BAB XII PERILAKU MENYIMPANG

dokumen-dokumen yang mirip
BAB I PENDAHULUAN. perilaku menyimpang. Dalam perspektif perilaku menyimpang masalah sosial

BAB I PENDAHULUAN. sampai pelanggaran status hingga tindak kriminal (Kartono, 2013:6).

I. PENDAHULUAN. Remaja sebagai bagian dari masyarakat merupakan mahluk sosial yang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB II TINJAUAN TEORI. yang luas, dari tingkah laku yang tidak dapat diterima secara sosial

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

I. PENDAHULUAN. Anjarsari (2011: 19), mengatakan bahwa kenakalan adalah perbuatan anti. orang dewasa diklasifikasikan sebagai tindakan kejahatan.

BAB I PENDAHULUAN. Akhir-akhir ini masalah kenakalan remaja semakin dirasa meresahkan

PENYIMPANGAN SOSIAL, DAMPAK DAN UPAYA PENCEGAHANNYA

LAPORAN PENELITIAN HUBUNGAN ANTARA EGOSENTRISME DAN KECENDERUNGAN MENCARI SENSASI DENGAN PERILAKU AGRESI PADA REMAJA. Skripsi

BAB II LANDASAN TEORI. oleh orang dewasa maka akan mendapat sangsi hukum.

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan emosi menurut Chaplin dalam suatu Kamus Psikologi. organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam

BAB I PENDAHULUAN. juga adalah apa yang dikerjakan oleh organisme tersebut, baik dapat diamati secara langsung

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Intany Pamella, 2014

BAB I PENDAHULUAN 1.5. Latar Belakang

BAB 1 PENGANTAR. A. Latar Belakang Masalah. Perjalanan hidup manusia mengalami beberapa tahap pertumbuhan.

UPAYA GURU PEMBIMBING UNTUK MENCEGAH PERILAKU SISWA MENYIMPANG

BAB I PENDAHULUAN. Remaja berasal dari bahasa latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Secara logis anak memiliki dua nilai fungsi, yakni fungsi sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescere (kata

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan kemajuan zaman banyak dampak yang dialami manusia

HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KENAKALAN REMAJA PELAKU TATO

BAB I PENDAHALUAN. A. Latar Belakang Masalah. status sebagai orang dewasa tetapi tidak lagi sebagai masa anak-anak. Fase remaja

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bagi sebagian besar orang, masa remaja adalah masa yang paling berkesan

a. Bentuk-bentuk Kenakalan Remaja bersifat Amoral/ Asosial yang terjadi di SMPN 2 Sumbergempol

BAB II LANDASAN TEORI Remaja, Karakteristik dan Tugas Perkembangannya. adolescence yang diadopsi dari bahasa latin adolescere yang artinya

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa yang penting di dalam suatu kehidupan. manusia. Teori Erikson memberikan pandangan perkembangan mengenai

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Parigi Moutong provinsi Sulawesi Tengah. Terbentuknya kecamatan Taopa

BAB I PENDAHULUAN. dalam usaha mencapai tujuan bangsa Indonesia yaitu mewujudkan masyarakat

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. kenakalan remaja? Harapan remaja sebagai penerus bangsa yang menentukan

BAB I PENDAHULUAN. terbitan kota Medan seperti Waspada, Posmetro dan lain sebagainya tentang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. saat ini adalah Adolescense yang berasal dari kata latin yaitu Adolescentia

FAJAR DWI ATMOKO F

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa seorang individu mengalami peralihan dari

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bahkan hal ini sudah terjadi sejak dulu. Kenakalan remaja, seperti sebuah

HUBUNGAN POLA ASUH DEMOKRATIS DENGAN KENAKALAN REMAJA DI MA AL-AZHAR SERABI BARAT MODUNG BANGKALAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. ialah menyediakan lowongan untuk menyalurkan dan memperdalam. bakat dan minat yang di miliki seseorang.

BAB I PENDAHULUAN. asing bisa masuk ke negara Indonesia dengan bebas dan menempati sector-sektor

BAB I PENDAHULUAN. bagi perubahan besar sebuah negara. Ujung tombak sebuah negara ditentukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Devi Eryanti, 2013

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

BAB I PENDAHULUAN. untuk dibicarakan, dapat dilihat pada akhir akhir ini telah timbul akibat negatif

BAB I PENDAHULUAN. Remaja sedang mencari-cari figur panutan, namun figur itu tidak ada didekatnya.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja awal merupakan masa transisi, dimana usianya berkisar

BAB I PENDAHULUAN. masa remaja adalah masa pencarian nilai-nilai hidup. Dalam situasi demikian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. kembang remaja. Istilah remaja sendiri berasal dari bahasa latin yaitu adolescere

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu komponen dalam sistem pendidikan adalah adanya siswa, siswa

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

MODUL PERKULIAHAN. Kesehatan Mental. Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri)

BAB I PENDAHULUAN. proses perkembangan yang serba sulit dan masa-masa membingungkan

Bagi sebagian orang yang baru berangkat dewasa bahkan yang sudah. melewati usia dewasa, remaja adalah waktu yang paling berkesan dalam hidup

KEPUTUSAN REKTOR UNIVERSITAS HASANUDDIN NOMOR : 1595/UN4/05.10/2013 TENTANG

BAB II LANDASAN TEORI. A. Kepuasan Pernikahan. 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan

PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA NOMOR : 03 TAHUN 2009 TENTANG ETIKA DAN TATA TERTIB PERGAULAN MAHASISWA DI KAMPUS

BAB I PENDAHULUAN. Remaja merupakan periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa

AGAR MATERI INI BERMANFAAT. Jangan Biarkan HATI ini MATI. Jangan Biarkan HATI ini SAKIT

MAKALAH PANCASILA OLEH : MIKHAEL ALEXIUS WAHIDMA NIM : : SYSTEM INFORMASI(S1-SI) DOSEN. : MOHAMMAD IDRIS.P,Drs,MM

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. psikis, maupun secara sosial (Hurlock, 1973). Menurut Sarwono (2011),

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Masalah. menyenangkan, dimana terjadi juga perubahan pada dirinya baik secara fisik,

TATA TERTIB KEHIDUPAN KAMPUS BAGI MAHASISWA

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Hampir setiap hari kasus perilaku agresi remaja selalu ditemukan di media

BAB II KAJIAN TEORITIS

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Pengertian Kode Etik

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

kecil kehidupan seseorang. Adapun ciri-ciri penyimpangan primer adalah: 1) Bersifat sementara. 2) Gaya hidupnya tidak didominasi oleh perilaku

Oleh : SAWABI, S.E, M.M

BAB I PENDAHULUAN. A.Latar Belakang Masalah. hidup semaunya sendiri, karena di dalam kehidupan bermasyarakat terdapat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. menyakiti, mengancam atau membahayakan individu-individu atau objek-objek

BAB II LANDASAN TEORI. A. Perilaku Delinkuent

PENDAHULUAN. disebut sebagai periode pubertas, pubertas (puberty) adalah perubahan cepat pada. terjadi selama masa remaja awal (Santrock, 2003).

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tercermin dalam perilaku yang dianggap menimbulkan masalah di sekolah dan

BAB I PENDAHULUAN. sampai dengan dewasa Sulistyawati (2014). fisik, psikis dan lingkungan Willis (2014). Tuntutan-tuntutan inilah

BAB I PENDAHULUAN. Manusia pada hakekatnya adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia

BAB I PENDAHULUAN. Kesulitan mengadakan adaptasi menyebabkan banyak kebimbangan, pribadi yang akibatnya mengganggu dan merugikan pihak lain.

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. rinci masa remaja dibagi ke dalam 3 tahap yaitu: usia tahun adalah masa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa yang penuh konflik, karena masa ini adalah

BAB I PENDAHULUAN. peranan sekolah dalam mempersiapkan generasi muda sebelum masuk

Suka bolos, berkelahi dengan anak sini dan luar, suka minum-minum, suka merokok, pernah bantah guru

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan sifat dan perilaku setiap manusia

HUBUNGAN ANTARA KETERGANTUNGAN TERHADAP TEMAN SEBAYA DENGAN PERILAKU ANTISOSIAL PADA REMAJA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

KODE ETIK TENAGA KEPENDIDIKAN STIKOM DINAMIKA BANGSA

Transkripsi:

BAB XII PERILAKU MENYIMPANG A. Pengertian Perilaku Menyimpang Perilaku menyimpang dapat terjadi di mana-mana dan kapan saja, baik di rumah, di sekolah maupun di masyarakat. Banyak faktor atau sumber yang menjadi penyebab timbulnya perilaku menyimpang baik yang berasal dari dalam diri maupun dari luar diri individu yang bersangkutan. Perilaku dikatakan menyimpang apabila prilaku tersebut dapat merugikan dirinya sendiri, maupun orang lain dan juga melanggar aturan-aturan, nilai-nilai, dan norma baik agama, hukum maupun adat istiadat. Salah satu upaya mendefinisikan penyimpangan perilaku remaja dalam arti kenakalan anak (juvenile delinquency) dilakukan oleh M.Gold dan Petronio seperti dikemukan Sarlito Wirawan Sarwono yaitu sebagai berikut : Kenakalan anak adalah tindakan oleh seseorang yang belum dewasa yang sengaja melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukum. Selanjutnya Sarlito Wirawan Sarwono mendefinisikan bahwa secara keseluruhan, semua tingkahlaku yang menyimpang dari ketentuan yang berlaku dalam masyarakat (norma agama, etika, peraturan sekolah dan keluarga, dan lain-lain) dapat disebut sebagai perilaku menyimpang. Tetapi jika penyimpangan itu terjadi terhadap norma hukum pidana barulah disebut kenakalan. Menurut pandangan Behaviorisme peristiwa menyimpang itu terjadi apabila : 1. Seseorang gagal menemukan cara-cara penyelesaian yang cocok untuk perilakunya. 2. Seseorang belajar tentang cara-cara penyesuaian yang salah (maladaptive dan ineffective) 168

3. Sesorang dihadapkan pada konflik-konflik yang tidak mampu diatasinya Untuk mengatasi timbulnya perilaku menyimpang aliran Behaviorisme menggunakan prinsip-prinsip teori belajar, yaitu memberikan penguatan terhadap kondisi prilaku yang positif dan memberi hukuman terhadap prilaku yang negatif. Sedangkan menurut aliran Humanisme bahwa terjadinya perilaku menyimpang ini disebabkan oleh : 1. Seseorang belajar mengenai sikap penyesuaian yang salah 2. Seseorang menggunakan cara-cara mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) secara berlebihan. Slavin (1976) menyatakan bahwa remaja pada umumnya mengalami gangguan emosional. dan kondisi ini dapat menimbulkan perilaku menyimpang seperti penyalahgunaan NAPZA dan penyimpangan seksual. Ciri-ciri pribadi yang normal dan mental yang sehat menurut Maslow dan Mittelman seperti yang dikutip Kartini dan Kartono, 1985 adalah sebagai berikut : 1. Memiliki perasaan aman 2. Mempunyai spontanitas dan emosionalitas yang tepat 3. Mampu menilai dirinya secara positif dan objektif 4. Mempunyai kontak dengan sesuatu realitas secara baik 5. Memiliki dorongan-dorongan dan keinginan jasmaniah yang sehat serta memiliki kemampuan untuk memenuhi pemanfaatannya 6. Mempunyai pemahaman diri yang baik 7. Mempunyai tujuan hidup yang adekwat 8. Memiliki kemampuan untuk belajar dari pengalaman hidupnya 9. Ada kesanggupan untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan kelompok di mana ia berada 10. Ada sikap emansipasi yang sehat terhadap kelompoknya dan kebudayannya 11. Ada integrasi dalam kepribadiannya. 169

B. Wujud Perilaku Menyimpang Batasan tentang perilaku menyimpang tidak begitu jelas dan sangat luas, sebagai acuan bahwa perilaku dapat dikatakan menyimpang maka Gunarsa (1986) menggolongkan ke dalam dua jenis, yaitu : 1. Penyimpangan perilaku yang bersifat moral dan asosial yang tidak diatur dalam undang-undang sehingga tidak dapat digolongkan ke dalam pelanggaran hukum. Contohnya berbohong, membolos, kabur, membaca buku porno, berpesta pora semalam suntuk, berpakaian tidak pantas dan minum minuman keras. 2. Penyimpangan perilaku yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaiannya sesuai dengan undang-undang dan hukum, yang biasa disebut dengan kenakalan remaja. Misalnya berjudi, membunuh, memperkosa dan mencuri. Berdasarkan batasan tentang perilaku menyimpang tersebut, dapat dikemukakan bahwa perilaku menyimpang sering terjadi pada remaja, seperti dikemukakan Mudjiran dkk (2007) adalah sebagai berikut : 1. Suka bolos/cabut sebelum pelajaran berakhir 2. Tidak suka bergaul/suka menyendiri 3. Suka berbohong kepada guru dan orang lain 4. Suka berkelahi atau mengganggu temannya pada waktu belajar 5. Suka merusak fasilitas sekolah dan lain-lainnya 6. Sering mencuri barang-barang kepunyaan orang lain 7. Suka curi perhatian 8. Ugal-ugalan, kebut-kebutan di jalanan sehingga mengganggu lalu lintas dan membahayakan dirinya sendiri dan orang lain 9. Kecanduan narkotika dan obat terlarang 10. Suka mabuk-mabukan dan dapat mengganggu ketenangan orang lain 11. Melakukan pemerkosaan dan hubungan seks secara bebas 12. Melakukan perjudian 170

13. Melakukan pemerasan untuk mendapatkan sesuatu kepada orang lain 14. Suka melawan guru dan personalia sekolah 15. Berpikiran dan/atau bersifat dan berperilaku radikal/ ekstrim C. Keadaan/Kondisi Remaja yang Potensial Mengalami Perilaku Menyimpang Perilaku menyimpang tidaklah terjadi secara mendadak, tetapi melalui suatu proses yang lama dan kadang-kadang menunjukkan suatu gejala. Beberapa gejala yang tampak antara lain : 1. Remaja tersebut tidak disukai oleh teman-temannya, akhirnya sering menyendiri 2. Remaja yang menghindarkan diri dari tanggungjawab baik di rumah maupun di sekolah 3. Remaja yang sering mengeluh, ini berarti ia tidak mampu mengatasi masalahnya 4. Remaja yang suka berbohong 5. Remaja yang sering mengganggu atau menyakiti teman atau orang lain 6. Remaja yang tidak menyenangi guru atau mata pelajaran di sekolah D. Faktor-Faktor Penyebab Timbulnya Perilaku Menyimpang Banyak faktor atau kondisi yang dapat menyebabkan timbulnya perilaku menyimpang, baik yang bersal dari dalam diri individu yang bersangkutan maupun dari luar dirinya. Hasil studi Symon yang dikutip oleh Moh. Surya (1985) menyatakan bahwa anak-anak yang berasal dari keluarga yang sering bertengkar ternyata lebih banyak mengalami masalah, bila dibandingkan dengan anak-anak yang berasal dari keluarga yang harmonis. Dari studi Lewin mengungkapkan bahwa 90% anak-anak yang bersifat jujur itu berasal dari keluarga yang keadaannya stabil dan harmonis dan 75% anak-anak 171

pembohong berasal dari keluarga yang tidak harmonis (broken home). Secara garis besar faktor-faktor penyebab terjadinya perilaku menyimpang dapat berasal dari : (1) keadaan individu yang bersangkutan, (2) keluarga, (3) sekolah, dan (4) masyarakat. 1. Faktor yang berasal dari dalam diri individu yang bersangkutan Perilaku menyimpang yang terjadi pada remaja ternyata juga ditimbulkan oleh kondisi atau keadaan si remaja itu sendiri, seperti : a. Potensi kecerdasan rendah sehingga tidak mampu memenuhi tuntutan akademik sebagaimana diharapkan. Akibatnya ia mengalami frustasi, konflik batin dan rendah diri b. Mempunyai masalah yang tidak terpecahkan c. Kemampuan penyesuaian diri yang rendah d. Tingkahlakunya yang menyimpang mendapat penguatan dari lingkungan e. Tidak menemukan figur/model yang dapat digunakan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari 2. Faktor yang berasal dari luar individu yang bersangkutan : a. Lingkungan keluarga 1) Suasana kehidupan keluarga yang tidak menimbulkan rasa aman (broken home) 2) Kontrol orang tua rendah menyebabkan berkurangnya disiplin dalam kehidupan keluarga 3) Orang tua bersifat otoriter dalam mendidik anak 4) Tuntutan orang tua terlalu tinggi atau tidak sesuai dengan kemampuan yang dimiliki anak 5) Kehadiran dalam keluarga tidak diinginkan sehingga orang tua tidak menyayanginya 6) Remaja diperlakukan seperti anak kecil oleh orang tuanya atau orang dewasa lainnya 172

b. Lingkungan sekolah : 1) Tuntutan kurikulum yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dibandingkan dengan kamampuan rata-rata anak yang bersangkutan. 2) Longgarnya disiplin sekolah menyebabkan terjadinya pelanggaran peraturan 3) Anak-anak sering tidak belajar karena guru tidak masuk sehingga perilaku anak tidak terkontrol 4) Pendekatan yang dilakukan guru tidak sesuai dengan perkembangan remaja 5) Sarana dan prasarana sekolah yang kurang memadai, akibatnya aktivitas anak sangat terbatas. Hal ini menimbulkan perasaan tidak puas bagi anak dan memicu terjadinya penyimpangan tingkahlaku c. Lingkungan masyarakat : 1) Kurangnya partisipasi aktif dari masyarakat dalam membelajarkan anak dan/atau mencegah pelanggaran tata tertib sekolah, seperti duduk di warung sambil merokok tatkala jam pelajaran sedang berlangsung dan pemilik warung tidak pernah menegurnya agar mereka masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran. 2) Media cetak/eletronik yang beredar secara bebas yang sebenarnya belum layak buat remaja, misalnya gambar porno, buku cerita cabul dan lainlain. 3) Adanya contoh/model di lingkungan masyarakat yang kurang menguntungkan bagi perkembangan remaja. Misalnya main judi, minuman keras, pelacuran dan lain-lain E. Upaya Orang Tua dan Guru untuk Menanggulangi Perilaku Menyimpang Prilaku menyimpang pada dasarnya ditimbulkan oleh cara berpikir dan emosi yang negatif. Pikiran dan emosi yang 173

negatif pada dasarnya dapat diredam sehingga tidak menimbulkan efek negatif. Beberapa cara untuk meredam emosi adalah : 1. Berpikir positif dalam arti mencoba melihat suatu peristiwa atau kejadian dari sisi positifnya. 2. Mencoba belajar memahami karakteristik orang lain. Memahami bahwa orang lain memang berbeda dan tidak dapat memaksakan orang lain berbuat sesuai dengan keinginan sendiri. 3. Mencoba menghargai pendapat dan kelebihan orang lain. Mereka mendengarkan apa yang dikemukakan orang lain dan mengakui kelebihan orang lain. 4. Introspeksi dan mencoba melihat apabila kejadian yang sama terjadi pada diri sendiri, mereka dapat merasakannya (empati) 5. Bersabar dan belajar menjadi pemaaf. Menghadapi sesuatu dengan sabar dan kalau orang lain bertindak tidak sesuai dengan keadaan yang diinginkan, mereka akan berusaha memaafkannya. 6. Alih perhatian, yaitu mencoba mengalihkan perhatian pada objek lain dari objek yang pada mulanya memicu pemunculan emosi negatif. Oleh sebab itu untuk membantu mengembangkan emosi positif dalam diri peserta didik/anak baik orang tua maupun guru hendaknya melaksanakan hal-hal sebagai berikut : 1. Orang tua dan guru serta orang dewasa lainnya dalam lingkungan anak (significan person) hendaknya dapat menjadi model dalam mengekspresikan emosi-emosi negatif, sehingga tampilannya tidak meledak-meledak. 2. Adanya program latihan beremosi baik di sekolah maupun di dalam keluarga, misalnya merespon dan menyikapi sesuatu yang tidak berjalan sebagaimana mestinya 3. Mempelajari dan mendiskusikan secara mendalam kondisikondisi yang cendrung menimbulkan emosi negatif, dan upaya-upaya menanggapinya secara lebih baik. 174