4.1 KONDISI FISIK DAN LINGKUNGAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "4.1 KONDISI FISIK DAN LINGKUNGAN"

Transkripsi

1 Kabupaten Tanjung Jabung Timur terbentuk dari pemekaran Kabupaten Tanjung Jabung menjadi wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, berdasarkan Undang-undang No. 54 Tahun 1999 Tentang Pembentukan Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Tebo, Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur. 4.1 KONDISI FISIK DAN LINGKUNGAN Letak Geografis Kabupaten Tanjung Jabung Timur terletak antara 0 o 53 1 o 41 Lintang Selatan dan antara 103 o o 31 Bujur Timur. Kabupaten yang mempunyai Luas Wilayah 5.445,0 Km 2 ini berbatasan dengan : Sebelah Utara : Laut China Selatan Sebelah Selatan : Kabupaten Muaro Jambi dan Propinsi Sumatera Selatan Sebelah Barat : Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Muaro Jambi Sebelah Timur : Laut China Selatan Secara administratif, Kabupaten Tanjung Jabung Timur terdiri atas 11 kecamatan,81 desa, dan 6 kelurahan. IV - 1

2 Tabel 4. 1 Wilayah Administratif Kabupaten Tanjung Jabung Timur No Kecamatan Ibukota Banyak Banyak Luas Wilayah Desa Kelurahan (km 2 ) 1 Muara Sabak Timur Muar a Sabak ,15 2 Nipah Panjang Nipah Panjang ,30 3 Mendahara Mendahara Ilir , Rantau Rasau Sadu Bandar Jaya Sungai Lokan ,17 251, Dendang Muara Sabak Barat Mendahara Ulu Rantau Indah Nibang Putih Simpang Kiri ,28 120,52 356, Kuala Jambi Geragai Kampung Laut Blok G ,46 234,70 11 Berbak Desa Simpang ,20 Jumlah Sumber: Jambi Dalam Angka, BPS Provinsi Jambi Ketinggian dan Kemiringan Lereng Perbedaan ketinggian suatu wilayah mempunyai pengaruh terhadap suhu udara dan tekanan udara. Oleh sebab itu, ketinggian merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan pola penggunaan lahan untuk suatu kegiatan diatasnya, baik pertanian maupun industri. Berdasarkan ketinggian dari permukaan laut, Kabupaten Tanjung Jabung Timur termasuk kedalam klasifikasi ketinggian dataran rendah, yaitu 0-5 meter dpl dengan karakter lahan pertanian lahan basah dan lahan kering. Kemiringan tanah/lereng adalah sudut yang dibentuk oleh permukaan tanah/bumi dengan bidang horizontal yang dinyatakan dengan persen (%) atau derajat. Kemiringan tanah/lereng sangat berpengaruh terhadap tingkat erosi, drainase keadaan efektif tanah, dan tingkat perkembangan tanah dari suatu wilayah serta merupakan salah satu faktor pembatas bagi pemanfaatannya. IV - 2

3 Apabila ditinjau dari kemiringan lerengnya, maka sebagian besar Kabupaten Tanjung Jabung Timur termasuk datar, yaitu berkisar antara 0-8 %. Tabel 4. 2 Ketinggian Beberapa Ibukota Kecamatan di Kabupaten Tanjung No Jabung Timur Ibukota Kecamatan 1 Mendahara 1 2 Mendahara Ulu 1 3 Geragai 1 4 Dendang 4 5 Muara Sabak Timur 4 6 Muara Sabak Barat 4 7 Kuala Jambi 4 Ketinggian (m dpl) 8 Rantau Rasau 2,5 9 Berbak 2,5 10 Nipah Panjang 3 11 Sadu 5 Sumber : Kabupaten Tanjung Jabung Timur Dalam Angka, Tahun Jenis Tanah Tanah merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan. Secara fisiologis, tanah merupakan hasil bentukan dari beberapa faktor yaitu iklim, organisme bahan induk, topografi dan waktu, sedangkan potensi tanah ditentukan oleh kesuburan fisik dan kesuburan kimiawi yang merupakan hasil manifestasi dari sifat-sifat yang dimilikinya. Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang terletak pada dataran rendah didominasi oleh tanah-tanah yang penuh air dan rentan terhadap banjir pasang surut serta banyaknya sungai besar dan kecil yang melewati wilayah ini. Wilayah ini didominasi jenis tanah gley humus rendah dan orgosol yang bergambut. Daya dukung lahan terhadap pengembangan wilayah sangat rendah sehingga membutuhkan input teknologi dalam pengembangannya Hidrologi Sumber-sumber air di Provinsi Jambi pada umumnya terdiri dari air permukaan dan air tanah. Air permukaan berasal dari sungai-sungai dan danau-danau yang IV - 3

4 berada dalam sistem Satuan Wilayah Sungai Batanghari, yang luasnya hampir mencakup sebagian besar Provinsi Jambi. Sementara itu DAS Batanghari dibagi menjadi beberapa Sub DAS yaitu: Sub DAS Batang Tembesi, Sub DAS Jujuhan, Sub DAS Batang Tebo, Sub DAS Batang Tabir, Sub DAS Tungkal dan Mendahara, Sub DAS Air Hitam, Sub DAS Airdikit, Sub DAS Banyulincir, dan Sub DAS Lainnya. Sub DAS di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur yaitu Sub DAS Tungkal dan Mendahara dimana dilihat dari pola aliran sungainya berbentuk radial dan debit air mencapai 247,6128 m 3 /detik Iklim dan Curah Hujan Secara klimatologis wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur beriklim basah dengan hujan hampir sepanjang tahun, atau kurang lebih 8 10 bulan basah dan bulan kering 2 4 bulan. Rata-rata curah hujan pada tahun 2006 yaitu 241,6 mm dan rata-rata jumlah hari hujannya sebesar 11 hari per tahun. Suhu udara rata-rata di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur yaitu 25,60C 28,30C. Pada tahun 2005 suhu udara rata-rata bulanan menunjukkan bahwa suhu tertinggi terjadi pada bulan Mei (27,30C) dan suhu terendah pada bulan Januari (26,30C) dengan kelembaban udara 78%-81% pada Desember/Januari dengan 73% pada bulan September serta kecepatan angin 6,4 m/det pada bulan Mei dan 10,3 m/dt pada bulan Januari Pola Penggunaan Lahan Pola penggunaan lahan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur terdiri atas lahan sawah dan lahan non sawah yaitu bangunan, tegalan, padang rumput, tambak, kolam/ empang, hutan, lahan kosong (tidak diusahakan) dan penggunaan lahan lainnya. Dilihat dari tabel dan grafik diatas pola penggunaan lahan yang ada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur pada tahun 2005 sebesar 35,1% lahan yang digunakan sebagai hutan milik negara, 20,02% lahan sawah, 19,09% lahan yang tidak diusahakan (lahan kosong), bangunan (13,97%), tegalan (3,72%), padang rumput (0,27%), tambak (0,06%), empang/kolam (0,03%), dan lahan lainnya (7,6%). Penggunaan lahan sawah, bangunan, dan hutan negara dari tahun ke tahunnya semakin meningkat, artinya semakin berkembangnya jumlah penduduk maka kebutuhan akan lahan semakin meningkat pula. IV - 4

5 Tabel 4. 3 Perkembangan Penggunaan Lahan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Tahun NO PENGGUNAAN LAHAN Lahan Sawah Bangunan Tegalan Padang rumput Tambak Kolam / empang Hutan negara Tidak diusahakan Lainnya Sumber : BPS Kabupaten Tanjung Jabung Timur KEPENDUDUKAN Jumlah dan Perkembangan Jumlah penduduk Kabupaten Tanjung Jabung Timur pada kurun waktu menunjukkan kecenderungan peningkatan, namun dengan tingkat pertumbuhan ratarata yang kecil, yaitu 1,97 %. Tahun 2002, jumlah penduduk Kabupaten 215, , , , , , , , Tanjung Jabung Timur adalah jiwa. Tahun 2003, jumlah tersebut meningkat menjadi jiwa dan tahun 2004 menjadi jiwa. Tahun 2005, jumlah penduduk Kabupaten Tanjung Timur adalah jiwa dan tahun 2006 meningkat menjadi jiwa. Kecamatan Sadu tercatat sebagai kecamatan yang paling tinggi tingkat pertumbuhannya, yaitu sebesar 4,26 % per tahunnya, sedangkan Kecamatan Dendang tercatat sebagai kecamatan yang paling rendah tingkat pertumbuhannya yaitu sebesar 0,36 % per tahunnya. IV - 5

6 Tabel 4. 4 Perkembangan Jumlah Penduduk di Kabupaten Tanjung Jabung Tahun No Kecamatan 2 Mendahara Ulu Tahun 2004 Tahun 2005 Tahun 2006 Rata-Rata Pertumbuhan 1 Mendahara , Muara Sabak Timur ,79 6 Muara Sabak Barat ,38 11 Sadu ,26 JUMLAH ,39 Sumber : Kab. Tanjung Jabu ng Timur Dalam Angka, Th ,81 3 Geragai ,44 4 Dendang ,36 7 Kuala Jambi ,28 8 Rantau Rasau ,16 9 Berbak ,48 10 Nipah Panjang , Proyeksi Penduduk tahun 2020 Dengan laju pertumbuhan rata-rata penduduk tahun sebesar 1,97% dan dengan asumsi tidak terdapat faktor yang akan mempengaruhi pertumbuhan penduduk Kabupaten Tanjung Jabung Timur secara signifikan dimasa yang akan datang, maka jumlah penduduk tahun 2020 diperkirakan mencapai jiwa. Tabel 4. 5 Proyeksi Penduduk Kabupaten Tanjung Jabung Tahun 2020 No 1 Kecamatan Mendahara Tahun Tahun Tahun Mendahara Ulu Geragai Dendang Muara Sabak Timur Muara Sabak Barat Kuala Jambi Rantau Rasau Berbak Nipah Panjang Sadu JUMLAH Sumber : Hasil Perhitungan, tahun 2007 IV - 6

7 Berdasarkan proyeksi tersebut, penduduk yang tertinggi adalah Kecamatan Muara Sabak Timur ( jiwa). Kecamatan Berbak adalah kecamatan yang jumlah penduduknya terendah diantara kecamatan-kecamatan yang lainnya yaitu ( jiwa) Kepadatan Penduduk Kepadatan penduduk merupakan perbandingan antara jumlah penduduk dengan dengan luas wilayah pada tahun tertentu. Kepadatan penduduk digunakan untuk mengetahui wilayah yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi dan terendah karena kepadatan tertinggi itu dapat memberikan berbagai dampak diantaranya banyaknya tenaga kerja yang tersedia sebagai pelaku di sektor industri. Kepadatan penduduk pada tahun 2006 mengalami kenaikan yang tidak begitu signifikan yaitu 38,72 jiwa/km 2 yang tahun sebelumnya sebesar 38,30 jiwa/km 2. Kecamatan yang memiliki tingkat kepadatan paling tinggi yaitu berada di Kecamatan Muara Sabak Timur yaitu sebesar 144,50 jiwa/km 2 (tahun 2006) yang memiliki kedudukan sebagai ibukota Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Dan tingkat kepadatan terendah berada di Kecamatan Sadu sebesar 7,42 jiwa/km 2 (tahun 2006), kecamatan ini memiliki wilayah terluas di Kabupaten Tanjung Jabung Timur akan tetapi jumlah penduduknya belum begitu padat. No Tabel 4. 6 Kepadatan Penduduk Kabupaten Tanjung Jabung Tahun Kecamatan Luas (Km 2 ) Tahun 2005 Pendudu k Tahun 2006 Kepadatan Penduduk Kepadatan 1 2 Mendahara Mendahara Ulu 911,15 381, ,59 30, ,79 31,21 3 Geragai 285, , , Dendang Muara Sabak Timur 478,17 251, ,62 143, ,88 144,50 6 Muara Sabak Barat 410, , ,77 7 Kuala Jambi 120, , , Rantau Rasau Berbak 356,12 194, ,75 51, ,74 52,30 10 Nipah Panjang 234, , ,99 11 Sadu JUMLAH 1.821, , ,29 38, ,42 38,72 Sumb er : Kab. Tanjung Jabung Timur Dalam Angka, Th IV - 7

8 4.2.4 Karakteristik Rasio Ketergantungan Jumlah penduduk menurut usia dapat digunakan untuk melihat berapa besar tingkat produktivitas pendu duk, angkatan kerja atau usia produktif dan non produktif penduduk. Perbandingan antara penduduk usia non produktif (usia 0-19 tahun dan > 60 tahun) dengan penduduk usia produktif (20-59 tahun ) menunjukkan bahwa angka ketergantungan penduduk di Kabupaten Tanjung Jabung Timur adalah 82,58, yang berarti beban tanggungan tinggi. Setiap 2 orang produktif menanggung sekitar 1-2 orang non produktif. Tabel 4. 7 Penduduk Menurut Usia di Kabupaten Tanjung Jabung Tahun 2006 Kelompok Umur Laki-Laki Perempuan Jumlah (Jiwa) > JUMLAH Sumber : Kab. Tanjung Jabung Timur Dalam Angka, Th Karakteristik Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan memberikan gambaran karakteristik kualitas penduduk di suatu wilayah, terutama dalam kaitannya dengan ketersediaan sumberdaya manusia dan tenaga kerja. Se kitar 36,07% penduduk Kabupaten Tanjung Jabung Timur memiliki pendidikan SD/MI/sederajat, sementara sekitar 38,76 % tidak sekolah. Penduduk dengan pendidikan SLTP / MTs / sederajat dan pendidikan tinggi hanya sekitar 25,17%. IV - 8

9 1,35% 6,64% 1,31% 0,66% 15,21% 38,76% 36,07% Tidak Lulus SD SD/ MI/ Sederajat SLTP/ MTs/ Sederajat SMU/ MA/ Sederajat SM Kejuruan DI/ DII DIII/ DIV/ SI/ S2/ S Karakteristik Penduduk Menurut Mata Pencaharian Bila dilihat dari lapangan usaha dalam bekerja, terdapat lebih dari dua pertiga penduduk di Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang bekerja disektor pertanian (70,15%), selanjutnya sektor perdagangan (8,89%), sektor jasa (7,04%), dan sektor industri (3,77%). Tabel 4. 8 Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kabupaten Tanjung Jabung Tahun 2006 No Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa) Persentase 1 Pertanian ,15 2 Pertambangan dan Penggalian ,49 3 Industri ,77 4 Listrik, Gas dan Air 86 0,10 5 Konstruksi ,18 6 Perdagangan ,89 7 Transportasi dan Komunikasi ,62 8 Keuangan 158 0,18 9 Jasa ,04 10 Lainnya 502 0,58 JUMLAH Sumb er : Kab. Tanjung Jabung Timur Dalam Angka, Th 2005 IV - 9

10 4.3 STRUKTUR PEREKONOMIAN Pertumbuhan Perekonomian Sektor -sektor ekonomi Kabupaten Tanjung Jabung Timur masih didominasi oleh sektor primer yang berkarakter basis sumberdaya dan merupakan basis ekspor. Hal ini terlihat dari menonjolnya peran pertambangan dan penggalian sebesar 42,88% pada tahun Sektor pertanian, peternakan, perikanan dan kehutanan memberikan kontribusi sebesar 24,63% pada tahun Sektor perdagangan, hotel dan restoran juga memberikan kontibusi yang cukup besar yaitu 14,67% pada tahun 2004 dan 14,76% pada tahun Dengan struktur ekonomi yang didukung oleh kegiatan primer dan sekunder yang berimbang serta ditunjang kegiatan tersier yang berkembang cepat di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, maka pertumbuhan perekonomian di kabupaten ini memiliki prospek yang lebih baik di masa datang. Basis perekonomian yang semakin kuat akan berpengaruh terhadap perkembangan kegiatan sektor transportasi dan komunikasi dalam menunjang kegiatan perekonomian. Peran sektor ini diperkirakan akan segera meningkat sejalan dengan akan dioperasionalkannya Pelabuhan Muara Sabak. Tabel 4. 9 Perkembangan PDRB Berdasarkan Harga Berlaku Kabupaten Tanjung Jabung Timur Tahun No Lapangan Usaha TAHUN Pertanian, peternakan, Kehutanan & Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas dan Air Bersih Bangunan Perdangan, Hotel dan Restauran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa - Jasa Total PDRB Jumlah Migas Total PDRB Tanpa Migas Sumber : Kab. Tanjung Jabung Timur Dalam Angka, Th 2005 IV - 10

11 Berdasarkan RTRW Provinsi Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur merupakan wilayah potensial pertanian dan industri Provinsi Jambi, yaitu pada sub sektor pertanian tanaman pangan dengan jenis kegiatan persawahan/padi, sub sektor perkebunan kelapa dalam, perikanan laut dan industri baik industri besar, menengah maupun industri kecil Pertanian dan Industri Pengolahan sebagai Penopang Pengembangan Kawasan Agro-Industri di Kabupaten Tanjung Jabung Timur Pertanian Pertanian di Kabupaten Tanjung Jabung Timur terdiri atas pertanian tanaman bahan makanan, peternakan, perkebunan, perikanan dan peternakan. Pertanian tanaman bahan makanan wilayah ini didominasi oleh produksi padi. Lahan sawah seluas hektar yang pengairannya bergantung pada pasang surut Sungai Batanghari terbentang di hampir semua kecamatan. Tahun 2006 luas panen hektar dengan produksi padi ton. Kecamatan penghasil padi terbesar adalah Muarasabak Timur, disusul Rantau Rasau, Nipah Panjang, dan Dendang. Rata-rata produksi per tahun 3,41 ton. Tabel Produksi Padi di Kabupaten Tanjung Jabung Timur tahun 2006 Kecamatan Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Rata-Rata Produksi (Ton) Mendahara ,22 Mendahara Ulu ,86 Geragai Dendang ,37 Muara Sabak Timur ,16 Muara Sabak Barat ,97 Kuala Jambi ,85 Rantau Rasau ,14 Berbak Nipah Panjang ,14 Sadu ,36 JUMLAH ,41 Sumber : Kab. Tanjung Jabung Timur Dalam Angka, Th 2006 IV - 11

12 Padi Tanjung Jabung Timur, selain dikonsumsi sendiri, juga dijual ke kabupaten lain di Provinsi Jambi. Bulog enggan membeli karena kandungan airnya dinilai terlalu tinggi. Kenyataannya, panen raya padi sawah pasang surut biasanya pada musim hujan. Sarana menjemur padi sangat minim, bahkan tidak tersedia sama sekali. S ementara, produksi perkebunan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur antara lain adalah kelapa, kelapa hibrida, kopi, karet, coklat, dan pinang. Kelapa merupakan hasil produksi perkebunan yang paling besar, dimana produksi pada tahun 2002 mencapai ,85 ton. Akan tetapi pada tahun berikutnya mengalami penur unan dan mengalami peningkatan kembali di tahun 2005 yaitu ton. Komoditas perkebunan lainnya yang mengalami pertumbuhan produksi cukup signifikan adalah pinang. Tabel Komoditas Perkebu nan Kab. Tanjung Jabung Timur tahun 2005 Jenis Tanaman Tahun Karet 4.366,5 892, , , Kelapa , , , , Kelapa hibrida , Kopi 503,75 504,25 504,35 504, Coklat 3.227,5 533,8 327,5 327,5 695 Pinang 888,7 990,7 988,7 988, JUMLAH , , , , Sumber : Kab. Tanjung Jabung Timur Dalam Angka, Th 2005 Sub sektor pertanian lainnya yang berpotensi untuk dikembangkan adalah perikanan dan peternakan. Perikanan yang dominan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur adalah perikanan tangkap (laut). Menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Tanjung Jabung, produksi perikanan laut tahun 2004 mencapai ,6 ton. Banyak nelayan yang langsung menjual ikan dan udang tangkapannya ke pembeli di tengah laut. Sentra penghasil ikan berada di Kecamatan Nipah Panjang, Sadu dan Mendahara. Sementara, perikanan tambak (budidaya), masih sedikit diusahakan, antara lain di Kecamatan Mendura, Muara Sabak Barat, Kuala Jambi, Berbak, Nipah Panjang, dan Sadu. IV - 12

13 Tabel Produksi Perikanan Kab. Ta njung Jabung Timur tahun 2005 JENIS TANAMAN TAHUN Perairan laut , , ,6 Perairan umum 688,4 434,1 434,1 707,6 420,2 Kolam 25 25,1 25,1 35, ,2 Tambak ,3 172,3 462,6 0 Kerambah 0 6,2 6,2 7,2 0 JUMLAH , , , , Sumber : Kab. Tanjung Jabung Timur Dalam Angka, Th 2005 Potensi dalam bidang peternakan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur meliputi sapi, kerbau, kambing, ayam buras, ayam ras, dan itik. Kegiatan peternakan yang banyak dikembangkan yaitu jenis ternak ayam ras, dimana pada tahun 2005 produksi dagingnya mencapai kg. Kegiatan Industri Kegiatan industri di Kabupaten Tanjung Jabung Timur berupa industri hasil pertanian/ kehutanan, industri an eka dan industri log am mesin ki mia. Industri hasil pertanian merupakan sentra industri yang s angat berpotensi untuk dikembangkan di Kabup aten Tanjung Jabung Timu r. Hal ini menunjukkan banyaknya jumlah tenaga kerja yang diserap dan otomatis dapat menaikkan kesejahteraan ekonomi masyarakat. Tabel Banyaknya Perusahaan Dibidang Industri di Kabupaten Tanjung Jabung Timur tahun 2005 Jenis Industri Jumlah Perusahaan Jumlah Tenaga Kerja Industri hasil pertanian Industri aneka 8 16 Industri kimia dasar Jumlah Sumber : Kab. Tanjung Jabung Timur Dalam Angka, Th 2005 IV - 13

14 Berdasarkan jenis industrinya, industri pengolahan pertanian di Kabupaten Tanjung Timur saat ini antara lain adalah minyak kelapa pabrik, cold storage, pengolahan kayu, pengeringan kopra, dll. Hal ini menunjukkan adanya peluang pengembangan kegiatan industri berbasis agro (potensi pertanian secara menyeluruh). Tabel Banyaknya Perusahaan Menurut Jenis Industri di Kabupaten Tanjung Jabung Timur tahun 2005 Jenis Industri Jumlah Perusahaan Jumlah Tenaga Kerja I. I ndustri Hasil Pertanian/Kehutanan ( IHPK) Besar Formal 1. Minyak kelapa pabrik Cold Storage Pengolahan kayu II. Industri Hasil Pertanian Dan Kehutanan (Formal) 1. Industri es batu Pengeringan ikan/udang Pembuatan tahu Pembuatan tempe Pen geringan kopra Pembuatan terasi udang Pembuatan arang tempurung Pengolahan rotan Meubel kayu Kerupuk ikan Penggilingan padi 1 2 III. Industri Hasil Pertanian Dan Kehutanan (Non Formal) 1. Minyak kelapa kampung Pengeringan udang Pembuatan tahu Pembuatan tempe Pengeringan kopra Kerupuk ikan udang Pembuatan gula kelapa Pembuatan terasi udang Anyaman rotan Anyaman pandan 2 12 IV - 14

15 IV. Jenis Industri Jumlah Perusahaan Jumlah Tenaga Kerja 11. Pengolahan rotan Kerajinan bambu 2 4 Industri Aneka Kecil Formal 1. Tenun sutra Sablon 1 4 V. Industri Logam Mesin Kimia (ILKM) Kecil Formal VI. 1. Batu bata Reparasi motor Reparasi mesin/las Galangan kapal kayu Industri Logam Mesin Kimia (ILKM) Non Formal 1. Batu bata Reparasi sepeda Reparasi mesin/las Galangan kapal kayu Aper besi 5 15 Sumber : Kab. Tanjung Jabung Timur Dalam Angka, Th DUKUNGAN TRANSPORTASI Transportasi Darat Dukungan transportasi darat didukung oleh keberadaan jaringan jalan. Jalan merupakan prasarana untuk memperlancar kegiatan perekonomian, memudahkan mobilitas penduduk dan memperlancar perdagangan antar daerah. Panjang jalan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur pada tahun 2006 adalah 871,35 Km. Sekitar 16,4 km jalan tersebut berkelas IIIA, yang berarti jalan arteri atau kolektor yang dapat dilalui kendaraan bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak lebih 2,5 m, ukuran panjang tidak lebih dari 18 m dan muatan sumbu terberat yang diijinkan 8 ton (PP NO. 43 tahun 1993 tentang Klasifikasi Jalan). Sisanya tidak memiliki kelas jalan secara terinci. Dari panjang jalan 871,35 km, sekitar 353,56 km memiliki kondisi sedang dan 147,31 km yang berkondisi baik, sisanya memiliki kondisi rusak dan rusak berat. Jalan rusak terpanjang ditemukan di Kecamatan Mendahara dan Muara Sabak Timur. IV - 15

16 Tabel Kondisi Jalan di Kab. Tanjung Jabung Timur tahun 2006 Kecamatan Kondisi Jalan Baik Sedang Rusak Rusak Berat Jumlah Mendaha ra 38, , ,84 Mendaha ra Ulu Geragai 0 12, ,65 Dendang 0 30, ,15 Muara Sabak Timur 53,1 48,81 82,33 60,3 244,54 Muara S abak Barat 0 28, ,45 Kuala Ja mbi 0 23,1 10,3 0 33,4 Rantau R asau 25,1 60, ,3 116,6 Berbak Nipah Panjang 20,17 20, ,58 79,55 Sadu 10,2 84,4 15,7 52,87 163,17 JU MLAH 147,31 353,56 201,43 153,05 855,35 Sumber : Dinas Perhubungan Kab. Tanjung Jabung Timur, Th 2006 Dilihat dari jenis permukaannya lebih dari 50% panjang jalan yang ada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur masih berupa jalan tanah (502,66 km), sementara yang sudah beraspal hanya sekitar 144,77 km. Dimasa mendatang, guna mendukung kelancaran pergerakan barang dan penumpang, peningkatan kualitas jalan merupakan hal penting untuk diperhatikan oleh Pemerintah Daerah setempat. Tabel Kondisi Permukaan Jalan di Kab. Tanju ng Jabung Timur tahun 2006 Kecamatan Jenis Permukaan Jalan Aspal Kerikil/ Koral Tanah Jumlah Mendahara ,84 146,84 Mendahara Ulu Geragai 6 6, ,65 Dendang 0 16,4 13,75 30,15 Muara Sabak Timur 64,4 66,94 113,2 244,54 Muara Sabak Barat 8,1 14, ,45 Kuala Jambi 0 6, ,4 Rantau Rasau 41,1 1, ,6 Berbak Nipah Panjang 22,17 5, ,55 Sadu 3 57,3 102,87 163,17 J UMLAH 144,77 207,92 502,66 855,35 Sumber : Dinas Perhubungan Kab. Tanjung Jabung Timur, Th 2006 IV - 16

17 4.4.2 Transportasi Air Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, transportasi air merupakan prioritas pembangunan yang diharapkan dapat mendukung perkembangan distribusi ekonomi di wilayah ini. Moda angkutan air yang mendukung sistem transportasi air ini antara lain kapal motor, speed boat, dan pompong. Pada tahun 2006, terdapat 76 kapal motor, 900 speedboat, dan 129 pompong. Di masa mendatang, Tanjung Jabung Timur direncanak an menjadi gerbang Provinsi Jambi. Semua ekspor dari berbagai wilayah akan melalui Pelabuhan Muarasabak. Rencana ini memacu pemerintah kabupaten berbenah diri. Bangunan fisik kompleks ibukota kabupaten yang baru di Desa Rano, Kecamatan Muarasabak seluas 100 hek tar sudah selesai dibangun. Pelabuhan Muara Sabak telah sejak lama berperan dalam meningkatkan perekonomian wilayah. Hasil penelitian yang dilakukan beberapa lembaga a.l. Institut Teknologi Bandung, PT Deserco Devel opment Service, dan Japan International Cooperation Age ncy (JICA) menyebutkan Pelabuhan Muara Sabak Kabupaten Tanjung Tabung Timur merupakan satu dari tujuh pelabuhan sungai di Indonesia yang memiliki prospek sangat menguntungkan. Pada tahun 2006, jumlah kegiatan bongkar di Pelabuhan Muara Sabak mencapai ,27 ton dan kegiatan muat mencapai ,78 ton. Pelabuhan lainnya yang ada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur adalah Pelabuhan Nipah Panjang. Meskipun sudah dapat melayani aktivitas bongkar muat, namun hingga saat ini masih sepi pengunjung dan masih jarang perusahaan yang memanfaatkan Pelabuhan Muara Sabak. Ini terjadi karena Pemerintah Provinsi Jambi sebagai regulator di daerah dan PT Pelindo Cabang Jambi belum secara optimal memanfaatkan pelabuhan ini. Tabel Kegiatan Pelabuhan di Kab. Tanjung Jabung Timur tahun 2006 Bulan Nipah Panjang Muat (ton) Muara Sabak Nipah Panjang Bongkar (ton) Muara Sabak Januari , ,41 Februari , ,54 Maret , ,7 April , ,13 Mei ,44 Juni 1.576, , ,25 IV - 17

18 Bulan Muat (ton) Bongkar (ton) Nipah Muara Nipah Muara Panjang Sabak Panjang Sabak Juli , ,67 Agustus , ,65 September , ,86 Oktober , ,71 November , ,96 Desember ,46 JUMLAH , , ,78 Sumber : Kab. Tanjung Jabung Timur Dalam Angka, Th DUKUNGAN INFRASTRUKTUR LAINNYA DAN KETERSEDIAAN SARANA WILAYAH Penyediaan Air Bersih Kebutuhan akan air bersih masyarakat Kabupaten Tanjung Jabung Timur dipenuhi oleh sumber a ir yang berasal dari PDAM, sumur pompa, su mur gali dan mata air. Sebagian besar penduduk Kabupaten Tanjung Jabung Timur menggunakan sumber air sumur gali dan PD AM. Pada tahun 2005, jumlah produksi air minum yang disalurkan oleh PDAM mencapai m 3 dan yang terjual sekitar m Penyediaan Listrik Perkembangan perlistrikan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur meningkat sesuai dengan lajunya perkembangan pembangunan. Pada tahun 2005, jumlah daya terpasang mencapai kwh dan daya mampu sekitar kwh. Daya ini didukung oleh keberadaan 35 mesin diesel, yang tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Adapun jenis pelanggan dikelompokkan menurut lima golongan yaitu golongan rumah tangga, industri, pemerintahan, penerangan jalan dan bisnis. Pelanggan terbesar adalah rumahtangga, dan yang masih sangat minim adalah pelanggan industri. IV - 18

19 Tabel Produksi Listrik di Kab. Tanjung Jabung Timur tahun 2005 Jenis Jumlah Produksi Penggunaan Pelanggan Terjual (Kwh) Nilai (Rp) Rumah Tangga Industri Perkantoran Sosial Bisnis Penerangan Jalan Jumlah Sumber : Kab. Tanjung Jabung Timur Dalam Angka, Th Dukungan Jaringan Drainase Sistem drainase di Kabupaten Tanjung Jabung Timur mengikuti kondisi topografi dan pola jaringan jalan, baik jalan utama maupun jalan lingkungan yang ada. Arah aliran drainase sebagian besar menuju ke arah yang selanjutnya bermuara pada sungai-sunga i yang berada di wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Sistem drainase di K abupaten Tanjung Jabung Timur ini dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu : 1. Sa luran Pembuangan Mikro Saluran pembuangan mikro di Kabupaten Tanjung Jabung Timur terbagi atas sa luran terbuka, saluran tertu tup, dan gorong-gorong. Saluran terbuka merupakan saluran terpanjang di kabupaten ini jika dibandingkan dengan saluran lainnya yang ada, yaitu sekitar m. Permasalahan yang ada menyangkut sistem drainase mikro yaitu terjadinya genangan, banjir, dan pendangkalan saluran. Masalah tersebut muncul karena menyempitnya saluran yang ada karena terjadi pengendapan, penyumbatan pada gorong-gorong, kapasitas saluran yang tidak memadai lagi, tidak terdapatnya street inlet di beberapa saluran dan tertutupnya mabhole/ street inlet oleh sampah. 2. Saluran Pembuangan Makro Saluran pembuangan makro meliputi saluran pembuangan alami, misalnya sungai dan kali yang mengalir di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Sungai dan kali tersebut menjadi muara saluran drainase mikro yang ada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. IV - 19

20 4.5.4 Pengelolaan Air Limbah Pengelolaan air limbah di Kabupaten Tanjung Jabung Timur masih difokuskan pada upaya penyaluran air kotor dan limbah padat domestik. Penyaluran air kotor domestik saat ini masih menggunakan sistem tercampur dengan pembuangan air hujan melalui saluran tertutup dan terbuka. Sementara, sistem pengelolaan limbah padat domestik dilakukan dengan menggunakan sistem sanitasi setempat (on site sanitation). Sebagian besar masyarakat telah menggunakan jamban pribadi berupa cubluk atau tangki septik, namun ada yang masih menggunakan sungai sebagai tempat pembuangan limbah domestik atau limbah rumah tangga Pengelolaan Persampahan Sampah merupakan salah satu masalah yang cukup kompleks dan relatif sulit penangan annya. Beberapa kesulitan muncul karena secara kuantitas jumlahnya besar dan beragam komposisinya. Di wilayah perdesaan sampah kurang menimbulkan masalah karena ketersediaan lahan yang masih luas sehingga daya dukung lingkungan masih mencukupi untuk mengatasi sampah yang diproduksi oleh penghuninya. Sampah selalu menjadi salah satu persoalan penting di kota, kawasan industri, pemukiman, perdagangan maupun komunitas-komunitas lain. Sampah juga terkait pada beberapa persoalan lingkungan yang serius meliputi pencemaran sumberdaya air, pencemaran udara, tempat hidup dan berkembangnya berbagai agen penyebab penyakit baik bakteri maupun virus, berbau, memberi kesan kumuh dan kotor. Permasalahan pengelolaan persampahan menjadi sangat serius di perkotaan karena kompleksnya permasalahan yang dihadapi dan kepadatan penduduk yang terus meningkat. Hal ini berhubungan dengan meningkatnya laju timbulan sampah akibat meningkatnya jumlah penduduk, sehingga pengelolaan persampahan sering diprioritaskan penanganannya di daerah perkotaan. Namun demikian penanganan persampahan di daerah pedesaan bukan berarti tidak penting karena di daerah pedesaan dengan kondisi jumlah bangunan yang relatif rendah, lahan kosong cukup luas dan daya dukung alam masih tinggi pengelolaan persampahan dapat dilakukan dalam skala komunitas secara alamiah misalnya ditimbun dan dibakar. IV - 20

REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005

REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005 BOKS REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005 I. PENDAHULUAN Dinamika daerah yang semakin kompleks tercermin dari adanya perubahan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR... I DAFTAR ISI... I DAFTAR TABEL... VII DAFTAR GAMBAR... IX BAB 1 PENDAHULUAN... I LATAR BELAKANG... I - 1

KATA PENGANTAR... I DAFTAR ISI... I DAFTAR TABEL... VII DAFTAR GAMBAR... IX BAB 1 PENDAHULUAN... I LATAR BELAKANG... I - 1 KATA PENGANTAR... I DAFTAR ISI... I DAFTAR TABEL... VII DAFTAR GAMBAR... IX BAB 1 PENDAHULUAN... I - 1 1.1 LATAR BELAKANG... I - 1 1.2 RUMUSAN PERSOALAN... I - 2 1.3 MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN... I - 5

Lebih terperinci

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan Berdasarkaan uraian sebelumnya, maka kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai berikut: 1. Topografinya, Kabupaten Subang dapat dibagi ke dalam 3 (tiga) zona/klasifikasi

Lebih terperinci

BAB III PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KABUPATEN MURUNG RAYA MENURUT LAPANGAN USAHA

BAB III PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KABUPATEN MURUNG RAYA MENURUT LAPANGAN USAHA BAB III PERKEMBANGAN PEREKONOMIAN KABUPATEN MURUNG RAYA MENURUT LAPANGAN USAHA Perkembangan perekonomian suatu wilayah, umumnya digambarkan melalui indikator Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Pendekatan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. kota Bandar Lampung. Kecamatan kemiling merupakan kecamatan hasil

III. METODE PENELITIAN. kota Bandar Lampung. Kecamatan kemiling merupakan kecamatan hasil III. METODE PENELITIAN A. Gambaran Umum Kecamatan Kemiling. Kondisi Wilayah Kecamatan kemiling merupakan bagian dari salah satu kecamatan dalam wilayah kota Bandar Lampung. Kecamatan kemiling merupakan

Lebih terperinci

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar BAB II PROFIL WILAYAH KAJIAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN. Bandar Lampung merupakan Ibukota Provinsi Lampung yang merupakan daerah

IV. GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN. Bandar Lampung merupakan Ibukota Provinsi Lampung yang merupakan daerah IV. GAMBARAN UMUM TEMPAT PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Kota Bandar Lampung Bandar Lampung merupakan Ibukota Provinsi Lampung yang merupakan daerah yang dijadikan sebagai pusat kegiatan pemerintahan, politik,

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Tengah BT dan LS, dan memiliki areal daratan seluas

IV. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Tengah BT dan LS, dan memiliki areal daratan seluas IV. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Tengah 1. Keadaan Geografis Kabupaten Lampung Tengah merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Propinsi Lampung. Kabupaten Lampung

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Kepulauan Meranti secara geografis terletak pada koordinat antara sekitar 0 42'30" - 1 28'0" LU dan 102 12'0" - 103 10'0" BT, dan terletak

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA SIDAMANIK SUMATERA UTARA KOTA SIDAMANIK ADMINISTRASI Profil Kota Kota Kisaran merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara. PENDUDUK Jumlah

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah 35 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah Provinsi Lampung adalah 3,46 juta km 2 (1,81 persen dari

Lebih terperinci

Bab 3. Deskripsi Daerah Penelitian

Bab 3. Deskripsi Daerah Penelitian Bab 3 Deskripsi Daerah Penelitian 25 III.1. Pengantar Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, dengan mengambil studi kasus praktik pendidikan dan pembelajaran

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA JAWA TIMUR KOTA ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota Tuban merupakan ibukota Kabupaten Tuban. Apabila dilihat dari posisi Kota Tuban yang berada di jalan arteri primer yang menghubungkan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Selain berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, sektor

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Provinsi Lampung yang dikukuhkan berdasarkan Undang-Undang Negara Republik

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Provinsi Lampung yang dikukuhkan berdasarkan Undang-Undang Negara Republik 47 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Profil Kabupaten Pringsewu 1. Sejarah Singkat Kabupaten Pringsewu Kabupaten Pringsewu merupakan salah satu Daerah Otonom Baru (DOB) di Provinsi Lampung yang

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak Geografis. 08º00'27" Lintang Selatan dan 110º12'34" - 110º31'08" Bujur Timur. Di

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak Geografis. 08º00'27 Lintang Selatan dan 110º12'34 - 110º31'08 Bujur Timur. Di IV. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Letak Geografis Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai lima Kabupaten dan satu Kotamadya, salah satu kabupaten tersebut adalah Kabupaten Bantul. Secara geografis,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang curah hujannya cukup

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang curah hujannya cukup BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan suatu negara kepulauan yang curah hujannya cukup tinggi, dengan curah hujan lebih dari 2000 mm/tahun. Air merupakan sumberdaya alam yang

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH 51 BAB IV GAMBARAN UMUM WILAYAH 4.1 Kondisi Geografis Kota Bogor 4.1.1 Letak dan Batas Wilayah Kota Bogor terletak diantara 106 derajat 43 30 BT dan 30 30 LS 6 derajat 41 00 LS serta mempunyai ketinggian

Lebih terperinci

TATA CARA PEMBUATAN RENCANA INDUK DRAINASE PERKOTAAN

TATA CARA PEMBUATAN RENCANA INDUK DRAINASE PERKOTAAN 1. PENDAHULUAN TATA CARA PEMBUATAN RENCANA INDUK DRAINASE PERKOTAAN Seiring dengan pertumbuhan perkotaan yang amat pesat di Indonesia, permasalahan drainase perkotaan semakin meningkat pula. Pada umumnya

Lebih terperinci

KAJIAN PERMASALAHAN EKONOMI DI DAERAH BERPENDAPATAN RENDAH

KAJIAN PERMASALAHAN EKONOMI DI DAERAH BERPENDAPATAN RENDAH Bab 5 KAJIAN PERMASALAHAN EKONOMI DI DAERAH BERPENDAPATAN RENDAH 5.1 Hasil Kajian Daerah Pesisir Kabupaten Serdang Bedagai merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Sumatera Utara yang memiliki wilayah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akan mempengaruhi produksi pertanian (Direktorat Pengelolaan Air, 2010).

BAB I PENDAHULUAN. akan mempengaruhi produksi pertanian (Direktorat Pengelolaan Air, 2010). BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Air merupakan salah satu komponen penting untuk kehidupan semua makhluk hidup di bumi. Air juga merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan untuk kebutuhan

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO

STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO 2014 STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO 2014 STATISTIK DAERAH KECAMATAN KOTA MUKOMUKO 2014 Nomor ISSN : Nomor Publikasi : 1706.1416 Katalog BPS : 4102004.1706040

Lebih terperinci

V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru

V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru V. DESKRIPSI DAERAH PENELITIAN Geografis dan Administratif Kabupaten Morowali merupakan salah satu daerah otonom yang baru terbentuk di Provinsi Sulawesi Tengah berdasarkan Undang-Undang Nomor 51 tahun

Lebih terperinci

BAB III DESKRIPSI WILAYAH KAJIAN

BAB III DESKRIPSI WILAYAH KAJIAN 24 BAB III DESKRIPSI WILAYAH KAJIAN 3.1. Gambaran Umum Kabupaten Serdang Bedagai Kabupaten Serdang Bedagai merupakan salah satu Kabupaten yang berada di kawasan Pantai Timur Sumatera Utara. Secara geografis

Lebih terperinci

V. DESKRIPSI PROVINSI ACEH Keadaan Geografis dan Wilayah Administrasi

V. DESKRIPSI PROVINSI ACEH Keadaan Geografis dan Wilayah Administrasi V. DESKRIPSI PROVINSI ACEH 5.1. Keadaan Geografis dan Wilayah Administrasi Daerah Aceh terletak di kawasan paling ujung dari bagian utara Pulau Sumatera dengan luas areal 58.357.63 km 2. Letak geografis

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS Perencanaan pembangunan antara lain dimaksudkan agar Pemerintah Daerah senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan. Oleh karena itu, perhatian kepada mandat

Lebih terperinci

5.1 KEBIJAKSANAAN DASAR PENGEMBANGAN KOTA

5.1 KEBIJAKSANAAN DASAR PENGEMBANGAN KOTA 5.1 KEBIJAKSANAAN DASAR PENGEMBANGAN KOTA Pengembangan Kawasan Kota Sei Rampah sebagai bagian dari Pembangunan Kabupaten Serdang Bedagai, pada dasarnya juga mempunyai tujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat

Lebih terperinci

Boks.1 UPAYA PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI JAMBI

Boks.1 UPAYA PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI JAMBI Boks.1 UPAYA PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN DI PROVINSI JAMBI Ketahanan pangan (food security) adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup baik

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Pringsewu dengan ibukota Pringsewu terletak 37 kilometer sebelah

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Pringsewu dengan ibukota Pringsewu terletak 37 kilometer sebelah 48 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Pringsewu. Keadaan Geografis Kabupaten Pringsewu dengan ibukota Pringsewu terletak 37 kilometer sebelah barat Bandar Lampung, ibukota Provinsi

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA KENDARI SULAWESI TENGGARA KOTA KENDARI ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota Kendari merupakan bagian dari wilayah administrasi dari propinsi Sulawesi Tenggara. Batas-batas administratif

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH JAWA BARAT SELATAN

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH JAWA BARAT SELATAN BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH JAWA BARAT SELATAN Bab sebelumnya telah memaparkan konsep pembangunan wilayah berkelanjutan dan indikator-indikatornya sebagai landasan teoritis sekaligus instrumen dalam

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA BARAT. Provinsi Jawa Barat, secara geografis, terletak pada posisi 5 o 50-7 o 50

V. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA BARAT. Provinsi Jawa Barat, secara geografis, terletak pada posisi 5 o 50-7 o 50 5.1. Kondisi Geografis V. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA BARAT Provinsi Jawa Barat, secara geografis, terletak pada posisi 5 o 50-7 o 50 Lintang Selatan dan 104 o 48-108 o 48 Bujur Timur, dengan batas wilayah

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA MOJOKERTO JAWA TIMUR KOTA MOJOKERTO ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota yang terkenal dengan makanan khas ondeondenya ini menyandang predikat kawasan pemerintahan dengan luas

Lebih terperinci

Daftar Tabel. halaman. Bab I Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecenderungannya A. Lahan dan Hutan

Daftar Tabel. halaman. Bab I Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecenderungannya A. Lahan dan Hutan Daftar Tabel Bab I Kondisi Lingkungan Hidup dan Kecenderungannya A. Lahan dan Hutan halaman Tabel SD-1. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan/Tutupan Lahan... I - 1 Tabel SD-2. Luas Kawasan Hutan Menurut

Lebih terperinci

Bupati Murung Raya. Kata Pengantar

Bupati Murung Raya. Kata Pengantar Bupati Murung Raya Kata Pengantar Perkembangan daerah yang begitu cepat yang disebabkan oleh semakin meningkatnya kegiatan pambangunan daerah dan perkembangan wilayah serta dinamisasi masyarakat, senantiasa

Lebih terperinci

Bab 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

Bab 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN Bab 4 GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kondisi Fisik Kabupaten Dompu secara geografis terletak di antara 117 o 42 dan 180 o 30 Bujur Timur dan 08 o 6 sampai 09 o 05 Lintang Selatan. Kabupaten Dompu

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN TERAS TERUNJAM 2014

STATISTIK DAERAH KECAMATAN TERAS TERUNJAM 2014 STATISTIK DAERAH KECAMATAN TERAS TERUNJAM 2014 Statistik Daerah Kecamatan Teras Terunjam 2014 Halaman i STATISTIK DAERAH KECAMATAN TERAS TERUNJAM 2014 STATISTIK DAERAH KECAMATAN TERAS TERUNJAM 2014 Nomor

Lebih terperinci

Sarana lingkungan adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya.

Sarana lingkungan adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Sarana lingkungan adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Prasarana lingkungan adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan yang

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA SUMATERA SELATAN KOTA ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota ini berada di dataran tinggi yang sejuk, aktivitas ekonomi / perdagangan sangat ditentukan oleh sektor Pertanian dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, keadaan dan mahluk termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Infrastruktur Infrastruktur merujuk pada system phisik yang menyediakan transportasi, pengairan, drainase, bangunan-bangunan gedung dan fasilitas publik yang lain yang dibutuhkan

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah 5.1. Kondisi Geografis BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT Propinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 o 50 ' - 7 o 50 ' Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan

Lebih terperinci

BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi

BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN 2.1 Lokasi Proyek Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi Campuran Perumahan Flat Sederhana. Tema besar yang mengikuti judul proyek

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2001 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah, Pemerintah Daerah diberikan

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI POTENSI EKONOMI DI PEDESAAN

IDENTIFIKASI POTENSI EKONOMI DI PEDESAAN 7 IDENTIFIKASI POTENSI EKONOMI DI PEDESAAN Deskripsi Singkat Topik : Pokok Bahasan : ANALISIS POTENSI EKONOMI DESA Waktu : 1 (satu) kali tatap muka pelatihan (selama 100 menit). Tujuan : Membangun pemahaman

Lebih terperinci

BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH BAB 3 GAMBARAN UMUM WILAYAH Bab ini akan memberikan gambaran wilayah studi yang diambil yaitu meliputi batas wilayah DAS Ciliwung Bagian Hulu, kondisi fisik DAS, keadaan sosial dan ekonomi penduduk, serta

Lebih terperinci

KEBUTUHAN PENGEMBANGAN FASILITAS PELABUHAN KOLAKA UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN KOLAKA

KEBUTUHAN PENGEMBANGAN FASILITAS PELABUHAN KOLAKA UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN KOLAKA KEBUTUHAN PENGEMBANGAN FASILITAS PELABUHAN KOLAKA UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN WILAYAH KABUPATEN KOLAKA TUGAS AKHIR Oleh: FARIDAWATI LATIF L2D 001 418 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi

I. PENDAHULUAN. sapi yang meningkat ini tidak diimbangi oleh peningkatan produksi daging sapi I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan konsumsi daging sapi penduduk Indonesia cenderung terus meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia dan kesadaran masyarakat akan

Lebih terperinci

Selayang Pandang Kabupaten Musi Rawas Utara 1

Selayang Pandang Kabupaten Musi Rawas Utara 1 MAKMUR AMAN CERDAS DAN BERMARTABAT 1 Sambutan BUPATI Musi Rawas Utara Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas Berkat Rahmat dan Karunia-Nya jualah, buku dapat diselesaikan. Buku ini

Lebih terperinci

PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar

PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar PERANAN SEKTOR PERTANIAN KHUSUSNYA JAGUNG TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN JENEPONTO Oleh : Muhammad Anshar Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Sains dan Teknologi ABSTRAK Penelitian

Lebih terperinci

BAB II URAIAN SEKTORAL. definisi dari masing-masing sektor dan sub sektor, sumber data, dan cara

BAB II URAIAN SEKTORAL. definisi dari masing-masing sektor dan sub sektor, sumber data, dan cara BAB II URAIAN SEKTORAL Uraian sektoral yang disajikan pada bab ini mencakup ruang lingkup dan definisi dari masing-masing sektor dan sub sektor, sumber data, dan cara penghitungan nilai tambah bruto atas

Lebih terperinci

3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor

3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor BUPATI TANJUNG JABUNG TIMUR PROVINSI JAMBI PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG TIMUR NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA ZONASI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA BANGKA BELITUNG KOTA ADMINISTRASI Profil Wilayah Kondisi tanah dan keterbatasan lahan Kota Pangkal Pinang kurang memungkinkan daerah ini mengembangkan kegiatan pertanian. Dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM Indonesia merupakan negara kepulauan dengan potensi luas perairan 3,1 juta km 2, terdiri dari 17.508 pulau dengan panjang garis pantai ± 81.000 km. (Dishidros,1992).

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau dan Kabupaten Lingga BAB III KONDISI UMUM 3.1. Geografis Wilayah Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad silam tidak hanya di nusantara tetapi juga

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN/M/2006 TENTANG

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN/M/2006 TENTANG PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN/M/2006 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN KAWASAN NELAYAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT, Menimbang

Lebih terperinci

PROGRAM PENGEMBANGAN KELAPA BERKELANJUTAN DI PROVINSI JAMBI

PROGRAM PENGEMBANGAN KELAPA BERKELANJUTAN DI PROVINSI JAMBI PROGRAM PENGEMBANGAN KELAPA BERKELANJUTAN DI PROVINSI JAMBI Hasan Basri Agus Gubernur Provinsi Jambi PENDAHULUAN Provinsi Jambi dibagi dalam tiga zona kawasan yaitu: 1) Zona Timur, yang merupakan Kawasan

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA METRO LAMPUNG KOTA METRO ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota Metro berkembang menjadi kota transit bagi pendatang yang ingin menikamti keindahan alam dan kesejukan udara di sekitarnya.

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM. Desa Taman Sari merupakan bagian dari Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten

GAMBARAN UMUM. Desa Taman Sari merupakan bagian dari Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten IV. GAMBARAN UMUM A. Geografis Desa Taman Sari merupakan bagian dari Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Luas Desa Taman Sari adalah seluas 2.118 ha/m2. meliputi lahan pemukiman

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. di muka bumi. Tanpa air kehidupan tidak dapat berlangsung. Manusia sebagai

I. PENDAHULUAN. di muka bumi. Tanpa air kehidupan tidak dapat berlangsung. Manusia sebagai I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan unsur penting bagi kebutuhan semua makhluk yang ada di muka bumi. Tanpa air kehidupan tidak dapat berlangsung. Manusia sebagai salah satu makhluk hidup juga

Lebih terperinci

KOORDINASI PERENCANAAN PENANGANAN PERUMAHAN PERKOTAAN KABUPATEN NGAWI

KOORDINASI PERENCANAAN PENANGANAN PERUMAHAN PERKOTAAN KABUPATEN NGAWI 93 KOORDINASI PERENCANAAN PENANGANAN PERUMAHAN PERKOTAAN KABUPATEN NGAWI Oleh Bambang Hutojo Universitas Soerjo Ngawi ABSTRAK Di Kabupaten Ngawi, wilayah yang didefinisikan sebagai kawasan permukiman perkotaan

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA SUBANG JAWA BARAT KOTA SUBANG ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota Subang merupakan ibukota Kecamatan Subang yang terletak di kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat. Batas-batas

Lebih terperinci

4.1 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Promosi Hygiene

4.1 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Promosi Hygiene BAB 4 Program Pengembangan Sanitasi saat ini dan yang direncanakan 4.1 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Promosi Hygiene 4.2 Peningkatan Pengelolaan Air Limbah Domestik 4.3. Peningkatan Pengelolaan

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN. A. Balai Pelaksana Teknis Bina Marga Wilayah Magelang

BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN. A. Balai Pelaksana Teknis Bina Marga Wilayah Magelang BAB II DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN A. Balai Pelaksana Teknis Bina Marga Wilayah Magelang Balai Pelaksana Teknis Bina Marga atau disingkat menjadi BPT Bina Marga Wilayah Magelang adalah bagian dari Dinas

Lebih terperinci

BAB 4 BUKU PUTIH SANITASI 2013

BAB 4 BUKU PUTIH SANITASI 2013 BAB 4 PROGRAM PENGEMBANGAN SANITASI SAAT INI DAN YANG DIRENCANAKAN Program pengembangan sanitasi saat ini dan yang akan di rencanakan berdasar pada kajian yang telah dilakukan sebelumnya pada Buku Putih

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I TAHUN 2011

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I TAHUN 2011 No. 24/05/51/Th. V, 5 Mei 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I TAHUN 2011 Pada Triwulan I 2011, PDRB Bali tumbuh sebesar 0,75 persen dibanding Triwulan IV - 2010 (quarter to quarter/q-to-q). Pertumbuhan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu penggerak utama dari roda. perekonomian. Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian

I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian merupakan salah satu penggerak utama dari roda. perekonomian. Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu penggerak utama dari roda perekonomian. Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian merupakan basis utama perekonomian nasional.

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA September 2011 1. Pendahuluan Pulau Kalimantan terkenal

Lebih terperinci

V. KEADAAN UMUM WILAYAH DESA PABEAN UDIK KECAMATAN INDRAMAYU, KABUPATEN INDRAMAYU

V. KEADAAN UMUM WILAYAH DESA PABEAN UDIK KECAMATAN INDRAMAYU, KABUPATEN INDRAMAYU V. KEADAAN UMUM WILAYAH DESA PABEAN UDIK KECAMATAN INDRAMAYU, KABUPATEN INDRAMAYU Wilayah Kabupaten Indramayu terletak pada posisi geografis 107 o 52 sampai 108 o 36 Bujur Timur (BT) dan 6 o 15 sampai

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1. Aspek Geografi Kabupaten Musi Rawas merupakan salah satu Kabupaten dalam Provinsi Sumatera Selatan yang secara geografis terletak

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Karawang. Kabupaten Karawang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Karawang. Kabupaten Karawang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa V. GAMBARAN UMUM 5.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Karawang Kabupaten Karawang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Secara geografis, wilayah Kabupaten Karawang terletak antara 107

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Lahan merupakan salah satu faktor yang penting bagi kehidupan manusia. Lahan

I. PENDAHULUAN. Lahan merupakan salah satu faktor yang penting bagi kehidupan manusia. Lahan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lahan merupakan salah satu faktor yang penting bagi kehidupan manusia. Lahan banyak digunakan oleh manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, selain itu lahan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen... I-7 1.4.

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI JAMBI TAHUN 2009

PERTUMBUHAN EKONOMI JAMBI TAHUN 2009 No. 09/02/15/Th. IV, 10 Februari 2010 PERTUMBUHAN EKONOMI JAMBI TAHUN Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jambi pada tahun meningkat sebesar 6,4 persen dibanding tahun 2008. Peningkatan

Lebih terperinci

Kawasan Cepat Tumbuh

Kawasan Cepat Tumbuh Terjadi peningkatan pertumbuhan ekonomi Terjadi dorongan kerjasama pembangunan antar wilayah secara fungsional Kawasan Cepat Tumbuh Meningkatnya nilai tambah dan daya saing produk unggulan Tercipta keterpaduan,

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA JAWA TIMUR KOTA ADMINISTRASI Profil Wilayah Bagian selatan Bagian barat Secara astronomis, Kota Situbondo yang terdiri dari 9 desa/kelurahan, terletak diantara 7º35 7º 44 Lintang

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Letak Geografis dan Administratif Kabupaten Indramayu, adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat, yang membentang sepanjang pesisir pantai utara P.Jawa,

Lebih terperinci

No. Program Sasaran Program Instansi Penanggung Jawab Pagu (Juta Rupiah)

No. Program Sasaran Program Instansi Penanggung Jawab Pagu (Juta Rupiah) E. PAGU ANGGARAN BERDASARKAN PROGRAM No. Program Sasaran Program Instansi Penanggung Jawab Pagu (Juta Rupiah) Sub Bidang Sumber Daya Air 1. Pengembangan, Pengelolaan, dan Konservasi Sungai, Danau, dan

Lebih terperinci

BAB I KONDISI FISIK. Gambar 1.1 Peta Administrasi Kabupaten Lombok Tengah PETA ADMINISTRASI

BAB I KONDISI FISIK. Gambar 1.1 Peta Administrasi Kabupaten Lombok Tengah PETA ADMINISTRASI BAB I KONDISI FISIK A. GEOGRAFI Kabupaten Lombok Tengah dengan Kota Praya sebagai pusat pemerintahannya merupakan salah satu dari 10 (sepuluh) Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Secara

Lebih terperinci

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan, dan akuntabel serta berorientasi pada hasil, yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Jabatan : DR.

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA PRABUMULIH SUMATERA SELATAN KOTA PRABUMULIH ADMINISTRASI Profil Wilayah Terdapat dua faktor yang menjadikan Kota Prabumulih strategis secara ekonomi yaitu : Persimpangan jalan

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH KONDISI GEOGRAFIS Kota Batam secara geografis mempunyai letak yang sangat strategis, yaitu terletak di jalur pelayaran dunia internasional. Kota Batam berdasarkan Perda Nomor

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA BANTEN KOTA ADMINISTRASI Profil Wilayah Serang merupakan ibu kota Kabupaten Serang dan menjadi Ibu Kota Propinsi Banten terdiri dari 4 kecamatan (Kecamatan Serang, Kecamatan

Lebih terperinci

GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian

GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian GEOGRAFI DAN IKLIM Curah hujan yang cukup, potensial untuk pertanian Curah hujan Kecamatan Penajam rata-rata 239,5 mm pada tahun 2010 Kecamatan Penajam memiliki luas Peta Kecamatan Penajam 1.207,37 km

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan prasarana perikanan yang berupa Pelabuhan Perikanan (PP)

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan prasarana perikanan yang berupa Pelabuhan Perikanan (PP) BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pembangunan prasarana perikanan yang berupa Pelabuhan Perikanan (PP) mempunyai nilai strategis dalam rangka pembangunan ekonomi perikanan. Keberadaan Pelabuhan Perikanan

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA TEBING TINGGI SUMATERA UTARA KOTA TEBING TINGGI ADMINISTRASI Profil Wilayah Sebagai sebuah kota yang termasuk kategori sedang, dalam dua dasawarsa terakhir perekonomian Tebing

Lebih terperinci

Boks 2. PERINGKAT DAYA SAING INVESTASI DAERAH PROVINSI JAMBI

Boks 2. PERINGKAT DAYA SAING INVESTASI DAERAH PROVINSI JAMBI Boks 2. PERINGKAT DAYA SAING INVESTASI DAERAH PROVINSI JAMBI Beberapa masalah ekonomi makro yang perlu diantisipasi pada tahap awal pembangunan daerah adalah menurunnya daya beli masyarakat, yang diikuti

Lebih terperinci

S T A T I S T I K D A E R A H K E C A M A T A N P A G E R W O J O 2012

S T A T I S T I K D A E R A H K E C A M A T A N P A G E R W O J O 2012 S T A T I S T I K D A E R A H K E C A M A T A N P A G E R W O J O 2012 Katalog BPS : 1101002.3504180 No. Publikasi : 35040.1241 Ukuran Buku : B5 (17,6 cm x 25 cm) Jumlah Halaman : iv + 15 Halaman Naskah

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN III-2013

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN III-2013 No. 06/11/62/Th.VII, 6 Nopember 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN TENGAH TRIWULAN III-2013 Perekonomian Kalimantan Tengah triwulan III-2013 terhadap triwulan II-2013 (Q to Q) secara siklikal mengalami

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Oleh karena itu, di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, sektor industri

I. PENDAHULUAN. Oleh karena itu, di negara-negara berkembang termasuk Indonesia, sektor industri I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada umumnya pembangunan mempunyai dua sasaran utama, yaitu penyediaan kerja bagi penduduk yang telah mencapai usia kerja dan peningkatan taraf hidup. Oleh karena itu,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70 TAHUN 1996 TENTANG KEPELABUHANAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran, telah diatur

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN BUNGURAN UTARA 2015 STATISTIK DAERAH KECAMATAN BUNGURAN UTARA 2015 ISSN : - Katalog BPS : 1101002.2103.041 Ukuran Buku : 17,6 cm x 25 cm Jumlah Halaman : 10 halaman Naskah :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sampai pada kegiatan industri yang rumit sekalipun. Di bidang pertanian air atau yang

BAB I PENDAHULUAN. sampai pada kegiatan industri yang rumit sekalipun. Di bidang pertanian air atau yang 1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah Air sangat penting bagi kehidupan manusia, hampir semua kegiatan makhluk hidup dimuka bumi memerlukan air, mulai dari kegiatan rumah tangga sehari-hari sampai

Lebih terperinci

Gambar 4. Kerangka Habitat Equivalency Analysis V. GAMBARAN UMUM WILAYAH. Wilayah penelitian pada masyarakat Kecamatan Rumpin secara

Gambar 4. Kerangka Habitat Equivalency Analysis V. GAMBARAN UMUM WILAYAH. Wilayah penelitian pada masyarakat Kecamatan Rumpin secara Sumber: Chapman, D. J (2004) Gambar 4. Kerangka Habitat Equivalency Analysis V. GAMBARAN UMUM WILAYAH 5.1 Kondisi Geografis dan Administratif Wilayah penelitian pada masyarakat Kecamatan Rumpin secara

Lebih terperinci

KONDISI FISIK BAB I 1.1. LUAS WILAYAH DAN BATAS WILAYAH

KONDISI FISIK BAB I 1.1. LUAS WILAYAH DAN BATAS WILAYAH BAB I KONDISI FISIK 1.1. LUAS WILAYAH DAN BATAS WILAYAH Sebelum dilakukan pemekaran wilayah, Kabupaten Kampar merupakan salah satu Kabupaten yang memiliki wilayah terluas di Provinsi Riau dengan luas mencapai

Lebih terperinci

BAB 3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN KUNINGAN, KECAMATAN CIBEUREUM, CIBINGBIN, DAN CIGUGUR

BAB 3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN KUNINGAN, KECAMATAN CIBEUREUM, CIBINGBIN, DAN CIGUGUR BAB 3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN KUNINGAN, KECAMATAN CIBEUREUM, CIBINGBIN, DAN CIGUGUR Bab ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama akan menjelaskan mengenai gambaran umum Kabupaten Kuningan dan bagian

Lebih terperinci

Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 1996 Tentang : Kepelabuhanan

Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 1996 Tentang : Kepelabuhanan Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 1996 Tentang : Kepelabuhanan Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 70 TAHUN 1996 (70/1996) Tanggal : 4 DESEMBER 1996 (JAKARTA) Sumber : LN 1996/107; TLN PRESIDEN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 3 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA UMUM TATA RUANG KOTA PRABUMULIH TAHUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 3 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA UMUM TATA RUANG KOTA PRABUMULIH TAHUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 3 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA UMUM TATA RUANG KOTA PRABUMULIH TAHUN 2002 2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PRABUMULIH, Menimbang : a. bahwa dengan telah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN BANTUAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS UMUM (PSU) PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA PEMATANG SIANTAR SUMATERA UTARA KOTA PEMATANG SIANTAR ADMINISTRASI Profil Wilayah Sebagai kota perdagangan, secara geografi Pematang Siantar diapit Kabupaten Simalungun yang

Lebih terperinci