TERBENTUKNYA RUANG BERSAMA OLEH LANSIA BERDASARKAN INTERAKSI SOSIAL DAN POLA PENGGUNAANNYA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TERBENTUKNYA RUANG BERSAMA OLEH LANSIA BERDASARKAN INTERAKSI SOSIAL DAN POLA PENGGUNAANNYA"

Transkripsi

1 SIDANG TERBUKA PROMOSI DOKTOR TERBENTUKNYA RUANG BERSAMA OLEH LANSIA BERDASARKAN INTERAKSI SOSIAL DAN POLA PENGGUNAANNYA Mahendra Wardhana Nrp Pembimbing 1 : Prof. Dr. Ir. Josef Prijotomo, M. Arch Pembimbing 2 : Ir. Ispurwono Soemarno, M. Arch, Ph. D. Program Doktor Bidang Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, 16 Januari 2012

2 Bab 1 Pendahuluan 1. Indonesia dan Perkembangan Jumlah Lansia Menurut data Sensus Penduduk tahun 1990 Jumlah lansia di Indonesia adalah 6,96 Juta Jiwa (3,88%). Diramalkan tahun 2020 akan berjumlah 28,8 Juta Jiwa atau 11,3 %. Tempat tinggal bagi lansia di Amerika adalah 5 % Lansia tinggal di lembaga perawatan dan 20% dari lansia yang berusia di atas 85 tahun tinggal di rumah perawatan 2. Permasalahan dalam kehidupan lansia di Indonesia dan Negara Maju Di Indonesia dan negara-negara maju, panti-panti werdha semakin dibutuhkan, sehingga perlu mempersiapkan panti werdha-panti werdha yang mampu mensejahterakan lansia yang tinggal di dalamnya. Terdapat sejumlah permasalahan-permasalahan lansia di panti werdha seperti solidaritas antar teman, ketidakcocokan, dan lain sebagainya. 3. Lanjut Usia dan Usaha Menjamin Kesejahteraannya Terdapat Agenda Nasional (UU 13 (1998)) dan Global dalam menjamin kesejahteraan lansia termasuk bangunan hunian untuk lansia. 4. Ruang dan Arsitektur Terdapat diskusi mengenai ruang dan arsitektur yang mengarah ruang sebagai wadah aktivitas yang berkaitan dengan interaksi antar pengguna (Van de Ven (1991), Lefebvre (2004), dan El-Geinedy dkk (2006))

3 Bab 1 Pendahuluan 5. Permasalahan penelitian: 1. Apakah yang dimaksud dengan teori ruang bersama dan pengertian ruang bersama melalui pola penggunaan ruang bersama dengan kasus lansia itu? 2. Apakah yang dimaksud dengan konteks interaksi sosial pada pengertian dan teori ruang bersama itu? 3. Apakah yang dimaksud dengan pola dalam penggunaan ruang bersama melalui interaksi antar penggunanya itu? 6. Tujuan Penelitian: 1. Menjelaskan rumusan tentang teori ruang bersama dan pengertian ruang bersama melalui bukti pola penggunaan ruang bersama dengan kasus lansia. 2. Menjelaskan rumusan tentang konteks interaksi sosial dalam pengertian dan teori ruang bersama yang baru. 3. Menjelaskan rumusan tentang pola penggunaan ruang bersama melalui interaksi antar penggunanya. 7. Manfaat Penelitian: 1. Membuka arah dan pengembangan bahasan baru mengenai terbentuknya ruang bersama melalui interaksi antar pengguna ruang tersebut. Arah pengembangan tersebut adalah menunjukkan arti penting keberadaan ruang bersama bagi para penggunanya. 2. Membuka arah dan pengembangan bahasan baru mengenai hubungan aktivitas pengguna ruang bersama terhadap elemen fisik ruang yang dipergunakannya tersebut. Arah dan pengembangan baru tersebut akan berkaitan dengan cara pandang baru terhadap ruang bersama sebagai wadah aktivitas sosial.

4 Bab 2 Kajian Pustaka 1. Kerangka Pemikiran Penelitian pada panti werdha akan difokuskan pada susunan ruang, yang merupakan kumpulan dan rangkaian ruang-ruang yang dipergunakan manusia untuk beraktivitas secara bersama-sama pada panti werdha. 2. Kategorisasi Lansia Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang menyatakan usia lanjut usia (60-74 tahun), usia lanjut usia tua (75 90 tahun), dan usia sangat tua (diatas 90 tahun). Sedangkan menurut UU no 13 / 1998 lanjut usia didefinisikan sebagai usia 60 tahun (Nugroho, 2000: 19-20) 3. Kebutuhan Sosialisasi di Kalangan Lansia Teori Aktivitas menurut Nugroho (2000) dan Stanley (2002) menyatakan bahwa jalan menuju penuaan yang sukses adalah dengan cara tetap aktif. Teori ini mendukung hubungan positif antara mempertahankan interaksi yang penuh arti terhadap orang lain dengan kesejahteraan fisik dan mental lansia. 4. Penggunaan Ruang oleh Lansia Terdapat peta mental dalam menganalisa ruang yang dihubungkan dengan aktivitas yang berlangsung di dalamnya atau juga dikenal sebagai Ruang Aktivitas (Laurens (2005), Suharnan (2005)) Menurut Canter (1974) hubungan perilaku dan ruang dalam menikmati susunan ruang diperlukan cara untuk mengenali dan mengerti susunan ruang dan posisi ruang tersebut.

5 Bab 2 Kajian Pustaka 5. Kesesuaian Ruang bagi Lansia dengan Kebutuhan dan Aktivitasnya Lang (1987) serta Kahana (2006) menerangkan bahwa pola penggunaan ruang oleh manusia adalah dengan saling penyesuaian antara kebutuhan manusia dan keadaan (fisik) lingkungannya. Lawson (2001) menyatakan bahwa dalam bersosialisasi perlu dipertimbangkan pola pergerakan dari ruang satu kepada ruang lainnya, dan aktivitas yang berlangsung. Lawson (2001) menerangkan bahwa analisa digunakannya suatu ruangan adalah pada urutan dan susunan penggunaan ruang, dan dirunut berdasarkan jalur sirkulasi. Santrock (1995) menerangkan lansia perlu untuk memiliki kebebasan dalam beraktivitas berdasarkan daya dukung ruangan yang memadai dalam mewadahi kegiatan yang berlangsung di dalamnya. Minam dan Tanaka (1995) serta Sunstrom (2003) menyatakan adanya saling keterkaitan antara hubungan antara pengelompokan group sosial dengan lingkungan. Lingkungan harus sesuai dengan group sosial yang dibutuhkannya demikian pula sebaliknya. Group sosial yang stabil akan terbentuk di ruang tertentu dan pola terbentuknya group sosial akan mengakibatkan pola penggunaan ruang pula.

6 Bab 2 Kajian Pustaka 6. Ruang Bersama dan Interaksi Sosial Menurut Newmark dan Thompson (1977) serta Hall (1973) sifat interaksi sosial yang stabil menjadi syarat terbentuknya ruang bersama. Apabila interaksi tidak stabil maka akan ruang akan terpecah dan sebagai konsekuensinya ruang bersama akan pecah. 7. Ruang Bersama dan Ruang Sosial Rendel (2004) dan Lefebvre (2004) menekankan pada isi (interaksi) dari pada wadah (fisik ruangnya). Ruang sosial bersifat temporal yang berkaitan dengan waktu. 8. Rangkuman Kajian Pustaka (Pola Penggunaan Ruang Bersama oleh Lansia): Ruang bersama terbentuk dari faktor-faktor penting yakni; a. Pemilihan ruang-ruang tempat interaksi sosial terjadi di kalangan lansia b. Pola dan frekuensi penggunaan ruang bersama c. Arah dan posisi terjadinya sosialisasi di dalam ruang (aksesibilitas) d. Fenomena penggunaan ruang diluar dari rencana ruang yang tersedia

7 Bab 3 Metode Penelitian 1. Metode Penelitian Metodologi penelitian yang dikombinasikan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Beberapa metode yang digunakan dalam menganalisa penggunaan ruang (kualitatif maupun kuantitatif) adalah dengan memadukan beberapa metode yang telah dilaksanakan oleh beberapa peneliti lain. N o Tujuan penelitian Observasi yang dilakukan Data yang digali Analisa yang dilakukan Referensi Peneliti lain 1 Mengetahui digunakannya ruang potensi suatu 1. Lama waktu penggunaan ruang 2. Lama waktu gerak 3. Arah gerak penggunaan ruang 1. lama waktu penggunaan 2. waktu-waktu penggunaan 3. waktu-waktu bergerak 4. jumlah pengguna ruang Memperbandingkan antar waktu yang diperoleh Izuyama (2010) 2 Mengukur ruang kegiatan ruang pengaruh terhadap pengguna 1. Jumlah ruang yang digunakan terhadap ruang yang tersedia 2. Jumlah pengguna masing-masing ruang 1. juml ruang yang tersedia 2. jumlah pengguna di masing-masing ruang 1. Perbandingan ruang yang digunakan thdp ruang yang ada 2. Perbandingan pengguna ruang thdp keseluruhan penghuni Percival (2002) 3 1. Mengetahui pola penggunaan ruang 2. Mengetahui kecenderungan sosialisasi pada suatu ruang 1. Arah gerak sosialisasi melalui peta pergerakan 2. Arah gerak sosialisasi dan tempat yang dipilih/ digunakan 1. Sketsa gerak sosialisasi penghuni 2. Sketsa pd peta letak fungsi/ kegiatan yang berlangsung 3. Digambarkan pada denah yang ada Despkripsi pola penggunaan ruang yang terjadi dari sketsa yang diperoleh Uzzel dan rekan (2002), Tversky (2003), Minam dan Tanaka (1995) Sepe (2009) 4 Mengetahui kecenderungan pengguna-an ruang Menghitung prosentase penggunaan suatu jenis ruang thdp keseluruhan ruang yang dimiliki 1. Jenis - jenis ruang dan jumlahnya. 2. Frekuensi/ seringnya penggunaan suatu ruang 1. Prosentase dari ruang yang digunakan thdp ruang yang ada 2. Prosentase dr frekuensi ruang yang dipilih thdp frekuensi keseluruhan yg terjadi Judith (1986) dan Adib (2010)

8 Bab 3 Metode Penelitian 2. Prosedur Penelitian Kegiatan analisa dimulai dari kajian literatur mengenai ruang dan ruang lansia untuk mendapatkan gambaran proses analisa yang akan dilaksanakan pada penelitian di lapangan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan analisa dan kajian pada penelitian lapangan. Pada kegiatan ini teori dan literatur mengenai ruang dan ruang bersama lansia diuji oleh penelitian lapangan. Pada bagian akhir dari analisa penelitian ruang bersama ini adalah bertujuan membedakan pengertian, proses terbentuknya dan sifat ruang bersama lansia dengan teori ruang dari perspektif selain arsitektur di atas. Jenis-jenis ruang bersama dari perspektif tersebut adalah seperti bubble space, ruang publik, ruang informal, semi-fixed space, dan ruang sosial.

9 Bab 4 Analisa dan Pembahasan Penelitian No Arti Penting Pokok Bahasan Pokok Bahasan Penegasan/ Temuan dari Pokok Bahasan Sumber 1 Temuan pola waktu penggunaan RB Belum diungkap penelitian lain Untuk memperoleh hasil kajian yang berbeda dg teori RB yg telah ada RB & pola penggunaannya oleh lansia Temuan pola urutan penggunaan RB Temuan penggunaan RB yg kurang berkaitan langsung dg keadaan fisik lansia Temuan sirkulasi sbg RBF yg kurang berkaitan langsung dg keunggulan fisik lingkungan Berbeda dg Santrock (1995), Webb & Weber (2009) Berbeda dg Schooler (1969), Lawton & Cohen (1974) Berbeda dg Lawton & Cohen (1974), Barnes (2006), Kahana & rekan (2003) Untuk memperoleh hasil kajian dg fokus pd interaksi sosial yang berbeda dg teori yg ada RB & Interaksi yg terjadididlmnya Temuan RB & sirkulasi yg digunakan lansia dlm bersosialisasi di lingkungan panti werdha Temuan interaksi di dlm RB Temuan interaksi tidak dipengaruhi oleh keadaan fisik ruang Berbeda dg Webb & Weber (2003) Berbeda dg Kahana & rekan (2003), Barnes (2006) Berbeda dg Pane (2007) 8 9 Untuk memperoleh hasil kajian dg fokus pd pola pergerakan yang berbeda dg teori yg ada Pola pergerakan penggunaan RB Temuan interaksi antar lansia di dalam RB Temuan interaksi antar RB; ditekankan pada keterkaitan antar RB bukan hanya kelancaran/ kecepatan menjangkau Berbeda dg Barnes (2006) Berbeda dg Ohmori & Harata (-), Palloni (-), Sassi & Molteni (2007), El Geinedy & Levinson (2009), Koenig (1980), Bhat & rekan (2001) Data pendukung

10 Bab 4 Analisa dan Pembahasan Penelitian No Arti Penting Pokok Bahasan Pokok Bahasan Penegasan/ Temuan dari Pokok Bahasan Sumber 10 Nilai sosialisasi berdasarkan interaksi sosial di RB pd suatu lingkungan DiskusidiBab Untuk merumuskan temuan kajian interaksi sosial di dlm RB pd perhitungan matematis NSL NSL dipengaruhi oleh: sifat interaksi, faktor pembentuk ruang, pola penggunaan ruang NSL : Nilai perbandingan RB dengan seluruh tempat yg dpt digunakan unt bersosialisasi dan perbandingan tempat terjadinya interaksi dg seluruh tempat yg dpt digunakan unt berinteraksi DiskusidiBab4 DiskusidiBab4 13 NSL pada panti werdha = TS Ruang + TS Sirkulasi + JS Ruang + JS Sirkulasi DiskusidiBab Untuk mendapatkan teori RB yang lebih luas Pengertian RB Lansia menuju RB dlm arti yang luas Divalidasikan dg RB lain (RB mahasiswa & anak); hasil sifat interaksi, faktor pembentuk RB terdapat pada RB Mahasiswa dan Anak Pengertian RB, analisa, hasil, perwujudan RB dlm arti luas tidak hanya unt lansia saja DiskusidiBab4 DiskusidiBab Untuk mendapatkan konsekuensi dari perbedaan teori RB dg RB hasil penelitian Konsekuensi perbedaan teori RB yg ada dengan RB temuan penelitian Konsekuensi perbedaan adalah pada; data yg digunakan, cara analisa (pola penggunaan & NSL), Hasil yg diperoleh, perwujudan RB Konsekuensi lain DiskusidiBab4 DiskusidiBab4

11 Data pendukung NSL NSL Hargodedali = 0,02 + 0,21 + 0,09 + 0,06 = 0,38 NSL Surya = 0,02 + 0,25 + 0,1 + 0,08 = 0,45 NSL Cibubur = 0,02 + 0,17 + 0,1 + 0,04 = 0,33

12 Bab 5 Temuan Penelitian No Arti Penting Pokok Bahasan Pokok Bahasan Penegasan/ Temuan dari Pokok Bahasan Sumber 1 Untuk menegaskan perbedaan pada titik masuk (awal) antara teori RB dg RB hasil penelitian Aksesibilitas RB Aksesibilitas RB tdk hanya diartikan sbg kemampuan menjangkau namun juga kemampuan memasuki interaksi orang lain di dlm RB Hasil penelitian berbeda dg Rendell (2004), El Geinedy & Levinson (2009) 2 Interaksi sosial & elemen pembatas fisik ruang Interaksi sosial tdk selalu menempati wadah yg tepat sesuai jenis aktivitas sosialnya Hasil penelitian 3 Terbentuknya RB & Ruang Mandiri berdasarkan sifat interkasi inderawi RB terbentuk dr jalinan interaksi antar penghuni RB & tdk tergantung pd elemen fisik ruang Hasil penelitian 4 5 Untuk menegaskan pokok pikiran temuan hasil analisa Bab 4 Temuan NSL Temuan perluasan pengertian RB NSL sebagai nilai sosialisasi yg dpt menunjukkan tingkat sosialisasi di suatu lingkungan; NSL dpt diperbandingkan antara satu lingkungan dg lingkungan lainnya Perluasan arti RB ditentukan dr sifat interaksi, faktor pembentuk RB (stl divalidasi dg RB selain lansia) Hasil penelitian Hasil penelitian 6 Konsekuensi perbedaan antara Teori RB yang ada dg RB hasil penelitian Konsekuensi dr perbedaan tsb adalah; pada jenis data yg digunakan, analisa, hasil dan perwujudan RB Hasil penelitian Data pendukung

13 Bab 5 Temuan Penelitian B2 B1 A Gambar Terjadinya ruang bersama dan wilayahnya Ruang bersama A, seorang datang dan berinteraksi dengan temannya dengan wilayah ruang yang luas. Ruang bersama B, terjadi dua ruang bersama B1 dan B2 ketika interaksi berbeda. B Gambar Bukan ruang bersama Bukan ruang bersama C dan D (sementara dapat disebut sebagai ruang mandiri untuk membedakan dengan ruang bersama) C D

14 Bab 5 Temuan Penelitian Gambar Ruang mandiri yang terjadi karena tidak ada interaksi inderawi antar lansia Keterangan : Lingkaran biru : bentuk ruang dari interaksi inderawi Kotak merah : bentuk ruang dari pembatas fisik ruang

15 Bab 5 Temuan Penelitian Gambar Terbentuknya ruang bersama melalui interaksi inderawi antar lansia Keterangan : Interaksi inderawi yang terjadi Lingkaran biru : bentuk ruang dari interaksi inderawi Kotak merah : bentuk ruang dari pembatas fisik ruang

16 Pendukung Temuan Penelitian Tabel 6. Beberapa Perbedaan yang Dapat Dikenali Dari Teori Terbentuknya Ruang Bersama yang Ada dan RB Temuan di Lapangan No Teori Ruang Bersama yang Ada Menitik beratkan bahasan pada bentuk fisik ruang bersama (pembatas ruang) (Pane (2007), Brand (2009)). Bentuk ruang bersama di tentukan oleh elemen fisik pembatas ruangnya (Pane (2007), Brand (2009)) Sifat interaksi di dalam ruang bersama adalah sesuai fungsi yang dirancang (Newmark & Thompson (1977), Hall (1973), Barnes (2006)) Sifat interaksi tidak dikehendaki berubah-ubah namun tetap (Carr dkk (1992)) Sifat interaksi bersama yang penting berada di pusat ruang bersaama dan yang tidak penting di pinggir ruang bersama (Hall (1973), Barnes (2006)) Sifat interaksi tidak tahan terhadap gangguan interaksi yang berbeda. Interaksi yang berbeda akan berada (membentuk) pada ruang yang lain (Newmark & Thompson (1977), Hall (1973), Barnes (2006)) Kontrol interaksi untuk proteksi dan teritori dalam mempertahankan interaksinya masing-masing (Webb & Weber (2003), Barnes (2006)) Pola interaksi yang stabil terjadi pada satu interaksi yang sama saja (Carr dkk (1992), Hall (1973)) Posisi dan arah interaksi (faktor-faktor interaksi pembentuk ruang bersama) adalah seragam (sesuai sifat interaksi yang tidak diharapkan berbeda) (Carr dkk (1992), Hall (1973) Tidak membuka kesempatan terjadinya pola pengelompokan antar interaksi yang berbeda (karena interaksi yang berbeda akan dipisah) (Newmark & Thompson (1977), Hall (1973), Barnes (2006)) Menitik beratkan bentukan ruang bersama pada keadaan fisik ruangnya (Pane (2007), Brand (2009)). Ruang Bersama Temuan Penelitian di Lapangan Menitik beratkan bahasan pada aktivitas yang membentuk ruang bersama Bentuk ruang ditentukan oleh interaksi yang terjadi di dalam ruang bersama Sifat interaksi sering berbeda (tidak sesuai) dengan fungsi yang dirancangnya Sifat interaksi yang dikehendaki beragam Sifat semua interaksi adalah penting sehingga berpeluang berada di semua posisi Sifat interaksi tahan terhadap interaksi yang berbeda dan cenderung menerima dalam satu ruang bersama Kontrol interaksi untuk memudahkan menyatukan interaksi yang berbeda Pola interaksi yang stabil terjadi pada interaksi yang berbeda (antar kelompok interaksi) Posisi dan arah interaksi adalah beragam (sesuai sifat interaksinya yang beragam) Membuka kesempatan terjadinya pola interaksi antar kelompok interaksi Menitik beratkan bentukan ruang bersama pada ruang inderawi

17 Pendukung Temuan Penelitian Tabel 7. Konsekuensi dari Ketidaksamaan Teori Ruang Bersama yang Ada dan RB Temuan Penelitian di Lapangan No Konsekuensi Rangkuman Teori Ruang Bersama yang Ada Ruang Bersama Temuan Penelitian di Lapangan 1 Fungsi interaksi pada ruang bersama Interaksi berfungsi untuk mengenali fungsi ruang bersama serta memisahkan aktivitas yang berbeda Interaksi berfungsi untuk mengenali kenyamanan inderawi yang ada di dalam ruang bersama 2 Pengertian bersama ruang Hasil akhir bahasan adalah pada bentuk fisik ruang bersama Hasil akhir bahasan adalah pada bentuk ruang inderawi yang bersifat non fisik 3 Rumus NSL Tidak dapat digunakan Karena: Permasalahan akan muncul pada perhitungan terjadinya interaksi (JS Interaksi) karena sifat interaksi yang terjadi dihitung dari pemisahan berdasarkan perbedaan interaksi. Hasil perhitungan akan berbeda jauh. Dapat digunakan Karena: JS interaksi dapat dihitung sesuai sifat interaksi yang berlangsung tanpa membedakan jenis interaksi yang berbeda 4 Fungsi fisik ruang bersama Bentuk fisik Ruang bersama sebagai wadah dari aktivitas Bentuk fisik Ruang bersama sebagai tempat terjadinya interaksi 5 Peluang arah teori Telah banyak dibahas ruang sebagai wadah aktivitas dari sisi fungsi Mengangkat ruang inderawi sebagai ciri ruang dari Budaya Timur berdasarkan interaksi di dalamnya

18 Bab 5 Temuan Penelitian Rekomendasi Desain dari Hasil Penelitian 1. Posisi ruang bersama terhadap ruang lain di sekitarnya Ruang bersama memiliki posisi di tengah-tengah ruang lainnya. 2. Pengelompokan dan penyebaran fungsi ruang di area hunian lansia harus mengikuti zonasi yang dirancang. 3. Ruang peralihan menjadi penting untuk memperpanjang sosialisasi yang terjadi 4. Sirkulasi sebagai penghubung antar ruang memiliki kedudukan penting dalam mewujudkan sosialisasi yang terjadi. 5. Sirkulasi di dalam hunian lansia berfungsi untuk mempermudah lansia dalam menjangkau ruang bersama dan ruang lain yang ada di sekitarnya.

19 Bab 5 Temuan Penelitian Rekomendasi Desain dari Hasil Penelitian 6. Sirkulasi di dalam ruang bersama berfungsi untuk mempermudah lansia dalam berinteraksi dengan teman lansia lainnya. 7. Letak dan posisi tempat berinteraksi di dalam ruang bersama harus berada dekat di samping sirkulasi. 8. Kelengkapan sarana pada ruang bersama harus diperhatikan. 9. Pembatas ruang berupa dinding masif yang tertutup harus dihindari. 10. Posisi dan bentuk perabot di dalam ruang bersama berfungsi untuk mempermudah lansia dalam bersosialisasi serta menjaga posisi tubuhnya selama bersosialisasi.

20 Bab 5 Temuan Penelitian Rekomendasi Desain dari Hasil Penelitian 11. Ruang untuk berkegiatan bersama bagi lansia harus memiliki view yang terbuka dan tidak tertutup. 12. Beberapa catatan lain yang penting bagi rancangan bangunan hunian lansia: 1. Penataan layout bangunan dengan memperhatikan: udara, jarak, atap selasar, bangunan pendukung, ruang terbuka hijau. 2. Perancangan bangunan hunian dengan memperhatikan: tidak bertingkat, tidak ada hambatan dalam pergerakan, terjaganya privasi, terjaganya ketenangan 3. Perancangan bangunan pendukung: tersedianya bangunan pendukung, letak bangunan pendukung yang terpisah dari hunian, memperhatikan pengaturan jadwal yang optimal, tersedia sarana dan prasarana untuk bersosialisasi

21 Bab 6 Kesimpulan dan Saran No Arti Penting Pokok Bahasan Pokok Bahasan Penegasan/ Temuan dari Pokok Bahasan 1 1. Untuk menegaskan temuan dalam menjawab permasalahan & tujuan penelitian 2. Untuk memberikan penegasan kontribusi penelitian Kesimpulan Rumusan teori ruang bersama dan pengertian ruang bersama; RB adalah wadah unt menampung interaksi sosial yang terjadi di dalamnya, berdasarkan sifat-sifat interaksi dan faktor-faktor pembentuknya. Konteks interaksi dalam rumusan ruang bersama; interaksi sebagai faktor pembentuk RB Pola dalam penggunaan ruang bersama melalui interaksi penggunannya; Pola perulangan & keberagaman interaksi yang terjadi di RB. Temuan baru NSL; NSL adalah tinggi rendahnya nilai sosialisasi pada suatu lingkungan berdasarkan sosialisasi dan interaksi yang terjadi di dalamnya. 2 Untuk memberikan arahan pengembangan dan dukungan pada penelitian sejenis di masa mendatang Saran Interaksi & pola penggunaan RB adalah cerminan sosialisasi yg dilaksanakan oleh lansia sehingga pengembangan interaksi & pola penggunaan RB dpt dikembangkan unt mendukung sosialisasi lansia Penelitian interaksi sosial di dlm RB perlu terus dikembangkan & didukung unt memperkaya teori ruang dari berbagai perspektif Mendukung manfaat penelitian di masa mendatang NSL perlu dikembangkan karena berkaitan dengan ruang bersama dan interaksi penggunanya

22 TERIMA KASIH

BAB III METODE PERANCANGAN. perancangan ialah merupakan metode dalam sebuah perancangan. Yang hal ini bisa

BAB III METODE PERANCANGAN. perancangan ialah merupakan metode dalam sebuah perancangan. Yang hal ini bisa BAB III METODE PERANCANGAN Mengembangkan, menciptakan, dan menentukan konsep dan teori dalam perancangan ialah merupakan metode dalam sebuah perancangan. Yang hal ini bisa diuraikan dengan mengumpulkan

Lebih terperinci

EFEKTIFITAS RUANG PUBLIK DALAM RUMAH SUSUN DI KOTA MAKASSAR The Effectiveness of Enclosed Public Space in Rental Apartments

EFEKTIFITAS RUANG PUBLIK DALAM RUMAH SUSUN DI KOTA MAKASSAR The Effectiveness of Enclosed Public Space in Rental Apartments EFEKTIFITAS RUANG PUBLIK DALAM RUMAH SUSUN DI KOTA MAKASSAR The Effectiveness of Enclosed Public Space in Rental Apartments Citra Amalia Amal, Victor Sampebulu dan Shirly Wunas ABSTRAK Hasil penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Diagram 1.1. Data Statistik Kenaikan Angka Lansia Sumber: Badan Pusat Statistik,2010

BAB I PENDAHULUAN. Diagram 1.1. Data Statistik Kenaikan Angka Lansia Sumber: Badan Pusat Statistik,2010 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perubahan pola hidup di masyarakat pun mulai berubah baik dari segi sosial, ekonomi, dan budaya. Masyarakat masa kini tentunya menganut sistem pola hidup modern terutama

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN. masalah hal selanjutnya yang dilakukan ialah melakukan studi atau mencari data,

BAB III METODE PERANCANGAN. masalah hal selanjutnya yang dilakukan ialah melakukan studi atau mencari data, BAB III METODE PERANCANGAN Merancang Pusat Pembinaan dan Pemberdayaan Wanita diperlukan suatu metode yang sistematis. Perancangan ini diawali dengan identifikasi sebuah masalah yang akan dipecahkan dalam

Lebih terperinci

Asrama Mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Asrama Mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar belakang 1.1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek Fenomena kepadatan penduduk merupakan permasalahan yang sudah tidak asing terjadi di kota kota di Indonesia terutama yang berada

Lebih terperinci

BAB V HASIL RANCANGAN

BAB V HASIL RANCANGAN BAB V HASIL RANCANGAN 5.1 Perancangan Denah 5.1.1. Perancangan Denah Lantai Satu Berdasarkan konsep pola-pola ruangan, perancangan denah ini merupakan pengembangan hubungan ruang yang telah dirancang.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. JUDUL B. LATAR BELAKANG MASALAH. Desain Interior Lansia Therapist Center di Surakarta dengan Konsep. Surga

BAB I PENDAHULUAN A. JUDUL B. LATAR BELAKANG MASALAH. Desain Interior Lansia Therapist Center di Surakarta dengan Konsep. Surga BAB I PENDAHULUAN A. JUDUL Surga Desain Interior Lansia Therapist Center di Surakarta dengan Konsep B. LATAR BELAKANG MASALAH Indonesia merupakan salah satu negara dengan proses penuaan paling cepat di

Lebih terperinci

KONSEP PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN PERUMAHAN BTN BAUMATA, KOTA KUPANG

KONSEP PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN PERUMAHAN BTN BAUMATA, KOTA KUPANG TESIS KONSEP PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN PERUMAHAN BTN BAUMATA, KOTA KUPANG ROLIVIYANTI JAMIN 3208201833 DOSEN PEMBIMBING Ir. Purwanita S, M.Sc, Ph.D Dr. Ir. Rimadewi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan penduduk kota Yogyakarta berdasarkan BPS Propinsi UKDW

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan penduduk kota Yogyakarta berdasarkan BPS Propinsi UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan penduduk kota Yogyakarta berdasarkan BPS Propinsi Daerah Ibukota Yogyakarta mulai dari tahun 2008 yang memiliki jumlah penduduk 374.783 jiwa, pada tahun

Lebih terperinci

Gambar 5.2 Mind Mapping Perawat dan Pengunjung Gambar 5.3 Mind Mapping Site dan Bangunan 1

Gambar 5.2 Mind Mapping Perawat dan Pengunjung Gambar 5.3 Mind Mapping Site dan Bangunan 1 BAB V KONSEP PERANCANGAN INTERIOR 5. 1. Dasar dan Tujuan Setelah melewati proses analisis, penulis mengambil tema refreshment atau penyegaran sebagai konsep desain yang akan diterapkan pada perancangan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PERANCANGAN. Proses kajian yang dipergunakan dalam merancang Perpustakaan Islam di

BAB 3 METODE PERANCANGAN. Proses kajian yang dipergunakan dalam merancang Perpustakaan Islam di 91 BAB 3 METODE PERANCANGAN 3.1 Proses dan Metode Umum Proses kajian yang dipergunakan dalam merancang Perpustakaan Islam di Kota Pasuruan dilakukan melalui metode penelitian yang bersifat analisa kuantitatif-

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rancangan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rancangan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rancangan Peredaran dan penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang saat ini menjadi persoalan yang memprihatinkan. Peningkatan jumlah pengguna dari tahun ke tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kampus sebagai lingkungan pendidikan (Learning Society) menjadi tempat untuk mahasiswa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang aktif dan kreatif. Dalam proses

Lebih terperinci

D.03 PERAN RUANG TERBUKA SEBAGAI RUANG SOSIALISASI ANAK DALAM MEMBENTUK KARAKTER BANGSA

D.03 PERAN RUANG TERBUKA SEBAGAI RUANG SOSIALISASI ANAK DALAM MEMBENTUK KARAKTER BANGSA D.03 PERAN RUANG TERBUKA SEBAGAI RUANG SOSIALISASI ANAK DALAM MEMBENTUK KARAKTER BANGSA Suryaning Setyowati Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta suryanings@yahoo.com

Lebih terperinci

Arahan Optimalisasi RTH Publik Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara

Arahan Optimalisasi RTH Publik Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara C193 Arahan Optimalisasi RTH Publik Kecamatan, Jakarta Utara Shella Anastasia dan Haryo Sulistyarso Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh

Lebih terperinci

PRINSIP-PRINSIP PERANCANGAN TAMAN LINGKUNGAN (Kasus: Taman Lesmana dan Taman Pandawa)

PRINSIP-PRINSIP PERANCANGAN TAMAN LINGKUNGAN (Kasus: Taman Lesmana dan Taman Pandawa) PRINSIP-PRINSIP PERANCANGAN TAMAN LINGKUNGAN (Kasus: Taman Lesmana dan Taman Pandawa) TUGAS AKHIR Oleh: ADRIADI DIMASTANTO 15403057 PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA SEKOLAH ARSITEKTUR PERENCANAAN

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang a) Kelayakan Proyek Pengertian rumah sakit yaitu rumah tempat merawat orang sakit; tempat menyediakan dan memberikan pelayanan kesehatan yang meliputi berbagai masalah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Anak bagi sebuah keluarga adalah sebuah karunia, rahmat dan berkat.

BAB 1 PENDAHULUAN. Anak bagi sebuah keluarga adalah sebuah karunia, rahmat dan berkat. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Anak bagi sebuah keluarga adalah sebuah karunia, rahmat dan berkat. Kehadiran seorang anak ditengah-tengah keluarga merupakan harapan dan dambaan. Isak tangis kehadirannya

Lebih terperinci

mempunyai sirkulasi penghuninya yang berputar-putar dan penghuni bangunan mempunyai arahan secara visual dalam perjalanannya dalam mencapai unit-unit

mempunyai sirkulasi penghuninya yang berputar-putar dan penghuni bangunan mempunyai arahan secara visual dalam perjalanannya dalam mencapai unit-unit BAB VI KESIMPULAN Dari hasil analisa konsep hemat energi pada bangunan tinggi rumah sakit kanker di Surabaya dalam usaha untuk menghemat energi, yang diperoleh melalui kajian literatur, preseden, analisa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Jumlah penduduk di Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Jumlah penduduk di Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jumlah penduduk di Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan, hal ini dapat dilihat dari tabel jumlah penduduk yang dilakukan dari Sensus Penduduk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan % dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia.

BAB 1 PENDAHULUAN. merupakan % dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara terpadat penduduknya di dunia. Dimana jumlah penduduk secara keseluruhan ditinjau dari hasil sensus penduduk 2000, telah mencapai

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN. kualitatif, karena penelitian ini bertujuan membuat deskripsi, gambaran atau

BAB III METODE PERANCANGAN. kualitatif, karena penelitian ini bertujuan membuat deskripsi, gambaran atau BAB III METODE PERANCANGAN 3.1 Metode Umum Kajian perancangan dalam seminar ini menggunakan pendekatan kualitatif, karena penelitian ini bertujuan membuat deskripsi, gambaran atau uraian secara sistematis

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN

BAB VI HASIL PERANCANGAN BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar perancangan Pusat Studi dan Budidaya Tanaman Hidroponik ini adalah Arsitektur Ekologis. Adapun beberapa nilai-nilai Arsitektur Ekologis

Lebih terperinci

PENANDAAN TERITORI DAN INVASINYA TERHADAP RUANG PUBLIK

PENANDAAN TERITORI DAN INVASINYA TERHADAP RUANG PUBLIK KARYA TULIS ILMIAH PENANDAAN TERITORI DAN INVASINYA TERHADAP RUANG PUBLIK (Study Kasus Mall Pasar Baru dan Istana Plaza Bandung) TODDY HENDRAWAN YUPARDHI S.Sn, M.Ds DOSEN TETAP PROGRAM STUDI DESAIN INTERIOR

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN

BAB III METODE PERANCANGAN BAB III METODE PERANCANGAN 3.1 Ide Rancangan Ide rancangan Terminal Penumpang Pelabuhan di Paciran Lamongan ini merupakan fasilitas penyedia jasa layanan publik yang mampu menampung kegiatan berkumpulnya

Lebih terperinci

Usia yang Tinggal di Panti Werdha

Usia yang Tinggal di Panti Werdha Gambaran Psychological Well Being Pada Individu Lanjut Usia yang Tinggal di Panti Werdha http://www.gunadarma.ac.id/ Disusun Oleh Novalia Desty Utami Latar Belakang Lansia ingin untuk dapat lebih menghabiskan

Lebih terperinci

Karakteristik Fisik-Sosial dan Kriteria Kamar yang Membuat Betah

Karakteristik Fisik-Sosial dan Kriteria Kamar yang Membuat Betah TEMU ILMIAH IPLBI 206 Karakteristik Fisik-Sosial dan Kriteria Kamar yang Membuat Betah Riska Amelia Rachman (), Hanson E. Kusuma (2) () Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Bosowa (2)

Lebih terperinci

KONSEP PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI KOTA DILI TIMOR LESTE

KONSEP PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI KOTA DILI TIMOR LESTE Tesis RA092389 KONSEP PENYEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI KOTA DILI TIMOR LESTE JOSÉ MANUEL MANIQUIN 3208205003 Dosen Pembimbing Dr. Ir. Rima Dewi Suprihardjo, M.I.P Ir. Putu Rudy Satiawan, MSc PROGRAM

Lebih terperinci

BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Konsep utama yang mendasari Rancang Ulang Stasiun Kereta Api Solobalapan sebagai bangunan multifungsi (mix use building) dengan memusatkan pada sistem dalam melayani

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN Ruang Lingkup Penelitian Untuk Rancangan. Penelitian tentang upaya Perancangan Kembali Pasar Karangploso

BAB III METODE PERANCANGAN Ruang Lingkup Penelitian Untuk Rancangan. Penelitian tentang upaya Perancangan Kembali Pasar Karangploso BAB III METODE PERANCANGAN 3.1 Proses Perancangan 3.1.1 Ruang Lingkup Penelitian Untuk Rancangan Penelitian tentang upaya Perancangan Kembali Pasar Karangploso Kabupaten Malang ini mempunyai ruang lingkup

Lebih terperinci

Proses manajemen. Suhada, ST., MBA

Proses manajemen. Suhada, ST., MBA Proses manajemen Suhada, ST., MBA Umum Dlm rangka pencapaian tujuan organisasi diperlukan serangkaian kegiatan yg disebut proses manajemen Proses manajemen terdiri dari: - penetapan tujuan - perencanaan

Lebih terperinci

Solusi Hunian Bagi Pekerja dan Pelajar di Kawasan Surabaya Barat Berupa Rancangan Desain Rusunawa

Solusi Hunian Bagi Pekerja dan Pelajar di Kawasan Surabaya Barat Berupa Rancangan Desain Rusunawa JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 2, No.2, (2013) 2337-3520 (2301-928X Print) G-58 Solusi Hunian Bagi Pekerja dan Pelajar di Kawasan Surabaya Barat Berupa Rancangan Desain Rusunawa Laras Listian Prasetyo

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. metode pengumpulan data, metode analisis data serta metode penyajian hasil analisis data.

BAB III METODE PENELITIAN. metode pengumpulan data, metode analisis data serta metode penyajian hasil analisis data. BAB III METODE PENELITIAN Sesuai dengan tujuan penelitian yaitu optimalisasi peran dan fungsi ruang publik Taman Sungai Kayan kota Tanjung Selor Kalimantan Utara, maka diperlukan penajaman metode penelitian

Lebih terperinci

Ruang Favorit dalam Rumah

Ruang Favorit dalam Rumah TEMU ILMIAH IPLBI 5 Favorit dalam Rumah Wienty Triyuly (), Hanson E. Kusuma () () Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya Program Studi Doktor Arsitektur, SAPPK), ITB. () Kelompok

Lebih terperinci

SUKSES DALAM MEMBINA & MEMBIMBING KARYA ILMIAH REMAJA (KIR) PENELITIAN ILMIAH REMAJA (PIR) DI SEKOLAH. Oleh: Pujianto

SUKSES DALAM MEMBINA & MEMBIMBING KARYA ILMIAH REMAJA (KIR) PENELITIAN ILMIAH REMAJA (PIR) DI SEKOLAH. Oleh: Pujianto SUKSES DALAM MEMBINA & MEMBIMBING KARYA ILMIAH REMAJA (KIR) PENELITIAN ILMIAH REMAJA (PIR) DI SEKOLAH Oleh: Pujianto Bagaimana ya caranya agar aku bisa menjadi siswa yg bermanfaat bagi orang banyak???

Lebih terperinci

Ruang Hobi Ideal. Dimas Nurhariyadi. Abstrak

Ruang Hobi Ideal. Dimas Nurhariyadi. Abstrak TEMU ILMIAH IPLBI 20 Ruang Hobi Ideal Dimas Nurhariyadi Program Studi Magister Arsitektur, SAPPK, Institut Teknologi Bandung. Abstrak Aktivitas hobi membutuhkan ruang yang baik untuk memaksimalkan kegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. setiap orang. Namun tidak semua orang beruntung memiliki jiwa yang. sehat, adapula sebagian orang yang jiwanya terganggu atau dapat

BAB I PENDAHULUAN. setiap orang. Namun tidak semua orang beruntung memiliki jiwa yang. sehat, adapula sebagian orang yang jiwanya terganggu atau dapat BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Memiliki tubuh dan jiwa yang sehat merupakan dambaan setiap orang. Namun tidak semua orang beruntung memiliki jiwa yang sehat, adapula sebagian orang yang jiwanya

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN. kerajinan akar kayu jati dengan pendekatan tangible methaphor. Dari semua data

BAB III METODE PERANCANGAN. kerajinan akar kayu jati dengan pendekatan tangible methaphor. Dari semua data BAB III METODE PERANCANGAN 3.1 Metode Perancangan Ada beberapa macam metode dalam memperoleh data tentang pusat kerajinan akar kayu jati dengan pendekatan tangible methaphor. Dari semua data yang tekumpul,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Latar Belakang Eksistensi Proyek

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Latar Belakang Eksistensi Proyek BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1 Latar Belakang Eksistensi Proyek Sebagai Negara kepulauan dengan luas wilayah yang tersusun lebih dari 17 ribu pulau kecil dan besar, serta penduduk yang relatif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan kota baik dari skala mikro maupun makro (Dwihatmojo)

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan kota baik dari skala mikro maupun makro (Dwihatmojo) BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Ruang terbuka merupakan ruang publik yang digunakan masyarakat untuk berinteraksi, berolahraga, dan sebagai sarana rekreatif. Keberadaan ruang terbuka juga bermanfaat

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN. Metode perancangan ini banyak penelitian yang dilakukan, baik

BAB III METODE PERANCANGAN. Metode perancangan ini banyak penelitian yang dilakukan, baik BAB III METODE PERANCANGAN 3.1. Metode Perancangan Metode perancangan ini banyak penelitian yang dilakukan, baik menggunakan metode penelitian yang bersifat analisa kuantitatif-korelatif, yaitu mencari

Lebih terperinci

HAMBATAN INTERAKSI DAN KOMUNIKASI

HAMBATAN INTERAKSI DAN KOMUNIKASI HAMBATAN INTERAKSI DAN KOMUNIKASI Oleh Asep Saripudin, S.Pd. JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2010 A. TUJUAN UMUM TUJUAN Tujuan umum yang diharapkan

Lebih terperinci

RUMAH SAKIT HEWAN DI JAKARTA

RUMAH SAKIT HEWAN DI JAKARTA LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR RUMAH SAKIT HEWAN DI JAKARTA Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Teknik Diajukan Oleh : WIDYA TINA LESTARI

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PERANCANGAN. data dari sumber literatur hingga survey langsung obyek-obyek komparasi untuk

BAB 3 METODE PERANCANGAN. data dari sumber literatur hingga survey langsung obyek-obyek komparasi untuk BAB 3 METODE PERANCANGAN Secara garis besar, metode perancangan ini menggunakan analisis secara kualitatif yang didasarkan pada logika dan argumentasi yang bersifat ilmiah dan rasional. Analisis kualitatif

Lebih terperinci

RUMAH SUSUN SEDERHANA MILIK DI DAERAH RW 6 KELURAHAN LEBAK SILIWANGI

RUMAH SUSUN SEDERHANA MILIK DI DAERAH RW 6 KELURAHAN LEBAK SILIWANGI RUMAH SUSUN SEDERHANA MILIK DI DAERAH RW 6 KELURAHAN LEBAK SILIWANGI LAPORAN PERANCANGAN AR 40Z0 TUGAS AKHIR PERANCANGAN SEMESTER II TAHUN 2006/2007 Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kelayakan Proyek

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kelayakan Proyek BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1 Kelayakan Proyek Jumlah penduduk yang semakin pesat tiap tahunnya mempunyai dampak pada penurunan kualitas hidup masyarakat sendiri. Penurunan kualitas hidup

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semua manusia itu membutuhkan fasilitas-fasilitas penunjang yang dapat dijadikan sandaran hidup. Area public yang diharuskan dapat membuat seluruh manusia nyaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kecelakaan, termasuk polio, dan lumpuh (http://id.wikipedia.org/wiki/ Anak_

BAB I PENDAHULUAN. kecelakaan, termasuk polio, dan lumpuh (http://id.wikipedia.org/wiki/ Anak_ BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuna daksa merupakan kelainan cacat fisik dalam gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk

Lebih terperinci

RUMAH SAKIT BERSALIN DI TOMOHON ( PENDEKATAN UTILITAS DALAM DESAIN )

RUMAH SAKIT BERSALIN DI TOMOHON ( PENDEKATAN UTILITAS DALAM DESAIN ) RUMAH SAKIT BERSALIN DI TOMOHON ( PENDEKATAN UTILITAS DALAM DESAIN ) Riza Stephani Ester Suot 1 Ir. Sonny Tilaas, MSi 2 Ir. Pierre. H. Gosal, MEDS 3 ABSTRAK Tomohon merupakan salah satu kota di Sulawesi

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN

BAB III METODE PERANCANGAN BAB III METODE PERANCANGAN Metode merupakan suatu paparan atau deskripsi tentang proses perancangan yang didasari oleh teori literatur yang dikerjakan. Dalam proses perancangan memerlkan metode perancangan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR DIAGRAM...

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR DIAGRAM... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR DIAGRAM... i ii iv v viii xiv xix xx BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang...

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN. Perancangan Pusat Aktivitas Dakwah Islam di Malang ini bermula dari

BAB III METODE PERANCANGAN. Perancangan Pusat Aktivitas Dakwah Islam di Malang ini bermula dari 66 BAB III METODE PERANCANGAN Perancangan Pusat Aktivitas Dakwah Islam di Malang ini bermula dari realitas kondisi pendidikan Islam mengalami masa intellectual deadlock, sehingga muncul gagasan untuk merealisasikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pendidikan dan kemanusiaan adalah dua hal yang saling berkaitan, pendidikan selalu berhubungan dengan tema-tema kemanusiaan. Artinya pendidikan diselenggarakan dalam

Lebih terperinci

KARYA ILMIAH? Karya Ilmiah Remaja (KIR) 23-Jul-15

KARYA ILMIAH? Karya Ilmiah Remaja (KIR) 23-Jul-15 SUKSES MENYUSUN KARYA ILMIAH REMAJA (KIR) DAN PENELITIAN ILMIAH REMAJA (PIR) DI SEKOLAH Karya Ilmiah??? Oleh: Pujianto Jurusan Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta Apa yg ada dalam pikiran siswa

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1. Konsep Dasar Konsep dasar perancangan Pusat Seni Pertunjukan ini adalah mendesain suatu bangunan dengan fasilitas pertunjukan yang dapat berfungsi dengan baik secara sistem

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia Klaim terhadap ruang..., Maya Sita, FT UI, 2010

BAB 1 PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia Klaim terhadap ruang..., Maya Sita, FT UI, 2010 BAB 1 PENDAHULUAN Arsitektur merupakan ilmu perancangan lingkungan binaan; baik yang berskala mikro (perabot, produk) hingga makro (bangunan, kota, lanskap). Arsitektur lahir dari dinamika kehidupan manusia.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Soekanto (1982: 243) berpendapat bahwa peranan adalah. seseorang dalam suatu masyarakat.

II. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Soekanto (1982: 243) berpendapat bahwa peranan adalah. seseorang dalam suatu masyarakat. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Tentang Peranan 2.1.1 Pengertian Peranan Menurut Soekanto (1982: 243) berpendapat bahwa peranan adalah suatu aspek yang dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Di era modern ini setiap wilayah sedang mengembangkan potensi budaya dan kesenian yang warisankan oleh genersi sebelumnya. Seni sendiri terbagi dalam bebepa jenis antara

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Aplikasi Konsep Aplikasi konsep recreative design diaplikasikan pada bentukan masa yang terpisah untuk setiap fungsi yang berbeda. Setiap masa bangunan dipisahkan oleh ruang

Lebih terperinci

Persepsi Kriteria Kenyamanan Rumah Tinggal

Persepsi Kriteria Kenyamanan Rumah Tinggal TEMU ILMIAH IPLBI 2016 Persepsi Kriteria Kenyamanan Rumah Tinggal Aulia Fikriarini Muchlis (1), Hanson E. Kusuma (2) (1) Program Studi Doktor Arsitektur, SAPPK, Institut Teknologi Bandung (2) Kelompok

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. http://www.linkedin.com/company/pt-jasa-raharja-persero- diakes pada tanggal 24 April 2014

BAB I PENDAHULUAN. http://www.linkedin.com/company/pt-jasa-raharja-persero- diakes pada tanggal 24 April 2014 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagai Negara berkembang Indonesia terus mengalami perkembangan dalam berbagai bidang, salah satunya dalam bidang pembangunan. Pembangunan menandakan majunya suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan setiap kota dalam hal jumlah penduduk, tingkat ekonomi, tingkat pendidikan dan semakin terbukanya akses ke kota lain, menyebabkan semakin bertambahnya

Lebih terperinci

Konsep Panopticon dan Persepsi Ruang pada Rumah Bina Nusa Barong

Konsep Panopticon dan Persepsi Ruang pada Rumah Bina Nusa Barong JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5, No.2, (2016) 2337-3520 (2301-928X Print) G-288 Konsep Panopticon dan Persepsi Ruang pada Rumah Bina Nusa Barong Yulia Rosaena dan Angger Sukma Mahendra Jurusan Arsitektur,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN. perancangan adalah melakukan studi banding ke objek site serta melihat hal apa sajakah yang

BAB III METODE PERANCANGAN. perancangan adalah melakukan studi banding ke objek site serta melihat hal apa sajakah yang BAB III METODE PERANCANGAN Dalam proses perancangan Stasiun Kota Baru Malang, yang dilakukan selama proses perancangan adalah melakukan studi banding ke objek site serta melihat hal apa sajakah yang memerlukan

Lebih terperinci

BAB 3 METODA PERANCANGAN. Lingkup metoda penyusunan rencana Pembangunan Pusat Sains dan Teknologi di

BAB 3 METODA PERANCANGAN. Lingkup metoda penyusunan rencana Pembangunan Pusat Sains dan Teknologi di BAB 3 METODA PERANCANGAN Lingkup metoda penyusunan rencana Pembangunan Pusat Sains dan Teknologi di kawasan Pantai Panjang Kota Bengkulu ini secara umum mencakup hal-hal sebagai berikut: 3.1 Ide Perancangan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ide Dasar Perancangan Pada perancangan Pusat Rehabilitasi Anak bermasalah hukum memiliki beberapa ide dan konsep awal yang muncul dari ide perancangan. Secara ide perancangan,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN CATATAN DOSEN PEMBIMBING HALAMAN PENGANTAR PERNYATAAN ABSTRAK DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN CATATAN DOSEN PEMBIMBING HALAMAN PENGANTAR PERNYATAAN ABSTRAK DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN CATATAN DOSEN PEMBIMBING HALAMAN PENGANTAR PERNYATAAN ABSTRAK DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL i ii iii v vi viii xi xiv BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Lebih terperinci

PERAN DEVELOPER DALAM PENYEDIAAN RUMAH SEDERHANA DI KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR. Oleh: IKE ISNAWATI L2D

PERAN DEVELOPER DALAM PENYEDIAAN RUMAH SEDERHANA DI KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR. Oleh: IKE ISNAWATI L2D PERAN DEVELOPER DALAM PENYEDIAAN RUMAH SEDERHANA DI KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR Oleh: IKE ISNAWATI L2D 001 431 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2006 ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Potensi Kota Yogyakarta Sebagai Kota Budaya Dan Seni

BAB I PENDAHULUAN Potensi Kota Yogyakarta Sebagai Kota Budaya Dan Seni BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1 Potensi Kota Yogyakarta Sebagai Kota Budaya Dan Seni Kota Yogyakarta merupakan kota yang terkenal dengan anekaragam budayanya, seperti tatakrama, pola hidup yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebudayaan suku Sasak yang beragam dan menjadi ciri khas tersendiri bagi suku Sasak tersebut. Suku Sasak yang memiliki kebudayaan, adat isitiadat bahkan struktur ruang,

Lebih terperinci

Akses terhadap Keadilan Penyandang Disabilitas

Akses terhadap Keadilan Penyandang Disabilitas Akses terhadap Keadilan Penyandang Disabilitas Nicola Colbran Director Australia-Indonesia Partnership for Justice Kesan dan Pendekatan thdp Disabilitas Disabilitas = penyakit atau kelemahan Sesorg yg

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN Ruang Lingkup Penelitian Untuk Rancangan

BAB III METODE PERANCANGAN Ruang Lingkup Penelitian Untuk Rancangan BAB III METODE PERANCANGAN 3.1. Proses Perancangan 3.1.1. Ruang Lingkup Penelitian Untuk Rancangan Penelitian tentang perancangan PAUD di Kota Malang ini mempunyai ruang lingkup yang cukup luas. Untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses berkembangnya suatu kota baik dalam aspek keruangan, manusia dan aktifitasnya, tidak terlepas dari fenomena urbanisasi dan industrialisasi. Fenomena seperti

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN. ide yang mendasari dilakukannya perancangan tersebut, hingga konsep rancangan

BAB III METODE PERANCANGAN. ide yang mendasari dilakukannya perancangan tersebut, hingga konsep rancangan BAB III METODE PERANCANGAN Sebelum menuju pada sebuah output perancangan berupa hasil rancangan Pondok Pesantren Enterpreneur, harus melalui beberapa tahap terlebih dahulu. Tahap-tahap tersebut sebagai

Lebih terperinci

Program Studi Ilmu Pengelolaan Hutan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor J u l i

Program Studi Ilmu Pengelolaan Hutan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor J u l i Oleh: Eno Suwarno (E161090031) Komisi Pembimbing: Prof Dr Ir Hariadi Kartodihardjo, MS (Ketua) Dr Ir Lala M Kolopaking, MS (Anggota) Dr Ir Sudarsono Soedomo, MS (Anggota) Program Studi Ilmu Pengelolaan

Lebih terperinci

Pendekatan Kebijakan Publik

Pendekatan Kebijakan Publik Kuliah 5 Pendekatan Kebijakan Publik Marlan Hutahaean 1 1. Pendekatan Kebijakan Diadopsi dari kombinasi pandangan Wibawa (1994). Dye (1978) dan Wahab (1990) menyebutnya dgn istilah model. Dua pendekatan

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN A. Konsep Dasar Penyakit merupakan salah satu penyebab stres, jika penyakit itu terus-menerus menempel pada tubuh seseorang, dengan kata lain penyakit itu sulit

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN. Metoda perancangan dalam Pengembangan Tempat Pelelangan Ikan dan

BAB III METODE PERANCANGAN. Metoda perancangan dalam Pengembangan Tempat Pelelangan Ikan dan 3.1. Metode Perancangan BAB III METODE PERANCANGAN Metoda perancangan dalam Pengembangan Tempat Pelelangan Ikan dan Prasarana Perikanan samudera di Brondong Kabupaten Lamongan ini banyak dilakukan dengan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN APARTEMEN DI SEMARANG 1

BAB 1 PENDAHULUAN APARTEMEN DI SEMARANG 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Semarang termasuk dalam sepuluh peringkat kota metropolitan terbesar di Indonesia dan merupakan ibu kota Jawa Tengah yang didominasi oleh bangunan- bangunan sebagai

Lebih terperinci

PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP ATRIBUT KENYAMANAN PADA SETING TANGGA DALAM HALL FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIJAYAKUSUMA - PURWOKERTO

PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP ATRIBUT KENYAMANAN PADA SETING TANGGA DALAM HALL FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIJAYAKUSUMA - PURWOKERTO PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP ATRIBUT KENYAMANAN PADA SETING TANGGA DALAM HALL FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIJAYAKUSUMA - PURWOKERTO Oleh: Yohanes Wahyu Dwi Yudono Abstraksi Pemahaman suatu lingkungan fisik,

Lebih terperinci

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI KELURAHAN DALEMAN TULUNG KLATEN SKRIPSI

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI KELURAHAN DALEMAN TULUNG KLATEN SKRIPSI HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DI KELURAHAN DALEMAN TULUNG KLATEN SKRIPSI Diajukan Untuk memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-1 Keperawatan Disusun oleh:

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN

BAB VI HASIL RANCANGAN BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1. Rancangan Kawasan Perancangan kawasan mengacu pada sebuah konsep dari arsitektur perilaku yang telah diintegrasikan dengan nilai-nilai keislaman. Konsep perancangan kawasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Terminal Bis Tirtonadi merupakan terminal pengganti yang sebelumnya yaitu Terminal Bis Harjodaksino yang berlokasi di Gemblegan. Sejalan dengan perkembangan kebutuhan

Lebih terperinci

INDIAN FESTIVAL WALK (INTEGRASI RUANG LUAR DAN RUANG DALAM)

INDIAN FESTIVAL WALK (INTEGRASI RUANG LUAR DAN RUANG DALAM) INDIAN FESTIVAL WALK (INTEGRASI RUANG LUAR DAN RUANG DALAM) LAPORAN PERANCANGAN TKA 490 STUDIO TUGAS AKHIR SEMESTER B TAHUN AJARAN 2009/2010 Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Arsitektur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempertimbangkan karakteristik manusia calon penggunanya dan karakteristik

BAB I PENDAHULUAN. mempertimbangkan karakteristik manusia calon penggunanya dan karakteristik BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam upaya penjabaran strategi pembangunan berwawasan identitas, salah satu aspek yang harus diperhatikan adalah tetap memperhatikan dan mempertimbangkan karakteristik

Lebih terperinci

SUMBU POLA RUANG DALAM RUMAH TINGGAL DI KAWASAN PECINAN KOTA BATU

SUMBU POLA RUANG DALAM RUMAH TINGGAL DI KAWASAN PECINAN KOTA BATU SUMBU POLA RUANG DALAM RUMAH TINGGAL DI KAWASAN PECINAN KOTA BATU Maharani Puspitasari 1, Antariksa 2, Wulan Astrini 2 1 Mahasiswa Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya 2 Dosen Jurusan

Lebih terperinci

BAB IV PENGAMATAN PERILAKU

BAB IV PENGAMATAN PERILAKU BAB IV PENGAMATAN PERILAKU 3.1 Studi Banding Pola Perilaku Pengguna Ruang Publik Berupa Ruang Terbuka Pengamatan terhadap pola perilaku di ruang publik berupa ruang terbuka yang dianggap berhasil dan mewakili

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. upaya memperbaiki taraf hidupnya.

BAB I PENDAHULUAN. upaya memperbaiki taraf hidupnya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam era globalisasi ini bangsa Indonesia mengalami berbagai kemajuan. Hal ini merupakan hal yang positif karena dengan kemajuankemajuan tersebut maka bisa

Lebih terperinci

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR AGROWISATA BELIMBING DAN JAMBU DELIMA KABUPATEN DEMAK

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR AGROWISATA BELIMBING DAN JAMBU DELIMA KABUPATEN DEMAK LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR AGROWISATA BELIMBING DAN JAMBU DELIMA KABUPATEN DEMAK Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Teknik diajukan

Lebih terperinci

Rumah Impian Mahasiswa

Rumah Impian Mahasiswa TEMU ILMIAH IPLBI 2013 Rumah Impian Mahasiswa R. Kartika Abdassah (1), Gustav Anandhita (2), Mega Sesotyaningtyas (3) (1) Program Studi Magister Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan

Lebih terperinci

Korespondensi antara Kriteria Tempat Kerja Alternatif Impian terhadap Profesi Pekerja

Korespondensi antara Kriteria Tempat Kerja Alternatif Impian terhadap Profesi Pekerja TEMU ILMIAH IPLBI 2015 Korespondensi antara Kriteria Tempat Kerja Alternatif Impian terhadap Profesi Pekerja Fauzan A. Agirachman (1), Hanson E. Kusuma (2) (1) Program Studi Magister Arsitektur, SAPPK,

Lebih terperinci

MODEL RUMAH BAGI KELUARGA MUDA BERPENGHASILAN RENDAH DI KOTA PALEMBANG BERDASARKAN PREFERENSI DAN PERSPEKTIF PERKEMBANGAN KELUARGA

MODEL RUMAH BAGI KELUARGA MUDA BERPENGHASILAN RENDAH DI KOTA PALEMBANG BERDASARKAN PREFERENSI DAN PERSPEKTIF PERKEMBANGAN KELUARGA LAPORAN PENELITIAN UNGGULAN MODEL RUMAH BAGI KELUARGA MUDA BERPENGHASILAN RENDAH DI KOTA PALEMBANG BERDASARKAN PREFERENSI DAN PERSPEKTIF PERKEMBANGAN KELUARGA Oleh : KETUA : WIENTY TRIYULY, ST, MT ANGGOTA

Lebih terperinci

Desain Interior Restoran pada Rest Area di Kabupaten Probolinggo Berkonsep Jawa Rustik dengan Sentuhan Ikon Khas Probolinggo

Desain Interior Restoran pada Rest Area di Kabupaten Probolinggo Berkonsep Jawa Rustik dengan Sentuhan Ikon Khas Probolinggo JURNAL SAINS DAN SENI ITS Vol. 5, No.2, (2016) 2337-3520 (2301-928X Print) F-193 Desain Interior Restoran pada Rest Area di Kabupaten Probolinggo Berkonsep Jawa Rustik dengan Sentuhan Ikon Khas Probolinggo

Lebih terperinci

SOCIAL COMPARISON. TEORI PERBANDINGAN SOSIAL Festinger (1950, 1954): Proses saling mempengaruhi dan perilaku

SOCIAL COMPARISON. TEORI PERBANDINGAN SOSIAL Festinger (1950, 1954): Proses saling mempengaruhi dan perilaku SOCIAL COMPARISON TEORI PERBANDINGAN SOSIAL Festinger (1950, 1954): Proses saling mempengaruhi dan perilaku saling bersaing Dalam interaksi sosial ditimbulkan oleh adanya kebutuhan untuk menilai diri sendiri

Lebih terperinci

SURVEILANS EPIDEMIOLOGI

SURVEILANS EPIDEMIOLOGI SURVEILANS EPIDEMIOLOGI Agus Samsudrajat S, SKM STIKes KAPUAS RAYA SINTANG Beberapa Pengertian (1) Kegiatan pengumpulan,pengolahan, analisis, interpretasi dan informasi data kesehatan secara sistematik

Lebih terperinci

Metode Kuadran Image pada Desain Interior

Metode Kuadran Image pada Desain Interior Metode Kuadran Image pada Desain Interior Disusun oleh : Dr. Mahendra Wardhana, ST. MT. Mata Kuliah : Riset Desain Interior Kredit : 8 SKS Semeter : 7 Tujuan : Pembelajaran Kompetensi : 1. Mahasiswa mampu

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK HUKUM ADAT

KARAKTERISTIK HUKUM ADAT Pentingnya Mempelajari HkAdatBagiAhliHukum PERKEMBANGAN SISTEM HUKUM ADAT Disusun oleh: Afifah Kusumadara, SH. LL.M. SJD. Hukum Adat adalah hukum yang hidup di Indonesia (Living Law) Merupakan bagian dari

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Konsep desain kawasan menggunakan konsep dasar transformasi yang

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Konsep desain kawasan menggunakan konsep dasar transformasi yang BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Desaian Kawasan Konsep desain kawasan menggunakan konsep dasar transformasi yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, yaitu konsep perancangan yang mengambil dari sistem sirkulasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Perancangan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Perancangan 1 A. Latar Belakang Perancangan BAB I PENDAHULUAN Sebuah evolusi alamiah dari perkembangan teknologi adalah makin fleksibelnya orang bergerak. Dunia menjadi datar, tanpa batasan fisik dan segala sesuatu

Lebih terperinci