BAB I LATAR BELAKANG MASALAH. kerja, mendorong perguruan tinggi untuk membekali lulusannya dengan kemampuan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I LATAR BELAKANG MASALAH. kerja, mendorong perguruan tinggi untuk membekali lulusannya dengan kemampuan"

Transkripsi

1 BAB I LATAR BELAKANG MASALAH 1.1 Latar Belakang Masalah Perubahan yang sangat cepat di semua sektor kehidupan khususnya dunia kerja, mendorong perguruan tinggi untuk membekali lulusannya dengan kemampuan adaptasi dan kreativitas. Hal ini dilakukan agar lulusan perguruan tinggi dapat mengikuti perubahan dan perkembangan yang terjadi di dunia kerja. Alasan ini menjadi pendorong bagi perguruan tinggi untuk melakukan perubahan paradigma dalam penyusunan kurikulum. Menurut Kepmendiknas No. 232/U/2000 yang dimaksud dengan kurikulum perguruan tinggi adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi maupun bahan kajian dan pelajaran serta cara penyampaian dan penilaian yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajarmengajar di perguruan tinggi. Jadi kurikulum dapat diartikan sebagai sebuah program yang memiliki rincian mata kuliah, silabus, rancangan pembelajaran, sistem evaluasi keberhasilan (dokumen program). Selain itu kurikulum juga memiliki bentuk pembelajaran yang jelas dilakukan di dalam kelas (pelaksanaan program). Dinas Pendidikan Perguruan Tinggi telah mencanangkan mengenai perubahan kurikulum bagi perguruan tinggi menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) semenjak tahun Dalam SK Mendiknas No. 045/U/2002 dilakukan pembaharuan terhadap kurikulum agar tidak terfokus pada usaha pengelompokan 1

2 2 mata kuliah tetapi lebih ke arah pencapaian kompetensi. Kompetensi tersebut memiliki elemen-elemen yaitu landasan kepribadian, penguasaan ilmu dan keterampilan, kemampuan berkarya, sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai, dan pemahaman kaidah dalam hidup bermasyarakat sesuai dengan pilihan keahlian dalam berkarya. Dalam sistem kurikulum yang diperbaharui ini yaitu KBK, pencapaian kompetensilah yang menjadi sasaran dari kurikulum tersebut. Perubahan kurikulum menjadi KBK membuat perubahan terhadap cara belajar-mengajar yang diterapkan oleh dosen kepada para mahasiswa di kelas. Dalam buku Pengembangan KBK Pendidikan Tinggi (2008) sistem kurikulum KBK menerapkan prinsip pengajaran yang berfokus kepada mahasiswa atau disebut Student Centered Learning. Student Centered Learning (SCL) menurut McCombs dan Whisler (1997) adalah model pembelajaran yang memadukan fokus antara siswa secara individual dengan fokus pada pembelajaran. Dalam hal ini mahasiswa sebagai pribadi yang memiliki pengalaman, perspektif, latar belakang, talenta, minat, kapasitas dan kebutuhan berbeda-beda menjadi perhatian dalam proses belajar mengajar. Pembelajaran pada Student Centered Learning mengarah pada pengetahuan mengenai pembelajaran terbaik yang tersedia serta tentang praktek pengajaran yang paling efektif dalam meningkatkan motivasi, pembelajaran, dan prestasi para mahasiswa.

3 3 McCombs dan Whisler (1997) menjelasan tentang bagaimana siswa dapat menilai guru memperlakukan siswa di dalam kelas dan bagaimana siswa menilai gurunya. Jika dianalogikan pada dunia perkuliahan dapat dikatakan pada saat mahasiswa percaya bahwa dosen mendengarkan dan menunjukkan usaha untuk mengenal mereka, hal tersebut dapat membuat mahasiswa memiliki keinginan belajar yang lebih. Saat mahasiswa percaya bahwa apa yang mereka pelajari memiliki keterkaitan dengan dunia luar maka mereka akan menjadi lebih penasaran dengan apa yang sedang dipelajari. Hal ini dapat membuat mahasiswa lebih memiliki arahan dalam proses belajarnya. Mahasiswa menjadi percaya kepada dosen ketika mereka melihat tindakan yang dilakukan dosen di dalam kelas. Mahasiswa dapat menilai tindakan dosen tersebut setelah mereka melihat apa yang dilakukan dosen di dalam kelas, kemudian mahasiswa menilai mengenai tindakan dosen dengan perasaan mereka dan setelah itu baru akan muncul motivasi dari dalam diri mereka sesuai dengan tindakan dosen tersebut. Menurut buku Panduan Pengembangan KBK Pendidikan Tinggi (2008) dalam proses pembelajaran Student Centered Learning, setiap dosen dan mahasiswa memiliki peran yang penting. Peran penting dari dosen adalah bertindak sebagai fasilitator dan motivator dalam proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan prinsipprinsip SCL (McCombs dan Whisler, 1997) yaitu sifat alami proses belajar, tujuan proses belajar, dan motivasi instrinsik untuk belajar. Selain itu dosen mengkaji kompetensi mata kuliah yang perlu dikuasai mahasiswa di akhir pembelajaran. Dosen

4 4 merancang strategi dan lingkungan pembelajaran dengan menyediakan berbagai pengalaman belajar yang diperlukan mahasiswa dalam rangka mencapai kompetensi yang dibebankan pada mata kuliah yang ditempuh. Hal ini sejalan dengan prinsip SCL dalam McCombs dan Whisler (1997) yaitu mengenai kosntruksi pengetahuan dan pengaruh motivasi dalam belajar. Dosen membantu mahasiswa untuk mengakses informasi, hal ini sejalan dengan prinsip SCL yaitu berpikir tingkat tinggi dan pemberian tugas-tugas yang meningkatkan motivasi belajar. Selain itu, dosen menata dan memproses pengetahuan untuk dimanfaatkan dalam memecahkan permasalahan nyata, mengidentifikasikan serta menentukan pola penilaian hasil belajar mahasiswa yang relevan dengan kompetensinya. Hal ini sesuai dengan prinsip hambatan dan kesempatan perkembangan dalam belajar. Fakultas Psikologi Universitas X adalah salah satu fakultas yang menggunakan sistem KBK dalam proses pembelajarannya. Pembelajaran dengan sistem KBK ini dimulai sejak bulan Agustus tahun 2013 dan diterapkan pada mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan Fakultas Psikologi di Universitas X ini menjadi Fakultas Psikologi pertama di Jawa Barat yang menerapkan KBK pada sistem pembelajarannya (Pembantu Dekan Fakultas Psikologi Universitas X ). Sejak penerapan kurikulum tersebut, perubahan yang cukup besar terjadi dalam proses belajar mengajar di kelas. Beberapa hal yang berubah adalah jam belajar-mengajar di dalam kelas, peran dosen di dalam kelas menjadi lebih banyak sebagai fasilitator, pengerjaan tugas-tugas yang dilakukan di dalam kelas lebih banyak berkelompok dan

5 5 berdiskusi, dan juga mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk mencari sumber informasi dengan internet. Namun komentar dari 5 orang mahasiswa di kelas KBK ini, tugas-tugas yang diberikan sangat banyak dan sering kali tugas tersebut monoton. Hal ini terdapat didalam salah satu prinsip yang menjadi perhatian dalam SCL yaitu prinsip kaarkteristik tugas belajar yang meningkatkan motivasi (prinsip 7). Dalam prinsip ini diharapkan dosen memberikan tugas-tugas yang dapat merangsang motivasi dan membuat mahasiswa tertarik. Beberapa dosen di dalam kelas jika sudah selesai menjelaskan materi lebih sering melakukan hal yang lain daripada memantau para mahasiswa, seperti bimbingan skripsi atau usulan penelitian di dalam kelas. Selain itu menurut komentar 5 mahasiswa, terkadang dosen hanya akan mendatangi mahasiswa jika mahasiswa tersebut bertanya terlebih dahulu, sehingga mahasiswa yang aktif bertanya akan mudah diingat oleh dosen namun mahasiswa yang pasif dalam bertanya sulit diingat oleh dosen. Hal ini terdapat di dalam prinsip SCL yaitu, pengaruh motivasi dalam belajar (prinsip 5). Maksud dari prinsip tersebut adalah dosen mampu mengerahkan usaha untuk membangun keyakinan, persepsi dan perasaan positif mahasiswa sewaktu pembelajaran berlangsung di dalam kelas. Menurut hasil wawancara dengan Pembantu Dekan Fakultas Psikologi Universitas X, dengan adanya perubahan kurikulum tersebut banyak hal dalam proses belajar mengajar di kelas yang juga ikut berubah. Perubahan yang terjadi adalah jam belajar mengajar di kelas menjadi bertambah. Pengelompokan mata kuliah berdasarkan kompetensi, misalnya dalam mempelajari perkembangan, mahasiswa

6 6 sudah langsung mempelajari perkembangan anak, remaja, dewasa awal, dewasa akhir. Dalam pengajarannya pun dosen seharusnya menjadi lebih berorientasi kepada mahasiswa. Dalam hal ini dosen tidak memberikan materi di kelas sampai jam pelajaran habis. Dosen menyampaikan materi dengan waktu yang lebih singkat. Setelah itu dosen memberikan tugas kepada mahasiswa dan harus dikerjakan di kelas secara berkelompok. Mahasiswa dapat menanyakan apa saja yang tidak dimengerti kepada dosen di kelas. Dalam proses penyelesaian tugas oleh mahasiswa, dosen berperan sebagai sumber informasi. Ketika mahasiswa bertanya, dosen menerangkan kepada mahasiswa di dalam kelompok mahasiswa yang bertanya. Mahasiswa boleh membawa laptop, ipad, modem dan alat-alat teknologi lainnya untuk membantu dalam mencari informasi dan menyelesaikan tugas di dalam kelas. Berdasarkan hasil wawancara dengan Pembantu Dekan Fakultas Psikologi Universitas X, peneliti ingin mengetahui seberapa sering mahasiswa angkatan 2013 menilai dosen menerapkan pembelajaran Student Centered Learning di dalam kelas Identifikasi Masalah Dari penelitian ini ingin diketahui mengenai apakah mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2013 di Universitas X kota Bandung menilai dosen sudah menerapkan pendekatan Student Centered Learning pada pembelajaran di dalam kelas.

7 7 1.3 Maksud dan Tujuan Peneliti Maksud Penelitian Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai penilaian tentang penerapan Student Centered Learning pada Mahasiswa Psikologi angkatan 2013 di Universitas X kota Bandung Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran penilaian mengenai penerapan 12 prinsip Student Centered Learning oleh dosen kepada mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan 2013 di Universitas X kota Bandung. 1.4 Kegunaan Penelitian Kegunaan Teoritis 1. Memberikan informasi bagi Ilmu Psikologi, khususnya setting pendidikan mengenai penerapan Student Centered Learning pada perguruan tinggi. 2. Memberikan masukan bagi peneliti lain yang berminat melakukan penelitian lanjutan mengenai Student Centered Learning.

8 Kegunaan Praktis 1. Memberikan informasi kepada Fakultas Psikologi Universitas X di kota Bandung yaitu pimpinan fakultas dan bagian kurikulum mengenai sejauh mana penilaian terhadap penerapan pendekatan Student Centered Learning yang baru diberlakukan terhadap mahasiswa angkatan Memberikan informasi kepada bagian kurikulum Fakultas Psikologi Universitas X mengenai upaya pengembangan pembelajaran Student Centered Learning bagi para dosen. 1.5 Kerangka Pikir Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi mengusulkan perubahan dalam kurikulum Pendidikan Perguruan Tinggi yaitu menjadi KBK. Hal ini sudah diterapkan oleh Fakultas Psikologi Universitas X dalam sistem pembelajaran di kelas pada mahasiswa angkatan Dalam sistem KBK ini pengelompokan mata kuliah sudah berdasarkan kepada kompetensikompetensi yang diharapkan dapat dicapai oleh para mahasiswa di kelas. Menurut buku Panduan Pengembangan KBK Pendidikan Tinggi (2008) dalam proses pembelajaran di dalam kelas, mengenai peran-peran yang diharapkan dilakukan oleh dosen beberapa sejalan dengan prinsip-prinsip

9 9 Student Centered Learning yang ada di dalam buku McCombs & Whisler (1997). Model pembelajaran dengan Student Centered Learning ini mulai diterapkan oleh Fakultas Psikologi Universitas X semenjak Agustus Dalam pembelajaran ini, mahasiswa menggunakan informasi, pengalaman, talenta, minat, kapasitas untuk mengolah materi yang diberikan didalam perguruan tinggi. Dalam proses pembelajaran mahasiswa di dalam kelas, ada prosesproses yang dilewati mahasiswa agar sampai pada proses evaluasi atau penilaian terhadap apa yang diberikan oleh dosen di dalam kelas. Dosen di dalam kelas melakukan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan sistem KBK dan mahasiswa menilai bagaimana sistem KBK itu sudah diterapkan pada mahasiswa di kelas. Sebelum sampai kepada penilaian ada tahapan-tahapan yang harus dilewati mahasiswa. Mahasiswa terlebih dahulu harus memahami prinsip-prinsip dasar dari setiap materi yang disampaikan oleh dosen, bagaimana cara dosen menyampaikan materi. Setelah memahami prinsip dasarnya baru mahasiswa dapat mengulang kembali informasi yang didapat dengan pemahaman sendiri. Kemudian mahasiswa mampu mengaplikasikan materi yang didapat lewat tugas-tugas yang diberikan oleh dosen di dalam kelas. Setelah itu mahasiswa bisa menganalisis tugas-tugas yang diberikan, bagaimana peran dosen di dalam kelas dalam membantu mahasiswa menganalisis tugas. Hal tersebut membuat mahasiswa di dalam

10 10 kelas dapat membuat solusi dari setiap permasalahan yang ada, baik tugas maupun permasalahan yang dihadapi di dalam kelas. Setelah itu mahasiswa sampai kepada proses penilaian dari setiap kegiatan belajarmengajar di dalam kelas termasuk bagaimana perilaku dosen mengajar di dalam kelas. Fokus metode pengajaran Student Centered Learning di dalam kelas Fakultas Psikologi pada angkatan 2013 berada pada mahasiswa sebagai individu yang memiliki pengalaman, perspektif, latar belakang, talenta, minat, kapasitas dan kebutuhan berbeda-beda. Pengajaran tidak hanya berorientasi kepada dosen yang menjelaskan saja, tetapi lebih berorientasi kepada mahasiswa yang mengikuti pelajaran di dalam kelas. Student Centered Learning memiliki lima domain yaitu Metakognitif dan Kognitif, Afektif, Perkembangan, Pribadi dan Sosial, dan Perbedaan Individual. Dalam kelima domain tersebut terdapat dua belas prinsip psikologis yang mengarahkan pada dasar pemikiran mengenai keunikan mahasiswa psikologi. Perbedaan setiap mahasiswa dalam mengungkapkan informasi serta materi yang telah mereka dapatkan untuk membangun pengetahuan baru dari pengetahuan serta pengalaman yang telah dialami oleh mahasiswa psikologi sebelumnya. Prinsip pertama yaitu sifat alami dari proses belajar yang artinya pembelajaran merupakan proses menemukan dan mengkonstruksi makna dari informasi dan pengalaman yang difilter melalui persepsi-persepsi, pemikiran dan perasaan mahasiswa yang unik. Dalam hal ini dosen diminta untuk

11 11 menunjukkan antusiasme dikelas mengenai topik yang akan dibahas. Hal ini agar membuat mahasiswa merasa antusias untuk mempelajari apa yang disampaikan oleh dosen. Dosen dapat memberitahukan tujuan dari proses mempelajari topik ini, mengapa topik ini penting dan apa saja hal yang bisa dipraktekkan oleh mahasiswa psikologi mengenai topik ini sehingga mahasiswa dapat mengerti melalui pengalaman yang sudah didapatnya setelah mempelajari topik ini. Hal ini membuat ahasiswa psikologi mampu untuk menemukan dan memfilterasi informasi-informasi yang sudah didapat dan pengalaman-pengalaman yang sudah dialami sebelumnya mengenai suatu topik tertentu yang akan dibahas oleh dosen didalam kelas. Prinsip kedua yaitu tujuan proses pembelajaran untuk menciptakan makna dari pengetahuan dan pengalaman dengan tidak terlalu memperhatikan kuantitas dan kualitas yang ada. Dalam hal ini dosen mendorong mahasiswa serta menunjukkan kepedulian akan proses pemaknaan yang dilakukan oleh mahasiswa psikologi tersebut. Dosen dapat lebih sering memberikan pertanyaan kepada mahasiswa untuk menggali seberapa paham mahasiswa dengan konsep yang diberikan. Mahasiswa akan secara perlahan memperbaiki sendiri konsep pemikiran mereka yang salah mengenai topik yang diberikan di dalam kelas. Prinsip ketiga yaitu konstruksi pengetahuan yaitu pengaitan informasi baru dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya melalui cara-cara yang

12 12 unik. Dalam prinsip ini, dosen memperlengkapi mahasiswa psikologi dalam memilih strategi yang tepat bagi mahasiswa untuk mengorganisasikan informasi yang telah mereka dapatkan. Mahasiswa psikologi akan menemukan caranya yang unik dan berbeda-beda dalam mengorganisasikan informasi atau materi kuliah yang disampaikan dalam pembelajaran didalam kelas. Pengetahuan yang diterima oleh mahasiswa psikologi berbeda-beda, dan para mahasiswa psikologi akan mengaitkannya dengan pengalaman pribadi mereka. Prinsip keempat yaitu berpikir tingkat tinggi yang artinya adalah memfasilitasi kreatifitas dan berpikir kritis sert pengembangan keahlian. Dalam prinsip ini, dosen memberikan stimulus mengenai hakekat dari pengetahuan dan tantangan baru yang menyenangkan dalam penelitian ini. Dengan demikian mahasiswa psikologi akan merasa dirinya tertantang dan bersemangat dalam membuat penelitian ataupun tugas-tugas yang diberikan. Mahasiswa psikologi dapat mengembangkan kemampuan kognisinya dengan bantuan dosen dalam mencoba berpikir secara lebih kompleks. Prinsip kelima yaitu pengaruh motivasi terhadap pembelajaran, yang artinya bahwa dalam dan luasnya informasi serta apa dan berapa banyak informasi yang diperoleh dipengaruhi oleh beberapa faktor (self warness, value, emosi). Dalam hal ini dosen berperan untuk memberikan waktu bagi para mahasiswa untuk menciptakan iklim yang positif dalam pembelajaran,

13 13 memberikan tujuan-tujuan serta pengalaman yang positif bagi mahasiswa psikologi sendiri (seperti pengalaman-pengalaman atau informasi penting yang bisa didapatkan mahasiswa dalam belajar materi tersebut). Mahasiswa akan menyadari beberapa hal yang mempengaruhi diri mereka dalam proses pembelajaran dikelas. Hal tersebut adalah kesadaran akan kemampuan mahasiswa, minat dan tujuan mahasiswa untuk belajar di bidang psikologi. Prinsip keenam yaitu motivasi intrinsik mahasiswa psikologi untuk belajar. Yang dimaksud dalam prinsip ini adalah banyaknya faktor-faktor dari dalam diri mahasiswa yang akan mempengaruhi mahasiswa dalam belajar. Dosen dapat peka terhadap perasaan-perasaan takut terhadap kegagalan yang dimiliki oleh mahasiswa, kehilangan minat di tengah jalan mengenai materi atau bahkan bidang psikologi sendiri. Dalam hal ini dosen harus mendorong mahasiswa psikologi (bukan membenahi), memunculkan ketertarikan para mahasiswa kembali untuk belajar mengenai bidang tertentu atau bahkan untuk kembali tertarik dalam bidang psikologi, dengan berbagi pengalaman dan memberikan gambaran bahwa dosen sendiri pernah mengalami pasang-surut motivasi dalam diri untuk mempelajari bidang psikologi sendiri. Disini, mahasiswa psikologi bukan lagi dilihat sebagai individu yang akan belajar, tetapi manusia seutuhnya yang memiliki motivasi berbeda-beda. Hal inilah yang harus ditangkap oleh dosen.

14 14 Prinsip ketujuh yaitu tugas-tugas mata kuliah dalam pembelajaran psikologi yang meningkatkan motivasi belajar mahasiswa. Maksud dalam prinsip ini adalah rasa ingin tahu, kreatifitas dan berpikir tingkat tinggi itu dirangsang oleh tugas belajar yang memiliki tantangan yang real dan juga halhal yang baru. Dalam pengajarannya, dosen menunjukkan pengajaran dengan proses yang memperlihatkan kenyataan dari materi tersebut, sehingga mahasiswa dapat memiliki minat serta ketertarikan mengenai materi tersebut. Selama ini, tugas-tugas yang diberikan oleh dosen merupakan tugas-tugas yang otentik. Dimana mahasiswa akan diberikan tugas dalam kelas mengenai contoh kasus nyata yang terjadi di dunia mengenai topik dan materi yang dibahas didalam kelas. Prinsip kedepalan mengenai hambatan dan kesempatan perkembangan yang artinya progress individu melalui tahapan fisik, intelektual, emosi dan perkembangan sosial adalah hal yang berbeda-beda dan unik. Dosen harus mampu menentukan strategi apa yang akan diberikan didalam kelas dalam penyampaian materi. Seperti, dosen akan konsentrasi terhadap penyampaian materi kepada mahasiswa psikologi angkatan 2013 yang terlihat memiliki kemampuan menangkap informasi yang lebih lama dibandingkan yang lain. Hal ini didasarkan pada perbedaan kapasitas dan kemampuan mahasiswa psikologi sepanjang hidupnya baik fisik, intelektual, emosional, dan sosial yang unik secara genetik. Kemajuan dalam perkembangan ini tidak bisa

15 15 digeneralisasikan kepada seluruh mahasiswa psikologi angkatan 2013 dalam kelas di Universitas X. Pada fakultas psikologi yang terdiri dari jenjang umur mahasiswa yang berbeda-beda, kemampuan menangkap informasi, gaya belajar yang berbeda-beda sehingga akan mempengaruhi para mahasiswa dalam penerimaan materi dikelas. Dalam hal ini, dosen akan memilah dan merencanakan pemberian materi kepada mahasiswa psikologi, cara penyampaiannya seperti apabila dikelas terdapat proses kecepatan menangkap informasi yang berbeda dari mahasiswa. Prinsip kesembilan yaitu keragaman sosial dan budaya. Didalam Fakultas Psikologi khususnya kelas KBK angkatan 2013 yang terdiri dari berbagai macam kultur yang berbeda dari masing-masing mahasiswa. Dosen berusaha untuk membuat mahasiswa psikologi memahami dan menghormati setiap kultur yang ada dan tersebar diantara mahasiswa psikologi. Hal ini akan berpengaruh pada proses interaksi sosial dan komunikasi bagi para mahasiswa secara fleksibel, juga pengajaran yang adaptif bagi dosen kepada mahasiswa psikologi. Mahasiswa psikologi yang berlatar belakang Jawa dan mahasiswa psikologi yang berlatar belakang Sumatra akan mempunyai cara berbicara, intonasi, pola berpikir yang jauh berbeda dan kemungkinan akan menghambat komunikasi mereka dalam proses pembelajaran. Hal ini yang harus dimengerti oleh mahasiswa psikologi untuk dapat memahami dan menghargai satu sama lainnya.

16 16 Prinsip kesepuluh yaitu penerimaan sosial, self-esteem dan pembelajaran dimana dosen berusaha untuk mengerti, memahami, dan peduli terhadap potensi dari para mahasiswa. Hal ini dilakukan agar self-esteem mahasiswa psikologi meningkat. Mahasiswa psikologi, yang selama perkuliahan banyak menemukan tugas berkelompok akan merasakan prinsip ini, dimana dalam satu kelompok akan terdapat berbagai mahasiswa yang berbeda-beda, disinilah para mahasiswa tersebut akan belajar menerima satu sama lain dengan keunikan dan cara belajar yang berbeda. Dalam hal inilah self-esteem para mahasiswa psikologi akan lebih meningkat. Prinsip kesebelas yaitu perbedaan individu dalam belajar, yang dimaksud adalah mahasiswa memiliki perbedaan kemampuan dan pilihan tersendiri dalam strategi belajarnya. Dalam prinsip ini dosen harus mempunyai strategi sendiri untuk mengetahui kemampuan masing-masing mahasiswa psikologi. Mahasiswa psikologi yang datang dari berbagai macam daerah, memiliki latar belakang baik suku, agama, bahkan pola asuh dari masing-masing orang tua yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran, mahasiswa psikologi memiliki strategi masing-masing yang berbeda dan unik dalam memprosesnya. Baik dengan membuat catatancatatan kecil didalam buku, mencatat semua yang dikatakan dosen, menggaris bawahi buku, atau hanya dengan mendengarkan guru saja.

17 17 Prinsip keduabelas yaitu penyaringan kognitif yang merujuk pada keyakinan, pemikiran dan pemahaman pribadi dari mahasiswa psikologi dari pembelajaran dan interpretasi yang ada sebelumnya. Dosen berusaha untuk melihat perbedaan dari masing-masing mahasiswa psikologi. Disini dosen kemungkinan akan menerima pandangan negatif dari mahasiswa psikologi yang akan merasa bahwa mereka memiliki bagian penting yang berbeda, sehingga mahasiswa merasa kurang cocok dengan dosen tersebut. Hal ini yang akan memperlihatkan hal apa yang penting bagi mahasiswa psikologi itu sendiri selama pembelajaran di fakultas psikologi. Baik nilai, atau pemahaman, ataupun materi yang harus dihafalkan sebanyak-banyaknya menjadi bagian yang terpenting dalam pembelajaran di fakultas psikologi ini. Untuk mempermudah melihat proses dari kerangka pemikiran ini, peneliti membuat bagan pemikiran sebagai berikut :

18 18 Pendekatan Dosen Mahasiswa Psikologi angkatan 2013 di Universitas X kota Bandung Penilaian Penerapan SCL Hampir Selalu Menerapkan Hampir Tidak Pernah Menerapkan Prinsip Student Centered Learning: Metakognitif dan Kognitif Prinsip 1 : Sifat alami dari proses belajar Prinsip 2 : Tujuan proses pembelajaran Prinsip 3 : Konstruksi pengetahuan Prinsip 4 : Berpikir tingkat tinggi Afektif Prinsip 5 : Pengaruh motivasi dalam belajar Prinsip 6 : Motivasi intrinsik untuk belajar Prinsip 7 : Tugas-tugas yang meningkatkan motivasi belajar Perkembangan Prinsip 8 : Hambatan dan kesempatan perkembangan Pribadi dan Sosial Bagan 1.1 Kerangka Pemikiran Prinsip 9 : Keragaman sosial dan budaya Prinsip 10 : Penerimaan sosial, self-esteem, dan pembelajaran Perbedaan Individual Prinsip 11 : Perbedaan individual dalam pembelajaran Prinsip 12 : Penyaringan kognitif

19 Asumsi Penelitian 1. Mahasiswa dapat menghayati penerapan proses pembelajaran Student Centered Learning di dalam kelas. 2. Student Centered Learning di dalam kelas KBK dapat diukur melalui penilaian mahasiswa. 3. Dalam kelas KBK sudah diterapkan 12 prinsip Student Centered Learning.

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hal yang tidak dipahami kemudian dilihat, diamati hingga membuat seseorang

BAB I PENDAHULUAN. hal yang tidak dipahami kemudian dilihat, diamati hingga membuat seseorang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan menjadi salah satu hal yang penting bagi setiap manusia. Melalui pendidikan seseorang dapat belajar mengenai banyak hal, mulai dari hal yang tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi yang terjadi saat ini ditandai dengan adanya

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi yang terjadi saat ini ditandai dengan adanya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Memasuki era globalisasi yang terjadi saat ini ditandai dengan adanya perkembangan pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan yang terjadi tersebut menuntut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia dan masyarakat Indonesia yang maju, modern, dan sejajar dengan

BAB I PENDAHULUAN. manusia dan masyarakat Indonesia yang maju, modern, dan sejajar dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tujuan pembangunan nasional Indonesia menyatakan perlunya masyarakat melaksanakan program pembangunan nasional dalam upaya terciptanya kualitas manusia dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. macam tantangan dalam berbagai bidang. Untuk menghadapi tantangan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. macam tantangan dalam berbagai bidang. Untuk menghadapi tantangan tersebut BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Di era globalisasi sekarang ini, setiap orang dihadapkan pada berbagai macam tantangan dalam berbagai bidang. Untuk menghadapi tantangan tersebut maka setiap

Lebih terperinci

BAB V. KESIMPULAN dan SARAN. Bandung, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : a) Secara umum masih lebih banyak mahasiswa yang menilai bahwa

BAB V. KESIMPULAN dan SARAN. Bandung, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : a) Secara umum masih lebih banyak mahasiswa yang menilai bahwa BAB V KESIMPULAN dan SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai Student Centered Learning pada mahasiswa fakultas Psikologi angkatan 2013 di Universitas X Bandung, dapat disimpulkan beberapa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kualitas Sumber Daya Manusia. Dewasa ini semua orang membutuhkan

BAB I PENDAHULUAN. kualitas Sumber Daya Manusia. Dewasa ini semua orang membutuhkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu komponen penting dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia. Dewasa ini semua orang membutuhkan pendidikan setinggi-tingginya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam menghadapi persoalan-persoalan tersebut. Dalam menghadapinya, manusia

BAB I PENDAHULUAN. dalam menghadapi persoalan-persoalan tersebut. Dalam menghadapinya, manusia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam menjalani hidup manusia dihadapkan pada berbagai macam persoalan serta berbagai macam tantangan. Untuk itu diperlukan persiapan yang matang dalam menghadapi

Lebih terperinci

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. Universitas Kristen Maranatha Abstrak Penelitian ini berjudul Studi Deskriptif Mengenai Student Centered Learning yang Diterapkan pada Siswa di SMA X Bandung. Student centered learning (SCL) menurut Mccombs dan Whisler (1997) adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terpenting dalam suatu perkembangan bangsa. Oleh karena itu, perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. terpenting dalam suatu perkembangan bangsa. Oleh karena itu, perkembangan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kualitas pendidikan di Indonesia selalu berusaha untuk ditingkatkan agar mencapai hasil yang semakin baik kedepannya. Pendidikan merupakan aspek terpenting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lebih dari sekedar realisasi satu sasaran, atau bahkan beberapa sasaran. Sasaran itu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lebih dari sekedar realisasi satu sasaran, atau bahkan beberapa sasaran. Sasaran itu BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Keberhasilan Keberhasilan adalah hasil serangkaian keputusan kecil yang memuncak dalam sebuah tujuan besar dalam sebuah tujuan besar atau pencapaian. keberhasilan adalah lebih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melibatkan berbagai pihak yang terkait secara bersama-sama dan bersinergi

BAB I PENDAHULUAN. melibatkan berbagai pihak yang terkait secara bersama-sama dan bersinergi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu sarana untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Oleh karena itu pembangunan dalam bidang pendidikan harus melibatkan berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lia Liana Iskandar, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lia Liana Iskandar, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan usaha sadar, terencana untuk mewujudkan proses belajar dan hasil belajar yang optimal sesuai dengan karekteristik peserta didik. Dalam proses pendidikan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. latihan sehingga mereka belajar untuk mengembangkan segala potensi yang

BAB I PENDAHULUAN. latihan sehingga mereka belajar untuk mengembangkan segala potensi yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Perguruan tinggi merupakan jenjang pendidikan formal yang menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional dan mempunyai tujuan untuk menyiapkan peserta didik

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pembelajaran adalah proses

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pembelajaran adalah proses BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Teori Belajar dan Pembelajaran Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS. Komunitas belajar dalam Tugas Akhir ini dapat didefinisikan melalui beberapa referensi yang telah dibahas pada Bab II.

BAB III ANALISIS. Komunitas belajar dalam Tugas Akhir ini dapat didefinisikan melalui beberapa referensi yang telah dibahas pada Bab II. BAB III ANALISIS Sesuai dengan permasalahan yang diangkat pada Tugas Akhir ini, maka dilakukan analisis pada beberapa hal sebagai berikut: 1. Analisis komunitas belajar. 2. Analisis penerapan prinsip psikologis

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. belajar siswa pada mata pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan Pada

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. belajar siswa pada mata pelajaran Dasar Kompetensi Kejuruan Pada BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas (PTK) dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Penerapan model pembelajaran Kontekstual dapat meningkatkan

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. 1. Kondisi Empiris Perkuliahan Strategi Pembelajaran Selama ini

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. 1. Kondisi Empiris Perkuliahan Strategi Pembelajaran Selama ini BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. SIMPULAN Berdasarkan temuan dan analisis data yang diperoleh dari kegiatan studi pendahuluan, uji coba model, dan uji validasi model, serta pembahasan penelitian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mengalami kemajuan yang sangat pesat, hal ini tak terlepas dari peran matematika sebagai ilmu universal dan konsep-konsep

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF DALAM IPS

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF DALAM IPS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INTERAKTIF DALAM IPS SUMINAH Dosen KSDP Universitas Negeri Malang E-mail: suminahpp3@yahoo.co.id Abstrak: Model pembelajaran interaktif adalah suatu pendekatan pembelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. struktur kurikulum dalam Kurikulum Pengertian kurikulum yang dinyatakan

BAB I PENDAHULUAN. struktur kurikulum dalam Kurikulum Pengertian kurikulum yang dinyatakan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada dasarnya adalah interaksi antara pendidik dengan peserta didik, untuk mencapai tujuan pendidikan yang berlangsung dalam lingkungan pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadi dalam dunia pendidikan, khususnya di negara kita agar dapat

BAB I PENDAHULUAN. terjadi dalam dunia pendidikan, khususnya di negara kita agar dapat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan jaman saat ini semakin pesat dan canggih. Hal ini ditandai dengan persaingan di segala bidang yang semakin ketat, tak terkecuali dalam dunia pendidikan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan

BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Era globalisasi yang ditandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin pesat dewasa ini menuntut masyarakat untuk menyikapinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada model pembelajaran yang di lakukan secara masal dan klasikal, dengan

BAB I PENDAHULUAN. pada model pembelajaran yang di lakukan secara masal dan klasikal, dengan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyelenggaraan sistem Pendidikan di Indonesia pada umumnya lebih mengarah pada model pembelajaran yang di lakukan secara masal dan klasikal, dengan berorientasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. juga diharapkan dapat memiliki kecerdasan dan mengerti nilai-nilai baik dan

BAB I PENDAHULUAN. juga diharapkan dapat memiliki kecerdasan dan mengerti nilai-nilai baik dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan dilaksanakan dengan tujuan untuk membentuk karakteristik seseorang agar menjadi lebih baik. Melalui jalur pendidikan formal, warga negara juga diharapkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. perlu untuk ditingkatkan dan digali sebesar-besarnya karena hal tersebut

BAB 1 PENDAHULUAN. perlu untuk ditingkatkan dan digali sebesar-besarnya karena hal tersebut 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada masa sekarang ini, kita memasuki dunia yang berkembang serba cepat sehingga memaksa setiap individu untuk dapat mengikuti perkembangan tersebut. Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan dasar yang dibutuhkan mahasiswa

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan dasar yang dibutuhkan mahasiswa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah Pendidikan merupakan suatu kebutuhan dasar yang dibutuhkan mahasiswa untuk mendapatkan ilmu dari berbagai macam bidang serta membentuk karakter dan kepribadian.

Lebih terperinci

penekanannya pada penataan nalar dan pembentukan sikap siswa serta keterampilan dalam penerapan matematika. Namun, sampai saat ini masih banyak

penekanannya pada penataan nalar dan pembentukan sikap siswa serta keterampilan dalam penerapan matematika. Namun, sampai saat ini masih banyak BAB I PENDAHULUAN Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar (SD) sampai sekolah menengah untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis,

Lebih terperinci

BAB II HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN MENGHITUNG LUAS PERSEGI DAN PERSEGI PANJANG DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME

BAB II HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN MENGHITUNG LUAS PERSEGI DAN PERSEGI PANJANG DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME BAB II HASIL BELAJAR MATEMATIKA PADA POKOK BAHASAN MENGHITUNG LUAS PERSEGI DAN PERSEGI PANJANG DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME A. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar Mata pelajaran Matematika

Lebih terperinci

Studi Deskriptif Mengenai Student Centered Learning yang Diterapkan. pada Siswa di SMA X Bandung

Studi Deskriptif Mengenai Student Centered Learning yang Diterapkan. pada Siswa di SMA X Bandung Studi Deskriptif Mengenai Student Centered Learning yang Diterapkan pada Siswa di SMA X Bandung Evi Ema Victoria Polii dan Apriyessi Kristie Gouw Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Bandung

Lebih terperinci

RANCANGAN ALAT UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS VII SMP N 1 AMBARAWA TAHUN AJARAN

RANCANGAN ALAT UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS VII SMP N 1 AMBARAWA TAHUN AJARAN APLIKASI PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif Menyenangkan) MODEL RANCANGAN ALAT UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS VII SMP N 1 AMBARAWA TAHUN AJARAN 2006-2007 HASIL PENELITIAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia, kebanyakan siswa tidak diajarkan bagaimana untuk belajar

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia, kebanyakan siswa tidak diajarkan bagaimana untuk belajar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di Indonesia, kebanyakan siswa tidak diajarkan bagaimana untuk belajar melainkan diajarkan apa yang harus dipelajari. Hal ini menyebabkan kemampuan berpikir

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Geografi merupakan satu dari sekian banyak disiplin ilmu yang dipelajari,

BAB I PENDAHULUAN. Geografi merupakan satu dari sekian banyak disiplin ilmu yang dipelajari, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Geografi merupakan satu dari sekian banyak disiplin ilmu yang dipelajari, oleh siswa dimulai dari jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Pada jenjang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. yang lebih tinggi diharapkan proses pemahaman akan menjadi lebih. mahasiswa senantiasa dilakukan oleh lembaga pendidikan tinggi.

BAB 1 PENDAHULUAN. yang lebih tinggi diharapkan proses pemahaman akan menjadi lebih. mahasiswa senantiasa dilakukan oleh lembaga pendidikan tinggi. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuntutan era globalisasi membuat setiap orang harus mampu untuk bersaing sesuai kompetensi yang dimiliki. Upaya pengembangan sumber daya manusia (SDM) tertuju pada

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Model Pembelajaran Inkuiri dalam Pembelajaran IPA. menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan.

TINJAUAN PUSTAKA. A. Model Pembelajaran Inkuiri dalam Pembelajaran IPA. menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Inkuiri dalam Pembelajaran IPA Model Pembelajaran inkuiri adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada provinsi Jawa Tengah. Menurut laporan hasil ujian nasional SMP tahun

BAB I PENDAHULUAN. pada provinsi Jawa Tengah. Menurut laporan hasil ujian nasional SMP tahun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran matematika jika dilihat dari pencapaian yang telah diperoleh menunjukkan hasil yang belum optimal. Hal tersebut juga terjadi pada provinsi Jawa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang membatasi antar negara terasa hilang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan

BAB I PENDAHULUAN. yang membatasi antar negara terasa hilang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Arus informasi mengalir cepat seolah tanpa hambatan, jarak dan ruang yang membatasi antar negara terasa hilang. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di belahan

Lebih terperinci

Bab I PENDAHULUAN. belajar selama 12 tahun dimanapun mereka berada, baik di desa maupun di kota

Bab I PENDAHULUAN. belajar selama 12 tahun dimanapun mereka berada, baik di desa maupun di kota Bab I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah salah satu aspek penting dalam kehidupan. Oleh karena itu, di Indonesia, anak-anak yang berada pada usia sekolah diwajibkan untuk belajar

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model Problem Based Learning dikembangkan oleh Barrows sejak tahun

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model Problem Based Learning dikembangkan oleh Barrows sejak tahun II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Berbasis Masalah Model Problem Based Learning dikembangkan oleh Barrows sejak tahun 1970-an. Model Problem Based Learning berfokus pada penyajian suatu permasalahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah cara yang dianggap paling strategis untuk mengimbangi

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah cara yang dianggap paling strategis untuk mengimbangi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam era globalisasi ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat pesat. Dengan berkembangnya jaman, pendidikan turut serta berkembang. Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan lebih lanjut ke perguruan tinggi (www.freelists.org). Perguruan tinggi

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan lebih lanjut ke perguruan tinggi (www.freelists.org). Perguruan tinggi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada jaman sekarang ini, semakin banyak individu yang menempuh pendidikan lebih lanjut ke perguruan tinggi (www.freelists.org). Perguruan tinggi (PT) adalah

Lebih terperinci

DALAM PEMBELAJARAN AKTIF STUDENT CREATED CASE STUDIES

DALAM PEMBELAJARAN AKTIF STUDENT CREATED CASE STUDIES PENERAPAN FLIP CHART DALAM PEMBELAJARAN AKTIF STUDENT CREATED CASE STUDIES UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI KELAS XI IPA 4 SMA NEGERI 4 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2009/2010

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tantangan era globalisasi membuka tingkat persaingan yang semakin ketat karena kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang semakin cepat. Hakikat Biologi sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Persaingan dunia bisnis yang terjadi saat ini telah mengubah cara pengelolaan perusahaan-perusahaan modern. Perusahaan akan berkembang pesat jika pengelolaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karakter dan kreativitas siswa. Pendidikan memegang peranan penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. karakter dan kreativitas siswa. Pendidikan memegang peranan penting dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan pada dasarnya merupakan faktor penting dalam membentuk karakter dan kreativitas siswa. Pendidikan memegang peranan penting dalam peningkatan kualitas sumber

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia. Untuk mewujudkan hal itu, maka sekolah sebagai

I. PENDAHULUAN. kualitas sumber daya manusia. Untuk mewujudkan hal itu, maka sekolah sebagai 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu komponen penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Untuk mewujudkan hal itu, maka sekolah sebagai komponen utama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan salah satu dari tiga aspek terpenting dalam kehidupan manusia selain kesehatan dan ekonomi. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional

Lebih terperinci

SKRIPSI. Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Akuntansi. Disusun Oleh:

SKRIPSI. Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Akuntansi. Disusun Oleh: PENGARUH KOMPETENSI GURU, PEMANFAATAN SUMBER BELAJAR SERTA MOTIVASI BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN EKONOMI KELAS XI IPS DI SMA NEGERI 1 TERAS BOYOLALI TAHUN 2007/2008

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Matematika merupakan salah satu bidang studi yang menduduki peranan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Matematika merupakan salah satu bidang studi yang menduduki peranan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu bidang studi yang menduduki peranan penting dalam pendidikan. Hal ini dapat dilihat dari waktu jam pelajaran sekolah lebih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan penting dan berpengaruh bagi kehidupan manusia karena dengan pendidikan manusia dapat berkelakuan baik dan mandiri. Permasalahan dalam pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia diharapkan memiliki kemampuan untuk beradaptasi

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia diharapkan memiliki kemampuan untuk beradaptasi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap manusia diharapkan memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Begitu pula dengan mahasiswa yang baru menjalani proses pembelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. matematika kurang disukai oleh kebanyakan siswa. Menurut Wahyudin (1999),

BAB I PENDAHULUAN. matematika kurang disukai oleh kebanyakan siswa. Menurut Wahyudin (1999), 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ada pandangan umum yang mengatakan bahwa mata pelajaran matematika kurang disukai oleh kebanyakan siswa. Menurut Wahyudin (1999), matematika merupakan mata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut Dikti (2007), materi pembelajaran pendidikan tinggi di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut Dikti (2007), materi pembelajaran pendidikan tinggi di Indonesia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Dikti (2007), materi pembelajaran pendidikan tinggi di Indonesia saat ini umumnya disusun tidak mengikuti taksonomi dimensi pengetahuan yang akan dicapai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Syerel Nyongkotu, 2015

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Syerel Nyongkotu, 2015 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang dapat menghasilkan peserta didik yang berkualitas, berdaya saing tinggi, dan kreatif. Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi, seluruh negara di dunia berusaha melakukan pembenahan di segala bidang, termasuk bidang pendidikan. Kemajuan suatu negara salah satunya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Global Monitoring report, (2012) yang dikeluarkan UNESCO menyatakan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. Global Monitoring report, (2012) yang dikeluarkan UNESCO menyatakan bahwa 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu permasalahan pendidikan yang menjadi prioritas untuk segera dicari pemecahannya adalah masalah kualitas pendidikan, khususnya kualitas pembelajaran.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu hal yang dibutuhkan manusia. Pendidikan dapat mempengaruhi perkembangan manusia dalam aspek kepribadian dan kehidupan. Dalam Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kualitasnya sehingga harapan dan cita-cita pendidikan dapat tercapai.

BAB I PENDAHULUAN. kualitasnya sehingga harapan dan cita-cita pendidikan dapat tercapai. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan memegang peranan penting dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkompetensi karena di dalam pendidikanlah individu diproses menjadi manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai salah satu disiplin ilmu yang

BAB I PENDAHULUAN. penting dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai salah satu disiplin ilmu yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika merupakan ilmu pengetahuan yang memegang peranan penting dalam berbagai bidang kehidupan. Sebagai salah satu disiplin ilmu yang diajarkan pada setiap jenjang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sistem pendidikan di Indonesia telah mengalami banyak perubahan. Perubahan perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan dalam pendidikan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. rencana tentang pendidikan yang dikemas dalam bentuk kurikulum. Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat Ilmu

I. PENDAHULUAN. rencana tentang pendidikan yang dikemas dalam bentuk kurikulum. Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat Ilmu 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan. Melalui

BAB I PENDAHULUAN. sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan. Melalui BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan.

Lebih terperinci

dewasa ini merupakan perkembangan yang terjadi sebelumnya. yang dimiliki dan merupakan peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan.

dewasa ini merupakan perkembangan yang terjadi sebelumnya. yang dimiliki dan merupakan peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejarah pendidikan berbagai bangsa mengajarkan pada kita bahwa pendidikan selalu mengalami perubahan dan pembaharuan. Pendidikan dewasa ini merupakan perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Pendidikan menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah Pendidikan menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 merupakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan menurut UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. belajar apabila dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku dan tidak tahu

BAB I PENDAHULUAN. belajar apabila dalam dirinya telah terjadi perubahan perilaku dan tidak tahu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan suatu sistem yang di dalamnya terdapat beberapa komponen yang menjadi satu kesatuan fungsional dan saling berinteraksi, bergantung, dan berguna

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V SDN KARANGMLATI 1 DEMAK

BAB IV ANALISIS PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V SDN KARANGMLATI 1 DEMAK BAB IV ANALISIS PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V SDN KARANGMLATI 1 DEMAK A. Analisis Aspek-Aspek yang Diteliti Antara Pembelajaran Tutor Sebaya dan Pembelajaran

Lebih terperinci

BAB. I PENDAHULUAN. Hilman Latief,2014 PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.

BAB. I PENDAHULUAN. Hilman Latief,2014 PENGARUH PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL TERHADAP HASIL BELAJAR Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi. 1 BAB. I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan segala usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana dan bertujuan mengubah tingkah laku manusia kearah yang lebih baik dan sesuai

Lebih terperinci

2014 PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE KUIS TIM UNTUK ENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS DAN SELF-CONFIDENCE SISWA SMP

2014 PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE KUIS TIM UNTUK ENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS DAN SELF-CONFIDENCE SISWA SMP BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Manusia sebagai pemegang dan penggerak utama dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. Melalui

Lebih terperinci

BAGIAN SATU. Mengapa Harus Berubah? Penerapan Metode Problem-Based Learning (PBL)

BAGIAN SATU. Mengapa Harus Berubah? Penerapan Metode Problem-Based Learning (PBL) BAGIAN SATU Mengapa Harus Berubah? Penerapan Metode Problem-Based Learning (PBL) 1 2 Elsa Krisanti, Ph.D. & Kamarza Mulia, Ph.D. Aniek dan Tara adalah dua mahasiswa jurusan Teknik Kimia semester tiga yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sangat pesat serta persaingan global menuntut lulusan pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. sangat pesat serta persaingan global menuntut lulusan pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akuntansi yang sangat pesat serta persaingan global menuntut lulusan pendidikan akuntansi mempunyai kualitas atau

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing

I. PENDAHULUAN. kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada awal tahun pelajaran 2006/2007 telah diterapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari Kurikulum Berbasis

Lebih terperinci

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF. Dr. Syamsurizal

MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF. Dr. Syamsurizal MODEL-MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF Dr. Syamsurizal PELATIHAN PEMBELAJARAN AKTIF DI UNIVERSITAS JAMBI 14 sd 17 NOPEMBER 2011 Usaha sadar seseorang untuk merubah tingkah laku, melaui interaksi dengan sumber

Lebih terperinci

BAB I Pendahuluan. Internasional pada hasil studi PISA oleh OECD (Organization for

BAB I Pendahuluan. Internasional pada hasil studi PISA oleh OECD (Organization for BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Permasalahan Kemampuan IPA peserta didik Indonesia dapat dilihat secara Internasional pada hasil studi PISA oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi dan informasi yang cepat berubah saat ini membutuhkan manusia yang siap dan tanggap. Salah satu cara untuk menghasilkan manusia yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada saat ini pembelajaran di sekolah harus bervariasi agar bisa menarik perhatian siswa untuk mengikuti proses pembelajaran dimana siswa dapat tertarik pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu, pengetahuan dan teknologi saat ini telah banyak aspek kehidupan manusia. Salah satunya yang mendasari hal tersebut adalah pendidikan. Melalui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Hal ini senada dengan S. C. Sri Utami

BAB I PENDAHULUAN. mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Hal ini senada dengan S. C. Sri Utami BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat penting saat ini dimana masyarakat dituntut menjadi SDM yang berkualitas. Hal tersebut bisa didapat salah satunya melalui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dapat membantu suatu negara dalam mencetak SDM (Sumber

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan dapat membantu suatu negara dalam mencetak SDM (Sumber BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan dapat membantu suatu negara dalam mencetak SDM (Sumber Daya Manusia) yang berkualitas, baik dari segi spiritual, intelegensi, dan skill. Menteri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kemajuan, baik dalam aspek fisik-motorik, intelek, sosial-emosi maupun sikap

BAB I PENDAHULUAN. kemajuan, baik dalam aspek fisik-motorik, intelek, sosial-emosi maupun sikap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembelajaran atau pengajaran pada dasarnya merupakan kegiatan guru menciptakan situasi agar siswa belajar. Tujuan utama dari pembelajaran atau pengajaran adalah agar

Lebih terperinci

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF METODE SAKAMOTO UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA PADA PELAJARAN MATEMATIKA (PTK

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF METODE SAKAMOTO UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA PADA PELAJARAN MATEMATIKA (PTK PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF METODE SAKAMOTO UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA PADA PELAJARAN MATEMATIKA (PTK Pembelajaran Matematika Kelas VIII E SMP Negeri 3 Patebon Kendal Pokok Bahasan Balok

Lebih terperinci

BAB IV PROSES PENGEMBANGAN MODEL PENILAIAN OTENTIK DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PEMAHAMAN

BAB IV PROSES PENGEMBANGAN MODEL PENILAIAN OTENTIK DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PEMAHAMAN BAB IV PROSES PENGEMBANGAN MODEL PENILAIAN OTENTIK DALAM PEMBELAJARAN MEMBACA PEMAHAMAN Dalam bab ini diuraikan proses pengembangan model penilaian otentik dalam pembelajaran membaca pemahaman yang telah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. teknologi. Matematika merupakan sarana berikir untuk menumbuh kembangkan pola fikir logis,

BAB I PENDAHULUAN. teknologi. Matematika merupakan sarana berikir untuk menumbuh kembangkan pola fikir logis, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan salah satu ilmu bantu yang sangat penting dan berguna dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam menunjang perkembangan ilmu pengetahuan dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan menengah. Tujuan pendidikan perguruan tinggi ialah untuk

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan menengah. Tujuan pendidikan perguruan tinggi ialah untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perguruan tinggi adalah pendidikan tinggi yang merupakan lanjutan dari pendidikan menengah. Tujuan pendidikan perguruan tinggi ialah untuk mempersiapkan peserta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membawa dampak kemajuan diberbagai bidang kehidupan. Untuk dapat mengikuti

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. membawa dampak kemajuan diberbagai bidang kehidupan. Untuk dapat mengikuti 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat akan membawa dampak kemajuan diberbagai bidang kehidupan. Untuk dapat mengikuti perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan. Terkadang orang yang pendidikannya rendah memiliki kehidupan yang rendah juga jika tidak didukung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berjalan secara efektif dan efisien yang dimulai dari perencanaan, mengupayakan agar individu dewasa tersebut mampu menemukan

BAB I PENDAHULUAN. berjalan secara efektif dan efisien yang dimulai dari perencanaan, mengupayakan agar individu dewasa tersebut mampu menemukan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses pembelajaran merupakan upaya secara sistematis yang dilakukan pengajar untuk mewujudkan proses pembelajaran berjalan secara efektif dan efisien yang dimulai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Sistem

BAB I PENDAHULUAN. Dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Sistem BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) Pasal 37 ditegaskan bahwa mata pelajaran matematika merupakan salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting bagi pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Di dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan

Lebih terperinci

Vol. 5 No. 2 Hal ISSN (Print): Juli Desember 2017 ISSN (Online): X

Vol. 5 No. 2 Hal ISSN (Print): Juli Desember 2017 ISSN (Online): X Vol. 5 No. 2 Hal. 34-42 ISSN (Print): 2337-6198 Juli Desember 2017 ISSN (Online): 2337-618X Kemampuan Menyelesaikan Soal Cerita Siswa pada Materi Pokok Sistem Persamaan Linear Dua Variabel Melalui Implementasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penunjang roda pemerintahan, guna mewujudkan cita cita bangsa yang makmur dan

BAB I PENDAHULUAN. penunjang roda pemerintahan, guna mewujudkan cita cita bangsa yang makmur dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Indonesia merupakan salah satu Negara terbesar didunia yang termasuk kategori Negara berkembang yang saat ini menempatkan pendidikan sebagai fondasi dan atau penunjang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. belajar pada suatu lingkungan belajar (UU SPN No.20 Tahun 2003 dalam Sagala,

BAB I PENDAHULUAN. belajar pada suatu lingkungan belajar (UU SPN No.20 Tahun 2003 dalam Sagala, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (UU SPN No.20 Tahun 2003 dalam Sagala, 2005).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi prioritas utama yang harus dipahami oleh setiap peserta didik.

BAB I PENDAHULUAN. menjadi prioritas utama yang harus dipahami oleh setiap peserta didik. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Matematika merupakan salah satu pelajaran yang dianggap paling sulit oleh peserta didik karena matematika memiliki banyak rumus-rumus yang sulit dipahami dan dimengerti.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adalah melalui pendidikan (Noorhayati, 2014: 150). Undang-undang nomor. 20

BAB I PENDAHULUAN. adalah melalui pendidikan (Noorhayati, 2014: 150). Undang-undang nomor. 20 A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Sumber daya manusia sangat berpengaruh dalam kemajuan suatu negara. Salah satu sarana yang efektif dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah melalui pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, pemerintah

BAB I PENDAHULUAN. Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, pemerintah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, pemerintah memprogramkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) sebagai acuan dan pedoman bagi pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. potensi siswa dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar

BAB I PENDAHULUAN. potensi siswa dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan pada dasarnya usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi siswa dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Pendidikan sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan diyakini akan dapat mendorong memaksimalkan potensi siswa sebagai

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan diyakini akan dapat mendorong memaksimalkan potensi siswa sebagai BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan salah satu usaha untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan merupakan suatu kunci pokok untuk mencapai cita-cita suatu bangsa. Pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Melalui hasil observasi selama penulis melakukan Praktek Pengenalan Lapang (PPL) dan sesi wawancara kepada guru di SMP Muhammadiyah 2 Batu diperoleh informasi bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Pendidikan adalah usaha sadar yang sengaja dirancang untuk menciptakan kualitas Sumber Daya Manusia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Belajar pada hakekatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada

I. PENDAHULUAN. Belajar pada hakekatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belajar pada hakekatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada

Lebih terperinci