dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam faeces (Ngastiah, 1999). Menurut Suriadi (2001) yang encer atau cair. Sedangkan menurut Arief Mansjoer (2008) diare

PENCEGAHAN INFEKSI SALURAN CERNA BAGIAN BAWAH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. yaitu: faktor keturunan, pelayanan kesehatan, perilaku dan lingkungan.

KERANGKA ACUAN PROGRAM PEMBERANTASAN PENYAKIT DIARE

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit diare adalah salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lebih sering dari biasanya (biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari) 9) terjadinya komplikasi pada mukosa.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Diare. Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4x pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. tahunnya lebih dari satu milyar kasus gastroenteritis atau diare. Angka

ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 PENDAHULUAN. Usia anak dibawah lima tahun (balita) merupakan usia dalam masa emas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT MODUL - 2 PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

BAB I PENDAHULUAN. sebesar 3,5% (kisaran menurut provinsi 1,6%-6,3%) dan insiden diare pada anak balita

2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. dari sepuluh kali sehari, ada yang sehari 2-3 kali sehari atau ada yang hanya 2

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Penyakit diare masih merupakan masalah global dengan morbiditas dan

BAB 1 : PENDAHULUAN. dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat tersebut. (1) Selain

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. Diare. 1. Definisi diare. Diare merupakan suatu penyakit yang di tandai dengan perubahan bentuk

BAB I PENDAHULUAN.

BAB 1 PENDAHULUAN. buang air besar (Dewi, 2011). Penatalaksaan diare sebenarnya dapat. dilakukan di rumah tangga bertujuan untuk mencegah dehidrasi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Giardia intestinalis. Penyakit ini menjadi salah satu penyakit diare akibat infeksi

Pola buang air besar pada anak

BAB I PENDAHULUAN. negara berkembang termasuk Indonesia (Depkes RI, 2007). dan balita. Di negara berkembang termasuk Indonesia anak-anak menderita

PENANGANAN TEPAT MENGATASI DEMAM PADA ANAK

III. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Setelah diberikan penyuluhan ibu ibu atau warga desa mampu : Menjelaskan pengertian diare

BAB 1 PENDAHULUAN. adalah masalah kejadian demam tifoid (Ma rufi, 2015). Demam Tifoid atau

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

DIARE AKUT. Berdasarkan Riskesdas 2007 : diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan 25,2% pada anak usia 1-4 tahun.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat di Indonesia, hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya angka

HUBUNGAN ANTARA SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS LIMBUR LUBUK MENGKUANG KABUPATEN BUNGO TAHUN 2013

HUBUNGAN KONDISI FASILITAS SANITASI DASAR DAN PERSONAL HYGIENE DENGAN KEJADIAN DIARE DI KECAMATAN SEMARANG UTARA KOTA SEMARANG.

BAB 1 PENDAHULUAN. selama hidupnya selalu memerlukan air. Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air.

KESEHATAN DAN SANITASI LINGKUNGAN TIM PEMBEKALAN KKN UNDIKSHA 2018

BAB I PENDAHULUAN. terjadi pada bayi dan balita. United Nations Children's Fund (UNICEF) dan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

KUESIONER PENELITIAN FAKTOR RESIKO TERJADINYA DIARE DI KELURAHAN HAMDAN KECAMATAN MEDAN MAIMUN KOTA MEDAN TAHUN : Tidak Tamat Sekolah.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. ini manifestasi dari infeksi system gastrointestinal yang dapat disebabkan berbagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Oleh: Aulia Ihsani

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi

BAB 1 PENDAHULUAN. World Health Organization (WHO) tahun 2013 diare. merupakan penyebab mortalitas kedua pada anak usia

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN TEMANGGUNG

PENILAIAN DAN KLASIFIKASI ANAK SAKIT UMUR 2 BULAN SAMPAI 5 TAHUN

MAKALAH MASALAH KECACINGAN DAN INTERVENSI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997). Hal ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. terjadi di negara berkembang dari pada negara maju. Di antara banyak bentuk

BAB I PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) dalam Buletin. penyebab utama kematian pada balita adalah diare (post neonatal) 14%,

Farmakoterapi I Diar dan konstipasi. Ebta Narasukma A, M.Sc., Apt

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Diare adalah buang air besar atau defekasi yang encer dengan

Grafik 1.1 Frekuensi Incidence Rate (IR) berdasarkan survei morbiditas per1000 penduduk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

RENCANA TERAPI A PENANGANAN DIARE DI RUMAH (DIARE TANPA DEHIDRASI)

2. ( ) Tidak lulus SD 3. ( ) Lulus SD 4. ( ) Lulus SLTP 5. ( ) Lulus SLTA 6. ( ) Lulus D3/S1

BAB 1 PENDAHULUAN. Air dalam keadaan murni merupakan cairan yang tidak berwarna, tidak

CURRICULUM VITAE. : Jalan Abdul Hakim Komplek Classic III Setiabudi Residence No. 56B Tanjungsari Medan

BAB I PENDAHULUAN. bersih, cakupan pemenuhan air bersih bagi masyarakat baik di desa maupun

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Terdapat hubungan yang erat antara masalah sanitasi dan penyediaan air, dimana sanitasi berhubungan langsung dengan:

I. PENDAHULUAN. A. Latar belakang. disebabkan oleh protozoa, seperti Entamoeba histolytica, Giardia lamblia dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pokok Bahasan: GASTROENTEROLOGI dan HEPATOLOGI Sakit perut berulang M. Juffrie

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 4,48 Ha yang meliputi 3 Kelurahan masing masing adalah Kelurahan Dembe I, Kecamatan Tilango Kab.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB VI PEMBAHASAN. Banyak faktor dapat mempengaruhi terjadinya diare berulang pasca

BAB 1 PENDAHULUAN. utama kematian balita di Indonesia dan merupakan penyebab. diare terjadi pada 2 tahun pertama kehidupan. 1

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ke saku yang berisi informasi suatu tema tertentu (Taufik, 2010). Buku

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan. Tanpa air kehidupan di

BAB VI PEMBAHASAN. subyek penelitian di atas 1 tahun dilakukan berdasarkan rekomendasi untuk. pemberian madu sampai usia 12 bulan.

BAB III VIRUS TOKSO PADA KUCING

BAB I PENDAHULUAN. prasarana kesehatan saja, namun juga dipengaruhi faktor ekonomi,

BAB I PENDAHULUAN. masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun),

MEMBANGUN KEKEBALAN TUBUH, MENGHAPUS SERATUS PENYAKIT

I. PENDAHULUAN. Escherichia coli adalah bakteri yang merupakan bagian dari mikroflora yang

HUBUNGAN PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI DINI DENGAN INSIDEN DIARE PADA BAYI USIA 1-4 BULAN SKRIPSI

SATUAN ACARA PENYULUHAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat

BAB I PENDAHULUAN juta kematian/tahun. Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A.

BAB I PENDAHULUAN. yang sehat. Gangguan kesehatan yang dapat terjadi pada masa anak-anak dapat

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. manusia, sehingga tanaman kelapa dijuluki Tree of Life (Kriswiyanti, 2013).

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. DIARE 1. Definisi diare Diare adalah suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti biasanya, ditandai dengan peningkatan volume, keenceran, serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari pada neonatus lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir darah 13 Diare pada dasarnya adalah frekuensi buang air besar yang lebih sering dari biasanya dengan konsistensi yang lebih encer 14. Diare merupakan gejala yang terjadi karena kelainan yang melibatkan fungsi pencernaan, penyerapan dan sekresi. Diare disebabkan oleh transportasi air dan elektrolit yang normal dalam usus 15 Diare dapat disebabkan oleh berbagai infeksi, selain penyebab lain seperti malabsorbsi. Diare terutama pada bayi perlu mendapatkan tindakan secepatnya karena dapat membawa bencana bila terlambat. Diare adalah keaadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja 16 Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan diare adalah frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi feses encer atau cair, berlendir, berwarna hijau yg disebabkan oleh berbagai infeksi. 2. Klasifikasi diare a) Diare dehidrasi berat, apabila terdapat 2 atau lebih tanda-tanda berikut: 1) Letargis atau tidak sadar 2) Mata cekung 3) Tidak bisa minum atau malas minum 4) Cubitan kulit perut kembali sangat lambat 7

b) Diare dehidrasi sedang atau ringan, apabila terdapat 2 atau lebih tanda-tanda berikut : 1) Gelisah, rewel, mudah marah 2) Mata cekung 3) Haus, minum dengan lahap 4) Cubitan kulit perut kembali lambat c) Diare tanpa dehidrasi, apabila tidak cukup tanda-tanda untuk diklasifikasikan sebagai diare dehidrasi berat atau ringan atau sedang. d) Diare persisten berat, apabila diare terjadi selama 14 hari atau lebih dengan dehidrasi. e) Diare persisten, apabila diare terjadi selama 14 hari atau lebih tanpa dehidrasi. f) Disentri, apabila dalam tinja terdapat darah. 3. Penyebab Diare a. Gizi kurang baik yang menyebabkan tubuh menjadi lemah b. Infeksi usus disebabkan bakteri amoeba, cacing. c. Infeksi luar usus seperti infeksi kantong kemih, campak d. Malaria hiperfalsiparum dan keracunan makanan e. Alergi terhadap makanan tertentu(sea food, sayur-sayuran dll) dan efek samping yang ditimbulkan oleh obat-obatan(laksatif, antibiotik, auranolin dll). f. Terlalu banyak makan buah-buahan mentah dan makanan berlemak 17 4. Patogenesis Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare ialah 14 a. Gangguan osmotik Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi. Isi rongga usus yang berlebihan merangsang usus untuk mengeluarkan sehingga timbul diare. 8

b. Gangguan sekresi Akibat rangsangan tertentu pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare karena terdapat peningkatan isi rongga usus. c. Gangguan motilitas usus Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan untuk menyerapnya, sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan yang selanjutnya dapat menimbulkan diare. 5. Patofisiologi Sebagai akibat diare baik akut maupun kronik akan terjadi : a. Kehilangan air dan elektrolit yang mengakibatkan gangguan keseimbangan asam basa. b. Gangguan gizi akibat kelaparan c. Hipoglikemia d. Gangguan sirkulasi darah 16 6. Cara Penularan Diare Cara penularan diare melalui kontaminasi pada makanan atau air dari tinja atau muntahan penderita yang mengandung kuman penyebab. Kuman pada kotoran juga dapat ditularkan langsung pada orang lain apabila melekat pada tangan, dan tidak cuci tangan pada waktu mau makan. Pemakaian air untuk keperluan sehari-hari minum (tidak dimasak), mandi, cuci di sumber yang tercemar, berak di sembarang tempat sehingga akan menularkan penyakit diare 16 7. Pencegahan Diare Usaha kesehatan dapat digolongkan menjadi 4 macam, yaitu usaha peningkatan (promotif), usaha pencegahan (preventif), usaha pengobatan (curative) dan usaha pemulihan (rehabilitasi). 9

Usaha ini pada dasarnya ditunjukkan terhadap tiga faktor yang mempengaruhi timbulnya penyakit sesuai dengan pendapat John Gordon yaitu faktor penjamu (host) bibit penyakit (agent), dan faktor lingkungan (environment) 16. Dalam usaha agar tidak terserang penyakit diare maka upaya yang dilakukan dapat berpedoman pada : a. Air yang bersih Gunakan sumber air minum yang bersih seperti air pipa, air pancuran dari mata air, sumur pompa tangan, air sumur gali yang baik, air hujan. Perhatikan membuat sumur hendaknya berjarak sedikitnya 10 meter dari jamban 18. Sebagian besar kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fecal oral. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan atau benda yang tercemar dengan tinja, misalnya, air minum, jari-jari tangan, makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air yang tercemar 18. Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air yang benarbenar bersih mempunyai risiko menderita diare lebih kecil dibanding dengan masyarakat yang tidak mendapat air bersih. Masyarakat dapat mengurangi risiko terhadap serangan diare, yaitu dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi dari sumbernya sampai penyimpanan di rumah 18. b. Makanan dan minuman yang dimasak Sebelum memasak cucilah tangan dengan sabun, biasakanlah memakan makanan dan minuman air yang telah dimasak. Minum air mentah dan makan makanan yang tidak dimasak terlebih dahulu adalah kebiasaan yang tidak baik. Jagalah agar anak-anak tidak meminum air mentah. Panaskan sisa makanan yang akan dimakan kembali terutamapada anak. Untuk buah-buahan dan sayuran yang dimakan mentah cucilah terlebih dahulu dengan air bersih. Makanan 10

yang telah basi jangan dimakan lagi karena dapat menyebabkan penyakit diare. Simpanlah makanan di tempat yang tertutup supaya terhindar dari lalat. Cuci tangan dengan sabun sebelum memegang makanan 13 c. Buang Air Besar Buang air besar di jamban atau di kakus yang sehat, jangan sekali-kali buang air besar di sembarang tempat seperti di kebun atau di kali 20 d. Kebersihan Perorangan Kita harus membiasakan cara hidup sehat sehari-hari, yaitu kuku yang panjang sebaiknya dipotong dan selalu bersih terutama bagi anak-anak 13. Perilaku bersih yang paling penting adalah mencuci tangan. Mencuci tangan yang baik artinya membersihkan seluruh bagian tangan dengan menggunakan sabun dan air yag cukup 13. Kegiatan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan. Mengubah kebiasaan tertentu (mencuci tangan dengan sabun) dapat memutuskan penularan. Mencuci tangan dengan sabun terutama setelah buang air besar dan sebelum menyiapkan makanan, menyuapi makanan anak, atau sebelum makan mempunyai dampak dalam frekuensi kejadian diare 13. e. Menjaga Kebersihan Alat-alat Rumah Tangga Jangan mencuci pakaian penderita di sekitar sungai dan sumber air lainnya. biasakanlah mencuci alat-alat makan dan minum dengan sabun, letakkan di atas rak piring 13. f. Makanan yang Bergizi Makanan yang bergizi bukan berarti makanan yang mahal-mahal. Tahu, tempe, ikan, daging, sayur, buah-buahan adalah makanan yang bergizi, yang selalu ada dan terbeli oleh masyarakat. Gizi kurang memiliki daya tahan kurang, sehingga lebih peka terhadap penyakit 19. 11

Gizi kurang menghambat reaksi imunoklogis dan berhubungan dengan tingginya angka kesakitan dan beratnya penyakit infeksi. Infeksi dapat mengakibatkan penderita kehilangan bahan makanan, muntah, dan diare 19. g. Lingkungan yang Sehat Jagalah supaya halaman rumah tetap bersih dari sampah serta kotoran lainnya, buatlah jamban yang berjauhan dengan sumber air minum, yaitu paling sedikit 10 m 20. h. Status Imunisasi Campak Diare sering timbul menyertai campak sehingga pemberian imunisasi campak juga akan mencegah diare 14. Tujuan diberikannya imunisasi adalah membentuk kekebalan tubuh anak agar mampu melawan berbagai gangguan bakteri dan virus yang ada di sekeliling tempat hidupnya 14. Pada umumnya tubuh anak tidak mampu melawan antigen yang kuat. Antigen yang kuat adalah jenis kuman ganas atau virus yang dikenal oleh tubuh. Karena itu, anak akan terjangkiti penyakit jika tidak dapat menolaknya. Pada prinsipnya, reaksi pertama tubuh anak tidak mampu membentuk anti bodi untuk melawan kuman tersebut, apalagi dengan waktu yang cepat kuman atau antigen tersebut masuk ke dalam tubuh dan menciptakan zat anti untuk melawan pertahanan tubuh 14. Dengan imunisasi, tubuh anak akan bereaksi dan anti bodinya meningkat untuk melawan atigen yang masuk selanjutnya. Ketika imunisasi, biasanya timbul demam dan panas 14. 12

B. Pengaruh Beberapa Faktor dengan Terjadinya Diare Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam 5 golongan besar, tetapi yang sering ditemukan dilapangan ataupun klinis adalah diare yang menyebabkan keracunan 21. 1. Faktor Infeksi Faktor infeksi penyebab diare dapat dibagi dalam infeksi parenteral dan enternal. Penyebab infeksi utama timbulnya diare adalah golongan virus, bakteri, dan parasit. Rotavirus merupakan penyebab utama diare akut pada anak. Sedangkan bakteri penyebab diare tersering antara lain ETEC, shigella, campylobacter 9. 2. Faktor Umur Pengaruh usia tampak jelas pada manifestasi diare. Komplikasi lebih banyak terjadi pada umur di bawah 2 bulan secara bermakna, dan makin muda usia bayi makin lama kesembuhan klinik diarenya. Kerusakan mukosa usus yang banyak dipengaruhi dan dipertahankan oleh sistem imunologik intestinal serta regenerasi epitel usus yang pada masa bayi muda masih terbatas kemampuannya 22. 3. Faktor perilaku antara lain 27 : a. Tidak memberikan Air Susu Orang tua/asi (ASI eksklusif), memberikan Makanan Pendamping/MP ASI terlalu dini akan mempercepat bayi kontak terhadap kuman b. Menggunakan botol susu terbukti meningkatkan risiko terkena penyakit diare karena sangat sulit untuk membersihkan botol susu c. Tidak menerapkan Kebiasaaan Cuci Tangan pakai sabun sebelum memberi ASI/makan, setelah Buang Air Besar (BAB), dan setelah membersihkan BAB anak d. Penyimpanan makanan yang tidak higienis 13

4. Faktor Status gizi Pada penderita kurang gizi serangan diare terjadi sering lebih sering. Semakin buruk keadaan gizi anak, semakin sering dan berat diare yang diderita. Diduga bahwa mukosa penderita malnutrisi sangat peka terhadap infeksi karena adanya tahan tubuh yang kurang. Status gizi ini sangat dipengaruhi oleh kemiskinan, ketidaktahuan dengan penyakit. Begitu pula rangkaian antara pendapatan, biaya pemeliharaan kesehatan dan penyakit, keadaan sosio ekonomi yang kurang, hygiene sanitasi jelek, kepadatan penduduk, pendidikan tentang pengertian penyakit, cara penanggulanganpenyakit serta pemeliharaan kesehatan 19. Beratnya penyakit, lama dan risiko kematian karena diare meningkat pada anak-anak yang menderita gangguan gizi, terutama pada penderita gizi buruk 19. Pada penderita kurang gizi serangan diare lebih sering terjadi, semakin buruk keadaan gizi anak, semakin sering dan berat diare yang diderita. Diduga bahwa mukosa penderita malnutrisi sangat peka terhadap infeksi karena daya tahan tubuh yang kurang 19. Status gizi balita yang kurang secara statistik signifikan merupakan faktor risiko terjadinya diare pada balita dengan nilai p=0,000. Risiko menderita diare pada balita yang mempunyai status gizi kurang adalah 2,54 kali lebih besar disbanding yang memiliki status gizi cukup 22. 5. Sumber air a. Kualitas Air Bersih Air minum yang ideal seharusnya jernih, tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau.syarat-syarat air minum yang sehat adalah sebagai berikut 23 : 1) Syarat Fisik Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tidak berwarna), tidak berasa, tidak berbau, suhu dibawah suhu udara di luarnya, sehingga dalam kehidupan sehari-hari cara mengenal air yang memenuhi persyaratan fisik tidak sukar 23. 14

2) Syarat Bakteriologis Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala bakteri, terutama bakteri patogen.cara untuk mengetahui apakah air minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan memeriksa sampel air tersebut. Bila dari pemeriksaan 100 cc air terdapat kurang dari empat bakteri E. coli, maka air tersebut sudah memenuhi syarat kesehatan 23. 3) Syarat Kimia Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu di dalam jumlah tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah satu zat kimia di dalam air, akan menyebabkan gangguan fisiologis pada manusia seperti flour (1-1,5 mg/l), chlor (250 mg/l), arsen (0,05 mg/l), tembaga (1,0 mg/l), besi (0,3 mg/l), zat organik (10 mg/l), ph (6,5-9,6 mg/l), dan CO2 (0 mg/l) 23. Berdasarkan hasil penelitian Rahadi bahwa air mempunyai peranan besar dalam penyebaran beberapa penyakit menular.besarnya peranan air dalam penularan penyakit disebabkan keadaan air itu sendiri sangat membantu dan sangat baik untuk kehidupan mikroorganisme.hal ini dikarenakan sumur penduduk tidak diplester dan tercemar oleh tinja.banyaknya sarana air bersih berupa sumur gali yang digunakan masyarakat mempunyai tingkat pencemaran terhadap kualitas air bersih dengan kategori tinggi dan amat tinggi 24. Kondisi fisik sarana air bersih yang tidak memenuhi syarat kesehatan berdasarkan penilaian inspeksi sanitasi dengan kategori tinggi dan amat tinggi dapat mempengaruhi kualitas air bersih dengan adanya pencemaran air kotor yang merembes ke dalam air sumur 23. 15

b. Sumber air bersih dan aman Air yang diperuntukan bagi konsumsi manusia harus berasal dari sumber yang bersih dan aman. Batasan-batasan sumber air yang bersih dan aman tersebut, antara lain: 1) Bebas dari kontaminasi kuman atau bibit penyakit. 2) Bebas dari substansi kimia yang berbahaya dan beracun. 3) Tidak berasa dan tidak berbau. 4) Dapat dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan domestic dan tumah tangga. 5) Memenuhi standar minimal yang ditentukan oleh WHO atau Departemen Kesehatan RI 3. 6. Kepemilikan Jamban Jamban merupakan sarana yang digunakan masyarakat sebagai tempat buang air besar.sehingga sebagai tempat pembuangan tinja, jamban sangat potensial untuk menyebabkan timbulnya berbagai gangguan bagi masyarakat yang ada di sekitarnya.gangguan tersebut dapat berupa gangguan estetika, kenyamanan dan kesehatan 23. Suatu jamban disebut sehat untuk daerah pedesaan, apabila memenuhi persyaratan-persyaratan sebagai berikut 23 : a. Tidak mengotori permukaan tanah disekeliling jamban tersebut. b. Tidak mengotori air permukaan di sekitarnya. c. Tidak mengotori air tanah di sekitarnya. d. Tidak dapat terjangkau oleh serangga terutama lalat, kecoak, danbinatang-binatang lainnya. e. Tidak menimbulkan bau. f. Mudah digunakan dan dipelihara. g. Sederhana desainnya. h. Murah. i. Dapat diterima oleh pemakainya. 16

7. Faktor Lingkungan Sebagian besar penularan penyakit diare adalah melalui dubur, kotoran dan mulut. Dalam hal mengukur kemampuan penularan penyakit di samping tergantung jumlah dan kekuatan penyebab penyakit, juga terganntung dari kemampuan lingkungan untuk menghidupiya, serta mengembangkan kuman penyebab penyakit diare. Perubahan atau perbaikan air minum dan jamban secara fisik tidak menjamin hilangnya penyakit diare, tetapi perubahan sikap dan tingkah laku manusia yang memanfaatkan sarana tersebut diatas sangat menentukan keberhasilan perbaikan sanitasi dalam mengurangi masalah diare 25. 8. Faktor Karakteristik masyarakat a. Tingkat Pendidikan Budaya masyarakat terutama kepercayaan dan kebiasaan yang turun temurun masih sangat dirasakan besar pengaruhnya terhadap daya tahan tubuh individu terhadap penyakit diare 22. Berdasarkan tingkat pendidikan, prevalensi diare berbanding terbalik dengan tingkat pendidikan. Semakin tinggi pendidikan masyarakat semakin rendah prevalensi terjadinya diare 22. Sebagian masyarakat masih ada yang beranggapan bahwa penyakit diare misalnya disebabkan karena bertambahnya kepandaian anak, salah makan, masuk angin, dan sebagainya. Hal ini menunjukkan ketidaktahuan masyarakat yang disebabkan oleh kurangnya informasi atau memang karena faktor rendahnya tingkat pendidikan 22. b. Status Pekerjaan masyarakat Status pekerjaan masyarakat mempunyai hubungan yang bermakna dengan diare pada masyarakat. Pada uji dua faktor pekerjaan masyarakat maupun keaktifan dalam organisasi sosial berpengaruh untuk terjadinya diare 27. 17

Hal ini dapat dijadikan pertimbangan bagi masyarakat. Jika akan berpartisipasi dalam lapangan pekerjaan diharapkan dari kegiatan tersebut akan didapat informasi tentang diare. Pekerjaan masyarakat mempunyai hubungan yang bermakna, diare pada anak balita terdapat 9,3% anak balita menderita diare pada masyarakat yang bekerja dan 12 % pada masyarakat yang tidak bekerja 27. c. Tingkat Pendapatan Perkapita Yang sering dilakukan adalah melihat hubungan antara tingkat penghasilan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan. Seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada, mungkin tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat, membayar transport dan lain sebagainya 27. Di dalam keluarga yang besar dan miskin, anak-anak dapat menderita oleh karena penghasilan keluarga harus digunakan oleh banyak orang. 27. Golongan miskin menggunakan bagian terbesar dari pendapatan untuk memenuhi kebutuhan makanan, dimana untuk keluargakeluarga di negara berkembang sekitar dua pertiganya 27. 9. Mendeskripsikan Umur orang tua Jika Umur orang tua melebihi 35 itu biasanya lebih bagus di bandingkan orang tua yang masih muda kisaran umur 25-35 yang belum tau secara luas tentang merawat balitnya dengan baik dan benar. Rata-rata orang tua yang masih muda kisaran umur 25-35 menyusuinya menggunakan susu formula dan botol susu yang sangat rentan terkena penyakit Diare,sedangkan orang tua di atas umur 35 cara menyusuinya biasanya menggunakan Asi sehingga lebih sehat dan steril. 18

C. Kerangka Teori Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah diuraikan dorang tuaat kerangka teori sebagai berikut : Sumber air Kepemilikan jamban Patofisiologi Kehilangan air dan elektrolit Gangguan gizi Hipoglikemia Gangguan sirkulasi darah Penyakit Diare Faktor infeksi 1. Bakteri 2. Virus 3. Parasit Parental Faktor perilaku -Pendidikan formal orang tua - Pekerjaan orang tua - Umur orang tua - Sumber air bersih - kepemilikan jamban -Penggunaan botol susu Faktor Status gizi Karakteristik orang tua - Pendidikan - Pekerjaan orang tua - Umur orang Gambar 1.1 Kerangka Teori 9, 16, 19, 23, 26,27 Sumber: 19

D. Kerangka Konsep Variabel Independent Pendidikan formal orang tua Pekerjaan orang tua Umur orang tua Variabel Dependent Penyakit Diare Sumber air bersih Kepemilikan jamban Penggunaan botol susu Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian E. Hipotesis Penelitian 1. Ada hubungan pendidikan formal orang tuadengan penyakit Diare pada anak usia di bawah 5 tahun. 2. Ada hubungan Pekerjaan orang tuadengan penyakit Diare pada anak usia di bawah 5 tahun. 3. Ada hubungan umur orang tua pada dengan penyakit Diare anak usia di bawah 5 tahun. 4. Ada hubungan antara sumber air bersihdengan penyakit Diare pada anak usia di bawah 5 tahun. 5. Ada hubungan antara kepemilikan jamban pada keluargadengan penyakit Diarepada anak usia di bawah 5 tahun. 6. Ada hubungan penggunaan botol susudengan penyakit Diare pada anak usia di bawah 5 tahun. 20