IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Diagram alir proses maserasi

III. BAHAN DAN METODE

Perbandingan Metode Maserasi, Remaserasi, Perkolasi dan Reperkolasi dalam Pembuatan Ekstrak Pegagan

METODE EKSTRAKSI Ekstrak Ekstraksi 1. Maserasi Keunggulan

KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK ETANOL DAUN BERTONI (Stevia rebaudiana) DARI TIGA TEMPAT TUMBUH

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kadar air = Ekstraksi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian

Metoda-Metoda Ekstraksi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Pengamatan dan Hasil Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. identitas tanaman tersebut, apakah tanaman tersebut benar-benar tanaman yang

UJI KADAR SISA ETANOL DAN ABU TOTAL EKSTRAK ETANOL 80 % DAUN BUNGA MATAHARI (Helianthus annuus) DAN TANAMAN ANTING-ANTING (Acalypha indica Linn)

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Unit alat yang dipakai sederhana, hanya dibutuhkan bejana perendam

Lampiran 1. Universitas Sumatera Utara

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Fase gerak : dapar fosfat ph 3,5 : asetonitril (80:20) : panjang gelombang 195 nm

Lampiran 1. Hasil identifikasi teripang Holothuria atra Jaeger

HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pemeriksaan kandungan kimia kulit batang asam kandis ( Garcinia cowa. steroid, saponin, dan fenolik.(lampiran 1, Hal.

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Hasil pemeriksaan ciri makroskopik rambut jagung adalah seperti yang terdapat pada Gambar 4.1.

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI EKSTRASI

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a. Pemilihan komposisi fase gerak untuk analisis levofloksasin secara KCKT

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Pengambilan sampel buah Debregeasia longifolia dilakukan di Gunung

BAB 4. SEDIAAN GALENIK

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Evaluasi kestabilan formula krim antifungi ekstrak etanol rimpang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan metode purposive sampling, dimana pengambilan sampel dilakukan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi.

Lampiran 1. Hasil Identifikasi Tumbuhan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Pembuatan larutan induk standar fenobarbital dan diazepam

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Penetapan Kadar Air Hasil Ekstraksi Daun dan Buah Takokak

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS KANDUNGAN TUMBUHAN OBAT. ANALISIS Etil p-metoksi sinamat DARI RIMPANG KENCUR (Kaempferia galanga L.)

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN. Metodologi penelitian meliputi aspek- aspek yang berkaitan dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS UKURAN PARTIKEL BAHAN PENYUSUN RAMUAN JAMU DAN VOLUME AIR PENYARI TERHADAP MUTU EKSTRAK YANG DIHASILKAN

a. Pengertian leaching

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN. (a) (b) Gambar 4 Twin trough chamber (a) dan flat bottom chamber (b)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Ekstraksi Zat Warna Rhodamin B dalam Sampel

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISA VITAMIN C METODE HPLC HIGH PERFORMANCE LIQUID CROMATOGRAPHY

Penetapan Kadar Sari

UJI STABILITAS FISIK DAN KIMIA SEDIAAN SIRUP RACIKAN

HASIL DA PEMBAHASA. Kadar Air

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Ekstrak memberikan rendemen sebesar 27,13% (Tabel 3).

EKSTRAKSI Ekstraksi padat-cair Ekstraksi cair-cair Ekstraksi yang berkesinambungan Ekstraksi bertahap Maserasi metode ekstraksi padat-cair bertahap

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PERCOBAAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas antioksidan pada

Lampiran 1. Identifikasi Tumbuhan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kandungan rhodamin

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Dari 100 kg sampel kulit kacang tanah yang dimaserasi dengan 420 L

Lampiran 1. Hasil Identifikasi Tanaman Kecipir

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lunak yang dapat larut dalam saluran cerna. Tergantung formulasinya kapsul terbagi

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 Karakterisasi Fisik Vitamin C

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

PERBANDINGAN METODE MASERASI, REMASERASI, PERKOLASI DAN REPERKOLASI DALAM EKSTRAKSI SENYAWA AKTIF ANDROGRAPHOLIDE

LAPORAN PRAKTIKUM 8 PRAKTIKUM HPLC ANALISA TABLET VITAMIN C

Lampiran 1. Hasil identifikasi rumput laut Gracilaria verrucosa (Hudson) Papenfus

BAB III BAHAN DAN CARA KERJA. Departemen Farmasi FMIPA UI dari Januari 2008 hingga Mei 2008.

Validasi metode merupakan proses yang dilakukan

BAB III ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA. Alat kromatografi kinerja tinggi (Shimadzu, LC-10AD VP) yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat,

Analisis Fisiko Kimia

Determinasi tanaman pisang raja (Musa paradisiaca L.) dilakukan di. Universitas Sebelas Maret. Tujuan dari determinasi tanaman ini adalah untuk

LAPORAN PRAKTIKUM Praktikum HPLC, Analisa Tablet Vitamin C

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. November Pengambilan sampel Phaeoceros laevis (L.) Prosk.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. kering, dengan hasil sebagai berikut: Table 2. Hasil Uji Pendahuluan

LAMPIRAN 1 DATA PERCOBAAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Sampel Akar tumbuhan akar wangi sebanyak 3 kg yang dibeli dari pasar

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

Wirasuta dkk. Jurnal Farmasi Udayana Vol 5, No 2, UJI KEMURNIAN ISOLAT ANDROGRAFOLID DENGAN HPLC FASE TERBALIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Lampiran 1. Tumbuhan dandang gendis dan simplisia

BAB III METODE PENELITIAN

HASIL. (%) Kulit Petai 6.36 n-heksana 0,33 ± 0,06 Etil Asetat 0,32 ± 0,03 Etanol 70% 12,13 ± 0,06

BAB III METODOLOGI. Metodologi penelitian ini meliputi penyiapan dan pengolahan sampel, uji

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Metode Penelitian. asetat daun pandan wangi dengan variasi gelling agent yaitu karbopol-tea, CMC-

High Performance Liquid Chromatography (HPLC) Indah Solihah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Kata kunci: surfaktan HDTMA, zeolit terdealuminasi, adsorpsi fenol

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. L.) yang diperoleh dari Pasar Sederhana, Kelurahan. Cipaganti, Kecamatan Coblong dan Pasar Ciroyom, Kelurahan Ciroyom,

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

I. Judul: Isolasi Minyak Jahe Dari Rimpang Jahe (Zinger Officinale) II. Tanggal Percobaan: 6 Maret 2013 III. Tanggal selesai Percobaan: 6 Maret 2013

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Objek atau bahan penelitian ini adalah biji paria (Momordica charantia)

Optimalisasi Proses Isolasi Etil Parametoksisinamat (EPMS) Dari Rimpang Kencur dengan Variasi Proses dan Konsentrasi Pelarut

BAB IV PROSEDUR PENELITIAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Identifikasi tumbuhan.

Dalam proses ekstraksi tepung karaginan, proses yang dilakukan yaitu : tali rafia. Hal ini sangat penting dilakukan untuk memperoleh mutu yang lebih

BAB I PENDAHULUAN. Kulit merupakan jaringan pelindung yang lentur dan elastis, yang

Transkripsi:

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. KARAKTERISASI SIMPLISIA Simplisia yang digunakan pada penelitian ini adalah tanaman sambiloto yang berasal dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TO&OT) Tawangmangu. Bagian tanaman yang digunakan adalah daun, ranting, dan akar tanaman. Sebelum digunakan sebagai bahan baku, tanaman ini dilakukan perlakuan pendahuluan yaitu pengeringan dan penghalusan. Pengeringan dilakukan di bawah sinar matahari sampai daun benar-benar kering, yang ditandai dengan pecahnya simplisia tersebut apabila diremas menggunakan tangan. Setelah pengeringan, simplisia tersebut dihancurkan atau dihaluskan menggunakan mesin penghalus (grinder). Grinder yang digunakan dalam penghalusan tersebut dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 6. Grinder Simplisia yang sudah siap, dilakukan karakterisasi simplisia meliputi uji kadar abu total, kadar sari larut air, dan kadar sari larut etanol. Karakterisasi tersebut merujuk pada Materia Medika (1995) tanaman sambiloto. Karakterisasi ini bertujuan untuk mengetahui kualitas dari simplisia tersebut. Hasil dari pengujian karakterisasi simplisia tersebut dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Hasil karakterisasi simplisia sambiloto Karakteristik Persen (%) Materia medika Kadar abu total 18 12% Kadar sari larut air 19 18% Kadar sari larut etanol 13 9,7% Dari Tabel 3 dapat dilihat kadar abu total yang terkandung di dalam tanaman sambiloto adalah sebesar 18%. Kadar abu ini menunjukkan kandungan mineral dalam bahan tersebut. Mineral yang terkandung di dalam bahan terdiri dari 2 jenis garam, yaitu garam organik misalnya asetat, pektat, malat, dan garam anorganik, misalnya karbonat, fosfat, sulfat, dan nitrat. Nilai

kadar abu total yang diperoleh tidak sesuai dengan ketentuan yang ada pada Materia Medika (1995), dimana kadar abu total simplisia yang akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan obat tradisional atau herbal terstandar harus 12% sedangkan hasil pengukuran menyatakan bahwa kadar abu total sebesar 18%. Ketidaksesuaian ini terjadi akibat bahan yang digunakan merupakan campuran antara daun, ranting dan akar. Selain itu, kandungan dan komposisi abu atau mineral pada bahan juga tergantung dari jenis bahan dan cara pengabuannya. Kadar sari larut air menunjukkan banyaknya senyawa-senyawa di dalam simplisia yang terlarut di dalam air. Dari Tabel 6 dapat diketahui kadar sari yang larut dalam air sebesar 19%. Nilai tersebut sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pada materia medika yaitu harus 18%. Ini berarti simplisia layak untuk dijadikan bahan baku dalam pembuatan obat tradisional atau obat herbal terstandar. Begitu juga dengan nilai kadar sari larut etanol, dimana hasil pengujian menyatakan dalam simplisia tersebut terkandung kadar sari larut etanol sebesar 13%. Nilai tersebut sesuai dengan yang ditetapkan di dalam materia medika, dimana kadar sari larut etanol harus memiliki nilai 9,7%. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa simplisia tersebut memiliki kandungan senyawa-senyawa (sari) yang layak untuk dilakukan ekstraksi. 4.2. PENENTUAN WASHING TIME Washing time merupakan waktu yang dbutuhkan untuk proses pencucian senyawa-senyawa yang ada di luar sel. Simplisia yang akan di ekstrak, sebelumnya telah dilakukan perlakuan pendahuluan seperti dikeringkan dan dihaluskan. Proses tersebut dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel tanaman simplisia sehingga senyawa-senyawa yang terkandung di dalam simplisia keluar dari sel. Pada proses pencucian ini pelarut mencuci atau melarutkan senyawa yang ada dipermukaan atau di luar sel. Washing time ditentukan dengan cara merendam simplisia di dalam pelarut (etanol 95%) dengan nisbah pelarut dan simplisia 1:1 selama 5, 1, 2, 4 hingga 12 menit. Rendemen yang diperoleh dari perendaman tersebut dapat dilihat pada Gambar 7. Gambar 7. Rendemen washing time Berdasarkan Gambar 7, dapat diketahui bahwa pada perendaman selama dua jam, rendemen yang dihasilkan sudah mulai stabil. Waktu dua jam ini merupakan waktu yang cukup untuk proses pencucian. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa proses ekstraksi dibedakan menjadi dua fase yaitu fase pencucian (washing out) dan fase ekstraksi (difusi). Fase washing out merupakan proses penarikan senyawa-senyawa yang terdapat di luar sel yang merupakan akibat dari pecahnya dinding sel pada saat proses pengecilan ukuran sehingga senyawa-senyawa yang terkandung di dalamnya pecah keluar sel. 17

Fase berikutnya adalah fase ekstraksi (difusi). Pada fase difusi, pelarut menarik senyawasenyawa yang ada di dalam sel dengan cara menembus dinding sel terlebih dahulu. Pelarut dapat masuk ke dalam sel karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan dalam sel dengan pelarut yang mula-mula masih tanpa bahan aktif. Proses penarikan ini akan berlangsung sampai terbentuknya suatu keseimbangan konsentrasi antara larutan di sebelah dalam dan di sebelah luar sel. Mekanisme kedua fase tersebut digambarkan pada Gambar 8. Gambar 8. Mekanisme penarikan senyawa (List dan Schmidt, ) 4.3. EKSTRAKSI SAMBILOTO Ekstraksi merupakan suatu usaha dalam penyarian senyawa tertentu dan memisahkannya dari bahan yang dicari. Ekstraksi biasanya menggunakan cairan penyari yang disebut dengan pelarut. Pelarut akan melarutkan senyawa yang memiliki kelarutan yang sama atau hampir sama dengan kelarutan pelarut, ekstraksi tersebut biasa disebut dengan sebutan solvent extraction atau ekstraksi menggunakan pelarut. Menurut Ansel (1989), ekstraksi adalah penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah obat dan menggunakan pelarut yang memiliki kelarutan sama dengan zat yang akan ditarik. Dalam penelitian ini digunakan empat metode yaitu maserasi, remaserasi, perkolasi, dan reperkolasi. Keempat metode ini merupakan ekstraksi dingin atau ekstraksi yang tidak menggunakan panas, sehingga tidak merusak senyawa yang terkandung di dalamnya. Metode ekstraksi tersebut dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah obat, daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna. Selain itu, metode ekstraksi juga dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat dari bahan mentah obat, dan daya penyesuaian dengan tiap macam metode ekstraksi dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna (Ansel, 1989). Pada ekstraksi tersebut, perlarut yang digunakan adalah etanol 95%. Pemilihan pelarut ini berdasarkan beberapa sebab, antara lain kepolaran, toksisitas, dan penelitian-penilitian yang telah dilakukan sebelumnya. Kumoro et al. (9) menyatakan bahwa metanol merupakan pelarut yang terbaik dalam ekstraksi diterpenoid lakton dari A. paniculata dalam hal rendemen dan komponen yang dihasilkan tinggi, sedangkan etanol dan aseton juga merupakan pelarut yang mampu untuk mengekstrak andrographolide, namun hasilnya lebih kecil. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada Tabel 4. 18

Tabel 4. Pengaruh polaritas terhadap rendemen andrographolide dan deoxyandrographolide 4.3.1. Maserasi Maserasi merupakan ekstraksi dingin, dimana simplisia direndam di dalam pelarut, dan dilakukan pengadukan atau pengocokan hingga pelarut menarik atau melarutkan senyawa yang diinginkan secara maksimal. Menurut List dan Schmidt (), maserasi dibedakan menjadi tiga jenis yaitu maserasi sederhana, maserasi kinetik, dan maserasi dengan penggunaan tekanan. Maserasi sederhana merupakan metode ekstraksi yang dilakukan dengan cara merendam simplisia di dalam pelarut dalam waktu tertentu yang disertai atau tidak disertai pengadukan pada suhu ruang. Kinetika maserasi memikili pengertian yang hampir sama dengan maserasi sederhana, namun pada kinetika maserasi dilakukan pengadukan dengan kecepatan konstan. Pada maserasi bertekanan ekstraksi dilakukan bukan pada tekanan ruang sehingga proses ekstraksi lebih efektif. Pada penelitian ini, metode maserasi yang digunakan adalah maserasi kinetik, karena maserasi dilakukan dengan menggunakan pengadukan yang konstan yaitu pada kecepatan rpm. Pengadukan ini dilakukan menggunakan shaker. Gambaran proses maserasi tersebut dapat dilihat pada Gambar 9. 19

Gambar 9. Maserasi menggunakan shaker Rendemen yang diperoleh dari maserasi ini berkisar antara 5,7-7, % (Lampiran 6). Rendemen terendah terdapat pada waktu maserasi 4 jam, dan rendemen tertinggi terdapat pada waktu maserasi 24 jam. Rata-rata rendemen yang diperoleh yaitu 6,4%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama maserasi, maka rendemen yang dihasilkan pun semakin tinggi. Hal tersebut digambarkan pada Gambar 1. Gambar 1. Rendemen hasil maserasi Berdasarkan grafik di atas, dapat dilihat bahwa pada grafik tersebut cenderung naik. Seharusnya, semakin lama waktu maserasi maka semakin tinggi rendemen yang dihasilkan. Namun pada maserasi 12 dan 18 jam rendemen yang dihasilkan menurun. Hal ini dikarenakan bahan yang digunakan merupakan campuran batang, daun, dan akar dimana tiap bagian tanaman memiliki komposisi yang berbeda sehingga berpengaruh terhadap rendemen yang dihasilkan. 4.3.2. Remaserasi Remaserasi pada prinsipnya hampir sama dengan maserasi, yaitu merendam simplisia di dalam pelarut hingga waktu tertentu yang disertai dengan pengadukan atau pengocokan. Namun ada sedikit perbedaan dimana pada remaserasi ini terjadi penggantian pelarut setelah dimaserasi selama 2 jam. Penggunaan pelarut pada metode ini dua kali lipat bila dibandingkan dengan metode maserasi. Karena hal tersebut mengacu pada literatur dimana perbandingan antara simplisia dan pelarut yang digunakan adalah 1:1. Hal ini dilakukan untuk menjaga kondisi ekstraksi agar tetap sama. Rendemen yang dihasilkan pada metode ini berkisar antara antara 9,9-11,9 %. Ratarata rendemen yang diperoleh yaitu sebesar 1,8 %. Rendemen terendah terdapat pada 2

remaserasi 4 jam dan tertinggi terdapat pada remaserasi 24 jam. Rendemen hasil remaserasi dapat dilihat pada Gambar 11. Gambar 11. Rendemen hasil remaserasi Dari Gambar 11, dapat dilihat bahwa grafik hasil remaserasi memiliki kecenderungan yang hampir sama dengan grafik hasil maserasi, dimana grafik memiliki kecenderungan naik. Hal ini mengindikasikan bahwa pelarut masih mampu untuk menarik senyawa setelah waktu remaserasi 24 jam. Namun perbedaan lamanya waktu ekstraksi disini juga tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap rendemen yang dihasilkan sehingga akan percuma jika ekstraksi dilakukan dalam waktu yang panjang. Rendemen ekstrak hasil remaserasi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rendemen ekstrak hasil maserasi. Hal ini dikarenakan pada saat remaserasi terdapat penggantian pelarut. Dengan penggantian pelarut ini ada beberapa hal yang terjadi, antara lain jumlah pelarut yang digunakan lebih banyak sehingga senyawa yang tertarik pun lebih banyak. Selain itu, karena mengunakan pelarut baru maka gradient konsentrasi antara pelarut dan sel berbeda jauh, sehingga mempermudah dalam penarikan senyawa-senyawa yanga ada di dalam sel. 4.3.3. Perkolasi Perkolasi selalu menggunakan pelarut yang baru dan merupakan proses yang kontinyu. Hal yang sangat berpengaruh pada proses perkolasi adalah laju alir pelarut melewati simplisia. Semakin cepat laju alir pelarut maka waktu kontak antara bahan dengan pelarut semakin kecil, sehingga senyawa yang tertarik pun sedikit, dan sebaliknya. Laju alir yang digunakan pada penelitian ini tergantung dari lama waktu ekstraksi, laju alir diatur sedemikian rupa agar 1 ml pelarut habis pada waktu tersebut. Sebelum perkolasi, simplisia dilakukan meserasi terlebih dahulu selama 2 jam untuk proses pencucian. Selain untuk proses pencucian, perendaman tersebut juga membantu mempermudah pelarut masuk ke dalam sel dengan cara membentuk suatu perlintasan melalui pembengkakan. Pada saat pelarut baru membasahi simplisia, maka dengan mudah pelarut tersebut masuk dan menarik senyawa-senyawa yang ada di dalamnya. Serbuk simplisia yang akan diperkolasi tidak langsung dimasukkan ke dalam bejana perkolator, tetapi dibasahi dan dimaserasi terlebih dahulu dengan cairan penyari. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan sebesar-besarnya kepada cairan penyari memasuki seluruh pori-pori dalam simplisia sehingga mempermudah penyarian selanjutnya. Untuk menentukan akhir perkolasi, dapat dilakukan pemeriksaan zat aktif secara kualitatif 21

pada perkolat terakhir. Untuk obat yang belum diketahui zat aktifnya, dapat dilakukan penentuan dengan cara organoleptis seperti rasa, bau, warna dan bentuknya (Anonim, 1986). Perkolasi ini memperoleh hasil rendemen yang berkisar sekitar 9,7-1,8%. Rata-rata rendemen yang diperoleh adalah 1,4%. Rendemen tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan rendemen hasil maserasi, namun lebih rendah jika dibandingkan dengan rendemen hasil remaserasi. Hal ini terjadi karena pada perkolasi, kecepatan alir yang digunakan pada saat perkolasi terlalu cepat sehingga waktu kontak antara pelarut dan simplisia kecil. Hal ini menyebabkan pelarut akan tercuci keluar sebelum pelarut menarik senyawa-senyawa yang ada di dalam sel secara sempurna atau bahkan pelarut akan tercuci ke luar sebelum pelarut masuk ke dalam sel. Hasil rendemen perkolasi selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 12. Gambar 12. Rendemen hasil perkolasi Dari gambar 12,dapat dilihat bahwa perbedaan waktu yang digunakan tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rendemen yang dihasilkan. Grafik yang ditunjukkan cenderung lurus membentuk garik horizontal. Hal ini berarti perbedaan laju alir yang digunakan pada saat perkolasi selama 4 jam hingga 24 jam tidak memberikan perbedaan terhadap rendemen yang dihasilkan. 4.3.4. Reperkolasi Reperkolasi merupakan metode yang hampir sama dengan metode perkolasi, simplisia tidak direndam di dalam pelarut namun dialirkan melalui simplisia. Perbedaan metode reperkolasi dengan perkolasi antara lain pelarut yang digunakan pada reperkolasi tidak menggunakan pelarut yang selalu baru. Pelarut yang telah melewati simplisia akan disirkulasi kembali ke atas dan akan melewati simplisia kembali sehingga pelarut yang belum sempurna dalam menarik senyawa-senyawa dalam sel akan digunakan kembali untuk menarik senyawa tersebut. Pada reperkolasi, pelarut disirkulasi menggunakan pompa kecil yang dihubungkan dengan selang kecil. Rangkaian alat perkolasi atau perkolator dapat dilihat pada Gambar 13. 22

Gambar 13. Rangkaian perkolator Pada perkolator diatas, kecepatan laju alir yang digunakan tidak dapat ditentukan, laju alir tergantung pada ukuran pipa pada kolom perkolator dan kekuatan pompa yang digunakan. Sama halnya dengan pekolasi, simplisia di maserasi terlebih dahulu selama 2 jam sebelum dilakukan reperkolasi. Rendemen yang dihasilkan dari reperkolasi disajikan pada Gambar 14. Gambar 14. Rendemen hasil reperkolasi Rendemen yang diperoleh pada metode reperkolasi berkisar antara 8,2 8,2 % dengan rendemen rata-rata 9,1%. Rendemen hasil reperkolasi ini lebih kecil dibandingkan rendemen hasil remaserasi dan reperkolasi namun lebih tinggi jika dibandingkan dengan rendemen hasil maserasi. Hal ini terjadi karena laju alir yang digunakan lebih cepat dari pada laju alir yang digunakan pada saat perkolasi sehingga mengakibatkan waktu kontak antara pelarut dan simplisia yang singkat. Waktu kontak yang kecil ini disebabkan penggunaan pompa untuk mensirkulasi pelarut sehingga laju alir tidak dapat diatur. Berbeda halnya dengan perkolasi, laju alir pelarut pada perkolasi dapat diatur sesuai dengan lamanya waktu yang digunakan walaupun perbedaan waktu pada akhirnya tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rendemen yang dihasilkan. Perbedaan waktu pada reperkolasi dimaksudkan untuk memperbanyak sirkulasi pelarut yang melalui simplisia sehingga diharapkan dapat lebih banyak melarutkan senyawa-senyawa yang ada di dalam sel. Dari Gambar14, dapat dilihat bahwa terdapat titik puncak pada waktu reperkolasi 14 jam. Diatas 14 jam, rendemen turun kembali ke posisi yang setara dengan rendemen sebelumya. Pada dasarnya rendemen yang dihasilkan tidak terlalu terpengaruh terhadap perbedaan lamanya waktu reperkolasi. Titik puncak tersebut dapat disebabkan oleh kondisi simplisia yang kurang seragam. Ketidakseragaman ini dikarenakan simplisia yang 23

digunakan berasal dari campuran daun, batang, dan akar tanaman sambiloto. Pada setiap bagian tanaman memiliki kandungan senyawa yang berbeda, sehingga perbedaan rendemen yang dihasilkan. 4.3.5. Perbandingan Rendemen Dari keseluruhan metode yang telah dilakukan, rendemen yang diperoleh berkisar antara 5,7-11,9%. Rendemen terkecil terdapta pada metode meserasi dan tertinggi pada metode remaserasi. Perbandingan rendemen dari keempat metode tersebut dapat dilihat pada Gambar 15. Gambar 15. Perbandingan rendemen empat metode ekstraksi Berdasarkan Gambar 15, rendemen terendah terdapat pada metode maserasi, dan tertinggi pada metode remaserasi. Kecilnya rendemen maserasi ini disebabkan karena pelarut yang digunakan pada metode tersebut memang paling sedikit jumlah pelarutnya dibandingkan dengan ketiga metode yang lain. Pada maserasi jumlah pelarut yang digunakan adalah 1 ml, sedangkan pada remaserasi, perkolasi, dan reperkolasi jumlah pelarut yang digunakan sebanyak ml. Metode remaserasi memiliki nilai rendemen yang tertinggi. Hal ini dikarenakan pada metode remaserasi waktu kontak yang lama antara pelarut dan simplisia, sehingga pelarut dapat lebih mudah masuk ke dalam sel dan menarik senyawa-senyawa secara maksimal tanpa takut terjadinya wash out atau tercuci keluar. Adanya pengocokan juga sangat membantu mempermudah pelarut dalam melarutkan senyawa-senyawa tersebut. Selain itu, juga karena pelarut yang digunakan lebih banyak bila dibandingkan dengan metode maserasi. Secara otomatis, molekul yang menarik senyawa yang ada dalam sel juga banyak. Namun secara keseluruhan, perbedaan lama waktu ekstraksi tidak memberikan pengaruh yang nyata atau signifikan terhadap rendemen yang dihasilkan. Rendemen yang dihasilkan pada waktu ekstraksi 4 jam tidak jauh berbeda dengan rendemen yang dihasilkan pada waktu ekstraksi 24 jam. 4.4. ANALISIS KADAR SENYAWA ANDROGRAPHOLIDE Senyawa andrographolide merupakan senyawa aktif yang terdapat di dalam tanaman sambiloto. Senyawa ini yang dipercaya dapat mengobati berbagai macam penyakit. Andrographolide merupakan senyawa utama yang ada di dalam tanaman sambiloto dan tergolong ke dalam kelompok trihidroxy lakton tak jenuh dengan rumus molekuler C 2 H 3 O 5. Kadar 24

andrograpolide inilah yang dijadikan parameter spesifik selain rendemen hasil masing-masing metode. Kadar andrographolide ditentukan dengan menggunakan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) atau biasa disebut dengan istilah High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) merupakan sistem pemisahan dengan kecepatan dan efisiensi yang tinggi. Hal ini karena didukung oleh kemajuan dalam teknologi kolom, sistem pompa tekanan tinggi, dan detektor yang sangat sensitif dan beragam. KCKT mampu menganalisa berbagai cuplikan secara kualitatif maupun kuantitatif, baik dalam komponen tunggal maupun campuran (Ditjen POM, 1995). Penentuan kadar andrographolide ini dihitung menggunakan metode luas puncak. Prosedur penentuan luas puncak serupa dengan tinggi puncak. Suatu teknik untuk mengukur luas puncak adalah dengan mengukur luas puncak sebagai hasil kali tinggi puncak dan lebar pada setengah tinggi (W1/2). Teknik ini hanya dapat digunakan untuk kromatografi yang simetris atau yang mempunyai bentuk serupa (Johnson dan Stevenson, 1991). Kadar andrographolide ditentukan berdasarkan luas puncak atau peak. Luas peak ini diperoleh dengan cara membandingkan antara peak standar dengan peak sampel. Data yang diperoleh dari hasil analisis HPLC diubah kedalam bentuk persamaan regresi linier (Lampiran1). Analisa kualitatif dilihat dari pola kromatogram andrographolide. Pola kromatogram andrographolide diketahui berdasarkan kemiripan waktu retensi dan spektrum UV antara senyawa standar dan sample ekstrak. Perbandingan waktu retensi dan spectrum UV dapat dilihat pada Gambar 16, 17 dan selengkapnya ada pada Lampiran 13. A-3 5 K-28 [1] Andrographolide Name Retention Time (a) 5 4 andrographolide 4 3 3 1 1.3 2. 2.9 26.6 39.9 49. 49.5 1 23.5. 2.5 5. 7.5 1. 12.5 15. 17.5 2. 22.5 25. 27.5 3. 32.5 35. 37.5 4. 42.5 45. 47.5 5. 52.5 55. Minutes RP 16 25 K-28 [1] Sambiloto Name Retention Time (b) 25 andrographolide 15 15 1 29.7 49.6 5.7 51.2 1 5.4 1.4 2. 3. 4.7 5.5 6.6 8.3 1.5 14.7 15.8 17.1 18. 18.8 19.4 2.3 21.6 5 23.5 52.6 24.6 25. 25.6 26.6 26.3 27. 27.7 32. 33.4 34.1 34.5 39.9 4.5 41.3 42.5 44.1. 2.5 5. 7.5 1. 12.5 15. 17.5 2. 22.5 25. 27.5 3. 32.5 35. 37.5 4. 42.5 45. 47.5 5. 52.5 55. Minutes Gambar 16. Analisa kualitatif ekstrak yang mengandung andrographolide pada waktu retensi 23,5 menit. (a) Senyawa standar andrographolide (b) Ekstrak sambiloto 25

Spektrum UV-Vis Andrograpolide 5 (a) 5 4 4 3 3 1 1 334 369 38 391 397 224 21 22 23 24 25 26 27 28 29 3 31 32 33 34 35 36 37 38 39 4 nm Spektrum UV-Vis Sampel Sambiloto P 18 5 5 4 (b) 4 3 3 1 1 323 382 385 395 224 21 22 23 24 25 26 27 28 29 3 31 32 33 34 35 36 37 38 39 4 nm Gambar 17. Spectrum UV (a) Senyawa standar andrographolide (b) Sample ekstrak Dari gambar tersebut dapat diketahui bahwa pada kromatogram senyawa standar, andrographolide memiliki waktu retensi 23,5 sehingga pada kromatogram sampel waktu retensi 23,5 dapat disimpulkan bahwa senyawa tersebut adalah andrographolide karena memiliki retensi waktu yang mirip. Dari gambar tersebut juga diperoleh waktu retensi lain, ini berarti terdapat banyak senyawa lain yang terkandung didalam ekstrak tersebut. Perbandingan kadar andrographolide hasil analisis HPLC pada masing-masing metode dapat dilihat pada Gambar 18. Gambar 18. Perbandingan kadar andrographolide Berdasarkan Gambar 18, diketahui bahwa kadar andrographolide tertinggi dperoleh dengan metode perkolasi pada lama waktu ekstraksi 24 jam yaitu 23,5 % sedangkan kadar terendah terdapat pada metode remaserasi selama 8 jam yaitu 3,7%. Jika dilihat dari grafik tersebut, kadar 26

andrographolide yang diperoleh tidak menentu. Hal ini dikarenakan bahan yang digunakan untuk bahan baku tidak seragam atau merupakan campuran bagian daun, batang, dan akar. Setiap bagian tanaman mengadung senyawa andrographolide dengan kadar berbeda-beda. Menurut Panday dan Mandal (9), kandungan andrographolide masing-masing bagian tanaman dipresentasikan pada Gambar 19. Gambar 19. Persentase kandungan andrographolide pada tiap bagian tanaman sambiloto Kandungan senyawa andrographolide tertinggi terdapat pada bagian daunnya yaitu sebesar 2,35%, kandungan terbanyak kedua terdapat pada bagian akar yaitu sebesar,52% dan terendah terdapat pada batang yaitu,35%. 4.5. ANALISIS STATISTIK Perhitungan ANOVA ini dilakukan dengan menggunakan Statistical Analisys Software (SAS). Dengan menggunakan 2 faktor, dimana faktor 1 adalah perbedaan waktu dan faktor kedua adalah perbedaan metode. Hasil perhitungan ANOVA terdapat pada Lampiran 14. Dari hasil perhitungan tersebut, diketahui bahwa faktor 1 yaitu perbedaan metode memiliki nilai p value lebih kecil dari nilai alpha sehingga tolak H, artinya perbedaan metode ekstraksi (maserasi, remaserasi, perkolasi, reperkolasi) berpengaruh secara nyata terhadap besarnya rendemen ekstrak yang dihasilkan. Namun pada faktor 2 yaitu perbedaan lama ekstraksi, nilai p value lebih besar dari nilai alpha maka terima H, yang artinya perbedaan lama ekstraksi tidak berpengaruh secara nyata terhadap besarnya rendemen yang dihasilkan. Dari hasil tersebut, perlu dilakukan uji lanjut untuk mengetahui lebih rinci lagi bagian mana yang berpengaruh secara nyata. Uji lanjut ini menggunakan uji Duncan. Hasil dari perhitungan Uji Duncan menyatakan bahwa pada metode remaserasi dan maserasi lamanya waktu ekstraksi memiliki pengaruh yang berbeda antara metode satu dengan yang lainnya, sedangkan pada metode perkolasi dan reperkolasi lama waktu ekstraksi tidak memiliki pengaruh yang berbeda terhadap rendemen tiap metode. Uji Duncan untuk melihat korelasi perbedaan metode terhadap rendemen menyatakan bahwa perbedaan metode tidak berpengaruh nyata atau signifikan terhadap besarnya rendemen yang dihasilkan pada tiap lamanya waktu ekstraksi yang digunakan. Rendemen yang dihasilkan pada lama waktu ekstraksi 4 jam tidak berbeda secara nyata dengan rendemen yang dihasilkan pada lama waktu ekstraksi 24 jam, dan lama waktu ekstraksi yang lainnya. Sehingga berdasarkan uji Duncan tersebut ekstraksi sebaiknya dilakukan hanya dalam waktu 4 jam saja. Selanjutnya analisis statistik guna mengetahui korelasi antara perbedaan lama waktu ekstraksi terhadap kadar andrographolide digunakan uji kruskal walis. Hasil dari uji kruskal 27

meyatakan bahwa nilai p value (,47) lebih besar dari nilai alpha (,5) maka terima H artinya kadar andrographolide tidak berbeda nyata dengan yang lainnya. Dengan kata lain bahwa perbedaan lama waktu ekstraksi dan perbedaan metode ekstraksi yang digunakan ridak berpengaruh secara signifikan terhadap rendemen yang dihasilkan. Dari uji statistik yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa perbedaan lama waktu ekstraksi memiliki pengaruh yang nyata terhadap rendemen yang dihasilkan. Pada metode perkolasi perbedaan lama waktu ekstraksi memilki pengaruh yang sama dengan metode reperkolasi, namun berbeda pengaruhnya dengan metode maserasi dan remaserasi. Untuk perbedaan metode, tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap rendemen yang dihasilkan pada tiap lama waktu ekstraksi masing-masing metode. Berdasarkan hasil uji kruskal walis, kadar andrographolide yang dihasilkan tidak dipengaruhi secara nyata oleh perbedaan lama waktu ekstraksi dan perbedaan jenis metode yang digunakan. 28