ANALISIS LOAD BALANCING WEB SERVER BERDASARKAN IPVSADM Ariya Kusuma Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik Universitas Bhayangkara Surabaya Jl. A. Yani 114 Surabaya Email : websiteariyaksm@yahoo.com ABSTRAK Dengan pertumbuhan internet yang semakin cepat. Beban kerja pada sebuah website juga naik cepat, sehingga server mudah terbebani dalam waktu yang singkat. Dapat dibuat suatu solusi Load Balancing, yang akan memeratakan beban akses ke web server. Dan dibuat aplikasi web base dari tool Load Balancing yang digunakan. Web server berbasis LVS menggunakan metode yakni direct routing, algoritma penjadwalan wlc dan rr. Sistem LVS ini tersusun dari empat web server. Pengujian didapatkan durasi request web server server LVS lebih unggul, rata-rata dalam request 280.3539 dalam mengakses website. Sedangkan download file web server tunggal lebih unggul, rata-rata menangani request download file 113.2038. Tidak terjadi loss sama sekali yaitu 0% ketika akses web server dan download file.doc. Throughput web server tunggal lebih lama, rata-rata rate yaitu 11446.4802 Kbytes/sec dalam mengakses website. Sedangkan download file Throughput web server tunggal lebih besar, rata-rata rate dalam menangani request download file yaitu 287816.9 Kbytes/sec. Kata kunci: load balancing, linux virtual server (LVS), ipvsadm, clustering, wlc (weight least connection), rr (round robin). I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dengan pertumbuhan internet yang semakin cepat, akibatnya trafik di internet naik secara cepat saat banyak orang yang mengakses website (web) melalui komputer dan perangkat mobile. Beban kerja pada sebuah web server tunggal khususnya juga naik secara cepat, sehingga server akan mudah terbebani dalam waktu yang singkat, khususnya sebuah website yang ramai dikunjungi. Untuk menangani masalah web server yang cepat terbebani saat terjadi akses yang terus meningkat, dapat dibuat suatu solusi yang disebut Load Balancing yang bertugas memeratakan beban server kepada server virtual yang lain. Dimana akan dilakukan analisis perbandingan antara web server tunggal dengan load balancing web server. Untuk itu, dalam penelitian ini buat load balancing web server menggunakan linux yang mempunyai kemampuan untuk melakukan forward request dari client kepada beberapa web server dengan Linux Virtual Server (LVS) secara Direct Routing. Dan pengambilan data trafik request client ke web server, kemudian akan dibandingkan data yang didapatkan. Dimana dalam proses load balancing akan menggunakan tool IPVSadm sebagai aplikasi linux yang menangani request web dari client. 1.2 Batasan Masalah 1. Operating system (OS) yang digunakan berbasis Open Source yaitu CentOS 6.5. 2. Menggunakan tool Load Balancing yaitu IPVSadm 1.26 sebagai pengelola LVS (Linux Virtual Server) dengan metode Direct Routing. 3. Menggunakan algoritma penjadwalan yaitu Round Robin (rr), Weighted Least Connection (wlc), dan Never Queue Scheduling (nq). 1
4. Load Balancing diterapkan pada jaringan intranet atau local saja dan tidak menggunakan Backup Sistem LVS Router. 5. Penggunaan LVS terbatas pada web server static saja dan tidak ada sinkronisasi antar web server static. 6. Tidak ada rule pada konfigurasi firewall di LVS dan Real Server yang meyangkut keamanan, hanya saja Real Web Server tidak dapat diakses dari client secara langsung ke port 80 layanan http. 7. Analisis akan lebih memperhatikan besar request yang diterima kembali oleh client, dengan melakukan request halaman web secara beruntun ke server dalam satu waktu. 8. Menggunakan tool Apache Benchmark (ab) versi 2.3 dari XAMPP for OS Ms.Windows untuk menghasilkan request dari client ke layanan web server. II. LANDASAN TEORI 2.1 Load Balancing Load balancing adalah suatu metode untuk mendistribusikan beban kepada beberapa host sehingga beban kerja menjadi lebih ringan. Ini bertujuan agar waktu ratarata mengerjakan tugas menjadi singkat dan dapat menaikkan utilitas prosesor. Load balancing dapat diimplementasikan dengan hardware khusus, software maupun gabungan keduanya. Konfigurasi standar yang ada memberi gambaran bahwa satu mesin ditempatkan diantara client dan server, mesin ini disebut sebagai director karena tugasnya adalah memberikan balancing pada request dari client ke server. Load balancer merupakan juga perangkat jaringan yang dipasang diantara client dan server, bekerja sebagai saklar untuk request dari client. Load balancer mengimplementasikan beberapa metode penjadwalan yang akan menentukan ke arah server mana request dari client akan diteruskan. Berikut gambar server load balancing yang sederhana. Gambar 2.1 Skema Sistem Load balancing (Bourke, Tony. 2001) Proses load balancing mampu mengurangi beban kerja setiap server, serta memungkinkan server untuk menggunakan bandwidth yang tersedia secara lebih efektif. Kefektifan kinerja server dapat terlihat dari parameter berikut. a) Response Time Waktu yang dibutuhkan oleh server untuk memproses sebuah paket data yang datang dan menghasilkan sebuah paket data balasan. b) Throughput Bandwidth aktual yang terukur pada ukuran waktu tertentu. Throughput dapat merepresentasikan kemampuan sebuah server untuk menyalurkan data dalam jaringan dalam satuan, oleh karena itu Throughput menggambarkan bandwidth yang sebenarnya (aktual) pada suatu waktu tertentu. c) Packet loss Packet loss atau disebut juga request loss merupakan banyaknya paket yang gagal mencapai tempat tujuan. Packet loss mempengaruhi kinerja jaringan secara langsung. Jika packet loss besar maka kinerja jaringan dikatakan jelek. 2.2 Linux Virtual Server Linux Virtual Server (LVS) adalah seperangkat komponen software yang terintegrasi untuk menyeimbangkan atau memeratakan beban IP di satu set real server. LVS berjalan pada sepasang 2
komputer yang dikonfigurasi sama, satu LVS router dan satu LVS router cadangan. LVS router aktif melayani dua peran, yaitu: 1. Untuk menyeimbangkan beban di server yang sebenarnya. 2. Untuk memeriksa integritas dari layanan pada setiap server sebenarnya. LVS router backup selalu monitor router LVS aktif dan mengambil alih jika dalam kasus tersebut LVS router aktif terjadi mati. Linux Virtual Server (LVS) menerapkan proses pemilihan pada layer 4 (Transport) dari kernel linux. LVS meneruskan session TCP (Transmission Control Protocol) dan UDP (User Datagram Protocol) untuk menyeimbangkan beban melalui beberapa real server. LVS berjalan pada Linux, dan dapat menyeimbangkan koneksi dari enduser dengan system operasi apapun kepada real-server yang menjalankan sistem operasi apapun, selama koneksi yang dilakukan menggunakan TCP atau UDP. cluster atau lebih server. Server aktif (director) yang akan mengarahkan permintaan (request) service kepada koleksi server host yang sebenarnya akan menangani sevice. Protocol yang mendukung paket LVS adalah TCP dan UDP, dengan tiga metode forward paket (NAT, tunneling dan direct routing), serta beberapa algoritma penjadwalan untuk membagi paket atau beban kepada server yang ada. 2.4 Linux Virtual Server Dengan Metode Direct Routing Membangun setup LVS yang menggunakan routing langsung memberikan manfaat peningkatan kinerja dibandingkan dengan topologi LVS jaringan lainnya. Teknik pengiriman permintaan Direct Routing ini menggunakan alamat virtual IP yang sama dari real server dan director (LVS). Alamat virtual IP pada director digunakan untuk menerima paket permintaan, dan kemudian secara langsung mengirimkan paket pada server yang telah dipilih. Semua real server menggunakan perangkat alias non-arp sebagai alamat virtual IP. Director dan semua real server harus memiliki perangkat ethernet yang dihubungkan dengan sebuah hub/switch. Arsitektur virtual server dengan menggunakan direct routing dapat dilihat pada gambar 2.3. Gambar 2.2 Dasar topologi jaringan LVS (Red Hat, Inc. 2008) 2.3 Paket Linux Virtual Server Paket yang digunakan dalam LVS adalah ipvsadm. Paket ipvsadm merupakan Linux Virtual Server Administrator yang digunakan untuk setup, mengatur atau memeriksa tabel virtual server pada kernel Linux. Paket Linux Virtual Server dapat digunakan untuk membangun skabilitas service jaringan yang didasarkan pada dua Gambar 2.3 Implementasi LVS via Direct Routing (Red Hat, Inc. 2008) 3
Urutan kerja virtual server via direct routing adalah sebagai berikut: ketika user mengakses layanan virtual yang disediakan oleh sistem cluster, paket yang ditujukan untuk alamat virtual IP sampai pada director (LVS). Director kemudian memeriksa alamat dan port tujuan paket. Jika sesuai dengan layanan virtual, sebuah real server akan dipilih dari cluster dengan algoritma penjadwalan, dan koneksi dimasukkan pada tabel hash yang menyimpan koneksi yang berlangsung. Kemudian, director secara langsung mengirimkan paket tersebut pada server yang dipilih. Ketika paket untuk koneksi layanan ini dan server yang dipilih dapat ditemukan dalam tabel hash, paket akan langsung dikirimkan lagi pada server. Ketika server menerima paket yang ditujukan untuknya, server akan menemukan bahwa paket adalah untuk alamat perangkat alias-nya, maka permintaan akan diproses dan mengirimkan hasilnya secara langsung pada user. Setelah koneksi dihentikan atau waktu habis, catatan koneksi akan dihapus dari tabel hash. 2.5 Algoritma Penjadwalan 2.5.1 Weighted Least Connection Weighted Least Connection (wlc), merupakan sekumpulan penjadwalan least connection dimana dapat ditentukan bobot kinerja pada masing-masing real server. Server dengan nilai bobot yang lebih tinggi akan menerima persentase yang lebih besar dari koneksi-koneksi aktif pada satu waktu. Bobot pada masing-masing real server dapat ditentukan dan koneksi jaringan dijadwalkan pada masing-masing real server dengan persentase jumlah koneksi aktif untuk masing-masing server sesuai dengan perbandingan bobotnya (bobot awal adalah 1). Berikut algoritma pencarian koneksi yang sedikit diantara semua server dengan memperhatikan bobot pada masing-masing real server. 1. for (m = 0; m < n; m++) { 2. if (W(Sm) > 0) { 3. for (i = m+1; i < n; i++) { 4. if (C(Sm)*W(Si) > C(Si)*W(Sm)) 5. m = i; 6. } 7. return Sm; 8. } 9. } 10. return NULL; Gambar 2.4 Algoritma pembagian beban koneksi wlc (Wensong. 2006) Dari Algoritma di atas dapat sedikit dijelaskan bahwa Si yaitu S(server) dan i(urutan), W(Si) adalah bobot (W) dari server Si dan C(Si) adalah jumlah koneksi (C) dari server Si. 1) Baris 1 adalah insialisasi perulangan untuk mengecek seluruh real server dalam jumlah n yang dimulai real server ke 0 (nol). 2) Baris 2 adalah cek bobot server ke 0, sesuai variabel awal m = 0 dibaris 1. Apakah lebih besar dari 0. 3) Baris 3 adalah inisialisasi perulangan untuk mengecek real server berikutnya dalam jumlah n yang dimulai real server ke 1 dari m tertambah 1. 4) Baris 4 adalah akan dilakukan perbandingan nilai bobot dan koneksi dari real server yang ada, dengan cara jika koneksi dari server sekarang dikalikan bobot server selanjutnya (i) lebih besar dengan koneksi server selanjutnya dikali bobot server sekarang, akan disamakan bahwa m = i. 5) Baris 7 adalah pengembalian pengecekan ke server ke m. 6) Baris 10 adalah pengembalian proses ke kosong bila tidak ada daftar real server yang bisa dilakukan. Administrator dari sebuah cluster LVS dapat menetapkan bobot untuk setiap node di beberapa server sebenarnya. bobot ini adalah nilai integer yang merupakan faktor dalam setiap algoritma penjadwalan bobot 4
(seperti berbobot koneksi terkecil) dan membantu lebih merata LVS router hardware beban dengan kemampuan yang berbeda. bobot bekerja sebagai rasio relatif terhadap satu sama lain. Sebagai contoh, jika satu server yang sebenarnya memiliki bobot 1 dan server lainnya memiliki bobot 5, maka server dengan bobot 5 mendapat 5 koneksi untuk setiap mendapat koneksi 1 dari server lain. Nilai default untuk berat server sebenarnya adalah 1. 2.5.2 Round Robin Algoritma ini membagi beban secara bergiliran dan berurutan dari satu server ke server lain sehingga membentuk putaran. Algoritma penjadwalan round robin mengirimkan setiap permintaan (request) yang masuk ke server berikutnya sesuai dalam daftar penjadwalan IPVSadm. Jadi dalam tiga server (server A, B dan C) permintaan 1 akan pergi ke server A, permintaan 2 akan pergi ke server B, meminta 3 akan pergi ke server C, dan permintaan 4 akan pergi ke server A, sehingga diselesaikan berurutan. Memperlakukan semua real server sama terlepas dari jumlah koneksi masuk atau waktu respon setiap server. Berikut Algoritma pembagian request ke semua server pada masing-masing real server. start Ya, Berulang ke Real server awal Request datang sejumlah n Cek jumlah real server Request pertama mendapat real server pertama Request berikutnya ke server berikutnya Apakah request habis? tidak Request di real server akhir? ya Flow chart di atas menjelaskan proses round robin yang dijelaskan telah sebelumnya. Ada dua tahapan yang diperhatikan di awal yaitu request yang datang dan jumlah real server yang ada. Pembagian akan berjalan dengan cara request pertama kanan dimasukkan ke real server pertama, sedangkan request berikutnya akan dilimpahkan ke real server berikutnya. Pembagian request akan terhenti bila request habis. Dan bila request masih ada dan proses pembagian di real server akhir maka sisa request akan dibagi ulang mulai dari real server yang pertama. III. ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Perancangan Sistem Konsep dasar dari metode direct routing di load balancing adalah bagaimana nantinya setiap request koneksi dari client terhadap web server bisa terbagi ke beberapa real web server yang ada sesuai setting yang ada di IPVSadm dari server load balanicng. Hasil request akan langsung dikembalikan ke client tanpa harus melewati kembali ke mesin load balancing secara direct. Sistem load balancing akan berjalan tentunya sesuai dengan konfigurasi yang tersimpan pada IPVSadm yang telah dimasukkan. Berikut diagram blok proses implementasi server hingga pengujian web server, yaitu : Konfigurasi Topologi Jaringan Konfigurasi LVS Server Konfigurasi Real Web Server Konfigurasi IPVSadm Gambar 3.1 Diagram Blok Perancangan Sistem Uji Coba Web Server Gambar 3.1 di atas dapat dilihat garis besarnya dalam mempersiapkan web server load balancing dengan sistem LVS. Dari konfigurasi yang dibangun di server nantinya akan diuji coba agar dapat melakukan load balancing dan dilanjutkan direct routing ke real web server berdasarkan konfigurasi yang ada. tidak end Gambar 2.5 Flow penjadwalan round robin 5
3.1.1 Topologi Jaringan LVS Topologi jaringan Load Balanicng menggunakan Linux Virtual Server (LVS) dengan metode Direct Routing ini terdiri dari dua komponen utama yaitu ipvsadm, BIND (DNS server) dan membutuhkan lima perangkat komputer sebagai server dan client. Adapun lima server ini terdiri dari satu komputer server sebagai PC LVS untuk memeratakan beban koneksi ke real web server, dan tiga komputer web server sebagai real web server yang menyediakan layanan web server, dan minimal ada satu client sebagai uji coba akses layanan web server load balancing. Keterangan : DIP : Direktor ( LVS ) IP Address VIP : Virtual IP Address CIP : Client IP Address Sedangkan untuk topologi web server tunggal dapat dilakukan dengan topologi LVS yang sudah ada, namun firewall yang berjalan di salah satu real web server disesuaikan kembali agar dapat mendukung proses topologi tersebut. Berikut koneksi yang diharapkan berjalan mendukung. LVS RIP 192.168.1.254 internet / intranet Real Web Sever 1 RIP 192.168.1.11 Switch ` Gambar 3.2 Proses jalannya paket pada LVS Direct Routing Dari gambar 4.2 di atas terlihat pertama ada request (packet) yang terjadi di end user (client) yang masuk ke LVS (Linux Director) dan di routing request ke real servers yang ada dan hasilnya dikembalikan langsung ke client. Pengembalian request langsung ini terjadi bila menggunakan topologi seperti di atas dan menggunakan metode direct routing. Berikut topologi jaringan LVS yang pendukungnya. LVS RIP 192.168.1.254 Real Web Sever 1 RIP 192.168.1.11 Real Web Sever 2 RIP 192.168.1.12 Real Web Sever 3 RIP 192.168.1.13 Switch ether1 ether2 Router Mikrotik RB750 Personal Komputer CIP 172.16.1.50 Gambar 3.3 Topologi jaringan LVS Direct Routing ` Real Web Sever 2 RIP 192.168.1.12 Real Web Sever 3 RIP 192.168.1.13 Router Mikrotik RB750 CIP 172.16.1.50 Gambar 3.4 Topologi jaringan server tunggal Gambar 3.4 di atas menunjukan proses yang terjadi bila melakukan request ke salah satu real web server yang ada. Dengan penyesuaian firewall yang ada di real web server maka dapat dibuat pengaksesan layanan web server secara langsung. Dari proses tersebut client juga dapat mengakses halaman website secara utuh seperti hasil utuh dari sistem LVS sebelumnya. Saat terjadi proses pengaksesan server langsung pada topologi LVS itu tidak akan mengalami gangguan atau putus terhadap LVS sendiri. 3.2 Rencana Pengujian Sistem Pengujian perbandingan peformansi dilakukan perbandingan server tunggal dengan server LVS berdasarkan parameter durasi, loss, dan throughput. Sedangkan pengujian untuk kerja load balancing dan perbandingan algoritma 6
penjadwalan pada sistem LVS akan dilakukan dengan menggunakan dua algoritma yaitu round robin (rr) dan weighted least connection (wlc). Berikut flow pengujian terhadap web server yang akan dilakukan : Periksa jaringan client ke server tidak start Input koneksi dan request diingankan Proses koneksi dan request ke web server Keluar hasil koneksi dan request? ya Output data hasil koneksi request ke web server Melakukan koneksi dan request lagi? tidak Gambar 3.5 flow uji coba web server 3.3 Spesifikasi Sistem 3.3.1 Spesifikasi Perangkat Keras Kebutuhan hardware dalam pembuatan sistem Load Balancing menggunakan LVS dengan metode Direct routing dan client adalah: a. Empat buah komputer dengan spesifikasi sama dengan fungsi sebagai satu LVS dan tiga real web server dengan beberapa spesifikasi pada tabel 3.1 berikut. Table 3.1 Spesifikasi Real Web Server PC 1 s/d PC 3 Processor Intel Pentium Core 2 Duo RAM 2 GB HDD 160 GB VGA Intel Graphic Onboard LAN Card Onboard RTL8139 Family PCI end ya b. Satu buah komputer dengan fungsi sebagai PC Client dengan spesifikasi sebagai berikut. Tabel 3.2 Spesifikasi LVS PC Processor Intel i3 2,4 GHz RAM 2 GB HDD 500 GB VGA Intel Graphic Onboard LAN Card Onboard Realtek RTL9014 3.3.2 Spesifikasi Perangkat Lunak Kebutuhan software dalam pembuatan system LVS menggunakan metode Direct routing dan client adalah : a. Server LVS 1) Sistem Operasi Linux CentOS 6.5 2) IPVSadm 1.2.1 3) BIND 9.3 b. Real Web Server 1) Sistem Operasi Linux CentOS 6.5 2) Httpd 2.2.3 3) File Demo Website c. Client 1) AB (Apache Bench) tool Version 2.3 IV. IMPLEMENTASI SISTEM 4.1 Pengujian Sistem Web Server Untuk melakukan pengujian pada web server pastikan tool Apache Bench atau ab telah terdapat di windows. Ab yang digunakan berikut berasal dari paket instalasi XAMPP yang teletak pada folder bin dari folder apache yang ada di letak instalasi XAMPP widnows. Parameter yang digunakan untuk mengakses web, dimana akan dicoba akses local terlebih dahulu dari windows dengan menggunakan koneksi sebanyak 100 dengan jumlah request 1000. ab -c 100 -n 1000 http://localhost:80/ Gambar 4.1 Parameter ab pada cmd 7
Berikut hasil report yang keluar. Gambar 4.2 Report ab Dari parameter sebelumnya tinggal mengganti pada localhost ke domain web yang akan diakses dalam hal ini ditujukan ke www.situs.net yang terdapat di LVS. Sedangkan untuk akses ke web server secara langsung cukup nama domain web diganti ke IP address salah satu real web server yang ada sebelumnya telah dikonfigurasi yaitu server dengan IP address 192.168.1.11. V. PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN HASIL 5.1 Durasi 1. Akses Web Berikut hasil total durasi percobaan dari lampiran tabel report peforma LVS dan server tunggal. Dengan 100 koneksi 5050000 request. Tabel 5.1 Total Durasi request ke load balancing dengan web server tunggal Rata-rata Durasi () wlc 28035.39 280.3539 LVS Server rr 28110.507 281.10507 Tunggal 28269.185 282.69185 Tabel durasi pada pengujian web server tunggal lebih lama dibandingkan server load balancing LVS Direct Routing. Dari tabel di atas terlihat bahwa ratarata dalam menangani request yang ada terkecil adalah pada penjadwalan wlc yaitu 280.3539 dibanding penjadwalan rr. Penjadwalan wlc lebih kecil durasinya dalam menangani request koneksi dikarenakan dalam prosesnya untuk membagikan koneksi ke real server diperhatikan beban koneksi yang ada di semua real server, bila ada server yang memiliki koneksi lebih sedikit dari pada server lainnya maka koneksi yang datang akan diberikan lebih banyak ke server sedikit tadi hingga bebannya sama atau seimbang dengan server lainnya. Sedangkan penjadwalan rr tidak lebih kecil dari wlc dikarenakan dalam proses pembagian koneksi tidak memperhatikan yang sedang terjadi di tiap real server dan koneksi dibagi secara berurutan mulai dari real server awal hingga akhir berulang sampai request selesai tertangani, sehingga ketika terjadi antrian koneksi yang tak sama atau seimbang dengan server lainnya. 8
Tabel 5.2 Total Durasi Download file ke load balancing dengan web server tunggal Rata-rata Durasi () wlc 4167.026 138.9009 LVS Server rr 4361.029 145.3676 Tunggal 4043.858 134.7953 Grafik 5.1 Grafik Durasi request ke load balancing dengan web server tunggal Grafik 5.2 Grafik Total Durasi request ke load balancing dengan web server tunggal Dapat dilihat dari grafik durasi request di atas bahwa web server load balancing lebih sedikit cepat menangani request yang ada. Dimana penjadwalan wlc pada load balancing lebih cepat melakukan penanganan request yang ada. Tabel durasi pada pengujian web server tunggal lebih unggul dibandingkan server load balancing LVS Direct Routing. Dari tabel di atas terlihat bahwa ratarata dalam menangani request download file yang ada terkecil adalah server tunggal yaitu 134.7953 dibanding LVS. Pada LVS terlihat Penjadwalan wlc lebih kecil durasinya dalam menangani request koneksi dikarenakan dalam prosesnya untuk membagikan koneksi ke virtual server diperhatikan beban koneksi yang ada di semua virtual server, bila ada server yang memiliki koneksi lebih sedikit dari pada server lainnya maka koneksi yang datang akan diberikan lebih banyak ke server sedikit tadi hingga bebannya sama atau seimbang dengan server lainnya. 2. Download File Berikut hasil total durasi percobaan download file dari lampiran tabel report peforma LVS dan server tunggal. Dengan 100 koneksi 325000 request. Grafik 5.3 Grafik Durasi Download file ke load balancing dengan web server tunggal 9
Tabel 5.3 Total Throughput ke load balancing dengan web server tunggal Rata-rata transfer rate (Kbytes/sec) wlc LVS Server rr Tunggal 1144648.02 1139829.47 1141005.12 Grafik 5.4 Grafik Total Durasi Download file ke load balancing dengan web server tunggal Dapat dilihat dari grafik durasi Download file di atas bahwa web server load balancing lebih lambat menangani request download file yang ada. Dimana penjadwalan wlc pada load balancing lebih cepat melakukan penanganan request download file yang ada. 5.2 Loss Hasil pengamatan loss request atau paket yang hilang (loss) kembali ke client antara web server tunggal dengan web server load balancing tidak mengalami request loss ketika akses web server dan download file.doc. Semua request yang dilakukan mampu tertangani oleh semua metode server yang ada baik penjadwalan load balancing pada LVS atau server tunggal. Sehingga performansi web server dengan load balancing memenuhi standar yang ditetapkan dalam rekomendasi ITU-T Y.1541 tentang nilai packet loss yang masih dianggap baik pada komunikasi data TCP yaitu 0,1%. Namun dalam percobaan tidak terjadi loos sama sekali yaitu 0%. 5.3 Throughput 1. Akses web Berikut hasil total Throughput dari lampiran tabel report peforma LVS dan server tunggal. Dengan 100 koneksi 5050000 request. 11446.4802 11398.2947 11410.0512 Tabel Throughput pada pengujian web server tunggal lebih lama dibandingkan server load balancing LVS Direct Routing. Dari tabel di atas terlihat bahwa ratarata rate dalam menangani request yang ada terbesar adalah pada penjdwalan wlc yaitu 11446.4802 Kbytes/sec dibanding penjadwalan rr. Penjadwalan wlc Throughput lebih besar dikarenakan dalam prosesnya terjadi penanganan request yang lebih banyak selesai tertangani seiring durasi request yang lebih cepat dan menghasilkan lintasan data yang lebih banyak. Sedangkan penjadwalan rr Throughput kecil dikarenakan dalam prosesnya terjadi penanganan request yang sedikit lamban selesai tertangani seiring durasi request yang sedikit lebih lama dan lebih menimbulkan antrian request dari pada penjadwalan wlc. Grafik 5.5 Grafik Throughput request ke load balancing dengan web server tunggal 10
lintasan data yang lebih banyak. Sedangkan penjadwalan rr Throughput kecil dikarenakan dalam prosesnya terjadi penanganan request yang sedikit lamban selesai tertangani seiring durasi request yang sedikit lebih lama dan lebih menimbulkan antrian request dari pada penjadwalan wlc Grafik 5.6 Grafik Total Throughput request ke load balancing dengan web server tunggal Dapat dilihat dari grafik Throughput request di atas bahwa web server load balancing lebih sedikit besar menangani request yang ada. Dimana penjadwalan wlc pada load balancing lebih besar melakukan penanganan request yang ada. 2. Download file Berikut hasil total Throughput dari lampiran tabel report peforma LVS dan server tunggal. Dengan 100 koneksi 325000 request. Tabel 5.4 Total Throughput download file ke load balancing dengan web server tunggal Rata-rata transfer rate (Kbytes/sec) wlc LVS Server rr Tunggal Grafik 5.7 Grafik Throughput request download file ke load balancing dengan web server tunggal 338676.1 308995.6 345630.4 11289.2 19935.2 22298.74 Tabel Throughput download file pada pengujian web server tunggal lebih besar dibandingkan server load balancing LVS Direct Routing. Dari tabel di atas terlihat bahwa rate dalam menangani request download file yang ada terbesar adalah server tunggal yaitu 22298.74 Kbytes/sec dari pada LVS. Pada LVS Penjadwalan wlc Throughput lebih besar dikarenakan dalam prosesnya terjadi penanganan request yang lebih banyak selesai tertangani seiring durasi request yang lebih cepat dan menghasilkan Grafik 5.8 Grafik Total Throughput request download file ke load balancing dengan web server tunggal Dapat dilihat dari grafik Throughput request download file di atas bahwa web server load balancing lebih lambat menangani request yang ada. Dimana penjadwalan wlc pada load balancing lebih besar Throughput penanganan request yang ada. 11
VI. PENUTUP 6.1 Kesimpulan 1. Load Balancing dengan metode direct routing mampu memeratakan beban koneksi request web server dari client ke beberapa real web server. Algoritma WLC (Weighted Least Connection) dan RR (Round Robin) melakukan penjadwalan pembagian koneksi ke beberapa real web server yang menyediakan layanan web dengan penentuan bobot koneksi yang telah ditentukan. 2. Hasil durasi request pengujian akses web server tunggal lebih lama dibandingkan server load balancing, rata-rata menangani request yang ada terkecil adalah penjadwalan wlc yaitu 280.3539. Sedangkan download file terlihat durasi web server tunggal lebih unggul dibandingkan server load balancing, rata-rata dalam menangani request download file terkecil adalah server tunggal yaitu 113.2038. 3. Web server dengan load balancing memenuhi standar yang ditetapkan dalam rekomendasi ITU-T Y.1541 tentang nilai packet loss yang masih dianggap baik pada komunikasi data TCP yaitu 0,1% dimana loss request atau paket yang hilang (loss) kembali ke client tidak mengalami request loss ketika akses web server dan download file.doc yaitu 0%. 4. Hasil Throughput pengujian akses web server tunggal lebih lama dibandingkan server load balancing. Terlihat ratarata rate dalam menangani request yang ada terbesar adalah penjadwalan wlc yaitu 11446.4802 Kbytes/sec. Sedangkan download file terlihat Throughput web server tunggal lebih besar dibandingkan server load balancing, rate dalam menangani request download file terbesar adalah server tunggal yaitu 287816.9 Kbytes/sec. 5. Penjadwalan wlc lebih baik dari rr terlihat hasil analisa yang dilakukan bahwa request koneksi yang terjadi lebih banyak, juga lebih baik membagi beban ke sejumlah server secara merata dengan melihat terlebih dahulu jumlah koneksi terkecil. Sedangkan penjadwalan rr membagi koneksi langsung merata tanpa melihat server jumlah koneksi yang sedang terjadi di server. 6.2 Saran 1. Load balancing LVS yang di gunakan masih sebatas metode direct routing, diharapakn pengembangan selanjutnya bisa ke metode NAT (network Adddress Trnaslator) dan metode Tunneling. 2. Diharapkan percobaan penjadwalan pada load balancing dapat menggunakan metode algoritma lain yaitu Weighted Round Robin (wrr), Least Connection (lc), dan lainnya sesuai yang di dukung tool IPVSadm. 3. Karena Load Balancer ini menggunakan metode Direct Routing alangkah baiknya digunakan pada jaringan intranet. Dan agar lebih maksimum jaringan intranet sebaiknya dalam hal bandwidth tidak dibatasi. Serta perangkat jaringan yang lebih mendukung jalur LAN Gigabyte koneksi. Daftar Pustaka Bourke, Tony. (2001), Server Load Balancing, O'Reilly: USA. Horman, Simon. (2004), Linux Virtual Server Tutorial, VA Linux Systems Japan: Japan. Wagito. (2005), Jaringan Komputer Teori dan Implementasi Berbasis Linux, Gava Media: Yogyakarta. International Telecommunication Union (2006), Network Performance Objectives for IP-based Services, ITU-T Recommendations Y.1541, Printed in Switzerland: Geneva. Mack, Joseph. (2006), LVS-mini-HOWTO, Released under GPL: -. 12
Sofana, Iwan. (2007), Mudah Membangun Server dengan Fedora Core, Informatika Bandung: Bandung. Red Hat, Inc. (2008), Red Hat Cluster Suite Overview: Red Hat Cluster Suite for Red Hat Enterprise Linux, Open Publication License: USA. Sofana, Iwan. (2008), Membangun Jaringan Komputer, Informatika Bandung: Bandung. Red Hat, Inc. (2013), A Guide to Securing Red Hat Enterprise Linux Edition 4, - : United States. Maitimu, Theddy R. (2008), Perancangan dan Implementasi Web Server Clustering dengan Skema Load Balance Menggunakan Linux Virtual Server via NAT, Universitas Kristen Satya Wacana: Salatiga. Sembiring, Irwan. (2009), Uji availabilitas Load Balancing Web Server Menggunakan Linux Virtual Server, Universitas Kristen Satya Wacana: Salatiga. Lukitasari, Desy. (2010), Analisis Perbandingan Load Balancing Web Server Tunggal Dengan Web server Cluster Menggunakan Linux Virtual Server, Universitas Sriwijaya: Palembang. Nasution, Abdul Haris. (2011), Komparasi Algoritma Penjadwalan Pada Layanan Terdistribusi Load Balancing LVS Via NAT, Institut Teknologi Sepuluh November: Surabaya. Baskoro, Pranata Ari. (2011), Rancang Bangun Server Learning Management System (LMS) Berbasis Metode Load Balancing, Institut Sepuluh November: Surabaya. Oktavianus, Yoppi Lisyadi. (2013), Membangun Sistem Cloud Computing Dengan Implementasi Load Balancing Dan Pengujian Algoritma Penjadwalan Linux Virtual Server Pada FTP Server, Universitas Andalas: Padang. Biografi penulis Ariya Kusuma lahir di Surabaya 10 Maret 1989. Merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Setelah lulus SMK YPM 1 Teknik Listrik Sidoarjo pada tahun 2007, penulis melanjutkan studi di Jurusan Teknik Universitas Negeri Surabaya (UNESA) angkatan 2007 mengambil Bidang Studi Manajemen Informatika. Semasa studinya, penulis aktif sebagai admin di Lab. Jaringan, dan menjadi asisten dosen mata kuliah Pemograman dasar C++ dan praktikum Jaringan dan Sistem Operasi di 4 Semester, Anggota BEM Jurusan 2007 dan BEM Universitas 2009, Anggota Tim Robotika (Tim DEWO) dekade 2009-2010 Nasional. Lulus sebagai Ahli Madya 2011 berlanjut ke dunia kerja selama 1 tahun, Pindah ke dunia pengapdian sebagai guru Jurusan Informatika SMK Sunan Giri Gresik tahun ajaran 2012-2013. Merambah dunia kerja kembali hingga sekarang. Dengan kuliah malam di Ubhara sebagai angkatan 2012. Penelitian sebelumnya : Pemerataan Beban Koneksi Pada Web Server Internet Menggunakan Linux Virtual Server Dengan Metode Direct Routing Berbasis Open Source (Tahun 2011). 13