Hubungan Pola Makan dan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi Siswi yang Puasa Sunnah di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor Tahun 2018

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Hubungan Pola Makan dan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi Siswi yang Puasa Sunnah di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor Tahun 2018"

Transkripsi

1 Universitas Sumatera Utara Repositori Institusi USU Fakultas Kesehatan Masyarakat Skripsi Sarjana 2019 Hubungan Pola Makan dan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi Siswi yang Puasa Sunnah di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor Tahun 2018 Harahap, Siti Hajar Universitas Sumatera Utara Downloaded from Repositori Institusi USU, Univsersitas Sumatera Utara

2 HUBUNGAN POLA MAKAN DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN STATUS GIZI SISWI YANG PUASA SUNNAH DI SEKOLAH ISLAM ULUN NUHA MEDAN JOHOR TAHUN 2018 SKRIPSI Oleh: SITI HAJAR HARAHAP NIM: PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT 2019

3 HUBUNGAN POLA MAKAN DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN STATUS GIZI SISWI YANG PUASA SUNNAH DI SEKOLAH ISLAM ULUN NUHA MEDAN JOHOR TAHUN 2018 SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Oleh: SITI HAJAR HARAHAP NIM: PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT 2019

4 i

5 ii

6 Telah diuji dan dipertahankan Pada tanggal: 28 Januari 2019 TIM PENGUJI SKRIPSI Ketua Anggota : Ernawati Nasution, S.K.M, M.Kes : 1. Fitri Ardiani, S.K.M, M.P.H 2. Prof. Dr. Ir. Evawany Y. Aritonang, M.Si iii

7 Abstrak Masa remaja yang sangat penting diperhatikan adalah status gizinya, untuk mendukung proses pertumbuhan yang cepat maka seorang remaja membutuhkan asupan zat gizi yang cukup. Status gizi remaja yang sering melakukan puasa sunnah yaitu sangat penting dalam hal pengaturan pola makan yang baik, berupa jenis makan harus tetap beragam, jumlah makan harus tetap terpenuhi, dan frekuensi makan harus selalu. Remaja harus melakukan aktivitas fisik yang baik agar status gizi tetap menjadi normal. Tujuan penelitian ingin mengetahui hubungan pola makan dan aktivitas fisik dengan status gizi siswi yang puasa sunnah di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 62 siswi di SMA Islam Ulun Nuha di Medan Johor. Analisa data dilakukan dengan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswi yang memiliki status gizi normal dengan pola makan yang baik sebesar 82,9% dan status gizi normal dengan pola makan tidak baik sebesar 57,1%. Sedangkan aktivitas fisik ringan dengan kategori normal sebesar 62,8% dan aktivitas fisik sedang dengan kategori normal sebesar 100%. Hasil uji Chi-Square menunjukkan nilai p<0,025 yang artinya ada hubungan pola makan dengan status gizi siswi dan nilai p<0,023 yang artinya ada hubungan aktivitas fisik dengan status gizi siswi yang sering puasa sunnah. Diharapkan bagi siswi yang puasa tetap selalu menjaga asupan gizi pada saat puasa, dan memperhatikan asupan makanannya dengan memperhatikan gizi seimbang, variasi makanan, serta tidak melewatkan waktu makan sehingga status gizi yang dicapai optimal dan diharapkan menjaga berat badannya sehingga perlu melakukan pemantauan status gizi secara berkala. Diharapkan bagi siswi membiasakan beraktivitas dengan baik, biasakan berolahraga, dan tetap selalu menjaga asupan makannya. Kata kunci: Pola Makan, Aktivitas Fisik, Status Gizi iv

8 Abstract Adolescence is a very important note is the status of its nutrition value, to support the process of rapid growth then a teenager in need of a sufficient intake of nutrients. Nutritional status of adolescents who often perform fasting sunnah that is very important in terms of setting a good eating patterns, such as the type of feeding must remain diverse, the number of packed must remain unfulfilled, and the frequency of eating should always be. Teens have to do a good physical activity so that nutritional status remains normal. The aim of the research would like to know the relationship of diet and physical activity with nutritional status students fasting sunnah in Islamic schools Ulun Nuha Medan Johor. This research is descriptive research with cross sectional design approach. The sample in this study was 62 students in high school in Medan Nuha Ulun Islam Johor. Data analysis was done by univariate analysis and bivariat. The results showed that students who have normal nutritional status with a good diet of 82.9% and normal nutritional status with a diet is not good of 57.1%. While a light physical activity with normal category of 62.8% and physical activity were normal with a category of 100%. Chi-Square test results show the value of p < meaning no relationship with dietary nutritional status of students and the value of p which means there 0,023 < relationship physical activity with nutritional status, students are often lent the sunnah. It is expected to keep fasting students always keep your intake of nutrients at the time of fasting, and pay attention to food intake with attention to nutritional balance, variety of food, and do not skip meals so that nutritional status achieved optimal and expected to maintain his weight so that the need to conduct monitoring of the nutritional status periodically. Expected for the students familiarize activity properly, make it a habit of exercising, and keep it always keeps its intake. Keywords: Diet, Physical Activity, Nutritional Status v

9 Kata Pengantar Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah Subahana Wa Ta ala yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Hubungan Pola Makan dan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi Siswi yang Puasa Sunnah di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor Tahun Skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Selama penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapat bimbingan, dukungan, dan bantuan dari berbagai pihak secara moril maupun materil. Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada: 1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara. 2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si., selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 3. Prof. Dr. Ir. Albiner Siagian, M.Si., selaku Ketua Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 4. Ernawati Nasution, S.K.M., M.Kes., selaku Dosen Pembimbing dan juga Ketua Penguji yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan saran, bimbingan, dan arahan selama penulisan skripsi ini. vi

10 5. Fitri Ardiani, S.K.M., M.P.H., selaku Dosen Penguji I yang memberikan masukan dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini. 6. Prof. Dr. Ir. Evawany Yunita Aritonang, M,Si., selaku Dosen Penguji II yang memberikan masukan dan saran untuk kesempurnaan skripsi ini. 7. Dra. Lina Tarigan, Apt., M.S., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah membimbing penulis selama mengikuti pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 8. Marihot Oloan Samosir, S.T., selaku staf Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat yang telah meluangkan waktu ditengah kesibukannya untuk membantu penulis dalam member informasi apapun yang penulis butuhkan. 9. Seluruh dosen dan staf pegawai Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bekal ilmu selama mengikuti pendidikan. 10. Kepala Sekolah Islam Ulun Nuha yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian beserta staf pengajar yang telah memberikan informasi kepada penulis. 11. Teristimewa untuk kedua orang tua tercinta Ayah Hadi Putra Harahap S.P., dan ibu Nurbaini, serta kakak Primayani Angga Lia Harahap S.E., kakak Erwina Sari Harahap S.T.H., adik Riza Hayani Harahap, adik M. Khairil Adha Harahap yang senantiasa memberikan do a, dukungan, motivasi serta kasih sayang kepada penulis selama menjalani pendidikan hingga menyelesaikan skripsi ini. vii

11 viii

12 Daftar Isi Halaman Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi Halaman Pengesahan Abstrak Abstract Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Lampiran Daftar Istilah Riwayat Hidup i ii iv v vi ix xi xii xiii xiv xv Pendahuluan 1 Latar Belakang 1 Perumusan Masalah 9 Tujuan Penelitian 9 Manfaat Penelitian 9 Tinjauan Pustaka 11 Status Gizi 11 Remaja 13 Kebutuhan zat gizi remaja 15 Kebutuhan zat gizi pada saat puasa 17 Pola Makan Remaja 18 Gizi seimbang bagi remaja 20 Waktu makan pada saat puasa 23 Waktu sahur 24 Waktu berbuka 24 Aktivitas Fisik 25 Puasa Sunnah 28 Kerangka Konsep 30 Hipotesis 31 Metode Penelitian 32 Jenis Penelitian 32 Lokasi dan Waktu Penelitian 32 Lokasi penelitian 32 Waktu penelitian 32 Populasi dan Sampel 32 Populasi 32 ix

13 Sampel 32 Metode Pengumpulan Data 33 Data primer 33 Data sekunder 33 Variabel dan Definisi Operasional 33 Variabel 33 Definisi operasional 34 Metode Pengukuran 34 Instrumen Penelitian 37 Metode Analisis Data 38 Pengolahan data 38 Analisis data 38 Hasil Penelitian 40 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 40 Karakteristik Responden 41 Pola Makan Siswi 42 Jenis makanan 42 Jumlah makanan 43 Frekuensi makanan 43 Aktivitas Fisik 46 Status Gizi Siswi 46 Hubungan pola makan dengan status gizi siswi yang sering puasa sunnah 46 Hubungan aktivitas fisik dengan status gizi pada siswi yang sering puasa sunnah 47 Pembahasan 49 Status Gizi Siswi Hubungan Pola Makan dengan Status Gizi Siswi yang Sering Puasa Sunnah 50 Hubungan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi Siswi yang Sering Puasa Sunnah 54 Kesimpulan dan Saran 56 Kesimpulan 56 Saran 56 Daftar Pustaka 57 Daftar Lampiran 60 x

14 Daftar Tabel No Judul Halaman 1 Kategori dan ambang batas status gizi anak berdasarkan indeks massa tubuh menurut umur 13 2 Angka kecukupan gizi yang dianjurkan untuk remaja (perorang perhari) 17 3 Tingkat aktivitas fisik (Physical Activity Level) 28 4 Distribusi karakteristik responden yang berpuasa sunnah di sekolah islam ulun nuha medan johor 41 5 Distribusi pola makan siswi yang sering berpuasa sunnah 42 6 Distribusi jenis makanan siswi yang berpuasa sunnah 43 7 Distribusi jumlah makan siswi yang sering berpuasa sunnah 43 8 Distribusi frekuensi makan siswi yang berpuasa sunnah berdasarkan makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayuran, buah dan lain-lainnya Distribusi aktivitas fisik siswi yang sering berpuasa sunnah Distribusi status gizi siswi yang berpuasa sunnah Hubungan pola makan dengan status gizi siswi yang sering puasa sunnah Hubungan aktivitas fisik dengan status gizi siswi 48 xi

15 Daftar Gambar No Judul Halaman 1 Kerangka Konsep 31 xii

16 Daftar Lampiran Lampiran Judul Halaman 1 Identitas Responden 60 2 Kuesioner Food Recall 61 3 Kuesioner Frekuensi Pangan 62 4 Kuesioner Aktivitas Fisik 64 5 Master Data 65 6 Output SPSS 68 7 Surat Izin Penelitian 74 8 Surat Keterangan Selesai Penelitian 75 9 Dokumentasi Penelitian 76 xiii

17 Daftar Istilah AMB = Angka Metabolisme Baasal BKKBN = Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional BMR = Basal Metabolic Rate DKBM = Daftar Komposisi Bahan Makanan IMT = Indeks Massa Tubuh IPTEK = Ilmu Pengetahuan dan Teknologi KIE = Komunikasi Informasi Edukasi MET = Metabolic Energyn Turnover PAL = Physical Activity Level PAR = Physical Activity Ratio PTM = Penyakit Tidak Menular UPGI = Usaha Perbaikan Gizi Institusi WHO = World Health Organization xiv

18 xv

19 Pendahuluan Latar Belakang Masa remaja adalah suatu fase kehidupan individu pada pertumbuhan tinggi badan dan berat badan menempuh puncaknya. Seorang remaja sangat membutuhkan dukungan asupan zat gizi yang cukup untuk mendukung proses pertumbuhan yang cepat. Untuk memiliki kondisi tubuh yang sehat dan dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan baik maka seseorang harus memiliki asupan gizi yang cukup. Dimana masa remaja yang sangat penting diperhatikan status gizinya, seperti mana kita ketahui bahwa perkembangannya yang sangat cepat sehingga dari kebiasaan mengkonsumsi makanan yang tidak sehat atau tidak memenuhi zat gizi akan berdampak pada kesehatannya. Remaja harus memiliki kualitas hidup yang baik agar dapat menjadi selaku generasi penerus bangsa. Ada beberapa faktor yang sangat perlu diperhatikan demi meningkatkan mutu hidup remaja masa kini antara lain kesehatan dan gizi, teknologi, informasi, pendidikan dan lainnya. Mempertahankan kesehatan adalah bagian dari faktor gizi yang amat berarti bagi diperhatikan seseorang. Pada fase remaja, tubuh selalu melewati perkembangan dan pertumbuhan yang cepat berupa psikis ataupun fisik. Remaja perlu mendapatkan individualitas yang aktual untuk bisa berkembang menjadi dewasa muda yang produktif dan sehat, ini menjadi tugas perkembangan yang tidak mudah bagi seseorang (Depkes, 2003). 1

20 2 Tingkat kesehatan seseorang yaitu dipengaruhi beberapa faktor diantaranya status sosio-ekonomi yang baik, status gizi yang baik, terbebas dari penyakit atau cacat, dan keadaan lingkungan yang baik. Seseorang tidak akan mudah terkena penyakit apabila mempunyai status gizi baik, baik itu penyakit degeneratif maupun penyakit infeksi. Untuk meraih kualitas kesehatan yang optimal maka salah satu faktor yang sangat penting ialah status gizi. Kekurangan gizi dapat menimbulkan penyakit-penyakit yang masih ditemui di masyarakat (Kemenkes, 2017). Menurut pemaparan Loliana (2015) Keadaan tubuh individu yang bisa diamati mengenai asupan zat-zat gizi yang masuk ke tubuh dan makanan yang dikonsumsi adalah suatu bentuk status gizi. Status gizi berlebih dan kurang adalah suatu masalah pada status gizi. Masalah status gizi berlebih atau obesitas lebih cenderung di daerah perkotaan. Menurut penelitian Kustiyanti (2017) mengenai status gizi menurut Z-skor IMT/U antara siswa sedang puasa dan tidak puasa sunnah senin-kamis didapati nilai p= 0,440 (p>0,05), bahwa diketahui signifikansi perbedaan status IMT ialah sebesar 0,440 yang lebih besar dari 0,05 sehingga Ho diterima, maka dari itu bisa disimpulkan bahwa status IMT antara siswa yang sedang puasa dan tidak puasa senin-kamis tidak berbeda secara signifikan. Menurut status gizi persen lemak tubuh, responden yang berpuasa senin-kamis mempunyai rata-rata nilai persen lemak tubuh sebesar 25,85% dengan nilai persen lemak tubuh terendah sebesar 9,3% dan nilai terbesar 36,4%. Sedangkan siswa yang tidak berpuasa mempunyai

21 3 nilai rata-rata sebesar 25,03% dengan nilai persen lemak tubuh terendah sebesar 10,3% dan nilai tertinggi sebesar 43,3%. Menurut penelitian Riawanti (2008) bahwa rata-rata responden (81%) pada bulan Ramadan mengalami penurunan berat badan. Rata-rata penurunan berat badan responden sebesar 1.5 kg (3% dari berat badan pra Ramadan). Sebanyak 91% responden mengalami penurunan berat badan pada kisaran kg (0-5% berat badan pra Ramadan). Hanya 9% mahasiswi yang mengalami penurunan berat badan lebih dari 5% berat badan pra Ramadan. Hal ini berbeda dengan pasca Ramadan, sebagian besar responden mengalami kenaikan berat badan (76%). Sebagian besar mahasiwi (90%) mengalami kenaikan berat badan pada kisaran kg (0-5% berat badan Ramadan) pada pasca Ramadan. Selanjutnya, hanya 10% responden yang mengalami kenaikan lebih dari 5% berat badan Ramadan. Dalam kehidupan sehari-hari manusia mempunyai peranan pangan yang sangat penting. Fungsi makanan pokok ialah untuk menjaga kesehatan, mempertahankan kelangsungan hidup, dan membentengi. Untuk bekerja secara produktif seseorang harus mendapatkan energi yang cukup agar staminanya terjaga. Individu harus menyesuaikan kebutuhannya dengan konsusmsi pangan. Tahap perkembangan kehidupan (umur), berat badan dan tinggi badan, nilai gizi pangan yang dikonsumsi, status kesehatan, jenis kegiatan yang dilakukan, dan keadaan fisiologis tertentu (misalnya menyusui atau hamil). Berikut adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan buat menentukan kebutuhan tubuh (Deddy, 1996).

22 4 Menurut ahli antropologi Margaret Mead, Food Pattern atau pola pangan, sebagai reaksi terhadap tekanan sosio-budaya dan ekonomi yang dialami merupakan cara seseorang untuk memanfaatkan pangan yang tersedia. Kebiasaan makan (food habit) ada kaitannya dengan pola pangan. Demikian diberbagai bagian didunia berkembang pola makan yang didasarkan atas makanan pokok seperti beras, gandum, singkong, kentang, jagung, dan lainnya. Makanan pokok tersebut adalah sumber energi, yang tetapi dalam makanan pokok ini kurang kandungan vitamin dan proteinnya, terutama pada makanan pokok umbi-umbian, penyakit defisiensi gizi akan timbul apabila seseorang tidak mengonsumsi makanan yang sumber zat gizi berupa vitamin dan protein (Almatsier, 2009). Pada pesan gizi seimbang konsumsi pangan masyarakat masih belum cocok. Menurut data dari Riskesdas 2010 menyatakan bahwa: masih rendahnya konsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran dikelompok umur > 10 tahun, ialah masing-masing sebesar 37,9% & 36,7%. Masih rendahnya tingkat protein yang dimakan rata-rata individu perhari dikarenakan sebagian besar dari protein nabati yaitu kacang-kacangan dan serealia. Masih cukup tinggi di masyarakat perdesaan maupun perkotaan dalam hal mengonsumi minuman dan makanan takaran lemak tinggi, gula tinggi, dan garam tinggi. Dan masih rendahnya konsumsi cairan pada remaja. Pola kegiatan dapat mengganggu perilaku konsumsi makan bergizi seimbang pada kelompok usia dewasa yaitu ibu yang kerja di luar rumah, banyaknya tersedia beragam makanan siap olah dan cepat saji, berpacunya tenaga

23 5 kerja yang erat, dan kurangnya pengetahuan mengenai gizi akan mengakibatkan keluarga dihadang pada pola kegiatan yang mengarah pasif atau Sedentary Life, terutama tidak seimbang konsumsi pangan, makanan tidak higienis dan pada ibu waktu yang singkat di rumah. Oleh karenanya, kita perlu memperhatikan pola hidup sehat, produktif dan aktif, dengan memperhatikan gizi seimbang terhadap perilaku konsumsi pangan, dan selalu memonitor berat badan agar tetap normal. Pola makan orang puasa dengan yang tidak puasa yang membedakannya yaitu pada waktu makan, yang mana waktu makan pagi biasanya jam 07:00 sampai jam 09:00 tapi pada saat puasa waktu makan pagi diganti dengan sahur yaitu sekitar jam 04:00 pagi, pada yang puasa frekuensi makannya menjadi dua kali sahur dan berbuka atau setelah sholat isya. Menurut pemaparan Hardinsyah (2004) Mengawali berbuka, mengakhirkan sahur, berhenti makan dan minum sebelum kenyang, dan melakukan ibadah di malam hari adalah salah satu indikasi puasa yang benar dan baik. Dengan makanan sahur kita telah menyiapkan asupan agar dapat menjalankan kegiatan seharian. Dari segi gizi, makanan sahur sangat dianjurkan dan dipersiapkan secara lengkap agar zat gizi tepenuhi. Makan sahur harus dilaksanakan walaupun sering sekali tidak selera makan, walaupun begitu harus tetap dipaksakan agar memenuhi syarat kualitas dan kuantitas gizi yang dikonsumsi. Makan sahur sebaiknya dilakukan pada saat menjelang waktu imsak agar tidak terlalu panjang waktu jam puasa. Aktivitas fisik adalah manfaat dasar hidup manusia. Pada zaman dulu, aktivitas fisik dengan cara berjalan sekeliling sungai dan hutan diperlukan untuk

24 6 mengumpulkan makanan, berlari dari kejaran hewan liar atau musuh yang hendak menerkam. Banyaknya manusia menggunakan aktivitas fisik untuk berkebun menanam sayuran, bertani atau menanam padi dan untuk memenuhi kebutuhan pangan setelah mengenal sistim budidaya. Dan berjalannya waktu manusia mulai mengenal alat transportasi/angkot. Hewan seperti kuda digunakan untuk alat transportasi. Dan zaman mulai maju, mulai berkurang aktivitas fisik berjalan ke suatu tempat karena sudah mengenal alat transportasi (Wilda & Rifki, 2013). Berdasarkan penelitian Mahardikawati (2008) Susunan gerakan tubuh yang menggunakan energi atau tenaga disebut aktivitas fisik atau aktivitas eksternal. Jenis-jenis aktivitas fisik yang dilakukan setiap hari diantaranya berlari, berjalan, memindahkan benda dan mengangkat, mengayuh sepeda, berolahraga, dan lainnya. Pada tiap-tiap aktivitas fisik akan menentukan energi yang berbedabeda berdasarkan sifat kerja otot dan lamanya intensitas. Kondisi kesehatan seseorang ditentukan oleh aktivitas fisiknya. Risiko obesitas dan kegemukan dipengaruhi oleh berlebihnya jumlah energi dan rendahnya aktivitas fisik. Menurut penelitian, menyatakan adanya hubungan langsung antara volume panas yang didapatkan pada suatu aktivitas kerja beserta jumlah konsumsi makanan. Energi yang melebihi dari yang dikonsumsi makanan maka seseorang tidak dapat beraktivitas, melainkan ada cadangan energi didalam tubuh. Kondisi ini akan menyebabkan kurang gizi, khususnya energi (Riawanti, 2008) Menurut penelitian Riawanti tahun 2008 dalam melakukan aktivitas durasi mahasiswi tidak terdapat perbedaan, durasi kuliah, mengerjakan tugas, waktu tidur siang, aktivitas berjalan kaki ke kampus, mencuci baju, frekuensi mencuci

25 7 baju dan aktivitas olahraga pada pra Ramadan dan Ramadan yaitu (p>0.05). Terjadi penurunan waktu tidur pada malam hari di bulan Ramadan (p<0.05). Ratarata mahasiswi (93%) pada bulan Ramadan memiliki kurang dari enam jam waktu tidur malam. Pada saat puasa terjadi pembatasan konsumsi, Pembatasan konsumsi terjadi perbedaan pengaruhnya terhadap kondisi gizi dan kesehatan fisik yaitu ada dua: Pertama, pembatasan konsumsi mineral dan air. Kedua, pembatasan konsumsi zatzat gizi dalam makanan. Puasa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah puasa sunnah senin kamis yang mana hanya dikerjakan pada hari senin dan kamis saja. Pembuangan racun di dalam tubuh adalah salah satu fungsi dari puasa. Maka ini dapat menimbulkan konstanitas (variabelnya tetap) cairan dan darah dalam tubuh. Oleh karena itu para ahli medis telah sepakat bahwa air liur digunakan untuk melakukan tes darah, orang yang diperiksa hendaknya dalam keadaan berpuasa. Jika terdapat variabel yang tidak tetap atau tidak stabil di dalam air liurnya, maka hasilnya bias dan dipastikan sudah terjadi kerusakan. Sebuah riset yang dilakukan oleh Dr Ahmad al-qadhi dan kawankawannya di AS menemukan hasil bahwa dari peserta penelitian mengalami peningkatan sebesar 20% dengan 30% pada fungsi otot dan kemampuann fisik setelah berpuasa, dan jumlah peserta terjadi kenaikan sebesar 7% dari 40%, pembaikan kecepatan detak jantung sebesar 6% dilaporkan bahwa mengalami, ambang tekanan darah yang dikalikan dengan kecepatan detak jantung membaik 12%, sesak nafas membaik 9%, dan berkurang sebesar 11% dengan kelelahan pada kaki. Dari data tersebut membuktikan bahwa tidak benarnya anggapan yang

26 8 menyatakan bahwa puasa dapat mempengaruhi aktivitas fisik dan melemahkan energi sehingga seseorang yang sedang berpuasa lebih bermalas-malasan dan lebih banyak waktu tidurnya. Dengan demikian, suatu hal yang positif saat berpuasa aktivitas tetap dijalankan dan puasa dapat meningkatkan fungsi otot dan hati. Tubuh pun dapat membuang racun serta melakukan perlindungan dari bahaya tambahnya kuantitas bodi ketone (Jamal, 2013). Berdasarkan survei pendahuluan yang telah peneliti lakukan di Sekolah Islam Ulun Nuha, didapati siswi yang asrama dan non asrama. Dalam hal pola makan antara asrama dan non asrama tidak terlalu berbeda, dimana jenis makanan mereka berupa makanan pokok, lauk, buah dan sayur. Sedangkan frekuensi makan sehari tiga kali berupa: saat pagi hari, siang hari, dan malam hari. Dan ditambah dengan makanan selingan yang berupa roti, buah, dan makanan lainnya. Persamaan menu asrama dan non asrama berupa nasi, lauk, sayur, dan air putih yang dikonsumsi mereka sehari-hari. Siswi yang sering puasa sunnah bahwa pola makan mereka lebih terarah dan terkontrol karena dengan puasa, mereka lebih bisa mengatur makanan yang dikonsumsi mereka dan jarang jajan sembarang, mereka lebih sering mengkonsumsi makanan olahan sendiri dari rumah dan bagi siswi yang di asrama selalu makan yang telah disiapkan oleh pihak asrama. Aktivitas fisik siswi meliputi berjalan, duduk, belajar, mencuci, menyapu, ibadah, dan lainnya. Siswi lebih banyak menghabiskan waktu mereka di sekolah dibanding di rumah, dimana mereka pergi ke sekolah mulai jam enam pagi atau jam tujuh pagi dan kembali pulang dari sekolah jam enam sore. Siswi ke sekolah

27 9 ada yang di antar oleh orang tua dengan sepeda motor atau mobil, jalan kaki, dan mengendarai kendaraan sendiri. Status gizi siswi yang sering melaksanakan puasa sunnah senin dan kamis, rata-rata memiliki status gizi yang normal, dapat dilihat dari IMT (indeks masa tubuh) siswi yang terdapat dari BB/TB 2 berdasarkan kategori z-score. Dan dihitung menggunakan aplikasi WHO Anthro Plus dan perhitungan secara manual dengan bantuan buku pedoman Antropometri. Media yang digunakan dalam pengukuran berat badan adalah dengan timbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dengan menggunakan mikrotois. Berdasarkan pemaparan tersebut, penulis tertarik untuk mengangkat judul.: Hubungan Pola Makan dan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi Siswi yang Puasa Sunnah di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor Tahun 2018 sebagai karya ilmiah dalam bentuk skripsi. Perumusan Masalah 1. Apakah ada hubungan pola makan dengan status gizi siswi yang puasa sunnah 2. Apakah ada hubungan aktivitas fisik dengan status gizi siswi yang puasa sunnah Tujuan Penelitian Mengetahui hubungan pola makan dan aktivitas fisik dengan status gizi siswi yang puasa sunnah di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini dapat diharapkan memberikan manfaat:

28 10 1. Suatu bahan masukan dan informasi pada instansi sekolah untuk menumbuhkan pola makan dan aktivitas fisik kearah yang lebih sehat agar status gizi yang baik pada saat puasa. 2. Sebagai bahan masukan dan informasi pada Puskesmas untuk meningkatkan program UPGI (Usaha Perbaikan Gizi Institusi) dalam melakukan kegiatan penyuluhan gizi di sekolah mengenai pada saat puasa pola makan dan aktivitas fisik yang baik.

29 Tinjauan Pustaka Status Gizi Remaja Status gizi adalah kondisi tubuh pada suatu efek pada konsumsi zat-zat gizi dan mengonsumsi makanan. Dikelompokkan pada status gizi buruk, kurang, baik, dan lebih (Almatsier, 2009). Pada penelitian Husna tahun 2012 menyatakan bahwa apa yang kita makan setiap hari adalah gambaran untuk status gizi atau kondisi badan. Dikatakannya status gizi itu baik apabila pola makannya seimbang. Maksudnya, jumlah, frekuensi dan jenis makanan yang dikonsumsi mesti cocok dengan kebutuhannya. Apabila yang dikonsumsi melebihi kebutuhan maka mengalami status gizi gemuk. Dan begitu juga, apabila yang dikonsumsi kurang dari yang dibutuhkan maka terjadi status gizi kurus dan akan sering sakit-sakitan. Gemuk tidak selamanya sehat lantaran kegemukan bisa menimbulkan bermacam penyakit. Status gizi kurang dan status gizi lebih dapat berakibat kurang baik pada kesehatan fisik seseorang. Kondisi kedua status gizi mengerikan ini disebut status gizi salah. Status gizi adalah sesuatu yang sangat penting untuk menentukan status kesehatan seseorang, semakin baik status gizi seseorang, maka status kesehatan juga akan membaik. Dimana status gizi juga sangat berperan dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan seseorang, besarnya kecukupan.asupan.gizi setiap orang tergantung atas beberapa faktor yakni jenis kelamin, umur, tinggi.badan, berat.badan, aktivitas fisik dan lain sebagainya. Status gizi seseorang ditentukan oleh bagaimana pola makannya dengan melihat jenis, jumlah dan frekuensi mengonsumsi makanannya. Maka dari itu sangat diakibatkan oleh 11

30 12 ketersediaan pangan di masyarakat, bagaimana sistim cara olah makanan, maupun itu modern, atau yang tradisional, dan pendistribusian pangan hingga ke masyarakat (Cakrawati & Mustika, 2012). Seseorang dapat mengetahui status gizi melakukan pengukuran yaitu beberapa parameter, dan hasil pengukurannya akan mengacu pada standar atau rujukan yang telah ditetapkan. Penilaian status gizi ini tujuannya agar mengetahui ada keadaan status gizi seseorang. Penilaian status gizi sangat penting dikarenakan jika status gizi seseorang itu tidak baik maka bisa menyebabkan terjadinya kesakitan atau kematian yang kaitannya pada keadaan gizi. Maka dari itu dengan diketahuinya status gizi, maka bisa dilakukan usaha agar memperbaiki derajat kesehatan seseorang. Status gizi seseorang terbagi kedalam beberapa kelompok umur yaitu, status gizi dewasa, status gizi anak usia 5 sampai 18 tahun, status gizi balita. Status gizi yang dimaksud disini adalah status gizi remaja karena siswa SMA masih merupakan kelompok usia remaja. Status gizi remaja yang berumur >13 tahun (Kemenkes RI, 2013) Hasil Riskesdas 2010, secara nasional prevalensi status gizi remaja usia 13 sampai 15 tahun yang sangat pendek dan pendek yaitu 35,2% dan usia 16 sampai 18 tahun yaitu sebesar 31,2%. Maka dapat disimpulkan dari status gizi remaja tersebut sepertiga remaja mengalami defisit protein dan mikronutrien, dan separuh remaja mengalami defisit energi.

31 13 Tabel 1 Kategori dan Ambang Batas Status Gizi Anak Berdasarkan Indeks Massa Tubuh Indeks Kategori Status Gizi Ambang Batas (Z-Score) Sangat Kurus <-3 SD Indeks Massa Tubuh Menurut (IMT/U) Anak Umur 5-18 Tahun Kurus -3 SD sampai dengan <-2 SD Normal -2 SD sampai dengan 1 SD Gemuk Obesitas >1 SD sampai dengan 2 SD >2 SD Remaja Berdasarkan WHO, remaja merupakan warga negara pada batasan umur 10 sampai 19 tahun. Menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), batasan umur remaja ialah 10 sampai 24 tahun dan belum menikah menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 25 tahun 2014, remaja merupakan warga negara batasan umur 10 sampai 18 tahun. Perbedaan definisi ini menunjukkan bahwasannya tidak ada kesepakatan universal mengenai rentang kelompok umur remaja. Akan tetapi fase remaja itu diasosiasikan yaitu dengan fase peralihan mulai anak-anak sampai pada dewasa. Fase ini adalah rentang waktu persiapan menuju fase dewasa yang mana hendak melewati fase-fase perkembangan dalam hidup. Anak remaja dapat dikatakan sebagai kelompok peralihan yang sangat sensitif pada berbagai perubahan yang terjadi di lingkungannya, misalnya terjadi pada pengaruh terhadap konsumsi makanan modern. Yang mana makanan modern memiliki daya tarik tersendiri dikarenakan lebih praktis, yaitu cepat dalam hal penyajian makanan dan didukung oleh berbagai gengsi masyarakat. Khususnya di

32 14 daerah perkotaan yang mana sudah menjadi budaya tersendiri pada masyarakat dalam hal mengonsumsi makanan modern (Miftahun, 2012). Menurut penelitian Husna tahun Usia muda merupakan umur produktif yang mana fikiran, semangat dan tenaga benar-benar meningkat. Akan tetapi, dengan meningkatnya aktivitas remaja kerap tidak diikuti dengan pola hidup yang sehat dan benar, seperti pola tidur yang sesuai, pola makan sehat, serta olahraga yang teratur. Ketidakseimbangan pola hidup dan dinamisnya kegiatan di kala ini, maka sesekali terjadi problem kesehatan yang biasanya dimulai pada keadaan gizi kurang yang akan kemudian menurunkan etos kerja dan produktifitas. Diamati dari siklus kehidupan, fase remaja adalah fase yang sangat susah untuk dilalui oleh seseorang. Fase ini dapat diartikan menjadi fase yang sangat berbahaya untuk perkembangan dalam tahapan kehidupan selanjutnya. Hal ini dikarenakan terjadi begitu banyak perubahan dalam diri seseorang baik itu perubahan fisik maupun psikologis pada fase ini. Perubahan yang terjadi antara lain yaitu perubahan dari ciri-ciri anak yang mengarah kepada kedewasaan. Sebagaimana tanda-tanda kedewasaan pada perempuan yaitu telah menstruasi dan membesarnya buah dada. Pada laki-laki tandanya yaitu mimpi basah semakin membesarnya otot, dan perubahan suara. Dari berbagai keadaan perubahan tersebut, biasanya remaja tak ingin dianggap sebagai kanak-kanak. Akan tetapi remaja belum bisa disebut orang dewasa juga. Berbagai perubahan fisik yang berlangsung pada remaja adalah cara yang natural, yang mana semua orang akan melaluinya. Akan tetapi remaja kerap sekali tidak mengetahui atas perubahan-

33 15 perubahan tersebut yang akan menjadikan hidup seseorang dalam perasaan waswas serta kegelisahan. Dan pada remaja sering terjadi perubahan persepsi diri serta mencari jati diri, oleh karena itu akan ada masalah-masalah yang datang apabila individu tidak dibina dengan baik dalam menjalani perubahan fase ini. Pada cara pencarian jati diri ini maka sangat penting menperoleh binaan dari orang-orang sekitarnya supaya remaja bisa tumbuh menjadi remaja yang bertanggungjawab (Proverawati & Wati, 2016). Sekolah merupakan suatu zona pendidikan sekunder. Pada anak yang sudah sekolah selain lingkungan rumah, sekolah merupakan lingkungan yang setiap harinya dimasuki. Anak yang sudah memasuki tingkat SMP dan SMA umumnya mereka menghabiskan waktunya kurang lebih 7 jam sehari di lingkungan sekolah, hal tersebut menunjukkan bahwa nyaris sepertiga dari waktunya dihabiskan anak di lingkungan sekolahnya setiap hari. Maka tidak heran bahwa pengaruh lingkungan sekolah terhadap perkembangan jiwa remaja itu sangat besar (Sarwono, 2012). Dan sama halnya juga dengan makanan yang dikonsumsi remaja yaitu sebagian besar di sekolah, yang kebanyakan membeli makanan di kantin sekolah maupun di luar sekolah, anak remaja terkadang suka yang instan dan tanpa memperhatikan zat gizi pada makanan yang dikonsumsi. Kebutuhan zat gizi remaja. Kebutuhan gizi remaja masih relatif besar, dikarenakan sedang mengalami pertumbuhan, selain itu, pada aktivitas fisik remaja yang biasanya lebih banyak dibanding umur yang lain, sehingga remaja banyak membutuhkan asupan gizi. Pemenuhan kebutuhan gizi untuk remaja

34 16 merupakan hal yang hakiki dan mutlak, dimana segala kebutuhan asupan gizi yang harus terpenuhi dari mengonsumsi makanan. Dari survei-survei telah mencatat tidak sedikit ketidakcukupan asupan zat gizi pada remaja. Remaja sering sekali melewatkan waktu makan (terutama waktu sarapan) dengan alasan sibuk, dan remaja begitu senang mengunyah junk food sehingga menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, dengan pola makan yang tidak baik maka akan dikhawatirkan remaja menjadi gemuk yang hakikatnya memaksa remaja untuk mengurangi jumlah konsumsi yang seharusnya dimakan mereka. Sangat disayangkan cara diet tersebut mereka susun menurut data yang sematamata didapat dari bisikan kawan seusia, bukan hasil konsultasi dengan para ahli dibidangnya. Masalah gizi ini atas dasarnya sebagai cerminan konsumsi asupan gizi yang belum memenuhi keperluan tubuh remaja. Status gizi yaitu deskripsi seseorang selaku efek konsumsi zat gizi seharinya. Apabila zat gizi sesuai dengan kebutuhan tubuhnya, maka seseorang akan mempunyai status gizi yang baik. Kekurangan gizi disebabkan oleh asupan zat gizi yang kurang atas konsumsi makanan, dan sedangkan gizi lebih disebabkan oleh asupan zat gizi yang berlebih atas konsumsi makanan (Kemenkes, 2014). Pada masa remaja kebutuhan zat gizi remaja meningkat dikarenakan aktivitas fisik yang tinggi dan terjadinya proses pertumbuhan yang cepat (Almatsier 2002). Oleh karena itu, kebutuhan zat gizi yang harus tercukupi dengan baik. Berikut ini tabel kebutuhan zat yang dianjurkan.

35 17 Tabel 2 Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan untuk Remaja (perorang perhari) Zat Gizi Perempuan (Tahun) Laki-laki (Tahun) Energi (kkal) Protein (g) Karbohidrat (g) Serat (g) Air (ml) Vitamin A (mcg) Vitamin D (mcg) Vitamin E (mg) Vitamin K (mcg) Vitamin B1 (mg) 1,1 1,1 1,2 1,3 Folat (mcg) Vitamin C (mg) Kalsium (mg) Besi (mg) Sumber: Kemenkes RI 2013 Kebutuhan gizi pada saat puasa. Pada orang yang sedang berpuasa yang mana zat gizi harus terpenuhi karena dimana ada masa tubuh kita tidak mendapatkan asupan zat gizi pada rentang waktu yang agak panjang kurang lebih 14 jam, supaya fungsinya bisa berjalan secara baik, dimana sel-sel tubuh yang harus memperoleh energi dan zat-zat gizi pada jumlah yang memadai. Maka karena itu kita harus tetap mengatur supaya ketika tubuh tidak memperoleh asupan zat gizi, yaitu saat puasa pada siang hari, jumlah energi tetap tersedia sesuai dengan kebutuhan tubuh seseorang. Pada waktu puasa tidak terdapat perbedaan kebutuhan kalori maupun asupan zat gizi, baik itu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral, yang mana zat gizi ini harus tetap terpenuhi layaknya tidak berpuasa karena perbedaannya hanya pada waktu makannya saja. Menurut Sekarindah (2002) pada saat seseorang sedang berpuasa maka pola makan harus tetap teratur dari berbuka puasa sampai sahur. Pembagian

36 18 makannya yaitu 50% untuk berbuka puasa, 10% setelah melaksanakan sholat isya atau sholat tarawih dan 40% untuk waktu sahur. Selain itu, menu makanannya harus seimbang. Artinya yaitu makanan yang terdiri dari karbohidrat 50-60%, lemak 20-25%, protein 10-29%, dan cukup mineral dan vitamin dari buah dan sayuran. Yang mana pada orang yang puasa harus mengonsumsi serat sesuai kebutuhan dari sayur dan buahan agar buang air besar lancar. Orang yang puasa juga mesti mencukupi kebutuhan cairannya, yang dianjurkan minum 7-8 gelas perhari, yaitu pada saat sahur tiga gelas dan pada waktu berbuka puasa sampai sebelum tidur lima gelas. Banyak ditemukan pada saat berpuasa, orang yang kurang tepat dalam hal mengatur pola makannya, misalnya pada saat sahur makan hanya sekedarnya dan berbuka puasa seseorang makan sebanyak-banyaknya. Padahal ini tidak baik, namun yang benar adalah pada saat berbuka makan secara bertahap dan kemudian pada saat sahur makan dalam jumlah yang cukup. Puasa juga bisa menghentikan proses penyerapan sisa-sisa makanan di dalam usus dan kemudian membuangnya, dikarenakan tidak adanya proses pembuangan pada sisa sari makanan, oleh dari itu akan mengakibatkan penumpukan dan berubahnya menjadi racun dalam tubuh. Sebagaimana puasa juga sebagai satu-satunya cara buat membersihkan racun yang baru masuk melalui makanan yang terkontaminasi dan racun yang tertumpuk di dalam tubuh. Pola Makan Remaja Pola makan ialah cara individu atau sekelompok untuk menentukan makanan serta mengkonsumsinya yaitu selaku reaksi terhadap pengaruh

37 19 psikologi, fisiologis, sosial dan budaya. Pola makan juga disebut juga pola pangan, kebiasaan makan, atau kebiasaan pangan. (Soehardjo, 1996). Pola makan sehat ialah usaha atau suatu cara untuk kontrol jumlah makanan dan jenis makanan dengan maksud tertentu, seperti mencegah atau membantu kesembuhan penyakit, mempertahankan kesehatan, dan status nutrisi. Pola makan setiap hari ialah pola makan individu yang sangat berhubungan dengan kebiasaan makan sehari-hari. (Adriani & Wijatmadi, 2012) Pola makan adalah perilaku sangat berguna untuk bisa mempengaruhi kondisi gizi seseorang. Hal ini juga disebabkan oleh kualitas dan kuantitas asupan minuman dan makanan dapat mempengaruhi tingkat kesehatan seseorang dan masyarakat, yaitu bertujuan untuk supaya tubuh tetap sehat dan terhindar dari berbagai penyakit tidak menular (PTM) terpaut gizi atau kronis, maka pola makan masyarakat penting ditingkatkan kesisi konsumsi gizi seimbang. Kesehatan individu dan masyarakat dapat ditingkatkan dengan kondisi status gizi yang baik. (Kemenkes, 2014) Dalam penelitian Sulistyoningsih (2011) mengatakan bahwa pola makan merupakan sebagai perilaku manusia atau sekelompok manusia untuk mencukupi kebutuhan makan yang melipiti kepercayaan, pilihan makanan dan sikap. Meninjau dari hasil penelitian Rusyadi (2017) yang menyatakan bahwa sebagian besar responden memiliki asupan energi tergolong kekurangan, responden sangat perlu memperhatikan kembali pentingnya makan pagi dan makan malam. Maka perlu diperhatikan kembali mengenai keseimbangan komposisi zat-zat gizi yang masuk ke dalam tubuh yaitu terutama untuk lebih memperhatikan asupan zat gizi

38 20 karbohidrat. Selain itu, responden perlu menambah asupan zat gizi serat pangan terutama serat dari sayur-sayuran hijau dan buah-buahan. Fungsi normal tubuh didapat dari makanan yang dipilih setiap hari secara baik, maka akan memperoleh semua zat gizi yang diperlukan. Sebaliknya, apabila makanan tidak dipilih dengan baik maka tubuh akan mengalami kekurangan zatzat gizi esensial tertentu. (Almatsier, 2009). Kebutuhan gizi anak akan tercukupi apabila pola makan yang beragam dan gizi seimbang. Variasi menu dibuat pada jenis olahan pangan dengan memperhatikan jumlah yang tepat dengan kebutuhan gizi. Dimana pada umur remaja sangat membutuhkan makanan yang bergizi. Pengurangan jumlah asupan pada waktu berpuasa terjadi karena seseorang biasanya mengkonsumsi makanan tiga kali sehari menjadi hanya dua kali sehari. Sahur menjadi makan utama yang mana zat gizi mesti tetap terpenuhi, yaitu berupa protein, karbohidrat, mineral, dan vitamin. Dan berbuka puasa zat-zat gizi yang tadinya berkurang dapat terpenuhi lagi. Asupan gizi yang baik ialah dengan memenuhi konsumsi makanan yang lengkap pada waktu berbuka puasa dan sahur. Bila tidak, berdasarkan dari sebagian penelitian sebelumnya menyatakan bahwa puasa bisa merubah komposisi lemak tubuh yang ditandai dengan penurunan berat badan. Gizi seimbang bagi remaja. Di Indonesia dikenal dengan pedoman gizi seimbang, dimana ada perbedaan dasar diantaranya slogan empat sehat lima sempurna pada pedoman gizi seimbang merupakan konsumsi makanan setiap hari yang harus mengandung zat gizi pada jenis dan jumlah yang tepat pada kebutuhan setiap orang atau kelompok umur. Mengonsumsi makanan harus memperhatikan

39 21 prinsip empat pilar yaitu aneka ragam pangan, mempertahankan berat badan normal, perilaku hidup bersih, dan aktivitas fisik. Gizi seimbang ialah susunan pangan setiap harinya yang mengandung zat gizi pada jenis dan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh, dengan memperhatikan prinsip aneka ragam pangan, tetap menjaga berat badan normal, perilaku hidup bersih, dan aktivitas fisik. Menurut dari berbagai institusi atau kelompok ahli, menyatakan bahwa definisi atau pengertian tentang Gizi Seimbang (Balanced Diet), yaitu intinya gizi seimbang mengandung komponen-komponen yang kurang lebih sama, yaitu: cukup pada kualitas, cukup pada kuantitas, terdapat berbagai macam zat gizi (energi, protein, mineral dan vitamin) yang dibutuhkan oleh tubuh untuk tumbuh (pada anak-anak), untuk menjaga kesehatan, untuk beraktivitas, fungsi kehidupan sehari-hari (bagi semua kelompok umur dan fisiologis), dan menyimpan zat gizi agar kebutuhan tubuh tercukupi, dimana pada makanan yang dikonsumsi tidak terdapat zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh. Prinsip empat Sehat lima Sempurna yang diperkenalkan oleh Bapak Gizi Indonesia Prof. Poorwo Soedarmo yang tertuju pada prinsip Basic Four Amerika Serikat yang mulai dikenalkan pada era 1940an ialah menu makanan yang terdiri dari lauk pauk, makanan pokok, buah-buahan dan sayur-sayuran, dan minum susu untuk menyempurnakan menu tersebut. Akan tetapi slogan ini tidak lagi digunakan karena perkembangan ilmu dan permasalahan gizi saat ini, maka adanya pembaruan pada slogan dan visual yang sesuai pada keadaan pada masa ini. Hasil kesepakatan konferensi pangan sedunia di Roma Tahun 1992 pada

40 22 prinsip Nutrition Guide for Balanced Diet diyakini akan mampu mengatasi beban ganda masalah gizi, baik kelebihan maupun kekurangan gizi (Kemenkes, 2014). Pesan gizi seimbang untuk usia remaja: 1. Biasakan makan 3 kali sehari (pagi, siang dan malam) Agar terpenuhi kebutuhan asupan gizi seseorang dalam sehari maka seseorang harus membiasakan makan tiga kali sehari, dan jangan sampai melewatkan waktu makan apalagi waktu sarapan karena sarapan adalah sangat penting untuk seseorang apalagi untuk anak sekolah untuk perkembangan otaknya, dan sarapan pagi membuat anak menjadi semangat untuk beraktivitas. 2. Konsumsi ikan dan sumber protein lainnya. Protein adalah sumber zat gizi yang sangat dibutuhkan oleh setiap individu, apalagi untuk anak-anak dan remaja untuk pertumbuhan mereka. Begitu banyak sumber zat gizi protein yang bisa kita tamui dari protein hewani dan protein nabati, ikan adalah salah satu sumber protein yang mudah untuk ditemui. Dan sumber protein nabati bisa kita dapatkan dari kacang-kacangan. Di Indonesia begitu bayak sumber protein yang mudah kita jumpai, maka dari itu jangan sampai tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung sumber protein. 3. Biasakan mengonsumsi sayur dan buah-buahan yang cukup. Masyarakat Indonesia masih kekurangan mengonsumsi sayuran dan buahbuahan yaitu 63,3% anak > 10 tahun tidak mengonsumsi sayuran dan 62,1% tidak mengonsumsi buah-buahan. Di Indonesia ini begitu banyak berbagai macam sayuran dari warna hijau, kuning, merah dan lainnya, dan begitupun pada buah-

41 23 buahan. Begitu banyak manfaat buah dan sayuran maka dari itu marilah perbanyak mengonsumsi sayur dan buah agar hidup lebih sehat. 4. Bawalah air putih dan bekal dari rumah Biasakanlah untuk membawa bekal makanan dan air putih karena makanan dari rumah lebih sehat dan terjamin, dibanding dengan makanan luar seperti junk food dan makanan cepat saji lainnya yang mana kita tidak mengetahui kandungan dalam makanan dan minuman tersebut, maka untuk lebih menjaga kesehatan kita bawalah bekal dari rumah dan air putih yang cukup. Apalagi untuk anak sekolah yang dari pagi sampai sore di sekolah maka sangat membutuhkan asupan gizi agar kebutuhan gizi terpenuhi. 5. Membatasi konsumsi makanan jajanan dan cepat saji Pada masyarakat perkotaan pada umumnya sering mengonsumsi makanan jajanan dan cepat saji. Makanan cepat saji adalah makanan yang kadar gulanya tinggi, sehingga untuk mengonsumsi makanan jajanan dan cepat saji tidak berlebihan. 6. Sikatlah gigi setidaknya dua kali sehari Pada sela gigi sering tertinggal sisa makanan. Maka sisa makanan itu dimetabolisme oleh bakteri dan menghasilkan metabolit berupa asam, yang dapat menyebabkan terjadinya pengeroposan gigi. Biasakan setelah makan menyikat gigi agar menghindari kerusakan gigi. Begitu juga sebelum tidur, sikatlah gigi agar tetap bersih dan sisa makanan yang tertinggal disela gigi menghilang. Waktu makan pada saat puasa. Pada saat puasa makan juga ada aturannya waktu, dimana ada waktu yang tidak dibolehkan makan ataupun

42 24 minum, yaitu mulai sekitar pukul 06:00 WIB - 18:00 WIB. Namun waktu-waktu diperbolehkannya makan yaitu sahur sekitar jam 04:00 WIB dan berbuka sekitar jam 18:00 WIB, berbuka pada malam hari waktu yang panjang untuk bisa makan dan minum. Waktu sahur. Pada saat sahur kebanyakan orang merasa malas untuk makan, dikarena merasa ngantuk dan tidak selera makan. Akan tetapi makan pada saat sahur sangat penting agar tubuh tidak merasa lemas dan kekurangan asupan gizi, dimana saat puasa asupan energi sangat dibutuhkan. Saat sahur sangat dianjurkan untuk mengonsumsi protein yang tinggi, agar lebih lama bertahannya makanan tersebut di dalam lambung. Penyerapan dan pencernaan protein lebih lama dari pada makanan yang kualitas karbohidrat yang tinggi. Pada usia remaja sangat penting untuk minum susu, setidaknya satu gelas perhari. Untuk usia dewasa bisa memilih susu tanpa lemak. Pada waktu sahur dapat mengonsumsi suplemen multivitamin dan mineral agar meningkatkan daya tahan tubuh dan stamina. Jika waktu sahur tidak selera makan dalam bentuk nasi, maka bisa diganti dengan bubur havermouth atau roti yang ada isinya. (Sekarindah, 2010). Waktu berbuka. Pada saat berbuka puasa tubuh sangat membutuhkan sumber energi yang dalam bentuk glukosa. Karena pada saat puasa terjadinya pengeluaran energi dan tidak adanya asupan energi makan tubuh sangat membutuhkannya. Waktu berbuka puasa inilah asupan-asupan gizi dikonsumsi lagi untuk menggantikan yang telah keluar.

43 25 Sekarindah (2010) menyarankan bahwa pada waktu berbuka pilihlah menu yang terdiri dari makanan pembuka, berupa minuman dan makanan manis, yaitu teh manis, kurma, dan kolak pisang. Sebagaimana mengonsumsi makanan yang manis mengandung karbohidrat sederhana yang mudah diserap dan dapat segera menaikan kadar gula darah. Setelah sholat magrib, dianjurkan mengonsumsi makanan utama yaitu berupa (nasi atau sejenisnya, lauk-pauk, sayuran dan buahbuahan). Kemudian sesudah terawih, dapat mengonsumsi makanan camilan. Aktivitas Fisik Berdasarkan WHO aktivitas fisik (physical activity) adalah aksi tubuh yang diakibatkan otot rangka yang membutuhkan pengeluaran energi. Aktivitas fisik melibatkan cara biomekanik dan biokimia. Seseorang yang beraktivitas fisik sedang atau berat ataupun keduanya ialah tolak ukur aktivitas fisik aktif, sebaliknya seseorang yang tidak melakukan aktivitas fisik sedang ataupun berat ialah tolak ukur kurang aktif. (Kemenkes RI, 2013) Aktivitas fisik ialah sebagai gerakan tubuh dihasilkan oleh kontraksi otot rangka. Proses biomekanik atau biokimia yang relatif dipahami ini mengarah pada serangkaian respons kompleks dalam tubuh yang memiliki berbagai dimensi yang berhubungan dengan kesehatan dan kinerja, hubungan yang bervariasi tergantung pada karakteristik aktivitas dan hasil kesehatan tertentu. Aktivitas fisik dapat dikategorikan oleh beberapa variabel, termasuk jenis dan intensitas. Intensitas suatu kegiatan dapat dijelaskan dalam istilah absolut dan relatif. Secara absolut, intensitas adalah besarnya peningkatan energi yang diperlukan untuk melakukan aktivitas atau kekuatan yang dihasilkan oleh

44 26 kontraksi otot. Peningkatan energi biasanya ditentukan dengan mengukur peningkatan ambilan oksigen, yang dinyatakan dalam satuan oksigen atau konversi ke ukuran panas atau pengeluaran energi (kj). Kekuatan kontraksi otot diukur dengan berapa banyak berat yang dipindahkan atau gaya yang diberikan terhadap objek yang tidak bergerak dan dinyatakan dalam kg. Dalam hal relatif, intensitas aktivitas dinyatakan dalam kaitannya dengan kapasitas orang tersebut melakukan aktivitas. Untuk pengeluaran energi, intensitas biasanya dinyatakan sebagai persentase dari kapasitas aerobic seseorang (persentase penyerapan oksigen maksimal). (Haskell, 2000) Telah berlimpah penelitian membenarkan bahwa aktivitas fisik dengan intensitas tertentu memberikan banyaknya keuntungan buat kesehatan. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat beragam sarana yang memberikan kemudahan pada manusia, sehingga mengurangi pengeluaran energi. Dengan perkembangan teknologi, saat ini prevalensi berbagai penyakit yang terpaut semakin meningkatnya pada rendahnya aktivitas fisik. Menurut penelitian diberbagai negeri menyatakan bahwa aktivitas fisik yang cukup bermanfaat untuk kesehatan terutama untuk mengurangi resiko berbagai penyakit kronis seperti stroke, kelainan jantung, penyakit kanker payudara, diabetes mellitus tipe 2, kanker kolon serta depresi, obesitas dan gizi lebih. Sebagian besar remaja banyak menghabiskan aktivitasnya di sekolah dalam waktu 8 jam yaitu aktivitas belajar dan bermain waktu jam istirahat.

45 27 Sedangkan di rumah ± 5 sampai 6 jam melakukan aktivitas yaitu: melakukan pekerjaan rumah, bermain di lingkungan, dan membantu orang tua. Agar keadaan tubuh remaja tetap baik maka remaja harus beraktivitas dan asupan pangan yang terkandung zat gizi yang baik dan cukup. Aktivitas fisik menunjukkan keadaan kesehatan seseorang. Risiko kegemukan dan obesitas dapat meningkat kerena kelebihan energi dan rendahnya beraktivitas fisik. Maka dari itu, angka kecukupan energi seseorang disesuaikan dengan aktivitas fisik (FAO/WHO/UNU, 2001). Aktivitas fisik dan Angka Metabolisme Basal (AMB) atau Basal Metabolic Rate (BMR) merupakan komponen utama yang menentukan kebutuhan energi. AMB dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, dan tinggi badan. Penumpukan lemak dapat terjadi karena pengeluaran energi yang tidak sebanding dengan aktivitas fisik dan pada akhirnya akan mengakibatkan obesitas dan kegemukan. Berdasarkan WHO (1995) IMT lebih dari 30 termasuk obesitas dan IMT lebih dari 25 menyebabkan obesitas. Untuk meningkatkan derajat kesehatan maka perlu melakukan aktivitas fisik yang teratur dengan cara pengurangan penggunaan televisi maupun alat elekronik untuk sarana hiburan dan peningkatan aktivitas berolahraga yang teratur. Kurangnya aktivitas fisik bisa mengakibatkan berkurangnya massa otot, sehingga mudah terjadinya penumpukan lemak (Rusyadi, 2017). Aktivitas fisik bisa dinilai pada bentuk jumlah volume aktivitas fisik maupun dengan pengeluaran energi yang berkaitan dangan aktivitas fisik. Total volume aktivitas fisik sangat berperan pada saat pengkajian aktivitas fisik yang

46 28 dilakukan, total volume aktivitas fisik yang dilakukan, dikarenakan faktor tersebut akan memberikan efek yang signifikan pada status kesehatan. Jumlah volume aktivitas fisik bisa diukur dengan satuan Metabolic Energyn Turnover (MET) baik perhari atau perminggu. Kuesioner adalah cara yang sering digunakan untuk menghitung total aktivitas fisik. Menurut FAO/WHO/UNU (2001) kategori tingkat aktivitas fisik dengan nilai Physical Activity Level (PAL) dibagi menjadi tiga, yaitu: ringan jika PAL ( ), sedang jika PAL ( ), berat jika PAL ( ). Angka kebutuhan energi dihitung dengan pendekatan pengeluaran energi, yaitu angka metabolisme basal dikali dengan tingkat aktivitas fisik. Tabel 3 Tingkat Aktivitas Fisik (Physical Activity Level) Kategori Aktivitas Fisik Nilai PAL Ringan Sedang Berat Sumber: FAO / WHO / UNU, 2001 Puasa Sunnah Puasa dalam bahasa Arab disebut as-saum atau as-siyam yang artinya imsak atau menahan diri dari segala sesuatu. Dengan kata lain, puasa ialah, Menahan diri dari makan, minum, jima dan yang lainnya. Jadi, orang yang meninggalkan makan, minum, dan bersetubuh dapat dikatakan berpuasa sebab ia menahan diri darinya. Sedangkan pengertian puasa menurut istilah ulama fiqh puasa adalah menahan diri dari segala yang membatalkan sehari penuh mulai dari terbit fajar shadiq hingga terbenam matahari dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.

47 29 Rukun Islam yang ketiga adalah puasa, puasa merupakan salah satu ibadah dalam agama Islam yaitu memiliki arti dari menahan diri segala sesuatu yang membatalkan puasa dan dari segala sesuatu yang membatalkan diri, yaitu mengikuti perut, farji (kemaluan) dan syahwat, dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat khusus (Suhandjati, 2009). Segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah yaitu suatu perbuatan, perkataan, dan pengakuan (taqrir), atau kondisi fisik atau keadaan akhlak atau sejarah kehidupannya adalah dikatakan sunnah, mau itu sesudah diangkat menjadi Rasul ataupun sebelumnya (Wahid & Husnel, 2011). Puasa sunnah merupakan puasa yang dikerjakan pada hari-hari sepanjang tahun, kecuali pada hari yang dilarang untuk mengerjakan puasa. Ada hari-hari yang ditentukan untuk berpuasa sunnah. Dan banyak macam-macam dari puasa sunnah itu sendiri. Puasa sunnah Senin dan Kamis adalah puasa kesukaan Rasulullah Salallahu Alaihi Wasallam. dan para sahabatnya. Puasa sunnah ini menjadi suatu ciri khas dari umat Muhammad Salallahu Alaihi Wasallam. Sebagai suatu amalan puasa sunnah. Perintah untuk menjalankan puasa sunnah ini sebenarnya sudah ada dari umat-umat sebelumnya. Dari beberapa Nabi ada yang menjalankan puasa khusus, sehingga menjadi ciri khas amalan puasanya (Yusuf, 2013). Puasa sunnah senin-kamis ini bukan suatu ibadah rutinitas yang biasa dilaksanakan dengan gampang, lain hal dengan puasa wajib pada bulan Ramadhan, dikarenakan banyaknya rintangan serta godaan yang tidak mudah saat menjalankan puasa sunnah senin dan kamis ini. Kebanyakan ummat muslim

48 30 masih jarang dalam mengerjakan puasa sunnah ini. Oleh karenanya, menjadi orang yang jarang (karena amalan puasa sunnahnya) di antara sekian ummat, harus mengalami yang sulit lagi rumit, di mana orang kebanyakan tidak mampu atau tidak mau menjalankannya puasa sunnah senin dan kamis ini. Secara rasional, puasa ini lebih ringan jika dibandingkan puasa Ramadhan, karena puasa senin dan kamis hanya dilakukan dua kali dalam seminggu, sedangkan puasa Ramadhan sepanjang bulan secara berturut-turut. Tetapi di sisi lain, puasa sunnah senin dan kamis bisa dipandang lebih berat untuk dijalankan dibandingkan dengan puasa Ramadhan. Mengapa demikian? Karena, hukum menjalankan puasa senin dan kamis adalah sunnah. Karena kedudukan yang demikian, serta kesadaran ummat islam di Indonesia yang belum tinggi untuk mengamalkan sunnah-sunnah Rasul Salallahu Alaihi Wasallam, (Suyadi, 2007). Kerangka Konsep Kerangka konsep menggambarkan bahwasannya pola makan menurut (jenis, jumlah, frekuensi) serta aktivitas fisik pada siswi yang sering puasa sunnah dapat mempengaruhi status gizi siswi. Apabila jenis, jumlah dan frekuensi makan tidak sesuai dengan kebutuhan dan aktivitas fisik yang tidak sesuai maka akan berdampak terhadap kurangnya cadangan energi didalam tubuh, sehingga akan mempengaruhi status gizi siswi tersebut. Dapat diketahui bahwa aspek yang akan diteliti oleh peneliti adalah untuk mencari hubungan pola makan dan aktivitas fisik dengan status gizi siswi yang puasa sunnah di sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor. Berikut ini adalah gambaran variabel yang akan diteliti:

49 31 Pola makan: - Jenis - Jumlah - Frekuensi Status gizi Aktivitas fisik Gambar 1. Kerangka konsep Hipotesis 1. Ada hubungan pola makan dengan status gizi siswi yang puasa sunnah di sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor 2. Ada hubungan aktivitas fisik dengan status gizi siswi yang puasa sunnah di sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor

50 Metode Penelitian Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan desain cross sectional yaitu peneliti mempelajari hubungan pola makan dan aktivitas fisik dengan status gizi siswi yang puasa sunnah. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian. Lokasi penelitian ini dilakukan di SMAS Islam Ulun Nuha, Jl. Karya Darma Gg. Pipa II, Kelurahan Pangkalan Masyhur, Kecamatan Medan Johor, Medan. Waktu penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2018 dan direncanakan selesai pada Desember Populasi dan Sampel Populasi. Populasi dalam penelitian ini adalah 82 siswi SMA Islam Ulun Nuha di Medan Johor. Sampel. Sampel dalam penelitian ini adalah 62 siswi di SMA Islam Ulun Nuha di Medan Johor. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah: 1. Siswi yang dalam jangka waktu sebulan ada berpuasa sunnah 2. Bersedia dan setuju menjadi responden Kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah: 1. Siswi yang tidak hadir 2. Siswi yang tidak ada berpuasa dalam jangka waktu sebulan 32

51 33 Metode Pengumpulan Data Data primer. Data primer dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik wawancara secara langsung dan melakukan pengukuran pola makan dengan lembar Form Food Recall dan Form Food Frequency Questionnaires untuk mengingat makanan apa saja yang dikonsumsi pada hari sebelumnya. Tiap jenis makanan yang telah dituliskan pada lembar Form Food Recall akan dihitung kandungan energinya dalam kkal dan protein dalam gram dengan acuan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM). Sedangkan untuk melihat frekuensi makan siswi peneliti melihat berdasarkan lembar Form Food Frequency Questionnaires yang telah isi oleh responden. Aktivitas fisik dihitung dengan menggunakan tingkat aktivitas fisik (Physical Activity Level). Status gizi dapat dilakukan dengan menggunakan pengukuran antropometri berupa tinggi badan dan berat badan kemudian dihitung IMT (Indeks Massa Tubuh) dan dikategorikan berdasarkan nilai z-score IMT/U. Pengukuran tinggi badan dilakukan dengan menggunakan microtoice dan berat badan dilakukan dengan menggunakan timbangan berat badan. Data sekunder. Data sekunder diperoleh dari sekolah dan diperlukan untuk melihat jumlah siswi SMA Islam Ulun Nuha Medan Johor. Variabel dan Definisi Operasional Variabel. Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel dependen dan variabel independen, yang termasuk variabel dependen yaitu status gizi dan variabel independen pola makan dan aktivitas fisik.

52 34 Definisi operasional. Berdasarkan variabel independen dan dependen yaitu pola makan, aktivitas fisik dan status gizi siswi yang puasa sunnah. 1. Pola makan adalah kebiasaan makan berdasarkan jenis, jumlah, frekuensi makanan yang dimakan oleh siswi SMA Islam Ulun Nuha dalam jangka waktu tertentu. 2. Jenis makan adalah berbagai macam makanan yang dikonsumsi oleh siswi dalam sehari. 3. Jumlah makan adalah banyaknya energi dan protein yang dikonsumsi siswi dalam sehari. 4. Frekuensi makan adalah tingkat keseringan mengkonsumsi makanan yang dilakukan oleh siswi dalam sehari. 5. Aktivitas fisik adalah berbagai kegiatan fisik yang dilakukan oleh siswi dalam sehari. 6. Status gizi adalah keadaan gizi seorang remaja yang diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang diukur berdasarkan IMT/U. Metode Pengukuran Pengukuran yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi pola makan, aktivitas fisik dan status gizi pada siswa yang puasa sunnah. 1. Pola Makan Pola makan diukur berdasarkan jenis, jumlah, dan frekuensi makanan yang dikonsumsi, kategorinya:

53 35 a. Baik, jika jenis makanan beragam, jumlah berdasarkan energi dan protein baik, dan frekuensi makan yang dikonsumsi sering untuk jenis makanan pokok. b. Tidak baik, jika jenisnya tidak beragam, jumlah berdasarkan energi dan protein tidak baik, dan frekuensi makan yang dikonsumsi jarang untuk jenis makanan pokok. 1) Jenis makanan Jenis makanan diukur dengan menggunakan form food recall. Jenis makanan juga dapat dilihat dari kelengkapan makanan yang dikonsumsi, kategorinya: a) Beragam: Apabila dalam konsumsi makan utama terdiri dari makanan pokok, lauk-pauk (hewani atau nabati), sayuran dan buah-buahan. b) Tidak Beragam: Apabila dalam konsumsi makan utama tidak ada salah satu dari makanan pokok, lauk-pauk (hewani atau nabati), sayuran dan buah-buahan. 2) Jumlah makanan Tingkat kecukupan gizi diukur dengan melihat jumlah tingkat energi dan protein dengan rumus: Keterangan: TK K Kc : Tingkat Kecukupan : Konsumsi : Kecukupan yang dianjurkan

54 36 Jumlah makanan diukur dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM), dengan tingkatan: a) Energi (Kkal) Lebih: >110% AKG Baik: % AKG. Kurang: <80% AKG. b) Protein (gr) Lebih: >110% AKG Baik: % AKG. Kurang: <80% AKG. 3) Frekuensi makanan Frekuensi makan diukur dengan melihat Form Food Frequency Questionnaires, dengan kategori: a) Selalu : 1-3 kali/sehari. b) Jarang: 1-3 kali/seminggu. c) Kadang-kadang: 1-3 /bulan d) Tidak pernah 2. Aktivitas Fisik Aktivitas fisik dihitung dengan menggunakan tingkat aktivitas fisik (Physical Activity Level), dengan rumus: PAL = Keterangan: PAL = Physical Activity Level (Tingkat Aktivitas Fisik)

55 37 PAR = Physical Activity Ratio (jumlah energi yang dikeluarkan untuk jenis aktivitas per satuan waktu tertentu). Data aktivitas fisik diperoleh setelah melakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner dan kemudian dikategorikan sebagai berikut: a. Ringan, jika PAL b. Sedang, jika PAL c. Berat, jika PAL Status Gizi Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U) merupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi pada remaja. Status gizi remaja dapat diukur menggunakan software WHO AnthroPlus dengan melihat Z-score Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) kemudian disesuaikan dengan kategorinya. a. Sangat kurus: <-3 SD b. Kurus: -3 SD sampai dengan <-2 SD c. Normal: -2 SD sampai dengan 1 SD d. Gemuk: >1 SD sampai dengan 2 SD e. Obesitas: >2 SD Instrumen Penelitian Instrument yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Alat tulis 2. Form Food Recall 3. Form Food Frequency Questionnaires 4. Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM)

56 38 5. Timbangan 6. Microtoice Metode Analisis Data Pengolahan data. Data yang telah terkumpul kemudian diolah (editing, coding, entry, dan cleaning data). 1. Editing, yaitu memeriksa kelengkapan, kejelasan makna jawaban, konsistensi maupun kesalahanan jawaban pada kuesioner. Apabila terdapat data yang kurang lengkap maka akan dilengkapi kembali oleh responden. 2. Coding, yaitu memberikan kode-kode (khususnya yang berbentuk angka/bilangan) untuk memudahkan proses pengolahan data. 3. Entry, yaitu memasukkan data untuk diolah menggunakan computer apabila data sudah benar dan telah melewati editing dan coding. 4. Cleaning, yaitu membersihkan data dari kesalahan apabila ada dengan melihat missing data, variasi data dan konsistensi data. Analisis data. Hasil analisis data disajikan dalam bentuk distribusi dan persentase. Adapun analisis data yang disajikan sebagai berikut adalah: 1. Analisis Univariat Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisis univariat dimaksudkan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi variabel dependen yaitu status gizi siswi beserta risiko independennya antara lain pola makan dan aktivitas fisik. 2. Analisis Bivariat Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel dependen dan independen dalam bentuk tabulasi silang (crosstab) dengan menggunakan

57 39 program komputer dengan uji Chi-Square. Untuk mengetahui signifikansi (derajat kemaknaan) hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen ditentukan dengan nilai (α) = 0,05. Apabila nilai p < 0,05 maka ada hubungan yang signifikan antara variabel independen dan dependen.

58 Hasil Penelitian Gambaran Umum Sekolah Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor dengan NPSN , beralamat di jalan Karya Darma Gg. Pipa II, Kelurahan Pangkalan Masyhur, Kecamatan Medan Johor, Medan. Status sekolah swasta, berjenjang akreditasi B. Adapun visi sekolah adalah: Membentuk generasi Islam yang berilmu dan berakhlakul karimah serta mampu menghadapi tantangan era globalisasi. Adapun misi sekolah adalah menerapkan pendidikan Islam sebagaimana yang dituntunkan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, Menanamkan dana atau mengajarkan aqidah, ibadah, shalihah, akhlakul karimah dan pemahaman hukum-hukum islam yang shalih, membentuk pribadi yang ta at kepada Allah dan Rasul-Nya serta berbakti kepada orang tua, menumbuhkan kecerdasan dengan menanamkan kecintaan untuk membaca dan menghafal alqur an, menumbuhkan kreatifitas dan kemandirian siswa, Membentuk generasi yang mampu berinteraksi dengan kemajuan teknologi dan penguasaan sains. Dari segi kelengkapan fasilitas sekolah tersebut juga telah memenuhi standart yang telah ditetapkan pemerintah yaitu ruang kelas yang memenuhi standart untuk digunakan dalam belajar, seperti kelengkapan yang menunjang kebutuhan siswi dalam hal belajar dan aktivitas di sekolah. Fasilitas sekolah yang terdapat disekolah yaitu berupa lapangan olahraga yang mana dapat menunjang aktivitas fisik siswi di sekolah tersebut, kegiatan aktivitas fisik siswi di lapangan olahraga dalam pembelajaran penjas/olahraga yang mana dilaksanakan seminggu sekali setiap kelas, olahraga yang sering 40

59 41 dilakukan siswi yaitu berupa bulu tangkis, bola voli, dan tenis meja. Fasilitas sekolah berupa rumah ibadah atau mushollah juga disediakan, dimana pada saat waktu istirahat pertama siswi dan para guru melaksanakan sholat dhuha dan istirahat kedua melaksanakan sholat dzuhur berjamaah. Fasilitas kantin yang terdapat di dalam sekolah yang mana siswi bisa membeli makanan dan minuman ringan seperti bakso goreng, batagor, gorengan, donat, es mambo, dan lainnya. Dan di luar sekolah juga terdapat penjual makanan seperti yang ada di kantin sekolah hanya saja perbedaannya di luar terdapat makanan berat seperti nasi, mie goreng, jus, dan lainnya. Akan tetapi siswi harus mendapat izin terlebih dahulu untuk keluar sekolah kepada guru yang piket. Karakteristik Responden Berdasarkan gambaran karakteristik umur pada siswi diketahui jumlah terbanyak yaitu 36 siswi (58,1 %) dengan usia tahun. Berdasarkan karakteristik kelas, rata-rata responden adalah kelas X yaitu berjumlah 27 siswi (43,5 %). Berdasarkan status tinggal siswi dapat dilihat bahwa yang non asrama lebih banyak sebesar 39 siswi (62,9 %). Distribusi karakteristik responden siswi di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor dapat disajikan pada Tabel 4 berikut. Tabel 4 Distribusi Karakteristik Responden yang Sering Berpuasa Sunnah di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor Karakteristik n=62 Persen Umur: tahun 26 41, tahun 36 58,1 Kelas: Kelas X 27 43,5 Kelas XI 21 33,9 Kelas XII 14 22,6 (Lanjut)

60 42 Tabel 4 Distribusi Karakteristik Responden yang Sering Berpuasa Sunnah di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor Karakteristik n=62 Persen Status Tinggal: Asrama Non Asrama Pola Makan Siswi ,1 62,9 Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pola makan siswi masih ada yang tidak baik sejumlah 21 siswi (33,9%), pola makan yang tidak baik pada siswi dikarenakan menurut jenis makanan yang dikonsumsi tidak beragam yaitu tidak mengonsumsi sayur dan buah, menurut jumlah energi dan protein juga tidak baik, dan frekuensi makan juga tidak selalu. Gambaran pola makan siswi di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor dapat disajikan pada Tabel berikut: Tabel 5 Distribusi Pola Makan Siswi yang Sering Berpuasa Sunnah Pola Makan n=62 Persen Baik 41 66,1 Tidak baik 21 33,9 Pola makan yang baik bagi remaja ditentukan oleh jenis makanan yang beragam, jumlah menurut energi dan protein baik, dan frekuensi makan selalu. Jenis makanan. Hasil penelitian pada jenis makanan dapat dilihat bahwa masih ada jenis makanan siswi yang tidak beragam yaitu sebesar 17 siswi (27,4%), jenis makanan yang tidak beragam jika salah satu makanannya tidak dikonsumsi. Pada siswi Sekolah Islam Ulun Nuha setiap kali makan mengkonsumsi makanan yang beragam atau mengkonsumsi 4 jenis makanan dalam sehari, yaitu makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah yaitu sebanyak

61 43 45 siswi (72,6 %). Gambaran jenis makanan siswi yang berpuasa sunnah di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor dapat dilihat pada Tabel berikut. Tabel 6 Distribusi Jenis Makanan Siswi yang Berpuasa Sunnah Jenis Makanan n=62 Persen Beragam 45 72,6 Tidak beragam 17 27,4 Jumlah makanan. Pola makan berdasarkan jumlah makanan yang dikonsumsi siswi berdasarkan penelitian dapat dilihat bahwa rata-rata asupan energi yang dikonsumsi siswi dengan kategori baik yaitu 54 siswi (87,1 %), dan rata-rata asupan protein yang dikonsumsi siswi yaitu dengan kategori lebih sebanyak 41 siswi (66,1 %). Distribusi asupan energi, protein pada siswi di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini. Tabel 7 Distribusi Jumlah Makan Siswi yang Sering Berpuasa Sunnah Kecukupan zat gizi n=62 Persen Energi: Lebih 7 11,3 Baik 54 87,1 Kurang 1 1,6 Protein: Lebih 41 66,1 Baik 21 33,9 Frekuensi makanan. Berdasarkan frekuensi makanan siswi dalam penelitian yang dilakukan pada jenis makanan pokok yang sering dikonsumsi siswi yaitu nasi, mie, dan roti putih, dan diketahui bahwa nasi adalah makanan pokok yang selalu dikonsumsi siswi dengan frekuensi 1-3 kali perhari yaitu sebesar 62 siswi (100%). Jenis lauk hewani yang sering dikonsumsi siswi yaitu, ikan segar, udang, daging ayam, telur ayam. Dan diantara lauk hewani tersebut terdapat ikan segar

62 44 adalah yang selalu dikonsumsi siswi dengan frekuensi 1-3 kali perhari sebesar 44 siswi (71,0%), sedangkan pada lauk nabati seperti tahu dan tempe dengan frekuensi 1-3 kali perminggu sebesar 42 siswi (67,7%). Umumnya sayuran yang sering dikonsumsi siswi adalah sayur bayam, kangkung, daun singkong, kol, kembang kol, brokoli, kacang panjang, dan buncis. Dari tingkat keseringan siswi mengkonsumsi sayuran dapat dilihat bahwa sayur bayam dan daun singkong adalah sayur yang sering dikonsumsi siswi dengan frekuensi 1-3 kali perhari yaitu sebesar 15 siswi (22,6 %) mengonsumsi bayam dan 15 siswi (24,2%) mengonsumsi daun singkong. Berdasarkan penelitian untuk buah-buahan yang sering dikonsumsi siswi yaitu pisang, jeruk dan apel. Pada buah yang paling sering dikonsumsi siswi yaitu pisang dengan frekuensi 1-3 kali perhari sebesar 22 siswi (35,5%). Tabel 8 Distribusi Frekuensi Makan Siswi yang Berpuasa Sunnah Berdasarkan Makanan Pokok, Lauk Hewani, Lauk Nabati, Sayuran, Buah dan Lain-Lainnya. Frekuensi Jenis makanan 1-3 /hr 1-3 /mngg 1-3 /bln Tidak pernah Total n % n % n % n % n % Makanan pokok Nasi ,0 0 0,0 0 0, ,0 Mie 0 0, , ,8 0 0, ,0 Roti putih 22 35, , ,7 0 0, ,0 Lauk-pauk Ikan segar 44 71, ,0 0 0,0 0 0, ,0 Udang 7 11, , ,6 3 4, ,0 Daging ayam 13 21, ,8 2 3,2 0 0, ,0 Telur ayam 11 17, ,8 4 6,5 0 0, ,0 Tahu 11 17, ,7 8 12,9 1 1, ,0 (Lanjut)

63 45 Tabel 8 Distribusi Frekuensi Makan Siswi yang Berpuasa Sunnah Berdasarkan Makanan Pokok, Lauk Hewani, Lauk Nabati, Sayuran, Buah dan Lain-Lainnya. Frekuensi Jenis makanan 1-3 /hr 1-3 /mngg 1-3 /bln Tidak pernah Total n % n % n % n % n % Tempe 10 16, , ,1 0 0, ,0 Sayur-sayuran Bayam 15 22, ,3 9 14,5 0 0, ,0 Kangkung 10 16, , ,1 0 0, ,0 Daun singkong 15 24, ,4 4 6,5 0 0, ,0 Kol 0 0, , ,3 3 4, ,0 Kembang kol 0 0, , ,3 2 3, ,0 Brokoli 9 14, , ,7 0 0, ,0 Kacang 0 0, , ,1 3 4, ,0 panjang Buncis 0 0, , ,5 1 1, ,0 Buah-buahan Jeruk 13 21, ,7 7 11,3 0 0, ,0 Papaya 0 0, ,9 8 12,9 2 3, ,0 Apel 13 21, , ,5 0 0, ,0 Pisang Minuman 22 35, ,0 9 14,5 0 0, ,0 Susu 43 69, ,4 0 0,0 2 3, ,0 Ice cream 0 0, , ,6 0 0, ,0 Teh manis 5 8, ,1 0 0,0 3 4, ,0 Makanan jajanan Fried chicken 0 0, , ,2 0 0, ,0 Donat 0 0, , ,6 0 0, ,0 Bakso 14 22, , ,8 0 0, ,0 Batagor 9 14, , ,8 0 0, ,0 Pudding/agaragar 0 0, , ,5 0 0, ,0 Coklat 0 0, , ,9 0 0, ,0

64 46 Aktivitas Fisik Berdasarkan tabel dibawah ini dapat dilihat bahwa aktivitas fisik siswi yang paling banyak adalah dengan kategori ringan yaitu sebanyak 43 siswi (69,4 %) dan paling sedikit dengan kategori sedang yaitu sebanyak 19 siswi (30,6 %). Distribusi aktivitas fisik siswi di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor dapat dilihat pada Tabel 9 berikut. Tabel 9 Distribusi Aktivitas Fisik Siswi yang Sering Berpuasa Sunnah Kategori aktivitas fisik n=62 Persen Ringan 43 69,4 Sedang 19 30,6 Status Gizi Siswi Berdasarkan tabel dibawah ini dapat dilihat status gizi siswi terdiri dari empat kategori yaitu kurus, normal, gemuk, obesitas. Dari keempat kategori tersebut rata-rata status gizi siswi adalah normal yaitu sebanyak 46 siswi (74,2 %), akan tetapi masih ada status gizi siswi yang tidak normal yaitu sebanyak 16 siswi (25,8%) dengan kategori kurus, gemuk, dan obesitas. Distribusi status gizi siswi yang puasa sunnah di sajikan pada tabel berikut. Tabel 10 Distribusi Status Gizi Siswi yang Sering Berpuasa Sunnah Status Gizi n=62 Persen Kurus 7 11,3 Normal 46 74,2 Gemuk 6 9,7 Obesitas 3 4,8 Hubungan pola makan dengan status gizi siswi yang sering puasa sunnah. Berdasarkan Tabel 11, menjelaskan tentang hasil analisis bivariat dimana

65 47 dapat diketahui mengenai hubungan pola makan dengan status gizi siswi yang puasa sunnah. Diperoleh bahwa dari 7 siswi (17%) yang pola makannya baik dengan status gizi tidak baik yaitu dengan kategori kurus, gemuk, dan obesitas, terdapat 12 siswi (57,1%) yang pola makannya tidak baik dengan status gizi baik, dan terdapat 9 siswi (42,8%) yang pola makannya tidak baik dan memiliki status gizi tidak baik yang terdiri dari status gizi kurus, gemuk dan obesitas. Hal ini menjelaskan bahwa terdapat perbedaan pola makan yang baik dan buruk terhadap status gizi siswi. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji Chi Square, menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pola makan dengan status gizi pada siswi yang sering puasa sunnah (p < 0,025). Data hubungan pola makan dengan status gizi siswi dapat dilihat pada tabel 11. Tabel 11 Hubungan Pola Makan dengan Status Gizi Siswi yang Sering Puasa Sunnah Status Gizi Total P Pola Makan Kurus Normal Gemuk Obesitas n % n % n % n % n % Baik 5 12, ,9 1 2,4 1 2, ,0 0,025 Tidak baik 2 9, ,1 5 23,8 2 9, ,0 Hubungan aktivitas fisik dengan status gizi pada siswi yang sering puasa sunnah. Berdasarkan tabel 12 dapat dilihat bahwa siswi yang aktivitas fisiknya ringan dengan status gizi baik ada 27 siswi (62,8%), siswi yang aktivitasnya ringan dengan status gizi tidak baik sebanyak 16 siswi (37,3%) dengan kategori kurus, gemuk, dan obesitas. Sedangkan aktivitas sedang dengan status gizi normal ada 19 siswi (100,0%). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat

66 48 perbedaan aktivitas ringan dengan status gizi dan aktivitas sedang dengan status gizi. Analisa statistik dengan menggunakan uji Chi-square, menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan status gizi siswi yang sering puasa sunnah p = 0,023. Data hubungan aktivitas fisik dengan status gizi siswi disajikan pada Tabel 12 dibawah ini. Tabel 12 Hubungan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi Siswi Status Gizi Aktivitas Fisik Total Kurus Normal Gemuk Obesitas n % n % n % n % n % Ringan 7 16, ,8 6 14,0 3 7, ,0 0,023 Sedang 0 0, ,0 0 0,0 3 4, ,0 P

67 Pembahasan Status Gizi Siswi Status gizi siswi diperoleh melalui pengukuran indeks antropometri IMT menurut umur dengan melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa status gizi siswi kelas X, XI, dan XII di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor sebagian besar responden memiliki status gizi normal yaitu sebesar 74,2 %, namun ada juga yang masih berstatus gizi tidak baik yaitu meliputi kurus sebesar 11,3%, gemuk sebesar 9,7%, dan obesitas sebesar 4,8%. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu pada siswi dengan status gizi yang kurus dikarenakan pola makan yang tidak baik dimana pada asupan energi yang kurang sehingga dapat menyebabkan status gizi kurus dan juga pada aktivitas fisik siswi yang cenderung sedang dapat mempengaruhi berat badan, karena banyaknya kalori yang dibakar saat melakukan aktivitas fisik. Remaja yang gemuk dan obesitas memiliki rata-rata asupan energi lebih tinggi yang melebihi dari AKG yang dianjurkan (2125 kkal), asupan energi yang berlebih akan mengakibatkan bertambahnya berat badan, dan jenis makanan remaja yang sering mengonsumsi makanan tinggi lemak seperti mie, bakso, cokelat dan lainnya. Kebiasaan mengonsumsi makanan yang tidak baik pada siswi yang obesitas seperti makan lebih dari satu kali maksudnya pada saat makan siang siswi mengonsumsi nasi, lauk-pauk, sayuran, dan dalam waktu yang bersamaan mengonsumsi makanan yang tinggi karbohidrat seperti mie kuah, bakso, roti cokelat dan lain-lain. 49

68 50 Hubungan Pola Makan dengan Status Gizi Siswi yang Sering Puasa Sunnah Hasil dari penelitian mengenai hubungan pola makan dengan status gizi siswi yang sering puasa sunnah, yaitu terdapat pola makan yang baik dengan status gizi normal sebesar 82,9 %. Siswi yang memiliki status gizi normal dengan pola makan baik, yaitu diukur melalui pola makan dari jenis, jumlah, dan frekuensi. Apabila jenis makanan beragam, jumlah energi dan protein baik, dan frekuensi makanan pokok sering, maka dikatakan pola makan yang baik. Berdasarkan hasil statistik mengenai pola makan dengan status gizi siswi dengan menggunakan uji Chi Square didapatkan nilai p = 0,025 yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan status gizi siswi yang sering puasa sunnah di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor. Hal ini terjadi karena pola asupan makan yang baik akan mempengaruhi status gizi siswi. Berdasarkan hasil penelitian konsumsi rata-rata energi siswi lebih dari 2125 kkal perhari. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata konsumsi energi siswi yang puasa sunnah dalam sehari sudah kategori baik dari Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang telah dianjurkan yaitu sebesar 87,1 %. Kecukupan energi kategori baik yaitu 90 % sampai 110 %. Komsumsi energi dengan kategori lebih baik yaitu lebih besar 110 % sebesar 11,3 %. Sedangkan konsumsi energi dengan kategori kurang yaitu kurang dari 80 % sebesar 1,6 %. Berdasarkan hasil penelitian bahwa siswi yang sering puasa sunnah asupan energi lebih dari 2125 kkal perhari, hal ini dikarenakan konsumsi makanan pokok siswi dalam sehari-hari 1-3 porsi. Sehingga asupan energi siswi terpenuhi, selain itu siswi juga mengkonsumsi makanan tambahan seperti: bakso, kue, susu, roti,

69 51 dan lain-lain. Sehingga asupan energi siswi tidak hanya dari makanan pokoknya saja. Dari hasil penelitian pada pola makan siswi yang tidak baik pada status gizi yang kurus dikarenakan pada jenis makanan yang tidak beragam, dimana siswi hanya mengonsumsi makanan seperti nasi dan lauk saja, dan frekuensi mengonsumsi nasi dalam sehari dua kali, sehingga jumlah asupan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh tidak terpenuhi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Kustiyanti (2017) Hasil Penelitian menunjukkan bahwa p = 0,001 dengan signifikansi sebesar 0,001. Karena nilai signifikan yang diperoleh adalah 0,001 maka disimpulkan bahwa konsumsi gizi berdasarkan tingkat kecukupan energi antara responden berpuasa dan tidak berpuasa Senin Kamis berbeda secara signifikan. Dan Hasil penelitian membuktikan bahwa nilai p = 0,001. Penelitian ini terbukti signifikan dan karenanya disimpulkan bahwa konsumsi gizi berdasarkan tingkat kecukupan protein antara responden berpuasa dan tidak berpuasa Senin Kamis berbeda secara signifikan. Konsumsi asupan protein dapat terpenuhi dikarenakan konsumsi ikan mudah untuk didapat dan harganya terjangkau dipasaran, sehingga asupan protein siswi tetap terpenuhi lebih dari 69 gr perhari menurut AKG. Selain dari ikan segar yang dikonsumsi ada udang, daging ayam, telur, tempe dan tahu juga yang menjadi asupan protein siswi. Dengan adanya variasi lauk yang disajikan setiap hari agar tidak terjadi kebosanan dalam hal menyantap makanan.

70 52 Menurut Devi (2010) Peranan protein yang utama adalah memelihara dan mengganti sel-sel yang rusak, pengatur fungsi fisiologis organ tubuh, maka dari itu sangat penting asupan protein untuk siswi. Kekurangan protein ini apabila berlangsung lama dapat mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan jaringan yang tidak normal, kerusakan fisik dan mental pada anak, ibu hamil dapat mengalami keguguran, melahirkan bayi prematur dan anemia. Konsumsi bahan makanan perlu menunjukkan adanya keanekaragaman. Hai ini sangat baik karena tidak satupun jenis makanan yang mengandung semua jenis zat gizi. Oleh karena itu siswi sangat perlu mengonsumsi aneka ragam makanan, jika kekurangan salah satu zat gizi tertentu pada satu jenis makanan maka akan didapati pada jenis makanan yang lainnya. Mengonsumsi beraneka ragam makanan akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pengatur dan zat pembangun. Frekuensi makan adalah tingkat keseringan makan yang dilakukan oleh siswi dalam sehari. Biasanya dengan jadwal makan yaitu pada pagi hari pukul WIB sebelum melakukan aktivitas, siang hari pukul WIB dan malam hari pada pukul WIB. Hal ini diketahui berdasarkan wawancara dengan siswi. Berdasarkan hasil penelitian pada siswi yang puasa sunnah bahwa konsumsi makan pokok siswi adalah nasi dengan frekuensi selalu, hal ini dikarenakan pada saat makan pagi rata-rata siswi mengonsumsi nasi goreng atau nasi gurih. Konsumsi siang dan malam siswi juga mengkonsumsi nasi sebagai makanan pokok, hal ini karena nasi dianggap makan utama dalam mengkonsumsi

71 53 sehari-hari. Selain itu roti juga dikonsumsi pada saat sarapan pagi, dan mie dikonsumsi pada siang atau malam hari untuk menggantikan nasi. Hasil penelitian rata-rata siswi sering mengonsumsi sayuran, sayur yang sering dikonsumsi yaitu berupa sayur bayam, kangkung, daun singkong, kol, kembang kol, kacang panjang, dan buncis, akan tetapi masih ada siswi yang tidak mengonsumsi sayuran dikarenakan tidak suka, dan sering memilih sayuran tertentu saja. Berdasarkan hasil penelitian tingkat keseringan mengonsumsi buah masih ada siswi yang tidak mengonsumsi buah dikarenakan tidak tersedia di rumah dan ada yang memilih buah-buahan tertentu saja sehingga jarang mengonsumsi buah. Pada minuman yang sering dikonsumsi mereka yaitu susu, rata-rata siswi mengonsumsi susu setiap hari maka dari itu zat gizi protein mereka menjadi lebih, selain susu yang menjadi penunjang protein lebih pada siswi yaitu jajanan disekolah yang tinggi protein. Sedangkan pada makanan jajanan siswi sering mengonsumsi bakso dikarenakan bakso mudah ditemukan, tekstur dan rasa disukai siswi. Menurut Permeasih (2013) Banyaknya masalah gizi pada remaja dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain adalah memilih diet yang ketat sehingga menyebabkan remaja kurang mendapat makanan yang seimbang dan bergizi serta memiliki kebiasaan makan yang buruk. Kebiasaan makan yang buruk yang berpangkal pada kebiasaan makanan keluarga yang juga tidak baik sudah tertanam sejak kecil akan terus terjadi pada usia remaja. Selain itu kesukaan yang

72 54 berlebihan terhadap makanan tertentu juga menyebabkan kebutuhan gizi tak terpenuhi. Seperti kebiasaan makan yang suka mengonsumsi makanan siap saji. Hubungan Aktivitas Fisik dengan Status Gizi Siswi yang Sering Puasa Sunnah Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan aktivitas fisik dengan status gizi siswi yang sering puasa sunnah, yaitu diperoleh bahwa siswi yang aktivitas fisik kategori ringan dengan status gizi normal lebih dominan yaitu sebesar 62,8 %, dan aktivitas fisik sedang dengan status gizi normal sebesar 100 %. Hasil uji Chi Square didapatkan nilai p = 0,023, yang berarti menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan status gizi siswi yang sering puasa sunnah di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor. Aktivitas remaja juga dapat mempengaruhi status gizi siswi, semakin banyak aktivitas maka semakin banyak kalori dalam tubuh terbuang, aktivitas ringan dan sedang dapat mempengaruhi status gizi menjadi kurus, gemuk dan obesitas. Aktivitas siswi yang biasa mereka lakukan yaitu tidur, mandi, makan, berjalan, mencuci, duduk, dan ibadah. Sebenarnya dari segi aktivitas siswi pada saat puasa dan tidak puasa tidak terlalu berbeda, melainkan ketika mereka sedang puasa ada beberapa siswi yang mengurangi aktivitasnya seperti mencuci pakaian akan tetapi tidak di setiap sedang berpuasa, pengurangan aktivitas tersebut dikarenakan terkadang siswi merasa lemas pada saat puasa sehingga jadwal mencuci pakaian di keesokan harinya. Aktivitas siswi lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah, mulai dari jam 07:00 WIB hingga jam 18:00 WIB. Penelitian ini sejalan dengan Ulfa (2017) Aktivitas remaja sebagian besar

73 55 dilakukan di lingkungan sekolah sehingga sekolah memiliki peranan penting untuk menjaga kesehatan siswanya. Aktivitas siswi yang asrama dan non asrama terdapat perbedaannya yaitu siswi non asrama lebih sering berjalan kaki bagi siswi yang menaiki angkutan kota ke sekolah atau pulang sekolah harus ke simpang untuk menunggu angkutan kota, dan pada anak asrama mereka lebih banyak mengerjakan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci pakaian dan menyetrika. Berdasarkan penelitian bahwa sebagian besar siswi yang sering puasa sunnah dengan aktivitas kategori ringan sebesar 69,4 % dan aktivitas dengan kategori sedang sebesar 30,6 %. Hal ini menunjukkan bahwa lebih besar siswi yang sering puasa sunnah dengan kategori ringan daripada aktivitas dengan kategori sedang. Aktivitas anak sekolah rata-rata masih dengan kategori ringan dikarenakan jenis kegiatan mereka yang tidak terlalu berat. Namun ada juga beberapa siswi yang sering puasa sunnah dengan aktivitas kategori sedang. Menurut penelitian Riawanti (2008) Aktivitas terdiri dari durasi mahasiswi melakukan aktivitas dan kebiasaan melakukan aktivitas (pola aktivitas). Hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan durasi mahasiswi dalam melakukan aktivitas, kebiasaan tidur siang, durasi kuliah, waktu mengerjakan tugas, kebiasaan berjalan kaki menuju kampus, dan kebiasaan berolahraga antara pra Ramadan dan Ramadan. Namun puasa Ramadan menurunkan durasi tidur malam mahasiswi dan terdapat perbedaan durasi tidur malam pra Ramadan dan Ramadan p = Sebagian besar mahasiswi (93%) tidur malam kurang dari enam jam saat bulan Ramadan.

74 Kesimpulan dan Saran Kesimpulan Hasil penelitian bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan status gizi siswi yang sering puasa sunnah di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor didapati p = 0,023. Konsumsi energi dan protein sebagian besar siswi mengonsumsi dengan cukup. Frekuensi makanan, sumber protein cukup beragam yaitu dari lauk hewani dan nabati. Konsumsi sayur dan buah masih kurang beragam dan cenderung mengonsumsi pada frekuensi 1-3 /minggu. Ada hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik dengan status gizi siswi yang sering puasa sunnah di Sekolah Islam Ulun Nuha Medan Johor dimana p = 0,025. Aktivitas fisik siswi di Sekolah Islam Ulun Nuha rata-rata aktivitas ringan. Saran Diharapkan bagi siswi yang puasa tetap selalu menjaga asupan zat gizi energi dan protein pada saat puasa, dan memperhatikan asupan makananya dengan memperhatikan gizi seimbang, variasi makanan, serta tidak melewatkan waktu makan sehingga status gizi yang dicapai optimal. Pada saat sahur makanlah dengan makanan yang bergizi dan tercukupi asupannya, dan hindari untuk tidak sahur, karena pada saat puasa banyak energi yang keluar. Pada saat berbuka makan dan minumlah yang sesuai dengan kebutuhan tubuh dan jangan makan dan minum berlebihan. Diharapkan bagi siswi menerapkan hidup sehat dengan berolahraga dan beraktivitas yang sesuai. 56

75 Daftar Pustaka Adriani, M., & Wijatmadi, B. (2012). Pengantar Gizi Masyarakat. Jakarta: Kencana. Akmal, A. (2008). 40 Persen Ramadhan Agar Puasa Lebih Bermakna. Jakarta: SIRAJA. Almatsier, S. (2002). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Almatsier, S. (2009). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Arisman. (2010). Gizi Dalam Daur Kehidupan: Buku Ajar Ilmu Gizi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. Cakrawati, D., & Mustika N.H. (2012). Bahan Pangan, Gizi, dan Kesehatan. Bandung.: Alfabeta. Devi, N. (2010). Nutrition and Food. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara. Hardinsyah. (2004). Kiat Sehat dan Bugar Saat Berpuasa untuk Meningkatkan Mutu Ibadah. Klinik Konsultasi Gizi dan Klub Diet GMSK IPB, Bogor. Hasan, M. (2001). Al-Qur an dan Ilmu Gizi. Yogyakarta: Madani Pustaka. Haskell W.L., & Kiernan, M. (2000). Methodologic Issues in Measuring Physical Activity and Physical Fitness When Evaluating the Role of Diatary Supplements for Physically Active People. The American Journal of Clinical Nutrition, 72 (2), Husna. (2012). Gambaran Pola Makan dan Status Gizi Mahasiswa Kuliah Klinik Senior (KKS) di Bagian Obsgyn RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala. 12 (1), Jamal, M. (2013). Hidup Sehat Tanpa Obat. Jakarta : Cakrawala. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2013). Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia Tahun Jakarta : Anonim. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Pedoman Gizi Seimbang. Jakarta: Anonim. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan Tahun Jakarta : Anonim. 57

76 58 Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Laporan Kinerja Ditjen Kesehatan Masyarakat Tahun Jakarta : Anonim. Kustiyanti, D., Suyatno., & Kartassurya, M.I. (2017). Adakah Perbedaan Status Gizi antara Remaja Santriwati yang Berpuasa dan tidak Berpuasa Senin Kamis. Jurnal kesehatan Masyarakat. 5 (3), Loliana, N., & Nadhiroh, S.R. (2017). Asupan dan Kecukupan Gizi antara Remaja Obesitas dengan Non Obesitas. Jurnal media gizi Indonesia. 10 (2), Mahardika, A.V & Katrin, R. (2008). Aktivitas Fisik, Asupan Energi, Dan Status Gizi Wanita Pemetik Teh di PTPN VIII Bandung, Jawa Barat. Jurnal Gizi dan Pangan. 3 (2), Miftahun, N. (2012). Hubungan Waktu Tidur dengan Status Gizi Pada Anak Remaja Di SMA Negeri 5 Makassar. (Skripsi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar). Proverawati, A. Wati, E.K. (2016). Ilmu Gizi untuk Keperawatan & Gizi Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika. Riawanti, L. (2008). Studi Tentang Konsumsi Pangan, Status Gizi dan Aktivitas Fisik saat Puasa dan Tidak Puasa pada Mahasiswa Putri Tingkat Persiapan Bersama Institut Bogor. (Skripsi). Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Rusyadi, S. (2017). Pola Makan dan Tingkat Aktivitas Fisik Mahasiswa dengan Berat Badan Berlebih di UNY. (Skripsi, Universitas Negeri Yogyakarta). Sarwono, S.W. (2012). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers. Sediaoetama. (1990). Ilmu Gizi Menurut Pandangan Islam. Jakarta: Dian Rakyat. Sekarindah, T. (2010, Juli 28). Manfaat Puasa bagi Kesehatan. Juli 15, 2018, http//agnespradipaarrahmah.wordpress.com. Soehardjo. (1996). Pangan, Gizi dan Pertanian. Jakarta: UI Press. Suhandjati, S. (2009). Ensiklopedi Islam dan Perempuan. Bandung: Penerbit Nuansa. Sulistyoningsih, H. (2011). Gizi untuk Kesehatan Ibu dan Anak. Yogyakarta: Graha Ilmu.

77 59 Suyadi. (2007). Keajaiban Puasa Senin Kamis. Yogyakarta: Mitra Pustaka. Tabrizi, M. (2005). Puasa Lahir Puasa Batin. Jakarta: Al-Huda. Ulfa, N.A., Widajanti, L., & Suyatno. (2017). Perbedaan Status Gizi, Tingkat Konsumsi Gizi, Aktivitas Fisik dan Kebugaran Jasmani. Jurnal Kesehatan Masyarakat. 5 (4), Wahid, R.A., & Husnel, A.M. (2011). Kamus lengkap ilmu hadis. Medan: Perdana Publishing. Welis, W., & Rifki, M.S. (2013). Gizi untuk aktivitas fisik dan kebugaran. Padang: Suka bina press. Yusuf, M.A. (2013). Akibat-Akibat Fatal Meremehkan Puasa Senin Kamis. Yogjakarta: DIVA Press.

78 60 Lampiran 1. Identitas Responden Identitas Responden 1. No. Responden : 2. Nama : 3. Kelas : 4. Tempat Tanggal Lahir/Umur : 5. Status Tinggal : Asrama/tidak Asrama 6. Berat badan : 7. Tinggi Badan :

79 61 Lampiran 2. Kuesioner Food Recall Tanggal: Hari ke: KUESIONER FOOD RECALL Waktu Makan Menu Makanan Jenis Banyaknya Kecukupan URT Berat (Gram) Gizi Energi (Kal) Kecukupan Gizi Protein (gr) Pagi Selingan Siang Selingan Malam

80 62 Lampiran 3. Food Frequency Questioner FORMULIR KUESIONER FREKUENSI PANGAN (FOOD FREQUENCY QUESTIONER) Berilah tanda check list ( ) pada kolom yang sesuai dengan kebiasaan kamu dalam mengkonsumsi makanan (dalam 1 bulan terakhir) No Jenis makanan 1-3 /hr 1-3 /mngg 1-3 /bln Tidak pernah Makanan pokok 1 Nasi 2 Mie 3 Roti putih Lauk-pauk 1 Ikan segar 2 Udang 3 Daging ayam 4 Telur ayam 5 Tahu 6 Tempe Sayur-sayuran 1 Bayam 2 Kangkong 3 Daun singkong 4 Kol 5 Kembang kol 6 Brokoli 7 Kacang panjang

81 63 8 Buncis Buah-buahan 1 Jeruk 2 Papaya 3 Apel 4 Pisang 5 Manga Minuman 1 Susu 2 Ice cream 3 The manis Makanan jajanan 1 Fried chicken 2 Donat 3 Bakso 4 Batagor 5 Pudding/agar-agar 6 Coklat

82 64 Lampiran 4. Kuesioner Aktivitas Fisik KUESIONER AKTIVITAS FISIK Aktivitas fisik Waktu (detik / menit) PAL ditentukan dengan rumus =

83 65 Lampiran 5. Master Data Master Data No Umur Kls Stts Tggl IMT JKE Kce TKE JKP Kcp TKP Pola Mkn Jenis Aktivitas

84

85 Keterangan Master Data: Umur Responden: tahun tahun Kelas Responden: 1. X 2. XI 3. XII Status Tempat Tinggal: 1. Asrama 2. Non asrama IMT: Indeks Massa Tubuh 1. Sangat kurus <-3 SD 2. Kurus -3 SD s/d <-2 SD 3. Normal -2 SD s/d 1 SD 4. Gemuk >1SD s/d 2 SD 5. Obesitas >2 SD JKE: Jumlah Konsumsi Energi Kce: Kecukupan Energi TKE: Tingkat Kecukupan Energi 1. Lebih 2. Baik 3. kurang JKP: Jumlah Konsumsi Protein KcP: Kecukupan Protein TKP: Tingkat Kecukupan Protein 1. Lebih 2. Baik 3. Kurang

86 68 Lampiran 6. Output SPSS OUTPUT HASIL UNIVARIAT Statistics Umur Siswi N Valid 62 Missing 0 Umur Siswi Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Total Statistics Kelas Siswi N Valid 62 Missing 0 Kelas Siswi Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid X XI XII Total Statistics Status Tinggal N Valid 62 Missing 0

87 69 Status Tinggal Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid asrama non asrama Total Statistics Indeks Massa Tubuh N Valid 62 Missing 0 Indeks Massa Tubuh Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid kurus -3 SD s/d <-2 SD normal -2 SD s/d 1 SD gemuk >1 SD s/d 2 SD obesitas >2 SD Total Statistics Tingkat Kecukupan Energi Tingkat Kecukupan Protein N Valid Missing 0 0 Tingkat Kecukupan Energi Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

88 70 Valid lebih >110% AKG baik % AKG kurang <80% AKG Total Tingkat Kecukupan Protein Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid lebih >110% AKG baik % AKG Total Statistics Pola Makan N Valid 62 Missing 0 Pola Makan Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Baik tidak baik Total Statistics Jenis Makanan N Valid 62 Missing 0 Jenis Makanan Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

89 71 Valid beragam tidak beragam Total Statistics Aktivitas Fisik N Valid 62 Missing 0 Aktivitas Fisik Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid ringan jika PAL 1,40-1, sedang jika PAL 1,70-1, Total

90 72 OUTPUT HASIL ANALISIS BIVARIAT Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent pola makan * Indeks massa tubuh % 0.0% % pola makan * Indeks massa tubuh Crosstabulation Indeks massa tubuh kurus -3 normal -2 gemuk >1 SD s/d <-2 SD s/d 1 SD s/d 2 obesitas >2 SD SD SD SD Total pola makan baik Count % within pola makan 12.2% 82.9% 2.4% 2.4% 100.0% tidak baik Count % within pola makan 9.5% 57.1% 23.8% 9.5% 100.0% Total Count % within pola makan 11.3% 74.2% 9.7% 4.8% 100.0% Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. (2- sided) Pearson Chi-Square a Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 62 a. 6 cells (75,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 1,02.

91 73 Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N Percent N Percent aktivitas fisik * Indeks massa tubuh % 0.0% % aktivitas fisik * Indeks massa tubuh Crosstabulation Indeks massa tubuh kurus -3 normal -2 gemuk >1 SD s/d <- SD s/d 1 SD s/d 2 obesitas 2 SD SD SD >2 SD Total aktivitas fisik ringan jika PAL 1,40-1,69 Count % within % 62.8% 14.0% 7.0% aktivitas fisik % sedang jika PAL 1,70-1,99 Count % within aktivitas fisik % 100.0%.0%.0% % Total Count % within aktivitas fisik 11.3% 74.2% 9.7% 4.8% % Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. (2- sided) Pearson Chi-Square a Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 62 a. 6 cells (75,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is,92.

92 74 Lampiran 7. Permohonan Izin Penelitian

93 75 Lampiran 8. Surat Keterangan Selesai Penelitian

94 76 Lampiran 9. Dokumentasi Gambar 1. Siswi kelas XI Gambar 2. Siswi kelas XII

95 77 Gambar 3. Wawancara siswi kelas XII Gambar 4. Mengukur tinggi badan siswi kelas X menggunakan mikrotois

96 78 Gambar 5. Mengukur tinggi badan siswi kelas XII menggunakan mikrotois Gambar 6. Menimbang berat badan siswi kelas XII menggunakan timbangan