IV. METODE PENELITIAN 4. 1 Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan dari bulan November 010 sampai dengan bulan Januari 011 di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Peta lokasi pengamatan dapat dilihat pada Gambar IV-1. Cisoka Cikaniki Cidahu Gambar IV-1 Lokasi penelitian di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Jalur pengamatan yang digunakan untuk memperoleh data mengenai karakteristik habitat dan pola sebaran spasial macan tutul jawa di Taman Nasional Gunung Halimun-Salak dideskripsikan pada Tabel IV-1.
1 Tabel IV-1. Jalur penelitian macan tutul jawa di TNGHS Wilayah (Tipe Habitat) Areal Pengamatan Keterangan Cisoka (Hutan pegunungan bawah sekunder) Koridor (panjang 3,1 km) Citalahab-Cikaniki (Hutan pegunungan bawah primer) Cidahu (Hutan pegunungan tengah) Gunung Endut (panjang 4,3 km) Gunung Kendeng (panjang 3,1 km) Wates (panjang 1, km) Cibogo Kawah Ratu Kerapatan vegetasi tinggi, sebagian lahan merupakan bekas tanaman Perhutani, berbatasan langsung dengan pemukiman warga. Kerapatan vegetasi sedang, sebagian wilayah merupakan punggungan tebing, merupakan jalur perlintasan masyarakat dan kerbau gembalaan Kelerengan 30-45 derajat, bagian bawah dan tengah lereng didominasi oleh rasamala (Altingia excelsa), sedangkan di bagian atas lereng didominasi oleh paku andam (Gleichenia linearis), dan terdapat kantung semar (Nepenthes sp) Kerapatan vegetasi rapat, terdapat Sungai Wates atau yang dikenal dengan Sungai Cikaniki, terdapat gua kecil di salah satu sisi sungai yang dikenal dengan nama Goa Macan Kerapatan vegetasi tinggi, merupakan jalur yang dikeramatkan sehingga jarang dilewati oleh masyarakat, merupakan jalur alternatif menuju puncak Perbakti. Kerapatan vegetasi sedang, merupakan jalur paling banyak dikunjungi di Resort Cidahu karena merupakan jalur pendakian dan jalur wisata kawah. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada keterwakilan tipe habitat dan gangguan yang ada pada tipe habitat dan gangguan yang pertimbangannya sebagaimana disajikan pada tabel IV-. Tabel IV-. Lokasi penelitian dan pertimbangannya Lokasi Tipe habitat Pertimbangan Cisoka Hutan pegunungan bawah Wilayah ini merupakan lahan bekas sekunder, lokasi ini merupakan Perhutani yang kini dikelola oleh daerah hutan bekas Perhutani yang berbatasan langsung dengan pemukiman masyarakat desa masyarakat. Sebagian wilayah penelitian berada di jalur lintas masyarakat dan gembalaannya sehari-hari. Pada tanggal 5 Januari 010, dua ekor macan tutul jawa tertangkap camera trap tim monitoring Cikaniki-Citalahab Hutan pegunungan bawah primer, merupakan daerah yang berbatasan dengan kebun teh nirmala, merupakan daerah konsentrasi penelitian macan tutul jawa di TNGHS TNGHS. Daerah ini merupakan lokasi konsentrasi penelitian bagi para peneliti macan tutul. Lokasi ini terdiri dari beberapa bukit yang tinggi yang memiliki punggunganpunggungan menyerupai gunung kecil. Lokasi ini sering menjadi tempat ditemukannya jejak kaki macan tutul jawa. Cidahu Hutan pegunungan tengah Daerah ini merupakan daerah wisata alam namun mulai tahun 009 dijadikan lokasi monitoring macan tutul jawa TNGHS.
13 4. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Global Positioning System (GPS) Garmin etrex, kompas, lampu senter, meteran, tali, alat pengukur waktu, kamera digital, program software ArcGIS versi 9.3, minitab 4.1, dan buku panduan lapang (field guide) mamalia Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Bahan yang digunakan adalah peta digital kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak, baterei alkaline, dan gipsum (untuk mencetak jejak kaki satwa). 4. 3 Metode Pengumpulan Data Kegiatan pengumpulan data terdiri dari tiga tahap, yaitu: 1. Kegiatan Pendahuluan Kegiatan pendahuluan yang dilakukan sebelum penelitian dilaksanakan meliputi: a. Orientasi (pengenalan) lapang, untuk penentuan sample plot pengamatan. b. Studi pustaka, kegiatan untuk mendapatkan informasi informasi mengenai macan tutul jawa beserta habitatnya.. Data yang Dikumpulkan Data yang dikumpulkan adalah sebagai berikut: a. Struktur dan komposisi vegetasi, sumber air, dan satwa mangsa. b. Penyebaran macan tutul jawa di TNGHS. 3. Cara Pengumpulan Data a. Populasi dan Penyebaran Macan Tutul Jawa beserta Satwa Mangsanya Pengamatan terhadap tanda-tanda keberadaan macan tutul dan satwa mangsanya dilakukan di sepanjang jalur (track) yang sudah tersedia dan mencatat posisi GPS tanda-tanda keberadaan satwa yang ditemukan. Keberadaan satwa diketahui melalui jejak, kotoran, dan tanda lain. Seluruh titik posisi GPS satwa tersebut dimasukkan ke dalam software ArcGIS versi 9.3. Jejak kaki yang ditemukan juga diukur untuk identifikasi individu. Pengamatan di setiap jalur dilakukan tiga kali pengulangan dengan jeda satu hari per jalur. b. Vegetasi Habitat Analisa vegetasi dilakukan dengan cara metode garis berpetak (Gambar IV-). Petak 0 m x 0 m untuk pengamatan vegetasi tingkat pertumbuhan pohon, petak berukuran m x m untuk tingkat semai dan tumbuhan bawah, 5
14 m x 5 m untuk tingkat pancang dan 10 m x 10 m untuk tingkat tiang. Data yang dikumpulkan untuk tingkat pohon dan tiang adalah jenis, diameter setinggi dada, tinggi bebas cabang dan tinggi total. Untuk tingkat pancang, semai, dan tumbuhan bawah yang dicatat adalah jenis tumbuhan dan jumlah individu setiap jenis (Soerianegara dan Indrawan 1980). Gambar IV- Bentuk plot pengamatan vegetasi menggunakan metode garis berpetak. Keterangan: a = petak pengamatan tingkat semai dan tumbuhan bawah b = petak pengamatan tingkat pancang c = petak pengamatan tingkat tiang d = petak pengamatan tingkat pohon c. Fungsi Habitat Data mengenai fungsi habitat didapatkan melalui observasi lapangan yang dilakukan bersamaan dengan pengamatan tanda-tanda macan tutul jawa dan satwa mangsanya di sepanjang jalur penelitian. Data yang diambil adalah deskripsi vegetasi, ada tidaknya goa, jenis vegetasi dominan, dan tanda-tanda aktivitas macan tutul jawa. d. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh dari studi pustaka, pengelola, petugas lapangan, dan masyarakat setempat. Data sekunder yang diperlukan adalah keberadaan satwa mangsa dan satwa pesaing, kondisi populasi macan tutul jawa dan habitatnya, gangguan pernah dan potensial terjadi, interaksi antara macan tutul jawa dengan masyarakat, serta kondisi penduduk di sekitar Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.
15 4. 4 Analisis Data a. Vegetasi Habitat Data vegetasi yang didapat kemudian dilakukan pengolahan untuk mendapatkan nilai-nilai kerapatan jenis (KR), frekuensi relatif (FR), dominansi relatif (DR), dan indeks nilai penting (INP) dengan rumus sebagai berikut: Kerapatan jenis Kerapatan (K) = jumlah indvidu : luas contoh K. Relatif (KR) = (kerapatan suatu jenis : kerapatan seluruh jenis) x 100% Frekuensi jenis Frekuensi (F) = (Σ plot ditemukannya suatu jenis : Σ seluruh plot) F. Relatif (FR) = (frekuensi suatu jenis : frekuensi seluruh jenis) x 100% Dominansi jenis Dominansi (D) = luas bidang dasar : luas contoh D. Relatif (DR) = (dominansi suatu jenis : dominansi seluruh jenis) x 100% 1 Luas bidang dasar: LBDS.d 4 Dimana d = diameter setinggi dada (± 130 cm) Indeks Nilai Penting (INP) INP (tiang dan pohon) = KR + FR + DR INP (pancang dan semai) = KR + FR Bentuk cover (tempat berlindung) dipelajari dengan cara obervasi langsung di lapangan. Bentuk cover macan tutul jawa dalam penelitian ini dibedakan menurut bentuk dan fungsinya, yaitu sebagai tempat berlindung, tempat minum, tempat berburu satwa mangsa, dan tempat istirahat. Tabel IV-3 Fitur habitat macan tutul jawa Fisik Vegetasi Tanda Fungsi tumbuhan Jenis aktivitas habitat Mdpl Goa Pohon bawah dominan macan tutul 1*) *) 3*) 4*) 4*) 5*) 6*) *)Keterangan: 1. Diisi dengan fungsi habitat tersebut untuk macan tutul jawa (tempat berburu, berlindung, istirahat, atau mengasuh anak). Diisi dengan ketinggian tempat ditemukannya tanda-tanda macan tutul jawa menggunakan habitat tersebut 3. Diisi dengan ada/tidaknya goa di habitat tersebut 4. Diisi dengan ciri khas vegetasinya seperti pohon dan tumbuhan bawah yang terdapat di habitat tersebut 5. Diisi dengan jenis tumbuhan dominan di habitat tersebut 6. Diisi dengan bukti-bukti ditemukannya tanda aktivitas macan tutul jawa maupun satwa mangsanya di habitat tersebut
16 b. Satwa Mangsa Penghitungan tingkat perjumpaan (encounter rate) satwa dilakukan dengan cara membagi jumlah titik perjumpaan tanda-tanda (jejak) satwa mangsa yang ditemukan di jalur pengamatan dengan panjang setiap jalurnya. ER = Ʃ jejak / panjang jalur Untuk mengelompokkan kelas perjumpaan satwa mangsa digunakan rumus sebaran frekuensi (Walpole 198), dengan menentukan banyaknya selang kelas yang diperlukan. Dalam penelitian ini kelas perjumpaan satwa mangsa dibagi menjadi tiga yaitu rare, easy, common. Tentukan wilayah data dengan menggunakan w = nilai maksimum i nilai minimum i. Untuk memperoleh lebar kelas digunakan formula c = w/jumlah kelas. Tentukan limit bawah kelas bagi selang pertama, lalu tambahkan lebar kelas untuk memperoleh limit atas kelas. Tentukan frekuensinya pada masing-masing kelas. c. Keanekaragaman Jenis Satwa Mangsa Data mangsa macan tutul jawa diolah sehingga memberikan informasi keanekaragaman Shannon-Wienner (H ) dan indeks kemiripan jenis komunitas (IS). Adapun rumus H yaitu (Magurran 1988): H' ni ln N ni N Keterangan: H = Indeks keanekaragaman Shannon-Wienner ni = jumlah individu pada jenis ke-i N = jumlah total individu Indeks kemiripan komunitas (similiarity index) antara dua tipe habitat dihitung dengan rumus (Odum 1994): SI C A B Keterangan: SI = similiarity index
17 A = jumlah jenis dalam kedua habitat A B = jumlah jenis dalam kedua habitat B C = jumlah jenis yang sama pada kedua tipe habitat Untuk mengetahui perbedaan nilai H di antara ketiga tipe habitat maka dilakukan uji t. Hipotesis (H 0 ) yang akan diuji adalah tidak adanya perbedaan H antar tipe habitat dengan kaidah menerima H 0 apabila nilai t hitung kurang dari t tabel pada taraf selang kepercayaan 95 %. Ragam dari H dihitung menggunakan rumus (Magurran 1988): VarH' ni ni ln N N N ni ni ln N N S 1 N Keterangan: S = banyaknya jenis satwa mangsa pada suatu tipe habitat Uji t untuk mengetahui signifikasi perbedaan antara dua H menggunakan rumus (Magurran 1988): t H' H' varh' varh' 1/ 1 1 Untuk menghitung derajat bebas (degree of freedom/df) digunakan rumus (Magurran 1998): df varh' 1varH' varh' /N varh' 1 1 /N d. Ketersediaan Air Ketersediaan air dapat dilihat dari pengamatan langsung di lapangan (permanen atau tidak permanen). Parameter yang diamati adalah bentuk sumber air, ketersediaan sumber air (tersedia sepanjang tahun/tidak), dan tipe habitat tempat ditemukannya sumber air tersebut.
18 Tabel IV-4. Sumber air di TNGHS Ketersediaan sumber air Tidak Tersedia Sumber air Bentuk sumber air tersedia Tipe habitat sepanjang sepanjang tahun tahun 1*) *) 3*) 3*) 4*) *) Keterangan: 1. Diisi dengan nama sumber air yang ditemukan. Diisi dengan bentuk sumber air, seperti sungai, aliran parit, tadah hujan, dan lain-lain 3. Diisi dengan jika tersedia sepanjang tahun, dan jika tidak tersedia sepanjang tahun 4. Diisi dengan jenis tipe habitat tempat ditemukannya sumber air tersebut e. Gangguan Habitat Data Gangguan habitat didapat dari Balai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak dan temuan di sepanjang lokasi pengamatan. Data tersebut direkapitulasi ke dalam bentuk tabel IV-5 Tabel IV-5. Gangguan habitat di TNGHS No Tipe habitat Jenis gangguan Hutan Hutan Hutan pegunungan pegunungan pegununga bawah sekunder bawah primer n tengah 1*) *) *) *) *) Keterangan: 1. Diisi dengan jenis/nama gangguan yang ditemukan dari observasi lapang/data sekunder. Diisi dengan jika ditemukannya gangguan, dan jika tidak ditemukannya gangguan f. Kepadatan Relatif Macan Tutul Jawa Pendugaan kepadatan relatif macan tutul jawa setiap jalur pengamatan berdasarkan temuan jejak dihitung dengan persamaan: D n i 1 Keterangan: D = kepadatan relatif (individu/km ) pi = jumlah individu pada pengamatan ke-i (individu) A = luas jalur yang diteliti (km ) g. Pola Sebaran Macan Tutul Jawa A Bentuk sebaran spasial macan tutul jawa ditentukan menggunakan nilai indeks penyebaran (Ludwig dan Reynolds 1988) sebagai berikut: Indeks Dispersion pi ID = (S / x ) Keterangan: ID = Indeks penyebaran
19 S x = Ragam populasi macan tutul jawa = Jumlah rata-rata macan tutul jawa ID = 1, maka satwa menyebar acak ID < 1, maka satwa menyebar homogen ID > 1, maka satwa menyebar kelompok/agregat h. Hubungan antara Perbedaan Jumlah Aktivitas Macan Tutul Jawa di Setiap Tipe Habitat Analisis hubungan dilakukan antara aktivitas macan tutul jawa dengan tipe habitat. Hal ini dimaksudkan untuk menyelidiki ada tidaknya hubungan antara tipe habitat dengan jenis-jenis aktivitas yang dilakukan oleh macan tutul jawa. Hubungan tersebut akan dianalisis menggunakan uji chi kuadrat. Untuk mempermudah pengelompokan data mengenai macan tutul jawa, maka setiap perjumpaan baik langsung atau tidak langsung yang mengindikasikan keberadaan macan tutul jawa beserta aktivitasnya dimasukkan ke dalam tabel isian. Tabel IV-6. Tabel isian tanda aktivitas macan tutul jawa No Tanda aktivitas Hutan pegunungan bawah sekunder Frekuensi per tipe habitat Hutan Hutan pegunungan pegunungan bawah tengah primer 1*) *) *) *) *) Keterangan: 1. Diisi dengan tanda aktivitas macan tutul jawa yang ditemukan, seperti cakaran di tanah, feses, suara, dan lainnya. Diisi dengan jumlah (frekuensi) ditemukannya jenis tanda aktivitas macan tutul jawa pada masing-masing tipe habitat Setiap temuan yang ada dimasukkan ke dalam tabel sehingga dapat diketahui frekuensi keseluruhan dari aktivitas macan tutul jawa pada suatu tipe habitat. Hal ini juga digunakan untuk mengetahui karakteristik habitat yang disukai oleh macan tutul jawa dengan indikasi bahwa tempat yang lebih disukai akan lebih banyak digunakan oleh macan tutul jawa. Parameter yang akan dianalisis menggunakan metode uji chi-kuadrat adalah tipe aktivitas macan tutul jawa dengan tipe habitat yang digunakannya. Langkah pengujian yang dilakukan adalah sebagai berikut: H 0 : tidak ada perbedaan aktivitas di setiap tipe habitat H 1 : adanya perbedaan aktivitas di setiap tipe habitat
0 Jika χ hitung kurang dari χ tabel maka terima H 0 pada taraf α = 5%, dengan derajat bebas (v) = (b-1) (k-1) dimana b dan k masing-masing menyatakan baris dan kolom. χ k Oi - Ei Oi - Ei i1 Ei Keterangan: O i = frekuensi hasil pengamatan ke-i E i = frekuensi harapan ke-i Frekuensi harapan = (total kolom x total baris) : total pengamatan i. Analisis Hubungan Jarak dari Sungai/Pemukiman terhadap Penyebaran Spasial Macan Tutul Jawa Parameter yang akan dianalisis menggunakan uji regresi pada minitab 4. adalah jumlah jejak kaki macan tutul jawa dengan jarak dari sungai/pemukiman dan jumlah jejak satwa mangsa. Persamaan regresi linier yang digunakan adalah sebagai berikut (Supranto 004): Y = k0 + k 1 a + k b +... + k 1 l + e Keterangan: Y= jumlah jejak kaki macan a= jarak dari pemukiman/sungai b= jumlah jejak satwa mangsa Patokan pengambilan keputusan (Sarwono 006): Jika P < 0,05 maka hubungan kedua variabel signifikan Jika P > 0,05 maka hubungan kedua variabel tidak signifikan Sifat korelasi akan menentukan arah dari korelasi. Keeratan korelasi dapat dikelompokkan sebagai berikut (Nugroho 005): 0,00 0,0 berarti korelasi memiliki keeratan sangat lemah 0,1 0,40 berarti korelasi memiliki keeratan lemah
1 0,41 0,70 berarti korelasi memiliki keeratan kuat 0,71 0,90 berarti korelasi memiliki keeratan sangat kuat 0,91 0,99 berarti korelasi memiliki keeratan sangat kuat sekali 1 berarti korelasi sempurna