BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB III METODOLOGI A.

BAB III TATA LAKSANA PELAKSANAAN

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI A. Alat dan Bahan A.1Alat yang digunakan : - Timbangan - Blender - Panci perebus - Baskom - Gelas takar plastik - Pengaduk -

BROWNIES TEPUNG UBI JALAR PUTIH

BAB III METODE PELAKSANAAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian Jurusan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. BAHAN DAN METODOLOGI PENELITIAN

MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2015 dari survei sampai

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian Jurusan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Politeknik

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2013 di

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan selama bulan Mei hingga Agustus 2015 dan

1.Penentuan Kadar Air. Cara Pemanasan (Sudarmadji,1984). sebanyak 1-2 g dalam botol timbang yang telah diketahui beratnya.

BAB III METODE PELAKSANAAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Ubi jalar ± 5 Kg Dikupas dan dicuci bersih Diparut dan disaring Dikeringkan dan dihaluskan Tepung Ubi Jalar ± 500 g

Lampiran 1. Prosedur Analisis Rendemen Cookies Ubi Jalar Ungu. 1. Penentuan Nilai Rendemen (Muchtadi dan Sugiyono, 1992) :

METODE. Materi. Rancangan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu industri rumah tangga (IRT) tahu di

Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI ) Kadar Air (%) = A B x 100% C

BAB III METODE PELAKSANAAN

III. BAHAN DAN METODE. Lampung Timur, Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Politeknik Negeri

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada September Oktober Pengambilan

BAB III METODE PENELITIAN

METODE PENGUJIAN. 1. Kadar Oksalat (SNI, 1992)

LAMPIRAN. Kadar Air dengan Metode Thermogravimetri (Sudarmadji, dkk., 2007)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Kadar air (%) = B 1 B 2 x 100 % B 1

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian,

BAB III METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. B.

Kadar air % a b x 100% Keterangan : a = bobot awal contoh (gram) b = bobot akhir contoh (gram) w1 w2 w. Kadar abu

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kali ini adalah penetapan kadar air dan protein dengan bahan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan

III. MATERI DAN METODE. dilakukan di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian Universitas Riau.

Lampiran 1. Gambar tanaman dan wortel. Tanaman wortel. Wortel

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian

METODE. Bahan dan Alat

Bab III Bahan dan Metode

III. BAHAN DAN METODE

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. aroma spesifik dan mempunyai nilai gizi cukup tinggi. Bagian kepala beratnya

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian pendahuluan dilaksanakan pada bulan Februari 2017 dan

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian melalui eksperimen di bidang Ilmu Teknologi Pangan.

METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PELAKSANAAN

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Industri Rumah Tangga Produksi Kelanting MT,

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri

METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di industri rumah tangga terasi sekaligus sebagai

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pangan

Lampiran 1. Prosedur Fermentasi Onggok Singkong (Termodifikasi)

III. METODOLOGI PENELITIAN. Universitas Muhammadiyah Malang mulai bulan April 2014 sampai Januari 2015.

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan

3.1. Tempat dan Waktu Bahan dan Aiat Metode Penelitian

Lampiran 1. Prosedur Analisa Karakteristik Bumbu Pasta Ayam Goreng 1. Kadar Air (AOAC, 1995) Air yang dikeluarkan dari sampel dengan cara distilasi

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan selama 5-6 bulan di Laboratorium Ilmu dan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Teknologi Pangan Jurusan Teknologi

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Pengolahan Hasil Pertanian dan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN

Atas kesediaan Bapak/Ibu saya ucapkan terima kasih.

Lampiran 1. Prosedur kerja analisa bahan organik total (TOM) (SNI )

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2015 sampai dengan bulan April 2015

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. hijau atau tauge. Nata yang dihasilkan kemudian diuji ketebalan, diukur persen

BAB III METODOLOGI. A.2. Bahan yang digunakan : A.2.1 Bahan untuk pembuatan Nata de Citrullus sebagai berikut: 1.

1 kg beras dicuci 3 kali dimasak dengan 2 liter air selama 25 menit

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Alur penelitian ini seperti ditunjukkan pada diagram alir di bawah ini:

Lampiran 1. Universitas Sumatera Utara

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada 26 Agustus 2015 di Laboratorium Produksi dan

Lampiran 1 Formulir organoleptik

III. METODOLOGI PENELITIAN

3. MATERI DAN METODE. Gambar 2. Alat Penggilingan Gabah Beras Merah. Gambar 3. Alat Penyosohan Beras Merah

Lampiran 1. Prosedur Pelaksanaan dan Hasil Penelitian Pendahuluan

BAB III MATERI DAN METODE. Kimia dan Gizi Pangan Universitas Diponegoro, Semarang untuk pembuatan

III. METODE PENELITIAN. waktu penelitian ini dimulai pada bulan April 2016 sampai Desember 2016.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS BAHAN MAKANAN ANALISIS KADAR ABU ABU TOTAL DAN ABU TIDAK LARUT ASAM

BAB III METODE PENELITIAN

TEKNIK PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN

III. METODE PENELITIAN. Alat yang digunakan yaitu pengering kabinet, corong saring, beaker glass,

Mengemas Laba Usaha Kacang Mete Di Musim Lebaran

BAB III METODE PELAKSAANAN

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN

3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Produk Menurut Ismayasari (2014), enting-enting merupakan makanan khas dari daerah Jawa Tengah yang terbuat dari campuran kacang tanah yang telah disangrai dan ditambahkan dengan gula pasir yang dipanaskan kemudian dicetak. Disamping itu, enting-enting dapat disimpan lama tanpa tambahan bahan pengawet, sehingga dapat disajikan dalam berbagai kesempatan. Enting-enting dapat disimpan dan tahan lama karena adanya gula yang berfungsi sebagai pengawet alami. Menurut Sukendro (2009), enting-enting merupakan makanan tradisional yang ternyata terdiri dari lapisan isi dan kulit yang cukup dibuat dengan bahan dasar kacang tanah, gula pasir, dan air. Lapisan kulitnya lebih keras terasa manis dan renyah karena mengandung lebih banyak gula. Sedangkan isinya merupakan kacang tanah yang telah ditumbuk halus. Tekstur dari enting-enting itu sendiri renyah dan memiliki rasa manis dan gurih yang didapat dari kacang. Bahan baku yang digunakan dalam proses pembuatan enting-enting yaitu kacang tanah yang telah disangrai dengan kualitas baik, tidak cacat dan bersih. Kacang tanah dipilih sebagai bahan baku karena mudah didapat dan mengandung zat-zat yang dibutuhkan oleh manusia. Menurut Mashudi (2008), dalam biji kacang tanah banyak mengandung protein, lemak dan karbohidrat. Kadungan protein sekitar 25-30 %, karbohidrat 12 % dan minyak 40-50 %. Selain itu kandungan mineralnya, terutama kalsium dan fosfor yang cukup tinggi terdapat didalamnya, kadar kalorinya pun tinggi (452 kal). Enting-enting yang dibuat selain menggunakan kacang tanah juga di tambahkan dengan kacang kedelai dan buah kedondong. Penambahan kacang kedelai dan buah kedondong bertujuan untuk menambah kandungan nilai dan gizi pada produk enting-enting. Kandungan protein nabatai pada kacang kedelai cukup tinggi. Bahkan, merupakan satu-satunya bahan nabati yang jumlah proteinnya mendekati protein daging. Dalam setiap 100 gram kedelai, 25

26 tedapat 38% protein. Buah kedondong mengandung banyak manfaat diantaranya sukrosa pada kedondong dapat menjadi sumber energi atau kalori. Selain kandungan vitamin C buah kedondong cukup tinggi yaitu 30 mgram/100g buah kedondong (Nur, 2012). Proses pembuatan enting-enting kacang tanah, kacang kedelai dan kedondong terdiri dari beberapa tahap yaitu mulai dari sortasi, penyangraian kacang tanah dan kacang kedelai, pembersihan kulit ari, pengupasan serta pemisahan daging buah kedondong dari kulit dan bijinya, pencucian daging buah kedondong, pengeringan, penumbukkan, dan perekatan dengan gula. Untuk lebih jelasnya adalah sebagai berikut: 1. Sortasi bahan Kacang tanah, kacang kedelai dan buah kedondong yang digunakan untuk pembuatan enting-enting haruslah berkualitas baik dan tidak rusak atau busuk. Dengan kualitas bahan yang baik maka akan menghasilkan enting-enting yang baik. Untuk menghasilkan produk dengan kualitas baik maka sebelum proses pembuatan dimulai terlebih dahulu melakukan sortasi. Sortasi merupakan kegiatan dalam penanganan pasca panen yg bertujuan untuk memisahkan bahan utama (produk utama) dengan bahan pengotor (losses) atau sering disebut dengan kegiatan operasi pemisahan. Setelah bahan lolos sortasi maka bahan-bahan tersebut selanjutnya akan digunakan dalam proses produksi. (a) (b) (c) Gambar 4.1 Sortasi Bahan (a) Kacang kedelai; (b) Kacang tanah; (c) Gula merah 2. Pengupasan dan pemisahan daging buah kedondong Pengupasan bertujuan untuk memisahkan bagian yang dapat dimakan dengan bagian yang tidak dapat dimakan yaitu kulitnya. Selain

27 itu pengupasan juga bertujuan untuk memudahkan proses selanjutnya dan untuk mempercepat proses pematangan pada waktu pemasakan. Pengupasan dilakukan secara manual menggunakan pisau sampai seluruh bagian kulitnya terkelupas (Basuki dkk, 2013). Selain kulit buah, masih ada bagian yang termasuk limbah yang perlu dibersihkan, yaitu biji. Bijibiji tersebut harus segera dipisahkan (Suprapti, 2011). Gambar 4.2 Pengupasan dan Pemisahan Daging Buah 3. Pencucian daging buah Setelah dilakukan pengupasan dan pemotongan, daging buah kedondong kemudian dicuci dengan air mengalir yang bersih. Tujuan pencucian adalah untuk menghilangkan kotoran yang menempel pada waktu pengupasan. Selain itu juga untuk menghilangkan getah yang masih tersisa pada daging buah (Basuki dkk, 2013). Tujuan dari pencucian dengan air mengalir adalah untuk menghilangkan residu yang larut dalam air mengalir yang mungkin menempel pada bahan. 4. Pengeringan (oven) Setelah daging buah kedondong dikupas, dipotong dan dicuci maka selanjutnya adalah proses pengeringan. Menurut Irzam (2014), proses pengeringan bertujuan untuk mengurangi kadar air dari bahan, berat bahan dan mengawetkan bahan serta memudahkan tahapan proses selanjutnya. Dalam pengeringan ini dapat mendapatkan produk dengan satu atau lebih tujuan produk yang diinginkan, misalnya diinginkan bentuk fisiknya (bubuk, pipih, atau butiran), diinginkan warna, rasa dan strukturnya, serta mereduksi volume.

28 Gambar 4.3 Pengeringan Buah 5. Pembersihan kulit ari Sebelum dilakukan penyangraian dan penumbukkan, kacang yang akan digunakan selama proses produksi dibersihkan terlebih dahulu dari kulit arinya dimana menurut Marwati (2014), pembersihan kulit ari pada kacang mampu mengurangi kandungan cemaran Aflatoksin. Selain itu penghilangan kulit ari pada kacang juga mempengaruhi hasil dari produk yang dihasilkan. Pembersihan kulit ari dapat dilakukan dengan diayak dengan tangan. (a) (b) Gambar 4.4 Pembersihan Kulit Ari (a) Sebelum dibersihkan kulit arinya; (b) Setelah dibersihkan kulir arinya 6. Penyangraian kacang Kacang tanah dan kacang kedelai yang digunakan dalam produksi enting-enting setelah disortasi kemudian disangrai. Menurut Sari (2015), penyangraian merupakan proses pemanasan yang melibatkan suhu tinggi, biasanya dilakukan pada suhu di atas 100 C, sehingga dapat merapuhkan bahan dan menguapkan air dalam bahan. Sedangkan menurut Marwati (2014), penyangraian dilakukan untuk mengurangi cemaran yang terdapat pada kacang serta membantu untuk proses penghilangan kulit ari pada kacang. Cemaran yang biasanya terdapat dalam kacang-kacangan

29 khususnya kacang tanah dan kacang kedelai adalah aflatoksin. Aflatoksin merupakan cemaran yang dihasilkan oleh kapang, termasuk kedalam cemaran yang tahan terhadap perlakuan fisik, kimia maupun suhu tinggi sehingga dalam penyangraian memerlukan suhu tinggi sekitar100 0 C. (a) (b) Gambar 4.5 Penyangraian Kacang (a) Penyangraian kacang kedelai; (b) Penyangraian kacang tanah 7. Penumbukkan kacang Kacang yang telah dibersihkan dari kulit arinya kemudian ditumbuk. Penumbukkan atau penghancuran ini dilakukan tidak sampai kacang hancur namun hanya untuk mengecilkan ukuran kacang sehingga memiliki tekstur yang lebih baik. Penumbukkan kacang yang terlalu halus juga dapat menyebabkan minyak yang terkandung dalam kacang keluar sehingga membuat produk tidak tahan lama. Gambar 4.6 Kacang Yang Telah Ditumbuk 8. Pencampuran dan perekatan dengan gula Kacang yang telah ditumbuk dan buah kedondong yang telah mengalami pengecilan ukuran dicampurkan dan direkatkan dengan gula yang telah dikaramelisasi. Menurut Winarno (2004), gula karamel selain digunakan sebagai perekat pada beberapa campuran makanan juga sering dipergunakan sebagai bahan pemberi cita rasa makanan. Reaksi karamelisasi adalah reaksi yang terjadi karena pemanasan gula pada

30 temperatur tinggi diatas titik cairnya yang akan menghasilkan perubahan warna menjadi warna gelap sampai coklat. Gambar 4.7 Proses Karamelisasi dan Pencampuran 9. Pencetakan Bahan-bahan yang telah dicampurkan dengan gula karamelisasi kemudian dicetak dalam loyang cetakan dan didinginkan baru dapat dikemas dalam kemasan yang telah ditentukan. Pencetakan ini bertujuan untuk menyeragamkan bentuk dan ukuran produk yang dihasilkan sehingga membantu proses pengemasan. 10. Pengemasan Setelah produk dicetak dan didinginkan selanjutnya adalah proses pengemasan dimana produk diletakan kedalam kertas kue dan dimasukkan kedalam toples. Setelah itu diberi label produk. Menurut Saneto (1994), pengemasan merupakan salah satu cara untuk melindungi atau mengawetkan produk pangan maupun non pangan. Kemasan adalah suatu wadah yang digunakan untuk mengemas suatu produk yang dilengkapi dengan label atau keterangan-keterangan termasuk beberapa manfaat dari isi kemasan. Pengemasan mempunyai fungsi dalam menunjang distribusi produk terutama yang mudah mengalami kerusakan. Gambar 4.8 Produk Setelah Dikemas

31 B. Analisis Sensori Produk Pada produk enting-enting kacang tanah, kacang kedelai dan kedondong analisis kandungan yang diuji berupa analisis sensoris dan analisis proksimaat meliputi kadar protein total (N), kadar lemak, kadar air, kadar abu, dan karbohidrat. Hal ini perlu dilakukan guna mengetahui tingkat kesukaan konsumen dengan menggunakan uji sensoris secara scoring. Selain itu analisa proksimat dilakukan guna mengetahui kandungan nilai gizi serta ada atau tidaknya penambahan nilai gizi pada produk yang dibuat dibandingankan dengan produk yang telah ada sebelumnya. 1. Analisis sensori Menurut Lazim (2009), analisis sensori adalah salah satu metode yang digunakan dalam mengidentifikasi penerimaan pasar terutama pada produk berbasis makanan dan minuman. Hal ini berguna untuk pengembangan dan perbaikan produk karena faktor yang paling penting untuk pasar tertentu dapat diidentifikasi dan diperbaiki. Analisis sensori juga diperlukan untuk memastikan bahwa produk akan berhasil di pasar. Tanpa analisis sensori yang tepat, ada risiko tinggi kegagalan pada pasar. Analisis sensori terlalu sering sering diabaikan sebagai persyaratan sebelum produk diluncurkan. Hal ini serupa dengan pendapat Suardi (2007), dimana tingkat kesukaan konsumen dapat diukur menggunakan uji organoleptik melalui alat indra. Uji organoleptik merupakan hasil reaksi fisikologik berupa tanggapan atau kesan mutu oleh sekelompok orang yang disebut dengan panelis. Panelis adalah sekelompok orang yang bertugas menilai sifat atau kualitas bahan berdasarkan kesan subyektif. Analisis sensori dilakukan dengan uji organoleptik mrliputi uji kesukaan dengan tujuan untuk mengetahui penerimaan konsumen terhadap mutu enting-enting yang dibuat dengan perbedaan perbandingan antara kacang tanah, kacang kedelai dan buah kedondong. Uji organoleptik ini dapat membantu dalam penentuan formula yang paling tepat untuk mengetahui selera konsumen dipasaran dan sangat membantu produsen dalam mengeluarkan produk agar dapat diterima oleh konsumen.

32 Parameter yang di uji dari uji kesukaan atau ranking antara lain warna, aroma, rasa, tekstur, dan overall. Uji skoring atau skaling dilakukan dengan menggunakan pendekatan skor atau skala yang dihubungkan dengan deskripsi tertentu dari atribut mutu produk. Dalam sistem skoring, angka digunakan untuk menilai intensitas produk dengan sususan meningkat atau menurun (Gunarto, 2012). Skor nilai untuk mendapatkan prosentase dirumuskan sebagai berikut: % = n/n x 100% Keterangan: % = Skor prosentase n = Jumlah skor yang diperoleh N = Skor ideal (skor tertinggi x jumlah panelis) (Putri, 2014). Tabel 4.1 Hasil Analisis Enting-enting dengan Penambahan Kacang Kedelai dan Kedondong Kode Sampel Warna Rasa Aroma Tekstur Overall 196 3.25 b 2.45 a 3.05 b 2.70 b 3.05 a 390 4.20 c 3.80 c 4.00 c 3.85 c 4.15 b 272 2.30 a 3.15 b 2.60 a 2.00 a 2.75 a Sumber : Hasil SPSS Keterangan: 196 : 250 gr kacang tanah + 100 gr kacang kedelai + 50 gr kedondong 390 : 250 gr kacang tanah + 75 gr kacang kedelai + 75 gr kedondong 272 : 250 gr kacang tanah + 50 gr kacang kedelai + 100 gr kedondong Dari data Tabel 4.1. dapat diketahui bahwa enting-enting kacang tanah, kacang kedelai dan kedondong dengan kode 196, 390 dan 727 memiliki nilai rerata yang berbeda-beda. Dari hasil uji SPSS dapat diketahui tingkat kesukaan konsumen terhadap enting-enting sebagai berikut : a. Warna Warna merupakan salah satu syarat mutu dalam uji organoleptik yang dapat mempengaruhi daya tarik konsumen secara visual. Dari

33 Tabel 4.1 dapat diketahui hasil organoleptik dari warna pada sampel enting-enting dimana kode sampel 196 dengan penambahan 150 gr kacang tanah + 100 gr kacang kedelai + 50 gr kedondong berbeda nyata dengan kode sampel 390 dengan penambahan 250 gr kacang tanah + 75 gr kacang kedelai + 75 gr kedondong dan berbeda nyata juga dengan kode sampel 272 dengan penambahan 250 gr kacang tanah + 50 gr kacang kedelai + 100 gr kedondong. Artinya dari ketiga sampel tersebut memiliki perbedaan pada warna. Urutan warna yang paling disukai adalah kode sampel 390; 196; 272. b. Rasa Menurut Shewfelt (2014), cita rasa adalah persepsi terhadap senyawa spesifik dilidah. Gula seperi sukrosa dan fruktosa, seperti juga senyawa buatan yang berinteraksi dengan reseptor lidah untuk menghasilkan rasa manis dan berlaku untuk senyawa atau rasa lain. Dari Tabel 4.1 dapat diketahui hasil organoleptik dari rasa pada sampel enting-enting dimana kode sampel 196 dengan penambahan 250 gr kacang tanah + 100 gr kacang kedelai + 50 gr kedondong berbeda nyata dengan kode sampel 390 dengan penambahan 250 gr kacang tanah + 75 gr kacang kedelai + 75 gr kedondong dan berbeda nyata juga dengan kode sampel 272 dengan penambahan 250 gr kacang tanah + 50 gr kacang kedelai + 100 gr kedondong. Artinya dari ketiga sampel tersebut memiliki perbedaan pada segi rasa. Urutan rasa yang paling disukai adalah kode sampel 390; 272; 196. c. Aroma Dari Tabel 4.1 dapat diketahui hasil organoleptik dari aroma pada sampel enting-enting dimana kode sampel 196 dengan penambahan 250 gr kacang tanah + 100 gr kacang kedelai + 50 gr kedondong berbeda nyata dengan kode sampel 390 dengan penambahan 250 gr kacang tanah + 75 gr kacang kedelai + 75 gr kedondong dan berbeda nyata juga dengan kode sampel 272 dengan penambahan 250 gr kacang tanah + 50 gr kacang kedelai + 100 gr

34 kedondong. Artinya dari ketiga sampel tersebut memiliki perbedaan pada aroma. Urutan aroma yang paling disukai adalah kode sampel 390; 272; 196. d. Tekstur Dari Tabel 4.1 dapat diketahui hasil organoleptik dari tekstur pada sampel enting-enting dimana kode sampel 196 dengan penambahan 250 gr kacang tanah + 100 gr kacang kedelai + 50 gr kedondong berbeda nyata dengan kode sampel 390 dengan penambahan 250 gr kacang tanah + 75 gr kacang kedelai + 75 gr kedondong dan berbeda nyata juga dengan kode sampel 272 dengan penambahan 250 gr kacang tanah + 50 gr kacang kedelai + 100 gr kedondong. Artinya dari ketiga sampel tersebut memiliki perbedaan pada tekstur. Urutan tekstur yang paling disukai adalah kode sampel 390; 272; 196. e. Overall Dari Tabel 4.1 dapat diketahui hasil organoleptik dari parameter overall pada sampel enting-enting dimana kode sampel 196 dengan penambahan 150 gr kacang tanah + 100 gr kacang kedelai + 50 gr kedondong berbeda nyata dengan kode sampel 390 dengan penambahan 250 gr kacang tanah + 75 gr kacang kedelai + 75 gr kedondong dan tidak berbeda nyata denga kode sampel 272 dengan penambahan 250 gr kacang tanah + 50 gr kacang kedelai + 100 gr kedondong. Sedangkan sampel 390 dengan penambahan 250 gr kacang tanah + 75 gr kacang kedelai + 75 gr kedondong berbeda nyata dengan kode sampel 272 dengan penambahan 250 gr kacang tanah + 50 gr kacang kedelai + 100 gr kedondong. Artinya dari kode sampel 196 dan kode sampel 272 tersebut tidak memiliki perbedaan yang signifikan sedangkan kode 196 dan 390 serta kode 390 dan 272 memiliki perbedaan pada parameter overall. Urutan parameter overall yang paling disukai adalah kode sampel 390; 272; 196.

35 C. Analisis Kandungan Produk 1. Uji kadar protein total (N) Protein merupakan sumber asam-asam amino yang mengandung unsur-unsur C, H, O dan N yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat. Sebagai zat pembangun, protein merupakan bahan pembentuk jaringan baru yang selalu terjadi dalam tubuh. Protein juga dapat digunakan sebagai bahan bakar apabila keperluan energi tubuh tidak terpenuhi oleh karbohidrat dan lemak. Protein memiliki bermacam-macam fungsi bagi tubuh yaitu sebagai enzim, zat pengatur pergerakan, pertahanan tubuh, alat pengangkut dan lainnya (Winarno, 2004). Pada uji kadar protein total (N) dilakukan dengan analisis kuantitatif metode Kjeldahl. Analisis dengan cara Kjeldahl dilakukan untuk menganalisis kadar protein kasar dalam bahan makanan secara tidak langsung. Menurut Maharani (2010), metode Kjeldahl terbagi menjadi 3 tahap yaitu, destruksi, destilasi dan titrasi. Peratam destruksi, dimana sampel dimasukkan dalam labu kjeldahl dengan bantuan corong kecil ditambah campuran selenium, 25 ml H 2 SO 4 pekat kemudian dipanaskan dengan api kecil dulu sampai gas SO 2 yang berwarna putih hilang dengan posisi labu kjeldhal miring 45 0. Pemanasan dilanjutkan sampai terjadi larutan yang jernih. Kedua destilasi, hasil destruksi dipindahkan secara kuantitatif ke labu destilasi, ditambah 150 ml aquades dan 75 ml NaOH 50%. Hasil destilasi ditampung pada erlenmeyer yang telah berisi 20-50ml H 3 BO 3 2% dan indikator MO, proses destilasi selesai ditandai dengan pengecekan ph atau sampai amoniak habis. Ketiga Titrasi, destilat dititrasi dengan HCl 0,1 N sampai terjadi perubahan warna dari kuning menjadi orange.

36 Tabel 4.2 Analisis Kadar Protein Enting-Enting Sampel Pengulangan Berat sampel (g) Blanko (ml) Volume NaOH Sampel (ml) N Fk Perhitungan % N % Protein Ratarata 1 2 I 0,672 50,326 36,184 0,0946 6,25 2,78 17,42 II 0,666 50,326 35,974 0,0946 6,25 2,85 17,83 17,61 III 0,681 50,326 35,846 0,0946 6,25 2,81 17,59 I 0,644 50,326 34,863 0,0946 6,25 3,18 19,86 II 0,654 50,326 35,213 0,0946 6,25 3,06 19,13 19,61 III 0,637 50,326 34,411 0,0946 6,25 3,17 19,85 Keterangan : Sampel 1 : Enting-Enting Kacang Tanah (kontrol) Sampel 2 : Enting-Enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong Pada analisa kadar protein terdapat dua sampel uji diantaranya sampel 1 yang merupakan enting-enting kacang tanah sebagai kontrol dan sampel 2 yang merupakan enting-enting kacang tanah dengan penambahan kacang kedelai dan kedondong. Pada tabel 4.2 masing-masing sampel yang dianalisis dilakukan 3 kali pengulangan. Masing-masing dari pengulangan dilakukan guna memperoleh data yang lebih akurat. Pada masing-masing pengulangan sampel 1 (kontrol) menghasilkan kadar protein sebesar 17,42%; 17,83; dan 17,59% dengan rata-rata kadar protein yang diperoleh sebesar 17,61%. Sampel 2 menghasilkan kadar protein sebesar 19,86%; 19,13%; dan 19,85% dengan rata-rata kadar protein sebesar 19,61%. Dari data diatas dapat diketahui kadar protein masingmasing dari kedua sampel yang diuji. Bila dibandingkan dengan standar SNI untuk kadar protein dari produk enting-enting sampel 1 yang merupakan kontrol, sampel tersebut telah memenuhi standar dimana menurut SNI 01-4034-1996 kadar protein minimal pada produk entingenting kacang tanah sebesar 16%. Sedangkan pada sampel 2 yang merupakan enting-enting dengan penambahan kacang kedelai dan kedondong kadar protein yang diperoleh lebih besar dibandingkan dengan sampel kontrol dengan rata-rata sebesar 19,61%. Hasil tersebut masih

37 sesuai dengan standar SNI yang ada. Lebih besarnya nilai kadar protein pada sampel 2 disebabkan karena adanya penambahan kacang kedelai yang menyebabkan meningkatnya kadar protein dari produk yang dihasilkan. Bertambahnya kadar protein dari produk menandai bertambahnya nilai gizi yang terkadung akibat penambahan kacang kedelai. Dari rata-rata kadar protein didapat urutan kadar protein dari yang terbesar hingga terkecil, yaitu sampel 2 (19,61%) dan sampel 1 (17,61%). 2. Uji kadar lemak Lemak adalah sekelompok ikatan organik yang terdiri atas unsurunsur C,H, dan O yang mempunyai sifat dapat larut dalam zat-zat pelarut tertentu (zat pelarut lemak), seperti petroleum benzene, eter. Lemak didalam makanan yang memegang peranan penting ialah lemak netral (glycerin) (Gracia, 2009). Menurut Legowo (2004), lemak adalah senyawa ester dari gliserol dan asam lemak. Namun lemak yang ada dalam jaringan, baik hewam maupun tanaman, juga disertai dengan senyawa lain seperti posfolopoda, sterol dan beberapa pigmen. Dalam analisis kadar lemak, seringkali disebut sebagai analisis lemak kasar, karena selain asam lemak terikut pula senyawa-senyawa lain. Penentuan kadar lemak dengan metode soxhlet diperoleh dari berat residu dalam thimble sesudah ekstraksi berakhir dan sudah dikeringkan sampai berat konstam. Selisih bobot sampel sebelum dan bobot residu sesudah ekstraksi dan sudah dikeringkan merupakan lemak yang ada dalam bahan. Menurut Sudarmaji (2007), penentuan kadar lemak dan minyak dengan metode Soxhlet mula-mula 2 gram sampel kering ditimbang dicampurkan dengan pasir yang telah dipijarkan sebanyak 8 gram dan dimasukan kedalam tabung ekstraksi Soxhlet dalam Thimble. Dialirkan air pendingin melalui kondensor. Pasang tabung ekstraksi pada alat distilasi dengan pelarut petroleum ether secukupnya selama 4 jam. Setelah residu dalam tabung ekstraksi diaduk, ekstraksi dilanjutkan lagi selama 2 jam dengan pelarut yang sama. Petroleum ether yang telah mengandung ekstrak lemak dan minyak dimasukan dalam botol timbang dan diketahui

38 beratnya dan diuapkan dengan air panas sampai pekat teruskan pengeringan dalam oven 100 0 C sampai berat konstan. Berat residu dalam botol tersebut dinyatakan sebagai berat lemak dan minyak. Tabel 4.3 Analisis Kadar Lemak Enting-Enting Berat (gr) Berat Sampel Pengulangan Berat labu sampel kosong 1 2 Berat labu kosong +lemak Berat lemak Kadar lemak (%) Ratarata I 0,727 115,423 115,623 0,200 27,60 II 0,772 114,689 114,689 0,231 29,99 29,29 III 0,739 115,443 115,667 0,224 30,29 I 0,739 115,519 115,839 0,320 43,30 II 0,747 115,589 115,667 0,334 44,20 40,54 III 0,738 115,554 115,821 0,267 36,14 Keterangan : Sampel 1 : Enting-Enting Kacang Tanah (kontrol) Sampel 2 : Enting-Enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong Pada analisa kadar lemak terdapat dua sampel uji diantaranya sampel 1 yang merupakan enting-enting kacang tanah sebagai kontrol dan sampel 2 yang merupakan enting-enting kacang tanah dengan penambahan kacang kedelai dan kedondong. Pada tabel 4.3 masing-masing sampel yang dianalisis dilakukan 3 kali pengulangan. Masing-masing dari pengulangan dilakukan guna memperoleh data yang lebih akurat. Pada masing-masing pengulangan sampel 1 (kontrol) menghasilkan kadar lemak sebesar 27,6%; 29,99%; dan 30,29% dengan rata-rata kadar lemak yang diperoleh sebesar 29,29%. Sampel 2 menghasilkan kadar lemak sebesar 43,30%; 44,20%; dan 36,14% dengan rata-rata kadar lemak sebesar 40,54%. Dari data diatas dapat diketahui kadar lemak masing-masing dari kedua sampel yang diuji. Bila dibandingkan dengan standar SNI untuk kadar lemak dari produk enting-enting sampel 1 yang merupakan kontrol, sampel tersebut telah memenuhi standar dimana menurut SNI 01-4034-1996 kadar lemak maksimal pada produk enting-enting kacang tanah sebesar 33%. Sedangkan pada sampel 2 yang merupakan enting-enting dengan

39 penambahan kacang kedelai dan kedondong kadar lemak yang diperoleh lebih besar dibandingkan dengan sampel kontrol dengan rata-rata sebesar 40,54%. Hasil tersebut tidak sesuai dengan standar. Ketidak sesuaian tersebut diakibatkan karena pada sampel 2 adanya penambahan kacang kedelai yang menyebabkan adanya peningkatan kadar lemak dari produk yang dihasilkan. Bertambahnya kadar lemak dari produk menandai bertambahnya nilai gizi yang terkadung akibat penambahan kacang kedelai. Maka dari itu lebih besarnya kadar lemak pada sampel 2 bukan berarti produk tidak baik untuk dikonsumsi melainkan lebih tingginya kadar lemak tersebut bersumber dari tambahan kacang kedelai. Dari ratarata kadar lemak didapat urutan kadar lemak dari yang terbesar hingga terkecil, yaitu sampel 2 (40,45%) dan sampel 1 (29,29%). 3. Uji kadar air Air merupakan senyawa yang paling berlimpah di dalam sistem hidup dan mencakup 70% atau lebih dari bobot hampir semua bentuk kehidupan. Karena air mengisi semua bagian dari tiap sel, air merupakan medium tempat berlangsungnya transport nutrien, reaksi-reaksi enzimatis metabolisme sel, dan transfer energei kimia. Oleh karena itu, semua aspek dari struktur dan fungsi sel harus beradaptasi dengan sifat-sifat fisik dan kimia air. Menurut Arifianti (2012), analisa kadar air sangat penting dan sering dilakukan karena beberapa alasan yaitu sebagai standar mutu, pengawasan mutu, penanganan bahan, analisa bahan makanan, dan penentuan komposisi bahan makanan. Menurut Sudarmadji (1997), penentuan kadar air bahan dapat menggunakan berbagai cara. Ada termogravimetri dan termovolumetri. Prinsipnya menguapkan air yang ada dalam bahan dengan jalan pemanasan. Kemudian menimbang bahan sampai berat konstan yang berarti semua air sudah diuapkan. Metode thermovolumetri ialah metode penentuan kadar air dengan cara menguapkan air dengan membawa cairan kimia yang mempunyai titik didih lebih tinggi dari pada air dan tidak bercampur dengan air serta mempunyai berat jenis lebih rendah dari air.

40 Cairan pembawa yang dapat digunakan adalah xylol, xylem, toluene, tetrakloroetile (Simon, 2006). Analisis thermogravimetri digunakan untuk mengetahui pemanasan sampel yang bertujuan menguapkan air di dalamnya. Bahan yang dimasukkan ke dalam alat pemanas akan mengalami susut berat karena kehilangan air. Dibutuhkan botol timbang untuk menaruh bahan ke cabinet dryer (Miranda, 2008). Tabel 4.4 Analisis Kadar Air Enting-Enting Sampel Pengulangan Berat botol timbang kosong (a) Berat sampel (b) Berat akhir botol+sampel (c) Kadar air (%) Ratarata kadar air (%) 1 2 I 19,151 2 21,087 3,2 II 20,941 2 22,879 3,1 3,23 III 19,212 2 21,144 3,4 I 20,872 2 22,802 3,5 II 20,456 2 22,393 3,1 3,3 III 19,423 2 21,357 3,3 Keterangan : Sampel 1 : Enting-Enting Kacang Tanah (kontrol) Sampel 2 : Enting-Enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong Pada analisa kadar air terdapat dua sampel uji diantaranya sampel 1 yang merupakan enting-enting kacang tanah sebagai kontrol dan sampel 2 yang merupakan enting-enting kacang tanah dengan penambahan kacang kedelai dan kedondong. Pada tabel 4.4 masing-masing sampel yang dianalisis dilakukan 3 kali pengulangan. Masing-masing dari pengulangan dilakukan guna memperoleh data yang lebih akurat. Pada masing-masing pengulangan sampel 1 (kontrol) menghasilkan kadar air sebesar 3,2%; 3,1%; dan 3,4% dengan rata-rata kadar air sebesar 3,23%. Sampel 2 menghasilkan kadar air sebesar 3,5%; 3,1%; dan 3,3% dengan rata-rata kadar air sebesar 3,3%. Dari data diatas dapat diketahui kadar air dari kedua sampel yang diuji. Bila dibandingkan dengan standar SNI untuk kadar air dari produk enting-enting, kedua sampel tersebut telah memenuhi

41 standar dimana menurut SNI 01-4034-1996 kadar air maksimal sebesar 3,5%. Dari rata-rata kadar air didapat urutan kadar air dari yang terbesar hingga terkecil, yaitu sampel 2 (3,3%) dan sampel 1 (3,23%). 4. Uji kadar abu Menurut Azizah (2009), kadar abu suatu bahan adalah residu senyawa oksida dan garam yang tersisa dari pengeringan suatu bahan pada temperatur yang tinggi. Prinsipnya pada proses pengabuan zat-zat organik yang diuraikan menjadi air dan CO 2, tetapi bahan orgaik tidak. Kadar abu ada hubungannya dengan mineral suatu bahan. Mineral yang terdapat pada suatu bahan dapat merupakan dua macam garam yaitu garam organik dan garam anorganik. Penentuan kadar abu adalah dengan mengoksidasikan semua zat organik pada suhu tinggi, yaitu sekitar 500-600 0 C dan kemudian melakukan penimbangan zat yang tertinggal setelah proses pembakaran tersebut. Lama pengabuan tiap bahan berbeda-beda dan berkisar anatar 2-8 jam. Pengabuan dianggap selesai apabila diperoleh sisa pengabuan yang umumnya berwarna putih abu-abu dan beratnya konstan dengan selang waktu pengabuan 30 menit (Sudarmadji, 1996). Menurut Musfiroh (2010), pengukuran kadar abu total dilakukan dengan metode drying ashing. Sampel sebanyak 3g ditimbang pada cawan yang sudah diketahui bobotnya. Lalu diarangkan di atas nyala pembakaran dan diabukan dalam tanur pada suhu 550ºC hingga pengabuan sempurna. Setelah itu didinginkan dalam desikator dan ditimbang hingga diperoleh bobot tetap. Perhitungan kadar abu dilakukan dengan membandingkan berat abu dan berat sampel dikali 100%. Hasil penetapan kadar abu total dengan menggunakan metode pengabuan kering (dry ashing) misalkan untuk menghindari adanya berbagai komponen abu yang mengalami dekomposisi atau bahkan menguap pada suhu tinggi maka suhu pengabuan disesuaikan dengan bahan. Penentuan kadar abu kering dapat menggunakan rumus.

42 Tabel 4.5 Analisis Kadar Abu Enting-Enting Sampel Pengulangan 1 2 Berat cawan kosong (a) Berat sampel sebelum diabukan (b) Berat akhir cawan+sampel setelah pengabuan (c) Kadar abu (%) Ratarata kadar abu (%) I 20,328 2,005 20,363 1,74 II 22,821 2,011 22,858 1,83 1,75 III 21,240 2,014 21,274 1,68 I 21.355 2,004 21,391 1,89 II 20,743 2,004 20,778 1,64 1,79 III 22,272 2,007 22,309 1,84 Keterangan : Sampel 1 : Enting-Enting Kacang Tanah (kontrol) Sampel 2 : Enting-Enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong Pada analisa kadar abu terdapat dua sampel uji diantaranya sampel 1 yang merupakan enting-enting kacang tanah sebagai kontrol dan sampel 2 yang merupakan enting-enting kacang tanah dengan penambahan kacang kedelai dan kedondong. Pada tabel 4.5 masing-masing sampel yang dianalisis dilakukan 3 kali pengulangan. Masing-masing dari pengulangan dilakukan guna memperoleh data yang lebih akurat. Pada masing-masing pengulangan sampel 1 (kontrol) menghasilkan kadar abu sebesar 1,74%; 1,83%; dan 1,68% dengan rata-rata kadar air sebesar 1,75%. Sampel 2 menghasilkan kadar abu sebesar 1,89%; 1,64%; dan 1,84% dengan ratarata kadar air sebesar 1,79%. Dari data diatas dapat diketahui kadar abu dari kedua sampel yang diuji. Bila dibandingkan dengan standar SNI untuk kadar abu dari produk enting-enting, kedua sampel tersebut telah memenuhi standar dimana menurut SNI 01-4034-1996 kadar abu maksimal sebesar 2%. Dari rata-rata kadar abu didapat urutan kadar abu dari yang terbesar hingga terkecil, yaitu sampel 2 (1,79%) dan sampel 1 (1,75%).

43 5. Uji karbohidrat by difference Karbohidrat merupakan sumber kalori utama bagi hampir seluruh penduduk dunia. Karbohidrat juga mempunyai peran penting dalam menentukan karakteristik bahan makanan, misalnya rasa, warna, tekstur, dan lain-lain. Ada beberapa analisis yang dapat digunakan untuk memperkirakan kandungan karbohidrat dalam bahan makanan. Yang paling mudah adalah dengan cara perhitungan kasar (proximate analysis) atau juga disebut carbohydrate by difference. Yang dimaksud dengan proximate analysis adalah suatu analisis dimana kandungan karbohidrat termasuk serat kasar diketahui bukan melalui analisis tetapi melalui perhitungan. Menurut Winarno (1986), perhitungan carbohydrate by difference adalah penentuan karbohidrat dalam bahan makanan secara kasar, hasilnya ini biasanya dicantumkan dalam daftar komposisi bahan makanan. Pada analisis kuantitatif uji kadar karbohidrat ditentukan dengan metode by difference yaitu dengan perhitungan melibatkan kadar air, kadar abu, kadar protein dan kadar lemak. Berikut ini adalah persamaan yang digunakan dalam menghitung kadar karbohidrat dengan metode by difference : Kadar karbohidrat (%) = 100% (% kadar air + %kadar abu + %kadar protein + % kadar lemak) Tabel 4.6 Analisis Kadar Karbohidrat Enting-Enting Sampel Pengulangan Kadar protein (%) Kadar lemak (%) Kadar air (%) Kadar abu (%) Kadar karbohidrat (%) Ratarata 1 2 I 17,42 27,60 3,2 1,74 50,04 II 17,83 29,99 3,1 1,83 47,25 48,11 III 17,59 30,29 3,4 1,68 47,04 I 19,86 43,30 3,5 1,89 31,45 II 19,13 44,20 3,1 1,64 31,93 34,08 III 19,85 36,14 3,3 1,84 38,87

44 Keterangan : Sampel 1 : Enting-Enting Kacang Tanah (kontrol) Sampel 2 : Enting-Enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong Pada analisa kadar karbohidrat, analisa yang dilakukan adalah dengan metode (proximate analysis) atau juga disebut carbohydrate by difference. Yang dimaksud dengan proximate analysis adalah suatu analisis dimana kandungan karbohidrat termasuk serat kasar diketahui bukan melalui analisis tetapi melalui perhitungan. Pada analisa terdapat dua sampel uji diantaranya sampel 1 yang merupakan enting-enting kacang tanah sebagai kontrol dan sampel 2 yang merupakan enting-enting kacang tanah dengan penambahan kacang kedelai dan kedondong. Pada tabel 4.6 masing-masing sampel yang dianalisis dilakukan 3 kali pengulangan. Masing-masing dari pengulangan dilakukan guna memperoleh data yang lebih akurat. Pada masing-masing pengulangan sampel 1 (kontrol) menghasilkan kadar karbohidrat sebesar 50,04%; 47,25%; dan 47,04%. Sampel 2 menghasilkan kadar lemak sebesar 31,45%; 31,93%; dan 38,87%. D. Desain Kemasan 1. Bahan Pengemasan enting-enting kacang tanah, kacang kedelai dan kedondong menggunakan dua jenis pengemas yaitu pengemas primer dan pengemas skunder. Dimana menurut Winarno (2005), kemasan primer adalah kemasan yang langsung bersentuhan atau menyelubungi produk pangan. Sedangkan kemasan sekunder adalah kemasan lapis kedua setelah kemasan primer, dengan tujuan untuk lebih memberikan perlindungan kepada produk. Pengemas skunder yang digunakan berupa toples mika dengan diameter ± 12 cm dan tinggi 4 cm (gambar 4.9). Toples ini terbuart dari plastik mika yang transparan sehingga produk dapat terlihat dan kemasannya juga aman untuk makanan.

45 Gambar 4.9 Pengemas Skunder 2. Bentuk Bentuk kemasan skunder berupa toples yang digunakan berbentuk bulat. Tujuan dari penggunaan kemasan ini adalah untuk mempermudah pemasaran, penyimpanan dan pengangkutan serta menarik minat konsumen. Dengan bentuk bulat ini maka kemasan mudah disimpan atau diletakan pada bidang datar serta dapat ditumpuk saat proses penyimpanan atau packing. 3. Labeling Label adalah tempelan sederhana pada produk atau gambar yang dirancang dengan rumit yang merupakan satu kesatuan dalam kemasan. Label merupakan bagian dari kemasan secara keseluruhan dan harus dipertimbangkan pada tahap awal dalam proses desain kemasan. Label juga bisa hanya mencantumkan merek atau dapat pula mencantumkan banyak informasi. Label pada dasarnya mempunyai beberapa fungsi yaitu mengidentifikasi produk dan merek, menentukan kelas produk dan menjelaskan produk, mempromosikan produk melalui gambar yang menarik (Susetyarsi, 2012). Gambar 4.10 Label kemasan produk

46 Menurut keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia 705/MPP/Kep/11/2003, Pasal I mengenai ketentuan umum kemasan dapat dijelaskan kemasan produk yang berada dipasaran harus memenuhi standar seperti, tanggal kadaluarsa, kode produksi, Standar Nasional Indonesia (SNI), dan sertifikasi produk penggunaan tanda SNI. Tanggal kadaluwarsa adalah batas akhir suatu makanan yang dijamin mutunya sepanjang penyimpanannya mengikuti petunjuk yang diberikan oleh produsen. Kode produksi adalah tanggal produksi dan urutan pergantian jam produksi (shift) dalam bentuk angka dan atau huruf atau tanda lainnya yang menunjukkan riwayat produksi. Standar Nasional Indonesia (SNI) adalah standar yang ditetapkan oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN) dan berlaku secara nasional. Sertifikasi Produk Penggunaan Tanda SNI adalah rangkaian kegiatan penerbitan Sertifikat Produk Penggunaan Tanda SNI kepada pelaku usaha yang mampu menghasilkan barang dan atau jasa yang sesuai persyaratan SNI atau standar yang diacu atau diakui. Pada label wajib dicantumkan minimal : a. Nama produk; b. Nama/merek dagang; c. Nama Produsen atau Importir; d. Alamat Produsen atau Importir (minimal PO Box); e. Volume netto yang dinyatakan dalam sistem matrik f. Nomor pendaftaran dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (MD/ML) g. Bulan dan tahun kadaluwarsa. Maka label pada suatu produk kemasan yang bertujuan untuk memberi informasi produk tersebut. Label mempunyai 3 fungsi, yaitu 1). mengidentifikasi merek atau produk. 2). Pemberi informasi tentang produk, seperti siapa yang membuat, di mana pembuatannya, kapan dibuat, kandungan produk tersebut. 3). Media promosi melalui gambargambar yang menarik. Berdasarkan gambar 4.10 label pada pengemasan enting-enting terdiri dari judul produk, komposisi, netto, ijin produksi dari

47 Majelis Ulama Indonesia, kadaluarsa, kode produksi, alamat produksi dan kontak yang bisa dihubungi. E. Analisis Ekonomi Setelah melakukan analisa organoleptik maka diketahui formulasi mana yang paling disukai dan dapat dilakukan analisis kelayakan usaha. Analisis kelayakan usaha dilakukan untuk mengetahui kapasitas produksi, penjualan, keuntungan maupun kerugian dari produksi enting-enting kacang tanah, kacang kedelai dan kedondong. Berikut rincian perhitungan : 1. Perhitungan Biaya Tetap (Total Fixed Cost) Fixed cost merupakan jenis biaya yang selalu tetap, dan tidak terpengaruh oleh volume penjualan melainkan dihubungkan dengan waktu (function of time), sehingga jenis biaya ini akan konstan selama periode tertentu. Berproduksi atau tidaknya suatu perusahaan, biaya fixed cost akan tetap dikeluarkan (Alwi, 1980). a. Biaya Usaha Tabel 4.7 Biaya Usaha Uraian Rp/bulan Gaji Pimpinan 1.500.000 Gaji karyawan 3 orang @Rp. 1.000.000/bln 3.000.000 Biaya Promosi 200.000 Biaya Administrasi 100.000 Jumlah 4.800.000 b. Biaya Penyusutan/Depresi Dari segi pandang akutansi depresiasi adalah ongkos pengeluaran untuk operasi yang dibayar dimuka dan dibagi-bagi diantara tahun operasinya dengan menggunakan prosedur tertentu yang sistematis. Depresiasi bertujuan membagi ongkos atau nilai dasar lainnya dari harta modal yang berwujud dikurangi nilai sisa (jika ada), selama perkiraan umur satuan itu yang berguna (yang bisa saja merupakan kumpulan harta) didalam sebuah cara sistematis dan rasional. Ini merupakan proses alokasi bukan penilaian, sehingga tidak dimaksudkan sebagai ukuran pengaruh dari semua yang terjadi pada biaya (Grant, 1987).

48 Tabel 4.8 Biaya Penyusutan/Depresi Uraian Jumlah Nilai Depresi Depresiasi Rp @ Harga (P) sisa N (Rp/tahun) (Rp/bulan)(Psatuan (Rp) (S) (P-S)/N S)/N Baskom 2 12.000 24.000 2400 3 7200 600 Kompor gas 2 236.000 472.000 47200 5 84960 7080 Pisau 3 8.000 24.000 2400 3 7200 600 Timbangan 2 43.000 86.000 8600 5 15480 1290 Sendok 4 3.000 12.000 1200 3 3600 300 Solet kayu 4 5.000 20.000 2000 3 6000 500 Talenan 2 7.500 15.000 1500 3 4500 375 Teflon 2 89.000 178.000 17800 3 53400 4450 Loyang 4 5.000 20.000 2000 3 6000 500 Oven 1 120.000 120.000 12000 3 36000 3000 Lesung 2 40.000 80.000 8000 5 14400 1200 Tabung 2 380.000 760.000 76000 5 136800 11400 gas 12 kg Jumlah 1.591.000 319140,0 26595,0 c. Amortasi Tabel 4.9 Amortasi Harta tak berwujud Rp/bulan Perijinan (Rp.600.000 selama 2 th) 25.000 Pajak PBB (Rp.30.000- untuk 1 th) 2.500 Jumlah 27.500 d. Biaya investasi Tabel 4.10 Biaya investasi Uraian Rp Biaya pokok produksi 14.535.374 Biaya usaha 4.800.000 Amortisasi 27.500 Kendaraan 15.000.000 Biaya peralatan 1.591.000 Jumlah 35.953.874

49 e. Pajak Usaha dan Asuransi Pajak Asuransi dan Usaha = 5% x investasi f. Bunga Bunga g. Dana Sosial = 2% x investasi = 2% x 35.953.874 = Rp. 719.077 = 5% x 35.953.874 Dana sosial per bulan = Rp. 50.000 h. Total Biaya Tetap Tabel 4.11 Total Biaya Tetap Komponen biaya tetap Rp./bulan Biaya usaha 4.800.000 Biaya penyusutan/depresiasi 26.595 Biaya amortisasi 27.500 Pajak usaha dan asuransi 149.807 Dana sosial 50.000 Bunga 719.077 Jumlah 5.772.979 = Rp. 1.797.693 : 12 = Rp. 149.807/bulan 2. Biaya Tidak Tetap (Total Variabel Cost) Variable cost (VC) merupakan jenis biaya yang selalu berubah sesuai dengan perubahan volume penjualan. Variable cost akan tetap dikeluarkan jika perusahaan hendak berproduksi (Alwi, 1980). a. Biaya Bahan Baku dan Bahan Pembantu Tabel 4.12 Bahan Baku dan Bahan Pembantu Bahan Jumlah (kg) Harga Satuan Rp./Hari Rp./bulan Kacang tanah 6 28.000 168.000 4.200.000 Kacang kedelai 4 12.000 48.000 1.400.000 Kedondong 3 10.500 31.500 787.500 Gula merah 6 13.000 78.000 1.950.000 Gula pasir 4 12.000 48.000 1.400.000 Jumlah 9.737.500

50 b. Biaya Bahan Bakar dan Pembersih Tabel 4.13 Biaya Bahan Bakar dan Pembersih Nama Jumlah Rp/bulan Listrik 29.947 Gas (LPG) 12 kg @ Rp. 99.000 4 396.000 Sabun @ Rp 5.000 (350 gr) 5 25.000 Jumlah 450.947 c. Biaya Kemasan Tabel 4.14 Biaya Kemasan Uraian Harga/satuan Biaya/hari Biaya/bulan Kertas Kue 100 10.000 250.000 Toples 2.000 200.000 5.000.000 Label 250 25.000 625.000 Jumlah 5.625.000 d. Biaya Perawatan dan Perbaikan Tabel 4.15 Biaya Perawatan dan Perbaikan Uraian Jumlah Harga Nilai Jam/ Jam/ % awal (P) Sisa (S) Hari Bulan FPP BPP Baskom 2 24.000 2400 3 75 1 54 Kompor Gas 2 472.000 47.200 3 75 3 3186 Pisau 3 24.000 2.400 1 25 1 6 Timbangan 2 86.000 8.600 1 25 2 43 Sendok 4 12.000 1.200 1 25 1 3 Solet kayu 4 20.000 2.000 3 75 2 90 Telenan 2 15.000 1.500 1 25 1 3,75 Teflon 2 178.000 17.800 4 100 2 1424 Loyang 4 20.000 2.000 2 55 1 22 Oven 1 120.000 12.000 6 150 3 3240 Lesung 2 80.000 8.000 2 55 2 176 gas 12 kg 2 760.000 76.000 6 150 2 13680 Jumlah 1.591.000 21927,75

51 e. Total Biaya Tidak Tetap Tabel 4.16 Total Biaya Tidak Tetap Komponen biaya tetap Rp/bulan Biaya bahan baku 9.737.500 Biaya bahan bakar 450.947 Biaya perawatan dan perbaikan 21.927 Biaya kemasan 5.625.000 Jumlah 15.835.374 3. Kriteria Kelayakan Uasaha a. Total Biaya Produksi Total biaya produksi merupakan biaya yang dikeluarkan selama usaha dijalankan, yang dibedakan atas biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya produksi diperoleh dari penjumlahan biaya tetap (FC) dengan biaya tidak tetap (VC) Total Biaya Produksi = Total biaya tetap + Total biaya tidak tetap = 5.772.979 + 15.835.374 = Rp. 21.608.353,- b. Kapasitas Produksi Kapasitas produksi merupakan jumlah atau besarnya produk yang dapat dihasilkan oleh perusahaan selama kurun waktu tertentu. Dalam 1 kali produksi (per hari) menghasilkan 100 toples kemasan Kapasitas produksi dalam 1 bulan = 100 toples x 25 = 2500 toples c. Harga Pokok Penjualan Harga pokok penjualan merupakan harga minimal yang harus diberikan pada produk untuk menghindari kerugian. Harga pokok berasal dari biaya produksi (biaya tetap dan biaya tidak tetap) dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan (kapasitas produksi). Harga Pokok Penjualan (HPP)

52 HPP = Rp. 8.643,41/ toples Harga pokok penjualan enting-enting yaitu Rp. 8.643,41/ toples. d. Harga Jual Harga jual adalah harga yang diberikan pada produk setelah ditambah keuntungan sesuai yang diinginkan oleh perusahaan mengacu atau berdasarkan harga pokok, sehingga untuk memperoleh keuntungan maka harga jual harus lebih tinggi dari harga pokok produksi. Kisaran penetapan harga jual Rp. 10.000/ toples. e. Penjualan Hasil penjualan merupakan hasil yang akan didapatkan jika menjual enting-enting sesuai dengan kapasitas produksinya. Hasil penjualan dapat dihitung dengan cara mengkaitkan harga jual dengan kapasitas produksi. Penjualan = Harga jual x Kapasitas produksi = Rp. 10.000/botol x 2500 toples/ bulan = Rp. 25.000.000/bulan f. Laba (keuntungan) Laba merupakan keuntungan yang diperoleh dari selisih hasil penjualan dengan biaya produksi sebelum dikurangi pajak usaha. Laba terdiri dari 2, yaitu : Laba Kotor/bulan Laba Kotor = Hasil Penjualan Total biaya produksi = Rp. 25.000.000 Rp. 21.608.353 = Rp. 3.391.647,- Laba Bersih/bulan Laba Bersih = Laba kotor Pajak usaha = Rp. 3.391.647 Rp. 149.807 = Rp. 3.241.840,-

53 g. Break Event Point (BEP) BEP merupakan titik keseimbangan dimana pada titik tersebut pendapatan sama dengan biaya yang dikeluarkan, artinya titik impas dimana perusahaan tidak mengalami kerugian dan tidak mendapatkan keuntungan. Apabila penjualan hanya cukup menutupi biaya variable dan sebagian biaya tetap, maka perusahaan mengalami kerugian. Dan sebaliknya akan memperoleh keuntungan, bila penjualan melebihi biaya variable dan biaya tetap yang harus dikeluarkan (Alwi, 1980). Harga Unit / unit h. Return On Invesment (ROI) sebelum pajak i. Return On Invesment (ROI) setelah pajak

54 j. Pay Out Time (POT) Waktu yang dibutuhkan dalam kembalinya modal yaitu selama 6,3 bulan. k. Benefit Cost Ratio (B/C Ratio) Dari hasil perhitungan diatas dapat diketahui bahwa analisis usaha enting-enting kacang tanah, kacang kedelai dan kedondong adalah: a. Biaya Produksi Biaya produksi merupakan biaya yang dikeluarkan selama usaha dijalankan, yang dibedakan atas biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya produksi diperoleh dari penjumlahan biaya tetap (FC) dengan biaya tidak tetap (VC) 1. Biaya Tetap (Fixed Cost) Biaya tetap adalah biaya yang tetap dikeluarkan meskipun perusahaan tidak melakukan proses produksi dan tidak terpengaruh oleh volume penjualan melainkan dihubungkan dengan waktu (function of time), sehingga jenis biaya ini akan konstan selama periode tertentu. Biaya tetap terdiri atas biaya usaha, amortisasi, biaya penyusutan alat, pajak usaha dan dana

55 sosial. Biaya tetap produksi Enting-enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong sebesar Rp. 5.772.979,-/bulan. 2. Biaya Tidak Tetap (Variabel Cost) Variable cost (VC) merupakan jenis biaya yang selalu berubah sesuai dengan perubahan volume penjualan. Biaya variabel merupakan biaya yang dikeluarkan jika melakukan proses produksi. Biaya variabel terdiri dari biaya bahan baku, pembantu dan kemasan, biaya bahan bakar dan energi, biaya tenaga kerja, biaya perawatan dan perbaikan. Biaya tidak tetap produksi Enting-enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong setiap bulan sebesar Rp. 15.835.374,-/bulan. 3. Kapasitas Produksi Kapasitas produksi merupakan jumlah atau besarnya produk yang dapat dihasilkan oleh perusahaan selama kurun waktu tertentu. Kapasitas produksi Enting-enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong setiap bulan adalah 2.500 toples/bulan dimana satu toples berisi 150 gr Entingenting. 4. Harga Pokok Produksi Harga pokok produksi merupakan harga minimal yang harus diberikan pada produk untuk menghindari kerugian. Haraga pokok berasal dari biaya produksi (biaya tetap dan biaya variabel) dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan (kapasitas produksi). Harga pokok penjualan Enting-enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong adalah Rp. 8.643,41/ toples. 5. Harga Jual Harga jual adalah harga yang diberikan pada produk setelah ditambah keuntungan sesuai yang diinginkan oleh perusahaan berdassarkan harga pokok, sehingga untuk memperoleh keuntungan maka harga jual harus lebih tinggi

56 dari harga pokok. Harga jual Enting-enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong adalah Rp. 10.000.,/toples. 6. Laba a. Laba kotor Laba kotor merupakan laba yang diperoleh dari selisih hasil penjualan dengan biaya produksi sebelum dikurangi pajak usaha. Laba kotor produksi Enting-enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong sebesar Rp. 3.391.647,-/bulan dari 2500 toples. b. Laba bersih Laba bersih merupakan laba yang diperoleh dari selisih laba kotor dengan pajak kepemilikan usaha. Laba bersih produksi Enting-enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong setiap bulannya adalah Rp. 3.241.840,-/bulan. 7. BEP (Break Event Point) Break Event Point merupakan titik keseimbangan dimana pada titik tersebut pendapatan sama dengan biaya yang dikeluarkan, artinya titik impas dimana perusahaan tidak mengalami kerugian dan tidak mendapatkan keuntungan. Produksi Enting-enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong mencapai titik impas pada tingkat produksi atau 1.575 toples dari kapasitas produksi 2500 kemasan setiap bulannya. Jadi selisih antara kapasitas produksi dan titik impas merupakan keuntungan yang diperoleh perusahaan. Oleh karena itu usaha atau produksi enting-enting akan tetap dapat berjalan. 8. Return Of Investment (ROI) Return of investment merupakan kemampuan modal untuk mendapatkan keuntungan atau persentase keuntungan yang diperoleh dari besarnya modal yang dikeluarkan. Return

57 of investment produksi Enting-enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong sebelum pajak adalah sebesar 15,7% dan untuk ROI produksi Enting-enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong setelah pajak adalah sebesar 15,00%. 9. Pay Out Time (POT) Pay Out Time (POT) merupakan waktu yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk mendapatkan pengembalian modal dan mendapatkan keuntungan bersih. Produksi Enting-enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong akan kembali modal dalam jangka waktu 6,3 bulan. 10. B/C (Benefit Cost Ratio) Benefit Cost Ratio merupakan perbandingan antara pendapatan yang diperoleh dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Jika nilai B/C lebih kecil dari 1, maka proses produksi tidak layak untuk dilakukan karena perusahaan mengalami kerugian. Sebaliknya jika B/C lebih dari 1, maka proses produksi (usaha) tetap dapat dijalankan karena perusahaan mendapatkan keuntungan. Jika B/C sama dengan 1 maka perusahaan mengalami titik impas (tidak untung dan tidak rugi), artinya perlu mempertimbangkan beberapa faktor untuk menjalankan usaha. B/C ratio dari analisis ekonomi Enting-enting Kacang Tanah, Kacang Kedelai dan Kedondong sebesar 1,15 sehingga usaha ini layak untuk dijalankan.