BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Bullying. Tattum dan Tattum (1992) mengartikan bullying sebagai hasrat untuk

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Kajian Pustaka

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian. pengertian yang baku hingga saat ini. Bullying berasal dari bahasa inggris,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dewasa ini sering kita dengar tentang banyaknya kasus kekerasan yang

BAB I RENCANA PENELITIAN. formal, pendidikan dilakukan oleh sebuah lembaga yang dinamakan sekolah,.

DAMPAK PSIKOLOGIS BULLYING

BULLYING. I. Pendahuluan

BAB II TINJUAN PUSTAKA

BAB I. Pendahuluan. I.A Latar Belakang. Remaja seringkali diartikan sebagai masa perubahan. dari masa anak-anak ke masa dewasa.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. batas kewajaran. Kekerasan yang mereka lakukan cukup mengerikan, baik di

UNTUK PENCEGAHAN KEKERSAN DAN PENYIMPANGAN PERILAKU REMAJA OLEH RR. SUHARTATI, S.H.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Bullying. itu, menurut Olweus (Widayanti, 2009) bullying adalah perilaku tidak

BAB I PENDAHULUAN. kognitif, dan sosio-emosional (Santrock, 2007). Masa remaja (adolescence)

I. PENDAHULUAN. Kata kekerasan sebenarnya sudah sangat sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari,

Pengertian tersebut didukung oleh Coloroso (2006: 44-45) yang mengemukakan bahwa bullying akan selalu melibatkan ketiga unsur berikut;

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. karena remaja akan berpindah dari anak-anak menuju individu dewasa yang akan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Perilaku Bullying. ketidaknyamanan fisik maupun psikologis terhadap orang lain. Olweus

BAB II LANDASAN TEORI. dengan orang-orang di sekeliling atau sekitarnya. bijaksana dalam menjalin hubungan dengan orang lain.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. peserta didik. Banyak yang beranggapan bahwa masa-masa sekolah adalah masa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sekolah merupakan sebuah lembaga atau tempat yang dirancang untuk

BAB II KERANGKA TEORI

BULLYING & PERAN IBU Penyuluhan Parenting PKK Tumpang, 29 Juli 2017

INTENSITAS TERKENA BULLYING DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN INTROVERT

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nurlaela Damayanti, 2013

SELF ESTEEM KORBAN BULLYING (Survey Kepada Siswa-siswi Kelas VII SMP Negeri 270 Jakarta Utara)

BAB I PENDAHULUAN. mengatakan mereka telah dilukai dengan senjata. Guru-guru banyak mengatakan

BAB I PENDAHULUAN. yang kompleks yang merupakan hasil interaksi berbagai penyebab dari keadaan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Maraknya kasus-kasus kekerasan yang terjadi pada anak-anak usia sekolah

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. ukuran fisik, tapi bisa kuat secara mental (Anonim, 2008). Bullying di

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tempat yang terdekat dari remaja untuk bersosialisasi sehingga remaja banyak

BAB I PENDAHULUAN. suatu bangsa, apabila rakyat cerdas maka majulah bangsa tersebut. Hal ini senada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perubahan zaman yang semakin pesat ini membawa dampak ke berbagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Perilaku Bullying. Bullying adalah ketika siswa secara berulang-ulang dan berperilaku

BAB I PENDAHULUAN. A. LatarBelakang. individu khususnya dibidang pendidikan. Bentuk kekerasan yang sering dilakukan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. LatarBelakangMasalah. dalam mengantarkan peserta didik sehingga dapat tercapai tujuan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan periode baru didalam kehidupan seseorang, yang

BAB I PENDAHULUAN. Individu sebagai makhluk sosial membutuhkan interaksi dengan lingkungan

BAB II LANDASAN TEORI. sadar, insaf, mengerti dan pandai. kerja scire yang artinya mempelajari, mengetahui.

BAB IV PERBANDINGAN PEMIKIRAN ABDULLAH NASHIH ULWAN DAN B.F. SKINNER SERTA RELEVANSI PEMIKIRAN KEDUA TOKOH TERSEBUT TENTANG HUKUMAN DALAM PENDIDIKAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Perilaku Bullying. bukanlah sekedar masalah kekerasan biasa. Tindakan ini disebut bullying,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa kanakkanak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. korban bullying yang dilakukan secara berulang-ulang dan terjadi dari. negatif yang diterima korban (Olweus, 1993).

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Pada dasarnya, hukuman hanya menjadi salah satu bagian dari metode

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. individu dengan individu yang lain. Untuk mewujudkannya digunakanlah media

BAB III METODE PENELITIAN. pola asuh otoriter) dan variabel terikat (perilaku bullying) sehingga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. terhadap pihak yang lebih lemah. Di sekolah bullying lebih dikenal dengan istilahistilah

BAB I PENDAHULUAN. mengembangkan ideologi, dimana orangtua berperan banyak dalam

BAB I PENDAHULUAN. aspek kehidupan terutama dalam bidang pendidikan. Terselenggaranya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB II LANDASAN TEORI. beberapa tokoh. Olweus (2003) mendefinisikan bullying sebagai tindakan negatif dalam

I. PENDAHULUAN. bullying. Prinsipnya fenomena ini merujuk pada perilaku agresi berulang yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

I. PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa manusia menemukan jati diri. Pencarian. memiliki kecenderungan untuk melakukan hal-hal diluar dugaan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan dapat bertahan hidup sendiri.

1. Disregulasi Neurologik

UPAYA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DALAM MENCEGAH PERILAKU BULLYING SISWA SMA NEGERI COLOMADU TAHUN PELAJARAN 2015/2016

PENCEGAHAN PERILAKU BULLYING DI SEKOLAH. Abstrak

H, 2016 HUBUNGAN ANTARA REGULASI EMOSI DAN KONTROL DIRI DENGAN PERILAKU BULLYING

BAB I PENDAHULUAN. dengan sebutan aksi bullying. Definisi kata kerja to bully dalam Oxford

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Maraknya perilaku agresif saat ini yang terjadi di Indonesia,

BAB I PENDAHULUAN. Anak usia sekolah (6-12 tahun) disebut juga sebagai masa anak-anak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan, pendidikan dan mengasihi serta menghargai anak-anaknya (Cowie

EFEKTIVITAS PELATIHAN PENGENDALIAN DIRI UNTUK MENGATASI PERILAKU BULLYING

BAB 1 PENDAHULUAN. lingkungan sekolah, banyak siswa yang melakukan bullying kepada siswa lainnya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Sekolah merupakan salah satu tempat bertumbuh dan berkembangnya

BAB I PENDAHULUAN. atau interaksi dengan orang lain, tentunya dibutuhkan kemampuan individu untuk

SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Sarjana (S-1) Psikologi

SOSIALISASI KONSELING ONLINE GEBER SEPTI (GERAKAN BERSAMA SEKOLAH SEMARANG PEDULI DAN TANGGAP BULLYING)

BAB I PENDAHULUAN. Hubungan Kontrol..., Agam, Fakultas Psikologi 2016

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa remaja adalah periode perkembangan disaat individu mengalami

PENDEKATAN KONSELING SPIRITUAL SEBAGAI ALTERNATIF PENCEGAHAN PERILAKU BULLYING (KEKERASAN)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bagi sebagian besar orang, masa remaja adalah masa yang paling berkesan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. 2010). Hal tersebut sejalan dengan Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Reivich dan Shatte, regulasi emosi 1. untuk tenang di bawah tekanan. Lebih Lanjut Reivich dan Shatte, mengemukakan

Upaya Mengurangi Perundungan melalui Penguatan Bystanders di SMP B Yogyakarta

BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan yang diarahkan pada peningkatan intelektual dan emosional anak

BAB I PENDAHULUAN. meneruskan perjuangan dan cita-cita suatu negara (Mukhlis R, 2013). Oleh karena

BAB I PENDAHULUAN. berupa ejekan atau cemoohan, persaingan tidak sehat, perebutan barang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI. Sibling rivalry adalah suatu persaingan diantara anak-anak dalam suatu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hasil proyeksi sensus penduduk 2011, jumlah penduduk Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bahwa aksi-aksi kekerasan baik individual maupun massal sudah merupakan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Mendengar terjadinya sebuah kekerasan dalam kehidupan sehari-hari

PERILAKU BULLYING YANG TERJADI DI SD NEGERI UNGGUL LAMPEUNEURUT ACEH BESAR. ABSTRAK

MOTIVASI DALAM BELAJAR. Saifuddin Azwar

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. perbedaan harus diwujudkan sejak dini. Dengan kata lain, seorang anak harus belajar

BAB I PENDAHULUAN. Bullying juga didefinisikan sebagai kekerasan fisik dan psikologis jangka

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Bullying 1. Pengertian Bullying Tattum dan Tattum (1992) mengartikan bullying sebagai hasrat untuk melukai, atau meletakkan seseorang dalam situasi yang tertekan. Dijelaskan lebih lanjut oleh Smith (dalam Simbolon, 2012) bahwa bullying adalah suatu perilaku negatif yang secara sengaja bertujuan untuk mengintimidasi serta menyakiti orang lain. Kecenderungan bullying merupakan suatu tindakan kekerasan yang menurut Sejiwa (2008) bahwa kekerasan adalah bentuk usaha untuk menyakiti yang dilakukan oleh sebuah kelompok atau individu. Muhammad (2009) juga berpendapat bahwa bullying adalah perilaku kekerasan dan menekan, baik dalam bentuk tindakan fisik secara langsung atau menyerang melalui perkataan dan biasanya pelaku tidak hanya para senior, tetapi juga orang terdekat seperti guru, orangtua dan orang-orang di lingkungan sekitar. Menurut Smith dan Thompson (dalam Yusuf dan Fahrudin, 2012) bullying diartikan sebagai bentuk tingkah laku yang dilakukan secara sengaja dan mengakibatkan cedera fisik serta psikologi bagi yang menerimanya. Dijelaskan lebih lanjut oleh Olweus dan Sohlberg (2003) bahwa bullying terjadi ketika individu melakukan dan mengatakan sesuatu hal dengan tujuan untuk menekan dan menyakiti orang lain yang tidak berdaya dari tindakan bullying. 7

8 Perilaku bullying merupakan bentuk perilaku kekerasan yang sangat negatif. Surilena (2016) berpendapat bahwa perilaku bullying merupakan tindakan negatif yang dilakukan secara sengaja oleh seseorang atau sekelompok orang yang bersifat menyerang yang mana kekuatan antara pihak yang terlibat dalam ketidakseimbangan. Dijelaskan lebih lanjut oleh tokoh tersebut bahwa perilaku bullying juga didefnisikan sebagai perilaku emosional, verbal, fisik berulang terhadap orang lain atau sekelompok orang yang lemah dan tidak mampu membela diri. Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa bullying adalah perilaku kekerasan baik secara fisik maupun psikis yang dilakukan untuk menyerang atau menekan orang lain dengan tujuan menyakiti dan mengintimidasi seseorang. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Bullying Astuti (2008) berpendapat bahwa faktor yang mempengaruhi terjadinya bullyingyaitu: a. Perbedaan kelas (senioritas), ekonomi, agama, jender, etnisitas atau rasisme. Pada dasarnya, perbedaan individu dengan suatu kelompok bergabung, jika tidak dapat disikapi dengan baik oleh anggota kelompok tersebut, dapat menjadi faktor penyebab bullying. Sebagai contoh adanya perbedaan kelas dengan anggapan senior yunior, secara tidak langsung berpotensi memunculkan perasaan senior lebih berkuasa daripada yuniornya. Senior yang menyalah artikan tingkatannya dalam kelompok, dapat memanfaatkannya

9 untuk mem-bully yunior. Individu yang berada pada kelas ekonomi yang berbeda dalam suatu kelompok juga dapat menjadi salah satu faktor penyebab bullying. Individu dengan kelas ekonomi yang jauh berbeda dengan kelas ekonomi mayoritas kelompoknya berpotensi menjadi korban. b. Senioritas, sebagai salah satu perilaku bullying seringkali justru diperluas oleh siswa sendiri sebagai kejadian yang bersifat laten. Senioritas yang salah diartikan dan dijadikan kesempatan atau alasan untuk membully junior terkadang tidak berhenti dalam suatu periode saja. Hal ini tak jarang menjadi peraturan tak tertulis yang diwariskan secara turun temurun kepada tingkatan berikutnya. Bagi beberapa siswa keinginan untuk melanjutkan masalah senioritas adalah untuk hiburan, penyaluran dendam, iri hati atau mencari popularitas, melanjutkan tradisi atau menunjukkan kekuasaan. c. Keluarga yang tidak rukun. Kompleksitas masalah keluarga seperti ketidakhadiran ayah, ibu menderita depresi, kurangnya komunikasi antara orangtua dan anak, perceraian atau ketidakharmonisan orangtua dan ketidakmampuan sosial ekonomi merupakan penyebab tindakan agresi yang signifikan. d. Situasi sekolah yang tidak harmonis atau diskriminatif. Bullying juga dapat terjadi jika pengawasan dan bimbingan etika dari para guru rendah, sekolah dengan kedisiplinan yang sangat kaku, bimbingan yang tidak layak dan peraturan yang tidak konsisten. e. Karakter individu atau kelompok seperti: dendam atau iri hati, adanya semangat ingin menguasai korban dengan kekuasaan fisik dan daya tarik

10 seksual, untuk meningkatkan popularitas pelaku di kalangan teman sepermainannya (peers), persepsi nilai yang salah atas perilaku korban sehingga korban seringkali merasa dirinya memang pantas untuk mendapat bullying. Dijelaskan lebih lanjut oleh Verlinden, Herson & Thomas (dalam Yusuf dan Fahrudin, 2012) berpendapat bahwa berbagai macam faktor menjadi peneyebab bullying adalah faktor individu, sosial, resiko lingkungan, dan perlindungan berinteraksi yaitu sebagai berikut: a. Faktor Individu,terdapat dua kelompok individu yang terlibat secara langsung dalam peristiwa bullying, yaitu pembuli dan korban bullying dan keduanya merupakan faktor utama yang mempengaruhi perilaku bullying. Ciri kepribadian dan sikap seseorang individu mungkin menjadi penyebab terjadinya perilaku bullying yang dijelaskan sebagai berikut. 1) Pelaku bullying, pelaku bullying cenderung menganggap dirinya senantiasa diancam dan berada dalam bahaya dan biasanya bertindak menyerang sebelum diserang. Ini merupakan bentuk pembenaran dan dukungan terhadap tingkah laku agresif yang telah dilakukannya dan pembuli memiliki kekuatan secara fisik dengan penghargaan diri yang baik dan berkembang, tetapi pelaku bullying juga tidak memiliki perasaan bertanggung jawab terhadap tindakan yang telah mereka lakukan, selalu ingin mengontrol dan mendominasi, serta tidak mampu memahami dan menghargai orang lain. Pelaku bullying juga biasanya terdiri dari kelompok yang coba membina atau menunjukkan kekuasaan kelompok

11 dengan mengganggu dan mengancam anak-anak atau murid lain yang bukan anggota kelompoknya. 2) Korban bullying (victims), korban bullying ialah seseorang yang menjadi sasaran bagi berbagai tingkah laku agresif dan korban buli ialah orang yang dibuli atau sasaran pembuli. b. Faktor Keluarga, latar belakang keluarga turut memainkan peranan yang penting dalam membentuk perilaku bullying. Orang tua yang sering bertengkar atau berkelahi cenderung membentuk anak-anak yang beresiko untuk menjadi lebih agresif. Penggunaan kekerasan dan tindakan yang berlebihan dalam usaha mendisiplinkan anak-anak oleh orang tua, pengasuh, dan guru secara tidak langsung, mendorong perilaku buli di kalangan anakanak. Anak-anak yang mendapat kasih sayang yang kurang, didikan yang tidak sempurna dan kurangnya pengukuhan yang positif, berpotensi untuk menjadi pembuli. c. Faktor teman sebaya, pendapat Verlinden (dalam Yusuf dan Fahrudin, 2012) teman bermain menjadikan peranan yang tidak kalah pentingnya terhadap perkembangan dan pengukuhan tingkah laku kekerasan, sikap anti sosial dan tingkah laku kekerasan lain di kalangan anak-anak. Kehadiran teman sebaya sebagai pengamat, secara tidak langsung, membantu pembuli memperoleh dukungan kuasa, popularitas, dan status. Biasanya, saksi atau teman sebaya yang melihat, umumnya mengambil sikap berdiam diri dan tidak mau campur tangan.

12 d. Faktor sekolah, lingkungan, praktik dan kebijakan sekolah mempengaruhi aktivitas, tingkah laku, serta interaksi pelajar di sekolah. Rasa aman dan dihargai merupakan dasar kepada pencapaian akademik yang tinggi di sekolah. Jika hal ini tidak dipenuhi, maka pelajar mungkin bertindak untuk mengontrol lingkungan mereka dengan melakukan tingkah laku anti-sosial seperti melakukan buli terhadap orang lain. e. Faktor media, paparan aksi dan tingkah laku kekerasan yang sering ditayangkan oleh televisi dan media elektronik akan mempengaruhi tingkah laku kekerasan anak-anak dan remaja. Beberapa waktu yang lalu, masyarakat diramaikan oleh perdebatan mengenai dampak tayangan Smack-Down di sebuah televisi swasta yang dikatakan telah mempengaruhi perilaku kekerasan pada anak-anak. Meskipun belum ada kajian empiris dampak tayangan Smack-Down di Indonesia, namun para ahli ilmu sosial umumnya menerima bahwa tayangan yang berisi kekerasan akan memberi dampak baik jangka pendek maupun jangka panjang kepada anak-anak. f. Faktor self-control, sebuah penelitian dengan sampel 1315 orang pelajar sekolah yang dilakukan oleh Unnever & Cornell (2003) tentang pengaruh kontrol diri yang rendah dan Attention-Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) menyimpulkan para pelajar yang menjalani treatmen ADHD mengalami peningkatan risiko terhadap perilaku buli dan menjadi korban buli. Analisisnya juga mendapati bahwa kontrol diri mempengaruhi korban buli melalui interaksi dengan jenis kelamin dan ukuran besar badan, serta kekuatan. Penelitian mereka juga berkesimpulan bahwa kontrol diri yang rendah dan

13 ADHD sebagai faktor kritis yang menyumbang kepada perilaku buli dan menjadi korban buli. Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan perilaku bullying adalah faktor internal yang meliputi karakteristik kepribadian, self control, kekerasan pada masa lalu, dan sikap orangtua, faktor eksternal yang meliputi lingkungan, media, sekolah, dan teman sebaya. 3. Bentuk-bentuk Perilaku Bullying Tindakan bullying memiliki arti yaitu perilaku menyakiti korban dan tindakan dilakukan yang secara sengaja, serta adanya ketidakseimbangan dalam kekuatan psikologis antara korban dan pelaku. Olweus dan Sohlberg (2003) membagi aspek-aspek bullying meliputi: a. Fisik, yaitu suatu bentuk tindakan memukul, menendang, mendorong, mempermainkan atau menteror dan melakukan hal-hal dengan sengaja yang bertujuan menyakiti orang lain. b. Lisan, yaitu tindakan melalui perkataan untuk menyakiti atau menjatuhkan orang lain atau menjadikan bahan bercandaan dengan menyebut atau memanggil dengan nama yang menyakitkan hatinya, menceritakan kebohongan atau menyebarkan informasi yang tidak benar tentang seseorang. c. Tidak langsung, yaitu perilaku yang dengan kasar menolak atau mengeluarkan seseorang dari kelompok pertemanan atau mengucilkan dari berbagai hal secara disengaja atau mencoba membuat siswa yang lain tidak menyukainya.

14 Dikatakan lebih lanjut oleh Levianti (2008) menyatakan individu cenderung menjadi pelaku bullying disebakan oleh individu pernah menjadi korban atau menyaksikan bullying secara langsung yang diketahui dari lingkungan terdekatnya. Menurut Sejiwa (2008) aspek-aspek perilaku bullying meliputi: a. Bullying fisik, adalah bullying yang secara langsung dapat dilihat dan siapapun dapat melihatnya karena terjadi sentuhan fisik antara pelaku bullying dan korbannya. Contoh-contoh bullying fisik antara lain: menampar, menjegal, menimpuk, menginjak kaki, memalak, meludahi, melempar dengan barang, menghukum dengan cara push-up, menghukum dengan berlari keliling lapangan, dan menolak (Sejiwa, 2008). b. Bullying non fisik atau verbal, Sejiwa (2008) mengungkapkan bahwa bullying verbal merupakan bentuk bullying yang juga dapat diketahui karena dapat tertangkap indera pendengaran. Contoh-contoh bullying verbal antara lain: meneriaki, memaki, menghina, menjuluki, menebar gossip, mempermalukan di depan umum, menolak, menyoraki, memfitnah, dan menuduh. c. Bullying psikologis, merupakan jenis perilaku bullying yang paling berbahaya karena tidak tertangkap oleh indera jika tidak cukup awas mendeteksinya. Praktek bullying ini terjadi tanpa diketahui dan di luar radar pemantauan. Adapun contoh-contoh bullying psikologis antara lain: memandang sinis, memandang penuh ancaman, memandang yang merendahkan, memelototi, mendiamkan, mengucilkan, meneror lewat pesan pendek telepon genggam atau e-mail, dan mencibir (Sejiwa, 2008).

15 Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa aspek-aspek perilaku bullying meliputi bullying fisik, bullying verbal atau non fisik, dan bullying psikologi atau mental. B. Kebutuhan Berkuasa 1. Pengertian Kebutuhan Berkuasa Pada tahun 1940-an John Atkinson dan David Mc Clelland mempelajari motivasi untuk keperluan yang lebih luas yang menurut David Mc Clelland (dalam As ad, 2000) terdapat tiga kebutuhan pokok yang mendorong tingkah laku individu yang kemudian dikenal dengan social motive theory, dan salah satu konsep kebutuhan tersebut yaitu kebutuhan untuk berkuasa (Need for Power). Need for Power merupakan kebutuhan untuk menguasai dan mempengaruhi orang lain. Kebutuhan ini menyebabkan orang tersebut tidak atau kurang mempedulikan perasaan orang lain. Kebutuhan berkuasa merupakan salah satu bentuk kebutuhan dasar dan motivasi yang ada dalam diri individu. Menurut Henry Murray (dalam Irwanto, 2003) pada tahun 1938 dalam bukunya Explorations in Personality membagi kebutuhan-kebutuhan manusia kedalam tujuh belas kategori yang diantaranya adalah kebutuhan untuk berprestasi (n-achievement), kebutuhan untuk berkuasa (n-for power) dan kebutuhan berafiliasi/berteman (n-afifiliation). Kebutuhan berkuasa (N-power) didukung oleh pendapat Mc. Clelland (dalam Irwanto, 2003) yang lain yaitu dilihat dari perilaku individu yang selalu berusaha mempengaruhi orang lain demi reputasinya sendiri dengan tujuan

16 kebutuhan untuk membuat orang lain berperilaku dalam suatu cara yang orang-orang itu (tanpa dipaksa) tidak akan berperilaku demikian. Purwati (2011) mendefinisikan kebutuhan akan berkuasa yaitu cerminan pada individu yang ingin mempengaruhi maupun mengontrol orang lain serta bertanggung jawab kepadanya dengan memberikan dorongan kepada individu agar bersemangat untuk memperoleh kekuasaan. Berdasarkan pengertian yang diambil dari beberapa pendapat ahli di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa kekuasaan berkuasa merupakan salah satu dari kebutuhan dasar manusia yang disebut need for power dengan arti bahwa individu memiliki kebutuhan untuk menguasai orang lain supaya mengikuti keinginan yang diharapkan dengan memberikan pengaruh-pengaruh kepada orang lain. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Berkuasa Moekijat (2002) berpendapat bahwa ada beberapa faktor yang berhubungan dengan motivasi yaitu: a. Berbagai macam kebutuhan dan keinginan khusus individu adalah keinginan dari individu sendiri sedangkan orang-orang lain dapat berusaha mempengaruhinya, akan tetapi pada akhirnya keputusan tentang yang diinginkan dan dibutuhkan tergantung pada individu itu sendiri. b. Semua hal tentang kebutuhan dan keinginan individu adalah bersifat khusus dalam membentuk susunan biologis, kepribadian, dan psikologis serta pengalaman maupun pengetahuannya.

17 Kebutuhan berkuasa merupakan salah satu bentuk motivasi yang mendasar dari individu. Kebutuhan berkuasa memiliki faktor yang hampir sama dengan semua bentuk motivasi lainnya, yang menurut Sugiyanto (2009) motivasi dipengaruhi oleh dua faktor yaitu: a. Faktor intern yaitu faktor yang berasal dari dalam diri, meliputi: 1) Kemampuan, adalah kekuatan penggerak untuk bertindak yang dicapai oleh manusia melalui latihan belajar dan kemampuan tidak mempengaruhi secara langsung tetapi lebih mendasari fungsi dan proses motivasi. 2) Kebutuhan, adalah kekurangan yang artinya ada sesuatu yang kurang dan oleh karena itu timbul kehendak untuk memenuhi atau mencukupinya dan kehendak itu sendiri adalah tenaga pendorong untuk berbuat sesuatu atau bertingkah laku. Ada kebutuhan pada individu menimbulkan keadaan tak seimbang, rasa ketegangan yang dirasakan sebagai rasa tidak puas dan menuntut pemuasan sehingga kebutuhan merupakan faktor penyebab yang mendasari lahirnya perilaku seseorang (menimbulkan motivasi). 3) Minat, adalah suatu kecenderungan yang agak menetap dalam diri subjek untuk merasa tertarik pada bidang atau hal tertentu dan merasa senang berkecimpung dalam bidang itu. 4) Harapan dan keyakinan, merupakan kemungkinan yang dilihat untuk memenuhi suatu kebutuhan tertentu dari individu yang didasarkan atas pengalaman yang telah lampau dan cenderung untuk mempengaruhi motif pada individu. b. Faktor ekstern yaitu faktor yang berasal dari luar diri individu, meliputi:

18 1) Situasional, keadaan yang mendukung atau malah menghambat individu dalam mencapai tujuannya. 2) Lingkungan, hal ini juga sangat berpengaruhi pada motivasi berprestasi individu. Misalnya; lingkungan keluarga, sekolah dan lingkungan dimana individu berada (sosial). Individu dalam melakukan sesuatu tidak lepas karena adanya usaha dalam pemenuhan kebutuhan tidak terkecuali kebutuhan dalam berkuasa. Kebutuhan berkuasa dapat dilihat dari adanya individu dalam mempengaruhi, mengontrol, dan menekan orang lain untuk mempertahankan reputasinya. Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan berkuasa (Need for Power) adalah faktor dari dalam diri individu yang berupa kemampuan, kebutuhan dan keinginan, minat, harapan, dan keyakinan, sedangkan faktor dari luar individu yaitu faktor situasi dan lingkungan. 3. Ciri-ciri Kebutuhan Berkuasa As ad (2000) mendeskripsikan karakteristik individu yang memiliki kebutuhan berkuasa yaitu memiliki keinginan untuk menguasai dan mempengaruhi orang lain yang tidak mempedulikan perasaan orang lain. Kebutuhan berkuasa yang menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia menurut pendapat Gunistyo (2009) bahwa tingkah laku individu yang didorong oleh kebutuhan untuk berkuasa yang tinggi akan tampak sebagai berikut : a) Berusaha menolong orang lain walaupun pertolongan itu tidak diminta dan dapat

19 menimbulkan sikap sombong; b) Sangat aktif dalam menentukan arah kegiatan dari organisasi dimana berada sehingga memunculkan perilaku yang arogan; c) Mengumpulkan barang-barang atau menjadi anggota suatu perkumpulan yang dapat mencerminkan prestise; d) Sangat peka terhadap struktur pengaruh antar pribadi dari kelompok atau organisasi. Gunistiyo (2009) berpendapat bahwa cirri individu memiliki kebutuhan berkuasa yang cukup tinggi yaitu: a) Individu aktif dalam segala kegiatan; b) Individu peka terhadap struktur organisasi. Hal lain disampaikan oleh Mada dan Mujiati (2014) bahwa ciri-ciri individu memiliki motif berkuasa antara lain sebagai berikut: a. Perilaku yang diinginkan dalam setiap kegiatan sehingga memunculkan sikap arogan. b. Usaha untuk mengendalikan orang lain dengan sikap memaksa. c. Usaha untuk mencapai posisi yang lebih tinggi sehingga menyebabkan sikap sombong akan muncul. d. Usaha untuk selalu memimpin. e. Usaha untuk menjadi karakter yang cocok sebagai seorang pemimpin. f. Usaha untuk memiliki ide-ide untuk memenangkan kompetisi dan tidak lagi menerima kritik dan saran. Dijelaskan lebih lanjut oleh Komara dan Nelliwati (2014) bahwa seseorang dikatakan memiliki kebutuhan berkuasa yang tinggi yaitu a) Menggunakan waktunya untuk memikirkan tentang bagaimana mempengaruhi dan menguasai orang lain sehingga dapat muncul sikap yang kurang sportif; b)

20 Menggunakan pengaruhnya untuk menang dalam suatu perdebatan; c) Mengubah perilaku orang lain atau untuk mencapai suatu kedudukan dan status; d) Memberikan sugesti dan sifatnya memaksa; e) Memberikan kritik dan saran untuk penilaian; f) Mencari posisi kepemimpinan dalam aktifitas suatu kelompok. Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ciri-ciri individu yang memiliki kebutuhan berkuasa yang tinggi adalah individu aktif dalam segala kegiatan sehingga mudah mempengaruhi orang lain dan menimbulkan sikap sombong, peka dengan keadaan supaya orang lain mengikuti keinginannya dengan memaksa kehendak, ingin selalu menjadi pemimpin dengan cara arogan, ingin selalu menguasai orang lain, ingin selalu menang dalam segala hal, suka memberikan kritik dan saran, serta berusaha mencapai hal yang diinginkan dengan penuh ambisi. C. Hubungan antara Kebutuhan Berkuasa dengan Perilaku Bullying Kebutuhan berkuasa merupakan salah satu kebutuhan yang ingin dipenuhi oleh individu yang salah satunya untuk menjadi pemimpin. Kebutuhan berkuasa sebenarnya tidak selalu diartikan dalam hal yang negatif. Kebutuhan berkuasa yang ditunjukkan dengan perilaku positif misalnya selalu aktif dalam kegiatan, siswa cenderung memiliki keinginan menjadi pemimpin diantara teman lainnya dalam suatu kegiatan, siswa tersebut sering ditunjuk menjadi ketua kelas, aktif di ekstrakurikuler, ketua kelompok dan seterusnya. Disampaikan oleh Freeman (1994) bahwa kelompok yang ingin diakui akan pencapaiannya cenderung mempunyai ambisi yang tinggi untuk menjadi pemimpin sehingga kebutuhan

21 berkuasanya menjadi tinggi dan hal tersebut menunjukkan bahwa tidak selalu orang dengan kebutuhan berkuasa akan menjadi pelaku bullying maupun siswa yang tidak disiplin. Di sisi lain, adanya kebutuhan berkuasa manusia untuk memenuhi keinginannya tersebut menimbulkan sikap yang terkadang kurang baik untuk sekitarnya. Demi memenuhi kebutuhan tersebut tidak memperdulikan dan tidak memiliki empati pada orang lain. Menciptakan tekanan-tekanan yang membuat orang lain harus mengikuti kemauannya merupakan bentuk bullying, seperti hasil penelitian Sejiwa (2008), menyatakan 27,5% guru menilai bullying adalah perilaku normal, 73%guru menilai bullying sebagai perilaku yang membahayakan siswa. Bullying dalam lingkungan sekolah juga merupakan bentuk kekerasan antarsiswa yang memiliki dampak paling negatif bagi korbannya. Usman (2010) berpendapat bahwa masyarakat diminta mulai dari sekarang dan seterusnya dapat menyadari bahwa dengan membiarkan atau menerima perilaku bullying pada lingkungan sosial, berarti memberikan kekuatan kepada pelaku bullying itu sendiri dan meningkatkan budaya kekerasan sehingga menciptakan interaksi sosial yang tidak sehat. Bagi lingkungan sekolah diharapkan dapat menerapkan peraturan yang ada secara tegas dan konsisten kepada setiap siswanya dan mampu melakukan pengawasan yang serius. Perilaku bullying menjadi salah satu bentuk sikap dalam pemenuhan kebutuhan berkuasa individu. Wiyani (2012) mengungkapkan tindakan bullying cenderung kurang diperhatikan bahkan diabaikan dalam kehidupan sehari-hari.

22 Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa bullying merupakan perilaku yang biasa dan tidak berbahaya, meskipun sebenarnya bullying dapat memberikan dampak negatif bagi korbannya. Menurut Trigg (dalam Siswati & Widiyanti, 2009) korban bullying memiliki adaptasi yang buruk sehingga menyebabkan korban memiliki ketakutan pergi ke sekolah bahkan tidak jarang korban trauma pergi ke sekolah, kesulitan untuk berkonsentrasi saat belajar, menarik diri dari pergaulan sehingga menyebabkan prestasi akademiknya menurun, dan fatalnya korban memiliki keinginan untuk mengakhiri hidupnya daripada harus menghadapi banyak tekanan yang berupa hinaan dan hukuman. Berbagai uraian yang telah dijelaskan bahwa perilaku berkuasa jika dipenuhi dengan hal-hal yang negatif dapat memunculkan perilaku yang menekan dan menjatuhkan orang lain seperti perilaku bullying. Hal tersebut dilakukan untuk mempertahankan pendapat dan kekuasaan sehingga orang lain mengikuti dirinya. Perilaku bullying menimbulkan berbagai dampak yang kurang baik terutama apabila terjadi di lingkungan sekolah. Lingkungan sekolah menjadi tempat siswa untuk menumbuhkan jiwa bersaing yang tinggi dan berfokus pada pencapaian prestasi sehingga anak akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat lebih unggul dibanding teman-temannya. Jiwa kompetitif pada anak menurut Rigby (2007) dapat memunculkan adanya tindakan bullying yaitu siswa yang sering juara pada suatu kegiatan kompetitif akan muncul sikap arogan dengan menindas temannya yang kurang mampu. Hal-hal tersebut mendukung peneliti untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang berhubungan antara kebutuhan berkuasa dengan kecenderungan perilaku bullying.

23 D. Hipotesa Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dijelaskan di atas, maka hipotesa yang diajukan adalah Ada hubungan positif antara kebutuhan berkuasa dengan kecenderungan perilaku bullying. Asumsinya, jika kebutuhan berkuasa tinggi, kecenderungan perilaku bullying juga tinggi dan sebaliknya. Jika kebutuhan berkuasa rendah, kecenderungan perilaku bullying juga rendah.