VII. PERMINTAAN LPG (LIQUEFIED PETROLEUM GAS) PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "VII. PERMINTAAN LPG (LIQUEFIED PETROLEUM GAS) PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR"

Transkripsi

1 VII. PERMINTAAN LPG (LIQUEFIED PETROLEUM GAS) PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR 7.1 Permintaan LPG Pedagang Martabak Kaki Lima di Kota Bogor Permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor didapat dengan memasukkan variabel-variabel independen yang diduga mempengaruhi permintaan LPG ke dalam persamaan regresi linear berganda. Hasil pengolahan data dengan program Minitab versi 15 menunjukkan hasil pendugaan fungsi permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor pada Tabel 42. Tabel 42. Hasil Pendugaan Fungsi Permintaan LPG Pedagang Martabak Kaki Lima di Kota Bogor Prediktor Koef- Standar T-Hit P VIF E Error Constanta Harga LPG (PLPG) * Harga Kompor (PKGS) Harga Terigu (PTRG) Harga Mentega (PMTG) Harga Gula (PGLA) Harga Telur (PTAY) * Harga Rata-Rata Martabak (PRMS) Jumlah Tenaga Kerja * (JTK) Dummy Jenis Martabak (D1) * R-Sq 86.3% R-Sq (adj) 82.2% Durbin-Watson F-hit Peluang Keterangan : * Nyata pada taraf α 10 persen Sumber : Data diolah (2011)

2 95 Berdasarkan Tabel 42, maka fungsi permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor adalah sebagai berikut : DLPG MT = PLPG PKGS PTRG PMTG PGLA PTAY PRMS JTK D 1 + e Berdasarkan Tabel 42 dapat dilihat bahwa pada fungsi permintaan LPG pedagang martabak kaki lima semua variabel bebas memiliki tanda koefisien yang sama dengan hipotesis yang diharapkan. Variabel harga LPG bertanda negatif (-), harga kompor gas sebagai barang komplementer bertanda negatif (-), harga tepung terigu, harga mentega, harga gula, harga telur ayam, sebagai barang input produksi martabak bertanda negatif (-), rata-rata harga martabak, jumlah tenaga kerja, dan dummy jenis martabak bertanda positif (+). Koefisien determinasi (R-sq) merupakan ukuran kesesuaian garis regresi linear berganda terhadap suatu data. Berdasarkan Tabel 42, fungsi permintaan LPG pedagang martabak kaki lima memiliki R-sq sebesar 86.3 persen. Artinya bahwa keragaman permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor dapat dijelaskan oleh variabel-variabel bebas sebesar 86.3 persen, sedangkan sisanya sebesar 13.7 persen dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak terdapat dalam fungsi permintaan. Uji statistik F menunjukkan hasil bahwa secara keseluruhan, variabelvariabel bebas (harga LPG, harga kompor gas, harga terigu, harga mentega, harga gula, harga telur ayam, harga rata-rata-masakan, jumlah tenaga kerja, dan dummy jenis martabak) berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor. Artinya perubahan permintaan LPG dipengaruhi oleh

3 96 perubahan variabel-variabel bebas (harga LPG, harga kompor gas, harga terigu, harga mentega, harga gula, harga telur ayam, harga rata-rata-masakan, jumlah tenaga kerja, dan dummy jenis martabak) secara bersamaan. Hal ini terlihat dari P- value untuk uji statistik F yaitu sebesar yang lebih kecil dari α = Hipotesis menyatakan bahwa apabila F hitung lebih besar dari F tabel atau nilai probabilitas kurang dari taraf nyata (α) tertentu maka terjadi tolak H 0, artinya variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas. Berdasarkan Tabel 42 diperoleh F hitung sebesar Jika α = 0.10 maka F hitung (21.06) lebih besar dari F tabel = (1.828), maka kesimpulan yang diperoleh adalah tolak H 0. Hal ini berarti bahwa secara bersama-sama variabel-variabel bebas (harga LPG, harga kompor gas, harga tepung terigu, harga mentega, harga gula, harga telur ayam, harga rata-rata martabak, jumlah tenaga kerja, dan dummy jenis martabak) berpengaruh nyata pada permintaan LPG pedagang martabak kaki lima pada selang kepercayaan 90 persen. Uji-t dilakukan dengan melihat nilai probabilitas masing-masing variabel tidak bebas yang lebih kecil dari taraf nyata 10 persen atau Uji statistik t menunjukkan bahwa nilai probabilitas variabel harga LPG (PLPG), harga telur ayam (PTAY), jumlah tenaga kerja (JTK), dan dummy martabak telur (D 1 ) lebih kecil dari 0.10 yang berarti bahwa variabel harga LPG, harga telur ayam, jumlah tenaga kerja dan dummy martabak telur berpengaruh nyata pada permintaan LPG pedagang martabak kaki lima pada taraf nyata 10 persen. Variabel harga kompor gas (PKGS), harga tepung terigu (PTRG), harga gula (PGLA), harga mentega (PMTG), dan harga rata-rata martabak (PRMS) menunjukkan nilai probabilitas yang lebih besar dari 0.10 yang berarti bahwa variabel-variabel tersebut tidak

4 97 berpengaruh nyata pada permintaan LPG pedagang martabak kaki lima pada taraf nyata 10 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa secara parsial, hanya harga LPG, harga telur ayam, jumlah tenaga kerja dan dummy jenis martabak yang signifikan mempengaruhi permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor. Fungsi dugaan yang baik harus memenuhi kriteria ekonometrika yang meliputi pengujian asumsi-asumsi dasar seperti tidak terjadinya kasus heteroskedastisitas, non multikolinearitas, dan tidak terjadi kasus autokorelasi. Fungsi penduga yang baik memiliki variasi dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap. Heteroskedastisitas dideteksi dengan menggunakan grafik scatter plot seperti pada Lampiran 10. Lampiran 10 menunjukkan titik-titik menyebar secara acak, tidak membentuk pola tertentu yang jelas, dan tersebar baik di atas maupun di bawah angka nol pada sumbu Y. Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada fungsi permintaan LPG pedagang martabak kaki lima, sehingga fungsi tersebut layak dipakai untuk memprediksi permintaan LPG berdasarkan masukan variabel bebasnya. Pembuktian tidak adanya multikolinearitas dalam fungsi permintaan LPG pedagang martabak kaki lima dapat dilihat dari nilai Variance Inflation Factor (VIF) pada masing-masing variabel bebas. Jika nilai VIF kurang dari sepuluh, artinya persamaan tersebut tidak mengalami masalah multikolinearitas. Tabel 42 menunjukkan bahwa nilai VIF semua variabel bebas lebih kecil dari 10, yaitu antara 1.15 sampai 2.3 sehingga antara variabel bebas yang satu dengan variabel bebas yang lain tidak terjadi hubungan yang mendekati sempurna ataupun hubungan yang sempurna. Berdasarkan hal tersebut, fungsi permintaan LPG pedagang martabak kaki lima sudah memenuhi asumsi non multikolinearitas.

5 98 Asumsi yang terakhir yang harus dipenuhi adalah tidak terdapat autokorelasi. Autokorelasi berarti terdapat korelasi antar anggota sampel atau data pengamatan yang diurutkan berdasarkan waktu. Output hasil regresi memperlihatkan nilai statistik DW adalah , dimana dl bernilai 1.01 dan du bernilai Nilai DW berada di antara 1.01 dan 1.93 (dl < DW < 4-dU), hal ini berarti fungsi pemintaan LPG pedagang martabak kaki lima bebas dari masalah autokorelasi. Dengan dipenuhinya ke-tiga asumsi dasar tersebut menunjukkan bahwa fungsi permintaan LPG pedagang martabak di Kota Bogor memenuhi kriteria model yang baik secara ekonometrika. Pembahasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor menyangkut tingkat signifikansi koefisien masing-masing variabel bebas terhadap permintaan LPG, kesesuaian tanda koefisien dengan hipotesis awal, dan kondisi di lapangan yang mendukung interpretasi faktor-faktor tersebut Harga LPG Harga LPG (PLPG) rata-rata yang dibeli pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor adalah Rp per kg. Koefisien variabel harga LPG memiliki tanda negatif. Tanda ini sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal, dimana harga LPG berpengaruh negatif terhadap permintaan LPG. Berdasarkan hasil analisis regresi, nilai koefisien regresi harga LPG adalah Artinya setiap kenaikan harga LPG sebesar satu rupiah per kg, akan menurunkan permintaan LPG sebesar kg dengan asumsi variabel lain tetap, cateris paribus. Nilai probabilitas variabel harga LPG adalah lebih kecil dari α = 0.10 yang berarti harga LPG berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pedagang martabak di Kota Bogor pada selang kepercayaan 99.3 persen.

6 99 Elastisitas harga LPG terhadap permintaan LPG adalah , yang berarti kenaikan harga LPG rata-rata satu persen akan menurunkan jumlah LPG yang diminta sebesar persen. Nilai elastisitas harga LPG bersifat elastic, artinya perubahan peningkatan harga LPG memberikan respon yang lebih besar terhadap penurunan jumlah LPG yang diminta pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor. Saat ini LPG adalah bahan bakar utama yang digunakan para pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor, harga dan keberadaan LPG sangat mempengaruhi usaha ini. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan harga LPG yang besar akan menyebabkan pedagang martabak mencari alternatif bahan bakar lain yang lebih murah Harga Kompor Gas Kompor gas sebagai barang komplementer LPG diduga sebagai salah satu variabel yang mempengaruhi permintaan LPG. Harga kompor gas (PKGS) rata-rata yang dipakai pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor adalah Rp Koefisien regresi variabel harga kompor gas bernilai negatif. Tanda ini sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal, dimana harga kompor gas berpengaruh negatif terhadap permintaan LPG. Nilai koefisien regresi PKGS sebesar berarti kenaikan harga kompor gas sebesar satu rupiah akan mengakibatkan penurunan jumlah LPG yang diminta sebesar kg dengan asumsi variabel lain tetap, cateris paribus. Harga kompor gas tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor pada selang kepercayaan 90 persen. Berdasarkan Tabel 42 nilai probabilitasnya adalah sebesar lebih besar dari α = 0.10 yang berarti harga

7 100 kompor gas akan berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor sampai pada selang kepercayaan 12.6 persen. Elastisitas harga kompor gas terhadap permintaan LPG adalah , yang berarti kenaikan harga kompor gas rata-rata satu persen akan menurunkan jumlah LPG yang diminta sebesar persen. Nilai elastisitas harga kompor gas bersifat inelastis yang berarti perubahan peningkatan harga kompor gas memberikan respon yang lebih kecil terhadap penurunan jumlah LPG yang diminta pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor. Kompor gas yang digunakan pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor sebagian besar adalah kompor gas dua pit. Kompor gas ini dapat digunakan selama lima tahun atau lebih, sehingga kenaikan harga kompor gas pada waktu tertentu tidak langsung berpengaruh pada permintaan LPG oleh pedagang martabak kaki lima Harga Tepung Terigu Tepung terigu adalah salah satu bahan baku dalam pembuatan martabak sehingga harga tepung terigu diduga sebagai salah satu variabel yang mempengaruhi permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor. Harga tepung terigu (PTRG) rata-rata yang digunakan pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor adalah Rp per kg. Koefisien variabel harga tepung terigu memiliki tanda negatif sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal, artinya kenaikan harga tepung terigu akan menurunkan permintaan LPG. Berdasarkan hasil analisis regresi, nilai koefisien regresi harga tepung terigu adalah Hal ini dapat berarti peningkatan harga tepung terigu sebesar satu rupiah per kg, akan menurunkan permintaan LPG sebesar kg dengan asumsi variabel lain tetap, cateris paribus. Variabel harga tepung terigu

8 101 memiliki nilai probabilitas lebih besar dari α = 0.10 yang berarti bahwa variabel harga tepung terigu tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pada selang kepercayaan 90 persen. Nilai juga menunjukkan bahwa harga tepung terigu akan menjadi berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 18.2 persen. Elastisitas silang harga tepung terhadap permintaan LPG adalah , yang berarti peningkatan harga tepung terigu rata-rata satu persen akan menurunkan jumlah LPG yang diminta sebesar persen. Nilai elastisitas harga tepung terigu bersifat inelastis yang berarti perubahan peningkatan harga tepung terigu memberikan respon yang lebih kecil terhadap penurunan jumlah LPG yang diminta pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor. Nilai elastisitas silang ini menunjukkan nilai yang negatif. Hal ini sesuai dengan hipotesis awal yang menduga bahwa tepung terigu adalah barang komplementer atau pelengkap dari LPG Harga Mentega Mentega juga termasuk salah satu bahan baku pembuatan martabak. Harga mentega (PMTG) rata-rata yang digunakan pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor adalah Rp per kg. Koefisien variabel harga mentega memiliki tanda negatif. Tanda ini sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal. Berdasarkan hasil analisis regresi, nilai koefisien regresi harga mentega adalah Hal ini dapat berarti peningkatan harga mentega sebesar satu rupiah per kg, akan menurunkan permintaan LPG sebesar kg dengan asumsi variabel lain tetap, cateris paribus. Berdasarkan hasil analisis regresi, variabel harga mentega memiliki nilai probabilitas lebih besar dari

9 102 α = 0.10 yang berarti bahwa variabel harga mentega tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pada selang kepercayaan 90 persen. Elastisitas silang harga mentega terhadap permintaan LPG adalah , yang berarti peningkatan harga mentega rata-rata satu persen akan menurunkan jumlah LPG yang diminta sebesar persen. Nilai elastisitas harga mentega bersifat inelastis yang berarti perubahan peningkatan harga mentega memberikan respon yang lebih kecil terhadap penurunan jumlah LPG yang diminta pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor. Nilai elastisitas silang ini menunjukkan nilai yang negatif, menunjukkan bahwa mentega adalah barang komplementer atau pelengkap dari LPG dalam pembuatan martabak Harga Gula Gula sebagai salah satu bahan baku pembuatan martabak diduga sebagai salah satu variabel yang mempengaruhi permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor. Harga gula (PGLA) rata-rata yang digunakan pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor adalah Rp per kg. Koefisien variabel harga gula memiliki tanda negatif. Tanda ini sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal. Berdasarkan hasil analisis regresi, nilai koefisien regresi harga gula adalah Hal ini dapat berarti peningkatan harga gula sebesar satu rupiah per kg, akan menurunkan permintaan LPG sebesar kg dengan asumsi variabel lain tetap, cateris paribus. Berdasarkan hasil analisis regresi, variabel harga gula memiliki nilai probabilitas lebih besar dari α = 0.10 yang berarti bahwa variabel harga gula tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pada selang kepercayaan 90 persen. Nilai menunjukkan

10 103 bahwa harga gula akan menjadi berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 76.2 persen. Elastisitas silang harga gula terhadap permintaan LPG adalah , yang berarti peningkatan harga gula rata-rata satu persen akan menurunkan jumlah LPG yang diminta sebesar persen. Nilai elastisitas harga gula bersifat elastis yang berarti perubahan peningkatan harga gula memberikan respon yang lebih besar terhadap penurunan jumlah LPG yang diminta pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor. Nilai elastisitas silang ini menunjukkan nilai yang negatif, menunjukkan bahwa gula adalah barang komplementer atau pelengkap dari LPG dalam pembuatan martabak Harga Telur Ayam Telur ayam adalah salah satu bahan baku pembuatan martabak diduga sebagai salah satu variabel yang mempengaruhi permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor. Harga telur ayam (PTAY) rata-rata yang digunakan pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor adalah Rp per kg. Koefisien variabel harga telur ayam memiliki tanda negatif. Tanda ini sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal. Berdasarkan hasil analisis regresi, nilai koefisien regresi harga telur ayam adalah Hal ini dapat berarti peningkatan harga telur ayam sebesar satu rupiah per kg, akan menurunkan permintaan LPG sebesar kg dengan asumsi variabel lain tetap, cateris paribus. Hasil analisis regresi menunjukkan variabel harga telur ayam memiliki nilai probabilitas lebih kecil dari α = 0.10 yang berarti bahwa variabel harga telur ayam berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pada selang kepercayaan 90 persen.

11 104 Elastisitas silang harga telur ayam terhadap permintaan LPG adalah , yang berarti peningkatan harga telur ayam rata-rata satu persen akan menurunkan jumlah LPG yang diminta sebesar persen. Nilai elastisitas harga telur ayam bersifat elastis yang berarti perubahan peningkatan harga telur ayam memberikan respon yang lebih besar terhadap penurunan jumlah LPG yang diminta pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor. Nilai elastisitas silang ini menunjukkan nilai yang negatif, menunjukkan bahwa telur ayam adalah barang komplementer atau pelengkap dari LPG dalam pembuatan martabak Harga Rata-Rata Martabak Pada penelitian ini harga rata-rata martabak (PRMS) diduga sebagai salah satu variabel yang mempengaruhi permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor. Harga rata-rata martabak yang dihasilkan pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor adalah Rp sampai Rp per martabak. Koefisien variabel harga rata-rata martabak memiliki tanda positif. Tanda ini sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal. Harga rata-rata martabak memiliki hubungan yang positif dengan permintaan LPG, karena dengan meningkatnya harga jual produk maka pedagang sebagai produsen akan meningkatkan jumlah output yang ditawarkan sehingga jumlah martabak yang dihasilkan semakin banyak dan membutuhkan LPG lebih banyak. Berdasarkan hasil analisis regresi, nilai koefisien regresi harga rata-rata martabak adalah Hal ini dapat berarti peningkatan harga rata-rata martabak sebesar satu rupiah per martabak, akan meningkatkan permintaan LPG sebesar kg dengan asumsi variabel lain tetap, cateris paribus. Berdasarkan hasil analisis regresi, variabel harga rata-rata martabak memiliki nilai probabilitas lebih

12 105 besar dari α = 0.10 yang berarti bahwa variabel harga rata-rata martabak tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pada selang kepercayaan 90 persen. Harga rata-rata martabak akan menjadi berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 41.3 persen. Elastisitas silang harga rata-rata martabak terhadap permintaan LPG adalah , yang berarti peningkatan harga rata-rata martabak satu persen akan meningkatkan jumlah LPG yang diminta sebesar persen. Nilai elastisitas harga rata-rata martabak bersifat inelastis yang berarti perubahan peningkatan harga rata-rata martabak memberikan respon yang lebih kecil terhadap peningkatan jumlah LPG yang diminta pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor Jumlah Tenaga Kerja Pada penelitian ini jumlah tenaga kerja diduga sebagai salah satu variabel yang mempengaruhi permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor. Jumlah tenaga kerja (JTK) juga menunjukkan skala usaha martabak kaki lima. Jumlah tenaga kerja pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor rata-rata adalah satu orang. Koefisien variabel jumlah tenaga kerja memiliki tanda positif. Tanda ini sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal. Jumlah tenaga kerja memiliki hubungan yang positif dengan jumlah permintaan LPG, berarti semakin banyak jumlah tenaga kerja menunjukkan skala usaha yang lebih besar sehingga membutuhkan LPG lebih banyak. Berdasarkan hasil analisis regresi, nilai koefisien regresi jumlah tenaga kerja adalah Hal ini dapat berarti penambahan jumlah tenaga kerja satu orang, akan meningkatkan permintaan LPG sebesar kg dengan asumsi variabel lain tetap, cateris

13 106 paribus. Hasil analisis regresi menunjukkan variabel jumlah tenaga kerja memiliki nilai probabilitas lebih kecil dari α = 0.10 yang berarti bahwa variabel jumlah tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pada selang kepercayaan 90 persen. Nilai juga menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja berpengaruh nyata sampai pada selang kepercayaan 100 persen. Elastisitas jumlah tenaga kerja terhadap permintaan LPG adalah , yang berarti penambahan jumlah tenaga kerja rata-rata satu persen akan meningkatkan jumlah LPG yang diminta sebesar persen. Nilai elastisitas jumlah tenaga kerja bersifat inelastis yang berarti perubahan penambahan jumlah tenaga kerja memberikan respon yang lebih kecil terhadap peningkatan jumlah LPG yang diminta pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor Dummy Jenis Martabak Hasil analisis regresi menunjukkan variabel dummy jenis martabak (D1) memiliki tanda yang positif, yang berarti bahwa terdapat pengaruh antara jenis martabak yang dihasilkan dengan permintaan LPG. Pedagang martabak kaki lima yang menghasilkan martabak telur saja sebagai produknya menggunakan LPG lebih banyak dibanding pedagang yang menghasilkan martabak manis saja dan atau kedua-duanya. Pedagang martabak kaki lima yang menghasilkan martabak telur saja lebih banyak menggunakan bahan bakar LPG karena dalam proses produksi martabak telur menggunakan api yang lebih besar, dan lebih lama. Nilai probabilitas variabel dummy jenis martabak lebih kecil dari α = 0.10 yang berarti bahwa variabel dummy jenis martabak berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pada selang kepercayaan 90 persen. Nilai probabilitas juga

14 107 menunjukkan bahwa dummy martabak telur berpengaruh nyata sampai pada selang kepercayaan 100 persen. 7.2 Permintaan LPG Pedagang Warung Tenda Pecel Lele di Kota Bogor Permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor didapat dengan memasukkan variabel-variabel bebas/independen yang diduga mempengaruhi permintaan LPG ke dalam persamaan regresi linear berganda. Hasil pengolahan data dengan program Minitab versi 15 menunjukkan hasil pendugaan fungsi permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor pada Tabel 43. Tabel 43. Hasil Pendugaan Fungsi Permintaan LPG Pedagang Warung Tenda Pecel Lele di Kota Bogor Pred Koefisien Standar T-hit Peluang VIF E error Const Harga LPG (PLPG) Harga Kompor (PKGS) Harga Beras (PBRS) Harga Lele (PLLE) Harga Ayam (PAYM) Harga Minyak Goreng (PMGR) Harga Rata-Rata Masakan (PRMS) Jumlah Tenaga Kerja (JTK) Dummy Masakan Bebek (DBBK) * R-Sq 74.5% R-Sq (adj) 66.9% Durbin Watson F-hitung 9.76 P Keterangan : * Nyata pada taraf α 10 persen Sumber : Data diolah (2011) * , *

15 108 Berdasarkan Tabel 43 maka fungsi permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor adalah sebagai berikut: DLPG PL = PLPG PKGS PBRS PLLE PAYM PMGR PRMS JTK DBBK + e Berdasarkan Tabel 43 dapat dilihat bahwa pada fungsi permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele semua variabel bebas memiliki tanda koefisien yang sama dengan hipotesis yang diharapkan. Variabel harga LPG bertanda negatif (-), harga kompor gas sebagai barang komplementer bertanda negatif (-), harga beras, harga lele, harga ayam, dan harga minyak goreng sebagai barang input produksi dalam usaha warung tenda pecel lele bertanda negatif (-), harga rata-rata masakan, jumlah tenaga kerja, dan dummy bebek bertanda positif (+). Koefisien determinasi (R sq ) merupakan ukuran kesesuaian garis regresi linear berganda terhadap suatu data. Berdasarkan Tabel 43, fungsi permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele memiliki R sq sebesar 74.5 persen. Artinya bahwa keragaman permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor dapat dijelaskan oleh variabel-variabel bebas sebesar 74.5 persen, sedangkan sisanya sebesar 25.5 persen dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak terdapat dalam fungsi permintaan. Uji statistik F menunjukkan hasil bahwa secara keseluruhan, variabelvariabel bebas (harga LPG, harga kompor gas, harga beras, harga lele, harga ayam, harga minyak goreng, harga rata-rata masakan, jumlah tenaga kerja, dan dummy masakan bebek) berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pedagang martabak kaki lima di Kota Bogor. Artinya perubahan permintaan LPG

16 109 dipengaruhi oleh perubahan variabel-variabel bebas (harga LPG, harga kompor gas, harga beras, harga lele, harga ayam, harga minyak goreng, harga rata-rata masakan, jumlah tenaga kerja, dan dummy masakan bebek) secara bersamaan. Hal ini terlihat dari P-value untuk uji statistik F yaitu sebesar yang lebih kecil dari α = Hipotesis menyatakan bahwa apabila F hitung lebih besar dari F tabel atau nilai probabilitas kurang dari taraf nyata (α) tertentu maka terjadi tolak H 0, artinya variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebas. Berdasarkan Tabel 43 diperoleh F hitung sebesar 9.76 Jika α = 0.10 maka F hitung (9.76) lebih besar dari F tabel = (1.828), maka kesimpulan yang diperoleh adalah tolak H 0. Hal ini berarti bahwa secara bersama-sama variabelvariabel bebas (harga LPG, harga kompor gas, harga beras, harga lele, harga ayam, harga minyak goreng, harga rata-rata masakan, jumlah tenaga kerja, dan dummy masakan bebek) berpengaruh nyata pada permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele pada selang kepercayaan 90 persen. Uji-t dilakukan dengan melihat nilai probabilitas masing-masing variabel tidak bebas yang lebih kecil dari taraf nyata 10 persen atau Uji statistik t menunjukkan bahwa nilai probabilitas variabel harga minyak goreng (PMGR), jumlah tenaga kerja (JTK), dan dummy masakan bebek (DBBK) lebih kecil dari 0.10 yang berarti bahwa variabel harga minyak goreng, jumlah tenaga kerja dan dummy masakan bebek berpengaruh nyata pada permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele pada taraf nyata 10 persen. Variabel harga LPG (PLPG), harga kompor gas (PKGS), harga beras (PBRS), harga lele (PLLE), harga ayam (PAYM), dan harga rata-rata masakan (PRMS) menunjukkan nilai probabilitas yang lebih besar dari 0.10 yang berarti bahwa variabel-variabel tersebut tidak

17 110 berpengaruh nyata pada permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele pada taraf nyata 10 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa secara parsial, hanya harga minyak goreng, jumlah tenaga kerja dan dummy masakan bebek yang signifikan mempengaruhi permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor. Fungsi dugaan yang baik harus memenuhi kriteria ekonometrika yang meliputi pengujian asumsi-asumsi dasar seperti tidak terjadinya kasus heteroskedastisitas, non multikolinearitas, dan tidak terjadi kasus autokorelasi. Fungsi penduga yang baik memiliki variasi dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap. Heteroskedastisitas dideteksi dengan menggunakan grafik scatter plot seperti pada Lampiran 13. Lampiran 13 menunjukkan titik-titik menyebar secara acak, tidak membentuk pola tertentu yang jelas, dan tersebar baik di atas maupun di bawah angka nol pada sumbu Y. Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada fungsi permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele, sehingga fungsi tersebut layak dipakai untuk memprediksi permintaan LPG berdasarkan masukan variabel bebasnya. Pembuktian tidak adanya multikolinearitas dalam fungsi permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele dapat dilihat dari nilai Variance Inflation Factor (VIF) pada masing-masing variabel bebas. Jika nilai VIF kurang dari sepuluh, artinya persamaan tersebut tidak mengalami masalah multikolinearitas. Tabel 43 menunjukkan bahwa nilai VIF semua variabel bebas lebih kecil dari 10, yaitu antara 1.5 sampai 2.9 sehingga antara variabel bebas yang satu dengan variabel bebas yang lain tidak terjadi hubungan yang mendekati sempurna ataupun hubungan yang sempurna. Berdasarkan hal tersebut, fungsi permintaan

18 111 LPG pedagang warung tenda pecel lele sudah memenuhi asumsi non multikolinearitas. Asumsi yang terakhir yang harus dipenuhi adalah tidak terdapat autokorelasi. Autokorelasi berarti terdapat korelasi antar anggota sampel atau data pengamatan yang diurutkan berdasarkan waktu. Output hasil regresi memperlihatkan nilai statistik DW adalah , dimana dl bernilai 1.01 dan du bernilai Nilai DW berada di antara 1.01 dan 1.93 (dl < DW < 4-dU), hal ini berarti fungsi pemintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele bebas dari masalah autokorelasi. Dengan dipenuhinya ke-tiga asumsi dasar tersebut menunjukkan bahwa fungsi permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor memenuhi kriteria model yang baik secara ekonometrika. Pembahasan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor menyangkut tingkat signifikansi koefisien masing-masing variabel bebas terhadap permintaan LPG, kesesuaian tanda koefisien dengan hipotesis awal, dan kondisi di lapangan yang mendukung interpretasi faktor-faktor tersebut Harga LPG Harga LPG (PLPG) rata-rata yang dibeli pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor adalah Rp per kg. Koefisien variabel harga LPG memiliki tanda negatif. Tanda ini sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal, dimana harga LPG berpengaruh negatif terhadap permintaan LPG. Berdasarkan hasil analisis regresi, nilai koefisien regresi harga LPG adalah Artinya setiap kenaikan harga LPG sebesar satu rupiah per kg, akan menurunkan permintaan LPG sebesar kg dengan asumsi variabel lain

19 112 tetap, cateris paribus. Nilai probabilitas variabel harga LPG adalah sebesar lebih besar dari α = 0.10 yang berarti harga LPG tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor pada selang kepercayaan 90 persen. Elastisitas harga LPG terhadap permintaan LPG adalah , yang berarti kenaikan harga LPG rata-rata satu persen akan menurunkan jumlah LPG yang diminta sebesar persen. Nilai elastisitas harga LPG bersifat elastis yang berarti perubahan peningkatan harga LPG memberikan respon yang lebih besar terhadap penurunan jumlah LPG yang diminta pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor Harga Kompor Gas Kompor gas sebagai barang komplementer LPG diduga mempengaruhi permintaan LPG. Harga kompor gas (PKGS) rata-rata yang dipakai pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor adalah Rp Koefisien regresi variabel harga kompor gas memiliki tanda negatif. Tanda ini sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal. Harga kompor gas sebagai barang komplementer LPG memiliki hubungan yang negatif dengan permintaan LPG. Nilai koefisien regresi harga kompor gas adalah sebesar , yang berarti kenaikan harga kompor gas satu rupiah akan mengakibatkan penurunan jumlah LPG yang diminta sebesar kg dengan asumsi variabel lain tetap, cateris paribus. Tabel 43 menunjukkan nilai probabilitas untuk variabel harga kompor gas adalah sebasar lebih besar dari α = Hal ini berarti bahwa harga kompor gas tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor pada selang kepercayaan 90 persen. Tidak

20 113 nyatanya pengaruh kompor gas terhadap permintaan LPG diduga karena kondisi di lapangan menunjukkan bahwa kompor gas yang digunakan oleh pedagang warung tenda pecel lele dapat digunakan selama lima tahun atau lebih. Hal ini mengakibatkan penurunan harga kompor gas pada waktu tertentu tidak memberikan pengaruh pada permintaan LPG pedagang tersebut. Elastisitas harga kompor gas terhadap permintaan LPG adalah , yang berarti peningkatan harga kompor gas rata-rata satu persen akan menurunkan jumlah LPG yang diminta rata-rata sebesar persen. Nilai elasitisitas harga kompor gas bersifat inelastis yang berarti bahwa perubahan peningkatan harga kompor gas memberikan respon yang lebih kecil terhadap penurunan jumlah LPG yang diminta pedagang warung tenda pecel lele Harga Beras Harga beras (PBRS) diduga sebagai salah satu variabel yang mempengaruhi permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor, karena beras adalah salah satu bahan baku utama dalam usaha warung tenda pecel lele. Harga rata-rata beras yang digunakan pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor adalah Rp per kg. Koefisien variabel harga beras menunjukkan tanda negatif. Tanda ini sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal. Harga beras sebagai barang komplementer dari LPG memiliki hubungan yang negatif dengan permintaan LPG, yang berarti peningkatan harga beras mengakibatkan penurunan permintaan LPG oleh pedagang warung tenda pecel lele. Nilai koefisien regresi harga beras adalah yang berarti kenaikan harga beras sebesar satu rupiah per kg akan menurunkan permintaan LPG sebesar kg dengan asumsi variabel lain tetap, cateris paribus.

21 114 Berdasarkan analisis regresi, variabel harga beras memiliki nilai probabilitas sebesar lebih besar dari α = 0.10 yang berarti bahwa variabel harga beras tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pada selang kepercayaan 90 persen. Nilai juga menunjukkan bahwa harga beras akan berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 88.9 persen. Elastisitas silang harga beras terhadap permintaan LPG adalah , yang berarti peningkatan harga beras rata-rata satu persen akan mengakibatkan penurunan permintaan LPG rata-rata sebesar persen. Elastisitas silang harga beras ini bersifat elastis. Elastisitas silang harga beras ini menunjukkan tanda yang negatif yang berarti bahwa beras sebagai barang komplementer atau pelengkap dari LPG dalam usaha warung tenda pecel lele Harga Lele Lele sebagai salah satu bahan baku dalam usaha warung tenda pecel lele diduga sebagai salah satu variabel yang mempengaruhi permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor. Harga lele (PLLE) rata-rata yang digunakan pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor adalah Rp per kg. Koefisien variabel harga lele menunjukkan tanda negatif. Tanda ini sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal. Harga lele sebagai barang komplementer dari LPG memiliki hubungan yang negatif dengan permintaan LPG, yang berarti peningkatan harga lele mengakibatkan penurunan permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele. Berdasarkan hasil analisis regresi, nilai koefisien regresi harga lele adalah yang berarti kenaikan harga lele sebesar satu rupiah per kg akan menurunkan permintaan LPG sebesar kg dengan asumsi variabel lain tetap, cateris paribus. Variabel harga lele

22 115 memiliki nilai probabilitas sebesar lebih besar dari α = 0.10 yang berarti bahwa variabel harga lele tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pada selang kepercayaan 90 persen. Elastisitas silang harga lele terhadap permintaan LPG adalah , yang berarti peningkatan harga lele rata-rata satu persen akan mengakibatkan penurunan permintaan LPG rata-rata sebesar persen. Elastisitas silang harga lele ini bersifat inelastis yang berarti perubahan peningkatan harga lele memberikan respon yang lebih kecil terhadap penurunan jumlah LPG yang diminta pedagang warung tenda pecel lele. Elastisitas silang harga lele ini menunjukkan tanda yang negatif yang berarti bahwa lele merupakan barang komplementer atau pelengkap dari LPG dalamusah warung tenda pecel lele Harga Ayam Daging ayam juga termasuk sebagai salah satu bahan baku dalam usaha warung tenda pecel lele. Harga ayam (PAYM) rata-rata yang digunakan pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor adalah Rp per kg. Koefisien variabel harga ayam memiliki tanda negatif. Tanda ini sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal. Harga ayam sebagai barang komplementer dari LPG memiliki hubungan yang negatif dengan permintaan LPG. Berdasarkan hasil analisis regresi, nilai koefisien regresi harga ayam adalah Hal ini dapat berarti peningkatan harga ayam sebesar satu rupiah per kg, akan menurunkan permintaan LPG sebesar kg dengan asumsi variabel lain tetap, cateris paribus. Berdasarkan hasil analisis regresi, variabel harga ayam memiliki nilai probabilitas lebih besar dari α = 0.10 yang berarti bahwa variabel harga

23 116 ayam tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pada selang kepercayaan 90 persen. Elastisitas silang harga ayam terhadap permintaan LPG adalah , yang berarti peningkatan harga ayam rata-rata satu persen akan menurunkan jumlah LPG yang diminta sebesar persen. Nilai elastisitas harga ayam bersifat elastis. Nilai elastisitas silang ini menunjukkan nilai yang negatif, menunjukkan bahwa ayam adalah barang komplementer atau pelengkap dari LPG dalam usaha warung tenda pecel lele Harga Minyak Goreng Minyak goreng sangat dibutuhkan dalam usaha warung tenda pecel lele, karena hampir semua menu yang disediakan di warung tenda pecel lele menggunakan minyak goreng dalam pengolahannya. Harga minyak goreng (PMGR) rata-rata yang digunakan pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor adalah Rp per kg. Koefisien variabel harga minyak goreng memiliki tanda negatif. Tanda ini sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal. Nilai koefisien regresi harga minyak goreng adalah Hal ini dapat berarti peningkatan harga minyak goreng sebesar satu rupiah per kg, akan menurunkan permintaan LPG sebesar kg dengan asumsi variabel lain tetap, cateris paribus. Variabel harga minyak goreng memiliki nilai probabilitas lebih kecil dari α = 0.10 yang berarti bahwa variabel harga minyak goreng berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pada selang kepercayaan 90 persen. Elastisitas silang harga minyak goreng terhadap permintaan LPG adalah , yang berarti peningkatan harga minyak goreng rata-rata satu persen akan

24 117 menurunkan jumlah LPG yang diminta sebesar persen. Nilai elastisitas harga minyak goreng bersifat elastis yang berarti perubahan peningkatan harga minyak goreng lebih kecil dari perubahan penurunan permintaan LPG. Nilai elastisitas silang ini menunjukkan nilai yang negatif, menunjukkan bahwa minyak goreng adalah barang komplementer atau pelengkap dari LPG dalam usaha warung tenda pecel lele Harga Rata-Rata Masakan Pada penelitian ini harga rata-rata masakan (PRMS) yang dihasilkan dalam usaha warung tenda pecel lele diduga sebagai salah satu variabel yang mempengaruhi permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor. Harga rata-rata masakan yang dihasilkan pedagang warung tenda pecel lele adalah Rp per porsi masakan. Koefisien variabel harga rata-rata masakan memiliki tanda positif. Tanda ini sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal. Harga rata-rata masakan memiliki hubungan yang positif dengan permintaan LPG, karena dengan meningkatnya harga jual produk maka pedagang sebagai produsen akan meningkatkan jumlah output yang ditawarkan sehingga jumlah porsi masakan yang dihasilkan semakin banyak dan membutuhkan LPG lebih banyak. Nilai koefisien regresi harga rata-rata masakan adalah Hal ini dapat berarti peningkatan harga rata-rata masakan sebesar satu rupiah per porsi, akan meningkatkan permintaan LPG sebesar kg dengan asumsi variabel lain tetap, cateris paribus. Variabel harga rata-rata masakan memiliki nilai probabilitas lebih besar dari α = 0.10 yang berarti bahwa variabel harga rata-rata masakan tidak berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pada selang kepercayaan 90 persen.

25 118 Elastisitas silang harga rata-rata masakan terhadap permintaan LPG adalah , yang berarti peningkatan harga rata-rata masakan satu persen akan menaikkan jumlah LPG yang diminta sebesar persen. Nilai elastisitas harga rata-rata masakan bersifat inelastis yang berarti perubahan peningkatan harga rata-rata masakan memberikan respon yang lebih kecil terhadap peningkatan jumlah LPG yang diminta pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor Jumlah Tenaga Kerja Jumlah tenaga kerja (JTK) menunjukkan skala usaha pedagang warung tenda pecel lele dan diduga sebagai salah satu variabel yang mempengaruhi permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor. Jumlah tenaga kerja pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor rata-rata adalah dua sampai tiga orang. Koefisien variabel jumlah tenaga kerja memiliki tanda positif. Tanda ini sesuai dengan tanda yang diharapkan pada hipotesis awal. Jumlah tenaga kerja memiliki hubungan yang positif dengan jumlah permintaan LPG, berarti semakin banyak jumlah tenaga kerja menunjukkan skala usaha yang lebih besar sehingga membutuhkan LPG lebih banyak. Berdasarkan hasil analisis regresi, nilai koefisien regresi jumlah tenaga kerja adalah Hal ini dapat berarti penambahan jumlah tenaga kerja satu orang, akan meningkatkan permintaan LPG sebesar kg dengan asumsi variabel lain tetap, cateris paribus. Variabel jumlah tenaga kerja memiliki nilai probabilitas lebih kecil dari α = 0.10 yang berarti bahwa variabel jumlah tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pada selang kepercayaan 90 persen. Nilai juga

26 119 menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja berpengaruh nyata sampai pada selang kepercayaan 100 persen. Elastisitas jumlah tenaga kerja terhadap permintaan LPG adalah 0,6519, yang berarti penambahan jumlah tenaga kerja rata-rata satu persen akan meningkatkan jumlah LPG yang diminta sebesar 0,6519 persen. Nilai elastisitas jumlah tenaga kerja bersifat inelastis yang berarti perubahan penambahan jumlah tenaga kerja memberikan respon yang lebih kecil terhadap peningkatan jumlah LPG yang diminta pedagang warung tenda pecel lele di Kota Bogor Dummy Masakan Bebek Hasil analisis regresi menunjukkan koefisien variabel dummy masakan bebek (DBBK) memiliki tanda positif yang berarti apabila pedagang warung tenda pecel lele memproduksi masakan dari olahan bebek akan meningkatkan permintaan LPG pedagang warung tenda pecel lele, dibanding pedagang warung tenda pecel lele yang tidak memproduksi masakan dari olahan bebek. Variabel dummy masakan bebek memiliki nilai probabilitas lebih kecil dari α = 0.10 yang berarti bahwa variabel dummy masakan bebek berpengaruh nyata terhadap permintaan LPG pada selang kepercayaan 90 persen.

VIII. PENDAPATAN USAHA PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR

VIII. PENDAPATAN USAHA PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR VIII. PENDAPATAN USAHA PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR 8.1 Pendapatan Usaha Martabak Kaki Lima di Kota Bogor Analisis pendapatan usaha bertujuan untuk mengetahui besarnya

Lebih terperinci

VI. FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN RUMAH TANGGA TERHADAP CABAI MERAH KERITING

VI. FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN RUMAH TANGGA TERHADAP CABAI MERAH KERITING VI. FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN RUMAH TANGGA TERHADAP CABAI MERAH KERITING 6.1. Model Permintaan Rumah Tangga Terhadap Cabai Merah Keriting Model permintaan rumah tangga di DKI Jakarta

Lebih terperinci

VI. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI USAHA PEMBESARAN LELE DUMBO DI CV JUMBO BINTANG LESTARI

VI. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI USAHA PEMBESARAN LELE DUMBO DI CV JUMBO BINTANG LESTARI VI. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI USAHA PEMBESARAN LELE DUMBO DI CV JUMBO BINTANG LESTARI 6.1. Analisis Fungsi Produksi Model fungsi produksi yang digunakan adalah fungsi Cobb Douglas. Faktor-faktor

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. melalui penyusunan model regresi linier berganda dari variabel-variabel input dan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. melalui penyusunan model regresi linier berganda dari variabel-variabel input dan BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Estimasi Model Fungsi produksi Cobb-Douglas untuk usaha tanaman kedelai diperoleh melalui penyusunan model regresi linier berganda dari variabel-variabel input dan output

Lebih terperinci

BAB VI. KARAKTERISTIK PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR

BAB VI. KARAKTERISTIK PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR BAB VI. KARAKTERISTIK PEDAGANG MARTABAK KAKI LIMA DAN WARUNG TENDA PECEL LELE DI KOTA BOGOR 6.1 Karakteristik Pedagang Martabak Kaki Lima di Kota Bogor Martabak merupakan salah satu jenis makanan yang

Lebih terperinci

sebuah penelitian tentang: pengaruh laba akuntansi, arus kas opera- sional, ukuran perusahaan, tingkat pertum- buhan perusahaan terhadap harga saham

sebuah penelitian tentang: pengaruh laba akuntansi, arus kas opera- sional, ukuran perusahaan, tingkat pertum- buhan perusahaan terhadap harga saham contoh sebuah penelitian tentang: pengaruh laba akuntansi, arus kas operasional, ukuran perusahaan, tingkat pertumbuhan perusahaan terhadap harga saham kerangka pikir yang diajukan sbb. laba akuntansi

Lebih terperinci

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI GANYONG DI DESA SINDANGLAYA

VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI GANYONG DI DESA SINDANGLAYA VII. ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI GANYONG DI DESA SINDANGLAYA 7.1. Analisis Fungsi Produksi Analisis untuk kegiatan budidaya ganyong di Desa Sindanglaya ini dilakukan dengan memperhitungkan

Lebih terperinci

BAB VI ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR TEH PTPN

BAB VI ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR TEH PTPN BAB VI ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSPOR TEH PTPN 6.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Ekspor Teh PTPN Analisis regresi berganda dengan metode OLS didasarkan pada beberapa asumsi yang harus

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. tahun terakhir yaitu tahun 2001 sampai dengan tahun Data yang. diambil adalah data tahun 2001 sampai 2015.

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. tahun terakhir yaitu tahun 2001 sampai dengan tahun Data yang. diambil adalah data tahun 2001 sampai 2015. BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Deskriptif Sampel dan Data Penelitian ini menggunakan 30 data, sampel yang diamati selama 15 tahun terakhir yaitu tahun 2001 sampai dengan tahun 2015. Data yang diambil

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi dari penelitian ini adalah CV.Nusaena Konveksi yang beralamat di

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi dari penelitian ini adalah CV.Nusaena Konveksi yang beralamat di BAB III METODE PENELITIAN 3.1.Lokasi dan waktu penelitian Lokasi dari penelitian ini adalah CV.Nusaena Konveksi yang beralamat di Jalan Pembangunan Gg. Samoa No. 12 Rumbai - Pekanbaru. Penelitian ini di

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif. Statistik deskriptif adalah ilmu statistik yang mempelajari cara-cara pengumpulan, penyusunan dan penyajian data suatu penilaian. Tujuannya adalah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. laporan keuangan perusahaan transportation services yang terdaftar di Bursa

BAB III METODE PENELITIAN. laporan keuangan perusahaan transportation services yang terdaftar di Bursa BAB III METODE PENELITIAN A. Data dan Sumber Data Jenis data yang dipakai adalah data sekunder, berupa data-data laporan keuangan perusahaan transportation services yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN. Dalam bab ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan data-data

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN. Dalam bab ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan data-data BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN Dalam bab ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan data-data yang berhasil dikumpulkan, hasil pengolahan data dan pembahasan dari hasil pengolahan tersebut. Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN 70 BAB V HASIL PENELITIAN 5.1. Analisis Deskriftif Berdasarkan hasil rekapitulasi tabulasi data variable ROA, DER, CR, EPS, Inflasi, PDB dan Harga Saham diperoleh statistik deskriftif seperti pada tabel

Lebih terperinci

Penelitian ini dilakukan di Kota Bogor,karena untuk memudahkan penulis. melakukan penelitian. Lokasi penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive),

Penelitian ini dilakukan di Kota Bogor,karena untuk memudahkan penulis. melakukan penelitian. Lokasi penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive), IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kota Bogor,karena untuk memudahkan penulis melakukan penelitian. Lokasi penelitian dilakukan dengan sengaja (purposive),

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 65 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data 1. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif pada penelitian ini akan menggambarkan data penelitian tentang CAR, NPF, BOPO,dan ROA dengan penyajian data

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Obyek Penelitian Pada bab ini penulis akan menganalisis data yang telah terkumpul yaitu data dari Dana Perimbangan dan Belanja Modal Provinsi Jawa Timur,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada website Bank Indonesia (www.bi.go.id). Bank

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada website Bank Indonesia (www.bi.go.id). Bank 53 BAB III METODE PENELITIAN III.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan pada website Bank Indonesia (www.bi.go.id). Bank Indonesia selaku bank sentral berdasarkan pasal 4 ayat 1 UU RI No. 23 tahun

Lebih terperinci

BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Tabel 4. Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa variabel harga saham (Y)

BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN. Tabel 4. Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa variabel harga saham (Y) 54 BAB IV HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4. 1. Statistik Deskriptif Hasil statistik deskriptif terhadap variabel penelitian disajikan pada tabel berikut ini : Tabel 4 Des criptive Statistics Mean Std. Deviation

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Hasil Setelah melalui beberapa tahap kegiatan penelitian, dalam bab IV ini diuraikan analisis hasil penelitian dan pembahasan hasil penelitian. Analisis

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 35 BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Agustus 2014 dan mengambil data yang berasal dari situs resmi Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Berikut merupakan Statistik Deskriptif variabel dependen dan variabel. Tabel 4.1

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Berikut merupakan Statistik Deskriptif variabel dependen dan variabel. Tabel 4.1 46 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Berikut merupakan Statistik Deskriptif variabel dependen dan variabel independen. Tabel 4.1 Sumber : output SPSS Dari tabel diatas dapat

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 47 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Unit Analisis Data 1. Data Hasil Penelitian Pada bagian ini akan dibahas mengenai proses pengolahan data untuk menguji hipotesis yang telah dibuat

Lebih terperinci

Berikut sebuah penelitian:

Berikut sebuah penelitian: Berikut sebuah penelitian: pengaruh kesadaran membayar pajak, pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan, persepsi yang baik atas efektifitas sistem perpajakan dan pelayanan fiskus terhadap

Lebih terperinci

menggunakan fungsi Cobb Douglas dengan metode OLS (Ordinary Least

menggunakan fungsi Cobb Douglas dengan metode OLS (Ordinary Least III. METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder dan data primer. Data primer diperoleh dari wawancara langsung dengan pegawai divisi produksi

Lebih terperinci

Korelasi Linier Berganda

Korelasi Linier Berganda Korelasi Linier Berganda Analisa Korelasi Untuk mengukur "seberapa kuat" atau "derajat kedekatan yang terjadi antar variabel. Ingin mengetahui derajat kekuatan tersebut yang dinyatakan dalam koefisien

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Indonesia periode Penelitian ini menggunakan PBV, ROE, dan PER

III. METODE PENELITIAN. Indonesia periode Penelitian ini menggunakan PBV, ROE, dan PER 25 III. METODE PENELITIAN 3.1 Obyek Penelitian Objek penelitian ini adalah sektor consumer goods yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2001-2010. Penelitian ini menggunakan PBV, ROE, dan PER dari

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN 34 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Analisis data yang dilakukan dalam bab ini pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua bagian. Bagian pertama merupakan analisis

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Untuk memberikan gambaran dan informasi mengenai data variabel dalam penelitian ini maka digunakanlah tabel statistik deskriptif. Tabel

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Populasi dalam penelitian ini adalah Perbankan Syariah yang ada di

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Populasi dalam penelitian ini adalah Perbankan Syariah yang ada di BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah Perbankan Syariah yang ada di Indonesia. Sampel adalah wakil dari populasi yang diteliti. Dalam

Lebih terperinci

mempunyai nilai ekstrim telah dikeluarkan sehingga data diharapkan

mempunyai nilai ekstrim telah dikeluarkan sehingga data diharapkan 47 mempunyai nilai ekstrim telah dikeluarkan sehingga data diharapkan mendekati normal. Tabel 4.2 Deskripsi Statistik PT. Indofood Sukses Makmur Periode Pengamatan 2003-2008 Mean Std. Deviation N RETURN.007258.1045229

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Perumnas Simalingkar Medan, Telp/Fax (061)

BAB III METODE PENELITIAN. mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih. Perumnas Simalingkar Medan, Telp/Fax (061) BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis, Lokasi, Waktu Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang gunakan dalam penelitian ini menggunakan desain asosiatif kausal, yaitu penelitian yang dilakukan

Lebih terperinci

VII FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REALISASI PEMBIAYAAN SYARIAH UNTUK SEKTOR AGRIBISNIS

VII FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REALISASI PEMBIAYAAN SYARIAH UNTUK SEKTOR AGRIBISNIS VII FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI REALISASI PEMBIAYAAN SYARIAH UNTUK SEKTOR AGRIBISNIS 7.1. Karakteristik Responden Responden yang diambil dalam penelitian ini berjumlah 38 responden yang menjadi mitra

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian ini di lakukan dikantor Dinas Pendapatan Pengelolaan

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi penelitian ini di lakukan dikantor Dinas Pendapatan Pengelolaan 26 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian ini di lakukan dikantor Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Asset Daerah Kota Gorontalo. Penelitian ini dimulai dengan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Objek penelitian ini adalah return saham perusahaan sektor pertambangan yang

III. METODE PENELITIAN. Objek penelitian ini adalah return saham perusahaan sektor pertambangan yang III. METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Objek penelitian ini adalah return saham perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2008-2012. Selain return, variabel penelitian

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Populasi dalam penelitian ini adalah PT. Bank Syariah Mandiri dan Bank

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Populasi dalam penelitian ini adalah PT. Bank Syariah Mandiri dan Bank BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Sampel Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah PT. Bank Syariah Mandiri dan Bank Indonesia. Sampel adalah wakil dari populasi yang diteliti. Dalam

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Bagian ini menjelaskan mengenai jenis dan sumber data, penentuan jumlah sampel serta alasan menggunakan sampel tersebut, metode pengumpulan data yang dilakukan,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. penelitian ini meliputi jumlah sampel (N), nilai minimum, nilai maksimum,

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. penelitian ini meliputi jumlah sampel (N), nilai minimum, nilai maksimum, 44 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Berdasarkan hasil analisis statistik deskriptif, maka pada Tabel 4.1 berikut ini akan ditampilkan karakteristik sample yang digunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengatur dan mengawasi perbankan, serta menjalankan fungsi sebagai lender of

BAB I PENDAHULUAN. mengatur dan mengawasi perbankan, serta menjalankan fungsi sebagai lender of 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bank Indonesia merupakan lembaga negara yang mempunyai wewenang untuk mengeluarkan alat pembayaran yang sah, merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter,

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis LPG bagi pedagang martabak kaki lima dan warung tenda pecel lele di Kota Bogor adalah bahan bakar utama dalam proses produksinya. Kerangka pemikiran

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. analisis statistik yang menggunakan persamaan regresi berganda. Analisis data

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. analisis statistik yang menggunakan persamaan regresi berganda. Analisis data BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Hasil 1. Statistik Deskriptif Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis statistik yang menggunakan persamaan regresi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. menjadikan Indonesia sebagai salah satu anggota OPEC (Organization of. Tabel 1. Kondisi Perminyakan Indonesia Tahun

I. PENDAHULUAN. menjadikan Indonesia sebagai salah satu anggota OPEC (Organization of. Tabel 1. Kondisi Perminyakan Indonesia Tahun I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara berkembang yang kaya akan sumber daya alam, baik di darat maupun di laut. Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia berupa hasil pertanian, perkebunan,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampoerna, Tbk dengan data laporan keuangan selama 5 tahun terhitung

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampoerna, Tbk dengan data laporan keuangan selama 5 tahun terhitung BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat Dan Waktu Penelitian 3.1.1 Tempat Penelitian Peneliti memilih tempat penelitian di PT. Hanjaya Mandala Sampoerna, Tbk dengan data laporan keuangan selama 5 tahun

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. (Sugiyono, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah Bank Umum Milik

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. (Sugiyono, 2010). Populasi dalam penelitian ini adalah Bank Umum Milik BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Populasi dan Sampel Penelitian 3.1.1. Populasi Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. metode analisis data serta pengujian hipotesis.

BAB III METODE PENELITIAN. metode analisis data serta pengujian hipotesis. BAB III METODE PENELITIAN Pada bab 3 ini akan dijelaskan mengenai metode penelitian yang meliputi populasi dan sampel penelitian, data dan sumber data, variabel operasional, metode analisis data serta

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pendapatan margin pembiayaan murabahah dan pendapatan bagi hasil pembiayaan mudharabah terhadap NPM

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dijelaskan mengenai proses dan hasil serta pembahasan dari pengolahan data yang telah dilakukan. Sebagai alat bantu analisis digunakan software SPSS versi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan quantitative research (penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan quantitative research (penelitian BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan quantitative research (penelitian kuantitatif) dengan penekanan pada pengujian teori melalui variabel-variabel

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Ruang lingkup merupakan batasan lokasi atau variabel yang akan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Ruang lingkup merupakan batasan lokasi atau variabel yang akan 24 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup dan Waktu Penelitian Ruang lingkup merupakan batasan lokasi atau variabel yang akan diteliti. Ruang lingkup dalam penelitian ini yaitu negara Indonesia.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Berdasarkan data yang diinput dari Annual Report (2008-2012) maka dapat dihitung rasio-rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Analisis Statistik Deskriptif Analisis deskriftif digunakan untuk mengetahui deskripsi suatu data, analisis ini dilakukan dengan melihat nilai maksimum, minimum, mean, dan

Lebih terperinci

BAB 3 OBJEK DAN DESAIN PENELITIAN. Secara umum pengertian objek penelitian yaitu inti permasalahan yang dijadikan

BAB 3 OBJEK DAN DESAIN PENELITIAN. Secara umum pengertian objek penelitian yaitu inti permasalahan yang dijadikan BAB 3 OBJEK DAN DESAIN PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Secara umum pengertian objek penelitian yaitu inti permasalahan yang dijadikan topik penulisan dalam rangka penyusunan laporan dari suatu penelitian.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Perusahaan emiten manufaktur sektor (Consumer Goods Industry) yang

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. Perusahaan emiten manufaktur sektor (Consumer Goods Industry) yang BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Objek Penelitian Perusahaan emiten manufaktur sektor (Consumer Goods Industry) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia memiliki beberapa perusahaan, dan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data time series tahunan Data

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan data time series tahunan Data 40 III. METODE PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan data time series tahunan 2002-2012. Data sekunder tersebut bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung. Adapun data

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. yang digunakan dalam penelitian ini adalah DPR, Net Profit Margin

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. yang digunakan dalam penelitian ini adalah DPR, Net Profit Margin 45 BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Pada bagian ini akan disajikan statistik deskriptif dari semua variabelvariabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah DPR,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil dan Pengolahan Data Pada bab ini akan dibahas mengenai proses dan hasil serta pembahasan dari pengolahan data yang akan dilakukan. Data yang telah didapatkan akan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Semangka merah tanpa biji adalah salah satu buah tropik yang diproduksi dan

III. METODE PENELITIAN. Semangka merah tanpa biji adalah salah satu buah tropik yang diproduksi dan 49 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Konsep dasar dan batasan operasional mencakup seluruh pengertian yang digunakan untuk keperluan analisis dan menjawab tujuan yang telah

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Hasil Penelitian 1. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif menggambarkan tentang ringkasan data-data penelitian seperti jumlah data, rata-rata, nilai

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Berdasarkan jenisnya, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data

III. METODOLOGI PENELITIAN. Berdasarkan jenisnya, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data 31 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data 3.1.1 Jenis Data Berdasarkan jenisnya, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif adalah

Lebih terperinci

BAB III DESAIN PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data

BAB III DESAIN PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data BAB III DESAIN PENELITIAN III.1. Desain Penelitian III.1.1. Jenis dan sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang diperoleh penulis secara

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Rasio Profitabilitas, Rasio Solvabilitas Dan Rasio Likuiditas Terhadap

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Rasio Profitabilitas, Rasio Solvabilitas Dan Rasio Likuiditas Terhadap BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Rasio Profitabilitas, Rasio Solvabilitas Dan Rasio Likuiditas Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Perdagangan, Jasa Dan Investasi Di Daftar Efek Syariah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN BAB IV HASIL PENELITIAN A. Analisis Deskripsi Data 1. Analisis Dana Pihak Ketiga Bank BCA Syariah Dana Pihak Ketiga adalah komponen dana yang paling penting, besarnya keuntungan (profit) yang akan dihasilkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. merupakan penelitian kualiitatif yang merujuk pada data deskriptif ( deskriptif

BAB III METODE PENELITIAN. merupakan penelitian kualiitatif yang merujuk pada data deskriptif ( deskriptif BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Dari segi data yang dikumpulkan, diolah dan dianalisis, penelitian ini merupakan penelitian kualiitatif yang merujuk pada data deskriptif ( deskriptif

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data 1. Analisa Statistik Deskriptif Statistik deskriftif menggambarkan tentang ringkasan data-data penelitian seperti minimum, maksimum, mean, dan standar

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan di Pulau Untung Jawa Kabupaten

IV. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan di Pulau Untung Jawa Kabupaten IV. METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ini akan dilaksanakan di Pulau Untung Jawa Kabupaten Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta. Pemilihan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Analisis 1. Analisis Statistik Deskriptif Statistik deskriptif berfungsi untuk memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean),

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 20 BAB III METODE PENELITIAN A. Subyek Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2011-2015. Sampel menggunakan metode purposive

Lebih terperinci

VI. ANALISIS EFISIENSI FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADI

VI. ANALISIS EFISIENSI FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADI VI. ANALISIS EFISIENSI FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADI 6.1 Analisis Fungsi Produksi Hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dapat dijelaskan ke dalam fungsi produksi. Kondisi di lapangan menunjukkan

Lebih terperinci

KORELASI LINIER BERGANDA

KORELASI LINIER BERGANDA KORELASI LINIER BERGANDA 10 Debrina Puspita Andriani Teknik Industri Universitas Brawijaya e-mail : debrina@ub.ac.id Blog : http://debrina.lecture.ub.ac.id/ 2 Outline 3 Analisa Korelasi Untuk mengukur

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian 1. Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif karena serangkaian observasi (pengukuran)

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu penelitian Waktu penelitian yaitu pada bulan Maret 2014 sampai dengan bulan Juni 2014 2. Tempat Penelitian Penelitian dilakukan di Bursa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Volume Perdagangan Saham. Dengan populasi Indeks Harga Saham

BAB III METODE PENELITIAN. Volume Perdagangan Saham. Dengan populasi Indeks Harga Saham 1 BAB III METODE PENELITIAN A. Objek Penelitian Objek penelitian ini difokuskan pada faktor-faktor yang diduga dapat mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan, dan faktorfaktor tersebut adalah

Lebih terperinci

Analisis Regresi: Regresi Linear Berganda

Analisis Regresi: Regresi Linear Berganda Analisis Regresi: Regresi Linear Berganda Pengantar Pada sesi sebelumnya kita hanya menggunakan satu buah X, dengan model Y = b 0 + b 1 X 0 1 Dalam banyak hal, yang mempengaruhi X bisa lebih dari satu.

Lebih terperinci

KORELASI LINIER BERGANDA. Debrina Puspita Andriani /

KORELASI LINIER BERGANDA. Debrina Puspita Andriani    / KORELASI LINIER BERGANDA 10 Debrina Puspita Andriani E-mail : debrina.ub@gmail.com / debrina@ub.ac.id 2 Outline 3 Korelasi Linear Berganda Alat ukur mengenai hubungan yang terjadi antara variabel terikat

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Deskriptif Karakteristik Responden Pada bab ini akan membahas semua data yang dikumpulkan dari responden dalam penelitian, sehingga dapat diketahui bagaimana

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN 4.1 Deskripsi Data Penelitian Setelah melalui berbagai tahapan penelitian yang telah direncanakan oleh peneliti di bagian awal, penelitian ini menghasilkan berbagai hal yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan auditan yang diperoleh dari website resmi Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu www.idx.co.id.

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN 44 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Integrasi Pasar (keterpaduan pasar) Komoditi Kakao di Pasar Spot Makassar dan Bursa Berjangka NYBOT Analisis integrasi pasar digunakan untuk mengetahui bagaimana

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. yang diteliti, yaitu Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Earning Per

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. yang diteliti, yaitu Current Ratio (CR), Debt to Equity Ratio (DER), Earning Per BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN IV.1 Deskripsi Objek Penelitian Objek yang akan digunakan dalam penelitian ini terdiri atas variabel-variabel yang diteliti, yaitu Current Ratio (CR), Debt to Equity

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN. 6.1 Karakteristik Nelayan Tangkap Kelurahan Untung Jawa. Pulau Untung Jawa yang berbasis sumberdaya perikanan menyebabkan

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN. 6.1 Karakteristik Nelayan Tangkap Kelurahan Untung Jawa. Pulau Untung Jawa yang berbasis sumberdaya perikanan menyebabkan VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Karakteristik Nelayan Tangkap Kelurahan Untung Jawa Pulau Untung Jawa yang berbasis sumberdaya perikanan menyebabkan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Sekitar

Lebih terperinci

Contoh Simulasi Analisis Regresi Berganda dengan SPSS

Contoh Simulasi Analisis Regresi Berganda dengan SPSS Contoh Simulasi Analisis Regresi Berganda dengan SPSS A. Deskripsi Objek Penelitian Penelitian menggunakan periode 2007 sampai dengan 2009 sehingga perusahaan yang digunakan adalah perusahaan perbankan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bab ini menjelaskan tahapan yang dilakukan dalam penelitian dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bab ini menjelaskan tahapan yang dilakukan dalam penelitian dengan BAB III METODE PENELITIAN Pada bab ini menjelaskan tahapan yang dilakukan dalam penelitian dengan melalui 4 tahap yang dapat dilihat pada Gambar 3.1 Gambar 3.1 Tahap Analisa Penelitian 3.1 Tahap Pendahuluan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri Kakao di Indonesia. Kegiatan penelitian ini

METODE PENELITIAN. Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri Kakao di Indonesia. Kegiatan penelitian ini IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Bogor, Provinsi Jawa Barat dengan studi kasus Struktur, Perilaku, dan Kinerja Industri Kakao di Indonesia. Kegiatan penelitian

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Deskripsi Data. Tabel 4.1. Hasil Perolehan Data Tahun 2008 sampai dengan Tahun 2011

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. A. Deskripsi Data. Tabel 4.1. Hasil Perolehan Data Tahun 2008 sampai dengan Tahun 2011 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data 1. Analisa Perkembangan Derivatif Analisa perkembangan derivatif di Indonesia dengan mengunakan 49 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data 1. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif pada penelitian ini akan menggambarkan data penelitian tentang FDR, ROE,dan NOM. Sampel penelitian sebanyak

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, time series triwulan dari

III. METODE PENELITIAN. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, time series triwulan dari 34 III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, time series triwulan dari tahun 2005-2012, yang diperoleh dari data yang dipublikasikan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menguji pengaruh rasio keuangan terhadap pertumbuhan laba. Dalam penelitian ini

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menguji pengaruh rasio keuangan terhadap pertumbuhan laba. Dalam penelitian ini BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti merupakan pengujian hipotesis. Penelitian ini menguji pengaruh rasio keuangan terhadap pertumbuhan laba.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 45 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, Dikatakan metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dari tiga variabel independen yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dari tiga variabel independen yaitu Dana Pihak Ketiga (DPK), Non Performing BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Statistik Deskriptif Untuk memberikan gambaran dan informasi mengenai data variabel dalam penelitian ini maka digunakanlah tabel statistik deskriptif. Tabel statistik

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Obyek/Subyek Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menguji bagaimana pengaruh tingkat kesehatan bank berdasarkan metode CAMEL yang diukur dengan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Objek/Subjek Penelitian Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Bursa Malaysia (KLSE) pada tahun

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DATA. Statistika Deskriptif merupakan hal serangkaian teknik statistika yang

BAB 4 ANALISIS DATA. Statistika Deskriptif merupakan hal serangkaian teknik statistika yang BAB 4 ANALISIS DATA 4.1 Statistika Deskriptif Statistika Deskriptif merupakan hal serangkaian teknik statistika yang digunakan untuk mempelajari cara-cara pengumpulan, penyusunan, penyajian data, dan penarikan

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dijelaskan hal yang berhubungan dengan analisis data yang berhasil dikumpulkan, hasil pengolahan data dan pembahasan dari hasil pengolahan data yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. analisis tersebut untuk memperoleh kesimpulan. 68 Jenis penelitian kuantitatif

BAB III METODE PENELITIAN. analisis tersebut untuk memperoleh kesimpulan. 68 Jenis penelitian kuantitatif BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, yakni penelitian yang menganalisis data-data secara kuantitatif kemudian menginterpretasikan hasil analisis

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 22 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Penelitian Bank merupakan lembaga keuangan yang memiliki fungsi sebagai penghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN. Tabel 4.1 Prosedur penarikan sampel

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN. Tabel 4.1 Prosedur penarikan sampel BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Variabel Penelitian No. Pada bab ini akan dibahas tahap-tahap dan pengolahan data yang kemudian akan dianalisis tentang pengaruh profitabilitas, ukuran perusahaan,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Uji Statistik Deskriptif Berdasarkan hasil analisis deskriptif statistik, maka berikut didalam tabel akan ditampilkan karakteristik sampel yang digunakan didalam penelitian

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. independent yaitu dana pihak ketiga, tingkat suku bunga SBI, tingkat Non

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN. independent yaitu dana pihak ketiga, tingkat suku bunga SBI, tingkat Non BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskriptif Statistik Deskripsi variabel yang digunakan dalam penelitian ini meliputi nilai minimum, nilai maksimum, mean, dan standar deviasi dari tiga variabel

Lebih terperinci

Pengaruh Faktor Psikologis Terhadap Keputusan Pembelian Pocari Sweat Pada Mahasiswa Universitas Gunadarma. Destri Andini,

Pengaruh Faktor Psikologis Terhadap Keputusan Pembelian Pocari Sweat Pada Mahasiswa Universitas Gunadarma. Destri Andini, Pengaruh Faktor Psikologis Terhadap Keputusan Pembelian Pocari Sweat Pada Mahasiswa Universitas Gunadarma Destri Andini, 11208460 LATAR BELAKANG Perkembangan usaha saat ini telah diwarnai dengan berbagai

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN A. Statistik Deskriptif Statistik deskriptif dalam penelitian ini akan memberikan informasi mengenai variabel-variabel yang digunakan, seperti Profitabilitas, Debt to EquityRatio

Lebih terperinci