DI JURUSAN ARSITEKTUR UNIVERSITAS KRISTEN PETRA SURABAYA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DI JURUSAN ARSITEKTUR UNIVERSITAS KRISTEN PETRA SURABAYA"

Transkripsi

1 lariyanto Jpkan )osen 3Serta lusan saian, :fektrf uruan rgkat tntum yang urryai (reatif gatur r oleh nateri hasil Semi <ultas satya r Uniristen CASE.BASED DAN PBOBTEM.BASED TEARIV'NG DALAM PENGAJARAN STRUKTUR DENGAN KASUS PENGAJARAN STRUKTUR DI JURUSAN ARSITEKTUR UNIVERSITAS KRISTEN PETRA SURABAYA Bisatya W. Maer Esterlita Devi Hendrayani Jurusan Arsitektur Univcrsitas Kristen peira Surabaya Er,rail : r. petra. ac. id ABSTRAK Dalam kurrkulum Jurusan Arsitektur Universitas Kristen petra, pengajaran struktur diharapkan dapat meluluskan mahasiswa yang mampu berinovasi dengan konsep/prinsipprinsip struktur Dari pengalaman mengajar, ternyata keberhasilan pengajaran struktur bangunan clilurusan arsitektur kurang memuaskan, apalagi dengan tuntuta'l kapabilitas yang tinggi (mampu berinovasi;. noa beberapa hal liang b"isa menjadi sebab kurang berhasilnya pengajaran st,'uktur di jurusan arsitektur : sasaran belajar, isi pengajaran, metode atau evaluasinya. Makatah ini tidak mengevaluasi pengajaran struktur, tetapi akan coba mengamaii k.rnrngkinan menerapkan metode pengajaran struktur bangunan a.lternatif, yaitu "CaseBaseJL earning,,(cbl) dan,,problembased Learni ng" (pbl). CBL dan PBL merupakan pendekatan pengajaran yang berorientasi pada mahasiswa atau "sfudent centered", dimana mahasiswa oiposisikan sebagai pusat d";i ;;;;;; belajar' Mahasiswa diharapkan aktif menggali dan menemukan masalah serta pemecahannya dibawah,pengarahan tutor, dalam hal ini dosen bertindak bukan sebagai pengajar, tapi sebagaitr:tor yang memberikan pengarahan dan motivasi. Kedua metode ini memiliki perbedaan yang tajam, dan masing riasing mempunyai kelemahan serta keurqgulan sendiri. ' 'r " CBL merupakan metodc pengajaran yang memanfaatkan kasus masa lalu sebagai bahan "belajar" untuk memecahkan problem saat ini. Daiam setiap kasus masa lalu, selalu terkandung didalamnya problem sekaligus pemecahan masaiahnya. Mahasiswa menggali dan menemukan problem serta pemecahannya dibawah pengarahan tutor. Case'Based lebih sesuai untuk problem yang terstruktur, modular dan tidak seragam. PBL lebih menekankan pada problem yang tidak terstruktu r (illstructured) yang harus dipecahkan oleh mahasiswa. Mata kuliah struktur bangunan Jurusan Arsitektur Universitas Kristen petra merupakan gabungan dari : konstrukii bangunan, konstruksi kayu, r.onrtirxri[lion, konstruksibaja, mekanika teknik, konstruksi bangunan lanjutan, bahan bangunan dan gambar bestek, sehingga dapat dikatakan sebagai mata kuliah "struktur bangunan terpidu". Dari halhal di atas akan diambil kesimpulan apakah penggunaan CBL dan pbl masingmasing sesuai dengan pengajaran struktur dan konstrursi, Oagian mana dari pengajaraln struktur yang sesuai dengan metode CBL dan dengan metode pbl, *n*nn,i Nasional ITSPJurusan Arsiteirtur Univenitar l(risten petra 5t

2 CASE.BASED DAN PROBT E M.B AS E D TEARN'NG Bisatya tu. Maer dan Esterlita Devi implementasi kedua metode tersebut dalam pengajaran struktur dengan membandingkan materi pengajaran dengan karakteristik CBL dan pbl, membandlngkan tingkat kemampuan yang diharapkan dalam sasaran belajar struktur dengan tingkat kemampuan yang dapat dicapai melalui CBL dan PBL, serta menguraik"n pener"pan rancangan CBL (kasus studi mata kuliah Struktur AR 410) dan PBL (kasus studi mata kuliah Pilihan Pendalaman I : StrukturDisain AR 611) Katakata kunci : Student centered, ProblemBased Learning, CaseBase d Learning, deep learning, lifelong learning PENDAHULUAN Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra (JAP) menerapkan kurikulum berbeni ukcore, dimana merancang merupakan inti kurikulum dan mata kuliah struktur ditempatkan sebagai mata kuliah pendukung bersama dengan mata kuliah sains lingkungan dan 'mata kuliah sejarah dan teori arsitektur. Tujuan pengajaran struktur dalam kurikulum jui'usan adalah menghasilkan lulusan yang mampu berinovasi dengan konsepkonsep/prinsipprinsip struktur dan konstruksi bangunan serta mampu mengkomunikasikan pada masyarakat pengguna. Mata kuliah struktur bangunan diajarkan dalam enam semester, dimana semester 1 sampai dengan merupakan mata kuliah wajib, yaitu: Struktur AR 1 10, Struktur AR 210, Stru[tur 9e_mester,S AR 310, Struktur AR 410 dan Struktur AR 510, sedangkan semester G merupakar, mata kuliah pilihan, yaitu: pendalaman struktur melalui disain dan pendalaman struktur secara teoritis (Pilihan Pendalaman I : StrukturDisain AR 611 dan Struktur Teori AR 612). Mata kuliahmata kuliah yang ada pada kurikulum sebelum tahun 1980 merupakan mata kuliah yang saling terpisah, yaitu: konstruksi bangunan, konstruksi kayu, konstruksi beton, konstruksi baja, mekanika teknik, konstruksi bangunan lanjutan, bahan bangunan dan gambar bestek. Pada kurikulum JAP setelah 1980 dikumpulkar dalam satu mata kuliah strlktur bangunan yang terpadu. lsi mata kuliah struktur bangunan : sistem struktur dan tata letak struktur, dasardasar analisis struktur (st"ucturalanalysis) dan persyaratanpersyaratan struktur, konstruksi bangunan, konstruksi kayu, korstruksi beton, konstruksi baja, dasardasar structuraldesign dan detil konstruksi, gambar oestek, bahan bangunan, serta pengintegralan ruangbentukstruktur/material/ konstruksi. Untuk mengajarkan pengetahuan yang begitu banyak drperlukan penetapan bahan ajar yang paling hakiki atau "ide dasar" yang searah dengar: tujuan l.urikulum. Dengan dasar ini materi pengajaran struktur bangunan dikelompo[t<an Oatam 3 kelompok, yaitu: Kelompok A yang termasuk dalam "ide dasar ini yaitu materi yang diperlukan mahasiswa untuk berinovasi, se rta yang diaj iajarkan berkesinambungan dari semester 1 sampai dengan semester 6. Materi yang tercakup dalam kelompok A : sistem struktur bangunan, tata letak elemenelemen struktural, stabilitas struktur dan persyaratan struktui yang lain, beban dan perilaku struktur, strukturkonstruksi dan bentuk, strukturruingbentuk, penyaluran beban dan tata letak struktur lantai/aiap, pondasi. Kelompok B yaitu materi pengajaran yang dibutrrhkan untuk berinovasi, tapi tidak diajarkan secara sinambung dari semester 1 sampai dengan semester 6 tidak l(onferensi Nasional ffspjurusan Arsitektur Universitas l(risten petra Sasc bede evalt sinte Dala ada belaj hal k Leis] cera cenc semi kem dose padr siti ( Arsit berc pen ket'i men to be ProL pen( Stuo (lear banl Sela banl Men yan(, Olel

3 : 8lsarya ndrayani ngkat rapan berinovasi atau kemampuan berteori Materi yang tercak'.rp dalam kelompok C : dasar analisis struktur (mekanika teknik), konstruksi elemen non struktural (kusen,/plafond, dll.) deep Sasaran belajar tiap kelompok dirancang dengan tingkat kemampuan yang berbeda beda' Untuk kelompok A tingkat kemampuan yang diharapkan adaiah analisl/sintesis/ evaluasi, kelompok B tingkat kemampuan yang diharapkan adalah penerapan/analisis/ sintesis, kelompok C tingkat kemampuan yang diharapkan adalah pemahaman. core, rtkan r oan dan lrliah dan ltan'uksi nan, qat aseir rkan rster CASE8ASED DAN PROEI EM.BASED LEARNING Kelompok C, yaitu materi pengajaran yang tidak atau tidak langsung dibutuhkan untuk berinovasi, tapi dibutuhkan pemahamannya untuk.enrnlung"k"rurprun rnata Tata lton, Maer dan Esterlita Devi Henclra,,ani dikelompokkan dalam "ide dasar,, Materi yang tercakup dalam kelompok B : konstruksi kayu, konstruksi beton, konstruksi baja, bahan bangunan, dasar structural design dan detil 1o^trrori' ' Ingan rrgkan yang ruksi uliah ngan uktur mata )caia W.,: Dalam panduan rancangan pengajaran tim AA Universitas Brawijaya, Malang; dikatakan ada hubungan antara ienis metode mengajar dengan macam kemampuan (sasaran belajar). Metode ceramah yang paling banyak digunakan, mempunyai kelemahan dalam hal besarnya bahan yane diserap dan diingat oten mahasiswa. Oari hasil penelitian Mc Leish (1966) ternyata sekitar 4a% isi perkuliahan yang masih diingat sesaat selesainya ceramah, dan seminggu kemudian sekitar 2Oo/o. Selain itu metode ceramah juga cenderung menghaiangi respon mahasiswa, membuat mahasiswa pasif, selain itu minit, semangat dan motivasi mahasiswa dalam mengikuti ceramah sangat bergantung pada kemampuan pribadi dosen dalam membawakan ceramahnya, pioanatlioat danyat< dosen seperti ini. Keunggulannya adalah efisiensi waktu yang tinggi, bisa diterapk;; pada kelas besar, tidak memerlukan banyak alat bantu. Siti Oentari Sri Widodo dalam keynote speechnya pada Seminar Nasional pendidikan Arsitektur tahun 2000 cli Universitas lndonesia, menekankan bahwa pengajaran yang berorientasi pada dosen tidak lagi memadai, pengajaran yang berkualitas adalah pengaiaran yang berorientasi pada mahasiswa, sehingga dapat member,ikan ketrampilan mahasiswa untuk belajar mandiri (lifelong teirning) pernyataan ini menanggapi 4 pilar pendidikan dari UNESCO : learning to know,learning b do,learning to be,learning to live together. ProblemBased Learning (PBL) dan CaseBased Learning (CBL) termasuk metode pengajaran yang menggunakan model pendekatan yang berorientasi pada rnahasiswa/ StudentCentered Learning (SCl) dan mengajari<an bagaimana mahasiswa 'belalar, (learning to learn). Kedua metode ini saat ini sedang diterapkan dalam pengajaran struktur bangunan JAP Selanjutnya akan dibahas apakah penerapan PBL dan CBL dalam pengajaran struktur bangunan memang sesuai. etak ban PROBLbM.BASED L;ARNING dan CASEBAS ED LEARNING tu r{, dak dak Menurut Gwendy (1996), PBL da'r CBL sejalan dengan filsafat pendidikan konstruktivisme, yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kita sendiri. Oleh karena itu pengetahuan tiriak dapat dipindahkan begitu saja dari otak seseorang,ffi: tw l(onferensi Nasional ttspjurusan Arsitel,turUnivenitar (risten Petra

4 case8asep DAN PROAIE M BASE D IEARNTNG Bisatya W. Ataer dan Esterlita Devi Hendrayani F Bisatya *.i I $ (dosen) ke kepala orang lain (mahasiswa), mahasiswa sendiri yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan menyesuaikar terhadap pengalaman pengilaman/ pengetahuan mereka. # * $. :r F CaseBased Learning (CBL) a i'; Kasus case) memb serta Diper,l dalam CaseBase d Learning (CBL), seringkali disebut juga CaseBased fleasoning (CBR) adalah f h suatu model yang menggunakan kasus nyata yang telah didokumentasikan dengan baik d I sebagai sarana pembelajaran. Penggunaan metoda ini dipelopori oleh Fakultas Huku:n dan B:snis Universitas Harvard untuk menggantikan metoda maeang yang diangeap tidak lagi memadai dalam menghadapi perkembangan yang cepat, kemudian dicoba pula oleh fakultas lain seperti kedokteran dan psikologi sejak tahun Dalam disip'indisiplin tsb. kasus diberikan sebagai sarana dalam memberikan pengetahuan masa lalu bagaimana individu, institusi atau perusahaan menghadapi masalah yang harus diper,ahkan, dimana seringkati proses pemecahan masalahnya dideskripsikan secara implisi,,, lnformasi masa lalu, dlta statistik, grafik dan tabeltabel disertakan dan diintegrasikan dalam kasus yrng diberikan agar peserta didik dapat bekerja dalam faktafakta dan menganalisis problem tsb. kemudian memikirkan kemungkinan pemecahan serta konsekuersi dari keputusan yang mungkin diambil. Kasus digunakan dalam pengajarap 6ipakai untuk meningkatkan pembelajaran tentang dasar (teori) dan praktek. Malrasiswa harus menggali cjan menemukan probleri?ltqip serta pemecahan dari kasus yang diberikan tersebut d,biwah pengarahan tutor dalam suatu format diskusi' Mahasiswa akan belajar banyak hal pada ru"tprorrs menemukan problem dari kasus masa lalu dan menemukan bagaimana kasus tersebut telah dipecahkan, penemuan ini akan dipakai sebagai bahan untuk memecahkan masalah saat ini (current problem and final solution), dimana seringkali adalah lebih efisien untuk memecahkan masalah dengan beranjak dari pemecahan iebelumnya dari masalah yang sejenis, ketimbang mulai dari nol. CBL lebih sesuai untuk menjeliskan masalah yang terstruktur, modular dan tidak seragam. Formi Keber ranca kelon pen,e Tutor prese fasilit permi menii maks Pada mem men! Sekre prosf Karal case Penggunaan CaseBased Learning dalam proses belajarmengajar membutuhkan rancangan strategi agar dapat mencapai hasil yang maksimal sesuai dengan tujuan pengajaran. Faktorfaktor yang perlu dipertimbangtin adalah sebagai berikut : Penulisan kasus Sebagai materi awal (pre existing materiaf), kasus yang dijadikan acuan harus jelas, fakta(sumbernya) dapat dan mudah dicari. Leoln oait1lra berasal dari lakta sumber vang familiar, mudah diingat (otentik) sebagai bagian dari dunia seharihari mahasiswa sehingga dapat langsung digunakan di dalam kelas Kasus yang,ditulis (dipilih) harus tahu apa tujuannya, apakah dibuat untuk melatih anak didik memutuskan sesuatu dari beberapa kemungkinan (decisionlditemmacases) atau melatih berpikir analitis (appraisatcases/issue cases) atau mengambil hikmah dari kasus masa lalu (dibedah) kemudian dipakaisebagaiacuan untuk mengambil keputusan dalam problem yang didisain (case histo$. Kasuikasus tersebut dapat saja diubah ataupun dikembangkan tergantung tujuan yang ingin dicapai. l(onfe'ensi l.lasional F[5P Jurusan Arsitektur Universitas l(risten petra w

5 Maer dan Esterlita Devi Hendrayani endrayani Bisatya artikan laman/ Kasus yang diberikan sebaiknya diawali dengan kasus yang sederhana (introduction case) agar tidak menimbulkan stress baik bagi mahasiswa maupun tutor, dimana dapat memberikan pancingan av/al pada mahasiswa bilamana tidak terbiasa berpikir analisis, serta dapat mensolidkan kerjasama dalam team (tutor dan kelompok mahasiswa). Diperlukan adanya penjelasan awal (brainstorming) bila CBL pertama kali digunakan V,/. CASE.B,ASED DAN PROELEM.BASED LEARNING dalam proses belajarmengajar. adalah tn baik arvard dalam Format Diskusi Keberhasilan CBL selain ditentukan oleh strategi penulisan kasus ditentukan pula oleh rancangan format diskusi yang baik, dimana melalui diskusi mahasiswa bersama dalam kelompok mengidentifikasi berbagai issue dan problem, menggali problem serta pemecahan dari kasus yang diberikan tersebut dibawah pengarahan tutor. seperti,erikan tstitt si Tutor harus tahu tujuannya secara jelas (memperkenalkan modul), dapat menstrukturkan )roses fasilitator atistik, agar rudian permasalahan, mengarahkan proses bila diperlukan, menasehati dan menilai, bila perlu menradi nara sumber (resource person), serta yakin bahwa partisipasi anak'didik maksimal (motivator, menstimulasi jika diskusi macet) "r presentasi untuk menir'gkatkan kemampuan analisis mahasiswa (bertindak sebagai. memantau proses diskusi, membet.rlkan kesalahpahaman terhadap,ngkin Pada umumnya kelompck terdiri dari 57 orang anggota, Ketua kelompok berperan rntang oblem daiam nukan memimpin dan mengendalikan jalannya diskusi, mengkoordinasi, inenjaga waktu, mengajukan usulan/bertanya, rnemantau relevansi diskusi serta menyetujui notulen. Sekretaris kelompok mer,catat, membuat notulen yang akan menjadi catatan evaluasi proses diskusi bagi tutor. telah lsalah untuk r yang yang Karakteristik CBL : case process r's rnductive rather than deductive (Robert Merry, 1954) DUluilut pada tilar Berorientasi il.dut paud pada apa yang otpetajart rnahasiswa, rasrswa, fokus IUKUS paua dipelajari rnanastswa mahasiswa rhkan :ujuan faktayang Siswa Merupakan sarana untuk meningkatkan pemahaman lewat learning by doing,?nengembangkan kemampuan analitis (berp;kir kritis) dan memutuskan sesuatu (decision makingskil/), belajar bagaimana mengkaitkan yang dipelajari dengan problem nyata (learning how to grapple with messy real life problems), mengembangjkan kemarrpuan komunikasi secara verbal dan bekerjasama dalam team. Menghadapkan mahasiswa dengan kasus nyata/aktual sehingga dapat meningkatkan mirrat dan kehadiran mahasiswa dibandingkan dengan format pengajaran yang lama (ceramahinstruksi) dimana lebih berkonsentrasi pada faktafakta dan materi kuliah daripada pengembarrgan kemampuan berpikir lebih lanjut Kerja dalam team meningkatkan rasa percaya diri anak didik dimulai dari grup kecil (peer group), menjadikan tingkahlaku yang positif, lebih mengerti bagaimana proses pemecahan masalah dan keterbatasannya, serta kemampuan anak ) atau kasus Jalam lupun r mempertanyakan lebih banyak lagi pertanyaanpertanyaan kritis selama proses ; diskusi Keuntungan CBL i.:. Dapat mengembangkan kemampuan analitis (mempertanyakan esensi dari ses,,w I u atu/hig h e r o rd e r re aso n i n g skil/s) l(onferensi Nasional ffspjurusan ArsitekturUniversitar l(risten Petra

6 CASE.BASED DAN PFOBTE M. BASE D TEARN'A G Eisatya W. Maer dan Esterlita Devi Hendrayani Kemampuan mengaplikasi konteks (teori) dan kenyataan di lapangan Kemandirian dalam mencari darr memecahkan masalah, ketrampilan belajar sendiri, (lifelong tearning) Mengurangi kegelisahan/ketakutan menghadapr problem (tugas) melalui pelatihan pemecahan masalah yang didisain makin lama makin xompteks dalam diskusi, tahu memulai pemecahan problem dari mana Meningkatkan rasa percaya diri, semangat dan kerja sama dalam team, kemampuan oral (presentasi) dengan teoin Uait<. Eisal seb ttnt Pro Kai ture Kelemahan CBL Tidak semua informasi/materi dapat diberikan dengan metode ini, bila dibandingkan dengan metode yang tradisionar misarnya ceramih (satu arah) cbl tidak efektif untuk mentransmisikan bahan/mateii dalam jumlah Penggunaan casebased Learning tidak dapat memecahkan semuayang banyak. hal (the itts) yang diajarkan Membutuhkan waktu yang relatif lebih lama ProblemBased Learning (pbl) PBL merupakan pendekatan belajar dengan menghadapkan mahasiswa pada problem praktek yang harus dipecahkan. Usahi untuk mlmecahkan problem akan nlemacu mahasiswa menggali terlebih dahulu problem tersebut secara mendalam, sehingga mereka dapat memutuskan apa yang harus mereka pelajari untuk dapat memecahkan problem yang dihadapi tersebut. lni berarti mengajarkan mahasiswa learning to learn. PBL lebih menekankan pada problem yang tidakierstruktu r (iltstructured). Kar digunakan di Fakultas Kedokteran Universitas l\lcmaster, Kanada lplp:.t"11t<ali tahun 1968 (Neufeld & Barrows, 1974), dilatarbelakangi kenyataan bahwa anak didik tidak dapat mengaplikasikan halhal mendasar oari yaig telah oipelajari ketika dikondisikan pada situasi klinikal. Dengan pbl dapat menjembitani lubang tso. Dalam PBL dosen berfungsi sebagaitutor yang memberi pengarahan dan motivasi pada mahsiswa serta memberikun srrnl"r intormaji yang akarr dibutuhkan oleh mahasiswa, sedangkan mahasiswa sebagai pelaklr 'belajar', meirutuskan apa yang harus dipelajari, mencari masukan masukan sendiri dari berbagai sumber yang tetln jisedikan oleh tutor maupun sumber lain yang didapat sendiri. oleh karena itu salah satu ciri dari pbl, tiap mahasiswa mendalami materi berbedabeda dengan mendalam (deep tearning). Pada dasarnya belajar dengan PBL harus dilakukan dalam kelompok kecil 5 10 mahasiswa, atau 1 tutor berbanding 8 10 mahasiswa. Dalam proses 'belajar,, kelompok mahasiswa melakukan serangkaian diskusi sampai menemukan sasaran belajar masing masing anggota, dengan demikian terjadi interaksi lang iplnpsif antar mahasiswa. Setelah tiap anggota melakukan 'belajar' masrng masing,lnteraksi terjadi lagi pada saat proses sintesis untuk memecahkan masalah. DLngan interaks png intensif dalam kel,mpok, maka tiap mahasiswa akan ikut belajarl riemahami rpa ying dipelajari oleh teman_ temannya Ke i Prinsip PBL adalah mengaktifkan pengetahuan yang sudah dimiliki mahasiswa 56 l(onferensi Nasio,ral ttspjurusan Arsitektur Uniyersitas Krirten Ke

7 ljrayani Bisatya W. Maer dan Esterlita Devi Hendrayani CASE8ASED DAN PROEL EM.BASED LEARNI NG endiri rtihan ;kusi, 3am, gkan ryak. t ills) rob 'racu rg0a tkern tarn. hun idak ikan ada rw8, jari, r tu,bl, t). 10 )ok ;ing rlah ses ok, an WA sebetumnya melalui problem, mcndalami pengetahuan melalui diskusi dan refleksi untuk memantapkan pengalar,ran belajar. Problem dalam PBI_: Karakteristik problem yang baik rjalam PBL tidak harus terstruktur dengan baik (i/sfructured), realworld problem, yang inenurut Duch (1ggs) harus. Menampung minat dan keingintahuan mahasiswa, memotivasi untuk memahami lebih dalam konsep yang oiperkenalkan, Menuntut mahasiswa mengambil keputusan rasio, memutuskan semua keputusan dar diajarkan. Menuntut mahasiswa mendefinisikan mengapa, informasi apa yang relevan, untuk pemecahan problem. Membutuhkan kerja sama memecahkaannya. berdasar fakta, informasi, logika dan pertimbangan berdasar prinsip yang asumsiasumsi apa yang dibutuhkan dan dan atau langkah/prosedur yang dibutuhkan beberapa mahasiswa dalam kelompok untuk Openended, tidak terbatas pada satu jawaban yang benar, dihubungkan dengan pengetahuan yang telah dipelajari, issuenya kontroversial sehingga dapat memunculkan opini yang berbedabeda. Sasaran dari isi pelajaran digabungidimasukkan dalam problem, menghubungkan pengetahuan sebelumnya pada konsep baru, dan menghubungkan pengetahuan pada konsep pelajaran lain dan/ atau disiplin lain Karakteristik PBL: Berorientasi pada mahasiswa, fokus pada apa yang dipelajari mahasiswa. Merupakan sarana untuk mempelajari kapabilitas, dari pada sekedar belajar rnenguasai pengetahuan Menghadapkan mahasiswa pada problem dari dunia praktek, yang memberikan stimulus untuk belayar. Suatu metoda pendidikan yang bercirikan penggunaan problem sebagai suatu konteks bagisiswa untuk belajar keterampilan pemecahan masalah dan menguasai pengetahuan. Kerja kooperatif dari para mahasiswa dalam kelompok kecil yang mempunyai akses pada seorang tutor dan/ atau nara sumber lain yang dapat memfasilitasi proses belajar. Keuntungan PBL:, Proses belajarmengajar lebih menyenangkan bagi mahasiswa dan tutor. Lingkungan belajar lebih nremberi stimulasi dan lebih akrab. Ketrampilan belajar sendiri, membantu lulusan menjadi pembelajar seumur hidup (lifelong learner), dapat ditingkatkan dengan lebih baik. Promotes deepper dari pada superticial learning Meningkatkan interaksi antara mahasiswa dan fakultas Kelemahan PBL: Mahal, kususnya paoa saatsiarfup dan maintenancecosfs (dibutuhkan tenaga dan sumber daya lain untuk selalu mengembangkan kurikulum dan training tutor) Demanding of staff time,karen a ratio mahasiswa : tutor kecil z,frta ffi xont *n,i Nasional ffspjurusan Arsitektur Universitas lristen petra

8 ,CASE.B.ASED DAN PFOEIEMBASED LEARN I N G Bisatya W. Maer dan Esterlita Devi Hendrayani Stressfu// bagi mahasiswa dan staf, terutama pada saat awal penggunaan PBL yang, sebelumnya tidak dialami mahasiswa. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan basic science terbatas Tidak sesuai untuk kelas besar PENERAPAN CBL & PBL DALAM PENGAJARAN STRUKTUR Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan ada p:rbedaan mendasar antara CBL dan PBL, yaitu : CBL diawali dengan kasus dimana mahasiswa mendiskusikan kasus yang lbngfiap dengan prosesproses yang telah terjadi, sedangkan dalam PBL, mahasiswi dihadapkan pada sebuah problema yang justru tidak terstruktur dengan baik (iilstructured) yang harus dipecahkan. Peibedaan inl menjadi dasar analisis untuk menemukan kesesuaian CBL dan pbl dalam pengajaran struktur bangunan, dilakukan dengan: Membandingkan materi pengajaran dengan karakteristik CBL dan pbl Membandingkan tingkat kemampuan yang diharapkarr dalam sasaran belajar struktur dengan tingkat kemampuan yang dapat riicapai melalui CBL dan pbl Mencoba menerapkan rancangan perkuliahan strirktur yang dapat mengakoniodasi karakteristik kasus pada CBL (kasus studi mata kuliah Struktur AR 410 di semester 4) dan problem pada PBL (kasus studi mata kulial"' Pilihan Pendalaman I : Struktur Disain AR 611 di semester 6) Kurikulum Struktur Bangunan Tujuan pengajaran struktur dalam ku,'ikulum JAP adalah : menghasilkan lulusan yang mampu berinovasi dengan konsepkonsep/prinsipprinsip struktur dan konstl.uksi bangunan; serta mampu mengkomunikasikan pada. masyarakat pengguna. Penggunaan istilah struktur dan konstruksi dalam pengajaran struktur bangunan dipilah dengan tegas walaupun keduanya dalam bentuk fisiknya tidak terpisahkan. Struktur s bagai sistem penyalur beban, konstruksi sebagai kegiaitaniproses membangun, perealisasian sistem struktur, materialisasi disain. Dalam fengalaran struktur, raiing masing diajarkan sebagai bagian yang "terpisah", tapi jugi"terkait" karena paoi hakekatnya memang merupakan kesatuan. lsi pengajaran Secara substansial pengajaran struktur berisi 'struktur', 'konstruksi', pengintegrasian struktur dalam disain arsitektur, serta gambar teknik. Struktur berisi : sistem dan tata letak struktur, dasar analisis struktur dan persyaratanpersyaratan struktur, pembebanan, struktur dan bentuk. Konstruksi berisi : konstruksi bang.unan, konstruksi kayu, kostruksi baja, konstruksi beton, dasar dasar structural design dan detil konstruksi serta bahan bangunan. Pengintegrasian struktur dalam disain berbentuk pelatihan yang berisi : peipaduan r u a n g b e nt u k st r u kt u r I male r i au k o n st r u ks i. Dengan kurikulum struktur yang terpadu, materi perkuliahan walaupun terdiri dari substansiyang berbedabeda, namun masingmasing bisa didalamisecara berkelompok. n.p n tt d 1T lbnferensi l,lasional ftspjurusan Arsitektur Universitas l(risten

9 'Herdrayani ' BL yang Bisatya W. Maer dan Esterlita Devi Hendrayani CASE.BASED DAN PFOEI EM.BAS ED LEARN I N G ataupun oleh tiap mahasiswa anggota kelompok sesuai dengan minat dan kebutuhannya. Jadi kurikulum struktur bangunin sesuai dengan salah satu karakteristik cbl dan pbl: multi disiplin Tingkat Kemampuan )BL dan rs yang IASiSWA 'llstruc belajar )BL nodasi mester :ruktur Tufu.al pengajaran struktur meluluskan mahasiswa yang mampu beinovasi. Berinovasi adalah menghasilkan ide baru dengan mengunakan sesuatu konsepiprinsip yang;j;. Konsep dan prinsip merupakan bagian dari struktur yang harus dipelajari untuk bisa berinovasi, menghasilkan ide baru berarti melakukan perancangan "r'"" qatau pemecahan masalah. ''" Tingkat kemampuan dapat diukur dengan ranah kognitifnya Bloom (196a): mengenal, memahami, menerapkan, menganalisii, mensintesij oan mengevaluasi. Kemampuan menganalisis, mensintesis dan mengevaluasi merupakan kemampuan yang tinggi, yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk dapat merancang atau memecahkan masalah. lni sejalan dengan sasaran belajar dengan cbl maupun pbl seperti yang dikatakan Finucane (1 998) : mahasiswa setelah mendapatkan pengetahuannya dapat,,menyimpan,, dengan baik (memhami secara mendalam), dapat menggunakan pada konteksnya (menerapkan), dan dapat mengintegrasikan pengetahuannya dengan disiplin lain yang relevan (analisis, sintesis dan e'ralujsi), serta'seslai dengan yung"oikutakan oleh Duch (1996) problem PBL m:upun kasus dalam CBL yang dirancang o.ngrn b;ik.t,rpri melatih mahasiswa mencapai sasaran belajar oengan tingkat t<og"nitit (dtoom): analisis, s "r"'' \sintesis atau evaluasi. yang ;truksi lmplementasi pbl dan GBL Di tingkatlsemesfer mana PBL dan CBL sesu ai untuk diterapkan dalam pengajaran strukur? lipilah ruktur ngun, Substansi (isi) pengajaran strul:tur bangunan yang termasuk kelompok,,ide dasar,, (A) mulai dari semester 1 sampai dengan semester 6 sama, yang berbeda adalah tingkat kompleksitasnya' Materi pengaiaran yang termasuk kelompok non "ide dasar,, (B dan C) diajarkan tidak bersinambung dari semester 1 sampai dengan semester 6, misalnya: konstruksi kayu di semester 1 d.an 2, konstruksi beton dan baja di semester 3 dan 4 dst,, tetapi pada dasarnya bagaimarra mengintegrasikan bahan "ide dasar,, dan,,non ide dasar" merupakan pelalihan yang bersinambune. rasing p ada Yang menjadi persoalan ASIAN 'atan:ruksi an. Cuan dari npok,w) adalah:, Pengetahuan awal apa yang dimiliki mahasiswa untuk dapat belajar dengan CBL dan PBL dengan efektif? 'J CBL dan PBL merupakan proses belajar dengan sasaran belajar yang tinggi: menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi, proses penggalian proniem in pemecahan problem, traik pada cbl maupun pbl, merupakanproses inquiry yang menurut Wiryawan (1990) sesuai untuk tingkattingkat atas. Tapi selama ini belum ada tulisan yang menyatakan untuk tingkat mana cbl dan PBL sesuai diterapkan. siti oetamini dalam Seminar Nasional Pendidikan Arsitektur di Universitas lndonesia, Jakdrta (2000) mengatakan untuk pendidikan merancang sebaiknya diterapkan sedini mungkin petra l(onferensi llasional ITSP Jurusan Anitektur Universitas l(risten 59

10 CASE.EASED DAN PROAIEMBASED TEARN'NG B,satya W. Mrcr dan Esterlita Devi Hendrayant Langkah belajar dengan CBL relatif lebih pendek urari PBL, karena CBL belajar dari problem dan pemecahan yang sudah ada, menurut Aditjipto (2000) dalam Seminar Nasional Pendidikan Arsitektur di Universitas lndonesia, seringkali adalah lebih efisien untuk memecahkan masalah dengan Seranjak dari pemecahan sebelumnya dari masalah sejenis ketimbang mulai dari nol. Belajar dengan CBL tidak harus didahului dengan prior knowledge, karena pengetahuan awalnya dapat dicaridari pembedahan kasus (case history). CBL sangat sesuai untuk mata kuliah struktur bangunan, karena struktur dan konstruksi bangunan pada dasarnya berisi substansisubstansi yang bersifat terstruktur dan tidak seragam, kelemahannya adalah tidak semua informasi yang diperoleh dari kasus yang dipelajari bisa dipakai untuk memecahkan sem'ra problem (Merry, 1954), oleh karena itu apabila mahasiswa akan dilatih memecahkan problem setelah belajar kasus, harus diberikan problem yang sejenis dengan dengan kasus yang dipelajari, bisa ditambahkan dengan beberapa problem tambahan yang sengaja dirancang oleh pengajar. Hambatan yang perlu dipelimbangkan adalah ratio tutor : mahasiswa adalah Ma Pe lvre lul' be sil Tu 1:5'7. Dari pengamatan diatas, dan dengan mempertimbangkan: merubah paradigma belajar, baik mahasiswa maupun dosen perlu waktu dan persiapan panjang. jumlah tutor masih menjadi kendala materi pengajaran di semester satu (Struktur AR 1 10) sampai dengan s'emester tiga (Struktur AR 310) boleh dibilang merupakan materi dasar, sedangkan mateii semester empat (Struktur AR 410) selain berisi materi baru juga merupakan pendalaman dari materi semester sebelumnya. Maka untuk langkah awal cbl dicoba di semester empat Struktur AR 410. Langkah belajar dengan PBL lebih panjang, selain itu diharapkan mahasiswa telah punya sebagian pengetahuan, sepertiyang dikatakan oleh Greening (1998): prinsip PBL adalah mengaktifkan pengetahuan yang sudah dimiliki mahasiswa sebelumnya melalui poses penggalian problem, melalui diskusi dan refleksi, Dengan demikian belajar dengan PBL sangat tergantung pengetahuan awal yang dimiliki mahasiswa, makin sedikit pengetahuan awalnya proses belajar makin panjang. Struktur "bangunan terpadu" yang diterapkan di JAP memungkinkan penerapan PBL karena PBL bersifat terbuka, mahasiswa dapat mendalami materi yang berbeda beda. Kekuatan dan minat tiap mahasiswa tidak sama, dengan PBL minat dan kekuatan mahasiswa lebih terakomodasi sehingga dapat belajar lebih mendalam, sambil bertukar pengetahuan (yang mendalam) pada saat diskusi. Problem yang tidak terstrkutur dapat diberikan melalui tugas yang dirancang dengan baik, bisa berupa tugas "merancang" sesuatu. Dari pengamatan diatas, dan dengan mempertimbangkan: merubah paradigma belajar, baik mahasiswa naupun dosen perlu waktu dan '! persiapan pengetahuan awal yang dimiliki mahasiswa sangat mempengaruhi waktu belajar, maka dengan mempertimbangkan efisiensi wakiu lebih condong PBL dipertimbangkan untuk kelas atas, der,gan asumsi pengetahuan awal sudah memadai. panjang.,m l(onferc..i l,lasional ffspjr,rusanarsitekturuniversitas(ristenpetra (QBz7 Sa lu Mt

11 ?ndrayani Bisatya W. Maer dan Estertita Devi Hendrayani CASE.BASED DAN PROAT EM.BASED LEARN IN G bangunan sebasai penunjang mata kutiah 3"'**:nll:3T1i,l,y.'],11_srruktur infnrmaci rrana a,r.,,^ ^ ^ncmhatlcan rra^a l pad #;ffi];; ;;#ffi;ift:;t:il:1ffil "#.;; *",i"pjrr;;fi: a t, r.iw J ;; ; ;i I il'# J, rnnya l, l',t:::t"":menggali J3s^, T:.1 91,ll lebih l 9 mahasiswa " dialam infoimasi banyak dan mengenai struktur dan konstruksi. aterial ;':i:i: j: :,,:: r'::,1: StfUktrlr rlan lrnnotrr rlzai rentuk i',, * u: g : "' i k ; bu d k ;;ffiffiffi#jl,illi'ixl?; i;h;;;il #;ffi ; ; 5'g 'T;ilt " pertimbangan Ogftimbanoan ini, ini rlitatonlza^ arra+^i L^r:^.ditetapkan srrategi ',0"q", berljar: (, "?,1 ;; ;;hil,,uh;' #;il:' B:Nr]: iii,idj,:;;;:;;"ift;';;'r';;:o;,:, Problem Problem j:::::::ititt,?:i"*a diminta merancans suatu j.iuooro"), llly::,:rl?,":,1.j.^lr1^g.l,s_ii:y3trt"i"(tiapsemer,"r,'nir"ojr r'3{' *" oi" i' ;; #;il:i j;:f lj, fl :"i fl :,1,:' j'*,"^*lll:'; rpnclr ffi'j:il,i1n. Tema/ sub,,structure tema harus "diterjemahkan" i#3li# fft';il3t,::j"'"?"'j:::,' yang : tukan nant". ngan blem blem dirn dan clem <erja ' lgali lem,du" ktur menjadi I as form determi_ Proses dibagi tiga tahatrr: Pemahaman problem Persiapan disain dan pendalaman materi* Disain Catatan: r dari ln.!'; Tahap pemqhaman problem dikerjakan dalam kelompok 5 sampai 6 orang Tahap persiapan disain dan pendalaman dikerjakan dalam kelompok dan perorangan sesuai kebutuhan masing masing kelompok dan mahasiswa. Tahap disain dikerjakan peror3ngan. *T3hap persiapan disain dan pendalaman materi merupakan bagian belajar substansi struktur dan konstruksi secara mendalam dan terarah pada pemecahan masalah, dan dirakukan diskusi keras secara, Dalam tahap disain, khususnya proses transformasi dari konsep abstrak ke bentuk, mahasiswa melakukan "uji coba", dimana mencari ide melalui "cobacoba,,yang sudah sangat terarah pada sub tema dan informasi yang telah digali dengan mendalam pada tahap persiapan disain, kemudian di uji dengan informasi yang berkara. telah digali dengan mendalam pada tahap persiapandisaii. oaiarh 1j",il];j apabila setelah melalui diskusi berkala, atau pemberian informasi yang terencana, ternyata masih ada informasi yang kurang, mahasiswa akan metafuxan,belajar; lagi dengan menggali mendalami informisi baru. Dosen berfungsi sebagai tutor yang memberikan pengarahan dan motivasi. Sumber informasi tidak terbatas paoa tutor. Secarateoritis dapat dikatakan PBL dan CBL sesuai diterapkan pada pengajaran,,struktur bangunan yang terpadu", dimana dari kedua kasus diatas o'"p"t diariati bahwa baik melalui kasus ataup.un,.problem yang diberikan, mahasiswa selain belajar sistem struktur dan stabilitasnya sekaligus belajar pula konstruksinya (material, join, pelaksanaan, dsb.), Sasaran pengajaran struktur : analisissintesis dan evaluasi oapai tercapai. Evaluasi belum dapat disajikan dalam makalah ini karena proses betajar baiu dan.;d;;g;";j;;; ffi *r*nrui Nasional ffspjurusan Arsitektur Univenitas iirirten pern 65

12 CASE.BASED DAN PROBTEMBASED LEARNI N G Bisatya W Maer dan Esterlita Devi Hendrayani KESIMPULAN Belajar dengan CBL dan PBL tidak lagi mengejar pengetahuan sebanyakbanyaknya tetapi dangkal, melainkan lebih menekalrkan belajar secara mendalam (deep learning) CBL dan PBL mengajarkan bagaimana pembelajar dapat belajar sendiri (mandiri) secara terusmen erus (lifelong learning) CBL dan PBL selain melatih segi kognitif dan psikomotorik juga dapat melatih segi afektif melalui diskusi yang terstruktur dimana tidak didapatkan melalui metoda ceramah CBL dan PBL keduanya dapat dipakai sebagai pendekatan mengajar untuk mengembangkan kemampuan mahasiswa untuk'belajar'dan untuk mencapaitingkat kemampuan yang tinggi, termasuk pengajaran struktur barrgunan. CBL dan PBL sesuai untuk diterapkan dalam pengajaran mata kuliah "struktur bangunan terpadu" seperti pada kurikulum JAP Her,lurr Untuk kondisi Jurusan Arsitektur UK Petra saat ini, CBL lebih sesuai diterapkan di semester empat Struktur AR 410, sedangkan PBL lebih sesuai diterapkan di semester enam Pilihan Pendalaman I : StrukturDisain AR 611 ' Perlu diantisipasi kelemahan dari penggunaan CBL dan PBL, seperti kebutuhan waktu yang relatif lebih panjang, kesiapan tutor, serta mahal. Keberhasilan metode ini tergantung dari partisipasi akt;f semua pihak baik anak didik maupun tutor Dibutuhkan adanya CaseBased Team Learning (OBTL) dan ProbtemBased Team Learning (PBTL) sebagai instrukturteam teaching ulntuk mendisain program dengan metode ini dan evaluasi lebih lanjut dimana butuh tindak lanjut dari fakultas. REFERENSI Aditjipto, Mark l, Penggunaan Case8as ed & ProbtemBaseJ Learning Datah Pendidikan Arsitektu,, Prosiding seminar Nasional Pendidikan Arsitektur Meniti Masa Depan, Jurusan Arsitektur FT Ul, Depok Jakafta,910 September 2OO0 Ali, Mohamad, Pengembangan Kurikulum Di Sekotah, Bandung, Penerbit Sinar Baru, 1gg2 Bieron, Joseph F & Frank J. Dinan, Case Studles Across a Science Curriculum. New york, Department of Chemistry, Canisius College, Buffalo, httg//ublib.buffalo.edu/libraries/project/, cases/curiculum.html K?r Mct Pel Scl' sn) Sut Uni Wir Camp, Gwendi, ProblemBased Learning: A Paradigm Shift or A Passrng Fad?*, The University of rexas Medical Branch, 1 gg6, utmb.edu/meo/f htm, Duch, Barbara J, Centre for Teaching Effectiveness, Prob lem: A Key Factor ln Probtem Based Le arn i n g http ://www. udel. edu/pbl/cteisprg6phys. htm I (onferensi Nasional ttspjurusan Anitektur Universitas l(rilnn 'ffi$

13 e.crayani Bisatya W. Maer dan Esterlita Devi Hendrayani CASF.BASED DAN PFOBL EMBASED LEAR,NING /aknya (deep andiri) lrsegi retoda untuk ingkat ruktur Engel, Heino, Measure And construction of rhe Japanese House, r Vermont/Tokyo, Tuttle 'vvvv' Yvrrrrvrrt/ rl Company, charres E Finucane, Paul M, Johnsin, steve M, Pricleaux, David, Medical Education. problembased Learning: lts Rationate Ano Efficacy, school of Medicine, iacutty of Health science, Flinder Uni 'rersityofsouthaustralia,adelaide,sa(o7/08/gal gemp/gemotext/pbl*staff.html ' '.""'rlrr' lvvrv'vvu'l( Greening, Tony' Scaffotdrng ForsrJccess ln ProblemBased Learning*, Australia, School of lnformation Technology and Mathematical sciences The University cf Ballarat, Harrison, lan' Case Base,?easoning, CBR Newsletter German sosietyfor Computer Science managed by Dietmar Janetzko of Univ. of Freiburg and Satefan W.r, "f l;;;;";;;;; retrieved, http ://wwrv. aiai. ed. ac. u k/r in ks/cbr. htm r, (go t s t gz) ttt"^'$:9lll:jf:ill9.i:9 srudrgs tn.sc.ience, A Novet Method or science Education,lee4, Jurusan Arsitektur, Fakultas Tgknik sipit oun Perencanaan Universitas Kristen petra Surabaya; Buku Pedoman Jurusan Arsitektu i, 2OO1 Kardos,Geza, Engineering Cases in the C/assroom, ottawa, procceedings of the National conference on Engineering case studies, carleton University, Maret 1g7g, <an di di setuhan etode Team )ngan McBride, Jacquelin spagler, rhe case Method in Architecture Educatlon, Journal of Architectural Education (JAE 97lg,4),1994, halaman 10_11 Peters, F', Repott of.an ongoing Experimenf case sfudies in construction as Examples of Theoretical Approaches to Teaching Technotogy in Architecture,Journal of Architectural Education (JAE 3gl4),19g6, l,alaman 1121 schodek, Daniel, sfrucrures, New Jersey, prenticehalr, lnc. Engelewood, 1gB0 Snyder, James C & AnthonyJ. Catanese, lntroduction To Architecture, Newyork, 1979 tektur, itektur tq i<, De 'oject/ suparno, Paul, Filsafat Konstruktivis,ne Dalam Pendidikan, yogyakarta, penerbit Kanisius, 1gg7. Universitas lndonesia, Pendidikan Arsitektur Meniti Masa Depan, Jakarta, prosiding Makalah Seminar Nasional Wiryawan, Sri Anitah dan Th, Noorladi, Strategi Betajar Mengajar,Materi pokok pmakg170/ 3sks/modul 19, Jakarta, Deprartemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Terbuka rersity l(onferensi llasional ffspjurusanarsitekturuniversitas Kristen petra 67,,,\

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII Oleh Adi Wijaya, S.Pd, MA PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2005

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2005 IMPLEMENTASI KURIKULUM Oleh: Anik Ghufron FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2005 PEMBELAJARAN 1. Pembelajaran merupakan wujud implementasi i kurikulum. 2. Beuchamp (1975: 164) mengartikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab,

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Metode tanya-jawab seringkali dikaitkan dengan kegiatan diskusi, seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, meskipun

Lebih terperinci

Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi. Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY

Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi. Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Abstrak Pembelajaran di abad informasi menyebabkan terjadinya pergeseran fokus dari

Lebih terperinci

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG Umar Wirahadi Kusuma Universitas Negeri Malang Pembimbing

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Dan salah satu hal yang menentukan kualitas pembelajaran adalah

Lebih terperinci

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 ISSN: 1693-1246 Juli 2011 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 J P F I http://journal.unnes.ac.id PEMBELAJARAN SAINS DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Materi penjumlahan pada kelas rendah adalah materi yang harus benarbenar

BAB I PENDAHULUAN. Materi penjumlahan pada kelas rendah adalah materi yang harus benarbenar 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Materi penjumlahan pada kelas rendah adalah materi yang harus benarbenar dipahami oleh Peserta didik, sebab materi tersebut merupakan materi yang sangat dasar yang

Lebih terperinci

PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU SEBAGAI BENTUK STUDENT SUPPORT

PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU SEBAGAI BENTUK STUDENT SUPPORT PROGRAM BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU SEBAGAI BENTUK STUDENT SUPPORT Zulharman Staf Pengajar FK Unri Mahasiswa S2 Ilmu Pendidikan Kedokteran FK UGM PENDAHULUAN Para mahasiswa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut: 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika adalah bagian yang sangat dekat dengan kehidupan seharihari. Berbagai bentuk simbol digunakan manusia sebagai alat bantu dalam perhitungan, penilaian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemahaman konsep merupakan dasar dan tahapan penting dalam rangkaian pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam Gunawan 1, a student's

Lebih terperinci

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Nomor : 73/KEP/UDN-01/VII/2007. tentang STANDAR PROSES PEMBELAJARAN UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Nomor : 73/KEP/UDN-01/VII/2007. tentang STANDAR PROSES PEMBELAJARAN UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Nomor : 73/KEP/UDN-01/VII/2007 tentang STANDAR PROSES PEMBELAJARAN UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO Rektor Universitas Dian Nuswantoro Menimbang : 1. bahwa proses

Lebih terperinci

P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis)

P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis) P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis) Fransiskus Gatot Iman Santoso Program Studi Pendidikan Matematika

Lebih terperinci

PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) SEBAGAI BAHAN AJAR

PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) SEBAGAI BAHAN AJAR ARTIKEL PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) SEBAGAI BAHAN AJAR Oleh Dra. Theresia Widyantini, M.Si PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA 2013 1 Abstrak

Lebih terperinci

PROBLEM BASED LEARNING SEBAGAI METODE PERKULIAHAN KEDOKTERAN YANG EFEKTIF. Tita Menawati Liansyah Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

PROBLEM BASED LEARNING SEBAGAI METODE PERKULIAHAN KEDOKTERAN YANG EFEKTIF. Tita Menawati Liansyah Universitas Syiah Kuala Banda Aceh PROBLEM BASED LEARNING SEBAGAI METODE PERKULIAHAN KEDOKTERAN YANG EFEKTIF Tita Menawati Liansyah Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Abstract: Problem Based Learning (PBL) is one of the teaching approaches

Lebih terperinci

PANDUAN OLIMPIADE DAN KISI-KISI SOAL OLIMPIADE SAINS KOMPUTER

PANDUAN OLIMPIADE DAN KISI-KISI SOAL OLIMPIADE SAINS KOMPUTER PANDUAN OLIMPIADE DAN KISI-KISI SOAL OLIMPIADE SAINS KOMPUTER I. Panduan Olimpiade Secara Umum a. Peserta ujian wajib mengenakan seragam sekolah lengkap. b. Peserta ujian hadir di tempat ujian 30 menit

Lebih terperinci

Program Beasiswa Erasmus Lifelong Learning Programme

Program Beasiswa Erasmus Lifelong Learning Programme Program Beasiswa Erasmus Lifelong Learning Programme Program Erasmus (EuRopean Community Action Scheme for the Mobility of University Students) atau Erasmus Project adalah program pertukaran pelajar di

Lebih terperinci

FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM [FIAI] UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA MENJADI STANDAR BAHAN AJAR DI UII. web: www.sanaky.com - e-mail: hujair@lpm.uii.ac.

FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM [FIAI] UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA MENJADI STANDAR BAHAN AJAR DI UII. web: www.sanaky.com - e-mail: hujair@lpm.uii.ac. MENJADI STANDAR BAHAN AJAR DI UII MODUL MATERI KULIAH TERDIRI DARI SATU TOPIK BAHASAN SATU PERTEMUAN DETAIL PENJELASAN TOPIK BAHASAN DARI SAP atau RPP SILABUS REFERENSI STANDAR VALIDASI BPM UII [PM 04]

Lebih terperinci

B H A A H N A N A J A A J R

B H A A H N A N A J A A J R BAHAN AJAR BENCHMARKING KE BEST PRACTICE DIKLATPIM TINGKAT II I.Pengantar Tujuan Penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan Tingkat II adalah meningkatkan kompetensi kepemimpinan pejabat struktural eselon II

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika ada di mana-mana dalam masyarakat dan matematika itu sangat penting. Sejak memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving)

BAB II KAJIAN TEORI. A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving) 8 BAB II KAJIAN TEORI A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving) Strategi Pemecahan Masalah bidang studi Matematika ini ditujukan untuk para pengajar bidang studi Matematika sebagai alternatif

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi waktu : SMA Negeri 1 Sukasada : Matematika : X/1 (Ganjil) : 2 x 4 menit (1 pertemuan) I. Standar Kompetensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensikonsekuensi

BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensikonsekuensi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensikonsekuensi tertentu terhadap pola kehidupan masyarakat. Begitu juga dengan dunia pendidikan yang terus berubah

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Examples Non Examples Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga lima orang dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja

Lebih terperinci

Beri putra putri Anda awal yang tepat untuk masuk universitas

Beri putra putri Anda awal yang tepat untuk masuk universitas Monash University Foundation Year Beri putra putri Anda awal yang tepat untuk masuk universitas www.monashcollege.edu.au Mengapa memilih Foundation Year kami yang berbasis di Melbourne? Persiapan terbaik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Remaja Rosda Karya, 2013) hlm. 16. aplikasinya (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2009) hlm, 13

BAB I PENDAHULUAN. Remaja Rosda Karya, 2013) hlm. 16. aplikasinya (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2009) hlm, 13 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi, serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan

Lebih terperinci

Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah (3): Menetapkan Tema dan Judul

Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah (3): Menetapkan Tema dan Judul Penelitian Tugas Akhir Itu Mudah (3): Menetapkan Tema dan Judul by Romi Satria Wahono Mas Romi, saya mahasiswa jurusan ilmu komputer semester akhir, dan sudah harus masuk ke pembuatan tugas akhir. Bagaimana

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pemahaman Konsep Matematika Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), disebutkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran

Lebih terperinci

PEDOMAN TUGAS AKHIR BAB I TUGAS AKHIR

PEDOMAN TUGAS AKHIR BAB I TUGAS AKHIR A. Latar Belakang PEDOMAN TUGAS AKHIR BAB I TUGAS AKHIR Mekatronika pada Program Studi DIII Mekatronika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta mempunyai empat pilar disiplin ilmu pendukung yaitu: Mekanik,

Lebih terperinci

INSTRUMEN EVALUASI MUTU INTERNAL (EMI)LEMBAGA PENDIDIKAN TENAGA KEPENDIDIKAN (LPTK)

INSTRUMEN EVALUASI MUTU INTERNAL (EMI)LEMBAGA PENDIDIKAN TENAGA KEPENDIDIKAN (LPTK) INSTRUMEN EVALUASI MUTU INTERNAL (EMI)LEMBAGA PENDIDIKAN TENAGA KEPENDIDIKAN (LPTK) 1. STANDAR ISI 1.1. Kejelasan dan kelengkapan dokumen kebijakan tentang penyusunan dan pengembangan kurikulum Terdapat

Lebih terperinci

Contoh Pertanyaan Interview Berbasis Kompetensi

Contoh Pertanyaan Interview Berbasis Kompetensi Contoh Pertanyaan Interview Berbasis Kompetensi www.strategimanajemen.net ACHIEVEMENT ORIENTATION : Menetapkan standar kinerja yang tinggi dan berusaha untuk memenuhinya secara konsisten. Tidak pernah

Lebih terperinci

Peran Penting Guru Matematika dalam Mencerdaskan Siswanya

Peran Penting Guru Matematika dalam Mencerdaskan Siswanya Peran Penting Guru Matematika dalam Mencerdaskan Siswanya Fadjar Shadiq, M.App.Sc (fadjar_p3g@yahoo.com & www.fadjarp3g.wordpress.com) Peran guru matematika sangat penting. Guru matematika akan sangat

Lebih terperinci

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG

PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG 1 PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK UNTUK MENINGKATKAN KARAKTER RASA INGIN TAHU DAN PRESTASI BELAJAR SISWA KELAS X MIA 3 SMA NEGERI 6 MALANG Rima Buana Prahastiwi 1, Subani 2, Dwi Haryoto 3 Jurusan Fisika

Lebih terperinci

Bab 1. KONSEP DASAR SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI

Bab 1. KONSEP DASAR SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI Bab 1. KONSEP DASAR SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI Tipe Sistem Informasi Sistem Temu Kembali Informasi (Information Retrieval System - IRS) merupakan salah satu tipe sistem informasi. Selain Sistem Temu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kimia adalah salah satu mata pelajaran yang semakin penting seiring berkembangnya ilmu dan teknologi sekarang ini, namun faktanya di lapangan menunjukkan bahwa pelajaran

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKAN STANDAR PROSES. MULAI. Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN

PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKAN STANDAR PROSES. MULAI. Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN BERDASARKAN STANDAR PROSES. ALUR PROSES /FLOWCHART PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN MULAI Persyaratan pelaksanaan proses pembelajaran Menetapkan rombongan belajar. Menetapkan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 5 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA ANALISIS

Lebih terperinci

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Menyelesaikan Studi Program Strata Satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan di masa mendatang adalah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik, sehingga yang bersangkutan

Lebih terperinci

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku.

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku. KODE UNIT : KOM.PR01.005.01 JUDUL UNIT : Menyampaikan Presentasi Lisan Dalam Bahasa Inggris DESKRIPSI UNIT : Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan profesi humas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Inti dari proses pendidikan secara keseluruhan adalah proses belajar mengajar. Proses belajar-mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan meningkatnya kemampuan manusia, situasi dan kondisi lingkungan yang

BAB I PENDAHULUAN. dan meningkatnya kemampuan manusia, situasi dan kondisi lingkungan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan pendidikan selalu muncul bersama dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan manusia, situasi dan kondisi lingkungan yang ada, pengaruh informasi

Lebih terperinci

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat S-1 Pendidikan Matematika. Diajukan Oleh : WAHYU VITA LESTARI A 410 060 130

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat S-1 Pendidikan Matematika. Diajukan Oleh : WAHYU VITA LESTARI A 410 060 130 EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN METODE PENEMUAN TERBIMBING DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL SISWA (Untuk Kelas VIII SMP N 1 Tirtomoyo Semester Genap Pokok Bahasan Prisma) SKRIPSI Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

INSTRUMEN LAM AKREDITASI S1

INSTRUMEN LAM AKREDITASI S1 INSTRUMEN LAM AKREDITASI S1 1. STANDAR ISI 1.1. Adanya Standard Oprational Prosedure (SOP) dalam menjalankan semua Standar Isi Ada SOP, telah dijalankan dengan Surat Keputusan (SK) pimpinan perguruan,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam Winataputra, 2008:1.5) yang menyatakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN (RPP) Mata Kuliah FILSAFAT ILMU. Oleh : Drs. Ag. Sutriyanto Hadi, M. Si.

RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN (RPP) Mata Kuliah FILSAFAT ILMU. Oleh : Drs. Ag. Sutriyanto Hadi, M. Si. (RPP) Mata Kuliah FILSAFAT ILMU Oleh : Drs. Ag. Sutriyanto Hadi, M. Si. JURUSAN PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP VETERAN SEMARANG Semester/ SKS : I/2 Pertemuan Ke-

Lebih terperinci

Modul Pelatihan MODUL MP-2 I. DESKRIPSI SINGKAT

Modul Pelatihan MODUL MP-2 I. DESKRIPSI SINGKAT Modul Pelatihan MODUL MP-2 RENCANA TINDAK LANJUT (RTL) PASCA PELATIHAN TANGGAP DARURAT I. DESKRIPSI SINGKAT R encana Tindak Lanjut (RTL) yang dilaksanakan menjelang akhir pelatihan dimaksudkan untuk memandu

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah

BAB II KAJIAN TEORI. a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah BAB II KAJIAN TEORI A. Konsep Teoretis 1. Kemampuan Pemecahan Masalah a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah Pemecahan masalah merupakan aktivitas yang sangat penting dalam pembelajaran matematika,

Lebih terperinci

BAB 1 SIKAP (ATTITUDE)

BAB 1 SIKAP (ATTITUDE) Psikologi Umum 2 Bab 1: Sikap (Attitude) 1 BAB 1 SIKAP (ATTITUDE) Bagaimana kita suka / tidak suka terhadap sesuatu dan pada akhirnya menentukan perilaku kita. Sikap: - suka mendekat, mencari tahu, bergabung

Lebih terperinci

BAB III DISAIN PRODUK

BAB III DISAIN PRODUK BAB III DISAIN PRODUK 3.1. Pendahuluan Salah satu karakteristik manusia adalah mereka selalu berusaha mencitakan sesuatu, baik alat atau benda lainnya untuk membantu kehidupan mereka. Untuk mewejudkan

Lebih terperinci

PENETAPAN STANDAR SATUAN BIAYA OPERASIONAL PENDIDIKAN

PENETAPAN STANDAR SATUAN BIAYA OPERASIONAL PENDIDIKAN SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 93 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STANDAR SATUAN BIAYA OPERASIONAL PERGURUAN TINGGI NEGERI BADAN HUKUM PENETAPAN STANDAR SATUAN

Lebih terperinci

Rancangan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Tentang. Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT)

Rancangan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Tentang. Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) Rancangan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan

Lebih terperinci

SISCA RAHMADONNA, M.Pd Diadopsi dari Berbagai Sumber

SISCA RAHMADONNA, M.Pd Diadopsi dari Berbagai Sumber SISCA RAHMADONNA, M.Pd Diadopsi dari Berbagai Sumber IDENTITAS MATAKULIAH Nama Matakuliah : Pengembangan Bahan Ajar Cetak Kode Matakuliah : PMT429 Jumlah SKS : 4 SKS Dosen : Sisca Rahmadonna, M.Pd Program

Lebih terperinci

EVALUASI DOSEN SEBAGAI BENTUK PENILAIAN KINERJA. Liche Seniati Chairy

EVALUASI DOSEN SEBAGAI BENTUK PENILAIAN KINERJA. Liche Seniati Chairy EVALUASI DOSEN SEBAGAI BENTUK PENILAIAN KINERJA Liche Seniati Chairy Disampaikan dalam: Workshop Evaluasi Kinerja Dosen oleh Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta: 9 April 2005 1 EVALUASI DOSEN SEBAGAI

Lebih terperinci

MENGELOLA PROGRAM PELATIHAN

MENGELOLA PROGRAM PELATIHAN MENGELOLA PROGRAM PELATIHAN Oleh : Drs. Wiyoto, MT Tatang Rahmat, S.Pd Mengelola program pelatihan, secara sepintas tampaknya sesuatu hal yang sederhana. Namun bila dicermati, membutuhkan suatu penanganan

Lebih terperinci

Metode Pembelajaran. Tulisna, ST. TOT : Teknik Mengajar, BAPETEN 10 14 Februari 2014. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional

Metode Pembelajaran. Tulisna, ST. TOT : Teknik Mengajar, BAPETEN 10 14 Februari 2014. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional Metode Pembelajaran Tulisna, ST. TOT : Teknik Mengajar, BAPETEN 10 14 Februari 2014 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional RIWAYAT BIODATA HIDUP Nama : Tulisna Pendidikan : Teknik

Lebih terperinci

Materi, Alat dan Metode dalam Praktek Pendidikan I L M U P E N D I D I K A N

Materi, Alat dan Metode dalam Praktek Pendidikan I L M U P E N D I D I K A N Materi, Alat dan Metode dalam Praktek Pendidikan I L M U P E N D I D I K A N Materi Pendidikan Segala sesuatu yang merupakan isi pendidikan yang diberikan kepada peserta didik untuk keperluan pertumbuhan

Lebih terperinci

Elin Ismayati, Purwati Kuswarini Suprapto, Suharsono elinmaya88@gmail.com ABSTRACT

Elin Ismayati, Purwati Kuswarini Suprapto, Suharsono elinmaya88@gmail.com ABSTRACT PERBEDAAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK YANG PROSES PEMBELAJARANNYA MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STRUCTURED NUMBERED HEADS DAN JIGSAW DIBANTU MEDIA POWERPOINT (The Difference in Learning

Lebih terperinci

SENI BERTANYA DALAM MENGAJAR Oleh : Erwin Tanur, M.Si Widyaiswara Muda Pusdiklat BPS RI. Abstrak

SENI BERTANYA DALAM MENGAJAR Oleh : Erwin Tanur, M.Si Widyaiswara Muda Pusdiklat BPS RI. Abstrak SENI BERTANYA DALAM MENGAJAR Oleh : Erwin Tanur, M.Si Widyaiswara Muda Pusdiklat BPS RI Abstrak Dalam proses pembelajaran, bertanya memiliki peran yang penting, sebab pertanyaan yang tertata rapi dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan sains saat ini menunjukkan bahwa sains memiliki peran yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Berkembangnya ilmu pengetahuan

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BEBRBASIS BUDAYA UNTUK MENCERDASKAN ASPEK SOSIAL (SQ) SISWA

PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BEBRBASIS BUDAYA UNTUK MENCERDASKAN ASPEK SOSIAL (SQ) SISWA PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BEBRBASIS BUDAYA UNTUK MENCERDASKAN ASPEK SOSIAL (SQ) SISWA Dr. Supriyadi, M.P Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Sastra dan Budaya UNG Email: supriyadi_prima@ymail.com

Lebih terperinci

BAHAN AJAR (MINGGU KE 1) MATA KULIAH EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP)

BAHAN AJAR (MINGGU KE 1) MATA KULIAH EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP) BAHAN AJAR (MINGGU KE 1) MATA KULIAH EVALUASI PEMBELAJARAN FISIKA STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN (SNP) VISI PENDIDIKAN NASIONAL Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa

Lebih terperinci

Pengajaran Bahasa Indonesia di universitas Australia: Situasi sekarang dan strategi masa depan

Pengajaran Bahasa Indonesia di universitas Australia: Situasi sekarang dan strategi masa depan Pengajaran Bahasa Indonesia di universitas Australia: Situasi sekarang dan strategi masa depan Program Fellowship Pengajaran Nasional didukung oleh Dewan Pembelajaran dan Pengajaran Australia (ALTC) David

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung:

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan unsure yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Dalam pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah, pendidik merupakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pada bab ini akan disajikan hasil penelitian tindakan kelas yang berupa hasil tes dan nontes. Hasil tes meliputi siklus I dan siklus II. Hasil

Lebih terperinci

HASIL WAWANCARA. KEPALA SEKOLAH RETNO WULANDARI, S.PD (Hari Senin 4 Agustus 2014)

HASIL WAWANCARA. KEPALA SEKOLAH RETNO WULANDARI, S.PD (Hari Senin 4 Agustus 2014) Lampiran 1 HASIL WAWANCARA KEPALA SEKOLAH RETNO WULANDARI, S.PD (Hari Senin 4 Agustus 2014) 1. Apakah sebelum pembelajaran dimulai para guru melakukan perencanaan pembelajaran? Jawab: Ya, para guru membuat

Lebih terperinci

Model Pembelajaran Kolaboratif dengan Tutor Sebaya pada Pokok Bahasan Rangkaian Seri-Paralel Hambatan Listrik

Model Pembelajaran Kolaboratif dengan Tutor Sebaya pada Pokok Bahasan Rangkaian Seri-Paralel Hambatan Listrik pada Pokok Bahasan Rangkaian Seri-Paralel Hambatan Listrik Sumarli, Eka Murdani STKIP Singkawang Kalimantan Barat Surat-e: aerlie.cool@gmail.com Pada pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas masih

Lebih terperinci

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark. Proses Berpikir Siswa dalam Pengajuan Soal Tatag Yuli Eko Siswono Universitas Negeri Surabaya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses berpikir siswa dalam mengajukan soal-soal pokok

Lebih terperinci

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono washington College of education, UNESA, UM Malang dan LAPI-ITB. 1 Pebruari 8 Maret dan 8-30 April 2002 di Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono Dalam pembelajaran matematika, sistem evaluasinya

Lebih terperinci

KISI-KISI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH

KISI-KISI UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH Manajerial Menyusun perencanaan untuk berbagai tingkatan perencanaan Memimpin dalam rangka pendayagunaan sumber daya secara optimal Menciptakan budaya dan iklim yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran

Lebih terperinci

JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional

JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional KODE UNIT : TIK.MM01.009.01 JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional DESKRIPSI UNIT : Unit ini menjelaskan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menggunakan prinsip

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran 1. Belajar a) Pengertian Belajar Hakikat belajar adalah proses mendapatkan pengetahuan dengan membaca dan menggunakan pengalaman sebagai pengetahuan

Lebih terperinci

Daftar Isi. Panduan Pengisian Formulir Aplikasi Sertifikasi Insinyur Profesional PII Halaman 1 dari 18

Daftar Isi. Panduan Pengisian Formulir Aplikasi Sertifikasi Insinyur Profesional PII Halaman 1 dari 18 Daftar Isi 1. Pendahuluan... 2 1.1. Bentuk dan Isi... 2 1.2. Biodata... 2 1.3. Kelengkapan... 2 1.4. Yang dapat mengajukan Aplikasi Insinyur Profesional... 3 1.5. Prasyarat... 3 1.6. Bahasa Pengisian FAIP...

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Matematika

NASKAH PUBLIKASI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Matematika PENINGKATAN PERCAYA DIRI DAN KEMANDIRIAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN ATTENTION RELEVANCE CONFIDENCE SATISFACTION (ARCS) (PTK Pada Siswa Kelas VIIA SMP Muhammadiyah 1 Surakarta

Lebih terperinci

LAYANAN PENDIDIKAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS dan PENDIDIKAN INKLUSIF

LAYANAN PENDIDIKAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS dan PENDIDIKAN INKLUSIF LAYANAN PENDIDIKAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS dan PENDIDIKAN INKLUSIF Aini Mahabbati, S.Pd., M.A Jurusan PLB FIP UNY HP: 08174100926 Email: aini@uny.ac.id Disampaikan dalam PPM Sosialisasi dan Identifikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangun ruang adalah materi pokok dalam pembelajaran matematika di SMP/MTs yang kajian materinya masih bersifat abstrak. Pada materi bangun ruang ini, peserta

Lebih terperinci

ALAT PENILAIAN KEMAMPUAN GURU (APKG)

ALAT PENILAIAN KEMAMPUAN GURU (APKG) ALAT PENILAIAN KEMAMPUAN GURU (APKG) PETUNJUK 1. Kumpulkan dokumen perangkat dari guru sebelum pengamatan, cacatan hasil pengamatan selama dan sesudah, serta cacatan kemajuan dan hasil belajar peserta

Lebih terperinci

BERGUNAKAH PELAJARAN PRAKARYA BAGI SISWA?

BERGUNAKAH PELAJARAN PRAKARYA BAGI SISWA? BERGUNAKAH PELAJARAN PRAKARYA BAGI SISWA? Pendahuluan M. Fajar Prasudi Dalam kurikulum 2013 terdapat pelajaran Prakarya yang wajib dilaksanakan oleh satuan pendidikan dari berbagai jenjang, mulai dari

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Untuk SMA/MA Kelas X Mata Pelajaran : Matematika (Wajib) Penerbit dan Percetakan Jl. Tengah No. 37, Bumi Asri Mekarrahayu Bandung-40218 Telp. (022) 5403533 e-mail:srikandiempat@yahoo.co.id

Lebih terperinci

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 disebutkan bahwa

Lebih terperinci

kajian dalam penelitian ini menyangkut perilaku organisasi, maka metode yang dianggap tepat adalah metode deskriptif pendekatan

kajian dalam penelitian ini menyangkut perilaku organisasi, maka metode yang dianggap tepat adalah metode deskriptif pendekatan BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Metode Penelitian Fokus kajian dalam penelitian ini menyangkut perilaku organisasi, maka metode yang dianggap tepat adalah metode deskriptif pendekatan kualitatif. Sejalan

Lebih terperinci

Modul Matematika Segi Empat

Modul Matematika Segi Empat Modul Matematika Segi Empat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP-Standar Isi 2006) Berdasarkan Pendekatan Kontekstual Untuk Siswa SMP Kelas VII Semester 2 Penulis : Tutik Shahidayanti Pembimbing :

Lebih terperinci

perhatian dari kedua orangtuanya.

perhatian dari kedua orangtuanya. BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pengadaan Proyek Anak adalah asset set paling berharga rga bagi suatu bangsa. Anak merupakan penerus masa depan bagi bangsa. Disisi lain, bagi orang tua, anakak adalah

Lebih terperinci

2/22/2012 METODE PEMBELAJARAN

2/22/2012 METODE PEMBELAJARAN METODE PEMBELAJARAN Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi yang sudah direncanakan. Jenis metode pembelajaran : Ceramah : penyajian melalui penuturan secara lisan/penjelasan

Lebih terperinci

KURIKULUM DAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

KURIKULUM DAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR KURIKULUM DAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR 1. Model Pengembangan Kurikulum A. Model Tyler Model ini dikembangkan dengan prinsip komprehensif yang mementingkan pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan itu sendiri

Lebih terperinci

MANAJEMEN SUMBER BELAJAR. Oleh: ESTU MIYARSO, M.Pd.

MANAJEMEN SUMBER BELAJAR. Oleh: ESTU MIYARSO, M.Pd. MANAJEMEN SUMBER BELAJAR Oleh: ESTU MIYARSO, M.Pd. PENDAHULUAN Pada hakekatnya manusia merupakan mahluk yang berpikir - homo homini logus Dengan daya pikirnya, manusia dapat belajar kapan dan di mana saja.

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN (RPP) Mata Kuliah EVALUASI PEMBELAJARAN

RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN (RPP) Mata Kuliah EVALUASI PEMBELAJARAN RENCANA PELAKSANAAN PERKULIAHAN (RPP) Mata Kuliah EVALUASI PEMBELAJARAN Oleh : Risky Setiawan., M.Pd. JURUSAN PENDIDIKAN GURU PENDIDIKAN ANAK USIA DINI Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP VETERAN SEMARANG Mata

Lebih terperinci

LAPORAN EVALUASI PROSES BELAJAR MENGAJAR (PBM) FAKULTAS SASTRA SEMESTER II 2000/2001

LAPORAN EVALUASI PROSES BELAJAR MENGAJAR (PBM) FAKULTAS SASTRA SEMESTER II 2000/2001 LAPORAN EVALUASI PROSES BELAJAR MENGAJAR (PBM) FAKULTAS SASTRA SEMESTER II 2000/2001 Bambang Yudi Cahyono 1 Abstrak: Kata kunci: evaluasi PBM, instrumen evaluasi Fakultas Sastra memandang perlu diadakan

Lebih terperinci

Pengembangan Model Unit Diklat Kesehatan

Pengembangan Model Unit Diklat Kesehatan Pengembangan Model Unit Diklat Kesehatan I. PENDAHULUAN A. Latar belakang. Meningkatkan kualitas dan profesionalisme SDM kesehatan di wilayah kabupaten / kota merupakan salah satu wewenang daerah sesuai

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Model Peraihan Konsep Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model pencapaian konsep. Model peraihan konsep mula-mula didesain oleh Joice

Lebih terperinci

Penulis: Penilai: Editor: Ilustrator: Dra. Supinah. Drs. Markaban, M.Si. Hanan Windro Sasongko, S.Si. Fadjar Noer Hidayat, S.Si., M.Ed.

Penulis: Penilai: Editor: Ilustrator: Dra. Supinah. Drs. Markaban, M.Si. Hanan Windro Sasongko, S.Si. Fadjar Noer Hidayat, S.Si., M.Ed. PAKET FASILITASI PEMBERDAYAAN KKG/MGMP MATEMATIKA Penyusunan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Matematika SD dalam Rangka Pengembangan KTSP Penulis: Dra. Supinah Penilai: Drs. Markaban,

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL ROPOSAL PERMOHONAN PENYELENGARAAN PENGAKUAN PEMBELAJARAN LAMPAU (PPL) PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA DIREKTORAT PEMBELAJARAN DAN KEMAHASISWAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN TINGGI

Lebih terperinci

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat Naskah Soal Ujian Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Petunjuk: Naskah soal terdiri atas 7 halaman. Anda tidak diperkenankan membuka buku / catatan dan membawa kalkulator (karena soal yang diberikan tidak

Lebih terperinci

ANALISIS DAN DESAIN DENGAN MENGGUNAKAN UNIFIED MODELLING LANGUAGE UNTUK SISTEM KERJA PRAKTEK

ANALISIS DAN DESAIN DENGAN MENGGUNAKAN UNIFIED MODELLING LANGUAGE UNTUK SISTEM KERJA PRAKTEK ANALISIS DAN DESAIN DENGAN MENGGUNAKAN UNIFIED MODELLING LANGUAGE UNUK SISEM KERJA PRAKEK ulia, Silvia Rostianingsih Fakultas eknologi Industri - Jurusan eknik Informatika Universitas Kristen Petra Surabaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain

BAB I PENDAHULUAN. hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi belajar yang baik dan memadai sangat membutuhkan hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain menggunakan strategi belajar mengajar

Lebih terperinci

PEDOMAN KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU

PEDOMAN KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU Revisi 2013 PEDOMAN KERJA LEMBAGA PENJAMINAN MUTU UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU Jl. HR. Soebrantas No. 155 KM. 15 Simpang Baru Panam Pekanbaru Email: bppm_uinsuskariau@uin-suska.ac.id

Lebih terperinci

BAHAN AJAR DIKLAT KEPEMIMPINAN TINGKAT II MERANCANG PROYEK PERUBAHAN

BAHAN AJAR DIKLAT KEPEMIMPINAN TINGKAT II MERANCANG PROYEK PERUBAHAN BAHAN AJAR DIKLAT KEPEMIMPINAN TINGKAT II MERANCANG PROYEK PERUBAHAN Pendahuluan Dalam sistem manajemen kepegawaian, pejabat structural eselon II memainkan peranan sangat menetukan dalam menetapkan kebijakan

Lebih terperinci