0rganized: Supported by:

dokumen-dokumen yang mirip
Bab 1. Pendahuluan. Sejak zaman dahulu kala, manusia menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi

Bab 1. Pendahuluan. Bahasa adalah identitas diri dari suatu negara. Suatu negara dapat kita identifikasikan

BAB II SOFTWERE JLOOK UP. Softwere kamus Jlook up adalah softwere kamus Jepang yang cukup

0rganized: Supported by:

BAB 1. Pendahuluan. Manusia merupakan makhluk sosial, di mana bahasa merupakan alat

PDF created with FinePrint pdffactory trial version YUK BELAJAR NIHONGO

SILABUS MATA KULIAH PROGRAM STUDI MANAJEMEN RESORT & LEISURE

BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupan manusia itu sendiri. Dalam (9 Januari 2006), definisi

2015 METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK TALK WRITE DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN (SAKUBUN)

KEEFEKTIFAN FLASHCARD UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA JEPANG

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam teks yang sepadan dengan bahasa sasaran. Munday (2001) mendefinisikan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2006/2007

BAB 1 PENDAHULUAN. Sebagai alat berkomunikasi, manusia menggunakan bahasa sebagai sarananya.

BAB 1 PENDAHULUAN. sosial tidak dapat hidup tanpa adanya komunikasi dengan sesama. seseorang dengan status sosial dan budaya dalam masyarakat itu

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Jepang merupakan salah satu bahasa yang memiliki lebih dari satu

BAB 1 PENDAHULUAN. suatu objek tertentu. Rene Wellek mengatakan bahwa sastra adalah institusi sosial

BAB I PENDAHULUAN. beberapa faktor, salah satunya ialah akibat masuknya pengaruh dari bahasa asing. memiliki kata-kata pinjaman dalam kosakata mereka.

Bab 1. Pendahuluan. tulisan maupun isyarat) orang akan melakukan suatu komunikasi dan kontak sosial.

Bab 1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

ANALISIS KESALAHAN PENGGUNAAN GAIRAIGO PADA MAHASISWA SASTRA JEPANG ANGKATAN 2010 UNIVERSITAS BRAWIJAYA SKRIPSI OLEH IKA MILA PRATIWI

KATA PENGANTAR. Dalam kesempatan ini peneliti dengan tulus hati mengucapkan terima kasih kepada:

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SKRIPSI SERAT CARETA SAMA UN: SUNTINGAN TEKS DISERTAI ANALISIS RESEPSI. Oleh MUHAMMAD HASAN NIM

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

SILABUS. Kegiatan Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. Dedi Sutedi, bahasa adalah alat pengungkap pikiran maupun perasaan. Melalui

PROSIDING SEMINAR NASIONAL MATEMATIKA DAN PENDIDIKAN MATEMATIKA 11 November 2017 FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN. Belajar bahasa lain mungkin menjadi penting dalam aktivitas intelektual manusia

BAB I PENDAHULUAN. Di Indonesia semakin banyak masyarakat yang mempelajari bahasa Jepang

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa merupakan sistem informasi dan sistem komunikasi. Dengan

BAB I PENDAHULUAN. Buku cerita bilingual Kumpulan Cerita Anak Kreatif - Tales for Creative

Bab 2. Landasan Teori. Dalam KBBI, definisi dari tanda baca adalah tan da n 1 yang menjadi alamat

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehari-hari, dalam

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Atria Ramadhanty Irawan, 2014 Pengaruh evaluasi formatif pop test terhadap penguasaan huruf hiragana

BAB 1 PENDAHULUAN. dipelajari sebagai ilmu dasar bagi ilmu-ilmu lain seperti kesusastraan, filologi,

BAB I PENDAHULUAN. dapat menyampaikan informasi yang ingin disampaikan kepada orang. salah satunya adalah mempelajari bahasa Asing.

BAB I PENDAHULUAN. bangsa asing yang dalam proses pembelajarannya dianggap tidak mudah,

PROGRAM TAHUNAN. Kompetensi Dasar Materi Pokok Alokasi Waktu. Salam. Mengucapkan salam : おはようございます こんにちは こんばんは. Mengucapkan salam ketika berpisah :

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. di Indonesia ditingkatkan untuk disesuaikan dengan taraf perkembangan teknologi

PERUBAHAN DAN PELESAPAN FONEM DALAM KEGIATAN BERCAKAP-CAKAP PADA ANAK DOWN SYNDROME DI SEKOLAH LUAR BIASA CAHAYA MENTARI KARTASURA

METODE PENGAJARAN MEMBACA Sudjianto (Universitas Pendidikan Indonesia)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mega Sari, 2013

BAB I PENDAHULUAN. bahasa mempunyai kaidah-kaidah ataupun aturan-aturan masing-masing yang baik dan

BAB I PENDAHULUAN. Untuk kepentingan komunikasi dengan dunia internasional dengan baik,

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Jepang adalah salah satu bahasa di dunia yang memiliki ciri dan

(Asari-chan buku no: 28, halaman: 40) あさり ガンバレ! bersemangat. Berusaha Asari! Pada situasi di atas, penggunaan katakana ada pada kata ガンバレ.

BAB I PENDAHULUAN. Berdasarkan asal usulnya, kosakata bahasa Jepang terbagi atas wago,

Yogyakarta, 1 Agustus Penulis. iii

PENGGUNAAN REFERENSI PRONOMINA DEMONSTRATIF PADA CERITA RAKYAT MAHOU HAKUSHI DAN HASHIRE MEROSU SKRIPSI OLEH AFIFAH MAIMUNAH NIM

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Mirharatulisa Dyah Amoendria, 2013

BAB I PENDAHULUAN. membedakannya dengan bahasa lain. Sehingga tidaklah mengherankan jika

BAB I PENDAHULUAN. Setiap bahasa di dunia memiliki gaya bahasa yang spesifik dan unik sesuai

PERSEPSI REMAJA USIA TAHUN TERHADAP KEKERASAN DALAM ANIME NARUTO DI SMP 47 DAN SMP DIPONEGORO JAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. mengetahui budaya di berbagai negara, dan lain sebagainya.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Manusia merupakan mahluk sosial dimana dalam kehidupan sehari-harinya

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam masyarakat kata bahasa sering digunakan dalam berbagai konteks

1. Identitas a. Nama Mata Pelajaran : Bahasa Jepang b. Semester : 1 c. Kompetensi Dasar : 3.3 dan 4.3

Pattern Matching dalam Penerjemahan Kata yang Ditulis dengan Huruf Katakana ke dalam Bahasa Inggris

Bab 1. Pendahuluan. Bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) adalah (1) sistem lambang

BAB I PENDAHULUAN. bahasa Indonesia ke bahasa Jepang, kita dapat menerjemahkan suatu teks dari

BAB 1 PENDAHULUAN. fonologi, morfologi, sintaksis, maupun semantik (Tarigan dan

BAB I PENDAHULUAN. Materi utama dalam pengajaran bahasa Jepang ada tiga macam, yaitu

PERKEMBANGAN AGAMA BUDDHA DI JEPANG PADA ZAMAN MEIJI SKRIPSI ZAIM AZROUI PURBA FAKULTAS SASTRA PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA JEPANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Desi Siti Nuraeni,2014

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa Jepang adalah salah satu bahasa yang banyak dipelajari di

BAB 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Bab 1. Pendahuluan. bahkan dunia seseorang dengan Tuhannya (Pateda, 1993:6). Tanpa adanya bahasa

BAB I PENDAHULUAN. ide, atau perasaan tersebut dapat secara harfiah atau metaforis, secara langsung atau tidak

PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PUISI PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS V DENGAN MENGGUNAKAN STRATEGI PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer (tidak tetap) yang

BAB I PENDAHULUAN. Kamus Shougaku Kokugo Jiten (2011 hlm 709) mendefinisikan sokuon ことばを言うときに つまって発音される音 書くときは やっと どっち などのように 小さい っ で書き表す

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai pembelajar bahasa asing pada pendidikan formal, sudah sewajarnya

BAB I PENDAHULUAN. bahasa nasionalnnya. (Sudjianto dan Dahidi Ahmad, 2009: 11). Dilihat dari

BAB I PENDAHULUAN. terdiri dari bangsa, suku bangsa, atau etnis yang berbeda-beda. Oleh sebab itu,

BAB I PENDAHULUAN. pada bahasa secara universal. Linguistik memiliki dua cabang pembagian yaitu

BAB 1. Pendahuluan. Bahasa di dalam wacana linguistik diberi pengertian sebagai sistem simbol bunyi

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. hal ini disebabkan karena keunikan dari bahasa-bahasa tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. Kosakata, yang dalam bahasa Jepang dikenal dengan istilah goi

BAB 1 PENDAHULUAN. Pengertian bahasa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989) adalah sistem

98. Mata Pelajaran Bahasa Jepang untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) Program Pilihan

BAB 1 PENDAHULUAN. Hari-hari di Rainnesthood..., Adhe Mila Herdiyanti, FIB UI, Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Seperti yang diketahui komunikasi adalah sesuatu yang telah dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Yanagita Kunio (via Danandjaja, 1997: 35-36) salah satu cara

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

Transkripsi:

0rganized: Supported by:

Seminar Nasional 2017 Dinamika Perkembangan Bahasa Jepang di Indonesia Dewan Redaksi Penyunting: Thamita Islami Indraswari, S.S., M.Pd. Mitra Bestari: Prof. Dr. Djodjok Soepardjo,M.Litt. Drs. H. Sudjianto, M.Hum.

KATA SAMBUTAN インドネシアにおける日本語の発展のダイナミック Assalamualaikum Wr. Wb. Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan rida-nya, Proceeding Seminar Nasional yang bertema Dinamika Perkembangan Bahasa Jepang di Indonesia dapat disusun. Tidak lupa, salawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan umatnya. Seminar Nasional yang bertema Dinamika Perkembangan Bahasa Jepang di Indonesia merupakan seminar kedua yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta atas kerja sama dengan Asosiasi Studi Pendidikan Bahasa Jepang Indonesia (ASPBJI) Korwil Jateng-DIY dan The Japan Foundation Jakarta. Seminar ini digagas untuk menjawab segala permasalahan yang terjadi terutama dalam hal pendidikan bahasa Jepang di Indonesia dan mengetahui seberapa besar kontribusi kajian bahasa Jepang terhadap perkembangan dan kemajuan ilmu bahasa Jepang di Indonesia. Tujuan diadakannya seminar ini yaitu mengumpulkan para peneliti, pakar, praktisi, pemerhati, dan pembelajar bahasa Jepang agar dapat melakukan diskusi kritis mengenai perkembangan pendidikan bahasa Jepang dan kajian yang berkaitan dengan bahasa Jepang sehingga segala permasalahan yang berkaitan dengan hal tersebut dapat dihadapi dengan pendekatan akademis dan saintifik. Selain itu, melalui seminar nasional ini diharapkan kepedulian dan semangat dalam mengembangkan kajian pendidikan bahasa Jepang dan ilmu bahasa Jepang di Indonesia semakin meningkat pesat sehingga dapat memberikan kontribusi yang besar kepada berbagai aspek kehidupan. Seminar nasional ini diselenggarakan pada Sabtu, 9 Desember 2017 di Gedung K.H. Ibrahim Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Seminar nasional ini dihadiri oleh para pemakalah dari berbagai institusi pendidikan seperti sekolah menengah umum dan perguruan tinggi di Indonesia, para peserta baik mahasiswa, guru, dosen, pemerhati bahasa Jepang dari berbagai institusi di Indonesia. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta atas dukungannya dalam penyelenggaraan seminar ini; 2. Asosiasi Studi Pendidikan Bahasa Jepang Indonesia (ASPBJI) Korwil Jateng-DIY dan The Japan Foundation Jakarta atas kerja sama dan dukungannya dalam penyelenggaraan seminar ini; 3. Dr. Dedi Sutedi, M.A., M.Ed., Drs. Tatang Hariri, M.A., Ph.D., dan Okamoto Taku, M.A. selaku Keynote Speakers dan para pemakalah yang telah bersedia memberikan ilmu yang bermanfaat pada seminar nasional ini; 4. Para Reviewer yang telah memberikan masukan sehingga para pemakalah dapat menyelesaikan tulisannya dengan baik; 5. Panitia seminar nasional yang telah bekerja keras dari awal hingga terlaksananya kegiatan; 6. Seluruh pihak terkait yang tidak bisa disebut satu per satu yang turut membantu terselenggaranya kegiatan ini. Atas nama Panitia Seminar Nasional, saya mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya jika dalam proceeding ini tedapat hal-hal yang tidak berkenan. Semoga proceeding ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua khususnya bagi pemerhati pendidikan bahasa Jepang dan ilmu bahasa Jepang baik di lembaga formal maupun lembaga nonformal. Ketua Panitia Seminar Nasional Sonda Sanjaya, S.S., M.Pd. iii

DAFTAR ISI KATA SAMBUTAN iii DINAMIKA PERKEMBANGAN PENDIDIKAN BAHASA JEPANG DI INDONESIA DAN PERMASALAHANNYA Dedi Sutedi 7 STRATEGI PENGUASAAN TEKS TULIS BAHASA JEPANG Tatang Hariri 14 INTERFERENSI GRAMATIKAL BAHASA INDONESIA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA JEPANG DI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Abdul Gapur 30 KEEFEKTIVAN PENERAPAN KURIKULUM TAHUN 2012 PADA PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNNES Ai Sumirah Setiawati 39 MODALITAS GAIZEN KEMUNGKINAN KA MO SHIRENAI BAHASA JEPANG DAN PADANANNYA DALAM BAHASA INDONESIA Arza Aibonotika, Hana Nimashita 50 ANALISIS PERBANDINGAN MAKNA KAN YOKU BAHASA JEPANG YANG TERBENTUK DARI KATA ATAMA DENGAN IDIOM BAHASA INDONESIA Azka Fuad Assjari 55 PENYELAMATAN MUKA DALAM TINDAK TUTUR AJAKAN BAHASA JEPANG SEBUAH KAJIAN PRAGMATIK LINTAS BAHASA DI KALANGAN PEMBELAJAR BAHASA JEPANG Bayu Aryanto, Yunita Fatimah Widiantari 69 PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF DALAM PENGAJARAN BAHASA JEPANG -UJICOBA PENGGUNAAN MEDIA TENSAI DI SMAN 21 BANDUNG- Dian Bayu Firmansyah, Ramaniar Maryunita, Riska Sri Rahmawati 75 KESANTUNAN BERTUTUR MAHASISWA DENGAN DOSEN JEPANG DALAM PEMBELAJARAN BAHASA JEPANG DI DALAM KELAS Rina Supriatnaningsih, Rustono, Edi Astini, Tatang Hariri 84 PENGARUH PERSEPSI MAHASISWA PRODI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNNES MENGENAI PROFESI GURU TERHADAP MINAT MENJADI GURU Dyah Prasetiani, Silvia Nurhayati, Nurlita Septia Ningrum 96 PERSEPSI SISWA TERHADAP MEDIA CARD SORT SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN KOSAKATA BAHASA JEPANG Faridzotun Nikmah, Yuyun Rosliyah, Ai Sumirah Setiawati 106 iv

KESALAHAN PENGGUNAAN ASPEK DALAM KARANGAN BAHASA JEPANG (SAKUBUN) -STUDI KASUS TERHADAP MAHASISWA PROGRAM STUDI S1 SASTRA JEPANG UNIVERSITAS BRAWIJAYA ANGKATAN 2014- Febi Ariani Saragih, Anis Suroidah 116 KOMUNIKASI YANG BERADAB DALAM KAJIAN EUFEMISME MASYARAKAT TUTUR JEPANG Hartati 122 HEDGES ~ TO OMOIMASU PADA WAWANCARA INTERAKTIF DI UNIVERSITAS KITA KYUUSHUU JEPANG Irma Winingsih 128 DINAMIKA PERKEMBANGAN BAHASA JEPANG DI JURUSAN BAHASA DAN SASTRA UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG Ismatul Khasanah 134 EVALUASI PENGAJARAN BAHASA JEPANG DI UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA Lasti Nur Satiani 138 EFEKTIVITAS APLIKASI ANDROID KATAKANA MEMORY HINT DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN HURUF KATAKANA DI KELAS MINOR BAHASA JEPANG Linna Meilia Rasiban, Neneng Sutjiati, Ahmad Dahidi 144 PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA JEPANG MELALUI TEKNIK AKROSTIK PADA MAHASISWA TINGKAT I PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG UNIVERSITAS SUMATERA UTARA Mhd.Pujiono 150 PENERAPAN ACTIVE LEARNING PADA PEMBELAJARAN CHOUKAI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN NIHONJIJO Noviyanti Aneros, Melia Dewi Judiasri, Herniwati 156 DAMPAK PERUBAHAN KURIKULUM PROGRAM STUDI SASTRA JEPANG TERHADAP PRESTASI MAHASISWA SASTRA JEPANG FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS BRAWIJAYA TAHUN 2007-2017 Retno Dewi Ambarastuti 163 UNGKAPAN AKHIR KALIMAT TE SHIMAU Rukmono Danang Nugroho 170 TERJEMAHAN NAMA ASING DARI BAHASA JEPANG KE BAHASA INDONESIA PADA CERPEN LARILAH, MELOS! Santi Andayani 175 v

DESKRIPSI RANAH PRIVASI DALAM KOMUNIKASI MASYARAKAT PEKERJA (SHAKAIJIN) PENUTUR BAHASA JEPANG DAN PENUTUR BAHASA INDONESIA Sonda Sanjaya, Muhamad Kusnendar 180 ALIENASI TOKOH C DALAM NOVEL HAKO OTOKO KARYA ABE KOBO Tia Ristiawati, Yuniarsih 187 MUATAN BUDI PEKERTI DALAM DONGENG BERJUDUL TENGUNO KAKUREMINO Tri Mulyani Wahyuningsih 194 BELIEF PEMBELAJAR BAHASA JEPANG TERHADAP STUDENT CENTERED LEARNING (SCL) DALAM PERKULIAHAN CHUJOKYU DOKKAI STUDI KASUS MAHASISWA TINGKAT III PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA TAHUN AJARAN 2016/2017 Wistri Meisa, Thamita Islami Indraswari 200 SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PENGAJARAN BAHASA JEPANG DI SEKOLAH MENENGAH ATAS DI WILAYAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (PERIODE 1992-2013) Wiwik Retno Handayani 208 PENERAPAN PROJECT WORK DALAM PEMBELAJARAN KAIWA STUDI DESKRIPTIF TERHADAP MAHASISWA PENDIDIKAN BAHASA JEPANG UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARATA TINGKAT III TAHUN AJARAN 2016/2017 Wulandari 215 vi

TERJEMAHAN NAMA ASING DARI BAHASA JEPANG KE BAHASA INDONESIA PADA CERPEN LARILAH, MELOS! Santi Andayani Program Studi Sastra Jepang Universitas Brawijaya santi_andayani@yahoo.co.id ABSTRAK Terjemahan nama yang tepat untuk nama-nama orang lebih sulit dilakukan dibanding dengan penerjamahan untuk nama-nama yang bersifat geografis. Hal ini terutama terjadi pada kata serapan bahasa asing yang dinaturalisasikan ke dalam tulisan silabogram seperti tulisan Jepang. Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan apakah terjemahan nama tokoh dan lokasi pada cerpen Larilah Melos telah dilakukan secara tepat. Untuk itu digunakan metode perbandingan antar teks tentang kisah Melos dari beberapa bahasa terjemahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa nama tokoh terdapat perbedaan penulisan dalam menerjemahkan dan adanya perbedaan pemakaian nama kota. Key words: translation of proper names, gairaigo, Melos A. Pendahuluan Seperti halnya bahasa Indonesia maupun bahasa-bahasa dunia lainnya dimana suatu negara melakukan hubungan, baik politik maupun ekonomi dengan negara lain pastilah akan terjadi suatu transfer pengetahuan dan budaya dari negara masing-masing. Informasi-informasi yang didapatkan dari negara lain akan disebarkan ke negara lainnya melalui bahasa. Untuk itu, alih informasi melalui bahasa ini akan memerlukan adanya skill dan pengetahuan yang luas mengenai bahasa tersebut. Bahasa adalah wujud dari kebudayaan, artinya bahasa adalah wadah dan refleksi kebudayaan masyarakat pemiliknya. Jadi, jika dihubungkan dengan kegiatan penerjemahan bahasa, kebudayaan yang mewakili bahasa sumber akan tercermin dalam teksnya tersebut. Oleh karena itu, pemahaman mengenai karakteristik bahasa dan budaya dari bahasa sumber perlu diketahui. Pemberian nama kepada orang, tempat dan benda-benda adalah bagian dari proses kebudayaan. Untuk itu, pada saat proses penerjemahan penting untuk menuliskannya secara tepat pula. Tidak seperti benda kultural lain seperti makanan yang mungkin bisa dicarikan padanan katanya dalama bahasa sasaran karena memiliki kemiripan dari segi fisik atau rasa, untuk penerjemahan nama seperti nama orang dan nama tempat tidak mungkin dilakukan pencarian padanannya. Pada umumnya, perubahan nama orang atau tempat terjadi hanya dalam bentuk karakternya/ tulisannya saja sedang pelafalannya mungkin ada yang bisa sama tepat dan ada yang berubah karena tidak semua bahasa memiliki fonologi yang sama. Perbedaan fonetik dan huruf akan menyulitkan dalam proses penerjemahan. Dalam bahasa Jepang, penyerapan kata asing disebut dengan gairaigo. Penulisan gairaigo pada bahasa Jepang menggunakan huruf katakana. Sebagaimana diketahui, Jepang memiliki 3 macam huruf, yaitu kanji yang merupakan huruf yang berasal dari Cina, lalu hiragana yang merupakan huruf asli Jepang yang diturunkan dari kanji, dan terakhir adalah katakana, yaitu huruf yang diciptakan pada masa Meiji ketika orang-orang asing mulai banyak masuk ke Jepang. Beberapa sarjana yang mengetahui bahwa buku-buku ini membawa pengetahuan yang bermanfaat mulai melakukan pengkajian yang dimulai dengan penerjemahan buku-buku kedokteran. Namun, karena tulisan kanji dan hiragana tidak bisa menampung beberapa pelafalan bunyi dari bahasa asing yaitu bahasa Portugis maka diciptakanlah huruf katakana. Oleh karena itu, sampai sekarang kata asing umumnya akan ditulis 175

dengan menggunakan huruf katakana. Dalam perkembangna selanjutnya, ternyata tulisan katakana masih belum mampu menampung semua pelafalan bunyi dari berbagai bahasa yang semakin banyak muncul dalam hubungan internasional. Bahasa asing yang ditulis dalam huruf katakana kebanyakan akan mengalami perubahan tulisan maupun bunyi akibat keterbatasan huruf katakana. Huruf ini memiliki 5 vokal a,i,u,e,o, satu konsonan huruf n, dan lainnya berbentuk fonem yang berupa suku kata seperti sa, si, su, se, so, ta, chi, tsu, te, to, ra, ri, ru, re, ro dan seterusnya berjumlah 23. Contoh penulisan asing dari kata girlfriend dari bahasa Inggris akan diserap menjadi ガールフレンド (baca: gaarufurendo). Dalam huruf katakana, tidak mengenal adanya huruf konsonan selain huruf n, oleh karena itu huruf d pada akhir kata girlfriend akan menjadi do dan bunyi girl akan ditulis menjadi gaaru dengan bunyi ga menjadi panjang gaa. Selain itu, karena huruf l juga tidak ada dalam bahasa Jepang maka bunyi yang mendekati l adalah r, dan karena konsonan r sendiri tidak ada, maka akan dirubah bunyinya menjadi ru. Adanya penyerapan asing dalam tulisan maupun karya sastra Jepang tidak akan begitu mendatangkan masalah jika kata serapan tersebut sudah distandarkan dan muncul dalam kamus bahasa Jepang. Namun, kata serapan seperti nama orang, benda, dan istilah-istilah geografis seperti nama kota, sungai, gunung, dll. yang tidak terkenal tidak akan muncul dalam kamus. Hal ini tentunya akan memunculkan kesulitan tersendiri ketika penerjemah tidak mengetahui asal bahasanya karena bagaimanapun nama orang dan istilah geografi harus ditulis dengan tepat. Penerjemahan nama secara tepat oleh Newman digolongkan antara lain pada nama-nama orang, obyek atau benda-benda, dan istilah-istilah geografi seperti nama tempat dan hal-hal yang berhubungan dengan cultural scenary (nama sungai, gunung, jalan, gedung). Pada nama orang, umumnya, first dan surname ditransfer begitu saja supaya bisa mempertahankan kebangsaan mereka dan untuk mengasumsikan bahwa nama-nama mereka tidak memiliki konotasi dalam teks. Namun, ada beberapa perkecualian untuk nama-nama kebangsawanan maupun nama orang orang-orang suci (santo) atau tokoh-tokoh klasik Yunani yang dilakukan penerjemahannya. Seperti Plato dinaturalisasikan menjadi Platon dalam bahasa-bahasa utama di Eropa (Newmark. 1992:214). Untuk nama-nama benda (obyek) sebagai proper name memuat trademarks, brands, atau properti-properti yang biasanya ditransfer ke bahasa sasaran. Supaya lebih dikenal oleh pembacanya, sering juga ditambahkan dengan klasifikasi tertentu terutama untuk obyek-obyek yang kurang dikenal.. Contohnya Tipp-Ex yang ditransfer menjadi du liquid correcteur Tipp-Ex (Newmark, 1992: 216). Untuk nama-nama geografi, bisa dicek di atlas atau karya jurnalistik dan kalau perlu sampai ke kedutaan besar yang bersangkutan. Newman beranggapan bahwa bagaimanpun kita harus menghormati keingan suatu negara dalam menentukan sendiri nama untuk fitur-fitur geografisnya. Beberapa fitur tersebut ada yang secara politis tidak mendapat tentangan sehingga tinggal seperti adanya dalam bahasa Inggris: Contohnya, Prague (Praha), Algiers (Al-Djazair), Tunis (Tunus) (Newmark. 1992: 216). Seperti halnya juga dalam bahasa Indonesia, beberapa nama negara juga telah dinaturalisasikan contohnya Yunani (Greek) dan Jepang (Japan). Makalah ini akan berfokus untuk membahas penerjemahan dari bahasa Jepang ke bahasa Indonesia melalui karya sastra terjemahan berupa cerpen berjudul Larilah, Melos! untuk melihat apakah penerjemahan nama asing dari bahasa Jepang ke Bahasa Indonesia sudah dilakukan secara tepat. Cerpen Hashire Merosu ditulis oleh Dazai Osamu pada tahun 1940 yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Antonius R. Pujo Purnomo dengan judul Larilah, Melos!. Cerpen ini diadaptasi dari mitologi Yunani yaitu dari kisah Damon and Pythias. Oleh karena cerpen ini diadaptasi dari mitologi Yunani, dalam cerita akan ditemukan beberapa kata yang menggunakan istilah budaya Yunani yang telah diserap dalam bahasa Jepang. Ceritanya mengisahkan persahabatan antara 2 pemuda, Melos dengan Selinutius. Persahabatan mereka diuji ketika raja Dyonisus akan menghukum mati Selinuntius yang menjadi 176

sandera menggantikan Melos. Seharusnya Melos lah yang mendapatkan hukuman mati. Namun karena permintaan Melos yang ingin menikahkan adik perempuannya di desa, maka dia memohon kepada sang raja untuk menangguhkan hukuman itu dengan meminta sahabatnya, Selinuntius, menggantikannya selama kepergiannya ke desa. Akhirnya pada hari ketiga, batas perjanjian penagguhan, Melos benar-benar datang kembali ke istana. Hal ini membuat raja Dyonisus yang pada awalnya tidak percaya akan kepercayaan di antara manusia menjadi tersentuh sehingga diampunilah mereka berdua. Untuk lebih mendekatkan pada rasa Yunani, maka dalam teks terjemahan masih dipertahankan terjemahan budaya Yunani di dalamnya. Terjemahan tersebut diantaranya adalah nama tokoh dan nama kota dari setting cerita. Dengan berdasar pada hal-hal tersebut, maka makalah ini akan mendeskripsikan pemilihan diksi oleh penerjemah dalam menentukan terjemahan nama asing yang tepat pada cerpen Larilah Melos!. B. Metode Peneltian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Sumber data primer penelitian ini menggunakan teks terjemahan cerpen berjudul Larilah, Melos! oleh Antonius R. Pujo Purnomo dalam Antologi Kesusastraan Anak Jepang yang dicetak pada tahun 2010 dan didukung dengan teks pada subtitle anime Hashire Merosu yang di-remake oleh sutradara Masaki Osumi pada tahun 1992 serta teks mitologi Yunanani dalam buku berjudul Apollodorus Library and Hyginus Fabulae: Two Handbooks of Greek Mythology yang ditulis oleh Apollodorus, R. dan diterjemhkan oleh Scott Smith dan Stephen Trzaskoma. Untuk memecahkan masalah akan digunakan metode perbandingan, yaitu dengan cara membandingkan sebutan nama tokoh dan lokasi dari cerita tentang Melos yang menjadi fokus penelitian ini pada beberapa versinya, yaitu versi bahasa Inggris yang terdapat pada teks Apollodorus Library and Hyginus Fabulae: Two Handbooks of Greek Mythology, versi bahasa Jepang pada teks subtitle anime Hashire Merosu, dan versi terrjemahan bahasa Indonesia pada cerpen Larilah Melos! dalam Antologi Kesusastraan Anak Jepang untuk melihat ada tidaknya perubahan ejaan atau penulisannya. C. Hasil Analisis Data Setting cerita Larilah, Melos! mengambil tempat negeri Yunani. Oleh karena itu, penyebutan nama orang maupun nama yang mengacu pada istilah geografi akan mengalami perubahan pengucapan dan penulisan dalam bahasa Jepang. Hal ini akan terlihat jelas sekali perubahannya dalam penulisan karya sastra. Penulisan kata serapan atau gairaigo tersebut seperti yang telah disinggung sebelumnya akan ditulis dengan huruf katakana. Penyerapan ini dilakukan untuk memudahkan pengucapan/ pronounciation bagi orang Jepang sendiri. Seperti kata para antropolog bahwa kebudayaan berpengaruh pada perkembangan bahasa yang digunakan. Pada cerpen Larilah Melos! ditemukan 5 nama tokoh dan 1 nama kota yang tertulis menggunakan huruf katakana. Nama-nama dari tokoh tersebut adalah nama-nama yang diambil dari figure-figur Yunani klasik yang dalam teks terjemahannya tertulis dengan nama Melos, Selinuntius, Zeus, Dionysus, dan Philostratus, sedangkan nama kotanya adalah Syracuse. Untuk mengetahui apakah penerjemahan ini sudah dianggap sebagai translation of proper names, maka akan dianalisis dengan membandingkannya dengan teks lain. Sebagai kata acuan, akan digunakan pelafalan dan penulisan kata tersebut dalam bahasa Inggris. Dipakainya terjemahan bahasa Inggris sebagai acuan karena sifat bahasanya yang lebih universal, sehingga untuk memudahkan memahami bahasa Yunani maka alih aksaranya digunakanlah huruf latin dengan pelafalan dalam bahasa Inggris. Untuk memudahkan perbandingannya, teks-teks lain yang mengandung data analisis berupa kata yang memiliki kesamaan konteks akan disertakan. Perbandingannya diambil dari teks terjemahan cerpen Larilah, Melos!, dari subtitle pada anime Hashire Merosu yang telah ditayangkan di Jepang, dan dari buku Apollodorus Library and Hyginus Fabulae: Two Handbooks of Greek Mythology 177

(selanjutnya disingkat ALGF). Tabel Perbandingan Teks Penerjemahan Nama Asing Jenis Tulisan katakana Alih aksara latin Teks terjemahan cerpen Penulisan pada subtitle anime Penulisan pada ALGF Nama orang メロス Merosu Melos Melos Moerus Nama orang セリヌンティウス Serinuntiusu Selinuntius Selinuntius Selinuntius Nama orang ゼウス Zeusu Zeus Zeus Zeus Nama orang ディオニス Dionisu Dionysus Dyonysius Dionysius Nama orang フィロストラトス Firosutoratosu Philostratus Philostratos Phalaris Nama kota シラクス Shirakusu Syracuse Syiracuse Sicily Dari tabel 1 di atas bisa dikelompokkan bahwa nama yang memiliki kesamaan karakteristik dengan tulisan pada teks terjemahan adalah Selinuntius dan Zeus saja, sedangkan yang lain seperti penerjemahan Melos dan Syracuse berbeda dengan teks pada ALGF yaitu Moerus dan Sicily. Untuk nama Dionysus dan Philostratus semua teks menunjukkan perbedaan dalam penerjemahannya, yaitu Dionysus, Dyonysius, Dionysius dan Philostratus, Philostratos, dan Phalaris. Perbedaan ejaan tersebut dimungkinkan karena pelafalan bahasa Yunani yang dialihaksarakan ke dalam huruf lain tentunya tidak bisa sama tepat. Pelafalan huruf i dengan huruf y yang hampir sama membuat penulisannya pun cenderung menjadi tidak bisa ditetapkan secara konsisten manakah terjemahan yang tepat. Dalam hal nama kota, kata ini bisa dicari dalam atlas atau dalam bentuk berita-berita jurnalistik yang bisa didapatkan secara mudah melalui situs-situs di internet. Dalam beberapa situs menyebutkan bahwa terdapat nama kota Syracuse di Yunani. Selain itu, kata ini juga dipakai sebagai nama universitas di Yunani. Jadi secara geografis terjemahan ini bisa dianggap tepat. Pada teks AGLF disebutkan, In sicily, since Dionysius was a remarkably cruel tyrant and used to torture and kill his own citizens, Moerus tried to kill him (Apollodorus, 2007: 175). Kemudian, dari salah satu situs di internet menyebutkan bahwa Sicily adalah nama sebuah pulau di laut Mediteranian seperti berikut ini. Sicily is an island in the Mediterranean Sea separated from the southwestern tip of Italy by the Strait of Messina. Sicily is the largest island in the Mediterranean Sea with an area of 9,924 square miles (25,703 square kilometers); known in ancient times as Sikilia; located in such a strategic position, Sicily was a very desirable area for colonies and settlements. A brief outline of its history could begin circa 800 BCE when an Indo-European group known as the Sicani or Siculi settled the island; circa 735 BCE the Greeks founded their first colonies on the island and gradually established towns and settlements in Messana (modern Messina), Katane (Catania), Gela, Selinus (Selinunte), Akragas (Agrigento) and, the most important Greek colony, Syracuse. Circa 550 BCE the Carthaginians established colonies on Sicily and a longstanding animosity between the Greeks and Carthaginians developed; the island was essentially divided in half with the Carthaginians on the west and the Greeks on the east; this division lasted until the Romans eclipsed both the Greeks and the Carthaginians and declared the island as their first province (circa 241 BCE) (http://messagenetcommresearch.com/myths/ ppt/sicily_1.html). 178

Dari keterangan di atas bisa disimpulkan bahwa nama kedua lokasi tersebut teradapat di Yunani yaitu baik Sicily maupun Syracuse. Jadi, pada saat pengarang cerpen ini menuliskan nama kota Syracuse seperti dalam kutipan berikut ini, nama kota yang dimaksud adalah kota Syracuse dan hal ini sesuai dengan nama kota di Yunani. メロスには竹馬の友があった セリヌンティウスである 今は此のシラクスの市で石工をしている Selinentius tinggal di kota Syracuse, dimana ia tinggal sebagai tukang batu (Purnomo,2010:641) Dengan melihat perbedaan di atas, maka bisa dikatakan bahwa penerjemahan secara tepat untuk nama-nama orang akan mendapat lebih banyak tantangan dibanding dengan penerjamahan untuk nama-nama yang bersifat geografis. Terutama kata serapan bahasa asing yang dinaturalisasikan ke dalam tulisan silabogram seperti tulisan Jepang. Hal ini dikarenakan pada saat menerjemahkan terutama nama, penulisannya akan mengalami perubahan karena menyesuaiakan dengan spelling phonetik orang Jepang yang kemudian dituliskan dengan katakana dimana hurufnya tidak bisa memadai untuk beberapa fonetik bahasa asing. Selain itu, penerjemahan dari bahasa serapan dalam Bahasa Jepang ke dalam bahasa sasaran diperlukan pengetahuan budaya dan geografi dari asal kata serapan tersebut sehingga penerjemahan yang tepat bisa dilakukan. D. Simpulan dan Saran Berdasarkan hasil analisis data di atas dapat disimpulkan bahwa beberapa nama tokoh sudah tepat dalam penerjemahannya, yaitu Selinuntius dan Zeus. Namun, untuk nama tokoh Melos, Dionysus, dan Philostratus terdapat perbedaan penulisan dalam menerjemahkan, yaitu nama Melos pada teks cerpen dan subtitle anime ditulis Moerus pada penulisan ALGF. Kemudian, tokoh Dionysus pada teks cerpen, ditulis Dyonysius pada subtitle anime, dan ditulis Dionysius pada buku ALGF. Selain itu, perbedaan penulisan juga terjadi pada tokoh Philostratus dalam teks cerpen, ditulis Philostratos pada subtitle anime, dan ditulis Phalaris pada buku ALGF. Untuk penerjemahan nama kota Syracuse pada teks cerpen menjadi Syiracuse pada subtitle anime dan terjadi perbedaan pula dalam penulisan ALGF yaitu Sicily. Daftar Pustaka Apollodorus, R. 2007. Apollodorus Library and Hyginus Fabulae: Two Handbooks of Greek Mythology. USA: Hackett Publishing Company,Inc. Purnomo, Antonius R. Pujo. 2010. Antologi Kesusastraan Anak Jepang. Surabaya: Eramedia Publisher Newmark, Peter. 1992. A Textbook of Translation. Great Britain: A.Wheaton &CO.Ltd,Exeter. The First. International Conference on Translation and Interpretation. 2010. Bangkok: Faculty of Art, Chulalongkorn University. Stewart, Michael. People, Places & Things: Sicily, Greek Mythology: From the Iliad to the Fall of the Last Tyrant. Diakses melalui http://messagenetcommresearch.com/myths/ppt/sicily_1.html pada tanggal 10 Oktober 2017. 179