BAB I PENDAHULUAN I.1

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. kuat dilaboratorium kimia. Metode kromatografi, karena pemanfaatannya

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan April Januari 2013, bertempat di

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. kering, dengan hasil sebagai berikut: Table 2. Hasil Uji Pendahuluan

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai Juni 2010 di Laboratorium

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 Juli 2015, bertempat di

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian meliputi aspek- aspek yang berkaitan dengan

BAB 3 METODE PENELITIAN

III. BAHAN DAN METODA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah daging buah paria (Momordica charantia

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel Akar tumbuhan akar wangi sebanyak 3 kg yang dibeli dari pasar

PERCOBAAN 04 KROMATOGRAFI KOLOM DAN KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS : ISOLASI KURKUMIN DARI KUNYIT (Curcuma longa L.) DAN PEMISAHAN ZAT (KI- 2051)

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Januari sampai dengan Juli 2014,

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. November Pengambilan sampel Phaeoceros laevis (L.) Prosk.

Beberapa keuntungan dari kromatografi planar ini :

LAPORAN TETAP KIMIA ANALITIK INSTRUMEN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Agustus April 2013, bertempat di

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Monggupo Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah daun pohon suren (Toona sinensis

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang diperoleh dari daerah Soreang dan Sumedang. Tempat penelitian menggunakan

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa. steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran 1, Hal.

BAB III METODE PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BABm METODOLOGI PENELITIAN

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS KANDUNGAN TUMBUHAN OBAT. ANALISIS Etil p-metoksi sinamat DARI RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L.)

IDENTIFIKASI GOLONGAN SENYAWA ANTRAQUINON PADA FRAKSI KLOROFORM AKAR KAYU MENGKUDU ( Morinda Citrifolia, L) ABSTRAK

BAB IV PROSEDUR PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Hasil pemeriksaan ciri makroskopik rambut jagung adalah seperti yang terdapat pada Gambar 4.1.

Percobaan 4 KROMATOGRAFI KOLOM & KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS. Isolasi Kurkumin dari Kunyit (Curcuma longa L)

BABV Kromatografi Kolom (Column Chromatography)

KROMATOGRAFI. Adelya Desi Kurniawati, STP., MP., M.Sc.

HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Hasil Ekstraksi Daun dan Buah Takokak

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Prosedur Penelitian

3 Percobaan. Garis Besar Pengerjaan

BAB 3 PERCOBAAN 3.1 Bahan 3.2 Alat 3.3 Penyiapan Serbuk Simplisia Pengumpulan Bahan Determinasi Tanaman

OLIMPIADE SAINS NASIONAL Medan, 1-7 Agustus 2010 BIDANG KIMIA. Ujian Praktikum KIMIA ORGANIK. Waktu 150 menit. Kementerian Pendidikan Nasional

Uji antibakteri komponen bioaktif daun lobak (Raphanus sativus L.) terhadap Escherichia coli dan profil kandungan kimianya

BAB III METODOLOGI. Metodologi penelitian ini meliputi penyiapan dan pengolahan sampel, uji

BAB 3 PERCOBAAN 3.1 Bahan 3.2 Alat 3.3 Penyiapan Simplisia 3.4 Karakterisasi Simplisia

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Desember 2014, bertempat di

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Pengambilan sampel buah Debregeasia longifolia dilakukan di Gunung

Kelompok 2: Kromatografi Kolom

BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN Lokasi Pengambilan Sampel, Waktu dan Tempat Penelitian

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L

3 Percobaan dan Hasil

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan September 2015 di

HASIL DA PEMBAHASA. Kadar Air

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilakukan dari bulan Agustus 2009 sampai dengan bulan

BAB III METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE. Lokasi dan Waktu Penelitian

Bab III Metodologi Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Muhammadiyah Semarang di Jalan Wonodri Sendang Raya 2A Semarang.

BAB 1 TINJAUAN PUSTAKA

Lampiran 1. Gambar tumbuhan gambas (Luffa cutangula L. Roxb.)

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun Artocarpus

3 Metodologi Penelitian

Kromatografi tambahan. Imam S

BAB II METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN di Laboratorium Biomassa Terpadu Universitas Lampung.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

LAPORAN KIMIA ORGANIK

BAB V HASIL PENELITIAN. 5.1 Penyiapan Bahan Hasil determinasi tumbuhan yang telah dilakukan di UPT Balai

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Instrumen Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan

BAB III. eksperimental komputasi. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek penelitian ini adalah bagian daun tumbuhan suren (Toona sinensis

III. METODE PENELITIAN. Penelitian telah dilakukan pada bulan Maret Juli 2014, bertempat di

METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Alat dan Bahan Prosedur Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mempercantik wajah. Kosmetik yang berbahaya mengandung komposisi dari

Lampiran 1. Identifikasi tumbuhan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Sampel atau bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun

BAB III METODE PENELITIAN

DESTILASI SECARA UMUM

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI MINYAK ATSIRI DARI SIMPLISIA BASAH DAN SIMPLISIA KERING DAUN SIRIH MERAH (Piper crocatum) Tiara Mega Kusuma, Nurul Uswatun

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Mei-Desember 2013, bertempat di

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BABffl METODOLOGIPENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya: set alat destilasi,

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai Juli 2012 di Laboratorium Kimia Fisika

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Januari 2012 sampai bulan Juni 2012 di

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

ANALISIS PEWARNA RHODAMIN B DALAM ARUM MANIS SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS DAN SPEKTROFOTOMETRI UV-Vis DI DAERAH SUKOHARJO DAN SURAKARTA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan metode purposive sampling, dimana pengambilan sampel dilakukan

SNI Standar Nasional Indonesia. Kecap kedelai. Badan Standardisasi Nasional ICS

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kandungan rhodamin

SOAL UJIAN OLIMPIADE SAINS NASIONAL 2014

HASIL DAN PEMBAHASAN. Persentase inhibisi = K ( S1 K

Kromatografi kolom adalah kromatografi yang menggunakan kolom sebagai alat untuk memisahkan komponen-komponen dalam campuran.

Lampiran 1. Identifikasi Tumbuhan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Transkripsi:

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran menjadi komponen-komponen molekular (1). Seluruh bentuk kromatografi berkerja berdasarkan prinsip ini. Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi cairan-padatan) danfase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponenkomponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda. Kromatografi juga merupakan pemisahan camuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya. Untuk itu, kemurnian bahan atau komposisi campuran dengan kandungan yang berbeda dapat dianalisis dengan benar. Tidak hanya kontrol kualitas, analisis bahan makanan dan lingkungan, tetapi juga kontrol dan optimasi reaksi kimia dan proses berdasarkan penentuan analitik dari kuantitas material. Teknologi yang penting untuk analisis dan pemisahan preparatif pada campuran bahan adalah prinsip dasar kromatografi. Pemisahan senyawa biasanya menggunakan beberapa tekhnik kromatografi. Pemilihan teknik kromatografi sebagian besar bergantung pada sifat kelarutan senyawa yang akan dipisahkan. Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombin asi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda (2). Kromatografi ini dikembangkan menjadi beberapa jenis, yaitu kromatografi lapis tipis, kromatografi kertas, kromatografi gas dan kromatografi kolom. Namun pada laporan kali ini akan dibahas mengenai kromatografi kolom khususnya kromatografi kolom vakum. baik dari definisi kromatografi kolom vakum, prinsip kerja, pelaksanaan, prosedur kerja, hasil 1

fraksi-fraksi senyawa yang terkandung dalam ektrak kunyit (Curcuma domestica L) setelah difraksionasi menggunakan kromatografi kolom vakum, serta identifikasi senyawa yang terkandung dalam kunyit (Curcuma domestica L) dengan menggunakan kromatografi lapis tipis. I.2 I.2.1 Maksud dan Tujuan Percobaan Maksud Percobaan Maksud dari percobaan ini agar mahasiswa dapat memahami cara mendapatkan dan memisahkan kandungan senyawa dalam tanaman dengan menggunakan metode kromatografi kolom vakum (KKV) dan kromatografi lapis tipis (KLT). I.2.2 Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu : 1. Untuk mengetahui prinsip kerja dari kromatografi kolom vakum (KKV). 2. Untuk memisahkan kandungan kimia dalam rimpang kunyit (Curcuma domestica L) dengan menggunakan kromatografi kolom vakum. 3. Untuk mengidentifikasi kandungan kimia yang telah difraksionasi dengan menggunakan metode KLT. BAB II 2

TINJAUAN PUSTAKA II.1 Teori Umum II.1.1 Kromatografi Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul berdasarkan perbedaan pola pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan komponen (berupa molekul) yang berada pada larutan (3). Kromatografi juga merupakan pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya. Untuk itu, kemurnian bahan atau komposisi campuran dengan kandungan yang berbeda dapat dianalisis dengan benar. Tidak hanya kontrol kualitas, analisis bahan makanan dan lingkungan, tetapi juga kontrol dan optimasi reaksi kimia dan proses berdasarkan penentuan analitik dari kuantitas material. Teknologi yang penting untuk analisis dan pemisahan preparatif pada campuran bahan adalah prinsip menggunakan dasar kromatografi. beberapa tekhnik Pemisahan kromatografi. senyawa Pemilihan biasanya teknik kromatografi sebagian besar bergantung pada sifat kelarutan senyawa yang akan dipisahkan (4). Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda. Fase diam cenderung menahan komponen campuran, sedangkan fase gerak cenderung menghanyutka-nnya. Berdasarkan terikatnya suatu komponen pada fase diam dan perbedaan kelarutannya dalam fase gerak, komponen-komponen suatu campuran dapat dipisahkan. Komponen yang kurang larut dalam fase gerak atau yang lebih kuat terserap atau terabsorpsi pada fase diam akan tertinggal, sedangkan komponen yang lebih larut atau kurang terserap akan bergerak lebih cepat (5). II.1.2 Kromatografi Kolom Vakum 3

II.1.2.1 Pengertian Kromatografi Kolom Vakum Kromatografi kolom vakum (KKV) adalah kromatografi yang dilakukan untuk memisahkan senyawa dengan menggunakan silika gel sebagai adsorben dan berbagai perbandingan pelarut (elusi gradien) dan menggunakan pompa vakum untuk memudahkan penarikan eluen (6). Kromatografi kolom vakum sama dengan kromatografi cair vakum. Karena kromatografi cair vakum merupakan salah satu jenis dari kromatografi kolom. Kromatografi kolom merupakan suatu metode pemisahan campuran larutan dengan perbandingan pelarut dan kerapatan dengan menggunakan bahan kolom. Kromatografi kolom lazim digunakan untuk pemisahan dan pemurnian senyawa (7). Kromatografi kolom vakum/kromatografi cair vakum merupakan kromatografi kolom yang dipercepat dan bekerja pada kondisi vakum, fase gerak digerakkan dengan kondisi vakum sehingga prosesnya berlangsung cepat. Kolom kromatografi dikemas kering dalam keadaan vakum agar diperoleh kerapatan maksimum. Alat yang digunakan terdiri dari corong G-3, sumbat karet, pengisap yang dihubungkan dengan pompa vakum serta wadah penampung fraksi. Walaupun KKV/KCV memerlukan jumlah sampel yang lebih banyak dari pada kromatografi lapis tipis (KLT), KKV/KCV tetap ekonomis dalam sisi biaya (8). Kromatografi cair vakum (KCV) pertama kali diperkenalkan oleh para ilmuwan dari Australia untuk mengatasi lamanya waktu yang dibutuhkan untuk separasi menggunakan kolom kromatografi klasik. Pada dasarnya metode ini adalah kromatografi lapis tipis preparatif yang berbentuk kolom. Aliran fase gerak dalam metode ini diaktifkan dengan bantuan kondisi vakum. Kromatografi cair vakum pada awalnya digunakan untuk separasi senyawaan steroid dan produk-produk natural dari laut. Kromatografi cair vakum terdiri dari suatu corong Buchner yang memiliki kaca masir. Corong Buchner ini diiisi dengan fase diam yang tingkat kehalusannya seperti yang umumnya dipakai dalam kromatografi lapis tipis (70-230 mesh). Corong Buchner yang 4 berisi fase diam ini

digunakan dalam kondisi vakum/bertekanan, yang berakibat pada kemampuan yang dihasilkan olehkromatografi cair vakum akan sama dengan kromatografi gravitasi namundiperlukan waktu yang lebih singkat. Cara asli yang diperkenalkan oleh Coll menggunakan corong Buchner kaca masir atau kolom pendek, sedangkan Targett menggunakan kolom yang lebih panjang untukmeningkatkan daya pisah (9). Gambar 1. Kromatografi Kolom Vakum II.1.2.2 Prinsip Kromatografi Kolom Vakum Prinsip kerja dari kromatografi kolom vakum adalah adsorpsi atau serapan, sedangkan pemisahannya didasarkan pada senyawa-senyawa yang akan dipisahkan terdistribusi di antara fasa diam dan fasa gerak dalam perbandingan yang berbeda-beda. Dimana mekanisme adsorpsinya yaitu mengadsorbsi ion-ion dan molekul-molekul senyawa pada fase diam dan pemisahannnya berdasarkan kelarutan senyawa dengan eluen yang digunakan (10). II.1.2.3 Keuntungan dan Kerugian Kromatografi Kolom Vakum Kromatografi kolom vakum mempunyai keuntungan (11): 5

1. Mempunyai biaya ekonomis 2. Adanya aliran fase gerak lebih cepat 3. Pengerjaannnya sederhana 4. Cuplikan yang dipisahkan lebih banyak Kerugian kromatografi kolom vakum (12): 1. Membutuhkan waktu yang cukup lama 2. Sampel yang digunakan banyak jika dibandingkan dengan KLT dan terbatas jika dibandingkan dengan kromatografi konvensional II.1.2.4 Perbedaan Kromatografi Kolom Vakum dengan Kromatografi Kolom Konvensional Adapun perbedaan kromatografi kolom vakum dengan kromatografi kolom konvensional yaitu (13) : 1. Konsumsi fase gerak KCV hanya 80% atau lebih kecil disbanding dengan kolom konvensional karena pada kolom mikrobor kecepatan alir fase gerak lebih lambat (10-µl/menit) 2. Adanya aliran fase gerak lebih lambat membuat kolom mikrobor lebih ideal jika digabung dengan spectrometer massa 3. Sensitivitas kolom mikrobor ditingkatkan karena solute lebih pekat karenanya jenis kolom ini sangat bermanfaat jika jumlah sampel terbatas missal sampel klinis II.1.3 Pelarut Pelarut yang digunakan dalam kromatografi cair vakum adalah pelarut yang kepolarannya paling rendah sampai pelarut yang kepolarannya tinggi. Dimana Elusi diawali dengan pelarut yang kepolarannya rendah lalu kepolaran ditingkatkan perlahan-lahan (polaritas meningkat) dengan harapan bahwa komponen kimianya terelusi secara berurutan berdasarkan tingkat kepolarannya. Oleh karena itu, Kromatografi Cair Vakum menggunakan tekanan yang rendah untuk meningkatkan lajua aliran fase 6

gerak. Kolom dihisap perlahan-lahan ke dalam wadah penampung fraksi sampai kering dengan cara memvakumkannya (8). Urutan pelarut yang digunakan adalah sebagai berikut (8): Fraksi Pelarut Komposisi Volume (ml) 1 Heksana 2 Heksana-etil asetat 50:50 3 Etil asetat 4 Etil asetat-metanol 75:25 5 Etil asetat-metanol 50:50 6 Etil asetat-metanol 25:75 7 Metanol Atau digunakan urutan pelarut sebagai berikut : Fraksi Pelarut Komposisi Volume (ml) 1 Heksana 2 Heksana-etil asetat 80:20 3 Heksana-etil asetat 60:40 4 Heksana-etil asetat 40:60 5 Heksana-etil asetat 20:80 6 Etil asetat 7 Metanol II.1.4 Jenis-jenis Kromatografi Kolom Vakum Jenis-jenis kromatografi kolom vakum yaitu (9) : A. Suction Colomn Isolasi komponen kimia dalam jumlah yang banyak, berdasarkan absorpsi dan partisi, dimana kolom diisi dengan fase diam divakumkan dengan suatu pompa vakum agar eluen dapat turun mengelusi komponen kimia yang selanjutnya keluar sebagai fraksi-fraksi. 7

B. Rapid-Sigel Isolasi komponen kimia dalam jumlah yang sedikit berdasarkan absorpsi dan partisi, dimana kolom diisi dengan fase diam divakumkan dengan suatu pompa vakum agar eluen dapat turun mengelusi komponenkimia yang selanjutnya keluar sebagai fraksi-fraksi. C. Press Colomn Kromatografi kolom sederhana di mana fase gerak bergerakdengan cepat karena penggunaan tekanan positif dari tabung nitrogren. Udara yang ditekan mengandung O2 dan uap air yang dapat menyebabkan peruraian produk dari ekstrak dan berubah saat pemisahan kromatografi. II.2 Uraian Bahan II.2.1 Ekstrak Kunyit Nama Resmi : Curcuma domestica extrac % Rendamen : 10 % Pemerian : Ekstrak kering, berwarna kuning, berbau khas kunyit Kelarutan : Larut dalam metanol Penyimpanan : Disimpan dalam botol vial yang tertutup rapat II.2.2 Etil Asetat (14) Nama resmi : Etil Asetat Sinonim : - Berat molekul : 18,02 Rumus molekul : C4H8O2 Rumus struktur : 8

Pemerian : Cairan tidak berwarna, mudah menguap, sangat mudah terbakar Kelarutan : Larut dalam 15 bagian air, dapat bercampur dengan etanol (95%) P dan dengan eter P Penyimpanan : Disimpan dalam wadah yang tertutup baik Kegunaan : Sebagai eluen II.2.3 Asam Sulfat (15) Nama resmi : Sulfat acid Sinonim : Acidy Sulfate Nomor CAS : 7664-93-9 Berat molekul : 98,08 Rumus molekul : H2SO4 Rumus struktur : Keasaman (pka) : 3 Viskositas : 26,7 Pemerian : Cairan bening, tak bewarna, tak berbau Kelarutan : praktis tidak larut dalam etanol, larut dalam air dan larut dalam asam mineral lainnya. Penyimpanan : Disimpan dalam wadah yang tertutup rapat Kegunaan : Sebagai penampak noda II.2.4 Metanol (14) Nama resmi : Metanolum Sinonim : Metanol, Metil-alkohol Berat molekul : 34 9

Rumus molekul : CH3OH Rumus struktur : Pemerian : Jernih, mudah menguap, berbau khas Kelarutan : Sangat larut dalam air, praktis tidak larut dalam eter, heksana Penyimpanan : Disimpan dalam wadah yang tertutup rapat Kegunaan : Sebagai pelarut II.2.5 N-heksana (14) Nama resmi : Hexaminum Sinonim : Heksamina Berat molekul : 140,09 Rumus molekul : C6H12O4 Rumus struktur : 10

Pemerian : Hablur mengkilap, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa membakar dan manis kemudian agak pahit. Jika dipanaskan dalam suhu ± 260omenyumblim Kelarutan : Larut dalam 15 bagian air, dalam 12,5 ml eranol (95%) P dan dalam lebih kurang 10 bagian kloroform P Penyimpanan : Disimpan dalam wadah yang tertutup baik Kegunaan : Sebagai eluen II.2.6 Silika Gel (16) Nama resmi : Silica Gel Nomor CAS : 63231-67-4 Rumus molekul : SiO 2.xH2O Rumus struktur : Pemerian : Hablur mengkilap, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak berbau. Kelarutan : Larut dalam air Penyimpanan : Disimpan dalam wadah yang tertutup baik Kegunaan : Sebagai adsorbent II.3 Prosedur Kerja Prosedur kerja dari kromatografi kolom vakum menggunakan alat bantu yang berupa pompa vakum untuk mempercepat laju alir fasa gerak selama proses pemindahan zat terlarut. Kolom kromatografi dikemas kering (biasanya dengan penjerap mutu KLT 10-40 µm) dalam keadaan vakum agar diperoleh kerapatan kemasan maksimum. Mula-mula kolom diisi dengan silika gel dengan tinggi ½ dari tinggi kolom, kemudian vakum dijalankan dan 11

ditekan dengan batang pengaduk yang bersalut hingga menjadi padat dan rapat. Setelah itu dimasukkan pelarut organik yang cocok untuk mencoba apakah kolom telah sempurna. Jika kolom sempurna, pelarut tersebut akan turun secara horizontal. Disamping itu ekstrak ditimbang sebanyak 2 gram dan ditambahkan silika gel dengan berat yang sama dengan ekstrak. Kemudian silika gel yang tersalut ekstrak tersebut digerus hingga homogen dan halus kemudian diangin-anginkan beberapa saat agar campuran silika gel dan ekstrak yang akan dimasukkan kedalam kolom dalam keadaan kering. Setelah itu campuran ekstrak dan silika gel dimasukkan dalam kolom dan diratakan kemudian dilapisi dengan kertas saring. Pelarut dimasukkan dan vakum dijalankan hinggga pelarut mengelusi komponen kimia dan kering didalam kolom, setelah kering vakum dimatikan. Selanjutnya dimasukkan pelarut lain yang tingkat kepolarannya lebih tinggi dari pelarut pertama dan vakum dijalankan kembali. Begitu seterusnya hingga pelarut yang digunakan itu memiliki tingkat kepolaran yang tinggi yang dapat mengelusi semua komponen kimia dalam ekstrak. Dimana hasil fraksi iu ditampung dalam cawan porselin dan diuapkan dalam rotavapor. 12

BAB III METODE KERJA III.1 Alat dan Bahan III.1.1 Alat 1. Alu 2. Batang Pengaduk 3. Batang Penotol 4. Botol Vial 5. Chamber 6. Gelas kaca 7. Gelas kimia 8. Gunting 9. Kolom (Corong dan kolom Buchner) 10. Lap Kasar 11. Lampu UV 254 nm dan 366 nm 12. Lumpang 13. Lempeng Silika Gel 14. Mistar 13

15. Oven 16. Pipet Tetes 17. Pompa Vakum III.1.2 Bahan 1. Almunium Voil 2. Ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica) 3. Etil Asetat 4. H2SO4 10 % 5. Kapas 6. Lempeng KLT 7. Kertas saring 8. Metanol 9. N-Heksana 10. Tissue III.2 Cara Kerja 1. Disiapkan alat dan bahan 2. Dikombinasikan pelarut n-hexan, etil asetat, dan metanol diantaranya: a. N-hexan % b. N-hexan-etil asetat 80:20 c. N-hexan-etil asetat 60:40 d. N-hexan-etil asetat 40:60 3. e. N-hexan-etil asetat 20:80 f. Etil asetat % g. Metanol % Ditimbang 2 gram ekstrak kering kunyit (Curcuma domestica) 4. Ditimbang 2 gram silika gel 5. Digerus ekstrak dengan silika gel hingga halus dan homogen 6. Ditimbang 40 gram silika gel, kemudian dimasukkan dalam kolom sambil menjalankan pompa vakum 7. Dimasukkan metanol untuk mencoba kolom yang akan digunakan 14

8. Dimasukkan campuran ekstrak kunyit dan silika gel ke dalam kolom, ratakan sedikit lalu ditutup dengan kertas saring 9. Masukkan satu-persatu kombinasi pelarut kedalam kolom sambil menjalankan pompa vakum 10. Hasil fraksi ditampung dalam cawan proselin kemudian diuapkan 11. Dikeluarkan ekstrak yang telah kering dan dimasukkan kedalam botol vial dan 12. Diencerkan estrak dengan metanol 13. Ditotolkan larutan ekstrak pada lempengan 10x10 cm 14. Dimasukkan lempengan tersebut dalam chamber yang telah jenuh dengan kombinasi pelarut 15. Dikeluarkan lempengan kemudian diamati noda yang terlihat dengan cahaya tampak, sinar UV 254-366, dan pentemprotan asam sulfat 10% 15

BAB IV HASIL PENGAMATAN dan PEMBAHASAN IV.1 Hasil Pengamatan Berdasarkan hasil percobaan diatas diperoleh 7 ekstrak kental yang mengandung komponen kimia berdasarkan kelarutannya dengan eluen yaitu ekstrak kental heksana %, ektrak kental heksana-etil asetat 80:20, ektrak kental heksana-etil asetat 60:40, ektrak kental heksana-etil asetat 40:60, ektrak kental heksana-etil asetat 20:80, ekstrak kental etil asetat dan ektrak kental metanol. Gambar 2. Ekstrak kental n-heksana sampel rimpang kunyit Gambar diatas menunjukan ekstrak kental yang didapatkan dari hasil penguapan fraksi n-heksana 16

Gambar 3. Ekstrak kental n-heksana-etil asetat 80:20 sampel rimpang kunyit Gambar diatas menunjukan ekstrak kental yang didapatkan dari hasil penguapan fraksi n-heksana-etil asetat dengan perbandingan 80:20 Gambar 4. Ekstrak kental n-heksana-etil asetat 60:40 sampel rimpang kunyit Gambar diatas menunjukan ekstrak kental yang didapatkan dari hasil penguapan fraksi n-heksana-etil asetat dengan perbandingan 60:40 Gambar 5. Ekstrak kental n-heksana-etil asetat 40:60 sampel rimpang kunyit Gambar diatas menunjukan ekstrak kental yang didapatkan dari hasil penguapan fraksi n-heksana-etil asetat dengan perbandingan 40:60 17

Gambar 6. Ekstrak kental n-heksana-etil asetat 20:80 sampel rimpang kunyit Gambar diatas menunjukan ekstrak kental yang didapatkan dari hasil penguapan fraksi n-heksana-etil asetat dengan perbandingan 20:80 Gambar 7. Ekstrak kental etil asetat sampel rimpang kunyit Gambar diatas menunjukan ekstrak kental yang didapatkan dari hasil penguapan fraksi etil asetat Gambar 8. Ekstrak kental metanol sampel rimpang kunyit Gambar diatas menunjukan ekstrak kental yang didapatkan dari hasil penguapan fraksi metanol 18

Dengan percobaan diatas juga dapat dilihat penampakan noda hasil identifikasi senyawa dengan menggunakan KLT. Gambar 9. Penampakan noda secara tampak pada KLT Gambar diatas menunjukan noda yang tampak secara kasat mata pada lempeng KLT Gambar 10. Penampakan noda KLT pada lampu UV 254 nm Gambar diatas menunjukan noda yang tampak pada lampu UV 254 nm Gambar 11. Penampakan noda KLT pada lampu UV 366 nm Gambar diatas menunjukan noda yang tampak pada lampu UV 366 nm 19

Gambar 12. Penampakan noda KLT setelah disemprot H2SO4 Gambar diatas menunjukan noda yang tampak setelah disemprot H2SO4 Dari beberapa gambar diatas dapat dilihat bahwa semua pelarut memberikan penampakan noda dengan jarak yang sama sehingga jika diukur akan memberikan Rf yang sama yaitu yaitu dengan Rf 1 sebesar 0,25, Rf 2 sebesar 0,375, dan Rf 3 sebesar 0,5. IV.2 Pembahasan IV.2.1 Kromatografi Kolom Vakum Pada percobaan ini dilakukan fraksionasi terhadap ekstrak kental yang diperoleh dari ekstraksi tanaman kunyit (Curcuma domestica) dengan menggunakan kromatografi kolom vakum. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mahasiswa dapat melakukan dan mengamati langsung proses pemisahan senyawa yang ada dalam ekstrak kental menjadi senyawa yang lebih spesifik dengan menggunakan kromatografi yang dilengkapi pompa vakum untuk mempercepat laju alir dari eluen untuk mengelusi komponen kimia yang ada dalam ekstrak. Dimana ekstrak yang diperoleh akan berperan dalam identifikasi senyawa pada masing-masing sampel untuk uji kromatogafi. Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan ini adalah menyiapkan alat dan bahan yang digunakan. Selanjutnya ekstrak kental kunyit (Curcuma domestica) ditimbang sebanyak 2 g, lalu dicampurkan dengan silika gel yang bobotnya 2 gram pula. Dalam hal ini bobot silika gel dan bobot ekstrak berjumlah sama dengan tujuan agar ekstrak tersalutkan 20

silika gel. Setelah itu campuran ekstrak dan silika gel digerus hingga menjadi homogen dan halus. Langkah selanjutnya silika gel dengan berat 40 gram dimasukkan ke dalam kolom dengan tinggi ½ dari tinggi kolom sambil menyalakan pompa vakum dan menekannya dengan botol vial. Penggunaan botol vial ini dilakukan untuk mengganti tidak tersedianya batang pengaduk bersalut. Adanya penekanan dari botol vial dan penarikan dari pompa vakum terhadap silika gel agar silika gel tersebut menjadi padat dan diperoleh kerapatan yang maksimum. Setelah silika gel menjadi padat dimasukkan pelarut organik yang cocok yaitu metanol untuk mencoba apakah kolom telah sempurna untuk digunakan. Jika pelarut tersebut turun secara horizontal berarti kolom telah sempurna. Dalam hal ini ketika metanol dimasukkan dalam silika gel metanol turun secara horizontal dan hal ini menandakan bahwa kolom telah sempurna. Setelah itu, campuran ekstrak dan silika gel yang telah homogen dimasukkan ke dalam kolom sambil menyalakan pompa vakum agar campuran ekstrak dan silika gel terletak padat dan rapat dengan silika gel kemudian dilapisi dengan kertas saring. Hal ini bertujuan untuk menghindari percikan pada saat penambahan eluen. Selanjutnya dibuat eluen yang tingkat kepolarannya dimulai dari yang rendah sampai yang tinggi hal ini berarti akan dibuat eluen yang bersifat non polar hingga eluen bersifat polar. Eluen ini dibuat dengan pelarut dan perbandingan yang berbeda yaitu n-heksana %; n-heksana-etil asetat 80:20, n-heksana-etil asetat 60:40, n-heksana-etil asetat 40:60, n-heksanaetil asetat 20:80, etil asetat % dan metanol %. Eluen ini kemudian dimasukkan ke dalam kolom. Penambahan eluen dimulai dari paling non polar kemudian ke eluen polar. Hal ini bertujuan agar semua senyawa yang bersifar non polar keluar terlebih dahulu, jika digunakan eluen yang bersifat polar, bukan saja senyawa yang bersifat polar yang ditarik senyawa non polar juga akan 21

ditarik. Eluen ditambahkan melalui dinding kolom dan pompa vakum dinyalakan sehingga eluen turun mengelusi komponen kimia dan eluen yang keluar ditampung sebagai fraksi-fraksi pada wadah yang berbeda. Fraksi-fraksi tersebut kemudian diuapkan diatas water batah untuk mendapatkan ekstrak kental yang akan diidentifikasi menggunakan kromatografi lapis tipis. IV.2.2 Kromatografi Lapis Tipis Pada percobaan ini dilakukan identifikasi senyawa dalam 7 ekstrak berbeda, hasil fraksionasi sebelumnya. Dalam uji KLT ini, digunakan lempeng alumina sebagai adsorben (fase diam) dan eluennya (fase gerak), yaitu pelarut n-heksana dan etil asetat dengah perbandingan 21:14. Langkah pertama yang dilakukan adalah melarutkan ekstrak kental rimpang kunyit dengan metanol. Untuk pelarutan tersebut, ekstrak tidak boleh terlalu kental dan tidak boleh terlalu cair. Jika terlalu kental, ekstrak akan menyumbat pipa kapiler dan akan susah keluar dari pipa tersebut.dan jika terlalu encer maka totolan sebagian besar hanya berupa pelarut, sedangkan sampel yang akan di uji hanya dalam jumlah yang kecil. Selanjutnya eluen di masukkan ke dalam chamber, dan ke dalam chamber tersebut dimasukkan kertas saring. Hal ini bertujuan untuk menjenuhkan eluen, yang mana jenuhnya eluen tersebut ditandai dengan basahnya kertas saring tersebut secara keseluruhan. Jika eluen telah jenuh, kertas saring dikeluarkan dan digantikan dengan lempeng alumina yang sebelumnya telah ditotolkan ekstrak. chamber yang ditempati lempeng dan eluen harus tertutup rapat agar tidak terjadi penguapan dari eluen. Lempeng tersebut dibiarkan dalam eluen selama beberapa menit hingga eluen bergerak ke atas mencapai batas akhir yang telah ditentukan. 22

Selanjutnya lempeng diamati secara visual. Dimana pada saat pengamatan, ditunjukkan bahwa lempeng tersebut menghasilkan bercak noda berwarna kuning. Namun untuk ekstrak heksana tidak menampakkan bercak noda secara jelas. Hal ini mungkin diakibatkan karena ekstrak yang digunakan bening dan bersifat non polar sehingga ikatannya dengan fase diam tidak terlalu kuat dan mudah dibawa oleh eluen sampai ke atas lempeng. Untuk lebih menegaskan hasil uji yang didapatkan, maka dilakukan deteksi bercak noda secara fisika maupun kimia terhadap lempeng. Secara fisika, lempeng di amati dibawah sinar UV gelombang pendek (λ 254 nm) dan UV gelombang panjang (λ 366 nm). Dimana pada UV λ254 nm, lempeng berfluoresensi terang dan bercak berwarna gelap. Sebaliknya, pada UV λ 366 nm lempeng berwarna gelap dan bercak berfluoresensi terang. Dari hasil deteksi ini, didapatkan bahwa lempeng bercak hijau pada sinar UV 254 nm, sedangkan pada sinar UV 366 nm lempeng tersebut hanya menunjukkan warna coklat. Selanjutnya secara fisika, lempeng disemprot dengan pereaksi H2SO4 dan kemudian dipanaskan dalam oven dengan suhu 30 oc selama 3 menit, lalu lempeng diamati secara visual. Dari hasil pengamatan menunjukkan bercak noda yang ditampakkan oleh lempeng berubah. Dimana bercak noda yang berwarna kuning menjadi berwarna coklat. Dan dengan adanya penyemprotan H2SO4 ini noda yang tidak tampak menggunakan sinar UV baik 254 nm dan 366 nm menjadi tampak hal ini terbukti pada lempeng ini dimana timbul bercak noda berwarna hijau dan ungu dengan jarak yang berbeda. Dari bercak yang dihasilkan kemudian dilakukan perhitungan Rf. Perhitungan Rf pada lempeng ini menunjukkan Rf yang sama yaitu dengan Rf 1 sebesar 0,25, Rf 2 sebesar 0,375, dan Rf 3 sebesar 0,5. Hal ini 23

menunjukkan bahwa senyawa yang di fraksionasi dari ekstrak kunyit bersifat polar karena semakin kecil nilai Rf yang dihasilkan, semakin polar senyawa tersebut. BAB V KESIMPULAN V.1 Kesimpulan Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa : 1. Prinsip kerja kromatografi kolom vakum yaitu adsorpsi atau serapan, sedangkan pemisahannya didasarkan pada senyawa-senyawa yang akan dipisahkan terdistribusi di antara fasa diam dan fasa gerak dalam perbandingan yang berbeda-beda. Dimana mekanisme adsorpsinya yaitu 24

mengadsorbsi ion-ion dan molekul-molekul senyawa pada fase diam dan pemisahannnya berdasarkan kelarutan senyawa dengan eluen yang digunakandiperoleh ekstra kental n-heksana yang mengandung senyawa non polar dan ekstrak kental metanol dan air yang mengandung senyawa polar. 2. Diperoleh 7 ekstrak kental yang mengandung komponen kimia berdasarkan kelarutannya dengan eluen eluen yaitu ekstrak kental heksana %, ektrak kental heksana-etil asetat 80:20, ektrak kental heksana-etil asetat 60:40, ektrak kental heksana-etil asetat 40:60, ektrak kental heksana-etil asetat 20:80, ekstrak kental etil asetat dan ektrak kental metanol. 3. Diperoleh senyawa dengan Rf yang sama yaitu dengan Rf 1 sebesar 0,25, Rf 2 sebesar 0,375, dan Rf 3 sebesar 0,5. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa yang di fraksionasi dari ekstrak kunyit bersifat polar karena semakin kecil nilai Rf yang dihasilkan, semakin polar senyawa tersebut. V.2 Saran Diharapkan agar alat-alat yang digunakan dalam praktikum, ditambah jumlahnya, terutama rotavapor. 25