LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR EFEKTIVITAS PENGENDALIAN HAMA KUMBANG TANDUK (Oryctes rhinoceros) SECARA KIMIAWI DENGAN BAHAN AKTIF SIPERMETRIN PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DI KEBUN SEI SILAU PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III ALFI BAYU RABANI 12011413 PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERKEBUNAN SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN AGROBISNIS PERKEBUNAN MEDAN 2016
LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR Diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan Diploma IV pada Program Studi Budidaya Perkebunan Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan EFEKTIVITAS PENGENDALIAN HAMA KUMBANG TANDUK (Oryctes rhinoceros) SECARA KIMIAWI DENGAN BAHAN AKTIF SIPERMETRIN PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DI KEBUN SEI SILAU PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III ALFI BAYU RABANI 12011413 PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERKEBUNAN SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN AGROBISNIS PERKEBUNAN MEDAN 2016
HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN PENELITIAN TUGAS AKHIR Nama : ALFI BAYU RABANI Nomor Induk : 12011413 Program Studi : BUDIDAYA PERKEBUNAN Judul Tugas Akhir : EFEKTIVITAS PENGENDALIAN HAMA KUMBANG TANDUK (O. rhinceros) SECARA KIMIAWI DENGAN BAHAN AKTIF SIPERMETRIN PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DI KEBUN SEI SILAU PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III. Menyetujui, Pembimbing I Pembimbing II Guntoro, S.P., M.P Aulia Juanda Djs, S,Si., M.Si Mengetahui, Ketua Ka. PS BDP Wagino, S.P., M.P Guntoro, S.P., M.P
Pembimbing Tugas Akhir : 1. Guntoro, S.P., M.P 2. Aulia Juanda Djs, S,Si., M.Si Tim Penguji : 1. Mhd. Yusuf Dibisono, SP., M.P 2. Hardy Wijaya, SP Telah diuji pada tanggal 22 Oktober 2016
RINGKASAN ALFI BAYU RABANI. EFEKTIVITAS PENGENDALIAN HAMA KUMBANG TANDUK (O. rhinoceros) SECARA KIMIAWI DENGAN BAHAN AKTIF SIPERMETRIN PADA TANAMAN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) DI KEBUN SEI SILAU PT. PERKEBUNAN NUSANTARA III (PERSERO). Tugas Akhir Mahasiswa STIPAP Program Studi Budidaya Perkebunan dibimbing oleh Guntoro, S.P., M.P dan Aulia Juanda Djs, S,Si., M.Si Pada saat ini kumbang tanduk merupakan hama utama di perkebunan kelapa sawit. Kumbang tidak hanya menyerang tanaman hasil penanam kembali (replanting) saja, tetapi juga menyerang kelapa sawit baru generasi pertama. Tidak hanya itu, jika populasi sangat tinggi maka kumbang tanduk akan menyerang tanaman tua maupun tanaman muda. Populasi kumbang di alam semakin banyak dengan adanya bahan organik yang sangat melimpah, misalnya rumpukan batang kelapa sawit yang busuk dan tandan kosong kelapa sawit (Susanto, dkk 2012). Pengendalian hama kumbang tanduk tidak terlepas juga dari tujuan utama perusahaan perkebunan kelapa sawit yaitu untuk meningkat produksi sehingga mendapat keuntungan yang maksimal. Penelitian ini dilaksanakan di Afdeling VII Kebun Sei Silau PT. Perkebunan Nusantara III (PERSERO), Kecamatan Setia Janji, Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Pelaksanaan penelitian dimulai pada bulan September Oktober 2016. Metode ini di laksanakan dengan cara menggunakan metode analisa deskriptif yaitu pengumpulan data tentang tingkat serangan hama kumbang tanduk (O. rhinoceros) dan pengendaliannya di Kebun Sei Silau PT. Perkebunan Nusantara (Persero).. Pengendalian yang dilakukan pada setiap blok di afdeling VII Kebun Sei Silau yang terserang dengan menggunakan insektisida scud yang mengandung bahan aktif Sipermetrin dapat dikatakan efektif karena setelah di aplikasikan pada blok yang terserang, jumlah tingkat serangan menurun.. Rata rata persentase penurunan serangan hama O. rhinoceros pada bulan Agustus 0,37 % menjadi 0,28 %, pada bulan September persentase penurunan dari 1,7 % menjadi 1,3 %, dan pada bulan Oktober persentase penurunan dari 1,2 % menjadi 0,7 %. Kata Kunci: Kelapa Sawit, Efektivitas, Kumbang Tanduk, O. rhinoceros
DAFTAR ISI Hal RINGKASAN... DAFTAR ISI... KATA PENGANTAR. RIWAYAT HIDUP. DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR.. i ii iv vi vii viii BAB 1 PENDAHULUAN... 1 1.1.Latar belakang... 1 1.2.Urgensi penelitian... 2 1.3.Tujuan khusus... 2 1.4.Target temuan... 2 1.5.Kontribusi... 2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA... 3 2.1. Botani dan Morfologi Kelapa Sawit... 3 2.1.1. Klasifikasi... 3 2.1.2. Bagian Generatif Kelapa Sawit... 3 2.1.3. Bagian Vegetatif Kelapa Sawit... 5 2.2. Hama Pada Tanaman Kelapa Sawit... 7 2.3. Hama Kumbang Tanduk pada Tanaman Kelapa Sawit... 7 2.3.1. Klasifikasi Hama Kumbang Tanduk O. rhinoceros... 8 2.3.2. Siklus Hidup Hama Kumbang Tanduk O. rhinoceros. 8 2.3.3. Tempat Berkembang Biak 12 2.3.4. Kerusakan dan Gejala Serangan.. 12 2.3.5. Sensus dan Monitoring... 12 2.3.6. Pencegahan.. 13 2.3.7. Pengendalian 14 BAB 3 METODE PENELITIAN... 16 3.1. Tempat dan waktu penelitian... 16 3.2. Desain/rancangan Penelitian atau Model... 16 3.3. Bahan dan Peralatan... 16 3.4. Tahapan Penelitian... 16 3.5. Pengamatan dan Indikator... 17 3.6. Bagan Alur Penelitian... 17 BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 18
4.1. Informasi Umum Kebun Sei Silau... 18 4.1.1. Sejarah Kebun Sei Silau... 18 4.1.2. Lokasi Penelitian... 18 4.1.3. Luas Areal... 19 4.1.4. Curah Hujan... 20 4.2. Pengendalian Hama Kumbang Tanduk... 23 4.2.1. Hasil Pengamatan Pengendalian O. rhinoceros... 23 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 32 DAFTAR PUSTAKA... 33 LAMPIRAN 1. Data Sensus Serangan O. rhinoceros Sebelum Pengendalian di Kebun Sei Silau PT. Perkebunan Nusantara III (Persero)... 35 2. Data Sensus Serangan O. rhinoceros Sebelum Pengendalian di Kebun Sei Silau PT. Perkebunan Nusantara III (Persero)... 36 3. Data Sensus Serangan O. rhinoceros Sebelum Pengendalian di Kebun Sei Silau PT. Perkebunan Nusantara III (Persero)... 37
KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT. yang telah memberi rahmat dan hidayah- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik. Penyusunan Tugas Akhir yang berjudul Efektivitas Pengendalian Hama Kumbang Tanduk Oryctes rhinoceros Secara Kimiawi dengan Bahan Aktif Sipermetrin Pada Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Kebun Sei Silau PT. Perkebunan Nusantara III (PERSERO) adalah merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Terapan di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP). Dalam penulisan Tugas Akhir ini, banyak pihak yang telah memberikan bantuan secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada : 1. Bapak Wagino, S.P., M.P. selaku Ketua STIPAP beserta staff jajarannya. 2. Bapak Guntoro, S.P., MP. Selaku Ketua Prodi Budidaya Perkebunan dan Dosen Pembimbing I serta Bapak Aulia Juanda Djs, S,Si., M.Si selaku Dosen Pembimbing II yang telah mendukung, membimbing, mengarahkan dan memberikan masukan kepada penulis dalam menyelesaikan Tugas Akhir ini. 3. Bapak Hardy Wijaya, SP dan bapak Mhd. Yusuf Dibisono, SP., M.P selaku Dosen Penguji atas kritik dan saran yang membangun dalam penyempurnaan Tugas Akhir ini. 4. Seluruh staff dan pegawai PT. Perkebunan Nusantara III khususnya Afdeling VII Kebun Sei Silau yang telah memberikan tempat dan fasilitas kepada penulis dalam melaksanakan penelitian. 5. Orang tua terkasih dan tercinta, Ayahanda Subekti Agus Irianto dan Ibunda Susilawati atas segala doa, kasih sayang, dukungan dan pengorbanan yang diberikan kepada penulis sejak masih kecil sampai saat ini. 6. Adik tercinta Galih Imama Sidi dan Anggi Juniar yang sudah memberikan doa, dukungan dan motivasi kepada penulis. 7. Sahabat tercinta Rini Salsabella Hardi, Nico Sitorus, Victor A.N.K, Fitria Syafriani, Annisa Nur Intan, Khairunnisa Syahra, Tryan Pratama Putra, M. Aulia Arif M yang memberikan dukungan dan nasihat kepada saya saat menyelesaikan Tugas Akhir ini.
8. Teman-teman STIPAP khususnya BDP D 2012 yang merupakan teman-teman seperjuangan yang telah memberikan inspirasi dan kebersamaannya selama menempuh pendidikan. Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini belum sempurna, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan oleh penulis untuk menyempurnakan Tugas Akhir ini. Semoga Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi yang membutuhkannya khususnya dalam Budidaya Kelapa Sawit. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih. Medan, Oktober 2016 Penulis
RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 21 November 1993 di Bekasi Provinsi Jawa Barat. Penulis merupakan putra dari Ayahanda Subekti Agus Irianto dan Ibunda Susilawati. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar Negeri 060914 di Medan pada tahun 2005, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 9 di Medan dan lulus pada tahun 2008, melanjutkan ke SMK Negeri 2 di Medan dan lulus pada tahun 2011. Pada tahun 2012 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan pada Program Studi Budidaya Perkebunan. Selama melakukan perkuliahan, penulis melaksanakan Praktek Kerja Lapangan I pada tahun 2014 di PT. Perkebunan Nusantara IV Kebun Gunung Bayu untuk komoditi Kelapa Sawit, dan di PT. Perkebunan Nusantara III Kebun Sei Putih untuk komoditi Karet. Praktek Kerja Lapangan II pada tahun 2015 di Anglo Eastern Plantation, serta Program Pengabdian Masyarakat di Desa Damak Maliho, Kecamatan Bangun Purba, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.
DAFTAR TABEL No. Judul Hal 2.1. Tabel siklus Hidup Kumbang Tanduk... 11 4.1. Luas Areal Afdeling VII Kebun Sei Silau. 20 4.2. Tabel Curah Hujan di Kebun Sei Silau.. 21 4.3. Tabel Kriteria Serangan. 25 4.4. Tabel Data Pengendalian Hama O. rhinoceros Bulan Agustus 26 4.5. Tabel Data Pengendalian Hama O. rhinoceros Bulan September 28 4.6. Tabel Data Pengendalian Hama O. rhinoceros Bulan Oktober... 30
DAFTAR GAMBAR No Judul Hal 2.1. Gambar telur O. rhinoceros.. 9 2.2. Gambar Larva O. rhinoceros 10 2.3. Gambar Pupa O. rhinoceros 10 2.4. Gambar Kumbang Dewasa O. rhinoceros... 11 4.1. Gambar Peta Kebun Sei Silau. 19 4.2. Gambar Garfik Hari Hujan.... 22 4.3. Gambar Grafik Curah Hujan.. 23 4.4. Gambar Insektisida Scud... 24 4.5. Gambar Proses Aplikasi pada Tanaman Kelapa Sawit. 24 4.6. Gambar Grafik Jumlah Pohon Sebelum dan Setelah Pengendalian Bulan Agustus.... 26 4.7. Gambar Grafik Jumlah Pohon Sebelum dan Setelah Pengendalian Bulan September... 28 4.8. Gambar Grafik Jumlah Pohon Sebelum dan Setelah Pengendalian Bulan Oktober. 30
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) sangat penting artinya bagi Indonesia dalam kurun waktu 35 tahun terakhir ini sebagai komoditi andalan untuk ekspor maupun komoditi yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan harkat petani perkebunan serta transmigran Indonesia (Lubis A.U,2008). Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang saat ini sangat diminati untuk dikelola atau ditanam, baik oleh pihak BUMN, perkebunan swasta nasional dan asing, maupun masyarakat. Daya tarik perkebunan kelapa sawit terletak pada keuntungan yang berlimpah karena kelapa sawit masih merupakan andalan sumber minyak nabati dan bahan agroindustri. Saat ini, produksi CPO (Crude Palm Oil) Indonesia sekitar 17 juta ton per tahun. Dengan produksi ini, Indonesia adalah produsen minyak kelapa sawit terbesar di dunia (Sukamto,2008) Kelapa sawit merupakan tanaman yang tahan dan kuat. Walaupun begitu tanaman ini juga tidak luput dari serangan hama, baik yang membahayakan maupun yang tidak. Pada umumnya hama yang menyerang tanaman kelapa sawit sebagian besar dari golongan insekta atau serangga, salah satunya yaitu kumbang tanduk (O. rhinoceros) (Penebar Swadaya Tim, 2000). Pada saat ini kumbang tanduk merupakan hama utama di perkebunan kelapa sawit. Kumbang tidak hanya menyerang tanaman hasil penanam kembali (replanting) saja, tetapi juga menyerang kelapa sawit baru generasi pertama. Tidak hanya itu, jika populasi sangat tinggi maka kumbang tanduk akan menyerang tanaman tua maupun tanaman muda. Populasi kumbang di alam semakin banyak dengan adanya bahan organik yang sangat melimpah, misalnya rumpukan batang kelapa sawit yang busuk dan tandan kosong kelapa sawit (Susanto, dkk 2012).
Pengendalian hama kumbang tanduk tidak terlepas juga dari tujuan utama perusahaan perkebunan kelapa sawit yaitu untuk meningkat produksi sehingga mendapat keuntungan yang maksimal. 1.2. Urgensi Penelitian Budidaya tanaman kelapa sawit sering kali menghadapi masalah, salah satunya yaitu serangan hama kumbang tanduk yang dapat mengganggu perkembangan tananaman kelapa sawit dan berpengaruh terhadap penurunan produktivitas tanaman kelapa sawit. Untuk mengatasinya perusahaan memiliki solusi dengan menggunakan insektisida 1.3. Tujuan Khusus Untuk mengetahui efektivitas dalam pengendalian hama kumbang tanduk (O. rhinoceros) dengan menggunakan insektisida scud dengan bahan aktif sipermetrin pada tanaman kelapa sawit. 1.4. Target Temuan Analisa ini dilakukan untuk mengetahui keefektifan dalam pengendalian hama kumbang tanduk (O. rhinoceros) secara kimiawi dengan menggunakan racun insektisida scud dengan bahan aktif Sipermetrin di Kebun Sei Silau PT. Perkebunan Nusantara III (Persero). 1.5. Kontribusi Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk informasi bagi para pelaku usaha terutama yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit dalam hal pengendalian hama kumbang tanduk pada tanaman kelapa sawit.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Botani dan Morfologi Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) 2.1.1 Klasifikasi Division Sub division Class Sub class Ordo Famili Sub famili Genus Spesies : Tracheophyta : Pteropsida : Angiospermae : Monocotyledoneae : Spadiciflorae (Arecales) : Palmae (Arecaceae) : Cocoideae : Elaeis : Elaeis guineensis Jacq 2.1.2. Bagian Generatif Kelapa Sawit a. Akar Akar tanaman kelapa sawit berfungsi sebagai penyerap unsur hara dalam tanah dan respirasi tanaman. Selain itu, sebagai penyangga berdirinya tanaman dehingga mampu menyokong tegaknya tanaman pada ketinggian yang mencapai puluhan meter hingga tanaman berumur 25 tahun. Tanaman kelapa sawit berakar serabut. Perakarannya sangat kuat karena tumbuh ke bawah dan ke samping membentuk akar primer, skunder, tertier dan kuarter. Akar primer tumbuh ke bawah ke dalam tanah sampai batas permukaan air tanah. Akar skunder, tertier dan kuarter tumbuh sejajar dengan permukaan air tanah bahkan akar tertier dan kuarter menuju ke lapisan atas atau ke tempat yang banyak mengandung zat hara. Akar tertier dan kuarter merupakan bagian perakaran yang paling dekat dengan permukaan tanah.
Akar tertier dan kuarter juga banyak ditemukan sampai dengan 1m di dalam tanah. Bahkan ada yang mampu tumbuh sampai dengan kedalaman 5m. Namun, sistem perakaran yang paling banyak di temukan adalah pada kedalam 0-20 m, yaitu pada lapisan olah tanah (top soil). Oleh karena itu, jika menemukan sistem perakaran yang dangkal, perlu menjaga ketersediaan unsur hara dan permukaan air tanah yang lebih mendekati lebih mendekati permukaan akar tanaman, terutama pada lahan gambut dan kritis. (Fauzi dkk, 2006). b. Batang Tanaman kelapa sawit mempunyai batang yang tumbuh tegak lurus ke atas berbentuk silinder dngan diameter antara 25 75, tetapi pangkal batang bisa lebih besar lagi pada tanaman tua. Biasanya batang adalah tunggal (tidak bercabang) dan batang pada tanaman yang masih muda tidak terlihat karena masih ditutupi oleh pelepah daun. Pada ujung batang terdapat titik tumbuh yang membentuk daun daun dan memanjangkan batang. Titik tumbuh selama empat tahun pertama tumbuh membentuk daun daun yang pelepahnya membungkus batang, sehingga batang tidak terlihat. Pertambahan tinggi batangterlihat jelas setelah tanaman berumur empat tahun, pada umumnya sekitar 25 40 cm per tahun. Sawit berbeda beda, bergantung pada tipe atau varietasnya. Factor lain yang mempengaruhi pertumbuhan batang pada kelapa sawit adalah kondisi di sekitar tanaman seperti jenis tanaman, kesuburan lahan, iklim, pemeliharaan tanaman, jarak tanam, umur, dan lain sebagainya.(tim Bina Karya Tani, 2009). c. Daun Tanaman kelapa sawit memiliki daun (frond) yang menyerupai bulu burung atau ayam. Anak anak daun (foliage leaflet) tersusun berbaris dua sampai ke ujung daun. Di tengah tengah setiap anak daun terbentuk lidi sebagai tulang daun. Daun berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya sangat mirip dengan tanaman salak, hanya saja durinya tidak terlalu keras dan tajam. Bentuk
daunnya termasuk majemuk menyirip, tersusun rozet pada ujung batang. Daun kelapa sawit terdiri dari berapa bagian : - Kumpulan anak daun (leaflets) yang memiliki helaian (lamina) dan tulang anak daun (midrib). - Rachis yang merupakan tempat anak daun melekat. - Tangkai daun (petiole) yang merupakan bagian antara daun dan batang. - Sedangkan daun (sheath) yang berfungsi sebagai perlindungan dari kuncup dan memberi kekuatan pada batang. Luas daun meningkat secara progresif pada umur sekita 8 10 tahun setelah tanam. Susunan daun kelapasawit membentuk susunan daun majemuk. Daun daun tersebut akan membentuk suatu pelepah daun yang panjangnya 7,5-9 meter dengan jumlah daun yang tumbuh di kedua sisi berkisar 250-400 helai. Pohon kelapa sawit normal dan sehat yang dibudidayakn, pada satu batang terdapat 40-50 pelepah daun. Luas permukaan daun akan berinteraksi dengan tingkat produktivitas tanaman. Semakin luas permukaan atau semakin banyak jumlah daun maka produksi akan meningkat karena proses fotosintesis akan berjalan dengan baik. Pohon kelapa sawit normal dan sehat dibudidayakan, pada satu batang terdapat 40-50 pelepah daun. Biasanya tanaman kelapa sawit mempunyai 40-50 daun. Jika tidak dipangkas biasa lebih 60 daun. Tanaman kelapa sawit tua membentuk 2-3 helai daun setiap bulan, sedangkan yang muda menghasilkan 4-4 daun setiap bulan. Produksi daun dipengaruhi oleh faktor umur, lingkungan genetik, iklim (Putranto) 2.1.3. Bagian Vegetatif Kelapa Sawit a. Bunga Tanaman kelapa sawit yang berumur 3 tahun sudah mulai dewasa dan mengeluarkan bunga jantan atau betina. Bunga jantan berbentuk lonjong dan memanjang, sedangkan bunga betina agak bulat. Tanaman kelapa sawit mengadakan penyerbukan silang (cross pollination). Artinya, bunga betina dari pohon yang satu dibuahi oleh bunga jantan dari pohon yang lainnya dari perantara angin dan atau serangga penyerbuk (Putranto). Kadang kadang dalam tanaman kelapa sawit terbentuk rangkaian bunga yang hermaprodit, terutama pada tanaman yang masih muda. Hal ini dapat dapat terjadi
pada masa transisi antara siklus bunga jantan dan betina. Rangkaian bunga terbentuk secara bervariasi mulai dari bungan betina deengan beberapa cabang bunga jantan atau sebaliknya. Produksi tandan bunga jantan per pokok pada tanaman muda terlihat lebih sedikit dibandingkan bungan betina. Angka perbaningan akan menjadi stabil sesuai dengan bertambahnya umur tanaman. Pada tanaman muda jumlah bunga jantan yang dihasilkan sekitar 4-6 tandan/tahun dan pada tanaman dewasa bisa mencapai 7-10 tandan/tahun. Sedangkan untuk bungan betina, pada tanaman muda dihasilkan sebanyak 15 25 tandan bunga/tahun dan tanaman dewasa sebanyak 9 15 tandan bunga/tahun (Fauzi dkk, 2012). d. Buah Diperlukan waktu sekitar 5-6 bulan sejak penyerbukan untuk menjadi buah yang dewasa, matang,dan siap dipanen. Bunga betina setelah dibuahi akan berkembang menjadi buah. Lama waktu panen sedikit berfluktuasi sesuai dengan variasi iklim. Iklim kering yang panjang biasanya memperlambat laju pematangan buah. Pada umumnya tanaman kelapa sawit yang tumbuh, baik dan subur sudah dapat menghasilkan buah yang siap panen untuk pertama kali pada umur 3,5 tahun terhitung sejak penanaman biji pada pembibitan. Namun jika dihitung sejak penanaman tanaman di lahan pertanaman, maka umur 2,5 tahun. Jumlah buah rata-rata 1.600 buah per tandan,ukuran dan bentuknya bervariasi menurut posisinya dalam tandan. Secara botani buah adalah sessile drupe yang tertekan di sekitar bijinya. Buah terdiri atas bagian-bagian berikut. 1. Kulit buah (eksokarp) : merupakan pelindung buah paling luar yang mula-mula berwarna putih kehijau-hijauan, kemudian berubah menjadi warna kuning. 2. Daging buah (mesokarp) : bagian buah yang tersusun atas air, serat, klorofil, yang selanjutnya terjadi pembentukan minyak dan karoten. 3. Cangkang (endokarp) : bagian buah yang pada awalnya tipis dan lembut, tetapi kemudian bertambah tebal dan keras serta warnanya pun berubah dari putih menjadi cokelat. 4. Inti (endosperm) : bagian buah yang mula-mula cair, kemudian lunak, dan akhirnya berubah menjadi padat dan agak keras (Tim Bina Karya Tani, 2009)
e. Biji Biji terdiri dari atas beberapa bagian penting. Biji merupakan bagian yang telah terpisah dari daging buah dan sering disebut sebagai noten atau nut yang memiliki berbagai ukuran tergantung tipe tanaman. Biji terdiri atas cangkang embrio dan inti atau Endosperm. Embrio panjangnya 3 mm berdiameter 1,2 mm berbentuk silindris seperti peluru dan memiliki 2 bagian utama. Bagian tumpul permukaannya berwarna kuning dan bagian lain agak tajam berwarna putih. pada proses perkecambahan embrio ini diperiksa dilabolatorium sebelum perlakuan pemanasan untuk melihat persentase normal (Lubis, 2008). 2.2. Hama pada Tanaman Kelapa Sawit Hama adalah salah satu faktor penting yang harus di perhatikan dalam pembudidayaan tanaman kelapa sawit. Akibat yang di timbulkan sangat besar, seperti penurunan produksi, bahkan kematian tanaman. Hama dapat menyerang tanaman kelapa sawit mulai dari pembibitan hingga tanaman menghasilkan (Fauzi dkk, 2012). Untuk melawan hama, strategi dan taktik yang digunakan manusia mengalami evolusi selama berabad-abad menjadi semakain canggih dan semakin efektif. Metode pertama kali yang digunakan untuk pengendalian hama yaitu dengan cara menangkap atau memukul serangga. Selanjutnya kita belajar bagaimana memanuipulasi lingkungan sedemikian rupa, sehingga lingkungan tersebut tidak sesuai untuk hama (Tim Bina Karya Tani, 2009). 2.3. Hama Kumbang Tanduk pada Tanaman Kelapa Sawit. Hama O. rhinoceros yang lebih di kenal sebagai kumbang tanduk atau kumbang badak saat ini merupakan hama utama tanaman kelapa sawit. Sebelumnya hama ini lebih banyak di kenal sebagai hama pada tanaman kelapa dan palma lainnya (Susanto dkk, 2012). Serangan hama ini cukup membahayakan pada areal TBM karena jika sampai mengenai titik tumbuh tanaman maka akan menyebabkan penyakit busuk dan kematian. Kumbang tanduk banyak menimbulkan kerusakan pada areal TBM yang baru di tanam hingga berumur 2-3 tahun (Hartanto,2011).
Kerugian yang disebabkan kumbang tanduk pada perkebunan kelapa sawit dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Kerugian secara tidak langsung adalah dengan rusaknya pelepah daun kelapa sawit yang akan mengurangi kegiatan fotosintesis pada tanaman yang akan pada akhirnya akan menurunkan produksi. Kerugian secara tidak langsung yang lain adalah memperpanjang masa TBM tanaman kelapa sawit. Sedangkan keerugian secara langsung adalah matinya tanaman kelapa sawit akibat serangan hama ini yang sudah mematikan pucuk tanaman (Susanto dkk, 2012). 2.3.1. Klasifikasi hama Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) Kingdom Phylum Class Ordo Famili Genus Species : Animalia : Arthropoda : Insecta : Coleoptera : Scarabaeidae : Oryctes : Oryctes rhinoceros 2.3.2. Siklus Hidup Kumbang Tanduk (O. rhinoceros) a. Telur. Telur kumbang tanduk berwarna putih kekuning dengan diameter 3-4 mm. bentuk telur biasanya oval kemudian mulai membengkak sekitar satu minggu setelah peletakan, dan menetas pada umur 8-12. Kumbang tanduk betina dalam satu siklus hidup mampu menghasilkan 30-70 butir. Kumbang tanduk bertelur pada bahan organik yang telah dalam proses pelapukan (Susanto dkk, 2012).
b. Larva. Gambar 2.1 : Telur O. rhinoceros Sumber : adearisandi.wordpress.com Larva kumbang tanduk yang sering juga disebut gendon atau uret berwarna putih kekuningan, berbentuk silinder, gemuk dan berkerut, melengkung membentuk setengah lingkaran dengan panjang sekitar 60-100 mm atau lebih. Kepala keras di lengkapi dengan rahang yang kuat. Penutup kepala maksimum sekitar 10-6-11,4 mm. Tengkorak coklat gelap dengan sejumlah lubang di sekelilingnya. Panjang spirakel toraks 1,85-2,23 mm dan lebar 1,25-1,53 mm. Tempat pernafasan memiliki jumlah lubang maksimum 40-80 yang berbentuk oval di sekeliling toraks (Susanto dkk, 2012) Larva berada di daerah yang telah membusuk, larva O. rhinoceros berkaki tiga pasang. Larva hidup dari memakan bahan organik yang ada di dekatnya larva terdiri dari tiga instar, masa larva instar pertama 10-21 hari sedangkan instar kedua 21-60 hari, dan instar ketiga 60-165 hari (Sejahtera, 2011)
c. Pupa. Gambar 2.2 : Larva O. rhinoceros Sumber : adearisandi.wordpress.com Pupa berada di dalam tanah, berwarna coklat kekuningan berada dalam sarang yang dibuat dari bahan-bahan organik di sekitar tempat hidupnya. Kumbang yang baru muncul dari pupa akan tetap tinggal di tempatnya antara 5-20 hari, kemudian terbang keluar (Sejahtera, 2011) Gambar 2.3 : Pupa O. rhinoceros Sumber : adearisandi.wordpress.com. d. Kumbang Dewasa Kumbang dewasa berwarna cokelat gelap sampai hitam, mengkilap, panjang 35-50 mm dan lebar 20-23 mm dengan satu tanduk yang menonjol pada bagian kepala. Jantan memiliki tanduk yang lebih panjang dari betina. Jantan dapat dibedakan lebih akurat dengan ujung ruas abdomen terakhir dimana betina memiliki rambut. Umur betina lebih panjang dari umur jantan. Imago betina mempunyai lama hidup 274 hari, sedangkan imago jantan mempunyai lama hidup 192 hari. Dengan demikian, satu siklus hidup hama ini dari telur sampai dewasa sekitar 6-9 bulan (Susanto dkk, 2012)
Gambar 2.4 : Kumbang dewasa O. rhinoceros Sumber : adearisandi.wordpress.com. Tabel 2.1 siklus hidup kumbang tanduk (O. rhinoceros) Fase Jangka Waktu (hari) Telur 8-12 Instar I 10 21 Instar II 12 21 Instar III 60 165 Prepupa 8-13 Pupa 17 28 Kumbang Dewasa Betina 274 Kumbang Dewasa Jantan 192 Total 115-260 2.3.3. Tempat Berkembang biak Kumbang akan meletakan telur pada sisa-sisa bahan organik yang telah melapuk. Misalnya batang kelapa sawit yang masih berdiri dan telah melapuk, rumpukan batang kelapa sawit, batang kelapa sawit yang telah di cacah serta tumpukan tandan kosong kelapa sawit. Batang kelapa sawit yang diracun dan masih berdiri sampai
pembusukan pada sistem underplanting merupakan tempat berkembang biak yang paling baik bagi kumbang tanduk (Susanto dkk, 2012). 2.3.4. Kerusakan dan Gejala Serangan. Stadia kumbang tanduk yang menyerang tanaman kelapa sawit adalah imago atau kumbang dewasa. Makanan kumbang dewasa baik janan maupun betina adalah tajuk tanaman, dengan menggerek melalui pangkal petiole ke dalam titik tumbuh. Kegiatan ini menyebabkan terlihatnya kumpulan serat yang berada di dalam lubang gerekan (Susanto dkk, 2012) Kumbang tanduk hinggap pada pelepah daun yang agak muda, kemudian mulai menggerek kearah titik tumbuh tanaman. Panjang lubang gerekan dapat mencapai 4,2 cm dalam sehari. Apabila gerekan sampai ke titik tumbuh, kemungkinan tanaman akan mati atau tumbuh tunas baru satu atau lebih. Pucuk kelapa sawit yang terserang, apabila membuka nantinya pelepah daunnya akan kelihatan seperti kipas atau bentuk huruf V terbalik. (Sulistyo, 2010). 2.3.5. Sensus dan Monitoring. Pengendalian O. rhinoceros pada perkebunan kelapa sawit menggunakan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT). System PHT ini bertumpu pada kegiatan utama yaitu monitoring atau sensus hama kumbang tanduk atau intensitas kerusakan tanaman kelapa sawit. Hasil sensus ini selanjutnya digunakan sebagai dasar pengendalian O. rhinoceros. Ada dua cara yang digunakan untuk melakukan monitoring O. rhinoceros yaitu berdasarkan populasi kumbang di lapangan dan berdasarkan serangan baru atau intensitas kerusakan baru.karena keduanya memiliki kelemahan, sebaiknya dilakukan sekaligus pada saat sensus. Sensus berdasarkan populasi kumbang lebih cepat dan mudah sekali dilaksanakan serta dapat mengetahui potensi ancaman kumbang pada masa yang akan datang.
Sedangkan kelemahannya adalah jumlah kumbang belum tentu berkolerasi dengan kerusakan kelapa sawit di lapangan. Sensus berdasarkan kerusakan atau gejala baru mempunyai kelebihan yaitu mengetahui kondisi faktual kerusakan tanaman kelapa sawit, sedangkan kelemahannya adalah tidak mengetahui stadia dan populasi O. rhinoceros sehingga potensi ancaman ke depan tidak diketahui (Susanto dkk, 2012) 2.3.6. Pencegahan Menurut Rustam & Widanarko 2011. Ada beberapa cara pencegahan dia antaranya yaitu dengan menanam kacangan mucuna sp. Di sepanjang kanan-kiri batang kelapa sawit yang tumbang. Tujuannya agar semua permukaan batang atau tunggul tertutup rapat oleh kacangan dalam waktu cepat sehigga menghalangi kumbang betina meletakan telur untuk berkembang biaknya hama kumbang tanduk. Kemudian dengan cara pembedahan batang atau tunggul yang telah lapuk (bekas tanaman lama) dengan cara membelah bagian yang lapuk, lalu cari larva dan pupanya kemudian di musnahkan. 2.3.7. Pengendalian a. Pengendalian Hayati pengendalian hayati O. rhinoceros yang biasa digunakan adalah dengan jamur Metarhizium anisopliae (Tey & Ho, 1995; Sivapragasam & Tey, 1995; Ramle et al., 2005) dan Baculovirus oryctes. Untuk aplikasi virus saat ini belum digunakan secara luas di perkebunan kelapa sawit. Jamur Metarhizium dapat diproduksi sendiri dengan menggunakan larva-larva Oryctes yang terkumpul pada saat pengutipan larva. Cara aplikasi dapat secara tabur atau dengan penyemprotan tergantung pada formula yang tersedia. Untuk lebih meningkatkan efektifitas Jamur Metarhizium biasanya dilakukan aplikasi ulang yaitu 3 bulan. hal ini akan menambah peluang terjadinya kontak antara jamur dengan larva pada stadianya berbeda-beda. Aplikasi Metarhizium biasanya menggunakan dosis 20 gram per meter persegi untuk formulasi butiran (granul) (Sudharto et al., 2000) atau satu tablet yang diencerkan dalam 12 liter yang selanjutnya disemprotkan luasan kira-kira 40m². Aplikasi Metarhizium pada saat pengutipan larva akan mengurangi frekuensi pengutipan larva pada periode berikutnya.
b. Pengendalian Kimiawi Pengendalian kimiawi masih diperlukan dalam pengendalian hama Oryctes yang ditarik feromon masuk dalam ferotrap. Oleh karena itu pengguna insektisida untuk tanaman di sekeliling feromon menjadi wajib dilaksanakan. Dengan demikian, penggunaan insektisida tidak harus digunakan untuk semua tanaman kelapa sawit. Insektisida yang banyak digunakan yang berbahan aktif karbosulfan atau sipremetin. Insektisida berbahan aktif karbosulfan biasanya diaplikasikan dengan cara ditabur dengan dosis 5-10 gram per tanaman dengan frekuensi tergantung pada musim. Pada musim kemarau frekuensi aplikasi berkisar 2-3 minggu sekali, sedangkan pada musim penghujan biasanya dengan frekuensi aplikasi 7-10 hari sekali. Aplikasi pada tanaman yang agak tinggi dengan menggunakan alat tambahan berupa galah yang ujungnya ada wadah insektisida. Aplikasi insektisida sipremetin biasanya berupa penyemprotan. Kelebihan pengendalian secara kimiawi adalah teknik ini langsung mematikan kumbang O. rhinoceros apabila terjadi kontak antara kumbang dengan insektisida. Sedangkan kelemahannya adalah biaya yang mahal dan relative mencemarkan lingkungan. c. Pengendalian Mekanis / Manual Populasi larva Oryctes yang terlalu banyak pada tanaman TBM yang tidak memungkinkan untuk dilakukan pengutipan larva maka dapat dilakukan tindakan pengendalian secara fisik dan mekanik dengan menggunakan alat berat. Pada tempattempat yang dicurigai sebagai tempat berkembang biak Oryctes yang biasanya di tandan kosong kelapa sawit, rumpukan batang kelapa sawit, tunggul tanaman lain, serta tanah gambut dilakukan pelindasan dengan menggunakan alat berat sekaligus membongkar gundukan-gundukan yang besar dan selanjutnya dilakukan pengutipan secara larva hidup secara manual (Susanto dkk, 2012)
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Afdeling VII Kebun Sei Silau PT. Perkebunan Nusantara III (Persero). Dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Oktober 2016. 3.2. Desain/rancangan Penelitian atau Model Metode ini di laksanakan dengan cara menggunakan metode analisa deskriptif yaitu pengumpulan data tentang tingkat serangan hama kumbang tanduk (O. rhinoceros) dan pengendaliannya di Kebun Sei Silau PT. Perkebunan Nusantara (Persero). 3.3. Bahan dan Peralatan a. Air b. Insektisida Scud c. Sprayer 3.4. Tahapan Penelitian a. Survei lokasi b. Pengumpulan data c. Analisa data d. Penyusunan laporan 3.5. Pengamatan dan Indikator Pengamatan yang dilakukan pada penelitian ini sebagai berikut : a. Informasi kebun b. Data tingkat serangan hama tahun 2015 2016 c. Analisa efektivitas pengendalian hama kumbang tanduk dengan menggunakan Scud dengan bahan aktif Sipermetrin
3.6. Bagan Alur Penelitian Survey Lokasi Persiapan Penelitian Pengumpulan Data / Informasi Analisa Data Penyusunan Laporan