IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KINERJA LOAD BALANCING
|
|
|
- Widya Sudirman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KINERJA LOAD BALANCING PADA SERVER- SERVER PROXY DI IPB Heru Sukoco 1, Endang Purnama Giri 2, David Thamrin 3 1 Staf Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB 2 Staf Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB 3 Mahasiswa Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB IPB memiliki dua buah server proxy yang melayani seluruh permintaan pengguna ke internet. Selama ini pembagian kerja antara kedua server dilakukan berdasarkan kebijakan sehingga dikhawatirkan tidak berjalan optimal. Penelitian ini akan mengimplementasikan mekanisme load balancing agar pembagian beban menjadi adil antara dua buah server proxy IPB. Selain itu, implementasi diharapkan dapat meningkatkan realibilitas, skalabilitas, dan availabilitas server proxy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi mekanisme load balancing terbukti dapat meningkatkan realibilitas, skalabilitas, dan availabilitas server proxy di IPB. Beban kerja dapat dibagi secara proporsional berdasarkan beban trafik, tanpa perlu kebijakan. Diketahui pula bahwa pembobotan mekanisme load balancing yang paling baik untuk diterapkan di sistem operasional server proxy IPB adalah 1:2 karena menghasilkan standar deviasi utilisasi CPU yang paling kecil yaitu Hit ratio setelah implementasi load balancing secara keseluruhan mengalami peningkatan sekitar 4%. PENDAHULUAN Latar Belakang Sejalan dengan pertumbuhan internet yang demikian eksplosif dan peranannya yang semakin penting dalam kehidupan kita, jumlah trafik di internet turut meningkat secara dramatis. Beban kerja pada server meningkat dengan cepat sehingga server dapat menjadi kelebihan beban dalam waktu yang singkat. Masalah kelebihan beban dapat diatasi dengan dua solusi. Solusi pertama adalah solusi satu server, yaitu dengan meningkatkan kualitas atau kecanggihan sebuah server, misalnya dengan meng-upgrade cpu dan atau menambah memori. Solusi ini dinilai tidak skalabel karena ketika kebutuhan (beban) meningkat, kita harus melakukan upgrade kembali, padahal upgrade terus-menerus membutuhkan biaya yang tinggi, dan downtime mungkin akan sering terjadi. Jalan keluar yang lebih baik adalah solusi banyak server, yaitu membangun sistem layanan jaringan yang skalabel dengan lebih dari satu server. Ketika beban bertambah, kita dapat dengan mudah menambah server baru untuk memenuhi kebutuhan. Namun solusi banyak server ternyata juga bukan tanpa masalah. Masalah utama yang dapat timbul adalah pembagian beban yang tidak merata. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu diterapkan mekanisme load balancing. Di IPB sendiri terdapat dua buah server proxy. Dari hasil penelitian Nanik Qodarsih yang berjudul Perencanaan Kapasitas untuk Kinerja Web dan Proxy Server IPB menggunakan Model Open Queueing Network M/M/2 dan M/M/1 diperoleh kesimpulan bahwa kondisi salah satu server proxy di IPB berada pada level tertinggi, karena penggunaan sumber daya terbesar lebih dari 70%. Hal ini terjadi karena pembagian beban kerja yang tidak merata. Teknik load balancing diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut. Tujuan Tujuan dari penelitian ini adalah: 1 mempelajari dan memahami berbagai aspek dalam load balancing, 2 mengimplementasikan mekanisme load balancing pada server proxy di IPB, dan 3 menganalisis perbaikan kinerja server sebelum dan sesudah penerapan mekanisme load balancing. Ruang Lingkup Penelitian ini akan menerapkan salah satu metode load balancing yang dinilai paling sesuai untuk digunakan di IPB. Kinerja server sebelum dan sesudah penerapan mekanisme load balancing akan diukur untuk melihat apakah terjadi perbaikan. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
2 2 1 beban kerja server proxy terbagi secara adil berdasarkan beban trafik, bukan berdasarkan kebijakan, dan 2 mampu meningkatkan reliabilitas, skalabilitas, dan availabilitas server proxy di IPB. METODOLOGI PENELITIAN Langkah-langkah penelitian yang dilaksanakan adalah sebagai berikut: Studi Pustaka Analisis lingkungan jaringan IPB Pengambilan data kinerja server proxy di IPB sebelum penerapan mekanisme load balancing Analisis dan pemilihan berbagai aspek load balancing Implementasi mekanisme load balancing Pengambilan data kinerja server proxy di IPB setelah penerapan mekanisme load balancing. Analisis kinerja Beberapa langkah pada metodologi penelitian ini merujuk pada/ bersesuaian dengan metodologi perencanaan kapasitas oleh Menascé & Almeida (1998). 1. Studi pustaka Pada tahap ini, dilakukan pengumpulan informasi mengenai metode dan algoritme load balancing serta berbagai hal yang terkait dengan mekanisme load balancing. Sumber pustaka berupa buku tentang jaringan, jurnal maupun artikel di internet. 2. Analisis lingkungan jaringan IPB Untuk menentukan mekanisme load balancing yang paling sesuai untuk diterapkan berdasarkan situasi nyata, dibutuhkan pengetahuan tentang jaringan IPB antara lain: Perangkat keras (server proxy) Perangkat lunak (sistem operasi, aplikasi) IPB memiliki dua buah server proxy dengan alamat IP dan Selama ini, kedua server proxy tersebut memberikan layanan untuk pengguna internal yang berbeda. Pembagian layanan dilakukan berdasarkan kebijakan. Hal ini memungkinkan terjadinya perbedaan beban kerja yang harus ditanggung oleh kedua server proxy tersebut. Perbedaan ini dapat menyebabkan terjadinya penurunan kinerja pada server proxy yang memiliki beban trafik lebih besar, sedangkan server yang lainnya tidak dimanfaatkan secara optimal. Gambar 2 menunjukkan topologi jaringan IPB. Gambar 1 Metodologi penelitian. Gambar 2 Topologi jaringan IPB (Sukoco 2006).
3 3 Analisis Spesifikasi Komputer yang Digunakan sebagai Server Proxy IPB Spesifikasi komputer yang digunakan sebagai server proxy di IPB adalah sebagai berikut: Komputer server proxy IPB 1 ( ) Sistem Operasi Linux Redhat Enterprise Edition versi kernel Prosesor: Intel(R) Pentium(R) 4 CPU 1.5 GHz RAM 384 MB Harddisk 40 GB Server proxy Squid 2.5 Komputer server proxy IPB 2 ( ) Sistem Operasi Linux OpenSuse versi 10.0 kernel Prosesor: Intel(R) Pentium(R) 4 CPU 2.80 GHz RAM 1 GB Harddisk 80 GB Server proxy Squid 2.5 Dari data di atas, terlihat bahwa spesifikasi kedua buah server proxy memiliki perbedaan yang cukup signifikan, terutama dari segi prosesor dan ukuran memori fisik. 3. Pengambilan data kinerja server proxy sebelum penerapan mekanisme load balancing Sebelum penerapan mekanisme load balancing, dilakukan pengambilan data kinerja server proxy. Pada tahap pengambilan data, digunakan teknik pengukuran sebagai berikut: Parameter kinerja yang akan diukur ditentukan terlebih dahulu. Pada penelitian ini, parameter yang akan diukur adalah utilisasi CPU, penggunaan memori, throughput, jumlah koneksi dan hit ratio pada masing-masing server proxy. Setelah diketahui parameter yang akan diukur, maka ditentukan perangkat lunak untuk memonitor kedua server proxy IPB, kemudian dilakukan pengumpulan data. Pada penelitian ini, utilisasi CPU dan penggunaan memori diperoleh dengan paket aplikasi sysstat yang diinstall pada masing-masing server proxy. Data tersebut diambil dengan koneksi Secure Shell (SSH) menggunakan perangkat lunak PuTTY. Data throughput diambil dari Converged Traffic Manager (CTM) dengan menggunakan browser Mozilla Firefox. Jumlah koneksi dan hit ratio diperoleh dari data akses log server proxy yang diparsing menggunakan GAWK. Mekanisme Pengambilan Data Pengambilan data utilisasi CPU dan memori dilakukan dilakukan selama 10 hari kerja. Setiap harinya, data diambil pada jam kerja di IPB, yaitu pukul hingga pukul Pengambilan data throughput juga dilakukan selama 10 hari kerja. Data throughput direkam pada keseluruhan hari sejak pukul hingga pukul Data throughput direkam pada keseluruhan hari untuk memberi gambaran yang lebih luas mengenai jumlah data yang mengalir melalui server proxy. Data akses log juga diambil selama 10 hari. Data ini akan diparsing untuk memperoleh jumlah koneksi dan hit ratio pada masing-masing hari. Dalam penelitian ini, semua hasil pengukuran disimpan dalam bentuk file teks. 4. Analisis dan pemilihan berbagai aspek load balancing Hasil dari tahap sebelumnya kemudian dianalisis untuk memilih beberapa aspek yang terkait dengan implementasi mekanisme load balancing sebagai berikut: Perangkat lunak load balancing Metode forwarding Algoritme penjadwalan Pembobotan Perangkat Lunak Load Balancing Perangkat lunak yang dipilih adalah Linux Virtual Server (LVS) dan aplikasi pendukungnya seperti ipvsadm, dan keepalived. LVS dipilih karena merupakan solusi load balancing yang telah stabil dan telah teruji reliabilitasnya. LVS memiliki skalabilitas dan availabilitas yang tinggi. LVS juga sudah banyak digunakan di dunia sehingga memiliki basis pengguna dan pengembang yang luas. Dari faktor biaya, LVS dan aplikasi pendukungnya menggunakan lisensi GNU GPL sehingga dapat digunakan secara gratis. Metode Forwarding Metode forwarding yang dipilih adalah metode LVS-DR. Pemilihan metode ini didasarkan pada kelebihan dan kelemahan masing-masing metode forwarding yang disesuaikan dengan kondisi di IPB.
4 4 Dari sisi kelebihan, LVS-DR mengungguli kedua metode yang lain. LVS-DR tidak mengharuskan koneksi dari realserver ke pengguna melalui director. Hal ini dapat membuat waktu proses lebih cepat. LVS-DR juga tidak memiliki overhead tunneling seperti yang terdapat pada metode LVS-TUN. Dari sisi kelemahan, penerapan metode LVS-DR tidak menjadi suatu masalah pada kasus di IPB karena director dapat ditempatkan pada jaringan fisik yang sama dengan server proxy. Selain itu, karena kedua server proxy di IPB menggunakan sistem operasi Linux, maka masalah ARP juga dapat diselesaikan dengan baik. Algoritme Penjadwalan Pada analisis lingkungan jaringan IPB diperoleh informasi bahwa kedua server proxy di IPB memiliki spesifikasi perangkat keras yang berbeda. Hal ini tentu mempengaruhi kemampuan pemrosesan dari kedua server tersebut. Supaya beban kerja dapat terbagi secara adil sesuai dengan kemampuan masingmasing server, maka server yang memiliki spesifikasi lebih tinggi harus diberi lebih banyak pekerjaan, sedangkan server yang memiliki spesifikasi lebih rendah harus diberi lebih sedikit tugas. Pembagian beban seperti yang diharapkan dapat dipenuhi oleh algoritme penjadwalan weighted round robin (round robin dengan pembobotan). Pembobotan Pembobotan ditentukan dengan mengamati perbedaan spesifikasi cpu dan memori pada kedua server, hasil data utilisasi cpu dan memori sebelum implementasi mekanisme load balancing serta data throughput dan jumlah koneksi pada masingmasing server proxy. Pembobotan awal yang diberikan adalah 1:1, yang berarti setiap server proxy memiliki bobot yang sama dan akan memperoleh jumlah pekerjaan yang sama. Selanjutnya, bobot akan di-tuning setiap dua hari sekali untuk menentukan pembobotan yang paling sesuai dengan kondisi IPB. Bobot yang diberikan untuk putaran kedua, ketiga dan keempat secara berturutturut adalah 1:2, 2:3, dan 3:5. 5. Implementasi mekanisme load balancing. Pada tahapan ini dilakukan implementasi mekanisme load balancing pada server proxy di IPB sesuai dengan aspek-aspek yang telah ditetapkan sebelumnya. Teknis Implementasi Pada tahap implementasi, terdapat beberapa hal teknis yang harus menjadi perhatian. Masalah ARP Pada metode LVS-DR yang digunakan, alamat Virtual IP (VIP) digunakan bersama oleh director dan realserver, namun pengguna tidak boleh mengetahui hal tersebut. Pengguna hanya tahu bahwa alamat VIP dipegang oleh director. Oleh karena itu, realserver harus dikonfigurasi agar tidak menjawab permintaan ARP. Untuk mengatasi masalah ARP, pada server proxy yang menggunakan linux kernel cukup dengan menonaktifkan flag arp_ignore yang sudah tersedia. Pada server proxy dengan kernel , belum tersedia flag tersebut sehingga perlu dilakukan patch dan recompile kernel terlebih dahulu. Konfigurasi squid Konfigurasi squid pada kedua server proxy harus disamakan, khususnya dalam hal filter. Gambar 3 menunjukkan arsitektur LVS di IPB. Gambar 3 Arsitektur LVS di IPB. Pengujian Setelah implementasi, dilakukan beberapa pengujian untuk memastikan sistem telah dapat berjalan dengan baik: Pada selang waktu tertentu, salah satu server proxy akan dinonaktifkan untuk menguji apakah sistem pengecekan kesehatan telah berjalan baik. Hasil yang diharapkan adalah server yang dinonaktifkan tersebut akan dikeluarkan dari daftar LVS dan seluruh permintaan
5 5 akan dikirimkan ke server yang masih aktif. Pada selang waktu tertentu, director master akan dinonaktifkan untuk menguji apakah director failover telah berjalan baik. Hasil yang diharapkan adalah director cadangan mengambil alih tugas dari director master dan sistem dapat berjalan seperti sediakala. Selain kedua pengujian tersebut, akan dilakukan pengukuran utilisasi cpu dari director sebelum dan setelah menjalankan tugasnya sebagai pembagi beban. Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tugas tersebut mempengaruhi kinerja cpu. Pengukuran dilakukan selama 5 hari sebelum dan 5 hari sesudah director bertugas. 6. Pengambilan data kinerja server proxy setelah penerapan mekanisme load balancing. Setelah mekanisme load balancing berhasil diimplementasikan, kembali akan dilakukan pengukuran kinerja server proxy. Teknis pengukuran pada tahap ini sama seperti pada tahap ketiga, namun pada tahap ini diberikan pembobotan yang berbeda setiap dua hari sekali. 7. Analisis kinerja Parameter Kinerja Load Balancing Pada penelitian ini digunakan dua parameter untuk mengevaluasi kinerja load balancing. (Zhong et al. 2004). Parameter pertama adalah Cumulative Density Function (CDF) atau frekuensi kumulatif dari utilisasi maksimum. Hasil pengamatan dibagi menjadi n slot waktu dan untuk setiap slot waktu j, terdapat utilisasi server untuk setiap server i. utilisasi maksimum adalah nilai maksimum diantara semua utilisasi server dalam slot waktu j. Frekuensi kumulatif didefinisikan sebagai peluang terjadinya utilisasi maksimum yang kurang dari atau sama dengan x: dengan adalah jumlah slot waktu dimana utilisasi maksimum tidak lebih besar daripada x, dan n adalah jumlah total slot waktu. Untuk sejumlah beban trafik, jika sebuah server melayani lebih banyak trafik, server lainnya akan melayani lebih sedikit trafik. Situasi ini akan menghasilkan utilisasi maksimum yang lebih besar. Oleh karenanya, utilisasi maksimum yang lebih besar menunjukkan pembagian beban tidak seimbang di antara server. Di dalam grafik dengan lebih dari satu kurva frekuensi kumulatif, kurva yang paling kiri menunjukkan kinerja yang terbaik. Untuk frekuensi kumulatif yang sama, utilisasi maksimum yang lebih besar menunjukkan kinerja yang lebih buruk. Parameter kedua untuk mengevaluasi kinerja load balancing adalah standar deviasi (SD) dari utilisasi server. Pada slot waktu j, standar deviasi instant SD j dikalkulasi dengan rumus: 1 2 / dengan K adalah jumlah server, dan adalah rata-rata utilisasi server, i=1,, K. Standar deviasi SD dihitung dengan merata-ratakan semua nilai standar deviasi instan. Apabila beban kerja server terdistribusi secara adil, maka standar deviasi seharusnya memiliki nilai sangat kecil. Oleh karena itu, semakin kecil standar deviasi, maka semakin baik kinerja load balancing. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dan pembahasan disajikan seturut dengan susunan metodologi penelitian. Data kinerja server proxy di IPB sebelum penerapan mekanisme load balancing a. Utilisasi CPU Pengambilan data utilisasi CPU server proxy IPB dilakukan selama 10 hari kerja dari tanggal 4 sampai dengan tanggal 17 Desember Grafik utilisasi CPU pada tanggal 4 Desember 2007 dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4 Utilisasi CPU 4 Desember 2007.
6 6 Dari grafik sekilas tampak bahwa ternyata utilisasi CPU sebelum implementasi load balancing sudah cukup merata pada kedua server proxy di IPB. b. Penggunaan memori Data penggunaan memori diambil dengan mekanisme yang sama seperti data utilisasi CPU. Data yang diambil adalah penggunaan memori sistem secara global, dengan memperhitungkan proses yang lain selain squid. Hal ini dilakukan untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan kondisi nyata. Grafik utilisasi memori pada tanggal 4 Desember 2007 dapat dilihat pada Gambar 5. d. Jumlah koneksi Data jumlah koneksi pada masing-masing server proxy diperoleh dari data log akses squid. Gambar 7 menunjukkan grafik jumlah koneksi selama 10 hari kerja sebelum implementasi mekanisme load balancing. Gambar 7 Jumlah koneksi sebelum implementasi mekanisme load balancing. Gambar 5 Utilisasi memori 4 Desember c. Throughput Data throughput juga diambil selama 10 hari kerja mulai tanggal 4 hingga 17 Desember Grafik throughput pada tanggal 4 Desember 2007 dapat dilihat pada Gambar 6. Dari grafik di atas, tampak bahwa jumlah koneksi pada server proxy selalu lebih banyak daripada server proxy Pada tanggal 13 Desember 2007 terlihat jumlah koneksi pada server proxy meningkat secara tidak wajar. Hal ini kemungkinan disebabkan adanya pengguna yang melakukan akses secara berlebihan. e. Hit ratio Seperti data jumlah koneksi, hit ratio juga dikalkulasi dari data akses log squid pada masing-masing server proxy. Data akses log diparsing untuk mengetahui jumlah hit, kemudian jumlah hit dibagi dengan jumlah koneksi untuk memperoleh persentase hit ratio. Hit ratio sebelum implementasi mekanisme load balancing selama 10 hari kerja dapat dilihat pada Gambar 8. Gambar 6 Throughput 4 Desember Grafik throughput pada tanggal 4 Desember hanya memberikan sebagian informasi, yaitu dimulai sekitar pukul karena sebelumnya perangkat keras CTM mati. Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa server proxy memiliki throughput yang lebih besar daripada server proxy Gambar 8 Hit ratio sebelum implementasi mekanisme load balancing.
7 7 Dari grafik di atas, dapat diketahui bahwa persentase hit ratio pada server proxy hampir selalu lebih tinggi daripada server proxy Hal ini berarti server proxy dapat melakukan fungsi cache dengan cukup baik. Selain itu, nilai hit ratio yang tinggi juga dapat memprediksi bahwa pengguna server proxy lebih banyak mengakses situs yang sama. Pengujian Tahap Implementasi Pada tahap implementasi dilakukan beberapa pengujian untuk memastikan sistem berjalan dengan baik. a. Pengecekan kesehatan Pengujian pengecekan kesehatan dilakukan pada tanggal 18 Desember 2007 sekitar pukul sampai dengan pukul Layanan squid pada salah satu server proxy dinonaktikan selama waktu tersebut. Server proxy yang dipilih untuk dinonaktifkan adalah server proxy dengan alasan spesifikasi yang dimilikinya lebih rendah sehingga dikhawatirkan tidak mampu untuk menangani seluruh request pengguna apabila bekerja sendiri. Hasil pengujian menunjukan bahwa director mengeluarkan server proxy tersebut dari daftar layanan LVS dan seluruh koneksi diarahkan pada server proxy sehingga pengguna tetap dapat mengakses internet. Gambar 9 menunjukan grafik throughput pada saat salah satu server proxy dinonaktifkan. bahwa koneksi dapat terus berjalan karena director cadangan langsung mengambil alih tugas dari director master. c. Utilisasi CPU Gambar 10 menunjukkan perbandingan utilisasi CPU director sebelum dan sesudah implementasi load balancing. Kurva dengan garis lurus menunjukan utilisasi CPU sebelum implementasi. Data sebelum implementasi diambil pada tanggal 6, 7, 9, 10, dan 12 Desember Kurva dengan garis lurus bertanda menunjukkan utilisasi CPU sesudah implementasi. Data sesudah implementasi diambil pada tanggal 18, 19, dan 28 Desember 2007 serta tanggal 2 dan 3 Januari Gambar 10 Perbandingan utilisasi CPU director sebelum dan sesudah implementasi load balancing. Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa sebelum implementasi, utilisasi CPU pada director selalu mendekati 0%. Sesudah implementasi, terjadi peningkatan utilisasi CPU, namun peningkatan tersebut tidaklah signifikan karena hanya berkisar dibawah 1%. Hal ini menunjukan bahwa pekerjaan membagi beban yang dilakukan director tidak mengkonsumsi banyak sumber daya CPU. Hasil ini sesuai dengan yang diharapkan karena proses pembagian beban berlangsung pada kernel space. Data kinerja server proxy di IPB setelah penerapan mekanisme load balancing Gambar 9 Throughput pada saat salah satu server proxy dinonaktifkan. b. Director failover Pengujian director failover dilakukan pada tanggal 4 Januari 2008, dengan selang waktu antara pukul hingga pukul Pada selang waktu tersebut, layanan keepalived pada director master dihentikan untuk sementara. Hasil pengujian menunjukan a. Utilisasi CPU Pada pengukuran 2 hari pertama, yaitu pada tanggal 18 dan 19 Desember 2007, diberikan bobot 1:1 pada kedua server proxy. Bobot 1:1 bermakna bahwa kedua server proxy diberi beban trafik yang sama. Grafik utilisasi CPU pada tanggal 18 Desember dapat dilihat pada Gambar 11.
8 8 Gambar 11 Utilisasi CPU 18 Desember Kurva utilisasi CPU menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan spesifikasi CPU pada kedua server proxy. Ketika diberi sejumlah beban trafik yang sama, server proxy dengan kecepatan pemrosesan CPU 1,5 GHz tentu akan lebih banyak mengutilisasi CPUnya daripada server proxy yang memiliki kecepatan pemrosesan CPU 2,8 GHz. Kurva utilisasi CPU server proxy pada tanggal 18 Desember 2007 selalu berada pada posisi 100% hingga pukul Pengamatan pada data mentah menunjukkan bahwa sebagian besar CPU diutilisasi untuk proses user yang memiliki prioritas nice. Pada pengukuran 2 hari kedua, yaitu pada tanggal 27 dan 28 Desember 2007 diberikan bobot 1:2 pada kedua server proxy. Grafik utilisasi CPU pada tanggal 27 Desember dapat dilihat pada Gambar 12. Gambar 13 Utilisasi CPU 2 Januari Dari grafik tersebut, pembobotan 2:3 ternyata kembali merenggangkan kurva utilisasi CPU kedua server proxy. Pada pengukuran 2 hari keempat, yaitu pada tanggal 4 dan 7 Januari 2008 diberikan bobot 3:5 pada kedua server proxy. Grafik utilisasi CPU pada tanggal 4 Januari dapat dilihat pada Gambar 14. Gambar 14 Utilisasi CPU 4 Januari Pembobotan 3:5 memberikan hasil utilisasi CPU yang tidak jauh berbeda dibandingkan dengan pembobotan 2:3 karena memang nilai keduanya cukup dekat. b. Penggunaan memori Gambar 15 menunjukkan grafik utilisasi memori pada saat pembobotan 1:1 yaitu pada tanggal 18 Desember Gambar 12 Utilisasi CPU 27 Desember Kurva menunjukkan bahwa utilisasi CPU terbagi secara cukup adil pada saat pembobotan 1:2. Pada pengukuran 2 hari ketiga, yaitu pada tanggal 2 dan 3 Januari 2008 diberikan bobot 2:3 pada kedua server proxy. Grafik utilisasi CPU pada tanggal 2 Januari dapat dilihat pada Gambar 13. Gambar 15 Utilisasi memori 18 Desember 2007.
9 9 Gambar 16 menunjukkan grafik utilisasi memori pada saat pembobotan 1:2 yaitu pada tanggal 27 Desember Gambar 18 Throughput 27 Desember Gambar 16 Utilisasi memori 27 Desember Keseluruhan kurva utilisasi memori ternyata tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Kurva utilisasi memori server proxy selalu mendekati nilai 100% dan kurva utilisasi server proxy selalu berkisar antara 80% hingga 100% c. Throughput Gambar 17 menunjukkan grafik throughput pada saat pembobotan 1:1 yaitu pada tanggal 18 Desember Gambar 17 Throughput 18 Desember Grafik di atas menunjukkan dengan jelas bahwa pembobotan 1:1 mempunyai arti bahwa kedua server proxy memperoleh beban pekerjaan yang sama sehingga grafik throughput kedua server proxy tampak berhimpitan satu dengan yang lain. Gambar 18 menunjukkan grafik throughput pada saat pembobotan 1:2 yaitu pada tanggal 27 Desember d. Jumlah koneksi Jumlah koneksi pada masing-masing server proxy setelah implementasi load balancing dapat dilihat pada Gambar 19. Gambar 19 Jumlah koneksi setelah implementasi mekanisme load balancing. Jumlah koneksi dipengaruhi secara langsung oleh pembobotan. Pada saat pembobotan 1:1 pada tanggal 18 dan 19 Desember, jumlah koneksi pada kedua server proxy hampir sama seperti terlihat pada grafik. Meskipun dikatakan hampir sama, namun tidak tepat sama. Pada grafik terlihat bahwa server proxy menerima jumlah koneksi yang lebih sedikit. Hal ini disebabkan karena dalam beberapa kesempatan, server proxy gagal melakukan respon terhadap pengecekan kesehatan yang dikirimkan oleh director sehingga dalam selang waktu yang tertentu, server tersebut dikeluarkan dari layanan load balancing, dan ketika pengecekan kesehatan berhasil, server tersebut dimasukkan kembali ke dalam layanan. Pengguna sendiri tidak mengetahui kejadian tersebut. e. Hit ratio Hit ratio setelah masing-masing server proxy setelah implementasi load balancing dapat dilihat pada Gambar 20.
10 10 Gambar 20 Hit ratio setelah implementasi mekanisme load balancing. Setelah implementasi load balancing, hit ratio pada kedua server proxy mengalami perubahan dimana hit ratio pada server proxy mengalami penurunan sedangkan hit ratio pada server proxy mengalami peningkatan. Analisis Kinerja Seperti dijelaskan sebelumnya, kinerja load balancing dapat dilihat dari 2 parameter yaitu CDF dan SD. Data hit ratio juga turut dipertimbangkan mengingat peran utama squid sebagai cache. Oleh karena perlakuan pembobotan yang berbeda, maka terdapat perbedaan durasi pengambilan data sebelum dan sesudah implementasi. Hal ini dikhawatirkan menghasilkan pembandingan yang tidak valid. Untuk mengatasi masalah ini, dipilih data 2 hari yang dianggap paling merepresentasikan keseluruhan data sebelum implementasi yaitu data tanggal 6 dan 7 Desember a. Utilisasi CPU Cumulative Density Function (CDF) Gambar 21 menunjukkan grafik CDF utilisasi CPU. Gambar 21 CDF utilisasi CPU. Grafik di atas menunjukkan bahwa pembobotan 1:1 memberikan kinerja yang lebih buruk daripada sebelum implementasi load balancing, sedangkan pemberian bobot 1:2, 2:3, dan 3:5 semuanya memberikan peningkatan kinerja karena posisi kurvanya berada di sebelah kiri kurva sebelum implementasi. Sebelumnya disebutkan bahwa kurva paling kiri menunjukkan kinerja paling baik, namun hal tersebut hanya berlaku pada kondisi ideal. Pada penelitian ini, pengambilan data dilakukan pada situasi sesungguhnya di lapangan, dimana banyak faktor yang mempengaruhi data, misalnya pola pengaksesan dan jumlah koneksi yang berbeda. Oleh karena itu, grafik CDF hanya mampu menunjukkan peningkatan kinerja, tetapi tidak dapat menentukan pembobotan yang terbaik. Hal tersebut baru dapat diketahui dari nilai standar deviasi. Standar Deviasi (SD) Grafik SD utilisasi CPU dapat dilihat pada Gambar 22. Gambar 22 SD utilisasi CPU. Grafik SD utilisasi CPU menunjukkan bahwa SD utilisasi CPU terkecil diperoleh ketika pembobotan 1:2. Oleh karena SD utilisasi CPU terkecil menunjukkan pembagian beban yang paling adil dan kinerja yang paling baik, maka disimpulkan bahwa pembobotan yang paling tepat untuk diterapkan pada mekanisme load balancing server proxy di IPB adalah 1:2. Tampak pula bahwa pembobotan selain 1:2 menghasilkan SD yang lebih tinggi daripada SD sebelum implementasi mekanisme load balancing. b. Penggunaan Memori Dari keseluruhan grafik utilisasi memori, baik sebelum maupun sesudah implementasi load balancing, tampak bahwa ternyata implementasi load balancing tidak terlalu
11 11 mempengaruhi persentase jumlah memori yang digunakan oleh kedua server proxy. Begitu pula perbedaan bobot yang diberikan, tidak terlalu berpengaruh layaknya persentase utilisasi CPU. Gambar 23 menyajikan grafik SD utilisasi memori. Gambar 24 menunjukkan grafik hit ratio keseluruhan. Gambar 24 Hit ratio keseluruhan. Gambar 23 SD utilisasi memori. Seperti disebutkan sebelumnya, ternyata hasil perhitungan SD utilisasi memori tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan jika dibandingkan dengan SD utilisasi CPU. Hal ini disebabkan karena data utilisasi memori yang diambil adalah utilisasi memori keseluruhan sistem. Menurut Tranter (2004), linux selalu berusaha membuat semua memori bekerja, seperti untuk buffer dan cache. Oleh karena itu, SD memori tidak dapat menunjukkan kinerja dari load balancing. c. Hit Ratio Tugas utama server proxy adalah menyediakan cache. Salah satu parameter untuk mengukur kinerja server proxy adalah hit ratio. Hit ratio yang tinggi mengimplikasikan server proxy telah bekerja dengan baik karena untuk melayani permintaan pengguna, server proxy tersebut tidak perlu melakukan koneksi ke server web sesungguhnya, tetapi cukup memanfaatkan informasi yang tersedia di cache. Apabila implementasi load balancing menurunkan hit ratio pada server proxy berarti terjadi penurunan kinerja. Data hit ratio sesudah implementasi menunjukkan bahwa terjadi penurunan hit ratio pada server proxy , yang diimbangi dengan peningkatan hit ratio pada server proxy Hanya dari informasi tersebut, kita tidak dapat menyimpulkan secara lengkap sehingga diperlukan nilai hit ratio keseluruhan. Hit ratio keseluruhan diperoleh dengan cara menambahkan jumlah hit dan jumlah koneksi pada kedua server proxy. Kemudian total hit dibagi dengan total koneksi dan dikalikan dengan 100%. Dari grafik tersebut, tampak bahwa hit ratio sesudah implementasi mengalami sedikit peningkatan yang berarti bahwa implementasi load balancing meningkatkan kinerja server proxy meskipun tidak terlalu signifikan dari sisi hit ratio. Rata-rata hit ratio keseluruhan selama sepuluh hari sebelum implementasi adalah 12.71% dan rata-rata hit ratio keseluruhan selama delapan hari setelah implementasi mencapai 16.96%. Hal ini berarti terdapat peningkatan sekitar 4%. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Implementasi mekanisme load balancing terbukti dapat meningkatkan realibilitas, skalabilitas, dan availabilitas server proxy di IPB. Dengan implementasi mekanisme load balancing, beban kerja dapat dibagi secara adil berdasarkan beban trafik, tanpa perlu kebijakan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa pembobotan mekanisme load balancing yang paling baik untuk diterapkan di sistem operasional server proxy IPB adalah 1:2 karena menghasilkan standar deviasi utilisasi CPU yang paling kecil yaitu Hit ratio setelah implementasi load balancing secara keseluruhan mengalami peningkatan sekitar 4%. Saran Beberapa saran yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnya antara lain: 1. Pembobotan yang diberikan dapat lebih bervariasi untuk menemukan pembobotan yang lebih baik. 2. Algoritme penjadwalan weighted round robin menimbulkan sedikit masalah dalam hal pengaksesan. Terdapat situs yang tidak mau melayani request apabila
12 12 koneksi berasal dari dua buah sumber yang berbeda, sebagai contoh meebo.com. Oleh karena itu, perlu diuji coba algoritme penjadwalan lain yang memperhatikan masalah locality tersebut seperti locality based least connection. 3. Berbagai aspek dalam load balancing dapat diganti misalnya dalam sisi level load balancing atau dalam hal perangkat lunak yang digunakan. Kemudian hasilnya dapat dibandingkan dengan penelitian ini. 4. Pada pengukuran kinerja server proxy, dapat ditambahkan parameter utilisasi harddisk karena server proxy pasti banyak melakukan akses ke harddisk (cache). DAFTAR PUSTAKA [Keepalived] Healthchecking for LVS & High Availability. [7 Nov 2007]. [LVS] The Linux Virtual Server Project. [28 Nov 2007]. Menascé dan Almeida Capacity Planning Methodology /notes/slides/part3set1presentation.ppt [5 Nov 2007]. Qodarsih N Perencanaan Kapasitas untuk Kinerja Web dan Proxy Server IPB Menggunakan Model Open Queueing Network M/M/2 dan M/M/1 [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Sukoco H Lingkungan Jaringan IPB. Bogor: KPSI. Tranter J Tips for Optimizing Linux Memory Usage. [8 Jan 2008]. Wensong Z Linux Virtual Server: Linux Server Clusters for Scalable Network Services. Free Software Symposium. Zhong X, Rong H, dan Bhuyan LN Load Balancing of DNS-Based Distributed Web Serer Systems with Page Caching. Proceedings of the Tenth International Conference on Parallel and Distributed Systems (ICPADS 04).
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KINERJA LOAD BALANCING PADA SERVER-SERVER PROXY DI IPB. Oleh : DAVID THAMRIN G
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KINERJA LOAD BALANCING PADA SERVER-SERVER PROXY DI IPB Oleh : DAVID THAMRIN G64103002 DEPARTEMEN ILMU KOMPUTER FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN
METODOLOGI PENELITIAN
6 Object Identifier (OID) OID adalah identitas unik yang digunakan untuk melakukan monitoring objek dan didefinisikan dalam hirarki MIB (Cisco 2006). METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian dilakukan berdasar
Proposal Tugas Akhir
KOMPARASI ALGORITMA PENJADWALAN ROUND-ROBIN & LEAST CONNECTION PADA WEB SERVER LOAD BALANCING LVS METODE DIRECT ROUTING, NAT DAN TUNNELING Proposal Tugas Akhir Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Guna
Perancangan Dan Implementasi Load Balancing Dan Failover Clustering Pada Linux Virtual Server (LVS) Untuk High Availability
Perancangan Dan Implementasi Load Balancing Dan Failover Clustering Pada Linux Virtual Server (LVS) Untuk High Availability Dwi Septian Wardana Putra 1, Agus Eko Minarno, S.Kom, M.Kom. 2, Zamah Sari, M.T.
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KINERJA LOAD BALANCING PADA SERVER-SERVER PROXY DI IPB. Oleh : DAVID THAMRIN G
IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KINERJA LOAD BALANCING PADA SERVER-SERVER PROXY DI IPB Oleh : DAVID THAMRIN G64103002 DEPARTEMEN ILMU KOMPUTER FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN
Analisis Performa Load Balancing DNS Round Robin dengan Linux Virtual Server pada Webserver Lokal
Analisis Performa Load Balancing DNS Round Robin dengan pada Webserver Lokal Andika Janu Pradana Program Studi Teknik Informatika, Universitas Dian Nuswantoro Semarang [email protected] ABSTRACT Dispatcher
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan dunia IT sudah sangat berkembang, dan internet sudah sangat maju sehingga dapat menciptakan sebuah teknologi dalam komputasi yang bernama Cloud Computing.
ABSTRAK. Kata Kunci : algoritma penjadwalan, linux virtual server, network address translation, network load balancing.
ABSTRAK Perkembangan teknologi yang pesat terutama pada internet membuat semakin banyak pengguna yang terhubung ke internet. Semakin banyaknya pengguna yang terhubung ke internet menyebabkan kemungkinan
BAB I PENDAHULUAN. drastis. Berdasarkan data hasil penelitian tim survey trafik internet Cisco VNI, pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dengan ledakan pertumbuhan internet dan meningkatnya peran internet dalam berbagai aspek kehidupan, maka trafik pada internet meningkat secara drastis. Berdasarkan
UJI AVAILABILITAS LOAD BALANCING WEB SERVER MENGGUNAKAN LINUX VIRTUAL SERVER
UJI AVAILABILITAS LOAD BALANCING WEB SERVER MENGGUNAKAN LINUX VIRTUAL SERVER Irwan Sembiring Fakultas Teknologi Informasi, Universitas Kristen Satya Wacana [email protected] ABSTRACT Linux Virtual Server
Rancang Bangun Server Learning Management System (LMS) Berbasis Metode Load Balancing
Rancang Bangun Learning Management System (LMS) Berbasis Metode Load Balancing Pranata Ari Baskoro 1, Achmad Affandi 2, Djoko Suprajitno Rahardjo 3 Jurusan Teknik Elektro FTI - ITS Abstract Akses pengguna
IMPLEMENTASI METODE LOAD BALANCING DALAM MENDUKUNG SISTEM KLUSTER SERVER
IMPLEMENTASI METODE LOAD BALANCING DALAM MENDUKUNG SISTEM KLUSTER SERVER Sampurna Dadi Riskiono Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer, Universitas Teknokrat Indonesia Jl. Z. A. Pagar Alam No.9-11, Labuhan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. Tabel 2.1 Tinjauan Pustaka
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Tinjauan pustaka diambil dari beberapa karya tulis, sebagai berikut : Tabel 2.1 Tinjauan Pustaka No parameter Objek Bahasa interface penulis
Analisis Load Balancing Pada Web Server Menggunakan Algoritme Weighted Least Connection
Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-issn: 2548-964X Vol. 2, No. 3, Maret 2018, hlm. 915-920 http://j-ptiik.ub.ac.id Analisis Load Balancing Pada Web Server Menggunakan Algoritme
LINUX VIRTUAL SERVER UNTUK MENGATASI SERANGAN DDOS
LINUX VIRTUAL SERVER UNTUK MENGATASI SERANGAN DDOS Baskoro Adi P, Supeno Djanali, Wahyu Suadi Teknik Informastika ITS E-mail: [email protected], [email protected], [email protected] ABSTRAK Efek dari
ANALISIS AVAILABILITAS LOAD BALANCING PADA WEB SERVER LOKAL
ANALISIS AVAILABILITAS LOAD BALANCING PADA WEB SERVER LOKAL Dwi Nuriba Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Dian Nuswantoro ABSTRACT Perkembangan teknologi Web menyebabkan server-server yang menyediakan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian 4.1.1. Analisis Permasalahan Dari hasil wawancara dan observasi objek penelitian maka ditemukan beberapa permasalahan yang muncul, diantaranya : a) Terdapat
BAB II DASAR TEORI 2.1. Pengenalan Sistem Operasi Linux 2.2. Dasar Sistem Cluster
BAB II DASAR TEORI 2.1. Pengenalan Sistem Operasi Linux Linux adalah salah satu jenis sistem operasi yang sering dipakai oleh jutaan orang di dunia. Linux pertama kali diciptakan oleh Linus Torvalds pada
Seminar Nasional Inovasi dalam Desain dan Teknologi - IDeaTech 2015 ISSN:
IMPLEMENTASI LOAD BALANCING DENGAN MENGGUNAKAN ALGORITMA ROUND ROBIN PADA KASUS PENDAFTARAN SISWA BARU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA LABSCHOOL UNESA SURABAYA Gaguk Triono Teknologi Informasi Sekolah Tinggi
BAB I PENDAHULUAN. Cloud computing dalam pengertian bahasa Indonesia yang diterjemahkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cloud computing dalam pengertian bahasa Indonesia yang diterjemahkan menjadi komputasi awan, beberapa tahun terakhir ini telah menjadi "Hot word" di dunia teknologi
IMPLEMENTASI EYE OS MENGGUNAKAN METODE LOAD BALANCING DAN FAILOVER PADA JARINGAN PRIVATE CLOUD COMPUTING DENGAN LAYANAN IAAS DAN SAAS
IMPLEMENTASI EYE OS MENGGUNAKAN METODE LOAD BALANCING DAN FAILOVER PADA JARINGAN PRIVATE CLOUD COMPUTING DENGAN LAYANAN IAAS DAN SAAS TUGAS AKHIR Sebagai Persyaratan Guna Meraih Gelar Sarjana Strata 1
MEMBANGUN SISTEM CLOUD COMPUTING DENGAN IMPLEMENTASI LOAD BALANCING DAN PENGUJIAN ALGORITMA PENJADWALAN LINUX VIRTUAL SERVER PADA FTP SERVER
MEMBANGUN SISTEM CLOUD COMPUTING DENGAN IMPLEMENTASI LOAD BALANCING DAN PENGUJIAN ALGORITMA PENJADWALAN LINUX VIRTUAL SERVER PADA FTP SERVER Yoppi Lisyadi Oktavianus Program Studi Teknik Elektro, Fakultas
UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada saat ini tingkat pertumbuhan pengguna internet di seluruh dunia cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh semakin murah biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan
IMPLEMENTASI DAN ANALISIS KINERJA LOAD BALANCING PADA VIRTUAL SERVER MENGGUNAKAN ZEN LOAD BALANCER
ISSN : 2355-9365 e-proceeding of Engineering : Vol.2, No.1 April 215 Page 22 IMPLEMENTASI DAN ANALISIS KINERJA LOAD BALANCING PADA VIRTUAL SERVER MENGGUNAKAN ZEN LOAD BALANCER IMPLEMENTATION AND PERFORMANCE
BAB 1 PENDAHULUAN UKDW
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah. Teknologi jaringan komputer mengalami peningkatan yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan yang pesat ini didorong oleh bertumbuh dan berkembangnya
Pengenalan Server Load Balancing
Pengenalan Server Load Balancing Server Load Balancing (SLB) disini diartikan sebagai sebuah proses dan teknologi yang mendistribusikan trafik pada beberapa server dengan menggunakan perangkat-perangkat
BAB 2 LANDASAN TEORI. menyediakan layanan ke komputer lain melalui koneksi jaringan. Server dapat
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Server Server (Sosinsky, 2009:108) adalah sebuah program perangkat lunak yang menyediakan layanan ke komputer lain melalui koneksi jaringan. Server dapat dijalankan pada sistem
HASIL DAN PEMBAHASAN. Grafik Komposisi Protokol Transport
Analisis Kinerja Analisis kinerja dilakukan berdasarkan nilai-nilai dari parameter kinerja yang telah ditentukan sebelumnya. Parameter kinerja memberikan gambaran kinerja sistem, sehingga dapat diketahui
Perancangan Sistem Penjadwalan Proxy Squid Menggunakan Cluster schedulling. Poster
Perancangan Sistem Penjadwalan Proxy Squid Menggunakan Cluster schedulling. Poster Peneliti : Victor Parsaulian Nainggolan (672008269) Radius Tanone, S.Kom., M.Cs Program Studi Teknik Informatika Fakultas
RANCANG BANGUN WEB SERVER BERBASIS LINUX DENGAN METODE LOAD BALANCING (STUDI KASUS : LABORATORIUM TEKNIK INFORMATIKA)
Jurnal Sistem dan Teknologi Informasi (JUSTIN) Vol. 3, No. 1, (2016) 1 RANCANG BANGUN WEB SERVER BERBASIS LINUX DENGAN METODE LOAD BALANCING (STUDI KASUS : LABORATORIUM TEKNIK INFORMATIKA) Prayudi Aditya
Bab 4 Hasil dan Pembahasan
33 Bab 4 Hasil dan Pembahasan Bab ini menjelaskan tentang arsitektur cluster virtual, pengujian sistem dan analisa perbandingan request time, request error, connection rate, throughput dan kinerja hardware.
IMPLEMENTASI TEKNOLOGI LOAD BALANCER DENGAN WEB SERVER NGINX UNTUK MENGATASI BEBAN SERVER
IMPLEMENTASI TEKNOLOGI LOAD BALANCER DENGAN WEB SERVER NGINX UNTUK MENGATASI BEBAN SERVER Effendi Yusuf 1), Tengku A Riza 2), Tody Ariefianto 3) 1,2,3) Fak Elektro & Komunikasi IT Telkom Bandung Jl. Telekomunikasi
PROPOSAL PENELITIAN TESIS KOMPARASI DISTRIBUTED CACHE DAN CENTRALIZED CACHE PADA WEB PROXY PARULIAN
PROPOSAL PENELITIAN TESIS KOMPARASI DISTRIBUTED CACHE DAN CENTRALIZED CACHE PADA WEB PROXY PARULIAN 157038015 PROGRAM STUDI S2 TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI UNIVERSITAS
ANALISIS LOAD BALANCING WEB SERVER BERDASARKAN IPVSADM
ANALISIS LOAD BALANCING WEB SERVER BERDASARKAN IPVSADM Ariya Kusuma Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik Universitas Bhayangkara Surabaya Jl. A. Yani 114 Surabaya Email : [email protected]
BAB 1 PENDAHULUAN. beserta perangkat kerasnya. Secara langsung ataupun tidak, teknologi informasi telah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Teknologi informasi yang berkembang pesat dewasa ini, telah mendorong percepatan di berbagai bidang. Hal ini juga yang menyebabkan munculnya kemajuan pada perangkat
BAB IV IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN
BAB IV IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN 4.1 Implementasi Sistem Implementasi merupakan penerapan dari proses analisis dan perangcangan yang telah dibahas dalam bab sebelumnya. Pada tahapan ini terdapat dua aspek
Analisa Pemanfaatan Cluster Computing Pada Jaringan Thin Client Server
Analisa Pemanfaatan Cluster Computing Pada Jaringan Thin Client Server Artikel Ilmiah Diajukan kepada Fakultas Teknologi Informasi untuk memperoleh Gelar Sarjana Komputer Oleh: Aulia Helmi Primandita (672012008)
BAB IV HASIL DAN UJI COBA
BAB IV HASIL DAN UJI COBA Pada sistem yang akan dibangun ini bertujuan untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada seorang administrator jaringan saat akan menggunakan monitoring jaringan dengan aplikasi
OPTIMALISASI CLUSTER SERVER LMS DAN IPTV DENGAN VARIASI ALGORITMA PENJADWALAN
OPTIMALISASI CLUSTER SERVER LMS DAN IPTV DENGAN VARIASI ALGORITMA PENJADWALAN DIDIK ARIBOWO 2210 203 009 Dosen Pembimbing: DR. Ir. Achmad Affandi, DEA Pasca Sarjana Bidang Keahlian Telekomunikasi Multimedia
TEKNOLOGI LOAD BALANCING UNTUK MENGATASI BEBAN SERVER
TEKNOLOGI LOAD BALANCING UNTUK MENGATASI BEBAN SERVER Iwan Rijayana Jurusan Teknik Informatika, Universitas Widyatama Jalan Cikutra 204 A Bandung E-mail: [email protected] Abstrak Load Balancing
Bab 2 Tinjauan Pustaka
Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1 Penelitian Terdahulu Pembahasan mengenai clustering dengan skema load balancing pada web server sudah banyak ditemukan. Salah satu pembahasan yang pernah dilakukan adalah Perancangan
BAB III ANALISA KEBUTUHAN DAN PERANCANGAN SISTEM
BAB III ANALISA KEBUTUHAN DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Alat dan Bahan Perancangan sistem load balancing sekaligus failover cluster ini membutuhkan minimal 3 PC (Personal Computer) untuk dapat diimplementasikan.
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN 1.1 ANALISA KEBUTUHAN SISTEM
BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN 1.1 ANALISA KEBUTUHAN SISTEM Saat ini, sebagian besar aplikasi yang digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan bisnis pada berbagai skala membutuhkan puluhan atau bahkan
RANCANGAN LAYANAN E-LEARNING
1/6 RANCANGAN LAYANAN E-LEARNING JARINGAN TERPADU BERBASIS METODE LOAD BALANCING Anton Wijaya Dr. Ir. Achmad Affandi, DEA Ir. Djoko Suprajitno Rahardjo, MT Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri,
BAB 4 PERANCANGAN SISTEM
BAB 4 PERANCANGAN SISTEM 4.1. Perancangan Topologi Penulis mengambil kesimpulan dari analisa permasalahan sampai system yang sedang berjalan bahwa perusahaan PT. XYZ membutuhkan server virtulisasi untuk
4.1 Latar Belakang Masalah
BAB IV TUGAS KHUSUS PT MEDCO E&P INDONESIA 4.1 Latar Belakang Masalah Istilah TI (Teknologi Informasi) yang populer saat ini adalah bagian dari mata rantai panjang dari perkembangan istilah dalam dunia
Bab 3 Metode Perancangan 3.1 Tahapan Penelitian
Bab 3 Metode Perancangan 3.1 Tahapan Penelitian Pada bab ini dijelaskan mengenai metode yang digunakan dalam membuat sistem dan perancangan yang dilakukan dalam membangun Web Server Clustering dengan Skema
Bab 3 Metode dan Perancangan Sistem
23 Bab 3 Metode dan Perancangan Sistem 3.1 Metode Pembangunan Sistem Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah PPDIOO (prepare, plan, design, implement, operate, optimize). Metode ini adalah metode
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS
BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS 4.1.Implementasi Sistem Implementasi sistem e-learning yang terintegrasi dengan HOA merupakan sistem yang berbasis client-server, meliputi perangkat keras dan perangkat lunak
PENERAPAN PENGOLAHAN PARALEL MODEL CLUSTER SEBAGAI WEB SERVER
PENERAPAN PENGOLAHAN PARALEL MODEL CLUSTER SEBAGAI WEB SERVER Maman Somantri, Ari Darmariyadi Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Jl. Prof. Sudharto, Tembalang Semarang Email : [email protected]
Peningkatan Kinerja Siakad Menggunakan Metode Load Balancing dan Fault Tolerance Di Jaringan Kampus Universitas Halu Oleo
IJCCS, Vol.10, No.1, January 2016, pp. 11~22 ISSN: 1978-1520 11 Peningkatan Kinerja Siakad Menggunakan Metode Load Balancing dan Fault Tolerance Di Jaringan Kampus Universitas Halu Oleo Alimuddin* 1, Ahmad
Algoritma Penggantian Cache Sebagai Optimalisasi Kinerja pada Proxy Server
Algoritma Penggantian Cache Sebagai Optimalisasi Kinerja pada Proxy Server Abstract Having a fast internet connection is the desire of every internet user. However, slow internet connection problems can
ANALISIS MEKANISME REDUNDANCY GATEWAY DENGAN MENGGUNAKAN PROTOKOL HSRP DAN VRRP
ANALISIS MEKANISME REDUNDANCY GATEWAY DENGAN MENGGUNAKAN PROTOKOL HSRP DAN VRRP Rendy Munadi 1, Rumani M 2, Kukuh Nugroho 3 1 IT Telkom, Jl. Telekomunikasi, Dayeuh Kolot, Bandung, [email protected] 2
BAB 1 PENDAHULUAN. sehari-hari seiring dengan perkembangan teknologi aksesnya pada perangkat
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Penggunaan internet di kalangan masyarakat sudah menjadi kebutuhan sehari-hari seiring dengan perkembangan teknologi aksesnya pada perangkat pelanggan.aplikasi internet
Kinerja Metode Load Balancing dan Fault Tolerance Pada Server Aplikasi Chat
Kinerja Metode Load Balancing dan Fault Tolerance Pada Server Aplikasi Chat Sampurna Dadi Riskiono 1, Selo Sulistyo 2, Teguh Bharata Adji 3 Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi Universitas
diperoleh gambaran yang lebih baik tentang apa yang terjadi di jaringan dan dapat segera diketahui penyebab suatu permasalahan.
8 diperoleh gambaran yang lebih baik tentang apa yang terjadi di jaringan dan dapat segera diketahui penyebab suatu permasalahan. header 20 bytes lebih besar daripada paket IPv4. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil
BAB I PENDAHULUAN. Akibatnya lebih banyak pengguna yang akan mengalami kelambatan dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Internet telah tumbuh secara signifikan bersama dengan popularitas web. Akibatnya lebih banyak pengguna yang akan mengalami kelambatan dalam membuka suatu website.
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 EIGRP 2.1.1 Pengertian EIGRP EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol) adalah routing protocol yang hanya bisa digunakan pada router CISCO atau disebut juga CISCO propietary,
ANALISIS DAN IMPLEMENTASI OPTIMASI SQUID UNTUK AKSES KE SITUS YOUTUBE. Naskah Publikasi. disusun oleh Yudha Pratama
ANALISIS DAN IMPLEMENTASI OPTIMASI SQUID UNTUK AKSES KE SITUS YOUTUBE Naskah Publikasi disusun oleh Yudha Pratama 05.11.0745 kepada JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Load balancing adalah proses pendistribusian beban terhadap sebuah servis yang ada pada sekumpulan server atau perangkat jaringan ketika ada permintaan dari pemakai.
MEMBANDINGKAN JARINGAN DENGAN MENGGUNAKAN WEB PROXY PADA MIKROTIK DAN SQUID SERVER PROXY
MEMBANDINGKAN JARINGAN DENGAN MENGGUNAKAN WEB PROXY PADA MIKROTIK DAN SQUID SERVER PROXY Nama : Helmy NPM : 20107803 Jurusan : Sistem Komputer Fakultas : Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi Pembimbing
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Tahap Pembangunan Sistem 4.1.1. Implementasi Windows Server 2012 R2 Pada tahap pertama, penulis menggunakan Windows Server 2012 R2 sebagai sistem operasi pada server utama,
BAB V IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN
BAB V IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN Setelah melakukan analisis dan perancangan untuk sistem backup yang akan dibangun. Maka tahapan selanjutnya adalah tahap implementasi dan pengujian terhadap sistem backup.
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SQUID PROXY MENGGUNAKAN AUTHENTIFIKASI DATABASE SERVER PADA DINAS SOSIAL PROVINSI SUMATERA SELATAN
DESAIN DAN IMPLEMENTASI SQUID PROXY MENGGUNAKAN AUTHENTIFIKASI DATABASE SERVER PADA DINAS SOSIAL PROVINSI SUMATERA SELATAN Budiman Jurusan Teknik Informatika STMIK PalComTech Palembang Abstrak Internet
DESAIN DAN IMPLEMENTASI LOAD BALANCING JARINGAN LOKAL PADA CV. SUKSES MAKMUR MANDIRI PALEMBANG
DESAIN DAN IMPLEMENTASI LOAD BALANCING JARINGAN LOKAL PADA CV. SUKSES MAKMUR MANDIRI PALEMBANG Imam Maghribi Mursal Jurusan Teknik Informatika STMIK PalComTech Palembang Abstrak CV. Sukses Makmur Mandiri
Perancangan dan Implementasi WebServer Clustering dengan Skema Load Balance Menggunakan Linux Virtual Server Via NAT
Jurnal Teknologi Informasi-Aiti, Vol. 5. No. 1, Februari 2008: 1-100 Perancangan dan Implementasi WebServer Clustering dengan Skema Load Balance Menggunakan Linux Virtual Server Via NAT Theddy R Maitimu
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Implementasi Sistem 4.1.1 Spesifikasi Perangkat Keras Aplikasi ini berbasiskan arsitektur client dan server. Kebutuhan perangkat keras untuk server lebih tinggi daripada
BAB 4 UJI COBA DAN ANALISA KINERJA APLIKASI PETA UI BERBASIS GOOGLE MAPS
BAB 4 UJI COBA DAN ANALISA KINERJA APLIKASI PETA UI BERBASIS GOOGLE MAPS 4.1 Uji Coba dan Analisa Load Time 4.1.1 Uji Coba Load TIme Pengujian dilakukan dengan menggunakan komputer yang memiliki spesifikasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI. tentang load balancing terus dilakukan dan metode load balancing terus
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Tinjauan pustaka yang digunakan pada penelitian ini meliputi beberapa penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya, sebagai berikut. Berbagai
BAB II LANDASAN TEORI. 2.1 Tinjauan Pustaka
BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka 2.1.1 Perangkat Jaringan Server proxy dalam kinerjanya membutuhkan perangkat untuk saling mengirim dan menerima data, adapun perangkat yang digunakan di jaringan
BAB IV IMPLEMENTASI DAN PEMBAHASAN
BAB IV IMPLEMENTASI DAN PEMBAHASAN Pada bab ini akan dijelaskan tentang tahapan pembangunan jaringan virtual server di PT XYZ dengan menggunakan metode Network Development Life Cycle (NDLC) tahapan tersebut
ClearOS, Solusi Router Praktis dan Gratis
ClearOS, Solusi Router Praktis dan Gratis Sunarto [email protected] http://sunarto.wordpress.com Lisensi Dokumen: Copyright 2003-2010 Ilmukomputer.Com Seluruh dokumen di IlmuKomputer.Com dapat digunakan,
Nagios Sebagai Network Monitoring Software
Nama : Muhamad Yusup NIM : 09011281419061 Nagios Sebagai Network Monitoring Software 1. Pendahuluan Nagios adalah NMS open source yang dirancang khusus untuk memonitor host/managed device dan layanan jaringan
Untuk menguji hipotesis awal, perlu dicari tahu parameter untuk mendapatkan
BAB III RANCANGAN EKSPERIMEN 3.1 Skenario Eksperimen Untuk menguji hipotesis awal, perlu dicari tahu parameter untuk mendapatkan kriteria beban kerja ringan dan beban kerja berat. Kemudian untuk melengkapi
BAB III METODE PENELITIAN. sebelumnya yang berhubungan dengan VPN. Dengan cara tersebut peneliti dapat
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam tugas akhir ini adalah studi kepustakaan, percobaan dan analisis. 3.1.1. Studi Kepustakaan Studi literatur dalam
BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI
BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Bab ini menjelaskan implementasi aplikasi yang dirancang, spesifikasi sarana yang dibutuhkan, dan contoh cara pengoperasian aplikasi yang dirancang. Bab ini juga menguraikan
Resume. Pelatihan Membuat PC Router Menggunakan ClearOS. Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah. Lab. Hardware
Resume Pelatihan Membuat PC Router Menggunakan ClearOS Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Lab. Hardware Nama : Andrian Ramadhan F. NIM : 10512318 Kelas : Sistem Informasi 8 PROGRAM STUDI
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Saat ini internet sudah menjadi suatu kebutuhan yang sangat penting bagi seluruh lapisan masyarakat di dunia, hal ini menyebabkan semakin meningkatnya permintaan akan
BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SISTEM
BAB III PERANCANGAN DAN PEMBUATAN SISTEM 3.1. Perancangan Sistem Untuk merancang sistem ini diperlukan 3 buah web server dan 1 buah server untuk load balance. Server-server ini berada pada jaringan lokal
ANALISIS PERFORMANSI LOAD BALANCING DENGAN ALGORITMA ROUND ROBIN DAN LEAST CONNECTION PADA SEBUAH WEB SERVER ABSTRAK
ISSN : 2442-5826 e-proceeding of Applied Science : Vol.1, No.2 Agustus 2015 Page 1577 ANALISIS PERFORMANSI LOAD BALANCING DENGAN ALGORITMA ROUND ROBIN DAN LEAST CONNECTION PADA SEBUAH WEB SERVER Mohammad
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. WLAN dengan teknologi Infra red (IR) dan Hewlett-packard (HP) menguji WLAN
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Wireless Local Area Network (WLAN) Sejarah WLAN diawali pada tahun 1970, IBM mengeluarkan hasil rancangan WLAN dengan teknologi Infra red (IR) dan Hewlett-packard (HP) menguji
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Teknologi HA atau High Availability adalah metode jaringan yang sering digunakan untuk mengurangi kemungkinan down-time terhadap server dengan menggunakan dua unit
MODUL 1 PENGENALAN LAYANAN JARINGAN
MODUL 1 PENGENALAN LAYANAN JARINGAN TUJUAN PEMBELAJARAN: 1. Mahasiswa memahami tentang konsep Jaringan 2. Mahasiswa memahami kegunaan jaringan 3. Mahasiswa mampu menggunakan contoh layanan jaringan DASAR
Bab 1 Pendahuluan Mengapa perlu mengetahui kinerja sistem?
Bab 1 Pendahuluan Perangkat komputer yang memiliki kualitas baik berarti sistem di dalamnya bekerja sesuai dengan fungsinya, sesuai dengan rentang operasional yang dirancang atau dapat dikatakan bekerja
Membuat Cluster Load Balancing Dengan Cepat dan Mudah
Membuat Cluster Load Balancing Dengan Cepat dan Mudah http://linux2.arinet.org Selama ini orang selalu menganggap bahwa membuat cluster load balancing adalah hal yang rumit dan memusingkan. Dan.. memang
ANALISIS KINERJA PENYEIMBANG BEBAN SERVER WEB DENGAN ALGORITME RASIO DINAMIS ARIS MUNANDAR
ANALISIS KINERJA PENYEIMBANG BEBAN SERVER WEB DENGAN ALGORITME RASIO DINAMIS ARIS MUNANDAR DEPARTEMEN ILMU KOMPUTER FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2014 PERNYATAAN
BAB IV HASIL DAN UJI COBA
BAB IV HASIL DAN UJI COBA IV.1. Tampilan Hasil Dari hasil penelitian, analisis, perancangan dan pengembangan sistem yang diusulkan, maka hasil akhir yang diperoleh adalah sebuah perangkat lunak Sistem
USER MANUAL TREND MICRO. Instalasi Trend Micro Internet Security. By: PT. Amandjaja Multifortuna Perkasa
USER MANUAL Instalasi Trend Micro Internet Security TREND MICRO By: PT. Amandjaja Multifortuna Perkasa DAFTAR ISI 1. System Requirements Untuk TIS 2. Pertimbangan Instalasi TIS 3. Proses Instalasi TIS
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Spesifikasi Sistem 4.1.1 Software PRTG Perancangan sistem monitoring jaringan ini menggunakan aplikasi PRTG System Monitor yang dijalankan pada sistem operasi Windows. PRTG
ANALISIS SKALABILITAS SERVER VIRTUALISASI PADA AKADEMI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER NEW MEDIA
ANALISIS SKALABILITAS SERVER VIRTUALISASI PADA AKADEMI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER NEW MEDIA Jurusan Teknik Elektro, Universitas Udayana Kampus Bukit Jimbaran, Bali, 80361 Email : [email protected]
BAB 3 Metode dan Perancangan 3.1 Metode Top Down
BAB 3 Metode dan Perancangan 3.1 Metode Top Down Menurut Setiabudi (2009) untuk membangun sebuah sistem, diperlukan tahap-tahap agar pembangunan itu dapat diketahui perkembangannya serta memudahkan dalam
BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM
BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1 Analisa Sistem Pada analisa sistem ini penulis akan memaparkan bagaimana perancangan sistem DNS Master Slave yang akan di implementasiakan pada jaringan Universitas
