BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
IDENTIFIKASI FITOKIMIA DAN EVALUASI TOKSISITAS EKSTRAK KULIT BUAH LANGSAT (Lansium domesticum var. langsat)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TOKSISITAS EKSTRAK ETANOL KULIT UMBI KETELA GENDRUWO

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BIOAKTIVITAS EKSTRAK METANOL DAN FRAKSI N-HEKSANA DAUN SUNGKAI (PERONEMA CANESCENS JACK) TERHADAP LARVA UDANG (ARTEMIA SALINA LEACH)

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Suren ( Toona sureni Merr.)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. tanaman binahong (A. cordifolia) yang diperoleh dari Desa Toima Kecamatan

BAB I PENDAHULUAN. Keanekaragaman hayati (mega-biodiversity) yang dimiliki perairan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Analisis Hayati UJI TOKSISITAS. Oleh : Dr. Harmita

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Pengambilan sampel buah Debregeasia longifolia dilakukan di Gunung

LAMPIRAN LAMPIRAN 1. Alur Kerja Ekstraksi Biji Alpukat (Persea Americana Mill.) Menggunakan Pelarut Metanol, n-heksana dan Etil Asetat

POTENSI SITOTOKSIK EKSTRAK AIR DAUN SIRIH HITAM (Piper sp.) ABSTRAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Metoda-Metoda Ekstraksi

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL. Kadar Air Daun Anggrek Merpati

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PEMBUATAN SEDIAAN HERBAL

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB III METODE PENELITIAN. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain kulit jengkol, larva

BAB I PENDAHULUAN. peradaban manusia, tumbuhan telah digunakan sebagai bahan pangan, sandang maupun obat

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. tanaman obat tradisional. Sellaginella adalah tumbuhan yang mengandung

METODE. Waktu dan Tempat Penelitian

III. METODE PENELITIAN. Molekuler dan Laboratorium Botani Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas

METODE EKSTRAKSI Ekstrak Ekstraksi 1. Maserasi Keunggulan

UJI TOKSISITAS EKSTRAK DAUN Ficus elastica Nois ex Blume TERHADAP Artemia salina Leach DAN PROFIL KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS SKRIPSI

BAB III METODE PENELITIAN

UJI TOKSISITAS METABOLIT SEKUNDER EKSTRAK n-heksan DARI DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava Linn) TERHADAP Artemia salina Leach A B S T R A K

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya akan keanekaragaman hayati dengan bermacam jenis spesies

II. TINJAUAN PUSTAKA. Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas

UJI TOKSISITAS EKSTRAK ETANOL. DAUN DANDANG GENDIS (Clinacanthus nutans) DENGAN MENGGUNAKAN METODE BST (Brine Shrimp Lethality Test)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

UJI EFEK TOKSISITAS EKSTRAK ETANOL AKAR AWAR-AWAR (Ficus septica Burm.F) DENGAN METODE BRINE SHRIMP LETHALITY TEST (BSLT)

UJI TOKSISITAS TERHADAP FRAKSI-FRAKSI DARI EKSTRAK DIKLORMETANA BUAH BUNI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tumbuhan Leea aequata L.merupakan tumbuhan perdu, tahunan,

Lampiran 2. Tumbuhan dan daun ketepeng. Universitas Sumatera Utara

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 14. Hasil Uji Alkaloid dengan Pereaksi Meyer; a) Akar, b) Batang, c) Kulit batang, d) Daun

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN. Indonesia penyakit kanker menduduki urutan ke-3 penyebab kematian sesudah

TINJAUAN PUSTAKA Tanaman Buah Naga

BAB III METODE PENELITIAN

J. Gaji dan upah Peneliti ,- 4. Pembuatan laporan ,- Jumlah ,-

BAB I PENDAHULUAN. Kanker merupakan suatu penyakit yang menempati peringkat tertinggi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun

BAB I PENDAHULUAN. Kulit merupakan jaringan pelindung yang lentur dan elastis, yang

BAB III METODE PENELITIAN. rancangan penelitian RAL (Rancangan Acak Lengkap), dengan 7 perlakuan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1993). Yang dimaksud dengan hama ialah semua binatang yang mengganggu dan

UJI AKTIVITAS SITOTOKSIK EKSTRAK ETANOL DARI VARIASI TEH DAUN SIRSAK (Annona muricata Linn) TERHADAP LARVA UDANG (Artemia salina Leach)

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Bahan Tanaman Uji Serangga Uji Uji Proksimat

BAB 4. SEDIAAN GALENIK

I. PENDAHULUAN. maupun tujuan lain atau yang dikenal dengan istilah back to nature. Bahan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. bahan-bahan alam tersebut untuk mengobati berbagai macam penyakit dan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai negara kepulauan memilki garis pantai sepanjang lebih kurang km dengan wilayah laut

I. PENDAHULUAN. endemik di Indonesia (Indriani dan Suminarsih, 1997). Tumbuhan-tumbuhan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Manggis dengan nama latin Garcinia mangostana L. merupakan tanaman buah

PINGKAN MARSEL

II. TINJAUAN PUSTAKA. Tumbuhan paku merupakan salah satu tumbuhan tertua yang masih sering kita

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Ekstraksi Zat Warna Rhodamin B dalam Sampel

BAHAN DAN METODE. Lokasi dan Waktu Penelitian

Uji Toksisitas Ekstrak Biji Dan Klika Kelor (Moringa oleifera Lamk.) Dengan Metode Brine Shrimps Lethality Test

Uji Toksisitas Kulit Akar Melochia umbellata (Houtt) Stapf. var. degrabrata dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Kalshoven (1981) Spodoptera litura F. dapat diklasifikasikan

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

IDENTIFIKASI DAN UJI TOKSISITAS EKSTRAK METANOL DARI DAUN TANAMAN SIRSAK (Annona muricata L)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

3. METODOLOGI. Gambar 5 Lokasi koleksi contoh lamun di Pulau Pramuka, DKI Jakarta

BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN. masih tingginya angka kematian akibat kanker. Lebih detail, jenis kanker serviks

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus

BAB IV PROSEDUR KERJA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Daun bangun-bangun merupakan tanaman daerah tropis yang daunnya

BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan kebutuhan hidup yang semakin tinggi, manusia cenderung untuk

2 METODE Tempat dan Waktu Penelitian Bahan dan Alat Tahapan Penelitian Determinasi Tanaman Preparasi Sampel dan Ekstraksi

HASIL DA PEMBAHASA. Kadar Air

BAB II KAJIAN PUSTAKA. penyebarannya tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian ± 500 m dpl.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penetapan Kadar Sari

Analisis Fitokimia (Harborne 1987) Uji alkaloid. Penentuan Bakteriostatik Uji flavonoid dan senyawa fenolik. Penentuan Bakterisidal

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Serbuk halus daun tumbuhan jeringau sebanyak 400 g diekstraksi dengan

II. TINJAUAN PUSTAKA. luas di seluruh dunia sebagai bahan pangan yang potensial. Kacang-kacangan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

LAPORAN PRAKTIKUM I KUNCI DETERMINASI KELAS DICOTYLEDONAE

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian meliputi aspek- aspek yang berkaitan dengan

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang optimal dan untuk mengatasi berbagai penyakit secara alami.

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK DAUN SIRIH HITAM (Piper sp.) TERHADAP DPPH (1,1-DIPHENYL-2-PICRYL HYDRAZYL) ABSTRAK

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Uraian Tumbuhan 2.1.1 Sistematika tumbuhan Klasifikasi tumbuhan titanus sebagai berikut (Depkes, RI., 2001; LIPI, 2015): Kingdom Divisi Kelas Bangsa Suku Marga : Plantae : Spermatophyta : Dicotyledonae : Rhamnales : Leeacea : Leea Jenis : Leea aequata L. 2.1.2 Nama asing Leea aequata L. memiliki nama lain seperti: ginggiyang (Sunda), girang (Jawa Tengah), jirang (Madura), kayu ajer perempuan (Melayu), mali-mali (Makassar), uka (Maluku) (Depkes, RI., 2001). 2.1.3 Morfologi tumbuhan Tumbuhan Leea aequata L. merupakan tumbuhan perdu, tahunan. Batang berkayu, bercabang, bentuk bulat, masih muda berambut dan hijau. Daun majemuk, anak daun lanset, bertangkai pendek, tepi daun bergerigi, ujung daun runcing, pangkal membulat, panjangnya 6-25 cm, lebarnya 3-8 cm, berambut dan berwarna hijau. Bunga majemuk, bentuk malai, kelopak bulat telur, panjang 2-5 cm dan kuning keputih-putihan. Buahnya berbentuk bulat, diameter ± 12 mm, 5

masih muda hijau dan setelah tua ungu kehitaman dengan biji kecil berbentuk segitiga dan berwana putih kekuningan. Tumbuhan ini termasuk tumbuhan berakar tunggal dengan warna coklat muda (Depkes, RI., 2001). 2.1.4 Habitat Tumbuhan ini tumbuh tersebar di seluruh pulau Jawa pada ketinggian kurang dari 1000 m di atas permukan laut, sebagai semak yang tidak berduri yang tumbuh di tepi sungai-sungai dan dibawah semak belukar lain di lembah-lembah (Heyne, 1950). 2.1.5 Kandungan kimia Biji Leea aequata L. mengandung saponin, flavonoid dan polifenol (Depkes, RI., 2001). Suharmiati (2005) menyatakan bahwa daun, buah dan akar Leea indica yang memiliki famili yang sama dengan Leea aequata L. mengandung flavonoid. Daunnya mengandung flavonoid, alkaloid, glikosida, steroid/terpenoid, tanin dan polifenol. Buahnya mengandung tanin dan flavonoid. Kulit batangnya mengandung alkaloid, flavonoid dan steroid. Akarnya mengandung saponin, flavonoid, steroid dan tanin. Bijinya mengandung saponin, flavonoid dan polifenol (Rahman,et al., 2012). 2.1.6 Manfaat tumbuhan Daun Leea aequata L. berkhasiat sebagai antiseptik dan anti pegal linu (Depkes, RI., 2001). Suharmiati (2005) menyatakan bahwa Leea indica yang memiliki famili yang sama dengan Leea aequata L memilki manfaat yaitu daunnya bermanfaat sebagai psikoneurotik,analgetik, mengobati jantung berdebar, mengobati bisul, mengobati sakit kepala dan perawatan nifas. Bunganya berguna mengobati bisul di jari. Akarberguna sebagai obat antifungi,antimalaria dan antidiare. Kayunyasebagai antiseptik, mengobati batu karang, mengobati sakit 6

kepala. Kulit batangnya berguna sebagai antiracun ular, antidiare, analgetik dan antimalaria. 2.3 Ekstraksi Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisisa nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung. Ekstrak kering harus mudah digerus menjadi serbuk (Ditjen POM, 1985). Ekstraksi adalah penyarian komponen aktif dari suatu tumbuhan atau hewan dengan menggunakan pelarut yang cocok (Handa, 2008). Metode yang dapat digunakan dalam proses ekstraksi antara lain maserasi, perkolasi, refluks, sokletasi, digesti dan infus. Pemilihan metode tersebut disesuaikan dengan kepentingan dalam memperoleh sari yang baik (Harborne, 1987). Pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi tersebut harus dipilih berdasarkan kemampuannya dalam melarutkan kandungan zat aktif yang semaksimal mungkin dari unsur-unsur yang tidak diinginkan (Ansel, 1989). Beberapa metode ekstraksi yang sering digunakan dalam berbagai penelitian adalah: A. Cara panas 1. Digesti Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatur yang lebih tinggi daripada temperatur ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-50 0 C (Ditjen, POM., 2000). 2. Refluks Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut yang terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Ditjen, POM., 2000). 7

3. Sokletasi Proses pemisahan suatu komponen yang terdapat dalam zat padat dengan cara penyaringan berulang ulang dengan menggunakan pelarut tertentu dan alat tertentu (soxlet) sehingga semua komponen yang diinginkan akan terisolasi (Voigt, 1994). 4. Infus Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air terukur 96-98 0 C selama 15-20 menit (Ditjen, POM., 2000). 5. Dekok Dekok adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur > 90 0 C selama 30 menit(harborne, 1987). A. Cara dingin 1. Maserasi Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (Ditjen, POM., 2000). 2. Perkolasi Perkolasi adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang selalu baru hingga semua pelarut tertarik dengan sempurna umunya dilakukan pada suhu kamar. Tahapan perkolasi penetesan pelarut serta penampungan perkolat nya hingga didapat volume 1 sampai 5 kali jumlah bahan. 2.3 Fraksinasi (Ekstraksi Cair-Cair) Fraksinasi dikenal dengan nama ekstraksi cair-cair atau partisi adalah proses untuk memisahkan golongan kandungansenyawa yang satu dengan 8

golongan yang lainnya dari suatu ekstrak. Prosedur pemisahan dengan fraksinasi ini didasarkan pada perbedaankepolaran kandungan senyawanya (Harborne, 1987). Teknik pemisahan ini biasanya dilakukan dengan menggunakan corong pisah. Kedua pelarut yang saling tidak bercampur tersebut dimasukkan ke dalam corong pisah, kemudian digojok dan didiamkan. Solut atau senyawa organik akan terdistribusi ke dalam fasenya masing-masing tergantung pada kelarutannya terhadap fase tersebut dan kemudian akan terbentuk dua lapisan, yaitu lapisan atas dan lapisan bawah yang dapat dipisahkan dengan membuka kunci pipa corong pisah (Dey, 2012). Ekstrak dipartisi dengan menggunakan peningkatan polaritas pelarut seperti petrolum eter, n-heksana, klorofom, dietil eter, etilasetat dan etanol. Pemilihan pelarut pada ekstraksi umumnya tergantung pada sifat analitnya dimana pelarut dan analit harus memiliki sifat yang sama, contohnya analit yang bersifat nonpolar akan terekstraksi pada pelarut yang relatif nonpolar seperti n-heksana sedangkan analit yang semipolar terlarut pada pelarut yang semipolar seperti etilasetat atau diklorometana (Venn, 2008). Pemilihan pelarut menjadi sangat penting, pelarut yang dipilih memiliki sifat antara lain: solut mempunyai kelarutan yang besar dalam solven, tetapi solven sedikit, tidak mudah menguap pada saat ekstraksi, mudah dipisahkan dari solut, sehingga dapat dipergunakan kembali, tersedia, tidak mahal,mempunyai titik didih yang rendah (jika digunakan untuk evaporasi), sebaiknya memiliki densitas yang lebih rendah daripada air (untuk membentuk lapisan atas sehingga pemisahan lebih mudah dilakukan) dan pelarut harus aman dan tidak merusak lingkungan jika digunakan. Pelarut yang dapat digunakan untuk ekstraksi ini cukup banyak, tetapi pelarut yang dapat digunakan hanya n-heksana, metil tertier 9

butil eter (MTBE) dan etilasetat. Hasil dariproses partisi yang diperoleh masingmasing dapat diuji aktivitas biologisnya untuk mengidentifikasi keaktifan komponen bioaktif yang terkandung (Venn, 2008). 2.4 Artemia salina Leach Artemia merupakan zooplankton yang diklasifikasikan ke dalam filum Arthropoda dan kelas Crustaceae dari suku Artemidae. Organisme sejenis udangudangan berukuran kecil. Artemia salina Leach sebelumnya telah digunakan untuk berbagai macam uji hayati, seperti uji pestisida dan ketoksikan dalam air laut (Meyer, et al., 1982; Widyastuti, 2008). Secara lengkap sistematika Artemia salina Leachmenurut Mudjiman (1989) dapat dijelaskan sebagai berikut: Filum Kelas Subkelas Ordo Famili Genus Spesies : Arthropoda : Crustacea : Branchiopoda : Anostraca : Artemidae : Artemia : Artemia salina Leach. 2.4.1 Habitat dan morfologi Artemia salinaleachmerupakan jenis udang-udangan yang hidup dalam air yang berkadar garam tinggi. Artemia salina Leachtumbuh baik pada temperatur 25-30 0 C. Keistimewaan Artemia salina Leachadalah memiliki toleransi (kemampuan beradaptasi dan mempertahankan diri) dari kisaran kadar garam yang sangat luas. Beberapa ditemukan di rawa asin hanya pada pedalaman 10

bukit pasir pantai, tidak pernah ditemukan di laut itu sendiri karena terlalu banyak predator (Mudjiman, 1989). Telur Artemia salinaleach atau siste adalah telur yang telah berkembang lebih lanjut menjadi embrio dan kemudian diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat. Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras dan mempermudah pengapungan, sehingga tahan menghadapi keadaan lingkungan yang buruk (Panjaitan, 2011). Telurnya merupakan makanan ikan tropis dan telur tersebut dapat dijumpai di toko-toko penjual ikan hias dalam keadaan kering. Telur Artemia yang kering direndam dalam air laut pada suhu 25-30 0 C, akan menetas dalam waktu 24-36 jam dan dari dalam cangkang keluar larva yang disebut dengan istilah nauplius(mudjiman, 1989)atau nauplii (Indiastuti, et al., 2008). Perkembangan selanjutnyalarva akan mengalami 15 kali perubahan bentuk. Setiap kali mengalami perubahan bentuk merupakan satu tingkatan. Tahapan perkembangan pertama disebut instar I, tingkat II instar II, tingkat III instar III, demikian selanjutnya sampai instar XV. Instar I bentuk lonjong, panjang sekitar 0,4 mm dan beratnya 15 mikrogram, warnanya kemerah-merahan karena masih banyak mengandung cadangan makanan dan masih belum memerlukan makanan. 24 jam setelah menetas, larva akan berubah menjadi instar II. Instar II mulai memiliki mulut, saluran pencernaan dan dubur, berfungsi mencari makanan karena cadangan makanan sudah mulai habis, tingkatan selanjutnya mulai terbentuk sepasang mata majemuk, berangsur-angsur tumbuh tunas-tunas kakinya. Instar XV, kakinya sudah lengkap 11 pasang yang disebut dengan Artemiadewasa. Proses ini berlangsung antara 1-3 minggu. Artemia salinaleach mempunyai 11

panjang sekitar 1 cm, beratnya 10 mg, dapat hidup sampai 6 bulan dan bertelur 4-5. Setiap kali bertelur dapat menghasilkan 50-300 butir telur (Mudjiman, 1989). Gambar 2. Tahap pertumbuhan Artemia salinaleach (Mudjiman, 1989) 2.4.2 Penggunaan Artemia salinaleach pada metode BSLT Artemia salina Leach secara luas telah digunakan untuk pengujian aktivitas farmakologi ekstrak suatu tanaman. Artemia salinaleach juga merupakan hewan uji yang digunakan untuk praskrining aktivitas kanker di Institut Kanker Nasional, Amerika Serikat. Uji BSLT dengan hewan uji Artemia salinaleach dapat digunakan untuk skrining awal terhadap senyawa-senyawa yang diduga berkhasiat sebagai antikanker maupun fisiologi aktif tertentu (Panjaitan, 2011). 2.5 Toksisitas Menurut Panjaitan (2011), toksisitas didefenisikan sebagai kemampuan suatu zat kimia untuk menimbulkan kerusakan. Setiap zat kimia baru harus terlebih dahulu dilakukan penelitian mengenaisifat-sifat ketoksikannya sebelum 12

diperbolehkan digunakan secara luas. Oleh karena itu dalam proses pemanfaatan dan pengembangan obat tradisional bersumber hayati, harus dilakukan beberapa langkah pengujian sebelum digunakan dalam pelayanan kesehatan. Setelah diketahui obat alam tersebut berkhasiat secara empirik maka dilakukan uji praklinik untuk menentukan keamanannya melalui uji toksisitas dan menentukan khasiat melalui uji farmakodinamik serta uji klinik pada orang sakit atau orang sehat. Setelah terbukti manfaat dan keamanannya, maka obat tradisional tersebut dapat digunakan dalam pelayanan kesehatan (Ramdhini, 2010).Uji toksisitas merupakan uji hayati yang berguna untuk menentukan tingkat toksisitas suatu zat atau bahan pencemar dan untuk pemantauan rutin suatu limbah (Panjaitan, 2011). Toksisitas suatu ekstrak dinilai berdasarkan tingkat mortalitas larva udang yang akan digunakan sebagai bahan uji. Data dianalisis untuk memperoleh nilai LC 50. LethalConcentration 50% adalah tingkat konsentrasi ekstrak yang dibutuhkan untuk mematikan 50% dari hewan yang diuji. Apabila jumlah mortalitas lebih dari 50% dapat dipastikan nilai LC 50 1000 μg/ml atau 1000 ppm. ketentuan ini menunjukkan bahwa ekstrak tersebut aktif (Tomayahu, et al.,2014). Menurut Meyer, et al., (1982); Arbiastuti dan Muflihati (2008), menyatakan pembagian nilai LC 50 untuk ekstrak dan senyawa murni yang berpotensi sebagai senyawa bioaktif adalah sebagai berikut: a. Nilai LC 50 30 µg/ml memiliki potensi aktivitas sebagai anti tumor atau kanker yang bersifat sitotoksik. b. Nilai LC 50 antara 30-200 µg/ml memilki potensi sebagai antimikroba c. Nilai LC 50 > 200 kurang dari 1000 µg/ml bersifat pestisida. Toksisitas dibedakan menjadi toksisitas akut, toksisitas kronik dan toksisitas subkronik (Runia, 2008; Fanani, 2009). Toksisitasakut adalah efek total yang 13

didapat pada dosis tunggal dalam 24 jam setelah pemaparan.toksisitas akut bersifat mendadak, waktu singkat, biasanya reversibel. Suatu senyawa kimia bersifat racun kronik jika menimbulkan efek racun dalam jangka waktu panjang (kontak yang berulang-ulang dalam jumlah yang sedikit). Ada 3 cara utama senyawa kimia untuk dapat memasuki tubuh, yaitu melalui paru-paru, mulut dan kulit. Melalui ketiga rute tersebut, senyawa yang bersifat racun dapat masuk ke aliran darah kemudian terbawa ke jaringan tubuh lainnya. Perhatian utama dalam toksisitas adalah kuantitas/dosis senyawa tersebut. Besar senyawa yang berada dalam bentuk murninya memiliki sifat racun. Manfaat dari pengukuran toksisitas adalah dapat digunakan sebagai skrining ekstrak tumbuhan untuk kepentingan pengobatan, menilai potensi dan efek bahaya dari pestisida baru serta menilai toksisitas yang mugkin ditimbulkan oleh sumber polusi (Kemala, 2012). 2.6 Brine Shrimp LethalityTest(BSLT) Brine Shrimp Lethality Test merupakan salah satu metode skrining awal untuk mengetahui ketoksikan suatu ekstrak ataupun senyawa bahan alam. Metode ini menggunakan larva Artemia salinaleachsebagai hewan uji. Uji toksisitas ini dapat diketahui dari jumlah kematian larva Artemia salina Leach karena pengaruh ekstrak atau senyawa bahan alam pada konsentrasi yang diberikan (McLaughlin, et al., 1998). Metode ini dilakukan dengan menentukan besarnya nilai LC 50 selama 24 jam. Data dianalisis menggunakan probit analisis untuk mengetahui nilai LC 50. Jika nilai LC 50 suatu ekstrak atau senyawa yang diuji kurang dari 1000 μg/ml maka dianggap menunjukkan adanya aktivitas biologik dan pengujiannya dapat digunakan sebagai skrining awal terhadap senyawa bioaktif yang diduga berkhasiat sebagai antikanker(anderson,et al., 1991). 14