FAKTOR PENYEBAB SIKAP APATISME MAHASISWA TERHADAP PARTAI POLITIK

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "FAKTOR PENYEBAB SIKAP APATISME MAHASISWA TERHADAP PARTAI POLITIK"

Transkripsi

1 FAKTOR PENYEBAB SIKAP APATISME MAHASISWA TERHADAP PARTAI POLITIK (Studi Pada Mahasiswa Ilmu Pemerintahan dan Budidaya Perairan Angkatan 2014 Universitas Lampung) (skripsi) Oleh M. Gerry Zada Alem FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVESITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2018

2 ABSTRAK FAKTOR PENYEBAB SIKAP APATISME MAHASISWA TERHADAP PARTAI POLITIK (Studi Pada Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Dan Budidaya Perairan Angkatan 2014 Universitas Lampung) OLEH M GERRY ZADA ALEM Apatisme merupakan sikap ketidak-pedulian terhadap suatu hal, dalam konteks penelitian ini adalah apatisme terhadap partai politik. Banyak mahasiswa saat ini merasa fobia terhadap politik. Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk menganalisis faktor penyebab sikap apatis mahasiswa Ilmu Pemerintahan dan mahasiswa Budidaya Perairan Angkatan 2014 pada partai politik. Metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan analisis regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari beberapa faktor yang ada terdapat dua faktor pembentuk sikap apatis mahasiswa pada partai politik. Hasil tersebut mengacu pada hasil perhitungan uji fisher dengan tingkat kepercayaan 95%, dapat diketahui hasil perhitungan menunjukan bahwa secara statistik apatisme, dipengaruhi secara nyata oleh variabel memandang rendah segala manfaat yang diharapkan dari keterlibatan partai politik dan pengetahuan tentang partai politik yang terbatas. Perhitungan parsial variabel memandang rendah segala manfaat dari keterlibatan partai politik memiliki nilai T hitung 12,346 lebih besar dari nilai T tabel 1,706 bahwa secara statistik variabel memandang rendah segala manfaat yang diharapkan dari keterlibatan partai politik berpengaruh positif terhadap apatisme. Perhitungan parsial variabel pengetahuan politik yang terbatas memiliki nilai T hitung 10,890 lebih besar dari nilai T tabel 1,706 bahwa secara statistik variabel pengetahuan politik yang terbatas Berpengaruh positif terhadap variabel apatisme Kata kunci: Apatisme, Mahasiswa, Partai Politik

3 ABSTRACT FACTORS CAUSING STUDENT APATIC ATTITUDES AGAINST POLITICAL PARTIES (Study of Students of Governance and Aquaculture of the University of Lampung in 2014) BY M GERRY ZADA ALEM Apathy is an attitude of ignorance towards something, in the context of this research is apathy towards political parties. Many students today feel a phobia of politics. The purpose of this thesis is to analyze the factors that cause apathy of students of Government and Student Sciences Aquaculture Force 2014 in political parties. The research method used in this study is quantitative research using linear regression analysis. The results of the study show that from several factors there are two factors forming student apathy in political parties. These results refer to the results of the fisher test calculation with a confidence level of 95%, it can be seen that the calculation results show that statistically apathy is significantly affected by the variables looking down on all the expected benefits from the involvement of political parties and limited knowledge of political parties. The partial calculation of variables underestimates all the benefits of the involvement of political parties having a T value of 12,346 greater than the value of T table 1,706 that statistically the variables look down on all the benefits expected from the involvement of political parties positively influence apathy. The partial calculation of limited political knowledge variables has a T value of greater than the value of T table that statistically limited political knowledge variables have a positive effect on the variable apathy Keywords: Apathy, Student, Political Party.

4 FAKTOR PENYEBAB SIKAP APATISME MAHASISWA TERHADAP PARTAI POLITIK (Studi Pada Mahasiswa Ilmu Pemerintahan dan Budidaya Perairan Angkatan 2014 Universitas Lampung) Oleh M. GERRY ZADA ALEM Skripsi Sebagai salah satu syarat mencapai gelar SARJANA ILMU PEMERINTAHAN Pada Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2018

5

6

7

8 RIWAYAT HIDUP Penulis bernama M. Gerry Zada Alem, dilahirkan di Tanjung Karang pada 09 Maret Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, putra dari Bapak Saripudin dan Ibu Dian Puspadewi. Jenjang pendidikan penulis dimulai dari tahun di SDN 1 Way Urang, Kalianda. Setelah lulus SD penulis menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama di SMP Al Kautsar tahun dan melanjutkan ke jenjang Sekolah Menengah Atas di SMA Al Kautsar tahun Pada tahun 2014 penulis melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri Universitas Lampung melalui jalur SNMPTN. Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik tahun Pada tahun 2018 penulis menyelesaikan program Studi S1 Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Lampung.

9 MOTTO Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi kemenanganmu, dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang MahaPerkasa dan maha Bijaksana (Ali Imran, 3: 126) Jangan menunggu. Takkan pernah ada waktu yang tepat (Napoleon Hill) Tidak ada suatu masalah yang tidak dapat diselesaikan selama ada komitmen dan tujuan untuk menyelesaikannya (M Gerry Zada Alem)

10 PERSEMBAHAN Bismillahirrahmanirrahim Alhamdulillahirabbil alamiin telah Engkau Ridhoi Ya Allah langkah hambamu, Sehingga Skripsi ini pada akhirnya dapat terselesaikan pada waktunya. Teriring Shalawat Serta Salam Kepada Nabi Muhammad SAW Semoga Kelak Skripsi ini dapat Memberikan Ilmu yang Bermanfaat dan Ku Persembahkan Karya Sederhana Ini Kepada: Ayahanda Ku Saripudin dan Ibunda Ku Dian Puspadewi Terima Kasih Doa dan Kasih Yang Tiada Habisnya serta Setiap Perjuangan yang telah kalian Curahkan untuk Seluruh Anak-Anaknya. Semoga Karya Ini Dapat Membuat Bangga dan Memberikan Kebahagiaan Atas Segala Jerih dan Payah yang Telah Dikerjakan Kakak dan Adikku Tersayang M. Derry Belva Alem dan M. Almalik Alem. Terima Kasih Atas Segala Doa, Kasih Sayang, Canda Tawa dan Semangat yang Telah Kalian Berikan. Terimakasih untuk saudara-saudara seperjuangan di Jurusan Ilmu Pemerintahan, semoga amal kebaikan yang telah dilakukan mendapat balasan dari Allah SWT Almamater Tercinta Universitas Lampung

11 SANWACANA Bismillahirrahmanirrahim Puji syukur atas keridhoan Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan hidayah, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat serta salam tidak lupa penulis sanjung agungkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan yang baik dan pemimpin bagi kaumnya. Skripsi yang berjudul Faktor Penyebab Sikap Apatisme Mahasiswa Terhadap Partai Politik (Studi Pada Mahasiswa Ilmu Pemerintahan dan Budidaya Perairan Angkatan 2014 Universitas Lampung) sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung. Pada kesempatan ini, penulis sampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan skripsi ini antara lain, yaitu: 1. Kedua orang tua, Ayahanda dan Ibunda tercinta, Saripudin. dan Dian Puspadewi. atas segala doa, cinta dan kasih sayang, dukungan dan semangat serta perhatian yang terus mengalir dan tidak mampu penulis balas segala jasa dan kebaikannya, Semoga Allah SWT selalu memberikan perlindungan,

12 kesehatan, kasih sayang, dan surga-mu serta balasan atas segala jasa dan kebaikan Ayahanda dan Ibunda tercinta. 2. Ibu Dr. Ari Darmastuti, M.A. selaku pembimbing pertama penulis. Terima kasih ilmu, saran, semangat dan motivasi dari awal penulis kuliah hingga penulis menyelesaikan skripsi ini, terima kasih juga atas kebaikan dan rasa pengertian yang tinggi terhadap penulis yang bapak berikan. Semoga segala kebaikan dari Allah SWT selalu tercurah untuk bapak baik di dunia ataupun di akhirat kelak. 3. Bapak Himawan Indrajat, S.I.P., M.Si. selaku pembimbing kedua. Terima kasih atas kesabaran untuk meluangkan waktu dalam menghadapi penulis, atas segala bimbingan ilmu, saran yang sangat bermanfaat serta motivasi dan semangat untuk menghasilkan skripsi yang baik dan benar sehingga atas kebaikan bapak, penulis mampu menyelesaikan skripsi dan studi pada waktunya. Semoga segala kebaikan dari Allah SWT selalu tercurah untuk bapak baik di dunia ataupun di akhirat kelak. 4. Bapak Budi Harjo, S.Sos., M.IP. selaku dosen pembahas. Terima kasih atas segala kritik dan saran yang membangun demi terciptanya progres yang signifikan terhadap skripsi penulis hingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih atas segala ilmu yang sangat bermanfaat bagi penulis. Semoga segala kebaikan dari Allah SWT selalu tercurah untuk ibu baik di dunia ataupun di akhirat kelak. 5. Seluruh dosen dan Staf Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP Unila, terima kasih atas ilmu-ilmu yang diberikan sehingga mampu menjadi jendela wawasan bagi penulis di masa kini dan di masa yang akan datang. Semoga segala

13 kebaikan dari Allah SWT selalu tercurah untuk bapak dan ibu baik di dunia ataupun di akhirat kelak. 6. Sahabatku Theo Reynol Sandy, Meriyantika Eka Fithri, Andri Agung Saputra, Ulfa Umayasari, Elyta, Elyas Yahya, Shohib Abdul Aziz, dan Al Araaf Yusuf. Sahabat Penulis dari Awal masuk kuliah sampai sekarang. Semoga kita tidak melupakan satu sama lain setelah tamat kuliah nanti. 7. Kawan-kawan angkatan 2014 yang sedang berjuang, maaf tidak bisa menyebutkan satu persatu. Terima kasih atas semua doa dan dukungannya. Semoga kalian selalu diberi kemudahan dan kelancaran dalam menjalankan proses kelulusan. Bandar Lampung, 19 Desember 2018 M. Gerry Zada Alem

14 DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... xi DAFTAR TABEL... xiii BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Rumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sikap Politik Mahasiswa Sikap Politik Mahasiswa B. Apatisme Politik Ciri-Ciri Apatisme Faktor Penyebab Apatisme C. Partai Politik Definisi Partai Politik Fungsi Partai Politik D. Apatisme Mahasiswa Terhadap Partai Politik E. Kerangka Pikir F. Hipotesis BAB III METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian B. Definisi Konseptual C. Definisi Operasional D. Lokasi Penelitian E. Metode Pengumpulan Data F. Populasi dan Sampel Populasi Sampel dan Teknik Sampel G. Teknik Pengolahan Data H. Teknik Analisis Data I. Uji Hipotesis Uji Hipotesis Secara Keseluruhan Uji Hipotesis Secara Masing-Masing (Parsial) J. Teknik Penentuan Skor... 46

15 K. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas Uji Validitas Uji Reliabilitas BAB IV GAMBARAN UMUM A. Unit Kegiatan Mahasiswa Intra Kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik B. Unit Kegiatan Mahasiswa Intra Kampus Fakultas Pertanian C. Unit Kegiatan Mahasiswa Ekstra Kampus D. Gambaran Tingkat Apatisme Mahasiswa BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Deskripsi Responden Berdasarkan Usia B. Tingkat Apatisme Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan dan Budidaya Perairan Universitas Lampung C. Distribusi Jawaban Responden Faktor Penyebab Apatisme Distribusi Jawaban Responden Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan angakatan Distribusi Jawaban Responden Mahasiswa Jurusan Budidaya Perairan angkatan D. Uji Validitas E. Uji Reliabilitas F. Statistik Deskriptif G. Analisis Regresi Linear BergandaResponden Ilmu Pemerintahan dan Budidaya Perairan angkatan Analisis Korelasi Anatara Variabel X dan Y Pengujian Hipotesis Statistik Secara Keseluruhan Pengujian Pengaruh SecaraParsial Variabel Bebas Terhadap Variabel Terikat (Uji T) a. Hipotesis Statistik b. Uji Signifikansi Nilai T Hitung c. Pengujian Koefisien Parsial (Variabel X1)Responden Mahasiswa Ilmu Pemerintahanangakatan d. Pengujian Koefisien Parsial (Variabel X5)Responden Mahasiswa Budidaya Perairanangakatan H. Pembahasan Memandang Rendah Segala Manfaat yang Diharapkan Dari Keterlibatan Partai Politik Pengetahuan Seorang Tentang Partai Politik yang Terbatas BAB VI SIMPULAN A. Simpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

16 DAFTAR TABEL Tabel halaman 1. Hasil survey polling centre dan ICW tentang tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga negara Tingkat partisipasi pemira unila Tingkat partisipasi pemira unila Karakteristik responden ilmu pemerintahan berdasarkan Jenis kelamin Karakteristik responden budidaya perairan berdasarkan Jenis kelamin Karakteristik responden ilmu pemerintahan berdasarkan usia Karakteristik responden budidaya perairan berdasarkan usia Distribusi jawaban responden mahasiswa jurusan ilmu pemerintahan dan budidaya perairan tentang kriteria sampel yang digunakan dalam penelitian Distribusi jawaban pada variabel tingkat apatisme mahasiswa Jurusan ilmu pemerintahan Distribusi jawaban pada variabel tingkat apatisme mahasiswa Jurusan budidaya perairan Memandang rendah segala manfaat yang diharapkan Dari keterlibatan partai politik Tidak adanya perbedaan yang tegas dengan keadaan sebelumnya Merasa bahwa tidak ada masalah terhadap apa yang dilakukan Karena tidak dapat mengubah dengan jelas hasilnya Merasa bahwa hasil-hasilnya relatif akan memuaskannya Meskipun ia tidak berperan didalamnya Pengetahuan individu tentang partai politik yang terbatas Memandang Rendah Segala Manfaat Yang Diharapkan Dari Keterlibatan Partai Politik Tidak adanya perbedaan yang tegas dengan keadaan sebelumnya Merasa Bahwa Tidak Ada Masalah Terhadap Apa Yang Dilakukan Karena Tidak Dapat Mengubah Dengan Jelas Hasilnya Merasa Bahwa Hasil-Hasilnya Relatif Akan Memuaskannya Meskipum Ia Tidak Berperan Didalamnya Pengetahuan Individu Tentang Partai Politik Yang Terbatas Uji validitas penelitian untuk variabel faktor penyebab apatisme pada responden ilmu pemerintahan Uji validitas penelitian untuk variabel faktor penyebab

17 apatisme pada responden budidaya perairan Uji validitas pertanyaan untuk variabel tingkat apatisme responden mahasiswa ilmu pemerintahan angkatan Uji validitas pertanyaan untuk variabel tingkat apatisme responden mahasiswa ilmu pemerintahan angkatan Pedoman interpretasi koefisien penentu Hasil uji reliabilitas kuisioner pada responden ilmu pemerintahan Hasil uji reliabilitas kuisioner pada responden budidaya perairan Statistik deskriptif responden ilmu pemerintahan Statistik deskriptif responden budidaya perairan Hasil perhitungan signifikansi dan T hitung pada masing masing variabelresponden Ilmu Pemerintahan Hasil Perhitungan Signifikansi dan T-hitung pada Masing-masing Variabel responden Budidaya Perairan Model summary dan anovaresponden Ilmu Pemerintahan Model Summary dan Anova Responden Budidaya Perairan Pedoman untuk memberikan interpretasi terhadap koefisien korelasi... 82

18 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Demokratisasi Indonesia kembali dimulai dengan pengunduran diri Soeharto karena adanya tekanan publik dari mahasiswa. Mahasiswa Indonesia menuntut agar pemilu kembali diadakan serta meminta tindakan efektif pemerintah untuk mengatasi krisis. Baharuddin Jusuf Habibie yang kemudian dilantik menjadi presiden akhirnya melakukan perubahan pada sistem politik Indonesia yaitu dengan melakukan demokratisasi. Salah satu bentuk perwujudan dari perubahan sistem politik tersebut adalah dengan mengizinkan partai politik baru. Lahirnya sistem politik yang baru membuat masyarakat Indonesia menaruh harapan besar terhadap partai politik baru. Perubahan pada sistem politik ini memberikan harapan besar masyarakat untuk kembali percaya terhadap pemerintah. Salah satunya adalah dengan memberikan kesempatan luas bagi masyarakat untuk aktif dalam kegiatan politik, yaitu dengan diadakan kembali pemilu dan mengizinkan terbentuknya partai politik baru yang siap memperjuangkan kepentingan masyarakat. Dengan mundurnya Soeharto dari jabatannya menumbuhkan harapan masyarakat akan lahirnya pemerintahan yang bersih, yang benar-benar memperjuangkan kepentingan masyarakat, serta sebagai langkah awal

19 2 kembalinya hak masyarakat Indonesia untuk ikut aktif dalam kegiatan politik (Sulastomo, 2008). Partai politik merupakan cerminan dari kebebasan masyarakat untuk ikut aktif dalam kegiatan politik. Partai politik memiliki beberapa fungsi antara lain: sebagai sarana komunikasi politik, sebagai sarana sosialisasi politik, sebagai sarana recruitment politik, sebagai sarana pengatur konflik, pendidikan politik bagi masyarakat luas, penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, untuk kesejahteraan masyarakat, penyerap, penghimpun dan penyalur aspirasi politik masyarakat, serta fungsi-fungsi lainnya (Budiardjo, 2008). Seiring dengan berjalannya waktu, faktanya partai politik saat ini tidak lagi sesuai dari apa yang diharapkan oleh masyarakat dahulu pada awal lahirnya masa reformasi. Dunia perpolitikan Indonesia saat ini banyak sekali mendapatkan stigma buruk akibat banyak pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh kader-kader partai politik yang tidak amanah setelah berhasil mendapatkan kursi pemerintahan. Peneliti Korupsi Politik Indonesia Corruption Watch (ICW), Almas Sjafrina mengungkapkan menurut catatan ICW selama dua tahun belakangan sebanyak sebelas kepala daerah terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sebagian besar para kepala daerah merupakan kader partai politik. ( diakses pada Sabtu, 28 Oktober 2017).

20 3 Contoh kasus korupsi yang melibatkan kader partai politik yaitu kasus korupsi E-KTP yang melibatkan empat belas kader partai politik antara lain: Chaeruman Harahap, Agun Gunanjar Sudarsa, Taufiq Hidayat, dan Mustoko Weni Murdi anggota Partai Golkar. Ganjar Pranowo, Yassona H. Laoly, dan Arief Wibowo kader dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Taufik Effendi dan Khatibul Umam Wiranu kader dari Partai Demokrat.amal Aziz dan Miryam S Haryani kader dari Partai Hati Nurani Rakyat ( diakses pada 12 Februari 2018). Hasil survei nasional yang dilakukan pada periode April dan Mei 2017 oleh lembaga survey polling centre, bekerja sama dengan Indonesia Corruption Watch (ICW), temuan survey adalah lembaga yang dipercayai public setelah KPK, dan Presiden adalah BPK, Mahkamah Agung (MA), dan media. Partai politik ada di urutan paling bawah. Adapun perolehannya sebagai berikut: Tabel 1. Hasil survey Polling Centre dan ICW Tentang Tingkat Kepercayaan Masyarakat Terhadap Lembaga Negara. No Nama lembaga Persentase kepercayaan 1 Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 86% 2 Presiden 86% 3 Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) 72% 4 Mahkamah Agung (MA) 66% 5 Media Massa 64% 6 Kejaksaan Agung 63% 7 Pemerintah Daerah 63% 8 LSM/Ormas 63% 9 Kementrian 62% 10 Polisi 57% 11 Ombudsman RI (ORI) 54% 12 Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) 51% 13 Perusahaan Swasta 49% 14 Partai politik 35% Sumber : (diakses pada sabtu, 28 Oktober 2017)

21 4 Banyaknya kasus yang dilakukan oleh kader partai politik tersebut membuat kalangan mahasiswa menjadi antipati terhadap partai politik. Mahasiswa yang dikenal sebagai penggerak demokrasi mulai jenuh terhadap pelanggaran pelanggaran yang dilakukan kader partai politik. Akibatnya, mahasiswa yang dikenal dengan kritisnya kini menjadi apatis terhadap partai politik. Partai politik di Indonesia sejak mulai masa berdirinya hingga sekarang, dianggap sebuah lembaga yang setiap periodenya ikut berpartisipasi dalam pemilu secara rutin. Dalam tataran teori politik, belum ada alternatif yang pas untuk meramu representasi politik selain dengan campur tangan parpol. Representasi regional, yang kemudian terangkum ke dalam Dewan Perwakilan Daerah (DPD), ternyata memiliki keterbatasan dalam hal wewenang. Itu pun hanya berlaku di pusat, bukan di daerah. Sementara perwakilan-perwakilan rakyat di parlemen daerah praksis hanya diisi oleh wakil-wakil partai. Oleh karena itu, anak muda yang secara politik berpreferensi kepada demokrasi (keterbukaan, akuntabilitas publik, kebebasan, dan lain-lain), jika ingin secara nyata mengabdi untuk memperbaiki demokrasi, jalur parpol adalah salah satu opsi yang mungkin dan layak. Kurang responsifnya partai-partai terhadap preferensi dan kepentingan politik anak muda, boleh jadi salah satunya memang karena anak muda kurang bersemangat untuk berjuang di dalam tubuh partai. Hal ini menumbuhkan sikap apatis generasi muda dalam memandang perpolitikan di Indonesia.

22 5 Perpolitikan dianggap sebagai sesuatu yang tidak menarik karena mereka menganggap politik tidak memberikan manfaat secara langsung terhadap mereka. Banyak keburukan-keburukan yang dilakukan oleh partai politik juga menimbulkan ketidak-percayaan generasi muda terhadap partai politik ( diakses pada 28 Januari 2018). Pernyataan ini diperkuat dengan data penelitian kuantitatif yang menunjukan bahwa sikap kritis dalam prilaku mahasiswa, di rumah, di lingkungan masyarakat, dan di kampus lebih rendah dibandingkan dengan wujud sikap kritis dalam bentuk intelektual yaitu sekitar (47,57%-55,68%). Namun, nilai sikap kritis mahasiswa ini tidak cukup tinggi, dengan rata rata 219,47 dan 241,91, sedangkan yang dianggap baik antara 340. Mahasiswa lebih perhatian terhadap dirinya dan lingkungan keluarga daripada perhatian kepada masyarakat (Rahayu, 2003). Generasi muda cenderung lebih bersifat apatis terhadap perpolitikan. Menurut Edwards (2004), menyatakan : bahwa kelompok usia adalah yang paling apatis terhadap proses demokrasi. survei persentase luas mahasiswa di sebuah universitas daerah menengah di Amerika Serikat tenggara. Survei ini dilakukan dalam rangka untuk mengukur pendaftaran pemilih dan partisipasi, kesadaran masyarakat, dan rata-rata bersandar politik siswa. Apatisme politik juga dibahas dalam jurnal Michel Nelson dan Morris Rosenberg, dalam jurnal tersebut membahas tentang pendapat mahasiswa tentang politik, dan menemukan mahasiswa cenderung mengartikan politik sebagai suatu yang negatif. Serta perkembangan apatisme yang menyebabkan permasalahan sosial yang menghambat partisipasi dalam proses demokrasi.

23 6 Michel Nelson (1997), menyatakan : Pernah memberikan permainan yang menarik dari asosiasi kata, dia menggunakan pada hari pertama dari kelas pengantar pemerintah Amerika. Ketika ia mengatakan politik, siswa membalas dengan korup, kotor, game-playing, perjalanan ego, pemborosan Morris Rosenberg (1954), menyatakan : Ketidak pedulian politik yang meluas di Amerika telah menimbulkan banyak kekhawatiran di kalangan politisi dan ilmuwan sosial. Dalam studi di mana artikel ini didasarkan, penulis menemukan hambatan sosial, cenderung menghambat partisipasi dalam proses demokrasi. Apatisme politik yang berkembang pada kalangan mahasiswa, tidak terlepas dari sejarah lahirnya golongan putih (golput). Mereka adalah pemilih dalam pemilu yang tidak menggunakan hak pilihnya. Awalnya, golput adalah gerakan protes dari para mahasiswa dan pemuda untuk memprotes pelaksanaan pemilu Ini adalah pemilihan umum pertama di era Orde Baru. Pesertanya 10 partai politik, jauh lebih sedikit daripada pemilu 1955 yang diikuti 172 partai politik. Tokoh yang terkenal memimpin gerakan golput adalah Arief Budiman. Sepanjang Orde Baru, ia dianggap pembangkang dan sulit mendapatkan pekerjaan walau ia seorang doktor lulusan Harvard. Dia kemudian menjadi dosen di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga dan Universitas Melbourne. Namun, pencetus istilah golput ini sendiri adalah Imam Waluyo. Dipakai istilah putih karena gerakan ini menganjurkan agar mencoblos bagian putih pada kertas atau surat suara. Diluar gambar partai politik peserta.

24 7 Pemilu.Ini tentu bagi yang datang ke bilik suara. Namun, di masa itu, jarang ada yang berani tidak datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) karena akan ditandai. Maklum, baru saja Orde Baru selesai melakukan konsolidasi dengan melibas habis bukan saja pendukung PKI (Partai Komunis Indonesia) tapi juga para pendukung rezim Orde Lama dan para Soekarnois. Pemilu 1971 adalah sarana bagi rezim Orde Baru untuk memantapkan kekuasaannya di negeri ini (Prasetyo, 2014). Kebanyakan tokoh pencetus Golput sendiri adalah Angkatan 66. Ini adalah sebutan bagi mahasiswa dan pemuda yang ikut dalam demonstrasi massa besar menuntut penjungkalan Soekarno. Sebagian dari tokoh Angkatan 66 diakomodasi Orde Baru ke dalam sistem.mereka ada yang menjadi anggota DPR-GR (Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong), bahkan kemudian ada yang menjadi Menteri.Namun, tetap kritis melawan rezim baru yang dianggap mengingkari janji itu (Prasetyo, 2014). Setelah Golput, ada pula gerakan menolak pembangunan Taman Mini Indonesia Indah. Juga ada Gerakan Anti Kebodohan, hingga Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) Orde Baru kemudian memberangus potensi mahasiswa dengan melakukan tindakan kritis. Semenjak Daoed Joesoef dilantik pada tahun 1979 pergerakan mahasiswa sangat dibatasi dengan di berlakukannya Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) melalui SK No.0156/U/1078. Konsep ini mencoba mengarahkan mahasiswa hanya menuju pada jalur akademik dan menjauh dari aktivitas politik karena dinilai secara nyata dapat membahayakan posisi rezim.

25 8 Menyusul diadakannya konsep NKK maka pemerintah melakukan tindakan pembekuan terhadap beberapa organisasi mahasiswa. Kemudian di bentuk struktur organisasi baru yang disebut Badan Koordinator Kampus (BKK) berdasarkan SK No. 37/U/1979. Kebijakan ini membahas tentang bentuk susunan lembaga organisasi kemahasiswaan di lingkungan perguruan tinggi. Meskipun tidak dikatakan secara terang-terangan (implisif) Kebijakan BKK sebenarnya melarang menghidupkannya organisasi mahasiswa dan hanya mengizinkan menghidupkan organisasi mahasiswa tingkat Fakultas. Namun, hal lain dari SK ini memberikan wewenang kekuasaan kepada rektor dan pembantu rektor untuk menentukan kegiatan mahasiswa, yang menurutnya sebagai wujud tanggung jawab pembentukan, pengarah dan pengembangan lembaga kemahasiswaan. Adanya konsep NKK membuat mahasiswa hanya disibukkan dengan kegiatan kuliah tanpa diberi celah untuk terjun kedunia politik. Dari sinilah apatisme mahasiswa terhadap pergerakan mulai tumbuh dan berkembang, karena ketika orientasi studi dan pengenalan kampus para mahasiswa baru tidak diperkenalkan dengan mahasiswa yang menjalankan fungsi dan peran yang sesungguhnya. Mahasiswa berubah menjadi sangat apatis pada pergerakan dan organisasi kampus baik internal maupun eksternal. Konsep NKK inilah yang kemudian secara perlahan merubah mahasiswa menjadi apatis terhadap kegiatan yang berorientasi pada politik (Argenti, 2016). Diberlakukannya konsep NKK merupakan ekses dari gerakan golput yang semula dimulai di Pemilu 1971 dan ternyata terus berlanjut hingga pemilu

26 9 1977, bahkan di sepanjang pemilu Orde Baru. Kini, setelah reformasi 1998, Golput disematkan pada siapa pun warga negara yang tidak menggunakan hak pilihnya. Bukan saja kepada mereka yang peduli dengan kondisi politik dengan sengaja tidak memilih, tapi juga yang apatis dan tidak peduli karena tidak datang ke TPS dan malah memilih berlibur atau beraktivitas lain (Argenti, 2016). Apatis terhadap proses politik yang terjadi di Indonesia juga bukan hanya dilatari oleh pilihan tindakan personal tapi juga merupakan sikap umum masyarakat. Ide citra politik ini tidak berkembang dengan sendirinya, melainkan didapat dari media massa yang juga milik beberapa tokoh politik yang merangkap sebagai pengusaha. Apatisme masyarakat dalam demokrasi bukanlah masalah yang sepele, di dalam demokrasi asalkan seluruh masyarakat mendapatkan akses yang sama terhadap penguasa, setiap rezim yang berkuasa dilegitimasi oleh pemilu. Pemilu sebagai sumber legitimasi mengandalkan partisipasi setiap warga negara untuk ikut memilih penguasa. Ukuran kesuksesan pemilu tersebut dijadikan ukuran legitimasi bagi kekuasaan. Oleh karena itu, apatisme dianggap berbahaya bagi negara demokratis karena akan mengarah pada krisis legitimasi kekuasaan. ( diakses pada 8 April 2018) Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2019 jumlah pemilih pemula di Indonesia sudah mencapai 60 juta orang. Bahkan, pemilih pemuda di bawah usia 35 tahun mendekati angka 100 juta orang. Hal ini akan

27 10 berbahaya apabila pemilih muda tersebut lebih banyak bersikap apatis terhadap perpolitikan di Indonesia. Meskipun begitu beberapa generasi muda juga ada yang telah paham dalam perpolitikan di Indonesia. ( Diakses pada 8 April 2018). Salah satu aksi yang menggemparkan dunia perpolitikan saat ini adalah yang dilakukan oleh Tsamara Amany mahasiswi Universitas Paramadina, yang mengkritik Fakhri Hamzah, wakil ketua DPR. Tsamara mengkritik DPR yang dinilai selama ini belum bekerja secara efektif. Ia menyebut Pansus Hak Angket KPK yang dibentuk DPR malah menciptakan masalah baru, bukan menyelesaikan masalah yang ada. Aksi Tsamara Amany menjadi viral di media sosial karena dianggap baru dan berani dengan kenyataan bahwa usianya masih 21 tahun. ( diakses pada 2 Februari 2018) Diwakili aksi Tsamara Amany, maka membuka pertanyaan, bagaimana sebenarnya pandangan anak muda di Indonesia mengenai perpolitikan di Indonesia. Apakah dengan hadirnya partai partai baru yang mengakomodir kepentingan anak muda, akan memberikan perubahan pada sikap politik mereka. Apakah anak muda di Indonesia secara keseluruhan diwakili oleh sosok Tsamara yang antusias mengikuti bahkan terjun ke dunia politik, Ataukah kenyataannya justru sebaliknya yaitu sebagian dari mereka masih apatis terhadap politik.

28 11 Melihat fenomena tersebut peneliti melihat hal menarik pada lingkungan mahasiswa Universitas Lampung. Salah satu perwujudan demokrasi yaitu miniatur pemilu di Universitas Lampung adalah pemilihan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Tidak sedikit mahasiswa Universitas Lampung yang bersikap apatis terhadap proses demokrasi tersebut. Berikut data tingkat partisipasi mahasiswa pada pada pemira tahun Tabel 2. Tingkat Partisipasi PemiraUnila no Nama Fakultas Fakultas Kedokte ran Fakultas MIFA Fakultas Pertania n Fakultas Teknik Fakultas Ekonomi & Bisnis Jumla h DPT Total Surat Suara Surat Suara Terpa kai Surat Suara Tidak Terpakai DPT yang Terpakai Jumlah Suara Calon 1 Jumla h Suara Calon 2 Jumla h Suara Tidak Sah FISIP Fakultas Hukum FKIP Polim (Panglim a Polim) Metro Jumlah Sumber : Pansus Pemira Unila, Tahun 2016 Temuan lainnya peneliti melakukan pra-riset di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) dimana pemira kembali diadakan pada tahun 2014, setelah sebelumnya tidak pernah diadakan kembali sejak tahun Namun setelah pemilihan pertama pada tahun 2014 pemilihan selanjutnya tidak ada pemira yang akhirnya menjadikan pasangan tunggal menjadi gubernur BEM fakultas

29 12 periode 2015/2016 dan 2016/2017. Pada saat pemira tidak diadakan kembali tidak ada protes dari kalangan mahasiswa, khususnya pada mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan. Temuan lainnya, didapatkan dari hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa jurusan Budidaya Perairan yang menghasilkan bahwa jurusan Budidaya Perairan lebih sedikit mendapatkan pendidikan politik dibandingkan dengan jurusan Ilmu Pemerintahan. Sehingga peneliti beranggapan bahwa pengetahuan mahasiswa jursan Budidaya Perairan lebih rendah dibandingkan dengan mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan. Selanjutnya peneliti melakukan pra-riset pada Fakultas Pertanian dan mendapatkan data Fakultas Pertanian tidak pernah diadakan pemira dan hal ini tidak menimbulkan aksi protes mahasiswa terhadap demokrasi kampus di Fakultas Pertanian. Berdasarkan hasil wawancara tertutup dengan salah satu jurusan di Fakultas Pertanian khususnya mahasiswa Jurusan Budidaya Perairan menghasilkan data bahwa Jurusan Budidaya Perairan memiliki keaktifan organisasi yang cukup tinggi, hal ini dapat dilihat dari organisasi Himpunan Mahasiswa Perikanan dan Ilmu Kelautan (Himapik) pada angkatan 2014 yang memiliki keanggotaan yang aktif. Melihat fenomena tersebut peneliti melakukan survey untuk mengetahui berapa banyak mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan dan Budidaya Perairan angkatn 2014 dan menghasilkan pada Jurusan Ilmu Pemerintahan 84 dari 114 Mahasiswa memiliki gejala aptisme yaitu sebesar 73, 68%. Sedangkan pada

30 13 mahasiswa Jurusan Budidaya Perairan 63 dari 80 mahasiwa memiliki gejala apatisme yaitu sebesar 78,75% Sebelumnya penelitian tentang sikap apatisme pernah dilakukan oleh Arnadi mahasiswa FISIP Jurusan Ilmu Pemerintahan pada tahun Tetapi hanya menganalisis pada satu kelompok obyek penelitian pada ilmu sosial yang dianggap masih kurang lengkap menggambarkan tentang sikap apatisme mahasiswa Universitas Lampung. Berdasarkan pemaparan dari latar belakang di atas. Fenomena inilah yang menjadi alasan mengapa peneliti tertarik untuk melengkapi. penelitian sebelumnya khususnya pada mahasiswa ilmu eksak dan ilmu sosial. tentang apa yang menjadi penyebab apatisme mahasiswa terhadap partai politik. B. Rumusan Masalah Berdasarkan deskripsi latar belakang tersebut maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, apakah faktor penyebab sikap apatisme mahasiswa berpengaruh terhadap sikap apatisme mahasiswa pada partai politik C. Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian skripsi ini adalah untuk mengetahui faktor manakah yang berpengaruh dalam terbentuknya sikap apatisme mahasiswa Universitas Lampung pada partai politik

31 14 D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Diharapkan penelitian ini nantinya dapat dijadikan sebagai acuan bagi para peneliti lain dalam mengukur tingkat apatisme mahasiswa di bidang Ilmu Politik. Sekaligus memberikan pertimbangan dalam mengatasi permasalahan apatisme di kalangan mahasiswa terhadap partai politik. 2. Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran tentang faktor penyebab apatisme kepada peneliti lain dan partai politik tentang sikap apatisme. Sekaligus memberikan gambaran kepada pemerintah dalam mengatasi sikap apatisme khususnya pada kalangan mahasiswa, agar mampu menentukan langkah yang tepat dalam mengatasi muculnya sikap apatisme mahasiswa terhadap partai politik.

32 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Sikap Politik Mahasiswa 1. Sikap Politik Menurut Fishben & Ajzen, sikap sebagai predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara konsisten dalam cara tertentu berkenaan dengan objek tertentu. Sherif & Sherif menyatakan bahwa sikap menentukan keajegan dan kekhasan perilaku seseorang dalam hubungannya dengan stimulus manusia atau kejadian tertentu. Sikap merupakan suatu keadaan yang memungkinkan timbulnya suatu perbuatan atau tingkah laku (Dayakisni & Hudaniah, 2003). Bimo Walgito (1986), memberikan pengertian sikap yang menggerakan untuk bertindak, menyertai manusia dengan perasaan tertentu didalam menanggapi objek dan terbentuknya atas dasar pengalaman. Sehingga yang dimaksud sikap adalah kecenderungan yang terdapat dalam diri manusia yang menimbulkan efek positif yaitu senang atau setuju dan efek negatif yang merupakan perasaan menolak terhadap suatu objek atau situasi tertentu.

33 16 Berdasarkan pandangan para ahli, dapat disimpulkan bahwa sikap adalah tindakan atau tingkah laku seseorang sebagai respon terhadap suatu objek berdasarkan nilai-nilai yang telah dipelajarai dan dipahami atas dasar pengalaman, yang menimbulkan efek positif yaitu senang atau setuju dan efek negatif yang merupakan perasaan menolak terhadap suatu objek atau situasi tertentu. Sedangkan sikap politik mahasiswa adalah tindakan atau tingkah laku mahasiswa sebagai respon terhadap suatu objek berdasarkan nilai-nilai yang telah dipelajari dan dipahami. Almond dan Verba (1990) dalam teori budaya politiknya menyatakan bahwa budaya politik adalah sikap orientasi yang khas dari warga negara terhadap sistem politik dan aneka ragam bagiannya dan sikap terhadap peranan warga negara yang ada dalam sistem itu. Almond (1990) membagi komponen sikap tersebut menjadi tiga yaitu: 1. Komponen kognitif Komponen kognitif merupakan pemahaman dan keyakinan individu terhadap sistem politik dan atributnya. 2. Komponen afektif Komponen afektif merupakan komponen yang menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Secara umum, komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Komponen sikap afektif perlu mendapatkan penekanan secara khusus karena sikap afektif ini merupakan sumber motif yang terdapat di dalam diri seseorang. Menurut Abu Ahmadi (2002) Aspek afektif yaitu aspek

34 17 yang berwujud proses yang menyangkut perasaan-perasaan tertentuseperti ketakutan, kedengkian, simpati, antipati dan sebagainya yang ditujukan kepada objek-objek tertentu. 3. Komponen evaluatif Komponen evaluatif yaitu keputusan dan pendapat seseorang tentang obyek-obyek politik yang secara tipikal melibatkan standar nilai dan kriteria dengan informasi dan perasaan.norma-norma yang dianut menjadi dasar dan sikap penilaian atau evaluasi terhadap sistem politik. Almond (1990) Membagi bentuk partisipasi politik menjadi dua bagian yaitu: 1. Konvensional Pemberian suara (voting), diskusi politik, kegiatan kampanye, membentuk dan bergabung dalam kelompok kepentingan, komunikasi individual dengan pejabat politik dan administratif. 2. Non Konvensional Pengajuan petisi, berdemonstrasi, konfrontasi, mogok, tindakan kekerasan politik terhadap harta-benda (perusakan, pengeboman dan pembakaran), tindakan kekerasan politik terhadap manusia (penculikan, pembunuhan, perang griliya dan revolusi) 2. Mahasiswa Mahasiswa adalah orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di universitas, institut atau akademi. Mahasiswa yang terdaftar sebagai murid

35 18 di perguruan tinggi dapat disebut sebagai mahasiswa (Takwin, 2008). Tetapi pada dasarnya makna mahasiswa tidak sesempit itu. Terdaftar sebagai mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi hanyalah syarat administratif menjadi mahasiswa, tetapi menjadi mahasiswa mengandung pengertian yang lebih luas dari sekedar masalah administratif itu sendiri. Menyandang gelar mahasiswa merupakan suatu kebanggaan sekaligus tantangan. Betapa tidak, ekspektasi dan tanggung jawab yang diemban oleh mahasiswa begitu besar. Pengertian mahasiswa tidak bisa diartikan kata perkata, Mahasiswa adalah Seorang agen pembawa perubahan. Menjadi seorang yang dapat memberikan solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh suatu masyarakat bangsa di berbagai belahan dunia. B. Apatisme Politik Apatis adalah sikap masyarakat yang masa bodoh dan tidak mempunyai minat atau perhatian terhadap orang lain, keadaan, serta gejala-gejala sosial politik pada umumnya. Apatisme merupakan sikap acuh tak acuh terhadap sebuah hal, dalam hal ini adalah politik. Apatisme masyarakat terhadap politik dilatari oleh dua aspek yaitu rendahnya kepercayaan terhadap politik yang berlangsung dan rendahnya ketertarikan masyarakat terhadap politik. Apatisme adalah kata serapan dari Bahasa Inggris, yaitu apathy. Kata tersebut diadaptasi dari Bahasa Yunani, yaitu apathes yang secara harfiah berarti tanpa perasaan. Definisi apatisme, yaitu hilangnya simpati, ketertarikan, dan

36 19 antusiasme terhadap suatu objek. Jadi apatisme politik adalah ketidakpedulian masyarakat terhadap pelaksanaan politik dalam pemerintahan. Menurut Solmitz, apatisme adalah ketidak-pedulian individu dimana mahasiswa tidak memiliki minat atau tidak adanya perhatian terhadap aspekaspek tertentu seperti kehidupan sosial maupun aspek fisik dan emosional (Ahmed, Ajmal, Khalid & Sarfaraz, 2012). Dan pada tahun 2000, apatis adalah istilah lain untuk sifat pasif, tunduk bahkan mati rasa terutama terhadap hal-hal yang menyangkut isu sosial, ekonomi, lingkungan, dan politik (Ahmed, et. Al, 2012) Mills berpendapat bahwa pentingnya bagi semua untuk berpendapat dalam pemerintahan, termasuk anak muda. Karena memiliki atau menyampaikan suara sama saja dengan berpartisipasi. Ketidak-percayaan remaja kepada pihak pemerintahan juga lebih tinggi dibandingkan oleh orang dewasa. Mahasiswa juga kurang tertarik terhadap politik dan isu-isu umum. Pengetahuan mahasiswa tentang institusi politik dan proses demokratik juga kurang karena mahasiswa kurang tertarik untuk mencari informasi politik dan kurang mau berpartisipasi (Etnel, 2010) Berdasarkan beberapa pendapat ahli diatas dapat disimpulkan apatisme politik merupakan ketidak-pedulian individu dimana tidak memiliki minat atau tidak adanya perhatian terhadap aspek-aspek tertentu seperti hal-hal yang menyangkut isu sosial, ekonomi, lingkungan, dan politik. Tanpa adanya keinginan untuk berpartisipasi, remaja akan kehilangan kesempatan besar dalam meningkatkan keahlian dalam berpartisipasi dalam politik.

37 20 Apatisme masyarakat di indonesia mengambil bentuk ketidak-acuhan masyarakat terhadap perkembangan politik dengan memvisualisasikan politik sebagai permainan kotor sedangkan dalam ajang pemilihan umum, masyarakat sebagai pemilih cenderung hanya melakukan ritual demokrasi dengan datang memberikan suara tanpa mempertimbangkan pilihannya dengan baik (Saptamaji, M. Rolip apatisme politik masyrakat indonesia dalam Tugas Paper mengenai Isu Politik Kontemporer. Pasca Sarjana Ilmu Politik). Ini sebenarnya harus dihindari bahwa politisi sewajarnya tidak menjadikannya elit dan jauh dari masyarakat, justru yang memegang kekuasaan tertinggi adalah masyarakat itu sendiri dan politisi seharusnya menjadi pelayan masyakarat dan penyambung lidah rakyat untuk kepentingan bersama dalam berbangsa dan bernegara. 1. Ciri-ciri Apatisme Apatisme menurut Michael Rush (2001) mempunyai ciri-ciri yaitu : a. Ketidakmampuan untuk mengakui tanggung jawab pribadi, untuk menyelidiki atau bahkan untuk menerima emosi dan perasaan sendiri. b. Perasaan samar-samar, dan yang tidak dapat dipahami, rasa susah, tidak aman dan merasa terancam. c. Menerima secara mutlak tanpa tantangan otoritas sah (kode-kode sosial, orang tua, agama) dan nilai-nilai konvensional membentuk satu pola yang cocok dengan diri sendiri, yang dalam situasi klinis disebut dengan kepasifan (pasifitas).

38 21 2. Faktor Penyebab Sikap Apatisme Menurut Morris Rosenberg (Rush, 2001) mengemukakan ada tiga alasan pokok orang menghindari dari aktivitas politik disebabkan oleh tiga alasan, yaitu : a. Karena ketakutan akan konsekuensi negatif dari aktivitas politik. Orang beranggapan bahwa aktivitas politik merupakan ancaman bagi kehidupannya. b. Karena orang beranggapan bahwa berpartisipasi dalam kehidupan politik merupakan kesia-siaan. Orang merasa tidak ada gunanya berpartisipasi karena tidak akan memperngaruhi proses politik. c. Karena tidak adanya rangsangan untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik. Politik bukanlah sesuatu yang penting untuk ditekuni. Politik tidaklah lebih penting daripada menyelesaikan pekerjaan atau rutinitas. Menurut Robert Dahl (Efriza, 2012) terdapat bebearapa faktor untuk mengkaji penyebab sikap apatisme mahasiswa pada partai politik, menyebutkan ada 5 faktor sebagai berikut : a. Seseorang mungkin kurang tertarik dalam politik, jika mahasiswa memandang rendah terhadap segala manfaat yang diharapkan dari keterlibatan politik, dibanding dengan manfaat yang akan diperoleh dari berbagai aktivitas lainnya. Terdapat dua kategori kepuasan dari keterlibatan dalam aktivitas politik, yakni kepuasan langsung yang diterima dari aktivitasnya sendiri dan keuntungan instrumental.

39 22 Pertama, kepuasan langsung dengan kawan atau kenalannya yang dapat meningkatkan martabat dari dalam pergaulan dengan orangorang penting atau mendapatkan peluang informasi terbatas dan daya teknik politik sebagai arena persaingan dan sebagainya. Kedua, keuntungan instrumental adalah keuntungan khusus bagi orang-orang tertentu atau keluarga yang dapat memperoleh pekerjaan dari pimpinan partai, seperti diangkat jadi panitia dan keuntungan yang didapat dari kebijaksanaan pemerintah. b. Seseorang merasa tidak melihat adanya perbedaan yang tegas antara keadaan sebelumnya, sehingga apa yang dilakukan seseorang tersebut tidaklah menjadi persoalan. Hal itu, misalnya, seseorang yang tidak peduli terhadap partai politik yang menang dalam pemilu sebab diyakininya bahwa hal itu tidak akan mengubah keadaan dan mempengaruhi dirinya. c. Seseorang cenderung kurang terlibat dalam partai politik jika merasa bahwa tidak ada masalah terhadap apa yang dilakukan, karena tidak dapat mengubah dengan jelas hasilnya. d. Seseorang cenderung kurang terlibat dalam partai politik jika merasa bahwa hasil-hasilnya relatif akan memuaskan orang tersebut sekalipun ia tidak berperan di dalamnya. e. Jika pengetahuan seseorang tentang partai politik tersebut terbatas untuk dapat menjadi efektif.

40 23 C. Partai Politik 1. Definisi Partai Politik Istilah partai, menurut Maurice Duveger adalah faksi-faksi dalam republik-republik masa lalu. Partai dalam arti yang sesungguhnya adalah di mana sistem demokrasi menghendaki adanya keikut-sertaan masyarakat luas dalam proses politik (Amal: 1996). George B. de Huszar dan Thomas H. Stevenson, mengartikan partai politik sebagai sekelompok orang yang terorganisi untuk ikut serta mengendalikan suatu pemertintahan agar dapat melaksanakan programnya dan menempatkan orang-orangnya dalam jabatan. Pendapat tersebut, menitik-beratkan bahwa partai politik sebagai organisasi yang berorientasi secara langsung kepada penguasaan pemerintahan (Budiarjo: 2008) Partai politik sebagai organisasi dari aktivis-aktivis politik yang berusaha untuk menguasai kekuasaan pemerintah serta merebut dukungan rakyat melalui persaingan dengan suatu golongan atau golongan lain yang mempunyai pandangan berbeda (Neumann, 1956). Carl. J. Freidrich mengartikan partai politik sebagai sekelompok manusia yang terorganisir secara stabil dengan tujuan merebut dan atau mempertahankan penguasaan terhadap pemerintahan bagi pemimpin partainya dan berdasarkan penguasaan ini memberikan kepada anggota partainya kemanfaatan yang bersifat ideal maupun material (Budiarjo: 2008)

41 24 Beberapa karakteristik partai politik, pertama, partai politik merupakan organisasi yang berorientasi pada kekuasaan pemerintahan. Karakteristik ini secara normatif hanya dimiliki oleh partai politik yang tidak dimliki oleh organisasi diluar partai politik. Kedua, setiap partai politik memiliki program kerja untuk mencapai tujuan-tujuan politik melalui kebijakan politik partai. Ketiga, setiap partai memiliki ideologi, dimana di dalamnya ada sistem nilai yang diyakini dapat memandu setiap anggotanya dalam berfikir, bersikap, bertingkah laku. Sistem nilai tersebut bersifat mengikat sehingga bagaimana mencapai tujuan dan apa yang ingin dituju mencerminkan sistem nilai yang diyakini tersebut. Keempat, untuk dapat menjalankan fungsinya, maka partai politk biasanya memerlukan dukungan publik. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa partai politik merupakan sekelompok manusia yang terorganisasi, mempunyai tujuan dan ideologi yang sama, dan berorientasi pada kekuasaan. Partai politik merupakan organisasi yang berbeda dari organisasi lainnya karena partai politik dapat ikut serta dalam pesta demokrasi atau yang sering disebut dengan pemilihan umum. Oleh karena itu terdapat berbagai bentuk pelekatan-pelekatan identitas terhadap partai politik begitupun dengan fungsi dari partai politik. Ada begitu banyak pemahaman fungsi yang dilekatkan kepada partai politik.

42 25 2. Fungsi Partai Politik Fungsi partai politik secara umum adalah sebagai berikut: a. Pendidikan politik bagi anggota dan masyarakat luas agar menjadi warga negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; b. Penciptaan iklim yang kondusif bagi persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia untuk kesejahteraan masyarakat; c. Penyerap, penghimpun, dan penyalur aspirasi politik masyarakat dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara; d. Partisipasi politik warga negara Indonesia; dan e. Rekrutmen politik dalam proses pengisian jabatan politik melalui mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender. Fungsi partai politik yang kedua menurut Russel J. Dalton dan Martin P. Wattenberg (2002) adalah fungsi partai sebagai organisasi (parties as organization). Pada fungsi ini menunjuk pada funsi-fungsi partai yang melibatkan partai sebagai organisasi politik atau proses-proses didalam organisasi partai itu sendiri. Pada bagian ini partai politik setidaknya memiliki empat fungsi : a. Rekruitmen kepemimpinan politik dan mencari pejabat pemerintah. Fungsi ini sering disebut sebagai salah satu fungsi yang paling mendasar dari partai politik. Pada fungsi ini, partai politik aktif mencari, meneliti, dan mendesain kandidat yang akan bersaing

43 26 dalam pemilu. Desain rekruitmen kemudian menjadi aspek penting yang harus dipikirkan partai untuk menjalankan fungsi ini. Kualifikasi siapa yang akan diseleksi, siapa yang menyeleksi, diarena mana kandidat diseleksi, dan siapa yang memutuskan nominasi; serta sejauh mana derajat demokratisasi dan desentralisasi adalah pertanyaan-pertanyaan kunci dalam desain seleksi kandidat (Rahat dan Hazan. 2001). b. Pelatihan elit politik. Dalam fungsi ini, partai politik melakukan pelatihan dan pembekalan terhadap elit yang prospektif untuk mengisi jabatan-jabatan politik. Berbagai materi pelatihan dapat meliputi pemahaman tentang proses demokrasi, norma-norma demokrasi, prinsip-prinsip partai serta berbagai persoalan strategis yang dihadapi oleh bangsa dan pilihan-pilihan kebijakannya. Fungsi ini dipercaya menjadi bagian vital kesuksesan kerja-kerja dari sistem demokrasi. c. Pengartikulasian kepentingan politik. Kaum fungsionalis-struktural menempatkan fungsi ini sebagai fungsi kunci dari partai politik. Pada fungsi ini, partai politik menyuarakan kepentingan-kepentingan pendukungnya dalam berbagai isu politik dan dengan mengekspresikan pandangan pendukungnya dalam proses pemerintahan. Dalam konteks ini, partai politik tidak jauh berbeda dengan kelompok kepentingan khusus yang juga mengartikulasi kepentingan politik. Meskipun demikian, sentralisasi partai politik adalah penstrukturan fungsi tersebut dalam kampanye politik