4.1. Hasil Karakteristik Latosol Cikabayan IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Bahan tanah yang digunakan dalam percobaan pupuk organik granul yang dilaksanakan di rumah kaca University Farm IPB di Cikabayan, diambil dari kebun Cikabayan, dengan karakteristik tanah disajikan pada Tabel 3, yaitu ph tanah termasuk agak masam, kandungan C-organik tanah tergolong rendah, N- total dan P tanah rendah, kandungan Ca, Mg, K, Na, KTK, KB tanah tergolong rendah, dan kejenuhan Al Latosol tergolong sedang selanjutnya tekstur tanah tergolong liat. Pemupukan N pada tanaman jagung mutlak diperlukan apabila kadar N-total kurang dari 0,4%. Dengan karakteristik tersebut, maka tanah percobaan (Latosol) termasuk tanah dengan kesuburan yang relatif rendah. Tabel 3. Karakteristik Tanah Cikabayan Karakteristik Tanah Penetapan Hasil ph (H 2 O) 5,20 ph (KCl) 4,40 C-organik (%) 1,68 N-total (%) 0,17 Sifat Kimia Tanah P-Bray (ppm) 6,7 Sifat Fisik Tanah Debu (%) Ca (me/100 g) 2,18 Mg (me/100 g) 1,02 K (me/100 g) 0,15 Na (me/100 g) 0,20 KTK (me/100 g) 15,40 KB (%) 23,05 Al (me/100 g) 2,46 H (me/100 g) 0,29 Pasir (%) 4,42 Liat (%) 10,61 84,97
16 Tinggi Tanaman, Bobot Bagian Atas (Berangkasan) dan Akar Tanaman Jagung Hasil analisis ragam (Tabel Lampiran 10,11,12) menunjukkan bahwa pemupukan berpengaruh sangat nyata pada tinggi tanaman (30 HST) dan bobot berangkasan, serta berpengaruh nyata terhadap bobot akar tanaman jagung. Hasil uji lanjut (Tabel 4) menunjukkan bahwa perlakuan 75%PO+ 50%S dan 75%PO+ 75%S memiliki tinggi yang lebih rendah daripada perlakuan Standar, 100%PO+ 50%S, 100%PO+ 75%S, dan 125%PO+ 50%S, namun diantara keempat perlakuan tersebut menunjukkan tinggi tanaman yang tidak berbeda nyata. Tabel 4 juga menunjukkan, tinggi tanaman tertinggi ditemukan pada perlakuan kombinasi pupuk organik yang disertai pupuk standar pada perlakuan dosis 100%PO +75%S. Namun, pada perlakuan tersebut tidak berbeda nyata dengan kombinasi dosis pupuk organik dengan pupuk standar lainnya. Pemberian pupuk organik dikombinasikan dengan pupuk standar dengan dosis tersebut juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan dosis pupuk standar saja, yang berarti penambahan pupuk organik meningkatkan efektifitas pupuk standar meskipun dosis pupuk standar dikurangi. Tabel 4. Pengaruh Perlakuan Pemupukan pada Tinggi Tanaman 4 MST, Bobot Bagian Atas (Berangkasan) dan Akar setelah Panen Perlakuan Tinggi Tanaman (cm) Bobot Berangkasan (g/pot) Bobot Akar (g/pot) Kontrol 44,21 a 4,68 a 4,70 a Standar (S) 120,88 d 152,35 c 96,28 bc 75% PO+50% S 92,94 b 95,80 b 53,65 ab 75% PO+75% S 94,94 bc 116,20 bc 67,98 b 100% PO+50% S 109,31 cd 114,50 bc 77,03 bc 100% PO+75% S 117,19 d 137,60 c 124,12 c 125% PO +50% S 106,19 bcd 130,75 bc 66,45 b Hasil uji lanjut pada bobot berangkasan, pupuk dengan dosis perlakuan 75%PO+ 50%S nyata lebih rendah daripada perlakuan standar dan perlakuan 100%PO+ 75%S, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (Tabel 4). Pada bobot akar, pengaruh perlakuan 100% PO+ 75% S nyata lebih tinggi daripada perlakuan 75% PO+ 50% S; 75% PO+75% S; dan 125% PO+ 50% S tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya (standar dan 100% PO+ 50% S). Pemberian pupuk terhadap tanaman meningkatkan bobot akar tanaman yang
17 berarti perkembangan perakaran lebih banyak, yang akan berpengaruh terhadap kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara dari tanah. Bobot Tongkol dengan Kelobot dan Tanpa Kelobot Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi pupuk organik dan pupuk standar memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap bobot tongkol (Tabel Lampiran 13 dan 14). Hasil uji lanjut (Tabel 5) menunjukkan pemberian pupuk organik yang dikombinasikan dengan pupuk standar memiliki bobot tongkol yang cenderung lebih tinggi dibandingkan perlakuan standar saja dan nyata lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Bobot tongkol berkelobot dan bobot tongkol tanpa kelobot paling besar pada perlakuan 100% PO+ 50% S dengan berat rata-rata 72,40 g/tongkol berkelobot dan 49,93 g/tongkol tanpa kelobot. Tabel 5. Pengaruh Perlakuan Pemupukan pada Bobot Tongkol+Kelobot dan Bobot Tongkol tanpa Kelobot Perlakuan Bobot Tongkol+ Kelobot (g/tongkol) Bobot Tongkol tanpa Kelobot (g/tongkol) Persentase Bobot tongkol tanpa kelobot dengan tongkol berkelobot Kontrol 0,00 a 0,00 a 0 Standar (S) 43,03 b 31,47 b 73% 75% PO+50% S 60,60 bc 44,85 bc 74% 75% PO+75% S 60,80 bc 39,07 bc 64,3% 100% PO+50% S 72,40 c 49,93 c 68,9% 100% PO+75% S 62,95 bc 35,80 bc 56,9% 125% PO+50% S 49,73 b 35,20 bc 70,8% Kadar dan Serapan Hara pada Bagian Atas (Berangkasan) dan Akar Tanaman Jagung Hasil analisis ragam menunjukkan pemberian pupuk organik dan pupuk standar tidak berpengaruh nyata terhadap kadar hara N dan K bagian atas tanaman (Tabel Lampiran 15 dan 17). Namun, perlakuan pemupukan berpengaruh sangat nyata pada kadar hara P dan serapan hara N,P, K bagian atas tanaman jagung (Tabel Lampiran 16, 18, 19, dan 20). Hasil uji lanjut terhadap kadar hara P bagian atas tanaman menunjukkan bahwa perlakuan kombinasi pupuk organik dan pupuk standar dengan dosis 100%PO + 75%S memiliki kadar hara P nyata lebih tinggi daripada perlakuan
18 lain dengan kadar hara P 109.20 mg/kg (Tabel 6). Serapan hara N dan K bagian atas tanaman pada dosis perlakuan 100%PO+ 75%S juga cenderung lebih tinggi namun tidak berbeda nyata dibandingkan perlakuan pemupukan lainnya, sedangkan serapan hara P tanaman pada dosis perlakuan 100%PO+ 75%S berbeda nyata dan lebih tinggi daripada perlakuan lainnya. Secara keseluruhan, serapan hara N,P, K tertinggi berada pada dosis perlakuan 100% PO+ 75% S. Tabel 6. Kadar dan Serapan Hara Bagian Atas Tanaman Jagung dari Pengaruh Pupuk Organik. Kadar Hara Serapan Hara Perlakuan N P K N P K (%) (mg/kg) (%) (mg/pot) (mg/pot) (mg/pot) Kontrol 1,15 19,26a 0,43 18,89a 0,03a 7,13a Standar 1,23 21,25a 0,55 486,04d 0,87abc 218,83bc 75% PO+50% S 1,13 17,52a 0,55 307,13b 0,48ab 150,42b 75% PO+75% S 1,01 31,91a 0,63 349,58bc 1,18bc 216,93bc 100% PO+50% S 1,23 47,14a 0,54 456,42cd 1,67c 201,58bc 100% PO+75% S 1,12 109,20b 0,53 509,41d 4,78d 247,21c 125% PO +50% S 1,02 19,11a 0,46 413,75bcd 0,79abc 191,74bc Hasil analisis ragam kadar dan serapan hara akar tanaman jagung menunjukkan pemupukan tidak berpengaruh nyata pada kadar hara N, P dan serapan hara N, P, K akar tanaman (Tabel Lampiran 21, 22, 24, 25 dan 26). Namun, perlakuan pemupukan berpengaruh nyata pada kadar hara K (Tabel Lampiran 23). Hasil uji lanjut (Tabel 7) kadar hara K akar tanaman jagung menunjukkan perlakuan kombinasi pupuk organik dan pupuk standar cenderung lebih tinggi daripada kontrol meskipun antar perlakuan tidak berbeda nyata. Tabel 7. Kadar dan Serapan Hara Akar Tanaman Jagung dari Pengaruh Pupuk Organik Granul Kadar Hara Serapan Hara Perlakuan N P K N P K (%) (%) (%) (mg/pot) (mg/pot) (mg/pot) Kontrol 0,28 0,10 0,38a 3,84 1,55 5,42 Standar 0,33 0,15 0,52ab 97,61 41,52 144,02 75% PO+50% S 0,30 0,15 1,14c 56,99 27,00 208,01 75% PO+75% S 0,26 0,14 0,74b 69,85 42,09 208,87 100% PO+50% S 0,27 0,15 0,63ab 81,96 44,61 192,35 100% PO+75% S 0,26 0,11 1,04c 186,73 70,06 759,99 125% PO +50% S 0,27 0,12 1,24c 76,97 34,32 431,49
19 Perlakuan kombinasi pupuk organik dan pupuk standar tidak berpengaruh nyata terhadap serapan hara N, P, dan K akar tanaman, namun serapan hara N, P, K tersebut cenderung lebih tinggi pada kombinasi perlakuan 100%PO + 75%S dibandingkan dengan kombinasi perlakuan pemupukan lain. Kadar Hara Tanah Setelah Percobaan Latosol sebelum percobaan memiliki ph 5.2 dengan kandungan C-org 1,68 %, N-total 0,17% dan KTK tanah 15,40 me/100g. Tanah Latosol setelah perlakuan pemupukan menunjukan nilai ph yang masih tergolong masam namun perlakuan pemberian pupuk standar bersamaan dengan pupuk organik menunjukkan nilai ph tanah yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan pupuk standar saja (Tabel 8). Kadar hara tanah Latosol, Cikabayan setelah perlakuan menunjukkan kadar C-organik, N-total dan KTK tanah lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Selain itu, penggunaan kombinasi pupuk organik dengan pupuk standar menghasilkan kadar C-organik, N-total, dan KTK tanah yang cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan pupuk standar saja. Tabel 8. Pengaruh Perlakuan Pemupukan pada ph, kadar C-organik, N-total, dan KTK tanah setelah percobaan. Perlakuan ph 1:1 KTK C-org (%) N-total (%) H 2 O (me/100g) Kontrol 5,4 2,06 0,20 19,54 Standar 4,8 2,35 0,24 20,89 75% PO+50% S 5,0 2,41 0,24 20,99 75% PO+75% S 4,9 2,36 0,24 20,58 100% PO+50% S 5,1 2,33 0,22 20,99 100% PO+75% S 5,0 2,48 0,26 21,41 125% PO +50% S 5,1 2,27 0,24 21,20 Relative Agronomic Effectiveness (RAE) RAE adalah angka tingkat efektifitas suatu perlakuan dibandingkan dengan standar. Rumus untuk mendapatkan RAE adalah: RAE = Produksi dari suatu perlakuan - produksi kontrol x 100% Produksi standar - produksi kontrol
20 Tabel 9. Nilai RAE Pengaruh Pupuk Organik Perlakuan Bobot Tongkol tanpa RAE (%) Kelobot (g/tongkol) Kontrol 0,00 - Standar 31,47 100,00 75% PO+50% S 44,85 142,52 75% PO+75% S 39,07 124,15 100% PO+50% S 49,93 158,66 100% PO+75% S 35,80 113,76 125% PO +50% S 35,20 111,85 Perhitungan RAE dilakukan pada bobot tongkol tanpa kelobot untuk melihat pengaruh pemupukan terhadap produksi tongkol (Tabel 10). Pengaruh pemberian pupuk organik yang dikombinasikan dengan pupuk standar menunjukkan nilai RAE yang lebih besar dari pupuk standar saja (100%). Hal ini menunjukkan bahwa penambahan pupuk organik menghasilkan efektifitas yang lebih tinggi daripada penambahan pupuk standar saja dalam menghasilkan produksi tongkol, yang ditunjukkan oleh nilai tertinggi RAE (158,66%) yang dicapai pada perlakuan 100%PO+ 50%S. 4.2. Pembahasan Latosol memiliki ketersediaan hara yang rendah karena pada umumnya jenis tanah ini berada pada daerah tropika basah yang memiliki curah hujan dan temperatur yang tinggi dimana pencucian basa-basa sering terjadi sehingga tanah tersebut umumnya masam, dalam hal ini ph tanah berkisar antara 4,5-6,5. Pemupukan perlu dilakukan untuk meningkatkan kandungan hara dalam tanah guna mencukupi kebutuhan hara tanaman. Pemberian pupuk organik yang dikombinasikan dengan pupuk standar umumnya memberikan hasil lebih tinggi baik pada parameter tinggi tanaman, bobot bagian atas tanaman maupun bobot akar tanaman jagung. Tinggi tanaman dan bobot bagian atas tanaman jagung dengan perlakuan pupuk organik yang dikombinasi dengan pupuk standar menghasilkan nilai yang lebih tinggi daripada kontrol tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan pupuk standar 100%. Penambahan pupuk organik meningkatkan efektifitas pupuk standar (anorganik) meskipun dosis pupuk standar dikurangi menjadi 50% dan 75% saja. Menurut Siagian dan Harahap (2001), pemupukan dengan pupuk organik tanpa pupuk NPK
21 kurang mendukung pertumbuhan tanaman, akan tetapi kombinasi pupuk organik dengan pupuk NPK memberikan hasil pertumbuhan yang tinggi dan terbaik. Kresnatita et al. (2001) menambahkan, dengan penambahan pupuk organik maka sifat pupuk urea yang mudah hilang akan diperkecil karena pupuk organik mampu mengikat unsur hara dan menyediakan unsur hara sesuai kebutuhannya, sehingga dengan adanya pupuk organik efektifitas dan efisiensi pemupukan menjadi lebih tinggi. Pemberian pupuk standar disertai pupuk organik nyata meningkatkan bobot tongkol berkelobot dan bobot tongkol tanpa kelobot tanaman jagung. Selain itu, pemberian pupuk organik dikombinasikan dengan pupuk standar dengan berbagai dosis perlakuan memiliki bobot tongkol berkelobot yang lebih tinggi dibandingkan pemberian pupuk standar saja terutama pada dosis perlakuan 100% PO+ 50% S. Hal ini diduga karena cenderung lebih tingginya serapan hara P dan K pada perlakuan kombinasi tersebut (Tabel 6). Dalam hal ini dikarenakan pupuk organik membantu meningkatkan ketersediaan hara di dalam tanah seperti unsur N, P, dan K yang akan berpengaruh pada pembentukan tongkol. Siagian dan Harahap (2001) mengatakan bahwa peningkatan produksi tongkol diduga terkait dengan unsur P yang berperan dalam pertumbuhan generatif terutama pembentukan tongkol. Wijaya dan Wahyuni (2007) mengemukakan, unsur P berperan penting dalam proses transfer energi dan fotosintesa. Selanjutnya, dengan pemupukan K tanaman berhasil membentuk tongkol dan biji. Pada tanah berstatus hara rendah, tanpa pemupukan K tanaman jagung tidak berhasil dalam pembentukan tongkol. Peranan K sangat penting dalam aktivitas enzim dan translokasi hasil fotosintesis (Subiksa, 2009). Hal ini mempengaruhi banyaknya fotosintat yang ditransfer ke bagian tongkol dan mempengaruhi berat tongkol. Peningkatan berat segar tongkol berkelobot maupun berat segar tanpa kelobot pada jagung manis diduga berhubungan erat dengan besarnya fotosintat yang dipartisi ke bagian tongkol. Perlakuan pemupukan terhadap serapan hara di bagian atas dan akar tanaman berpengaruh nyata lebih tinggi dibandingkan kontrol (tanpa pemupukan) dan serapan hara cenderung lebih tinggi pada dosis perlakuan 100% PO+ 75% S (Tabel 6 dan 7). Serapan hara memberikan pengaruh terhadap tinggi tanaman,
22 bobot bagian atas, dan bobot akar tanaman sedangkan persentase bobot tongkol tanpa kelobot dibandingkan tanpa kelobot pada perlakuan dosis 100% PO+ 75% S, menunjukkan persentase tongkol hanya 56,9% dari tongkol berkelobot yang berarti 43,1% merupakan kelobot jagung (Tabel 5). Serapan hara pada perlakuan tersebut lebih banyak ditranslokasikan pada bagian kelobotnya sehingga tongkol jagung tanpa kelobotnya lebih sedikit dibandingkan dengan perlakuan lain yang bobot tongkol tanpa kelobotnya lebih dari 60%. Pemberian pupuk organik dikombinasikan dengan pupuk standar pada dosis perlakuan 100% PO+ 75% S memiliki bobot akar yang lebih tinggi daripada perlakuan standar ditunjukkan dengan nilai serapan hara di akar yang juga cenderung lebih tinggi pada perlakuan yang sama (Tabel 7). Hal ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk dengan dosis tersebut optimum bagi pertumbuhan dan perkembangan akar yang akan mempengaruhi kemampuan tanaman dalam menyerap unsur hara dalam tanah. Akar berinteraksi langsung dengan partikel-partikel tanah dimana unsurunsur hara terutaman N, P, dan K berada, sehingga semakin baik serapan hara di akar, pertumbuhan dan percabangan akar untuk mengambil hara sebanyakbanyaknya dari dalam tanah semakin luas dan bobot akar tanaman juga semakin besar. Sejalan dengan pendapat Hudaya (2000), bahwa pemberian pupuk P secara langsung meningkatkan perkembangan akar tanaman sehingga serapan K tanaman juga ikut meningkat. Kalium juga berfungsi dalam perkembangan percabangan akar, pembentukan karbohidrat dan penyerapan unsur lain. Siagian dan Harahap (2001) mengemukakan, pemberian pupuk organik berfungsi untuk memperbaiki struktur tanah di sekitar perakaran sehinggga penyerapan unsur hara lebih tersedia bagi pertumbuhan dan produksi tanaman jagung. Dalam penelitian Djajadi et al. (2002), pemberian pupuk organik dapat meningkatkan serapan hara N dan P. Pemberian pupuk organik dan pupuk standar mempengaruhi kadar C- organik, N-total, dan KTK tanah yang lebih tinggi dibandingkan analisa tanah awal dan dibandingkan kontrol. Hal ini membuktikan penggunaan pupuk kimia bersamaan dengan pupuk organik menghasilkan sifat kimia tanah yang lebih baik. Penggunaan pupuk organik dapat memperbaiki sifat kimia tanah seperti C-organik dan KTK tanah yang diharapkan dapat memperbaiki kesuburan tanah. Bahan
23 organik tidak hanya penting dalam meningkatkan jumlah hara bagi keperluan tanaman tetapi juga meningkatkan ketersediaan hara bagi tanaman. Nuryamsi et al. (1995) menyatakan, pemberian bahan organik berupa pupuk kandang dan pupuk hijau meningkatkan kandungan C-organik dan N-organik serta KTK tanah. Bahan organik yang diberikan ke dalam tanah akan terdekomposisi sehingga meningkatkan C-organik dan N-organik tanah. Sanchez (1992) menyatakan bahwa bahan organik tanah secara langsung dapat berfungsi sebagai sumber unsur hara terutama N, S, dan sebagian P serta unsur mikro kemudian secara tidak langsung bahan organik tanah berperan dalam meningkatkan kestabilan agregat, kapasitas menahan air, kapasitas tukar kation (KTK), daya sangga tanah, serta menurunkan jerapan P oleh tanah. Kadar C-organik dan N-total tanah pada perlakuan kontrol cenderung meningkat dibandingkan kandungan C-organik dan N-total tanah awal meskipun tanpa adanya penambahan pupuk organik. Hal ini diduga adanya sisa-sisa perakaran tanaman yang ikut terbawa dalam bahan tanah yang akan dianalisis. Nilai RAE berhubungan dengan produksi tongkol dimana nilai RAE perlakuan 100%PO + 50%S (158,66%) dan 75%PO + 50%S (142,52%) lebih tinggi daripada perlakuan standar (100%). Hal ini menunjukkan produksi pada kedua perlakuan tersebut lebih tinggi dibandingkan standar dan perlakuan lain. Hal ini membuktikan pemberian pupuk organik dengan mengurangi pemakaian pupuk anorganik (standar) sampai setengahnya masih menghasilkan produksi tanaman jagung yang lebih tinggi. Sejalan dengan penelitian Kresnatita (2009) yaitu pemakaian pupuk organik baik berasal dari kompos rami maupun pupuk kandang sapi dapat menurunkan pemakaian pupuk anorganik (urea) sebanyak 50 kgn/ha. Selain pelepasan hara yang dikandung pupuk organik mampu menyumbangkan nutrisi bagi tanaman, pupuk organik juga memperbaiki kondisi fisik, biologi dan kimia tanah sehingga pupuk urea yang diberikan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh tanaman. Widowati (2009), juga membuktikan bahwa nilai RAE untuk perlakuan NPK ditambah berbagai takaran pupuk organik lebih tinggi daripada RAE perlakuan NPK saja.