MAKALAH DIARE DAN KONSTIPASI

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Farmakoterapi I Diar dan konstipasi. Ebta Narasukma A, M.Sc., Apt

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Konstipasi adalah kelainan pada sistem pencernaan yang ditandai dengan

Pola buang air besar pada anak

Tips Mengatasi Susah Buang Air Besar

DIARE Oleh: Astrie Rezky Defri Yulianti Intan Farah Diba Angela Juliana Nur Aira Juwita Risna Sri Mayani Syarifa Andiana Tri wardhana Yuvi Zulfiatni

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Lampiran 1 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2011

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. ke saku yang berisi informasi suatu tema tertentu (Taufik, 2010). Buku

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

RENCANA TERAPI A PENANGANAN DIARE DI RUMAH (DIARE TANPA DEHIDRASI)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Telaah Pustaka Definisi Diare Diare adalah peningkatan frekuensi buang air besar dengan konsistensi lebih lunak atau

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN. pada buang air besar perharinya. Berat daily stool dapat melebihi berat normal ratarata

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

SATUAN ACARA PENYULUHAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DIARE AKUT. Berdasarkan Riskesdas 2007 : diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan 25,2% pada anak usia 1-4 tahun.

Apa Penyebab Diare? Penyebab diare pada bayi/anak dan dewasa ada yang berbeda. Penulis akan menjelaskan penyebab bayi/anak dan dewasa tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit diare adalah salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TUGAS BIOLOGI DASAR DIARE. Oleh : Nama : Yunika Dewi Wulaningtyas NIM : Prodi : Pendidikan Matematika (R) Angkatan : 2008/2009

BAB I PENDAHULUAN. Masalah kesehatan anak merupakan salah satu masalah utama

3. Apakah anda pernah menderita gastritis (sakit maag)? ( ) Pernah ( ) Tidak Pernah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

DIARE VS KONSTIPASI. Yeni Farida S.Farm., M.Sc., Apt

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Written by Administrator Sunday, 07 August :30 - Last Updated Wednesday, 07 September :03

BAB 1 PENDAHULUAN. 2005, angka harapan hidup orang Indonesia adalah 70,0 tahun. Tahun 2006

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Diare. Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4x pada

Christopher A.P, S. Ked

BAB V HASIL PENELITIAN

SISTEM PAKAR DIAGNOSA PENYAKIT DIARE (GASTROENTRITIS) DENGAN MENGGUNAKAN FORWARD CHAINING

BAB I KONSEP DASAR. Gastroenteritis adalah peradangan dari lambung dan usus yang

KERANGKA ACUAN PROGRAM PEMBERANTASAN PENYAKIT DIARE

Kanker Usus Besar. Bowel Cancer / Indonesian Copyright 2017 Hospital Authority. All rights reserved

CATATAN PERKEMBANGAN. (wib) abdomen

BAB II TINJAUAN TEORI. berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir darah/lendir saja. a. Klasifikasi diare menurut terjadinya, yaitu :

BAB 1 PENDAHULUAN. hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah (Ngastiyah, 1997). Hal ini

III. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Setelah diberikan penyuluhan ibu ibu atau warga desa mampu : Menjelaskan pengertian diare

Dehidrasi. Gejala Dehidrasi: Penyebab Dehidrasi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dalam faeces (Ngastiah, 1999). Menurut Suriadi (2001) yang encer atau cair. Sedangkan menurut Arief Mansjoer (2008) diare

SMP JENJANG KELAS MATA PELAJARAN TOPIK BAHASAN VIII (DELAPAN) ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA) SISTEM PENCERNAAN MANUSIA

BAB 1 PENDAHULUAN. buang air besar (Dewi, 2011). Penatalaksaan diare sebenarnya dapat. dilakukan di rumah tangga bertujuan untuk mencegah dehidrasi.

BAB 1 PENDAHULUAN. sehari (Navaneethan et al., 2011). Secara global, terdapat 1,7 miliar kasus diare

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Konstipasi adalah perubahan dalam frekuensi dan konsistensi

BAB I PENDAHULUAN. masa pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun),

PENANGANAN DIARE. B. Tujuan Mencegah dan mengobati dehidrasi, memperpendek lamanya sakit dan mencegah diare menjadi berat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pelayanan Kesehatan bagi Anak. Bab 7 Gizi Buruk

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha


Pokok Bahasan: GASTROENTEROLOGI dan HEPATOLOGI Sakit perut berulang M. Juffrie

BAB I LATAR BELAKANG. bayi dan balita. Seorang bayi baru lahir umumnya akan buang air besar sampai

Maria Ulfa Pjt Maria Lalo Reina Fahwid S Riza Kurnia Sari Sri Reny Hartati Yetti Vinolia R

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dalam waktu yang singkat atau kurang dari dua minggu (Spruill and Wade,

BAB 1 PENDAHULUAN. atau dapat pula bercampur lendir dan darah/lendir saja (Ngastiyah, 2005). Pada

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Diare berasal dari bahasa Yunani yaitu diarrea yang berarti mengalir melalui

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

SD kelas 6 - ILMU PENGETAHUAN ALAM BAB 12. RANGKA DAN SISTEM ORGAN PADA MANUSIALatihan soal 12.6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Keluhan dan Gejala. Bagaimana Solusinya?

Obat Swamedikasi Dyspepsia 1. Antasida Komposisi Alumunium hidroksida 200 mg Magnesium hidroksida 200 mg Indikasi

Setiap tahun, diperkirakan terdapat 2 miliar kasus diare di seluruh dunia. Pada tahun 2004, diare menjadi penyebab kematian tertinggi ketiga di

Buku Saku Petugas Kesehatan

IIMU PENGETAHUAN ALAM KELAS V SD

BAB I PENDAHULUAN. masalah kesehatan di indonesia terutama pada anak-anak. Diare harus

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 1 PENDAHULUAN. Diare akut masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak di

OBAT GASTROINTESTINAL

BAB I PENDAHULUAN. Diare merupakan penyakit yang umum dialami oleh masyarakat. Faktor

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan kesehatan di Indonesia saat ini dihadapkan pada dua

I. PENDAHULUAN. A. Latar belakang. disebabkan oleh protozoa, seperti Entamoeba histolytica, Giardia lamblia dan

Sistem Pencernaan Manusia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dr.Or. Mansur, M.S. Dr.Or. Mansur, M.S

BAB VI PEMBAHASAN. subyek penelitian di atas 1 tahun dilakukan berdasarkan rekomendasi untuk. pemberian madu sampai usia 12 bulan.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Transkripsi:

MAKALAH DIARE DAN KONSTIPASI Dosen Pengampu : Putu Dyana Christasani, M. Sc., Apt. Penyusun : Soya Hutagalung 158112018 Kezia Grace 158114019 Johannes Sianturi 158114020 Monika Gita 158114021 Ria Nonita 158114022 Claresta Sartika 158114023 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2017

A. DIARE 1. Definisi Diare Diare adalah suatu kondisi dimana terjadi peningkatan frekuensi buang air besar sampai lebih dari tiga kali sehari disertai dengan penurunan konsistensi tinja sampai ke bentuk cairan. Diare sering dianggap gangguan penyakit yang ringan, namun penanganan yang tidak tepat dan atau terlambat dapat membuat penderita diare mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan dan bahkan menimbulkan kematian (Djunarko, 2011). 2. Klasifikasi diare Berdasarkan durasinya, diare umumnya dibedakan menjadi dua ; a. Diare Akut Diare akut yaitu buang air besar dengan frekuensi yang meningkat dan konsistensi tinja yang lembek atau cair dan bersifat mendadak datangnya dan berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu. b. Diare Kronis Diare kronis yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah selama masa diare tersebut. Penyebabnya diakibatkan luka oleh radang usus, tumor ganas dan sebagainya. Diare kronik lebih komplek dan faktor-faktor yang menimbulkannya ialah infeksi bakteri, parasit, malabsorbsi, malnutrisi dan lain-lain (Depkes RI 2011). 3. Penyebab Diare a. Infeksi enteral Infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Infeksi enteral ini meliputi: Infeksi bakteri: Vibrio, E.coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas dan sebagainya. Infeksi virus: Enterovirus (Virus ECHO, Coxsackie, Poliomyelitis), Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus dan lain-lain.

Infeksi parasit : Cacing (Ascaris, Trichiuris, Oxyuris, Strongyloides), protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Trichomonas hominis), jamur (candida albicans) b. Faktor psikologis Rasa takut dan cemas yang berlebihan, walaupun faktor ini jarang dapat menimbulkan diare dibandingkan dengan faktor-faktor lainnya (Depkes RI 2011). c. Gangguan fungsi pencernaan dan penyerapan makanan umumnya menyebabkan diare kronis d. Faktor makanan dan minuman Alergi terhadap makanan, susu, obat-obatan, makanan basi, dapat juga karena makanan yang tercemar, umumnya diare yang ditimbulkan bersifat akut e. Pertumbuhan flora normal (bakteri yang normal berada di usus) yang tidak terkendali, umumnya menyebabkan diare kronis (Djunarko, 2011). 4. Manajemen Terapi Manajemen diare difokuskan untuk mencegah kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan, mengatasi timbulnya gejala, serta mengobati penyakit sekunder yang ditimbulkan jika ada. a. Terapi Farmakologi 1) Adsorben dan obat pembentuk massa Kerja obat : menyerap racun, mengurangi frekuensi buang air besar dan memadatkan massa tinja. Contoh obat : Norit (karbo-adsorben) Aturan pakai : Dewasa: 3-4 tablet @250mg, 2-3 x sehari. Anak : 1-2 tablet @250mg, 2-3 x sehari. Efek samping : muntah, konstipasi, feses hitam. Obat dengan kandungan bahan aktif norit yang beredar di pasaran : Bekarbon, Norit.

2) Rehidrasi Oral Kerja obat : glukosa menstimulasi secara aktif transport Na dan air melalui dinding usus sehingga mencegah tubuh kekurangan cairan yang banyak keluar bersama kotoran. Contoh obat : Oralit Aturan pakai : 1 bungkus serbuk oralit dilarutkan dalam 200 ml (1 gelas) Keadaan diare Umur < 1 tahun 1-4 tahun 5-12 tahun Dewasa Tidak ada dehidrasi (mencegah dehidrasi) Dengan dehidrasi (mengatasi dehidrasi) 100 ml (0,5 gelas) 300 ml (1,5 gelas) 100 ml (0,5 gelas) Setiap kali BAB berikan oralit 200 ml 300 ml 400 ml (1 gelas) (1,5 gelas) (2 gelas) 3 jam pertama berikan oralit 600 ml 1200 ml 2400 ml (3 gelas) (6 gelas) (12 gelas) Setiap kali BAB berikan oralit 200 ml 300 ml 400 ml (1 gelas) (1,5 gelas) (2 gelas) Efek samping : hiperkalemi dan hipernatremia. Obat di pasaran : Oralit, Alphatrolit, Aqualyte, Bioralit, Corsalit 3) Kombinasi kaolin-pektin dan attapulgite Kerja obat : untuk pengobatan simptomatik pada diare non-spesifik Aturan pakai : Dewasa dan anak usia lebih dari 12 tahun : 1 tablet setiap habis BAB, maksimum 12 tablet/hari Anak 6-12 tahun : 1 tablet setiap habis BAB, maksimum 6 tablet/hari Efek samping : konstipasi, impaksi feses. Obat di pasaran : Akita, Andikap, Anstrep, Neo diastop, Neo diarex, Neo eterodiastop, Neo entrostop, Entrogard, Neo asta, Kaolimec, Salfaplas, New guanistreep 4) Antimotilitas Kerja obat : menghambat gerak peristaltik usus dan meningkatkan penyerapan kembali cairan di usus besar. Contoh obat : Loperamid

Aturan pakai : Dewasa : 2 tablet @2 mg sekaligus disusul dengan 1 tablet setiap 2 jam sampai diare berhenti, mak 8 tablet/hari. Anak > 8 tahun : 1 tablet @2 mg, 5 x sehari. Anak < 8 tahun : sirup dengan dosis berdasarkan berat badan 3kg : 4x sehari ¼takaran, 5kg : 4x sehari ¼ - 0,5 takaran, 10kg : 4x sehari 0,5 1 takaran, 6x sehari 1 takaran, 15kg : 5x sehari 1,5 takaran (1 takaran = 5 ml). Efek samping : kejang perut, gangguan lambung, mulut kering, ruam kulit dan pusing Obat di pasaran : Imodium,Alphamido, Amerol, Antidia, Colidium, Diadium, Lexadium, Loremid, Motilex, Lomodiumt, Lodiag, Lopamid b. Terapi Non Farmakologi (Djunarko, 2011) Banyak minum air putih Pada bayi, ASI boleh tetap diberikan, tetapi untuk susu formula harus dibuat lebih encer sampai dua kali lipat Hindari kopi, teh dan susu Makanan padat diganti dengan bubur, roti, atau pisang Memeriksa penyebab diare, apakah disebabkan oleh makanan, obat, susu, atau lainnya sehingga dapat mencegah terulangnya diare Memeriksa tinja, apakah terdapat lendir atau darah atau tidak Memeriksa tanda-tanda dehidrasi ringan sampai berat Cuci tangan setiap buang air untuk mencegah penularan Menjaga kebersihan diri dan lingkungan (Djunarko, 2011) 5. Penderita disarankan ke dokter apabila : a) Diare terjadi terus-menerus lebih dari 48 jam b) Terdapat darah atau lendir pada tinja c) Diare disertai demam, muntah-muntah, dan rasa sakit yang tak tertahankan pada bagian perut d) Menunjukkan tanda-tanda dehidrasi berat, seperti terus mengantuk, mata cekung, pucat, kehilangan nafsu makan dan minum, pingsan e) Diare terjadi pada wania hamil (dikhawatirkan berpengaruh pada janinnya)

B. KONSTIPASI 1. Definisi Konstipasi Konstipasi atau sembelit adalah suatu keadaan di mana proses buang air besar menjadi sulit, frekuensinya jarang, dan kadang tidak tuntas. Pada kondisi normal, biasanya pergerakan isi usus paling sedikit 3x dalam satu minggu. Sehingga apabila sudah tidak bisa BAB lebih dari 2 hari dapat dikatakan sudah mengalami kondisi konstipasi (Harrison MD et al, 2005). 2. Penyebab Konstipasi a. Kurangnya konsumsi makanan berserat, seperti sayur dan buah-buahan b. Kurangnya cairan/minum karena pemasukan cairan juga mempengaruhi eliminasi feses c. Kurangnya berolahraga d. Kebiasaan mengonsumsi obat pencahar untuk membantu buang air besar karena jika tidak mengonsumsi merasa sulit buang air besar e. Gangguan psikiatrik misalnya depresi/stress, gangguan pola makan 3. Manajemen Terapi (Harrison MD et al, 2005). Manajemen konstipasi adalah untuk mengurangi gejala, mengembalikan kebiasaan defekasi yang normal, keluarnya feses yang berbentuk dan lunak setidaknya 3 kali per minggu tanpa mengejan, dan meningkatkan kualitas hidup dengan efek samping minimal a. Terapi Farmakologi 1) Bisakodil Kerja obat : termasuk obat pencahar (laksatif) yang bekerja langsung sebagai stimulant, merangsang dinding usus besar untuk berkontraksi sehingga mampu mendorong keluarnya tinja Aturan pakai : Dewasa : 5-10mg sebelum tidur (apabila bentuk tablet) atau 10mg pada pagi hari apabila obat dalam bentuk suppositoria Untuk anak-anak usia 4-10 tahun : Tanyakan dosis pada dokter. Namun biasanya dosis yang direkomendasikan adalah 5 mg perhari sebelum tidur malam dalam bentuk suppositoria

Efek samping dan peringatan: kejang perut, tetapi hal ini jarang terjadi. Bisakodil tidak boleh dikunyah atau digerus, tidak boleh diminum dengan susu, dan tidak dianjurkan digunakan oleh wanita hamil Obat dengan kandungan bisakodil yang beredar dipasaran : Dulcolax (tablet dan suppositoria), Bicolax (tablet), Codylax (tablet), Prolaxan (tablet), Laxana (tablet dan suppositoria) 2) Laktulosa Kerja obat : sebagai pencahar dengen membentuk asam-asam organik di dalam usus besar yang menahan air sehingga tinja menjadi lunak dan ada rangsangan untuk buang air besar Aturan pakai : Dosisnya tergantung pada kadar laktulosa dalam setiap sediaan sirup. Dosis lazimnya untuk larutan laktulosa 50% adalah 15-30ml di pagi hari Efek samping : perut kembung dan banyak gas. Obat ini aman digunakan untuk wanita hamil Obat dengan kandungan laktulosa yang beredar di pasaran : Duphalac, Lactulax, Laxidilac, Dulcolactol 3) Bahan Osmotik Bahan osmotik berfungsi untuk mengumpulkan cairan ke usus besar untuk melunakkan tinja sehingga mudah dikeluarkan. Umumnya obat ini terdiri atas beberapa kandungan bahan osmotic seperti garam-garam fosfat, magnesium, sulfat dan gula seperti sorbitol. Umumnya obat pencahar dengan kandungan bahan-bahan osmotik ini berbentuk enema (bentuk sediaan obat berupa cairan yang dimasukkan melalui anus/dubur). Obat dengan kandungan bahan osmotik yang beredar di pasaran : Microlax b. Terapi non-farmakologi Memperbaiki pola makan Meningkatkan konsumsi serat seperti buah-buahan dan sayur-sayuran direkomendasikan sebagai terapi awal konstipasi

Aktivitas Fisik Kurangnya aktivitas fisik berhubungan dengan peningkatan risiko konstipasi. Berolahraga secara teratur karena olahraga akan membantu meningkatkan fungsi pencernaan. Konsumsi Air Konsumsi air adalah kunci penatalaksanaan, pasien harus dianjurkan minum setidaknya 8 gelas air per hari (sekitar 2 liter per hari) Kurangi stress Hilangkan kebiasaan mengonsumsi obat pencahar secara rutin untuk membantu buang air besar, gunakan obat pencahar hanya apabila benarbenar diperlukan (Sianipar, 2015) 4. Pasien harus ke dokter apabila : Konstipasi terjadi lebih dari seminggu maupun sangat sering kambuh, maka pasien bisa memeriksakan diri ke dokter untuk meningatkan kualitas hidupnya

DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2011. Buku Saku Diare. Edisi 2011. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Djanuarko Ipang dan Yosephine, 2011. Swamedikasi yang Baik dan Benar. Klaten : PT Intan Sejati. hal. 46-49. Harrison MD et al. 2005. Diarrhea and Constipation. Harrison's Principles of Internal Medicine 16thed. part 2 sec 6. USA: McGraw Hill. pp. 231-233. Sianipar, N.B., 2015. Konstipasi pada Pasien Geriatri. Malang: Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya...