BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN STUDENT APARTMENT DI KABUPATEN SLEMAN, DIY

BAB IV ANALISA PERENCANAAN

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.

BAB 1 PENDAHULUAN. Aktifitas keseharian penduduk perkotaan makin tinggi sejalan dengan makin

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pembangunan nasional di Indonesia adalah pembangunan yang dilaksanakan

BAB I PENDAHULUAN. dilakukannya penelitian ini terkait dengan permasalahan-permasalahan

AR 40Z0 Laporan Tugas Akhir Rusunami Kelurahan Lebak Siliwangi Bandung BAB 5 HASIL PERANCANGAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

BAB I PENDAHULUAN. sangat pesat, salah satunya adalah kawasan perbatasan Sidoarjo - Surabaya (dalam hal ini Desa Wonocolo, Kecamatan Taman).

BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan jumlah penduduk dan urbanisasi merupakan salah satu

BUPATI TRENGGALEK PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN TRENGGALEK NOMOR 10 TAHUN 2017 TENTANG PENGELOLAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Geografi merupakan ungkapan atau kata dari bahasa Inggris Geography yang terdiri

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/PERMEN/M/2006 TENTANG

IDENTIFIKASI FAKTOR FAKTOR PENYEBAB PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN PERMUKIMAN MENJADI KOMERSIAL DI KAWASAL KEMANG JAKARTA SELATAN TUGAS AKHIR

BAB III : DATA DAN ANALISA

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pelaksanaan berasal dari kata laksana yang berarti kegiatan 5. Pelaksanaan

BAB I PENDAHULUAN. lainnya. Oleh karena itu,bukan suatu pandangan yang aneh bila kota kota besar di

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 KONDISI KAWASAN KAMPUNG HAMDAN

Renovasi Rumah Tinggal Sederhana sebagai Pemenuhan Kebutuhan Konsumen pada Perumahan di Kabupaten Sidoarjo. Julistyana Tistogondo, ST, MT ABSTRAK

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam Darda (2009) dijelaskan secara rinci bahwa, Indonesia merupakan

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah peran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia mempunyai arti perangkat

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. perumahan di Kota Sleman dan lahan pertanian masih tetap. penggunaan tanah sebagai pertimbangan utama, juga harus

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

PENDAHULUAN. waktu terjadi pasang. Daerah genangan pasang biasanya terdapat di daerah dataran

Bab V Konsep Perancangan

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

PERATURAN MENTERI NEGARA PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 02 /PERMEN/M/2009 TENTANG

BAB 1 PENDAHULUAN. letaknya ini, matahari dapat bersinar di wilayah Indonesia selama 12 jam per

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. V. 1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan. mengenai isu krisis energi dan pemanasan global.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Permasalahan Isu Perkembangan Properti di DIY

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV ANALISA TAPAK

PENGARUH PENURUNAN KAPASITAS ALUR SUNGAI PEKALONGAN TERHADAP AREAL HUNIAN DI TEPI SUNGAI TUGAS AKHIR

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Usaha kesehatan lingkungan merupakan salah satu dari enam usaha dasar

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang bukan dari daerah asal orang tersebut (KBBI, 2015). Perantau juga sering

RUMAH TINGGAL. Eko Sri Haryanto, S.Sn, M.Sn

BAB I PENDAHULUAN. Tinggi terletak pada LU dan BT. Kota Tebing Tinggi

BAB IV ANALISIS. 4.1 ANALISIS FUNGSIONAL a) Organisasi Ruang

BAB IV ANALISIS PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PERMUKIMAN TUMBUH DIATAS LAHAN BENCANA LUMPUR LAPINDO

Dasar-Dasar Rumah Sehat KATA PENGANTAR

BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Total keseluruhan luas parkir yang diperlukan adalah 714 m 2, dengan 510 m 2 untuk

SAINS ARSITEKTUR II GRAHA WONOKOYO SEBAGAI BANGUNAN BERWAWASAN LINGKUNGAN DI IKLIM TROPIS. Di susun oleh : ROMI RIZALI ( )

RUMAH SEHAT. Oleh : SUYAMDI, S.H, M.M Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Karanganyar

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB IV TINJAUAN KHUSUS

Gedung Kantor LKPP BAB I PENDAHULUAN

PENDAHULUAN BAB I. Latar Belakang. Kota Jakarta, ibukota negara sekaligus sebagai pusat ekonomi dan pusat

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB III METODE PERANCANGAN. Pembahasan yang dikemukakan dalam bagian bab ini ditujukan untuk

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB I PENDAHULUAN. Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya. kepemilikan kendaraan di perkotaan akan mempengaruhi pertumbuhan dan

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB II TINJAUAN DATA

KESEHATAN DAN SANITASI LINGKUNGAN TIM PEMBEKALAN KKN UNDIKSHA 2018

LAMPIRAN 1 PERAN ENERGI DALAM ARSITEKTUR

BAB I PENDAHULUAN. juga tempat kediaman yang dapat memenuhi syarat-syarat kehidupan yang

BUPATI JENEPONTO PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI JENEPONTO NOMOR 28 TAHUN 2017 TENTANG PEMANFAATAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA

BAB 1 PENDAHULUAN. tinggal, seperti ruang tidur, ruang makan, dan kamar mandi. Karena bersifat

BERITA DAERAH KOTA BEKASI PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN TARIF SEWA RUMAH SUSUN SEDERHANA KOTA BEKASI

`BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. a. Strategi/ Pendekatan Perancangan. Untuk pemilihan judul rest area tol Semarang-Solo

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan peningkatan kebutuhan penduduk terhadap lahan baik itu untuk

b e r n u a n s a h i jau

BAB III TINJAUAN KHUSUS

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP. Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Kebutuhan akan pendidikan merupakan bagian yang tidak dapat dipungkiri

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Ventilasi suatu bangunan merupakan salah satu elemen penting dalam

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JAKARTA SELATAN Arsitektur Tropis

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB III KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Eksistensi Proyek. kota besar di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan jumlah

JUDUL TESIS KONSEP PERANCANGAN RUMAH SUSUN BAGI PEDAGANG PASAR STUDI KASUS : PASAR OEBA, KELURAHN FATUBESI, KOTA KUPANG

Asrama Mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang Unggul, Inklusif, dan Humanis

BAB I PENDAHULUAN. laju pertumbuhan penduduk yang pesat sebagai akibat dari faktor-faktor

BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN. penduduk tersebutlah yang menjadi salah satu masalah bagi suatu kota besar.

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan penduduk di Indonesia disetiap tahun semakin meningkat. Hal ini

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. kendaraan dan manusia akan direncanakan seperti pada gambar dibawah ini.

BAB I. Persiapan Matang untuk Desain yang Spektakuler

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB IV ANALISA PERANCANGAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada bab ini akan dibahas tentang pendahuluan yang merupakan bagian

Penerapan Konsep Defensible Space Pada Hunian Vertikal

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG KONDOMINIUM HOTEL ( KONDOTEL) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG,

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Rumah 1. Pengertian Rumah Tinggal Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan keluarga (Undang-Undang No.4 Tahun 1992). Dalam pengertian yang luas, rumah tinggal bukan hanya sebuah bangunan (struktural), melainkan juga tempat kediaman yang memenuhi syarat-syarat kehidupan yang layak, dipandang dari berbagai segi kehidupan masyarakat (Frick dan Muliani, 2006). Berdasarkan pengertian tersebut rumah tinggal dapat diartikan sebagai tempat tinggal yang memiliki berbagai fungsi untuk tempat hidup manusia yang layak. 2. Fungsi Rumah Tinggal Secara garis besar, rumah memiliki empat fungsi pokok sebagai tempat tinggal yang layak dan sehat bagi setiap manusia, yaitu : a. Rumah harus memenuhi kebutuhan pokok jasmani manusia. b. Rumah harus memenuhi kebutuhan pokok rohani manusia. c. Rumah harus melindungi manusia dari penularan penyakit. d. Rumah harus melindungi manusia dari gangguan luar. Pengertian rumah yang dapat memuaskan kebutuhan jasmani manusia adalah rumah yang memenuhi persyaratan berikut: 6 5

a. Dapat memberi perlindungan terhadap gangguan-gangguan cauaca atau kedaan iklim yang kurang sesuai degan kondisi hidup manusia misalnya : panas, dingin, angin, hujan, dan udara. b. Dapat memenuhi kebutuhan penghuninya untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan rumah tangga sehari-hari, antara lain : 1) Kegiatan kerja yang ringan, misalnya memasak, menjahit, belajar, dan menulis. 2) Berkumpul bersama seluruh keluarga atau mengadakan pertemuan dengan tamu. 3) Kegiatan rutin untuk memenuhi kebutuhan kesehatan jasmani bagi kelangsungan hidup, yakni antara lain : mandi, tidur, dan makan.dapat digunakan sebagai tempat isirahat yang tenang di waktu lelah atau sakit. Rumah yang dapat memenuhi kebutuhan rohani manusia adalah rumah yang memberi perasaan aman dan tentram bagi seluruh keluarga sehingga mereka dapat berkumpul danhidup bersama, serta dapat mengembangkan sifat dan kepribadian yang sehat. Rumah yang merupakan tempat perlindungan dari pengaruh lingkungan luar adalah rumah yang dapat menjauhkan segala gangguan kesehatan bagi penghuninya. Rumah juga harus kuat dan stabil sehingga dapat memberi perlindungan terhadap gangguan keamanan yang disebabkan bencana alam maupun kerusuhan atau kejahatan oleh pencurian dan perampokan (Frick dan Muliani, 2006). Unsur arsitektur selalu terdiri dari: pertama, fungsi sebagai satu jenis atau kumpulan aktivitas; kedua bentuk yang berupa ruang atau ruangan fisik yang 6

mengakomodasi aktivitas; ketiga makna atau arti yang ditangkap oleh pengamatnya dari tampilan akitivitas dan bangunan tersebut. Tipo-morfo yang dikemukakan oleh Quatremere de Quincy dan dikembangkan oleh Aldo Rosi. Tipologi masuk kedalam kategori klasifikasi yang dalam perjalanannya tipologi sering juga digunakan untuk mengklasifikasikan bentuk fisik atau fungsi bangunan (Purnama, 2010). Fungsi rumah tinggal dapat diketahui melalui kebutuhan manusia tersebut yang akan menempati dan didalamnya terdapat arsiektur yang dapat membedakan bagian ruang-ruang yang ada di dalam rumah juga menentukan fungsi dari rumah tinggal. 3. Tipe rumah Beberapa elemen yang mempengaruhi rumah layak menurut Suparno (2006) yaitu : a. Privasi yang memadai b. Keamanan yang memadai, meliputi keamanan kepemilikan dan ketahanan struktural c. Pencahayaan yang memadai d. Infrastruktur dasar yang memadai, meliputi sistem sanitasi air bersih dan air kotor atau limbah e. Kualitas lingkungan yang cocok, terkait faktor kesehatan dan lokasi yang mudah diakses dan dengan biaya yang terjangkau. Menurut Suparno (2006), dalam perumahan, jenis rumah diklasifikasikan sebagai berikut : 7

a. Rumah Sederhana Rumah sederhana merupakan rumah bertipe kecil, yang mempunyai keterbatasan dalam perencanaan ruangnya. Rumah tipe ini sangat cocok untuk keluarga kecil dan masyarakat yang berdaya beli rendah. Rumah sederhana merupakan bagian dari program subsidi rumah dari pemerintah untuk menyediakan hunian yang layak dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan atau berdaya beli rendah. Pada umumnya, rumah sederhana mempunyai luas rumah 22 m² s/d 36 m², dengan luas tanah 60 m² s/d 75 m². b. Rumah Menengah Rumah menengah merupakan rumah bertipe sedang. Pada tipe ini, cukup banyak kebutuhan ruang yang dapat direncanakan dan perencanaan ruangnya lebih leluasa dibandingkan pada rumah sederhana. Pada umumnya, rumah menengah ini mempunyai luas rumah 45 m² s/d 120 m², dengan luas tanah 80 m² s/d 200 m². c. Rumah Mewah Rumah mewah merupakan rumah bertipe besar, biasanya dimiliki oleh masyarakat berpenghasilan dan berdaya beli tinggi. Perencanaan ruang pada rumah tipe ini lebih kompleks karena kebutuhan ruang yang dapat direncanakan dalam rumah ini banyak dan disesuaikan dengan kebutuhan pemiliknya. Rumah tipe besar ini umumnya tidak hanya sekedar digunakan untuk tempat tinggal tetapi juga sebagai simbol status, simbol kepribadian dan karakter pemilik rumah, ataupun simbol prestise (kebanggaan). Pada umumnya, rumah mewah ini biasanya mempunyai luas rumah lebih dari 120 m² dengan luasan tanah lebih dari 200 m². 8

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi tipe rumah Rumah yang muncul dari kebijakan perumahan dan perencanaan yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif dari perkotaan (Wistanley, dkk, 2010). Seseorang melakukan perubahan dengan alasan berasal dari hubungan timbal balik antara penghuni dengan tempat tinggalnya. Alasan ini juga tergantung kepada kondisi penghuni, aspek fisik dari tempat tggal, dan persyaratan sosio budaa dari penghuni itu sendiri (Kellet, el.al 1993 dalam Ellyta, 2008). Sejalan dengan perkembangan masyakat maka berkembang pula jumlah penduduk dan jumlah struktur yang dibutuhkan masyarakat dalam menunjang kehidupannya (Yunus, 2012). Perubahan tipe rumah kebanyakan mengarah pada kekotaan dimana lahan juga sangat berpengaruh dalam hal ini. Perubahan lahan dapat dilihat dari sebelum lahan tersebut terbangun menjadi lahan terbangun. Menurut Safariah dalam Wicaksono, 2011 dampak perubahan fungsi lahan di perkotaan terbagi menjadi dua bagian, yaitu dampak positif dan negatif. a. Dampak Positif Perubahan suatu guna lahan menjadi guna lahan lain dapat menjadi suatu keuntungan jika guna lahan baru tersebut lebih produktif dari guna lahan awalnya. Dampak positif ini antara lain : 1) Dampak ekonomi bagi pemerintah Dampak ini antara lain meningkatnya penerimaan pajak bagi pemerintah dan dapat memacu pertumbuhan ekonomi kota tersebut. 9

2) Dampak ekonomi bagi masyarakat Indikator yang dapat digunakan untuk mengukur dampak ini adalah terbukanya peluang baru dalam penyerapan tenaga kerja. Dampak positif lainnya adalah dengan produktifnya penggunaan lahan tersebut dapat meningkatkan harga lahan di kawasan tersebut. b. Dampak Negatif Dampak negatif yang mungkin muncul cenderung dialami oleh aspek sosial dan lingkungan. Dampak-dampak tersebut antara lain : 1) Dampak Lingkungan a) Dampak terhadap infrastruktur, dimana adanya suatu aktivitas baru akan mengakibatkan berubahnya kebutuhan akan fasilitas infrastruktur. b) Dampak penurunan muka air tanah, karena makin meningkatnya kebutuhan air bersih. c) Dampak buangan (limbah) yang dihasilkan aktivitas tersebut terutama jika tidak dikelola dengan baik. d) Dampak ketinggian bangunan yang tidak seragam e) Dampak kemacetan lalu lintas akibat banyaknya kendaraan yang lewat dan kendaraan yang terparkir dengan tidak teratur. 2) Dampak sosial Dampak ketidaksesuaian dengan kegiatan sekitarnya, misalnya tingkat kebisingan dan kerawanan di daerah tersebut cenderung meninggi sehingga membuat kenyamanan penghuni menjadi terganggu. 10

3) Dampak ekonomi Dampak Ekonomi dapat berupa meningkatnya pajak bumi dan bangunan di wilayah penelitian menyebabkan beberapa bangunan dengan fungsi permukiman turut membayar pajak dengan tarif komersial, karena mereka berada pada satublok yang sama. 5. Model Zone Konsentris Burges Pada model zone konsentris Burges, dapat dilihat daerah perkotaan terdiri dari 5 zona melingkar berlapis-lapis. Kaitannya dengan pusat kegiatan pendidikan di Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas yaitu adanya kampus Universitas Muhammadiyah Purwkerto merupakan daerah pusat kegiatan yang mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Keterangan : 1. Daerah pusat kegiatan (Central Business District). 2. Zona peralihan (transition zone) 3. Zona perumahan para pekerja (zone of working men s homes). 4. Zona pemukiman yang lebih baik (zone off better residences) 5. Zona para penglaju (zone of commuters) Gambar 2.1 Model Zone Konsentris Burgess (Yunus, 2012). 6. Pengertian Rumah Kos Perumahan yang muncul dari kebijakan perumahan dan perencanaan yang bertujuan untuk mengurangi dampak negatif dari perkotaan (Wistanley, dkk, 2010). Rumah kos atau hunian sewa atau hunian transien merupakan hunian yang oleh pemiliknya disewakan seluruh atau sebagian unitnya kepada mahasiswa 11

sebagai pihak pengguna untuk mewadahi kegiatan-kegiatan mahasiswa selama masa studinya dan berkesempatan dalam pengembangan dan peningkatan kualitas pendidikan di institusi akademik (Nurdini, 2012). Rumah kos biasanya terdapat di area yang dekat dengan kampus. Pemiliknya biasanya merupakan penduduk setempat ataupun pemilik modal yang besar. Rumah kos untuk mahasiswa biasanya terdiri dari 1 kamar, dan di dalamnya terdapat tempat tidur, 1 meja belajar dan 1 lemari, penggunaan kamar mandi dan dapur secara kolektif. Perkembangan rumah kos pada saat ini terlihat dari pembangunan dan fasilitas yang diberikan semakin eksklusif. Hal ini terlihat dalam penyediaan AC, kamar mandi dalam dan ruang tamu. Sistem pembayaran kos-kosan didasarkan pada jangka waktu sebulan terkadang bisa 3 bulan langsung. Pembayaran untuk jangka waktu yang panjang biasanya akan diberikan potongan oleh pemilik rumah kos. Menurut pemerintah atau dinas perumahan dan kawasan permukiman Jakarta, (2010) rumah kos memiliki ciri-ciri atau diartikan sebagai berikut : a. Rumah kos adalah rumah yang penggunaannya sebagai atau seluruhnya dijadikan sumber pendapatan oleh pemiliknya dengan jalan menerima penghuni minimal 1(satu) bulan dengan memungut uang kos. b. Pengelola rumah kos adalah pemilik rumah dan atau orang mengelola rumah kos. c. Penguhuni adalah penghuni yang menempati rumah kos sekurang-kurangnya 1(satu) bulan dengan membayar uang kos. d. Uang kos adalah harga sewa dan biaya lainnya yang dibayar oleh penghuni dengan perjanjian. 12

7. Fungsi Rumah Kos Rumah kos dirancang untuk memenuhi kebutuhan hunian yang bersifat sementara dengan sasaran pada umumnya adalah mahasiswa dan pelajar yang berasal dari luar kota ataupun luar daerah. Rumah kos juga di tempati oleh masyarakat umum yang tidak memiliki rumah pribadi dan menginginkan berdekatan dengan lokasi beraktifitas (Jhon Modell, 2010). Fungsi dari Rumah kos sebagai berikut : a. Sebagai sarana tempat tinggal sementara bagi mahasiswa yang pada umumnya berasal dari daerah selama masa studinya. b. Sebagai sarana tempat tinggal sementara bagi masyaraka umum yang bekerja di kantor atau yang tidak memiliki rumah tinggal agar berdekatan dengan lokasinya. c. Sebagai sarana pembentukan kepribadian mahasiswa untuk lebih berdisiplin, mandri dan bertanggung jawab. d. Sebagai tempat untuk menggalang pertemanan dengan mahasiswa lain dan hubungan sosial dengan lingkungan sekitarnya 13

B. Penelitian Relevan Tabel 2.1 Penelitian Relevan No Nama Peneliti Tujuan Metode Penelitian Hasil Penelitian 1. Handayani, Wesnawa dan Citra, 2013 2. Sultoni, Sutomo dan Suwarno, 2014 3. Ellyta Sjaifoel, 2008 4. Tias Puspita Ningrum, 2017 Menganalisis faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi perubahan orientasi fungsi rumah di Kota Singaraja dan menganalisis variasi perubahan orientasi fungsi rumah di Kota Singaraja. Mengetahui perubahan jenis penggunaan lahan pertanian ke non pertanian yang terjadi di Desa Ledug Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas tahun 2002-2012. Untuk mengkaji perubahan apa saja yang dilakukan oleh penghuni rumah ditinjau dari segi ruang, fungsi ruang, dan elemen rumah, serta mengkaji faktor-faktor apa yang mempengaruhi perubahan. Mengetahui perubahan fungsi rumah masyarakat menjadi rumah kos disekitar kampus Muhammadiyah Purwokerto. Universitas Metode yang digunakan metode deskriptif, teknik pengumpulan data menggunakan obsrvasi, wawancara terstruktur, dan pencatatan dokumen, analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan adalah survei lapangan, teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, analisis data menggunakan rata-rata pengurangan secara matematis. Analisis data menggunakan metode deskriptif, pengolahan data menggunakan tabulasi silang dan chisquare. Metode yang digunakan adalah metode survei lapangan, teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, analisis data deskriptif kualitatif. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan orientasi fungsi rumah di Kota Singaraja adalah keadaan ekonomi. Separuh dari wilayah Desa Ledug adalah berupa areal persawahan seiring dengan perkembangan zaman serta bertambahnya penduduk menyebabkan lahan sawah mengalami penyempitan karena beralih fungsi menjadi lahan terbangun. Ada perubahan bentuk dan fungsi rumah yang dipengaruhi oleh faktor kemampuan ekonomi penghuni yang ckup tinggi, jumlah anggota keluarga bertambah, dan adanya kegiatan usaha. Telah terjadi perubahan rumah tinggal menjadi rumah kos di sekitar kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang meliputi elemen kamar, kamar mandi, mushola, lantai, dinding, pengelolaan air minum, garasi, dan kondisi listrik. Sumber : Handayani dan Citra (2013), Sultoni, Suwarno dan Sutomo (2014), Sjaifoel (2008), Tias (2017). 14

Perbedaan dengan penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dimana peneliti menggambarkan perubahan fungsi rumah menjadi rumah kos di sekitar kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto yaitu di Desa Dukuhwaluh Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan Sultoni, Sutomo dan Suwarno pada Oktober 2014, tetapi berbeda pada tempat dan variabel yang diteliti dimana pada penelitian tersebut penelitian di lakukan di Desa Ledug Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas dan variabel yang diteliti adalah perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi lahan non pertanian. Penelitian yang akan dilaksanakan di Desa Dukuwaluh Kecamatan Kembaran Kabupaten Banyumas dengan variabel yang diteliti adalah perubahan fungsi rumah tinggal menjadi rumah kos. C. Kerangka Pikir Kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto adalah Pergutuan tinggi swasta yang ada di Purwokerto terletak di Kecamatan Kembaran Desa Dukuhwaluh. Pada tahun 1995 jumlah fakultas yang ada di Universitas Muhammadiyah Purwokerto hanya terdapat 4 fakultas dengan perkembangan dari tahun ketahun mengalami peningkatan yang signifikan dengan bertambahnya fakultas menjadi 11 pada tahun 2017. Adanya pertambahan fakultas mempengaruhi jumlah mahasiswa yang tidak hanya bertempat tinggal dalam Kota Purwokerto saja melainkan dari berbagai kota. Hal ini menyebabkan banyaknya rumah kos untuk tempat tinggal sementara bagi mahasiswa yang berasal dari luar 15

Kota. Banyaknya mahasiswa membuat masyarakat yang tinggal di daerah sekitar kampus merubah rumah tinggal mereka menjadi rumah kos. Kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto Jumlah fakultas pada tahun 1995 sebanyak 4 dan pada tahun 2017 sebanyak 11 Terdapat Rumah Kos Perubahan fungsi rumah tinggal menjadi rumah kos disekitar kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto Gambar 2.2 Diagram Alir Kerangka Pikir D. Hipotesis Telah terjadi perubahan fungsi rumah tinggal menjadi rumah kos di sekitar kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto sebesar lebih dari 50%. 16