BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Karet (Hevea brasiliensis) Tanaman karet berasal dari negara Brazil. Tanaman ini merupakan sumber utama bahan tanaman karet alam dunia. Jauh sebelum tanaman karet ini dibudidayakan, penduduk asli diberbagai tempat seperti : Amerika, Asia dan Afrika Selatan menggunakan pohon lain yang juga menghasilkan getah. Getah yang mirip lateks juga dapat diperoleh dari tanaman Castillaelastica (family moraceae). Sekarang tanaman tersebut kurang dimanfaatkan lagi getahnya karena tanaman karet telah dikenal secara luas dan banyak dibudidayakan. Sebagai penghasil lateks tanaman karet dapat dikatakan satusatunya tanaman yang dikebunkan secara besar besaran (Budiman, 2012). Di Indonesia, areal pertanaman karet tersebar hampir di seluruh Nusantara. Dari sebaran itu, sebanyak 83% dikelola oleh rakyat (perkebunan rakyat), 8% dalam bentuk perkebunan negara, dan 9% dalam bentuk perkebunan swasta. Data ini menunjukan bahwa perkebunan karet yang dikelola rakyat memberikan kontribusi dominan dalam ekspor nasional (Siregar dan Suhendry, 2013). 2.2. Taksonomi Tanaman Karet Sistem klasifikasi, kedudukan tanaman karet sebagai berikut Kingdom : Plantae Divisi : Spermatophyte Sub divisi : Angiospermae Kelas : Dycotyledonae Ordo : Euphorbiales Family : Euphorbiaceae Genus : Hevea Spesies : Hevea brasiliensis Muell. Arg 4
2.3. Morfologi Tanaman Karet 2.3.1. Akar Tanaman karet memiliki sistem perakaran tunggang dan perakaran serabut. Akar tunggang tanaman karet menembus ke dalam tanah menuju pusat bumi cukup dalam dan kokoh. Oleh karena itu, tanaman karet sangat tahan terhadap kekeringan dan tanaman tidak mudah roboh. Sedangkan akar serabutnya tumbuh menyebar secara horizontal yang cukup dalam. 2.3.2. Batang Tanaman karet berupa pohon yang tingginya bisa mencapai 25 meter dengan diameter batang cukup besar. Umumnya, batang karet tumbuh lurus ke atas dengan percabangan di bagian atas. Dibatang inilah terkandung getang yang lebih terkenal dengan nama lateks. 2.3.3. Daun Daun tanaman karet terdiri dari tangkai utama sepanjang 3-20 cm dan tangkai anak daun sepanjang 3-10 cm dengan kelenjar di ujungnya. Setiap daun karet biasanya terdiri dari tiga anak daun yang berbentuk elips memanjang dengan ujung runcing. Daun karet ini berwarna hijau dan menjadi kuning atau merah menjelang rontok. Seperti kebanyakan tanaman tropis, daun-daun karet akan rontok pada puncak musim kemarau untuk mengurangi penguapan tanaman. 2.3.4. Bunga Bunga tanaman karet tergolong bunga berumah satu (Monocieus) dan berbentuk bunga majemuk. Pada satu tangkai bunga yang berbentuk majemuk tersebut, terdapat bunga betina dan bunga jantan. Penyerbukan bungan dapat terjadi secara penyerbukan sendiri maupun penyerbukan silang. Penyerbukan silang dibantu oleh serangga. Bunga betina hanya mengandung putik (pistillum) saja yang merupakan alat kelamin betina yang mempunyai bakal buah (ovarium) yang berisi bakal biji (ovulum) dan sel telur (ovum). 5
2.3.5. Buah Buah karet memilki pembagian ruang yang jelas. Masing-masing ruang berbentuk setengah bola. Jumlah ruang biasanya 3 sampai 6 ruang. Garis tengah buah berukuran 3-5 cm, bila buah sudah masak maka akan pecah dengan sendirinya. Pemecahan terjadi dengan kuat menurut ruang-ruangnya, biji yang terlontar kadang terlempar sampai jauh. 2.3.6. Biji Biji karet terdapat dalam disetiap ruang buah, jumlah biji biasanya 3 sampai 6 sesuai dengan ruangnya. Ukuran biji besar dengan berat sekitar 3,5 sampai 6 gr, bidang pada permukaan perut sedikit agak rata dengan lapisan pelindung biji/testa keras dan berkilat, warna coklat kehitaman dengan bercak pola warna yang khas pada bagian punggung, setiap klon biji karet mempunyai corak/pola batik yang berbeda sehingga menjadi alat untuk mengidentifikasi setiap klon. 2.4. Syarat Tumbuh Tanaman Karet Tanaman keret merupakan tanaman daerah tropis yang tumbuh antara 15 0 LS sampai dengan 15 0 LU. Tanaman karet tumbuh dengan optimal di dataran rendah dengan ketinggian 0-200 mdpl. Semakin tinggi letak tempat, pertumbuhannya akan semakin lambat dan hasil lateks menjadi rendah. Ketinggian di atas 600 mdpl kurang cocok untuk pertumbuhan tanaman karet (Siagian, 2015). Menurut Budiman (2012), secara garis besar tanaman karet dapat tumbuh baik pada kondisi iklim sebagai berikut: suhu rata-rata harian 28 C (dengan kisaran 25-35 C) dan curah hujan Tahunan rata-rata antara 2500-4000 mm dengan hari hujan mencapai 150 per hari Tahun. Unsur iklim lainnya yang perlu diperhatikan ialah angin. Angin kencang dapat mematahkan tajuk karet. Angin berpengaruh pula terhadap kelembapan sekitar tanaman. 6
Tanaman karet dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, baik pada tanah-tanah vulkanis muda atau vulkanis tua, aluvial dan bahkan tanah gambut. Tanahtanah vulkanis umumnya memiliki sifat-sifat fisika yang cukup baik, terutama dari segi struktur, tekstur, solum, kedalaman air tanah, dan drianasenya. Akan tetapi sifat-sifat kimianya umumnya sudah kurang baik, karena kandungan haranya relatif rendah (Setyamidjaja, 1993). Tanah yang ideal untuk pertumbuhan tanaman karet adalah tanah yang bersolum dalam, jeluk lapisan lebih dari 1 meter, dan drainase sedang. Sifat tanah lain yang cocok untuk pertumbuhan tanaman karet adalah memiliki tekstur remah, struktur terdiri dari 35% liat, 30% pasir, dan memiliki kemiringan lahan < 16%. Tanaman karet toleran terhadap kemasaman tanah. ph tanah ideal untuk pertumbuhan karet adalah 4-5,5. ph yang lebih tinggi akan dapat menekan pertumbuhan tanaman karet (Siregar dan Suhendry, 2013). Kunci mempertahankan produktivitas karet untuk tetap tinggi adalah menekan penurunan jumlah tanaman sekecil mungkin. Di beberapa perkebunan di Sumatra Utara, angin termasuk penyebab berkurangnya populasi (Siagian, 2015). 7
Tabel 2.2. Sifat iklim dalam hubungannya dengan kategori hambatan terhadap pertumbuhan atau produksi tanaman karet Parameter Iklim Kategori Hambatan Terhadap Pertumbuhan Produksi Ringan Sedang Berat Ketinggian tempat (mdpl) 0 200 200-400 >400 Curah hujan (mm/tahun) 1.500-2.500 2.500 3.500 >3.500 - <1.500 Hari hujan (hari/tahun) 80 110 111 150 >150 atau Hujan pada pagi hari (hari/tahun) Rata-rata Bulan kering per Tahun Pohon rusak karena angin selama 20 Tahun (%) < 15 15 30 >30 2 4 1-2 atau 4-5 0-1 atau >5 < 10 11 25 >25 Sumber: Sugiyanto,dkk (1998);Istianto (2012) Berdasarkan tingkat dan jumlahnya hambatan, kelas kesesuaian iklim pada tanaman karet terurai pada Tabel di atas. Perhitungannya merupakan hasil penelitian yang disesuaikan dengan data produksi berbagai kebun beriklim kontras. Perhitungan tabel juga berdasarkan pengujian berbagai jenis klon pada agro ekosistem berbeda. 2.5. Klon Unggul Karet Untuk mendapatakan tanaman karet dengan produktivitas tinggi penggunaan bibit tidak boleh sembarangan. Bertanam karet menggunakan bibit sembarangan hanya akan menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Setelah tanaman berproduksi dengan produktivitas rendah, peremajaan tanaman merupakan pemborosan. Produktivitas tinggi hanya bisa diperoleh dari bibit klon unggul yang telah melewati ujicoba di laboratorium. Karenanya dianjurkan memilih klon yang telah direkomendasikan sesuai dengan provinsi dan tipe iklimnya (Setyamidjaja, 1993). 8
Pemanfaatan bibit unggul sebagai salah satu komponen teknologi telah memberikan kontribusi nyata dalam upaya peningkatan efisiensi produksi melalui peningkatan produktivitas kebun. Dengan menanam bibit dan klon unggul, rata-rata produktivitas kebun dapat mencapai 1.500-2.000 kg/ha/tahun, bahkan untuk klon generasi ke IV potensi klon bisa mencapai 3.500 Kg/Ha/Tahun dibandingkan dengan tanaman asal biji (semaian) yang hanya 400-500 Kg/Ha/Tahun. Selain itu, masa tanaman belum menghasilkan (TBM) dapat dipersingkat menjadi kurang dari lima Tahun. Oleh karena itu, ketersediaan bibit dan klon unggul merupakan salah satu penentu dalam meningkatkan produktivitas perkebunan karet (Boerhendhy, 2013). Untuk memperoleh tingkat produktivitas tanaman yang tinggi dalam usaha tani karet sangat diperlukan pengenalan klon unggul karet tidak hanya mempertimbangkan faktor tingkat produksi lateks yang tinggi saja tetapi juga perlu pertimbangan besarnya volume kayu yang akan dihasilkan saat tanaman akan di remajakan. Klon unggul karet dibedakan menjadi klon unggul penghasil lateks yaitu BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217, PB 260, PR 225 dan PR 26 dengan kisaran produksi lateks 1.4-1.2 ton/ha/tahun, sedangkan klon unggul penghasil lateks dan kayu yaitu AVROS 2037, BPM 1, IRR 5, IRR 21, IRR 32, IRR 42, IRR 112, IRR 118, PB 330, PB 340 dengan kisaran produksi lateks 1.4-1.9 ton/ha/tahun (Saefudin dan Listyati, 2013). 2.6. Pembibitan Tanaman Karet Usaha pengembangan perkebunan karet yang efisien, mampu menghasilkan bahan tanaman yang berkualitas serta kemurnian terjamin, maka perlu dilakukan penyedian bibit secara swadaya yaitu dengan membangun bibit batang bawah dan kebun entres. 2.6.1. Batang Bawah Pembibitan karet bertujuan untuk memperoleh batang bawah yang mempunyai perakaran kuat dan daya serap hara yang baik. Hal tersebut dapat dicapai dengan pembangunan pembibitan batang bawah 9
yang memenuhi syarat teknis, mencakup persiapan lahan, penanganan banih, perkecambahan, penanaman kecambah, serta usaha pemeliharaan tanaman di pembibitan (Balai Penelitian Sembawa, 2006). Klon klon anjuran untuk batang bawah seperti GT1, PR 300, PR 228, AVROS 2037, LCB 1320, PB 260, RRIC 100 dan BPM 24 (Balai Penelitian Sembawa, 2006). 2.6.2. Batang Atas (entres) Kebun entres disebut juga dengan kebun kayu okulasi (KKO). Kebun entres merupakan kebun penghasil mata tunas yang akan digunakan sebagai batang atas dalam perbanyakan tanaman karet secara okulasi. Di kebun entres di tanam klon-klon unggul karet anjuran komersial maupun klon harapan. Pengelolaan kebun entresyang tepat akan menghasilkan mutu fisiologis entres yang baik (Siagian, 2012). Menurut Budiman (2012), untuk mendapatkan bahan tanam hasil okulasi yang baik diperlukan entres yang baik dan dari kelompok klon anjuran. Klon-klon anjuran adalah klon-klon yang telah dilepas seperti: - Klon penghasil lateks: BPM 24, BPM 107, BPM 109, IRR 104, PB 217 DAN PB 260 - Klon penghasil lateks kayu: BPM 1, PB 330, PB 340, RRIC 100, AVROS 2037, IRR 5, IRR 32, IRR 39, IRR 42, IRR 112 dan IRR 188 - Klon penghasil kayu: IRR 70, IRR 71, IRR 72, dan IRR 78 2.7. Pembibitan Dalam Polibag Bibit polibag adalah tanaman okulasi yang terlebih dahulu ditumbuhkan pada polibag. Lama polibag yang dipakai diperkirakan 4-6 Bulan, yakni sudah menumbuhkan 2-3 karangan payung daun (Siregar dan Suhendry, 2013). 10
Ukuran polibag 25 x 40 cm dengan tebal 0,10 mm, polibag berwarna hitam, bagian bawah dan samping diberi lobang untuk penuntas air. Jenis pekerjaan dalam pembibitan dalam polibag adalah sebagai berikut: - Mengayak tanah lapisan atas untuk membebaskan dari kotoran, sisa akar, dan batu- batuan. - Mengisi tanah atas yang sudah diayak yang telah dicampur dengan 50 gr RP kedalam polibag. - Menyusun polibag dalam bedengan dengan lebar 40 cm dan tinggi 15 cm (Yardha dkk, 2007). 2.8. Pengertian Okulasi Okulasi merupakan salah satu cara perbanyakan tanaman yang dilakukan dengan menempelkan mata entres dari satu tanaman ke tanaman sejenis dengan tujuan mendapatkan sifat yang unggul. Kayu okulasi yang juga sering disebut dengan batang atas merupakan tunas atau dahan muda yang memilik beberapa mata tunas sebagai bahan utama kegiatan okulasi. Kayu okulasi diambil dari pohon induk atau tanaman karet ditanam secara khusus untuk menghasilkan kayu okulasi (Setyamidjaja,1993). 2.9. Okulasi Dini Okulasi dini biasanya dilakukan pada saat batang bawah berumur 3-4 Bulan dengan kayu entres yang dipotong bila berdiameter 2-3 cm. Okulasi dini sangat memerlukan keterampilan yang tinggi disertai dengan manajemen yang sangat akurat. Tingkat keberhasilan okulasi dini sangat di tentukan oleh keduanya. Saat ini, okulasi dini jarang diterapkan, tetapi merupakan bagian dari teknologi budidaya karet yang sudah memiliki baku teknis. Batang bawah yang akan digunakan dilakukan dengan menanam dua biji secara langsung di polibag kemudian diseleksi satu yang paling cepat untuk diokulasi dini (Siregar dan Suhendry, 2013). 11
2.10. Okulasi Hijau Okulasi hijau dilakukan bila batang bawah telah berumur 4-6 Bulan. Untuk okulasi hijau biji ditanam di polibag dan dibiarkan untuk terus berkecambah lalu diseleksi satu bibit yang telah menjadi batang bawah. Okulasi hijau memerlukan kayu entres yang diameternya 3-5 cm, berwarna hijau, dan biasanya tingkat keberhasilannya lebih rendah dari okulasi coklat. 2.11. Okulasi Coklat Okulasi coklat adalah okulasi yang paling lazim, yakni pelaksanaan okulasi pada batang bawah yang telah berumur 8-12 Bulan. Penyedian batang bawah dapat dilakukan dilapangan setelah melalui perkecambahan di bedengan atau dengan langsung menanam 2 biji di polibag kemudian menumbuhkan serta memelihara satu di antaranya yang pertmbuhannya cepat untuk dijadikan sebagai batang bawah. Diameter kayu entres untuk okulasi coklat 5-10 cm dan sudah berwarna coklat. Untuk tenaga okulasi yang sangat terampil, disertai manajemen yang baik (Siregar dan Suhendry, 2013). 2.12. Penyerongan (Cutback) Okulasi dilakukan pada saat tanaman berumur 3,5 4 Bulan setelah penanaman kepolibag. Tiga minggu setelah okulasi, dilakukan pemeriksaan dan pembukaan perban, seminggu kemudian dilakukan penyerongan (pemotongan secara menyerong) untuk mendorong pertumbuhan tunas dari okulasi. Penyerongan dilakukan 15 cm dari jendela okulasi untuk menghindari pengeringan padabekas penyerongan menjalan ke jendela okulas (Junaidi, dkk, 2014). Jika okulasi sudah dipastikan berhasil, batang bawah harus segera dipotong agar hasil fotosintesis tanaman dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhan mata entres secara maksimal. Bentuk potongan miring ke belakang agar pertautan okulasi tidak teraliri air jika hari hujan. Pemotongan batang bawah dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu: 12
Batang bawah dipotong pada 5-15 cm diatas pertautan okulasi secara penuh. Pemotongan pada ketinggian >5 cm dapat mengakibatkan pertautan okulasi stress dan mati, sedangkan pemotongan pada ketinggian >15 cm mengakibatkan kesulitan pada proses penanganan bibit selanjutnya. Setelah pemotongan dilakukan, luka yang di hasilkan harus segera ditutup agar penguapan tanaman dapat diminimalkan dan luka tidak terinfeksi oleh mikroorganisme pengganggu. Penutup dilakukan menggunakan plastik atau lilin. Dalam penelitian kali ini, penyerongan yang dilakukan pada tanaman karet dengan jarak 10 cm dan 20 cm dari mata okulasi. Dilakukan dengan jarak tersebut karena untuk mempermudah peroses pengerjaan pada saat memindahkan bibit ke areal penanaman dan untuk mempercepat proses pelapukan pada batang bawah yang telah di potong, sehingga penanaman ke areal lebih cepat. Dan dapat diperkirakan dengan penyerongan 10 cm dan 20 cm sudah dapat merangsang pertumbuhan mata tunas okulasi dan cadangan makanan sudah cukup. 2.13. Pelilinan Pelilinan yang dilakukan pada bagian batang bawah yang telah dilakukan penyerongan bertujuan untuk mengurangi penguapan pada batang dan untuk mencegah terjadi pembusukan oleh jamur yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan dan jadi penyakit oleh tanaman itu sendiri. a) Kelemahan dan Kelebihan Pelilinan 1) Kelemahan Pelilinan - Menambah tenaga kerja - Biaya yang dikeluarkan bertambah - Dikhawatirkan bekas penyerongan terbakar terkena lilin yang panas sehingga bibit stres. - 13
2) Kelebihan Pelilinan - Dapat mengurangi penguapan dari batang - Tidak cepat terjadinya pelapukan - Menghindari penjamuran b) Kelemahan dan Kelebihan Tanpa Pelilinan 1) Kelemahan Tanpa Pelilinan - Mudah terkena jamur - Cepat teradinya pelapukkan - Proses penguapan besar 2) Kelebihan Tanpa Pelilinan - Mengurangi tenaga kerja - Biaya yang dikeluarkan sedikit - Pekerjaan lebih cepat selesai. 14