis dan permasalahan mendesak Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan metode SWOT dapat diketahui isu strategis dan permasalahan mendesak terkait pengelolaan persampahan di Kabupaten Pati yaitu sebagai berikut : a. Kekuatan : 1. Tersedianya lahan TPA yang telah dimiliki Pemerintah Daerah Kabupaten Pati yaitu TPA Sukoharjo, TPA Plosojenar dan TPA Sampok 2. Adanya Perda No.7 tahun 2010 tentang Pengelolaan Sampah Halaman III.67

68 3. Adanya Perda No. 13 tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum dalam hal ini Retribusi Persampahan 4. Telah dimiliknya sarana pengelolaan sampah yang berupa Kendaraan Pengangkut Sampah 5. Adanya tenaga kebersihan yang bertugas melaksanakan pengelolaan sampah yaitu Pasukan Kuning 6. Alokasi dana APBD 7. Adanya TPS b. Kelemahan : 1. Kurangnya Sumber daya manusia 2. Sarpras persampahan kurang 3. Ada TPA masih dengan sistem open dumping 4. Kurangnya Monev 5. Anggaran kurang 6. Sosialisasi Perda Kurang 7. Belum ada Kendaraan pengangkut sampah 3R 8. Belum semua wilayah di Kabupaten Pati terlayani 9. Belum adanya alat ukur timbulan sampah c. Peluang : 1. Penghargaan adipura 2. CSR pihak swasta 3. Adanya tempat sampah 3R 4. Sampah sebagai peluang ekonomi 5. Budaya untuk hidup bersih 6. Adanya kreatifitas, inovasi, improvisasi masyarakat 7. Adanya media tv lokal 8. Adanya media radio 9. Adanya media cetak 10. Adanya pendanaan dari APBN 11. Adanya pendanaan dari APBDProp d. Hambatan : 1. Masyarakat belum tahu Perda sampah 2. Masyarakat belum memilah sampah 3. Masyarakat belum berperan serta mengelola sampah 4. Budaya hidup bersih belum mengakar 5. Masyarakat belum berfikir sampah sebagai bisnis 6. Keengganan masyarakat menjadikan sampah sebagai peluang 3.4 PENGELOLAAN DRAINASE LINGKUNGAN Drainase lingkungan di Kabupaten Pati pada umumnya kondisinya sudah cukup baik, namun masih ada beberapa wilayah / kawasan yang masih rawan terjadi banjir khususnya pada musim hujan. Hal tersebut terjadi karena belum adanya saluran drainase dan kapasitas saluran tidak sebanding dengan debit air yang mengalir.untuk mengatasinya perlu adanya pembangunan saluran drainase, normalisasi, dan memperbesar dimensi saluran drainase. Permasalahan prioritas yang di hadapi terkait pengelolaan drainase lingkungan antara lain ; 1. Terbatasnya anggaran yang tersedia 2. Belum adanya master plan (DED) drainase Kabupaten Pati Halaman III.68

69 3.4.1 Kelembagaan Terkait dengan pengelolaan drainase lingkungan yang menjadi tanggung jawab dari pemerintah daerah, khususnya Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pati. Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Pati Nomor 12 Tahun 2008 tentang organisasi dan tata kerja lembaga teknis daerah dan satuan polisi pamong praja, Dinas Pekerjaan Umum merupakan institusi yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan drainase lingkungan di Kabupaten Pati, oleh karena itu DPU merupakan unsur pendukung tugas Bupati di bidang lingkungan. Berdasarkan Perda tersebut di atas, yang menangani drainase lingkungan di bawah Bidang Tata Kota dan Perdesaan seksi Penyehatan Lingkungan. Adapun struktur organisasi yang ada di DPU adalah sebagai berikut : a. Kepala Dinas; b. Sekretariat, membawahkan : 1. Subbagian Program; 2. Subbagian Keuangan; dan 3. Subbagian Umum dan Kepegawaian. b. Bidang Tata Kota dan Perdesaan, membawahkan : 1. Seksi Tata Ruang; 2. Seksi Air Bersih; dan 3. Seksi Penyehatan Lingkungan. c. Bidang Cipta Karya dan Perumahan, membawahkan : 1. Seksi Tata Bangunan/Gedung; 2. Seksi Permukiman dan Perumahan; dan 3. Seksi Jasa Konstruksi. d. Bidang Kebersihan dan Pertamanan, membawahkan : 1. Seksi Pertamanan; 2. Seksi Kebersihan; dan 3. Seksi Penerangan Jalan. e. Bidang Bina Marga, membawahkan : 1. Seksi Jembatan; 2. Seksi Peralatan; dan 3. Seksi Jalan. f. Bidang Sumber Daya Air, Energi dan Sumber Daya Mineral, membawahkan : 1. Seksi Pembangunan dan Pengairan; 2. Seksi Bina Manfaat; dan 3. Seksi Energi dan Sumber Daya Mineral. g. Unit Pelaksana Teknis Dinas; dan h. Kelompok Jabatan Fungsional. (2) Sekretariat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipimpin oleh Sekretaris yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Dinas. (3) Bidang sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipimpin oleh Kepala Bidang yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Dinas. (4) Subbagian sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipimpin oleh Kepala Subbagian yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepada Sekretaris. (5) Seksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipimpin oleh Kepala Seksi yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Bidang. (6) Unit Pelaksana Teknis Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipimpin oleh Kepala yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepada Kepala Dinas. (7) Kelompok Jabatan Fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dipimpin oleh tenaga fungsional senior yang ditunjuk sebagai ketua kelompok dan bertanggungjawab kepada Kepala Dinas. (8) Bagan Organisasi Dinas Pekerjaan Umum sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Halaman III.69

70 Untuk mendapatkan informasi yang baik mengenai kondisi pengelolaan drainase di Kabupaten Pati, Pokja Sanitasi melakukan kajian k elembagaan dan k ebijakan terhadap pengelolaan sub sektor sanitasi. Kajian ini perlu untuk dilakukan karena sangat dibutuhkan untuk mengetahui dengan jelas gambaran atau peta kondisi kelembagaan sub sektor drainase yang saat ini telah ada di Kabupaten Pati. Dengan adanya peta kelembagaan ini, maka upaya penyusunan kerangka layanan drainase skala kota yang berkelanjutan dapat dikembangkan secara lebih realistis karena didasarkan pada kondisi dan potensi kelembagaan yang benar-benar nyata. Tujuan dilakukannya kajian kelembagaan dan kebijakan adalah : a. Mendeskripsikan peran dan tanggungjawab pemangku kepentingan dalam pembangunan dan pengelolaan drainase di Kabupaten Pati. b. Mendeskripsikan kelengkapan dan kondisi pelaksanaan kebijakan drainase di Kabupaten Pati. Lingkup kajian kelembagaan dan kebijakan mencakup di antaranya: pemetaan pemangku kepentingan dalam pembangunan dan pengelolaan sanitasi, dan pemetaan kebijakan sanitasi kabupaten Pati. Hasil dari kajian ini diharapkan dapat menggambarkan peta kelembagaan dan kebijakan sub sektor drainase di Kabupaten Pati. Adapun hasil dari kajian kelembagaan dan kebijakan di Kabupaten Pati adalah sbb : Halaman III.70

71 Tabel 3.53 Peta Pemangku Kepentingan dalam Pembangunan dan Pengelolaan Drainase Lingkungan PEMANGKU KEPENTINGAN FUNGSI Pemerintah Kabupaten Swasta Masyarakat PERENCANAAN Menyusun target pengelolaan drainase lingkungan skala kabupaten - - Menyusun rencana program drainase lingkungan dalam rangka pencapaian target - - Menyusun rencana anggaran program drainase lingkungan dalam rangka pencapaian target - - PENGADAAN SARANA - - Menyediakan / membangun sarana drainase lingkungan - - PENGELOLAAN Membersihkan saluran drainase lingkungan - - Memperbaiki saluran drainase lingkungan yang rusak - - Melakukan pengecekan kelengkapan utilitas teknis bangunan (saluran drainase lingkungan) dalam pengurusan IMB - - PENGATURAN DAN PEMBINAAN - - Menyediakan advis planning untuk pengembangan kawasan permukiman, termasuk penataan drainase lingkungan di wilayah yang akan dibangun - - Memastikan integrasi sistem drainase lingkungan (sekunder) dengan sistem drainase sekunder dan primer - - Melakukan sosialisasi peraturan, dan pembinaan dalam hal pengelolaan drainase lingkungan - - Memberikan sanksi terhadap pelanggaran pengelolaan drainase lingkungan - - MONITORING DAN EVALUASI - - Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap capaian target pengelolaan drainase lingkungan skala kabupaten - - Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap kapasitas infrastruktur sarana pengelolaan drainase lingkungan - - Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap efektivitas layanan drainase lingkungan, dan atau menampung serta mengelola keluhan atas kemacetan fungsi drainase lingkungan - - Sumber : Olah data kajian kelembagaan dan kebijakan, 2012 Halaman III.71

72 Tabel 3.54 Peta Peraturan Drainase Lingkungan Kabupaten Pati Peraturan DRAINASE LINGKUNGAN Target capaian pelayanan pengelolaan drainase lingkungan di Kabupaten ini Kewajiban dan sanksi bagi Pemerintah Kab dalam menyediakan drainase lingkungan Kewajiban dan sanksi bagi Pemerintah Kab dalam memberdayakan masyarakat dalam pengelolaan drainase lingkungan Kewajiban dan sanksi bagi masyarakat dan atau pengembang untuk menyediakan sarana drainase lingkungan, dan menghubung-kannya dengan sistem drainase sekunder Kewajiban dan sanksi bagi masyarakat untuk memelihara sarana drainase lingkungan sebagai saluran pematusan air hujan Sumber : Olah data kajian kelembagaan dan kebijakan, 2012 Ketersediaan Ada (Sebutkan) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1991 tentang Sungai; Tidak Ada Efektif Dilaksanakan Pelaksanaan Belum Efektif Dilaksanakan Tidak Efektif Dilaksanakan Ket. Halaman III.72

73 3.4.2 Sistem dan Cakupan Pelayanan Perencanaan pembangunan drainase di prioritaskan di kawasan yang kumuh, padat penduduk dan miskin. Peta 3.11 Peta jaringan drainase Kabupaten Pati Halaman III.73

74 Guna memetakan kondisi riil mengenai sistem pengelolaan drainase dan teknologi yang digunakannya, maka Pokja Sanitasi melakukan identifikasi dengan menggunakan metode diagram sistem sanitasi. Diharapkan dengan menggunakan metode ini, dapat diketahui berbagai sistem yang saat ini masih digunakan oleh Pemda maupun masyarakat dalam pengelolaan drainase, sehingga nantinya dapat dijadikan rekomendasi perbaikan sistem pengelolaan drainase dimasa yang akan datang. Adapun hasil kajian menggunakan metode diagram sistem sanitasi adalah sbb : No Input User Interface Tabel 3.55 Diagram Sistem Sanitasi pengelolaan drainase lingkungan Penam pungan Awal 1 Grey water Kamar mandi Saluran Tersier Saluran sekunder 2 Grey Kamar Saluran Saluran water mandi Tersier sekunder 3 Grey Kamar Saluran water mandi Tersier 4 Air Air hujan / Saluran Saluran hujan Jalan Tersier sekunder 5 Grey Kamar Saluran Saluran water mandi Tersier sekunder 6 Air Air hujan / Saluran Saluran hujan Jalan Tersier sekunder 7 Grey Kamar water mandi Sumber : Diagram sistem sanitasi, 2012 Pengaliran Pengolahan Akhir Pembu angan/ Daur Ulang Kode/ Nama Aliran Keterangan /Lokasi Sungai AL 1 Dekat Sungai Genangan AL 2 Tidak di lewati sungai Batangan, Jakenan Genangan AL 3 Tidak ada sungai, tidak ada sal sekunder Sungai AL 4 Dekat sungai Saluran irigasi AL 5 Ds kalidoro, Dosoman Pati Saluran AL 6 Ds kalidoro, Dosoman irigasi Pati Genangan AL 7 Pedesaan Tabel 3.56 Sistem pengelolaan drainase yang ada di Kabupaten Pati Kelompok Fungsi Teknologi yang Jenis Data (Perkiraan) Nilai digunakan Sekunder Data Sumber Data a b c d e Pembuangan / daur ulang Saluran induk Panjang 59,703 Km Renstra DPU Sungai Panjang 1,138,043 Km Renstra DPU Jumlah 93 Buah Renstra DPU Pengaliran Saluran sekunder Panjang 558,202 Km Renstra DPU Penampungan awal Saluran tersier Panjang 1,078,440 Km Renstra DPU User interface Kamar mandi Jumlah 157,186 Rumah Dinkes kab pati Sumber : Diagram sistem sanitasi, Kesadaran Masyarakat dan PMJK Kesadaran masyarakat dalam pembangunan drainase di Kabupaten Pati cukup tinggi. Mereka sudah sadar akan pentingnya drainase dalam hal mencegah banjir. Sebagian masyarakat juga dengan kesadaran sendiri ikut membersihkan drainase di lingkungan tempat tinggal mereka. Untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi drainase di Kabupaten Pati, Pokja Sanitasi melakukan study EHRA yang mencakup 406 desa / kelurahan di Kabupaten Pati. Penilaian baik atau buruknya drainase suatu wilayah biasanya dilihat dari kejadian banjir yang terjadi diwilayah tersebut. Adapun data mengenai kejadian banjir di rumah dan lingkungan tempat tinggal hasil study EHRA adalah sbb : Halaman III.74

75 No Tabel 3.57 Kejadian banjir di rumah dan lingkungan tempat tinggal Kejadian banjir di rumah dan lingkungan tempat tinggal Jumlah yang menjawab Ya % Jumlah Responden 1 Tidak pernah Sekali dalam setahun Beberapa kali dalam setahun Sekali atau beberapa kali dalam sebulan Tidak tahu Sumber : Olah data survey EHRA, 2012 Berdasarkan survey EHRA, dari masyarakat yang mengalami kejadian banjir menyatakan bahwa kejadian banjir yang rutin sebesar responden atau 11,6% sedangkan yang tidak rutin sebesar atau 12,9%. Kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sanitasi juga harus mendapatkan perhatian. Berdasarkan data survey EHRA, belum semua masyarakat terbebas dari genangan yang diakibatkan oleh buruknya drainase di masing-masing rumah. Adapun data mengenai genangan yang terjadi di rumah adalah sbb : Asal genangan Tabel 3.58 Sumber genangan Jawaban responden YA % TIDAK % Jumlah Responden Air limbah kamar mandi Air limbah dapur Hujan Air limbah dari sumber lain Tidak tahu / tidak pasti Sumber : Olah data survey EHRA, 2012 Adanya genangan di rumah tersebut lebih disebabkan karena faktor perilaku masyarakat yang belum memahami pengelolaan drainase dan resiko yang akan muncul apabila terjadi genangan dirumah. Faktor penyebab genangan yang terjadi di rumah berdasarkan survey EHRA kepada responden menyatakan bahwa halaman bersih dari benda yang dapat menyebabkan air tergenang sebanyak responden atau 90% sementara yang kondisi halaman rumahnya penuh dengan benda yang dapat menyebabkan air tergenang sebanyak responden atau 9,7%. Munculnya genangan juga dapat diakibatkan oleh kondisi sarana dan prasarana drainase, dalam hal ini kondisi saluran pembuangan air limbah rumah tangga. Berdasarkan data survey EHRA mengenai apakah air dalam saluran dapat mengalir didapatkan hasil sbb : Halaman III.75

76 Tabel 3.59 Kondisi air dalam saluran air No Apakah air di saluran dapat mengalir Jumlah % Jumlah Responden 1 YA TIDAK Tidak dapat dipakai / saluran kering Tidak ada saluran Sumber : Olah data survey EHRA, 2012 Faktor perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran drainase juga sangat berpengaruh terhadap terjadinya genangan. Kebiasaan masyarakat membuang sampah di saluran drainase juga dapat menyebabkan genangan bahkan pada musim penghujan dapat menyebabkan banjir. Berdasarkan survey EHRA, perilaku masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran drainase dapat disajikan dalam tabel sbb : No Tabel 3.60 Kebersihan saluran dari sampah Apakah saluran air bersih dari sampah Jumlah yang menjawab % Jumlah Responden 1 YA, bersih atau hampir selalu bersih dari sampah , Tidak bersih dari sampah, tapi air masih dapat mengalir , Tidak bersih dari sampah, saluran tersumbat 604 3, Tidak bersih dari sampah, tapi saluran kering 659 4, Tidak ada saluran , Sumber : Olah data survey EHRA, 2012 Untuk melihat lebih jauh mengenai peran masyarakat dalam penanganan drainase di Kabupaten Pati, maka Pokja Sanitasi Kabupaten Pati melakukan survei pemberdayaan masyarakat jender dan kemiskinan (PMJK) dan promosi higiene. Survey ini diperlukan untuk menilai partisipasi masyarakat dengan pelibatan peran jender dan kemiskinan dalam pengelolaan drainase baik dalam skala kelurahan, kecamatan maupun kabupaten serta prospek pengembangannya di masa depan. Survei PMJK dan promosi higiene berusaha untuk dapat mengidentifikasikan program/proyek/layanan berbasis masyarakat yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pati, LSM, CBO (Communitybased Organization) dan masyarakat untuk subsektor drainase lingkungan. Adapun hasil dari kegiatan tersebut adalah sbb : Halaman III.76

77 No Kelurahan / Desa Jumlah Tabel 3.61 Kondisi drainase lingkungan ditingkat kecamatan / kelurahan Kondisi Drainase Saat Ini Pembersihan Drainase Pengelola oleh Bangunan Di Atas Saluran Masyarakat (RT /RW) Swasta Ada Tidak Ada RT RW Lancar Mampet Rutin Tidak Rutin Pemerintah Kelurahan Kab L P L P L P 1 Panjunan Gajahmati Mustokoharjo Semampir Pati Wetan Blaru Pati Kidul Plangitan Puri Winong Ngarus Pati Lor Parenggan Sidoharjo Kalidoro Sarirejo Geritan Dengkek Sugiharjo Widorokandang Payang Kutoharjo Sidokerto Mulyoharjo Tambaharjo Tambahsari Ngepungrojo 7 31 Halaman III.77

78 No Kelurahan / Desa Jumlah Kondisi Drainase Saat Ini Pembersihan Drainase Pengelola oleh Bangunan Di Atas Saluran Masyarakat (RT /RW) Swasta Ada Tidak Ada RT RW Lancar Mampet Rutin Tidak Rutin Pemerintah Kelurahan Kab L P L P L P 28 Purworejo Sinoman Sejomulyo Bringin Ketip Pekuwon Karang Karangrejo Bumirejo Kedungpancing Jepuro Tluwah Doropayung Mintomulyo Gadingrejo Margomulyo Langgenharjo Genengmulyo Agungmulyo Bakaran Kulon Bakaran Wetan Dukutalit Growong Kidul Growong Lor Kauman Pajeksan Kudukeras Kebonsawahan Bajomulyo Bendar 5 15 Halaman III.78

79 No Kelurahan / Desa Jumlah Kondisi Drainase Saat Ini Pembersihan Drainase Pengelola oleh Bangunan Di Atas Saluran Masyarakat (RT /RW) Swasta Ada Tidak Ada Rutin Tidak Rutin Pemerintah RT RW Lancar Mampet Kelurahan Kab L P L P L P 58 Trimulyo 4 17 Sumber : Survey PMJK, promkes dan higiene, 2012 Tabel 3.62 Daftar Program/Proyek Layanan Yang Berbasis Masyarakat Sub Sektor No Nama Program/Proyek/Layanan Kondisi Sarana Saat Aspek PMJK Pelaksana Tahun Ini / PJ mulai Tdk Fungsi Rusak PM JDR MBR Fungsi Drainase 1 Perbaikan saluran Desa Ngarus, Kec. Pati DPU Perbaikan saluran kompleks perumahan Rendole Blok F Desa 2011 DPU - - Muktiharjo Perbaikan saluran Ds. Sukoharjo Gapuro depan RS KSH Pati Kec DPU - - Margorejo Perbaikan saluran Ds. Panjunan RT 10/ RW 02 Tembus Jl. Provinsi 2011 DPU - - Kec. Pati Perbaikan saluran Desa Raci kec. Batangan DPU Perbaikan saluran Desa Kuniran kec. Batangan DPU Perbaikan saluran Desa Bulumanis Kidul RT 2 RW II Kec. Margoyoso DPU Perbaikan Saluran Kompleks Eks Stasiun Kereta Api Ds. Puri Kec. Pati DPU Perbaikan Saluran Jl Melati Perumda Sukoharjo Kec. Margorejo DPU Perbaikan saluran Ds. Soneyan Kec. Margoyoso DPU Perbaikan saluran Ds. Lengkong Kec. Batangan DPU Perbaikan saluran Ds. Ketitang Wetan Kec. Batangan DPU Perbaikan saluran Ds. Bogotanjung Kec. Gabus DPU Perbaikan saluran Ds. Puncel Kec. Dukuhseti DPU Perbaikan saluran Ds. Pecangaan Kec. Batangan DPU Halaman III.79

80 Sub Sektor No Nama Program/Proyek/Layanan Kondisi Sarana Saat Aspek PMJK Pelaksana Tahun Ini / PJ mulai Tdk Fungsi Rusak PM JDR MBR Fungsi 16 Perbaikan Saluran Ds. Tamansari Kec. Pati (Sisa dana DAK 2010) DPU Normalisasi Saluran Drainase dan Gorong-gorong Jalan Ds DPU - - Tondomulyo Jakenan Drainase Ds. Dadirejo Margorejo DPU Normalisasi Saluran Drainase dan Gorong-gorong Jalan Ds DPU - - Tondomulyo Jakenan Drainase Desa Bakaran Kulon DPU Drainase Ds. Alasdowo DPU Drainase Ds. Kudukeras Juwana DPU Drainase Ds. Jatiroto Kayen DPU Sanitasi Desa Lengkong DPU Sanitasi Desa Bumimulyo DPU Sanitasi Desa Kuniran DPU Saluran Air Desa Pecangaan DPU Drainase Desa Batursari DPU Drainase Desa Mangunlegi DPU Drainase Desa Puncel DPU Drainase Desa Kalidoro DPU Sumber : Survey PMJK, promkes dan higiene, 2012 Keterangan: PM = Pemberdayaan Masyarakat JDR = Jender MBR= Masyarakat Berpenghasilan Rendah Halaman III.80

81 3.4.4 Pemetaan Media Untuk melakukan sosialisasi, kampanye dan advokasi mengenai pengelolaan drainase, diperlukan upaya untuk mengumpulkan dan menganalisis data primer dan sekunder untuk mendapatkan gambaran tingkat komunikasi di antara stakeholder dan peta media terkait pembangunan bidang drainase. Identifikasi yang tepat tentang pengalaman dan kapasitas stakeholder di Kabupaten Pati dalam menjalankan kampanye / pemasaran pengelolaan drainase serta sejauh mana pemahaman media massa dalam mendukung pembangunan dibidang drainase, akan menentukan perencanaan kedepan mengenai pembangunan drainase. Berdasarkan study media dan komunikasi yang telah dilaksanakan oleh Pokja Sanitasi Kabupaten Pati, diperoleh data sbb : No Kegiatan Tahun Sarasehan Pengelolaan lingkungan Leaflet Tentang Tata laksana permohonan ijin pembuangan air limbah industri ke sungai / badan air Sosialisasi SLBM Radio talk show Tabel 3.63 Kegiatan komunikasi yang ada di Kabupaten Dinas pelaksana 2012 BLH 2009 BLH 2011 DPU Setiap tahun Bappeda Sumber : Study media dan komunikasi, 2012 Tujuan kegiatan Sebagai wahana untuk penyampaian aspirasi masyarakat sebagai pelaku dalam pengelolaan lingkungan Sebagai media untuk menyampaikan informasi kepada pelaku industri dalam mengajukan ijin pembuangan air limbah industri Pengenalan konsep sanitasi lingkungan berbasis masyarakat (SLBM) Masyarakat Sosialisasi dan pembahasan isu isu strategis yang berkembang di Kabupaten Pati Khalayak Pesan sasaran kunci Media komunikasi antar instansi pemerintah dan Masyarakat masya-rakat dalam mengelola lingkungan Aturan pengajuan ijin pembuangan air limbah industri ke Pelaku badan industri air/sungai Masyarakat Permasalahan sanitasi terutama drainase harus menjadi perhatian seluruh masyarakat Masyarakat memahami program pemerintah Pembelajaran Memberikan Pemahaman kepada semua pihak dalam mengelola lingkungan Memberikan pemahaman kepada pelaku industri dalam mengelola air limbahnya Memberikan pemahaman mengenai kerjasama dalam penyelesaian masalah drainase Masyarakat dapat ikut memberikan wawasan, pendapat mengenai program / kegiatan Halaman III.81

82 Tabel 3.64 Media komunikasi yang ada di Kabupaten Pati No Nama Media Jenis Acara Isu yang Diangkat Pesan Kunci Pendapat Media 1 Warta Jateng Artikel Sanimas Keterlibatan Masyarakat Positif Jawa Pos Pemberitaan Infrastruktur Perbaikan Infrastruktur Sanitasi, Kedalamannya 2 sanitasi, peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah memadai pengelolaan sampah Harbos FM Talk Show Cuci Tangan Pakai Sabun PAS FM Talk Show Pengelolaan lingkungan Majalah BMT Artikel Pengelolaan sampah berbasis masyarakat Simpanglima TV Sumber : Study media dan komunikasi, 2012 Mendorong Pentingnya CTPS Menumbuhkan perilaku/budaya hidup bersih pada masyarakat Menumbuhkan budaya mengelola sampah pada masyarakat Pemberitaan PPSP Ajakan kepada stakeholder, masyarakat dan swasta untuk lebih peduli kepada sanitasi Positif Sangat mendalam dan Partisipatif Positif Sangat mendalam dan Partisipatif Positif Positif Tabel 3.65 Kerjasama terkait Sanitasi No Nama Kegiatan Jenis Kegiatan Sanitasi Mitra Kerja Sama Bentuk Kerjasama 1 2 Sosialisasi SLBM Sosialisasi PNPM Perkotaan Sumber : Study media dan komunikasi, 2012 Pengenalan konsep SLBM dalam pembangunan drainase dan limbah domestik Pengenalan konsep pemberdayaan masyarakat dalam penanganan sanitasi lingkungan dalam pembangunan drainase Lembaga Keswadayaan Masyarakat (LKM) Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Melibatkan LKM dalam perencanaan, pelaksanaan dan monev pembangunan drainase Bantuan teknis bangunan drainase Tabel 3.66 Daftar Mitra Potensial No Nama Mitra Jenis Kegiatan Sanitasi Bentuk Kerjasama 1. Unilever 2. Garuda Food 3. Dua Kelinci 4. PT. Sinar Indah Kertas Kerjasama pembangunan drainase lingkungan, bekerjasama dengan LKM dilokasi sasaran SLBM Kerjasama pembangunan drainase lingkungan, bekerjasama dengan LKM dilokasi sasaran SLBM Kerjasama pembangunan drainase lingkungan, bekerjasama dengan LKM dilokasi sasaran SLBM Kerjasama pembangunan drainase lingkungan, bekerjasama dengan LKM dilokasi sasaran SLBM Bantuan pendanaan Bantuan pendanaan Bantuan pendanaan Bantuan pendanaan Halaman III.82

83 No Nama Mitra Jenis Kegiatan Sanitasi Bentuk Kerjasama 5. PG. Trangkil 6. Bank Jateng 7. Danamon 8. BPR BKK Bank Pasar 9. BPR BKK Pati Kota 10. BNI 11. BRI Kerjasama pembangunan drainase lingkungan, bekerjasama dengan LKM dilokasi sasaran SLBM Kerjasama pembangunan drainase lingkungan, bekerjasama dengan LKM dilokasi sasaran SLBM Kerjasama pembangunan drainase lingkungan, bekerjasama dengan LKM dilokasi sasaran SLBM Kerjasama pembangunan drainase lingkungan, bekerjasama dengan LKM dilokasi sasaran SLBM Kerjasama pembangunan drainase lingkungan, bekerjasama dengan LKM dilokasi sasaran SLBM Kerjasama pembangunan drainase lingkungan, bekerjasama dengan LKM dilokasi sasaran SLBM Kerjasama pembangunan drainase lingkungan, bekerjasama dengan LKM dilokasi sasaran SLBM 12. PNPM Perdesaan Pembangunan saluran drainase 13. PNPM Perkotaan Pembangunan saluran drainase 14. PT. Jati Agung Pembangunan drainase dilingkungan perumahan Sumber : Study media dan komunikasi, 2012 Bantuan pendanaan Bantuan pendanaan Bantuan pendanaan Bantuan pendanaan Bantuan pendanaan Bantuan pendanaan Bantuan pendanaan Pembangunan drainase lingkungan Pembangunan drainase lingkungan Pembangunan drainase lingkungan Partisipasi Dunia Usaha Survei Penyedia Layanan Sanitasi (Sanitation Supply Assessment) dibutuhkan untuk mengetahui dengan jelas peta dan potensi penyedia layanan drainase di Kabupaten Pati. Penyedia layana sanitasi mencakup beberapa stakeholder, di antaranya : a. Pemerintah, b. Dunia Usaha terkait sanitasi, c. LSM/KSM terkait sanitasi, d. Dunia usaha pada umumnya. Hasil dari survei ini diharapkan dapat menggambarkan peta penyedia layanan drainase serta potensinya dalam pembangunan drainase di K abupaten Pati. Hal lain yang lebih penting adalah pada saat pelaksanaan survey juga terjadi proses advokasi kepada para responden. Selanjutnya dari hasil advokasi tersebut akan dilakukan tindak lanjut berupa usaha penggalangan sinergi atau partisipasi antara para penyedia layanan drainase tersebut dengan pihak pemerintah. Adapun hasil dari survey SSA adalah sbb : Tabel 3.67 Penyedia layanan drainase yang ada di Kabupaten Pati No Nama Provider Tahun mulai operasi Jenis kegiatan 1 PT. Jati Agung 1989 Pembangunan drainase di kawasan perumahan 2 PT. Griya Wijaya Mukti 2000 Pembangunan drainase di kawasan perumahan 3 Perum Perumnas 1986 Pembangunan drainase di kawasan perumahan 4 PT. Kawasan Margorejo Persada 2008 Pembangunan drainase di kawasan perumahan Sumber : Survey SSA, 2012 Halaman III.83

84 3.4.6 Pendanaan dan Pembiayaan Tabel 3.68 Ringkasan pendapatan dan belanja dari subsektor pengelolaan drainase No Subsektor/SKPD Rata-rata Pertum buhan (%) A Drainase ,16 B Retribusl Drainase Lingkungan Sumber : Realisasi APBD Kabupaten Pati Isu strategis dan permasalahan mendesak Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan metode SWOT dapat diketahui isu strategis dan permasalahan mendesak terkait pengelolaan Drainase di Kabupaten Pati yaitu sebagai berikut : a. Kekuatan : 1. Sudah ada pendanaan dari APBD dan DAK (APBN) 2. Sudah memiliki SDM sesuai keahliannya. 3. Telah melibatkan masyarakat dalam kegiatannya Alokasi dana APBD 4. Melakukan Perencanaan/Desain sesuai NSPM yang ada b. Kelemahan : 1. Sumber dana belum sesuai kebutuhan 2. SDM sudah ada tetapi secara kuantitas belum mencukupi 3. Belum adanya PERDA terkait drainase 4. Belum adaya Master Plan menyeluruh terkait drainase c. Peluang : 1. Adanya anggaran APBN 2. Adanya anggaran APBD Provinsi 3. Adanya anggaran dana LOAN (program USRI) 4. Masyarakat ikut berpartisipasi aktif dalam pengelolaan drainase lingkungan d. Hambatan : 1. Perilaku masyarakat sangat rendah dalam memelihara drainase lingkungan 2. Kurangnya lahan untuk lokasi sarana dan prasarana drainase 3. Belum adanya master plan drainase mempengaruhi turunnya bantuan dana 3.5 PENGELOLAAN KOMPONEN TERKAIT SANITASI Pengelolaan Air Bersih Berkaitan dengan pengelolaan air bersih, di Kabupaten Pati telah ditetapkan peraturan Bupati Pati No. 62 tahun 2011 tentang Rencana Aksi Daerah Penyediaan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan Kabupaten Pati Tahun Rencana Aksi Daerah Penyediaan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (RAD-AMPL) Kabupaten Pati berperan sebagai rencana pengembangan kapasitas daerah untuk perluasan program pelayanan air minum dan penyehatan lingkungan serta pengadopsian pendekatan AMPL berbasis masyarakat selama 2011 sampai dengan 2015 dalam rangka mendukung percepatan pencapaian tujuan pembanguan millennium. Kabupaten Pati memiliki jumlah sungai yang cukup banyak jumlahnya, yaitu terdapat 111 sungai/kali yang tersebar merata di seluruh wilayah. Ada beberapa sungai yang memiliki mata air, akan tetapi banyak juga yang tidak, yaitu bersumber dari drainase kota saja. Mata air sungai-sungai umumnya Halaman III.84

85 bersumber dari mata air Gunung Muria, khususnya sungai-sungai yang terdapat di Wilayah Utara Kabupaten Pati. Selain sungai, terdapat juga bangunan-bangunan utama sebagai penampung air maupun sumber air sebagai upaya pemenuhan sumber daya air di Kabupaten Pati yang terdiri dari waduk 2 (dua) buah, bendung tetap 201 buah, bendung gerak 12 buah, pengambilan bebas 188 buah, mata air 36 buah yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Pati Pelayanan Air Bersih Pemenuhan air bersih bagi masyarakat di Kabupaten Pati sebagian besar masih menggunakan sumur gali sebagai sumber air bersih, yaitu sebesar KK. Hal ini menunjukkan bahwa belum semua wilayah di Kabupaten Pati dapat terlayani oleh sistem perpipaan dalam pemenuhan air bersihnya. Untuk lebih jelasnya mengenai sumber air bersih bagi masyarakat di Kabupaten Pati terlihat pada tabel dibawah ini. Grafik 3.9 Prosentasi akses air bersih 49,5 25,3 14,3 9,7 0,9 0,2 SGL SPT PP PAH SA Lain-lain Keterangan : SGL = sumur gali PP = perpipaan SA = sumur artesis SPT = sumur pompa tangan PAH = penampungan air hujan Halaman III.85

BAB 3 PROFIL SANITASI KABUPATEN PATI

BAB 3 PROFIL SANITASI KABUPATEN PATI BAB 3 PROFIL SANITASI KABUPATEN PATI 3.1 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Promosi Higiene PHBS adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang

Lebih terperinci

Lampiran 1: Hasil Kajian Aspek Non Teknis dan Lembar Kerja Area Berisiko

Lampiran 1: Hasil Kajian Aspek Non Teknis dan Lembar Kerja Area Berisiko Lampiran 1: Hasil Kajian Aspek Non Teknis dan Lembar Kerja Area Berisiko Lampiran 1.1: Struktur Organisasi Daerah dan Keuangan Daerah No Realisasi Anggaran Tahun 2010 2011 2012 2013 2014 Rata2 pertumbuhan

Lebih terperinci

Profil Sanitasi Wilayah

Profil Sanitasi Wilayah BAB 3 Profil Sanitasi Wilayah 3.1. Kajian Wilayah Sanitasi Wilayah kajian sanitasi Kabupaten Nias adalah desa yang menjadi area sampel studi EHRA (Environmental Health Risk Assessment) yang terdiri dari

Lebih terperinci

HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DIARE DI KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG.

HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DIARE DI KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG. JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT, Volume 1, Nomor 2, Tahun 2012, Halaman 922-933 Online di http://ejournals1.undip.ac.id/index.php/jkm HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan musim hujan. Tata kota yang kurang menunjang mengakibatkan sering

BAB I PENDAHULUAN. dan musim hujan. Tata kota yang kurang menunjang mengakibatkan sering BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia mengalami dua musim setiap tahun, yaitu musim kemarau dan musim hujan. Tata kota yang kurang menunjang mengakibatkan sering terjadinya banjir di beberapa daerah.

Lebih terperinci

Ringkasan Studi EHRA Kabupaten Malang Tahun 2016

Ringkasan Studi EHRA Kabupaten Malang Tahun 2016 Ringkasan Studi EHRA Studi EHRA (Environmental Health Risk Assessment) atau dapat juga disebut sebagai Studi Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan, merupakan sebuah studi partisipatif di tingkat Kabupaten/Kota

Lebih terperinci

Bab 3: Profil Sanitasi Wilayah

Bab 3: Profil Sanitasi Wilayah Bab 3: Profil Sanitasi Wilayah Tabel 3.1: Rekapitulasi Kondisi fasilitas sanitasi di sekolah/pesantren (tingkat sekolah: SD/MI/SMP/MTs/SMA/MA/SMK) (toilet dan tempat cuci tangan) Jumlah Jumlah Jml Tempat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. keberhasilan pembangunan bangsa. Untuk itu, pembangunan kesehatan di arahkan

BAB 1 PENDAHULUAN. keberhasilan pembangunan bangsa. Untuk itu, pembangunan kesehatan di arahkan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan adalah hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk keberhasilan pembangunan bangsa. Untuk itu, pembangunan kesehatan di arahkan untuk mencapai Indonesia

Lebih terperinci

PENURUNAN ANGKA KESAKITAN DAN KEMATIAN MELALUI PENERAPAN PHBS

PENURUNAN ANGKA KESAKITAN DAN KEMATIAN MELALUI PENERAPAN PHBS PENURUNAN ANGKA KESAKITAN DAN KEMATIAN MELALUI PENERAPAN PHBS BAMBANG PRIHUTOMO, SKM., MPH. Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Kemitraan Bidang Kemitraan dan Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kab.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. waktu terjadi pasang. Daerah genangan pasang biasanya terdapat di daerah dataran

PENDAHULUAN. waktu terjadi pasang. Daerah genangan pasang biasanya terdapat di daerah dataran PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Daerah genangan pasang adalah daerah yang selalu tergenang air laut pada waktu terjadi pasang. Daerah genangan pasang biasanya terdapat di daerah dataran rendah di dekat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk berperilaku hidup

BAB I PENDAHULUAN. menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk berperilaku hidup BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Salah satu misi pembangunan kesehatan di Indonesia adalah menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti yang rutin

Lebih terperinci

secara sosial dan ekonomis (Notoatmodjo, 2007).

secara sosial dan ekonomis (Notoatmodjo, 2007). BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sehat adalah kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia. Kepentingan kesegaran jasmani dalam pemeliharaan kesehatan tidak diragukan lagi, semakin tinggi tingkat kesehatan,

Lebih terperinci

ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2

ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2 ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2 Lintang Sekar Langit lintangsekar96@gmail.com Peminatan Kesehatan Lingkungan,

Lebih terperinci

KUESIONER SURVEY MAWAS DIRI

KUESIONER SURVEY MAWAS DIRI I. IDENTITAS RESPONDEN Nama Responden : Alamat : Tanggal Wawancara : KUESIONER SURVEY MAWAS DIRI II. DATA KELUARGA 1. Nama KK :... 2. Umur :... 3. Jenis Kelamin : L / P 4. Agama : 5. Pendidikan :... 6.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dipelihara dan ditingkatkan. Hendrik L. Bloom dalam Notoadmojo (2007)

BAB I PENDAHULUAN. dipelihara dan ditingkatkan. Hendrik L. Bloom dalam Notoadmojo (2007) BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan adalah hak dasar manusia yang merupakan karunia tuhan yang sangat tinggi nilainya. Kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan kualitas

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sampel 343 KK. Adapun letak geografis Kecamatan Bone sebagai berikut :

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. sampel 343 KK. Adapun letak geografis Kecamatan Bone sebagai berikut : BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1.1 Hasil Penelitian 1. Gambaran Lokasi penelitian Lokasi penelitian ini di wilayah Kecamatan Bone, Kabupaten Bone Bolango. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi

Lebih terperinci

BUPATI PROBOLINGGO PERATURAN BUPATI PROBOLINGGO NOMOR : 27 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT

BUPATI PROBOLINGGO PERATURAN BUPATI PROBOLINGGO NOMOR : 27 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT BUPATI PROBOLINGGO PERATURAN BUPATI PROBOLINGGO NOMOR : 27 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PROBOLINGGO, Menimbang : a. Bahwa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengertian sehat sesuai dengan UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengertian sehat sesuai dengan UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan BAB 1 PENDAHULUAN 1.2. Latar Belakang Pengertian sehat sesuai dengan UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, dan spiritual yang memungkinkan setiap orang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Organization/WHO), sekitar 2,2 juta orang meninggal dunia setiap tahunnya

BAB 1 PENDAHULUAN. Organization/WHO), sekitar 2,2 juta orang meninggal dunia setiap tahunnya BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usia sekolah merupakan usia penting dalam pertumbuhan dan perkembangan fisik anak. Periode ini juga disebut sebagai periode kritis karena pada masa ini anak mulai mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi semua manusia

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi semua manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi semua manusia karena tanpa kesehatan yang baik, maka setiap manusia akan sulit dalam melaksanakan aktivitasnya sehari-hari.

Lebih terperinci

BAB IV PROGRAM PENGEMBANGAN SANITASI SAAT INI DAN YANG DIRENCANAKAN

BAB IV PROGRAM PENGEMBANGAN SANITASI SAAT INI DAN YANG DIRENCANAKAN BAB IV PROGRAM PENGEMBANGAN SANITASI SAAT INI DAN YANG DIRENCANAKAN Akses terhadap layanan sanitasi yang layak merupakan hak asasi bagi manusia, untuk itu penyediaan layanan sanitasi yang baik dan mudah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bersamaan dengan masuknya milenium baru, Departemen Kesehatan. telah mencanangkan Gerakan Pembangunan Berwawasan kesehatan yang

BAB I PENDAHULUAN. Bersamaan dengan masuknya milenium baru, Departemen Kesehatan. telah mencanangkan Gerakan Pembangunan Berwawasan kesehatan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut WHO setiap tahunnya sekitar 2,2 juta jiwa di Negara-negara berkembang terutama anak-anak meninggal dunia akibat berbagai penyakit yang disebabkan oleh kurangnya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam kebijakan Indonesia sehat 2010 ( Dinkes Makassar, 2006 )

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam kebijakan Indonesia sehat 2010 ( Dinkes Makassar, 2006 ) BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sehat merupakan karunia Tuhan yang perlu disyukuri, karena kesehatan merupakan hak asasi manusia yang harus dihargai. Sehat, perilaku sehat dan pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Adapun lokasi dan waktu penelitian ini yakni sebagai berikut :

BAB III METODE PENELITIAN. Adapun lokasi dan waktu penelitian ini yakni sebagai berikut : BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Adapun lokasi dan waktu penelitian ini yakni sebagai berikut : 3.1.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini bertempat di Desa Tunas Jaya Kec Popayato

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di Indonesia hingga saat ini penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hal ini dapat dilihat dengan makin meningkatnya angka kesakitan diare

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN juta kematian/tahun. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka

BAB I PENDAHULUAN juta kematian/tahun. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diare sampai saat ini merupakan penyebab kematian di dunia, terhitung 5-10 juta kematian/tahun. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sekolah merupakan tempat yang strategis dalam kehidupan anak, maka sekolah dapat difungsikan secara tepat sebagai salah satu institusi yang dapat membantu dan berperan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak pada hakikatnya merupakan aset terpenting dalam tercapainya keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa selanjutnya. Derajat kesehatan anak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Target Millenium Development Goals (MDGs) ke-7 adalah setiap negara

BAB I PENDAHULUAN. Target Millenium Development Goals (MDGs) ke-7 adalah setiap negara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Target Millenium Development Goals (MDGs) ke-7 adalah setiap negara memastikan keberlanjutan lingkungan hidup, untuk itu setiap negara harus dapat mengurangi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa pengertian kaitannya dengan PHBS adalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Beberapa pengertian kaitannya dengan PHBS adalah 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) 2.1.1 Pengertian Beberapa pengertian kaitannya dengan PHBS adalah 1) Perilaku Sehat adalah pengetahuan, sikap, dan tindakan proaktif

Lebih terperinci

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 78 TAHUN 2017 TENTANG PEMBINAAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI KABUPATEN PATI

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 78 TAHUN 2017 TENTANG PEMBINAAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI KABUPATEN PATI SALINAN BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 78 TAHUN 2017 TENTANG PEMBINAAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI KABUPATEN PATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI, Menimbang

Lebih terperinci

BAB 3 GAMBARAN UMUM Gambaran Umum Kabupaten Pati

BAB 3 GAMBARAN UMUM Gambaran Umum Kabupaten Pati BAB 3 GAMBARAN UMUM 3.1. Gambaran Umum Kabupaten Pati Kabupaten Pati merupakan salah satu dari 35 daerah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah 150.368 Ha. Secara administratif terbagi

Lebih terperinci

BAB 5 PENUTUP Kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis pada bab sebelumnya, dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut:

BAB 5 PENUTUP Kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis pada bab sebelumnya, dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu sebagai berikut: BAB 5 PENUTUP Dengan menggunakan Data Envelopment Analysis (DEA), dapat diketahui nilai efisiensi relatif 29 puskesmas di Kabupaten Pati. Nilai efisiensi tersebut akan menunjukkan puskesmas mana yang beroperasi

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MOTIVASI KELUARGA UNTUK MELAKUKAN PROGRAM PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI DESA MANGUNHARJO JATIPURNO WONOGIRI

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MOTIVASI KELUARGA UNTUK MELAKUKAN PROGRAM PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI DESA MANGUNHARJO JATIPURNO WONOGIRI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN MOTIVASI KELUARGA UNTUK MELAKUKAN PROGRAM PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI DESA MANGUNHARJO JATIPURNO WONOGIRI SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK Kabupaten Pati

BADAN PUSAT STATISTIK Kabupaten Pati BADAN PUSAT STATISTIK Kabupaten Pati IPDS BPS PATI IPDS BPS PATI IPDS BPS PATI IPDS BPS PATI IPDS BPS PATI IPDS BPS PATI IPDS BPS PATI IPDS BPS PATI Sekapur Sirih Sebagai pengemban amanat Undang-undang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4,48 Ha yang meliputi 3 Kelurahan masing masing adalah Kelurahan Dembe I, Kecamatan Tilango Kab.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4,48 Ha yang meliputi 3 Kelurahan masing masing adalah Kelurahan Dembe I, Kecamatan Tilango Kab. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Geografi Luas Puskesmas Pilolodaa Kecamatan Kota Barat Kota Gorontalo yaitu 4,48 Ha yang meliputi 3 Kelurahan masing masing

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Millenium Development Goals (MDGs) adalah delapan tujuan pembangunan sebagai respons atas permasalahan global yang akan dicapai pada 2015. Delapan tujuan tersebut antara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berperilaku sehat. Program PHBS telah dilaksanakan sejak tahun 1996 oleh

BAB I PENDAHULUAN. berperilaku sehat. Program PHBS telah dilaksanakan sejak tahun 1996 oleh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan perilaku yang dilakukan seseorang untuk selalu memperhatikan kebersihan, kesehatan, dan berperilaku sehat. Program PHBS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 131/Menkes/SK/II/2004 dan salah satu Subsistem dari SKN adalah Subsistem

BAB I PENDAHULUAN. 131/Menkes/SK/II/2004 dan salah satu Subsistem dari SKN adalah Subsistem BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebijakan Indonesia Sehat 2010 menetapkan tiga pilar utama yaitu lingkungan sehat, perilaku sehat dan pelayanan kesehatan bermutu adil dan merata. Untuk mendukung pencapaian

Lebih terperinci

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Kepada Yth. Calon responden penelitian Di Tempat Dengan hormat, Saya sebagai mahasiswa Program Studi D III Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk keberhasilan pembangunan bangsa. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai Indonesia Sehat,

Lebih terperinci

Sekretariat Daerah Bappeda A. LEGALISASI RAPERDA RTRW B. PERWUJUDAN STRUKTUR RUANG. program :

Sekretariat Daerah Bappeda A. LEGALISASI RAPERDA RTRW B. PERWUJUDAN STRUKTUR RUANG. program : LAMPIRAN V : PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PATI TAHUN 2010-2030 INDIKASI PROGRAM RTRW KABUPATEN PATI TAHUN 2010-2030 NO. 2010 2011 2012

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat. Derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat. Derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat. Derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat diwujudkan jika masyarakat Indonesia

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA DIARE DI KELURAHAN HAMDAN KECAMATAN MEDAN MAIMUN KOTA MEDAN TAHUN : Tidak Tamat Sekolah.

KUESIONER PENELITIAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA DIARE DI KELURAHAN HAMDAN KECAMATAN MEDAN MAIMUN KOTA MEDAN TAHUN : Tidak Tamat Sekolah. KUESIONER PENELITIAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA DIARE DI KELURAHAN HAMDAN KECAMATAN MEDAN MAIMUN KOTA MEDAN TAHUN 2014 Nama : Umur : Tingkat Pendidikan : Tidak Tamat Sekolah Tamat SD Tamat SMP Tamat SMA

Lebih terperinci

KUISIONER SURVEY MAWAS DIRI

KUISIONER SURVEY MAWAS DIRI KUISIONER SURVEY MAWAS DIRI Survey Mawas Diri adalah survey yang dilakukan secara rutin untuk mengetahui permasalahan kesehatan di masyarakat. Informasi yang didapatkan melalui survey ini sangat berguna

Lebih terperinci

Kuesioner Penelitian

Kuesioner Penelitian Kuesioner Penelitian PERILAKU MASYARAKAT TENTANG BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN PADA DESA YANG DIBERI INTERVENSI DAN TIDAK DIBERI INTERVENSI GERAKAN SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT DI KECAMATAN GUMAI TALANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Diare adalah sebagai perubahan konsistensi feses dan perubahan frekuensi

BAB I PENDAHULUAN. Diare adalah sebagai perubahan konsistensi feses dan perubahan frekuensi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diare adalah sebagai perubahan konsistensi feses dan perubahan frekuensi buang air besar. Diare dapat juga didefinisikan bila buang air besar tiga kali atau lebih dan

Lebih terperinci

STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KOTA BONTANG TAHUN 2015

STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KOTA BONTANG TAHUN 2015 STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KOTA BONTANG TAHUN 2015 KELOMPOK KERJA (POKJA) SANITASI KOTA BONTANG BAB I PENDAHULUAN Studi Environmental Health Risk Assessment (EHRA) atau Studi Penilaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan. keluarga dengan melaksanakan pembangunan yang berwawasan kesehatan,

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan. keluarga dengan melaksanakan pembangunan yang berwawasan kesehatan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan melaksanakan pembangunan yang berwawasan kesehatan, memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran,

Lebih terperinci

A. Pengetahuan Petunjuk: Jawablah pertanyaan berikut dengan memilih satu jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (X).

A. Pengetahuan Petunjuk: Jawablah pertanyaan berikut dengan memilih satu jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (X). Lampiran 1 Kuesioner Penelitian Guru GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP GURU TENTANG PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DAN PELAKSANAAN PHBS PADA GURU SD NEGERIDI PERKEBUNAN TANAH GAMBUS TAHUN 2015 IDENTITAS

Lebih terperinci

No. Kriteria Ya Tidak Keterangan 1 Terdapat kloset didalam atau diluar. Kloset bisa rumah.

No. Kriteria Ya Tidak Keterangan 1 Terdapat kloset didalam atau diluar. Kloset bisa rumah. Lampiran 1 Lembar Observasi Penelitian Gambaran Pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Desa Lolowua Kecamatan Hiliserangkai Kabupaten Nias Sumatera UtaraTahun 2014 Nama : Umur : Jenis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam sistem kesehatan nasional disebutkan bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), diare adalah

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), diare adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), diare adalah penyebab nomor satu kematian balita di seluruh dunia. Sementara United Nations for Children and Funds

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum Panti Asuhan Harapan Kita. merupakan Panti Asuhan yang menampung anak-anak terlantar dan yang sudah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Gambaran Umum Panti Asuhan Harapan Kita. merupakan Panti Asuhan yang menampung anak-anak terlantar dan yang sudah BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Panti Asuhan Harapan Kita. Panti Asuhan Harapan Kita bertempat di Desa Huntu Utara, Kabupaten Bone Bolango, yang didirikan pada tanggal 2 Agustus 2003. Panti

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. masa depan yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu

BAB 1 PENDAHULUAN. masa depan yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Visi Indonesia Sehat 2010 merupakan gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu menjangkau pelayanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seluruh daerah geografis di dunia. Menurut data World Health Organization

BAB I PENDAHULUAN. seluruh daerah geografis di dunia. Menurut data World Health Organization BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diare merupakan penyakit yang berbasis lingkungan dan terjadi hampir di seluruh daerah geografis di dunia. Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2013,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang. Anak usia sekolah merupakan kelompok masyarakat yang mempunyai

BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang. Anak usia sekolah merupakan kelompok masyarakat yang mempunyai BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Anak usia sekolah merupakan kelompok masyarakat yang mempunyai resiko tinggi akan penyakit (Maryunani, 2013). Oleh karena itu, pada masa ini anak usia sekolah dasar

Lebih terperinci

kotak turun 4. Berapa persen air tawar (freshwater) dari seluruh total air di bumi? Jawaban : Kurang lebih 4%.

kotak turun 4. Berapa persen air tawar (freshwater) dari seluruh total air di bumi? Jawaban : Kurang lebih 4%. Aturan Permainan A i r M i n u m & S a n i ta s i kotak turun 4. Berapa persen air tawar (freshwater) dari seluruh total air di bumi? Kurang lebih 4%. Sumber: http://water.usgs.gov/edu/earthhowmuch.html

Lebih terperinci

Ular Tangga Air Minum dan Sanitasi merupakan permainan yang disusun untuk meningkatkan kepedulian tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Ular Tangga Air Minum dan Sanitasi merupakan permainan yang disusun untuk meningkatkan kepedulian tentang pentingnya menjaga lingkungan. Aturan Permainan & A i r M i n u m S a n i t a s i U l a r Ta n g g a A i r M i n u m & S a n i ta s i Ular Tangga Air Minum dan Sanitasi merupakan permainan yang disusun untuk meningkatkan kepedulian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit diare hingga saat ini masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia, dimana setiap tahunnya kejadian kasus diare sekitar 4 miliar, dengan jumlah kematian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pembangunan kesehatan merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pembangunan kesehatan merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup

Lebih terperinci

Menjadi sehat adalah impian seluruh manusia. Baik

Menjadi sehat adalah impian seluruh manusia. Baik 1 Hidup Sehat untuk Jadi Anak Hebat Menjadi sehat adalah impian seluruh manusia. Baik itu anak-anak maupun orang dewasa. Kesehatan juga merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada makhluknya. Dengan

Lebih terperinci

LAPORAN STUDI EHRA POKJA SANITASI KABUPATEN WAY KANAN

LAPORAN STUDI EHRA POKJA SANITASI KABUPATEN WAY KANAN LAPORAN STUDI EHRA POKJA SANITASI KABUPATEN WAY KANAN TAHUN 2014 LAPORAN STUDI ENVIRONMENTAL HEALTH RISK ASSESSMENT (EHRA) KABUPATEN WAY KANAN PROVINSI LAMPUNG TAHUN - 2014 D I S U S U N Kelompok Kerja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Anak usia sekolah di Indonesia ± 83 juta orang (www.datastatistik-indonesia.com)

BAB I PENDAHULUAN. 1 Anak usia sekolah di Indonesia ± 83 juta orang (www.datastatistik-indonesia.com) BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Anak usia sekolah merupakan tumpuan bagi masa depan bangsa. Mereka merupakan sasaran yang strategis untuk pelaksanaan program kesehatan, karena selain jumlahnya yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. mengukur pencapaian keseluruhan negara. Pencapaian ini meliputi 3

BAB 1 PENDAHULUAN. mengukur pencapaian keseluruhan negara. Pencapaian ini meliputi 3 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan sekaligus merupakan investasi sumber daya manusia, serta memiliki kontribusi yang besar untuk meningkatkan Indeks

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. Wujud

BAB 1 PENDAHULUAN. berperan aktif dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. Wujud BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan perwujudan riil paradigma sehat dalam budaya hidup perorangan, keluarga dan masyarakat yang berorientasi sehat, bertujuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak pada hakikatnya merupakan aset terpenting dalam tercapainya keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa selanjutnya. Derajat kesehatan anak

Lebih terperinci

BAB 3 HASIL STUDI EHRA TAHUN 2013 KABUPATEN MOJOKERTO 3.1 KARAKTERISTIK RESPONDEN

BAB 3 HASIL STUDI EHRA TAHUN 2013 KABUPATEN MOJOKERTO 3.1 KARAKTERISTIK RESPONDEN BAB 3 HASIL STUDI EHRA TAHUN 2013 KABUPATEN MOJOKERTO 3.1 KARAKTERISTIK RESPONDEN Informasi terkait karakteristik responden yang di survey dibagi atas dasar beberapa variabel yaitu : hubungan responden

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan bangsa. Untuk pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan bangsa. Untuk pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan adalah hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk keberhasilan pembangunan bangsa. Untuk pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai Indonesia Sehat,

Lebih terperinci

Gambaran Sanitasi Lingkungan Wilayah Pesisir Danau Limboto di Desa Tabumela Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo Tahun 2013

Gambaran Sanitasi Lingkungan Wilayah Pesisir Danau Limboto di Desa Tabumela Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo Tahun 2013 Summary Gambaran Sanitasi Lingkungan Wilayah Pesisir Danau Limboto di Desa Tabumela Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo Tahun 2013 Merliyanti Ismail 811 409 043 Jurusan kesehatan masyarakat Fakultas

Lebih terperinci

BUKU SAKU VERIFIKASI SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM)

BUKU SAKU VERIFIKASI SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM) BUKU SAKU VERIFIKASI SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM) Direktorat Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI 2013 Tangga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sehat merupakan hak setiap individu agar dapat melakukan segala

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sehat merupakan hak setiap individu agar dapat melakukan segala BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sehat merupakan hak setiap individu agar dapat melakukan segala aktivitas hidup sehari-hari. Untuk bisa hidup sehat, kita harus mempunyai Perilaku Hidup Bersih dan

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat tersebut. (1) Selain

BAB 1 : PENDAHULUAN. dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat tersebut. (1) Selain BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Air dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat tersebut. (1) Selain

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULAUAN. optimal diselenggarakan upaya kesehatan dengan pemeliharan dan peningkatan

BAB I PENDAHULAUAN. optimal diselenggarakan upaya kesehatan dengan pemeliharan dan peningkatan BAB I PENDAHULAUAN 1.1 Latar Belakang Derajat kesehatan bersifat dinamis (berubah setiap saat), dan dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Maka untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal diselenggarakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dilindungi dari ancaman yang merugikannya. perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Termasuk lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. dilindungi dari ancaman yang merugikannya. perilaku sangat mempengaruhi derajat kesehatan. Termasuk lingkungan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan merupakan hak dasar manusia dan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan kualitas Sumber Daya Manusia.Oleh karena itu kesehatan perlu dipelihara

Lebih terperinci

BAB III PROFIL SANITASI WILAYAH

BAB III PROFIL SANITASI WILAYAH BAB III PROFIL SANITASI WILAYAH Sanitasi dalam hal ini yang kita tinjau adalah sektor air limbah, persampahan dan drainase lingkungan yang ada di Kabupaten Soppeng. Untuk menjelaskan kondisi sanitasi di

Lebih terperinci

peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2025 adalah meningkatnya kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang. Peningkatan derajat kesehatan

Lebih terperinci

PANDUAN PELAKSANAAN VERIFIKASI

PANDUAN PELAKSANAAN VERIFIKASI PANDUAN PELAKSANAAN VERIFIKASI Improved Latrine/Jamban Layak sesuai dengan MDG termasuk WC siram/leher angsa yang tersambung ke pipa pembuangan limbah (sewer), - septic tank, atau lubang, WC cubluk dengan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan menjaga tingkat kesehatan, aktifitas masyarakat tidak terganggu dan dapat

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan menjaga tingkat kesehatan, aktifitas masyarakat tidak terganggu dan dapat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pentingnya menjaga kesehatan bagi masyarakat adalah hal mutlak. Karena dengan menjaga tingkat kesehatan, aktifitas masyarakat tidak terganggu dan dapat terus produktif.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Selama lebih dari tiga dasawarsa, Indonesia telah melaksanakan berbagai upaya dalam rangka meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Departemen Kesehatan

Lebih terperinci

KEBUTUHAN DATA SEKUNDER PADA BAB 2

KEBUTUHAN DATA SEKUNDER PADA BAB 2 KEBUTUHAN DATA SEKUNDER PADA BAB 2 Tabel 2.1 Luas daerah dan pembagian daerah administrasi Tabel 2.2 Jumlah Penduduk perkecamatan dan rata-rata kepadatannya Tabel 2.3 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) dalam Buletin. penyebab utama kematian pada balita adalah diare (post neonatal) 14%,

BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) dalam Buletin. penyebab utama kematian pada balita adalah diare (post neonatal) 14%, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit diare merupakan salah satu masalah kesehatan di negara berkembang terutama di Indonesia, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Penyakit diare bersifat endemis

Lebih terperinci

GAMBARAN SANITASI DASAR PADA MASYARAKAT NELAYAN DI KELURAHAN POHE KECAMATAN HULONTHALANGI KOTA GORONTALO TAHUN 2012

GAMBARAN SANITASI DASAR PADA MASYARAKAT NELAYAN DI KELURAHAN POHE KECAMATAN HULONTHALANGI KOTA GORONTALO TAHUN 2012 Summary GAMBARAN SANITASI DASAR PADA MASYARAKAT NELAYAN DI KELURAHAN POHE KECAMATAN HULONTHALANGI KOTA GORONTALO TAHUN 2012 Afriani Badu. 2012. Jurusan Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan

Lebih terperinci

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN TEMANGGUNG

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN TEMANGGUNG Volume, Nomor, Tahun 0, Halaman 535-54 Online di http://ejournals.undip.ac.id/index.php/jkm HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Geografi 1. Letak dan Batas Wilayah Kabupaten Pati merupakan salah satu bagian dari 35 Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Pati merupakan

Lebih terperinci

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) Ely Isnaeni, S. Kep, M. Kes

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) Ely Isnaeni, S. Kep, M. Kes PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) Ely Isnaeni, S. Kep, M. Kes PERILAKU MERUPAKAN PENYEBAB TERBESAR MASALAH KESEHATAN HAKIKAT PERILAKU PENGETAHUAN SIKAP TINDAKAN TAHU/ TIDAK TAHU MAU/ TIDAK MAU MAMPU/

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS HASIL PERHITUNGAN EFISIENSI RELATIF PUSKESMAS- PUSKESMAS DI KABUPATEN PATI

BAB 4 ANALISIS HASIL PERHITUNGAN EFISIENSI RELATIF PUSKESMAS- PUSKESMAS DI KABUPATEN PATI BAB 4 ANALISIS HASIL PERHITUNGAN EFISIENSI RELATIF PUSKESMAS- PUSKESMAS DI KABUPATEN PATI Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai proses penghitungan efisiensi relatif 29 unit puskesmas di Kabupaten Pati

Lebih terperinci

PANDUAN WAWANCARA PENDERITA TB PARU DI KLINIK SANITASI

PANDUAN WAWANCARA PENDERITA TB PARU DI KLINIK SANITASI PANDUAN WAWANCARA PENDERITA TB PARU DI KLINIK SANITASI I. DATA UMUM : Tanggal Konseling : No. Rekam Medik : Nama : Umur : Nama orang tua/kk : Pekerjaan : Alamat RT/RW/RK : Kelurahan/Desa : II. IDENTIFIKASI

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Derajat kesehatan di Indonesia saat ini masih tertinggal dari negara-negara lain. Berdasarkan laporan Human Development Report dari United Nations Development Programme

Lebih terperinci

Terapkan 10 Indikator PHBS Dalam Lingkungan Keluarga

Terapkan 10 Indikator PHBS Dalam Lingkungan Keluarga Terapkan 10 Indikator PHBS Dalam Lingkungan Keluarga Surabaya, ehealth. Apakah anda merasa bahwa diri anda dan keluarga anda merupakan keluarga sehat? Mungkin mayoritas langsung menganggukkan kepala jika

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. internal maupun eksternal. Menurut WHO, setiap tahunnya sekitar 2,2 juta

BAB I PENDAHULUAN. internal maupun eksternal. Menurut WHO, setiap tahunnya sekitar 2,2 juta BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan merupakan hasil interaksi berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Menurut WHO, setiap tahunnya sekitar 2,2 juta orang di negara berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perumahan dan permukiman yang dikelola dengan baik merupakan sebuah indikator kesejahteraan dan target intervensi untuk meningkatkan kesehatan masyarakat (Thomson, 2001).

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini di laksanakan pada 28 April sampai 5 Mei 2013 di Desa

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini di laksanakan pada 28 April sampai 5 Mei 2013 di Desa BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini di laksanakan pada 28 April sampai 5 Mei 2013 di Desa Tabumela. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui gambaran Sanitasi Lingkungan wilayah pesisir danau Limboto

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan deklarasi Johannesburg yang dituangkan dalam Milleniun

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan deklarasi Johannesburg yang dituangkan dalam Milleniun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Berdasarkan deklarasi Johannesburg yang dituangkan dalam Milleniun Development Goals (MDGs) yang disepakati seluruh negara di dunia termasuk Indonesia, menetapkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. setinggi-tingginya guna tercapainya negara yang kuat (Ratna, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. setinggi-tingginya guna tercapainya negara yang kuat (Ratna, 2011). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan di Indonesia merupakan bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan nasional yang mempunyai peranan besar dalam menentukan

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan nasional yang mempunyai peranan besar dalam menentukan 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan kesehatan merupakan salah satu bagian intergral dari pembangunan nasional yang mempunyai peranan besar dalam menentukan keberhasilan pencapaian tujuan

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMBUR LUBUK MENGKUANG KABUPATEN BUNGO TAHUN 2013

HUBUNGAN ANTARA SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMBUR LUBUK MENGKUANG KABUPATEN BUNGO TAHUN 2013 HUBUNGAN ANTARA SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMBUR LUBUK MENGKUANG KABUPATEN BUNGO TAHUN 2013 Marinawati¹,Marta²* ¹STIKes Prima Prodi Kebidanan ²STIKes

Lebih terperinci

KESEHATAN DAN SANITASI LINGKUNGAN TIM PEMBEKALAN KKN UNDIKSHA 2018

KESEHATAN DAN SANITASI LINGKUNGAN TIM PEMBEKALAN KKN UNDIKSHA 2018 KESEHATAN DAN SANITASI LINGKUNGAN TIM PEMBEKALAN KKN UNDIKSHA 2018 PENYEBAB??? Status kesehatan suatu lingkungan yang mencakup perumahan, pembuangan kotoran, penyediaan air bersih dan sebagainya. Pentingnya

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Sebelah Timur berbatasan dengan desa Maleo. b. Sebelah Selatan berbatasan dengan desa Popayato

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Sebelah Timur berbatasan dengan desa Maleo. b. Sebelah Selatan berbatasan dengan desa Popayato BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian Desa Bukit Tingki merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Popayato dengan luas wilayah 5.250 Ha,

Lebih terperinci

KUISIONER PENELITIAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN MASYARAKAT TENTANG SANITASI DASAR DAN RUMAH SEHAT

KUISIONER PENELITIAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN MASYARAKAT TENTANG SANITASI DASAR DAN RUMAH SEHAT Lampiran KUISIONER PENELITIAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN TINDAKAN MASYARAKAT TENTANG SANITASI DASAR DAN RUMAH SEHAT I. Karakteristik Responden. Nama :. Jenis Kelamin :. Pekerjaan : 4. Pendidikan : II. Pengetahuan

Lebih terperinci