BAB 5 HASIL PENELITIAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB 4 METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental klinis.

BAB 4 METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental klinis.

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit gigi dan mulut merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi di

BAB I PENDAHULUAN. 90% dari populasi dunia. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen

LEMBAR PENJELASAN KEPADA CALON SUBJEK PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Karies gigi merupakan salah satu penyakit kronis yang paling umum terjadi di

BAB I PENDAHULUAN. Menurut hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2007, prevalensi

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan tubuh, baik bagi anak-anak, remaja maupun orang dewasa. 1,2

BAB I PENDAHULUAN. seperti kesehatan, kenyamanan, dan rasa percaya diri. Namun, perawatan

BAB 1 PENDAHULUAN. nyeri mulut dan nyeri wajah, trauma dan infeksi mulut, penyakit periodontal,

BAB I PENDAHULUAN. Plak gigi adalah deposit lunak yang membentuk biofilm dan melekat pada

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Kondisi ini dapat tercapai dengan melakukan perawatan gigi yang

BAB I PENDAHULUAN. Kismis adalah buah anggur (Vitis vinivera L.) yang dikeringkan dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. Dinas Kesehatan Kota Padang tahun 2013 menunjukkan urutan pertama pasien

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kesehatan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Manusia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Sebanyak 14 provinsi mempunyai prevalensi masalah gigi dan mulut di atas

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit periodontal adalah penyakit yang umum terjadi dan dapat ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Dalam bidang kedokteran gigi, masalah kesehatan gigi yang umum terjadi di

BAB I PENDAHULUAN. dan mulut yang memiliki prevalensi tinggi di masyarakat pada semua

Deskripsi KOMPOSISI EKSTRAK DAUN BELIMBING WULUH (AVERRHOA BILIMBI L) DAN PENGGUNAANNYA

BAB I PENDAHULUAN. (D = decayed (gigi yang karies), M = missing (gigi yang hilang), F = failed (gigi

BAB I PENDAHULUAN. Plak gigi merupakan komunitas mikroba yang melekat maupun berkembang

BAB 1 PENDAHULUAN. kelenjar saliva, dimana 93% dari volume total saliva disekresikan oleh kelenjar saliva

BAB III METODE PENELITIAN. manggis (Garcinia mangostana Linn) yang telah matang

Bayyin Bunayya Cholid*, Oedijani Santoso**, Yayun Siti Rochmah***

BAB 1 PENDAHULUAN. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. Madu merupakan salah satu sumber makanan yang baik. Asam amino,

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Pada permukaan basis gigi tiruan dapat terjadi penimbunan sisa makanan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian tentang perbedaan derajat keasaman ph saliva antara sebelum

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. perawatan kelainan oklusal yang akan berpengaruh pada fungsi oklusi yang stabil,

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan rongga mulut merupakan salah satu bagian yang tidak dapat

BAB 5 HASIL PENELITIAN. Tabel 1 : Data ph plak dan ph saliva sebelum dan sesudah berkumur Chlorhexidine Mean ± SD

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. berdasarkan ada atau tidaknya deposit organik, materia alba, plak gigi, pelikel,

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. terjadi pada jaringan keras gigi yang bermula dari ke dentin berlanjut ke

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambir adalah ekstrak kering dari ranting dan daun tanaman Uncaria gambir

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Streptococcus sanguis adalah jenis bakteri Streptococcs viridans yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Plak merupakan penyebab utama dari penyakit periodontal (Manson

BAB 1 PENDAHULUAN. RI tahun 2004, prevalensi karies gigi mencapai 90,05%. 1 Karies gigi merupakan

EFEKTIVITAS BERKUMUR DENGAN AIR SEDUHAN TEH HIJAU DALAM MENURUNKAN AKUMULASI PLAK

BAB I PENDAHULUAN. Terapi ortodontik belakangan ini menjadi populer. 1 Kebutuhan akan perawatan

BAB 5 HASIL PENELITIAN. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 30 mahasiswa FKG UI semester VII tahun 2008 diperoleh hasil sebagai berikut.

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. (Al Shamrany, 2006). Salah satu penyakit gigi yang banyak terjadi di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENGARUH VISKOSITAS SALIVA TERHADAP PEMBENTUKAN PLAK GIGI PADA MAHASISWA POLTEKKES KEMENKES PONTIANAK

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. anak-anak sampai lanjut usia. Presentase tertinggi pada golongan umur lebih dari

BAB 1 PENDAHULUAN. anatomis, fisiologis maupun fungsional, bahkan tidak jarang pula menyebabkan

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini berlangsung pada bulan Mei s/d juni Penelitian ini termasuk dalam lingkup Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut.

BAB 1 PENDAHULUAN. Nikaragua. Bersama pelayar-pelayar bangsa Portugis di abad ke 16, tanaman ini

BAB 2 PENGARUH PLAK TERHADAP GIGI DAN MULUT. Karies dinyatakan sebagai penyakit multifactorial yaitu adanya beberapa faktor yang

UJI EFEKTIVITAS BERKUMUR MENGGUNAKAN AIR SEDUHAN TEH HITAM (Camellia sinensis) DALAM MENURUNKAN AKUMULASI PLAK

BAB 1 PENDAHULUAN. pada kesehatan umum dan kualitas hidup (WHO, 2012). Kesehatan gigi dan mulut

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. jaringan keras dan jaringan lunak mulut. Bahan cetak dibedakan atas bahan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Menurut hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001,

BAB 1 PENDAHULUAN. menggunakan tanaman obat di Indonesia perlu digali lebih mendalam, khususnya

BAB I PENDAHULUAN. Plak merupakan deposit lunak berwarna putih keabu-abuan atau kuning yang

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu cermin dari kesehatan manusia, karena merupakan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. pada umumnya berkaitan dengan kebersihan gigi dan mulut. Faktor penyebab dari

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Karies gigi adalah penyakit infeksi dan merupakan suatu proses

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. Rongga mulut manusia tidak pernah terlepas dari bakteri. Dalam rongga mulut

BAB 1 PENDAHULUAN. Denture stomatitis merupakan suatu proses inflamasi pada mukosa mulut

BAB I PENDAHULUAN. mikroba pada gigi dan permukaan gingiva yang berdekatan. 1,2

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Obat kumur sering digunakan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan gigi

BAB 1 PENDAHULUAN. putih akan membuat orang lebih percaya diri dengan penampilannya (Ibiyemi et

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Plak adalah deposit lunak yang melekat erat pada permukaan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. akar selama atau sesudah perawatan endodontik. Infeksi sekunder biasanya

BAB VI PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. Untuk mengetahui efek pemberian ekstrak mengkudu terhadap daya

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. karies gigi (Anitasari dan Endang, 2005). Karies gigi disebabkan oleh faktor

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia. Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun prevalensi masalah kesehatan gigi dan mulut penduduk

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. melalui makanan yang dikonsumsi sehari-hari. Berbagai macam bakteri ini yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Saliva merupakan cairan rongga mulut yang kompleks yang terdiri atas

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. interaksi dari bakteri di permukaan gigi, plak/biofilm, dan diet. Komponen diet

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kelenjar ludah besar dan kecil yang ada pada mukosa oral. Saliva yang terbentuk

BAB VI PEMBAHASAN. Kadar trigliserida dan kolesterol VLDL pada kelompok kontrol

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. karbohidrat dari sisa makanan oleh bakteri dalam mulut. 1

BAB 5 HASIL PE ELITIA

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. masyarakat (Depkes RI, 2006), utamanya adalah gingivitis (Suproyo, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. rendah (Depkes RI, 2005). Anak yang memasuki usia sekolah yaitu pada usia 6-12

BAB 1 PENDAHULUAN. Kerusakan pada gigi merupakan salah satu penyakit kronik yang umum

BAB I PENDAHULUAN. mampu membentuk polisakarida ekstrasel dari genus Streptococcus. 1,2

Transkripsi:

BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1. Hasil Pengumpulan Data Penelitian Pengumpulan data penelitian dilakukan di Fakultas Kedokteran Gigi, mulai tanggal 22 September 2008 sampai dengan 23 Oktober 2008. Jumlah subjek penelitian ini adalah 40 orang, tetapi satu subjek keluar dari penelitian, sehingga menjadi 39 subjek penelitian yang masing-masing mengalami tiga perlakuan, yaitu perlakuan pertama (berkumur dengan air putih), perlakuan kedua (berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100%), dan perlakuan ketiga (berkumur dengan larutan teh hijau seduh 50%). Antar perlakuan satu dengan yang lainnya diberi rentang waktu + empat hari. Dari tiap perlakuan, diperoleh 36 data penelitian per subjeknya, yang diperoleh dari enam gigi. Tiap gigi dibagi menjadi enam permukaan, yang terdiri dari permukaan distobukal/ distolabial, bukal/ labial, mesiobukal/ mesiolabial, distopalatal/ distolingual, palatal/ lingual, mesiopalatal/ mesiolingual. Di setiap permukaan diperiksa indeks plaknya dan dicatat hasil skornya pada lembar skor plak yang terlampir (Lampiran 3). 5.2. Hasil Sebaran Data Penelitian Dari Gambar 5.1. sampai dengan 5.6., diketahui sebaran data skor plak pada perlakuan pertama, kedua, dan ketiga di setiap permukaan gigi berdasarkan frekuensinya. Data yang dihasilkan merupakan data ordinal yang dibagi menjadi empat kategori, yaitu sangat baik (0-0,59), baik (0,6-5,99), sedang (6-11,99), dan buruk (12-18). Setiap perlakuan diberikan kepada ke-39 subjek penelitian, sehingga data yang didapatkan dapat diperbandingkan antar kategori skor plak. Perbandingan ini juga bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak subjek yang mengalami perubahan dari satu kategori ke kategori lainnya, pada setiap permukaan gigi indeks. Fakultas Kedokteran Gigi 32

33 Jumlah Populasi 40 35 30 25 20 15 10 5 0 air putih teh 100% teh 50% Jenis Perlakuan sangat baik baik sedang buruk Gambar 5.1. Perbandingan kategori skor plak setelah berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% pada permukaan distobukal/distolabial Pada permukaan distobukal/distolabial, dapat dilihat dalam gambar 5.1. bahwa larutan teh hijau seduh 100% mempunyai kategori skor plak baik yang tertinggi. Kategori skor plak baik yang tertinggi kedua setelah larutan teh hijau seduh 100% ditunjukkan oleh larutan teh hijau seduh 50%, kemudian diikuti oleh air putih. 35 30 Jumlah Populasi 25 20 15 10 5 sangat baik baik sedang buruk 0 air putih teh 100% teh 50% Jenis Perlakuan Gambar 5.2. Perbandingan kategori skor plak setelah berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% pada permukaan bukal/labial Fakultas Kedokteran Gigi

34 Untuk permukaan bukal/labial, dalam Gambar 5.2. terlihat bahwa dari 39 subjek penelitian, sebagian besar subjek memiliki kategori skor plak baik. Namun paling tinggi terdapat pada perlakuan berkumur dengan air putih, diikuti oleh larutan teh hijau seduh 50%, lalu 100%. Akan tetapi bila dilihat pada skor plak sangat baik, nilai tertinggi terdapat pada perlakuan berkumur dengan teh 100%, diikuti teh 50%, lalu air putih. Jumlah Populasi 40 35 30 25 20 15 10 5 0 air putih teh 100% teh 50% Jenis Perlakuan sangat baik baik sedang buruk Gambar 5.3. Perbandingan kategori skor plak setelah berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% pada permukaan mesiobukal/mesiolabial Gambar 5.3. menunjukkan bahwa pada permukaan mesiobukal/mesiolingual, dari 39 subjek pada setiap perlakuan, sebagian besar subjek mempunyai kategori skor plak baik, dengan jumlah populasi tertinggi terdapat pada perlakuan berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100%, diikuti oleh larutan teh hijau seduh 50%, dan air putih. Fakultas Kedokteran Gigi

35 Jumlah Populasi 40 35 30 25 20 15 10 5 0 air putih teh 100% teh 50% Jenis Perlakuan sangat baik baik sedang buruk Gambar 5.4. Perbandingan kategori skor plak setelah berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% pada permukaan distopalatal/distolingual Gambar 5.4. memperlihatkan bahwa pada permukaan distopalatal/distolingual, jumlah populasi tertinggi dengan kategori skor plak baik, adalah dari perlakuan berkumur dengan larutan teh hijau seduh 50%, 100%, dan kemudian air putih. 40 Jumlah Populasi 35 30 25 20 15 10 5 0 air putih teh 100% teh 50% Jenis Perlakuan sangat baik baik sedang buruk Gambar 5.5. Perbandingan kategori skor plak setelah berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% pada permukaan palatal/lingual Untuk permukaan palatal/lingual, dapat dilihat pada Gambar 5.5. bahwa kategori skor plak baik, jumlah populasi tertinggi terdapat pada Fakultas Kedokteran Gigi

36 perlakuan berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100%, diikuti oleh larutan teh hijau seduh 50%, dan kemudian oleh air putih. 35 30 Jumlah Populasi 25 20 15 10 5 sangat baik baik sedang buruk 0 air putih teh 100% teh 50% Jenis Perlakuan Gambar 5.6. Perbandingan kategori skor plak setelah berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% pada permukaan mesiopalatal/mesiolingual Dari Gambar 5.6. terlihat bahwa pada umumnya setiap perlakuan mempunyai jumlah populasi tertinggi pada kategori baik. Jumlah populasi pada kategori baik yang tertinggi ditunjukkan oleh perlakuan berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100%, diikuti oleh perlakuan berkumur dengan larutan teh hijau seduh 50%, dan yang terakhir oleh air putih. 5.3. Analisis Penelitian Tabel 5.1. Uji Friedman perbandingan skor plak antara air putih, Larutan teh hijau seduh 100%, dan 50% Permukaan Distobukal/distolabial Bukal/labial Mesiobukal/mesiolabial Distopalatal/distolingual Palatal/lingual Mesiopalatal/mesiolingual Berbeda bermakna (p<0,05) p 0,004* 0,084 0,197 0,006* 0,001* 0,000* Uji Friedman pada Tabel 5.1. memperlihatkan adanya paling sedikit dua perlakuan yang berbeda bermakna antara perlakuan air putih, Fakultas Kedokteran Gigi

37 larutan teh hijau seduh 100%, dan 50% pada permukaan distobukal/ distolabial, bukal/ labial, mesiobukal/ mesiolabial, distopalatal/ distolingual, palatal/ lingual, dan mesiopalatal/ mesiolingual. Akan tetapi dari uji Friedman ini tidak dapat diketahui data skor plak perlakuan mana pada tiap permukaan tersebut yang menyebabkan adanya perbedaan bermakna. Oleh karena itu, analisa data ini dilanjutkan dengan uji post hoc Wilcoxon. Tabel 5.2. Uji Wilcoxon perbandingan skor plak antara air putih, larutan teh hijau seduh 100%, dan 50% Perlakuan Nilai p Pada Tiap Permukaan DB/DL B/L MB/ML DP/DLi P/Li MP/MLi Air putih dan teh 50% Air putih dan teh 100% teh 50% dan 0,011* 0,007* 0,655 0,090 0,046* 0,763 0,705 0,046* 0,180 0,002* 0,197 0,034* 0,003* 0,005* 0,480 0,001* 0,000* 0,317 100% Keterangan : * Berbeda bermakna (p<0,05) DB/DL = distobukal/distolabial B/L = bukal/labial MB/ML = mesiobukal/mesiolingual DP/Dli = distopalatal/distolingual P/Li = palatal/lingual MP/MLi = mesiopalatal/mesiolingual Berdasarkan Tabel 5.2. dapat diketahui bahwa pada permukaan distobukal/ distolingual, nilai p yang paling kecil adalah antara air putih dan larutan teh hijau seduh 100% (p=0,007). Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan antara air putih dan larutan teh hijau seduh 100% adalah yang paling berbeda bermakna. Pada permukaan bukal/ labial, perlakuan antara air putih dan larutan teh hijau seduh 100% mempunyai perbedaan yang bermakna dengan nilai p 0,046. Pada permukaan mesiobukal/mesiolabial, terlihat hasil yang sama seperti pada permukaan bukal/lingual, yaitu perbedaan bermakna terdapat pada perlakuan antara berkumur air putih dan larutan teh hijau seduh konsentrasi 100%, yaitu dengan p=0,046. Fakultas Kedokteran Gigi

38 Perlakuan berkumur dengan air putih dan larutan teh hijau seduh 50% memiliki perbedaan lebih bermakna pada permukaan distopalatal/distolingual ditunjukkan dengan nilai p yang terkecil (p=0,002) dibandingkan dengan antara larutan teh hijau seduh 100%. Pada permukaan palatal/lingual, perbedaan yang paling bermakna ditunjukkan oleh nilai p terkecil (p=0,003) yang terdapat pada perlakuan berkumur dengan air putih dan larutan teh hijau seduh 50%. Hasil yang bermakna juga ditunjukkan oleh antara berkumur dengan air putih dan larutan teh hijau seduh 100% (p=0,005). Dari Tabel 5.2. juga dapat diketahui bahwa pada permukaan mesiopalatal/mesiolingual, perbedaan paling bermakna terdapat pada perlakuan berkumur dengan air putih dan larutan teh hijau seduh 100% (p=0,000), berkumur dengan air putih dan larutan teh hijau seduh 50% (p=0,001). Berarti keduanya sangat efektif. Penjelasan lebih lanjut mengenai Tabel 5.2. Teh 100% Teh 50% p=0,655 p=0,011 p=0,007 Air putih Gambar 5.7. Perbandingan efektivitas berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan distobukal/ distolabial. Dari Gambar 5.7. diketahui bahwa larutan teh hijau seduh 100% adalah yang paling efektif kemudian diikuti dengan larutan teh hijau seduh 50% untuk menghambat pembentukan plak gigi di permukaan distobukal/distolabial dibandingkan berkumur dengan air putih. Fakultas Kedokteran Gigi

39 Teh 100% Teh 50% p=0,763 p=0,090 p=0,046 Air putih Gambar 5.8. Perbandingan efektivitas berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan bukal/ labial. Dari Gambar 5.8. dapat dilihat bahwa hanya berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100% yang dapat membantu mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan bukal/labial, walaupun hasil ini hampir tidak bermakna. Teh 100% p=0,180 Teh 50% Air putih p=0,705 p=0,046 Gambar 5.9. Perbandingan efektivitas berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan mesiobukal/ mesiolabial. Dari Gambar 5.9. dapat dilihat bahwa pada permukaan mesiobukal/mesiolabial, larutan teh hijau seduh 100% lebih efektif dalam menghambat pembentukan plak gigi dibandingkan dengan air putih. Fakultas Kedokteran Gigi

40 Teh 100% Teh 50% Air putih p=0,034 p=0,002 p=0,197 Gambar 5.10. Perbandingan efektivitas berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan distopalatal/ distolingual. Dari Gambar 5.10. didapatkan bahwa pada permukaan distopalatal/distolingual, jika diperbandingkan antara kedua perlakuan dengan larutan teh hijau seduh, efektif dalam menghambat pembentukan plak gigi. Namun untuk permukaan ini, hanya larutan teh hijau seduh 50% sangat efektif jika dibandingkan terhadap perlakuan dengan air putih Teh 100% Teh 50% p=0,480 p=0,003 p=0,005 Air putih Gambar 5.11. Perbandingan efektivitas berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan palatal/ lingual. Pada Gambar 5.11. konsentrasi yang paling berpengaruh dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan palatal/lingual adalah konsentrasi larutan teh hijau seduh 100% dan 50% jika dibandingkan dengan air putih. Fakultas Kedokteran Gigi

41 Teh 100% Teh 50% p=0,317 p=0,001 p=0,000 Air putih Gambar 5.12. Perbandingan efektivitas berkumur dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada permukaan mesiopalatal/ mesiolingual. Dari Gambar 5.12. jika diperbandingkan dengan air putih, terlihat bahwa pada permukaan mesiopalatal/mesiolingual, konsentrasi larutan teh hijau seduh 100% mempunyai nilai p yang paling berbeda (p=0,000), diikuti dengan konsentrasi larutan teh hijau seduh 50% (p=0,001). Fakultas Kedokteran Gigi

BAB 6 PEMBAHASAN Dalam penelitian ini, efektivitas berkumur dengan larutan teh hijau seduh dalam mengurangi pembentukan plak gigi secara klinis diamati dengan menggunakan larutan teh hijau seduh konsentrasi 100% dan 50% serta berkumur dengan air putih sebagai kontrolnya. Sebagai tolok ukurnya digunakan indeks plak untuk mengukur skor plak masing-masing perlakuan pada setiap subjek penelitian. Indeks plak yang digunakan dalam penelitian ini adalah indeks plak Loe and Silness yang dimodifikasi. Alat ukur ini telah diuji validitas dan reliabilitasnya pada tiga orang subjek sebelum rangkaian penelitian dilakukan. Dari hasil uji coba tersebut, alat ukur ini menunjukkan validitasnya dengan terdapatnya perbedaan skor plak gigi awal dan akhir dalam waktu kurang lebih lima jam dari ketiga subjek tersebut. Dari data yang didapatkan, terlihat adanya perbedaan skor plak antara perlakuan dengan air putih, larutan teh hijau seduh 100% dan 50% pada enam permukaan gigi. Kemudian hasil antara setiap perlakuan pada setiap permukaan gigi dibandingkan satu sama lain untuk dianalisis mana yang paling efektif dalam mengurangi pembentukan plak gigi. Dari subjek 40 orang, hanya satu orang yang tidak dapat memenuhi seluruh proses penelitian ini. Hal ini disebabkan karena subjek tersebut kurang kooperatif. Namun, hasil yang didapat masih sangat akurat. Berdasarkan data dari gambar 5.1. sampai dengan 5.6., dapat diketahui bahwa teh hijau dapat mengurangi pembentukan plak gigi. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakuakan oleh Muin dan Munandar bahwa dari penelitian yang telah dilakukan diperoleh hasil adanya perbedaan bermakna terhadap selisih indeks plak gigi (p=0,0001) antara kelompok kontrol (yang tidak diberi teh hijau) dengan kelompok perlakuan (yang diberi teh hijau). 5 Namun, dari data tersebut belum dapat diketahui larutan teh hijau seduh konsentrasi berapakah yang lebih efektif dalam mengurangi pembentukan plak gigi. Oleh karena itu, dilakukan uji hipotesis menggunakan uji Friedman. Uji Friedman ini hanya untuk mengetahui kebermakaan atau ketidakbermaknaan hubungan antara berbagai perlakuan. Uji ini perlu dilanjutkan dengan uji post hoc Fakultas Kedokteran Gigi 42

43 berupa uji Wilcoxon. Hasil uji Wilcoxon menggambarkan dengan lebih jelas berkumur dengan larutan teh hijau konsentrasi berapa yang lebih efektif dalam menurunkan skor plak atau mengurangi jumlah plak gigi. Dari gambar 5.1-5.6 dapat disimpulkan bahwa larutan teh hijau seduh lebih efektif daripada air putih dalam mengurangi pembentukan plak gigi pada semua permukaan. Hal ini didukung oleh penelitian Senji Sakanaka (1994) 41 yang menyatakan bahwa ekstrak teh hijau dapat menghambat aktifitas biologi dari S. mutans dan S. Sobrinus. Beberapa polifenol di dalam ekstrak teh mencegah aktifitas biologis dari streptokokus kariogenik, termasuk pertumbuhan dan pengikatan dengan sintesa glukan yang tak larut. 24 Bakteri ini merupakan spesies yang mendominasi komposisi bakteri dalam plak gigi dan mempunyai kemampuan membentuk plak dari sukrosa. 36,33 Glukan atau dekstran ekstraselular yang disintesis dari sukrosa oleh bakteri streptokokus akan membentuk suatu matriks di dalam plak dimana bakteri dapat melekat. 42 Berdasarkan hasil penelitian yang telah dijabarkan pada pembahasan sebelumnya, didapatkan hasil bahwa secara umum berkumur dengan larutan teh hijau seduh konsentrasi 100% memberikan nilai yang paling tinggi pada skor plak kategori sangat baik, maupun kategori baik. Sedangkan, berkumur dengan larutan teh hijau seduh 50% memberikan nilai skor plak baik tertinggi hanya pada permukaan distopalatal/distolingual. Pada perlakuan kontrol yakni berkumur dengan air putih justru memberikan nilai skor plak baik tertinggi pada permukaan bukal/labial. Akan tetapi, jika dilihat lebih lanjut pada kategori skor plak sangat baik, nilai sangat baik tertinggi ada pada perlakuan berkumur larutan teh hijau seduh 100% pada permukaan bukal/labial. Maka, dapat disimpulkan bahwa berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100% maupun 50% efektif dalam menghambat pembentukan plak gigi dengan keefektifan yang lebih tinggi pada perlakuan berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100%. Walaupun berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100% memberikan nilai tertinggi pada kategori baik, tetapi perbedaan keefektivan antara berkumur larutan teh hijau seduh 100%, dan 50% tidak terlalu bermakna. Di dalam penelitian ini digunakan dua gram teh hijau kering yang diseduh dengan air sebanyak 150ml. Menurut Sakanaka (1982) 44, kandungan Fakultas Kedokteran Gigi

44 senyawa katekin yang paling berperan dalam menghambat aktivitas enzim glukosiltransferase bakteri adalah Epicatechin gallate (ECg) dan Epigallocatechin gallate (EGCg). Berdasarkan penelitian Bokuchava dan Skobeleva (1969) (disitasi dari Syah Andi NA, 2006 3 ) diketahui bahwa kadar katekin dalam ECg sebesar 3-6% berat kering teh. Sedangkan kadar katekin dalam EGCg sebesar 7-13% berat kering teh. Dari perhitungan, didapatkan kadar katekin ECg dalam larutan teh hijau konsentrasi 100% dalam penelitian ini adalah 0,4-0,8 mg/ml. Sedangkan kadar katekin EGCg dalam larutan teh hijau konsentrasi 100% adalah 0,933-1,733 mg/ml. Penelitian Sakanaka (1990) 41 juga menyatakan bahwa konsentrasi hambat minimum (KHM) katekin yang diperlukan untuk menghambat pembentukan glukan dengan bantuan enzim glukosiltransferase adalah 0,025-0,030 mg/ml. Sedangkan, konsentrasi atau kadar katekin yang terkandung di dalam larutan teh hijau seduh 100% kira-kira 1,3-2,533 mg/ml. Nilai konsentrasi ini jauh lebih besar dari pada KHM katekin. Dengan demikian, berkumur larutan teh hijau seduh 100% dapat menghambat pembentukan plak dengan cara menghambat kerja enzim glukosiltransferase bakteri, sehingga perlekatan bakteri ke pelikel terhambat dan pembentukan plak gigi juga jadi terhambat. Untuk larutan teh hijau seduh konsentrasi 50%, kadar katekin yang terkandung kira-kira setengah dari kadar katekin pada larutan teh hijau seduh konsentrasi 100%, yaitu 0,65-1,265 mg/ml. Konsentrasi teh hijau seduh ini juga menunjukkan nilai yang lebih besar dari pada KHM katekin, sehingga perlakuan berkumur dengan larutan teh hijau ini juga sudah cukup dapat menghambat pembentukan plak gigi. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak adanya perbedaan bermakna antara berkumur dengan larutan teh hijau seduh 100% dan 50%. Hal ini mungkin disebabkan karena kadar atau konsentrasi katekin dalam kedua macam larutan teh hijau seduh ini jauh lebih besar dari KHM katekin, sehingga perbedaan efektivitasnya tidak terlalu terlihat. Dalam penelitian Sakanaka (1982) 41 juga dikatakan bahwa kenaikan konsentrasi ECg dan EGCg akan meningkatkan keefektivan larutan teh hijau dalam menghambat pembentukan plak. Ini membuktikan bahwa larutan teh hijau Fakultas Kedokteran Gigi

45 dengan konsentrasi lebih tinggi akan lebih efektif dalam menghambat pembentukan plak gigi. Berkumur air putih memang tidak memberikan hasil yang lebih efektif dibandingkan berkumur dengan larutan teh hijau seduh. Namun, berkumur air putih juga dapat membantu mengurangi pembentukan plak gigi. Hal ini dapat dilihat dalam hasil penelitian, air putih memberikan nilai skor plak baik yang cukup tinggi pada beberapa permukaan gigi indeks. Berdasarkan data yang didapat dari penelitian Bethlenfalvy (2002) 43, diketahui bahwa dengan penyikatan secara manual, yaitu dengan menggunakan sikat gigi pada umumnya, skor plak pada permukaan bukal masih lebih tinggi dibandingkan skor plak permukaan lingual. Sedangkan pada permukaan mesial dan distal, skor plaknya lebih tinggi dibandingkan pada permukaan tengah/central. Pada penelitian ini dilakukan dengan berkumur. Hasilnya menunjukkan bahwa permukaan palatal/lingual skor plaknya lebih rendah dibandingkan permukaan bukal/labial. Hal ini dapat disebabkan karena bagian permukaan palatal/lingual lebih terkena cairan kumur saat berkumur dibandingkan permukaan bukal/ labial. Selain itu, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa keefektifan larutan teh hijau seduh pada permukaan tengah bukal/labial oleh larutan teh hijau seduh 100% dan 50% lebih rendah dibandingkan dengan permukaan palatal/lingual yang nilai rendahnya hanya pada perlakuan larutan teh hijau seduh 50%. Di sini terlihat bahwa keefektifan larutan teh hijau seduh 100% pada permukaan mesial dan distal lebih tinggi dibandingkan dengan permukaan tengah, untuk larutan teh hijau seduh 50% bahkan relatif cukup berperan baik dan sangat baik untuk permukaan bukal/labial dan palatal/lingual. Perbedaan nilai skor plak di setiap permukaan dapat berbeda. Menurut Samarayanake (2002) 26, komposisi bakteri dari plak gigi sangat bervariasi antara individu satu dengan lainnya. Besarnya variasi dalam komponen plak tersebut tergantung beberapa hal, antara lain: - perbedaan sisi gigi yang terkontaminasi pada gigi yang sama, - Sisi gigi yang sama terkontaminasi pada gigi yang berbeda, - Perbedaan waktu pada sisi yang sama. Fakultas Kedokteran Gigi

46 Menurut Seymor dan Heasman (1992) (disitasi dari M.Fahmi UA,2008) 45 menyatakan bahwa komposisi bakteri pada setiap permukaan gigi dipengeruhi oleh faktor ekologi seperti kebutuhan nutrisi, kadar oksigen lokal, dan penghilangan bakteri oleh saliva. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa larutan teh hijau seduh 100% dan 50% bermanfaat dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan jaringan penyangganya, khususnya dalam menghambat pembentukan plak gigi. Akan tetapi, konsumsi teh hijau juga memiliki beberapa kerugian, diantaranya yang terpenting adalah theobromin dalam teh hijau dapat mengikat zat besi. Oleh karena itu, disarankan sebaiknya anak-anak yang masih dalam tahap pertumbuhan tidak mengkonsumsi teh hijau secara berlebihan apalagi yang kental karena zat besi sangat dibutuhkan dalam masa pertumbuhan. Begitu pula pada orang yang mengidap anemia, ibu hamil, dan wanita yang sedang mengalami menstruasi. Untuk mengimbangi kerugian teh hijau ini, disarankan untuk banyak memakan makanan yang mengandung zat besi seperti susu, padi-padian, dan sayur-sayuran hijau dengan minumnya adalah air putih, bukan teh apalagi teh hijau yang diketahui mengandung kadar katekin tinggi. Namun jika saat makan, minumannya adalah teh, dianjurkan secara bersamaan juga minum atau makan bahan yang mengandung asam askorbat tinggi, seperti jeruk. Untuk itu dianjurkan agar mengkonsumsi teh hijau dilakukan diantara waktu makan. Jika ingin mendapatkan khasiat teh hijau yang dapat menghambat pembentukan plak gigi, tetapi ingin menghindari kerugian teh yang dapat mengikat zat besi, ada baiknya teh hijau hanya digunakan untuk berkumur, tidak perlu ditelan. Terdapat berbagai macam zat kimia lain yang dapat mengurangi plak gigi maupun bakteri dalam plak gigi dengan cara berkumur (Prijantojo,1996) 47, seperti Listerin, Povidon Iodine, Hexetidine, Hidrogen Peroksida, dan yang paling terkenal yaitu Chlorhexidine. Chlorhexidine bersifat bakterisid dan bakteriostatik terhadap bakteri positif Gram dan negatif Gram; dapat menghambat pertumbuhan plak gigi karena Chlorhexidine dapat berikatan dengan komponen-komponen pada permukaan gigi seperti polisakarida, protein, glikoprotein dan saliva, pelikel, mukosa serta permukaan hidroksiapatit. Fakultas Kedokteran Gigi

47 Seperti berkumur dengan larutan teh hijau, berkumur dengan Chlorhexidine juga memiliki beberapa kerugian, antara lain: 1. pemakaian rutin jangka panjang dapat menyebabkan jaringan lunak berwarna kecoklatan, 46 2. rasanya tidak enak dan menyebabkan staining 3. penggunaan dalam dosis ekstrim dapat mengakibatkan leukoplakia yang ditandai dengan penebalan mukosa. Berkumur dengan larutan teh hijau seduh juga memiliki beberapa kekurangan, tetapi jika dibandingkan dengan Chlorhexidine, larutan teh hijau seduh cenderung lebih aman jika tertelan, berasal dari bahan-bahan herbal, dan efek samping bagi gigi dan mulut tidak lebih parah daripada berkumur dengan Chlorhexidine. Selain itu, teh hijau mudah didapat dan mempunyai lebih banyak manfaat lain bagi kesehatan tubuh. Dalam penelitian ini terdapat beberapa kekurangan, yaitu jumlah subjek penelitian yang kurang, kemungkinan kurang tepatnya pembersihan plak gigi oleh subjek penelitian dan operator, range kategori skor plak gigi yang besar juga mengurangi keakuratan penelitian, serta penggunaan metode goresan yang kurang objektif. Oleh karena itu, pada penelitian yang akan datang, dapat digunakan lebih banyak subjek penelitian, range kategori indeks plak dibuat lebih kecil, pengukuran indeks plak menggunakan disclosing solution agar hasil yang didapat lebih objektif. Fakultas Kedokteran Gigi