BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

dokumen-dokumen yang mirip
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1. Karakteristik Bahan Baku Biodiesel. Propertis Minyak Kelapa (Coconut Oil)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHAN

Lampiran 1. Hasil Pengujian Asam Lemak Jenuh dan Tak Jenuh Minyak Jarak (Castor Oil) dan Minyak Kelapa (Coconut Oil)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

Gambar 4.1. Perbandingan Kuantitas Produk Bio-oil, Gas dan Arang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Katalis CaO Terhadap Kuantitas Bio Oil

BAB III METODE PENELITIAN

PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK KELAPA MELALUI PROSES TRANS-ESTERIFIKASI. Pardi Satriananda ABSTRACT

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMBUATAN BIODIESEL DARI ASAM LEMAK JENUH MINYAK BIJI KARET

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

sidang tugas akhir kondisi penggorengan terbaik pada proses deep frying Oleh : 1. Septin Ayu Hapsari Arina Nurlaili R

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

PROSES PEMBUATAN BIODIESEL MINYAK JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) DENGAN TRANSESTERIFIKASI SATU DAN DUA TAHAP. Oleh ARIZA BUDI TUNJUNG SARI F

PENGARUH STIR WASHING, BUBBLE WASHING, DAN DRY WASHING TERHADAP KADAR METIL ESTER DALAM BIODIESEL DARI BIJI NYAMPLUNG (Calophyllum inophyllum)

Memiliki bau amis (fish flavor) akibat terbentuknya trimetil amin dari lesitin.

Lemak dan minyak adalah trigliserida atau triasil gliserol, dengan rumus umum : O R' O C

PROSES TRANSESTERIFIKASI MINYAK BIJI KAPUK SEBAGAI BAHAN DASAR BIODIESEL YANG RAMAH LINGKUNGAN

Bab IV Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Lampiran 1. Prosedur analisis sifat fisikokimia minyak dan biodiesel. 1. Kadar Air (Metode Oven, SNI )

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Karakterisasi Bahan Baku Karet Crepe

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Analisa awal yang dilakukan pada minyak goreng bekas yang digunakan

II. TINJAUAN PUSTAKA. sawit kasar (CPO), sedangkan minyak yang diperoleh dari biji buah disebut

LAMPIRAN A DATA BAHAN BAKU

PEMBUATAN BIODIESEL DARI MINYAK NYAMPLUNG MENGGUNAKAN PEMANASAN GELOMBANG MIKRO

B. Struktur Umum dan Tatanama Lemak

Pengaruh Ampas Tebu sebagai Adsorbent pada Proses Pretreatment Minyak Jelantah terhadap Karakteristik Biodiesel

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

LAMPIRAN 1 DATA BAHAN BAKU

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab IV Hasil dan Pembahasan

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Penelitian Pendahuluan (Pembuatan Biodiesel)

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN. yang ada dibumi ini, hanya ada beberapa energi saja yang dapat digunakan. seperti energi surya dan energi angin.

: Muhibbuddin Abbas Pembimbing I: Ir. Endang Purwanti S., MT

METODE PENELITIAN Kerangka Pemikiran

A. Sifat Fisik Kimia Produk

PEMBUATAN BIODIESEL SECARA SIMULTAN DARI MINYAK JELANTAH DENGAN MENGUNAKAN CONTINUOUS MICROWAVE BIODISEL REACTOR

BAB I PENDAHULUAN UKDW. teknologi sekarang ini. Menurut catatan World Economic Review (2007), sektor

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN

REAKSI SAPONIFIKASI PADA LEMAK

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pendugaan Hubungan Perubahan Suhu dan Viskositas Minyak terhadap Panjang Pipa Pemanas Minyak

METANOLISIS MINYAK KOPRA (COPRA OIL) PADA PEMBUATAN BIODIESEL SECARA KONTINYU MENGGUNAKAN TRICKLE BED REACTOR

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Intisari. Kata Kunci: Biodiesel, Jarak Kepyar, Nyamplung, degumming, esterifikasi, transesterifikasi. Abstract

: Dr. Rr. Sri Poernomo Sari ST., MT.

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang. Secara umum ketergantungan manusia akan kebutuhan bahan bakar

KINETIKA REAKSI DAN OPTIMASI PEMBENTUKAN BIODIESEL DARI CRUDE FISH OIL PENELITIAN

Pembuatan Biodiesel dari Minyak Kelapa dengan Katalis H 3 PO 4 secara Batch dengan Menggunakan Gelombang Mikro (Microwave)

BAB I PENDAHULUAN. alternatif lain yang dapat dijadikan sebagai solusi. Pada umumnya sumber energi

LAMPIRAN 1 DATA BAHAN BAKU

Proses Pembuatan Biodiesel (Proses Trans-Esterifikasi)

PENGARUH PENGGUNAAN BERULANG MINYAK GORENG TERHADAP PENINGKATAN KADAR ASAM LEMAK BEBAS DENGAN METODE ALKALIMETRI

I. PENDAHULUAN. produksi biodiesel karena minyak ini masih mengandung trigliserida. Data

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut

DEGRADASI GLISEROL MENGGUNAKAN GELOMBANG MIKRO

MinyakGoreng. Pada tahun 2005 produksi minyak goreng di Indonesia menigkat hingga 11,6 % (6,43 juta ton)

BAB III METODA PENELITIAN. yang umum digunakan di laboratorium kimia, set alat refluks (labu leher tiga,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Perumusan Masalah

Bab III Metoda, Peralatan, dan Bahan

Bab IV Hasil dan Pembahasan. IV.2.1 Proses transesterifikasi minyak jarak (minyak kastor)

PEMBUATAN BIODIESEL. Disusun oleh : Dhoni Fadliansyah Wahyu Tanggal : 27 Oktober 2010

Lampiran 1 Data metode Joback

PEMBUATAN BIODIESEL DARI CRUDE PALM OIL (CPO) SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF MELALUI PROSES TRANSESTERIFIKASI LANGSUNG

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

PENDAHULUAN Latar Belakang

HASIL DAN PEMBAHASAN

SAINS II (KIMIA) LEMAK OLEH : KADEK DEDI SANTA PUTRA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

berupa ikatan tunggal, rangkap dua atau rangkap tiga. o Atom karbon mempunyai kemampuan membentuk rantai (ikatan yang panjang).

Sintesis Metil Ester dari Minyak Goreng Bekas dengan Pembeda Jumlah Tahapan Transesterifikasi

Penggolongan minyak. Minyak mineral Minyak yang bisa dimakan Minyak atsiri

4 Pembahasan Degumming

I. PENDAHULUAN. menghasilkan produk-produk dari buah sawit. Tahun 2008 total luas areal

LAMPIRAN A DATA PENGAMATAN. 1. Data Pengamatan Ekstraksi dengan Metode Maserasi. Rendemen (%) 1. Volume Pelarut n-heksana (ml)

LAMPIRAN 1 DATA BAHAN BAKU

BAB 7 HIDROKARBON DAN MINYAK BUMI

HASIL DAN PEMBAHASAN. dicatat volume pemakaian larutan baku feroamonium sulfat. Pembuatan reagen dan perhitungan dapat dilihat pada lampiran 17.

Pengaruh Ukuran Arang Aktif Ampas Tebu sebagai Biomaterial Pretreatment terhadap Karakteristik Biodiesel Minyak Jelantah

Transkripsi:

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Bahan Baku Minyak Minyak nabati merupakan cairan kental yang berasal dari ekstrak tumbuhtumbuhan. Minyak nabati termasuk lipid, yaitu senyawa organik alam yang tidak larut dalam air, namun dapat larut pada pelarut organik non polar seperti senyawa hidrokarbon. Minyak nabati memiliki komposisi utama yaitu senyawa gliserida dan asam lemak dengan rantai C panjang. Asam lemak sendiri merupakan asam karboksilat yang dihasilkan dari proses hidrolisis lemak, biasanya berantai panjang dan tidak bercabang (Wijayanti, 2008). 4.1.1 Sifat Fisik Minyak pada tabel 4.1. Data sifat fisik dari minyak jarak 100% dan minyak sawit 100% dapat dilihat Tabel 4.1 Data Sifat Minyak Properti Minyak Jarak Minyak Sawit Densitas pada suhu 40 C 932,0 kg/m³ 890,69 kg/m³ Viskositas pada suhu 40 C 204,1 cst 37 cst Flash Point 273 C 342 C Nilai Kalor 8767,04 Cal/g 8270,77 Cal/g Dari tabel 4.1 menunjukkan bahwa nilai densitas dan viskositas dari sampel minyak jarak 100% lebih tinggi yaitu 932,6 kg/m³ dibandingkan dengan sampel minyak sawit 100%, yang hanya 809,69 kg/m³. Akan tetapi nilai kalor dan flash point dari sampel minyak jarak 100% menunjukkan lebih rendah dibandingkan dari sampel sawit 100%. 4.1.2 Kandungan Asam lemak Kandungan asam lemak dari minyak jarak dan minyak sawit dapat dilihat pada tabel 4.2. 28

29 Tabel 4.2 Kandungan asam lemak Asam Lemak Struktur Minyak Jarak Minyak Sawit Butyrate CH₃CH₂CH₂- COOH - 1,21 % Palmitate C16H32O2 1,79 % 35,27 % Octadecanoate C₁₇H₃₅CO₂H - 38,84 % Oleate C18H34O2 14,78 % - Linoleate C18H30O2 2,17 % - Linolenate C19H32O2-0,26 % Cis-11, 14 Eicosadienoic C21H38O2 0,6 % <0,1 % Cis-5,8,11,14 Eicosatetraenoic Cis-8,11,14 Eicosatrienoic C21H34O2 - <0,1 % C20H34O2 80,66 % <0,1 % Dari tabel 4.1 minyak sawit terdiri dari gliserida campuran yang merupakan ester dari gliserol dan asam lemak rantai panjang. Dua jenis asam lemak yang dominan dalam minyak sawit yaitu asam Palmitate memiliki panjang karbon 16 dan asam Oleate memiliki panjang karbon 18 dan 2 ikatan rangkap. Minyak jarak memiliki susunan utama berupa asam Linoleate yang memiliki panjang rantai karbon 18 dan 2 ikatan rangkap. 4.2 Densitas Campuran Minyak Jarak dan Minyak Sawit Densitas merupakan perbandingan massa terhadap volume, semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar massa setiap volumenya. Hasil pengujian densitas terhadap variasi komposisi campuran minyak jarak dan minyak sawit dapat dilihat pada tabel 4.3 dan gambar 4.1. Nilai densitas diperoleh dari persamaan seperti pada 2.1.

Densitas (kg/m³) 30 Tabel 4.3 Hasil pengujian densitas NO Nama Sampel Volume (ml) Massa (g) Densitas (kg/m³) SNI 7182-2015 1 S100 % 50 44,5349 890,69 2 S/J 90/10% 50 44,7628 895,25 3 S/J 80/20% 50 44,8761 897,52 4 S/J 70/30% 50 44,9769 899,53 5 S/J 60/40% 50 45,2568 905,13 6 S/J 50/50% 50 45,5908 911,81 850-890 7 S/J 40/60% 50 45,7905 915,81 8 S/J 30/70% 50 45,9401 918,8 9 S/J 20/80% 50 46,1608 923,21 10 S/J 10/90% 50 46,3519 927,03 11 J 100% 50 46,6302 932,60 Grafik hasil pengujian densitas terhadap variasi komposisi minyak 940 930 920 910 900 890 880 870 860 S100% S/J S/J S/J S/J S/J S/J S/J S/J S/J J100% 90/10% 80/20% 70/30% 60/40% 50/50% 40/60% 30/70% 20/80% 10/90% Gambar 4.1 Grafik hasil penguian densitas Campuran minyak jarak dan minyak sawit yang dihasilkan pada penelitian ini memiliki densitas yang beragam yaitu kisaran 890,69 kg/m³ sampai 932,60 kg/m³, yang berarti sudah memenuhi standar SNI 7182-2015 (850-890 kg/m³). Densitas minyak sawit awalnya 890,69 kg/m³ setelah dicampur dengan minyak jarak densitasnya semakin naik pada setiap varisasi campuran minyak.

31 Grafik pengujian densitas terhadap berbagai variasi komposisi campuran minyak sawit dan minyak jarak menunjukkan semakin tinggi komposisi minyak jarak maka semakin tinggi nilai densitas yang dihasilkan. Semakin besar nilai densitas berarti semakin banyak komponen yang terkandung pada sampel. Hal ini menjelaskan bahwa minyak jarak memiliki kandungan massa komponen yang lebih besar dibandingkan dengan minyak sawit (Mahmud, 2010). 4.3 Viskositas Campuran Minyak Jarak dan Minyak Sawit Berdasarkan hasil pengujian yang telah dilakukan terhadap campuran minyak jarak dan minyak sawit untuk berbagai variasi komposisi, diperoleh viskositas kinematik yang dapat dilihat pada tabel 4.4 dan gambar 4.2. Nilai viskositas diperoleh dari persamaan 2.2. No Tabel 4.4 Hasil pengujian nilai viskositas kinematik Viskositas Viskositas SNI 7182- Nama Sampel Dinamik (mpa.s) Kinematik (cst) 1 S100 % 33 37 2 S/J 90/10% 38,2 42,6 3 S/J 80/20% 45,2 50,3 4 S/J 70/30% 51 56,6 5 S/J 60/40% 57 62,9 6 S/J 50/50% 57,8 63,3 7 S/J 40/60% 71,8 78,4 8 S/J 30/70% 86,6 94,2 9 S/J 20/80% 112,2 121,5 10 S/J 10/90% 161,6 174,3 11 J 100% 190,4 204,1 2015 2,3 6,0

Viskositas (cst) 32 Grafik hasil pengujian nilai viskositas kinematik terhadap variasi komposisi minyak 250 200 150 100 50 0 S100% S/J S/J S/J S/J S/J S/J S/J S/J S/J J100% 90/10% 80/20% 70/30% 60/40% 50/50% 40/60% 30/70% 20/80% 10/90% Gambar 4.2 Grafik hasil pengujian nilai viskositas kinematik Viskositas sangat erat kaitannya dengan laju aliran suatu fluida, semakin kental suatu cairan, semakin besar gaya yang dibutuhkan untuk membuatnya mengalir pada kecepatan tertentu. Campuran minyak jarak dan minyak sawit yang dihasilkan pada penelitian ini memiliki viskositas kinematik yang cenderung naik pada setiap variasi komposisi campuran minyak. Dari 11 sampel yang dilakukan pengujian viskositas yang dihasilkan sangat tinggi dan jauh melampuai batas min-max dari nilai standar SNI 7182-2015 (2,3-6,0 cst). Viskositas minyak sawit awalnya 37 cst. Setelah dicampur dengan minyak jarak viskositas kinematik yang dihasilkan pada berbagai variasi campuran mengalami kenaikan yang signifikan yaitu 204,1 cst. 4.4 Flash Point Campuran Minyak Jarak dan Minyak Sawit Flash point atau titik nyala merupakan suhu terendah uap minyak dan produknya dalam campuran dengan udara akan menyala apabila terkena percikan api. Hasil pengujian flash point pada campuran minyak jarak dan minyak sawit dapat dilihat pada tabel 4.5 dan gambar 4.3.

Flash Point ( C) 33 Tabel 4.5 Hasil pengujian flash point NO Nama Sampel Flash Point ( C) SNI 7182-2015 1 S 100 % 342 2 S/J 90/10% 337 3 S/J 80/20% 332 4 S/J 70/30% 329 5 S/J 60/40% 325 6 S/J 50/50% 318 7 S/J 40/60% 310 >100 C 8 S/J 30/70% 307 9 S/J 20/80% 298 10 S/J 10/90% 295 11 J 100% 273 Grafik hasil pengujian nilai flash point terhadap variasi komposisi minyak 400 350 300 250 200 150 100 50 0 S 100% S/J S/j S/J S/J S/J S/J S/J S/J S/J J 100% 90/10% 80/20% 70/30% 60/40% 50/50% 40/60% 30/70% 20/80% 10/90% Gambar 4.3 Grafik hasil pengujian nilai flash point Berdasarkan hasil pengujian flash point yang telah dilakukan menunjukkan tren grafik yang menurun, semakin banyak komposisi minyak jarak pada setiap sampel maka berbanding lurus dengan penurunan titik nyalanya. Dari 11 sampel yang telah diuji masih diatas batas min-max dari standar SNI 7182-2015 (>100 C). Flash point minyak sawit terus mengalami penurunan seiring dengan peningkatan komposisi campuran minyak jarak, hal ini menunjukkan minyak jarak secara nyata mengubah karakteristik dari biodiesel dengan menurunkan titik nyala.

34 Titik nyala sangat erat kaitannya dengan keamanan dan keselamatan terutama dalam penggunaan dan penyimpanan bahan bakar. Titik nyala mengindikasikan tinggi rendahnya tekanan uap dan kemampuan untuk terbakar dari suatu bahan bakar (Setiawati, 2012). 4.5 Nilai Kalor Campuran Minyak Jarak dan Minyak Sawit Nilai kalor adalah suatu angka yang menyatakan jumlah kalori yang dihasilkan dari proses pembakaran sejumlah bahan bakar dengan oksigen. Hasil pengujian nilai kalor dari campuran biodiesel dapat dilihat pada tabel 4.6 dan gambar 4.4. Tabel 4.6 Hasil pengujian nilai kalor No Nama Sampel Nilai Kalor (Cal/g) 1 S 100 % 9270,77 2 S/J 90/10% 9167,09 3 S/J 80/20% 9121,78 4 S/J 70/30% 9097,16 5 S/J 60/40% 9078,38 6 S/J 50/50% 8988,03 7 S/J 40/60% 8963,97 8 S/J 30/70% 8942,31 9 S/J 20/80% 8834,28 10 S/J 10/90% 8804,81 11 J 100% 8767,04

Nilai Kalor (Cal/g) 35 Grafik hasil pengujian nilai kalor terhadap variasi komposisi minyak 9400 9300 9200 9100 9000 8900 8800 8700 8600 8500 S 100% S/J S/J S/J S/J S/J S/J S/J S/J S/J J 100% 90/10% 80/20% 70/30% 60/40% 50/50% 40/60% 30/70% 20/80% 10/90% Gambar 4.4 Grafik hasil pengujian nilai kalor Nilai kalor yang dihasilkan pada penelitian ini cenderung menurun seiring dengan peningkatan komposisi minyak jarak pada setiap variasi komposisi campuran minyak. Minyak sawit awalnya memiliki nilai kalor 8270,77 Cal/g, setelah dicampur dengan minyak jarak nilai kalornya terus mengalami penurunan pada setiap variasi campuran biodiesel. Nilai kalor tertinggi terjadi pada komposisi S90/J10 (%) dengan nilai kalor sebesar 9167,09 Cal/g sedangkan nilai kalor terendah terjadi pada komposisi S10/J90 (%) dengan nilai kalor sebesar 8804,81 Cal/g. Nilai kalor adalah ukuran energy yang tersedia di dalam suatu bahan bakar, dan menentukan tingkat konsumsi bahan bakar tiap satuan waktu. Semakin tinggi nilai kalor, maka semakin ekonomis bahan bakar tersebut. Adanya ikatan kimia oksigen pada minyak nabati menurunkan nilai kalornya, namun sampai saat ini belum ada standar khusus untuk menentukan nilai kalor yang harus dimiliki oleh bahan bakar diesel (Widyastuti, 2007). 4.6 Pengaruh Variasi Waktu Pencampuran Sampel Pada perlakuan sampel dibedakan dengan variasi waktu ketika sampel dicampur dan dipanaskan, variasi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama waktu pencampuran terhadap sifat campuran minyak seperti tabel 4.7, 4.8, 4.9 dan 4.10. Berikut

Viskositas (cst) Densitas (kg/m³) 36 adalah grafik dari sifat perlakuan variasi waktu pada sampel campuran minyak sawit dan minyak jarak yang ditunjukkan pada gambar 4.5, 4.6, 4.7 dan 4.8. Tabel 4.7 Hasil pengujian nilai densitas variasi waktu No Nama Sampel Volume (ml) Massa (g) Densitas (kg/m³) 1 S/J 50% 30 menit 50 45,5908 911,81 2 S/J 50% 60 menit 50 45,9703 919,40 3 S/J 50% 90 menit 50 46,0571 921,14 Grafik hasil pengujian nilai densitas variasi waktu 925 920 915 910 905 S/J 50% 30 menit S/J 50% 60 menit S/J 50% 90 menit Variasi Waktu Gambar 4.5 Grafik hasil pengujian nilai densitas variasi waktu Tabel 4.8 Hasil pengujian nilai viskositas variasi waktu No Nama Sampel Viskositas Dinamik Viskositas Kinematik (mpa.s) (cst) 1 S/J 50% 30 menit 71,8 78,7 2 S/J 50% 60 menit 67,8 73,7 3 S/J 50% 90 menit 66,7 72,4 Grafik hasil pengujian nilai viskositas kinematik variasi waktu 80 75 70 65 S/J 50% 30 menit S/J 50% 60 menit S/J 50% 90 menit Variasi Waktu Gambar 4.6 Grafik hasil pengujian nilai viskositas variasi waktu

Nilai Kalor (Cal/g) 37 Tabel 4.9 Hasil pengujian nilai flash point variasi waktu No Nama Sampel Flash Point ( C) 1 S/J 50% 30 menit 315 2 S/J 50% 60 menit 309 3 S/J 50% 90 menit 297 Grafik hasil pengujian nilai flash point variasi waktu 320 310 300 290 280 S/J 50% 30mnt S/J 50% 60mnt S/J 50% 90mnt Gambar 4.7 Grafik hasil pengujian nilai flash point variasi waktu Tabel 4.10 Hasil pengujian nilai kalor variasi waktu No Nama Sampel Nilai Kalor (Cal/g) 1 S/J 50% 30 menit 8988,03 2 S/J 50% 60 menit 9061,57 3 S/J 50% 90 menit 9072,83 Grafik hasil pengujian nilai kalor variasi waktu 9100 9050 9000 8950 8900 S/J 50% 30mnt S/J 50% 60mnt S/J 50% 90mnt Gambar 4.8 Grafik hasil pengujian nilai kalor variasi waktu Dari gambar 4.5, 4.6, 4.7 dan 4.8 dapat disimpulkan bahwa nilai viskositas dan nilai flash point yang semakin turun seiring dengan lama waktu pemanasan dikarenakan

38 rantai karbon akan putus sehingga molekul rantai karbon menjadi pendek (Muhantoro, 2017). Akan tetapi pada nilai densitas dan nilai kalor memiliki ikatan rangkap rendah sehingga mengalami kenaikan dengan semakin lamanya waktu pemanasan sampel campuran minyak. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Rizkita, dkk (2016) bahwa semakin bertambahnya suhu proses dan semakin lama waktu proses maka densitas yang dihasilkan semakin kecil, hal ini disebabkan karena semakin lama waktu reaksi maka akan memberikan banyak kesempatan untuk partikel-partikel reaktan dapat bertumbukan. Selain itu, dengan meningkatnya suhu reaksi maka partikel reaktan akan bergerak lebih cepat sehingga intensitas tumbukan antara partikel reaktan akan semakin intens dan semakin efektif sehingga dihasilkan densitas yang rendah. Densitas terkait dengan viskositas, semakin besar densitasnya maka semakin besar viskositasnya. Jika biodiesel mempunyai densitas melebihi ketentuan, akan terjadi reaksi tidak sempurna pada konversi minyak nabati.