Powered by TCPDF (www.tcpdf.org)
PROSIDING SEMINAR NASIONAL PEMANFAATAN INFORMASI GEOSPASIAL UNTUK PENINGKATAN SINERGI PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP EDITOR AHLI : Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si (UM) Prof. Dr. Dewi Liesnoor S., M.Si (UNNESS) Prof. Dr. Chatarina Muryani, M.Si (UNS) EDITOR PELAKSANA : Setya Nugraha, S.Si., M.Si Singgih Prihadi, S.Pd, M.Pd Rahning Utomowati, S.Si, M.Sc Gentur Adi Tjahjono, S.Si ISBN: 978-602-73302-014 Hak Cipta dilindungi oleh undang undang. Dilarang memperbanyak dalam bentuk apapun tanpa izin tertulis dari editor. Hak intelektual pada makalah dalam prosiding ini milik penulis yang tercantum pada setiap makalah. Alamat Sekertariat : Program Studi Magister Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret Jl. Ir. Sutami No 36 A Kentingan Surakarta Gedung G lantai 2 Pascasarjana FKIP UNS Website : spklh.fkip.uns.ac.id Email : semnaspklh@gmail.com Kerjasama antara : S2 PKLH Universitas Sebelas Maret BIG Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI ii
DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN REDAKSI... HALAMAN PENYLENGGARA... SUSUNAN PANITIA... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... MAKALAH UTAMA... Keynote Speaker Pemanfatan Informasi Geospasial Untuk Mendukung Sistem Informasi Lingkungan Hidup Dr. Priyadi Kardono, M.Sc Badan Informasi Geospasial... Pemakalah I Pengelolaan Lingkungan Hidup Berbasis Daerah Aliran Sungai (DAS) Ir. Djati Witjaksono Hadi, M.Si-Kementerian Lingkungan Hidup... Pemakalah II Peluang dan Tantangan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Regional Jawa Nugroho Widjararto, S.T, M.T Pusat Pengelolaan Ekoregion Jawa... Pemakalah III Sekolah Konservasi Lingkungan Berdasarkan Adat dan Kearifan Lokal Dr. Moh. Gamal Rindarjono, M.Si Universitas Sebelas Maret Surakarta... MAKALAH PENDAMPING... TEMA LINGKUNGAN HIDUP... Pengaruh Suhu dan ph Terhadap Konsentrasi Merkuri di Air dan Sedimen Marike Mahmud, Fitryane Lihawa, Beby Banteng, Frice Desei, Yanti Saleh.... Sebaran Hama Kutu Putih (Hamamelistes sp) Pada Manglid (Magnolia Campaca) di Tasikmalaya dan Pengelolaannya Endah Suhaendah, Aris Sudomo... Keragaman Jenis Tumbuhan Pada Agroforestry Sengon di Kecamatan Sodonghilir Kabupaten Tasikmalaya i ii iii iv v vi 1 2 24 46 71 83 84 85 95 Kerjasama antara : S2 PKLH Universitas Sebelas Maret BIG Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI vi
Aji Winara, Aris Sudomo... Penentuan Batas Recharege Area Air Tanah Pada Kawasan Karst Dengan Metode APLIS dan Arahan Konservasi Lahan di Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri Dwi Setiawan, Setya Nugraha, Pipit Wijayanti... Pencemaran Waduk Alam Rawapening Telaah Pemupukan Nitrogen (N) dan Phospor (P) Lahan Pertanian Ugro Hari Murtiono... Pemanfaatan Informasi Geospasial Sebagai Arah Pengembangan Kayuputih Hasil Pemuliaan di Nusa Tenggara Timur Sumardi... Budidaya Pohon Aren Sebagai Tanaman Fungsi Konservasi di Desa Cimanggu Kecamatan Langkaplancar Kabupaten Pangandaran Erni Mulyanie, Ruli As ari... Prioritas Penanganan Permukiman Kumuh dan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Kota Yogyakarta dengan Pendekatan Analisis Geospasial Mohammad Isnaini Sadali, Sheily W, Fikri Intizhar R... Menganalisis Permasalahan dan Potensi Keruangan Kabupaten Semarang: Kajian Sosiologi Lanskap Nana Haryanti... Pengelolaan Sampah mandiri Melalui Model Bank Sampah Sebagai Upaya Pelesatarian Lingkungan di Kelurahan Sukamanah Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya Ely Satiasih Rosaly, Rachmat H. Sujana... Cadangan Karbon Hutan Tanaman Sonokeling (Dalbergia latifolia) Pada Beberapa Bonita di Jawa Yonky Indrajaya... Analisis Dinamika Penggunaan Lahan di Area Gumukpasir Parangtritis Kabupaten Bantul Tahun 2003-2014 Kuswaji Dwi Priyono, Widya Ayu Elzha Dani, Agus Anggoro Sigit... Pengelolaan Hutan Berbasis Kearifan Lokal Melalui Sistem Perladangan Masyarakat Adat Dayak Kalimantan Barat 102 112 120 131 142 152 161 173 183 192 Kerjasama antara : S2 PKLH Universitas Sebelas Maret BIG Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI vii
PRIORITAS PENANGANAN PERMUKIMAN KUMUH DAN RUMAH TIDAK LAYAK HUNI (RTLH) DI KOTA YOGYAKARTA DENGAN PENDEKATAN ANALISIS GEOSPASIAL Mohammad Isnaini Sadali 1, Sheily Widyaningsih 2, Fikri Intizhar R 3 1,2,3 Program Studi Pembangunan Wilayah Fakultas Geografi-UGM, Jl. Kaliurang- Bulaksumur, Yogyakarta, Indonesia Email: mohammad.isnaini.s@geo.ugm.ac.id. Abstract: Kebutuhan penduduk yang paling mendasar salah satunya adalah tempat tinggal (papan) yang sering disebut dengan rumah. Kebutuhan lahan permukiman terus meningkat dengan diikuti oleh kebutuhan sarana prasarana umum pendukung lainnya seiring dengan pertumbuhan penduduk pada suatu wilayah. Di sisi lain, sumberdaya lahan bersifat terbatas, baik keterbatasan jumlah maupun kemampuan dalam mendukung pemanfaatannya. Keterbatasan lahan menjadi salah satu faktor pertumbuhan permukiman di lahan-lahan marjinal, sehingga dapat muncul permukiman-permukiman dengan kelayakan yang tidak memenuhi standar dan cenderung mengesampingkan lingkungan yang sehat. Di Kota Yogyakarta terdapat kawasan permukiman kumuh seluas 264,90 Hektar dan jumlah RTLH (Rumah Tidak Layak Huni) sebesar 3.194 unit. Permukiman kumuh dan RTLH di Kota Yogyakarta merupakan bagian dari lingkungan yang kritis, sehingga memerlukan penanganan serius dan segera agar tercipta lingkungan permukiman yang sehat, nyaman dan harmonis. Oleh karena itu diperlukan prioritas-prioritas penanganan lokasi-lokasi atau kawasan-kawasan permukiman kumuh dan RTLH yang sudah termasuk kritis agar tidak berkembang lebih buruk lagi. Penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis dan memetakan sebaran permukiman kumuh dan RTLH, serta (2) menentukan prioritas penanganan permukiman kumuh dan RTLH di Kota Yogyakarta. Lokasi penelitian berada di Kota Yogyakarta, dengan unit analisis kawasan permukiman kumuh dan lokasi-lokasi RTLH. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif prioritas penanganan permukiman kumuh dan RTLH melalui pendekatan analisis geospasial. Kata Kunci: prioritas, permukiman kumuh, rumah tidak layak huni (RTLH), geospasial PENDAHULUAN Kebutuhan dasar penduduk yang paling pokok selain pangan dan sandang adalah tempat tinggal (papan) yang sering disebut dengan lahan permukiman. Hal ini juga sesuai dengan amanatkan dalam Undang Undang Dasar (UUD) 1945 dan pasal 28 H Amandemen UUD 1945, rumah adalah salah satu hak dasar setiap rakyat Indonesia, maka setiap warga negara berhak untuk bertempat tinggal dan mendapat lingkungan hidup yang baik dan sehat. Kebutuhan lahan permukiman akan terus meningkat dengan diikuti oleh kebutuhan sarana prasarana umum pendukung lainnya seiring perkembangan penduduk pada suatu wilayah. Di sisi lain, sumberdaya lahan bersifat terbatas, baik keterbatasan jumlah maupun kemampuan dalam mendukung pemanfaatannya. Keterbatasan lahan menjadi salah satu faktor pertumbuhan permukiman di Kerjasama antara : S2 PKLH Universitas Sebelas Maret BIG Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI 152
lahan-lahan marjinal seperti tepi sungai, dengan kelayakan yang tidak memenuhi standar, maupun kurangnya prasarana dan sarana permukiman. Kelayakan hunian merupakan salah satu syarat dan tujuan rumah sebagai tempat tinggal. Kondisi permukiman yang tidak layak huni akan menjadi masalah bagi masyarakat maupun pemerintah dalam mengembangkan dan menciptakan kawasan dengan kualitas lingkungan yang baik. Rumah tidak layak huni (RTLH) dalam suatu kawasan jika tidak ditata dan ditangani dengan baik dapat berpotensi menjadi permukiman kumuh. Kecenderungan perkembangan permukiman yang terjadi di Indonesia secara umum dan di Kota Yogyakarta saat ini adalah mengelompok dan banyak terdapat di wilayah perkotaan atau pusat kegiatan tertentu. Menurut Yunus (2002) daerah pusat kegiatan merupakan pusat kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan politik dalam suatu kota sehingga pada kawasan ini terdapat bangunan utama untuk kegiatan sosial ekonomi. Hal inilah yang dapat memicu tingginya laju urbanisasi dan kebutuhan terhadap lahan permukiman yang sangat terbatas pada lingkungan perkotaan. Pada akhirnya, lingkungan permukiman yang layak, nyaman, dan sehat mulai tidak diperhatikan karena desakan kebutuhan terhadap tempat tinggal di perkotaan. Berdasarkan Keputusan Walikota Nomor 393 Tahun 2014 tentang penetapan lokasi kawasan tidak layak huni di Kota Yogyakarta, terdapat 3.304 rumah tidak layak huni yang tersebar di seluruh kecamatan dan kelurahan. Pada tahun 2015 Pemerintah Kota Yogyakarta kembali melakukan pendataan kawasan permukiman kumuh dan RTLH. Berdasarkan hasil pendataan tersebut, di Kota Yogyakarta terdapat kawasan permukiman kumuh seluas 264,90 Hektar dan jumlah RTLH sebesar 3.194 unit. Upaya pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh merupakan salah satu ruang lingkup dalam penyelenggaraan perumahan dan kawasan permukiman (UU Nomor 1 Tahun 2011). Permukiman kumuh dan RTLH di Kota Yogyakarta merupakan bagian dari lingkungan yang kritis dan memerlukan penanganan serius agar tercipta lingkungan permukiman yang sehat, nyaman dan harmonis. Keberadaan RTLH yang berkorelasi dengan kawasan permukiman kumuh dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam penentuan prioritas penanganan permukiman kumuh. Selain peningkatan prasarana dan sarana lingkungan permukiman, pengentasan RTLH juga dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas kawasan permukiman kumuh. Penelitian ini dilakukan dengan mengkaji secara spasial distribusi RTLH terhadap kawasan permukiman kumuh, sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan prioritas penanganan permukiman kumuh di Kota Yogyakarta. Kerjasama antara : S2 PKLH Universitas Sebelas Maret BIG Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI 153
METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif, dengan data sekunder sebagai data utama. Penelitian ini dilakukan di Kota Yogyakarta, yang terdiri dari 14 kecamatan dan tiga sungai utama, yaitu Sungai Winongo di bagian barat, Sungai Code di bagian tengah, dan Sungai Gajah Wong di bagian timur; di mana di bantaran ketiga sungai tersebut terdapat kantong-kantong permukiman kumuh maupun rumah tidak layak huni. Data-data sekunder utama yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu: data dasar spasial Kota Yogyakarta, data spasial kawasan permukiman kumuh Kota Yogyakarta, data spasial titik rumah tidak layak huni (RTLH) Kota Yogyakarta, dan dokumen profil permukiman kumuh Kota Yogyakarta. Analisis dan tahapan penelitian ini dilakukan dengan: 1. Inventarisasi data kawasan permukiman kumuh dan RTLH Kota Yogyakarta, baik data spasial maupun data aspasial. 2. Penyiapan peta dasar. 3. Pengolahan data spasial: overlay (tumpang susun) data spasial kawasan permukiman kumuh dan sebaran lokasi RTLH Kota Yogyakarta. 4. Analisis crosstab terhadap luas kawasan permukiman kumuh dan jumlah RTLH menurut lokasinya. 5. Pemberian skor (scoring) dan pembobotan untuk menentukan prioritas penanganan berdasarkan jumlah RTLH di kawasan permukiman kumuh. Asumsi: 6. semakin luas permukiman kumuh maka semakin besar pula skor nilai dan bobot. 7. semakin banyak unit RTLH pada luas permukiman kumuh, maka semakin besar pula skor nilai dan bobot. 8. Merumuskan rekomendasi prioritas penanganan kawasan permukiman kumuh Kota Yogyakarta. Gambar 1. Tahapan Penelitian Kerjasama antara : S2 PKLH Universitas Sebelas Maret BIG Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI 154
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kota Yogyakarta sebagai kota yang dinamis dan berkembang, memiliki kompleksitas kegiatan, seperti sosial ekonomi, pendidikan, perkantoran, dan lain-lain. Dalam perkembangannya, permukiman di Kota Yogyakarta mengalami berbagai permasalahan, diantaranya yaitu kepadatan permukiman, minimnya lahan untuk permukiman, dan keberadaan permukiman kumuh. Keberadaan permukiman kumuh atau juga disebut dengan kawasan tidak layak huni merupakan isu penting terkait dengan kebijakan penataan permukiman, serta kebutuhan untuk peningkatan kualitas permukiman di Kota Yogyakarta. Kawasan tidak layak huni di Kota Yogyakarta seluas 278,70 Ha pada tahun 2014, dan berdasarkan pendataan pada tahun 2015 menurun menjadi 264,90 Ha (Bappeda Kota Yogyakarta, 2015). Kawasan tidak layak huni di Kota Yogyakarta tersebar di 13 kecamatan dan 36 kelurahan. Luasan kawasan tidak layak huni paling besar berada di Kecamatan Umbulharjo, yaitu sebesar 75,20 Ha (28,39 persen), sedangkan paling luasan paling kecil di Kecamatan Danurejan, yaitu sebesar 7,12 Ha (2,69 persen). Jumlah RTLH di Kota Yogyakarta sebanyak 3.304 unit, dengan RTLH paling banyak berada di Kecamatan Mergangsan sebanyak 710 unit (21,49 persen), sedangkan RTLH paling sedikit berada di Kecamatan Gondomanan, sebanyak 21 unit (0,64 persen). Kawasan tidak layak huni dan RTLH di Kota Yogyakarta memiliki asosiasi distribusi dengan bantaran sungai, yaitu Sungai Winongo di bagian barat, Sungai Code di bagian tengah, dan Sungai Gajah Wong di bagian timur. Permasalahan kerentanan akan bahaya banjir, baik banjir genangan, banjir luapan sungai, maupun banjir lahar (lahar sebagai dampak erupsi Gunungapi Merapi) juga sering dialami penghuni RTLH yang dekat dengan bantaran sungai. RTLH yang merupakan salah satu permasalahan utama dalam kawasan permukiman kumuh dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam prioritas penanganan untuk meningkatkan kualitas hunian. Penentuan prioritas penanganan permukiman kumuh dan RTLH di Kota Yogyakarta dalam penelitian ini mendasarkan pada jumlah, luas dan sebaran permukiman kumuh+rtlh, dengan unit analisis kelurahan. Semakin besar luasan kawasan permukiman kumuh dan semakin banyak jumlah RTLH dalam suatu kelurahan, maka kelurahan tersebut semakin menjadi prioritas untuk dilakukan penanganan. Pertimbangan yang lain adalah jumlah RTLH yang berada di kawasan permukiman kumuh (bertampalan). Jumlah RTLH yang berada di kawasan permukiman kumuh yaitu sebanyak 956 unit atau 28,93 persen dari total jumlah RTLH. Kerjasama antara : S2 PKLH Universitas Sebelas Maret BIG Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI 155
Menurut kecamatan, RTLH di kawasan permukiman kumuh paling banyak berada di Kecamatan Tegalrejo (205 unit), kemudian di Kecamatan Mergangsan (201 unit). Di Kecamatan Mergangsan, Kelurahan Wirogunan (97 unit) dan Kelurahan Brontokusuman (85 unit) merupakan dua kelurahan dengan jumlah RTLH di kawasan permukiman kumuh paling banyak. Sementara itu, RTLH di kawasan permukiman kumuh paling sedikit berada di Kecamatan Gondomanan (11 unit), kemudian di Kecamatan Kotagede (12 unit). Selain itu, terdapat kawasan permukiman kumuh di beberapa kelurahan yang tidak memiliki RTLH, yaitu di Kelurahan Pringgokusuman (Kecamatan Gedongtengen) dan Kelurahan Semaki (Kecamatan Umbulharjo). Prioritas penanganan permukiman kumuh dan RTLH diklasifikasikan kedalam lima (5) klas, yaitu prioritas I, II, III, IV, dan V. Prioritas I merupakan kelurahan yang memiliki prioritas awal dalam penanganan permukiman kumuh dan RTLH, berangsur-angsur bertingkat menurun hingga prioritas V yang merupakan prioritas akhir. Prioritas penanganan permukiman kumuh dan RTLH secara spasial ditunjukkan pada gambar di bawah (lampitran). Prioritas penanganan I terdiri dari Kelurahan Wirogunan dan Kelurahan Sorosutan, yang berada di bantaran Sungai Code bagian tengah selatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa alasan Kelurahan Wirogunan menjadi prioritas penanganan karena memiliki RTLH (97 unit) yang berada di kawasan permukiman kumuh paling banyak. Sementara itu, Kelurahan Sorosutan terutama disebabkan luasnya kawasan permukiman kumuh (31,17 Ha) yang merupakan kelurahan dengan kawasan permukiman kumuh paling luas. Prioritas penanganan II juga memiliki asosiasi dengan bantaran sungai, yaitu di bantaran Sungai Winongo (6 kelurahan), bantaran Sungai Code (3 kelurahan), dan bantaran Sungai Gajah Wong (2 kelurahan). Prioritas penanganan II di bantaran Sungai Winongo yaitu Kelurahan Kricak, Karangwaru, Bener, Tegalrejo, dan Cokrodiningratan (bagian utara), serta Kelurahan Gedong Kiwo (bagian selatan). Sebagian kelurahan-kelurahan tersebut (empat kelurahan) termasuk dalam Kecamatan Tegalrejo, yang merupakan kecamatan dengan jumlah RTLH di kawasan permukiman kumuh paling banyak. Sementara itu, Kelurahan Gedong Kiwo yang berada di Kecamatan Mantrijeron memiliki kawasan permukiman kumuh yang luas (20,65 Ha). Kelurahan di bantaran Sungai Code yang termasuk prioritas penanganan II yaitu Kelurahan Tegalpanggung dan Purwokinanti (bagian tengah), serta Kelurahan Brontokusuman (bagian selatan). Ketiga kelurahan tersebut memiliki banyak jumlah RTLH di permukiman kumuh. Di bantaran Sungai Gajah Wong yaitu Kelurahan Pandeyan dan Giwangan, yang keduanya termasuk Kecamatan Umbulharjo, memiliki faktor luasan kawasan permukiman kumuh yang besar. Kerjasama antara : S2 PKLH Universitas Sebelas Maret BIG Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI 156
Prioritas III memiliki tingkat kepentingan yang lebih rendah dalam prioritas penanganan permukiman kumuh dan RTLH, demikian seterusnya hingga prioritas V yang memiliki tingkat kepentingan paling rendah. Pada prioritas V sebagian besar berupa kelurahan yang tidak memiliki kawasan permukiman kumuh maupun kelurahan dengan kawasan permukiman kumuh yang tidak memiliki RTLH (atau RTLH berada di luar kawasan permukiman kumuh). Contoh kelurahan yang tidak memiliki kawawasan permukiman kumuh yaitu Kelurahan Kadipaten, Panembahan, dan Patehan (Kecamatan Kraton). Sementara itu, contoh kelurahan dengan kawasan permukiman kumuh yang tidak memiliki RTLH (atau RTLH berada di luar kawasan permukiman kumuh) yaitu Kelurahan Pringgokusuman dan Kelurahan Semaki. Sebagian besar kelurahan di Kota Yogyakarta berada pada prioritas V dalam penanganan permukiman kumuh dan RTLH. Secara lebih detail dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 1. Prioritas Penanganan Permukiman Kumuh dan RTLH di Kota Yogyakarta Prioritas Penanganan Kelurahan Kecamatan Prioritas I Wirogunan Mergangsan Sorosutan Umbulharjo Kricak Karangwaru Bener Tegalrejo Tegalrejo Cokrodiningratan Jetis Prioritas II Gedongkiwo Mantrijeron Tegalpanggung Danurejan Purwokinanti Pakualaman Brontokusuman Mergangsan Pandeyan Giwangan Umbulharjo Bumijo Jetis Suryatmajan Danurejan Ngampilan Notoprajan Ngampilan Prioritas III Patangpuluhan Wirobrajan Prawirodirjan Gondomanan Keparakan Mergangsan Klitren Gondokusuman Prenggan Kotagede Terban Baciro Gondokusuman Prioritas IV Gowongan Jetis Sosromenduran Pringgokusuman Gedong Tengen Kerjasama antara : S2 PKLH Universitas Sebelas Maret BIG Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI 157
Prioritas Penanganan Kelurahan Kecamatan Ngupasan Gondomanan Wirobrajan Wirobrajan Gunungketur Pakualaman Muja-Muju Umbulharjo Rejowinangun Purbayan Kotagede Kotabaru Gondokusuman Demangan Prioritas V Sumber: Hasil pengolahan, 2016 Bausasran Pakuncen Kadipaten Panembahan Patehan Suryodiningratan Mantrijeron Semaki Tahunan Warungboto Danurejan Wirobrajan Kraton Mantrijeron Umbulharjo KESIMPULAN DAN SARAN Keputusan Walikota Nomor 393 tahun 2014 menetapkan bahwa di Kota Yogyakarta terdapat 3.304 rumah tidak layak huni yang tersebar di seluruh kecamatan dan kelurahan. Berdasarkan pendataan pada tahun 2015, kawasan permukiman kumuh di Kota Yogyakarta seluas 264,90 Ha dan RTLH Kota Yogyakarta sebanyak 3194 unit. Jumlah RTLH di Kota Yogyakarta adalah sebesar 3,55% dari jumlah bangunan yang tersebar di 14 kecamatan dan 45 kelurahan. Berdasarkan wilayah administrasi, jumlah RTLH paling banyak berada di Kecamatan Mergangsan (691 unit atau 21,63%), dengan jumlah paling banyak di Kelurahan Brontokusuman sebesar 361 unit. Tentunya wilayah sebaran RTLH di wilayah ini dapat dijadikan perhatian, mengingat banyaknya RTLH yang berpotensi menjadi permukiman kumuh. Lokasi RTLH di Kota Yogyakarta selalu berasosiasi dengan kawasan permukiman kumuh dan identik dengan bantaran sungai. Berdasarkan sebaran lokasinya, Kelurahan Brontokusuman, Wirogunan, dan Tegalpanggung merupakan beberapa daerah yang berada di bantaran Sungai Code. Beberapa kelurahan yang memiliki jumlah RTLH cukup tinggi lainnya (>100 unit) berada di bantaran Sungai Winongo (Kelurahan Bener, Tegalrejo, Patangpuluhan) dan bantaran Sungai Gadjah Wong (Kelurahan Rejowinangun). Kerjasama antara : S2 PKLH Universitas Sebelas Maret BIG Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI 158
Berdasarkan hasil analisis geospasial terdapat 5 prioritas penanganan permukiman kumuh dan RTLH di Kota Yogyakarta: Prioritas I terdapat di Kelurahan Wirogunan dan Kelurahan Sorosutan (berada di bantaran Sungai Code bagian tengah-selatan); Prioritas II di Kelurahan Kricak, Karangwaru, Bener, Tegalrejo, dan Cokrodiningratan, serta Kelurahan Gedongkiwo (berada di bantaran Sungai Winongo); sedangkan Prioritas III-V merupakan prioritas penanganan yang lebih rendah. Mengakomodasi dari alternatif penanganan perumahan dan permukiman kumuh dalam UU No. 1 Tahun 2011, jenis penanganan dapat berupa peremajaan, pemugaran (rehabilitasi), dan pemukiman kembali (relokasi). Secara umum penanganan permukiman kumuh dan RTLH dapat dilakukan upaya pemugaran (rehabilitasi) yang dilakukan dengan adanya perbaikan dan/atau pembangunan kembali menjadi rumah layak huni (memadai). Tahapan rekonstruksi dan peremajaan dapat pula dilakukan pada kelompok RTLH yang barada pada kawasan permukiman kumuh. Tahap rekonstruksi bertujuan menumbuhkembangkan kegiatan perekonomian, sosial, dan budaya lingkungan permukiman, sedangkan peremajaan merupakan penataan secara menyeluruh, baik rumah, prasarana, sarana, dan utilitas permukiman dan perumahan. Alternatif pemukiman kembali (relokasi) dapat dilakukan pada RTLH yang berada pada zona yang tidak sesuai, terutama RTLH yang berada pada kawasan lindung (zona RTH, suaka alam dan cagar budaya). Hal tersebut dimaksudkan untuk mengarahkan perkembangan perumahan dan/atau permukiman pada kawasan yang seharusnya telah direncanakan, sehingga lebih teratur dan meningkatkan kualitas fungsi hunian. Selain itu, hal tersebut juga dapat dilakukan untuk mengembalikan fungsi lindung, seperti fungsi RTH sempadan sungai sebagai fungsi lindung untuk perlindungan setempat (barrier terhadap banjir, longsor, dan ekosistem sungai). DAFTAR PUSTAKA Anonim. (2014). Pedoman Identifikasi Kawasan Permukiman Kumuh Daerah Penyangga Kota Metropolitan. Jakarta: Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum. Anonim. (2014). Panduan Kegiatan Quick Count Identifikasi Kawasan Permukiman Kumuh. Jakarta: Direktorat Pengembangan Permukiman Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum. Bintarto, R. 1987. Pengantar Geografi Kota. Yogyakarta: Spring. Kerjasama antara : S2 PKLH Universitas Sebelas Maret BIG Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI 159
Chair, Miftahul. 2002. Karakteristik dan Faktor yang Mempengaruhi Kondisi Permukiman di Kawasan Sekitar Aliran Sungai Martapura Banjarmasin. Tesis. Semarang: Program Pascasarjana Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro. Getis, A. And Fisher, M. 2010. Handbook of Applied Spatial Analysis. Berlin: Springer. Efendi, Tjiptadinata. (2015). 150 Juta Rakyat Indonesia Tinggal di Rumah Tidak Layak Huni, Kompasiana,http://www.kompasiana.com/tjiptadinataeffendi21may43/150-juta-rakyatindonesia-tinggal-di-rumah-tak-layak-huni_553cfe706ea8348906f39b0c. Issued: 17 Juni 2015. Hariyono, P. (2007). Sosiologi Kota Untuk Arsitek. Jakarta: Bumi Aksara. Kuswartojo dkk. (2005). Perumahan dan Permukiman di Indonesia: Upaya Membuat Perkembangan Kehidupan yang berkelanjutan. Bandung: ITB Press. Laiko, Firman. (2010). Pengembangan Permukiman Berdasarkan Aspek Kemempuan Lahan pada Satuan Wilayah Pengembangan I Kabupaten Gorontalo. Tesis. Semarang: Program Pascasarjana Magister Teknik Pembangunan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro. Mantra, Ida Bagoes. (2007). Demografi Umum. Edisi Kedua. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Nurasrizal. 2010. 2010. Pertumbuhan Rumah Inti Pada Perumahan Layak Huni Bagi Keluarga Miskin di Dusun Kayu Gadang Kota Sawahlunto. Semarang: Universitas Diponegoro. Ormeling, F., dan Kraak, M. (2007). Kartografi: Visualisasi Data Geospasial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Satyohutomo, M. (2009). Manajemen Kota dan Wilayah, Realita dan Tantangan. Jakarta: PT. Bumi Aksara. Soemarwoto, Otto. (1998). Analisis Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Tarigan, Robinson. (2005). Perencanaan Pembangunan Wilayah. Jakarta: Bumi Aksara. Tangkilisan, Hessel Nogi S. (2003). Teori dan Konsep Kebijakan Publik. Yogyakarta. Lukman Offset & YPAPI. Tim Penyusun. (2015). Pendataan Perumahan dan Permukiman Kumuh Kota Yogyakarta. Yogyakarta: Bappeda Kota Yogyakarta. Yunus, Hadi Sabari. (2002). Struktur Tata Ruang Kota. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Yunus, Hadi Sabari. (2007). Subject Matter dan Metode Penelitian Geografi Permukiman Kota 2007. Yogyakarta: Fakultas Geografi. Kerjasama antara : S2 PKLH Universitas Sebelas Maret BIG Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI 160