PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

dokumen-dokumen yang mirip
Pendidikan Agama Katolik

BAB 1 PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa peralihan antara anak-anak yang dimulai saat

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

PENGALAMAN REMAJA DALAM MENERIMA PENDIDIKAN SEKS

BAB I PENDAHULUAN. Remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa. reproduksi sehingga mempengaruhi terjadinya perubahan perubahan

PERSEPSI MASYARAKAT MENGENAI HUBUNGAN SEKSUAL PRANIKAH DI KALANGAN REMAJA (Studi Kasus di Desa Kuwu, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan)

BAB I PENDAHULUIAN. A. Latar Belakang Masalah. meningkat. Remaja menjadi salah satu bagian yang sangat penting terhadap

PENDIDIKAN SEKSUALITAS PADA REMAJA MELALUI MEDIA PEMBELAJARAN

KUESIONER PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. tentang kesehatan reproduksi ini penting untuk. diberikan kepada remaja, melihat semakin meningkatnya kasus-kasus remaja

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa belajar bagi remaja untuk mengenal dirinya,

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .

perubahan-perubahan fisik itu (Sarwono, 2011).

BAB I PENDAHULUAN. dapat diabaikan dalam kehidupan manusia. Namun demikian, orang tua masih

Pentingnya Sex Education Bagi Remaja

SKRIPSI. Proposal skripsi. Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S-1 Kesehatan Masyarakat

KUESIONER PENELITIAN FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS INDONESIA

BAB I PENDAHULUAN. terkecuali setiap individu akan mengalami masa peralihan ini.

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan reproduksi mempengaruhi kualitas sumber daya manusia,

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat melekat pada diri manusia. Seksualitas tidak bisa dihindari oleh makhluk

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seks selalu menarik untuk dibicarakan, tapi selalu menimbulkan kontradiksi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanan menuju masa dewasa.

BAB 1 PENDAHULUAN. remaja-remaja di Indonesia yaitu dengan berkembang pesatnya teknologi internet

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masalah seksualitas merupakan salah satu topik yang menarik untuk

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU ASERTIF DENGAN PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH PADA REMAJA PUTRI. Skripsi

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pada dasarnya pendidikan seks untuk anak dan remaja sangat perlu, peran

BAB I PENDAHULUAN. bagi setiap kalangan masyarakat di indonesia, tidak terkecuali remaja.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Ensiklopedia indonesia, perkataan perkawinan adalah nikah;

SEX EDUCATION. Editor : Nurul Misbah, SKM

BAB I PENDAHULUAN. tampak pada pola asuh yang diterapkan orang tuanya sehingga menjadi anak

BAB I PENDAHULUAN. keagamaan. Bahkan hubungan seksual yang sewajarnya dilakukan oleh

Pendidikan seksualitas remaja. Intan Silviana Mustikawati, SKM, MPH

KUESIONER GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG PERILAKU SEKSUAL DI SMK PENCAWAN MEDAN TAHUN 2014

BAB I PENDAHULUAN. berkembang mendorong semua lapisan masyarakat untuk masuk kedalam

BAB I PENDAHULUAN. yang ditandai adanya proses perubahan pada aspek fisik maupun psikologis

BAB 1 PENDAHULUAN. Y, 2009). Pada dasarnya pendidikan seksual merupakan suatu informasi

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. aktivitas seksual remaja juga cenderung meningkat baik dari segi kuanitas

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menikmati masa remajanya dengan baik dan membahagiakan, sebab tidak jarang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja dikenal sebagai masa peralihan dari anak-anak menuju

BAB 1 PENDAHULUAN. Perkembangan fisik remaja di awal pubertas terjadi perubahan penampilan

BAB I PENDAHULUAN. dengan orang lain, perubahan nilai dan kebanyakan remaja memiliki dua

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pada masa transisi yang terjadi di kalangan masyarakat, secara khusus

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Menurut Imran (1998) masa remaja diawali dengan masa pubertas,

Dewi Puspitaningrum 1), Siti Istiana 2)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. atau keinginan yang kuat tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. untuk dibicarakan. Hal ini dimungkinkan karena permasalahan seksual telah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa yang jangka

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang. Remaja adalah mereka yang berusia diantara tahun dan merupakan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Pengertian Perilaku Seksual Pranikah

(e) Uang saku rata-rata perbulan kurang dari Rp ,- (64,8%) dan sisanya (35,3%) lebih dari Rp per bulan.

BAB I PENDAHULUAN. Perilaku seksual khususnya kalangan remaja Indonesia sungguh

BAB 1 PENDAHULUAN. adanya penampakan karakteristik seks sekunder (Wong, 2009: 817).

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa.

BAB II TINJAUAN TEORITIS

KUESIONER KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA PONDOK PESANTREN GEDONGAN KABUPATEN CIREBON

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

SKRIPSI Diajukan UntukMemenuhi Salah Satu Persyaratan Meraih Derajat Sarjana S-1 Keperawatan. Oleh : ROBBI ARSYADANI J

Lampiran 1 PEDOMAN WAWANCARA

LAMPIRAN 1 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perkembangan zaman yang semakin pesat, menuntut. masyarakat untuk bersaing dengan apa yang dimilikinya di era

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. karena kehidupan manusia sendiri tidak terlepas dari masalah ini. Remaja bisa dengan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Anak usia sekolah yang dalam masa perkembangannya berada di dalam

BAB I PENDAHULUAN. khusus remaja seakan-akan merasa terjepit antara norma-norma yang baru

BAB I PENDAHULUAN. akurat khususnya teman (Sarwono, 2006). menarik secara seksual, apakah mereka akan bertumbuh lagi, apakah orang

BAB 1 PENDAHULUAN. manusia yang didalamnya penuh dengan dinamika. Dinamika kehidupan remaja ini

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa

BAB 1 PENDAHULUAN. sampai 19 tahun. Istilah pubertas juga selalu menunjukan bahwa seseorang sedang

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa

UKDW BAB I PENDAHULUAN

BAB V PENUTUP. dalam arti dia memiliki penyesuaian sosial (social adjustment) yang tepat.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. produktif. Apabila seseorang jatuh sakit, seseorang tersebut akan mengalami

BAB I PENDAHULUAN. Remaja adalah bagian yang penting dalam masyarakat, terutama di negara

BAB I PENDAHULUAN. Manusia diciptakan Tuhan dalam dua bentuk yang berbeda, baik. secara fisik maupun psikis, yang kemudian diberi sebutan sebagai

2015 IMPLEMENTASI PENDIDIKAN SEKSUAL UNTUK ANAK USIA DINI

PERSEPSI REMAJA TERHADAP PENDIDIKAN SEKS DI SEKOLAH SMP NEGERI X KOTA DEPOK TAHUN 2014

Standar Kompetensi 1. Memahami berbagai sistem dalam kehidupan manusia. Kompetensi Dasar 1.2. Mendeskripsikan tahapan perkembangan manusia

BAB II LANDASAN TEORI. perhatian penuh kasih sayang kepada anaknya (Soetjiningsih, 1995). Peran

BAB I PENDAHULUAN. antara masa kanak-kanak dan dewasa. Menurut WHO (World Health

Riska Megayanti 1, Sukmawati 2*, Leli Susanti 3 Universitas Respati Yogyakarta *Penulis korespondensi

Transkripsi:

MODUL PERKULIAHAN VIII PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK SEKSUALITAS MANUSIA Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh MKCU PSIKOLOGI 09 90038 Drs. Sugeng Baskoro, M.M Abstract This time the lecture material to discuss about human sexuality. There are two sides interesting. First, sex in a terms of nature. Second, sex in terms of gender. Both have sufficient matter to quaint is clearly. Kompetensi Mahasiswa memiliki pendalaman yang memadai untuk melihat dan menjelaskan arti seksualitas manusia dalam perspektif fisiologis, psikologis, dan sedikit teologis berkaitan dengan moral katolik. Diharapkan, mahasiswa bisa memecahkan beberapa problematika moral di dalamnya.. Materi

BAB VII PENTINGNYA PENDIDIKAN SEKSUALITAS MANUSIA Pengantar Sebenarnya, saya memang sudah lama memiliki sebuah harapan agar pendidikan seksualitas manusia ini masuk dalam kurikulum sekolah. Sayangnya, sulit sekali. Masalah ini dianggap tidak terlalu penting dibandingkan dengan sains-sains yang lain. Katakanlah matematika atau IPA. Masih mending ada materi agama yang bisa memberikan panduan moral dan siraman rohani bagi para siswa. Silahkan dibaca pada buku pegangan: Pengertian Seksualitas hal. 73 Biologis hal. 74 Psikologis hal. 76 Moralitas Kristiani 79 Lalu, seksualitas dititipkan di berbagai lini ilmu yang lain. Terutama pada pendidikan agama dan biologi. Padahal, dua hal itu seperti dua jalur yang berbeda dalam dunia pendidikan. Sekarang, dengan maraknya kasus-kasus seksual yang menimpa anak-anak dari TK sampai universitas semakin mendesaklah tuntutan agar pendidikan seksualitas diberikan di sekolah. Kita lihatlah berita di berbagai media, ada anak TK yang disodomi, anak SD yang diperkosa, ada anak SMP yang hobby nonton film porno, ada anak SMA yang membuang bayinya, ada mahasiswa yang berulangkali melakukan aborsi. Kasus itu masih lebih banyak lagi di lapangan seperti homoseksualitas, masturbasi, pelacuran, perkosaan, dll. Ironisnya, banyak kasus tersebut justru dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya melindungi mereka. Bukan berarti saya mengharapkan kasus-kasus tersebut agar mendapatkan momentum yang pas, tapi semua itu menjadi gunung es manakala sistem kemasyarakatan yang ada masih seperti ini. Pendidikan bagaimanapun bukanlah sebuah reaksi atas banyaknya kasus, tapi bagaimana membangun sebuah sistem yang preventif agar suasana kemasyarakatan bisa menjadi lebih sehat. Itulah sebabnya, sejak awal saya memberikan materi seksualitas manusia ini dalam perkuliahan kita. Pendidikan Seks Antara Perlu dan Tabu Sampai saat ini, banyak orang tua masih merasa tabu untuk membicarakan masalah seks dan seksualitas dengan anak-anaknya di lingkungan keluarga dengan alasan menjaga budaya ketimuran. Sebagian besar memilih untuk tetap diam dan berasumsi bahwa anakanak mereka akan memperoleh informasi yang bereka butuhkan melalui sekolah maupun media lainnya. Sayangnya, hanya sedikit sekolah yang mengajarkan pendidikan seksualitas 2

bagi anak-anak didiknya, itupun hanya terbatas pada pelajaran anatomi tubuh, pelajaran biologi. Orang tua dan pendidik di sekolah berasumsi bahwa membicarakan masalah seksualitas dengan anak-anaknya akan sama saja dengan mendorong mereka untuk melakukan hubungan seks. Sebenarnya topik terkait masalah seksualitas dapat dibicarakan sejak dini dan dilakukan secara terbuka. Buku-buku yang membahas seksualitas dapat dijadikan sarana untuk membantu, apabila orangtua masih merasa canggung untuk membicarakan masalah seks. Pendidikan seksualitas untuk anak-anak, remaja, dan pemuda sebaiknya juga mengangkat masalah mengenai gambaran biologis mengenai seks dan organ reproduksi pria dan wanita, masalah hubungan, seksualitas, cara melindungi diri serta ancaman penyakit menular seksual. Pendidikan seksualitas penting agar masyarakat, khususnya kaum muda, dapat memperoleh informasi mengenai seks dan seksualitas dari berbagai sumber, termasuk dari teman sebaya, lewat media masa baik cetak maupun elektronik, termasuk di dalam iklan, buku ataupun situs di internet. Siapa yang bertanggungjawab untuk mengajarkan pendidikan seksualitas bagi anak-anak, remaja dan pemuda? Pertama-tama perlu disadari bahwa lingkungan awal bertumbuhkembangnya seorang anak adalah lingkungan keluarga. Dalam hal ini, ayah dan ibu bertanggungjawab untuk memberikan pendidikan seksualitas kepada anak-anaknya, sehingga mereka memahami apa yang terjadi dan apa yang mungkin terjadi pada diri remaja. Pendidikan seksualitas di sekolah juga dapat memberikan peranan penting dalam hal peningkatan pengetahuan, tingkah laku dan sikap yang sesuai bagi para peserta didik. Selain itu, peran serta masyarakat secara luas juga diperlukan supaya tercipta iklim pemberian informasi mengenai pendidikan seks yang tepat dan sesuai dengan usianya. Jika pendidikan seksulitas telah dilakukan, baik secara formal dan informal, maka bisa dipastikan pernikahan dini, penyakit kelamin, kehamilan yang tidak diinginkan, pelecehan seksual, pemerkosaan dan lain-lain akan berkurang. Pendidikan Seksualitas dan Moralitas Pendidikan moral dan seksualitas cukup penting dewasa ini agar anak yang belum mendapatkan jawaban tentang seksualitas tidak mencari jawaban sendiri secara instan melalui metode coba-coba. Ataupun melalui berbagai sumber yang banyak penyimpangan. Coba anda klik di google kata seks, maka yang keluar akan aneh-aneh dan kebanyakan tidak mendidik. a. Pendidikan Seksualitas 3

Pendidikan seks adalah sebuah usaha untuk membimbing serta mengasuh seseorang agar mengerti tentang arti, fungsi dan tujuan seks, sehingga ia dapat memanfaatkan seksualitasnya secara baik, benar dan legal. Pendidikan seks dapat dibedakan antara sex instruction dan education in sexuality. Sex instruction ialah penerangan mengenai anatomi, seperti pertumbuhan rambut pada ketiak, dan mengenai biologi dari reproduksi, yaitu proses berkembang biak melalui hubungan untuk mempertahankan jenisnya. Education in sexuality meliputi bidang-bidang etika, moral, fisiologi, ekonomi dan pengetahuan lainnya yang di butuhkan agar seseorang dapat memahami dirinya sendiri sebagai makhluk seksual, serta mengadakan hubungan interpersonal yang baik. Dalam hal yang kedua, seksualitas manusia diajarkan dengan lebih menyeluruh. Pendidikan seks semacam ini merupakan salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks, khususnya untuk mencegah dampak-dampak negatif yang tidak di harapkan, seperti kehamilan yang tidak di rencanakan, penyakit menular seksual, depresi dan perasaan berdosa. Perbedaan pandangan tentang perlunya pendidikan seks bagi anak-anak dan remaja bisa terlihat dari penelitian WHO (Word Health, 1979) di enam belas negara Eropa, yang hasilnya ialah sebagai berikut: 1. 5 negara mewajibkannya di setiap sekolah, 2. 6 negara menerima dan mensahkannya dengan undang-undang tetapi tidak mengharuskannya di setiap sekolah, 3. 2 negara secara umum menerima pendidikan seks, tetapi tidak mengukuhkannya dengan undang-undang, dan 4. 3 negara tidak melarang, tetapi juga tidak mengembangkannya. Pendidikan seks, sebagaimana pendidikan lain pada umumnya seperti pendidikan agama, atau pendidikan Moral Pancasila, mengandung pengalihan nilai-nilai dari pendidik ke subjekdidik. Dengan demikian, informasi tentang seks diberikan secara kontekstual, yaitu dalam kaitannya dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Pendidikan seks yang kontekstual ini jadinya mempunyai ruang lingkup yang luas. Tidak terbatas pada perilaku hubungan seks semata tetapi menyangkut pula hal-hal lain, seperti peran pria dan wanita dalam anak-anak dan keluarga, dan sebagainya. b. Pendidikan Moral Moralitas adalah kesadaran moral, rasionalitas moral atau alasan mengapa seseorang harus (atau tidak harus) melakukan suatu hal. Moralitas juga dapat diartikan sebagai suatu pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai moral, yang merupakan segi kognitif dari moral. Pada segi kognitif ini perlu ditanamkan kepada anak didik/remaja. Perasaan moral lebih pada kesadran akan hal-hal ynag baik dan buruk. Perasaan moral ini sangat 4

mempengaruhi seseseorang untuk berbuat baik. Oleh sebab itu, perasaan moral peerlu diajarkan dan dikembangkan dengan memupuk perkembangam hati nurani dan sikap empati. Tindakan moral sebagai kemampuan untuk melakukan keputusan dan perasaan moral kedalam perilaku-perilaku nyata perlu difasilitasi agar muncul dan perkembang dalam pergaulan sehari-hari. Paling tidak, ada 3 unsur moral yang diperlukan dalam pendidikan yaitu penalaran moral, perasaan moral dan perilaku moral. Moralitas sifatnya lebih mendasar bila dibandingkan dengan kesantunan. Moral adalah disposisi hati seseorang ketika memutuskan sebuah tindakan. Romo Kees Bertens, seorang pakar Moral mengatakan bahwa tahap perkembangan moral merupakan suatu yang bersifat universal, tidak tergantung pada kebudayaan dan hal tersebut telah dibuktikannya melalui penelitiannya pada beberapa negara, namun ia juga berpendapat bahwa faktor kebudayaan mempunyai peran perkembangan moral pada tempo atau kecepatan perkembangannya. Tahap-tahap perkembangan moral umumnya dibagi menjadi 3 tingkatan yaitu 1).tingkat pramoral (kalau baik diberi imbalan, jahat diberi hukuman), 2). Tingkat convensional (ketaatan karena adanya peraturan) dan 3). tingkat autonomus (kesadaran dari dalam diri tentang benar dan salah). Nah, akhirnya dalam masalah seksualitas, yang diarahkan adalah agar masyarakat bisa memanfaatkan seksualitasnya yang kodrati secara baik, bukan hanya karena adanya larangan dan hukuman, tapi karena seseorang memang menyadari bahwa yang dia buat itu benar atau salah. Bagaimana seseorang bisa melindungi dirinya dan melakukan pencegahan yang perlu agar martabatnya sebagai makhluk seksual tidak dilanggar. Sekaligus, dia sendiri bisa mempertanggungjawabkan anugerah seksualnya. c. Materi Pendidikan Seks Berdasarkan Usia 1. Pendidikan di Keluarga Menurut Dr Rose Mini AP, M.Psi, psikolog pendidikan, seksualitas bagi anak wajib diberikan orangtua sedini mungkin. Saat anak masuk play group (usia 3-4 tahun), anak sudah mengenal organ tubuh mereka. Saat itu adalah masa yang tepat untuk mengawali pendidikan seksualitasnya. Salah satu cara menyampaikan pada anak dapat dimulai dengan mengajari mereka membersihkan alat kelaminnya sendiri, setelah buang air kecil maupun buang air besar, agar anak dapat mandiri dan tidak tergantung pada orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengijinkan orang lain menyentuh alat kelaminnya. Pada usia balita, orangtua dapat memberitahu berbagai organ tubuhnya, mulai rambut, kepala, tangan, kaki, perut, alat kelamin (penis/vagina). Karena pada masa ini, anak masih penuh di bawah tanggung jawab orang tua, menjadi masa yang sangat efektif untuk mengajarkan seksualitasnya secara biologis. Orang tua bisa 5

menjelaskan perbedaan alat kelamin dari lawan jenisnya, misalnya jika si anak memiliki saudara yang berlawanan jenis. Tahapan perkembangan psikoseksual yang dilalui anak terbagi menjadi empat fase yaitu fase pragenital saat anak belum menyadari fungsi dan perbedaan alat kelamin laki-laki dan perempuan pada masa ini di bagi menjadi dua yaitu masa oral pada usia (0-2 tahun) dan masa anal (2-4 tahun). Pada masa oral ditandai dengan kepuasan yang di peroleh anak melalui daerah oral atau mulut. Pada tahap ini, anak memperoleh informasi seksual melalui aktifitas mulutnya. Sementara pada masa anal kepuasan anak di dapat melalui aktivitas yang cenderung pada masa pertumbuhan. Ini sering dilakukan pada anak yang sering atau berlama-lama di kamar mandi. Pada fase yang ketiga adalah masa phallus, pada fase ini anak sudah mulai menyadari perbedaan jenis kelamin miliknya dengan lawan jenisnya. Yang terakhir masa laten yang umumnya berlangsung pada usia sekolah. Dalam, fase ini terbagi menjadi dua yaitu, pada fase awal, anak tidak lagi memperlihatkan sensasi yang dirasakan alat kelaminnya. Dan pada bagian akhir, anak mulai merasakannya kembali. Hal ini dikarenakan anak mulai menggenal dorongan seksual dan ketertarikan pada lawan jenis. Pada usia 5-10 tahun, anak cenderung aktif bertanya, misalnya dari mana aku berasal. Orang tua harus siap memberikan jawaban, misalnya dengan menunjukkan gambar ibu yang sedang hamil dan terlihat bayi di dalam perut ibu. Perlu juga diajarkan bahwa alat kelamin merupakan hal yang pribadi, jika ada orang lain yang memegang alat kelamin tanpa sepengetahuan orang tua, agar anak berteriak. Hal ini sebagai salah satu usaha preventif agar anak terhindar dari pelecehan seksual. Pada masa menjelang remaja dan remaja, biasanya anak-anak sudah mengalami pubertas, di mana perubahan tubuhnya secara morfologi sudah terlihat. Peran orang tua adalah menjelaskan mereka bahwa perubahan tersebut adalah bersifat alami, dan dialami oleh setiap orang. Masa Remaja adalah masa di mana bisa dikatakan organ seksualnya sudah matang. Di sini peran orang tua sangat di butuhkan dalam memberikan nilai moral, dampak negatif dan dampak hukum, agar anak-anak tidak yang terjerumus ke dalam masalah kawin muda. Maka dari itu perlunya pengawasan yang lebih ketat terhadap anak-anak yang ada pada masa remaja. Agar terhindar dari informasi-informasi yang tidak mendidik. Misalnya informasi dari teman, VCD porno, majalah, dan internet. Sering kali dengan gampang orang mendefinisikan masa remaja sebagai periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa, masa usia belasan tahun, atau seseorang yang menunjukan tingkah laku tertentu seperti susah diatur, mudah terangsang perasaannya, dan sebagainya. Sarwono mengatakan bahwa perubahan-perubahan fisik yang terjadi pada perkembangan jiwa remaja yang terbesar pengaruhnya adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin 6

panjang dan tinggi). Selanjutnya, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh sehingga menyebabkan mudahnya aktivitas seksual (terutama di kalangan remaja) dilanjutkan dengan hubungan seks. 2. Materi Pendidikan Seksual di Sekolah Pada prinsipnya, materi yang bisa diajukan di sekolah dan pendidikan tinggi sebisa mungkin mengikuti psikoseksialitas peserta didik. Oleh karena itu, di awal-awal masa pendidikan anak harus diajar sesuai dengan kebutuhannya. Seperti pengenalan dasar bahwa ia berbeda dengan lawan jenisnya. Selain itu, juga perlu bagi anak untuk juga dilatih kemandirian, termasuk berkaitan dengan organ seksualnya. Dengan demikian, ada kesinambungan antara apa yang dia pelajari di rumah dengan apa yang sekarang diterapkan di sekolah, khususnya taman kanak-kanak. Taman kanak-kanak, belum seluruhnya dituntut sebuah kurikulum pendidikan formal. Masa ini sangat efektif kalau digunakan sebagai masa pelatihan untuk memasuki masa sekolah yang sesungguhnya. Yang perlu diingat, masa ini belum semestinya mempersiapkan anak untuk belajar menghitung dan menulis. Baru pada tahap berikutnya, ketika anak masuk Sekolah Dasar, kurikulum pengajaran formal masih tetap diperlukan. Oleh karena itulah kita perlu melihat psikoseksual anak dan kemudian bisa membuat kurikulum secara lebih utuh dalam pendidikan. Usia 7-11 tahun merupakan masa di mana anak-anak mulai meninggalkan sikap egoisnya. Anak mulai bermain dengan kelompoknya. Anak sudah membangun banyak kesimpulan dari berbagai arah. Segala macam peraturan, apa yang baik dan tidak baik, apa yang bioleh dilakukan dan apa yang boleh dilakukan, serta berbagai hak dan kewajiban dipelajari anak pada usia ini. Saat ini merupakan saat yang tepat untuk memberikan pendidikan seks dan reproduksi dalam istilah yang lebih rumit. Pada usia ini rasa keingintahuan anak tentang aspek seksual mulai muncul. Sering ada pertanyaan berkaitan dengan organ reproduksinya dan membandingkan dengan orang lain. Sebagai orang tua, mengarahkan kegiatan yang sesuai dengan jenis kelaminnya. Biarkan anak tumbuh dengan sifat yang dimilikinya. Jangan pernah memaksakan anak. Pada usia 12-13 tahun, terjadi perubahan yang besar pada remaja, yaitu meningkatnya hormon seksual dan mulai berkembangnya organ-organ seksual serta organ reproduksi pada masa remaja. Rasa ingin tahu para remaja biasanya kurang disertai pertimbangan rasional akan efek lanjut perbuatannya. Masa peralihan atau transisi anak menjadi pemicu 7

permasalahan pada keluarga. Sebelum seorang anak menggajukan segudang pertanyaan, sebaiknya orang tua mengajak anak untuk berdiskusi. Pada usia 14-15 tahun seseorang memasuki masa remaja awal, dimana perkembangan fisik anak sangat menonjol. Remaja mulai mengerti tentang gengsi dan daya tarik pada lawan jenis. Para orang tua diharapkan mampu menjadi tempat sampah yang siap menampung masalah buah hati sang anak. Demikian halnya dengan peran guru yang menjadi orang tua siswa ketika di sekolah. Pada usia 15-20 tahun, masa-masa krisis identitas juga terus berlanjut. Mereka berusaha untuk menentukan identitas dirinya dengan cara coba-coba. Usia-usia ini adalah usia pemberontakan di mana seseorang tidak lagi puas dengan kemapanan yang dia dapatkan selama ini. Pendidikan seksualitas menjadi lebih rumit karena selain menanamkan sisi pengetahuan, juga menanamkan keteladanan. Moralitas sangat diperlukan dalam diri mereka. Pembiasaan yang baik diperlukan, lebih dari sekedar pengetahuan. Dengan pembiasaan yang baik, suara hati yang menentukan moralitas seseorang akan terbentuk dengan baik. Melihat fase-fase perkembangan psikologi berikut, maka ada beberapa pakar yang mencoba untuk memberikan materi-materi yang diperlukan sebagai kurikulum pendidikan seksualitas di sekolah. Berikut ini beberapa pertimbangan praktis untuk dijadikan kurikulum pendidikan yang saya ambil dari http://education-mantap.blogspot.com/. Killander (1971) menjelaskan peran sekolah sebagai lembaga yang mempunyai situasi kondusif serta edukatif tempat berlangsungnya proses pendidikan demi kedewasan anak didik. Sekolah merupakan lingkungan kedua setelah keluarga, di mana anak mendapatkan kasih sayang, pendidikan dan perlindungan. Oleh karena itu, pendidikan seks di sekolah merupakan komplemen dari pendidikan seks di rumah. Hal ini pernah ditegaskan oleh Pusat Kehidupan Keluarga di USA (Killander, 1971). Peran sekolah dalam memberikan pendidikan seks harus dipahami sebagai pelengkap pengetahuan dari rumah dan institusi lain yang berupaya keras untuk mendidik anak-anak tentang seksualitas dan bukan berarti bahwa sekolah mengambil porsi orang tua. Tujuan pendidikan seks di sekolah seperti yang diungkapkan oleh Federasi Kehidupan Keluarga Internasional ialah: Memahami seksualitas sebagai bagian dari kehidupan yang esensi dan normal. Mengerti perkembangan fisik dan perkembangan emosional manusia. Memahami dan menerima individualitas pola perkembangan pribadi. Memahami kenyataan seksualitas manusia dan reproduksi manusia. Mengkomunikasikan secara efektif tentang pertanyaan-pertanyaan yang berkenaan dengan seksualitas dan perilaku sosial. 8

Mengetahui konsekuensi secara pribadi dan sosial dari sikap seksual yang tidak bertanggung jawab. Mengembangkan sikap tanggung jawab dalam hubungan interpersonal dan perilaku sosial. Mengenal dan mampu mengambil langkah efektif terhadap penyimpangan perilaku seksual. Merencanakan kemandirian di masa depan, sebuah tempat dalam masyarakat, pernikahan dan kehidupan keluarga. Bagi guru yang memberikan pendidikan seks, Killander (1971) mengungkapkan bahwa guru mempunyai peran yang besar, yaitu : Membantu menyeleksi sasaran sosialitas dan pribadi yang dapat dicapai oleh anak didik. Membantu siswa untuk menyadari bahwa sarana tersebut sesuai untuk mereka dan membimbing mereka untuk menerimanya sebagai bagian dari hidup. Membimbing mereka untuk memilih aktivitas-aktivitas dan pengalaman yang baik dalam merencanakan masa depan. Oleh karena itu, Flake-Hobson (Joice, 1996) menyatakan bahwa pendidikan seks di sekolah harus meliputi pengajaran antara lain: Mengizinkan anak untuk berperan sesuai dengan jenis kelamin dalam ekspresi mereka, kepribadian mereka dan interaksi mereka dengan teman-temannya di kelas. Mengajak siswa untuk berdiskusi mengenai hal-hal yang berkenaan dengan sopan santun terhadap lawan jenis. Memperkenalkan siswa terhadap perkembangan peran seks. Misalnya seorang perempuan akan menjadi siswa yang berstatus ibu rumah tangga atau isteri. Menyediakan alat-alat audio visual (pandang dengar - red) mengenai perkembangan peran seks kepada siswa dan mengajak mereka untuk berdiskusi. Memperkenalkan siswa kepada bermacam-macam peran seks antara laki-laki dan perempuan. Tukan (1993) menguraikan materi pendidikan seks di sekolah sebagai berikut: Siswa SD kelas 5 dan 6 Tentang ciri seksualitas primer dan sekunder seorang pria, proses terjadinya mimpi basah, menjaga kebersihan kelamin, memakai bahasa yang baik dan benar tentang seks, kepribadian seorang siswa. Siswi kelas 5 dan 6 Tentang ciri seksualitas primer dan sekunder seorang wanita, proses terjadinya ovulasi dan menstruasi, keterbukaan pada orang tua, serta pendidikan dan kepribadian wanita. 9

Siswa SLTPK kelas 2 dan 3 Memperluas apa yang telah dibicarakan di SD kelas 5 dan 6, yakni identitas remaja, pergaulan, dari mana kau berasal, proses melahirkan, dan tanggung jawab moral dalam pergaulan. Siswa SLTA kelas 1 dan 2 Mendalami lagi apa yang telah diberikan di SD dan SLTP yakni secara psikologi pria dan wanita, paham keluarga secara sosiologi, masalah pacaran dan tunangan, komunikasi, pilihan cara hidup menikah atau membujang, pergaulan pria dan wanita, tubuh manusia yang bermakna, penilaian etis yang bertanggung jawab sekitar masalah-masalah seksual dan perkawinan. Menurut saya, pendidikan seksual itu harus terus diberikan juga di akhir-akhir masa pendidikan di SMA. Misalnya dengan studi-studi kasus berkaitan dengan tanggung jawab manusia akan seksualitasnya. Pada tahap berikutnya, kebanyakan orang sudah kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Sampai pada tahap ini, paling tidak seseorang sudah mendapatkan pendidikan seks yang memadai termasuk bagaimana memanfaatkannya secara bertanggung jawab. Maka pertanyaannya adalah bagaimana dengan di Pendidikan Tinggi? Mereka yang berada di Pendidikan Tinggi punya tanggung jawab yang lebih besar untuk kemudian mendidik masyarakat dan menggunakan nalar untuk berargumentasi. Maka, kajian-kajian intelektual berkaitan dengan seksualitas manusia masih tetap diperlukan di sini. Secara khusus, pada tahap ini harusnya yang dikaji secara khusus adalah berkaitan dengan tinjauan etisnya. Yang lainnya diandaikan sudah matang di bangku pendidikan dasar sampai menengah. 7.4. Penutup Dengan demikian, peranan sekolah dalam memberikan pendidikan seks merupakan suatu tanggung jawab moral bagi perkembangan anak didik. Peranan sekolah harus dimengerti bahwa sekolah merupakan suatu institusi yang bersifat komplementer dan membantu orang tua dalam memperlancar tugas dan peranan orang tua terutama dalam menanamkan sikap dan perilaku seksual anak terhadap hakikat seksuaitas manusia. Pendidikan seks haruslah dipandang sebagi suatu proses pengalihan nilai-nilai tentang seks yang benar yang didapat anak sebagai bimbingan, teladan dan kepedulian para orang tua dan pendidik dalam membantu anak membangun sikap batin yang sesuai dengan kodrat manusia, tidak hanya akal budi tetapi juga hati nurani. Pendidikan seks juga mempunyai fungsi memberikan landasan dalam membangun suatu hubungan yang objektif dan wajar antara anak dengan tubuhnya. Dengan demikian dia secara lebih mandiri bisa melindungi diri dan memanfaatkan anugerah seksualnya. 10

Nah, karena banyak hal yang penting berkaitan dengan pendidikan seksual tersebut yang tidak secara memadai diberikan selama di sekolah (karena dianggap tidak penting atau sudah diandaikan tanpa kurikulum), saya mencantumkan materi ini dalam perkuliahan agama. Maka, teman-teman mahasiswa sekalian silahkan membaca materinya di buku pegangan BAB VIII. Semoga berguna 11

Daftar Pustaka Buku Acuan 1. Kompendium Katekismus Gereja Katolik, Kanisius, Yogyakarta, 2009 (sebuah dokumen) 2. Herulono Murtopo, Beriman di Arus Jaman, Indiepublishing, Depok, 2014 3. Nahda Kurnia dan Ellen Tjandra, Bunda Seks Itu Apa Sih?, Gramedia, Jakarta, 2012 4. Sumiati, Dkk., Kesehatan Jiwa Remaja Dan Konseling, Trans Info Media, Jakarta, 2009 5. Widyastuti, Dkk., Kesehatan Reproduksi, Fitramaya, Yogyakarta, 2009 12